Yearly Archives: 2011

The Chinese ceramic Exhibiiton at Beijing

Cina dan Swedia: kenangan berharga

Pembukaan pameran hari Senin 26 September 2005
 

Pagi-pagi persiapan terakhir untuk pembukaan berjalan baik. Area pintu masuk dan penerimaan (kanan atas) yang memimpin para Tamu Kehormatan hingga ruang pameran yang sebenarnya sedang disiapkan di sisi timur pintu gerbang Meridian (Wumen) dari Kota Terlarang. Aula memaksakan langsung di atas Wumen adalah tempat pameran diadakan. Ini harus menjadi ruang pameran yang paling mengesankan yang pernah, untuk sebuah pameran porselen Cina.

Gambar 1:

Sebuah pemandangan spektakuler dari Meridian Gate (Wumen) dari Kota Terlarang, puncak-puncak atap puncak diselimuti kabut pagi sedikit. Kami berada di sana bersama-sama dengan dan seantusias ratusan wisatawan sudah berkumpul di tempat itu. Paviliun di atas drum ditempatkan gerbang yang dipukuli mengumumkan keberangkatan kaisar untuk Kuil Surga dan lonceng berdering untuk mengumumkan keberangkatannya ke Kuil Leluhur. Lonceng dan genderang di sini juga terdengar ketika kaisar akan menerima menteri di Taihedian itu (Aula Agung Harmony). Saat itu di tengah paviliun yang megah tepat di atas Gerbang Meridian bahwa Pameran itu digelar, pintu masuk bagi kita ditandai dengan bendera Swedia dan Cina yang mengapit tangga batu hingga lorong, paling kanan dari gambar. Lima jembatan di bagian tengah dari gambar berjalan di sebuah sungai berkelok-kelok. Air yang disuplai dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran wabah di Kota Terlarang. Untuk mengabaikan ini mitos memegangnya bahwa sejumlah (lima) naga akan melihat keluar untuk ini tapi karena semua dalam semua, Kota Terlarang terbakar sekitar 55 kali itu juga diadakan bahwa naga itu tidak sepenuhnya melakukan pekerjaan mereka. Di latar depan gambar batu ukiran yang rumit naga pada jalur miring, ditumpangi oleh panggangan logam hari ini. Ini ukiran naga yang terletak langsung pada “tulang belakang Dragon” yang berjalan melalui Kota Terlarang seluruh dan seterusnya, adalah Feng Shui fitur dalam keyakinan bahwa roh-roh jahat tidak dapat melakukan perjalanan menaiki lereng jika tangga yang hilang, sehingga menjaga Kaisar aman dari kejahatan roh, dalam ukiran naga juga merupakan fitur pelindung untuk Kaisar. Yang cukup menarik, Saya telah browsing di Pasar Antik di Beijing beberapa hari kemudian dan menemukan untuk dijual, apa yang tampaknya menjadi pilar batu yang asli dating kembali ke Dinasti Ming mirip dengan yang Anda dapat melihat ke kiri dan kanan di latar depan gambar ini, dengan kesamaan yang mencolok dengan orang-orang yang benar-benar mengelilingi Altar Surga. Berat padat itu akan patung penyisihan tas tangan, jadi saya memutuskan untuk menyampaikan harta karun itu. Mudah-mudahan akhirnya akan menemukan jalan kembali ke altar.
 

Gambar 2:

Upacara Pembukaan dimulai. Mulia Putri Mahkota Swedia Victoria di tengah telah di sebelah kirinya Menteri Swedia untuk Perindustrian dan Perdagangan Mr Thomas Östros dan Duta Besar Swedia di Cina Mr Börje Ljunggren. Ke kanan nya Menteri, Deputi Cina Kebudayaan, Direktur Palace Museum, Mr Zheng Xinmiao dan Wakil Direktur Museum Istana, Mr Li Ji.
 

Gambar 3:

Sponsor utama dari seluruh acara – Volvo – diwakili oleh Wakil Presiden Senior AB Volvo Mr Karl Erling Trogen yang juga mengambil kesempatan untuk hadir ke Museum Istana sumbangan dari 18 potongan selcted dari porselen dari pameran.
 

Gambar 4:

Kerumunan selama pidato-pidato resmi pada Upacara Pembukaan. Panas musim gugur dan pengaturan berdiri canggung untuk para tamu pada acara itu mereda oleh angin dingin dan mengundang Beijing yang melanda sekitar kita. Tiba-tiba aku merasa nyata mendengarkan kata-kata yang dipertukarkan antara kedua negara dan menyadari bahwa tempat ini, di mana saya berdiri untuk acara ini, telah ada selama ratusan tahun sebelumnya. saat ini. Perasaan yang hadir di ‘sini dan sekarang’ di tempat bersejarah membuat saya merasa seolah-olah aku tidak tahu waktu lagi. Aku setengah berharap Kaisar Qianlong untuk pop turun dari lorong di atas untuk bergabung dengan kerumunan atau lebih kemungkinan beberapa kasim marah datang sekitar untuk memberitahu kita untuk segera jelas tangga sampai ke ruang Wumen upacara karena kita tidak punya urusan di sini. Suasana sangat menyengat dan peristiwa bersejarah kami hanyalah satu bagian dalam sejarah panjang tempat ini. Masih aneh yang tepat dan satu untuk bersukacita. Ke kanan bawah, pameran Swedia komisaris, penulis dan sarjana Jarl Vansvik, berjalan menaiki tangga, menuju ruang pameran.
 

Gambar 5:

Pada panggung Menteri Swedia untuk Perindustrian dan Perdagangan Mr Thomas Östros memberikan pidato introductury untuk acara tersebut, segera diikuti oleh Wakil Menteri Kebudayaan Cina, Direktur Palace Museum, Mr Zheng Xinmiao. Selain Mr Östros, seorang penerjemah Cina. Gadis-gadis cantik di qipaos fuschia berwarna itu pengawal ke acara tersebut.
 

Gambar 6:

Rapat Profesor Geng Baoshang, terkenal karena tulisan-tulisan yang mendalam dan beasiswa di porselen Imperial Chineses, adalah salah satu titik yang tinggi dari upacara pembukaan kepada saya, namun di luar program.
 

Gambar 7:

Tangga batu yang menuju ke Aula Pameran itu sendiri, warna-warna bendera Swedia mengapit tangga. Para architecuture tempat itu adalah sesuatu yang sangat menakjubkan.
 

Gambar 8:

Pintu masuk ke Aula Pameran dengan bendera dari dua negara dan peta rute perdagangan Timur Indiaman Gotheborg III, pelacakan pelayaran kapal untuk datang.
 

Gambar 9:

Sebuah pandangan dalam Hall Pameran. Membandingkan dalam dengan arsitektur luar kita menemukan bahwa apa yang tampaknya dua lantai sebenarnya adalah langit-langit yang tinggi dengan hanya berjalan di dalam balkon jendela fasad atas kedua tier. Ke kiri langsung di Ru yao hidangan dari The Museum Röhss itu ditampilkan dalam sebuah karya sendiri. Pada preview tekan seorang reporter mencoba untuk membuka menampilkan bahwa untuk mendapatkan gambar yang lebih baik dengan lemari kaca pergi, menyebabkan cukup keributan di antara staf keamanan.
 

Gambar 10:

Pecahan dari penggalian Wästfeldt dari koleksi Museum Maritim. Sebagian besar pecahan masih dalam tas mereka, diurutkan sesuai nomor untuk menemukan mereka, penentuan lokasi mereka di situs kecelakaan. Semua dalam semua beberapa 7 ton pecahan dibesarkan, dibersihkan, disortir dan terdaftar selama penggalian, pecahan-pecahan yang dipajang di sini hanya sebagian kecil dari total temukan.
 

Gambar 11:

Model abad ke-18 Indiamen Timur – atau, kapal dagang Barat ke Cina dan ‘Semua negara-negara Timur India’ sebagai dokumen lama juga dipajang memilikinya.
 

Gambar 12:

Sebuah tembakan dari diriku sendiri dan ke (kanan saya) Lars-Olof kiri Lööf, Kepala Departemen Koleksi dari Museum Kota Gothenburg di Swedia. Di belakang kami adalah Entourage Kerajaan dengan Mulia Putri Mahkota Victoria.
 

Gambar 13:

Dengan HRH Victoria meter hanya beberapa itu hanya masalah waktu sebelum tertangkap Entourage Kerajaan dengan kami dan saya merasa senang pertemuan HRH Victoria secara pribadi. Menjadi mana kami berada, aku tidak bisa membantu meminta kesan nya ini Imperial Palace – Kota Terlarang – sejauh ini, dan pikirannya tentang bagaimana dibandingkan dengan lingkungannya Stockholm. Saya harap saya tidak melampaui apapun kepercayaan kalau aku bilang dia merasa itu adalah tempat yang megah dan bahwa dia mungkin bisa mempertimbangkan tinggal di tempat seperti ini, tapi mungkin tidak kembali pada era Dinasti.
 

Gambar 14:

Sebuah tur yang menarik dari Pameran berakhir dan di sini, keluar Entourage Kerajaan dengan sebanyak, jika tidak lebih, perhatian seperti ketika mereka masuk. Setidaknya 25 fotografer dan wartawan bergegas setelah HRH Victoria tak terlihat dalam gambar ini. Itu adalah yang paling dekat dengan terburu-buru paparazi saya telah menyaksikan.
 

Gambar 15:

Pandangan langsung di luar pintu masuk ruang pameran akan pandangan Kaisar ketika melakukan pengumuman kepada kerumunan di luar Wumen tersebut. Itu adalah perasaan aneh berdiri di sini. Seolah-olah kaisar hanya sebelah Anda. Dari sini Anda cari di atap Beijing dalam cahaya yang sama seperti yang telah dilihat dan angin pada wajah Anda sama saja yang telah sini dari waktu paling awal. Itu hanya kerumunan di bawah yang baru, dan ya, bahwa Anda benar-benar memiliki hak untuk berada di sini dan hanya melihat.
 

Gambar 16:

Setelah badai … menenangkan. Orang banyak telah tersebar, setelah kenyang mereka dari harta di layar dan menyerap suasana seluruh acara. Salah satu tembakan terakhir saya untuk acara ini adalah dari tangga batu menuju ruang pameran itu sendiri dengan gambar Indiaman Timur III Gotheborg meluncurkan selama Upacara Pembukaan. Aku mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan gambar dan Nya. Saya hanya bisa membayangkan apa yang kedatangan-Nya di tahun Kanton depan akan seperti, kenyataan akan menaungi gambar dalam sekejap! Di latar depan gambar adalah menunjukkan keramahan dipikirkan dengan baik dari sponsor yang tidak pernah gagal untuk mengesankan. Makanan dan minuman terus dilayani bahkan sebagai tamu meninggalkan, memastikan pada semua tahap melalui acara itu, para tamu makan dengan baik dan bahagia.

AKHIR

 
 
 
 
 
 
 
 

 

ORIGINAL INFO FROM GOTHEBERG.

China and Sweden: Treasured Memories

 

PICTURES

The exhibition Opening day Monday 26th of September 2005

Early in the morning the last preparations for the grand opening was well under way. The entrance and reception area (top right) that was to lead the Guests of Honor up to the actual exhibition hall was being prepared at the east side of the Meridian gate (Wumen) of the Forbidden City. The imposing hall directly on top of the Wumen was where the exhibition was held. This must be the most imposing exhibition hall ever, for a Chinese porcelain exhibition.Picture 1:A spectacular view of Meridian Gate (Wumen) of the Forbidden City, the crests of the roof tops enveloped in a slight morning mist. We were there together with and as enthusiastic as the hundreds of tourists already gathered in the place. The pavillion on top of the gate housed drums which were beaten to announce the emperor’s departure for the Temple of Heaven and bells to ring to announce his departure to the Ancestral Temple. The bells and drums here were also sounded when the emperor was going to receive his ministers in the Taihedian (Hall of Supreme Harmony). It was in the majestic centre pavillion right above the Meridian Gate that the Exhibition was held, its entrance for us indicated by the Swedish and Chinese flag that flanked a stone stairway up to the hall, far right of the picture. Five bridges in the mid-section of the picture run across a meandering river. The water supplied could be used to douse outbreaks of fires in the Forbidden City. To overlook this the myths held it that a number of (five) dragons would look out for this but since all in all, the Forbidden City had caught fire about 55 times it was also held that the dragons was not entirely doing their job. In the foreground of the picture is an intricate stone carving of dragons on a sloped pathway, boarded by metal grills today. This dragon carving that lies directly on the “Dragon’s spine” that runs through the entire Forbidden City and beyond, is a Feng Shui feature in belief that evil spirits cannot travel up the slope if the stairs are missing, thus keeping the Emperor safe from evil spirits, the dragons in the carving is also a protective feature for the Emperor. Interestingly enough, I was browsing at the Antiques Market in Beijing a few days later and found for sale, what seemed to be a genuine stone pillar dating back to the Ming Dynasty similar to those you can see to the left and right in the foreground of this picture, with striking similarity to those that actually surrounds the Altar of the Heaven. The solid weight of it would bust the hand luggage allowance, so I decided to pass on that treasure. Hopefully it will eventually find its way back to the altar.
Picture 2:The Opening Ceremony begins. HRH the Swedish Crown Princess Victoria in the middle has to her left the Swedish Minister for Industry and Trade Mr. Thomas Östros and the Swedish Ambassador in China Mr. Börje Ljunggren. To her right, Chinese Deputy Minister of Culture, Director of Palace Museum, Mr. Zheng Xinmiao and Deputy Director of Palace Museum, Mr. Li Ji.
Picture 3:The main sponsor of the whole event – Volvo – was represented by the Senior Vice President of AB Volvo Mr. Karl Erling Trogen who also took the opportunity to present to the Palace Museum a donation of 18 selcted pieces of porcelain from the exhibition.
Picture 4:The crowds during the official speeches at the Opening Ceremony. The autumn heat and awkward standing arrangements for the guests at the event was eased by the cool and inviting Beijing winds that swept around us. All at once I felt surreal listening to the words exchanged between the two countries and realizing that this place, where I stood for the event, had existed for hundreds of years before. this moment. The feeling of being present in the ‘here and now’ in such a historic place made me feel as if I couldn’t tell time any longer. I half expected the Emperor Qianlong to pop down from the hall above to join the crowd or more likely some angry eunuchs coming around to tell us to immediately clear the stairs up to the Wumen hall of ceremony because we had no business here. The atmosphere was overpowering and the historic event we were part was just one in the long history of this place. Still strangely appropriate and one to rejoice. To the bottom right, the Swedish exhibition commissar, writer and scholar Jarl Vansvik, making his way up the stairs, towards the exhibition hall.
Picture 5:At the stage the Swedish Minister for Industry and Trade Mr. Thomas Östros giving the introductury speach to the event, immediately to be followed by the Chinese Deputy Minister of Culture, Director of Palace Museum, Mr. Zheng Xinmiao. Beside Mr. Östros, a Chinese translator. The pretty girls in the fuschia colored qipaos were escorts to the event.
Picture 6:Meeting Professor Geng Baoshang, well known for his profound writings and scholarship on Chineses Imperial porcelain, was one of the high points of the opening ceremony to me, however outside the program.
Picture 7:The stone stairway leading up to the Exhibition Hall itself, the Swedish flag colours flanking the stairs. The architecuture of the place is something quite amazing.
Picture 8:The entrance to the Exhibition Hall with the flags of the two countries and a trading route map of the East Indiaman Gotheborg III, tracking the ship’s voyage to come.
Picture 9:An inside view of the Exhibition Hall. Comparing the inside with the outside architecture we find that what appears to be two floors is actually a high ceiling with only a balcony running inside the windows of the second upper facade tier. To the immediate left the Ru yao dish from The Röhss Museum was displayed in a showcase of its own. At the press preview a reporter had tried to open that showcase to get a better picture with the cabinet glass away, causing quite a stir among the security staff.
Picture 10:Shards from the Wästfeldt’s excavation from the collection of the Maritime Museum. Much of the shards were still in their bags, sorted according to their find numbers, pinpointing their exact location on the wreck site. All in all some 7 tons of shards was brought up, cleaned, sorted and registered during the excavation, the shards on display here being a mere fraction of the total find.
Picture 11:Models of 18th century East Indiamen – or, western ships trading to China and ‘All countries East of India’ as the old documents also on display had it.
Picture 12:A shot of myself and to the left (my right) Lars-Olof Lööf, Head of the Collections Departments of the Gothenburg City Museum in Sweden. Behind us is the Royal Entourage with HRH the Crown Princess Victoria.
Picture 13:With HRH Victoria only metres away it was only a matter of time before the Royal Entourage caught up with us and I had the pleasure of meeting HRH Victoria in person. Being where we were, I could not help asking for her impression of this Imperial Palace – the Forbidden City – so far, and her thoughts on how it compared to her Stockholm surroundings. I hope I am not overstepping any confidences if I tell she felt it was a magnificent place and that she possibly could consider living in such a place like this, but perhaps not back in the Dynastic era.
Picture 14:An interesting tour of the Exhibition comes to an end and here, the Royal Entourage exits with as much, if not more, attention as when they entered. At least 25 photographers and reporters rush after HRH Victoria unseen in this picture. It was the closest to a paparazzi rush I have witnessed.
Picture 15:This view directly outside the entrance of the exhibition hall would be the view of the Emperor when doing his announcements to the crowd outside the Wumen. It was a strange feeling standing here. It was almost as if the emperor was just next to you. From here you were looking at the roof tops of Beijing in same light as he had seen and the wind on your face was just the same that has been here from the earliest time. It was just the crowd below that was new, and yes, that you actually had the right to be here and just look.
Picture 16:After the storm… the calm. The crowds have dispersed, having had their fill of the treasures on display and soaking up the atmosphere of the entire event. One of my final shots for the event was of the stone stairway leading up to the exhibition hall itself with a picture of the East Indiaman Gotheborg III unveiled during the Opening Ceremony. I took a moment to reflect on the picture and on Her. I can only imagine what Her arrival in Canton next year would be like, the reality will overshadow the picture in an instant! In the foreground of the picture is a show of the well thought out hospitality of the sponsors that never failed to impress. Food and drinks continued to be served even as the guests were leaving, ensuring at all stages through the event, the guests were well fed and happy.THE END

