pADANG wEST sUMATRA hISTORY cOLLECTIONS PART tWO

THIS IS THE SAMPLE OF e-book IN cd rom.RTHE COMPLETE cd WITH FULL ILLUSTRATIONS EXIST BUT ONLY FOR PREMIUM MEMEBER PLEASE SUBSCRIBE VIA COMMENT TO GE THE cd-rOM

PADANG WEST SUMATRA

MY LOVING BIRTHCITY

Part

 Introduction

Minangkabau

 

Created by

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private Limited Edition In CD_ROM

Copyright@DR Iwa Suwandy 2011

 

batang arau padang litho from the history of sumatra 1810

PREFACE

 

.As the opening of the writings that I collated as a sign of my love for the born land , his wife and entire family, hoping to be nostalgic for the old and add insight for future generations so that the root dtaang origins can be traced.
Writing with illustrations image collections, postal history and other dedicated  to my son Albert and Anton Jimmi, and the grandson of Sesa, Celin and Antoni, and also all my extended family and wife.
These literary works are still many shortcomings so that corrections and additional information and advice legendary from all my friends so I would expect.
Thank you kep there are many people who have helped me to  complete this paper

 

West Sumatra called Sphere minang or Land Minangkabau was the birthplace and the land where the author was raised until the age of 45 years (1945-1989).

Various ups and downs have been experienced on Earth Minang by name Hotel-ever besides the residence of the last author of the years 1950-1989, the author was born in Padang Small Road, behind the Land Market Kongsi from 1945 until 1950.
During their stay in Padang authors have kept memoriable  objects or memorabilia collection which is a love filling to  homeland and is able to evoke memories of the realm Minang Beautiful, peaceful and full of such intimacy.


Information from The book also discusses information collection dzari choice and displayed in such a way that can satisfy the longing  Minang people  In Overseas wherever it is located on a remote village in the eyes of beloved pages, such as the song always sung the nomads as follows:


Rumah gadang nan sambilan ruang,Pusako bundo sajak dulunyo. Bilo den kanang hatinya ta ibo ta ibo Ta bayang-bayang diruang mato..

In the Indonesian language as follows:
A  Big House with nine-room, Heritage from nowadays .If I remember my heart recalls sad. Memory  shadows (village) in the eyelid

Indonesia version:

Sumatera barat yang disebut Ranah minang atau Tanah minangkabau adalah tempat kelahiran dan tanah dimana penulis dibesarkan sampai berumur 45 tahun( 1945-1989). Berbagai suka duka telah dialami di Bumo Minang sesuai nama Hotel yang pernah ada disamping rumah kediaman penulis terakhir dari tahun 1950-1989,penulis dilahirkan di Jalan Kali Kecil Padang ,dibelakang Pasar Tanah Kongsi dari tahun 1945 sampai 1950.

Selama berada di Padang penulis telah menyimpan benda-benda koleksi kenagan atau memorabilia yang merupakan laupan rasa cinta terhapa tanah kelahiran dan mampu membangkitkan ingatan kepada ranah Minang yang Indah, damai dan penuh keakraban tersebut.

Informasi dari Buku juga membahas informasi dzari koleksi pilihan dan ditampilkan sedemikian rupa agar dapat memuaskan kerinduan urang Atau Orang Miang Di Rantau dimanapun dia berada terhadap kampong halaman tercinta yang jauh dimata, seperti lagu yang selalu dinyanyikan para perantau sebagai berikut:

Rumah Gadang Nan Sambilan Ruang, Pusako Bundo Sajak dulu dulunyo. Bilo den kanang hati den ta ibo .Tabayang bayang di ruang mato.

 

 

Dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Rumah Besar yang sembilan ruang,Pusaka Ibu sejak dulunya.Bila saya kenang hati saya sedih.terbayang-bayang (kampung) di pelupuk mata.

Sebagai pembukaan dari tulisan yang saya susun sebagai tanda cinta kepada tanah kelahi ran saya ,isteri dan seluruh keluarga, dengan harapan dapat dijadikan nostalgia bagi yang tua dan menambah wawasan bagi generasi yang akan datang sehingga akar asal usulnya dapat diketahui.Tulisan dengan ilustrasi koleksi gambar,postal history dan lainnya ini.

Pada kunjungan terakhir 5 Maret 2012 ke Sumatra Barat saya memperoleh tambahan informasi tentang mayor Tionghoa Li Say(Li Ma say) dan menemukan koin perak era The Holy Roman Empire dari German tahun 1541 dan beberapa temuan baru.

Karya tulisa ini masih banyak kekurangannya sehingga koreksi dan tambahan informasi serta saran dari seluruh teman-teman sangat saya harapkan.Terima kasih kep[ada berbagai pihak yang telah membantu saya untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Jakarta April 2012

Dr iwan suwandy,MHA

 

 lareh soegei poear

Karya tulis ini saya persembahkan kepada Isteri tercinta

Lily Widjaja,

Putra and Mantu

Albert Suwandy –Alice,

 Anton jimmi suwandy-Grace  look below

 

serta para cucu cesa,celin dan Antoni

 

Preface

I was borned in Padang city February,9th.1948 at the old wooden house which belonging to the sister of My grandfather IpoTjoa Bun Tak and Ntiokong Lie Seng Tok (  Sinyo),this house located behind the Chinese camp Market called Tanah Kongsi(Joint Land).

I had found the pictures of this house  were taken by my father in 1948,three pictures black and white,my profile and with mother Anna Tjoa Giok Land with my brother Gho Bian Hoat(Dr Edhie Johan),Sister Elina(Gho soe Kim) and younger sister Gho soei Lian (Dr Erlita Lianny Djohan),

 

 

 

 

 

 

 

We lived there until 1950 and move to latest House at Gereja Street near Ambacang Market and now became Bundo Kandung Street,the old Dutch house which built into wooden house,and then we built three stair house,until sold to my nice Gho Bian An(Ir Andri Virgo) ,he built Fried Chieckinen and Ambacang Plaza ,later became Ambacang Hotel which broken during earfrthquake 2008,now re built again with new name Elena hotel in 2012.

