Category Archives: indonesian legend writer

Bedah Buku Karangan Penulis legendaris utuy tatang sontani “SULING” ,”BUNGA RUMAH MAKAN”& “AWAL DAN MIRA”oleh H.B.Jassin 1960(koleksi Driwan)

BEDAH BUKU “SULING”

KARANGAN UTUY TATANG SONTANI

 OLEH

 H.B. JASSIN

Dalam buku Budaya tahun keIX Peburi-maret 1960

(koleksi Driwan)

KATA PENGANTAR

BEDAH BUKU INI SAY PERSEMBAHKAN BAGI PARA SASTRAWAN DAN SENIMAN DI DUNIA KHSUSUNYA INDONESIA AGAR DAPT DIJADIKAN PEDOMAN TEHNIK BEDAH BUKU YANG SANGAT LUAR BIAS ADARI SASTRAWAN INDONESIA H.B.JASSIN

BIOGRAFI PENAGRANG LEGENDARIS INDONESIA UTUY TATANG SONTANI DAPAT DIBACA DALAM WEB INI DENGAN JUDUL

THE INDONESIA LEGEND WRITER HISTORY COLLECTIONS PARFT U UTUY TATANG SONTANI

SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA ADA MANFAATNYA BAGI ANDA

JAKARTA MEI 2012

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Catatan

Selanjutnya akan ditampilkan bedah buku Utuy tatng sontani oleh H.N.Jassin yang berjudul

 “BUNGA RUMAH MAKAN”,

”AWAL DAN MIRA”

 
 
 
 
 
CERPEN KARYA :  
UTUY TATANG SONTANI 
JUDUL : 
AWAL DAN MIRA – DRAMA SATU BABAK  
TEBAL 47 HALAMAN
PENEREBIT :  
KIWARI – BANDUNG 
1962
 
 
 
 
SEKILAS TENTANG AWAL DAN MIRA
Peristiwa ini terjadi pada suatu malam dalam tahun 1951 didepan kedai kopi kepunyaan seorang perempuan bernama mira. 
 Yang dimaksud dengan kedai kopi kepunyaan Mira itu sebenarnya serambi muka dari rumah Mira yang dibangun jadi kedai kopi.  
Dan rumah Mira itu rumah bambu,kecil tapi masih baru,letaknya menghadap kejalan,didirikan diatas bekas reruntuhan rumah batu yang hancur oleh peperangan, terpencil jauh dari keramaian.
  Malam itu pukul sembilan lebih,Mira yang cantik asik menyulam di belakang dagangan,di bawah lampu listrik,hanya kelihatan dari dada ke atas.
Ibunya, yang sudah berusia lanjut, ada di ruangan luar kedai, asik mengatur-ngatur penempatan dagangan. Dan di depan kedai di atas bangku duduk seorang laki-laki masih muda, menghadapi gelas kopi di atas meja.
 Laki-laki itu menghabiskan kopinya, kemudian menyerahkan uang kepada Mira seraya katanya :
” kembali setalen !”
 Tetapi Mira yang duduk di belakang dagangan nya tidak mengasi uang pengembalian. Setelah menerima uang dari laki-laki, asik lagi saja ia menyulam.
” Mana kembali !” tanya laki-laki.
” Bah, jawab Mira.
” Setalen ya setalen.”
” Betul setalen,itu setalen,” kata Mira lagi, ” tapi tidak kah tuan merasa bahwa tuan terlalu lama tuan duduk disini,terlalu lama melihat wajahku ?”
” Melihat wajah mu mesti bayar
” Mengapa tidak ?” balas Mira pula.” memang nya istrimu cantik seperti aku ?”
 

Dan” DRAMA-DRAMA LAINNYA”

Jika anda berminat,harap mendaftar jadi anggota premium liwat comment,agar dapat memiliki infomasi lengkap karya Utuy tatang sontani,khususnya tentang Awal dan Mira yang kabarnya dilarang beredar oleh waki menteri Pendidikan republic Indonesia.

Sebaiknay and abaca bedah buku tersebut oleh pakar dan sastrawan terkenal Indonesia H.B.Jassin

 

 

SURGICAL BOOK “flute” by UTUY Tatang SONTANI

 

 BY HB Jassin
In the book culture in keIX Peburi-March 1960
(collection Driwan)

FOREWORD
SAY THIS BOOK IS SURGERY FOR offer writers and artists IN THE WORLD ESPECIALLY INDONESIA TO SURGICAL TECHNIQUE CAN BE USED AS BOOK GUIDELINES MADE A VERY OUT BIAS BY INDONESIAN’S WRITER HBJASSIN

THE BIOGRAPHY OF INDONESIAN LEGENDARY WRITER UTUY Tatang Sontani can be  READ at this Web Blog with title


INDONESIA THE LEGEND WRITER HISTORY COLLECTIONS

PARFT U

UTUY Tatang SONTANI
GOOD READ, THERE MAY YOUR BENEFITS
JAKARTA MAY 2012
Dr Iwan Suwandy, MHA
note
The next book review will appear Utuy tatang sontani by HNJassin entitled “FLOWER of Restaurant “, “AWAL AND MIRA” and ” OTHER DRAMAS”

If you are interested, please sign up to be a premium member through the following comment, in order to have the complete works of Utuy Tatang infomasi sontani, especially about “Awal and Mira, who reportedly banned by the Vice Minister of Education  Republic of Indonesia.
 Better read the surgical of this book by renowned experts and writers Indonesia HBJassin

 HAPPY READING THE GOOD WORK OF  UTUY Tatang SONTANI
“Flute”

 

 

 

 

 

 

SELAMAT MENIKMATI KARYA UTUY TATANG SONTANI

“SULING”

 

Menurut keterangan Sontani dalam cerita pendeknya”mengarang”1)(dimuat dalam kumpulan cerita pendek”Orang-orang Sial”tahun 1951 BP) tokoh-tokoh dalam drama Suling terlahir dari memperhatikan pidato-pidato Pemimpin Besar dimasa  Pendudukan jepang.Ki Hajar Dewantoro yang menekankan kebahagiaan pergaulan manusia terletak pada etik dan moral, ditokohkannya  pada Kawan Pertama,

Kiai Haji Mas Mansur yang mementingkan pergaulan  hidup agama pada Kwan Kedua.

Bung Hatta yang mementingkan ekonomi pada Kawan ketiga dan Bung Karno yang melihat politik dan kekuasaan sebagai pegangan  yang mutlak untuk mengatur masyarakat pada Kawan Keempat.

Dalam  hubungan kesejahteraan kebudayaan dapat puladisusun perlambangan sebagai berikut:

Kawan Pertama ialah perlambang konsepsi Hindu tentang etik moral religi yang mementingkan kelapangan hati dan perikemanusiaaan.

Kawan Kedua  perlambang pendatang arah yang membawa agama Islam.

Kawan Ketiga  perlambang Belanda-Tionghoa yang mendasarkan pandangan kepada perdagangan.

Kawan keempat perlambang Jepang  yang mewakili imperialism  facis.

Dalam hal ini Sri dan Pandji adalah puteri dan putera Indonesia yang mula-mula terombang -ambing dalam rasa dan cita-cita tapi akhirnya berkat kedatangan Pengembara mendapat kekuatandan lahir kembali  sebagai manusia baru.

Pengembara ialah perlambang inspirasi”yang datang dan pergi menurut kehendak kaki” yang bebas merdeka ,tak hendak diikat apapun juga”(hal 71,72).

*Interpretasi ini bagi saya lebih memuaskan dari yang pertama.

Sri dalam kenyataannyamenurut Sontani adaloah seorang puteri pujaan  sedang Pengembara seorang pujaan yang lain pula.

Secara diperumum menurut pandangan saya Sri dapat dianggap sebagai keindahan badani , sebagai puteri Indonesia atau sebagai ibu Pertiwi,Ibu Indonesia.

Sedangkan Pengembara  ialah Inspirasi yang member kekuatan pada seniman. Tentang Pandji tak mungkin ada perbedaan tafsiran .Pandji adalah sipengarang  seperti diakui Sontani sendiri. Pandji adalah penyair,seniman.

Perbedaan antara Pandji dan  Perempuan mudah terpengaruh oleh kejadian-kejadian pada dirinya sedangkan Pengembara ialah Inspirasi yang merdeka mutlak.

“SULING” yang terbit dib alai Pustaka tahun 1948 dan disudahi 12 maret 1946 menurut Sontani sudah dimulainya semasa pendudukan Jepang.

Tatkala Proklamasi Kemerdekaan drama itu baru sampai pada adegan Pandji  dan Sri mwninggalkan pergaulan hidup bersama lantaran Pandji dilarang  meniup suling.

Drama ini terdiri dari 12 adegan dan kwa komposisi  dan pola cerita mengingatkan pada drama klasik.

Dibuka dengan kata pengantar para bidadara yang  memperkenalkan pelakon Sri danPandji turun kedunia untuk menjalani lakon.

Pada penutup cdrita mereka dikawal pula oleh bidadara bidadari pulang kelangit.

Antara dua adegan inilah berlangsung lakon diatas bumi,lakon yang pernah dijalani Adam dan Hawa . lakon yang kita semua alami sebagai manusia .

Mula –mula tiadalah silang sengketa Pandi dan Sricinta bercinta.

Pandji menyuling Sri menari

 

Mari kekasih Tuan menari

Hamba berlagu

Menjalin indah dan merdu

Supaya bintang cermerlang memandang

Angin lalu tersenyum mengalun

Meniupkan irama

Kasih mengasih bersama

Kepada daun bening tertegun

Menyuruh riuh manyusun pantun.

Kepada awan tidak bercorak.

Mengajak sorak –sorai berarak.

Kepada segala disekitar.

Yang melihat dan mendengar.

Mengisi dada dengan getar.

Dan kepala dengan sinar.

Supaya ini dunia.

Menjadi tempat berpesta

(hal 11-12)

Kemudian datanglah Kawan Pertama,Kedua.Ketiga dan Keempat masing-masing dengan tanggapan dunianya mencoba mendesakkan pandangan mereka.

Kawan Pertama tentang kebenaran,bahagia,cinta,kemanusiaan ,persaudaraan.

Kawan Kedua tentang Tuhan,agama,iman dan keyakinan.

Kawan Ketiga bicara dengan istilah-istilah keuntungan,modal,santapan,kemakmuran dan sebagainya.

Kawan Keempat bicara tentang kemuliaan,pimpinan,kekuasaan dan peperangan.

Saban dating orang baru terjadi pertengkaran dan perdebatan untuk mencapai persepakatan.

Sangan konsekwen Sontani dalam mensifatkan watak-watak tokohnya dalam percakapan-percakapan.Dalam perdebatan-perdebatan.

Kawan Pertama  sebagai perlambang etik-religi-moral senantiasa bicara tentang persaudaraan,kemanusiaan,hati yang lapang dan sebagainya.

Kawan Kedua tentang menjunjung Agama ,Tuhan yang Maha Esa .kaya dan seterusnya.

Masing-masing dengan istilah-istilah yang khas bagi tanggapan dunia.

Dengan Kawan Pertama,kedua dan ketiga dapat dicapai persetujuan tanpa banyak kesukaran,meskipun Pandji dan Sri harus melepaskan beberapa kebebasan mereka.

Atas permintaan Kawan Pertama Sri menyetujui tidak akan  menari lagi. Atas anjuran Kawan Kedua Pandji dan Sri diikat Nikah dalam hidup perkawinan dan sri tunduk pada aturan aturan memakai kudung(sekarang istilahnya Jilbab) dan dengan datangnya Kawan Ketiga Sri harus kehilangan gelangnya yang berharga. Semua ini dapt diterima demi untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup bersama.

Kita lihat disini sinkretisme dalam menghadapi tenaga-tenaga pengatur masyarakat spiritual dan materiil.

Kawan Ketiga adalah seorang yang bersemboyan tiada jasa tanpa balas. Dia bawa santapan dn minta Sri beriakn gelangnya sebagai tukaran.dia seorang pedagang yang tak mau rugi .

Begini filsafatnya:

Begitulah datangku dengan makanan.

Membawa bukti kekayaan tuhan.

Dari tempat yang jauh sekali.

Yang belum pernah kauketahui

Kecuali adalah datangku

Membawa hajat yang sudah tentu.

Yakni hendask membikin kemakmuran.

Yang ditiangi oleh pertukaran.

Coba dfahamkan olehsemua:

Kalau kamu saja yang menerima.

Hanya kamu yang beruntung.

Sedang aku jadi yang bunting.

Tapi jika aku menerima

Barang penukar sebagai gantinya

Engkau beruntung aku berharga

Kitapun lantas makmur bersama

Dengan tukar menukar ini

Kita menyusun ekonomi

Tulang punggung kemakmuran

Yang menegakkan pergaulan

(hal 35)

Kawan ketiga ini sesudah perdebatn yang hanggat dapat diterima sebagai sahabat,karena Sri merelakan gelangnya dan Pandji masih bebas meniup sulingnya.

Munculnya Kawan Keempat membawa ketegangan dan perpecahan karena kawan ini seorang kasar dan kejam yang memaksa orang lain tunduk pada kekuasaannya. Perlawanan yang sengit diberikan oleh Pandji. Kawan Pertma,Kedua dan Ketiga dan keluarlah filsafat kepemimpinanya:

Cobalah kamu pikirkan !

Apa rupanya pergaulan

Jika tiada perlindungan

Yang dipikul oleh pemimpin?

Kalau aku menyerang kalian

Apa jadinya kemakmuran?

Apa jadinya Keselamatan?

Apa jadinya kedamaian?

Tapi jika kamu kupimpin

Pedangku ini akan menjamin

Adanya kemenangan bersianr-sinar

Dalam melawan musuh dari luar

 Dan keadaan pergaulan disini

Akan meju meningkat tinggi

Mengikuti pikirku yang bergerik

Memutarkan roda politik

(hal 43)

Maka terpaksalah Pandji dan Kawan-Kawan lain,meskipun tidak dengan segenap hati.

Tapi Kawan Keempat ini bukan menjadikan  kekuasaan sebagai alat tapi mengangkatnya jadi tujuan pula,sehingga  demi untuk semata memperlihatkan kekuasaan iapun melarang Pandji membunyikan sulingnya.

Gelaplah dunia ini bagi pemandangan Pandji dan sri yang biasanya sabar memutuskan:”Jika suling tak sanggup berbunyi.Biarlah hamba menanti didalam sunyi”(hal 47).

Didalam adegan yang dibicarakan ini Nampak persejajaran dengan kejadian dalam sejarah yaitu dilarangnya para seniman menyanyi sebebas hati dengan adanya sensur yang keras dimasa pendudukan Jepang.

Tindakan Kawan Keempat tambah semena-mena,Pandji dipaksanya mengaku telah bunuh isterinya dan dalam tekanan batinnya lahiriah Pandji kehilangan pribadinya dan bicara dengan kata-kata yang artinya ganda.

Ia dihina bertubi-tubi, kawan-kawannya memunggunginya dan menkhianatinya karena dapat dipengaruhi Kawan Keempat.

Maka muncullah Perempuan Pengembara yang tidak terikat pada aturan yang tidak diperlukan kekayaan dunia, tidak perlukan lindunagn cinta,perempuan pengembara yang bebas mutlak.

Kawan Keempat menyerangnya dengan pedang tapi ia tidak dimakan senjata karena ia adalah Kebenaran.

Mel9ihat keampuhan Pengembara itu Pandji mendapatkan kembali kegembiraannya dan meskipun dilarang Kawan-kawannya ia menciumnya dan jadilah ia kuat dan kebal.

Tikaman Kawan Fascis tidak mempan makan badannya dan terpaksalah ia bertekuk lutut dan kembalilah suling Pandji yang dirampas dan disembunyikannya,

Pandji bunyikan suling dan sri yang Samadi terbangun kembali. Setelah mengalami segala cobaan kembali mereka merasakan kebebasan,lebih kaya,lebih yakin:

Biar diketahui bahwa kedamaian

Keselamatan ,kemakmuran dan keagunangan

Takkan lahir bila kepercayaan hati

Akal dan pikiran tidak disinari seni

 

Maka lihat dan dengarkanlah

Tari dan nyanyi kami

Pancaran api

Didlam jiwa

Tebaran seni

Gerakan sukma

Untuk hatimu bergetar

Melebarkan dada

Mengalunkan kepercayaan

Ke Laut Tuhan tidak berbatas

Untuk pikiran bergerak

Menegakkan kepala

Mendesak akal

Supaya membadai berusaha

(hal 88-89)

English Version

Top of Form

“Flute”

According Sontani in his short story “fabricated” 1) (a collection of short stories published in “People Shit” in 1951 BP) figures in the drama born of attention Flute speeches Leader of future occupation which emphasizes jepang.Ki Hajar Dewantoro association of human happiness lies in the ethical and moral, ditokohkannya

 

the First Friend,
Kiai Haji Mas Mansur religion that emphasizes the social life at

Second Friend.

Bung Hatta who put the economy on the third mate and the Bung Karno who see politics and power as an absolute grip on society to regulate the Fourth mate.
In relation to cultural well-being puladisusun symbolism as follows:
The first friend is a symbol of the Hindu conception of religion that emphasizes moral conduct broad-mindedness and perikemanusiaaan.
The symbol of the direction of fellow immigrants who brought Islam.
Third fellow Dutch-Chinese symbol of the base view of the trade.
The fourth friend who represents the symbol of Japanese imperialism fascis.

In this case the banner of Sri and was the daughter and the son of Indonesia who first tossed around in taste and ideals but in the end thanks to the arrival kekuatandan Nomad gets reborn as a new man.
Nomad is a symbol of inspiration “that come and go according to the will of the foot” the free, does not want anything bound “(p. 71.72).
* Interpretation of this for me is more satisfying than the first.
Sri in kenyataannyamenurut Sontani adaloah a Nomad princess was a cult idol of others as well.

In Sri generalized  in my view be regarded as physical beauty, the daughter of Indonesia or the mother earth, mother Indonesia.
While Nomad is an inspiration to the artist member strength. About the banner would be no difference in interpretation. Banner is like the recognized Sontani sipengarang own.

 

 The banner is a poet, an artist.
Difference between the banner and women easily influenced by the events of her inspiration, while the Nomad is absolutely free.


“Flute” which was published in 1948 dibalai Library and quits 12 March 1946 by Sontani had started during the Japanese occupation.

When the Declaration of Independence was a new drama to the scene and the banner of Sri mwninggalkan socially forbidden to live together because the banner of the flute.

This drama consists of 12 scenes and stories kwa composition and patterns reminiscent of the classic drama.
Opens with a preface introduces the goddess Sri danPandji performers down to earth to live theater.

On the cover story ,they are escorted by the goddess sky angel home.
Between the two scenes of the play takes place here on earth, play that ever lived Adam and Eve. play that we all experience as human beings.

At first, Nor cross Sricinta dispute Pandi and sex.
The banner of Sri refine dance

Let’s dance lover Mr.
Servants sing
Establish a beautiful and melodic
Cermerlang star looked so
The wind then smiled heave
Blowing rhythm
Love to love together
The leaf nodes stunned
Telling manyusun boisterous rhymes.
The cloud is not patterned.
Invite cheers march.
To all around.
Who saw and heard.
Filling the chest with the shakes.
And the head of the beam.
In order for this world.
A place to party
(P. 11-12)

Then came the First Friend, second.third and fourth respectively in response to his world trying to impose their views.

First friend of truth, happiness, love, humanity, brotherhood.
The friend of God, religion, faith and belief.

The three comrades speak in terms of profits, capital, food, prosperity and so on.

The four comrades talk about the glory, leadership, power and war.
Saban dating new people quarrel and debate to reach a conspiracy.
Sontani consistent partner in mensifatkan temperaments characters in conversation-percakapan.Dalam debates.
First friend as a symbol of religious-ethical-moral always talk about brotherhood, humanity, open heart, and so on.

Both friend about upholding Religion, God Almighty. Rich and so on.
Each of the terms peculiar to the response of the world.

By Comrade First, second and third can be achieved without much difficulty approval, though banner and Sri need to release some of their freedom.

At the request of Sri approve the First Friend is not going to dance again. On the advice of Comrade Second Marriages banner and Sri bound in marriage and subject to the rules sri wear veil (hijab now call it) and with the coming of the Third Sri friend shall lose a valuable bracelet. All this is accepted by could for the safety and welfare of living together.

We see here the syncretism in the face of forces of the spiritual and material control.

The third friend was a slogan no services without reply. He brought Sri beriakn’m fine nd tukaran.dia bracelet as a merchant who does not want to lose.
His philosophy this way:


That  myself  coming with food.
Bring proof of the wealth god.
From places far away.
Who have never know
Unless the myselsel came
Which of course brings hunger.
Hendask which make prosperity.
The pall by the exchange.

Try to understand by all :
If you are receiving.
Only you are lucky.
I’m pregnant so it is.
But if I accept
Exchange goods instead
You’re lucky I’m worth
We also then prosper together
With this exchange
We develop the economy
The backbone of prosperity
Who enforce the association
(P. 35)
The third friend is after a hanggat perdebatn be accepted as a friend, because Sri volunteered his bracelet and free banner still blowing the flute.

The emergence of Comrade Fourth brings tension and discord because of this friend of a harsh and cruel to force others subject to his control. Fierce resistance provided by the banner. Comrade first, Second and Third and philosophy out its lead:


Try it you think!
What seems to association
If there is no protection
Borne by the leader?
If I attack you
What will become of prosperity?
What will become of Safety?
What will become of the peace?
But if you in my command
This sword will ensure
The existence of bersianr-ray victory
In the fight against enemies from outside
 And social circumstances here
Increased height will foward
I thought that following the move
Rotating the wheel of political
(P. 43)

Then compelled to banner and other friends, though not with all my heart.
But this is not the fourth friend made as an instrument of power but also the purpose to be raised, so in order to simply demonstrate the power of prohibiting banner she began sounding flute.

black off the world for scenery and the banner of Sri usually wait to decide: “If a flute could not sounding.leave the servant waiting in silence” (p. 47).


In the scene in question appears paralel with events in the history of the banning of the artists sing as freely as the liver in the presence of harsh censorship future occupiers.

Comrade acts arbitrarily added four, banner dipaksanya claimed to have killed his wife and the inner pressure of the outward banner of personal loss and to talk with words that double meaning.

He was insulted repeatedly, and his friends to her because it can be influenced Comrade menkhianatinya Fourth.

Then came the Nomad Women who are not bound by rules that do not need worldly riches, do not need lindunagn love, nomadic women who absolutely free.

The four comrades attacked her with a sword but she does not eat by weapon because he is Truth.

Nomad’s efficacy seen the banner regain happiness and even forbidden His friends he kissed it and be strong and invulnerable.
Comrade stab Fascis impervious to eat his body and he was compelled to return the flute to his knees and seized banner and hide,

Sound the flute and the banner of the  Sri woke from native  samadi praying  again.

 After experiencing all the trials back their sense of freedom, richer, more confident:

Let me note that the peace
Safety, prosperity and keagunangan
Not born when the trust heart
Intellect and artistic mind unirradiated

So look and listen
We dance and sing
Jets of flame
Location within the soul
Scattering of art
Soul movement
For your heart trembling
Widen chest
Steady motion of confidence
God is not bounded to the Sea
For the mind moves
His head
Urgent sense
Storm in order to try
(P. 88-89)

 SORRY i CANNOT TRANSLATE THE BELOW BOOK BECAUSE TO MANY OLD INDONESIAN LANGUAGE WHICH MADE VERY DIFFICULT TO TRANSLATE BUT I HOPE YOU CAN TRY TO UNDERSTAND.

 

 Bedah Buku Utuy Tatang Sontani oleh H.N.Jassin yang berjudul

 “BUNGA RUMAH MAKAN”,

 

 

SELAMAT MENIKMATI KARYA UTUY TATANG SONTANI

“BUNGA RUMAH MAKAN”

Drama Utuy Tatang Sontani yang paling terkenal karena banyak dimainkan sekitar tahun 50-an ialah “Bunga Rumah Makan”. Drama ini diakhiri(selesai)  ditulis (pada) tahun 1947 dan terbit di Balai Pustaka tahun 1948.

Saya dapat kedsan bhwa drama yang disebut Sontani pertunjukan watak ini (secara) psikologis belum dianalisa sampai habis dan watak-wataknya belum dewasa membulat.

(Adegan1)

Pertunjukan dibuka dengan adegan percakapan antara Ani dan Karnean, karnaen menanyakan mengapa Ani tak suka berumah Tangga. Ani menjawab ,dia masih senang kerja jadi pelayan.

Dari percakapan ini juga ternyata bahwa Ani ditolong  oleh Karnaen dari keadaan melarat  dan dibawanya kerja di Rumah Makan kepunyaan Ayahnya.

(ADEGAN 2)

Mampir seorang perempuan yang baru kembali dari Belanda dipasar. Ani melihat-lihat barng-barang belanjaannya . Siperempuan itu membeli Manisan Belimbing .Waktu akan pulang ia tegak memandang Ani dan teringat pada ank Laki-Laki yang sudah meninggal dunia, dia berkata kepada Ani:” Kalau dia masih ada ,mau saya memunggut nona sebagai Mantu!”(halaman 7)

(Adegan 3)

Sementara Ani pergi kedalam sebentar , masuk seorang Pengemis hendak mencuri Kue-kue, tapi dia kepergok oleh Ani sedang buka  Toples.Ani memarahinya dan sipengemis minta ampun. Katanya dia  sejak kemarin belum makan. Karena kasihan , ani berjalan kelaci meja dengan maksud hendak memberinya uang.

(Adegan 4)

Muncul Sudarma pemilik warung yang mampir sebentar dalam perjalanannya kekantor pertenunan. Sudarma mengusir pengemis yang angkat kaki sesudah Ani lemparkan uang padanya. Sudarma nasihatkan Ani supaya lain kali mengusir saja pengemis itu karena ia mengotorkan lantai warung.

(Adegan 5)

Mampir pula Kjai Usman mencari Sudarma dan menyusulnya ke Kantor Pertenunan . Tidak lupa ia menggoda Ani bahwa ia pantas bersuamikan Karnaen.

(Adegan 6)

Ani kelihatan kesal oleh perkataan Kjai Usman , angkat Tilpon mau bicara dengan Kapten Suherman , tapi tidak ada.

(Adegan 7)

Masuk dua orang pemuda,pesan susu . Keduanya rupanya ingin menganggu Ani

(Adegan 8)

Masuk pula Iskandar , duduk menyisih diri dari pemuda-pemuda . Ani menyuguhkan dua gelas susu pada pemuda-pemuda. Keduanya mulai henda bercanda-canda dengan Ani . Salah seorang akan menilpon Ani katanya. Tapi Ani tidak lebih lanjut meladeni omongabn mereka ini lalu mengundurkan diri  kebelakang. Dia sedikit tersinggung . Iskandar dengan diam-dism telah pergi pula.

(Adegan 9)

Masuk Kapten Suherman . Ani menyongsongnya gembira. Dua pemuda lekas-lekas habiskan minumannya, bayar lalu pergi.

(Adegan 10)

Menusul percakapan kosong antara Suherman dan Ani, Ani tanyakan kapan Suherman membawanya berjalan-jalan. Suherman jawab belum sempat karena terlalu repot dengan pekerjaan. Hanya dia berkali-klai  memandang wajah Ani  dan berkata:”Indah”, Sesudah minum ia minta diri pula dan  berjanji akan dating kembali.

(Adegan 11)

Ani ketamuan seorang temannya,Rukayah, dan menceritakan bahwa ia jatuh cinta . Rukajah memberinya ingat, hendaklah jangan  dipakaikan perasaan saja tapi juga pikiran.

Rukajah  hanya sebentar  bercakap-cakap  karena segera pergi pula untuk rapat wanita.

(Adegan 12)

Masuk pula pemuda pelancongan Iskandar . Antara dia  dengtan Ani terjadi pertengkaran karena Iskandar dikatakan tak pernah belanja, dating hanya duduk-duduk saja. Iskandar menyindir dan  menghina, katanya Ani hanya perdagangkan kecantikan dengan jadi pelayan dan  menipu orang-orang yang dating belanja.Iskandar diusir oleh Ani tapi tak  mau pergi .

(Adegan 13)

Masuk Karnaen , Ani adukan Iskandar ,tapi Iskandar  tak mau  juga disuruh pergi oleh Karnaen.

Karnaen tilpon Polisi supaya segera dating. Dalam pertengkaran selanjutnya terjadi perkelahian  tinju antara  Iskandar  dan Karnaen, dan akhirnya Iskandar pergi dengan kemauannya sendiri.

(Adegan 14)

Ani hendak menolong bangkitkan Karnaen  tapi  mundur karena dengan kata-kata Karnaen yang romantic:”Dapatkah engkau selamanya mayu mengulurkan tangan kepadaku, mengindahkan suara hatiku,An?

Pernyataan ini dijawab oleh Ani bahwa ia hanya dapat menyayangninya sebagai adik  terhadpa Abang.

(Adegan 15,16)

Datang Polisi yang majukan  pertanyaan-pertanyaan dan  pemilik warung Sudarman bersama sehabatnya Udsman.

Karnaen dan ani menerangkan apa yang sudah terjadi, Polisi berjanji akan menangkap Pelncong dan berangkat.

(Adegan 17)

Kapten Suherman masuk . dari percakapan dengan Karnaen ,Usman dan Suherman ternyata bahwa dia hanya cinta pada ani tapi tidak bermaksud mengawininya. Da ini dikatakannya sedang Ani hadir pula. Ani kecewa dan sadar bahwa yang disenangi orang padanya hanya senyumnya tapi bukan airmatanya.

(Adegan 18)

Polisi bawa Iskandar masuk dan memperhadapkannya dengan orang-orang yang mengadukannya.

Iskandar terus menerus menghina  hingga pada akhirnya Polisi memutuskan membawa Iskandar untuk ditahan. Tapi justru pada waktu ini, Ani lalu mempertahankan Iskandar. Dikatakannya  bahewa iskandar tidak menghina malah mengakui bahwa ia telah mengatakan yang sebenarnya. Dia minta supaya perkara jangan diteruskan.

(Adegan 19)

Stelah masuk kedalam sebentar , Ani tampil kiembali membawa kopernya. Keputusan nya telah tetap, dia akan tinggalkan Rumah Makan karena dia mau “hidup merdeka” menjauhi segala kepalsuan dalam rumah makan.

Dan dia akan pergi bersama Iskandar, orang jujur Iskandar terima perubahan ani sebagai suatu 6yang sudah semestinya dan bersedia hidup bersama Ani dan berjanji pula bahwa ia akan mau bekerja. Mereka berangkat bersama.

(Adegan 20)

Sedarman menyatakan buat sementara akan menutup warungnya, yang sial dan dia menyesali temannya kiai Usman yang katanya telah jadi gara-gara semuanya.

(Adegan 21)

Seorang pengemis(yang sudah kita kenal pada adegan 3 dan 4) tiba-tiba keluar dari balik pintu dan mau curi kue dalam toples tapi kepergok pula.

Kebera6tan saya yang paling besar terhadap drama ini bersifat  psikologis tidak jelas bagi saya perbelokka n jiwa ani,

Sepanjang yang bias saya ikuti dia memang tidak cinta pada Karnaen , hanya terima kasih karena dia telah menolongnya.

Dan cinta memantg tak bias dipaksakan. Ani cinta pada Suherman , tapi Suherman hanya mau cinta, tetapi tak mau kawin. Ini bikin Ani kecewa. Dia berbelok ,tapi mengapa lalu menyerahkan nasibnya pada petualang Iskandar ? Karnaen mungkin tidak begitu menarik buat Ani tapi cintanya terbukti dari perbuatan dan perkataannya.

Apakah yang kemudian begitu mengika6t Ani pada Iskandar? Mengapa dia tidak lebih percaya pada Karnaen yang telah berjasa kepadanya dan berterang-terang memintanya jadi Isteri ?.

Iskandar telah berkali-kali menyakiti hatinya, sedimkitpun Iskandar tak ada menunjukkan cintanya pada Ani. Apakah Ani sadar akan dirinya apabila dia dri pihaknya tiba-tiba minta Iskandar untuk hidup bersama, sedang tindakannya ini hanya karena kecewa dengan suherman yang telah mempermainkan cintanya?

Kita tidak bertanya mengapa dia meminta cinta orang yang dari semula dibencinya karena sikapnya?

Djelas bahwa Ani hanya bertindak atas dasar emosi yang tidak dikendalikan oleh pikiran. Dan apabila dia berkata:” Aku akan mengawini dia(Iskandar) sebagai perempuan yang akan berjuang berdampingan”.

Kita bertanya”berjuang untuk apa?” Ini hanya kata-kata besar untuk mengobar rasa egoisme yang terluka.

Dan apa maunya Iskandar sebenarnya? Dia mengaku sekarang”Manusia merdeka”, dan tatkala ditanya oleh polisi mengapa tak mau bekerja, dia mengelak dengan jawaban:” Buat apa bekerja, bila mengerjakan pekerjaan menipu,mendustai orang lain..”. dan lagi sebab ia “sendiri didunia”.

Pada hemat saya buka jawaban-jawaban tepat yang bias bikin orang menaruh KEPERCAYAAN PADANYA HINGGA MENYERAHKAN NASIBNYA.

Kesengitan Iskandar terhadap Karnaen sepanjang yang bias diselidiki dari percakapan mereka hanya berakar pada iri hati dari pihak Iskandar. Tapi Karnaen  sebenarnya seorang yang baik hati meskipun tidak begitu berani bertindak  karena suka pada hidup damai dan aman. Apa yang dilemparkan Iskandar padanya bahwa “ hatinya lebih kotor dari kakus” tak ada buktinya dan sepantasnya dia merasa tersinggung.

Kalau mau diteruskan analisis tentang kepalsuan, apakah Iskandar tidak hanya seorang palsu yang berlagak orang merdeka,menghina mengejak karena menyimpan keinginan  yang sesungguhnya yaitu menghendaki ani untuk dirinya?

Tak pernah ia mengatakan cinta pada ani, tapi tatkala Ani menunjukan  apakah ia akan bekerdja. Timbul pertanyaan apakah dia dengan pengikatan diri  ini masih tetap seorang merdeka danbagaimanakah harus diterangkan orang  orang merdeka ini yang karena itu hidup lintang lantung  tiba-tiba manu meninggalkan hidup lintang lantung dan berjanji mau cari kerja.

 Apakah dengan ini dia masih tetap merdeka? Pertanyaan lain ialah apakah dia akan tiba-tiba saja bias merubah cara hidupnya dan hidup sebagai orang yang jinak disamping isterinya ?

Mengherankan bahwa ani tidak melihat sudut ini. Dia mau”hidup merdeka” dengan  “mengikat” Iskandar karena Iskandar harus merubah cara hidupnya yang katanya inilah hidup merdeka.

Kadangkala Ani Nampak pula pada sikapnya  terhadap Kapten Suherman seorang Don Yuan yang kosong, yang tatkala diminta bercerita hanya bias berkata:” Aku sudah pergi ke Utara sampai kepantai ke selatan memasuki rimba, ke Barat ke Timur dan mendapat tempat yang paling mengembirakan (disamping Ani)”.

Ani bias terpesona oleh omongan kosong ini, barangkali karena Suherman pandai mengatakan”Indah” sambil memandang wajah Ani, dan  bias mencumbu dengan kata-kata:”Kutinggalkan dikau, bungaku bungaku mekar, mekarlah menghambur wangimu, menyambut sinar pagi baru”. Bahwa Ani bias jatuh cinta pada orang yang melompong ini menandakan pula bahwa ia bukan orang yang tajam padang dan dalam pikiran.

Dalam pencurahan rasanya pada Rukayah, Ani mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada pemuda yang”mengerti keinginannya”. Tapi tidak jelas apakah keinginan itu, sedang hal itu tidak pula ternyata dari percakapan kapten suherman. Apakah keinginan itu ialah ajakan untuk jalan-jalan?

Bagaimana watak Karnaen tidak ternyata kekotorannya seperti yang dilontrkan Iskandar dalam kemarahannya. Dia telang mengangkat Ani dan mmpekerjakankannya sebagai pelayan diwarung ayahnya. Ini satu perbuatan yang baik . dan bahwa ia cinta pada ani juga tidak satu kejahatan apalagi dia terang terang memintanya jadi isterinya.

Demikianpun Sudarmo sukar kita menerima tuduhan bahwa ia seorang palsu. Dia telah bersedia menerima ani jadi Pelayan rumah makannya dan diapun tidak keberatan akan berrmenantukan dia.

Kekuatirannya bahwa Ani akan meninggalkan rumah makan apabila ia kawin adalah kekuatiran yantg biasa saja ditinjau dari sudut seorang pengusaha, dan  kalu dia berkata mau menaikkan gajinya asal ani jangan pergi, itupun bukan suatu bukti kepalsuan. Tapi memanglah sukar untuk mengerti jalan pikiran petualang yang mau mendasarkan segala ukuran pada keprimitipan yang bugil.

Adegan kedua dan ketiga menimbulkan poertanyaan bagi saya> Kesentimentilan perempuan yang mampir belanja kewarung dan bertemu dengan ani rasanya tidak ada akarnya. Barangkali adegan ini untuk membuktikan bagaimana cantiknya Ani sehingga perempuan itu mau memungutnya sebagai mantu sekiranya anaknya masih hidup.

 Dan adegan pengemis agaknya untuk membuktikan bagaimana baiknya hati Ani. Pengemis yang didapatkan mencuri masih bias menimbulkan belas kasihannya dan diberikan uang.Tapi kebaikan hati ini tidak begitu meyakinkannya. Saya kira . Perhtikansesudah Ani mempergoki pengemis ia memarahinya:

Pengemis: Ampun non ampun

Ani: Mau sekali lagi engkau mencuri

Pengemis : Saya tak akan mencuri bila saya punya uang

Ani: Bohong

Pengemis: Betul nona, sejak kemarin saya belum makabn

Ani: Mau bersumpah, bahwa engkau tak hendak mencuri lagi!

Pengemis: Dengan allah saya tak akan mencuri lagi, nona asal

Ani : Tidak aku tidak akan member lagi uang padamu

Pengemis: (sedih) ah, nona kasihanilah saya.

Pertanyaan Ani:”Mau sekali lagi engkau mencuri? Ialah pertanyaan yang tak usah ditanyakan sebab tidak ada pencuri yang akan menjawab bahwa ia lain kali akan mencuri lagi. Dan bahwa ani mau meladeni pengemis yang mengatakan :” Saya tak akan mencuri, bila saya punya uang” adalah tanda suatu ketumpulan otak yang menguatirkan> Bukan dengan itu sipengemis sama saja dengan mengatakan bahwa ia akan seumur hidup mencuri karena pekerjaannya hanya mengemis? Ataukah Ani mau menjamin pengemis itu saban hari supaya jangan keputusan uang?. Dan adalah suatu kekurangajaran bahwa seorang pencuri menunjukan syarat seperti ini.

 Pengemis : Demi allah saya tak akan mencuri lagi nona Asal

Maksudnya tentu asal nona mau member uang kepada sayasaban kali saya dating, karena Ani Memotong:

Ani: Tidak aku aakan member lagi uang padamu.

Ini namanya pemerasan dan terhadap pemeras demikian tak perlu menghadiahkan belas kasihan. Lagi pula pengemis mana yang bersumpah “demi Allah” .Allah terlalu jauh buat pengemis itu, dia lebih untuk takut pada maut dan saya kira dia akan berkata:” Biar mati” kalau dia akan bersumpah.

(Catatan Dr Iwan: saya jafdi teringat pada tahun 1956 pernah berjumpa dengan penegemis yang tidak pernah mengucapkan kata-kata “sedekah Pak” sebagimana pengemis lain, penegmis tersebut hanya mengacungkan tangannya yang bunting dengan sebuah tas dengan mengucapkan :”merdeka pak”,dan ia tidak akan pergi sebelum diberikan uang, tetapi ada yang banyak akal mereka berkata :”maaf pak tidak ada uang kecil”, baru penegemis itu pergi) 

Kadang-kadang kita pergoki Sontani tidak dapat mengendalikan romantiknya, misalnya ia membeiarkan Kjai Usman menghibur Ani sambil menjapu-nyapu rambutnya(Adegan 16). Hal inipsikologis jangan sekali karena  suasana dihadiri oleh Suherman yang ingin mengambil Ani sebagai menantu dan Karnaen yang mencintai Ani. Dan Ani sendiri saya kira  tidak dalam suasana untuk suka dihibur-hibur demikian oleh wak Kjai. Dia bukan anak kecil lagi  yang boleh disentuh oleh wak Kjai dengan tidak ingat akan aturan kemuhriman.

Dan romantic yang palsu menonjol apabila sesudah Karnaen dibanting oleh Iskandar keatas lantai ,  dan  hendak ditolong oleh ani , berkata:” Dapatkah engkau selamanya mau mengulurkan tanagn kepadaku, mengindahkan suara hatiku?”(Adegan 14).

Ini bukan saja satu omong kososng tapi tidak mungkin terjadi kecuali dalam fantasi orang yang tak pernah dibanting.Barangkali ada juga benarnya kalu Balfas menghubungkan ketidak dewasaan tokoh-tokoh dalam hasil Sontani dengan kebelum dewasaan pengarang tatkala menulis.

Percakapan-percakapan sok intelektuil member kesan seperti orang kampong yang apabila berhadapan dengan orang kita yang tak dikenalnya mempergunakan kata-kata yang dikiranya panatas dalam percakapan orang terpelajar , tapi dia tidak mengerti betul kata-kata itu, maka ia mempergunakannya tidak tepat.

Tatkala dalam adegan pertama : Karnaen mengajuk hati pelayan ani , apakah dia suka jadi isterinya, menjadi ratu rimah tangga, dijawab oleh Ani:

Ani : Ah, mas, bila kita mendengar perkataan-perkataan “rumah tangga” saya suka gementar. Saya masih suka bekerja seperti sekarang ini.

Karnaen : “Samapi kapankah engkau berpendirian demik8ian An?

Dan Tatkala Ani hendak setel radio berkata lagi  Karnaen:

Karnaen :” Ah, dipagi hari begini tak ada yang aneh. Dan daripada  mendengar radio aku lebih suka mendengarkan engkau mencerikan pendirian”

 

Pernyataan ani belum mau kawin dan lebih suka kerja jadi pelayan memang suatu pendirian .Tapi dalam hubungan percakapan seperti diatas ini perkataan itu saya rasa agak janggal apalagi kalau diingat bahwa Ani seorang pelayan yang mestinya tidak begitu tinggi pendidikannya.

(catatan Dr iwan : pada masa dulu sekitar tahun 1960-180, umumnya bila seseorang melamar wanita dan tidak diterima oleh keluarganya, umumnya ditolak dengan halus dengan mengatakan ,”anak saya masih mau melanjutkan sekolah dan belum berpikir untuk berkeluarga” karena saat itu melamar tanpa terjadi perembukan terlebih dahulu diantara si pria dan Wanita, lain saat sekarang melamar hanya pro formal saja karena sebelyumnya sudah dirundingkan terlebih dahulu seperti saat saya melamar mantu saya)

Pada hemat saya  lebih langsung dan wajar dalam lingkungan ini dipakai perkataran pikiran , Jadi sampai kapan engkau punya pikiran seperti itu An? Dan aku lebih suka  mendengar engkau bicara tentang maksudmu.”

“Menceritakan pendirian” pada hemat saya janggal pula. Pendirian bias dinyatakan, tapi tidak untuk diceritakan , sebab pendirian bukan cerita.

Kefalsafahan dan melambung perkataan  Rukajah kepada ani yang mengambil keputusan tiba-tiba untuk mengikat Iskandar:” Engkau sudah menjalani praktek An, bahwa perubahan jiwa manusia itu menunjukkan keluhuran tingkat manusia sebagai bagian  dari alam semesta yang paling nyata mewakili Tuhan”.Apakah Rukaja  seorang filosof yang bias dipegang hik mat hidupnya, sedang dia menarik kesimpulan dengan tidak tahu persoalan ani yang sebenarnya?

Kesan intelektuil  atau sok intelektuil tidak akan timbul sekiranya keintelektuail justru timbul karena  tak ada hubungan anatara lingkungan dan percakapan intelektuil.

Adegan terakhir saya rasakan sebagai tempelan. Tidak masuk diakal bahwa pengemis yang dikatakan telah lama berdiri dibalik pintu cari kesempatan juga sedang orang ramai dalam warung diantarnya adas pula seorang polisi . Lebih tidak masuk akal kalau pengemis itu ialah pengemis yang baru beberapa jam  yang lalu diusir oleh Ani. Akan lebih mengesankan kiranya jika drama berakhir dengan adegan 18, yaitu dengan perginya Ani dan iskandar bersama-sama.

                                               

 

SELAMAT MENIKMATI KARYA UTUY TATANG SONTANI SELANJUTNYA

 

 CERPEN TEMPO DOELOE KARYA UTUY TATANG SONTANI – AWAL DAN MIRA – DRAMA SATU BABAK

 

 

 

 

 

 

CERPEN KARYA :  

UTUY TATANG SONTANI 

JUDUL : 

AWAL DAN MIRA – DRAMA SATU BABAK  

TEBAL 47 HALAMAN

PENEREBIT :  

KIWARI – BANDUNG 

1962

 

 

 

 

 

 

 

SEKILAS TENTANG AWAL DAN MIRA

 

Peristiwa ini terjadi pada suatu malam dalam tahun 1951 didepan kedai kopi kepunyaan seorang perempuan bernama Mira. 

 

 Yang dimaksud dengan kedai kopi kepunyaan Mira itu sebenarnya serambi muka dari rumah Mira yang dibangun jadi kedai kopi.  

Dan rumah Mira itu rumah bambu,kecil tapi masih baru,letaknya menghadap kejalan,didirikan diatas bekas reruntuhan rumah batu yang hancur oleh peperangan, terpencil jauh dari keramaian.

  Malam itu pukul sembilan lebih,Mira yang cantik asik menyulam di belakang dagangan,di bawah lampu listrik,hanya kelihatan dari dada ke atas.

 

Ibunya, yang sudah berusia lanjut, ada di ruangan luar kedai, asik mengatur-ngatur penempatan dagangan. Dan di depan kedai di atas bangku duduk seorang laki-laki masih muda, menghadapi gelas kopi di atas meja.

 

Laki-laki itu menghabiskan kopinya, kemudian menyerahkan uang kepada Mira seraya katanya :

” kembali setalen !”

 

Tetapi Mira yang duduk di belakang dagangan nya tidak mengasi uang pengembalian.

 

Setelah menerima uang dari laki-laki, asik lagi saja ia menyulam.

 

” Mana kembali !” tanya laki-laki.

” Bah, jawab Mira.

” Setalen ya setalen.”

” Betul setalen,itu setalen,” kata Mira lagi, ” tapi tidak kah tuan merasa bahwa tuan terlalu lama tuan duduk disini,terlalu lama melihat wajahku ?”

” Melihat wajah mu mesti bayar

” Mengapa tidak ?” balas Mira pula.” memang nya istrimu cantik seperti aku ?”

 

SELAMAT MENIKMATI BEDAH KARYA UTUY TATANG SONTANI

AWAL DAN MIRA

OLEH H.B.JASSIN

(Majalah Budaya,1960)

Drama sebabak Awal dan Mira terbit di Balai Pustaka tahun `1952 dan tahun berikutnya dapat hadiah BMKN.

Seolah-olah sesudah selusai tulis “Bunga Rumah Makan” bertanya Sontani pada dirinya:”Bagaimana kalau Ani orang yang cacat , apakah Iskandar tetap akan mencintainya? Lain persoalan ini mau dicobanya  pecahkan dalam Awal dan Mira.

