Pencinta Cerita silat Harus Membaca CD Sejarah CERSIL Ini

Ini adalah Contoh info Sejarah cerita silat dalam CD-ROM, CD yang lengkap dengan illustrasi tersedia tetapi Hanya Untuk anggota Premium

Silahkan mendaftar liwat Comment.

Sejarah buku silat

 

Oleh

Dr Iwan suwandy,MHA

Copyright@2012

Peng Tjoan Thian Lie Atau Bidadari Dari Sungai Es N2011

 


Peng Tjoan Thian Lie atau bidadari dari sungai es.
Situturkan oleh

Boe Beng Tjoe
Lengkap dan tamat.
Jumlah buku 10
Kondisi sampul ada yang hilang.
Penerbit : P.T. Mekar Djaja Djakarta

 

San Hoa Lie Hiap

Tidak Lengkap, hanya ada jilid 1,2,…. 4,5,6,7,8
Belum tamat, masih bersambung
7 buku
Cerita San Hoa Lie Hiap atau Pendekar Wanita Penjebar Bunga ini adalah

sambungan dari : Peng Tjong Hiap Eng

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini sebuah iklan tentang buku Hong Kiauw Lie Tan. disebutkan bahwa Boe Tjek Tian adalah Hongte wanita genit kenes yang membunuhi keturunannya Sie Djin Koei.


Lengkap dan Tamat
Tebal 246 halaman
Jumlah buku : 3
Jilid 1+2, Jilid 3+4, dan Jilid 5+6
Harga Rp 120.000,-

Hong Kiauw Lie Tan ditulis oleh

 Monsieur Kekasih,

sebuah nama samaran dari

Kwee Khay Kee.

Hong Kiauw Lie Tan merupakan cerita serial Sie Djin Koei. Tokohnya bernama Boe Tjek Tian seorang Hongte wanita. Seorang hongte wanita yang genit dan kenes membunuh keluarga anaknya Sie Djin Koei. Seorang Kroonprins Lie Tan bertemu djodo gaib dengan bidadari Hong Kiauw.

 





Lengkap dan Tamat
Jumlah buku : 10

Sinopsis

Sungai es di puncak gunung laksana Thianho yang nyungsang,
Dengarlah kepingan es mengalir dengan bersuara perlahan sekali,
Ibarat suara tetabuhan yang dipentil dengan jeriji si gadis jelita,

Si nona tanya pada sang pengembara:
Berapa gunung es lagi yang harus kau daki?
Berapa topan lagi harus kau lewati?
Pengembara!
Sang elang di atas padang rumput pun tak dapat terbang terus-terusan,
Tapi kau jalan, jalan terus, jalan terus,
Sampai tahun apa, bulan apa, barulah kalian mau turun dari kuda?

Nona, terima kasih atas kebaikanmu,
Tapi kami tak dapat menjawab pertanyaanmu,
Apakah kau pernah melihat bunga di padang pasir?
Apakah kau pernah melihat gunung es menjadi lumer?
Kau belum pernah lihat? Belum pernah!
Maka itu, kami pengembara,
Juga tak akan berhenti jalan selama-lamanya.

Itulah suara nyanyian, diseling dengan klenengan kuda, yang pada suatu hari dapat didengar di padang rumput perbatasan Tibet. Nyanyian itu keluar dari mulutnya pengembara yang sedang lewat di padang rumput tersebut. Pegunungan Himalaya yang berentet-rentet, puncak-puncak gunung yang tertutup es dan menjulang tinggi sehingga menembus awan seperti juga sedang mendengari nyanyian itu yang menyedihkan hati.

Dan tanpa diketahui oleh sang penyanyi, satu pemuda bangsa Han turut pasang kupingnya. Air mata berlinang di kedua matanya. Ia menghela napas panjang dan berkata seorang diri: “Aku dan kalian tak ada bedanya. Kalian mengembara ke ujung langit, aku pun tak tahu kapan bisa dapat pulang ke kampung kelahiranku.”

Pemuda itu she Tan, bernama Thian Oe, kelahiran Souwtjiu, daerah Kanglam. Ayahnya, Tan Teng Kie, dahulu pegang pangkat di kota raja, tapi lantaran ia berani ajukan pengaduan yang menyerang Ho Kun, satu menteri busuk yang sangat disayang oleh Kaizar Kian Liong, ia dikirim ke Tibet (Seetjong) sebagai Amban 1) (Soanwiesoe) pada sekte Sakya. Sedari waktu itu sampai sekarang, delapan tahun sudah lewat. Waktu datang di Tibet, Thian Oe masih anak-anak berusia sepuluh tahun, sekarang ia sudah jadi pemuda 18 tahun.

Berada jauh di tempat orang, hatinya Thian Oe sangat rindukan kampung halamannya, terutama lantaran ayahnya hampir saban hari ceritakan keindahannya Kanglam yang permai.

Jumlahnya pengembara itu ada belasan orang, antaranya terdapat orang Tibet, Uighur dan dua orang Han. Rupanya mereka bertemu di tengah jalan dan lalu membentuk satu rombongan penjual suara yang berkelana ke sana-sini. Kedua matanya Thian Oe yang mengikuti mereka mendadak terpaku kepada satu gadis dari suku Tsang yang memakai pakaian serba putih. Berjalan di antara kawan-kawannya, gadis itu adalah laksana burung ho di antara kawanan ayam. Lain orang menyanyi, ia sendiri tutup mulut rapat-rapat, sedang kedua matanya yang bersinar terang mengawasi langit dan awan tanpa berkesip. Duduk di atas sela, ia seperti juga tidak dengar suara kawan-kawannya, seperti sedang memikir sesuatu. Kalau bukan biji matanya masih bergerak-gerak, Thian Oe bisa salah mata dan menduga ia sebagai patung di atas kuda.

Selagi mengimplang seperti orang kehilangan semangat, tiba-tiba terdengar suara burung gagak di tengah udara. Thian Oe dongak dan mendadak dengar suara menjepratnya tali gendewa dan sebatang anak panah, yang dilepaskan oleh salah satu orang Han, menyambar ke arah ia. Dari mendesingnya sang anak panah yang menusuk telinga, ia tahu bahwa orang yang melepaskan mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat.

Bidadari Sungai Es
Kisah ini merupakan lanjutan dari “ Peng Pok Han Kong Kiam (Pedang Inti Es)”. Cerita ini sebenarnya merupakan kisah pembuka dari “Perjodohan Busur Kemala” dimana di cerita ini dikisahkan awal munculnya Kim Sie Ie, dan mengapa ia dipanggil sebagai Tok Ciu Hong Kay (Pengemis Kusta Tangan Beracun) . Peng Tjoan thian Lie yang adalah anak dari Koei Hoa Seng dan seorang Putri Kerajaan Nepal yang berdiam di Istana Es yang dikarenakan istananya hancur akhirnya memutuskan untuk berpetualang di rimba Persilatan.

Pertemuannya dengan Tong Keng Thian yg adalah anak dari Tong Siauw Lan CiangBunjin partai Thian San Pay dan Kim Sie Ie membuat terjadinya cinta segitiga yang akhirnya dimenangkan oleh Tong Keng Thian. Para Pengawal Kerajaan (Busu) di Nepal yg selalu memohon Koei Peng Go sang Bidadari dari Sungai Es itu untuk menjadi Raja di Nepal, membuatnya kadang2 harus bentrok.

Beberapa tokoh sakti dari kisah “3 Dara Pendekar” dan “7 Pendekar Pedang dari Thian San” akan muncul. Cerita ini sebaiknya dibaca sebelum kita membaca kisah “Perjodohan Busur Kemala” yang merupakan salah satu karya Liang Ie Shen yg terbaik

Label: Boe Beng Tjoe

 

 

Sebilah Pedang Mustika




Lengkap dan Tamat
3 buku Tamat
Cerita Sebilah Pedang Mustika ini adalah cerita pendahuluan dari cerita :Antara Kasih dan Dendam Hati (Peng Tjong Hiap Eng), dan Pendekar Wanita Penyebar Bunga (San Hoa Lie Hiap
)

 

Peng Tjong Hiap Eng N2011

Peng Tjong Hiap Eng atau Dua Musuh Turunan
Dituturkan oleh : O.K.T
Penerbit Keng Po – Djakarta
Jumlah buku : 11
Kondisi : sampul ada yang rusak / hilang

 

Pendekar Dari Lembah Agam


Pengarang : Suparto Brata
Jumlah buku : 6 TAMAT

Sepasang Golok Mustika


Ditjeritakan Oleh : Boe Beng Tjoe
Satu Buku Tamat
Tebal : 84 halaman
Harga Rp 20.000,-

Lengkap Dan Tamat

Giok Siauw Gin Kiam










Jumlah :11 jilid
Jumlah halaman sampai tamat: 970 halaman
Tebal setiap buku : 80 halaman
Dituturkan oleh : Hong San Khek
Penerbit : P>T> Mekar Djaja – Jakarta

Kisah Pembunuh Naga – Boe Kie

SOLD


Boe Kie – Kisah Pembunuh Naga, judul aselinya adalah To Liong To (Kisah Golok Pembunuh Naga/ atau Kisah Membunuh Naga)
Karya Ching Yung
Penerbit : Tunas Tanjak – U.P. Sastra Kumala (San Agency – Pasar Baru – Jakarta)
Jumlah jilid : 80 (Tamat)
Tebal : 48 halaman

Kondisi : Lengkap dan mulus (Seperti Baru).

