PADANG WEST SUMATRA HISTORY COLLECTIONS PART FOUR

THIS IS THE SAMPLE OF e-book IN cd rom.RTHE COMPLETE cd WITH FULL ILLUSTRATIONS EXIST BUT ONLY FOR PREMIUM MEMEBER PLEASE SUBSCRIBE VIA COMMENT TO GE THE cd-rOM

PADANG WEST SUMATRA

MY LOVING BIRTHCITY

Part four

 Introduction

Minangkabau

 

Created by

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private Limited Edition In CD_ROM

Copyright@DR Iwa Suwandy 2011

 

batang arau padang litho from the history of sumatra 1810

PREFACE

 

.As the opening of the writings that I collated as a sign of my love for the born land , his wife and entire family, hoping to be nostalgic for the old and add insight for future generations so that the root dtaang origins can be traced.
Writing with illustrations image collections, postal history and other dedicated  to my son Albert and Anton Jimmi, and the grandson of Sesa, Celin and Antoni, and also all my extended family and wife.
These literary works are still many shortcomings so that corrections and additional information and advice legendary from all my friends so I would expect.
Thank you kep there are many people who have helped me to  complete this paper

 

West Sumatra called Sphere minang or Land Minangkabau was the birthplace and the land where the author was raised until the age of 45 years (1945-1989).

Various ups and downs have been experienced on Earth Minang by name Hotel-ever besides the residence of the last author of the years 1950-1989, the author was born in Padang Small Road, behind the Land Market Kongsi from 1945 until 1950.
During their stay in Padang authors have kept memoriable  objects or memorabilia collection which is a love filling to  homeland and is able to evoke memories of the realm Minang Beautiful, peaceful and full of such intimacy.


Information from The book also discusses information collection dzari choice and displayed in such a way that can satisfy the longing  Minang people  In Overseas wherever it is located on a remote village in the eyes of beloved pages, such as the song always sung the nomads as follows:


Rumah gadang nan sambilan ruang,Pusako bundo sajak dulunyo. Bilo den kanang hatinya ta ibo ta ibo Ta bayang-bayang diruang mato..

In the Indonesian language as follows:
A  Big House with nine-room, Heritage from nowadays .If I remember my heart recalls sad. Memory  shadows (village) in the eyelid

Indonesia version:

Sumatera barat yang disebut Ranah minang atau Tanah minangkabau adalah tempat kelahiran dan tanah dimana penulis dibesarkan sampai berumur 45 tahun( 1945-1989). Berbagai suka duka telah dialami di Bumo Minang sesuai nama Hotel yang pernah ada disamping rumah kediaman penulis terakhir dari tahun 1950-1989,penulis dilahirkan di Jalan Kali Kecil Padang ,dibelakang Pasar Tanah Kongsi dari tahun 1945 sampai 1950.

Selama berada di Padang penulis telah menyimpan benda-benda koleksi kenagan atau memorabilia yang merupakan laupan rasa cinta terhapa tanah kelahiran dan mampu membangkitkan ingatan kepada ranah Minang yang Indah, damai dan penuh keakraban tersebut.

Informasi dari Buku juga membahas informasi dzari koleksi pilihan dan ditampilkan sedemikian rupa agar dapat memuaskan kerinduan urang Atau Orang Miang Di Rantau dimanapun dia berada terhadap kampong halaman tercinta yang jauh dimata, seperti lagu yang selalu dinyanyikan para perantau sebagai berikut:

Rumah Gadang Nan Sambilan Ruang, Pusako Bundo Sajak dulu dulunyo. Bilo den kanang hati den ta ibo .Tabayang bayang di ruang mato.

 

 

Dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Rumah Besar yang sembilan ruang,Pusaka Ibu sejak dulunya.Bila saya kenang hati saya sedih.terbayang-bayang (kampung) di pelupuk mata.

Sebagai pembukaan dari tulisan yang saya susun sebagai tanda cinta kepada tanah kelahi ran saya ,isteri dan seluruh keluarga, dengan harapan dapat dijadikan nostalgia bagi yang tua dan menambah wawasan bagi generasi yang akan datang sehingga akar asal usulnya dapat diketahui.Tulisan dengan ilustrasi koleksi gambar,postal history dan lainnya ini.

Pada kunjungan terakhir 5 Maret 2012 ke Sumatra Barat saya memperoleh tambahan informasi tentang mayor Tionghoa Li Say(Li Ma say) dan menemukan koin perak era The Holy Roman Empire dari German tahun 1541 dan beberapa temuan baru.

Karya tulisa ini masih banyak kekurangannya sehingga koreksi dan tambahan informasi serta saran dari seluruh teman-teman sangat saya harapkan.Terima kasih kep[ada berbagai pihak yang telah membantu saya untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Jakarta April 2012

Dr iwan suwandy,MHA

 

 lareh soegei poear

Karya tulis ini saya persembahkan kepada Isteri tercinta

Lily Widjaja,

Putra and Mantu

Albert Suwandy –Alice,

 Anton jimmi suwandy-Grace  look below

 

serta para cucu cesa,celin dan Antoni

 

Preface

I was borned in Padang city February,9th.1948 at the old wooden house which belonging to the sister of My grandfather IpoTjoa Bun Tak and Ntiokong Lie Seng Tok (  Sinyo),this house located behind the Chinese camp Market called Tanah Kongsi(Joint Land).

I had found the pictures of this house  were taken by my father in 1948,three pictures black and white,my profile and with mother Anna Tjoa Giok Land with my brother Gho Bian Hoat(Dr Edhie Johan),Sister Elina(Gho soe Kim) and younger sister Gho soei Lian (Dr Erlita Lianny Djohan),

 

 

 

 

 

 

 

We lived there until 1950 and move to latest House at Gereja Street near Ambacang Market and now became Bundo Kandung Street,the old Dutch house which built into wooden house,and then we built three stair house,until sold to my nice Gho Bian An(Ir Andri Virgo) ,he built Fried Chieckinen and Ambacang Plaza ,later became Ambacang Hotel which broken during earfrthquake 2008,now re built again with new name Elena hotel in 2012.

 

 

 

Brug over de Padang rivier tussen Padang en Emmahaven, krib in aanleg

 

The famous old Padang City are Padang Beach, Muara Sungai Arau , Chinese Camp(Kampung Tionghoa),Pondok,Hilligoo –Pasar ambacang,complex Rooe catholic one church Theresia, two chapel Agnes ,basic School(Sekolah Rakyat-Dasar )Zuster  Hollanse Indisce School then Theresia and Agnes, Frater fransiscus and andreas,Middle School MULO Frater ,later SMP Zuster Maria, Frater,and Hig School (SMA) Don Bosco

My teacher in memoriam Frater Servaas (A.J.M de beer) sugest to me to collect all kind of information because in 1959 the communication system via internet will growth after the Satelite have send to the outer space.

All the informations now I put in my web blog in 2009

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

And after thatin 2011  I am starting made the special informations in CD_ROM,pravited limited editions special for my web blog premium member.

This Padang west Sumatra is one of the CD_ROM pravite edition.

I hope all my family and another friend from Padang west Sumatra will help me to add the informations about their family and relative informations which made this CD_ROM more complete for the next generations.

This CD-ROM became two part,the part one contain the general informations, and part two special for Chinese oversees or Tionghoa informations only.

Jakarta April 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

PART FOUR

PRRI

 

Kisah Tentara Banteng Raiders  Menyerang Kantor Dewan Banteng Masa Pergolakan PRRI

Penulis menyaksikan Tentara Banteng Raiders  sebagai bagian  dari Angkatan Perang Republik Indonesia mengambil alih  kantor Dewan Banteng dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PRRI) dibawah pimpinan almarhum Letkol TNI Ahmad Yani (terakhir Pangad berpangkat Jendral yang meninggal sebagai korban G30 S PKI)) dari rumah penulis yang lokasinya persis didepan kantor tersebut. Suatu pengalaman yang tidak pernah dapat dilupakan seumur hidup.

Kisah ini ditulis saat kunjungan terakhir  Bulan Agustus 2010 saat upacara penguburan almarhum Ibu tercinta di Padang Panjang, setelah acara tersebut  nostalgia melihat bekas rumah  yang sudah dijual saat pindah ke jakarta  dan oleh pemiliknya  didirikan Hotel Ambacang, yang hancur saat gempa besar tahun 2009 , sedih rasanya melihat rumah dimana kami sekeluarga tinggal dan dibesarkan sejak tahun 1950 hanya tinggal puing-puing di televisi  dan saat itu berupa tanah yang sedang diratakan*ill 001

*ill 001

 

sedangkan kantor Dewan Banteng PRRI yang sesudah dibebaskan APRI dijadikan kantor POM TNI KODAM Tujuh Belas  Agustus (saat ini KOREM SUMBAR) masih berdiri megah*ill 002

*ill 002 koleski pribadi

kisah ini adalah cuplikan sebagian  dari buku elektronik kreasi penulis yang belum dipublikasikan .Beberapa kisah menarik sebagai berikut:

1. Kisah Ultimatum 10 Februari  dan Porklamasi PRRI 15 Februari 1958

2. Kisah Kapal Perang APRI Membombardir Kota Padang 14 Juli 1958

Kapal Perang APRI dalam Operasi Militer 17 Agustus ,membombardir kota Padang dengan Montir dari Kapal Perang APRI sudah hampir sepuluh hari show of force di lautan Hindia didepan Pantai Kota padang, penulis melihat ratusan kapal besar kecil tersebut.

Pada tanggal 15 Juli 1958 , sekitar  jam dua  dini hari anggota militer kantor Dewan Banteng di depan rumah penulis di jalan Bundo Kandung no 16 (saat itu Jalan Gereja) mengedor pintu membangunkan almarhum ayah untuk mengajak mengungsi ke Ladang padi dan Sukaramai Solok yang dijadikan Markas baru, tetapi ayah tidak mau ikut , mereka mengatakan tentara Pusat maksudnya APRI akan meneyrang dan menembak kota padang dengan Mortir. Pagi harinya ayah berangkat ke Sukaramai dengan Paman untuk menjemput Uang untuk membayar alat-alat tulis milik Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya yang diambil oleh Tentara Dewan Banteng.

Saat ayah berangkat mrenuju Sukaramai, jam delapan pagi tanggal 16 Juli 1958, terdengar tembakan Mortir yang bunyinya BOOM BOOM ….Sing..Sing…. ,bila bunyi mendesing berarti peluiru mortir sudah liwat dan selamat. Kemudian siang hari suasana tenag, mulailah kami ,saya dan kakak naik spepeda melihat rumah yang jadi korban, kantor Tentara bagian Zeni di pinggir pantai Padang hancur, Rumah di Simpang Enam hancur ,ini temabkan salah arah sebenarnya untuk Kantor Komdak (saat ini POLDA) PRRI di jalan Nipah ,satu lagi peluru mortir jatuh di belakang bioskop Karya tapi tidak meledak ,salah arah sebenarnya ditujukan kek Kantor Dewan banteng didepan rumah ,syukur rumah kami selamat.

Sore harinya syukur ayah selamat pulang kerumah dan berhasil memperoleh pembayaran atas alat tulis miliknya, saya salut pada tentara Dewan Banteng atas kejujuran mereka karena biasa saat genting seperti itu umumnya maen ambil semaunya dengan gratis.

Ayah membawa makanan lezat dari Sukaramai namanya Dendeng Batokok(diketok), masih say ingat saat makan malam dengan teman kakak ,tembakan mortir kembali mualai lagi, pembantu rumah tangga Kami namanya EKA ,saat bunyi BOOM BOOM segera sembunyikan kepalanya dibawah tungku Masak dari beton tetapi rokenya (bahsa slank minag buat bokong) masih kelihatan. Segera para wanita Ibu ,kakak dan adik sembunyi diruang perlindungan yang sudah diperdsiapkan satu minggu yang lalu dibuat dalam tumpukan karung berisi pasir mengeliling temapt tidur, tetapi karena seranggan bom mortir tambah genjar,serta lubang perlindingan sangat pengap, Para wanita dari keluarga kami malam tersebut saya dan akak lelaki mengantarkan mereka berlindung dirumah Paman di kompleks  kampung Pondok Namanya (sekarang jalan Niaga), hal ini dipurtuskan ayah berdasarkan pengalaman saat serangan pendudukan jepang tahnun 1942 yang lalu, Warga  di kampung Pondok juga telah mempersiapkan diri dengan perlindungan Polisi Rakyat (saat ini Satpam).

3. Kisah Penyerangan Kantor Dewan Banteng PRRI dikota Padang oleh Tentara Banteng Raiders.17 April 1958

Sejak pagi hari beberapa pesawat terbang melayang-layang diudara, penduduk kota Padang sangat gembira, karena ada pengumuman diradio bahwa ada bantuan pesawat terbang dari Armada ke tujuh Amerika Serikat yang sudah mangkal di Perbatasa dekat kepulauan RIAU, untuk menyelamatkan ladang minyak Caltex di Rumai Pakan Baru milik mereka, tetapi kemudian ternyata itu pesawat APRI dari operasi Militer untuk melindungi pendaratan Tentara Payung di Lapangan terbang Tabing dan pendaratan Marinir dan Banteng raiders  dengan kapal Amfibi di wilayah dekat lapangan terbang di muara sunggai Batng Kuranji di Air Tawar dekat kompleks UNAND (saat ini UNAS) dan Universitas Bung Hatta.(info dari koleksi buku lama milik penulis). Tentara PRRI lari liwat selokan dan berusaha menembak Kapal Terbang dengna senjata modern hadiah dari luar Negeri seperti Thompson, juga ada Basoka dan juggle riffle serta Mitraliur dsbnya yang penulis tidak kenal namanya ,yang didaratkan liwat kapal selam dua minggu yang lalu dalam kontainer yang tiba di panati Padang,banyak rakyat yang menyaksikan termasuk penulis karena tempat itu dekat kediaman.

Malam hari lampu mati, saya,ayah dan kakak lelaki Edhie serta pembantu Lelaki si Panjang  (sudah menjadi pembantu sejak saat Ayah masih kecil). Suasana sangat sepi tidak ada bunyi apapun, tidak ada satupunmanusia dan kendaraan dijalan depan rumah, gelap mencekam . Kami berempat melihat dari ruangan tamu depan rumah dengan  jendela  kaca ke arah Kantor Dewan Banteng,pembantu si Panjang ketakuatn dan  menepok nyamuk yang  mengigitnya sampai dilarang ayah untuk buat suara dengan berkata bahwa bila ribut akan ditangkap dan dibunuh Tentara Pusat (maksudnya APRI) .

Sekitar jam 11.00 malam, tiba-tiba terdengan bunyi ledakan beberapa buah granat diiringi suara derap sepatu bot tentara, saya melihat tentara dengan wajah yang sudah digelapkan dan memakai penyamaran berlari berliku-liku menuju kantor Dewan Banteng, setalh setenga jam suar ribut tembakan ,kemudian suasana jadi sunyi lagi. Kamipun pergi tidur,pagi-pagi jam enam pagi waktu melihat keluar halaman rumah, sungguh kaget ada lebih kurang limaratus tentara Banteng Raiders tidur bergelimpangan diahalman rumah yang luasnay 3500 meter persegi, tidur pulas dengan senjata dan ranselnya dan yang lainnya madi dengan tela njang terjun kedlam sumur air tanah milik kami sampai airnya hasib terkuras, tetangga kami yang tinggal dipaviliun rumah ,kemudian bercerita bahwa putrinya tertawa cekikikan karena mengintip tentara banteng Raiders mandi telanjang masuk sumur sampai dilarah ayahnya.

Saya salut komandan Banteng raiders dan anak buahnya tidak membangunkan kami, dan dengan ramah meyalami kami semua, mereka berkata kami sudah sepuluh hari tidak mandi,mohon maaf air sumurnya kotor dan hasibis karena anak buahnya sangat gerah,rupanya tentara PRRI tidak memberikan perlawan,mereka sudah lari kemarkasnya yang baru di Sukaramai Solok dan Muarapanas.

Pagi harinya tentara Banteng Raiders dari APRI saya lihat patroli menyisir kota Padang dalam bentuk regu berjalan berbaris satu persatu dengan senjata Karaben dengan sangkur terhunus ,kasihan senjatanya masih kuno sisa perang dunia kedua jauh dibandingkan dengan milit tentara PRRI. Sinag hari rakyat sudah mulai ramai dijalan  dan kemudian diperintahkan agar selama satu bulan smapai 17 Agustus 1958 bendera harus dinaikkan siang hari dan diturunkan malam hari. Sungguh saya terharu melihat perjuang Tentara APRI dalam rangka melindungi Sang Saka Merah Puti,kendatipun PRRI tetap mengunakan bendera yang sama .

Penulis melihat tukang rokok didepan rumah,dekat bekas  kantor Dewan banteng yang sudah dijadikan Markas POM TNI, dimarahi dan dihukum push up dan menghormat bendera Merah Putih karena bender dan tiangnya jatuh dihembus angin,juga malamnya ayah penulis dibawa Ke KODIM Padang untuk menerima teguran dan menanda tangani pernyataa agar tidak lupa menurunkan bendera Merah Putih mmalam hari yang ditaruk di tingkat dua dekat jendela Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya.

Kisah lengkap akan diadd ke web blog penulis, setelah dikoreksi oleh pembaca web tersebut akan diedit dan diterbitkan dalam bentuk buku elektronik edisi terbatas pribadi.Kisah tentang pergolakan PRRI sudah banyak ditulis anatra lain dalam koleksi penulis Buku PRRI dan PERMESTA, Buku Operasi Militer tujuh Belas Agustus Menumpas PRRI, ” Buku Ahmad Yani Sebuah Kenang-kenangan “tulisan Ibu Ahmad Yani  dengan sekelumit kisah”*ill 003 profile Ahmad Yani.

*ill 003

Almarmuh Ahmad Yani menempa dan memantapkan Korps Banteng Raiders yang kemudian tahun 1958 dipimpinnya dalam operasi militer untuk memulihkan keamanan Sumatera Barat yang menjadi terganggu karena adanya PRRI. Pak Yani berangkat operasi tanggal 14 April 1958 dengan motto  “Bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama : berkubur didasar lautan dan kedua ialah mendarat dikota Padang”.” (hal 170-197), Buku Autobiografi Kolonel Simbolon, Kisah PRRI dlam Majallah Angkatan darat 1958, serta beberapa koleksi arsip-arsip PRRI yang penulis temui saat bertugas di Sumatera Barat 1974-1989, termasuk koleksi pribadi foto rumah penulis dan Kantor Dewan banteng tahun 1958 serta koleski uang PRRI, banyak jenisnya ada dengan stempel walinegeri, beberapa jenis  Tanda tangan dan  salah satunya denagn stempel PRRI tanpa tanda tangan terbitan tahun 1959 saat pemerintah RI menarik seluruh uang dan didevalausi uang lima ratus dan seribu rupiah jadi  lima puluh dan seratus rupiah baru,tetapi pecahan seratus kebawah tidak didevalausikan , terpaksa PRRI yang memiliki banyak uang pecahan besar tersbut membuhuhkan stempel dan tanda tangan , lihat illustrasi dibawah ini*ill 004

 

Bila pembaca ingin membaca kisah yang lengkap tentang Pergolakan PRRI dan Operasi Militer  Tentara Banteng Raiders dibawah Pimpinan Alamarhum Jendral Ahmad Yani, silahkan klik web blog penulis dan ajukan permintaan buku elektronik terbatas tersebut sebagai pesanan sebab jumlahnya terbatas hanya seratus buku, bila PT Gramedia berkenan membeli Hak Cipta buku ini. akan diterima dengan senang hati.

Terima kasih atas kesedian pembaca membaca kisah singkat ini yang masih belum rapi dan masih banyak kekurangannya sehingga saran, tambahan info  dan koreksi dari Pembaca sangat penulis dambakan, agar dapat diedit jadi lebih sempurna mungkin maklum saya bukan penulis profesional

 

The Postal And Document History Of PRRI(Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia)

Driwancybermuseum’s Blog

WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

AT DR IWAN CYBERMUSEUM

DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

CD-ROM OF THE COMPLETE INFO AND ILLUSTRATION OF

DrIwan suwandy Historic Collections. Subscribe via comment at :

hhtp://www.Driwancybermuseum

hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

hhtp://www.uniqecollection.woedpress.com

_____________________________________________________________

*ill 001

*ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

PENDIRI DAN PENEMU IDE

THE FOUNDER

Dr IWAN SUWANDY, MHA

 

BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

 

WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM

SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA”

SHOWCASE :

 

KOLEKSI HISTORIS PRRI

“Revolutionary Government of the Republic of Indonesia Historic collections

PS.The E-Book of This PRRI Historic collections were exist completely in CR-Rom special for Premium member,Please subscribed via comment. this the only complete collections  which ever report By Dr Iwan Suwandy who as the eyewitness  of  the Movement, because  his house at the front of Dewan Banteng  Headquaters in Bundo Kandung street(this building before as the No Parent ‘s Children house with the Mother and Child relief,in Minang the real mother was called “Bundo Kandung” that is why the streat change from the church street to Bundo Kandung street , now became The West Sumatra Military Police Headquatersthe relief  not seen because the Gajahmada emblem of POM put there  (Detasmen POM ) and the Dr Iwan ‘s house had sold and  built Ambacang hotel which broken down during Earthquick 2000, look the recent picture of this historic site below.

 

PRRI Collections

KOLEKSI HISTORIS PRRI

“Revolutionary Government of the Republic of Indonesia Historic collections” Exhibition

PS.The E-Book of This PRRI Historic collections were exist completely in CR-Rom special for Premium member,Please subscribed via comment. this the only complete collections  which ever report By Dr Iwan Suwandy who as the eyewitness  of  the Movement, because  his house at the front of Dewan Banteng  Headquaters in Bundo Kandung street(this building before as the No Parent ‘s Children house with the Mother and Child relief,in Minang the real mother was called “Bundo Kandung” that is why the streat change from the church street to Bundo Kandung street , now became The West Sumatra Military Police Headquatersthe relief  not seen because the Gajahmada emblem of POM put there  (Detasmen POM ) and the Dr Iwan ‘s house had sold and  built Ambacang hotel which broken down during Earthquick 2000, look the recent picture of this historic site below.

 

 

 

FRAME ONE :

Dewan Banteng Movement(GERAKAN Dewan Banteng)

1)Google Explorations

A.From google exploration, DR Iwan only found not complete informations about the situation and the collections related with the West sumatra PRRI revolt against the centeral Government lead by President Sukarno.

B.In order to complete the story of PRRI, Dr iwan have collected many informations and collections which never report before.

C. Sebagai SAKSI PERISTIWA PRRI (AS THE EYEWINESS OF PRRI  ), Dr IWAN  STARTING COLLECTED ALL KIND OF PRRI INFORMATIONS STARTING FROM YOUNG BOY 12 YEARS OLD IN 1957 UNTIL NOW STILL HUNTING THE INFORMATIONS.

D,Dr Iwan still remember the words of the in memoriam Prof. Dr. Ilyas, professor of Pulmonology science at Bukittingi , who said: “TB disease is suffered by many western Sumatran population is evidence of the crushing misery caused turmoil in the Sumatran west PRR espexcially  in bukittingi area, and when worked for six years 1974-1979 in Solok, Dr. Iwan find many people with chronic lung infections, it is true that there are people PRRI base suffered greatly, there are telling how the situation facing them as troops quell PRRI APRI centers in their region, Dr Iwan have tried to help them with treatment with a special payment package just as much as ten times the injection of new drugs Rifampicin, and THEN given free drugs INH and ethambutol for one year until the disease process quiet, really a lot to give assistance to them, when their families from Solok area , Muarapanas, Selayo and Gutters may still be familiar with Dr. Iwan, Dr. Iwan send greetings to them, this article is specifically written as a keepsake for them and also to a large family of the late Prof. Dt Dr.Ilyas Batoeah in Bukittinggi. Read some of the information obtained of exploration Google below, and then read the info more complete with illustrations collection of Dr. Iwan suwandy, sorry not all info and illustrations displayed as a limitation, if still curious please be aggota premium and you do obtain a more complete info, Please subscribing as premium members via comments

Dr Iwan masih ingat dengan kata-kata Almarhum Prof Dr Ilyas,gurubesar ilmu Pulmonology di Bukittingi, yang mengatakan :”Penyakit TBC yang banyak diderita oleh penduduk sumatera barat merupakan bukti adanya kesengsaraan akibat penumpasan Pergolakan PRR di sumatera barat khsususnya di daerah bukittingi, dan saat bekerja selama enam tahun 1974-1979 di Solok, Dr iwan menemukan banyak penderita infeksi paru kronis ,memang benar rakyat disana yang merupakan basis PRRI sangat menderita, ada yang bercerita bagaimana situasi yang dihadapi mereka saat tentara APRI pusat menumpas PRRI di wilayah mereka,Dr iwan telah berusaha membantu mereka dengan paket pengobatan dengan pembayaran khusus hanya sebanyak sepuluh kali suntikan obat baru Rifampicin,dan SETELAH ITU  diberikan obat gratis INH dan ethambutol selama satu tahun sampai proses penyakit tenang , sungguh banyak memberikan bantuan bagi mereka,bila ada keluarga mereka dari wilayah Solok,Muarapanas,Selayo dan Talang mungkin masih kenal dengan Dr Iwan, Dr iwan mengirim salam kepada mereka ,tulisan ini khusus  ditulis sebagai kenang-kenangan bagi mereka dan juga untuk keluarga besar almarhum Prof  Dr.Ilyas Dt Batoeah di Bukittinggi. Bacalah beberapa informasi yang diperoleh dari eksplorasi Google dibawah ini, dan selanjutnya baca info yang lebih lengkap dengan illustrasi koleksi Dr Iwan suwandy,maaf tidak  seluruh info dan illustrasi  ditampilkan karena keterbatsan tempat , bila masih penasaran silahkan jadi aggota premium dan anda kan memeperoleh info yang lebih lengkap,Please subscribing as premium member via comment.

(1)The Rebellion of The Colonels

 

The movement was started when a clash of few military factions inside the newly formed Indonesian Army backgrounded by the political rivalry began to demand of a new law on local autonomy all over the country. After their demands were not met they began to rebel against the government. The rebellions included:

  • 1)Dewan Banteng in Central Sumatra which on 20 December 1956 under the leadership of Lieutenant Colonel Ahmad Hussein (commander of the 4th regiment of the Territorial Army in Sumatra) began to take over the local government of Central Sumatra.
  • 2)Dewan Gajah in East Sumatra under Colonel Mauluddin Simbolon (Supreme Commander of the Territorial Army in Sumatra) which on 22 December on the same year began to take over the government of East Sumatra and cut all relation with the government.

 

(Dr Iwan s had ever seen him ,during swimming on Kruanji river with his gurad in 1958 before PRR Proclamtion, the handsome man with atletis body)

  • 3)Dewan Garuda in South Sumatra which on 15 January 1957 under Lieutenant Colonel Barlian takeover the local government of South Sumatra.

(2)The Relationship Between Hatta and PRRI

 

*ill Bung Hatta Picture during vist Padang City after PRRI era in 1967,with the west governur Haroen Zein and padang city mayor.

On December 1, 1956, Mohammad Hatta had resigned as vice president in protest against Sukarno’s growing authoritarianism. Hatta’s exit from the political scene did not improve the relations among the central government, Sumatra, and the eastern archipelago, where Hatta was very popular. On February 10, 1958, when Sukarno was out of the country, a group of Sumatran military officers, Masyumi politicians, and others sent an ultimatum to Jakarta demanding Sukarno’s return to a figurehead role as president and the formation of a new government under Hatta and Yogyakarta sultan Hamengkubuwona IX. Five days later, the group proclaimed the Revolutionary Government of the Indonesian Republic (PRRI). On February 17, Permesta rebels in Sulawesi made common cause with them. Although the rebellion was not completely suppressed until 1961, decisive action by the military had neutralized it by mid1958 . There were several important consequences: the forced retirement of many officers from Sumatra and the eastern archipelago, making the officer corps proportionately more Javanese (and presumably more loyal to Sukarno); the firm implantation of central authority in the Outer Islands; and the emergence of Nasution, promoted to lieutenant general, as the most powerful military leader. But the army’s victory in suppressing regional rebellion caused Sukarno dismay. To offset the military’s power, Sukarno’s ties with the PKI grew closer.

The PRRI revolt also soured Sukarno’s relations with the United States. He accused Washington of supplying the rebels with arms and angrily rejected a United States proposal that marines be landed in the Sumatra oil-producing region to protect American lives and property. The United States was providing clandestine aid to the rebels and Allen Pope, an American B-25 pilot, was shot down over Ambon on May 18, 1958, creating an international incident. Deteriorating relations prompted Sukarno to develop closer relations with the Soviet Union and, especially, the People’s Republic of China.

(3)Deskripsi PRRI

*PRRI and PARMESTA Map

The atmosphere of liberal democracy in the 1950’s has led to chaos and violent upheavals. Elections held in 1955 failed to eliminate inequities in the political, economic and social. Regions outside Java was dianaktirikan by the Central Government, so that in some areas appears movements demanding greater autonomy. In the field of economy and trade of exports partly derived from regions outside Java, the division of the use of Java is considered unfair. In addition to these disappointments, there’s a problem serious enough to encourage Lieutenant Colonel Ahmad Husein in West Sumatra was determined to oppose the Central Government, namely the assessment that the Bung Karno considered to start influenced the Indonesian Communist Party.

In late December 1956 and the beginning of the 1957 upheaval against the Central government, in Central Sumatra, North Sumatra, South Sumatra and Sulawesi. This upheaval began with the formation of “Bull Council” in West Sumatra on December 20, 1956 led by Lieutenant Colonel Ahmad Hussein. The first action carried out by taking over the leadership of Governor of West Sumatra government Ruslan Muljohardjo. Two days later, on December 22, 1956 in Medan (North Sumatra)

North) is formed “Elephant House”, led by Colonel Maludin Simbolon, which states
that North Sumatra to temporarily escape from the relationship with government
Center. January 1957 “Garuda Council” took over the administration of Governor
Winarno. On March 2, 1957 in Manado announced “Charter Perjoangan Semester
(PERMESTA) “by Lieutenant Colonel Sumual, opposed the government Pusat.1
In 1958 founded an organization called the Movement of Struggle to Save the Republic of Indonesia, headed by Lieutenant Colonel Achamad Hussein. Hussein was eventually founded the movement PRRI (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia) who is domiciled in New York City with Syafruddin Prawiranegara as acting president.

Writing 1Panitia Republic of Indonesia History of Diplomacy, History of Diplomacy of the Republic of Indonesia From Period
To Period: Period 1950-1960, (Jakarta: Ministry of Foreign Affairs, 2005), p.. 372.

Permesta (Struggle of the Universe) on the next day to support and join the PRRI so that joint movement is called PRRI / Permesta. Permesta based in Manado character is Lieutenant Colonel Vantje Sumual, Major Gerungan, Runturambi Major, Lieutenant-Colonel DJ Samba, and Lieutenant Colonel Saleh Lahade.

* Ill PRRI leaders in West Sumatra
Sejumlah tokoh PRRI yang berunding di Sumatra Barat: Kol. Dahlan Djambek, Letkol Ahmad Husein, Mr. Burhanuddin Harahap, Kolonel Maludin Simbolon, Syafei, dll.

Tokoh-tokoh PRRI yang mengadakan pertemuan di Sungai Dareh pada bulan Januari 1958:
Kolonel Dahlan Djambek, Kolonel Maludin Simbolon, Letkol Ventje Sumual, Letkol Barlian, Letkol Ahmad Husein.( I ever visit the House where the meeting exist at Sungai Dareh during my Job in Solok and Sawahlunto Sijunjung in 1974,I went there to give the mass health serviced  , my rank first Letnant Police that time ,I went there by My official car,Jeep Willys 1957,more info you can read the adventure od dr Iwan To Sungai daerah with Jeep willys in hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com and hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com))

Pelantikan Kabinet PRRI tanggal 15 Februari 1958:
Kolonel Dahlan Djambek, Mr. Burhanuddin Harahap, Letkol. Ahmad Husein, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Kolonel Maludin Simbolon.

Fifty years ago, precisely December 20, 1957, in a small town on the west coast of Sumatra coast named Salido (there is a gold mine when the hAindia Abelanda disna, near the southern city of West Sumatra Painan Coastal District-Dr Iwan s), held a reunion meeting paramilitary fighters belonging to the Regiment, Fourth Division Reunion Tengah.2 Bull Sumatra produces and establish an organizational entity named “Bull Council” with military figures such as Colonel Ahmad Husein, Colonel Dahlan Jambek, Col. M. Simbolon and others as his superiors and driving.

 

However, on February 15, 1958, on the initiative “Bull Council”, an organization born from the reunion of the military led by Lieutenant Colonel Ahmad Husein, Colonel and Colonel Dahlan Jambek Maludin Simbolon, “proclaimed” a new government called the “Revolutionary Government of the Republic of Indonesia” are abbreviated as PRRI, with the city of Padang as the “capital of the state” and Mr. Syafrudin Prawiranegara as “President PRRI”. PRRI this proclamation, be the starting point of resistance openly against the leadership of President Sukarno and the integrity of the Unitary Republic of Indonesia. Minang realm ruled by rogue elements, both military and civilian, who are not satisfied with the leadership of Sukarno, and bring the Minangkabau people to rebel escape the bonds of unity Homeland.

Meanwhile, in the same time, in the eastern part of the homeland, also incurred a similar uprising, resistance to the Republic of Indonesia under the leadership of Lt. Col. Ventje Sumual, by forming a rival government called PERMESTA (Government of the People of the Universe).

The reasons put forward by the leaders of these movements together, is none other than the Central government considered to be less concerned with the demands of local circumstances add to the cabinet by Mohammad Hatta and the Sultan Hamengkubuwono. Facing the challenges of these areas, the government initiated the National Conference Centre in Jakarta which took place on 9 to 11

December 2, 1957.
For further deliberation, in December 1957 in Jakarta held the National Conference of Development. These assemblies do not managed to get a way of resolving the problem areas that rebelled against the Central government. This failure is partly due to national figures such as Mohammad Hatta and the Sultan Hamengkubuwono, not included in the government leadership. Besides the areas turbulent throws accusations that politics led Central government to komunisme.3
The characters and frontman PERMESTA PRRI and receive assistance and strong support from the U.S. imperialists who do not like the leadership of Sukarno. U.S. to give support and assistance whatever to PRRI / PERMESTA. Armament-modern weaponry from the United States, such as the LMG 12.7 MM, counterforce air strikes, Bazooka, Grenade semi-automatic, infantry weapons, and others derived from the U.S. aircraft carrier in the forests of Sumatra to complement military weaponry to fight PRRI Government Homeland.

To quell the rebellion PRRI / Permesta conducted a joint operation consisting of the elements land, sea, air, and the police. A series of operations performed are as follows:

1. Decisive operations targeting Kaharudin Riau led by Lieutenant Colonel Nasution. Agencies secure the objectives and managed to control the city. Pekanbaru on March 12, 1958.

2. Operation August 17 with a target of West Sumatra led by Colonel Ahmad Yani overran the city of Padang on 17 April 1958 and mastered Bukittinggi May 21, 1958.

