Oei Tiong Ham The King Of Sugar Trade from Semarang Java Indonesia Historic collections

Oei Tiong Ham

Historic Collections

this pictures courtecy Stephen Liem .the grandgrandchild of Oei tiong Ham

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Copyright@2012 

Official Photo

 

Autography

 

 on DEI Senarang recieved document with revenue(Dr Iwan Collections) 

Document history collections

Reicieved Of Oei Tiong Ham House rental with Revenue

During Indonesia independent revolution 1946

(Dr Iwan collections)

 

BIOGRAPHY

Oei Tiong Ham

Oei Tiong Ham

Born

Oei Tiong Ham
1866

Died

1924
Singapore

Occupation

Businessman

Spouse

Goei Bing-nio

Relatives

Father Oei Tjie Sien

Oei Tiong Ham (Chinese: 黄仲涵) (1866–1924) was a Chinese businessman. He was the son of Oei Tjie Sien (Chinese: 黄志信), the founder of the Kian Gwan Kong Si (Chinese: 建源公司), a multinational trading company. He was born in Semarang, Central Java, Dutch East Indies (now Indonesia). He became one of the wealthiest and most powerful men in Semarang and, in his time period, in the region. Part of his wealth originates from his involvement in the sugar industry. In Singapore, a road was named after Oei Tiong Ham. There is also an Oei Tiong Ham Park, which is located near Holland Road.[1] His nickname, “Man of 200 Million”, originates from the passing of his 200 million guilder estate at the time of his death in 1924 in Singapore. [edit] Life

The significance of Oei Tiong Ham is related to his role with the Oei Tiong Ham Concern (OTHC), which was the largest conglomerate in the Dutch East Indies during the late colonial era and early Indonesian independence period.

The OTHC originally started with the trading firm of Kian Gwan, established in 1863 by Oei Tje Sein, Oei Tiong Ham’s father. In 1890, Oei Tiong Ham took over the firm Kian Gwan which diversified and grew into one of the largest firms in Southeast Asia. At the time Tiong Ham took over the firm, Kian Gwan’s main activity was trade, especially trade in rubber, kapok, gambir, tapioca and coffee. In addition, it was involved with pawnshops, postal services, logging and the highly lucrative opium trade. It has been estimated that between 1890 and 1904, Kian Gwan made a profit of some 18 million guilders in the opium trade alone, which provided the basis for his empire.

Unlike many of his Chinese contemporaries, Oei Tiong Ham relied heavily on written contracts in conducting his business. This did not make him popular in Chinese circles but it provided him with a legal basis to acquire the collateral for the loans he extended. Among his main debtors were often owners of sugar factories in East Java and when these factories were unable to repay the loans, due to the long-lasting effects of the sugar crisis of the 1880s he used his rights as a creditor. In this way he acquired five sugar factories. Sugar now became the backbone of the company and would remain so for the next several decades.

In the period between the 1890s and the 1920s, OHTC grew and diversified rapidly. It started branches in London and Singapore, created a bank, a steamship business and had a large wholesale business. Of all the ethnic Chinese business conglomerates in pre-war Asia, the Oei Tiong Ham concern was by far the largest. The company was even larger than the well-known “Big Five” Dutch trading companies that supposedly dominated the foreign trade of the Indies. The OTHC was strong in foreign trade, particularly in China. The basic strategy of the company was to take advantage of the opportunities on the world market for commodities produced in Indonesia. In 1912, Kian Gwan, the trading branch of the conglomerate was capitalized at fifteen million guilders, double the amount of the largest Dutch firm Internatio.

During the post-war boom of 1918-1920, the worldwide demand for Java sugar was high, creating many opportunities for sugar-mill owners and sugar brokers. But fortunes gained were easily lost in a couple of days. Oei Tiong Ham followed a cautious policy during these boom years. He did not speculate too heavily and took steps to improve its financial administration. Oei Tong Ham recruited talented accountants to set up a modern accounting system for the sugar factories. Due to the cautious and independent strategy, the company survived the subsequent sugar crisis while many other Chinese firms perished.

Besides making use of written agreements and a modern accounting system, Oei Tiong Ham also diverted from yet another Chinese business practice of the time. Instead of relying solely on family members in running his wide ranging business enterprises, he deliberately chose capable outsiders, such as Dutch directors, managers, and engineers to manage his companies. In 1920, Oei Tiong Ham left Semarang and settled in Singapore to escape Dutch colonial succession law and tax regime. Having eight wives and twenty-six official children, inheritance became important issues. He decided to hand his daughters and some of his sons cash, and make eight of his sons his rightful heirs, dividing among them an inheritance worth two hundred million guilders. Since only two of them, Oei Tjong Swan and Oei Tjong Hauw, had reached maturity, immediate succession did not seem to give too many problems.

Marriage

According to Madame Wellington Koo’s (née Oei Hui-lan) autobiography, “No Feast Lasts Forever”, Goei Bing Nio (魏明娘) was selected by Oei Tiong Ham’s mother to be his wife and was married to him at age 15. She bore him 2 daughters, Tjong-lan and Hui-lan. He had 18 acknowledged concubines.

One of Goei Bing-nio’s sisters was unable to have children and hence adopted 2 girls from her husband’s brother. These 2 girls both became Oei Tiong Ham’s concubines. The younger of the 2 sisters, Lucy Ho (or Hoo Kiem Hoa), moved to Singapore with Oei and lived with him until his death. One of Oei Tiong Ham’s sons with Lucy Ho later married his own granddaughter – the daughter of his son, Oei Tjong-Swan.

Death

Oei Tiong Ham died in Singapore. Madame Wellington Koo, his second daughter from his first wife, believed that he was poisoned to death by Lucy Ho, his mistress at the time of death. His body was shipped to Semarang for burial in his father’s tomb.

References

  1. 1.    ^ Oei Tiong Ham Park is a place in Singapore on the Map of Singapore
   
 
 
  • K. Yoshihara, The Rise of Ersatz Capitalism in South East Asia, (Singapore: Oxford University Press, 1988)

 

 

 

 

 

 

External links

 

 

RELATED INFORMATIONS

 

By

OEI HUI LAN 

Madame Wellington Koo – No Feast Last Forever

Madame Wellington Koo atau Oei Hui Lan ialah anak dari Raja gula Semarang yang sangat terkenal, yaitu Oei Tiong Ham. Kekayaan yang tidak ada habisnya dari ayahnya ternyata tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan padanya. Hidup serba berkelimpahan di istananya di Semarang-Indonesia di masa pemerintahan Hindia Belanda, melewatkan masa mudanya di Paris, London, Amerika, hingga China saat berkeluarga, menjadi socialita terpandang di kaum elit Eropa, menjadi istri Wellington Koo, orang nomor dua di China saat itu ternyata juga tidak juga bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan kepadanya.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari istri sah Oei Tiong Ham, Oei Hui Lan seolah menggenggam dunia dalam tangannya. Ayahnya yang kaya raya selalu memanjakannya dengan memberi apapun yang Ia inginkan, bahkan sampai membuatkan kebun binatang di istananya (istana mereka hingga saat ini masih ada di Semarang, namun sudah menjadi sebuah universitas swasta). Akan tetapi, tidak demikian dengan ibunya. Ibunya lebih menyayangi kakakanya, Oei Tjong Lan, dan lebih suka berfoya-foya membelanjakan uang ayahnya untuk membeli permata, berlian, emas, perhiasan mewah, dan baju-baju mahal hingga ke luar negeri demi menutupi kesedihannya akan kebiasaan buruk ayahnya yang memiliki banyak selir dan anak di luar nikah.

Kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya ternyata justru mengancam kehidupan Oei Hui Lan beserta ibu dan kakaknya yang merupakan keluarga sah dari Oei Tiong Ham. Dengan keberadaan 18 selir dan 42 anaknya, keberadaan Hui Lan, ibu dan kakaknya selalu terancam. Para selir selalu berusaha untuk menggantikan ibu Hui Lan untuk menjadi istri sah ayahnya dan menguasai seluruh harta ayahnya. Ayahnya, Oei Tiong Ham, yang dikenal sebagai Raja Gula, bahkan orang terkaya se-Asia Tenggara saat itu memiliki pabrik tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga Singapura, London, Paris, Cina, dan kota lainnya. Dengan kekayaan ayahnya, Hui Lan dibekali kehidupan bergelimangan harta, pakaian mewah, perhiasan mahal yang menunjukkan kastanya, berbagai kursus seperti berkuda hingga kursus bahasa yang membuatnya menguasai 4 bahasa termasuk Inggris dan Perancis.

Semua itu ternyata masih membuat Hui Lan tetap mencari-cari kasih sayang di luar keluarganya. Pernah sekali waktu saat Ia, ibu dan kakaknya berlibur ke Singapura, Ia menemukan cinta pertamanya yang ternyata ialah seorang pria beristri. Pengalaman pahit itu membuatnya malas untuk menjalin hubungan lagi dengan pria, dan menyetujui ibunya untuk pindah tinggal ke London bersama kakaknya yang telah menikah.

 

Saat mulai masuk menjadi penghuni kota London, Hui Lan dan ibunya menjadi orang yang sangat norak dan terkesan pamer. Ibunya yang terobsesi untuk menjadikan Hui Lan wanita terpandang dan bisa berbaur dengan para socialita membekali Hui Lan dengan gaun-gaun mewah dan perhiasan mahal setiap mereka akan mengunjungi pesta. Mulai asyik dengan kehidupan barunya, Hui Lan menjadi sangat terbiasa berpesta, mengikuti acara para socialita Eropa, berteman dengan keluarga kerajaan, bergaul dengan pria bule, hingga terbiasa dengan kebiasaan ibunya untuk memberikan perhiasan mahalnya ke orang yang dekat dengannya.

Tapi semua itu tetap membuat Hui Lan merasa tidak puas. Ia selalu mencoba mencari cara untuk membahagiakan dirinya, tapi tidak pernah menemukannya.Obsesi ibunya untuk membuat Hui Lan menjadi orang terpandang akhirnya membuatnya harus menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta. Menikahi Wellington Koo, orang nomor dua di China, yang menjadi duta besar Cina untuk Amerika dalam rangka memerdekakan China memang membawanya ke kehidupan yang jauh lebih tinggi kastanya. Ia mulai dikenal oleh semua pembesar negara-negara yang menjalin hubungan dengan China, berbaur dengan berbagai keluarga presiden, kerajaan, menteri dan anggota pemerintahan dengan strata atas.

Dalam pernikahannya, suaminya tidak pernah memberi uang yang cukup seperti ayahnya. Karena terbiasa dengan harta dan kehidupan mewah, Hui Lan pun tak pernah segan mengeluarkan uang pribadinya untuk membahagiakan hidupnya. Mulai dari merenovasi rumah, menghias dirinya seperti kebiasaannya, memelihara banyak anjing sebagai temannya, dan masih banyak hal lainnya yang berujung kecurigaan media China akan mewahnya pola hidup Hui Lan yang saat itu lebih dikenal sebagai Madame Wellington Koo.

Hal itu tetap tidak membuatnya kapok, Hui Lan tetap memakai uang sesuka hati, bahkan meminta uang pada ayahnya untuk segala keperluannya. Sampai suatu ketika, Ia, suami dan anaknya mengunjungi Singapura untuk bertemu ayahnya yang ternyata telah menikah lagi dengan keponakan ibunya, Ia sangat kaget dengan pola hidup ayahnya yang telah berubah 180o. Ayahnya yang kaya raya malah hidup sederhana, bahkan cenderung prihatin untuk ukurannya. Hidup di ruko kecil di daerah kumuh, jauh sekali dari ingatannya tentang istana mereka saat di Indonesia. Ia berpikir dan bertanya mengapa ayahnya mau memilih kehidupan seperti itu, namun sepertinya Ia belum mengerti keputusan ayahnya.

Ia masih terus hidup berfoya-foya, sampai akhirnya Perang Dunia Kedua merenggut seluruh hartanya di China. Ia hanya bisa meratapi semuanya, namun tetap tidak mau merubah pola hidupnya yang bak putri di pesta dansa. Kepergian satu- persatu dari ayahnya, ibunya, lalu disusul kakaknya akhirnya mulai menyadarkannya akan  harta yang ternyata tidak bersifat kekal, dan malah menghancurkan keluarga mereka.

