The Old Ganesha Statue

 

nera same with my collactionTHE OLD GANESHA STATUE

Iwan Suwandy's photo.

I JUST FOUND THE OLED GANESHA STATUE,MADE BY CLAY

MAY BE DURING TANG DYNASTY SEND FOR THE KING OF SRIVIJAYA

SJAILENDRA.MADE FROM CLAY LIKE BURMESE GANESHA,AND THE JEWELLARY OF GANESHA WITH GOLD PRADA VERY LONG DEEP IN THE SEA THE PRADA STILL EXIST

AMIZING COLLECTIONS? HOW MUCH THE VALUE?i WILL PUT THIS COLLECTIONS IN MY MUSEUM,AND SEEKING THE SPECIAL MUSEUM TO SOLD THIS STATUE,i NEED  FUNDS FOR GREW UP MY CERAMIC MUSEUM

FOR MORE INFO i TRIED TO SEEKING ANOTHER GANESHA STATUE INFORMATION

FROM GOOGLE EKSPLORATION

I HOPE THE EXPERT WILL HELP ME TO IDENTIFY THIS SPECTACULARE

CANESHA

FOUND FROM SHIPWRECK SITE ,THE FISHERMAN TOLD ME THIS STATUE

FOUND DURING FISIHING BY HIS GRANDPA AROUND 1970 NEAR THE SMALL ISLAND

NETWEEN BANGKA BELITUNG TO PULAU SERIBU JAVA SEE.HE JUST FOUND

KEEPING BY HIS GRAND PA AND NEVER TOLD ANYBODIES MAY BE HE AFRAID  AGAINST THE LAW.

i HOPE ALL THE ARCHEOLOGIEST FROM ALL OVER THE WORLD WILL HELP ME ESPACIALLY THE EXPERT

Iwan Suwandy's photo.

FROM COMPARATIVE STAUDY,NARE SAME WITH CAMBODIAN GANESHA,LOOK BELOW

FROM NALANDA GROUND dr EDMUND EDWARD MACKINNON (I LOOST CONTACT

WITH HIM SINCE 1985)DURING MY OBESERAVTION THE ORIGINAL COLOUR WERE GOLD PRADA DAN CLOTH EMERALD JADE,AND i HAVE ANOTHE CELADON GANESHA STATUE BUT SMALL DAN THE HOLY BUFUFFALO GREEN YELOW COLOUER BUT BROKEN HALF.

THANK VERY MUST FOR YOUR COMMENT AND INFORMATION

DR IWAN SUWANDY,mha

MY GANESHA COLLECTION

GANESHA FROM GOOGLE EXPLORATION

Old Ganesha statue from Burma, made of Wood

Ganesha statue

 

File:Lord ganesha statue 72ft Bahadurgarh,Hariyana,India.jpg

 

the end @ copyright Dr Iwan 2014

Large old Ganesha from Burma, made of Wood

THE VALUE OF BUNG KARNO COLLECTIONS

 

tHIS THE SAMPLE OF dR iWAN cd-rom

JIKA ANDA INGIN MEMILIKINYA HUBUNGGI  EMAIL

iwansuwandy@gmail.com

harga lima ratus ribu rupiah sudah termnasuk biaya kirim,sebelum dikirim anda harus mengupload kopi KTP dan alamat lengkap denagn no tilpon rumah

serta mengupload buku transfer ATM BCA

The Value Of Bung Karno Collections

Created By

 Dr Iwan Suwandy,MHA

Limited E-Book In CD-Rom Edition

Special For Senior Collectors

Copyright @ 2014

INTRODUCTION

Saya berau saja kembali dari travelling around Taiwan,and I look the amazing Chiang Khai Sek Memorial Hall.

Saya sangat ingin membangun Bung Karno Memorial Hall yang sama, tetapi saat saya menghubunggi keluarga bung karno teryata tidak ada jawabannya,mungkin pihak keluarga sibuk dengan kepentngan dirinya sendiri dan politik. Bung Karno sendiri telah membuat suatu buku yang sangat terjken yiatu Buku Koleksi Bung Karno yang diedit oleh pelukis terkenal Lee Man Fong yang terdiri dari lima jilid,dimanakan kini  koleksi  tersebut ? Hanya tuhan yang tahu.

Pak Harto telah membuat suatu museum yang sangat hebat didekat taman Mini Indonesia Indah yang diberi nama Museum PPurna Bhakti/ kita semua sudah pernah melihatnya,dan nilainya tidak dapat ditaksi sangat tinggi sekalai.

Beberapa hari yang lalu saya menemukan lagi empat foto bewarna asli yang kualitasnya sangat bagus yang terkait bung Karno yaitu saat beliau meninggal dunia, foto dirumah putra Bung Karno ada gambar lukisan bung Karno didinding,Guntur sukarnoputra berfoto bersama ibunya ,almarmuh Ibu Fatmawati,dan putra putrinya, kemudian foto Inu Fatmawati dengan ibu Ingit?dan Guntur,kemudian foto Ratna Sari dewi lagi berdoa dilator belakani oleh beberapa pendetea dari Jepang didepan makam Bung Karno,dan terakhir foto peti bung Karno yang diselimuti Benrdera merah Putih dan pasukan disampinginya sedang memberikan tembakan peringatan.

Saya telah mengupload di web blog saya

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

Berjudul Koleksi Bung Karno

Yang dapat dilihat di pendahuluan karya tilis ini

Banya kolektor saat ini tidak tahu jenis dan nilai harga koleksi yang terkait Bung Karno, untuk itu saya telah berusaha dengan segenap daya untuk menyusun dan mencari info terkait dengan koleksi Bung Karno yaitu koleksi Buku, Koleksi Foto dan koleksi dokumen terkait bung Karno, mengenai lukisan dan koleksi seni lain anda dapat mencarinya di karya tulis lainkarena sangat mahal dan sulit untuk menemukannya.

 

Karya tulis ini saya buat dalam bentuk e-book dalam CD-Rom agar lebih ekonomis dan gampang dikrim dengan biaya murah dan dapat dicegah pembajakan,karena bila jatuh ketangan pedagang nanti koleksi terkait Bung Karno akan jadi lebih mahal.

Terima aksih kepada segala teman-teman yang telah membantu syaa dalam menyusun karya tulis,khus kepada kelaurga Bung Karno saya perembahkan buku ini dan juga kepada seluruh rakyat Indoneisa,semoga ada yang mau jadi sponsor untuk mendirikan Bung Karno Memorial Hall seperti yang saya lihat di Yaipeh Taiwan.

Jkaarta. September 2014

Dr Iwan suwandy,MHA

BUKU ELEKTRONIK INI

SAYA DEDIKASIKAN KEPADA

mempelai-guruh-cindy-mega

KELUARGA BUNG KARNO

DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA

DAN JUGA UNTUK

 KELUARGA SAYA ISTERI,ANAK,MANTU DAN CUCU-CUCU

PENDAHULUAN

Koleksi Bung Karno yang Dr Iwan Upload di Web Blognya.bila ad ayang tidak berkenan harap dimaafkan dan di koreksi.

Koleksi sejarah Bung Karno

Bagian Pertama

http://penasoekarno.wordpress.com/2009/10/30/foto-soekarno-20/

 

Pnegantar

KOLEKSI BUNG KARNO

Kreasi Dr IWAN S Berdasarkan Koleksi Pribadi dan sumbangan teman-teman  Buku-Buku Karangan Bung Karno

serta Koleksi Unik pribadi lainnya yang terkait dengan Proklamator dan Presiden pertama RI.

*001

Museum Dunia Maya  Pribadi untuk seluruh Bangsa Indonesia

Jakarta @Hak Cipta Dr IWAN S 2010

*rencana logo masih belum ditentukan menunggu persetujuan bila ada sponor, sementara dipergunakan  poster Bung Karno INGAT! saat pemilu pertama pencipta belum diketahui

_____________________________________________________________________________

KATA PENGANTAR

Saya memberanikan diri membangun sebuah museum dunia maya atau cybermusuem KOLEKSI BUNG KARNO   khusus untuk seluruh rakyat Indonesia dan pecinta Bung Karno dimanapun ia berada , dengan penuh kesadaran atas keterbatasan saya yang hanya seorang pensiunan dokter, petualang dan kolektor benda unik serta informasi terkait lainnya yang tentunya bukan pakar dan ahli dibidang museum dunia maya , tetapi berandalkan  tekad  yang bulat dan pengalaman sebagai kolektor senior yang banyak membaca literatur terkait bidangnya menyusun tulisan dan illustrasi ini berdasarkan koleksi yang sudah dihimpun hampir lima puluh tahun dengan maksud dan tujuan agar informasi tentang koleksi Bung karno pribadi dan koleksi unik terkait Bung Karno dapat di ketahui oleh rakyat Indonesia terutama  generasi penerus  secara gratis, oleh karena itu saya perlu dukungan moriel ( semangat)  dan matriel (dana operasional untuk consultan profesional) , maka besar harapan saya seluruh kolektor Indonesia untuk mendukung proposal musuem dunia maya  ini liwat  komentar, dan dukungan sponsor dari pencinta Bung Karno seperti yaysan BK, Metro Tv , Penerbit PT Gramedia dan sebagainya.karena informasi yang ada saat saya eksplorasi dengan google di Internet masih sangat terbatas.

Saya sadar cybermuseum  ini dibuat dengan pengantar  bahasa Indonesia karena sesuai arahan proklamator dan presiden Republik Indonesia pertama yang lebih senang di sebut sebagai Bung Karno agar kita harus berdikari dan bangga dengan bangsa kita sendiri yang termasuk bangsa besar yang jumlah penduduknya nomor tiga didunia setelah Tiongkok dan India. Pecinta Bung Karno dari  bangsa asing sepantasnya mengenal bahasa Indonesia agar dapat meresapi tulisan ini karena banyak istilah yang sangat sulit untuk diterjemahkan kebahasa asing seperti Inggris, Jerman, spanyol atau Belanda, untuk itu penulis memohon maaf yang sebasar-besarnya,juga atas kekeliruan dan kekurangan yang masih ada dalam tulisan ini, masukan sangat diperlukan agar tulisan elektronik ini dpat disempurnakan pada edisi mendatang.lihatlah poster Bung Karno yang sangat kharismatik INGAT!!*001

*001

Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh teman-teman yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu ,terutama Pak  Herry Hutabarat, Pak Sofyan lampung,almarhum guru saya Frater Servaas dan almarhum Prof.Suparlan yang telah memberikan masukan ide untuk mengumpulkan koleksi serta informasi yang unik dan langka bagi generasi penerus.terimakasih juga kepada Pak Ali Baswedan yang telah menyokong terbitnya buku elektronik ini dan berkean memberikan tambahan informasi untuk Bab khusus tambahan KOLEKSI PUSAKA BUNG KARNO

_________________________________________________________________________________________________________________

KOMENTAR ALI BASWEDAN DALAM BLOG iwansuwandy.wordpress.com

Gagasan e-book tentang Bung Karno harus dilanjutkan. Sebab upaya Bapak itu bagian dari mencerdaskan bangsa. Selain itu, memperkaya khasanah tentang Bung Karno. Apa yang salah?
Kalau boleh saya urun rembuk, tentang BAB KOLEKSI PRIBADI BUNG KARNO, perlu ditambahkan KOLEKSI BENDA PUSAKA tokoh Proklamator itu. Ini bukan persoalan mistik. Benda-benda pusaka itu bagian dari sejarah panjang bangsa kita. Misalnya, Bung Karno pernah menerima pusaka Kanjeng Kiai Lepet dari PB X, berupa pedang yang dibuat pada masa pemerintahan PB IV. Benda-benda pusaka yang dimiliki Bung Karno pernah dimuat secara detail di Majalah KERIS, no: 1, tahun I, 15 feb – 16 Maret 2007. Dengan ikhlas saya bersedia memberikan copy majalah itu (berupa PDF) kalau berkenan.

Ali Baswedan

__________________________________________________________________________________________________________________

dukungan komentar diatas memberikan info bahwa pedang pusaka yang selalyu dibawa Bung Karno dibuat pada masa Pakubuwono IV, cerita lengkap akan di tampilkan setelah Pak Baswedan mengirmkan copy majalalah tersebut. saya memiliki foto pedang pusaka tersebut *003 dan *004

*003 *004.

Saya sangat gembira atas sokongan para kolektor Indonesia lainnya, lihat facebook saya iwansuwandy untuk tambahan informasi baru dan sokongan anda semua* 005

=========================================================================

*5 CUPLIKAN DARI FACE BOOK

video dari Yayasan Bung Karno tetang pertemuan Bung Karno dengan Nehru India dan Nasser Mesir, saya sedang meminta sponsorship dan izin memanfaatkan buku terbitan Yayasan Bung Karno lama era Guntur sukarno

Soekarno – My Spirit

Pas kebetulan lagi bongkar-bongkar file di PC, ketemu slide show ini. Daripada dibuang lebih baik ditaruh di FB. Mudah-mudahan bermanfaat.

Length:4:04

 

Wednesday at 5:55pm · Comment ·LikeUnlike · View Feedback (3)Hide Feedback (3) · Share

 

Ivan Abisai Rivera Torres and Fikri Alamoudi like this.

Iwan Suwandy

terima kasi atas dukungannya,semoga yayasan Bung Karno bekenan menjadi sponsor proposak buku elektronik B ung Karno saya,dan mengizinkan koleksi yayasan BK di tampilkan dalam e-book tersbtu. ayo kolektor In donsia pencintai B ung kirimkan dukungan anda dalm komentra ini terima kasih.

4 hours ago ·LikeUnlike ·

Remove

Iwan Suwandy thanks for support me to writte e-book of Bung Karno Collection in Indonesia language Koleksi Bung Karno, I need million support .

 

 

ASIA uniquecollection discussion Group

bung karno poster collection during PEMILU,MORE INFO CLICK MY INTERENET BLOG iwansuwand.wordpress.com

By:Iwan Suwandy

 

Wednesday at 5:44pm · Comment ·LikeUnlike · View Feedback (4)Hide Feedback (4) · Share

 

Ivan Abisai Rivera Torres and Fikri Alamoudi like this.

Fikri Alamoudi

WHAT A GREAT JOB,, Mr.Dr.IWAN,,.. I LIKE HIS CHARACTER, SINCE I WAS A CHILD,,..

Foto Bung Karno dan Mao dikirim oleh teman saya

=====================================================================================

 

agar saya segera dapat mengirimkan surat resmi kepada Ketua Yayasan Bung Karno untuk memeperoleh izi memanfaatkan informasi mereka dalam MUSEUM DUNIAMAYA KOLEKSI BUNG KARNO  ini, dan apabila ada sponsor mungkin saya akan mengubah dari Premium E-BOOK  menjadi Free CYBER MUSEUM , silahkan kirim komentar sokongan terhadap gagasan  ini liwat blog internet dan facebook saya dengan nama yang sama iwansuwandy.

_____________________________________________________________________________________________________________

SETELAH MENKOMPILASI SELURUH INFORMASI KOLEKSI BUNG KARNO YANG ADA, TERNYATA JUMLAHNYA SANGAT BANYAK, SEHINGGA PERLU DIBUAT SUATU BLOG TERSENDIRI DENGAN NAMA BUNGKARNO-IWAN.WORDPRESS.COM, JUDULNYA AKAN DITETAPKAN OLEH TIM DAN Dr IWAN S, TENTUNYA BILA ADA SPONSOR UNTUK BIAYA OPERASIONAL,PARA SPONSOR HARAP MENGHUBUNGI SAYA LIWAT COMMENT DAN EDITOR BLOG INI AKAN MENGHUBUNGI PARA SPONSOR UNTUK KEPERLUAN ADMINISTRATIF LEBIH LANJUT,BERITA LIHAT RUBRIK TERSENDIRI TENTANG DUKUNGAN DAN SPONSOR KOLEKSI BUNG KARNO.  APABILA TIDAK ADA SPONSOR TERPAKSA INFORMASI DAN ILLUSTRASI DIBATASI SEBAGAI BAGIAN DARI PROPOSAL INI.hARAP PARA TEMAN-TEMAN KOLEKTOR MAKLUM ATAS KETERBATASAN SAYA YANG BEKERJA SEORANG DIRI DAN KURANG PROFESIONAL.

Selanjutnya bacalah Catatan saya tentang pribadi Bung Karno dan Koleksi pribadi Bung Karno sebagai  Pengantar buku elektronik  yang saat ini telah saya tingkatkan jadi MUSEUM DUNIAMAYA CYBERMUSEUM KOLSI BUNG KARNO  karena sangat banyak dukungan dan klik.dari pecinta Bung Karno.

Para teman-teman yang ingin melihat kolesi pribadi Dr Iwan yang terkait Bung Karno, silahkan melihat di msueum dunia Maya Dr Iwan , klik hhtp//www.Driwancbermuseum.wordpress.com. terima kasih atas perhatiannya.

Jakarta  ,Juli 2010

Dr IWAN S

PS Apabila sudah banyak komentar dukungan dan ada sponsor yang lambangnya  akan di catumkan dalam proposal ini, maka secara bertahap daftar koleksi dan illustrasi akan diinstall dalam proposal buku elektr0nik ini,oleh karena itu kirimkan segera dukungan dan sponsor anda liwat komentar di Blog ini dan Facebook saya. terima kasih atas dukungan dan sponsorshipnya.

_____________________________________________________________________________

CATATAN Dr IWAN S TENTANG KOLEKSI BUNG KARNO

  1. Kesan-Kesan Dr  IWAN S TENTANG BUNG KARNO

saya dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Minangkabau sumatera Tengah dulunya sekarang Sumatera barat, sehingga tokoh proklamator yang lebih dikenal adalah Bung Hatta,lihat foto kunjungan Bung Hatta ke Padang  tahun 1977 dismabut gubernur SUMBAR Haroen Zein dan Walikotanya Achiroel Yahya *005a foto ini karya Indra Sanusi dan sudah diberikan izin pengunaannya.

*005a

. Bung Karno pertama kali saya lihat tahun 1955 saat berkampanye dilapangan Tugu didepan SMA Don Bosco, saat ini  didepan Pengadilan negeri Padang yang sekarang sudah dibangun Museum Kota Padang, beliau berada diatas panggung tenda terpal persis saat itu saya sekolah di SD Andreas yang lokasinya disamping SMA Don Bosco ,kelas lima SD, kami beramai-ramai murid SD melihat Bung Karno pidoto,  beliau sangat pandai mempengaruhi semangat pendengar dengan jel jel Merdeka nya,sekali Merdeka Tetap merdeka tetapi apa yang dikatan beliau pupus dari ingatan saya.Saya telah banyak membaca literatur terkait beliau,sehingga saya mengerti bagaimana besarnya cinta Bung karno terhadap seni,sehingga beliau sering bertemu dengan seniman seperti seniman pelukis seperti Affandi, Basuki Abdullah,Dezentje,Le Man Fong,Henk Ngantung,Hendra Gunawan dan Sudjono, malah Henk Ngantung dipercayai menjadi Gubernur DKI tahun 1964*005aa

*005aa henk dan lukisannya pasar Jakarta.

, sayang beberapa dari pelukis tersebut ikut lembaga kesenian PKI(LEKRA)  sehingga hidup mereka sangat sengsara pada masa orde baru( Saya juga mengumpulkan koleksi masa Pak Harto,nanti kan saya tulis buku elektronik pada saat yang tepat).profil para pelukis senior tersebut umumnya saya kenal setelah melihat beberapa foto Bung Karno dengan mereka di istana Merdeka saat menyusun koleksi istana tersebut, juga difoto rumah Bung Karno pertama di jalan Pegangsaan didalam rumah tahun 1945 saat wawancara dengan wartawan terlihat lukisan Basuki Abdullah pantai Ternate berdasar lukisan cair air Bung Karno didinding dan disampingnya dipajang lukisan Fatmawati yang juga dilukis Basuki Abdullah yang sudah ada sejak masa revolusi kemerdekaan *002

*002

Saya masih menyimpan tulisan Bung Karno tahun 1942 saat tentara Dai nippon baru membebaskan beliau dari Bengkulu ke Sumatera Barat dalam bentuk kliping,tidak jelas dari majalah mana, selain itu juga teman saya memberikan sebuah cetakan surat pribadi Bung Karno kepada para prajurit yang bertugas diperbatasan saat Konfrontasi Malaysia saat Hari raya Lebaran yang menurut informasi surat itu berada dalam bingkisan dari Bung Karno kepada prajurit tersbut,sungguh besar perhatian beliu kepada para para prajurit pejuang, pada saat masa perang kemerdekaan pernah ditenirt almanak dengan gambar bungakarno tahun 1946 dengan berbagai promosi perjuangan yang saat itu sangat riskan untuk memilikinya karena dapat ditangkap Belanda ,sungguh istimewa saya memiliki koleksi almanak perjuangan tersebut, juga kartupos peringatan satu tahun medreda 17 agustus 1946 *002asayang tidak memakai gambar profile Bung Karno tetapi merupakan temuan saya yang sangat spektakuler,begitu juga dengan berbagai koleksi lain yang dapat dilihat dan dibaca pada bab berikutnya.

*002a

Pada saat Sumatera Barat bergolak terhadap pemrintahan Pusat tahun 1957, istilah versi dari PRRI yang dipimhan Ahmad Husein dan Sjaruddin Prawira Negara (koleksi pribadi saya tentang  PRRI akan diteritkan pada masa mendatang) dan versi Pusat disebut pembrontak, Bung Karno pamornya sangat menurun dimata Rakyat Sumatera Barat, sehingga banyak arsip beliau dimusnahkan, tetapi sebagian telah saya selamatkan dan tersimpan rapi saat ini, apalagi ketika terjadinya peristiwa G30PKI 1965, masih terbayang saat Pak Harto Mengambil alih kekuasan dan saat beliau dilantik *002b dengan pidato yang sangat sederhana yang berbeda dengan pidato Bung Karno yang lebih kharismatik.

Saya melihat Bung Karno kedua kalinya dan terakhir pada saat beliau berpidato dalam upacara pembukaan Pekan Olah Raga  Nasional(PON) di Bandung tahun 1961, saya peserta PON cabang Tennis Lapangan, beliau sangat kharismatik, saya masih ingat sebelum mulai berpidato, Bung Karno meminta peserta dan penonton agar diam, beliau berkata Saya minta supaya Diam sebelum saya mengucapkan kata pembukaan, kemudian beliu menghardik dengan suara mengeleganr sebanyak lima kali DIAM!!! DIAM!!!DIAM!!! DAIM!!!DIAM!!! saya sungguh terpeosna akhirnya semuanya diam, tapi saya lupa apa yang beliau katakan, karena itu saya berusaha memiliki koleksi buku pidato Bung Karno,dan yang paling langka adalah terbitan tahun 1954 tentan Pindato-pidato Bung Karno dari 17 agustus 1945 sampai 17 agust 1954, banyak dari pidato tersebut tidak pernah diterbitkan,mungkin atas alasan politik, juga kata sambutan Bung Karno pada saat peringatan enam bulan Merdeka dalam Buku khusus terbiitan Harian Merdeka dengan judul Merdeka dengan illustrasi sampul depan KEPALAN BERWARNA MERAH DENGAN TULISAN MERDEKA*002c

buku ini  sangat historik dan langka. Tahun 2009 saya kembali menemukan buku langka  yang berhubungan dengan pidato Bung Karno saat har Kemerdekaan RI dari proklamasi 1945 sampai 1954 oleh Kementerian Penerangan RI bagian dokumentasi dengan judul  8  x 17 Agustus, karena dalam Bunku Bung Karno Dibawah Bendera Revolusi jilid kedua tidak dicantumkan pidato Bung Karno saat proklamsi kemerdekaan tujuh belas Agustus 1945, apa sebabnya slah dikomentari didalam hati pembaca  sendiri karena dapat menimb ulkan polemik dan diskusi yang tidak akan selesai, ini adalah fakta sejarah , yah diendapkan saja dalam memori anda, silahkan baca bersama dengan bab buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid kedua .

Saya hanya menyampaikan kesan yang sebenarnya berada dalam pikiran saya, tentanh hal lain sebaiknya saya tanpa komentar karena berbagai alasan, tetapi yang pasi bilau adalah proklamator,bapak bangsa  yang sangat kharismatik,energik, dan memiliki koleksi Bung Karno merupakan suatu Kebanggaan tersendiri,saya usulkan Yayasan Bung Karno mendirikan suatu museum yang megah untuk peringatan bagi Bung Karno dan saya bersedia menyumbangkan seluruh koleksi saya kepada museum tersebut ,tentunya harus berisi lengka[p baik sisi terang maupun gelap dari Beliau,kita menyadari mana ada manusia yang sempurna,tetapi yang jelas beliau telah memerdekakan Bangsa Indonesian yang sama-sama kita cintai.

2.KOLEKSI PRIBADI BUNG KARNO

Koleksi Pribadi Bung Karno tentunya masih berada pada Yayasan Bung Karno yang tahun 1979 dengan ketua putra pertama Bung Karno ,Guntur Sukarno, lihat illustrasi  Kata Pengantar Ketua Yayasan Bung Karno PADA BUKU BUNG KARNO & SENI  edisi pertama,terbitan Yayasan Bung Karno,Jakarta 1979,semoga yaysan tersebut tidak keberatan ditampilkan dalam buku elektronik ini.sebelumnya terimakasih Bung Guntur.(apabila sesudah satu bulan info ini ditayangkan tidak ada tegoran,maka illustrasi akan ditampilkan). Apabila ada izin,mungkin sebagian foto yang di close up dengan ukuran  lebih kuang 30% aslinya akan ditampilkan juga. Apabila tidak diizinkan terpaksa anggota melihatnya langsung pada buku aslinya atau dapat melihat diperpustakaan club.

Dalam buku aslinya  berisi Prawacana Penyusun Soedarmadji J.H. Damais dan para penulis Sitor Situmorang,Wiyoso Yudoseputro dan sudarmadji.Samburtan Ketua Yayasan Bung Karno Guntur Sukarno,Sambutan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Ajip Rosidi,Kata sambutan wakil PresideRepublik Indonesia Adam Malik,Kata Sambutan Menteri Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia Surono , Kata sambutan Kepala  daerak Khusus Ibukota Jakarta Tjokropranolo, Bung Karno Dan Seniman olh Sitor Situmorang, Bung Karno Dengan seni Oleh Wiyoso Yudoseputro, Bung Karno  Dengan Seni Rupa Oleh Sudarmaji, Daftar Benda Benda Pameran, Kepustakaan Pilihan , Ucapan terima Kasih.

Dalam era ketua Yayasan Bung Karno Bapak Guruh Sukarno Putra, ada sebuah video koleksi foto Bung karno yang sangat penting dilestarikan, beberapa foto tersebut ada dalam koleksi saya pribadi seperti foto kunjungan Bung Karno ke Amerika serikat.*002d bung Karno dan Guntur di Dyasney land naik kereta.

*002d

Saya sangat berharap agar koleksi yayasan Bung Karno ini dapat dizinkan untuk di tampilkan dalam buku elektronik ini dan mungkin nantinya berkemband menjadi suatu blog tersendiri dengan nama museum duniamaya koleksi Bung Karno dan juga dalam bahasa inggris CYBER MUSEUM BUNG KARNO’S COLLECTIONS , saya telah meng add video koleksi foto Bung Karno era Bapak Guruh , karena tidak dicantumkan hak cipta ,mohon maaf jika yayasan BK tidak berkenan, maka video tersebut dengan segera saya hapus, sebagai bahan pertimbangan Bung Karno tidak hanya milik yayasan Bung Karno dan keluarga Besar tetapi milik seluruh bangsa Indonesia dan dunia jadi termasuk barang pusaka dunia atau World Heritage jadi tidak dapat dijadikan Hak Cipta seseorang atau kelompok, saya saran UNESCO juga berkenan menjadi sponsor dalam melestarikan warisan Budaya Bangsa dunia ini.

  1. KOLEKSI PUSAKA BUNG KARNO

1)Koleksi benda-benda Pusaka milik Bung karno, berdsarakan majalah lama milik teman saya bapak Ali Baswedan yang disumbangkan secara gratis untuk dimuat dalam buku elektronik KOLEKSI BUNG KARNO*TP-001.(sampai saat ini belum dikirimkan via e-mail dr Iwan s)

2) Photo Keris pusaka Bung Karno: a)*ill KP-002 pada masa perang Kemerdekaan Ri 1945-1950 ternyata berbentuk Keris.(dimana benda ini berada sekarang?)

*KP002

dan b)* ill TP-003 beberapa foto Tongkat pusaka Bung Karno pada masa Orde Lama 1951-1965, apabila diperhatikan dengan saksama ternyata ada dua jenis

Dimanakah benda pusaka keris dan kedua jenis tongkat pusaka Bung KARNO tersebut diatas? perlu diteliti lebih lanjut yang merupakan PR Yayasan Bung Karno atau para pakar sejarah Indonesia  dan ini merupakan informasi pertama di dunia maya berdasarkan fot0 asli BUNG KASRNO yang diclose up , bagaimana manakjubkan bukan !!!!!

4.. KOLEKSI PRIBADI Dr IWAN S TERKAIT  BUNG KARNO

Secara kronologis akan saya informasikan perkembangan koleksi pribadi saya terkait bung Karno, tulisan ini akan saya tampilan secara bertahap disertai ilkustrasi, satu persatu menunggu komentar baik dari yaysan Bung Karno,keluarga besar mantan Presiden RI Ibu Megawati Sukarno Putri dan keluarga besar Bung Karno,serta para kolektor pencinta Bung Karno, harap setiap inifo dibaca dan dilihat dengan saksama,bila tidak berkenan harap kirim komentar via comment dan bila disetujui akan saya hapus dari tayangan, saya sadar berbicara teng Bapak bangsa  dan Proklamator itu sangat peka, makanya saya sang hati-hati, mohon komentar dan koreksi apakah buku elektronok ini perlu diteruskan atau dihentikan,saya sangat menunggu komentar, bila tidak segera saya hilangkan dari tayangan,bila ya mari sokong saya dengan komentar anda.terima kasih.Saya belum pernah lihat tayangan pribadi seperti ini di dalam maupun luar negeri. ok segara kirim komentar.

BAB SATU : KOLEKSI PRIBADI MILIK  BUNG KARNO(YAYASAN BUNG KARNO DAN KELUARGA BESAR BUNG KARNO dalam buku BUNG KARNO DAN SENI  TERBITAN PERTAMA YAYASAN BUNGKARNO KETUA GNTUR SUKARNO TAHUN 1979 (  dengan izin dari pemilik-masih menunggu perseutjuan, e-mail sudah dikirimkan belum ada jawaban sampai saat ini)

  1. KOLEKSI SENILUKIS,PATUNG DAN KERAMIK

II.KOLEKSI SENI BATIK,UKIR DAN WAYANG

III. KOLEKSI  SENI BANGUNAN,MONUMEN DAN TATA KOTA

BAB DUA    KOLEKSI PRIBADI Dr IWAN S  TERKAIT DENGAN BUNG KARNO

I.KOLEKSI  BUKU DAN DOKUMEN BUNG KARNO (KOLEKSI PRIBADI Dr IWAN S)

1 MASA SEBELUM PERANG DUNIA KEDUA

1).BUKU KARANGAN BUNG KARNO DIBAWAH BENDERA REVOLUSI  JILID I TAHUN 1961 , YANG BEBERAPA ILLUSTRASI DAPT DILIHAT DIBAWAH INI

*BR1-001 KULIT DEPAN

*BR1-001

*

BR1-002 gambar asli dalam buku Dibawah Bendera Revolusi jidid satu halaman depan,bila diperhatikan close upnya dengan saksama ternyata Bung Karno memiliki tahi lalat diaats bibir kiri,pantas jago sebagai orator.foto ini dibuat saatBung Karno   lulus sekolah HBS.

 

Lihat mata bung karno

Lihat hidung dan bibir bung karno,ada tahi lalatnya

*BR1-002

 

 

 

 

 

 

 

  1. MASA PENDUDUKAN JEPANG 1942-1945

1)KLIPING TULISAN BUNG KARNO SAAT DIBEBASKAN TENTARA PENDUDUKAN JEPANG DARI BENGKULU KE SUAMTERA BARAT

2) MAJALLAH PANDJI POESTAKA, nO. 19 , TERBITAN  KOKOEMIN TOSJOKJOKOE (PENERBITAN NASIONAL)  BALAI POESTAKA JAKARTA,15 AGOESTOES 2602(1942) TAHOEN XX HAL 652-653.

hal 652  JUDUL RUBRIK PERAJAAN MIRADJ isinya antara lain :

” Malam minggoe jl mesdjid  Kwitang penoeh dengan oemat Islam yang ingin toeroet merajakan  hari Mi’radj Nabi Besar kita Moehammad s.a.w.  dari kalangan oelama  ada terdengar chotbah  yang berharga malam itu.  Poen Ir  Sukarno ada djoega hadir  pada malam itoe  dan toroet memberikan pemandangan.”

hal 653  berisi berita : “Komite perajaan itoe (Mi’rajd )  serta Pergerakan Tiga A tjabang Djakarta. Foto  Oemat berdoejoen-doejoen membandjiri Keboen Binatang  terlihat didepan rombongan Bung Karno * 005

dan foto Ir soekarno lagi berchotbah dengan penoeh semangat dalam perajaan Mi’radj di Keboen Binatang*006

*005

*006

(Kebun binatang yang dimaksud adalah kebun binatang yang didirikan oleh pelukis Raden Saleh dibelakang Rumah Pribadinya-saat ini jadi rumah sakit Cikini dan kebun binatang berada   dijalan Cikini Raya Jakarta Pusat, saat ini sudah dipindahkan keluar kota Pasar Minggu dan di tempat tersebut didirikan Taman Ismael Marzuki.-Dr Iwan )

3) FOTO ANGGOTA CHUO  SANGI IN  BADAN PERTIMBANGAN CIPTAAN PEMERINTAHAN PENDUDUKAN JEPANG , ADA DUA KOLEKSI PERTAMA DARI MASA PENDUDUKAN JEPANG   *DN001 DAN DARI BUKU KARANGAN IBU FATMAWATI Bung karno  diurutan sudak kanan bawah dna diatas foto ayahnay presiden Abdul Rahman Wahid, Wahid Hasyim.*DN002

*DN001

*DN002

4)FOTO BUNG KARNO DENGAN JENDRAL TOYO DI JEPANG *DN OO3 (Kejujuran Saudara Tua,majalah Tempo,13 Desember   1986,hal 20)

*DN003

5) INFORMASI PERTEMUAN BUNG KARNO DENGAN MAHASISWA SOEJATMIKO,SOEDARPO DAN SOEBADIO DIRUMAH BELIAU  PADA TAHUN 1943TANPA ILLUSTRASI *DN004( Soedjatmiko,Pilihan Dan peluang revolusi Indonesia setelah 45 tahun .Beberapa refleksi pribadi,Sejarah Pemikiran,Rekonstruki ,Persepsi no 1. MSI & GRamedia Pustaka Umum Jakarta 1991)

6) foto Bung Karno Ikut latihan Militer Tentara Pendudukan Jepang dalam majallah bahasa Belanda  ( Mr Mas slamet,Japamsche Intrigues,Buijten $Schipperhijn,Amsterdam,26 januari 1946,ex perpustakaan Biara Padua Tjitjurug,saat ini koleksi pribadi Dr IWAN S):

(1) foto illustrasi buku halaman  9, Bung Karno belajar hormat senjata kepada prajurit Dai Nippon *DN005

*DN005

(2) Foto illustrasi buku halaman 10, BungKarno belajar menembaksenapan karaben kepada tenetara Dai Nippon*DN006

*DN006

7) foto klipping karangan Bung Karno Judul Djawa Senotai! *o12 dan  foto lain dalam buku fatmawati anatara lain Foto Bung Karno berpidato  di Gang Kenari Djakarta *DN008 , Foto Bung Karno dan pemimpin pemerinatahan pendudukan Jepang Gunseikan *DN009, Bung Karno dan romusha *DN0010, Foto Bung Karno dan Ibu Fatmawati ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan dalam sebuah pertunjukan sandiwara “Fadjar Telah Menjinsing” dalam rangka memperinagti berdirinya Perserikatan Oesaha Sandiweara Jawa*DN 011,Foto Bung Karno Menyambut adanya Janji kemerdekaan dikemudian hari bersama pemuda-pemudi Djakarta *DN012, foto surat kabar Asia Raya  mengenai Indonesia Merdeka ,Kemerdekaan kemoedian didjanjikan Dai Nippon Taikoku*DN013, dan Foto Ibu Fatmawati menjahit bendera pusaka Merah Putih *DN014 ,Foto Bung Karno memimpin kerja bakti bersama para Romusha didaerah banten *DN015   ( buku  Bunga  rampai ?Karangan Ibu Fatmawati,kulit buku sudah hilang sehingga  info tak lengkap)

8)Dokumen asli Anggota Tjoeoe Sangi -In 2603(1943)*DN TSI001 dan oo2

*DNTSI

(1) lembar pertama  foto Bung Karno sebagai Ketua *DN 016 dibagian tengah

*DN016

dan 20 foto anggota di pingir dokumen *020  dan Dr Boentara *DN017 serta  dua puluh  anggota (nomor 21 -40) *DN018, serta tokoh terkenal BUng Hatta sebagai anggota no tiga puluh * DN019, Oto Iskandar Dinata no  tiga delapan*020, Profesor Hoesaein Djajadiningrat no anggota tiga *021 dan Wachid Hasyim (ayah alm Gus Dur) anggota nomor enam belas *022

(2) lembaran kedua foto dua orang wakil Ketua KOesoemo Oetojo *DN023

(3) VIDEO EIGAKU KAISHA, SIDANG TJUA SIANGI-IN KE IV. *DN 024 SAMPAI DN 034

  1. MASA PERANG KEMERDEKAAN 1945-1950

 

1) Pidato Presiden Soekarno Dalam mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 (8X17 Agustus,bag.dokumentasi,Kementrian Penerangan RI,Jakarta,Stensilan Asli,1954), bukuDBR jilid dua tidak dicantumkan.Sesuai dengan ejaan aslinya :  Saudara-saudara sekalian! Saja telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menjaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sedjarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berdjoang,untuk kemerdekaan tanah air kita.Bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombangnja aksi kita untuk mentjapai kemerdekaan kita itu ada naiknja dan ada turunnja,tetapi djiwa jita tetap menudju kearah tjita-tjita. Djuga didalam djaman Djepang,usaha kita untuk mentjapai kemerdekaan-nasional tidak berhenti-berhenti. Di dalam djaman Djepang ini,tampaknja sadja kita menjandarkan diri kepada mereka.Tetapi pada hakekatnja , tetap kita menjusun tenaga kita sendiri,tetap kita pertjaja kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnj kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita didalam tangan kita sendiri.Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri,akan dapat berdiri dengan kuatnja. Maka kami,tadi malam telah mengadakan musjawarat dengan pemuka-pemuka rakjat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusjawaratan itu seia-sekata berpendapat,bahwa sekaranglah datang saatnja untuk menjatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara! Dengan ini kami menjatakan kebulatan tekad itu.Dengarkanlah proklamasi kami : PROKLAMASI. Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan KEMERDEKAAN INDONESIA.  Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta ,17 Agustus 05 ,Atas nama bangsa Indonesia SOEKARNO-HATTA. Demikianlah,saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi jang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menjusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia- merdeka kekal dan abadi.Insja Allah,Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!

( Pidato ini diketik tanpa spasi   sesuai kalimat aslinya, agar tidak ditambah atau dikurangi dari aslinya-Dr Iwan S)

2) KOLEKSI NOMOR PERINGATAN ENAM BULAN MERDEKA TERBITAN HARIAN MERDEKA 17.2.1946

3) KOLEKDI MAJALAH NOMOR KHUSUS PERINGATAN SETAHOEN REPOEBLIK INDONESIA 17.8 .1946ITERNITKAN BADAN PENERBIT NASIONAL.

*ILLUSTRASI KULIT DEPAN GAMBAR  GUNUNG KARANG DENGAN OBAK BEWARNA MERAH PUTIH DENGAN  MOTTO MERDEKA SAMPAI AKHIR ZAMAN.

ISI YANG TERKAIT BUNG KARNO

(1) REPRO SURAT KABAR SOEARA ASIA TENTANG PROKLAMSI INDONESIA MERDEKA De ngan  narasi :  MAKA  TERSIARLAH PROKLAMASI INDONESIA MERDEKA -dalam soesana tekanan militer Djepang- diseloeroeh Tanah Air, bahkan diseloeroeh doenia melaloei lima  boeawana dan empat samoedra.

(2)tulisan PRESIDENT KITA ,DILENGKAPI DENGAN  ILLUSTRASI FOTO presiden soekarno

(3) tulisan hal -11 judul ” MENOEDJOE KE PARLEMEN SEMPOERNA,’  dengan illustrasi  foto bung karno dengan kabninet soekarno sebelah kiri dan  kabinet Sjahrir sebelah kanan(baca tulisan prof soedjatmiko  tentsang kolaburator Jepang dibaba masa pendudukan Jepang sbelum ini-pen) dengan narasi dibawah foto : PADA TABNGGAL 23 NOVEMBER 1945  KABINET SOEKARNO(KIRI)  MENYERAHKAN KEKUASAAN  KEPADA (KANAN) KABINET SJAHRIR ,  bung karno berada ditengah.

(4) hal 64 illustrasi foto Buung Karno,Bung Hatta dan Jendral Sudirman men injau Kapal perang Angkstsn Laut NRI, narasi :” ANGKATAN LAOET REPUBLIK INDONESIA MENDJAMIN KESELAMATAN NEGARA,NOEASA DAN BANGSA”

4)KOLEKSI MINGGOAN UMUM  “SOEARA MOEDA’  NOMOR 63/64 27.8.1946

JUDUL. KENANGAN 1 TAHOEN MERDEKA

*ill.Bung Karno dan Pangeran Diponegoro

POEDJA

P.DIPONEGORO DAN BOENG KARNO , KEODA2NJA PAHLAWAN KEMERDEKAAN. BEDANJA HANJA, JG SEORANG TELAH MENGHADAP TOEHAN,JG. SEORANG MASIH BERDJIWA. KEPADA  JG TELAH PERGI KAMI DO’AKAN MENDAPAT TEMPAT BAIK DIHADLIRAT TOEHAN DAN JG MASIH HIDOEP SEMOGA  SENATIASA DILINDOENGINJA DLM PERDJOEANGAN MEMIMPIN REVOLUSI INI.KITA PERTJAJA BAHWA PERDJOEANGAN KITA AKAN BERHATSIL SEBAGAI HARAPAN KITA : TETAP MERDEKA.

5) 28 JULI 1947

PADA HARI INI DITERBITKAN UANG REVOLUSI nri :  GAMBAR BUNG KARNO  NOMINAL SERATUS RUPIAH, TANDA PEMBAJARAN JANG SAH,NOMOR SERI  SDA 1 DITANDA TANGANI MEN

  1. MASA ORDE LAMA 1951-1965

1)BUKU KUNJUNGAN PRESIDEN TIONGKOK LIE SHOU CHI KE INDONESIA DENGAN FOTO KULIT DEPAN BUNG KARNO DAN PRESIDEN TIONGKOK TERSEBUT DIATAS MOBIL BUNG KARNO RI 1

3.BUKU TERBITAN KEMENTERIAN PENERANGAN TAHUN 1958 BERJUDUL  Beberapa fikiran dan pandangan :DUA PEDJUANG NASIONAL INDONESIA-YUGOSLAVIA Josip Broz-Tito  -Dr I r Hadji Soekarno, Pertjetakan Negara-Djakrta-443/B-1958. Buyku ini dengan gambar kulit depan kedua pejuang Nasional tersebut.

