Pameran Koleksi Sejarah Gereja Katolik Indonesia1800-1942(The Indonesian Catholic Historic Collections Exhibition)

 

WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

                          SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

                                                AT DR IWAN CYBERMUSEUM

                                          DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

_____________________________________________________________________

SPACE UNTUK IKLAN SPONSOR

_____________________________________________________________________

 *ill 001

                      *ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

                                THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

                           MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

                 DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

                                        PENDIRI DAN PENEMU IDE

                                                     THE FOUNDER

                                            Dr IWAN SUWANDY, MHA

                                                         

    BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

  

                         WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

                     SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showcase:

 Pameran Koleksi Historis Gereja katolik Indonesia 1800-1942

 

(THE INDONESIA CATHOLIC CHURCH HISTORIC COLLECTIONS)

FRAME ONE : INTRODUCTIONS(PENDAHULUAN)

I. DASAR PEMIKIRAN(BACKGROUND)

1.In May,8th,1807 was the moment of earliest histrotic of the beginning of Catholic Churh hirachy in Batavia (now Jakarta) and also the first point of Catholic church Hirarchy in Dutch east indie because at this date the Dutch east Indie ‘s Perfectur Apostholic had begun officially was the first Perfectur apostilk P.J.Nielsen,Pr. The young Church were developed until age 200 years .and the Keuskupan agung Jakarta have serveing actively the Catholic pupil at Jakarta,Bekasi and tangerang. 25 years ago the new bigger Yakobus church had built at Kelapa gading Jakarta Utara, and now have renovation to be the very amizing church in Jakarta utara.

Tanggal 8 Mei 1807 merupakan momentum awal bersejarah dimulainya hierarki Gereja Katolik di Jakarta (Batavia kala itu) bahkan titik mula hierarki Gereja Katolik di Hindia Belanda dimana pada tanggal tersebut telah diresmikan berdirinya Prefektur Apostolik Hindia Belanda dengan Prefektur Apostolik Pertama yaitu P. J. Nellisen, Pr. Gereja belia ini terus-menerus bertumbuh dan berkembang secara dinamis hingga kini telah mencapai usia 200 tahun, usia yang matang bagi gereja untuk berkarya nyata di masyarakatnya dalam wilayah yurisdiksinya dan hal inilah yang menjadi tantangan bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta untuk terlibat aktif melayani dalam kehidupan bermasyarakat di Jakarta, Tangerang dan Bekasi.Dua puluh lima tahun yang lalu didirikan sebuah gereja yang indah menarik di Kelapa Gading Jakarta.

2.Dr Iwan Suwandy want to make an active participations to add the christian catholic informations in order to add their knowledge related with their church.

Dr Iwan suwandy ingin ikut  secara nyata berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan pengetahuan informasi  para umat Katolik  yang tekait dengan gereja mereka.

3. When the age of Indonesian  Catholic Church became 200 years and the Kelapa gading ‘s yakobus church  25 years ,this time was the best moment for the catholic church and dr iwan suwandy to reseach about the history of church development as the basic info for the next development.

 Ketika usia Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta dan jakarta  telah mencapai usia 200 tahun ,lihat surat gembala  uskup agung Jakarta terkait perayaan dua abad   Gereja Katolik Indonesia dibawah ini:

dan gereja St Yakobus kelapa gading 25 tahun silahkan melihat label peringatan dibawah ini :

, tentunya merupakan momentum yang tepat agar Geraja katolik Indonesia dan Dr iwan melakukan penelitian sejarah Gereja Katolik sebagai informasi awal untk perkembangan dimasa mendatang.

4, After collecting informations since 20 years ,starting in 1990, I starting to analysing and made exhibition my best collections of indonesia catholic Church ‘s history.  some information I found from google exploration, This the first complete info from all of Indonesian province in cybermuseum, bacause this time the history  from each church only.

Setelah mengumpulkan informasi sejak 20 tahun yang lalu,mulai tahun 1990.saya menemukan koleksi yang terkait dengan gereja katolik indonesia seperti Buku peringatan gereja katolik Indonesia  dalam bahasa belanda dengan pengantar dari Paus Pius IX tanggal 28 Pebruari 1926 ,lihat illustrasinya dibawah ini

buku ini yang menjadi sumber inormasi yang sangat berguna antara lain berisi sejarah dan peta misi katolik dIndonesia silahkan lihat illustrasinya dibawah ini :

dalam peta ini terlihat Indonesia dibagi dalam enam wilayah apostolik dan sembilan perfektur.berdasarkan area ini akan disajikan koleksi illustrasi dan info sejarahnya.

selain itu saya menemukan patung maria antik di Bukitinggi tahun 1984 dari toko antik teman saya ,lihat fotonya .

Seluruh info tersebut diatas ditambah dari eksplorasi google cukup menarik untuk di analisa dan ditampilkan dalam pameran koleksi historis gereja katolik Indonesia, . Pameran ini adalah informasi lengkap  dari seluruh provinisi yang pertama kali dilakukan di museum dunia maya, karena saat ini hanya ada pameran dari masing-masing gereja saja dan tidak lengkap.

4. I hope all the Catholic members in Indonesia and all over the world will accepting the best informations to add their knowledge about the history of Catholic church in Indonesia.The infowill write in English language whic can read by all christian catholic memebers all over the world

5. Thanks very much for indformations from all the priest had add in the internet which I add with my own collections  in this exhituion

6. I know this informations were not complete and need more corrections and added info, please comment and suggestion to make this article more best performance.

Jakarta january 2011

Dr Iwan suwandy

FRAME TWO:

*ill

*ill peninggalan gereja portugis di Bitaoni Timor.

agama Katolik merupakan agama yang pertama kali muncul dan berkembang sangat pesat terutama di kawasan eropa. Dengan memakai pusat di vatikan, misionaris misionaris disebar bersama dengan melalui armada armada kapal penjelajah. Misi gold,glory, and gospel yang mengikutsertakan agama sebagai misi utama penjelajah eropa turut serta menjadi faktor penyebar agama Katolik.
Agama katolik diyakini pertama kali dibawa oleh penjelajah Portugis yang mendarat di Maluku utara. Tokoh misionaris yang paling berperan dalam penyebaran agama katolik di daerah ini adalah Fransiskus Xaverius (seorang Santo yang disebut kehidupannya sangat mirip dengan gaya hidup Yesus)di antara 1546-1547 terutama di Ambon,Saparua dan Ternate.

THE CATHOLIC CHURCH BEFORE 19TH CENTURY (voc era)

Kemenangan VOC atas Spanyol dan Portugis di Indonesia menyebabkan terhentinya penyebaran agama Kristen Roma Katolik, karena bangsa Spanyol dan Portugis menganut agama Kriosten Roma Katolik sedangkan Belanda menganut agama Protestan. Belanda mengusir mereka dan melarang penyebaran agama Katolik, kemudian menjadikan Protestan sebagai gantinya. Tujuan orang-orang Belanda itu ingin melenyapkan agama Katolik, baik di negeri Belanda sendiri maupun di daerah jajahannya (Embuiru dalam Bakry, 1979). Meski kondisinya demikian, tetap masih ada pengikut Katolik dan mereka memiliki imam Katolik yang secara diam-diam saling tolong menolong.

GEREJA KATOLIK ABAD KE XIX.

THE CATHOLIC CHURCH IN 19TH CENTURY

Barulah ketika Raja Lodewijk naik takhta yang memeluk agama Katolik berkuasa, Penyebaran Agama Katolik kembali berkembang pesat. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia (sejalan dengan sejarahnya Katedral Jakarta)

namun ada anggapan bahwa berkembangnya agama Katolik di Maluku buka merupakan yang pertama kali. Adalah suatu daerah di pantai barat Sumatra di pelabuhan tertua di Indonesia yaitu Barus (dahulu pancur). Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku “Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya”. yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.
Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria

hingga saat ini keberadaan agama katolik cukup besar dengan penganut sekitar 3,6 % dari populasi penduduk Indonesia .Jika dalam suatu negeri terdapat misi Katolik, maka segala usaha misi diatur langsung oleh pusat misi di Roma yang bernama Congregatio de Propaganda Fide (Komisi untuk menyiarkan Iman). Langkah yang ditempuh pertama kali ketika mereka memasuki daerah baru adalah mendirikan prefektur-Apostolis, dipimpin oleh seorang Padri yang disebut Prefek-Apostolis. Apabila usaha misi telah berkembang dengan baik, maka Prefektur tersebut ditetapkan menjadi vikariat-Apostolis. Pada tahun 1826 organisasi tersebut pernah berlaku di Indonesia ketika Paus menetapkan Prefektur-Apostolis pertama di sana. Persengkataan antara pemerintah Belanda dengan gereja Roma Katolik berakhir pada tahun 1847, ketika gereja Roma Katolik diakui berdaulat. Setelah itu, Kristen Katolik dan Protestan semakin berkembang di Indonesia (Bakry, 1979)

pada tahun 1810-1820, didirikan gereja kathedral pertama di Batavia(Jakarta) Indonesia yang sampai saat masih ada, lihat gambar lama (vintage picture) gereja tersebut tahun 1880:

sejarah singkat gereja kathedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta
Jakarta Cathedral Afternoon.JPG
Letak Jakarta, Indonesia
Afiliasi agama Katolik Roma
Tahun diresmikan 21 April 1901
Situs Web http://www.katedraljakarta.or.id/
Deskripsi arsitektur
Arsitek Antonius Dijkmans
Jenis arsitektur Gereja
Gaya arsitektur Neo-Gothic
Tahun selesai 21 April 1901
Spesifikasi
Puncak 2

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.

Daftar isi

 

 

Sejarah

1807 – 1826

Dengan adanya perubahan politik di Belanda khususnya kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui oleh pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda. Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, yang disebut Prefek Apostolik.

Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Yacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prinsen, Pr*ill

*ill Lambertus Prinsen

.[1] Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.(wikipedia), tetapi menurut buku lama tahun 1926 vicaris apostolik pertama batavia adalah Mgr Jacobus Groof yang lahir di Amsterdan tahun 1800 dan meninggal di Paramaribo 1852,lihat ptofilnya dibawah ini :

dan kemudia digantikan oleh Lambertus Prinssen sebagai vikaris apostolik batavia kedua yang meninggal tahun 1840, selanjutnya digantikan oleh  Joannes Henricus Scholten sebagai Vikaris Apostolik Batavia ke tiga yang meninggal tahun 1865,lihat profilnya dibawah ini :

pada tahun 1848-1871 uskus dari vikaris apostolik Batavia adalah Mrg Petrus maria Vrancen yang lahir diMontenaken 1806 dan meninggal tahun 1879,lihatlah profilenya dibawah ini:

stelah ia meninggal vikaris apostolik Batavia digantikan oleh MGR Adamus Carolus Classen yang meninggal di bogor (Buitenzorg) tahun 1895,lihatlah profilenya dibawah ini :

Pada abak ke-19 ini, diIndonesia juga ada ordo Jesuit (SJ) , di Batavia Mgr Walterus Jacobus  Staal S,J, yang lahir di Velp 1839 dan meninggal tahun 1897 ,lihatlah profilenya dibawah ini:

yang kemudian digantikan oleh Mgr Edmundus Sybrandus Luijpen S.J, yang mulai bertugas di batavia tahun 1855 lihatlah profilenya dibawah ini

,dalam melaksanakan misi Jesuit dibantu oleh  pater Jesuit di  Batavia(jakarta) yaitu Pater Jonnes Baptista Palincky S.J yang meninggal tahun 1900,lihatlah profilenya dibawah ini:

 dan pater Martinus van den Elsen S,J. di Surabaya  yang meninggal dikota tersebut  tahun 1866,lihatlah profilenya dibawah ini:

di Surabaya tahun 1922 sudah dibangun gereja yang dimanfaatkan sampai tahun 1900,lihat illustrasi  dibawah ini:

pada masa ini di prefek apostolik Surabaya juga dibangun gereja Pasoeroean,lihat illustrasinya dibawah :

pada masa ini di prefek Apostolik Timor di kota Sofor ,rumah rakyat digunakan sebagai gereja ,lihatlah illustrasinya dibawah ini:

selain didesa ini, juga di desa Bitaoni yang memeprgunakan peralatan misa masa portugis ,lihatlah illustras9inya dibawah ini:

Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara terbuka di Batavia di rumah Dokter F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Dokter Assmuss bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.