3. Saptamarga operations targeting North Sumatra led by Brigadier General
Jatikusumo.
4. Conscious operation targeting the South Sumatra led by Lieutenant Colonel Dr. Ibn
Sutowo.
Meanwhile, to quell the rebellion launched a joint operation Permesta
3Operasi Merdeka under Lieutenant Colonel Rukminto Hendraningrat, which consists
from:
I Saptamarga operation targeting a part of North Sulawesi, Central, led by
Lieutenant Colonel Sumarsono.

Saptamarga II operation targeting the southern part of North Sulawesi, led by
Lt. Col. Agus Prasmono.

Saptamarga III operations with the goal of the North Island Manado, led
by Lieutenant Colonel Magenda.

IV Saptamarga operations targeting North Sulawesi, led by Lieutenant Colonel
Rukminto Hendraningrat

Council Bull rebellion led by Ahmad Husein can eventually be broken by the Armed Forces of the Republic of Indonesia which conducted “Operation August 17″ under the command of Colonel Ahmad Yani in the not too long, ie less than one week. PRRI in West Sumatra, all by itself lead to chaos, both to local governments, as well as on life in the community, after Ahmad Hussein took over the functions of Governor Roeslan Muljodihardjo, who was appointed by the central government in Jakarta. Work-led cabinet
Ir. Djuanda decided that sending a mission called “Mission of the Government to
Normalization of Government and Community of West Sumatra “. The mission of the Government led by Vice Prime Minister I Hardi, SH whose members consist of several ministers, senior officials from ministries and several officers of the Indonesian National Army-the Army, arrived in Padang, one day setelh military operations are considered successful.

Thanks to a quick military operation, intentions abroad, particularly the United States to intervene in the affairs of Indonesia openly, can be avoided. In the climate of the Cold War that are sweeping the ancient world, the Soviet Union, People’s Republic of China, and other Communist Bloc countries will act, if the United States went too far, and Indonesia may become the arena of political infighting interansional world with all its consequences for the unity of Indonesia. On July 5, 1959 President Sukarno

issued a decree “Back to the Act of 1945″ and dated July 10, 1959
I work formed the Cabinet chaired by the President as Prime Minister by

 

 

Suasana demokrasi liberal di tahun 1950-an telah menimbulkan kekacauan dan pergolakan-pergolakan dengan kekerasan. Pemilihan umum yang dilaksanakan tahun 1955 tidak berhasil menghilangkan ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan sosial. Daerah-daerah di luar Jawa merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Pusat, sehingga di beberapa daerah muncul gerakan-gerakan menuntut otonomi luas. Di bidang ekonomi dan perdagangan hasil ekspor yang sebagian berasal dari daerah-daerah luar Jawa, pembagian penggunaan di Pulau Jawa dianggap tidak adil. Di samping kekecewaan-kekecewaan tersebut, ada suatu masalah yang cukup serius yang mendorong Letnan Kolonel Ahmad Husein di Sumatera Barat bertekad menentang pemerintah Pusat, yaitu adanya penilaian bahwa Bung Karno dianggap mulai dipengaruhi Partai Komunis Indonesia.

Pada akhir bulan Desember 1956 dan permulaan tahun 1957 terjadi pergolakan menentang pemerintah Pusat, di Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sulawesi. Pergolakan ini dimulai dengan pembentukan “Dewan Banteng” di Sumatera Barat tanggal 20 Desember 1956 dipimpin Letnan Kolonel Achmad Hussein. Tindakan pertama dilakukan dengan mengambil alih pimpinan pemerintah Sumatera Barat dari Gubernur Ruslan Muljohardjo. Dua hari kemudian, tanggal 22 Desember 1956 di Medan (Sumatera Utara)

Utara) terbentuk “Dewan Gajah”, dipimpin Kolonel Maludin Simbolon, yang menyatakan

bahwa Sumatera Utara melepaskan diri untuk sementara dari hubungan dengan pemerintah

Pusat. Bulan Januari 1957 “Dewan Garuda” mengambil alih pemerintahan dari Gubernur

Winarno. Pada tanggal 2 Maret 1957 di Manado diumumkan “Piagam Perjoangan Semester

(PERMESTA)” oleh Letnan Kolonel Sumual, menentang pemerintah Pusat.1

Tahun 1958 didirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang diketuai oleh Letnan Kolonel Achamad Husein. Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pejabat presiden.

1Panitia Penulisan Sejarah Diplomasi Republik Indonesia, Sejarah Diplomasi Republik Indonesia Dari Masa

Ke Masa: Periode 1950-1960, (Jakarta: Departemen Luar Negeri RI, 2005), hal. 372.

 

 

 

 

Pada tanggal 15 Januari 1958

Tokoh PSI Prof  Soemitro Djojohadikusumo meninggalkan Sumatera barat menuju singapura dan kemudian ke  eropa Barat untuk mengalang dana dan bantuan lainnya termasuk mendapatkan senjata(Audrey Kahin,Dari Pemebrontakan ke Integrasi,yayasan Obor,Jakarta,2008 hal 322)

Sukarno Penyebab pemberontakan PRRI dan PERMESTA ?

 

Awal kediktatoran rezim Sukarno ini dimulai pada bulan February tahun 1957,

 

Sukarno menelurkan konsepsi “DEMOKRASI TERPIMPIN”,yang pada hakekatnya adalah selubung untuk MEMBERANGUS DEMOKRASI SEJATI.Sukarno juga membentuk sebuah lembaga negara yang baru yang TIDAK ADA DALAM UUD,yang dinamakannya DEWAN NASIONAL.Tugas Dewan Nasional ini adalah untuk memberi nasihat pada kabinet,dan dewan ini diketuai oleh PYM Sukarno sendiri.

 

Jadi dalam hal ini Sukarno adalah pemimpin daripada DEMOKRASI TERPIMPIN!.Gagasan ini dengan tegas ditolak oleh seluruh komponen demokrasi di Indonesia,Masyumi,Partai Katolik,PSI,NU,PSII,IPKI, PARKINDO……..HANYA PKI yang sangat mendukungnya dengan gigih dan kuat.

 

Daerah -daerah bergolak dan menolaknya mentah mentah, didaerah daerah terbentuk perlawanan bersenjata seperti PRRI dan PERMESTA. Jadi Sukarno sendirilah yang menciptakan pergolakan daerah dan ketidak stabilan politik diseluruh Indonesia.

 Sumber Faried fibez,2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 February 17, 1958

At a meeting held at 07.00 in meeting room building at the University Permesta Sario ² Manado with political leaders, public and scholars.

 

MC (moderator) at that time was Captain Wim Najoan. In short, the Commander-SUT KDM provides an overview of developments in Sumatra and the ruling establishment of PRRI.

 

The next Commander-SUT KDM told at the meeting, the decision as follows:
“Permesta in Sulutteng express solidarity and fully supports the PRRI. Therefore, from this moment Permesta also severed ties with the Government of Indonesia Cabinet Djuanda”.

² Without command the audience stood up and greeted him with a shriek

 

: “Life PRRI! Life Permesta! Somba Life!” ² repeated.

 

After the meeting was suspended 30 minutes to compose the text with the termination of the center by 3 people (Mayor Eddy Gagola, Captain Wim Najoan, …), then reopened the meeting and the text was read.

 

After that the audience emotions explode. Shouted “Long live Permesta! Life PRRI! Somba-Sumual Life!” echoed for several minutes. After that Major Dolf Runturambi asked the audience, “How, ² you agree?” Answered in unison: “Agree! Agree”. Return an atmosphere filled with a fiery enthusiasm ², although it appears some people who remain silent.

Then held a public meeting at the Field Sario giant Manado at 11.00. Lieutenant Colonel D.J. Somba as Commander / Governor KDM-SUT Military (Military Regional Command North-Central Sulawesi) on behalf of the people and the army Sulutteng, read the text with the termination of the central government in Jakarta. The content of the text are:

“SULUTTENG INCLUDING THE DECISION ON THE MILITARY solider PRRI
RELATIONS WITH GOVERNMENT AND DECIDE RI “

Giant in the Field Meeting Sario
DJ Overste Somba: End the relationship with Central

Later, a commercial aircraft of the national airline Garuda GIA newly arrived, were allowed to fly again, go to Jakarta and to everyone who wants to leave Manado with aircraft today are relaxed completely.

 

Even so, many also see Major Dolf Runturambi Kastaf as KDM-SUT to ask for such letters GIA right for the last plane, so that they feel safe.

At 20:00 at night,

 

Major Dolf KDMSUT Kastaf Runturambi read the text of the termination of the center in the English language through RRI (Radio Permesta).

 

Then by the central government (and of course PKI), the movement is referred to as “the PRRI / Permesta”.

At that time Colonel Permesta HNVentje Sumual was in Manila.

 

A few days later, Lt. Col. KDMSUT receive Ventje Sumual radiogram that was contrary to other countries, Singapore, Manila continues to Tokyo (Previously known by the officers KDM-SUT that Lt. Col. Sumual still in Sumatra).

 

He went with Major in January M.J. Pantouw (Nun), while Major Arie W. Supit assigned to go to Rome.

The day was also the central government then announced the dismissal with no respect for Lieutenant Colonel HN Ventje Sumual (Army Chief of Staff to the elevated rank of Colonel, but has not been officially sworn in), Major DJ Somba (At that time he has earned automatic promotion Lieutenant (Lt. Col.) as the Governor of the Military / KDM, but there has been no official promotion) and Major Dolf Runturambi.

Several days later, Army Chief of Staff ordered to arrest Lieutenant Colonel DJ Somba, Major Dolf Runturambi, Governor SUT H.D. Manoppo and Jan Torar.

Actually, to sever ties with the central Permesta movement is dead, because only about 16 of the Charter 51 deklarator Permesta who came from North Sulawesi Permesta forward movement.

 

The term “Permesta” itself officially is not used anymore by civilian and military officials in North Sulawesi since been a part (branch) of PRRI in Sumatra, but in reality the northern Sulawesi branch of the PRRI is often called the PRRI / Permesta.

 

In addition, the word is a word Permesta standard language used by the general public to name the movement, and some even do not know at all that the movement has been merged into Permesta PRRI while others say “PRRI” as an insurgency movement other stand-alone besides Permesta movement (or DI / TII Muzakhar Kahar, Daud, etc.).
 
  
 
    
  
 
Admin
Admin

Number of posts: 2244
Registration date: 31.08.08

 Subject: Re: HISTORY PERMESTA Tue February 17, 2009 3:15 pm
   

————————————————– ——————————
 
Since then, all the people especially the young, which was originally deployed carrying construction equipment, arrived ² requested switch roles.

 

Registration underway where ², both to support the youth ranks as well as for military service Permesta.

 

Military training was starting to look where ². The youth, not to mention her ² ² began disappearing from the village.

They come to register, and then sent to a training center ². (The women joined in the Army Women Permesta Permesta (PWP) with a haircut like Kowad / policewoman).

Military education and training in the use of arms centered in the area Mapanget, trained by advisors from the U.S. Marine Corps.

 

Education with training in combat units in the company and battalion conducted Remboken, Tompaso Langowan and in hilly areas. There exercises led by a Philippine Army Major with a few officers APRI (TNI) are educated company.

A number of U.S. military advisors were smuggled into Sumatra and Minahasa.

 

Various kinds of weapons delivered by ship and a number of aircraft (including aircraft carriers Dakota DC-3, Mustang fighter plane F-51, Beachcraft, Catalina and B-26 bombers under the Invander Revolutionary Air Force (AUREV) with about 40 crew aircraft ) also conjunct.

 

They launched the activities of the United States military air base at Clark Airfield, Philippines. There are also police units called PRRI Revolutionary Police (Polrev), and the intelligence agency named Permesta Permesta Yard.

The first shipment consisted of various small arms and ammunition to the infantry immediately removed and divided it ². Some of the top anti-aircraft Submachine soon be installed in strategic places around the area ² ports and airfields that have been defined previously. Together with the weapons shipment also arrived a few foreign instructors, so the exercise ² of new troops can begin.

Permesta was no shortage of weapons. One supplier of military equipment from abroad Permesta Major Daan E. Mogot admitted that Italy had offered to ships of war, but it can never be taken for technical reasons. Likewise, financial assistance and supplies, can easily be obtained from Taiwan, Japan, South Korea and the Philippines.

Stockpiles of weapons and military equipment collected in Okinawa and the Philippines. The people and Permesta PRRI, Philippines, China, the United States and the sedadu rented ‘² of other countries’ has also been trained and prepared in Okinawa and the Philippines to help the PRRI and Permesta.

Approximately one platoon members RPKAD (now Kopassus) derived from the Minahasa on leave back home stuck upheaval.

 

Nicholas Sulu troops then became the backbone of the WK-III in the Tomohon.

 

There was also an army led by former members of RPKAD fam Lahe who recruit youths ² in the village and formed Company Lahe notoriety will slaughter Forces Combat (the company) Lahe in Raanan and Tokin: Peristwa was preceded by Simon Ottay of GAP (Anti Permesta ) – that is one of the organizations formed by the communists (PKI) is disguised by wearing the rank of Captain Permesta (APREV) registered inhabitants of the villages to become “members” Permesta forces.

 

Once she fled as troops hunted PRRI (Permesta), didapatilah list of “member” is.

 

Without examination, just Lahe Company led by Montolalu massacred the inhabitants of the villages.

 

Because the action is considered as crimes against humanity and the law (without a thorough examination), then Lahe and Montolalu troops pursued, among others, from the Captain (?) Tumanduk. Montolalu arrested in Sinisir, and executed in Mokobang, while Lahe arrested in Remboken.

A large number of members of the Youth Command Permesta (KoP2) in North and Central Sulawesi region voluntarily enroll a member Permesta forces.

 

KoP2 or better known as Kopedua is led by Yan Torar.
Before that, KoP2 activity is to help local governments mobilize their human and financial ² to launch regional development ².

Some, especially students, organized in units with names Permesta Peladjar Army Corps (CTP) led by Jimmy Noya, a young man from Ambon (Maluku) and Wilson H. Pitcher. -TP Corps emblem and badge with black base five red diagonal line is the result of inspiration from a war movie “To Hell and Back ‘is just a coincidence because the striped three Permesta only when the outbreak of war movies that are played repeatedly in theaters ² ² Manado.

 

Meaning the color is dark red means the courage to die to defend 5 [five] red line means the Pancasila. Krishna is the creator Sumanti [Kris] ex. Jimmy Manado CTP boys.

Permesta troop morale was burned by the psywar experts and agitation, through the techniques and approaches pembinaaan are telling.

 

Patahlangi, son of the famous Bugis as a talented orator and agitator, every evening I heard him through Radio Permesta Manado, fiery speeches ² Permesta rekindle the spirit among the listeners.

 

A variety of greatness and excellence and strength Permesta highlighted. Conversely any weakness of the opponent’s exposed, and stripped naked ugliness.
Struggle slogan was: “Permesta must win”.

Phenomenon that occurs due to this upheaval situation, among others, the mystic fever outbreaks.

 

Belief in the mystical power of the OPO ² which is believed to be ancestors of Minahasa, again thickened.

 

Immunity against a stab or gunshot is the most in demand in a situation that is ready to fight it. Intelligent people who sprung up in the village called Tonaas ². ² There are amulets in the form of a stone ring, dagger, handkerchiefs, belts or amulets.

 

The most liked and considered a great miracle is the talisman belt, a small stone or root ² ² s that have been wrapped in red cloth, called a segmented ² Nine Books (segment).

 

In addition there are amulets and charms fly busting body which is also a ‘commodity’ in demand at the time, and there is also a talisman given in the form of water you drink or bathe.

² powerful figure who became an idol at that time include the Nok Korompis, Daan Karamoy, Gerson (Goan) Sangkaeng, Len Karamoy, Yan Timbuleng, and many other powerful people who become leaders when it Permesta.

One of the main result of this is a lot of mystical divisive-lucut even disarm, as well as the coup of power among the troops.

 

This is a fatal weakness for the integrity and strength Permesta, for a subordinate who feels they are powerful, it could be against the employer).

February 18, 1958 In its decision,

The central government in Jakarta through RRI radio broadcast center, stating that Lieutenant Colonel DJ Somba and Major Dolf Runturambi discharged from military service in the army APRI (Armed Forces of the Republic of Indonesia).

 

February 19, 1958

Lieutenant Colonel D.J. Somba today to unilaterally implement the division of KDM-SUT which has long been planned that the two regiments.

 

Major Dolf Runturambi assigned as Commander of Sector I / Regiment Battle Team (RTP) “Black Snake”, which includes Sangihe-Talaud, Minahasa, and Bolaang Mongondow; and Mayor in January Wellem (Dee) Gerungan sworn in as commander of Sector II Regiment Battle Team “Anoa “, in Central Sulawesi, with headquarters in Poso.

 

Army Chief of Staff Major General A.H. Nasution said that the Army supports the Guided Democracy.

This period is the first President Soekarno was located in the ideological support of the army leadership.

 

It became one of the special closeness between President Sukarno with Army Chief of Staff Maj. Gen. AH Nasution.

 

Clear suggestion of the military was instrumental in the decision of Sukarno, who although from the beginning tried to be kind to the commanders in the area.

President Ir. Sukarno met with Drs. Mohammad Hatta to discuss the situation for the end of this ². They met again on March 3.

Volcano_Lokon_udara2-North
The area of ​​Mount Lokon seen from the air
Today, Mount Lokon began to show its activity with a minor eruption that spewed lapilli in the crater.

 

Then the explosion happened Lokon

 

December 4, 16 to 17 March, 3-4 May this year as well.

 

Lokon eruption activity takes place throughout the year.

 

Explosions continued to expire on December 23, 1959 – next year.

 

During 1959, spewing ash interspersed Lokon strong eruption threw stones. Rain of ash fell in the vicinity. In August, September and November 1959 eruption did not occur.

That said, the eruption of Mount Lokon is believed to result from warning the gods Minahasa (opo) associated with the onset of turmoil Permesta tempest – a civil war between the Central Government with the PRRI in Minahasa.

February 20, 1958

Command to conduct military operations in the open rolling from Jakarta on February 20, 1958.

This decision was made regarding the end of the Jakarta central government ultimatum to surrender to the PRRI.

 

So that day, two B-25 aircraft with pilot Captain and Major Soetopo Sri Muljono got an order distributing pamphlets containing the appeal that PRRI surrender.

 

Prior to the destination, the plane landed at Astra Setra, Lampung for unknown Barlian Lieutenant Colonel, Commander of the South Sumatra.

 

It was not until the next morning the two planes flying along the west coast of Sumatra. After flying around for almost two hours, they began to enter the coast of Padang and spread pamphlets.

Permesta reply echoes the command with the motto:
“Only IF DRY LAKE Tondano, RATA Mount Lokon, KLABAT Soputan NEW ARMY AND CAN MENGINDJAKKAN Djuanda KAKINJA DIMINAHASA.”

February 21, 1958

Today, governments in North Sulawesi PRRI-Permesta received a radiogram from Ventje Sumual Lieutenant Colonel, who ordered the staff to hold a research paper on the face of offensive military preparations ² Jakarta.

 

Further to Major J.W. (Dee) Gerungan assigned to draft an offensive plan against the offensive center with Mayor Eddie Gagola, which plans the establishment of WK (Wehrkreisse).
 
 
    
   
Admin
Admin

Number of posts: 2244
Registration date: 31.08.08

 Subject: Re: HISTORY PERMESTA Tue February 17, 2009 3:27 pm
   

————————————————– ——————————
 
February 22, 1958

In the morning, the B-25 Mitchell, piloted by Air Force Major (Pilot) Leo Wattimena and Major (Pilot) Omar Dhani, dropped bombs on several targets that are considered vital, such as RRI Manado studio (who was a Radio Studio Permesta) , Dormitory Army, Army Headquarters on Jl Permesta. Sario, neighborhood officers in Sario Permesta ² leadership, as well as Ventje Sumual-law’s house, and also the Hospital “Mountain Mary” Tomohon, despite the Red Cross painted on its roof.

Battalion 714 have only a few shoots Submachine 12.7 mm. Unit was immediately ordered to put on the jeep in the face of repeated attacks ² Air Force.

RRI studio destroyed
Radio studio roof blown Permesta

The bombing of Manado is hastening the return of two military men from Minahasa influential Colonel Alex E. Kawilarang (Military Attache Embassy Wshington, DC / USA) and Colonel JF Warouw (Military Attache Embassy in Peking / China) to the region of origin.

 

Army Chief of Staff Major General A.H. Nasution had received several telegrams from Alex Kawilarang wire and a wire from Joop Warouw.

 

However, the last of Alex Kawilarang wire just before the bombing of Manado contains harsh criticism for the actions of the central government to local turbulent ².

 

February 23, 1958 At 14:00,

aircraft came to the Philippines in the field Mapanget code that carries Army Chief of Staff Lt. Col. Ventje Sumual PRRI.

 

Concrete runway when it was barricaded with truck ², and some stomwals. Then, the plane that took off a few minutes later.

² arms shipments to Permesta has arrived today in Manado. Along with the arrival of Lieutenant Colonel Ventje Sumual from abroad.

 

Colonel Sumual said that they first obtain weapons for Permesta in Manila, Philippines and Taipei, Taiwan.

February 24, 1958

Two days after being bombed Manado, KDM-SUT issued a call to all former KNIL who have received training in anti-aircraft troops and heavy weapons in order to report for didinaskan.

 

² about 2,000 people carrying out such calls, including the father of Colonel Joop Warouw.
February 26, 1958 Lieutenant Colonel HNVentje Sumual (NRP 15 958) was officially dismissed from the military.
26-27 February 1958

RESOLUTION Sulawesi Veterans Conference North / Central which is implemented
in Manado and be attended by leaders Veteran ², ² kelaskaran representatives as well as
representative of the Banggai Luwuk, Posso, Palu / Donggala, Bolaang
Mongondow, Minahasa, Manado and Gorontalo discuss Sangir Talaud
² profoundly upheaval in the country at the time, menjimpulkan
decision as follows:

A. A. Fully supports the statement KDM / Military Governor of the SUT
which set the date of 17-2-1958.
2. Condemn Djuanda & Army Chief of Staff of the turbulence
in Central Sumatra and North Sulawesi.
3. Semati with lively figures strongly opposed seraja Permesta ²
Army Chief of Staff of pemetjatan command / cs Somba arrest.
B. A. That the Veterans urged all members of the armed again,
to realize and maintain PERMESTA.
2. Formed so that the unity of the armed Veteran
which is led by a Veteran.
3. ² In order for the unity penjusunan dipertjajakan to
Veterans, which is adapted to the provisions of the Military Governor ².
4. So that immediately puts power in all areas of the Veterans ².

Conference on behalf of Veterans,
t.t.d. – 1. John F. Malonda (Chairman),
2. S.D. Wuisan,
3. Dj.A. Musmar,
4. A.F. Nelwan,
5. Theo Najoan,
6. H. D. Johannis,
7. W. Malele,
8. Kol. Tinangon,
9. R.R.Lumi,
10. Wim Gerungan,
11. John Somba,
12. Se8l Ali Sakibu,
13. Abd. Haris Renggah,
14. Anang Idjah,
15. F.S.U. Siwu,
16. Mother-Monding Lasut,
17. Mewengkang mother-Tampi.

February 28, 1958

According to Tan Kung Pau Daily, Jan Pantouw was in Hong Kong today.
March 1958

In this month, there are several significant events:

The precarious situation in North Sulawesi due to the termination Permesta Center is an important factor determining the situation in the city of Manado.

 

Manado city at that time the grip of insecurity. Every second citizen as if awaiting the outbreak of open war between the Army Forces Central Permesta expected soon will come invade Permesta controlled areas.

 

Hence the town of Manado, ² gradually began to flee out of the city.

 

No exception ² government agencies also began to evacuate inland.

 

Tomohon later became the city of Manado after alternative.

Padang when attacked,

Army Chief of Staff Major General A.H. Nasution ordered Lieutenant Colonel Saleh Permesta Lahede and all figures in Makassar was arrested.

J.M.J. “Noen” Pantouw sent to the United States to obtain moral and material support for Permesta.

 

Then met Colonel Ventje Sumual ² figures in Taipei and the Kuomintang.

Colonel Alexander Evert kawilarang_atase2 Kawilarang (he has got automatic promotion Brigadier General, but no official inauguration) quit as military attache at the Embassy of Indonesia in RI Washington, DC – The U.S. (which he held since September 1956), then quit office military, then joined the Permesta (he refused to name PRRI).

He then urged his former subordinate officer who was his education at Fort Benning, U.S. Army Chief of Staff to send a wire to the AH Nasution.

 

 

Reluctantly, he sent some of the wire (telegram) protest against the actions of national governments in the region’s turbulent ².

 

The answer he received from Army Chief of Staff summarily states that “It will not change the policies that have been taken, having returned from a visit to the area ² and turns all the support.”

 

In addition, a copy of this response was also sent to all defense attache / military overseas. His comments to officers who are pursuing the “… indeed I was prepared to accept this kind of answer.

 

I’ve thought from the beginning that this (protest wire) will be useless. “
In his book entitled “AE Kawilarang, For the Red and White”, she writes:

Earlier I had sent a wire to the Army Chief of Staff, told that I put my office, since the action does not agree with the central government in Jakarta.

 

Before I get out of the office of the Embassy, ​​I used to weigh inventions receive. I take care of my finances and submit entirely.

 

So are the goods and documents ² ² RI government’s available to me, I leave to be accepted.

 

I leave the safe environment to live in Washington, DC, and I leave the rest to work in the office of the Embassy, ​​leading to a life that will be completely dark and uncertain.

 

For the region’s rice has become porridge. The pounding of the heart that I follow.
Indonesia’s internal clashes would be used by several other countries for their own benefit.

Three years of armed confrontation that ended with Permesta return to the bosom of Mother Earth.

I myself think that my life as a soldier had stopped since March 1958.
After returning to Jakarta in 1961, I look forward very dark day for me.

 

But then I noticed also, that for all of Indonesia’s future is very dark.
It was only after the events of October 1965 my friend and I ² can breathe more easily and begin to look bright for the later years.

 

In 1966

there is one of newspapers that asked, “Has it been rehabilitated?” I replied, “Whom shall rehabilitate anyone?”

President of the Republic of Korea, Sygngman Rhee said that Korea is ready to help PRRI and Permesta in Indonesia with the strength of the Army, Navy and air.

 

Press (guided) Korea launched ² news about the possibility of the People’s Republic of China sent “Volunteer Army” to Indonesia.
 
 
    
   
Admin
Admin

Number of posts: 2244
Registration date: 31.08.08

 Subject: Re: HISTORY PERMESTA Tue February 17, 2009 3:33 pm
   

————————————————– ——————————
 
President of the Republic of China, Taipei (Taiwan) Chiang Kai Shek had planned to send a regiment of Marines and a squadron of fighter planes to take Morotai with Permesta ² (PRRI), but the Minister of Foreign Affairs of the Republic of China (Taiwan) Yen Chau Kung oppose the idea.

 

Mainland China (PRC Communist) feared to go and help the central government in Jakarta and has a reason to intervene in Taiwan.

Taiwan has sent relief in the form of a medium to train army officers Permesta, two Squadron weapons and combat aircraft to the Air Force Minahasa for Revolutionary or AUREV.

Help Chinese Taipei (Taiwan) to the Indonesian government Permesta lead citizens to take action against pro Kuomintang (WNI Chinese descent). School ² ² news letter and some Chinese companies disciplined. ² figures are pro-China Kuomintang arrested, suspected of holding subversive activities.

Month of August 1958,

The military took over the business held by a resident citizen from Taiwan.
Many supplies and equipment made in Taiwan. For example, the following uniform rifle, and stamps Permesta of 50 cents, $ 1, -, $ 2, -, and $ 2.50,

 

 

and also there is a similar Taipei grenade equipped sumbuh bottle timber produced on a large and expensive ² s views of quality.

 

Such a weapon is its ability Bar Bren Bren more than usual, which is located on the long strands of chains bullet.

 

There are also anti-tank weapon that is Super Bazooka, also kind of small arms and PM or Parabuelem Thomson also called Submachine gun.

 

PM This class sten gun, but its worth because magazinnya contains about forty rounds of ammunition, and power very quickly rentetannya automatic fire, so as to cut down a tree.

 

Other heavy weapons are very proud of, either for air deterrent and destruction over long distances, is called recoilless guns, 75 mm gun which is also called a pom-pom.

 

Radio transmitters to Tomohon Permesta saved temporarily, and set up an emergency transmitter in the village Matani.

 

Dozens of men from the village of Kakaskasen Tomohon deployed to carry radio transmitting equipment in Sario Manado Permesta it.

Most of the Government Printing equipment Manado, which is used to print paper money Permesta also been evacuated to the South Minahasa.

 

Once brought to the village Kanonang – district. Kawangkoan, then transported again kedesa Tombasian top, and then forwarded to the plantation site Kotamenara.

 

Radio transmitters Permesta I also later moved to the village Tombasian above, and then forwarded to a location that would Kotamenara plantation in the village where it stood Kotamenara, and placed there until the end Permesta upheaval.

 

Radio news section head Permesta I was Freddy Ratag. Permesta Civil Administration staff, led by Colonel Joop Warouw as Deputy Premier (Deputy Prime Minister) PRRI / Head of Civil Administration in Sulawesi PRRI also set up his headquarters here.

 

Radio transmitters placed in Modoinding Permesta II by using the radio transmitter’s old telegraph office (TT) Manado.

Permesta banknote printing quality and paper quality is also rather low, sometimes printed on paper HVS ² even in duty unlined paper.

 

Paper money is composed of fragments of Rp 100, Rp 500, – and Rp 1,000, – and signed by Joop Warouw as Deputy Premier PRRI – Permesta.

 

Banknotes Rp.100, – it’s still able to pay the cost of eating and drinking coffee in the shop, while paper money Rp 500, – still enough to buy two chickens in the market.

 

In addition to print paper money Permesta, lawful money in circulation as well as the long RI fragment ZG series banknotes hundred dollars pictorial Diponegoro hero called the money “monkey” or harsh.

 

ZG series this money is money held by Bank Indonesia Branch Permesta of Manado, in the event of termination by the central government.

 

 

This series of paper money is no longer valid as legal tender by the central government.

Stamps Permesta
In Singapore, as the traffic base of PRRI and Permesta ², has been offered by the broker in the form of a number of helicopters ² ² ² landing ships, landing craft and tanks to the PRRI ² (and Permesta).
Singapore itself, at the end of March 1958 was impressed that a lot of partisan PRRI (and Permesta).

Permesta then managed to buy a bomber aircraft including two long-distance bomber B-29 following his hiring pilots ² ² and use the air base the United States Clark Airfield near Manila – Philippines.

² aviator who rented it consists, among others, members of Gen. Claire Chenault ² troops from the former army aviator ² Flying Tigers of World War II, and airmen ² of Taiwan.
CIA Director Allen Dulles (brother of the Minister of State, John Foster Dulles), testified before the U.S. Congress Senate, that the U.S. does not “interfere in domestic affairs’ of Indonesia.
“Heading X”, the name of the post of intelligent information PRRI (and Permesta), which really is not much exceed the quality of an information bureau.

 

Obtained ² news generally comes from people who call themselves investigators ² PRRI-Permesta, which itself is still not 100% reliable. “Agency X” is located in Jakarta and Singapore.

 

The headquarters are located in Singapore, headed by Attorney E. Pohan is still active in the representation Ri in Singapore (Embassy).

March 3, 1958

Today announced that Lieutenant Colonel Saleh Lahede dismissed from the military, which has been applied retroactively from the date of February 17, 1958.

11-12 March 1958

Secretary of state secret meeting of SEATO (South East Asia Treaty Organization) in Manila organized by PRRI figures.

 

Considered to give the belligerent status (status of the country at war) to the PRRI, thus allowing the status ² open another can provide assistance to the PRRI.

Australia’s Foreign Minister Robert Casey opinionated harder, Australia ² requires aircraft operating in Indonesia, and the inhibiting action of the Indonesian economy. But the idea was not approved by the Minister of Defence of Australia.

March 12, 1958

In preparation for completing the operation in Sumatra face PRRI, Tanjung Pinang Air Base troops be home base APRI.

 

On this base all the preparations made to seize Pekanbaru and air bases. Pekanbaru airbase occupied a top priority APRI, before deciding to take Padang, Medan and Palembang.
Preparations have been completed, dated March 10 was decided as the D-day.

 

But this plan was delayed and delayed surgery for 48 hours.

 

Decisive in particular during Operation Sumatra, all the B-25 is not loaded with bombs.

 

At least four B-25 and six P-51 on the air that morning. His job is to clean up the jump (DZ) for a single battalion of PGT (Force Motion rapidly) and a Company of soldiers RPKAD APRI.

 

A few hours earlier, at 1:30 o’clock in the morning, a PBY-5A Catalina aircraft precedes dawn operation was to monitor the situation at once reported the weather in the area of ​​operation.

 

Around 4 o’clock, the plane spun ² Catalina Air Base in the Simpang Tiga, Pekanbaru.

 

There are some people PRRI troops wandering around the runway. Not the least bit suspicious when they heard the plane roaring ² in the darkness of night.

 

Likewise with Catalina pilot, unaware of the activities below. It was only when the light comes ² lot, on the other hand looks ² fire pit is turned on, such as cues.

 

Apparently the same time, the PRRI ² awaiting the supply of weapons from the CIA.
In accordance with the flight plan, at 06.00 set of all planes had to be above the Base Simpang Three.

 

Then suddenly ² P-51 aircraft followed by B-25 took turns spending 12.7 caliber machine gun rounds into the PRRI troops awaiting the supply of weapons from the CIA.

March 12, 1958

Synod of the Working Committee in its meeting GMIM trigger an appeal asking that the two sides (Permesta and the central government) to leave and stop the violence by bombing and civil war between ‘us with our’.

The appeal was presented as the Working Committee is holding a synod GMIM 400 000 head of the Christian soul in Minahasa to Gorontalo area, Donggala, Palu and Parigi. And signed by the Chairman and the Registrar (General Secretary) BPS GMIM ² each AZR Wenas and P.W. Sambow.

Ds. A.Z.R.

read the complete info at the end of article

 

Pasukan  PRRI

 

 

Bersiap mengantisipasi serangan pemerentihan pusat

Sumber: Citizen Jurnalist,2012

Beberapa hari setelah proklamasi PRRI di Padang

 

 

Masyarakat sumatera barat melakukan aksi protes menentang pemerintah Pusat yang mereka tuduh pro komunis, aksi dilakukan didepan kantor pusat penerangan kedutaan besar  amerikan serikat(USIS) di Padang

 

Foto ini hasil jempretean majalah Life James Burke,ini secara jelas menunjukkan keterlibatan Amerika serikat yang tidak mengenal lelah untuk menyingkirkan Sukarno dari tumpuk kekuasaan dan mendegredasi  semua potendsi revolusioner  yang terdapat dalam kalangan masyarakat Indonesia.

 

Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada  hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade.

Read more the Information

from Ventje Samual the leader of PERMESTA

November 1956.

Salah satu yang dibahas adalah kekecewaan atas kepemimpinan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dia dianggap kurang memiliki perhatian kepada prajurit.

 

Kawan-kawan di Korps SSKAD itu bersepakat, situasi ke depan bakal semakin gawat. Keretakan di tubuh TNI tak terbendung. Apalagi pengaruh komunisme semakin merajalela. Dalam reuni itu diputuskan, “Bila kami terpaksa berhadapan, tidak akan saling menembak.”