Penghuni Rimba Gerantang


Penulis : T Hidayat
Penerbit : Cinta Media
Ukuran : 12 x 18 cm
Hal: 128 Hal
Kondisi : Buku bekas (baik)

Terdampar Di Pulau Asing


Penulis : T Hidayat
Penerbit : Cinta Media
Ukuran : 12 x 18 cm
Hal: 128 Hal
Kondisi : Buku bekas (baik)

Label: Pendekar Naga Putih

Tersesat Di Lembah Kematian


Penulis : T Hidayat
Penerbit : Cinta Media
Ukuran : 12 x 18 cm
Hal: 128 Hal
Kondisi : Buku bekas (baik)

Tiga Iblis Gunung Tandur


Penulis : T Hidayat
Penerbit : Cinta Media
Ukuran : 12 x 18 cm
Hal: 128 Hal
Kondisi : Buku bekas (baik)

 

Buku Silat Antik Boe Beng Tjoe Kisah Membunuh Naga Bag II


Barang antik ini sejumlah buku cerita silat terjemahan Boe Beng Tjoe berjudul Kisah Membunuh Naga Bag II. Tidak lengkap dan belum tamat.
Hanya ada 7 buku.
Penerbit : P.T. Mekar Djaja – Djakarta

Buku Cerita Silat Antik Kisah Membunuh Naga Boe Boeng Tjoe





Barang antik ini sejumlah buku cerita silat terjemahan Boe Beng Tjoe berjudul Kisah Membunuh Naga. Tidak lengkap
Jumlah buku : 11 buku (Seharusnya 22 buku)
jadi kurang 11 buku, yaitu jilid : 1,2,5,6,7,8,9,10,16,21,22

Seri ini adalah bagian pertama dari Kisah Membunuh Naga.
Masih harus dilanjutkan dengan Bagian Keduanya.

 

Buku Djadoel Antik Cerita Silat Gan KL Pendekar Negeri Tayli







Barang djadoel antik ini sejumlah buku cerita silat, karya Gan KL, berjudul : Pendekar-Pendekar Negeri Tayli.
Penerbit : Pustaka Silat – Jawa Tengah 1961
Percetakan : Semarang
Jumlah buku : 36 buku (seharusnya : 43 buku).
Kondisi : Tidak Lebgkap, kurang 7 buku yaitu jilid : 12,13,14,16,18,19 dan 42

Sebuah Gelang Pusaka Phoa Tjhoan Ki


Barang djadoel antik ini sebuah buku cerita silat berjudul Sebuah Gelang Pusaka Phoa Tjhoan Ki. Satu buku tamat. Diceritakan oleh H.K.K.
Tebal : 137 halaman

Buku Cerita Silat Djadoel Antik Si Kembar Handaka








Barang djadoel antik ini 8 jilid buku belum tamat dan tidak lengkap. Judul bukunya : Si Kembar Handaka. Karya : Wijaja. Penerbit : CV. Muria, Jogja – 1967. Ukuran buku : 14,5 x 11 cm, tebal setiap buku : 80 halaman
ES80

Buku Djadoel Antik Kho Ping Hoo Djaka Wulung




Barang djadoel antik ini sebuah buku cerita silat asli Indonesia karya Kho Ping Hoo. Judulnya Djaka Wulung Ksatria Gunung Lawu.

 

Gunung Lawu adalah gunung tempat Kho Ping Hoo menulis karya-karyanya menjelang akhir hidupnya. Ditulis di Tasikmalaya 3 Oktober 1962, dan diterbitkan di Solo, oleh CV Gema tahun 1965.
Jumlah buku 3, kondisi baik sekali.
Lengkap dan tamat.
ES30

Buku Silat Antik Widi Widayat Baru Kuping Setan Kober







Buku cerita silat antik karya Widi Widayat berjudul Baru Kuping Setan Kober.
Jumlah buku 7 Lengkap dan tamat
Kondisi baik
E140

 

Buku Cerita Silat Djadoel Antik Guntur Geni Dan Tjambuk Kilat






Barang djadoel antik ini sebuah buku cerita silat berjudul Guntur Geni Dan Tjambuk Kilat. Karya Widi Widayat
Jumlah buku : 5, lengkap dan tamat
E120

 

Hauw Gie Tjoen





Hauw Gie Tjoen adalah cerita Pembalesan sakit hati dari satoe
Djago Pedang Wasiat pada moesoeh dan pemboenoeh ajahnja. Pembasmian kedjahatan, pertempoeran heibat antara Silat dan Sinar !
Penerbit : Boekhandel Sunrise Batavia.
Pengarang : Miss Chun Ching
Ditoetoerken oleh : Huang


Cersil Antik Karya S Djatilaksana : Nagasiluman Sawerwulung


Buku cerita silat antik ini terbit tahun 60 an, dikarang oleh seorang tionghoa bernama Sie Djak Liong. Nama bekennya adalah SD Liong. Ia seorang penterjemah cerita silat kondang dari Jawa Tengah (Semarang ?), dan paman dari pelukis/komikus dari Solo (Surakarta) yang bernama Yanes. Bukunya menarik karena enak dibaca dan mengasyikkan.
Jumlah buku : 11 (Lengkap dan tamat)

Pendekar Rajawali sakti : Darah Pendekar dan Macan Gunung Sumbing

  1. Pengarang : Teguh Supriantono
    Penerbit : Cinta Media
    Ukuran : 12 x 18 cm
    Tebal : 128 halaman


Judul : Musuh Berbadju Besi
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Tahun : 1966
Tebal : 104 hal

 



Judul : Malin Bungsu
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Tahun : 1965
Tebal : 96 hal dan 100 hal (tamat)
Kondisi : Sampul telah rapuh, halaman dalam agak kotor.

 


Judul : Gadis Pulau
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Tahun : 1966
Tebal : 95 halaman
Kondisi : Baik

 


Judul : Benteng Si Lengah
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Tahun : 1965
Tebal : 100 halaman
Kondisi : Baik, hanya sampul depan bagian bawah sobek

 


Judul : Orang Gayo
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Tahun : 1966
Tebal : 95 halaman

 

 

Judul : Kapal Naga Hitam
Pengarang : Darmo Ario
Penerbit : Analisa CV
Kondisi : Cukup baik

 


Pengarang : Darmo Ario
Jumlah buku : 1
Tebal halaman : 100 halaman
Penerbit : Analisa CV 1966


Buku cerita silat antik Boe Hiap nomor 507 – 513 ini berjudul Gin Yan Tjoe. Ditulis oleh Tjan Khim Hiap. Gambar-gambar oleh Bong Tiong Hiap. Dicetak oleh percetakan Soekapoera Tasikmalaya. Cerita ini dimulai bulan Mei 1957 hingga bulan Juli 1957, seluruhnya berjumlah 7 jilid dan masih bersambung.


Buku cerita silat ini serial Boe Hiap, terbitan dari Tasikmalaya pada bulan Desember 1967. Judulnya Go Bie Siang Sioe. Jilid kedua terbit pada bulan Januari 1958. Demikianlah setiap bulan terbit tiga buku hingga tamat pada bulan Maret 1958, jumlah buku seluruhnya : 8 buku.


Ukuran buku : 18 x 12 cm
Tebal : 128 hal
Pengarang : Aji Saka
Penerbit : Cintamedia

 


Ukuran buku : 18 x 12 cm
Tebal : 128 hal
Pengarang : Aji Saka
Penerbit : Cintamedia

Daftar Buku Seri Dewa Arak Yang Masih Ada
Cinta Sang Pendekar
Kemelut Rimba Hijau
Kelelawar Beracun
Pedang Bintang
Perjalanan Menantang Maut
Runtuhnya Sebuah Kerajaan
Setan Mabuk
Teror Macan Putih
Tiga Macan Lembah Neraka


Pengarang : Aji Saka
Ukuran buku : 12 x 18 cm
Jumlah Halaman : 128
Kondisi : Buku bekas baik
Harga : Rp 6.000,- belum termasuk ongkos kirim

Sudah Dipesan

Diposkan oleh Teguh di 10:03 0 komentar Link ke posting ini

Label: Dewa Arak


Pengarang : Aji Saka
Penerbit : Cinta Media
Jumlah Hal : 128
Ukuran Buku : 12 x 18


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung


Tak ada Pengarang dan Penerbit buku ini.
Tebal : 102 Halaman

Label: Dewa Linglung

Seri : Dewa Linglung
Dewi Mutiara Hijau
Iblis Gila Pembangkit Arwah
Begal Dari Gunung Kidul
Gilanya Iblis Merapi
Jeratan Ilmu Iblis
Kupu-kupu Lembah Madu
Lukisan Berdarah
Prahara Pulau Naga Jelita



Jumlah Halaman : 104
Ukuran buku : 12 x 18

 


Barang djadoel antik ini sebuah buku cerita silat berjudul Sebuah Gelang Pusaka Phoa Tjhoan Ki. Satu buku tamat. Diceritakan oleh H.K.K.