 

 

 

Brug over de Padang rivier tussen Padang en Emmahaven, krib in aanleg

 

The famous old Padang City are Padang Beach, Muara Sungai Arau , Chinese Camp(Kampung Tionghoa),Pondok,Hilligoo –Pasar ambacang,complex Rooe catholic one church Theresia, two chapel Agnes ,basic School(Sekolah Rakyat-Dasar )Zuster  Hollanse Indisce School then Theresia and Agnes, Frater fransiscus and andreas,Middle School MULO Frater ,later SMP Zuster Maria, Frater,and Hig School (SMA) Don Bosco

My teacher in memoriam Frater Servaas (A.J.M de beer) sugest to me to collect all kind of information because in 1959 the communication system via internet will growth after the Satelite have send to the outer space.

All the informations now I put in my web blog in 2009

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

And after thatin 2011  I am starting made the special informations in CD_ROM,pravited limited editions special for my web blog premium member.

This Padang west Sumatra is one of the CD_ROM pravite edition.

I hope all my family and another friend from Padang west Sumatra will help me to add the informations about their family and relative informations which made this CD_ROM more complete for the next generations.

This CD-ROM became two part,the part one contain the general informations, and part two special for Chinese oversees or Tionghoa informations only.

Jakarta April 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

PART TWO

THE PADANG WEST SUMATRA HISTORY COLLECTIONS

 

PADANG CITY HISTORY COLLECTIONS

Padang History Collections

Sebuah kota yang berkembang tentu akan melahirkan budaya urban, yang salah satu unsurnya adalah musik. Kota Padang sudah sejak akhir abad ke-19 memiliki ciri-ciri budaya urban, berkat perkembangan pesat kota ini akibat pembangunan jalan kereta api dan pelabuhan Emma Haven (kini: Teluk Bayur) yang mulai dibuka tahun 1892.

Sejak itu dunia entertainment di kota Padang berkembang cukup pesat: bioskop dan panggung-panggung teater rakyat dan yang berciri hibrida (bangsawan, komedie Stamboel) bermunculan (lihat: Ch. E.P. van Kerckhoff 1886).

Dunia pers pribumi dan yang berbahasa Belanda juga hidup subur. Salah satu aspek dunia entertainment yang cukup berkembang di Padang adalah musik.

Dalam rubrik ini sudah pernah diturunkan foto satu grup musik dari Padang yang bernama ‘Petit Advendo’ (Singgalang, Minggu, 19 Juni 2011). Kali ini kami turunkan lagi foto klasik satu grup musik yang pernah eksis di Padang pada akhir abad ke-19. Foto yang berukuran  17 x 12 cm. ini dibuat sekitar tahun 1895. Judul foto ini adalah “Studioportret van de muziekkapel ‘Si Doeta’ van Padang, Sumatra`s Westkust” (Foto studio dari orkes musik ‘Si Doeta’ dari Padang, Sumatra Barat).

 

 

 

Sangat mungkin orang yang bernama ‘Si Doeta’ (Si Duta) itu adalah pemimpin orkes ini. Barangkali orangnya adalah orang yang dalam foto ini berbaju putih dan sedang memegang biola.

Berbeda dengan Grup musik ‘Petit Advendo’ yang personilnya terdiri dari orang Eropa dan indo, seluruh personil grup orkes ‘Si Doeta’ ini tampaknya berasal dari kalangan pribumi.

Oleh sebab itu, dapat diduga pula bahwa para penanggap mereka juga dari kalangan pribumi dan mereka juga tampil dalam keramaian-keramaian yang melibatkan masyarakat pribumi, sebab di zaman kolonial segregasi kelas sosial juga terefleksi dalam ranah seni.

Foto ini memperlihatkan ciri khas pakaian grup musik pribumi yang ada di Padang pada zaman kolonial. Pakaian mereka–kombinasi sarung dan celana batik Jawa dengan jas berkerah tutup dan tutup kepala yang unik– dan jenis alat musik yang dipakai merefleksikan unsur hibrida musiknya. Kini kita masih dapat menikmati salah satu warisan musik hibrida itu, yaitu gamaik.

Sejarah urban entertainment di kota Padang menarik untuk dikaji. Data-data tertulis dan visual mengenainya cukup banyak. Mungkin ada seorang mahasiswa UNAND atau UNP yang keras hati yang dapat mewujudkannya jadi sebuah disertasi.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam).

Singgalang, Minggu, 18 Maret 2012

Pesta keramaian orang Nias di Padang

Published By niadilova under Minang Saisuak    

Dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ edisi Minggu, 25 Maret 2012, kami sudah menurunkan satu foto tentang tarian orang Nias di Padang. Di nomor ini kami sajikan lagi satu dokumentasi visual tentang pesta keramaian yang diadakan oleh saudara-saudara kita dari Pulau Nias itu.

Imigran dari Nias termasuk pendatang paling awal yang menghuni kota Padang. Konon mereka sudah sampai ke Padang sejak zaman kejayaan Aceh di abad ke-16 (atau mungkin lebih awal lagi). Namun, tampaknya mereka bukan melakukan migrasi spontan. Walaupun orang Nias tinggal di pulau-pulau di pantai barat Sumatra (pulau utama: Pulau Nias), tampaknya kehidupan mereka lebih berorientasi darat dan mereka tidak begitu pintar dalam tradisi pelayaran. Banyak orang Nias yang sampai ke pantai barat pulau Sumatra dibawa oleh orang-orang Aceh. Kaum bangsawan pantai, seperti di Pariaman dan Padang, mengolah tanah-tanah mereka dengan bantuan tenaga budak, yang umumnya didatangkan dari Pulau Nias.

J.T. Nieuwenhuisen dan H.C.B. Rosenberg (1863) mengatakan bahwa tradisi bekerja untuk orang lain penebus hutang, gadai, atau jadi budak sudah merupakan tradisi dalam kehidupan orang Nias di kampung halaman mereka. Tampaknya budaya mereka itu dimanfaatkan oleh orang-orang luar, seperti orang Aceh. Banyak di antara mereka menjadi orang yang tergadai karena tak mampu membayar utang (pandeling; semacam perbudakan terselubung). Beberapa surat dari raja-raja lokal di pantai barat Sumatra (seperti Singkil, Trumon, Susoh, Bulusama, dll.) yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, menunjukkan bahwa orang Aceh sering merompak perkampungan-perkampungan di Pulau Nias dan secara paksa membawa penduduknya ke pantai barat Sumatra untuk ‘dijual’ kepada orang-orang kaya guna dipekerjakan di pelabuhan, di perkebunan dan sebagai jongos dan babu (De Stuers 1850, II:68). Dalam perjalanan waktu, akhirnya komunitas pendatang dari Pulau Nias ini menjadi bagian dari masyarakat Minang di pantai barat Sumatra.