 

***

 

 

 

Keresahan di sejumlah daerah di Sumatera akhirnya melahirkan pergolakan.

 

Pada akhir 1956 dan awal 1957,

 lahirlah Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan Dewan Garuda di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Selatan. Hawa perlawanan merembet ke Sulawesi. Para pemuda Bugis dan Minahasa menuntut pendirian dewan serupa di Sulawesi.

 

Gubernur Andi Pangerang dan para pejabat daerah menangkap keresahan ini. Mereka menyusun konsep tuntutan otonomi daerah yang akan dibawa ke Jakarta. Sejumlah perwira membahas hal serupa.

Pada 28 Februari 1957,

 gubernur dan para pejabat daerah di seluruh Sulawesi berusaha berunding dengan Jakarta mengenai tuntutan otonomi pembangunan. Kami bertemu mereka dalam pesawat saat pulang ke Makassar.

 

Lantaran upaya negosiasi tidak digubris Jakarta, begitu tiba di Makassar kami sepakat menggelar rapat menyusun konsep perjuangan otonomi. Rapat hari itu,

 

 

 

1 Maret 1957,

berlangsung hingga menjelang subuh di rumah Gubernur. Pada akhir rapat, 51 orang yang hadir meneken Piagam Perjuangan Semesta.

 

Saya peneken pertama. Penanda tangan lain di antaranya Mayor M. Yusuf dan Sjamsoeddin, ayah Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin. Kami kemudian membacakan Deklarasi Permesta.

 

Setelah itu, saya sebagai Panglima TT Wirabuana menyatakan Indonesia Bagian Timur dalam keadaan darurat perang. Gubernur Andi Pangerang juga membacakan seruan agar rakyat tetap melaksanakan pekerjaan sehari-hari.

 

Saya juga menggelar Kongres Bhinneka Tunggal Ika di Makassar,

 

Mei 1957.

 Wakil dari semua kabupaten di empat provinsi Indonesia Timur hadir sekaligus menyatakan dukungan kepada Permesta. Belakangan, Nasution dan Ahmad Yani setuju dengan konsep itu. Sekitar Mei 1957, saat berkunjung ke Makassar, Nasution menyatakan sepakat dengan isi Permesta.

 

***

 

Pertengahan September 1957,

 

 Soekarno dan Kabinet Perdana Menteri Djuanda menggelar Musyawarah Nasional (Munas). Sebenarnya ini tawaran kompromi pemerintah atas tuntutan daerah. Terlihat sekali Soekarno ingin melakukan rekonsiliasi. Ia bahkan melepaskan 41 anggota Dewan Banteng dan Garuda yang ditahan.

 

Agenda Jakarta ini membuat kami merapat. Pada 8 September, saya bertemu dengan Letkol Ahmad Husein dan Letkol Barlian di Palembang. Hasilnya, lahir enam pasal tuntutan yang kami bawa ke Munas.

 

 Di antaranya, pemulihan kembali dwitunggal Soekarno-Hatta, penggantian pimpinan TNI-AD (terutama Nasution), desentralisasi dengan otonomi luas bagi daerah, pembentukan senat, penyederhanaan aparatur negara, dan pelarangan komunisme.

 

Namun Jakarta ternyata hanya mengagendakan tiga masalah: pemulihan kembali dwitunggal, pelaksanaan pembangunan nasional, dan perubahan pimpinan Angkatan Darat. Soal komunis tidak dibahas. Para perwira yang “bermasalah” juga tidak diundang. Hasilnya, dwitunggal setuju dipulihkan kembali. Pada saat penutupan Munas, Soekarno berjanji akan segera berbaikan dengan Hatta.

 

Sedangkan urusan keretakan pimpinan AD dibahas tim tujuh yang diketuai Soekarno sendiri. Anggotanya enam orang: Hatta, Djuanda, Wakil Perdana Menteri Leimena, Sultan Hemengku Buwono IX, Aziz Saleh, dan Nasution. Sewaktu tim itu diumumkan, kami protes.

 

Kami bilang, Nasution itu terlibat masalah, kenapa masuk. Dalam rapat terjadi perdebatan sengit antara Nasution dan saya tentang legalitas dan disiplin militer, hingga akhirnya saya menggebrak meja dan keluar ruangan.

 

Munas rencananya akan dilanjutkan dengan Musyawarah Pembangunan pada akhir November. Tapi kemudian terjadi Peristiwa Cikini.

 

 Presiden Soekarno digranat ketika sedang menghadiri acara sekolah anaknya di Perguruan Cikini, 30 November 1957. Usaha pembunuhan Presiden gagal, tapi banyak siswa jadi korban.

 

Soekarno marah. Sampai di Istana, ia berkata kepada wartawan, pelakunya adalah kami. Zulkifli Lubis, rekan kami yang dikenal ahli intelijen, dituding sebagai dalang utama. Saya kaget, dan saya suruh orang mencari Lubis. Dia bilang, ”Bukan saya. Kalau saya, mana mungkin gagal?” Maksudnya, jika Lubis yang merencanakan, Soekarno pasti tewas.

 

Terus terang, tudingan ini lucu. Untuk apa kami mengacaukan sendiri usaha kami di Munas yang sedang di atas angin? Akibat peristiwa itu, kami yang sedang menghadiri Musyawarah Pembangunan sempat ditahan. Rencana mengumumkan pelaksanaan hasil Munas,

 

pada 3 Desember 1957

 di forum kabinet, bubar. Wakil Perdana Menteri Leimena mengumumkan bahwa segala keputusan Munas dibekukan.

 

***

 

 

 

Menyusul ultimatum yang dikirim Jakarta, kami sepakat berkumpul lagi. Saya terbang ke Singapura dan menyewa motor ke Pekanbaru.

 

Dari sana saya langsung meluncur ke Sungai Dareh di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi,

Januari 1958.

Hadir dalam pertemuan itu, selain para panglima yang dianggap memberontak, juga politisi seperti Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Abdullah, Mohammad Natsir, hingga Sumitro Djojohadikusumo.

 

 Di desa itu, kami sepakat membuat wadah perjuangan yang nantinya dinamakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

 

Selain menyiapkan logistik perang, saya juga melakukan pembicaraan untuk membantu perjuangan di dalam negeri. Dalam perjalanan ke Taipei, Manila, dan Tokyo, saya sempat mampir ke Hong Kong. Di situ saya bertemu Joop Warouw, mantan Panglima Kodam Wirabuana. Warouw saat itu sudah menjadi atase militer RI di KBRI Beijing.

 

Saya dan Warouw terbang ke Tokyo. Presiden sedang berada di Tokyo, awal Februari. Warouw adalah perwira yang dikenal Soekarno lantaran loyalitas dan integritasnya karena menolak Nasution dalam

 

 peristiwa 17 Oktober 1952.

 

 Warouw menemui Soekarno dan menjelaskan perihal krisis yang terjadi setelah peristiwa Cikini.

 

Soekarno setuju perlunya jalan damai. Ia langsung mengirim surat ke Perdana Menteri Djuanda. Tapi itikad baik Soekarno gagal dilaksanakan. Nasution sudah memerintahkan pengeboman Padang dan Manado.

 

Perintah pengeboman menyusul ultimatum yang dilontarkan Dewan Perjuangan, 10 Februari 1958, di Sungai Dareh.

 

Ultimatum yang dibacakan Ahmad Husein itu menyebut, ”Dalam tempo 5 x 24 jam kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda.

 

 Presiden membentuk kabinet baru di bawah Bung Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX.” Ultimatum ditolak. Buntutnya, Ahmad Husein dan Maludin Simbolon dipecat. Dua hari berselang Padang dibom oleh AURI. Menyusul kemudian Manado.

 

Pada 15 Februari 1958,

 

Kabinet PRRI diumumkan di Bukittinggi, Sumatera Tengah. Sjafruddin Prawiranegara menjadi perdana menteri. Disebut juga pembentukan angkatan perang PRRI. Sewaktu proklamasi, saya sedang ada di Manila. Segala perkembangan saya pantau melalui radio, termasuk pemecatan saya oleh Markas Besar Angkatan Darat.

 

Sebetulnya, dengan proklamasi PRRI,

 

terjadi perpecahan di tubuh deklarator Permesta. Ada Permesta yang ikut PRRI, ada yang tidak. Ada pula yang anti-Permesta tapi ikut PRRI. Dari 51 orang deklarator Permesta, hanya 16 yang bertahan. Kebetulan, semuanya berasal dari Sulawesi Utara, yang kemudian meneruskan gerakan.

 

Lantaran itu saya tidak sepakat jika istilah PRRI dan Permesta digabung, karena keduanya berbeda. Pada 1970-an, ketika bertemu Jenderal M. Yusuf, kami berkelakar. “Ven, kalau aku Permesta saja, kau Permesta perang,” ujarnya.

 

Bom yang dijatuhkan di Padang, Manado, dan Ambon memaksa kami tak lagi bertahan, tapi menyerang. Apalagi logistik kami cukup memadai untuk melakukan serangan.

 

Mayor Jenderal Alex Kawilarang juga telah meninggalkan posnya di Washington dan ikut bergabung. Posko penyerangan tak lagi berada di Sumatera, tapi sudah berpindah ke Sulawesi Utara.

 

 Inilah awal perang saudara di antara sesama pejuang kemerdekaan.

 

 

 

*ill pemuka  PRRI di Sumatera Barat

Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 1957, di sebuah kota kecil di pesisir barat pantai Sumatera yang bernama Salido(ada tambang emas saat masa hindia belanda disana ,dekat kota Painan Kabupaten Pesisir selatan SUMBAR-Dr Iwan s), berlangsung suatu sidang reuni para militer pejuang yang tergabung dalam Resimen IV Divisi Banteng Sumatera Tengah.2 Reuni tersebut menghasilkan dan membentuk suatu badan organisasi yang dinamai “Dewan Banteng” dengan tokoh-tokoh militer seperti Kolonel Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek, Kolonel M. Simbolon dan lain-lain sebagai para atasan dan penggeraknya.

 

Namun, pada 15 Februari 1958, atas prakarsa “Dewan Banteng”, organisasi yang dilahirkan dari hasil reuni militer yang dikepalai oleh Letkol Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek dan Kolonel Maludin Simbolon, “diproklamirkan” sebuah pemerintahan baru yang bernama “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia” yang disingkat dengan sebutan PRRI, dengan kota Padang sebagai “ibukota negara” dan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai “Presiden PRRI”. Proklamasi PRRI ini, menjadi titik awal perlawanan secara terbuka terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ranah Minang dikuasai oleh oknum-oknum, baik militer maupun sipil, yang tidak merasa puas dengan kepemimpinan Bung Karno, dan membawa rakyat Minangkabau untuk memberontak melepaskan diri dari ikatan persatuan NKRI.

Sementara itu, dalam waktu yang sama, di bagian Timur tanah air, juga timbul satu pemberontakan yang senada, perlawanan terhadap NKRI di bawah pimpinan Letkol Ventje Sumual, dengan membentuk pemerintah tandingan yang bernama PERMESTA (Pemerintah Rakyat Semesta).

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin gerakan-gerakan tersebut sama, tidak lain adalah pemerintah Pusat dianggap kurang memperhatikan keadaan daerah disertai tuntutan menambah anggota kabinet dengan Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Menghadapi tantangan dari daerah-daerah, pemerintah Pusat memprakarsai Musyawarah Nasional di Jakarta yang berlangsung tanggal 9 hingga 11

2 Desember 1957.

Sebagai lanjutan musyawarah tersebut, bulan Desember 1957 di Jakarta diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan. Musyawarah-musyawarah ini tidak berhasil mendapatkan cara penyelesaian masalah daerah-daerah yang membangkang terhadap pemerintah Pusat. Kegagalan ini antara lain disebabkan tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono, tidak diikutsertakan dalam pimpinan pemerintahan. Selain itu daerah-daerah yang bergolak melontarkan tuduhan-tuduhan bahwa politik pemerintah Pusat mengarah kepada komunisme.3

Para tokoh dan pentolan PRRI maupun PERMESTA mendapat bantuan dan sokongan kuat dari Imperialis Amerika Serikat yang memang tidak suka atas kepemimpinan Bung Karno. AS memberi support dan bantuan apa saja untuk PRRI/PERMESTA. Persenjataan-persenjataan modern dari Amerika, seperti LMG 12,7 MM, penangkis serangan udara, Bazooka, Granat-semi automatis, persenjataan Infantri, dan lain-lain diturunkan dari kapal terbang pengangkut AS di hutan-hutan Sumatra untuk melengkapi persenjataan militer PRRI guna melawan Pemerintahan NKRI.

Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi gabungan yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958.

2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai Bukittinggi 21 Mei 1958.

3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara dipimpin oleh Brigjen

Jatikusumo.

4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu

Sutowo.

Sedangkan untuk menumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan

3Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol Rukminto Hendraningrat, yang terdiri

dari :

Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin oleh

Letkol Sumarsono.

Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin oleh

Letkol Agus Prasmono.

Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado, dipimpin

oleh Letkol Magenda.

Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol

Rukminto Hendraningrat

 

Pemberontakan Dewan Banteng yang dipimpin oleh Ahmad Husein akhirnya dapat  dipatahkan oleh Angkatan Perang Republik Indonesia yang melakukan “Operasi 17 Agustus”di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu kurang lebih satu minggu. Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat itu, dengan sendirinya menimbulkan kekacauan, baik terhadap pemerintah daerah, maupun terhadap kehidupan dalam masyarakat, setelah Ahmad Husein mengambil alih fungsi Gubernur Roeslan Muljodihardjo, yang diangkat oleh pemerintah Pusat di Jakarta. Kabinet Karya yang dipimpin

Ir. Djuanda memutuskan pengiriman misi yang dinamakan “Misi Pemerintah untuk

Normalisasi Pemerintah dan Masyarakat Sumatera Barat”. Misi Pemerintah yang dipimpin Wakil Perdana Menteri I Hardi, SH yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa menteri, pejabat-pejabat tinggi dari departemen-departemen dan beberapa perwira Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat, tiba di Padang, satu hari setelh operasi militer dianggap berhasil.

Berkat operasi militer yang cepat, niat luar negeri, khususnya Amerika Serikat untuk campur tangan dalam masalah dalam negeri Indonesia secara terbuka, dapat dihindari. Dalam iklim Perang Dingin yang sedang melanda dunia masa itu, Uni Soviet, Republik Rakyat Cina, dan negara Blok Komunis lainnya akan beraksi, jika Amerika Serikat bertindak terlalu jauh, dan Indonesia dapat menjadi kancah pertarungan politik dunia interansional dengan segala akibatnya bagi persatuan Indonesia. Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno

mengeluarkan Dekrit “Kembali ke Undang Undang Dasar 1945” dan tanggal 10 Juli 1959

dibentuk Kabinet Karya I dipimpin langsung oleh Presiden sebagai Perdana Menteri dengan

(4)Dewan Banteng and PRRI

ALTHOUGH the Banteng Council which was formed on December 20, 1956, 52 years ago, and the Revolutionary Government of the Republic of Indonesia (PRRI) proclaimed by the Board of Struggle (not by the Council of the Bull) February 15, 1958, 50 years ago, like a coin that one side is almost the same as the other side, but have different purposes, “as batuka road”.

That is despite Ahmad Husein as Chairman of the Board of Bull on the one hand, but on the other hand Ahmad Husein as Chairman of the Board who proclaimed PRRI Struggle. Banteng Council was formed aiming to establish the Regional Government to form a rival while PRRI against the legitimate government of Jakarta at that time.

The idea of ​​forming the Council Bull arise in Jakarta on 21 September 1956 Officers from a number of Active and Retired Officers Division IX former Bull in Central Sumatra after their first look at the fate and state of residence of the soldiers who had fought to defend freedom in the war of Independence against the Dutch in 1945 -1950 , state of health is very simple, their children who suffer from many illnesses and deaths.

There is a dormitory that left by the Colonial Army (Dutch army), but not sufficient, because of their many (many Catholic church buildings in Padang used as asrma like Don Bosco High School hostel Police, and the buildings sebalah gerjea Theresia cathedral, is the current hall, used by the army, including two junior bundokandung country, former school besides Siti Nurbaya DEawn Bull headquarters, currently Detasmen POM-Dr Iwan).

The officers active and retired officers of the former. Bull Division also saw the fate of society is increasingly far from the promises in the war of Independence, their lives increasingly difficult, does not meet the promise of justice and prosperity along with it.

Central Government is more concerned Regional Areas outside of Java than Java in terms of the distribution of “cake” of development, while areas outside Java island is the largest foreign exchange earner.

Meeting a number of active officers and retired officers ex. Buffalo Division in Jakarta was then followed by a reunion held at the Padang from officers active and retired ex. Bull Division on 20 -24 November 1956 which essentially discusses political and socio-economic Problems of the people in Central Sumatra. Reunion which was attended by around 612 people active and retired officers of the former. Bull Division was finally made some decisions that are then formulated in the Council demand Bull.

To implement the decisions of the reunion, it will be established a Council on December 20, 1956 called “Council of Bull” takes its name from the Division Bull Bull is already dissolved. In the years 1945 -1950 war of Independence against the Dutch in Central Sumatra first established a military command called the Command Division IX Bull.

When he finished the war of Independence and the Netherlands transferred sovereignty to the Republic of Indonesia on December 27, 1950, the Bull of the Division Command was shortlisted by sending his troops out of Central Sumatra like to Pontianak, Ambon, Aceh and West Java. A very sad experience suffered by the Battalion “Fence Ruyung” who after serving in Ambon, five of the eight his company moved to West Java. His army was merged into the Division Siliwangi and relationship with parent Bull Division troops cut.

Things happen so that there are killed and arrested. Bull Division Command increasingly reduced, so that eventually only one who still wore Brigade Brigade name Bull. (Please look at the vintage poster of the Board Bull below, courtecy Dr. Iwan suwandy)

, Under the command of Lieutenant Colonel Ahmad Husein. Then in April 1952 Bull Brigade Regiment reduced to one fourth of the Infantry Regiment in the army Territory Command (TT) I Bukit Barisan (BB) under the Command commander Colonel Simbolon.Letkol. Ahmad Husein re-elected as Commander of Infantry Regiment 4 TT’s I Bukit Barisan.

Battalion-solving and the dissolution of the battalion’s Command Division Bull
cause the seeds of resentment from the war of Independence against the Dutch fighters who take shelter under the banner of the Bull’s Division. Bull Executive Council consists of 17 people, consisting of eight active and retired officers, two men from the Police and 7 other people from civic groups, clergy, political leaders and officials.

The full composition of the Board Bull Board are: Chairman, Lieutenant Colonel, Ahmed Hussein, commander of 4th Infantry Regiment, Secretary General Major (Ret.) Suleman, Chief of the National Reconstruction Bureau of Central Sumatra, while its members were Datuk Rangkayo Kaharuddin Languages, the Chief Constable of Central Sumatra, Sutan suis, Padang City Police Chief, Major Anwar Umar, commander of Battalion 142 Regiment 4. Captain Nurmatias 140 Battalion Commander, 4th Infantry Regiment. H. Dervish dim Dt. Tumanggung, District 50 City, Ali Luis Regents d / p in the Governor’s Office of Central Sumatra, Sheikh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Chairman of the Peoples (MTKAAM).

Colonel (Ret.) Ismael guard, Lt. Col. (Ret.) Hasan Basri (Riau), Chief of Bureau of Social Ali Saidina Kampar regency, Riau, Lieutenant Sebastian Officer Military District 20 Indragiri, Riau, A. Abdulmanaf, Regent Merangin, Jambi, Captain Joseph Nur, Military Academy, Jakarta and Major Syuib, Deputy Assistant II Army General Staff in Jakarta.

Also supported by the entire Council Bull Political Parties, except the Communist Party of Indonesia (PKI), also supported by all levels of society such as youth, clergy, cadiak clever, indigenous people so that when it was born the slogan, “come down with the Board of Bull.” (***)

 

 

WALAUPUN antara Dewan Banteng yang dibentuk tanggal 20 Desember  1956, 52 tahun yang lalu, dan Pemerintah  Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamirkan oleh Dewan Perjuangan (bukan oleh Dewan Banteng) tanggal 15 Pebruari 1958, 50 tahun yang lalu, ibarat mata uang logam yang satu sisinya hampir sama dengan sisinya yang lain, namun berbeda tujuan, “seiring batuka jalan”.

Maksudnya walaupun Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Banteng di satu sisi, tetapi di sisi lain Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan yang memproklamasikan PRRI. Dewan Banteng dibentuk bertujuan untuk membangun Daerah sedangkan PRRI membentuk Pemerintahan tandingan melawan Pemerintah Jakarta yang sah waktu itu.

Gagasan membentuk Dewan Banteng timbul di Jakarta pada 21 September 1956 dari sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu setelah mereka melihat nasib dan keadaan tempat tinggal para prajurit yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dalam perang Kemerdekaan melawan Belanda tahun 1945 -1950, keadaan Kesehatan amat sederhana, anak-anak mereka banyak yang menderita penyakit dan kematian.

Ada asrama yang ditinggalkan oleh KNIL (tentera Belanda), akan tetapi tidak mencukupi, karena jumlah mereka yang banyak(banyak bangunan gereja katolik di Padang digunakan sebagai asrma seperti SMA Don Bosco asrama Polisi, dan bagunan sebalah gerjea  katedral Theresia ,saat ini jadi aula,digunakan tentara termasuk SMP negri 2 bundokandung ,bekas sekolah Siti Nurbaya disamping markas DEawn Banteng  ,saat ini Detasmen POM -Dr iwan ).

Para perwira aktif dan perwira pensiunan dari eks. Divisi Banteng juga melihat nasib masyarakat yang semakin jauh dari janji-janji dalam perang Kemerdekaan, hidup mereka semakin susah,tidak bertemu janji keadilan dan kemakmuran bersama itu.

Pemerintah Pusat lebih mementingkan Daerah Pulau Jawa ketimbang Daerah diluar pulau Jawa dalam hal pembagian “kue” pembangunan, sedang daerah di luar pulau Jawa adalah penghasil devisa yang terbanyak.

Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah. Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng.

Untuk melaksanakan keputusan-keputusan Reuni itu,maka dibentuklah suatu Dewan pada tanggal 20 Desember 1956 yang dinamakan “ Dewan Banteng”mengambil nama Banteng dari Divisi Banteng yang sudah dibubarkan. Di dalam perang Kemerdekaan tahun 1945 -1950 melawan Belanda dulu di Sumatera Tengah dibentuk sebuah Komando militer yang dinamakan dengan Komando Divisi IX Banteng.

Sesudah selesai perang Kemerdekaan dan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1950, maka Komando Divisi Banteng ini diciutkan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke luar Sumatera Tengah seperti ke Pontianak, Ambon, Aceh dan Jawa Barat. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Batalyon “Pagar Ruyung” yang sesudah bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan ke Jawa Barat. Pasukannya dilebur ke dalam Divisi Siliwangi dan hubungan dengan induk pasukannya Divisi Banteng diputus.

Terjadi berbagai hal sehingga ada yang meninggal dunia dan ditahan. Komando Divisi Banteng makin lama makin diciutkan, sehingga akhirnya tinggal satu Brigade yang masih memakai nama Brigade Banteng. (Please look at the vintage poster of Dewan Banteng below,courtecy Dr Iwan suwandy)

 

, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein. Kemudian pada bulan April 1952 Brigade Banteng diciutkan menjadi satu Resimen yang menjadi Resimen Infanteri 4 di dalam Komando Tentera Teritorium (TT) I Bukit Barisan (BB) di bawah Komando Panglimanya Kolonel Simbolon.Letkol. Ahmad  Husein diangkat kembali menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I Bukit Barisan  itu.

Pemecahan Batalion-batalion dan pembubaran Komando Divisi Banteng itu
menimbulkan bibit-bibit dendam dari para pejuang perang Kemerdekaan melawan Belanda yang bernaung di bawah panji-panji Divisi Banteng itu. Pengurus Dewan Banteng terdiri dari 17 orang, yang terdiri dari 8 orang perwira aktif dan pensiunan, 2 orang dari Kepolisian dan 7 orang lainnya dari golongan sipil, ulama, pimpinan politik, dan pejabat.

Lengkapnya susunan Pengurus Dewan Banteng itu adalah : Ketua,Letkol, Ahmad Husein,Komandan Resimen Infanteri 4, Sekretaris Jenderal Mayor (Purn)Suleman, Kepala Biro Rekonstruksi Nasional Sumatera Tengah, sedangkan anggota-anggotanya adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, Kepala Polisi Sumatera Tengah, Sutan Suis, Kepala Polisi Kota Padang, Mayor Anwar Umar, komandan Batalion 142 Resimen 4. Kapten Nurmatias Komandan Batalyon 140, Resimen Infanteri 4. H. Darwis Taram Dt. Tumanggung, Bupati 50 Kota, Ali Luis Bupati d/p di Kantor Gubernur Sumatera Tengah, Syekh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Ketua Adat (MTKAAM).

Kolonel (Purn) Ismael Lengah, Letkol (Purn) Hasan Basri (Riau), Saidina Ali Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar, Riau, Letnan Sebastian Perwira Distrik Militer 20 Indragiri, Riau, A. Abdulmanaf, Bupati Kabupaten Merangin, Jambi, Kapten Yusuf Nur, Akademi Militer, Jakarta dan Mayor Syuib, Wakil Asisten II Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta.

Selain itu Dewan Banteng didukung oleh segenap Partai Politik, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), juga didukung oleh segenap lapisan masyarakat seperti para pemuda, alim ulama, cadiak pandai, kaum adat sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”. (***)

2)Dr Iwan ‘s Historic Collections

(1) Info From Leirissa Book “PRRI PERMESTA”,Pustaka Grafiti,Jakarta,1991

 

(a) halaman depan

 

(b) Indonesia menjelang Pergolakan

(c)Berawal dari Dewan Banteng

(d)Pidato Ahmad Husein Pada Rapat Penguasa militer Indonesi Jakarta 27 Aprip 1957

(e) Riwayat Hidup Ahmad Husein Dan Simbolon Sebelum PRRI

(g) Kisah tiga petualang,book illustration of  Barlian,Vence Samual and Ahmad Husein.

(2) Dewan Banteng Historic Collections(Dr Iwan s Privates Collections)

(a) The Old 1950’s Poster Of Dewan Banteng  Division Army(Penerangan Tentara Divisi Banteng I.)

 

(b)The Local newspaper Penerangan June ,21th 1955 about Bukit Barisan teritorial 4 years.

Tanggal 21 Djuni 1955 adalah hari ulang tahun ke-4 Teritorial I “Bukit Barisan”. Empat tahun juang lalu pada tanggal 21 Djuni 1951 oleh panglima Tentara Teritorium I(Bukit barisan) diresmikan ,kewadjiban pemakaian lentjana”Bukit barisan” untuk anggota Angkatan darat Territorium I.

 

(c)The Dr iwan and friend ‘s private photos in his house at the front of Dewan Banteng headquaters in 1957

 

 

(c)The Chief Of Padang City Middle Sumatra “s Police Departement Document (Dokumen Kepala Polisi kota Padang sumatera tengah 1954 Komisaris polisi Sutan Soeis , yang tetap jadi kepala polisi kota padang saat PRRI)

 

(d)The National Republic Indonesia Press Release about Subvertions movement (Berita Pers National tentang Gerakan Subversif  menurut Bung karno)

 

 

(e)The Old Terang Bulan magazine ‘s Simbolon Dewan Gajah PRRI Proclamation at Medan.(Info dari majalah terang bulan tentang Dewan gajah dibawah pimpinan Simbolon tahun 1957)

 

(f)Kisah pengiriman senjata dari kapal selam dipantai padang tahun 1977.

Dr Iwan bersama masyarakat yang tinggal dekat pantai kota Padang , melihat senjata-senjata yang didaratkan dari kapal selam di pantai Padang, di depan lapangan Sepak bola (saat ini jadi gedung pertunjukan, dan pingir pantai sudah hilang akibat abrasi, senjata yang dilihat antara lain :

(f1)Senjata Thomspson

(f2) Senjata basoka

(g)Picture Collections

February,15th,1958

The PRRI ‘s Cabinet menistry
Pelantikan Kabinet PRRI tanggal 15 Februari 1958:
Kolonel Dahlan Djambek, Mr. Burhanuddin Harahap, Letkol. Ahmad Husein, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Kolonel Maludin Simbolon.

(h)Warkat Pos yang dikirim masa dewan Banteng (The Dewan Banteng Letter Sheet still used RI postal stationer without overprint)

(g1) February,16th 1958. RI Lettersheet 35 cent without overprint  from Padang To Padang Panjang.

 

(g2)March,8th.1958.RI Lettersheet without overprint send from Padang to Padang Panjang.(one week before PRRI proclamtion)

 

(g)PLB Army Magizine Feb.1958 About  The Chief Of Indonesian Army Commad Speaking to the chief Of Jakarta Military Officers about  The PRRI Situation.(Ceramah KSAD dgn Perwira Garnizun Jakarta Raya tentang situasi Pemberontakan PRRI)

FRAME TWO

PRRI Proclamations and Movement(Proklamasi dan Pergolakan PRRI).

1)Google exploration

In 15 February 1958 Lieutenant Colonel Ahmad Hussein declared the existence of PRRI. The Government in Jakarta immediately sent the army to destroy the rebellion and dishonorably discharged the three colonels. Army chief of staff Nasution Army immediately announced that the territorial army would be placed under his command. In short most of the areas were easily recaptured by the army, and most of the rebels’ weapons were retrieved in good condition by the army.

And Proclamation Of PERMESTA

 

2)Dr Iwan’s historic Collections

(1) March,11th.1958

One Day before Pakanbaru occupied by APRI ‘s Tegas Operation  lead by Let.Col Kaharudin Nasution ,PRRI soldier who have the same name Kaharudin from KIE(Kompi) IV.B1.14o at SKOMR Pakanbaru send money order toKamisam Kampung Durian Sawahllunto West Sumatra Rp.500.- via postal, but Return to sender because  no relationship due to the Pakanbaru occupied by APRI and West sumatra under PRRI,handwritten in indonesian language:”KEMBALI SIPENGIRIM PERHUBUNGAN BELUM ADA”,

 

later  cds 17.8.59,the central  postal money order chief given permission to pay back  the money.look at the backside of money order.with red handstamped in squared box “KANTOR PUSAT PTT URUSAN POSWESEL(up) BOLEH DIBAJARKAN (rare and interseting history postal history collection of PRRI-Dr Iwan private collection)

 

(1) March,12th.1958, three  days before PRRI Proclamations

 

March,12th.1958, three  days before PRRI Proclamations,

Tegas Operation lead by let.Col. Kaharuddin Nasution have surrendered Pakanbaru city in March,12th.1958, and one day after a Money Order send from Pakan Baru Riau (that time under Middle Sumtra province) to Sawahlunto west sumatra, back to sender because the communication between Pakanbaru(Riau Daratan) to Sawahlunto(west sumatra) broken ,look the handwritten on Money Order “kembali pengirim Perhubungan Putus” ,this situation due to the battle between  Central army(Tentara Pusat) APRI with PRRI army between Pakanbaru,bangkinang and Kelok sembilan (nine turn) road near Payakumbuh. The sender then asking back the money and permitted look at the back of money order(This is the best collections related with PRRI Movement,during PRRI ,postal still used Republik Indonesia stamp and postal stationer without any overprint.-Dr Iwan’s note)

Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958

(2)The March 1958 Calender with mark the PRRI Proclamations Day March .15th 1958

(2) THE PICTURE OF PPRI PROCLAMTIONS AT WEST SUMATRA ‘S GOUVERNMENT HOUSE fEBRUARY,15TH 1958

 

(3) THE POSTAL HISTORY COLLECTIONS DURING PRRI MOVEMENT BETWEEN FEBRUARY 15TH TO APRIL 17TH 1958.(STILL USE RI POSTAL STATIONER WITHOUT OVERPRINT STAMPS )

(4)THE PRRI REVENUE STILL RI REV WITHOUT OVERPRINT

(5)THE PADANG CITY ID DURING PRRI

(6) PRIVATE LETTER SEND BY COURIER DURING PRRI

FRAME THREE :

The APRI’s 17 Augustus Operation Lead by let.col. AHMAD YANI look the profile Pictures below.(in memoriam.later Let.gen)

(Operasi militer 17 Agustus )

1)Google Explorations

The U.S. government, which supported the rebels, started to withdraw their forces immediately after one of their fighter planes was shot down and its pilot Allen Pope was shot over Ambon.

2)Dr Iwan’s Historic collections

(1) Soewil handwriten notes about the APRI Operations to Padang city in February ,18th 1958.

 

(2) Operasi tegas APRI Di Pakan Baru

 

(3) Military Operation Map (Peta Operasi militer PRRI dan Parmesta)

 

 

(4)The Book illustration Of Military Operation  Landing at Ulak Karang in April ,17 th 1958

(5)The Book illustration of Indonesia Central Military 17 agustus operasion to Padang.

(6a) STORY OF DOCTOR IWAN

(6A1) APRI landing in a field 17 to 18 April 1958 under the leadership Lt Ahmad Yani cabbage

A week before the landing, my late father’s uncle Djohan oetama by using a car following a group of soldiers who have purchased PRRI stationery printing from Sumatra Bode where my father as director (Uncle Daddy Lie Tek Beng gholeng  store ), to take the money payments stationery bought a truck. According to him, the road to Mount Field after Indarung (today so reserve Nature) seem APRI ships at sea off the city of Padang temabkan front light for the show of force and the army has set up a defense in PRRI Sukaramai complex which was then used as a branch of the Kebon Raya Bogor , where the goods have been prepared as a defense against attacks ASPRI, really generous father because pihat tebnatra PRRI paying with cash is paid off and my father had bought Jerky Batokok Kayuaro restaurant near Sukaramai, and till now no longer eat beef jerky in the wilderness is very tasty, the gunshots cahya rays, so a lot of city dwellers in the desert to watch the fireworks verges of the city of Padang.

The next day the situation added heat, and the evening my sister  and mother taken refuge in the hut for shelter stuffy, and the evening from the ship in the ocean shooting  some mortars that destroyed the headquarters of Army Equipment verges PRRI at sea, while those directed to the Headquarters Board of stray bull behind home cinema Cinema (current work) but did not explode, while those targeted to local Commissariat Headquarters (Polda then current) stray into the intersection of Lima and causing civilian houses were destroyed, and the death of a family.

On the morning of 17 April 1958, had seen airplanes; kite diats desert city all the people happy they thought the plane was the assistance of the United States, the plane turned out to not go round the republic Indonesian army plane that decreases RI Air force special forces (paskhas) with a parachute, and then infiltrating into the city of Padang. Landing troops from ships at the mouth of the river already dimuali stem arau fields and in estuaries kuranji, and then the troops move into the city of Padang.

Dr Iwan with his father and brother Edhie Djohan Oetama Johan, see first hand how the soldiers turned to run zig zag turn after throwing grenades seized the headquarters of the board of the Bull in front of House ZDR iwan at Jalan Padang Bundo Bladder `16 locations see photo below. At that moment the lights went out and the length of the cool pemabntu slapped mosquitoes, is prohibited enumerated by Dr. Iwan’s father not to fuss, then the atmosphere so quiet shooting stopped, then Dr. Iwan family went to bed.

