The Indonesian Kroncong Music Historic collections(Sejarah Musik kroncong Indonesia)

WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

                          SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

                                                AT DR IWAN CYBERMUSEUM

                                          DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

_____________________________________________________________________

SPACE UNTUK IKLAN SPONSOR

_____________________________________________________________________

 *ill 001

                      *ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

                                THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

                           MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

                 DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

                                        PENDIRI DAN PENEMU IDE

                                                     THE FOUNDER

                                            Dr IWAN SUWANDY, MHA

                                                         

    BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

  

                         WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

                     SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

                       Please Enter

                                      

                 DMRC Showroom

Driwan Music record Cybermuseum

SHOWCASE :

 Koleksi Sejarah Piring Hitam lagu Kroncong

(The Indonesian’s Kroncong Music record History) 

Frame One : Introduction

1. I have starting build the collections of  Indonesian music record label  since study in high school at Padang city West Sumatra in 1960.

2. Until this day in 2011 , I cannot found the complete informations about the Indonesian’s  music record History, that is why I have made reasech about this topic in order to give the young generations about the development of music gramophone technology in the world since found by Mr Thomas Alfa Edison and when first arrived in Indonesia during The Dutch East colionial Era.

3. I will show my collections with information from that very rare and amizing historic collections, very lucky I had found vintage book of gramophone and also many info fram google explorations,especially from wikipedia ,for that info thanks very much.

4. Before I had done The exhibtion which divide into two parts, first before World War II and after WWII.

5.The earliest music record in 20Th Century produced by Addison inc with very thick plate almost 4 times then now circa 1 cm,then became half centimer and latest 0,2 cm more thin,please look the comperative picture below:

First the mechanic gramophone look the promotion picture of His Mater Voice company below:

and later electric gramophone, still used gramophone needle look the needle promotion label below :

6.In Indonesia during Colonial time , the music record plate sold by the chinese marchant still the same until thee arliest Indonesia Independt era 1945-1970,many at Pasar Baru Market Batavia (Jakarta) please look the trader mark below :

the record above produces by His master Vociec Inc with Java Nraditional Gamelan saledro with wayang orang saritomo with tittle  Romo Dokto, also Gending Java music record.

7a. Before Indonesian Independent during Dutch East Indie(Ned.Indie) colonial-masa penjajahan  hindia Belanda) the earliest Indonesian record(rekaman piring hitam) had found by dr Iwan were Germany BEKA Record,look the picture below

  and the singer was Mis Riboeet with Tionghoa etnic song and arabic ehnic song,more info look at my collections in the frame one. and aslo His Master Voice Record of Java traditional music gamelan salendro wayang orang,

7b.I had found Some Indonesia Album record era 1945-1960 ,look below

1)Irama record made in India with song Djali Djali

Indonesia’s recording studios have increasingly diversified out of the template established by the country’s two largest recording companies, P.N. Lokananta (the national recording company of Indonesia) and Hidup Baru.

In contrast to the 1950s and 1960s, many studios today are no longer owned solely by producers, the Indonesia record before lokanata, produced by Irama Resords and made in India studio processing above , like MCG record by dutch Leow cooperations

also in Indonesia (Irama indonesian music co ltd) look below compare with above :

1) Irama Record

The other earliest Indonesian records company :

2) Bali Record Music Cooperation

3) Mesra Record Inc

4)Gedung Musik Nusantara Record Inc

 5) Lokananta which not only music and po song also the Javanese Wayang ketoprak like Djaka Tingkir look below:

The Christian Songs, and aslo the special album were made by lokanata record for the present to the Bandung asia Africa conference in 1955.(More type still in reasrech)

8.The Indonesia edition Rolling stones Magazine, in 2007 had publish special edition about 150 Indonesian Best music and singers  and from the table I had arragane a table beetween 1950-1970 look below :

Majallah Rolling stones Indonesia telah menerbitkan edisi khusus ke 32 Desember 2007 15o album musik dan penyayi Indonesia terbaik 1950-2007, daftra ini disususn olehkontributor Majalah Rolling Stone Indonesia, yaitu Denny MR (wartawan senior), Denny Sakrie (pengamat musik senior dan kolektor musik), David Tarigan (pendiri Aksara Records, kolektor musik) dan Theodore KS (pengamat musik senior). Daftar yang mereka susun dan terbitkan tersebut menuai berbagai macam kritik dan kontroversi dari para penggemar musik di Indonesia, dan dari daftar tersebut saya telah menyusun daftar musik dan penyanyi legendaris Indonesia 1950-1970 dibawah ini :

 PENYANYI LEGENDARIS INDONESIA 1950-1990

1.ERA 1950-1960

47 1957 Papaja Mangga Pisang Jambu (kompilasi) Irama Records

 

2.ERA 1960-1970

18 1960 Lagu Gumarang Jang Terkenal Orkes Gumarang Mesra Records
32 1961 Semalam Di Malaya Saiful Bahri Irama Records
63 1962 Bubi Chen And His Fabulous 5 Bubi Chen Irama
62 1963 Eka Sapta Eka Sapta Bali Records
         
62 1963 Eka Sapta Eka Sapta Bali Records
37 1964 Oslan Husein Oslan Husein Irama Records
132 1964 Teluk Bayur Ernie Djohan Remaco
20 1965 Jang Pertama Dara Puspita Mesra Records
52 1966 Doa Ibu Titiek Puspa Irama
         
6 1967 To The So Called The Guilties Koes Bersaudara Mesra Records
         
4 1969 Dheg Dheg Plas Koes Plus Melody
21 1970 Koes Plus Volume 2 Koes Plus Dimitra
25 1969 Si Djampang Benjamin S. Melody

9. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang penyanyi legendaris sebelum dan sesudah perang dunia kedua  pada masa perang kemerdekaan, tetapi saya telah menemukan beberapa koleksi pada era ini yang dapat dijadikan acuan bagi penelitian lebih lanjut.

Until this dayI  still couldnot foud the info about the research of Indonesian legendary music and singers during era Indonesian independent war 1945-1950, but I had found some collections during this era and can be the basic info for more future research .

10.Koleksi musik Imndonesia didalam Driwan Music record cybermuseum dipajang dalam beberapa showcase , mulai dari Kroncong Music, Minang Music, Tapanuli Music, Java etnic music, Molucca music , Tionghoa etnic music etc.Let’s look at the first showcace below :Kroncong Music. The Kroncong music between 1960-1970
Aryati,Bandar Jakarta,Bengawan Solo,Bintang Surabaya,Bunga Anggrek,Jali-jali,Jauh dimata,Jembatan Merah,Kroncong Beloni,Kicir-kicir,Kisah Cinta,Kroncong Kemayoran
lagu ini dinyanyikan oleh sandra sanger lihat piringhitamnya dibawah ini(belum pernah dilaporkan dari produksi Rocket Record) :

Mengapa Kau Menangis,Mimpi Sedih,Onde -onde,Putih-putih Kembang Melati dan
Sangkuriang
Sansarno
Telaga Biru

11.dari eksplorasi google dietmukan beberapa info tentang keroncong,tetapi masih banyak loleksi yang saya miliki tidak ada infonya ,harap bantuan dari para kolektor senior agar lebih lengkap informasi yang dimiliki music rceord cybermuseum ini.

12.koleksi  ini tidak lengkap dan masih banyak kekurangannya sehingga koreksi dan saran serta tambahan informasi masih sangat diharapkan, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

This collections were not complte and still found many wrong info that is why still need corections and sugestions from all Indonesian music record collectors, for more info and coreections thank you verymuch.

13.I hope all the  collectors all over the world ,especially Indonesian Music Records plates ‘s will Collectors honor my copyright with donnot copy or tag this exhibitons without my permisssion,thanks.

Jakarta February 2011

Dr Iwan suwandy @ copyright 2011

 

Frame two :

The Indonesian Kroncong Music History pre world war two (Before 1942.)

1.KRONCONG STAMBOEL

Miss Riboet Oreon, Germany BEKA RECORDS ,song Tionghoa ethnic song and Arabic ethnic song Jasidi with kroncong Stamboel style.

The Information of The first Indonesian singer record Miss Riboet from google exploration.

1) Kisah singkat Miss Riboet Orion

a)versi satu

a) Miss Riboet Orion ‘s short story(Kisah singkat Miss Riboet Orion)

(a)The First Version(versi satu)

 

   

Iklan Dardanella.(Dardanella operate label promotion)

Two biggest native Indonesian operates were deveoloped in 1925 and 1926 were Miss Riboet Orion and Dardanella (Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella).

Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

The Orion Operete Inc founder at Batavia(now jakarta) by Tio Tek Djiwn yunior, the primadona is Niss Riboet (later Married wir Mr Tio) and Mr Tio also played the swords,specialized as the robery of the women in the opera of Juanita veza written by Antoinette de Vega, after that this opretee becaem famous ad Miss Riboet Orion(Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

This Operete becaem more famous after came in The Journalist Njoo Cheong Seng and his wife Fifi Young ,during this time tje operate created a  imaginative story, then Nyo became the Tios best man which had the duty the story ,his succes with Saijah, R,soemiati,and Singapore at night(Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.)

Pertunjukan Dardanella

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara.