 

Kiam Hiap Monthly Magazine Tasikmalaya
No. 36 : Hoei Hiong Kee
Penerbit : Kiam Hiap BCOK & Co Tasikmalaya (Jaava)
Ukuran : 17 x 10,5 cm
Tebal : 139 halaman.
Buku ini kumpulan dari 5 Judul tulisan yaitu :
Hoei Hiong Kee : 88 halaman
Auwyang Tong : 6 halaman
Tay Beng Kie Hiap : 22 halaman
Tjoan San Houw : 7 halaman
Loen Gie : 16 halaman

 

Judul : Rasta
Karya : Harnaeni Hamdan HS
Penerbit : Anaalisa CV
Tahun : 1965
Tebal : 92 halaman
Kondisi : Kurang baik, karena sampul rapuh

 

Judul : Pendekar Gunung Wilis
Karya : Harnaeni Hamdan HS
Penerbit : Semar Djaja Djakarta
Tahun : -
Tebal : 132 halaman
Kondisi : kurang baik karena ada gigitan serangga pada halaman awal buku ini


Bende Mataram adalah buku cerita silat karya Herman Pratikto yang sudah djadoel dan antik. Buku ini terbit sekitar tahun 60 an.

 

Tidak lengkap, kurang jilid 5,6,7 dan 25 Saya pun belum tahu apakah setelah jilid 26 masih ada lanjutannya ?
Hanya ada jilid : 1,2,3,4 + 8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24, dan 26
Jumlah buku : 22 buku











Jumlah :11 jilid
Jumlah halaman sampai tamat: 970 halaman
Tebal setiap buku : 80 halaman
Dituturkan oleh : Hong San Khek
Penerbit : P>T> Mekar Djaja – Jakarta

 

 

 

Senjum Puteri Mongol by kwee hian liong

 

 


Buku cerita silat antik Tjit Tjoat Kiam.
Dituturkan oleh : Kwee Oen Keng
Penerbit Toto Buku Sunrise Djakarta
Jumlah buku : 4


Jumlah Jilid : 2 buku tamat.


Ukuran : 16,5 x 12 cm
Penulis : Kwee Swie Tiat
Penerbit : Tjerdas Tangkas Djakarta
Tebal : 118 halaman



Satu Buku Tamat
Bahagian ke satu dan kedua.
Tebal : 120 halaman
Gubahan Liong djwan Liem
Diterbitkan oleh : Toko Buku Ho Kim Yoe Semarang


Buku cerita silat sntik Persekutuan Satria Utama.
Penulis : Liong Pei Yen
Penerbit : Gaja Naja Djakarta
Jumlah buku : 6 Tamat dan Lengkap


Saduran : Liong Tje, Karya : Chin Yung
Jilid : 1,2,3,4 (Bersambung)


Judul : Tiga Larangan
Karya : Min Resmana
Penerbit : Analisa CV Djakarta
Tahun : 1965
Tebal : 101 halaman

 

Ini sebuah iklan tentang buku Hong Kiauw Lie Tan. disebutkan bahwa Boe Tjek Tian adalah Hongte wanita genit kenes yang membunuhi keturunannya Sie Djin Koei.

Lengkap dan Tamat
Tebal 246 halaman
Jumlah buku : 3
Jilid 1+2, Jilid 3+4, dan Jilid 5+6

Hong Kiauw Lie Tan ditulis oleh Monsieur Kekasih, sebuah nama samaran dari Kwee Khay Kee. Hong Kiauw Lie Tan merupakan cerita serial Sie Djin Koei. Tokohnya bernama Boe Tjek Tian seorang Hongte wanita. Seorang hongte wanita yang genit dan kenes membunuh keluarga anaknya Sie Djin Koei. Seorang Kroonprins Lie Tan bertemu djodo gaib dengan bidadari Hong Kiauw.

Lengkap dan Tamat

Tidak Lengkap, kurang jilid 1
Hanya ada jilid 2,3,4,5,6,7,8

 

Sebuah iklan tentang buku Wakang, yang menerangkan bahwa isi buku ini adalah cerita permulaan Sie Djin Koei Tjeng Tang. Wakang adalah cerita yang amat spaneng dan diceritakan dengan bebas, bergelora, berjiwa dan berisi.

Tidak Lengkap, kurang jilid 6
Hanya ada jilid 1,2,3,4,5 7

Penulis buku Wakang adalah Monsieur Kekasih, sebuah nama samaran dari Kwee Khay Kee.

Tidak Lengkap, kurang jilid 5 dan 6
Hanya ada jilid 1,2,3,4.
Penerbit : Badan Penerbitan “SUNRISE” Jakarta


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm


Pengarang : Mario Gembala
Tebal buku : 120 halaman
Ukuran : 17,3 cm x 12 cm

 

 


Buku cerita silat antik ini terbit tahun 60 an, dikarang oleh seorang tionghoa bernama Sie Djak Liong. Nama bekennya adalah SD Liong. Ia seorang penterjemah cerita silat kondang dari Jawa Tengah (Semarang ?), dan paman dari pelukis/komikus dari Solo (Surakarta) yang bernama Yanes. Bukunya menarik karena enak dibaca dan mengasyikkan.
Jumlah buku : 11 (Lengkap dan tamat)



Tidak Lengkap hanya ada jilid 1 dan 3

Ouw Bin Hiap Kek by ta wang djin

 


Hanya ada jilid : 14,15,16,17,18,19,20,21

Label: Tjan ID


Hanya ada jilid : 1,2,3,6,8,9

Daftar Judul Buku Wiro Sableng
Ario Bledeg : Petir di Mahameru
Asmara darah Tua gila
Aksara Ratu Bernyawa
Api Cinta Sang Pendekar

Bola-bola Iblis
Badai di Parang Tritis
Bahala Jubah Kencono Geni

Bajingan Dari Susukan
Bulan Sabit di Bukit Patah
Bayi Titisan
4 Brewok dari Gua Sanggreng -
Bendera Darah
Badai Fitnah Latanah Silam

Cinta Orang-orang Gagah

Dendam Manusia Paku
Dendam Orang-orang Sakti -
Dewi Siluman Bukit Tunggul
Delapan Sabda Dewa
Dendam Dalam Titisan
Delapan Pocong Menari
Dewi Lembah Bangkai
Delapan Sukma Merah
Dua Nyawa Kembar
Dendam di Puncak Singgalang
Dewi Kaki Tunggal

Empat Mayat Aneh
5 Iblis dari Nanking

Geger di Pangandaran

Hantu Tangan Empat
Hari-hari Terkutuk

Jaka Pesolek Penangkap Petir

Kutunggu di Pintu Neraka
Kutukan Sang Badik
Ki Ageng Tunggul Akhirat
Kamandaka si Murid Murtad

Muka Tanah Liat

Gondoruwo Patah Hati

Guci Setan

Hantu Bara Kaliatus
Hantu Jatilandak
Hantu Santet Laknat
Hantu Muka Dua
Hantu Selaksa Angin
Hancurnya Istana Darah

Jagal Iblis Makam Setan

Kutukan Empu Bharata
Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Kiamat di Pangandaran
Ki Ageng Tunggul Keparat
Kembali ke Tanah Jawa

113 Lorong Kematian
Lembah Akhirat – Terjual
Liang Lahat Gajah Mungkur

Memburu Si Penjagal Mayat
Mayat Persembahan
Mayat Hidup Gunung Klabat
Malaikat Maut Berambut Salju
Muslihat Para Iblis
Misteri Pedang Naga Suci 212
Makam Ketiga
Makam Tanpa Nisan
Meraga Sukma
Melati Tujuh Racun
Muslihat Cinta Iblis

Nyawa Kedua
Neraka Krakatau
Neraka Lembah Tengkorak

Pernikahan Dengan Mayat
Pedang Naga Suci
Peri Angsa Putih
Pendekar Pedang Akhirat
Penculik Mayat Hutan Roban
Panglima Buronan

Rahasia Perkawinan Wiro
Rahasia Bayi Tergantung
Raja Sesat Penyebar Racun
Rahasia Cinta Tua Gila
Rahasia Mawar Beracun
Roh dalam Keraton
Rahasia Kincir Hantu
Roh Jemputan