4.Buku terbitan Kedutaan Amerika Serikat Jakarta ,judul Foto=foto  dan Reportase tentang Perjalanan  PRESIDEN SOEKARNO DI AMERIKA SERIKAT, FOTO KULIST DEPAN  Bung Karno yang memegang tongkat pusakanya dan Guntur Sukarno didepan patung Abrahan Lincoln di tugu Lincoln Memorial ,Washington .D.C.  dan gambar halaman belakang di Pennsylvania Avenue di Washington ,sebuah panggung didirikan untuk menyambut kedatangan Presiden Soekarno setinggi kira-kira 10 meter,didampinggi oleh bendera-bendera Indonesia dan Amerika setinggi 10 meter. Dia ats panggung ini kepada Presiden Soekarno diserahkan Kunci Kota , ialah sebagai pernyataan selamat datang.

Buku brosur ini siterbitkan untuk memringati kunjungan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat yang telah menimbulkan pengartian yang lebih baik dari tanggal 16 Mei – 3 Juni 1956.

Buku brosur  ini sangat menarik karena dilengkapi dengan  gambar peta perjalanan bung Karno, dan  illustrasi foto hitam putih dan berwarna sebanyak delan puluh satu gambar ilustrasi buku , dan pada kulit belakang bagian dlam tertulis ucapan bung karno dengan foto Bung Karnoi melambaikan tanggan :

‘…. DAN SEKARANG, TUAN RUMAH BANGSA AMERIKA, KAWAN2 SAJA DI AMERIKA , SAJA AKAN MENGUTJAPKAN SELAMAT TINGGAL KEPADA SUADARA2. PERHUBUNGAN KITA SEKARANG TELAH MENDJADI LEBIH ERAT DAN MARILAH KITA BERTEKAD AGAR PERBUHUNGAN ITU TETAP ERAT’ (dalam ejaan lama ,asli seperti dalam buku tersebut).

  1. PRANGKO BUNG KARNO
  2. MASA PERANG KEMEDEKAAN(1945-1949)

2  MASA RIS(1949-1950)

  1. MASA ORDE LAMA (1951-1965)

III. MATA UANG BUNG KARNO

  1. KARYA SENI TERKAIT BUNG KARNO

V.KOLESI BUNG KARNO JENIS LAINNYA

 

*ill 001

SEKILAS MUSEUM DUNIA MAYA :” KOLEKSI BUNG KARNO”

Kreasi Dr IWAN S Berdasarkan Koleksi Pribadi dan sumbangan teman-teman,

Buku-Buku Karangan Bung Karno,

serta Koleksi Unik pribadi lainnya yang terkait dengan Proklamator dan Presiden pertama RI.

Museum Dunia Maya  Pribadi untuk seluruh Bangsa Indonesia.

Berisi Koleksi Bung Karno dari Tamat HBS sampai Pernikahan puri bungsunya Kartika Sukarno

* ill001 Bung Karno Profile saat lulus HBS (setingakat SMEA saat INI) dan *ill 002 Peata pernikahan Kartika Sykarno dengan suami , Ibu Dewi sukarno, Ibu Megawati,dan Bapak Guruh Sukarno Putra

*ill 002

Jakarta @Hak Cipta Dr IWAN S 2010

 

_____________________________________________________________________________

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Saya memberanikan diri membangun sebuah museum Dunia Maya atau cybermusuem” KOLEKSI BUNG KARNO “  khusus untuk seluruh rakyat Indonesia dan pecinta Bung Karno dimanapun ia berada , dengan penuh kesadaran atas keterbatasan saya yang hanya seorang pensiunan dokter, petualang dan kolektor benda unik serta informasi terkait lainnya yang tentunya bukan pakar dan ahli dibidang museum dunia maya , tetapi berandalkan  tekad  yang bulat dan pengalaman sebagai kolektor senior yang banyak membaca literatur terkait bidangnya menyusun tulisan dan illustrasi ini berdasarkan koleksi yang sudah dihimpun hampir lima puluh tahun dengan maksud dan tujuan agar informasi tentang koleksi Bung karno pribadi dan koleksi unik terkait Bung Karno dapat di ketahui oleh rakyat Indonesia terutama  generasi penerus  secara gratis, oleh karena itu saya perlu dukungan moril ( semangat)  dan matrial (dana operasional untuk Konsultan profesional) , maka besar harapan saya seluruh kolektor Indonesia untuk mendukung proposal Musuem Dunia Maya  ini liwat  komentar, dan dukungan sponsor dari pencinta Bung Karno seperti yaysan BK, Metro Tv , Penerbit PT Gramedia dan sebagainya.karena informasi yang ada saat saya eksplorasi dengan google di Internet masih sangat terbatas.

Saya sadar Museum Dunia Maya   ini dibuat dengan pengantar  bahasa Indonesia ,karena sesuai arahan Proklamator dan Presiden Republik Indonesia Pertama yang lebih senang di sebut sebagai Bung Karno agar kita harus berdikari dan bangga dengan bangsa kita sendiri yang termasuk bangsa besar yang jumlah penduduknya nomor tiga didunia setelah Tiongkok dan India sehingga perguakanlah Bahsa Tanah Air sendir Bahasa Indonesia .

Pecinta Bung Karno dari  berbagai bangsa asing sepantasnya mengenal bahasa Indonesia agar dapat meresapi tulisan ini karena banyak istilah yang sangat sulit untuk diterjemahkan kebahasa asing seperti Inggris, Jerman, spanyol atau Belanda, untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya,juga atas kekeliruan dan kekurangan yang masih ada dalam tulisan ini, masukan sangat diperlukan agar tulisan elektronik ini dpat disempurnakan pada edisi mendatang.lihatlah poster Bung Karno yang sangat kharismatik INGAT!!*001

*001

Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh teman-teman yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu ,terutama Pak  Herry Hutabarat, Pak Sofyan lampung,almarhum guru saya Frater Servaas dan almarhum Prof.Suparlan yang telah memberikan masukan ide untuk mengumpulkan koleksi serta informasi yang unik dan langka bagi generasi penerus.terimakasih juga kepada Pak Ali Baswedan yang telah menyokong terbitnya buku elektronik ini dan berkean memberikan tambahan informasi untuk Bab khusus tambahan KOLEKSI PUSAKA BUNG KARNO.

Upload di web nomor dua

11 september 1941

Inilah sekelumit kisah asmara Sukarno – Fatmawati. Begitu unik. Begitu mambara. Begitu dalam. Berikut ini adalah sepenggal kalimat cinta Bung Karno kepada Fatmawati, melalui sepucuk surat cintanya tertanggal 11 September 1941…

 

O, Fatma, jang menjinarkan tjahja. Terangilah selaloe djalan djiwakoe, soepaja sampai dibahagia raja. Dalam swarganya tjinta-kasihmoe….

 

pertalian cinta terjadi saat Bung Karno diasingkan di Bengkulu. Ketika itu, tentu saja. Bung Karno sudah beristrikan Inggit Garnasih, dan tidak dikaruniai putra. Tetapi, bukan Bung Karno kalau tidak berjiwa ksatria. Meski harus mengorbankan hubungan yang begitu baik, tetapi niat menyunting Fatma, toh tetap diutarakan juga kepada Inggit.

 

Sepulang dari pengasingan, Bung Karno selalu murung. Ia benar-benar dilabrak demam cinta. Anak angkatnya, Ratna Juami dan suaminya, Asmara Hadi, mengetahui bahwa Bung Karno sedang demam cinta, demam rindu kepada Fatmawati nun di Bengkulu sana.

 

Ratna dan Asmara Hadi pula yang memohon-mohon kepada Inggit, agar merelakan Bung Karno menikahi Fatmawati.

 

Inggit keukeuh menolak dimadu, dan menyepakati perceraian.

 

Inggit sepakat kembali ke Bandung. Hari terakhir bersama Bung Karno, Inggit menyempatkan diri ke dokter gigi. Bung Karno masih setia menemani.

Bahkan ketika bertolak ke Kota Kembang, Bung Karno pun turut serta.

Turut membongkar barang-barang Inggit. Setelah mengecek dan memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal, Bung Karno pun mengucapkan selamat tinggal kepadanya

(Penasukarno)

Juni 1943

Nah, bulan Juni 1943, Bung Karno menikahi Fatmawati. Bung Karno di Jakarta, sedangkan Fatmawati ada di Bengkulu.

 

Bagaimana mungkin? Bung Karno menikahi Fatmawati secara nikah wakil. Sebab, kalau harus mengurus perizinan ke Jakarta untuk Fatma dan seluruh keluarganya, pada saat itu, sangat musykil. Di sisi lain, karena tuntutan pergerakan dan perjuangan, Bung Karno pun tidak mungkin meninggalkan Jakarta ke Bengkulu untuk menikah. Di sisi lain, Bung Karno merasa, tidak mungkin bisa menahan lebih lama lagi untuk menikahi Fatmawati.

Menurut hukum Islam, perkawinan dapat dilangsungkan, asal ada pengantin perempuan dan sesuatu yang mewakili mempelai laki-laki. Maka, Bung Karno segera berkirim telegram kepada seorang kawan akrabnya di Bengkulu, dan memintanya menjadi wakil Bung Karno menikahi Fatmawati. Kawan Bung Karno ini pun bergegas ke rumah Fatmawati, dan menunjukkan telegram dari Bung Karno. Orangtua Fatmawati menyetujui gagasan itu. Alkisah, pengantin putri dan wakil Bung Karno pergi menghadap penghulu, dan sekalipun Famawati ada di Bengkulu dan Bung Karno di Jakarta, pernikahan itu pun dilangsungkan, dan keduanya sudah terikat tali perkawinan

(pena sukarno)

Proklmasi 17 agustus 1945

Pidato bung Karno

1946

 

 

 

 

 

 

1949

 

 

 

 

Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama ini membuat geger Indonesia pada zaman presiden Soekarno. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Markonah berumur 50-an. Wajahnya lumayan menarik. Tapi ia memiliki cacat di matanya sehingga selalu memakai kaca mata hitam.

Pasangan suami-istri itu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.

Hebatnya para pejabat memberikan sambutan yang luar biasa kepada mereka. Mereka dijamu, dielu-elukan, diajak foto bersama dan mendapat liputan media massa. Entah bagaimana ceritanya, kemudian ada seorang pejabat yang memperkenalkan sang raja dan ratu itu kepada Presiden Soekarno.

“Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat,” jelas sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong saat berbincang dengan detikcom.

Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Maka Soekarno pun mengundang Idrus dan Markonah ke Istana Merdeka. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.

Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat.

Namuan kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Fakta berbicara lain tentang Raja dan Ratu unik tersebut. Idrus dan Markonah yang dianggap raja dan ratu yang bisa membantu Indonesia membebaskan Irian Barat ternyata hanya penipu kelas kakap. Kedok mereka terbongkat saat suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta.

“Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. “Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” beber Anhar Gonggong yang kemudian tertawa terkekeh.

Anhar menganalisa, Soekarno bisa tertipu Idrus dan Markonah karena ia sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu juga, karena sebagai pemimpin, Bung Karno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat. “Itu penyakit pemimpin kita, selalu ingin kelihatan dekat dengan rakyat,” ulas Anhar.

Skandal Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana. Ternyata penipuan dengan korban istana tidak berhenti pada zaman Soekarno. Kasus serupa bahkan kembali berulang pada pemerintahan selanjutnya

(penasukarno)

 

 

Benang Merah Pidato Bung Karno (4-Selesai)

Berikut bagian ke-4 dari empat bagian nukilan pidato Bung Karno. Periode ini mengutip pidato Bung Karno periode 1961 – 1966. Setelah itu Bung Karno tidak lagi tampil membahana di podium peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Pidato tahun 1966 adalah pidato kenegaraan terakhirnya.

1960

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA PEMBUKAAN SIDANG PERTAMA M. P. R. S.

DI GEDUNG MERDEKA BANDUNG

PADA HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER 1960

……………………………………………………………

Dan sebagai tiap2 rakjat jang menderita, maka rakjat Indonesia ingin melepaskan diri daripada penderitaan itu. Dan dalam usaha untuk melepaskan diri daripada penderitaan itu, sekali lagi rakjat Indonesia menjalankan penderitaan2. Korbanan2 jang amat pedih. Untuk mengachiri pen-deritaan, rakjat Indonesia mendjalankan penderitaan. Ini tampaknja adalah satu paradox, tetapi paradox sedjarah, hisrorical-paradox. Penderitaan rakjat jang dilakukan oleh rakjat untuk melepaskan diri daripada penderitaan, sudah dikenal oleh kita semuanja. Dikenal olah kita semuanja dalam bentuk Pah-lawan-pahlawan jang gugur, jang mereka itu arwahnya pada ini hari kita peringati.

Dan Pahlawan2 yang gugur ini bukan sadja jang gugur sedjak kita memasuki taraf physical revolution didalam usaha kita untuk melepaskan diri kita daripada penderitaan, tetapi Pahlawan jang gugur, djuga sebelum adanja physical revolution kita itu, Pahlawan jang gugur dalam abad ke-17, Pahlawan-pahlawan jang gugur dalam abad ke-18, Pahlawan2 jang gugur dalam abad ke-19, Pahlawan jang jang gugur dalam apa jang kita namakan Gerakan Nasional, dan bukan sadja Pahlawan2 jang gugur, tetapi kita pada ini hari djuga memperingati semua Pahlawan2 daridjang telah menunjukkan kepahlawanannja diatas padang pelaksanaan Dharma Bhakti terhadap kepada Ibu Pratiwi.

Bukan sadja terbajang dihadapan mata chajal kita Pahlawan2 dari Sultan Agung Hanjokrokusumo, atau Pahlawan2 dari Untung Suropati, atau Pahlawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau Pahlawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau Pahlawan2 dari Pangeran Diponegoro, atau Pahlawan2 dari Teuku Tjiek Ditiro, atau Imam Bonjol, bukan hanya Pahlawan2 itu jang gugur dimedan pertempuran atau tidak gugur dimedan pertempuran, tetapi djuga Pahlawan2 kita didalam Gerakan Nasional, jang mereka itu bernama dan kita beri nama Pahlawan, oleh karena mereka telah mempersembahkan Dharma Bhaktinja serta kobanannja jang pahit-pedih diatas Persada Ibu Pratiwi.

Terbajang dimuka mata chajal kita, ratusan ribuan Pemimpin2 kita daripada Gerakan Nasional itu, jang telah meringkuk didalam pendjara. Terbajang dihadapan mata chajal kita, Pemimpin2 kita jang menderita pahit pedih, ditempat2 pembuangan. Terbajang dimata chayal kita, Pemimpin2 kita jang dengan muka bersenjum menaiki tiang penggantungan. Terbajang dimata chayal kita, Pemimpin2 kita jang menadahi pelor daripada squadron2 pendrelan2. Terbajang dimuka chayall kita, deritaan daripada rakjat kita jang untuk Perdjuangan itu mengorbankan segala2nja.

Ada jang mengorbankan suaminja, ada jang mengorbankan anaknja , ada jang mengorbankan harta-bendanja, ada jang mengorbankan isi-hati ketjintaan mereka jang mendjadi tiang daripada djiwa mereka itu. Pendek kata mengorbankan segala2nja, dan mereka ini Pahlawan pula.

——————————————————————————-

Djikalau Saudara2 membatja Undang2 Dasar 45 itu, njata djelas bahwa semangat daripada Undang2 Dasar 45 ini ialah apa jang diamanatkan oleh Rakjat didalam ia punja penderitaan jang berwindu-windu, berabad-abad. Maka oleh karena itu ada baiknja barangkalil saja batjakan lebih dahulu Preambule daripada Undang2 Dasar itu:

“Bahwa sesunggunja Kemerdekaan itu ialah hak segala Bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan perdjoangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat jang bahagia dengan selamat-sentausa menghantarkan Rakjat Indonseia kedepan pintu gerbang Kemerdekaan Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.Atas berkat Rahmat Tuhan Jang Maha Kuasa, dan didorongkan oleh keinginan luhur supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas — maka Rakjat Indonesia mennjatakan dengan ini Kemerdekaannja. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia, jang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonsia, dan untuk memadjukan kesejahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan Kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Indonesia itu dalam Undang2 Dasar Negara Indonesia jang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia
jang berkedaulatan Rakjat, dengan berdasarkan kepada ke-Tuhanan jang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan Kerakjatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusjawaratan Perwakilan serta dengan mewudjudkan satu Keadilan Sosial bagi seluruh rakjat Indonesia”.

Preambule ini Saudara2, saja ulangi lagi, mentjerminkan dengan tegas dan djelas: Amanat Pendeitaan Rakjat. Tjerminkan dengan djelas didalam kata-pembukaan ini, tiga kerangka sebagai jang saja utjapkan dalam pidato saja 17 Agustus 1959, jang kemudian terkenal dengan kata pidato Manipol.

Tiga kerangka, satu Negara Kesatuan, didalamnja satu masjarakat jang adil dan makmur, didalam rangkaian persahabatan dengan semua Bangsa didunia. Preambule ini Saudara2, dibuat dan dirantjangkan, kemudian disjahkan oleh Pemimpin2 kita sebelum kita mengadakan Proklamasi 17 Agustus 1945. Apa sebab, kataku tadi, oleh karena Pemimpin2 kita pada waktu itu semuanja merasa meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat sehingga didalam Preambule ini ditjerminkan olehnja apa yang diamanatkan oleh rakjat dengan deritaanja itu, kepada kita semua. Tiga kerangka ternjata tertulis didalamnja. Dan bukan saja tiga kerangka ini, sebagai Saudara2 pun telah mengetahui, didalam Preambule ini telah tertjermin pula Dasar daripada Negara jang akan datang, dan jang kemudian datang, jaitu jang terkenal dengan nama Pantjasila.

——————————————————————

Saudara2, maka dengan Demikianlah Saudara2 sudah djelas, sebagai tadi saja katakan, pekerdjaan Saudara2 adalah berat mulia,— tetapi sebenarnja tidak terlalu berat, dan mulia,— malahan saja minta kepada Saudara2 jang mulia tetapi tidak terlalu berat. Saja minta kepada Saudara2 djanganlah bertele-tele, Saudara2.

Saudara2 tahu bahwa Konstituante, jang bersidang digedung ini bertele-tele, sehingga achirnja saja bubarkan Konstituante itu. Tetapi Saudara2 kemudian didalam gedung ini pula Depernas bersidang dan Depernas menebus, menebus noda, jang djatuh kepada tubuh bangsa Indonesia. Noda, oleh karena Bangsa Indonesia didalam Revolusi tidak boleh bertele-tele, padahal Konstituante bertele-tele, noda ini ditebus oleh Depernas, didalam waktu jang singkat Depernas telah menjusun ia punja pola. Oleh karena itu sebagai tadi saja njatakana saluut kehormatan kepada Depernas umumnja, chususnja kepada Ketuanja, Prof. Mr. Moh. Yamin.

Ingat Saudara2, sebagai tadi saja katakan, Pembangunan Semesta harus lekas berdjalan, garis besar haluan Negara harus lekas disjahkan atau diperkuat oleh Saudara2. Kita sudah memiliki Negara lima belas tahun lamanja, Negara memerlukan tegas haluannja, Pembangunan membutuhkan tegas garis2 besarnja. Segala alat perlembagaan jang tadi disebutkan oleh Saudara Ketua, baik M.P.R. maupun D.P.A., maupun Mandataris pada M.P.R. jang bernama Presiden, dengan ia punja pembantu2 pelaksanaan mandat daripada M.P.R. itu, maupun Lembaga jang telah saja adakan jang bernama Depernas, semua Lembaga2 ini tak lain tak bukan, hanjalah alat-alat Revolusi.

Meskipun Lembaga2 ini ditjantumkan didalam Undang2 Dasar 45, toh saja berkata Lembaga2 ini sekadar alat Revolusi, bahkan Undang2 Dasar 45 adalah alat Revolusi Saudara2, bahkan Negara adalah alat
Revolusi. Bahkan Negara adalah sekadar satu bagian sadja daripada Amanat Penderitaan Rakjatm, Negara itu adalah satu alat melaksanakan Amanat Penderitaan Rakjat, jaitu suatu Masjarakat jang Adil dan Maknur, satu hidup Merdeka, satu hidup Internasional jang bersahabat dan damai dengan semua bangsa. Saudara2 adalah alat2 Revolusi dan djanganlah Saudara2 bertele-tele, sebab sebagai tempo hari saja katakan kepada Konstituante, “ met of zonder Konstituante”,—dengan atau tanpa Konstituante, Revolusi berdjalan terus,. Perkataan itu saja ulangi kepada Saudara2, — “met of zonder M.P.R.S.”,— dengan atau tanpa M.P.R.S., Revolusi berdjalan terus, Revolusi berdjalan terus tanpa Presiden Soekarno. Revolusi berdjalan terus tanpa Kabinet Kerdja,— revolusi berdjalan terus “met of zonder D.P.A.”— Revolusi berdjalan terus “met of zonder D.P.R.G.R.— Revolusi berdjalan terus “met of zonder M.P.R.S.”

Oleh karena itu saja minta kesadaran tentang hal ini kepada Saudara2 sekalian, garis besar sadja Saudara tentukan, dan pekerdjaan Saudara2 dipermudahdengan sudah adanja Manipol dan USDEK. Garis2 besar pembangunan Saudara tentukan, sudah ada Pola Depernas,—mungkin sekali malahan saja beri tambahan bahan pertimbangan,—tentukan sekedar garis2 besar sadja didalam garis besar ini. Ada memang soal2 jang prinsipiil, misalnja dalam hal Pembangunan bagaimanakah sikap kita, terhadap kepada persoalan dan loan dari luar negeri, ini satu haljang prinsipiil, apakah kita membenarkan investement luar negeri dibumi Indonesia, atau kita sebagai sudah saja katakan prefeer loan diatas investement apakah pendirian M.P.R.S, tentang “Joint-Enterprise” ataukah tidak apakah M.P.R.S. akan mengatakan garis besar pembangunan harus dilaksanakan tanpa atau djikalau perlu “met joint-enterprise” dengan modal asing, bagaimana pendirian MPRS terhadap kepada persoalan “production sharing ”. “Production sharing”— bolehkah kita didalam usaha pembangunan kita mendjalankan politik “production sharing”—, ini adalah hal garis besar dan pokok, konsertir Saudara punja pikiran sekadar atas hal2 jang demikian itu, dan tidak memasuki soal2 jang demikian jang djlimet, apalagi soal angka2 Saudara. Ja, perlu Saudara menarik besar angka2, tetapi djangan sampai djlimet2. Sebab angka2 itupun datangnja dari siapa, dari mana dari manusia pula. Dari pada orang2 jang bekerdja disesuatu Biro, ia berkata bahwa angkanja buat itu sekian, angkanja buat itu sekian.

Saja minta Saudara2 djangan djlimet, tetapi sebagaimana saja katakan kepada D.P.R. tempo hari, dan djuga kepada Konstituante, tiap2 Dewan harus menginsjafi bahwa dia adalah alat Revolusi tiap2 Dewan djanganlah mendjadi tempat untuk berdebat sadja, tiap2 Dewan djanganlah mendjadi tempat sekadar mengutjapkan pidato2 sadja, tetapi saja mengharapkan daripada Dewan Perwakilan Rakjat, daripada Dewan Perantjang Nasional, daripada Konstituante tempo hari, supaja Dewan2 ini adalah Dewan2 jang menelorkan konsepsi2. Konsepsi2 bagaimana kita bisa memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat. Jang diminta daripada Saudara2, dus jang diminta djuga daripada M.P.R.S., adalah konepsi. Saja minta kepada Saudara2 dan demikian pula Undang2 Dasar 45 tidak minta kepada Saudara2 Kedjlimetan, saja minta sekedar konsepsi. Undang2 Dasar 45 hanja meminta sekadar garis besar. Saja minta dus kepada Saudara2 individuil, supaja audara2 itu konseptor2, orang2 jang mengeluarkan tjipta, orang2 jang mengeluarkan rentjana baik politik maupun dilapangan pembangunan. Konseptor2 jang dikumpulkan didalam sidang besar jang bernama
M.P.R.S.

Ini Saudara2 pekerdjaan jang mulia, oleh karena memang tidak ada satu Bangsa baik menjelesaikan Revolusi tanpa konsepsi. Revolusi adalah realisasi daripada konsepsi. Dan tidakkah kita telah berulang2 berkata bahwa Revolusi kita belum selesai! Konsepsi masih diperlukan.

Adakah diantara Saudara2, seseorang jang berkata bahwa Revolusi kita sudah selesai, djikalau ada Saudara2 mengatakan bahwa Revolusi kita sudah selesai, taanja, tanja kepada Rakjat, sudahkah Revolusi kita selesai?

Tiap2 orang dikalangan Rakjat akan berkata, Revolusi kita belum selesai. Sebab apa jang diamanatkan oleh Rakjat didalam ia punja penderitaan jang sepedih-pedihnja, berabad-abad, berpuluh-puluh tahun jalah belum terpenuhi.

Oleh karena Amanat Penderitaan Rakjat ini belum terpenuhi, maka oleh karena itulah Rakjat berkata, Revolusi belum selesai.

Kita masih didalam Revolusi, dan masih melandjutkan Revolusi, dan Revolusi ini adalah sebagai tadi saja katakan, satu paradox untuk melepaskan diri kita daripada penderitaan, kita mendjalankan penderitaan2. Untuk melepaskan kita daripada perbudakan, kita mendjalankan perdjoangan melawan
perbudakan2 itu meskipun perdjoangan itu minta penderitaan.

Barangkali Saudara2 ada orang jang berkata, kena apa ini, Presiden selalu mengajak Pemimpin2 ber-Revolusi, ber-Revolusi, ber-Revolusi,— tidakkah sudah tjukup penderitaan dalam Revolusi itu? Tidakkah tjukup penderitaan, kena apa Presiden selalu mengandjurkan teruskan Revolusi, teuskan Revolusi, teruskan Revolusi, padahal tiap2 manusia mengetahui bahwa Revolusi adalah penderitaan, adalah korban mana perlu, adalah pemereasan tenaga, dengan belum tentu saat itu telah tertebusnja djandji daripada Revolusi itu?

Djikalau ada orang jang berkata demikian kepadaku, aku akan mendjawab: ,, Selama belum da seorang Ibu datang kepada saja, bahwa ia menjalahkan saja. Bahwa puteranja mendjalankan Revolusi, selama belum ada seorang Ibu menuduh kepada saja, bahwa saja membuatputeranja itu berdjuang, berdjuang, berdjuang
bahkan menderita, menderita menderita, bahkan berkorban, berkorban, berkorban, selama belum ada seoarang ibu jang berkata demikian kepada saja, saja akan tetap berkata: Revolusi Indonesia Belum selesai”.

Dan dalam hal itu saja ulangi lagi kepada Saudara2, Revolusi kita belum selesai. Saudara2 adalah alat Revolusi, bekerdjalah sebagai alat Revolusi, tjekatan, gesit, tjepat, oleh karena Rakjat me-nunggu2, Rakjat menunggu-nunggu akan salah satu hasil daripada perlembagaan Negara ini, jaitu M.P.R.S.

Dengan demikian Saudara2, maka Amanat jang saja berikan ini, saja anggap sebagai peresmian, pembukaan, Sidang Pertama M.P.R.S.

Moga2 Tuhan selalu memberkati kita.

Terima kasih.

 

1961: Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional (Resopim)

“…perlunya meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat agar meresap pula tanggung jawab terhadapnya serta mustahilnya perjuangan besar kita berhasil tanpa Tritunggal Revolusi, ideologi nasional progresif dan pimpinan nasional.

1962: Tahun Kemenangan (Takem)

“kulancarkan gagasan untuk memperhebat pekerjaan Front Nasional, untuk menumpas perongrongan revolusi dari dalam, dan bahwa revolusi kita itu mengalami satu “selfpropelling growth” – satu, yaitu maju atas dasar kemajuan, mekar atas dasar kemekaran.

1963: Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri)

“Tiada revolusi kalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus dan kalau ia tidak merupakan satu disiplin yang hidup, bahwa diperlukan puluhan ribu kader di segala lapangan. Bahwa Dekon harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena “Dekon adalah Manipolnya ekonomi”, bahwa abad kita ini “abad nefo” dan saya mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Conefo dan akhirnya tahun yang lalu.”

1964: Tahun Vivere Pericoloso (Tavip)

“Kuformulasikan 6 hukum revolusi, yaitu bahwa revolusi harus mengambil sikap repat terhadap lawan dan kawan, harus dijalankan dari atas dan dari bawah, bahwa destruksi dan konstruksi harus dijalankan sekaligus, bahwa tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua, bahwa harus setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol, dan bahwa harus punya sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat, juga kuformulasikan Trisakti “berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan”.

1965: Capailah Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)

“Lima Azimat”: Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol/Usdek (1959), Trisakti Tavip (1964), dan Berdikari (1965)- sebenarnya hanyalah hasil penggalianku, yang dua pertama dari masyarakat bangsaku, dan tiga terakhir dari Revolusi Agustus. Kelima pokok instruksiku itu harus terus disebar-sebarkan, diresapkan, diamalkan, sebab dari terlaksana-tidaknya instrukti itu tergantung pula baik tidaknya Front Nasional di hari-hari yang akan datang, baik tidaknya persatuan bangsa di hari-hari yang akan datang”.

1966: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)

Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah : “Never leave history”. inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.

Begitulah. Tahun 1967 adalah tahun kemunduran. Tahun klimaks usaha pembunuhan terhadap Sukarno oleh anak bangsanya sendiri. Indonesia Raya diruntuhkan, di atasnya berdiri bangunan kapitalis bernama Orde Baru. Sejak itu, berubahlah Indonesia, dari sebuah bangsa berdikari menjadi bangsa yang kembali “terjajah” oleh asing. Hingga hari ini. (roso daras)

 

http://penasoekarno.wordpress.com/2009/10/30/foto-soekarno-20/

100

146

Presiden Soekarno 726

Presiden Soekarno 727

Presiden Soekarno 728

 

Presiden Soekarno 729

Presiden Soekarno 730

 

Presiden Soekarno 731

Presiden Soekarno 732

Presiden Soekarno 733

Presiden Soekarno 734

Presiden Soekarno 735

 

 

 

 

 

CONTOH

THE VALUE OF BUNG KARBNO COLLECTION

PART TWO

 

The Value Of Bung Karno book

Buku Koleksi Patung Lukisan bung Karno Jilid V

Edit by Lee Man Foong the famous painters

Printing China

 

 

Dr Iwan memiliki jilid V yang kulit bukunya

Diatas.

Isi

Value

Buku Koleksi Lukisan dan Patung Presiden RI Soekarno Disusun Oleh Lee Man Fong Edisi Tahun 1964 dan tidak dicetak ulang lagi..!! Collector’s Items!! Terdiri dari 5 Set LENGKAP.. tidak dijual terpisah Tebal masing2 3cm, tebal 30 cm 3 Buku kondisi bagus,2 Kondisi agak rusak di ujung kanan bawah karena rayap(hanya pinggirnya, tidak mengenai gambar lukisan) Maaf Khusus Kolektor Serius Saja Dilelang Khusus Peminat Harga dasar pembukaan Rp 75.000.000 Happy Bidding…. Interested Please contact 0818146078 JACK

Sumber http://www.bejubel.com/110195/jual-beli-seni-desain-buku-koleksi-lukisan-dan-patung-presiden-sukarno-1964-lee-man-fong-murah-dan-diskon.html

 

 

The Value Of Bung Karno’s pictures

Value tiga juta rupiah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The value Of Bung Karno,s document

 

Dr Iwan have  

surat keputusan gubernur Henk Ngantung  Jakrta ditanda tangani Sukarno dengan lambang presiden

harga sulit di tentukan karena baru satu diketmukan

 

Surat Keputusan Presiden Soekarno dengan tanda tangan,

yang ada di bagian awal buku sebagai lampiran.

 

Bagian atas dari surat Keputusan Presiden Soekarno

 

Bagian bawah dari surat Keputusan Presiden 

lengkap dengan tanda tangan Soekarno

 

 

THE END

Copyright @ 2014

The Indonesian Radion History Collections

This is the smaple of Dr Iwan CD-Rom,if you want the CD

please contct my email iwansuwandy@gmail.co,

wirh upload your ID card and complete adress,the price only limaratus ribu rupiah sudah termasuk

biaya kirim liqat titipankilat,hanya untuk dalam negeri indsonesia saja.

Radiohistory

The Indonesian Radio History Collections

Created By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Limited E-Book In CD-Rom Edition

Special For Senior Collectors

Copyright @2014

 

 

Indonesia Radio Poster

 

 

Produk atau buatan Indonesia yang mendunia selanjutnya adalah Magno. Yaitu sebuah radio kayu asli buatan Indonesia yang sudah menebar frekuensi sampai Jepang, Amerika Serikat, Finlandia, Inggris, dan Prancis.

Konsep yang di tawarkan oleh Magno tergolong unik, yakni produknya di finishing dengan minyak kayu bukan Pernis. Karenanya sang pemilik harus rajin merawat radionya secara berkala agar tetap prima. Dan pria bernama Singgih Susilo Kartono, sang pencipta Magno, memiliki keinginan agar mengeliminir budaya pakai buang agar tercipta koneksi antara produk dan pemilik. Dengan harga sekitar 200 sampai 300 Dollar Amerika, Singgih menggunakan desainer link untuk menjual karyanya ini.

Sumber

http://zulkifli19.wordpress.com/2012/06/08/7-buatan-indonesia-yang-mendunia/

 

 

 

Magno

Magno adalah produk radio kayu asli Indonesia yag sudah menebar frekuensi sampai Jepang, Amerika Serikat, Finlandia, Inggris dan Prancis. Konsep yang disodorkan mango sangat Unik. Lantaran produk di-finishing dengan minyak kayu, bukan pernis, pemiliknya harus rajin merawat radionya secara berkala agar tetap prima. Rupanya Singgih Susilo Kartono, sang pencipta Magno, ingin mengeliminir budaya pakai buang. Maksudnya agar tercipta koneksi antara produk dengan pemilik. Karena harganya yang cukup mahal (200-300 doloar AS) Singgih menggunakan designer link untuk menjual produkn

Sumber

http://sharingdisini.com/2012/11/05/21-brand-indonesia-yang-disangka-brand-produk-luar-negeri/

 

 

Indonesian Radio History

Radio Buatan 1925 Masih Berfungsi Baik

2  0  0  0  0  0

SEJARAH: Pengunjung memperhatikan deretan radio kuno yang dipamerkan Padmaditya.

BERITA UTAMA | Oleh REZA ADITYA

Di era yang serba modern seperti saat ini, di mana hampir semua alat berbasis teknologi mengalami proses modernisasi. Dari yang semula serba manual berubah menjadi serba elektronik. Termasuk radio. Media komunikasi andalan di era perjuangan kemerdekaan itu kini seolah dilupakan. Untuk itulah, Pelestari Audio Lama dan radio Tabung Yogyakarta (Padmaditya) melakukan pameran radio lama di Jakarta.HARIS SUPRIYANTO, Jakarta

JIKA melihat dari nama pameran ‘Radio Lama’, tentu sudah bisa membayangkan siapa saja yang tertarik untuk melihat barang- barang lawas yang dipertontonkan di area Gedung Bentara Budaya tersebut. Tak ada anak muda, pun eksekutif muda. Sejak pameran itu dibuka, ha nya dikunjungi puluhan orang paruh baya yang bisa dipastikan pecinta-pecinta barang antik.

Sesaat memasuki ruang pameran, terasa begitu hidup di zaman lampau, semua barang antik itu seakan mengajak kita menikmati aksesoris sebuah ruangan yang hanya dapat ditemui di masa sebelum kemedekaan Indonesia. ”Wah, ini keren nih,” bisik salah satu pengunjung kepada teman di sebelahnya, saat melihat sebuah Radio berbentuk kotak cukup besar berwarna cokelat, di sebelah ujung ruangan.

Sementara para pengunjung lainnya, juga terlihat sedang serius melihat radio-radio lain yang dijejer di sepanjang pinggir ruangan terse but. Selentingan terdengar, salah satu pengunjung menanyakan konsidi sebuah radio berwarna hitam buatan 1940an yang terpajang di sebelah kiri ruang. ”Yang ini sudah tidak ada sound-nya pak,” jawab salah satu panitia Pameran.

Suasana itulah yang tergambar dalam pameran radio lama yang digagas oleh Pelestari Audio Lama dan radio Tabung Yogyakarta (Pad maditya ). Bagi penggagas Padmaditya, di zaman serba teknologi ini, radio cukup lang ka ditemui di berbagai tempat. Padahal tak dapat dipungkiri, keberadaan sebuah alat yang mampu mengeluarkan suara melalui gelombang pendek itu sangat efektif memberikan informasi kepada publik, ter utama rakyat Indonesia diawal masa ke mer dekaan.

”Ya kan Pak Karno (Presiden Soekarno) dulu membacakan (teks) proklamasi kemerdekaan, disiarkan langsung melalui radio. Maka nya, sebenarnya radio itu punya sejarah penting bagi kita,” terang aktivis Padmaditya, Didi Sumarsidi, saat ditemui INDOPOS, di Gedung Bentara Budaya Jakarta. Padmaditya berdiri tahun 2011 dengan beranggotakan 11 orang.

Tujuannya untuk melestarikan audio lama yang sekaligus menyajikan kelebihan radio lama yang dapat dilihat dari bentuknya yang unik, artistik, kualitas suara analog yang berbeda dengan audio terkini. Bersama para komunitas pecinta Radio ‘Jadul’ itu, pihaknya memamerkan sekitar 60 berbagi jenis radio dengan variasi produksi antara tahun 1930-1970 yang beredar seantera Nusantara. Didi mengaku, pihaknya memiliki koleksi hingga 400-an radio dan megaphone kuno.

”Selain untuk melestarikan ben da ajaib pada jamannya, ini juga lebih se bagai media bersilahturami lewat media ra dio,” ujarnya. Di ruangan berukuran sekitar 6×20 centimeter itu, pameran bertajuk ”Layang Swara” yang merupakan pameran ketiga setelah sebelumnya dilgelar di Yogyakarta dan Surbaya itu memajang radio yang dibuat pada tahuntahun tersebut dengan merk yang terkenal seperti Philips atau Erres, juga Telefunken dan Blaupunk.

”Bahkan sekitar 10 radio di antara merupakan buatan setelah masa revolusi dan kemerdekaan pada tahun 1960-an, yaitu radio tran sistor yang lebih ringan, mudah dibawa, dan menghasilkan kualitas suara yang baik pula,” paparnya. ”Kondisi puluhan radio dan megaphone kuno itu nisbi bagus ya berkisar 80 persen lah, karena cukup terawat,” yakin Didi, sembari memperdengarkan suara radio yang dibuat pada tahun 1925 yang masih mampu menangkap gelombang AM dan FM. Yang tak kalah unik, Padmaditya juga memamerkan salah satu radio kuno dengan merek ”Philips Aida” keluaran sekitar tahun 1946 pasca-Perang Dunia I

  1. Radio buatan Ein dhoven, Belanda itu dipajang di sebelah kanan pintu masuk ruang Pameran. ”Radio ini dilengkapi dengan skala gelombang radio yang dihiasi dengan nama-nama kota dengan ejaan lama seperti Batavia, Soera baia, dan Bandoeng,” urainya, seraya menunjukkan nama-nama tersebut. Masih di sebelah kanan ruangan, berjejer dengan Philips Aida terpajang juga radio yang memiliki keunikan pada jarum gelombangnya yang mirip dengan jarum kompas dengan merk ”Philips Kompas”.

”Ini (Philips Kompas) juga diproduksi pasca- Perang Dunia II. Kalau yang ini ”Bence” radio yang pertama kali diproduksi di Indone sia pada tahun 1950-an, ini dibuat daerah Di noyo, Surabaya. Nah, kalau ini megaphone kuno yang pernah dipakai dalam film tentang Soegija Pranata,” tambah Didi, sambil bergeser ke sebelah kiri ruang pameran.

Salah satu anggota Pradmaditya, Didi Widianto mengaku, dirinya tertarik dengan radio kuno, karena desain yang unik, dan nilai sejarah atau kelangkaan. ”Suaranya juga lebih natural karena memakai tabung dan sifatnya analog, beda dengan sekarang yang menggunakan transistor dan rekayasa digital,” katanya, menunjukkan salah satu Radio yang ter letak diatas meja bebentuk bulat, ditengah ruangan tersebut. (*)

- See more at: http://www.indopos.co.id/2014/04/terawat-radio-buatan-1925-masih-berfungsi-baik.html#sthash.vFcN0ZKt.dpuf

Sumber

http://www.indopos.co.id/2014/04/terawat-radio-buatan-1925-masih-berfungsi-baik.html

 

1954

Radio Transistor Tjawang [01741]

 

Di hari-hari yang kian padat dengan ritme semakin cepat ini, mendengarkan siaran radio pemancar (bukan streaming radio online) lewat radio transistor tua benar-benar sebuah selingan bermutu tersendiri. Berfungsi normal, radio ini menangkap frekuensi MW dan SW dengan baik, dengan suara khas sound lawas.

 Seluruh elemen dan kenop komplit, cat asli tanpa cuil, lengkap dengan antena. Hanya ada goresan samar-samar bertuliskan “Tjawang Transistor” di body atas (mungkin pemilik sebelumnya sangat bangga dengan radio ini; lihat foto terakhir), dan ada sedikit lengkung di papan penutup body belakang (lihat foto ketiga). Merk Tjawang ini made in Indonesia, alias produksi dalam negeri, yang mulai beroperasi dari tahun 1954. Berkarakter

Sumber

http://garasiopa.com/category/radio-tape-music-player/

 

 

 

1970

Indonesian Radio National

Radio National RE-4350B

Jenis radio ini merupakan salah satu favorit saya. Sebuah radio transistor jadul buatan National Gobel dengan 3 Band penerimaan, yakni MW, SW1, SW2 dan satu Input Auxiliary yang bertuliskan “Phono”.

Radio meja ini sekilas menyerupai sebuah radio tabung. Saya pun sempat mengira RE-4350B merupakan sebuah radio tabung, ketika dulu pertamakali saya melihatnya di salah pedagang barang antik di kota saya; Salatiga. Ketika itu saya sempat tawar-menawar dengan pedagang tersebut namun gagal mendapatkannya karena uang yang saya bawa ketika itu tidak mencukupi.

RE-4350B pertama saya jumpai di kios pedagang antik
RE-4350B yang dipajang di Perpustakaan Salatiga

Cukup menyesal juga ketika itu gagal transaksi, karena kondisi radio yang saya lihat pada saat itu masih nyaris sempurna. Radio produksi National Gobel sekitar awal 70an ini juga saya lihat ada di Perpustakaan Daerah Salatiga, sebagai pajangan antik yang diletakkan dalam lemari kaca. Hal tersebut membuat saya semakin berhasrat memiliki radio tersebut.

Kurang lebih setahun menginginkannya, akhirnya saya mendapatkan dari salah satu pemasok radio antik langganan saya. Saya cukup senang, meski kondisi RE-4350B yang saya dapatkan tidak se-sempurna yang dulu gagal saya dapatkan atau yang menjadi pajangan di Perpustakaan Umum di kota saya.

 

RE-4350B yang saya miliki


Radio Peralihan Dari Era Tabung

Body RE-4350B terbuat dari kayu lapis. Panel depan terbuat dari plastik dan penutup kain pada bagian loudspeaker nya. Ukuran dimensi radio ini boleh dibilang sangat besar untuk sebuah radio transistor, yakni: (panjang x tinggi x lebar) 404mm x 240mm x 150mm. Penampilannya sederhana namun elegan bagi saya.

Kain penutup speaker (salon) menempati 50% bidang depan bagian atas. Seharusnya terdapat emblem tulisan “Hi-fi Sound” yang terbuat dari plastik berwarna perak yang melekat di bagian atas salon (seperti tampak pada foto radio ini di kios pedagang antik yang gagal saya peroleh), namun pada radio yang saya punya emblem tersebut sudah hilang.