Seperti juga Ani, Mira adalah wanita cantik yang menjaga warung ibunya.

 Peran Iskandar dilakukan oleh Awal terhadap Mira , hanya Awal dalam menyatakan cintanya lebih positif dari Iskandar.

Pada akhir cerita apabila Mira menyerah, ternyata badannya cacat, kedua kakinya buntung.

Dan awal tak dapat mengatasi kekecewaannya.

Sifat Awal tak beda dengan Iskandar , juga  seorang yang tidak indahkan norma-norma tradisi dan senantiasa hanya mencari apa yang disebutnya manusia merdeka.

Kedongkolan Awal terhadap sekitarnya ialah karena kepura-puraan dan kepalsuan, orang bicara sekedar bicara tanpa ada akarnya.

Dilihatnya manusia sekitarnya sebagai budak belaka yang kerjanya omong kosong.

Seperti juga Iskandar ia benci pada kata-kata besar seperti “Berjuang untuk masyarakat,Bangsa dan Tanah Air” , yang pada hakekatnya untuk menutupi maksud-maksud picik dan keji.

Bagi awal dan Mira adalh kawan Hidup yang ideal, karena dunianya tidak sempit:” Kaulah ujud wanita Utama”(halaman 45).

Mira dalam pandnagan hidupnya Nampak terpengaruh oleh Awal dan pendapatnya tentang manusia sesuai dengan Awal.

Ini satu perbedaan pula dengan Ani yang mula-mula nampaknya merupakan antipode bagi Iskandar , tapi kemudian tiba-tiba memeluk pendapat dunianya bulat-bulat,

Mira sejak semula ada perhatian terhadap Awal, yhanya cacatnya yang tersembunyi juga y7ang menahan-nahan pernyataan perhatiannya lebih terbuka.

Atas desakan-desakan Awal ,cukuplah dia berkata :”Mas, pintu hati hanya dapat dibuka oleh hati,dan hati sayah sudah terbuka”(hal 32)

Mira adalah penyambung lidah Awal(dan Iskandar) apabila ia berkata pada ibunya:” Tak ada yang beres manusia yang dating disini ini. Kalau tidak menghina, maunya mengasih kursus. Semuanya bukan lagi manusia”(halaman 38)

Dan  mengenai Koran-koran ia bilang:” saya lihat Koran-koran dan majalah di zaman sekarang lebih mementingkan potret-potret orang resmi daripada  misalnya potret seorang rakyat biasa yang cacat badanya oleh kecelakaan , lebih mementingkan potret pembesar-pembesar , opsir, pemimpin-pemimpin  politik yang diinterpiu”

Yang disambut oleh Pemuda Awal :”Lebih mementingkan orang ngomong, sekalipun omongan mereka asal saja mengisi halaman Koran”(halaman 41)

Bahkan Mira pada akhirnya nampaknya lebih ekstrim lagi pemikirannya apabila ia mengeritik sikap awal terhadapnya dan berkata:” Kau mencela jiwa orang lain, tapi kau sendiri merangkak-rangkak dibaewah kaki mereka . Kau bodoh besar. Akibat peperangan kau sudah kehilangan pegangan, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Padahal dizaman setelah peperangan sekarang bagi kita tidak ada yang mesti dipercaya selain dari diri sendiri”(hal 47).

Dan kesimpulan ini rupanya jadi kesimpulan akhir apabila pada penutup cerita Awal terpukul dalam kepercayaannya,karena menerima kenyataan bahwa Mira bukan orang yang secara fisik dapat memberinya kepuasan.

BAGAIMANA SETELAH MEMBACA BEDAH BUKU H.B. JASSIN INI, PANTASKAH KISAH AWAL DAN MIRA INI DIBERIKAN HADIAH DAN PENGHARGAAN??

DAN PANTASKAH KISAH INI DILARANG BEREDAR??

TERSERAH KEPADA PEMBACA MENILAINYA,

BUAT SAYA

Mira sebagai seorang pelayan terlalu pintar untuk memiliki pendapat seperti itu!!!!!!!

Demikian akhir setelah hamper dua minggu setiap sore dengan mencicil bedh buku ini dapat diselesaikan,walaupun dengan susah payah akibat tulisan dalam buku BUDAYa sangat kecil sekali sehingga tyerpaksa mempergunakan kacamata plus 3 ½ masih susah juga, tepai karena sangat ingin mengetahui kelebih dan keurang pengarang legendary utuy tatanG Sontani serta teknik bedah buku oleh penulis legendaries juga H.B.Jassin saya telah berusaha mati-matian ,hikmah yang saya dapat adalah menulis bukanlah suatu hal yang mudah,harus bnayak belajar dengan membaca karangan pengaarng ternama serta juga membaca bedah buku yang sangat bagus dengan kritik yang membangun. Saya telah memperoleh lebih banyak pengalaman yang dapat dipergunakan untuk tulisan saya mendatang, dan bagaiman dengan anda harap beri komentar.

Jangan lupa hormatilah hak cipta saya.

(Catatan dr Iwan)

 

THE END @ COPYRIGHT 2012

 

 

THE END @ COPYRIGHT 2012

THE INDONESIAN LEGEND WRITER HISTORY COLLECTION PART G GERSON POYK

 

THIS IS THE SAMPLE OF INDONESIAN LEGEND WRITTERS HISTORY COLLECTIONS,THE COMPLETE CD EXIST WITH FULL ILLUSTRATIONS BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER. LOOK THE PART N OF NASJAH DJAMIN

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The Indonesian legend Writer history Collections

Part G

 

 

GERSON POYK

Koleksi Sejarah Penulis legendaris  Indonesia

Bab G

GERSON POYK

 

 Based on

Dr Iwan Rare Old  and Vintage Books Collections             

 Created By

               

     Dr Iwan Suwandy,MHA

    Limited Private Publication In CD-ROM

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2012

INTRODUCTIONS

I have just find  a vintage  book created by the Indonesia Legend Writer Gerson Poyk “Nostalgia Nusatenggara “(1976)

.

He Created many books which famous one .

Hari-hari Pertama (1968),

Sang Guru (1971),

Matias Ankari (1975),

Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975),

Nostalgia Nusatenggara (1976),

Jerat (1978),

Cumbuan Sabana (1979),

Seutas Benang Cinta (1982),

Giring-giring (1982),

Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983),

Anak Karang (1985),

 

Doa Perkabungan (1987),

Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988),

Poti Wolo (1988)

MEREDAM DENDAM(2009)

Meredam Dendam

Meredam Dendam 4.0 of 5 stars
Paperback, 293 pages
Published June 1st 2009 by Kakilangit Kencana
 

keliling indonesia

This was the part of the amizing and rare e-book about indonesian legend writers, I hope this informations will add the informations of Indonesian legend writers

 Jakarta May 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

READ MORE INFO RELATED TO

Gerson Poyk

 

 dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote (Timur), Nusa Tenggara Timur pad tanggal 16 Juni 1931.

 Pendidikan terakhirnya SGA Kristen Surabaya, tamat 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima,Sumbawa(1958). Terakhir menjadi Wartawan Sinar Harapan (1962-1970).

 

Antara tahun 1970-1971, ia mendapat beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Sempat mengikuti seminar sastra diIndiadi tahun 1982.

 

Cerpennya, Mutiara di Tengah Sawah”mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra tahun 1961. Sedangkan cerpennya yang lain, Oleng-Kemoleng, mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk cerpen yang dimuat di majalah itu tahun 1968.

 

Karyanya yang berupa novel antara lain Hari-Hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982). Karya kumpulan cerpennya adalah Matias Akankari (1975), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requim untuk seorang perempuan (1981), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988) dan Poli Woli (1988).

 

Angkatan pertama penerima International Writing Program di University of Iowa ini, pada tahun 1985 dan 1986 menerima Hadiah Adinegoro. Pernah menerima Hadiah Sastra ASEAN pada tahun 1989.

 

The nostalgia Of Indonesia East Archiphelago(Nusatengara ),Gerson Pyok,Nusa Indah Public.Inc-Arnoldus Prtinting ,Ende<flores ,1973.Cover painting by painters G.M.Sufarta (illus.for premium members or limited e-book);

Some interesting in that book :

His heart shouting :”Amboi (natif Oh Oh ) at the border of river which snelling , i have ever tired sleeping under the open air at the wooden Fire fpr coocking food and watur on the ex butter kaleng .

In the night My Buffalo tire broken. Tha Made in middle night i was swimming between water , grass   and pimping without take head spin to Crocodile and smake” The man ownself nostalgia and looking the scene from the high gemawan.

(Hatinya berteriak : “Amboi di tepi sungai berliku itu, aku pernah tideur kecapekan di bawah langit terbuka di tepi api unggun untuk memasak makanan dan air dengan bekas kaleng mentega.

 Di tengah malam tali kerbauku putus. Akibatnya dimalambuta aku berenang membelah air dan rumput lalangtanpa ambil pusing pada buaya dan ular” Laki-laki itu ngeri sendiri mengenang dan memandang alam dari ketinggian gemawan)

THE COMPLETE STORY AND ILLUSTRATIONS EXIST BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER,PLEASE SUBSCRIBE VIA COMMMENT,THANKS YOU VERY MUCH

THE END @ COPYRIGHT 2012

The Indonesian Legend Writer History collections part N Nasjah Djamin

THIS IS THE SAMPLE OF INDONESIAN LEGEND WRITTERS HISTORY COLLECTIONS,THE COMPLETE CD EXIST WITH FULL ILLUSTRATIONS BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER. LOOK THE PART N OF NASJAH DJAMIN

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The Indonesian legend Writer history Collections

Part N

NASJAH DJAMIN

Koleksi Sejarah Penulis legendaris  Indonesia

Bab N

 NASJAH DJAMIN

 Based on

Dr Iwan Rare Old  and Vintage Books Collections             

 Created By

               

     Dr Iwan Suwandy,MHA

    Limited Private Publication In CD-ROM

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2012

INTRODUCTIONS

I have just find  a vintage magazine  Budaya 23,Year IX,Pebruary March 1960 ,in this rare magazine I find an informations of  Indonesia Legend Writer

 

 

  NASJAH DJAMIN ‘s Drama”Black Spots” or “Titik Titik hitam”

written by  B.SRI OEMARJATI

Nasjah Djamin who have artistic talent. Djamin Nasjah artistic talent that appears first is the talent to paint.

He Created many books which famous one .Hang Tuah,Titik Titik Hitam(black spots) angd poem Refugee etc

This was the part of the amizing and rare e-book about indonesian legend writers, I hope this informations will add the informations of Indonesian legend writers

 Jakarta May 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

READ MORE INFO RELATED TO NAJAH DJAMIN

Nasjah Djamin was born on September 24, 1924 in Perbaungan, North Sumatra. He was the seventh of eight children. Nasjah Noeralamsyah Djamin have real names.

Both his parents came from Minangkabau, Padang. His father and his mother named Haji Djamin named Siti Here. Parents do not have blood Nasjah Djamin art. Among the brothers Nasjah Djamin, Nasjah Djamin who have artistic talent. Djamin Nasjah artistic talent that appears first is the talent to paint.

Parents Nasjah Djamin is low employee. However, it did not make Nasjah Djamin to remain silent. He successfully completed his school (Hollandas inlandse School). He also managed to attend school junior in 1941.

After coming out of junior, Nasjah Djamin decided to work. He started working as porters at the airport Polonia rough, Medan.

With the provision of intelligence to paint, then worked in the office Nasjah Djamin Bukaka, Japanese propaganda office. In addition to work, where it works, Nasjah Djamin also learn to paint.

 
In 1947

 Nasjah Djamin in Jakarta join the artists at Jalan Garuda, led by Mr. Said. The painter who attended the Basuki Rosobowo Affandi and, while the present writer is Anwar, HB Jassin, Rivai Apin, and Sitor Situmorang. In that place, then Nasjah Djamin acquainted with the writers and became interested in writing.

In 1949

 Nasjah Djamin worked as an illustrator in Hall Book. In the office Nasjah antarpengarang Djamin often hear discussions, such as K. and Anwar. Circumstances that make Nasjah interested in the literary.

This was evidenced by the creation of posts during his work at the Central Library, as his poem “Refugee”. H.B. Jassin load it into the poem echoes the country.

 Another work that is created is a picture story for children, the Hang Tuah (1952) and Si Pai Bengal (1952), and has been published by the Central Library.

After stopping work at the Central Library, Nasjah Djamin back to Yogyakarta.

 In 1952

worked as a clerk Nasjah Djamin lower in Arts Section, Bureau of Culture, Ministry of Education and Culture, New York.

 He worked in the fine arts. In addition, he also became a member of the editor of the magazine Culture (1953). The work he wrote while working at the magazine, among others, “Black Spots” (1956), “a bit of singing Sunda” (1957), and “Bridge Gondolayu” (1957). Three of the drama. The title of the play “a bit of Sunda Song” won second prize writing contest held by the drama of Education and Culture Ministry in 1956.

In 1953

Nasjah Djamin together with Kirjomulyo founded Theatre Indonesia.

 In 1961-1964,

 the cost of the office where he works, Nasjah Djamin sent to Japan to deepen the stage decor, decorating TV, manufacture TV story, and performances.

WORKS:
Nasjah Djamin started writing novels in 1950. The resulting first novel is Gone The Prodigal Son. This work has been translated by Farida Soemargono Labrousse into French under the title Le Depart de L ‘Enfant Proddigue (1979).

Place of writing in addition to the magazine Culture, Nasjah do it in magazines and newspapers Sunday Morning People’s Sovereignty.

 One of his novels Passion for Life and for Death which is serialized in a magazine 1-24 numbers Sunday morning in 1967 succeeded in obtaining Arts Award from the Government of the Republic of Indonesia in 1970.

Another boon received Nasjah derived from the work of the Foundation Main Book Parangtritis Waves (1983) which declared the best teenage fiction books of 1983 and the Jakarta Arts Council literary prize for his novel, Mount Hope (1984).

Works:

a. Novel

A. The Children Gone Missing (1963)
2. Strands-Strands Sakura Fall (1965)
3. Passion for Life and to Death (1968)
4. Kuala Lumpur Night (1968)


5. Found a Way (1979)
6. And Twilight was Down (1981)
7. Parangtritis Waves (1983)
8. Top Tresna Tresna (1983)
9. Mount of Hope (1984)


10. Three Cigarette Butt (1985)
11. Waves and Sand (1988)

b. A collection of Short Stories

A. Singing a bit of Sunda (1962)
2. A Marriage (1974)
3. Sudirman Feet Under (1986)

c. Novella

A. “In a Cabin” (in the Sarinah magazine, 1987)
2. Anwar biography titled Final Days of The Poet (1982)
3. Affandi in his biography of painter Affandi (1977)

d. Poetry

A. “Weight” (the artist magazine, 1947)
2. “Flowers” and “Refugee” (the artist magazine, 1948)
3. “Yati Small” (the magazine Culture, 1954)

E,PAINTING

1. WORKING POWER

 

2.TO GET THE DREAM

 

3.PANEN

 

4.RICE FIELD

 5.RICE FIELD

 6.LANDSCAPE

 7.SHADOW

 AUTHOR Nasjah Djamin

 

Born in Perbaungan, North Sumatra, December 24, 1924. Seventh child of eight children. Both his parents came from Minangkabau, Padang, West Sumatra. His father and his mother named Haji Djamin named Siti Here. His father worked as a paramedic opium and salt in the Deli. He and his parents lived on the plantation in Deli. In Among his brothers, only the he which have the talent of art. His artistic talent was first grown is painting. He loved to paint the scenery around the farm as well as carts and coachman.

 

Although his parents worked as an employee only low, however, it did not make it to silence. He successfully completed his school (HollandasInlandseSchool). He also managed to attend school junior in 1941, but did not graduate. After coming out of junior, he decided to work. Initially working as porters at the airport roughly Polonia, Medan. With the provision of intelligence to paint, he then worked in the office Bukaka, a Japanese propaganda office.

 

One of the founders of Fine Arts in Field Force (1945) is then joined the studio senimanIndonesia mudaYogyakarta (under the care of S. Sudjojono, Afandi and Soedarso, 1947-1948). Through his acquaintance with the literary artist who often gathered together the painters in the way of Garuda, he finally gradually became interested in writing activities.

 

Year 1949 worked in Balai Pustaka as a illustrator. In Balai Pustaka he often heard the discussions inter-the author, such as the Idrus and Chairil Anwar. Circumstances that make Nasjah increasingly attracted him to literature. Thing it then demonstrated by the writings that that creates during he worked in Balai Pustaka, such as, his poems who titled Refugees. Other works who were created is the story pictorial for children-children, Hang Tuah (1952) and Si Pai Bengal (1952), which then published by the Balai Pustaka.

 

After stopping work at the Central Library, iakembali to Yogyakarta. In 1952, he worked as a an employee on Section Artistry, Bureau of Culture, the Department of Education and of Culture, Yogyakarta, worked in part fine arts. In addition, he also became editor of the magazine Culture (1955-1962). In these places the more active he writes. The work he wrote while working at the magazine, among others, Black Spots (1956), a bit of singing Sunda (1957), and Bridge Gondolayu (1957). Three of the drama. In addition to writing in the magazine Culture, he also wrote in the magazine Sunday morning news dansurat Sovereignty of the People.

 

Began writing novels in 1950. The resulting first novel is Gone The Prodigal Son. The work was later translated by Farida Soemargono Labrousse into French under the title Le Depart de L’Enfant Proddigue (1979). Another novel he has written are the strands of Sakura Fall (1964), Kuala Lumpur Night (1968), The Found Road (1981), and even Dusk Snow (1982), Top Tresna Tresna (1983), Three Cigarette Butt (1985 ), as well as Waves and Sand (1988).

 

The work of his short stories collected in three short-story collection, which is a bit Nynyian Sunda (1962), Under the Feet Sudirman (1967) and A Marriage (1974). While the work of poetry ever on terbitkannya include Weight (in Artist magazine, 1947), Interest and Refugees (the artist magazine, 1948), and Small Yati (in the Culture magazine, 1954).

 

On its active role in world literature, the founder of Theatre Indonesia was recorded won several awards, among others, his work a bit of drama title song Sunda (1958), won the third place play writing contest The Arts Department of P & K 1958 and also obtained the National Literature Prize 1957 BMKN / 1958. His novel Passion for Life and for Death of a disjunction in the magazine Sunday Morning 1-24 numbers in 1967 succeeded in obtaining Arts Award from the Government of the Republic of Indonesia in 1970. His novel, Mount Hope, Roman Writing Competition prize DKJ 1980. Another novel, Waves Parangtritis (1983) Main Book Foundation prize at the Department of P & K as the best teen fiction books in 1983.

 

Writer who ever deepen knowledge regarding the art and setting for the stage film and television in Tokyo, Japan, on year 1960-1963 this, writes is an encouragement inner. He never argues, creating though it is a necessity for a creation that is stored in a closet. The works he wrote a valuable contribution to the development of Indonesian literature. After marrying in 1967, Nasjah Djamin residence in Yogyakarta with his wife, Umm Naftiah and their children. Nasjah Djamin died in Yogyakarta on September 4, 1997, at the age of 73 years. His body was buried in Mount Saptorenggo, Imogiri, Yogyakarta.

 
 
 

original info

Nasjah Djamin dilahirkan pada tanggal 24 September 1924 di Perbaungan, Sumatra Utara. Ia anak ketujuh dari delapan bersaudara. Nasjah Djamin mempunyai nama asli Noeralamsyah. Kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau, Padang. Ayahnya bernama Haji Djamin dan ibunya bernama Siti Sini. Orang tua Nasjah Djamin tidak mempunyai darah seni. Di antara saudara-saudara Nasjah Djamin, Nasjah Djamin saja yang mempunyai bakat seni. Bakat seni Nasjah Djamin yang muncul lebih dahulu adalah bakat melukis.

Orang tua Nasjah Djamin adalah pegawai rendah. Namun, hal itu tidak menjadikan Nasjah Djamin untuk berdiam diri. Ia berhasil menamatkan sekolah HIS (Hollandas Inlandse School). Ia juga berhasil melanjutkan sekolah Mulo tahun 1941. Setelah keluar dari Mulo, Nasjah Djamin memutuskan bekerja. Ia mengawali bekerja sebagai kuli kasar di lapangan terbang Pulonia, Medan. Dengan bekal kepandaian melukis, kemudian Nasjah Djamin bekerja di kantor Bukaka, kantor propaganda Jepang. Selain bekerja, di tempat bekerjanya itu, Nasjah Djamin juga belajar melukis.

 

Pada tahun 1947 Nasjah Djamin di Jakarta bergabung dengan para seniman di Jalan Garuda yang dipimpin oleh Pak Said. Kalangan pelukis yang hadir adalah Affandi dan Basuki Rosobowo, sedangkan kalangan sastrawan yang hadir adalah Chairil Anwar, H.B. Jassin, Rivai Apin, dan Sitor Situmorang. Di tempat itu, kemudian Nasjah Djamin berkenalan dengan para sastrawan dan mulai tertarik dalam tulis-menulis.

Pada tahun 1949 Nasjah Djamin bekerja di Balai Pustaka sebagai ilustrator. Di kantor itu Nasjah Djamin sering mendengar diskusi antarpengarang, seperti Idrus dan Chairil Anwar. Keadaan itu membuat Nasjah tertarik pada kesastraan. Hal itu dibuktikan dengan tulisan yang diciptakannya selama ia bekerja di Balai Pustaka, seperti puisinya yang berjudul “Pengungsi”. H.B. Jassin memuat puisi itu ke dalam Gema Tanah Air. Karya lain yang diciptakan adalah cerita bergambar bagi anak-anak, yaitu Hang Tuah (1952) dan Si Pai Bengal (1952), dan telah diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Setelah berhenti bekerja di Balai Pustaka, Nasjah Djamin kembali ke Yogyakarta. Pada tahun 1952 Nasjah Djamin bekerja sebagai pegawai rendah pada Bagian Kesenian, Jawatan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Ia bekerja di bagian seni rupa. Di samping itu, ia juga menjadi anggota redaksi majalah Budaya (1953). Karya yang ditulisnya selama bekerja di majalah itu, antara lain, “Titik-Titik Hitam” (1956), “Sekelumit Nyanyian Sunda” (1957), dan “Jembatan Gondolayu” (1957). Ketiganya merupakan drama. Judul drama “Sekelumit Nyanyian Sunda:” memenangkan juara kedua sayembara menulis drama yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1956. Pada tahun 1953 Nasjah Djamin bersama-sama dengan Kirjomulyo mendirikan Teater Indonesia. Pada tahun 1961—1964, atas biaya kantor tempat ia bekerja, Nasjah Djamin dikirim ke Jepang untuk memperdalam dekorasi panggung, dekorasi TV, pemroduksian TV cerita, dan pertunjukan.

KARYA:

Nasjah Djamin memulai menulis novel tahun 1950. Novel yang dihasilkan pertama adalah Hilanglah Si Anak Hilang. Karya itu telah diterjemahkan oleh Farida Soemargono Labrousse ke dalam bahasa Prancis dengan judul Le Depart de L”Enfant Proddigue (1979).
Tempat kegiatan menulis selain di majalah Budaya, Nasjah melakukannya di majalah Minggu Pagi dan surat kabar Kedaulatan Rakyat. Salah satu novelnya Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung dalam majalah Minggu Pagi nomor 1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970.
Anugerah lain yang diterima Nasjah berasal dari Yayasan Buku Utama atas karya Ombak Parangtritis (1983) yang dinyatakan sebagai buku fiksi remaja terbaik tahun 1983 dan dari Dewan Kesenian Jakarta mendapatkan hadiah sastra atas novelnya Bukit Harapan (1984).

Karya:

a. Novel

1. Hilanglah Si Anak Hilang (1963)
2. Helai-Helai Sakura Gugur (1965)
3. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
4. Malam Kuala Lumpur (1968)
5. Yang Ketemu Jalan (1979)
6. Dan Senja pun Turun (1981)
7. Ombak Parangtritis (1983)
8. Tresna Atas Tresna (1983)
9. Bukit Harapan (1984)
10. Tiga Puntung Rokok (1985)
11. Ombak dan Pasir (1988)

b. Kumpulan Cerita Pendek

1. Sekelumit Nyanyian Sunda (1962)
2. Sebuah Perkawinan (1974)
3. Di Bawah Kaki Pak Dirman (1986)

c. Novelet

1. “Di Sebuah Pondokan” (dalam majalah Sarinah, 1987)
2. Biografi Chairil Anwar yang berjudul Hari-Hari Akhir Si Penyair (1982)
3. Biografi Affandi dalam bukunya Affandi Pelukis (1977)

d. Puisi

1. “Berat” (dalam majalah Seniman, 1947)
2. “Bunga” dan “Pengungsi” (dalam majalah Seniman, 1948)
3. “Yati Kecil” (dalam majalah Budaya, 1954)

e.Lukisan

1.semangat kerja

 

2.MENGAPAI MIMPI

 

3.PANEN

 

4.SAWAH

 5.MENANAM PADI

 6.PEMANDANGAN

 7.BAYANGAN

 

PENULIS NASJAH DJAMIN

 

Dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924. Anak ketujuh dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Haji Djamin dan ibunya bernama Siti Sini. Ayahnya bekerja sebagai mantri candu dan garam di Deli. Ia dan kedua orang tuanya tinggal di daerah perkebunan di daerah Deli. Di antara saudara-saudaranya, hanya ia yang mempunyai bakat seni. Bakat seninya yang pertama kali tumbuh adalah melukis. Ia senang sekali melukis pemandangan sekitar perkebunan serta pedati dan kusirnya.

 

Meski orang tuanya hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, namun, hal itu tidak menjadikannya untuk berdiam diri. Ia berhasil menamatkan sekolah HIS (HollandasInlandseSchool). Ia juga berhasil melanjutkan sekolah Mulo tahun 1941, meski tidak sampai tamat. Setelah keluar dari Mulo, ia memutuskan untuk bekerja. Awalnya bekerja sebagai kuli kasar di lapangan terbang Polonia,Medan. Dengan bekal kepandaian melukis, ia kemudian bekerja di kantor Bukaka, sebuah kantor propaganda Jepang.

 

Salah satu pendiri Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) ini kemudian bergabung dengan Sanggar senimanIndonesia mudaYogyakarta (dibawah asuhan S. Sudjojono, Afandi dan Soedarso, 1947-1948). Lewat perkenalannya dengan para seniman sastra yang kerap kumpul bersama para pelukis di jalan Garuda, ia akhirnya sedikit demi sedikit mulai tertarik dalam kegiatan tulis menulis.

 

Tahun 1949 bekerja di Balai Pustaka sebagai illustrator. Di Balai Pustaka ia sering mendengar diskusi antar-pengarang, seperti Idrus dan Chairil Anwar. Keadaan itu membuat Nasjah semakin membuatnya tertarik pada kesusastraan. Hal itu kemudian dibuktikannya dengan tulisan-tulisan yang diciptakannya selama ia bekerja di Balai Pustaka, seperti, puisinya yang berjudul Pengungsi. Karya lain yang diciptakan adalah cerita bergambar bagi anak-anak, Hang Tuah (1952) dan Si Pai Bengal (1952), yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka.

 

Setelah berhenti bekerja di Balai Pustaka, iakembali ke Yogyakarta. Pada tahun 1952, ia bekerja sebagai pegawai pada Bagian Kesenian, Jawatan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, bekerja di bagian seni rupa. Di samping itu, ia juga menjadi redaktur majalah Budaya (1955-1962). Di tempat tersebut ia semakin aktif menulis. Karya yang ditulisnya selama bekerja di majalah itu, antara lain, Titik-Titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1957), dan Jembatan Gondolayu (1957). Ketiganya merupakan drama. Selain menulis di majalah Budaya, ia juga menulis di di majalah Minggu Pagi dansurat kabar Kedaulatan Rakyat.

 

Mulai menulis novel pada tahun 1950. Novel pertama yang dihasilkannya adalah Hilanglah Si Anak Hilang. Karya itu kemudian diterjemahkan oleh Farida Soemargono Labrousse ke dalam bahasa Prancis dengan judul Le Depart de L’Enfant Proddigue (1979). Karya novel lain yang telah ditulisnya adalah Helai-Helai Sakura Gugur (1964), Malam Kuala Lumpur (1968), Yang Ketemu Jalan (1981), Dan Senja pun Turun (1982), Tresna Atas Tresna (1983), Tiga Puntung Rokok (1985), serta Ombak dan Pasir (1988).

 

Karya cerita pendeknya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Sekelumit Nynyian Sunda (1962), Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967) dan Sebuah Perkawinan (1974). Sedangkan karya puisinya yang pernah di terbitkannya antara lain Berat (dalam majalah Seniman, 1947), Bunga dan Pengungsi (dalam majalah Seniman, 1948), serta Yati Kecil (dalam majalah Budaya, 1954).

 

Atas peran aktifnya di dunia sastra, pendiri Teater Indonesia ini tercatat meraih beberapa penghargaan antara lain karyanya berupa judul drama Sekelumit Nyanyian Sunda (1958), memenangkan juara ketiga sayembara menulis drama Bagian Kesenian Departemen P & K 1958 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957 / 1958. Novelnya Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung dalam majalah Minggu Pagi nomor 1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970. Novelnya, Bukit Harapan, meraih hadiah Sayembara Penulisan Roman DKJ 1980. Novelnya yang lain, Ombak Parangtritis (1983) meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K sebagai buku fiksi remaja terbaik tahun 1983.

 

Penulis yang pernah memperdalam pengetahuan mengenai art dan setting untuk pentas film dan televisi di Tokyo, Jepang, pada tahun 1960-1963 ini, menulis merupakan dorongan batin. Ia pernah berpendapat, mencipta itu merupakan keharusan meskipun untuk sementara ciptaannya itu disimpan dalam lemari. Karya-karya yang ditulisnya merupakan sumbangan yang berharga bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Setelah menikah pada tahun 1967, Nasjah Djamin tinggal menetap di Yogyakarta bersama istrinya, Umi Naftiah dan anak-anaknya. Nasjah Djamin wafat di Yogyakarta pada 4 September 1997, dalam usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Saptorenggo, Imogiri,Yogyakarta.

SEBUAH CATATAN DARI ARENA”TITIK TITIK HITAM” NASJAH DJAMIN

OLEH

B.SRI OEMARJATI

(BUDAYA 23,TAHUN  KE IX,PEBRUARI-MARET 1960,KOLEKSI Driwan)

the complete CD exist,but only for premium member,please subscribe via comment to find the comple e-book in CD ROM The Indonesian Legend Writer History part A to Z,thank you

the end @ copyright 2012

THE INDONESIAN LEGEND WRITER HISTORY COLLECTIONS

THIS IS THE SAMPLE OF INDONESIAN LEGEND WRITTERS HISTORY COLLECTIONS,THE COMPLETE CD EXIST WITH FULL ILLUSTRATIONS BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER.

 LOOK THE LIST OF INDONESIAN LEGEND WRITERS 

 

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The Legend of Indonesian Writer history Collections

THE LIST OF CONTENT 

 UTUY TATANG SONTANI

Koleksi Sejarah Penulis legendaris  Indonesia

DAFTAR ISI

Based on

Dr Iwan Rare Old  and Vintage Books Collections             

             Created By

               

     Dr Iwan Suwandy,MHA

    Limited Private Publication In CD-ROM

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2012

 LIST OF CONTENT

A. Navis

 dilahirkan Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. “Robohnya Surau Kami” dan sejumlah cerita pendek lain penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K pada 1988 ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dan Malaysia. Cerpen pemenang hadiah kedua majalah Kisah di tahun 1955 itu diterbitkan pula dalam kumpulan Robohnya Surau Kami (1956). Karyanya yang lain: Bianglala (1963), Hujan Panas (1964; Hujan Panas dan Kabut Musim, 1990), Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970; novel ini memperoleh penghargaan Sayembara Mengarang UNESCO/IKAPI 1968), Dermaga dengan Empat Sekoci (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Jodoh (1998).

Abdul Hadi WM

dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Antara 1967-83 pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Budaya Jaya, Berita Buana, dan penerbit Balai Pustaka. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976; meraih hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1976-77), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983; mengantarnya menerima penghargaan SEA Write Award 1985). Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry Aveling dan disertakan dalam antologi Arjuna in Meditation (1976). Karya-karya terjemahannya: Faus (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur (1985; Mohammad Iqbal), Iqbal: Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (1986; bersama Djohan Effendi), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber diluncurkan pada 1999, dua puluh tahun setelah ia menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Abdul Muis

 dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, 1886, dan meninggal di Bandung, 17 Juli 1959. Menulis novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), Robert Anak Surapati (1953), dan menerjemahkan antara lain: Don Quixote de la Mancha (1928; Carventes), Tom Sawyer Anak Amerika (1928; Mark Twain); Sebatang Kara (1932; Hector Malot), Tanah Airku (1950; C. Swann Koopman).

Abrar Yusra

dilahirkan di Agam, Sumatera Barat, 26 Maret 1943. Karya-karya mantan redaktur pelaksana harian Singgalang yang kini banyak menulis buku biografi ini, antara lain: Ke Rumah-rumah Kekasih (1975), Siul (1975), Aku Menyusuri Sungai Waktu (1976), Amir Hamzah 1911-1946 sebagai Manusia dan Penyair (1996).

Acep Zamzam Noor

(lahir di Kuningan, Jawa Barat, 28 Februari 1960; umur 49 tahun) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Karier
3. Karya
4. Penghargaan
5. Pranala luar

1. Keluarga
Acep adalah putra tertua dari K. H. Ilyas Ruhiat, seorang ulama kharismatis dari Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

AZ Noor
2. Karier
Acep menghabiskan masa kecil dan remajanya di lingkungan pesantren, melanjutkan pendidikan pada Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, lalu Universitá Italiana per Stranieri, Perugia, Italia. Kini, tinggal di Desa Cipasung, Tasikmalaya.
3. Karya
• Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982)
• Aku Kini Doa (kumpulan sajak, 1986)
• Kasidah Sunyi (kumpulan sajak, 1989)
• The Poets Chant (antologi, 1995)
• Aseano (antologi, 1995)
• A Bonsai’s Morning (antologi, 1996)
• Di Luar Kata (kumpulan sajak, 1996)
• Dari Kota Hujan (kumpulan sajak, 1996)
• Di Atas Umbria (kumpulan sajak, 1999)
• Dongeng dari Negeri Sembako (kumpulan puisi, 2001)
• Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004)
• Menjadi Penyair Lagi (antologi, 2007)
4. Penghargaan
• Penghargaan Penulisan Karya Sastra Depdiknas (2000)
• South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005)
• Khatulistiwa Literary Award (2007)
5. Pranala luar
• (id) Biografi Acep Zamzam Noor di tamanismailmarzuki.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1960, Sastrawan Indonesia, Seniman Indonesia
Bahasa lain: Basa Sunda

Achdiat K. Mihardja

dilahirkan di Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911. Sebelum menjadi dosen Universitas Nasional Australia dari 1961 hingga pensiun, ia pernah bekerja sebagai guru Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dan dosen Fakultas Sastra Indonesia. Karyanya antara lain: Polemik Kebudayaan (1948; [ed].), drama Bentrokan dalam Asmara (1952), Pak Dullah in Extremis (1977), dan novel Debu Cinta Bertebaran (1973) serta Atheis (1949). Yang terakhir ini adalah karyanya yang paling terkenal dan memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada 1969. Tiga tahun kemudian novel tersebut diterjemahkan R.J. Maguire ke dalam bahasa Inggris.

Ahmad Tohari

dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Keluarga dan Amanah. Karya-karyanya: Kubah (1980; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986; meraih hadiah Yayasan Buku Utama 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986; pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Kiai Sadrun Gugat (1995), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000).
Novelis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing ini adalah salah seorang alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pada 1985 dianugerahi SEA Write Award.

Ajip Rosidi

dilahirkan di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Karya-karya Profesor Gaidai University of Foreign Studies Jepang ini antara lain: Tahun-tahun Kematian (1955), Pesta (1956; bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan), Di Tengah Keluarga (1956), Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN), Perjalanan Penganten (1958), Surat Cinta Enday Rasidin (1960), Jeram (1970), Jakarta dalam Puisi Indonesia (1972; [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; [ed.]), Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah Swt. (1986; [ed.]), Nama dan Makna (1988), Terkenang Topeng Cirebon (1992), Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995). Bersama Matsuoka Kunio, ia juga menerjemahkan novel-novel Kawabata Yasunari Penari-penari Jepang (1985; Izu no odoriko) dan Daerah Salju (1987; Yukiguni).

Akhudiat

 dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1975. Sejumlah naskah dramanya memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen (1971), Grafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (1974), Jaka Tarub (1974), Bui (1975), Re (1977), Suminten dan Kang Lajim (1982), dan Memo Putih (2000).

Ali Hasjmy

dilahirkan Seulimeum, Aceh, 28 Maret 1914, dan meninggal di Banda Aceh, 18 Januari 1998. Pernah menjabat Gubernur Aceh dan Rektor IAIN Jami`ah Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan novel. Karya-karyanya antara lain: Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap Terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1938), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1948), Dewan Sajak (1940), Dewi Fajar (1940), Jalan Kembali (1964), Tanah Merah (1980).

Amir Hamzah

 dilahirkan di Tanjungpura, Sumatera Utara, 28 Februari 1911 dan meninggal di Kuala Begumit, di provinsi yang sama, 20 Maret 1946, sebagai korban dari suatu “revolusi sosial”. Ia merupakan pendiri majalah Pujangga Baru (1933) bersama-sama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Dua kumpulan puisinya, Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941) tak henti-henti menjadi bahan pembicaraan dan kajian para kritikus sastra di dalam dan luar negeri serta diajarkan di sekolah-sekolah hingga saat ini. Selain itu ia pun melahirkan karya-karya terjemahan: Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), Syirul Asyar (tt.).

Arifin C. Noer

dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941, dan meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Pendiri Teater Kecil ini menulis puisi, drama, dan menyutradarai sejumlah film. Karya-karyanya anatara lain: Nurul Aini (1963), Mega-mega (1967), Kapai-kapai (1967; diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris), Prita Istri Kita, Umang-umang, Selamat Pagi Jajang (1979).

Armijn Pane

dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, dan meninggal di Jakarta, 16 Februari 1970. Antara 1933-55 pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan majalah Indonesia. Novelnya, Belenggu (1940), hingga saat ini dipandang sebagai peretas penulisan novel Indonesia modern. Karya-karyanya yang lain: Jiwa Berjiwa (1939), Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Kisah Antara Manusia (1953), Jinak-jinak Merpati (1953), Gamelan Jiwa (1960), Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 Sekarang (1953). Ia pun menerjemahkan dan menyadur novel dan drama, yaitu: Membangun Hari Kedua (1956; Ilya Ehtenburg) dan Ratna (1943; Hendrik Ibsen).

Asrul Sani

dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).

 

Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958; umur 51 tahun) adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia.
Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ahmadun juga banyak menulis esei sastra.
Sehari-hari kini Ahmadun menjadi wartawan (dengan inisial AYH) dan redaktur sastra Harian Republika dan pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006, tapi mengundurkan diri. Ia juga sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.
Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, tapi mengundurkan diri. Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Dianggap sebagai salah satu sastrawan Indonesia terkemuka saat ini.
Daftar isi:
1. Karya
2. Referensi
3. Pranala luar
1. Karya
Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain, Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001), Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).
Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:
• Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
• Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
• Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
• Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
• Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
• Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
• Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
• Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
• Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
• Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
• The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
• Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
• Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
2. Referensi
• (en) Curriculum Vitae Ahmadun Yosi Herfanda di situs Australia Indonesia Arts Alliance.
• (en) Amirrachman, Alpha Untirta tries to break ‘literature deadlock’. The Jakarta Post, 5 Februari 2006.
• (en) Aveling, Harry, 2001, Secrets Need Words, USA, Ohio University.
• (en) Rampan, Korrie Layun, 2001, Angkatan 2000, Jakarta, PT Gramedia.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, The Warshipping Grass, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
3. Pranala luar
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di Cybersastra.net
• (id) Cerpen Bulan Terkapar di Trotoar karya Ahmadun (2004) di weblog kumpulan cerpen Indonesia.
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di http://www.poetry.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1958, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English

Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.

Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).


Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka.

 Ia wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Pahlawan nasional Indonesia

Abdul Harris Nasution • Abdul Kadir • Abdul Muis • Abdul Rahman Saleh • Achmad Ri’fai • Adam Malik • Adenan Kapau Gani • Ageng Tirtayasa, Sultan • Agus Salim, H • Ahmad Dahlan, Kiai Haji • Ahmad Yani, Jenderal • Amir Hamzah, Tengku • Andi Abdullah Bau Massepe • Andi Djemma • Andi Mappanyukki • Andi Sultan Daeng Radja • Antasari, Pangeran • Arie Frederik Lasut • Sultan Arung Matoa • Ayokrokusumo, Sultan Agung • Bagindo Azizchan • Basuki Rahmat, Jenderal • Cik Di Tiro, Teungku • Cilik Riwut • Cut Nyak Dhien • Cut Nyak Meutia • Dewi Sartika • Diponegoro, Pangeran • Djuanda Kartawidjaja • Douwes Dekker, Setiabudi • Fakhruddin, H • Fatmawati • Ferdinand Lumbantobing • Fisabilillah, Raja Haji • Frans Kaisiepo • Gatot Mangkoepradja • Gatot Subroto, Jenderal • Halim Perdana Kusuma • Hamengku Buwono I, Sri Sultan • Hamengku Buwono IX, Sri Sultan • Harun • Haryono M.T, Letnan Jenderal • Hasan Basry, Brigadir Jenderal • Hasanuddin, Sultan • Hasyim Asyari • Hazairin • Ignatius Slamet Rijadi • Ilyas Yakoub • Imam Bonjol, Tuanku • Iskandar Muda, Sultan • Ida Anak Agung Gde Agung • Ismail Marzuki • Iswahyudi, Marsma • Iwa Kusuma Sumantri, Prof.Dr • Izaak Huru Doko • Jatikusumo, G.P.H • Jelantik, I Gusti Ketut • Karel Satsuit Tubun, AIP • Kartini, R.A • Katamso Darmokusumo, Brigadir Jenderal • Ki Hajar Dewantara • Kiras Bangun (Garamata) • Kusumah Atmaja, Dr.SH • La Madukelleng • Mahmud Badaruddin II, Sultan • Mangkunegoro, K.G.P.A.A • Maria Walanda Maramis • Martadinata R.E, Laksamana Laut • Martha Christina Tiahahu • Marthen Indey • Mas Mansur, Kiai Haji • Maskoen Soemadiredja • Moestopo, Mayjen TNI (Purn.) Prof. dr. • Mohammad Hatta, Drs • Mohammad Husni Thamrin • Mohamad Roem • Mohammad Yamin, Prof, SH • Muhammad Isa Anshary • Muwardi, dr • Nani Wartabone H • Ngurah Rai, I Gusti, Kolonel • Noer Alie • Nuku Muhammad Amiruddin • Nyai Ahmad Dahlan • Nyak Arif, Teuku • Nyi Ageng Serang • Opu Daeng Risadju • Oto Iskandardinata • Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng • Pakubuwono VI, Sri Susuhunan • Panjaitan D.I, Mayor Jenderal • Parada Harahap • Pattimura, Kapitan • Pierre Tandean, Kapten • Pong Tiku • Radin Inten II • Raja Ali Haji • Rasuna Said, HJ Rangkayo • Robert Wolter Monginsidi • Saharjo, Dr. SH • Sam Ratulangi, G.S.S.J, Dr • Samanhudi, Kiai Haji • Slamet Riyadi, Ign. • Silas Papare • Sisingamangaraja XII • Siswondo Parman, Letnan Jenderal • Soekarno • Sudirman, Jenderal • Sugiono, Kolonel • Sugijopranoto, S.J, Msgr • Suharso, Prof. Dr • Suhartinah Suharto • Sukarjo Wiryopranoto • Supeno • Supomo, Prof. Mr. Dr • Suprapto R, Letnan Jenderal • Suprijadi • Suroso R.P • Suryo • Suryopranoto, R.M • Sutan Syahrir • Sutomo, dr • Sutoyo Siswomiharjo, Mayor Jenderal • Syarif Kasim II, Sultan • Syech Yusuf Tajul Khalwati • Tambusai, Tuanku • Tengku Rizal Nurdin • Teuku Muhammad Hasan • Teuku Umar • Thaha Sjaifuddin, Sultan • Tirto Adhi Soerjo, R.M • Tjipto Mangunkusumo, dr. • Tjokroaminoto, Haji Oemar Said • Untung Suropati • Urip Sumohardjo, Letnan Jenderal • Usman • Wage Rudolf Supratman • Wahid Hasyim • Wahidin Sudirohusodo • Wilhelmus Zakaria Johannes

1. Pranala luar
• Biodata singkat sastrawan Indonesia
• Beberapa sajak dari Buah Rindu
Daftar kategori: Kelahiran 1911, Kematian 1946, Pahlawan nasional Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Română

Binhad Nurrohmat
Binhad Nurrohmat (lahir di pedalaman Lampung, 1 Januari 1976) adalah sastrawan Indonesia. Penyair dan eseis ini tumbuh di Yogyakarta dan kini tinggal di Jakarta.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Aktivitas
3. Karya-karya
4. Referensi
5. Pranala luar
1. Pendidikan
Dia pernah menimba pengetahuan di madrasah, pesantren, dan sekolah.
2. Aktivitas
Binhad menulis puisi dan esai di buku harian dan media massa sejak belia. Sajak-sajaknya diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Marshall Clark, pengajar dan peneliti sastra Indonesia dari Universitas Deakin Australia.
Pada musim panas, musim gugur, dan musim dingin 2008 menjadi visiting writer di Semenanjung Korea.
3. Karya-karya
• Kuda Ranjang (kumpulan sajak, 2004)
• Bau Betina (kumpulan sajak, 2007)
• Sastra Perkelaminan (kumpulan esai, 2007)
• Demonstran Sexy (kumpulan sajak, 2008)
• The Bed Horse, Kuda Ranjang (kumpulan sajak dwibahasa Inggris-Indonesia, bahasa Inggris diterjemahkan Marshall Clark, 2008)
4. Referensi
Binhad Nurrohmat. 2007. Sastra Perkelaminan. Lamongan: Pustaka Pujangga.
5. Pranala luar
• (id) 9 Pertanyaan untuk Binhad Nurohmat
• (id) Binhad Nurrohmat: Saya Tak Ingin Terpenjara oleh Apa pun
• (id) Sikap Puisi dalam Dimensi Ruang Publik
Daftar kategori: Kelahiran 1976, Sastrawan Indonesia

 

BM Syamsuddin

dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.

Budi Darma

dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Bur Rasuanto

dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937. Karya-karya salah seorang penanda tangan utama Manifes Kebudayaan dan doktor dalam bidang filsafat ini adalah: Bumi yang Berpeluh (1963), Mereka Akan Bangkit (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin, namun ditolak pengarangnya), Mereka Telah Bangkit (1966), Sang Ayah (1969), Manusia Tanah Air (1969), Tuyet (1978; mendapat hadiah utama Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1978).

BY Tand

dilahirkan di Asahan, Sumatera Utara, 10 Agustus 1942. Karya-karyanya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983), Sketsa (1984; memenangkan Hadiah Utama Hadiah Puisi Putra II Malaysia), Alif Ba Ta (t.t.), Khatulistiwa (1981), Titian Laut I, II, III (1982; terbit di Malaysia), Si Hitam (1990), dan antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan [ed.]).

Chairil Anwar

dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45 dalam puisi itu, mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana ini adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998). Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel, Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York: 1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: the Poet and His Language (Den Haag: 1972).