Di usianya yang mulai tua, tanpa keluarga yang telah meninggalkannya, hanya tersisa anak-anaknya, tanpa suaminya yang telah menikah lagi dengan wanita lain, Hui Lan mulai merasa kesepian tinggal di rumah besar dan megah. Ia pun memilih untuk tinggal di apartemen seorang diri, dengan terlebih dahulu membekali anak-anaknya dengan rumah-rumah pribadi. Perampokan yang terjadi di apartemen kecilnya di Amerika saat usianya telah tualah yang akhirnya semakin menyadarkannya bahwa Ia tidak bisa selalu hidup memamerkan hartanya, dan membawa-bawa hartanya ke manapun Ia pergi. Ia pun mulai menyimpan seluruh harta dan perhiasan mewahnya di bank, dan hanya menyisakan sedikit di apartemennya.

Kehidupannya yang bergelimangan harta, namun tetap tidak bisa membeli cinta dan kebahagiaan terasa begitu sayang baginya untuk dilewatkan. Bersama temannya, Hui Lan pun membuat sebuah buku yang hanya terbit di Amerika, yang berjudul “No Feast Last Forever”, sesuai dengan jalan hidup yang akan ditempuh semua orang. Tidak ada pesta yang tak berakhir. Bahkan pertemuan pun akan mengalami perpisahan. Segala pesta, kehidupan glamor, kemewahan harta, dan segala sesuatu yang menyertainya pada akhirnya akan habis juga. Kebahagiaan yang justru tak lekang oleh waktu justru tidak pernah Ia miliki, dan justru menjadi hal yang paling disesalinya seumur hidupnya.

Kisah Oei Hui lan mungkin hanya segelintir dari kisah hidup para socialita yang selalu dipenuhi pesta, hura-hura, dan barang mewah. Namun, pelajaran hidup yang dipetik Hui Lan di akhir hidupnyalah yang patut kita jadikan pembelajaran.  Jangan mengagungkan sesuatu yang sifatnya sementara seperti harta. Akan jauh  lebih baik mengumpulkan hal yang bersifat abadi seperti kebahagiaan dan cinta, karena hal itulah yang akan menguatkan kita saat dalam keadaan paling terpuruk sekalipun.

 

In Memoriam of Oei Hui Lan 1899-1992

 

 

 

 

MAIN OFFICE

“TAK ADA PESTA YANG TAK BERAKHIR”

Di masa akhir hidupnya…………

Oei Hui Lan menyadari kalau dirinya tidak pernah merasa bahagia. Satu hal yang ia sadari di akhir ialah kenyataan bahwa kekayaan tak dapat membeli kebahagiaan

Sedikit demi sedikit………….

kekayaannya berkurang akibat kondisi dunia yang belum stabil serta ketidak mampuannya mengelola uang lebih baik dari ayahnya. Meski diberi usia yang panjang, satu per satu keluarga yang disayanginya pergi meninggalkannya.

Namun

di masa akhirnya itulah akhirnya Oei Hui Lan, setidaknya akhirnya menemukan kunci kebahagiaannya

 

 

 

Ini lah kisah_nya….

 

Saya lahir di Semarang Desember 1889 sebagai Oei Hui Lan  putri Oei Tiong Ham yang pernah dikenal sebagai Raja Gula dan orang terkaya di Asia Tenggara.

 

 

 

Ibu saya istri pertamanya. Ibu hanya mempunyai dua orang anak, kedua duanya perempuan. Kakak saya Tjong lan, sepuluh tahun lebih tua dari saya. Ayah masih mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang Cina, anak gundik pun dianggap sebagai anak sah.

 

Kehidupan Oei Hui Lan kecil di bawah asuhan Oei Tiong Ham, benar-benar seperti putri raja. Apa yang dia mau selalu diberikan oleh ayahnya. Selain dimanja, dalam bukunya Hui Lan menulis,  ketika ayahnya sudah kaya raya dan mendapat gelar Majoor der Chinezen dari Pemerintah Belanda tahun 1901, Hui Lan juga sering diajak dalam perjalanan bisnis oleh ayahnya.

Ayahnya berpesan kepada sekretaris,”Belikan dia semua yang diinginkannya”. Sikap Ayahnya yang begitu sayang padanya membuat Hui Lan terbiasa untuk diistimewakan.

Hui Lan ingat, ketika di Belanda dia punya rumah boneka yang sangat indah.

 

Dia menulis :

“Tidak ada seorang anak Belanda pun yang memiliki rumah boneka seindah kepunyaan saya. Tingginya sedagu saya, dibeli Pietro di Eropa. Saya bisa merangkak masuk ke dalamnya. Perlengkapannya komplet dan penuh detail. Di kamar mandinya ada handuk yang serasi. Ranjangnya memakai per dan kasur. Dalam lemari pakaiannya bergantungan pakaian boneka boneka saya. Di dapurnya ada panci, alat penggoreng, garpu dan pisau.

Di belakang rumah kami ada kebun binatang, berisi kera, rusa, beruang, kasuari, dll. Kalau ayah kembali dari bepergian, ia selalu membawa hadiah untuk saya sepasang kuda poni, sepasang anjing chihuahua, boneka atau apa saja.

Umur saya belum tiga tahun ketika ibu mengalungkan bandulan intan 80 karat ke leher saya. Besar intan itu sekepalan tangan saya dan tentu saja menganggu gerak gerik dan bahkan menyakitkan saya. Namun ibu tidak perduli. Suatu hari ketika pengasuh memandikan saya, ibu melihat dada saya luka akibat intan itu. Barulah ibu melepaskannya. Sampai buku ini ditulis. Intan itu masih saya miliki, tersimpan di sebuah bank di London.”

Hui Lan mengenal secara seksama bagaimana karakter ayahnya. Selain karena anak dari istri pertama yang disayang. Ayahnya tidak dekat dengan Tjo Lan kakak Hui Lan. Jadi boleh dibilang pada masa awal-awal kejayaan kerajaan bisnis Oei Tiong Ham, hanya Hui Lan anak yang dekat Oei Tiong Ham.

Hui Lan paham betul bagaimana karakter ayahnya. Saat ikut ke Penang, Malaysia, Hui Lan yang ketika itu di dalam kapal menunggu ayahnya yang sedang di darat, didatangi oleh pria lanjut usia. Orang itu menyerahkan sekotak uang emas kepada Hui Lan sambil membungkukkan badan. Hui Lan tahu isi kotak itu adalah uang yang nilainya sekitar 200.000 poundsterling, tapi dia tak tahu apa maksudnya.

Hui Lan mengira mainan. Lalu saat sedang memainkannya, ayahnya bertanya darimana Hui Lan mendapatkan uang-uang itu. Mendengar jawaban Hui Lan, Oei Tiong Ham langsung menyuruh pembantunya untuk mengembalikannya.

Rupanya pria lanjut usia yang naik ke kapal itu bermaksud menyogok Oei Tiong Ham dengan memberi hadiah kepada anak kesayangannya. Menurut Hui Lan, Ayahnya pantang disogok, padahal dia sering menyogok pejabat pejabat Belanda supaya usahanya lancar.

 

Oei Tiong Ham juga tidak percaya dengan kegunaaan pengawal pribadi. Dia punya cara sendiri untuk melindungi keluarganya dan bisnisnya. Yaitu dengan memberi sejumlah uang kepada kelompok bandit yang paling berpengaruh setiap tahun untuk menangkal gangguan keamanan. Usahanya berhasil keluarga Oei Tiong Ham merupakan satu-satunya keluarga Tionghoa yang tinggal di luar pecinan.

Suatu ketika Oei Tiong Ham pernah melihat seorang anak Tionghoa diolok-olok anak-anak Belanda seusai pulang sekolah. Dia lalu turun dari kereta dan mendatangi anak yang tubuhnya paling besar diantara anak-anak Belanda itu.

Dia berkata, “Kelihatannya kamu orang pemimpin mereka,” kepada anak yang paling besar itu.  Lalu sambil memberikan sekeping uang emas kepadanya, Oei Tiong Ham kembali berkata, .”Tolong urus mereka.”

 


Tentang Ibunya,

Ibu Hui Lan bernama Bing Nio. Dalam bahasa Inggris artinya kira-kira Victoria. Bing Nio adalah istri pertama Oei Tiong Ham. Dia berasal dari keluarga Goei, nenek moyangnya berasal Shantung. Ibunya punya lima anak perempuan dan empat anak lelaki. Semua anak perempuannya cantik-cantik, tapi yang paling cantik Bing Nio.

Mendengar kecantikan Bing Nio, Ibunya Oei Tiong Ham tertarik mengambilnya menjadi menantu. Maka dia mengirimkan tandu keemasaan sebagai tanda lamaran kepada keluarga Goei. Dan keluarga Goei menerimanya.

Bing Nio tidak memberikan anak lelaki kepada Oei Tiong Ham, melainkan dua anak perempuan,  Tjong lan dan Hui Lan. Meski begitu, karena tradisi China yang kuat, Oei Tiong Ham tidak menceraikan Bing Nio. Sebaliknya memelihara banyak gundik, entah untuk kepuasan semata atau demi mendapat keturunan laki-laki.

Menurut Hui Lan, ayahnya termasuk bandot tapi tetap sayang dan baik terhadap Bing Nio, ibunya Hui Lan. Tidak terpikir olehnya untuk menceraikan Bing Nio yang tidak memberikan anak laki laki. Cuma saja ia terus menerus menambah gundik dan banyak di antara gundiknya itu yang memberinya anak laki laki.

Oei Tiong Ham juga selalu pulang ke rumah, tidak pernah tinggal dengan salah seorang gundiknya, sampai muncul seorang gundik bernama Lucy Ho dalam hidupnya.

Karena tidak mempunyai anak laki laki, Bing Nio terus menerus merasa dirinya memiliki kekurangan dan frustasi.

Ketika Hui Lan umur 12 tahun, suatu malam dia pernah melihat ibunya sedang menghitung uang di sebuah ruangan. Uang itu banyak dan bertumpuk tinggi.

Kepada Hui Lan, Bing Nio berkata sambil tersenyum, 
”Ayahmu pulang membawa sekoper uang. Aku mengambilnya sebagian. Ia tidak pernah menyadarinya.”

Hui Lan heran mengapa ibunya tidak meminta saja, dia yakin ayah akan memberikannya. Mungkin ibu tidak mau ayah tahu untuk apa uang itu. Pada masa itu memang Hui Lan dan Ibunya jarang membawa uang. Kalau menginginkan sesuatu, mereka tinggal mengambilnya saja di toko dan pemilik toko akan menagihnya kepada Oei Tiong Ham.

Ibu Hui Lan lahir pada tahun Naga, sebetulnya tak cocok dengan Oei Tiong Ham yang lahir tahun harimau. Karena sama-sana keras kepala.

Namun Bing Nio senang dengan predikat istri sah. Di luar rumah ia dianggap tokoh penting. Kalau pergi menonton sandiwara, para pemain berlutut di hadapannya seusai pertunjukan. Lantas Bing Nio akan memberikan tip yang besar sekali.

Seperti dikutip dalam buku Hui Lan, kalau pulang bertamu dari rumah nyonya Belanda, sering bajunya cuma disemat dengan peniti biasa, karena penitinya yang bertaburkan permata ia hadiahkan kepada nyonya rumah yang mengagumi perhiasannya itu. Dan Oei Tiong Ham pasti akan membelikannya yang baru.

 

Hui Lan sedikitnya punya 42 orang saudara. Hui Lan tak begitu mengenal dekat mereka, selain Tjo Lan kakaknya,  dan dua saudara lain ibu, Tjong Hauw dan Tjong Swan. Demikian juga dengan saudara dari ibunya.

Seorang saudara perempuan ibunya menikah dengan seorang pria yang cukup berada, tetapi tidak dikaruniai anak. Bibinya Hui Lan itu mengangkat dua anak perempuan dari saudara suaminya.

Beberapa tahun kemudian kedua anak angkatnya itu menjadi gundik Oei Tiong Ham. Yang paling tua cuma bertahan sebentar kemudian kabur bersama sopirnya yang pribumi  Sementara adiknya yang berwajah tak begitu cantik tapi memiliki tubuh yang indah dan pintar bernama Lucy Ho sanggup bertahan. Kelak Lucy Ho ini yang menemani Oei Tiong Ham menjemput ajal.

Bing Nio meninggalkan Oei Tiong Ham menyusul Hui Lan yang tinggal di London. Sementara Oei Tiong Ham bersama Lucy Ho menetap di Singapura. Seperti yang ditulis Hui Lan,  Oei Tiong Ham keluar dari Jawa untuk menghindari pajak. Lucy Ho gundik yang penuh pengabdian. Ia mengurusi keuangan dengan cermat dan ia memberi anak kepada Oei Tiong Ham setiap tahun.