 

 

 

Tepat dibawah bidang salon terdapat strip plastik berwarna perak yang bertuliskan “3-Band National Solid State” di bagian tengah. Bidang kiri bawah ditemptkan skala meter tuning, dan sisi kanannya diisi 5 tombol kendali yakni (urutan dari kiri ke kanan): Tombol Volume berikut saklar ON-OFF, pengaturan Tone, saklar pemilih Band maupun Input Phono, tombol Fine Tuning, dan tombol Tuning. Sayangnya ketika saya dapatkan hanya 2 kenop saja yang ada, yaitu kenop Tone dan Band Selector. Tiga kenop lainnya sudah hilang. Sehingga terpaksa saya pasangkan kenop-kenop plastik seadanya dari koleksi kenop jadul yang saya punya.

Skala meter tuning di sisi kiri bawah
Kenop-kenop yang sebagian tidak ori


Input Phono mengingatkan kita pada masa-masa jaya-nya pemutar piringan hitam atau yang disebut Phonograph. Jadi radio ini menyediakan fungsi sebagai penguat / amplifier sinyal audio dari phonograph. Jika kita anlogikan pada era kini, bisa dibilang fungsi ini setara input dari iPod/ MP3 player.

Desain RE-4350B yang klasik ini tampaknya menyesuaikan trend penampilan radio-radio pada masa nya dulu, yakni radio-radio yang menggunakan tabung sebagai komponen aktifnya. Body radio besar. Ukuran yang besar ini memberikan nilai tambah bagi kualitas reproduksi suaranya.

Karena ruang akustik yang cukup besar maka suara yang dihasilkan pun menjadi Hi-fi. Cenderung nge-bass dan adem di telinga. Keras, namun tidak memekakkan telinga. Terlebih dengan tersedianya fasilitas pengaturan Tone, kita bisa mengatur tonasi suara yang dihasilkan. Biasanya saya mengatur Tone ke arah nge-bass ketika mendengarkan musik, dan cenderung treble ketika menyimak percakapan/ siaran berita dari gelombang radio luar negri melalui gelombang SW.

Sumber Daya

Radio antik ini bisa menggunakan AC maupun DC dalam pengoperasiannya. Pemilihan sumber daya baik AC maupun DC dipilih melalui saklar berwarna merah yang terdapat di bagian belakang radio.

Untuk sumberdaya AC, terdapat pilihan tegangan 110 volt atau 220 volt yang dilakukan dengan memutar saklar di bagian bawah radio menggunakan obeng minus. Pilihan tegangan ini di masa lalu sangat penting, mengingat pada era 70an besarnya tegangan AC belum sama di semua kota di Indonesia.

 

Untuk tegangan DC bisa menggunakan 6 buah baterai berukuran besar (D-size/ UM-1) atau menggunakan adaptor eksternal melalui port yang disediakan dibagian belakang pesawat. Meski pada port DC tersebut tertulis “12V DC”, namun saya kira 9v saja lebih aman dan lebih sesuai dengan perbandingan jumlah baterai yang digunakan (6 baterai x 1.5v = 9v).

Tutup belakang yang terbuat dari Hardboard
Port-port Antena luar, Grounding, Phonograph, Jack DC


Melihat ke Dalam

Ciri khas radio-radio transistor lawas National ketika hendak memasang baterai, adalah dengan jalan membuka tutup belakangnya. Tutup belakang terbuat dari hardboard yang dikunci dengan dua pengait berpuntir.

Wadah baterai melekat pada tutup hardboard, bukan pada bidang alas kabinet. Penempatan baterai secara vertikal seperti ini berpotensi baterai-baterai akan jatuh berantakan. Namun wadah baterai dibuat cukup rapat menjepit baterai, selain juga dilengkapi dengan selongsong-selongsong plastik guna menghindari baterai-baterai tersebut melejit.

Salah satu keunikan radio ini yakni menggunakan dua keping PCB yang terpisah. Satu PCB berisi rangkaian tuner dan oscillator, dan PCB lainnya merupakan rangkaian penguat-penguat IF serta Audio. Desain output audio-nya “transformerless” alias tidak menggunakan trafo IT-OT yang populer pada jamannya.

 

Port-port Antena luar, input Phono, serta DC Jack ter-solder langsung melalui kabel menuju titik-titik yang terkait pada PCB. Hal ini membuat kita perlu berhati-hati saat membuka tutup belakang, agar tak ada solderannya yang terlepas/ kabel yang terputus.

Penutup

Beberapa hal yang membuat saya suka radio ini yaitu:
1. Penampilannya yang klasik, menyerupai radio tabung -tanpa harus mengkonsumsi listrik sebesar radio tabung.
2. Penerimaannya yang sensitif di semua Band.
3. Suaranya yang Hi-fi, empuk di telinga. FiturTone Control nya pun sangat bermanfaat.
4. Fasilitas Fine Tuning yang sangat berguna ketika men-tuning gelombang SW.
5. Adanya port eksternal Antena serta grounding. Saya selalu menyukai radio-radio yang menyediakan colokan Antena luar karena saya nilai radio tersebut di desain secara extendable, terutama untuk peningkatan daya penerimaannya. Penggunaan Antena luar yang dihubungkan langsung dengan antena teleskopik akan berbeda hasilnya dibanding penggunaan port eksternal Antena yang dirancang dengan baik.

Secara umum radio cantik ini layak untuk menjadi barang koleksi bagi penggemar radio-radio tua.

sumber http://3lektronika.blogspot.com/2014/03/radio-national-re-4350b.html

Vintage National Transistor 2 Band Radio Model RL 4240 – NOS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah radio transistor kuno merk NATIOANAL yang sangat terkenal. Produksi PT. National Gobel Indonesia.

Bahan dari triplek, dan plastik, dengan warna hitam, coklat dan sedikit kroom. Ada tiga  kenop yang berada dibagian depan yang berfungsi sebagai, pemilih band, pemutar gelombang, dan kenop untuk menghidupkan dan mematikan, serta mengatur kuat lemahnya suara.

Ada lubang jack untuk speaker luar pada bagian kanan bawah. semua bekerja dengan baik dan sempurna. Untuk pemasangan baterai ukuran D x 4, tinggal memutar skrup  pada bagian tutup belakang dan mendorongnya kebawah.

Radio ini sudah dilengkapi dengan jack adaptor. Untuk mendapatkan penerimaan terbaik pada memancar SW, kita tinggal meninggikan antenanya saja.
Ukuran panjang 35cm, tebal 12cm, dan tinggi sampai gagang 23cm. Berat 1.6kg tanpa batre.
Kondisi NOS, lengkap dengan bungkus,dan petunjuk aslinya. Berfungsi dengan baik.

 

Sumber

http://retromeneergallery.blogspot.com/2013/09/vintage-national-transistor-2-band_20.html

 

Radio National – Gema Nusantara





Radio National, produksi National Gobel, Indonesia. Radio mungil dengan bentuk yang unik. Berfungsi dengan baik.

Sumber

http://antik-otara.blogspot.com/2009/07/radio-national-gema-nusantara.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Radio reciver history

By wiki

Receiver (radio)

From Wikipedia, the free encyclopedia

How radio communication works. Information such as sound is transformed into an electronic signal which is applied to a transmitter. The transmitter sends the information through space on a radio wave(electromagnetic wave). A receiver intercepts some of the radio wave and extracts the information-bearing electronic signal, which is converted back to its original form by a transducer such as a speaker.

In radio communications, a radio receiver is an electronic device that receives radio waves and converts the information carried by them to a usable form. It is used with an antenna. The antenna intercepts radio waves (electromagnetic waves) and converts them to tiny alternating currents which are applied to the receiver, and the receiver extracts the desired information. The receiver uses electronic filters to separate the desired radio frequency signal from all the other signals picked up by the antenna, an electronic amplifier to increase the power of the signal for further processing, and finally recovers the desired information throughdemodulation.

The information produced by the receiver may be in the form of sound (an audio signal), images (a video signal) or data (a digital signal).[1] A radio receiver may be a separate piece of electronic equipment, or anelectronic circuit within another device. Devices that contain radio receivers include television sets, radarequipment, two-way radios, cell phones, wireless computer networks, GPS navigation devices, satellite dishes, radio telescopes, bluetooth enabled devices, garage door openers, and baby monitors.

Early broadcast radio receiver. Truetone model from about 1940

In consumer electronics, the terms radio and radio receiver are often used specifically for receivers designed to reproduce the audio(sound) signals transmitted by radio broadcasting stations – historically the first mass-market commercial radio application.

 

Types of radio receivers[edit]

ALMA‘s Band 5 receivers detect electromagnetic radiation with wavelengths between about 1.4 and 1.8 millimetres (211 and 163 gigahertz).[2] The picture shows only peripheric components of the receiver such as the Local Oscillator multiplier chain. The main receiver components of the ALMA band 5 receiver, such as horn antennae, superconductive SIS mixers, and cryogenic low-noise amplifiers, reside on a cartridge that is inserted into a cryostat and cooled to 4K, 12K, and 90K, respectively

Various types of radio receivers may include:

Consumer audio receivers

In the context of home audio systems, the term “receiver” often refers to a combination of a tuner, a preamplifier, and a power amplifier all on the same chassis. Audiophiles will refer to such a device as an integrated receiver, while a single chassis that implements only one of the three component functions is called a discrete component. Some audio purists still prefer three discrete units – tuner, preamplifier and power amplifier – but the integrated receiver has, for some years, been the mainstream choice for music listening. The first integratedstereo receiver was made by the Harman Kardon company, and came onto the market in 1958. It had undistinguished performance, but it represented a breakthrough to the “all in one” concept of a receiver, and rapidly improving designs gradually made the receiver the mainstay of the marketplace. Many radio receivers also include a loudspeaker.

 

 

Hi-Fi / Home theater

Today AV receivers are a common component in a high-fidelity or home-theatre system. The receiver is generally the nerve centre of a sophisticated home-theatre system providing selectable inputs for a number of different audio components like record players, compact-disc players and CD-RW recorders, and tape decks ( like video cassette recorders (VCR) and video components (DVD players and DVD recorders, video game consoles, and television sets)).

With the decline of gramophone record vinyl discs, modern receivers tend to omit inputs for phonograph turntables, which have separate requirements of their own. All other common audio/visual components can use any of the identical line-level inputs on the receiver for playback, regardless of how they are marked (the “name” on each input is mostly for the convenience of the user). For instance, a second CD player can be plugged into an “Aux” input, and will work the same as it will in the “CD” input jacks.

Some receivers can also provide digital signal processors (DSP) to give a more realistic auditory illusion of listening in a concert hall. Digital audio S/PDIF and USB connections are also common today. The home theater receiver, in the vocabulary of consumer electronics, comprises both the ‘radio receiver’ and other functions, such as control, sound processing, and power amplification. The standalone radio receiver is usually known in consumer electronics as a tuner.

Some modern integrated receivers can send audio out to seven loudspeakers and an additional channel for a subwoofer and often include connections for headphones. Receivers vary greatly in price, and support stereophonic or surround sound. A high-quality receiver for dedicated audio-only listening (two channel stereo) can be relatively inexpensive; excellent ones can be purchased for $300 United States or less. Because modern receivers are purely electronic devices with no moving parts unlikeelectromechanical devices like turntables and cassette decks, they tend to offer many years of trouble-free service. In recent years, the home theater in a box has become common, which often integrates a surround-capable receiver with a DVD player. The user simply connects it to a television, perhaps other components, and a set of loudspeakers.

Portable radios

Portable radios include simple transistor radios that are typically monoaural and receive the AM, FM, or short wave broadcast bands. FM, and often AM, radios are sometimes included as a feature of portable DVD/CD, MP3 CD, and USB key players, as well as cassette player/recorders.

AM/FM stereo car radios can be a separate dashboard mounted component or a feature of in car entertainment systems.

A Boombox (or Boom-box)—also sometimes known as a Ghettoblaster or a Jambox, or (in parts of Europe) as a “radio-cassette”—is a name given to larger portable stereo systems capable of playing radio stations and recorded music, often at a high level of volume.

Self-powered portable radios, such as clockwork radios are used in developing nations or as part of an emergency preparedness kit.[3]

 

 

 

 

History of radio receivers

Early development

1887

While James Clerk Maxwell was the first person to prove electromagnetic waves existed, in 1887 a German named Heinrich Hertz demonstrated these new waves by using spark gap equipment to transmit and receive radio or “Hertzian waves”.

The experiments were not followed up by Hertz. Starting in 1893 Nikola Tesla gave lectures and obtained patents on his high frequency wireless transmission work. But his primary interest was in wireless power transmission and that, along with other interests and experiments, kept him from exploring this system for “transmitting intelligence”.[4][5]

1896

The world’s first radio receiver (thunderstorm register) was designed by a Russian engineer named Alexander Stepanovich Popov, and it was first seen at the All-Russia Exhibition 1896. He was the first to demonstrate the practical application of electromagnetic (radio) waves,[6] although he did not care to apply for a patent for his invention.

1901

A primitive form of radio detector called a coherer enabled receiving radio signals, first used by Edouard Branly and subsequently improved on by Oliver Lodge. Many experimenters of the time made significant improvements to both radio receiving and transmitting apparatus, and in 1895 Guglielmo Marconi was the first to demonstrate practical radio communications, later achieving radio communication across the Atlantic in December 1901.

John Ambrose Fleming‘s development of an early thermionic valve to help detect radio waves was based upon a discovery by Thomas Edison (called “The Edison effect“), which essentially modified an early light bulb. Fleming dubbed it an “oscillation valve” because it functioned similarly to a one-way water valve.

The cat’s whisker detector was another kind of detectors developed, typically employing galena crystal with wire spring contact. By moving the wire to different points on the crystal, an optimal point of rectifying the signal was achieved.[7]

 

1905-1897

Valves (Tubes)

 

Lee de Forest‘s audion tube, a type of triode, emerged as a result of work done between 1905 and 1907, and was later applied to long distance telephone receiving circuits. The triode, functioning as an amplifier of signals, vastly improved radio receiver performance. The regenerative detector further improved performance. The introduction of air-evacuated valves was enabled by Irving Langmuir and H. J. Round.[7]

 

 

 

 

 

1920

 

Autodyne and superheterodyne

The tuned radio frequency receiver (TRF) was introduced in the 1920s, along with the autodyne developed by H. J. Round and combining the functions of both mixer and oscillator in a single valve.

In France, Lucien Levy devised a system to convert signals to a lower frequency where the filter bandwidths could be narrowed, leading to a new type of receiver known as thesuperheterodyne, or supersonic heterodyne receiver.

Edwin Armstrong is credited with developing a receiver with a fixed intermediate frequency amplifier and filter. Although previously patented by Alexander Meissner, Armstrong was first to build a working model and so received the credit.

1926-1928

Further improvements came in 1926 with the introduction of the tetrode valve.[7]

Philips Radio Model 2511, 1928 and advertising shield

 

 

 

 

 

 

 

1939-1945

War and postwar developments

Military HF receiver, type BC-224-D (1942)

In 1939 the outbreak of war spurred receiver development. During this time a number of classic communications receivers were designed. Some like the National HRO are still sought by enthusiasts today and although they are relatively large by today’s standards, they can still give a good account of themselves under current crowded band conditions.

 

1940-1950

Semiconductors

Transistor devices were introduced in the late 1940s and quickly replaced valves leading to the emergence of space and power savingtransistor radios in the 1960s.[7]

The integrated circuit was introduced in the late 1950s, further saving cost, space and power.[8] In the 1980s, the frequency synthesizerimproved on the ability to generate an accurate and stable local oscillator signal.[7]

Digital technologies

Many of the functions performed by analogue electronics can be performed by software instead. The benefit is that software is not affected by temperature, physical variables, electronic noise and manufacturing defects.[7] For really high-performance receivers, such as satellite communications receivers and military/naval receivers, two-stage (“double conversion”) and even three-stage (“triple conversion”) superheterodyne processing is frequently used. Single-conversion receivers are rather simple-minded in their nature.

DSP technology

DSP technology, short for digital signal processing, is the use of digital means to process signals and is coming into wide use in modern shortwave receivers. It is the basis of many areas of modern technology including cell phones, CD players, video recorders and computers. A digital signal is essentially a stream or sequence of numbers that relay a message through some sort of medium such as a wire. The primary benefit of DSP hardware in shortwave receivers is the ability to tailor the bandwidth of the receiver to current reception conditions and to the type of signal being listened to. A typical analog only receiver may have a limited number of fixed bandwidths, or only one, but a DSP receiver may have 40 or more individually selectable filters.

 

 

PC controlled radio receivers

“PC radios”, or radios that are designed to be controlled by a standard PC are controlled by specialized PC software using a serial port connected to the radio. A “PC radio” may not have a front-panel at all, and may be designed exclusively for computer control, which reduces cost.

Some PC radios have the great advantage of being field upgradable by the owner. New versions of the DSP firmware can be downloaded from the manufacturer’s web site and uploaded into the flash memory of the radio. The manufacturer can then in effect add new features to the radio over time, such as adding new filters, DSP noise reduction, or simply to correct bugs.

A full-featured radio control program allows for scanning and a host of other functions and, in particular, integration of databases in real-time, like a “TV-Guide” type capability. This is particularly helpful in locating all transmissions on all frequencies of a particular broadcaster, at any given time. Some control software designers have even integratedGoogle Earth to the shortwave databases, so it is possible to “fly” to a given transmitter site location with a click of a mouse. In many cases the user is able to see the transmitting antennas where the signal is originating from.

Radio control software

 

The field of software control of PC radios has grown rapidly in the last several years, with developers making a number of advances. Since the Graphical User Interface or GUI interface PC to the radio has unlimited flexibility, any number of new features can be added by the software designer. Features that can be found in advanced control software programs today include a band table, GUI controls corresponding to traditional radio controls, local time clock and a UTC clock, signal strength meter, an ILG database for shortwave listening with lookup capability, scanning capability, text-to-speech interface, and integrated Conference Server.

 

 

 

Software-defined radios

The next level in radio / software integration are so-called pure “software defined radios”. The distinction here is that all filtering, modulation and signal manipulation is done in software, usually by a PC soundcard or by a dedicated piece of DSP hardware. There may be a minimal RF front-end or traditional radio that supplies an IF to the SDR. SDR’s can go far beyond the usual demodulation capability of typical, and even high-end DSP shortwave radios. They can for example, record large swaths of the radio spectrum to a hard drive for “playback” at a later date. The same SDR that one minute is demodulating a simple AM broadcast may also be able to decode an HDTV broadcast in the next. A well known open-source project called GNU Radio is dedicated to evolving a high-performance SDR. All the source code for this SDR is freely downloadable and modifiable by anyone.

 

 

 

 

Sejarah radio

Sejarah radio adalah sejarah teknologi yang menghasilkan peralatan radio yang menggunakan gelombang radio. Awalnya sinyal pada siaran radio ditransmisikan melalui gelombang data yang kontinyu baik melalui modulasi amplitudo (AM), maupun modulasi frekuensi (FM). Metode pengiriman sinyal seperti ini disebut analog. Selanjutnya, seiring perkembangan teknologi ditemukanlah internet, dan sinyal digital yang kemudian mengubah cara transmisi sinyal radio

Sejarah Penggunaan Radio[sunting

Rata-rata pengguna awal radio adalah para maritim, yang menggunakan radio untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang yang memata-matai armada Rusia saat Perang Tsushima pada tahun 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah saat tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dengan kapal terdekat dan komunikasi ke stasiun darat. Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasiradio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Program 14 Titik Presiden Woodrow Wilson kepada Jermanmelalui radio ketika perang. Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah untuk mengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar. Sekarang, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio. Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan musik saja.

Radio AM

 

Radio AM (modulasi amplitudo) bekerja dengan prinsip memodulasikan gelombang radio dan gelombang audio. Kedua gelombangg ini sama-sama memiliki amplitudo yang konstan. Namun proses modulasi ini kemudian mengubah amplitudo gelombang penghantar (radio) sesuai dengan amplitudo gelombang audio.

Pada tahun 1896 ilmuwan Italia, Guglielmo Marconi mendapat hak paten atas telegraf nirkabel yang menggunakan dua sirkuit. Pada saat itu sinyal ini hanya bisa dikirim pada jarak dekat. Namun, hal inilah yang memulai perkembangan teknologi radio. Pada tahun 1897 Marconi kembali mempublikasikan penemuan bahwa sinyal nirkabel dapat ditransmisikan pada jarak yang lebih jauh (12 mil). Selanjutnya, pada 1899 Marconi berhasil melakukan komunikasi nirkabel antara Perancis dan Inggris lewat Selat Inggris dengan menggunakan osilator Tesla.

John Ambrose Fleming pada tahun 1904 menemukan bahwa tabung audion dapat digunakan sebagai receiver nirkabel bagi teknologi radio ini. Dua tahun kemudian Dr. Lee deForest menemukan tabung elektron yang terdiri dari tiga elemen (triode audion). Penemuan ini memungkinkan gelombang suara ditransmisikan melalui sistem komunikasi nirkabel. Tetapi sinyal yang ditangkap masih sangat lemah. Barulah pada tahun 1912 [[Edwin Howard Armstrong menemukan penguat gelombang radio disebut juga radioamplifier. Alat ini bekerja dengan cara menangkap sinyal elektromagnetik dari transmisi radio dan memberikan sinyal balik dari tabung. Dengan begitu kekuatan sinyal akan meningkat sebanyak 20.000 kali perdetik. Suara yang ditangkap juga jauh lebih kuat sehingga bisa didengar langsung tanpa menggunakan earphone. Penemuan ini kemudian menjadi sangat penting dalam sistem komunikasi radio karena jauh lebih efisien dibandingkan alat terdahulu. Meskipun demikian hak paten atas amplifier jatuh ke tangan Dr. Lee deforest. Sampai saat ini radio amplifier masih menjadi teknologi inti pada pesawat radio.

Awalnya penggunanaan radio AM hanya untuk keperluan telegram nirkabel. Orang pertama yang melakukan siaran radio dengan suara manusia adalah Reginald Aubrey Fessenden. Ia melakukan siaran radio pertama dengan suara manusia pada 23 Desember 1900 pada jarak 50 mil (dari Cobb Island ke Arlington, Virginia) Saat ini radio AM tidak terlalu banyak digunakan untuk siaran radio komersial karena kualitas suara yang buruk.

Radio FM

 

Radio FM (modulasi frekuensi) bekerja dengan prinsip yang serupa dengan radio AM, yaitu dengan memodulasi gelombang radio (penghantar) dengan gelombang audio. Hanya saja, pada radio FM proses modulasi ini menyebabkan perubahan pada frekuensi.

Ketika radio AM umum digunakan, Armstrong menemukan bahwa masalah lain radio terletak pada jenis sinyal yang ditransmisikan. Pada saat itu gelombang audio ditransmisikan bersama gelombang radio dengan menggunakan modulasi amplitudo (AM). Modulasi ini sangat rentan akan gangguan cuaca. Pada akhir 1920-an Armstrong mulai mencoba menggunakan modulasi dimana amplitudo gelombang penghantar (radio) dibuat konstan. Pada tahun 1933 ia akhirnya menemukan sistem modulasi frekuensi (FM) yang menghasilkan suara jauh lebih jernih, serta tidak terganggu oleh cuaca buruk.

Sayangnya teknologi ini tidak serta merta digunakan secara massal. Depresi ekonomi pada tahun 1930-an menyebabkan industri radio enggan mengadopsi sistem baru ini karena mengharuskan penggantian transmiter dan receiver yang memakan banyak biaya. Baru pada tahun 1940 Armstrong bisa mendirikan stasiun radio FM pertama dengan biayanya sendiri. Dua tahun kemudian Federal Communication Comission (FCC) mengalokasikan beberapa frekuensi untuk stasiun radio FM yang dibangun Armstrong. Perlu waktu lama bagi modulasi frekuensi untuk menjadi sistem yang digunakan secara luas. Selain itu hak paten juga tidak kunjung didapatkan oleh Armstrong.

Frustasi akan segala kesulitan dalam memperjuangkan sistem FM, Armstrong mengakhiri hidupnya secara tragis dengan cara bunuh diri. Beruntung istrinya kemudian berhasil memperjuangkan hak-hak Armstrong atas penemuannya. Barulah pada akhir 1960-an FM menjadi sistem yang benar-benar mapan. Hampir 2000 stasiun radio FM tersebar di Amerika, FM menjadi penyokong gelombang mikro (microwave), pada akhirnya FM benar-benar diakui sebagai sistem unggulan di berbagai bidang komunikasi.

 

 

 

 

 

Radio internet[sunting 

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Radio Internet

Penemuan internet mulai mengubah transmisi sinyal analog yang digunakan oleh radio konvensional. Radio internet (dikenal juga sebagai web radio, radio streaming dan e-radio) bekerja dengan cara mentransmisikan gelombang suara lewat internet. Prinsip kerjanya hampir sama dengan radio konvensional yang gelombang pendek (short wave), yaitu dengan menggunakan medium streaming berupa gelombang yang kontinyu. Sistem kerja ini memungkinkan siaran radio terdengar ke seluruh dunia asalkan pendengar memiliki perangkat internet. Itulah sebabnya banyak kaum ekspatriat yang menggunakan radio internet untuk mengobanti rasa kangen pada negara asalnya. Di Indonesia, umumnya radio internet dikolaborasikan dengan sistem radio analog oleh stasiun radio teresterial untuk memperluas jangkauan siarannya.

Radio satelit[sunting 

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Radio satelit

Radio satelit mentransmisikan gelombang audio menggunakan sinyal digital. Berbeda dengan sinyal analog yang menggunakan gelombang kontinyu, gelombang suara ditransmisikan melalui sinyal digital yang terdiri atas kode-kode biner 0 dan 1. Sinyal ini ditransmisikan ke daerah jangkauan yang jauh lebih luas karena menggunakan satelit. Hanya saja siaran radio hanya dapat diterima oleh perangkat khusus yang bisa menerjemahkan sinyal terenkripsi. Siaran radio satelit juga hanya bisa diterima di tempat terbuka dimana antena pada pesawat radio memiliki garis pandang dengan satelit pemancar. Radio satelit hanya bisa bekerja yang tidak memiliki penghalang besar seperti terowongan atau gedung. Oleh karena itu perangkat radio satelit banyak dipromosikan untuk radio mobil. Untuk mendapat transmisi siaran yang baik, perlu dibuat stasiun repeater seperti di Amerika agar kualitas layanan prima.

Perangkat yang mahal (karena menggunakan satelit) membuat sistem ini komersil. Pendengar harus berlangganan untuk dapat mendengarkan siaran radio. Meskipun begitu kualitas suara yang dihasilkan sangat jernih, tidak lagi terdapat noise seperti siaran radio konvensional. Selain itu sebagian besar isi siaran juga bebas iklan dan pendengar memiliki jauh lebih banyak pilihan kanal siaran (lebih dari 120 kanal).

Perusahaan penyedia satelit radio dunia adalah Worldspace yang melayani siaran radio satelit di Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Afrika. Worldspace memiliki tiga satelit yang melayani wilayah berbeda. Di Indonesia, samapai tahun 2002 Worldspace telah bekerja sama dengan RRI, Radio trijaya, Borneo Wave Channel (Masima Group), goindo.com dan Kompas Cyber Media sebagai pengisi konten layanan radio satelit dengan menggunakan satelit Asia Star. mbs fm suci manyar gresik

 

 

 

 

 

 

 

Radio berdefinisi tinggi (HD Radio)

Radio yang dikenal juga sebagai radio digital ini bekerja dengan menggabungkan sistem analog dan digital sekaligus. Dengan begitu memungkinkan dua stasiun digital dan analog berbagi frekuensi yang sama. Efisiensi ini membuat banyak konten bisa disiarkan pada posisi yang sama. Kualitas suara yang dihasilkan HD radio sama jernihnya dengan radio satelit, tetapi layanan yang ditawarkan gratis. Namun untuk dapat menerima siaran radio digital pendengar harus memiliki perangkat khusus yang dapat menangkap sinyal digital.

 

Referensi

Sawyer, Stacey C. & Williams, Brian K. (2001). Using Information Technology, New York: McGraw-Hill Company.sumber wiki

 

Harga radio antik

 

 

Ad

 

Radio Antik Bx 745 A Philips

 

Rp. 4.500.000

 

Ad

 

Radio antik National

 

The end

copyright@2914

Pajang Kingdom History Collections

 

Ini adalah contoh CD_Rom Dr Iwan yang tidak lengkap info dan ilustyrasinya,apabila anda ingin memiliki info yang lengkap pesanlah CD-ROM ini ke emalai

iwansuwandy@gmail.COM

dengan mengupload kopi KYP dan alamat lengkap,haraga CD tiga ratus rupiah sudah termasuk biaya kirim liwat titipan kilay

Iilah contoh singkat riwayat yang angat hebat

The Pajang Kingdom History Collection

Created By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Limited E-book In CD_ROM Edition

Special for senior collector and historian

Copyright @ 2014

 

KERAJAAN PAJANG

Kerajaan Pajang adalah satu kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak. Komplekskeratonnya pada zaman ini tinggal tersisa berupa batas-batas fondasinya saja yang berada di perbatasan Kelurahan Pajang -Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Peta Kerajaan Pajang

Foto Keraon Pajang saat ini

aumber

http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/11/kerajaan-pajang.html

Asal-usul

Nama negeri Pajang telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365,

Gayam wuruk

sumber

wacananusantara.org

bahwasanya pada zaman tersebut adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) 

bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja merupakan ibu dar

i

sumber

ztopics.com

Wikramawardhana (raja Majapahit selanjutnya).

Berdasar naskah-naskah babad, bahwa negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang melegenda menyebut bahwa Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Ketika Majapahit dipimpin oleh

 

aumber

jejaknusantara.com

 Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), bahwa nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan bahwa

aumber

widianawidie.wordpress…

putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik

sumber

raja-ravi-varma.kerala

Menak Daliputih raja Blambangan

sumber

nantly.mywapblog.com

 putra Menak Jingga.

 

sumber

setyochannel.blogspot.com

Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.

Atas jasanya itu, kemudian Jaka Sengara diangkat oleh Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelarAndayaningrat.

Kerajaan Pajan

Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di daerah Pasisir.

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.

Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.

Sepeninggal Trenggana tahun 1546, selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta. Namun Sultan Prawoto kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.

Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Hadiwijaya selanjutnya menjadi pewaris takhta Demak. Pada masa kepemimpinan Hadiwijaya ini, ibu kota Demak dipindahkan ke Pajang.

Perkembangan

Pada awal berdirinya atau pada tahun 1549, bahwa wilayah Pajang yang terkait eksistensi Demak pada masa sebelumnya, hanya meliputi sebagian Jawa Tengah. Hal ini disebabkan karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.

Pada tahun 1568 Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Hadiwijaya.

Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya.

Peran Wali Songo  

Pada zaman Kerajaan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.

Sepeninggal Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, raja baru pengganti Trenggana.

Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai raja. Ia juga menjadi mediator pertemuan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568. Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang.

Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.

Dimungkinkan bahwa yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, yang mana Sunan Kudus sejatinya telah meninggal tahun 1550.

Pemberontakan Mataram   

Tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.

Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuhArya Penangsang. Daerah Mataram di bawah pimpinan Sutawijaya semakin hari semakin maju dan berkembang.

Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram disebabkan Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang terkait hukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya kepada sang tumenggung. Perang tersebut dimenangkan pihak Mataram, meskipun pasukan Pajang berjumlah lebih besar.

Keruntuhan  

Sepeninggal Hadiwijaya, terjadilah persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan akibat kemelut tersebut. Hal itu membuatPangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, namun Pangeran Benawatetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning atau adik Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram, di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Daftar Raja Pajang

sumber

ahlusunahwaljamaah-kum…

  1. Jaka Tingkiratau Hadiwijaya
  2. ahlusunahwaljamaah-kum…
  3. Pangeran Benawa  atau Prabuwijaya

 

\

prabu wijaya

sumber

myheritage.com

.Indah Record’s Ketoprak Mataram

Indah Record produced Java Wayang wong Ketoprak mataram ,look below:

The history Of Mataram Kingdom

a. Mataram kingdom’s history

Mataram Sultanate

Kota Gede, the former capital of Mataram Sultanate.

Timeline of Indonesian History
Prehistory
Early kingdoms
Kutai (4th century)
Tarumanagara (358–669)
Kalingga (6th to 7th century)
Srivijaya (7th to 13th centuries)
Sailendra (8th to 9th centuries)
Sunda Kingdom (669–1579)
Medang Kingdom (752–1045)
Kediri (1045–1221)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
The rise of Muslim states
The spread of Islam (1200–1600)
Sultanate of Ternate (1257–present)
Malacca Sultanate (1400–1511)
Sultanate of Demak (1475–1548)
Aceh Sultanate (1496–1903)
Sultanate of Banten (1526–1813)
Mataram Sultanate (1500s–1700s)
European colonialism
The Portuguese (1512–1850)
Dutch East India Co. (1602–1800)
Dutch East Indies (1800–1942)
The emergence of Indonesia
National awakening (1899–1942)
Japanese occupation (1942–1945)
National revolution (1945–1950)
Independent Indonesia
Liberal democracy (1950–1957)
Guided Democracy (1957–1965)
Start of the New Order (1965–1966)
The New Order (1966–1998)
Reformasi era (1998–present)
v · d · e

The Sultanate of Mataram (pronounced muh-TAR-uhm) was the last major independent Javanese empire on Java before the island was colonized by the Dutch. It was the dominant political force in interior Central Java from the late 16th century until the beginning of the 18th century.

Contents

 

//

 Javanese kingship

The name Mataram itself was never the official name of any polity. This name refers to the areas around present-day Yogyakarta. The two kingdoms that have existed in this region are both called “Mataram”, but the second kingdom is called Mataram Islam to distinguish it from the Hindu 9th-century Kingdom of Mataram. Javanese kingship varies from Western kingship, which is essentially based on the idea of legitimacy from the people (Democracy), or from God (divine authority), or both. The Javanese language does not include words with these meanings.

The concept of the Javanese kingdom is a mandala, or a center of the world, in the sense of both a central location and a central being, focused on the person of the king (variously called Sri Bupati, Sri Narendra, Sang Aji, Prabu). The king is regarded as a semi-divine being, a union of divine and human aspects (binathara, the passive form of “bathara”, god). Javanese kingship is a matter of royal-divine presence, not a specific territory or population. People may come and go without interrupting the identity of a kingdom which lies in the succession of semi-divine kings. Power, including royal power is not qualitatively different from the power of dukuns or shamans, but it is much stronger. Javanese kingship is not based on the legitimacy of a single individual, since anyone can contest power by tapa or asceticism, and many did contest the kings of Mataram.

 Dates

The dates for events before the Siege of Batavia in the reign of Sultan Agung, third king of Mataram, are difficult to determine. There are several annals used by H.J. de Graaf in his histories such as Babad Sangkala and Babad Momana which contain list of events and dates in Javanese calendar (A.J., Anno Javanicus), but besides de Graaf’s questionable practice of simply adding 78 to Javanese years to obtain corresponding Christian years, the agreement between Javanese sources themselves is less than perfect.

The Javanese sources are very selective in putting dates to events. Events such as the rise and fall of kratons, the death of important princes, great wars, etc. are the only kind of events deemed important enough to be dated, by using a poetic formula called “candrasengkala”, which can be expressed verbally and pictorially, the rest being simply described in narrative succession without dates. Again these candrasengkalas do not always match the annals.

Therefore, it is suggested to follow the following rule of thumb: the dates from de Graaf and Ricklefs for the period before the Siege of Batavia can be accepted as best guess. For the period after the Siege of Batavia (1628–29) until the first War of Succession (1704), the years of events in which foreigners participated can be accepted as certain, but –again- are not always consistent with Javanese version of the story. The events in the period 1704-1755 can be dated with greater certainty since in this period the Dutch interfered deeply in Mataram affairs but events behind kraton walls are in general difficult to be dated precisely.

 The rise of Mataram

Details in Javanese sources about the early years of the kingdom are limited, and the line is unclear between the historical record and myths since there are indications of the efforts of later rulers, especially Agung, to establish a long line of legitimate descent by inventing predecessors. However, by the time more reliable records begin in the mid-17th century the kingdom was so large and powerful that most historians concur it had already been established for several generations.

According to Javanese records, the kings of Mataram were descended from one Ki Ageng Sela (Sela is a village near the present-day Demak). In the 1570s one of Ki Ageng Sela’s descendants, Kyai Gedhe Pamanahan became the ruler of the Mataram area with the support of the kingdom of Pajang to the north, near the current site of Surakarta (Solo). Pamanahan was often referred to as Kyai Gedhe Mataram.

Pamanahan’s son, Sutawijaya or Panembahan Senapati Ingalaga, replaced his father around 1584. Under Panembahan Senapati the kingdom grew substantially through regular military campaigns against Mataram’s overlord of Pajang and Pajang’s former overlord, Demak. After the defeat of Pajang, Senopati assumed royal status by wearing the title “Panembahan” (literally “one who is worshipped/sembah”). He began the fateful campaign to the East along the course of Solo River (Bengawan Solo) that was to bring endless conflicts and eventual demise of his kingdom. He conquered Madiun in 1590-1 and turned east from Madiun to conquer Kediri in 1591, and perhaps during the same time also conquered Jipang (present day Bojonegoro), Jagaraga (north of present day Magetan) and Ponorogo. His effort to conquer Banten in West Java in 1597 – witnessed by Dutch sailors – failed, perhaps due to lack of water transport. He reached east as far as Pasuruan, who may have used his threat to reduce pressure from the then powerful Surabaya.

The reign of Panembahan Seda ing Krapyak (circa 1601-1613), the son of Senapati, was dominated by further warfare, especially against powerful Surabaya, already a major center in East Java. He faced rebellion from his relatives who were installed in the newly conquered area of Demak (1602), Ponorogo (1607-8) and Kediri (1608). The first contact between Mataram and the Dutch East India Company (VOC) occurred under Krapyak. Dutch activities at the time were limited to trading from limited coastal settlements, so their interactions with the inland Mataram kingdom were limited, although they did form an alliance against Surabaya in 1613. Krapyak died that year.

 Mataram under Sultan Agung

Krapyak was succeeded by his son, Raden Mas Rangsang, who assumed the title Panembahan ing Alaga and later took the title of Sultan Agung Hanyokrokusumo (“Great Sultan“) after obtaining permission to wear “Sultan” from Mecca. Agung was responsible for the great expansion and lasting historical legacy of Mataram due to the extensive military conquests of his long reign from 1613 to 1646. He attacked Surabaya in 1614 and also Malang, south of Surabaya, and the eastern end of Java. In 1615, he conquered Wirasaba (present day Mojoagung, near Mojokerto). In 1616, Surabaya tried to attack Mataram but this army was crushed by Sultan Agung’s forces in Siwalan, Pajang (near Solo). The coastal city of Lasem, near Rembang, was conquered in 1616 and Pasuruan, south-east of Surabaya, was taken in 1617. Tuban, one of the oldest and biggest cities on the coast of Java, was taken in 1619.

Surabaya was Mataram’s most difficult enemy. Senapati had not felt strong enough to attack this powerful city and Krapyak attacked it to no avail. Sultan Agung weakened Surabaya by capturing Sukadana, Surabaya’s ally in southwest Kalimantan, in 1622 and the island of Madura, another ally of Surabaya, was taken in 1624 after a fierce battle. After five years of war Agung finally conquered Surabaya in 1625. The city was taken not through outright military invasion, but instead because Agung surrounded it on land and sea, starving it into submission. With Surabaya brought into the empire, the Mataram kingdom encompassed all of central and eastern Java, and Madura, except for the west and east end of the island and its mountainous south (except for Mataram – of course). In the west Banten and the Dutch settlement in Batavia remain outside Agung’s control. He tried in 1628-29 to drive the Dutch from Batavia, but failed.

By 1625, Mataram was undisputed ruler of Java. Such a mighty feat of arms, however, did not deter Mataram’s former overlords from rebellion. Pajang rebelled in 1617, and Pati rebelled in 1627. After the capture of Surabaya in 1625, expansion stopped while the empire was busied by rebellions. In 1630, Mataram crushed a rebellion in Tembayat (south east of Klaten) and in 1631-36, Mataram had to suppress rebellion of Sumedang and Ukur in West Java. Ricklefs and de Graaf argued that these rebellions in the later part of Sultan Agung’s reign was mainly due to his inability to capture Batavia in 1628-29, which shattered his reputation of invincibility and inspired Mataram’s vassal to rebel. This argument seems untenable due to two reason: first, rebellions against Sultan Agung already began as far back as 1617 and occurred in Pati even during his peak of invincibility after taking Surabaya in 1625. The second, and more importantly, the military failure to capture Batavia was not seen as political failure by Javanese point of view. See Siege of Batavia.

In 1645 Sultan Agung began building Imogiri, his burial place, about fifteen kilometers south of Yogyakarta. Imogiri remains the resting place of most of the royalty of Yogyakarta and Surakarta to this day. Agung died in the spring of 1646, leaving behind an empire that covered most of Java and stretched to its neighboring islands.

Struggles for power

Upon taking the throne, Agung’s son Susuhunan Amangkurat I tried to bring long-term stability to Mataram’s realm, murdering local leaders that were insufficiently deferential to him including the still-powerful noble from Surabaya, Pangeran Pekik, his father-in-law, and closing ports and destroying ships in coastal cities to prevent them from getting too powerful from their wealth. To further his glory, the new king abandoned Karta, Sultan Agung’s capital, and moved to a grander red-brick palace in Plered (formerly the palace was built of wood).

By the mid-1670s dissatisfaction with the king was turning into open revolt, beginning from the recalcitrant Eastern Java and creeping inward. The Crown Prince (future Amangkurat II) felt that his life was not safe in the court after he took his father’s concubine with the help of his maternal grandfather, Pangeran Pekik of Surabaya, making Amangkurat I suspicious of a conspiracy among Surabayan factions to grab power in the capital by using Pekiks’ grandson’s powerful position as the Crown Prince. He conspired with Panembahan Rama from Kajoran, west of Magelang, who proposed a stratagem in which the Crown Prince financed Rama’s son-in-law, Trunajaya, to begin a rebellion in the East Java. Raden Trunajaya, a prince from Madura, lead a revolt fortified by itinerant fighters from faraway Makassar that captured the king’s court at Mataram in mid-1677. The king escaped to the north coast with his eldest son, the future king Amangkurat II, leaving his younger son Pangeran Puger in Mataram. Apparently more interested in profit and revenge than in running a struggling empire, the rebel Trunajaya looted the court and withdrew to his stronghold in Kediri, East Java, leaving Puger in control of a weak court. Seizing this opportunity, Puger assumed the throne in the ruins of Plered with the title Susuhanan ing Alaga.

Amangkurat II and the beginning of foreign involvement

Amangkurat I died in Tegal just after his expulsion, making Amangkurat II king in 1677. He too was nearly helpless, having fled without an army nor treasury to build one. In an attempt to regain his kingdom, he made substantial concessions to the Dutch East India Company (VOC), who then went to war to reinstate him. For the Dutch, a stable Mataram empire that was deeply indebted to them would help ensure continued trade on favorable terms. They were willing to lend their military might to keep the kingdom together. The multinational Dutch forces, consisting of light-armed troops from Makasar and Ambon, in addition to heavily-equipped European soldiers, first defeated Trunajaya in Kediri in November 1628 and Trunajaya himself was captured in 1679 near Ngantang west of Malang, then in 1681, the alliance of VOC and Amangkurat II forced Susuhunan ing Alaga (Puger) to relinguish the throne in favor of his elder brother Amangkurat II. Since the fallen Plered was considered inauspicious, Amangkurat II move the capital to Kartasura in the land of Pajang (northern part of the stretch of land between Mount Merapi and Mount Lawu, the southern part being Mataram).