Judulnya foto di atas (9×12 cm.) adalah: ‘Niasser feesten met grote poppen te Padang, Sumatra’ (Pesta orang Nias dengan boneka besar di Padang, Sumatra). Tarikh pembuatan foto ini dan mat kodaknya tidak jelas. Tapi dengan melihat gaya pakaian orang-orang yang terekam dalam foto ini dapat diperkirakan bahwa foto ini mungkin dibuat pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kurang jelas juga apakah foto ini diambil di perkampungan orang Nias Palinggam dan Seberang Padang atau di enclave pemukiman mereka Kenagarian Tanjuang Basuang, Kabupaten Padang Pariaman.

Tradisi membuat boneka besar cukup menonjol pada bangsa-bangsa penghuni berbagai kepulauan di Samudera Hindia dan Pasifik. Foto ini mengingatkan kita pada situs-situs arkeologis yang ditemukan pada suku-suku di Kepulauan Melanesia dan Mikronesia. Mungkin ada ahli kebudayaan Nias (seperti Dr. Anatona Gulo, dll.) yang tahu nama boneka besar ini dan makna simbolisnya dalam kebudayaan Nias.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 15 Juli 2012

Gaba-gaba menyambut Tuan Limburg Stirum di Padang

Published By niadilova under Minang Saisuak    

Pada bulan Maret 1916 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Earl Johan Paul van Limburg Stirum melakukan kunjungan resmi ke Sumatra’s Westkust. Van Limburg Stirum menjabat Gubernur Hindia Belanda dari tahun 1916-1921. Rombongan besar orang penting dari Batavia itu sampai di Emmahaven (kini: Teluk Bayur) dengan menumpang kapal ‘Insulinde’. Mereka disambut bagai raja dan dielu-elukan oleh kawula. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menginap beberapa hari di Padang sebelum meneruskan lawatan resminya ke Tapanuli dengan naik oto lewat jalan darat melewati Pasaman.

Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini merekam salah satu aspek yang terkait dengan kesibukan para pejabat Sumatra’s Weskust dalam menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum itu. Foto ini memperlihatkan sebuah gaba-gaba besar – ‘gerbang’ kata orang sekarang – yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Sang Gubernur Jenderal di Ranah Minang. Gaba-gaba ini dibangun mengapit jalan raya ketika hendak memasuki kota Padang. Posisinya mungkin di muka Jembatan Muaro Panyalinan sekarang. Kelihatan terpampang ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda ‘Welkom te Padang’ yang ditulis dengan huruf besar. Di kiri kanan bagian atas gaba-gaba tersangkut bendera tigo corak.

Sebagaimana halnya bila orang penting dari pusat datang ke daerah, seluruh pejabat daerah kasak-kusuk dan repot dibuatnya: gaba-gaba didirikan, jalan-jalan cepat di-tumbok, yang busuk-busuk ditaruh ke kungkuangan dapur, yang cantik-cantik dan harum-harum ditaruh di depan rumah. Ingatlah misalnya kebiasaan yang sama yang berlaku di Zaman Orde Baru yang, sampai batas tertentu, masih berlaku di Zaman Reformasi ini. Dengan membaca kisah ini Anda dapat mengerti kini bahwa tradisi tunggang-tunggik pejabat daerah bila dikunjungi oleh pejabat pusat itu sudah merupakan warisan dari Zaman Kolonial jauh di masa lampau. Namun belum diperoleh data apakah pendirian gerbang ‘Welkom te Padang’ untuk menyambut Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ini sudah mendapat izin atau belum dari Walikota Padang pada waktu itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 24 Juni 2012

 

 

Michelsplein monument

 (now broken change to tugu Pancasila)

1910

 

 

 

 

 

 

 

 

Compare with waterloplein(lapang banteng)

 

 

 1948

Afscheidsrede te Padang op 10 maart 1948 voor de U-Brigade door kolonel J.W....

 

 

 

1950

Tugu Pancasila

The michelsplen was destroyed and built tugu Pancasila,look the picture below with Dr iwan with brother and sister.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Justice court(now Museum)

1910

 

 

 

Situation now(2011)

 

 

 

 

 

 

CINEMA CORNER

HILIGOO,PASAR AMBACANG AND PONDOK STREET

 

 

 

 

Paul baumer shop

pondok

 

Large buildings are visible in this photograph is the main office of Paul Baumer Maatschappij Winkel & Co. (Shop Paul Baumer & Co. company.).

Seen beside a row of other shops. Urban atmosphere of that era can dikesan in this photo: people cycling and walking, mostly dressed in white. Who knows this area is one of the favorite places for Sitti Nurbaja and Samsoelbahri to shop while Their loving story begun,

 

 

and look another Paul Baumer shop picture whick taken from Pondok street

 

 

 

 

Hiligoo-Pasar ambacang

(now rebuild ambacang hotel)

 

 

Before ambacang Hotel

1900-1945

 

 

 

 

 

EX Dr Iwan’s House

1950-1990

 

 

 

 

 

 

 

 

The winner  used shirt Kam Teng Jan,Gho Bian Hoat( Dr Edhie)and gho Bian Goan(,dr iwan),the looser whithout shirt Lie Hok Sin,Tjoa Keng sioe,and Lie Hok Tiauw.

Tjoa keng sioe just pass away in 2012.

Ambacang hotel before earthquake 2008

 

 

 

After earthquake

 

 

 

 

After all the building off,the new Ambacang Hotel build and will louncing in 2012

Saat ini 2012 telah berdiri hotel ditempat ini dengan nama baru hotel Alena dengan pemilik yang sama sepupu saya Ir Andri Virgo.

 

 

 

 

 

Pondok street

Pondok means housing, this from Cinema Bioscope corner to Kinol aphotek Corner, at left the house of chineseoverseas richer marchant,

Hongkong and photo studio Hongkong belonging to Gho wu look Dr Iwan and brother sister picture made there

 

, beside Hong Kong Studio the house of  Liet Tjay Tay ,his son Lie Oen Kiong and Lie Oen sam (his wife the sister of my father in law) and his son Lie Eng Goan(his wife also the sister of My father In Law), after that the house of Ang Eng Lay Chinese major, his son Ang ie Siong, after that the house Of  Yap SamBie,his grandchild Pauline Yap  merried to my friend Tan Tjay Goan (son of Tan Tjong Kiet Kampung nias,my father friend)

 

 

 

 

 

AT right side Sho goan Seng lamp shop(his son Sho Toan qan was my school friend),then Toko sin,toko allegro,hidangan  Kita family Maria Tjui te famous painter,her sister my classmate Tjoei Hang,(Lie Hok sin,my naighbour had told me that Boumer have merried his grandgrandma youngest sister-ietjo,they did not had children and they have two stepchildren,the sister of his mother ,Lie Lian seng’s mother and Olly-mrs Yan Lim the mother of my friend Freddy Lim and Sing.