 

Chairil Anwar
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – wafat di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia

Chairul Harun

 dilahirkan Kayutanam, Sumatera Barat, Agustus 1940, dan meninggal di Padang, 19 Februari 1998. Karya-karyanya antara lain: Monumen Safari (1966) dan Warisan (1979; novel penerima hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1979)

D. Zawawi Imron

 dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).

Damiri Mahmud

dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.

Danarto

 dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).

Darman Moenir

 dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Darmanto Jatman

dilahirkan dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1942. Karya-karyanya antara lain: Sajak-sajak Putih (1968), Ungu (1968; bersama A. Makmur Makka), Bangsat (1974), Sang Darmanto (1975), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karto Iya Bilang Mboten (1981), Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Golf untuk Rakyat (1994), Istri (1997). Sejumlah sajaknya, bersama sejumlah sajak penyair lain seperti Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, diterjemahkan Harry Aveling dan dipublikasikan dalam Arjuna in Meditation (1976).

Djamil Suherman

 dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).

Ediruslan Pe Amanriza

 dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).

Frans Nadjira

dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.

Gerson Poyk

 dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Goenawan Mohamad

Goenawan Moehammad

dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pemimpin redaksi majalah Tempo selama 23 tahun yang juga mantan wartawan harian Kami ini dikenal luas sebagai penyair dan penulis esai yang sangat cerdas.
Karya-karyanya antara lain: Pariksit (1971), Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Interlude (1973), Seks, Sastra, Kita (1980), Catatan Pinggir (1982-91; empat jilid), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998). Salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini, pada 1973 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI, dan delapan tahun kemudian meraih SEA Write Award.

Hamid Jabbar

dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Karya-karya penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka ini antara lain: Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975; bersama Upita Agustine), Wajah Kita (1981), Siapa Mau Jadi Raja, Raja Berak Menangis, Zikrullah. Cerpennya, “Engku Datuk Yth. Di Jakarta” terpilih masuk ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia IV (1986; Satyagraha Hoerip [ed.]). Kumpulan puisinya terakhir: Super Hilang, Segerobak Sajak (1998; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama).

HAMKA

 dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, dan meningal di Jakarta, 24 Juli 1981. Pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, Panji Masyarakat, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Karya-karya peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar (Mesir) ini antara lain: Di Bawah Lindungan Ka`bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1938), Tuan Direktur (1939), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Keadilan Ilahi (1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbunyi (1950), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-52), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961), Cermin Penghidupan (1962), Ayahku (1967), dan sejumlah buku filsafat, etika, dan khotbah.

Hamsad Rangkuti

dilahirkan di Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Sastrawan yang hampir setiap tahun karyanya selalu masuk dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas ini, hingga sekarang menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Karya-karyanya: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Lampu Merah (1988; novel yang memenangkan hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980), Kereta Pagi Jam 5 (1994), dan Sampah Bulan Desember (2000).

Hartoyo Andangjaya

 dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).

HS Djurtatap

dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Juni 1947. Sejak 1974 menjadi redaktur harian Pelita Jakarta. Karya-karyanya dimuat antara lain di Horison. Dua sajaknya dimuat dalam antologi Sajak-sajak Perjuangan dan Tanah Air (1995; Oyon Sofyan [ed.]).

Husni Djamaluddin

 dilahirkan di Mandar, Sulawesi Selatan, 10 November 1934. Karya-karyanya: Puisi Akhir Tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), Sajak-sajak dari Makassar (1974), Bulan Luka Parah (1986), Berenang-renang ke Tepian, dan antologi Puisi ASEAN Buku III (1978).

Ibrahim Sattah

dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, dan meninggal di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).

Idrus

 dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921, dan meninggal di kota yang sama, 18 Mei 1979. Tahun 1965–79, mengajar di Universitas Monash, Australia. Penutur fasih yang pernah menjadi redaktur majalah Kisah dan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor penulisan prosa dalam kesusastraan Indonesia modern. Karya-karya drama, cerita pendek, novel dan terjemahannya adalah: Dokter Bisma (1945); Kejahatan Membalas Dendam (1945), Jibaku Aceh (1945), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Keluarga Surono (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan (1949), Dua Episode Masa Kecil (1952), Dengan Mata Terbuka (1961), Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Puteri Penelope (1973), Kereta Api Baja (1948; Vsevold Ivanov), Acoka (1948; G. Gonggrijp), Keju (1948; Willem Elschot), Perkenalan (1949; Anton Chekov, Luigi Pirandello, Guy de Maupassant, dan Jeroslav Hasek).

Idrus Tintin

dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Ia pernah menjadi guru di SMAN II Pekanbaru dan mengasuh Sanggar Teater Bahana. Tiga kumpulan puisinya: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan dikumpulkan kembali dalam Idrus Tintin: Seniman dari Riau Kumpulan Puisi dan Telaah (1996).

Ike Soepomo

dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu. Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota.

Iwan Simatupang

dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).

J.E. Tatengkeng

dilahirkan di Sangir-Talaud, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907, dan meninggal di Ujungpandang, 6 Maret 1968. Karya masyhur salah seorang pendiri Universitas Hasanuddin dan pernah menjabat Perdana Menteri NTT di tahun 1949 ini adalah Rindu Dendam (1934).

Kirdjomuljo

dilahirkan di Yogyakarta, 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 19 Januari 2000. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan: Romance Perjalanan I (1955), Nona Maryam (1955), Penggali Kapur (1956), Penggali Intan (1957), Dari Lembah Pualam (1967), Di Saat Rambutnya Terurai (1968), Cahaya di Mata Emi (1968), Romansa Perjalanan (1976). Karya-karyanya dapat ditemukan pula dalam Tugu (1986) dan Tonggak 2 (1987), keduanya dieditori Linus Suryadi AG.

Korrie Layun Rampan

dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Pernah bekerja sebagai direktur keuangan merangkap redaktur pelaksana majalah Sarinah. Karya-karyanya tersebar di berbagai antologi, majalah dan surat kabar. Selain menerjemahkan karya-karya sastrawan dunia, ia juga telah menulis sekitar 100 judul buku cerita anak-anak. Karya-karya pentingnya antara lain: Matahari Pingsan di Ubun-ubun (1976), Upacara (1978; novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976), Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985; meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1985), Pembicaraan Puisi Indonesia (6 jilid), Api Awan Asap (1999), Perawan (2000), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2000).

Kuntowijoyo

yogyakarta

dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair.
Karya-karyanya antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995). Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).

Leon Agusta

 dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).

LK Ara

 lahir di Takengon, Aceh, 1937. Karya-karyanya: Angin Laut Tawar (1969), Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1980), Anggrek Berbunga (1982), dan lain-lain. Bersama Taufiq Ismail menyunting Antologi Sastra Aceh, Seulawah (1995).

M. Fudoli Zaini

 dilahirkan di Sumenep, Madura, 8 Juni 1942. Meraih M.A. dan Ph. D. di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Karya-karyanya: Lagu dari Jalanan (1982), Potret Manusia (1983), Kota Kelahiran (1985; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Arafah (1985), Batu-batu Setan (1994). Cerita pendeknya terdapat pula dalam Antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]).

M. Saribi Afn

dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1936. Ia pernah menjadi redaktur majalah Konfrontasi, Gema Islam, Panji Masyarakat, harian Abadi. Sajaknya, “Hari Ini adalah Hari yang Penuh dengan Rahmat dan Ampunan”, meraih hadiah majalah Sastra (1962). Karya-karyanya terkumpul dalam Gema Lembah Cahaya (1962), Manifestasi (1963; [ed.]), dan diangkat pula ke dalam Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]) dan Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Mansur Samin

dilahirkan di Batangtoru, Sumatera Utara, 29 April 1930. Ia banyak menulis drama dan cerita anak-anak. Karya-karyanya: Perlawanan (1966), Kebinasaan Negeri Senja (1968), Tanah Air (1969), Dendang Kabut Senja (1988), Sajak-sajak Putih (1996), Sontanglelo (1996), Srabara (1996). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak, yaitu: Hadiah Alam, Hidup adalah Kerja, Kesukaran Terkalahkan, Percik Air Batang Toru, Warna dan Kasih, dan Urip yang Tabah.

Marah Rusli

dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889, dan meningal di Bandung, 17 Januari 1968. Novelnya yang masyhur, Sitti Nurbaya hingga 1996 telah 22 kali dicetak ulang. Karya-karyanya yang lain: La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), otobiografi Memang Jodoh, dan novel terjemahan Gadis yang Malang (1922; Charles Dickens).

Mochtar Lubis

 Mochtar Lubis

dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Mantan wartawan LKBN Antara ini memimpin harian Indonesia Raya sejak 1951 hingga koran tersebut dilarang terbit pada 1974. Karena tulisan-tulisannya di surat kabar itu pula, selama sepuluh tahun (1956-66) ia ditahan Pemerintah Orde Lama. Sejak 1966, ia memimpin majalah sastra Horison. Ketua Yayasan Indonesia ini adalah penerima Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina (1958), Pena Emas dari World Federation of Editor and Publisher (1967), dan Hadiah Sastra Chairil Anwar (1992) dari Dewan Kesenian Jakarta.
Kumpulan cerita pendek dan novel-novelnya adalah: Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Kuli Kontrak (1982), Bromocorah (1983), Tak Ada Esok (1951), Jalan Tak Ada Ujung (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Tanah Gersang (1966), Senja di Jakarta (1970), Harimau! Harimau! (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1975), Maut dan Cinta (1977). Karya-karya terjemahannya: Tiga Cerita dari Negeri Dolar (1950; John Steinbeck, Upton Sinclair, John Russel), Orang Kaya (1950; F. Scott Fitzgerald), Yakin (1950; Irwin Shaw), Kisah-kisah dari Eropah (1952), dan Cerita dari Tiongkok (1953).

Mohammad Diponegoro

dilahirkan di Yogyakarta, 28 Juni 1928, dan meninggal di kota yang sama, 9 Mei 1982. Karya-karya pendiri dan pemimpin Teater Muslim yang pernah menjadi Wakil Pimpinan Umum/Wakil Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah (1975-82) ini antara lain: Surat pada Gubernur, Kabar Wigati dan Kerajaan (1977), Duta Islam untuk Dunia Modern (1983; bersama Ahmad Syafii Maarif), Iblis (1983), Percik-percik Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985), Odah dan Cerita Lainnya, dan antologi puisi Manifestasi (1963).

Motinggo Busye

dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, “Dua Tengkorak Kepala”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).

Muhammad Ali

 dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1927, dan meninggal di kota itu juga, 2 Juni 1998. Menulis sejak 1942. Tulisan-tulisannya terdiri dari novel, cerita pendek, puisi, drama. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain: 5 Tragedi (1952), Kubur Tak Bertanda (1953), Siksa dan Bayangan (1954), Di Bawah Naungan Al-Qur`an (1957), Hitam Atas Putih (1959), Si Gila (1969), Kembali kepada Fitrah (1969), Qiamat (1971), Bintang Dini (1975), Buku Harian Seorang Penganggur (1976), Nyanyian Burdah (1980), Teknik Penghayatan Puisi (1983).

Muhammad Yamin

 dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903, dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Menulis (dan menerjemahkan) karya sastra dan sejarah dalam berbagai bentuk: puisi, drama, biografi. Antara lain: Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darahku (1928), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945), Menantikan Surat dari Raja (1928; Rabindranath Tagore), Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga (1933), Pangeran Dipanegara (1950), Lukisan Revolusi (1950), Julius Caesar (1951; William Shakespeare). Puisi-puisi penyair yang memperkenalkan soneta ke dalam khasanah puisi Indonesia ini dapat ditemukan pula dalam Antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Mustofa Bisri

dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Sering menggunakan nama samaran M. Ustov Abi Sri. Lulusan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) ini kerap mengikuti forum baca puisi, termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Puisi Syukuran Tutup Tahun 1989; Bosnia Kita; Parade Puisi Indonesia; Antologi Puisi Jawa Tengah. Kumpulan puisi tunggalnya adalah: Ohoi; Tadarus; dan Pahlawan dan Tikus.

N. Riantiarno

dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra. Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).

Nasjah Djamin

 dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924, dan meninggal di Yogyakarta, 4 September 1997. Penerima Anugerah Seni Pemerinta RI di tahun 1970 yang sebelum menjadi redaktur Budaya dan bekerja di Bagian Kesenian Departemen P & K di Yogyakarta, hingga pensiunnya, pernah ikut mendirikan Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta (1948). Karya-karyanya antara lain: Titik-titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1958; memenangan Hadiah Sastra nasional BMKN 1957-58), Hilanglah si Anak Hilang (1963), Helai-helai Sakura Gugur (1964), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), Dan Senja Pun Turun (1982), Ombak Parangtritis (1983; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1983), Bukit Harapan (1984; pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980).

Nh. Dini

 

dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Karya-karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Tran (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Liar (1989; perubahan judul kumpulan cerita pendek Dua Dunia), Istri Konsul (1989), Tirai Menurun (1995), Panggilan Dharma Seorang Bhikku Riwayat Hidup Saddhamma Kovida Vicitta Bhanaka Girirakkhitto Mahathera (1996), Kemayoran (2000).

Nugroho Notosusanto

 dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah 15 Juli 1931, dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1985. Karya-karya sastrawan dan sejarawan yang pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia (1982-85) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983-85) ini antara lain: Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayang (1961), Hijau Tanahku Hijau Bajuku (1963), Norma-norma dasar Penelitian Sejarah Kontemporer (1978), Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang (1979), Sejarah dan Sejarawan, Tercapainya Konsesus Nasional 1966-1969 (1985), Sejarah Nasional Indonesa I-IV (bersama Marwati Djoened Poesponegoro), dan sejumlah karya terjemahan.

Nur Sutan Iskandar

dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893, dan meninggal di Jakarta, 28 November 1975. Menulis novel Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1922), Karam dalam Gelombang Percintaan (1924; ditulis bersama Abd. Ager). Cinta yang Membawa Maut (1926; ditulis bersama Abd. Ager), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Air Susu (1933; ditulis bersama Asmaradewi); Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935), Dewi Rimba (1935; ditulis bersama M. Dahlan), Neraka Dunia (1937), Cinta dan Kewajiban (1940; ditulis bersama L. Wairata), Cinta Tanah Air (1944), Mutiara (1946), Cobaan (1946), Jangir Bali (1946), Pengalaman Masa Kecil (1949), dan Turun ke Desa (1949). Ia pun menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia, yaitu: Tiga Panglima Perang (1925; Alexander Dumas), Belut Kena Ranjau (1925; Baronese Orczy), Anjing Setan (1928; A. Conan Doyle), Graaf de Monte Cristo (1929; 6 jilid, Alexander Dumas), Anak Perawan di Jalan Sunyi dan Rahasia Seorang Gadis (1929; A. Conan Doyle, diterjemahkan bersama K. St. Pamoentjak), Gudang Intan Nabi Sulaiman (1929; H. Rider Haggard), Memperebutkan Pusaka Lama (1932; Edward Keyzer), Iman dan Pengasihan (1933; Henryk Sienkiewicz), dan Cinta dan Mata (tt; Rabindranath Tagore).

Piek Ardijanto Soeprijadi

dilahirkan di Magetan, Jawa Timur, 12 Agustus 1929. Karya-karya penyair yang mengabdikan sebagian besar usianya sebagai seorang guru ini antara lain: Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lagu Bening dari Rawa Pening (1984; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1984), Menyambut Hari Sumpah Pemuda (1984), Lelaki di Pinggang Bukit (1984), Nelayan dan Laut (1995), Biarkan Angin Itu (1996). Selain itu, dimuat pula dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Pramudya Ananta Toer

dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat (1962-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini, setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979.

 sastrawan indonesia
Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang. Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950; pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Gulat di Jakarta (1953), Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastra Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Gadis Pantai (1985), Rumah Kaca (1987), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999). Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya). Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck), Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy), Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy), Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov), Ibu (1956; Maxim Gorky), Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin), Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak). Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi.

Putu Wijaya

dilahirkan di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Karya-karya dramawan dan penulis cerita pendek paling produktif di Indonesia yang atas undangan Fulbright pernah mengajar di Amerika Serikat antara 1985-89 antara lain: Telegram (1972; novel yang memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Stasiun (1977; novel pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Dar-Der-Dor (1996), Aus (1996), Zigzag (1996), Tidak (1999). Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Pada tahun 1991, atas prestasi dan pencapaiannya dalam bidang kebudayaan, ia menerima Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rahim Qahhar

 dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 29 Juni 1943. Menulis puisi, cerita pendek, drama, novel, dan skenario televisi. Karya-karyanya: Mabukku pada Bali (1983), Abraham ya Abraham (1984), Langit Kirmizi (1987; terbit di Malaysia), Melati Merah (1988; terbit di Malaysia), Sajak Buat Saddam Husein (1991). Selain itu, karyanya dimuat pula dalam sejumlah antologi penting, antara lain: Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Ramadhan KH

dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 16 Maret 1927. Mantan redaktur majalah Kisah, Siasat Baru, dan Budaya Jaya yang banyak menulis buku biografi dan pernah lama mukim di luar negeri ini adalah penulis kumpulan puisi Priangan si Jelita (1958; memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), dan novel-novel Kemelut Hidup (1976; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974), Keluarga Permana (1978; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1976). Novelnya yang lain, Ladang Perminus, membawa pengarang ini ke Thailand, menerima SEA Write Award 1993.

Rayani Sriwidodo

 dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara 6 November 1946. Cerpennya “Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan Nemis Prize dari Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumna Iowa Writing Program, Iowa University, Amerika Serikat ini antara lain: Pada Sebuah Lorong (1968; bersama Todung Mulya Lubis), Kereta Pun Terus Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria (1989), Balada Satu Kuntum (1994), Sembilan Kerlip Cermin (2000).

Rendra

dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

Rusli Marzuki Saria

dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 26 Februari 1936. Karya-karyanya: Pada Hari Ini pada Jantung Hari (1966), Monumen Safari (1966; dengan Leon Agusta), Ada Ratap Ada Nyanyi (1976), Sendiri-sendiri Sebaris-sebaris dan Sajak-sajak Bulan Februari (1976), Tema-tema Kecil (1979), Sembilu Darah (1995), Parewa, Sajak dalam Lima Kumpulan (1988). Manuskrip esainya: Monolog dalam Renungan.

Rustam Effendi

 dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, dan meninggal di Jakarta, 24 Mei 1979. Bebasari yang ditulisnya pada 1926 merupakan drama bentuk baru dalam sastra Indonesia. Selain itu ia menulis kumpulan puisi Percik Permenungan (1926) dan Van Moskow naar Tiflis (tt.)

Saini K.M.

dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik “Pertemuan Kecil” di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di “Pertemuan Kecil” antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari. Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).

Sanento Yuliman

dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 14 Juli 1941, dan meninggal di Bandung, 14 Juli 1992. Pada 1981 menyelesaikan program doktoralnya di Ecole de Hautes Etudes en Science Sociale, Paris, Perancis. Penyair yang juga dikenal sebagai penulis esai dan kritikus seni rupa yang disegani ini pernah menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia, majalah sastra Horison (1971-73), dan Aktuil, khususnya untuk ruang “Puisi Mbeling”. Puisi-puisinya diangkat Ajip Rosidi ke dalam Laut Biru Langit Baru (1977). Karya-karyanya antara lain: Seni Rupa Indonesia (1976), G. Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia (1981; bersama Jim Supangkat).

Sanusi Pane

dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968. Antara tahun 1931-41, pernah menjadi redaktur di majalah Timbul, harian Kebangunan, dan Balai Pustaka. Karya-karyanya meliputi puisi, drama, sejarah, dan terjemahan: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Airlangga (1928), Burung Garuda Terbang Sendiri (1929), Madah Kelana (1931), Kertajaya (1932), Sandyakalaning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946; terjemahan dari bahasa Kawi), Arjuna Wiwaha (1940; Mpu Kanwa, diterjemahkan dari bahasa Kawi), Gamelan Jiwa (1960).

Sapardi Djoko Damono

dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).

Satyagraha Hoerip

dilahirkan di Lamongan, Jawa Timur, 7 April 1934, dan meninggal di Jakarta, 14 Oktober 1998. Tahun 1972-73, ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pernah menjadi dosen tamu di universitas-universitas di Amerika dan Jepang. Karya-karyanya antara lain: Bisma Baneng Mayapada (1960), Sepasang Suami Isteri (1964), Antologi Esai tentang Persoalan Sastra (1969), Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1979), Jakarta: 30 Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1982), Palupi (1970), Keperluan Hidup Manusia (1963; terjemahan dari Leo Tolstoy), Tentang Delapan Orang (1980), Sesudah Bersih Desa (1990), Sarinah Kembang Cikembang (1993).

Selasih

dilahirkan di Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909, dam meninggal pada usia 86 tahun. Sastrawan yang pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Bukittingi (1928-30) dikenal pula sebagai Sariamin atau Seleguri. Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1937), Rangkaian Sastra (1952), Panca Juara (1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986), dan dimuat pula dalam Puisi Baru (1946; Sutan Takdir Alisjahbana [ed.]), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; Toeti Heraty [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).

Seno Gumira Ajidarma

cerpenis

dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz, Parfum, dan Insiden (1992).
Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”, dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.

Slamet Sukirnanto

dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 3 Maret 1941. Karya-karya penyair yang mantan Ketua Presidium KAMI pusat ini adalah: Jaket Kuning (1967), Kidung Putih (1967), Sumur Tanpa Dasar (1971), Kasir Kita (1972), Pemberang (1972), Tengul (1973), Orkes Madun (1974), Gema Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982), dan Luka Bunga (1993).

SN Ratmana

dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 6 Maret 1936. Tulisan-tulisannya dimuat di Sastra, Horison, Kompas, dan lain-lain. Karya-karyanya yang sudah dibukukan: Sungai, Suara, dan Luka (1981), Asap itu Masih Mengepul (1977). Karyanya dimuat pula dalam antologi cerpen pemenang Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep, Dari Jodoh sampai Supiyah (1975).

Sori Siregar

 dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 12 November 1939. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat pada 1970-71, dan pernah bekerja antara lain di BBC London, Radio Suara Malaysia, Matra, Forum Keadilan. Karya-karyanya: Dosa atas Manusia (1967), Pemburu dan Harimau (1972), Senja (1979), Wanita Itu adalah Ibu (1979; novel pemenang hadiah perangsang kreasi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1978), Di Atara Seribu Warna (1980), Susan (1981), Awal Musim Gugur (1981), Reuni (1982), Telepon (1982; pemenang hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1979); Penjara (1992), Titik Temu (1996). Di samping itu ia banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, baik novel, cerita pendek, maupun drama.

Subagio Sastrowardoyo

 dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM, SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA Write Award. Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak (1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan Kematian Makin Akrab (1995).

Sutan Takdir Alisjahbana

dilahirkan di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994. Penerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia dan Universitas Sains Penang (Malaysia) ini pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka. Ia pendiri serta pengelola majalah Pujangga Baru. Karya-karya guru besar dan anggota berbagai organisasi keilmuan di dalam dan luar negeri ini antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega (1935), Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi Baru (1946), The Indonesian Language and Literature (1962), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970-71), The Failure of Modern Linguistics (1976), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (1977), Lagu Pemacu Ombak (1978), Kalah dan Menang (1978).

Sutardji Calzoum Bachri

dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Pada 1974-75 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan sejak 1979 hingga sekarang menjabat redaktur majalah sastra Horison. Karya-karyanya: O (1973), Amuk (1977; mendapat Hadiah Puisi DKJ 1976-77), Kapak (1979), O Amuk Kapak (1981).
Sejumlah puisinya diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi berbahasa Inggris: Arjuna in Meditation (1976; Calcutta). Pada 1979 ia menerima anugerah SEA Write Award dan sembilan tahun kemudian dilimpahi Penghargaan Sastra Chairil Anwar. Sebelumnya, peraih penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia itu adalah Mochtar Lubis.

Taufiq Ismail

dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Penerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57), dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963). Karya-karya penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 yang juga salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, penyair yang tinggi sekali perhatiannya pada upaya mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini menyunting Prahara Budaya (1994).

Titie Said

 lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Lulus sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Pernah menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili. Novel-novelnya yang telah diterbitkan antara lain: Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia. Kumpulan cerita pendeknya: Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).

Titis Basino

dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Karya-karya novelis yang cukup produktif ini antara lain: Pelabuhan Hati (1978), Dataran Terjal, Di Bumi Kita Bertemu, di Langit Kita Bersua (1983), Bukan Rumahku (1986), Dari Lembah ke Coolibah (1997), Welas Asih Merengkuh Tajali (1997), Menyucikan Perselingkuhan (1998), Tersenyum Pun Tidak Untukku Lagi (1998), Rumah K. Seribu (1998), Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998), Mawar Hitam Milik Laras (1999), Garis Lurus, Garis Lengkung (2000).

Toeti Heraty Noerhadi

dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 27 November 1933. Sarjana Filsafat dari Rijk Universiteit Leiden ini meraih doktor filsafatnya di Univeristas Indonesia. Karya-karyanya: Sajak-sajak 33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; [ed.]), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dan Budaya (1984), Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986; dengan Teeuw [ed.]), Wanita Multidimensional (1990), Nostalgi = Transendensi (1995). Puisi-puisinya dimuat pula dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 dan Sembilan Kilap Cermin (2000).

Toha Mochtar

 dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926, dan meninggal di Jakarta, 17 Mei 1992. Pengarang yang di tahun 1971 bersama Julius R. Siyaranamual dan Asmara Nababan mendirikan majalah Kawanku ini, telah melahirkan sejumlah novel: Pulang (1958; mendapat Hadiah Sastra BMKN 1957-58), Daerah Tak Bertuan (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin 1964), Kabut Rendah (1968), Bukan Karena Kau (1968).

Toto Sudarto Bachtiar

 dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain: Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.), Bayangan Memudar (1975; Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976; Ernest Hemingway), Sanyasi (1979; Rabindranath Tagore).

Umar Kayam

dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Meraih M.A. di Universitas New York (1963), dan Ph.D. dua tahun kemudian dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada hingga pensiunnya di tahun 1997 ini adalah anggota penyantun/penasehat majalah sastra Horison sebelum mengundurkan pada 1 September 1993. Pada 1987, ia meraih SEA Write Award. Karya-karyanya: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972), Totok dan Toni (1975), Sri Sumarah dan Bawuk (1975), Seni, Tradisi, Masyarakat (1981), Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Bangsa (1985), Para Priyayi (1992; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K 1995), Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih Tanpa Banda (1994), Jalan Menikung (1999). Cerpen-cerpen-cerpennya diterjemahkan Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan Armageddon (1976).

Umbu Landu Paranggi

dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia, Maramba Ruba, Sarang.

Upita Agustine

dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison. Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).

Utuy Tatang Sontani

 

dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920, dan meninggal di Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979. Karya-karya sastrawan anggota pimpinan LEKRA (1959-65) yang menulis novel dan banyak karya sastra drama ini adalah: Suling (1948), Bunga Rumah Makan (1984), Tambera (1949), Orang-orang Sial (1951), Awal dan Mira (1952; mendapat hadiah Sastra Nasional BMKN 1953), Manusia Iseng (1953), Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Di Muka Kaca (1957), Saat yang Genting (1958; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), Manusia Kota (1961), Segumpal Daging Bernyawa (1961), Tak Pernah Menjadi Tua (1963), Si Sapar (1964), Si Kampreng (1964), dan terjemahan Selusin Dongeng (1949; Jean de la Fountain).

Wisran Hadi

dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, Juli 1945. Tahun 1977-78 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Simalakama (1975), Anggun Nan Tongga (1978), Putri Bungsu (1978), Tamu (1996), Imam (1977). Sejumlah naskah dramanya berikut ini memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta: Gaung (1975; hadiah ketiga), Ring (1976; hadiah harapan), Cindur Mata (1977; hadiah harapan); Perguruan (1978; hadiah kedua), Malin Kundang (1985; hadiah harapan), Penyeberangan (1985; hadiah ketiga), Senandung Semenanjung (1986; hadiah perangsang), Pewaris (1981). Pada 1991 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Penghargaan Penulis Sastra.

Sastra Melayu Klasik

 
Sastra Melayu Klasik bermula pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah.
Dokumen pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik adalah sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.
1. Daftar bentuk sastra Melayu
1. 1. Gurindam
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gurindam
Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
1. 1. 1. Gurindam Lama
contoh :
Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang
Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat
1. 1. 2. Gurindam Dua Belas
Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.
1. 2. Hikayat
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
1. 3. Karmina
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Karmina
Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
Contoh
Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula
1. 4. Pantun
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pantun
Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Contoh Pantun
Kayu cendana diatas batu Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
1. 5. Seloka
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Seloka
Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
contoh seloka 4 baris:
anak pak dolah makan lepat,
makan lepat sambil melompat,
nak hantar kad raya dah tak sempat,
pakai sms pun ok wat ?
contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui
1. 6. Syair
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Syair
Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud)
1. 7. Talibun
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.
Contoh Talibun :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu
1. 8. Lain-lain
• Kitab Seribu Masalah
2. Lihat pula
• Bahasa Melayu
• Sastra
Daftar pujangga Indonesia
Berikut adalah daftar pujangga Indonesia.
Daftar isi:
1. Penyair Indonesia
2. Cerpenis
3. Novelis
4. Kritikus/Eseis
5. Lihat pula
1. Penyair Indonesia
• Acep Zamzam Noor
• Ahmadun Yosi Herfanda
• Afrizal Malna
• Amir Hamzah
• Beni R Budiman
• Beni Setia
• Binhad Nurrohmat
• Chairil Anwar
• Dorothea Rosa Herliany
• Djamil Suherman
• Goenawan Mohammad
• Hasan Aspahani
• Tendy Faridjan
• H.B. Yasin
• Joko Pinurbo
• Jose Rizal Manua
• Kusprihyanto Namma
• Medy Loekito
• Moch Satrio Welang
• Nur Wahida Idris
• Nirwan Dewanto
• Ook Nugroho
• Rayani Sriwidodo
• Remy Silado
• Sam Haidy
• Sapardi Djoko Damono
• Sitor Situmorang
• Saut Situmorang
• Saut Sitompul
• Cecep Syamsul Hari
• Subagio Sastrowardoyo
• Sutan Takdir Alisyahbana
• Sutardji Calzoum Bachri
• Taufik Ismail
• Udo Z. Karzi
• Usmar Ismail
• Utuy Tatang Sontani
• Wahyu Prasetya
• Widji Thukul
• W.S. RendraAcep Zamzam Noor
 

 

.

Chairil Anwar
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Masa Dewasa
3. Akhir Hidup
4. Buku-buku
5. Terjemahan ke dalam bahasa asing
6. Karya-karya tentang Chairil Anwar
7. Pranala luar
8. Referensi
1. Masa kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota [1] dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [2]
Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
2. Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4]
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
3. Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[5] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
4. Buku-buku
• Deru Campur Debu (1949)
• Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
• Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
• “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
• Derai-derai Cemara (1998)
• Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
• Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
5. Terjemahan ke dalam bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
• “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
• “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
• Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
• “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
• The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
• The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
• Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
• The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
6. Karya-karya tentang Chairil Anwar
• Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
• Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
• Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
• S.U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976)
• Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
• Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
• H.B. Jassin, “Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
• Husain Junus, “Gaya bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
• Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
• Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
• Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995)
• Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
7. Pranala luar
• (id) Biodata Sastrawan Indonesia 1900-1949
• (id) Biodata @ TamanIsmailMarzuki.com
8. Referensi
1. [1]
2. Artikel tentang Chairil Anwar, awalnya dimuat di Suara Merdeka
3. http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html
4. http://alwishahab.wordpress.com/2007/08/03/bertemu-pujaan-chairil-anwar/
5. “Chairil Anwar Legenda Sastra yang Disalahpahami”, Sajak.Blogspot, diakses Juni 2007
• Wikisource

Daftar kategori: Kelahiran 1922, Kematian 1949, Chairil Anwar, Tokoh dari Medan, Pujangga Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa, Deutsch, Français, Português, Nederlands, 中文, Suomi
Dorothea Rosa Herliany
Dorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963; umur 45 tahun) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.
Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.

DR Herliany
Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit Tera di Magelang.
Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).
1. Referensi
• Herliany, Dorothea Rosa. 2003. Cerita Rakyat dari Kedu. Jakarta: PT. Grasindo.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1963, Penulis Indonesia, Penyair Indones
Djamil Suherman
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Djamil Suherman (lahir di Surabaya, 24 April 1924, meninggal di Bandung, 30 November 1985) adalah sastrawan Indonesia.
Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek:
• Muara (bersama Kaswanda Saleh, (1958)
• Manifestasi (1963)
• Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962)
• Umi Kulsum (1983)
• Nafiri (1983)
• Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984)
• Sarip Tambakoso (1985)
• Sakerah (1985).
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1924, Kematian 1985, Sastrawan Indonesia
Goenawan Mohamad
Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941; umur 67 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Daftar isi:
1. Masa Muda
2. Dunia Jurnalistik
3. Karya Sastra
4. Lihat pula
5. Pranala luar
1. Masa Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
2. Dunia Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Selepas jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan praktis berhenti sebagai wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000). Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York.. Di tahun 2006, Pastoral, sebuah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan, dimainkan di Tokyo, 2006. Di tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.
Dia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo.
3. Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Catatan Pinggir, esei pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines (19…..) dan Conversations with Difference (19….). . Kritiknya diwarnai keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.
Kumpulan esainya berturut turut: Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).
Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.
Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
Tahun 2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, .Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award. Sebelumnya Penghargaan A. Teeuw (1992), Louis Lyon Award (199…?) dan … .Katulistiwa Award untuk puisinya diperolehnya di tahun… Karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. Yang edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.
4. Lihat pula
• Daftar pujangga-pujangga Indonesia
5. Pranala luar
• (id) Goenawan Mohamad di Tokoh Indonesia
• (id) Blog Catatan Pinggir
• (id) Situs Jaringan Islam Liberal
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1941, Jurnalis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Batang
Bahasa lain: English, Basa Jawa
Hasan Aspahani

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
HASAN ASPAHANI, Lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 9 Maret 1971 pada sebuah keluarga sederhana petani kelapa.
Sekolah di SMAN 2 Balikpapan, sambil jadi kartunis lepas di Surat Kabar Manuntung (Sekarang Kaltim Post). Lalu diundang lewat jalur PMDK di IPB, dan kuliah sambil diam-diam terus mencintai puisi.
Setelah berupaya memberdayakan ijazah sarjana di beberapa perusahaan, lalu akhirnya kembali ke dunia tulis menulis lagi, maka sekarang bekerja sebagai Wakil Pemimpin Redaksi di BATAM POS. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na’) dan Shiela dan Ikra (yang memanggilnya Abah).
Beberapa puisinya pernah terbit di Jawa Pos (Surabaya), Riau Pos (Pekanbaru), Batam Pos (Batam), Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 200) Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (YMS, Jakarta 2002), dan Dian Sastro for President 2 #Reloaded (AKY, Yogyakarta, 2003). Puisi Huruf-huruf Hattaterpilih sebagai salah satu dari 10 puisi terbaik lomba puisi 100 Tahun Bung Hatta (KPSP, Padang, 2002), dan Les Cyberletress (YMS, 2005). Hasan Aspahani juga menjadi kartunis post metro yakni sebuah kartun strip komik dengan tokoh utama “si Jeko” tukang ojek dengan kelucuannya. lihat http://www.post-metro.blogspot.com
Sebagian besar puisinya dapat langsung dibaca di http://www.penyairpalsu.blogspot.com
Daftar kategori: Artikel yang perlu
Jose Rizal Manua

Jose Rizal Manua (lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954; umur 55 tahun) adalah seorang pujangga, sekaligus pendiri teater anak-anak, Teater Tanah Air, yang meraih juara pertama pada Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman, pada tanggal 14-22 Juli 2006[1]. Selain itu ia juga adalah seorang pemeran dan pengisi siuara dalam beberapa film.

Jose Rizal Manua (Perspektif Baru)
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Karir di Seni
3. Filmografi
4. Referensi
5. Pranala luar
1. Keluarga
Jose beristrikan Nunum Raraswati, yang memberinya lima orang anak yaitu:
1. Shakti Harimurti (20),
2. Sanca Khatulistiwa (20),
3. Nuansa Ayu Jawadwipa (15),
4. Nusa Kalimasada (15),
5. Niken Flora Rinjani (8).[2]
2. Karir di Seni
2. 1. Pendidikan
Sarjana Seni dari Fakultas Teater, Institut Kesenian Jakarta (1986).
2. 2. Teater yang pernah didirikan
• 1975, memdirikan Teater Adinda bersama Yos Marutha Effendi.
• 1986, Bengkel Deklamasi Jakarta
• 1988, Teater Tanah Air.
2. 3. Penghargaan yang pernah diraih
• Bersama Teater Tanah Air (TTA) meraih The Best Performance dan meraih medali emas di The Asia Pacific Festival of Children Theatre 2004, yang diadakan di Toyama, Jepang. TTA membawakan lakon yang berjudul Bumi Ada di Tangan Anak-anak karya Danarto.
• Bersama Teater Tanah Air (TTA) kembali meraih 19 medali emas di seluruh kategori pada Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9, yang diadakan di Lingen, Jerman. Pada festival ini TTA membawakan lakon yang berjudul Wow karya Putu Wijaya.
3. Filmografi
• Oeroeg (1993)
• Gordel van smaragd (1997)
• Kala (2007)
• Fiksi (2008)
• Asmara Dua Diana (2009)
• Meraih Mimpi (2009)
4. Referensi
1. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=264916&kat_id=306
2. Intisari, Edisi Desember 2006
5. Pranala luar
• (id)Wawancara Jose Rizal dengan Perspektif Baru
• (id)Sosok dan kiprah Jose Rizal Manua di Pontianak Pos
• (id)Jose R Manua: Dinosaurus Takut Kuda Lumping
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
]
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1954, Rintisan biografi Indonesia, Pemeran Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Alumni Institut Kesenian Jakarta
Medy Loekito
Medijanti Loekito (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 21 Juli 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Medy Loekito adalah seorang penyair Indonesia yang telah mulai menulis sejak tahun 1978. Ia telah beberapa kali mewakili Indonesia dalam event-event internasional. Kini bermukim di Jakarta.
Medy Loekito dikenal sebagai penyair wanita dengan puisi-puisi pendek yang sederhana. Adalah sastrawati pertama yang menggugat peran dan fungsi sastra porno bagi pendidikan dan masa depan bangsanya.
Tulisannya tersebar di berbagai media massa, baik di dalam maupun di luar Indonesia.
Daftar isi:
1. Karya
2. Prestasi/Penghargaan
3. Pranala luar
1. Karya
1. 1. Antologi puisi tunggal
• “In Solitude”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1993.
• “Jakarta, Senja Hari”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1998.
1. 2. Antologi puisi bersama
1. “Festival Puisi Indonesia XIV”, PPIA, Surabaya, 1994.
2. “Trotoar”, Roda Roda Budaya, Tangerang, 1996.
3. “Jakarta, Jangan Lagi”, Kolong Budaya, Magelang, 1996.
4. “Antologi Puisi Indonesia”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1997.
5. “Resonansi Indonesia”, Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2000.
6. “Sembilan Kerlip Cermin”, Pustaka Jaya, Jakarta, 2000.
7. “Dewdrops at Dawn”, The International Library of Poetry, USA, 2000.
8. “Jakarta dalam Puisi Mutakhir”, Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, Jakarta, 2000.
9. “Graffiti Gratitude”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Angkasa, Bandung, 2001.
10. “Surat Putih”, Risalah Badai, Jakarta, 2001.
11. “Dari Fanzuri ke Handayani”, Horison, Kakilangit, The Ford Foundation, Jakarta, 2001.
12. “Gelak Esai & Ombak Sajak, Anno 2001”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001.
13. “Horison Sastra Indonesia”, Horison, Kakilangit, The Ford Foundation, Jakarta, 2001.
14. “Pasar Kembang”, KSI Yogyakarta, 2001.
15. “Batu Merayu Rembulan”, Yayasan Damar Warga, Jakarta, 2003.
16. “Bisikan Kata, Teriakan Kota”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
17. “Selagi Ombak Mengejar Pantai 8”, KEMUDI – Pusat Studi & Pengembangan Kebudayaan Asia, Malaysia, 2004.
18. “Maha Duka Aceh”, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005.
19. “Les Cyberlettres”, Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta, 2005.
20. “Surat Putih 3, Negeri Terluka”, Risalah Badai – Jakarta & Logung Pustaka – Yogyakarta, 2005.
21. “Bumi ini adalah Kita jua”, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005.
22. “Perempuan Penyair Indonesia 2005”, Risalah Badai & Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2005.
23. “Le Chant des Villes” (Nyanyian Kota), Centre Culturel Français, Jakarta, 2006.
24. “Legasi”, Warisan Wong Kampung, Malaysia, 2006.
25. “Yogya, 5,9 Skala Richter”, Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2006.
26. “Selendang Pelangi”, Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2006.
27. “The Poetry of Nature”, 2007.
1. 3. Antologi puisi digital
1. “Cyberpuitika”, Yayasan Multimedia Sastra, 2002.
1. 4. Buku kumpulan esai
1. “Cyber Graffiti”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Angkasa, Bandung, 2001.
2. “Kongres Bahasa Indonesia VIII”, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2003.
3. “Sastra Kota”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
4. “Cyber Graffiti, Polemik Sastra Cyberpunk”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2004.
1. 5. Pengantar buku
1. “Dua Tengkorak Kepala”, kumpulan cerpen Motinggo Busye.
2. “Dalam Kemarau”, antologi puisi Dharmadi.
3. “Graffiti Gratitude”, antologi puisi cyber.
4. “Cyber Graffiti”, kumpulan esai cyber.
5. “Perjalanan Nol”, kumpulan sajak TS Pinang.
1. 6. Hasil penelitian bersama
1. “Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi”, Komunitas Sastra Indonesia & Litbang. Kompas, Jakarta, 1998.
2. “Without Compass or Map”, Conference of Asian Foundations and Organizations, Seagull Books, Calcutta, 2004.
1. 7. Tercatat dalam buku
1. “Profil Perempuan Pengarang Peneliti Penerbit di Indonesia”, Kelompok Cinta Baca, Jakarta, 2000.
2. “Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia”, P.T. Grasindo, Jakarta, 2000.
3. “Leksikon Susastra Indonesia”, Balai Pustaka, Jakarta, 2000.
4. “International Who’s Who in Poetry and Poets’ Encyclopaedia”, The International Biographical Centre, Cambridge, UK, 1999.
5. “Leksikon Sastra Jakarta”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
6. “Ensiklopedia Sastra Indonesia”, Jakarta, 2004.
2. Prestasi/Penghargaan
• 1999 Sebagai Research Board of Advisors dari “The American Biographical Institute“, USA.
• 1999 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan.
• 2000 Tergabung dalam “POET 2000 Sculpted Library”, Dublin, Irlandia.
• s00 Semifinalis “North American Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA.
• 2000 Semifinalis “Montel Williams Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA.
• 2000 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan.
• 2001 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan, dalam riset KSK, Kyoto, Jepang.
• 2001 Wakil Republik Indonesia untuk “International Writing Program”, Iowa City, USA.
• 2001 Presentasi di:
o University of Iowa, Iowa City, Iowa.
o Women Resources and Activity Centre, Iowa City, Iowa.
o Public Library of Iowa, Iowa City, Iowa.
o Coe College, Cedar Rapids, Iowa.
o Des Moines Public High School, Des Moines, Iowa.
o Western Illinois University, Illinois.
o Hawthorne Elementary School, Bozeman, Montana.
o University of Central Florida, Orlando, Florida.
o Literary Centre, Washington DC,
• 2002 Delegasi Indonesia untuk “SEA People’s Festival”, Phnom Penh, Kamboja.
• 2003 Pembicara, “Kongres Bahasa Indonesia VIII”, Jakarta, Indonesia.
• 2003 Pembicara, “Temu Sastra Jakarta”, Jakarta, Indonesia.
• 2004 Pembicara, “Fokus Sastra Indonesia 2004”, Bandung, Indonesia.
• 2004 Panelis, “Menolak Pornografi, Menyelamatkan Generasi”, Jakarta, Indonesia
• 2006 Pembicara, “Sastra Cyber”, Jakarta, Indonesia
• 2006 Pembicara, “Sastra Melayu Tionghoa”, Jakarta, Indonesia
• 2007 Pelatih, Pelatihan Sastra Bagi Guru S.D. Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Indonesia, dan lain-lain.
3. Pranala luar
• Kompas
• PDAT
• Blog Asep Sambodja
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1962, Sastrawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Surabaya
Nirwan Dewanto

Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.
Tulisan rintisan ini belum dikategorikan, tapi Anda dapat membantu Wikipedia .
Nirwan Dewanto adalah penyair dan esais. Ia dilahirkan di Surabaya, menghabiskan masa kanak dan remajanya di Banyuwangi dan Jember, dan menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam (dan pernah menjadi ketua redaksinya) dan kini menjaga Lembar Sastra pada Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007, ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, di mana ia merampungkan buku puisinya Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Ia tampil dalam sejumlah forum sastra internasional, yang terakhir adalah simposium bertajuk Home/Land di Paros, Yunani, pada musim panas 2008. Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Madison (Wisconsin).
Daftar kategori: Artikel yang perlu diwikifisasi, Rintisan umum
Remy Sylado (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945; umur 64 tahun) adalah salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (ER: Japi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Semarang dan Solo. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel, dsb di balik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, film, dsb dan menguasai sejumlah bahasa.
Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi.
Daftar isi:
1. Karya
2. Filmografi
3. Sinetron
4. Pranala luar
1. Karya
• Orexas.
• Gali Lobang Gila Lobang.
• Siau Ling
• Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
• Kerudung Merah Kirmizi, 2002
• Kembang Jepun, 2003
• Parijs van Java, 2003
• Menunggu Matahari Melbourne 2004
• Sam Po Kong, 2004?
• Puisi Mbeling 2005
• Rumahku di Atas Bukit
• 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
• Drama Musikalisasi Tarragon “Born To Win”,dll.
2. Filmografi
• Tutur Tinular IV
• Capres (Calo Presiden) (2009)
3. Sinetron
• Mahkota Majapahit
4. Pranala luar
• Remy Sylado di pdat.co.id
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1945, Sastrawan Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Pemeran Indonesia, Tokoh dari Makassar
Sam Haidy
Sam Haidy (Lahir di Ciamis, Jawa Barat, 3 Februari 1984) adalah penyair dan aktivis media maya. Ia adalah penggagas genre “Puisi Pop”, yaitu puisi yang berorientasi pada apresiasi yang relevan dengan pemahaman masyarakat luas, ruang lingkupnya bukan untuk kalangan eksklusif sastra saja.
Mengawali karir kepenulisannya di forum diskusi Cybersastra, lalu aktif memposting di sejumlah mailing list. Ia pernah ikut berpartisipasi mengisi buku antologi Maha Duka Aceh (diterbitkan oleh PDS H.B. Jassin, Januari 2005) dan Roh: Kumpulan Puisi Penyair Bali – Jawa Barat (diterbitkan oleh Bukupop, Agustus 2005). Essaynya, “Puisi Pop; Kenapa Tidak?”, pernah dimuat di Harian Lampung Post dan Buletin Sastra Pawon. Saat ini aktif mempublikasikan tulisannya di blog.
Daftar isi:
1. Publikasi tulisan di media cetak
2. Bibliografi
3. Pranala luar
1. Publikasi tulisan di media cetak
• Puisi Pop; Kenapa Tidak? (dipublikasikan oleh Lampung Post, Februari 2006 dan Buletin Sastra Pawon, Agustus 2007)
2. Bibliografi
• Mahaduka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin, 2005)
• Roh: Kumpulan Puisi Penyair Muda Jawa Barat – Bali (Bukupop, 2005)
3. Pranala luar
• Manifesto Puisi Pop
• Blog Malaikat Cacat
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1984, Seniman Indonesia
Sapardi Djoko Damono
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 69 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.
Daftar isi:
1. Riwayat hidup
2. Karya-karya
3. Pranala luar
1. Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Ia menikah dengan Widyaningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
2. Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
2. 1. Kumpulan Puisi/Prosa
• “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969)
• “Lelaki Tua dan Laut” (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
• “Mata Pisau” (1974)
• “Sepilihan Sajak George Seferis” (1975; terjemahan karya George Seferis)
• “Puisi Klasik Cina” (1976; terjemahan)
• “Lirik Klasik Parsi” (1977; terjemahan)
• “Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak” (1982, Pustaka Jaya)
• “Perahu Kertas” (1983)
• “Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
• “Water Color Poems” (1986; translated by J.H. McGlynn)
• “Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (1988; translated by J.H. McGlynn)
• “Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
• “Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia” (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
• “Hujan Bulan Juni” (1994)
• “Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling)
• “Arloji” (1998)
• “Ayat-ayat Api” (2000)
• “Pengarang Telah Mati” (2001; kumpulan cerpen)
• “Mata Jendela” (2002)
• “Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002)
• “Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen)
• “Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an)” (2005; salah seorang penyusun)
• “Mantra Orang Jawa” (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
• “Kolam” (2009; kumpulan puisi)
Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia.
2. 2. Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari “Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti” (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Beberapa tahun kemudian lahirlah album “Hujan Bulan Juni” (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Album “Hujan Dalam Komposisi” menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.
Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album “Gadis Kecil” (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album “Becoming Dew” (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata “Ars Amatoria” yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.
2. 3. Buku
• “Sastra Lisan Indonesia” (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
• “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
• “Dimensi Mistik dalam Islam” (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.
Pustaka Firdaus
• “Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia” (2004), salah seorang penulis.
• “Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas” (1978).
• “Politik ideologi dan sastra hibrida” (1999).
• “Pegangan Penelitian Sastra Bandingan” (2005).
• “Babad Tanah Jawi” (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
3. Pranala luar
• (id) Profil di TokohIndonesia.com
• (en)S.E.A Write Award
• Peluncuran album “Becoming Dew”
• Artikel tentang acara Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono dari Kompas Online, diakses 19 Februari 2008.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1940, Alumni Universitas Indonesia, Alumni Universitas Gadjah Mada, Pujangga Indonesia, Tokoh dari Surakarta
Bahasa lain: English, Basa Jawa, Русский
Sitor Situmorang
Sitor Situmorang (lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923; umur 86 tahun), dengan nama Raja Usu, adalah wartawan, sastrawan, dan penyair Indonesia. Ayahnya adalah Ompu Babiat Situmorang yang pernah berjuang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.