Anak laki lakinya banyak. Tetapi setelah tinggal dengan Lucy Ho, Oei Tiong Ham berubah, meskipun uangnya masih  banyak, dia tak lagi hidup bermewah-mewah.

Suatu ketika, anak laki-laki Lucy Ho bertemu dengan anak perempuan Tjong Swan (Saudara Hui Lan lain ibu) di New York. Mereka jatuh cinta, tetapi tidak diperkenankan menikah oleh hukum AS, sebab ayah si pemuda adalah kakek si gadis. Mereka akhirnya menikah juga di Belanda.

Oei Tiong Ham juga memiliki gundik seorang janda yang dulu menolongnya dari aksi bunuh diri. Janda itu bernama Ny. Kiam. Dia membawa serta adik perempuannya yang berumur sepuluh tahun dan anak perempuannya yang berumur tiga tahun.

Ny. Kiam tak memberi keturunan untuk Oei Tiong Ham, maka ketika adik yang dibawanya itu beranjak dewasa, Oei Tiong Ham menjadikannya gundik pula. Dari perempuan itu Oei Tiong Ham punya lima anak laki laki dan empat anak perempuan.

Dari seluruh anak si gundik itu, Oei Tiong Ham lebih menyenangi putra yang kedua yakni Tjong Swan untuk menjadi andalannya dalam berbisnis. Tentu saja selain si Tjong Hauw, anak laki-lakinya yang lain dari gundik yang lain.

Dan dari semua saudara lain ibu, hanya Tjong Swan dan Tjong Hauw yang dekat dengan Hui Lan. Menurut Hui Lan, Oei Tiong Ham punya tiga anak yang disayanginya yakni dirinya, Tjong Swan dan Tjong Hauw.

 

 

Pesta Dansa Yang Gagal,

Rumah keluarga Oei Tiong Ham di Semarang sangat luas. Kurang lebih berdiri diatas lahan 93 hektar. Rumahnya dirancang dengan gaya arsitektur China. Ada kolam ikan dan jembatan-jembatan. Untuk mengurusi kebun yang luas, keluarga Oei Tiong Ham mempekerjakan lima puluh orang.

Di rumah besar itu terdapat tiga buah dapur yang fungsinya berbeda. Yang pertama dapur untuk ibunya Hui Lan dengan koki ahli masakan Indonesia. Ibunya Hui Lan memang menyukai masakan Indonesia. Sementara dapur yang lain adalah dapurnya Oei Tiong Ham yang dikendalikan oleh koki-koki ahli masakan Eropa. Koki-koki tersebut umumnya adalah koki-koki bekas para Gubernur Jenderal Belanda.  Kebetulan Oei Tiong Ham menyukai masakan Eropa selain masakan China. Sementara dapur yang satu lagi untuk para pekerja di rumah besar tersebut yang mempekerjakan dua koki Tionghoa.

Di belakang ada rumah untuk Nona Jones, guru pribadi Bahasa Inggris keluarga Oei Tiong Ham. Lalu ada rumah untuk tukang pijit, dan tukang cuci pakaian. Sementara untuk para tamu yang menginap, disediakan dua paviliun.

Di rumah itu, Oei Tiong Ham sering mengundang tamu-tamu penting, Termasuk Raja Siam (Thailand). Mereka juga pernah diundang makan di kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Saat usia Hui Lan 15 tahun, Hui Lan ingin menggelar pesta dansa bergaya Inggris seperti yang dia baca di The Tatler. Karena anak kesayangan dan dianggap membawa hoki, Oei Tiong Ham meluluskan keinginan Hui Lan. Oei Tiong Ham lalu menyewa 16 pemain musik yang dulu disewanya untuk perjamuan Raja Thailand. Oei Tiong Ham juga mengundang para rekanan bisnisnya untuk untuk mendatangkan anak-anak mereka ke pesta Hui Lan.

Tapi sayang, saat hari pesta tiba, tak ada satupun tamu yang datang. Oei Tiong Ham marah besar kepada para rekan-rekan bisnisnya. Mendengar seorang pengusaha sukses sekelas Oei Tiong Ham, pengacaranya Baron van Heeckeren,  Gubernur Jenderal Belanda ketika itu,  sampai mengusahakan agar putri-putrinya mengadakan pesta dansa untuk menghormati Hui Lan. Tapi Hui lan juga terlanjur sakit hati. Dia pun tak datang.

Meninggalkan Semarang,

Hui Lan meninggalkan Semarang saat berusia 16 tahun. Keluarga mereka berpisah. Ayahnya bersama Lucy Ho menetap di Singapura. Bing Nio dan dua anaknya Tjo Lan dan Hui Lan memilih ke Inggris.

Kepindahannya ayahnya karena pemerintah Hindia Belanda menekannya untuk menjual perkebunan tebunya dengan harga AS$ 70 juta. Oei Tiong Ham lalu mempercayakan perusahaannya di Jawa kepada putra-putranya yang terpilih yakni Tjong Swan dan Tjong Hauw.

Di Ibukota Inggris, Hui Lan dan ibunya tinggal di Brooke Street. Mereka juga punya rumah lain di Wimbledon yang luas lahannya hampir tiga hektar. Bing Nio punya sebuah Roll Royce, lengkap dengan sopir dan footman yang bertugas membukakan pintu mobil.

Sementara kakak iparnya, Ting Liang suaminya Tjo Lan,  punya mobil Daimler dan Fiat.

Selama tinggal di London, Ting Liang yang mengurus keperluan mereka. Ting Liang bertugas membayar seluruh tagihan dan pengeluaran termasuk berbelanja keperluan sehari-hari. Seluruh tagihan itu dilaporkan ke salah satu kantor Oei Tiong Ham di Mincing Lane.

Suatu ketika Hui Lan pernah bersitegang dengan Ting Liang karena dia tak mau membayar beberapa tagihan milik Hui Lan. Menurut Ting Liang, uang saku yang diberikan Oei Tiong Ham sudah cukup. Tapi Hui Lan mengatakan 400 poundsterling per tahun yang diterima dari ayahnya untuk beli baju, kurang. Setiap perdebatan soal uang, Ting Liang kerap kalah dari Hui Lan, karena Oei Tiong Ham pasti  selalu melunasi tagihan Hui Lan.

Suatu hari setelah bertengkar hebat dengan Ting Liang, Hui Lan pindah ke sebuah villa kecil di Curzon street. Seorang pembantu rumah tangga Perancis dan satu orang koki Prancis juga ikut serta. Tapi Ting Liang tidak mau membayar sewa rumah dan gaji pelayan serta koki Hui Lan.

Hui Lan langsung mengirim telegram ke ayahnya di Singapura. Tanpa banyak cincong ayahnya mengirim sejumlah uang dan menambah uang belanja Hui Lan.

Semasa remaja tinggal di London, Hui Lan benar-benar menikmati hidup, dia suka berdansa dan sering datang-datang ke pesta-pesta kaum jetset. Teman-temannya diantaranya Guy Brook yang kemudian menjadi Lord Brook, Sir Oliver duncan  yang kemudian menjadi Earl of Callo dan serta Sir Hugo Cuncliffe Owen.

Tahun 1918 saat berusia 18 tahun, Hui Lan mendapatkan mobil pertamanya bermerk Daimler. Tapi selama di London, Hui Lan mengaku hubunganya dengan Tjong Lan menjadi tak terlalu mulus. Pergaulan Tjong Lan terbatas pada orang orang sekantor ayah mereka atau para relasi bisnis. Hui Lan paham, Tjong Lan dibesarkan di tanah Jawa sehingga tidak mengalami kebebasan seperti Hui Lan semasa mudanya. Padahal Tjong Lan cantik dan jauh lebih pandai daripada dirinya, demikian tulis Hui Lan dalam bukunya.

 

 

 

Bertemu Wellington Koo,

Di London, Bing Nio mendapat banyak teman karean dia pandai membuat roti yang enak dan lembut. Suatu hari, tetangga mereka, Marquess of Duferin dan isterinya datang, katanya karena tertarik dengan bau roti yang mampir ke rumah mereka.

Hui Lan menulis, Putri Alice dari Monaco (Mungkin neneknya Pangeran Rainer) juga pernah bertandang karena roti. Sejak itu antara ibunya dan Putri Alice terjalin hubungan akrab. Putri Alice juga sering memberi saran dan kerap mengenalkan Bing Nio dan Hui Lan dengan bangsawan-bangsawan Eropa.

Lalu ketika Tjong Lan dan suaminya pindah ke Paris, suatu ketika dia mengirim telegram pada Bing Nio untuk segera datang ke Paris. Ternyata, salah seorang anggota delegasi pemerintah Cina yang sedang mengadakan pembicaraan perihal perdamaian setelah Perang Dunia I, ingin berkenalan dengan Hui Lan, setelah melihat fotonya di rumah Tjong Lan.

Nama anggota delegasi itu Wellington Koo. Usianya baru 32 tahun dan berotak cerdas.

Wellington Koo adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya. Almarhumah isterinya tak lain adalah anak Jenderal Tang, salah satu petinggi di China dan terkenal.

Wellington Koo adalah wakil China di AS semacam duta besar jaman sekarang. Dia jebolan Columbia University. Dan sebagai kakak, Tjong Lan menganggap sosok Wellington Koo sepadan dengan Hui Lan jika dinikahkan. Ibunya, Bing Nio, juga setuju. Baginya Wellington Koo merupakan calon menantu idaman. Cerdas, berwibawa dan memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh penting.

Hui Lan buta soal politik, sementara Wellington boleh dibilang tokoh yang dihormati di kalangan politisi.

Tapi Hui Lan memang terkesan dengan sosok Wellington Koo, karena dia mendapat fasilitas yang dibayari pemerintah Perancis. Padahal dirinya saja mesti keluar uang untuk membeli mobil dan membayar sopir. Tapi Wellington Koo tidak, semuanya ditanggung pemerintah Perancis selama dia sana sebagai tamu kehormatan.

Hui Lan semakin terkesan ketika mereka berdua pergi menonton opera dan mendapat bangku khusus yang sudah di-booking pemerintah Perancis. Ayahnya saja yang pebisnis sukses belum tentu dapat perlakuan khusus seperti itu.

 

Sejak pertama kali bertemu, Welington Koo beberapa kali menelpon Hui Lan. Tampaknya dia memang menyukai Hui Lan. Dalam sebuah kesempatan ketika Hui Lan sedang merawat diri di salon Elizabeth Arden, Wellington Koo menyambanginya. Karuan saja, Hui Lan merasa tersanjung karena orang terhormat seperti Wellington Koo mau menemui dirinya saat sedang berada di salon seperti itu.

Dilamar Wellington Koo,

Beberapa saat berlalu, hubungan Hui Lan dengan Wellington Koo  semakin akrab. Dari segi latar belakang, banyak orang mengakui mereka adalah pasangan yang serasi. Prianya seorang politikus terhormat, wanitanya seorang anak pengusaha sukses dan kaya raya yang bergaya aristokrat.

Dalam sebuah kesempatan mereka pernah bercakap-cakap. Percakapan inilah yang kemudian selalu dikenang oleh Hui Lan karena Wellington Koo memintanya menjadi  istri. Percakapan bermula dari obrolan mengenai orang-orang biasa diundang ke tempat-tempat penting seperti istana.

Hui Lan berkata bahwa drinya tidak mungkin diundang ke Istana Buckingham, istana Elysee atau Gedung Putih, meski dia orang kaya. Wellington Koo menimpali
 “Istri saya ikut diundang, kalau saya menghadiri perjamuan resmi di tempat tempat itu,”katanya.
“Tentu isterimu kan sudah meninggal,” ujar Hui Lan.

Wellinton Koo lalu berkata,
 “Ya, dan saya punya dua orang anak yang masih kecil, yang memerlukan ibu,“

Hui Lan yang ketika itu baru berumur 19 tahun dan terbiasa berbicara blak-blakan seperti ayahnya langsung bertanya,
 “ Jadi kamu ingin menikah dengan saya,“tanya Hui Lan.

“Ya, dan saya harap kamu mau.” jawab Wellington Koo pendek, tanpa menyebutkan apakah dia mencintai Hui Lan  dan sebaliknya. Ketika itu Hui Lan tak langsung menjawab tetapi meminta waktu untuk  berpikir.

