MUSEUM SEJARAH LELUHUR TIONGHOA DI INDONESIA

PROJEK MUSEUM SEJARAH  LELUHUR TIONGHOA DI INDONESIA

PENGANTAR

Sampai saat ini belum ada suatu museum Sejarah Leluhur Etnis Tionghoa di Indonesia,yang sudah ada di Taman Mini Indonesia Indah Museum Peranakan tionghoa yang dikoordinir Brigjen TNI purnawirawan Teddy, dan juga barudibangun Museum HAKKA ,salah satu suku dari etnis Tionghoa di Indonesia

yang bentuknya seperti rumah traditional HAKKA Di Tiongkok yang semula menghrankan saya karena bentuknya unik bulat dinding tebal tanpa jendela dan hanya satu pintu masuk

dengan bantuan Hakka World Organiztaion

dan ada kaitannya dengan

World Hakka International Congressseptember 2013

 Museum Cheng Ho,  

Mengenai  Taman Tionghoa, sedang dibangun Museum Cheng Ho berlantai 3  dengan patung Laksamana Cheng Ho di depannya  menghadap danau. Cheng Ho atau Chzeng He, seorang Laksamana muslim dari Cina yang hidup tahun 1371-1435 dan  pernah berkeliling dunia 7 kali termasuk menjelajah secara damai di Nusantara bersama armadanya lebih 100 kapal.

Kepala Kantor Taman Budaya Tionghoa TMII Musiyati Tessa menjelaskan bebagai bangunan budaya Tionghoa telah berdiri di  taman seluas 4,5 ha tersebut.

Di antaranya Museum HAKKA  Indonesia, Wisma Budaya Marga Zhou, Pendopo Mrawata Lestari, dan  beberapa monumen legenda Tiongkok seperti patung  Ksatria Guan Yu, Dewi Kwan Im, dan  Sampek Engtay dua sejoli yang saling mencinta sehidup semati dan menjadi kupu kupu di akhir hidupnya.

Sekjen Federasi  Perkumpulan Hakka Indonesia Sejahtera Tirta Hadisendjaya menambahkan , sebagian besar penduduk Indonesia yang berketurunan Tionghoa adalah dari suku Hakka yang sudah bermukim di Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Banyak tokoh Indonesia  keturunan Tonghoa berasal dari suku Hakka, antara lain Wakil  Gubernur DKI Jakarta Ahok Basuki Tjahya Purnama  yang baru terpilih tahun lalu. (naz

Kepala Unit Kerja Taman Budaya Tionghoa TMII Brigjen Purn Tedy Jusuf mengimbau etnis Tionghoa memberikan kontribusi untuk memperkuat khasanah Museum Chengho, sehingga publik semakin tahu peran dan kedudukan mereka di Tanah Air.

Baiknya jika benda bersejarah milik keluarga dapat dipinjamkan atau menyumbangkan ke manajemen Museum Chengho, sehingga perbendaharaan di museum itu semakin lengkap, kata Tedy Jusuf kepada Antara di Jakarta, Senin (3/3)

Keberadaan Taman Budaya Tionghoa Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah mempertegas TMII sebagai laboratorium seni dan budaya bangsa; di samping secara nyata menunjukkan Indonesia adalah bangsa yang multi-etnis dan multi-ras berikut keanekaragaman seni dan budayanya.

Namun itu saja belum cukup pasalnya, lukisan dan benda-benda bersejarah belum menggambarkan secara integral dari perjuangan etnis China di berbagai tempat di bumi Indonesia. 

Diharapkan dari museum itu pula nanti generasi muda bisa memetik pelajaran. Termasuk dari banyaknya tokoh etnis Tionghoa terlibat aktif dalam sejarah Indonesia, meski mereka belum terekspose oleh publik. (ant)

akan digelar pula pameran bertajuk, “Nasionalisme Tionghoa Indonesia” , pertunjukan wayang Potehi.

 museum yang konon dibangun atas sumbangan masyarakat Tionghoa yang tinggal dari dalam dan luar negeri. 

 museum yang lokasinya tak jauh dari Museum Listrik dan Energi Baru. Museum tersebut, katanya, merupakan yang ke 15 berdiri di kawasan Wahana Taman Budaya TMII dan diharapkan dan koleksi museum Hakka juga belum lengkap isinya

yang ada zodiac,patung confucius dan

sun go kong

bangunan sumbangan yang masih kosong

Saya sendiri telah membuat musum dunia maya

Driwancybermuseum

di web blog saya

hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

yang berisi seluruh hasil penelitian saya tentang koleksi sejarah Indonesia dan dunia termasuk

penelitian tentangkaraya seni keramik Tiongkok yang ditemukan diindonesia yang telah memperoleh banyak

komentar dan sara,sehingga sudah ada

rencana kerjasama dengan

museum Zheng he Penang Malaysia

The Chinese Kapitan history collections

The First Photo of Qing Authorities Taken in World Expo, St Louis Expo 1904

THE  CHINESE OVERSEAS KAPITAN HISTORY COLLCTIONS

IN INDOENSIA AND MALAYA

PART TWO A

DUTCH EAST INDIE 19th CENTURY

 

 

Kapitan Cina Medan Tjong A Fie

CREATED By

Dr Iwan suwandy,MHA

Copyright @ 2013

 

INTRODUCTIONS

 

Kapitan Cina deli  medan (leutenant rank) in 1880

Dr Med Supit’s Grand grandpa

Kapitan cina Deli Medan

Name unidentified  marga Tan

There was little direct Chinese involvement in what is now Indonesia before the fifteenth century. Trade between China and the Indonesian archipelago was in the hands of Indonesians, rather than Chinese.[disputed]

The standard word for a Chinese trading vessel, junk, is derived from the Javanese word jong, which described large teak vessels that trekked north from Southeast Asia to southern China.[disputed] Chinese sources, however, are useful external sources of information on early Indonesia, including the records of a few emissaries such as Fa Hien, a Buddhist monk who passed the region in the fifth century on his way to India. Kingdoms of Indonesia and China had some relationships that thrived during the Tang dynasty.

Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not Muslims, some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or the Nine Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those nine were original Chinese or Chinese descendants: Sunan AmpelSunan Bonang (son of Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan Gunungjati.[5]<This shouldn’t actually be ironic since those Islamic evangelists are actually Hui Chinese, a Chinese ethnic group who are Muslim. In contrast, most of the present Chinese Indonesians are mainly not Hui Chinese. Rather, they are mostly Han Chinese, another Chinese ethnic group which is the majority ethnic group in mainland China, coming from FujianGuangdong, etc.> One theory suggests that Chinese traders were among the first to bring Islam to Indonesia, including those who came to Semarang under the leadership of Admiral Zheng He, or Sam Po Kong, in the fifteenth century. Zheng He himself was a Muslim from the Hui minority ethnic group in China. Other theories based on documented accounts of Indian Gujarati traders and merchants, long familiar with Java, suggest they introduced Sufism there and the Malay Peninsula.[citation needed]

Since the voyages of Zheng He, many Chinese considered the region as an attractive trading partner.

 

Due to Coolaberation between Driwancybermuseum and Zheng He Museum Penang, I have made a special reasearche about the Famous  Chinese overseas In Malaya during British Colony  and Indonesia during Dutch East Indie

 

Kapitein der Chinezen te Soerabaja 1880

 

Installatie van Tjong Yong Hian als kapitein en Tjong A Fie als luitenant der Chinezen te Medan in 1883

 

Liem Kie Djwan, kapitein der Chinezen te Jogjakarta, 1888-11-23

 

 

 

Oei Tan Nio, echtgenote van de kapitein der Chinezen te Jogjakarta, op 27-jarige leeftijd

After work Hard and spend much time and loan, The research were finish and this info will show in Zheng He Museum Penang lead by Robert Yeap.

I also found some informations related to that famous man.like kapitan Cina in stratits settlement penang,Malacca,Singapore ,Kuching Sarawak  and also from federated Malayan like Kuala Lumpur etc,also from Indonesia(Dutch East Indie that time) like Deli medan,tanjung balai ashan ,padang city, Batavia(Jakarta),surabyaa .

 

 

Kapitan cina rembang 1885

Due to many realted informations,this book will be divided by two part,part one Malaya area and part two Indonesia (Dutch East Indie Area)

 

I have a very best information from web blog Chinese overseas in British Colony and Kapitan cina Batavia, but some of informations cannot read all because qere protacted with the PDF and other computer technology which made only by very high technology a part of information can read, but I think enough and good informations were extist,this some of the info below

 

Kapitan cina medan Tjong A Fie 1906

 

Huwelijk van de dochter van de Kapitein der Chinezen Jap Soen Tjai te Medan

The Chinese Consulate

The formation of Chinese consulate in Singapore in 1877 , an Penang in 1890, also in Padang West Sumatra and Payakumbuh West Sumatra (years still not known) respectively was primanly to serve as communicate between the Chinese Gouvernment  and the Chinese overseas . Apart from that it was also the Chinese tentative to gain support and loyality from her wealthy  Overseas member.

 

Tjong Jong Hian, kapitein der Chinezen te Medan 1910

 

The office of the Vice-consult functions in various aspects and capacities .The diplomatic rule of the Chinese Vice-Consul was based in demography and geography of British Malaya and Duitcg East Indie For istance

 

1893

 

Installatie van Tjong Yong Hian als kapitein en Tjong A Fie als luitenant der Chinezen te Medan

The Penang Brand engaged with the Chinese Affairs in Penang <Perak,Sealngor, Kedah and Perlis.Whereass the Singapore branch comcerned in the areas such as Johor, Malacca, Negri Sembilan , Kelantan and Trengannu

 

The prime role of the Vice-Consul was also concerned in protecting the Chinese and their business interest however in the ealy 1900’s other Chinese organizations  such as the Chinese Advisory board (1890) ,Chinese chamber of Commerce Po Leung Kok(1886) as well as other Chinese clan association had surged in all mayor owns in British Malaya thus the importance of the Vice consult had apparentely ceased.

 

Vrouw van de kapitein der Chinezen te Batavia en een meisje 1867

In 1891 ,the vice consult of Singapore was promote to the rank of Consult gereal in south East asia and in 1933 the chinedse consult was established in Kuala lumpur and the Chinese Affairs in the Federataed of Malaya.

 

 

Kapitan Cina Langkat  Tjoeng Njan Khin with government in Binjei

Van de raad maakten deel uit: W.Ph. Coolhaas, voorzitter; Tjoeng Njan Khin, kapitein-titulair der Chinezen van Boven Langkat; Djalaloedin, landschapsarts van Langkat; Tengkoe Mohamad Jasin, pangeran van Boven Langkat en waarnemend vice-voorzitter van de Karapatan in Langkat; mr J.B. Kan, voorzitter van de Landraden te Bindjai en Langsa; Baharoeddin, fiscaal-griffier van het Landgerecht te Bindjai; W.F. Verrijk, hoofdopzichter van de Afdeling Weg en Werken van de Deli Spoorweg Maatschappij; ir P.M. Visser, inspecteur van de Langkatondernemingen van de Deli Maatschappij; J. Louwerier, chef-geneesheer van het Bangkattan-hospitaal van de Deli Maatschappij; H.J. Lever, waarnemend administrateur van de onderneming Timbang Langkat van de Deli-Batavia Maatschappij

 

 Kapitan*mayor rank) cina Aceh Lie A sie

Op de rug gezien v.l.n.r.: majoor K. van der Maaten, sultan Mohammad Dawot Sjah, Toeankoe Ibrahim (zoon van de sultan) en assistent-resident W.J.F. Vermeulen; V.l.n.r. tegenover majoor K. van der Maaten: luitenant-generaal J.B. van Heutsz (gedeeltelijk), assistent-resident A.C. Veenhuizen, luitenant-kolonel G.C.E. van Daalen (gedeeltelijk), onbekend, controleur C. Schultz, Toeankoe Pangeran Oesén, Toeankoe Machmoet, onbekend, majoor titulair der Chinezen Lie A Sie

 

The same situation same in Dutch East Indie(Indonesia now) but the rank different,there were Mayor Cina, Kapitan Cina and Leutenant Cina depend on the demography and geography of dutch east indie from government, Residentie,subresidentie(Assisten-resident area) and more small area.

In Padang there were two Chinese vice-consut at Pariaman name Lir Ma Say, he ever send money to Dutch east ndie government to help the Krakato eruption victim in 19th century but later closed because move to Padang city there were vicde consut Gho Goan Tee and Lie Ma say became the first Mayor Cina, and then Gho Goa tee,then Ang Eng Lay, then Lie Oen Kiong,then the son of Gho Goan Tee(Gho sun Tong) his brother Gho Sun hin merried my Aunt Kang Kim Lian they lived at Singapore. My grandgrandpa Chua Chay Hiok(Tjoa Tjay Hiok) became the vice Consult in Payakumbuh west Sumatra upland ,later my uncle TJOa seng Lian became the Kapitan cina at Payakumbuh he ever send money to help republic of China during sun Yat sen(Kuomintang) to build the railways ,

At Batavia(now Jakarta) the first Kapitan was So ban Kong,he strated from Bantam ,then moved to Batavia during VOC first built this city in 16thcentury, then the Khouw faili were the next kapitan cina Batavia. I was found the best book about a dutch man travelling in ndonesia in late 19th century,in that rare book I found the pictures of the first kaiptan cina Padang city profile Lie Ma say, and other 19th century book about tarvellin in Java also I found the profil of Surabaya kapitan Cina.

In  The 1941 Dutch East Indie Almanac book  were list all the kapitan cina from all part of Indonesia,and from the Book of Dutch and colony ‘s employe 1939, I found the kapitan cina and famous Chinese overseas in Dutch East indie complete with profile picture and short life histories .

INDONESIAN PERANAKANS: TIONGHUA CINA PERANAKAN INDONESIA

 

Indonesian traditions and beliefs have exerted a strong influence over those ethnic Chinese migrants who have resided in the country for generations.

Most came to Indonesia during the 12th & 15th centuries thereby making Peranakan settlement & history in Indonesia older than that of Malaya’s.

The long-resident Peranakan, or Straits Chinese, who have settled mostly in Java and other outer islands such as the Riau islands, West Kalimantan and Sumatra, are the earliest examples of assimilation in Indonesian society.

The Peranakans are descendents of Chinese merchants, males who came unaccompanied to the East Indies for the lucrative spice trade.

Many of these immigrants married the local Indonesian women and their descendents are today known as the Peranakan, meaning local born. Peranakan Culture in Indonesia was just as similar and identical to that of Singapore and Malaysian Peranakan Culture in more ways than one.

 

Photo above:

Old Photos of Indonesian Peranakans & an old Peranakan book in Dutch (right).

 

After the late 19th century, the invention of the steamship facilitated the flow of Chinese migrants to Indonesia, who this time came accompanied by their wives and families.

Unlike the Peranakans, these Pure Chinese, or Totoks as they were known, had Chinese families and retained the use of the Chinese language, dress and customs.

They kept their mainland Chinese culture for generations and saw to the establishment of Chinese schools, newspapers and most eminently, Chinese business networks.

Historians today have largely attributed the prosperous economic activity among the Chinese as the reason for the Dutch colonial policy that segregated the Totoks and Peranakans from the rest of the Indonesian community.

This led to no small measure of misunderstanding and jealousy among the two groups.

The Peranakan Chinese population in Indonesia numbers at 6 million people out of a total Chinese population of 9 million while the Totok or Pure Chinese Community numbers at around 3 million or so.

Making them the largest Peranakan Chinese community in the entire world. Singapore and Malaysia however only have a miniscule 500,000 Peranakan Chinese each.

This explains why the overwhelming majority Indonesian Chinese only converse to each other in local Indonesian dialects and Bahasa Indonesia and not in Mandarin.

The Dutch imposed a policy of seperation that gave powers and trading priveleges to the Peranakan & Totok Communities.

As a result they were known as Chukongs or Kapitan Cina and controlled vast areas of land, plantation, coal and gold mines, diamond & tin mines and the like. Therefore the wealth and prestige of the Peranakan Chinese in Indonesia was similar to that of those in the Straits Settements

Dr Med Supit’s Grand grandpa

Kapitan cina Deli Medan

Name unidentified

 

 

Chinese Kapitan Deli Medan House in 1878

Created By

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

 

 

The kapitan cina deli in 1878

(Tan-grandgrandpa DR Med Supit ?)

Provenance Dr Iwan suwandy,MHA

 

 

Chinese Kapitan Deli Medan

Provenance DrIwan suwandy,MHA

 

Chinese Kapitan Deli Medan in 1878

Provenance Dr Iwan suwandy,MHA

 

 

This the sample of Dr Iwan CD-ROM

“Kapitan Cina History Collections

The complete Cd exist to get it

Please contact

iwansuwandy@gmail.com

hallo all kapitan cina fa,ily in Indonesia and Malaysia please contact me at email above to help me for more info and pictures of Kapitan Cina

 

untuk

koleksi leluhur indonedsia dan malaysia sebelum dan saat era kolonial untuk mengetahui hubungga anatar etnis Tionghoa Indonesia dan Malaysia

museum ini akan di louncing agustus 2014,

koleksi saya yang asli tetap berada di Indoneisa

dan hanya akan suatu special show dengan ilustrasi lebgkap koleksi sejarah

hasil penelitian saya selama lima p[uluh tahun

Saat bertemu dengan penjaga Hakka Museum di TMII

saya telah menyampaikan akan membantu Hakka Museum dalam

penyususanannya agar menjadi suatu msueum sejarah yang tertata secara kronologis

masih banyak etnis di indoensia termasuk etnis tionghoa sendiri tidak mengetahui leluhurnya bersal dari mana dan siapa leluhur

Tionghoa yang telah berjasa membangun negarnya dan Indonesia untuk dijadikan contoh,kendatipun demiian

leluhur yang sikapnya jelek dan tidak patut ditiru perlu juga diketahui

dalamrangka

Learn form The Past To success In The Future

Alam Terkembang jadi Guru

 

 

Dr Iwan Suwandy , MHA

 

 

 

contoh museum Hakka di Meizhou Tiongkok

.

 

.

 

 

 

 tokoh hakka Di Dunia

 

Sun Yat Sen, Deng Zao Ping,Lee Kwan Yu

.

.

keramik hakka dengan simbol matahari,kupu-kupu dan pohon cemara

Bangunla sebelum matahari terbit,kemudian bekerja sekuat tenaga  seperti pohon cemara ,membuat yang indah seperti kupu-kupu.dan berhenti bekerja dan pulang kerumah saat matahari terbenam

klik untuk melihat museum hakka

.http://tripwow.tripadvisor.com/slideshow/china/meizhou.html

 

 

pakaian Hakka

 

 

 

 

 

  •  

     

 

 

 

makanan hakka

  

 

kaligrafi hakka

 

 

hakka canada

 

 hakka opera

 

 

 

 

Apabila pihak pengelola Museum Hakka bersedia bekerja sama cdengan Driwancybermusuem

 

 

saya akan menyumbangkan beberapa koleksi saya

 

 

dalam rangka membangun suatu museum baru

di kawasan TMII dengan Nama

The History Museum of Tionghoa Ancestor

Museum Sejarah leluhur Tionghoa Indonesia

yag terdiri dari dua etnis besar yang ada di Indonesia

 

Etnis Fukien terutama yang berasal dari Changzhou(Tjiang Tjioe)

dari mana kakek Saya Gho Kim Thian berasal dan juga banyak orang Hokian Di Indonesia.dan

juga Fukien adalah tempat pertama migrasi etnis HAKKA sebelum melanjutkan migrasinya ke Canton(Guangzhou)

Untuk menambah pengetahuan anda semua saya upload sebagain dari  koleksi museum sya

yang terkait etnis tionghoa

disamping itu saya juga mengembangkan suatu projek amal sesuai dengan profesi saya sebagai seorang dokter,ahli administarsi Rumah Sakit(MHA)

lihatlah dan

klik

hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

sesudah itu  untuk melihat kerjasama saya dengan Zheng he Museum

cari di search

kapitan cina

dan untuk melihat hasil penelitian saya tentang karya seni Kerajaan tiongkok yang diketemukan di Indonesia

cari di search

artchina ceramic motif

 

Nah sekarang coba lihat bebrapa info yang

 

saya peroleh terkait etnis Hakka yang dapat diajdikan bahan pembangunan museumsejarah leluhur Tionghoa Indonesia khususnya Hakka.

perlu di adakan kerjasama dengan kolektor handal di Indonesia seperti dibawah ini kolektor guci terhebat di Indonesia

mohon maaf jika seandainya info ini ada yang kurang berkenan dihati etnis Hakka karena itulah sejarah ,jangan yang baik saja yang ditampilkan

 

hal yang jelek juga perlu diketahui agar tidak diulangi lagi dimasa mendatang

seluruh info ini adalah hasil penelitian daris tudi kepustakaan dan koleksi yang saya miliki

Saya menanti komentar daripihak p-engelola dan pemilik museum Hakka dan peranakan tionghoa

sebagai info marga saya adalah Gho ,nama asli Gho Bian goan lahir di Padang tahun 1045

di sisa umur  sya inilah saya membuat proyek agar dikeang oleh anak cucu sya dimasa mendatang dan dapat memberikan

informasi bagi sleuruh rakyat Indonesia khususnya etnis Tionghoa ,saat ini sudah 800.000 orang mengunkjungi

museum dunia maya saya yang terbagi duan dlam dua web site

 

Jakarta Pebruari 2014

 

Dr Iwan suwandy Gho,MHA

 hakka ancestor profile

 

 

Guan Yuen Hui’s (官云辉公) wife Zhang (张) (1715-1807)

Hakka People (客家人)

 
I did not know my mother’s side was classified as Hakka people. I never heard this word in my whole life until now. Northern Han Chinese had been moving south. Some of these migrants did not want to reveal from where they came. Under Chinese laws back then, a crime committed by one person was punishable by death upon the clan of that person and up to three generations and 9th cousins. Since the locals did not know where the migrants were from, they referred to them as ‘guest families’ (locally called “Hakka”) and ended up staying over 1,500 years. My mother’s ancestors descended from Shangguan Yi, the Shangguan migrated south in the late 618-907 Tang Dynasty

Shangguan Yi

     The early Hakka ancestors who traveled from northern China entered Fujian first, then through Tingjiang (Ting river), they traveled to Guangdong and other parts of China and overseas. In this way, the Tingjiang River is also regarded as the Hakka's Mother River. My mother’s ancestors settled in Dingzhou Fu. I was trying to visit for the first time over 1,000 years later. By looking into Dingzhou, which was the capital of the Hakka people, there were towns named after the Guan. Guan/Shangguan is one of the big family names in this area and they were associated with a large family shrine. I realized now that my mother’s side of the family was Hakka (客家人).

     The Hakka speak the Hakka dialect in Guangdong, Jiangxi, and Fujian. Many of the Hakkas were affiliated with the "royal bloods." They spoke the Royal Official language; although there were many dialects, the Hakka language was very likely the official language of that dynasty when they left the North and they likely had the duty of passing on the language from generation to generation. The phrase “能卖祖宗田,不卖祖宗言,” means one can sell one’s ancestors’ land, but never sell one’s ancestors’ language. The one tradition we kept was calling my grandmother and grandfather special, different names from others in our generation. All of my friends and classmates were confused as to why and we also had no idea why; my mother and grandfather did not know why they called their mother and father different names from everyone else. They told us this tradition was passed down from long ago. That was just the way it had always been. Eventually, our children stopped calling elders by these names and as a result, our ancestors’ language was gone completely in the next generation. On top of that, we lost our land and family-owned business.
     The Hakka people were extremely diligent in keeping their clan/family genealogy records, hoping they could one day go back to the Royal Palace in Northern China. No other Chinese groups kept an in-depth clan/family genealogy as complete as the Hakkas. My father’s side never left far from their roots; he had only a seven-generation chart without any other information. My mom's Guans had 4 books fully covering 18 generations, including 9 generations in Fujian and 9 in Sichuan.
     The Hakkas came into areas with pre-existing natives and very little agricultural land remaining. As a result, they had to go to the mountains where the land was not fertile. The Hakka mountain songs expressed their struggle to settle where no one had lived before. Hakka folk-art is still popular today, a strong reminder of its folk origin. The Tinzhou Wine Festival (100 Pot Feast 汀州百壶[福]祭) is still held every February to wake up their god by shaking the carriage with the god inside and offering wine to him, thereby ensuring a good harvest in May. By June, there would be another festival to celebrate the harvest and give thanks to the god. The interesting part of this wine celebration was the wine was not poured into a cup first, but shared from usually 100 big wine pots, plus many food plates on a long table on the street. Everyone picked food from the plates with their hands and without personal seats or plates. Everyone was welcome, old and young, friends or passersby … everyone drank out of the 100 pots. I have to say that I am not comfortable sharing drinks from the same wine pots with strangers and picking up food from the same plates by hand. 
     The Hakka were used to the wheat in the north, rarely wheat in the south. They missed their dumplings, which were made by white flour-based shells filled with meat, a typical northern food for Chinese New Years today. Being creative, the Hakka used tofu sliced as shells filled with meat, then folded into dumplings. From far away, they really looked like dumplings.
      The Hakka had a tradition of having a second burial for their dead, similar to the earlier Jewish tradition. They opened up their grave again after a few years, collected their bones, put them into a ceramic jar, and reburied them again a few years later. If they had to move again, they would just dig up the jar and carry their ancestors with them. They believed that their ancestors would help them on the way to new places, and help them re-establish at those new places.
     Hakka villages aggregated loosely around clanship, maintaining blood-ties to families (often identified through genealogy). Many Hakka men joined the military or public service due to land shortages. The Hakka community had a wide variety of martial arts, such as Hakka Kun, Southern Praying Manti, Bak Mei, and Dragon Kung Fu. Public servants would have to pass the government’s test. Therefore, the Hakka culturally emphasized education.
      There were three types of Hakka dwellings. The Phoenix house 五鳳樓, Tulou 土樓 and Flat house depended on different stages of Hakka migration. When the first Hakkas moved down to Fujian, they were imperial court officials and could afford to build the Phoenix houses, which were similar to those of the imperial court. The Hakkas moved down south with the blessings and protection of the emperor. Later on, they came without any blessing of the emperor. The locals often attacked them. For protection, the Tulou houses were built as defensive structures to fend off the locals. Hundreds of years later, the Hakkas were more or less integrated with the locals. There was less need for protection and defense. Flat houses also appeared. Although these also appeared in the early dwellings of lower class workers, such as servants and lower rank officials, they accompanied the nobilities in their southward migration.

Guan Juting standing in front of Yongding Tulou (永定土楼) built in 1912, one of the World Heritage Sites

Tulou (土樓) literally means earthen structures. US satellites saw hundreds of them from space and thought they were missile sites; at the time, Nixon had to scramble to find some experts on China to find out if it this was true. To his relief, he found out that they had been there for hundreds of years. The Tulou were round, square, and rectangular, designed as a combined large fortress and multi-apartment building complex. Some houses had two to three circles of surrounding structures, which typically had only one main entrance, with no windows at the ground level. Each floor served a different function: the first floor contained a well and livestock, the second food was for storage, and the third and higher floors contained living spaces. The Tulou were built to defend against attack from bandits, marauders, and other enemies during the Punti-Hakka Clan Wars (土客械鬥). 
      Genetic analyses revealed that Hakka had 80.2% of the genetic makeup of the Northern Han. The Hakkas had a custom of buying the unwanted baby daughters of the Yue Puntis (local Cantonese) in Guangdong, as the Puntis favored sons over daughters. The Punti-mei (native girls) then became brides for Hakka sons when they grew up. Thus, the Yue Punti genes entered Hakka populations. It did not go other way around; the Hakka kept all of their babies. The Hakka people are well known for defending their cultural heritage. Many were willing to take risks and seek new opportunities elsewhere to establish themselves. This migratory tradition resulted in the distribution of the Hakka in the most remote parts of the world.
      When Hakkas settled in different parts of China or migrated overseas to various countries throughout the world, they kept their traditions wherever they went and were closely bound to each other. The Hakka people have had a significant influence on the Chinese and world history. Han Suyin (韩素音), (pen name Elizabeth Comber) was a Chinese-born Eurasian. Her father was a Belgian Hakka engineer and her mother was a Flemish Belgian. She graduated with a MBBS (Bachelor of Medicine & Surgery) with honors from London’s Royal Free Hospital in 1944. She later practiced medicine at the Queen Mary Hospital in Hong Kong. In addition, she is a well-known writer; her best known work is “Love Is a Many-Splendored Thing.” It is remembered a popular song by Sammy Fain, lyrics by Paul Francis Webster. The song (1955) won its own “Best Song” academy award. From 1967 to 1973, it was the theme song to a soap opera based on a movie, both made with the same name.
     Many leaders such as Sun Yatsen (孙中山) and his wife Soong Ching-ling (宋庆龄)’s family, Taiwan Presidents Lee Teng-hui (李登辉), Chen Shui-bian (陈水扁), Ma Ying-jeou(馬英九), and China’s Deng Xiaoping (邓小平) were all members of the Hakka people. The Prime Minister of Singapore, Lee Kuan Yew (李光耀), Prime Minister of ThailandThaksin Shinawatra (丘达新), and his sister Yingluck Shinawatra (英拉), the Prime Minister of Thailand today were also Hakkas. Their great-grandfather, Seng Sae Khu or Khu Chun Seng (Thai: เส็งแซ่คู; Chinese: 丘春盛), was also the Prime Minister in Thailand. Lanfang Republic (present Western Kalimantan, now part of Indonesia) was established by Luo Fangbo 罗芳伯 (1738-1778) and was also a descendant of the Hakkas. More locally, Patrick Christopher Chung (鍾家庭), an American football safety for the New England Patriots of the National Football League is half-Hakka

  Hong Xiuquan (洪秀全) was a controversial figure outside of China, although not so much in China. He was remembered as one of many who were brave to fight for what was right. They called themselves the Heavenly Kingdom (太平天囯). His poem on“Executing the Evil and Preserving the Righteous” 《斬邪留正詩》:
手握乾坤殺伐權, 
In my hand I wield the Universe and the power to attack and kill, 
斬邪留正解民懸。 
I slay the evil, preserve the righteous, and relieve the people’s suffering. 
眼通西北江山外, 
My eyes see through beyond the west, the north, the rivers, and the mountains, 
聲振東南日月邊。 
My voice shakes the east, the south, the Sun, and the Moon. 
璽劍光榮存帝賜, 
The glorious sword of authority was given by the Lord, 
詩章憑據誦爺前,
Poems and books are evidences that praise Yahweh in front of Him. 
太平一統光世界, 
Taiping [Perfect Peace] unifies the World of Light, 
威風快樂萬千年。 
The domineering air will be joyous for myriads of thousand years.
Statue of Hong Xiuquan 洪秀全 

Fujian

 

 

Tradition states that the early Hakka ancestors traveling

from north China entered Fujian first,

then by way of

the Tingjiang River 

they traveled to

    1.  
  1. Guangdong
  2. Guangdong adalah sebuah provinsi di pesisir tenggara Republik Rakyat Cina, juga merupakan provinsi pertama yang menjadi zona ekonomi khusus yang kemudian membawa provinsi ini menjadi provinsi yang menyumbang GDP terbesar bagi ekonomi RRC
     

Guangdong and other parts of China,

as well as overseas.

 Thus,

 the Tingjiang River is also regarded as

the Hakka Mother River.

The Hakka who settled in the mountainous region of south-western Fujian province developed a unique form of

 

Hakka architecture known as

 tu lou (土樓),

literally meaning earthen structures.

The tu lou are

round or square

and were designed as

a combined large fortress

 and multi-apartment building complex.

The structures typically had only one entrance-way,

 with no windows at ground level.

 

 

 Each floor served a different function:

the first floor contained a well and livestock,

 the second food storage,

 and the third and higher floors living spaces.

 Tu-lou were built to withstand attack from bandits and marauders

 

1654

During the reign of the Kangxi Emperor (1654–1722) in the Qing Dynasty,

the coastal regions were evacuated 

by imperial edict for almost a decade,

due to the dangers posed by the remnants of the Ming court who had fled to the island of Taiwan.

When the threat was eliminated, the Kangxi Emperor issued an edict to re-populate the coastal regions.

To aid the move, each family was given monetary incentives to begin their new lives; newcomers were registered as

“Guest Households” (, kèhù).

 

The Kangxi Emperor (r. 1662-1722),

 after a tour of the land, decided

the province of Sichuan had to be repopulated after the devastation caused by 

Zhang Xianzhong.

Seeing the Hakka were living in poverty in the coastal regions in Guangdong province,

the emperor encouraged the Hakka in the south to emigrate to Sichuan province.

He offered financial assistance to those willing to resettle in Sichuan: eight ounces of silver per man and four ounces per woman or child.

 

 

 

 

Henan

As with those in Sichuan, many Hakka emigrated to Xinyang prefecture (in southern Henan province), where 

Li Zicheng carried out a massacre in Guangzhou (now in Huangchuan) on Jan. 17th, 1636.[28]

 

During the early Qing Dynasty,

 a massive depopulation in

Gannan

due to the ravage of pestilence and war.

 However,

while western Fujian and eastern Guangdong suffered population explosion at that time.

Some edicts were issued

 to block the coastal areas,

 ordering coastal residents

to move

to the inland.