Sepasang Manusia Bonsai
Selir Pamungkas
Singa Gurun Bromo
Sesajen Atap Langit
Sepasang Arwah Bisu
Si Cantik Dalam Guci
Setan Dari Luar Jagat

Topeng Buat Wiro Sableng
Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin
Tiga Makam Setan
Tua Gila dari Andalas
Tabir Delapan Mayat
Telaga Emas Berdarah

Utusan Dari Akhirat

Wasiat Malaikat
Wasiat Dewa
Wasiat Sang Ratu

Betina Penghisap Darah -
Guna-guna Tombak Api -
Malam Jahanam di Mataram
Purnama Berdarah -
Srigala Iblis -

 

Vintage kho lay yen

1933

Buku antik Tjerita Silat no. 5 bulan Juni 1933 ini memuat cerita sbb :
– Feuilleton Tay Beng Kie Hiap oleh Kwo Lay Yen
– Feuilleton Siao Lim Lie Hiap oleh Hoh Hoh Sianseng

Buku antik Tjerita Silat no. 4 bulan Mei 1933.
Mulai nomor ini buku Tjerita Silat diperbaiki sampulnya, lebih licin dan gambar lebih bagus. Isi sudah ditambah jadi 150 halaman, judul-judulnya adalah :
– Goeroe Dan Moeried oleh Boe Soet Kee
– Feuilleton Tay Beng Kie Hiap oleh Kwo Lay Yen

Buku Tjerita Silat no. 3 ini diterbitkan bulan April 1933, sudah cukup antik ?
Buku Tjerita Silat ini beralamat di Andirweg 12 Bandoeng.

Hampir seluruh isinya ditulis oleh Kwo Lay Yen, seorang pandai pada waktu itu, lulusan luar negeri yang menguasai beberapa bahasa asing. Semula Kwo Lay Yen bekerja di majalah Sin Po, tapi kemudian keluar dan menerbitkan serial Goedang Tjerita bekerja sama dengan percetakan Minerva Bandung. Entah karena apa, percetakan ini bangkrut, sehingga langganannya yang sudah terlanjur banyak jadi terbengkalai. Melihat hal ini Kwo Lay Yen segera bekerja sama dengan percetakan lain untuk menerbitkan serial Tjerita Silat.
Dalam buku nomor 3 ini dimuat cerita berjudul :
– Pauw Soe Po dari Kang Iem oleh Ban Liong Djin.
– Feuilleton Tay Beng Kie Hiap oleh Kwo Lay Yen,
– Feuilleton Siauw Lim Lie Hiap oleh Hoh Hoh Sianseng

Jumlah halaman ditambah menjadi : 150 halaman.

Bagian Katiga Jilid Ka anam dan Ka toedjoe
Ukuran : 16 x 10 cm
tebal Jilid 6 : 40 halaman
Tebal Jilid 7 : 80 halaman
Tersalin Oleh : Tong TH Fuctriorider Magelang
diterbitken Oleh Boekhandel & Drukkerij Tan Thian Soe Batavia 1924

Buku silat sntik Rahasia Pusaka Hampa.
Pengarang : Tse Yung
Penerbit : UP Militan Djakarta

Belum tamat, masih bersambung

Barang djadoel antik ini 8 jilid buku belum tamat dan tidak lengkap. Judul bukunya : Si Kembar Handaka. Karya : Wijaja. Penerbit : CV. Muria, Jogja – 1967. Ukuran buku : 14,5 x 11 cm, tebal setiap buku : 80 halaman

 

Daftar

 PENULIS CERITA SILAT

1     Boe Beng Tjoe

2     Kwee Khay Kee.

3       Liang Ie Shen

4       Hoan kiem Kie Theng

5       OKT  (Oey Kim Tiang

6       T Hidayat

7       Suparto Brata

8       Ching Yung

9       Hong San Khek

10  Kho ping ho

Gunung Lawu adalah gunung tempat Kho Ping Hoo menulis karya-karyanya menjelang akhir hidupnya.

Ditulis di Tasikmalaya 3 Oktober 1962

11  Gan KL

Widi Widayat Wijaja.

12  H.K.K.

13  Miss Chun Ching

14  Huang

15  Sie Djak Liong.(S Djakalasana)

16  Teguh Supriantoro

17  Darmo Ario

18  Boe Hiap

19  Aji saka

 

20 Dewa linglung

21  HGT WL

22 H.K.K.

23 Hoei Hiong Kee :

24  Auwyang Tong :

25 Tay Beng Kie Hiap

26 Tjoan San Houw

27 Loen Gie

28 Karya : Harnaeni Hamdan HS

29 Herman pratikno

30 Hong san khek

31 Kwee hian liong

32 Kwee Oen Keng

33  Kwee soey tiat

34 Liong djwan Liem

35 Liong Pei Yen

36 Liong The

37 Min Resmana

38 oleh Monsieur Kekasih, sebuah nama samaran dari Kwee Khay Kee.

39 Mario Gembala

40 Sie Djak Liong. S Djatilaksana

41 So tat kie

42 Ta wang djin

43 Tjan ID

44 Kwo Lay Yen

45 Tong TH

46 Tse Yung

47 Wijaja

48  

 

 

 

 

 

 

 

Biography

Kwo Lay Yen

 

, seorang pandai pada waktu itu, lulusan luar negeri yang menguasai beberapa bahasa asing. Semula Kwo Lay Yen bekerja di majalah Sin Po, tapi kemudian keluar dan menerbitkan serial Goedang Tjerita bekerja sama dengan percetakan Minerva Bandung. Entah karena apa, percetakan ini bangkrut, sehingga langganannya yang sudah terlanjur banyak jadi terbengkalai. Melihat hal ini Kwo Lay Yen segera bekerja sama dengan percetakan lain untuk menerbitkan serial Tjerita Silat

 

 

Kho ping Ho(Asmaraman)

 

Asmaraman Kho [ Kho Ping Ho ] – Pengarang Yang Paling Produktif

Budaya-Tionghoa.Net | Asmaraman Sukowati Kho atau Kho Ping Ho [1926-1994] alias Xu Pinghe adalah penulis cerita silat yang sangat populer di Indonesia. Penggemarnya berasal dari beragam latar belakang , lintas generasi dan lintas etnis. Dengan gaya tulisan yang sederhana , mudah dimengerti bertaburan kata mutiara dan kepiawaian Kho dalam membangun rasa penasaran pembacanya dengan gusar meneruskan membaca hingga titik koma terakhir untuk membunuh rasa penasaran.

Penulis yang sangat produktif juga sukses secara finansial. Dengan 400 judul cerita dengan latar belakang Tiongkok dan 50 kisah dari latar belakang kultur Jawa , Kho mendapat penghasilan setara dengan 20 gaji pegawai negri pada masanya.[1] Karya Kho Ping Hoo adalah karya original bukan karya terjemahan karena beliau tidak bisa berbahasa Tionghoa. Dia adalah pengarang asli atau original tidak seperti karya terjemahan seperti OKT , Boe Beng Tjoe , Gan KL , Gan KH dan sebagainya.

 

Walau demikian karya Kho sudah terlanjur dianggap sebagai “Cerita Silat Cina” karena hampir sebagian besar karya Kho berlatar belakang Sejarah Tiongkok. Karena keterbatasan pengetahuan akan bahasa , sejarah dan kondisi geografis Tiongkok , Kho gagal mengulang sukses Karl May dalam serial Winnetou-nya yang lebih presisi walaupun Karl May belum pernah mengunjungi tempat yang menjadi latar bagi kisahnya. Karya Kho juga mengandung kesalahan geografis yang fatal saat menyebutkan satu tokoh dalam kisahnya pergi dari kota satu ke kota yang lain hanya dalam sekian jam. Padahal kenyataannya dua kota yang dikisahkan itu terpisah ribuan lie jauhnya sehingga tidak mungkin ditempuh dalam beberapa jam saja.[2] Berbeda dengan karya Jin Yong dan Liang Yusheng yang karyanya banyak diterjemahkan dimana latar belakang kisahnya berdasarkan nama-nama tempat yang benar ada dan kondisi iklim yang sama dengan cerita. Jadi , biarpun fiktif , karya Jin Yong memiliki latar belakang sejarah , budaya , tempat , geografis yang lebih presisi. [3][4]

Biar bagaimanapun kekurangan dari karya-karya Kho , Gan Kok Liong memuji Kho Ping Hoo sebagai berikut :

Ia lebih hebat dari saya . Ia tidak bisa membaca aksara Tionghoa, tetapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Ceritanya asli dan khas dan sangat sulit ditandingi. Ide-idenya besar , nafas ceritanya panjang. Ia seperti tidak kehabisan bahan. Latar yang ia bangun dan ciptakan pun kuat.[5]

Kho Pinghoo lahir pada tanggal 17 Agustus 1926 di Sragen Jawa Tengah. Sebagai peranakan Tionghoa yang terhitung miskin dan hidup di kota kecil , ia hanya menyelesaikan pendidikan kelas 1 HIS [Hollandsche Inlandsche School] . Minatnya membaca yang tinggi didorong keinginan mengungkapkan gagasan membuat Kho mulai menulis. Karya pertamanya berupa cerita pendek yang dimuat di majalah terbesar pada saat itu , Star Weekly.