Pada bulan Mei, kedua Pastor itu sempat pindah ke rumah bambu yang dipinjamkan pemerintah untuk digunakan sebagai pusat sementara kegiatan-kegiatan katolik. Letaknya di asrama tentara di pojok barat daya Buffelsveld atau Lapangan Banteng (sekarang kira-kira di antara jalan Perwira dan Jalan Pejambon, di atas tanah yang saat ini ditempati oleh Departemen Agama).

Pada tanggal 15 Mei 1808, perayaan Misa Kudus pertama dirayakan di gereja darurat (kira-kira tempat parkir Masjid Istiqlal). Pada waktu itu juga telah dibentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa, yang terdiri atas Prefek Apostolik J. Nelissen sebagai ketua, dengan anggota-anggota Chevreux Le Grevisse, Fils, Bauer dan Liesart.

Selama tahun 1808, mereka membaptis 14 orang, yaitu seorang dewasa keturunan Eropa Timur, delapan anak hasil hubungan gelap, diantaranya ada empat yang ibunya masih berstatus budak, dan hanya lima anak dari pasangan orang-orang tua yang sah status perkawinannya.

Karena dirasa perlu adanya sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan untuk mengumpulkan umat, pada 2 Februari 1810, Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah kapel dari Gubernur-Jenderal Meester Herman Daendels, yaitu sebuah kapel sederhana yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah Senen, menuju Istana Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto). Kapel ini dibangun oleh Cornelis Chasteleijn (+ 1714) dan sebelumnya dipakai oleh jemaat Protestan yang berbahasa Melayu dan pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Kapel ini merupakan milik Gubernemen yang dihadiahkan berikut semua isinya, termasuk 26 kursi dan sebuah organ yang sudah tidak dapat digunakan. Karena kondisi bangunan yang kurang layak, Pastor Nelissen segera mengerahkan sejumlah orang untuk merenovasi. Semua pekerjaan ini dipercayakan kepada pengusaha Tjung Sun dibawah pengawasan Jongkind, arsitek, atas nama Dewan Gereja. Kapel inilah yang menjadi Gereja Katolik I di Batavia. Dalam bulan yang sama, Gereja Katolik pertama di Batavia ini diberkati dan sebagai pelindungnya dipilih Santo Ludovikus. Gedung itu memang tidak bagus namun dirasa cukup kuat karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200 umat. Di dekat gedung gereja itu dibangun sebuah Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.

Pada tanggal 10 Mei 1812 Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Pulau Jawa, beserta istrinya menjadi ibu/bapak permandian dari Olivia Marianne Stamford Raffles Villeneuve, putri dari Ludorici Francisci Josephi Villeneuve dan Jeanna Emilie Gerische Conjugum.[1]

Pada tanggal 6 Desember 1817, jenasah Prefektur Apostolik pertama, Mgr Jacobus Nellisen,meurut literatur koleksi Dr Iwan, namanya  Mgr Jacobus Groff

, yang meninggal karena sakit TBC disemayamkan di kuburan Tanah Abang.[1] Digantikan Pastor Prinsen, Pr yang sejak tahun 1808 bertugas di Semarang,lihatprofilenya dibawah ini:

. Meskipun Pastor Prinsen, Pr telah menjadi Prefek Apostolik Jakarta yang ke dua, beliau lebih sering berada di Semarang karena ia merencanakan pembangunan  gereja Semarang yang baru terwujud  tahun 1876,lihat gambarnya dibawah ini:

Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di segitiga Senen. Pastoran turut lebur menjadi abu bersama dengan 180 rumah lainnya, sementara itu gedung gereja selamat namun gedungnya sudah rapuh juga dan tidak dapat digunakan lagi.

1827 – 1890

Gereja Katedral Jakarta (ca.1870-1900)

Pada waktu itu yang menjabat sebagai Komisaris Jenderal adalah Leonardus Petrus Josephus Burggraaf Du Bus de Ghisignies, seorang ningrat yang juga beragama Katolik, berasal dari daerah Vlaanderen di Belgia. Ia memiliki wewenang penuh di Batavia, serta lebih tinggi kekuasaannya dari seorang Gubernur Jenderal. Selama jabatan Du Bus De Ghisignies, 1825-1830, Gereja Katolik Indonesia bisa bernafas lega. Ia beragama Katolik dan sangat memperhatikan kebutuhan umat. Ia juga sangat berjasa dalam menciptakan kebebasan kehidupan beragama di Batavia waktu itu. Salah satu jasanya adalah Regeringsreglement yang dibuatnya, pada pasal 97 diletakkan: “Pelaksanaan semua agama mendapat perlindungan pemerintah”. Ia juga mendesak Pastor Prinsen untuk segera menetap di Jakarta.

Melihat kebutuhan umat yang mendesak akan adanya gereja untuk tempat ibadah, Ghisignies mengusahakan tempat untuk mendirikan Gereja baru. Ia memberi kesempatan kepada Dewan Gereja Katedral untuk membeli persil bekas istana Gubernur Jenderal di pojok barat/utara Lapangan Banteng (dulu Waterlooplein) yang waktu itu dipakai sebagai kantor oleh Departemen Pertahanan. Pada waktu itu, di atas tanah tersebut berdiri bangunan bekas kediaman panglima tentara Jenderal de Kock. Umat Katolik saat itu diberi kesempatan untuk membeli rumah besar tersebut dengan harga 20.000 gulden. Pengurus gereja mendapat pengurangan harga 10.000 gulden dan pinjaman dari pemerintah sebesar 8.000 gulden yang harus dilunasi selama 1 tahun tanpa bunga.

Pada tahun 1826 Ghisignies memerintahkan Ir. Tromp untuk menyelesaikan “Gedung Putih” yang dimulai oleh Daendels (1809) dan kini dipakai Departemen Keuangan di Lapangan Banteng. Ir. Tromp diminta juga membangun kediaman resmi untuk komandan Angkatan Bersenjata (1830) dan sekarang dikenal sebagai Gedung Pancasila di Jl. Pejambon. Order ketiga pada Ir. Tromp adalah merancang Gereja Katolik pertama di Batavia. Tempatnya adalah yang sekarang dipakai Gereja Katedral.

Atas desakan Komisaris-Jenderal Du Bus De Ghisignies, Ir. Tromp merancang gereja baru berbentuk salib sepanjang 33 x 17 meter. Ruang altar dibuat setengah lingkaran, sedang dalam ruang utama yang panjang dipasang 6 tiang. Gaya bangunan ini bercorak barok-gotik-klasisisme; jendela bercorak neogotik, tampak muka bergaya barok, pilaster dan dua gedung kanan kiri bercorak klasisistis. Menara tampak agak pendek dan dihiasi dengan kubah kecil di atasnya. Maka, gaya bangungan itu disebut eklektisistis. Ditambah lagi dua gedung untuk pastoran yang mengapit gereja di kanan kiri serta deretan kamar-kamar dibelakangnya. Rupanya rancangan Ir. Tromp ini membutuhkan dana yang cukup besar dan melampaui kemampuan finansial gereja waktu itu. Maka rancangan ini tidak pernah terlaksana.

Oleh karena itu, gedung yang diperoleh umat Katolik tersebut, atas usul Ir. Tromp dirombak sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk gereja. Bangunan ini sebenarnya adalah gedung dengan sebuah ruangan luas di antara dua baris pilar. Di kedua sisi panjangnya dilengkapi dengan gang. Di tengah atap dibangun sebuah menara kecil enam persegi. Di sebelah timur sebagian dari rumah asli tetap dipertahankan untuk kediaman pastor dan di sebelah barat untuk koster. Altar Agungnya merupakan hadiah dari Komisaris Jenderal du Bus Ghisignies. Gereja yang panjangnya 35 meter dan lebarnya 17 meter ini pada tanggal 6 November 1829 diberkati oleh Monseigneur Prinsen dan diberi nama Santa Maria Diangkat ke Surga.

Gereja itu cukup membantu para imam dalam menjalankan misi pelayanannya di Batavia. Umat yang mengikuti misa semakin banyak. Untuk pertama kalinya, pada tanggal 8 Mei 1834, empat orang pribumi suku Jawa dibaptis di gereja ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, gereja tersebut mengalami banyak kerusakan. Perbaikan yang dilakukan hanya bersifat tambal sulam saja. Kemudian pada tahun 1859 diadakan renovasi yang cukup besar. Menurut pengamatan seorang ahli bangunan, menara yang ada di tengah atap merupakan penyebab terjadinya kerusakan dan kebocoran. Menara tersebut terlalu berat bagi struktur atap gereja, sehingga menekan tembok dan menimbulkan kebocoran dimana-mana. Oleh karena itu diusulkan untuk membongkar menara kecil tersebut dan menggantinya dengan sebuah menara baru yang terletak di atas pintu masuk, di sebelah barat. Akhirnya pada tanggal 31 Mei 1880 gereja ini mulai difungsikan lagi setelah selesai direnovasi.

Hampir sepuluh tahun kemudian, 9 April 1890, ditemukan bagian-bagian gereja yang mulai rusak, Setumpuk kapur dan pasir berserakan dekat sebuah pilar. Keadaan ini cukup mencemaskan para imam, terutama Pater Kortenhorst yang pagi itu sempat menginjak setumpuk kapur dan pasir tersebut. Pada hari yang sama sekitar pk. 09.00 pagi, Pastor Kortenhorst dan Pastor Luypen memeriksa situasi gereja. Salah satu pilar nampak mengkhawatirkan. Pada pk.10.30 keadaan pilar tampak lebih buruk dan semakin memprihatinkan. Banyak kapur mulai terlepas lagi. Tidak lama kemudian, ketika para pastor memasuki sakristi, bangunan gereja ambruk disertai suara gemuruh yang mengerikan. Seluruh pekarangan ditutupi debu sehingga orang tidak dapat melihat lebih dari lima langkah. Jam saat itu menunjukkan pukul 10.45 pagi. Hari itu tepat 3 hari sesudah perayaan Paskah.

Ketika debu sudah mulai turun, kehancuran gereja mulai nampak jelas. Atapnya menganga. Sebelum peristiwa ini, masih ada 68 bangku terbuat dari kayu jati dan kini tinggal 10, sisanya rusak berat. Selain itu, yang masih berdiri utuh adalah altar, pelataran imam dan ruang sakristi serta menara.

Kondisi gereja saat itu sangat parah dan tidak memungkinkan untuk penyelenggaraan misa. Untuk sementara waktu misa diselenggarakan di dalam garasi kereta kuda yang disesuaikan fungsinya untuk gereja darurat

GEREJA KATOLIK AWAL ABD KE XX(1900-1942)

A. VIKARIAT APOSTOLIK

I BATAVIA(JAKARTA)

Awal abad ke XX  Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, masih menjabat Vikaris Apostolik Jakarta.

 ia yang merancang,membangun dan memberkati gereja Kathedral Jakarta saat ini,

Ia menjabat sampai tahun 1923, digantikan oleh Mgr van Velsen S.J sampai tahun 1933

pada saat ini dibangun Sekolah santa Ursula

, Seminari Tjitjoeroek

dan gereja Santa Theresia di menteng

 ,kemudian digantikan Mgr  Petrus Willekens S.K.

sampai perang dunia kedua,perang kemerdekaan sampai adigantikan oleh Uskup agung Kardinal Darmaatmaja,

II. NEW GUENIA(PAPUA BARAT)

Vikariat perfektus Nederland New Guinea(sekarang Papua Barat) dipimpin oleh Vikaris perfectus pertama  pater Dr M.Neijens (1902-1911)

dan pater  Jos van de Kolk

, dibantu oleh pater vertenten  lihat ilustrasi fotonya denga penduduk asli Koja-Koja  yang memegang tombak

 ,pater Geurtjens  lihat illustrasi fotonya lagi duduk istirahat dengan penduduk asli

 dan pater Cappers yang mempergunakan kuda sebagia alat transportasi karena belum ada jalan darat

, mereka dibantu oleh para suster dari ordo zuster van Heythuysen lihat ilustrasi foto mereka dengan patung maria yang sangat indah dan antik :

III.NED.BORNEO(KALIMANTAN)

Vicaris Apostolik Borneo(Kalimantan) Mgr  Bas lihatlah illustrasi fotonya bersama pator dan overste misi pater Green

, pada era ini didirikan gerja kathedral Pontianak

, pastoran dan sekolah English-Chinese school dan Ambachschool disamping katheral

, juga didirikan Rumahsakit zuster (masih ada saatini dengan nama RS SungaiJawi)

, dan dibangung seminari kecil lihatlah  profile pemimpinya  Pastor Goosens dengan broeder Cornelius serta tiga murid seminari dari suku dayak

, para suter dipimpin oleh Moeder  overste Theresia

,  salah seorang murid seminari dari suku Tionghoa Lim Yong Ie dikirim ke seminari Penang(Kepala paroki St Yakobus kelapa gading  saat ini adalah pastor yang berasal dari Kalimantan Barat dari suku Tionghoa juga)

,  selain itu didirikan gereja misi di Sambas

, gereja Singkawang

  dan Rumah Sakit Lepra di Singkawang

, serta  gereja di Banjarmasin Kalimantan Selatan.