The population pressure and the sharp contradiction of the land redistribution drove a few residents to leave. Some of them moved back to Gannan, integrating with other Hakka people who lived there already for generations. Thus, the modern Gannan Hakka community was finally formed.[27]

1800

 

The Hakka People originaly

There are three symbols in Hakka

The sun,the butterfly and the pine wood

The sun symbozes hardwork and diligence

The butterfly symbolize beauty

As it’s the most beautifull animal

We think our lives

The pine woods symbolizes strenghth

And endurance

The Great China Discovery

Guangdong Hakka People

The Secret Of The Fujian Tulou

Many specialists have said that

The Tuloubuildings are unique

LIN RIGENG

OwnerOf Zhencheng Tuluo

Said

We are happy together the members of my family ,my son,daughter in law ,daughter and I

I Talked to the families in the Tulou

About cleaning up the Tuluo

I was the first to run a Tulou restaurant

And a Tulou Hostel

The mountains and waters around are marvelous

The Tulou buildings are warm in winter

And cool in summer

Its thick walls can absorb the moisture

In the air when the weater is wet

 

Zheng Xincai

Director Office For World Heritage Application Of Yongding Country

Said

I recived a text massage a few seconds after the decision was made

They were built our ancestors

Mao

Fellow countrymen

Vist Tuluo

he built 

People R epublic

Of

CHINA

There are more than 20.000 Tuluo buildings

Of various sizes in Yongdng country

Li Tiansheng

Folk Song Singer Fujian Province

Said I look at the moon

On  the 15th day of the 8th lunar month

My lover has gone

To an alien Land beyond the seas


Taiping Heavenly Kingdom

1812

 

Hakka mmiten people

1

  • Feng Yunshan 馮雲山/冯云山 (1815-1852; Huaxian, Guangdong; Hakka pronunciation: Fung Yun San), South King
  • Yang Xiuqing 楊秀清/杨秀清 (1821-1856; Guiping, Guangxi; Hakka pronunciation: Yong Siew Tshin), East King
  • Shi Dakai 石達開/石达开 (1831-1863; Guiping, Guangxi; Hakka pronunciation: Sak Tat Hoi), Wing King
  • Li Xiucheng 李秀成 (1823-1864; Tengxian, Guangxi; Hakka pronunciation: Lee Siew Sin), Loyal King
  • Chen Yucheng 陳玉成/陈玉成 (1837-1862; Tengxian, Guangxi; Hakka pronunciation: Chin Nyuk Sin), Heroic King
  • Hong Rengan 洪仁玕 (1822-1864; Huaxian, Guangdong; Hakka pronunciation: Fung Yin Kon), Premier and Shield King; First person in China to advocate modern-style government and opening-up reform

 

1818


Qing Dynasty

 

 

  • Cheong Fatt Tze 張弼士/张弼士 (1840-1916; Dabu, Guangdong), Powerful industralist in South-east Asia who contributed to the interests of Overseas Chinese during China’s Qing Dynasty and Republican era
  • Tjong A Fie, (1860-1921), Chinese Businessman, influential figure and Philanthropist who built a large plantation business in Sumatra
  • Aw Boon Haw 胡文虎 (1882-1954; Yongding, Fujian; born in Burma) and Aw Boon Par 胡文豹 (1888-1944; Yongding, Fujian; born in Burma), Philanthropists of Haw-Par Villa, Tiger Balm fame
  • Tsai Wan-lin 蔡萬霖 founder of the Lin Yuan Group, a large banking and insurance group in Taiwan
  • Tsai Wan-tsai 蔡萬才 of Fubon Group, Brother of Tsai Wan Lin
  • Tsai Hong-tu 蔡宏圖 a Taiwanese entrepreneur and banker. He is a son of Tsai Wan-lin

Literary figures, artists, academics and scientists

Huang Zunxian 黃遵憲/黄遵宪 (1848-1905; Meixian, Guangdong), Poet, writer and diplomat

 

 1910


Republic of China

  • Sun Yatsen 孫中山/孙中山[4][51] (1886-1925; Zhongshan, Guangdong; Hakka pronunciation: Soon Tsung San), Founding father of modern China
  • Charlie Soong 宋嘉樹/宋嘉树 (1863-1918; Wenchang, Hainan; Hakka pronunciation: Soong Ka Su),[52] Financier and staunch supporter in the early days of Kuomintang; Father of theSoong Sisters, who along with their husbands, were the most influential figures of China in the early 20th century
  • Soong Ai-ling 宋藹齡/宋蔼龄 (1890-1973; Wenchang, Hainan; born in Shanghai; Hakka pronunciation: Soong Oi Lin), Eldest of the Soong Sisters; Wife of H H Kung
  • Soong Ching-ling 宋慶齡/宋庆龄 (1893-1981; Wenchang, Hainan; born in Kunshan, Jiangsu; Hakka pronunciation: Soong Khin Lin), Second of the Soong Sisters; Wife of Sun Yat-sen; Honorary President of the People’s Republic of China, 1981
  • Soong May-ling 宋美齡/宋美龄 (1898-2003; Wenchang, Hainan; Hakka pronunciation: Soong Mui Lin), Youngest of the Soong Sisters; Wife of Chiang Kai-shek
  • T. V. Soong 宋子文 (1894-1971; Wenchang, Hainan; born in Shanghai; Hakka pronunciation: Soong Tse Vun), Premier of the Republic of China, 1930, 1945–1947
  • Liao Zhongkai 廖仲愷 (1877-1925; Huiyang, Guangdong; born in USA), Leader and financier, Kuomintang; Was one of the three most powerful figures in Kuomintang when Sun Yatsendied
  • Sun Ke 孫科/孙科 (1891–1973; Zhongshan, Guangdong), Premier of the Republic of China, 1931–1932, 1948–1949
  • Chen Jitang 陳濟棠/陈济棠 (1890-1954; Fangcheng, Guangxi), General, Nationalist China
  • Xue Yue 薛岳 (1896-1998; Lechang, Guangdong), Nationalist China most outstanding general during 2nd Sino-Japanese War; Nicknamed “Patton of Asia”
  • Zhang Fakui 張發奎/张发奎 (1896-1980; Shixing, Guangdong), Commander-in-Chief during Second Sino-Japanese war
  • Xie Jinyuan 謝晉元/谢晋元 (1905-1941; Jiaoling, Guangdong), Commander, Defence of Sihang Warehouse; Heroism of the defenders of the warehouse, known as the Eight Hundred Heroes 八百壯士, was made into a movie of the same name
  • Lee Teng-hui 李登辉[53][54] (1923-; ancestral Yongding, Fujian; born in Sanzhi, New Taipei, Taiwan), President of the Republic of China, 1988–2000; First ethnically Taiwanese president of the Republic of China; First freely elected president of an ethnically Han Chinese society

 

 

  • Hong Kong

Chor Yuen 楚原 (1934-; Meixian, Guangdong; born in China; Hakka pronunciation: Chu Ngian), Hong Kong film directo

 

Others

  • Lam Yiu-Kwai 林耀桂 (1877-1966; Huiyang, Guangdong; born in China; Hakka pronunciation: Lim Yau Gui), Creator of dragon-styled Chinese martial art, Dragon Kung Fu, which has its origins from Hakka Kuen.
  • Chin Lik Keong 曾力强, Creator of I Liq Chuan 意力拳 Chinese martial art

 

1933

The study by 

Luo Xianglin, 

K’o-chia Yen-chiu Tao-Liu /

An Introduction to the Study of the Hakkas(Hsin-Ning & Singapore, 1933) used genealogical sources of family clans from various southern counties.

 

1944

  • Annette Lu 呂秀蓮/吕秀莲[55] (1944-; ancestral Nanjing, Fujian; born in Taoyuan, Taiwan), Vice-President, Republic of China, 2000–2008
  • Wu Po-hsiung 吳伯雄/吴伯雄 (1939-; ancestral Yongding, Fujian; born in Zhongli, Taiwan; Hakka pronunciation: Ng Pak Hiung), Chairman, Kuomintang, 2007-; Mayor, Taipei, 1988–1990
  • Hsu Hsin-liang 許信良/许信良 (1941-; ancestral Raoping, Guangdong; born in Zhongli, Taiwan; Hakka pronunciation: Hee Sin Leong), Co-founder and chairman, Democratic Progressive Party, 1991–1994, 1996–1998

 

  • Woon Wing Yip 葉煥榮/叶焕荣 (1940-; Dongguan, China; born in China; Hakka pronunciation: Yap Fon Yin), Founder, The Wing Yip Supermarkets, United Kingdom; First Chinese tycoon in United Kingdom
  • Literary figures, artists, academics and scientists

  • Yong Mun Sen
     (Yong Yen Lang) 楊曼生/杨曼生 (1896-1962; Dabu, Guangdong; born in Malaysia; Hakka pronunciation: Yong Man Sang); Pioneer artist and the father of Malaysian painting
  • Jimmy Choo 周仰杰 (1961-; born in Malaysia; Hakka pronunciation: Chiu Yong Ket), Renowned designer of shoes and handbags, United Kingdom
  • Lo Hsiang-lin 羅香林/罗香林 (1906-1978, Xingning, Guangdong; Hakka pronunciation: Lo Heong Lim), Scholar on Hakka culture and language
  • Ivan Taslimson 林遵憲 (Meixian, Guangdong), architect, scientist, US tech tycoon
  • Teng Yu-hsien 鄧雨賢/邓雨贤 (1906-1944; born in Qionglin, Hsinchu, Taiwan; Hakka pronunciation: Thien Yee Hen), Taiwanese composer
  • Li Guohao 李國豪/李国豪 (1913-2005; Meixian, Guangdong; Hakka pronunciation: Lee Ket Hau), One of the top bridge experts in the world
  • Chung Li-ho 鐘理和/钟理和 (1915-1960; Kaohsiung, Taiwan; Hakka pronunciation: Tsung Lee Foh), Famous Taiwanese novelist, stayed in Manchuria before WWII ends
  • Han Suyin 韓素音/韩素音 (1917-2012; Xinyang, Henan), Famous novelist and author of books on modern China
  • Lin Haiyin 林海音 (1918-2001; ancestral Jiaoling, Guangdong; family came from Toufen, Miaoli, Taiwan; born in Japan; Hakka pronunciation: Lim Hoi Yim), Taiwanese novelist whose memoirs, 城南旧事 (My Memories of Old Beijing), was made into a movie of the same name
  • Shing-Tung Yau 丘成桐 (1949-; Jiaoling, Guangdong; Hakka pronunciation: Hiew Sin Tung), Chinese-American mathematician
  • Chin Liew Ten (born in Malaysia), Professor of Philosophy and former Head of the Philosophy Department, National University of Singapore; noted scholar of John Stuart Mil

 

Taiwan

China

    • Huang Wanqiu 黄婉秋 (1943-; Meixian, Guangdong; Hakka pronunciation: Vong Van Ciu), Actor, Lead actress of the classic movie, “Third Sister Liu” 刘三姐
    • Li Ai 李艾 (Meixian, Guangdong; Hakka pronunciation: Li Ngioi), Supermodel and one of China’s most recognizable media personalities; Host, “China’s Next Top Model

 

Others

 

Taipei County Hakka Museum 2009

The Ming Ceremic Export To Indonesia and south East Asia

Chinese Export Ceramic of th 1800’s

Hakka Opera and music record

Singkawang Hakka Song

WEsT Borneo Hakka

Pontianak

Singkawang SAmbas

Sangau

 

Hakka Bangka Belitung

 

HAKKA EMMITEN PEOPLE

AFTER 1950

 

 

 

  •  

  • People’s Republic of China

    • Deng Xiaoping 鄧小平/邓小平[4] (1904-1997; Guang An, Sichuan; Hakka pronunciation: Thien Siau Phin), a prominent Chinese revolutionary, politician, pragmatist and reformer, as well as the late leader of the Communist Party of China (CPC). Paramount Leader of the People’s Republic of China from 1978 to the early 1990s.
    • Zhu De 朱德, one of the Ten Marshals and possibly the founder of the Chinese Red Army, later the People’s Liberation Army.
    • Marshal Ye Jianying 葉劍英/叶剑英 (1897-1986; Meixian, Guangdong, Hakka pronunciation: Yap Kiam Yin), Leader and general; War hero. Chairman, National People’s Congress, 1978–1983; President, People’s Republic of China, 1978–1983; Governor of Guangdong, 1949–1953
    • Hu Yaobang 胡耀邦 (1915-89; Liuyang, Hunan; Hakka pronunciation: Fu Yau Bong), General Secretary of the Communist Party of China, 1980–1987
    • Liao Chengzhi 廖承志 (1908-1983; Huiyang, Guangdong; born in Japan; Hakka pronunciation: Liau Sin Chee), Well-respected politician; died a week before he was expected to be elected Vice-President, People’s Republic of China[56]
    • Ye Ting 葉挺/叶挺 (1896-1946; Huiyang, Guangdong), Commander-In-Chief, New Fourth Army, one of the two main Chinese communist forces, Second Sino-Japanese War
    • Yang Chengwu 楊成武/杨成武 (1914-2004; Changting, Fujian; Hakka pronunciation: Yong Sin Woo), General; Vice-Chairman, Chinese People’s Political Consultative Conference, 1983–1988
    • Li Peng 李鹏, fourth Premier of the People’s Republic of China.
    • Ye Xuanping 葉選平/叶选平 (1924-; Meixian, Guangdong; Hakka pronunciation: Yap Sen Phin), Vice-Chairman, Chinese People’s Political Consultative Conference, 1991–2003;Governor of Guangdong, 1985–1991
    • Xie Fei 謝非/谢非 (1932-1999; Lufeng, Guangdong; Hakka pronunciation: Chia Fui), Vice-chairman, National People’s Congress, 1998–1999
    • Chen Yu 陈郁 (1901-1974; Bao’an, Guangdong), Governor of Guangdong, 1957-1967
    • Ding Sheng (Jiangxi), Governor of Guangdong, 1972-1974
    • Huang Huahua 黃華華/黄华华 (1946-; Xingning, Guangdong; Hakka pronunciation: Wong Fah Fah), Present governor of Guangdong, 2003-
    • Hong Kong
      • Martin Lee 李柱銘/李柱铭 (1938-; Huiyang, Guangdong; born in Hong Kong), founding chairman, Democratic Party, 1994–2002; Leading figure of the pro-democracy movement in Hong Kong
      • Lee Wing Tat 李永達/李永达 (1955-; Huiyang, Guangdong; born in Hong Kong; Hakka pronunciation: Lee Yun Tat), Chairman, Democratic Party, 2004–2006
      • Tam Yiu Chung 譚耀宗/谭耀宗 (1949-; Huiyang, Guangdong; born in Hong Kong; Hakka pronunciation: Tham Yau Tsung), Chairman, Democratic Alliance for Betterment of Hong Kong, the largest pro-Beijing political party in Hong Kong, 2007-
      • Singapore
        • Lee Kuan Yew 李光耀[4] (1923-; Dabu, Guangdong; born in Singapore; Hakka pronunciation: Lee Kong Yau), founding father of modern SingaporePrime Minister of Singapore (1959-1990). His mother Chua (蔡) is a Min Nan Nyonya
        • Lee Hsien Loong 李顯龍/李显龙 (1952-; Dabu, Guangdong; born in Singapore; Hakka pronunciation: Lee Hen Loong), Present Prime Minister of Singapore, his mother Kwa (柯) is of Min Nan Tong’an ancestry
        • Yong Nyuk Lin 楊玉麟/杨玉麟 (1918-, born in Malaysia), Cabinet Minister, 1959–1976
        • Hon Sui Sen 韓瑞生/韩瑞生 (1916-83; Jiexi, Guangdong, born in Malaysia; Hakka pronunciation: Hon Sui Sang), Finance Minister, 1970–1983
        • Howe Yoon Chong 侯永昌 (1923-2007; Meixian, Guangdong; born in China), Cabinet Minister, 1979–1984
        • Dr Hu Tsu Tau Richard 胡賜道/胡赐道 (1926-; Yongding, Fujian; born in Singapore), Finance Minister, 1985–2001
        • Elizabeth Choy (Yong Su Moi) 蔡楊素梅/蔡杨素梅 (1910-2006; born in Malaysia), War heroine; First and only woman to be on the Legislative Council of Singapore, 1951
        • Malaysia
          • Yap Ah Loy 葉亞來/叶亚来 (1837-1885; Huiyang, Guangdong; born in China), founder of Kuala Lumpur
          • Chung Keng Quee 鄭景貴/郑景贵 (1827-1901; Zengcheng, Guangdong; born in China; Hakka pronunciation: Chang Kin Gui), founder of TaipingPerak; Kapitan Cina, Penang and Perak
          • Yap Kwan Seng 葉觀盛/叶观盛[57] (1846-1902; Chixi, Guangdong; born in China; Hakka pronunciation: Yap Kon Sin), last Kapitan Cina, Kuala Lumpur, 1889-1902. A major road, Jalan Yap Kwan Seng in Kuala Lumpur takes its name from him.
          • Chung Thye Phin 鄭大平/郑大平 (1879-1935; Zengcheng, Guangdong; born in Malaysia), last Kapitan Cina, Perak
          • Datuk Seri Lau Pak Khuan 劉伯群/刘伯群 (1894-1971; Zengcheng, Guangdong; born in China; Hakka pronunciation: Liew Pak Khiun), founding member of the Malaysian Chinese Association; first Chinese to receive the “Datuk Seri” title from a Malaysian Sultan. Led the unsuccessful bid for Chinese equal citizenship-rights and official language status during the drafting of Malaysia’s constitution.
          • Tan Sri Wong Pow Nee 王保尼, (1911-2002; born in Malaysia), Chief Minister of Penang, 1957–1969
          • Datuk Peter Lo Sui Yin 羅思仁/罗思仁 (Longchuan, Guangdong), Chief Minister of Sabah, 1965–67
          • Datuk Yong Teck Lee 楊德利/杨德利 (1958-; Longchuan, Guangdong), Chief Minister of Sabah, 1996–1998
          • Tan Sri Datuk Amar Stephen Yong Kuet Tze 楊國斯/杨国斯 (1921-2001; Dabu, Guangdong; born in Malaysia), former Minister of Science, Technology & Environment
          • Peter Chin Fah Kui 陳華貴/陈华贵 (1945-; Bao’an, Guangdong; born in Malaysia), Plantation Industries and Commodities Minister, Malaysia, 2004-
          • Liow Tiong Lai 廖中莱 (Dabu, Guangdong; born in Malaysia; Hakka pronunciation: Liau Tsung Loi), Health Minister, Malaysia, 2008-
          • Teresa Kok 郭素沁 (1964-; Huizhou, Guangdong; born in Malaysia; Hakka pronunciation: Kok Su Sim), Member of Parliament, 1999-; Won by the highest majority among 200 seats contested in the 2008 General Elections
          • Cheong Fatt Tze 張弼士 (1840–1916; Dabu, Guangdong) Appointed the Chinese Consul (based in Penang) in 1890. Minister for agriculture, industries, roads and mines for the provinces of Fujian and Guangdong for the Qing Dynasty government in 1899, Member of the Legislative Assembly of the Republic of China (1912)
          • Philip Lee Tau Sang 李道生 (died 1959), Member of the Advisory Council of North Borneo (now the state of Sabah, 1947–1950), Legislative Council of North Borneo (1950–1958) and Executive Council of North Borneo (1950–1953, 1956–1957)
          • Thailand
            • Thaksin Shinawatra 丘達新/丘达新[58][59] (1949-; Fengshun, Guangdong; born in Thailand; Hakka pronunciation: Hiew Tat Sin), founder Thai Rak Thai political party; only Prime Minister of Thailand to finish a term of office and be reelected, 2001–2006; exiled, 2008.
            • Yingluck Shinawatra, first female Prime Minister of Thailand
            • Sudarat Keyuraphan (1961-; born in Thailand), Cabinet Minister, 2002–2006
            • Indonesia
              • Low Lan Pak 羅芳伯/罗芳伯 (1738-1778; Meixian, Guangdong), Founder and President, Hakka Lanfang Republic (present Western Kalimantan, now part of Indonesia), 1777–1884
              • Hasan Karman 黄少凡 (1962-; Meixian; Guangdong; born in Indonesia; Hakka pronunciation: Wong Sau Fan), Mayor of Singkawang, West Kalimantan; Indonesia’s first Chinese mayor
              • Basuki Tjahaja Purnama 鍾萬學 (1966-; Meixian; Guangdong; born in Indonesia; Hakka pronunciation: Tjung Ban Hok), former East Belitung Regent, 2005-2006; Deputy Governor of Jakarta, 2012-2017
              • Burma
                • Khin Nyunt (1939-; Meixian, Guangdong; born in Burma), Prime Minister of Burma, 2003–2004
                • Timor-Leste
                  • Pedro Lay (born in East Timor), Minister of Infrastructure, 2007-
                  • Gil Alves (born in East Timor), Minister of Tourism, Commerce & Industry, 2007-
                  • Mauritius
                    • Sir Moilin Jean Ah-Chuen 朱梅麟 (1909-1991; Meixian, Guangdong; born in Mauritius; Hakka pronunciation: Chu Moi Lin), first Chinese member, Legislative Council, 1949; Minister of Local Government, 1967–1976; second Hakka after Sun Yatsen to have his portrait printed on the bills of a country’s currency[60]
                    • Noel Lee Cheong Lem 李國華/李国华 (1951-; Meixian, Guangdong; born in Mauritius; Hakka pronunciation: Lee Ket Fah), Minister of Tourism, 1993–1995
                    • Joseph Tsang Mang Kin 曾繁興/曾繁兴 (1938-; Meixian, Guangdong; born in Mauritius), Minister of Art and Culture, 1995–2000
                    • Emmanuel Jean Leung Shing 陳念汀/陈念汀 (1944-; Meixian, Guangdong; born in Mauritius), Minister of Justice and Human Rights, 2000–2005
                    • Sylvio Tang Wah Hing 鄧學升/邓学升 (Meixian, Guangdong; born in Mauritius; Hakka pronunciation: Thien Hock Sin), Minister of Youth and Sports, 2005–2008, Minister For Consumer Protection And Citizens’ Charter, Sep 2008 – May 2010
                    • Australia

 


Liu Fuzhi
 劉復之/刘复之 (1917-; Meixian, Guangdong), Procurator-General, Supreme People’s Procuratorate, 1988–1993

 


  • Prajogo Pangestu
     (Phang Jun Phen) 彭雲鵬/彭云鹏 (1944-; born in Indonesia; Hakka pronunciation: Pang Yun Pen), Timber tycoon, Indonesia
  • Alan Yau 丘德威 (1962-; born in Hong Kong; Hakka pronunciation: Hiew Tet Wui), Founder, Wagamama restaurant chain, Hakkasan and Yauatcha, United Kingdom
  • Kiat Wattanavekin 丘細見 (1908-2013; born in Fungsung, Guangdong; Hakka pronunciation: Hiew Sai Kian), Founder, www.kiatnakin.co.th Bank, Sakonsataphat and Eastern Sugar, Thailand
  • Khun Bantoon Lamsam 伍捷仆 (Meixian, Guangdong), Founder, Kasikorn Bank (Thai Farmers Bank), Thailand
  • Robert Wan 温惠仁[65] (Guangdong; born in Tahiti, French Polynesia; Hakka pronunciation: Vun Fui Yin), Pearl producer (See Robert Wan Pearl Museum)
  • Tan Sri Jeffrey Cheah 謝富年/谢富年 (Dongguan, Guangdong; born in Malaysia; Hakka pronunciation: Chia Foo Ngen), Founder and chairman of The Sunway Group of Companies, Malaysia
  • Murdaya Poo (Meixian, born in Indonesia) Chairman, Berca Group, politician and tycoon.
  • Michael Lee-Chin (born in Jamaica), born to mix race black parents of Jamaican-Chinese Hakka ancestry, Chairman and CEO, AIC Limited, one of Canada’s largest mutual fund companies

 

 

  • Li Guohao 李國豪/李国豪 (1913-2005; Meixian, Guangdong; Hakka pronunciation: Lee Ket Hau), One of the top bridge experts in the world
  • Chung Li-ho 鐘理和/钟理和 (1915-1960; Kaohsiung, Taiwan; Hakka pronunciation: Tsung Lee Foh), Famous Taiwanese novelist, stayed in Manchuria before WWII ends
  • Han Suyin 韓素音/韩素音 (1917-2012; Xinyang, Henan), Famous novelist and author of books on modern China
  • Lin Haiyin 林海音 (1918-2001; ancestral Jiaoling, Guangdong; family came from Toufen, Miaoli, Taiwan; born in Japan; Hakka pronunciation: Lim Hoi Yim), Taiwanese novelist whose memoirs, 城南旧事 (My Memories of Old Beijing), was made into a movie of the same name
  • Shing-Tung Yau 丘成桐 (1949-; Jiaoling, Guangdong; Hakka pronunciation: Hiew Sin Tung), Chinese-American mathematician
  • Chin Liew Ten (born in Malaysia), Professor of Philosophy and former Head of the Philosophy Department, National University of Singapore; noted scholar of John Stuart Mill

 Peranakan Tionghoa Serui

papua serui - tukang.jpg

2013

Hakka in China[edit]

 

 

Meizhou Prefecture (in yellow) in Guangdong Province, where Xingning andMeixian are located

Guangdong

Hakka who live in Guangdong comprise about

60% of the total Hakka population.

 Worldwide,

over 95% of the overseas-descended Hakka

came from

this Guangdong region,

 usually from 

Meizhou and Heyuan:

Hakka there live mostly in the northeast part of the province, particularly in the so-called

 Xing-Mei (Xingning-Meixian) area.

 

 Jiangxi contains

the second largest Hakka community.

 Unlike their kin in Fujian, Hakka in the Xingning and Meixian area developed a non-fortress-like unique architectural style,

most notably the weilongwu

 (Chinese: 圍龍屋, wéilóngwū or Hakka: Wui Lung Wuk)

and

 sijiaolou

(Chinese: 四角樓, sìjǐaolóu or Hakka: Si Kok Liu).

Pembukaan World Hakka Congress Di Jakarta

September 2013

Lihat klik

 

 

 

 

KISI INFO SERAT SITI JENAR

SERAT

SERAT SITI JENAR

 

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

The Java History Collection

Part Two

SERAT JAVA

CREATED BY

Dr Iwan suwandy,MHA

Special for KISI Member

Copyright@2013

Serat Syeikh Siti Jenar

 

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, Yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817),

 dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dengan kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.

Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yang dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17.

Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yang berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yang mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yang diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yang masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,

“[I]Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

 

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yang saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yang memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dengan kota Tarim di Hadramaut.

 

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yang semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yang bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yang ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yang menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yang sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

 

Adapun Syekh Maulana ‘Isa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahmad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yang kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yang sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dengan sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

 

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yang sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, bersama-sama dengan ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syekh Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

 

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yang sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh Datuk Kahfi.

 

Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yang saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

 

Saat itu Cirebon dengan Padepokan Giri Amparan Jatinya yang diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dengan sepenuh hati, disertai dengan pendidikan otodidak bidang spiritual.

 

Setelah diasuh oleh Ki Danusela sampai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yang berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus]

 

Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yang akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dengan pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dengan usia sekitar 17-an tahun.

 

Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.

 

Tujuan pertamanya adalah Pajajaran yang dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

 

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dengan Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dengan “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yang meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

 

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.

 

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yang dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yang kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.

 

Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dengan para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dengan menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tersebut dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yang oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh Jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dengan Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.

 

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yang menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).

 

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

 

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yang tergelar di alam semesta ini, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.

 

Inilah pangkal pandangan yang dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yang dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yang bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yang nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yang maujud.

 

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dengan paham Syi’ah Ja’fariyyah, yang di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

 

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dengan baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah al-Qusyairi (w.1074), Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). Secara kebetulan periode al-Jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yang masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

 

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yang pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam Syar’i Madzhabi yang ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yang kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yang dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

 

Dari sekian banyak kitab sufi yang dibaca dan dipahaminya, yang paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tentang sesuatu yang pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

 

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yang memiliki ujung pemahaman yang mirip dengan secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dengan al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

 

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yang digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yang terpenting, memiliki banyak kemiripan dengan pengalaman rohani yang sudah dilewatkannya, serta yang akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yang banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

 

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yang digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yang terkenal adalah al-Qawwal dengan penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

 

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yang menyelubunginya telah tersingkap. Dengan ini seseorang akan menjadi berbeda dengan umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yang membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

 

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dengan sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yang berbunyi aneh, Subhani, alhamduli, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yang di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

 

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dengan ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tersebut mengalami nasib yang baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.

 

Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)

 

1.“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”

 

Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yang bertemu-hadapan dengan Allah, yang menyembah Allah, yang disembah Allah, yang meliputi segala sesuatu.”

 

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yang maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yang disebut mir’ah al-haya’ (cermin yang memalukan). Bagi orang yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yang menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.

 

Maka jadilah dia yang menyembah sekaligus yang disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

 

2. “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”

 

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yang bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.

 

Karena hanya Dialah yang menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

 

3.“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yang artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”

 

Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.

 

Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yang utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.

 

Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.

 

Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah.

 

Sedangkan rohnya yang menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

 

4. “Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat : 96)”, yang maknanya Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yang terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs. Al-Anfal : 17)”, maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yang maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

 

Eksistensi manusia yang manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yang menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

 

5. “Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah. Ketahuilah juga apa yang dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”

 

Syekh Siti Jenar menyatakan dengan tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yang selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yang dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yang menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.

 

Source: http://mistikus-sufi

SOURCE tagiyeh

 

Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya Manunggaling Kawula Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Ruh Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.

Inti ajaran Syekh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Ruh Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai Manunggaling Kawula Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.

Suatu ketika Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syekh Siti Jenar berkata, “Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut:

Tentang Ketuhanan

Murid: Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia?

Syekh Jenar: Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.

Murid: Wahai Kanjeng Sykeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat?

Syekh Jenar: Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.

Murid: Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu?

Syekh Jenar: Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.

Murid: Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah?

Syekh Jenar: Tidak! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.

Murid: Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah?

Syekh Jenar: Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara Syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para Nabi, Rasul dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.

Murid: Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah?

Syekh Jenar: Benar! Mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Salat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka salat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.

Murid: Banyak orang melakukan salat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana?

Syekh Jenar: Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk salatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat salatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk? Masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Salatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan … aneh!

Murid: Wahai Syekh, ada Hadis Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana?

Syekh Jenar: Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari Hadis tersebut. Hadis itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syekh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya Hadis itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.

Murid: Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang?

Syekh Jenar: Sesungguhnya aku (Syekh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan salat. Jika selesai salat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan salat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di Masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di Masjid berlama-lama sampai lupa anak-istri. Sedangkan ia masih mencintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.

Murid: Ruh Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh?

Syekh Jenar: Gusti Allah. Gusti Allah adalah Ruh yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran Jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.

Murid: Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad?

Syekh Jenar: Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.

Murid: Bagaimana ajaran Kanjeng Syekh yang dianggap sesat?

Syekh Jenar: Aku adalah penjelmaan dari Ruh Luhur, yang memiliki semangat, sakti dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.

Murid: Apa hubungannya antara kanjeng Syekh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Ruh Sejati?

Syekh Jenar: Ruh yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Maha Suci.

Murid: Wahai Syekh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci?

Syekh Jenar: Allah Maha Suci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang. Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.

Murid: Di manakah Tuhan berada? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.

Syekh Jenar: Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.

Murid: Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana?

Syekh Jenar: Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah. Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.

Murid: Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syekh memberi penjelasan yang lebih gamblang?

Syekh Jenar: Gusti Allah itu berada pada Ruh yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.

Murid: Apakah Allah itu berupa roh atau sukma?

Syekh Jenar: Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang 20 itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Ruh. Sifat 20 itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat 20 itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.

Murid: Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang Nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi? Sedangkan dikatakan bahwa setelah Nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada ke-Nabi-an lagi?

Syekh Jenar: Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah Ruh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat 20. Sedangkan badan wadagku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indera itu hanyalah meminjam. Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.

Murid: Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya?

Syekh Jenar: Siapa bilang begitu? Tidak! Meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.

Murid: Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh?

Syekh Jenar: Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Ruh Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.

Murid: Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya?

Syekh Jenar: Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi, jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia. Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.

Murid: Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah?

Syekh Jenar: Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.

Murid: Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah?

Syekh Jenar: Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.

Murid: Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh Manunggaling Kawula Gusti?

Syekh Jenar: Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap Manunggaling Kawula Gusti.

Murid: Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya?

Syekh Jenar: Kalian jangan mencintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.

Murid: Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada Surga – Neraka?

Syekh Jenar: Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa Surga dan Neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akhirat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.

Murid: Kalau menurut Syekh bagaimana?

Syekh Jenar: Begini, untuk menemui dan merasakan Surga dan Neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan Surga dan siksa Neraka. Karena sesungguhnya Surga dan Neraka itu berada di dalam jiwa kalian. Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan Surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut Surga. Sedangkan Neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan Neraka.

Murid: Jadi Surga dan Neraka di akhirat tidak berlaku? Maksud kami tidak ada?

Syekh Jenar: Surga dan Neraka di hari kiamat, di akhirat kelak, sudah diterangkan dalam Qur’an. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.

Murid: Untuk apa meyakini? Bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan Surga. Sedangkan Surga dan Neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk?

Syekh Jenar: Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada Surga dan Neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan Surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka Surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.

Murid: Wahai Syekh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang?

Syekh Jenar: Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya? Tidak!

Murid: Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat?

Syekh Jenar: Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Ruh Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Ruh Tuhan. Selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.

Murid: Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh?

Syekh Jenar: Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.

Murid: Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya?

Syekh Jenar: Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.

Murid: Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga?

Syekh Jenar: Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.

Murid: Maaf saya belum paham Syekh.

Syekh Jenar: Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.

Murid: Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan Ruh Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya?

Syekh Jenar: Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.

Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para Walisongo. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Walisongo. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam, sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja

 

KISI INFO SERAT PURWAKA

SERAT PURWAKA

The World created(java big Bang)

The God created man (Adam)

Women creation

The human next generation creation

The land strata(geologis)

Cellular Development

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

The Java History Collection

Part Two

SERAT JAVA

CREATED BY

Dr Iwan suwandy,MHA

Special for KISI Member

Copyright@2013

Serat purwaka

The World created(java big Bang)

The God created man (Adam)

Angrawerdhono Sejatining ngelmu

Dudu supoyo aku dadu kinoyo sopo

Aku agono mung sapo…wohe ilmu sapo

Angling luwih utami….Parawing Sumadi

Guru mung pitudi……agone ngundu(?)