 

 

 

 

Menantu Impian,

Bagi Bing Nio, Wellington Koo merupakan menantu impian. Dia sangat ingin Wellington Koo bisa bersanding dengan Hui Lan.  Bing Nio kerap  memuji Welington secara terbuka. Tak terbayangkan betapa bangga dirinya jika menjadi mertuanya Wellington Koo. Soal sikap ibunya ini, Hui Lan pernah berpikir bahwa ibunya lebih cocok buat Wellington daripada dirinya. Menurut Hui Lan, Wellington lahir tahun Babi, cocok dnegan ibunya yang lahir tahun Naga. Sedangkan  Hui Lan lahir di tahun Harimau.


Tjong Lan memberi saran,”Hui Lan, kamu harus menikah dengan Wellington Koo, jangan seperti saya yang bersuamikan orang yang tidak berarti. Ingat, kamu akan menjadi Madame Wellington Koo dan orang akan menyapamu Your Excellency.”

Ketika Hui Lan masih dalam keragu-raguan, ibunya sudah tidak sabar. Hui Lan mengungkapkan dirinya belum siap menjadi ibu tiri dari dua anak Wellington. Tapi kata Bing Nio, Hui Lan tak perlu mengasuh sendiri anak-anaknya, kerana mereka sudah punya pengasuh. ”Ingat, sekarang masih ada aku yang akan melindungimu, tetapi aku ini berpenyakit diabetes. Kalau aku sudah tidak ada, kamu akan tidak bisa hidup serumah dengan Tjong Lan, karena kamu tidak akur dengan Ting Liang. Kamu tidak akan diperbolehkan hidup sendiri oleh ayahmu. Kamu harus pulang ke ayahmu, padahal Lucy Ho membencimu. Kamu bisa diracuni.“ kata ibunya seperti ditulis Hui Lan dalam bukunya.

.

Oei Tiong Ham Tak Setuju,

Tapi akhirnya Hui Lan memang menerima pinangan Wellington Koo. Segera setelah Hui Lan mau menikah dengan Wellington Koo, Bing Nio mengirim telegram kepada Oei Tiong Ham di Singapura untuk mengabarkan berita ini.

Tapi jawaban Oei Tiong Ham diluar dugaan. Berbeda dengan istrinya, Oei Tiong Ham justru tidak setuju. Alasannya,  mata-mata Oei Tiong Ham menemukan bukti bahwa Wellington Koo pernah menikah dan bercerai di Shanghai, sebelum menikah dengan putri Jenderal Tang.

Dia  lalu membalas telegram dengan bunyi :“Kalian tolol. Kalau Hui Lan dinikahkan dengan Wellington Koo, ia tidak bisa menjadi istrinya, karena Wellington Koo mempunyai istri yang masih hidup di Cina. Mengapa kalian tega berbuat demikian kepada Hui Lan?”

Tapi Bing Nio bergeming.  Soal itu, Bing Nio sudah diberitahu oleh Wellington bahwa semasa kanak kanak ia sudah dijodohkan dengan putri tabib yang menyembuhkannya dari penyakit berat. Waktu pulang liburan dari Amerika Serikat tahun 1908, ibu dan kakak laki lakinya mengirimkan tandu merah kepada putri tabib itu.

Wellington yang lahir 1887 dengan taat membawa gadis desa yang tidak terpelajar ke New York. Istrinya kemudian meminta dipulangkan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana. Diadakanlah rapat keluarga yang memutuskan mereka bercerai. Masa itu perceraian diakui kalau direstui orang tua.

Kemudian Wellington menikah dengan gadis berpendidikan barat, putri Tang Shao Yi, tangan kanan Presiden Yuan Shih Kai. Setelah mendapat gelar master dari Columbus dan lulus dari sekolah hukum di Yale, Wellington Koo kembali ke Cina untuk menjadi sekretaris dan penerjemah bagi Yuan di Beijing.


Wellington Koo berasal dari keluarga yang tidak kaya tidak pula miskin. Mereka termasuk kuno. Kaki ibunya masih diikat dan ibunya itu hanya bisa berbahasa Cina dialek Shanghai, serta tidak pernah pergi jauh dari rumah. Ketika bersekolah di Amerika Serikat, Wellington hanya bisa tinggal di asrama murah dan hidup sederhana sekali.

Pendek kata, akhirnya Wellington Koo dan Hui Lan menikah juga. Pertunangan mereka diumumkan di Hotel Ritz di Paris, sedangkan pernikahannya diselenggarakan di Kedutaan besar China di Brussels, Belgia.

Saat hari pernikahan, hanya Bing Nio yang hadir,  Tjong Lan dan suaminya Tiang Liang tak bisa hadir karena sakit. Sementara dari keluarga Wellinton Koo juga tidak ada yang hadir karena perlu waktu lama menempuh perjalanan laut dari China ke Eropa.

Pernikahan harus dilangsungkan sebelum Wellington menggantikan Alfred Tse sebagai Minister (Jabatan yang lebih rendah dari duta) Cina di London.

Hui Lan mengungkapkan, menerima hadiah pernikahan dari ibunya berupa sebuah Rolls-Royce dengan seragam sopir yang dibuat di Dunhill. Ibunya  juga menghadiahkan peralatan makan dari perak yang waktu itu harganya sekitar 10.000 poundsterling.  Sarung bantal tempat tidur mereka diberi kancing yang berhiaskan intan.

 

 

 

 

Cintanya Hanya Untuk China,

Seusai menikah, mereka kembali ke hotel. Sebagaimana layaknya pengantin baru, Hui Lan bermaskud menyenangkan suaminya dengan mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian negligee yang seksi. Tapi ternyata Wellinton tak memperhatikan dirinya, dia malah sibuk bekerja dikelilingi empat sekretarisnya. Jadi saya duduk saja menunggunya.


Malam itu juga mereka harus berangkat dengan kereta api ke Jenewa, Swiss, untuk menghadiri pembukaan Liga Bangsa-Bangsa (Kemudian menjadi PBB). Wellington Koo adalah ketua delegasi China.

Sejak itu mulai ada perasaan yang lain di hati Hui Lan, melihat begitu sibuknya Wellinton Koo.  Perhatian Wellington Koo hanya untuk Cina. Ia memang orang yang diperlukan oleh Cina, tetapi bukan suami yang tepat untuk Hui  Lain, tutur Hui Lan  dalam bukunya.

Otaknya cemerlang, tetapi ia tidak mampu bersikap mesra dan menunjukkan kelembutan kepada istrinya sendiri.


Sore itu, sebelum berangkat untuk menghadiri resepsi pernikahan yang diadakan bagi mereka oleh wakil Chna untuk Spanyol yang khusus datang dengan istrinya. Pesta resmi itu dihadiri pejabat-pejabat Perancis, Belgia, dsb.  Bing Nio yang ikut ikut bersama mereka tampak bangga sekali ketika mereka disambut dengan karangan bunga yang besar setibanya di stasiun.

Mereka mendapatkan kamar suite yang megah. di hotel Beau Rivage yang menghadap ke danau. Tapi belum lama mereka tiba di hotel, Wellington Koo langsung dijemput sekretarisnya untuk segera menggelar berbagai rapat. Daripada bosan menunggu suaminya rapat, akhirnya Hui Lan memutuskan pergi berbelanja bersama ibunya sambil menikmati keindahan kota Jenewa.

Suatu kali, Hui Lan pernah kaget dan tersinggung ketika Wellington dan Wang, sekretarisnya,  mengatur tempat duduk tamu di perjamuan yang mereka adakan. Ketersinggungan Hui Lan, selain Wellington tak mengajak berdiskusi, juga lantaran dirinya ditempatkan di tengah tempat duduk orang-orang yang menurut Hui lan membosankan.

Dan tanpa sepengetahuan Wellington, Hui Lan mengatur kembali letak kartu-kartu  di meja perjamuan.  Beberapa saat kemudian, saat sedang berdandan, tahu-tahu Wellington datang dan menegur Hui Lan. Begini katanya, “Hui Lan, ini bukan pesta pribadimu, kamu menjamu mewakili Cina, sehingga para tamu harus didudukkan sesuai dengan tingkatan mereka, agar tidak ada seorangpun yang merasa terhina atau hilang muka.“ ujar Wellington.

Tapi sejak saat itu, Hui Lan jadi banyak belajar soal protokol. Belakangan dia malah sangat ahli dalam mengatur tempat duduk para tamu, sehingga tugas itu diserahkan kepadanya.

 

 

 

 

 

 

Tampak serasi padahal tidak sejalan,

Waktu demi waktu berlalu. Hui Lan sebagai istri seorang pejabat China dipanggil dengan sebutan terhormat Madame atau Your Excellency,  begitu juga dengan Bing No ibunya. Hui Lan masih ingat ketika pertama kali ke Istana Buckingham yaitu saat suaminya menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada Raja George V dan Permaisuri Mary.

Putri Alice yang sebelumnya sudah mengajarinya tatacara di kerajaan,   yaitu cara wanita memberi hormat kepada keluarga raja. Termasuk pesannya supaya jangan berbicara kalau tidak ditanya. Sekeluar dari istana, suaminya berkomentar,”Kita ini memang pasangan yang hebat,” katanya.

Dari luar memang Welllington dan Hui Lan seperti pasangan yang serasi dan matang, padahal Hui Lan merasa pernikahan mereka tidak berjalan dengan mulus.

Orang memang mengagumi kecerdasan Wellinton. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka cuma negara kelas dua, sebab masa itu China bukan negara yang kuat. Kekuatan-kekuatan besar dunia cuma mengirimkan wakil setingkat minister ke Beijing, bukan duta besar.

Suatu kali dengan bergurau Hui Lan berkata pada Wellington,”Saya tidak ingin seumur hidup menjadi istri Minister, Kapan kamu menjadi dubes?”. Mendengar itu Wellinton jengkel.“Kalau kamu tidak puas dengan keadaanmu sekarang, kapan pun kamu tidak akan puas. Saya tidak bisa mendapat kedudukan lebih tinggi lagi dari ini, minister untuk Istana Saint James!” katanya ketus.


Pada tanggal 30 Januari 1922, putra mereka lahir di Washington. Ketika itu Wellington sedang menghadiri konferensi pembatasan senjata yang juga membicarakan nasib Shantung di tangan Inggris.

Putra mereka diberi nama Kai Yuen yang berarti “zaman baru”. Namun nama resmi putra kami itu Yu Chang yang diberi oleh abang sulung Wellington. Namun orang-orang lebih senang memanggil dengan nama Wellington Junior. Akhirnya sejak kecil mereka memanggilnya Junior saja.

 

 

Bertemu Dengan Ayah Lagi,

Pada  tahun 1916,  keadaan China kacau. Presiden Yuan Shih Kai meninggal tidak lama setelah berusaha menjadikan dirinya kaisar. Penggantinya lemah, Wellington yang sudah tujuh tahun meninggalkan China dipanggil pulang.

Dalam perjalanan ke China dengan S.S. Khyber mereka singgah di Singapura. Disanalah Hui lan mendapat kejutan yang tak disangka-sangka, yakni Ayahnya, Oei tiong ham datang menemui dirinya di atas kapal. Segera saja Hui Lan mengenalkan Wellington dengan Ayahnya. Itulah pertemuan pertama antara Oei Tiong Ham dengan menantunya sendiri.

 

Saat masih bersandar di Singapura itu, Hui Lan sempat diajak Ayahnya untuk mendarat untuk mengunjungi rumah yang selama ini ditinggalinya bersama Lucy Ho.

Sesampainya disana, Hui Lan heran, karena ayahnya yang glamour sudah jauh berubah. Hui Lan mendapati di rumah itu sama sekali tak ada air ledeng atau WC duduk. Sungguh jauh dari cirri-ciri kemegahan yang dulu dimiliki ayahnya. Bahkan ayahnya tak punya pelayan pribadi. Oei Tiong Ham sama sekali tak menjawab pertanyaan Hui Lan mengapa dirinya  menjadi hidup sederhana seperti itu.

Namun Oei Tiong Ham menjelaskan bisnisnya berjalan seperti biasa, Hauw maupun Swan bisa diandalkan. Kantor ayahnya di Singapura pun berjalan dengan baik, tetapi ia jarang ke sana.


Ayahnya juga  meminta Hui Lan supaya tak perlu khawatir. Kata Oei Tiong Ham,  neraca keuanganya bahkan lebih beres, karena ditangani sendiri oleh Lucy Ho. Memang berlainan dengan gundiknya yang lain . Lucy Ho cukup terpelajar dan pintar.