In the morning on 18 April 1958, when Dr. Iwan got up, turned out thousands of soldiers dressed in camouflage Bull Riders rest and sleep are at the home of Dr. Iwan ample 4800 square meters, and some nude bathing at the well diperkarangan so that the water be discharged to dry wells

(6a1) The firing bullets and mortars of Light Night Sea ship date of March 17, 1958 and landing in Freshwater River Estuary Tabing through kuranji

(6A2) Aircraft Float air desert city in the Morning on March 18, 1958

(6a3) Scramble Board Headquarters Buffalo the night before dawn on March 18, 1958

(6b) Illustration TNI troops are moving memebebaskan city of Padang in order crackdown PRRI Rebellion in western Sumatra.

(6c) Illustration Delivery of food to the ground in the Arau river estuary with a pontoon boat 18 april 1958

(6d) Illustrations of successful weapon seized from the hands of insurgents PRRI In West Sumatra.

(7) PHB Mahazine info “PHB Role In War On Radio PRRI area” (Army Communications PRRI At area 1958)

(8) PBH Magazine Info “Facing Bloody events in the West and East, Hussein in the West, Naingolan in the East.

 

indonesian version:

KISAH DOKTER IWAN

(6A1)Pendaratan APRI di padang 17 -18 April 1958 dibawah Pimpinan Let kol Ahmad Yani

Seminggu sebelum pendaratan , ayah saya alm Djohan oetam dengan paman mengunakan mobil menyusul rombongan tentara PRRI yang telah membeli alat-alat tulis dari percetakan sumatera Bode dimana Ayah sebagai direkturnya (milik Paman Ayah Lie Tek Beng toko gho leng), untuk mengambil uang pembayaran alat tulis yang dibeli satu truk. Menurut Ayah,dijalan menuju Ladang  dibukit setelah Indarung(saat ini jadi cagar Alam) kelihatan kapal-kapal APRI dilaut depan kota Padang melepaskan temabkan cahaya  untuk show of force dan  tentara PRRI telah mendirikan pertahan di kompleks Sukaramai yang saat itu dijadikan Kebon Raya cabang dari Bogor, disana barang-barang sudah dipersiapkan sebagai pertahanan menghadapi serangan ASPRI, sungguh besar hati ayah karena pihat tebnatra PRRI membayar dengan uang kontan secara lunas dan Ayah sempat membeli Dendeng Batokok restoran Kayuaro dekat Sukaramai, dan sampai dipadang saat lagi makan dendeng yang sangat gurih tersebut, terdengar tembakan cahya sinar, sehingga banyak penduduk kota padang menonton kembang api di pingir laut kota Padang.

Keesokan harinya situasi tambah panas ,dan sore hari saudara Wanita dan Ibu dibawa mengungsi ke Pondok sebab tempat perlindungan pengap, dan malam hari dtembakan beberapa mortir yang menghancurkan markas Peralatan Tentara PRRI di pingir laut, sedangkan yang diarahkan ke Markas Dewan Banteng  nyasar kerumah dibelakang bioskop Cinema (Karya saat ini) tapi tidak meledak, sedangkan yang disasarkan ke Markas Komisariat daerah (LANTAS POLDA saat ini) nyasar ke simpang Lima dan menyebabkan rumah penduduk sipil hancur,dan meninggal satu keluarga.

Pada pagi hari tanggal 17 april 1958, terlihat kapal terbang me;layang-layang diats kota padang seluruh rakyat gembira mereka mengira pesawat tersebut adalah bantuan dari Amerika Serikat, ternya bukan pesawat tersebut adlah pesawat angkatan perang republik Indonesia yang menurunkan pasukan khusus angkatan Udara RI (paskhas) dengan parasut, yang kemudian melakukan penyusupan ke kota Padang. Pendaratan pasukan dari kapal sudah dimuali di muara sungai batang arau padang dan di muara sungai kuranji , dan kemudian pasukan tersebut bergerak ke kota Padang.

Dr Iwan dengan ayahnya  Djohan Oetama dan kakak Edhie Johan ,melihat langsung bagaimana tentara berlari zig zag berbelok belok setelah melemparkan granat merebut markas dewan Banteng di depan Rumah ZDR iwan di Jalan Bundo Kandung `16 Padang lihat foto lokasi dibawah ini. Pada saat itu lampu mati dan pemabntu si Panjang asik menepuk nyamuk,dilarang oelh ayah Dr Iwan agar jangan ribut, kemudian suasana jadi sunyi tembakan berhenti, maka Dr Iwan Sekeluarga pergi tidur.

Pagi harinya tanggal 18 april 1958, saat Dr Iwan bangun, ternyata ribuan tentara Banteng Riders dengan baju loreng beristirahat dan tidur dihalaman rumah Dr iwan yang cukup luas 4800 meter persegi, dan sebagian mandi telanjang di sumur diperkarangan sehingga air sumur jadi  habis sampai kering.

(6a1) Penembakan Peluru Cahaya dan Mortir dari kapal Laut Malam tanggal 17 Maret 1958 dan pendaratan di Air Tawar tabing lewat Muara sungai kuranji

(6a2)Pesawat Terbang Melayang diudara Kota padang di Pagi Hari tanggal 18 Maret 1958

(6a3) Perebutan Markas Dewan Banteng malam menjelang fajar tanggal 18 maret 1958

(6b) Illustrasi Pasukan TNI sedang bergerak memebebaskan kota Padang dalam rangka penumpasan Pemberontakan PRRI di sumatera barat.

(6c)Illustrasi Pengiriman makanan ke darat di Muara sungai Arau dengan kapal Ponton 18 aspril 1958

(6d) Illustrasi Senjata yang berhasil dirampas dari tangan pemberontak PRRI Di Sumatera Barat.

(7)PHB Mahazine info “Peran PHB Didalam perang Radio Di daerah PRRI”(Army Communication At PRRI area 1958)

(8) PBH Magazine Info”Menghadapi Peristiwa Berdarah di Barat dan di Timur, Husein di Barat,Naingolan di Timur.

(9) The Official PRRI ‘s Police Document in December,19th. 1958

FRAME FOUR :

PRRI RUN TO THE JUNGLE(PRRI Mundur ke hutan dan Pedalaman)

 

illustrasi Rombongan pejabat PRRI di Markas dirimba Sumatera Barat(Solok Muara panas,dan Kebun Lambau Bukittinggi_Payakumbuh)

I.KISAH Dr IWAN tentang Situasi Setelah pendaratan APRI (NOTE)

1.Situasi Kota padang

1)Patroli Jalan kaki

Dua hari setelah pendaratan APRI dikota Padang(20 April 1958),suasana kota padang sudah hidup lagi rakyat  mulai melaksanakn kegiatan,dan terlihat pasukan patroli  per regu berjalan satu persatu dalam barisan berjalan menyisir jalan membawa senjata api (Karaben). tentara PRRI termasuk penjaga kota(stadwach) sipil sudah menghilang saat pendarat tanggal 18 April ,saat itu mereka lari menyusri selokan menuju keluar kota, menurut informasi mereka lari ke lembah anai dan ladang padi menuju pertahan mereka di Sukaramai.

2)Bertemu Patroli tni dengan jip willys

Seminggu setelah APRI mendarat, Dr Iwan bertemu dengan patroli tentara APRI dua orang dengan mengendarai Jeep willys sedang melihat peta di jalan belakang Tangsi samping Gereja Teresia, saat di tanya mau mencari apa, Tentara APRI marah katanya,anak-anak pergi pulang kerumah(saat itu dr Iwan berusia 13 tahun)

3)Tukang rokok dihukum karena bendera merah putih jatuh

Setiap hari setelah pendaratan APRI di Kota padang,diwaj9ibkan menaikan bendera,termasuk tukang rokok didepan ex kantor Dewan banteng, oleh karena angin kencang,bendera yang dipasang pakai bambu di gerobak rokok jatuh ketanah, seorang prajurit APREI menegur tukang rokok, katanya ” Kami berjuang merebut kota Padang dari PRRI dengan mengorbankan jiwa untuk mempertahankan bendera merah putih,malah kamu menjatuhkannya, ayo pasang lagi dan beri hormat selama satu jam”

4)Ayah Diperiksa di Kodim karena Bendera Lupa diturunkan tetap di jendela tingka dua Percetakan Sumatera Bode .

Ayah Dr Iwan (almarhum Djohan Oetama)  malam hari dipangil ke KODIM Padang karena lupa menurunkan bendera yang terpasangditingkat dua pada jendela percetakan Sumatera Bode, untuk tidak ditahan,hanya disuruh membuat pernyataan untuk tidak mengulangimnya lagi,bila diulang akan ditahan. Sejak itulah hampir seluruh rumah di Kota padang ememiliki tiang bendera dari pipa besi permanet,dan bendera dinaikan pagi hari dan sore diturunkan.

2.Situasi Kota Padang Panjang

Setelah kota Padang diremut,dengan pertempuran yang cukup sengit terutama di Lembah Anai akhirnya kota padang panjang dapt di rebut, tetapi suatu malam isteri dr iwan dengan adik kakeknya  ,kamarnya dirumah disimpang gugukmalintang dan jalan ke Bukittinggi,toko Sim Hok Liong, ditembak dengan mortir ole tentara PRRI dari bukit-bukit di gunung singalang, sebuah peluru mortir jatuh diatp tembus dan masuk kamar tersebut,mereka sembunyi berlindung dibawah temapt tifur, untunglah peluru mortir tersebut tidak meledak sehingga mereka selamat.

3.Situasi Jalan Padang- Bukit tinggi-Payakumbuh.

Perjalana dari padang ke Padang panjang ,bukit tinggi dan Payakumbuh masih dikonvoi oleh tentara APRI. Karena kurang aman, saudara ayah Isteri dr iwan yang saat itu sedang hamil tidak dpat ke Padang panjang untuk hadir pesat perkawinan adinya,karena ia takut nati bila ada tembakan harus masuks elokan bisa melahirkan akibatnya,begitulah tulisan dalam surat yang dikirm lewat kurir. Menurut beberapa polisi kesehatan polda Sumbar termasuk supir ambulans,pernah bercerita bahwa mereka pernah membawa mayat korban tembakan basoka di lembah anai sekitar air mancur, begitu juga teman Dr Iwan partner main tenis dr Liem Tjoen Hway ikut dalm mobil konvoi dari Padang ke bukittingi, mobilnya di tembak dengan basoka ,penge,mdi dan teman disampingnya meninggal dunia, ia selamat karena ditimpa myat teman-temannya. Dr liem tjoen Hway saat itu doketr Wajib Militer yang bertugas ke Bukittingi,tetapi dibatalkan dan di tugaskan di kota padang,temanya satu angkatan dari FK Unair Surabaya, dr Tan Tjong Swan (Suwandy) bertugas di kota padang panjang dan bersahat dengan keluarga isteri dr iwan, Isteri dr Tan Tjong Swan adalah kakak perempuan dr Yap Tjay Kiat yang pindah ke padang bersama temannya dr Inyo manoto(Dr Yap dan dr Inyo lulus di FK Unad,kedua doketr tersebut masih hidup sampai sekarang)

4.Pembebasan Markas PRRI di Ladang Padi dan Sukaramai

Dr Iwan melihat sendiri,pada suatu pagi bebrapa panser bergerak dari ex markas dewan banteng didepan rumahnya, menuju ladang padi guna merebut markas PRRI di sukaramai,tetapi sore harinya kelihatan panser-panser itu kembali dlam keadaan hancur diderek truk,katanya tidak berhasil,sebab daerah tersebut medannya sangat terjal dan sulit utnuk direbut (akhirnya direbut korps brimob,dan dijadikan Pusdik Brimob disana,sampai dr iwan Bertugas di solok tahun 1974 dan baru tahun 1978 dikembalikan setelah para perwira brimbob tak mau menyerahkan senjata mereka dengan alasan mereka sudah susah payah merebutnya,mereka minta naik pangkat dan akhirnya dikanulkan,nama komandannay Mayor Panjaitan),

lihatlah  foto korps brimob saat ini :(bila da yang memiliki foto brimob sukaramai,silahkan memeprlihatkannya pada pameran ini)

 

english version :

STORY Dr. IWAN on the Situation After landing APRI (NOTE)
City padang 1.Situasi
1) Patrol Walk
Two days after landing in the city of Padang APRI (20 April 1958), the city field, are the people began to live again melaksanakn activity, and visible patrols per shift walked one by one in a line running combing the streets carrying guns (carbine). PRRI including soldiers guard the city (stadwach) civilians have disappeared while landing April 18, when they ran menyusri ditch heading out of town, according to the information they fled to the valley termite and paddy fields to their defense in Sukaramai.

2) Meet with the tni Patrol jeep willys
A week after landing APRI, Dr. Iwan met with APRI army patrol of two men driving a Jeep willys’re looking at the map on the back lane beside the Church of Saint Teresa Tangsi, when asked what would look, Army APRI angry he said, the kids go back home (at that time Dr. Iwan aged 13 years)

3) Tailor cigarettes convicted of white-red flag fall
Every day after landing in the City field APRI, diwaj9ibkan raise the flag, including carpenters cigarette in front of the office of the Council ex bull, because of high winds, the flag is mounted on a cart bamboo disposable cigarette fell to the ground, a soldier admonish APREI handyman cigarettes, he said, “We fight for PRRI city of Padang at the expense of the soul to maintain the red and white flag, and you even drop it, let’s plug it in again and give respect for one hour “

4) Father Examined in Kodim because it lowered the flag in the window Forgot tingka two Sumatra Bode Printing.
 Dr Iwan’s father (deceased Djohan Oetama) night KODIM dipangil to Padang for forgetting lowering the flag terpasangditingkat two on Sumatra Bode printing window, not to be arrested, just told to make a statement not to mengulangimnya again, if repeated will be arrested. Since then almost all houses in the City field of the flag pole ememiliki permanet iron pipe, and raised the flag lowered the morning and afternoon.

2.Situasi Padang Panjang City
After the city of Padang diremut, with battles fierce enough, especially at the end Anai Valley desert town in the long DAPT seized, but one night the wife dr iwan with his grandfather’s sister, her room at home disimpang gugukmalintang and road to Bukittinggi, Hok Liong Sim store, shot with a mortar ole PRRI soldiers from the hills in the mountains singalang, a mortar shell fell diatp translucent and the entered the room, they were hidden shelter under temapt tifur, fortunately mortar shells did not explode, so they survived.

3.Situasi Jalan Bukit Padang-high-Payakumbuh.
Perjalana from desert to Padang long, high hill and Payakumbuh still dikonvoi by soldiers APRI. Because of lack of safe, brother dr iwan wife’s father, who was pregnant not long dpat to Padang to attend the marriage adinya rapidly, because he feared if there is a shot Nati must masuks elokan can bear the consequences, so writing in a letter sent by courier. According to several police officers including the health of the West Sumatra regional police ambulance driver, once told me that they had brought the bodies of victims shot in the valley termite basoka around the fountain, as well as friends of Dr. Iwan tennis partner Dr. Liem Tjoen Hway participate preformance car convoy from Padang to bukittingi, car in fire with basoka, knowl, mdi and friends died beside him, he survived because his friends myat overwritten. Dr. Liem Tjoen doketr Hway then assigned to the Military Conscription Bukittingi, but canceled and redeployed in the city in the desert, the theme of the force of the Faculty of Medicine Airlangga University Surabaya, Dr. Tan Tjong Swan (Suwandy) served in the long desert town with family and bersahat wife dr iwan , wife of Dr. Tan Tjong Swan is the sister dr Tjay Kiat Yap who moved to the desert with his friend Dr. Inyo manoto (Dr. Yap and Dr. FK Unad Inyo pass on, two doketr is still alive today)

Headquarters

4.the PRRI battle  in Rice Fields area(ladang Padi  ) and Sukaramai
 Dr Iwan see for yourself, one morning some armored headquarters move from ex council house in front of Dewan Banteng Heatquaters , to the rice fields in order to seize the headquarters PRRI sukaramai, but the evening seemed Panzers Panzers-back dlam ruins towed the truck, he does not succeed, because the area The terrain is very steep and difficult to be taken separately (Brimob corps finally captured, and made Pusdik Brimob there, until Dr. Iwan Assignment in a new gift in 1974 and in 1978 returned after the officers brimbob not want to give up their weapons on the grounds they had painstakingly captured, they ask to be promoted and ultimately granted, the name of the commander Maj. Panjaitan),

see photos Brimob corps at this time: (if anyone has a photo Brimob sukaramai, please show it)

 

 

III.APRIL-DECEMBER 1958 PRRI COLECTIONS

1.The PRRI Informations Bulletin (9 pages, very rare only one exist , also important info,only for premium member can buy the  limited private  issued e-book PRRI in CR-rom)

 

2.The Postal History collections

1) Lettersheet send from Padang Panjang to Padang CDS Padang June,4th.1958(APRI area)

2)July,27 th .1958

 

The money order from Bukittingi CDS 22.7.58 to Batang ankola south Tapanuli, return to sender with handwirtten mark in indonesian language :”Kembali Pengirim Perhubungan Tidak Ada”(Return to sender no communications exist),

 

and One years  later  in CDS Padangsidempuan  12.8.59 the reciever get the money  with red handstamped postmark in Indonedia langauge  “DENGAN PERDJAJIAN AKAN MENGEMBALIKAN DJUMLAH INI KEPADA DJAWATAN PTT APABILA TERNYATA BAHWA POSWESEL ASLI DJUGA TELAH DIBAYAR”.WITH THE NUMBER OF THIS AGREEMENT WILL RETURN TO PROVE THAT IF PTT service money order also HAS PAID THE ORIGINAL

(This very interestin and rare postal history collections after APRI occupayied Padang City, the communication from Padang to Padang Panjang,Bukittinggi and Payakumbuh exist only with army Convoy, but to south Tapanuli still didinot exist-Dr Iwan Notes)

IV.JANUARY-DECEMBER 1959 PRRI COLLECTIONS

1.Surat Keliling PTT no 10 Tentang Pemberian Tunjangan istimewa Kepada Para pegawai yang melakukan tugasnya diaerah tidak aman berhubung bahaya pembunuhan/penculikan dari fhak gerombolan pengatjau bersenjata. Lapiarn 1(satu) Penetapan Direktur Djenderasl Pos,Telegraph dan telephon tanggal 28 Maret 1959 no.16137/adm 2.Lampiran Surat keliling PTT no 1o tahun 1959, Daftar pembajaran tunjangan Istimewa berhubung bahaja pembunuhan/pentjulikan kepada pegawai PTT didaerah/tempat tidak aman.

Roving PTT Letter No. 10 About Special Allowance To Employees who perform duties in connection hazard unsafe diaerah murder / kidnapping of fhak pengatjau armed gangs. Lapiarn 1 (a) Determination Djenderasl Director of Post, Telegraph and telephon dated March 28, 1959 no.16137/adm 2.Lampiran PTT circumference Letter No. 1o, 1959, List of Special allowances pembajaran danger since the murder / pentjulikan to PTT officials in the area / place is not safe

FRAME FIVE :

RPI and The End of PRRI Movement(RPI dan Akhir Pergolakan PRRI)

I.Google Exploration

In August 1958 the rebellion ended and the government in Jakarta regained control of the rebel areas

II.The Dewi Sukarno protes about CIA help  PRRI in 1958 (time magazine)

III. Dr Iwan ‘s Historic collections

1.Kisah Dr iwan (note)

Dr Iwan sangat beruntung dapat mengumpulkan banyak koleski historis PRRI, umumnya adalah arsip-arsip yang dibuang dan dijual dilapak, kemudian disimpan dengan rapi sampai saat ini masih dlam keadaan cukup rapi, koleksi ini adalah satu-satunya koleksi faktual PRRI pribadi yang mungkin masih ada dan cukup lengkap karena banyak yang sudah dibakar habis saat penumpasan PRRI, begitu juga koleksi uang kertas banyak ditemui saat maish bertugas di solok,Batusnagkar dan sijinjung serta juga ditemui di Bukittinggi sehingga dpat memberikan gambaran situasi PRRI dengan lebih faktual historis. Mohon maaf tidak dapat ditampilkan seluruh koleksi di pameran cybermuseum ini karena terlalu berat untuk ditampilkan, bila da yang ingin melihat koleksi secara lengkap,jadilah anggota premium dan and a dpat membeli e-book terbatas dalm CR-rom hanya seratus items saja,dan buku sedang dipersiapkan dalm jumlah yang lebih bnayak, dr iwan mengharapkan kerjasama dari para penerbit, silahkan menghubungi liwat comment.

Dr Iwan very Fortunate to be Able to collect a lot of historical koleski PRRI, Generally Are the archives are removed and sold dilapak, then stored neatly until now is still pretty neat dlam circumstances, this collection is the only collection of personal factual PRRI That may still exist and quite complete Because many are already burnt down while crushing PRRI, as well as the collection of paper money were the resource persons encountered while on duty in the gift maish, Batusnagkar and sijinjung and also met in London to Provide an overview dpat PRRI situation with a Historically more factual. Sorry can not display the entire collection in this exhibition Because it was too heavy cybermuseum to be shown, if da WHO want to see the complete collection, become a premium member and and a dpat buy limited e-book preformance CR-rom just one hundred items, and books are being prepared preformance more number bnayak, dr iwan expect cooperation from the publishers, please contact through the following comment

2.Postal History

1)Military Postal Mark covers

2)The West Sumatra Official Postal Service Letter’s Book Note 1958

2a) Between 15 February-17 april 1958

2b) After April 1958

3.Numimastic history

1)PRRI Overprint and handsign of Old DEI Nica banknote

 

 

2)PRRI Nagari (village) Overprint Low Nominal RI Banknote 1952-1958

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3)PRRI leader handsign and Official Stamped on High Nominal Banknote Rp 1000.-

a) Sjafruddin Prawira Negara (the command leader Of PRRI)

 

 

 

 

b)Ahmad husein Dewan Banteng’s Chief command West Sumatera and the  later Kompas info about Ahmad Husein Had pass away.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c) Barlian Dewan Gajah’s chief Command  South Sumatra

 

 

 

 

 

3)The PRRI Definitif Banknote

a)Rp.1 (never found in west sumatra,maybe Jambi area)

b)Rp.5,

 

 

c)Rp.25.

 

 

d)Rp 100.

 

 

4.The RPI Document Collections

Koleksi ini ditemukan teman dr iwan di bukittinggi, sayang yang bersangkutan tidak mengizinkan untuk difoto.

1)Surat utang Negara(SUN)RPI  dan Surat pengantarnya

surat Hutang RPI berbentuk secarik kertas dengan lambang garuda Indonesia, menerangkan bahwah pemerintah RPI berhutang (seperti SUN) dan akan dibayar dengan mata uang yang berlaku setelah jatuh tempo. Surat pengantar SUN tersebut,mereangkan bahwa nama seseorang yang ditugaskan mengantar sSUN RPI tersebut,lengkap dengan tanda tangan komadan kesatuan dan stempelnya.

2)Pariaman and Mentawai island ‘s police resort document in March,25th 1961.

 

 

5.The PRRI Travelling Pas Document

 

 

 

6.The RI Brimob Document during RPI in October 1960.

 

 

7. The Document of PRRI attack Pos kuntu Riau complete with the areal position situation(very rare original document)

 

 

8.The Collections Of Local Newpaper “Haluan ” Informations About Ahmad Husein and Simbolon.also The PRRI back to Padang after General Nasution meeting with Ahmad Husein.

1. PENERANGAN 8 NOPEMBER 1958:

 

1) PERHUBUNGAN DGN SOLOK  DAN SEI PENUH LANTJAR KEMBALI

Perhubungan lalu lintas antara Padang dengan solok yang terputus bebrapa hari yang lalu karena ada gangguan dari pihak pemberontak, kiini telah pulih kembali.

2)DAHLAN DJAMBEK DISINJALIR DI KOTO TANGAH

 

Penerangan Komando operasi 17 Agustus mengumumkan bahwa hari senin tanggal 27 oktober yang lalu Dhalan Djambek,kapten PRRI Sjahruddin dan Kapten PRRI Azhari disinyalir berada dikoto Tengah dalam kabupaten 50 kota (Payakumbuh). Selanjutnya mengenai penghadangan yang dilaukan terhadap Bus Umum didesa Jawi-Jawi Kabupaten Solok ,dikabarfkan 111 Bus Umum dicegat dan dilarikan Gerembolan Pemberontak. Pencehatan itu dilakukan oleh lebih kurang 200 orang gerembolan dipimpin oleh bekas kapten Isris M. Keseokan harinya

 tanggal 2 Desember 1958, kesatuan dari BR 441 Diponegoro mengadakan penegjaran dan telah berhasil menemukan ke sebelas Bus tersebut. Menurut keterangan,selain merampok dan melucuti barang-barang  penumpang Bus tersebut , gerembolan juga membawa lari beberapa orang penumpang.

Tanggal 5 Nopember yang lalu,

dalam suatu gerekana pembersihan yang dilakukan oleh APRI dari

 

Pos Lubuk Selasih kesekitar Desa Cupak Kecamatan gunung Talang (di Kabupaten Solok),

 telah dapat menembak mati dua orang gerembolan dan merampas

 

Sepucuk senjata pistol Bouwman.

3)TAHAN KMT DAN PRRI DITEMPATKAN DIPULAU ONRUST

Para tahanan Kuomintang (Tionghoa) dan PRRI -PERMESTA yang pokoknya dituduh terlibat dalam berbagai kegiatan suversif dfdaerah, sejak bebrapa lama ini ditempatkan di pulau Onrus yang terletak di teluk Jakarta(Kepulauan seribu).

Wakil KASAD

 

Brigadir Jendral Gatot Suroto ,

 hari rabu telah melakukan inspeksi

 

 

 

dipulau Onrust

dengan diantar oleh ketua Penguasa Perang Jakarta Raya Letkol. Dachjar.

 Pulau Onrust termasuk salah satu tempat yang dinyatakan sebagai objek militer, dimana orang dilarang masuk kedaerah itu tanpa izin pihak Penguasa Perang Daerah Swatantra I Jakarta Raya.

 

 

 

 

 

 

4)IKLAN KEMATIAN DR.MOEHAMMAD JOESOEF

 

Dengan kodrat ilahi telah berpulang Dr Mohammad Joesoef dalm usia 64 tahun, semas hidupnya beliau adalah dokter partikelir Ahli Penyakit Mata, telah berpulang dirumahnya jalan Sekolah no.2 Bukit Tinggi pada hari selasa tanggal 4 November 1958. Kami yang berduka ,isteri Dr M.E.Joesoef Thomas ,Anak : Sonja dan ERwin Dameri, dsbnya(DR Thomas adalh dokter terkenal di Sumatera Barat, khusus buta keluarganya untuk jadi kienangan-crtatan dr Iwan)

2.SUARA PERSATUAN 8 MARET 1961

1)Pistol A.Husein Diramopas  Operasi “Rudjak Polo” RTP III DipUntuk kesekian kalinya Rumah Tahan Politik(RTP) IIII?Diponegoro selam 6 hari berturut-turut telah melancarkan Operasi”Rujak Polo” dibawah pimpinan Komandan RTP Let Kol Parwoto yang dibatu stafnya. Selain irtu pasukan dari Bataljon 441 dalam operasi tersebut dipimpin oleh Letkol Hardojo Dan Jon 441.Objek operasi adalah Tanjung Balit,Simosa dan Batu Berjanjang kecamatan Payung Sekaki(Kabupaten solok). Ditempat tersebut diduga berada gembong gerembolan PRRI Ahmad Husein cs. Operasi dari tanggal 18 sampai 24 Pebruari 1961 dilancarkan dengan gerakan non stop sehingga Gerembolan tidak mempunyai kesempatan untuk berlindung dan terpaksa melarikan diri kehutan menghindari pertempuran langsung VC dengan pesaukan APRI.

 

Pistol Milik Ahmad Husein

SElama dalm gerakan non stop tersebut, pasukan APRI telah berhasiol merampas senjata dengan initial AH yang diduga milik Ahmad Husein, juga satu pucuk Stengun, 1 generator ;listrik 125 KW, selai iru juga dirampas alat radio penyiar, bahan makanan dan juga gubuki-gubuk persembunyian gerembolan dan tealh dimusnahkan. Dalam gerakan ini juga telah tertembak mati seorang Letnan satu gerembolan  yang bernama Anwar dan Pembantu Letnan Dua gerembolan H.Munir.

Alat radio ditemukan di Guguk Runcing, pembersihan yang dilakukan oleh TOn 2/1/431 di Guguk Runtjing telah berhasil  ditemukan alat penyiar Radio Perhubungan,kendaran bermotor,sepeda,satu peti peluru 12,7 mm dan perlengkapan militer lainnya.

Selanjutnya dalam operasi ini di area Sarik Alam Tigo Daerah Alam Pandjang tanggal 23 pebruari 1961 berhasil dirampas beberapa senjata  dan dokumen-dokumen penting PRRI.Di kompleks Sarik tersebut diduga Mayor PRRI Amirhamsjah dan stafnya berada. dan pasukan APRI telah merapas didaerah tersebut sejanta yang terdiri dari 2 buah Bazooka, 2 LMG,1 Karaben, 1 Own Gun.sebuah radio penerima Phillips disamping beberapa dokumen.

2)Dalam surat kabar ini juga ada berita dari Kota Padang Panjang

Diruangan balaikota Padang Panjang telah diadakan penyerahan bantuan kepada para korban keganasan gerembolan PRRI didaerah Kotapraja Padangpanjang.Hadir  pada upacara ini R.Sudioto sebagai wakil Walikota Padang Panjang, DAN Vak a Jon 439 Diponegoro Lettu Kasimin, Dan CPM Pelda Sukarim,BUTERPRA Peltu  Mawardi,dsbnya.Para korban berjumlah 50 orang.

Kepala KAntor Sosial Padang Panjang  M.H,Dt.Gamuk  menyatakan bahwa bantuan ini diberikan oleh PAPERDA (Penguas perang daerah)  via Inspeksi  Sosial Provinsi sumatera Barat  yang terdiri dari  kain blacu 10 blok, kain panjang 40 lembar dan untuk korban yang rumahnya terbakar  telah disediakan  pula bantuan 70 karung semen dan paku 94 kg.Juga diberikan bantuan 4 kg beras untuk waktu sepuluh hari bagi tiap-tiap niwa.

Selanjutnya Lettu Kasimin menegaskan dalam keadaan sekarang ini,dimana gerembolan sudah sangat terjepit dan tidak berdaya lagi menghadapi kekuatan APRI,maka rakyatlah yang menjadi sasaran mereka., oleh karena itu rakyat harus waspada dalam menghadapi gerask gerik gerembolan, Akhirnya ditandaskan ,supaya rakyat harus  dapat  memidsahkan garis-garis anasir gerembolan PRRI_RPI, agar persatuan kita untuk masa mendatang  lebih kuat lagi.

3)DJAREK BUNG KARNO

 

dalam pidato Djalannya Revolusi Kita(Djarek) bung karno yang dimuat dalm surat kabar ini terdapat tentang PRRI :

Semua warganegara ,Jawakah ia, Minangkabaukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, semua warganegara harus bersatu, dengan tidak pandang perbedaan suku bnagsa,tidak pandang agama,tidang pandang keturunan asli atau tidak alsi. Pemberontakan PRRI,pemberontakan Permesta,kegiatan subversif Manguni,tidak boleh diarftikan berontakan atau kegiatan subversif suku Minangkabau atau suku Minahasa. Pemberontakan itu adalah perbuatan kaum imperialis yang memeprgunakan orang-orang pengchianak  dari budak-budak dari suku itu atau suku lain.Rakyat dari semua suku dan dari semua turunan ,asli atau tak asli-sipetani,siburuh,situkang dokar,sinelayan,sipegawai kecil, sipedagang kecil,sijembel ,simarhaen- adalah cinta kepada Republik Proklamsi menyetujui Manipol (manifesto Politik) dan USDEK,gandurng kepada masyarakat adil dan makmur.Rakyat itu semua harus di Gotong Royongkan dalam perjuangan raksasa ini.

3.SUARA PERSATUAN 6 APRIL 1961

1)bekas Letkol somab dan 25.0000 anggtota Permesta Kembali

 

2) Mobrig Tewaskan Sisa gerembolan Didaerah Agam.

3)Iklan Restoran Lape salero di depan Apotik Kinol Padang denga sate goyang lidahnya(Dr Iwan Masih ingat makan disana-nstalgia

 

4)KESATUAN BANTENG MELAPOR

tanggal 30 maret 1961, sekitar jam 06.00 telah datang melaorkan diri pada pos APRI di Lubukalung serombongan sisa gerembolan dari kesatuan yang dinamakan “Kesatuan Banteng” DIBAWAH PIMPINAN BEKAS sERSAN i  iDRUS DENGAN ANAKI B UAHNYA SEBAYAK 23 ORANG LENGKAP DENGAN SENJATANYA 20 PUCUK TERDEIRI DARI 1 BREN,10 GARAND,2 JUNGLE,1 lOUSER, 1 KIROF,2 PINGPONG, 2 STEN DAN 1 PISTOL BIKINAN TAIWAN LENGKAP DENGAN PELURUNYA.

Daftar nama gerombolan tersbut,sersan I Idris, Bj.Udin,Bulap,Idris, Ali Umar, Mhd Sulis dstnya Nur Basri (daftar lengkap hanya untuk anggota premium).

sisa Gerombolan yang benar-benar insjaf hendaknya kembali kepangkuan RI, mereka dapat diterima dengan wajar asal saja merekan membawa persenjataannya, tepai jika masih membangkang APRI tidak akan segan-segan menghancurkannya ,demikian kata Lettu zzzzmoch.Kasimin Dsn Vak LA Tor/Dim 32/03 08 Kie III Jon 446 Diponegoro.

4.SUARA PENERANGAN 17 APRIL 1961

1) PangDam III/17 agustus: Tugas APRI menolong melepaskan msayrakat dari Fitnahan/Penderitaan(Kol.Soerjosoempeno)

2)SAMBUTAN GUBERNUR SUMBAR(Kaharudin Dt Rkj Basa) :’ 17 april 58 awal penumpasan Penyelewengan.

 

3) illustrasi Masyarakat sumatera barat umumnya dan Kota Padang khususnya memperingatai hari ulang tahun III pembebasan Sumbar , ditengah meneriahkan hari bersejarah ini sejenak kita kenangkan bagaimana kekejaman sisa gerembolan selama ini dengan teroir yang dilakukan dalam kota seperti melemparkan granat di bioskjop,saat Pekan USDEK yang membawa korban bukan sedikit dikalangan rakyat dan anak-anak dibawa umur., mereka baru sjaa menerim abnatuan dari masyarakat yang dilangsungkan dengan satu upacara di Balai Kota Padang tanggal 4 April 1961.

4) 342 orang Tahanan  SOB (darurat Perang) dan RPT Kodam III/17 Agustus  di Padang telah dibebaskan dalam upacara yang dihadiri oleh Pangdam III/17 Agustus Kolonel Soerjosoempeno(terakgir jendra,MenHankam,Pangab) dalam rangka hari ulang tahun ke III Pembebasan Sumatra Barat tanggal 17 April 1961

 

5)Iklan Ucapan selamat  Ulang Tahun Ke III Pembebasan Kota Padang Oleh APRI

 

(khusus ditampilkan untuk kenang-kenangan bagi pemilik toko dan usaha dikota Padang dari DFr Iwan S, seperti NV Lam Kiauw,Lay Hin, Toko Shanghai,Eng Djoe Seng,Toko Diamond,Restorn Hongkong,toko tip top,Maison Tokio, toko Maskot,Toko Hercules,bioskop raya(Pak wirako)dan Toko Seng didepannya,restorant Selamat dsbnya,semoga para anak-cucu dri perusahan tersebut menngiggat leluhurnya saat PRRI.