Sinuwun….dewe

Weluh sopo ……Siro

Angrawerdhono dasarnya ngelmu
Jadi aku bukan orang kinoyo dadu
Saya hanya agono Sapo Sapo … ilmu buah
Angle …. lebih utama Parawing Sumadi
Guru hanya pitudi …… Agone ngundu (?)
Sinuwun sendiri ….
Anda Weluh individu
……

 

 

Women creation

Sejatinya dosa tak ada yang tahu sejatinya manusia hanya dirinya yang tahu

Berjalanlah sesuai hati dan jiwamu karna kau sendiri menempuh perjalanan panjangmu

Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling (Serat Wulangreh, PB IV)

 

Unggah-ungguh/tata krami salah satunggalipun tembung ingkang wigati tumrap bebrayan Jawi. Unggah-ungguh nedahaken tindak-tanduk lan pakartinipun budaya tiyang Jawi anggenipun sesrawungan kaliyan tiyang sanes.

Tata krami sumberipun saking kabudayan Jawi mliginipun basa Jawi. Tiyang Jawi ngginaaken basa Jawi mboten namung sarana kangge sesrawungan nanging ingkang langkung utami kangge atur pakurmatan tiyang sanes utawi nglenggahaken status sosial ingkang kedah dipun kurmati.

Para leluhur ing tanah Jawi ndadosaken tata krami minangka way of life  ingkang sampun ambalung sungsum dados perangan gesangipun manungsa. Pramila kangge mengertosi budaya Jawi sawetahipun ingkang kebak pralambang lan pasemon ingkang sinamung samudana, kedah dipun sinau, dipun gegulang kanti raos ingkang sareh lan sumeleh saha kanthi lantiping sasmita.

Kados kasebat wonten ing Serat Wulanreh pupuh Kinanthi yasan dalem PB IV ing inggil. Tiyang Jawi sanget nemenaken olah rasa lan olah jiwa. Pramila babagan tata krami kedah dipun persudi, dipun lestantunaken minangka jati dhirinipun tiyang Jawi.

Nanging ing wekdal sapunika, wonten raos prihatos amrih lestantunipun budaya Jawi. Unggah-ungguh tumrapipun saperangan para mudha dipun lirwaaken, nilar tata krami, tebih saking subasita. Sansaya  dangu mboten ketingal gregetipun nggegulang kawruh budaya nanging kepara nyingkuri jati dhirinipun piyambak.

Para mudha ingkang kagadhang-gadhang saget nglajengaken kagunan budaya ing madyaning bebrayan, malah mboten wonten rumaos melu handarbeni budayanipun. Punika sampun kabukten kathah para mudha ingkang mboten saget matur mawi basa Jawi, langkung remen ngginaaken basa manca, sarwa kebat kliwat, kirang duga lan prayoga, kirang trapsila, grusa-grusu lan sanesipun.

Babagan kawontenanipun para mudha ingkang kados mekaten, tebih sakderengipun, raja ing Surakarta Sinuhun PB IV sampun  paring cecala ing pupuh Kinanthi pada kaping 8: Yen wong anom-anom iku, kang kanggo ing masa iki, andhap asor kang den simpar, umbag gumunggunging dhiri, obral umuk kang den gulang, kumenthus lawan kumaki.

Kasinggihan, sapunika sampun arang kapireng tembung: nyuwun sewu, ndherek langkung, nyuwun pangapunten, kepareng matur tumrapipun para mudha. Tetembungan punika, sanajan namung sapala, nanging mengku tata krami menawi badhe matur dhumateng tiyang sanes.

Lunturipun tata krami, salah satunggalipun sabab nyebataken awit majengipun teknologi informasi lan globalisasi, ingkang ndadosaken jagad pasrawungan sarwa instan.

Samubarang tumindak kedah cepet supados mboten tinilar jaman. Punika wonten leresipun, nanging sampun ngantos budaya Jawi, mliginipun unggah ungguh/tata krami, ical musna kados dene basa Jawi Kina ingkang sapunika sampun mboten saged dipun magertosi malih. Sumangga sadaya gumregah, gumregut lan mbudidaya amrih lestantunipun.

 

serat sebelumnya
Angrawerdhono dasarnya ngelmu
Jadi aku bukan orang kinoyo dadu
Saya hanya agono Sapo Sapo … ilmu buah
Angle …. lebih utama Parawing Sumadi
Guru hanya pitudi …… Agone ngundu ( ? )
Sinuwun sendiri ….
Anda Weluh individu ……
Angrawerdhono Dasar ngelmu
Jadi saya bukan orang kinoyo dadu
Saya suntingan agono Sapo Sapo … buah ilmu
Angle …. silahkan Parawing Sumadi utama
Guru suntingan pitudi …… Agone ngundu ( ? )
Sinuwun saja ….
Weluh bahwa Anda seorang individu ……

Sejatinya dosa saya tahu suntingan ADA penyaring sejatinya manusia tahu terdekatnya
Berjalanlah sesuai Hati dan jiwa Karena Anda bepergian sendirian menempuh panjangmu
Mereka gulangen dalam hati nurani , di amrih Lantip Hati-hati , jangan makan pijer Nendra , kaprawiran dibuat kaesthi pesunen sariranira , sudanen makan dan bantal ( Fiber Wulangreh , PB IV )

Unggah-ungguh/tata mantan kata pemberontakan pentingnya bebrayan . Unggah ungguh – aksi pertunjukan perilaku pakartinipun dan budaya persekutuan hubungannya dengan itu .
Pemberontakan dari sumber budaya , terutama bahasa . Ensiklopedia bahasa ngginaaken tidak hanya dengan persekutuan tetapi utama adalah diri – menghormati nglenggahaken atau status sosial yang harus kurmati .
Para ayah di tanah prosedur ndadosaken pemberontakan sebagai cara hidup yang telah ambalung sumsum segmen kehidupan manusia . Oleh karena itu untuk kultur mengertosi Beberapa dapat diisi dan perumpamaan sinamung samudana , harus dipelajari , dengan perasaan bahwa gegulang Kedua , dan sumeleh dan lantiping hati .

The human next generation creation

  
Seperti disebut dalam kesimpulan Wulanreh Tag Kinanthi yasan kita dalam PB IV tinggi. Sangat nemenaken rasa halus dan penduduk halus . Oleh karena itu prosedur harus persudi pemberontakan , yang lestantunaken sebagai JATI teater Jawa .
Namun, waktu sekarang, ada rasa prihatos amrih budaya lestantunipun . Unggah ungguh -down dari beberapa lirwaaken tersebut , ditinggalkan prosedur pemberontakan , jauh dari subasita . Sebuah waktu yang lama mendapatkan itu gregetipun nggegulang pengetahuan budaya tetapi kepara nyingkuri JATI teater saja .
The down-the gadhang kagadhang dapat melanjutkan budaya apapun di tengah bebrayan , tetapi ada rumaos terlibat handarbeni budayanipun . Ia memiliki banyak kabukten menuruni terganggu dijawab dengan ensiklopedia bahasa, lebih dari senang ngginaaken bahasa asing , saya bundel kliwat , kurang diharapkan dan baik , kurang trapsila , grusa – grusu yang lain .

The land strata(geologis)

Tentang co bawah seperti alasan , jauh sebelumnya, raja Surakarta Sinuhun PB IV telah memberikan cecala Tag Kinanthi di 8 : Jika Anom Anom -of untuk masa depan ini, yang dibuat sederhana Auto , umbag potret gumunggunging , penjualan dilakukan umuk Gulang , kumenthus kumaki melawan dia .
Kasinggihan , kini jarang kapireng kata : Aku menyesal , selamat tinggal , meminta pengampunan , silakan berbicara melawan mereka. Kata-kata , bahkan jika hanya sapala , tapi turun prosedur pemberontakan yang tidak akan berbicara dengan orang .
Withers prosedur pemberontakan , mantan penyebab , sebut saja sejak teknologi informasi dan globalisasi, pasrawungan dunia I ndadosaken instan .
Setiap tindakan cepat sehingga kita bisa tinilar tanggal . Memang benar , tapi sampai budaya , terutama ungguh upload / prosedur pemberontakan , pergi pergi seperti bahasa artefak yang ada sekarang tidak bisa magertosi lagi. Silakan gumregah semua , dan perlu diingat gumregut amrih lestantunipun .

 

 

Cosmic  Development

SERAT PURWAKA

FOUND SOLO 1994 provenance  Dr Iwan

 

Serat Purwaka

data object from SultanYogyaBook_islamhs_00000037

to the DFG-viewer

 

 

 

Common data

 

Nomor inventaris

 

↳ aktuil

B.21

↳ alternatip

Girardet 40525

Dataset type

naskah

 

Ringkasan isi

Bahasa

Bahasa Jawa

Aksara

jawa

Daerah

Asia Tenggara

Terjemahan di antara baris

tidak dikenal

Judul

 

↳ seperti dalam naskah

Serat Babon Purwa

↳ Versi lengkap

Serat Purwakandha

Status Kelengkapan

hampir lengkap

Tema

Wayang

Isi

Cerita Wauyang orang mulai dari Prabu Watugunung sampau kematian Boma

 

Keterangan fisik

Penjilidan

 

↳ Bahan

Kulit

↳ Status kondisi

Bagus

Bahan tulis

 

↳ Bahan

kertas

↳ Warna

kekuning-kuningan-putih

↳ Cap air

Concordia Crescunt/ Res Parvae

↳ Status kondisi

Bagus

Jumlah lembar

886 halaman

Ukuran

19 x 33 cm

Bagian teks (ukuran)

15 x 28 cm

Jumlah baris

antara 20-23 baris tiap halaman

Jumlah kolom

satu

Alihan

tidak dikenal

↳ Tinta

hitam

 

Kodikolog

Maharsi

Pemilik

Sri Sultan Hamengkubuwono X

 

   
   
 
     
  PURWAKAGandaning candhana mahanani anyesing ati, ngluwihi anyesing sorote rembulan. Manawa gandaning candhana iku ditikelake loro, isih kalah karo anyesing pangandikane pandhita kang pindha tirta mareta. Geni iku panas, ngluwihi panasing srengenge. Nanging manawa panasing geni iku ditikelake loro, isih kongkulan panasing guneme wong ala.

The cool fragrance of sandalwood, even more than the moonlight, refreshes the heart. But if its fragrance were doubled in sweetness, it would still not be as sweet as priestly words flowing like the water of immortality. Fire is hotter than the sunshine, but if its heat were doubled in ferocity, it would still not burn as hot as the words of an evil person.
 
   PREFACEAll praise is due to God, the Lord of the World.The above passage, a translation of the
Serat Nitisastra from the Mojopahit Dynasty,
is a good introduction to the way the Javanese
view their literature, most of which concerns
their history or spirituality.We were inspired to collect these ancient
Javanese texts, and offer them to you with
the utmost appreciation and respect to our
ancestors who left these teachings to us.We hope that by offering them on
the World Wide Web, we will preserve
the Javanese culture and add in some
small way to the philosophical and
spiritual discourse of the people.The meaning of these ancient texts is
quite naturally the subject of much speculation
and debate among scholars. Many passages
are famous for their hidden prophecies.Regardless of our attempts to come to terms
with their meaning, we have produced
a translation that does not attempt to clear up
their often-perplexing ambiguity.
We recommend that you read and ponder
them with an open mind.As an aid to understanding them, we offer
the following; these poems are often written in
the form of parables, and are replete
with sayings and complex symbolism.

Words often have more than one meaning.
For example, the word “eling” means; remember.
But depending on the context, eling also means:
an ethical value; a level of depth in one’s spiritual
awareness; a return to consciousness
after fainting, etc.

It is difficult to translate without forcing an
interpretation on the text. However, we will do
our best to offer alternate meanings in the
footnotes where we feel they are relevant.

Keep in mind that it is important to be aware
of where we are in a given poem. Context is
often a great clue as to their meaning.

Finally, to put oneself in the proper disposition
to read these Serat Jawis, it is necessary to be
peaceful, attentive, clear of mind, body and spirit.

While contemplating them, one should strive not
to be rude, coarse, hurried, greedy or have
impure thoughts.

This is so you may reach
our noble aim of spiritual enlightement
as a result of properly understanding
the meaning of these teachings.

Purwokerto – New York

sembah katur ing ngarsaning
Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Petikan kasebat ing nginggil punika kapendhet saking Serat Nitisastra titilaranipun Kraton Mojopahit,
minangka bebuka manawi panjenengan badhe kersa mundhut pirsa ngengingi bab Serat-serat Jawi kina
ingkang kathah-kathahipun wonten gandheng
cenengipun kaliyan sejarah utawi
ulah kabatosan.

Pangimpun sami kumawantun nglempakaken pepethikan Serat-serat Jawi punika minangka
atur pamundi-mundi kula dhumateng para
leluhur ingkang sampun nilari wejangan punika.

Piwulang punika lajeng kawula wedharaken
wonten beranda warta punika ing pangajab
sageda sumebar dados wawaosing ngakathah
ing saindenging jagad nata.

Pangimpun rumaos gadhah kuwajiban tumut nguri-uri kabudhayan Jawi, langkung-langkung ingkang ngengingi panyuraosipun piwulang ing babagan filsafat
lan ulah kabatosan.

Wondene panyuraosipun piwulang kasebut
saged nuwuhaken pangertosan ingkang warni-warni amargi serat-serat punika sami dhinapur
ing pralampita. Dene badharing pralampita
wau muhung saking pangertosan kita
piyambak-piyambak.

Panggelaring sadaya serat piwulang punika
prasasat boten wonten tembung ingkang ukaranipun kadamel prasaja, ananging tansah nyimpen
wewados kalimpadaning basa.

Sarehning makaten kawontenanipun,
kula nyuwun sih samodranng pangaksami
mbokmanawi panyuraosing piwulang wau wonten
klentunipun awit kula piyambak dereng mumpuni
saestu ing babagan punika.

Wewejangan punika tansah kadhapur tembung
paribasan,  pasemon, pralambang, tuwin pralampita. Umpaminipun tembung “eling” tegesipun emut.
Nanging ugi anggadhahi teges; tumindak ingkang
boten nyalahi tata krama; sifat pasrah marang Gusti,
kahanan alam pikiraning manungsa, sadar
saksampunipun semaput, lsp.

Dados manawi kita badhe nyuraos piwulang,
punika kita kedah ngengeti parwa lan
slokanipun, yen boten makaten tamtu
badhe klentu panyuraosipun.

Minangka pungkasaning rembag, manawi
panjenengan badhe maos serat-serat Jawi punika
kedah kanthi penggalih ingkang suci, tentrem, teliti,
lan wening supados saged mangertosi wejanganipun.

Sampun ngantos grusa-grusu, srakah,
punapa malih kanthi regeding manah.
Wasana sugeng rahayu.

Nuwun

Mas Budi – Mastoni
Pangimpun

   PURWAKAPurwaning sembah katur ing ngarsaning
Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.Petikan kasebat ing nginggil punika kapendhet saking Serat Nitisastra titilaranipun Kraton Mojopahit,
minangka bebuka manawi panjenengan badhe kersa mundhut pirsa ngengingi bab Serat-serat Jawi kina
ingkang kathah-kathahipun wonten gandheng
cenengipun kaliyan sejarah utawi
ulah kabatosan.Pangimpun sami kumawantun nglempakaken pepethikan Serat-serat Jawi punika minangka
atur pamundi-mundi kula dhumateng para
leluhur ingkang sampun nilari wejangan punika.Piwulang punika lajeng kawula wedharaken
wonten beranda warta punika ing pangajab
sageda sumebar dados wawaosing ngakathah
ing saindenging jagad nata.Pangimpun rumaos gadhah kuwajiban tumut nguri-uri kabudhayan Jawi, langkung-langkung ingkang ngengingi panyuraosipun piwulang ing babagan filsafat
lan ulah kabatosan.Wondene panyuraosipun piwulang kasebut
saged nuwuhaken pangertosan ingkang warni-warni amargi serat-serat punika sami dhinapur
ing pralampita. Dene badharing pralampita
wau muhung saking pangertosan kita
piyambak-piyambak.

Panggelaring sadaya serat piwulang punika
prasasat boten wonten tembung ingkang ukaranipun kadamel prasaja, ananging tansah nyimpen
wewados kalimpadaning basa.

Sarehning makaten kawontenanipun,
kula nyuwun sih samodranng pangaksami
mbokmanawi panyuraosing piwulang wau wonten
klentunipun awit kula piyambak dereng mumpuni
saestu ing babagan punika.

Wewejangan punika tansah kadhapur tembung
paribasan,  pasemon, pralambang, tuwin pralampita. Umpaminipun tembung “eling” tegesipun emut.
Nanging ugi anggadhahi teges; tumindak ingkang
boten nyalahi tata krama; sifat pasrah marang Gusti,
kahanan alam pikiraning manungsa, sadar
saksampunipun semaput, lsp.

Dados manawi kita badhe nyuraos piwulang,
punika kita kedah ngengeti parwa lan
slokanipun, yen boten makaten tamtu
badhe klentu panyuraosipun.

Minangka pungkasaning rembag, manawi
panjenengan badhe maos serat-serat Jawi punika
kedah kanthi penggalih ingkang suci, tentrem, teliti,
lan wening supados saged mangertosi wejanganipun.

Sampun ngantos grusa-grusu, srakah,
punapa malih kanthi regeding manah.
Wasana sugeng rahayu.

Nuwun

Mas Budi – Mastoni
Pangimpun

  PREFACEAll praise is due to God, the Lord of the World.The above passage, a translation of the
Serat Nitisastra from the Mojopahit Dynasty,
is a good introduction to the way the Javanese
view their literature, most of which concerns
their history or spirituality.We were inspired to collect these ancient
Javanese texts, and offer them to you with
the utmost appreciation and respect to our
ancestors who left these teachings to us.We hope that by offering them on
the World Wide Web, we will preserve
the Javanese culture and add in some
small way to the philosophical and
spiritual discourse of the people.The meaning of these ancient texts is
quite naturally the subject of much speculation
and debate among scholars. Many passages
are famous for their hidden prophecies.Regardless of our attempts to come to terms
with their meaning, we have produced
a translation that does not attempt to clear up
their often-perplexing ambiguity.
We recommend that you read and ponder
them with an open mind.As an aid to understanding them, we offer
the following; these poems are often written in
the form of parables, and are replete
with sayings and complex symbolism.

Words often have more than one meaning.
For example, the word “eling” means; remember.
But depending on the context, eling also means:
an ethical value; a level of depth in one’s spiritual
awareness; a return to consciousness
after fainting, etc.

It is difficult to translate without forcing an
interpretation on the text. However, we will do
our best to offer alternate meanings in the
footnotes where we feel they are relevant.

Keep in mind that it is important to be aware
of where we are in a given poem. Context is
often a great clue as to their meaning.

Finally, to put oneself in the proper disposition
to read these Serat Jawis, it is necessary to be
peaceful, attentive, clear of mind, body and spirit.

While contemplating them, one should strive not
to be rude, coarse, hurried, greedy or have
impure thoughts.

This is so you may reach
our noble aim of spiritual enlightement
as a result of properly understanding
the meaning of these teachings.

Purwokerto – New York

 
     
  PURWAKAPurwaning sembah katur ing ngarsaning
Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.Petikan kasebat ing nginggil punika kapendhet saking Serat Nitisastra titilaranipun Kraton Mojopahit,
minangka bebuka manawi panjenengan badhe kersa mundhut pirsa ngengingi bab Serat-serat Jawi kina
ingkang kathah-kathahipun wonten gandheng
cenengipun kaliyan sejarah utawi
ulah kabatosan.Pangimpun sami kumawantun nglempakaken pepethikan Serat-serat Jawi punika minangka
atur pamundi-mundi kula dhumateng para
leluhur ingkang sampun nilari wejangan punika.Piwulang punika lajeng kawula wedharaken
wonten beranda warta punika ing pangajab
sageda sumebar dados wawaosing ngakathah
ing saindenging jagad nata.Pangimpun rumaos gadhah kuwajiban tumut nguri-uri kabudhayan Jawi, langkung-langkung ingkang ngengingi panyuraosipun piwulang ing babagan filsafat
lan ulah kabatosan.Wondene panyuraosipun piwulang kasebut
saged nuwuhaken pangertosan ingkang warni-warni amargi serat-serat punika sami dhinapur
ing pralampita. Dene badharing pralampita
wau muhung saking pangertosan kita
piyambak-piyambak.

Panggelaring sadaya serat piwulang punika
prasasat boten wonten tembung ingkang ukaranipun kadamel prasaja, ananging tansah nyimpen
wewados kalimpadaning basa.

Sarehning makaten kawontenanipun,
kula nyuwun sih samodranng pangaksami
mbokmanawi panyuraosing piwulang wau wonten
klentunipun awit kula piyambak dereng mumpuni
saestu ing babagan punika.

Wewejangan punika tansah kadhapur tembung
paribasan,  pasemon, pralambang, tuwin pralampita. Umpaminipun tembung “eling” tegesipun emut.
Nanging ugi anggadhahi teges; tumindak ingkang
boten nyalahi tata krama; sifat pasrah marang Gusti,
kahanan alam pikiraning manungsa, sadar
saksampunipun semaput, lsp.

Dados manawi kita badhe nyuraos piwulang,
punika kita kedah ngengeti parwa lan
slokanipun, yen boten makaten tamtu
badhe klentu panyuraosipun.

Minangka pungkasaning rembag, manawi
panjenengan badhe maos serat-serat Jawi punika
kedah kanthi penggalih ingkang suci, tentrem, teliti,
lan wening supados saged mangertosi wejanganipun.

Sampun ngantos grusa-grusu, srakah,
punapa malih kanthi regeding manah.
Wasana sugeng rahayu.

Nuwun

Mas Budi – Mastoni
Pangimpun

 
   
     
  PREFACEAll praise is due to God, the Lord of the World.

The above passage, a translation of the
Serat Nitisastra from the Mojopahit Dynasty,
is a good introduction to the way the Javanese
view their literature, most of which concerns
their history or spirituality.
We were inspired to collect these ancient
Javanese texts, and offer them to you with
the utmost appreciation and respect to our
ancestors who left these teachings to us.We hope that by offering them on
the World Wide Web, we will preserve
the Javanese culture and add in some
small way to the philosophical and
spiritual discourse of the people.The meaning of these ancient texts is
quite naturally the subject of much speculation
and debate among scholars. Many passages
are famous for their hidden prophecies.Regardless of our attempts to come to terms
with their meaning, we have produced
a translation that does not attempt to clear up
their often-perplexing ambiguity.
We recommend that you read and ponder
them with an open mind.As an aid to understanding them, we offer
the following; these poems are often written in
the form of parables, and are replete
with sayings and complex symbolism.

Words often have more than one meaning.
For example, the word “eling” means; remember.
But depending on the context, eling also means:
an ethical value; a level of depth in one’s spiritual
awareness; a return to consciousness
after fainting, etc.

It is difficult to translate without forcing an
interpretation on the text. However, we will do
our best to offer alternate meanings in the
footnotes where we feel they are relevant.

Keep in mind that it is important to be aware
of where we are in a given poem. Context is
often a great clue as to their meaning.

Finally, to put oneself in the proper disposition
to read these Serat Jawis, it is necessary to be
peaceful, attentive, clear of mind, body and spirit.

While contemplating them, one should strive not
to be rude, coarse, hurried, greedy or have
impure thoughts.

This is so you may reach
our noble aim of spiritual enlightement
as a result of properly understanding
the meaning of these teachings.

Purwokerto – New York

kisi info Ramalan Joyoboyo

 

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

RAMALAN JAYABAYA

source :Mastoni

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
One day there will be a cart without a horse.Tanah Jawa kalungan wesi.
The island of Java will be circled by an iron necklace. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhang.
There will be markets without crowds.

Iku tandane yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Many promises unkept.

Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.
People will tend to blame on each other.

Ora ngindhahake hukum Allah.
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamake dhuwit.
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Abandoning their families.

Akeh bapa lali anak.
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.
Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.
Family members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
People will forget their roots.

Ukuman ratu ora adhil.
The queen’s judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.
Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Men will be carried in a stretcher.

Randha seuang loro.
A divorcee will be valued at 17 cents.

Prawan seaga lima.
A virgin will be valued at 10 cents

Dudha pincang laku sembilan uang.
A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dhadhu.
It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randha nglairake anak.
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapake.
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Students will show hostility toward teachers.

Tangga padha curiga.
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
When this happens, a crow will be said to be an egret

Wong salah dianggep bener.
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Betrayers will live in the utmost of material comfort

Durjana saya sempurna.
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
The modest will be trapped.

Wong mulya dikunjara.
The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.
The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.
The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.
Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh barang haram.
Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.
Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.
Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.
The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.
Many people will suffer from starvation and inability to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.
Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.
Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
In the way they earn a living, people will be as rice paddies being swung around and blown

up.

Sing kebat kliwat.
Some will go wild out of control.

Sing telat sambat.
Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

Sing gedhe kesasar.
The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.
The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.
The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.
The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.
The risk takers will be successful.

Sing jirih ketindhih.
The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under foot.

Sing ngawur makmur.
The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.
The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.
The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.
The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.
The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.
Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuwasaane.
The queen who does not keep her promises will lose her power.

Bupati dadi rakyat.
The leaders will become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.
The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gedhe.
The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.
The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing ndhuwur jaran.
There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.
People will attack other people.

Anak lali bapak.
Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.
Parents will not want to take their responsibility as parents.

Pedagang adol barang saya laris.
Merchants will sell out of their merchandise.

Bandhane saya ludes.
Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Many people will die from starvation in prosperous times.

Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sengsara.
Many people will have lots of money yet, be unhappy in their lives.

Sing edan bisa dandan.
The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.
The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
The ones who are fair and sane will suffer in their lives and will be isolated.

Ana peperangan ing njero.
There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
As a result of misunderstandings between those at the top.

Durjana saya ngambra-ambra.
The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.
There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.
The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.
Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.
The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.
The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan lungane.

Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
There will be disappearance of great riches, titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
There will be many illegal goods. There will be many babies born without fathers.

Bejane sing lali, bejane sing eling.
Nanging sauntung-untunge sing lali.
Those people who forget God’s Will may be happy on earth.

Isih untung sing waspada.
But those who are remember God’s will are destined to be happier still.

Angkara murka saya ndadi.
Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.
Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.
Doing business will be more difficult.

Akeh buruh nantang juragan.
Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.
The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.
The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.
The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.
The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.
The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.
Job titles will become enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.
There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.
Their vice regent will be selected from among the ranks of the gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.
Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Those who are evil, and know how to flatter their boss, will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.
Human exploitation will be worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.
The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.
Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.
Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.
Looters will be given applause.

Wong momong mitenah sing diemong.
People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.
Guards will steel the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.
Guarantors will ask for collateral.

Akeh wong mendem donga.
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.
Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.
Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.
Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.
Many people will be greedy for power, wealth and position.

Nggedheake duraka.
Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.
Religious law will be broken.

Prikamanungsan diiles-iles.
Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.
Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.
Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
They will become the victims of evil and cruel persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Then there will come a queen who is influential

Lan duwe prajurit.
She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.
Her country will measured one-eighth the circumference of the world.

Tukang mangan suap saya ndadra.
The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.
The evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.
The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.
Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga.
Gold will be thought to be copper

Dhandhang diandakake kuntul.
A black crow will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.
The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.
The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.
The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.
The people will seek revenge against the fiercely violent ones.

Buruh mangluh.
Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.
The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.
People who belong to the upper class will feel insecure.

Senenge wong jahat.
Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.
Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.
Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Leaders will discuss and choose which countries are their favourites and which ones are not.

Hore! hore!.
Hurrah! Hurrah!

Wong Jawa kari separo,
The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Many become stingy.

Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will be generous.

Akeh wong mbambung.
Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.

 

 
 
 

January 23, 2011

serat centhini

Posted by mastoni under sastra jawi
Leave a Comment 

CENTHINI

In the Dhandhanggula Meter

Stanzas 4 to 7
Translation by M. M. Medeiros and Mastoni

Bêbuka   wahyaning arda rubeda

ki pujangga amengêti

mêsu cipta mati raga

mudhar warananing gaib

sasmita sakalir

ruwêding sarwa pakewuh

wiwaling kang warana

dadi badaling Hyang Widdhi

amêdharakên paribawaning bawana

Mangkya darajating praja

kawuryan wus sunyaruri
rurah pangrehing ukara

karana tanpa palupi

ponang paramengkawi

kawilêting tyas malatkung

kongas kasudranira

tidhêm tandhaning dumadi

ardayengrat dening karoban rubeda

Ratune ratu utama

patihe patih linuwih

pra nayaka tyas raharja,

parandene tan dadi,
paliyasing kalabêndu,
malah sangking andadra,
rubeda kang ngrêribêdi,
beda-beda ardane wong sanagara.

Katatangi tangisira

sira sang paramengkawi
kawilêting tyas duhkita
katamaning reh wirangi
dening upaya sandi
sumaruna anarawung
pangimur manuara
met pamrih melik pakolih
têmah suha ing karsa tanpa wêweka

Dhasar karoban pawarta

babaratan ujar lamis
pinudya dadya pangarsa
wêkasan malah kawuri

yen pinikir sayêkti
pedah apa aneng ngayun
andhêdhêr kaluputan
siniraman banyu lali
lamun tuwuh dadi kêkêmbanganing beka

Ujar paniti sastra

awawarah asung peling

ing jaman kêneng musibat
wong ambêk jatmika kontit
mangkono yen niteni
pedah apa mituhu
pawarta alawora
mundhak angraranta ati
angur baya ngikêta cariteng kuna

Kêni kinarya darsana

panglimang ala lan bêcik
sayêkti akeh kewala
lalakon kang dadi tamsil

masalahing ngaurip

wahananira tinêmu

têmahan anarima

mupus papasthening takdir
puluh-puluh anglakoni kaelokan

Amênangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

melu edan nora tahan

yen tan milu anglakoni

boya kaduman melik

kalirên wêkasanipun
dilalah karsa Allah
bêgja-bêgjane kang lali
luwih bêgja kang eling lawan waspada

Samono uga babasan

padu-padune kepêngin

nggih mekotên Paman Dhoblang
bener ingkang angarani
nanging sajroning batin
sajatine nyamut-nyamut
wis tuwa arêp apa
muhung mahasaning ngasêpi
supayantuk parimarmaning Hyang Suksma

Beda lamun kang wus santosa

kinarilan ing Hyang Widdhi

satiba malanganeya

tan susah ngupaya kasil

saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung

mara samaning titah
rupa sabarang pakolih

parandene masih tabêri iktiyar

Sakadare linakonan

mung tumindak mara ati
anggêr tan dadi prakara
karana wirayat muni
iktiyar iku yêkti
pamilihe reh rahayu
sinambi budi daya
kanthi awas lawan eling
kang kaesthi antuka parmaning Suksma

Ya Allah ya Rasulullah

kang sipat murah lan asih
mugi-mugi aparinga
pitulung ingkang nartani
ing alam awal akir
dumunung in gêsang ulun
mangkya sampun awrêdha
ing wêkasan kadi pundi
mila mugi wontêna pitulung Tuhan

Sagêda sabar santosa

mati sajroning ngaurip
kalising reh aru-ara
murka angkara sumingkir
tarlen mêlêng malatsih
sanityaseng tyas mamasuh
badharing sapu dhêndha
antuk mayar sawatawis
borong angga suwarga mesi martaya

 

  Opening  The uprising of the lower soul’s stubborn caprices was an obstacle

The poet divined of himself

He centered his inner faculties.

He practiced severe austerities

The screen hiding the absent world was removed
[that had been hiding] all the secret signs of
the obstacles to understanding the chaotic mind.

With the removal of the screen

it became possible for God
to open the secret power of the world.

Now the glory of the land
is seen to have gone to the world of spirits.
The expression of thought in words is in ruins
for lack of [good] examples.
Whoever is versed in letters
has a heart enwrapped in grief.
The low regard in which he is held is obvious.
The signs of life are suppressed.
The world’s vitality [is drowned] in floods of trouble.

The king is a noble king

The prime minister is excellent

The cabinet are men of good will.
The officials are good.
Yet nothing comes of
[attempts to] ward off the Day of Wrath.
Indeed there’s a worsening
of the troubles that frustrate
the varied desires of the people of the country

His tears well up
He is a man of letters
His mind is wrapped in sorrow
He is under the sway of shame
brought [on him] by sly tricks
[by] the unseemly plots
of comforters with sweet words
with grasping desire for gain behind them
Unless wide awake, [one could be] deflected from one’s purpose

In short, [he’s] flooded with rumors
fanned by sweet, lying words
[told] he’s to be advanced
In fact he’s even demoted
If one thinks about it seriously,
what’s the benefit of being in the forefront?
[The seeds of] error are planted.
They’re watered with the water of unawareness..
If they grow, they become flowers of trouble

The words of the Panitisastra
teach [and] warn [that]
in times when the curse of God [is upon the land]
the fine and gentle are failures.
So it is if one observes closely.
What good is it then to be true?
Meaningless talk
hurts one still more [to hear it].
Maybe it’s better to write stories of old times

They can serve as good examples
for weighing the bad and good [of things].
Actually there are very many
events which are parables
of life problems.
Once their meaning is found
[one] comes to accept,
to accept one’s fate,
to accept the results of one’s actions. That [in itself] is
extraordinary.

Experiencing a time of madness
troubles the mind.
Going along with the madness is unbearable.
If one doesn’t go along,
one doesn’t get a share.
Starvation will be the result.
The hard part is that such is God’s will.
Happy though the forgetful may be,
happier still are those who are aware and observant.

There’s a saying like this:
His refusal’s to mask his desire.
“That’s right, isn’t it, Old Fool?”
They’re right who call [me] that,
but in my inner self
I am really far from having achieved enlightenment.
What can an old person hope for?
All [I can do] is go into retreat
in the hope of receiving God’s mercy.

It’s different with those who are firm
in the All-Seeing’s approval.
No matter what troubles befall them,
they have no need to make efforts to achieve results
Their faith brings the results.
The Lord bestows His help on them
through their fellow creatures–
any sort may serve–
as long as they seriously and carefully do what is needed

Do your best.
Just follow your own mind,
as long as it poses no obstacles,
for all fables tell
that one’s own efforts truly
are the choice leading to well-being,
[if] combined with hard work
with sharp eyes and keen awareness
[and] the purpose of seeking God’s Mercy.

O God, O Messenger of God
the Merciful and Beneficent,
please give
your help, which suffices
for this world and the next
[so I may] understand my life
now that I am old.
How will it turn out finally?
May there be help from the Lord, then.