Dardanella founded by A.Piedro ,the russian man with name Willy Kilimanof. In 1929 starting show at Batavia based on the storyfrom best film like Robinhood,the amsk of Zorro,three musketters, the Black pirates, the Thieve of Baghdad,Sheik of Arabia,the graaf of Monte Cristo,vero, and the rose pf Yesterday. But at the second show Dardanella shown the Indonesia native story like Annie van Mendoet,Lily van tjikampek,the Rose of Tjikemabng based on the Indonesian Stories (Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 5cool. Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

At the same time ,a journalis Andjar asmara also join the Dardanella and he bacame the Bes man of Peidro lika njo , he writthe the story Dr Samsi, Haida,Tjang,perantaian 88 dan Si bongkok like the huncthman of Notredam, Dardanella had the big five actors, Tan Tjeng Bok,Miss Dja, Mis Riboet II, Ferry Kock and Astaman (Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

The rivalrity between Miss Riboet Oreon and dardanella at Bavaia begun in 1931, starting about the name of Miss Riboet which Mr Tio sue to the court and win,   dardanela must used the name Miss riboet II  (Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

At least Miss Riboet Orion off in 1934 and gave the authority to Dardanella , and their writer Njoo Cheong Seng and fifi Young moved to dardanella(Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.)

Then dardanella became famous with the new actors like Ratna asmara, Bachtiar Effendy,Fify young and an american from guam Henry L Duarte (Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.)

In 1935, Dardanella madse the tour to Siam,Burma. Ceylon,India,tibet ,the tour was called The Orient’s Tour with native dancer like wayang golek, Pencak Minangkabau,wayang golek,bali jagger, papua dancer and Ambon song (Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

Tour de Orient qwere the last tour of Dardanella before the world war two, then dismish(Tour d’Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir…)

I have the tax fee of Padang city gouverment about the dardanella and Dwi Dja tours, during japanese occupation 1943-1844, I think the Japanesi Millitary occupation gouverment, used this show for political campaign(Dr iwan S)

(b)versi dua (from david ,Haji Maji web blog)

MISS RIBOET (INDONESIA)

Miss Riboet was the first huge star of recording in Indonesia and the Malay peninsula.  She was the lead actress of the Orion theatrical company, a tooneel troupe which was founded in 1925 in Batavia (Jakarta). In fact, she was so popular that by the time recording engineer Max Birkhahan made this recording in 1926 she already had her own series of “Miss Riboet Records.”

The label declares this a “Stamboel” recording, a western influenced genre of song that evolved out of the Indonesian theater known as ”komedie stamboel.”
Komedie stamboel was a form of musical theater that started in the city of Surabaya in 1891 and quickly became a craze throughout Indonesia. At first, it featured plays of arabesque fantasy (Stamboel = Istanbul), mainly tales from the Arabian Nights, with Ali Baba being a favorite standard. The plays were sung and included musical numbers as in a western musical, using mostly western instruments. They were also influenced by Parsi theater. There is an excellent book by Matthew Isaac Cohen that gives an extremely detailed account of the origin of Komedie Stamboel.

But by the mid-20s, when Miss Riboet began recording, komedie stamboel had already given way to the Malay theatrical form called bangsawan, and eventually tooneel, a more realistic form.
Apparently komedie stamboel had developed a somewhat unsavory reputation that led in part to it’s demise, some troupe leaders were accused of doubling as pimps for the actresses!
The music was often labeled as “Stamboel” on record, regardless of whether it was a stamboel, fox trot, tango, krontjong or traditional piece, such as this Javanese poetical form called Pangkoer Pelaoet .

Beka B. 15099-II

(c)versi dua

http://img.photobucket.com/albums/v188/missriboet/missdjadanmissriboet1932.jpg*courtecy Mr Schlompe

Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella. Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan  seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara. Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 58). Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang  sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya  (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.

Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.

Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan  mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

Tour d’Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir…

b)teater Miss Riboet’s Oreon (1925)

c)It is easy to guess the excitement caused by the upcoming event in the island.And yet, life went on as usual: Miss Riboet – a popular actress and singer backthen – performing on stage garnering applause and favourable reviews in the island’s journals, cigarette and beauty cream advertisements, the automobile andthe new man – The Sportsman – coaxed out of the tennis and golf worlds by theworld of fashion…putting Singapore on the movie map with his filmBring’em Back Alive. Not to mention Wheeler and Woolsey, a pair of British comedians, who, in their day, were more popular than Laurel and Hardy. Much excitement was caused whenthe much-loved Charlie Chaplin and his brother arrived in Singapore in 1932 on their way to the Dutch Indies. Certainly, the Hollywood connection created the image of ‘Cesspool of the East’ for Singapore. Singapore was the object of fascination for movie-makers, writers, travelers, real Kings and Queens or theones populating the screens of the newest art.c)pada 25 November 1950 bersama satu rombongan bintang Indonesia termasuk Fifi Young (pelakon filem Zoebaida) dan Miss Riboet Rawit. datang di singapore.(new info from Mr Azmosa Singapore that one of Dardanella Singer and comedian still stayed  at singapore until now ,her name Momo Latiff or Momo Makarim and still alive age 88 years old, please read mr Azoma comment in Indonesian Languguae :

Salam, Pak Iwan.

Saya berasal dari Singapura dan sangat kagum dengan koleksi Pak Iwan, terutama sekali tentang sejarah kumpulan seni seperti Miss Riboet Orion dan Dardanella. Kedua-dua kumpulan ini memang cukup popular di Singapura dan Malaya pada tahun 1930an. Salah satu ahli kumpulan Dardanella telah menetap di Singapura dan menjadi seorang seniwati yang terkenal di sisni sejak tahun 194oan . Beliau adalah Momo Latiff yang berasal dari Batavia dan kini berusia 88 tahun.

Momo Latif telah menjadi salah seorang penari Bali Dancers dalam kumpulan Dardanella. Selepas Dardanella berpecah pada pertengahan tahun 1930an, beliau telah memasuki kumpulan bangsawan yg di ketuai oleh Raden Sudiro. Pada satu persembahan yang di adakan di Melaka, Raden telah memberitahu kepada Momo bahawa Syarikat filem Shaw Brothers di Singapura ingin mengambil Momo sebagai heroine dalam filem yg berjudul Topeng Shaitan di terbitkan pada tahun 1939. Momo kemudian telah merakamkan suara pada tahun 1941 bersama HMV dengan nyanyian lagu2 Bunga Sakura, Pohon Beringin dan Pulau Bali.

Azmosa
Singapura- thanks Mr azoma from dr Iwan S.)

The Short story of Mis Riboet Husband (KISAH SUAMI MISS RIBOET) TIO TEK HONG

Mr Tion was the richman,he had the Record label produnctions and shop(TIO TEK HONG SUMAI MISS RIBOET ADALAH SEORANG SAUDAGAR KAYA, ia memiliki firma penjualan gramohone and piring hitam.)

Beside that he ad produced yhe batavia Pictures Postcard,look some sample illustration below (Selain itu ia juga memproduksi kartupos bergambar kota batavia,lihat beberapa koleksi karya Tio Tek Hong dan illustrasi dari majallah Kiekies van Java folk and landen dibawah ini);

.
 
 
 

 
 

TTH_1045_800w512h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden (Batavia). No. 1045

Topeng is a style or genre of masked dance and theatre, with music : West Java. We see here a Betawi (Batavia, now Jakarta) group. A search for the expression will turn up wikipedia and other sources; this is pretty good : Henry Spiller, “Topeng Betawi: The Sounds of Bodies Moving”.   Asian Theatre Journal 16:2 (1999) : 260-267   (accessed 28 January 09)

.
 

TTH_1046_800w510h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden (Batavia). No. 1046

Woman may be same as in preceding Topeng card.
 
 

photo, no source information. Another view of Molenvliet Canal, Batavia here; more can be found by searching in the Dutch Atlas of Mutual Heritage (AMH).
 

TTH_1114_800w507h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden, “Special Depot of Java postcards.” No. 1114. Obverse bears message to a Mr. C. Inouye, c/o Mitsui Bussan, Osaka, Japan. Postage stamp (and cancellation date) missing.
 
 

Miss Riboet and her arabic song Jasidi

Chassidic Song (jasidi), with video recorded at the Western Wall in Jerusalem, and … 5:27 Add to Added to queue In Jerusalem songArabic by badermansour.

Lagu Jasidi berasal dari Arab dan seirng dinyanyikan brthubungan dengan dinding barat dari Jerusalem,salah satunyayang terkenal oleh penyanyi Bader mansour, berdasarkan fakta piringan hitam diatas,ternyata Miss riboet telah menyanyikan lagu yang populer saat itu.

Miss Riboet and her Tionghoa ethnic song Djihong(no info about this song)

Who have the Miss Riboet music record with Kroncong stamboel song please comment and add the info via comment,thanks you very much.

I have just found information about Mr Riboet Orion Kroncong song produced by BEKA record from Google exploration :

BEKA RECORD
B 15652, Miss Riboet, Krontjong Dardanella, 1940-an
B 15761, Herlaut, Beka Krontjong, 1940-an
27850, De Indie Krontjong, 1940-an

Please help me with more info,thanks verymuch

Frame Two:Kroncong Music  era WW II (Perang dunia Kedua 1942-1945)Orkes Kroncong Empat sekawan Djakrta With Ismael marzuki.

Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa. Saat itu Ma’ing mulai memasuki periode menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai”, “Kembang Rampai dari Bali” dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.
***
Pada periode 1943-1944, Ma’ing menciptakan lagu yang mulai mengarah pada lagu-lagu perjuangan, antara lain “Rayuan Pulau Kelapa”, “Bisikan Tanah Air”, “Gagah Perwira”, dan “Indonesia Tanah Pusaka”. Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ma’ing sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Malah pada 1945 lahir lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda”.
Setelah Perang Dunia II, ciptaan Ma’ing terus mengalir, antara lain “Jauh di Mata di Hati Jangan” (1947) dan “Halo-halo Bandung” (1948). Ketika itu Ma’ing dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah meraka di Jakarta kena serempet peluru mortir. Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ma’ing di Jakarta meninggal. Ma’ing terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Kembang-kembang yang menghiasi makam ayahnya dan telah layu, mengilhaminya untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.
Lagu-lagu ciptaan lainnya mengenai masa perjuangan yang bergaya romantis tanpa mengurangi nilai-nilai semangat perjuangan antara lain “Ke Medan Jaya”, “Sepasang Mata Bola”, “Selendang Sutra”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”. Lagu hiburan populer yang (kental) bernafaskan cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan. Misalnya syair lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”, dan “Juwita Malam”.
Lagu-lagu yang khusus mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, syairnya dibuat ringan dalam bentuk populer, tidak menggunakan bahasa Indonesia tinggi yang sulit dicerna. Simak saja syair “Oh Kopral Jono” dan “Sersan Mayorku”. Lagu-lagu ciptaannya yang berbentuk romantis murni hiburan ringan, walaupun digarap secara populer tapi bentuk syairnya berbobot seriosa. Misalnya lagu “Aryati”, “Oh Angin Sampaikan. Tahun 1950 dia masih mencipta lagu “Irian Samba” dan tahun 1957 lagu “Inikah Bahagia” — suatu lagu yang banyak memancing tandatanya dari para pengamat musik.
Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ma’ing masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair, hingga Ma’ing alias Ismail Marzuki — komponis besar Indonesia itu — menutup mata selamanya pada 25 Mei 1958.

Frame Three :

Kroncong Music .Era 1945-1950

 

A.1 Kroncong Bram Aceh(Titaley)

2.Bram Tittaley

Keroncong asli Bram Aceh

Bram Aceh atau Bram Titaley yang dijuluki “Buaya Keroncong” sejak tahun 30-an sudah mulai menyanyi. Berikut ini beberapa lagu irama keroncong oleh kakek dari Harvey Malaiholo ini dengan iringan Orkes Keroncong Senja Ayu. Pak. Fauzi silahkan nikmati suara berat oleh Bram Aceh.

  1. Kr. Tanah Airku ( Kelly Puspita, 1960)
  2. Kr. Moresko (N N, 1930)
  3. Kr. Pasar Gambir (?, 1930)
  4. Bunga Anggrek (N N, 1910)
  5. Schoon Ver Van You (N N, 1930)
  6. Salabinta (N N, 1955)
  7. Terkenang Kenang (Sariwono, 1950)
  8. Dibawah Sinar Bulan Purnama (Maladi, 1940)

 A2LAGU NASIONAL(National song)

1) RRI (Radio Republic Indonesia ) by Lokananta  March Indonesian anthem,

side 1 Proklamasi Negara Republik Indonesia(Bung Karno)-

Republic Indonesia Independent proclamationLagu Kebangsaan Indonesia Raya (W.R.Supratman)-Indonesia Anthem.Until this day I havenot found The Indonesian anthem Kroncong style,who have it please show us.

 

Year Anniversary Asia Africa Confrence memorable , lokanata national kroncong song record

a) Cover

 

Lp 2 Lagu Kroncong

1. Lagu Jembatan Merah ciptaan Gesang 2.Lagu telomojo Ciptaan Sj’ahban

3.Lagu saputangan ciptaan Gesang

4.Lagu Gema dwikora ciptaan leby.

Yang sulit ditemui saat ini adalah Lagu kroncong Bengawan solo ciptaan gesang,harap yang memilikinya berkenan merperlihatkannya kepada kita.

Lp 4: Lagu Kroncong  Djawa

1). Lagu Kuwi apo Kuwi ciptaan R.ng Tjokrowarsito

2). Lagu Jula Juli (nn)

2.Lagu Kroncong Era 1950-1960

 

1) Orkes suara Angkasa dibp R Sutedjo

lagu : Seruan terumi ciptaan saleh

2)Orkes Empat Sekawan Djakarta pimpinan S.Jahja 

side one : Lagu sampaikan salamku (nn)

1) lagu Tinggi di awan (saleh)

2)  Sampaikan salamku(nn)

Empat Sekawan

Salah satu kelompok musik yang dibentuk Ismail Marzuki di bawah naungan RRI Jakarta. Personel inti memang hanya empat orang, yaitu Saleh Soewita (gitar), Ishak (contra-bass), Jachja (biola), dan Ariston da Cruz (piano; pemusik asal Filipina yang berganti nama menjadi Arief Effendi). Contra-bass kadang-kadang dipegang oleh Sarom. Ismail sendiri bertindak sebagai pemimpin sekaligus pengaransemen musik orkes itu. Grup ini dibentuk sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, yang ditujukan untuk menurunkan suhu politik yang makin panas dan setiap saat bisa meletus menjadi pertempuran terbuka. Jam main yang diberikan oleh pihak RRI Jakarta kepada orkes Empat Sekawan sekitar 30 menit sampai 1 jam. Jam siaran mereka dua kali dalam satu pekan, biasanya setiap hari Selasa dan Rabu siang. Pada 1946, hari dan jam main Empat Sekawan tidak menentu, kadang-kadang hari Senin, Selasa, atau Rabu. Umumnya orkes ini bermain sekitar 45 menit, dan tiga kali siaran dalam satu hari; siang pukul 13.15, sore pukul 17.15, dan malam pukul 20.00. Acara musik Empat Sekawan di RRI Programa Jakarta diberi tajuk Hiboeran Pahlawan, Hiboeran Oentoek Tentara Angkatan Laoet dan Oedara RI, Hieboeran Malam Minggu, Hiboeran Petang, Penawar Rindoe, dan Alam Ria Indonesia. Selain secara berkala mengisi acara musik di studio radio, Empat Sekawan juga menyempatkan diri turun langsung ke pelbagai front. Mereka menghibur para pejuang dan masyarakat setempat yang menyukai lagu perjuangan, khususnya lagu-lagu yang diciptakan oleh personel orkes kuartet itu, termasuk Ismail Marzuki.

 

Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru.

Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

Ia sempat mendirikan orkes Empat Sekawan

2. Kroncong Aneka Warna dbp Markasan(Srimpi record Inc)

side 1 dengan lagu :

1)pak sakerah(sueb)2)kuto suroboyo(sukemi),

3)numpak sepur (j,sudarminto dkk),

4) Nyang T.H.R (noerjatian)

Side 2 :

1)Motor Uduk(Achmad &J.sudarminto),

2)Si Banci (Juwariyah T.M.),

3)Mimpi dicokot ulo(Soekemi/Achmad),

4)Nanggelo(Sueb)

3. Orkes Kroncong Tjendrawasih dbp S.Padimin(lokananta record Inc)

Song side 1 :

1)Nandur Djagung(M arif),

2)Burung Merpati(S.Padimin)

song side 2 : 

1)ditepi bengawan solo(s.Padimin-kustiati),

 2).Kroncong Mesra (sunarno-supardi achijat)

:

3.Orkes Kroncong Kemayoran dbp  M.Sagi

(Irama record Inc)

1)Irama produksi  India with song

side one : Djali Djali  (NN) singer Oje

 

side two : Mengenang Nasib ciptaaan Sukamto-St.P.Bustamil

Keroncong M.Sagi Info (google explorations)

iramaI thought that, coupled with the previous post of today, I’d post something languid and tranquil, something somewhat relaxed. So, I brought out another classic Indonesian krontjong piece from the mid-20th century, on the local Irama label. “Irama” actually means “rhythm” in English – thus the title of the piece as well as the name of the record label are explained.

I posted a krontjong tune of the same vintage, and on another independent Indonesian label (Dendang), . This one is similar – it’s the style of krontjong that I quite enjoy, featuring the walking guitar and fiddle player trading runs in between smooth vocals. Krontjong itself is a relatively new type of urban folk music, developing in Indonesian urban areas a little over 100 years ago, with Batavian, Portuguese, Malay, and even African influence. Krontjong had changed dramatically since it was first recorded ca. 1904, and when this record was released (probably the late 1940s or so). The instrumentation was bare bones at first, featuring trios and the like. I’ve heard 1920s krontjong that sounds influenced by Stamboel theater, with a slightly more operatic sound, showing further influences at work. By the 1940s, krontjong was a rage, with whole orchestras and popular singers getting into the act…yet, to me this music is not easily explained. Indonesian-Hawaiian-guitar-and-fiddle-ballads?