S. SItumorang
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Karya tulis
1. Pendidikan
Sitor menempuh pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung kemudian AMS di Jakarta. Ia sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris (1950-1952). Tahun 1956-57 ia memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California. Setelah keluar dari tahanan politik, ia tinggal di Leiden (1982-1990) lalu Islamabad (1991).
2. Pekerjaan
Karirnya dimulai sebagai wartawan harian Suara Nasional (Tarutung, 1945), Waspada (Medan,1947), Berita Indonesia, dan Warta Dunia (Jakarta, 1957). Ia pernah menjadi dosen Akademi Teater Nasional Indonesia (Jakarta), anggota MPRS dari kalangan seniman, Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-65), lalu ditahan pemerintahan Orde Baru.
3. Karya tulis
Karyanya antara lain kumpulan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) mendapat hadiah sastra nasional 1955, kumpulan sajak Peta Perjalanan memperoleh hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta 1976, otobiografi : Sitor Situmorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba (1981); sejarah lokal: Toba na Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom (1993).
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1923, Wartawan Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English, Deutsch, Français
Subagio Sastrowardoyo
Subagio Sastrowardoyo (Madiun, 1 Februari 1924 – 18 Juli 1995) adalah penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra Indonesia. Berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka.
Sekitar tahun 1950-an, ia lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Puisi-puisinya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam. Renungan filosofis itu tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan-perumpamaan dan lambang yang digunakan hendaknya ditafsirkan secara dewasa dan matang. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya. Pak Bagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam.
Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).
1. Bibliografi
• Simphoni (kumpulan sajak, 1957)
• Kejantanan di Sumbing (Kumpulan Cerpen, 1965)
• Bakat Alam dan Intelektualisme (kumpulan esei, 1972)
• Keroncong Motinggo (Kumpulan sajak, 1975)
• Sosok Pribadi dalam Sajak (kumpulan esei, 1980)
• Sastra Belanda dan Kita (telaah sastra, 1980)
• Hari dan Hara (Kumpulan Sajak, 1982).
Daftar kategori: Sastrawan Indonesia, Kelahiran 1924, Kematian 1995, Alumni Universitas Gadjah Mada
Bahasa lain: English, Basa Jawa
Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana (STA), (lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), adalah sastrawan Indonesia. Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987).Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4.

Sutan Takdir Alisjahbana
Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).
Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Societe de linguitique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (-1994).
Daftar isi:
1. Masa Kecil
2. Keterlibatan dengan Balai Pustaka
3. Sutan Takdir Alisjahbana dan Perkembangan Bahasa Indonesia
4. Karya-karyanya
5. Penghargaan
6. Lain-lain
7. Pranala luar
1. Masa Kecil
Ayah STA, Raden Alisyahbana Sutan Arbi, ialah seorang guru. Selain itu, dia juga menjalani pekerjaan sebagai penjahit, pengacara tradisional (pokrol bambu), dan ahli reparasi jam. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal. Kakek STA dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas, dan di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. Kabarnya, ketika kecil STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke Bandung, dan seringkali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: Layar Terkembang.
2. Keterlibatan dengan Balai Pustaka
Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, STA melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Di Jakarta, STA melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah STA bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, Armijn Pane.
3. Sutan Takdir Alisjahbana dan Perkembangan Bahasa Indonesia
Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang,Takdir melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia, buku mana masih dipakai sampai sekarang,serta Kamus Istilah yang berisi istilah- istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Setalah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, ia tetap mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya. Sebelum kemerdekaan, Takdir adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo. Pada tahun 1970 Takdir menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- Bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967)
4. Karya-karyanya

Novel Layar Terkembang, salah satu karya STA
4. 1. Sebagai penulis
• Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
• Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
• Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
• Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
• Layar Terkembang (novel, 1936)
• Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
• Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
• Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
• Pelangi (bunga rampai, 1946)
• Pembimbing ke Filsafat (1946)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
• The Indonesian language and literature (1962)
• Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
• Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
• Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
• Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
• The failure of modern linguistics (1976)
• Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
• Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
• Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
• Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
• Kalah dan Menang (novel, 1978)
• Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
• Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
• Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
• Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
• Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
• Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
• Sajak-Sajak dan Renungan (1987).
4. 2. Sebagai editor
• Kreativitas (kumpulan esai, 1984)
• Dasar-Dasar Kritis Semesta dan Tanggung Jawab Kita (kumpulan esai, 1984).
4. 3. Sebagai penerjemah
• Nelayan di Laut Utara (karya Pierre Loti, 1944)
• Nikudan Korban Manusia (karya Tadayoshi Sakurai; terjemahan bersama Soebadio Sastrosatomo, 1944)
4. 4. Buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana
• Muhammmad Fauzi, S. Takdir Alisjahbana & Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908-1994 (1999) * S. Abdul Karim Mashad Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana (2006)
5. Penghargaan
• Tahun 1970 STA menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.
• STA adalah pelopor dan tokoh sastrawan “Pujangga Baru”.
• Doktor Kehormatan dari School For Oriental And African Studies London 2 Mei 1990
• DR.HC dari Universitas Indonesia
• DR.HC dari Universitas Sains Malaysia
6. Lain-lain
Sampai akhirnya hayatnya, ia belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa, bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara. Ia kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia yang menjadi penutur bahasa melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantara kawasan.
7. Pranala luar
• (id) Profil @ TokohIndonesia.com
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1994, Sastrawan Indonesia, Filsuf Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa,
Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri (lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941; umur 68 tahun) adalah pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

SC Bachri
Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.
Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.
Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.
O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1941, Pujangga Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa,
Taufiq Ismail
Taufiq Ismail (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 74 tahun) ialah seorang sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Latar Belakang
2. Kegiatan
3. Penghargaan
4. Bibliografi
5. Sumber
1. Latar Belakang
Dilahirkan di Bukittinggi dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Taufiq Ismail
2. Kegiatan
Semasa kuliah aktif sebgai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).
Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.
Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan ’66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.
Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.
Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.
Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia(Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)
3. Penghargaan
Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).
4. Bibliografi
• Ismael, Taufiq (1995). Prahara Budaya:kilas-balik ofensif Lekra/PKI dkk.:kumpulan dokumen pergolakan sejarah (dalam Bahasa Bahasa Indonesia). Bandung: Mizan dan H.U. Republika, 469. ISBN 979-433-064-7.
5. Sumber
• Ismail,Taufiq. 2004. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta:Yayasan Indonesia.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1935, Alumni Universitas Indonesia, Penyair Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa, Français
Udo Z. Karzi
Udo Z. Karzi (lahir 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung Barat) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia lulusan Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (1996).
Daftar isi:
1. Pengalaman organisasi
2. Kerja jurnalistik
3. Kerja budaya
4. Pranala luar
1. Pengalaman organisasi
Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra (1993-1994), Pemimpin Umum Majalah Republica (1994-1996), dan Pembimbing Majalah Ijtihad (1995-1998).
Banyak menimba pengalaman dari berbagai kelompok/kegiatan diskusi: Kelompok Studi Merah Putih, Forum for Information and Regional Development Studies (FIRDES), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Anggota dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung sejak 2003.
2. Kerja jurnalistik
Terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung (1995-1996) dan reporter Majalah Berita Mingguan Sinar, Jakarta (1997-1998).
Sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di kota kelahirannya (1998) sebelum menjadi jurnalis Surat Kabar Umum Sumatera Post, Bandar Lampung (1998-2000), harian Lampung Post, Bandar Lampung (2000-2006), dan harian Borneonews, Pangkalan Bun (2006-2008), dan sejak 2009 kembali bekerja di Lampung Post.
3. Kerja budaya
Sastrawan bernama asli Zulkarnain Zubairi ini menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media lokal dan nasional sejak 1987. Sempat menjadi Ketua Penelitian dan Pengembangan Dewan Kesenian Lampung (Litbang DKL)(2005-2006).
Dinilai membawa pembaruan dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung sebagaimana terlihat dalam buku sajak dwibahasa Lampung-Indonesianya: Momentum (Dinas Pendidikan Lampung, 2002), dia disebut “bapak puisi modern (berbahasa) Lampung”.
Buku puisinya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) meraih Hadiah Sastera Rancagé 2008 untuk kategori sastra Lampung.
Sajak-sajak lainnya termuat dalam Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas Tumbuh (Teknokra, 1995), Lampung Kenangan, Krakatau Award 2002 (Dewan Kesenian Lampung, 2002), Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2003), Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation, 2004), Maha Luka Aceh (PDS HB Jassin, 2005), Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006), Anthology Empathy Jogja (Pustaka Jamil, 2006), dan Wajah Deportan (Teras Puitika, 2009).
Cerpen-cerpen termuat dalam Sapardi Djoko Damono dkk. (Ed.) Graffiti Imaji (YMS, 2002) dan The Regala 204B (Gapuraja, 2006).
Penyunting dan kontributor: Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual (Gama Media-Teknokra, 2002).
Buku lainnya, Mamak Kenut, Sketsa-Sketsa Negarabatin (dalam proses terbit).
4. Pranala luar
• (id) Biografi Penyair Indonesia: Udo Z. Karzi
• (id) Udo Z. Karzi: Rebellious writer from Lampung
• (id) Ensiklopedia Sastra Lampung
Daftar kategori: Kelahiran 1970, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English, Bahasa Melayu
Usmar Ismail

Usmar Ismail (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Maret 1921 – wafat 2 Januari 1971 pada umur 49 tahun) adalah sutradara Indonesia. Karirnya dumulai sebagai asisten sutradara di Perfini yang diidrikan pada tahun 1950. Pada tahun 1952 – 1953 melanjutkan studi di Universitas Los Angeles jurusan film dan mendapatkan gelar Bachelor of Arts. Ia meninggal dunia pada 2 Januari 1971, karena stroke.

Usmar Ismail
1. Filmografi
• Darah dan Doa (1950)
• Lewat Djam Malam (1954)
• Tamu Agung (1955)
• Tiga Dara (1956)
• Harta Karun (1949)
• Tjitra (1949)
• Enam Djam Di Djokja (1951)
• Dosa Tak Berampun (1951)
• Kafedo (1953)
• Krisis (1953)
• Lagi-Lagi Krisis (1955)
• Delapan Pendjuru Angin (1957)
• Asrama Dara (1958)
• Pedjuang (1960)
• Toha Pahlawan Bandung Selatan (1961)
• Anak Perawan Disarang Penjamun (1962)
• Bajangan di Waktu Fadjar (1962)
• Holiday in Bali (1963)
• Anak-anak Revolusi (1964)
• Liburan Seniman (1965)
• Ja, Mualim (1968)
• The Big Village (1969)
• Ananda (1970)
2. Pranala luar
• (id) Situs Usmar Ismail di Perpustakaan Nasional Indonesia
• (fr) Usmar ISMAIL – Indonésie]

Film yang disutradarai Usmar Ismail
1940-an “Harta Karun” (1949) • “Tjitra” (1949)

1950-an “Darah dan Doa” (1950) • “Enam Djam di Djokja” (1951) • “Dosa Tak Berampun” (1951) • “Kafedo” (1953) • “Krisis” (1953) • “Lewat Djam Malam” (1954) • “Lagi-Lagi Krisis” (1955) • “Tamu Agung” (1955) • “Tiga Dara” (1956) •”Delapan Pendjuru Angin” (1957) • “Asrama Dara” (1958)

1960-an “Pedjuang” (1960) • “Toha Pahlawan Bandung Selatan” (1961) • “Anak Perawan Disarang Penjamun” (1962) •”Bajangan di Waktu Fadjar” (1962) • “Holiday in Bali” (1963) • “Anak-Anak Revolusi” (1964) • “Liburan Seniman” (1965) • “Ja, Mualim” (1968) • “The Big Village” (1969)

1970-an “Ananda” (1970)

Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1921, Kematian 1971, Rintisan biografi Indonesia, Sutradara Indonesia, Tokoh dari Bukittinggi
Bahasa lain: English
Utuy Tatang Sontani
Utuy Tatang Sontani (Cianjur, 1 Mei 1920 – Moskwa, 17 September 1979) adalah seorang sastrawan Angkatan 45 terkemuka.
Karyanya yang pertama adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937) sebuah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17. Novel ini pertama kali dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama. Setelah itu Utuy menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Orang-orang Sial (1951), yang diikuti oleh cerita-cerita lakonnya yang membuatnya terkenal. Lakon pertamanya (Suling dan Bunga Rumahmakan, 1948) ditulis sebagaimana lakon ditulis, tetapi selanjutnya ia menemukan cara menulis lakon yang unik, yang bentuknya seperti cerita yang enak dibaca.
Di antara lakon-lakonnya yang terkenal adalah Awal dan Mira (1952), Sajang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Djalan Anak Kufur (1956), Si Kabajan (1959), dan Tak Pernah Mendjadi Tua (1963).
Daftar isi:
1. Terseret arus politik zaman
2. Pindah ke Moskwa
3. Karya tulis
4. Pranala luar
1. Terseret arus politik zaman
Utuy diutus oleh pemerintah Indonesia pada 1958 sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan. Ketika hubungan politik Indonesia-Uni Soviet semakin mesra, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy, “Tambera”, yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat. Sementara itu, “Orang-Orang Sial”, hanya terbit di Tallin, dalam bahasa Estonia, karena dianggap terlalu pesimistik dan hanya mengungkapkan sisi gelap revolusi.
Pada 1 Oktober 1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan 1 Oktober di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok. Pecahnya G30S pada 1965 di Indonesia membuat mereka terlunta-lunta di tanah asing. Kembali ke Indonesia berarti ditangkap dan dituduh terlibat G30S, seperti yang dialami oleh begitu banyak kawan mereka. Situasi mereka semakin sulit ketika di RRT sendiri pecah Revolusi Kebudayaan pada 1966. Sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan negara itu dan pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti di Moskwa, termasuk Utuy dan sejumlah kawannya, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakjat.
2. Pindah ke Moskwa
Kedatangan Utuy di Moskwa pada 1971 disambut hangat oleh pemerintah Uni Soviet dan masyarakat ilmiah di sana, terutama karena nama Utuy sudah dikenal luas lewat karya-karyanya dan kehadirannya dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika pada 1958. Utuy diminta mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Moskwa dan sempat pula menghasilkan sejumlah karya tulis. Ia menyusun sekurang-kurangnya empat buah novel dan tiga otobiografi hingga ia wafat pada 1979 di Moskwa. Salah satu novelnya yang ditulisnya dan diterbitkan di Moskwa adalah Kolot Kolotok. Novel ini hanya dicetak terbatas untuk bahan studi di Jurusan Indonesia, Universitas Negara Moskwa. Di Bawah Langit Tak Berbintang adalah memoar dan otobiografinya yang mengisahkan pengalamannya hidup di pengasingan di RRT dan di Rusia.
Ketika ia meninggal, sebagai penghormatan nisannya ditempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam pertama di Moskwa.
3. Karya tulis
• Tambera (1948)
• Orang-orang Sial: sekumpulan tjerita tahun 1948-1950 (1951)
• Selamat Djalan Anak Kufur (1956)
• Si Kampeng (1964)
• Si Sapar: sebuah novelette tentang kehidupan penarik betjak di Djakarta (1964)
• Kolot Kolotok
• Di bawah langit tak berbintang (2001)
• Menuju Kamar Durhaka – kumpulan cerpen (2002)
Drama:
• Suling (1948)
• Bunga Rumah Makan: pertundjukan watak dalam satu babak (1948)
• Awal dan Mira: drama satu babak (1952)
• Sajang Ada Orang Lain (1954)
• Di Langit Ada Bintang (1955)
• Sang Kuriang: opera dua babak (1955)
• Si Kabajan: komedi dua babak (1959)
• Tak Pernah Mendjadi Tua (1963)
• Manusia Kota: empat buah drama (1961)
Selain ke dalam bahasa Rusia dan Estonia, karya-karya Utuy juga diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, mis. bahasa Inggris, Mandarin, Tagalog, dll.
Di masa Orde Baru, sama seperti para penulis yang mendapatkan stigma komunis, karya-karya Utuy dilarang beredar oleh pemerintah.
4. Pranala luar
• Studi Indonesia di Rusia: Sebuah Rumah Sejarah yang Alpa Disinggahi
Daftar kategori: Kelahiran 1920, Kematian 1979, Sastrawan Indonesia, Sastrawan Sunda, Tokoh Indonesia di pengasingan
Bahasa lain: Basa Jawa, Basa Sunda
Widji Thukul
Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963) adalah seorang sastrawan dan aktivis Indonesia.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Pendidikan
3. Aktivitas
4. Korban penculikan
5. Karya
6. Prestasi dan penghargaan
7. Lihat pula
8. Pranala luar
1. Keluarga
Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Widji Thukul
2. Pendidikan
Pendidikan tertinggi Thukul adalah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang.
3. Aktivitas
Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.
• Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.
• Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker)
• Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.
• Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.
• April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).
• Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul “Thukul, Pulanglah” yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
4. Korban penculikan
Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000.
5. Karya
Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi “Mencari Tanah Lapang” yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.
• Dua kumpulan puisinya : Puisi Pelo dan Darman dan lain-lain diterbitkan Taman Budaya Surakarta.
• Puisi: Bunga dan Tembok [1]
• Puisi: Peringatan
• Puisi: Kesaksian [2]
6. Prestasi dan penghargaan
• 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.
• 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta).
• 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
• 2002, dianugerahi penghargaan “Yap Thiam Hien Award 2002″
• 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.
7. Lihat pula
• Daftar orang hilang di Indonesia
• Penculikan aktivis 1997/1998
8. Pranala luar
• Kumpulan tulisan tentang Widji Thukul
• Wiji Thukul dan Orang Hilang
• Tokoh Indonesia
Daftar kategori: Kelahiran 1963, Sastrawan Indonesia, Aktivis Indonesia, Tokoh dari Surakarta, Orang hilang di Indonesia
W. S. Rendra
Wahyu Sulaeman Rendra (lahir sebagai Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Jakarta, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Pendidikan
3. Rendra sebagai sastrawan
4. Bengkel Teater
5. Penelitian tentang karya Rendra
6. Penghargaan
7. Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
8. Beberapa karya
9. Pranala luar
W. S. Rendra

Nama lahir Willibrordus Surendra Broto Rendra
Lahir 7 November 1935
Solo, Indonesia

Meninggal 6 Agustus 2009 (umur 73)
Jakarta, Indonesia

Nama lain W.S. Rendra
Pekerjaan aktor, penyair

1. Masa kecil
Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.
2. Pendidikan
• TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
• SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo – Tamat pada tahun 1955.
• Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta – Tidak tamat.
• mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967).
3. Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
4. Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
5. Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.
6. Penghargaan
• Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
• Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
• Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
• Hadiah Akademi Jakarta (1975)
• Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
• Penghargaan Adam Malik (1989)
• The S.E.A. Write Award (1996)
• Penghargaan Achmad Bakri (2006).
7. Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.
Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Setelah menjadi muslim namanya menjadi Wahyu Sulaeman Rendra.
Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.
Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
8. Beberapa karya
8. 1. Drama
• Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
• Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
• SEKDA (1977)
• Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali)
• Mastodon dan Burung Kondor (1972)
• Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
• Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
• Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”)
• Lisistrata (terjemahan)
• Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
• Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
• Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali)
• Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: “La Guerre de Troie n’aura pas lieu”)
• Panembahan Reso (1986)
• Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
8. 2. Sajak/Puisi
• Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
• Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
• Blues untuk Bonnie
• Empat Kumpulan Sajak
• Jangan Takut Ibu
• Mencari Bapak
• Nyanyian Angsa
• Pamphleten van een Dichter
• Perjuangan Suku Naga
• Pesan Pencopet kepada Pacarnya
• Potret Pembangunan Dalam Puisi
• Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
• Rick dari Corona
• Rumpun Alang-alang
• Sajak Potret Keluarga
• Sajak Rajawali
• Sajak Seonggok Jagung
• Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
• State of Emergency
• Surat Cinta1
9. Pranala luar
• (id) W.S. Rendra di TokohIndonesia.com
• (id) WS Rendra di Situs Pusat Bahasa
• (id) kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Si Burung Merak
• (id) Sajak Sebatang Lisong, ITB 1977
Daftar kategori: Kelahiran 1935, Kematian 2009, Alumni Universitas Gadjah Mada, Mu’allaf, Pemeran Indonesia, Poligamis, Sastrawan Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Tokoh Jawa Tengah, Tokoh Yogyakarta, Tokoh dari Surakarta
Bahasa lain: Bahasa Melayu, Basa Jawa, Deutsch, Nederlands

2. Cerpenis
• Ali Akbar Navis
• Abidah el Khalieqy
• Ahmadun Yosi Herfanda
• Akmal Nasery Basral
• Armijn Pane
• A.S. Laksana
• Damhuri Muhammad
• Danarto
• Hamka
• Helvy Tiana Rosa
• Imam Muhtarom
• Irfan Hidayatullah
• Korrie Layun Rampan
• Kuntowijoyo
• Lan Fang
• Leila S. Chudori
• Martin Aleida
• Palti R Tamba
• Raudal Tanjung Banua
• Sunlie Thomas Alexander
• Seno Gumira Ajidarma
• Taufik Ikram Jamil
• Wisnu Sujianto
• Moch Satrio Welang
A.A. Navis
Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – wafat 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis ‘Sang Pencemooh’ adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

A.A. Navis
Daftar isi:
1. Kehidupan Pribadi
2. Buah karya
3. Pandangan-pandangan A.A. Navis
4. Karya tulis
5. Daftar pustaka
1. Kehidupan Pribadi
Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.
Sebelum dikebumikan, sejumlah tokoh, budayawan, seniman, pejabat, akademikus, dan masyarakat umum melayat ke rumah duka di Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang. Di antaranya; Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif, Gubernur Sumbar Zainal Bakar, mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, dan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin, serta penyair Rusli Marzuki Saria.
Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal, Robohnya Surau Kami, terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah, (1955). Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.
2. Buah karya
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya, dan delapan antologi luar negeri, serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal adalah:
• Surau Kami (1955)
• Bianglala (1963)
• Hujan Panas (1964)
• Kemarau (1967)
• Saraswati
• Si Gadis dalam Sunyi (1970)
• Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
• Di Lintasan Mendung (1983)
• Dialektika Minangkabau (editor, 1983)
• Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
• Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
• Cerita Rakyat Sumbar (1994)
• Jodoh (1998)
Sebagai seorang penulis, ia tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep, 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina, 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an, dan ada yang ditulis tahun 1950-an.
Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. “Tidak semua gagasan dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? “Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya, menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. “Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas, Minggu, 7 Desember 1997.
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.
3. Pandangan-pandangan A.A. Navis
Ia menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi, orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.
Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. “Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Ia melihat, perkembangan sastra di Indonesia sedang macet. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, “semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor,” katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah “tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua” (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah A.A. Navis “Sang Kepala Pencemooh”.
4. Karya tulis
• Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005)
• Gerhana: novel (2004)
• Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 3 (2001)
• Kabut Negeri si Dali: Kumpulan Cerpen (2001)
• Dermaga Lima Sekoci (2000)
• Jodoh: Kumpulan Cerpen (1999)
• Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 2 (1998)
• Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidik INS Kayutanam (1996)
• Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994)
• Surat dan Kenangan Haji (1994)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat (1994)
• Hujan Panas dan Kabut Musim: Kumpulan Cerita Pendek (1990)
• Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986)
• Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984)
• Di Lintasan Mendung (1983)
• Dialektika Minangkabau (editor) (1983)
• Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975)
• Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970)
• Kemarau (1967)
• Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963)
• Hudjan Panas (1963)
• Robohnya Surau Kami (1955)
5. Daftar pustaka
• (id) TokohIndonesia.Com
Daftar kategori: Kelahiran 1924, Kematian 2003, Sastrawan Indonesia, Tokoh Sumatera Barat
Bahasa lain: English, Basa Jawa
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958; umur 51 tahun) adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia.

Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ahmadun juga banyak menulis esei sastra.
Sehari-hari kini Ahmadun menjadi wartawan (dengan inisial AYH) dan redaktur sastra Harian Republika dan pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006, tapi mengundurkan diri. Ia juga sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.
Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, tapi mengundurkan diri. Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Dianggap sebagai salah satu sastrawan Indonesia terkemuka saat ini.
Daftar isi:
1. Karya
2. Referensi
3. Pranala luar
1. Karya
Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain, Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001), Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).
Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:
• Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
• Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
• Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
• Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
• Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
• Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
• Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
• Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
• Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
• Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
• The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
• Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
• Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
2. Referensi
• (en) Curriculum Vitae Ahmadun Yosi Herfanda di situs Australia Indonesia Arts Alliance.
• (en) Amirrachman, Alpha Untirta tries to break ‘literature deadlock’. The Jakarta Post, 5 Februari 2006.
• (en) Aveling, Harry, 2001, Secrets Need Words, USA, Ohio University.
• (en) Rampan, Korrie Layun, 2001, Angkatan 2000, Jakarta, PT Gramedia.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, The Warshipping Grass, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
3. Pranala luar
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di Cybersastra.net
• (id) Cerpen Bulan Terkapar di Trotoar karya Ahmadun (2004) di weblog kumpulan cerpen Indonesia.
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di http://www.poetry.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1958, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English
Akmal Nasery Basral
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Daftar isi:
1. Jurnalistik
2. Sastra
3. Bibliografi
4. Karya Terjemahan
5. Lain-lain
Akmal Nasery Basral

Pekerjaan
wartawan, sastrawan
Kebangsaan
Indonesia
Aliran
realis

1. Jurnalistik
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai.
2. Sastra
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar. Berdasarkan informasi di sampul belakang Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku, saat ini Akmal sedang menyelesaikan novel Las Palabras de Amor, sebuah judul yang diambil dari salah satu lagu kelompok Queen, grup musik favoritnya.
3. Bibliografi
• Seputar Pembaruan Tentang Islam, co-editor (non-fiksi, 1990).
• Andai Ia Tahu: Kupas Tuntas Proses Pembuatan Film, penyunting pendamping (co-editor) (non-fiksi, 2003)
• Kisah Kasih Negeri Pengantin, co-writer (non-fiksi, 2005)
• Imperia, novel (2005)
• Ada Seseorang di Kepalaku Yang Bukan Aku, kumpulan cerpen (2006)
• Melodi Tanpa Do, skenario Film Televisi (FTV), ditayangkan Indosiar (2006)
• Selasar Kenangan, penyunting penyelia, kumpulan cerpen mailing list Apresiasi Sastra (2006)
• Nagabonar Jadi 2, novel adaptasi (2007)
4. Karya Terjemahan
• Million $$$ Baby (F.X. Toole), penyunting pendamping (co-editor) edisi Indonesia (2006)
• The Sea (John Banville), penyunting edisi Indonesia (2007)
• Akhenaten Adventure (P.B. Kerr), penyunting edisi Indonesia (2008)
5. Lain-lain
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia, sebuah penghargaan musik yang mengacu pada piala Grammy Award di Amerika Serikat. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya. Festival Film Jakarta adalah sebuah penghargaan yang sepenuhnya melibatkan wartawan film nasional sebagai pemilih awal. Sistem festival mengacu pada Golden Globe Award.
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1968, Wartawan Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Jakarta
Armijn Pane
Armijn Pane (lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908 – wafat di Jakarta, 16 Februari 1970 pada umur 61 tahun) adalah seorang penulis yang terkenal keterlibatannya dengan majalah Pujangga Baru. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah, Armijn Pane mampu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

Armijn Pane
Selain menulis puisi dan novel, Armijn Pane juga menulis kritik sastra. Tulisan-tulisannya yang terbit pada Pujangga Baru, terutama di edisi-edisi awal menunjukkan wawasannya yang sangat luas dan, dibandingkan dengan beberapa kontributor lainnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan saudara laki-laki Armijn, Sanusi Pane, kemampuan menilai dan menimbang yang adil dan tidak terlalu terpengaruhi suasana pergerakan nasionalisme yang terutama di perioda akhir Pujangga Baru menjadi sangat politis dan dikotomis.
Salah satu karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.
1. Bibliografi
• Puisi
o Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
o Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
• Novel
o Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
• Kumpulan Cerpen
o Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
o Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
• Drama
o Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
2. Pranala luar
• (id) Laman Pusat Bahasa – Armijn Pane
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1970, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa, 日本語, Nederlands, Română
A.S. Laksana
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968; umur 40 tahun) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Daftar isi:
1. Karya Fiksi
2. Karya Non Fiksi
3. Pranala luar
1. Karya Fiksi
• Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004), kumpulan cerita pendek
• Cinta Silver (Gagas Gasmedia, 2005), novel adaptasi dari film Cinta Silver
2. Karya Non Fiksi
• Skandal Bank Bali (Detak, 1999)
• Podium DeTik (Sipress, 1995)
• Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel (Mediakita, 2007)
3. Pranala luar
• Ruang Berbagi, blog pribadi
• Bidadari yang Mengembara, berisi cerpen dari Bidadari yang Mengembara
• Jakarta School
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1968, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Semarang
Danarto
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 69 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982.

Danarto
Daftar isi:
1. Kehidupan pribadi
2. Karya
3. Pranala luar
1. Kehidupan pribadi
Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayangnya, rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang.
2. Karya
• Godlob, kumpulan cerpen, 1975
• Adam Ma’rifat, kumpulan cerpen, 1982?
• Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji, 1983
3. Pranala luar
• (id) Apa dan Siapa PDAT
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1940, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Sragen
Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.

Hamka
Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Daftar isi:
1. Biografi
2. Daftar Karya Buya Hamka
3. Aktivitas lainnya
4. Rujukan
5. Pranala luar
1. Biografi

Hamka
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.
2. Daftar Karya Buya Hamka
1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2. Si Sabariah. (1928)
3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12. Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18. Tuan Direktur 1939.
19. Dijemput mamaknya,1939.
20. Keadilan Ilahy 1939.
21. Tashawwuf Modern 1939.
22. Falsafah Hidup 1939.
23. Lembaga Hidup 1940.
24. Lembaga Budi 1940.
25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27. Negara Islam (1946).
28. Islam dan Demokrasi,1946.
29. Revolusi Pikiran,1946.
30. Revolusi Agama,1946.
31. Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
32. Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
33. Didalam Lembah cita-cita,1946.
34. Sesudah naskah Renville,1947.
35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36. Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
37. Ayahku,1950 di Jakarta.
38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41. Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
42. Kenangan-kenangan hidup 2.
43. Kenangan-kenangan hidup 3.
44. Kenangan-kenangan hidup 4.
45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50. Pribadi,1950.
51. Agama dan perempuan,1939.
52. Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54. Pelajaran Agama Islam,1956.
55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56. Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57. Empat bulan di Amerika Jilid 2.
58. Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
59. Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69. Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71. Himpunan Khutbah-khutbah.
72. Urat Tunggang Pancasila.
73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74. Sejarah Islam di Sumatera.
75. Bohong di Dunia.
76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
78. Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.
79. [Tafsir Al-Azhar][1] Juzu’ 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.
3. Aktivitas lainnya
• Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942
• Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956
• Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953
• Tafsir Al-Azhar Online
• E-buku Buya Hamka
• E-book Jalan Istiqomah Sang Legenda Buya Hamka
4. Rujukan
• Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka, terbitan Yayasan Nurul Islam, cetakan kedua 1979.
5. Pranala luar
• (id) Ceramah Buya Hamka
• (id) Info lain tentang Hamka
• (id) Tafsir Hamka Online
• (id) Jalan Istiqomah Sang Legenda Buya Hamka
Didahului oleh:
- Ketua MUI
26 Juli 1977 – 1981 Digantikan oleh:
Syukri Ghozali
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1981, Sastrawan Indonesia, Tokoh Islam Indonesia
Bahasa lain: English, Bahasa Melayu, Suomi
Helvy Tiana Rosa
Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 39 tahun) adalah sastrawan, motivator menulis, editor dan dosen. Helvy memperoleh gelar sarjana sastra dari Fakultas Sastra UI. Gelar magister diperolehnya dari Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Sehari-hari ia adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.

Helvy Tiana Rosa
Mantan Redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan Sumatera.
Helvy merupakan pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena/ FLP (1997-2005), sebuah forum penulis muda beranggotakan lebih 7000 orang yang tersebar di 125 kota di Indonesia dan mancanegara. Bersama teman-temannya di FLP, ia mendirikan dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Selama 11 tahun keberadaannya, bekerjasama dengan puluhan penerbit, FLP telah meluncurkan lebih dari 1000 judul buku. Karena kegiatannya The Straits Times dan Koran Tempo menyebut Helvy sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003). Tahun 2008, Helvy membawa FLP meraih Danamon Award–sebuah penghargaan tingkat nasional bagi mereka yang dianggap sebagai pejuang, dan secara signifikan dianggap berhasil melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar.
Tahun 1980-1990 Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat propinsi dan nasional. Namun menurutnya yang paling berkesan ketika ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002), sedangkan Bukavu masuk seleksi Long List Khatulistiwa Literary Award 2008. Istri Tomi Satryatomo serta Ibu Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini pernah terpilih sebagai Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008), Tokoh Perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Tokoh sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ummi Award dari Majalah Ummi (2004), Muslimah Berprestasi versi Majalah Amanah (2000), Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), dll. Sastrawan yang juga nominator Indonesia Berprestasi Award XL 2007 Bidang Seni Budaya ini, sering diundang berbicara dalam berbagai forum sastra dan budaya di pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, Amerika Serikat, dll.
Mantan Sekretaris DPH-Dewan Kesenian Jakarta (2003) dan Anggota Komite Sastra DKJ (2003-2006), sehari-harinya adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Tahun 2008 ia terpilih sebagai Dosen Berprestasi Universitas Negeri Jakarta. Kini ia juga Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, Direktur Lingkar Pena Publishing House, dan Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera.
1. Karya
Helvy menulis puluhan buku. Beberapa cerpennya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman,Swedia, dll. Di samping itu ia adalah editor puluhan buku dan kerap diundang sebagai juri dalam berbagai sayembara penulisan di dalam dan luar negeri.
1. 1. Buku
1. Bukavu (LPPH), 2008)
2. Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
3. Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
4. Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
5. Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP 2006)
6. Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press 2005)
7. Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press 2005)
8. Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika 2005)
9. Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
10. 1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
11. Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa 2004)
12. Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
13. Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
14. Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
15. Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
16. Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya (Syaamil, 2003)
17. Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
18. Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
19. Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press, 2002)
20. Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
21. Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
22. Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
23. Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
24. Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
25. Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
26. Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
27. Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
28. Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
29. Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
30. Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
31. Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
32. Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
33. Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
34. Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
35. Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
36. Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
37. Lentera (An Najah Press,1999)
38. Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
39. Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
40. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
41. Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
42. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
43. Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
44. Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll
1. 2. Naskah Drama
Menulis naskah dan menyutradarai pementasan Teater Bening di Gedung Kesenian Jakarta, Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI, serta keliling kampus di Jawa dan Sumatera (1991-2000)
1. Tanah Perempuan (2005)
2. Mataairmata Merdeka (bersama Rahmadiyanti, 2000).
3. Pertemuan Perempuan (bersama Muthiah Syahidah, 1997)
4. Mencari Senyuman (1998)
5. Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (1999)
6. Luka Bumi (1997)
7. Fathiya dari Srebrenica (1994)
8. Maut di Kamp Loka (1994)
9. Negeri Para Pesulap (1993)
10. Aminah & Palestina (1991)
2. Referensi
• (id) Pena Kecil Helvy Tiana Rosa
• Helvy Tiana Rosa: Menulis Itu Bakat dari Allah
• Sosok dan Kiprah: Helvy Tiana Rosa
• Helvy Tiana Rosa; Tokoh Perbukuan Islam 2006
• Berharap Kepada Perempuan Penulis
• Mereka yang dikenal Produktif Menulis
• 10 tahun FLP Melebar Sampai Luar Negeri
• Novaganza Bertabur Bintang dan Hiburan
• Success Story: Helvy Tiana Rosa
• Setiap Karya sastra Harus memberi Pencerahan
• An Inspiring Indonesian Writing group is Giving Women A Greater Voice
• [1]
• Profil Helvy di Goodreads.com
• Helvy Tiana Rosa Raih Danamon Award
• Profil Helvy di LInkedin
• 19 Wanita Inspiratif; Helvy jadikan PRT Selebritis
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1970, Alumni Universitas Indonesia, Penulis Indonesia, Sastrawan Indonesia
Kuntowijoyo
Prof. Dr. Kuntowijoyo (juga dieja Kuntowidjojo; lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 – meninggal 22 Februari 2005 pada umur 61 tahun) adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia.

Kuntowijoyo
Kuntowijoyo mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Ia lulus SMP di Klaten dan SMA di Solo, sebelum lulus sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada pada tahun 1969. Gelar MA American History diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, dan Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980.
Ia banyak menulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra, di antaranya Mantra Pejinak Ular, Isyarat, Khotbah di Atas Bukit, dan Impian Amerika. Selain itu, ia juga sering menulis cerita pendek dan esai di surat kabar.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya adalah penghargaan sastra dari Pusat Bahasa atas kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994), ASEAN (1997), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (1999), dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001).
Ia meninggal dunia akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus meningo enchephalitis. Saat meninggal dunia, ia adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada dan juga pengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Gagasannya yang sangat penting bagi pengembangan ilmu sosial di Indonesia adalah idenya tentang Ilmu Sosial Profetik (ISP). Bagi Kuntowijoyo, ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja tapi lebih dari itu, ilmu sosial harus juga mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. Ia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu: humanisasi, liberasi dan transendensi. Ide ini kini mulai banyak dikaji. Di bidang sosiologi misalnya muncul gagasan Sosiologi Profetik yang dimaksudkan sebagai sosiologi berparadigma ISP.
1. Pranala luar
• (id) “Budayawan Kuntowijoyo Tutup Usia”, Liputan 6, 23 Februari 2005
• (id) “Kuntowijoyo Sang Begawan”, KOMPAS, 24 Februari 2005
• (id) Profil di Tokoh Indonesia
• (id) Halaman di situs Fakultas Ilmu Budaya UGM
Daftar kategori: Kelahiran 1943, Kematian 2005, Sastrawan Indonesia, Budayawan Indonesia, Alumni Universitas Gadjah Mada
Palti R Tamba

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Palti R Tamba, dilahirkan di Saitnihuta Tamba tepi Danau Toba, Samosir. Anak ke-6 dari 9 bersaudara. Ayahnya, P.Tamba (Alm)dan ibu D br Situmorang. Mulai menulis di majalah dinding di SMP Katolik Budi Mulia Pangururan. Pada masa itu, itu mulai sebagai anggota redaksi, kemudian diangkat menjadi pemimpin redaksinya. Keseriusannya dalam menulis dan membaca karya-karya sastra, barulah berawal di tahun 1988. Ia menulis puisi dan prosa. Dan semasa kuliah menulis artikel-artikel juga di media cetak seperti, Haluan, Singgalang, Taruna Baru. Karya-karya cerpennya dan puisi, pernah dimuat media-media cetak, seperti:Horison, Amanah, Sarinah (alm),Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan Surabaya Pos. Karyanya yang sudah dibukukan, Rombongan Pengantin, kumpulan cerpen, (Balai Pustaka, 2001). Sebuah cerpennya menjadi nominate cerpen terbalik pilihan Kompas dan dibukukan dalam Lampor, Cerpen Pilihan Kompas 1994 (Penerbit Kompas, 1994). Sekarang, bersama istri dan dua anaknya tinggal di Cikarang Selatan, kabupaten Bekasi.
Daftar kategori: Artikel yang perlu dirapikan
Sunlie Thomas Alexander

Artikel ini tidak memiliki referensi atau pranala luar ke sumber-sumber terpercaya yang dapat menyatakan kelayakan dari subyek yang dibahas.
Artikel ini akan dihapus pada 20 Oktober 2009 jika tidak diperbaiki.
1. Sunlie Thomas Alexander
Lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah, Being Community, dan Komunitas Ladang.
Karya-karyanya berupa cerpen, puisi dan esai tersebar di pelbagai suratkabar, majalah, dan jurnal yang terbit di Indonesia seperti Horison, Koran Tempo, Kompas, Jurnal Cerpen Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Nova, Lampung Post, Jurnal Nasional, Rakyat Merdeka, Riau Pos, Sijori Pos, Batam Pos, Padang Ekspres, Radar Lampung, Bangka Pos, Sriwijaya Post, Radar Banjarmasin, Pontianak Post, Sumatera Ekspres, Hai, Bernas, Pawon, Jurnal Sundih, Metro Babel, Minggu Pagi, Koran Merapi dan lain-lain.
Juga di situs-situs sastra seperti http://www.cybersastra.net, http://www.tandabaca.com, http://www.padangmedia.com, dan http://www.fordisastra.com, di samping terhimpun dalam sejumlah antologi bersama dan pemenang lomba, di antaranya BARI I (KPPMP, 1996), Anak-anak Gereja (Sinode Keuskupan Pangkalpinang, 1999), Lagu Putih Pulau Lada (KPSPB, 2000), Galanggang (Dewan Kesenian Padang, 2003), Narasi dari Pesisir (Dewan Kesenian Lampung, 2004), Kelekak (Yayasan Nusantara & Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2005), Bangka-Belitung Bercahaya (Yayasan Nusantara & Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2006), Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa (SSN & Komunitas Ladang, 2006), The Regala 204 B (Gapuraja Media, 2006), Antologi Puisi Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan (KSSB, 2006), Laut Berkabar (Dinas Kebudayaan, Kesenian dan Pariwisata Provinsi Riau, 2007), 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 (PT Gramedia Pustaka Utama—Anugerah Sastra Pena Kencana, 2008), Seranai Batanghari (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2008), 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (PT Gramedia Pustaka Utama—Anugerah Sastra Pena Kencana, 2008), dan sebagainya.
Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah ”Malam Buta Yin” (Gama Media, 2009).
Daftar kategori: Artikel yang perlu rujukan kelayakan yang telah jatuh tempo penghapusan, Halaman yang telah jatuh tempo penghapusan
Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma (lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958; umur 51 tahun) adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni—Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.
Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

SG Ajidarma
1. Pranala luar
• (id) Apa dan Siapa – Seno Gumira Ajidarma
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1958, Rintisan biografi Indonesia, Penulis Indonesia
Bahasa lain: English, Português

3. Novelis
• Aam Amilia
• Akmal Nasery Basral
• Andrea Hirata
• Armijn Pane
• Asma Nadia
• A.S. Laksana
• Ayu Utami
• Budi Darma
• Dewi Lestari
• Djamil Suherman
• Gola Gong
• Habiburrahman El Shirazy
• Marga T
• Mochtar Lubis
• Motinggo Busye
• Nh. Dini
• Pipiet Senja
• Pramoedya Ananta Toer
• Remy Silado
• Seno Gumira Adjidarma
• Sobron Aidit
• Suwarsih Djojopuspito
• Titie Said
• Titis Basino
• Titiek WS
• Y.B.Mangunwijaya
Akmal Nasery Basral
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Daftar isi:
1. Jurnalistik
2. Sastra
3. Bibliografi
4. Karya Terjemahan
5. Lain-lain
Akmal Nasery Basral

Pekerjaan
wartawan, sastrawan
Kebangsaan
Indonesia
Aliran
realis

1. Jurnalistik
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai.
2. Sastra
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar. Berdasarkan informasi di sampul belakang Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku, saat ini Akmal sedang menyelesaikan novel Las Palabras de Amor, sebuah judul yang diambil dari salah satu lagu kelompok Queen, grup musik favoritnya.
3. Bibliografi
• Seputar Pembaruan Tentang Islam, co-editor (non-fiksi, 1990).
• Andai Ia Tahu: Kupas Tuntas Proses Pembuatan Film, penyunting pendamping (co-editor) (non-fiksi, 2003)
• Kisah Kasih Negeri Pengantin, co-writer (non-fiksi, 2005)
• Imperia, novel (2005)
• Ada Seseorang di Kepalaku Yang Bukan Aku, kumpulan cerpen (2006)
• Melodi Tanpa Do, skenario Film Televisi (FTV), ditayangkan Indosiar (2006)
• Selasar Kenangan, penyunting penyelia, kumpulan cerpen mailing list Apresiasi Sastra (2006)
• Nagabonar Jadi 2, novel adaptasi (2007)
4. Karya Terjemahan
• Million $$$ Baby (F.X. Toole), penyunting pendamping (co-editor) edisi Indonesia (2006)
• The Sea (John Banville), penyunting edisi Indonesia (2007)
• Akhenaten Adventure (P.B. Kerr), penyunting edisi Indonesia (2008)
5. Lain-lain
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia, sebuah penghargaan musik yang mengacu pada piala Grammy Award di Amerika Serikat. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya. Festival Film Jakarta adalah sebuah penghargaan yang sepenuhnya melibatkan wartawan film nasional sebagai pemilih awal. Sistem festival mengacu pada Golden Globe Award.
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1968, Wartawan Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Jakarta
Andrea Hirata
Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir 24 Oktober) adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :
1. Laskar Pelangi
2. Sang Pemimpi
3. Edensor
4. Maryamah Karpov
Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 – 2007.
Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains–fisika, kimia, biologi, astronomi–dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.
Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom.
Andrea Hirata

Nama lahir Andrea Hirata Seman Said Harun
Lahir 24 Oktober
Indonesia

Pekerjaan penulis

Tahun aktif 2006 – sekarang

1. Pranala luar
• (id) Website pribadi Andrea Hirata di multiply.com
• (id) Profil Andrea Hirata
• (id) Biography Andrea Hirata
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Novelis Indonesia, Tokoh Kepulauan Bangka Belitung, Alumni Universitas Indonesia, Tokoh yang tidak memiliki informasi tahun kelahiran
Bahasa lain: Basa Jawa
Armijn Pane
Armijn Pane (lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908 – wafat di Jakarta, 16 Februari 1970 pada umur 61 tahun) adalah seorang penulis yang terkenal keterlibatannya dengan majalah Pujangga Baru. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah, Armijn Pane mampu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

Armijn Pane
Selain menulis puisi dan novel, Armijn Pane juga menulis kritik sastra. Tulisan-tulisannya yang terbit pada Pujangga Baru, terutama di edisi-edisi awal menunjukkan wawasannya yang sangat luas dan, dibandingkan dengan beberapa kontributor lainnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan saudara laki-laki Armijn, Sanusi Pane, kemampuan menilai dan menimbang yang adil dan tidak terlalu terpengaruhi suasana pergerakan nasionalisme yang terutama di perioda akhir Pujangga Baru menjadi sangat politis dan dikotomis.
Salah satu karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.
1. Bibliografi
• Puisi
o Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
o Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
• Novel
o Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
• Kumpulan Cerpen
o Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
o Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
• Drama
o Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
2. Pranala luar
• (id) Laman Pusat Bahasa – Armijn Pane
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1970, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa, 日本語, Nederlands, Română
Asma Nadia
Asmarani Rosalba (lahir di Jakarta tahun 1972), lebih dikenal sebagai Asma Nadia, adalah penulis Indonesia. Ia lahir dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Saat ini dikenal sebagai Ketua Forum Lingkar Pena, suatu perkumpulan yang ikut dibidaninya untuk membantu penulis-penulis muda. Ia juga menjadi Ketua Yayasan Lingkar Pena, dan manajer Lingkar Pena Publishing House. Karena karya-karyanya ia pernah mendapat berbagai penghargaan. Selain menulis, Asma sering diminta untuk memberi materi dalam berbagai loka karya yang berkaitan dengan penulisan serta keperempuanan.
Asma Nadia telah menikah dan dianugerahi dua anak.