May I be able to be patient and strong.
May I die unto life while still living.
May I be free from trouble and strife.
[May] greed and anger be taken from me.
[May I only be] centered in begging Mercy.
[May I always be] cleansing my mind.
[May I] escape His punishment.
[May it] be lightened to some degree.
[May I] surrender myself to a heaven of peace.

 
 
 

January 23, 2011

serat nitisastra

Posted by mastoni under sastra jawi
Leave a Comment 

NITISASTRA

[Translation by Mbah Landa-Mastoni]

Jun iku yen lukak kocak, bisane mênêng antêng yen kêbak. Sapi wadon kang sêru suwarane, sathithik powane. Wong kang ala rupane, polahe digawe-gawe. Wong wuta sastra, wicarane kasar ora ngrêsêpake.

The nearly empty water jar makes a splashing sound. Only when they are full, they will be noiseless. The cow that moos loudly produces very little milk. An evil person behaves unnaturally. One who is not well-read will speak crudely and their orations are unimpressive.

Ara-ara kang tanpa sukêt, rajakaya wêgah
ngambah. Kali kang asat banyune, ora sinaba ing bango. Priya kang uripe sangsara diêmohi wanita. Ratu kang kurang titipariksa lan wêngis pangandikane, dioncati dening para kawulane.

Livestock will be reluctant to remain in a dry savanna. No egrets will play in a dry river bed. The suffering man will be rejected by women. The queen who speaks in an unguarded manner, unconscious of the effects of her decrees, will be abandoned by her people.

Manawa ana madu campur karo wisa, alapên madune bae. Yen ana kêncana campur karo tinja, jupukên kêncanane, kumbahên. Wong utama kang sugih kawruh, sanajan turuning sudra, prayoga rakêtana. Wanita utama kang sulistya ing warna, sanajan turune wong asor, pantês dadi garwane wong gêdhe.

If you come across honey mixed with poison, take only the honey. If you find gold mixed with feces, wash it and take the gold. In the case of a wise man who is rich with knowledge, though he belong to the lowest caste, it is still prudent to keep his company. The woman from a humble class who examplifies a beautiful countenance and character is the sort that a great man would be fortunate to have as a spouse.

Gandaning candhana mahanani anyêsing ati, ngluwihi anyêsing sorote rêmbulan. Manawa gandaning candhana iku di tikêlake loro, isih kalah karo anyêsing pagandikane pandhita kang pindha tirtamarêta. Gêni iku panas, ngluwihi panasing srêngenge. Yen panasing gêni iku ditikêlake loro, isih kongkulan panasing gunême wong ala.

The cool fragrance of sandalwood, even more than the moonlight, refreshes the heart. But if its fragrance were doubled in sweetness, it would still not be as sweet as priestly words flowing like the water of immortality. Fire is hotter than the sunshine, but if its heat were doubled in ferocity, it would still not burn as hot as the words of an evil person.

Prajurit kang unggul ing yuda, uripe ngalami mukti wibawa. Prajurit kang kasambut madyaning rana, manjing suwarga sineba para widadari. Prajurit kang ngucira ing yuda, patine bakal manjing nraka siniksa dening wadyabalane Yama. Yen ora mati, uripe diremehake dening bêbrayan agung, utawa ditawan lan disiya-siya dening mungsuh.

A victorious soldier will live out a comfortable life and will be greatly respected by all. Should he die in a holy war, he will be welcomed by angels into heaven. The coward who dies while fleeing from the battle will be condemned to hell where he will be tortured by the army of Yama, the god of death. Should he survive the battle, he will either be scorned by his people or will be imprisoned and treated without pity by his enemies.

 
 
 

January 23, 2011

KALATIDA
AN AGE OF DARKNESS

By Raden Ngabehi Ranggawarsita

In the Sinom Meter

Translation by M. M. Medeiros and Mastoni

Bêbuka   wahyaning arda rubeda

ki pujangga amengêti

mêsu cipta mati raga

mudhar warananing gaib

sasmita sakalir

ruwêding sarwa pakewuh

wiwaling kang warana

dadi badaling Hyang Widdhi

amêdharakên paribawaning bawana

Mangkya darajating praja

kawuryan wus sunyaruri
rurah pangrehing ukara

karana tanpa palupi

ponang paramengkawi

kawilêting tyas malatkung

kongas kasudranira

tidhêm tandhaning dumadi

ardayengrat dening karoban rubeda

Ratune ratu utama

patihe patih linuwih

pra nayaka tyas raharja,

parandene tan dadi,
paliyasing kalabêndu,
malah sangking andadra,
rubeda kang ngrêribêdi,
beda-beda ardane wong sanagara.

Katatangi tangisira

sira sang paramengkawi
kawilêting tyas duhkita
katamaning reh wirangi
dening upaya sandi
sumaruna anarawung
pangimur manuara
met pamrih melik pakolih
têmah suha ing karsa tanpa wêweka

Dhasar karoban pawarta

babaratan ujar lamis
pinudya dadya pangarsa
wêkasan malah kawuri

yen pinikir sayêkti
pedah apa aneng ngayun
andhêdhêr kaluputan
siniraman banyu lali
lamun tuwuh dadi kêkêmbanganing beka

Ujar paniti sastra

awawarah asung peling

ing jaman kêneng musibat
wong ambêk jatmika kontit
mangkono yen niteni
pedah apa mituhu
pawarta alawora
mundhak angraranta ati
angur baya ngikêta cariteng kuna

Kêni kinarya darsana

panglimang ala lan bêcik
sayêkti akeh kewala
lalakon kang dadi tamsil

masalahing ngaurip

wahananira tinêmu

têmahan anarima

mupus papasthening takdir
puluh-puluh anglakoni kaelokan

Amênangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

melu edan nora tahan

yen tan milu anglakoni

boya kaduman melik

kalirên wêkasanipun
dilalah karsa Allah
bêgja-bêgjane kang lali
luwih bêgja kang eling lawan waspada

Samono uga babasan

padu-padune kepêngin

nggih mekotên Paman Dhoblang
bener ingkang angarani
nanging sajroning batin
sajatine nyamut-nyamut
wis tuwa arêp apa
muhung mahasaning ngasêpi
supayantuk parimarmaning Hyang Suksma

Beda lamun kang wus santosa

kinarilan ing Hyang Widdhi

satiba malanganeya

tan susah ngupaya kasil

saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung

mara samaning titah
rupa sabarang pakolih

parandene masih tabêri iktiyar

Sakadare linakonan

mung tumindak mara ati
anggêr tan dadi prakara
karana wirayat muni
iktiyar iku yêkti
pamilihe reh rahayu
sinambi budi daya
kanthi awas lawan eling
kang kaesthi antuka parmaning Suksma

Ya Allah ya Rasulullah

kang sipat murah lan asih
mugi-mugi aparinga
pitulung ingkang nartani
ing alam awal akir
dumunung in gêsang ulun
mangkya sampun awrêdha
ing wêkasan kadi pundi
mila mugi wontêna pitulung Tuhan

Sagêda sabar santosa

mati sajroning ngaurip
kalising reh aru-ara
murka angkara sumingkir
tarlen mêlêng malatsih
sanityaseng tyas mamasuh
badharing sapu dhêndha
antuk mayar sawatawis
borong angga suwarga mesi martaya

 

  Opening  The uprising of the lower soul’s stubborn caprices was an obstacle

The poet divined of himself

He centered his inner faculties.

He practiced severe austerities

The screen hiding the absent world was removed
[that had been hiding] all the secret signs of
the obstacles to understanding the chaotic mind.

With the removal of the screen

it became possible for God
to open the secret power of the world.

Now the glory of the land
is seen to have gone to the world of spirits.
The expression of thought in words is in ruins
for lack of [good] examples.
Whoever is versed in letters
has a heart enwrapped in grief.
The low regard in which he is held is obvious.
The signs of life are suppressed.
The world’s vitality [is drowned] in floods of trouble.

The king is a noble king

The prime minister is excellent

The cabinet are men of good will.
The officials are good.
Yet nothing comes of
[attempts to] ward off the Day of Wrath.
Indeed there’s a worsening
of the troubles that frustrate
the varied desires of the people of the country

His tears well up
He is a man of letters
His mind is wrapped in sorrow
He is under the sway of shame
brought [on him] by sly tricks
[by] the unseemly plots
of comforters with sweet words
with grasping desire for gain behind them
Unless wide awake, [one could be] deflected from one’s purpose

In short, [he’s] flooded with rumors
fanned by sweet, lying words
[told] he’s to be advanced
In fact he’s even demoted
If one thinks about it seriously,
what’s the benefit of being in the forefront?
[The seeds of] error are planted.
They’re watered with the water of unawareness..
If they grow, they become flowers of trouble

The words of the Panitisastra
teach [and] warn [that]
in times when the curse of God [is upon the land]
the fine and gentle are failures.
So it is if one observes closely.
What good is it then to be true?
Meaningless talk
hurts one still more [to hear it].
Maybe it’s better to write stories of old times

They can serve as good examples
for weighing the bad and good [of things].
Actually there are very many
events which are parables
of life problems.
Once their meaning is found
[one] comes to accept,
to accept one’s fate,
to accept the results of one’s actions. That [in itself] is
extraordinary.

Experiencing a time of madness
troubles the mind.
Going along with the madness is unbearable.
If one doesn’t go along,
one doesn’t get a share.
Starvation will be the result.
The hard part is that such is God’s will.
Happy though the forgetful may be,
happier still are those who are aware and observant.

There’s a saying like this:
His refusal’s to mask his desire.
“That’s right, isn’t it, Old Fool?”
They’re right who call [me] that,
but in my inner self
I am really far from having achieved enlightenment.
What can an old person hope for?
All [I can do] is go into retreat
in the hope of receiving God’s mercy.

It’s different with those who are firm
in the All-Seeing’s approval.
No matter what troubles befall them,
they have no need to make efforts to achieve results
Their faith brings the results.
The Lord bestows His help on them
through their fellow creatures–
any sort may serve–
as long as they seriously and carefully do what is needed

Do your best.
Just follow your own mind,
as long as it poses no obstacles,
for all fables tell
that one’s own efforts truly
are the choice leading to well-being,
[if] combined with hard work
with sharp eyes and keen awareness
[and] the purpose of seeking God’s Mercy.

O God, O Messenger of God
the Merciful and Beneficent,
please give
your help, which suffices
for this world and the next
[so I may] understand my life
now that I am old.
How will it turn out finally?
May there be help from the Lord, then.

May I be able to be patient and strong.
May I die unto life while still living.
May I be free from trouble and strife.
[May] greed and anger be taken from me.
[May I only be] centered in begging Mercy.
[May I always be] cleansing my mind.
[May I] escape His punishment.
[May it] be lightened to some degree.
[May I] surrender myself to a heaven of peace

 
 
 

January 23, 2011

SABDABATHARA  nyuwun pangestunipun para sutresna sadaya supados tetep jejeg jangkahipun mecaki lurung ingkang sangsaya rumpi sinartan jejibahan nglestantunaken lan ngrembakaken basa tuwin budaya Jawa sanadyan kanthi keponthal-ponthal ngoyak jaman ingkang mlajeng nggendring.

Tumrap para ingkang remen olah kridha batin lan pangulir budi, pasugatan Pawartos Jawi ugi badhe ngrembag piwulang ingkang tujuwanipun hanggegesang raosing kamanungsan ingkang tundhonipun sageda kula lan panjenengan sadaya dados tiyang ingkang migunakaken kekiyatanipun kangge rahayuning bebrayan ageng, boten sanes inggih lumeberipun rahayuning jagad punika. Jer wajibing tiyang gesang punika rak wonten kalih prakawis, manawi boten sinau inggih mucal.

Liripun sinau, inggih punika tansah ngudi indhaking kaweruh lair lan batin. Liripun mucal, tansah aweh obor dhateng tiyang ingkang saweg nandang kapetengan budi. Hewadene ingkang tansah dipunudi dening tiyang ingkang wicaksana inggih punika sageda nyumerebi cacadipun piyambak sarta mbudidaya kados pundi amrih saenipun, punika katindhakaken saderengipun paring pamrayoga dhumateng asanes.

Tiyang wicaksana punika boten sami kaliyan tiyang ingkang pinter srawung lan tumindak ajur-ajer ing samadyaning bebrayan, bobot sarta ajinipun sayekti hanglangkungi katimbang moncering kaweruh. Mila boten cekap namung sarana dibandhani pepaking ilmu-ilmu pangawikan kemawon, nanging saperangan ageng kapara malah sumendhe wonten ing anggenipun pinter srawung lan wor-woran kalayan sasaminipun, tanpa nyawang undha-usuking semat lan drajat punapa dene beda-bedaning kalungguhaning tiyang ingkang dipunsrawungi.

Ajining manungsa punika boten amargi piyambakipun kadunungan wewatekan luhur lan kapinteran ingkang bebasan saged kangge njarah angin, nanging muhung dumunung ing pakarti anggenipun ngamalaken wewatekan lan kapinteranipun wau. Parandene pakarti ingkang bebasan tanpa aso, nanging manawi sinartan ing pamrih golek puji lan suwur, punapa dene ngantos ngalab pepaes donya brana punika dede nami ngamal. Pakarti ingkang makaten wau malah saged mbebayani tumraping bebrayan amargi alamipun ngandhut wisa tur malih ngangge kekudung naminipun tiyang akathah.

Satunggal-tunggalipun manungsa punika gesangipun sami katitik saking cipta, rasa, lan karsanipun. Sipating gesangipun manungsa warni tiga wau punika kenging kula tembungaken daya-dayaning Pangeran ingkang dumunung wonten ing manungsa. Dados jejibahanipun manungsa gesang wonten ing donya punika sageda ngangge daya-daya wau miturut dhedhasaranipun piyambak-piyambak.

Karsa punika pentokipun dhateng panguwasa amargi manungsa punika manawi sampun saged mranata badhanipun piyambak inggih badhe saged mranata dhateng sakiwa-tengenipun. Namung kemawon kawasa ingkang sampun kasarira manungsa punika wau kedah kangge hangayomi, awit dhedhasaring kodrat punika hangayomi. Rasa punika keplasipun dhateng katresnan, tegesipun manungsa kedah ngangge kekiyataning raos tresna dhateng sasamining ngagesang. Cipta punika keplasipun dhateng kaweruh. Ananging manungsa kedah enget dhateng weting kodrat bilih kaweruh punika kedah tumuju dhateng pangurbanan, dados sepi ing pamrih tumuju dhateng karahayoning bebrayan.

Manawi sadaya manungsa sami kersa menggalih saestu dhateng kamanungsanipun piyambak-piyambak, pinanggihipun tamtu angakeni bilih manungsa wonten ing alam donya punika ingkang sami dipunesthi kabegjan. Ananging manungsa ugi kedah sami ngrumaosi bilih begjanipun manungsa punika inggih kalayan manungsa sanesipun. Pramila manungsa kedah hanetebi karukunan. Gesangipun kedah dipunruntutaken kaliyan tatananing bebrayan ugi tatananing ngalam.

Wiji punika sasampunipun thukul lajeng semi, mrajak, menthil, ngembang, awoh, nuli gogrog, wusananipun uwitipun lajeng garing. Makaten punika pepindhanipun uriping manungsa boten saged uwal saking kodrating alam. Mila mumpung kita taksih gesang, sumangga sami ngudi kasembadaning kawruh amrih saged ngasilaken uwoh lan wiji ingkang migunani tuwin boten mitunani.

Tatananing kodrat punika tumuju dhateng karukunan, sanes memengsahan, inggih punika dados manunggil [boten pepisahan], dhateng kajujuran [boten nakal-nakalan], dhateng begja umum [boten begja piyambak], dhateng panyambut damel sesarengan [boten unggul-unggulan], lan dhateng tulung-tinulung [boten mangsa bodhoa].

Manawi manungsa gesangipun mawi ngengeti dhedhasaran makaten mesthinipun boten lajeng manah badhanipun piyambak, nanging ingkang dados esthinipun wilujenganipun bebrayan. Gesangipun manungsa satunggal lajeng ateges gesangipun manungsa sadaya. Wohipun badhe damel begjanipun sadaya manungsa amargi ingkang wonten namung katresnan anebihi sesengitan. Manawi dipunraosaken ingkang yektos, jagad punika saged anyekapi kabetahanipun manungsa, boten nate kekirangan.

Wontenipun kasangsaran ingkang dipunsandhang dening manungsa punika sababipun rak boten sanes kejawi lepating tatanan ingkang dipundamel dening manungsa piyambak. Lha ingkang kajibah damel tatanan punika, tamtu tatananipun badhe kadamel miring [nguntungaken] dhateng badhanipun utawi golonganipun piyambak. Awit saking punika lajeng tuwuh kawontenan ingkang boten samesthinipun.

Anglampahi gesang ing bebrayan ageng punika sok asring kathah sandhunganipun, asring katatap-tatap utawi kedah wani kurban kekiyatan pikir, bandha tuwin sanes-sanesipun. Ananging ingkang makaten wau sampun dados ubarampenipun tiyang ingkang olah kautaman anuju dhateng kaluhuran. Mung bae wekasing wang, ywa pegat teteki, makaten piwulanganipun KGPA Mangkunegara IV.

Sadaya tumindak punika pancen kedah linambaran teteki, tegesipun kedah mulat dhateng punapa ingkang dipun tindakaken. Dados teteki ing ngriki boten ateges ngirangi tilem utawi tedha, nanging tansah mulata dhateng sakathahing tindak amargi manawi anggenipun nglampahaken boten mawi kawicaksanan, tuna dungkapipun sok inggih andrawasi. Mila mbokmenawi wonten pigunanipun kula ngaturaken welinging tiyang sepuh kados ing ngandhap punika:

Manungsa kudu nalangsa, tegese nalangsa iku dudu bungah, dudu susah, nanging wong kang prihatin. Tegese prihatin dudu cegah dhahar lawan guling, nanging nglanggengake rasa eling, mangesthi marang kang mesthi. Manungsa kudu asarira bathara. Yaiku kahananing kedadeyan kabeh iki kudu percaya marang kang nglakoni. Kudu narima takdiring wiji, tegese aja durga mangangsa-angsa nanging tumindaka kalawan saparenge. Kudu taberi amarsudi purwaning dumadi, tegese apa kang den gayuh aja nganti nganggo ati lumuh, kudu sarana dilakoni.

Dene saranane laku iku ana rong prakara yaiku kudu tlaten lawan taberi [sregep]. Tlaten iku kenane saka sethithik, taberi tegese aja medhot olehe anindakake. Witing urip kudu ngerti bibit kang gaib. Tegese gaib ora dumunung neng bumi langit, ora sumlempit ing beslit, ora kalempit ana ing jarit, ora kacarub wilanganing dhuwit, nanging kudu titi papan karempit pitakon kang luwih tertib. Yen wus winangsit aja nganti morat marit. Sinimpen ing guwa wingit, kena kawedharake yen nocogi karo kapreluwane. Kudu eneng, ening, awas, eling [rasa rumangsani], wanuh wani kudu wuninga. Cetuk cetak kudu kang cetha. Temen temu kudu kang tekan.

Wohipun tiyang kersa migatosaken kawontenan punika temtu badhe gesang raosipun, kagigah raosipun lajeng purun ngraosaken dhateng kawontenan. Manawi sampun gesang raosipun, padhatanipun lajeng tuwuh niyatipun tumut hangrencangi kadumugening sedya memayu hayuning gesang ing satengahing bebrayan ageng. Manungsa punika kedah nyumerebi dhateng kodratipun, makaten kawontenanipun, inggih punika:

[1] Manungsa punika gadhah badhan wadhag. Badhan wadhag punika gadhah gesang piyambak manut wetipun anasir.

[2] Manungsa punika gadhah badhan ingkang winastan badhan urip. Nanging sampun klentu ing panampi, badhan urip punika boten wujud anasir, boten kasat mripat, nanging wujud daya ingkang ngebahaken rah, nata lampahing ambegan, daya ingkang gegandhengan kaliyan tangkar-tumangkaring manungsa.

[3] Manungsa punika gadhah badhan ingkang dipunwastani badhan pangrasa inggih boten kasat mripat, wujudipun kados dene sorot. Punika dados wadhahipun rasa lan cipta [sisah, tresna, dereng, karep ingkang taksih semang lsp].

[4] Manungsa punika gadhah Aku, tegesipun manungsa punika saged mastani badhanipun piyambak, “Aku”-nipun piyambak-piyambak. Wonten ingkang mratelakaken samangsa manungsa punika sampun nyumerebi “Aku”-nipun piyambak inggih badhe nyumerebi Pangeranipun.

Manungsa punika tamtu sami ngakeni bilih gesangipun punika nggadhahi nyawa [suksma]. Dados glegering tiyang punika wonten kalih perangan, inggih punika badhan wadhag ingkang asipat kasar tuwin suksma ingkang asipat alus. Sampun limrah bilih tiyang punika remen menggalih gesangipun. Tumrap wadhagipun ingkang limrah sampun boten dados penggalih malih. Dene ingkang asring dipun grejahi inggih punika pun suksma ingkang asipat alus boten kasat mripat. Penggalih makaten wau lajeng asring nuwuhaken pitaken kados pundi manjingipun, manggen utawi dunungipun suksma punika wonten ing raga lan kados pundi kesahipun suksma punika. Makaten wau pancen inggih perlu dipungrejahi jalaran saged ngindhakaken kaweruh ingkang badhe saged murakabi dhateng gesangipun.

Menggah panulusuripun kedah dipunkanteni sarana migunakaken nalar lan pikiran kanthi adhedhasar kawontenan tuwin kanthi katandhing kaliyan pengalaman. Manut kanyataning ingkang kasat mripat, dumadining manungsa punika mapan wonten ing guwa garbaning biyung karana pulang asmaraning yayah-rena awit saking paguting raos tresna peparinganing Pangeran. Kanyatan ingkang kasat mripat punika njalari tuwuhing tetembugan bilih wong tuwa punika amung kinarya lantaring tumuwuh.

Manawi namung kangge lantaran kemawon, mesthinipun wonten ingkang dhawuh utawi kuwaos nglantaraken wiji gesang wau. Katrangan punika minangka paseksen bilih bab ingkang kaudal punika mboten namung mligi ingkang wonten utawi kasat mripat kemawon. Nanging panulusuripun sageda kabablasaken ngantos bebles dhateng bab ingkang manut muluring penggalih kakinten-kinten wonten. Kanthi pancadan lampahing gagasan kasebut pramila isining kasusastran Jawi katuwonipun ngandhut unsur-unsur filsafat. Kaweruh filsafat mekaten ngrembag bab ingkang wonten sarta ngrembag bab-bab ingkang kakinten-kinten wonten pinanggih ing nalar.

Suksma makaten ingkang murugaken utawi ingkang nggesangi badhan wadhag. Dados manawi wadhag punika boten kapanjingan suksma, tamtu boten badhe saged gesang. Samangke sumangga sami dipunpenggalih kawontenan ingkang sampun kalimrah, punapa dene dumados wonten kalanganing tiyang bebrayan sadonya bilih bayi ingkang saweg lair saking guwa garbaning biyung punika tamtu nangis. Manawi wonten bayi lair boten kanthi nangis, punika tamtu ginanggu utawi wonten sabab sanesipun. Tiyang sepuhipun tamtu lajeng enggal-enggal pados akal lan ngreka daya supados bayi wau sageda enggal nangis. Wonten cara ingkang sampun kalimrah tumrap umum, manawi wonten bayi lair boten nangis, punika lajeng dipungebrag, perlunipun supados kaget lajeng nangis. Wonten malih cara dusun, bayi wau dipuninteri wonten ing tampah. Makaten cara tuwin reka dayanipun. Tiyang sepuh ngertos lan gadhah kapitadosan bilih tangising bayi ingkang saweg lair punika dados pratandhaning anggenipun nyata gesang. Dene manawi boten nangis dipun kuwatosaken manawi pejah. Mila inggih sampun leres manawi lajeng ngreka daya supados bayi wau tumuntena saged nangis.

Wontenipun bayi lair procot lajeng nangis, punika tamtu inggih wonten sababipun. Bayi punika anggenipun dedunung utawi manggen wonten ing guwa garbaning biyungipun ingkang limrah watawis sangang sasi. Wekdal sangang wulan wau kalebet dangu. Sampun dados wataking tiyang gesang, punapa kemawon ingkang dipunalami punika tamtu dados pakulinan. Dene pakulinaning manggen wonten ing satunggaling papan, punika tamtu lajeng nuwuhaken raos kraos. Lha tiyang punika manawi sampun kraos anggenipun dedunung wonten satunggaling papan, mangka lajeng kapeksa kedah pindhah dhateng papan sanesipun, ing ngriku limrahipun lajeng nuwuhaken raos kaget. Upaminipun tiyang ingkang sampun kulina lan kraos manggen wonten ing papan ingkang hawanipun benter, lajeng pindhah dhateng papan ingkang hawanipun asrep, punika inggih kathah ingkang kaget. Kagetipun wau, umpaminipun kemawon, lajeng murugaken raos sakit. Makaten tuwin sanes-sanesipun.

Tumrap bayi inggih boten beda. Lair punika ugi ateges pindhah dhateng panggenan ingkang beda sanget kawontenanipun kaliyan panggenan ingkang dipundunungi sakawit inggih punika guwa garbaning biyungipun. Nalika lair mak bruwol, pun bayi lajeng kraos kaget, upaminipun kemawon kaget anggenipun lajeng klebetan hawa ambegan. Kaget makaten tumrap bayi lajeng murugaken nangis. Tangis punika dados lintuning wicantenan ingkang kangge nglairaken raos boten seneng, emoh, boten cocog. Makaten wau sampun dados cithakan tumrap saben bayi. Bab punapa kemawon ingkang boten dipunremeni lan boten dipuncocogi, pun bayi tamtu lajeng nangis, upaminipun kraos ngelak, ngelih, sakit, lsp. Tangis ateges kangge nglairaken raos minangka lintuning wicanten.

Tumrap ingkang gegayutan kaliyan daya alus, upaminipun manawi ing wanci dalu wonten durjana ingkang nggadhahi sedya awon, adatipun bayi inggih lajeng nangis. Mila makaten awit bayi taksih murni, pangraosipun teksih landhep saged ngraosaken gegetering dayanipun tiyang sanes. Gegetering daya ingkang nggadhahi kajeng boten sae wau tumrap bayi inggih boten nyenengaken lan boten nyococogi, mila lajeng nangis. Dados tangising bayi lair punika boten ateges bilih punika dados pratandhaning nalika manjing suksmanipun. Tiyang sepuh inggih saged nangis, manawi makaten tangis wau pancen sampun kinodrat dados pirantosipun tiyang wiwit lair ngantos dumugi sepuh minangka sarana kangge nglairaken raos.

Lajeng samangke kados pundi manjingipun suksma dhateng bayi? Ing wadhah bayi punika wonten uritanipun [tigan-wiji], punika sampun kadunungan utawi kasamadan gesang. Manawi wiji saking wanita kempal kaliyan wiji saking priya saged mahanani dados jabang bayi. Menggah kempaling wiji ingkang saged dados bayi punika manawi kadayan tiyang kekalih wau. Dene ingkang kawastanan dereng, inggih amargi serenging karsa ingkang sinartan [kaworan] raos sengsem, utawi gampilipun katembungaken dereng kapincut. Tempuking karsa antawisipun priya lan wanita punika nuwuhaken pletik [pletiking kaalusan]. Inggih pletik wau ingkang lajeng manjing anglimputi [campur] kempaling wiji punika temahan dados suksmanipun bayi ingkang dados wau. Dene kempaling tigan utawi wiji lajeng dados badhan wadhagipun.

Derenging karsa ingkang kaworan sengsem [kapincut] antawisipun priya lan wanita punika limrahipun boten sami kekiyatanipun, saged ugi kiyat derenging kakung, saged ugi kiyat derenging wanita. Manawi tempuking derenging karsa kiyat ingkang saking kakung, punika temahan badhe dados lare estri. Kosokwangsulipun manawi derenging sengsem wau kiyat ingkang saking estri punika dadosipun lare badhe lair jaler. Dene manawi derenging sengsem wau sami dene kiyatipun punika badhe mahanani lairipun bayi kembar.

Saklajengipun bab manjinging suksma wonten ing raga, punika boten wonten ing nglebet lan inggih boten ngurungi wonten ing njawi. Nanging suksma lan raga wau sami apepuletan limput-linimputan. Gampilipun kenging katembungaken kados dene kelet mawa ancur [lem kadamel saking deplokan beling utawi pecahan kaca]. Tumrap tiyang ingkang ngudi kaweruh ulah kabatosan, punika sagedipun nyatakaken kasunyataning jiwa utawi suksma manawi ‘raos’ saged dumunung wonten antawisipun pepulatenning raga kaliyan suksma.

Suksma punika limrahipun asring katembungaken dados dhalangipun, raga katembungaken minangka wayangipun utawi ringgitipun. Ebah makartining wayang saking pun dhalang. Manawi suksma taksih tetemplekan kaliyan raga, punika ingkang dipunnamakaken ‘kawula’. Dene manawi suksma pisah kaliyan raga manunggil kaliyan ingkang asipat gesang, punika lajeng limrahipun kanamakaken ‘gusti’.

Limrahipun tiyang punika kepingin lan ngudi sagedipun nyumerebi kasunyataning alus utawi suksmanipun. Miturut ingkang sampun nate kula alami, makaten wau sagedipun dumados [kaleksanan], inggih punika nalika kula ‘nggadhahi raos boten tresna babar pisan dhateng badhan kula piyambak’. Sampun klentu ing panampi, katrangan sampun boten nggadhahi katresnan babar pisan dhateng badhanipun piyambak punika tumrap Serat Dewa Ruci mbokmanawi kemawon cocog kaliyan ungel-ungelan: Cekake manungsa puniki, patoke wani pejah; lamun wedi lampus, sabarang nora tumeka. Wani pejah ateges wani kecalan badhanipun piyambak. Boten nresnani badhanipun piyambak ateges boten eman, lila lan ikhlas manawi badhanipun wau dados kados pundi kemawon boten prelu dipunsuntik silikon grana lan payudharanipun, boten prelu dipunsemir pirang rekmanipun, lsp.

Dados sampun boten nresnani badhanipun piyambak ugi ateges lila ing pejahipun utawi wani mati [sajroning urip]. Sakawit menggah njedhuling raos makaten tuwin temahanipun teka lajeng murugaken saged nyumerebi jiwa kula piyambak wau saestunipun boten kaliyan kula jarag, nalika semanten kula namung ngleresi prihatos, manah badhe ngleksanani pitedahing bapa panuntun kula bilih tiyang punika kedah ngolah gesangipun. Nanging dangu-dangu lajeng asring saged kaleksanan malih sarana kula sedya, inggih sarana nisihaken [ngicali] raos tresna dhateng badhan kula piyambak kanthi sinartan menebing pikiran.

Dene anggen kula nggadhahi pamanggih bilih kaleksananipun sarana ngicali katresnan wau, manggihipun inggih sasampunipun kaleksanan nyumerebi kanthi mboten njarag wau. Manawi dipuntekakaken, suksma punika kados pundi wujudipun? Ing nalika kawitan, manut pengalaman lan rumaosing sesawangan kula, pun suksma punika rupenipun inggih kados kula piyambak tuwin werninipun kados dene salju. Makaten punika kula piyambak inggih lajeng katuwuhan raos pitaken “Apa ya kaya aku tenan ta kuwi?” Salajengipun sareng kula saged namataken, miturut raos lan sawangan kula, jebul boten kados kula. Ing ngriku rumaos kula tan agrana tan anetra, tan kakung tan wanodya tan wandu. Katrangan bab kepanggih kaliyan suksmanipun piyambak wau mbokmanawi mor misah kemawon kaliyan babaring cariyos Dewa Ruci.

Dewa Ruci kapindhakaken kaliyan Werkudara [namung kadamel langkung alit ingkang limrahipun kawastanan Dewa Bajang], lajeng paring wejangan dhateng Werkudara. Dados manawi makaten Dewa Ruci wau dados gurunipun Werkudara ingkang sejati kasebat Sang Guru Jati ya sejatining guru, inggih gurunipun saben tiyang. Kados ingkang sampun kababar ing ngajeng, suksma punika dunungipun wonten ing raga tan kajaba tan kajero boten wonten ing lebet boten wonten ing njawi, nanging anglimputi wadhag apepuletan, nemplekipun kadosdene mawi lem.

Saklajengipun manawi tiyang pejah, inggih punika suksma pisah kaliyan raganipun, punika jalaran lem ingkang ngeletaken wau sampun boten kiyat anggenipun nggondheli. Wonten ing jagading ulah kabatosan, bab Manunggaling Kawula Gusti punika limrahipun dados gegebengan [cepengan] ingkang wigatos sanget, tansah dados reraosan lan tansah dados bahan pirembagan, langkung-langkung wonten ing kalanganing para pinisepuh. Bab kawruh Jumbuhing Kawula Gusti wau limrahipun kaperang dados kalih. Ingkang kawitan aran Warangka Manjing Curiga. Ingkang kaping kalihipun Curiga Manjing Warangka.

Warangka punika wadhahipun dhuwung utawi keris, pikajenganipun inggih punika alusing raosipun manungsa minangka wadhahing Suksma. Hewadene curiga ateges wilahaning keris, pikajenganipun isinipun inggih punika kaalusan suksmaning manungsa ingkang nunggal kawontenan kaliyan dzatipun Pangeran. Menggah gathuking kalih-kalihipun wau limrahipun dipunwastani sapatemon kaliyan Sang Guru Jati.