 Toko Gho Leng,Bola Dunia Wassery, toko kacamata Lie Sek an,lily Salon, Oei Boen Goan

 

 

 

Jalan pintas disebelah rumah ang eng Lay ke jalan didepan Mesjid bairtul ahman,lihat Moh Hatta meresmikan mesjid tersebut

 

Didepan mesjid ada rumah

Ghan Tiam goan , anaknya ghan Keng soen,Ghan Keng siang(Siangkasa gani, putranya Ghan hok an dan ghan Hok liong),sekarang rumahnya Oei tiong Djin, dan disebelahnya rumah keluarga lie Goan seng (ex ketua ISDB-don Bosco Padang angkatan 1958,saat ini lulusan kedokteran UI bermukim di USA) dan Lie Goan kie(ria Prahra) the friend of my wife during Highschool Don Bosco . Rumah Lie Tiang Hien (sdrnya Lie giem lin)

Jalan disamping bioskop Cinema, Liem Gim Mo,Lim Gim To alias haji balon ayahnya Jusuf Wanandi(lim bian koen,Lim bian Tiat-Biantoro),diseberangnya Rumah anaknya Kho sin Kong(isterinya Miss padang),sebelahgnya Ibu Martha(suaminya Lie Tian Koan  di Lam Kiauw kerjanya)

Jalan dibelakang lapangan Imam Bonjol,rumahnya Ghan Keng siang,Dr A.Rahim Oesman(putranya Dr Aviscena teman saya, Razes dan apother POLRI ),dan dr ahli Paru mantunya saudara pabrik minyak Hadis Didong,

Langan Imam bondjol dulunya terkenal dengan istilah tanah Lapang,didepannya ex rumah kakek saya tjoa gin toen yang lengkap dengan Lapanangan tennis, didekat tanah lapang alang Laweh  ada toko

 

Toko A.H. tunneberg milik keluarga J.Boon, took serba ada pada awal abad ke-20 yang iklannya ada dalam surat kabar terbitan Padang masa hindia belanda sinar Sumatra dan warta berita dll. Toko ini menjual barang impor seperti  sepeda jam,alat music dan gramofon.

Kakek saya punya jam saku merk Junghans,mungkin berasal dari took ini yang lokasinya disamping rumahnay, kakek tersebut kami pangil engkong tanah lapang. Toko ini juga menerbitkan kartus Pos bergambar yang memiliki tulisan agenschaap  Ne.Indie sport maatscapij  dan dibawahnya ada tulisan Rijwelhandel A.H.Tuuelberg.lihat kartu pos diatas yang dicetak tahun 1899. Kartus pos ini diterbitkan dalam rangka promosi olah raga sepeda yang kelihatan dari deretan sepeda didepan took yang merknya Fonger

Betul kata tukang rabab pariaman Amir Hosen

Lakuak Ubahnya tabingnya tinggi

Padang gantiang duo basimpang

La batandiang Honda jo Suzuki

Tampak tacia releigh Usang

disamping stadion Imam Bondjol,

  ada Asrama Tentara dan Balai Prajurit,lihat foto Dr iwan saat menerima piala juara Pimpong(tennis meja) di depan Balai Prajurit tersebut tahun 1960.

 

 

 and at the front of this picture the Tennis court

 

,I remember in the corner at the front of this court there was the delicious Pada Sate(barbeque and kebab(martabak mesir)

Beside the tennis court

Padang Hotel(Ang Eng Hoat builded,now belonging to MHI Industri Wirako Angriawan SH)

Vintage

 

Now new

 

Belantoeng Street(now Jendral Sudirman street)

resident H. de Stuers in Padang

 

 

SWK Resident Palace(now Gouvernor WS.Palace)

 

Beside this house living dr Azhari rivai Sp.THT,he operated my Amandel at that house,,later became rival in Padang west Sumatra tennis Champioinship in 1962.

Look my profile with him and Mother of Colonel maririnir Tato,tatok father was thw chief of military Helath West Sumatra KODAM 17 agustus and Dr Gho Tjeng Oen(A.J.Gozali),at Military Tennis Court Ganting.

.

Padang Gouvernment Office

 

Military Hospital Padang

 

 

The river near Military Hospital Padang

Batang arau(muara)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bootjes te Moeara Padang

 

 

 

1890

Pelabuhan muara batang Arau,banyak gudang dan bank escompto,dan Javasche Bank(Bank Indonesia),kantor Garuda Indonesian airways, dan MHI-Ang Eng Hoat(saat ini wirako SH),saat ini banyak dijadikan sarang burung wallet.

 

Sebagian gudang rusak saat gempa 2008 dan tahun 2012 mulai direnovasi.Untuk menyebrang sungai telah dibangun jembatan oleh Hutama Karya Tahun 2002 saat dipimpin oleh Ir Adiwijaya

 

Selayang PandangLomba perahu yang ada di Kota Padang sudah  dimulai sejak zaman
pemerintah kolonial Belanda berkuasa. Pada saat itu,  masyarakat
menyebut lomba perahu dengan  Selaju Sampan (Pacu Sampan Perahu).
Sampan yang dipakai, dihiasi dengan berbagai bentuk hiasan. Sehingga,
sampan  yang tampil dalam  selaju sampan  melaju dengan bentuk hiasan
yang beraneka  warna.

Pada  tahun 1995, Cina memperkenalkan Lomba Perahu Naga kepada dunia
termasuk Indonesia. Tidak  selang beberapa lama, kegiatan lomba Perahu
Naga berkembang cukup pesat di  negeri ini. Beberapa daerah yang kaya
dengan sungai bahkan mengandalkan lomba Perahu  Naga sebagai salah satu
aset wisata, termasuk Kota Padang. Sejak tahun 2001, di  Kota tersebut
telah digelar lomba Perahu Naga untuk tingkat nasional. Memasuki tahun
2002 dan seterusnya, lomba Perahu Naga yang diadakan di Kota Padang
menjadi satu  agenda rutin dari Persatuan Perahu Naga Dunia (IDBF).
Lomba Perahu Naga diadakan dalam rangka  memperingati hari ulang tahun
(HUT) Kota Padang yang jatuh pada tanggal 7  Agustus. Untuk beberapa
tahun terakhir, lomba Perahu Naga yang diadakan di Kota  Padang sudah
menjadi event tingkat dunia.