The Rawagede Krawang Massacre 1947 related colletions

Duta Besar Belanda untuk Indonesia menghadiri upacara peringatan hari Selasa bagi mereka yang meninggal dalam pembantaian 1947 di Rawagede pada Jawa Barat, di mana hampir setiap orang di desa itu tewas.

Ini adalah pertama kalinya seorang wakil pemerintah Belanda telah menghadiri acara tahunan, dan datang pada saat tekanan mounting untuk permintaan maaf resmi untuk membunuh.

Pembantaian itu berlangsung selama lima tahun perang gerilya yang mendahului kemerdekaan Indonesia ketika tentara Belanda dilaksanakan beberapa 431 pria dan anak lelaki dari desa.

Dalam sambutannya, yang dalam bahasa Indonesia, Nikolaos van Dam disebut sebelumnya “permintaan maaf yang tulus dari pemerintah Belanda.” Sampai sekarang, garis Belanda resmi telah mengatakan “maaf” untuk pembantaian itu.

Tapi dalam versi Belanda pidato, kata-kata permintaan maaf atau alasan tidak muncul. Sebaliknya, kata “menyesal” digunakan.

Setelah pidatonya, duta besar mengatakan kata-kata bisa diambil sebagai permintaan maaf. “Bagi saya, [maaf dan mengatakan maaf] adalah sama,” katanya.

Batara Hutagalung, yang berada di belakang upaya untuk mendapatkan pemerintah Belanda untuk meminta maaf dengan benar, kata duta besar dikirim keluar pesan campuran. “Apakah dia berbicara tentang permintaan maaf atau tentang penyesalan?” Kata Hutagalung. “Dia mengatakan mereka adalah hal yang sama, tetapi mereka tidak.”

Pada tahun 2005 ketika kemudian menteri luar negeri Ben Bot berbicara tentang pembantaian itu, dia juga menggunakan kata “menyesal”.

Pemerintah Belanda pada tahun 1969 mengakui bahwa eksekusi massal yang terjadi di Rawagede selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, setelah wahyu oleh seorang mantan tentara Belanda pada skala kekejaman yang dilakukan oleh tentara Belanda di bekas koloninya.

Kerabat dan selamat dari pembantaian di desa Rawagede Indonesia dari tahun 1947 menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari pemerintah Belanda. Indonesia adalah koloni Belanda di tahun 1800 dan akhirnya diberikan kedaulatan pada tahun 1949 setelah perjuangan bersenjata.

“Saya tidak pernah berpikir mereka akan membunuh kami karena kami hanya orang biasa,” kata Saih. “Saya hanya menyadari [apa yang mereka akan lakukan] ketika mereka mulai mundur … Een, twee, Drie.” Tiga tentara mulai menembak laki-laki di belakang.

Menurut ke desa, para tentara menembak mati semua orang – 431 orang. Itu adalah ringkasan keadilan, dijatuhkan keluar sebagai orang-orang itu melarikan diri atau bersembunyi di sungai. Pada tahun 1969, sebuah investigasi oleh pemerintah Belanda ke kejahatan perang di Indonesia mengatakan 150 tewas di Rawagede.

Saih, sekarang di tahun 80-an, adalah salah satu dari 10 korban dan kerabat yang, 61 tahun kemudian, yang meminta permintaan maaf dan kompensasi atas pembantaian di desa Rawagede Indonesia dari yang dilakukan oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947.

Minggu pengacara terakhir Gerrit Jan Pulles dan Comité Nederlandse Ereschulden, sebuah yayasan yang mewakili korban sipil dari pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, menyatakan pemerintah Belanda harus menerima tanggung jawab atas pembantaian di Rawagede.

Kemerdekaan

Sama seperti banyak orang lain, Saih, yang menjual sayuran, bersembunyi di sungai ketika Belanda tiba. Tubuhnya bawah air, kepalanya dalam lubang ia menggali di dasar sungai. Tapi empat tentara ‘anjing-anjing pelacak menemukannya. Temannya berteriak “merdeka” (kemerdekaan) dan ditembak. Saih menyerahkan diri dan pergi dengan tentara.

Saat itu hujan keras pada hari itu di bulan Desember 1947. Desa Rawagede dilanda banjir. Para tentara Belanda mencari Lukas Kustario, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, tetapi ia telah meninggalkan sehari sebelumnya.

Orang-orang yang benar-benar melakukan penembakan tidak melihat Belanda, kata Saih. Mereka memiliki kulit gelap. Dua orang Belanda putih diawasi. Saih dipukul di belakang, tapi peluru itu pertama melewati anak kepala desa sehingga telah kehilangan sebagian dari kecepatannya.

Pura-pura mati

Ketika tubuh anak itu jatuh pada dirinya, Saih pura-pura mati juga. Selama salvo akhir, Saih dipukul di lengan. Tapi dia masih hidup dan ketika para tentara pergi, dia melarikan diri.

Batara Hutagalung, ketua Comité Nederlandse Ereschulden, menjadi tertarik pada kejahatan perang yang dilakukan di Indonesia pada akhir 1990-an ketika ia membaca Memoires diterbitkan ayahnya, katanya.

Dia membaca tentang pengeboman Surabaya pada tahun 1945 oleh Inggris yang membantu Belanda kembali koloni mereka. Sebuah 20.000 orang diperkirakan meninggal. “Ini adalah pertama kalinya aku berhadapan dengan apa yang terjadi saat itu,” kata Hutagalung, yang tinggal di Jerman sampai 1992. “Di Jerman Nazi diadili dan melacak sejauh Amerika Selatan saya bertanya-tanya mengapa itu tidak terjadi di sini..”

Yayasan ini telah berhasil meminta permintaan maaf dan kompensasi dari pemerintah Inggris untuk pemboman Surabaya.

Pemerintah Belanda keras kepala

Hutagalung kemudian mulai bekerja pada kasus Rawagede. Namun sampai saat ini pemerintah Belanda telah “keras kepala”, katanya. Fakta bahwa mantan Menteri Luar Negeri Ben Bot menyatakan “penyesalan” nya untuk kekerasan di 2005 adalah tidak cukup, katanya. “Penyesalan bukan permintaan maaf saya tidak mengerti mengapa begitu sulit untuk minta maaf..”

Hari ini disebut Rawagede Balongsari. Ia memiliki sebuah peringatan besar untuk para korban pembantaian. Sungai tempat bersembunyi Saih kini aliran tipis penuh sampah. Balongsari adalah desa berkat berwarna-warni untuk rumah cantik berwarna dibangun oleh warga desa dengan uang yang diterima oleh banyak perempuan yang bekerja sementara di Timur Tengah. Namun menurut utamanya, desa masih miskin. Sebagian besar dari 3.000 penduduk yang bekerja pada tanah atau membuat kerupuk udang.

Tumpukan mayat

Di salah satu rumah, kehidupan Tijeng 86 tahun. Kasur di mana-mana, 15 orang dari lima generasi tinggal di sini. Tijeng sedang menyusui putrinya saat Nimong suaminya mencoba melarikan diri dari Belanda.

Dia tidak pergi jauh, ia ditangkap dan ditembak mati. Tiga hari kemudian Tijeng mencari tumpukan mayat, mencari tubuhnya.

Ketika Tijeng melihat bayi, dia ingat bagaimana ia merasa tak berdaya itu. “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan saya punya bayi.. Saya tidak bisa bekerja.”

Saih dan Tijeng tidak tahu rincian dari klaim mereka. Mereka telah diberikan hanya sidik jari dan foto mereka telah diambil. Mereka tidak lagi marah dengan Belanda. Tapi kompensasi yang akan diterima.

Tijeng tidak punya uang untuk pengobatan pada pembengkakan di telinganya yang mulai mempengaruhi penglihatannya juga.

Dan Saih mengatakan: “Tidak harus jauh Hanya jumlah kecil untuk kehidupan yang layak sampai aku mati, dan memberikan anak-anak saya dan cucu kehidupan yang lebih baik..”

Pembantaian tragedi Rawagede, 9 Desember 1947

Para Agresi Militer Belanda Lupa Korban

Dengan Batara R. Hutagalung
Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda

Pada tanggal 9 Desember 2007 di monumen Rawagede, peringatan 60 tahun pembantaian di desa Rawagede akan diselenggarakan.
Pada Desember 1947, dalam agresi militer oleh Belanda dimulai sejak 21 Juli 1947, anggota militer Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede dekat Karawang, Jawa Barat. Pada Oktober 1948, militer Belanda lagi dilakukan ‘sweeping’ di Rawagede, dan kali ini 35 orang lagi tewas. Pembantaian penduduk desa di Rawagede adalah pembantaian terbesar kedua setelah pembantaian oleh anggota militer Belanda di Sulawesi Selatan antara Desember 1946 sampai Februari 1947. Sampai Agustus 1949, ribuan orang masih dibunuh tanpa pertanyaan hukum. Selama agresi di Indonesia antara 1945-1950, militer Belanda telah melakukan berbagai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat, termasuk perkosaan terhadap perempuan Indonesia yang telah ditangkap oleh personil militer Belanda.
Ironisnya, semua kejahatan dan pelanggaran HAM dilakukan oleh militer Belanda setelah akhir Perang Dunia II pada 1945, setelah Belanda telah dibebaskan dari agresi militer Jerman dan seratus ribu orang Belanda dibebaskan dari kamp-kamp interniran Jepang di mana mereka ditahan 1942-1945.
Belanda, yang adalah anggota dari bangsa yang mengorbankan oleh Jerman dan agresi militer Jepang, yang juga melakukan penyelidikan di Jerman dan Jepang sebagai pelaku kejahatan perang dan pelanggaran HAM. Tapi kemudian, militer Belanda melakukan hal yang sama, dan bertanggung jawab untuk berbagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam upaya untuk mengembalikan kolonialisme di Indonesia.

Latar belakang
Jepang memulai agresi militer di Asia Timur dengan menyerang pusat militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, pada Desember 1941. Kemudian Jepang menyerang Asia Tenggara, termasuk koloni Belanda yang Nederlands Indie. Perancis, Inggris dan koloni Belanda di wilayah itu satu per satu dirampas oleh Jepang.
Pada tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang XVI di bawah komando Letnan Jenderal Hitoshi Imamura menyerang pulau Jawa, setelah Jepang Angkatan Laut hancur ‘tentara ABDACOM (Amerika, Inggris, Belanda, Komando Australia) dalam pertempuran yang dikenal hari ini sebagai’ Sekutu Pertempuran Jawa laut ‘.
Setelah pertarungan yang pekan lalu, anggota militer Belanda di Hindia Belanda hampir tanpa perjuangan, menyerah kepada tentara Jepang. Pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat, Letnan Jenderal Ter Poorten Hein, perintah atas militer Belanda di Hindia Belanda, mewakili Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jonkheer Alidus Warmmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer-, menandatangani dokumen menyerah tanpa syarat dan menyerahkan semua koloni Belanda ke Jepang. Oleh karena itu, 9 Maret 1942 menandai akhir lebih dari 300 tahun kolonialisme Belanda di Indonesia.
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu namun dokumen penyerahan tanpa syarat ditandatangani pada tanggal 2 September 1945, kapal perang AS dewan ‘USS Missouri di Tokyo Bay, yang membawa kekosongan kekuasaan selama dua tanggal di semua koloni Jepang termasuk mantan koloni Belanda yang telah diserahkan kepada Jepang.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, selama vakum kekuasaan, para pemimpin Indonesia telah menyatakan Kemerdekaan Indonesia, dan pada tanggal 18 Agustus 1945, telah membentuk pemerintahan DAN SAAT INI KANTOR POS MASIH DIKUASAI PEMERINTAH MILITER DAI NIPPON,LIHAT KARTUS PSO YANG DIIRM DARI JATINEGSRA MASIH MENGUNAKAN KARTUPOS MILITER DAI NIPPON DAN PRANGKO DAI NIPPON DI JATINEGARA

DAN DI SUMAERA UTARA PEMATANG SIANTAR SAMPAI DESEMBER 1945 MASIH DIKUASAI DAI NIPPON

TERMASUK JUGA PERUSAHAN AIR MINUM JUGA DIKUASAI DAI NIPPON LIHAT SURAT TAGIHANNYA MASIH MENGUNAKAN METERAI DAI NIPPON

; yang dengan demikian, telah memenuhi tiga kondisi untuk mendirikan sebuah bangsa, yaitu: 1. Kehadiran daerah, 2. Kehadiran penduduk, dan 3. Kehadiran pemerintah.Baru pada bulan November 1945 pertama kali daerah sueakarta dikuasai republik indonesia,lihat dokumen RI diatas formulir Dai Nippon