By providing help in regaining his throne, the Dutch brought Amangkurat II under their tight control. Amangkurat II was apparently unhappy with the situation, especially the increasing Dutch control of the coast, but he was helpless in the face of a crippling financial debt and the threat of Dutch military power. The king engaged in a series of intrigues to try to weaken the Dutch position without confronting them head on; for example, by trying to cooperate with other kingdoms such as Cirebon and Johor and the court sheltered people wanted by the Dutch for attacking colonial offices or disrupting shipping such as Untung Surapati. In 1685, Batavia sent Captain Tack, the officer who captured Trunojoyo, to capture Surapati and negotiate further details into the agreement between VOC and Amangkurat II but the king arranged a ruse in which he pretended to help Tack. Tack was killed when pursuing Surapati in Kartasura, then capital of Mataram (present day Kartasura near Solo), but Batavia decided to do nothing since the situation in Batavia itself was far from stable, such as the insurrection of Captain Jonker, native commander of Ambonese settlement in Batavia, in 1689. Mainly due to this incident, by the end of his reign, Amangkurat II was deeply distrusted by the Dutch, but Batavia were similarly uninterested in provoking another costly war on Java.

Wars of succession

Amangkurat II died in 1703 and was briefly succeeded by his son, Amangkurat III. However, this time the Dutch believed they had found a more reliable client, and hence supported his uncle Pangeran Puger, formerly Susuhunan ing Alaga, who had previously been defeated by VOC and Amangkurat II. Before the Dutch, he accused Amangkurat III of planning an uprising in East Java. Unlike Pangeran Puger, Amangkurat III inherited blood connection with Surabayan ruler, Jangrana II, from Amangkurat II and this lent credibility to the allegation that he cooperated with the now powerful Untung Surapati in Pasuruan. Panembahan Cakraningrat II of Madura, VOC’s most trusted ally, persuaded the Dutch to support Pangeran Puger. Though Cakraningrat II harbored personal hatred towards Puger, this move is understandable since alliance between Amangkurat III and his Surabaya relatives and Surapati in Bangil would be a great threat to Madura’s position, even though Jangrana II’s father was Cakraningrat II’s son-in-law. Pangeran Puger took the title of Pakubuwana I upon his accession in June 1704. The conflict between Amangkurat III and Pakubuwana I, the latter allied with the Dutch, usually termed First Javanese War of Succession, dragged on for five years before the Dutch managed to install Pakubuwana. In August 1705, Pakubuwono I’s retainers and VOC forces captured Kartasura without resistance from Amangkurat III, whose forces cowardly turned back when the enemy reached Ungaran. Surapati’s forces in Bangil, near Pasuruan, was crushed by the alliance of VOC, Kartasura and Madura in 1706. Jangrana II, who tended to side with Amangkurat III and did not venture any assistance to the capture of Bangil, was called to present himself before Pakubuwana I and murdered there by VOC’s request in the same year. Amangkurat III ran away to Malang with Surapati’s descendants and his remnant forces but Malang was then a no-man’s-land who offered no glory fit for a king. Therefore, though allied operations to the eastern interior of Java in 1706-08 did not gain much success in military terms, the fallen king surrendered in 1708 after being lured with the promises of household (lungguh) and land, but he was banished to Ceylon along with his wives and children. This is the end of Surabayan faction in Mataram, and – as we shall see later – this situation would ignite the political time bomb planted by Sultan Agung with his capture of Surabaya in 1625.

With the installation of Pakubuwana, the Dutch substantially increased their control over the interior of Central Java. Pakubuwana I was more than willing to agree to anything the VOC asked of him. In 1705 he agreed to cede the regions of Cirebon and eastern part of Madura (under Cakraningrat II), in which Mataram had no real control anyway, to the VOC. The VOC was given Semarang as new headquarters, the right to build fortresses anywhere in Java, a garrison in the kraton in Kartasura, monopoly over opium and textiles, and the right to buy as much rice as they wanted. Mataram would pay an annual tribute of 1300 metric tons of rice. Any debt made before 1705 was cancelled. In 1709, Pakubuwana I made another agreement with the VOC in which Mataram would pay annual tribute of wood, indigo and coffee (planted since 1696 by VOC’s request) in addition to rice. These tributes, more than anything else, made Pakubuwana I the first genuine puppet of the Dutch. On paper, these terms seemed very advantageous to the Dutch, since the VOC itself was in financial difficulties during the period of 1683-1710. But the ability of the king to fulfil the terms of agreement depended largely on the stability of Java, for which VOC has made a guarantee. It turned out later that the VOC’s military might was incapable of such a huge task.

The last years of Pakubuwana’s reign, from 1717 to 1719, were dominated by rebellion in East Java against the kingdom and its foreign patrons. The murder of Jangrana II in 1706 incited his three brothers, regents of Surabaya, Jangrana III, Jayapuspita and Surengrana, to raise a rebellion with the help of Balinese mercenaries in 1717. Pakubuwana I’s tributes to the VOC secured him a power which was feared by his subjects in Central Java, but this is for the first time since 1646 that Mataram was ruled by a king without any eastern connection. Surabaya had no reason to submit anymore and thirst for vengeance made the brother regents openly contest Mataram’s power in Eastern Java. Cakraningkrat III who ruled Madura after ousting the VOC’s loyal ally Cakraningrat II, had every reason to side with his cousins this time. The VOC managed to capture Surabaya after a bloody war in 1718 and Madura was pacified when Cakraningrat III was killed in a fight on board of the VOC’s ship in Surabaya in the same year though the Balinese mercenaries plundered eastern Madura and was repulsed by VOC in the same year. However, similar to the situation after Trunajaya’s uprising in 1675, the interior regencies in East Java (Ponorogo, Madiun, Magetan, Jogorogo) joined the rebellion en masse. Pakubuwana I sent his son, Pangeran Dipanagara (not to be confused with another prince with the same title who fought the Dutch in 1825-1830) to suppress the rebellion in the eastern interior but instead Dipanagara joined the rebel and assumed the messianic title of Panembahan Herucakra.

In 1719 Pakubuwana I died and his son Amangkurat IV took the throne in 1719, but his brothers, Pangeran Blitar and Purbaya contested the succession. They attacked the kraton in June 1719. When they were repulsed by the cannons in VOC’s fort, they retreated south to the land of Mataram. Another royal brother, Pangeran Arya Mataram, ran to Japara and proclaim himself king, thus began the Second War of Succession. Before the year ended, Arya Mataram surrendered and was strangled in Japara by king’s order and Blitar and Purbaya was dislodged from their stronghold in Mataram in November. In 1720, these two princes ran away to the still rebellious interior of East Java. Luckily for VOC and the young king, the rebellious regents of Surabaya, Jangrana III and Jayapuspita died in 1718-20 and Pangeran Blitar died in 1721. In May and June 1723, the remnants of the rebels and their leaders surrendered, including Surengrana of Surabaya, Pangeran Purbaya and Dipanagara, all of whom were banished to Ceylon, except Purbaya, who was taken to Batavia to serve as “backup” to replace Amangkurat IV in case of any disruption in the relationship between the king and VOC since Purbaya was seen to have equal “legitimacy” by VOC. It is obvious from these two Wars of Succession that even though VOC was virtually invincible in the field, mere military prowess was not sufficient to pacify Java.

 Court intrigues in 1723-1741

After 1723, the situation seemed to stabilize, much to the delight of the Dutch. Javanese nobility has learned that the alliance of VOC’s military with any Javanese faction makes them nearly invincible. It seemed that VOC’s plan to reap the profit from a stable Java under a kingdom which is deeply indebted to VOC would soon be realized. In 1726, Amangkurat IV fell to an illness that resembled poisoning. His son assumed the throne as Pakubuwana II, this time without any serious resistance from anybody. The history for the period of 1723 until 1741 was dominated by a series of intrigues which further showed the fragile nature of Javanese politics, held together by Dutch’s effort. In this relatively peaceful situation, the king could not gather the support of his “subjects” and instead was swayed by short-term ends siding with this faction for a moment and then to another. The king never seemed to lack challenges to his “legitimacy”. The descendants of Amangkurat III, who were allowed to return from Ceylon, and the royal brothers, especially Pangeran Ngabehi Loring Pasar and the banished Pangeran Arya Mangkunegara, tried to gain the support of the Dutch by spreading gossips of rebellion against the king and the patih (vizier), Danureja. At the same time, the patih tried to strengthen his position by installing his relatives and clients in the regencies, sometimes without king’s consent, at the expense of other nobles’ interests, including the powerful queens dowager, Ratu Amangkurat (Amangkurat IV’s wife) and Ratu Pakubuwana (Pakubuwana I’s wife), much to the confusion of the Dutch. The king tried to break the dominance of this Danureja by asking the help of the Dutch to banish him, but Danureja’s successor, Natakusuma, was influenced heavily by the Queen’s brother, Arya Purbaya, son of the rebel Pangeran Purbaya, who was also Natakusuma’s brother-in-law. Arya Purbaya’s erratic behavior in court, his alleged homosexuality which was abhorred by the pious king and rumors of his planning a rebellion against the “heathen” (the Dutch) caused unrest in Kartasura and hatred from the nobles. After his sister, the Queen, died of miscarriage in 1738, the king asked the Dutch to banish him, to which the Dutch complied gladly. Despite these faction strruggles, the situation in general did not show any signs of developing into full-scale war. Eastern Java was quiet: though Cakraningrat IV refused to pay homage to the court with various excuses, Madura was held under firm control by VOC and Surabaya did not stir. But dark clouds were forming. This time, the explosion came from the west: Batavia itself.

 Chinese War 1741-1743

In the meantime, the Dutch were contending with other problems. The excessive use of land for sugar cane plantation in the interior of West Java reduced the flow of water in Ciliwung River (which flows through the city of Batavia) and made the city canals an ideal breeding ground for mosquitoes, resulting in a series of malaria outbreak in 1733-1795. This was aggravated by the fall of sugar price in European market, bringing bankruptcy to sugar factories in the areas around Batavia (the Ommelanden), which were mostly operated and manned by Chinese labor. The unrest prompted VOC authorities to reduce the number of unlicensed Chinese settlers, who had been smuggled into Batavia by Chinese sugar factory owner. These laborers were loaded into ships out of Batavia but the gossip that these people were thrown to the sea as soon as the ship was beyond horizon caused panic among the Chinese. In 7 October 1740, several Chinese mob attacked Europeans outside the city and incited the Dutch to order a massacre two days later. The Chinese settlement in Batavia was looted for several days. The Chinese ran away and captured Bekasi, which was dislodged by VOC in June 1741.

In 1741, Chinese rebels were present in Central Java, particularly around Tanjung (Welahan), Pati, Grobogan, and Kaliwungu. In May 1741 Juwana was captured by the Chinese. The Javanese at first sided with the Dutch and reinforced Demak in 10 June 1741. Two days later, a detachment of Javanese forces together with VOC forces of European, Balinese and Buginese in Semarang to defend Tugu, west of Semarang. The Chinese rebel lured them into their main forces’s position in Mount Bergota through narrow road and ambushed them. The allied forces were dispersed and ran as fast as they could back to Semarang. The Chinese pursued them but were repulsed by Dutch cannons in the fortress. Semarang was seized by panic. By July 1741, the Chinese occupied Kaligawe, south of Semarang, Rembang, and besieged Jepara. This is the most dangerous time for VOC. Military superiority would enable VOC to hold Semarang without any support from Mataram forces, but it would mean nothing since a turbulent interior would disrupt trade and therefore profit, VOC’s main objective. One VOC high official, Abraham Roos, suggested that VOC assumed royal function in Java by denying Pakubuwana II’s “legitimacy” and asking the regents to take an oath of loyalty to VOC’s sovereignty. This was turned down by the Council of Indies (Raad van Indie) in Batavia, since even if VOC managed to conquer the coast, it would not be strong enough to conquer the mountainous interior of Java, which do not provide much level plain required by Western method of warfare. Therefore, the Dutch East India Company must support its superior but inadequate military by picking the right allies. One such ally had presented itself, that is Cakraningkrat IV of Madura who could be relied on to gold the eastern coast against the Chinese, but the interior of Eastern and Central Java was beyond the reach of this quarrelsome prince. Therefore, VOC had no choice but to side with Pakubuwana II.

VOC’s dire situation after the Battle of Tugu in July 1741 did not escape the king’s attention, but – like Amangkurat II – he avoided any open breach with VOC since his own kraton was not lacking of factions against him. He ordered Patih Natakusuma to do all the dirty work, such as ordering the Arch-Regent (Adipati) of Jipang (Bojonegoro), one Tumenggung Mataun, to join the Chinese. In September 1741, the king ordered Patih Natakusuma and several regents to help the Chinese besiege Semarang and let Natakusuma attack VOC garrison in Kartasura, who were starved into submission in August. However, reinforcement from VOC’s posts in Outer Islands were arriving since August and they were all wisely concentrated to repel the Chinese around Semarang. In the beginning of November, the Dutch attacked Kaligawe, Torbaya around Semarang, and repulsed the alliance of Javanese and Chinese forces who were stationed in four separate fortress and did not coordinate with each other. At the end of November, Cakraningrat IV had controlled the stretch of east coast from Tuban to Sedayu and the Dutch relieved Tegal of Chinese rebels. This caused Pakubuwana II to change sides and open negotiations with the Dutch.

In the next year 1742, the alliance of Javanese and Chinese let Semarang alone and captured Kudus and Pati in February. In March, Pakubuwana II sent a messenger to negotiate with the Dutch in Semarang and offered them absolute control over all northern coasts of Java and the privilege to appoint patih. VOC promptly sent van Hohendorff with a small force to observe the situation in Kartasura. Things began to get worse for Pakubuwana II. In April, the rebels set up Raden Mas Garendi, a descendant of Amangkurat III, as king with the title of Sunan Kuning.

In May, the Dutch agreed to support Pakubuwana II after considering that after all, the regencies in eastern interior were still loyal to this weak king but the Javano-Chinese rebel alliance had occupied the only road from Semarang to Kartasura and captured Salatiga. The princes in Mataram tried to attack the Javano-Chinese alliance but they were repulsed. On 30 June 1742, the rebels captured Kartasura and van Hohendorff had to run away from a hole in kraton wall with the helpless Pakubuwana II on his back. The Dutch, however, ignored Kartasura’s fate in rebel hands and concentrated its forces under Captain Gerrit Mom and Nathaniel Steinmets to repulse the rebels around Demak, Welahan, Jepara, Kudus and Rembang. By October 1742, the northern coast of Central Java was cleaned of the rebels, who seemed to disperse into the traditional rebel hideout in Malang to the east and the Dutch forces returned to Semarang in November. Cakraningrat IV, who wished to free the eastern coast of Java from Mataram influence, could not deter the Dutch from supporting Pakubuwana II but he managed to capture and plunder Kartasura in November 1742. In December 1742, VOC negotiated with Cakraningrat and managed to persuade him to relieve Kartasura of Madurese and Balinese troops under his pay. The treasures, however, remained in Cakraningrat’s hand.

The reinstatement of Pakubuwana II in Kartasura in 14 December 1742 marked the end of the Chinese war. It showed who was in control of the situation. Accordingly, Sunan Kuning surrendered in October 1743, followed by other rebel leaders. Cakraningrat IV was definitely not pleased with this situation and he began to make alliance with Surabaya, the descendants of Untung Surapati, and hired more Balinese mercenaries. He stopped paying tribute to VOC in 1744, and after a failed attempt to negotiate, the Dutch attacked Madura in 1745 and ousted Cakraningrat, who was banished to the Cape in 1746.

[edit] Division of Mataram

The divided Mataram in 1830, after the Java War.

The fall of Kartasura made the palace inauspicious for the king and Pakubuwana II built a new kraton in Surakarta or Solo and moved there in 1746. However, Pakubuwana II was far from secure in this throne. Raden Mas Said, or Pangeran Sambernyawa (meaning “Soul Reaper”), son of banished Arya Mangkunegara, who later would establish the princely house of Mangkunagara in Solo, and several other princes of the royal blood still maintained rebellion. Pakubuwana II declared that anyone who can suppress the rebellion in Sukawati, areas around present day Sragen, would be rewarded with 3000 households. Pangeran Mangkubumi, Pakuwana II’s brother, who would later establish the royal house of Yogyakarta took the challenge and defeated Mas Said in 1746. But when he claimed his prize, his old enemy, patih Pringgalaya, advised the king against it. In the middle of this problem, VOC’s Governor General, van Imhoff, paid a visit to the kraton, the first one to do so during the whole history of the relation between Mataram and VOC, in order to confirm the de facto Dutch possession of coastal and several interior regions. Pakubuwana II hesitantly accepted the cession in lieu of 20.000 real per year. Mangkubumi was dissatisfied with his brother’s decision to yield to van Imhoff’s insistence, which was made without consulting the other members of royal family and great nobles. van Imhoff had neither experience nor tactfulness to understand the delicate situation in Mataram and he rebuked Mangkubumi as “too ambitious” before the whole court when Mangkubumi claimed the 3000 households. This shameful treatment from a foreigner who had wrested the most prosperous lands of Mataram from his weak brother led him to raise his followers into rebellion in May 1746, this time with the help of Mas Said.

In the midst of Mangkubumi rebellion in 1749, Pakubuwana II fell ill and called van Hohendorff, his trusted friend who saved his life during the fall of Kartasura in 1742. He asked Hohendorff to assume control over the kingdom. Hohendorff was naturally surprised and refused, thinking that he would be made king of Mataram, but when the king insisted on it, he asked his sick friend to confirm it in writing. On 11 December 1749, Pakubuwana II signed an agreement in which the “sovereignty” of Mataram was given to VOC.

On 15 December 1749, Hohendorff announced the accession of Pakubuwana II’s son as the new king of Mataram with the title Pakubuwana III. However, three days earlier, Mangkubumi in his stronghold in Yogyakarta also announced his accession with the title Mangkubumi, with Mas Said as his patih. This rebellion got stronger day by day and even in 1753 the Crown Prince of Surakarta joined the rebels. VOC decided that it did have not the military capability to suppress this rebellion, though in 1752, Mas Said broke away from Hamengkubuwana. By 1754, all parties were tired of war and ready to negotiate.

The kingdom of Mataram was divided in 1755 under an agreement signed in Giyanti between the Dutch under the Governor General Nicolaas Hartingh and rebellious prince Mangkubumi. The treaty divided nominal control over central Java between Yogyakarta Sultanate, under Mangkubumi, and Surakarta, under Pakubuwana. Mas Said, however, proved to be stronger than the combined forces of Solo, Yogya and VOC. In 1756, he even almost captured Yogyakarta, but he realized that he could not defeat the three powers all by himself. In February 1757 he surrendered to Pakubuwana III and was given 4000 households, all taken from Pakubuwana III’s own lungguh, and a parcel of land near Solo, the present day Mangkunegaran Palace, and the title of “Pangeran Arya Adipati Mangkunegara”. This settlement proved successful in that political struggle was again confined to palace or inter-palace intrigues and peace was maintained until 1812.

b.Mataram Kingdom’s article

The Yogyakarta territory was once a large rain forest called “Alas Mentaok” (Mentaok Jungle) and Beringan Jungle of Paberingan. The Sultan of Pajang, Prince Hadiwijoyo (1546-1586) gave this jungle to Ki Gede Pemanahan and his son, Danang Sutowijoyo who was also an adopted son of the Sultan. As a reward for their services of extinguishing rebellion toward the Sultan that was led by ill Regent of Jipang Panolan, Haryo Penangsang. Along with Ki Juru Mertani and Ki Penjawi. Ki Gede Pemanahan stalled to cut off the jungle and founded a new country in Alas Mentaok tender the blessing of Sunan Kalijogo, a member of the nine greatest Javanese Islamic preachers (Wall Songo).
Along with the decline of the popularity of Pajang Sultanate. Ki Gede Pemanahan developed and spent a great effort la get more power in ruling the place presently known as Kota Cede. Deriving from the name of the jungle the had cut off to build a new place. Mentaok, they called their new regency “Mataram”, like the name of a great Hindu Kingdom in central Java in 7th century which is often called ancient Mataram Kingdom. For this hard effort then Ki Gede Pemanahan was honored with a new name as Adipati Haryo Mataram.
The one who succeeded to build Mataram Kingdom and centralized it in Kota Gede was Danang Sutowijoyo was also well-known as Ngabehi Loring Pasar for his dwelling was in the northern side of pasar (market) After beeing crowned as the Adipati (Regent) to be the successor of his father who had already passed away and honored with to new name. Panembahan Senopati, Danang Sutowijoyo rose a rebellion towards Pajang Sultanate and fought for his own power to role in Mataram. After winning the Great War against the armed soldiers of Pajang Sultanate, Danang Sutowijoyo Was crowned as the first King of Mataram and honored as Panembahan Senopati Ing Ngalogo Sayidin Panotogomo (1588-1601). In the reign of Panembahan Senopati who, as legend says, was helped by Kanjeng Ratu Kidul, the ruler and Queen of South Sea, Mataram Kingdom extended its territory to the places, which are now known as Sukoharjo, Klaten, Sragen as well as Surakarta.
When Sultan Paku Buwono III (1749-1788) was on the throne, they move their capital city of the Kingdom to Surakarta. It happened as the result of Gianti Treaty that vas hold on February 13rd, 1755 by Paku Buwono III, Prince Mangkubumi, and Van Johendotf the governor General of Netherland Indies as the initiator: This treaty was just used to persuade Prince Mangkubumi in order V.O.C. Under this treaty they agreed to divide Mataram into two, Surakarta Hadiningrat and Yogyakarta. Surakarta Hadiningrat was given to Paku Buwono and Yogyakarta to Prince Mangkubumi. Prince Mangkubumi then built a new Kingdom in the place that used to be Mataram Regency cutting of Beringan jungle near Garjitowati village, not so far front Kota Gede. This New Kingdom was called as Ngayogyakarta Hadiningrat. Prince Mangkubumi sat on the throne as the first Sultan of Yogyakarta and honored with a new name, Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Yogya lies in the center of Java’s ‘realm of the dead’, a city surrounded by anceint ruins. The Mataram empire of Central Java felt apart under Dutch pressure and formed the two states of Surakarta (Solo) and

b.Wayang Ketoprak Djaka Tingkir, produced by Lokananta

 

Lokananta’s the Javanese Wayang ketoprak , Djaka Tingkir music record look below:

,

Sultan Pajang’s  History

Kingdom of Pajang

Pajang
1568 ¹–1586
Capital Pajang
Language(s) Javanese
Religion Islam
Government Monarchy
King
 – 1568-1586 ¹ Hadiwijaya
History
 – Hadiwijaya assumes throne 1568 ¹
 – transfer of power to Mataram 1586
¹ (1548-1568 was interregnum due to various claimants after death of the last Demak ruler, King Trenggana of Demak Kingdom)

The Kingdom of Pajang (1568–1586) was founded a short-lived Muslim state in Java. It was established by Hadiwijaya or Jaka Tingkir, Lord of Boyolali, after ending civil war in and as successor to Sultanate of Demak. Hadiwijaya was a descendant of Brawijaya V, the last king of Majapahit, and Trenggana, the Sultan of Demak.

In the last battle against the last claimant of Demak, the vicious Arya Penangsang, Jaka Tingkir commissioned his greatest vassal: Ki Ageng Pamanahan and his son, Sutawijaya to destroy Arya Penangsang’s army. The two managed to defeat and kill Arya Penangsang and were thus awarded a fief in a forest called Alas Mentaok, now Kotagede, on which they founded their base for the future capital of Mataram Kingdom. (1)

Legend said that the King Hadiwijaya was very fond of Sutawijaya that he adopted Sutawijaya as the play-mate of his heir, Prince Banawa. Hadiwijaya’s rule was supposed to be succeeded by this weak-minded heir, but a rebellion by a vassal named Ario Pangiri forced the heir of King to seek asylum to his childhood friend, Sutawijaya.

Pledged to help, Sutawijaya gathered his army and defeated Ario Pangiri and seized the Pajang Palace. The Prince Banawa then submitted his crown to Sutawijaya and thus ended the history of Kingdom of Pajang in 1586, when Sutawijaya founded the greatest Islamic kingdom in Java: Mataram Sultanate.

Djoko Tingkir Info

Joko Tingkir, or sometimes written as Jaka Tingkir, is the founder and the first king of the Sultanate of Pajang. He ruled from 1549 to 1582. He is also known by the title of Sultan Hadiwijaya.

 Ancestry

He was the son of Ki Ageng Pengging, born as Mas Karèbèt. When he was conceived, his father was having a wayang beber (shadow puppet) show performed by Ki Ageng Tingkir as the dalang. Both are the followers of Syekh Siti Jenar. Afterwards, unfortunately Ki Ageng Tingkir become sick and then died.

Ten years later, Ki Ageng Pengging was given capital punishment on the ground of rebellion against the Sultanate of Demak. Sunan Kudus become the executioner. After his husband’s death, Nyai Ageng Pengging also fell sick and died. So, since then Mas Karebet was taken care of by Nyai Ageng Tingkir, the widow of Ki Ageng Tingkir.

When he grew up, he became widely known as Jaka Tingkir. He followed the teaching of Sunan Kalijaga, as well as Ki Ageng Sela. He was also considered as related to the three grandsons of Ki Ageng Tingkir, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, and Ki Panjawi.

The Geanology of Jaka Tingkir

Abdurrohman (P. Sambud Bagda) bin Abdul Halim (P. Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Ishak bin Ibrahim Asmura bin Jamaludin Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Khan bin Amir Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad Shohibul Mirbat bin Ali Chali’ Qasam bin Alawi Muhammad bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir Ilallah bin Isa Arrumi bin Muhammad Annaqib bin Ali Al-’Uroidi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husein putra Siti Fathimah Az-Zahro binti Rasulillah, Muhammad saw

Ranji Joko Tingkir

Marga (saat dilahirkan) Pajang
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Joko Tingkir
Nama lainnya Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, Sultan Pajang, Kanjeng Sultan Hadiwijoyo, Kanjeng Raden Hadiwijoyo, Kanjeng Sultan Kasunanan Pajang, Raden Mas Hadiwijoyo, Mas Karebet, Jaka Tingkir, Sri Baginda Datuk Palembang
Ayah ibu # Ki Ageng Kebo Kenongo [Pengging] Nyai Ratu Mandoko [Azmatkhan]

Kejadian-kejadian

 kelahiran anak: Putri (no 13) [?]

 kelahiran anak: Pangeran Aryo Benowo [Pajang]

 kelahiran anak: Ratu Pembayun [Demak]

 perkawinan: Raden Rara Wuragil [Wuragil]

 perkawinan: Ratu Mas Cempaka [Demak]

Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

//

kematian: 1518
kelahiran: Terdapat berbagai versi tentang asal-usul pendiri Kesultanan Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selir Cina. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa
perkawinan: Putri selir / Garwa ampil
gelar: Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Arya Kenceng dan saudara-saudaranya dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.
gelar: Arya Kutawandira dibawah pimpinan saudaranya Arya Kenceng dalam pemerintahan penguasa Bali yang menjadi bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.
gelar: Arya Sentong dibawah pimpinan saudaranya Arya Kenceng dalam pemerintahan penguasa Bali yang menjadi bawahan Majapahit. Arya Sentong dianggap sebagai leluhur Tabanan dan Badung.
gelar: Arya Belog dibawah pimpinan saudaranya Arya Kenceng dalam pemerintahan penguasa Bali yang menjadi bawahan Majapahit. Arya Belog dianggap sebagai leluhur Tabanan dan Badung.
pekerjaan: Adipati di Ponorogo
Kakek-nenek
Ayah ibu
kelahiran:
Ayah ibu
== 3 ==
== 3 ==
Anak-anak
kelahiran:
Anak-anak
Cucu-cucu
kelahiran:
kelahiran:
kelahiran:
kelahiran:
Cucu-cucu

 

Kepustakaan

  • Andjar Any. 1980.Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • Andjar Any. 1979.Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001.Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000.Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
  • 1987.Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • 2007.Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  • Ricklefs, M. C.,A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8
  • Slamet Muljana. 1979.Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

THE JOKOWI HISTORY COLLECTIONS 2014

 

THE JOKOWI HISTORY COLLECTION

PART 2014

CREATED BY

DR IWAN SUWANDY,MHA

LIMITED E-BOOK IN CD ROM EDITION

COPYRIGHT @DR IWAN 2014

JOKOWI IN 2014

JUNE 2014

 

JOKOWI AND JK DURING  PROCLAIMED AS PRESIDENT AND  VICE PRESIDENT KANDIFAT  AT INDONESIAN INDPENENDENT MEMORIAL BUILDING AT MENTENG JAKARTAAUGUST 2014

LOOK THEIR CAMPAIGN POSTER BELOW

 

 

JOKOWI WITH JAPAN FOREIGN MENISTER IN JAKARTA GOVERMENT OFFICE

 

JOKOWI WHEN WIN AS INDONESIAN PRESIDENT ANNOUNCE BY kpu

 

 

JOKOWI JK AFTER mAKAMAH kONSTITUTSI ANNOUCE DIDNOT ACCEPT PRABOWO PTOTEST AND ACCEPR kpu DICITION JOKOWI JK AS THE 7th PRESIDENT AND VICE PRESIDENT RI

jokowi by om pasikom kompas news paper 2014

 

 

 

THE JOKOWI HISTORY COLLECTIONS intro

THIS THE SAMPLE OF DR IWAN CD ROM,THE COMPLETE EXIST,IF YOU WANT THE COMPLETE CD 1945-1945,PRICE TIGA JUTA RUPIAH SUDAH TERMASUK BIAYA PENGIRIMAN LIWAT TIKI,BAGI KOLEKTOR LUAR NEGERI SILAHKAN MEMINTA BANTUAN KOLEKTOR INDONESIA BECAUASU DIFFICULT AND HIGH COST TO SEND ABROAD,

SILAHKAN MENGHUBUNGI EMAIL DR IWA

iwansuwandy@gmail.com

DENGAN MENGUPLOAD KOPI ktp,RIWAYAT HIDUP SINGKAT,SERTA ALAMAT LENGKAP DENGAN NOMOR TILPON AGAR TIBA DENGAN SELAMAT BILA DIKIRIM KE RUMAH ANDA

The Jokowi History Collection

part introduction

Created By

DR Iwan Suwandy,MHA

Limited E-Book In CD-ROM

Special For Senior Collectors And Historian

Copyrighy @ Dr Iwan 2014

 

INTRODUCTION

Saya mulai tertarik dengan Jokowi saat pemimilu Daerah Gubernur DKI, dan kemudian saat Pilpres RI 2014 walaupun kemudian saya beralih ke capres PrabowoSubianto karena saya menginggat jasa ayahnta Prof Sumitro mendurukan fajultas Ekonomi di Padang sumatera Barat tempat kelahiran saya dan Prof Sumitro membantu perjuangan rakyat Sumatera Barat menentang Komunisme.

Kemudian saya kembali tertarik dengan Jokowi karena Prabo tidak mengakuihasil PIlpres dan mengugatnya di Mkamah Konstitusi,sifatnya yang arogan membuat simpari saya menghilang walaupun saat Pemilu saya memilihnya.

Untuk mengrahui bagaimana perlkembangan peranan presiden Indonesia Ke 7Widodo dengan wakilnya Moh Jusuf Kall(JK) saya akan mulai mengumpulkan informasi sejak kampanye Pemilu dimulai baik dari surat Kabar maupun dari internet,dan inilah hasilnya.

Semoga Karya Tulis ini dapat menjadi masukan bagi generasi penerus,dimasa mendatanf.

Selamat Pak Jokowi dan JK kami mengharapkan anda berdua dapat meningkatkan peran dan keberhasilan republic ndonesia baik dalam negeri maupun luar negeri seperti yang di diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia

Jakarta Agustus 2014

Dr Iwan Suwandy,MHA

ENGLISH VERSION

I became interested when pemimilu Jokowi Regional Governor of Jakarta, and then when the Indonesian presidential election in 2014, although then I switched to a candidate because I menginggat PrabowoSubianto ayahnta services Sumitro mendurukan fajultas Prof. of Economics in West Sumatra Padang my birthplace and Prof. Sumitro help fight against the people of West Sumatra communism.Then I re interested Jokowi because Prabo not mengakuihasil mengugatnya in Mkamah Presidential Election and the Constitution, it is arrogant to make me disappear simpari elections even when I select it.To mengrahui how perlkembangan role of president of Indonesia to 7Widodo with his deputy Mohammad Jusuf Kall (JK) I will begin to gather information from the election campaign started either from the internet or from the news letter, and this is the result.Hopefully this Essay can be input for the next generation, future mendatanf.

Congratulations Mr. JK Jokowi and we hope you are both able to improve the role and success of the republic ndonesia both domestically and abroad as expected by all people in Indonesia

Jakarta in August 2014

Dr Iwan Suwandy, MHA

JOKOWI 2012

JOKO WIDODO

(JOKOWI)

INFORMATIONS COLLECTIOBNS

CREATED BY

Dr Iwan suwandy,MHA

Copyright @ 2012

Introductions

Baru saja Joko Widdod alias JOKWI memeangkan Pemilihan gubernuk DKI Jakarta berdasarkan Quick Count belaiu meraih  54 ,11%  suara dari rakyat Jakarta dan Gubernur yang lama DR Fauzi Bowo telah mengucapkan selamat kepadanya

jokowi info collections

Biodata Joko Widodo

Nama : Joko Widodo

alias: JOKOWI
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:

  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985

Karir:

  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)
  • Gunernur terpilih DKI Jakarta 2012

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.
Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

PICTURE COLLECTIONS

poster collections

CARICATURE COLLECTIONS

read More Info

 jakarta firs lady mrs jokowi profile

Istri Jokowi:

Menang Kalah itu Risiko

Tribunnews.com – Minggu, 25 Maret 2012 08:23 WIB 
Istri Jokowi: Menang Kalah itu Risiko

//

TRIBUNNEWS.COM -

Dengan tersenyum dan mencoba berdiplomasi di hadapan para wartawan di Loji Gandrung, Selasa awal pekan lalu, istri Wali Kota Solo Joko Widodo, Iriana menegaskan dirinya siap mengikuti keputusan sang suami, termasuk menanggung risiko terkait keputusan maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

“Sebagai istri saya mendukung keputusan suami. Mengalir saja. Menang kalah adalah risiko, dan apabila kalah pun harus juga siap,” ujarnya.

Keputusan Joko Widodo menjadi calon gubernur DKI berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sudah disinggung dalam keluarga, termasuk dengan anak anak mereka.  “Tunggu saja Pak Joko. Saya juga belum tahu teknisnya seperti apa selama kampanye,” katanya.

Dukungan penuh ditunjukan Iriana kepada Jokowi saat menaggapi pertanyaan wartawan. Ia hanya mengatakan, “Tidak bisa ditunjukkan lewat kata-kata sikap dukungan saya. Ini adalah tugas berat ya, jadi kita harus support dan berdoa semua lancar. Dan apabila Pak Joko menang, saya siap,” katanya singkat

source tribune news

Isteri AHOK

 Veronica Basuki T. Purnama

SIAPAKAH JOKO WIDODOD?

WHOS IS JOKO WIDODO?

 Whos IS JOKO WIDODO?
source. Biography Jokowi (Joko Widodo)
Monday, July 23, 2012
Biography Jokowi (Joko Widodo)

STUDI BANDING DUA TOKOH MASA LALU YANG SUDAH MULAI DILUPAKAN DENGAN DUA TOKOH MASA KINI YANG LAGI TOP

DISUNTING OLE

Dr Iwan Uwandy<MHA

bUku Elektronik gratis  Bagi

SELURUH RAKYAT INDONESIA

BERDASARKAN ARTIKEL KARANGAN SELURUH RAKYAT INDONESIA

Dengan Bantuan Kemajuan Teknologi

GOOGLE EKSPLORASI

KATA PENGANTAR

Dipagi yang sejuk ini  sya terbangun karen lampu tiba-tiba padam gelap

tal dapat tidur tetapi segera hidup lagi terang dalam sekejap berubah situasi

BEGITU JUGALAH DENGAN DUA TOKOH MASA LALU YANG SUDAH MULAI DILUPAKAN DAN TERANG DUA TOKOH MASA KINI YANG LAGI POPULER TERANG BENDERANG

KEDUA TOKOH ITU ADA HUBUNGANNYA.

Supaya pembaca tidak bosan saya tidak mencantumkan nama pengarang artikel dan refrensi terkait,karena saya anggap ini karangan seluruh rakyat indonesia dan

di tujukkan kepada seluruh rakyat Indonesia

Saya buat dipagi buta agar mata jadi bisa tidur lagi dalam waktu secepat mungkin.

Ayo kita muali

INILAH HASIL STUDI BANDING PENDAPAT RAKYAT INDONESIA TENTANG DUA TOKOH MASA LALU DAN DUA TOKOH MASA KINI

Semoga ada gunanya demi untuk kemajuan Bangsa dan negara Yang Kita Cintai Ini

Jakarta 1 April 2014

KATA ORANG DULU BERBOHONG DI HARI  APRIL MOB INI TIDAK ADA DOSANYA,TETAPI INI BUKAN BOHONG,SAYA JADI INGAT DULU TEMAN SAYA MENGUNDANG PESTA DANSA DI APRIL MOB BANYAK MUDA MUDI TERKECOH KARENA PESTA TAK ADA

TETAPI APRIL MOB TAHUN INI ADALAH KEJADIAN SEBENARNYA

PESTA DEMMOKRASI DIMULAI

HASIL STUDI BANDING, UCAPAN TERIMA KASIH KEPADA PENCIP[TA GOOGLE,ANDA TELAH MEMBANTU SAYA DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA

SIAPA ITU DUA TOKOH MASA LALU DAN MASA KINI ?

SOEMITRO

Sumitro Djojohadikusumo Suara Merdeka 2 Apr 1952 p1.jpg

Prof. Dr. Raden Mas Soemitro Djojohadikoesoemo (often spelt Sumitro Djojohadikusumo) (born in Kebumen, Central Java on May 29, 1917 and died in Jakarta on March 9, 2001) was one of Indonesia‘s most prominent economists. During his lifetime Sumitro held several prominent roles including the Dean of the Faculty of Economics at the University of Indonesia.

Soemitro’s children include the current Presidential candidate Prabowo Subianto and the Indonesian entrepreneur Hashim Djojohadikusumo. Bianti Djiwandono, his daughter is married to the former Governor of Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono. His son Prabowo was briefly married to Titiek Hediati, the daughter of former Indonesian president Suharto

 

Prabowo Subianto (born 17 October 1951) is an Indonesian businessman, politician and former Lieutenant General in the Indonesian National Armed Forces. In the Indonesian presidential election, 2009 he ran for the vice-presidency as part of Megawati Sukarnoputri‘s campaign for president.[1] In November 2011, Prabowo announced his intention to run for president in the next Indonesian presidential election, 2014.[2] Prabowo is the son of Sumitro Djojohadikusumo, an Indonesian economist, and is also the former husband of Siti Hediati “Titiek” Suharto, the late President Suharto‘s daughter

 

 

 

 

 

Biografi Jendral Besar Soedirman. Seluruh masyarakat Indonesia pasti mengenal salah satu pahlawan besar ini, namanya sangat terkenal di Indonesia diaalah Jendral Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Jenderal besar Indonesia ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2

//
Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.Berikut Ini Data Lengkap Tengtang Jendral Besar Soedirman
Nama:
Jenderal Sudirman
Lahir:
Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal:
Magelang, 29 Januari 1950Agama:
Islam
Pendidikan Fomal:
– Sekolah Taman Siswa
– HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara:
Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan:
Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi:
Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
– Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
– Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
– Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan:
Pahlawan Pembela Kemerdekaan
Meniggal:
Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi adalah tokoh pemimpin terpuji Walikota Solo dan berperan memperomosikan Mobil ESEMKA. Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Agama Jokowi adalah Islam. Pada 2012 Jokowi memenangkan Pilkada DKI Jakarta dan ditetapkan sebagi Gubernur DKI Jakarta. Banyak pihak optimis dengan kinerja Jokowi dan wakilnya Ahok untuk memperbaiki kota Jakarta yang semerawut.

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.

Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.

Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.

Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya.

Biodata Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:

  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985

Karir:

  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)

Penghargaan:

  • Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award

Selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya

  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesiaa

FEUI berdiri pada tanggal 18 September 1950 dan saat ini terletak di Kampus UI Depok. Kelahiran fakultas ini bermula ketika Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) memisahkan diri dan memilih untuk berdiri secara independen dengan membentuk fakultas baru, yaitu Fakultas Ekonomi. Pada saat yang bersamaan mahasiswa Akademi Nasional yang juga mengkaji ilmu ekonomi bergabung dengan fakultas baru tersebut. Maka jadilah mereka sebagai mahasiswa angkatan pertama di FEUI.

Pada tahun-tahun awal kelahiran FEUI, Kegiatan perkuliahan berlangsung dengan kondisi darurat. Ketika itu, jumlah staf pengajar sangat terbatas, dan hanya ada satu pengajar yang berkebangsaan Indonesia di sana, yaitu Prof. MR. R. Soenario Kolopaking yang juga menjadi dekan pertama FEUI. Kegiatan perkuliahan diadakan di tiga tempat, yaitu Aula Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jalan Tambak, Gedung Kesenian Pasar Baru dah Gedung Adhoc Stat (yang sekarang bappenas di jalan Diponegoro). Urusan administrasi pun harus ditangani oleh mahasiswa sendiri.

Pada tahun 1951, Prof. Soenario selaku Dekan FEUI menyatakan mengundurkan diri. Beberapa perwakilan mahasiswa angkatan pertama kemudian menemui Dr. Soemitro dan memintanya menjadi Dekan FEUI, dan ia menyetujuinya. Kesediaan Soemitro—walaupun saat itu belum menjadi guru besar—merupakan penyelesaian bagi masalah kepemimpinan FEUI. Pada masa kepemimpinan Dr. Soemitro ini, FEUI mengirimkan beberapa asisten peneliti untuk tugas belajar di berbagai universitas di Amerika Serikat dengan dukungan dana dari Ford Foundation. Selain itu, FEUI juga mendatangkan staf pengajar dari AS, dan dengan sendirinya mengurangi dominasi pengajar berkebangsaan Belanda di kampus. Jurusan yang ada di FEUI juga ditambah, dari yang awalnya hanya mempunyai satu jurusan (Ekonomi Perusahaan), dikembangkan menjadi tiga jurusan, yaitu Ekonomi Umum, Sosiologi Ekonomi, dan Ekonomi Perusahaan. Kegiatan FEUI pada periode ini mulai meluas ke bidang penelitian, yang dilakukan melalui Seminar Ekonomi Perusahaan dan Balai Penyelidikan Masyarakat. Selanjutnya Balai Penyelidikan Masyarakat berubah menjadi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat tahun 1953.

Pada tahun 1964, Prof. Widjojo Nitisastro ditunjuk sebagai Dekan FEUI. Belaiu adalah dekan pertama yang merupakan lulusan FEUI. Pada masa terjadi perubahan yang cukup banyak terutama dalam pembentukan institusi pendukung. Lembaga yang pertama dibentuk oleh Widjojo ini adalah Lembaga Demografi, tahun 1964. Tahun berikutnya menyusul pembentukan Laboratorium Statistik. Dalam bidang akademik, perubahan terjadi menyangkut awal tahun ajaran, dari bulan September menjadi Februari, namun hal ini terjadi lebih dikarenakan oleh krisis politik Indonesia.

Pada tahun-tahun berikutnya, FEUI berkembang dengan pesat. Pada masa kepemimpinan Prof. Ali Wardhana (1968-1978), Iluni FEUI dibentuk. Pada tahun 1982, sistem perkuliahan berubah dari sistem tingkat ke sistem SKS. Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Mohammad Arsjad Anwar (1988-1994), kampus FEUI di Salemba dipindahkan ke kampus UI Depok.

Hingga saat ini, FEUI telah dipimpin oleh 15 Dekan. Jabatan Dekan saat ini dipegang oleh Ari Kuncoro yang terpilih untuk masa jabatan 2013-2017

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Ketika Letjen TNI Prabowo Subianto dipecat dari ABRI, banyak mata menatap ke arah Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo—ayah Prabowo yang juga mantan Menteri Perdagangan dan Menristek pada pemerintahan Soeharto. Menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Sumitro sempat melontarkan sejumlah kritik keras terhadap kepemimpinan presiden yang juga besannya itu. Lalu apa yang dirasakannya ketika Prabowo dipecat? Apa pula pandangannya tentang 32 tahun kekuasaan Soeharto? DeTAK beruntung berkesempatan mewawancarai guru besar ekonomi UI yang oleh sejumlah kalangan digelari sebagai “Ayatullah” ekonomi Indonesia itu. Berikut petikan wawancara yang dilakukan di rumah­nya hari Minggu (6/9/1998) sore lalu:

 

Menurut Anda, apa yang paling krusial dari keadaan sekarang ini?