Asma Nadia ketika menjadi model di majalah Noor
1. Karya
Asma Nadia aktif menulis dan mempublikasi karyanya semenjak ia lulus dari SMA 1 Budi Utomo, Jakarta. Sasarannya adalah berbagai majalah keislaman. Ia juga menulis lirik sejumlah lagu, misalnya yang dinyanyikan oleh kelompok Snada.
1. 1. Buku
Asma telah menulis 32 buku hingga saat ini, baik sendiri maupun bersama-sama dengan penulis lain. Banyak di antaranya diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Di antaranya:
• Derai Sunyi, novel, mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA)
• Preh (A Waiting), naskah drama dua bahasa, diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta
• Cinta Tak Pernah Menar, kumpulan cerpen, meraih Pena Award
• Rembulan di Mata Ibu (2001), novel, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional
• Dialog Dua Layar, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002
• 101 Dating meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005
• Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!, nonfiksi, best seller.
Karya-karya berikut ditulis bersama penulis lain:
• Ketika Penulis Jatuh Cinta, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Kisah Kasih dari Negeri Pengantin, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Jilbab Pertamaku, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Miss Right Where R U? Suka Duka dan Tips Jadi Jomblo Beriman, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Jatuh Bangun Cintaku, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Gara-gara Jilbabku, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• Galz Please Don’t Cry, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• The Real Dezperate Housewives, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• Ketika Aa Menikah Lagi, Penerbit Lingkar Pena, 2007
• Karenamu Aku Cemburu, Penerbit Lingkar Pena, 2007
• Catatan Hati di Setiap Sujudku, Penerbit Lingkar Pena, 2007.
• Badman: Bidin
• Suparman Pulang Kampung
• Pura-Pura Ninja
• Catatan Hati di Setiap Sujudku (kumpulan tulisan dari mailing list).
2. Pranala luar
• Profil di laman Gramedia Pustaka Utama
• Profil karya di laman Penerbit Mizan (juga menjadi rujukan artikel ini untuk karya).
Daftar kategori: Kelahiran 1972, Sastrawan Indonesia
A.S. Laksana
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968; umur 40 tahun) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Daftar isi:
1. Karya Fiksi
2. Karya Non Fiksi
3. Pranala luar
1. Karya Fiksi
• Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004), kumpulan cerita pendek
• Cinta Silver (Gagas Gasmedia, 2005), novel adaptasi dari film Cinta Silver
2. Karya Non Fiksi
• Skandal Bank Bali (Detak, 1999)
• Podium DeTik (Sipress, 1995)
• Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel (Mediakita, 2007)
3. Pranala luar
• Ruang Berbagi, blog pribadi
• Bidadari yang Mengembara, berisi cerpen dari Bidadari yang Mengembara
• Jakarta School
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1968, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Semarang
Ayu Utami

Justina Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968; umur 40 tahun) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ayu Utami, 2005
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Karir dan kegiatan
3. Karya
4. Penghargaan
5. Pranala luar
1. Pendidikan
• SD Regina Pacis, Bogor (1981)
• SMP Tarakanita 1 Jakarta (1984)
• SMA Tarakanita 1 Jakarta (1987)
• Jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994)
• Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)
• Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999)
2. Karir dan kegiatan
• Wartawan lepas Matra
• Wartawan Forum Keadilan
• Wartawan D&R
• Anggota Sidang Redaksi Kalam
• Kurator Teater Utan Kayu
• Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
• Peneliti di Institut Studi Arus Informasi
3. Karya
• Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
• Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
• Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, GagasMedia, Jakarta, 2003
• Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
4. Penghargaan
• Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998
• Prince Claus Award 2000
5. Pranala luar
• (id) Apa dan Siapa PDAT
• (id) Biografi dalam Potret di Intisari 1998
• (id) Biografi di CBN
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1968, Rintisan biografi Indonesia, Tokoh Katolik Indonesia, Alumni Universitas Indonesia, Novelis Indonesia, Aktivis Indonesia, Model Indonesia, Finalis Wajah Femina, Tokoh dari Bogor
Bahasa lain: English, Français, Português
Dewi Lestari
Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 33 tahun) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.
Daftar isi:
1. Karir menyanyi
2. Karir Menulis
3. Kehidupan pribadi
4. Diskografi
5. Pranala luar
6. Referensi
Dewi Lestari

Nama lahir Dewi Lestari Simangunsong
Lahir 20 Januari 1976 (umur 33)
Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Nama lain Dewi Lestari, Dewi RSD, Dee
Pasangan Marcell Siahaan(bercerai),Reza Gunawan

Anak Keenan Avalokita Kirana
lahir 5 Agustus 2004
Orang tua Yohan Simangunsong
Turlan br Siagian (alm)
1. Karir menyanyi
Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Sejak kecil Dee telah akrab dengan musik. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Sebelum bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee pernah menjadi backing vocal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti bergabung membentuk trio Rida Sita Dewi (RSD) atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian.
Trio RSD meluncurkan album perdana, Antara Kita pada tahun 1995 yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis album Satu (1999) dengan nomor andalan antara lain, “Kepadamu” dan “Tak Perlu Memiliki”. Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni “Ketika Kau Jauh” ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan “Terlambat Bertemu”, karya pentolan Kahitna, Yovie Widianto.Pada tahun 2006 Dee meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul Out Of Shell,dan tahun 2008 melucurkan album RectoVerso,Album Ini mengundang Arina Mocca berduet di lagu Aku Ada dan berduet di lagu Peluk dengan Aqi Alexa.Hits besarnya adakah Malaikat Juga Tahu.Di Album ini juga Dee merilis ulang lagu milik marcel Siahan berjudul Firasat
2. Karir Menulis
Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.
Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Website khusus mengenai ulasan buku RECTOVERSO ada di http://www.dee-rectoverso.com
Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas.
3. Kehidupan pribadi
Dee menikah dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan pada 12 September tahun 2003. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus 2004). Pertengahan tahun 2008 pernikahan mereka retak karena diduga ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Dee menggugat cerai suaminya di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada tanggal 27 Juni 2008.[1]
Dewi kemudian menikah lagi dengan Reza Gunawan tanggal 11 November 2008 di Sydney.
4. Diskografi
• 1995 – Antara Kita (bersama RSD)
• 1997 – Ber-Tiga (Bersama RSD)
• 1999 – I (bersama RSD)
• 2002 – The Best Of (bersama RSD)
• 2006 – Out Of The Shell (album solo)
• 2008 – Rectoverso (album solo)
5. Pranala luar
• Biografi di tokohindonesia.com
• Profil di KapanLagi.com
6. Referensi
1. Dewi Lestari Gugat Cerai Marcell, diakses 12 Juni 2008
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1976, Penyanyi Indonesia, Penulis Indonesia, Alumni Universitas Parahyangan, Tokoh dari Bandung
Djamil Suherman
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Djamil Suherman (lahir di Surabaya, 24 April 1924, meninggal di Bandung, 30 November 1985) adalah sastrawan Indonesia.
Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek:
• Muara (bersama Kaswanda Saleh, (1958)
• Manifestasi (1963)
• Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962)
• Umi Kulsum (1983)
• Nafiri (1983)
• Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984)
• Sarip Tambakoso (1985)
• Sakerah (1985).
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1924, Kematian 1985, Sastrawan Indonesia
Gola Gong
Gola Gong adalah nama pena dari Heri Hendrayana Harris. Dia dilahirkan di Purwakarta pada 15 Agustus 1963 dari ibu bernanama Atisah dan ayah bernama Harris. Dia terkenal dengan novelnya yang berjudul Balada Si Roy. Selain menulis novel tersebut dia juga menulis novel lain lebih dari 25 judul. Sejak 2001 dia mendirikan komunitas kesenian Rumah Dunia di Serang, Banten.

Gola Gong
Gola Gong adalah anak kedua dari lima bersaudara. Selengkapnya adalah Dian, Gola Gong, Goozal, Eva, dan Evi. Pada 1965 ia bersama dengan orangtuanya meninggalkan kampung halamannya Purwakarta menuju ke Serang, Banten. Bapaknya adalah guru olahraga sedangkan ibunya seorang guru di sekolah keterampilan putri, Serang. Mereka tinggal di sebuah rumah di dekat alun-alun Serang.
Daftar isi:
1. Masa Kecil
2. Keluarga
3. Karya
4. Rumah Dunia
5. Pranala luar
1. Masa Kecil
Pada umur 11 tahun Heri kehilangan tangan kirinya. Itu terjadi saat dia dan teman-temannya bermain di dekat alun-alun. Saat itu sedang ada tentara latihan terjun payung. Kepada kawan-kawannya dia menantang untuk adu keberanian seperti seorang penerjun payung. Uji nyali itu dulakukan dengan cara loncat dari pohon di pinggir alun-alun. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin di antara mereka. Kecelakaan yang menyebabkan tangan kirinya harus diamputasi itu tidak membuatnya sedih. Bapaknya menegaskan kepadanya:
Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang.
2. Keluarga
Pada umur 33 tahun dia menikahi Tias Tatanka gadis asal Solo. Dari pernikahan ini mereka memiliki anak Bela, Abi, Jordi, dan Kaka.
3. Karya
Gola Gong telah menulis lebih dari 25 novel dan ratusan skenario film. Selain itu cerita-cerita pendeknya juga terdapat di berbagai antologi. Beberapa dari novelnya adalah Balada Si Roy, Kupu-Kupu Pelangi, Kepada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, dan lain-lain.
4. Rumah Dunia
Impiannya sejak remaja untuk memiliki gelanggang remaja terwujud dengan didirikannya komunitas kesenian Rumah Dunia. Komunitas ini berada di atas tanah 1000 meter persegi di belakang rumahnya di Komplek Hegar Alam, Ciloang Serang, Banten. Komunitas semacam ini adalah impiannya beserta temannya Toto ST Radik, dan (alm) Rys Revolta.
5. Pranala luar
• Situs Resmi Gola Gong
• Rumah Dunia
Daftar kategori: Penulis Indonesia, Kelahiran 1963
Habiburrahman El Shirazy
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 32 tahun) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Aktivitas
3. Prestasi
4. Karya-karyanya
5. Lihat pula

Artikel ini membutuhkan catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu dengan menambahkan catatan kaki.
Habiburrahman el-Shirazy

Nama pena Kang Abik
Pekerjaan
dai, novelis, penyair

Kebangsaan
Indonesia

Aliran
sastra Islami

Istri/suami Muyasaratun Sa’idah
Anak Muhammad Ziaul Kautsar
Muhammad Neil Author
1. Pendidikan
Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.
2. Aktivitas
2. 1. Selama di Kairo
Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.
2. 2. Selama di Indonesia
Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedia Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).
Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik (Ahmad Munif El Shirazy, Ahmad Mujib El Shirazy, Ali El Shirazy) dan temannya.
3. Prestasi
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006. Dari novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.
4. Karya-karyanya
4. 1. Selama di Kairo
Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.
4. 2. Karya puisi
Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
4. 3. Karya sastra populer
Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih).
5. Lihat pula
• Ayat-Ayat Cinta (film)
• Forum Lingkar Pena
Daftar kategori: Artikel yang tidak memiliki catatan kaki, Orang hidup, Kelahiran 1976, Tokoh Islam Indonesia, Da’i Indonesia, Sastrawan Indonesia, Penulis Indonesia, Arab-Indonesia, Tokoh dari Semarang
Marga T
Marga Tjoa (lahir di Jakarta, 27 Januari 1943; umur 66 tahun), yang lebih dikenal dengan nama Marga T., adalah salah seorang pengarang Indonesia yang paling produktif. Namanya mulai dikenal pada tahun 1971 lewat cerita bersambungnya, Karmila yang kemudian dibukukan dan difilmkan.
Sejak kecil Marga telah banyak menulis. Karangan-karangannya mula-mula dimuat di majalah sekolahnya. Pada usia 21 tahun, ia menghasilkan cerita pendeknya yang pertama, Kamar 27, yang kemudian disusul oleh bukunya yang pertama, Rumahku adalah Istanaku, sebuah cerita anak-anak, yang diterbitkan pada 1969.
Sebagai penulis, Marga adalah seorang pekerja keras. Ia dapat menghabiskan waktu empat hingga lima jam sehari dalam mengarang. Kedisiplinannya juga tampak dari kegiatannya membaca apa saja. “Masyarakat berhak memilih bacaan yang disukainya, tapi penulis tidak. Ia harus membaca tulisan siapa pun,” begitu prinsip Marga. Karena itu ia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli novel.
Novelnya yang paling mutakhir, “Sekuntum Nozomi”, buku ketiga, yang terbit pada 2004, mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 yang menelan banyak korban khususnya di kalangan kaum perempuan keturunan Tionghoa.
Daftar isi:
1. Aneka rupa
2. Bibliografi
3. Pranala luar
1. Aneka rupa
• Hingga kini Marga telah menerbitkan 128 cerita pendek dan 67 buku (untuk anak-anak, novel serta kumpulan cerpen).
• Marga tidak ingin terlalu dikenal masyarakat karena khawatir bahwa ia tidak bisa lagi bebas naik bus atau pergi ke bioskop.
• Marga adalah seorang dokter lulusan Universitas Trisakti, Jakarta. Karena itulah dalam banyak novelnya Marga memperlihatkan pengenalannya yang cukup dalam terhadap dunia medis.
• “Karmila” telah dicetak berulang kali sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk mengunjungi Eropa, suatu pengalaman yang ingin didapatkannya sebelum ia terikat sebagai dokter. Namun dalam kunjungannya ke Eropa itulah ia bertemu dengan seorang insinyur teknik kimia, sesama alumnus Trisakti, yang kemudian menjadi suaminya.
2. Bibliografi
Daftar berikut ini memuat sebagian dari karya Marga Tjoa:
• Sekuntum Nozomi (buku satu hingga keempat) – (2002-2006)
• Dibakar Malu dan Rindu (2003)
• Dipalu Kecewa dan Putus Asa (2001)
• Amulet dari Nubia (1999)
• Dicabik Benci dan Cinta (1998)
• Didera Sesal dan Duka (1998)
• Matahari Tengah Malam (1998)
• Melodi Sebuah Rosetta (1996)
• Dikejar Bayang-bayang (1995)
• Sepagi Itu Kita Berpisah (1994)
• Rintihan Pilu Kalbuku (1992)
• Seribu Tahun Kumenanti (1992)
• Berkerudung Awan Mendung (1992)
• Sonata Masa Lalu (1991)
• Bukan Impian Semusim (1991)
• Namamu Terukir di Hatiku (1991)
• Istana di Kaki Langit (1990)
• Petromarin (1990)
• Waikiki Aloha: kumpulan satir (1990)
• Kobra Papageno: Manusia Asap dari Pattaya (1990)
• Kobra Papageno: Rahasia Kuil Ular (1989)
• Di Hatimu Aku Berlabuh (1988)
• Ketika Lonceng Berdentang: cerita misteri (1986)
• Kishi: buku kedua trilogi (1987)
• Batas Masa Silam: Balada Sungai Musi (1987)
• Oteba: buku ketiga trilogi (1987)
• Ranjau-ranjau Cinta (1987)
• Sekali dalam 100 tahun: kumpulan satir (1988)
• Tesa (1988)
• Sembilu Bermata Dua (1987)
• Setangkai Edelweiss: sambungan Gema Sebuah Hati (1987)
• Untukmu Nana (1987
• Saskia: sebuah trilogi (1987)
• Bukit Gundaling (1984)
• Rahasia Dokter Sabara (1984)
• Saga Merah (1984)
• Fatamorgana (1984)
• Monik: sekumpulan cerpen (1982)
• Sebuah Ilusi (1982)
• Lagu Cinta: kumpulan cerpen (1979)
• Sepotong Hati Tua (1977)
• Bukan Impian Semusim (1976)
• Gema Sebuah Hati (1976)
• Badai Pasti Berlalu (1974)
• Karmila (1971, dibukukan (1973)
• Rumahku adalah Istanaku (1969)
3. Pranala luar
• Apa dan Siapa Marga T.
• Sekuntum Nozomi 3 oleh Marga T, Memperingati Sewindu Tragedi Mei 1998
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1943, Sastrawan Indonesia, Tionghoa-Indonesia, Tokoh dari Jakarta
Bahasa lain: English
Mochtar Lubis
Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 – wafat di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

Mochtar Lubis
Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.
Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).
1. Bibliografi
• Tidak Ada Esok (novel, 1951)
• Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
• Teknik Mengarang (1951)
• Teknik Menulis Skenario Film (1952)
• Harta Karun (cerita anak, 1964)
• Tanah Gersang (novel, 1966)
• Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
• Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
• Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
• Manusia Indonesia (1977)
• Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
• Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
• Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)
Karya jurnalistiknya:
• Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
• Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
• Catatan Korea (1951)
• Indonesia di Mata Dunia (1955)
Mochtar Lubis juga menjadi editor:
• Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
• Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
• Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (1986)
Terjemahannya:
• Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
• Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
• Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
• Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
• Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)
Studi mengenai Mochtar Lubis:
• M.S. Hutagalung, Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963)
• Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l’Indonésie Contemporaine (diseertasi, Paris, 1974)
• David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor (disertasi, Canberra, 1989)
2. Pranala luar
• (en) The Ramon Magsaysay Award Awardees
• (id) Profil di TokohIndonesia.com
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1922, Kematian 2004, Rintisan biografi Indonesia, Jurnalis Indonesia, Penulis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Padang, Marga Lubis
Bahasa lain: English, Français, Română, ไทย
Motinggo Busye
Motinggo Busye (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – wafat di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sutradara dan seniman Indonesia.
Menamatkan SMA di Bukittinggi, kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.
Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, “Nasehat buat Anakku”, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962.
1. Daftar karyanya yang lain
• Malam Jahanam (novel, 1962)
• Badai Sampai Sore (drama, 1962)
• Tidak Menyerah (novel, 1963)
• Hari Ini Tak Ada Cinta (novel, 1963)
• Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963)
• Dosa Kita Semua (novel, 1963)
• Tiada Belas Kasihan (novel, 1963)
• Nyonya dan Nyonya (drama, 1963)
• Sejuta Matahari (novel, 1963)
• Nasehat buat Anakku (kumpulan cerpen, 1963)
• Malam Pengantin di Bukit Kera (drama, 1963)
• Buang Tonjam (legenda, 1963)
• Ahim-Ha (legenda, 1963)
• Batu Serampok (legenda, 1963)
• Penerobosan di Bawah Laut (novel, 1964)
• Titian Dosa di Atasnya (novel, 1964)
• Cross Mama (novel, 1966)
• Tante Maryati (novel, 1967)
• Sri Ayati (novel, 1968)
• Retno Lestari (novel, 1968)
• Dia Musuh Keluarga (novel, 1968)
• Sanu, Infita Kembar (novel, 1985)
• Madu Prahara (novel, 1985)
• Dosa Kita Semua (novel, 1986)
• Aura Para Aulia: Puisi-Puisi Islami (1990)
• Dua Tengkorak Kepala (1999).
Pada paruh pertama tahun 1970-an, Motinggi Busye menyutradarai beberapa buah film. Selain itu, dia juga aktif di bidang seni lukis.
Daftar kategori: Kelahiran 1937, Kematian 1999, Pujangga Indonesia, Sastrawan Indonesia, Sutradara Indonesia
Bahasa lain: English
Motinggo Busye
Motinggo Busye (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – wafat di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sutradara dan seniman Indonesia.
Menamatkan SMA di Bukittinggi, kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.
Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, “Nasehat buat Anakku”, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962.
1. Daftar karyanya yang lain
• Malam Jahanam (novel, 1962)
• Badai Sampai Sore (drama, 1962)
• Tidak Menyerah (novel, 1963)
• Hari Ini Tak Ada Cinta (novel, 1963)
• Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963)
• Dosa Kita Semua (novel, 1963)
• Tiada Belas Kasihan (novel, 1963)
• Nyonya dan Nyonya (drama, 1963)
• Sejuta Matahari (novel, 1963)
• Nasehat buat Anakku (kumpulan cerpen, 1963)
• Malam Pengantin di Bukit Kera (drama, 1963)
• Buang Tonjam (legenda, 1963)
• Ahim-Ha (legenda, 1963)
• Batu Serampok (legenda, 1963)
• Penerobosan di Bawah Laut (novel, 1964)
• Titian Dosa di Atasnya (novel, 1964)
• Cross Mama (novel, 1966)
• Tante Maryati (novel, 1967)
• Sri Ayati (novel, 1968)
• Retno Lestari (novel, 1968)
• Dia Musuh Keluarga (novel, 1968)
• Sanu, Infita Kembar (novel, 1985)
• Madu Prahara (novel, 1985)
• Dosa Kita Semua (novel, 1986)
• Aura Para Aulia: Puisi-Puisi Islami (1990)
• Dua Tengkorak Kepala (1999).
Pada paruh pertama tahun 1970-an, Motinggi Busye menyutradarai beberapa buah film. Selain itu, dia juga aktif di bidang seni lukis.
Daftar kategori: Kelahiran 1937, Kematian 1999, Pujangga Indonesia, Sastrawan Indonesia, Sutradara Indonesia
Bahasa lain: English
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936; umur 73 tahun) atau lebih dikenal dengan nama NH Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia.

NH Dini
Daftar isi:
1. Sejarah hidup
2. Karir
3. Pranala luar
1. Sejarah hidup
NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul”.
NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.
Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi supir lokomotif atau masinis. Tapi ia tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.
Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan teknik menulis yang dikuasainya.
Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Jakarta dalam acara Tunas Mekar.
2. Karir
Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telajur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.
Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan. Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya. Ia seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, seperti komentar Putu Wijaya; ‘kebawelan yang panjang.’
Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Namun banyak orang berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”. Ada pula yang berpendapat bahwa dia menceritakan dirinya sendiri. Pandangan hidupnya sudah amat ke barat-baratan, hingga norma ketimuran hampir tidak dikenalinya lagi. Itu penilaian sebagian orang dari karya-karyanya. Akan tetapi terlepas dari semua penilaian itu, karya NH Dini adalah karya yang dikagumi. Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra.
Bukti keseriusannya dalam bidang yang ia geluti tampak dari pilihannya, masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah. Ia bergabung dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama Kuncup Berseri. Sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini benar-benar remaja yang sibuk. Selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama Pura Bhakti. Langkahnya semakin mantap ketika ia memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah di SMA Semarang, ia pun menyelenggarakan sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang. Bakatnya sebagai tukang cerita terus dipupuk.
Pada 1956, sambil bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali – hal yang sulit dicapai oleh kebanyakan buku sastra. Buku lain yang tenar karya Dini adalah Namaku Hiroko dan Keberangkatan. la juga menerbitkan serial kenangan, sementara cerpen dan tulisan lain juga terus mengalir dari tangannya. Walau dalam keadaan sakit sekalipun, ia terus berkarya.
Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekedar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.
Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia mengambil contoh bukunya yang berjudul Pada Sebuah Kapal, prosesnya hampir sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan. Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di blocknote dengan tulis tangan.
Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil berpikir, mengolah dan menganalisa. la merangkai sebuah naskah yang sedang dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.
Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (kini 42 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 36 tahun). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.
Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun kemudian pindah ke Pnom Penh, Kamboja. Kembali ke negara suaminya, Prancis, pada 1966, Dini melahirkan anak keduanya pada 1967. Selama ikut suaminya di Paris, ia tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace). Dia turut serta menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi oleh tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Perancis.
Setahun kemudian ia mengikuti suaminya yang ditempatkan di Manila, Filipina. Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang menjabat Konsul Jenderal Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.
Mantan suaminya masih sering berkunjung ke Indonesia. Dini sendiri pernah ke Kanada ketika akan mengawinkan Lintang, anaknya. Lintang sebenarnya sudah melihat mengapa ibunya berani mengambil keputusan cerai. Padahal waktu itu semua orang menyalahkannya karena dia meninggalkan konstitusi perkawinan dan anak-anak. Karena itulah ia tak memperoleh apa-apa dari mantan suaminya itu. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS yang kemudian digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang.
Dini yang pencinta lingkungan dan pernah ikut Menteri KLH Emil Salim menggiring Gajah Lebong Hitam, tampaknya memang ekstra hati-hati dalam memilih pasangan setelah pengalaman panjangnya bersama diplomat Perancis itu. la pernah jatuh bangun, tatkala terserang penyakit 1974, di saat ia dan suaminya sudah pisah tempat tidur. Kala itu, ada yang bilang ia terserang tumor, kanker. Namun sebenarnya kandungannya amoh sehingga blooding, karena itu ia banyak kekurangan darah. Secara patologi memang ada sel asing. Kepulangannya ke Indonesia dengan tekad untuk menjadi penulis dan hidup dari karya-karyanya, adalah suatu keberanian yang luar biasa. Dia sendiri mengaku belum melihat ladang lain, sekalipun dia mantan pramugrari GIA, mantan penyiar radio dan penari. Tekadnya hidup sebagai pengarang sudah tak terbantahkan lagi.
Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya di Sekayu. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut SIUPP-nya, dengan tema transmigrasi.
Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.
Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000.
Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah serta biaya lain-lain memaksa ia harus membayar biaya total sebesar 11 juta. Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya. Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.
Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha Mulya. Ia senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.
Dalam kondisinya sekarang, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai nilai manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.
Ia juga pernah ditawari bekerja tetap pada sebuah majalah dengan gaji perbulan. Akan tetapi dia memilih menjadi pengarang yang tidak terikat pada salah satu lembaga penerbitan. Bagi Dini, kesempatan untuk bekerja di media atau perusahaan penerbitan sebenarnya terbuka lebar. Namun seperti yang dikatakannya, ia takut kalau-kalau kreativitasnya malah berkurang. Untuk itulah ia berjuang sendiri dengan cara yang diyakininya; tetap mempertahankan kemampuan kreatifnya.
Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. Begitulah spontanitas penuturan pengarang yang pengikut kejawen ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya
3. Pranala luar
• (id) NH Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) – Pengarang Sastra Feminis
• (id) Detail Buku – Dari Fontenay Ke Magallianes – Nh Dini
• (id) Buku-buku Nh Dini – Cermin Batin Perempuan
• (id) NH Dini Pengarang Sastra Feminis
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1936, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia, Feminis Indonesia, Novelis Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa
Pramoedya Ananta Toer (1/2)

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Pramoedya Ananta Toer

Tandatangan Pramoedya
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Pasca kemerdekaan Indonesia
3. Penahanan dan masa setelahnya
4. Kontroversi
5. Masa tua
6. Berpulang
7. Penghargaan
8. Bibliografi
9. Buku tentang Pramoedya dan karyanya
10. Lihat pula
11. Referensi
12. Pranala luar

Artikel ini membutuhkan catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu dengan menambahkan catatan kaki.
1. Masa kecil
Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
2. Pasca kemerdekaan Indonesia

Pramoedya semasa muda
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.
3. Penahanan dan masa setelahnya
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
• 13 Oktober 1965 – Juli 1969
• Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan
• Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru
• November – 21 Desember 1979 di Magelang

Pramoedya bersama rekan-rekan saat sedang melakukan kerja paksa di pulau Buru
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
4. Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut ‘pencabutan’, tetapi mengingatkan ‘siapa Pramoedya itu’. Katanya, banyak orang tidak mengetahui ‘reputasi gelap’ Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari ‘golongan polemik biasa’ yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang ‘kelewat jauh’. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai ‘juru-tulis’. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat ‘pekerjaan’ dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan – apalagi kalau ada tamu dari ‘luar’ yang datang pasti Pramoedya akan menjadi ‘bintangnya’.
5. Masa tua
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
6. Berpulang

Muthmainah, Istri Pramoedya
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Sint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.
Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. “Dorong saja saya,” ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

Makam Pramoedya dipenuhi karangan bunga dan buku-buku karyanya
Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, “Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang,” katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
7. Penghargaan

Pramoedya saat mendapat gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan tahun 1999
• Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
• Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
• Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people”, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
• Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
• UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violance” dari UNESCO, Perancis, 1996
• Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
• Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding”, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
• Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
• New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
• Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
• The Norwegian Authors Union, 2004
• Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
7. 1. Lain-lain
• Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
• Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
• Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
• Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
• Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
• International PEN English Center Award, Inggris, 1992
• International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
8. Bibliografi
Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
• Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947
• Kranji-Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
• Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal karena kommunisme)
• Keluarga Gerilya (1950)
• Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
• Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
• Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
• Bukan Pasarmalam (1951)
• Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
• Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen
• Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
• Gulat di Jakarta (1953)
• Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
• Korupsi (1954)
• Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
• Cerita Dari Jakarta (1957)
• Cerita Calon Arang (1957)
• Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
• Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; III & IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung. Jilid II & III dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
• Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
• Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
• Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
• Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
• Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
• Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
• Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
• Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987
• Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988
• Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
• Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
• Arus Balik (1995)
• Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
• Arok Dedes (1999)
• Mangir (2000)
• Larasati (2000)
• Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)
9. Buku tentang Pramoedya dan karyanya
• Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung)
• Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya)
• Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama)
• Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia)
• Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka)
10. Lihat pula
• Pramoedya Institute
• Forum Diskusi Pramoedya http://blora.org
• Penghargaan Budaya Asia Fukuoka
11. Referensi
• (id) Wawancara Pramoedya dengan Playboy Indonesia
• (id) Toer, Pramoedya Ananta; Jejak Langkah, Hasta Mitra, Yogyakarta (2002) ISBN 979-8659-14-7
12. Pranala luar
• (en) Halaman informasi Pramoedya Ananta Toer
• (id) TokohIndonesia.com
• (id) Pramoedya Ananta Toer: Dulu, Saya Tak Pernah Menyangka akan Menjadi Tua (Sinar Harapan)
• (id) Pramania: Dari Aktivis sampai Selebriti (Kompas)
• (id) Blog tentang Pramoedya
• (en) Pramoedya Ananta Toer, Visits America and Europe
• (id) Apa Itu Pramoedya?
• (id) Forum diskusi tentang Pramoedya
• (id) Detik-Detik Menjelang Pramoedya Ananta Toer Mengembuskan Napas Terakhir (Jawa Pos)
• (id) Lagu Darah Juang Iringi Kepergian Pramoedya (Tempo)
• (id) Obituari: Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik! (Kompas)
• (en) Pramoedya Ananta Toer, 81, Indonesian Novelist, Dies (The New York Times)
• (en) Nobel candidate Pramoedya dies (Yahoo News)
• (ja) Koleksi Buku Pramoedya
• (id) Tribute to Pramoedya
Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia | Anak Semua Bangsa | Jejak Langkah | Rumah Kaca
Karya lainnya

Daftar kategori: Artikel yang tidak memiliki catatan kaki, Kelahiran 1925, Kematian 2006, Sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, Pemenang Hadiah Budaya Asia Fukuoka, Artikel pilihan bertopik Indonesia, Artikel pilihan bertopik biografi, Tokoh dari Blora
Bahasa lain: English, Bahasa Melayu, Basa Jawa, Español, Deutsch, Français, 日本語, Русский, Polski, Nederlands, Suomi, Lainnya…
Remy Sylado
Remy Sylado (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945; umur 64 tahun) adalah salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (ER: Japi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Semarang dan Solo. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel, dsb di balik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, film, dsb dan menguasai sejumlah bahasa.
Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi.
Daftar isi:
1. Karya
2. Filmografi
3. Sinetron
4. Pranala luar
1. Karya
• Orexas.
• Gali Lobang Gila Lobang.
• Siau Ling
• Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
• Kerudung Merah Kirmizi, 2002
• Kembang Jepun, 2003
• Parijs van Java, 2003
• Menunggu Matahari Melbourne 2004
• Sam Po Kong, 2004?
• Puisi Mbeling 2005
• Rumahku di Atas Bukit
• 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
• Drama Musikalisasi Tarragon “Born To Win”,dll.
2. Filmografi
• Tutur Tinular IV
• Capres (Calo Presiden) (2009)
3. Sinetron
• Mahkota Majapahit
4. Pranala luar
• Remy Sylado di pdat.co.id
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1945, Sastrawan Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Pemeran Indonesia, Tokoh dari Makassar
Suwarsih Djojopuspito
Suwarsih Djojopuspito (Cibatok, Bogor, 21 April 1912 – Yogyakarta, 24 Agustus 1977) adalah penulis wanita Indonesia yang menulis novel dalam 3 bahasa: Belanda, Sunda, dan Indonesia. [1]
Daftar isi:
1. Latar Belakang dan Pendidikan
2. Biografi
3. Karya Novel
4. Referensi
5. Pranala luar
1. Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir pada tanggal 21 April 1912 di Cibatok, Bogor dengan nama kecil Tjitjih dari keluarga tani, bernama Suwardi Djojosaputra, yang buta huruf namun mampu menjadi dalang wayang kulit dalam 3 bahasa (Jawa, Sunda, dan Indonesia).
Pendidikan HIS (Sekolah Dasar 7 tahun) di Cicurug tahun 1919-1926, kemudian meneruskan ke MULO (SMP zaman Belanda) tahun 1927-1929 di Bogor, dan terakhir pada Europeesche Kweekschool (Sekolah Guru Atas Belanda, hanya 2 orang pribumi dari 28 murid) di Surabaya pada tahun 1930-1932.
2. Biografi
2. 1. Masa Kebangkitan Nasional (1928-1942)
Setelah lulus tahun 1933 pindah ke Bandung menjadi guru di SR Pasundan, padahal memiliki ijazah sebagai guru sekolah Belanda yang seharusnya mengajar di sekolah Belanda namun lebih memilih perguruan pribumi dan aktif dalam Perkoempoelan Perempoean Soenda sebagai anggota. Tahun 1934 menikah dengan Sugondo Djojopuspito. Kakaknya, yang bernama Suwarni, menikah dengan Mr. A.K.Pringgodigdo.
2. 2. Masa Pendudukan Jepang (1943-1945)
Pada zaman pendudukan Pemerintah Dai Nippon hampir semua bangsa Indonesia bekerja di Pemerintah Dai Nippon, dia bekerja sebagai guru pada Sekolah Guru Kepandaian Putri di Pasar Baru.
2. 3. Masa Revolusi Fisik (1945-1949)
Pada masa revolusi fisik berhubung berpindah-pindah tempat tinggal dari Jakarta, Cirebon, Purworejo, dan Yogyakarta, maka tidak sempat menulis novel, karena mengikuti suami yang Anggota BP-KNIP [2] di Jakarta dan Purworejo.
2. 4. Masa Kemerdekaan setelah RIS (setelah 1949)
Tahun 1949 menetap di Yogyakarta ikut suami Sugondo Djojopuspito dengan mulai kegiatan menulis atau menterjemahkan buku-buku (dari bahasa Perancis, Belanda, Jerman, maupun Inggris karena mahir berbahasa tersebut) dan wafat pada 24 Agustus 1977 serta mendapat kehormatan dimakamkan di Pemakamam Tamansiswa Taman Wijayabrata di Celeban, Umbulharjo – Yogyakarta.
3. Karya Novel
3. 1. Karya Novel yang telah diterbitkan
Hanya 1 roman dibuat sebelum kemerdekaan (1933), sedangkan yang lain seteleh RIS (1949)[1]
• 1. Buiten het gareel, De Haan Uitgevery, Utrecht, 1940. Dengan kata pengantar dari E. du Perron, Cetakan ke-dua Amsterdam, 1946 [2]
• 2. Tudjuh tjeritera pendek, Pustaka Rakjat – Jakarta, 1951.
• 3. Empat serangkai. Kumpulan tjerita pendek. Pustaka Rakyat – Jakarta, 1954.
• 4. Riwayat hidup Nabi Muhammad s.a.w. Bulan Bintang – Jakarta, 1956 (cetakan kedua 1976)
• 5. Marjanah. Balai Pustaka (1959)- Jakarta, 1959. Novel berbahasa Sunda.
• 6. Siluman Karangkobar. Pembangunan – Jakarta, 1963.
• 7. Hati wanita. Pembangunan – Jakarta, 1964.
• 8. Manusia bebas. Djambatan – Jakarta, 1975. Penulisan ulang: Buiten het gareel.
• 9. Maryati. Pustaka Jaya – Jakarta, 1982.
3. 2. Artikel yang pernah ditulis:
Lihat Levensbericht Jaarboek van de Maatschappij der Nederlandse Letterkunde te Leiden 1978-1979.
• 1. “De Indonesische vrouw en het passief kiesrecht”. pada Algemeen, Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrift I 1938, halaman 75-76 (Fragment)
• 2. “De Indonesische vrouw van Morgen”. pada Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrift I, 1938, halaman 145-147
• 3. “Onze moslim-zusters in en buiten Indonesië”. pada Algemeen, Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrif I 1938, halaman 279-280
• 3. “De taal der Soendanese jongeren”. pada Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrift I l939, halaman 348-350.
• 4. “In memoriam E. du Perron”. pada Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrift 3, l940, halaman l92-l93
• 5. “In de schaduw van de Leider”. pada Onafhankelijk en Vooruitstrevend Indisch Tijdschrift 4, l941, halaman 191-l92
• 6. “In memoriam E. du Perron”. pada Criterium 4, 1946, halaman 386-388
• 7. “Ontmoeting met E. du Perron”. pada Vrij Nederland, 14 december 1946
• 8. “Eddy du Perron, de vriend die nooit gestorven is”. pada Tirade 17, 1973, halaman 68-70
• 9. “De thuiskomst van een oud-strijder”. pada Tirade 21, 1977, halaman 38-47
3. 3. Artikel yang tidak diterbitkan:
• 1. Eddy Du Perron, de vriend die nooit gestorven is’. Typoscript uit 1971, 7 pag. Door Soewarsih Djojopoespito aan Rob Nieuwenhuys gegeven tijdens zijn verblijf in Indonesië in oktober 1971. Aanwezig in het HISDOC van het KITLV, signatuur D H 1019a. Welwillend afgestaan voor transscriptie aan het Damescompartiment.
3. 4. Ulasan penulis Belanda
• 1. “Buiten het gareel”. Oleh Rob Nieuwenhuys pada majalah Oost-Indische Spiegel, edisi 1978, halaman 401-404
• 2. “Soewarsih Djojopoespito, Cibatok 20 april 1912 — Yogyakarta 24 augustus 1977″ oleh Gerard Termorshuizen pada Maatschappij der Nederlandse Letterkunde Yaarboek di Leiden 1978-1979, halaman 39-48.
• 3. “Een leven buiten het gareel” oleh Gerard Termorshuizen pada Engelbewaarder Winterboek 1979, halaman 109-122
• 4. “Soewarsih Djojopoespito, E. du Perron dan novel Buiten het gareel” oleh Robert-Henk Zuidinga pada Indische Letteren, 1986, halaman 158 e.v.
• 5. “Maryanah, Novel Sunda dari Soewarsih Djojopoespito{” oleh 5. J. Noorduyn pada Indisch-Nederlande Literatuur dengan redaksi Reggie Baay dan Peter van Zonneveld, Utrecht, 1988, halaman 232-242
• 6. “A life free from trammels : Soewarsih Djojopoespito and her novel Buiten het gareel” pada Canadian Journal of Netherlandic Studies Vol. XII, no. ii (Spring 1991)
• 7. “Bij de dood van een vriendin” oleh Beb Vuyck pada NRC, 2 september 1977
4. Referensi
1. Biografi Suwarsih Djojopuspito, Encyclopadia Indonesia, 3 Volume
2. http://www.dpr.go.id/tentang/sejarah.php
5. Pranala luar
• 1. Soewarsih Djojopoespito (1912-1977) [3]
• 2. Postkolonialisme Indonesia, Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, SU – Pustaka Pelajar, Februari 2008. 497 halaman [4]
• 3. Buiten het gareel [muhammad.html] adalah novel yang aslinya berbahasa Sunda kemudian dibuat bahasa Belanda, karena pernah ditolak untuk diterbitkan oleh Balai Pustaka [5]
• 4. Relevansi Sastra dalam Memahami Kolonialisasi di Indonesia [6]
• 5. Daftar Penulis Wanita [7]
Daftar kategori: Kelahiran 1912, Kematian 1977, Penulis Indonesia
Titie Said
Titie Said (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935; umur 74 tahun) adalah penulis senior sekaligus Ketua Badan Sensor Film Indonesia. Lulusan sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 ini pernah menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili.
Titie telah menulis 25 novel hingga tahun 2008. Beberapa novel karya Titie, antara lain Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya adalah Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).
Titie Said

Nama lahir Titie Said
Lahir 11 Juli 1935 (umur 74)
Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia

Pekerjaan penulis

1. Pranala luar
• Profil di KapanLagi.com
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1935, Rintisan biografi Indonesia, Alumni Universitas Indonesia, Penulis Indonesia
Titis Basino
Titis Retnoningrum Basino (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 17 Juli 1939; umur 70 tahun) adalah seorang sastrawati Indonesia pada kurun waktu 1960-1990-an. Sebelum tahun 1980-an namanya tidak banyak dikenal, mungkin karena Titis lebih banyak menulis cerita pendek daripada novel. Baru pada akhir 1980-an dan tahun 1990-an novel-novelnya bermunculan.
Daftar isi:
1. Latar belakang pendidikan
2. Mulai mengarang
3. Penghargaan
4. Keluarga
5. Karya tulis
6. Pranala luar
1. Latar belakang pendidikan
Anak pasangan Basino Atmodisuryo dan Suparmi ini menempuh pendidikan dasar dan pendidikan menengahnya di kota Purwokerto. Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1945; SMP diselesaikannya pada tahun 1955, dan SMA pada tahun 1958.
Setamat SMA, Titis pindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan tingkat sarjana mudanya pada 1961, lalu bekerja sebagai karyawan Perpustakaan FSUI selama satu tahun (1962). Kemudian, Titis bekerja sebagai pramugari pada maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways (1963-1964).
2. Mulai mengarang
Titis mulai mengarang pada tahun 1957, ketika ia masih duduk di bangku SMA. Saat itu, karangan-karangannya banyak mengisi majalah sekolah. Pada 1963 ia mulai dikenal oleh para pembaca sastra Indonesia ketika sebuah cerita pendeknya yang berjudul “Dia, Hotel, dan Surat Keputusan” diterbitkan oleh majalah “Sastra” dan dinyatakan sebagai penerima hadiah hiburan.
Karya awalnya “Meja Gambar” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Drafting Table” oleh Claine Sivensen dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.
Titis terus menerbitkan karya-karyanya, hingga tuntutan keluarga memaksanya berhenti pada 1997.
3. Penghargaan
Pada [[1998] Titis mendapatkan Penghargaan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa atas karyanya Dari Lembah ke Coolibah.
Pada 1999 pemerintah Malaysia menganugerahkan kepadanya penghargaan Mastra, sebuah penganugerahan karya sastra yang kompetitif di Asia Tenggara. Meskipun Titis menulis tentang berbagai topik, ia paling dikenal untuk cerita-ceritanya mengenai kaum perempuan dan masalah dalam hubungan pribadi kaumnya.
4. Keluarga
Titis menikah dengan Ir. Purnomo Ismadi pada tanggal 5 Mei 1964.
5. Karya tulis
5. 1. Cerita pendek
• Pelarian (1962)
• Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
• Lesbian (1976)
• Rumah Dara (1977)
• Sarang Burung (1997)
• Mendaratnya Sebuah Kapal (1997)
• Mawar Hari Esok (1997)
• Susuk (cerpen, dalam John H. McGlynn, Menagerie I, Jakarta: Lontar Foundation)
5. 2. Novel
• Bukan Rumahku (1976)
• Pelabuhan Hati (1978)
• Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)
• Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997); Menyucikan Perselingkuhan (1998)
• Aku Supiah Istri Wardian (1998)
• Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)
• Terjalnya Gunung Batu (1998)
• Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)
• Rumah Kaki Seribu (1998)
• Tangan-Tangan Kehidupan (1999)
• Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)
• Mawar Hitam Milik Laras (1999)
6. Pranala luar
• (en) HER: An Indonesian Short Story
• Titis Basino P.I: Sosok Wanita Pengarang Indonesia
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1939, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Magelang
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – wafat di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniawan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik. Anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.
Romo Mangun, julukan populernya, dikenal melalui novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. Mendapatkan penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996. Ia banyak melahirkan kumpulan novel seperti di antaranya: Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, Roro Mendut, Durga/Umayi, Burung-Burung Manyar dan esai-esainya tersebar di berbagai surat kabar di Indonesia. Bukunya Sastra dan Religiositas mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.
Dalam bidang arsitektur, beliau juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah Aga Khan Award, yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta.
Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.
Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan “jeritan suara hati nurani” menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Biografi
3. Karya Arsitektur
4. Penghargaan
5. Buku dan tulisan
6. Buku tentang Romo Mangun
7. Pranala luar
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr.