Pada November 1946, Liga Bangsa-Bangsa Arab meliputi Mesir, mengeluarkan resolusi yang mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Ini adalah pengakuan de jure menurut hukum internasional.
Setelah ‘menyerahkan’ jajahannya secara resmi kepada Jepang, Belanda telah kehilangan hak dan legitimasi di Hindia Belanda. Karena itu, ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ini seharusnya tidak dianggap sebagai sebuah kudeta melawan Belanda.
Belanda telah berhasil mendapatkan dukungan dari Inggris untuk mengembalikan kolonialisme di Indonesia, dan ini diberlakukan dalam Perjanjian Urusan Sipil (CAA) yang ditandatangani di Chequers, Inggris, pada 24 Agustus 1945. Dalam CAA, Inggris akan ‘bersih-bersih’ setiap kekuatan militer Republik Indonesia, yang akan ditransfer ke NICA (Belanda Indies Civil Administration).
Ini dicatat dalam perintah Laksamana Lord Louis Mountbatten, Panglima Tertinggi Komando Asia Tenggara, tanggal 2 September 1945, yang diberikan kepada Panglima Divisi 5, yang menyatakan:

“… Anda diperintahkan untuk melanjutkan dengan kecepatan semua untuk Pulau Jawa di Hindia Timur untuk menerima penyerahan Pasukan Kekaisaran Jepang di pulau itu, dan untuk membebaskan tahanan perang Sekutu dan interniran sipil.
Sesuai dengan ketentuan Konferensi Yalta Anda akan kembali menetapkan aturan sipil dan kembali koloni untuk Administrasi Belanda, ketika berada dalam posisi untuk mempertahankan layanan.
Ketika Anda tidak diragukan lagi sadar, penduduk asli setempat telah menyatakan sebuah Republik, tetapi kita terikat untuk mempertahankan status quo yang ada sebelum Invasi Jepang … “

 

Di bawah bantuan 3 divisi tentara Inggris di bawah komando Letnan Jenderal Phillip Christison dan 2 divisi tentara Australia di bawah komando Letnan Jenderal Leslie “Ming yang Menghakimi” Morsehead, secara bertahap Belanda memiliki kekuasaan di Indonesia.

pada awal tahun 1946 pemerintahan dan ibukota pindah ke Jogya karena situasi di Jakarta tidak aman,tetapi 17 pebruari harian merdeka jakarta sempat menerbitkan majallah edisi khusus enam bulan merdeka

Pada tanggal 13 Juli 1946, Australia menyerah ‘wilayah Indonesia Timur kepada Belanda, dan pada 15-25 Juli 1946, mantan Wakil Gubernur Jenderal Belanda, Dr Van Mook, terorganisir’ Konferensi Malino “, dekat Makassar, untuk mendirikan Timur Negara Indonesia.
Selama ‘masa bersih-bersih’ oleh militer Inggris dan Australia, Belanda mengirimkan lebih banyak tentara dari Belanda; agar ketika Inggris dan Australia mengeluarkan personil militer mereka dari Indonesia, kekuatan militer Belanda akan dapat menjadi pengganti langsung. Pada saat itu, anggota militer Belanda telah melebihi 100.000 orang dan terus meningkat menjadi 200.000 orang, dengan artilleries modern termasuk perang berat yang diberikan oleh militer Inggris dan Australia.

Persetujuan Linggajati dan Agresi Militer Belanda I
Inggris memfasilitasi negosiasi antara Republik Indonesia dan Belanda di Linggarjati. Pada tanggal 15 November 1946, perjanjian Linggajati dirancang, dan pada tanggal 25 Maret 1947, perjanjian tersebut secara resmi ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda di Jakarta.RI saat ini sempat menerbitkan prangko dan kartusposnya sendiri dalam memperingati satu tahun merdeka,walupun disita belanda,masih ada juga tersisda dan dikirim didaerak kantong republik di sumatra dari priaman ke kajutanam.

 
Belanda jelas-jelas menggunakan strategi menunda, untuk memperkuat pasukan di Indonesia oleh lebih banyak orang terus menerus dikirim dari Belanda.
Linggajati aggrement berlangsung kurang dari 4 bulan karena pelanggaran oleh Belanda, oleh agresi militer yang dilakukan yang dimulai pada tanggal 21 Juli 1947, di bawah kode “Produk Operatie”.

NRI sumatera barat sempat menerbitkan kartupos khusu peringatan dua tahun merdeka,tetapi tak dapt dimanfaatkan akibat agresi belanda ,baru tahun berikutnya 1948 dikirimkan dalam rangka memepringatin tiga tahun merdeka

Sebagai masker untuk Internasional komunitas, Belanda bernama agresi ini sebagai ‘aksi polisi’, dan menyatakan bertindak sebagai urusan internal, yang setara dengan pernyataan bahwa Indonesia masih jajahannya.
Republik Indonesia melaporkan agresi ke PBB, karena pelanggaran terhadap perjanjian internasional yang Linggajati kesepakatan. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Resolusi Nomor 27, tanggal 1 Agustus 1947, yang menyerukan gencatan konflik.
Dewan Keamanan PBB telah de facto mengakui eksistensi Republik Indonesia; yang dibuktikan dengan resmi ditujukan ‘INDONESIA’ dalam resolusi, dan tidak ‘Hindia Belanda’. Sejak resolusi pertama, yaitu Resolusi Nomor 27 pada tanggal 1 Agustus 1947, diikuti oleh Resolusi No 30 dan No 31 tanggal 25 Agustus 1947, Resolusi Nomor 36 pada tanggal 1 November 1947, dan Resolusi Nomor 67 pada tanggal 28, 1949, Dewan Keamanan PBB selalu menyebut konflik antara Republik Indonesia dan Belanda sebagai ‘The Pertanyaan Bahasa Indonesia’.
Di bawah tekanan dari Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947, pemerintah Belanda akhirnya menerima resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan perkelahian.
Pada tanggal 17 Agustus 1947, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menyetujui Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata, dan pada tanggal 25 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB membentuk sebuah komite untuk menengahi konflik antara Indonesia dan Belanda . Komite ini bertindak sebagai Komite Jasa Baik untuk Indonesia, secara luas dikenal sebagai ‘Komite Tiga Negara’, karena tiga negara yang anggotanya: Australia yang diangkat oleh Indonesia, Belgia yang ditunjuk oleh Belanda dan Amerika Serikat sebagai netral partai.
Difasilitasi oleh Komite Jasa Baik untuk Indonesia, pada tanggal 8 Desember 1947, negosiasi dimulai antara Belanda dan Indonesia di USS Renville sebagai tempat netral.

Pembantaian Rawagede

 

Meskipun lipatan-api perjanjian telah ditandatangani dan selama negosiasi di USS Renville, di Jawa Barat, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember, terus memburu tentara Indonesia dan patriot yang berjuang melawan Belanda. Tentara Belanda yang ambil bagian dalam Operasi di daerah Karawang adalah Detasemen 3-9 RI, ayat 1e dan 12 Genie compagnie veld compagnie, yang mendukung Brigade dari paramiliter dan DST (Depot Speciaale Troepen).
Pada tanggal 9 Desember 1947, sehari setelah dimulainya negosiasi Renville, tentara Belanda di bawah pimpinan seorang desa, Mayor Rawagede menyerang dan menyerbu rumah-rumah. Tapi mereka tidak menemukan anggota tentara Indonesia. Hal ini memicu mereka untuk memaksa orang untuk keluar dari rumah mereka untuk berkumpul di lapangan. Laki-laki di atas 15 tahun diperintahkan untuk berdiri berdampingan, dan kemudian mempertanyakan kehadiran pejuang Republik. Tapi tak satu pun dari orang-orang bersedia mengungkapkan lokasi pejuang Indonesia.
Petugas Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk remaja semuda 12 tahun. Hanya sedikit orang yang mampu melarikan diri ke hutan, meskipun mereka menderita luka tembak. Saih, salah satu korban selamat, sekarang berusia 83, bercerita bagaimana ia dan ayahnya dan tetangga sekitar 20 orang diperintahkan untuk berdiri dalam satu baris. Tentara Belanda kemudian mengosongkan senjata mesin mereka ke mereka, dan ayahnya yang berdiri di samping mereka tewas seketika oleh peluru. Dia juga kena tembak di tangan, tetapi ia jatuh di tanah dan pura-pura menjadi mati. Dia melarikan diri ketika ia menemukan kesempatan.


Pada hari itu, tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede, tanpa penyelidikan hukum, gugatan atau pertahanan. Sama seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede telah melakukan apa yang mereka disebut di tempat eksekusi (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan yang jelas dikategorikan sebagai kejahatan perang yang adalah pembunuhan non-pejuang. Diperkirakan bahwa para korban yang sebenarnya lebih dari 431, karena banyak telah tersapu oleh banjir deras akibat hujan deras.
Para hujan menyebabkan genangan darah terus membasahi desa. Apa yang tersisa adalah perempuan dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa, para wanita menguburkan mayat dengan di-peralatan yang memadai. Seorang ibu menguburkan suami dan dua putra berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak bisa menggali dalam-dalam, hanya 50 cm, yang menyebabkan stenches tinggal selama berhari-hari.
Pembantaian ini juga dikenal dengan Komite Jasa Baik untuk Indonesia dari PBB. Tapi komisi ‘reaksi terbatas pada’ kritikus ‘terhadap aksi militer yang mereka sebut “sengaja dan kejam”, tanpa sanksi yang ketat lebih lanjut karena pelanggaran hak asasi manusia; apalagi mengobati pembantaian ini terhadap orang tak bersalah sebagai kejahatan perang.
Sekarang, ada 9 janda korban dan 1 selamat dari pembantaian Rawagede pada 9 Desember 1947. Para, termuda Imi, kini berusia 75. Pada saat itu, ia berusia 15 tahun dan hanya menikah selama 3 hari ketika suaminya ditembak mati di depan matanya. Sejak itu, dia tidak menikah. Semua dari mereka adalah hanya orang desa buta huruf.

De Excessennota
Pada Januari 1969, di bawah tekanan parlemen Belanda, pemerintah Belanda membentuk tim untuk meninjau arsip yang diserahkan kepada pemerintah Belanda, dalam rangka untuk menyelidiki misconducts oleh anggota militer Belanda (KL, Koninklijke Landmacht dan KNIL, Koninklijke Nederlands-Indische Leger), di Indonesia selama 1945-1950. Setelah melakukan analisis dalam 5 bulan, hasilnya disusun dalam sebuah laporan dengan judul “Nota betreffende het naar gegevens omtrent archievenonderzoek excessen di pintu Indonesië begaan Nederlandse militairen dalam periode 1945-1950 de”, disingkat De Excessennota. Laporan resmi ini disampaikan oleh Perdana Menteri deJong pada tanggal 2 Juni 1969. Ini laporan yang disiapkan terburu-buru hanya mencantumkan 140 “ekses” yang dilakukan oleh tentara Belanda, meskipun banyak insiden lain, karena ada kasus pembunuhan besar yang dilakukan oleh personil militer Belanda tidak termasuk dalam Excessennota tersebut.
Di Belanda, banyak pihak telah jelas mencela bahwa apa yang telah dilakukan oleh militer Belanda selama periode ini adalah kejahatan perang (oorlogs-misdaden) dan bukan kelebihan belaka.
Pembantaian di Rawagede, Sulawesi Selatan dan banyak kejahatan berat lain terhadap kemanusiaan, hanya bukti kecil dari kejahatan perang militer Belanda ‘, dalam upayanya untuk kembali colonialize Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan.
Pada tanggal 16 Agustus 2005, di Jakarta, Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot menyatakan bahwa:

“… Dalam retrospeksi, jelas bahwa penyebaran skala besar atas kekuatan militer pada tahun 1947 menempatkan Belanda pada sisi sejarah yang salah. Fakta bahwa aksi militer diambil dan bahwa banyak orang di kedua belah pihak kehilangan nyawa atau terluka adalah kenyataan pahit dan pahit khusus untuk Anda, orang-orang dari Republik Indonesia. Sejumlah besar orang Anda diperkirakan telah meninggal sebagai akibat dari tindakan yang diambil oleh Belanda … “

Tetapi pernyataan ini telah menjabat sebagai lip service belaka, karena pemerintah Belanda terus tetap bertanggung jawab pada berbagai pembantaian non-kombatan orang Indonesia, dan 60 tahun setelah tragedi ini, tetap bersedia untuk mengkompensasi para korban selamat, janda dan anggota keluarga korban kekejaman tentara Belanda ‘dilakukan selama agresi militernya di Indonesia antara 1945-1950.

Pada 9 Desember 1947 tentara Belanda membantai 431 pria di desa Rawagede Jawa. Ini bukan kali pertama ini hantu dari masa lalu muncul di media nasional. Baru-baru ini misalnya wartawan ini menulis tentang hal itu. Pada bulan Desember 2007 koran “Trouw” didedikasikan sebuah artikel panjang ke halaman hitam sejarah Belanda. Dan sekarang, minggu lalu, ini kejahatan perang dari lebih dari enam puluh tahun yang lalu muncul kembali di TV, internet dan di koran sekali lagi.

Jumat, 12 September ada cerita ini oleh putra seorang perwira yang bertugas non selama perang kemerdekaan Indonesia di tentara DutchÂ. Bukan kebetulan belaka, karena awal minggu ini, Rabu, 11 September,  surat kabar lain, “De Volkskrant”, menerbitkan sebuah berita singkat, “adalah Klaim Bahasa Indonesia yang wajar”,  tentang korban dari peristiwa tertentu, yang hampir enam puluh tahun kemudian, mencari keadilan-yang adalah kompensasi keuangan – di Belanda courts. Dan pada hari Senin tanggal 8

September

Grup Gugat Kejahatan Perang Belanda di Rawagede

Pembantaian Belanda di Rawagede yang akan diadili di Den Haag pada 20 Juni 2011

Pembantaian di Rawagede 1947

VIVAnews – Ini adalah apa yang terjadi pada tanggal 9 Desember 1947: tentara Belanda memasuki desa Rawagede menginjak-injak. Para prajurit datang untuk mencari kelompok perusuh. Namun, apa yang terjadi adalah pembantaian. Sebanyak 430 pemukim meninggal, semua adalah laki-laki.

 

Saat itu hujan pada hari malang, arousining

 

atmosfer luar biasa. Merah cair, air yang dicampur dengan darah, dibanjiri desa. Perempuan dan anak-sisa pemukim-mengubur tubuh dengan apapun kekuatan dan alat yang mereka miliki. Bau busuk dari mayat dari kuburan dangkal di udara selama berhari-hari. Ini adalah kejahatan paling kejam dan berdarah Belanda yang pernah dilakukan antara tahun 1945 dan 1949.

Rawagede sekarang hilang, nama ini diubah menjadi Balongsari desa, di Rawamerta, Karawang. Hal ini terletak di antara Karawang dan Bekasi. Enam puluh empat tahun telah berlalu, namun kasus hukum Rawagede tidak selesai.

Keluarga para korban pembantaian mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Den Haag pada Rabu, Desember 9, 2009. Diwakili oleh Liesbeth Zegveld, keluarga meminta pemerintah Belanda untuk mengakui kekejaman yang mereka lakukan di Rawagede. Mereka juga meminta kompensasi.

Sidang kasus Rawagede belum lengkap. Pada Senin, Juni 20, 2011 09:30 waktu setempat, pengacara dijadwalkan untuk membaca janji atau pledooi administratie. “Kelompok keluarga korban yang menjadi saksi akan berangkat ke Belanda pada Rabu 15 Juni, 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta,” kata siaran pers Komite Utang Kehormatan Belanda yang VIVAnews diterima pada Selasa malam, 14 Juni , 2011.

Ini panggilan di masyarakat Indonesia, terutama yang hidup di negara-negara Uni Eropa, untuk menyaksikan sidang ini Senin. Terutama karena percobaan akan diadakan sehari sebelum peringatan kematian pertama di Indonesia Presiden Soekarno pada tanggal 21 Juni 2011.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia kemudian Nikolaos van Dam mengatakan, pemerintahnya telah menyampaikan penyesalan mendalam atas pembantaian Rawagede. Ini disampaikan ketika van Dam mengunjungi peringatan ke-61 Tragedi Rawagede di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada 9 Desember 2008

“Diperkirakan bahwa jumlah orang Indonesia yang meninggal karena kekerasan itu besar Belanda. Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyampaikan penyesalan mendalam atas semua penderitaan, “kata van Dam, yang pensiun sebagai diplomat senior di 2010.