Sarehning kawruh Manunggaling Kawula Gusti wau sampun misuwur [lan kaprah] tumraping umum, ing ngriki ugi prelu kawedharaken supados sageda muwuhi indhaking kawruh lan seserapan sawatawis. Minangka tuladha kangge nggambaraken kawruh Manunggaling Kawula Gusti ingkang wau saweneh wonten ingkang ngandharaken kanthi kawujudaken cariyos wayang, inggih punika lampahan Dewa Ruci. Sekedhik kemawon ingkang badhe kula aturaken wonten ing ngriki, lowung saged kangge lelimbangan. Supados mboten ngambra-ambra, becik dipunwiwiti saking nalika Werkudara saged kepanggih banjur pikantuk wejangan saking Dewa Ruci, ingkang dados sanepanipun Sang Guru Jati. Sinawung ing tembang Dhandhanggula:

Manungsa kudu nalangsa, tegese nalangsa iku dudu bungah, dudu susah, nanging wong kang prihatin. Tegese prihatin dudu cegah dhahar lawan guling, nanging nglanggengake rasa eling, mangesthi marang kang mesthi.

Lah ta mara Wrekudara aglis, lumebuwa guwa garbaningwang, kagyat miyarsa wuwuse. Wrekudara gumuyu, sarwi angguguk turira aris, dene paduka bajang, kawula geng luhur, inggih pangawak prabata saking pundi margane kawula manjing, jenthik mangsa sedhenga.

Angandika malih Dewa-ruci, gedhe endi sira lawan jagad kabeh iki saisine, kalawan gunungipun, samodrane alase sami, tan sesak lumebuwa guwa garbaningsun, Wrekudara duk myarsa , esmu ajrih kumel sandika tur-neki, mengleng sang Ruci-dewa. Iki dalan talingan-ngong kering.

Wrekudara manjing sigra sigra, wus prapta ing jro garbane, andulu samodra gung, tanpa tepi nglangut lumarib, leyeb adoh katingal, Dewa ruci nguwuh, heh apa katon sira, dyan sumaur sang Sena inggih atebih, tan wonten katingalan.

Awang-awang kang kula lampahi, uwung-uwung tebih tan kantenan, ulun saparan-parane, tan mulat ing lor kidul, wetan kilen datan udani, ing ngandhap nginggil ngarsa, kalawan ing pungkur, kawula boten uninga, langkung bingung ngandika sang Dewa-ruci, haywa maras tyasira.

Byar katingal ngadhep Dewa-ruci, Wrekudara sang wiku kawangwang, umancur katon cahyane, nulya wruh ing lor kidul, wetan kilen sampun kaeksi, nginggil miwah ingandhap, pan sampun kadulu, apan andulu baskara, eca tyase miwah wiku kaeksi, aneng jagad walikan.

Dewa-ruci suksma angling malih, payo lumaku andeluluwa, apa katon ing dheweke, Wrekudara umatur, wonten warni kawan prekawis, katingal ing kawula, sadya kang wau sampun datan katingalan, amung kawan prekawis ingkang kaeksi, ireng bang kuning pethak.

Dewa suksma ruci ngandika ris, ingkang dingin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, panca maya puniku, sajatine ing tyas sayekti, pangareping sarira, tegese tyas iku, ingaranan Mukasipat, kang anuntun marang kang linuwih, kang sejatining sipat.

Mangka tinulak haywa lumaris, awasena rupa aja samar, kawasane tyas empane, wit tingal ing tyas iku, anengeri marang sajati, eca sang Wrekudara, amiyarsa wuwus, lagya medem tyas sumringah, dene ingkang abang ireng kuning putih, iku durgamaning tyas.

Pan isining jagad amepaki, iya ati kang telung prakara, pamurunge laku dene, kang bisa pisah iku, mesthi bisa amor ing gaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, abang ireng kuning samya, ingkang nyegah cipta karya kang lestari, pamoring Suksma mulya.

Lamun nora kawileting katri, yekti sida pamoring kawula, lesatri ing panunggale, poma den awas emut, durgana kang mungging ing ati, pangwasane weruha, siji sijinipun, kang ireng luwih prakosa, panggawene asrengen sabarang runtik, andadra ngombra ombra.

Iya iku ati kang ngadangi, ambuntoni marang kabecikan, kang ireng iku gawene, dene kang abang iku, iya tudhuh napsu tan becik, sakehing pepenginan, metu saking iku, panas-ten panas-baranan, ambuntoni marang ati ingkang eling, marang ing kawaspadhan.

Apa dene kang arupa kuning, kawasane nanggulang sabarang, cipta kang becik dadine, panggwe amrih tulus ati kuning kang ngadhang ngadhangi, mung panggawe pangrusak, binanjur jinurung, mung kang putih iku nyata, ati anteng mung suci tan ika iki, prawira ing karaharjan.

Amung iku kang bisa nampani, ing sasmita sajatining rupa, nampani nugraha nggone, ingkang bisa tumaduk, kalestaren pamoring gaib, iku mungsuhe tiga tur samya gung agung, balane ingkang titiga, kang aputih tanpa rowang amung siji, marma anggung kasoran.

Lamun bisa iya nembadhani, marang mungsuh kang telung prakara, sida ing kono pamore, sengkud pamrihipun, sangsaya birahinira, saya marang kawuhusaning ngaurip, sampurnaning panunggal.”

Inggih kados makaten kalawau gambaraning kawruh bab jumbuhing kawula Gusti ingkang kababaraken ing cariyos wayang lampahan Dewa Ruci. Katrangan ing nginggil wau nggambaraken tumindakipun tiyang ingkang nglampahi semadi ingkang sampun dados, sampun saged mbikak warananing (aling-alinging) gaib kanthi ngawonaken panggodhaning hawa napsu [hawa angkara murka]. Sang Werkudara saged sapatemon kaliyan Sang Guru Jati [iya gurune dhewe kang sejati] kalawan sampurna. Sampurnaning sapatemon dipungambaraken wonten ing lelampahan Werkudara anggenipun wawan rembag kaliyan Dewa Ruci. Kosokwangsulipun sapatemon ingkang dereng sampurna, punika saged kepanggih kaliyan Sang Guru Jati wau, namung kemawon boten saged wawan rembag, upaminipun namung saged nyumerebi, wonten malih saged kepanggih nanging namung saged nampeni dhawuhipun kemawon, boten saged pitaken lan mboten saged matur punapa-punapa.

Samangke badhe kula aturaken bacuting tembang ingkang mratelakake bab sambung rapetipun manungsa kaliyan gaibing urip sejati, inggih ingkang anglimputi sakalir. Manungsa kudu nalangsa, tegese nalangsa iku dudu bungah, dudu susah, nanging wong kang prihatin. Tegese prihatin dudu cegah dhahar lawan guling, nanging nglanggengake rasa eling, mangesti marang kang mesti.

Yen makaten ulun boten mijil, sampun eca neng ngriki kewala, datan wonten sangsayane, tan niyat mangan turu, boten arib boten angelih, boten ngraos kangelan, boten ngeres linu, amung nikmat lan mupangat, Dewa-ruci ling ira tan keni, yen ora lan antuka.

Sangsaya sihira Dewa-ruci, marang kang kaewasihing paneda, lah iya den awas bae, mring pamurunging laku, haywa ana kamireki, den bener den waspadha, panganggepireku, yen wis kasikep ing sira, haywa amung den parah yen angling, iku reh pipingidan.

Nora kena lamun den rasani, lawan sasamaning pra manungsa, yen ora lan nugrahane, yen ana nedya padu, angrasani rerasan iki, becik den kalahana, ywa kongsi kabanjur, haywa ngadekken sarira, lan ywa kraket marang wisayaning urip, balik sikepen uga.

Kawisayan ingkang makripati, den kahasta pamantenging cipta, rupa ingkang sabenere, sinengker baweneku, urip datan ana nguripi, datan ana rumangsa. Ing kahananipun, uwis ana ing sarira, tuhu tunggal sasana lawan sireki, tan kena pinisaha.

Dipun weruh sangkanira nguni, tunggal sawang kartining bawana, pandulu lan pamiyarsane, wis ana ing sireku, panduluning suksma sejati, pan datan mawa netra, pamiyarsanipun iya datan lawan karna, netranira karnanira kang kinardi, iya wis aneng sira.

Lahiring suksma aneng sireki, batining suksma uga neng sira, mangkene ing pralambange, kadi wreksa, tinunu ananing kang kukusing hagni kukus kalawan wreksa, lir toya lan alun. Kadya lisah lawan powan, raganira ing reh obah lawan mosik, yekti lawan nugraha.

Yen pamoring kawula lan gusti, lawan suksma kang sinedya ana iya aneng sira nggone, lir wayang sarireku, saking dhalang polah ing ringgit, minangka panggung jagad, kelir babadipun, amolah lamun pinolah, sapolahe kumedhep lawan ningali, tumindak saking dhalang.

Ngantos dumugi semanten rumiyin bacuting tembang wau, sapunika prelu mawas ingkang dados isi lan wigatosipun. Wosing tembang wau mahyakaken manawi manungsa sadaya punika sayektosipun inggih mbabaripun urip ingkang anglimputi sakalir [Pangeran] piyambak. Mila dipuntembungaken “Wis ana ing sarira, tuhu tunggal sasana lawan sireki, tan kena pinisahna”.

Ing layang Tajusalatin, babaran kawruhipun Imam Bukhori ing Johor, ingkang sampun ginubah lan dipun jarwakaken nyebataken kados makaten ungelipun, Pan sampun kocap ing dalil, barang kang mujud iki, kabeh kanyatan tuhu, jenenging ayamalolah, haywa ta sira mungkiri. Syeh Siti Jenar, salah satunggaling wali ingkang kondhang bontosing ngelmu kabatosanipun, anggadhahi gegebengan makaten: Ngolati punapa malih, nora nana liyan-liyan, apan apes salawase, nanging Allah ingkang Tunggal, ya jisim iya Allah, tokid tegese puniku, apan Tunggal kajatenya.

Ing layang Centhini mratelakaken wejanganipun Syeh Rogoyuni dhateng Syeh Amongraga, makaten: Rampung cukup wus aneng kita, suhul jumbuh kita lan dzating Widdi, wahuwa wajibul wujud, sami kahananira, kadya banyu lan toya pan saminipun, mung sanes basa kewala, napining Hyang napi mami. Wonten malih ingkang pantes kangge limbangan, inggih punika wejanganipun Sunan Giri, sinawung ing tembang Sinom: Njeng Sunan Siri ngandika, mungguh artine kang yekti, Allah pan jatining aran, liring wujud mokal ninggih, Pangeran kang sejati, liring wujud Hilapi-ku, jatining warna rupa, dene aran rohilapi, iku sejatine iya urip kita. Salajengipun Sunan Giri ngyakinaken: Istingarah tan kajaba, istingarah tan umanjing, istingarah tan kawedal, tan kajero istingarah ing, sayekti luwih gaib, tan owah gingsir puniku, langgeng tanpa karana, kang jumeneng ki Rohani, apa rupanira duk nalikeng donya”.

Minangka kunci wonten pangandikanipun para pinisepuh ingkang wignya ing agal-alus makaten: Sing sapa weruh marang awake dhewe, iku prasasat weruh Pangeran. Makaten pathining ngelmu gegebanganing para linuwih ingkang tansah ngolah batosipun. Sadaya wau boten sanes ateges paring ancer-ancer dhateng sasamining manungsa: Manawa padha nggambarake, padha nggantha, padha mikir, padha nggagas kahananing Hyang Widdhi lan kanyatane aja nganti kleru ener, aja nganti blawur, aja nganti kabandha dening tetembungan yen dirasa saklebatan sajake Pangeran iku manggon dhewe, pisah karo alam donya, pisah karo manungsa, upamane tetembungan ‘Gusti Allah iku ana ing swarga’, ‘Bali marang panayunaning Pangeran’, lll.

Tetembungan makaten wau manawi kirang patitis anggenipun menggalih lan anggenipun nyuraos, tamtu kemawon badhe nggampilaken thukuling klentu ing pangira. Jalaran lajeng saged nuwuhaken gambaring pikiran, manawi Gusti Allah punika sajake kados tiyang punika, inggih sajak pinarak wonten ing panggenan ingkang sae lan sekeca sanget, sajak ya sok takon barang. Suksmanipun tiyang ingkang sampun seda, sajake banjur sowan marak ana ngarsane.

Makaten salajengipun manawi ta ngantos klentu anggenipun nampi lan nyuraos tembung-tembung ingkang nyebataken bab ingkang magepokan kaliyan wontenipun Pangeran. Wonten tetembungan wigatos sanget ingkang saged kangge gujengan manawi tiyang badhe remen olah kabatosan lan badhe nggayuh murih sanged ngraosaken lan mangertosi dhateng gaibing Pangeran, punika Pangeran kuwi ora arah ora enggon, tan kena kinaya ngapa, ora kakung ora putri lan uga ora banci.

Tembung ora arah ora enggon, ateges anglimputi sakalir, ing ngendi endi bae ana. Awit saking punika uriping manungsa ugi kalimputan ing dzating Pangeran. Mila ing wejanganipun Dewa-ruci katembungaken tan kena pisahna. Limrahipun banjur sok wonten pitaken: “Manawi Pangeran punika sejatosipun sampun nunggal [anglimputi] manungsa, kenging punapa manungsa kok teksih sami ngudi sagedipun manunggal? Wonten malih pitaken makaten: “Manawi Pangeran punika ugi sampun tunggal kahanan kaliyan wujuding manungsa, kenging punapa manungsa kok boten nggadhahi panguwasa kados Pangeran, punika rak nggih mokal? Pitaken kados makaten wau leres sanget. Jalaran ngangge waton wantah, tegesipun miturut nalar: mesthinipun rak ngaten. Inggih wonten ingriki ingkang prelu dipun saring, prelu dipun raosaken kalayan tandhes. Kawontenaning gesang punika gaib [alus, samar], mila katembungaken tan kena kinaya ngapa.

Awit saking sadaya tetembungan ingkang kangge mratelakaken alusing urip, boten kenging manawi lajeng dipun suraos kadosdene tetembungan ingkang gegayutan kaliyan kawontenan ingkang maujud ing ngalam donya utawi ingkang kenging ginayuh dening pikiran. Words cannot describe everything. Words are only descriptions of a reality that needs to be experienced. Makaten ancer-anceripun manawi badhe nyuraos, rehing gaib, tembung anglimputi ingkang ugi ateges nunggal wau, boten kenging manawi lajeng dipunemperaken kados dene toya ingkang kawoworan sumba, dipun emperaken toya wau temtu saged ngabangaken punapa kemawon.

Wontening tetembungan jumbuh, manunggal utawi ngelmu panunggalan punika sampun lajeng dipun suraos lan dipun emperaken kaliyan manunggiling barang kalih. Hananging kedah dipun suraos minangka ngudi supados saged mangertosi lan ngyakinaken gaibing Pangeran kanthi kaalusane. Dene bab gandhenging panguwasanipun Pangeran kaliyan uriping manungsa ingkang linimputan mau, teksih mawi warana [aling-aling] gaib, ugi dumunung wonten ing angganing manungsa piyambak.

Aling aling wau saged dipun lingkah, upamanipun kanthi srana semadi, kanthi srana tarak brata. Manawi manungsa sampun saged mbikak warana wau, ingriku bakal saged kaluberan panguwasaning Pangeran. Dene kathah sakedhikipun panguwasa kang kaluberaken wau, gumantung kaliyan kiyating pakartinipun manungsanipun piyambak. Pramila punika ingkang dipun wastani jalma linuwih ing donya punika inggih ugi ngangge trap-trapan, ngangge undha-usuk wiwit saking ingkang mamung angsal kaluwihan sekedhik ngantos dumugi ingkang kathah sanget. Makaten gegambaran ingkang saged kangge pepindhan lan kenging kangge ancer-ancer.

Awit saking punika, manawi manungsa badhe manembah lan badhe ngudi dhateng gaibing Pangeran, ingkang langkung wigatos inggih sarana ngolah badhanipun piyambak, kanthi ngolah pikiran, pangrasa lan pakartinipun piyambak, sarana mbangun bebuden luhur, nindhakaken pakarti ingkang sae lan remen atul tlaten nindhakaken sembahyang, semedi utawi manekung. Dene kuncinipun inggih punika pikir lan manah ingkang tansah eling marang sedyanipun murih sampun ngantos benceng ceweng, dados kedah fanatik [sampun ngantos gampil kapilut ing pamurunging laku]. Inggih muluring gagasan ingkang kados makaten kalawau mbokmanawi ingkang lajeng nglambari penggalihipun PB IV paring panutan dhateng putra wayahipun ingkang kapacak ing Wulang Reh: Manungsa kudu nalangsa, tegese nalangsa iku dudu bungah, dudu susah, nanging wong kang prihatin.

Tegese prihatin dudu cegah dhahar lawan guling, nanging nglanggengake rasa eling, mangesti marang kang mesti. Poma-poma wekas mami, anak putu aja lena, aja katungkul uripe, lan aja duwe kareman, marang pepaes donya, siyang dalu dipun emut, yen urip manggih antaka.”… Manungsa kudu nalangsa, tegese nalangsa iku dudu bungah, dudu susah, nanging wong kang prihatin. Tegese prihatin dudu cegah dhahar lawan guling, nanging nglanggengake rasa eling, mangesti marang kang mesti. Sayekti wajib rumuhun, angrawuhi ing sarira… Manawi sampun ngretos dhateng kajatening pribadinipun piyambak, inggih badhe ngretos sinten ingkang nguwaosi jagad punika. Ingkang makaten punika njiyat pantoging pamanggih bilih titah supados ngrumaosi yen wonten ingkang hanitahaken. Lan sadanguning tumitah, sumanggem ngemban tanggel jawab dhateng kuwajibaning titah rehne rumaos sampun dipun titahaken.

Lajeng manawi badhe ambyur anglampahi gesang ing satengahing bebrayan ageng, punika sejatosipun kedah kados pundi? Gesang punika sejatosipun gampil, jer sampun saged lan kersa ninthingi, nyinaoni, nindhakaken lan ngamalaken kalih prakawis, inggih punika saged lan kersa tansah nyenyuwun pangapunten dhumateng sok sintena kemawon lan saged lan kersa tansah paring pangapunten dhumateng sok sintena kemawon. Nuwun

 
 
 

January 23, 2011

Ingsun asung warsita, lamun sayektine akeh prakara kang winadi kang perlu kawiyak. Mulanira, tentreming penggalih ingsun kang wus meneb kanthi eninging tyas, kanthi lila legawa sun warsitakake prakara kang winadi mau. Kang satuhune ingsun pribadi ngrumangsani lamun cubluk among anut lakuning cipta kang ening, rasa pangrasa kang tinuntun dening sumbering geter. Dene pratikele ngluluh badhan wadhag mau kena ginulawentah  nglakoni tapabrata:

Eka, asesuci den taberi wewisuh.

Dwi, angurangi dhahar. Lire lamun wus luwe banget, samono uga bab ngunjuk lan sare.

Kang katri, ngurang-ngurangi ngunandika kang ora resik.

Kang catur, nyudowa saresmi. Lire patrape lambangsari kaliyan garwa lamun pinuju kangen kang linambaran katresnan suci.

Panca, ambirat napsu.

Mangkono sira gulawentah, kasengsema tan kawistara ing asepen kanthi ngeningake cipta kang luhung. Lire, satemah tuwuh waskiteng ndriya. Waspada, mulat salwiring kahanan. Sira ing ngasepen tansah hanyipta lamun sayektine tan darbe apa-apa. Sayektine kabeh iku kagungane Gusti, sumbering panguwasa, sumbering urip, jumbuh Kang Murbeng Widhi Wasesa. Patrape laku pasrah sumarah nalongsa, narima nindakake laku dharma. Mangkono mau sira bakal ndungkap luluh marang karsaning Ywang Murbeng Jagad.

Sumurupa, sayektine urip iku ana kang nguripi.  Dhapur Widhi Wasesa, kang cinipta dadya, kang sinedya ana, tanpa tida-tida maneh kang kinarsan bakal teka saka parimarmaning kang kuwasa. Kang dingin sawusira trep mangkono banjur nengenake ngatur rasa mulya, kang linandesan sinebut ing rasa meta. Lire, rasa katresnan kang wus manunggal, ilang rasane mikolehi dhiri priyangga. Mula luwih prayoga lamun kang dhingin angucap mantra mantra suci manut marang kapitayanira pribadi. Mung panjenengan Pangeran Kang Maha Tunggal kang dadi sumber.

Luwih prayoga linakonana ing samadyaning ratri, sarwi angagema busana kang prasaja among sarwa suci. Iku den arani mati raga. Mulanira kawastanan nutupi babahan nawa sanga. Lepasing mantram nuli binarengan hanata wetuning napas aja nganti tumpang suh. Kumpule dadya sawiji sinerot hawaning nur nganti ndungkaping puser banjur kawedalake mijil ing lenging grana kanthi lon-lonan tan kesusu. Mankono wola wali. Ing kono sira numusi ing sayektine nur kang kawastanan sejatining panembah kang dadya saran pangruwating papacintraka, ngracut marang nur wewayanganing maya.

Satuhu sira wus ndungkap ing kasuksmanira kang wusana den wastani driya kang kaping sad. Makarti satemah tuwuh kahalusanira, anjalari gampang nampa wangsit. Kang sayektine wangsit iku luluh jumbuhing cipta lan karsaning Ywang Murbeng Widhi Wasesa, sarta menangake marang suksma-suksma luhung dadya panuntun panggulawentah ing laku lahir lan batin kang sayektine bisa miyak kang winadi.

 
 
 

January 23, 2011

Manawi pangawasaning suksma sampun ambabar pancadriya, sarta ambuka wiwaraning pramana, lajeng anggrejentaken hawanafsu, anuwuhaken pangraosing cipta katampen ing budi ngantos sumarambah ing ndalem jasat kita, lajeng uninga malih dhateng saniskara ingkang katingal ing ngalam donya, dipun pralambangi ANENUN SENTEG PISAN ANIGASI, tegesipun saweg sakedhap paningaling ngalam supena, lajeng saged wangsul uninga ingkang katingalan ing ngalam donya malih.

Manawi karkating jasat katarik ing pangraosing budi, pangraosing budi kairup ing hawaning nafsu, hawaning nafsu kasirep dening wisesaning suksma, wisesaning suksma kakukud dhateng pangawasing rasa, lajeng luluh manjing dhateng pranawaning cahya, anunggil kaliyan Purbaning Atma, mantuk dadi dzat mutlak kang kadhim ajali abadi. Ing ngriku wahananipun dipunwastani pejah kahananing jasad kita, ananging saestunipun boten pejah, amung ngalih panggenan kemawon, malah waluya mahasuci sajati, mila dipunpralambangi TANGGAL PISAN KAPURNAMAN, tegesipun dereng lami tumitah wonten ing ngalam donya lajeng wangsul malih dados manungsa sajati ingkang sampurna sarta waskita ing saniskara, boten mawi kasamaran dhateng kang gaib-gaib sadaya.


Yu Senik:

Nyuwun pangapunten Mastoni, mbokbilih dhangan ing panggalih, kersoa paring damar seserepan ing babagan ingkang badhe kula suwunaken pirsa ing ngandhap punika:

Miturut racikaning ukara, seratan ing ngandhap punika temtu mboten kalebet ewoning tembang utawi geguritan. Ewa semanten, [mbokmenawi] amargi saking lungiding pangertosan ingkang sinengker ing racikaning tembung, wosing wigatos lan jarwaning pangertosan inggih lajeng kasaput. Mbokbilih kanthi paring damar seserepan panjenengan wasita ingkang sinandi ing rerangkening tembung ingkang badhe kula suwunaken pirsa ing ngandhap punika saged kababar cablaka ing akathah, temahan wosing wigatos saged hanambahi undhaking seserepan kita sedaya.

Kersoa panjenengan ambabar suraosing ‘pangawasaning suksma sampun ambabar pancadriya sarta ambuka warananing pramana’. ‘Pangawasaning suksma’, ‘ambabar pancadriya’ lan ‘wiwaraning pramana’ punika tegesipun punapa, utawi jarwanipun kados pundi? Tembung ‘wiwaraning pramana’ punika tegesipun punapa? sakpangertosan kula, wiwara punika tegesipun ‘lawang’ utawi ‘bolongan’. Lajeng ‘pramana’ punika, sakpangertosan kula, tegesipun ‘keteging jejantung’, ‘nyawa’; awas, pandeleng. Dados ambuka wiwaraning pramana tegesipun ‘mbukak bolonganing/lawanging pandeleng/nyawa’. Kados kok radi geseh, inggih. punapa ingkang badhe panjenengan ngendikakaken: ‘ambuka WARANANING pramana’?

Kados pundi kok pangawasaning suksma utawi pambukaning wiwaraning [warananing?] pramana [saged] anggenjretaken hawa nafsu? Sakpangertosan kula, menawi [warana] pramananing tiyang punika binuka, tiyang punika lajeng awas. Menawi awas, tiyang punika lajeng saged angon hawa napsunipun [alu amah, amarah lsp.]. Manawi makaten, lajeng mboten badhe kok hawanapsunipun nggrenjet; inggih amargi tiyang punika sampun awas karana warananing pramana sampun binuka. Mugi kersaa paring gelaring kaweruh seserepan, jarwaning wasitadi “pangraosing cipta katampen ing budi ngantos sumarambah ing jasad sadaya” Ingkang dipunwastani “wahana” lan “kahananing jasad kita” punika punapa? Sakpengertosan kula, tetembungan [anenun] senteg pisan anigasi punika tegesipun “guneman/rembugan sepisan dadi”; punapa ingkang dipun rembag utawi ginem mboten perlu dipun wongsal wangsuli.

Jenang sela wader kali sesondheran,
Apuranta yen wonten lepat kawula,

Sakpangertosan kula, tanggal [se]pisan punika tegesipun awaling wulan, nalika sang candra nembe ketingal njalirit sekedhik saksampunipun mangsa panglong. Kapurnaman punika, sakpangertosan kula, kasorotan ing padhanging wulan purnama.


Mastoni:
The challenge of translating and understanding the passage from the Serat Purba Jati is that the words are replete with multiple meanings. My first instinct was to choose among the possible meanings of each word. However, as I considered the implications of each choice, I was struck by the power of each meaning. At this point, I feel that one must understand this in a multi-layered way.

The richest words in this passage are suksma which can mean Allah (or God if you prefer); soul (nyawa); or spirit (roh), ambabar which can mean reveal or trigger, and pramana which can be interpreted as the beating of the heart (keteging jejantung) or sight (paningal).

The presence of God within us/the soul is literally the unique part of ourselves that is the seat of the divine. It goes beyond our physical being. It is eternal; existing before our physical bodies were formed, and it will exist after our bodies have long decayed. The passage refers to the presence of God within ourselves (one’s soul), the awareness of Whom is a vehicle to ambabar (trigger or reveal) one’s senses. Trigger suggests that one’s senses remain dormant until one gains an awareness of one’s soul. On the other hand, if one translates ambabar as reveal, this suggests that one’s senses may be fully active, but that one may be made aware of them as one gains an awareness of the soul.

More interesting yet is an examination of the word pramana. Its diverse meanings yield radically different understandings. One interpretation might mean that the power of the soul has enlightened one’s senses and opened up the doorway to one’s beating heart (wiwaraning pramana). The beating of the heart could simply mean one’s emotions, passions and feelings, but a more interesting interpretation might be the origin of life.

If the beating of the heart (pramana) is seen as symbolic of the presence of life within us, then the passage is really circular. In this way, suksma and pramana are really two sides of the same reality. As Suksma is God within us and the Pramana is the origin of our life, in effect Suksma is Pramana. However, pramana is the physical and transitory manifestation of God within our earthly bodies. In other words, God or the Soul is the progenitor of our earthly existence. If one is made aware of this fact, then one is in touch with our lives on earth as nothing more than a brief resting place for our souls.

Meditation is mentioned as having a purifying effect on the entire body (pangraosing cipta). It is well known by those who meditate that, at times, one can go beyond the body, seeing the past, present and future as one. At this point, I would like to highlight sight as an alternate meaning of the word pramana. In this meaning, awareness of the soul through the activation of the senses engages our sight.

In either case, it is awareness of one’s very place in the universe that is at issue here. Through one’s senses, one is in touch with the ineffable relationship with Allah and humankind. A succinct equivalent to passages might simply be the Arabic word “taqwa” (consciousness of God).

This understanding is likened to “the beginning of the fullmoon” (TANGGAL PISAN KAPURNAMAN) which is a symbolic way of saying “a new beginning”. This taqwa or newly awakened state illuminates the contrast between the illusion of life (that we perceive as real life in our physical bodies) and the life of our souls. This will be the end of our dream and the breaking of all delusion. It says in the Serat Purba Jati that when one fully understands these passages, one will be a manungsa sajati (real human). One will be able to see not just with the eyes, but also with the soul.

The richest words in this passage are Suksma which can mean God, soul (nyawa), or spirit (roh), ambabar which can mean reveal or trigger, and pramana which can be interpreted as the beating of the heart (keteging jejantung) or sight (paningal).


Yu Senik:

Nanging punapa wonten ing parwa ingkang panjenengan ngendikaken ing nginggil punika, suksma saged dipun tegesi “nyawa”?


Mastoni:

As I understand it, the soul is the presence of God in each of us.


Yu Senik: Yes, you are right but… eh nyuwun pangapunten. Inggih panjenengan leres bilih the soul is the presence of God. Nanging punapa wewarah ingkang kados makaten punika saged dipun pendhet saking Serat Purba Jati ing nginggil? Kados kok mboten.


Mastoni:

The passage is not self-defining. It does not explain the exact meaning of each of its constituent parts. However, it is my understanding of the meaning of the word “suksma” in Basa Jawi that the soul is the presence of God in each of us. Perhaps, I am misinformed about the definition in Javanese. If you can provide an authoritative definition which says otherwise, I would be thrilled to learn of it.


Yu Senik:

Kados ingkang dipun ngendikakaken Mas Budi(?) wonten ing Purwaka, lan ingkang panjenengan terjemahaken wonten ing Basa Inggris, bilih: “…menawi kita badhe nyuraos piwulang punika, kita kedah ngengeti parwa ….”, punapa wewarah “the soul is the presence of God” mboten lajeng mbadhal saking parwa Serat Purba Jati khususipun lan parwa kabudayan Jawi [Kejawen] ingkang mengkoni?


Mastoni:

It is an interpretation rather than a translation. Yes, it requires a leap of understanding. As my motivation is to gain personal insights for the purpose of fostering spiritual growth, I allow myself to draw connections, which a scholar writing an essay might find unwarranted.


Yu Senik:

Semanten ugi menawi suksma punika dipun tegesi “God”, inggih lajeng wonten teges ingkang mbrojol, wonten teges ingkang “slipped away”. Tembung God makaten mengku suraos “Ingkang Murbeng Jagad Ageng”. Nanging tembung suksma ingkang dipun kajengaken ing seratan ing nginggil punika kok kados langkung trep manawi dipun tegesi suksmaning tiyang, “Ingkang Murbeng Jagad Alit”, the Inner [ultimate] Being.


Mastoni:

God is in charge of the macrocosms and microcosms. I see Allah as infused, or perhaps “omnipresent” would be a more traditional word, throughout the universe on a sub atomic level.


Yu Senik:

Again, you confuse the notion of Javanese “Jagad Gedhe” and “Jagad Cilik” with the notion of the world in the [global] Monotheism Theology [or even Scientism?]. Nyuwun pangapunten mas, Jagad Ageng lan Jagad Alit punika wonten ing pangertosan Kejawen sanes perkawis “universe” punapa dene “sub atomic level”. Wonten ing Kejawen, Jagad Ageng punika [refer to] jagad ingkang gumelar ing sakjawining manungsa/titah. Jagad Alit punika jagad ingkang gumelar wonten ing telenging kebatosanipun manungsa. “Universe” lan “sub atomic level” punika ngengingi kawadagan, fisik[a]; Jagad Alit lan Jagad Ageng punika perkawis ulah raos kebatosan.


Mastoni:

I think you are right in your understanding. Thank you for pointing out my error.


Yu Senik:

Lajeng mbokbilih “pramana” ing parwa punika langkung trep manawi dipun terjemahaken dados “life” utawi “insight”.


Mastoni:

There is a subtle difference between these choices of words. One might equate “the beating of the heart” (pramana = keteging jejantung) with the presence of “life” in the body, and “insight” is a kind of “sight” (pramana = paningal) or vision into the meaning of things. But perhaps your word choices are better and I thank you for the idea.


Yu Senik:

Wewarah punika kok kados malumpat saking parwa malih. Ibaratipun nyamekaken netra lan pandulu; “eye” lan “sight”. Kawadagan mboten sami utawi memper kaliyan kriyanipun. Netra mboten sami kaliyan pandulu; eye is completely different from sight. Keketeging jejantung punika perkawis kewadagan, lan gesang, life, punika mboten namung keketeging jejantung. [If we go on with such an "equation", i.e. the beating of the heart is equal to the presence of life, we might come up with "the beating of the heart is equal to the beating of a cell'. And since a cell basically consists of protein, then, it is equal to the beating of protein. And so on and so forth].


Mastoni:

When we are eating nasi, it could be argued that we are not eating gabah. If we focus purely on the literal meanings without drawing a conclusion or connection, it might be difficult to determine that nasi has its origin in gabah, and gabah is derived from padi. I understand that you are trying to avoid a fallacy of reasoning by cautioning me not to draw unwarranted connections. However, some connections are legitimate and are certainly worth exploring. We are in the world of the symbolic. If one narrows the meaning of the word too much, one may risk missing the larger idea. *nasi = cooked rice, padi = rice plant, gabah = rice in its husk. The presents of God within us/the soul is literally the unique part of ourselves that is the seat of the Divine. It goes beyond our physical being. It is eternal; existing before our physical bodies were formed, and it will exist after our bodies have long decayed.


Yu Senik:

Nyuwun pangapunten Mastoni, ingkang panjenengan kersakaken punika ‘presents’ punapa ‘presence’?


Mastoni: Yes, I am a terrible speller of English. I find this language impossible to spell, particularly as American speakers of English have such appauling dialects. I have learned a great deal of my English from listening. Thank you for the correction, I shall endeavour not to make this mistake again.