As for the singer and band – I’m afraid these are muddy waters. I am mostly sure that “Moh.” stands for Mohammed, and “Kr.” stands for krontjong, but at the risk of being incorrect, I will let the original label stand as the official record

3)Jasa pemain biola M.Sagi

Awalnya dengan nama Kroncong Betawi lalu Kroncong Jakarta” … Di Jakarta saat itu … Susunan instrument seperti ini adalah berkat jasa M.Sagi seorang Violinist keroncong

also in Indonesia (Irama indonesian music co ltd) look below compare with above :

1) Dimin ,Mengenang nasib with M.Sagi Keroncong Orchestra ,productions Irama Record

FRAME FOUR :

THE INDONESIA KRONCONG HISTORY FROM GOOGLE EXPLORATION FOR COMPERATIVE STUDY:

Musik keroncong lahir di Indonesia melalui proses perjalanan sejarahnya yang panjang dan penuh keunikan dilihat dari unsur pembentuknya yang terdiri dari berbagai komponen budaya, etnik, dan bahasa. Apabila kita menarik benang merah tentang asal mula lahirnya musik keroncong di Indonesia, kita akan dihadapkan pada misteri sejarah yang menyangkut sejarah dunia. Sejarah tentang pendudukan Islam di wilayah selatan semenanjung Iberia dari abad kelima hingga abad ketigabelas. Latar belakang sejarah yang menjelaskan mengapa bangsa Eropa pada abad keenambelas begitu gigih mengerahkan segala kemampuan navigasi dan kekuatan militernya untuk memperoleh rempah-rempah dari Timur. Sejarah tentang kedatangan bangsa Portugis dan bangsa Belanda pada abad ketujuhbelas untuk memperebutkan hegemoni di Asia Tenggara melalui monopoli perdagangan di Malaka, Sunda Kelapa, dan kepulauan Maluku. Sejarah tentang perbudakan, dan kehidupan para musisi jalanan selama masa Hindia Belanda. Sejarah pembentukan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki warisan budaya yang tidak terhingga banyaknya termasuk musik keroncong. Beruntunglah bahwa pada akhirnya musik keroncong diterima dan menjadi milik bangsa Indonesia, suatu kenyataan yang telah memperoleh pengakuan dunia internasional.

Saat ini ketika kita berbicara tentang keroncong, kita dihadapkan pada sebuah terminologi yang mengandung pengertian yang luas. Secara etimologis, keroncong berasal dari nama sebuah alat musik sejenis gitar berukuran kecil berdawai empat yang lazimnya terbuat dari nylon, sehingga apabila dimainkan menghasilkan bunyi crong, bukan jreng seperti halnya bunyi dawai logam. Istilah keroncong diyakini berasal dari para perajin waditra di kampung Tugu yang mewarisi keahlian seni kriya waditra gitar. Gitar itu dinamakan keroncong sebagai adaptasi dari gitar cavaquinho yang dibawa oleh para pelaut Portugis berlayar mengelilingi dunia. Ketika tiba di kepulauan Madeira gitar itu dinamakan braguinha, karena berasal dari wilayah Braga di Portugal. Di Brazil penduduk menamakannya machete yang digunakan untuk mengiringi tari-tarian. Di kepulauan Karibia gitar itu dinamakan cuatro, karena berdawai empat. Ketika tiba di Polynesia samudera Pasifik, penduduk pribumi menyebutnya sebagai ukelele, atau jari yang melompat, karena cara memainkannya tidak dipetik melainkan digerus. Menarik untuk disimak bahwa gitar itu memperoleh popularitas sebagai ukulele dengan paten Hawaii, sedangkan sebutan ukulele sebagai keroncong telah diakui sebagai paten Indonesia menurut Salwa El-Shawan Castelo-Branco dalam kamus The Grove’s Dictionary of Music and Musicians, “Portugal” (2002:197).

Dengan demikian ukulele dapat dikatakan menempati posisi kunci dalam setiap permainan musik keroncong, sehingga orkestrasinya harus memiliki warna crong yang berfungsi sebagai rhythmic riff (motif berulang-ulang). Selain itu, ukulele yang tersebar dan digunakan dalam berbagai jenis ensambel memberi petunjuk bahwa warna crong juga turut membahana di manapun ukulele itu dimainkan. Kita di Indonesia juga sepakat bahwa tidak ada musik apapun yang boleh tampil menyandang label keroncong tanpa memiliki keunikan warna crong dari permainan ukulele. Secara universal diyakini bahwa tiada keroncong tanpa crong, dan melalui penyebaran ukulele tidak mustahil musik keroncong dalam berbagai versi juga dapat ditemukan di berbagai pelosok. Saat ini warna crong masih dapat ditemukan antara lain di kepulauan Halmahera dalam ensambel bastidor yang generik, di Malaka dalam ensambel dondang sayang, di Negeri Belanda dalam ensambel toegoenezen, di Hawaii dalam ensambel hawaiian guitar, di Suriname dengan krontjong ensambelnya, selain di Indonesia dalam ensambel orkes keroncong.

Apabila keroncong sebagai waditra telah mendunia, maka keroncong sebagai ensambel musik, keroncong sebagai bentuk lagu, dan keroncong sebagai gaya permainan gitar merupakan ciri khas Indonesia, yang dipengaruhi oleh gagrak gamelan Jawa. Orkestrasi ensambel keroncong lazimnya menampilkan biola atau flute sebagai pembawa alur melodi, gitar sebagai pengiring dan pembawa alur kontra-melodi, ukulele sebagai time-beater, dan cello petik (pizzicato) sebagai rhythm tune-percussion yang terkadang dipertebal dengan bass petik.

Seperti halnya pengendang menjadi pemimpin kelompok gamelan Jawa, maka pemain cello dengan pola gedugannya yang khas menurut Kusbini menjadi conductor dalam orkes keroncong. Gedugan itu memiliki fungsi ganda sebagai bass dan perkusi, yang menyebabkan orkes keroncong tidak membutuhkan dan menghindari penggunaan drum-set dalam orkestrasinya. Dari sini dapat kita saksikan betapa kuatnya dominasi waditra berdawai dalam menampilkan karakter chordophonic sebuah orkes keroncong secara total dari peranannya sebagai pembawa melodi hingga ritme dan harmoni.

Orkestrasi keroncong sebenarnya merupakan iringan tarian Moresco yang terdiri dari gitar dan tambourine perkusi yang berkeping logam sebagai perpaduan musik Arab-Kaukasia. Tambourine juga digunakan dalam orkes keroncong para pemusik Indies di Batavia pada masa Hindia Belanda. Itu sebabnya muncul versi lain tentang istilah keroncong ketika tambourine tersisih dari orkes keroncong akibat pengaruh gamelan Jawa, sehingga warna kerincing logamnya tidak lagi terdengar, dan yang tinggal hanyalah warna keroncong gitarnya. Warna kerincing logam dikembalikan sebagai properti para penari Jawa yang mengenakan gelang pada kaki mereka. Saat ini meski tambourine masih terdengar di kampung Tugu, orkes keroncong di Indonesia tidak lagi menggunakannya.

Orkes keroncong komunitas Indies di Batavia  (Ilustrasi: A.Th. Manusama (1919:12a)) Orkes keroncong komunitas Indies di Batavia (Ilustrasi: A.Th. Manusama (1919:12a))

 

Pada masa Hindia Belanda, keroncong tampil sebagai ars nova, seni baru yang bersifat non-tradisi dan non-klasik Barat, seni yang digemari oleh masyarakat perkotaan. Kota-kota besar di Jawa kemudian tumbuh menjadi sentra keroncong, sejak mencapai popularitas melalui Pasar Malam di Gambir, komunitas Krokodilen di Kemajoran, hingga concours Jaar Markt di Surabaya. Keroncong ketika itu menjadi bagian dari budaya massal yang memiliki nilai komersial, sehingga ensambel keroncong bermunculan di mana-mana. Namun setelah masa kemerdekaan, terjadi revolusi musikal di seluruh dunia dengan lahirnya musik berirama rock yang digemari kaum muda. Musik berirama rock dengan cepat menyebar melalui teknologi rekaman dan menjadi musik masa kini yang menggusur popularitas musik berirama konvensional termasuk keroncong.

Secara musikologis, musik konvensional adalah musik dengan irama yang aksentuasinya jatuh pada ketukan pertama, seperti irama tarian walsa dalam tiga hitungan, atau irama marcia dalam empat hitungan. Sebaliknya irama rock memberikan nafas yang segar ketika aksentuasi itu berpindah dari ketukan pertama yang ditandai dengan hentakan stick snare-drum pada ketukan kedua di antara permainan pola ritmik bass-drum dan hi-hat cymbal. Perpindahan aksentuasi itu melahirkan karakter sinkopatik, ketergantungan yang berkelanjutan, sehingga menimbulkan sensasi psikologis dari tanya yang tidak terjawab. Tidak mengherankan apabila irama rock berhasil menarik perhatian generasi muda, dan dengan cepat menguasai kehidupan musikal secara universal.

Tidak dapat disangkal bahwa drum-set menempati posisi kunci dalam irama rock. Saat ini tidak ada musik populer dari jenis apapun yang tidak menggunakan drum-set, mulai dari kelompok band yang sederhana hingga kelompok symphonic band atau light music orchestra yang canggih. Irama rock melalui permainan drum-set telah mendunia dan menjadi basis dari semua jenis musik populer masa kini. Sejalan dengan itu popularitas musik konvensional menjadi terpinggirkan dan dianggap representasi musik masa lalu yang telah usang, yang hanya diminati oleh kaum tua saja.