Sebuah pengadilan Belanda diharapkan untuk memerintah nanti jika yang selamat dari pembantaian yang dilakukan lebih dari 60 tahun yang lalu akan mendapatkan kompensasi. Menurut peneliti Indonesia, pasukan belanda menghapuskan hampir seluruh penduduk laki-laki sebuah desa di Jawa Barat, dua tahun setelah bekas koloni mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1945. Kebanyakan orang Indonesia tidak tahu tentang pembantaian yang terjadi di Rawagede pada tahun 1947. Hanya baru-baru ini telah dibangun sebuah monumen untuk mengingatkan warga bahwa tentara Belanda membunuh semua orang desa. Para saksi hidup hanya sekarang di tahun 80-an mereka, dan buta huruf, setelah untuk berjuang sendiri setelah kematian suami mereka. “Ada mayat di mana-mana, banyak yang kami temukan di sungai setelah penembakan berhenti,” kata Cawi, sembuh. Pembantaian di Rawagede bukan satu-satunya desa di mana Belanda memiliki sejarah gelap yang belum terselesaikan. Langkah laporan Vassen Al Jazeera dari Rawagede, Indonesia.

Monumen Rawa Gede

Tempat: Kabupaten Karawang

 

Rawa Gede Monumen, salah satu tempat di Karachi yang memiliki nilai sejarah, adalah tempat di mana Anwar terinspirasi untuk menulis puisi yang terkenal Antara Karawang Bekasi. Dalam terjadinya peristiwa tragis tersebut sekarang telah dibangun Monumen Rawagede.


Anda akan mengikuti cerita tentang peristiwa tragis yang terjadi pada Rawagede 9 Desember 1947 yang dimulai sekitar pukul empat pagi. Pada saat itu, serangan militer ke Belanda melakukan rumah-rumah penduduk. Setiap orang yang ditemukan, terutama laki-laki, dikumpulkan di lapangan. Mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang yang bersembunyi sebagai ayah dari Kapten Lukas Kustaryo Danki Resimen VI Jakarta. Semua warga negara tidak ada yang menjawab, sehingga terjadi pembantaian oleh militer Belanda.
Acara ini diwujudkan dalam bentuk dua lantai bangunan monumen yang dibangun mulai November 1995 dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1996.

 Amati ruangan di lantai bawah di mana ada diorama pembantaian warga oleh tentara Belanda, yang mungkin akan membuat Anda berdiri dingin sedikit. Dinding luar dihiasi bagian bawah relief yang menggambarkan perjuangan rakyat Karawang. Khusus pada panel belakang relief menggambarkan perjuangan rakyat di daerah Karawang Rawagede sementara mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Makam pahlawan Sampurna Raga di belakang nama. Selain gerbang timur ada dua korban peristiwa kuburan pahlawan dalam aksi militer Belanda Rawagede. Tol itu terdiri dari peristiwa 9 Desember 1947 – Oktober 1948 sebanyak 491 orang. Di antara para korban dikuburkan di makam taman pahlawan sebanyak 181 orang Sampurna Raga.

————————————————– ————

Petisi untuk mendesak Pemerintah Belanda,
untuk mengakui de jure Hari Kemerdekaan Indonesia adalah pada tanggal 17 Agustus 1945, dan
untuk meminta maaf atas pelanggaran, perbudakan penjajahan, hak asasi manusia dan kejahatan mengerikan terhadap kemanusiaan

 
 
 
 

RAWAGEDE KARAWANG MASSACRE 1947

 

The Dutch ambassador to Indonesia attended Tuesday’s memorial service for those who died in the 1947 massacre at Rawagede on West Java, in which almost every man in the village was killed.

It was the first time a representative of the Dutch government has attended the annual event, and comes at a time when pressure is mounting for an official apology for the killing.

The massacre took place during the five years of guerilla war which preceded Indonesian independence when Dutch soldiers executed some 431 men and boys from the village.

In his speech, which was in Indonesian, Nikolaos van Dam referred to earlier “sincere apologies from the Dutch government.” Until now, the official Dutch line has been to say “sorry” for the massacre.

But in the Dutch version of the speech, the words apology or excuses do not appear. Instead, the word “regret” is used.

After his speech, the ambassador said the words could be taken as an apology. “For me, [apologies and saying sorry] are the same,” he said.

Batara Hutagalung, who is behind efforts to get the Dutch government to apologise properly, said the ambassador sent out a mixed message. “Was he speaking about apologies or about regret?” Hutagalung said. “He says they are the same thing, but they are not.”

In 2005 when the then foreign minister Ben Bot spoke about the massacre, he too used the word “regret”.

The Dutch government acknowledged in 1969 that a mass execution had taken place at Rawagede during Indonesia’s struggle for independence, after revelations by a former Dutch soldier on the scale of the atrocities perpetrated by the Dutch army in its former colony.

Relatives and survivors of a massacre in the Indonesian village of Rawagede in 1947 are demanding an apology and compensation from the Dutch government. Indonesia was a Dutch colony in the 1800s and was finally granted sovereignty in 1949 after an armed struggle.

“I never thought they would kill us because we were just ordinary people,” says Saih. “I only realised [what they were going to do] when they began the countdown… Een, twee, drie.” Three soldiers started shooting the men in the back.

According to the village, the soldiers shot dead all the men – 431 people. It was summary justice, meted out as the men were running away or hiding in the river. In 1969, an investigation by the Dutch government into war crimes in Indonesia says 150 were killed in Rawagede.

Saih, now in his late 80s, is one of the 10 survivors and relatives who, 61 years later, are asking for an apology and compensation for the massacre in the Indonesian village of Rawagede carried out by Dutch soldiers on December 9, 1947.

Last week lawyer Gerrit Jan Pulles and Comité Nederlandse Ereschulden, a foundation which represents civilian victims of Dutch colonial rule in Indonesia, said the Dutch government must accept responsibility for the massacre at Rawagede.

Independence

Just like many other men, Saih, who sold vegetables, hid in the river when the Dutch arrived. His body under the water, his head in a hole he dug in the river bed. But the soldiers’ four tracker dogs found him. His companion shouted “merdeka” (independence) and was shot. Saih gave himself up and went with the soldiers.

It was raining hard on that day in December 1947. The village of Rawagede was flooded. The Dutch soldiers were looking for Lukas Kustario, an Indonesian freedom fighter, but he had left the day before.

The men who were actually doing the shooting did not look Dutch, says Saih. They had dark skins. Two white Dutchmen watched. Saih was hit in the back, but the bullet had first passed through the son of the village chief so has lost some of its velocity.

Pretended to be dead

When the boy’s body fell on him, Saih pretended to be dead too. During the final salvo, Saih was hit in the arm. But he was still alive and when the soldiers left, he fled.

Batara Hutagalung, chairman of the Comité Nederlandse Ereschulden, became interested in the war crimes committed in Indonesia at the end of the 1990s when he read his father’s unpublished memoires, he says.

He read about the bombing of Surabaya in 1945 by the English who were helping the Dutch get back their colony. An estimated 20,000 people died. “It was the first time I was confronted with what happened back then,” says Hutagalung, who lived in Germany until 1992. “In Germany the Nazis were tried and tracked down as far as South America. I wondered why that didn’t happen here.”

The foundation has successfully asked for an apology and compensation from the British government for the Surabaya bombing.

Dutch government obstinate

Hutagalung then began working on the Rawagede case. But until now the Dutch government has been “obstinate”, he says. The fact that former foreign affairs minister Ben Bot expressed his “regret” for the violence in 2005 is not enough, he says. “Regret is not an apology. I don’t understand why it’s so difficult to say sorry.”

Today Rawagede is called Balongsari. It has a large memorial to the victims of the massacre. The river where Saih hid is now a thin stream full of rubbish. Balongsari is a colourful village thanks to its pretty coloured houses built by the villagers with money earned by many of the women who work temporarily in the Middle East. But according to its chief, the village is still poor. Most of its 3,000 inhabitants work on the land or make prawn crackers.

Piles of corpses

In one of the houses, lives the 86-year-old Tijeng. Mattresses are everywhere, 15 people from five generations live here. Tijeng was breastfeeding her daughter when her husband Nimong tried to flee from the Dutch.

He did not get far, he was captured and shot dead. Three days later Tijeng searched piles of corpses, looking for his body.

When Tijeng sees a baby, she remembers how helpless she felt then. “I didn’t know what to do. I had a baby. I couldn’t work.”

Saih and Tijeng do not know the details of their claim. They have merely given a fingerprint and had their photos taken. They are no longer angry with the Dutch. But compensation would be welcome.

Tijeng has no money for treatment on the swelling in her ear which is beginning to affect her sight too.

And Saih says: “It doesn’t have to be much. Just a small amount for a decent life until I die, and to give my children and grandchildren a better life.”

Tragedy of Rawagede Massacre, December 9, 1947

The Forgotten Dutch Military Aggression’s Victims

By Batara R. Hutagalung
Chairman of The Committee of Dutch Honorary Debts

On December 9, 2007 at the Rawagede monument, the 60th commemoration of the massacre in the Rawagede village will be held.
On December 1947, in military aggression by the Dutch started since July 21, 1947; Dutch military members have slaughtered 431 people of Rawagede village near Karawang, West Java . On October 1948, Dutch military again conducted ‘sweeping’ in Rawagede, and this time 35 more people were killed. The massacre of village people in Rawagede is the second largest massacre after the massacre by Dutch military members in South Sulawesi between December 1946 to February 1947. Until August 1949, thousands of people were still being murdered without legal inquiries. During its aggression in Indonesia between 1945-1950, Dutch military have conducted various atrocities and crimes against humanity and severe human rights abuses, include rape against Indonesian women who have been captured by Dutch military personnel.
Ironically, all the crimes and human rights abuses were done by Dutch military after the end of the World War II on 1945, after the Dutch have been freed from German’ military aggression and hundred thousands of Dutch people were released from Japanese Internment camps where they were detained from 1942-1945.
Netherlands, which is member of nations which victimize by German and Japan’ military aggression, which also made inquiries on German and Japan as perpetrator of war crimes and human rights abuse. But later, Dutch military did the same thing, and responsible for various war crimes and crimes against humanity in its efforts to reinstate its colonialism in Indonesia.

Background
Japan initiated its military aggression in East Asia by attacking the United States ’ military hub in Pearl Harbour, on December 1941. Then Japan attacked South East Asia , include Dutch’ colony which was Nederlands Indie. France , England and Dutch colonies in the region were one by one seized by Japan .
On March 1, 1942, Japanese army XVI under command of Lieutenant General Hitoshi Imamura attacked Java island, after Japan Navy destroyed Allies’ armies ABDACOM (American, British, Dutch, Australian Command) in a battle which known today as ‘the Battle of Java Sea’.
After the fight that last a week, Dutch military members in Dutch Indies almost without struggle, surrendered to Japanese army. On March 9, 1942 in Kalijati, near Subang, West Java, Lieutenant General Hein Ter Poorten, the top command of Dutch military in Dutch-Indies, representing Governor General of Dutch Indies, Jonkheer Alidus Warmmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer, signed a document of unconditional surrender and handed over all Dutch colonies to Japan. Therefore, March 9, 1942 marked the end of more than 300 years Dutch colonialism in Indonesia.
On August 15, 1945, Japan declared surrender to the Allies but the unconditional surrender document was signed on September 2, 1945, on board of US warship ‘USS Missouri’ in Tokyo Bay; which brought the vacuum of power during the two dates in all Japanese colonies include ex Dutch colonies which have been handed over to Japan.
On August 17, 1945, during the vacuum of power, Indonesian leaders have declared the Independence of Indonesia, and on August 18, 1945, have establish a government; which by thus, have fulfilled the three conditions to establish a nation, which are : 1. The presence of areas, 2. The presence of population, and 3. The presence of government.
On November 1946, the League of Arab Nations include Egypt, issued a resolution which acknowledged Indonesian independence as free and sovereign nation. It is a de jure acknowledgement according to International law.
After ‘surrendering’ its colonies formally to Japan, the Dutch have lost its rights and legitimation on Dutch-Indies. Therefore, when Indonesian people declared independence on August 17, 1945, this should not regarded as a coup against the Dutch.
The Dutch had been successful to obtain support from British to reinstate its colonialism in Indonesia, and these were enacted in Civil Affairs Agreement (CAA) which was signed in Chequers, England, on August 24, 1945. In CAA, British would ‘clean-up’ any military powers of Republic of Indonesia, to be transferred to NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
These are recorded in command of Vice Admiral Lord Louis Mountbatten, Supreme Commander S.E.Asia Command, dated September 2, 1945, which given to Commander of Division 5, which stated:

“…You are instructed to proceed with all speed to the island of Java in the East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces on that island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees.
In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is in a position to maintain services.
As you are no doubt aware, the local natives have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before the Japanese Invasion…”

Under assistance of 3 divisions of British army under command of Lieutenant General Phillip Christison and 2 divisions of Australian army under command of Lieutenant General Leslie “Ming the Merciless” Morsehead, gradually the Dutch acquired its power in Indonesia. On July 13, 1946, Australia ‘surrendered’ East Indonesia region to the Dutch, and on July 15-25, 1946, ex Dutch Vice Governor General, Dr. Van Mook, organized ‘Malino Conference’, near Makassar, to establish the East Indonesia State.
During the ‘clean-up period’ by British and Australian military, the Dutch sent more soldiers from Netherlands; in order when British and Australia pulled out their military personnel from Indonesia, the Dutch military power would be able to be immediate replacement. At that time, Dutch military members had exceeded 100,000 people and continuously increased to 200,000 people, with modern artilleries include heavy warfare which granted by British and Australian military.

Linggajati Agreement and Dutch Military Aggression I
British facilitated negotiation between Republic of Indonesia and Dutch in Linggajati. On November 15, 1946, Linggajati agreement was drafted; and on March 25, 1947, the agreement was formally signed by the government of Republic of Indonesia and Dutch government in Jakarta .
The Dutch was clearly using delay strategy, to strengthen its army in Indonesia by continuously shipped more people from Netherlands .
Linggajati aggrement lasted less than 4 months due to breach by the Dutch, by conducted military aggression which started on July 21, 1947, under code “Operatie Product”. As a mask to International community, the Dutch named this aggression as ‘police action’; and declared the acts as internal affairs, which equivalent to statement that Indonesia was still its colony.
Republic of Indonesia reported this aggression to the United Nations, due to its breach against international agreement which is Linggajati agreement. Security Council of the United Nations issued Resolution No. 27, dated August 1, 1947, which called for cease of conflict.
United Nations Security Council has been de facto acknowledged the existence of Republic of Indonesia ; which is proven by formally addressed ‘INDONESIA’ in its resolution, and not ‘Netherlands Indies’. Since the first resolution, which is Resolution No. 27 on August 1, 1947, followed by Resolution No. 30 and No. 31 dated August 25, 1947, Resolution No. 36 on November 1, 1947, and Resolution No. 67 on January 28, 1949, Security Council of the United Nations always referred conflict between Republic of Indonesia and Netherlands as ‘The Indonesian Question’.
Under pressure of United Nations Security Council, on August 15, 1947, the Dutch government finally accepted resolution of United Nations Security Council to stop the fight.
On August 17, 1947, government of Republic of Indonesia and the Dutch government agreed on resolution of United Nations Security Council to cease-fire, and on August 25, 1947, United Nations Security Council established a committee to mediate conflict between Indonesia and the Dutch. This committee acted as Committee of Good Offices for Indonesia, widely known as ‘Committee of Three Nations’, due to the three nations which were its members : Australia which was appointed by Indonesia, Belgium which was appointed by Netherlands and the United States as the neutral party.
Facilitated by Committee of Good Offices for Indonesia , on December 8, 1947, a negotiation was initiated between the Dutch and Indonesia in USS Renville as neutral place.