Keistimewaan
Sungai untuk tempat lomba Perahu Naga memiliki  sisi yang lebar, lajur
yang datar, air yang tenang dan kedalaman beberapa meter.  Hal tersebut
untuk memberi kenyaman, keleluasaan sekaligus tantangan bagi seluruh
peserta dalam memacu perahu, guna meraih hasil terbaik.
Jenis  perlombaan yang dipertandingkanpun bervariasi, dengan meliputi
beberapa ketegori,  seperti: Perahu Naga dengan awak 10, 20 dan 22
orang. Sedangkan jarak yang  dipertandingkan meliputi: jarak 200 m, 250
m, 500 m, 1000 m atau 2000 m.
Lomba Perahu Naga yang diadakan di Kota Padang  akan lebih semarak
dengan keikutsertaan tuan rumah. Mengingat, pada tahun 2006  di
Malaysia  dan 2007 di Cina, mereka berhasil mengukir prestasi terbaik
dengan keluar  sebagai juara umum dalam lomba Perahu Naga untuk tingkat
dunia.

Lokasi dan Waktu PelaksanaanLomba Perahu Naga diadakan di komplek Gelanggang Olah Raga (GOR) Haji
Agus Salim Padang di Kota Padang, Sumatera    Barat, Indonesia.
Sedangkan waktu pelaksanaan lomba adalah setiap bulan Agustus.

AksesAkses untuk mencapai lokasi objek  wisata cukup mudah. Dari Bandara
Ketaping Padang bisa langsung menuju ke lokasi dengan menggunakan
angkutan umum yang melayani rute Bandara Ketaping-Kota Padang dengan
waktu  tempuh sekitar 30 menit.

Tiket Dalam proses konfirmasi.

Akomodasi
Bagi para wisatawan yang datang dari luar kota dan ingin menginap,
tidak perlu khawatir. Di Kota Padang banyak tersedia hotel yang nyaman
untuk  ditempati. Begitu juga dengan masalah makanan dan minuman, para
wisatawan bisa  memilih tempat yang cocok untuk bersantap ria, karena di
Kota Padang terdapat  banyak restoran dan rumah makan.

 

 

Native ship “sampan”at Poelaoe air Padang

 

Gezicht op de Padang rivier. Sumatra."

 

Brug over rivier in de omgeving v an Padang aan Sumatra's Westkust

Brug, waarschijnlijk over de gezwollen Padang-rivier aan Sumatra's Westkust

 

Aanlegplaats en douaneloods te Padang (WestKust)

Activiteit in het houtbewerkingslokaal in een van de werkplaatsen in Padang...

 

Missigit te Padang Loear. Sumatra."

Gedenknaald te Goegoek Malingtang. Herinnering aan het heldenfeit van...

 

Monkey Hill(Gunung Monyet) in 1885

 

 

Apenberg en haven te Padang

 

 

1890

 

 

 

 

 

 

 

From bukit gunung Monyet(MONKEY hill)

1965

Dr Iwan &Dr Edhie

 

 

Iepo Buntak(suami tiokong sinyo,adopt duaputri Kang Kim Hoa dan Djoientjim(mamanya Gho soei Ing,Lie sie Yok, isteri gho Ie keng adik papa Djohan oetama)

 

 

 

Padang beach

 

 

1910

 

 

 

 

The Padang beach Painting By Datoek Sati 1930

 

In 1930,

in onderafdeeling Padang lived  8025 Tionghoa people  (chinese Overseas) and Padang below South Beach(Pesisir selatan) Afdeeling.

And Wisma Pancasila at the beach in 1963 with Lie Tjoe Un(sister of Drg  Tjoe Eng Medan),my mother Diana Lanny(Ann tjoa)and my sister Elina Widyono(Gho soei Kim),this locations not exist anymore because beach abrations,

 

1965

 

Diseberang foto ini bangunan

Penjara Muara(jail),still exist until now 2012 but the jail were renovated.

 

 

 

 

 

 

 

 

Oranje Hotel (Hotel Muara)

1890

 

1935

 

Hotel ini runtuh pada saat gempa besar tahun 2008,dan tahun 2012 sudah dibagun hotel baru dengan nama yang sama.

 

Hati Koedeos van Liefde Chapel

 

 

 

 

 

 

 

Old chapel in Padang

European school padang

 

 

SD Agnes

1910

 

This building were broken during big earthquake 2008 and still not revonated until now 2012

 

 

 

 

In the front of SD Agnes Vikaris Apostolik and Pastoran.SD Frater,Mulo(SMP) Frater 1930

 

 

 

 

 

 

Mgr Brans, L.T.

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

Bergamin, R.C.

 

 

Diperempatan Sd Agnes dan SD Theresia dan Hotel Mariani ada dua jalan yaitu Jalan tepi Bandar Gereja dan Belakang tangsi

Tepi Bandar gereja

Rumah dibelakang Sd RTheresia ,milik dari keluarga besar A Zakir , dulunya dihuni oleh Inyo Gan Poen(saudara Inya gan tiong-suami Tante Yulie Tjoa),Polisi Yap (anaknya Yap Tjin lok,Yap Tjin seng) , Tjoa Tjoan Soei suami adik mertua saya (papanya Si In),selanjutnya ada gang kecil dimana tinggal Ang Tja Mo ,kemudian rumah Lay Moei (isteri Wong Yik heng)dan Lay Yang,selanjutnya rumah Sin,kemudian belok kanan ke tanah Baroyo rumah rumah Lian Tjin Tek. Terus sampai ke simpang enam bertemu dengan jalan kampong dobi,kampong Sebelah dimana tinggal Afang bengkel mobil dan rumah Dr Tjia Boen Tjoen..