Dalam hal ini keberadaan musik keroncong menghadapi dilema, karena di satu fihak popularitasnya akan semakin merosot apabila tetap mempertahankan iramanya yang konvensional, sementara di lain fihak penggunaan drum-set dalam orkestrasi keroncong akan membunuh karakteristik musiknya. Waktu dengan cepat berlalu ketika musik keroncong akhirnya beranjak dari budaya massal musik industri yang bernilai komersial memasuki budaya tradisi yang dikelompokkan sebagai musik etnik. Jenis musik seperti ini selalu rentan menghadapi ancaman kepunahan, sehingga konsep tentang pelestarian dan revitalisasi menjadi agenda utama. Beruntung bahwa modal sosial dari keroncong terletak pada dukungan sebagian masyarakat Indonesia yang menjamin bahwa musik yang telah lahir sejak berabad-abad itu tidak akan punah. Namun upaya revitalisasi perlu terus menerus dilakukan untuk tujuan apapun, termasuk tujuan rekonstruksi, tujuan go-international, atau untuk kepentingan eksperimental dan archiving.

Upaya go-international terhadap musik keroncong pernah dilakukan oleh Rudi Pirngadie melalui penampilan orkes keroncong Tetap Segar yang membawakan gagrak Keroncong-beat dalam New York World’s Fair tahun 1964. Keroncong beat merupakan konsep yang mengetengahkan irama keroncong dalam bentuk gedugan cello, rhythmic riff ukulele, dan banyu mili gitar untuk mengiringi semua jenis lagu termasuk lagu Barat. Tidak kurang penyanyi keroncong seperti M. Rivani, Rita Zahara, dan Sayekti berhasil menarik perhatian masyarakat Amerika dalam membawakan lagu Barat seperti I left my heart in San Francisco yang dikeroncongkan. Eksperimentasi Keroncong beat ternyata tidak membawa hasil disebabkan antara lain karena tidak memiliki akar budayanya yang kuat di Indonesia. Tidak mustahil bahwa kegagalan itu juga diakibatkan karakteristik iramanya yang eksotik, tidak berdaya melawan irama rock yang sensasional. Namun betapapun juga, inovasi Pirngadie telah berhasil menunjukkan posisi dan nilai tawar musik keroncong Indonesia dalam kancah internasional.

Upaya go-international lainnya dapat dilakukan melalui penyusunan kemasan orkestra untuk keroncong seperti yang dilakukan oleh RRI melalui Orkes Studio Jakarta pimpinan Isbandi dalam acara Bintang Radio Televisi jenis Keroncong. Demikian pula eksperimentasi Singgih Sanjaya melalui garapan Light Keroncong dalam format orkestra yang tetap mempertahankan pakem keroncongnya. Upaya ini lebih sesuai bagi pelestarian musik keroncong sebagai musik tradisi yang dikemas secara artistik musikal. Upaya ini lebih akademik dan terhormat dalam mengangkat keroncong sebagai repertoar Indonesia di forum internasional, lebih dari sekedar menawarkan iramanya yang generik.

Upaya go-international juga berarti mempromosikan kepada dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, melalui hak paten atau hak atas kekayaan intelektual yang diikuti dengan berbagai publikasi tentang keroncong dari para peneliti. Sejauh ini peneliti seperti Surya Brata, Paramita Abdurachman, Harmunah, Budiman BJ, dan Suka Hardjana telah banyak berperan, sementara para peneliti asing seperti Bronia Kornhauser dan Ernst Heins turut memberikan kontribusi mereka. Penelitian Philip Yampolsky menghasilkan rekaman penyanyi keroncong generik tahun 1930-an yang berbeda warna suaranya dengan penyanyi keroncong saat ini, selain selama bertahun-tahun Philip telah menaruh perhatian besar terhadap musik-musik etnik Nusantara.

Upaya go-international juga menuntut kita untuk menghargai para maestro yang telah berhasil menumbuhkembangkan musik keroncong sejak masa Hindia Belanda hingga dapat tampil saat ini sebagai salah satu mainstream musik Indonesia, seperti yang telah dirintis oleh komunitas Tugu dalam Krontjong Toegoe, Kusbini dalam Keroncong Asli, Gesang dalam Langgam Keroncong, Andjar Any dalam Langgam Jawa, serta para penyanyi yang telah turut mendukung kehidupan musik keroncong dari generasi ke generasi. Diharapkan semoga dengan semakin pesatnya pendidikan musik di Indonesia, para pemusik akademik generasi muda secara naluriah akan tergugah kepedulian mereka untuk turut menjaga pusaka yang telah diwariskan leluhur bangsa kita.

Dengan demikian upaya go-international yang sejati terhadap musik keroncong semata-mata tidak terletak pada penyebaran dan popularitas musik keroncong secara internasional, atau pada archiving sosok musiknya dalam bentuk partitur, atau berupa pergelaran orkes keroncong yang immanent, akan tetapi lebih tertuju pada sikap yang mencerminkan keinginan para pencipta, pemusik, dan peneliti keroncong Indonesia untuk berperilaku secara musikal.

Pada akhirnya kita berkewajiban secara moral untuk menjaga dan mendukung kepercayaan dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, seperti halnya fado dikenal sebagai musik Portugis, blues menjadi identitas musik negro Amerika, flamenco dari Spanyol, dan tango sebagai nyanyian rakyat Argentina, musik nasional yang bersifat kerakyatan dengan lagunya yang tidak sekedar dinyanyikan melainkan juga diekspresikan secara coração, atau dari lubuk hati yang paling dalam.

Selamatkan Musik Kroncong Kita

Membaca beberapa terbitan buletin ”Tjroeng”, nampak geliat semangat komunitas keroncong Indonesia (KKI), baik penggemar, musisi, penyanyi, dan pemerhati keroncong berkeinginan untuk menggali kembali dan melestarikan seni musik keroncong yang dirasa mulai surut pamornya. Secara jumlah KKI mungkin semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, tetapi secara prosentase mungkin menurun. Dapatkah dikatakan musik keroncong mulai surut pamorya?

Bila dibandingkan dengan keadaan tahun 70an mungkin ada benarnya. Saat itu event kegiatan musik keroncong yang disponsori oleh pemerintah atau negara dapat dikatakan padat. Diantaranya, yang belum hilang dari ingatan adalah selalu diadakan rutin setiap tahun lomba pemilihan bintang radio dari tingkat daerah (provinsi) sampai dengan tingkat nasional. Pemilihan ini disponsori (diadakan) oleh Departemen Penerangan, dan Radio Republik Indonesia (RRI) yang merupakan lembaga dibawah naungan Departemen Penerangan selalu menyiarkan acara lomba pemilihan bintang radio tsb. Pada saat itu yang dilombakan tidak hanya musik keroncong tetapi juga dari jenis seriosa dan “hiburan”, atau lebih dekenal saat ini sebagai jenis pop.

Antusias masyarakat mengikuti penyelenggaraan pemilihan bintang radio sangat besar. Terbukti acara ini yang disiakan oleh RRI sampai larut malam selalu ditunggu oleh para pendenganya. Dan musik keroncong dikalangan masyarakat pada saat itu menduduki posisi lebih tinggi, lebih populer bila dibandingkan dengan jenis musik seriosa dan hiburan. Perkembangan kondisi di masyarakat mempengaruhi pula perkembangan selera masyarakat terhadap musik yang ada. Secara alami terbentuk polarisasi selera dan apresiasi terhadap musik sekaligus mempengaruhi perkembangan musik itu sendiri. Terjadi pergeseran selera, terutama dikalangan anak usia muda (remaja) yang lebih menyenangi musik jenis hiburan atau pop. Banyak bermunculan group musik pop seperti Koes Plus, Favourit Group, D’lloyd, Pambers, Mercys dll. Selain itu, pelan tapi pasti, mulai merangkak naik popularitas musik dangdut yang pada waktu itu lebih dikenal sebagai musik “Melayu”. Bahkan dedengkot musik dangdut seperti Oma Irama pada awal karier musiknya melalui jalur musik pop, dan beberapa single lagunya sempat populer waktu itu. Keadaan sekarang, popularitas kedua jenis musik ini semakin tinggi (penggemarnya semakin banyak) jauh meninggalkan jenis musik kroncong dan seriosa.

Tidak puas dengan wadah yang disediakan oleh pemerintah sebagai ajang lomba, para musisi musik pop menyelenggarakan sendiri pemilihan bintang pop, baik ditingkat daerah maupun tingkat nasional, yang lebih dikenal dengan pemilih “Pop Singer”. Semakin banyak event musik pop diselenggarakan, sementara event untuk musik keroncong semakin sedikit bahkan tidak ada sama sekali.

Perkembangan selanjutnya, dengan dihapuskannya Departemen Penerangan dari jajaran kabinet, otomatis hilang pula kalender kegiatan lomba pemilihan bintang radio yang menyertakan musik keroncong didalamnya. Berarti hilang pula ajang untuk sosialisasi dan mempopulerkan musik keroncong dikalangan masyarakat luas.

Apakah rentetan kejadian ini pada akhirnya menurunkan pamor musik keroncong secara keseluruhan dan mulai ditinggalkan penggemarnya?