Yu Senik:

Sakpangertosan kula, kalih-kalihipun inggih Basa Inggris, kalih-kalihipun saged dados “noun”, nanging teges lan maknaning tembung tembung punika benten. The presents of God punika saged dipun tegesi ‘paringaning utawi peparinging God’, dene the presence of God punika tegesipun ‘rawuhing, manjalmaning, “badharing” Gusti. Sakpaminggih kula, wonten ing kaweruh Kejawen, God asring dipun sebat mawi tetembungan ‘Sang Hyang Suksma Kawekas’. Suksma dipun anggep dados panjalmaning ‘Sang Hyang Suksma Kawekas. Paham ingkang kados punika cundhuk kaliyan atur panjenengan: the “seat” of the divine, sanes peparing utawi “presents”. Dados tembung “presents” ing ngandhap punika, sakpangertosan kula, langkung pas menawi dipun gantos “presence”.


Mastoni:

Clearly, it is the latter meaning that I had in mind. You are quite right. The passage refers to the presence of God within ourselves (one’s soul), the awareness of Whom is a vehicle to ambabar (trigger or reveal) one’s senses. Trigger suggests that one’s senses remain dormant until one gains an awareness of one’s soul. On the other hand, if one translates ambabar as reveal, this suggests that one’s senses may be fully active, but that one may be made aware of them as one gains an awareness of the soul.


Yu Senik:

Menawi saking pamanggih kula, undheraning prakawis punika wonten ing tetembungan “suksma ambabar panca driya”, mboten namung ing tembung “ambabar”. Anggen kula umatur makaten, inggih awit saking ing kawruh Kejawen ingkang kula mangertosi, ugi pinanggih ing sanggit ringgit purwa, pancadriya punika kalebet ing etangan babahan hawa sanga. Tiyang ingkang badhe mangertosi dayaning pramana lenggahing suksma, biasanipun hanutupi babahan hawa sanga, ing antawisipun pancadriya kalau wau. Inggih amargi babahan hawa sanga punika ingkang dados margining hawanafsu ingkang mambengi pramananing suksma. Menawi makaten, kok lajeng radi geseh inggih menawi suksma punika ambabar panca driya.


Mastoni:

You are quite right that language cannot be dissected into minute detail without considering the larger context. In its larger context, I believe that this passage is similar to the Zen notion of “sudden enlightenment”. After one has gained sudden enlightenment, one is instantly aware of where one came from, where one is, and where one is going, simultaneously. I realize that the idea of sudden enlightenment is not a part of current Javanese thought, however, perhaps this is a part of our spiritual tradition which has been lost to us.

It is really a question of whether or not our bodily senses obscure our connection with God or reveal our connection with God. I would argue that both are true. It is just the kind of paradox that Zen Masters would find appealing. Perhaps our soul must travel two separate paths in order to arrive at its destination. As with all enigmatic statements such as the one in “Suksma ambabar pancadriya”, the answers are really questions in disguise. Your interpretation is very interesting, and I will give it further thought.

More interesting yet is an examination of the word pramana. Its diverse meanings yield radically different understandings. One interpretation might mean that the power of the soul has enlightened your senses and opened up the doorway to your beating heart (wiwaraning pramana). The beating of the heart could simply mean one’s emotions, passions and feelings, but a more interesting interpretation might be the origin of life.


Yu Senik:

Yes especially when we look at the issue detached/slipped from its [cultural] context, like below:

“One interpretation might mean that the power of the soul has enlightened one’s senses and opened up the doorway to one’s beating heart (wiwaraning pramana). The beating of the heart could simply mean one’s emotions, passions and feelings, but a more interesting interpretation might be the origin of life.”

It is also contextually detached or slipped to say that “The beating of the heart simply means one’s emotions, passions and feelings”. It might be true that when people are emotional, passionate or in deep feelings, their heartbeats might be increasing, more frequent. But the beating of the heart is not the emotions, passions or feeling.


Mastoni:

And clearly I am not suggesting that it is. The point is that the beating of the heart may be symbolic of emotions, passions or feeling, not that one’s anatomical responses are the equivalent of emotions.


Yu Senik:

Kados pundi jarwanipun kok suksma lajeng saged “enlighten senses” utawi “pramana”?


Mastoni:

Yes, that is the question! And if I could give you an easy answer, I would build a house on the top of the Himalaya and people would climb the mountain to ask me for the keys of knowledge of the universe. In this question, which you have eloquently posed, lies the key to the entire subject. How indeed does the soul enlighten our senses and open up the door way of our beating heart? That is the information I am looking for.


Yu Senik:

I meant: how come that the soul enlightens senses? How do you explain? Is it like: geee, my eyes are enlightened because when I see the moon it is like I see my pacar. Is that it?


Mastoni:

I get the feeling that my answer has irritated you. That is not my intention. I cannot give you a simple equation as you have stated above. Clearly, it cannot be broken down into Mathematics, for example, eyes + moon = pacar. Perhaps the soul does not enlighten senses and my investigation of this is useless. However, I think it is a train of thought worth following for whatever personal enlightenment it might yield. If my suggestion has no meaning for you, then you should disregard it. I meant no offense.


Yu Senik:

If you are still searching to formulate how the suksma enlightens senses, would it not be misleading [your searching] to say “the power of the soul has enlightens the senses”?


Mastoni:

Yes, if I were the one saying it. However, it is the text itself (suksma ambabar pancadriya), which might be translated as “the power of the soul enlightens senses”. I realize, it could also be translated in other ways. My purpose was not to give a definitive answer, but rather to advance one of many possible avenues of investigation. I am not suggesting that the interpretation I am giving is the indisputably correct one.


Yu Senik:

Inggih pancen leres menawi pramana punika saged dipun tegesi keteging jejantung. Nanging sakpangertosan kula, keteging jejantung ingkang dipun kajengaken punika “nyawa”, sanes “rasa” [WJS Poerwadarminta, Baoesastra Djawa, Batavia: Wolters' Uitgevers - Maatschchappij NV; 1939]. Dados, kula kinten “the beating of the heart could simply mean one’s emotions, passions and feelings” kirang pratitis kangge hanjarwakaken “pramana”. Semanten ugi menawi tembung pramana punika dipun jarwani “the origin of life”. Kula dereng nate pinanggih wewarah, suluk utawi seratan buku ingkang hamemuruk bilih pramana punika “sangkaning dumadi” utawi “the origin of life”. Ewa samanten menawi Mastoni sampun nate pinanggih wewarah ingkang hanjarwaken pramana “sangkan paraning dumadi” utawi “the origin of life”, kersaa paring dhawuh wewarah punika saged kula panggihaken wonten pundi.


Mastoni:

The logic I have stated above is my only justification for “pramana” being intrepeted as the origin of life (Sangkan Paraning Dumadi). It is only where the soul is present that one finds emotions, passions, and feelings. Clearly, these are not present in one whose soul has already departed. Therefore, one could say that the presence of the soul is very much responsible for such things. Furthermore, if the soul is the presence of God in us, and God is the Origin of All Lives (Sangkan Paraning Dumadi), then one might conclude that in the soul is the origin of life.


Yu Senik:

Nyuwun pangapunten Mastoni. Since the dead cannot read, the Serat Purba Jati is clearly not intended for the dead. Therefore, one could say that we are talking about suksma which dwells in everybody’s life. Kriya utawi karyaning suksma, ingkang utami [yang pertama-tama, firstly, primarily] does not distinguish the dead and the lives; but membuat orang tahu dan merasakan.


Mastoni:

Very interesting remarks, I am not sure I understand what you mean.


Yu Senik:

Saben tiyang NGERTOS bilih mbenjang enjang sang bagaskara taksih badhe hamadhangi jagad; nanging mboten saben tiyang NGRAOSAKEN utawi PANA bilih hyang bagaskara [taksih badhe] hamadhangi jagad. Inggih awit saking karyaning hyang suksma punika tiyang saged NGERTOS, PANA, NGRAOSAKEN, NGLENGGANA.


Mastoni:

I agree with your statement above but I am not sure how it is either a refutation or a support of anything I have said above. Obviously, you are onto some idea that has gone over my head. Could you please explain it in a different way?


Yu Senik:

Bab sanesipun inggih punika perkawis “sangkan paraning dumadi”. Sangkan punika tegesipun “asal”. “Paran” punika “perjalanan” sok ugi dipun tegesi “tujuan”. Dumadi punika tumitah, manungsa. Dados ingkang badhe dipun wahyakaken ing tetembungan sangkan paraning dumadi punika mboten namung asal dan tujuan, alfa lan omega, purwa lan wasana umat manungsa. Nanging ugi laku, lakon, lampah, lelampahan ingkang dipun sandang umat manungsa saklebetipun nglampahi gelaring purwa ngantos wasana. Dados, miturut pamanggih kula, menawi sangkan paraning dumadi punika dipun tegesi “the origin of life” leresipun namung sekedhik. Menawi ngangge bebasanipun tiyang Inggris: hit the thumb, sanes on the head of the nail. Alias mbrojol, slipped away, contextually corrupt.


Mastoni:

That is correct. The meaning of this word is much deeper than simply the origin of life. The depth of the language is such that one cannot easily give equivalence in any other language.


Mastoni:

In this way, suksma and pramana are really two sides of the same reality. As Suksma is God within us and the Pramana is the origin of our life, in effect Suksma is Pramana.


Yu Senik:

Nehi. Mboten. Suksma punika serat ototing pandulu ingkang wonten ing otak, pramana punika pandulu [ingkang tuhu awas]. Dados mboten “two sides of the same reality”. Mbang mbanganipun surya lan cahya. Mbokbilih istilahipun kawulanipun Demang Sarayuda, Ki Ageng Giring ing Wonosari, Gunung Kidul mrika langkung trep: “nunggal misah”.


Mastoni:

Again, my point is not to translate the passage literally but to suggest possible philosophical and spiritual connections which one might explore. You are certainly correct that suksma is not the literal equivalent of pramana and I am not suggesting that it is. I am suggesting that, like in many philosophical explorations, there are many connected path ways which, if travel, might lead us to a new understanding. One should not take my remarks as literal.


Yu Senik:

Kula kinten kok mboten makaten. Wonten ing Serat Dewa Ruci, Sang Sena dipun dangu dening Serat Dewa Ruci, punapa ingkang dipun tingali [tingal=pramana]. Sang Sena matur bilih wonten warna sekawan prakawis: cemeng, bang, kuning,lan pethak ingkang dados pralambanging durgamaningtyas. salajengipun Serat Dewa Ruci ngendika makaten:

[Dhandhanggula}

pan isine ing jagad mepeki,
iya ati kang telung prakara,
pamurunge laku kabeh,
yen bisa pisah iku,
pasthi bisa pamoring gaib,
iku mungsuhing tapa,
ati kang tetelu,
ireng abang kuning samya,
angadhangi cipta karsa kang lestari,
pamoring SUKSMA MULYA,

Dados menawi tiyang punika kadunungan manah ingkang wening sahingga saged amilah milah "warna" kawan prakawis kala wau, lajeng inggih saged mangertosi utawi manunggal ing suksma mulya. Pangertosan ing bab sekawan warna/prekawis punika mbok bilih ingkang dipun wastani "pramana", ingkang tundhonipun anuntun dumateng pamoring suksma mulya. Menawi makaten, inggih lajeng pramana punika mboten same kaliyan suksma.


Mastoni:

Obviously, we are not literally talking about"colours" here. The colours are clearly a metaphor for four aspects of a deeper essence of life. Mightin one see these four essences of life as aspects of the soul. Perhaps, I am stretching the point. What do you think is the deeper meaning of the four colours?


Yu Senik:

Lajengipun pupuh dhandhanggula ing nginggil makaten:

lamun nora kawileting katri,
yekti sida pamoring kawula,
lestari panunggalane,
poma den awas emut,
durgama kang munggeng ati,
pangawasane weruha,
wiji wijinipun,
kang IRENG luwih prakosa,
panggawene asrengen sabarang runtik,
andadra ngambra ambra,

Pupuh salajengipun "ngrimbag" warni sanesipun...


Mastoni:

However, pramana is the physical and transitory manifestation of God within our earthly bodies.


Yu Senik:

Kados pundi larah larahipun utawi kados pundi gelar yektosipun kok lajeng "Pramana is the physical and transitory manifestation of God"? Parwa ingkang pundi saking seratan abasa Jawi ing nginggil punika ingkang saged dipun tegesi "Pramana is the physical and transitory manifestation of God"?


Mastoni:

For the reason I have stated above, the beating of the heart (pramana) is symbolic of the origin of life, which is the presence of God within us. At least this is how I see it. In other words, God or the Soul is the progenitor of our earthly existence. If one is made aware of this fact, then one is in touch with our lives on earth as nothing more than a brief resting-place for our souls. Meditation is mentioned as having a purifying effect on the entire body (pangraosing cipta). It is well known by those who meditate that, at times, one can go beyond the body, seeing the past, present and future as one.


Yu Senik:

Punapa inggih manawi parwa "pangraosing cipta" saged dipun tegesi "meditation"?


Mastoni:

"Pangraosing cipta" might be seen as the result of meditation, not meditation itself. This requires a leap of logic, which you might not be willing to make. However, I see meditation as a most logical part of one's attempt to purify oneself. At this point, I would like to highlight sight as an alternate meaning of the word "pramana". In this meaning, awareness of the soul through the activation of the senses engages our sight.


Yu Senik:

Lajeng lenggahing "awareness of the soul" punika kados pundi?


Mastoni:

Awareness of the soul is the translation of "pangawasaning suksma". Do you disagree with the translation?


Yu Senik:

What does "pangawasan" actually mean?


Mastoni:

I am awas that you are awas of the pangawasan :)
In either case, it is awareness of one's very place in the universe that is at issue here. Through one's senses, one is in touch with the ineffable relationship with God and humankind. A succinct equivalent to passages might simply be the Arabic word taqwa (consciousness of God). This understanding is likened to "the beginning of the full moon" (TANGGAL PISAN KAPURNAMAN) which is a symbolic way of saying "a new beginning".


Yu Senik:

Nyuwun pangapunten mas, ing pethikan nginggil punika mboten wonten tembung utawi parwa ingkang mungel "tanggal pisan kapurnaman"


Mastoni:

Please, refer to the next paragraph in the Serat Purba Jati, which you will find in my posting entitled Tanggal Pisan Kapurnaman. In the Serat Purbajati, these two paragraphs stand one right after the other and are clearly related.


Yu Senik:

What is, then, the relevance of the title/subject of "senteg pisan anigasi"? Is it a "meaningless" saying/expression?


Mastoni:

Not to me. As senteg pisan anigasi means "ngomong sepisan dadi", or "tembung sakecap dadi" ~ one word is enough, and I connected it to the Sanskrit word "AUM", the title has great meaning. Now, I realize that you are not of the mindset to connect non Javanese things to this passage. This is evident by your remark "Yes, especially when we look at the issue detached/slipped from its [cultural] context”).

But I am of the belief that the larger meaning of these passages is found in an investigation of all spiritual resources. Humanity’s understanding of truth and wisdom may be at the confluence of Kejawen, Buddhism, Chritianity, Hinduism, Islam, Judaism and all legitimate spiritual paths. I do not wish to simply see this Serat as historical writing, but rather I believe that they are mystically connected to the spiritual endeavours of all people.

If I am interpreting your response correctly, I believe that I have caused offense. Perhaps, I chose my words in haste. My attempt was not to offend you. I appreciate your very learned criticism. I can see that many of your remarks are an important reminder to focus on this specific meanings of things and a caution to me not to go off on flights of intellectual fancy. This is my tendency. However, my intention is to let my mind roam freely and pick up as many influences as might shed light on our spiritual condition. I have not tested every one of these ideas because, to do so would be to squash my free investigation.

I can see that to someone whose goal is that of scholarship rather than simply personal enlightenment, my ideas may run far afield. I think, perhaps, the best approach is to follow two simultaneous paths, one that investigates a careful meaning of the language in its cultural context (this is the path you appear to have chosen) and one which allows oneself to roam freely and make whatever association appear to shed light on the subject. I hope that I have not offended you in any way. And I greatly value your understanding and corrections of my ideas.

This taqwa or newly awakened state illuminates the contrast between the illusion of life, that we perceive as real life in our physical bodies, and the life of our souls. This will be the end of our dream and the breaking of all dilution.


Yu Senik:

Impen ingkang pundi? Lan ugi punapa ingkang panjenengan kajengaken wonten ing tembung “dilution” punika?


Mastoni:

By “awaken” and “delusion” (mispelled in my original email), I am referring to a larger philosophical idea. I am not referring to any specific word or phrase within the text, I am instead likening the awakened state to one’s newly found awareness, which is mentioned in the text as ANENUN SENTEG PISAN ANIGASI. The delusion from which we would be awakened is that of a finite existence on this earth within these bodies. This new awareness will shatter this delusion by giving us an understanding of the infinite.


Yu Senik:

What and which larger philosopical idea?


Mastoni:

As stated above, “This taqwa or newly awakened state illuminates the contrast between the illusion of life, that we perceive as real life in our physical bodies, and the life of our souls. This will be the end of our dream and the breaking of all delusion.” It says in the Serat Purba Jati that when one fully understands these passages, one will be a “manungsa sajati” (real human). One will be able to see not just with the eyes, but also with the soul.


Yu Senik:

Ah, manawi saking pamanggih kula kok isining serat ing nginggil punika worsuh. menawi dipun gelar mawi kawruh basa –inggih amargi gelaring serat sanes gurit-adi, tembang, wangsalan utawi sastra gurit sanesipun– serat punika mboten saged hanglenggahi jejering ukara jangkep. Ukara ingkang jangkep: MANAWI jawah, kula mboten badhe sekolah. Nanging ing pethikan serat ing nginggil punika namung hanyebataken syarat kemawon, ip [inggih punika: "manawi....", mboten wonten "kriya"nipun. Punika menggahing rerangkening ukara. Wonten ing rerangkening suraos ugi worsuh, mboten trep kaliyan wewarah bab suksma lan pramana, ingkang antawisipun pinanggih ing Serat Dewa Ruci [Semarang: Dahara Prize, 1989]


Mastoni:

It is our spiritual journey that is at issue here. It is predictable that the passage should be enigmatic. The Serat Purbajati is intended to launch one’s spiritual journey, not to take us to the end. We have to find our own path to the destination listed above. It is a kind of exercize that sharpens our mind, which in turn provides us with a better vehicle in which to make this journey.


Yu Senik:
[dhandhanggula]

dene kang sira tingali,
kang asawang peputran mutyara,
ingkang kumilat cahyane,
angkara kara murub,
pan pramana aranireki,
uripe kang sarira,
pramana puniku,
tunggal aneng ing sarira,
nanging ora milu suka lan prihatin,
enggone aneng raga,

datan milu mangan turu nenggih,
iya nora milu lara lapa,
yen pisah saking enggone,
raga kari ngalumpruk,
yekti lungkrah badanireki,
yaiku kang kuwasa,
nandang rasanipun,
INGURIPAN DENING SUKSMA,
iya iku sinung sih anandhang urip,
ingaken rahsaning dzat,

iya sinandhangken ing sireki,
nanging kadya simbar ing kakaywan,
aneng ing reraga nggone,
URIPING PRAMANEKU,
ING URIP PUN ING SUKSMA NENGGIH,
misesa ing sabarang,
pramana puniku,
yen mati melu kaleswan,
lamun ilang SUKSMANE sarira nuli
URIPING SUKSMA ANA.


Mastoni:

I would love to know your understanding of the poem which you have so graciously provided above. What I would like to do is print the poem on my website along with your thoughtful commentary. Would this be allright with you?


Yu Senik:

It is a tembang not a poem, unfortunately. Unfortunately again, I do not have any thoughtful commentary ’cause what is said in the Pupuh Dhandhanggula is too obvious. The commentary I could say is the writer of the tembang or serat is [was, if you like] a person, who is/was cultural/local-spiritually thoughtful and learned in ‘basa tembang’.


Saklajengipun wonten ngandhap punika pamanggihipun Mas Chodjim, kapendhet saking Milis Wojoseto ingkang dipun pandhegani dening Mbah Soeloyo.


Mas Chodjim:
Aku kepengin nyoba ngomentari diskusine Mastoni lan Yu Senik. Iki pancen diskusi tuwo. Lha piye? Sing dirembug kuwi rak kawruh Jawa sing wis tuwa. Maca basane wae uuuangel kok kanggone wong saiki! Ing ngisor iki dak seratna maneh sak pupuh saka Serat Purba Jati sing dienggo polemik karo panjenengane sak kloron.

“Manawi pangawasaning suksma sampun ambabar pancadriya, sarta ambuka wiwaraning pramana, lajeng anggrejetaken hawa nafsu, anuwuhaken pangraosing cipta katampen ing budi ngantos sumrambah ing ndalem jasat kita, lajeng uninga malih dhateng saniskara ingkang katingal ing ngalam ndonya, dipun pralambangi ANENUN SENTEG PISAN ANIGAS, tegesipun saweg sekedhap paningaling ngalam supena, lajeng saged wangsul uninga ingkang katingalan ing ngalam donya malih” (SERAT PURBA JATI). Iki sing dijenengi sak suwek layang, lha aku dhewe ora weruh sambungane hare. Nanging yen diwaca sing teliti, kayaning serat iki mulangi wong kang lagi ngalami “manunggaling kawula kalawan Gusti”, utawa ‘wihdatul wujud’ kang dadi pitakone Mas Setiawan.

Aku ora kepengin njureni polemik mau. Mung wae supaya bisa dadi wacana kanggo sing kepengin ngudi ilmu makrifat, kebatinan, ing ngisor iki aku nyoba njarwa ing basa Indonesia.

“Apabila penglihatan suksma sudah dapat membuka panca indera, serta membuka pintu pramana, kemudian meniadakan hawa nafsu, sehingga menumbuhkan rasa-cipta yang ada di dalam budi yang menyebar di seluruh jasad kita, kemudian kita mengetahui lagi segala sesuatu yang ada di dunia ini, dapat diumpamakan sebagai ANENUN SENTEG PISAN ANIGASI, yang artinya baru sebentar melihat di alam mimpi, lalu bisa melihat kembali apa yang terlihat di alam dunia”

Lha, iki sing perlu dipriksani dhisik basa Indonesiaku olehe njarwakna pupuh mau. Mengko yen basa Indonesiane wis bener, gampang dimangerteni ambek wong Jawa saka wetan nganti kulon.

Ing ngisor iki uga dak jarwakna tembung-tembung kang wigati.

Suksma : ilang, alus, lembut, jiwa, nyawa.
Pancadriya: panca indera, utawa batin sing anglimput budi, ati, rasa, cahya lan urip.
Wiwara : lawang, leng
Pramana: lantip, awas; nyawa, jiwa; dhenyute jantung
Saniskara: semuanya
Senteg : tenunan, nenun
Anigas : munggel, medhot
Supena : ngimpi

Saiki samene dhisik, mengko yen basa Indonesiane wis bener, aku uga melu njelasna nganggo babagan makrifat. Sing jelas polemike Mastoni lan Yu Senik padha benere, amarga Yu Senik nganggo pangerten lahiriah, eksoteris. Lan, Mastoni nganggo pangerten makrifat, wihdatul wujud, union mystique, utawa esoteris. Ing union mystique, Allah iku ya dzat kang anglimputi saniskara, segala sesuatu, omnipresent. Basa Indonesiane, Allah itu tidak di dalam maupun di luar sesuatu, tetapi meliputi segala sesuatu.

Matur nuwun

chodjim

KISI INFO SERAT TANAH JAWA

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

SERAT TANAH JAWA

 

Penggubahan[sunting | sunting sumber]

Menurut keterangan R.M.A. Sumahatmaka, seorang kerabat istana Mangkunegaran, Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yaitu yang kemudian akan bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V.

Sangkala Serat Centhini, yang nama lengkapnya adalah Suluk Tambangraras, berbunyi paksa suci sabda ji, atau tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi. Berarti masih dalam masa bertahtanya Sunan Pakubuwana IV, atau enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan Pakubuwana V. Menurut catatan tentang naik tahtanya para raja, Pakubuwana IV mulai bertahta pada tahun 1741 (Jawa), sedangkan Pakubuwana V mulai bertahta pada tahun 1748 (Jawa).

Yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa, berarti masih di zamannya Sunan Pakubuwana III). Tidak diketahui siapa yang mengarang kitab Jatiswara. Bila dianggap pengarangnya adalah R.Ng. Yasadipura I, maka akan terlihat meragukan karena terdapat banyak selisihnya dengan kitab Rama atau Cemporet.

Tujuan dan pelaku penggubahan[sunting | sunting sumber]

Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom, dan yang mendapatkan tugas membantu mengerjakannya adalah tiga orang pujangga istana, yaitu:

  1. Raden Ngabehi Ranggasutrasna
  2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I)
  3. Raden Ngabehi Sastradipura

Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yasadipura II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam.

Pengerjaan isi[sunting | sunting sumber]

R. Ng. Ranggasutrasna yang menjelajah pulau Jawa bagian timur telah kembali terlebih dahulu, karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai mengarang. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala Paksa suci sabda ji.

Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid satu, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (sekarang juga bernama Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.

Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. Penyebab Pangeran Adipati Anom mengerjakan sendiri keenam jilid tersebut diperkirakan karena ia kecewa bahwa pengetahuan tentang masalah sanggama kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

Setelah dianggap cukup, maka Pangeran Adipati Anom menyerahkan kembali pengerjaan dua jilid terakhir (jilid sebelas dan duabelas) kepada ketiga pujangga istana tadi. Demikianlah akhirnya kitab Suluk Tambangraras atau Centhini tersebut selesai dan jumlah lagu keseluruhannya menjadi 725 lagu.

Ringkasan isi[sunting | sunting sumber]

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

 

 

Gunung Salak, dilihat dari Bogor.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.

Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, salat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang dari muka bumi.

Lingkup pengaruh[sunting | sunting sumber]

Karya ini boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai “dunia dalam” masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.

Menurut Ulil Abshar Abdalla, terdapat resistensi terselubung dari masyarakat elitis (priyayi) keraton Jawa di suatu pihak, terhadap pendekatan Islam yang menitik-beratkan pada syariah sebagaimana yang dibawakan oleh pesantren dan Walisongo. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur-baur dengan mitos-mitos Tanah Jawa. Ajaran Islam mengenai sifat Allah yang dua puluh misalnya, diterima begitu saja tanpa harus membebani para pengguh ini untuk mempertentangkannya dengan mitos-mitos khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik” seolah antara alam monoteisme-Islam dan paganisme/animisme Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Penolakan atau resistensi tampil dalam nada yang tidak menonjol dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.

Dr. Badri Yatim MA menyatakan bahwa keraton-keraton Jawa Islam yang merupakan penerus dari keraton Majapahit menghadapi tidak saja legitimasi politik, melainkan juga panggilan kultural untuk kontinuitas. Tanpa hal-hal tersebut, keraton-keraton baru itu tidak akan dapat diakui sebagai keraton pusat. Dengan demikian konsep-konsep wahyu kedaton, susuhunan, dan panatagama terus berlanjut menjadi dinamika tersendiri antara tradisi keraton yang sinkretis dan tradisi pesantren yang ortodoks.

Serat Centhini terus menerus dikutip dan dipelajari oleh masyarakat Jawa, Indonesia dan peneliti asing lainnya, sejak masa Ranggawarsita sampai dengan masa modern ini. Kepopulerannya yang terus-menerus berlanjut tersebut membuatnya telah mengalami beberapa kali penerbitan dan memiliki beberapa versi, diantaranya adalah versi keraton Mangkunegaran tersebut.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

Sunan Pakubuwana VII, yang bertahta dari tahun 1757 sampai 1786, berkenan menghadiahkan Suluk Tambanglaras tersebut kepada pemerintah Belanda. Akan tetapi yang diberikan hanya mengambil dari jilid lima sampai sembilan, dengan menambah kata pengantar baru yang dikerjakan oleh R.Ng. Ranggawarsita III. Kitab tersebut bersangkala Tata resi amulang jalma, yang berarti 1775, dan dijadikan delapan jilid, diberi judul Serat Centhini, yang terdiri dari 280 lagu.

Penerbit PN Balai Pustaka pada tahun 1931 pernah pula menerbitkan ringkasan Serat Centhini, yang dibuat oleh R.M.A. Sumahatmaka, berdasarkan naskah milik Reksapustaka istana Mangkunegaran. Ringkasan tersebut telah dialihaksarakan dan diterjemahkan secara bebas dalam bentuk cerita, yang diharapkan pembuatnya dapat mudah dipahami oleh masyarakat yang lebih luas.

Gubahan kontemporer[sunting | sunting sumber]

Penulisan kembali Centhini dalam bentuk prosa liris dilakukan oleh Elizabeth Inandiak. Bentuk ini dapat dianggap sebagai interpretasi personal karena terdapat perbedaan dengan bentuk kitab aslinya. Sunardian Wirodono mengubah Serat Centhini menjadi trilogi novel dalam bahasa Indonesia (Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin; Centhini, Perjalanan Cinta; dan Cebolang, Petualang Jalang).

Referensi[sunting | sunting sumber]

       Sumahatmaka, R.M.A, Ringkasan Centini (Suluk Tambanglaras), PN Balai Pustaka, Cetakan pertama, 1981.

       Yatim, Dr. Badri, MA, Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Ed. 1, Cet. 12, 2001

       D. Inandiak, Elisabeth, Les chants de l’île à dormir debout, Le Rélié, 2002

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

       (Indonesia) Kompas Online:Serat Centhini, Sinkretisme Islam, dan Dunia Orang Jawa, Jumat, 4 Agustus 2000, Ulil Abshar-Abdalla, Ketua Lakpesdam-NU, Jakarta.

       (Indonesia) Informasi Serat Centhini

       (Indonesia) Banjarmasin Post CyberMedia:Kerinduan Hamba Kepada Ilahi, (Centhini – Ia Yang Memikul Raganya), Kamis, 20 Januari 2005, Laddy Lesmana dan Elizabeth D Inandiak, Galang Press, Cet. I, September 2005, Jakarta.

Catatan penanggalan[sunting | sunting sumber]

       Penanggalan yang diberikan dalam isi artikel ini sebagian besar adalah penanggalan tahun Saka Jawa, kecuali bila diberi keterangan lain. Lihat: Kalender Saka

 

Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi

Serat Centhini ditulis pada abad XIX oleh tiga orang abdi dalem Kasunanan Surakarta, yaitu: Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno dan Raden Ngabehi Sastradipura (Kyai Haji Ahmad Ilhar). Penulisan itu atas perintah putra mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III yang kemudian menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V (1820–1823).

Serat Centhini menceritakan perjalanan hidup Syaikh Among Raga, salah seorang keturunan Sunan Giri yang melarikan diri setelah Keraton Giri diserang dan diduduki oleh tentara Sultan Agung yang dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya. Syaikh Among Raga bersembunyi dan tinggal di satu pesantren ke pesantren lain sebagai santri kelana. Di situlah Syaikh Among Raga banyak mendapatkan pengajaran agama Islam, khususnya tentang kitab-kitab klasik (kitab kuning). Serat Centhini menyebutkan tidak kurang dari 20 nama kitab klasik, yang hingga kini mayoritasnya masih dikenal dan dipakai sebagai pegangan di pesantren.[1]

Baca selebihnya »

Berbagai kitab klasik itu sesuai isinya dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, kitab Akidah dan Tauhid, Kitab Tafsir, dan Kitab Tasawuf.[2]

 

Mengenai Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, Serat Centhini di antaranya menyebutkan Kitab Mukarar, Sujak, Kitab Ibnu Kajar, Ilah, Subkah, dan Kitab Sittin.[3] Kitab Mukarar tak lain adalah Kitab Al-Muharrar karya Muhammad ar–Rafi’i yang digunakan secara luas oleh penganut Mazhab Syafii. Kitab Mukarar pernah digubah kembali oleh Syarif an-Nawawi dengan judul Minhâj al–Thâlibin yang di Jawa dikenal dengan nama kitab Nawawi.[4] Kitab Sujak maksudnya adalah kitab Mukhtasar fî at-Târikh ’ala Madzhab al-Imâm asy-Syâfi’i karya Kadi (Qadhi) Abu Syuja’.

Kitab Ibnu Kajar menunjuk karya Ibn Hajar al-Haitsami yang berjudul Tuhfat al-Muhtâj. Kitab juga disebut Kitab Tuhpah dan banyak dijadikan pegangan oleh para kyai. Pada abad XVIII kitab ini sebagian sudah diterjemahkan dan dialihaksarakan dalam bahasa Jawa. [5]

Kitab Idah yang dimaksud adalah Kitab Idhâh fî al-Fiqh, sedangkan kitab Subakh kemungkinan menunjuk pada kitab Ash-Shuhabah fî al-Mawâ’izh wa al-Adab min Hadîts Rasûl Allâh karya Salama al-Khuda’i.

Adapun yang dimaksud Kitab Sittin adalah kitab As- Sittûn Mas’alah fî al-Fiqh karya Muhammad al-Zahid al-Mishri.[6]

Serat Centhini menyebut tidak kurang dari delapan kitab akidah dan tauhid. Yaitu:

  1. Kitab Semarakandi, menunjuk kitab Bayân ‘Aqîdah al-Ushûl karya Ibrahim as-Samarqandi.
  2. Kitab Durat yaitu Kitab Ad-Durrah karya Yusuf al-Sanusi al-Hassani.
  3. Kitab Talmisan - juga disebut Kitab Tilmisani– adalah karya Umar bin Ibrahim al-Tilmisani yang berisi komentar atas Kitab Durah.
  4. Kitab Asanusi, karya al-Sanusi yang juga merupakan komentar atas Kitab Durah.
  5. Kitab Sail, menunjuk pada Kitab Masâ’il karya Abu al-Laits as-Samarqandi. Kitab ini juga dikenal dengan nama Bayân’ Aqîdah al-Ushûl.
  6. Kitab Patakul Mubin yaitu kitab Fath al-Mubîn karya Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri.
  7. Kitab Tasdik menunjuk pada kitab Bayân at-Tasdîq.
  8. Kitab Juwahiru menunjuk pada Kitab Al-Jawâhir ats-Tsaniyah fî Syarh as-Sanusiyyah, ditulis oleh Abdullah as-Sughayir Suwaidan.