Belakang Tangsi

1882

Pasar belakang tangsi didirikan oleh  kantor dagang Pasar Mudik  yang bernama badu Ata &Co. Pasar ini ramai dikunjungi oleh pembeli tetapi tahun 1882  pasar ini terbakar dan dibangun  kembali oleh pedagang Tionghoa Gho lam sam (Source  Adrial  Adli,Tesis program pasca sarjana UGM,1994)

1900-1930

Perkampungan tionghoa di kota padang semakin berkembang sampai ke Belakang Tangsi yang ditandai dengan dibukanya Pasar Belakang Tangsi  oleh pedagang Tionghoa Gho Lam San

1950-1958

Rumah Kam Bin Tjong(papanya Kam Teng yan dan almarhum Kam Teng Ong),selanjutnya Kantor Catatan sipil dimana Dr Iwan dan Lily Widjaya membuat surat nikah yang saat ini sudah direnovasi ,disampingnya ada tangsi militer,kemudian rumah Li Pang Gan,almarhum Edhie Tengkok(Teng Waja) pelatih angkat besi,Mesdjid,rumah Pak said dan Tat teman main Pingpong(tennis Medja)-pernah jadi tempat praktek dr spesialis PD Dr saharman leman,lihatlah foto Dr Iwan tahun 1959 saat bertanding tennis meja dibelakang mesjid

 

 

Terlihat papa Djohan oetama,Ghan keng san,Gho Kong Boen menyaksikan pertandingan yang dijuarai oleh Gho Bian Goan,juri Mak Etek adik Marah Amir ayahnya Dr Mata Tjap Amir yang saat ini berada di Pakanbaru,bagaimana smeshnya mantap bukan.

Ada jalan disampingnya bermukim Oma KIOK(saat ini Negeri Belanda,saudara Oma Grace isteri putra saya Anton Jimmi.putra oma Kiok menikah dengan Lin ,dan putrinya menikah dengan Drg ), juga bermukim adik oma Tjoa Giok Wan yang nomor empat SieIpo,yang cucunya Kiok Lan,Papanya Kiok Lan bekerja Di RS Tentara Padang dan tantenya Yang di angkat anak oleh Lie Tek Beng dan isterinya SaIpo Puti pemilik Toko Gho leng dan Percetakan Sumatra Bode Padang.

Padang Old church

 

 

St Theresia Church

At the front of Bumi Minang (asoka) Hotel

 

Now after earthquake 2008

 

Panti asuhan Bundo Kandung in the front of Ambacang Hotel ,in 1958 became Dewan Banteng Headquaters, and after that became Military Police Headquaters until now.

 

 

 

 

Cinema(bioscope)

Scalabio

Cinema 1924

Location at Balai Baroe street(New Market),now Rio Cinema Pasar raya(Great Market) belong to my grand-grandFather Tan Giok Lin which directed by his son Tan Kim Tjoen after Tan Giok Lin passed away but due to the developed the sound film technology this bioscope off and sold to Ang Eng hoat(grandfather of ang Tjeng Liang) the owner of Cinema Thearer(now Karya Bioscope)

 

During tarzan film,many monkey used as decorations, and the first speaking movie only speak one word only,this told by my mother in memoriam anna,and she went to Scala Bio belong to his grandpa with the Ford Car.

The scala Bio then bankrupt because the speaking movie only contact by Cinema bioscope ownees by Ang eng hoan,grandpa of Ang Tjeng Liang, scala bio that time belong to the grand pa of Johnny hendra only contract the silent movie only.

 

 

Look the minangkabau film poster  METALI van AGAM from newspaper clipping below

 

 

Nonton Bioskop Di Padang Tempo Doeloe

 

Padang adalah kota di Sumatera yang paling duluan maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan ‘modern’ sudah mulai berkembang di Padang.

Kota ‘modern’ tentu memerlukan berbagai sarana, termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya.

Media-media hiburan ‘modern’ hasil teknologi Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama kemudian akan diperkenalkan juga di Padang.

Phonograf (mesinbicara), misalnya, pertama kali diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia.


Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah menikmati film bioskop (dari kata Belanda:
bioscoop). Fantastis ya! RoyalExcelsiorBioscope, BiographBioscope,

 

Scala-Bio[scope](milik grandgranpa dr Iwan Tan Giok Lin)dan CinemaTheatre adalah empat bioskop pertama yang didirikan di Padang.

Memasuki tahun 1920-an bioskop juga dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), dan Payakumbuh.

Nonton bioskop pada zaman itu unik. Orang nonton film pakai sarung dan peci. Perempuan pakai kebaya (tapi belakangan mulai tampil modern dengan rok dan blus).

Jadi, pakaian ke surau dan ke bioskop pada waktu itu nggakbeda-bedaamat; susah membedakan apa orang mau pergi nonton atau pergi mengaji.

Antara kaum pribumi dan orang Eropa (Belanda) dan orang Cina kaya dibedakan tempat duduknya dalam panggung bioskop.

 Orang Eropa duduk di kelas Loge; Cina kaya di Kelas I; Pribumidi Kelas II dan Kelas III(namanya stales,alias setalen atau 25 sen)

Jadi, segregasi ras dan kelas sosial jelas banget dalam gedung bioskop pada masa itu.

Pertunjukan film—yang disebut “gambarhidoep”—biasanya diadakan dua atau tiga kali semalam.

 Filmnya masih sangat sederhana dan kebanyakan film bisu (film bersuara baru diperkenalkan sejak tahun 1927) dengan rol film yang pendek-pendek dan oleh karenanya harus sering bersambung Bahkan sering juga bioskop hanya memutar pantulan foto-foto dari ekspedisi ilmiah ke pedalaman Afrika dan Amerika kalau kebetulan tak ada film.

Pada zaman itu bioskop, yang bangunannya sering berbentuk panggung (makanya terkenal istilah ‘panggungbioskop’), bersifat multifungsi.

Tempo-tempo, kalau tidak ada film, bioskop bisa difungsikan jadi panggung sandiwara (toneel) atau pertunjukan musik. Kali lainnya bisa jadi tempat pertemuan atau rapat (vergadering).

Para pemilik (eigenaar) bioskop—biasanya orang Eropa dan orang Cina kaya—saling mengiklankan film yang akan diputar di bioskop mereka di surat kabar-surat kabar (persis kayak sekarang), disertai dengan kalimat gembar-gembor yang berupaya menarik perhatian pembaca (lihat ilustrasi: dari PertjaBarat, Selasa, 6/6/1911).

Nonton ke bioskop segera menjadi tren di kalangan masyarakat. Banyak karya sastra pada zaman itu yang menggambarkan anak muda atau pasangan yang lagi saling naksir pergi ke bioskop.