Karya paling populer Kho Ping Hoo adalah serial “Bu Kek Sian Su” dan serial “Pedang Kayu Harum”. Selain itu Kho Ping Hoo juga melahirkan karya dengan latar belakang kebudayaan Jawa seperti  “Darah Mengalir di Borobudur” yang sempat diangkat menjadi sandiwara radio sebagai tandingan dari “Saur Sepuh” dan “Tutur Tinular”

Referensi :

1. 100 Tokoh Yang Mengubah Indonesia , 2005 , Penerbit Narasi

2. Arsip Budaya Tionghua no 45829

3. Arsip Budaya Tionghua no 45826

4. Arsip Budaya Tionghua no 38014

5. Aulia Muhammad , “Bayang Baur Sejarah” , 2003

SUMBER :

http://web.budaya-tionghoa.net/tokoh-a-diaspora/tokoh-tionghoa/1066-asmaraman-kho-kho-ping-ho-pengarang-yang-paling-produktif

Selasa, 23 Agustus 2011 – 20:50

 


Widi Widayat

 

Widi Widayat

 

 lahir di Imogiri pada tanggal 10 Mei 1928. Ia bisa menulis roman, cerita silat dan sandiwara radio.

 

 

 

Herman pratikno

 

Pengarang buku Bende Mataram ini bernama Herman Pratikto lahir di Blora pada tanggal 18 Agustus 1929. Ia termasuk pendiri harian Minggu padi dan Harian Nasional, dan mengasuh ruang seni dan budaya disana.

Walaupun ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta, akan tetapi Herman lebih banyak berkarya dibidang tulis menulis, mendalang wayang kulit, mencipta lagu jawa, melukis, dan siaran radio untuk acara seni dan budaya.

 

Zaidin Wahab, Penulis Cerita Silat Betawi Tutup Usia

JAKARTA (Pos Kota) – Innalillahi wainna ilaihirojiun. Wartawan senior H. Zaidin Wahab,78, meninggal dunia di RS. Husada, Jakarta, pada Selasa, 23 Agustus 2011, pukul 15.00 WIB.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Sirsak No.16, Utan Kayu, Jakarta Timur, dan akan dimakamkan hari ini, Rabu (24/8) di TPU Karet Bivak, Jakarta Selatan, pukul 10.00 WIB.

Kang Iding, begitu biasa beliau disapa, sejak beberapa bulan lalu menderita stroke dan sempat koma hingga dirawat di RS. Husada, Jakarta.

Zaidin Wahab pernah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Harian Terbit, juga pernah bergabung di Harian Api Pantjasila. Semasa hidupnya, selain aktif sebagai wartawan, almarhum juga dikenal sebagai penulis cerita-cerita silat Betawi, di antaranya Si Jampang yang dimuat secara bersambung di harian Pos Kota.

PENGHARGAAN SENI

Beberapa karyanya yang lain di antaranya Djampang Mentjari Naga Hitam (1968), Perawan Buta (1972), dan Maron Si Muka Codet. Pada tahun 2011, H.Zaidin Wahab mendapatkan penghargaan seni dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Cerita Djampang Mentjari Naga Hitam pernah diangkat ke film layar lebar pada tahun 1968, yang disutradarai oleh Lilik Sudjio, dan dibintangi oleh Soekarno M. Noer sebagai Djampang, WD Mochtar sebagai Bendot, Awaludin (Babah Peng Ho/Naga Hitam). (anggara/b)

Liang Ie Shen, penulis Cerita Silat Seri Thiansan meninggal 22 Jan 2009

 

Pelopor cerita silat modern Liang Yusheng telah meninggal di Sydney, Australia – tempat dimana dia tinggal sejak tahun 1980an.

Berita duka ini diterbitkan oleh koran Sing Tao edisi Australia Senin lalu. Kesehatannya menurun sejak menderita kanker saluran air kencing di tahun 2004
Lanjut….



Oey An Siok adalah kerabat dekat OKT (Oey Kim Tiang), bahkan ia menggunakan salah satu nama samaran OKT, Boe Beng Tjoe dalam karya-karya terjemahannya. Bersama OKT ia menghasilkan Sin Tjioe Eng Hiap (Binasanya Satu Kaisar), dan Sin Tiauw Hiap Lu, sedang terjemahan yang dikerjakannya sendiri adalah San Hoa Lie Hiap, Peng Tjoan Thian Lie (Bidadari dari Sungai Es), Swat San Hoei Ho (Si Rase Terbang dari Pengunungan Salju), dan Ie Thian To Liong (Kisah Membunuh Naga).
Lahir pada tahun 1915 di Tangerang, ia memperoleh pendidikan di THHK dan kemudian Overseas Chinese Institute, keduanya di Jakarta. Ia memulai karirnya di Keng Po dan sewaktu Keng Po ditutup, melanjutkannya di Harian Pos Indonesia dan Mingguan Djaja, sebelum kemudian membantu Rumah Sakit Husada di Jakarta juga. Jabatan terakhirnya di sana adalah Direktur Administrasi.
(dikutip dari cover belakang “Bidadari Sungai Es”)

Diposkan oleh Teguh di 22:13 0 komentar Link ke posting ini

Label: Penulis Cerita Silat


Gan Kok Liang yang lebih dikenal dengan sebutan Gan KL adalah salah satu sastrawan, selain Oey Kim Tiang alias OKT, yang memperkenalkan cerita-cerita silat Tiongkok di Indonesia. Telah dibawanya ke bumi Indonesia karya-karya tiga pengarang silat Tiongkok terkenal: Jin Yong, Gu Long, dan Liang Yusheng.

Gan KL merupakan anak pertama dari delapan bersaudara, putra dari Gan Swie Pie dan Phoa Leng Keng. Ia lahir di Xiamen, China, 14 Agustus 1928 silam dan dibawa orangtuanya ke Indonesia pada tahun 1938 saat tentara Jepang menguasi Xiamen. Mereka mendarat di Surabaya dan kemudian menetap di Kutoarjo, Jawa Tengah. Sekitar tahun 1948 Jepang menguasai Kutoarjo dan keluarga Gan KL pun kembali harus mengungsi dan mereka akhirnya menetap di Semarang.

Tahun 1958, Gan KL mengirimkan karya sadurannya yang pertama berjudul Pendekar Padang Rumput (Sai Wai Qi Xia Chuan) buah karya Liang Yusheng, yang berkisah tentang perjuangan suku minoritas di Sin Kiang melawan kaum penjajah, ke harian Sin Po. Kisah sadurannya itu rupanya digemari banyak orang, sehingga Gan KL memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya saat itu sebagai auditor akuntansi PT Oei Tiong Ham Concern untuk bekerja sepenuhnya menulis cerita silat. Tahun 1961 Gan KL mulai menerbitkan karyanya sendiri dan mengedarkannya ke toko-toko buku, selain menerbitkannya di surat kabar.

Gan KL berhenti menerjemahkan cerita silat tahun 1986 seiring dengan menyurutnya minat pembaca cerita silat. Ia beralih profesi terjun ke bidang hukum dan membuka kantor konsultan hukum yang memberi jasa pengurusan naturalisasi warga negara asing menjadi warga negara Indonesia.

Gan KL yang memiliki hobi membaca dan menyanyi ini dikaruniai lima orang anak dari pernikahannya dengan Tan Bie Nio.

Karya penerjemah yang meninggal pada 28 November 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian Wenshou Lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai Shuangjiao) (1980) karya Gu Long.