Tapi Hui lan tetap  tetap khawatir.  Dia tahu tidak semua istri setia. Mengapa Lucy Ho membiarkan dirinya terikat pada pria yang menghamilinya setiap tahun ? Hui Lan  memperingatkan ayahnya agar jangan mencampuradukkan seks dengan bisnis. Tapi oei Tiong Ham tertawa,”Kamu dan ibumu akan jauh lebih kaya, kalau pemasukan dan pengeluaran uang kalian seperti Lucy Ho.” katanya.

Tapi Hui Lan kemudian membalas,”Buat apa saya repot2 mengurusi neraca dan menelusuri kemana uang saya kalau saya mempunyai ayah seperti ini?”.

Saat kembali ke kapal, tak lupa Oei Tiong Ham menjejalkan lembaran dollar AS yang jumlahnya lebih dari US$ 50.000 ke dalam tas Hui Lan.

 

Setelah mengucap salam dan mennyarankan ayahnya supaya membeli mobil dan membuat WC duduk serta air ledeng. Oei Hui Lan dan Wellington Koo meneruskan perjalanan ke China.

Sesampainya di Shanghai mereka disambut meriah. Di Shanghai mereka sempat tinggal di rumah yang disewa oleh kakak sulung Wellington Koo untuk mereka. Tapi Hui Lan tak suka, karena selain ukurannya terlalu kecil, tak ada ledeng dan WC duduk pula.

Akhirnya mereka pindah ke hotel untuk beberapa waktu. Wellington Koo menurut Hui Lan sebetulnya tak setuju. Dia tak ingin menyinggung perasaan kakaknya yang sudah repot-repot menyewakan rumah. Tapi Hui Lan bergeming.

Beberapa waktu kemudian mereka membeli sebuah istana di Beijing, tentu saja dari uang pemberian Oei Tiong Ham, karena gaji Wellington tak mungkin mencukupi kebutuhan Hui Lan.  Istana itu dijual murah oleh pemiliknya, US$ 100,000, karena ia takut disita oleh pemerintah. Istana itu dibangun Kaisar pada abad XVII untuk seorang gundik yang paling dicintainya. Di istana itulah kemudian presiden China pertama Dr. Sun Yat Sen meninggal tahun 1925. Hui Lan menghabiskan dana tambahan sekitar US$ 150,000 lagi untuk memperbaiki istana itu. Di istana itu pula putra kedua Hui Lan lahir tanggal 24 Juli 1923 malam.

 

 

Oei Tiong Ham meninggal,

Setelah tinggal di China, Hui Lan masih sempat beberapa kali mengunjungi Singapura menemui Ayahnya.  Suatu ketika Hui Lan mendapat undangan jamuan makan dengan Gubernur Jenderal Singapura, ayahnya  yang melihat Hui Lan datang ke Singapura dengan perhiasan seadanya, langsung ke kamar dan setelah itu melemparkan setumpuk perhiasan intan yang besarnya berpuluh puluh karat ke pangkuan Hui Lan.

Yang diundang dalam perjamuan itu semuanya orang Inggris kecuali Hui Lan dan Sir Robert Ho tung dari Hong Kong.  Hui Lan mengajak ayahnya. Ayahnya  tidak paham bahasa Inggris dan ingin duduk di sebelahnya Hui Lan. Setelah dijelaskan kepada ajudan Gubernur Jenderal, akhirnya jamuan makan malan itu berlangsung lancar. Oei Tiong Ham duduk disebelah Hui Lan.

Hui Lan mengaku masih sekali lagi bertemu Oei Tiong Ham ketika Hui Lan datang ke Singapura untuk melihat pembangunan villa miliknya yang memasuki tahap akhir. Pada waktu itulah Oei Tiong Ham diramal oleh seorang India. Kata orang itu, akan ada musuh yang meracuni Oei Tiong Ham.

Hui Lan khawatir dan mengajak ayahnya meninggalkan Singapura. Tapi Oei Tiong Ham menolak, saat perpisahan di pelabuhan, Oei Tiong Ham  sempat berkata pada Hui Lan, “Hui Lan, aku lelah.“.

Hui Lan merasa sedih mendengar perkataan Ayahnya. Hui Lan sama sekali tak menyangka bahwa kalimat itu adalah perkataan terakhir dari Oei Tiong Ham untuk dirinya.

Setelah tiga bulan, Hui Lan menerima kawat dari Tjong Swan.  Oei Tiong Ham meninggal dunia.  Kabar yang dia terima, ayahnya meninggal mendadak akibat serangan jantung pada 6 Juni 1924.

Bagi Hui Lan, inilah awal masa suram kehidupannya. Hui Lan merasa sangat kehilangan. Sosok Oei Tiong Ham baginya juga sebagai pelindung. Selama ayahnya hidup, Hui Lan bukan Cuma merasa aman dari segi keuangan, tetapi juga selama ada Oei Tiong Ham, tidak seorang pun berani berbuat jahat terhadap Hui Lan dan keluarganya.

Ibunya, Bing Nio, menolak menghadiri pemakaman Oei Tiong Ham. Akhirnya ditemani Wang, sekretaris sekaligus kepala rumah tangga (majordomo) dan seorang pelayan perempuan, Hui Lan berangkat ke Singapura.

 

Sampai di Singapura, peti jenazah Oei Tiong Ham sudah ditutup. Saat itu banyak orang-orang yang tak dikenal Hui Lan datang. Mereka adalah teman-teman Lucy Ho. Hui Lan menyadari bahwa dirinya sekarang orang luar.

Hui Lan meminta agar jenazah ayahnya diotopsi, apalagi dia ingat betul perkataan peramal yang meramalkan ayahnya akan tewas diracun. Hui Lan curiga Lucy Ho meracuninya.  Namun menurut penasihat hukum di Singapura, sebagai anak perempuan almarhum Hui Lan tidak berhak meminta otopsi, kecuali ibunya, Bing Nio.

Diputuskan jenazah Oei Tiong Ham akan dimakamkan di Semarang.  Dua anak Oei Tiong  Ham yang dipercaya yakni Tjong Wan dan Tjong Hauw yang mengatur semuanya.  Jenazah lalu diangkut menggunakan kapal ke Semarang.

Di Semarang, prosesi pemakaman Oei Tiong Ham dilakukan tanpa biksu. Hui Lan  sebagai anak istri sah, duduk di kereta pertama pengiring kereta jenazah . Swan, Hauw , dan para putra Oei Tiong Ham dari gundik-gundiknya berjalan di belakang mereka.

Pembagian Warisan,

Oei Tiong Ham meninggalkan warisan cukup banyak.  Hui Lan mendapatkan warisan yang dijanjikan ayahnya.  Ibunya mendapat beberapa juta dollar.  Kakaknya, Tjong Lan mendapat satu juta dollar. Sementara perusahaan peninggalan Oei Tiong Ham dibagi tiga antara  Tjong Hauw, Tjong Swan dan Lucy Ho.  Belakangan Tjong Swan menjual bagiannya itu kepada Lucy Ho dan pindah ke Belanda.


Lucy Ho sendiri menurut kabar yang didengar Hui Lan, meninggal di Swiss akibat kanker. Swan meninggal akibat infeksi gigi yang ditelantarkan. Sementara  Hauw  meninggal di Jakarta karena serangan jantung tahun 1951.

Bisnis Oei Tiong Ham di Jawa lalu diambil alih Jepang dan sisanya kemudian diambil oleh pemerintah Soekarno.

 

 

 



Menjadi Dubes  AS,

Dua belas tahun kemudian, tepatnya  tahun 1936,  Wellington diangkat menjadi dubes China pertama untuk Prancis.  Hui Lan menulis dalam bukunya bahwa saat menuju Paris, dirinya meninggalkan banyak harta benda di China.  Hui Lan juga juga meninggalkan perhiasan almarhumah isteri pertama Wellington di sebuah bank di Shanghai, dengan maksud akan diberikan kepada putri mereka, Pat, kalau Pat sudah dewasa.

Waktu itu mereka tak berpikir bahwa akhirnya semua ternyata akan amblas oleh pemerintah komunis China.

Tujuh tahun menjadi dubes China untuk Perancis, Wellington pindah tugas menjadi Dubes di London tahun 1943.  Hui Lan mengaku berteman baik dengan Menteri Luar Negeri Anthony Eden dan pernah dijamu oleh PM Churchill, kemudian juga oleh PM Attlee. Bahkan mereka pernah diundang jamuan makan oleh Ibu Suri Mary yang  kemudian mereka balas dengan menjamunya di kantor kedubes China Di London.


Selama menjadi istri dubes, mereka bisa mengadakan perjamuan mewah semacam itu berkat warisan Oei Tiong Ham karena gaji Wellington yang ‘cuma’ US$ 600 sebulan.

Selama di London itu pula Hui Lan berteman baik dengan Joseph Kennedy, Jr yang kemudian tewas dalam perang.  Semasa perang dunia kedua, Hui Lan juga ikut menjadi sukarelawan Palang Merah Inggris di bawah Edwina Mountbatten.

Karier Wellington terus menanjak, tahun 1946 Wellington menjadi dubes China untuk sebuah negara besar yang kala itu memenangi perang dunia kedua, Amerika Serikat.

Kantor kedubes China di Washington sebelumnya adalah rumah milik penemu telepon Alexander Graham Bell. Tetangga sebelah mereka juga adalah seorang konglomerat AS yang kaya raya, Marjorie Merriweather Post.  Mereka kerap diundang jika Marjoie mengadakan pesta.

Kemudian Madame Chiang Kai Shek (isteri presiden Cina Nasionalis) juga pernah menjadi tamu di kediaman mereka. Oleh karena suaminya tidak bisa berbahasa Inggris, pemerintah China mengutus madame Chiang yang mendapat pendidikan di AS untuk berpidato di hadapan kongres.

Mereka juga berhubungan baik dengan wakil presiden Richard M. Nixon dan isterinya yang bijaksana itu. Dan sebagai duta besar, Wellington sering diundang dalam acara-acara penting dan formal pemerintah AS. Tentunya Hui Lan juga turut serta. Mereka sempat menghadiri upacara pelantikan presiden Harry S. Truman dan Presiden Dwight D. Eisenhower.

Bing Nio untuk beberepa saat pernah tinggal bersama mereka di Washington, tapi kemudian meninggal akibat kanker di sebuah rumah sakit di New York.  Hui Lan menuturkan dia sangat merasa kehilangan ibunya untuk waktu yang lama.

 

 

Akhir Dari Semuanya,

Tahun 1956, setelah bertugas di Washington selama sepuluh tahun, Wellington ditarik pulang. Ketika itu pemerintah China sudah terbagi dua, Taiwan dan China Daratan, antara nasionalis dan komunis.

Hui Lan memilih tetap tinggal di AS. Dia menyewa sebuah apartemen di Sutton Palace, New York. Anak tirinya, Pat sering datang menemani  Hui Lan mengobrol dan untuk mengajarinya memasak. Di apartemen itu Hui Lan tinggal bersama dua anjing peking kesayangannya.  Karena Wang ikut Wellington ke China, dua pelayannya  memilih bekerja di tempat lain sementara koki mereka membuka restoran.


Suatu kali Hui Lan mengalami peristiwa naas. Seusai pulang dari mengajak jalan-jalan anjingnya, Hui Lan disergap perampok. Dua perampok  bule itu mengikat tangan dan kaki Hui Lan.  Perampk itu berhasil membawa lari perhiasan Hui Lan yang nilainya kira-kira seperempat juta dollar.


Setelah perang usai, sulit sekali mengurus rumah rumah kami di pelbagai tempat di eropa. Dengan susah payah berhasil juga saya menjualnya, walaupun dengan harga murah. Saya mengagumi Ny. Kung, seorang Methodist yang tabah. Ia menghibur saya,“Apa pun milik kita yang hilang, jika Anda mencintai Tuhan, Anda tidak akan terpengaruh.“

Sejak itu Hui Lan mengaku jarang menjamu dan enggan menghadiri perjamuan.  Hui lan masih beruntung karena  anak tirinya Pat, dan anak-anaknya patuh terhadap dirinya. Putra sulungnya,  berhasil menjadi anggota tentara Angkatan Udara Nasionalis dan berada di Taiwan. Tjong Lan meninggal di New York tahun 1970. Suaminya meninggal setahun sebelumnya.

