Sejarah Penyanyi Gombloh(The Singer Gombloh Music Record)

WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

                          SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

                                                AT DR IWAN CYBERMUSEUM

                                          DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

_____________________________________________________________________

SPACE UNTUK IKLAN SPONSOR

_____________________________________________________________________

 *ill 001

                      *ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

                                THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

                           MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

                 DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

                                        PENDIRI DAN PENEMU IDE

                                                     THE FOUNDER

                                            Dr IWAN SUWANDY, MHA

                                                         

    BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

  

                         WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

                     SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

                     Please Enter

                    

              DMRC SHOWROOM

(Driwan Music Record Cybermuseum)

 

SHOWCASE :

The Indonesian Gombloh Music record History

(Sejarah rekaman Penyanyi Gombloh   )

 Frame One :

The Singer Gombloh   Cassate record.

Gombloh Tutur Sang Trubatur

Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku
Andaikan matahari terbit dari barat, kaupun tetap Indonesiaku
Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu
(Kebyar-Kebyar, 1979)

 

Lirik yang terasa menyelinap ke wilayah jingoisme ini nyaris seperempat abad berkumandang di saat persada tercinta merayakan Proklamasi Kemerdekaan di setiap Agustus. Bahkan, tanpa sadar lagu yang ditulis dan dipopulerkan Gombloh kini secara tak resmi berdampingan dengan Padamu Negeri (Kusbini), Berkibarlah Benderaku (Ibu Sud) atau Dari Sabang Sampai Merauke (R Surarjo) sebagai national anthem atau lagu-lagu wajib nasional. Sesuatu yang mungkin tak terpikirkan Gombloh ketika menciptakan lagu ini dipertengahan era 70-an. Tetapi sebetulnya Kebyar-Kebyar bukanlah satu-satunya lagu karya cipta Gombloh yang bermotif nasionalisme. Arkian, Gombloh yang lahir pada tanggal 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono, juga banyak menorehkan sederet lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme. Simak saja Dewa Ruci (dari album Terimakasih Indonesiaku):

Dan aku nyanyikan ’Padamu Negeri’
Berbekal sala kaum sebangsa
Kau terjang aral-aral melanda
Berbekal rasa cinta sesama
Kau tebar rasa cita manusia
Juga simaklah lagu Gugur Gugur Bunga (dari album “Berita Cuaca”) :
Kau teriak merdeka, kala peluru melanda
Tersenyum engkau menyongsongnya
Tersenyum engkau dalam darah
Atau simaklah tutur Gombloh bak orator dalam Gaung Mojokerto-Surabaya (dari album ’Nadia dan Atmosphere’):
Bumi rasa bergetar diseling yel-yel menghantar
Nadiku serasa bergeletar
Merdu pekik menggelegar
Senyumlah Surabaya

 

gombloh2Selain itu Gombloh masih menulis banyak lagu bertema cinta negeri mulai dari lagu bertajuk Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, hingga BK lagu yang bertutur tentang sosok Bung Karno, sang proklamator.

Tapi Gombloh memang seolah trubadur komplit. Dia tak hanya memuja-muji tanah kelahiran, tak hanya menafsirkan pesan-pesan alam tapi juga memotret fenomena sosial kalangan working class bahkan mengedepankan kritik sosial yang tajam pula.

Betapa fasihnya Gombloh menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari memang terlihat dari deretan kata-kata yang dirangkainya dalam lagu-lagu ciptaannya seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku
Bahkan Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu – lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980’s Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 hingga 5 November 2000 silam.

Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca, Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Kebayan-Kebayan, Hitam Putih dan Kami dan Alam.

Memasuki era 80-an,Gombloh mulai menorehkan karya-karya yang berkonotasi humor seperti lagu Lepen (singkatan Lelucon Pendek) maupun Selopen (singkatan Seloroh Pendek) yang menghasilkan sebuah idiom yang begitu lekat di khalayak ramai: Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.

gombloh1Disisi lain, Gombloh yang tercerabut dari budaya pop justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keping .
Di era inilah Gombloh seolah terjerembab pada karya-karya yang berorientasi ke pasar. Lalu bermunculanlah lagu-lagu seperti Apel, Hey Kamu, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Karena Iseng, Arjuna Cari Cinta, Konsumsi Cinta hingga Tari Kejang. Gombloh pun mulai menulis lagu-lagu bertema pop untuk penyanyi Tyas Drastiana hingga Vicky Vendi.

Tak sedikit yang menyayangkan sikap Gombloh dalam bermusik seperti ini. Gombloh seperti tak kuat lagi mempertahankan idealisme dalam berkarya. Walhasil Gombloh memang seolah terpilah pada dua kepribadian dalam karya-karya ciptanya, antara karya-karya idealis dan karya-karya yang bermuara di wilayah komersial. Mungkin ini adalah pilihan Gombloh yang pragmatis.

Dan ini sah-sah saja. Namun justru membaurnya Gombloh dengan tema populis membuat sosoknya semakin dikenal masyarakat luas. Kini siapa yang tak mengenal Gombloh ketika tampil di layar TVRI pada acara-acara musik seperti Aneka Ria Safari dan Selekta Pop dengan dandanan yang menjadi trademark: tubuh kerempeng bersepatu kets, pakai topi, rambut dikuncir, kacamata hitam dan setelan putih-putih.

Gombloh sang trubadur yang menghembuskan nafas terakhir pada 9 Januari 1988, tak lagi hanya didengar oleh kelompok tertentu saja. Ia telah menjadi milik masyarakat banyak.