Yang menamakan  diri  pemerintahan, agregate kenegaraan itu memer­lukan legitimasi. Sekarang yang ada baru legalitas. Saya mengadakan pembedaan antara legality (keabsahan hukum) dan legitimacy (pen­gakuan mandat rakyat—Red.). Legality bisa saja dibikin dan sekarang ini memang dibikin. Tapi legitimacy atau mandat dari rakyat itu belum.

 

Indikasinya?

Sekarang itu masyarakat kita, dunia lembaga formal, DPR/MPR, semua sedang resah terus. Begitu juga para politisi yang kurang puas, para profesional, para akademisinya ribut terus. Semua menghendaki reformasi, tapi apa reformasi yang dimaui, kurang jelas. Ini yang secepatnya harus diatasi.

 

Dengan situasi seperti ini, bagaimana cara memenangkan kepercayaan rakyat dan dunia luar?

Salah satunya lewat pemilu. Tapi pemilu yang pelaksanaannya den­gan undang-undang pemilihan yang sudah direformasi, yang sudah dijanjikan. Walau pasti tidak mungkin perfek, tapi itu kan legal for­mal sekaligus legitimasi yang diperlukan.

 

Tapi bagaimana bila ternyata ABRI masih bersikeras mendukung hanya Golkar?

Mungkin ABRI tidak melihat alternatif lain selain Golkar.

 

Apa tidak mungkin sikap ini merupakan kelanjutan budaya poli­tik selama tiga puluh tahun yang diwariskan Soeharto?

Memang budaya politik yang saya rasa tertanam selama 32 tahun, merupakan hambatan dari demokrasi tulen. Tentang hak rakyat dan kedaulatan rakyat, dalam benak, pikiran dan perasaan masyarakat sekarang ini masih pada pengertian siapa yang punya legalitas itu dominan. Pokoknya, seolah yang berkuasa selalu benar terus.

 

Kembali ke masalah Pak Harto. Dalam kaitan psiko-politik Pak Harto ditempatkan sebagai masih memainkan peran penting, menurut Anda?

Bahwasanya orang-orang masih melihat di belakang Habibie dan Wiranto ada bayangan Soeharto, itu juga psikologis sifatnya. Tapi saya nggak lihat itu. Saya rasa, saya kenal besan saya itu dengan baik, walaupun nggak tahu seluruhnya, tapi saya pernah bekerja dekat dengan dia.

 

Pandangan Anda terhadap Pak Harto yang sekarang banyak menerima hujatan?

Saya rasa masalahnya lain dulu lain sekarang. Pada awal bekerja de­ngan Pak Harto, waktu itu menurut saya dia baik dan hebat. Selama 10 tahun sebagai pembantu presiden, kita para teknokrat berhasil membangun, dan gawatnya ekonomi bisa diatasi. Karena kita bisa percaya dan bisa mengandalkan dia secara sepenuhnya. Masa itu dia benar-benar pegang janji dan kata-katanya. Begitu banyak kritik di luar negeri, dan untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh menteri­-menterinya, Pak Harto selalu bersikap, “Sudahlah saya tanggung jawab.” Hebatnya di situ.

 

Mitro - Bio Crop Outer copy

 

Sekarang ini bagaimana?

Sesudah itu memang ada perubahan. Seingat saya, 10 tahun terakhir ini yang paling kentara buat saya.

 

Permasalahan intinya apa?

Dua hal, terlalu lemah terhadap anak-anaknya dan pengaruh yang sangat merugikan masyarakat dan negara dari kelakuan anak-­anaknya. Dan selain itu Soeharto terlalu lama berkuasa, kombinasi dua itulah yang terbaca oleh saya.

 

Di satu sisi betul bahwa anak-anaknya juga turut menciptakan suasana yang tidak menguntungkan. Tapi apakah ada kemung­kinan bahwa sebetulnya the real Soeharto ya seperti itu. Seperti tuduhan rakus harta dan haus kekuasaan. Menurut Anda?

Haus kekuasaan mungkin. Tapi greedy material thing (rakus harta benda), arahnya menurut saya, pribadinya loh, itu tidak. Jadi dia ambil kekayaan supaya kekuasaan semakin kuat terkonsentrasi padanya. Seperti kasus yayasan-yayasan, semua itu untuk kekuasaan. Dia jadikan salah satu sumber dana menghimpun keku­atan untuk mempengaruhi orang lain. He needs money to buy power, lebih mengarah ke sana. Tapi memang… pengaruh anak-anaknya besar sekali.

 

Perhatian pada anak yang berlebihan ini, sebagai mantan menteri dan besan, adakah penjelasan rasional yang Anda bisa sampaikan?

Mungkin begini… Saya pernah membicarakan masalah ini dengan orang tua saya, ibu saya. Memang ada semacam beban kejiwaan masa lalu. Suatu waktu dalam satu acara keluarga, waktu saya berusa­ha memperkenalkan keluarga kami dan nanya perihal keluarga Pak Harto, tanpa saya duga dia berbicara dengan sangat intens mengenai masa lalu dirinya.

 

Tepatnya kapan kejadian itu?

Oh, itu saat saya melamar Titiek (untuk jadi isteri Prabowo—Red.). Yah, ini saya buka sekalian saja. Pak Harto bercerita bahwa sewaktu dia masih dalam kandungan, ibunya sudah mengasingkan  diri  dari dunia keduniaan. “Jadi sejak lahir saya sebenarnya enggak kenal ibu kandung saya. Jadi saya besar di desa. Saya jadi rebutan saat saya umur 10 tahun, antara keluarga yang mengasuh saya dengan bapak kandung saya. Kemudian saya dikompromikan ditaruh di Wonogiri, di keluarga mantri, bapaknya Sudwikatmono. Makanya Sudwikatmono lebih dari saudara kandung….” Begitu menurut ceritanya.

 

prabowo004

 

Makna dari peristiwa itu?

ltulah yang membuat dirinya berlebih terhadap anak-anaknya. Karena tidak mau anak-anaknya bernasib seperti masa kecilnya yang gelap keluarga dan kasih sayang orang tua aslinya. Makanya sekarang ia tebus dengan memberikan segalanya pada anak-­anaknya.

 

Artinya, dalam hal ini posisi anak di sini dengan posisi bangsa dan negara, menurut Anda, kira-kira kalau Pak Harto disuruh mengambil pilihan, dia akan memilih yang mana?

Nyatanya dia pilih anaknya. Kenapa? Saudara tadi bicara soal sindrom, saya rasa dia juga terbiasa merasakan ungkapan l‘Etat c’est moi, negara adalah saya. Itu ‘kan sindrom budaya keraton juga, tuh. Seperti Amangkurat VII, bukan Amangkurat I.

 

Anda sebagai besan pernah nggak menegur?

Mungkin saya satu-satunya. Dua kali tentang anaknya. Saya dengar bahwa Benny Moerdani juga pernah singgung itu, tapi dimarahi. Saya dengar dari Sudharmono.

Saya datang ke dia, nggak tahu persis kapan, mungkin kira-kira 6-7 tahun lalu, dua kali saya nanya di Cendana. Saya kan Ketua Umum IKPN (Ikatan Koperasi Pegawai Negeri), saya sampaikan bahwa putra-­putra Bapak sudah menjadi isu politik. Saya sengaja nggak mengritik, hanya menyampaikan fakta saja. Dia diam, tidak ada perubahan. Saya nggak tahu apa dia marah atau dia terima. Waktu saya pamit, di pintu dia bilang, “Iya Pak Mitro, saya menyadari anak-anak saya terkena isu politik.” Nah, saya kan lega.

 

Mengapa hasilnya tetap sama, tak ada perubahan berarti?

Wah, itu yang saya sulit mengerti…

 

Bagaimana Anda memposisikan Pak Harto sebagai seorang besan?

Ini hubungan yang sifatnya pribadi, jadi saya akan bicara secara umum saja. Saya kira tidak usahlah menilai hubungan pribadi dalam konteks pembicaraan ini.

Saya tidak pernah membantah bahwa saya mempunyai utang budi politik kepada Soeharto, sebab dialah yang memungkinkan saya kembali ke tanah air dari pengasingan. Dia sengaja mengirim Ali Moertopo untuk menemui saya dan meminta saya pulang. Akan tetapi utang budi saya yang paling utama dan lebih luas lagi ialah kepada rakyat dan masyarakat bangsa saya. Di kala kepentingan rak­yat dilanggar, dan ini terjadi beberapa kali dalam pengalaman saya, waktu itu juga saya harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

 

Kalau Anda sendiri terhadap anak-anak Anda bagaimana?

Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….”

 

Jawaban Pak Harto?

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua. Maklum etos itu telah saya tanamkan sejak saya jadi buron politik di zaman pemerintahan Bung Karno. Hidup di luar negeri itu harus mandiri. Kalau soal anak, Pak Harto memang sangat lemah dan di situlah kelemahannya yang mendasar.

 

Sebagai ayah, Anda sendiri bagaimana menghadapi kasus Prabowo ini?

Begini, saya mulai dengan dua hal dulu. Saya mengingatkan apa yang pernah saya bilang selalu sebagai prinsip dasar yang tak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap anggota keluarga: unequivocally, human dignity, dan social justice merupakan hal yang harus selalu dijunjung tinggi. Tanpa itu, mau jadi apa kita?!

Saya nggak bisa membayangkan menghadapi situasi sekarang. Itu pertama. Kedua, dengan situasi sekarang saya sekeluarga mendukung segenap langkah yang bertujuan menegakkan keadilan masyarakat, termasuk dalam kasus Prabowo.

Mengadili perwira dalam tata cara yang tidak fair dan tidak kesatria itu yang tidak saya setuju. Dalam kaitan human dignity dan human right, jangan atasan harus selalu benar…. Saya masih ingat tahun per­tama dia di Akabri, taruna di situ diajar untuk “kejam” sekali. Taruna kedua, ketiga, itu boleh apa saja terhadap juniornya. Di West Point nggak boleh begitu. Jadi darnpak dari budaya pendidikan seperti itu, saya rasa sekarang it is danger, apalagi seperti menghadapi Raja Jawa ini (Soeharto—Red.), jenderal-jenderal nggak berani.

 

prabowo 03

 

Kembali pada kasus Prabowo, bagaimana dia sebagai militer dalam pandangan Anda?

Dalam beberapa hal Bowo mungkin kompromi. Seperti saya kasih kasus di Timor Timur itu, nggak mungkin sama komando mem­bangkang atasannya. Tapi ada kasus dia ternyata membangkang. Karena tidak mau nurut perintah disuruh membunuh tawanan perang yang tak bersenjata. Saya mendukung langkah-langkah dia yang seperti itu, walau terkena sanksi tak apalah.

 

Termasuk yang sekarang?

Kasus Bowo khusus kali ini kok seakan-akan asas keadilan ini jadi kabur. Karena, pertama, Prabowo pada khususnya dan Kopassus pada umumnya, seolah yang paling bersalah dan satu-satunya yang diper­salahkan. Bahwa ada berbagai instansi dan kesatuan yang terlibat, mengapa harus ditutup-tutupi? Toh semua yang terjadi merupakan satu paket program, untuk menegakkan kekuasaan, status quo.

 

Jadi, dalam kasus Prabowo, Anda bukan tidak setuju untuk diusut tuntas?

Caranya itu, loh. Dan, ini kan juga diakui oleh bekas-bekas korban penculikan. Mereka tidak ingin hanya Kopassus. Dengan dibawa ke Kramat (wilayah komando Kodam V Jaya—Red.), jelas yang terlibat bukan hanya Kopassus. Tapi mengapa semua seolah-olah terpusat ke Bowo, semua kecaman ditujukan ke dia?! Apakah seorang Prabowo begitu berkuasa hingga bisa perintah sana-sini ke berbagai daerah dan institusi? Padahal, menurut seorang mantan Kasad, seperti ditulis DeTAK, kalau dalam ABRI ada oknum yang salah itu dua tingkat di atas kena, turut bertanggung jawab. Sebagai Danjen Kopassus kan dia punya dua atasan, KSAD dan Pangab waktu itu, mereka nggak mungkin nggak tahu, seharusnya mereka tahu!

 

Tapi ada juga kebiasaan yang mengatakan bahwa bisa saja mere­ka nggak tahu karena…

Maksud Saudara adanya Pangti? Yak, seperti yang dibenarkan oleh
Hasnan Habib, Pangti itu (Soeharto—Red.) punya kebiasaan untuk langsung kasih perintah ke bawahan tanpa menghiraukan tingkat-tingkat hierarki. Saya itu sebagai menteri kadang-kadang di-by pass (dipo­tong). Nah, itu kebiasaan Raja Jawa. Tapi bagi dia that’s right. Jadi tidak pernah ada keberanian mengungkap secara kesatria tentang KSAD, Pangab, dan Pangti. Kalau yang tiga ini dipertanyakan baru ada pengertian justice, keadilan, that’s about it.

 

Hal lain yang Anda anggap sebagai penyimpangan keadilan?

Intinya seperti tadi itu, tapi cara pemberitaan dari sementara kalang­an media dari dalam maupun luar negeri juga patut disesalkan, kare­na banyak berita cenderung mengandung hukuman. Seolah tidak ada asas praduga tak bersalah yang dipegang. Sudah cenderung meng­hakimi. Beberapa di antaranya tidak segan-segan membikin profil­-profil personality yang sudah menodai tabiat pribadinya.

 

prabowo007

 

Seperti apa misalnya?

Salah satu media menulis, Prabowo kemarin pergi umroh dan sekarang dia entah di mana… Padahal jelas dia ada di sini. Untung Gus Dur turut membantah isu tersebut. Kemarin, tanggal 1 September, kita merayakan ulang tahun istri saya. Bowo ada di sini dengan Titiek dan anaknya. Jadi apa maksud melancarkan pemberitaan yang menyudutkan itu? Ini kan sudah merusak citra pribadi dan nilai personality dia (Prabowo).

 

Mengapa tidak secara resmi dilakukan bantahan?

Saya enggak mau seakan-akan karena dia itu anak saya maka saya bela-­bela, kita hanya ingin melihat ada justice, keadilan. Harapan saya hanyalah adanya perlakuan dan tanggapan terhadap Prabowo secara adil dan lancar. Tapi mengapa asas keadilan seakan-akan jadi kabur?

Tentu saya enggak mau bilang bahwa dia itu seluruhnya benar, tapi semua salah pun saya tidak berani katakan.

 

Tapi kenapa dari keluarga Bapak seringkali tidak menggunakan hak jawab?

Karena, pertama, dalam proses ini kan Bowo terus-menerus diproses dalam DKP, kita tidak mau tambah mempersulit kedudukannya. Jangan sampai ada distorsi atas tragedi yang ada.

 

Dengan dipecatnya Bowo, bagaimana perasaan sebagai seorang ayah?

Sedih tentunya. Karena saya tahu Bowo… Dia itu kan hanya men­jalankan perintah. Sebagai militer, sulit saya untuk sepenuhnya menyalahkan dia. Kalau dia seorang sipil, jelas dia telah melanggar hak asasi manusia. Tapi kalau memang mau mengusut sesuatu, hen­daknya bersifat menyeluruh.

 

Maksud Anda?

Cari siapa dalang sesungguhnya di balik berbagai peristiwa. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Kasus Lampung, dan lainnya?

 

Kalau bicara keadilan, artinya posisi Pangti pun harus diper­tanyakan?

Iya, dong. Asal-usulnya dari sana kok. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Lampung, dan lainnya? Siapa yang paling bertanggung jawab? Saya katakan ini bukan dengan dasar dendam atau sentimen. Saya bukan pendendam. Dulu saya jadi buronnya Bung Karno, tapi hubungan saya dengan Bu Fatmawati sangat baik. Jadi semata-mata hal ini saya lakukan karena menegakkan keadilan sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat luas.

 

Bicara soal keadilan, dalam hal DKP yang harus menggunakan norma-norma militer dalam menegakkan kehormatan perwira, kesan Anda bagaimana?

Saya sendiri kurang tahu persis apa yang terjadi. Bowo juga enggak mau banyak omong selama proses ini. Tapi kadang-kadang kan ada kebocoran juga. Bukan dari Bowo saja, tapi ada lah yang lapor. Saya ‘kan dulu mengajar di mana-mana, di Seskoad, Seskogab, Lemhanas, dan masih banyak lagi.

 

Kenyataannya, proses belum selesai tapi hukuman sudah dijatuhkan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Dari sudut legalitas kan segalanya sudah diserahkan pada Pangab. Apa ada kemungkinan proses pengusutan berkembang sampai ke tingkat yang lebih tinggi, jawabannya ya dan tidak. Saya merasa kemungkinan ada juga keseganan untuk meneruskan. Kalau toh dianggap secara legalitas final, secara morality sebenarnya belum final.

 

Khusus dalam kasus putra Anda, Prabowo?

Yah, kalau saudara mau bersikap kritis, coba bertanya; mengapa 9 (sembilan) aktivis yang diculik selamat semuanya, tapi yang 14 (empat belas) lainnya masih hilang sampai hari ini, apa ya mereka masih hidup?

 

Maksud Anda?

Karena yang sembilan orang itu, memang sepengetahuan Bowo dan dibebaskan dengan selamat atas kehendak Bowo pribadi.

 

Maksud katapribadi dalam kaitan ini?

Karena perintahnya tidak begitu.

 

Bagaimana perintah itu sebenarnya?

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Dihabiskan maksudnya?

(Menjawab hanya dengan anggukkan kepala sambil menyimpan suatu perasaan yang terkesan sangat dalam).

 

Setahu Anda siapa yang memerintahkan Prabowo melakukan hal itu?

Siapa lagi kalau bukan seseorang yang sangat berkuasa?

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998.

 

Kelebihan Prabowo sebagai Capres 2014

 

Beberapa pembaca menanyakan tentang penyebab Prabowo Subianto menduduki posisi teratas sebagai calon presiden paling disukai rakyat. Berbagai sebab saling terkait yang menyebabkan dukungan tinggi terhadap mantan Komandan Jenderal Kopassus pada masa Soeharto itu.

Pertama, Prabowo Subianto memiliki karakter sebabagi pemimpin. Buktinya beliau memimpin banyak organisasi selepas pensiun sebagai militer.

Kedua, Prabowo memiliki partai, Partai Gerindra. Dengan memiliki partai publik menjadi jelas akan arah pencalonannya. Prabowo berbeda dengan para tokoh lain yang tidak memiliki partai seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, Dahlan Iskan.

Ketiga, Prabowo berasal dari suku Jawa. Mau tidak mau, suka tidak suka mayoritas penduduk tinggal di pulau Jawa. Faktor Jawa Prabowo menjadi nilai lebih.

Keempat, Prabowo beragama Islam. Meski primordialisme semakin terkikis, namun pada kenyataannya sebagian besar masyarakat masih sangat kental dengan semangat segergitas. Ini dibuktikan dengan beberapa pilgub yang dimenangkan justru oleh kelompok kader pengusung semangat segregitas-primordialis seperti PKS misalnya.

Kelima, Prabowo hanya membutuhkan kehormatan sebagai presiden. Prabowo sudah memiliki kekayaan yang didapatkan secara sah bukan karena korupsi seperti yang dilakukan oleh banyak partai.

Keenam, Prabowo adalah sosok nasionalis yang mampu menjaga tanah air, pulau dan perairan Indonesia dan akan membela sampai titik darah penghabisan. Prabowo pernah membuktikan dengan berbagai operasi di Papua, Timor Timur. Prabowo akan membebaskan Sipadan-Ligitan dari genggaman Malaysia.

Ketujuh, Prabowo laki-laki. Di Indonesia masyarakat Islam tradisional dan jumud dengan diwakili oleh Ustadz Wahabi selalu mendorong anti calon presiden perempuan. Contoh Megawati ditolak oleh MPR menjadi Presiden meskipun PDIP pemenang Pemilu 1999.

Melihat 7 kekuatan dan kelebihan Prabowo Subianto tersebut sudah selayaknya Prabowo memimpin dalam berbagai polling dan survey. Namun demikian musuh politik Prabowo seperti PKS – yang pada zaman Soeharto kelompok Islam dimarjinalisasikan – menjadikan Prabowo sebagai musuh. Prabowo selalu dituduh oleh kalangan kiri dan kelompok LSM kampung sebagai orang yang terlibat dalam kasus Operasi Mawar yang tidak pernah terbukti. Semakin besar dan tinggi elektabilitas Prabowo, semakin kencang tolakan dan upaya musuh yang tidak nasionalis menghadang Prabowo. Namun bukti elektabilitas tinggi Prabowo menunjukkan masyarakat sudah paham kampanye kotor terhadap Prabowo.

Selamat datang Presiden Prabowo.

Salam bahagia ala saya.

Ini Kelebihan dan Kelemahan Prabowo-Hatta

Kamis, 07 Februari 2013, 19:16 WIB

Komentar : 1
Republika/Yasin Habibi
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -– Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, menilai Prabowo Subianto merupakan figur yang cukup menjanjikan diusung sebagai calon presiden (capres).

“Pak Prabowo saya kira cukup menjanjikan,” kata Sutan ketika dihubungi, Kamis (7/2). Sutan mengatakan, sebagai capres Prabowo memiliki sejumlah keunggulan.

Pertama, Prabowo memiliki karir kepemimpinan yang baik di bidang militer. Kedua, Prabowo pernah menempuh pendidikan di luar negeri. Hal ini tentu membuat Prabowo mampu menguasai bahasa asing yang dibutuhkan dalam misi-misi diplomasi Indonesia.

Ketiga, Prabowo figur yang matang secara finansial. Kondisi ini bisa memberikan harapan kepada masyarakat Prabowo tidak korupsi saat menjadi presiden. “Ini sisi positifnya,” ujar Sutan.

Terlepas dari segala kelebihannya, Prabowo juga memiliki sejumlah kekurangan. Sutan mengatakan, kekurangan utama Prabowo dan kasus HAM yang menjerat dirinya. Dia mengatakan kasus HAM yang menjerat Prabowo sampai saat ini belum tuntas. “Ini akan menjadi batu sandungan Prabowo,” katanya.

Selain itu, Prabowo juga memiliki kelemahan dalam mengelola kepemimpinan diri. Menurut Sutan sebelum memimpin negara, seorang pemimpin mesti bisa memimpin diri sendiri.

Dia menyatakan Prabowo sampai saat ini belum memiliki pendamping. Dia berharap Prabowo bisa segera melengkapi kekurangannya ini. “Supaya seorang laki-laki itu sukses kalau didampingi wanita yang kuat. Pemimpin harus bisa memimpin keluarga,” ujarnya.

Terkait nama Hatta Rajasa yang digadang-gadang bakal menjadi pasangan Prabowo di bursa Capres-Cawapres Pemilu 2014, Sutan juga punya pendapat. Figur Hatta menurutnya memili pengalaman yang baik di bidang organisasi. “Kekuatan Hatta dia punya pengalaman. Piawai memimpin organisasi,” katanya.

Sayang Hatta punya kelemahan elementer sebagai calon pemimpin. Hatta, imbuh Sutan, tidak berasal dari kalangan Jawa. Betapapun, mayoritas pemilih Indonesia berasal dari suku Jawa. “Meskipun tidak tertulis presiden bukan orang Jawa, rata-rata penduduk republik masih berasal dari Jawa,” ujarnya.

Prabowo, Bangunkan ‘Macan Tidur’

 

 

INDONESIAN INDEPENDNENT REVOLUTION AND WAR 1949

THIS THE SAMPLE OF DR IWAN CD ROM,THE COMPLETE EXIST,IF YOU WANT THE COMPLETE CD 1945-1945,PRICE TIGA JUTA RUPIAH SUDAH TERMASUK BIAYA PENGIRIMAN LIWAT TIKI,BAGI KOLEKTOR LUAR NEGERI SILAHKAN MEMINTA BANTUAN KOLEKTOR INDONESIA BECAUASU DIFFICULT AND HIGH COST TO SEND ABROAD,

SILAHKAN MENGHUBUNGI EMAIL DR IWA

iwansuwandy@gmail.com

DENGAN MENGUPLOAD KOPI ktp,RIWAYAT HIDUP SINGKAT,SERTA ALAMAT LENGKAP DENGAN NOMOR TILPON AGAR TIBA DENGAN SELAMAT BILA DIKIRIM KE RUMAH ANDA

Indonesia Independence Revolution and War’s Postal and Document History Collections Part V 1949

 


Cas_Oorthuys_Indonesia_1949a

    • Protest slogan for independenc 1949

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

PENDIRI DAN PENEMU IDE

THE FOUNDER

Dr IWAN SUWANDY, MHA

WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM

SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

Dr Iwan Book Exhibition

INDONESIA INDEPENDENCE REVOLUTION & WAR

 part V 1949

Base On Dr Iwan Postal And Document Collections

Private Limited E-book Special For Collectors.

PS.THE ILLUSTRATION WILL INSTALL LATER,SPECIAL FOR PREMIUM MEMBER.

The Driwan’s Indonesia Independence Revolution And War  Cybermuseum

Showecase:

Indonesia Independence Revolution And War Collection part V in 1949

A.PROLOG

1. Markas Komando Djawa 1948-1949

k

Abdul Haris Nasution Kol.TNI beliefs (the last of the Five-Star General) that the soldiers who do not have the support of the people must be defeated.
In the Revolution of Independence I (1946-1948), when leading Siliwangi Division, Pak Nas pulled the second lesson. People supporting the TNI. From this was born the idea of guerrilla warfare as a form of people’s war. Method of warfare is freely developed after Pak Nas became Commander of Java in the Revolution of Independence II (1948-1949).

original info in Indonesian language:

Keyakinan Kol.TNI Abdul Haris Nasution (terakhir Jendral besar Bintang Lima)  bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.
Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).

look the cover of vintage book “Markas Komando Djawa “(Java Command Headquaters)

2.The Indonesian east sumatra  National Police(POLRI) 1949


MAS KADIRAN

Mobile Brigade residency Tapanuli IN militarization
1) Based on the assessment board of the Regional Defence Forces Tapanuli Mobile Brigade in Militerisasikan be KERESIDNENAN Tapanuli IV Battalion Regiment Brigade XI Tapanuli I TRI and MAS KADIRAN became Battalion Commander IV-I TRI Brigade Regiment with the rank XI MAJOR TRI (Army of the Republic of Indonesia) by the number of troops as much as 380 people complete with weapons including Heavy Weapons (cannon) and the Panzer Wagon Lezonik with Ammunition and Weapons and ammunition reserves.

2) With the Militerisasikan MBK Tapanuli be YON IV MEN I TRI Brig XI under the Tactical Commander Brigade Regiment I Tapanuli XI MAJOR Panggabean and Technical MARADEN under Chief Residency Tapanuli.

k. MBK / YON IV MEN – I Brig XI Tapanuli IN muster to Parapat

1) Dutch aggression in East Sumatra expanding cities in Sumatra in the East was controlled by the Dutch and the Dutch would extend their area by going to the area Parapat. Based on the Regional Defense Command Council Tapanuli and MEN-I Commander Brig IV MAJOR Tapanuli MARADEN Panggabean order Yon IV Force Brig XI MEN-I leave for Parapat Dutch troops to hold its speed of movement. Based on the MAS command KADIRAN with troops depart to Parapat.

2) On arrival in Parapat KADIRAN MAS Coordination with the Force held the Third Regiment under the command of Lieutenant Colonel Tapanuli Siahaan Jansen and the coordination is in agree that MAS KADIRAN as BATTLE COMMANDERS in Parapat to stem the movement of the Dutch troops. Forces MBK / YON – IV MEN – MEN I and members – aided III Society makes Defense Barricades arranged in a big way from AEK Nauli to Parapat and conduct reconnaissance and Pos-Pos Defense in Relay from AEK Nauli to Parapat

3) On day 15 in Parapat obtained news from investigators that the Dutch troops were 15 km from Aek Nauli, the troops under the command MAS KADIRAN ready to fight by way of ambush and destruction in Aek Nauli, at 03.00.Wib all Troops ready in Aek Nauli and at 05.00.Wib pass-Battle fierce battle in a big way Aek Nauli – Parapat.

4) At 10.00.Wib appear 2 Aircraft by firing on the Dutch Defense – defense and an important place in Parapat, the emergence of two Dutch-owned Aircraft Defense Forces opened fire on a split MAS KADIRAN resulting Blind Defense Forces become fragmented and MAS KADIRAN ordered his troops to retreat to Parapat. In this battle forces suffered many losses KADIRAN MAS.

5) Within 21 days Forces MBK / YON IV MEN – I Tapanuli KADIRAN MAS leader, top PerintahDewan Defense and Commander of the Regiment – I IX Brigade Troops Tapanuli to MBK Tapanuli / YON IV MEN – I Brig XI returned to the Parent Unit in Sibolga and Parapat Area Commander in the hand over to the MAJOR LEBERTY terimakan Malau in Parapat.

l. ESTABLISHMENT OF MOBILE Brigade – I SUMATRA AND MOBILE Brigade Tapanuli SOUTH

1) Based on the warrant of the Branch Bureau of the Republic of Indonesia National Police Mobile Brigade was formed for the Great Sumatra – Sumatra (Aceh and East Sumatra – Tapanuli) and designated as Pimpinanya POLICE INSPECTOR CLASS – I SUMATRA Humala Silalahi with the position and is headquartered in the School of Agriculture Sibarani Video Boti and by the Command Chief of Police Residency Tapanuli in the form of Mobile Brigade Tapanuli SOUTH and designate as chairman POLICE INSPECTOR Ibn based in Padang Sidempuan.

m. BATTLE MBB – I SUMATRA TO Legion PENGGEMPUR

1) When Using MAJOR GENERAL Suparto in Tarutung to Briefings on the Residency in Tapanuli Forces which was attended by COLONEL Siahaan Jansen, MARADEN Panggabean MAJOR, MAJOR MAJOR Bejo and MAS KADIRAN. at the hearing that there was fighting between troops MBB-Sumatra with Legion forces on the track Penggempur Boti, COLONEL Siahaan Jansen as a responsible regional security in Toba asked MAJOR MARADEN Panggabean and MAS KADIRAN and MAJOR Bejo for review to the Field.

2) Arriving at the song Boti into four commanders met Humala Silalahi MBB-I Chief of Sumatra, from the explanation POLICE INSPECTOR Humala Silalahi that legions PENGGEMPUR successfully disarmed troops Armament-Sumatra MBB, MBB troops heard this – I do Assault precedes Sumatra. Hearing this explanation then COLONEL Siahaan Jansen as Regiment Commander – Brigade III – XI Tapanuli, ask MARADEN Panggabean MAJOR, MAJOR MAJOR MAS KADIRAN Bejo and to take precautions.

3) With the approval of the 3 Commander, then on Apply Tapanuli troops to secure the area, then there was fighting in Sibolga, Tarutung, songs Boti, Porsea, until the Border Labuhan Batu, OLD MOUNTAIN, CITY LONG LINGGA Pinang. Finally, with the Wisdom of the Government of Indonesia Tapanuli, Chairman-chairman and Chairman of the Peoples Party in Tarutung, then there was peace in Pangaribuan to stop the fighting by both sides because Indonesia only harm and benefit the nation the Netherlands, with the result that the talks are not mutually agree to end strike each of the forces in drag to the parent Its units, troops MBB Tapanuli in Drag to Padang Sidempuan.

n. BROTHERS IN WAR Tapanuli

1) Some months duration Tapanuli area free of distractions Battle of the armed movement, but movement of the Dutch troops who are in Parapat not cease to infiltration by Divide and Conquer between the People by the People, the Army Forces, all the more so where the Force Commander has been no readiness so often drawn to the pitting, especially after the gathering of forces-forces of East Sumatra in Tapanuli, so that the number of troops in Tapanuli the friction between troops is very possible.

1) So that was happening in Tapanuli of the strongest forces of East Sumatra was at loggerheads in Tapanuli, one party is in force Unity Bull Lead by the MAJOR L. Malau and one more party-B Forces Brigade and the Brigade Leaders MAJOR Bejo-A led by Saragih ROS Two troops of the East Sumatra in Tapanuli berselih understand, so that the combined strength of weapons including XI Brigade became broken and each brings their way individual and eventually attack the Dormitory BATALIYON Brigade – XI in Padang Sidempuan. In this case his Battalion Commander Dies

2) With the crisis MAS KADIRAN MBK Chief Commissioner KLS I Tapanuli and M. Nurdin To Police Resident Resident Tapanuli in calling facing Tapanuli Dr. F.L. TOBING in the talks that Chief MBK Tapanuli MAS KADIRAN firmly take the road side with brigade-B in South Tapanuli and MAS KADIRAN appealed to Chief Resident Tapanuli Dr.FLTOBING to bring his troops into the field Sidempuan to avoid clashes between the Brigade – A and brigades – B.

3) The battle between the forces and Bull Brigade – B occurs which began STEM Toru, Pandaan and arrived in Sibolga, after many casualties the two armies finally entered into negotiations in Sibolga which was attended by Dr. VICE PRESIDENT. Mohd. HATTA. Completed negotiations then Brigade – B led MAJOR Bejo, supported by MAS KADIRAN back to South Tapanuli Bull Forces Leadership and L. Tapanuli Malau to North and Central Tapanuli be submitted to the brigade and Army XI Tapanuli Navy Indonesia

Weigh SOVEREIGNTY AND RECEIVED BY DUTCH POLICE

IN residency Tapanuli

1) Under the command of Police Chief of North Sumatra, in order to prepare troops MAS KADIRAN MBB-I-Aceh, North Sumatra Police to handover the Netherlands to the Indonesian police, with the news of the Joint Officer CAPTAIN IBRAHIM HAJI, on the appointed day the North Sumatra Police chief Mr Darwin Karim and Mas Kadiran with 2 Company MBB-I-Aceh, North Sumatra and 1 Battalion – B Mursalin Tello leaders went to Padang Sidempuan to weigh thank the Dutch police, from Padang Sidempuan continued to Sibolga and Tarutung, Weigh accept walk safely, orderly and smooth .

2) While the time to wait for orders received in the weigh in East Sumatra, North Sumatra Police chief Adjunct Senior Commissioner then DARWIN KARIM live in Sibolga with Staff-staff to take care of everything for Police Police stations have received throughout the South Tapanuli, Mas Kadiran ordered Company – C towards Sibolga Go to Company D and P. Sidempuan, Staff Member MBB-I-Aceh, North Sumatra in order to join the Mas Kadiran Sibolga. While Company A and B remain in Balige to wait for the next command into the East Sumatra to Weigh received by the Dutch Police.

V. Weigh THANK THE POLICE

DUTCH IN EASTERN SUMATRA

By Order Police chief Comr for Sumatra Mr. Commandments UMAR SAID and North Sumatra Police Chief to enter into eastern Sumatra to conduct weigh thank the Dutch National Police, on the day that has been set by two men of Mas Kadiran in Balige. Hanafi Commander and went to Sumatra, West Sumatra MBB East Regional division of MBB-Sumatra-Aceh leader Mas Kadiran do weigh receive in P, Siantar, high cliffs danMedansedangkan MBB-II Sunar do weigh received in Tanjung Balai and Rantau Prapat.

original info in Indonesia language:

  MOBILE BRIGADE KERESIDENAN TAPANULI DI MILITERISASI

1) Berdasarkan Ketetapan dewan Pertahanan Daerah Tapanuli Pasukan MOBILE BRIGADE KERESIDNENAN TAPANULI di Militerisasikan menjadi BATALYON IV RESIMEN I TRI BRIGADE XI TAPANULI dan MAS KADIRAN menjadi KOMANDAN BATALYON IV RESIMEN-I TRI BRIGADE XI dengan Pangkat MAYOR TRI (Tentara Republik Indonesia ) dengan jumlah Pasukan sebanyak 380 orang lengkap dengan senjatanya termasuk Senjata Berat (Meriam) dan Panser Wagon Lezonik dengan Amunisi serta Cadangan Senjata dan Amunisi.

2) Dengan di Militerisasikan MBK Tapanuli menjadi YON IV MEN I TRI BRIG XI secara Taktis di bawah Komandan Resimen I BRIGADE XI Tapanuli MAYOR MARADEN PANGGABEAN dan Tehnis di bawah Kepala Polisi Keresidenan Tapanuli.

k. MBK / YON IV MEN – I BRIG XI TAPANULI DI KERAHKAN KE PARAPAT

1) Agresi Belanda di Sumatera Timur semakin luas Kota –kota di Sumatera Timur sudah di kuasai oleh Belanda dan Belanda akan meluaskan daerahnya dengan menuju daerah PARAPAT. Berdasarkan Perintah Dewan Pertahanan Daerah Tapanuli dan Komandan MEN-I BRIG IV TAPANULI MAYOR MARADEN PANGGABEAN agar Pasukan Yon IV MEN-I BRIG XI berangkat menuju Parapat menahan gerak lajunya Pasukan Belanda. Berdasarkan perintah tersebut MAS KADIRAN dengan Pasukannya berangkat ke Parapat.

2) Setibanya di Parapat MAS KADIRAN mengadakan Koordinasi dengan Pasukan RESIMEN III TAPANULI dibawah Komando LETKOL JANSEN SIAHAAN dan dalam Koordinasi ini di sepakati bahwa MAS KADIRAN sebagai KOMANDAN PERTEMPURAN di Parapat guna membendung gerak Pasukan Belanda. Pasukan MBK / YON – IV MEN – I dan Anggota MEN – III dibantu Masyarakat membuat Pertahanan Barikade di jalan besar yang disusun dari AEK NAULI sampai PARAPAT dan mengadakan Pos-Pos pengintaian dan Pertahanan secara Estafet dari AEK NAULI sampai PARAPAT

3) Pada hari ke 15 di Parapat didapat berita dari penyelidik bahwa Pasukan Belanda sudah berada 15 Km dari Aek Nauli, maka Pasukan yang berada di bawah Komando MAS KADIRAN siap untuk melawan dengan cara Penghadangan dan Penghancuran di Aek Nauli, pada pukul 03.00.Wib seluruh Pasukan sudah siap di Aek Nauli dan pada pukul 05.00.Wib terjadilah Pertempuran –Pertempuran yang sengit di jalan besar Aek Nauli – Parapat.

4) Pukul 10.00.Wib muncul 2 Pesawat Terbang Belanda dengan menembaki Pertahanan – pertahanan dan tempat penting di Parapat, munculnya 2 Pesawat Terbang milik Belanda menembaki Pertahanan Pasukan MAS KADIRAN secara membagi Buta sehingga mengakibatkan Pertahanan Pasukan menjadi terpecah dan MAS KADIRAN memerintahkan Pasukannya untuk mundur ke Parapat. Dalam Pertempuran ini Pasukan MAS KADIRAN mengalami banyak kerugian.

5) Dalam waktu 21 hari lamanya Pasukan MBK / YON IV MEN – I Tapanuli Pimpinan MAS KADIRAN, atas PerintahDewan Pertahanan dan Komandan Resimen – I BRIGADE IX Tapanuli agar Pasukan MBK Tapanuli / YON IV MEN – I BRIG XI kembali ke Induk Satuan di Sibolga dan Komandan Parapat Area di serah terimakan kepada MAYOR LEBERTY MALAU di Parapat.

l. PEMBENTUKAN MOBILE BRIGADE BESAR – I SUMATERA DAN MOBILE BRIGADE KABUPATEN TAPANULI SELATAN

1) Berdasarkan Surat Perintah dari Cabang Jawatan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk Sumatera dibentuk Mobile Brigade Besar – I Sumatera (Aceh-Sumatera Timur – Tapanuli ) dan ditunjuk sebagai Pimpinanya INSPEKTUR POLISI KELAS – I SUMATERA HUMALA SILALAHI dengan kedudukan dan bermarkas di Sekolah Pertanian Sibarani Lagu Boti dan berdasarkan Perintah Kepala Kepolisian Keresidenan Tapanuli di bentuk MOBILE BRIGADE KABUPATEN TAPANULI SELATAN dan di tunjuk sebagai pimpinannya INSPEKTUR POLISI IBNU berkedudukan di Padang Sidempuan.

m. PERTEMPURAN MBB – I SUMATERA DENGAN LEGIUN PENGGEMPUR

1) Pada Saat MAYOR JENDERAL SUPARTO berada di Tarutung untuk melakukan Brifing terhadap Pasukan Keresidenan di Tapanuli yang di hadiri oleh KOLONEL JANSEN SIAHAAN, MAYOR MARADEN PANGGABEAN, MAYOR BEJO dan MAYOR MAS KADIRAN. di dengar bahwa terjadi Pertempuran antara Pasukan MBB-I Sumatera dengan Pasukan Legiun Penggempur di LAGU BOTI, KOLONEL JANSEN SIAHAAN selaku penanggung jawab Kemananan di Daerah Toba meminta kepada MAYOR MARADEN PANGGABEAN dan MAS KADIRAN serta MAYOR BEJO untuk meninjau ke Lapangan.

2) Sesampainya di Lagu Boti ke 4 Komandan ini menemui HUMALA SILALAHI Kepala MBB- I Sumatera, dari penjelasan INSPEKTUR POLISI HUMALA SILALAHI bahwa LEGIUN PENGGEMPUR berhasil melucuti Persenjataan Pasukan MBB- I Sumatera, mendengar hal ini Pasukan MBB – I Sumatera mendahului melakukan Penyerangan. Mendengar penjelasan ini maka KOLONEL JANSEN SIAHAAN sebagai KOMANDAN RESIMEN – III BRIGADE – XI TAPANULI, meminta kepada MAYOR MARADEN PANGGABEAN, MAYOR BEJO dan MAYOR MAS KADIRAN untuk mengambil tindakan pengamanan.

3) Dengan adanya persetujuan dari ke 3 Komandan, maka di kerahkanlah Pasukan untuk mengamankan daerah Tapanuli, maka terjadilah pertempuran di SIBOLGA, TARUTUNG, LAGU BOTI, PORSEA, sampai dengan ke Perbatasan LABUHAN BATU, GUNUNG TUA, LINGGA PANJANG KOTA PINANG. Akhirnya dengan Kebijaksanaan Pemerintah RI Tapanuli, Ketua-ketua partai dan Ketua Adat di Tarutung, maka terjadilah Perdamaian di PANGARIBUAN untuk menghentikan Pertempuran oleh kedua pihak karena hanya merugikan Bangsa Indonesia dan menguntungkan pihak Belanda saja, dengan hasil Perundingan itu di sepakati untuk tidak saling menyerang akhirnya masing-masing Pasukan di tarik ke induk Satuannya, pasukan MBB Tapanuli di Tarik ke Padang Sidempuan.

n. PERANG SAUDARA DI TAPANULI

1) Beberapa Bulan lamanya daerah Tapanuli bebas dari gangguan gerakan Pertempuran bersenjata, tetapi gerakan tentara Belanda yang berada di Parapat tidak henti-hentinya melakukan Infiltrasi dengan Politik Adu Domba antara Rakyat dengan Rakyat, Pasukan dengan Pasukan, terlebih–lebih dimana Komandan Pasukan belum ada kesiapan sehingga sering terpancing untuk di adu domba, apalagi setelah berkumpulnya Pasukan-Pasukan dari Sumatera Timur di Tapanuli, sehingga dengan banyaknya Pasukan di Tapanuli maka gesekan-gesekan antar Pasukan sangat mungkin terjadi.