Hui Lan juga merasa memiliki pertalian emosional dengan Indonesia, tempat dia dilahirkan dan menghabiskan masa kecil. Oleh karena itu, tahun 1968 Hui Lan pernah mencoba berbisnis di Indonesia tetapi bisnis itu gagal.


Di penghujung usianya, Hui Lan menyadari berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadianlah lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini, tulis Hui Lan.

Nama Jalan di Singapura,

Hui Lan sendiri meninggal dunia tahun 1992, di Amerika. Menurut catatan redaksi majalah Intisari berjudul “Pelangi Cina di Indonesia”, Hui Lan masih sempat menulis kata pendahuluan untuk buku Raja Gula Oei Tiong Ham yang ditulis Liem Tjwan Ling, pada Maret 1978.

Sementara nasib benda-benda peninggalan Oei Tiong Ham di Semarang sudah sulit dilacak. Rumahnya di Jalan Gergaji, Semarang sekarang dijadikan tempat kursus bahasa asing dan komputer, milik keluarga Hoo Liong Tiauw pemilik pabrik plastik Polyplast.

Tjwan Ling Liem, penulis buku “Raja Gula Oei Tiong Ham (Surabaya, 1979) menulis terjadi pengambil alihan aset Oei Tiong Ham di Semarang oleh pemerintah.  Lalu sekitar tahun 1975-an, pemakaman Oei Tiong Ham dibongkar, tulang belulangnya di bawa ke Singapura dan diabukan disana. Nama  Oei Tiong Ham kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Singapura.

Beberapa  bangunan yang masih bisa mengambarkan kejayaan

Oei Tiong Ham

yang tersebar di Semarang Singapora hingga London

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada tahun 1863

seorang pengusaha China mendirikan perusahaan perdagangan hasil bumi di Semarang dengan nama NV Handel My Kian Gwan yang kemudian berkembang menjadi perusahaan konglomerasi dengan induk perusahaan bernama Oei Tiong Ham Concern. Pada tahun 1961 induk perusahaan tersebut diambil alih Pemerintah yang kemudian pada tahun 1964 seluruh harta kekayaannya yang ada di Indonesia digunakan sebagai penyertaan dalam pendirian PT Rajawali Nusantara Indonesia ( RNI ).

Sejak pendiriannya pada tahun 1964, RNI sudah merupakan holding company dengan 10 anak perusahaan yang bergerak dibidang agro industri, farmasi dan alat kesehatan, perdagangan, properti dan jasa. Dalam rangka pengembangan usaha selanjutnya, disamping dilakukan berbagai diversifikasi dimasing-masing bidang usaha, juga dikembangkan industri hilir dan pemanfaatan produk samping.

Seiring dengan perubahan kondisi perekonomian, peraturan perundang -undangan serta kebijakan pemerintah yang terkait dengan BUMN, dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan, mulai tahun 1998 manajemen telah melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap kondisi usaha yang ada dengan kembali pada core business dan core competence semula yaitu agro industri, farmasi dan alat kesehatan serta perdagangan. Dengan menjadikan bidang perdagangan sebagai ujung tombak yang ditopang oleh bidang agro industri dan farmasi, diharapkan tercipta sinergi diantara ketiganya.

Bidang agro industri meliputi : gula, kelapa sawit, karet, teh dan hortikultura. Bidang farmasi dan alat kesehatan, meliputi : industri obat-obatan, industri alat radiologi, alat suntik, kondom dan reagensia. Bidang perdagangan, disamping menjadi agen dari prinsipal lain, juga memiliki industri kulit, sarung tangan, dan karung plastik.

Pengembangan industri hilir dan pemanfaatan produk samping meliputi : pabrik alkohol, spiritus, dan arak dengan bahan baku tetes, pabrik pakan ternak dengan bahan baku pucuk tebu, pabrik particle board dengan bahan baku bagas, pabrik kanvas rem dengan bahan baku bagas, pabrik pupuk mix dengan bahan baku blotong dan abu ketel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istana Oey Tiong Ham

 

Gambar dulu: Istananya berbentuk U. Di latar belakang tampak

bukit Bergota di kanan. Bukit Gunungsawo dan bukit Bongsari

di kiri.

Dua istananya sangat megah dan terkenal. Istana utama di Gergaji terkenal sangat luas, sedangkan istana yang berada di Simongan dikenal dengan keindahan pemandangannya. Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.

Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Uniknya dia membangun tempat beribadah khusus untuk para pembantunya.

 

Bagian dalam rumah Oey Tiong Ham

 

 

 

Oey Tiong Ham Memorial Hall

 

 

 

Serambi muka rumah kediaman Oey Tiong ham

 

Istana ini merupakan landmark bagi masyarakat Semarang pada sekitar permulaan abad ke 20 hingga paruh abad ke 20. Masyarakat setempat menyebutnya Istana Oei Tiong Ham atau Istana Gergaji. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Kebon Rojo karena Tiong Ham banyak memelihara hewan hingga mirip kebun binatang. Disebut juga Taman Bale Kambang karena di kompleks istana ada kolam-kolam ikan yang diatasnya dibangun bale atau gazebo untuk beristirahat. Nama Bale Kambang kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.
Dalam pelelangan sekitar tahun 1883 rumah tersebut jatuh ke tangan Oei Tjie Sien, ayah Tiong Ham. Sayang tak ada catatan tahun berapa bangunan gedung tersebut dibangun tetapi diperkirakan sekitar seperempat abad ke 19. Pada sekitar tahun 1888 Oei Tiong Ham yang pada waktu itu berusia sekitar 22 tahun pindah menempati rumah yang terletak di jalan Gergaji (kini jalan Kyai Saleh) tersebut.

 

Rumah Kediaman Oey Tiong Ham, Jln. Kyai saleh

(Balai Prajurit yang sekarang digunakan sebagai Kampus STIMIK Provisi)

 

 

 

 

 

 

INTEROOR HOUSE OF OEI TIONG HAM

 

Istana Oey Tiong Ham

 

Gambar dulu: Istananya berbentuk U. Di latar belakang tampak

bukit Bergota di kanan. Bukit Gunungsawo dan bukit Bongsari

di kiri.

Dua istananya sangat megah dan terkenal. Istana utama di Gergaji terkenal sangat luas, sedangkan istana yang berada di Simongan dikenal dengan keindahan pemandangannya. Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.

Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Uniknya dia membangun tempat beribadah khusus untuk para pembantunya.

 

Bagian dalam rumah Oey Tiong Ham

 

 

 

Oey Tiong Ham Memorial Hall

 

 

 

Serambi muka rumah kediaman Oey Tiong ham

 

Istana ini merupakan landmark bagi masyarakat Semarang pada sekitar permulaan abad ke 20 hingga paruh abad ke 20. Masyarakat setempat menyebutnya Istana Oei Tiong Ham atau Istana Gergaji.

Masyarakat juga menyebutnya sebagai Kebon Rojo karena Tiong Ham banyak memelihara hewan hingga mirip kebun binatang. Disebut juga Taman Bale Kambang karena di kompleks istana ada kolam-kolam ikan yang diatasnya dibangun bale atau gazebo untuk beristirahat. Nama Bale Kambang kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.
Dalam pelelangan sekitar tahun 1883 rumah tersebut jatuh ke tangan Oei Tjie Sien, ayah Tiong Ham. Sayang tak ada catatan tahun berapa bangunan gedung tersebut dibangun tetapi diperkirakan sekitar seperempat abad ke 19. Pada sekitar tahun 1888 Oei Tiong Ham yang pada waktu itu berusia sekitar 22 tahun pindah menempati rumah yang terletak di jalan Gergaji (kini jalan Kyai Saleh) tersebut.

 

Rumah Kediaman Oey Tiong Ham, Jln. Kyai saleh

(Balai Prajurit yang sekarang digunakan sebagai Kampus STIMIK Provisi)

 

 

 

 

 

 

 

Oei buried Ceremony

 

ship

 

Oei gynealogy

 

oei‑hui‑lan.jpg

semarang.nl

154 × 208 – Oei Tiong Ham together with his wife

 

 

Bangunan kuno di Jl Sriwijaya itu adl makam Thio Sing Liang seorang kaya raya yg meninggal pd thn 1940. Di sana ada 4 orang dimakamkan yaitu Thio Sing Ling dan istri ke 2 di dalam gedung utama dan istri pertama dan kerabatnya di luar gedung di belakang. Ini foto2nya.

[

__________________

” Our company is the Manufacturer of Export Quality Tapioca/Cassava Chips in Indonesia. We have our own processing machine (peeling, cutting, oven, etc). We have also R&D team and Quality Assurance department to always improve our product quality. We can supply 5,000-10,000 Metric Ton/month with short/long term contract. Our factory is located in the capitol of Central Java Province, which is near the Semarang Tanjung Emas Port so we can deliver your order promptly. Our company is one of the Politama groups of company which has many companies like PT. Polidaya which produce Plastics Bags, PT. Polirubber which is the Tire Retreading factory, Hoo’s Clinic which is a hospital in Semarang, Study World Language School and ProVisi IT College (Diploma and Bachelor Degree IT Education with International Certification). These companies are based in Semarang and Jakarta. “

ProVisi adalah kampus di bekas rumah Oei Tiong Ham di jl Kiai Saleh…

penelusuran selanjutnya:
http://groups.yahoo.com/group/Alumni…/message/83598

“Menurut catatan, rumah tersebut bukanlah rumah yang di bangun oleh Oei Tiong Ham tetapi pemilik semula adalah tuan Hoo Yam Loo, seorang pedagangTionghoa kaya raya yang mendapat hak monopoli dalam perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda.”

“Era baru kemudian muncul bersamaan dengan berpindahnya kepemilikan bekas bangunan istana Oei Tiong Ham ke pemilik baru, seorang pengusaha muda bernama Budi Poernomo atau lebih akrab dengan panggilan Hoo Liem. Adalah suatu keuntungan pula bahwa Hoo Liem adalah seorang sosok pecinta sejarah dan sangat berminat tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan, pendidikan dan heritage pada umumnya terutama yang berhubungan dengan kota kelahirannya Semarang.

Budi Poernomo memperoleh pasangan hidup seorang gadis benama Ibu Lolly yang juga menyelesaikan kuliahnya sebagai sarjana akuntansi di universitas yang sama di Canada. Pasangan muda ini dikaruniai 2 putera puteri, Ariel Olivia Poernama yang bersuamikan Kim Soen Chay, dan seorang putera Dwi Adhi Poernomo.

Sesuai dengan cita-citanya maka istana Oei Tiong Ham dipugar sesuai dengan bangunan aslinya dengan sedikit perubahan di bagian belakang selaras dengan kebutuhannya sebagai sebuah kampus pendidikan yang dikelola dengan nama : STMIK PROVISI yaitu Sekolah Tinggi Management Informatika dan Komputer serta STUDY WORLD sebuah laboratorium bahasa.

Banyak masyarakat pencinta kota Semarang yang concern dengan bangunan-bangunan kunonya yang satu persatu musnah tak terawat atau yang dibongkar untuk dibangun gedung baru yang lebih modern, merasa lega karena salah satu gedung bersejarah bagi masyarakat kota Semarang masih dapat dipertahankan bentuk aslinya oleh pemiliknya yang baru.”

 

 

Gak tau apa hubungannya Hoo Yam Loo sang raja Opiun dulu dengan Hoo Liem (Budi Poernomo). Kalo leluhurnya, berarti mr Hoo mewarisi kembali rumah leluhurnya yang bangkrut dulu…


Semarang Jg Pertama2 Kumandangkan Kemerdekaan Lewat Radio

* Setjara Tak Resmi Disiarkan Melalui Chotbah Sembahjang Djum’at Mesdjid Besar

BERITA tentang kekalahan Djepang tanpa sjarat kepada Sekutu itu dapat ditangkap oleh bagian tehnik “Semarang Hoso Kyoku” (sekarang RRI Semg) jang sedang bertugas melakukan monitoring dari Radio Tokyo pada hari Senin malam tgl. 13 Agustus 1945. Meskipun Djepang merahasiakan berita itu, tetapi sudah ada perobahan sikap pegawai Djepang sendiri di Semarang Hoso Kyoku, mereka tampak gelisah.