Serat Centhini juga menyebut kitab tafsir, seperti Tepsir Baelawi dan Tepsir Jalalen.[7]Tepsir Baelawi adalah kitab Anwâr at-Tamsîl wa Asrâr at-Ta’wîl karya Abdullah bin Umar al-Baidhawi, lebih dikenal sebagai Tafsîr al-Baydhâwî. Adapun Tepsir Jalalen menunjuk pada Tafsîr al-Jalâlayn karya Jalal ad-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuthi. Kedua kitab ini hingga sekarang sangat dikenal dan digunakan di pesantren.

Dalam bidang tasawuf Serat Centhini sering menyebut tiga kitab, yaitu: Kitab Ulumodin, Akhidah dan Insan Kamil.[8]

Kitab Ulumodin adalah kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali. Kitab Akhida tak lain adalah kitab Hidâyah al-Adhkiya karya Zain al-Din ‘Ali al-Malibari yang ditulis dalam bentuk sajak pada tahun 1509. Kedua kitab tasawuf ini mengajarkan tasawuf yang bersifat ortodoks, dalam arti tetap membedakan makhluk dan Pencipta serta lebih menekankan pada syariah.

Kitab Insan Kamil cukup dikenal di masyarakat Jawa karena ajarannya yang sesuai dengan kepercayaan Jawa asli, yaitu manunggaling kawulo lan gusti.

Banyaknya kitab klasik (Kitab Kuning) yang disebut dalam Serat Centhini itu tidak mengherankan, karena para penulisnya lulusan pesantren. Kyai Yasadipura I, belajar selama hampir tujuh tahun di pesantren Kedhu yang dipimpin Kyai Anggamaya.[9] Raden Ngabehi Sastradipura bahkan selepas pesantren melanjutkan pendidikan ke Makkah. Setelah kembali namanya menjadi Kyai Haji Ahmad Ilhar.[10]

Penyebutan kitab-kitab klasik di dalam Serat Centhini itu juga menunjukkan bahwa syariah (ajaran) islam banyak mewarnai kehidupan masyarakat jawa hingga ke keraton.

Hal itu misalnya tampak dalam nasihat Syaikh Among Raga kepada istrinya, Ken Tambang Raras. Ia mengatakan bahwa syariah bersama dengan tarekat merupakan wadhah (tempat) untuk menanam makrifat dan hakikat sebagai perwujudan wiji nugraha (benih anugerah). Benih harus ditanam di wadhah (tempat) yang baik. Jika ditanam di tempat yang jelek, maka akan menghasilkan sesuatu yang jelek pula. Syariah sebagai wadhah sekaligus dasar agama, dengan demikian, harus dipegang teguh dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Mencari kesempurnaan hidup (ilmu makrifat dan hakekat) tanpa didasari syariah yang kuat akan sangat membahayakan.[11]

Catatan kaki:

 

  1. Martin van Bruinessen, hlm. 148-166.
  2. Soebardi, “Santri Religious Elements as Reflected in the Book of Centhini”, dalam BKI, No. 127, 1971, hlm. 335-340.
  3. Serat Centhini Latin, Jilid 7 , alih aksara Kamajaya, (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1988), hlm. 335-340.
  4. Soebardi, op. cit., hlm. 336.
  5. Mengenai identifikasi berbagai kitab klasik dalam Serat Centhini dengan kitab aslinya yang berbahasa Arab, lihat Soebardi, op. cit., hlm. 335-340.
  6. Mengenai kitab tafsir, lihat Serat Centhini Latin Jilid 7 , op. cit., hlm. 120-122; dan Martin van Brunessen, op. cit., hlm. 158-159.
  7. Serat Centhini Latin, Jilid 6 , op. cit., hlm. 112.
  8. Mengenai riwayat hidup Kyai Yasadipura I, lihat R. Sasrasumarta, R. Sastrowaluyo, dan R. Ng. Joyosuroyo, Tus Pajang, (Surakarta: Budhi Utomo, 1939), hlm. 149-151.
  9. Soebardi, op. cit., hlm. 348.
  10. Lihat Serat Centhini Latin, Jilid 6 , op. cit., hlm. 60.

Sumber: hizbut-tahrir.or.id.

 

Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Mengenal Serat Centhini | Komentar Dimatikan

Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi

Centhini adalah nama kumpulan serat-serat atau yang ditulis oleh sebuah tim, atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III. Penulisan kitab Centhini dimulai pada hari Sabtu Pahing 26 Sura 1742 Tahun Jawa atau 1814 Tahun Masehi. Apa saja isi serat tersebut?

Tim yang ditugaskan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III, diantaranya Raden Ngabehi Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara, red), abdidalem bupati pujangga kadipaten, Raden Ngabehi Sastradipura, abdidalem Kliwon carik kadipaten, dan Pangeran Jungut Mandurareja, pradikan krajan Wangga, Klaten Surakarta.

Baca selebihnya »

Selain itu masih ada nama lain yang ditunjuk, yaitu Kyai Kasan Besari, ngulama agung ing Gebangtinatar, Panaraga, menantu Sinuhun Paku Buwana IV, Kyai Mohamad Minhad, ngulama agung ing Surakarta, dan diketuai oleh Ki Ngabei Ranggasutrasna, abdidalem kliwon carik kadipaten.

Yang menjadi acuan tim dalam menulis, menyusun serat-serat tersebut adalah serat “Suluk Jatiswara” yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwono III tahun 1711 Jawa.

Sebenarnya kumpulan serat-serat tersebut diberi nama “Suluk Tambangraras” namun sosialisasinya lebih populer dengan sebutan serat Centhini . Nama Centhini diambil dari nama seseorang yang mengabdi kepada Niken Tambangraras istri Syeh Amongraga tokoh penting dalam serat tersebut.

Serat Centhini berisi berbagai macam pengetahuan, antara lain; kawruh agama, sastra, seks, situs, pawukon, primbon, keris, obat dan lain sebagainya. Karena isinya bermacam-macam, maka serat Centhini dianggap sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa.

Kepeduliannya untuk menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam serat-serat warisan adiluhung, telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Yayasan Centhini yang telah melatinkan teks Centhini berbahasa Jawa dalam tembang macapat dan menerbitkannya sebanyak 12 jilid.

Bagi masyarakat yang berminat mengenal dan memahami isi Serat Centhini , dapat mengikuti sarasehan dan macapatan setiap Selasa Pahing atau malam Rabu Pon yang digelar oleh paguyuban pelestari budaya Jawa, di Rumah Budaya Tembi, Jogjakarta.

Dalam serat Centhini Jilid 1 Pupuh 22 dengan tembang Mijil, dikisahkan, ketika perjalanan Raden Jayengresmi bersama kedua abdinya, Gathak dan Gathuk sampai di Tuban, di hutan Bagor, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara meriam menggelegar bagaikan gempa.

Bersamaan dengan suara tersebut, munculah seorang putri cantik yang mengaku bernama Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan. Menurut penuturannya, Kanjeng Ratu Mas Trengganawulan adalah putri Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir.

Ketika Majapahit runtuh ia melarikkan diri dan sampai di hutan Bagor wilayah Tuban. Di hutan tersebut Trengganawulan mendapat perintah dari Hyang Widdhi untuk merajai para makhluk halus. Setiap hari Sukra Manis Trenggana Wulan muncul di sendang Sugihwaras, tempat ia mandi, untuk menemui seseorang yang sedang menjalani laku tirakat.

Dalam pertemuannya dengan Kangjeng Ratu Trengganawulan, Raden Jayengresmi, menyatakan keprihatinannya, karena hingga kini belum dapat menemukan kedua adiknya yang bernama Raden Jayengsari dan Niken Rangcangkapti.

“Jangan kecewa Raden, bersabarlah, akan tiba saatnya engkau bertemu dengan ke dua adikmu. Nanti sewaktu engkau menjalani hukuman dibuang ke laut, di Tunjungbang, engkau akan bertemu dengan ke dua adikmu.” (Jilid 1 Pupuh 22 Pada 12 & 13).

Isyarat Burung Dhandhang

Selain meramal bertemunya Raden Jayengresmi dengan kedua adiknya, Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan menuturkan kaweruh alam kepada Raden Jayengresmi, kaweruh tersebut diantaranya:

  • Pertanda alam melalui suara Burung Dhandhang. Dhandhang adalah jenis burung, berwarna hitam, bentuknya mirip burung Gagak namun lebih kecil.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Timur ke Barat rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu seorang pandhita atau orang luhur.
  • Jika burung Dhandhang bersuara dari arah Timur ke Selatan rumah, itu pertanda baik, apa yang dikerjakan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Selatan rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Selatan Barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada pertengkaran merebutkan hal-hal sepele.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Barat rumah, itu pertanda baik, akan segera mendapat jodhoh.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara Barat rumah, itu pertanda jelek, akan menderita sakit dan kekecewaan yang mendalam.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara rumah, itu pertanda jelek, akan mendapat malu.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara Timur rumah, itu pertanda baik, akan kedatangan saudara jauh.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, di atap rumah, itu pertanda jelek, akan ada anggota keluarga yang meninggal.

Isyarat Burung Prenjak

Masih dalam serat Centhini , pertanda alam bisa ditengarai berdasarkan suara burung Prenjak. Jika ada dua burung Prenjak berkicau bersautan di arah Selatan rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu bangsawan yang berkendak baik.

  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada tamu yang mengajak bertengkar.
  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Utara rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu seorang guru memberi wangsit yang baik dan suci
  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Timur rumah, itu pertanda jelek, akan ada kebakaran.
  • Jika ada burung Prenjak berkicau mengitari rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki yang khalal.

Setelah menjelaskan pertanda burung Dhandhang dan Burung Prenjak, Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan menggarisbawahi, bahwa sebenarnya kawruh tersebut merupakan tinggalan jaman dahulu, benar salahnya diserahkan pada kehendak Hyang Widdhi.

Pada awalnya alam memang bersahabat dengan manusia, ketika manusia menghargai alam karena merasakan hidupnya tergantung kepada alam. Sehingga melalui alam ada tanda-tanda yang sangat berguna bagi kehidupan. Apa yang dituliskan dalam Kitab Centhini memberi gambaran hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Namun apakah pertanda alam itu masih cocok jika diterapkan pada jaman sekarang. Tentunya tidak! Karena jaman sekarang, Kicau burung Prenjak yang merdu indah hanya memberi satu tanda, yaitu “uang.” Orang akan berebut menangkapnya untuk kemudian menjualnya. Demikian juga suara Burung Dhandhang yang semakin jarang, memberi pertanda bahwa ada yang sudah hilang dalam hidup ini, yaitu penghargaan akan hidup, penghargaan akan alam yang menghidupi. (*tmb)

Sumber: misterionline.com

 

Posted on 17 November 2009 by Jayeng Resmi

Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.

Baca selebihnya »

Banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji, dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini yang kaya akan data, fakta, dan analisa. Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar menyebut serat yang disusun atas prakarsa Sinuhun Paku Buwana V di Surakarta ini sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, telah menunjukkan para cendekiawan Jawa. Elit cendekiawan mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.

Kehadiran serat centhini pada kancah pustaka dunia itu, secara otomatis mengangkat harkat, martabat dan derajat jatidiri bangsa. Ternyata dientitas suatu bangsa hanya bisa ditampilkan lewat kreativitas dan produktivitas. Serat centhini sudah membuktikan kaitan antara prestise dan prestasi bangsa Indonesia. Buku Ensiklopedi serat Centhini ini bermaksud memberikan rangkuman atas data, falta dan analisa terpenting dari kitab tersebut. Kehadiran buku ini sungguh akan memudahkan pembaca dalam memahami isi kitab yang sangat tebal ini dalam waktu singkat , tepat dan akurat.

Keterangan Rinci:

Judul: Ensiklopedi Serat Centhini
Penulis: Drs. Djoko Dwiyanto, M. Hum
Thn Terbit: 2008
Bahasa: Indonesia
ISBN: 1001071mhus
Halaman: 821

 

Filed under: Buku Serat Centhini, Resensi Serat Centhini | Komentar Dimatikan

Posted on 13 November 2009 by Jayeng Resmi

Centhini begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjungannya sehingga akhirnya dia memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari Suluk, pulang ke zatnya yang sejati, ilahi.

Adalah seorang perempuan bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menguak satu lembar sastra Jawa yang tersembunyi dan hampir terlupakan ke dalam kancah dunia sastra Indonesia yang sedang sumringah dengan terbitnya berbagai jenis buku dan tulisan.

Baca selebihnya »

Dengan cerdasnya Elizabeth melakukan terobosan dengan menerjemahkan ribuan halaman naskah tembang Jawa tua yang sudah berusia lebih dari 2 abad ke dalam tulisan Latin yang hampir pasti akan menyalahi pakem tembang dalam sejarah penulisan sastra Jawa yang kental dengan penafsiran akan Suluk atau Nyanyian atau ajaran yang dinyanyikan secara sacral dalam ritual-ritual kebudayaan Jawa. Elizabeth juga melakukan interpretasi terhadap berbagai penokohan dan dialog dalam tembang tersebut untuk membuatnya lebih dinamis di dalam buku, hal ihwalnya Suluk ini bukanlah untuk dibaca tapi didengarkan dalam tembang. Seperti di tulis Elizabeth di prakata atau penjelasan awal dalam buku “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (hal.9), Dalam sastra Jawa kuno, suara merasuki penyair bagai suatu wahyu yang datang lebih dulu, baru kemudian lahirlah irama dan ragam menemani si pujangga memasuki kata-kata satu per satu. Penyesuaian antara irama, macapat dan gema kata-kata itulah yang menciptakan makna suluk dan keindahannya. Di dalam syair-syair cabul, kekotoran kata dihalau terbang oleh keanggunan tembangnya.Justru perpaduan antara Lumpur dan emas itulah yang membentuk watak dan sosok yang luar biasa serta khas Serat Centhini .

Keseluruhan terjemahan Inandiak dari disertasinya tentang Serat Centhini yang sudah diterbitkan Bahasa Indonesia adalah 4 buku, Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Minggatnya Cebolang, Ia Yang Memikul Raganya dan Nafsu Terakhir.

Mengapa Serat Centhini

Dalam banyak kehidupan manusia, kita mengenal ajaran nyanyian atau tembang atau bahkan berbalas pantun, dimana isi dari ungkapan-ungkapan di dalamnya mengajarkan perumpamaan untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit ajaran-ajaran agama juga memiliki tembangnya sendiri, seperti dalam agama Kristiani, di dalam Kitab Suci ada bagian disebutkan sebagai mazmur, atau puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya juga bisa kita tangkap beberapa kata yang menggambarkan hubungan harmonis antara makhluk hidup yang ada di bumi ini, sebagai penghormatan kepada Sang Penciptanya.

Serat Centhini atau dalam judul aslinya Suluk Tembangraras , adalah salah satu hasil karya sastra Jawa Kuno, dikabarkan disusun pada 1809 Masehi, atas perintah putera mahkota Kesultanan Surakarta Hadiningrat di Pulau Jawa kepada tiga pujangganya Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura untuk menyusun suatu cerita (Jawa) kuno yang merangkum segala ilmu dan ngelmu Jawa bahkan hingga seni hidup, agar pendengarnya hanyut dalam kesadaran tak berakal. (Tembang 1). Maka pergilah tiga punjangga ini ke penjuru tanah Jawa bahkan sampai ke bagian Barat (sampai ke Mekah) untuk menghimpun segala kearifan dan penyimpangan di kalangan petapa, peramal, empu dan pandai besi dll. Kisah intinya berkisar tentang perjalanan Jayengresmi atau lebih dikenal sebagai Syekh Amongraga putra Sunan Giri yang termasyhur sebagai manusia unggul, aulia mujedub. Tokoh Jayengresmi atau Amongraga mewakili berbagai sisi perilaku dan watak manusia, yang di satu sisi penuh kekuatiran, kecemasan dan keingintahuan. Tetapi di sisi lain memiliki kekuatan, kemampuan berpikir, mencintai, menghamba pada Tuhannya, bahkan juga mencoba mencapai kesempurnaan sebagai manusia yang mengalahkan nafsunya sendiri.

Yang berkeliaran di antara tembang

Di awal buku, kita melihat keliaran keajaiban pada tembang 2 sampai tembang 5, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam.

Menarik melihat latarbelakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah dewa Siwa (Budha). Dituliskan di berbagai bagian tembang mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam tembang-tembang di Serat Centhini , terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ngelmu Jawa Kuno.

Selanjutnya tercerita mengarah tentang Gajah Mada menyerang daerah kekuasaan Sunan Giri dan menghancurkan “kerajaannya” termasuk murid-muridnya. Sunan Giri yang murka mengeluarkan kekuatan gaibnya dan mengusir prajurit Gajah Mada dari tanahnya.Ketika Sunan Giri wafat dan diganti cucunya, kerajaan Majapahit balik menyerang dan berhasil menghancurkan kekuasaan Giri. Sunan Giri muda lari dan malah terlindungi oleh lebah ajaib yang menghancurkan prajurit dan kerajaan Majapahit.

Masuk ke tembang ketujuh, kita melihat bagaimana Sultan Agung yang dulu sangat berkuasa itu, yang dipercaya memiliki dua Kerajaan, di bumi (Jawa) dan di laut Selatan (penguasa Lautan bersama Ratunya Ratu Kidul). Sultan Agung sangat ingin menguasai Kekhalifan Giri (yang dikuasai keluarga Sunan Giri muda, keturunan Sunan Giri) walaupun pada saat bersamaan sudah terjadi pertalian kekeluargaan karena pernikahan. Peperangan tidak bisa dihindari lagi, sehingga jelaslah, Keluarga Sunan Giri dalam mara bahaya karena penumpasan yang dilakukan Sultan Agung. Putera sulung Sunan Giri, yaitu Jayengresmi terpisah dari kedua adiknya dalam pertempuran hebat yang melanda kerajaannya. Dikisahkan betapa Jayengresmi tidak mengerti awalnya atas keputusan perang yang dipilih ayahandanya, tetapi memilih mematuhi dan menjalan titah sebagai anak yang patuh dan setia.

Digambarkan bagaimana hubungan antara orang tua dan anaknya sebagai suatu keharusan untuk mematuhi karena berbagai keputusan penting keluarga layaknya menjadi perintah tetap atau menjadi ketetapan yang absolute, layaknya suatu kebijakan yang dibuat suatu Negara, apapun itu konsekuensinya.

Cinta yang penuh makna

Dalam pelariannya dan pencarian adik-adiknya Jayengresmi yang merubah namanya menjadi Amongraga dihadapkan pada pencarian akan dirinya sendiri. Terlibat dalam ajaran agama Islam yang taat dan cukup ketat. Perjalanan Jayengresmi dalam buku Elizabeth terbagi lagi dalam buku lainnya yaitu Ia Yang Memikul Raganya dan juga Nafsu Terakhir, yang dianggap paling eksplisit mengungkapkan relasi hubungan seksual jaman Jawa kuno. Uniknya, keseluruhan deskripsi tentang perilaku seksual di jaman dahulu sama sekali tidak memiliki tedeng aling-aling terhadap perilaku seksual yang dianggap “menyimpang” bahkan ungkapan gamblang tentang hubungan seks antar sesama jenis dan hubungan seks dengan Perempuan muda di bawah umur.

Singkatnya, dalam buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Amongraga jatuh cinta dan bertemu dengan seorang Perempuan cantik bernama Tembangraras (atau Ken Tembangraras) putri seorang Kyai pesantren, Ki Panurta di suatu tempat bernama pondok Wanamarta. Di tempat ini Amongraga banyak bersemedi dan mendekatkan diri pada Tuhan. Setelah menikahi Tembangraras, yang selalu diikuti pembantu setianya Centhini, Amongraga memilih untuk mengenal istrinya dengan lebih baik selama empat puluh malam lebih dan menyiraminya dengan hujan kata-kata rohani bagi peningkatan diri sang istri dan juga kebersamaan yang romantis. Amongraga tidak menyentuh istrinya tetapi nurani dan akal pikirannya dengan berbagai tembang berisikan filosofi hidup yang penuh interpretasi.

Sampai di sini, buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, kalau boleh saya bilang bisa disandingkan dengan The Prophet miliknya Khalil Gibran. Dari tembang 71 sampai 111, penuh dengan filosofi kehidupan yang begitu dalam dan bagaimana memandang hidup dengan berbeda. Mengapa Amongraga melakukan ini kepada sang istri?

Amongraga mengatakan di awalnya bahwa “Namun hatimu sudah dalam hatiku dan hatiku dalam hatimu, kau dengarkah keduanya berdebar-debar gugup karena asmara ? Padahal kegugupan adalah halangan sanggama.”

Bait ini dirasakan begitu menyentuh, ketika sepasang kekasih yang gelisah menanti malam pertama, malahan harus menahan diri dari luapan gairah dan seluruh reaksi kimiawi dirinya untuk merasakan tubuh satu sama lain layaknya pengantin baru. Suatu ujian atas nafsu birahi dan pengakuan terhadap penghormatan akan satu sama lain. Amongraga merasakan bahwa mencintai dan mengenali pasangan bukan hanya dari persetubuhan tetapi dari suatu hal yang lebih mendalam. Suatu filosofi kehidupan yang sebenarnya sudah kurang banyak diterapkan dalam kehidupan manusia modern. Sastra Jawa membuktikan bahwa makna cinta dulu selayaknya punya interpretasi lain, bukan hanya kebersamaan fisik dan gairah asmara .

Lanjutnya Amongraga juga mengatakan, Jika kau tidak keberatan Dinda, dan dengan rahmat Allah, mulai malam ini berdua kita akan berlayar dalam diam, menentramkan nafas satu dalam lainnya, dan agar kau jadi buritan dan aku haluan. Awalnya pelayaran ini akan terasa kejam penuh larangan sebab ancaman karam sangat besar, kita akan dibawa selama empat puluh malam mengarungi tujuh lautan, silih berganti.

Kata-kata Amongraga yang bijak tentang kebersamaan sepasang suami istri, untuk saling memahami dan saling mengerti atau sepakat dalam kata, belajar bersama melewati berbagai badai yang akan dirasakan dan juga mencoba berdamai satu sama lain selama 40 hari masa perkenalan mereka. Suatu yang romantis juga unik. Bukankah jaman sekarang kecenderungan cinta tanpa eros seperti ini sudah tidak ada lagi.

Bandingkan kata-kata cinta Amongraga dengan Khalil Gibran dalam the Prophet:

Love possesses not nor would it be possessed;
For love is sufficient unto love.
When you love you should not say, “God is in my heart,” but rather, I am in the heart of God.”
And think not you can direct the course of love, if it finds you worthy, directs your course.
Love has no other desire but to fulfil itself.
But if you love and must needs have desires, let these be your desires:

Amongraga mengatakan, dengan rahmat Allah kita berlayar dalam diam, sementara Gibran mengatakan, ketika kau mencintai janganlah berkata,”Tuhan ada dalam hatiku” tapi yang benar adalah, “Aku bertahta dalam hati Tuhan. Jangan berpikir kamu bisa mengarahkan cinta, tapi bila memang kau dianggap layak, ia akan mengarahkan layarmu”. Betapa begitu bersinggungannya kedua tembang tersebut. Keduanya menceritakan bahwa cinta tidak lepas dari rahmat dan titipan yang Maaha Kuasa atau sang Pencipta. Hanya dengan berserah diri pada Tuhan maka cinta itu bisa ada dan bisa hidup.

Di tembang lainnya, Amongraga mengajak Tembangraras mengenal dasar pilar kehidupan tentang hukum, hakekat dan ilmu pengetahuan. Katanya: Hukum adalah tanah, sedangkan Hakekat dan Ilmu adalah benih. Bila benih itu jatuh di tanah gersang, ia hanya menghasilkan semak belukar. Oleh karenanya pengetahuannya mengenai hokum haruslah kuat sebelum kamu menjelajahi jalan menuju ke Hakikat dan Ilmu.

Amongraga mengajarkan istrinya, sebagai perempuan untuk mengetahui dasar hukum tempat berpijak dan mencari hakikat dan ilmu pengetahuan. Suatu prinsip yang cukup mengagumkan, apalagi berkaitan dengan pengembangan pengetahuan dan falsafah hidup bagi perempuan sebagai pribadi mandiri.

Secara ringkas dalam tembang lainnya, Amongraga mengajarkan istrinya dengan berbagai ajaran islam, termasuk tentang sholat, nabi Muhammad, juga posisi manusia sebagai hamba Allah, bagaimana dunia diwujudkan/penciptaan, empat unsur duniawi yang mengandung zat Allah, bahkan juga tentang senggama dan berbagai hal lainnya dengan berbagai perumpamaan atau filosofi kehidupan dan nafas islami. Hampir mirip dalam the Prophet (Khalil Gibran) dimana masing-masing segmen juga membicarakan berbagai hal terbagi dalam beberapa segmen tentang cinta, pernikahan, anak-anak, tentang kerja, tentang kebahagiaan dan kepedihan dan lainnya.

Yang menarik dari semua perakapan Amongraga dan Tembangraras dalam kelambu tempat tidur mereka selalu didengarkan oleh sang pembantu atau emban, Centhini yang dengan setia melupakan keberadaan dirinya dan selalu siap sebagai hamba duduk menunggu tidak jauh dari pelaminan. Tanpa disadari awalnya oleh Amongraga, dalam saat bersama ia telah memberikan pengetahuan kepada dua perempuan yang paling dekat dalam hidupnya pada saat bersamaan. Tentunya ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa tembang ini begitu terkenal dengan nama Serat Centhini , nama seorang hamba sahaja perempuan. Dalam buku, “Nafsu Terakhir” digambarkan Centhini memiliki kekuatan supranatural dan berhasil membela sang majikannya dari mara bahaya laki-laki hidung belang. Sebegitu dasyatnya Centhini sehingga keberadaannya sampai akhir hayatnya tidak disadari siapapun tetapi ia telah melebur dalam pekerjaannya tanpa pamrih apapun. Centhini hilang dari muka bumi dan tidak ditemukan siapapun. Kepercayaan ini juga masih dianut oleh ajaran Buddha dimana manusia yang bisa melampaui keduniawian bisa menghilang dan sampai ketingkat yang lebih tinggi.

Melihat ketabahan dan kesabaran Amongraga dan Tembangraras, saya melihat ada suatu pesan utama dalam Serat Centhini di buku ini, yaitu mengenai arti cinta dan pernikahan dalam kehidupan manusia. Manusia hidup dalam satu proses yang berputar atau siklus dimana mencintai dan dicintai adalah hal yang silih berganti. Ketika bayi manusia dirawat dan dicintai, ketika dewasa merawat dan mencintai tetapi juga bisa dicintai dan dirawat sebagai suatu “lingkaran penuh” kehidupan. Apa sebenarnya yang dinanti manusia selain penemuan akan cinta sejati, kehidupan, kebahagiaan dan kematian? Apakah kematian dan kebahagiaan bisa berjalan bersama? Semuanya hanya ada di dalam hati manusia masing-masing. Nilai-nilai ini telah coba ditawarkan oleh Serat Centhini . Selanjutnya memang kembali kepada kita semua masing-masing untuk mencari dirinya dan cinta sejatinya.

Saya menutup dengan ungkapan Amongraga di bagian akhir:

Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahaan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”

Olin Monteiro, Cibubur, 6 Februari 2007
Sumber: olinmonteiro.multiply.com
.

 

Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Buku Serat Centhini, Elizabeth Inandiak, Resensi Serat Centhini | Komentar

serst

KISI INFO BABAD VERSI BALI “BABAD NUSA PENIDA”

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

TERNYATA DIPULAU BALI JUGA ADA BABAD YANG ERAT KAITANNYA DENGAN BABD TANAH JAWA

BABAD NUSA PENIDA

BABAD TANAH JAWA

The Legend Of Java

PART 3

BABAD PANIDA(BALI)

CREATED By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

Om Swastyastu


Dengan segala hormat saya sampaikan kepada semua pengunjung yang merelakan dananya untuk mengunjungi site ini. Site ini dibuat atas dasar ketidakmampuan penulis untuk memilih yang benar
khususnya memilih Babad – babad atau sejarah Nusa Penida yang penulis temukan di Dunia Maya maupun di darat, Adapun nama site ini penulis namakan Babad Nusa Penida karena yang penulis sajikan dominan terkait ke babad atau sejarah yang merupakan tatwa paporit penulis, selain paporit penulis menganggap sejarah atau babad merupakan salah satu komponen yang terpenting dalam membangun jati diri. Demikian pula melalui babad atau sejarah sesuai dengan ajaran agama Hindu juga merupakan salah satu serana untuk mewujudkan rasa dan sikap bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Namun apa yang terjadi, semakin penulis telusuri keberadaan sejarah atau babad tersebut semakin banyak dan beragam isinya yang penulis temukan, Mulai dari sejarah yang berupa prasasti sampai dengan buku2 lontar, yang baru maupun yang lawas, semua isinya sangat membingungkan, jika saja penulis tidak mempunyai warisan dari leluhur terdahulu tentang keberadaan penulis di Nusa Penida, mungkin saja dalam pencarian ini penulis akan berubah status menjadi seorang yang Gila. Penulis sangat bersyukur dan berterima kasih pada leluhur yang mana beliau masih sempat menulis diatas lempengan – lempengan logam timah dan tembaga, walau tulisannya tidak teratur namun masih bisa dibaca dan di pahami.

Untuk melengkapi dan untuk menjadi bahan perbandingan bagi semeton sahabat atau rekan yang juga memiliki kesukaan yang sama, penulis sertakan lempengan – lempengan timah dan tembaga tersebut dalam bentuk gambar walau keadaannya sudah rapuh bahkan berkeping – keping, selain kepingan yang penulis sajikan masih ada satu lembar yang utuh, dan yang utuh tersebutlah menuntun penulis untuk mengenal leluhur penulis sendiri. Dan dari kepingan tersebut pula yang menuntun penulis untuk menemukan duplikatnya yang juga berada di Nusa Penida.

Buat pengunjung yang terhormat, penulis mohon maaf beribu maaf, besar harapan penulis untuk bisa sebanyak mungkin mempunyai sahabat di Dunia Maya maupun didarat, namun sayang, penulis tak mempunyai sebutir harta yang bisa penulis gunakan sebagai bukti dan sebagai tanda persahabatan, penulis hanya mempunyai harapan dan harapan, sehingga melalui tumpukan artikel maupun beberapa lontar serta beberapa buku yang penulis temukan didarat maupun di dunia maya ini penulis persembahkan untuk pengunjung, dan untuk mempersingkat waktu koneksi pengunjung saat melihat artikel babad di site ini, silahkan copy pasta karena semua artikel ini milik kita bersama dan bukan berbentuk file yang penulis tempatkan di salah satu web sehingga pengunjung tidak perlu mendownloadnya.

Dari sekian banyak daftar isi site ini, ada beberapa diantaranya hanya judul artikel, isinya belum sempat penulis unggah karena terkendala dengan modem yang penulis gunakan. Harap maklhum kata mas tukul ” WONG NDESO” sehingga agak susah mencari signal yang ngejreng.

Demikianlah secuil, yang bisa penulis sampaikan kepada pengunjung, dan atas kunjungannya penulis sampaikan terima kasih, semoga selalu dalam keadaan sehat shingga kita bisa ketemu lagi di site

Babad NP Fersi Kerajaan Maja Langu DM

 

The Buwahan Temple Inscriptions


This document was translated into Indonesian by Ida Bagus Sidemen. The original document (photocopies) of 27 pages is owned by Drs. I Nyoman Sukada, from Den Kayu (Mengwi, Badung – Bali). Written on the document is ‘A/3247′ in handwriting, which probably indicates a catalogue number. On the first page, there is a stamp ‘Perpustakaan Pribadi Amlapura, Sura Wirya Pangeban’, with another stamp ‘Ida I Dewa Gede Catra, Jalan Untung Surapati Gang Flamboyan no. 2 Amlapura, Telp. (0363) 21761, Karangasem’

.
The structure of the text below is the same as the text in the transcribed version, rendered into latin script from lontar leaves (palm leaves) inscribed in Balinese characters. The paragraphs (in separate blocks) are therefore presented this way. The numbers of the original palm leaf inscriptions are mentioned in brackets in the Balinese version (left).
An English summarised translation is forthcoming. Further research and analysis is needed.
***

PRASASTI PURI BUWAHAN, DENKAYU, MENGWI
Naskah ketikan milik: Drs. Nyoman Sukada, Denkayu, Mengwi, Badung, 1976
Sane nedunin: Ida I Dewa Gde Catra, Jl. Untung Surapati, Gang Flamboyan No. 2 Amlapura, Karangasem
Tanggal ngetik: 25 Januari 2008.

 

 

 

 

 

Balinese
Om Awighnamastu
I. Ida Ratu Sakti ring Puncak Mundi


Ceritra ring purwa kala, wenten reke tusning kulawarga dalem majalangu, mapesengan ida ratu sakti, miwah rabin ida mapesengan ida ratu ayu mas mecaling. Sang kalih sami pada teleb ring tatwa kadyatmikan, maka miwah pada teleb ngalaksanayang yoga samadi. Ida ratu sakti teleb ring kapu-tusan, sakewanten sane isteri ida ayu mas mecaling, tan mari teleb ring tatwa kawisesan aji wegig.
nemonin rahina hayu, raris lunga ida sang kalih saking panagara majalangu, kahiring antuk sira arya sentong miwah rabin dane. tan ceritayang ring margi, kancit rawuh ring nusa panida. sarawuh ida ring pasisin pulo nusa panida punika, raris ida ngulati linggih pacang pinaka .linggih ida ngelarang yoga semadi. tan asuwe raris ida manggihin genah sane suci, manut pakayunan ida patut linggih pacang ngastawa ida sang hyang widi. genahe punika mawas-ta puncak mundi, irika raris ida ngawangun hasrama sarwi ngelarang yoga ring samping watune agung.
sawatara nem sasih suwen ida malinggih ring puncak mundi, raris kesah ida saking irika ngulati pasisi. kancit rawuh ring desa munduk biyas. sarawuh idane irika, kapendak olih wong desane sami, pingajeng dane bande-sa sane pinaka pangenter wong desane irika. sesampune suwe ida malinggih irika, raris ida kakaryanang puri olih wong desane miwah kekaryangan mrajan, maka linggih ida ratu sakti ngelarang yoga, sinangguh mrajan dalem. sasukat ida malinggih irika, desane wiyakti rahayu tan kahanan pakewuh, dwaning sasab merana sami pada puceh, mahawanan gemuh landuh desane sawewengkon munduk biyas.
ceritayang mangkin ring sampune suwe ida malinggih irika ring puri munduk biyas, raris wenten pekayunan ida pacang lunga ke bali, duwaning manut pekayunan ida, sane sida kacingak olih ida rikala ida ngelarang yoga, katah wantah genah genah suci ring bali, sane patut pacang linggih ida ngelarang yoga. indik idane puniki raris kebawosang ring rabin ida, nanging rabine tan kaicen sareng lunga ke bali, tur mangda jenek malinggih ring puri, kahiring olih parekan ida kakalih diri sane mewasta ki lenjar miwah ki lenjir, parekan sane ngiring saking majalangu nguni.