IV.PADANG

Vikaris apostolis Padang yang pertama adalah Mgr L.Cluts (1911-1920),lihal illustrasi profilenya

 ,kemudian digantikan oleh Mgr Brams 1921-1954.lihat illustrasinya bersama murid sekolah katolik  dihalaman  rumah pastor(pastoran) didepan Hotel muara.

pada era ini didirikan beberapa gereja, Gereja kathedral Padang St Theresia(saat ini rusak akibat gempa besar tahun 2010)

,

 Gereja Di kota Fort de Kock (Bukittingi)

dan Geraja St Fideris dan pastoran Payakumbuh.

Di Residensi Aceh, Pastor Verbraak

pada awalnya mendirikan gereja di rumah kediamannya di kotaraja(Bandar Aceh)

. dan kemudian dikota tersebut mendirikan gereja  dengan pastoran dan susteran disampingnya.

V.Vicaris Apostolik .Kepulauan Nusatenggara (KLEINE  SOENDA ISLAND)

Vikaris Apostolik Kleine Soenda  eiland tahun 1921 adalah adalah Mgr P.Noyen Z.G.

 

dan tahun 1927 digantikan oleh Mgr  A.J.H.V Verstraelen

beberapa illustrasi dari gereja katolik di Flores yaitu Gereja  Kathedral di kota Ende

 

serta gereja-geraja lain di  Ndona flores

, Toda beloe

, Mangarai Roetang

, pastor denga anak-anak katolik di Manggarai

, misi di Oebelo Flores

, gereja Nele  Maoemere

,  gereja dan mesjid berdampingan di  Lohajang flores.

VI.CELEBES(SULAWESI)

Di Sulawesi Utara telah dibagun beberapa gereja yaitu, di kota manado

,.gereja Dikota Temohon 

dikota ini juga telah didirikan Rumah sakit Katolik,lihatlah ilustrasi interior Rumah sakit tersebut

dan gereja di soemba Wattembola

B..PERFEKT APOSTOLIK

VII.BANKA BELLITON

Dikota muntok pulau Banka telah dibangun gereja,rumah suster dan sekolah HCS(hollands chinese school) dalam satu kawasan lihatlah illustrasinya dibawah ini :

dan murid-muris HCS mendirikan Klub wanita Tionghoa(Chinese Mesjees club),lihat illustrasi anggota klub tersebut dibawah ini:

Dikota Tanjumg Karang juga telah diirikan gereja

VIII.BENKOELEN

Rumah tua  dipugar jadi Gereja

pastor dan zuster mengunjungi ex benteng Malborough dari Raffles

Pada tahun 1927 didirikan perfekt apostolik baru di sumatera Selatan dengan pusatnya di Palembang,lihatlah beberapa illustrasi gereja katolik dikawan ini, pertama  interior gereja  kathedral Palembang dengan pemimpinnya Mgr Dr H.M.Mekkelholt

dan lihatlah illustrasi  gereja palembang lama yang dipugar dari rumah tua tahun 1925 

dan gereja serta rumah pastor di kota Lahat

IX.MALANG

Pada tanggal  10 maret 1927 diangkat perfetus Apostolok Malam yang pertama Mgr Celemns van der Pas Z.G. yang meninggal tahun 1933,lihat profilenya dibawah ini :

pada saat ini dibangun gereja Malang yang pertama:

kemudian dibangun gereja kathedral Malang

Fasilitas lain di perfek apostolik Malang adalah Sekolah Susteran Malang

, Sekolah Frater Malang.

Selain itu juuga didirikan gereja jawa dikota  Glagah Agung

X.SOERABAJA

Di perfek apostolik Soerabaya sudah dibangun gereja tahun 1822 lihatlah illustrasinya dibawah ini :

 , dan kemudian tahun 1900 dipugar menjadi  kathedral, selain itu  juga ada sekolah MULO Frater Don Bosco (saya menemukan pin dari sekolah ini)

XI.POEWOKERTO

XII BANDUNG

1.Uskup Mgr Goumans cuti ke Eropa tahun 1933 berfot bersamas seluruh pastor perfektur apotoslik dan uksup tentara  F.Fleerakkers S>J dengan confratornya pastor v.Aernberg S.J,duduk disamping kanannyaMgr Dr A van Asseldonk properfect dan tamu Dr P Rutten.

2. Gerja St Petrus Bandung yang sampai saat ini masih ada (kathedral Bandung)

 , biara zuster Urselin

 yang  di dalamnya ada kapel.

PERKEMBANGAN GEREJA KATOLIK DI JAWA SEBELUM PERANG DUNIA KEDUA

1. JAWA TENGAH

 Pastor Van Lith

Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. van Lith, SJ yang datang ke Muntilan pada tahun 1896. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama,lihatlah illustrasi foto Pastor Van lith memeberikan pelajaran agama di Yogja

dan foto bersama dengan umat katolik pertama di Moentilan

serta foto pastor java di Kolese Xaverius Moentilan

,prosesi didepan kolese Xaverius muntilan 

dan pastor jawa pertama pater Satiman

, juga ilustrasi foto Rumah Sakit  katolik moentilan

serta beberapa foto turne postor di daerah jogyakarta.

. Sehingga pada tanggal 15 Desember 1904, rombongan pertama orang Jawa berjumlah 178 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak di antara dua batang pohon Sono. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Romo van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan yaitu Normaalschool di tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di tahun 1904. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius yang dipimpin oleh  Pater F.Strater S.J.,lihat illustrasi profilenya diabawah ini:

. Para imam dan Uskup pertama di Indonesia adalah bekas siswa Muntilan. Pada permulaan abad ke-20 gereja Katolik berkembang pesat.

Pada 1911 Van Lith mendirikan Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Romo F.X.Satiman

, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranata, SJ.

pada tahun 1934 di  gereja Poegeran Yogja ,lihat gambar rencana gereja

 dan peresmian gerja tersebut tanggal 8 Juli 1934.

Albertus Soegijapranata menjadi Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan pada tahun 1940.lihatlah illustrasi foto beliau saat berekunjung ke batavia dengan pastor jawa dan belanda lainnya dibawah ini:

Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II. Romo Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Mgr. Soegijapranata bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus.

Banyak di antara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti Adisucipto,_Agustinus (1947), Ignatius Slamet Riyadi (1945) dan Yos Sudarso (1961).

FRAME FIVE:

THE INDONESIA CATHOLIC CHURCH HISTORIC COLLECTION FROM GOOGLE EXPLORATION

Abad Akal-Budi (1633 — 1800)

Abad ke-19

Abad ke-20

  • 15 Desember 1904: 178 warga Kalibawang dibaptis oleh Romo Van Lith, SJ, lokasi pembaptisan kini menjadi tempat ziarah Sendangsono.
  • 1926: Fransiskus Xaverius Satiman ditahbiskan menjadi imam pribumi pertama di Hindia Belanda.
  • 2 Oktober 1928: Santo Josemaría Escrivá mendirikan Opus Dei, sebuah organisasi sedunia yang beranggotakan umat awam Gereja Katolik.
  • 11 Februari 1929: Perjanjian Lateran ditandatangani oleh Benito Mussolini dan Kardinal Gasparri menetapkan Kota Vatikan sebagai negara merdeka dan menyelesaikan masalah perebutan hak atas kota Roma antara Italia dan Tahta Suci sejak pengambilalihan Negara Kepausan pada tahun 1870.
  • 12 Februari 1931: Radio Vatikan diresmikan. Dibangun oleh Guglielmo Marconi dan diresmikan oleh Paus Pius XI. Siaran perdananya dalam kode Morse berbunyi: In nomine Domini, amen.
  • 20 Juli 1933: Konkordat antara Tahta Suci dan Pemerintah Jerman ditandatangani oleh Eugenio Kardinal Pacelli dan Franz von Papen, masing-masing mewakili Paus Pius XI dan Presiden Paul von Hindenburg.
  • 1 September 1939: Jerman menginvasi Polandia. Permulaan Perang Dunia kedua. Vatikan menyatakan sikap netral guna menghindari keterlibatan dalam konflik dan juga untuk menghindari pendudukan oleh militer Italia.
  • 1940: Albertus Soegijapranata ditahbiskan menjadi uskup pribumi pertama di Hindia Belanda.
  • 1944: Tentara Jerman menduduki Roma. Adolf Hitler menyatakan akan menghormati netralitas Vatikan; akan tetapi beberapa insiden, seperti memberi bantuan kepada personil angkatan udara sekutu yang terluka, nyaris menyebabkan Nazi Jerman menginvasi Vatikan. Roma dibebaskan oleh tentara sekutu hanya beberapa minggu sesudah pendudukan Jerman.
  • 1950: Maria diangkat ke surga dijadikan dogma.
  • 20 Januari 1961: John F. Kennedy diambil sumpahnya sebagai presiden Amerika Serikat yang ke-35. Dia merupakan tokoh katolik pertama dan calon termuda yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.
  • 11 Oktober 1962: Paus Yohanes XXIII membuka Konsili Ekumenis Vatikan Kedua. Konsili Ekumenis ke-21 dari Gereja Katolik ini menitikberatkan panggilan universal menuju kekudusan dan membuahkan banyak perubahan dalam praktek, termasuk makin meningkatnya penekanan pada ekumenisme; berkurangnya aturan-aturan penitensi, puasa dan praktek-praktek devosional lainnya; dan memulakan revisi atas peribadatan, yang menjadi makin sederhana dan mudah difahami umat dengan mengizinkan penggunaan bahasa lokal menggantikan Bahasa Latin. Oposisi terhadap perubahan-perubahan yang dihasilkan Konsili ini menimbulkan gerakan Umat Katolik Tradisionalis yang tidak menyetujui perubahan-perubahan atas tata-cara peribadatan yang lama.
  • 7 Desember 1965: Deklarasi Bersama Katolik-Ortodoks oleh Paus Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras I. Ekskomunikasi timbal-balik dari Skisma Akbar tahun 1054 antara Katolik dan Ortodoks ditarik kembali oleh kedua belah pihak.
  • 8 Desember 1965: Paus Paulus VI menutup Konsili Vatikan Kedua.
  • 29 Juni1967: Justinus Darmojuwono dilantik sebagai kardinal Indonesia yang pertama.
  • 1970: Revisi atas Missale Romanum, dikeluarkan setelah introduksi bahasa setempat secara bertahap dalam perayaan Misa.
  • 26 Agustus 1978: Paus Yohanes Paulus I menjadi paus pertama yang menggunakan dua nama kepemimpinan sekaligus. Dia memimpin Gereja hanya selama 33 hari.
  • 16 Oktober 1978: Paus Yohanes Paulus II menjadi paus Polandia pertama dan tokoh non-Italia pertama yang dipilih menjadi paus dalam kurun waktu 450 tahun; berpengaruh atas keruntuhan komunisme di Eropa.
  • 1984: Hari Pemuda Dunia yang pertama yang digagas Paus Yohanes Paulus II dirayakan di Roma. Silih berganti dirayakan di Roma dan sebuah kota lain setiap tahun.
  • 30 Juni 1988: Uskup Agung Marcel Lefebvre dari Sosietas St. Pius X (SSPX), menahbiskan empat pria menjadi uskup di Ecône, Swis tanpa meminta persetujuan paus. Lefebvre dan keempat pria terseut otomatis dijatuhi ekskomunikasi sesuai hukum kanon. Para tradisionalis SSPX sejak saat itu berada dalam status skisma.[14]
  • 31 Desember 1991: Uni Soviet resmi dibubarkan. Gereja yang tertindas muncul kembali dari persembunyian.
  • 1992: Katekismus Gereja Katolik pertama kali dicetak di Perancis.
  • 1994: Ordinatio Sacerdotalis, surat Apostolik berisi larangan atas pentahbisan perempuan menjadi imam, dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II.