1) Demikian yang terjadi di Tapanuli dari Pasukan yang terkuat dari Sumatera Timur tersebut berselisih paham di tapanuli, satu pihak pasukan Kesatuan Banteng yang di Pimpin oleh MAYOR L. MALAU dan satu pihak lagi Pasukan BRIGADE-B Pimpinan MAYOR BEJO dan BRIGADE-A yang di pimpin oleh SARAGIH ROS Dua Pasukan dari Sumatera Timur tersebut berselih paham di Tapanuli, sehingga gabungan Kekuatan Senjata yang termasuk BRIGADE XI menjadi pecah dan masing-masing membawa jalannya masing-masing dan akhirnya terjadi Penyerangan ke Asrama BATALIYON BRIGADE – XI di Padang Sidempuan. Dalam hal ini Komandan Batalyon nya Meninggal Dunia

2) Dengan adanya krisis tersebut MAS KADIRAN Kepala MBK Tapanuli dan KOMPOL KLS I M. NURDIN Kepada Polisi Residen Tapanuli di panggil menghadap Residen Tapanuli Dr. F.L. TOBING dalam pembicaraan itu Kepala MBK Tapanuli MAS KADIRAN dengan tegas mengambil jalan memihak BRIGADE-B di Tapanuli Selatan dan MAS KADIRAN memohon kepada Kepala Residen Tapanuli Dr.F.L.TOBING untuk membawa Pasukannya ke Padang Sidempuan untuk mengindari Bentrokan antara BRIGADE – A dan BRIGADE – B.

3) Pertempuran antara Pasukan Banteng dan Brigade – B terjadi dimana mulai BATANG TORU, PANDAAN dan sampai di SIBOLGA, setelah banyak memakan korban akhirnya kedua pasukan mengadakan Perundingan di Sibolga yang di hadiri oleh WAKIL PRESIDEN Dr. MOHD. HATTA. Selesai perundingan maka BRIGADE – B di pimpin MAYOR BEJO yang di dukung oleh MAS KADIRAN kembali ke Tapanuli Selatan dan Pasukan Banteng Pimpinan L. MALAU ke Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah di serahkan kepada BRIGADE XI TAPANULI dan Pasukan Angkatan Laut Indonesia

KEDAULATAN DAN TIMBANG TERIMA DENGAN KEPOLISIAN BELANDA

DI KERESIDENAN TAPANULI

1) Berdasarkan Perintah Kepala Kepolisian Sumatera Utara, MAS KADIRAN agar mempersiapkan Pasukan MBB-I Sumut-Aceh untuk serah terima Kepolisian Belanda kepada Kepolisian Indonesia, dengan adanya berita dari Joint Officer KAPTEN IBRAHIM HAJI, pada hari yang sudah ditentukan maka kepala Kepolisian Sumut Bapak Darwin Karim dan Mas Kadiran dengan 2 Kompi MBB-I Sumut-Aceh dan 1 Batalyon – B pimpinan MURSALIN TELLO berangkat ke Padang Sidempuan untuk timbang terima dengan Kepolisian Belanda, dari Padang Sidempuan dilanjutkan ke Sibolga dan Tarutung, Timbang terima berjalan dengan aman, tertib dan lancar.

2) Sementara waktu untuk menunggu perintah dalam timbang terima di Sumatera Timur, maka Kepala Kepolisian Sumut AKBP DARWIN KARIM tinggal di Sibolga bersama Staf-stafnya untuk mengurus segala sesuatu untuk Kepolisian timbang terima Kepolisian diseluruh Tapanuli Selatan, Mas Kadiran memerintahkan Kompi – C untuk menuju Sibolga dan Kompi D Menuju ke P.Sidempuan, Anggota Staf MBB-I Sumut-Aceh agar menuju Sibolga bergabung dengan Mas Kadiran. Sedangkan Kompi A dan B tetap tinggal di Balige untuk menunggu Perintah selanjutnya masuk ke Sumatera Timur untuk Timbang terima dengan Kepolisian Belanda.

V. TIMBANG TERIMA DENGAN KEPOLISIAN

BELANDA DI SUMATERA TIMUR

Atas Perintah Kepala Kepolisian untuk Sumatera Bapak KOMBES POL UMAR SAID dan Perintah Kepala Kepolisian Sumatera Utara agar masuk kedalam Sumatera Timur untuk mengadakan timbang terima dengan Kepolisian Belanda, pada hari yang sudah di tentukan Mas Kadiran dengan dua Kompi yang berada di Balige. dan Hanafi Komandan MBB Sumbar berangkat ke Sumatera Timur dengan pembagian Daerah MBB-I Sumatera-Aceh Pimpinan Mas Kadiran melakukan timbang terima di P,Siantar, Tebing tinggi danMedansedangkan MBB-II Sunar melakukan timbang terima di Tanjung Balai dan Rantau Prapat.

B.CHRONOLOGY HISTORIC COLLECTION 1949

JANUARY 1949

 1.January

Julius Kardinal information(1978)

at the early January 1949(Pada permulaan bulan januari 1949,)

Bantul regency capital city, 6 km from Ganjuran, Army occupied the Netherlands. makinmencekam atmosphere bai population. At lunch time there was a sudden often datanganya Dutch soldiers, all panicked, ran to evacuate, although most are not true and at night came the attacks of the Parties to the TNI. One morning I received a report from the hospital kitchen that supplies of fuel wood is almost gone. At about 9:00 I was with a young man riding a bike into the village behind the hospital to look for firewood. Apparently the village was deserted, the people already displaced. Fortunately, the intended father’s family home and tend to have quite a lot of firewood supply and willing to help. unfinished pembuicaraan how far the transportation of the eruption sounded, followed by the hiss and the two eruptions in place. Soon there was an eruption of the other majors, the same hiss and ended with two eruptions as well. We both immediately ride a bike to the hospital to attend disana.Seluruh residents Hospitals and orphanages as well as the nurses had to hide under the table trying to seek shelter where dabn thought safe. The atmosphere of panic, fear, all suspect that will eventually hit. Praying and surrender to God. Apparently the former mill complex and Hospital in mortars from two places, thank goodness no one hit the building, so there were no casualties in the complex. Mortar fire lasted approximately setngah hours.

Once convinced that the bombing had stopped, held talks with the five young men in my room. There is still a couple of cloth napkins and a red ink, they immediately make the flag of the Red Cross, seeking gaklah and they are ready to go out to look for victims who need help. New sja out of the hospital, they ran back to my room to meet them head nurse, Captain-ranking commander with about 50 of his men, there was talk among other things: “Father, here are some members of the TNI?.” No “.” Father knows that all around there TNI soldiers, beraapoa their numbers. “” Do not know if the number of Catholic norang I know “.” necessarily “” In this complex there are soldiers who were hiding and no gun?. “No” ” may be searched? “Yes, but you along with me and the chief nurse and lived outside the fruit ank”. Begin a search Kareena arrival of the Captain and how scary. ” It’s certainly the army “.” Instead of, patients’ chief nurse replied. “Later, if it has been cured of menenbak again”. “SEalama in rumag ill be tangunggan me.” “I will take it”. ” not possible, as long so be patient. “

in these circumstances occur a search throughout the complex, opening each door and entered the room followed by a thumbs gun and questions set geramdiajukan. A search is completed quickly enough and no less thorough. Done a search there is an interview with the captain led pasukan.Di bebrapa factory environment they found a grenade that was not working anymore, but can pose a hazard, then it will d9ibawa to amrkas them for the sake of the security. The captain then asked the youth workers who are dikamar sya, I imagine they would have objected. after a long talk, decided bahewa they’ll come, they ettapi no later than 17:00 hours should’ve come back here. Belumkembali If at that time, I will come kemarkas them. After that they went, the youth participate bebrapa carrying grenades and landmijn, after they left, a sense of relief filled the whole complex, all felt very tired during the bnayak who did not receive food, I myself also experienced a sma. but strangely I feel so sleepy and continue bed rest. Approximately 1500 hrs knock at the door, finally forced to pound because I did not hear him in bed “what else” I thought. It turns out that TNI members ready to come now with straw and kerosene, they heard the news that all the occupants sick dikompleks ruamh dibaw aoleh Dutch soldiers, they are ready for the scorching earth Hospitals and complexity. I spoke with the leaders and take her to see the whole complex so intent membuni scorching canceled and they returned to markasnya.Baru they disappeared, there appeared youth “carrier” and landmijn grenade with the atmosphere of joy and experiences, they shared cigarettes and bread ynag given as a receipt love by the captain. Thus ended the first operation of the army beland, seasudah was still many times suddenly come small patrols, but not exceptional shock until they leave the special area Jogyakarta

original info

ibu kota Kabupaten Bantul,  6 km dari Ganjuran, diduduki Tentara Belanda. suasana makinmencekam bai penduduk. Pada waktu siang sering mendadak terdengar  datanganya tentara Belanda, semua panik,lari mengungsi,meskipun kebanyakan tidak benar dan pada waktu malam terdengar serangan dari Pihak TNI. Pada suatu pagi saya mendapat laporan dari dapur Rumah sakit bahwa persediaan kayu bakar sudah hampir habis. Kira-kira jam 09.00 saya dengan seorang pemuda naik sepeda masuk desa dibelakang Rumah sakit untuk mencari kayu bakar. Ternyata desa itu sepi, orang-orang sudah mengungsi. Untunglah ayah keluarga yang dituju ada dirumah dan mempunyai persediaan kayu bakar cukup banyak dan rela membantu. belum selesai pembuicaraan bagaimana cara pengangkutannya terdengar letusan dari jauh,diikuti dengan  desisan dan 2 letusan di tempat. Sebentar lagi dari lain jurusan terdengar letusan,desisan yang sama dan berakhir dengan 2 kali letusan juga. Kami berdua segera naik sepeda ke Rumah sakit untuk hadir disana.Seluruh penghuni Rumah sakit dan Panti Asuhan serta para perawat sudah bersembunyi di bawah meja dabn mencoba mencari perlindungan dimana dikira aman. Suasana panik,takut, semua menduga bahwa akhirnya akan kena. Bedoa dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Ternyata bekas pabrik dan kompleks Rumah Sakit di mortir dari dua tempat,syukurlah bangunan tidak ada yang kena,sehingga tidak ada korban didalam kompleks. Tembakan mortir berlangsung kira-kira setngah jam.

Sesudah yakin bahwa pengeboman sudah berhenti, diadakan perundingan dengan 5 orang pemuda yang ada di kamar saya. Masih ada berberapa kain serbet makan dan ada tinta merah,dengan segera mereka membuat bendera Palang Merah,mencari gaklah dan mereka siap keluar guna mencari korban yang perlu ditolong. Baru sja keluar dari rumah sakit, mereka lari kembali ke kamar saya dengan suster kepala menemui mereka, komandannya berpangkat Kapten dengan kira-kira 50 orang anak buahnya, terjadi pembicaraan antara lain:”pastor ,disini ada beberapa orang anggota TNI ?.”Tidak ada”.”Pastor tahu bahwa di sekitar ada tentara TNI, beraapoa jumlah mereka”.”Tidak tahu, kalau jumlah norang katolik saya tahu”.”tentu” “Di kompleks ini ada tentara yang bersembunyi dan ada senjatanya?.”Tidak ada””Boleh digeledah ?”Boleh,tetapi bersama dengan saya  dan suster Kepala dan ank buah tinggal diluar”. Mulailah pengeledahan kareena kedatangan Kapten tersebut dan caranya menakutkan.” Ini tentu tentara”.”BUkan,pasien” jawab suster Kepala.”Nanti jika sudah sembuh tentu menenbak lagi”.”SEalama di rumag sakit menjadi tangunggan saya”.”ini akan saya bawa”.” tidak mungkin,selama jadi pasien”.

dalam suasana semacam ini terjadi pengeledahan seluruh kompleks,setiap membuka pintu dan masuk kamar diikuti dengan acungan pistol dan pertanyaaan yang geramdiajukan. Pengeledahan cukup cepat selesai dan tidak kurang teliti. Selesai pengeledahan masih ada wawancara dengan kapten pimpin  pasukan.Di lingkungan pabrik mereka menemukan bebrapa granat  yang sudah tidak bekerja lagi, tetapi dapat menimbulkan bahaya, maka akan d9ibawa ke amrkas mereka demi keamana. maka Kapten minta tenaga pemuda yang ada dikamar sya, sudah saya bayangkan mereka akan keberatan. sesudah agak lama bicara,diputuskan bahewa mereka akan ikut, ettapi mereka selambat-lambatnya jam 17.00 harus udah kembali disini. JIka pada waktu itu belumkembali, saya akan datang kemarkas mereka. Setelah itu mereka pergi, bebrapa pemuda ikut membawa granat dan landmijn, sesudah mereka pergi ,rasa lega memenuhi seluruh kompleks, semua merasa telah sangat lelah karena siang bnayak yang tidak memperoleh makanan,saya sendiri  pun mengalami yang sma. tetapi anehnya saya merasa mengantuk sekali dan terus istirahat tidur. Kira-kira jam 15.00 pintu diketuk,akhirnya terpaksa dipukul-pukul karena saya dalam tidur tak mendengarnya”ada apa lagi” pikir saya. Ternyata yang datang sekarang anggota TNI siap dengan jerami dan minyak tanah,mereka mendengar kabar bahwa semua penghuni dikompleks ruamh sakit dibaw aoleh tentara belanda, mereka siap untuk membumi hanguskan Rumah sakit dan kompleksnya. Saya berbicara dengan pemimpinnya dan mengantarnya melihat seluruh kompleks sehingga maksud membuni hanguskan dibatalkan dan mereka kembali ke markasnya.Baru saja mereka menghilang,muncullah pemuda “pembawa”granat dan landmijn dengan suasana gembira serta menceritakan pengalaman, mereka membagikan sigaret dan roti ynag diberikan sebagai tanda terima kasih oleh Kapten tersebut. Demikianlah berakhir operasi pertama dari tentara beland, seasudah itu masih berkali-kali secara mendadak datang patroli kecil ,tetapi tidak menimbulkan kejutan luar biasa sampai mereka meninggalkan daerah istimewa Jogyakarta.

January,1st.1949

PTT Djakarta salary book with handsign of the chief of ptt office Djakarta.

January,4th.1949

Postallyused lettersheet stationer  10 sen send from batavia centrum to Buitenzorg(bogor)

January 5th.1949

Dutch accept UN call for ceasefire in SumatraSultan Hamengkubuwono IX of Yogya refuses Dutch offer to head new Javanese state, resigns as head of Yogya government, and gives help to Republic guerilla fighters.

January,6th.1949

the information from Warna warta Djawa tengah newswpaper :

(A) the Word Series Rau Juliana

My goal is to fulfill my mother’s ability. Who really really hope that the Government of Indonesia is formed within a few weeks to come nini.Pemilihan which will be held selekans free as possible.

On 6 January the lalau, Series Queen Juliana said to Indonesia that looks like this:

My mother has been able to establish an independent and sovereign Indonesia, the Netherlands and Indonesia entered the union on the basis of sovereign kemaunan respectively, merdekan and on the same basis.

in February 1948 kesangupan oitu tealh repeated again, a sign that it truly became Queen of ability.

My goal since the throne is the ability memenjuhi my mother, to give to people in Indonesia: peace, happiness and prosperity in a sovereign self-government.

My goal really is to the federal government in recent weeks Indonesia was formed; government that will run the obligations on the basis of responsibility and democracy. XSelekas possible if it has been able, to be held the election, thus establishment of United States of Indonesia will soon be achieved.

(B) GENERAL SUDIRMAN NOT captive

General sudirman now being seriously ill and is being maintained well but not captured by the army commander of the TNI Belanda.Kolonel Hidajat in Sumatra, on 28 December 1948 tealh take over (over) Pimpina total republican army.

(C) FACTS MR ASAAT

Before military action, Mr Asaat once said that the situation in the republic is beyond miserable than in the war. Denagn these words then one can draw the conclusion that if a held state military movements in that region in more baik.Seorang other princes, saying that the food supply in the republic’s only up to a month Maret.Sesudah famine will arise which hebat.dari words This is also one can draw conclusions that this second military movement led to improvements to the area not only brings tersebut.tentara tegush security and long, but brought the lightness in sehar-day life, also by providing food, clothing and medicine.

(D) some federal pemrintah Indonesia propaganda illustration in this newspaper: Hours gadang Bukittingi committee, Abdul Kadir Wijoyo Atmojo Jakarta, trucks mengangukt nakanan, and Indonesian youth in Practice.

 (a)Sabda Seri Rau Juliana

Tujuanku ialah memenuhi kesanggupan Ibuku. Harapanku yang sungguh sungguh ialah supaya Pemerintah Indonesia dibentuk dalam beberapa minggu yang datang nini.Pemilihan yang bebas akan diadakan selekans mungkin.

Pada tanggal 6 januari yang lalau, Seri Ratu Juliana bersabda untuk Indonesia yang isinya seperti berikut :

Ibuku telah sanggup mendirikan Indonesia yang merdeka dan berdaulat ,mengadakan perserikatan Indonesia Nederland dan berdaulat  atas dasar kemaunan masing-masing ,merdekan dan atas dasar yang sama.

dalam bulan Februari 1948 kesangupan oitu tealh diulangi lagi, tanda bahwa memang sungguh-sungguh menjadi kesanggupan Ratu.

Tujuanku sejak naik tahta ialah memenjuhi kesanggupan ibuku, untuk memberi kepada bangsa di Indonesia : ketentraman,Kebahagiaan  dan kemakmuran dalam pemerintahan sendiri yang berdaulat.

Tujuanku yang sungguh-sungguh ialah supaya pemerintahan federal Indonesia dalam beberapa minggu ini dibentuk; pemerintahan yang akan menjalankan kewajiban atas dasar tanggung jawab dan demokrasi. XSelekas mungkin jika telah dapat, akan diadakan pemilihan, dengan begitu pembentukan Negara Indonesia Serikat akan lekas tercapai.

(b) JENDRAL SUDIRMAN TIDAK DITAWAN

Jendral sudirman sekarang sedang menderita sakit keras dan sedang dipelihara baik-baik tetapi tidak ditawan oleh tentara Belanda.Kolonel Hidajat Komanda  TNI di sumatra, pada tanggal 28 desember 1948 tealh mengambil oper(alih) Pimpina tentara republik Seluruhnya.

(c) KETERANGAN mR aSAAT

Sebelum aksi militer, Mr Asaat pernah mengatakan bahwa keadaan di republik adalah melebihi sengsaranya daripada dalam perang. Denagn kata-kata ini maka orang dapat menarik kesimpulan bahwa jika diadakan gerakan militer keadaan didaerah tersebut lebih baik.Seorang pembesar lainnya,mengatakan ,bahwa persedian makanan di republik hanya sampai bulan Maret.Sesudah itu akan timbul bahaya kelaparan yang hebat.dari kata-kata ini juga orang dapat menarik kesimpulan vbahwa gerakan militer yang kedua ini membawa perbaikan kepada daerah tersebut.tentara tidak hanya membawa keamanan yang tegush dan lama, tetapi mebawa keringanan dalam kehidupan sehar-hari,juga dengan memberikan bahan makanan,pakaian dan obat-obatan.

(d) beberapa illustrasi propaganda pemrintah federal Indonesia dalam surat kabar ini : Jam gadang Bukittingi, komite abdul kadir Wijoyo atmojo Jakarta,truk mengangukt nakanan ,dan pemuda Indonesia di Latih.

January,9th.1949

Tanda terima Pengiriman (Ontvangbewij or Recieved) Pospakket from batavia with overprint Indonesia stamps and wilhelmina stamps.

January,12th.1949

The chief OF PTT NRI Mas Suharto were kidnapped and arrest by Dutch Nica

The chief OF PTT NRI Mas Suharto were kidnapped and arrest by Dutch Nica soldier, and after that he never found (until this day his graved never found)

 

January,19th.1949

The rare postally used cover from malang to Medan(Negara Sumatra Timur) East Sumattera State ,the part of Indonesia federal state.

UN Security Council demands release of the Republican government, and independence for Indonesia by July 1, 1950.

There was significant guerilla activity against the Dutch during this period, led by Nasution and Sudirman. At the height of Dutch activity in the 1940s, there were around 150,000 Dutch forces in Indonesia

January,29th.1949

(a)The invitation to join the ceremony of tranferred the power from Dutch Federal Government to Wali Negara South Sumatra in february,1st 1949 , send from the chief of 7 oeloe village Palembang.

 

January,21th.1949

On January 21, 1949, with the city of Kuala Tungkal occupied by the Dutch public figures, scholars, intellectuals fled to the outskirts, which are located opposite the Kuala Tungkal. they dated January 25, 1949 meeting which consisted of various tribes to collect kekauatan to counterattack. Above consensus together, they form the Front pengurunya Wilderness with the following composition:

Chairman: H. Shamsuddin (cum treasurer)

Vice Chairman: A. Sanusi (Teacher Trenches fires)

Members: 1. H. Hanafiah (Head of Good Dyke)

2. Kadir (Sacred Head Dyke)

3. Imran (Head Dyke Mangrove)

4. Zuhri (Head Dyke Palembang)

5. Durasit (Head Parit Sungai Rawai)

6. Abdullah (head of the Trench fires)

Part Penggempur: Abdul Congratulations

Help By: 1. Zaidun

2. H. Saman Mangku (Market Kuala Tungkal)

3. H. Hanafiah (Head of Good Dyke)

Front Jungle forming a line called “Barisan Bally Red ‘.

The purpose of establishing the Barisan / Lasyakar Red Bally is to demolish the Dutch who occupied Kuala Tungkal. Therefore, should be chosen who will lead the Barisan Merah Bally, especially when invaded / attacked the Dutch position.

Then elected Abdul Samad called then moved at the term “Commander” (more popularly known as “Commander Adul”). It was also agreed when the Dutch attacked the Red Bally must together with the TNI and the tactics are under military command

On January 21, 1949 at 11:30 pm, beberpa Dutch ships attacked Kuala Tungkal with cannon and mortar firing. One of them was shot targets Great Mosque (Jami ‘) Kuala Tungkal, when the Islamic manaumat was getting ready to perform Friday prayers.

As a result of the attack, not last Friday prayers. When he feels safe, Dutch troops landed, still firing heavy weapons to protect his troops who were conducting pendarata.

TNI troops led by Lieutenant Young A. Fattah held resistance, backing toward the Trenches Gompong. Two soldiers and a young fighter named teacher of English R. Happy autumn shot dutch at the moment will blow up the Landman who had previously installed near the Post Office.

Kuala Tungkal Kewedanaan government led by the district officer with the Chief of Police Regional Noerdin Mahyuddin Harahap IPI, Head Tungkal Ilir Masdar Kewedanaan Government and its staff in Kuala Tungkal under a hail of bullets and mortar cannon backwards towards the village of Parit Gompong Pembengis through except for some sub-district officials, among others, Masdar, the Police , Information and others, Wedana Noerdin, Police Chief Mahyuddin Harahap and others continued the journey to the village of Parit Deli Betara Left Tungkal Ilir district.

Pembengis is a small village situated 7 (seven) Km from Kuala Tungkal, filled with refugees of various groups, in addition to government officials and military forces.

After the Dutch troops landed in Kuala Tungkal, the Dutch continued to advance to the araha pembengis with intent to break the resistance of military forces. At 17.00 pm in the Trenches Gompong intercepted by military forces led by Cadet Sergeant Major Madhan. AR, resulting in a shoot for 15 (fifteen) minutes. Holland then retreat to Kuala Tungkal to suffer casualties beberpa people were killed and wounded

January,23th.1949

On January 23, 1949, after retiring from Kuala Tungkal, a squad of military forces under the command of Cadet Sergeant Major Madhan. AR, 1023 Sector Commander assigned to patrol the Dutch Army stalking position. In the Trenches Gompong they met with the Dutch Army, causing a battle that resulted in some Dutch soldiers killed and wounded.

On January 23, 1949 night, the people of Seberang Tungkal trench Congratulations, arson military dormitory in the way of the Old Kuala Tungkal Prosperity. The force is led by Abdul Samad (Adul)

Jaunry,25th.1949

With Kuala Tungkal occupied by the Dutch, then the community leaders in the Trenches Congratulations Kuala Tungkal Tungkal III on January 25, 1949 have formed the Front, headed by H. Woods Shamsuddin prince Tungkal III.

Front board Rimba are those who’ve studied the practice Bally Red is the practice based on the teachings of Islam yangmeyakini that if the deeds carried out as specified, it is concerned will be able to avoid the bullets fired at him.

The formation of this Front, received rave reviews from the public because it fits with their belief that the war against the Dutch colonialists, when autumn meant masti martyr for fighting for the interests of defending the nation, state and religion as taught by the scholars at that time

FEBRUARY 1949

(1)February,3th.1949

Tanda terima Pengiriman Ontvangbewijs(Recive notes) Pospakket with overprint Indonesia  1 gld and wilhelmina 10 cent  stamps

(1a)February  7 th.1949

Resolution is introduced in United States Senate to stop all Marshall Plan aid to the Netherlands. Resolution is defeated on March 8.

 Feb.5th.1949

Ontvangbewijs-Recieve pospakket sent from  batavia to tangerang withj overprin indonesia stamp 3×40 cent and Wilhelmina 10 cent  stamps

FEB,7th.1949

Dated February 7, 1949 by 9 (nine) of fruit boats, led by Abdul Samad who fondly known as Commander Adul. 41 people who all have learned the practice before the Dutch occupation of the Red Bally Kuala Tungkal, armed with machetes, knives, kris, spears and other sharp weapons, departing from ditches Welcome to Kuala Tungkal. Divided into four troops, each led by:

1. Abdul Smaad

2. H. warrant

3. H. Nafiah

4. Zainuddin

Bally Red Front army commander Tungkal Area H. Saman (Saman Commander)

Bally Red Commander with some leaders of the Barisan troops Bally Red (BSM).

Keris weapon Commander Haji Saman

Some equipment / weapon of war in the traditional red sash paramilitary troops against Military Aggression Belnda in Kuala Tungkal 1949

At 24.00 pm, they subjugate the Dutch defense simultaneously and suddenly, the Netherlands did not expect / suspect before. Pertempurang happen until 09.00 am in the morning. Since the attacks carried out tiba-tiba/mendadak, many Dutch soldiers who became casualties, of whom there were soldiers at the rank of Captain. Bally Barisan Merah 2 (two) people died of Arup bin Wahid and A. Rachman and two taken prisoner.

With the success of this first attack, then add to the efficacy of public confidence Bally Red deeds, so the more expressed their desire to fight the Dutch atta

.

Feb.8th and 9th 1949, Tanda Penerimaan Ontvangbewijs(Recieve) of Sending Pospakket with Wilhemina stamps.

February,11th.1949

On February 11, 1949 following an attack on the Dutch carried out jointly by the troops led by A. Fattah Leside and Barisan Merah Bally total 430 people led by Commander H. Abdul Hamid.

The battle took place in the Trench III Tungkal V. Rows of Red Bally fought bravely armed with machetes, saber, dagger and spear. In a battle going one on one duel. 45 (forty five) Bally Barisan Merah including Commander H. Abdul Hamid fall near the former plant padai Cang Kui Thurs. An Armed Forces and Lieutenant Young A. Fattah Leside wounded. In the Netherlands too many victims whose numbers were falling dapoat not known with certainty.

Attack From the Trenches Bakau and death of Commander Adul

The first boat was placed at the front of the boat penglima Adul with Sergeant Major Murad CPM Alwi and two members of the CPM is Corporal Corporal Badari and Muhammad as well as 7 (seven) members of the Red Bally among others Abdullah. Sergeant Major CPM Buimin Hasan along with several members of the CPM and the Barisan Bally Red are on the boat finished third.

Once the troops are in the midst of the sea, met with a Dutch warship. Adul Commander and his friends immediately fired a shot aimed at the Dutch Army who were on board.

At once the shooting is intense from both sides. Commander Adul jumped into the water and swam towards the Dutch ship boarded the ship in order to invade the Dutch Army was on the ship. At the time of holding on to anchor the ship, Commander Adul kept mowed by machine-gun fire by the Dutch Army so that the handle apart and sinks do not arise again, the chief Adul fall in place.

Bally Red army commander Tungkal Area Abdusshamad Front (Commander Adul) (Photo May 1937 when he was in Johore Malaysia)

Belada soldiers continued firing machine gun that resulted in several broken or overturned boat, including boat which was Sergeant Major CPM. A. Murad Alwi. A member of Barisan Merah Bally who participated in the boat was shot and killed at that time also.

In a hail of bullets that the Dutch Army, Sergeant Major Murad Alwi trying to reach the coast of Ulu Kuala Tungkal Ladder King, by floating in water, breathe only through your nose, which sought to remain above the water surface. After a successful landing in trouble susuah Ladder King Ulu, Murad Alwi realized that his left hand got a bullet fired through the Netherlands.

From Ladder King Ulu, Murad Alwi headed Trenches Gompong where he met his friends who then took him to Beramitam and continues to the Gulf Nilau to get help and treatment.

In this battle, as many as 30 (thirty) members of the Barisan Bally Red and two CPM of Badari and Corporal Corporal Mohammed died, while 15 others were wounded, including Sergeant Major CPM. A. Murad Alwi. Sergeant Major CPM. Hasan Buimin with members of troops who are in a boat can save themselves and landed on the beach.

Kuala Tungkal Dutch ship was attacked by Bally Red Army and Armed Forces by using boats and weapons swords and others. (Painting)

February,15th.1949

For the continuation of the struggle, it is necessary fundraiser / food in a more coordinated. Then on 15 February 1949 in Pembengis kulatungkal Jambi,set improvement board “Front Jungle”, namely:

Chairman: H. Shamsuddin (cum treasurer)

Vice Chairman: A. Sanusi (Teacher)

Penggempur Head: H. Saman (Head of Good Dyke)

Members: 1. Amri (Teacher)

2. H. Zakaria (Imam Mosque)

3. Alan (Member DPW)

4. Tarli (Member DPW)

Kitchen: People Pembengis

Supplies: Dharma Bhakti People

Information: Bureau of Information which consists of Hasan. AR, and Rusli Asrie Rashid Rashid.

Documentation: Head Masdar

With Wilderness Front refinement, then the preparations the resistance could be done better and planned, many donations from the community such as rice, coconuts, vegetables, chicken, fish, sugar, coffee, cigarettes and others were taken by boat or on foot. Not infrequently they come from enrolling to fight against the Dutch.

Special task lighting is to arouse the fighting spirit of the people, through leaflets that are made simple contents of the broadcast quoted ALL INDIA RADIO, BBC broadcasts to the Far East whose content is beneficial struggle.

Tools such as radio-Accu, stencils and typewriter obtained from people who voluntarily provide for the struggle. Accu radio donated by H. Dahlan was a businessman from Kuala Tungkal.

After beberpa times Pembengis were attacked by the Netherlands because it is situated not far from Kuala Tungkal about 7 (seven) Km, then felt insecure as the headquarters of the Front Rimba, Rimba therefore Front deployed administrators control every aspect of the place.

February ,23th.1949

The Jambi,Tanjung Jabung Kuala Tungkal Raid

This raid occurred on February 23,  1949, the people who will engage in battle or red barret Bally had gathered in the village Pembengis Pembengis and has prepared the soup kitchen. People who become Barisan Merah Pria is dating from every Kepenghuluan (villages now) and each has brought a red cloth the size of 4 cm width and a length of 1 Meter stengah with traditional weapons according to the tribes in question, such as kris, spears , kampilan, sundang, machetes, cauliflower and others. Furthermore, the people will participate in conducting the raid, their names are recorded, which address, from which the village, noting the age and their families. Bally Red cloth should be worn at the time of invasion by forces including military forces, because in addition to the identification of members of the invading forces, is also the foundation of faith by deeds Bally Red every battle. Once everything has been prepared, then combined forces to leave the village it started moving toward the Trenches Gompong Pembengis, because this is the place Trenches Gompong final preparations, because of distance to the city of Kuala Tungkal only about an hour. In the Trenches Gompong is set on the division of groups, an explanation of the intended target, battle tactics, determine the special officers and the invasion of the Dutch defense strategies.

D. Formation of groups, leadership groups and target groups Invasion

1. After arriving in the Trenches Gompong, jumalah who will joined in the attack from the people amounted to 370 people and the Armed Forces of Indonesia as many as 30 people so that altogether 400 people. The first preparation, the examination of traditional weapons, like a dagger, the dagger, machete cauliflower, sundang, kampilan and others by a pawing weapon named Sahibar, which determined which ones should be brought guns invading and should not be taken. So all that will be joined in the attack did not kerkecuali TNI tested by eating pepper (sahang), where if that takes sahang or it was not spicy pepper, then they should not be invaded. Finally after all have provisions above, then the people of the 370 people who will fight terebut iktu allowed to go only 270 people with a military people plus 30 people, then who will conduct raids into the city of Kuala Tungkal only 300 people. To create the spirit and courage in this battle, given a drink of water that has been dijampi by the commander of the Red Bally H. Saman.

2. After finishing these studies, then arranged small groups of this number 300 men into 3 groups, all of which were assembled in three large groups, each of these three groups determined direction. Indonesian Armed Forces to be around groups of 10 people who directly amenjadi raid leader and as Vice drawn from the ranks of the people of Bally Red.

3. After the talks held between the Commander H. Saman Bally Red Army as the Commander and his staff leadership with the leadership battle Tungkal Front Area of ​​the National Army of Indonesia represented by Deputy Commander Cadet Sergeant Major Battle. AD. Madhan. AR and its commanders Sector are: Cadet Sergeant Major Anwarsyah Navy, as Commander Sergeant Major Sector II CPM Buimin Hasan, as the Commander Sector Commander III and Pol. Zulkarnain Idris as the Commander of Sector IV. From the results perebukan or negotiations have been able to set up leaders of the major groups III and at the same time also determine the target raid assault tactics and how to go back Kepangkalan Gompong Trenches.

4. From the results of these negotiations has been able to set the leadership of the propagators of the three groups and the division of the raid targets as well as offensive tactics are as follows:

a. Group I was led by Commander H. Saman and assigned as Deputy Cadet Sergeant Major Madhan. AR targeting kepertahanan assault Dutch army in the office of Post (PO. Diamond Queen is now) and the defense of the Dutch Army at home right now Chief of Police. Movement of the attack was carried out after the group II and III attacked and burned the houses in the way the Port of Customs on the road in the Trenches I Ulu Palembang. The road taken by the group I was way students now, after moving from Simpang Gompong trench.

b. The task of the TNI led by Cadet Sergeant Major Madhan. AR in group I was once seen fires in the Port of Ilir road as well as fires in the Trenches I and have a shootout, then the troops on the group I carry out attacks on Dutch soldiers in the post of Defence Police and the Post Office house with gunfire Kijanju Japanese machine guns and other weapons fire and threw hand grenades Japanese-made machine gun in place of the post office. Meanwhile troops pasuskan sling-led by the commander of the Red H. Saman began to move into town with cries of “Yes-ZALJALALI-WAL – Ikram” and stormed kepertahanan dutch army.

5. Group II, chaired by the Sector Commander III CPM Buimin Sergeant Hasan and Commander Sector Commander Pol IV. Zulkarnain Idris, the Deputy of the Barisan Bally Red H. Sayamsuddin and M. Sanusi who has the task of moving towards the Port road, through the Fishermen’s circuitry, veering through the bridge through the back way towards the goal of the Great mesji houses would be burned. While the military led by Sergeant Major yasng CPM stand on the back of the Grand Mosque, in order to protect the troops who served the Red Bally burned houses in the way of the Port has been burned. Zulkarnain Idris Force Commander at the Crossroads Commander survive and if the houses had been burned in the street Seaport, then this forces the defense menghantan Dutch Army in Simpang Empat at home Rivai. Pamuncak ST. Fire houses in the street and the harbor is a commando attack on the burning of houses by the Group III conducted the attack from the Trenches I.

6. Group III was led by Cadet Sergeant Major AL. Arwansyah assisted by Sergeant Corporal Syamsik of AL and AL and Barisan Sakiban Bally Red headed by Head of Masdar. Task Group III, the main thing is to burn the houses in the area of ​​Palembang on the road and the road near the cemetery and destroy tanks of water available in each house. While the military to protect them dar those shots. Motion carried on the road if the Port has seen fire and had a shootout with the Dutch Army. Thus, the Dutch Army was besieged by seranagan of Ilir and ulu.

E. The course of the Battle

1. Arriving at the Simpang Parit Gompong, each group dispersed into three majors with a unanimous determination to uphold all the decisions and plan their invasion.

In the middle of the pitch-dark night around 2 move all groups to their respective targets:

a. Group I to the way students are now heading to the Dutch defense in the post office is now PO. Diamond Queen and the current police chief’s house.

b. Group II is now moving towards the road on the edge of Fisherman sungat Dyke II, then entered the bridge the road continues to the back of the Great Mosque, and the houses of the Port road.

c. Group III moves forward towards the path of Sriwijaya, langusng to the cemetery road continues to divide the two directions of the road and as well as towards Palembang umah police chief.

2. At 3:15 minutes midnight, the group II who holds the key to the raid, had managed to set fire to houses in the Port road, which is a sign for the group III started his movement set fire to houses in the cemetery road and the road Palembang at 4 pajar fire has been coloring the sky red both of Ilir Pelaguhan road or from Parit Ulu I have been shooting, the bullets like fireflies in the night, flying toward its target, a voice shouts Barisan Merah Bally called “YA-ZALJALALI-WAL – Ikram”, reverberated and echoed in pajar sidikini. They advanced without shaking to the Dutch Army kepertahanan with traditional weapons hump machetes, spears, swords, dagger, dagger and others. “Esa lost two fairly, never come into force retroactively dubalang, Fisabilillah their determination, martyrdom purpose”.

3. Among the Dutch army had panic attacks from Ilir and from Ulu, also accompanied by a thunderous shouts of Barisan Merah Pria then at that time also held a group I suddenly shots kepertahanan Dutch Army Post Office (PO. Queen of Diamonds) now and Police in the house (street Nusa Indah) now, accompanied dnegan throwing hand grenades made in Japan, along with Bally’s Red Army, led by Commander H. Saman with cries of “Yes-ZALJALALI-WAL – Ikram” by firing a pistol in his left hand and right hand on the knob war kepertahanan Army invaded the Netherlands, followed by a red sash around the troops. From all directions from either side Ilir, as well as from the Middle gemuruhlah next Ulu and voice calls greatness “YA-ZALJALALI-WAL – Ikram” interspersed with shots of firearms, pasukana Dutch Army in the Post Office and Police Chief of home defense, began to leave defense they retreated towards the waterfront near the Ferry port now, while firing blindly, but the Barisan Merah Bally continues to pursue even if among them there are ayng shot the Dutch army. TNI troops, army come forward with ways to shoot a moving target, especially the Dutch troops are retreating, because given the bullets are extremely limited, and also members of these forces teleh use traditional weapons, like a dagger or a sword that has been revoked dibabkan bullets in their weapons have been depleted.

4. The morning sun has its light emitting dar UPUK east coincided with that bang-bang kancu martyrs and gun fire from the Dutch navy patrol boat in the river Pengabuan have caused explosions in downtown Kuala Tungkal both of Ilir, in Ulu and back-street Students, who as if to block the withdrawal of troops raid this way. The shooting mortars and cannon kancu of this ship did not stop approximately 3 hours.

5. The sky looked overcast, clouds covered the sky as if this vast and bi glimpsed through the clouds of sunlight that is about 5 feet high from the east UPUK. However ldakan-mortar explosion are still visible around the arena battles of the trenches I still shots karabon one-one that conducted by Cpl AL Sakiban target is not clear what is fired. Cadet Sergeant Major Madhan. AR signaling the Saman H. commander who at that time was behind the cliff path along with a few special men who accompanied him, in addition to the right at the intersection of four BNI now, while Cadet Sergeant Madhan. BRI AR are present in which the sign is to regularly retreat back to base. Cadet Sergeant Major Madhan. AR along with the soldiers I usman and Asnawi and Ilyas, who turns invisible warrior I finally know this (Ilyas) were killed at the time throwing grenades at the Post Defense Army Chief of Police of the Netherlands at home now. Commander H. Saman, along with some of his men saw Cadet Sergeant Major Madhan. AR and two of his men began moving back toward the Dutch Army Defense Pos that have been abandoned, then the commander of H. Saman-even moving backwards calmly standing on foot despite mortar explosions still there. Cadet Sergeant Major Madhan. AR digundikan Dutch defense until after the Post Office, seen one automatic weapon Owen Holland-gun and one gun is the result of that battle.

6. At the time rewind back to this base, look fabric is used as stretchers to carry the members of Barisan Bally Red wounded from the street and road Sriwijaya Students, and other friends who are killed can not be brought back.

F. Cover

1. So … a little story of The War of Independence History of Struggle of the Republic of Indonesia in the District of Tanjung Jabung in general, kecamata Tungkal Ilir particular that really happen that we serve in Attractions Flashback. About the invasion of the Netherlands Army in defense of Kuala Tungkal, for combinations of the Indonesian national army and the people of the Barisan Bally Red line to the defense of the Dutch Army in the city of Kuala Tungkal, which is the power of “single” is a potent and powerful, which may eventually repulsed Army troops Holland has a complete and modern weaponry and as one of the allied forces who took part won World War II past.

2. The raid on Thursday night and Friday on February 23, 1949 but we can repel the Dutch troops, get 2 pieces of LE and an Owen gun-gun, then on the ranks of the TNI and the people of Red Bally, many of which fall as a nation and as kusuma martyrs, who numbered as many as 68 people

 

(5)February,26th.1949

The rare Federal State postal stationer smelt 2 sen type one G 95 with “Van Den”(type two  ,common with ven de) send from Padang to Padang Panjang(all west sumatra area  under federal state,except some village still under PDRI state.(this card send by my friend Wirako’s father,Dir MHI Ang Ie Siang)

Feb.23th.1949

23 February,1949

Basis battle acttacked move to  Pembengis village

Moved to Pembengis base invasion

After several raids from the sea which resulted in many casualties, then the elders of both the TNI and the Red Bally decided to divert the attack from the mainland. Location was chosen as the center / base to prepare the troops is Pembengis located approximately seven (7) km from Kuala Tungkal.

To support / coordinate the implementation of the attack through the Front Wilderness that has been enhanced to take care of receiving assistance from the public for purposes perjungan such as rice, coconuts, vegetables, fish, sugar, coffee, bread, cigarettes and others, in addition to registering and selecting those that expressed a desire to contribute to fight and fight against the Dutch Army,

For purposes, Forest Front, get a radio-aid batteries from H. Dahlan an entrepreneur that can be used to obtain useful information to better establish the continuation of the struggle. Information obtained by officers who are members of the Bureau of Information Wilderness Front transmitted to the public, among others, BBC Radio broadcast from the Far East for the benefit of struggle.

With the death of Commander and Commander H. Adul Abdul Hamid, the head of the Barisan Merah Bally replaced by Commander H. Saman, who had always accompanied the Commander Adul in raids against the Dutch Army.

In the final preparations to Kuala Tungkal invasion, have signed up to the board at Forest Front Pembengis number 1000 (one thousand) people to participate in fighting the Dutch attack, after selection by an assessment team received as many as 441 (four hundred and forty-one), the rest is prepared as a backup .

After all the preparations done, including practice teaching / practice Bally Red Direct Commander H. Saman, then on February 23, 1949 number of 441 (four hundred and forty-one) consisting of members of Bally Red line, the TNI, Police, Civilian Employee, Village Administrator and Village clergy, led by Pangluma H. Saman attacked the Dutch position in Kuala Tungkal. This attack meruapakan the greatest number of troops and the best preparation than with attacks carried out previously.

In Force attack was contained, among others:

1. Cadet Sergeant Major Madhan. AR (representing the Sector Commander Tungkal 1023 Front Area) A. Fattah Leside being treated wounds, with 3 (three) members of the TNI, namely, Syamsik Sergeant, Corporal (L) and Cpl Sakiban Sahring CPM.

2. H. Shamsuddin (Chairman of the Front Wilderness / prince Tungkal III)

3. M. Sanusi (Vice-Chairman of the Front Wilderness)

4. Masdar Event (Head Tungkal Ilir)

5. Police Commander Zulkarnaen Idris, Bustami and others

Troops are divided into 21 (twenty one) group dipimpini by a Chairman and Vice-direct group led by Commander H. Saman. Departure done from Pembengis (Old Mosque) and before arriving in Kuala Tungkal stopped some time at the Masjid Parit Gompong while carrying out the practice Bally Red as final preparations prior to the raid.