 

5.SUARA PERSATUAN 18 APRIL 1961

1)Kata kawilarang “saya Tak ada Hubungan apa-apa dengan samual dan PRRI”

2)Peringatan 2 tahun KODAM 17 agustus, Kolonel ahmad yani menyerahkan pandji KODAM III “Wira sakti” kepada Panglima Kodam III Kol.Soerjosoempeno.

 

 

 

3) Semua Kegiatan PTT daerah V sudah Berjalan Seperti BIasa

M.Soepardi kepala PTT Derah V meliputi Sumatera Barat dan Riau Daratan mengatakan bahwa dalam masa tiga tahun ini sejak 24 April 1958,seluruh kegiatan PTT daerah V sudah berjalan seperti sebelum pergolakan PRRI .Admninistrasi kantor-kantor PTT sekarang dibawah kearah normal ,sekalipun mengalami kesulitan antara lain karena keadaan pegawai yang masih dibawah formal.Pada tingkat keadaan sekarang seluruh kantor PTT di Sumbar dan Riau daratan telah dibuka kecuali di Di sulit Air, Sungaui Dareh dan Rao. (Dr iwan menemukan koleksi Wesel Pos Yang dikirm dari Padang ke Batang ankola Tapanuli Selatan yang tak dapt diteruskan karena belum ada hubungan.jalan pos harus liwat Rao dan panti kecamatan Lubuk sikaping).

Tapi ditiga tempat tersebut dalam waktu pendek akan dibuka. Disampoing mengadakan perbaikan besar dan kecil pada kantor-kantor Pos,juga diadakan pembangunan kantor pos baru yang permanen dibeberapa daerah seperti Lubuk alung,Priaman,Lubuk Basung dan Teluk Bayur.

4) 1500 Orang Rakyat Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi.

Akibat operasi yang dilakukan oleh Jon 431 Diponegoro semenjak 7 sampai 11 april 1961 secara terus mmenrus dodaerah operasi Gantung Tjiri,Pinang Sinawa dan Bukit Silaung , telah berhasil mengemluikan 1500 orang rakyat dinegeri itu kembali kepangkuan Ibu Pertiwi, dan kini mengungsi ke negarai Tjupak,Talang dan Guguk Kabupaten Solok.

5)Iklan National Optical, milik teman Dr Iwan Drg Willy dan adiknya POP serta suaminya almarhum The See Liang(meninggal tahun 2012).

 

dan iklan restauran TRIPOLI didepan apotik Kinol,tempat nostalgia Dr iwan karena memebli loteri yang memperoleh hadiah Sepeda Motor.(ini ditampilkan buat kenangan anda dari Dr Iwan )

 

6.SUARA PENERANG 21 APRIL 1961

1) Lagi Anggota Kesatuan Kurandji Kembali

2)27.000 anggota Paermesta Kembali termasuk Yg Dibawa Oleh Somba.

3) Pertunjukan “Mak Djomblang” Oleh artis Fiolm trekenal Daeng Harris, Bambang Hermanto,Ramlah,Didit,Hartini biduan RRI dan Suhaimi biduan orkes Bukit Siguntang. dr iwan ikut menyaksikan dan berftemu dengan arktor Bambang Hermato, pertunjukan di Wisma Pantjasila dipingir laut yang saat ini sudah hilang dikuras ombak lautan hindia.(nostaligia lagi buat teman-teman Dr Iwan)

 

7.SUARA PENERANGAN 1 DJUNI 1961

1) Mr Sjafruddin Sedih dan Harap Belas Kasihan .Surat pribadinya untuk “Alat Bersendjata PRRI”

 

2)639 Orang anggota gerombolan Melapor Insjaf

8.MIMBAR MINGGU 4 DJUNI 1961

1) Mr sjafruddin Di Hutan Rao Simbolon di Hutan Tapu

 

 

 

 

2)illustrasi pantai kota padang

 

 

3)poster iklan Taruna AMN

 

4)Illustrasi Latihan Militer di Air Tawar

9.SUARA PERSATUAN 20 DJUNI 1961

1) 247 Ex pengikut PRRRI/RPI Dikembalikan Kemasyjarakat

2)602 Pucuk Senjata Disita

3)Tukarkan Segera  uang kerta Bank Indonesia edisi 1952 pecahan Rp.5,Rp.10,Rp 25 dan Rp.50.- berdasarkan pengumuna 2 juni 1961.

4)Mobrig Jon 1130 Sampai di Padang yang diperbantukan di KODAM IIII  dipimpin Komandannya AKP Soewarso Haryono. dengan persenjataan lengkap.

10.SUARA PERSATUAN 21 DJUNI 1961

1) Nj, Samual dan Pantouw  Tertangkap ,Operasi “Guntjang” hantjurkan Kekuatan Sumual.

 

11.SUARA PERSATUAN 27 DJUNI 1961

1) Achmad Husein cs Telah kembali Kepangkuan RI

2) 36 ex Pengikut PRRI/RPI Dikembalikan Kemasjarakat

12. SUARA PERSATUAN 29 DJUNI 1961

1) Sjafruddin Gelisah dan Tjuriga jang dianggap Kawan Mau Menangkap

 

2) Sudah 2737 Herombolan Laporkan diri Selama  1 Minggu

3) Iklan Reklame Film Bioskop Raya (1) Detik2 Berbahaya, bintang film,Mieke Widjaja,Hadisjam Tahax,Alwi dan Jeffry Sani  diiringi band Taruna ria, (2) Taruna Djenaka (Ayam den Lapeh),(3) Konsepsi Ajah ,bitang film Fifi Young dan chaitir Harro

 

12.a.SUARA PERSATUAN 30 DJUNI 1961

1) Achmad Husein dan pengikutnja Laporkan diri Kepada dejah Sumatera

 

2)illustrasi makan bersam achmad husein, dan KASTAF KODAM III

9.Kisah Dr iwan saat PRRI  Kembali ke Ibu Pertiwi dari grilja(Back from Jungle gueirilla)

Dr Iwan Had seen  many ex PRRI army  back from jungle to Padang City fron guirellia, some were put at the Santu Jusuf bulting(CCH) in the from of HBT,beside Tanah Kongsi market.

Dr Iwan melihat banyak sekali ex pasukan PRRI yang kembali ke Kota padang dari grilja, sebagian ditampung di gedung CCH Santu Jusuf di depan HBT Padang.dibelakang Tanah Kongsi.

Dr Iwan Hope this factual PRRI historic  Colletions,will add the historical fact of PRRI situationsdan Still many collections of overprint PRRI on RI Paper Money will added later.

Semoga  kisah dan koleksi PRRI ini dpat memberikan tambahan faktual historis PRRI.Masih banyak lagi koleksi Uang RI dengan cetak tindih stempel Nagari yang akan di tampilkan kemudian.

.

 

 

 

 

 

THE END @copyright dr iwan suwandy 2012

In 15 February 1958 Lieutenant Colonel Ahmad Hussein declared the existence of PRRI. The Government in Jakarta immediately sent the army to destroy the rebellion and dishonorably discharged the three colonels. Army chief of staff Nasution Army immediately announced that the territorial army would be placed under his command. In short most of the areas were easily recaptured by the army, and most of the rebels’ weapons were retrieved in good condition by the army.

The U.S. government, which supported the rebels, started to withdraw their forces immediately after one of their fighter planes was shot down and its pilot Allen Pope was shot over Ambon.

In August 1958 the rebellion ended and the government in Jakarta regained control of the rebel areas.

Permesta historic information

The man behind permesta

Ventje Samual

 

e

 

 

 

Dia adalah sisa-sisa sejarah.

Datang dari sebuah desa di Minahasa, Sulawesi Utara, Herman Nicolas Ventje Sumual menuliskan bab penting sejarah negeri leluhurnya. Maret, 51 tahun lampau, ia membacakan Permesta. Deklarasi ini mengandung tuntutan penting pada Jakarta: otonomi daerah seluas-luasnya dan penghapusan sistem pemerintahan sentralistis.

Bermula dari deklarasi, Permesta meruyak menjadi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) setelah Jakarta menjawab tuntutan mereka dengan senapan. Sumatera dan Sulawesi bergolak. Pemberontakan itu diselipi kontroversi keterlibatan intelijen Amerika. Tapi Ventje punya versi sendiri yang dia tuturkan panjang-lebar kepada wartawan Tempo  Widiarsi Agustina dan Nugroho Dewanto. Di usia  85 tahun, ingatannya masih jernih dan benderang. Ia membayar mahal “sejarah Permesta” dengan penjara dan pemecatan sebagai tentara. Tapi dia bilang, “Saya tidak menyesal.”

 

 

***

 

Rumah tua yang teduh itu, di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi saksi pertemuan kami dengan Jenderal Nasution. Suatu hari pada akhir Oktober 1961 kami tiba di rumah itu. Dalam ruang tamu berwarna cerah, tuan rumah menerima kami dengan begitu hangat–sesuatu yang tidak saya sangka. Nasution sendiri yang membuka pintu. Ia meminta ajudannya menghidangkan kopi dan makanan kecil. Ini di luar kebiasaan Nasution yang kami kenal jarang menerima tamu di rumah berlama-lama.

 

 

Tapi, begitulah, pagi itu terasa istimewa. Tiga tahun lamanya menjadi pemberontak di pegunungan Sulawesi, baru kali itu kami bertatap muka kembali. Saya datang dari Manado, diantar Kolonel Soenandar Priosudarmo, Panglima Kodam XIII/Merdeka, Sulawesi Utara. Tujuan saya, melapor ke Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution: saya menyerah, kembali ke pangkuan Republik, tanpa syarat. Saya juga mengaku telah memberontak. “Tapi saya tidak pernah menyesalinya.”

 

Nasution tidak marah. Ia menjelaskan keputusan Presiden Soekarno memberikan amnesti dan abolisi bagi para pengikut gerakan Permesta. Saya ternyata masuk golongan A, jadi harus dikarantina. Golongan A adalah para tokoh nasional yang disebut Soekarno dalam keputusannya sebagai “Penghalang Roda Revolusi”.

 

Saya tidak tahu soal amnesti dan abolisi. Bergerilya dari satu pegunungan ke pegunungan lain membuat saya tak banyak mengikuti perkembangan dunia luar. Maka, ketika Nasution bicara panjang lebar tentang hal itu, saya diam saja mendengarkan.

 

Saya sempat bingung, kenapa Soenandar memundurkan tanggal penyerahan saya–mundur 16 hari dari saat saya turun, 20 Oktober 1961.

 

 Ternyata, kata Soenandar, 5 Oktober adalah batas akhir yang ditetapkan bagi anggota gerakan PRRI dan Permesta untuk menyerahkan diri. “Supaya masih bisa masuk daftar yang direhabilitasi,” ujarnya.

 

Dibanding tokoh Permesta lainnya, saya termasuk yang paling akhir turun gunung. Tokoh lain seperti Mayor Jenderal Alex Evert Kawilarang, yang juga Panglima Besar Republik Persatuan Indonesia (RPI), sudah lebih dulu turun bersama 10 ribu anggota pasukan. Mereka ikut apel penyerahan diri yang disaksikan Jenderal Nasution dan Jenderal Ahmad Yani di Manado, Mei 1961.

 

Bagi saya, sebelum pimpinan saya, Perdana Menteri RPI Sjafruddin Prawiranegara mengumumkan berakhirnya permusuhan, saya akan tetap di hutan. Hingga saat itu masih ada 200 orang pasukan ikut bersama saya.

 

Ketika Soenandar mengirim Gunarso, asistennya, meminta saya menyerah, saya tetap menolak. Saya bilang, hanya mau turun kalau ada surat dari Sumatera. Saya menunggu perintah dari Pak Sjafruddin. Dia mengumumkan berakhirnya pertentangan dengan RI sejak 17 Agustus 1961.

 

Pada Oktober

 

saya baru menerima kopi surat dari PRRI. Semua tokoh RPI meneken. Saya menyerah.

 

***

 

 

 

Lahir di Remboken, 11 Juni 1923, nama saya sebenarnya adalah Herman Nicolas Sumual. Tapi, di kalangan kawan-kawan dekat, saya populer dengan Ventje. Itu panggilan semasa kecil. Remboken adalah sebuah desa kecil di pinggir Pantai Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Di situ kami tujuh bersaudara dibesarkan dengan keras oleh ayah saya, seorang sersan KNIL (serdadu Belanda).

 

Pada 1950,

saya kembali ke Sulawesi setelah bertugas sebagai Kepala Staf Brigade VI di Yogyakarta.

 

 Saya menjadi anggota Komisi Militer Indonesia Timur dengan tanggung jawab utama di Sulawesi Utara, tanah kelahiran saya. Komisi militer saat itu bertugas mendaftar bekas anggota KNIL menjadi anggota TNI. Begitu pula para gerilyawan yang ikut memanggul senjata.

 

Di situlah saya akhirnya menemukan kondisi prajurit yang mengenaskan. Keluarga mereka tidur berimpitan dalam bilik-bilik berdinding lembap.

 

 Sebuah ironi, ketika para suami keluar berbaris dengan seragam gagah, tapi anak-istri duduk menunggu di dalam tangsi, kurus dan pucat.

 

Situasi ini membuat saya, para perwira dan tokoh masyarakat di Sulawesi, menoleh ke Jakarta. Kami menyumbang pendapatan besar bagi negara dari hasil ekspor kopra, tapi sedikit yang kembali ke daerah. Inilah yang membuat pimpinan militer kami di daerah terpaksa menempuh langkah terobosan.

 

Salah satunya dilakukan Panglima Indonesia Timur saat itu, Joop Warouw, yang mengizinkan barter kopra. Cara serupa dilakukan sejumlah pimpinan militer di daerah lain, seperti Sumatera dan Kalimantan. Hasilnya dipakai membangun barak prajurit yang di bawah standar kepatutan.

 

Sebaliknya, Jakarta melarang barter. Pimpinan TNI di pusat, Nasution, malah menindak Warouw. Teguran serupa diberikan kepada daerah lain. Larangan barter itulah yang semakin memantapkan keyakinan kami, otonomi seluas-luasnya harus diwujudkan.

 

Ketidakpuasan di kalangan perwira memuncak ketika kami menggelar reuni Korps Perwira Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Cibangkong, Bandung,

 

 

November 1956.

Salah satu yang dibahas adalah kekecewaan atas kepemimpinan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dia dianggap kurang memiliki perhatian kepada prajurit.

 

Kawan-kawan di Korps SSKAD itu bersepakat, situasi ke depan bakal semakin gawat. Keretakan di tubuh TNI tak terbendung. Apalagi pengaruh komunisme semakin merajalela. Dalam reuni itu diputuskan, “Bila kami terpaksa berhadapan, tidak akan saling menembak.”

 

***

 

 

 

Keresahan di sejumlah daerah di Sumatera akhirnya melahirkan pergolakan.

 

Pada akhir 1956 dan awal 1957,

 lahirlah Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan Dewan Garuda di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Selatan. Hawa perlawanan merembet ke Sulawesi. Para pemuda Bugis dan Minahasa menuntut pendirian dewan serupa di Sulawesi.

 

Gubernur Andi Pangerang dan para pejabat daerah menangkap keresahan ini. Mereka menyusun konsep tuntutan otonomi daerah yang akan dibawa ke Jakarta. Sejumlah perwira membahas hal serupa.

Pada 28 Februari 1957,

 gubernur dan para pejabat daerah di seluruh Sulawesi berusaha berunding dengan Jakarta mengenai tuntutan otonomi pembangunan. Kami bertemu mereka dalam pesawat saat pulang ke Makassar.

 

Lantaran upaya negosiasi tidak digubris Jakarta, begitu tiba di Makassar kami sepakat menggelar rapat menyusun konsep perjuangan otonomi. Rapat hari itu,

 

 

 

1 Maret 1957,

berlangsung hingga menjelang subuh di rumah Gubernur. Pada akhir rapat, 51 orang yang hadir meneken Piagam Perjuangan Semesta.

 

Saya peneken pertama. Penanda tangan lain di antaranya Mayor M. Yusuf dan Sjamsoeddin, ayah Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin. Kami kemudian membacakan Deklarasi Permesta.

 

Setelah itu, saya sebagai Panglima TT Wirabuana menyatakan Indonesia Bagian Timur dalam keadaan darurat perang. Gubernur Andi Pangerang juga membacakan seruan agar rakyat tetap melaksanakan pekerjaan sehari-hari.

 

Saya juga menggelar Kongres Bhinneka Tunggal Ika di Makassar,

 

Mei 1957.

 Wakil dari semua kabupaten di empat provinsi Indonesia Timur hadir sekaligus menyatakan dukungan kepada Permesta. Belakangan, Nasution dan Ahmad Yani setuju dengan konsep itu. Sekitar Mei 1957, saat berkunjung ke Makassar, Nasution menyatakan sepakat dengan isi Permesta.

 

***

 

Pertengahan September 1957,

 

 Soekarno dan Kabinet Perdana Menteri Djuanda menggelar Musyawarah Nasional (Munas). Sebenarnya ini tawaran kompromi pemerintah atas tuntutan daerah. Terlihat sekali Soekarno ingin melakukan rekonsiliasi. Ia bahkan melepaskan 41 anggota Dewan Banteng dan Garuda yang ditahan.

 

Agenda Jakarta ini membuat kami merapat. Pada 8 September, saya bertemu dengan Letkol Ahmad Husein dan Letkol Barlian di Palembang. Hasilnya, lahir enam pasal tuntutan yang kami bawa ke Munas.

 

 Di antaranya, pemulihan kembali dwitunggal Soekarno-Hatta, penggantian pimpinan TNI-AD (terutama Nasution), desentralisasi dengan otonomi luas bagi daerah, pembentukan senat, penyederhanaan aparatur negara, dan pelarangan komunisme.

 

Namun Jakarta ternyata hanya mengagendakan tiga masalah: pemulihan kembali dwitunggal, pelaksanaan pembangunan nasional, dan perubahan pimpinan Angkatan Darat. Soal komunis tidak dibahas. Para perwira yang “bermasalah” juga tidak diundang. Hasilnya, dwitunggal setuju dipulihkan kembali. Pada saat penutupan Munas, Soekarno berjanji akan segera berbaikan dengan Hatta.

 

Sedangkan urusan keretakan pimpinan AD dibahas tim tujuh yang diketuai Soekarno sendiri. Anggotanya enam orang: Hatta, Djuanda, Wakil Perdana Menteri Leimena, Sultan Hemengku Buwono IX, Aziz Saleh, dan Nasution. Sewaktu tim itu diumumkan, kami protes.

 

Kami bilang, Nasution itu terlibat masalah, kenapa masuk. Dalam rapat terjadi perdebatan sengit antara Nasution dan saya tentang legalitas dan disiplin militer, hingga akhirnya saya menggebrak meja dan keluar ruangan.

 

Munas rencananya akan dilanjutkan dengan Musyawarah Pembangunan pada akhir November. Tapi kemudian terjadi Peristiwa Cikini.

 

 Presiden Soekarno digranat ketika sedang menghadiri acara sekolah anaknya di Perguruan Cikini, 30 November 1957. Usaha pembunuhan Presiden gagal, tapi banyak siswa jadi korban.

 

Soekarno marah. Sampai di Istana, ia berkata kepada wartawan, pelakunya adalah kami. Zulkifli Lubis, rekan kami yang dikenal ahli intelijen, dituding sebagai dalang utama. Saya kaget, dan saya suruh orang mencari Lubis. Dia bilang, ”Bukan saya. Kalau saya, mana mungkin gagal?” Maksudnya, jika Lubis yang merencanakan, Soekarno pasti tewas.

 

Terus terang, tudingan ini lucu. Untuk apa kami mengacaukan sendiri usaha kami di Munas yang sedang di atas angin? Akibat peristiwa itu, kami yang sedang menghadiri Musyawarah Pembangunan sempat ditahan. Rencana mengumumkan pelaksanaan hasil Munas, pada 3 Desember di forum kabinet, bubar. Wakil Perdana Menteri Leimena mengumumkan bahwa segala keputusan Munas dibekukan.

 

***

 

 

 

Menyusul ultimatum yang dikirim Jakarta, kami sepakat berkumpul lagi. Saya terbang ke Singapura dan menyewa motor ke Pekanbaru. Dari sana saya langsung meluncur ke Sungai Dareh di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, Januari 1958. Hadir dalam pertemuan itu, selain para panglima yang dianggap memberontak, juga politisi seperti Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Abdullah, Mohammad Natsir, hingga Sumitro Djojohadikusumo. Di desa itu, kami sepakat membuat wadah perjuangan yang nantinya dinamakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

 

Selain menyiapkan logistik perang, saya juga melakukan pembicaraan untuk membantu perjuangan di dalam negeri. Dalam perjalanan ke Taipei, Manila, dan Tokyo, saya sempat mampir ke Hong Kong. Di situ saya bertemu Joop Warouw, mantan Panglima Kodam Wirabuana. Warouw saat itu sudah menjadi atase militer RI di KBRI Beijing.

 

Saya dan Warouw terbang ke Tokyo. Presiden sedang berada di Tokyo, awal Februari. Warouw adalah perwira yang dikenal Soekarno lantaran loyalitas dan integritasnya karena menolak Nasution dalam peristiwa 17 Oktober 1952. Warouw menemui Soekarno dan menjelaskan perihal krisis yang terjadi setelah peristiwa Cikini.

 

Soekarno setuju perlunya jalan damai. Ia langsung mengirim surat ke Perdana Menteri Djuanda. Tapi itikad baik Soekarno gagal dilaksanakan. Nasution sudah memerintahkan pengeboman Padang dan Manado. Perintah pengeboman menyusul ultimatum yang dilontarkan Dewan Perjuangan, 10 Februari 1958, di Sungai Dareh.

 

Ultimatum yang dibacakan Ahmad Husein itu menyebut, ”Dalam tempo 5 x 24 jam kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda. Presiden membentuk kabinet baru di bawah Bung Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX.” Ultimatum ditolak. Buntutnya, Ahmad Husein dan Maludin Simbolon dipecat. Dua hari berselang Padang dibom oleh AURI. Menyusul kemudian Manado.

 

Pada 15 Februari, Kabinet PRRI diumumkan di Bukittinggi, Sumatera Tengah. Sjafruddin Prawiranegara menjadi perdana menteri. Disebut juga pembentukan angkatan perang PRRI. Sewaktu proklamasi, saya sedang ada di Manila. Segala perkembangan saya pantau melalui radio, termasuk pemecatan saya oleh Markas Besar Angkatan Darat.

 

Sebetulnya, dengan proklamasi PRRI, terjadi perpecahan di tubuh deklarator Permesta. Ada Permesta yang ikut PRRI, ada yang tidak. Ada pula yang anti-Permesta tapi ikut PRRI. Dari 51 orang deklarator Permesta, hanya 16 yang bertahan. Kebetulan, semuanya berasal dari Sulawesi Utara, yang kemudian meneruskan gerakan.

 

Lantaran itu saya tidak sepakat jika istilah PRRI dan Permesta digabung, karena keduanya berbeda. Pada 1970-an, ketika bertemu Jenderal M. Yusuf, kami berkelakar. “Ven, kalau aku Permesta saja, kau Permesta perang,” ujarnya.

 

Bom yang dijatuhkan di Padang, Manado, dan Ambon memaksa kami tak lagi bertahan, tapi menyerang. Apalagi logistik kami cukup memadai untuk melakukan serangan. Mayor Jenderal Alex Kawilarang juga telah meninggalkan posnya di Washington dan ikut bergabung. Posko penyerangan tak lagi berada di Sumatera, tapi sudah berpindah ke Sulawesi Utara. Inilah awal perang saudara di antara sesama pejuang kemerdekaan.

 

Awalnya kami berniat menduduki Jakarta. Buat kami, Jakarta adalah kunci. Sebetulnya mudah saja menguasai Jakarta. Yang dibutuhkan adalah menguasai lapangan terbang Kemayoran. Dari situ, tinggal mengebom kilang minyak di Tanjung Priok. Kalau kilang minyak sudah dibom, Jakarta dan Bandung akan lumpuh. Bagaimana Jawa bila tak punya minyak? Baru kami mendarat di Cilincing.

 

Jika semua skenario ini mulus, kami tidak akan mengganti Soekarno. Dia tetap presiden. Yang kami ingin ganti adalah kabinetnya, menjadi Hatta dan Sultan Hamengku Bowono IX. Selain itu, kami ingin komunisme dihapuskan. Sayangnya, apa yang kami susun matang itu buyar ketika Allen Lawrence Pope tertembak jatuh di Ambon. Amerika pun angkat kaki dan menarik semua pesawatnya.

 

Perlahan kami dipukul mundur oleh pasukan TNI. Dengan peralatan dan persenjataan yang mulai terbatas dan mental prajurit yang menurun, perpecahan pun tak terelakkan. Setelah jatuhnya Kotamobagu, kami terbagi dalam beberapa sektor. Bergerilya sendiri-sendiri dari hutan.

 

Sebenarnya bisa saja kami tetap bergerilya biarpun selama puluhan tahun. Ada ungkapan “The Guerillas win by not losing and The Army lose by not winning.” Namun, jika diteruskan, yang menang bukan Nasution atau pihak kami, melainkan PKI.

 

Rubrik Memoar, Majalah Tempo, Edisi 10-16 Maret 2008

 

 read more about PERMESTA

 

 

Logo rokok Permesta yang dibuat oleh Tarcy Paat. Menjadi merek rokok “Permesta” yang beredar di hutan-hutan 1958-1960.

 

Peta Wilayah Operasi Permesta 1958-1961.

 

Peta Gerakan Tentara Pusat menghadapi Tentara Permesta pada 1958.

 

Doi PRRI-Permesta Rp 100,-

 

Doi PRRI-Permesta Rp 500,-

 

Perangko PRRI-Permesta Rp 1,-

Perangko PRRI-Permesta Rp 2,-

Source “bode-talumewo.

===================================================================
“Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!”

 

 

17 Februari 1958

Pada pukul 07.00 diadakan pertemuan di ruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario Manado dengan tokoh² politik, masyarakat dan cendikiawan.

 

MC (moderator) saat itu adalah Kapten Wim Najoan. Secara singkat, Panglima KDM-SUT memberikan gambaran tentang perkembangan di Sumatera dan putusan dibentuknya PRRI.

 

Selanjutnya Panglima KDM-SUT memberitahukan pada rapat tersebut, putusan sbb:
“Permesta di Sulutteng menyatakan solider dan sepenuhnya mendukung pernyataan PRRI. Oleh sebab itu, mulai saat ini juga Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet Djuanda”.

Tanpa dikomando hadirin bersama² berdiri dan menyambutnya dengan pekik

 

: “Hidup PRRI! Hidup Permesta! Hidup Somba!” berulang².

 

Setelah rapat diskors 30 menit untuk menyusun teks pemutusan hubungan dengan pusat oleh 3 orang (Mayor Eddy Gagola, Kapten Wim Najoan,…), maka pertemuan dibuka kembali dan teks tersebut dibacakan.

 

Setelah itu emosi hadirin meledak. Pekik “Hidup Permesta! Hidup PRRI! Hidup Somba-Sumual!” menggema selama beberapa menit. Setelah itu Mayor Dolf Runturambi bertanya kepada hadirin, “Bagaimana, saudara² setuju?” Serentak dijawab: “Setuju! Setuju!”. Kembali suasana dipenuhi oleh antusiasme yang berapi², walau tampak beberapa orang yang tetap bungkam.

Kemudian diadakan pertemuan umum raksasa di Lapangan Sario Manado pada pukul 11.00. Letkol D.J. SOMBA selaku Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT (Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah) atas nama rakyat dan tentara Sulutteng, membacakan teks pemutusan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Isi dari teks tersebut adalah:

“RAKYAT SULUTTENG TERMASUK MILITER SOLIDER PADA KEPUTUSAN PRRI
DAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH RI”

Rapat Raksasa di Lapangan Sario
Overste DJ Somba: Putus hubungan dengan Pusat

Kemudian, sebuah pesawat komersil Garuda dari maskapai penerbangan nasional GIA yang baru tiba, dibiarkan terbang kembali- berangkat ke Jakarta dan pada semua orang yang ingin segera meninggalkan Manado dengan pesawat tersebut hari ini juga diberikan kelonggaran sepenuhnya.

 

Sekalipun demikian, banyak juga yang menemui Mayor Dolf Runturambi selaku Kastaf KDM-SUT untuk meminta semacam surat pas buat naik pesawat GIA terakhir ini, supaya mereka merasa aman.

Pukul 20.00 malam hari,

 

Kastaf KDMSUT Mayor Dolf Runturambi membacakan teks pemutusan hubungan dengan pusat dalam bahasa Inggris melalui RRI (Radio Permesta).

 

Kemudian oleh Pemerintah Pusat (dan tentu saja PKI), gerakan ini disebut sebagai “pemberontakan PRRI/Permesta”.

Pada saat itu Kolonel Permesta H.N.Ventje Sumual sedang berada di Manila.

 

Beberapa hari kemudian, KDMSUT menerima radiogram bahwa Letkol Ventje Sumual telah bertolak ke luar negeri, Singapura, Manila terus ke Tokyo (Sebelumnya diketahui oleh para perwira KDM-SUT bahwa Letkol Sumual masih berada di Sumatera).

 

Ia pergi bersama Mayor Jan M.J. Pantouw (Nun), sedangkan Mayor Arie W. Supit ditugaskan untuk pergi ke Roma.

Hari itu juga Pemerintah Pusat kemudian mengumumkan pemecatan dengan tidak hormat atas Letkol H.N. Ventje Sumual (pangkat yang dinaikkan KSAD menjadi Kolonel, namun belum dilantik secara resmi), Mayor D.J. Somba (Saat itu ia telah menerima kenaikan pangkat otomatis Overste (Letkol) selaku Gubernur Militer/KDM, tapi belum ada kenaikan pangkat resmi) dan Mayor Dolf Runturambi.

Beberapa hari kemudian KSAD memerintahkan untuk menangkap Letkol D.J. Somba, Mayor Dolf Runturambi, Gubernur SUT H.D. Manoppo dan Jan Torar.

Sebetulnya, dengan memutuskan hubungan dengan pusat maka gerakan Permesta sudah mati, karena hanya sekitar 16 dari 51 deklarator Piagam Permesta saja yang berasal dari Sulawesi Utara yang meneruskan gerakan Permesta.

 

Istilah “Permesta” sendiri secara resmi tidak dipergunakan lagi oleh pejabat sipil dan militer di Sulawesi Utara karena sudah menjadi bagian (cabang) dari PRRI di Sumatera; tetapi dalam kenyataannya cabang pemberontakan PRRI Sulawesi utara sering disebut PRRI/Permesta.

 

Selain itu, kata Permesta adalah kata bahasa baku yang dipergunakan oleh kalangan masyarakat umum untuk menyebutkan gerakan ini, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali bahwa gerakan Permesta sudah dilebur ke dalam PRRI sedangkan yang lainnya menyebutkan “PRRI” sebagai suatu gerakan pemberontakan lain yang berdiri sendiri disamping gerakan Permesta (maupun DI/TII Kahar Muzakhar, Daud Beureueh, dll).

 
 
 
 

Admin
Admin

Jumlah posting: 2244
Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 3:15 pm

 

Sejak saat itu, semua penduduk terutama kaum muda, yang semula dikerahkan memanggul alat pembangunan, tiba² diminta berganti peran.

 

Pendaftaran mulai dilakukan dimana², baik untuk mendukung barisan pemuda maupun untuk dinas militer Permesta.

 

Latihan kemiliteran pun mulai tampak dimana². Para pemuda, tak terkecuali gadis², mulai raib dari kampung².

Mereka ikut mendaftarkan diri, lalu dikirim ke pusat² latihan. (Kaum wanita Permesta tergabung dalam Pasukan Wanita Permesta (PWP) dengan potongan rambut seperti Kowad/Polwan).

Pendidikan dan latihan secara militer dengan memakai senjata dipusatkan di daerah Mapanget, dilatih oleh para penasehat dari Korps Marinir AS.

 

Pendidikan dengan latihan tempur dalam satuan kompi dan batalyon dilakukan di Remboken, Tompaso dan di daerah perbukitan Langowan. Latihan di sana dipimpin oleh seorang Mayor AD Filipina dengan beberapa perwira APRI (TNI) yang berpendidikan kompi.

Sejumlah penasehat militer Amerika Serikat diselundupkan ke Sumatera dan Minahasa.

 

Berbagai macam persenjataan dikirimkan lewat kapal dan sejumlah pesawat terbang (antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu Mustang F-51, Beachcraft, Catalina dan pembom B-26 Invander yang berada dibawah Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) dengan sekitar 40 awak pesawatnya) juga ikut diperbantukan.

 

Mereka melancarkan kegiatan tersebut dari Pangkalan Udara Militer Amerika Serikat di Clark Airfield, Filipina. Ada juga satuan kepolisian PRRI yang bernama Polisi Revolusioner (Polrev), dan badan intelejen Permesta yang diberi nama Permesta Yard.

Kiriman pertama yang terdiri dari berbagai senjata ringan serta amunisi untuk pasukan infanteri segera dikeluarkan dan dibagi²kan. Beberapa pucuk mitraliur anti pesawat terbang segera dipasang di tempat² strategis di sekitar daerah pelabuhan dan lapangan udara yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bersama kiriman persenjataan tersebut juga tiba beberapa instruktur asing, sehingga latihan² pasukan baru dapat segera dimulai.

Permesta saat itu tidak pernah kekurangan senjata. Salah seorang pemasok peralatan militer Permesta dari luar negeri yaitu Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dari Italia pernah menawarkan kapal perang, tetapi tidak pernah bisa diambil karena alasan teknis. Demikian juga bantuan dana dan perbekalan, dengan mudah bisa didapatkan dari Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Filipina.

Timbunan senjata dan perlengkapan militer terkumpul di Okinawa dan di Filipina. Orang² PRRI dan Permesta, Filipina, Cina, Amerika Serikat dan para sedadu sewaan ‘dari negara² lain’ juga telah dilatih dan siap di Okinawa dan di Filipina untuk membantu PRRI dan Permesta.

Sekitar satu peleton anggota RPKAD (sekarang Kopassus) yang berasal dari Minahasa yang sedang cuti pulang kampung terjebak Pergolakan.

 

Pasukan Nicholas Sulu tersebut kemudian menjadi tulang punggung WK-III di wilayah Tomohon.

 

Selain itu ada juga sepasukan yang dipimpin oleh bekas anggota RPKAD fam Lahe yang merekrut pemuda² di kampungnya dan membentuk Kompi Lahe yang terkenal kejam akan pembantaian Pasukan Combat (kompi) Lahe di Raanan dan Tokin: Peristwa itu didahului oleh Simon Ottay dari GAP (Gerakan Anti Permesta) – yaitu salah satu organisasi bentukan komunis (PKI) yang menyamar dengan memakai pangkat Kapten Permesta (APREV) mendaftarkan penduduk dari kedua desa tersebut untuk menjadi “anggota” Pasukan Permesta.