 Abad ke-21

Benediktus XVI, Paus pertama yang terpilih pada abad ke-21

  • 30 April2000 : Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi St. Faustina dan menentukan Hari Minggu sesudah Paskah sebagai Hari Minggu Belas-Kasih Ilahi dalam Kalender Romawi Umum, yang mulai berlaku sejak tahun 2001.
  • 1 Januari2001: Abad ke-21 dan milenium baru dimulai. Gereja mengkhidmatkan permulaan milenium Kristiani ketiga dengan memperpanjang sampai ke sebagian tahun 2001, tahun Yubileum yang diperingati Gereja tiap 25-tahun sekali. Khusus untuk tahun 2000, disebut Yubileum Agung.
  • 6 Januari2001: Yohanes Paulus II mengeluarkan Novo Millennio Ineunte, sebuah program bagi Gereja dalam milenium baru, dalam mana dia menempatkan kekudusan melalui latihan doa sebagai prioritas terpenting dari Gereja Katolik sejalan dengan tujuannya.
  • 18 Januari2002: Mantan iman John Geoghan didakwa melakukan perundungan seksual terhadap anak-anak dan dijatuhi hukuman penjara 10 tahun, sebagai bagian dari skandal pelecehan seksual. Kasus Geoghan merupakan salah satu dari skandal-skandal terburuk dalam Gereja Katolik di zaman modern.
  • 2 April2005: Paus Yohanes Paulus II meninggal-dunia pada usia 84 tahun. Pemakamannya disiarkan ke segenap penjuru dunia melalui media modern. Jutaan peziarah Katolik pergi ke Roma untuk memberikan penghormatan terakhir.
  • 19 April2005: Joseph Kardinal Ratzinger asal Jerman terpilih oleh Dewan Kardinal sebagai Paus Benediktus XVI, dan menjadi paus pertama yang terpilih pada abad ke-21 dan pada milenium ke-3.
  • 18 Agustus2005: Paus Benediktus XVI berkunjung ke Cologne, Jerman, kunjungan pertamanya di luar Italia. Melanjutkan Hari Pemuda Dunia yang dimulai oleh pendahulunya.
  • 12 September2006: Paus Benediktus XVI memberikan ceramah “Iman, Akal Budi serta Kenangan dan Renungan Universitas” di University of Regensburg. Mengutip Kaisar Manuel II Paleologus: “Tunjukkan padaku hal baru yang dibawa Muhammad, dan hal-hal yang akan kau dapati hanyalah keburukan dan ketidakmanusiawian, seperti perintah untuk menyiarkan dengan pedang iman yang dikhotbahkannya.” dalam sebagian kecil dari ceramahnya mengenai iman dan akal budi, irasionalitas dari kekerasan, dan program de-helenisasi membangkitkan reasksi-reaksi keras dan mematikan dari umat muslim di seluruh dunia.[15][16][17][18][19]
  • 7 Juli2007: Motu proprioSummorum Pontificum dikeluarkan oleh Paus Benediktus XVI yang secara eksplisit memperbolehkan Missale Romanum tahun 1962 sebagai bentuk luar-biasa dari Ritus Romawi. Harapan akan pemulihan skisma antara SSPX dan Gereja Katolik tersirat dalam surat lampiran pada motu proprio tersebut.

Sejarah Gereja Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.

Beberapa era sejarah katolik yang ada di Indonesia sebagai berikut :

* Era VOC

* Era Hindia-Belanda

* Van Lith

* Era Perjuangan Kemerdekaan

* Era Kemerdekaan


1). Era VOC

Sejak kedatangan dan kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia tahun 1619 – 1799, akhirnya mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak termasuk VOC yaitu Flores dan Timor.

Para penguasa VOC beragama Protestan, maka mereka mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis dan menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda. Banyak umat Katolik yang kemudian diprotestankan saat itu, seperti yang terjadi dengan komunitas-komunitas Katolik di Amboina.

Imam-imam Katolik diancam hukuman mati, kalau ketahuan berkarya di wilayah kekuasaan VOC. Pada 1924, Pastor Egidius d’Abreu SJ dibunuh di Kastel Batavia pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus di penjara.

Pastor A. de Rhodes, seorang Yesuit Perancis, pencipta huruf abjad Vietnam, dijatuhi hukuman berupa menyaksikan pembakaran salibnya dan alat-alat ibadat Katolik lainnya di bawah tiang gantungan, tempat dua orang pencuri baru saja digantung, lalu Pastor A. de Rhodes diusir (1646).

Yoanes Kaspas Kratx, seorang Austria, terpaksa meninggalkan Batavia karena usahanya dipersulit oleh pejabat-pejabat VOC, akibat bantuan yang ia berikan kepada beberapa imam Katolik yang singgah di pelabuhan Batavia. Ia pindah ke Makau, masuk Serikat Jesus dan meninggal sebagai seorang martir di Vietnam pada 1737.

Pada akhir abad ke-18 Eropa Barat diliputi perang dahsyat antara Perancis dan Britania Raya bersama sekutunya masing-masing. Simpati orang Belanda terbagi, ada yang memihak Perancis dan sebagian lagi memihak Britania, sampai negeri Belanda kehilangan kedaulatannya. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, seorang Katolik, menjadi raja Belanda. Pada tahun 1799 VOC bangkrut dan dinyatakan bubar.

2). Era Hindia-Belanda

Perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia (lihat: Sejarah Gereja Katedral Jakarta)

Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.

Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) berkuasa menggantikan VOC dengan pemerintah Hindia Belanda. Kebebasan beragama kemudian diberlakukan, walaupun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Imam saat itu hanya 5 orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. Akan tetapi pada tahun 1889, kondisi ini membaik, di mana ada 50 orang imam di Indonesia. Di daerah Yogyakarta, misi Katolik dilarang sampai tahun 1891.

3). Van Lith

Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. van Lith, SJ yang datang ke Muntilan pada tahun 1896. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama. Sehingga pada tanggal 15 Desember 1904, rombongan pertama orang Jawa berjumlah 178 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak di antara dua batang pohon Sono. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Romo van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan yaitu Normaalschool di tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di tahun 1904. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius. Para imam dan Uskup pertama di Indonesia adalah bekas siswa Muntilan. Pada permulaan abad ke-20 gereja Katolik berkembang pesat.

Pada 1911 Van Lith mendirikan Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Romo F.X.Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranata, SJ.

4). Era Perjuangan Kemerdekaan

Albertus Soegijapranata menjadi Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan pada tahun 1940.

Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II. Romo Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Mgr. Soegijapranata bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus.

Banyak di antara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti Adisucipto,_Agustinus (1947), Ignatius Slamet Riyadi (1945) dan Yos Sudarso (1961).

5). Era Kemerdekaan

Kardinal pertama di Indonesia adalah Justinus Kardinal Darmojuwono diangkat pada tanggal 29 Juni 1967. Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan Gereja Katolik dunia. Uskup Indonesia mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).

Paus Paulus VI berkunjung ke Indonesia pada 1970. Kemudian tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatra Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah dan DIY), Maumere (Flores) dan Dili (Timor Timur).

SEJARAH SINGKAT GEREJA KATOLIK DI INDONESIA

Posted: 21 April 2010 by mochihotoru in Christianity, History, Religions, Roman Catholic

0

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>  

Era Portugis

Di Indonesia, orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku pada tahun 1534. Ketika itu pelaut-pelaut Portugis baru menemukan pulau-pulau rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga mempermandikan (membaptis) beberapa ribu penduduk setempat.

Era VOC

Sejak kedatangan dan kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia tahun 1619-1799, akhirnya mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak termasuk VOC yaitu Flores dan Timor.

Para penguasa VOC beragama Protestan, maka mereka mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis dan menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda. Banyak umat Katolik yang kemudian menjadi Protestan saat itu, seperti yang terjadi dengan komunitas-komunitas Katolik di Amboina.

Imam-imam Katolik diancam hukuman mati, kalau ketahuan berkarya di wilayah kekuasaan VOC. Pada 1924, Pastor Egidius d’Abreu SJ dibunuh di Kastel Batavia pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus di penjara.

Pastor A. de Rhodes, seorang Yesuit Perancis, pencipta huruf abjad Vietnam, dijatuhi hukuman berupa menyaksikan pembakaran salibnya dan alat-alat ibadat Katolik lainnya di bawah tiang gantungan, tempat dua orang pencuri baru saja digantung, lalu Pastor A. de Rhodes diusir (1646).

Yoanes Kaspas Kratx, seorang Austria, terpaksa meninggalkan Batavia karena usahanya dipersulit oleh pejabat-pejabat VOC, akibat bantuan yang ia berikan kepada beberapa imam Katolik yang singgah di pelabuhan Batavia. Ia pindah ke Makau, masuk Serikat Jesus dan meninggal sebagai seorang martir di Vietnam pada 1737.

Pada akhir abad ke-18 Eropa Barat diliputi perang dahsyat antara Perancis dan Britania Raya bersama sekutunya masing-masing. Simpati orang Belanda terbagi, ada yang memihak Perancis dan sebagian lagi memihak Britania, sampai negeri Belanda kehilangan kedaulatannya. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, seorang Katolik, menjadi raja Belanda. Pada tahun 1799 VOC bangkrut dan dinyatakan bubar.

Era Hindia-Belanda

Perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia.

Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.

Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) berkuasa menggantikan VOC dengan pemerintah Hindia Belanda. Kebebasan beragama kemudian diberlakukan, walaupun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Imam saat itu hanya lima orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. Akan tetapi pada tahun 1889, kondisi ini membaik, di mana ada 50 orang imam di Indonesia. Di daerah Yogyakarta, misi Katolik dilarang sampai tahun 1891.

Van Lith

Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. van Lith, SJ yang datang ke Muntilan pada tahun 1896. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama. Sehingga pada tanggal 15 Desember 1904, rombongan pertama orang Jawa berjumlah 178 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak di antara dua batang pohon Sono. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Romo van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan yaitu Normaalschool di tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di tahun 1904. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius. Para imam dan Uskup pertama di Indonesia adalah bekas siswa Muntilan. Pada permulaan abad ke-20 Gereja Katolik berkembang pesat.

Pada 1911 Van Lith mendirikan Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Romo F.X. Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranata, SJ.

Era Perjuangan Kemerdekaan

Albertus Soegijapranata menjadi Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan pada tahun 1940. Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II. Romo Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Mgr. Soegijapranata bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus.

Banyak di antara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti Adisucipto, Agustinus (1947), Ignatius Slamet Riyadi (1945), dan Yos Sudarso (1961).

Era Kemerdekaan

Kardinal pertama di Indonesia adalah Justinus Kardinal Darmojuwono diangkat pada tanggal 29 Juni 1967. Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan Gereja Katolik dunia. Uskup Indonesia mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).

Paus Paulus VI berkunjung ke Indonesia pada 1970. Kemudian tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatra Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah dan DIY), Maumere (Flores) dan Dili (Timor Timur).

(sumber: geocities.com/katolik.dalnet)

 

1)    Jabar

2)      Salah satu tempat di daerah Jawa Barat yang menjadi pusat penyebaran Kristen adalah Kampung Sawah, desa ini terletak di tapal batas Jakarta-Jawa Barat Kampung Sawah, Pondok Melati-Jati Sampurna, Bekasi.

3)      Dari beberapa sumber didapat keterangan bahwa Kampung Sawah zaman dulu adalah “daerah pembuangan”. Di sanalah pan buionan kriminal menyembunyikan diri. Itu terjadi pada masa V.O.C. (Veitangde Oast Inttische Compagnie), (1602-1799). ( Sabili:Mei 2004, wawancara KH. Rahmadin )

4)      Komunitas Kristen Kampung Sawah bermula dari kelompok Modjowarno yang datang dari Jawa dan pindah ke Jawa Barat terdapat kakek dari Bapa Dradjat Madjan, pendeta jemaat Gereja Pasundan Kampung Sawah pada akhir abad ke-20; sang kakek belum dibaptis ketika datang ke kampong ini; ia ikut sebagai simpatisan. Di antara kelompok Bondo terdapat Bapa Beny Kidirnan, cucu dari Kyai Ibrahim Tunggal Wulung, yang kemudian men­jadi seorang aktivis Gereja Katolik di Kampung Sawah. Maka selanjutnya di Kampung Sawah mulai terbentuk sebuah kornunitas Kristen yang bersifat unik. Kelompok pendatang yang masih berbahasa Jawa mesti menyesuaikan diri dengan situasi baru yang serba sulit; menyesuaikan diri juga dengan kelompok Beta­wi yang berbahasa Melayu dan terdiri atas gado-gado pelbagai kebudayaan dan keturunan.

5)     

 

6)    Jateng

(a) Jogya

(b) Magelang

Kutipan dari Sejarah Gereja Paroki Santo Yusup Gedangan:

Pada tahun 1862 sudah ada Jesuit (Yohannes F van der Hagen, SJ) yang ditempatkan bertugas di Ambarawa dan Yogyakarta. Tahun 1865 stasi kedua dipisahkan dari Semarang. Berdirilah Gereja Yogyakarta dengan wilayah Yogyakarta, Kedu, Bagelen, Banyumas.