Bahkan pada 20 Juni 2003 sekelompok pemusik Surabaya tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya yang mengunjungi makam Gombloh menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Pemusik Jalanan. Pada 2005 oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), Gombloh dianugerahkan penghargaan Nugraha Bhakti Musik atas jasa-jasanya untuk dunia musik di Indonesia.

Sayup-sayup suara Gombloh sang trubadur menggaung dari kaset lawas Nadia & Atmosphere yang telah berusia 28 tahun. Lagu bertajuk Silhoutte Kuda Jantan ini seperti menyibak jatidiri Gombloh yang sesungguhnya :

Tak lekang hempasan zaman
Dan satu jalur pandang mataku
Idealisme kehidupan
Kemurnian yang kukuh tanpa ragu
yang menyengat harian karya

 

DISKOGRAFI GOMBLOH

1.Nadia dan Atmosphere (Golden Hand, 1978)
2.Mawar Desa (Golden Hand, 1978)
3.Kadar Bangsaku (Golden Hand, 1979)
4.Kebyar Kebyar (Golden Hand, 1979)
5.Pesan Buat Negeriku (Golden Hand, 1980)
6.Sekar Mayang (Golden Hand, 1981)
7.Terimakasih Indonesiaku (Chandra Recording, 1981)
9.Pesan Buat Kaum Belia (Chandra Recording, 1982)
10.Berita Cuaca (Chandra Recording, 1982)
11.Kami Anak Negeri Ini (Chandra Recording, 1983)
12.Gila (Nirwana, 1983)
13.1/2 Gila (Nirwana, 1984)
14.Semakin Gila (Nirwana, 1986)
15.Apel (Nirwana, 1986)
16.Apa Itu Tidak Edan (Nirwana, 1987)

Frame Two :

The Gombloh Music Record Historic Collections

Gombloh

Gombloh

Gombloh (lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Juli 1948 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Jombang.

Daftar isi

 

//

Masa muda

Gombloh dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan.

Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.

Karier musik

Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Ia bergabung dengan grup beraliran art rock/orchestral rock bernama Lemon Tree’s Anno ’69, yang musiknya mendapat pengaruh ELP dan Genesis. Leo Kristi dan Franky Sahilatua juga pernah menjadi anggota grup ini.

Kehidupan sehari-hari rakyat kecil banyak digambarkan dalam lagu-lagunya, seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Lirik-liriknya puitis dan misterius. Sebagaimana penyanyi balada semasanya, seperti Iwan Fals dan Ebiet G. Ade, Gombloh juga tergerak menulis lagu tentang (kerusakan) alam, salah satunya adalah Berita Cuaca (lebih populer dengan nama Lestari Alamku walaupun ini bukan judul yang sebenarnya). Lagu-lagu cintanya cenderung “nyeleneh”, sama seperti karya Iwan Fals atau Doel Sumbang, misalnya Lepen (“got” dalam bahasa Jawa, tetapi di sini adalah singkatan dari “lelucon pendek”).

Namun demikian, ia memiliki tema khas yaitu nasionalisme di dalam lagu-lagunya, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, dan BK, lagu yang bertutur tentang Bung Karno, sang proklamator. Lagunya Kebyar Kebyar banyak dinyanyikan di masa perjuangan menuntut Reformasi.

Bersama Lemon Tree’s ia pernah pula merilis album yang lagu-lagunya berbahasa Jawa dengan berjudul “Sekar Mayang”. Hong Wilaheng, yang adalah versi reprise dari lagu Sekar Mayang dan masuk dalam album “Berita Cuaca”, menggunakan lirik yang diambil dari Serat Wedhatama.

Gombloh juga menulis lagu untuk penyanyi lain. Ia menulis Tangis Kerinduan bagi Djatu Parmawati dirilis (1988), juga Merah Putih (1986) untuk dinyanyikan bersama-sama.

Semenjak album Gila, Gombloh dinilai para kritisi mengendurkan idealismenya, dengan lebih mengedepankan album bergaya pop ringan dan dengan lirik-lirik sederhana dan jenaka. Namun dengan demikian ia menjadi lebih populer dan mendapat penghasilan yang besar. Ia tidak menjadi kaya dengan itu, karena lebih suka menghabiskan pendapatannya dengan makan-makan bersama kawan-kawannya[1]. Rasa kesetiakawanannya dan jiwa merdeka inilah yang secara tidak langsung membawanya pada penyakit yang kelak merenggut nyawanya.

 Kematian dan penghargaan

Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya. Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang. Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.

Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI, bersama sembilan tokoh musik lainnya, yaitu:

  1. Gombloh
  2. Nike Ardilla
  3. Titiek Puspa
  4. Anggun
  5. Iwan Fals
  6. Ebiet G Ade
  7. Titek Sandhora
  8. Deddy Dores
  9. Broery Marantika

Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul “Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers”, yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.

 Diskografi

 Gombloh & The Lemon Tree’s Anno ’69

  1. Nadia & Atmospheer (1978)
  2. Mawar Desa (1978)
  3. Kadar Bangsaku (1979)
  4. Kebyar Kebyar (1979)
  5. Pesan Buat Negeriku (1980)
  6. Sekar Mayang (1981, berbahasa Jawa)
  7. Terimakasih Indonesiaku (1981)
  8. Pesan Buat Kaum Belia (1982)
  9. Berita Cuaca (1982)
  10. Kami Anak Negeri Ini (1983)

Solo karier

  1. Gila (album konser live, 1983)
  2. 1/2 Gila (1984)
  3. Semakin Gila (1986)
  4. Apel (1986)
  5. Apa Itu Tidak Edan (1987)

the end @ copyright dr Iwan suwandy 2011

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s