Dimata masyarakat Indonesia secara menyeluruh mungkin pamor musik keroncong turun drastis kalau tolok ukurnya adalah jumlah bilangan pengemar atau penikmat musik keroncong. Tetapi dikalangan KKI sendiri popularitas atau pamor musik keroncong tetap ada dan terjaga, hanya jumlahnya mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan penggemar musik pop atau dangdut. Penambahan jumlah penggemar juga tidak terlalu signifikan, mungkin menunggu perubahan selera seiring dengan penambahan umur para penggemar musik bukan keroncong. Kenyataannya, komunitas musik keroncong tetap ada, bahkan tidak hanya di Indonesia tetapi merambah ke negara lain dibawa oleh orang-orang Indonesia yang migrasi ke negara lain, seperti Malaysia, Suriname, Belanda dsbnya. Di negara yang disebutkan tadi, komunitas musik keroncong tetap konsisten menyenangi dan memainkan musik keroncong.

Menyenangi atau membeci suatu jenis musik atau lagu-lagu, berkaitan dengan selera, jadi sifatnya sangat subyektif, tidak dapat dipaksakan. Berjalan secara alami menuruti lingkungan dan kebiasaan yang ada. Lagu musik pop yang dibawakan oleh grop musik Peterpan atau oleh group musik Radja di Indonesia sangat digandrungi dikalangan anak remaja atau anak bau gede (ABG), tetapi mungkin lagu-lagu group tadi tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat Suriname. Masyarakat disana boleh jadi lebih mengenal artis Waljinah dengan lagu “Walang Kekeknya”. Kesimpulannya, secara global, mana yang lebih punya pamor atau lebih populer? Musik pop atau musik keroncong? Silahkan pembaca mempersepsikan sendiri untuk menjawab pertanyaan lain yang telah disebutkan diatas.

Permasalahan yang dihadapi komunitas keroncong di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya adalah bagaimana menjaga sustainable eksistensi musik keroncong. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat adanya keprihatinan dari beberapa kalangan yang menyangsikan daya tahan musik keroncong terhadap “gempuran” jenis musik lainnya, khususnya musik pop. Sebagaimana berita yang dilansir oleh situs internet antara.co.id, tanggal 19 Oktober 2008, memuat berita tentang harapan besar maestro keroncong Indonesia, ”Gesang”, meminta masyarakat penggemar musik keroncong ikut melestarikan aliran musik asli jawa ini (maksudnya keroncong) agar tetap hidup sepanjang masa. Dibalik harapan beliau menyiratkan adanya kekhawatiran bahwa musik keroncong Indonesia mulai surut pamornya. Lambat laun, jika tidak ada upaya ”nguri-uri” musik keroncong, bukan tidak mungkin nantinya akan punah ditinggalkan penggemarnya. Keadaan ini merupakan tantangan sekaligus peluang seluruh insan komunitas keroncong untuk mengembalikan kemasyhuran musik keroncong agar harapan maestro “Gesang” keroncong dapat diwujudkan.

Bagaimana upaya kita melestarikan budaya seni musik keroncong?

,Terdapat beragam jenis keroncong, ada Keroncong Asli, Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, ditambah dengan Krontjong Toegoe. Dari masing-masing jenis tadi memiliki ”rumus” atau ”pakem” sendiri-sendiri [mengenai rumus ini telah dimuat di buletin Croeng sebelumnya]. Melihat rumus atau pakemnya, musik keroncong dapat dikatagorikan sebagai musik yang serius, setara dengan musik klasik karena ada kaidah yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai musik keroncong. Disinilah letak indah dan ”adiluhungnya” musik keroncong! Jadi kalau ada sebagian warga masyarakat mengatakan bahwa musik keroncong adalah ”kampungan” atau ”jadul” itu syah-syah saja karena berbeda persepsinya, tetapi itu keliru besar! Tidak sembarang orang dan tidak banyak yang dapat mencipta dan memainkan musik “pure” keroncong dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang memiliki talenta khusus. Oleh karena itu, musik keroncong yang dimainkan tanpa mentaati kaidah-kaidah, atau menyimpang yang ada dapat dikatakan sebagai musik keroncong kontemporer atau eksperimental. Biasanya dari kalangan anak muda yang senang melakukan eksperimen sehingga lahirlah musik CongDut (keroncong Dangdut), CongRock (paduan keroncong dan rock), CongLan (paduan keroncong dan gamelan), dll. Bagaimana kita menyikapi terhadap lahirnya jenis musik tersebut

 

Sejarah Musik Indonesia

 added illustration from dr iwan music record collections

Reaksi: 

 

0

MUSIK INDONESIA. Sebuah kata yang bisa berarti musik yang asli Indonesia, tapi bisa juga bermakna dunia musik yang berkembang di Indonesia, tanpa embel-embel kata asli. Masih bisa diperdebatkan, karena sejatinya musik Indonesia terangkum dalam rentang panjang yang tentu saja banyak dipengaruhi oleh banyak warna.

Ada yang mengklaim keroncong adalah musik asli Indonesia. Padahal dalam sejarahnya, keroncong justru kental dengan aroma Portugis. Ini bisa kita temukan di daerah Tugu Jakarta Utara yang konon merupakan “awal mula” keroncong berkembang di Indonesia.

Atau gambang kromong Betawi yang diklaim musik asli Indonesia. Padahal pengaruh dari etnis tionghoa  sangatlah kental pada musik Betawi ini. Artinya, ketika kita mengklaim satu musik tertentu sebagai “asli” perlu satu penelitian panjang yang cukup valid.

Tidak banyak orang tahu bahwa Gambang Kromong, yang sempat dipopulerkan oleh Lilis Suryani di tahun 60-an

dan duet Benyamin S- Ida Royani di tahun 70-an

, adalah sebuah musik akulturatif berbagai etnis di Indonesia yang cikal bakalnya telah dirintis lebih dari dua abad lalu. Irama gambang kromong dengan tata laras Salendro tionghoa pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa Peranakan sebelum akhirnya mengalami percampuran dengan budaya Jawa, Sunda, hingga Deli, membentuk sebuah musik harmonis yang kini menjadi salah satu ciri khas Betawi.

Belum lagi kalau kita bicara soal musik industri. Korelasinya berbanding lurus dengan urusan asli atau tidak asli tadi. Siapa yang berani mengklaim pop adalah asli Indonesia? Siapa yang berani mengatakan blues adalah asli Indonesia? Padahal kalau kita telusuri, industri musik di Indonesia nyaris tak pernah lepas dari pengaruh musisi asing. Menyebut nama band-band luar seperti Deep Purple, Led Zeppelin atau Dream Theater misalnya, adalah nama-nama yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan musik di Indonesia, bahkan hingga saat ini.

Dulu, katakanlah era tahun 60-an sampai 70-an, musisi-musisi Indonesia banyak yang berkiblat pada band-band asing yang sedang berkibar, sesuai dengan trend kekinian era itu. Tidak banyak yang berkiblat kepada band-band lokal. Selain karena band-band lokal jarang [atau malah tidak pernah] mendapat kesempatan untuk merilis album yang sesuai dengan karakternya, band-band lokal ini biasanya lebih bangga kalau disebut-sebut sukses mirip dengan band-band asing. Dengan kata lain, bangga sebagai imitator.

Mengapa sejarah perkembangan musik tidak begitu akrab dengan kita? Tidak banyak musisi yang merasa perlu “belajar” tenteng perkembangan musik Indonesia. Belajar sejarah dianggap sesuatu yang membosankan dan tidak penting. Padahal, ketika kita [saya dan para musisi itu] tahu banyak tentang musik Indonesia, kita bisa menakar, seberapa jauh sebenarnya “kecepatan lari” musik Indonesia dari masa ke masa itu. Generasi sekarang, siapa yang tahu nama-nama seperti Sam Saimun, Waldjinah, Bram Titaley, atau Bing Slamet?

Hampir semua pembicaraan tentang musik Indonesia, masih berkutat pada trend kekinian semata. Kita tidak merasa perlu menengok ke belakang dan berkaca pada lika-liku musisi Indonesia masa lalu. Penulis harus “merayu” banyak pihak, untuk sekedar berdiskusi tentang rentang panjang musik Indonesia. Sangat sulit memang mencari literatur. Mungkin terlalu berlebihan kalau dibilang, seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi begitulah adanya.

Sebutlah acara seperti Pemilihan Bintang Radio era 50-an sampai rentang akhir 70-an. Acara ini menjadi barometer munculnya bintang-bintang baru di jagat musik Indonesia. Titik Puspa yang kini melegenda, adalah salah satu jebolan festival seperti ini. Dulu ada nama “jagoan” seriosa bernama Effie Tjoa. Effie adalah seorang penyanyi opera yang juga banyak mencipta kan jenis lagu seriosa. Effie kemudian berganti nama menjadi Gita Dewi. Tentu masih ada nama-nama lain yang bisa disebut, tapi coba tanyakan kepada musisi-musisi sekarang yang sedang naik daun, bisa jadi jawabannya mereka tidak tahu [atau tidak mau tahu].

Tahun 50-an memang banyak didominasi “buaya keroncong” jagoan-jagoan seriosa seperti Sam Saimun, Ade Ticoalu, Dien Yacobus, atau Andi Mulya. Atau ada nama Masnun, seorang penyanyi serba bisa yang mejadi juara nyanyi untuk kategori seriosa, hiburan dan keroncong.