Rawagede Massacre

 

 

Eventhough crease-fire agreement has been signed and during the negotiation in USS Renville, in West Java, the Dutch army from Division 1 which also known as Division of December 7, continued to hunt Indonesian army and patriots who fought against the Dutch. Dutch army which took part in Operation in Karawang areas were Detachment 3-9 RI, 1e para compagnie and 12 Genie veld compagnie, which were support brigade from paramilitary and DST (Depot Speciaale Troepen).
On December 9, 1947, a day after the initiation of Renville negotiation, Dutch army under command of a Major, attacked Rawagede village and raided houses. But they did not find members of Indonesia army. This triggered them to force people to get out from their homes to be gathered in a field. Males above 15 years were ordered to stand side by side, and then questioned on the presence of Republic fighters. But none of the people were willing to reveal the location of Indonesian fighters.
The Dutch Officer then commanded to shoot dead all male villagers, include teenagers as young as 12 years. Few people were able to escape to the forest, even though they suffered bullet wounds. Saih, one of the survivors, now aged 83, told a story how he and his father and neighbors about 20 people were ordered to stand in a line. The Dutch army then emptied their machine weapons onto them, and his father who stood next to them died instantly by the bullets. He also shot in his hand, but he fell on the ground and feigned to be death. He ran away when he found chance.
On that day, Dutch army massacred 431 people of Rawagede; without legal inquiry, lawsuit nor defense. Same as in South Sulawesi, the Dutch army in Rawagede have conducted what they referred as on-site execution (standrechtelijke excecuties); an act which clearly categorized as war crimes which is murder of non-combatants. It was estimated that the actual victims were more than 431, since many have been swept away by torrential flood due to heavy rain.
The downpours caused pool of bloods continue to drench the village. What left were women and children. The next day, after the Dutch army left the village, the women buried the bodies with in-adequate equipments. One mother buried her husband and two sons aged 12 and 15 years. They could not dug deep, only 50 centimeters, which caused the stenches stayed for days.
This massacre was also known by Committee of Good Offices for Indonesia from the United Nations. But the commission’ reaction was limited to ‘critic’ against the military action which they called “deliberate and ruthless”, without further strict sanction due to human-rights abuse; let alone treating this massacre against innocent people as war crimes.
Now, there are 9 widows of the victims and 1 survivor of Rawagede massacre on December 9, 1947. The youngest, Imi, now aged 75. At that time, she was 15 years old and just married for 3 days when her husband was shot dead before her eyes. Since then, she is not married. All of them are only illiterate village people.

De Excessennota
On January 1969, under pressure of Dutch parliament, the Dutch government established a team to review archives which submitted to Dutch government, in order to investigate misconducts by Dutch military members (KL, Koninklijke Landmacht and KNIL, Koninklijke Nederlands-Indische Leger), in Indonesia during 1945-1950. After conducting analysis in 5 months, the results were compiled in a report under title “Nota betreffende het archievenonderzoek naar gegevens omtrent excessen in Indonesië begaan door Nederlandse militairen in de periode 1945-1950”, shortened as De Excessennota. This formal report was presented by Prime Minister deJong on June 2, 1969. This report which prepared in a hurry only put 140 ‘excess’ which done by Dutch army, despite many other incidents; since there were large murder cases done by Dutch military personnel were not included in the Excessennota.
In Netherlands, many parties have clearly denounce that what have been done by Dutch military during this period are war crimes (oorlogs-misdaden) and not a mere excess.
The massacre in Rawagede, South Sulawesi and many other severe crimes against humanity, are only small evidences of Dutch military’ war crimes, in its efforts to re-colonialize Indonesia, after Indonesian people declared independence.
On August 16, 2005, in Jakarta , Dutch Foreign Minister Ben Bot stated that:

“…In retrospect, it is clear that its large-scale deployment of military forces in 1947 put the Netherlands on the wrong side of history. The fact that military action was taken and that many people on both sides lost their lives or were wounded is a harsh and bitter reality especially for you, the people of the Republic of Indonesia . A large number of your people are estimated to have died as a result of the action taken by the Netherlands …”

But this statement has been served as a mere lip service, since the Dutch government continues to remain irresponsible on various massacres on non-combatant people of Indonesia, and 60 years after these tragedies, remained unwilling to compensate the surviving victims, widows and family members of victims of Dutch army’ atrocities conducted during its military aggression in Indonesia between 1945-1950.

 

On the 9th of December 1947 Dutch soldiers massacred 431 men in the Javanese village of Rawagede. It is not the first time this ghost from the past surfaced in the national media. Recently for instance this reporter wrote about it. In December 2007 newspaper “Trouw” dedicated a lengthy article to this black page of Dutch history. And now, last week, this war crime from over sixty years ago reappeared on TV, internet and in the papers once more.

Friday, the 12th of September there was this story by the son of a non commissioned officer who served during the Indonesian war of independence in the Dutch  army. Not a sheer coincidence, because earlier this week, Wednesday, the 11th of September,  another newspaper, “De Volkskrant”, published a short news item, “The Indonesian claim is reasonable” ,  about victims of that particular event, who almost sixty years later, seek justice- that is financial compensation – in Dutch courts.  And on Monday the 8th of

September

Group Sues Dutch War Crimes in Rawagede

The Dutch massacre in Rawagede is to be tried in The Hague on June 20 2011

 

Rawagede Massacre in 1947 (www.eenvandaag.nl)

VIVAnews – This is what happened on December 9, 1947: the Dutch soldiers’ trample entering Rawagede village. The soldiers came to search for a group of rioters. However, what happened was a massacre. As many as 430 settlers died, all were men.

 

It was raining on that unfortunate day, arousining

 

uncanny atmosphere. Red liquid, water mixed with blood, swamped the village. Women and children—the remaining settlers—buried the bodies with whatever strength and tools they had. The stench of the bodies from shallow graves was in the air for days. It was the cruelest and bloody crime the Dutch had ever committed between 1945 and 1949.

Rawagede is now gone, the name is changed to Balongsari village, in Rawamerta, Karawang. It is situated between Karawang and Bekasi. Sixty four years have passed, but the Rawagede legal case is not completed.

The families of the massacre victims filed a lawsuit at The Hague District Court on Wednesday, December 9, 2009. Represented by Liesbeth Zegveld, the families asked the Netherlands government to acknowledge the cruelty they have committed in Rawagede. They also asked for compensation.

The trial of Rawagede case is not yet complete. On Monday, June 20, 2011 at 9.30am local time, the lawyer is scheduled to read out a pledge or pledooi administratie. “The group of the victims’ families who become witnesses will leave for the Netherlands on Wednesday, June 15, 2011 from Soekarno-Hatta airport,” says the press release of the Committee of Dutch Honorary Debts that VIVAnews received on Tuesday evening, June 14, 2011.

It calls on Indonesian community, especially who are living in European Union countries, to watch the trial this Monday. Especially because the trial will be held a day before the commemoration of the death of Indonesia’s first president Sukarno on June 21, 2011.

The then Dutch Ambassador to Indonesia Nikolaos van Dam said his government had conveyed a deep regret over the Rawagede massacre. This was delivered when van Dam visited the 61st commemoration of Rawagede Tragedy at Rawagede Monument, Balongsari village, Rawamerta, Karawang district, West Java on December 9, 2008


“It was estimated that the number of Indonesians who died because of the Dutch’s violence was large. On behalf of the Dutch government, I would like to convey a deep regret over all the sufferings,” said van Dam, who retired as senior diplomat in 2010.

A Dutch court is expected to rule later if survivors of a massacre carried out more than 60 years ago will get compensation. According to Indonesian researchers, dutch troops wiped out almost the entire male population of a village in West Java, two years after the former colony declared independence in 1945. Most Indonesians do not know about the massacre that took place in Rawagede in 1947. Only recently has a monument been built to remind residents that Dutch soldiers killed all the men of the village. The only living witnesses are now in their 80s, and illiterate, after having to fend for themselves following the deaths of their husbands. “There were dead bodies everywhere, many of which we found in the river after the shooting stopped,” said Cawi, a survivor. The massacre in Rawagede is not the only village where the Netherlands has an unresolved dark history. Al Jazeera’s Step Vassen reports from Rawagede, Indonesia.

Monument Rawa Gede

Place :Karawang Regencies

 

Rawa Gede Monument, one of the places in Karachi that has historical value, is the place where Anwar was inspired to write the famous poem Between Karawang Bekasi. In the occurrence of these tragic events have now been built Rawagede Monument.
You will follow the story of the tragic events that occurred Rawagede on December 9, 1947 which began about four o’clock in the morning. At that time, Dutch military conduct raids into people’s homes. Any person who is found, especially males, were collected in the field. They asked about the whereabouts of fighters who hide as the father of Captain Luke Kustaryo Danki Regiment VI Jakarta. All citizens no one answered, so there was a massacre by Dutch military.
The event is manifested in the form of two-storey building monuments built starting in November 1995 and inaugurated on July 12, 1996. Observe the room downstairs where there is a diorama of the massacre the citizens by the Dutch army, which will probably make you a little chilling stand. The outer walls are decorated the bottom of the reliefs depicting the struggle of the people of Falkirk. Specifically on the rear panel reliefs depicted the struggle of the people in the Falkirk area Rawagede while risking life for the sake of independence. The tomb of a hero in the back named Raga Sampurna. In addition to the eastern entrance there are two victims of a hero’s grave events in Rawagede Dutch military action. The toll was made up of events December 9, 1947 – October 1948 as many as 491 people. Among the victims were buried in the garden tomb of heroes as much as 181 people Raga Sampurna.

 

 

 


————————————————————–

Petition to urge the Netherlands Government,
to recognize de jure Indonesian Independence Day was on August 17th 1945, and
to apologize for the colonialization, slavery, violation of human rights and horrific crimes against humanity

 the end @ copyrigh6t Dr iwan suwandy 2011

The Vitiligo or Leukoderma Informations

VITILIGO INFORMATIONS

 

CREATED BY

Dr IWAN SUWANDY,MHA

LIMITED PRIVATE EDITION IN CD-ROM SPECIAL FOR PREMIUM MEMBERS

Jakarta @copyright Dr iwan suwandy,MHA 2011

THE COMPLETE INFORMATION EXIST,BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER,PLEASE SUBSCRIBE VIA COMMENT

THE INFO INCLUDING:

WHAT IS VITILIGO

MODERN AND TRADITIONAL THERAPY OF VITILIGO

THE END @ copyrigth Dr Iwan Suwandy 2011

The Postal History Of Dutch Federal state in indonesia 1947-1949

 

The Postal History Of Dutch Federal State at  Indonesia in 1947-1949

based on postal and document history

Creaty by

Dr Iwan Suwandy

private limited edition in ten CD-ROM special edition

Jakarta @Copyright Dr iwan suwandy 2011

THE POSTAL HISTORY ARRANGED ON THE DUTCH FEDREAL PTT AREA

(RESEARCH BY DR IWAN FROM HIS PRIVATE COLLECTIONS)

 

AREA I


a.The subdivision Manggarai (Roeteng) III Residence Timor

b.The subdivision Gianjar Kloengkoeng III and IIII of Residence Bali and Lombok

 

AREA II
a.The Regencies Pekalongan IV Demak Grobogan IV and IV of the Resort of Recomba for Central Java.


b.Subsections IV Maros, Goa (Soewnggoe Minahasa) IV-Djeneponto Takelar IV Bonthain IV Boeloekoemba IV Sindjai III, Bone (Watampone) III Soppeng (Watansoppeng) IV of Residence South Sulawesi

c.The Bima Subsection (Raba) IV of the Residence Timor

d.The Subdivisions III ,IV Karangasem, East Lombok (Selong) III and Central Lombok (Praja) IV of Residence Bali and Lombok

 

 

AREA III

a.The regencies Cheribon IV Kuningan Madjalengka IV and IV of the Resort from the main real time Bsetuur dienst Cheribon

b.The regenstchapen Pemalang IV Tegal IV Brebes IV, Kendal IV Banjumas IV Poerbalinggo IV Cilacap IV Banjarnegara IV and Kebumen IV alsmande District Salatiga IV of the Regency Semarang, the resort of Recomba for Central Java.

c.Under the afdellingen Tandjoengpinantg IV, Kari (Tandjoengbalai) IV,

f.Pulau Toedjoeh IV ( Terempa) the residence Riouw

g.The Rantau Onderafdel8ingen IV Poelaoe Tanah Boemboe (Kota baroe0) IV of the Residence south borneo

h.The Subdivisions pangkadjene IV Saleier (Benteng) IV Wadjo (Sengkang) IV Berroe9Soempang Bimanga) IV Madjene IV, Kendari IV Paloppo IV, IV and Masamba Malili of Residence South Sulawesi

i.The Subdivisions Poso IV Kolonedale IV and Banggai9Loewoek) IV of the Residence Manado

gThe Subdivision Ngada (Badjawa) IV of the Residence Timor.

h.The Subdivisions Boeleleng (Singaradja) IV Djembrana (Negara) IV and Badung (Denpasar) IV of the Residence Bali and Lombok

i.Rain Shelves Modjokerto IV Djombang IV Loemadjang IV Bondowoso Banjoewangi IV and IV of the resort of Recomba for East Java

 

AREA IV

a.The main resort of the Temporary Bestuurdiesnt Batavia V


b.The main resort of the Temporary Bestuurdiesnt Buitenzorg v

c.The main resort of the Temporary Bestuurdiesnt Bandung V

d.The Regency Indramayu Ressort IV of the Temporary Administration of the Head Office Cheribon

e.The Regency Semarang IV (with the exception of the Resort District of Salatiga in Central Java for the Recomba)

f.The Regency Surabaya V Sidoardjo IV Panaroekan V Djember V, Malang V Paoeroean V, V Probolinggo, Pamekasan V, VI Soemenep enBangkalan V of the Resort of Recomba for East Java

g.The Subdivisions Lingga (Dab0-Singkep) V of the residence Riouw

h.The Subdividson Ogan Ilir (Tandjung Radja0 V Lematang Ilir (moear Enim) VI of the Resort of the South Sumatra Recomba

i.The Residence South Borneo VI (except for Subdivisions and Rantau Pulu Laoet Tanah Boemboie (Kota Baroe)0

j.The Residence OoostBorneo VI (except for Subdivisions Tidoengan Countries (Malinan) and Boelongan (Tandjung Seilor)

k.Subdivisions of the V Makassar, Pare-pare V Pinrang V Polewali V, V Manoedjoe, Buton (Baoebaoe) and Muna V (V Raha0 of Residence South Sulawesi

l.The Subdivisions Ternate VI Djailolo VI VI Tobelo sula and Islands (Sanana) IV of the North Moluccas Residence

m.The Residence Timor V (except for Subdivisions Koepang, Ngada (Badjawa0, Manggarai (Roeteng) and Bima (Raha)

n.The subdivision west of Lombok (Mataram) V of the residence Bali and Lombok

 

 

 

 

AREA V

a.It reports to the Head of Temporary Besrtuurdienst Medan VI

b.Temporary Head of the Resort Sabang Besrtuurdienst VI

c.Temporary Head of the Resort Padang Besrtuurdienst VI

d.The Resort of South Sumatra recomba VI (except Subdivisions Ogan Ilir Ilir Lematang Tandjoeng Raja and Muara Enim)

e.Bangka and Billiton, the Residence VI

f.The Subdivision Tidoengse Countries (Malinau) and Vi Boelongan (Tandjung Seiler) Vi of the Residence East Borneo

g.The Subdivisions Sangir and Talaud islands (Tahoena) VI and Boeol (Leok) and Vi and the Residence Manado

h.The South Residence molluken VI (except subsection West Seram (Piroe)

i.The Subdivisions Batjan (Laboeha) VI of the North Residence Molluken

j.The Residence New Guinea VI
 

k.The Subdivision Koepang VI of the Residency Timor

 

 

AREA VI

a.The Residence West Borneo VII

b.The Subdivisions West Seram (Piroe) VI of the Residency South Moluccas

c.The subdivision Weda the VI and VI of the residence North Morotai Molukkden

 

 

 

THE ORIGINAL DOCUMENT  Dr IWAN COLLECTIONS FOUND AT PADANG IN 1980

Original info in Dutch language

Gelezen de brieven van:

a.het hoofd van de dienst voor Algemene Perdsonele zaken van 29 december 1948 no PK 1e/21, en van 5 january 1949 No.s P.1e/30

b.de wd.Voorzitter van de algemende Personeelraad van 30 december 1948 No. APR/A.21.

onz onz

Ten zevende: Te bepalen,dat dit besluit gescht wordt in werking te zijn getreden met ingang van 1 januari 1949 .met dien verstande,dat ten aanzien van  hen, aan wie na een ontslag uit de overheidds dienst, verloend na die datum, pensioen of onderstand bij wijze van pensoen grondslag zal worden gescht in werking te zijn getrende op 1 augutus 1q947.