SEJARAH GEREJA
PAROKI SANTO IGNATIUS MAGELANG

Tanggal-tanggal yang menengarai awal sejarah Gereja St. Ignatius Ma¬gelang, adalah tanggal 10 September 1865, ketika terjadi pembaptisan atas Yoseph (4 th.) dan Sanisa (1 th.) putra Joannis Kumarurung dan Waivar, yang bertempat tinggal di Ambarawa. Data tersebut tertulis pada Buku Permandian I. Buku Permandian tersebut merupakan kutipan dari Buku Permandian Paroki St. Petrus Kidul Loji, Yogyakarta, yang wilayah pelayanannya meliputi Magelang.
Setelah jumlah umat Katolik semakin meningkat, ada pemikiran untuk meningkatkan penggembalaan. Tanggal 30 Mei 1889, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke surga, Rm. F. Vogel SJ datang dan mulai mene¬tap di Magelang. Pada awalnya beliau tinggal di Hotel Looze yang berada di se¬belah timur Aloon-aloon Kota Magelang.
2 Januari 1900, tujuh Suster Fransiskanes (OSF) mulai tinggal dan ber¬karya di Magelang.
15 Juli 1900, dibelilah sebidang tanah dengan bangunannya, yang diper¬gunakan sebagai tempat ibadat. Ada upaya untuk membangun Gereja pada awal Maret 1899, namun Rm. F. Vogel harus mendampingi para serdadu dalam pepe¬rangan di Lombok, pembangunan Gereja tersebut ditunda. Barulah pada 31 Juli 1899 di bawah terpaan derasnya hujan dilakukan upacara peletakan batu perta¬ma pembangunan Gereja. 22 Agustus 1900 Gereja mulai dipergunakan untuk pe¬rayaan Ekaristi. Pemberkatan gedung Gereja secara sangat meriah dilaksanakan pada tanggal 30 September 1900 dalam Misa Konselebrasi yang dipimpin oleh Mgr. Luypen dari Batavia. Romo Paroki Magelang pada waktu itu adalah Rm. Heuvel SJ. Beliau menggantikan Rm. F. Vogel SJ yang pulang ke negeri Belanda karena alasan kesehatan.
Perkembangan baru terjadi ketika orang pribumi mulai membuka diri ter¬hadap panggilan Tuhan. 27 Juni 1913 Margareta Soewini (14 th.) anak pak Amad dan Ibu Sanah menerima sakramen permandian. Kemudian diikuti oleh Bp. Marta wiardja dan ibu Vic. Amini yang membaptiskan bayinya, Maria Moerjati.
Tanggal 15 September 1923 ada 12 orang dipermandikan oleh Rm. B. Hagdoorn SJ. Perkembangan umat yang terjadi dari tahun ke tahun memunculkan pemikir¬an untuk memperluas bangunan gereja. Maka bertepatan dengan Pesta Maria diangkat ke surga, 15 Agustus 1926 dimulailah perluasan gedung gereja dengan menambah dua sayap selebar 3,5 meter ke kiri dan ke kanan.
Perang Asia Timur Raya yang dikobarkan oleh Jepang membawa dampak negatif bagi kehidupan Gereja, termasuk di Magelang. Banyak Romo dimasukkan kamp interniran. Pelayanan bagi umat tersendat. Beberpa paroki yang romonya diinternir, kembali dilayani dari Magelang, misalnya Temanggung dan Rowo¬seneng. Setelah Jepang menyerah dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya, situasi Gereja masih memprihatinkan. 30 Oktober 1945 tentara Inggris dengan pasukan Gurkha datang dan menduduki gedung Susteran dan memperguna¬kannya sebagai markas. Keesokan harinya, 1 November 1945, drama berdarah menimpa keluarga Pastorang St. Ignatius Magelang. Lima Romo, dua Frater, satu Bruder dan dua pemuda diculik oleh sekelompok pemuda. Dengan dasar tuduhan telah terjadi penembakan yang berasal dari halaman Pastoran, mereka dijatuhi hukuman mati oleh kelompok pemuda tersebut. Mereka dibunuh di Giriloyo magelang, dan dimakamkan dalam latu lubang. Tanggal 4 Agustus 1950 jenazah mereka dipindah¬kan dan dimakamkan kembali di Kerkop Muntilan, bersama dengan Rm. Sanjaya Pr dan Fr. H. Bouwens SJ.
Tahun 1952 Suster-suster CB (Carolus Borromeus) datang dan mem¬benahi Susteran. 1 Juli 1953 sekolah-sekolah Susteran dibuka kembali.
Kehidupan umat semakin mantap dengan munculnya berbagai kelompok MC (Maria Congregatio) untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan muda-mudi. MKI (Muda Katolik Indonesia), AMKRI (Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), Partai Katolik dan Wanita Ka¬tolik Republik Indonesia.
1 Agustus 1962, Gereja St. Ignatius Magelang diperbesar, tetapi macet. Baru pada tanggal 1 Juni 1963 pembangunan dilanjutkan kembali. Ibadat dilak¬sanakan di Gedung Mandala. Dalam rangka pembangunan ini dibentuk suatu tim khusus untuk mengusahakan bangku dan perabot Gereja. Jerih payah umat akhirnya terwujud ketika pada tanggal 24 Desember 1965, pada jam 16.30 Gereja yang beru diberkati. Sebelum Gereja diberkati, pada tanggal 3 September 1965 terjadilah suatu peristiwa yang pantas dicatat: tokoh-tokoh umat yang menjadi tangan kanan Rama dalam melayani umat, diberi wadah khusus yang disebut Dewan Paroki Gaya Baru.

Suasana panas menjelang pecahnya G 30 S PKI ditandai dengan sikap saling curiga antar golongan politik dalam masyarakat. Dalam suasana ini terjalin¬lah hubungan persaudaraan dan kerjasama antara pemuda Kauman dengan AMKRI Magelang. Gedung AMKRI menjadi Posko bersama.
Pertumbuhan dan perkembangan umat cukup meyakinkan. Maka diada¬kan¬lah kursus katekis selama 3 bulan. Pelayanan pendidikan juga ditingkatkan dengan didirikannya sekolah-sekolah yang dikelola Suster-suster SPM di Dekil, Magelang Utara. Perkembangan Gereja juga ditandai dengan lahirnya Paroki Santa Maria Fatima Magelang, berdasarkan Surat Keputusan KAS No. 1302/B/I/a /71 tertanggal 1 Oktober 1971, yang wilayahnya meliputi Kelurahan Wates, Potrobangsan, Kramat. Kedungsari dan Stasi Pakis, Ngablak, Grabag dan Secang.

Pelayangan-pelayanan dari umat untuk umat juga semakin meningkat, sesuai bidang-bidang hidup menggereja: Pewartaan, Liturgi, persekutuan dan pelayanan. Pengkaderan dan pemberdayaan umat terus diupayakan dengan Kursus PIA, KGCAB (Kursus Guru Calon Baptis). Bina Liturgi Umta, pengem¬bangan CU, Kopdit. dll.
Pembagian Paroki dalam 7 Wilayah diupayakan demi perwujudan pen¬dewasaan dan kedewasaan iman umat. Ke-7 Wilayah tersebut adalan Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo dan Cacaban.
Munculnya Kelurahan-kelurahan baru pada tahun 1983 diikuti Gereja dengan pengembangan wilayah Paroki menjadi 13 Wilayah: Margareta, Sanjaya (kemu¬dian diganti menjadi Monika) di Kelurahan Magelang; Carolus, Cornelius di Kelu¬rahan Cacaban; Katharina di Kelurahan Kemirirejo; Yohanes di Kelurahan Jurangombo; Maria di Kelurahan Magersari, Theodorus di Kelurahan Tidar; Rafa¬el, Robertus di Kelurahan Rejowinangun; Paulus di Kelurahan Panjang; Grego¬rius, Giovani di Kelurahan Gelangan. Ketiga belas wilayah tersebut dibagi lagi dalam 36 Lingkungan.
Di samping itu masih terdapat kelompok umat di lereng Gunung Sum¬bing, yaitu di Kaliangkrik (meliputi Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran dan Salam¬an), di Dampit (Kecamatan Windusari) dan Kacetan (Kecamatan Kaliangkrik).
Perkembangan fisik ditandai dengan dibangunnya gedung pertemuan Panti Bina Bakti, Gua Maria Kencana, renovasi gedung pertemuan Mandala (1992-1993). Menjelang ulang tahun Gereja yang ke-100 pada tahun 2000 dilak¬sanakan rehab Gereja dan seluruh komplek Pastoran St. Ignatius Magelang, dan penggantian sound-system Gereja pada tahun 2005.
Gereja St. Ignatius Magelang terus hadir, mewujudkan perutusannya bersama umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan menekuni bidang-bidang hidup menggereja dengan semangat Santo Ignatius: Ad Mamorem Dei Gloriam: supaya Tuhan semakin dimuliakan.

3)JATIM

SEJARAHPAROKI SANTO CORNELIUSMADIUNAWAL MULAFranciscus XaveriusMisi Katolik di Nusantara berawal ketika Franciscus Xaverius menginjakkan kakinya di Bumi Ambon pada bulan Mei 1546. Itulah awal karya misi di Bumi Nusantara. Tetapi perkembangan misi tidak berjalan mulus, karena mendapatkan tekanan dari VOC yang pada waktu itu berkuasa di Nusantara. Banyak imam-imam Katolik yang pada waktu itu berkebangsaan Portugis diusir dari Nusantara. Kuasa Tuhan tidaklah berhenti, ketika VOC bangkrut tahun 1799 misi Katolik mulai berjalan lagi. Kebebasan beragama mulai diakui oleh pemerintah Belanda dan itu membawa dampak yang baik di tanah misi. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia.Selanjutnya pada tanggal 4 April 1808, dua orang Iman dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Dan yang menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr. Karya misi terus berlanjut dan menyebar sampai ke daerah Yogyakarta. Pada tahun 1825-1830 seorang Pastor bernama Scholtes mengadakan perjalanan inspeksi sampai ke Sulawesi dan Maluku kemudian melaporkan hasil penyelidikannya kepada Paus. Berdasarkan laporan itu Paus menganggap sudah tiba waktunya untuk membantu dan meningkatkan Misi Katolik di Indonesia menjadi Vicariat (perwakilan) pada tanggal 29 Maret 1841. Lalu Mgr. Jacob Croaff, Pr dikirim sebagai Vicariatus Apostolik yang pertama. Pada tahun 1848 dia digantikan oleh Mgr.Petrus Maria Francken, SJ. Di bawah pimpinannya, misi ini mendapat kemajuan. Dari pulau-pulau yang jauh letaknya berdatangan permintaan dari umat Katolik yang hidupnya terpencil. Pada tanggal 2 Agustus 1859, berdasarkan surat keputusan pemerintah Belanda berdirilah stasi baru di Ambarawa, yang meliputi wilayah Salatiga, Banyubiru, Surakarta dan Madiun. Wilayah Madiun meliputi Pacitan, Ngawi, Ponorogo dan Magetan. Itulah awal dari perjalanan Katolik di Madiun.TAPAK-TAPAK KATOLIK DI MADIUNPastor Cornelis Stiphout, SJ
Pada tahun 1897 Madiun secara resmi berubah menjadi Stasi dan tepatnya tanggal 28 Juli 1897 Pastor Cornelis Stiphout, SJ yang sebelumnya menjabat sebagai Pastor Pembantu di Magelang dipindah ke Madiun dan menjadi Pastor Stasi Madiun yang pertama. Wilayah kerja Stasi Madiun meliputi Karesidenan Madiun dan Kediri, yang meliputi daerah Kertosono, Nganjuk, Tulungagung dan Bilitar. Pada tahun itu pula Pastoran mulai dibangun, dan berdiri megah sampai saat ini. Barulah pada tanggal 12 Maret 1899 Gereja Katolik di Madiun dibangun, yang letaknya di sebelah barat Pastoran yang sekarang di pakai sebagai Aula Bernardus. Dari surat Pastor Cornelius Stiphout, SJ pada tanggal 26 Maret 1899 dipermandikan 27 anak, dan menambah jumlah umat Katolik di Madiun, yang pada waktu itu hanya berjumlah 400 orang.Pastoran 1897Akhir Juni 1904 Pastor Stasi di Madiun adalah Romo BG. Schweitz, SJ. Dan tahun itu adalah awal dimana Misa diiringi oleh alat musik berupa Harmonium. Suster-suster Ursulin mulai berkarya di Madiun pada tahun 1908 yaitu ketika beberapa suster dari Surabaya membuka Sekolah Dasar Eropa di Madiun. dan pada tahun 1914 diserai rumah Yatim Piatu untuk Puteri yang sejak tahun 1908 dikelola oleh Romo BG. Schweitz, SJ. Dan Karyanya terus berlanjut sampai pada awal Juli 1925 mulai membangun sebuah Panti Asuhan, Sekolah SD dan TK Eropa, Sekolah SD Jawa (HIS) dan TK Jawa di sekitar Gereja, sampai sekarang.Het Madionsche Koor 1906Tanggal 15 Februari 1908 daerah kerja imam-imam Lazaris di Prefektur Apostolik Surabaya dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia. Pada tahun 1923 Kongregasi penyebaran imam menyerahkan sebagian daerah Misi Jawa Timur ke Misi Lasaris, yang berpusat di Surabaya.. Pada tahun 1928 daerah Misi Surabaya di jadikan Prefektur Apostolik Surabaya, dan membawahi beberapa stasi yaitu Mojokerto, Kediri, Blitar, Cepu dan Madiun, dan imam-imam Lazaris (CM) mengambil alih pengembalaan dari imam-imam Jesuit di wilayah Karesidenan Madiun. Pastor Lasaris pertama yang bekerja di Madiun adalah Romo Martinus Hermanus Kock, CM, pada tanggal 2 Januari 1928.