Pegawai2 Indonesia mulai membitjarakan situasi jg. dihadapi. Mereka berpendapat untuk merebut kekuasaan dari tangan Djepang. Persiapan segera diadakan dengan mengumpulkan alat2 tehnik jang dapat diangkat. Pegawai2 Djepang diasingkan dari tugas pekerdjaannja, tetapi belum berani bertindak karena pegawai2 Djepang bersendjata. Pada saat itu jang memimpin Hoso Kyoku ialah Jamawaki.

Berita kekalahan Djepang itu tjepat pula tersiar, terutama dikalangan tokoh2 pergerakan perdjoangan kemerdekaan jang selalu mengikuti perkembangan Perang Pasifik dan posisi Djepang waktu itu. Bahkan ketika berita Proklamasi sampai di Semarang tgl. 17 Agustus 1945 mendjelang siang hari Djum’at melalui kantor berita “Domei,” tjepat pula disiarkan baik dari mulut ke mulut maupun dgn plakat2.

Seperti biasa setiap hari Djum’at di Mesdjid Besar Semarang selalu diadakan sholat al Djumuah jg selalu direly dan disiarkan lewat radio oleh Semarang Hoso Kyoku. Pada tgl. 17 Agustus itu djuga pada siaran hari Djum’at siang dari mesdjid besar segera diatur seolah2 hendak menjiarkan chotbah dari mesdjid. Setelah persiapan selesai dan diadakan hubungan dgn studio, pertama2 terdengar suara adzan, biasanja diteruskan dgn chotbah keagamaan.

Tetapi orang jang berchotbah itu mengawali sambutannja dgn terlebih dahulu mengumumkan bahwa pada hari itu bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannja. Kemudian disusul dengan pembatjaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 jang telah diterima pula melalui orang2 jg berhubungan dengan “Domei.”

Segenap djemaah dan pendengar radio dirumah2 terkedjut bertjampur gembira mendengarnja, tetapi sebaliknja penguasa Djepang sangat marah. Pimpinan Hoso Kyoku marah2 dan mengusut siapa jang menjiarkannja tetapi tidak seorangpun mendjawab. Achirnja diperintahkan agar hubungan dengan mesdjid besar Semarang diputuskan walaupun siaran itu belum selesai.

Ini merupakan pengumuman tentang kemerdekaan bangsa Indonesia jang pertama sekali disiarkan untuk umum di seluruh Indonesia, meskipun tidak setjara resmi. Itu sebabnja mengapa gelora Proklamasi tjepat diikuti oleh Semarang dan Djawa Tengah umumnja.

Pembentukan K.N.I

Kumandangnja Proklamasi sangat tjepat ditanggapi dan digarap oleh pemimpin2 pergerakan kemerdekaan terutama para angkatan mudanja. Malam hari segera diadakan rapat di Purusara (Pusat Rumah Sakit Rakjat) Semarang. Dalam rapat ini segera dapat disusun suatu badan jang kemudian diresmikan sebagai KNI (Komite Nasional Indonesia), seperti jang diinstruksikan oleh perintah pusat tgl 22 Agustus 1945. Mr. Wongsonegoro jang waktu itu masih mendjabat Fuku Sutjokan (wakil residen Semarang), telah ditundjuk mendjadi ketua badan tsb.
Esok harinja para pemuda jang tidak sabar lagi telah mengantjam Mr. Wongsonegoro agar siang hari Sabtu itu djuga mengambil alih kekuasaan dari tangan Djepang.

Hal ini dipenuhi Wongsonegoro dgn mengumpulkan segenap kepala dan wakil kepala dan pegawai2 bangsa Indonesia di Gedung Papak dan didjelaskan bahwa mulai saat itu rakjat Semarang telah mengambil alih kekuasaan dan segala tanggung djawab kini dipegang oleh bangsa Indonesia sendiri.
Pada tgl. 19 Agustus 1945 djam 12.00 siang Wongsonegoro mengumumkan dengan resmi melalui radio tentang Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. (Depo Arsip-Pusda SM)

kisah tentang Oei Tiong Ham, terdiri dari 8 part, klik masing2 link di bawah ini:

Part 1 – Raja gula Asia Tenggara dari Semarang
Part 2 – Indahnya Istana Balekambang
Part 3 – Asetnya tersebar di seantro dunia
Part 4 – Punya bakat sugih sejak lahir
Part 5 – Namanya abadi sebagai nama jalan di Singapura
Part 6 – Akhir tragis sang taipan
Part 7 – Sisa kejayaanmu kini
Part 8 – Kisahnya berakhir di tangan ketua KPK Antasari Azhar

 

————————————-

Istana Oei Tiong Ham Jl Kyai Saleh itu ada di part 2, ini kutipannya:

Quote:

Dua istananya sangat megah dan terkenal. Istana utama di Gergaji terkenal sangat luas, sedangkan istana yang berada di Simongan dikenal dengan keindahan pemandangannya. Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.

Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Uniknya dia membangun tempat beribadah khusus untuk para pembantunya.

Istana ini merupakan landmark bagi masyarakat Semarang pada sekitar permulaan abad ke 20 hingga paruh abad ke 20. Masyarakat setempat menyebutnya Istana Oei Tiong Ham atau Istana Gergaji. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Kebon Rojo karena Tiong Ham banyak memelihara hewan hingga mirip kebun binatang. Disebut juga Taman Bale Kambang karena di kompleks istana ada kolam-kolam ikan yang diatasnya dibangun bale atau gazebo untuk beristirahat. Nama Bale Kambang kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.


Asal usul istananya:

Quote:

Dalam pelelangan sekitar tahun 1883 rumah tersebut jatuh ke tangan Oei Tjie Sien, ayah Tiong Ham. Sayang tak ada catatan tahun berapa bangunan gedung tersebut dibangun tetapi diperkirakan sekitar seperempat abad ke 19. Pada sekitar tahun 1888 Oei Tiong Ham yang pada waktu itu berusia sekitar 22 tahun pindah menempati rumah yang terletak di jalan Gergaji (kini jalan Kyai Saleh) tersebut.


————————————-

 

Gambar dulu: Istananya berbentuk U. Di latar belakang tampak bukit Bergota di kanan. Bukit Gunungsawo dan bukit Bongsari di kiri.


Namanya Oei Tiong Ham, atau dalam bahasa Tionghoa dikenal sebagai Huáng Zhònghán. Jangan mengaku orang Semarang asli jika tidak mengenalnya. Dia adalah pendiri perusahaan multinasional pertama di Asia Tenggara dan orang terkaya pada zamannya di kawasan itu dengan kekayaan lebih dari 200 juta gulden.

Pria yang dijuluki Raja Gula Asia Tenggara ini dilahirkan di Semarang pada 13 Tjap-Gwee Tahun Phia-in zaman kaisar Tong Tie memerintah tahun ke lima, pukul 2 siang Bie Sie atau 19 November 1866, sama dengan tahun lahirnya pemimpin China, Dr Sun Yat Sen. Ia putra kedua dari delapan orang anak di dalam keluarganya. Tapi di literatur lain disebutkan Tiong Ham merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Oei Tiong Tjan meninggal usia muda, dan adiknya Oei Tiong Bing atau dikenal dengan Majoor Djoe Gwan.

Ayahnya, Oei Tjie-sien (Huáng Zhìxìn) adalah peletak dasar bagi imperium keluarga Oei. Tjie Sien berasal dari daerah Tong An di Fujian, China. Pada 1863 Tjie Sien mendirikan Kongsi dagang Kian-gwan (Jianyuan Gongsi) yang bergerak dalam jual-beli karet, kapuk, gambir, tapioka dan kopi.

Tiong Ham mewarisi kerajaan bisnis Tjie Sien pada 1890 dengan kekayaan senilai 17,5 juta gulden. Di tangannya bisnis didiversifikasi hingga ke jasa pengiriman, kayu, property, sampai opium. Pada 1890-1904, laba Tiong Ham yang mengibarkan bendera Oei Tiong Ham Concern (OTHC) mencapai 18 juta gulden.

Pada peralihan abad memasuki abad ke-20, Tiong Ham telah menjadi orang terkaya di Asia Tenggara dengan kekayaan 200 juta gulden. Cabang bisnisnya menyebar hingga Bangkok, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. OTHC juga mempunyai properti dan sejumlah pabrik di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.

Tak seperti kebanyakan pengusaha Tionghoa saat itu, Tiong Ham yang dekat dengan penguasa kolonial mempraktikkan kontrak bisnis dalam menjalankan usahanya. Ini membuatnya tidak populer di karangan pebisnis Tionghoa. Namun, memberinya kekuatan hukum ketika orang yang berutang padanya tak melunasi kewajibannya.

Banyak yang berutang padanya adalah pemilik pabrik gula di Jawa Timur. Dan ketika mereka tak bisa melunasi kewajibannya sebagai efek krisis gula yang terjadi di tahun 1880, Tiong Ham menggunakan haknya sebagai kreditor. Dia mengakuisisi banyak pabrik gula, di antaranya pabrik gula Tanggulangin, yang menjadikannya terkenal dengan sebutan Raja Gula.

Tiong ham tak hanya berhasil sebagai pebisnis. Tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Ia diangkat menjadi pemimpin Tionghoa di Semarang berpangkat Mayor dan sering membantu dalam kegiatan sosial. Tahun 1904, Tiong Ham menjadi orang Tionghoa pertama di Semarang yang memotong thaocang atau kuncir rambut dan berpakaian jas model barat.

Tapi ia tidak sembarangan melakukannya. Untuk itu ia mendapatkan ijin dari Gubernemen Jenderal Hindia Belanda melalui advokatnya Baron van Heeckereen. Tingkahnya itu sempat menjadi buah bibir bahkan dimuat pada surat kabar Bintang Hindia yang terbit di Belanda, juga di koran Bintang Betawi, Pembrita Betawi, Warna Warta dan Pewarta Soerabaia.(*)

__________________


Mengenal Oei Tiong Ham (2), Indahnya Istana Balekambang
Penulis: lepenalit Tanggal 31 Maret 2011 Jam 20:37
dalam kategori: Info Bisnis

Keberhasilan Tiong Ham disebabkan oleh kepandaiannya menjalin hubungan baik dengan para penguasa kolonial Belanda. Ketokohannya membuat pemerintah Belanda mempercayakan gelar Mayoor der Chinezen kepadanya. Ia pun diijinkan menempati rumah di luar areal pecinan seperti yang ditentukan dan memotong kuncir rambut (taochang).

Dua istananya sangat megah dan terkenal. Istana utama di Gergaji terkenal sangat luas, sedangkan istana yang berada di Simongan dikenal dengan keindahan pemandangannya. Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.

Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Uniknya dia membangun tempat beribadah khusus untuk para pembantunya.

Istana ini merupakan landmark bagi masyarakat Semarang pada sekitar permulaan abad ke 20 hingga paruh abad ke 20. Masyarakat setempat menyebutnya Istana Oei Tiong Ham atau Istana Gergaji. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Kebon

Rojo karena Tiong Ham banyak memelihara hewan hingga mirip kebun binatang. Disebut juga Taman Bale Kambang karena di kompleks istana ada kolam-kolam ikan yang diatasnya dibangun bale atau gazebo untuk beristirahat. Nama Bale Kambang kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.

Keindahan kompleks rumah Oei Tiong Ham menarik perhatian masyarakat. Banyak penumpang kapal yang berlabuh di Semarang menyempatkan diri untuk berkunjung. Tiong Ham juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati taman indah di rumahnya itu pada akhir pekan dan hari besar.

Menurut catatan, rumah tersebut bukanlah rumah yang di bangun oleh Oei Tiong Ham tetapi pemilik semula adalah tuan Hoo Yam Loo, seorang pedagang Tionghoa kaya raya yang mendapat hak monopoli dalam perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda. Tetapi dalam perjalanan waktu, pedagang tersebut mengalami kerugian besar sehingga dinyatakan bangkrut. Semua harta benda disita untuk kemudian dilelang termasuk gedung besar tersebut.

Dalam pelelangan sekitar tahun 1883 rumah tersebut jatuh ke tangan Oei Tjie Sien, ayah Tiong Ham. Sayang tak ada catatan tahun berapa bangunan gedung tersebut dibangun tetapi diperkirakan sekitar seperempat abad ke 19. Pada sekitar tahun 1888 Oei Tiong Ham yang pada waktu itu berusia sekitar 22 tahun pindah menempati rumah yang terletak di jalan Gergaji (kini jalan Kyai Saleh) tersebut.