BETSLINGS REGELING AMBTENAAR EN GEPENSIONNEERINGEN 1949

TABEL I

INDELING GE LEDSDELEN IN RAYONS

RAYON I

De onderafdeling Manggarai(Roeteng) III van Residentie Timor

De onder afdeling Gianjar IIII en Kloengkoeng III van de Residentie Bali en Lombok

RAYON II

De Regentschappen Pekalongan IV Demak IV en Grobogan IV van het Ressort van de Recomba voor Midden Java.

De onder afdelingen  Maros IV,Goa(Soewnggoe minahasa) IV,Djeneponto-Takelar IV, Bonthain IV,Boeloekoemba IV, Sindjai III,Bone(Watampone) III,Soppeng(Watansoppeng)IV, van Residentie  Zuid-Celebes

De Onderafdeling Bima(Raba) IV van de Residentie Timor

De Onderafdelingen III<Karangasem IV,ooost Lombok(Selong) III en Midden-Lombok(Praja) Iv van de Residentie Bali en Lombok

 

RAYON III

De regentschappen Cheribon IV, Koeningan IV en Madjalengka IV van het Ressort van het Hoofd tijdlijke Bsetuur diesnt Cheribon

De regenstchapen Pemalang IV, Tegal IV, Brebes IV, Kendal IV,Banjoemas IV,Poerbalinggo IV,Tjilatjap IV,Bandjarnegara IV en Keboemen IV, alsmande het district Salatiga IV van het Regentschap Semarang, van het resort van de Recomba voor Midden Java.

De Onder afdellingen Tandjoengpinantg IV,Karimoen(Tandjoengbalai) IV,Poelau RToedjoeh(Terempa0 IV ven de residentie Riouw

De Onderafdel8ingen  Rantau IV en Poelaoe Tanah Boembo(Kota baroe0) IV van de Residentie zuid borneo

De Onderafdelingen pangkadjene IV,Saleier(Benteng) IV,Wadjo(Sengkang) IV, Berroe9Soempang Bimanga)IV,Madjene IV,Kendari IV,Paloppo IV, Masamba IV en Malili van de Residentie Zuid Celebes

De Onderafdelingen Poso IV,Kolonedale IV, en Banggai9Loewoek) IV van de Residentie Manado

De Onderafedlinge  Ngada(Badjawa0 IV van de Residentie Timor.

De Onderafdelingen Boeleleng(Singaradja) IV,Djembrana(Negara) IV en Badoeng(denpasar) IV van de Residentie Bali en Lombok

De Regenschappen Modjokerto IV,Djombang IV,Loemadjang IV,Bondowoso IV en Banjoewangi IV van het resort van de Recomba voor oost Java

 

RAYON IV

De resort van het hoofd Tijdelijke Bestuurdiesnt Batavia V

De resort van het hoofd Tijdelijke Bestuurdiesnt Buitenzorg v

De resort van het hoofd Tijdelijke Bestuurdiesnt Bandoeng V

Het Regentschap Indramajoe IV van het Ressort van het Hoofd Tijdelijke Bestuurdienst Cheribon

Het Regentschap Semarang IV  (met uitzondering van het District Salatiga van het Ressort van de Recomba voor Midden Java)

Het Regentschap Soerabaja V, Sidoardjo IV, Panaroekan V,Djember V,Malang V,Paoeroean V,Probolinggo V,Pamekasan V,Soemenep VI enBangkalan V van het Ressort van de Recomba voor oost Java

De Onderafdelingen Lingga(Dab0-Singkep) V van de residentie Riouw

De OnderafdelingenOgan Ilir(Tandjoeng Radja0 V en Lematang Ilir (moear enim) VI van het Ressort van de Recomba voor Zuid Sumatra

De Residentie Zuid Borneo VI(met uitzondering van de Onderafdelingen  Rantau en Poeloe Laoet Tanah Boemboie(Kota Baroe0

De Residentie OoostBorneo VI(met uitzondering van de Onderafdelingen Tidoengan Landen(Malinan) en Boelongan(Tandjoeng Seilor)

De Onderafdelingen Makassar V, pare-pare V,Piarang V, Polewali V, Manoedjoe V,Boeton (Baoebaoe) V en Moena(Raha0 V van de Residentie Zuid celebes

De Onderafdelingen Ternate VI,Djailolo VI,Tobelo VI en soela eilanden (Sanana) IV van de Residentie Noord Molukken

De Residentie Timor V(met uitzondering van de Onderafdelingen Koepang,Ngada(Badjawa0,Manggarai(Roeteng) en Bima(Raha)

De OnderafdelingenWest Lombok(Mataram) V van de residentie Bali en Lombok

 

RAYON V

Het Ressort van het Hoofd Tijdelijke Besrtuurdienst Medan VI

Het Ressort van het Hoofd Tijdelijke Besrtuurdienst Sabang VI

Het Ressort van het Hoofd Tijdelijke Besrtuurdienst  Padang VI

Het Ressort van de recomba voor Zuid  Sumatra VI(met uitzondering van de Onderafdelingen Ogan Ilir Tnadjoeng Radja en  Lematang Ilir Moeara Enim)

De Residentie Bangka en Billiton VI

De OndersafdelingenTidoengse Landen(Malinau)  Vi en  Boelongan (Tandjoeng Seiler) Vi van de residentie  Oost Borneo)

De Ondersafdelingen Sangir en Talaud eilanden(Tahoena) VI en Boeol(leok) Vi en  en van  de Residentie Manado

De Residentie Zuid molluken VI(met uitzondering van de onder afdeling West Ceram (Piroe)

De Ondersafdelingen Batjan(Laboeha) VI van de Residentie Noord Molluken

De Residentie Nieuw Guinea VI

 De OndersafdelingenKoepang VI van de Residentie Timor

RAYON VI

De Residentie West Borneo VII

De Ondersafdelingen West Ceram(Piroe) VI van de Residentie Zuid molukken

De OndersfdelingenWeda VI en Morotai VI van de residentie  Noord Molukkden

the illustration of collections exist,but only for premium member,please subscribed via comment.

the end @copyright Dr Iwan Suwandy 2011

 

The Crimean Baltic collections

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

THE CRIMEAN BALTIC COLLECTIONS

 

 

 

 

 

 

 

 

INDONESIAN VERSION

Sudak Yevgeny telah menyarankan agar saya pergi ke Gua Marmer, tapi aku lebih tertarik pada warisan Genoa Crimea dan hubungan sejarah dengan Jalan Sutra. Jadi, Sudak harus tempat untuk pergi sebelum mengambil kereta malam ke Odessa.
Sudak Yevgeny telah menyarankan agar saya pergi ke Gua Marmer, tapi aku lebih tertarik pada warisan Genoa Crimea dan hubungan sejarah dengan Jalan Sutra. Jadi, Sudak harus tempat untuk pergi sebelum mengambil kereta malam ke Odessa.

 Trident, simbol nasional Ukraina. Pertama kali muncul sebagai simbol dari Prince Vladimir (Volodymir) dari Kyiv.

Kami melaju ke arah timur melintasi dataran datar Krimea pusat. Patch rumput, ladang gandum dan rawa sesekali. Kami juga melewati sebuah kota bernama Bilohirsk, atau “Gunung Putih” – satu bisa melihat tebing yang tajam putih vertikal naik dari dataran. Beberapa desa Tatar baru berdiri di dekatnya, dengan bidang yang subur mereka sayuran, dinding baru dicat dan atap terkonjugasi mengkilap. Banyak Tatar, bagaimanapun, tetap di trailer dan gubuk-gubuk, menunggu selesainya rumah yang lebih permanen. Tatar telah dipaksa untuk pindah ke tanah-tanah kosong, karena rumah nenek moyang mereka sekarang diduduki oleh pendatang baru. Aku bertanya-tanya apakah ini adalah hal yang baik. Akibatnya, mereka sedang ghettoised dan hidup terpisah dari kelompok etnis lain dari Crimea. Hal ini juga dapat menempatkan mereka di jalur tabrakan dengan orang lain, khususnya Rusia setempat.

 Sudak mengesankan dinding.

Kami mencapai Sudak setelah dua jam mengemudi terus menerus. Cincin abad ke 14 mengesankan dinding cokelat tinggi dan menara berdiri di atas tebing pantai yang menghadap kota kuno ini. Ini pernah menjadi salah satu pelabuhan yang paling penting Genoa perdagangan, dan salah satu titik terminal dari Jalan Sutra. Kekayaan Timur, dilakukan di dataran dan gurun dari Eurasia, melewati Sudak dalam perjalanan ke Genoa dan Barat. Marco Polo ayah dan paman dilaporkan berhenti di sini dalam perjalanan mereka ke Cina. Namun sejarah kota tanggal untuk periode sebelumnya jauh sebelum itu. Sudak mulai keberadaannya sebagai kota Yunani, dan kemudian menaklukkan, dipecat dan dibangun kembali oleh setiap penjajah itu Crimea – Scythians, Khazar, Mongol, Genoa, Venesia, Turki Ottoman / Tatar, dan Rusia.

  Perangko menampilkan artefak Scythian.

Neal Ascherson, dalam “Laut Hitam” disebutkan tentang mengunjungi sebuah makam kuno Khazar digali antara yayasan Bizantium di sini. Para Khazar adalah suku nomaden kuno Turki yang masuk Yudaisme pada abad ke 8, banyak dari mereka menetap di Crimea dan dataran Ukraina, dan diperdagangkan hasil pertanian dari tanah hitam yang kaya untuk kerajinan emas meriah dari semua jenis yang pengrajin Yunani terkenal karena – perhiasan dan perhiasan, minum kapal dengan ukiran yang rumit mereka. Mengingat populasi yang tumbuh cepat dari Yunani kecil negara-kota, itu tidak lama sebelum mereka menjadi sangat tergantung pada gandum koloni yang jauh di pantai Laut Hitam dan Sisilia. Di sisi lain, banyak Khazar tinggal di dekat atau dalam kota-kota Yunani, memperoleh rasa untuk gaya hidup kosmopolitan yang lebih canggih yang mereka tawarkan. Khazar Ascherson makam yang dikunjungi tidak biasa, karena tidak hanya itu penguburan Turki dilakukan dengan ritual Yahudi di sebuah kota Kristen Yunani Ortodoks, tetapi itu juga berisi kerangka dari sebuah pengorbanan manusia. Menurut Ascherson, “korban – berotak oleh pukulan kapak – dilemparkan ke kubur untuk berbaring di samping penghuninya Khazar nya” dalam tradisi suku nomaden sejati.

Sudak menurun setelah penangkapan Ottoman Konstantinopel dan akhirnya dari Sudak sendiri. Dari pelabuhan perdagangan internasional, menjadi pusat administrasi provinsi pertanian yang resmi catatan berkaitan dengan sengketa lahan pertanian lokal daripada internasional geopolitik. Perannya semakin diencerkan ketika perdagangan budak menguntungkan dipindahkan ke Kaffa dekatnya, sekarang dikenal sebagai Feodosia.

 Lama kartu pos Crimea

Sudak saat ini sebuah resor pantai mengantuk, tentu tidak menyenangkan seperti Yalta. Beberapa penyamak kulit matahari berbaring di pantai, dan beberapa menyenangkan-pencari adalah air-ski di perairan yang tenang. Atas desakan Yevgeny, aku bergabung dengan wisatawan di Novy Svet, atau “New World”, sebuah resor bahkan mengantuk beberapa mil jauhnya. Kami berjalan sepanjang jalan sempit di tepi air gunung laut menempel, dan menemukan diri kita dalam sebuah gua besar yang pernah aula partai konglomerat lokal. Tsar, anggota bangsawan, okabe industrialisasi akhir abad ke-19 Rusia, taipan minyak Baku, chic modis Tinggi Masyarakat St Petersburg semua berjuang untuk menghadiri pesta-pesta legendaris pernah diadakan di sini. Satu masih bisa melihat sisa-sisa dari barel anggur besar dan gudang di gua ini partai. Bagaimana sebotol vintage Sauvignon Blanc Massandra?

“Sudah waktunya untuk kembali ke Simferopol,” kata Yevgeny. Tidak akan ada cukup waktu untuk mengunjungi Feodosia dekatnya, di mana Turki dan Tatar pernah lari pasar budak terbesar di kawasan Laut Hitam. Kaffa, seperti yang kemudian dikenal, sering disebut oleh orang Rusia sebagai “vampir yang minum darah Rus”.
 

Ke Odessa

Kami memiliki sup borshch lezat di rumah Yevgeny dan kemudian aku berpamitan kepada keluarga yang ramah Yevgeny. Vera bahkan menyiapkan sebuah tas kecil dengan permen, coklat, kue dan apel untuk subsisten dasar di kereta api. Aku naik kereta api tidak lama sebelum waktu keberangkatan, saat saya berhenti dan diperiksa oleh polisi. Paspor? Da. OVIR? Da. Dan aku pergi, setelah berpamitan dengan Yevgeny.

Kereta berangkat tepat waktu pada pukul 5:05, dan untuk melakukan perjalanan di Crimea menjadi “Ukraina yang tepat daratan”. Ini adalah “lahan kosong” sekali dari Novorossiya, di mana perang tanpa ampun antara Tatar dan Cossack mengosongkan tanah penduduk. Ada padang rumput yang luas pernah mendominasi cakrawala – lanskap tak berujung datar dengan apa-apa kecuali padang rumput dan Starfield bunga, yang monoton yang, menurut Anna Reid dalam perbatasan, kadang-kadang dipecahkan oleh pohon-pohon willow yang tersebar dan gundukan pemakaman prajurit nomaden kuno. Wisatawan pernah disebut lautan rumput bukan untuk alasan lain. Sungguh sayang bahwa saya hanya menyusuri sepanjang tepi selatan laut ini, yang dalam hal apapun, sebagian besar telah digantikan di masa Stalinis oleh besar pertanian kolektif tidak produktif dan tanah kosong industri sama-sama bangkrut.