Pada tahun 1929 perkumpulan Wanita Santa Melania membuka SD Santa Melania di Jalan Borobudur yang dikhususkan untuk siswa putri. Romo Piet Van Goethem, CM selanjutnya membuka SD di Kepatihan, Pilangbangu, Tempursari, Klegen dan Sukosari. Pada tahun 1934 para Bruder Santo Aloysius datang di Madiun dan menyelenggarakan ELS di Jalan Wilis No. 02 (Sekarang Jl. A Yani), dan HIS pertama terletak di tempat dimana Gereja Santo Cornelius sekarang berdiri. Selanjutnya HIS pindah ke Wilhelmina Straat 70 (Jalan Diponegoro), sekarang di kenal dengan SDK Santo Yusuf. Ny. A.V Rhijn ditugaskan untuk membuka SD Santa Maria di Jalan Klenteng 75 (Jalan Cokroaminoto), khusus untuk putri kebangsaan Tionghoa. Sekarang sekolah ini di bawah pengelolaan Yayasan Yohanes Gabriel sejak tahun 1947.

Umat Katolik di Madiun semakin bertambah, beberapa organisasi rohani seperti Wanita Katolik, Katolik Wandowo, Pangrukti Loyo, Kepandua, Palupi Darma membutuhkan sebuah tempat untuk berkumpul, maka pada tahun 1934 dibangun Gedung Katholiek Sociale Bond yang berfungsi sebagai tempat untuk pertemuan. Gedung tersebut kini menjadi Balai Paroki. Gereja yang di bangun pada tahun 1899 sudah tidak muat lagi menampung umat, maka dimulailah pembangunan Gereja yang baru pada tahun 1937 yang bisa menampung 600 umat. Tetapi sebelumnya Gedung yang sekarang dipakai sebagai Balai Paroki, pernah dijadikan Gedung Gereja. Kemudian pada tanggal 19 Juni 1938 diadakan pemberkatan Gereja baru oleh Mgr. Th. Backere, CM, Prefek Apostolik Surabaya, dengan nama pelindung Santo Cornelius, Martir Gereja yang pertama.

Pada tanggal 21 Juli 1940, Ign. Josef Soedjono Dwidjosoesastro, CM putra dari Madiun di tahbiskan menjadi Imam dan baru kembali tahun 1946. Cerita berawal sekitar tahun 1923 atas anjuran Seorang Kepala Sekolah, seorang anak lulusan SD Jalan Jawa 16 disarankan untuk masuk Sekolah Guru di Muntilan. Perkembangan umat Katolik bertambah banyak, sehingga mengharuskan dibangun sebuah Kapel di Magetan pada tahun 1941, yang letaknya di Jalan Suprapto No 1 Magetan.

MASA PERANG DUNIA KE II

Gereja Santo Cornelius

Langkah-langkah kehidupan Katolik di Bumi Nusantara kembali terhalang, setelah dulu VOC kini pemerintah Penjajah Jepang yang berkuasa menghambat Roda kehidupan Katolik. Semua tokoh-tokoh Katolik, Imam, Bruder dan Suster di Penjara. Fasilitas gereja di ambil alih untuk kepentingan Tentara Jepang. Gereja pada waktu itu di jadikan Kantor Polisi Jepang, dan Gereja harus pindah ke salah satu Gudang di Jalan Biliton no. 24 (sekarang Gedung SMA Negri 2). Pastoran harus pindah ke Jalan Pahlawan (sekarang Gedung Bank Mandiri), selanjutnya pindah lagi ke sudut Jalan A Yani (sekarang rumah Dinas Komandan Korem). Para Bruder pada waktu itu meninggalkan Madiun. Begitu juga Susteran juga harus dikosongkan. Para suster pindah ke Rumah Sakit darurat di Josenan, hanya semalam, selanjutnya pindah ke Jalan Klenteng no 75 dan di barak-barak belakang Rumah Sakit Umum, Jalan Bali. Walaupun para Romo dibawa ke kamp tahanan di Bandung, dan para Suster dibawa ke kamp di Semarang, tetapi roda kehidupan Katolik di Madiun tidak berhenti total. Di Gereja darurat Jalan Biliton, setiap Minggu selalu diadakan Ibadat dan selalu penuh diikuti umat walaupun tanpa Imam. Sebulan sekali beberapa Romo secara bergantian mengunjungi umat di Madiun, di antaranya adalah Rm. Ag. Dwidjosoesanto, Pr, Rm. Yoh, Padmoseputro, Pr. Rm. Danuwidjojo, Pr. Kadang di dampingi oleh calon Iman asal Madiun yaitu R. Soewidji yang berasal dari Jalan Wuni 2. Dengan begitu roda kehidupan Katolik di Madiun tidak berhenti total, pelajaran Agama untuk pelajar masih berjalan, Baptisan, Komuni Pertama dan Perkawinan masih berjalan. Perjuangan dengan tulus dilakukan oleh tokoh-tokoh dan umat Katolik di Madiun dalam suasana tekanan Penguasa saat itu. Jasa perjuangan Mere Gabriel, OSU yang dibantu oleh seorang pemudi yang bernama Olly sangatlah berharga. Melalui kasihnya mereka berjalan kaki untuk mengunjungi beberapa umat yang membutuhkan pertolongannya.

Walaupun pada waktu itu sekolah-sekolah Katolik ditutup tetapi beberapa guru memberanikan diri membuka sekolah yang di beri nama SD Bruderan di Jalan H.A Salim 19 (sekarang SMP Negeri 2). Dari sekolah itu tercatat panggilan Imamat yaitu C. Soebagyo Reksosubroto dari Winongo, dua tercatat panggilan sebagai suster Ursulin. Pada masa itu pula tercatat beberapa panggilan diantaranya adalah A. Siswandi dari SD Negeri Jalan Jawa 16, Karyosoemarto dari Winongo, dan RM. J Soetiarso (J. Tondowidjojo) dari Ngawi.

Belum lama gereja menempati Gedung di Jalan Biliton diharuskan pindah ke Gereja Kristen di Jalan Jawa, sedangkan umat Kristen di Jalan Jawa harus bergabung di gereja Kristen Jawi di Jalan Panglima Sudirman. Untuk menghindari kesulitan maka gereja pindah ke Jalan Jawa 52 tempat kediaman suster Ursulin, yang sekarang Komplek Gereja Kristen GPIB. Kejadian itu tidaklah berlangsung lama, setelah Jepang kalah perang, pengurus Gereja di panggil oleh Penguasa Jepang dan secara resmi semua aset dan bangunan gedung-gedung Gereja, Pastoran, Balai Paroki, Susteran dan Bruderan di kembalikan. Pada waktu itu gedung susteran masih digunakan TRI (Tentara Republik Indonesia) dan susteran pindah ke gedung Bruderan di Jalan Wilis 2 (Jl. A. Yani).

MASA KEMERDEKAAN

Sepekan setelah Indonesia Merdeka, Rm. Piet Van Goethem, CM kembali dari Kamp Tahan di Bandung, selanjutnya di susul oleh Rm. G. Smets, CM. Karya kerasulan dimulai lagi, Rm. Piet Van Goethem, CM menugaskan beberapa guru untuk membuka kembali sekolah mulai dari TK, SD dan SMP di Komplek Susteran yang tidak ditempati oleh TRI. Gereja mulai ditata kembali, domba-domba mulai hidup dengan tenteram di samping gembalanya. Pada tanggal 3 Oktober 1949 Romo Ign. Dwidjojosoesastra, CM menjadi Romo Kepala di Madiun dan dibantu oleh Romo W. Janssen, CM, pada tanggal 18 Pebruari 1949. Pada tanggal 10 Mei 1950 Romo H. Windrich, Pr menjadi Romo pembantu di Madiun sampai tanggal 10 Mei 1954. Pada tanggal 13 Desember 1950 Romo J.H. Raets, CM memperkuat tanaga imam di Madiun sampai tanggal 10 Mei 1954. Pada masa ini, tepatnya pada tanggal 10 Mei 1953, istilah “PAROKI” baru diperkenalkan oleh Romo J..H. Raets, CM.

Ursilin 1933

Berdasarkan usulan dan perjuangan dari para tokoh-tokoh Katolik pada waktu itu, maka pada tanggal 15 September 1950 dibuka Sekolah Guru Bagian Atas (SGA). Dan Sejak tahun 1955 SGA berubah menjadi SGA Santo Bernardus di bawah Yayasan Biarawati Ursulin, dan pada tanggal 1 April 1958 diserahkan ke Yayasan Taruna Bakti. Pada tanggal 1 Mei 1952 Romo H.J Passchier, CM dan suster perawat J.M Smit membuka sebuah Poliklinik di suatu ruang kelas di SD Santa Maria. Poliklinik semakin berkembang, kemudian didirikan sebuah Yayasan untuk memgurusinya yaitu Yayasan Panti Bagia. Yayasan ini mempunyai rumah bersalin di Jalan Biliton 15. Poliklinik yang ada di SD Santa Maria dipindah di Jalan Klenteng 111, dibangun juga Poliklinik Imaculata di daerah Selo Kanigoro.

Dalam masa kemerdekaan, karya Katolik juga ditunjukkan lewat keikutsertaan Warga Katolik dalam membangun Negeri ini, tercatat dalam sejarah pada tahun 1950 s.d 1956 wakil-wakil dari Partai Katolik duduk di Dewan Perwakilan Daerah, diantaranya adalah R. Marsidi, Tjiptosoehardjo, Djoko Hardjosoemarto dan Stans Soeharto. Selangkah demi selangkah kehidupan Katolik di Madiun mulai berkembang pesat, dari tahun ke tahun karya-karya Katolik mulai bertambah. Pada 1952 Persatuan Guru Katolik berdiri di Madiun, dan dipimpin oleh Stans Soeharto. Pada tahun 1953 Legio Marie didirikan oleh Romo H.J. Passchier, CM. Pada tahun 1955 Asrama Don Bosco telah berdiri dan di bawah pengawasan Romo A. Van Rijnsoever, CM kemudian dilanjutkan oleh Romo M. Van Driel, CM.

Pada tahun 1959, B I Ilmu Mendidik yang didirikan di Kediri pindah Ke Madiun. Itulah awal dari didirikan Sekolah Katolik tingkat Akademis di Madiun. Pada tahun itu dirintis pendidikan Katekis yang dirangkai dengan Ilmu Pendidikan yang dibina oleh Romo P. Janssen, CM. Kemudian pada tanggal 1 September 1959 didirikan sebuah Akademi di Madiun oleh Romo P. Janssen, CM, yang bernama Akademi Kateketik Indonesia di belakang Pastoran Jalan A. Yani 03 Madiun. Lembaga ini berkembang dan sekarang menjadi STKIP Widya Yuwana.

Pada tanggal 16 September 1960 Mgr. Alibrandi berkunjung ke Madiun bersama tiga biarawati Missionaris Claris, yaitu Madre Guadalupe Alvarado, Madre Virginia Celia del Divino Verbo dan Madre Maria Martha. Selanjutnya Yayasan Panti Bagia disererahkan kepada Missionaris Claris. Pada bulan itu juga, tepatnya tanggal 20 September 1960, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Widya Mandala didirikan di Madiun, yang pertama kali bertempat di Jalan A. Yani 1 & 7 Madiun. Selanjutnya pada tanggal 31 Desember 1991 berubah menjadi Universitas Widya Mandala yang sekarang bertempat di Jalan Manggis 15-17 Madiun.