Daftar Saduran Gan KL:

Pendekar Rajawali Sakti (Sin Tiauw Hiap Lu/The Return Of The Condor Heroes)
Golok Pembunuh Naga (To Liong To/Heavenly Sword And Dragon Sabre)
Pahlawan Padang Rumput (Cauw Guan Eng Hiong)
Thian San Thjit Kiam (Tujuh Pendekar Dari Thian-san)
Tiga Dara Pendekar (Kang Ouw Sam Li Hiap)
Pedang Di Sungai Es (Peng Ho Swi Kiam)
Geger Dunia Persilatan (Hong Lui Cin Kiu Cin)
Pendekar Jembel (Hiat Kut Tan Sin)
Kelana Buana
Durjana Dan Ksatria
Medali Wasiat (Hiap Kek Heng)
Hina Kelana (Siauw Go Kang Ouw)
Pedang Hati Suci (Soh Sim Kiam)
Pendekar Negeri Taylie (Thian Liong Pat Pou/Demi Gods And Semi Devils)
Pendekar Latah
Pendekar Sejati
Rahasia Peti Wasiat
Amanat Marga
Misteri Kapal Layar Pancawarna
Pendekar Baja
Renjana Pendekar
Imbauan Pendekar

Serial Pendekar Binal
1. Pendekar Binal
2. Bakti Pendekar Binal
3. Bahagia Pendekar Binal
Pendekar Harum
4. Mayat Kesurupan Roh
5. Legenda Kelelawar

Pendekar Budiman

Serial Pendekar Empat Alis

1. Pendekar Empat Alis
2. Si Bandit Ahli Bordir
3. Duel Antara Dua Jago Pedang
4. Rumah Judi Pancing Perak
5. Keajaiban Negeri Es
6. Perkampungan Hantu
7. Duel Di Butong
8. Manusia Yang Bisa Menghilang
9. Sang Ratu Tawon
10. Senyuman Dewa Pedang

Manusia Aneh Dari Alas Pegunungan (Hong San Koay Khek)
Si Pedang Kilat
Thian Ge Ciat Kiam
Pedang Darah Dan Bunga Iblis
Golok Yanci Pedang Pelangi
Jago Terpendam Di Tanah Asing
Pendekar Satu Jurus
Pengemis Berbisa
Rahasia 180 Patung Mas
Tiga Mutiara Mestika (Sam Po Tju)
Pahala Dan Murka
Balada Kaum Kelana
Kemelut Di Ujun Ruyung Emas
Pedang Kiri Pedang Kanan
Pendekar Kembar
Hikmah Pedang Hijau
Pendekar Lugu (Si Kangkung)
Tiga Pedang Tujuh Ruyung

Dari : cersilanda.com

Diposkan oleh Teguh di 22:00 0 komentar Link ke posting ini

Label: Penulis Cerita Silat

 

Foto Tjan ID


Foto Thio Tiong Gie


DIA adalah satu dari empat warga negara Indonesia yang namanya tercatat dalam Ensiklopedi Chinese Overseas bidang Kesenian dan Kebudayaan terbitan Pemerintah China. Sebagai penyadur cerita silat Tiongkok, dia disebut-sebut sebagai yang terbesar setelah mendiang Oey Kim Tiang (OKT). Kini, lelaki kelahiran Semarang, 2 Juli 1949 itu menjadi satu-satunya penyadur generasi lama yang tersisa. Dialah Tjan Ing Djioe, yang lebih dikenal pembaca dengan nama pena Tjan ID.

Tjan, sapaan Tjan Ing Djioe, penyadur yang sangat produktif. Karyanya lebih dari 100 judul, dengan jumlah jilid mencapai ribuan. Buku-buku yang ia terjemahkan karya penulis populer dari Negeri Tirai Bambu. Namun Tjan paling banyak menyadur tulisan Khu Lung (Gu Lung).

Kini, di usianya yang merambat senja, Tjan masih terus berkarya mengalihbahasakan teks-teks cerita berbahasa China ke dalam Bahasa Indonesia. Saban hari dia bisa menghabiskan 12 jam waktunya di ruang kerja. Apa nggak lelah Pak Tjan? ”Ah nggak, kan sudah biasa,” jawab warga Tambak Mas Timur No 20-21 Tanah Mas Semarang ini, sambil menggelengkan kepala.

Ya, bersikutat dengan teks, kamus, dan komputer, sudah menjadi rutinitas harian Tjan. Aktivitas itu dia lakukan selepas bangun tidur, sekitar pukul 03.00 hingga larut malam.

Tjan beristirahat hanya untuk mandi, makan, dan membantu usaha katering istrinya. Kondisi ini belum seberapa dibanding ritme kerjanya di masa muda. Saat itu, Tjan biasa bekerja nonstop selama 19 jam.

Apa yang membuat dia bekerja sedemikian keras? Jawaban dari pertanyaan ini berkelindan dalam kisah hidup Tjan. Tjan lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya, Tjan Han Siong seorang pengusaha rotan, sedangkan ibunya Lie Lie Sian, berprofesi sebagai guru. Tjan kecil beroleh pendidikan dasar di sekolah berbahasa China, yakni SD Chung Hoa Kung Sie dan SD Yu Te. Selepas itu dia melanjutkan ke sekolah berpengantar Bahasa Indonesia: SMP dan SMA Theresiana. Penguasaan terhadap dua bahasa inilah yang melempangkan jalan Tjan ke dunia penerjemahan.

Suatu ketika, saat kuliah di Jurusan Publisistik Undip, dia mendapat tugas membuat karangan. Karena tidak terlampau cakap menulis, Tjan memilih membuat karya terjemahan. Kebetulan ia sejak kecil gemar membaca cerita silat Tiongkok. Maka ia pun menyadur bagian awal karya Bai Hong Tujuh Pusaka Rimba Persilatan. Hasil ketikan asli karya itu diserahkan kepada dosen, sedangkan kopian karbonnya— tanpa sepengetahuan Tjan— diserahkan oleh sang ayah kepada pemilik toko buku Sutawijaya di Jalan Mataram, Semarang.

”Oleh The Tjie To, sang pemilik toko, karya terjemahan saya ditawarkan kepada sebuah penerbit di Jakarta. Entah kenapa, penerbit itu tertarik dengan karya yang masih bersifat coba-coba itu. Jadilah pada 1969, jilid perdana Tujuh Pusaka Rimba Persilatan diterbitkan.”

Tak Asal-asalan

Setelah karya pertama, penerbit meminta Tjan meneruskan kelanjutannya hingga jilid 28 tamat. Tiap jilid Tjan dibayar Rp 1.750. Pada saat hampir bersamaan, bisnis rotan Tjan Han Siong gulung tikar dan terjerat utang. Dalam keterpurukan, keluarga itu menggantungkan diri pada honor Tjan. Didesak kebutuhan, dia kian giat bekerja. Bahkan suami Suryani Erawati (55) itu juga menyuplai terjemahan kepada para senior, seperti Gan Kok Liang (Gan KL) dan Sie Djiak Liong (SD Liong). Tjan rela, karya sadurannya diterbitkan atas nama mereka.

”Habis bagaimana lagi, saya butuh banyak uang. Selain makan dan biaya sekolah adik-adik, honor saya juga untuk membayar bunga bank. Karena bekerja tak kenal waktu, kuliah saya jadi berantakan.”

Meski mengejar setoran, bukan berarti Tjan bekerja asal-asalan. Karya ayah dari Elwin A Setiawan (34) dan Stevanus Kundarto (30) itu bahkan diminati banyak pembaca, utamanya dari kalangan muda. Konon, itu karena gaya bahasa Tjan yang berbeda dari penyadur cerita silat generasi sebelumnya. Jika penyadur dan penulis senior, seperti OKT, SD Liong, Gan KL, dan Gan KH cenderung memakai Bahasa Melayu Pasar, ia menggunakan Bahasa Indonesia baku.

Dari sekian banyak hasil saduran Tjan, beberapa meledak di pasaran, yakni Pendekar Patung Emas karya Qin Hong (1970), Rahasia Kunci Wasiat karya Wolong Shen (1971), serta Serial Bara Maharani (1975) dan Pendekar Riang (1979), keduanya karya Khu Lung.

Tahun 1980-an, Tjan menyisihkan penghasilannya untuk bisnis peternakan ayam. Di luar dugaan, ikhtiar coba-coba itu berkembang pesat. Tjan pun mulai meninggalkan aktivitas kepenulisannya. Namun hal itu tak berlangsung selamanya. Pada 2002, bisnis Tjan bangkrut. Dia pun kembali menggeluti aktivitas penerjemahan cerita silat dari Negeri China.

Namun zaman telah berubah. Penikmat cerita silat Tiongkok tak lagi sebanyak era 1970-1980-an. Patah arangkah Tjan? Tidak. Dia tetap berkarya dengan penuh semangat. Justru dari situlah kesadaran akan pentingnya sastra peranakan tumbuh. Cerita silat, kata Tjan, perlu dilestarikan. Sebab selain menghibur, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya memuat banyak ajaran kebajikan, seperti kepahlawanan, patriotisme, penghormatan kepada orang tua, serta kesetiakawanan.

Inilah yang membuat Tjan merasa perlu menyiapkan generasi pengganti. Sejak tahun 2000-an, ia membina 12 anak muda yang berminat menjadi penyadur cerita silat. Mereka anggota Masyarakat Tjerita Silat (M Tjersil) yang selama ini berinteraksi melalui milis di internet.
”Ikhtiar ini tidak sia-sia. Kini, tiga dari mereka telah berhasil menerbitkan buku. Semoga yang lain segera menyusul,” katanya.