Saya berbagi 4-orang kelas saya kabin tidur 2 (UAH 30 atau US $ 7) dengan pasangan muda asmara yang menghabiskan separuh waktu dalam pelukan masing-masing, dan yang tidak diragukan lagi telah pergi lebih lanjut dengan kasih sayang mereka jika tidak untuk kehadiran saya .. . Ketika saya bertanya apakah mereka tahu bahasa Inggris “Vi Gava ritye pa-angliski?”, Nyet adalah jawabannya. Tentu saja, akan Anda repot-repot untuk berbicara dengan seorang asing mencari membosankan ketika ada kesenangan duniawi lebih menyenangkan?

Itu hanya ketika saya terlihat mencoba menguraikan bagan rel jadwal yang saya diminta, dalam bahasa Inggris, apakah saya membutuhkan bantuan apapun. Jadi mereka tahu bahasa Inggris setelah semua.

“Da, sedikit,” jawab chap. Banyak orang dalam CIS sebenarnya belajar bahasa Inggris di sekolah tetapi kurangnya kesempatan untuk berlatih itu berarti bahwa mereka kurang percaya diri untuk berbicara bahasa bahkan jika seperti kesempatan muncul.

 Stamp memperingati Paskah, festival tradisional paling penting di Ukraina.

Anton dan Anatashia sedang dalam perjalanan mereka kembali ke Odessa setelah liburan Yalta. Anton adalah dari Balti Moldova (diucapkan “Belt”) dan sekarang bekerja sebagai montir di Odessa. Anatashia adalah Ukraina, rumah-tumbuh Odessan, sekarang di sekolah pelatihan polisi. Mengingat begitu-jauh saya pengalaman negatif dengan polisi Ukraina, saya tidak bisa membantu tetapi bertanya-tanya berapa lama akan mengambil gadis, manis cantik untuk berubah menjadi jenis jahat, birokrat korup saya telah bertemu dalam perjalanan ini.

Kami memiliki percakapan yang menarik tentang kehidupan di Odessa, Krimea indah, pertempuran yang tidak pernah berakhir antara Moldova dan anggur Krimea (yang tentu saja Anton melawan Anatashia diadu), dan identitas membingungkan menjadi Moldovan atau Rumania. Sebelum lama, kami berbagi buah-buahan dan tidbits, dan Anton bahkan mengajari saya bagaimana untuk mengaktifkan Rusia, atau lebih tepatnya, untuk secara politis benar, toilet kereta tekan Ukraina, yang begitu berbeda dari keran lain saya telah melihat di tempat lain. Tidak ada bagi Anda untuk menghidupkan, tapi metalpiece pressable sedikit di belakang nozzle. Apa pengenalan tradisi Samovar besar kereta CIS – Saudara-saudara, diri-layanan teh waktu!

 
 
 

 Trident, simbol nasional Ukraina. Pertama kali muncul sebagai simbol dari Prince Vladimir (Volodymir) dari Kyiv.

Kami melaju ke arah timur melintasi dataran datar Krimea pusat. Patch rumput, ladang gandum dan rawa sesekali. Kami juga melewati sebuah kota bernama Bilohirsk, atau “Gunung Putih” – satu bisa melihat tebing yang tajam putih vertikal naik dari dataran. Beberapa desa Tatar baru berdiri di dekatnya, dengan bidang yang subur mereka sayuran, dinding baru dicat dan atap terkonjugasi mengkilap. Banyak Tatar, bagaimanapun, tetap di trailer dan gubuk-gubuk, menunggu selesainya rumah yang lebih permanen. Tatar telah dipaksa untuk pindah ke tanah-tanah kosong, karena rumah nenek moyang mereka sekarang diduduki oleh pendatang baru. Aku bertanya-tanya apakah ini adalah hal yang baik. Akibatnya, mereka sedang ghettoised dan hidup terpisah dari kelompok etnis lain dari Crimea. Hal ini juga dapat menempatkan mereka di jalur tabrakan dengan orang lain, khususnya Rusia setempat.

 Dinding Sudak yang mengesankan .

Kami mencapai Sudak setelah dua jam mengemudi terus menerus. Cincin abad ke 14 mengesankan dinding cokelat tinggi dan menara berdiri di atas tebing pantai yang menghadap kota kuno ini. Ini pernah menjadi salah satu pelabuhan yang paling penting Genoa perdagangan, dan salah satu titik terminal dari Jalan Sutra. Kekayaan Timur, dilakukan di dataran dan gurun dari Eurasia, melewati Sudak dalam perjalanan ke Genoa dan Barat. Marco Polo ayah dan paman dilaporkan berhenti di sini dalam perjalanan mereka ke Cina. Namun sejarah kota tanggal untuk periode sebelumnya jauh sebelum itu. Sudak mulai keberadaannya sebagai kota Yunani, dan kemudian menaklukkan, dipecat dan dibangun kembali oleh setiap penjajah itu Crimea – Scythians, Khazar, Mongol, Genoa, Venesia, Turki Ottoman / Tatar, dan Rusia.

  Perangko menampilkan artefak Scythian.

Neal Ascherson, dalam “Laut Hitam” disebutkan tentang mengunjungi sebuah makam kuno Khazar digali antara yayasan Bizantium di sini. Para Khazar adalah suku nomaden kuno Turki yang masuk Yudaisme pada abad ke 8, banyak dari mereka menetap di Crimea dan dataran Ukraina, dan diperdagangkan hasil pertanian dari tanah hitam yang kaya untuk kerajinan emas meriah dari semua jenis yang pengrajin Yunani terkenal karena – perhiasan dan perhiasan, minum kapal dengan ukiran yang rumit mereka. Mengingat populasi yang tumbuh cepat dari Yunani kecil negara-kota, itu tidak lama sebelum mereka menjadi sangat tergantung pada gandum koloni yang jauh di pantai Laut Hitam dan Sisilia. Di sisi lain, banyak Khazar tinggal di dekat atau dalam kota-kota Yunani, memperoleh rasa untuk gaya hidup kosmopolitan yang lebih canggih yang mereka tawarkan. Khazar Ascherson makam yang dikunjungi tidak biasa, karena tidak hanya itu penguburan Turki dilakukan dengan ritual Yahudi di sebuah kota Kristen Yunani Ortodoks, tetapi itu juga berisi kerangka dari sebuah pengorbanan manusia. Menurut Ascherson, “korban – berotak oleh pukulan kapak – dilemparkan ke kubur untuk berbaring di samping penghuninya Khazar nya” dalam tradisi suku nomaden sejati.

Sudak menurun setelah penangkapan Ottoman Konstantinopel dan akhirnya dari Sudak sendiri. Dari pelabuhan perdagangan internasional, menjadi pusat administrasi provinsi pertanian yang resmi catatan berkaitan dengan sengketa lahan pertanian lokal daripada internasional geopolitik. Perannya semakin diencerkan ketika perdagangan budak menguntungkan dipindahkan ke Kaffa dekatnya, sekarang dikenal sebagai Feodosia.

 

 Lama kartu pos Crimea

Sudak saat ini sebuah resor pantai mengantuk, tentu tidak menyenangkan seperti Yalta. Beberapa penyamak kulit matahari berbaring di pantai, dan beberapa menyenangkan-pencari adalah air-ski di perairan yang tenang. Atas desakan Yevgeny, aku bergabung dengan wisatawan di Novy Svet, atau “New World”, sebuah resor bahkan mengantuk beberapa mil jauhnya. Kami berjalan sepanjang jalan sempit di tepi air gunung laut menempel, dan menemukan diri kita dalam sebuah gua besar yang pernah aula partai konglomerat lokal. Tsar, anggota bangsawan, okabe industrialisasi akhir abad ke-19 Rusia, taipan minyak Baku, chic modis Tinggi Masyarakat St Petersburg semua berjuang untuk menghadiri pesta-pesta legendaris pernah diadakan di sini. Satu masih bisa melihat sisa-sisa dari barel anggur besar dan gudang di gua ini partai. Bagaimana sebotol vintage Sauvignon Blanc Massandra?

“Sudah waktunya untuk kembali ke Simferopol,” kata Yevgeny. Tidak akan ada cukup waktu untuk mengunjungi Feodosia dekatnya, di mana Turki dan Tatar pernah lari pasar budak terbesar di kawasan Laut Hitam. Kaffa, seperti yang kemudian dikenal, sering disebut oleh orang Rusia sebagai “vampir yang minum darah Rus”.
 

Ke Odessa

Kami memiliki sup borshch lezat di rumah Yevgeny dan kemudian aku berpamitan kepada keluarga yang ramah Yevgeny. Vera bahkan menyiapkan sebuah tas kecil dengan permen, coklat, kue dan apel untuk subsisten dasar di kereta api. Aku naik kereta api tidak lama sebelum waktu keberangkatan, saat saya berhenti dan diperiksa oleh polisi. Paspor? Da. OVIR? Da. Dan aku pergi, setelah berpamitan dengan Yevgeny.

Kereta berangkat tepat waktu pada pukul 5:05, dan untuk melakukan perjalanan di Crimea menjadi “Ukraina yang tepat daratan”. Ini adalah “lahan kosong” sekali dari Novorossiya, di mana perang tanpa ampun antara Tatar dan Cossack mengosongkan tanah penduduk. Ada padang rumput yang luas pernah mendominasi cakrawala – lanskap tak berujung datar dengan apa-apa kecuali padang rumput dan Starfield bunga, yang monoton yang, menurut Anna Reid dalam perbatasan, kadang-kadang dipecahkan oleh pohon-pohon willow yang tersebar dan gundukan pemakaman prajurit nomaden kuno. Wisatawan pernah disebut lautan rumput bukan untuk alasan lain. Sungguh sayang bahwa saya hanya menyusuri sepanjang tepi selatan laut ini, yang dalam hal apapun, sebagian besar telah digantikan di masa Stalinis oleh besar pertanian kolektif tidak produktif dan tanah kosong industri sama-sama bangkrut.

Saya berbagi 4-orang kelas saya kabin tidur 2 (UAH 30 atau US $ 7) dengan pasangan muda asmara yang menghabiskan separuh waktu dalam pelukan masing-masing, dan yang tidak diragukan lagi telah pergi lebih lanjut dengan kasih sayang mereka jika tidak untuk kehadiran saya .. . Ketika saya bertanya apakah mereka tahu bahasa Inggris “Vi Gava ritye pa-angliski?”, Nyet adalah jawabannya. Tentu saja, akan Anda repot-repot untuk berbicara dengan seorang asing mencari membosankan ketika ada kesenangan duniawi lebih menyenangkan?

Itu hanya ketika saya terlihat mencoba menguraikan bagan rel jadwal yang saya diminta, dalam bahasa Inggris, apakah saya membutuhkan bantuan apapun. Jadi mereka tahu bahasa Inggris setelah semua.

“Da, sedikit,” jawab chap. Banyak orang dalam CIS sebenarnya belajar bahasa Inggris di sekolah tetapi kurangnya kesempatan untuk berlatih itu berarti bahwa mereka kurang percaya diri untuk berbicara bahasa bahkan jika seperti kesempatan muncul.

 Prangko  memperingati Paskah, festival tradisional paling penting di Ukraina.

Anton dan Anatashia sedang dalam perjalanan mereka kembali ke Odessa setelah liburan Yalta. Anton adalah dari Balti Moldova (diucapkan “Belt”) dan sekarang bekerja sebagai montir di Odessa. Anatashia adalah Ukraina, rumah-tumbuh Odessan, sekarang di sekolah pelatihan polisi. Mengingat begitu-jauh saya pengalaman negatif dengan polisi Ukraina, saya tidak bisa membantu tetapi bertanya-tanya berapa lama akan mengambil gadis, manis cantik untuk berubah menjadi jenis jahat, birokrat korup saya telah bertemu dalam perjalanan ini.


Kami memiliki percakapan yang menarik tentang kehidupan di Odessa, Krimea indah, pertempuran yang tidak pernah berakhir antara Moldova dan anggur Krimea (yang tentu saja Anton melawan Anatashia diadu), dan identitas membingungkan menjadi Moldovan atau Rumania. Sebelum lama, kami berbagi buah-buahan dan tidbits, dan Anton bahkan mengajari saya bagaimana untuk mengaktifkan Rusia, atau lebih tepatnya, untuk secara politis benar, toilet kereta tekan Ukraina, yang begitu berbeda dari keran lain saya telah melihat di tempat lain. Tidak ada bagi Anda untuk menghidupkan, tapi metalpiece pressable sedikit di belakang nozzle. Apa pengenalan tradisi Samovar besar kereta CIS – Saudara-saudara, WAKTU layanan teh MANDIRI !

 
 
 

ENGLISH VERSION

SUDAK   Yevgeny had suggested that I go to Marble Cave, but I was more attracted to the Genoese heritage of Crimea and the historic links with the Silk Road.  So, Sudak had to be the place to go before taking the evening train to Odessa.

The Trident, Ukraine’s national symbol. 

First appeared as the symbol of Prince Vladimir (Volodymir) of Kyiv.

We sped eastwards across the flat central Crimean plains.  Grassy patches, wheat fields and occasional bogs.  We also passed a town called Bilohirsk, or “White Mountain” – one could see the sharp vertical white cliffs rising up from the plains.  Some new Tatar villages stood nearby, with their lush vegetable fields, freshly painted walls and shiny conjugated roofs.  Many Tatars, however, remain in trailers and shacks, awaiting the completion of more permanent homes.  The Tatars have been forced to move into these unoccupied lands, since their ancestral houses are now occupied by the new comers.  I wonder if this is a good thing.  In effect, they are being ghettoised and live apart from the other ethnic groups of Crimea.  This may well put them on collision course with others, especially the local Russians.

Sudak’s impressive walls.

We reached Sudak after two hours of continuous driving.  An impressive 14th century ring of tall brown walls and towers stood on a seaside cliff overlooking this ancient town.  This was once one of Genoa’s most important trading ports, and one of the terminal points of the Silk Road.  The wealth of the East, carried across the plains and deserts of Eurasia, passes through Sudak on its way to Genoa and the West.  Marco Polo’s father and uncle reportedly stopped here on their way to China.  But the city’s history dated to a much earlier period before that.  Sudak started its existence as a Greek city, and was subsequently conquered, sacked and rebuilt by each of Crimea’s invaders – Scythians, Khazars, Mongols, Genoese, Venetians, Ottoman Turks/Tatars, and Russians.

  Stamps showing Scythian artifacts.

Neal Ascherson, in “Black Sea” mentioned about visiting an ancient Khazar tomb dug among Byzantine foundations here.  The Khazars were an ancient Turkic nomadic tribe who converted to Judaism in the 8th century AD, many of whom settled in Crimea and the Ukrainian plains, and traded the agricultural produce of the rich black soil for exuberant golden crafts of all kinds that the Greek craftsmen were famous for – adornments and jewelry, drinking vessels with their intricate carvings.  Given the fast-growing population of the small Greek city-states, it wasn’t long before they became highly dependent on the wheat of faraway colonies on the Black Sea coast and Sicily.  On the other hand, many Khazars lived near or within the Greek cities, acquiring a taste for the more sophisticated cosmopolitan lifestyle they offered.  The Khazar tomb Ascherson visited was unusual, for not only was it a Turkic burial performed with Jewish ritual in a Greek Orthodox Christian city, but that it also contained the skeleton of a human sacrifice.  According to Ascherson, “the victim – brained by an axe blow – was thrown into the tomb to lie beside its Khazar occupant” in true nomadic tribal traditions.

Sudak declined after the Ottoman capture of Constantinople and eventually of Sudak itself.  From an international trading port, it became a provincial agricultural administrative centre whose official records pertain to local farmland disputes rather than international geopolitics.  Its role was further diluted when the profitable slave trade was moved to nearby Kaffa, now known as Feodosia.