Rm. P. Janssen, CM

Pada tahun 1961 Rm. P. Janssen, CM mendirikan Stasi di Caruban.

Pada tanggal 14 April 1964, SMP Persiapan Negeri di Jenangan diserahkan secara resmi kepada Misi, dan kemudian Kasno berserta teman-temannya ditugaskan sebagai tenaga Pengajar. Beliau adalah salah satu katekis pertama yang dibimbing oleh Rm. P. Janssen, CM. Untuk melengkapi karya pelayanan kesehatan, pada tahun 1964 didirikan SSV (Serikat Sosial Vincentius) di Madiun. Karya Kesehatan ini merupakan kelanjutan dari apa yang dirintis oleh Poliklinik Santa Melania pada jaman Romo C. Klemers, CM.

Pebruari 1965, Romo A.J Wignyapranata, CM ditunjuk sebagai Romo Pembantu di Madiun. Pada masa jabatannya beliau membuka Stasi Karangrejo. Kemudian pada tanggal 18 Pebruari 1966, stasi Mojomanis dibuka oleh V. Soeronto (mbah Kung) dan Suyitno dari ALMA.

Romo Carlo del Gobbo, CM, pada tanggal 1 Oktober 1967 menjadi Romo Kepala di Madiun, dan sejak tahun itu Pastor-pastor Itali mulai memegang daerah Karesidenan Madiun. Dan sejak itu pula daerah Madiun masuk menjadi Provinsi Roma, Italia. Penyerahan Paroki dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Mgr. J.A.M. Klooster, CM. Pada tanggal 20 Mei 1967, V. Soeronto (mbah Kung) bersama Seorang Lurah, mendirikan Stasi Kwadungan, yang kemudian pada masa Jabatan Romo Sebastian Fornasari, CM, stasi ini dijadikan satu dengan Stasi Mojomanis.

Bulan Pebruari 1968, Romo Carlo del Gobbo, CM mendirikan sebuah Pemancar Radio Amatir. Stasiun Radio pertama kali menggunakan salah satu kamar di Pastoran (Sekarang kantor Paroki). Lalu pada bulan Oktober 1968 pemancar tersebut pindah ke Jalan Klenteng 111. Nama Pemancar Radio tersebut adalah Radio Gabriel.

MASA TAHUN 70-An

Pada tahun 1970, Paroki Santo Cornelius Madiun mendapat seorang Katekis yaitu A.H Hutahaean BA, kemudian diganti oleh Pieter Noerawar, BA yang dibantu oleh F. Kamarri, BA. Kemudia pada tahun 1977 diganti oleh A.J. Ngadiono, BA. Pada tanggal 3 Oktober 1970, Kapel Jurug Ponorogo berdiri. Pada tahun ini pula Majalah Charitas terbit, dengan staf redaksi Soehadmadji, E. Jam Rewv, Paul Permadi, Felix Poerwono dan St. Hariyono. Pada tahun 1971, Bruder Michael, Bruder Vianney dan Bruder Dimas berkarya membantu Paroki dan majalah Charitas. Selain itu ada juga Sinulingga, SH, Drs. Yusuf Gunawan dan dr. H. Probokoesoemo tidak pernah absen dalam membantu umat dan majalah Charitas.

Wilayah Paroki Santo Cornelius Madiun pernah dibagi menjadi dua bagian yaitu Utara dan Selatan pada tahun 1972, tetapi kemudian dipersatukan kembali. Pada masa ini dibentuk Panitia pembuatan Gereja OIKUMENE di Maospati. Magetan yang mula-mula adalah wilayah Stasi dari Paroki Santo Cornelius, pada tanggal 25 Januari 1972 secara resmi membentuk Paroki baru. Dengan demikian perkembangan umat Katolik di Wilayah Madiun boleh dikatakan cepat.

Pada tahun 1974. LAKRISMA dibentuk dan diketuai oleh Suster Alice OSU. Pada tangal 20 Pebruari 1975, DRS. J Wardijo diagkat oleh Keuskupan Surabaya menjadi Diakon Awam dan ditahbiskan oleh Mgr. J. Klooster, CM di Surabaya. Akhir tahun 1975 gedung Gereja dipugar untuk kedua kalinya dan dibangun pula Gedung Remaja di Komplek SMEA Santo Bonaventura Jalan P. Sudirman 83B Madiun. Gedung tersebut digunakan untuk kegiatan Muda-mudi Katolik yang disponsori oleh Katholische Jungschar Osstereich. Setelah terbit selama 7 tahun, pada akhir tahun 1977 Majalah Charitas mengakhiri karyanya.

Pada tanggal 6 Agustus 1978 diadakan Misa pertama di Gereja Santa Maria Caruban yang pada waktu itu belum selesai pembangunannya. Pada tanggal 7 Agustus 1978 dilangsungkan Musa Mulia Requiem untuk arwah Paus Paulus VI yang wafat pada tanggal 6 Agustus 1978 dini hari. Pada tanggal 15 Agustus 1978 buku Doa dan Nyanyian “PUJIAN TUHAN” terbit.

PERKEMBANGAN DEWASA INI

Dalam era ini, perkembangan umat Katolik di Paroki Santo Cornelius Madiun terus meningkat, namun tidak banyak dokumen yang mencatatnya.

Pada tanggal 27 September 1982 diadakan perayaan pesta perak imamat delapan pastor CM yang sekaligus juga perayaan hari jadi Paroki Santo Cornelius. Acara ini diselenggarakan di halaman SMP Santo Yusuf Madiun.

Pada tahun 1981 dimulailah pemugaran kapel Santa Maria Caruban dan pada tanggal 31 Oktober 1982, Gereja Stasi Santa Maria Caruban ini diberkati dan diresmikan.

Pada Bulan Desember 1988 dimulailah pembangunan Gereja Stasi di Jenangan dan pada tanggal 2 April 1989, Gereja ini diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Dibyokaryono dan menggunakan nama pelindung Santo Vinsensius.

Gereja Mater Dei

Pada tahun 1989, Paroki Santo Cornelius mengembangkan pembinaan umat paroki dengan membagi daerah paroki di Kota Madiun menjadi 3 wilayah, yaitu Wilayah Timur, Wilayah Tengah dan Wilayah Barat. Adapun wilayah timur terdiri dari Lingkungan Mojorejo, Lingkungan Klegen, Lingkungan Rejomulyo, Lingkungan Kanigoro dan Lingkungan Santo Yusuf Klegen. Pertumbuhan umat di wilayah timur ini berkembang dengan pesat seiring dibukanya beberapa perumahan di wilayah itu. Maka sejak awal 1980-an, saat Pastor Paroki dijabat oleh Romo Louis Pandu, CM., mulai merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru. Sebagai persiapan untuk itu, maka di wilayah timur mulai menyelenggarakan kegiatan peribadatan tersendiri, khusus untuk perayaan Natal dan Paskah. Peribadatan pertama diselenggarakan pada peringatan Paskah 1989 yang dipersembahkan oleh Romo Wignyapranoto, CM. Acara ini diselenggarakan di halaman rumah bekas poliklinik Panti Bagija di ujung timur Jalan Slamet Riyadi. Yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan Rumah Ibadat Timur. Pada Bulan Juli 1991 mulai dibangun gedung gereja baru dan pada tanggal 6 April 1992 gedung gereja tersebut diresmikan oleh Walikota Madiun, Drs. Masdra M. Yasin dan diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Dibyakaryono. Adapun gedung gereja baru tersebut diberi nama MATER DEI. Seiring berjalannya waktu maka nama wilayah timur diganti menjadi wilayah Mater Dei, yang terkoordinasi dalam wilayah V dan wilayah VI di dalam Paroki Santo Cornelius. Bulan Mei 1999, status wilayah Mater Dei ditingkatkan menjadi Stasi Quasi Mater Dei. Pada tanggal 24 Desember 1999, berdasarkan Surat Keputusan Uskup Surabaya no: 997/G.113/XII/99 ditetapkan berdirinya Paroki Mater Dei Madiun, yang merupakan pemekaran dari Paroki Santo Cornelius Madiun.

Perkembangan umat di wilayah Kabupaten Madiun, mengalami peningkatan, pada tahun 1993, di Saradan mulai diadakan rumah ibadat, yang berfungsi sebagai pusat kegiatan umat. Adapun rumah ibadat ini menggunakan rumah keluarga Ibu Prihatin Partosuwito yang kemudian rumah tersebut digunakan sebagai rumah ibadat secara permanen bagi umat di Saradan. Seiring perkembangan waktu, kondisi rumah ibadat ini cukup memprihatinkan, maka pada tahun 2007 ini diadakan pemugaran rumah ibadat tersebut. Pada tanggal 22 April 2007 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulai pemugaran rumah ibadat tersebut.

Tanggal 27 November 2005 terbit edisi perdana “Menu Cornelius”. Adapun tujuan terbitnya newsletter ini adalah sebagai sarana komunikasi pastoral umat Paroki Santo Cornelius Madiun.

Gua Maria Santo Cornelius Madiun

Tanggal 27 November 2006, Gua Maria yang berada di Halaman selatan gereja diresmikan dan diberkati oleh Administrator Keuskupan Surabaya, Romo Yulius Haryanto, CM.

 

 

  1. 1.     Frame tiga  :Luar Pulau Sumatra dan Jawa

1)    Bali

Sejarah Gereja Katolik di Bali

FOTO: Para bocah Katolik Bali sedang misa di Gereja Tuka. Mereka merupakan orang Katolik generasi keempat sampai kelima.
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 
Kedatangan agama Katolik di Bali mula-mula banyak mendapat cobaan dan kesulitan. Semua tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tapi pelan, namun dengan penyertaan Tuhan, semua itu bisa dilalui.
Bali, yang kini terkenal di seluruh dunia karena kebudayaan dan agama Hindu dengan segala keunikannya, sejak dahulu sudah menunjukkan adanya kesediaan untuk menerima masuknya agama Katolik. Satu dokumen yang mendukung hal ini adalah sepucuk surat di atas daun lontar yang ditunjukkan kepada orang-orang Portugis di Malaka pada tahun 1635. Dalam surat itu raja Klungkung mewakili raja-raja Bali menulis:
“Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang datang ke pelabuhan ini untuk berdagang. Saya pun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen.”
 
 
 
 
 
 

 

 
Undangan Raja Klungkung itu mendapat sambutan dari Gereja Katolik Portugis dengan diutusnya dua misionaris Yesuit ke Klungkung Bali. Kedua pastor tersebut adalah Pater Mamul Carvalho SJ dan Pater Azemado SJ dari Malaka.
Namun, tidak adanya bukti-bukti yang menyatakan adanya hasil dari kedua pastor tersebut. Apalagi dengan adanya kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan Bali agar bebas dari pengaruh agama Kristen melalui Pasal 177 yang terkenal itu. Maka, makin sulit bagi agama Katolik masuk ke Pulau Bali.
Kemudian, atas permohonan Vilkaris Apostolik Betawi, Gubernur Jendral Hindia-Belanda memberi izin dalam tahun 1891 bagi dua misionaris masuk di Buleleng. Surat gubernur jenderal itu yang antara lain berbunyi:
“Dari pihak saya tidak ada keberatan bila satu atau dua misionaris mulai menetap di Buleleng…… dengan maksud mempelajari bahasa Bali, dan sesudah itu menetap di Buleleng untuk mulai karya misi di antara penduduk setempat.”
Selanjutnya, pada 1912 Kepulauan Sunda Kecil diserahkan oleh Yesuit ke tangan imam-imam Societas Verbi Divini (SVD). Tahun 1913 wilayah Sunda kecil ditingkatkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik yang meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.
Pada bulan Desember 1914 Mgr. Noyen yang menjabat Prefek Apostolik Sunda Kecil mengadakan kunjungan keagamaan ke Bali, setelah dengan susah payah mendapat izin dari pemerintah Belanda. Di samping izin untuk mengadakan kunjungan keagamaan, bahkan dalam tahun 1920 pemerintah mengabulkan permohonan Mgr. Noyen SVD untuk mendirikan sebuah sekolah Katolik di Bali. Namun, sayang sekali, kesempatan emas ini tidak dapat dimanfaatkan karena kekurangan tenaga.
Ternyata kesempatan tersebut tidak mudah diperoleh lagi, walaupun pengganti Mgr. Noyen yang meninggal tahun 1922, yakni Mgr. Verstralen, mengajukan permohonan untuk mendirikan HIS di Bali tidak mendapatkan persetujuan dalam Volkstraad.
Harapan muali muncul kembali sewaktu Mgr. Leven menjabat Vikarius Apostolik mengantikan Mgr. Verstralen yang meninggal karena kecelakaan tahun 1932.
Dan harapan itu pun menjadi kenyataan dalam tahun 1935, ketika Pater Van Der Heijden menjadi pastor di Mataram, Lombok.
Pater Van Der Heijden mendapatkan pula tugas khusus untuk mengadakan kunjungan rohani ke Bali dan Sumbawa. Dan sejak itu mulailah titik awal masuknya Gereja Katolik ke Bali. Tanggal 14 Mei 1935 Van Der Heijden menetap di Mataram, dan 9 Juni 1935 Gereja Katolik pertama didirikan dan diresmikan di kota Mataram. Tanggal ini dipandang sebagai hari masuknya karya Gereja Katolik di Pulau Lombok.
Empat bulan kemudian, persisnya 11 September 1935, Pater Van Der Heijden mengantar Pater J. Kersten SVD ke Denpasar dan mulai menetap di Denpasar. Dan hari tersebut dipandang sebagai tonggak perkembangan agama Katolik di Bali.