Before dawn, troops stormed Kuala Tungkal, through the checkpoints Netherlands. Occurs single combat with unequal weapons. Bally Red troops set fire to houses in the neighborhood used as a residence / dormitory Dutch Army, without heeding shots Dutch engine, so a lot of Dutch soldiers out of fear and panic ran up to their war ships anchored at the jetty Kuala Tungkal.

After raged almost as long as 3 (three) hours, the Barisan Merah Bally resigned return to Pembengis leaving the victim sebayak 30 (thirty) people died as a hero. In the Netherlands also fell victims to death and many serious injuries and minor.

Since the attacks, the Dutch Army to make the barriers of barbed wire fence around their camp, so that military and Red Bally will not strike again. But in reality, the TNI and the Red Bally never stop the attack. Dutch soldiers who were patrolling out of camp is always blocked and intercepted by the TNI and the Barisan Merah Bally.

February,24th.1949

Tanda Penerimaaan _Ontvangbewij,(The recieved) of sending Pospakket from Toko Kie Batavia to Ambon with overprint Indonesia stamp 40 cent.

3.March

March 1

(1)Guerillas retake Yogya for six hours under Suharto. (Later, this event would be called the “serangan umum” or “public offensive”.)

(2) the very rare change of adressstationer 2  sen dancer stationer, send from Hollandia Ned New guinea (mnow west papua) to Tanjung Pandan Billiton (very rare city postmark of West Papua and Billiton island Sumatra)

March,4th.1949

(1)Ontvangbewijs (Recieved of sending) Pospakket cds Batavia centrum 4.3.49 with overprint Indonesia stamps 2×40 send and 2x1gld

(2)The chinese overseas Medical doctor,dentist and Apotheecers organization letter send to Dr Thung Batavia,with nica -USA stamp 1 and 2 cent.

March,7th.1949

The Money Order(Poswessel)  recieved CDS SALAM 7.3.49(The city near Magelang and mountain)

March,8th.1949

On March 8, 1949, again the combined military forces Kuala Tungkal Jambi and Bally Red with strength of 150 people (one hundred and fifty) people led by Commander H. Saman attacked the Dutch position in Kuala Tungkal. In this raid, 68 (sixty eight) Barisan Merah Bally fall, and in the Netherlands is expected to fall a victim who directly witnessed by the survivors back to base.

Panglima Camak Dari Sungai Undan (Riau)

Commander Camak From River Undan (Riau)

On March 8, 1949 Dutch Army troops landed in the village bay beehive, a member of Bally Red happened to be in the Gulf market beehive named H. Baslan saw Dutch troops landed, H. Bally Red line Baslan members armed with machetes hump. H. Baslan were fired upon with automatic weapons by the Dutch Army and the fall of the scene. H. Baslan semapt injured left arm of a Dutch Army (original Dutch)

March,9th.1949

Ontvangbewijs (Recieved of sending) Pospakket cds Batavia centrum 9.3.49 with  6×50 sen ,2×40 sen overprint Indonesia and 1 gld overprint indonesia(rate  4.8 gulden).

March,16th.1949

On March 16, 1949, Commander Camak Barisan leaders of the Red River Bally Undan (Riau) led the 250 (two hundred and fifty) troops march stormed Kuala Tungkal Bally. Participated in this raid 25 (twenty five) troops led by Cadet Sergeant Major Madhan. AR.

Troops dispatched from the Old Mosque Pembengis. In this raid, Commander Camak under a hail of bullets fired by the Dutch invaded with his army, jumped over the barbed wire directly invaded the Netherlands in the camp. Semantara troops kept firing to protect them. Because the unbalanced force which forces the Red Bally only use sharp weapons such as machetes, swords, dagger, dagger, spear and the like. While the Netherlands using modern senajata automatic machine guns and other like-lai, Bally Red Army withdrew back to Pembengis. In battle, the commander Camak with 36 (thirty six) members of Barisan Merah Bally fall.

J. Sector Headquarters 1023 always moving

After several times attacked by military forces along the Barisan Merah Bally, based in Pembengis, the Dutch Army increased patrols to Pembengis and surrounding both by sea using BO patrol boat equipped with heavy weapons as well as by land from the Trenches Gompong so pembengis not safe anymore .

1023 Tungkal Area Sector Commander Lieutenant Young A. Fattah Laside with staff.
Standing in front from left to right: Sergeant Major Moerad Alwie, Madhan Cadet Sergeant Major AR, A. Young Lieutenant Fattah Laside and Sakiban. Squatting in front of Major Buimin Hasan.

For further struggle interests of the loading and preparation struggle berpinda-moved from place to place (mobile). Sector Commander Lieutenant Young A. Fattah Leside first move its headquarters to the Trenches Trench VII, then to the Mangrove, River Gebar and last base of the spines / Punggur River.

Strategy and tactics of the struggle then continue to use the strategy and tactics of war grilya (hita-and-run). In order for the strategy and tactics are run more efficiently and effectively, therefore 1023/Tungkal Sector structure Sector Area or Area Tungkal enhanced by including the following:

Sector Commander / Battle:
Lieutenant Young A. Fattah Leside accompanied by Lieutenant (N) Makky Perdana Kusuma.

Vice Commander:
Cadet Sergeant Major Madhan. AR.

Sub-Sector Commander Betara River / Ditch Deli:
Sergeant Major (L) T. Anwar Shah.

Pengabuan River Sub-Sector Commander:
Sergeant Major CPM A. Murad Alwi.

In addition there are several Unity Unity Tempur Tempur ie, each led by Sergeant Major CPM Buimin Hasan, Idris Zulkarnaian Police Commander, Sergeant Major (L) Sanusi and Sakiban moving from place to place (mobile). For the Dutch guerrilla attack. Until the announcement of the Cease Fire Ipenghentian shootout / ceasefire). Pengahadangan against Dutch troops continue to be made of them in Punggur River, Gulf of beehive, paar serindit River, Market Nilau Bay, River and other Gebar

March,17th.1949

The Diensbriefkaaart(Official Postcard),free stamp of Landsdrukkereij Batavai(Official printing) send from batavia to Semarang.

March,19th.1949

The Chan’s Book Store promotional cover send from  CDS Batavia centrum to Probolinggo with dancer 3 cent stamp.

March,24th.1949

the rare federal state postal stationer smelt 5 sen type one G 95 with van den,send  from Padang to Padang Panjang(this card send from my friend wirako’s father to my father in law- the family historic collections)

 

March 31 U.S. Secretary of State Dean Acheson privately tells Dutch that their Marshall Plan aid is still in jeopardy

4.April


Sjarifudin Prawiranegara headed the emergency PDRI government while Sukarno, Hatta, and the rest of the regular Republican government were being held by the Dutch. He would be involved in Indonesian politics for many years to come, as part of the rebel PRRI government in 1958, and yet again as a signer of the “Petition of 50″ criticizing the government in 1980.

April,2nd.1949

The postally used cover CDS Bandoeng ,the capital city Pasundan State of Indonesia Federaal

April 6th.1949.

91)United States Senate passes resolution to stop Marshall Plan aid to the Netherlands, but only if the UN Security Council votes sanctions against the Netherlands.

(2) The picuters of Malioboro road corner, during the PTT repaired the phone cables.

April,12th.1949

the battle on the River Gebar in April 1949, dutch temtara patrol intercepted by navy troops led by Sergeant Major (L) T. Anwar Shah was accompanied by Lieutenant (N) Makky Perdanan Kusuma. After fighting a long time since losing in the number and types of weapons, troops backed by the victim’s 3 (three) people were slightly injured among them Lieutenant (N) Makky Perdanan dip aha Kusuma shot left.

April 12, 1949, Dutch soldiers using heavily armed BO ship docked in Bay Village Market NIlau, by landing troops by fully armed. Seeing the Dutch army landed, the troops march Bally Red spread around the Gulf Market Nilau, see the Dutch soldiers who were walking hand in hand towards the mainland, a member of the Barisan Bally named Aban Red Army invaded the Netherlands alone, have not had time to get to the Dutch Army troops, Aban has Automatic weapons were fired upon by the Dutch Army and Aban died the scene.

K. KL soldiers. Netherlands In the Capture

In early April 1949 after the headquarters moved to the Base of Sector 1023 Duri, a Dutch war ship approached the shore Jetty spines. Earlier the Dutch Army had been frequently patrolling the base of spines around the coast because that area 1023/Tungkal Sector headquarters are in this place.

The warship filled with native Dutch soldiers called Koningkelijke Leger (KL). Before arriving in Kuala Jetty Duri, the ship ran aground in the middle of the ocean because the water was receding. With a lifeboat 3 (three) persons to kuala Jetty Dutch soldiers with the intention of investigating the situation spines, but not biased to land because of low tide.

A Dutch Navy who were captured by the army of the republic of Indonesia (TRI)

being interrogated by Lieutenant Young A. Haddy D. Head III.

One of them by using a fishing boat that was passing by tried to reach land Jetty Kuala spines where there are houses and a Post Customs (Customs). Before samapi on the mainland, a boat accidentally overturned by the owner, then by the population residing in Kuala Jetty Duri Dutch Army is busy-busy arrested and taken to River Punggur, of whom helped Adnan Hasibuan a Customs Officer on duty at Jetty Kuala Duri .

Looking at these events, two Dutch soldiers who were on the boat right back to the ship. River Punggur Dutch soldiers were taken to the Sector Commander 1023 A. Fattah Leside was examined by Lieutenant Young A. Hadi Chief of Bureau III? Intel’s Northern Front, which happened to be in the village in order to help their duties in a combat situation Tungkal Front Area.

In the afternoon a patrol boat equipped with a BO Dutch heavy and light weapons opened fire towards the Jetty Kuala Sungai Punggur spines and without a definite direction (blindly). Dutch soldiers went ashore and then continue shooting. Apsukan TNI withdrew kepedalaman while shooting a reply to slow down the Dutch Army. In the event thirty (30) residents were arrested by the Dutch and taken to the Kuala Tungkal.

Lieutenant Young A. Haddy D. Head III Intel TNI

April,13th.1949

the rare Indonesia federal state letter sheet(Postblad-warkatpos) postal stationer queen wilhelmina  10 cent send from Pasundan state capital ,Bandung to Batavia(Jakarta)

April 16th.1949.

Tan Malaka is captured and executed by a TNI commander after a Dutch contingent attacks the town where he was staying.the latest information the tomb of Tan Malaka was found,the bone is DNA test and cofirmed.

April 22th.1949.

Dutch announce that they will return the Republican government to Yogya if the guerilla war stops.

April,23th.1949

Free of Revenue,Acte van overleiden(Deth Certificate) od Batavia for European people  (Rosalia Julia Lapre.)

5.Mei

(1)Sukarno and Hatta remain in custody on Bangka.

(2) Sadar _Ontwaken magazine,Mei 1949-The chinese overseas magazined lead by Thio In Lok ,every one month. intersting info about Pao An Tui.

In the unconscious has been described by colleagues Soegardo about PAT (Pao’s tui) which summarily describes that PAT is only logical that there is, for defending the rights of the Chinese nation has. Among the many questions surrounding the establishment of PAT, it is our attention, that all fees that amount is not small shouldered by the Chinese community itself, so that by the time the organization has never sounded kesahnya complaints about financially, could be the water as the Chinese community and the PAT as a fish . But the situation at that time was really sad karewna kwmungkinan PAT dissolution exists, financial kiarena not suffice. If PAT is dissolved, menunjukn that Chinese society is still too weak in the union to mengalang an organization to defend human rights. No one has objected the PAT in Indonesia, which defended the rights of Chinese people as no other person able to membelanya.Tidak there was a broad outlook will Indonesiapun with this prizip meolak. (Parent Iwan spoke about how the leadership of Dr. Poh An Tui city Padang, Chinese dilingkungankampung maintain and defend the legendary Chinese moans of other tribes, such as Tanah Kongsi burning efforts by spraying petrol dikalikecil, Dr. Iwan still remember the night-maolam told n = mengunsi home Ntjek Ko Lai because he wanted dibakar. Small-time record of dr iwan

Didalam sadar pernah diuaraikan oleh rekan Soegardo tentang PAT(Pao an tui) yang ringkasnya melukiskan bahwa sudah sewajarnya PAT itu ada, untuk membela hak-has azasi dari bangsa Tionghoa. Diantara banyak soal sekitar pendirian PAT ,adalah sangat menarik perhatian kita,bahwa segala biaya yang jumlahnya tidak sedikit dipikul oleh masyarakat Tionghoa sendiri,sehingga pada waktu organisasi itu tidak pernah kedengaran keluh-kesahnya soal finasial ,bisa merupakan air sebagai masyarakat Tionghoa dan PAT sebagai ikannya.Tetapi keadaan pada waktu itu sungguh menyedihkan karewna kwmungkinan dibubarkannya PAT itu ada, kiarena keuangan tidak mencukupkan. Jika PAT dibubarkan ,menunjukn bahwa masyarakat Tionghoa masih terlampau lemah dalam persatuannya untuk mengalang suatu organisasi guna membela hak azasi. Tak ada seorangpun yang keberatan adanya PAT di Indonesia ini,yang membela hak azasi bangsa Tionghoa karena tidak ada lain orang yang mampu membelanya.Tidak ada seorang Indonesiapun dengan pandangan luas akan meolak prizip ini.(Orang Tua Dr Iwan bercerita bagaimana pimpinan Poh An Tui kota Padang,dilingkungankampung Tionghoa menjaga dan membela kaum Tionghoa daris erangan suku lain,seperti upaya membakar Tanah Kongsi dengan menyiramkan bensi dikalikecil, Dr iwan Masih ingat malam-maolam disuruh mengungsi ke rumah Ntjek Ko Lai karena katanya Kali Kecil mau dibakar.-catatan dr iwan)

MAY,5TH.1949

MAY, 5TH. 1949

THE BATTLE AT FORT HURABA

1) On May 5, 1949 at around 04.00.Wib Dutch Army from Pijor koling held siege attack of four majors, assisted by 2 members of Mobile Brigade road Bookmarks Tapanuli named MAKALEO and Syamsul Bahri, the Dutch attack was captured FORT HURABA, Troops MBK Tapanuli in Fort Huraba Tolang and retreated to his native troops led brigade-B CAPTAIN ROBINSON Hutapea back to Kampung Tolang

2) Arriving in the village of MAS Tolang KADIRAN collect all the existing forces and ordered the attack on replies to the Dutch troops who have occupied FORT HURABA, Battle happen again with the help of troops firing mortars KADIRAN MAS can be expelled from FORT HURABA and at 16.30.Wib FORT HURABA can the reclaim and Dutch troops retreated into the field of battle FORT Sidempuan HURABA losses in the troops led by MAS members MBK KADIRAN 10 people were killed, 12 people from the Forces Brigade – B were killed and losses Weapons.

3) After the Dutch troops retreated from FORT HURABA Dutch troops never again attack the FORT HURABA, only MAS KADIRAN never received a letter from the Dutch in Padang Sidempuan Army to surrender and give up when the going gets Position, but the letter was returned by the MAS KADIRAN delivered by a woman trader named MARIAM the contents of the letter reads “WE DO NOT WANT TO MEYERAH ..!!! PLEASE COME TO FORT HURABA IF TRUE MASTER – MASTER want to colonize. WE THANK-BEANS BEANS WITH OUR “

4) With the CEACH FIRE in September 1949 the MAS KADIRAN A commander of the Battle Command Battle Fortress Fortress Huraba submit to Aiptu USMAN Huraba Danki – A MBK Tapanuli and Mas Kadiran Penyabungan left to take care of everything in case of delivery of the purposes of sovereignty and Weigh received by Dutch Army.

r. PUTTING POLICE CHIEF POSITION NORTH SUMATRA

Penyabungan city is the capital of South Tapanuli, after the city of Padang Sidempuan in the Dutch Army controlled, as the Civil Administration / Regent is KING LUBIS lord, is the king Oloan police chief and commander of troops is a MAJOR Bejo. For the Chief Constable of North Sumatra occurred Kepakuman because at Sibolga and Dutch troops occupied Sidempuan P. DARWIN’S FATHER KARIM Kapala as North Sumatra Police went to Paya Kumbu, then proposed by MAS KARIM DARWIN’S FATHER KADIRAN to lead the police in North Sumatra.

s. POLICE TRAINING IN FIRST CHRISTMAS

With the CEACH FIRE / truce, and no longer Dutch attacks as head of the MAS KADIRAN MBK Tapanuli DARWIN’S FATHER KARIM propose to add members to MBK Tapanuli and practice it, the proposal to be approved later KADIRAN MAS Mas Kadiran choose Youth-Youth of the Guerrilla Merapi 60 people and of the Brigade – B led MAJOR Bejo as many as 50 people. The next 110 Youth Education gets sent keNataluntuk Police and other exercises and as Chief of Police Education and Training. North Sumatra Police chief Adjunct Senior Commissioner DARWIN KARIM lift Iptu Ibn as Chief of Police Education and Training at Christmas.

t. Mobile Brigade residency Tapanuli

ASKED TO BE ORGANIC army

MAS KADIRAN summoned FATHER SAID UMAR Sumatra Police chief in Bonjol, Mr. Umar Said asks you about the status of the Mas Kadiran Tapanuli MBK “WHAT IS ORGANIC Mobile Brigade SIGN IN OR REMAIN IN POLICE Army ‘Mas Kadiran then replied” IF WE ARE STILL IN NEED WORKERS IN POLICE THEN WE WILL CONTINUE TO BE A MEMBER OF POLICE BECAUSE WE ARE STRIVING FOR INDEPENDENCE OF THE POLICE IS “thus Sumatra Police chief Mr Umar Said That set MBK Tapanuli remain in the Police and the rank was raised to MAS KADIRAN KLS POLICE COMMISSIONER-II with Position COMMANDERS BIG CAR Brigade – I SUMUT – ACEH, after inauguration the next day please Mas Kadiran Prayer Restu to Mr. Said Omar to return to Penyabungan and when he got in Penyabungan reports to the Chief Constable of North Sumatra Mr. Darwin Karim.

May 7th.1949.

“Roem-Royem” agreement: Dutch agree to restore the Republic of Indonesia government, to hold talks according to the UN Security Council resolution of January 28, and to work towards a settlement based on the Renville agreement.

Based on Aneta information Jakarta said the Republic Radio “Voice of Sumatra” the PDRI government  about Van Royen-Roem Agreement. The PDRI goverenment accept the Roem-Royen agreement on  such codition(atas syarat-syarat) :

a) Pasoekan Republik harus diperkenankan tetap menduduki posisi yang ada ditempatnya sekarang.

b)Tentara Belanda haruslah dengan perlahan-lahan ditarik mundur dari posisinya sekarang ini.

c)Pengembalian Pemrintahan Republik ke Djokja haruslah dengan tidak bersyarat(tanpa syarat)

d)Souvereinieteit (Kedaulatan)Republik atas Jawa,Sumatra,madura serta pulau-pulau sekitarnya,harus diakui oleh Belanda menurut perjanjian Linggarjati.

May,16th.1949.

The Postally Used Lettersheet postblad warkatpos ,from Batavia(Jakarta) to Semarang.with Wilhelmina stamps 10 sen.

May,25th.1949

General Spoor, commander of the Dutch in Indonesia, resigns. He dies of a heart attack on May 25.

May,31th.1949.

(1)On May,31th.1949,

Panittia status Tapanoeli telah mengadakan suatu rapat di Taroetoeng yang dihadiri oleh lebih kurang 200 orang yang mewakili seluruh masyarakat demikian”Aneka”. Diantara para hadirin juga terdapat beberapa orang terkemuka yang berhaluan Republik. Setelah diadakan suatu perdebatan yang panjang lebar,maka rapat mengambil suatu resolusi ,dimana disetujui status ketatanegaraan untuk tapanuli. Dalam suatu rapat di Balige,yang dihadiri oleh lebih kurang 700 orang, telah disetujui tujuan panitia status Tapanoeli. Pembentukan suatu Dewan Perwakilan Tapanoeli telah diperbincangkan dengan teliti,bahkan telah disertai dengan perayaan,demikian Aneta. Selanuutjnya juga di Sibolga telah diadakan rapat untuk memperbincangkan hal ini.Untuk pekerjaaan pembangunan kembali telah dibentuk suatu panitia yang diberinama “Pembangunan Bersama Saerah Tapanoeli”

(2) Postally used Posttas stationer card 5 sen send from bogor to Jatinegara,Prison  Bukit duri, a letter to the custodian at Bukit Duri prison with their officias stamped:” de factory Gevangenen kamp meester cornelis(very rare and only one ever seen-Dr Iwan note)

the letter :

Bogor 01/31/49

greetings and Happy

Thank God we say to the Divine Presence, this is blown over the first of our mouths, I arrived home safely.

Mas (elder brother) was ketir scenery and atmosphere, very different from what dahulu.Apa-aspired to in the fumble prisoners will all but I am not surprised.

While this is in addition to working on something, just stay home writing maaaf. Bogor air (air) was dinggin once.

Sofyan bung in Bogor is still working. What are the kurasai. only then can I be glad when there is no longer prisoners in Bukit Duri. Mas all these signs of suhardja letter, tell the brothers. Sorry for the other brothers

Bogor 31/1.49

salam dan Bahagia

Alhamdulilah kami ucapkan kepada hadirat Ilahi, atas inilah yang terhembus pertama-tama dari mulut kami,dengan selamat saya tiba dirumah.

Mas(elder brother) memang ketir pemandangan dan suasana ,amatlah berbeda dengan dahulu.Apa-apa yang dicita-citakan dalam tawanan meleset semua akan tetapi saya tidak heran.

Sementara ini selain mengerjakan sesuatu,hanya tinggal dirumah menulis maaaf. Bogor udaranya (hawa) terasa dinggin sekali.

bung Sofyan ada di Bogor masih  bekerja. Sedang apa yang kurasai. saya barulah dapat bersenang hati bila tak ada tawanan lagi di Bukit Duri. Mas semua inilah tanda surat dari suhardja,katakan kepada saudara-saudara. Kasihan pada saudara-saudara yang lain.

6.June

June,7th,1949

the rare change of adress dancer 2 cen added overprint Indonesia federaal stampF 1.-,postally used via airmail from Malili(rare area) to Semarang ,

June,10th.1949

(1)Postally used circulair letter from the chineseoversees  Medical Doctor,Dental health and aphothekeer organiztions ,alaydrus street ,Central jacarta to the member with federal usa printing stamps 1 and 2 cent.

(2)Menurut keterangan Sultan Djokja ,pada hari ini lebih kurang seratus orang pembesar Republik dan orang partikelir beserta keluarga,oleh Belanda telah diangkut dari Magelang ke Djokja. Sebagai alasan orang-orang itu dianggap berbahaya untuk keamanan dan ketertiban  umum serta mereka mendapat pangilan pemerintah Repoeblik,sedangkan hal tersebut ternyata tidak benar.Hal ini telah dilaporkan kepada ketua delegasi Republik,supaya dengan perantaraan PBB diajukan protes.

Keterangan Sultan yang kedua ,mengenai soal pelemparan granat tangan dihalaman tempat kediaman Iboe Soekarno.Sultan menerangkan ,bahwa difihak orang Belanda ingin memperlihatkan kepada dunia ketridak sanggupan pemerintah republik untuk mempertahankan keamana dan ketertiban,jika telah dikembalikan ke Djokja dan bahwa kejadian itu dibesar-besarkan. Kabar yang mengatakan bersumber dari pihak Republik,bahwa granat tangan itu dilempar oleh pihak FDR dan bukanlah oleh PKI,menurut Sultan pihak resmi Republik sama sekali tidak tahu dan sampai sekarang rtidak ada bukti bahwa orang Indonesia yang telah melemparkanya. Akhirnyaditerangkan oleh Sultan bahwa sampai pada waktu Pemerintak Republik dikembalikan,maka tentara Belanda bertanggung Jawab atas keamanan penduduk di Djokja.

Sultan Jogja menerangkan dalam konperensi pers di Djokja sekembalinya dari kunjungan ke Jakarta dan Bangka ,bahwa kunjungan tersebut memberikan kepuasan. Mungkin dalam minggu ini akan diumumkan, kapan berlangsungnya penyerahan kekuasaan di Djokja oleh Belanda kepada republik.Kembalinya Presiden Soekarno dan Drs Moh Hatta beserta pemimpin rfepubli lainnya, sangat bisa terjadi dua atau tiga hari steelah terjadi penyerahan kedaulatan tersebut,hal ini juga tergantung kepada  keresidenan Djokja.

KETERANG Dr SOEKIMAN, Ketua Masjumi dr Soekimanpun telah memberi satu uraian yang panjang lebar tentang kunjungan Hatta ke Aceh. dikatakannya rombongan Hatta sangat menyesal karena sudah tidak dapat bertemu muka dengan Mr Sjafroeddin,akan tetapi ini tidaklah mengakibatkan hal yang tidak enak. Dr Soekiman menegaskan bahwa seluruh Aceh ada menyokong kesepakatan  van Royen-Roem.Sebelumnya Hatta datang di Aceh,pihak PNI sangat menentang persetujuan itu, akan tetapi pendirian ini telah berubah setelah Mr Ali Sastroamidjojo memberikan keterangan selengkapnya.  Dr Soekiman menceritakan juga, bahwa pada waktu sebelumnya rombongan pemimpin republik datang, lapangan terbang Longah di Aceh telah ditembaki dengan sanpan mesin dan dibom dari udara oleh pasukan Belanda.Tapi pihak militer belanda yang berkuasa menyangkal dengan keras keterangan tersbut diatas.

Pembantu Mimbar Oemoem di Djokja memberikan informasi dari Dr Halim,seorang anggota Badan Pekerja KNI(Komite nasional Indoensia), ia menerangkan bahwa setelah Pemerintah Republik nanti kembali ke Djokja, pada pokoknya ia setuju sekali dengan adanya kabinet parlementer , karena lebih demokratis dari kabinet Presidentiel. Tetapi menilik suasana pada waktu ini, justru dalam waktu peralihan ,figur-figur seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang tidak terikat dalam salah satu patai atau golongan , masih diperlukan untuk dapat mengatasi segala pertentangan partai dan golongan sekalipun mereka itu  sebagai manusia juga tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Dr Halim setuju sekali bila diadakan resuffle kabinet buat menganti beberapa orang yang dipandang kurang kuat.

INTERVIEW WITH THE RESULTS dr.j.h. van Royen by BMDiah leader Merdeka newspaper published in the Daily Panarangan:

a. Apabilakah conceivably pemrintah Republican masters to come back? The answer: The Return of the Republic to Djokja is preceded by two terms: the evacuation of civilians and the achievement of a formula to hold a “Cease fuire order” which is being discussed by the two sub-commission for it, and I hope by the end of this week reached a command to stop fighting . Then with the Dutch troops will be withdrawn segrara mundur.Ini at least take a week and I beraharap at the end of this week reached a command to stop fighting.

b. The Conference will be held Bilakan bunda.Jawabannya table: Selaks as possible, I hope that after the Republic back and aprlemennya approve the agreement was made, it will be taken as a date destination July 15 to hold a Round table conference.

c.Bagaimanakah may hold an agency representative to welcome kedaulatn.Jika right for freedom and limited state of mind this people? only in Dutch-controlled area for those who want to follow the lead of the Netherlands while the class of the republic can not speak? he replied: I think the will of the people and independence of thought has already been firmly expressed desire for independence that would not indicate that there is a real will of the people? not the greatness of the popularity of President soekarno it as fact will of the people? However, regarding the matter of election of some form of state or constitutional legendary esuatu Indomnesia area had to be done together under international supervision. If the Dutch troops had withdrawn from the areas occupied by itself for both parties, for the followers of the Republic there is no reason to say that they are oppressed to express their opinions and for those who think differently should be gaining independence cukup.Pemilihan so this should be done under international supervision. In this case the limits of something where the sound was to be done pemunggutan also in harmony with a healthy mind. Self-determination sendir it properly recognized, but also in this great little area must ditemntukan first, for example by a constituent assembly.

d) if the master trust in the current Republican leaders opposed to host negotiations? answer: I sunguh put their trust in them. in connection with this question, the chairman of the Dutch delegation was advancing petanyaan replies: “Are People Indonesia will put their trust in them, also Kapau transfer of sovereignty has been done, we Jawan: Stay at least to their confidence in the Indonesian People depend on their results in the fight for independence by way talks with the host delegation led (headed), also with the wisdom of his leadership in running the master Lovink ini.Apabila approvals done in the land can be implemented with the help of masters and kepercayaabn Indonesia into larger nation against the Dutch government’s intention, then their position will be stronger and higher also harhat and their degrees in the eyes of the people, the more the days after the transfer of sovereignty.

FACTS ABOUT MR Roem RETURNS TO THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF DJOKJA.Dalam a question and answer between the editor in chief harin Indonesia Merdeka with delegation chairman Mr.Moh.Roem, he stated that the Government return to Djokja Rrepublik within the next week is not yet possible, but can be expected to occur in this June as well. As is known by the sound of a communique slah United Nations Commission for Indonesia, the return of republican government may hope will happen daslam mid-June and the day that the Sultan of Yogyakarta ditentukan.Saat not been able to take over the government leadership seluruj Jogja around the 20th of June.

To the question whether the delay in the return of government to Djokja RFepublik caused difficulties djumpai about cease fire, Mr. Roem replied, delayed because of problems of refugees and the withdrawal of Dutch troops.

(Source of info: Panarangan Newspaper, Padang, 16 june 19 549)

HASIL WAWANCARA DENGAN dr.j.h. van Royen oleh  B.M.Diah pemimpin surat kabar Merdeka yang dimuat dalam harian Panarangan:

a. Apabilakah menurut pikiran tuan pemrintah Republik Dapat kembali? Jawabannya: Kembalinya Republik ke Djokja adalah didahului oleh dua syarat: evakuasi orang sipil dan kedua tercapainya suatu formula untuk mengadakan “Cease fuire order” yang sedang dibicarakan oleh kedua sub-komisi untuk itu,dan saya berharap pada akhir minggu ini tercapai bentuk perintah menghentikan pertempuran. Kemudian dengan segrara pasukan belanda akan ditarik mundur.Ini sekurang-kurangnya memakan waktu satu minggu dan saya beraharap pada akhir minggu ini tercapai bentuk perintah menghentikan pertempuran.

b. Bilakan akan diadakan Konperensi meja bunda.Jawabannya : Selaks-lekasnya,saya harap sesudah Republik kembali dan aprlemennya menyetujui persetujuan yang dibuat, maka akan diambil sebagai tanggal tujuan 15 Juli untuk mengadakan konperensi meja Bundar.

c.Bagaimanakah mungkin mengadakan suatu badan yang representatif untuk menyambut kedaulatan.Jika hak kemerdekaan dan menyatakan pikiran rakyat itu terbatas?hanya pada daerah yang dikuasai Belanda bagi mereka yang mau mengikuti pimpinan Belanda sedangkan golongan republik tidak dapat bersuara?jawabnya : Menurut hemat saya kehendak rakyat itu dan kemerdekaan menyatakan pikiran itu sudah tegas bukankah  keinginan untuk kemerdekaan itu menunjukkan bahwa ada kehendak rakyat yang nyata? bukankah kebesaran popularitas Presiden soekarno itu sebagai kenyataan kehendak rakyat? Akan tetapi mengenai soal pemilihan sesuatu bentuk negara atau ketatanegaraan daris esuatu daerah Indomnesia memang harus dilakukan bersama dibawah pengawasan Internasional. Apabila tentara belanda sudah ditarik dari daerah yang diduduki dengan sendirinya bagi kedua belah pihak,bagi pengikut Republik tidak ada alasan mengatakan bahwa mereka ditindas untuk menyatakan pendapatnya dan bagi mereka yang berpikiran  lain haruslah mendapat kemerdekaan cukup.Pemilihan demikian ini harus dilakukan dibawah pengawasan Internasional. Dalam hal ini batas-batas sesuatu tempat dimana dilakukan pemunggutan suara itu haruslah pula selaras dengan pikiran yang sehat. Hak menentukan nasib sendir itu benar diakui,tetapi juga dalam hal ini besar kecil daerah itu harus ditemntukan lebih dahulu,umpamanya oleh konstituante.

d) apakah tuan menaruh kepercayaan pada pemimpin Republik yang sekarang lawan tuan berunding?jawabannya: Saya sunguh menaruh kepercayaan kepada mereka. berhubung dengan pertanyaan ini,ketua delegasi belanda itu memajukan petanyaan balasan:”Apakah Rakyat Indonesia akan menaruh kepercayaan kepada mereka,juga kapau penyerahan kedaulatan  sudah dilakukan, jawan kita : Tetap tidaknya kepercayaan Rakyat Indonesia kepada mereka tergantung kepada hasil mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan jalan berunding dengan delegasi yang tuan pimpin(ketuai),Juga dengan kebijaksanaan tuan Lovink dalam menjalankan pimpinannya dinegeri ini.Apabila persetujuan yang diperbuat dapat dilaksanakan dengan penuh bantuan tuan-tuan dan kepercayaabn bangsa Indonesia menjadi lebih besar terhadap maksud pemerintah Belanda,maka kedudukan mereka akan lebih kuat  dan lebih tinggi pula harhat dan derajat mereka dimata rakyat,lebih-lebih dimasa sesudah penyerahan kedaulatan.

KETERANGAN MR ROEM TENTANG PENGEMBALIAN PEMERINTAHAN REPUBLIK KE DJOKJA.Dalam suatu tanya jawab antara pemimpin redaksi harin Merdekan denga ketua delegasi Indonesia Mr.Moh.Roem, beliau menyatakan bahwa pengembalian Pemerintah Rrepublik ke Djokja  dalam minggu depan ini belum mungkin , tapi bisa diharap akan terjadi dalam bulan Juni ini juga. Seperti diketahui menurut bunyi slah satu komunike Komisi PBB untuk Indonesia,pengembalian pemerintahan republik dapat diharap akan terjadi dalam pertengahan bulan Juni dan harinya tidak ditentukan.Saat itu Sultan Jogja sudah dapat mengambil alih pimpinan pemerintahan seluruj Jogja sekitar tanggal 20 juni.

Atas pertanyaan apakah tertundanya pengembalian pemerintahan Republik ke Djokja disebabkan kesukaran yang djumpai soal cease fire, Mr Roem menjawab, tertunda karena adanya soal pengungsi dan penarikan tentara Belanda.

(sumber info: Panarangan Newspaper,Padang,16 june 19549)

June,13th.1949

Mr.Mohammad Roem visit “Sekolah RakyaT”(people school” at Dukuh (two photo)

June,14th.1949

Mr van Maarseveen had pointed as the Dutch menistry of oversees area(menteri usrusa n saerah seberang lautan) , and the menistry will visit Indonesia in order the get the general situation, and Mr van Schaik as the Dutch menistry of internal affair(menteri dalam Negeri)

June,16th.1949

(1)The Postal used letetr from Chinese oversead Medical doctor,Dentish and Aphother organization with NICA USA stamps 2 sen dan 1 sen.

(2)The Federal state PTT official letter to Mr Soewil first Class officer PTT Padang from the Chief of PTTT 4th area (Sumatra) C.den Haan about mr Soewil moving to Laboehan Bilik Est sumatra.

(3)PANARAGAN NEWS PAPER from PADANG

Information from Panarangan newspaper from Padang West Sumatra Wensday,June,15th.1949.,:

(1)Round Table Conference at Den Haag May be Agust 1st 1949.

(2)The PDRI(Pemrintah Daroerat Rep8ublik Indonesia) accept the Roem-Royen Agreement with condition(dengan syatat)

(3) Dutch must “Mengakui Kedaulatan” the sovereign of Republic Indonesia State (NRI) on Java,sumatra,Madura and the island around it

(4)The Federalis of Sumatra want to meet Mr Sjafroeddin: Warta Indonesia newspaper had recievd informations that the Sumatra Federalis leaders want to meet the leader of PDRI(Pemerintah Daroerat Repoeblik Indonesia) ,Mr Sjafroeddin Prawiranegara.The Main speking about the status of Aceh and Nias to the Sumatra Federal state and the  status of Sumatra in relationship commjunication with another area in Indonesia.

.

June,19th,1949

(1) The very rare Est Sumatra Stae(Negara sumatra Timur) Merriage act(Surat Kawin Negraa Sumatra Timur Bahagian agama ,with the emblem of NST.)

(2)June, 11th.1949
Postally used cover from cds batavia centrum to Jogja, with 10 cent wilh  wilhelmina stamp.the included love letter:

My thoughts.

At a time when dusk blind chickens, mountains visible in the sky golden yellow, signifying the king’s almost night and day.

There was no view except from the sky that surround the house hatiku.Dibelakang porters and field, faint eye could see that look just tegals verdant. The city that became the center of my life. The first time I began to see the natural beauty authorized.

… City of Jakarta, a city that permai.Hati Nica-flirt seduce the news Lien family circumstances disini.Kebetulan dik at that time I was playing around at home like Ni and we were sitting diserambi muka.Sekonyang suddenly there came a letter carrying postbode addressed to Ms. Ni and saw the letter before I can know that the letter from Dik Lien. After we settle for words and we chatted to go home, feeling that it received a letter from a friend or sis comes home famili.After  stepped into the room really was a letter located on the table. Whose letter from hell?

I know the last new letter from you and the inner I  understand. with news and discussion of the letter was as if a fortune alighted dibadanku, well, apparently dik Lien wrote kemari.Aku count (say) many thanks for your kindness that the brothers want to waste the time to write letters and will not forget us family here, hopefully saj onwards. Have younger brother received a letter from dik Seger, they all have in Semarang open. Hanyas my family who still live in Yogyakarta, the same mother and my sister is in salatiga, only the father who still  living in mobile jogya.We  always thinking about it why they can not go back as soon as possible bersama.Mungkin dik Lien had received a letter from Supartinah salatiga. Perhaps they were still there long, since waiting for the arrival of the father of Jogya.Kami herein have not been to school only temporarily akat take privatlessen pending in August is coming up and we had to comply with the Federal government, because there was no school here, but not why the sister Republic of study and participate remember in my soul like a son of Indonesia. Lien dik certainly not going to open the school.Wah kasiahan deh if  remember the  kid in Yogyakarta patiently educating school, It will soon be restored, by itself you can study  with tenang as usual.

seringkah (always) dik Lien met with Sud. He was still with you. Does he always tells me its after my peaving .How  close to him to convey greetings.

Well so enough news from me, worship me for RAMA (father ), tante (aunt ) and Mukarta Mbak, Mas Slamet and thank you …… unforgetable my nationality salut for you , MERDEKA!

June,21th.1949

COLLECTIE TROPENMUSEUM Het uitrollen van rubbersheets in een rubberfabriek te Naga Timbool TMnr 60014061.jpg

the rare postcard from Onderneming(Plantation) Dolok Oeloe  Deli-Batavia Rubber Maatshapij(Factory) with  Ned Indie 5 cent stamps CDS Pematang Sianatar 21.6.49.

(b) The photo of presdient Soekarno and  VIce Presiden Hatta  press conference with American jourlanist at Bangka Island  which they were “Diasingkan” (four photos)

June 24th.1949.

Dutch troops begin evacuating Yogya

June,27th,1949

June, 27th, 1949

Delivery of truce negotiations and Sovereignty of the Republic of Indonesia

On June 27, 1949 Principles of Agreement “Rum Royen” announced the contents of which include the peghentian tenbak firing from both sides. On August 1, 1949 signed the joint agreement “Termination Shoot Shoot” from both sides. Implementation is disseminated through radio announcements, the overall wire TNI in the archipelago. Meanwhile, from the dutch H. Y. Lovink act as Deputy Supreme Crown of the Netherlands in Jakarta, delivered throughout the Netherlands Army. Cessation of gunfire followed and supervised by UNCI and after poko agreement is implemented then continue the Round Table Conference in The Hague.

At Edinburgh on August 3, 1949 announced the termination shootout by the power of the Dutch military, with emphasis on instruction / command termination Shoot Shoot it in the form of pamphlets that circulated from the airplane because the position of the TNI in the pockets of guerrillas.

This leaflet was signed by the Military Governor of South Sumatra Dr. A. K. Gani, which reads as follows: “THE ORDER OF SUPREME COMMANDER TTKD TNI. AUTHORITY GIVEN KON.SUM.KOL. Hidayat, THEN SOUTH SUMATRA TO ALL ORDERS AND UNITY TNI AGENCY OF THE ARMED STRUGGLE OF SHOOTS AND SHOOT STOPPING HOSTILITY AND REMAIN place EACH DATED 03 AUGUST 1949 FROM 24.00 HOURS. INDONESIA TIME COMMAND TTK HBS Dr. A.K. Gani “.

The original wire is directly delivered by the Military Governor of South Sumatra to the Government Resident of the Emergency Civil Affairs Sub Commander Territorial Edinburgh and Edinburgh.

As a continuation of the wire termination shootout by the Military Governor of South Sumatra was issued on the instruction-instruction as follows:

1. Notice to the commander-the commander of Force (Battalion, Company, Section) regarding the determination of the TNI hangout for each unit of concentration.

2. To be held talks between Vice TBA Introduction of Van Schendel and Lieutenant Colonel A. G. W. Navis with the Local Joint Committee consisting of Colonel Abunjani, Regent M. Kamil and major Brori Mansyur.

Fire Ceas order not to breach the ceasefire by each of the warring parties and based on the results of the meeting Estuary Tembesi October 27, 1949 between Indonesia and the Netherlands under the coordination UNCI / Three Nations Commission agreed that all troops should leave and empty pockets . To that end, representatives of the Local Joint Committee TNI Major Brori Mansyur and from the Dutch Lieutenant Wolterbeck use the facility held a meeting Dutch BO Motor / meetings with the leaders of the Front Tungkal Area, which was attended, among others, Lieutenant Young A. Fattah Leside, Cadet Sergeant Major Madhan. AR, Hasan Buimin Sergeant Major, Sergeant Major Sergeant Arwansyah Syamsi with bodyguards, in the first week of November 1949 in the Trenches Deli (Tungkal Ilir) deliver instruction and manage technical implementation of TNI forces evacuations in place of concentration Merlung Battalion joined the staff of Gatot Kaca and co- colleagues from the Front Sengeti Area. While waiting for the next settlement, supply and logistical aid sent periodically to the Tungkal Ulu by the Dutch facility administered by the Joint Committee staff.

Evacuation is obvious disappointment for the troops Tungkal Area, let alone the countryside except the city of Kuala Tungkal, merupaka intact areas of the Republic of Indonesia by people who Republikien, but by realizing greater importance in the struggle. There is no other alternative, but to follow evacuation instructions, with a heavy heart and tears during a farewell to the people who like fish and water unite in the struggle for Sports and grief of this beloved Republic of Indonesia.

 Perundingan Genjatan Senjata dan Penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia

Pada tanggal 27 Juni 1949 Pokok-pokok Persetujuan “Rum Royen” diumumkan yang isinya antara lain mengenai peghentian tenbak menembak dari kedua belah pihak. Pada tanggal 1 Agustus 1949 ditanda tangani persetujuan bersama “Penghentian Tembak Menembak” dari kedua belah pihak. Pengumuman pelaksanaannya disebarkan melalui radio, kawat keseluruhan jajaran TNI di Nusantara. Sedangkan dari pihak belanda H. Y. Lovink bertindak sebagai Wakil Tertinggi Mahkota Belanda di Jakarta, menyampaikan keseluruh Tentara Belanda. Penghentian tembak menembak ini diikuti dan diawasi oleh UNCI dan setelah poko persetujuan ini dilaksanakan barulah dilanjutkan Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Di Jambi pada tanggal 3 Agustus 1949 diumumkan penghentian tembak menembak oleh KUasa Militer Belanda, dengan memperbanyak intruksi/Perintah Penghentian Tembak Menembak itu dalam bentuk surat selebaran yang disebarkan dari pesawat udara karena kedudukan TNI berada di kantong-kantong gerilya.