Lahir 6 Mei 1929
Ambarawa, Kabupaten Semarang

Meninggal 10 Februari 1999
Jakarta

Pekerjaan rohaniawan, budayawan, pengajar, arsitek, penulis

1. Pendidikan
• HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936-1943)
• STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947)
• SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951)
• Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951)
• Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang (1952)
• Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959)
• Teknik Arsitektur, ITB, Bandung (1959)
• Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966)
• Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978)
2. Biografi
• 1936
o Masuk HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang.
• 1943
o Tamat HIS, meneruskan ke STM Jetis, Yogyakarta.
o Ikut kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan, Yogyakarta.
o Mulai tertarik mempelajari Sejarah Dunia dan Filsafat.
• 1944
o STM Jetis dibubarkan, dan dijadikan markas perjuangan tentara RI.
o Ikut aksi pencurian mobil-mobil tentara Jepang.
• 1945
o Menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III. Bertugas di asrama militer di Benteng Vrederburg, lalu di asrama militer di Kotabaru, Yogyakarta. Ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen.
• 1946
o Melanjutkan sekolah di STM Jetis.
o Menjadi prajurit Tentara Pelajar, pernah bertugas menjadi supir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX memeriksa pasukan.
• 1947
o Lulus STM Jetis.
o Saat Agresi Militer Belanda I, tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan TP Kompi Kedu.
• 1948
o Masuk SMU-B Santo Albertus, Malang
• 1950
o Sebagai perwakilan dari Pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya.
• 1951
o Lulus SMU-B Santo Albertus, melanjutkan ke Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta.
• 1952
o Pindah ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang.
• 1953
o Melanjutkan ke Seminari Tinggi. Sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
• 1959
o 8 September ditahbiskan menjadi Imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
o Melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB.
• 1960
o Melanjutkan pendidikan arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman.
• 1963
o Menemani saat Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ meninggal dunia di Biara Suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda
• 1966
o Lulus pendidikan arsitektur dan kembali ke Indonesia.
• 1967-1980
o Menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam, Magelang.
o Mulai berhubungan dengan pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan Ibu Gedong Bagoes Oka.
o Menjadi Dosen Luar Biasa jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM.
o Mulai menulis artikel untuk koran Indonesia Raya dan Kompas, tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel.
• 1975
o Memenangkan Piala Kincir Emas, dalam cerpen yang diselenggarakan Radio Nederland.
• 1978
o Atas dorongan Dr. Soedjatmoko, Romo Mangun mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, AS.
• 1980-1986
o Mendampingi warga tepi Kali Code yang terancam penggusuran. Melakukan mogok makan menolak rencana penggusuran.
• 1986-1994
o Mendampingi warga Kedung Ombo yang menjadi korban proyek pembangunan waduk.
• 1992
o Mendapat The Aga Khan Award untuk arsitektur Kali Code.
• 1994
o Mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
• 1998
o 26 Mei, Romo Mangun menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di Yogyakarta.
• 10 Februari 1999
o Wafat karena serangan jantung, setelah memberikan ceramah dalam seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta.
3. Karya Arsitektur
• Pemukiman warga tepi Kali Code, Yogyakarta
• Kompleks Religi Sendangsono, Yogyakarta
• Gedung Keuskupan Agung Semarang
• Gedung Bentara Budaya, Jakarta
• Gereja Katolik Jetis, Yogyakarta
• Gereja Katolik Cilincing, Jakarta
• Markas Kowihan II
• Biara Trappist Gedono, Salatiga, Semarang
• Gereja Maria Assumpta, Klaten
• Gereja Maria Sapta Duka, Mendut
4. Penghargaan
• Penghargaan Kincir Emas untuk penulisan cerpen dari Radio Nederland
• Aga Khan Award for Architecture untuk permukiman warga pinggiran Kali Code, Yogyakarta [1]
• Penghargaan arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat peziarahan Sendangsono.
• Pernghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996
5. Buku dan tulisan
• Balada Becak, novel, 1985
• Balada dara-dara Mendut, novel, 1993
• Burung-Burung Rantau, novel, 1992
• Burung-Burung Manyar, novel, 1981
• Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987
• Durga Umayi, novel, 1985
• Esei-esei orang Republik, 1987
• Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980
• Gereja Diaspora, 1999
• Gerundelan Orang Republik, 1995
• Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983
• Impian Dari Yogyakarta, 2003
• Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000
• Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999
• Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999
• Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999
• Menuju Indonesia Serba Baru, 1998
• Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998
• Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999
• Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999
• Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986
• Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999
• Politik Hati Nurani
• Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978
• Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern
• Ragawidya, 1986
• Romo Rahadi, novel, 1981 (terbit dengan nama samaran Y. Wastu Wijaya)
• Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel Trilogi, 1983-1987
• Rumah Bambu, kumpulan cerpen, 2000
• Sastra dan Religiositas, kumpulan esai, 1982
• Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999
• Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001
• Spiritualitas Baru
• Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999
• Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994
• Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
6. Buku tentang Romo Mangun
• Romo Mangun Di Mata Para Sahabat, Abdurrahman Wahid, Kanisius, 1999
• Y.B. Mangunwijaya, Pejuang Kemanusiaan, Priyanahadi dkk, Kanisius, 1999
• Tektonika Arsitektur Y.B. Mangunwijaya, Eko A. Prawoto, Cemeti Art House Yogyakarta, 1999
• Romo Mangun Imam bagi Kaum Kecil, Purwatma Pr, Kanisius, 2001
• Mendidik Manusia Merdeka, Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun, Sumartana dkk, Institut Dian/Interfedei dan Pustaka Pelajar, 1995
• Mengenang Y.B. Mangunwijaya, Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan, Sindhunata, Kanisius, 1999
• Menjadi Generasi Pasca-Indonesia, Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, Kanisius, 1999
• Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa, Iip D. Yahya dan I.B. Shakuntala, Kanisius, 2005
7. Pranala luar
• (id) Simposium Sosok Y.B. Mangunwijaya (Kompas)
• (en) Romo Mangun Catherine Mills, Inside Indonesia
• (en) Romo Mangun, Aktivis Nico Schulte Nordholt, Inside Indonesia
Daftar kategori: Kelahiran 1929, Kematian 1999, Tokoh dari Semarang, Tokoh Katolik Indonesia, Aktivis Indonesia, Penulis Indonesia, Alumni Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Alumni Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus, Yogyakarta, Alumni Institut Teknologi Bandung, Alumni Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Arsitek Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa, Français

4. Kritikus/Eseis
• Abdul Hadi WM
• Arif B. Prasetyo
• Budi Darma
• Dami N. Toda
• Emha Ainun Nadjib
• Goenawan Mohamad
• Maman S. Mahayana
• Nirwan Ahmad Arsuka
• Nirwan Dewanto
• Tendy Faridjan
Abdul Hadi WM
Abdul Hadi Widji Muthari (lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 24 Juni 1946; umur 63 tahun) adalah salah satu sastrawan Indonesia. Sejak kecil ia telah mencintai puisi. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan dorongan orang tua, kawan dan gurunya.
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Pendidikan
3. Karir
4. Tulisan
5. Pranala luar
1. Masa kecil
Di masa kecilnya pula ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat, dengan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal.
2. Pendidikan
Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran dan dalam program studi antropologi, juga tidak tamat. Akhirnya ia justru mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar doktor dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang.
3. Karir
Hadi juga pernah menjabat sebagai redaktur kebudayaan Harian Berita Buana dan anggota Dewan Pimpinan Harian Dewan Kesenian Jakarta. Puisi-puisinya kian lama kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Kumpulan puisinya, “Meditasi”, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Bukunya “Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh”, melukiskan kecenderungan religiusnya.
Pada tahun 1992, ia menerima tawaran dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang, untuk menjadi “ahli cipta” di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, di sana. Posisinya sebagai “ahli cipta” di perguruan tinggi yang berlokasi di Penang, Malaysia itu membuka peluang mengikuti program doktoral di perguruan tinggi itu dalam bidang sastra. Ia kembali ke Indonesia dengan gelar doktor, dan kini Hadi menjadi dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina. Tahun 2008, Abdul Hadi memperoleh gelar guru besar.
Hingga kini sudah enam kumpulan puisi yang diterbitkannya. Empat buku lainnya bukan puisi. Dengan istrinya, Tedjawati, yang menjadi pelukis, ia sering terlibat diskusi soal seni. Ia juga menyukai karya Bach, Beethoven, dan The Beatles.
4. Tulisan
4. 1. Kumpulan puisi
• Meditasi (1976)
• Laut Belum Pasang (1971)
• Cermin (1975)
• Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
• Tergantung Pada Angin (1977)
• Anak Laut, Anak Angin (1983)
4. 2. Tulisan tentang Abdul Hadi WM
• “Naturmagie und Sufismus – Gedichte des indonesischen Lyrikers Abdul Hadi W.M.”, dalam Orientierungen 1/1991, S. 113-122.
• “Struktur sajak penyair Abdul Hadi W.M.” (1998) oleh Anita K. Rustapa
• “Arjuna in meditation: three young Indonesian poets: selected verse of Abdul Hadi W.M., Darmanto Jt & Sutardji Calzoum Bachri”, (1976) Writers Workshop, Calcutta.
5. Pranala luar
http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/A/ads,20030616-09,A.html (memerlukan pendaftaran)
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1946, Alumni Universitas Gadjah Mada, Kelahiran 1948, Sastrawan Indonesia, Tionghoa-Indonesia
Dami N. Toda
Dami Ndandu Toda, (Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 20 September 1942 – Leezen, Jerman, 10 November 2006), adalah kritikus sastra Indonesia.
Dami menempuh pendidikan dasarnya di SD Ruteng I, Manggarai (1954). Kemudian ia melanjutkan ke pendidikan menengah di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, Flores (1961), dan meneruskan ke pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, Maumere, Sikka, Flores (tidak tamat), lalu ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sampai tingkat sarjana muda dan doktoral (1967), Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya (tidak tamat), dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta (1974).
Daftar isi:
1. Pekerjaan
2. Keluarga
3. Karya tulis
4. Pranala luar
1. Pekerjaan
Dami pernah bekerja di Departemen Sosial RI (1973-1975), mengajar pada Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi Sekretaris Eksekutif Yayasan Seni Tradisional (Jakarta). Dia juga banyak tampil dalam seminar baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Fakultas Sastra UI, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, dan pada 10th European Colloquium on Indonesian Studies di Universitas von Humboldt, Berlin, dengan makalah “Dutch-Treaty and Contract Conceptions versus Adat Perceptions”. Sejak 1981, dia menetap di Hamburg untuk mengajar pada Lembaga Studi-studi Indonesia dan Pasifik, Universitas Hamburg.
Dia yang rajin menulis pernah menjadi redaktur tamu pada Harian Berita Buana dan staf redaksi Majalah Kadin Indonesia. Tulisannya banyak tersebar di sejumlah surat kabar nasional seperti Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya, dan Berita Buana. Sedangkan esai-esainya banyak muncul di majalah budaya, seperti Budaya Jaya dan Horison.
2. Keluarga
Dami N. Toda meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, Ryan dan Mayang.
3. Karya tulis
Berikut ini adalah sebagian dari hasil karya tulis Dami N. Toda:
• Penyair Muda di Depan Forum (1974)
• Puisi-puisi Goenawan Mohamad (1975)
• Pembacaan puisi dua penyair muda Jakarta, 27 Agustus 1975, jam 20.00 WIB di Plaza Taman Ismail Marzuki (bersama Handrawan Nadesul) (1975)
• Novel Baru Iwan Simatupang (1980)
• Cerita-cerita Pendek Iwan Simatupang (1983)
• Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan sajak-sajak Taufik Ismail, bersama Pamusuk Nasution (1984)
• Hamba-hamba Kebudayaan (1984)
• Catatan Penutup dalam “Ziarah malam: sajak-sajak 1952-1967″ oleh Iwan Simatupang (1993)
• Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (1999)
• “Maka berbicaralah Zarathustra” – terjemahan (2000)
• “Siti Zainon Ismail: penyair wanita tersohor Nusantara”, dalam majalah “Dewan Sastera”, No.10, Vol.32 (2002)
• Apakah sastra?: kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. H.B. Jassin (2005)
4. Pranala luar
• (id) Kritikus Sastra Dami N. Toda Meninggal Dunia
Daftar kategori: Alumni Universitas Gadjah Mada, Kelahiran 1942, Kematian 2006, Tokoh Nusa Tenggara Timur, Kritikus sastra Indonesia, Alumni Universitas Indonesia
Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 56 tahun) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.

Emha Ainun Nadjib
Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro Yogya antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha.
Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas genre.
Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Daftar isi:
1. Teater
2. Puisi/Buku
3. Essai/Buku
4. Pranala luar
1. Teater
Memacu kehidupan multi-kesenian Yogya bersama Halimd HD, jaringan kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan menghasilkan repertoar serta pementasan drama. Beberapa karyanya:
• Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto),
• Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
• Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
• Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
• Kemudian bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
• Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
• Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
• Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, serta Duta Dari Masa Depan.
2. Puisi/Buku
Menerbitkan 16 buku puisi:
• “M” Frustasi (1976),
• Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
• Sajak-Sajak Cinta (1978),
• Nyanyian Gelandangan (1982),
• 99 Untuk Tuhanku (1983),
• Suluk Pesisiran (1989),
• Lautan Jilbab (1989),
• Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
• Cahaya Maha Cahaya (1991),
• Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
• Abacadabra (1994),
• Syair Amaul Husna (1994)
3. Essai/Buku
Buku-buku esainya tak kurang dari 30 antara lain:
• Dari Pojok Sejarah (1985),
• Sastra Yang Membebaskan (1985)
• Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
• Markesot Bertutur (1993),
• Markesot Bertutur Lagi (1994),
• Opini Plesetan (1996),
• Gerakan Punakawan (1994),
• Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
• Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
• Slilit Sang Kiai (1991),
• Sudrun Gugat (1994),
• Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
• Bola- Bola Kultural (1996),
• Budaya Tanding (1995),
• Titik Nadir Demokrasi (1995),
• Tuhanpun Berpuasa (1996),
• Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
• Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
• Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
• 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
• Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
• Kiai Kocar Kacir (1998),
• Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998),
• Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999),
• Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
• Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
• Menelusuri Titik Keimanan (2001),
• Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
• Segitiga Cinta (2001),
• Kitab Ketentraman (2001),
• Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
• Tahajjud Cinta (2003),
• Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
• Folklore Madura (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress, 164 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-02-0),
• Puasa Itu Puasa (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress, 264 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-01-2),
• Syair-Syair Asmaul Husna (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta; Penerbit Progress, 196 hlm; 12cm x 20cm, ISBN: 979-9010-0-53)
• Kafir Liberal (Cet. II, April 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress, 56 hlm; 12cm x 18cm, ISBN: 979-9010-12-8),
• Kerajaan Indonesia (Cet. II, Agustus 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress, 400 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-15-2),
• Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006),
• Istriku Seribu (Cet. I, Desember 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress, 64 hlm; 12cm x 18cm, ISBN: 979-9010-20-9),
• Orang Maiyah (Cet. I, Januari 2007, Yogyakarta; Penerbit Progress,196 hlm; 12cm x 20cm, ISBN: 979-9010-21-7),
• Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Cet. I, Juli 2007, Yogyakarta: Penerbit Progress,248 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-22-5),
• Kagum Pada Orang Indonesia (Cet. I, Januari 2008, Yogyakarta; Penerbit Progress, 56 hlm; 12cm x 18,5cm, ISBN: 978-979-17127-0-5),
• Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Cet. I, Mei 2008, Yogyakarta: Penerbit Progress, XIX + 227 hlm; HVS 65gr; 22,5cm x 20cm, ISBN: 978-979-17127-1-2)
4. Pranala luar
• (id) Emha Ainun Nadjib Official Site
• (id) KiaiKanjeng Official Site
• (id) Tikungan Iblis Teater Dinasti
• (id) Emha Ainun Nadjib di TokohIndonesia.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1953, Penulis Indonesia, Budayawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Jombang, Tokoh Yogyakarta
Bahasa lain: Bahasa Melayu
Goenawan Mohamad
Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941; umur 67 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Daftar isi:
1. Masa Muda
2. Dunia Jurnalistik
3. Karya Sastra
4. Lihat pula
5. Pranala luar
1. Masa Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
2. Dunia Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Selepas jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan praktis berhenti sebagai wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000). Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York.. Di tahun 2006, Pastoral, sebuah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan, dimainkan di Tokyo, 2006. Di tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.
Dia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo.
3. Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Catatan Pinggir, esei pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines (19…..) dan Conversations with Difference (19….). . Kritiknya diwarnai keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.
Kumpulan esainya berturut turut: Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).
Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.
Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
Tahun 2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, .Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award. Sebelumnya Penghargaan A. Teeuw (1992), Louis Lyon Award (199…?) dan … .Katulistiwa Award untuk puisinya diperolehnya di tahun… Karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. Yang edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.
4. Lihat pula
• Daftar pujangga-pujangga Indonesia
5. Pranala luar
• (id) Goenawan Mohamad di Tokoh Indonesia
• (id) Blog Catatan Pinggir
• (id) Situs Jaringan Islam Liberal
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1941, Jurnalis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Batang
Bahasa lain: English, Basa Jawa
Nirwan Dewanto

Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.
Tulisan rintisan ini belum dikategorikan, tapi Anda dapat membantu Wikipedia .
Nirwan Dewanto adalah penyair dan esais. Ia dilahirkan di Surabaya, menghabiskan masa kanak dan remajanya di Banyuwangi dan Jember, dan menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam (dan pernah menjadi ketua redaksinya) dan kini menjaga Lembar Sastra pada Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007, ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, di mana ia merampungkan buku puisinya Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Ia tampil dalam sejumlah forum sastra internasional, yang terakhir adalah simposium bertajuk Home/Land di Paros, Yunani, pada musim panas 2008. Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Madison (Wisconsin).
Daftar kategori: Artikel yang perlu diwikifisasi, Rintisan umum

Daftar sastrawan Indonesia
Berikut adalah daftar sastrawan Indonesia
• Aam Amilia
• A.A. Navis
• Abdul Hadi WM
• Abdul Muis
• Abdul Wahid Situmeang
• Acep Zamzam Noor
• Achdiat K. Mihardja
• Achmad Munif
• A.D. Donggo
• Adinegoro
• Agus Noor
• Agus R. Sarjono
• Ahmad Subbanuddin Alwie
• Ahmad Tohari
• Ahmadun Yosi Herfanda
• Ahmad Yulden Erwin
• Ajip Rosidi
• Akmal Nasery Basral
• Amir Hamzah
• A. Mustofa Bisri
• Anak Agung Panji Tisna
• Andrea Hirata
• Andrei Aksana
• Ani Sekarningsih
• Aoh K. Hadimadja
• Ariel Heriyanto
• Arie MP Tamba
• Arif B. Prasetyo
• Arifin C. Noer
• Ari Pahala Hutabarat
• Ari Setya Ardhi
• Arswendo Atmowiloto
• Armijn Pane
• Asma Nadia
• A.S. Dharta
• A.S. Laksana
• Asep S. Sambodja
• Asrul Sani
• Ayatrohaedi
• Ayu Utami
• B. Rahmanto
• Bagus Putu Parto
• Bambang Set
• Beni R. Budiman
• Beni Setia
• Beno Siang Pamungkas
• Binhad Nurrohmat
• Bokor Hutasuhut
• Bonari Nabonenar
• Bondan Winarno
• Budi Darma
• Budiman S. Hartoyo
• Budi P. Hatees
• Chairil Anwar
• Clara Ng
• Dami N. Toda
• Danarto
• Darman Moenir
• Darmanto Jatman
• Dharmadi
• Dewi Lestari
• Dian Hartati
• Diani Savitri
• Dimas Arika Mihardja
• Dina Oktaviani
• Djamil Suherman
• Djenar Maesa Ayu
• Dorothea Rosa Herliany
• Dyah Merta
• Dyah Setyawati
• D. Zawawi Imron
• Endik Koeswoyo
• Eka Budianta
• Eka Kurniawan
• Eko Tunas
• Emha Ainun Nadjib
• Faruk HT
• FX Rudi Gunawan
• Gerson Poyk
• Godi Suwarna
• Goenawan Mohamad
• Gola Gong
• Gus tf Sakai
• H.B. Jasin
• Habiburrahman El Shirazy
• Hamka
• Hamid Jabbar
• Hamsad Rangkuti
• Hartojo Andangdjaja
• Helvy Tiana Rosa
• Herman J. Waluyo
• Hersri Setiawan
• Ibnu Wahyudi
• Ibrahim Sattah
• Idrus
• Iggoy el Fitra
• Indra Cahyadi
• Indra Tranggono
• Intan Paramaditha
• Isbedy Stiawan ZS
• Iswadi Pratama
• Iwan Simatupang
• Iyut Fitra
• Jamal D Rahman
• Jamal T. Suryanata
• Jeffry Alkatiri
• J.E. Tatengkeng
• Joni Ariadinata
• Joshua Lim
• Korrie Layun Rampan
• Kriapur
• Kuntowijoyo
• Kurnia Effendi
• Kuswinarto
• Kwee Tek Hoay
• Linda Christanty
• Linus Suryadi AG
• Lukman A Sya
• Maman S. Mahayana
• Mansur Samin
• Marah Roesli
• Marga T
• Marianne Katoppo
• Martin Aleida
• Max Ariffin
• Medy Loekito
• Melani Budianto
• Mh. Rustandi Kartakusuma
• Mochtar Lubis
• Moch Satrio Welang
• Mohammad Diponegoro
• Motinggo Busye
• M. Shoim Anwar
• Muhammad Kasim
• Mustafa W. Hasyim
• Nanang Suryadi
• Nazaruddin Azhar
• Nenden Lilis A
• Ngarto Februana
• Nh. Dini
• Nirwan Dewanto
• Noorca M. Massardi
• Nova Riyanti Yusuf
• Nugroho Notosusanto
• Nur Sutan Iskandar
• Nyoo Cheong Seng
• Oyos Saroso HN
• Palti R Tamba
• Pamusuk Eneste
• Panji Utama
• Parakitri T Simbolon
• Piek Ardijanto Soeprijadi
• Pipiet Senja
• Pramoedya Ananta Toer
• Primadonna Angela
• Putu Wijaya
• Radhar Panca Dahana
• Ragdi F. Daye
• Ramadhan K.H.
• Rachmat Djoko Pradopo
• Rachmat Nugraha
• Ratih Kumala
• Ratna Indraswari Ibrahim
• Remy Sylado
• Rieke Diah Pitaloka
• Rijono Pratikto
• Riris K. Sarumpeat
• Rosihan Anwar
• Rukmi Wisnu Wardani
• Rusman Sutiasumarga
• Saeful Badar
• Sanusi Pane
• Sarabunis Mubarok
• Saut Situmorang
• Sapardi Djoko Damono
• Selasih/Seleguri
• Seno Gumira Ajidarma
• Sholeh UG
• Sindhunata
• Sitok Srengenge
• Sitor Situmorang
• Slamet Sukirnanto
• SM Ardan
• SN Ratmana
• Sobron Aidit
• Soekanto SA
• Sony Farid Maulana
• Sosiawan Leak
• S. Sinansari ecip
• Subagio Sastrowardoyo
• Suman Hs
• Suminto A Sayuti
• Sunaryo Basuki Ks
• Suparto Brata
• Sutan Iwan Sukri Munaf
• Sutan Takdir Alisjahbana
• Sutardji Calzoum Bachri
• Suwarsih Djojopuspito
• S. Yoga
• Tajuddin Noor Gani
• Taufiq Ismail
• Teguh Winarso AS
• Timur Sinar Suprabana
• Titie Said
• Titis Basino
• Toety Heraty Nurhadi
• Toto Sudarto Bachtiar
• Trisnojuwono
• Trisno Sumardjo
• Triyanto Triwikromo
• T Wijaya
• Viddy AD Daery
• Udo Z. Karzi
• Ugoran Prasad
• Umar Junus
• Umar Kayam
• Umar Nur Zain
• Umbu Landu Paranggi
• Usmar Ismail
• Utuy Tatang Sontani
• W. Hariyanto
• W.S. Rendra
• Widjati
• Widji Thukul
• Wowok Hesti Prabowo
• Yonathan Rahardjo
• Yudhistira ANM Massardi
• Yusach Ananda
• Y. Wibowo
• Zainal Afif
• Zainuddin Tamir Koto
• Zen Hae
• Zoya Herawati
1. Referensi
• Pamusuk Eneste. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Abdul Hadi WM
Abdul Hadi Widji Muthari (lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 24 Juni 1946; umur 63 tahun) adalah salah satu sastrawan Indonesia. Sejak kecil ia telah mencintai puisi. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan dorongan orang tua, kawan dan gurunya.
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Pendidikan
3. Karir
4. Tulisan
5. Pranala luar
1. Masa kecil
Di masa kecilnya pula ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat, dengan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal.
2. Pendidikan
Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran dan dalam program studi antropologi, juga tidak tamat. Akhirnya ia justru mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar doktor dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang.
3. Karir
Hadi juga pernah menjabat sebagai redaktur kebudayaan Harian Berita Buana dan anggota Dewan Pimpinan Harian Dewan Kesenian Jakarta. Puisi-puisinya kian lama kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Kumpulan puisinya, “Meditasi”, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Bukunya “Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh”, melukiskan kecenderungan religiusnya.
Pada tahun 1992, ia menerima tawaran dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang, untuk menjadi “ahli cipta” di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, di sana. Posisinya sebagai “ahli cipta” di perguruan tinggi yang berlokasi di Penang, Malaysia itu membuka peluang mengikuti program doktoral di perguruan tinggi itu dalam bidang sastra. Ia kembali ke Indonesia dengan gelar doktor, dan kini Hadi menjadi dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina. Tahun 2008, Abdul Hadi memperoleh gelar guru besar.
Hingga kini sudah enam kumpulan puisi yang diterbitkannya. Empat buku lainnya bukan puisi. Dengan istrinya, Tedjawati, yang menjadi pelukis, ia sering terlibat diskusi soal seni. Ia juga menyukai karya Bach, Beethoven, dan The Beatles.
4. Tulisan
4. 1. Kumpulan puisi
• Meditasi (1976)
• Laut Belum Pasang (1971)
• Cermin (1975)
• Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
• Tergantung Pada Angin (1977)
• Anak Laut, Anak Angin (1983)
4. 2. Tulisan tentang Abdul Hadi WM
• “Naturmagie und Sufismus – Gedichte des indonesischen Lyrikers Abdul Hadi W.M.”, dalam Orientierungen 1/1991, S. 113-122.
• “Struktur sajak penyair Abdul Hadi W.M.” (1998) oleh Anita K. Rustapa
• “Arjuna in meditation: three young Indonesian poets: selected verse of Abdul Hadi W.M., Darmanto Jt & Sutardji Calzoum Bachri”, (1976) Writers Workshop, Calcutta.
5. Pranala luar
http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/A/ads,20030616-09,A.html (memerlukan pendaftaran)
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1946, Alumni Universitas Gadjah Mada, Kelahiran 1948, Sastrawan Indonesia, Tionghoa-Indonesia
Abdoel Moeis
Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam.[1] Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Abdul Muis
Daftar isi:
1. Karir
2. Riwayat Perjuangan
3. Karya Sastra
4. Terjemahannya
5. Trivia
6. Rujukan
1. Karir
Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Dia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum mendirikan surat kabar Kaoem Kita pada 1924. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan
2. Riwayat Perjuangan
• Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express
• Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara
• Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat
• Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung (ITB)
3. Karya Sastra
• Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
• Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
• Surapati (novel, 1950)
• Robert Anak Surapati(novel, 1953)
4. Terjemahannya
• Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
• Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
• Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
• Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)
5. Trivia
• Hampir di setiap kota di Indonesia ada sebuah Jalan Abdul Muis.
6. Rujukan
1. Setiono, Benny. G (2002). Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia.

Pahlawan nasional Indonesia

Abdul Harris Nasution • Abdul Kadir • Abdul Muis • Abdul Rahman Saleh • Achmad Ri’fai • Adam Malik • Adenan Kapau Gani • Ageng Tirtayasa, Sultan • Agus Salim, H • Ahmad Dahlan, Kiai Haji • Ahmad Yani, Jenderal • Albertus Soegijapranata, SJ, Mgr. • Amir Hamzah, Tengku • Andi Abdullah Bau Massepe • Andi Djemma • Andi Mappanyukki • Andi Sultan Daeng Radja • Antasari, Pangeran • Arie Frederik Lasut • Sultan Arung Matoa • Ayokrokusumo, Sultan Agung • Bagindo Azizchan • Basuki Rahmat, Jenderal • Cik Di Tiro, Teungku • Cilik Riwut • Cut Nyak Dhien • Cut Nyak Meutia • Dewi Sartika • Diponegoro, Pangeran • Djuanda Kartawidjaja • Douwes Dekker, Setiabudi • Fakhruddin, H • Fatmawati • Ferdinand Lumbantobing • Fisabilillah, Raja Haji • Frans Kaisiepo • Gatot Mangkoepradja • Gatot Subroto, Jenderal • Halim Perdana Kusuma • Hamengku Buwono I, Sri Sultan • Hamengku Buwono IX, Sri Sultan • Harun • Haryono M.T, Letnan Jenderal • Hasan Basry, Brigadir Jenderal • Hasanuddin, Sultan • Hasyim Asyari • Hazairin • Ignatius Slamet Rijadi • Ilyas Yakoub • Imam Bonjol, Tuanku • Iskandar Muda, Sultan • Ida Anak Agung Gde Agung • Ismail Marzuki • Iswahyudi, Marsma • Iwa Kusuma Sumantri, Prof.Dr • Izaak Huru Doko • Jatikusumo, G.P.H • Jelantik, I Gusti Ketut • Karel Satsuit Tubun, AIP • Kartini, R.A • Katamso Darmokusumo, Brigadir Jenderal • Ki Hajar Dewantara • Kiras Bangun (Garamata) • Kusumah Atmaja, Dr.SH • La Madukelleng • Mahmud Badaruddin II, Sultan • Mangkunegoro, K.G.P.A.A • Maria Walanda Maramis • Martadinata R.E, Laksamana Laut • Martha Christina Tiahahu • Marthen Indey • Mas Mansur, Kiai Haji • Maskoen Soemadiredja • Moestopo, Mayjen TNI (Purn.) Prof. dr. • Mohammad Hatta, Drs • Mohammad Husni Thamrin • Mohamad Roem • Mohammad Yamin, Prof, SH • Muhammad Isa Anshary • Muwardi, dr • Nani Wartabone H • Ngurah Rai, I Gusti, Kolonel • Noer Alie • Nuku Muhammad Amiruddin • Nyai Ahmad Dahlan • Nyak Arif, Teuku • Nyi Ageng Serang • Opu Daeng Risadju • Oto Iskandardinata • Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng • Pakubuwono VI, Sri Susuhunan • Panjaitan D.I, Mayor Jenderal • Parada Harahap • Pattimura, Kapitan • Pierre Tandean, Kapten • Pong Tiku • Radin Inten II • Raja Ali Haji • Rasuna Said, HJ Rangkayo • Robert Wolter Monginsidi • Saharjo, Dr. SH • Sam Ratulangi, G.S.S.J, Dr • Samanhudi, Kiai Haji • Slamet Riyadi, Ign. • Silas Papare • Sisingamangaraja XII • Siswondo Parman, Letnan Jenderal • Soekarno • Sudirman, Jenderal • Sugiono, Kolonel • Sugijopranoto, S.J, Msgr • Suharso, Prof. Dr • Suhartinah Suharto • Sukarjo Wiryopranoto • Supeno • Supomo, Prof. Mr. Dr • Suprapto R, Letnan Jenderal • Suprijadi • Suroso R.P • Suryo • Suryopranoto, R.M • Sutan Syahrir • Sutomo, dr • Sutomo (Bung Tomo) • Sutoyo Siswomiharjo, Mayor Jenderal • Syarif Kasim II, Sultan • Syech Yusuf Tajul Khalwati • Tambusai, Tuanku • Tan Malaka • Tengku Rizal Nurdin • Teuku Muhammad Hasan • Teuku Umar • Thaha Sjaifuddin, Sultan • Tirto Adhi Soerjo, R.M • Tjipto Mangunkusumo, dr. • Tjokroaminoto, Haji Oemar Said • Untung Suropati • Urip Sumohardjo, Letnan Jenderal • Usman • Wage Rudolf Supratman • Wahid Hasyim • Wahidin Sudirohusodo • Wilhelmus Zakaria Johannes * Zainul Arifin, Kiai Haji

Daftar kategori: Kelahiran 1883, Kematian 1959, Pahlawan nasional Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Bukittinggi
Bahasa lain: English, Bahasa Melayu, Basa Jawa, Русский, Nederlands

Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor (lahir di Kuningan, Jawa Barat, 28 Februari 1960; umur 49 tahun) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Karier
3. Karya
4. Penghargaan
5. Pranala luar
1. Keluarga
Acep adalah putra tertua dari K. H. Ilyas Ruhiat, seorang ulama kharismatis dari Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

AZ Noor
2. Karier
Acep menghabiskan masa kecil dan remajanya di lingkungan pesantren, melanjutkan pendidikan pada Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, lalu Universitá Italiana per Stranieri, Perugia, Italia. Kini, tinggal di Desa Cipasung, Tasikmalaya.
3. Karya
• Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982)
• Aku Kini Doa (kumpulan sajak, 1986)
• Kasidah Sunyi (kumpulan sajak, 1989)
• The Poets Chant (antologi, 1995)
• Aseano (antologi, 1995)
• A Bonsai’s Morning (antologi, 1996)
• Di Luar Kata (kumpulan sajak, 1996)
• Dari Kota Hujan (kumpulan sajak, 1996)
• Di Atas Umbria (kumpulan sajak, 1999)
• Dongeng dari Negeri Sembako (kumpulan puisi, 2001)
• Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004)
• Menjadi Penyair Lagi (antologi, 2007)
4. Penghargaan
• Penghargaan Penulisan Karya Sastra Depdiknas (2000)
• South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005)
• Khatulistiwa Literary Award (2007)
5. Pranala luar
• (id) Biografi Acep Zamzam Noor di tamanismailmarzuki.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1960, Sastrawan Indonesia, Seniman Indonesia
Bahasa lain: Basa Sunda

Achdiat K. Mihardja
Achdiat Karta Mihardja (lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911). Berpendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat UI. Ia pernah bekerja sebagai guru Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra UI (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia. Achdiat juga pernah menjadi redaktur harian Bintang Timur dan majalah Gelombang Zaman (Garut), Spektra, Pujangga Baru, Konfrontasi, dan Indonesia. Di samping itu, ia pernah menjadi Ketua PEN Club Indonesia, Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia, anggota BMKN, angggota Partai Sosialis Indonesia, dan wakil Indonesia dalam Kongres PEN Club Internasional di Lausanne, Swiss (1951).

Achdiat K. Mihardja
Kumpulan cerpennya, Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Hadiah Sastra BMKN tahun 1957 dan novelnya, Atheis (1949) memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI tahun 1969 (R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjuman Djaya mengangkatnya pula ke layar perak tahun 1974) dengan judul yang sama.
Karyanya yang lain:
• Polemik Kebudayaan (editor, 1948)
• Bentrokan dalam Asrama (drama, 1952)
• Keretakan dan Ketegangan (kumpulan cerpen)
• Kesan dan Kenangan (1960)
• Debu Cinta Berterbangan (novel, Singapura, 1973)
• Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975)
• Pembunuhan dan Anjing Hitam (kumpulan cerpen, 1975)
• Pak Dullah in Extrimis (drama, 1977)
• Si Kabayan, Manusia Lucu (1997).
• Manifesto Khalifatullah (novel, 2006).
Studi mengenai karya Achdiat: Boen S. Oemarjati, Roman Atheis: Sebuah Pembicaraan (1962) dan Subagio Sastrowardoyo, “Pendekatan kepada Roman Atheis” dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).
1. Kehidupan Pribadi
Achdiat K. Mihardja adalah kakek dari Jamie Aditya, presenter, aktor, dan penyanyi Indonesia yang kerap dikenal dari acara musik MTV.[1]
2. Referensi
1. Carlton, M. 2008. Indonesia: A Reporter’s Journey. DV1 (Video Dokumenter)
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1911, Sastrawan Indonesia, Alumni Universitas Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa

Adinegoro
Adinegoro (lahir di Talawi, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 – meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun) adalah sastrawan Indonesia dan wartawan kawakan. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930).

Adinegoro
Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang istri bernama Alidas yang berdarah Sulit Air ,Solok, Sumatera Barat.
Daftar isi:
1. Masa muda
2. Karya-karyanya
3. Pranala luar
4. Referensi
1. Masa muda
Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka digunakan nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.
Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia juga mempelajari masalah kartografi, geografi, politik, dan geopolitik. Tentu saja, pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro, memang, lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.
Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930), ia nyambi menjadi wartawan bebas (freelance journalist) pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta).
Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana, hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi LKBN Antara). Sampai akhir hayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut.
Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.
2. Karya-karyanya
Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya dibuat pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama-nama novelis besar Indonesia lainnya, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982), mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu yang dijalankan oleh pihak kaum tua.
Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930.
Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang disunting oleh Achdiat K. Mihardja (1977). Dalam esainya itu, Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya.
Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo. Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952. Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk sekolah lanjutan.[1]
2. 1. Buku
• Revolusi dan Kebudayaan (1954)
• Ensiklopedia Umum dalam Bahasa Indonesia (1954),
• Ilmu Karang-mengarang
• Falsafah Ratu Dunia
2. 2. Novel
• Darah Muda. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1931
• Asmara Jaya. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1932.
• Melawat ke Barat. Jakarta : Balai Pustaka. 1950.
2. 3. Cerita pendek
• Bayati es Kopyor. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961, hlm. 3—4, 32.
• Etsuko. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961. hlm. 2—3, 31
• Lukisan Rumah Kami. Djaja. No. 83. Th. Ke-2. 1963. hlm. 17—18.
• Nyanyian Bulan April. Varia. No. 293. Th. Ke-6. 1963. hlm. 2-3 dan 31—32.
3. Pranala luar
• (id) [2]
4. Referensi
1. [1]
Daftar kategori: Kelahiran 1904, Kematian 1967, Tokoh Sumatera Barat, Perintis Pers, Sastrawan Indonesia, Alumni Universitas Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa

Agus R. Sarjono
Agus R. Sarjono (lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 Juli 1962; umur 47 tahun) adalah penyair dan penulis Indonesia.
Pada 1988, Ia lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), IKIP Bandung, kemudian menyelesaikan program pasca sarjana di Jurusan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Indonesia pada 2002[1]. Agus adalah Ketua Bidang Program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006. Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001. Sehari-hari¬nya Agus bekerja sebagai pengajar pada Ju¬rus¬¬an Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Ban¬dung, serta men¬¬jadi redaktur Majalah Sastra Horison.

Agus R. Sarjono
Pada Februari hingga Oktober 2001, Agus tinggal di Leiden, Belanda sebagai poet in residence atas undangan Poets of All Nations (PAN) serta peneliti tamu pada International Institute for Asian Studies (IIAS)[2], Universitas Leiden. Ia juga pernah diundang sebagai penyair tamu di Heinrich Böll Haus, Langenbroich, Jerman sejak Desember 2002 hingga Maret 2003. Selain menulis dan menerbitkan karyanya sendiri, Agus bersama Berthold Damshäuser menjadi editor beberapa buku kumpulan puisi sastrawan besar Jerman seperti Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe, dan Hans Magnus Enzensberger[3].
Semasa kuliahnya di IKIP Bandung, Agus terlibat aktif dalam kelompok diskusi Diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru. Pada tahun 1987 Agus terlibat dalam pendirian Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sekaligus menjadi Ketua Umum hingga tahun 1989[4].
Daftar isi:
1. Karya
2. Referensi
3. Pranala luar
1. Karya
1. 1. Puisi
• Kenduri Airmata (1994, 1996)
• A Story from the Country of the Wind (edisi Bahasa Inggris, 1999, 2001)
• Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001, 2003)
• Frische Knochen aus Banyuwangi (edisi Bahasa Jerman, diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Inge Dumpél, 2003)
• Diterbangkan Kata-kata (2006)
1. 2. Antologi Puisi
• Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi (1998)
1. 3. Esai
• Bahasa dan Bonafiditas Hantu (2001)
• Sastra dalam Empat Orba (2001)
1. 4. Drama
• Atas Nama Cinta (2004)
1. 5. Konferensi, Festival, dan Pembacaan
• “Asean Writers Conference”, Manila (1995)
• “Istiqlal International Poetry Reading”, Jakarta (1995)
• “Ipoh Arts Festival III”, Negeri Perak, Malaysia (1998)
• “The Netherlands-Indonesian Poetry Night” di Erasmus Huis, Jakarta (1998)
• “Festival de Winternachten”, Den Haag (1999 and 2005)
• “Poetry on the Road”, Bremen (2001)
• “Internationales Literaturfestival Berlin” (2001)
• “The Dubai International Poetry Festival” (2009)
1. 6. Sebagai Editor
• Saini KM: Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993)
• Catatan Seni (1996)
• Kapita Selekta Teater (1996)
• Pembebasan Budaya-budaya Kita (1999)
• Dari Fansuri ke Handayani (2001)
• Horison Sastra Indonesia 1-4 (2002), Horison Esai Indonesia 1-2 (2003)
• Rilke: Padamkan Mataku (Kumpulan Puisi, 2003)
• Bertolt Brecht: Zaman Buruk Bagi Puisi (Kumpulan Puisi, 2004)
• Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004)
• Paul Celan: Candu dan Ingatan (Kumpulan Puisi, 2005)
• Teater tanpa Masa Silam (2005)
• Poetry and Sincerity (2006)
• Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya (Kumpulan Puisi, 2007)
• Hans Magnus Enzensberger: Coret Yang Tidak Perlu (Kumpulan Puisi, 2009)
2. Referensi
1. Blog Agus R. Sarjono: Biodata
2. IIAS Annual Report 2001 p.28
3. Publikationen der Abteilung für Südostasienwissenschaft
4. Laman Pusat Bahasa: Agus R. Sarjono
3. Pranala luar
• Blog Agus R. Sarjono
• (en) Poets of All Nations (PAN)
• (en) International Institute for Asian Studies (IIAS)
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1962, Penyair Indonesia, Sastrawan Indonesia, Alumni Universitas Indonesia

Ahmad Tohari
Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 61 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).

Ahmad Tohari
Ia pernah bekerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995).
1. Karyanya
• Kubah (novel) (novel, 1980)
• Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
• Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
• Jantera Bianglala (novel, 1986)
• Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
• Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
• Bekisar Merah (novel, 1993)
• Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
• Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
• Belantik (novel, 2001)
• Orang Orang Proyek (novel, 2002)
• Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
• Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006; meraih Hadiah Sastera Rancagé 2007
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedang disiapkan penerbitannya.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1948, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Banyumas
Bahasa lain: English, Basa Banyumasan

Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958; umur 51 tahun) adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia.

Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ahmadun juga banyak menulis esei sastra.
Sehari-hari kini Ahmadun menjadi wartawan (dengan inisial AYH) dan redaktur sastra Harian Republika dan pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006, tapi mengundurkan diri. Ia juga sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.
Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, tapi mengundurkan diri. Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Dianggap sebagai salah satu sastrawan Indonesia terkemuka saat ini.
Daftar isi:
1. Karya
2. Referensi
3. Pranala luar
1. Karya
Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain, Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001), Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).
Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:
• Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
• Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
• Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
• Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
• Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
• Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
• Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
• Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
• Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
• Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
• The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
• Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
• Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
2. Referensi
• (en) Curriculum Vitae Ahmadun Yosi Herfanda di situs Australia Indonesia Arts Alliance.
• (en) Amirrachman, Alpha Untirta tries to break ‘literature deadlock’. The Jakarta Post, 5 Februari 2006.
• (en) Aveling, Harry, 2001, Secrets Need Words, USA, Ohio University.
• (en) Rampan, Korrie Layun, 2001, Angkatan 2000, Jakarta, PT Gramedia.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
• (en) Herfanda, Ahmadun Yosi, The Warshipping Grass, 2004, Jakarta, Bening Publishing.
3. Pranala luar
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di Cybersastra.net
• (id) Cerpen Bulan Terkapar di Trotoar karya Ahmadun (2004) di weblog kumpulan cerpen Indonesia.
• (id) Sajak-sajak Ahmadun Yosi Herfanda di http://www.poetry.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1958, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English

Ajip Rosidi
Ajip Rosidi (baca: Ayip Rosidi), (lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938; umur 71 tahun) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Keluarga
3. Proses kreatif
4. Aktivitas
5. Penghargaan
6. Karya-karyanya
7. Referensi
8. Pranala luar
1. Pendidikan
• Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950)
• Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
• Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat)

2. Keluarga
Ia menikah dengan Fatimah Wirjadibrata (1955) dan dikaruniai 6 anak:
• Nunun Nuki Aminten (1956)
• Titi Surti Nastiti (1957)
• Uga Percéka (1959)
• Nundang Rundagi (1961)
• Rangin Sembada (1963)
• Titis Nitiswari (1965).
3. Proses kreatif
Ajip mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.
Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).
Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul.
Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll.
4. Aktivitas
Ketika masih duduk di SMP menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian menjadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).
Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masaja batan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).
Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.
Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda
5. Penghargaan
• Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960).
• Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993.
• Kun Santo Zui Ho Sho (“Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher”) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999
• Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastera dan budaya.
6. Karya-karyanya
Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya
• Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)
• Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)
• Pesta (kumpulan sajak, 1956)
• Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)
• Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957)
• Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)
• Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)
• Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959)
• Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);
• Pertemuan Kembali (kumpulan cerpen, 1961)
• Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir? (1964; cetak ulang yang direvisi, 1985)
• Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967);
• Jeram (kumpulan sajak, 1970);
• Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967)
• Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (1969)
• Ular dan Kabut (kumpulan sajak, 1973);
• Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan sajak, 1979, seluruhnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh T. Indoh, dan dimuat dalam majalah Fune dan Shin Nihon Bungaku (1981)
• Manusia Sunda (1984)
• Anak Tanahair (novel, 1985, terjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Funachi Megumi, 1989.
• Nama dan Makna (kumpulan sajak, 1988)
• Sunda Shigishi hi no yume (terjemahan bahasa Jepang dari pilihan keempat kumpulan cerita pendek oleh T. Kasuya 1988)
• Puisi Indonesia Modern, Sebuah Pengantar (1988)
• Terkenang Topeng Cirebon (kumpulan sajak, 1993)
• Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995)
• Mimpi Masasilam (kumpulan cerpen, 2000, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang)
• Masa Depan Budaya Daerah (2004)
• Pantun Anak Ayam (kumpulan sajak, 2006)
• Korupsi dan Kebudayaan (2006)
• Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi, 2008)
Ajip juga menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, lelucon, dan memoar serta menjadi penyunting beberapa bunga rampai.
7. Referensi
• Ajip Rosidi. 2000. Ensiklopédi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.
8. Pranala luar
• (id) Ayip Rosidi dan Kepunahan Bahasa Daerah
• (id) Perkembangan Buku Indonesia Menyedihkan
• (id) Menyoal Keberanian Orang Sunda
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1938, Tokoh Jawa Barat, Sastrawan bahasa Sunda, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa, Basa Sunda, Română

Akmal Nasery Basral
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Daftar isi:
1. Jurnalistik
2. Sastra
3. Bibliografi
4. Karya Terjemahan
5. Lain-lain
Akmal Nasery Basral

Pekerjaan
wartawan, sastrawan
Kebangsaan
Indonesia
Aliran
realis

1. Jurnalistik
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai.
2. Sastra
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar. Berdasarkan informasi di sampul belakang Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku, saat ini Akmal sedang menyelesaikan novel Las Palabras de Amor, sebuah judul yang diambil dari salah satu lagu kelompok Queen, grup musik favoritnya.
3. Bibliografi
• Seputar Pembaruan Tentang Islam, co-editor (non-fiksi, 1990).
• Andai Ia Tahu: Kupas Tuntas Proses Pembuatan Film, penyunting pendamping (co-editor) (non-fiksi, 2003)
• Kisah Kasih Negeri Pengantin, co-writer (non-fiksi, 2005)
• Imperia, novel (2005)
• Ada Seseorang di Kepalaku Yang Bukan Aku, kumpulan cerpen (2006)
• Melodi Tanpa Do, skenario Film Televisi (FTV), ditayangkan Indosiar (2006)
• Selasar Kenangan, penyunting penyelia, kumpulan cerpen mailing list Apresiasi Sastra (2006)
• Nagabonar Jadi 2, novel adaptasi (2007)
4. Karya Terjemahan
• Million $$$ Baby (F.X. Toole), penyunting pendamping (co-editor) edisi Indonesia (2006)
• The Sea (John Banville), penyunting edisi Indonesia (2007)
• Akhenaten Adventure (P.B. Kerr), penyunting edisi Indonesia (2008)
5. Lain-lain
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia, sebuah penghargaan musik yang mengacu pada piala Grammy Award di Amerika Serikat. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya. Festival Film Jakarta adalah sebuah penghargaan yang sepenuhnya melibatkan wartawan film nasional sebagai pemilih awal. Sistem festival mengacu pada Golden Globe Award.
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1968, Wartawan Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Jakarta

Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.