Tempat yang menjadi ladang pertama adalah Banjar Tuka, Dalung. Pada November 1935, dua pemuda Bali dari Banjar Tuka, yakni I Made Bronong (Pan Regig) dan I Wayan Diblug (Pan Rosa), datang ke Denpasar dan bertemu Pater Kersten SVD.

Dan Roh Kudus mulai berkarya dalm diri kedua pemuda tersebut ketika keduanya dipermandikan secara Katolik pada Hari Pentakosta, 6 Juni 1936. Saat yang penting itu disusul pula dengan peetakan batu pertama Gereja Katolik Tuka, tepatnya pada 12 Juli 1936 oleh Pastor J. Kersten SVD.

Acara ini dihadiri oleh Pater Van Der Heijden dan Pater Conrad SVD. Dan ternyata benih iman yang baru tumbuh ini dengan cepat berkembang menyusul pula dua tokoh lain di samping I Made Bronong dan I Wayan Diblug, yakni Pan Maria dan I Made Tangkeng (Pan Paulus).

Melalui semangat iman pertama ini, Roh Kudus berkarya dengan hasil yang besar. Dengan datangnya seorang pastor terkenal dalam tahun 1936, Pater Simon Buis SVD, Injil lebih disebarkan lagi, khususnya di pedalaman Pulau Bali. Dengan semangat berkorban dan cinta kasih, Pater Simon Buis mencari orang-orang Bali dan membawa mereka ke kandang Tuka.

Tahun 1938, sebanyak 128 orang dipermandikan di Tuka, Padangtwang, dan Gumbrih. Bulan Februari 1938, Pastor Ade Boer memperkuat barisan imam untuk melayani umat yang semakin banyak.

Pastor Simon Buis pada tanggal 15 September 1940 berhasil mengadakan eksodus dari Tuka dan sekitarnya ke ujung Barat pulau Bali dan membuka desa ditengah-tengah hutan yang kini terkenal sebagai desa Palasari. Dalam eksodus tersebut pastor yang keras kemauannya, dengan penuh semangat membawa 18 keluarga dari Tuka dan 6 keluarga dari Gumbrih untuk mulai tempat pemukiman yang baru itu.
Tantangan pertama mulai menghadang, yakni terasa kurangnya gembala, lebih-lebih pada masa pendudukan Jepang. Para misionaris Katolik ditahan oleh Jepang. Dalam masa yang sulit ini, para tokoh telah membuktikan diri sebagai tenaga-tenaga katekis yang penuh semangat memberikan kesaksian tentang kabar gembira yang telah meraka terima. Mereka benar-benar menjadi tokoh yang tangguh dalam mengisi kekosongan tenaga iman dalam masa pendudukan Jepang.
Di Tuka dan sekitarnya, tokoh awam yang dikenal adalah Pan Regig, Pan Rosa, Pan Paulus, Pan Maria, dan Anak Agung Nyoman Geledig dari Tangeb. Dan Palasari maju dengan pesat berkat bantuan seorang rasul awam wanita, Ibu Ayu, yang berkarya di bidang medis.
Kabar gembira yang dibawa oleh para misionaris perintis dan misionaris sesudahnya diwujudkan melalui karya sosial terhadap orang miskin, karya pengobatan terhadap orang sakit, karya pendidikan, dan karya sosial lain seperti asrama dan panti asuhan baik untuk putra maupun putri.
Melalui karya-karya tersebut, secara nyata kabar gembira disampaikan kepada masyarakat Bali, khususnya yang hidup di pedesaan. Maka, pada 1939 Gereja Gumbrih diresmikan, disusul Gereja Padangtawang, September 1940. Kemudian Gereja Tangeb pada 8 Desember 1940, dan Gereja Palasari pada 19 Juni 1941.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, misi Katolik di Bali yang kocar-kacir karena kehilangan gembalanya mulai dibenahi lagi. Puji Tuhan, perkembangan memperlihatkan garis yang menanjak. Tanggal 14 Juli 1950 daerah Bali dan Lombok dipisahkan dari Sunda Kecil, dan menjadi Prefektur Apostolik di bawah pimpinan Mgr. Hubertus Hermens SVD.
Dalam masa jabatan beliau, karya-karya karikatif dan edukatif berkembang pesat. Hal ini membawa perkembangan baru dalam penambahan lapangan kerja dan kebutuhan akan tenaga kerja yang banyak.
Babak baru bagi karya para suster pun mulai, dan datanglah para Suster Fransiskanes dari Semarang tahun 1956 ke Desa Palasari dan Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) di Ampenan tahun 1952. Kelak di kemudian hari disusul pula oleh suster-suster kongregasi lain seperti CB, RVM, CIJ, dan ALMA.
Di balik itu semua, suatu hal yang dapat dikatakan istimewa bagi gereja yang baru berkembang ini adalah didirikannya sebuah SMP Seminari dalam tahun 1953 di Tangeb di bawah pimpinan Pater Norbert Shadeg SVD. Atas dasar beberapa pertimbangan, Seminari Rendah ini pada 1956 dipindahkan ke Tuka.

Melalui banyak perjuangan, seminari ini tetap hidup dan berkembang dan ternyata membuahkan hasil mulai tahun 1969. Tiga belas tahun kemudian, pastor asli Bali yang pertama berhasil ditahbiskan. Yakni, Patrr Servatius Nyoman Subhaga SVD pada 9 Juli 1969 di Gereja Paroki Roh Kudus Babakan.

Benih panggilan imam, suster, bruder, ternyata tumbuh sangat subur di Pulau Bali. Dalam jangka waktu relatif singkat sejak seminari didirikan, yakni selama 29 tahun, telah ditahbiskan 19 imam dari pemuda asal Bali.

Kemudian, 65 gadis asli Pulau Dewata ini menghayati hidup sebagai suster dan 13 pemuda sebagai bruder. Dibandingkan dengan jumlah umat di Keuskupan Denpasar yang berjumlah sekitar 13.000 orang, maka persentase panggilan imam, suster, dan bruder di Bali cukup tinggi.

Satu langkah maju lagi dalam perkembangan Gereja Katolik Bali adalah dengan ditingkatkannya Prefektur Apostolik Bali menjadi Keuskupan Denpasar tanggal 3 Januari 1961. Bapa Uskup pertama Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden SVD ditahbiskan menjadi uskup di Gereja Palasari pada 3 Oktober 1961.

Pada masa ini karya Gereja Katolik Bali sudah meliputi bidang pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah menengah. Dalam bidang medis melaui Poliklinik, BKIA, dan rumah sakit yang tersebar di Tuka, Tangeb, Gumbrih, Palasari, Denpasar, dan Singaraja. Di Lombok terdapat Rumah Sakit Santo Antonius di Ampenan.

Asrama atau panti asuhan dan pemberian bea siswa bagi anak-anak yang disekolahkan di luar Bali secara khusus digalakkan oleh Mgr. Hubertus Hermens SVD. Ternyata, karya-karya kreatif ini telah banyak membawa orang menjadi pengikut Kristus.

 

Setelah masa-masa indah yang mengembirakan, masa panen yang banyak, maka datanglah saat-saat sulit bagi perkembangan Gereja Katolik di Bali. Masalah kuburan yang ada kaitannya dengan hukum adat di Bali ternyata sempat membuat terbendungnya perkembangan umat di beberapa pedesaan, khususnya di diaspora-diaspora pedesaan di mana iman baru mulai ditaburkan.

Dengan adanya kenyataan bahwa kuburan adalah milik Pura Dalem serta banyak penyungsung (umat Hindu) yang berhak dikuburkan di kuburan umum tersebut, maka umat yang bukan Hindu tidak boleh dikuburkan di situ. Hal ini cukup membawa pengaruh negatif bagi umat Katolik di pedesaan dan membuat para katekumen (calon baptisan)dan banyak simpatisan Katolik mundur. Mereka takut tidak mendapat kuburan ketika meninggal dunia.

Maklum, masalah kuburan bagi orang Bali, merupakan hal ang luar biasa pentingnya. Karena itu, perkara tersebut telah mempengaruhi, bahkan menghambat perkembangan umat Katolik, khususnya di pedesaan di mana hukum adat sangat kuat. Jenazah orang Katolik akhirnya dikuburkan di halaman rumah orang Katolik. Hal mana menurut pandangan umat Hindu saat itu sebagai “najis”.

Maka, akhirnya ditemukan jalan keluar berupa pemisahan kuburan bagi umat beragama Kristen.

Hal lain yang boleh dikata sebagai mengurangi penganut Katolik di Pulau Bali adalah program transmigrasi besar-besaran umat Katolik ke Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Ini sejalan dengan kebijakan rezim Orde Baru untuk mengurangi kepadatan penduduk dan pemerataan penduduk di Indonesia.

Ternyata, banyak umat Katolik dan Protestan di beberapa kawasan Bali berbondong-bondong bertransmigrasi ke luar pulau. Diperkirakan, jumlah transmigran Katolik yang keluar Bali pada saat itu 5.000 jiwa. Mereka terpencar di daerah transmigran dan sangat memerlukan perawatan rohani mengingat iman Katolik mereka belum mantap.

Akhirnya, dikirimlah seorang pastor ke daerah transmigrasi tersebut dan secara khusus memperhatikan kebutuhan rohani para transmigran Katolik di Sulawesi.

Namun, di tengah-tengah kesulitan dan rintangan, Gereja Katolik sampai sekarang tetap tegak di Pulau Bali. Kita percaya Roh Kudus secara nyata tetap berkarya sehingga stasi-stasi baru tetap dapat dirintis. Paroki juga semakin berkembang walaupun tidak lagi sepesat seperti masa kejayaan dulu.

 

FOTO: Misa di Gereja Katolik Kuta, Bali. Turisnya gaul abis deh!

 
Keuskupan Denpasar punya 14 paroki induk dan stasi yang tersebar di berbagai wilayah di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB):
1. Denpasar
2. Tuka
3. Gumbrih/Slabih
4. Tangeb, Abianbase, Cemagi dan Sading
5. Singaraja
6. Palasari dan (candikuning) Gilimanuk
7. Tabanan dan Piling
8. Babakan dan Kelibul
9. Negara
10. Tuban
11. Amlapura
12. Mataram
13. Ampenan
14. Gianyar
Perkembangan jumlah umat Katolik di Bali sejak 1836 sampai 1983:
1936 – 1937: 145 orang
1937 – 1938: 246 orang
1938 – 1939: 323 orang
1939 – 1940: 389 orang
1940 – 1941: 470 orang
1946 – 1947: 1.266 orang
1947 – 1948: 1.237 orang
1948 – 1949: 1.304 orang
1979 : 10.415 orang
1980 : 10.851 orang
1981 : 11.337 orang
1982 : 12.066 orang
1984 : 12.140 orang
1985 : 13.016 orang
1986 : 13.565 orang
 
 
 
 

 

 

the end @ copyright Dr Iwan suwandy 2011

4 responses to “Pameran Koleksi Sejarah Gereja Katolik Indonesia1800-1942(The Indonesian Catholic Historic Collections Exhibition)

  1. After exploring a handful of the blog posts on
    your blog, I really like your way of writing a blog.
    I saved as a favorite it to my bookmark website list and will be checking back
    soon. Please check out my web site too and let me know
    how you feel.

  2. For most recent information you have to pay a visit world-wide-web and on world-wide-web I found
    this site as a finest website for hottest updates.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s