INDUSTRI REKAMAN PERTAMA
Sejarah industri rekaman di Indonesia bisa berawal dari dua tempat: Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta. Lokananta milik pemerintah, dan banyak melahirkan lagu-lagu daerah, sementara Irama milik Suyoso Karsono yang akrab dipanggil Mas Yos, banyak melahirkan lagu-lagu hiburan sebutan untuk lagu pop sekarang. Nama-nama Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai Patty Sisters pernah rekaman di Irama yang awalnya hanya sebuah studio kecil di sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa rekaman itu terjadi di ujung tahun 1950-an hingga memasuki tahun 1960-an.

Menariknya, Mas Yos pernah tertarik dan kemudin merekrut band latin-Minang bernama Gumarang. Sebagai seorang pengusaha, konon Mas Yos merasa bahwa irama yang dibawakan Gumarang bukan saja mampu menyajikan lagu-lagu Minang sesuai dengan aslinya, namun juga memiliki ramuan irama Latin yang amat disukai masyarakat.

Gumarang dipengaruhi lagu-lagu Latin [seperti Melody d’Amour, Besame Mucho, Cachito, Maria Elena, dan Quizas, Quizas, Quizas] yang ketika itu sedang digemari. Oleh sebab itulah musik Latin tersebut menjadi unsur baru dalam aransemen musik Gumarang.

Pemerintah melihat potensi musikal musisi Indonesia sangat penting. Meski awalnya sempat “gelisah” lantaran pengaruh musik pop dianggap sebagai “infiltrasi” budaya barat [yang oleh Soekarno sedang digempur habis-habisan], toh musik dianggap sebagai salah satu propaganda yang cukup efektif.

Di masa itu, musik tak lebih dari sekadar hobi -yang dicurigai negara. Orang bermain musik, pop atau rock, bisa jauh lebih berbahaya ketimbang bergulat atau bertinju. Gara-gara musik seperti itulah Koes Bersaudara sempat mendekam dalam tahanan 1965. Presiden Soekarno memang tidak suka pop atau rock Barat yang disebutnya ngak ngik ngok. “Tak baik buat revolusi yang belum selesai.”

“Melawan” itu semua, berdirilah Lokananta. Tidak banyak anak sekarang yang tahu tentang label ini. Memang produknya lebih banyak diisi leh musik-musik daerah seperti gamelan. Beberapa nama besar di kancah musik tradisional, lahir dari label ini. Sebut saja Nyi Tjondrolukito, sinden terkenal era 60-70an.

Status Lokananta sendiri adalah perusahaan rekaman milik Pemerintah Indonesia. Berdiri tahun 1956, berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah. Dari awal berdiri, Lokananta punya 2 tugas besar, yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam dan kemudian cassette audio. Mulai tahun 1958, piringan hitam mulai dicoba untuk dipasarkan kepada umum melalui RRI dan diberi label Lokananta yang kurang lebih berarti “Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh”.

Melihat potensi penjualan piringan hitam maka melalui PP Nomor 215 Tahun 1961 status Lokananta menjadi Perusahaan Negara. Dari perusahaan rekaman inilah lahir penyanyi-penyanyi legendaris Indonesia, seperti Gesang, Titiek Puspa, Waldjinah, Bing Slamet, Sam Saimun, hingga pelawak Basiyo. Yang terbaru adalah Didi Kempot “superstar” campursari.

Perusahaan ini sempat tak terdengar suaranya saat tersalip perusahaan rekaman swasta pesaing ketika perubahan dari era piringan hitam ke pita kaset berlangsung. Kondisi ini diperparah dengan permasalahan internal, bongkar pasang manajemen.

Melihat potensi penjualan piringan hitam maka melalui PP Nomor 215 Tahun 1961 status Lokananta menjadi Perusahaan Negara.

Sekarang perusahaan rekaman dengan nomor urut anggota pertama pada Asosiasi Rekaman Indonesia (Asiri) ini tengah melakukan proses digitalisasi 500 judul album kaset yang pernah dihasilkan. Kabarnya, semua produk Lokananta [tentu saja yang masih ada]

, nantinya akan digitalized semua. Konon, dari data yang penulis dapatkan, studio rekaman Lokananta hingga kini masih mengkoleksi sebanyak 38 ribu master piringan hitam (PH) yang terdiri dari 3.800 judul. Master rekaman itu selanjutnya akan ditransfer kedalam bentuk digital melalui VCD, CD maupun CD Room.

Yang paling berharga adalah rekaman asli pembacaan teks Proklamasi dari Soekarno. Selain itu masih banyak lagi koleksi rekaman kunjungan tamu-tamu negara pada awal Indonesia berdiri. Lalu ada pula rekaman pidato Kepala Negara asing sahabat-sahabat Bung Karno. Selain rekaman lagu-lagu tradisional dari seluruh nusantara.

Mungkin, Lokananta adalah perusahaan rekaman lawas yang sampai sekarang bisa bertahan. Selain karena milik pemerintah, hasil produksinya ternyata juga banyak diminati [dan ini anehnya] oleh pecinta musik dari luarnegeri.

Perkembangan studio rekaman memang tak terlalu ngebut. Lalu, memasuki awal tahun 1970-an, di daerah Bandengan Selatan Jakarta Barat, Dick Tamimi mendirikan studio rekaman bernama Dimita. Nama studionya sendiri diambil dari nama pendirinya.

Dick termasuk jeli melihat peluang pasar di era 70-an. Meski dengan alat yang tidak bisa dibilang canggih –bayangkan saja, untuk teknologi rekaman, studio ini masih “hanya” menggunakan 8 tracks—tapi Dick sukses melejitkan nama Panjaitan Bersaudara [Panbers], Dara Puspita, Koes Bersaudara dan Rasela. Sampai tahun 1975 Dimita tetap berjaya.

Ada cerita unik tentang perusahaan rekaman yang satu ini. Lantaran letaknya dipinggir rel kereta api, setiap penyanyi yang rekaman disitu harus “break” ketika kereta api lewat. Maklum saja, akustik studionya juga tidak terlalu istimewa. Cerita lainnya, banyak penyanyi yang harus nguber-uber jangkrik karena suaranya menganggu proses rekaman. Berburu jangkrik ini dialami oleh Benny Panjaitan, yang merasa terganggu ketika menyanyi. Hal ini diceritakan kepada penulis oleh Bens Leo, wartawan musik senior ketika ngobrol-ngobrol dengan RILEKS.com.

Dengan seabrek gangguan itu, proses pengerjaan rekaman biasanya memakan waktu yang cukup panjang. Jika jaman sekarang satu shift dihitung antara 7 atau 8 jam, jaman dulu kala produser rekaman agak membiarkan artisnya berkreasi. Sebab, dari tahun 50-an hingga pertengahan tahun 70-an, studio rekaman tak ada yang disewakan. Pemilik studio adalah eksekutif produsernya sendiri.

Dick Tamimi dan Mas Yos adalah nama-nama pioner pemilik studio rekaman;

. Sempat pula muncul nama Jan Nurdjaja Djuhana [sekarang Senior A&R Sony-BMG Indonesia] yang mengibarkan Angels Record tahun 1973. Era ini memang era yang sangat bebas merekam apa saja. Padahal, percaya atau tidak, modal Jan adalah tape recorder dan mesin ketik buat menuliskan judul-judul lagu. Lima sampai 10 kaset yang diproduksinya selama sepekan, ia taruh di etalase tokonya.

Saat itu industri rekaman dalam negeri memang menangguk untung besar dari absennya Indonesia dalam penandatanganan Konvensi Bern tentang hak cipta. Aquarius Records, misalnya, dalam catatan Tempo, sempat memproduksi kaset rekaman lagu-lagu Barat hingga dua juta keping dalam setahun.

Setelah itu muncul raja studio rekaman Indonesia, dan kelak dianggap sebagai produser legendaris yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni Yamin Wijaya atau biasa disebut Amin Cengli yang memiliki studio rekaman Metropolitan kini Musica Studio`s dan satunya, sang raja adalah Eugene Timothy, mengomandani perusahaan rekaman Remaco.

Musica sendiri punya kisah unik. Amin Cengli sebenarnya punya usaha lain diluar distributor rekaman. Usahanya tidak ada hubungan dengan musik, yaitu Kopi Warung Tinggi, yang telah berdiri sejak tahun 1878. Usaha ini merupakan usaha turun temurun.

Entah apa pertimbangannya, awal tahun 1960, Amin menjajal terjun ke bisnis elektronik dan distributor rekaman dengan mendirikan gerai di Pasar Baru dengan nama tokonya Eka Sapta. Gara-gara nama tokonya itu pula, kelak akan lahir band yang cukup kondang bernama Eka Sapta. Amin tergolong orang yang supel. Usahanya di bidang distributor rekaman, membuatnya berkenalan dengan banyak musisi muda waktuitu seperti Bing Slamet, Ireng Maulana, Enteng Tanamal dan Idris Sardi. Pertemanan ini menginspirasi terbentuknya band Eka Sapta.

Eka Sapta lahir bukan karena Amin Cengli jago bermain musik atau olah vokal. Amin hanya punya kepekaan bisnis saja. Eka Sapta sendiri kemudian berkembang menjadi band yang cukup disegani dan diperhitungkan di era 70-an.