Bali
om Awighnamastu
I. Raja suci Puncak Mundi

Ceritra Modal awal yang , akun Wenten tusning kami keluarga majalangu , ia menamai raja suci , Rabin , dan ia bernama raja dia cukup mas mecaling . Kedua mereka teleb yang tatwa kadyatmikan , dan mereka teleb Untuk ngalaksanayang Pinoy baik. Dia teleb raja suci Kapu – Tusan , sakewanten istri dia cukup mas mecaling , yang teleb baik tatwa kawisesan Bapa wegig .


Pengalaman hari kesejahteraan , ia pergi keluar dari dua panagara majalangu , kahiring dengan Anda dan seseorang bernama Arya Sentong Rabin mereka . yang ceritayang jalan , datang ke kancit TIMUR Panida . sarawuh dia pasisin pulau Nusa Panida , dan ia duduk ngulati akan mengalihkan . ngelarang dia duduk meditasi yang baik . asuwe yang katanya bertemu Genah suci ,

menurut pakayunan ia akan duduk ngastawa Allah . genahe kera – seperti kepala Mundi , The ia pergi menghias hasrama saya ngelarang sisi watune baik besar.
Untuk bulan terakhir sekitar enam ia malinggih yang Mundi kepala , dan ia melakukan perjalanan

dari The ngulati pasisi . kancit datang ke desa Munduk biasanya . The sarawuh nya , desanya kapendak menerima sama , mereka pingajeng band yang pangenter mengalihkan desanya -orang . Setelah ia malinggih Waktu , katanya kakaryanang Puri menerima desanya dan kekaryangan merajan , Untuk raja ia duduk ngelarang suci yang baik , sinangguh merajan kami.

 

The sasukat dia malinggih , desanya wiyakti diberkati norma negara, dwaning sasab penderitaan yang mereka puceh , mahawanan Gemuh landuh desanya sawewengkon Munduk biasanya .
ceritayang sekarang memiliki waktu dia malinggih Cincin biasanya Munduk Puri , dia Wenten pekayunan dia akan kembali ke ,

 menurut duwaning pekayunan dia , yang kebetulan kacingak ia menerima ketika ia ngelarang baik , terus Sekarang Genah Genah cincin kembali , dan ia duduk akan ngelarang baik. Indik nya dikatakan kebawosang ia Rabin , Rabin tapi kaicen dan kembali ke , dan bahwa jenek malinggih Puri , kahiring hamba ia menerima kakalih diri mewasta terlalu lenjar dan lenjir juga, mengikuti hamba majalangu seperti itu.



II. Ida Ratu Sakti ngelarang yoga ring Bali


Tan critayang ring margi, kancit ida ratu sakti sampun rawuh ring bali kahiring olih dana sira arya sentong miwah ki bendesa [2] ngawangun pasraman ring muncuk guling (kelengkung). yan akudang rahina ida jumenek malinggih ring muncuk guling, raris kesah saking irika ngulati genah ngaler kawuhang, gumanti rawuh ring tengah alase sane katah wenten buron manjangan, mahawanan kapangguh katah pisan tampak wiyadin laad enjek enjekan manjangan, raris alase punika kawastanin tenjak manjangan. ring genahe punika raris ida ngelarang yoga samadi di luhuring watune lempeh sane meganah tan adoh saking tukade agung, inggih punika ring dauh tukad. sira arya sentong, lunga saking irika ngulati taler genah pacang linggih ngelarang yoga samadi. dane ki bandesa, lunga ngulati genah ngelod kawuhang, rawuh ring alase sane katah buron bojog nyane irika wantah dane ngelarang yoga samadi, nunggaling idep nunas wara nugraha ring ida sang hyang widhi miwah ring ida betara sane malinggih ring alase punika.
Mungguing dane sira arya sentong, rawuh ring genahe sane wenten panambak toya, wiyadin empelan, irika wenten kapanggih pancung tiying gading, ring samping pancunge punika dane raris ngelarang yoga samadi. yan akudang rahina maka suwen dane matoga irika, raris risampune puput yogan dane malih mawali ka linggih ida ratu saktine ring tanjak manjangan, tur nguningayang mungguing saparindik danene sida polih pahica.
Kala punika raris Ida Ratu Sakti wenten ketel wecana ring dane sira arya sentong, “uduh paman arya, yan aketo pedabdabe, ngawit dinane jani. Nira mapaica biseka tekening paman, sawireh paman polih paica keris rikala paman mayoga disampingan pancunge, jani adanin gelah ki pancung, wiyadin adanin ki pancung sakti, tur tongos pamane adanin gelah pacung.
Kala punika taler rawuh dane ki bendesa saking genah dane ngelarang yoga. Yan ta kocap duke dane ngelarang yoga samadi, wenten kanten sekadi puri kapang-guh, tur wenten medal anak lingsir, mabawos mangda dane megingsir saking irika. Asapunika mungguing dane ki bendesa, raris ida ratu sakti ngandika, “uduh paman bendesa, yan aketo pidabdab pamane, ngawit dinane jani paman adanin gelah ki bendesa sabeng puri tur tongose ento maadan alas keraton. lantur ida ratu sakti ngandika, “paman pacung sakti miwah bendesa sabeng puri, sawireh di tongose ene paman ngiring gelah mererawosan, tongose ene adanin gelah paruman. Nah satondene gelah matinggal uli dini, lawutang punduhang ento batune ane tegakin paman dini, dibatune ane tegakin gelah pinaka ciri tongose dini tuwah tongos gelah ngelarang yoga.
Sesampune batu-batu punika kapunduhang, raris sang tiga kesah (3) ngulari ngalerang, rawuh ring genahe sane wenten semer, irika ida ngelarang yoga semadi di luhur batune lempeh sane wenten ring sampingan semere punika, kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bendesa sabeng puri. puput ida ngelarang yoga, sadurung ida kesah saking irika, raris batune lempeh punika kahambil olih ki pacung sakti, kagenahang duhur bungut semere, pinaka penekep semer, genahe punika kewastanin puser tasik.
Saking Puser Tasik ida lunga kesah ngalerang, rawuh ring predesa sane wenten wit campaka putih, irika raris ida mararyan, ngelarang yoga, ge-nahe punika kewastanin jemeng (pinge, tuwa, marsa). Saking jemeng raris kesah ngalerang tur ngelarang yoga ring sarwa nadi (tegeh, angsri, baturiti). Saking gunung lebah malih matinggal tur malinggih ring pucak tinggah (ang-sri, baturiti). Saking pucak tinggah malih kesah, malinggih ring panataran (sandan, baturiti). Saking panataran kesah raris malinggih ring pucak asah, ring pucak asah kala punika alase wantah katumbuhin antuk wit poh mahawanan taler kawastanin alas poh, irika suwe ida ratu sakti malinggih kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bendesa sabeng puri, jantos ida ngwangun pasraman. Dwaning suwe ida malinggih irika, tandugi irika taler ida mekarya pasiraman, kawastanin biji tamansari. sewosan ring punika taler ida maduwe pamebesan antuk batu, mahawanan batu punika raris mewarna selem asibak barak malih asibak, sinangguh batu saliwah.
Saking irika taler sering magentos linggih pinaka linggih ida ngelarang yoga samadi, inggih pu-nika ring paninjowan, ring bakungan, ring bukit sari, ring pucak tegal baas, ring pucak renjani.
Saking pucak asah malih ida magingsir linggih, ngulati pangu-ngangan (abang, candikuning). Wekasan duwaning palinggihe ring pangu-ngangan adoh saking desa baturiti, mawit saking kayun dane pemekel batu-riti, raris kawangunang palinggih ring baler desane, kawastanin pura anyar, pinaka panyawangan da batara ring pura pangungangan (abang), punika hawanan rikala mlaspasin pura anyar punika, ida betara ring angungangan kapendak tur katuntun kalinggihang ring Pura Añar (Baturiti).
Saking pangungangan malih magingsir, malinggih ring tratebang (candikuning, baturiti). Saking tratebang magingsir malih raris malinggih ring candi mas (candikuning). saking candimas malih magingsir tur malinggih ring bratan (candikuining). saking bratan malih magingsir linggih raris ngelarang yoga ring rejengbesi (candikuning). saking rejeng besi, kesah malih raris ma-linggih ring bukit sangkur, kesah saking bukit sangkur malinggih ngelarang yoga ring bukit mangu, saking bukit mangu magingsir malih raris malinggih ring batur (pura jati). saking pura jati magingsir malih tur malinggih nge-larang yoga ring guwalawah. saking guwalawah raris ida ratu sakti mawali mantuk ka puri munduk biyas (nusa), kahiring olih Ki Pacung Sakti miwah Ki Bendesa Sabeng Puri.
Amunika katah genah genahe ring bali sane pecak kaangge maka linggih Ida Ratu Sakti ngelarang yoga samadi. kwentenane mangkin [4] sami ring genah genahe inucap ring ajeng, sampun kawangunin kahyangan, tur kaloktahang antuk panyngsung panyungsung nyane sami. Kahyangan yadin pura payogan ida betara.
Caritayang ida ratu ayu mas macaling, malinggih ring puri munduk biyas, rikala rabine matirtayatra lunga ka bali, kahucap wenten rawuh utusan saking majalangu, sareng petang diri. i putusan raris kasambrama antuk ulam bawi. nanging samian putusane tan purun ring ulam bawi. duwaning asapunika, raris kanikayang parekane i lenjar miwah i lenjir, ngejuk ayam pinaka ulam sangun i putusan punika. lami reke i parekan ngepungin ayam, taler tan sida kaejuk, raris wetu idep nyane kasihan ring putusan, suwe ngeger sodane, raris ipun ngambil paksi titiran ida ratu saktine, katampah tur kahebat. ring sampune puput, raris kahaturang ring i tamiyu tur kahajengang. kocap sasampune i putusan mawali budal ka majalangu, kahuningin raris olih ida ratu ayu mas mecaling titiran idane ical. Tandumade, wetu duka ida, raris i parekan kanikain mangda tangkil.
I lenjar miwah I lenjir tahu ring deweknya iwang tur janten pacang polih bendu. Gagelisan ipun minggat saking puri, pisadyannya pacang mewali ka majalangu. Sadurung iparekan tedah saking puri, polih ipun ngambil was-tra selem druwen ida ratu ayu mas mecaling, kanggen pinaka laluhur, rikalan idane ngerehang aji pangiwan ida. wawu i lenyar miwah i lenyir rawuh ring pasisi, gelis rauh utusan ida ratu ayu mas mecaling, ngetutang pamargin pare-kan kalih punika. sane kutus nora liyan kulawarga dane ki bandesa. i pare-kan kahajakin mangda mewali ka puri, nanging ipun sang kalih matulak, tanngiring sekadi bawosnya i putusan. irika raris i parekan ngawentenang yu-da marep rinmg i putusan. Puputing yuda kawon kawisesannya i putusan, sasampun seda i putusan, sumayan ajrih manah nyane i lenjar miwah i lenjir, hawanan raris maserana antuk wastrane selem punika ipun raris mrelina raga.
Punika maka larapan ne mangkin sakatahing tapakan (barong) sane rawuh ring pura pucak padangdawa, tan dados ngangge kampuh selem.


II . Raja suci ngelarang kembali baik

Tan critayang jalan, ia kancit raja suci telah kembali kahiring dana diterima , dan seseorang bernama Arya Sentong terlalu Bendesa

[ 2 ] pasraman menghias bantal muncuk ( perspectivity ) . akudang hari jika ia jumenek malinggih muncuk bantal , ia melakukan perjalanan dari The ngulati Genah ngaler kawuhang , Gumanti datang ke tengah hutan disimpan Wenten penganiayaan Manjangan , mahawanan kapangguh membuat mereka tampil wiyadin Laad enjek enjekan Manjangan , dia adalah alasan kawastanin tenjak Manjangan . genahe yang baik dan dia ngelarang BAIK menjadi besar watune lempeh adalah meganah yang tukade jauh dari besar , adalah bahwa Tukad Dauh . Anda Sentong seseorang bernama Arya , pergi dari ngulati suku akan Genah duduk ngelarang APAKAH baik. mereka juga Bandesa ,

 go ngulati Genah ngelod kawuhang , datang ke hutan tetap penganiayaan bojog The Sekarang mereka mengharapkan ngelarang baik BAIK , nunggaling Idep nunas Tulisan Nugraha Tuhan dan Widhi dia sorgum yang malinggih alasannya .
Bahwa mereka Sentong seseorang bernama Arya , yang datang ke genahe Wenten panambak air, wiyadin empelan ,

 Wenten itu melihat kereta tiying warna gading , sisi kereta ia pergi ngelarang APAKAH baik. Untuk hari akudang jika mereka matoga Yang terakhir , ia risampune peluit Yogan mereka lagi mawali Ka ia duduk di Raja saktine tanjak Manjangan dan nguningayang bahwa saparindik polih nya pahica terjadi .
Yang ia dikatakan Raja suci Wenten yang wecana boiler mereka adalah seseorang bernama Arya Sentong ,

 

 ” seseorang bernama Arya uduh tuan, jika aketo pedabdabe , memulai hari sekarang . Anda mapaica biseka gambar tuan, tuan sawireh polih paica Keris ketika tuan mayoga disampingan kereta , sekarang Adana gelah saya melatih , saya melatih wiyadin suci Adana , Adana dan tongos tuan gelah Pacung .
Dengan suku datang kepada mereka , terlalu Bendesa dari Genah mereka ngelarang baik.

Jika dia kocap Duke ngelarang baik BAIK , Wenten pasien sekadi Puri kapang – guh , dan Wenten apapun masa lalu , mabawos bahwa ia megingsir The . Mengatakan bahwa ia juga Bendesa , ia pergi raja suci berkata ,

 ” uduh Bendesa tuan , jika aketo pidabdab tuan, tuan sekarang memulai hari Adana gelah terlalu Bendesa sabeng Puri dan tongose ​​Maadi istana hutan . ngelantur suci raja katanya , ”

Tuan Pacung suci dan Bendesa sabeng Puri , sawireh di tongose ​​ene tuan diikuti gelah mererawosan , tongose ​​ene Adana gelah Paruman . Nah satondene gelah matinggal uli Dini , lawutang punduhang saya mendapatkan batune vertikal Dini tuan , saya dibatune vertikal gelah mengalihkan karakteristik tongose ​​Dini tuwah tongos gelah ngelarang baik.

Setelah batu – batu kapunduhang , dan tiga pergi ( 3 ) ngulari ngalerang , yang datang ke genahe Wenten Semeru , dia ngelarang Meditasi baik pada batune lempeh besar Wenten adalah produk sampingan dari Semeru , kahiring menerima Pacung terlalu suci dan terlalu Bendesa sabeng Puri . linggis dia ngelarang anak , sebelum ia melakukan perjalanan dari , ia batune lempeh adalah kahambil menerima terlalu Pacung suci , kagenahang Ḑuhūr bungut Semeru , mengalihkan penekep Semeru , genahe adalah kewastanin Tasik pusar .

Pusar Tasik ia pergi untuk pergi ngalerang , yang datang ke Wenten Campaka pohon predesa putih, The mararyan katanya , ngelarang anak , GE – Nahe adalah kewastanin jemeng ( ganda , tua, Mars ) . Jemeng ia bepergian ngalerang dan ngelarang yang baik saya Nadi ( Tegeh , angsri , Baturiti ) . Gunung ini Lebah matinggal dan malinggih di pucak tinggah ( Sri – ang , Baturiti ) . The pucak tinggah pergi lagi , malinggih yang Panataran ( saya , Baturiti ) .

 

 

 The Panataran pergi dan malinggih di pucak Asahi , Asahi pucak yang merupakan alasan katumbuhin Sekarang dengan pohon mangga mahawanan suku hutan mangga kawastanin , Raja waktu suci ia menerima malinggih kahiring Pacung terlalu suci dan terlalu Bendesa sabeng Puri , jantos ia ngwangun pasraman . Dwaning Semakin lama ia malinggih , tandugi Suku dia mekarya pasiraman , kawastanin bijih Tamansari . sewosan suku ia maduwe pamebesan dengan batu, mahawanan batu dan Mewar selem asibak Baraka lagi asibak , sinangguh batu saliwah .


Suku magentos sering duduk mengalihkan ia duduk ngelarang baik BAIK , adalah bahwa UV – paninjowan , Bakung itu, Bukit sari , Gamecube pucak Baas , di pucak Renjani .

The Asahi pucak lagi ia duduk magingsir , ngulati Pangu – agape (merah , Candikuning ) . Duwaning akhir palinggihe Pangu – agape jauh dari Baturiti desa , mawit dari mereka Penuh pemekel batu – RITI , ia kawangunang palinggih Baler desanya , kawastanin Pura baru , mengalihkan panyawangan da dewa Pura pangungangan (merah ) , hawanan ketika baru Pura mlaspasin , dia sorgum angungangan yang kapendak dan diarahkan kalinggihang Pura Anar ( Baturiti ) .

The pangungangan lagi magingsir , malinggih yang tratebang ( Candikuning , Baturiti ) . The tratebang magingsir lagi pergi ke kuil I malinggih ( Candikuning ) . Para candimas lagi magingsir dan malinggih yang Bratan ( candikuining ) . dari Bratan lagi magingsir ia duduk ngelarang anak rejengbesi ( Candikuning ) . The Rejeng PERTAMBANGAN , pergi dan duduk di bayonet ma – Bukit , pergi dari Bukit bayonet malinggih anak ngelarang keraguan Bukit , dari Bukit diragukan lagi ia magingsir malinggih hamba ( Pura JATI ) . Pura JATI magingsir lagi dan malinggih mungkin guwalawah baik mahal . ia pergi dari guwalawah suci raja mawali mantuk Ka Puri Munduk biasanya ( EAST ) , kahiring menerima Pacung Ki Ki suci dan Bendesa Sabeng Puri .

Amunika terus Genah genahe belakang yang pecak kaangge Untuk Raja ia duduk ngelarang suci BAIK baik. kwentenane sekarang [ 4 ] dan Genah genahe inucap membawa , telah membentuk surga dan kaloktahang dengan panyngsung panyungsung mengharapkan hal yang sama . Yadin surga Pura Payogan dia sorgum .
Caritayang dia raja indah aku macaling , malinggih Munduk Puri biasanya , ketika Rabin matirtayatra Ka kembali , kahucap Wenten datang utusan dari majalangu , dan koktail diri .

Aku pergi resolusi kasambrama dengan lauk bawi . tetapi mereka rusak yang purun salad bawi . duwaning mengatakan , ia kanikayang parekane i lenjar dan saya lenjir , ngejuk salad ayam Sangun saya mengalihkan fraktur . lama akun saya ngepungin pertempuran hamba , suku kaejuk terjadi , ia Wetu idep mengharapkan kasihan resolusi ,

 semakin lama ngeger sodane , dan mereka mengambil raja, ia titiran sumbu saktine , katampah dan kahebat . dari peluit , dan kahaturang i Tamiya dan kahajengang . i kocap setelah fraktur mawali budal Ka majalangu , kahuningin ia menerima raja dia cukup mas mecaling titiran menghilang nya . Tandumade , Wetu dia marah , dan aku kanikain hamba yang Tangkil .

Aku lenjar dan aku tahu Iwang lenjir dan ia akan menjadi benda langit polih . Gagelisan mereka pop dari Puri , pisadyannya akan mewali Ka majalangu . Sebelum iparekan tedah Puri , polih mereka mengambil adalah Tra – selem druwen dia raja indah aku mecaling , kanggen mengalihkan laluhur , ketika Romo pangiwan ia ngerehang .

Wawu sebagai i dan saya datang ke lenyir pasisi , cepatnya ia datang utusan raja indah aku mecaling , ngetutang pamargin Pare – dua yang benar . orang kutus tidak ada keluarga Bandesa mereka juga. i Pare – kahajakin bahwa mewali Ka Puri , tapi mereka berdua matulak , tanngiring sekadi i resolusi bawosnya .

hamba itu berkata saya ngawentenang Yu – da marep resolusi i rinmg . Bellow perang Kawon i resolusi kawisesannya setelah resolusi saya meninggal, sumayan ketakutan lenjar jantung dan saya berharap saya lenjir , hawanan ia maserana dengan Wastra selem dari mereka pergi mrelina tubuh .
Untuk larapan itu kini sakatahing Lounge ( Barong ) akan datang ke Pura pucak padangdawa , yang menjadi selem selendang
.

KISI INFO BABAD TANAH JAWA

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

The  Legend Of Java Island

Babad Tanah Jawa

Part V

 

Created  By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 


Dene pituturku marang kowe, ing saiki kowe ngawulaa marang ing Dêmak, ing kono mênawa kêtêmu wahanane impènmu, aku anjurungi pandonga bae. Ki Jaka matur, kawula sandika anglampahi saking dhawah sampeyan, sarta kula pundhi-pundhi ing salaminipun. Ki Agêng ngandika malih, iya thole, ênggonku kurang mangan turu iki muga tinêmua marang kowe, nanging thole, ing buri turunku kênaa anyambungi wahyumu. Ki Jaka aturipun sumôngga, Ki Agêng Sela mirêng aturipun Ki Jaka sakalangkung lêga ing galihipun sarta akathah-kathah pawulangipun dhatêng Ki Jaka.
Ki Jaka Tingkir inggih lajêng mangkat, lampahipun mampir dhatêng ing Tingkir, matur dhatêng ingkang ibu punapa ing sadhawahipun Ki Agêng Sela, ingkang ibu angandika, thole, pituduhe Ki Agêng Sela iku bangêt bênêre, dadi ana kang dakarêp-arêp. Nuli lakonana nanging ngêntènana baturmu loro iku dhisik. Lagi tak kon matun gaga, iku bakal dakkon ngatêrake marang kowe, aku duwe sadulur lanang siji ngawula Sultan Dêmak, jênênge Kyai Ganjur, dadi lêlurah suranata, iku kang bakal daktitipi marang kowe, sarta angaturêna ing sang nata, Ki Jaka inggih amiturut ing dhawahipun kang ibu, nuntên tumut matun gaga angrencangi tiyang kêkalih wau ngantos sadintên botên mantuk-mantuk.

Dan memberitahu Anda , sekarang Anda ngawulaa Demak , itu menemukan bahwa wahanane impènmu , aku berdoa supaya aku anjurungi . Dikatakan Jake , saya siap anglampahi jatuhnya Anda dan saya di mana – mana di pernah . Dikatakan banyak lagi, bahkan thole , ênggonku kurang tidur makan ini Mei tinêmua bagi Anda, tetapi thole , di buri turunku menjadi anyambungi wahyumu . Ini sumôngga Jake aturan , saya mendengar besar Batu Peraturan Ki Jake telah dilakukan di Lega Galih dan akathah – Ki banyak pelajaran Jake .
Hal ini kemudian Jake Tingkir pergi , Biarkan dia kunjungi Tingkir , mengatakan bahwa ibunya apa sadhawahipun saya tumbuh Rock, ibu angandika , thole , arah Ki Rock sangat benar , sebagai dakarêp – pergi. Apakah ngêntènana tapi dia baturmu dua yang pertama . Sekali lagi saya minta matun Gaga , akan dakkon ngatêrake kepada Anda , Saya punya satu adik laki-laki melayani Sultan Demak , nama Kyai Ganjur , yang lêlurah suranata , ia akan daktitipi kepada Anda , dan angaturêna di set , saya amiturut Jake adalah pada musim gugur ibu , nuntên Tumut matun Gaga angrencangi dari kedua up- sadintên tapi mantuk mantuk

— 61 —
Sarêng ing wanci asar wontên mêndhung sarta grimis. Sunan Kalijaga pinuju langkung cêlak ing pagagan sarta tatêkên cis. Ki Jaka dipun cêluk saking sajawining pagagan. Thole, sira iku têka pijêr matun gaga bae, mariya ênggonmu matun, nuli ngawulaa marang ing Dêmak. Sabab sira iku bakal raja amêngku ing tanah Jawa, sampuning ngandika lajêng kesah mangalèr. Sarêng sampun botên katingal Ki Jaka tumuntên mantuk, matur dhatêng ingkang ibu, kang ibu mirêng sakalangkung bingah sarta ngandika, thole, kowe bêgja bangêt, olèh pituduhe Sunan Kalijaga, kêbat nuli lumakua marang ing Dêmak, aja ngêntèni ênggone matun gaga, sing kèri dakrêmbatne bae, Ki Jaka inggih nuntên lumampah kadhèrèkakên tiyang kêkalih, sampun dumugi ing Dêmak, anjujug griyanipun Kyai Ganjur.
Kacariyos sultan ing Bintara sampun dumugi ing jangji puput yuswanipun, atilar putra nênêm. Pambajêngipun èstri anama Ratu Mas, sampun krama angsal Pangeran Carêbon. Panênggak anama Pangeran SabrangLèr, punika ingkang anggêntosi kang rama jumênêng ratu, nuntên Pangeran Sedalèpèn. Nuntên Radèn Trênggana, nuntên Radèn Kandhuruwan. Wuragilipun anama Radèn Pamêkas. Dene ingkang jumênêng ratu wau dèrèng lami lajêng seda, dèrèng apêputra, ingka[17] anggêntosi

- 61 -
Dan kali ini Cloudy Afternoon dan grimis . Sunan Kalijaga titik untuk lebih salahnya pagagan tatêkên dan CIS . Ini adalah Celuk sarjana sajawining pagagan . Thole , Anda telah datang ke pijer matun Gaga I , Mariya ênggonmu matun , ia ngawulaa Demak tersebut . Bagi Anda akan menjadi raja di negeri amêngku , mengatakan ia melakukan perjalanan mangalèr . Dan saya telah melihat tapi Jake tumuntên mantuk , mengatakan bahwa ibunya , ibunya mendengar telah dilakukan bahagia dan berkata , thole , sangat senang untuk Anda , selamat datang untuk meminta Sunan Kalijaga , bundel mereka di lumakua Demak , jangan menunggu ênggone matun Gaga , yang saya dakrêmbatne update , Jake dan aku berjalan nuntên kadhèrèkakên dua , memiliki sampai Demak , anjujug griyanipun Kyai Ganjur .
Kacariyos Sultan telah ditugaskan sampai peluit jangji yuswanipun , anak keenam atilar . Pambajêngipun Estri bernama Raja, Manners telah mengakuisisi Carêbon tersebut . Panênggak bernama SabrangLèr , adalah anggêntosi ayahnya raja muncul , nuntên Sedalèpèn tersebut . Nuntên Raden Trenggana , nuntên Raden Kandhuruwan . Wuragilipun bernama Raden Pamekasan . Hal ini masih menjadi raja yang lama namun ia meninggal , namun apêputra , menolak [ 17 ] anggêntosi

— 62 —
jumênêng ratu Radèn Trênggana ajêjuluk Sultan Dêmak. Ki Patih Mangkurat inggih sampun pêjah, ingkang anggêntosi dados patih anakipun jalêr anama Patih Wanasalam. Kawicaksananipun angungkuli ingkang rama, para bupati sangandhap[18] sami ajrih asih.
Kacariyos Radèn Jaka Tingkir sampun katampèn pangawulanipun ing Sultan Dêmak. Mênggah katuripun wau Sultan Dêmak pinuju miyos saking masjid. Ki Jaka andhodhok wontên pinggir balumbang badhe sumingkir botên sagêd, sabab kapêngkok ing balumbang, Ki Jaka lajêng nglumpati ing balumbang sarwi mungkur, Sultan Dêmak sarêng aningali sakalangkung kagèt, sarta andangu, Ki Jaka matur yèn kapenakanipun Kyai Ganjur, Ki Jaka lajêng kapundhut sarta kaabdèkakên. Kangjêng sultan sakalangkung asih dhatêng Ki Jaka Tingkir, amargi warninipun bagus, sarta anglangkungi kadigdayanipun. Ing lami-lami Ki Jaka Tingkir lajêng kapundhut putra, kawênangakên ngambah salêbêting kadhaton, sarta kadadosakên lêlurah prajurit tamtama, sampun misuwur ing tiyang sanagari Dêmak.
Sarêng sampun antawis lami malih sang nata kagungan karsa badhe amêwahi prajurit tamtama, kathahipun kawanatus malih, amundhuti sarta amilihi tiyang sanagari sarta padhusunan. Kapilihan ingkang sami digdaya sarta têguh, yèn sampun angsal lajêng dipun coba kaabên [kaa...]

- 62 -
dia Raja Raden Trenggana ajêjuluk Sultan Demak . Ini Mangkurat gubernur mati, anggêntosi gubernur putra jalêr bernama gubernur Wanasalam . Angungkuli kebijaksanaan ayahnya, Bantul sangandhap [ 18 ] didengar , karena mereka takut .
Kacariyos Raden Jaka Tingkir memiliki katampèn pangawulanipun Sultan Demak . Mênggah titik tertentu kepada Sultan Demak lahir dari masjid . Ini adalah sarjana andhodhok balumbang akan sumingkir tidak bisa, untuk kapêngkok balumbang , Ki Jake kemudian melewatkan balumbang I mungkur , Sultan Demak telah dilakukan dengan aningali terkejut , dan obor , saya mengatakan bahwa Jake kapenakanipun Kyai Ganjur , Ki Jake dan kemudian kapundhut kaabdèkakên . Kangjeng Sultan telah dilakukan untuk didengar , karena saya Tingkir Jake , karena warninipun Herry , dan anglangkungi kadigdayanipun . Dalam Jake Tingkir tua – tua Lalu aku kapundhut anak , kawênangakên jejak di kadhaton , dan kadadosakên lêlurah prajurit tamtama , telah dikenal di sanagari Demak .
Dan antara yang lama dan set harus menolak amêwahi terdaftar tentara , banyak kawanatus lagi, dan amundhuti amilihi yang sanagari dan padhusunan . Dipilih dengan kuat sama dan menaklukkan , jika ia telah memperoleh mencoba kaabên [ kaa ... ]
— 63 —
[...bên] kalihan banthèng, mênawi anampiling banthèng rêmuk sirahipun inggih kalêbêt dados tamtama, yèn botên inggih botên kalêbêt. Kacariyos wontên tiyang ing Kêdhungpingit, anama Ki Dhadhungawuk, warninipun botên prayogi, nanging sampun komuk ing têguhipun. Ki Dhadhungawuk wau lajêng dhatêng ing Dêmak, sumêja lumêbêt prajurit tamtama, sarêng katur ing Radèn Jaka Tingkir nuntên katimbalan dhatêng ing ngarsanipun. Radèn Jaka Tingkir sarêng aningali sangêt ênggènipun botên rêmên, sabab warninipun sakalangkung awon … lajêng tinantun. Sarèhning wontên ing dhusun sampun kalok ing têguhipun, punapa purun kacoba dipun suduk. Wangsulanipun inggih purun. Ki Dhadhungawuk lajêng kasuduk ing sadak dhatêng Radèn Jaka Tingkir, dhadhanipun pêcah lajêng pêjah, kancanipun tamtama êndikakakên sami tumut nyuduki ing dhuwung, jisimipun Ki Dhadhungawuk tatunipun arang kranjang, Radèn Jaka Tingkir sangsaya misuwur ing kadigdayanipun. Kala samantên sampun katur ing sang nata, yèn Radèn Jaka Tingkir amêjahi tiyang badhe lumêbêt dados tamtama, kangjêng sultan sakalangkung duka, sarèhning kangjêng sultan wau ratu sangêt ing adilipun. Radèn Jaka Tingkir lajêng kadhawahan tundhung saking nagari ing Dêmak. Kangjêng sultan amaringi diyat dhatêng ali[19] warisipun ingkang pêjah kathahipun gangsal atus reyal

- 63 -
[ ... Ben ] Dua Bulls , Bulls anampiling adalah kepala hancur dari swasta , tapi itu tetapi . Kacariyos dalam Kêdhungpingit , bernama Ki Dhadhungawuk , tapi warninipun baik , tetapi memiliki komuk kuat . Ini Dhadhungawuk bahwa ia berbicara di Demak , sumêja lumêbêt terdaftar sebagai tentara , dan diberi Raden Jaka Tingkir nuntên memanggilnya di depan . Raden Jaka Tingkir dengan aningali ênggènipun tapi sangat senang, karena warninipun telah dilakukan buruk … Lalu tinantun . Karena dalam Kalok dhusun di kuat , apa purun kacoba menjadi suduk . Jawaban yang purun . Lalu aku Dhadhungawuk kasuduk di sadak Raden Jaka Tingkir , dhadhanipun hancur kemudian mati , kancanipun terdaftar êndikakakên sama Tumut nyuduki di dhuwung , massa Ki Dhadhungawuk tatunipun jarang kranjang , Raden Jaka Tingkir menjadi kadigdayanipun tersebut . Oleh samantên telah diberikan dalam konfigurasi yang Raden Jaka Tingkir amêjahi lumêbêt orang akan terdaftar , Kangjeng Sultan marah telah dilakukan , karena raja Kangjeng Sultan adalah adil. Raden Jaka Tingkir Lalu kadhawahan tundhung tanah di Demak . Kangjeng Sultan Ali amaringi diyat kepada [ 19 ] warisan banyak mati lima ratus reyal