 

Setelah ia lari karena diburu pasukan PRRI (Permesta), didapatilah daftar “anggota” tersebut.

 

Tanpa pemeriksaan, langsung saja Kompi Lahe yang dipimpin oleh Montolalu membantai penduduk kedua desa tersebut.

 

Karena tindakan ini dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan dan hukum (tanpa pemeriksaan secara saksama), maka Lahe dan Montolalu dikejar pasukan antara lain dari Kapten (?) Tumanduk. Montolalu ditangkap di Sinisir, dan dieksekusi di Mokobang, sedangkan Lahe ditangkap di Remboken.

Sejumlah besar anggota Komando Pemuda Permesta (KoP2) di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta.

 

KoP2 atau yang lebih dikenal sebagai Kopedua ini dipimpin oleh Yan Torar.
Sebelum itu, kegiatan KoP2 adalah membantu pemerintah daerah masing² mengerahkan tenaga dan dana untuk melancarkan pembangunan di daerah².

Sebagian lagi, khususnya pelajar dan mahasiswa, disusun dalam satuan Permesta dengan nama Corps Tentara Peladjar (CTP) dipimpin Jimmy Noya, seorang pemuda asal Ambon (Maluku) serta Wilson H. Buyung. Lambang Corps-TP dan Badge dengan dasar hitam garis lima merah diagonal tersebut hasil inspirasi dari film perang ‘To Hell and Back’ yang hanya bergaris tiga sebab kebetulan sewaktu tercetusnya Permesta hanya film perang itu saja yang diputar berulang² di bioskop² Manado.

 

Arti warnanya adalah merah hitam berarti berani mati untuk mempertahankan 5 [lima] garis merah berarti Pancasila. Penciptanya adalah Krishna Sumanti [Kris] ex. CTP Manado Jimmy boys.

Semangat pasukan Permesta ini dibakar oleh para ahli psywar dan agitasi, lewat teknik pendekatan dan pembinaaan yang jitu.

 

Patahlangi, Putera Bugis yang terkenal sebagai orator dan agitator berbakat, setiap sore terdengar suaranya lewat Radio Permesta Manado, berpidato berapi² mengobarkan semangat Permesta di kalangan pendengar.

 

Berbagai kehebatan dan keunggulan serta kekuatan Permesta ditonjolkan. Sebaliknya setiap kelemahan pihak lawan dipaparkan, dan keburukan ditelanjangi.
Slogan perjuangan saat itu adalah: “Permesta Pasti Menang”.

Fenomena yang terjadi akibat situasi Pergolakan ini antara lain mewabahnya demam mistik.

 

Kepercayaan terhadap kekuatan mistik Opo² yang sangat diyakini leluhur orang Minahasa, kembali mengental.

 

Kekebalan tubuh terhadap bacokan atau tembakan senjata merupakan hal yang paling laris dalam situasi yang siap bertempur tersebut. Orang pintar yang disebut Tonaas bermunculan di kampung². Jimat² tersebut ada yang berbentuk batu cincin, keris, sapu tangan, atau ikat pinggang jimat.

 

Yang paling disukai dan dianggap hebat kesaktiannya adalah ikat pinggang jimat, berupa batu² kecil ataupun akar²an yang telah dibungkus dengan kain merah, beruas² yang disebut Sembilan Buku (Ruas).

 

Selain itu ada jimat penghilang tubuh serta jimat terbang yang juga menjadi ‘dagangan’ laris saat itu, dan ada juga jimat yang diberikan dalam bentuk air yang diminum atau dimandikan.

Tokoh² sakti yang menjadi idola saat itu antara lain adalah Nok Korompis, Daan Karamoy, Gerson (Goan) Sangkaeng, Len Karamoy, Yan Timbuleng, serta banyak lagi orang sakti lainnya yang menjadi pimpinan Permesta ketika itu.

Salah satu akibat utama dari mistik ini adalah banyak menimbulkan perpecahan bahkan lucut- melucuti senjata, serta kudeta kekuasaan di antara sesama pasukan.

 

Hal ini merupakan kelemahan fatal bagi keutuhan dan kekuatan Permesta, sebab seorang bawahan yang merasa dirinya sakti, bisa saja melawan atasannya).

18 Februari 1958 Dalam putusannya,

Pemerintah Pusat di Jakarta melalui siaran radio RRI Pusat, menyatakan bahwa Letkol D.J. Somba dan Mayor Dolf Runturambi dipecat dari dinas militer TNI-AD dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

 

19 Februari 1958

Letkol D.J. Somba hari ini secara sepihak melaksanakan pembagian KDM-SUT yang sudah lama direncanakan itu dalam dua resimen.

 

Mayor Dolf Runturambi ditugaskan menjadi Komandan Sektor I/Resimen Team Pertempuran (RTP) “Ular Hitam”, yang meliputi Sangihe-Talaud, Minahasa, dan Bolaang Mongondow; dan Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan dilantik sebagai komandan Sektor II Resimen Team Pertempuran “Anoa”, di Sulawesi Tengah dengan markas besar di Poso.

 

KSAD Mayjen A.H. Nasution menyatakan bahwa Angkatan Darat mendukung Demokrasi Terpimpin.

Masa ini adalah untuk pertama kalinya Presiden Soekarno merasa berada dalam dukungan ideologis dari pimpinan tentara.

 

Ini menjadi salah satu kedekatan yang istimewa antara Presiden Soekarno dengan KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution.

 

Sugesti dari pihak militer jelas sangat berperan pada keputusan Soekarno, yang kendati sejak awal berusaha berbaik dengan para panglimanya di daerah.

Presiden Ir. Soekarno bertemu dengan Drs. Mohammad Hatta guna membicarakan situasi yang terjadi akhir² ini. Mereka bertemu lagi tanggal 3 Maret.

Volcano_Lokon_udara2-North
Areal Gunung Lokon dilihat dari udara
Hari ini, Gunung Lokon mulai menampakkan kegiatannya dengan sebuah letusan kecil yang memuntahkan lapili di sekitar kawah.

 

Kemudian letusan Lokon terjadi pada

 

tanggal 4, 16-17 Maret, 3-4 Mei tahun ini juga.

 

Kegiatan letusan Lokon ini berlangsung sepanjang tahun.

 

Letusan ini dilanjutkan hingga berakhir pada tanggal 23 Desember 1959- tahun berikutnya.

 

Selama tahun 1959 Lokon memuntahkan abu diselingi letusan kuat yang melontarkan batu. Hujan abu turun di sekitarnya. Dalam bulan Agustus, September dan November tahun 1959 tidak terjadi letusan.

Konon, letusan Gunung Lokon ini dipercaya orang terjadi akibat peringatan dewa Minahasa (opo) berkaitan dengan mulainya prahara Pergolakan Permesta – perang saudara antara Pemerintah Pusat dengan PRRI di Minahasa.

20 Februari 1958

Perintah untuk melakukan operasi militer secara terbuka bergulir dari Jakarta pada tanggal 20 Februari 1958.

Keputusan ini diambil Jakarta sehubungan berakhirnya ultimatum pemerintah pusat kepada PRRI untuk menyerah.

 

Maka hari itu, dua pesawat B-25 dengan penerbang Kapten Sri Muljono dan Mayor Soetopo mendapat perintah menyebarkan pamflet yang berisi himbauan agar PRRI menyerah.

 

Sebelum menuju daerah tujuan, kedua pesawat mendarat di Astra Setra, Lampung agar tidak diketahui Letkol Barlian, Komandan Sumatera Selatan.

 

Barulah esok paginya kedua pesawat terbang menyusuri pantai barat Sumatera. Setelah terbang sekitar hampir dua jam, mereka mulai memasuki pantai Padang dan menebarkan pamflet.

Permesta membalas perintah tersebut dengan mengumandangkan semboyan:
“HANJA KALAU KERING DANAU TONDANO, RATA GUNUNG LOKON, KLABAT DAN SOPUTAN BARU TENTARA DJUANDA DAPAT MENGINDJAKKAN KAKINJA DIMINAHASA.”

21 Februari 1958

Hari ini, pemerintahan PRRI-Permesta di Sulut menerima radiogram dari Letkol Ventje Sumual, yang memerintahkan untuk mengadakan telaahan staf mengenai persiapan² militer menghadapi ofensif Jakarta.

 

Selanjutnya kepada Mayor J.W. (Dee) Gerungan ditugaskan untuk membuat konsep rencana ofensif terhadap ofensif pusat bersama Mayor Eddie Gagola, yang menyusun rencana pembentukan WK (Wehrkreisse).

 
 
 

Admin
Admin

Jumlah posting: 2244
Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 3:27 pm

 

22 Februari 1958

Pada pagi hari, pesawat B-25 Mitchell AURI yang dikemudikan oleh Mayor (Pnb) Leo Wattimena dan Mayor (Pnb) Omar Dhani, menjatuhkan bom pada beberapa sasaran yang dianggap vital, antara lain studio RRI Manado (yang waktu itu adalah Studio Radio Permesta), Asrama Tentara, Markas Angkatan Darat Permesta di Jl. Sario, kompleks perumahan perwira² pimpinan Permesta di Sario, serta rumah mertua Ventje Sumual, dan juga Rumah Sakit “Gunung Maria” Tomohon, walaupun sudah dicat Palang Merah di atapnya.

Batalyon 714 hanya memiliki beberapa pucuk mitraliur 12,7 mm. Satuan itu segera diperintahkan untuk menempatkan di atas jip² guna menghadapi serangan ulang AURI.

studio RRI hancur
atap studio Radio Permesta yang hancur dibom

Pemboman terhadap Manado ini mempercepat kepulangan dua tokoh militer asal Minahasa yang berpengaruh yaitu Kolonel Alex E. Kawilarang (Atase Militer KBRI Wshington,DC/USA) dan Kolonel J.F. Warouw (Atase Militer KBRI Peking/Cina) ke daerah asalnya.

 

KSAD Mayjen A.H. Nasution sebelumnya telah menerima beberapa kawat telegram dari Alex Kawilarang dan sebuah kawat dari Joop Warouw.

 

Namun, kawat terakhir dari Alex Kawilarang beberapa saat sebelum pemboman atas Manado berisi kecaman keras atas tindakan Pemerintah Pusat terhadap daerah² yang bergolak.

 

23 Februari 1958 Pukul 14.00,

muncul pesawat terbang dengan kode Filipina di Lapangan Mapanget yang membawa KSAD PRRI Letkol Ventje Sumual.

 

Landasan beton saat itu telah dibarikade dengan truk², dan beberapa stomwals. Kemudian, pesawat yang membawanya lepas landas beberapa menit kemudian.

Pengiriman senjata² terhadap Permesta telah tiba hari ini di Manado. Bersamaan dengan tibanya Letkol Ventje Sumual dari luar negeri.

 

Kolonel Sumual mengatakan bahwa mereka memperoleh persenjataan pertama untuk Permesta di Manila, Filipina dan Taipei, Taiwan.

24 Februari 1958

Dua hari setelah Manado dibom, KDM-SUT mengeluarkan seruan kepada semua bekas KNIL yang telah mendapat latihan dalam pasukan antipesawat udara dan senjata berat agar melapor untuk didinaskan.

 

Kira² 2.000 orang melaksanakan seruan tersebut, termasuk diantaranya ayah Kolonel Joop Warouw.
26 Februari 1958 Letkol H.N.Ventje Sumual (NRP 15958) secara resmi dipecat dari TNI.
26-27 Februari 1958

RESOLUSI Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah jang dilaksanakan
di Manado dan dihadiri oleh tokoh² Veteran, wakil² kelaskaran serta
wakil dari daerah Luwuk Banggai, Posso, Palu/Donggala, Bolaang
Mongondow, Minahasa, Manado, Sangir Talaud dan Gorontalo membahas
setjara mendalam pergolakan² di tanah air pada saat itu, menjimpulkan
keputusan sebagai berikut:

A. 1. Mendukung sepenuhnja pernjataan KDM/Gubernur Militer SUT
jang ditetapkan tanggal 17-2-1958.
2. Mengutuk tindakan Djuanda & KSAD terhadap pergolakan
di Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara.
3. Sehidup semati dengan tokoh² Permesta seraja menentang keras
perintah KSAD tentang pemetjatan/penangkapan Somba cs.
B. 1. Mendesak supaja semua anggota Veteran dipersendjatai kembali,
untuk merealisasikan dan mempertahankan PERMESTA.
2. Supaya dibentuk kesatuan Veteran bersendjata
jang dipimpin oleh Veteran.
3. Agar penjusunan kesatuan² tersebut dipertjajakan kepada
Veteran, jang disesuaikan dengan ketentuan² Gubernur Militer.
4. Supaya segera menempatkan tenaga² Veteran pada segala bidang.

Atas nama Konperensi Veteran,
t.t.d. – 1. John F. Malonda (Ketua),
2. S.D. Wuisan,
3. Dj.A. Musmar,
4. A.F. Nelwan,
5. Theo Najoan,
6. H. D. Johannis,
7. W. Malele,
8. Kol. Tinangon,
9. R.R.Lumi,
10. Wim Gerungan,
11. John Somba,
12. Se8l Ali Sakibu,
13. Abd. Haris Renggah,
14. Anang Idjah,
15. F.S.U. Siwu,
16. Ibu Lasut-Monding,
17. Ibu Mewengkang-Tampi.

28 Februari 1958

Menurut harian Tan Kung Pau, Jan Pantouw berada di Hongkong hari ini.
Maret 1958

Dalam bulan ini, ada beberapa peristiwa penting:

Keadaan yang genting di Sulawesi Utara akibat pemutusan hubungan Permesta dengan Pusat menjadi faktor penting penentu situasi di kota Manado.

 

Kota Manado pada waktu itu semakin dicekam rasa tak aman. Setiap detik warga kota seakan menanti meletusnya perang terbuka antara Pasukan Permesta dengan Tentara Pusat yang diperkirakan tak lama lagi bakal datang menyerbu daerah yang dikuasai Permesta.

 

Karenanya warga kota Manado, berangsur² mulai mengungsi ke luar kota.

 

Tak terkecuali instansi² pemerintah juga mulai melakukan evakuasi ke pedalaman.

 

Kota Tomohon kemudian menjadi kota alternatif sesudah Manado.

Ketika Padang diserang,

KSAD Mayjen A.H. Nasution memerintahkan agar Letkol Saleh Lahede dan semua tokoh Permesta di Makassar ditangkap.

J.M.J. “Noen” PANTOUW diutus ke Amerika Serikat untuk mendapatkan dukungan moril dan materil bagi Permesta.

 

Kemudian bertemu Kolonel Ventje SUMUAL di Taipei serta tokoh² Kuomintang.

kawilarang_atase2 Kolonel Alexander Evert Kawilarang (saat itu ia telah mendapat kenaikan pangkat otomatis Brigjen, namun belum ada pelantikan secara resmi) berhenti sebagai Atase Militer RI pada Kedubes RI di Washington, DC – AS (yang dijabatnya sejak bulan September 1956), kemudian berhenti dari dinas militer, selanjutnya bergabung dengan Permesta (ia menolak sebutan PRRI).

Ia waktu itu didesak para perwira bekas bawahannya yang saat itu sedang mengikuti pendidikan di Fort Benning, AS agar mengirim kawat kepada KSAD A.H. Nasution.

 

 

Dengan enggan ia mengirim beberapa kawat (telegram) protes atas tindakan pemerintah pusat terhadap daerah² yang bergolak.

 

Jawaban yang diterimanya dari KSAD ringkasnya berbunyi “Tidak akan mengubah kebijaksanaan yang telah diambil, karena baru kembali dari kunjungan ke daerah² dan ternyata semua daerah mendukungnya.”

 

Selain itu, tembusan jawaban ini dikirim juga kepada semua atase pertahanan/militer di luar negeri. Komentarnya kepada para perwira yang sedang mengikuti pendidikan tersebut “…memang saya sudah menduga akan menerima jawaban semacam ini.

 

Saya sudah pikir dari semula bahwa hal ini (kawat protes) akan percuma saja.”
Dalam bukunya yang berjudul “A.E. Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih” ia menuliskan:

Sebelumnya saya sudah mengirimkan kawat ke KSAD, mengabarkan bahwa saya meletakkan jabatan saya, berhubung tidak setuju dengan tindakan Pemerintah Pusat di Jakarta.

 

Sebelum saya keluar dari kantor KBRI itu, saya adakan dulu timbang terima. Keuangan saya bereskan dan saya serahkan seluruhnya.

 

Begitu juga barang² dan dokumen² milik pemerintah RI yang ada pada saya, saya serahkan kepada yang harus menerimanya.

 

Saya tinggalkan suasana hidup aman di Washington, DC dan saya tinggalkan ketenangan bekerja di kantor KBRI, menuju ke kehidupan yang bakal serba gelap dan tidak menentu.

 

Untuk daerah memang nasi sudah jadi bubur. Deburan hati pula yang saya ikuti.
Bentrokan intern Indonesia tentu dipergunakan oleh beberapa negara lain untuk manfaatnya sendiri.

Tiga tahun lebih terjadi konfrontasi bersenjata yang berakhir dengan Permesta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Saya sendiri menganggap bahwa kehidupan saya sebagai tentara sudah berhenti sejak Maret 1958.
Sesudah kembali ke Jakarta tahun 1961, saya melihat hari depan sangat gelap untuk saya.

 

Tetapi waktu itu saya melihat juga, bahwa untuk seluruh Indonesia hari depan sangat gelap.
Barulah sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman² saya dapat bernapas lebih lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian.

 

Di tahun 1966

ada seorang dari surat khabar yang bertanya, “Apakah sudah direhabilitasi?” Saya jawab “Siapakah yang harus merehabilitasikan siapa?! “

Presiden Republik Korea, Sygngman Rhee menyatakan bahwa Korea siap membantu PRRI dan Permesta di Indonesia dengan kekuatan Angkatan Darat, Laut dan Udaranya.

 

Pers (terpimpin) Korea melancarkan berita² tentang kemungkinan Republik Rakyat Cina mengirim “Tentara Sukarelawan” ke Indonesia.

 
 
 

Admin
Admin

Jumlah posting: 2244
Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 3:33 pm

 

Presiden Republik Cina-Taipei (Taiwan) Chiang Kai Shek pernah merencanakan untuk mengirimkan 1 resimen marinir dan 1 skuadron pesawat tempur untuk merebut Morotai bersama² Permesta (PRRI), namun Menteri Luar Negeri Republik Cina (Taiwan) Yen Kung Chau menentang gagasan itu.

 

Cina Daratan (RRC Komunis) dikhawatirkan akan ikut serta membantu Pemerintah Pusat di Jakarta dan memiliki alasan untuk mengintervensi Taiwan.

Taiwan telah mengirimkan bantuan berupa sejumlah perwira menengah untuk melatih pasukan Permesta, persenjataan dan dua squadron pesawat tempur ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner atau AUREV.

Bantuan Cina Taipei (Taiwan) kepada Permesta mengakibatkan pemerintah Indonesia mengambil tindakan terhadap WNI pro Kuomintang (WNI Keturunan Cina). Sekolah², surat² kabar dan beberapa perusahaan Cina ditertibkan. Tokoh² Cina yang pro Kuomintang ditahan, dicurigai mengadakan kegiatan subversif.

Bulan Agustus 1958,

militer mengambil alih bisnis yang dipegang oleh penduduk WNI asal Taiwan.
Banyak perbekalan dan peralatan yang dibuat di Taiwan. Misalnya saja seragam berikut senapannya, dan perangko Permesta yang terdiri dari 50 sen, Rp 1,-, Rp 2,-, dan Rp 2,50 ,

 

 

dan juga ada granat Taipeh yang mirip botol kayu yang dilengkapi sumbuh yang diproduksi secara besar²an dan murah dilihat dari kualitasnya.

 

Senjata semacam Bar Bren yang kemampuannya lebih dibandingkan Bren biasa, yaitu terletak pada untaian rantai pelurunya yang panjang.

 

Ada pula senjata anti-tank yaitu Super Bazooka, juga senjata ringan jenis Thomson dan PM atau Parabuelem yang disebut juga pistol mitraliur.

 

PM ini sekelas sten gun, tetapi keampuhannya karena magazinnya berisi sekitar empat puluh butir peluru, dan daya tembakan otomatisnya sangat cepat rentetannya, sehingga mampu menebas sebatang pohon.

 

Senjata berat lainnya yang sangat dibanggakan, baik untuk penangkis udara maupun pemusnah jarak jauh, adalah senjata bernama recoilless-gun 75 mm yang juga disebut pom-pom.

 

Pemancar Radio Permesta diselamatkan sementara ke Tomohon, dan mendirikan pemancar darurat di desa Matani.

 

Puluhan pria dari desa Kakaskasen Tomohon dikerahkan untuk mengangkut peralatan pemancar Radio Permesta di Sario Manado itu.

Sebagian peralatan Percetakan Negara Manado, yang digunakan untuk mencetak uang kertas Permesta juga sudah diungsikan ke Minahasa Selatan.

 

Setelah dibawa ke desa Kanonang – Kec. Kawangkoan, kemudian diangkut lagi kedesa Tombasian Atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara.

 

Pemancar Radio Permesta I juga kemudian dipindahkan ke desa Tombasian atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara yang kelak di tempat itu berdiri desa Kotamenara, dan ditempatkan di sana sampai pergolakan Permesta berakhir.

 

Kepala seksi pemberitaan Radio Permesta I ini adalah Freddy Ratag. Staf Pemerintahan Sipil Permesta yang dipimpin oleh Kolonel Joop Warouw sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri) PRRI/Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi juga membangun markas di sini.

 

Pemancar Radio Permesta II ditempatkan di Modoinding dengan memanfaatkan radio pemancar bekas milik kantor telegraf (TT) Manado.

Mutu cetak uang kertas Permesta dan juga mutu kertasnya agak rendah, kadang² dicetak pada kertas HVS bahkan pada kertas dinas bergaris.

 

Uang kertas ini terdiri dari pecahan Rp 100, Rp 500,- dan Rp 1.000,- dan ditandatangani oleh Joop Warouw selaku Waperdam PRRI – Permesta.

 

Uang kertas Rp.100,- nilainya masih dapat membayar ongkos makan dan minum kopi di warung, sedangkan uang kertas Rp.500,- masih cukup untuk membeli dua ekor ayam di pasar.

 

Selain uang kertas cetakan Permesta, beredar juga secara sah uang lama RI yaitu uang kertas seri ZG pecahan seratus rupiah bergambar pahlawan Diponegoro yang dinamakan uang “ketek” atau keras.

 

Uang seri ZG ini adalah uang yang dikuasai Permesta dari Bank Indonesia Cabang Manado, ketika terjadi pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat.

 

 

Uang kertas seri ini dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah oleh pemerintah pusat.

Perangko Permesta
Di Singapura, sebagai pangkalan lalu lintas orang² PRRI dan Permesta, telah ditawarkan oleh makelar² berupa sejumlah helikopter², kapal² pendarat, dan tank² pendarat kepada PRRI (dan Permesta).
Singapura sendiri, pada akhir bulan Maret 1958 terkesan bahwa banyak partisan PRRI (dan Permesta).

Permesta kemudian berhasil membeli pesawat pembom diantaranya 2 pesawat pembom jarak jauh B-29 berikut menyewa penerbang²nya dan mempergunakan pangkalan² udara Amerika Serikat Clark Airfield di dekat Manila – Filipina.

Penerbang² yang disewa itu terdiri antara lain anggota² pasukan Jenderal Claire Chenault dari pasukan Flying Tigers bekas penerbang² Perang Dunia II, dan penerbang² dari Taiwan.
Direktur CIA, Allan Dulles (saudara Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles), bersaksi di depan Senat Kongres Amerika, bahwa AS tidak “mencampuri urusan dalam negeri” Indonesia.
“Pos X”, demikian nama pos informasi intelejen PRRI (dan Permesta), yang sebenarnya tidak banyak melebihi kualitas sebuah biro informasi.

 

Kabar² yang diperoleh umumnya berasal dari orang² yang menyebut diri simpatisan PRRI-Permesta, yang sendirinya masih belum 100% dapat dipercaya. “Biro X” ini terdapat di Jakarta dan Singapura.

 

Pusatnya berada di Singapura, dikepalai Jaksa E. Pohan yang masih aktif di perwakilan Ri di Singapura (KBRI).

3 Maret 1958

Hari ini diumumkan bahwa Letkol Saleh Lahede dipecat dari TNI, yang telah berlaku surut sejak tanggal 17 Februari 1958.

11-12 Maret 1958

Rapat rahasia Menlu negara SEATO (South East Asia Treaty Organization) di Manila diadakan dengan tokoh-tokoh PRRI.

 

Dipertimbangkan untuk memberikan belligerent status (status negara yang sedang berperang) kepada PRRI, status demikian memungkinkan daerah² lain dapat memberikan bantuan terbuka kepada PRRI.

Menteri Luar Negeri Australia Robert Casey berpendirian lebih keras, menghendaki pesawat² Australia beroperasi di Indonesia, dan melakukan tindakan menghambat ekonomi Indonesia. Namun gagasan tersebut tidak disetujui Menteri Pertahanan Australia.

12 Maret 1958

Dalam merampungkan persiapan operasi di Sumatera menghadapi PRRI, Pangkalan Udara Tanjung Pinang dijadikan pangkalan induk pasukan APRI.

 

Di pangkalan ini segala persiapan dilakukan untuk merebut Pekanbaru dan pangkalan udaranya. Menduduki pangkalan udara Pekanbaru menjadi prioritas utama APRI, sebelum memutuskan untuk menduduki Padang, Medan dan Palembang.
Persiapan telah rampung, tanggal 10 Maret diputuskan sebagai D-day.

 

Namun rencana ini ditunda dan operasi diundur selama 48 jam.

 

Khusus selama Operasi Tegas di Sumatera, semua pesawat B-25 tidak dimuati bom.

 

Setidaknya empat B-25 dan enam P-51 mengudara pagi itu. Tugasnya adalah membersihkan daerah penerjunan (DZ) bagi satu Batalion PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan satu Kompi RPKAD dari tentara APRI.

 

Beberapa jam sebelumnya, pada pukul 01.30 dini hari, sebuah pesawat PBY-5A Catalina mendahului operasi subuh itu untuk memantau situasi sekaligus melaporkan keadaan cuaca di daerah operasi.

 

Sekitar pukul 4, pesawat Catalina berputar² di atas Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru.

 

Ada beberapa orang pasukan PRRI berkeliaran di sekitar landasan. Mereka tidak sedikitpun curiga ketika mendengar suara pesawat menderu² di kegelapan malam.

 

Begitu juga dengan penerbang Catalina, tidak menyadari adanya kegiatan di bawah. Barulah ketika tiba² banyak lampu menyala, di sisi lain terlihat api² unggun dihidupkan, seperti isyarat.

 

Ternyata saat bersamaan, orang² PRRI tengah menunggu pasokan senjata dari CIA.
Sesuai dengan flight plan, pukul 06.00 ditentukan semua pesawat sudah harus berada di atas Pangkalan Simpang Tiga.

 

Kemudian sekonyong² pesawat P-51 disusul B-25 bergantian menghamburkan rentetan senapan mesin kaliber 12,7 ke pasukan PRRI yang tengah menunggu pasokan senjata dari CIA.

12 Maret 1958

Badan Pekerja Sinode GMIM dalam sidangnya mencetuskan sebuah seruan yang meminta agar kedua kubu (Permesta dan Pemerintah Pusat) segera meninggalkan dan menghentikan kekerasan dengan pemboman dan perang saudara antara ‘kita dengan kita’.

Seruan ini disampaikan selaku Badan Pekerja Sinode GMIM yang memegang pimpinan atas 400.000 jiwa Kristen di Minahasa sampai daerah Gorontalo, Donggala, Palu dan Parigi. Dan ditandatangani oleh Ketua dan Panitera (Sekum) BPS GMIM masing² A.Z.R. Wenas dan P.W. Sambow.

Ds. A.Z.R. Wenas memangku jabatan Ketua Sinonde mulai tanggal 15 Mei 1956 bertepatan dengan terpilihnya Ds.M. Sondakh sebagai anggota DPR RI pada Pemilihan Umum, dan digantikan oleh Ds. R.M. Luntungan, namun juga R.M. Luntungan sudah menjadi Ketua GPI di Jakarta. Nanti pada tanggal 26 Mei 1957 dipilih dengan suara bulat selaku Ketua Sinode.

Bulan Agustus 1959

beliau ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI namun ditolaknya, juga oleh Sidang Sinode darurat tanggal 26-30 Oktober 1959

15 Maret 1958

Kolonel J.F. Warouw (Joop) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, hari ini diskors dari dinas militer TNI.
Dalam suatu pengakuannya, Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dialah yang membujuk langsung Joop Warouw untuk bergabung dengan PRRI (gerakan Permesta).

16 Maret 1958

Empat hari setelah menduduki Pekanbaru, dua B-25 dengan penerbang Mayor Soetopo dan Kapten Sri Muljono serta sebuah P-51 yang diterbangkan Kapten Udara Rusmin Nurjadin dikerahkan ke Medan untuk menghadapi pasukan PRRI pimpinan Mayor Boyke Nainggolan. Peristiwa yang terkenal dengan “Peristiwa Nainggolan” itu dibungkam setelah serangan udara disusul penerjunan prajurit PGT, RPKAD, dan Batalion 332 Siliwangi. Sebagian lainnya melarikan diri ke Aceh dan Tapanuli.

17 Maret 1958

Letnan Satu Yus Tiendas (asal Sangir) dengan satu peleton pasukan Permesta berhasil merebut kembali kota Gorontalo dari tangan pasukan Nani Wartabone. Pasukan Nani Wartabone (dikenal sebagai Pasukan Rimba) kemudian masuk hutan.

31 Maret 1958

Pasukan TNI berhasil mendarat di daerah Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, dengan bantuan dari kompi TNI setempat dibawah Kapten Frans Karangan (asal Toraja) yang telah bergabung dengan TNI, dan pasukan Mobile Brigade (Mobrig, sekarang Brimob) setempat.
(Dikabarkan bahwa komandan batalyon Mayor Lukas J. Palar gugur dalam peristiwa ini)

Akhir Maret 1958

Menjelang akhir bulan Maret, dicapai persetujuan dengan gerombolan Jan Timbuleng (Pasukan Pembela Keadilan/PPK) untuk bekerja sama dengan Permesta di bawah naungan PRRI.

 

Juga, turut bergabung gerombolan pemberontak lainnya, kurang lebih 300 orang dari satu kelompok (Sambar Njawa) yang dipimpin Daan Karamoy dan Len Karamoy (yang disebut terakhir ini adalah bekas istri Jan Timbuleng). Len Karamoy yang mempunyai nama baik sekali sebagai komadan pasukan, menawarkan diri untuk melatih sebuah laskar wanita untuk Permesta (PWP).
April 1958

OPERASI “DJAKARTA II” dilancarkan Permesta (PRRI) dibawah komando Panglima KDP II/Minahasa Letkol D.J. Somba.
Rencana ofensif secara bertahap terhadap ibukota RI Jakarta ini dibekali dengan persediaan senjata dan amunisi untuk satu divisi dan tenaga² prajurit yang cukup militan dalam latihan, serta air-cover (perlindungan udara) dari pesawat² AUREV.
Rencana Operasi Djakarta II itu adalah sebagai berikut:
a. merebut kembali daerah Palu/Donggala yang telah dikuasai Tentara pusat;
dari sana menyerang & menduduki Balikpapan dengan kekuatan 1 resimen RTP;
b. sasaran kedua adalah Bali;
c. sasaran ketiga adalah Pontianak;
d. sasaran terakhir adalah Jakarta.
Operasi ini bertujuan untuk menekan Pemerintah Pusat di Jakarta agar berunding dengan PRRI.

Perebutan kembali Parigi dan Toboli di Sulawesi Tengah oleh Overste D.J. Somba dengan membawa Bn.Q pimpinan (Mayor Lukas J. Palar) Mayor J. Lumingkewas, pasukan Daan Karamoy dengan beberapa ex KNIL yang membawa senjata recoillesss-gun 75 mm, basoka serta senjata berat lainnya, satu pasukan dari ex Pasukan Pembela Keadilan (PPK) –

 

Brigade 999 yaitu sebanyak tiga batalyon (sebenarnya cuma berkekuatan beberapa kompi riil), antara lain dari Mayor Gerson (Goan) Sangkaeng dan Batalyon 2-nya, satu peleton pasukan RPKAD (21 orang) pimpinan Nicholas Sulu; dan Panglima KDP IV/Sulawesi Tengah Letkol J.W. (Dee) Gerungan. Semuanya berjumlah kira² 600 orang.

Sekitar 2/3 penduduk Poso masuk hutan karena takut pada pertikaian Pergolakan Permesta ini, dan kurang lebih 200 orang pemuda Poso dijadikan anggota pasukan PRRI (Permesta).

Pos² pasukan Permesta di daerah itu antara lain Poso, Tentena, Pendalo, Luwuk, Kolonedale, Parigi, Toboli, dan ada beberapa kota lainnya.
12 April 1958 Tiga pesawat pertama yang diperbantukan dalam pertahanan udara PRRI (dalam AUREV – Angkatan Udara Revolusioner) berupa pesawat B-26 Bomber diberangkatkan dari US Clarck Airfield di Filipina.

Kemudian AUREV PRRI (Permesta) menjatuhkan Slogan dan phamplet dari pesawat yang berisi pernyataan “maaf Bung Karno, kami tidak butuh Komunisme”, yang dijatuhkan di daerah Manado, Tomohon, Gorontalo, dan Palu.

 
 
 

Admin
Admin

Jumlah posting: 2244
Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 5:19 pm

 

13 April 1958

Permesta yang tidak ingin diserang lebih dulu menyerang pada pertengahan bulan dengan pesawat² AUREV yaitu B-25 (pesawat Taiwan), pertama kali di Lapangan Mandai (sekarang Bandara Hasanuddin) Makassar pukul 5:35-5:51 pagi hari dibom oleh AUREV/Permesta.
Sebelumnya, pengeboman di LU Mandai Makassar sebenarnya akan menggunakan 2 pesawat pembom B-26. Namun pesawat yang satunya, yang dikendalikan oleh penerbang berkebangsaan AS jatuh setelah mengadakan take off dari LU Mapanget. Peristiwa ini mengakibatkan gugurnya 2 pilot AS, dan seorang serdadu telegrafis Permesta.
Menyusul Pelabuhan Donggala, Balikpapan, Ambon, Ternate, dan tempat lainnya menjadi target gempuran. Kapal perang TNI AL RI Hang Tuah ­ satu dari empat korvet yang dihibahkan Belanda yang sedang buang sauh di pelabuhan Balikpapan, dibom hingga kemudian tenggelam.

Lalu pengeboman dilakukan di Balikpapan (4 x yaitu 16 April, 22 April, 28 April dan 19 Mei), Ambon dengan lapangan udara Pattimura (7 x, mulai 27 April, 28 April, 1 Mei, 8 Mei, 15 Mei, 18 Mei), Ternate (5 x), Morotai (3x), Bitung, pelabuhan Palu-Donggala-Balikpapan (16 dan 20 April), Gorontalo, dll.

Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) PRRI dipimpinan oleh KSAU Comodore Muda (APREV) Petit Muharto Kartodirdjo, bekas Atase Militer AURI di Manila berpangkat Mayor AURI. Dan sebagai Wakil KSAU adalah Kapten AURI (Purn.) Hadi Sapandi, bekas komandan Squadron III – Pemburu di Cililitan (sekarang LU Halim Perdanakusumah) – Jakarta. Sebelum bergabungnya kedua orang etnis Jawa itu dengan PRRI, AUREV dipimpin oleh Z. Rambing yang menguasai Lapangan Udara Tasuka.
Markas AUREV terletak di sebuah rumah yang bernama “HUISE SABANG” di Jl. Sario Manado.
AUREV diperkuat oleh pesawat² pembom B-26, Mustang, B-26 B, B-29, dan beberapa pesawat pengangkut tipe C,/P-51, Catalina, Lochkeed, yang didatangkan dari luar negeri.
Lapangan Udara Mapanget diperkuat oleh “BAZOKA bolak-balik”, Bar-bren, Panser-Wagen, Alertcraft, Dublelop (18 buah), 12.7, Watermantel dan senjata² berdiameter 20mm. Pesawat² pengangkut tipe C diserahkan kepada penerbang Taiwan yang berpangkalan di Lapangan Udara Tasuka (Kalawiran).
13 April 1958 Kepala Staf Angkatan Perang PRRI Alex Kawilarang (yang pada hari tiba di/dari Manila), Wakil Perdana Menteri PRRI Kolonel Joop Warouw bersama Menteri Perekonomian PRRI, tiba di Manado. Untuk menyambut kedatangan mereka diadakan pertemuan di gedung bioskop Tomohon dengan tokoh² politik dan masyarakat, pimpinan pemerintahan sipil dan militer, polisi, gerakan pemuda dan mahasiswa serta para cendikiawan. Dalam pertemuan itu berturut² berbicara: Panglima Ventje Sumual, Panglima Alex Kawilarang dan Waperdam Joop Warouw sebagai pembicara terakhir.
Luapan pernyataan dukungan masyarakat terhadap ketiga tokoh itu luar biasa gemuruhnya. Ucapan selamat disertai pekik: “Hidup PRRI! Hidup Permesta!” bergema di sekitar gedung bioskop tersebut yang penuh sesak oleh masyarakat yang menonton.
Koran² Manado pada tanggal 14 April mencetak perintah harian yang dikeluarkan atas nama Alex Kawilarang sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang PRRI, yang minta dukungan dari para pegawai negeri dan rakyat untuk berjuang melawan “mis management dan penjalahgunaan kekuasaan” pusat Jakarta.
15 April 1958 Letkol dr. Oscar E. Engelen, Ketua IPRI-Indonesia Timur, dan Kapten Bing Latumahina, Sekretaris IPRI-InTim, yang adalah perwira militer pro-Permesta yang paling penting yang masih berada di Makassar, hari ini dipecat dari TNI dan ditahan rumah sejak kira² tanggal 6 Mei.
Letkol dr. Engelen dan Kapten Bing Latumahina dikatakan telah mengadakan campur tangan dalam urusan Sersan Mayor Pangkey, yang mendaulat komandan artileri kompinya yang anti-Permesta itu dan mengarahkan enam buah meriamnya ke arah kota Makassar; mereka meyakinkan Serma Pangkey, jika tembakan dilepaskan maka bencana akan terjadi. Serma Pangkey ditangkap pada waktu bersamaan dengan Letkol dr Engelen dan Kapten Bing Latumahina ditangkap.

Setelah ditahan, tahun 1961,

dr O.E.Engelen menjadi dokter pada PN Nupiksa Yasa Jakarta, dan pada tahun 1972-1987 menjadi Rektor Universitas Kristen Djaya (UKRIDA). Pada tanggal 2 Maret 1995, ia mendapat rehabilitasi oleh Presiden RI Soeharto akibat keterlibatannya dalam Permesta dan mendapat hak pensiun sesuai dengan SK No.14/ABRI/1995.
16 April 1958

Kota Balikpapan mulai diserang pesawat AUREV Permesta, dimana terjadi pengeboman dan penembakan atas obyek² di lapangan udara yang menyebabkan sebuah pesawat terbang milik BPM mengalami kerusakan dan beberapa bangunan mengalami rusak berat.
Tanggal 22 April, Balikpapan juga diserang dua pesawat pemburu AUREV Permesta. Selanjutnya, Balikpapan juga diserang tanggal 28 April dan 19 Mei.
17 April 1958

Pagi itu, pukul 04.00, empat pembom B-25 berangkat dari Lanud Palembang menuju Lanud Pekanbaru. Hari itu juga terus dilakukan penerbangan² formasi bersama pesawat P-51 yang disusun secara bergelombang dalam bentuk dua flights.

 

Red Flight dan Blue Flight. Flight pertama bertugas melindungi pendaratan KKO di pantai Sumatera Barat dari kapal laut ALRI. Sementara Blue Flight melindungi penerjunan PGT dan RPKAD di Lanud Tabing. PGT dan RPKAD kemudian mulai diterjunkan dari beberapa pesawat Dakota. Sebagian pasukan PRRI yang melihat pasukan payung mulai berebutan turun, memilih lari masuk hutan. Dengan cepat landasan Tabing dibersihkan dari ranjau dan paku yang sengaja ditebarkan PRRI.

Akhirnya perlawanan PRRI dapat dihentikan dan hari itu juga Padang dapat diduduki APRI,
namun sebuah B-25 nomor M-464 yang diterbangkan Pedet Soedarman tertembus dihantam peluru musuh.
Esoknya, sekitar pukul 11.30, pesawat B-25 yang diterbangkan Kapten Sri Muljono segera mendarat di Lanud Tabing dengan selamat.
29 April 1958

OPERASI “DJAKARTA I” dilancarkan Permesta (PRRI) terhadap kedudukan pasukan Tentara Pusat di Morotai. Operasi ini dikomandoi oleh Panglima KDP I/Maluku Utara yang baru (menggantikan Mayor Abdul Kadir) yaitu Mayor Nun Pantouw dan wakilnya Letnan Jonkhy Robert Kumontoy dengan bantuan air-cover dari AUREV.
Morotai diserang oleh pesawat² terbang Permesta sebanyak 3 kali (dan terakhir kalinya diserang tanggal 28/29 April), disusul pendaratan dengan kapal² perang asing (2 buah) dan kapal pengangkut (2 buah) yang mengangkut satu batalyon Permesta dibawah pimpinan Mayor Nun Pantouw.
Dari pulau kecil ini Nun Pantouw menggeser pasukannya menyeberang ke Pulau Halmahera hingga menduduki Jailolo yang berada di bagian tengah Halmahera.

Melihat perkembangan ini, Pangdam XV/Pattimura Kolonel Herman Piters segera mengadakan rapat khusus dengan seluruh staf inti Kodam. Dari Jakarta muncul permintaan laporan situasi terakhir dari KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution, KSAL Laksamana Subyakto dan KSAU Laksamana Suryadi Suryadarma. Laporan yang sama juga diberikan ke istana atas permintaan Bung Karno.
Mei 1958

Dukungan Presiden Filipina Gracia dan Menteri Pertahanan Filipina Vargas untuk PRRI (dan Permesta). Hal ini dikecam keras oleh Duta Besar Filipina di Jakarta, Jose Fuentabella. Begitu juga surat² kabar Filipina, menuduh Menteri Luar Negeri Serano sebagai alat Amerika Serikat. Dalam menghadapi masalah pergolakan di Indonesia, Filipina dianggap terlalu banyak dikendalikan kedutaan Amerika Serikat di Manila.

Filipina juga telah mengirimkan bantuan berupa persenjataan dan 2 squadron pesawat tempur – yang dibeli Permesta (PRRI di Sulawesi Utara) dengan cara barter – ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner PRRI (AUREV).

Pada pertengahan bulan ini, pemerintah Amerika Serikat mengubah kebijakan politik terhadap Indonesia, namun pemerintah Filipina tidak diberitahu, sehingga Menteri Luar Negeri Serano menyesalkan sikap Amerika Serikat ini.

Dalam upaya dukungan pemerintah Filipina tersebut, tercatat nama wartawan Ninoy Aquino, tokoh pers yang terkemuka, ikut dalam operasi tersebut sebagai reporter/wartawan.

 

Dalam sebuah pengakuannya, Ninoy Aquino menyatakan sikap pemerintah Filipina dan juga Amerika Serikat yang menerlantarkan serta meninggalkannya dalam hutan² di Minahasa setelah pemerintah AS menarik diri segala operasinya di Indonesia akibat jatuhnya pesawat yang dikendalikan pilot Allan Lawrence Pope, seorang anggota CIA, yang membongkar keterlibatan pemerintah AS dalam masalah dalam negeri Indonesia (kelak istrinya akan menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada dekade tahun 80-an dan tampil sebagai Presiden negara itu.)
4 Mei 1958

Bukittinggi sebagai ibukota PRRI diduduki oleh pasukan APRI.
5 Mei 1958

Pesawat² tempur AURI membom posisi² pasukan PRRI (Permesta) di pulau Jailolo.
6 Mei 1958

Kolonel J.F. Warouw (alias Joop Warouw) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, setelah diskors dari dinas TNI, hari ini secara resmi dipecat dari TNI.
8 Mei 1958

Kota Parigi berhasil dikuasai pasukan Overste D.J. Somba dan 1 batalyonnya, yang menggunakan 4 buah kapal pengangkut (dua diantaranya berbendera asing/Belanda) dilindungi oleh 2 pesawat Permesta (B-26 dan Mustang).

 

Dalam waktu beberapa hari, Permesta juga berhasil menguasai Toboli dan Kebon Kopi. Ikut juga dalam operasi tersebut yaitu Mayor J.W. Gerungan (Dee Gerungan) dan Mayor Lukas Palar.
Hari ini, di Teluk Ambon, Kapal “Sonny” dihujani bom dari pesawat Bomber B-26 AUREV namun tidak kena.
9 Mei 1958

Sejumlah pendukung Permesta di Makassar yang berani menyatakan pendapat ditangkap dan dipenjarakan hari ini.
10 Mei 1958

Empat buah Kapal Permesta yang digunakan untuk pendaratan di Parigi berhasil ditenggelamkan oleh pesawat² AURI. (Komandan batalyon Mayor Lukas Palar bersama pasukan pengawalnya gugur di perairan Poso, ketika sedang menyeberangi teluk dengan motorboat, disergap dan ditenggelamkan pesawat tempur AURI)

 

Setelah itu pasukan Palar terpencar²; sebagian mengikuti Dee Gerungan masuk hutan Sulutteng, dan sebagian lagi menggabungkan diri dengan satuan² Resimen Ular Hitam.
10 (16) Mei 1958

Terjadi pengiriman senjata secara besar²an ke Sulawesi Utara melalui laut – pada peti² kayu dengan jelas terlihat tanda Angkatan Laut Amerika Serikat (US Naval).

 

Kebanyakan muatan pertama kapal dikatakan terdiri dari senjata ringan dan hal ini menimbulkan beberapa persoalan karena para veteran KNIL yang bertanggung jawab melatih sukarelawan² muda Permesta kebanyakan ahli di bidang artileri berat.

 

Pengiriman senjata pertama itu diterima pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus (Isa Al-Masih) yang jatuh pada hari ini. (Menurut perhitungan Dr. Barbara Sillars Harvey, Ph.D., Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus ini jatuh pada tanggal 16 Mei)
14 Mei 1958

Kekhawatiran pasukan “tentara pusat” bahwa pesawat B-29 akan dikerahkan Permesta dan CIA, bahwa kemungkinan akan terjadi dog fight.

 

Untuk itulah, sembilan pesawat tempur yang terdiri dari empat B-25 (strafer dan bomber) serta lima P-51 digerakkan ke Indonesia Timur untuk menggelar operasi merebut keunggulan di udara pada tanggal 14 Mei 1958.
Target telah ditentukan: Pangkalan Udara Mapanget.
Secara keseluruhan, Mayor Udara Leo Wattimena ditunjuk sebagai flight leader dan Sri Muljono khusus leader pembom ­ Letnan Udara I Pedet Soedarman, Kapten Udara Suwondo, dan Letnan Udara I Suwoto Sukendar.

Seperti juga di Sumatera, demi keamanan keberangkatan dilakukan dari pangkalan yang berbeda. Dari Pangkalan Laha sebuah B-25 (Suwoto Sukendar) diberangkatkan dengan kawalan dua P-51. Lalu dari Liang dua B-25 (Sri Muljono dan Pedet Soedarman), dikawal sebuah P-51.

 

Dan terakhir dari Amahai sebuah B-25 (Suwondo) disertai dua P-51.
Tepat pukul 04.00 subuh, mereka rendezvous di atas Pulau Manggole. Dari titik pertemuan, secara formasi mereka akan menuju pantai timur Manado.
Rencana operasinya: Sortie pertama, semua pesawat secara bersamaan akan menggempur dua target, Mapanget dan Tasuka.

 

Teknisnya, setelah semua pesawat mendekati pantai Manado, kedua flight akan memecah menuju target masing². Jika gelombang pertama sukses, semua pesawat harus segera kembali ke pangkalan semula untuk reloading.

 

Selanjutnya bergegas menuju Morotai dan Jailolo dengan tugas serupa. Sebaliknya jika serangan pertama gagal, dalam arti tidak berhasil menghancurkan setidaknya setengah dari jumlah pesawat AUREV, diperintahkan untuk menjauhi Morotai dan Jailolo dan menghindari kejaran pesawat AUREV.
Dalam situasi seperti itu, penerbang harus terbang menjauh dan terbang menuju pangkalan lain untuk menyiapkan diri dan kembali berkumpul di tempat semula malam harinya.

 

Barulah besoknya mereka akan kembali terbang menyerang Morotai.
Dalam briefing juga disepakati “Plan B”. “Kalau tertembak, usahakan loncat di laut yang persis di depan Kota Manado, karena di situ sudah stand by pasukan intel yang siap sewaktu² untuk menolong.
Setiap pembom diawaki oleh lima crew (pilot, co-pilot, bombardier, montir, dan radio telegrafis/gunner).
15 Mei 1958

Upaya Kedutaan Besar Amerika Serikat pada hari ini agar diadakan gencatan senjata antara pemberontak dengan pemerintah ditolak oleh PM Ir. Djuanda dan Presiden Ir. Soekarno dengan mengeluarkan pengumuman resmi, perundingan hanya akan dipertimbangkan setelah kaum pemberontak menyerah dengan tidak bersyarat dan Kementrian Penerangan menyatakan politik pemerintah adalah menumpas kaum pemberontak, tidak berunding dengan mereka.
15 Mei 1958

Pesawat² AUREV/Permesta yang terakhir berupa B-26, P-51, Catalina, Lochkeed dihancurkan AURI di Lapangan Udara Mapanget di Manado.
Dalam operasi itu, tiga pesawat B-25 plus tiga P-51 milik AURI menuju ke arah Mapanget, dan sebuah pesawat B-25 (Suwondo) dikawal dua pesawat P-51 membom pangkalan udara Tasuka.

Serangan B-25 dan P-51 secara bergantian telah melumpuhkan setengah dari kekuatan AUREV yang diperkirakan diperkuat delapan pesawat ­ P-51, B-26, Catalina, dan DC-3. Begitu juga di Tasuka, Suwondo menghancurkan landasan dengan baik.
Serangan mendadak itu tidak hanya menghancurkan pesawat diparkir di apron tapi juga tanki bahan bakar AUREV. Akibatnya dalam beberapa jam setelah serangan itu asap hitam membumbung ke angkasa pertanda terjadi kebakaran hebat, dan tidak ada lagi pesawat AUREV yang selamat serta landasan Mapanget dipenuhi lubang.

 
 
 

Admin
Admin

Jumlah posting: 2244
Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 5:29 pm

 

Pada Hari Doa Sedunia (hari ini?), 2 pesawat pembom AURI menghancurkan 4 buah pesawat pembom B-26 yang diawaki orang Taiwan (?) yang belum sempat tinggal landas di Lapangan Kalawiran – Kakas pada sore hari, sementara itu 4 pesawat Mustang AURI lainnya melancarkan tembakan mitraliurnya di tempat² yang dicurigai menjadi sarana² vital Permesta.

Peristiwa ini membuat umat Kristen Oikoumene yang sedang mengadakan Ibadah Hari Doa Sedunia di Lapangan GMIM Pinaesaan Langowan dalam posisi tiarap.

Pesawat Permesta yang hancur dibom

Saat itu, J.Harry Rantung (kopral AURI di pangkalan Morotai yang kemudian bergabung dengan Permesta) dan Allan Laurence Pope (pilot berkebangsaan Amerika Serikat) dengan pesawat Pembom B-26 Invander lepas landas dari lapangan udara Mapanget dengan pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan oleh seorang pilot berkebangsaan AS yang bernama Connie Seigrist.

 

Sasaran utamanya adalah Ambon.
Pesawat B-26 Invander yang diawaki Allan L. Pope ini menghancurkan PBY Catalina, yang berlokasi di Liang. Dalam peristiwa itu hampir menewaskan Kolonel AURI Sunardi dan Marsekal AURI Alamsyah (Deputi KSAU-AURI Ashadi Tjahyadi).

 

Saat itu pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan Letnan Udara I Nayarana Soesilo ditembak jatuh oleh senjata Penangkis Serangan Udara Permesta yang masih tersisa di sekitar landasan udara Morotai dalam operasi udara yang dipimpin Mayor Leo Wattimena.

Penerbang lainnya yang pesawatnya kena tembak adalah Letnan Udara I Loely Wardiman.

 

Tidak seperti Nayarana, Loely masih sempat melompat sebelum pesawatnya jatuh ke laut. Loely diselamatkan oleh pasukan Magenda yang sudah menguasai pulau² di depan Kota Manado. Pesawat Pedet juga tertembak dalam second running dan bolong di beberapa tempat.
Dalam waktu 12 jam saja,

Lapangan Udara Mapanget dan Kalawiran sudah memperoleh pesawat² pengganti, malah memperoleh tambahan beberapa buah lagi (menurut buku Dolf Runturambi).

16 Mei 1958

Pendaratan rahasia oleh pasukan APRI di pantai Wori dekat Manado, oleh satu peleton RPKAD pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI (yang kelak menjadi Panglima ABRI), dan satu peleton RPKAD pimpinan Letnan Soewono.

Tujuan dari pendaratan dan penyerbuan saat itu adalah lapangan udara Mapanget. Pertempuran di lapangan Mapanget menewaskan dua orang RPKAD yaitu Miskan, prajurit asal Madiun dan Sersan Mayor Tugiman, mantan anggota KNIL.

 

Tugiman konon salah menduga bunyi tembakan Bar Bren Pasukan Permesta sebagai bunyi tembakan senjata jenis Bren biasa.

 

Setelah menghitung jumlah tembakan otomatis senjata itu sesuai kapasitas peluru dalam magazin, ia mengira tembakan akan berhenti. Ia lalu melakukan gerakan maju sambil koprol.

 

Padahal senjata yang digunakan Permesta adalah jenis Bar Bren yang pelurunya bersistem rantai. Ia gugur karena salah perhitungan.

Jenasah anggota pasukan RPKAD tersebut dimakamkan oleh Permesta secara militer. Sepuluh hari lamanya gerak pasukan pusat tersebut yang kemudian tertahan di sekitar Gunung Potong.

Saat pasukan pusat menduduki lapangan Mapanget itu kelak, diberi nama Lapangan Tugiman sementara waktu, untuk mengenang prajurit yang gugur tersebut.

 

18 Mei 1958

allan lawrence pope Allan Lawrence POPE, pilot sewaan/serdadu bayaran (soldier of fortune) Permesta (digaji sebesar USS 10.000,-) berkewarganegaraan AS dan merupakan anggota CIA, dengan disertai co-pilotnya, J.Harry Rantung yang berada di pesawat Pembom B-26, jatuh di Pulau Tiga Teluk Ambon oleh AURI dan ALRI.

Saat itu mereka serta sebuah P-51 Mustang yang dibawa oleh Connie Seigrist (seorang pilot Amerika juga), sedang menjalankan aksi membom kota Ambon yang menewaskan 6 warga sipil dan 17 tentara tewas.

Saat itu satu armada yang didukung oleh beberapa kapal perang, kapal pengangkut, dan penyapu ranjau, yang dipimpin oleh Letkol Herman Piters, komandan “Operasi Mena I”, bergerak dari Pelabuhan Halong, Ambon, menuju Morotai untuk mendudukinya kembali dari pasukan pimpinan Mayor Permesta Nun Pantouw.
Pengakuan Harry Rantung mengenai peristiwa itu adalah sbb:

Pagi hari itu sekitar pukul 06.00-07.00

di pelabuhan Ambon, penangkis udara menyambut kedatangan B-26 tersebut.

 

Allan Pope yang punya pengalaman tempur sejak dari Perang Korea, santai saja menuju sasaran.

 

Sebuah bom dijatuhkan di lapangan terbang. Tembakan senapan mesin diarahkan ke kubu² pertahanan yang tersebar di sekitar lapangan terbang dan pinggiran Kota Ambon.

 

Pertempuran jadi ramai. Pope tanpa ampun menghantam obyek² militer.

Harry Rantung, sebagai operator radio melapor ke Manado tentang operasi yang sedang berlangsung di Ambon.

 

B-26 yang digunakan AS pada PD II itu masih lincah. Ketika pesawat berada pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, Pope berkata bahwa di bawahnya ada satu konvoi kapal dan langsung dilaporkan ke Manado.

 

Dari Manado kemudian menginstruksikan untuk diteliti. Atas instruksi Manado itu, Pope turun sampai pada ketinggian sekitar 4.000 kaki, dan terlihat bahwa titik² itu adalah konvoi armada yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi menuju utara. Pope melaporkan lagi ke Manado bahwa yang mereka lihat adalah satu konvoi armada kapal perang dan pengangkut RI.

 

Untuk itu dia minta instruksi Manado. Hanya dalam waktu tidak cukup satu menit, datang instruksi dari Manado yang meminta agar armada yang sedang bergerak ke arah utara itu diserang.

Tanpa banyak komentar, Pope turun pada ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Allan Pope dengan pengalaman tempur yang cukup, langsung menukik dan menjatuhkan bom. Sasarannya Sawega.

 

Namun meleset hanya beberapa meter dari buritan kapal. Berbarengan dengan jatuhnya bom, datang rentetan tembakan pengangkis udara dari kapal² perang yang mengawal Sawega.

Saat itu saya melapor ke Manado bahwa pertempuran sudah berkobar. “Kami sudah menyerang dengan bom, tetapi sayang meleset,” lapor Harry ke Manado.

Sesudah menghamburkan peluru maut dari mulut pesawat ke atas geladak kapal, Pope berputar naik keatas. Saat itu mereka merasa ada goncangan keras. “Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor Manado,” kata Allan Pope.

 

Api berkobar di bagian ekor pesawat. Manado sudah menerima laporan tentang tertembaknya B-26 itu dan menginstruksikan agar mereka berusaha untuk terbang ke arah Irian Barat.

 

Dengan segala keahliannya, Pope berusaha mengendalikan B-26. Pope berusaha untuk berputar dan naik.

Tetapi tidak bisa. Kobaran api semakin menjadi. Menghadapi situasi yang sangat gawat, Pope memerintahkan saya untuk terjun. Mereka jatuh di sebuah pulau kecil.

 

Paha Pope robek.
Dari pinggangnya Pope mencabut pistol dan menyerahkan kepada saya.

 

Kemudian dia membuka mulut, maksudnya agar Harry tembak. “No no”, tolak Harry.

 

Beberapa saat kemudian dua buah perahu karet merapat. Satu regu Marinir langsung mengepung. Pope dan Harry dibawa ke atas perahu karet.

 

Dalam pemeriksaan awal, saya mengaku bernama Pedro, berkewarganegaraan Filipina. Akan tetapi saya tidak bisa menyembunyikan samaran. Soalnya di atas Sawega kebetulan ada seorang sersan AURI satu angkatan dengan saya di Morotai.”

Dokumen di tangan Pope disita. Namun sebuah dompet yang berisi uang dan selembar foto istrinya dikembalikan.

 

Dokumen itu berisi informasi yang fatal bagi perkembangan PRRI dan Permesta selanjutnya, karena Allan Pope sengaja membawa dokumen rahasia CIA.

 

Dari dokumen yang ada diketahui bahwa Pope adalah seorang penerbang CAT (Civil Air Transport) dari Taiwan, dan punya kode 11 (sebelas) sebagai tentara sewaan yang digerakan CIA (Central Intelligence Agency) untuk mengacau Pasifik.

Kejadian ini membuat heboh dunia dan hal ini antara lain yang menyebabkan pihak AS/CIA menarik diri dari operasi ini karena desakan agar tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara.

allan pope dirawat
Allan L. Pope yang dirawat di atas KRI Sewaga
Perubahan kebijakan Amerika Serikat tidak terlepas dari upaya keras dan pendekatan² yang dilakukan Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones dan Atase Militer Kolonel George Benson di Jakarta, meyakinkan State Departement AS dan Pentagon.

 

Mereka berhasil meyakinkan Washington bahwa satu²nya kekuatan masa depan yang bisa diandalkan melawan komunis di Indonesia justru berada ditangan para perwira di pemerintah Pusat.

Hal ini membuat para pemimpin Permesta marah terhadap AS karena, pihak AS hanya mengutamakan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kemitraannya terhadap gerakan Permesta yang se-‘ideologi’ (anti-komunis) dengannya.

18 Mei 1958

Letkol Andi M. Jusuf kembali ke Makassar setelah bertemu dengan Letjen A.H. Nasution dan juga dengan Presiden Soekarno, diberi wewenang untuk memangku komando KDM-SST dan diperintahkan untuk menangkap Letkol M. Saleh Lahede yang sebelumnya ditolak oleh Letkol Andi Mattalatta selaku Panglima KDM-SST.
19 Mei 1958

Gubernur Sulawesi Andi Pangerang sebagai ketua penguasa Perang Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara mengumumkan pelarangan apa yang dinamakan “Pemerintah Revolusioner” Republik Indonesia (PRRI) dan “pembekuan” organisasi Permesta, termasuk semua cabang dan rantingnya.

20 Mei 1958

Morotai jatuh kembali ke tangan APRI (sekarang TNI) dalam operasi khusus AURI “Nunusaku” dibawah pimpinan Letkol Huhnholz dari Angkatan Laut.

Di Pulau Halmahera, Operasi Mena I (Mena berarti menang) di bawah pimpinan Kapten Suptandar berhasil merebut kembali Jailolo dari tangan Permesta (PRRI di Indonesia Timur).

 

Jailolo merupakan kota cukup strategis di Halmahera dengan lapangan terbangnya yang pernah digunakan oleh Jepang pada PD II. Operasi tidak berjalan mulus. Medan terlalu berat hingga hampir tidak ada samasekali hubungan darat.

Letnan Thom Nusi, mantan Komandan Baret Merat RMS (Republik Maluku Selatan) yang memimpin satu kompi Pattimura Muda terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Permesta yang bertahan di atas bukit² kecil di pinggiran timur laut Jailolo.

 

Walau pasukan Permesta dapat dipukul mundur hingga lari ke pedalaman Halmahera, beberapa orang anggota Nusi terluka. Karena medan sangat berat Kapten Suptandar, Komandan Operasi Mena I akhirnya naik kapal Bekaka ukuran 100 ton untuk bertolak menuju Desa Ibu yang terletak di pesisir barat Halmahera Tengah.

 

Maksud Suptandar akan mengadakan gempuran dengan memotong dari pantai Desa Ibu. Perhitungannya dari Ibu untuk menjangkau pedalaman Halmahera lebih mudah.

 

Akan tetapi pasukan bergerak ke arah pedalaman, hingga pasukan Suptandar mendapat perlawanan keras. Dua orang komandan peleton melapor bahwa medan sangat berat.

Menghadapi medan yang sangat berat itu, Kapten Suptandar beserta beberapa orang staf dengan kapal Bekaka menuju Morotai yang telah diduduki.

 

Tiba di Morotai, mereka langsung menuju markas AURI. Di lapangan berjejer beberapa buah pesawat tempur P-51 Mustang (cocor merah) dan pembom PBY-5A Catalina.

Beberapa hari kemudian, Radio Australia yang cukup populer di Maluku menyiarkan berita tentang munculnya Mayor Nun Pantouw dan pasukannya di Irian Barat yang waktu itu masih dijajah Belanda. Penduduk Desa Kao (Teluk Kao) dan Desa Maba di pesisir timur Pulau Halmahera sebagai saksi mata mengatakan, pasukan Permesta turun dari hutan Halmahera tengah menuju Teluk Kao.

 

Dengan perahu² kecil mereka menyeberangi Teluk Kao, untuk selanjutnya memotong gunung tiba di Desa Maba. Dari Maba dengan menggunakan perahu menyeberang ke Irian Barat.

Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles hari ini mengadakan konferensi pers mengenai masalah Indonesia.

Sejumlah tokoh² Permesta di Sulawesi Selatan hari ini ditangkap oleh Pemerintah Pusat.

Mereka diantaranya Letkol M. Saleh Lahede (Kastaf TT-VII/Wirabuana), Mochtar Lintang, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat, Kapten W.G.J. Kaligis, Letkol dr.Oscar E. Engelen (Ketua Ikatan Perwira RI – Indonesia Timur), Kapten Bing Latumahina.
Setelah melewati proses pemeriksaan, mereka dipenjarakan di Madiun dan Jakarta.

 

Sejumlah perwira lainnya juga dikeluarkan dari dinas militer.

22 Mei 1958

Hari ini, kota Gorontalo dilepaskan pasukan Permesta dari pasukan Bn. S dibawah komando Mayor Wim Sigar ke tangan tentara TNI.

 

Saat itu, Pasukan Rimba dari Nani Wartabone dengan bantuan air-cover dari AURI, berhasil menghalau pasukan PRRI (Permesta) yang harus mundur dan mengadakan pertahanan di luar kota Gorontalo. Pemerintah AS terpaksa menyetujui bantuan senjata dan ekonomi kepada Indonesia setelah bantuan operasi kepada Permesta (PRRI di Sulawesi) ditarik akibat peristiwa jatuhnya pesawat yang dikemudikan Allan L.Pope.

Salah satu alasannya adalah, bahwa di tubuh TNI di pusat, masih banyak perwiranya yang anti-komunis yang dapat diajak kerja sama.
23 Mei 1958

Daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sangir dan Morotai secara praktis sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dikuasai oleh Pasukan Permesta – serta jatuh ke tangan Pemerintah Pusat di Jakarta.
23-27 Mei 1958

Kota Parigi, Toboli dan Kebon Kopi dikuasai kembali oleh pasukan gabungan APRI dari Divisi Brawijaya, Kapten Frans Karangan (ia dan batalyon kecilnya membelot di Poso), kesatuan Polisi dibawah pimpinan Inspektur Polisi Suaeb, dengan bantuan pesawat² terbang AURI.

Operasi ini menewaskan 30 orang pasukan Permesta, dan 14 orang pasukan Permesta berhasil ditawan.
Tanggal 23 dan 27 Mei

di daerah Situjuh dan Suliki terjadi teror terhadap kedua daerah tersebut, dimana terjadinya pembunuhan (pembantaian) massal oleh anggota pasukan ADREV PRRI (Permesta).

 
 
 

Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 5:49 pm

 

Karena pasukan ADREV PRRI (Permesta) sudah tidak lagi mendapatkan bantuan air-cover dari AUREV, maka operasi/ekspedisi untuk menguasai Sulawesi Tengah, Balikpapan, kemudian menyeberang ke pulau Jawa, terpaksa dibatalkan, dan dinyatakan gagal oleh Letkol D.J. Somba.

 

Ia dan pasukannya kemudian mengadakan perjalanan long march kembali ke Minahasa selama dua bulan, dengan membagi dua pasukan yaitu satu menggunakan perahu (di Buol) dan lainnya berjalan kaki. Tiba di pelabuhan kecil Kwandang (sebelah utara Kabupaten Gorontalo), sebagian pasukannya naik perahu menuju Minahasa, serta sebagian lagi tetap melanjutkan perjalanan darat melewati Atinggola-Boroko di Bolmong.

 

Setelah mereka berada di daerah Sumalata-Bolmong, mereka dijemput dengan truk oleh pasukan Resimen (RTP) Ular Hitam pimpinan Mayor Dolf Runturambi (pada bulan Juli 1958), dan baru tiba bulan Juli saat Minahasa Utara telah dikuasai Tentara Pusat.

27 Mei 1958

Peristiwa tertembaknya pesawat yang dikemudikan Allan Lawrence Pope hari ini diumumkan Pemerintah Pusat kepada pihak publik.

Alasan diumumkan kepada publik baru pada haru ini yaitu dengan maksud untuk tetap menjaga kerahasiaan operasi di Morotai yang masih dalam tahap penuntasan.
Bersama² dengan Letkol Saleh Lahede, juga yang ditangkap hari ini adalah Mochtar Lintang, dan 3 orang sekutunya yang turut dalam perundingan dengan Kahar Muzakkhar yaitu Kapten W.G.J. Kaligis yang bekerja di Sekretariat Team bantuan

 

Pemerintah Militer dan erat hubungannya dengan Letkol Ventje Sumual; Kapten Anwar Bey, anggota Korps kerohanian KADIT, dan Naziruddin Rachmat dari Inspektorat Pendidikan Agama (yang dipimpin Mochtar Lintang).

Saleh Lahede dan Mochtar Lintang (keduanya termasuk dalam kabinet menteri PRRI) ditahan di Makassar hingga November 1958, lalu mereka mula² dikirim ke Denpasar dan kemudian ke Madiun tempat mereka ditahan hingga 1962.

 

Ketiga orang yang ditangkap bersama² dengan mereka itu (Kaligis, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat), dr. Engelen, Bing Latumahina dan Sersan Mayor Pangkey pada tanggal 29 Mei dikirim ke Jakarta dan ditahan di sana dan di Madiun hingga tahun 1962.

Jadi dalam sepekan, 15-23 Mei 1958, Permesta sudah tidak punya harapan lagi mendapat dukungan dari Sulawesi Selatan.
Juni 1958

Menjelang bulan Juni 1958, kekuatan bersenjata Permesta seluruhnya ditaksir lebih dari 15.000 orang.
8 Juni 1958

Kota Manado mulai ditembaki oleh ALRI; dan AURI ikut serta menyerang Pelabuhan Udara Mapanget di Manado, Tondano, dan Tomohon pada tanggal 11 dan 13 Juni.

13 Juni 1958

Pasukan² pemerintah, yang dirintis oleh RPKAD dan KKO, hari ini mulai mendarat di sebelah utara kota Manado.

Pendaratan pertama kali pasukan APRI secara besar²an di pantai Kema Minahasa dalam Komando Operasi Merdeka dibawah pimpinan Letkol Inf. Roekmito Hendraningrat dengan sekitar 4.000 orang prajuritnya.

 

Pertempuran membendung Tentara Pusat ini dipimpin langsung oleh Kolonel Permesta Ventje Sumual selaku Komandan Angkatan Darat Revolusioner (ADREV) PRRI, setelah ia kembali dari operasi pembebasan pangkalan udara Morotai di Halmahera.

Overste D.J. Somba waktu itu masih dalam perjalanan long march dari Sulawesi Tengah bersama pasukannya, setelah menarik diri dari kawasan itu.