Sukses Eka Sapta membuat Amin mengendus peluang lain, industri rekaman komersil. Amin kemudian mendirikan perusahaan rekaman bernama PT Warung Tinggi. Namanya diambil dari usaha kopi keluarganya. Uniknya, alat-alat rekamannya pun belum punya sendiri dan masih meminjam studio Remaco. Titik Puspa termasuk salah satu artis lawas yang sempat menelorkan album lewat perusahan ini. Rupanya, Amin Cengli memang sudah lama “mengintip” peluang indutri rekaman ini. Tahun 1968-1969, Amin pernah membuat rekaman di Singapura.

Tahun 1968 Amin berkongsi dengan anggota band Eka Sapta –Bing Slamet, Ireng Maulana, Enteng Tanamal dan Idris Sardi– mendirikan PT Metropolitan Studio. Saat itu piringan hitam [PH] sedang tren dan PT Metropolitan Studio berhasil merekam lagu-lagu yang dibawakan band Eka Sapta, Bing Slamet maupun A Riyanto. Sayang, PH ini tergilas format musik baru, yaitu kaset. Para pemilik saham PT Metropolitan enggan meneruskan bisnis PH ini dan melepas sahamnya. Tahun 1971 saham itu dibeli oleh Amin dan berubah menjadi PT Musica Studio`s.

Ketika Remaco mulai memudar dan kemudian ambruk, Musica mulai berkibar kencang, Di tempat ini diterapkan sistem rekam yang banyak mengandalkan insting humanisme. Dengan cara-cara `persaudaraan-pertemanan`, banyak sekali artis musisi yang mampu bertahan lama, dikontrak jangka panjang oleh Musica. Sebagai contoh nama Chrisye, lebih dari 80% karier rekamannya yang dimulai dari jaman album solo Sabda Alam [1978] sampai album Badai Pasti Berlalu [1999], direkam sebagian besar di Musica. Sebelumnya, masuk dalam formasi Eros Djarot, Debbie Nasution, Odink, Ronny Harahap, Guruh Soekarno, Gauri Nasution juga Kompiang Raka yang membawa musisi pentatonik Bali.

Chrisye dan Berlian Hutauruk merekam album Guruh Gipsy di studio Tri Angkasa yang hanya 16 tracks di Kebayoran Baru. Rekaman yang disebut terakhir inilah sebenarnya embrio lahirnya album paramusisi `gedongan`, yang melahirkan album monumental Badai Pasti Berlalu, juga album Jurang Pemisah yang digarap Jockie Suryoprayogo [1976].

Remaco pernah menjadi perusahaan rekaman ter- besar di Indonesia, dengan akses kuat ke pergaulan di dunia rekaman Internasional, karena pada saat membuat Piringan Hitam [PH], seperti Irama, Lokananta, dan Dimita, Remaco masih memakai perusahan pembuat matris pencetak PH di Singapura.

Di Remaco, lahir nama-nama besar Bimbo, D`Lloyds, The Mercy`s dan kelak Koes Bersaudara yang pada tahun 1967 berubah nama menjadi Koes Plus pun pindah ke tempat ini, karena iming-iming bonus Mercy terbaru untuk komposernya, Tony Koeswoyo.

Hingga akhir 1970-an, musik berkembang di hampir semua jalur. Di jalur pop, kelompok-kelompok musik seperti Koes Plus, Favorite Group, Bimbo, D`Lloyd, The Mercy`s, atau Panbers, tak hanya hadir di panggung, tapi juga mulai eksis di dapur rekaman. Di jalur dangdut, Rhoma Irama mengibarkan Soneta yang menggabungkan irama Melayu dan idiom Deep Purple. Balada dan country pun mulai mendapatkan tenaganya di tangan Yan Hartlan, Dede Haris, atau Iwan Abdurachman. Warna lain, yang memadukan pop dan art rock, lahir dari tangan Eros Djarot atau Guruh Soekarnoputra melalui kelompoknya, Gypsy.

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

   

About these ads

19 responses to “The Indonesian Kroncong Music Historic collections(Sejarah Musik kroncong Indonesia)

  1. Pak Iwan, alangkah bagusnya kalau postingnya dibagi2 menjadi artikel yang pendek2 saja, biar tidak terlalu panjang membuka halamannya. Selain itu, kami para pengunjung jadi bisa ikut berkomentar terhadap masing2 artikel. Kalau panjang seperti ini kan susah nanti mau komentar. Ayo pak segera ditambah2 lagi. Tengok juga sukolaras.wordpress.com ya pak…banyak koleksi di sana. Terima kasih. Salam, Wing.

    • hallo Wing,
      terima kasih sudah visit blog saya,
      saran anda benar, bagi awlanya saya memang membuar artikel panjang,
      kemudian baru saya bagi dalm artikel yang leih pendek agar tidak sulit memebukanya.
      terima kasih atas sarannya,harap bersabar karena koleksisaya sangat banyak,jadi perlu waktu yang
      banyak untuk membuatnya jadi artikel pendek,karena saya sudah tua dan kerjanya sendirian,
      salam dari
      Dr Iwan Suwandy

  2. Salam, Pak Iwan.

    Saya berasal dari Singapura dan sangat kagum dengan koleksi Pak Iwan, terutama sekali tentang sejarah kumpulan seni seperti Miss Riboet Orion dan Dardanella. Kedua-dua kumpulan ini memang cukup popular di Singapura dan Malaya pada tahun 1930an. Salah satu ahli kumpulan Dardanella telah menetap di Singapura dan menjadi seorang seniwati yang terkenal di sisni sejak tahun 194oan . Beliau adalah Momo Latiff yang berasal dari Batavia dan kini berusia 88 tahun.

    Azmosa
    Singapura

    • hallo Pak Azmosa.
      terima kasih sudah visit blog saya,
      memang koleksi Mis riboet Orion dardanella saat ini sangat langka, saya beruntung sudah mengumpulkannya pada saat transisi
      teknologi dan belum ada yang memikirkan bukti sejarah tersebut. Terima Kasih atas informasinya seniwati dardanella yang
      menetap di singapura Momo Latiff, info ini kan saya add di artikel Dardanella, mohon info dan piring hitam dari seniwati tersebut agar
      sejarah ini dapat di ketahui para generasi penerus dan para kolektor.
      Saya sangat senang dapat berkomunikasi dengan anda.
      salam dari
      Dr Iwan Suwandy

  3. Salam Dr Iwan
    Momo Latif telah menjadi salah seorang penari Bali Dancers dalam kumpulan Dardanella. Selepas Dardanella berpecah pada pertengahan tahun 1930an, beliau telah memasuki kumpulan bangsawan yg di ketuai oleh Raden Sudiro. Pada satu persembahan yang di adakan di Melaka, Raden telah memberitahu kepada Momo bahawa Syarikat filem Shaw Brothers di Singapura ingin mengambil Momo sebagai heroine dalam filem yg berjudul Topeng Shaitan di terbitkan pada tahun 1939. Momo kemudian telah merakamkan suara pada tahun 1941 bersama HMV dengan nyanyian lagu2 Bunga Sakura, Pohon Beringin dan Pulau Bali.

    Saya harap informasi ini menjadi menfaat kepada Pak Iwan. :) dan kalau tidak keberatan boleh Pak Iwan beri email address supaya senang lagi kita berkomunikasi..:)

    Salam dari Singapura

  4. saya hanya bisa bersyukur, bahwa masih ada orang yang peduli dengan lagu sendiri, ditengah hiruk pikuk musik yang saya enggak ngerti iramanya, sukses untuk saudaraku pengabdi musik keroncong.

  5. saya teringat semasa kecil, bapak saya sempat memiliki kaset album keroncong aneka warna dbp markasan, sayang sekarang sudah gak karuan rimbanya. beberapa lagu terutama di side-a, masih saya ingat iramanya.
    salut untuk bapak yang masih memiliki koleksi langkah……. mudah-mudahan bapak dapat memujudkan niat bapak membuat cybermuseum.
    ayo numpak sepur
    mbayare setali…….

  6. Pingback: Kontroversi Munculnya Dua Noah Di Jagat Musik | Asaku

    • harap anda menghormati hak Cipta saya bila mentag artikel musik ini dengan mencantumkan asalnya
      hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com
      terima kasih sudah mengunjungi web blog saya
      salam
      Dr Iwan suwandy,MHA

  7. 3 hal penting yg mempersatukan nusantara : Bahasa melayu (menjadi bhs Indonesia ) Musik Keroncong (yg membudaya keseluruh tanah air ) dan upaya para pejuang yg merebut kembali tanah air dari penjajah

  8. My partner and I absolutely love your blog and find a lot of
    your post’s to be precisely what I’m looking for.
    Would you offer guest writers to write content
    to suit your needs? I wouldn’t mind producing a post or elaborating on a number of the subjects you write related to here. Again, awesome web site!

  9. Do you mind if I quote a couple of your articles as long as
    I provide credit and sources back to your site?
    My blog is in the exact same area of interest as yours and my users would
    genuinely benefit from a lot of the information you present here.
    Please let me know if this okay with you. Many thanks!

  10. Good day! Do you know if they make any plugins to assist with SEO?
    I’m trying to get my blog to rank for some targeted
    keywords but I’m not seeing very good results. If you know of any please share.
    Appreciate it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s