Old postcard of Crimea

Sudak is today a sleepy seaside resort, certainly none as exciting as Yalta.  A few sun-tanners lie on the beach, and some fun-seekers were water-skiing on its calm waters.  At Yevgeny’s urging, I joined holidaymakers at Novy Svet, or “New World”, an even sleepier resort a few miles away.  We walked along a narrow path on the water edge of a sea-clinging mountain, and found ourselves in a huge cave which was once the party hall of a local tycoon.  The Tsar, members of the nobility, the nouveau riche of Russia’s late 19th century industrialisation, the oil tycoons of Baku, the fashionable chic of High Society St Petersburg all fought to attend the legendary parties once held here.  One can still see remnants of the huge wine barrels and cellars in this party cave.  What about a bottle of vintage Massandra Sauvignon Blanc ?

“It was time to return to Simferopol,” Yevgeny said.  There wouldn’t be enough time to visit nearby Feodosia, where the Turks and Tatars once ran the largest slave market in the Black Sea region.  Kaffa, as it was then known, was frequently referred to by the Russians as “the vampire that drinks the blood of Rus”.
 

To Odessa

We had tasty borshch soup at Yevgeny’s home and then I bid farewell to Yevgeny’s hospitable family.  Vera even prepared a little bag with sweets, chocolates, cookies and apples for basic subsistence on the train.  I boarded the train not long before departure time, as I was stopped and examined by the police.  Passport ?  Da.  OVIR ?  Da. And off I went, after saying farewell to Yevgeny.

The train departed on time at 5:05pm, and was to travel across Crimea into “mainland Ukraine proper”.  This was the once “empty land” of Novorossiya, where the merciless wars between the Tatars and the Cossacks emptied the land of inhabitants.  There the wide steppes once dominated the horizon – flat endless landscape with nothing but prairie grass and starfield of flowers, the monotony of which, according to Anna Reid in Borderland, was occasionally broken by scattered willow trees and burial mounds of ancient nomadic warriors.  Travellers once called it the ocean of grass not for any other reason. It was a pity that I merely skirted along the southern edges of this ocean, which in any case, had been largely replaced in Stalinist times by massive unproductive collective farms and equally bankrupt industrial wasteland.

I shared my 4-person 2nd class sleeper cabin (UAH 30 or US$7) with an amorous young couple who spent half the time in each other’s arms, and who would no doubt have gone further with their affections if not for my presence…  When I asked them whether they knew English “Vi gava ritye pa-angliski ?”, Nyet was the reply.  Certainly, would you have bothered to speak to a boring looking foreigner when there were more enjoyable carnal pleasures ?

It was only when I was seen trying to decipher the rail schedule chart that I was asked, in English, whether I needed any assistance.  So they do know English after all.

“Da, a little,” the chap answered.  Many people in the CIS have actually studied English in schools but the lack of opportunity to practice it meant that they lack the confidence to speak the language even if such an opportunity arises.

Stamp commemorating the Easter, traditional the most important festival in Ukraine.

Anton and Anatashia were on their way back to Odessa after a Yalta holiday.  Anton is a Moldovan from Balti (pronounced “Belts”) and is now working as a mechanic in Odessa.  Anatashia is Ukrainian, a home-grown Odessan, now in police training school.  Given my so-far negative experiences with the Ukrainian police, I can’t help but wondered how long it would take this sweet, pretty girl to turn into the kind of nasty, corrupt bureaucrat I have bumped into on this trip.

We had an interesting conversation about life in Odessa, wonderful Crimea, the never-ending battle between Moldovan and Crimean wines (which of course pitted Anton against Anatashia), and the confusing identity of being Moldovan or Romanian.  Before long, we were sharing fruits and tidbits, and Anton even taught me how to turn on the Russian, or rather, to be politically correct, the Ukrainian train toilet tap, which is so different from any other taps I have seen elsewhere.  Nothing for you to turn on, but a little pressable metalpiece behind the nozzle.  What an introduction to the great samovar tradition of CIS trains – Gentlemen, it’s self-service tea-time !

the end @ copyright Dr iwan suwandy 2011

The sample of CD-ROM:”The Rare Phillatelic Thematic Collections”(koleksi Tematik filateli “

The Rare  Phillatelic Thematic Collections

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Private limited edition in CD-ROM

special for Thematic Phillatelic Collectors

Jakarta 2011 @ copyrighr Dr Iwan 2011

INTRODUCTIONS

I started collecting stamps in 1955 at the age of ten years, first acquiring the stamp of the Italian priest in the form of cuttings Ganizaro old letters, based on this collection I started feeding a stamp collection that has a beautiful picture of Swiss design, especially the flora, fauna and natural scenery , then the collection develops after Pasto italy obtain a catalog of Italian who began collecting stamps is based on catalog prices were high that the Italian and swiss

KLIhatlah my profile with my teacher pack Sofyanto while in middle xekolah Upper Don Bosco Padang 1960-1963

Pengetahuna philatelic collection thematik me about the first time when I followed the practice of medicine at the Faculty of the University of Indonesia in 1970-1972 kedoktera

look at profile pictures always say that time that I use in each of my books as the beginning of nostalgia when given increased knowledge philatelic catalog Yvert and Tellier by my Uncle Drs Abdisa

look at my profile then

The biggest collection I have after I graduated and began the practice of medical education in Solok General West Sumatra, as it has funds to buy stamps at that time still relatively cheap, I memeproleh two major collections owned by collectors around the world in the old one album and a collection schauberk Switzerland .

Collection terseburt growing up as I went on to study a master S2 Hospital Administration 1989-1990 and continued during sya duty in West Kalimantan 1990-1994, and served in the Police Headquarters of the Republic of Indonesia 1994-2001

During the period of nearly fifty years I have read and my study of rare stamps thematik every night sebelu m tridur to understand her.

After retired  I start adventuring around asia for postal history and stamp collecting rare thematik, when my visit in 2008, when singah in Bangkok, say to find a book of stamps that acquiring thematik Large Gold medals in International competitions, because the book is very expensive at nearly U.S. $ 400 , – say the record just kind of say thematik breastfeeding use as the basis of electronic books CD-ROM.

Look at my profile before the war museum in Ho Chi Minh City

In 2010 I built a web blog for up to three

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

hhtp: / / http://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

hhtp: / / http://www.iwansuwandy.wordpress.com

hhtp: / / http://www.uniquecollection.wordpress.com

I have been showing a lot of my collection in Cybermuseum above.

I realize this is still a lot of paper ekurangannya, therefore, corrections and suggestions as well as additional information so I would expect

I thank the various parties who telang emndukungd memebrikan an encouragement to me to be able to menyelesiakan paper electronic book preformance CRF-ROM. May be useful for philatelists koletor thematik in developing the collection so the highest award DAPT Large Gold medal.

September 2010

Dr Iwan suwandy 

versi indonesia

saya mulai mengumpul prangko tahun 1955 pada usia sepuluh tahun, pertama kali memeroleh prangko dari pastor Italia Ganizaro berupa guntingan surat-surat lama, berdasarkan koleksi ini mulailah saya menyusu suatu koleksi prangko yang memiliki gambar yang indah terutama dari Swiss desain flora,fauna dan pemandangan alamnya, kemudian koleksi berkembang setelah memeperoleh katalogus dari Pasto italy mulailah mengumpulkan prangko Italia yang harganya tinggi berdasarkan katalogus Italia dan swiss tersebut

KLIhatlah profile saya dengan guru saya pak Sofyanto saat di xekolah menengah Atas Don Bosco di Padang 1960-1963

Pengetahuna saya tentang koleksi filateli  thematik pertama kali saat saya mengikuti praktek kedokteran di Fakultas kedoktera Universitas indonesia tahun 1970-1972

lihatlah foto profile say saat tersebut yang selalu saya pergunakan di setiap buku saya sebagai nostalgia mulainya peningkatan pengetahuan filateli saat diberikan katalogus Yvert and Tellier oleh Paman saya Drs Abdisa

lihatlah profile saya saat itu

Koleksi terbesar saya miliki setelah saya tamat pendidikan kedokteran dan mulai praktek Umum di Solok Sumatera barat,karena memiliki dana untuk membeli prangko yang saat itu masih relatif  murah harganya,saya memeproleh dua koleksi besar milik kolektor lama satu seluruh dunia dalam album schaubek dan satu koleksi Swiss.

KOleksi terseburt berkembang sampai saat saya melanjutkan studi S2 master Hospital Administration tahun 1989-1990 dan dilanjutkan saat sya bertugas di kalimatan Barat 1990-1994,dan bertugas di Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia 1994-2001 

Selama kurun waktu hampir lima puluh tahun saya membaca dan memepelajari prangko thematik yang langka setiap malam sebelu m tridur sampai memahami nya.

Setealh pensiun say mulai bertualang keliling asia untuk mengumpulkan postal history dan prangko thematik langka,saat kunjungan saya tahun 2008,saat singah di Bangkok,saya menemukan sebuah buku tentang prangko thematik yang memeroleh medali large Gold pada perlombaan International,karena buku sangat mahal hampir US $ 400,- say mencatat saja jenis thematik yang say jadikan dasar penyusuan buku elektronik CD-ROM ini.

Lihatlah profile saya didepan museum perang di Ho chi Minh City

Pada tahun 2010 saya membangun web blog sampai tiga

hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com

Saya telah menampilkan banyak koleksi saya di Cybermuseum tersebut diatas.

Saya menyadari  karya tulis ini masih banyak ekurangannya,oleh karena itu koreksi dan saran serta tambahan informasi sangat saya harapkan

Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telang emndukungd an memebrikan semangat kepada saya untuk dapat menyelesiakan karya tulis buku elektronik dalm CRF-ROM ini. Semoga ada manfaatnya bagi koletor filatelis thematik dalam mengembangkan koleksinya sehingga dapt memperoleh penghargaan tertinggi medali Large Gold.

Jakarta Agustus 2010

Dr Iwan suwandy

The Type of phillatelic Thematic Collections

(JENIS KOLEKSI FILATELIK THEMATIK)

Gold medal thematic phillatelic collection

A.Thema koleksi Filateli Pemenang Medali Emas pada Pameran Filateli Internatinal (?,2007)


a. The History Of A Mankind
b.The Discovery And Manifactures
c. The Society
d.The Nature
e.The Competition Sport

The  rare Phillatelic Thematic collection

(KOLEKSI THEMATIK YANG LANGKA)

I.The History Of A Mankind

1).Prehistory,

2).The Babarian and The Birth Of The Mankind

3)The Conquers of Countries,

4).The Birth Of Nation,

5).The War, Revolution and The Construction of Nation.

 

1) Prehistory (100 BC-4 ct AD)


a) Antiquity Prehistory,

b)Prehistoric Man ,

c)Ancient Egypt and Persian,

d)Greco-Roman World,

e)Ancient China.

2).The Barbarian to the birth of Modern Time(VI-XVI cth)

a)The Invader and Setter,

b)The Knight

c)The Silk Road

d)The Golden Age of Islam ,

e)The Renaissance and tha war of religion.

 
3)The Conquers of Countries and The new Wish(XVII-XVIII Cth)

a).The Ocean Discover,

the USA colombus exposition five dollar

b)The Spanish Conquer the new World,

c)The Colonies of North America and The Caribean,

d)The Indian and Pasific Ocean.

4) The Birth of Nation(XVII_XIX Cth)

a)The Birth of USA,

b)The Franch Revolution &amp; Napoleon War ,

c)The Nation State of Europe,

d)The South America Independence ,

e)The Colonial Empire.with the lion king emblem
 

the british east africa colony lion king emblem

5)The War,Revolution and Construction of Nation(XIX-XXcth)

a) The War World I,

b) The Worlf War II,

c)The Soviet Revolution

 

d)The Comunisme,

e)The Rise of Islam,

f)The Construction of Euro,APEC,Arab,Africa and America,

g) The Regionaol War,Democratic Socialism and Humanright

 

b. The Discovery and Manifactures

1)The Transportation’s Discovery :

a)The Ship

the rare trinidad lady Mc Leod black stamp

b)The Train

the rare  peru train local lima first stamp.

c)The Bicycle and Motorbike,

d)The Aircraft,

e)The Nature Wrath.

 
2).The Discovery Inovation and Technology:

a)The Postal Invention and technology,

b)The Comunication Telephone , radio ,television ,

 

c)he Roads and Canals,

 

d)The bridge and Dams

 

the rare Sidney bridge 5 shilling  on postally cover.

e)The Medicine and Biology ,

f)The Conquers of Space,

g)The conques of Poles and Ocean.

 

3. The Society


a) The Jobs and Social life

b) The Education and Laisure,

c)The Environtmen ,Health and HumanRight ,

d)The Human Habitat,

e) The Believe and Costume ,

f) Festival and national Costume.

 

1) The Job and Social Life


a)Farming and Animal custodian ,

b)Fishing ,

c)military ,

d)public force ,

e)legal & prosecutor ,

f)family ,

g)industrial community(labor),

h)management administration ,

i) The entertainment.

 

2).The Education and Leisure:

a)Mother &Child,

b) Education &Teacher ,

c)Children’s Games and toys ,

d)Parlor games &Board games ,

e)Food &Drink,

f) Seaside & laguna.

 

3) The Einvirontmen, health and HumanRight


a)Preservation the environtment,

b) First aid & Medical care,

c) The battles against diseases ,

d) National health &safety company,

the rare new zealand first health fund stamps

e)the health status image of world.

4) The Human Habitat:


a)House & Village,

b)Desert,Rural,Urban and Town,

c) Monumen ,castle and palace.

d) Park,forest,and garden ,

e)Public building,

f) Major Cities and their monumen

5)The Believe and Costume:


a)World religius : Islam.budha.Hindu ,Christian ,

b)prophet ,

c)Place of praying: Pagoda,tample,cathedral,and mosque

d) Monk,missionaris,and rabi ,

e)Ritual of believe.

 

6) The Art work,Festival and Costume:


a) Art & culture ,

b) Jewelery ,

c)Work Art: Paint and sclupture ,

d) Literature.

 

b.The Nature


1)The Mineral,Fossil,and Prehistoric adnexa,

2)The Flora ,

3)The Fauna.

 

c.The Competitive Sport


1) The Land Sport ,

2) The Water Sport,

3) The Areal Sport.

1) The Land sport:

a)The Summer Olympic ,

b)atheletic ,

c)Gymnastic ,

d)soccer

e)Rugby,

f)Basketball ,

g) Lawn Tennis &Table Tennis ,

h)Baseball ,

i)Golf ,

 j) Polo,

k)Horse riding ,

l)Badminton.

 

2) The Water Sport:
a) Swimming,

b)sailing,

c)papan luncur
3)The areal Sport :
a)Bycicle , Motorbike and car rally ,

b)Combat sport ,

c) traditional sport

added new topic:

Scout

libyan scouts 1962 envelope with stamps

 

 

 

 

 

THE END @ copyright Dr iwan suwandy.2011

THE COMPLETE LIMITED TEN EDITION CR-ROM STILL IN PROCESSING,PLEASE SUBSCRIBED FROM NOW VIA COMMENT. 

The Moamer Gadhafi Collections Part Three:”The Last Lybian Tyran”

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

Dr Iwan Book Exhibition

The Moamer Gadhafi Collections

Part Three

The Falling Of Lybian Tyrans

Moamer Gadhafi

Created By

 Iwan suwandy

Private Limited Edition for Computer Collectors.

BREAKING NEWS MOAMER GADHAFY DEAD AT SIRTE

 OCTOBER 2011,

 

 

 I.THE LAST GADHAFI CARICATURES COLLECTIONS

II. THE LAST GADHAFI PICTURES COLLECTIONS

III, THE LYBIAN REBEL WINS PICTURES COLECTIONS

IV.THE RARE  LAST GADHAFI COLLECTIONS

the complete illustrations exist ,but only for premium member , pleas subscribe via comment.

the end @ Copyright Iwan Suwandy 2011