Amir Hamzah
Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Ia wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Pahlawan nasional Indonesia

Abdul Harris Nasution • Abdul Kadir • Abdul Muis • Abdul Rahman Saleh • Achmad Ri’fai • Adam Malik • Adenan Kapau Gani • Ageng Tirtayasa, Sultan • Agus Salim, H • Ahmad Dahlan, Kiai Haji • Ahmad Yani, Jenderal • Amir Hamzah, Tengku • Andi Abdullah Bau Massepe • Andi Djemma • Andi Mappanyukki • Andi Sultan Daeng Radja • Antasari, Pangeran • Arie Frederik Lasut • Sultan Arung Matoa • Ayokrokusumo, Sultan Agung • Bagindo Azizchan • Basuki Rahmat, Jenderal • Cik Di Tiro, Teungku • Cilik Riwut • Cut Nyak Dhien • Cut Nyak Meutia • Dewi Sartika • Diponegoro, Pangeran • Djuanda Kartawidjaja • Douwes Dekker, Setiabudi • Fakhruddin, H • Fatmawati • Ferdinand Lumbantobing • Fisabilillah, Raja Haji • Frans Kaisiepo • Gatot Mangkoepradja • Gatot Subroto, Jenderal • Halim Perdana Kusuma • Hamengku Buwono I, Sri Sultan • Hamengku Buwono IX, Sri Sultan • Harun • Haryono M.T, Letnan Jenderal • Hasan Basry, Brigadir Jenderal • Hasanuddin, Sultan • Hasyim Asyari • Hazairin • Ignatius Slamet Rijadi • Ilyas Yakoub • Imam Bonjol, Tuanku • Iskandar Muda, Sultan • Ida Anak Agung Gde Agung • Ismail Marzuki • Iswahyudi, Marsma • Iwa Kusuma Sumantri, Prof.Dr • Izaak Huru Doko • Jatikusumo, G.P.H • Jelantik, I Gusti Ketut • Karel Satsuit Tubun, AIP • Kartini, R.A • Katamso Darmokusumo, Brigadir Jenderal • Ki Hajar Dewantara • Kiras Bangun (Garamata) • Kusumah Atmaja, Dr.SH • La Madukelleng • Mahmud Badaruddin II, Sultan • Mangkunegoro, K.G.P.A.A • Maria Walanda Maramis • Martadinata R.E, Laksamana Laut • Martha Christina Tiahahu • Marthen Indey • Mas Mansur, Kiai Haji • Maskoen Soemadiredja • Moestopo, Mayjen TNI (Purn.) Prof. dr. • Mohammad Hatta, Drs • Mohammad Husni Thamrin • Mohamad Roem • Mohammad Yamin, Prof, SH • Muhammad Isa Anshary • Muwardi, dr • Nani Wartabone H • Ngurah Rai, I Gusti, Kolonel • Noer Alie • Nuku Muhammad Amiruddin • Nyai Ahmad Dahlan • Nyak Arif, Teuku • Nyi Ageng Serang • Opu Daeng Risadju • Oto Iskandardinata • Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng • Pakubuwono VI, Sri Susuhunan • Panjaitan D.I, Mayor Jenderal • Parada Harahap • Pattimura, Kapitan • Pierre Tandean, Kapten • Pong Tiku • Radin Inten II • Raja Ali Haji • Rasuna Said, HJ Rangkayo • Robert Wolter Monginsidi • Saharjo, Dr. SH • Sam Ratulangi, G.S.S.J, Dr • Samanhudi, Kiai Haji • Slamet Riyadi, Ign. • Silas Papare • Sisingamangaraja XII • Siswondo Parman, Letnan Jenderal • Soekarno • Sudirman, Jenderal • Sugiono, Kolonel • Sugijopranoto, S.J, Msgr • Suharso, Prof. Dr • Suhartinah Suharto • Sukarjo Wiryopranoto • Supeno • Supomo, Prof. Mr. Dr • Suprapto R, Letnan Jenderal • Suprijadi • Suroso R.P • Suryo • Suryopranoto, R.M • Sutan Syahrir • Sutomo, dr • Sutoyo Siswomiharjo, Mayor Jenderal • Syarif Kasim II, Sultan • Syech Yusuf Tajul Khalwati • Tambusai, Tuanku • Tengku Rizal Nurdin • Teuku Muhammad Hasan • Teuku Umar • Thaha Sjaifuddin, Sultan • Tirto Adhi Soerjo, R.M • Tjipto Mangunkusumo, dr. • Tjokroaminoto, Haji Oemar Said • Untung Suropati • Urip Sumohardjo, Letnan Jenderal • Usman • Wage Rudolf Supratman • Wahid Hasyim • Wahidin Sudirohusodo • Wilhelmus Zakaria Johannes

1. Pranala luar
• Biodata singkat sastrawan Indonesia
• Beberapa sajak dari Buah Rindu
Daftar kategori: Kelahiran 1911, Kematian 1946, Pahlawan nasional Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Română

Mustofa Bisri
KH. A. Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944; umur 65 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan.
Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.
1. Pranala luar
• (id) Biografi Gus Mus
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1944, Rintisan biografi Indonesia, Tokoh dari Rembang, Tokoh Nahdlatul Ulama
Bahasa lain: English

Andrea Hirata
Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir 24 Oktober) adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :
1. Laskar Pelangi
2. Sang Pemimpi
3. Edensor
4. Maryamah Karpov
Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 – 2007.
Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains–fisika, kimia, biologi, astronomi–dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.
Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom.
Andrea Hirata

Nama lahir Andrea Hirata Seman Said Harun
Lahir 24 Oktober
Indonesia

Pekerjaan penulis

Tahun aktif 2006 – sekarang

1. Pranala luar
• (id) Website pribadi Andrea Hirata di multiply.com
• (id) Profil Andrea Hirata
• (id) Biography Andrea Hirata
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Novelis Indonesia, Tokoh Kepulauan Bangka Belitung, Alumni Universitas Indonesia, Tokoh yang tidak memiliki informasi tahun kelahiran
Bahasa lain: Basa Jawa

Arifin C. Noer
Arifin Chairin Noer (lahir 10 Maret 1941 – meninggal 28 Mei 1995 pada umur 54 tahun), atau lebih dikenal sebagai Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film asal Indonesia yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik.
Salah satu film Arifin yang paling kontroversial adalah Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September untuk memperingati insiden Gerakan 30 September pada tahun 1965. Peraturan ini kemudian dihapus pada tahun 1997.
Selain itu Arifin jugalah yang pertama mengenali bakat aktris Joice Erna dan mengangkatnya ke jenjang popularitas dengan film Suci Sang Primadona di tahun 1977.
Latar belakang teaternya yang kuat ia raih dengan pertama bergabung dengan kelompok bentukan Rendra dan juga kemudian menulis dan menyutradari lakon-lakonnya sendiri seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja.
Istrinya adalah aktris Jajang C. Noer.Darinya Arifin mendapat dua anak : Nitta Nazyra dan Marah Laut
1. Film yang di sutradarainya
• Rio Anakku – 1973
• Suci Sang Primadona – 1977
• Petualang-Petualang – 1978
• Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa – 1979
• Harmonikaku – 1979
• Serangan Fajar – 1981
• Djakarta 1966 – 1982
• Pengkhianatan G-30-S P.K.I. – 1982
• Pengkhianatan G.30.S/PKI – 1984
• Matahari Matahari – 1985
• Biarkan Bulan Itu – 1986
• Taksi – 1990
• Bibir Mer – 1991
• Tasi oh Tasi – 1992
2. Pranala luar
• (en) Arifin C. Noer di Internet Movie Database
• (id) Profil Arifin C. Noer
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1941, Kematian 1995, Rintisan biografi Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Sutradara Indonesia

Ari Setya Ardhi
Ari Setya Ardhi (Jakarta, 31 Mei 1967-Jambi, 17 Februari 2006) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Karya
3. Pranala luar
1. Keluarga
Ia meninggal dunia akibat penyumbatan pembuluh darah di otak dan meninggalkan seorang istri serta dua orang anak.
2. Karya
Ari telah menerbitkan sejumlah buku puisi, di antaranya Kelabu I-II (1986-1987), Sajak Matahari (1991), Etude (1993), Opus (1996), Metro (1998) dan Tembang Antar Benua (Manuskrip, 1998). Karyanya juga diterbitkan bersama karya penyair lainnya dalam buku-buku seperti Cerita Dari Hutan Bakau, Batu Beramal I, Dari Negeri Poci 3, Mimbar Penyair Abad 21, Zamrud Khatulistiwa. Sejak tahun 2004 ia menjadi pemimpin perusahaan harian Pos Metro Jambi yang merupakan anggota Grup Jawa Pos.
3. Pranala luar
• (id) “Penyair Ary Setya Ardhi Tutup Usia”, Detikcom, 20 Februari 2006
Daftar kategori: Kelahiran 1967, Kematian 2006, Sastrawan Indonesia

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948; umur 60 tahun) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.

Arswendo Atmowiloto
Daftar isi:
1. Kehidupan pribadi
2. Bibliografi
3. Pranala luar
1. Kehidupan pribadi
Di tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW (Nabi umat Muslim) yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara.
Selama dalam tahanan, Arswendo menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung. Sebagian dikirimkannya ke berbagai surat kabar, seperti KOMPAS, Suara Pembaruan, dan Media Indonesia. Semuanya dengan menggunakan alamat dan identitas palsu.
Untuk cerita bersambungnya, “Sudesi” (Sukses dengan Satu Istri), di harian “Kompas”, ia menggunakan nama “Sukmo Sasmito”. Untuk “Auk” yang dimuat di “Suara Pembaruan” ia memakai nama “Lani Biki”, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah “Said Saat” dan “B.M.D Harahap”.
Setelah menjalani hukuman 5 tahun ia dibebaskan dan kemudian kembali ke profesi lamanya. Ia menemui Sudwikatmono yang menerbitkan tabloid Bintang Indonesia yang sedang kembang-kempis. Di tangannya, Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Namun Arswendo hanya bertahan tiga tahun di situ, karena ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron.
2. Bibliografi
• Bayiku yang Pertama (Sandiwara Komedi dalam 3 Babak) (1974)
• Sang Pangeran (1975)
• Sang Pemahat (1976)
• The Circus (1977)
• Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)
• Dua Ibu (1981)
• Serangan Fajar (diangkat dari film yang memenangkan 6 Piala Citra pada Festival Film Indonesia) (1982)
• Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel “Kawinnya Juminten”) (1985)
• Anak Ratapan Insan (1985)
• Airlangga (1985)
• Senopati Pamungkas (1986/2003) – dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
• Akar Asap Neraka (1986)
• Dukun Tanpa Kemenyan (1986)
• Indonesia from the Air (1986)
• Garem Koki (1986)
• Canting (sebuah roman keluarga) (1986) – dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
• Pengkhianatan G30S/PKI (1986)
• Lukisan Setangkai Mawar (17 cerita pendek pengarang Aksara) (1986)
• Telaah tentang Televisi (1986)
• Tembang Tanah Air (1989)
• Menghitung Hari (1993)
• Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)
• Projo & Brojo (1994)
• Oskep (1994)
• Abal-abal (1994)
• Khotbah di Penjara (1994)
• Auk (1994)
• Berserah itu Indah (kesaksian pribadi) (1994)
• Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)
• Sukma Sejati (1994)
• Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)
• Kisah Para Ratib (1996)
• Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)
• Pesta Jangkrik (2001)
• Keluarga Cemara 1
• Keluarga Cemara 2 (2001)
• Keluarga Cemara 3 (2001)
• Kadir (2001)
• Keluarga Bahagia (2001)
• Darah Nelayan (2001)
• Dewa Mabuk (2001)
• Mencari Ayah Ibu (2002)
• Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)
• Dusun Tantangan (2002)
• Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)
• Kau Memanggilku Malaikat (2007)
• Imung
• Kiki
• Mengarang Itu Gampang
3. Pranala luar
• (id) Wendo dan Tujuh Samurai
• (id) Mereka yang Dikenal Produktif Menulis
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1948, Jurnalis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Surakarta

Armijn Pane
Armijn Pane (lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908 – wafat di Jakarta, 16 Februari 1970 pada umur 61 tahun) adalah seorang penulis yang terkenal keterlibatannya dengan majalah Pujangga Baru. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah, Armijn Pane mampu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

Armijn Pane
Selain menulis puisi dan novel, Armijn Pane juga menulis kritik sastra. Tulisan-tulisannya yang terbit pada Pujangga Baru, terutama di edisi-edisi awal menunjukkan wawasannya yang sangat luas dan, dibandingkan dengan beberapa kontributor lainnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan saudara laki-laki Armijn, Sanusi Pane, kemampuan menilai dan menimbang yang adil dan tidak terlalu terpengaruhi suasana pergerakan nasionalisme yang terutama di perioda akhir Pujangga Baru menjadi sangat politis dan dikotomis.
Salah satu karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.
1. Bibliografi
• Puisi
o Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
o Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
• Novel
o Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
• Kumpulan Cerpen
o Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
o Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
• Drama
o Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
2. Pranala luar
• (id) Laman Pusat Bahasa – Armijn Pane
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1970, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa, 日本語, Nederlands, Română

Asma Nadia
Asmarani Rosalba (lahir di Jakarta tahun 1972), lebih dikenal sebagai Asma Nadia, adalah penulis Indonesia. Ia lahir dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Saat ini dikenal sebagai Ketua Forum Lingkar Pena, suatu perkumpulan yang ikut dibidaninya untuk membantu penulis-penulis muda. Ia juga menjadi Ketua Yayasan Lingkar Pena, dan manajer Lingkar Pena Publishing House. Karena karya-karyanya ia pernah mendapat berbagai penghargaan. Selain menulis, Asma sering diminta untuk memberi materi dalam berbagai loka karya yang berkaitan dengan penulisan serta keperempuanan.
Asma Nadia telah menikah dan dianugerahi dua anak.

Asma Nadia ketika menjadi model di majalah Noor
1. Karya
Asma Nadia aktif menulis dan mempublikasi karyanya semenjak ia lulus dari SMA 1 Budi Utomo, Jakarta. Sasarannya adalah berbagai majalah keislaman. Ia juga menulis lirik sejumlah lagu, misalnya yang dinyanyikan oleh kelompok Snada.
1. 1. Buku
Asma telah menulis 32 buku hingga saat ini, baik sendiri maupun bersama-sama dengan penulis lain. Banyak di antaranya diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Di antaranya:
• Derai Sunyi, novel, mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA)
• Preh (A Waiting), naskah drama dua bahasa, diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta
• Cinta Tak Pernah Menar, kumpulan cerpen, meraih Pena Award
• Rembulan di Mata Ibu (2001), novel, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional
• Dialog Dua Layar, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002
• 101 Dating meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005
• Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!, nonfiksi, best seller.
Karya-karya berikut ditulis bersama penulis lain:
• Ketika Penulis Jatuh Cinta, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Kisah Kasih dari Negeri Pengantin, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Jilbab Pertamaku, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Miss Right Where R U? Suka Duka dan Tips Jadi Jomblo Beriman, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Jatuh Bangun Cintaku, Penerbit Lingkar Pena, 2005
• Gara-gara Jilbabku, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• Galz Please Don’t Cry, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• The Real Dezperate Housewives, Penerbit Lingkar Pena, 2006
• Ketika Aa Menikah Lagi, Penerbit Lingkar Pena, 2007
• Karenamu Aku Cemburu, Penerbit Lingkar Pena, 2007
• Catatan Hati di Setiap Sujudku, Penerbit Lingkar Pena, 2007.
• Badman: Bidin
• Suparman Pulang Kampung
• Pura-Pura Ninja
• Catatan Hati di Setiap Sujudku (kumpulan tulisan dari mailing list).
2. Pranala luar
• Profil di laman Gramedia Pustaka Utama
• Profil karya di laman Penerbit Mizan (juga menjadi rujukan artikel ini untuk karya).
Daftar kategori: Kelahiran 1972, Sastrawan Indonesia

A.S. Dharta
A.S. Dharta (lahir di Cibeber, Cianjur, 7 Maret 1924, meninggal di Cibeber, Cianjur, 7 Februari 2007) adalah sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya Adi Sidharta, tetapi biasa disingkat A.S. Dharta. Nama aliasnya bejibun. Yang sering dipakai adalah Klara Akustia. Lainnya: Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi.
Daftar isi:
1. Perjuangan
2. Karyanya
3. Referensi
1. Perjuangan
Jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.
Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.
Bersama M.S. Azhar dan Njoto, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 dan menjadi sekretaris jenderal (Sekjen) pertamanya.
A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung tahun 1965-1978.
Puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanannya tercecer di sejumlah media dalam dan luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.
Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun 2006 menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu “Irama Mei”.
2. Karyanya
• Saidjah dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkah Bakri Siregar)
• Rangsang Detik (kumpulan sajak, 1957)
3. Referensi
(id) In memoriam A.S. Dharta
Daftar kategori: Sastrawan Indonesia, Kelahiran 1924, Kematian 2007

A.S. Laksana
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968; umur 40 tahun) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Daftar isi:
1. Karya Fiksi
2. Karya Non Fiksi
3. Pranala luar
1. Karya Fiksi
• Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004), kumpulan cerita pendek
• Cinta Silver (Gagas Gasmedia, 2005), novel adaptasi dari film Cinta Silver
2. Karya Non Fiksi
• Skandal Bank Bali (Detak, 1999)
• Podium DeTik (Sipress, 1995)
• Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel (Mediakita, 2007)
3. Pranala luar
• Ruang Berbagi, blog pribadi
• Bidadari yang Mengembara, berisi cerpen dari Bidadari yang Mengembara
• Jakarta School
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1968, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Semarang

Asep S. Sambodja
Asep S. Sambodja (lahir di Solo, 15 September 1967) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Aktivitas
3. Karya
4. Pranala luar
1. Pendidikan
• SDN 1 Ungaran, Semarang
• SMPN 1 Ungaran, Semarang
• SMAN 1 Ungaran, Semarang
• S-1 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra (kini: Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, Depok (1993)
2. Aktivitas
Aktif di dunia jurnalistik, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus sejak 1988. Mulanya, magang di Tabloid Monitor yang dipimpin Arswendo Atmowiloto. Resmi menjadi wartawan tabloid Bintang Indonesia (1990-1994), Majalah Berita Mingguan Sinar (1995-1997), Majalah Ummat (1997-1998), Satunet.com (1999-2001), dan Majalah Fokus Indonesia (2002-2003). Kemudian, dia beralih profesi menjadi dosen di Program Studi Indonesia FIB UI sejak 2005.
3. Karya
3. 1. Karya Sendiri
• Menjelma Rahwana (1999)
• Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006)
• Ballada Para Nabi (2007)
3. 2. Antologi Bersama
• Graffiti Gratitude (2001)
• Cyberpuitika: Antologi Puisi Digital (2002)
• Bisikan Kata, Teriakan Kota (2003)
• Dian Sastro for President! (2005)
• Les Cyberlettres: Antologi Puisi Cyberpunk (2005)
• Nubuat Labirin Luka: Antologi Puisi untuk Munir (2006)
• Mekar di Bumi (2006)
• Jogja 5,9 Skala Richter (2006)
• Legasi: Antologi Puisi ASEAN (2006)
3. 3. Esai
• Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004) dan
• Dari Kampus ke Kamus (2005)
4. Pranala luar
• (id) Biografi Penyair Indonesia: Asep Sambodja
Daftar kategori: Alumni Universitas Indonesia, Kelahiran 1967, Sastrawan Indonesia

Asrul Sani
Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926 – wafat di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 77 tahun) adalah seorang sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).

Asrul Sani
Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia mendirikan “Gelanggang Seniman” (1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur “Gelanggang” dalam warta sepekan Siasat. Selain itu, Asrul pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema Suasana (kemudian Gema), Gelanggang (1966-1967), dan terakhir sebagai pemimpin umum Citra Film (1981-1982).
Asrul pernah menjadi Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), anggota Badan Sensor Film, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, anggota Dewan Film Indonesia, dan anggota Akademi Jakarta (seumur hidup).
Karyanya: Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988), dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).
Buku mengenai Asrul: M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967) dan Ajip Rosidi dkk. (ed.), Asrul Sani 70 Tahun, Penghargaan dan Penghormatan (1997).
Di samping menulis sajak, cerpen, dan esai, Asrul juga dikenal sebagai penerjemah dan sutradara film. Terjemahannya: Laut Membisu (karya Vercors, 1949), Pangeran Muda (terjemahan bersama Siti Nuraini; karya Antoine de St-Exupery, 1952), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (karya Ricard Boleslavsky, 1960), Rumah Perawan (novel Yasunari Kawabata, 1977), Villa des Roses (novel Willem Elschot, 1977), Puteri Pulau (novel Maria Dermount, 1977), Kuil Kencana (novel Yukio Mishima, 1978), Pintu Tertutup (drama Jean Paul Sartre, 1979), Julius Caesar (drama William Shakespeare, 1979), Sang Anak (karya Rabindranath Tagore, 1979), Catatan dari Bawah Tanah (novel Fyodor Dostoyeski, 1979), Keindahan dan Kepiluan (novel Yasunari Kawabata, 1980), dan Inspektur Jenderal (drama Nicolai Gogol, 1986).
Film yang disutradarainya: “Pagar Kawat Berduri” (1963), “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (1970), “Salah Asuhan” (1974), “Bulan di Atas Kuburan” (1976), “Kemelut Hidup” (1978), “Di Bawah Lindungan Kaabah” (1978), dan lain-lain.
Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI.
1. Pranala luar
• (en) (en) Asrul Sani di Internet Movie Database
• (id) Profil di tokohindonesia.com
Daftar kategori: Kelahiran 1926, Kematian 2004, Sutradara Indonesia, Tokoh teater Indonesia, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English, Nederlands

Ayatrohaedi
Ayatrohaedi (lahir di Jatiwangi, Majalengka, 5 Desember 1939 – meninggal di Sukabumi, 18 Februari 2006 pada umur 66 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia yang banyak menghasilkan karya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda.
Ia menjadi mahasiswa Fakultas Sastra tahun 1959 mengambil Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia (sekarang Arkeologi). Setelah lulus tahun 1964 bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Mojokerto. Pernah menjadi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung selama lima tahun, kemudian tahun 1972 kembali lagi ke Fakultas Sastra UI. Pada tahun 1978 meraih gelar doktor dari UI dengan mengajukan disertasi berjudul Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa. Menurut promotornya Prof. Dr. Amran Halim, disertasi ini merupakan disertasi pertama mengenai dialektologi di Asia Tenggara.
Ayatrohaedi pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Arkeologi (1983-1987), Pembantu Dekan Bidang Akademik (1999-2000), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama lima tahun (1989-1994). Ayatrohaedi juga banyak terlibat dalam kegiatan di bidang kebahasaan, kesusastraan, kesejarahan, kebudayaan dan kepurbakalaan.
1. Bibliografi
Ayatrohaedi mulai menulis karya sastra (puisi, prosa) dalam bahasa Sunda tahun 1955 dan dalam bahasa Indonesia 1956. Hingga saat ini karyanya yang telah terbit antara lain:
• Hujan Munggaran (1960),
• Kabogoh Téré (1967),
• Pamapag (1972).
Karyanya dalam bahasa Indonesia antara lain:
• Panji Segala Raja (1974),
• Pabila dan di mana (1976),
• Senandung Ombak (terjemahan, 1976),
• Kacamata Sang Singa (terjemahan, 1977).
Karya non-fiksi antara lain:
• Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (disertasi 1978, diterbitkan 1985),
• Dialektologi: Sebuah Pengantar (1979, 1981),
• Tatabahasa Sunda (terjemahan karya D. K. Ardiwinata, 1985),
• Tatabahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda (terjemahan karya J. Kats dan R. Suriadiraja, 1986).
Daftar kategori: Kelahiran 1939, Kematian 2006, Alumni Universitas Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Majalengka
Bahasa lain: Basa Sunda

Ayu Utami

Justina Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968; umur 40 tahun) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ayu Utami, 2005
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Karir dan kegiatan
3. Karya
4. Penghargaan
5. Pranala luar
1. Pendidikan
• SD Regina Pacis, Bogor (1981)
• SMP Tarakanita 1 Jakarta (1984)
• SMA Tarakanita 1 Jakarta (1987)
• Jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994)
• Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)
• Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999)
2. Karir dan kegiatan
• Wartawan lepas Matra
• Wartawan Forum Keadilan
• Wartawan D&R
• Anggota Sidang Redaksi Kalam
• Kurator Teater Utan Kayu
• Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
• Peneliti di Institut Studi Arus Informasi
3. Karya
• Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
• Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
• Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, GagasMedia, Jakarta, 2003
• Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
4. Penghargaan
• Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998
• Prince Claus Award 2000
5. Pranala luar
• (id) Apa dan Siapa PDAT
• (id) Biografi dalam Potret di Intisari 1998
• (id) Biografi di CBN
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1968, Rintisan biografi Indonesia, Tokoh Katolik Indonesia, Alumni Universitas Indonesia, Novelis Indonesia, Aktivis Indonesia, Model Indonesia, Finalis Wajah Femina, Tokoh dari Bogor
Bahasa lain: English, Français, Português

Binhad Nurrohmat
Binhad Nurrohmat (lahir di pedalaman Lampung, 1 Januari 1976) adalah sastrawan Indonesia. Penyair dan eseis ini tumbuh di Yogyakarta dan kini tinggal di Jakarta.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Aktivitas
3. Karya-karya
4. Referensi
5. Pranala luar
1. Pendidikan
Dia pernah menimba pengetahuan di madrasah, pesantren, dan sekolah.
2. Aktivitas
Binhad menulis puisi dan esai di buku harian dan media massa sejak belia. Sajak-sajaknya diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Marshall Clark, pengajar dan peneliti sastra Indonesia dari Universitas Deakin Australia.
Pada musim panas, musim gugur, dan musim dingin 2008 menjadi visiting writer di Semenanjung Korea.
3. Karya-karya
• Kuda Ranjang (kumpulan sajak, 2004)
• Bau Betina (kumpulan sajak, 2007)
• Sastra Perkelaminan (kumpulan esai, 2007)
• Demonstran Sexy (kumpulan sajak, 2008)
• The Bed Horse, Kuda Ranjang (kumpulan sajak dwibahasa Inggris-Indonesia, bahasa Inggris diterjemahkan Marshall Clark, 2008)
4. Referensi
Binhad Nurrohmat. 2007. Sastra Perkelaminan. Lamongan: Pustaka Pujangga.
5. Pranala luar
• (id) 9 Pertanyaan untuk Binhad Nurohmat
• (id) Binhad Nurrohmat: Saya Tak Ingin Terpenjara oleh Apa pun
• (id) Sikap Puisi dalam Dimensi Ruang Publik
Daftar kategori: Kelahiran 1976, Sastrawan Indonesia

Bokor Hutasuhut
Bokor Hutasuhut (lahir di Balige, 2 Juli 1934) adalah sastrawan Indonesia. Dalam dunia sastra Indonesia, Ia Angkatan 50-an.
1. Karya
• Datang Malam (1963)
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1934, Sastrawan Indonesia

Bonari Nabonenar
Bonari Nabonenar itu adalah salah satu sastrawan Jawa modern. Ia dikenal banyak menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Jawa. Di samping itu, ia juga menulis dalam bahasa Indonesia.
Daftar isi:
1. Perjalanan hidup
2. Kiprah di Sastra Jawa
3. Karya-Karya
1. Perjalanan hidup
Nama aslinya Bonari. Ia lahir di Trenggalek 1964. Menempuh pendidikannya di SDN Cakul I (Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jawa Timur), lalu melanjutkan ke SMP Berbantuan di Kecamatan Panggul,Kabupaten Trenggalek, dan mampir di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Sore sebelum kemudian melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (lulus sarjana tahun 1987).
Pertama-tama menulis puisi berbahasa Indonesia, beberapa kali dimuat majalah Taman Siswa (Jogjakarta) pada awal tahun 80-an. Saat itu tulisannya juga hampir selalu memenuhi majalah dinding di sekolahnya (SPG Sore). Di IKIP, semangat menulisnya makin tinggi. Puisi atau cerpen dan esainya dimuat Mingguan Guru, Harian Karya Darma, Harian Suara Indonesia, majalah Jurusan dan koran kampus. Ia juga kemudian menyoba menulis dengan bahasa Jawa, dan berhasil. Puisi, cerpen, dan esai berbahasa Jawanya bermunculan di majalah berbahasa Jawa Majalah Panjebar Semangat, Majalah Jaya Baya, majalah Mekar Sari,Majalah Djaka Lodang.
Lulus dari IKIP sempat magang sebagai guru, tetapi kemudian diajak Tamsir A.S. (alm) yang ketika itu mengetuai Sanggar Sastra Jawa Triwida untuk boyong ke Solo, menjadi awak redaksi tabloid berbahasa Jawa “Jawa Anyar” (di bawah naungan grup Jawa Pos). Tapi tabloid ini tak berumur panjang. Segeralah Bonari melompat ke JPNN (Jawa Pos News Network), dan pada tahun 2000 bergabung dengan tabloid X-file (yang juga tidak berumur panjang). Sekian kali berganti majikan, tetapi hobi menulis terus jalan.
2. Kiprah di Sastra Jawa
Tahun 2001 memprakarsai pelaksanaan Kongres Sastra Jawa I (Taman Budaya Surakarta 7-9 Juli). September 2006 ia dicekal oleh Panitia Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang karena sepekan sebelumnya ikut meramaikan Kongres Sastra Jawa II (Sanggar Paramesthi, Semarang) yang dianggap sebagai tandingan Kongres Bahasa Jawa.
Berkesempatan menjadi narasumber dalam pelatihan kilat tentang penulisan yang digelar para pekerja domestik asal Indonesia di City University of Hong Kong (Kowloon Tong, 14 Juli 2005) dan pada kesempatan itu bertemu pula dengan seorang pemilik media yang memberinya pekerjaan untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Peduli (yang dicetak dan diedarkan di Hong Kong dan sekitarnya bagi komunitas buruh migran asal Indonesia).
3. Karya-Karya
• Cinta Merah Jambu diterbitkan JP-BOOKS (2005)
• Novel pendek Mimpi dan Badai (sebelumnya dimuat bersambung di Jawa Pos (1995) diterbitkan KLogung Pustaka (Jogjakarta 2005)
• Kumpulan cerpennya Semar Super diterbitkan Alfina (Surabaya 2006).
Daftar kategori: Sastra Jawa Modern, Sastrawan Indonesia, Tokoh yang tidak memiliki informasi tahun kelahiran

Bondan Winarno
Bondan Winarno (Lahir: Surabaya, 29 April 1950) adalah seorang penulis dan wartawan Indonesia dengan berbagai kebisaan. Dia memelopori dan menjadi ketua Jalansutra, suatu komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia. Dia juga menjadi presenter dalam acara kuliner di Trans TV, yaitu Wisata Kuliner. Ia terkenal dengan ungkapannya yaitu “Pokoe maknyus!”, ungkapan ini sering diparodikan dalam suatu kondisi yang nyaman, enak dan lainnya.

Bondan Winarno.
Daftar isi:
1. Pekerjaan
2. Kegiatan sosial
3. Tanda penghargaan
4. Sebagai penulis
5. Pranala luar
1. Pekerjaan
Sejak 1960 Bondan menjadi penulis lepas. Ia menulis di berbagai penerbitan seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, Asian Wall Street Journal, dan lain-lain. Pada 1984-1987 ia menjadi redaktur kepala majalah SWA. Pada 1987-1994 ia beralih menjadi pengusaha dan menjabat sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat. Antara 1998-1999 ia menjadi konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta, dan setelah itu, hingga 2000 ia menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara Pembaruan.
2. Kegiatan sosial
Selain berbagai pekerjaan yang pernah dilakukannya, Bondan juga aktif dalam bermacam-macam kegiatan sosial. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal dari International Advertising Association, cabang Indonesia (1981-1986), ketua Indonesia Forum pada 1998, yaitu sebuah konferensi internasional untuk membantu pemulihan Indonesia dari krisis. Pada 1998 ia menjadi salah satu pendiri dari Komite Kemanusiaan Indonesia dan Masyarakat Transparansi Indonesia, dan pada 2002 ia menjadi salah satu pendiri Yayasan Karaton Surakarta. Ia adalah seorang sentanadalem Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar dan nama Kanjeng Pangeran Mangkudiningrat.
3. Tanda penghargaan
Pada 1967 ia memperoleh Baden Powell Adventure Award ketika menjadi pemimpin regu Indonesia dalam Boy Scouts World Jamboree di Farragut State Park, Idaho, USA. Ketika itu ia juga terpilih sebagai honor guard untuk Lady Olave Baden Powell. Pada 1988 ia memperoleh tanda penghargaan Satyalencana Pembangunan dari pemerintah Republik Indonesia karena jasa-jasanya sebagai ketua pelaksana Phinisi Nusantara yang berlayar dari Jakarta sampai Vancouver dalam rangka Expo 1986.
4. Sebagai penulis
Bondan pernah mengarang cerita anak-anak, cerita pendek, novel dan buku-buku tentang manajemen.
4. 1. Bibliografi
• Satu abad Kartini, 1879-1979: bunga rampai karangan mengenai Kartini (editor) (1979)
• Neraca tanah air: rekaman lingkungan hidup ’84 (1984)
• Cafe Opera: kumpulan cerita pendek (1986)
• Seratus kiat, jurus sukses kaum bisnis (1986)
• Tantangan jadi peluang: kegagalan dan sukses Pembangunan Jaya selama 25 tahun (1987)
• Kiat menjadi konglomerat: Pengalaman Grup Jaya (1996)
• Manajemen transformasi BUMN: pengalaman PT Indosat (1996)
• BreX: sebungkah emas di kaki pelangi (1997)
• Kiat Bondan di Kontan: berpikir strategis di saat krisis (1998)
• Jalansutra: kumpulan kolom tentang jalan-jalan dan makan-makan di Suara Pembaruan Minggu dan Kompas Cyber Media (2003)
• Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (2003)
• Belajar tiada henti: biografi Cacuk Sudarijanto ditulis bersama Bondan Winarno (2004)
• Pada sebuah beranda: 25 cerpen (2005)
• Puing: sebuah novel kolaborasi (2005)
4. 2. Videografi
• Kerinci-Seblat, tabungan masa depan (penulis naskah) (2002)
5. Pranala luar
• Bondan Winarno
Daftar kategori: Kelahiran 1956, Wartawan Indonesia, Penulis Indonesia, Sastrawan Indonesia

Budi P. Hatees
Budi P. Hatees (lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 3 Juni 1972) adalah seorang sastrawan Indonesia. Saat ini jurnalis Harian Umum Lampung Post, Lampung dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lapung (DKL) Periode 2005-2009.
Karya-karyanya (puisi, cerpen, dan esai) tersebar di media massa lokal dan nasional. Sebagian lainnya tergabung dalam buku: Ziarah Sunyi (puisi, 1995), Medan Bestari, Antologi Pemenang Lomba Puisi Medan Bestari (1996), Getar II (1996), Narasi Sunyi, Ibadah Sunyi, Perjalanan Sunyi (puisi, 1996), Graffiti Gratitud (puisi, 2001), Ketika Duka Tersenyum (cerpen, 2002), Waktu Bulan (puisi, 2002), Ini … Sirkus Senyum (cerpen, 2002), Cermin dan Malam Ganjil (cerpen, 2002), Anak Sepasang Bintang (2003), Perempuan Bermata Lembut (cerpen, 2004) dan Pertemuan Dua Arus (puisi, 2004).
Daftar kategori: Kelahiran 1972, Sastrawan Indonesia

Chairil Anwar
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – wafat di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia.

Chairil Anwar
Daftar isi:
1. Masa kecil
2. Masa Dewasa
3. Akhir Hidup
4. Buku-buku
5. Terjemahan ke dalam bahasa asing
6. Karya-karya tentang Chairil Anwar
7. Pranala luar
8. Referensi
1. Masa kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota [1] dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [2]
Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
2. Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4]
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
3. Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[5] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
4. Buku-buku
• Deru Campur Debu (1949)
• Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
• Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
• “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
• Derai-derai Cemara (1998)
• Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
• Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
5. Terjemahan ke dalam bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
• “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
• “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
• Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
• “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
• The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
• The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
• Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
• The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
6. Karya-karya tentang Chairil Anwar
• Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
• Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
• Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
• S.U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976)
• Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
• Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
• H.B. Jassin, “Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
• Husain Junus, “Gaya bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
• Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
• Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
• Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995)
• Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
7. Pranala luar
• (id) Biodata Sastrawan Indonesia 1900-1949
• (id) Biodata @ TamanIsmailMarzuki.com
8. Referensi
1. [1]
2. Artikel tentang Chairil Anwar, awalnya dimuat di Suara Merdeka
3. http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html
4. http://alwishahab.wordpress.com/2007/08/03/bertemu-pujaan-chairil-anwar/
5. “Chairil Anwar Legenda Sastra yang Disalahpahami”, Sajak.Blogspot, diakses Juni 2007
• Wikisource

Daftar kategori: Kelahiran 1922, Kematian 1949, Chairil Anwar, Tokoh dari Medan, Pujangga Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa, Deutsch, Français, Português, Nederlands, 中文, Suomi

Dami N. Toda
Dami Ndandu Toda, (Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 20 September 1942 – Leezen, Jerman, 10 November 2006), adalah kritikus sastra Indonesia.
Dami menempuh pendidikan dasarnya di SD Ruteng I, Manggarai (1954). Kemudian ia melanjutkan ke pendidikan menengah di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, Flores (1961), dan meneruskan ke pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, Maumere, Sikka, Flores (tidak tamat), lalu ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sampai tingkat sarjana muda dan doktoral (1967), Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya (tidak tamat), dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta (1974).
Daftar isi:
1. Pekerjaan
2. Keluarga
3. Karya tulis
4. Pranala luar
1. Pekerjaan
Dami pernah bekerja di Departemen Sosial RI (1973-1975), mengajar pada Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi Sekretaris Eksekutif Yayasan Seni Tradisional (Jakarta). Dia juga banyak tampil dalam seminar baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Fakultas Sastra UI, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, dan pada 10th European Colloquium on Indonesian Studies di Universitas von Humboldt, Berlin, dengan makalah “Dutch-Treaty and Contract Conceptions versus Adat Perceptions”. Sejak 1981, dia menetap di Hamburg untuk mengajar pada Lembaga Studi-studi Indonesia dan Pasifik, Universitas Hamburg.
Dia yang rajin menulis pernah menjadi redaktur tamu pada Harian Berita Buana dan staf redaksi Majalah Kadin Indonesia. Tulisannya banyak tersebar di sejumlah surat kabar nasional seperti Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya, dan Berita Buana. Sedangkan esai-esainya banyak muncul di majalah budaya, seperti Budaya Jaya dan Horison.
2. Keluarga
Dami N. Toda meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, Ryan dan Mayang.
3. Karya tulis
Berikut ini adalah sebagian dari hasil karya tulis Dami N. Toda:
• Penyair Muda di Depan Forum (1974)
• Puisi-puisi Goenawan Mohamad (1975)
• Pembacaan puisi dua penyair muda Jakarta, 27 Agustus 1975, jam 20.00 WIB di Plaza Taman Ismail Marzuki (bersama Handrawan Nadesul) (1975)
• Novel Baru Iwan Simatupang (1980)
• Cerita-cerita Pendek Iwan Simatupang (1983)
• Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan sajak-sajak Taufik Ismail, bersama Pamusuk Nasution (1984)
• Hamba-hamba Kebudayaan (1984)
• Catatan Penutup dalam “Ziarah malam: sajak-sajak 1952-1967″ oleh Iwan Simatupang (1993)
• Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (1999)
• “Maka berbicaralah Zarathustra” – terjemahan (2000)
• “Siti Zainon Ismail: penyair wanita tersohor Nusantara”, dalam majalah “Dewan Sastera”, No.10, Vol.32 (2002)
• Apakah sastra?: kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. H.B. Jassin (2005)
4. Pranala luar
• (id) Kritikus Sastra Dami N. Toda Meninggal Dunia
Daftar kategori: Alumni Universitas Gadjah Mada, Kelahiran 1942, Kematian 2006, Tokoh Nusa Tenggara Timur, Kritikus sastra Indonesia, Alumni Universitas Indonesia

Danarto
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 69 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982.

Danarto
Daftar isi:
1. Kehidupan pribadi
2. Karya
3. Pranala luar
1. Kehidupan pribadi
Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayangnya, rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang.
2. Karya
• Godlob, kumpulan cerpen, 1975
• Adam Ma’rifat, kumpulan cerpen, 1982?
• Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji, 1983
3. Pranala luar
• (id) Apa dan Siapa PDAT
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1940, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Sragen

Darman Moenir
Darman Moenir (lahir di Pariangan, Tanah Datar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952; umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Darman berpendidikan Sekolah Seni Rupa Indonesia serta berkuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga, jurusan Bahasa Inggris, Padang.
Daftar isi:
1. Kehidupan
2. Karya
3. Penghargaan
4. Pranala luar
1. Kehidupan
Mulai menulis di usia 18 tahun. Karya-karyanya dimuat pada majalah Horison, Titian, Panji Masyarakat, Pertiwi, Kartini, Ulumul Qur’an, Kalam, Kompas, Pelita, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Media Indonesia, Indonesia Raya, Republika, Berita Minggu (Singapura) dan surat kabar terbitan Padang.
Pernah mengikuti Hari Sastra di Ipoh, Malaysia (1980), Asian Writers Conference di Manila, Filipina (1981) dan pertemuan dunia Melayu ’82 di Malaysia (1982). Selain bekerja di Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat, Padang ia juga menjadi pengasuh dan Pemimpin Produksi di Bumi Teater.
Beberapa sajaknya dimuat didalam Tonggak 4, Antologi Puisi Indonesia Modern, Dari Negeri Poci 2, Dari Negeri Poci 3. Cerpen-cerpennya dimuat dalam sebuah antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir.
2. Karya
2. 1. Kumpulan Sajak
• Kenapa Hari Panas Sekali (1975)
• Tanpa Makna (1977)
2. 2. Novel
• Gumam (1976)
• Bako (1983)
• Dendang (1988)
• Aku, Keluarga, dan Tetangga (1993)
2. 3. Novel Anak-anak
• Surat dari Seorang Prajurit 45 kepada Cucunya
• Di Lembah Situjuh Batur
• Tiga Cerita Anak-anak
• Ingin Jadi Pak Habibie
• Adik Bertanya Tentang Laut
• Dongeng Kisah dari Minangkabau
2. 4. Cerpen
• Jelaga Pusaka Tinggi (1997)
3. Penghargaan
• Hadiah Utama Sayembara Mengarang Roman DKJ (1980)
• Hadiah Sastra dari Pemerintah Republik Indonesia (1992)
4. Pranala luar
http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/darman.html
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1952, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Tanah Datar

Darmanto Jatman
Darmanto Jatman (lahir di Jakarta, 16 Agustus 1942; umur 66 tahun) ialah seorang Guru Besar Emeritus pada Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP), budayawan, filosof dan penyair. Pendidikan dasarnya sejak SR sampai S-2 dijalaninya di Yogyakarta. Setelah menamatkan S-2 Jurusan Psikologi UNDIP, ia menjadi Dosen Psikologi Komunikasi di almamaternya sejak 1 Juni 1971. Sempat mengikuti kuliah Basic Humanities di Hawaii dan kuliah Development Planning pada The University College, London. Filosof UNDIP yang sempat terkena stroke pada 13 Juni 2007 ini juga turut membidani pendirian Fakultas Psikologi di UNDIP dan menjadi guru besar pertama di fakultas itu. Pada 27 Juli 2007 Rektor UNDIP Prof. Susilo Wibowo memberikan gelar Profesor kepadanya, tepat sebulan sebelum ia menjalani masa pensiun, sehingga ia langsung diberi gelar Profesor Emeritus (Guru Besar Luar Biasa).
Daftar isi:
1. Karir
2. Karya
3. Rujukan
1. Karir
• Dosen STSRI di Yogyakarta (1969-1972)
• Dosen Satyawacana Salatiga (1970)
• Dosen Psikologi Undip Semarang (1969-2007)
• Redaksi Budaya Mimbar/Tribun Jakarta
• Redaksi Budaya Suara Merdeka Semarang
• Redaksi majalah Pop Top di Jakarta
2. Karya
• Bangsat (1975)
• Sang Darmanto (1976)
• Ki Blakasuta Bla Bla (1980)
3. Rujukan
• Apa dan Siapa: Darmanto Jatman Pusat Data dan Analisa Tempo
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1942, Penyair Indonesia, Tokoh dari Jakarta

Dewi Lestari
Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 33 tahun) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.
Daftar isi:
1. Karir menyanyi
2. Karir Menulis
3. Kehidupan pribadi
4. Diskografi
5. Pranala luar
6. Referensi
Dewi Lestari

Nama lahir Dewi Lestari Simangunsong
Lahir 20 Januari 1976 (umur 33)
Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Nama lain Dewi Lestari, Dewi RSD, Dee
Pasangan Marcell Siahaan(bercerai),Reza Gunawan

Anak Keenan Avalokita Kirana
lahir 5 Agustus 2004
Orang tua Yohan Simangunsong
Turlan br Siagian (alm)
1. Karir menyanyi
Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Sejak kecil Dee telah akrab dengan musik. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Sebelum bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee pernah menjadi backing vocal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti bergabung membentuk trio Rida Sita Dewi (RSD) atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian.
Trio RSD meluncurkan album perdana, Antara Kita pada tahun 1995 yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis album Satu (1999) dengan nomor andalan antara lain, “Kepadamu” dan “Tak Perlu Memiliki”. Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni “Ketika Kau Jauh” ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan “Terlambat Bertemu”, karya pentolan Kahitna, Yovie Widianto.Pada tahun 2006 Dee meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul Out Of Shell,dan tahun 2008 melucurkan album RectoVerso,Album Ini mengundang Arina Mocca berduet di lagu Aku Ada dan berduet di lagu Peluk dengan Aqi Alexa.Hits besarnya adakah Malaikat Juga Tahu.Di Album ini juga Dee merilis ulang lagu milik marcel Siahan berjudul Firasat
2. Karir Menulis
Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.
Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Website khusus mengenai ulasan buku RECTOVERSO ada di http://www.dee-rectoverso.com
Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas.
3. Kehidupan pribadi
Dee menikah dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan pada 12 September tahun 2003. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus 2004). Pertengahan tahun 2008 pernikahan mereka retak karena diduga ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Dee menggugat cerai suaminya di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada tanggal 27 Juni 2008.[1]
Dewi kemudian menikah lagi dengan Reza Gunawan tanggal 11 November 2008 di Sydney.
4. Diskografi
• 1995 – Antara Kita (bersama RSD)
• 1997 – Ber-Tiga (Bersama RSD)
• 1999 – I (bersama RSD)
• 2002 – The Best Of (bersama RSD)
• 2006 – Out Of The Shell (album solo)
• 2008 – Rectoverso (album solo)
5. Pranala luar
• Biografi di tokohindonesia.com
• Profil di KapanLagi.com
6. Referensi
1. Dewi Lestari Gugat Cerai Marcell, diakses 12 Juni 2008
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1976, Penyanyi Indonesia, Penulis Indonesia, Alumni Universitas Parahyangan, Tokoh dari Bandung

Dian Hartati
Dian Hartati (lahir di Bandung, Jawa Barat, 13 Desember 1983; umur 25 tahun) adalah seorang penyair perempuan. Bergiat di dunia kepenulisan sejak tahun 2002. Desember 2005 mengikuti workshop penulisan cerpen yang diadakan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga, bekerja sama dengan Creative Writing Institute (CWI) di Jakarta. Juli 2006 menjadi peserta workshop Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat yang diadakan oleh Lafadl dan Desantara di Yogyakarta. Mengikuti Workshop Penulisan Kritik, Esai, dan Jurnalisme Sastra yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta (2008).