Kapten Bert Supit diangkat pemerintah pusat sebagai bupati/Kepala Daerah Minahasa (KDM) (menggantikan Laurens F. Saerang yang bergabung dengan Permesta) sampai tanggal 23 September 1958 karena menyatakan berhenti dan digantikan E. Alfianus (Nus) Kandou.
21 Juni 1958 Tanggal 21 dan 24 Juni

dilakukan pendaratan pasukan APRI dari pantai Wori di Teluk Manado (sebelah utara Manado) dengan kapal perang jenis korvet, dibawah tembakan KRI “Rajawali” dibawah pimpinan Mayor (Overste?) John LIE dan beberapa peleton RPKAD dibawah pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI serta Komandan B.T.P. KKO Mayor Tukiran.

Waperdam PRRI Joop Warouw kemudian memerintahkan agar orang mengungsi keluar dari kota Manado.
24 Juni 1958

Kota Airmadidi hari ini jatuh ke tangan Tentara Pusat.
26 Juni 1958

Gerakan pasukan APRI ini dihadang Mayor John Ottay selaku Komandan Komando Militer Daerah Kota Besar (KMKB) Manado didampingi Mayor Willy (Wim) Joseph.

 

Pukul 14.45 pasukan KKO masuk di kota Manado dari jurusan Kairagi/Airmadidi. Menjelang malam, pusat kota di Jl. Samrat berhasil diduduki pasukan gabungan APRI.

Pasukan Gabungan APRI tersebut sebelumnya ditahan 4 hari 4 malam di Jembatan Megawati, pintu gerbang masuk ke kota Manado, yang direbut silih berganti oleh pasukan Permesta dan APRI.
Mayor John Ottay kemudian dikabarkan sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Tomohon karena mengalami cedera pada bagian kaki, terkena tembakan dalam pertempuran tersebut.

Kemudian di tempat² seperti daerah operasi TNI di Kalasey, Togas, Koha, Tateli, Buloh, Mokupa, Tanahwangko dan Lemoh, TNI maju dengan cepat dengan tembakan mortir atau kanon artileri sebagai pembuka.

Serangan Tentara Pusat ini merupakan gabungan dari Bn. 517/Brawijaya pasukan “M” dibawah pimpinan komandannya Mayor Suwarno dibantu oleh satuan² Artileri dibawah pimpinan Letnan Tulus.

Arus pengungsi dari kota Manado terlihat makin panik hari ini. Iring²an rombongan manusia berjalan kaki sambil membawa barang apa adanya, tampak mengalir ke arah Selatan.
Setelah kota Manado jatuh, markas Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf ADREV PRRI dipindahkan dari Sario ke Pineleng, kemudian dipindahkan lagi ke desa Sarongsong – Tomohon saat Pineleng jatuh ke tangan APRI.

Juli 1958

Pertahanan pasukan Permesta di garis Manado-Tomohon diperkuat kubu² yang berlapis² mulai dari Warembungan sampai Tinoor. Situasi medan (topografi) sepanjang jalan raya yang menanjak ke kota Tomohon sangat mendukung suatu kekuatan defensif

(Pengalaman pada waktu Perang Dunia II telah membuktikan hal ini. Gelombang serangan serdadu Jepang, dari arah Manado menuju Tomohon, sangat kewalahan menembus kubu² pertahanan tentara KNIL waktu itu pimpinan Letnan Andries S.Purukan yang disapu oleh tembakan dari sarang mitraliur tersebut).

Bunker beton (pill box) sisa Perang Dunia II itu masih tetap utuh dan dimanfaatkan pasukan Permesta untuk membendung serangan TNI, dengan antara lain menggunakan senjata berat jenis recoilless-gun (STB).

 

Sudah berkali² tentara Pusat mencoba untuk menembus garis pertahanan pasukan Permesta ini. Tapi baru di Warembungan, gerak maju tentara pusat sudah terhambat perlawanan Permesta.
Pesawat Mustang AURI maupun Bomber AURI hampir setiap hari terbang meraung² di angkasa lalu memuntahkan tembakan senapan mesin dan menjatuhkan bom roketnya di tempat² yang dianggap vital bagi pertahanan pasukan Permesta.

 

Sesekali pesawat² tersebut menjatuhkan selebaran pamflet (di lokasi pasukan Permesta dan lokasi pengungsian penduduk) yang menyerukan agar Pasukan Permesta menyerah, serta membujuk rakyat agar tetap tenang dan berjanji tak lama lagi akan dibebaskan oleh pasukan APRI.

Untuk menyalurkan logistik Pasukan Permesta di garis depan, di Talete didirikan dapur umum Permesta, dan melakukan droping makanan di garis depan melalui sebuah mobil truk pengangkut makanan.

Serangan ke kota Tomohon akhirnya dialihkan ke arah Tondano lewat garis Airmadidi-Tanggari. Setelah selama seminggu diserang, barulah Tondano jatuh ke tangan APRI pada akhir bulan Juli. Wilayah Tondano pante ini dikuasai oleh Batalyon T pimpinan Mayor Togas.

 
 
 

Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 5:53 pm

 

Akhir bulan Juli,

pengiriman persenjataan Permesta (PRRI) lanjutan, mulai berdatangan (membanjiri) dan melengkapi senjata² pasukan Permesta yang lebih modern, yang didrop lewat darat maupun udara, yang mana belum pernah dimiliki APRI.

Dengan beralihnya strategi dan taktik perang Permesta (PRRI di Sulawesi) dari sistem frontal atau perang terbuka ke sistem perang gerilya, slagorde atau struktur organisasi militer Permesta juga mengalami perubahan.

 

Struktur lama yaitu KDM-SUT yang berawal sejak medio 1957 ketika Territorium VII/Wirabuana dilikuidasi, telah dipecah menjadi empat KDP (Komando Daerah Pertempuran).

 

Wilayah Operasi Daerah Minahasa, menjadi KDP II atau lebih populer dengan sebutan KDPM. Bekas Panglima KDM-SUT Letkol D.J. Somba, menjadi Panglima KDPM.

 

Wilayah KDPM dibagi dalam empat Wilayah Militer yang dalam bahasa Jerman dinamakan Wherkreisse/WK. WK I menguasai wilayah Tonsea, dengan Letkol Fred Bolang selaku Komandan WK bermarkas di sekitar Desa Pinilih (Komandan WK I kemudian hari diganti oleh Letkol Agus Tuwaidan). WK II dipimpin Letkol John Ottay yang bermarkas di sekitar Desa Sawangan menguasai wilayah Tondano dan sekitarnya, termasuk Pegunungan Lembean.

 

Letkol Wim Tenges menjadi Komandan WK III yang wilayahnya meliputi Tomohon, Remboken, Langowan, Kawangkoan dan Tumpaan, bermarkas di Desa Suluun – Rumoong Atas. WK IV meliputi wilayah Tombatu, Ratahan, Motoling dan Tompaso Baru, dengan komandan Letkol Joost A. Wuisan, bermarkas di sekitar Desa Keroit – Motoling. Tiap WK dipecah lagi menjadi beberapa Sub WK. Di wilayah KDPM seluruhnya terdapat 17 SWK yang masing² menggunakan nama gunung setempat, merupakan basis gerilya pasukan Permesta. Karenanya terdapat basis daerah gerilya seperti SWK Lokon, SWK Lengkoan, SWK Soputan, SWK Klabat, dan sebagainya.

Menurut perhitungan strategi perang gerilya Permesta, keampuhan pembentukan SWK sebagai basis daerah kantong gerilya, ialah menjadikan daya tempur pasukan lebih efektif. Menurut estimasi, satu SWK setiap hari minimal dapat menewaskan satu personil pasukan musuh. Ini berarti di wilayah KDPM setiap harinya dapat ditewaskan 17 orang musuh, atau dalam sebulan 510 kepala.
1 Juli 1958

Pemerintah sipil sementara dibentuk untuk Manado dan Minahasa dibawah pimpinan Kapten Bert Supit; dan pada 19 Juli E. Alfianus (Nus) Kandou, pimpinan PNI di Minahasa, diangkat menjadi sekretaris pemerintahan militer itu.

Pada tanggal 23 September

Nus Kandou diangkat menjadi penjabat Kepala Daerah Minahasa dan Jan Piet Mongula (dari PKI) diangkat menjadi penjabat Walikota Manado.
2 Juli 1958

Seruan Badan Pekerja Sinode GMIM disiarkan via Radio Permesta supaya perang saudara dengan pembunuhan dan penumpahan darah di tanah Minahasa yang tanah Kristen, yang telah berlangsung dalam waktu 14 hari terakhir, agar segera berakhir. Juga diserukan agar diusahakan jalan pertemuan dan perundingan untuk penyelesaian persoalan-persengketaan Pusat dan Daerah Minahasa.

 

Seruan ini ditandatangani oleh Ketua BPS GMIM Ds. A.Z.R. Wenas dan Panitera (Sekum) P.W. Sambow.
Beliau kelak berjasa dalam penghubung dalam rangka Perdamaian antara Permesta dan Tentara Pusat.
12 Juli 1958 (?)

Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat sejak tahun 1904.
(Laporan Letusan G.Api Mahawu tanggal 12 Djuli 1958, djam 22.44, oleh M. Pantouw, Direktorat Geologi RI – 1959).
21 Juli 1958

sebuah kompi yg menyerah di Tondano
Kota Tondano hari ini jatuh ke tangan TNI, 26 hari setelah kota Manado jatuh. Arah gerak maju pasukan Tentara Pusat sudah dialihkan dari Manado menuju Tomohon, ke jalur Airmadidi, Tanggari, Tondano dan kemudi an Tomohon.

23 Juli 1958

Dalam sebuah artikel harian Republik terbitan hari ini, menulis:
Alex Kawilarang ketika menyaksikan daya tempur Permesta di dalam mempertahankan kota Manado, ia merasa tertipu. Dengan nada kesal dan tersenyum sinis, Kawilarang berkata: “Saja merasa tertipu, kamu orang semua sudah kaja, ja…”
25 Juli 1958

Letkol D.J. Somba hari ini tiba di Minahasa, setelah mengadakan perjalanan jauh long march dari Sulawesi Tengah, dan menggunakan beberapa truk dari Bolmong.
28 Juli 1958

Perdana Menteri RI Ir Djuanda dalam Sidang Pleno DPR DPR tanggal 28 Juli dan 16 Agustus, mengatakan bahwa Pemerintah Pusat telah mengambil tindakan² dan melakukan usaha² untuk menumpas PRRI dan Permesta.
29 Juli 1958
(ralat tgl) Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah.

D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa.

 

Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat.

Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park – Tomohon.

Gunung Mahawu dilihat dari udara/Selatan
Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat sejak tahun 1904.

Letusan ini terjadi pada pukul 22.44 waktu setempat selama 40 menit dengan nyala api yang sangat besar sehingga cahaya terangnya sampai ke desa Kakaskasen bahkan ke kota Tomohon.

 

Sebelumnya tampak angin kencang dengan kilat listrik/petir serta suara gemuruh.

 

Gejala pendahuluan tidak diketahui secara pasti karena pada saat tersebut,

 

Gunung Lokon juga sedang giat mengalami letusan yang telah dimulai sejak awal pergolakan tahun ini. Letusan berlangsung singkat, terekam oleh seismograf mekanik yang mencatat getaran letusan selama 76 menit.

 

Titik letusan ada di dasar kawah puncak sebelah utara. Bahan letusannya disemburkan agak miring ke selatan. Akibat letusan, hutan di sekitar puncaknya hancur terlanda jatuhan lumpur belerang dan bongkahan lava (bongkahan lava lama), yang meluas ke arah selatan berjarak sekitar 700 m (hutan yang dirusak oleh letusan ini ±10 km²).

 

Semua lumpur dilontarkan hingga sejauh 3 km dari kawahnya.
Lahar lumpur belerang panas dari kawah Gunung Mahawu melewati desa Kakaskasen, memotong jalan antara Tomohon-Manado dan mencapai Kali (Sosoan) Ranowangko serta melanda tempat pengungsian penduduk di lereng gunung tersebut. Korban saat itu adalah sepuluh orang luka² dan seorang ibu meninggal akibat lumpur panas tersebut.

Konon, letusan tersebut dipercaya orang akibat amarah dewa Minahasa (opo) akibat pengkhianatan Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong (selaku Komandan Sektor III wilayah sekitar Tomohon) terhadap Permesta.

(Sumber lain mengatakan bahwa letusan Mahawu dan Rapat Staf Komando KDP II di Sarongsong terjadi sehari sebelum Tomohon jatuh ke tangan Tentara Pusat (TNI) atas penyerahan diri Mayor Eddy Mongdong dan pasukan pertahanannya.)
6 Agustus 1958

Hari ini, Mayor Eddy Mongdong mengirimkan seorang kurir kepada pasukan Tentara Pusat dari kesatuan Diponegoro di Tondano yang sedang bersiap² menyerang Tomohon untuk memberitahukan pasukan tersebut, dia dan 1.500 orang dalam Sektor III-nya bersedia menyerah kepada pasukan pemerintah.

Mayor Eddy Mongdong mempengaruhi para anggota pasukannya termasuk KNIL untuk bergabung dengan TNI. Ia mengatakan bahwa Alex Kawilaranglah yang menyuruhnya untuk bergabung dengan itu.

 

Hal inilah yang menyebabkan timbul kecurigaan kepada Alex Kawilarang, yang memuncak pada pertemuan 17 Agustus di Kiawa.

 

Meskipun demikian, Jenderal Alex Kawilarang menolak tuduhan semacam itu. Menurut perwira Permesta lainnya, Mayor Eddy Mongdong sengaja menggunakan nama Alex Kawilarang, karena pengaruh, nama besar, serta wibawa Alex Kawilarang diantara pasukannya, baik TNI dan Permesta sangat besar.

 

 

 

 

 

 

10 Agustus 1958

Pasukan yang membelot
Di Warembungan pada hari ini sekitar 200 orang anak buah Mayor Mongdong menyerahkan diri.
Sebelumnya sudah terjadi beberapa kali penggabungan / penyerahan diri (“pengkhianatan / pembelotan”) pasukan dari Sektor III/Lokon.
13 Agustus 1958

Washington, D.C. mengadakan perjanjian ekonomi dengan Pemerintah Pusat di Jakarta.
Sejak saat itu, bantuan tenaga teknis dari Amerika Serikat di Minahasa serentak ditarik.
14 Agustus 1958

Pasukan Permesta hari ini mengadakan serangan balasan dengan menyerang Pineleng, sebagai daerah bekas markas besar Permesta tersebut.

Provinsi Sunda Kecil dimekarkan menjadi provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berdasarkan UU No. 64/1958.

Pelaksanaannya nanti

pada bulan Oktober 1958.
15 Agustus 1958 Sehari sebelum insiden Kasuang yang membuka topeng Mayor Mongdong, Letkol D.J. Somba masih sempat mengunjungi kubu pertahanan Tomohon dan memberikan instruksi kepada Mayor Eddy Mongdong, supaya pertahanan ditingkatkan berhubung dengan jatuhnya Tondano ke tangan musuh. Malah, Mayor Eddy Mongdong masih turut memberikan petunjuk dan dorongan kepada pasukannya, supaya semangat perjuangan mereka ditingkatkan.

Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah.

D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa. Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat.

Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park – Tomohon.
16 Agustus 1958

Mayor F.H.L.W. (Eddy) MONGDONG, Komandan SWK III/Lokon Permesta dan pasukannya menyerahkan diri kepada APRI (“Tentara Pusat”).

Tentara APRI (TNI) pagi ini masuk dan menduduki kota Tomohon lewat Rurukan dengan leluasa yang dijemput oleh Dan SWK III/Lokon – Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong bersama pasukan inti pengawalnya Kompi Lokon dengan Komandannya Piter Tumurang.

 

Sebagian besar anggota pasukan Mayor Eddy Mongdong menyerahkan diri kepada TNI lengkap dengan persenjataan yang ada. Pasukan APRI yang masuk kota Tomohon ini berasal dari Bn. 501/Brawijaya dibawah pimpinan Mayor Sumadi.

Kasus pengkhianatan/pembelotan Mayor Eddy Mongdong sangat mempengaruhi moril dan materil Permesta.

 

Sekitar 600 orang pasukannya juga ikut, bersama² dengan senjata² recoillesss-gun 75 mm, mitraliur 12,7 mm dan mortir dalam jumlah yang begitu besar. Kota Tomohon memang ditargetkan untuk menjadi benteng pertahanan Permesta terkuat karena begitu strategis letaknya. Kubu pertahanan kota Tomohon saat itu dianggap terbaik dan terkuat di wilayah Permesta.

dolf_runturambi Di daerah Kasuang (perbatasan Tomohon dan Tondano) terjadi “Peristiwa Kasuang”, yaitu kontak senjata antara pasukan APRI dengan pasukan pengawal Letkol Dolf Runturambi, Komandan KDP III/Bolmong-Gorontalo. Dalam peristiwa ini, Letkol Dolf Runturambi dikabarkan tewas. Kontak senjata itu terjadi secara tiba², ketika kedua pasukan berpapasan secara mendadak.

 

Pagi itu Kolonel Dolf Runturambi bersama pengawalnya yaitu 7 orang anggota Corps Tentara Peladjar (CTP) yang dipimpin Sersan Mayor Bolu Kindangen, dan diikuti juga oleh Kapten Nontji Gerungan, Kapten Herman R, dan adiknya Freddie Runturambi sedang mengendarai kendaraan Jeep Komando menuju Tondano, karena mengira waktu itu pasukan Permesta (PRRI) masih menguasai wilayah Tataaran sampai desa Koya.

 

Di desa Kaaten, yaitu batas kota Tomohon sekitar pukul 09.00. Rombongan KDP III, yang langsung membalas teriakan awak tank TNI dalam logat Ambon: “Eh ale, apa itu tentara Permesta?” dengan senjata bregun dan beberapa pistol mitraliur Swedia pasukan pengawal KDP III.

 

Pasukan TNI yang membawa tank bersama pasukan infanteri kemudian menyerang dengan senjata mesin dan kanon dari tank.

Siang itu rombongan menyingkir ke posko KDP II di Sarongsong. Panglima Besar Alex Kawilarang dan stafnya meninggalkan daerah Kinilow-Kakaskasen menuju Kawangkoan via Tomohon, sempat singgah di posko KDP II dan berkata kepada Yus Somba di depan posko: “Hei Somba, Dolf telah tewas, dan jip komandonya hancur kena tembakan kanon tank musuh, sedang nasib anak buahnya belum diketahui.” Namun, saat itu Letkol Dolf Runturambi sedang berada di dalam ruang kerja Yus Somba, dan kaget saat diajak Somba masuk ruangan, lalu berkata: “En zij rapporteren mij, dat je gesneuveld bent in Kasuang bij een overval op weg naar Tondano.” (Mereka -Tentara Pusat- melaporkan, bahwa anda sudah gugur pada suatu sergapan di Kasuang dalam perjalanan ke Tondano).

 

Di wilayah Sektor III Permesta dalam beberapa hari sebelumnya, ada perintah bahwa semua pasukan Permesta menjelang hari Proklamasi 17 Agustus, harus mengenakan pita merah putih sebagai kode. Ternyata pita merah putih itu adalah kode kesepakatan antara Mayor Eddy Mongdong dan TNI sebagai tanda pengenal pasukan Permesta yang akan bergabung dengan TNI.

 

Karenanya semua pasukan Permesta yang masih setia, segera diperintahkan menanggalkan pita merah putih tersebut.

Mayor Eddy Mongong ketika itu juga menjadi pusat caci-maki semua pasukan Permesta yang terpaksa harus meninggalkan kota Tomohon bergerak menuju daerah Selatan dan dicap sebagai pengkhianat Permesta yang menjual Tomohon, yang adalah kampung halamannya sendiri.

Sore ini, rombongan eksodus yang terdiri dari penduduk pro-Permesta maupun Pasukan Permesta bergerak ke arah Selatan dan memadati jalan raya Tomohon – Kawangkoan – Amurang – Motoling. Fanatisme Permesta masih tercermin dari eksodus ini.

 

Ikut pula dalam eksodus ini empat buah panser Permesta bercat loreng yang masing² diberi nama gunung yang ada di Minahasa seperti Kalabat, Lokon, dan Soputan, yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi karena telah kehabisan bahan bakar. Dalam eksodus ini, banyak orang yang ditangkap dan ditahan sebagai mata² musuh, atau mereka yang punya niat bergabung dengan pihak lawan.

 

Tugas ini ditangani oleh pasukan Combat yang dipimpin Letnan Sam Langi, dan dikenal sebagai Combat Langi.

Konsul Filipina, Mr. Renato Valensia bersama Nyonya Maria bersama ketiga putra-putrinya, mengungsi dari Manado ke Sonder dan mendirikan kantor Konsulat darurat di sana. Filipina membuka konsulat pertama di zaman Permesta, dengan mengontrak rumah Keluarga Tambuwun asal Sonder di wilayah Titiwungen Manado.

Dari desa Leilem sudah terdengar ledakan² dasyat yang berasal dari pemusnahan gudang mesiu bawah tanah yang terdapat di desa Kiawa.

 

Pemusnahan mesiu itu dilakukan karena tak sempat diangkut ke wilayah Selatan.

 

Daripada mesiu² itu jatuh ke tangan Pasukan APRI (TNI), lebih baik dimusnahkan. Hal ini membuktikan bahwa pimpinan Permesta waktu itu, tak menduga sama sekali bahwa Tomohon sudah akan jatuh ke tangan Pasukan TNI dalam waktu secepat itu. Ledakan pemusnahan gudang mesiu di desa Kiawa ini berlangsung dari pagi hingga malam hari.

 
 
 

Registration date: 31.08.08

Subyek: Re: SEJARAH PERMESTA    Tue Feb 17, 2009 6:05 pm

 

17 Agustus 1958

Hari ini di Kiawa, diadakan pertemuan antara Waperdam (Wakil Perdana Menteri/WPM) Joop Warouw, Panglima Besar PRRI Mayor Jenderal Alex Kawilarang, Kepala Staf ADREV PRRI Brigadier Jenderal HN Ventje Sumual dan Panglima KDP II Letkol D.J. Somba, dan Panglima KDP III Letkol Dolf Runturambi.

 

Pertemuan ini untuk membahas masalah pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong dan berita tewasnya Komandan KDP III Dolf Runturambi dalam Peristiwa Kasuang. Letkol Dolf Runturambi pagi itu berada di Sonder, dan dijemput Yus Somba dengan mobil.
Pertemuan itu digambarkan bahwa suasana saat itu tegang, karena ada tuduhan yang dialamatkan kepada Panglima Besar Alex Kawilarang berdasarkan saksi anggota Mobrig (Brimob sekarang) Pitoy yang melarikan diri dari pasukan Mayor Mongdong ketika akan bergabung dengan pasukan TNI di Rurukan.

 

Sebelum Letkol Dolf Runturambi dijemput dari Sonder, KSAD Ventje Sumual mengancam akan menembak mati Panglima Besar Alex Kawilarang, apabila memang benar Letkol Dolf Runturambi tewas di daerah Kasuang.

 

Akhirnya rapat tersebut ditutup, dan kasus pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong akan langsung diurus sendiri oleh atasan, yaitu Waperdam/Menteri Pertahanan ad interim PRRI Joop Warouw. Kolonel Joop Warouw menyusun naskah bertanggal hari ini yang berjudul “Azas² dan tudjuan perdjoangan PRRI”.

 

Hari ini (atau tanggal 1 Agustus sebelumnya), Perguruan Tinggi Manado (PTM) berdiri di bekas Universitas Permesta dengan 4 fakultas (Fakultas Hukum, Ekonomi, Sastra, & Tatapradja), atas inisiatif dari masyarakat Sulutteng dan tokoh² masyarakat, yaitu Kapten TNI Bert A. Supit (Bupati Minahasa), E. Alfianus (Nus) Kandou (Ketua PNI Sulutteng), dr R.D. Kandou (Kepala Rumah Sakit Umum Manado), F.J. Gerungan SH, Dr W.F.J.B. Tooy, Pastoor Dr Th. Lumanauw, Dr Kaligis, Dr W.J. Ratulangi, dr Letkol TNI Sien Tjoan Po, Drs R.H. Lalisang, Jan Piet Mongula (Walikota Manado).

Bulan Oktober

berganti nama menjadi Universitas Sulawesi Utara Tengah (UNSUT), lalu tahun 1960 menjadi UNISUT kemudian pada tanggal 4 Juli 1961 menjadi UNSULUTENG. Tahun 1963, Fakultas Pertanian dan Peternakan dipisahkan, Agustus 1964 berdiri Fakultas Sosial Politik, 1 September 1964 berdiri pula Fakultas Teknik. Tanggal 14 september 1965 dengan SK Presiden No. 277/1965 UNSULTTENG diubah menjadi Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dengan 7 fakultasnya dan tahun 1965 diresmikan pula Fakultas Sastra.

 

Kemudian bertambah Fakultas Perikanan.
19 Agustus 1958 Langowan berhasil diduduki APRI dari kesatuan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin yang bertempur selama 2½ hari (sebelumnya direncanakan akan memakan waktu 6 hari). Bom² milik Permesta seberat 50-100 kg yang bertaburan di Lapangan Tasuka, rumah² dan di tepi jalan disita APRI. Juga berhasil disita sebuah truck, 2 oto pick up, 3 jeep dan sebuah sepeda motor milik PRRI (Permesta).
23 Agustus 1958

Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah (KDM-SUT) resmi dibubarkan hari ini.
Sebagai penggantinya, didirikanlah Komando Daerah Militer XIII (KODAM XIII) Merdeka.
25 Agustus 1958

Kawangkoan berhasil diduduki APRI dan Bn. 513/Divisi Brawijaya dipimpin Mayor Sudarmin setelah sebelumnya mengadakan pembersihan di daerah Remboken, Parepei, Pulutan & Tondegesan. Pasukan APRI pimpinan Mayor Kusworo yang bergerak ke arah Sonder, berhasil menemukan 25 peti peluru berbagai ukuran di rumah orang tua Overste D.J. Somba.
23 September 1958

(Tanahwangko berhasil direbut pasukan APRI.)
25 September 1958 Amurang digempur dari arah laut oleh pasukan KKO.

 

Kemudian pasukan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin tersebut berhasil mendaratkan pasukannya dan menduduki kota Amurang.

 

Untuk mengenangnya, didirikanlah Tugu Pembebasan kota Amurang oleh Pasukan KKO yang terletak di simpang empat kota Amurang di Uwuran

 

 

 

 

 

 

 

Soewardi Idris (1930-2004),

 yang bergabung dengan kaum pemberontak selama perang saudara, setelah turun dari hutan, menulis novel Dari Puncak Bukit Talang (1964).

Soewardi juga menuangkan pengalamannya selama perang dalam dua antologi cerpen: Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964).

 

 Ketiganya diterbitkan NV Nusantara Padang. Memang, karya Soewardi Idris yang diterbitkan NV Nusantara banyak berbicara tentang PRRI.

 

Bahkan secara lebih jauh Soewardi dalam karya-karyanya banyak menyoroti sisi buruk prajurit-prajurit PRRI, terutama pada masa-masa menjelang PRRI kalah.

 

Ali Akbar Navis

 termasuk pengarang Sumatera Barat lainnya yang banyak menulis tentang periode ini. Novelnya Saraswati si Gadis dalam Sunyi (diterbitkan pertama kali pada tahun 1970), misalnya, adalah di antara sedikit novel yang secara khusus menyorot realitas perempuan selama perang saudara. Di sisi lain, novel ini juga dianggap telah dengan berani keluar dari pakem resmi historiografi saat itu yaitu dengan menolak untuk menyebut PRRI sebagai pemberontakan atau pembangkangan.

 

Bahwa hampir tidak satu pun kata itu ditemukan dalam novel ini. Sementara, dalam genre lain, AA Navis juga menulis setidak-tidaknya 11 cerita pendek yang berbicara tentang PRRI.

 

Cerpen-cerpen tersebut tersebar dalam beberapa kumpulan seperti Hujan Panas (1964), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Dua Kelamin Midin: Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980, Pistol Perdamaian: Cerpen Pilihan Kompas 1996, dan Karya Lengkap AA. Navis (2008). Tahun 1978, Wildan Yatim menebitkan novel Pergolakan, berlatar Sidempuan pada periode pemberontakan. Di samping menulis Pergolakan, Wildan Yatim juga menulis cerpen yang menyinggung tentang kehidupan pada periode pemberontakan PRRI, salah satunya Saat Orang Berterus Terang.

Makmur Hendrik

menulis Tikam Samurai. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh CV. Pena Emas Padang pada Febuari 1983 dengan harga awal per novelnya Rp. 1.000,- (seribu rupiah).

 

 Novel ini diterbitkan 12 jilid. Si Bungsu, tokoh utama dalam novel ini, dianggap mewakili bangkitnya superioritas ‘orang Minang’ paska pemberontakan yang tertindas dan diperhinakan.

 

Tahun 2005, Ular Keempat karya Gus Tf Sakai diterbitkan penerbit Buku Kompas. PRRI bukanlah tema sentral dalam novel ini, sebab novel ini lebih banyak berbicara tentang kisruh haji tahun 1970.

Peristiwa PRRI hanya disinggung sebagai ingatan tokoh utama terhadap masa lalu puaknya.

 

 Di tataran pemrosa yang datang lebih agak belakangan, ada

Ragdi F Daye

 dalam Lelaki Kayu dan Perempuan Bawang juga menulis beberapa cerpen tentang peristiwa PRRI.

 

 Beberapa cerpen

Zelfeni Wimra

dalam Pengantin Subuh juga berlatar periode ini. Dalam genre sajak, Rusli Marzuki Saria

 yang pernah terlibat dalam pemberontakan, menulis banyak sajak tentang periode perang saudara ini. Dari beberapa kumpulan sajaknya yang telah diterbitkan, terdapat sajak-sajak yang berbicara tentang perang saudara.

Sumber : (Note FB : Deddy Arsa)

 

Perang menyisakan satu kesimpulan sederhana, bahwa untuk melumpuhkan mental musuh, perempuan mereka terlebih dahulu harus ‘dilumpuhkan’. Dalam kasus ini, untuk melumpuhkan mental kaum pemberontak, perempuan mereka harus dinistai. Dalam

Saraswati si Gadis dalam Sunyi

 AA Navis mencatatkan bahwa hal itu benar adanya. Perempuan telah menjadi korban ‘perang laki-laki’.

 

Tentara pusat menistai perempuan di hadapan keluarga laki-lakinya sendiri untuk meruntuhkan mental dan menyurutkan dukungan terhadap pasukan PRRI. Saraswati yang remaja, di antaranya, telah menjadi korban pelecehan dan penistaan.

 

 Rumah Angahnya dikepung dan digeledah tentara pusat. Saraswati juga turut ‘digeledah’ di hadapan Angah dan Busra.

 

Seorang prajurit mencoba memperkosanya. “Tangannya diulurkan ke dadaku. Ketika aku mengelak dan hendak menyingkir, aku didesaknya ke dinding. Sehingga aku tergencet dan menjerit-jerit,” tulis Navis.

 

 Ketika Saraswati yang bisu dan tuli itu melawan, prajurit APRI itu berlaku serupa ini: “…pangkal bedil yang dihantamkan ke kepalaku, hingga aku terjerongkang. Aku berteriak-teriak dan memaki-maki. Kepalaku berdarah dan darahnya mengalir menutupi mataku.”

Ular Keempat Gus tf Sakai

 juga mencatat tentang perempuan yang diperkosa tentara pendudukan. Ibu dan kakak perempuan Janir, misalnya, diperkosa dan dibunuh tentara pusat karena dituduh mempunyai hubungan dengan kaum pemberontak.

 

“Tentara APRI membunuh mamakmu yang dituduh tentara pusat itu mata-mata, membunuh ibumu yang karena mamakmu dibunuh jadi gelap mata, membunuh ayahmu yang dengan kalap ingin membalas kematian istrinya, membunuh kakak perempuanmu setelah berulang-ulang diperkosa,” tulis Gus tf Sakai.

Perlakuan buruk terhadap perempuan di daerah pendudukan tidak saja dilakukan tentara pusat. Kaum pemberontak pun ada juga yang berlaku demikian kepada ‘orang kampungnya’ sendiri. Ini dilakukan baik karena keterpaksaan bathiniah terpisah dari istri selama bertahun-tahun atau karena moralitas kaum pemberontak yang terus memang merosot di tengah himpitan beratnya medan gerilya.

Di Luar Dugaan Soewardi Idris

 mencatat, setelah dua tahun lebih bergerilya di hutan-hutan dan terdesak di mana-mana, diceritakan Soewardi, kehidupan kaum pemberontak semakin terjepit. Hal ini mengakibatkan perbuatan mereka semakin nekat. Soewardi mencatat bagaimana kaum pemberontak mendatarkan sebuah kampung menjadi abu karena tak mau membantu menyediakan perbekalan. Dalam pada itu, “Anak-anak gadisnya kami seret untuk memuaskan nafsu,” tulis Soewardi pula.

 Di Luar Dugaan sendiri

 berkisah tentang seorang prajurit PRRI bernama Hadi. Dia bersama pasukannya melakukan pencegatan terhadap sebuah bus yang penuh muatan di Lubuk Silasih.

 

Bus itu dicegat, lalu penumpang dan muatannya diturunkan. Pasukan yang mencegat membariskan penumpang perempuan dan menelanjangi mereka. Bagi prajurit-prajurit itu, perempuan-perempuan itu merupakan “hasil pencegatan yang paling besar, yang membuat anggota gerombolan kami mabuk karena gembira,” tulis Soewardi. “Mereka ingin agar wanita-wanita itu dibagi-bagi seperti membagi nasi bungkus.” Tokoh Hadi sesungguhnya telah ingin memperkosa seorang di antaranya. Tapi Halimah, begitu perempuan itu memperkenalkan diri, ternyata adalah istri adiknya. Hasrat-birahinya yang telah sampai ke ubun-ubun surut seketika.

 

 

 AA Navis dalam cerita pendek Sang Guru Juki (1990)

, juga berkisah tentang perlakuan buruk yang diterima perempuan. Mayor Ancok yang PRRI membiarkan anak buahnya memperkosa perempuan di desa-desa yang mereka duduki. “Apa salahnya bila anak buahku hanya memakai, bukan merampas perempuan itu?” alasan sang Mayor ketika berdebat dengan Si Dali, anak buahnya yang moralis, dalam sebuah kesempatan. Sang Mayor menganggap prajurit yang memperkosa sebagai “itulah resiko perang!”

Sumber : (Note FB : Deddy Arsa)

Catatan dr Iwan.

Dr Iwan saat bertugas di solok dari tahun 1974-1979, banyak menemukan pasien dari bekas tentara PRRI yang umumnya dari Muarapanas,koto anau,saninbakar, talang, selao dan lain-lain. Mereka memberikan beberapa koleksi uang PRRI, dan bercerita untuk mengirim surat mereka memasukan dalam tabuik di mesdjid dan dikirimkan secara berantai oleh kurir, juga banyak ditemukan lampu minyak gantung dengan kapnya sudah diambil oleh tentara,tingal rangka besinya saja.

the end@copyright Dr Iwan Suwandy 2012

READ NORE PART FIVE

THE  PADANG WEST SUMATRA CHINESE OVERSEAS TIONGHOA HISTORY COLLECTIONS

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s