Selebaran ini ditandatangani oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan Dr. A. K. Gani, yang berbunyi sebagai berikut: “ATAS PERINTAH PANGLIMA TERTINGGI TNI TTKD. KUASA DIBERIKAN KON.SUM.KOL. HIDAYAT, MAKA SUMATERA SELATAN MEMERINTAHKAN KEPADA SEMUA KESATUAN TNI SERTA BADAN PERJUANGAN RAKYAT YANG BERSENJATA MENGHENTIKAN TEMBAK MENEMBAK DAN PERMUSUHAN SERTA TETAP DITEMPAT MASING-MASING MULAI TANGGAL 03 AGUSTUS 1949 JAM 24.00. WAKTU INDONESIA TTK PERINTAH HBS Dr. A.K. GANI”.

Asli kawat ini langsung disampaikan oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan kepada Pemerintah Sipil Darurat Residen RI Jambi dan Komandan Sub Teritorial Jambi.

Sebagai kelanjutan dari kawat penghentian tembak menembak oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan tersebut dikeluarkan pada intruksi-intruksi sebagai berikut:

1. Pemberitahuan kepada Komanda-komandan Pasukan (Batalyon, Kompi, Seksi) TNI tentang penentuan tempat berkumpul masing-masing kesatuan konsentrasi.

2. Supaya diadakan Perundingan Pendahuluan antara Wakil TBA yang terdiri dari Van Schendel dan Letnan Kolonel A. G. W. Navis dengan Local Joint Commitee yang terdiri dari Kolonel Abunjani, Bupati M. Kamil dan mayor Brori Mansyur.

Ceas Fire agar jangan sampai terjadi pelanggaran gencatan senjata tersebut oleh masing-masing pihak yang berperang dan berdasarkan hasil rapat Muara Tembesi 27 Oktober 1949 antara RI dan Belanda di bawah koordinasi UNCI/Komisi Tiga Negara disetujui bahwa semua pasukan TNI harus meninggalkan dan mengosongkan kantong-kantong. Untuk itu, utusan Local Joint Committee dari TNI Mayor Brori Mansyur dan dari pihak Belanda Letnan Satu Wolterbeck mempergunakan fasilitas Motor BO Belanda mengadakan rapat/pertemuan dengan Pimpinan Front Tungkal Area yang dihadiri antara lain Letnan Muda A. Fattah Leside, Sersan mayor Kadet Madhan. AR, Sersan Mayor Buimin Hasan, Sersan Mayor Arwansyah dengan pengawal Sersan Dua Syamsi, pada minggu pertama November 1949 di Parit Deli (Tungkal Ilir) menyampaikan intruksi dan mengatur tekhnis Pelaksanaan Evakuasi Pasukan TNI ketempat konsentrasi di Merlung bergabung dengan staf Batalyon Gatot Kaca dan rekan-rekan dari Front Sengeti Area. Selama menunggu penyelesaian selanjutnya, bantuan suplay dan logistik dikirim secara periodic ke Tungkal Ulu oleh fasilitas Belanda yang diatur oleh petugas Joint Committee.

Evakuasi tersebut jelas menimbulkan kekecewaan bagi pasukan Tungkal Area, apalagi daerah pedalaman kecuali kota Kuala Tungkal, utuh merupaka daerah Republik Indonesia dengan rakyatnya yang Republikien, tetapi dengan menyadari kepentingan yang lebih besar dalam perjuangan. Tidak ada alternatif lain, selain mematuhi intruksi evakuasi tersebut, dengan berat hati dan tetesan air mata sewaktu terjadi perpisahan dengan rakyat yang manunggal seperti ikan dan air dalam sukan maupun dukanya perjuangan menegakkan Republik Indonesia tercinta ini.

June 29

Indonesian troops enter Yogya.from south sector lead by Let.col soeharto(later presiden Indonesia) and north Sector lead by Col.Djatikusumo, look the picture of them with Sri Paku Alam.

June,30th.1949.

The Postally used private Banjarmasin “Depot Masa “book store  cover,send from cds Banjarmasin to Bing Sin ‘s Book store Surabaya-simpang..

7.July

The photo of high dutch commisaris nigh  Lovink ‘sreception in june 1949,the chiel of Repoeblik Indonesia delegation Mr.Moh Roem “hadir’ (two photos)

July 1

Jawa Pos (Djawa Post) newspaper publishes first issue in Surabaya.

July,3rd.1949

the picture of Sultan Yogja with the leader of military grilya at Kepatihan

July,4th.1949

(1)the rare official free stamps cover from cds Djambi 4.7.50 to Batavia(very arre cover from Djambi because in 1949 until July under PDRI state,and after PDRI gave the autority to NRI Jogya,Djambi became federal state until the soeverinity to RIS december.27th.1949(only five month under federal state)

(2) The Batavia’s Chinese overseas Medical doctor,dentist and aphothekeer organization circulair letter with smelt 3 sen stamp  to the member Dr Tung sin Nio (the first lady doctor from Medical Faculty of Indonesia University)

July,5th.1849

(a)Sjafruddin Prawiranegara, the leader of PDRI cs ready back to  Yogya “dijemput” by Dr Leimena and Moh Natsir and before depature Moh.Natsir speaking(pidato) ,also Sjafruddin Prawiranegara and other realted pictures(five  photos )

(b) the meeting between  Dutch delegation and Indonesian delegation  supervied by United Nation at Yogja on this day.

July 6th,1949

(a) President Soekarno arrived at Yogja this day, also another menistry Ali sastroatmidjojo,Haji Agus salim.(two photosZ)

(b)Republican government returns to Yogya. Sultan Hamengkubuwono IX receives Sukarno and Hatta at the Kraton.

July,7th.1949

(a)Sjafruddin Prawiranegara arrive at Kemyoan airport from suamtra(six photos)

(b) Sjafruddin Prawiranegara arrived at Yogja( five photos)

and  meeting with president soekarno(three photos)

July,8th.1949

(1)Tanggal 8 juli 1949,didesa Krejo Kecamatan Ponjong, daerah Gunung Kendeng, saya(Rosihan anwar) dan Letkol Soeharto(kelak jadi presiden) bertemu presiden Soekarno  dan Wakil Presiden Hatta  untuk meratakan jalan kearah dimulainya KMB(konperensi meja Bundar)  di den Haag(napak tilas KMB,kompas,28 januari 2010)

(2)Panglima Besar General sudirman arrived at Yogja freom gureilla  area, “disambut” welcome by the chief of PDRI Syafruddin prawiranegraa (two photos)

Let.col.Suharto(later presiden RI) behind General sudirman.

(3) Postally used Book store “Kamadjoean” Semarang’s private cover, send from Semarang to Surabia.

July,12th.1949

Postally used  Postal stationer  briefkaart_Kartoepos stationer 5 sen, send from stairgt Stamped TEMANGGOENG  to Semarang (rare post mark).

July ,13th.1949

(a)Power is transferred back from the emergency PDRI government under Prawiranegara to the Republican government in Yogya under Sukarno.Dutch-created states hold conference, support joining the Republic.

(b) After transferred of Power fro PDRI, begin the first NRI Cabinet meeting(bersidang) at Yogjakarta.( one photo)

(c) The Dutch delegation  lead by DR. Van Royen arrived at Maguwo airtport Yogja, welcome by the Indonesian delegiati n leader Mr.Moh Roem(two photoa)

and at night for the distinguist guest ,presiden Soekarno made the reception(one photos)

8.August

Republic troops retake Surakarta.

August,4th.1949

The Rare  food distribution zegel label , for used in the Ombilin coal mine store Sawahloento West Sumatra.

August 7th.1949

Darul Islam movement formally breaks with the Republic of Indonesia.

August,9th.1949

The rare Money Order (binnenlanden Postwissel) send from pontianak in city with smelt 121/2 sen stamps.

August 11

Ceasefire on Java.

August 12th 1949

Postally used federal state postal stationer smelt 2 sen send from Pajakumbuh with federal postal Satmped CDS Republik Indonesia stamped which the  rep Indonesia clean off(dibersihkan) to Van Dorp book store Batavia centrum(jakarta pusat)(This special  card send from Mr W.D my senior  phillatelist friend’s farther Dr Adnan  W.D, the medical doctor in Payakumbuh where my father and grandfather live during Dai Nippon Occupation,my sister Elina born there in 1947-Dr iwan Notes)

August 15

a)Ceasefire on Sumatra.Hamengkubuwono IX of Yogya coordinates handovers from Dutch to Republic.Dutch begin releasing 12,000 prisoners.

b) in this day Rosihan anwar,senior reporter, by Skymaster airoplane depature from Jakarta and arriev schipol airport in august 17th 1949.

c)postally used cover from batavia centrum with ovpt Indonesia stamps to semarang

August,17th,1949.

In this day the Indonesia KMB delegation arrive schipol airpot and staright to Kurhaus. Prime menister Moh Hatta made anniversary of Indonesia Independece Proclamation reseption, at the reseption Rosihan anwar seen Sultan hamid from pomntianak, Anak Agung Gde Agung ZPrime menister of NIT(negara Indonesia Timur) they were the BFO leader,also Dutch employeed.

August,19th.1949

the official free stamps cover from Resident Ommelanden batavia Meestercornelis(jatinegara) to Batavia centrum(Jakarta pusat),rare postally used cover from jambi,because  Jambi still fight with Dutch army until june 1949.

August 23 th.1949

1)Round Table conference begins in the Hague. Hatta head delegation for the Republic of Indonesia, Sultan of Pontianak heads delegation from the Dutch-created states.

2)Postal Used cover send from Bangkalan CDS 23.8.49 to Sorabaia CDS  24.8.49 (rare cover send during KMB Round Table conference.)

3) Special Post Mark Ronde Tafel conference s’gravenhage 1949 send from s’grafeluke zaal 23.8.49 to Althier.

4)Bagaimana jalannya KMB? Tiga delegasi yang berunding Belanda,Republik Indonesia,Golongan Federal yang dihimpun dalam Bijzonder Fedral Overleg(BFO) .Dalam praktik Republik dan BFO menyatu bila menghadapi Belanda, beberapa Komisi dibentuk :Komisi politik :  disana Bung Hatta domina, Ekonomi ,disana DR Sumitro Djojohadikusumo menyangkal kebenaran angka-angka utang yang diajukan Belanda, Komisi Pertahanan,dimana Republik diwakili oleh DR J.Leimena dan Kolonel TB Simatupang serta Komisi Kebudayaan dima Mr ali Sastroamijoyo berperan.

Hasil KMB, Belanda tidak bersedia menyerahkan Papua (Irian) Barat  kepada Republik Indonesia Seikat.Penyelesaiaannya ditangguhkan untuk masas satu tahun , RIS harus mengoper hutang Belanda yang telah dibuatnya dalm memrangi NRI 4.100 Juta Gulden,sedangkan menurut hitungan Sumitro justru Belanda yang berutang kepada Indonesia 500 juta gulden.di bidang pertahanan  Belanda mau membikin tentara KNIL sebagai intisari tentara RIS, ini ditolak dengan tegas oleh Leimena dan TB Simatupang akhirnya Belanda setuju TNI kekuatan pokok tentara RIS.Belanda tetap tidak mau mengakui proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta, Belanda hanya mengakui penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 sebagai bermulanya negara merdeka berdaulat berbentuk Federal yaitu RIS.

August,20th.1949

The Advocate cover send registered  from  Pontianak  to same  city Potianak with wilhelmina stamp,overprint indonesia and smelt numeric stamp rate 35 sen . this time Pontianak as the Dewan Kalimantan Barat State,lead by Sultan Hamid II.

9.September

Sept.5th.1949

September,5th,1949

September, 5th, 1949

On the 5th of September 1949 talks held in Bangko diruangan Regents Office, the delegation of the Local Joint Committee escorted the heavily armed military section with a red and white flag.

Negotiations went lancer with the results as follows:

1. The concentration of military forces

a. Troops belonging to the battalion “Gatot Kaca” gathered at the Port Merlung and Trade, as a liaison officer Lieutenant Junior ditnjuk A. Hadi

b. Troops belonging to the Battalion “Cindur Mato” gathered in Rantau Ikil and Land Grows, as Liaison Officer was appointed Second Lieutenant M. Nawawi.

c. Troops belonging to the Battalion “Gajah Mada” gathered at the Bangko as Liaison Officer was appointed Lieutenant Suhaimi.

2. Pemberitahun

a. Notification to the concentration and position in the cease-fire Battalion Commander Sub territory handed over to Edinburgh via couriers.

b. All will be summoned to the Battalion Commander Tembesi Estuary and will be given instructions by Major Brori Mansyur Local Joint Committee as Members of Indonesia Jambi area.

c. Prior to October 10, 1949, the Dutch Army had to be withdrawn from towns outside the city of Edinburgh, and was replaced by TNI troops.

d. Dutch assistance was sought in the transfer of members of the TNI from the pockets of concentration Guerrilla place.

e. Wasted Ayang troops will occupy the Muara Tebo.

f. Forces BT, BB, CPM Team, Police Squad’s time to move to the Air samapai thunder where Dutch troops will leave the Muara Bungo so that these forces immediately occupied the Muara Bungo.

g. Regarding Troops Battalion Gatot Kaca, Major Brori Mansyur held the first talks between the envoys battalion Gatot Kaca Captain (N) Soerjono with leaders of the Dutch Army Detachment, Kuala Tungkal tensions. Major Brori Mansyur accompanied by Major Z. Rivai directly intervened to negotiate with Chief of Staff Captain Wolterbeck Regiment in the Trenches Deli Dutch Kuala Tungkal.

After a full explanation is given, then the TNI in Kuala Tungkal willing to concentrate on Tungkal Ulu, namely TNI CPM Squad led by Sergeant Major A. Murad Alwi, Navy forces under the command of Sergeant Major T. Arwansyah, while the police led by Inspector Mahyuddin remain in Kuala Tungkal

September,8th,1949

Departemen van Gezonheid(Health) roundschrijfen(round letter) about the International certificate of Pooken(cacar or variolla) vaccinatie(vactination). send to all health office in Indonesia federal state send b y the secratary of Healt department Dr G.Sieburg:

1.Inspectuer v.gezonheid Oost-java Suarbaya, Batavia,Semarang,Padang and sabang.

2.Residentie artsen(Medical doctor) banjarmasin,Samarinda,pontianak,Pangkalpinang,and tanjungpinang.

3.Menistry of Healt Negara te Pasoendan(Pasundan state)(the menistry was my friend father Dr Kornel singawinata,look his picture in December ,27th.1949).

3.Health and Social departemen of Negara Sumatera Selatan.Palembang.(Osut sumatra State)

4. Menistry of heakt Negara Indonesia Timur NIT(east Indonesia State) at Makasssar.

5. menistry of Healt Negara sumatra timur(East sumatra State) at Medan

6, the chief of Health departement at batavia

7.Directir of Pasteur Insttitue at bandung

8. The Seaport Medical doctor at Tandjoeng Priok,Soerabaja,Semarang,Makasa,belawan.

with the variolla certicate form.

10.October

October,20th.1949

The postally used cover from Amboina to Batavia with building stamps

Connecting to 1949 recognition by Dutch, the reactions in the field was not always easy for the new Republic of Indonesia. One of them was insurgency from  some ex-Dutch formed army, KNIL (Koninklijk Nederland-Indisch Leger, The Dutch East Indies Army). Many KNIL members were from Eastern people from Sulawesi and Moluccas that generally had closer relationships with Dutch because their more privileges in economy, politics and education during the Dutch colonialism due to their faith, mixed blood and became closely similar habits. Knowing that the new formed Republic of Indonesia would reduce their status than they had before, the insurgency begun by some ex-KNIL members and eastern politician leaders. That ex-KNIL and eastern politician leaders rebel became serious threat to central government in Jakarta with the movement called RMS (Republik Maluku Selatan; Republic of the South Moluccas).

During the eradicating of the RMS immunity, Lieu. Col. Slamet Riyadi and Colonel Alexander Evert Kawilarang who in the front line commanding the troops were inspired and amazed by effectiveness and combat ability (especially in men’s sniping) of ex-KNIL members that also helped by KST (Korps Speciale Troepen) during insurgency. They then inspired to build a similar force for Indonesia. However, at that time, neither of the Indonesian commandants had any experience or skill in special operations. (However, Lieutenant Colonel Slamet Riyadi would not see his dream realized due to his death in a battle against the troops of the RMS).

Not long after, with the use of military intelligence, Colonel Kawilarang located and met with Captain Major Rokus Bernardus Visser – a former member of the Dutch Special Forces who had remained in independent Indonesia, settled in West Java, married an Indonesian woman, and was known locally as Mohamad Idjon Djanbi. He was the first recruit for the Indonesian special forces, as well as its first commandant. He later re-positioned to become Major after his request to be at least one rank higher than any his trainee. Due to him, the unit adopted a Red Beret similar to that of the Dutch Special Forces, which is still in use by the present Kopassus.

Ambon 1950

Col. A. E. Kawilarang, Lieu. Col. Slamet Riyadi and staffs arrived in Ambon, 1950

Brig. Gen Slamet Riyadi Col. A.E. Kawilarang 1_4d06e516bb4d542b35ae28b87fabfb6b

Brig. Gen. Slamet Riyadi & Col. Kawilarang & Maj. M. Idjon Djanbi

October,22th.1949

(1) the Death certifiacte of chinese oversead ,who pass away in poor (dalam keadaan miskin) n the Krangan evacuation cap semarang, legaluized by pengurus pengungsi Tionghoa semarang(Semarang tionghoa refuugee administrator)

11.November

November 2

The Hague Agreement is the result of the Round Table Conference: “Republik Indonesia Serikat” is supposed to have the crown of the Netherlands as a symbolic head, Sukarno as President, and Hatta as Vice-President. It consists of 15 Dutch-created states plus the original Republic. Sovereigny is to be transferred by December 30. Dutch investments are protected, and the new government is responsible for the billion-dollar Netherlands Indies government debt. The Dutch keep Irian Jaya.

Nov.29th,1949

The rare posatlly used change of adress 2 sen dacer stationer card send from Palembang to malang,one stamp (1 sen) off.

12.December 1949

December,13th.1949

The unique letter sheet(postblad warkatpos) postal stationer smelt 10 sen send from  Bukittinggi to Mr Soewil the chief of Emma Haven Post Office(Teluk Bayur), with interesting letter :

Tanggal 7 desember 1949, kota bukittingi sudah dipulihkan pada Republiken(orang republik) . Drang-barang saya yang ditinggalkan di pedalaman sudah dijemput kembali  oleh isteri saya diantaranya prangko simpanan saya yang dikumpulkan tahun 1942 dan seterusnya sudah distempel(dicap). Karena saudara ada di Emma Haven(pelabuhan Teluk Bayur ) , apakah ada orang Euro yang menanyakan(membeli) prangko tersebut, sekiranya ada (mungkin) ada yang senang (menyukakannya) boleh saya kirimkan pada saudara, hasilnya 1/3 buat saudara  dan 2/3 buat saya, atau ka;lau mungkin tukarkan dengan kain untuk pantalon(celana) jadi juga. Maklumlah dari prangko yang sudah dioverdruk(cetak tindih) bermacam-macam selama pendudukan Jepang dari 1 c sampai 1,2, dan 5 gulden. Prangko pendudukan jepang  yang dibikin(dibuat)  indonesia , prangko Jepang yang dipakai di Indonesia,serta prangko republik 1c,2c,21/2c,3c,5c,10c,15c,30c,40c,50c,rp.1,rp.2.rp.3,50(sukarno)  seluruhnya belum dicap(distempel). Selain itu prangko tersebut diatas ada 100 buah prangko yang berasal dari euro lama yaitu Bayern,belgia,Bosnia-Germany-Findland-Franch,Swiss,Nederland dan Russia bermacam-macam rupa(bentuk) dan belum pernah dicap(stempel) dan adapula yang sudah dicap. Berilah kabar (kepada) saya dengan lekas(cepat0 ,supaya lekas pulah dikirimkan. Demikianlah supaya saudara maklum,salam saya Djamoen.

PS. hal ini jangan diberi tahukan hendaknya (kepada) kawan-kawan(teman) kita, malu kita !!!!

english translate:

On 7 December 1949, the city has been restored bukittingi the Republicans (the republic). Drang my things left in the interior has been picked up again by my wife whom I collected stamps deposits in 1942 and beyond has been stamped (branded). Because you are in Emma Haven (Bay harbor Bayur), is there anyone who asks Euro (bought) such stamps, if there is (probably) there is a happy (menyukakannya) May I send it to brothers, the result is 1 / 3 for the brothers and 2 / 3 for me, or ka; lau may change with the cloth for trousers (pants) so well. It’s known from stamps that have been dioverdruk (print overlapping) vary during the Japanese occupation from 1 c to 1.2, and 5 guilders. Japanese occupation stamps are made ​​(made) Indonesian, Japanese stamps used in Indonesia, as well as stamps of the republic 1c, 2c, 21/2c, 3c, 5c, 10c, 15c, 30c, 40c, 50c, Rp.1, Rp.2. Rp.3, 50 (Sukarno) has not been entirely stamped (stamped). Besides the above there are 100 postage stamps fruit that comes from the old euro namely Bavaria, Belgium, Bosnia-Germany-Findland-Franch, Switzerland, Netherlands, Russia and many kinds of creatures (form) and have not been stamped (stamp) and those that are already stamped. Give the news (to) me with a quick (cepat0 so quickly pulah sent. So that you understand, my greetings Djamoen.

PS. This should not be announcing should (to) my friends (friends) we, ashamed of us!!

December,17th.1949

The rare postally used change of adress 2 cwnt dancer stationer card add smelt 1 sen stamps (rare 3 sen) send from  from surabaya in city.

December 19th.1949

Universitas Gadjah Mada founded at Yogya.

December 27th.1949

Dutch formally transfer sovereignty to “Republik Indonesia Serikat” (Republic of United States of Indonesia).

December 28

Sukarno is returned to Jakarta.

1. 27 Desember 1949

1)Upacara Serah terima tanggung jawab Pemerintah dari Pemerintah Belanda diwakili Dr HJ Lovink  kepada Indonesia diwakili  oleh Menteri Pertahanan Hemangkubuwono,Menteri Negara Mr Roem,Menteri Dalam Negeri Ide Anak Agung Gde Agung dan Menteri Sosial Mr Kosasih Purwanegera dan  Pemerintah Belanda mengakui Kedaulatan  RI.

Ceremonial handover of responsibility from the Government of the Netherlands Government was represented Dr. HJ Lovink to Indonesia was represented by Minister of Defense Hemangkubuwono, Minister of State Mr. Roem, Minister of the Interior Ideas Anak Agung Gde Agung and Social Services Minister Mr Kosasih Purwanegera and the Dutch Government recognizes sovereignty of Indonesia

(1) foto penandatanganan protokol serah terima tanggung jawab pemerintahan yang mewakili Republik Indonesia serikat Sultan Hemangku Buwono IX (Menteri Pertahanan) dan disebealh kirinya peguasa Belanda AHJ Lovink di Istana Merdeka(sebelumnya istana Rijswijk)

photo signing protocol handover of responsibility of government representing the Republic of Indonesia union Hemangku Lane IX Sultan (Defense Minister) and his left Dutch Crown representing  AHJ Lovink at Merdeka Palace (formerly the palace Rijswijk

(2) foto pidato Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr H.J.Lovink setelah penanda tanganan serah terima  pemerintahan dan pengakuan kedaulan RI di Istana Merdeka.

High Representative’s speech photos Dutch Crown Dr HJLovink after the signing of the handover of government and recognition kedaulan RI at Merdeka Palace

(3)Setelah penandatanganan serah terima dari Pemerinath Belanda kepad RI dan pengakuan kedaulatan RI, dilangsungkan upacara penurunan bendera Belanda merah putih biru dan penaikan bendera Republik Indonesia serikat Merah Putih dihalaman Istana Merdeka Jakarta .

After the signing of the handover of the Dutch goverment to  RI and recognition of the sovereignty of Indonesia, held a ceremony decline Dutch flag red white and blue union flag-raising Red and White Republic of Indonesia Istana Merdeka Jakarta yard

(a) foto penurunan bendera belanda(Dutch Flag decline picture)

(b) foto penaikan bendera RI(RI flag raising pictures)

(c) Penghormatan upacara penurunan dan penaikan bendera oleh Sultan Hemangku Buwono IX

Respect for flag-raising ceremony and a decrease by Sultan Hamengkubuwono IX

(d)Penghormatan bendera pada upacara penurunan dan penaikan bendera oleh ispektur upacara  oleh Kapten AD Poniman (pernah menjadi Panglima Siliwangi dan terakhir Jendral,Menteri Pertahan dan keamanan RI, saya pernah main tennis dengan beliau saat ia menjadi panglima Komando Daerah Militer 17 agustus  Sumatera barat tahun 1959- Catatan Dr Iwan ),pasukan tiga peleton dengan komandannya Letnan G.H. Mantik.

Respect for the flag on the flag-raising ceremony and a decrease by ispektur ceremony by Captain AD Poniman (last-General, Minister defend  and security of RI, I never played tennis with him when he became commander of the Military Regional Command West Sumatra August 17, 1959 – Note Dr. Iwan), with three army peleton ,chief letnan GH Mantik.

(e) Foto Rakyat Jakarta yang menyaksikan upacara penurunan dan penaikan bendera

Photo of Jakarta People who witnessed the decline and the flag-raising ceremony

2) Sampul Peringatan  Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (Republik Indonesia sovereign State) dengan  mengunakan sampul stasioner hinda belanda  ratu Wilhelmina  12 1/2 sen dengan cetak tindih  sepuluh sen, stempel pos CDS batavia  21.12.49

Warning cover of recognition of Indonesian sovereignty States (the Republic of Indonesia sovereign STAE) by using the cover of Dutch queen Wilhelmina stationary hinda 12 1 / 2 cents to ten cents a print overlap, CDS postmark batavia 21:12:49

3) Sampul peringatan pengakuan kedaulatan   RIS 27 Dec 1949 dengan prangko seri bangunan 45 sen dan 50 sen  dengan stempel pos 27.12.49 dikirim kepada Mr Clyde J.Sarzin USA(mungkin  sampul ini CTO, ditemukan oleh Dr iwan Suwandy  di Bangkok tahun 1994). New Information related to Mr Clyde J .Sarzin from my friend Mr Hartkamp ,please read below:

.
Mr. Clyde J. Sarzin (21-05-1915 / 23-11-1987) was a well known stamp dealer!

 

Maybe you find it interesting to know that the cover underneath is certainly CTO.
Mr. Clyde J. Sarzin (21-05-1915 / 23-11-1987) was a well known stamp dealer!

An other answer:

The cancelation on this cover is only partly visible.

The complete text:

VERMELD OP UW
POSTSTUKKEN
NAAM en ADRES
AFZENDER

This cancellation is used in ‘s-Gravenhage in the years 1947 to 1951. In Holland a lot of firms changed their names and crossed out the name of Netherlands Indie after 27-12-1949.
Because the written information on this card concerns the payment of a contribution for the subscription of the New Year I suppose that this cancellation is of the beginning of 1950. After a while the firms changed the imprints of their printed matter, so it is not likely that the cancelation is of beginning of 1951.

The cover of the recognition of sovereignty warning RIS Dec. 27, 1949 with 45 cents postage stamp series buildings and 50 cents with a postmark 27/12/49 sent to Mr. Clyde J. Sarzin USA (maybe the cover is CTO, invented by Dr. Iwan Suwandy in Bangkok in 1994)

4)Kementerian Penerangan mengumumkan,bahwa sejak penyerahan kedaulatan,maka Ibukota RIS ialah Djakarta( ejaan baru Jakarta).

Ministry of Information announced that since the handover of sovereignty, the capital city of  RIS is Djakarta (new spelling Jakarta

5) Pada hari ini juga dilaksanakan beberapa serah terima aset negara,sayang informasinya belum ditemukan. Hanya ada satu foto dari keluarga besar almarhum Osman Singawinata, berupa foto serah terima aset kesehatan dari pihak Belanda kepada pihak Indonesia diwakili oleh Let.Kol. TNI AU Dr Kornel Singawinata,ayah alm Oesman Singawinata, ex menteri kesehatan negara Federal Pasundan disaksikan oleh Bung Karno . Terima kasih atas perkenannya untuk menampilkan gambar yang bersejarah ini kepada isteri bapak Oesman Singawinata(Bu Retno),Disamping itu juga ada foto KOrnel Singawinata dengan Sultan Hemangkubuwono IX.

On this day also held several handover of state assets, unfortunately the information has not been found. There is only one photo of a large family of the late Osman Singawinata, a picture of health asset handover of the Dutch to the Indonesian side was represented by Dr. Kornel Singawinata, Osman Singawinata late father, former state health minister of the Federal Pasundan witnessed by Bung Karno. Thank you for your good pleasure to display these historic images to the wife of in memoriam Mr. Oesman Singawinata( Mrs Retno), beside that also the picture of Kornel singawinata with Sultan Hemangkubuwono IX

6)Undang Undang Darurat N0.1 Tahun 1949  ditetapkan di Jogjakarta pada tanggal 27 Desember 1949  tentang akan diumumkannya undang-undang federal melalui Radio  dan penyiaran dalam surat kabar harian,ditanda tanganni oleh Presiden Repulbik Indonesia serikat sukarno, Menteri Pertahanan Hemangku Buwono  IX dan Acting Menteri Kehakiman Muhammad Rum .

N0.1 Emergency Act 1949 set out in Jogjakarta on 27 December 1949 concerning the publication of legislation going through the federal Radio and broadcasting in a daily newspaper, signed by President tanganni union Repulbik Indonesia Sukarno, Defense Minister Hemangku Buwono IX and Acting Minister of Justice Muhammad Rum.

2.December.20th, 1949

Menurut informasi yang belum dapat dibuktikan, di Kantor Pos Pusat Jogyakarta di jual prangko cetak wina muali dari tanggal 15 Desember 1949, dan dinyatakan  dapat digunakan sampai tanggal 1 agustus 1950, dan prangko cetak Wina UPU juga dijual  kantor pos Jogyakarta  mulai 1 december 1949 sampai  1 Maret 1950 dan dinyatakan berlaku sampai 1 juli 1950. (sampai saat ini belum pernah ditemukan prangko in9i digunakan diatas sampul dengan stempel pos yang asli, banyak koleksi CTO yang plasu beredar, baca artikel misteri prangko cetak wina di web blog ini hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com dan juga di blog lain hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com)

Prangko cetak wina edisi pertama dengan ejaan lama Repoeblik,dipesan oleh PTT NRI yang waktu itu dipimpin oleh Mas Suharto, prangko ini tak sempat dipergunakan karena Class kedua 8-20 Desember 1948, january 1949 Mas Suharto dijemput tentara NICA yang kemudian hilang dan jazadnya tidak diketemukan, lihat foto profil  almarhum  dan foto keluarga.

Prangko cetak wina dengan ejaan baru Republik dipesan oleh pimpinan PTT NRI 1949-1951 R.Soekardan,juga mngalama hal yang sama ,prangko di terima 12 Desember 1949 ,sebelum penyerahan kedaulan dari Belanda dan NRI jadi bagian dari RIS  sehingga perako republik Indonesia certak wina dari percetakan USA juga tak daat diedarkan, bersamaan dengan cetak tindih RIS diatas seluruh prangko Indonesia, yang mulai diedarkan April 1950 ternyata cetak wina terlambat lagi sehingga tak sempat diedarkan terburu  RIS diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, demikianlah nasih prangko cetak wina yang cukup tragis itu,lihatlah fot profil R.Soekardan dibawah ini :

According to information that has not been proven, at the Central Post Office on the sale of stamps printed Jogyakarta Vienna halted from December 15, 1949, and could otherwise be used until the 1st of August 1950, and print prango Vienna UPU also sold at post offices Jogyakarta from 1 december 1949 to 1 March 1950 and declared valid until 1 July 1950. more info from my friend Mr Hartkamp

Dear Mr Suwandy,

How ever I have seen hundreds of canceled envelopes  (more as thousand) and thousands of cancelled Vienna printing stamps, I have never seen a real cancellation before 13 December 1949.

After this date I have several envelopes and stamps with are officially used, mostly CTO, but sometimes it seems to be officially used.

I have a document (Surat pernjataan) of the P.T.T. witch proves that on 13 Desember these Vienna printings are received at the head office of Jogjakarta.

Underneath a part of the text of this document.

I do not know what the ‘PR’ and the ‘t.l.n.’ means in: No. 3 / PR / t.l.n. , do you know?

No. 3 / Pr / t.l.n. Surat pernjataan.——————–( Proces verbal ).-  1.      Pada hari ini tanggal 13 Desember 1949, oleh kami jang bertan-da tangan dibawah ini, Moedjiman komis dan Sahoewin klerk, jang ditundjukoleh dd. (dienstdoende) Kepala Seksi Urusan Uang Anak Seksi IV dalam R VI hoofdstuk VI ma-
sih disebut: Beheerder der Post & Zegelwaarden dari Djawatan P.T.T. (Pos, Telegrap dan
Telepon) Republik Indonesia di Jogjakarta, untuk menerima dan membuka 3 (tiga) bungkusan bersegel dalam keadaan baik dengan perantaraan Sekretariaat kantor Kementeriean Luar Negeri Jogjakarta. Alamat jang tertempel pada salah satu bungkusan ditudjukan pada: “ Republic of Indonesia Office 30 Raffles. PlaceSinggapore / Malayu ” dan alamat jang tertulis dengan potolot merah: “ Stamp    ToRepublic of Indonesia Jogjakarta ”. Setelah bungkusan² tsb. (tersebut) kami buka terdapat 17 ( tudju belas ) buah paket semua tertutup rapih dengan lim pelekat.
Isinja kami periksa dan hitung dihadapan Tuan R. (Raden) Soehardjo Komis dan selaku saksi, jang ikut bertanda tangan dibawah ini, terdapat, bahwa isi² itu————— terdiri dari perangko² tjetakan: “ Staatsdruckerei WienIII di New York dan E.A. Wright Banknote Company of Philadelhia U.S.A. sbb. (sebagai berikat):

(until now has never been found in9i stamps used on the cover with the postmark of the original, many of which plasu outstanding collection CTO, read articles Vienna mystery print stamps on this blog website hhtp: / /http://www.Driwancybermuseum.wordpress.com and also on the blog other hhtp: / / http://www.iwansuwandy.wordpress.com)

3.December ,24th.1949

Presiden RIS Bung Karno tiba di jakarta dari Jogya

RIS President Sukarno arrived in Jakarta from Yogyakarta

(a)  foto prsedien RIS Bung Karno dan isteri Bu Fatmawati  serta  putranya Guntur  di lapangan terbang  Maguwo Jogya (saat ini Adisucipto) saat akan berangkat ke Jakarta  diantar oleh president NRI Mr Asaat (dibelakang) dan  Letkol Suharto (terakhir presiden Ri,almarhum)  sebagai komandan  WK IIII Jogyakarta.

photograph prsedien RIS Bu Bung Karno and Fatmawati wife and son at the airport Maguwo Guntur Yogyakarta (currently Adisucipto) when leaving for Jakarta escorted by Mr. Asaat NRI president (behind) and Lt. Col. Suharto (the last president of the Ri, deceased) as iiii WK commander of Yogyakarta.

(b) Foto presiden RIS Bung Karno kembali tiba di Jakarta ,didepan lapangan terbang Kemayoran(saat ini kompleks Pekan Raya Jakarta)

Photo of Bung Karno RIS president arrived back in Jakarta, Kemayoran airport in front of (the current complex Jakarta Fair)

(c) Foto Perpisahan wakil Presiden Moh Hatta dengan Rakyat Djokja,Mr Asaad sedang mengucapkan selamat jalan kepada beliau.

the picture of farawel party with Djogja people with vice presiden RIS Moh.Hatta, Mr Asaad say goodbey to him.

4.December,23th.1949

The RIS PTT Bukittinggi announcement about the Telephone fee tarief,with legalizied  the chief of Telefon office Republic Indonesia(RI)

4a.December,29th.1949

1)Sampul postal history yang dikirim dari Tanjung Pandan Belitung CDS 29.12.1949 ke Padang  ,mengunakan prangko ratu Wihelmina 10 sen dan 17 1/2 sen dan cetak tindih Indonesia  pada prangko  Wilhelmina 15 sen, (koleksi ini sangat langka karena merupakan pemakaian terakhir prangko Hindia Belanda setelah pengakuan Kedaulatan RI saat RIS, siapa yang menemukan pemakaian prangko sejenis setelah tanggal ini harap berkenan memberikan informasi liwat comment,terima kasih dari Dr Iwan suwandy)

The cover postal history sent from Tanjung Pandan Belitung CDS 29.12.1949 to Padang, using stamps queen Wihelmina 10 cents and 17 1 / 2 cents, and print on overlapping Indonesia Wilhelmina stamps 15 cents, (this collection is very rare because it is the last use of the Dutch East Indies stamps after the recognition of sovereignty of the Republic of Indonesia as RIS, who discovered the use of similar stamps after  this date please deign to give information through the following comment, thank you from Dr. Iwan suwandy)

2) Post Telegraaf en Telefoodienst (PTT) advies van betaligen bewijs ,post rekening van de pandhuis dienst ,ter uitbetaling door het kantoor der posterijen te Tarutung 2000 gld in cijfers , aan de beheerder van het panduis te Tarutung , 29 December.otherside voor de comntrol van ommestaande hantekening postastamped Taroetone CDS 29.12.50, recived CDS Siboga 12.7.1951

Tanda Penerimaaan Pos Telegraph dan Telefoodienst (PTT) , pasca bayar dengan layanan pegadaian untuk pembayaran oleh kantor Kantor Pos pada tahun 2000 GLD Tarutung dalam angka, manajer dari Jawatan Pengadaian untuk Tarutung, 29 December. pada lembaran dibaliknya berupa kontrol  dari contah tanda tangan dengan stempel pos  Taroetoeng 29.12.50 CDS, CDS diterima  Siboga 1951/07/12(Hal ini karena terputusnya hubungan antara Tarutung  ke Sibolga akibat dihadang oleh pasukan Mayor Bedjo dari tentara NRI, mayor B edjo yang buta huruf ini sangat legendarais dan dijadikan tema film Indonesia Nagabonar -catatan Dr Iwan )

Postal Telegraph and Telefoodienst (PTT) betaligenbewijs advice, postal service on behalf of the pawnshop, for payment by the office of the Post Office in 2000 gld Tarutung in figures, the manager of the panduis to Tarutung, 29 December.otherside for comntrol of handsigned ,postastamped Taroetoeng   29.12.50 CDS, CDS recived Siboga 12/07/1951(very late amost one years because the transportation by road from Tarutung to Sibolga were broken due to Mayor Bedjo ,NRI local Tapanuli Army stop and cutting the line,the legend Mayor Bedjo cuoldnnot read and writting, he beacame the base of the Film Story, Nagabonar-Dr Iwan Note)

Perjuangan Kuala Tungkal Jambi

Sesudah tanggal 29 Desember 1949 dengan berhasilnya KMB dan sekaligus penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia, pasukan Front Tungkal Area yang dipimpin oleh Letnan Muda A. Fattah Leside mendarat di Kota Kuala Tungkal mengambil alih tanggungjawab terhadap Koata Kuala Tungkal yang ditinggalkan Belanda. Dalam suatu upacara penaikan bendera merah putih di Lapangan Sepak Bola yang saat ini menjadi Terminal Kota. Bertindak selaku Inspektur Upacara Act. Kolonel Abunjani KOmandan STD/Garuda Putih Anggota Joint Committee yang sengaja dating dari Jambi. Selesai upacara diadakan do’a syukuran dan makan bersama yang diselenggarakan oleh Kepala Warga India di Kuala Tungkal Muhiddin.

Pemboman bekas markas pertahanan Tentara RI Bataliyon Gatot Kaca pimpinan Mayor Z. Riva’i oleh Belanda di Merlung. (LUKISAN)

Demikianlah riwayat perjuaangan ini dibuat untuk dapat diketahui oleh generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Sengaja riwayat perjuangan Barisan Selempang Merah dan TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU, serta rakyat dan POLRI ini dibuat untuk kenang-kenangan bagi yang tinggal, kalau nanti para pelaku perjuangan sudah tidak ada lagi di bumi persada ini.

Riwayat perjuangan ini disadur dari catatan Sdr. Madhan. AR (mantan Wkl. Komandan Pertempuran Sektor 1023 Front Tungkal Area), catatan Patih Masdar selaku Camat Tungkal Ilir dan dari beberapa para pejuang yang masih hidup.

5.December,31th.1949

1)Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan pasukan Tentara Nasional Indonesia Divisi Siliwangi ( Jawa Barat) berdasarkan surat perintah  Divisi Siliwangi no 162/49  tanggal  10.12.1949 ,ditanda tangani oleh staf  kwartier Panglima  Divisi IV Siliwangi Kolonel  Sadikin, lihat fotkopi surat tersebut dibawah ini:

Today is the last day of the collection of the Indonesian National Army troops Siliwangi Division (West Java) based on a warrant Siliwangi Division No. 162/49 dated 10.12.1949, signed by the staff of Commander of Division IV kwartier Siliwangi Colonel Sadikin, fotkopi see the letter below

foto tentara nasional Indonesia diatas truk saat kembali ke Ibukota RI Jakarta serta foto Tentara Nasional Indonesia setelah tiba di Ibukota Jakarta.

Indonesia photo above the national army trucks returning to the capital of Indonesia Jakarta and the Indonesian National Army photo after arriving in the capital Jakart

2)Postal used  home made postcard send from Malang to RVD selling and art division  at Jakarta with smelt numeric diffinitive  stamps 2 and 3 sen without RIS overprint , CDS Malang 31.12.49,the letter asking free magazine”Natura” in Indonesian Language.

3) Official free stamp homemade cover sent from  Semarang CDS 31.12.49 to Djogja cds 9.1.50, handwritten back(kembali) return to sender with note soedah pindah roemah ke Jakarta(have house moved to Jakarta)

5.The Unique Postal History From Dutch in 1949(date not clear)

Kartu Pos dari KIVTLV(Koninklijk Instituut Voor De Taal Land en Volkunde Den Haag ) yang telah mencoret Van Ned. Indie (dari Hindia Belanda)  sehingga mereka sudah mengakui kedaulatann RI dan Hindia Belanda sudah berakhir , dikirimkan kepada L.Ch.Damais Amsterdam untuk membayar kontribusi F.15.- sebagai anggota institue tersebut.(Kartu Pos ini sangat bersejarah karena badan yang terhormat ini dari newgeri Belanda telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia,sayang tanggal pengirman tidak jelas karena  karena distempel sistem roller. Apabila kolektor memiliki koleksi sejenis harap memberikan informasi liwat komentar,terima kasih dari Dr Iwan Suwandy)

Postcards from KIVTLV (Koninklijk Instituut Voor De Taal Land en Volkunde Hague) which has been crossed out Ned Van. Indie (from the Dutch East Indies), so they had to admit kedaulatan Affairs and the Dutch East Indies was over, sent to Amsterdam to pay a contribution L.Ch.Damais F.15 .- as a member of the Institute. (Postcards of this very historic because this honorable body of  Netherlands State has recognized the sovereignty of the Republic of Indonesia, unfortunately the sender  date is not clear because as stamped roller system. If the collector has a similar collection please provide the information through the following comments, thanks from Dr. Iwan Suwandy)My Friend Mr Hartkamp send an informations related to the postal history above:

The cancelation on this cover is only partly visible.

The complete text:

VERMELD OP UW
POSTSTUKKEN
NAAM en ADRES
AFZENDER

This cancellation is used in ‘s-Gravenhage in the years 1947 to 1951. In Holland a lot of firms changed their names and crossed out the name of Netherlands Indie after 27-12-1949.
Because the written information on this card concerns the payment of a contribution for the subscription of the New Year I suppose that this cancellation is of the beginning of 1950. After a while the firms changed the imprints of their printed matter, so it is not likely that the cancelation is of beginning of 1951.