(Nonton) bioskop segera menjadi salah satu identitas kemodernan pada zaman itu (juga koran; baca koran berarti intelek). Bacalah misalnya roman-roman seperti Melati van Agam, RoosvanPajacomboe, NjaiSida: RoosvanSawahLoento, OrangRantaidariSiloengkang, Hantjoer-leboernjaPadangPandjang, ZenderNirom, dan lain-lain. Di dalamnya sering ditemukan narasi mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi nonton bareng ke bioskop.

Bagaimana dengan harga karcis bioskop pada zaman itu? Sebagai gambaran: tahun 1911 harga karcis kelas Loge berharga ƒ 1 (gulden); kelas II ƒ 0,50; kelas III ƒ 0,25; dan kelas IV ƒ 0,10. Cukup mahal lho untuk ukuran pada waktu itu. “Anak2 dibawah oemoer 10 taheon bajar separo” alias dapat korting, sedangkan “militair dibawah titel onder Officier bajar toeroet tarief di atas” alias tak dapat korting (lihat ilustrasi) (Beda dengan Zaman Orde Baru, ya, dimana tentara sering gratis naik bus).

Banyak hal yang aneh-aneh terjadi di dalam dan di luar panggung bioskop pada zaman itu. Saya sering ketawa sendiri kalau lagi membaca koran-koran kuno: soalnya banyak kejadian lucu yang diberitakan. Ada yang ketakutan dalam gedung bioskop karena film yang memperlihatkan kereta api berlari kencang menuju arah bangku penonton: takut ketabrak ceritanya. Kadang-kadang terjadi juga keributan di luar gedung bioskop karena berdesak-desakan beli karcis.

Beberapa bintang film mulai jadi idola, seperti bintang koboi terkenal, Tom Mix  (tewas dalam kecelakaan mobil di Arizona 12 Oktober 1940), bintang lucu Charlie Chaplin, dll. Di koran SinarSumatra saya pernah baca seorang anak yang ‘nakal’ ngerjain seorang penjual minyak tanah keliling pakai gerobak di Padang sehingga minyak terbuang sepanjang jalan karena si anak meniru tindakan Tom Mix dalam salah satu filmnya.

Di antara para intelektual Minang, mungkin hanya Hamka yang sangat rapi mencatat pengalaman masa kecilnya ketika teknologi film masuk ke Sumatera Barat. Saat bersekolah di Padang Panjang tahun 1917, Hamka kecil (lahir 1908) sering nonton film gratis. Dari rumah Hamka bilang kepada orang tuanya mau ke surau, tapi ternyata dia dan kawan-kawanya ngacir ke panggung bioskop. Mereka “pergi mengintip film yang main, sebab wang penjewa tidak ada.

Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu dengan ‘tahi ajam’.

Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat dihidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kenal kain sarung sembahjangnya.

Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak!”, demikian tulis Hamka dalam bukunya, Kenang-kenanganHidup (Jakarta: Gapura, 1951: I, 32-3).

Demikianlah sekelumit cerita mengenai perbioskopan di Padang (Sumatera Barat) tempo doeloe, yang tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perspektif sejarah budaya (culturalhistory). Mahasiswa dan dosen yang cerdas dari perguruan tinggi di Sumatera Barat pasti akan melakukannya. Yakin saya!

Suryadi, alumnus Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas, dosen dan peneliti di Universitas Leiden, Belanda

Dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 23 November 2008

Bottom of Form

 

 

Pasar Jawa

 

 

 

 

 

 

 

 

Kedai (Shop) at Padang

 

 

 

 

 

 

Parade milter depan Balaikota

 

 

Belantung(Jl A Yani)

Area rumahnya Gho soei Jong dan Gho bian an(andri)

Hotel atjeh Padang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STASIUN KERETA API PADANG

TELOEK BAJOER HARBOR

EMMA HAVEN

Pantun Minangkabau

KAMI BERLAYAR BESOK PAGI

Dulu kata bermisal adalah keniscayaan dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Dalam setiap diri orang Minangkabau dewasa, khususnya kaum prianya, tertanam prinsip ‘bakato baumpamo, barundiang bakiasan’.

 Dengan prinsip itu, emosi yang muncul dalam komunikasi lisan dipindahkan dari badan ke dalam tuturan. Marah Nada tidak tampak lewat mata yang memerah dan membelalak, tapi lewat idiom-idiom metaforis dalam kalimat setajam siraut dan sembilu. Pantun Minangkabau adalah salah satu pengejawantahan dari prinsip itu, sebagaimana dapat dikesan lagi

688.

Jangan tadulang-dulang sajo,

Padi dimano ditugakan?

Jangan bapulang-pulang sajo,

Kami dimano ditinggakan?

689.

Antaro Tiku jo Pariaman,

Di situ padi ditugakan,

Antara pintu jo halaman,

Di situ Adiak den tinggakan.

690.

Dahulu pandan babungo,

Kini bingkuang anyo lai,

Dahulu badan baguno,

Kini tabuang anyo lai.

691.

Banyak kajang pakaro kajang,

Kajang kami kajang tabuang,

Banyak dagang pakaro dagang,

Dagang  kami dagang tabuang.

692.

Pulau Talam Pulau Tarika,

Katigo pulau bantuak taji,

Jawek salam tolan nan tingga,

Kami balayia bisuak pagi.

693.

Tinggi bukik Gunuang Sitoli,

Bukik bapaga buah palo,

Bukan sadikik arok kami,

Sabanyak rambuik di kapalo.

694.

Ka rimbo baolah tuduang,

Katuduang di tangah hari,

Kok tacinto pandanglah gunuang,

Di baliak gunuang badan kami.

695.

Panuah marimbo padi Jambi,

Sipuluik jangan ditugakan,

Jauah taibo hati kami,

Diunjuak tidak dibarikan.

696.

Jangan bak itu tarah papan,

Jauah marimbo padi Jambi,

Jangan bak itu kato tolan,

Jauah taibo hati kami.

Sebuah tanya dalam bait 688 yang meminta kepastian dari orang yang akan ditinggalkan berbuah jawab demgan ungkapan yang manis dalam bait 689: antara pintu dan halaman. Artinya, perpisahan dua sejoli itu terjadi di anak tangga. Tak dapat saya sembunyikan kekaguman saya pada ungkapan ‘antara pintu dan halaman, di sana Adik kutinggalkan.’ Rasanya mengena sekali di sudut hati.