Dalang Wayang Potehi

Jika Tjan Ing Djioe sukses melakukan regenerasi, tidak demikian dengan Thio Tiong Gie. Puluhan tahun melestarikan wayang potehi, ia hanya memproduksi seorang penerus. Dia tak lain Oei Tjiang Hwat, asistennya sendiri. Padahal Tiong Gie tak kurang-kurang melakukan inovasi. Dia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengganti bahasa aslinya: China. Dia juga tak menabukan masuknya anasir budaya lain. Lelaki 76 tahun yang mukim di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang itu kerap memunculkan tembang-tembang campursari dalam pementasan. Namun apa lacur, pertunjukan Tiong Gie tetap minim apresiasi. ”Mencari penonton saja susah, apalagi anak muda yang mau belajar ndalang,” keluh Thio Tiong Gie.

Beda dari dulu, pentas wayang potehi saat ini cenderung dilakukan untuk klangenan. Dari ruang-ruang semacam itulah Tiong Gie dapat bertahan. Lantaran dalang potehi semakin langka, dia tak punya banyak saingan. Tiong Gie pun tak sulit-sulit amat mendapat tanggapan. Selain Semarang, dia acap diundang ke luar kota, seperti Tegal, Solo, Purwokerto, Mojokerto, Surabaya, dan Jakarta.

Dirunut ke belakang, persuaan Tiong Gie dengan wayang potehi bukan ikhwal yang disengaja. Alkisah, saat berusia sembilan tahun, rumah orang tuanya di Demak dirampok. Jatuh miskin, dia sekeluarga hijrah ke Semarang. Suatu hari Tiong Gie yang telah putus sekolah tertarik buku cerita berbahasa Hokkian yang dia baca. Beberapa waktu kemudian, dia bertemu Oey Sing Tay, tukang cakap wayang potehi.

Oey Sing Tay menyarankan Tiong Gie menjadi dalang.
Pada usia 25 tahun, dia nekat manggung untuk kali pertama di Cianjur, Jawa Barat. Nekat, karena tak pernah latihan sebelumnya. Sukses manggung perdana, Tiong Gie melanjutkan ke pentas-pentas keliling di berbagai kota di Pulau Jawa.
Peristiwa 1965 membuat wayang potehi dan kesenian bernuansa Tionghoa lain tidak boleh dimainkan secara terbuka. Tiong Gie pun terpaksa menghentikan kegiatannya. Untuk hidup, suami mendiang Hoo Sian Nio itu membuka usaha bengkel las.

Perubahan politik pada 1998 membuka jalan kebebasan bagi Tiong Gie. Pada 1999, untuk kali pertama setelah tiga dasawarsa vakum, dia kembali mendalang di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Penghapusan Inpres No 14 Tahun 1967 oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000, membuat Tiong Gie makin leluasa.

Namun, zaman telah berubah. Lepas dari belenggu rezim, wayang potehi tak berdaya menghadapi gempuran ragam kesenian modern. Menyerahkah Thio Tiong Gie? Tidak. ”Sampai mati saya akan terus mendalang,” tandasnya.(Rukardi-62)

Dari : suaramerdeka.com

Diposkan oleh Teguh di 21:39 0 komentar Link ke posting ini

Label: Penulis Cerita Silat


Inilah lima pendekar penerjemah cerita silat di tanah air. Dari generasi pertama yang mulai menerjemahkan pada 1920- an hingga yang tetap bertahan hingga kini. Tiga dari mereka sudah tiada, dua lainnya tak lagi muda.

Kwo Lay Yen Generasi Pertama Penerjemah Kwo Lay Yen atau Tan Tek Ho lebih dikenal memiliki beberapa nama samaran: Kwo Lay Yen (Si Mahir), Bong Kok No (Budak Tanpa Negara) dan Hoh Hoh Sianseng (Tuan Harmoni).

Ia lahir di Bandung pada 1894. Tek Ho menempuh pendidikan dasar di Bandung dan Batavia, kemudian melanjutkan ke Nanking (Nanjing). Kembali ke Indonesia ia menjadi wartawan Sin Po. Pada 1920-an menjadi Redaksi Kepala (Hoofd-redacteur) untuk Sin Po Oost-Java Editie.

Sesudah Oost-Java Editie ditutup, ia kembali ke Bandung dan sepenuhnya menjadi penerjemah cerita silat. Karya terjemahannya yang membuat dia terkenal adalah Riwajat Djago Silat karya Siang Khay Yan (Xiang Kairan) dan Tai Beng Kie Hiap karya Sie Leng Hong (Xi Lingfeng).

Ia mengepalai berkala Goedang Tjerita (Bandung, 1929) yang kemudian diambil alih sepenuhnya dan diganti namanya menjadi Tjerita Silat pada 1932. Ketika Jepang masuk, ia ditahan di Sukamiskin, kemudian di Cimahi dan baru bebas ketika Jepang jatuh.

Salah satu terjemahan Kwo Lay Yen terbaik adalah Tjoe Bo Kim So karya The Tjeng In (Zheng Zhengyin) yang dimuat di Goedang Tjerita sejak 1948. Ia meninggal di Bandung pada 1949.

Ia menguasai aktif bahasabahasa Belanda, Cina, Inggris dan Melayu. Karena pengalamannya sebagai wartawan, maka hasil terjemahannya mengalir dengan lancar dan lebih ketat mengikuti kaidah Bahasa Indonesia daripada Melayu (Rendah).

Hanya saja penguasaannya atas dialek Hokkian sangat kurang. Ini tampak dari nama samaran yang digunakannya lebih banyak menggunakan ejaan nasional daripada Hokkian.

Selama hidupnya ia telah menerjemahkan lebih dari 50 judul cerita silat dan selusin novel Eropa. Oey Kim Tiang Menerjemahkan ke Melayu Betawi Oey Kim Tiang atau lebih dikenal dengan OKT adalah penerjemah cerita silat terbesar.

Ia telah mengerjakan lebih dari 100 judul cerita silat dan cerita klasik Cina selama 1923-1990. Ia lahir di Tangerang pada Februari 1903 dan meninggal pada 1995. Orangtuanya mandor kebun kelapa yang selalu berpindah-pindah tempat.

Ia dititipkan di keluarga ibunya dan mendapatkan pendidikan dasarnya di Tangerang. Di sana ia bersahabat dengan salah satu pengajarnya, Ong Kim Tiat. Kim Tiat pula yang membawanya ke Batavia untuk bekerja di bidang jurnalistik.

Setelah beberapa bulan bekerja di koran Perniagaan, ia kemudian pindah ke koran Keng Po yang baru saja berdiri pada Juli 1923. Di koran ini, OKT melanjutkan penerjemahan cerita sejarah klasik. Sejak itu ia menjadi penerjemah penuh seumur hidupnya.

Ketika cerita silat mengalami ledakan di akhir 1920-an, nama OKT semakin berkibar. Ia menangani cerita silat bersambung di setidaknya tiga harian. Ia sangat setia pada Keng Po yang membesarkannya dan bertahan di sana sampai koran itu mati pada 1958.

Walaupun tak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, tapi OKT justru menguasai bahasa Melaju Betawi. Penguasaan ini pernah dipuji oleh para sastrawan, seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Ajip Rosidi. Kehatihatian membuat ia sangat setia menerjemahkan cerita silat.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia. Gan Kok Liang Lincah dan Enak Dibaca Gan Kok Liang atau lebih dikenal dengan nama Gan KL mengikuti ayahnya datang ke pulau Jawa pada 1928 ketika berumur 10 tahun.

Jadi ia benar- benar menguasai dialek Hokkian vernacular, seperti tercermin dalam karya-karyanya. Ia tinggal di Purworejo dan menghabiskan masa remajanya di sana. Pada 1948, agresi militer Belanda telah membumi hanguskan tempat tinggalnya. Keluarga Gan KL pun pindah ke Semarang.

Di Semarang ia mencoba berbagai macam pekerjaan. Ia mendapat kedudukan baik di satu perusahaan milik orang Belanda. Hanya saja ketika terjadi nasionalisasi, ia harus mencari pegangan lain. Pekerjaan penerjemahan menjadi sandaran barunya. Terjemahannya yang lincah dan enak dibaca diterima di harian Sin Po yang sedang mencari pengisi cerita silat bersambung baru.

Ia juga mengisi untuk koran Pantjawarna. Di sinilah ia terpengaruh oleh Nio Joe Lan yang menyarankan penulisan nama-nama Cina dalam ejaan modern Bahasa Indonesia. Ini berbeda dengan kubu Keng Po yang mempertahankan penulisan berdasarkan standar van ophuijsen.

Karya penerjemah yang meninggal pada 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian wenshou lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai shuangjiao) (1980) karya Gu Long.

Gan Kok Hwie Santai dan Berapi-api Berbeda dengan kakaknya, Gan Kok Hwie atau Gan KH lebih terlihat sebagai pribadi yang santai dan penuh canda. Memulai karier sebagai penerjemah karena menuruti jejak Gan KL, sang kakak, ia telah menerjemahkan tidak kurang dari 30 judul cerita silat sampai saat ini.