Pada saat Tiong Ham memutuskan pindah, masyarakat Tionghoa merasa sangat heran dan kagum atas keberaniaanya untuk melawan hukum yang berlaku pada waktu itu. Maklum, saat itu masih berlaku peraturan Wijkenstelsel dimana orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan bertempat tinggal di luar daerah yang telah ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda, semisal daerah pecinan. Sedang rumah tersebut terletak di daerah pemukiman orang-orang Belanda.(*)

__________________
More Than 15K

 

Mengenal Oei Tiong Ham (3) Asetnya Tersebar Di Seantero Dunia
Penulis: lepenalit Tanggal 31 Maret 2011 Jam 20:57
dalam kategori: Info Bisnis

foto: Di salah satu bangunan di jalan ini (sekarang Jalan Kepodang, Kota Lama) tempat kantor Oei Tiong Ham

Istana Oei Tiong Ham bukan hanya di Semarang. Dia juga membangun istana lain di Singapura dan di Beijing untuk anak kesayangannya Oei Hui Lan dari istri pertama Geoi Bing Nio. Belum lagi rumah rumah mewah yang dia miliki di London, Paris dan Amerika.

Rumah Di London merupakan hadiah perkawinan untuk putri sulungnya Tjong Lan (kakak Oei Hui Lan). Seluas 2 hektar dengan harga 200.000 Poundsterling pada tahun 1913.

Istana di Beijing ini bukan gedung sembarangan. Bangunan mewah itu didirikan oleh Raja China dari Abad 17 untuk seorang gundiknya. Di istana itulah kemudian presiden China pertama Dr. Sun Yat Sen meninggal tahun 1925. Tempat itu dibeli Tiong Ham pada sekitar tahun 1920 dengan harga 100.000 US Dolar plus 150.000 US Dolar lagi untuk dekorasi rumah itu. Istana itu memiliki 200 ruangan, 80 kamar, dan kolam renang mewah model Eropa.

Tiong Ham masih menghadiahi putri emasnya itu dengan rumah mewah di Singapura. Tak kalah mentereng, rumah ini memiliki 40 kamar tidur dan kolam renang mewah model Eropa.

Yah, kekayaan 200 juta gulden pada masa itu memang luar biasa banyaknya. Tiong Ham telah menjadi orang terkaya di Asia Tenggara bahkan Asia. Cabang bisnisnya menyebar hingga Bangkok, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Ia menguasai sejumlah pabrik gula di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.(*)

 

Oei Tiong Ham dikenal mempunyai bakat sugih sejak lahir. Selain berasal dari keluarga kaya, ia juga memiliki kecerdasan bawaan, pandai memanfaatkan kesempatan, mempunyai visi yang tajam, wawasan luas dan sangat disiplin serta bertanggung jawab.

Sifat-sifat menonjolnya itu sudah kelihatan sejak kecil. Ketika masih bayi, ayahnya memperlihatkan Peh Dji (perhitungan hari lahir) Tiong Ham kepada seorang peramal. Hasilnya si peramal mengatakan bahwa Tiong Ham memiliki Peh Dji sangat bagus. Ia diramal akan menjadi seseorang yang sangat tajam otaknya, mempunyai kedudukan mulia dan akan menjadi hartawan besar.

Bakatnya sebagai organisator dan pelobi ulung juga tergambar melalui sebuah cerita di masa kecilnya. Arkian, Tiong Ham memiliki banyak teman dan dia termasuk yang dituakan dalam kelompoknya. Suatu ketika ia mengajak para sahabatnya menonton pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, kompleks Pecinan.

Karena terburu-buru salah satu sahabatnya menyenggol beberapa dasaran pedagang hingga jatuh berantakan. Walhasil, beberapa pedagang itu menuntut sahabatnya untuk mengganti rugi. Semua teman-temannya ketakutan. Tapi tidak dengan Tiong Ham. Ia maju sendirian dan berkata kepada pedagang bahwa dirinya yang akan mengganti rugi. Ia lalu mengajak para pedagang menghadap ayahnya di rumahnya.

Tentu saja ayahnya kaget. “Kenapa kita jang moesti ganti, boekankah itoe anak jang bikin salah?” kata Oei Tjie Sien.

Namun dengan tenang oei Tiong Ham menjawab bahwa ia merasa bertanggungjawab karena dirinyalah yang mengajak sahabatnya menonton wayang. “Kerna owee jang adjak menonton wajang, maka owee-lah jang aken pikoel itoe risico, dimana toch owee ada lebih mampoe dari sobat owee.”

Puas dengan jawaban Tiong Ham, ayahnya pun bersedia membayar semua kerugian para pedagang.(*)

__________________


apa masih ada keturunan dari oei yg masih tinggal di indonesia? apa udah pindah ke luar negeri semua yah?
skrg status nya istana nya oei itu milik siapa? pemerintah? apa bisa dikunjungi oleh orang biasa?

   

ini INFORMASI untuk melengkapi cerita di atas,cuma pasti mumet bacanya karena ini dalam Ejaan Lama (jadi tidak di cuplik) ,disusun dari blog cucu seorang Jurnalis Tionghoa dari Malang .. mungkin th 20-an spi 40an dengan nama Tjamboek Berdoeri

 

 

Cerita 4 seri ini mengingat kebaikan dan jiwa sosial Majoor Oei Tiong Ham,mungkin ditulis pada saat Majoor Oei Tiong Ham tsb meninggal.

 

   
 

Orang kaya dari Semarang (1)

 


Papanya OEI TIONG HAM

Tjeritanja ada begini:

B

 
   
 

Orang kaya dari Semarang (2)

 

 

 


 

       B

 

 

 

Ada photo ttg penguburan Majoor Oei Tiong Ham di atas, menarik photo di Bagian ke 2 tsb :

Tampak kereta mewah tp sebelumnya ada keterangan jenasah dipindahkan dari “praoe” (perahu ? .. apa sebelumnya Istana Oei Tiong Ham yang lain di Simongan tsb harus lewat kali Semarang (Banjir kanal Barat sekarang)) ke “vrathtauto” (mobil).

Dibagian ke empat ada informasi jenasah Oei Tiong Ham dikuburkan di daerah Simongan,bisa jadi Gedung Batu yang  pernah disebut

Harusnya sebelumnya semua sudah di Nasionalisasi ama Pemerintah Pak tipenb .Tapi kemudian bisa juga kalau orang yang mampu bisa ahli waris atau orang lain yang punya kemampuan dari segi finansial melakukan pengajuan “Ruslag”/tukar-guling”, transaksi dengan instansi pemerintah dgn menukar aset lain.Tentu saja pertimbangan awal disetujui Ruslag adanya “benefit” untuk Pemerintah juga ada kesepakatan memelihara aset BCB dll.
Misal Pemkot sedang butuh tanah untuk bikin Rusunawa … ada Bangunan Cagar Budaya yang sudah di-Nasionalisasi (milik pemerintah) .. bisa saja karena pertimbangan tanah untuk Rusunawa lebih penting untuk orang banyak .. BCB tsb diruslag oleh ahli waris misalnya.

   

Masih menangi th 80am habis lulus SMP .. nonton film “Puspa Indah Taman Hati” (Bintangnya Rano Karno dan Yessy Gusman release th 79, sebelumnya Gita Cinta dari SMA) di bioskop Gelora di Mataram ini. Seingat saya bentuk atasnya hampir spt di photo ini .. cuma tidak kotak-2 spt itu mgkn ada perubahan sedikit.
Biasanya ada pagar rel besi untuk antre masuk.

   


Rumah Warisan Raja Gula Asia Oei Tiong Ham Dirobohkan
Share
image

PUING-PUING: Seorang warga melintas di antara puing-puing bongkaran bangunan bersejarah di Jalan Pedamaran, Kampung Tamtin 69 Kawasan Pasar Johar Semarang, Jumat (25/3). Bangunan itu diperkirakan berusia 100 tahun, bekas gudang pern

Semarang, CyberNews. Salah satu bangunan heritage dua lantai di Kota Semarang di Jalan Pedamaran, Kampung Tamtin No 69, dirobohkan. Bangunan yang dulunya gudang niaga milik raja gula Oei Tiong Ham itu hari ini (25/3), tinggal menyisakan sebagian tembok. Atap rumah sudah dirobohkan.

Material bekas bangunan pun sudah tidak berbekas karena langsung dijual kepada pemborong. Pekerja yang pagi hari masih terlihat mengangkut material, sore harinya sudah tidak terlihat di lokasi. Hanya beberapa warga yang tampak melihat lihat bekas rumah tersebut.

Menurut informasi, rumah tersebut diwarisi oleh cucu Oei Tiong Ham, Tjie Susi Rahmawati (50). Slamet Riyadi (41), warga Kampung Tamtin mengatakan, sekitar 20 tahun terakhir rumah tersebut dikontrak oleh 53 keluarga. Karena alasan hendak dibongkar, pengontrak diminta pindah dan diberi uang pengganti Rp 400.000/keluarga.

”Uang Rp 400 ribu ini sama dengan besarnya sewa kontrak per tahun. Kami diminta pindah karena rumah itu akan dibongkar,” katanya.

Pembongkaran rumah bersejarah tersebut sejak 15 hari lalu. Ketua RT 2 Kampung Tamtin A Cholil Efendi (52) mengatakan, rumah tersebut dirobohkan karena kondisinya sangat memprihatikan. ”Kayu blandarnya sudah keropos dan membahayakan penghuni,” katanya.

( Hartatik / CN27 / JBSM )
http://suaramerdeka.com/v1/index.php…Ham-Dirobohkan
=====================
menurut berita dari suara merdela ini, masih ada ahli warisnya untuk beberapa aset. Mungkin yang dinasionalisasikan hanya aset berbentuk perusahaan, kekayaan lainnya masih diwariskan.

Liem Bwan Tjie (arsitek bioskop Grand)

ini tergolong arsitek terkemuka di Indonesia. Di Semarangkaryanya antara lain kolam renang Stadion, depan stadion diponegoro dan sebuah vila di Jalan Tumpang, Candi:

Arsitek Semarang yang terkemuka lainnya, sampai-sampai namanya diabadikan jadi jalan adalah Admodirono. Konon dia yang membantu Mr Pont (arsitek Sabuga ITB dan Stasiun Poncol) untuk merancang paviliun2 yang digunakan untuk pameran Koloniale Tentoonsteling 1914 di Mugas Semarang.

Ada yang tau informasi tentang Admodirono?

20 Agustus 2011, atau 97 tahun yang lalu tepatnya tahun 1914, Kolonial Tentoonsteling resmi dibuka. Sebagai Ekspo dunia, ini tentoonsteling adalah yang terbesar yang pernah diselenggarakan di Asia Tenggara sampai saat ini:

Lahan yang digunakan sekitar 26 hektar di lahan pinjaman dari Oei Tiong Ham

__________________

Gedong Dhuwur,rumah milik Oei Tjie Sin,Bapak dari Raja Gula Oei Tiong Ham.Pemilik tanah daerah Simongan pada jaman dulu.Dibangun th 1874 menurut berbagai sumber,tanah berupa bukit dibeli dari Yohanes Tuan tanah Yahudi.Sebagian tanah disumbangkan ke Yayasan Gedong Batu menjadi Kelenteng Sam Poo Kong.

Gedong Dhuwur (Sarang Rajawali) Tampak depan dan samping. Tampak Gedong ke dua di belakang sudah berubah bentuk,seharusnya dulu berlantai 2 juga,walau lebih kecil ukurannya.
Didepan Gedong ini dulunya adalah Kolam Teratai.

View Gedong Batu Sam Po Kong dari serambi depan Gedong Dhuwur,menghadap ke Selatan.

Gedong Dhuwur bagian belakang. Ditengah dulunya ada jembatan penghubung ke Gedong kedua.

The end @copyright Dr Iwan suwandy 2012

Complete E-Book in CD-Rom exist but only for premium member

7 responses to “Oei Tiong Ham The King Of Sugar Trade from Semarang Java Indonesia Historic collections

  1. thanks for info, the picture were given by my friend, I will notes that from you,please send the evidence from your site,thanks

  2. What’s up Dear, are you genuinely visiting this website regularly, if so afterward you will without doubt obtain fastidious know-how.

  3. Hey! I just wanted to ask if you ever have any problems with hackers?
    My last blog (wordpress) was hacked and I ended up losing many months of hard work due to no
    back up. Do you have any methods to prevent hackers?

    • I have a problem with hackers, because I upload and illustration, you must buy internet computer protection against hackers named Kapinsky
      I hope ypou will succees, and donnot communicated with anyone who didnot send you their identity copy via email

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s