Suara-suara wanderer muncul lagi dalam dua bait berikutnya (690 dan 691). Ada suara berhiba hati dari dagang yang terbuang, sebatang kara yang mungkin akan hilang di rantau nan bertuah. Memang sudah tak terhitung banyaknya perantau Minang yang hilang tak tentu rimbanya di rantau, peristiwa yang luput dari perhatian umum karena biasanya yang mengemukan hanyalah cerita tentang perantau sukses yang pulang kampung di hari lebaran dengan sedan pintu balapik.

Ucapan selamat tinggal dengan syahdu diungkapkan dalam bait 692. Begitu jauh rantau yang akan dihadang, entah akan bersua kembali entah tidak. Namun demikian, pihak yang ditinggalkan senantiasa memasang harapan ‘sebanyak rambut di kepala’ dalam hati mereka (bait 693). Mungkin itulah tali rahasia yang membuat banyak perantau Minangkabau senantiasa teringat kepada kampung halaman mereka.

Bait 694 sungguh manis ungkapan literernya: kalau ingan kepadaku, pandanglah puncak gunung Singgalang atau Merapi. Di balik gunung itulah kini orang yang engkau rindukan sedang berjuang meneruskan cita-cita. Bersabarlah menunggu, karena dia pasti akan kembali. Kalau suka bunda melepas, insya Allah ‘ayam akan pulang ke pautan.’

Ada nada guyu nan bagamangkan pada bait 695. Kalau meminjam istilah anak muda sekarang: ‘sudah baiyo baindak’an, gayanya serius, tapi ternyata main-main. Mengecewakan banget. Apalagi tindakan seperti itu dibarengi pula dengan kata-kata yang menghibakan hati dan menyinggung perasaan (bait 696).

Pesan dalam dua bait terakhir ini adalah pelajaran kepada pencinta yang pura-pura dan tidak setia. Ingatlah bahwa hati wanita itu adalah pualam. Sekali hati wanita disakiti itu berarti Anda menambah sendiri liku jalan Anda ke sorga.

 

Suryadi[Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 15 Juli 2012

Kisah Kakek Dr Iwan yang dating dari Changzhou Fukien Tiongkok di pelabuhan Emma Have, kemudian ayahnya dating mencarinya karena ia berangkat ke Padang melarikan diri akibat tidak mau di nikahkan dengan seorang gadis cantik diperusahaan ayahnya, sangat tragis ayahnya dating liwat teluk bayur alias emma haven kemudian menyusul naik kereta api ke Pajakoemboeh, setibanya di sana ternyata kakek Gho Kim Thian sedang pergi ke Padang, saat ayah kakek kembali ke pulang, sang kakek buru-buru ke Padang dan setiba di teluk bayur  tidak ketemu karena ayahnya telah berangkat naik kapal hanya dapat melihat dan melambaikan tanggan setelah itu mereka tak pernah ketemu lagi, saat kakek Gho Kim thian sudah tua ia rindu pulang ke Tiongkok ,ia sering mendengarkan radio music tiongkok,hanya  ia tak pernah kembali pulang ke Tiongkok sampai meninggal dunia, dr Iwan akhirnya tahun 2008 sempat berkunjung kekampung kakeknya di Changzhou disampin Kay yuan temple.

Earliest emma haven

 

De Emmahaven (Teluk Bajur)bij Padang aan Sumatra’s Westkust

 

 

Emma haven railway station 1893

 

 

 

Soengei Bramei(as) near Taman nirwarna

 

Bungus Teluk Kabung

De Koninginnebaai in Padang aan Sumatra’s Westkust gezien van zuid naar noord…

 

 

Priaman

In 1630

the tionghoa house have found at Priaman

 

(source christen Dobbin)

In 1816,the tionghoa people must stay at the city like priaman harbor and they must had liscense for travelling.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Palayangan di Pariaman

Published By niadilova under Minang Saisuak    

Sejak negeri ini menjadi modern dan bertambah maju, kata palayangan sudah makin hapus dari kepala masyarakat kita. Mungkin kata itu pun tidak tercatat lagi dalam Kamus Bahasa Minangkabau kontemporer. Itulah salah satu efek dari modernisasi dan pembangunan infrastruktur di negeri ini yang makin menghadirkan banyak jembatan dan jalan beraspal. Walau pun demikian, terbaca berita di koran Singgalang dan banyak surat kabar lainnya bahwa infranstuktur itu sekarang banyak yang tidak terawat, alamat akan lebih cepat hancur dari yang diperikarakan.

Pembaca Singgalang dari generasi kalapo atau ‘pinang sirah ikua’ tentu masih akrab dengan kata ‘palayangan’: yaitu rakit besar yang dibuat di atas beberapa perahu atau balok-balok kayu yang diberi lantai papan dan digunakan untuk menyeberangkan kendaraan berat seperti melewati sebuah sungai yang belum mempunyai jembatan. Sebelum tahun 1970-an banyak perantau Minang pasti pernah merasakan naik pelayangan dalam perjalanannya ke rantau yang bertuah. Pada masa itu belum seluruh jalan raya, lebih-lebih lagi jalan raya antar provinsi, mempunyai jembatan permanen yang bisa dilewati mobil.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan kodak lama yang mengabadikan satu palayangan di daerah Rantau Pariaman. Foto yang aslinya berukuran 8×11,5 ini diperkirakan dibuat antara 1915-1925. Tidak ada catatan siapa mat kodak-nya, dan juga tidak begitu jelas di sungai apa di daerah Rantau Pariaman pelayangan ini dibuat. Tampaknya sungainya tidak begitu lebar. Barangkali dengan melihat foto klasik ini para pembaca Singgalang dapat ma-agah-agah, siapa tahu pelayangan ini dulunya ada di kampungnya.

Dalam foto ini terlihat oto yang akan diseberangkan milik seorang orang putih, barangkali pejabat lokal kolonial di daerah Pariaman. Pakaian putih adalah pakaian resmi pejabat kolonial Belanda pada waktu itu. Konon warna putih dipilih karena kurang menyerap panas yang dipancarkan oleh sinar matahari. Sekarang para pejabat kita suka pakai jas hitam. Keren konon! Tapi mereka bisa kepanasan bila tak naik oto yang rancak (mahal belinya) dan paten AC-nya. Mereka pun sudah jarang naik palayangan jika melawat ke daerah-daerah, sebab dimana-mana sudah berdiri jembatan permanen dengan tonggak tembok tarali basi.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 8 Juli 2012

 READ MORE PART THREE

padang darek(bovenlanden) history collections

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s