Gan KH saat ini tinggal di Semarang dan sehari harinya sangat aktif dalam kegiatan kelenteng di Tay Kak Sie Semarang. Ia masih sangat berapiapi ketika berbicara tentang zaman kejayaan cerita silat dulu. Ia masih mengingat satu per satu karya yang pernah diterjemahkannya. Para penggemar cersil akan selalu mengenang Gan KH sebagai salah satu penerjemah terbaik cerita-cerita karya Khu Lung atau Gu Long.

Di antaranya adalah serial Pendekar Harum dan saga Salju Merah. Pada 2005 ini Gan KH kembali menerjemahkan dan buku yang paling akhir terbit adalah masih dari salah satu karya Khu Lung yang diberi judul Pukulan si Kuda Binal. Gan KH berjanji akan terus menerjemahkan demi untuk mempopulerkan kembali cerita silat seperti di zaman jayanya dulu.

Tjan Ing Djoe Spesial Karya Khu Lung Tjan Ing Djoe atau lebih dikenal dengan Tjan ID adalah OKT. Dari jumlah buku yang pernah disadur atau diterjemahkan dari bahasa aslinya, Tjan ID menerjemahkan tidak kurang dari 93 judul yang setara dengan hampir 2.188 jilid cerita silat. Lahir pada 1949, Tjan mulai menerjemahkan cerita silat di usia 19 saat kuliah di Universitas Diponegoro Semarang.

Pada awal karier penulisannya Tjan banyak dibantu oleh OKT yang juga mengajarinya teknik menerjemahkan dari bahasa Cina. Tjan ID juga seorang yang unik. Tak seperti para penerjemah lainnya, walau produktif, Tjan tidak pernah memakai kertas karbon ketika mengetik untuk naskah terjemahannya. Akibatnya ketika gelora penerjemahan cerita silat kembali muncul, Tjan ID harus kehilangan sebagian besar naskah karyanya yang hilang atau habis dimakan rayap.

Sekitar 20 karya Khu Lung telah diterjemahkannya sekaligus membawanya sebagai penerjemah spesialis karya Khu Lung. Ia terkenal sebagai penerjemah yang sangat setia pada naskah aslinya. Golok Kemala Hijau pada 1974 diakui sebagai karya terjemahannya yang pertama. Karya terjemahan cerita silat terakhirnya baru saja diluncurkan Oktober ini atas kerja sama dengan Masyarakat Tjersil, berjudul Bunga Pedang, Embun Hujan, Kanglam, masih terjemahan dari karya Khu Lung.

Saat ini Tjan ID tinggal di Semarang. Sembari menerjemahkan, ia sibuk beternak ayam.

HIANG PHEK TAUWTOO |RIEZ SIAUW BIN YOE HOEN DOKUMEN PRIBADI

Dari : ruangbaca.com

Diposkan oleh Teguh di 21:32 0 komentar Link ke posting ini

Label: Penulis Cerita Silat

Kamis, 04 Februari 2010


O.K.T. (Oey Kim Tiang) adalah penterjemah cerita silat yang paling produktif di Indonesia sampai sekarang. Ia lahir dalam keluarga peranakan Cina yang telah enam generasi tinggal dikota Tangerang. Lahir tahun 1903, di kota ini pula ia meninggal tahun 1995. Mewariskan lebih dari seratus karya terjemahan yang dihasilkan selama ia berkarya lebih dari 60 tahun.
Ajip Rosidi memuji penggunaan bahasanya yang sangat lentur dan hidup dalam menceritakan (menuturkan) kembali kisah-kisah penuh aksi ini, meskipun kadang tidak menganut kaidah baku bahasa Indonesia. Pengabdiannya kepada kegiatan penterjemahan adalah total, ketelitian dan kerja kerasnya menjadi jaminanbagi para penggemar cerita silat.
Hasil terjemahannya sangat setia kepada naskah aslinya, semua detail sampai sajak-sajak yang sulit diterjemahkan pun tidak ada yang dilewati. Namun gayanya pribadi tetap mencuat melalui penguasaannya atas bahasa Melayoe Rendah atau Melayoe Pasar dengan pengkayaan kosakata dialek Hokkioan dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat. Semua ini menggumpal dalam gaya bahasa yang amat khas, sekaligus sangat hidup dalam benak para pembacanya.

Oey Kim Tiang atau O.K.T adalah penterjemah cerita silat yang sangat produktif, beliau lahir dalam keluarga peranakan Cina generasi ke enam di Tangerang. Tahun kelahirannya 1903, dan di kota Tangerang pula beliau wafat dalam usia 92 tahun. Karena lanjut usia dan sering sakit, pada 1980-an, Oey sudah jarang menulis. la meninggal 8 Maret 1995. la pernah bersekolah Tiong Hoa Hwee Koan setempat sampai tingkat SLTP.

Penerjemah terkenal sebelum perang, Ong KimTiat, adalah gurunya. Sebenarnya sejak sebelum Perang, Oey Kim Tiang sudah mulai menerjemahkan cersil dan novel-novel detektif. Selama hidupnya, almarhum telah menterjemahkan lebih dari 100 karya terjemahan dari dialek Hokkian ke dalam bahasa Melayoe Pasar atau Melayoe Rendah.

Dalam menterjemahkan, O.K.T menjaga konsistensinya dalam mempertahankan kosa kata Hokkian dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat.

Penggunaan bahasa dalam cerita silat terjemahan tersebut bahasanya sangat lentur dan hidup dalam menuturkan (menceritakan) kisah-kisah yang penuh aksi, dan pembaca dibawa dalam imajinasinya, sehingga seolah-olah pembacanya mengalami sendiri kejadian lepas kejadian dalam kisah silat tersebut. Meskipun Oey cuma berpendidikan setingkat SLTP di Tiong Hoa Hwee Koan dan tidak melanjutkan lagi, tetapi dasar bahasa Tionghoanya tidak lemah. Di antara penerjemah cersil Tionghoa peranakan, Oey satu-satunya penerjemah syair dalam cersil ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau diperhatikan, O.K.T seringkali tidak menganut kaidah bahasa Indonesia, tetapi justru hal tersebutlah yang membuat pembaca mengalami pengayaan dan menambah wawasan dalam pengenalan kosakata dari bahasa Sunda dan Jawa. Terjemahannya berusaha mempertahankan makna syair aslinya. Akan tetapi, demi irama sajaknya, ia kadang-kadang memakai cara terjemahan tidak lazim. Misalnya ia mener-jemahkan “San Qiu” menjadi “di musim TJioe”, yang sebenarnya, “di musim gugur” atau “di musim rontok”. Demi mempertahankan irama sajaknya, ia menerjemahkan “Changjiang” menjadi “sungai Tiang Kang”, yang sesungguhnya, “sungai Yang Tse” yang lebih dikenal orang. Meskipun demikian, Oey telah membuang banyak waktu untuk mengerjakan terjemahan syair-syair dalam karyanya.

Di samping menerjemahkan karya-karya Liang Yusheng dan Jin Yong, Oey juga menerjemahkan cersil Ti Feng dan Wang Du Lu. la berpendapat, karya-karya Wang Du Lu sebaik karya Jin Yong. Ketika bekerja di Keng Po, Oey meneijemahkan lima buah karya Wang Du Lu (yaitu Po Kiam Kim Tje, Kiam Kie Tjoe Kong, Go Houw Tjhong Liong, Tiat Kie Gin Pan dan Ho HengKoen Loen) dan dimuat secara bersambung di suratkabar tersebut , Setelah tamat cersil-cersil itu segera diterbitkan dalam bentuk buku saku.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia.

the end @ copyright 2012

SAVE OUR HARITAGE

7 responses to “Pencinta Cerita silat Harus Membaca CD Sejarah CERSIL Ini

  1. This is really an Great and informative stuff being published here, I may not be surprised to see the different kind of reactions from peoples as some may like it and some don’t

    • thanks Unik Man for visit my Blog,tell your friend to look this amizing blog,the complete info of Cerita silat exist but only for prmium member,please subscribed via comment to be the premium member

  2. Blog yang sangat menarik dan langka! Salut! (ahmadhaes@yahoo.com/http/www.ahmadhaes.wordpress.com)

  3. bagaimana cara downloadnya ya?

    • herry info dari web ada hak ciptanya dan diprotect sehingga tidak dapat di download, jika anda ingin info ini ada dalam Cd=rom, jika mau harap mendaftar liwat comment untuk jadi anggota premium dengan menupload data pribadi anda yang sama dengan KTP anda, setelah itu anfda akan dihubungi untuk memenuhi persyaratan administrasi lain untuk memperoleh CD=eom tersebut
      terima kasih sudah mengunjungi web blog saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s