Dian Hartati
Daftar isi:
1. Kehidupan Pribadi
2. Media yang memuat karyanya
3. Bibliografi
4. Penghargaan
5. Pranala luar
1. Kehidupan Pribadi
Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap berproses menulis. Ikut melibatkan diri dalam berbagai milis sastra, dan beberapa komunitas, seperti: ASAS, MnemoniC, Babad Bumi, dan lain-lain. Sesekali mengelola blog SudutBumi. Kini menetap di Bandung dan bekerja sebagai assistant editor sekaligus penulis.
2. Media yang memuat karyanya
Karyanya dimuat di berbagai media, di antaranya:
• Radar Bandung
• Literat
• Suara Indonesia
• Priangan
• BÉN! (media luar biasa)
• Majalah ESQ Nebula
• Pikiran Rakyat
• Suara Karya Minggu
• Majalah sastra dan budaya Aksara
• Bandung Post
• Ganesha
• Dinamika&Kriminal
• Qalam Rata
• Pakuan Raya
• Solo Pos
• Minggu Pagi
• Majalah sastra Horison
• Bali Post
• Lampung Post
• Bangka Pos
• Bhinneka Karya Winaya
• Radar Banten
• Padang Ekspres
• Radar Sulbar
• Jambi Ekspres
• Surabaya Post
• Suara Pembaruan
• Media Indonesia
• Suara Merdeka
• Singgalang
• Riau Pos
• Kedaulatan Rakyat
• Harian Surya
• Jurnal zine Raja Kadal
• Tabloid Cempaka
• Buletin Daun
• Majalah GONG
• Jawa Pos
• Jurnal Nasional
• Buletin sastra Pawon
• TandaBaca
• Buletin Histeria
• Majalah budaya SAGANG
• Jurnal DerAS
• Riau Mandiri
• Media Bersama
• Harian Aceh
• Pos Kupang
• Tribun Jabar
• Jurnal Kreativa
• Majalah Kidung
• Koran Merapi
• Borneo News
• Harian Analisa
• Radar Tegal
• Harian Global
3. Bibliografi
• Antologi Puisi Berbahasa Daerah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, 2008)
• Tangga Menuju Langit (Disbudpar-Wahana Iptek Bandung, 2008)
• Mencari Rumah: Antologi Puisi Hysteria 2004-2007 (mbuh press!, 2008)
• Kenduri Puisi: Buah Hati untuk Diah Hadaning (Ombak, 2008),
• IBUMI Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (I:boekoe, 2008)
• Komposisi Sunyi (Ripos, Sagang, 2007)
• Kemayaan dan Kenyataan (fordisastra, 2007)
• Nyanyian Para Kelana (KSSB-ASAS, 2007)
• Herbarium (Pustaka Pujangga, 2007)
• 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006)
• Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru (Gama Media, 2006)
• Jogya 5,9 skala Richter (Bentang, 2006)
• Anthologi Empati Yogya (Pustaka Jamil, 2006)
• Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006)
• Sebuah Kado Pernikahan (BABADpress, 2005)
• Untuk Ibu (Selasar, 2005)
• Pagi di Buntiris (Selasar, 2005)
• ROH__Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (buku pop, 2005)
• Dian Sastro for President! # 2 Reloaded (AKY, 2003)
• Kumpulan puisi tunggalnya berjudul Nyalindung (2005)
• Cerita Tentang Daun (2007).
• Antologi cerpen Loktong (CWI-Menpora, 2006)
• La Runduma (CWI-Menpora, 2005)
4. Penghargaan
• Juara II Lomba Resensi Buku tingkat PT/Umum dalam peringatan Hari Buku Nasional yang diadakan oleh IKAPI Jabar (2004).
• Cerpennya yang berjudul Tubuh dan Kota Kenangan masuk nominasi sayembara Penulisan Cerpen Pemuda tingkat nasional yang diadakan oleh Menpora dan Creative Writing Institute (CWI) (2005 dan 2006).
• Juara II Lomba Cipta Puisi dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional yang diselenggarakan Yayasan Jendela Seni, KSDS, dan PP-SS (2006).
• Juara II penulisan cerpen dalam acara Festival Film Pendek dan Antologi Cerpen yang diadakan oleh Unisba (Maret, 2006).
• Cerpen berjudul Fragmen dan Peziarah Abadi serta esai yang berjudul Menulis: Ekspresi, Budaya, dan Katarsis menjadi nominasi pilihan dewan juri dalam acara Pekan Baca Tulis yang diadakan oleh ITB (2006).
• Juara I Lomba Tulis Surat Cinta Nanda-Bunda yang diadakan oleh Women’s Initiative for Society Empowerment (WISE ) (April, 2006).
• Juara II Lomba Puisi BBM yang diadakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Dewan Kesenian Tangerang (DKT).
• Juara II Lomba Essay World Book & Copyrigh Day 2006 yang diadakan oleh Direktorat Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia.
• Cerpen yang berjudul Ziarah Sedap Malam menjadi nominasi dalam Sayembara Penulisan Cerpen Lebaran tingkat nasional yang diadakan oleh Komunitas Magma, (September 2006).
• Juara II Penulisan Puisi Laman Cipta Sastra, Dewan Kesenian Riau (Oktober 2006).
• Mendapat Anugerah Sastra Jurdiksatrasia dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoniesia terkreatif dalam bidang sastra (2006).
• Puisinya yang berjudul Rencana Sepuluh Hari ke Depan mendapatkan penghargaan sebagai Harapan I Lomba Menulis Puisi Perhimpunan INTI DKI dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 2007.
• Puisinya yang berjudul Di Kawali, Aku Berburu Cahaya menjadi Juara I Lomba Menulis Puisi Bahasa Melayu-Betawi/Indonesia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar (2008).
5. Pranala luar
• sudutbumi
• Kompas
• KutuKutuBuku
• Sastra Indonesia
• Tribun Jabar
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1983, Seniman Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Bandung

Dina Oktaviani
Dina Oktaviani (lahir di Bandar Lampung, Lampung, 11 Oktober 1985; umur 23 tahun) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Karir
2. Karya
3. Pembaca puisi
4. Karyanya
5. Pranala luar
1. Karir
Ia pernah bekerja sebagai reporter remaja di Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung dan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) sebelum meneruskan studi di Jurusan Bahasa Prancis di Universitas Negeri Jakarta. Saat ini dia tinggal di Yogyakarta.

Dina Oktaviani
2. Karya
Karya-karyanya berupa puisi dan cerita pendek dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Playboy Indonesia, The Jakarta Post, Majalah Pantau, Jurnal Perempuan, Esquire Magazine, Suara Merdeka, Republika, Lampung Post, Sumatera Post dan BlockNot Poetry, dll, selain dalam beberapa antologi bersama. Sejumlah puisinya juga masuk dalam antologi 100 Puisi Terbaik 2008 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.
3. Pembaca puisi
Dina Oktaviani juga dikenal sebagai pembaca puisi yang bagus. Dia tidak hanya membacakan puisi-puisinya dalam acara-acara sastra, tetapi juga dalam acara-acara musik, semisal festival band. Beberapa pertunjukan pembacaan puisinya didukung oleh video-slide dan musik. Rokok kretek Dji Sam Soe serta penampilan dan cara berpakaiannya yang eksentrik merupakan ciri khasnya.
4. Karyanya
• Como Un Sueño (kumpulan cerpen, 2005)
• Biografi Kehilangan (kumpulan sajak, 2006)
• Hati Yang Patah Berjalan/Broken Heart Walking (kumpulan sajak, bilingual (2009)
5. Pranala luar
• (id) Dina Oktaviani
• (id) Dina Oktaviani: The lost biography of a young poet
http://www.dinaoktaviani.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1985, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Bandar Lampung

Djamil Suherman
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Djamil Suherman (lahir di Surabaya, 24 April 1924, meninggal di Bandung, 30 November 1985) adalah sastrawan Indonesia.
Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek:
• Muara (bersama Kaswanda Saleh, (1958)
• Manifestasi (1963)
• Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962)
• Umi Kulsum (1983)
• Nafiri (1983)
• Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984)
• Sarip Tambakoso (1985)
• Sakerah (1985).
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1924, Kematian 1985, Sastrawan Indonesia

Djenar Maesa Ayu
Djenar Maesa Ayu (lahir di Jakarta, 14 Januari 1973; umur 36 tahun) adalah seorang penulis Indonesia. Cerpen-cerpennya telah tersebar di berbagai media massa Indonesia seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post. Ia adalah putri dari pasangan sutradara film legendaris Syuman Djaya dan pemeran wanita Tutie Kirana. Djenar memiliki dua orang anak yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani.
Daftar isi:
1. Karya-karya
2. Filmografi
3. Pranala luar
Djenar Maesa Ayu

Lahir 14 Januari 1973 (umur 36)
Jakarta, Indonesia

Pekerjaan aktris, penulis

Tahun aktif 2003 – sekarang

Anak Banyu Bening dan Btari Maharani
Orang tua Syuman Djaya dan Tutie Kirana

1. Karya-karya
Buku pertama Djenar yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! telah cetak ulang sebanyak delapan kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain juga akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Saat ini cerpen dengan judul yang sama sedang dalam proses pembuatan ke layar lebar. Cerpen “Waktu Nayla” menyabet predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas itu.
Sementara cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan.
Buku keduanya, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) juga meraih sukses dan cetak ulang kedua hanya dua hari setelah buku itu diluncurkan pada bulan Februari 2005. Kumpulan cerpen berhasil ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004.
Nayla adalah novel pertama Djenar yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Bukunya yang terbaru berjudul Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, yang merupakan kunpulan cerpen.
2. Filmografi
• Boneka dari Indiana (1990)
• Koper (2006)
• Cinta Setaman (2008)
• Dikejar Setan (2009)
3. Pranala luar
• Profil
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1973, Rintisan biografi Indonesia, Pemeran Indonesia, Sastrawan Indonesia, Keluarga Sjumandjaja, Tokoh dari Jakarta

Dorothea Rosa Herliany
Dorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963; umur 45 tahun) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.
Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.

DR Herliany
Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit Tera di Magelang.
Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).
1. Referensi
• Herliany, Dorothea Rosa. 2003. Cerita Rakyat dari Kedu. Jakarta: PT. Grasindo.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1963, Penulis Indonesia, Penyair Indonesia

Dyah Merta
Dyah Indra Mertawirana, lahir di Ponorogo, 21 Juli 1978 adalah sastrawan Indonesia.
1. Karyanya
• Heitara (kumpulan cerpen, 2005)
• Pinnisi, Petualangan Orang-orang Setinggi Lutut (cerita anak, 2005)
• Peri Kecil di Sungai Nipah (novel, 2007)
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1978, Sastrawan Indonesia

D. Zawawi Imron
D Zawawi Imron (lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura, 1945, tidak diketahui tanggal dan bulannya) adalah sastrawan Indonesia.
Penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini tetap tinggal di desa kelahirannya. Dia memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).
Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002).
1. Karyanya
• Semerbak Mayang (1977)
• Madura Akulah Lautmu (1978)
• Celurit Emas (1980)
• Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama)
• Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985)
• Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
• Lautmu Tak Habis Gelombang (1996)
• Madura Akulah Darahmu (1999).
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan (lahir di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 1975; umur 33 tahun) adalah seorang penulis asal Indonesia. Ia memperoleh pendidikan dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Eka Kurniawan
Melakukan debutnya pertama kali di dunia sastra dengan menerbitkan karya non-fiksi, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (diterbitkan pertama kali oleh Aksara Indonesia, 1999; diterbitkan kedua kali oleh Penerbit Jendela, 2002; dan diterbitkan ketiga kali oleh Gramedia Pustaka Utama, 2006). Karya fiksi pertamanya, sebuah kumpulan cerita pendek, diterbitkan setahun kemudian: Corat-coret di Toilet (Aksara Indonesia, 2000).
Debut novel pertamanya meraih banyak perhatian dari pembaca sastra Indonesia, Cantik itu Luka (terbit pertama kali oleh Penerbit Jendela, 2002; terbit kembali oleh Gramedia Pustaka Utama, 2004; diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Ribeka Ota dan diterbitkan oleh Shinpu-sha, 2006). Disusul kemudian oleh novel kedua, Lelaki Harimau (Gramedia Pustaka Utama, 2004).
Karyanya yang lain adalah dua jilid kumpulan cerita pendek: Cinta tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (Gramedia Pustaka Utama, 2005), dan Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Gramedia Pustaka Utama, 2005; di dalamnya termasuk kumpulan cerita pendek Corat-coret di Toilet). Beberapa cerita pendeknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Swedia.
Selain menulis, ia juga membuat komik. Kini tinggal di Jakarta bersama istrinya, penulis Ratih Kumala.
Daftar isi:
1. Bibliografi
2. Bibliografi dalam Bahasa Asing
3. Bibliografi Terjemahan
4. Pranala luar
1. Bibliografi

Cantik itu Luka
• Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Non Fiksi, 1999)
• Cantik itu Luka (Novel, 2002)
• Lelaki Harimau (Novel, 2004)
• Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (Cerita Pendek, 2005)
• Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Cerita Pendek, 2005)
2. Bibliografi dalam Bahasa Asing
• Bi wa Kizu (dari Cantik itu Luka, diterjemahkan oleh Ribeka Ota, bahasa Jepang, Shinpusha, 2006)
3. Bibliografi Terjemahan
• Pemogokan (Hikayat dari Italia) -karya Maxim Gorky
• Cannery Row -karya John Steinbeck
• Catatan Harian Adam dan Hawa -karya Mark Twain
• Cinta dan Demit-demit Lainnya -karya Gabriel Garcia Marquez
4. Pranala luar
• (id) Eka Kurniawan Project tentang penulis dan karyanya
• (id) Gramedia Pustaka Utama Pengarang: Eka Kurniawan
• (id) Kontribusi Eka Kurniawan di Pantau.or.id
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1975, Sastrawan Indonesia, Novelis Indonesia, Penulis Indonesia, Alumni Universitas Gadjah Mada, Tokoh dari Tasikmalaya
Bahasa lain: English, Nederlands

Eko Tunas
Eko Tunas (lahir di Kota Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956; umur 52 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang. Ratusan tulisan (puisi, cerpen, novel, dan esai) tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat (John dan Jack Pergi dari Tegal, Joshua Igho BG, Kompas Cetak, 25 September 2002)

Eko Tunas
Daftar isi:
1. Kehidupan pribadi
2. Naskah Drama
3. Pranala luar
1. Kehidupan pribadi
Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.
Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kumpulan puisi yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), dan Yang Terhormat Rakyat (2000).
Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Sering kali diundang sebagai juri/pembicara dalam kompetisi/diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa.
2. Naskah Drama
• Martoloyo Martopuro
• Ronggeng Keramat
• Menunggu Tuyul
• Gerbong
• Sang Koruptor
• Langit Berkarat
• Rumah Tak Berpintu
• Palu Waktu
• Surat dari Tanah Kelahiran
• Meniti Buih
3. Pranala luar
• Situs Resmi Ebiet G Ade
• Kompas
• Suara Merdeka
• Sriti.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1956, Seniman Indonesia, Sastrawan Indonesia, Sastrawan Tegal, Penyair Indonesia, Tokoh dari Tegal

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 56 tahun) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.

Emha Ainun Nadjib
Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro Yogya antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha.
Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas genre.
Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Daftar isi:
1. Teater
2. Puisi/Buku
3. Essai/Buku
4. Pranala luar
1. Teater
Memacu kehidupan multi-kesenian Yogya bersama Halimd HD, jaringan kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan menghasilkan repertoar serta pementasan drama. Beberapa karyanya:
• Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto),
• Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
• Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
• Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
• Kemudian bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
• Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
• Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
• Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, serta Duta Dari Masa Depan.
2. Puisi/Buku
Menerbitkan 16 buku puisi:
• “M” Frustasi (1976),
• Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
• Sajak-Sajak Cinta (1978),
• Nyanyian Gelandangan (1982),
• 99 Untuk Tuhanku (1983),
• Suluk Pesisiran (1989),
• Lautan Jilbab (1989),
• Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
• Cahaya Maha Cahaya (1991),
• Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
• Abacadabra (1994),
• Syair Amaul Husna (1994)
3. Essai/Buku
Buku-buku esainya tak kurang dari 30 antara lain:
• Dari Pojok Sejarah (1985),
• Sastra Yang Membebaskan (1985)
• Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
• Markesot Bertutur (1993),
• Markesot Bertutur Lagi (1994),
• Opini Plesetan (1996),
• Gerakan Punakawan (1994),
• Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
• Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
• Slilit Sang Kiai (1991),
• Sudrun Gugat (1994),
• Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
• Bola- Bola Kultural (1996),
• Budaya Tanding (1995),
• Titik Nadir Demokrasi (1995),
• Tuhanpun Berpuasa (1996),
• Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
• Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
• Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
• 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
• Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
• Kiai Kocar Kacir (1998),
• Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998),
• Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999),
• Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
• Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
• Menelusuri Titik Keimanan (2001),
• Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
• Segitiga Cinta (2001),
• Kitab Ketentraman (2001),
• Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
• Tahajjud Cinta (2003),
• Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
• Folklore Madura (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress, 164 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-02-0),
• Puasa Itu Puasa (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress, 264 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-01-2),
• Syair-Syair Asmaul Husna (Cet. I, Agustus 2005, Yogyakarta; Penerbit Progress, 196 hlm; 12cm x 20cm, ISBN: 979-9010-0-53)
• Kafir Liberal (Cet. II, April 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress, 56 hlm; 12cm x 18cm, ISBN: 979-9010-12-8),
• Kerajaan Indonesia (Cet. II, Agustus 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress, 400 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-15-2),
• Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006),
• Istriku Seribu (Cet. I, Desember 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress, 64 hlm; 12cm x 18cm, ISBN: 979-9010-20-9),
• Orang Maiyah (Cet. I, Januari 2007, Yogyakarta; Penerbit Progress,196 hlm; 12cm x 20cm, ISBN: 979-9010-21-7),
• Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Cet. I, Juli 2007, Yogyakarta: Penerbit Progress,248 hlm; 13cm x 20cm, ISBN: 979-9010-22-5),
• Kagum Pada Orang Indonesia (Cet. I, Januari 2008, Yogyakarta; Penerbit Progress, 56 hlm; 12cm x 18,5cm, ISBN: 978-979-17127-0-5),
• Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Cet. I, Mei 2008, Yogyakarta: Penerbit Progress, XIX + 227 hlm; HVS 65gr; 22,5cm x 20cm, ISBN: 978-979-17127-1-2)
4. Pranala luar
• (id) Emha Ainun Nadjib Official Site
• (id) KiaiKanjeng Official Site
• (id) Tikungan Iblis Teater Dinasti
• (id) Emha Ainun Nadjib di TokohIndonesia.com
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1953, Penulis Indonesia, Budayawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Jombang, Tokoh Yogyakarta
Bahasa lain: Bahasa Melayu

FX Rudi Gunawan

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
FX Rudy Gunawan, sastrawan penulis kumpulan cerpen [bukan] pilihan Kompas “Zarima” ( Galang Press, Yogjakarta), novel “Mata Yang Malas” ( Gramedia Pustaka Utama, Jakarta), novel “170.8 fm: Radio Negeri Biru” ( GagasMedia, Jakarta), novel “K-O-M-A” (Spasi & VHRbook), dan ikut memelopori penulisan novel adaptasi melalui penerbit GagasMedia yang didirikannya.
Novel-novel adaptasinya antara lain: Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Realita, Cinta & Rock n Roll, Merah itu Cinta. Semuanya merupakan kolaborasi GagasMedia dengan sejumlah Produser Film.
Karya-karya non fiksinya: “Filsafat Seks” (Bentang, Yogjakarta), kumpulan esai “Pelacur & Politikus” (Graffiti Press, Jakarta), “Mendobrak Tabu; seks, kebudayaan, dan Kebejatan Manusia” (GalangPress, Yogjakarta), “Budiman Sudjatmiko; Menolak Tunduk” (Grasindo, Jakarta), “Wild Reality; Refleksi Atas Kelamin” (IndonesiaTera, Yogjakarta) “Mbah Maridjan; Presiden Gunung Merapi (GagasMedia, Jakarta)”, dan “Premanisme Politik” (ISAI, Jakarta) yang ditulis bersama Nezar Patria dan Togi Simanjuntak.
Dilahirkan di Cirebon, 20 september 1965, mendapatkan gelar sarjana filsafat dari Universitas Gadjah Mada Yogjakarta, menjadi wartawan di majalah Jakarta Jakarta dari 1992 sampai 2000. Saat ini bekerja sebagai pemimpin redaksi voice of human rights news center (www.vhrmedia.com)
Daftar kategori: Artikel yang perlu dirapikan

Goenawan Mohamad
Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941; umur 67 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Daftar isi:
1. Masa Muda
2. Dunia Jurnalistik
3. Karya Sastra
4. Lihat pula
5. Pranala luar
1. Masa Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
2. Dunia Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Selepas jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan praktis berhenti sebagai wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000). Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York.. Di tahun 2006, Pastoral, sebuah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan, dimainkan di Tokyo, 2006. Di tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.
Dia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo.
3. Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Catatan Pinggir, esei pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines (19…..) dan Conversations with Difference (19….). . Kritiknya diwarnai keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.
Kumpulan esainya berturut turut: Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).
Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.
Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
Tahun 2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, .Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award. Sebelumnya Penghargaan A. Teeuw (1992), Louis Lyon Award (199…?) dan … .Katulistiwa Award untuk puisinya diperolehnya di tahun… Karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. Yang edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.
4. Lihat pula
• Daftar pujangga-pujangga Indonesia
5. Pranala luar
• (id) Goenawan Mohamad di Tokoh Indonesia
• (id) Blog Catatan Pinggir
• (id) Situs Jaringan Islam Liberal
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1941, Jurnalis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Batang
Bahasa lain: English, Basa Jawa

Gola Gong
Gola Gong adalah nama pena dari Heri Hendrayana Harris. Dia dilahirkan di Purwakarta pada 15 Agustus 1963 dari ibu bernanama Atisah dan ayah bernama Harris. Dia terkenal dengan novelnya yang berjudul Balada Si Roy. Selain menulis novel tersebut dia juga menulis novel lain lebih dari 25 judul. Sejak 2001 dia mendirikan komunitas kesenian Rumah Dunia di Serang, Banten.

Gola Gong
Gola Gong adalah anak kedua dari lima bersaudara. Selengkapnya adalah Dian, Gola Gong, Goozal, Eva, dan Evi. Pada 1965 ia bersama dengan orangtuanya meninggalkan kampung halamannya Purwakarta menuju ke Serang, Banten. Bapaknya adalah guru olahraga sedangkan ibunya seorang guru di sekolah keterampilan putri, Serang. Mereka tinggal di sebuah rumah di dekat alun-alun Serang.
Daftar isi:
1. Masa Kecil
2. Keluarga
3. Karya
4. Rumah Dunia
5. Pranala luar
1. Masa Kecil
Pada umur 11 tahun Heri kehilangan tangan kirinya. Itu terjadi saat dia dan teman-temannya bermain di dekat alun-alun. Saat itu sedang ada tentara latihan terjun payung. Kepada kawan-kawannya dia menantang untuk adu keberanian seperti seorang penerjun payung. Uji nyali itu dulakukan dengan cara loncat dari pohon di pinggir alun-alun. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin di antara mereka. Kecelakaan yang menyebabkan tangan kirinya harus diamputasi itu tidak membuatnya sedih. Bapaknya menegaskan kepadanya:
Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang.
2. Keluarga
Pada umur 33 tahun dia menikahi Tias Tatanka gadis asal Solo. Dari pernikahan ini mereka memiliki anak Bela, Abi, Jordi, dan Kaka.
3. Karya
Gola Gong telah menulis lebih dari 25 novel dan ratusan skenario film. Selain itu cerita-cerita pendeknya juga terdapat di berbagai antologi. Beberapa dari novelnya adalah Balada Si Roy, Kupu-Kupu Pelangi, Kepada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, dan lain-lain.
4. Rumah Dunia
Impiannya sejak remaja untuk memiliki gelanggang remaja terwujud dengan didirikannya komunitas kesenian Rumah Dunia. Komunitas ini berada di atas tanah 1000 meter persegi di belakang rumahnya di Komplek Hegar Alam, Ciloang Serang, Banten. Komunitas semacam ini adalah impiannya beserta temannya Toto ST Radik, dan (alm) Rys Revolta.
5. Pranala luar
• Situs Resmi Gola Gong
• Rumah Dunia
Daftar kategori: Penulis Indonesia, Kelahiran 1963

Gus tf Sakai
Gustafrizal (lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 13 Agustus 1965) adalah sastrawan Indonesia. Untuk puisi ia menuliskan nama Gus tf.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Proses kreatif
3. Penghargaan
4. Karya-karyanya
5. Pranala luar
1. Pendidikan
Gus tf Sakai menamatkan SD, SMP, dan SMA di Payakumbuh. Kemudian ia melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang (selesai 1994).
2. Proses kreatif
Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri), yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian. Publikasi pertamanya berupa cerita pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi dapat berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai. Seingatnya, sampai tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.
Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.
Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia dapat melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana.
Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.
3. Penghargaan
• Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)
• Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)
• Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)
• Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi “Susi 2000 M” (2002)
• SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)
• Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004)
• Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007)
4. Karya-karyanya
• Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, 1990
• Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
• Ben (novel remaja, 1992)
• Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996)
• Sangkar Daging (kumpulan sajak, 1997)
• Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (kumpulan cerpen, 1999), diterbitkan The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories 2002)
• Tambo, Sebuah Pertemuan (novel, 2000)
• Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002)
• Laba-Laba (kumpulan cerpen, 2003)
• Ular Keempat (novel, 2005)
• Daging Akar (kumpulan sajak, 2005)
• Perantau (kumpulan cerpen, 2007)
5. Pranala luar
• (id) Pengarang: Gus tf Sakai
• (id) Tentang Gus tf Sakai
• (id) Gus tf Sakai: Leaving his own story up to the imagination
Daftar kategori: Kelahiran 1965, Sastrawan Indonesia

Habiburrahman El Shirazy
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 32 tahun) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Aktivitas
3. Prestasi
4. Karya-karyanya
5. Lihat pula

Artikel ini membutuhkan catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu dengan menambahkan catatan kaki.
Habiburrahman el-Shirazy

Nama pena Kang Abik
Pekerjaan
dai, novelis, penyair

Kebangsaan
Indonesia

Aliran
sastra Islami

Istri/suami Muyasaratun Sa’idah
Anak Muhammad Ziaul Kautsar
Muhammad Neil Author
1. Pendidikan
Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.
2. Aktivitas
2. 1. Selama di Kairo
Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.
2. 2. Selama di Indonesia
Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedia Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).
Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik (Ahmad Munif El Shirazy, Ahmad Mujib El Shirazy, Ali El Shirazy) dan temannya.
3. Prestasi
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006. Dari novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.
4. Karya-karyanya
4. 1. Selama di Kairo
Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.
4. 2. Karya puisi
Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
4. 3. Karya sastra populer
Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih).
5. Lihat pula
• Ayat-Ayat Cinta (film)
• Forum Lingkar Pena
Daftar kategori: Artikel yang tidak memiliki catatan kaki, Orang hidup, Kelahiran 1976, Tokoh Islam Indonesia, Da’i Indonesia, Sastrawan Indonesia, Penulis Indonesia, Arab-Indonesia, Tokoh dari Semarang

Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.

Hamka
Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Daftar isi:
1. Biografi
2. Daftar Karya Buya Hamka
3. Aktivitas lainnya
4. Rujukan
5. Pranala luar
1. Biografi

Hamka
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.
2. Daftar Karya Buya Hamka
1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2. Si Sabariah. (1928)
3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12. Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18. Tuan Direktur 1939.
19. Dijemput mamaknya,1939.
20. Keadilan Ilahy 1939.
21. Tashawwuf Modern 1939.
22. Falsafah Hidup 1939.
23. Lembaga Hidup 1940.
24. Lembaga Budi 1940.
25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27. Negara Islam (1946).
28. Islam dan Demokrasi,1946.
29. Revolusi Pikiran,1946.
30. Revolusi Agama,1946.
31. Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
32. Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
33. Didalam Lembah cita-cita,1946.
34. Sesudah naskah Renville,1947.
35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36. Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
37. Ayahku,1950 di Jakarta.
38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41. Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
42. Kenangan-kenangan hidup 2.
43. Kenangan-kenangan hidup 3.
44. Kenangan-kenangan hidup 4.
45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50. Pribadi,1950.
51. Agama dan perempuan,1939.
52. Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54. Pelajaran Agama Islam,1956.
55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56. Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57. Empat bulan di Amerika Jilid 2.
58. Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
59. Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69. Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71. Himpunan Khutbah-khutbah.
72. Urat Tunggang Pancasila.
73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74. Sejarah Islam di Sumatera.
75. Bohong di Dunia.
76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
78. Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.
79. [Tafsir Al-Azhar][1] Juzu’ 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.
3. Aktivitas lainnya
• Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942
• Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956
• Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953
• Tafsir Al-Azhar Online
• E-buku Buya Hamka
• E-book Jalan Istiqomah Sang Legenda Buya Hamka
4. Rujukan
• Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka, terbitan Yayasan Nurul Islam, cetakan kedua 1979.
5. Pranala luar
• (id) Ceramah Buya Hamka
• (id) Info lain tentang Hamka
• (id) Tafsir Hamka Online
• (id) Jalan Istiqomah Sang Legenda Buya Hamka
Didahului oleh:
- Ketua MUI
26 Juli 1977 – 1981 Digantikan oleh:
Syukri Ghozali
Daftar kategori: Kelahiran 1908, Kematian 1981, Sastrawan Indonesia, Tokoh Islam Indonesia
Bahasa lain: English, Bahasa Melayu, Suomi

Hamsad Rangkuti
Hamsad Rangkuti (lahir di Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943; umur 66 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia sangat dikenal luas masyarakat melalui cerita pendek (cerpen).

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
1. Karya
• Bibir dalam Pispot (2003)
• Derabat, Cerpen Pilihan Kompas (1999)
• Cerpen-cerpen Indonesia Mutakhir (1991)
• Klamono (Novel – 1985)
• Lukisan Perkawinan (1982)
• Cemara (1982)
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian dan majalah, terbitan dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman, antara lain dimuat dalam New Voice in Southeast Asia Solidarity (1991), Manoa, Pasific Journal of International Writing, University of Hawaii Presss (1991, Beyond The Horison, Short Stories from Contemporary Indonesia, Monash Asia Institute, Jurnal Rima, Review of Indonesia and Malaysia Affairs, University Sydney. Vol. 25,1991. Cerpen-cerpennya juga termuat dalam beberapa antologi cerita pendek mutakhir, antara lain Cerpen-cerpen indonesia Mutakhir, editor Suratman Markasam, 1991.
Daftar kategori: Artikel yang perlu dirapikan, Orang hidup, Kelahiran 1943, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Medan

Helvy Tiana Rosa
Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 39 tahun) adalah sastrawan, motivator menulis, editor dan dosen. Helvy memperoleh gelar sarjana sastra dari Fakultas Sastra UI. Gelar magister diperolehnya dari Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Sehari-hari ia adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.

Helvy Tiana Rosa
Mantan Redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan Sumatera.
Helvy merupakan pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena/ FLP (1997-2005), sebuah forum penulis muda beranggotakan lebih 7000 orang yang tersebar di 125 kota di Indonesia dan mancanegara. Bersama teman-temannya di FLP, ia mendirikan dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Selama 11 tahun keberadaannya, bekerjasama dengan puluhan penerbit, FLP telah meluncurkan lebih dari 1000 judul buku. Karena kegiatannya The Straits Times dan Koran Tempo menyebut Helvy sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003). Tahun 2008, Helvy membawa FLP meraih Danamon Award–sebuah penghargaan tingkat nasional bagi mereka yang dianggap sebagai pejuang, dan secara signifikan dianggap berhasil melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar.
Tahun 1980-1990 Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat propinsi dan nasional. Namun menurutnya yang paling berkesan ketika ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002), sedangkan Bukavu masuk seleksi Long List Khatulistiwa Literary Award 2008. Istri Tomi Satryatomo serta Ibu Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini pernah terpilih sebagai Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008), Tokoh Perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Tokoh sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ummi Award dari Majalah Ummi (2004), Muslimah Berprestasi versi Majalah Amanah (2000), Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), dll. Sastrawan yang juga nominator Indonesia Berprestasi Award XL 2007 Bidang Seni Budaya ini, sering diundang berbicara dalam berbagai forum sastra dan budaya di pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, Amerika Serikat, dll.
Mantan Sekretaris DPH-Dewan Kesenian Jakarta (2003) dan Anggota Komite Sastra DKJ (2003-2006), sehari-harinya adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Tahun 2008 ia terpilih sebagai Dosen Berprestasi Universitas Negeri Jakarta. Kini ia juga Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, Direktur Lingkar Pena Publishing House, dan Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera.
1. Karya
Helvy menulis puluhan buku. Beberapa cerpennya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman,Swedia, dll. Di samping itu ia adalah editor puluhan buku dan kerap diundang sebagai juri dalam berbagai sayembara penulisan di dalam dan luar negeri.
1. 1. Buku
1. Bukavu (LPPH), 2008)
2. Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
3. Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
4. Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
5. Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP 2006)
6. Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press 2005)
7. Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press 2005)
8. Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika 2005)
9. Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
10. 1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
11. Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa 2004)
12. Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
13. Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
14. Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
15. Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
16. Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya (Syaamil, 2003)
17. Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
18. Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
19. Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press, 2002)
20. Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
21. Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
22. Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
23. Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
24. Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
25. Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
26. Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
27. Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
28. Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
29. Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
30. Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
31. Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
32. Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
33. Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
34. Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
35. Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
36. Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
37. Lentera (An Najah Press,1999)
38. Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
39. Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
40. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
41. Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
42. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
43. Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
44. Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll
1. 2. Naskah Drama
Menulis naskah dan menyutradarai pementasan Teater Bening di Gedung Kesenian Jakarta, Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI, serta keliling kampus di Jawa dan Sumatera (1991-2000)
1. Tanah Perempuan (2005)
2. Mataairmata Merdeka (bersama Rahmadiyanti, 2000).
3. Pertemuan Perempuan (bersama Muthiah Syahidah, 1997)
4. Mencari Senyuman (1998)
5. Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (1999)
6. Luka Bumi (1997)
7. Fathiya dari Srebrenica (1994)
8. Maut di Kamp Loka (1994)
9. Negeri Para Pesulap (1993)
10. Aminah & Palestina (1991)
2. Referensi
• (id) Pena Kecil Helvy Tiana Rosa
• Helvy Tiana Rosa: Menulis Itu Bakat dari Allah
• Sosok dan Kiprah: Helvy Tiana Rosa
• Helvy Tiana Rosa; Tokoh Perbukuan Islam 2006
• Berharap Kepada Perempuan Penulis
• Mereka yang dikenal Produktif Menulis
• 10 tahun FLP Melebar Sampai Luar Negeri
• Novaganza Bertabur Bintang dan Hiburan
• Success Story: Helvy Tiana Rosa
• Setiap Karya sastra Harus memberi Pencerahan
• An Inspiring Indonesian Writing group is Giving Women A Greater Voice
• [1]
• Profil Helvy di Goodreads.com
• Helvy Tiana Rosa Raih Danamon Award
• Profil Helvy di LInkedin
• 19 Wanita Inspiratif; Helvy jadikan PRT Selebritis
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1970, Alumni Universitas Indonesia, Penulis Indonesia, Sastrawan Indonesia

Hersri Setiawan
Hersri Setiawan (lahir 3 Mei 1936 di Yogyakarta) adalah seorang sastrawan Indonesia yang pernah lama ditahan di Pulau Buru karena keterlibatannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada tahun 1950-an.
Ia belajar sosiologi di Universitas Gadjah Mada dan Akademi Seni Drama dan Film di Yogyakarta. Sejak di bangku kuliah ia sudah aktif dalam penerbitan pers dan kebudayaan. Ia kemudian menjadi aktivis Front Nasional dan Lekra, dan menjadi Ketua Lekra cabang Jawa Tengah.
Pada 1961-1965 ia diangkat menjadi wakil Indonesia dalam organisasi Persatuan Pengarang Asia-Afrika dan ditempatkan di pusat organisasi itu di Kolombo, Sri Lanka. Karena pergolakan politik yang disebabkan oleh pergantian rezim di negara itu, pada bulan Agustus 1965 Hersri kembali ke Indonesia. Namun di negara kelahirannya itu, ia menghadapi pergolakan yang jauh lebih hebat, yaitu peristiwa G30S yang terjadi sebulan setelah ia kembali ke Indonesia.
Karena organisasinya dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia, Hersri pun dianggap tersangkut dalam G30S, dan karenanya ditangkap dan menjadi tahanan politik Orde Baru. Ia ditahan berpindah-pindah dari RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, ke penjara Tangerang, lalu mendekam di Pulau Buru selama sembilan tahun (1969-1978).
Selepas dari Buru, ia bekerja sebagai penulis, editor dan penerjemah. Namun karena menyandang stigma eks-tapol, di masa Orde Baru karya-karyanya seringkali muncul tanpa nama atau dengan menggunakan nama samaran.
Ia pernah menjadi penyunting untuk “Ensiklopedia Indonesia” sebanyak 7 jilid yang diterbitkan oleh PT Ikhtiar Baru-Van Hoeve
Antara 1987 dan 2004 Hersri tinggal di pengasingan di Belanda. Pada tahun 2004, Hersri pulang ke tanah air dan kini tinggal di Jakarta dan Yogyakarta.
1. Karya tulis
Karya-karya tulis Hersri Setiawan antara lain adalah:
• “Masalah Pendewasaan Anak-anak di Pulau Buru” (1981?)
• “Pengantar Kajian Ranggawarsita”
• “Between the Bars” dalam Frank Stewart, “Silenced Voices”
• Dunia yang belum sudah (1993)
• Negara Madiun? – kesaksian Soemarsono, pelaku perjuangan (2002)
• Aku eks-tapol (2003)
• Kamus Gestok (2003)
• Memoar Pulau Buru (2004)
• Soekarno Menggugat, Soeharto Sehat (ko-penulis) (2006)
• In Search of Silenced Voices (rekaman wawancara dengan orang-orang Indonesia yang hidup di pengasingan)
2. Pranala luar
• (id) Memoar Pulau Buru karya Hersri Setiawan
• (id) “Dari Gestok sampai Pulau Buru” oleh Asvi Warman Adam
• (nl) In Search of Silenced Voices
Daftar kategori: Kelahiran 1936, Sastrawan Indonesia, Tahanan politik Indonesia

Ibnu Wahyudi

Artikel ini tidak memiliki referensi sumber sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.
Bantulah dengan menambahkan referensi yang layak.
Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
Ibnu Wahyudi (lahir di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 24 Juni 1958; umur 51 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Saat ini ia adalah dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia selain menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak tahun 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak tahun 2005), dan di Universitas Multimedia Nusantara (sejak tahun 2009).
Pendidikan S1 dalam bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1984. Antara tahun 1991 sampai dengan 1993 Ibnu Wahyudi mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan memperoleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Selama 3 tahun (1997-2000) menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.
Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Masih Bersama Musim (KutuBuku, 2005), Haikuku (Artiseni, 2009), dan Ketika Cinta (BukuPop, 2009). Buku puisinya Masih Bersama Musim masuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku-buku yang pernah disusun atau disuntingnya adalah Lembar-lembar Sajak Lama (kumpulan sajak P. Sengodjo), terbitan Balai Pustaka (1982), Pahlawan dan Kucing (kumpulan cerpen Suripman) terbitan Balai Pustaka (1984), Konstelasi Sastra (Hiski, 1990), Erotisme dalam sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), “Toilet Lantai 13″ (Aksara 13, 2008), “Ode Kebangkitan” (2008), dan banyak lagi.
Daftar kategori: Artikel yang tidak memiliki referensi, Orang hidup, Kelahiran 1958, Alumni Universitas Indonesia, Sastrawan Indonesia

Idrus
Abdullah Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia menikah dengan Ratna Suri, pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.

Idrus
Daftar isi:
1. Dunia Sastra
2. Karya-karya
3. Pranala luar
1. Dunia Sastra
Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu.
Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan dengan H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.
Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan Angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkenaan dengan sastra, seperti Teknik Mengarang Cerpen dan International Understanding Through the Study of Foreign Literature. Kemampuannya menggunakan tiga bahasa asing (Belanda, Inggris, dan Jerman) membuatnya berpeluang untuk menerjemahkan buku-buku asing. Hasilnya antara lain adalah Perkenalan dengan Anton Chekov, Perkenalan dengan Jaroslov Hask, Perkenalan dengan Luigi Pirandello, dan Perkenalan dengan Guy de Maupassant.
Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Di Malaysia, lepas dari tekanan Lekra, ia terus berkarya. Karyanya saat itu, antara lain, Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).
Di dalam dunia sastra, kehebatan Idrus diakui khalayak sastra, terutama setelah karyanya Surabaya, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi karya monumental. Setelah ketiga karya itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan hal-hal yang berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk dibacakan).
2. Karya-karya
2. 1. Novel
• SurAki’abaya
• Perempuan dan kebangsaan
• Dengan Mata Terbuka
• Hati Nurani Manusia
• Hikayat Putri Penelope
• Hikayat Petualang Lima
• NJ mania KEBANTENAN
• Aki
2. 2. Cerpen
• Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
• Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
• Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
• Anak Buta
2. 3. Drama
• Dokter Bisma
• Jibaku Aceh
• Keluarga Surono
• Kejahatan Membalas Dendam
2. 4. Karya Terjemahan
• Kereta Api Baja
• Roti Kita Sehari-hari
• Keju
• Perkenalan dengan Anton Chekov
• Cerita Wanita Termulia
• Dua Episode Masa Kecil
• Ibu yang Kukenang
• Acoka
• Dari Penciptaan Kedua
3. Pranala luar
• (id) Pusat Bahasa Depdiknas
Daftar kategori: Kelahiran 1921, Kematian 1979, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Padang
Bahasa lain: English, Basa Jawa

Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS, (lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, 5 Juni 1958) adalah sastrawan Indonesia. H.B. Jassin menjulukinya Paus Sastra Lampung.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Aktivitas
3. Proses kreatif
4. Karyanya
5. Referensi
1. Keluarga
Sejak lahir hingga kini, Isbedy tinggal menetap di Bandar Lampung bersama istrinya, Adibah Jalili. Mereka dikaruniai lima anak: Mardiyah Novrida, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah.
2. Aktivitas
Selain menulis karya sastra (cerpen, puisi, esai sastra), kini dia aktif di Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung.
3. Proses kreatif
Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemarinya. Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun bertaeter bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqornain dalam Sanggar Ragom Budaya. Ketika STM, dia mulai menggeluti sastra, yaitu menulis puisi dan cerpen. Dia kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Karya pertama Isbedy yang dimuat pertama adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi. Sejak itu puisi, cerpen, dan esainya mengalir deras dan dimuat di berbagai media lokal dan nasional.
Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolah menjadi puisi. Ide kreatifnya bisa muncul kapan saja, saat perjalanan, merenung di waktu malam atau langsung di depan komputer.
Dia pernah diundang mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai kota di Tanah Air, Malaysia, Thailand seperti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru dan Kedah (Malaysia), Dialog Utara di Thailand, Utan Kayu Literary Festival, dan Ubud Writers and Readers International Festival.
4. Karyanya
• Darah (kumpulan sajak, 1982)
• Badai (kumpulan sajak, 1984)
• Akhir (kumpulan sajak, 1986)
• Khalwat (kumpulan sajak, 1988)
• Membaca Bahasa Sunyi (kumpulan sajak, 1990)
• Lukisan Ombak (kumpulan sajak, 1992)
• Kembali Ziarah (kumpulan sajak, 1996)
• Daun-Daun Tadarus (kumpulan sajak, 1997)
• Aku Tandai Tahi Lalatmu (kumpulan sajak, 2003)
• Ziarah Ayah (kumpulan cerpen, 2003)
• Menampar Angin (kumpulan sajak, 2003)
• Bulan Rebah di Meja Diggers (kumpulan cerpen, 2004)
• Dawai Kembali Berdenting (kumpulan cerpen, 2004)
• Perempuan Sunyi (kumpulan cerpen, 2004)
• Kota Cahaya (kumpulan sajak, 2005)
• Selembut Angin Setajam Ranting (kumpulan cerpen, 2005)
• Seandainya Kau Jadi Ikan (kumpulan cerpen, 2005)
• Hanya untuk Satu Nama (kumpulan cerpen, 2005)
• Salamku pada Malam (kumpulan sajak, 2006)
• Laut Akhir (kumpulan sajak, 2007)
• Lelaki yang Membawa Matahari (kumpulan sajak, 2007)
• Setiap Baris Hujan (kumpulan sajak, 2008).
5. Referensi
• Agus Sri Danardana dkk. 2008. Ensiklopedia Sastra Lampung. Bandar Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
Daftar kategori: Kelahiran 1958, Sastrawan Indonesia

Iswadi Pratama
Iswadi Pratama (lahir 8 April 1971 di Lampung) adalah sastrawan Indonesia. Dia menyelesaikan kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung.
Daftar isi:
1. Aktivitas
2. Karyanya
3. Pranala luar
1. Aktivitas
Iswadi pernah menjadi redaktur budaya Surat Kabar Umum Sumatera Post dan Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung sebelum memutuskan berkesenian secara total.
Aktif sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara bersama grup teaternya, Teater Satu. Beberapa naskah teaternya: Ruang Sekarat, Rampok, Ikhau, Nak, Menunggu Saat Makan, Dongeng tentang Air, dan Aruk Gugat.
Bersama Teater Satu, Iswadi dua kali mendapatkan Hibah Senia dari Yayasan Kelola (2002 dan 2004) untuk pentas keliling di sejumlah kota di Indonesia. Dia juga mementaskan naskah-naskah puisinya dalam bentuk teater seperti Nostalgia Sebuah Kota, yang meraih peringkat ketiga GKJ Award 2003. Naskah ini dalam even yang sama, menjadi naskah terbaik I.
Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa, selain terhimpun dalam antologi bersama: Gelang Semesta (1987), Belajar Mencintai Tuhan (1992), Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1995), Antologi Cerpen dari Lampung (1996), Cetik (1996), Mimbar Abad 21 (1996), Hijau Kelon dan Puisi 2002 (2002), Pertemuan Dua Arus (2004), Gerimis (dalam Lain Versi) (2005, Asia Literary Review (2006), dan Terra (Australia-Indonesia, 2007).
2. Karyanya
• Gema Secuil Batu (kumpulan sajak, 2008)
3. Pranala luar
• (id) Anugerah Sastra Pena Kencana:Iswadi Pratama
• (id) Iswadi Persembahkan ‘Gema Secuil Batu’
Daftar kategori: Kelahiran 1971, Sastrawan Indonesia

Iwan Simatupang
Iwan Martua Dongan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara tanggal 18 Januari 1928. Ia belajar di HBS di Medan, lalu melanjtukan ke sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya tapi tidak selesai. Kemudian belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952.
Karya novel yang terkenal Merahnya Merah (1968) mendapat hadiah sastra Nasional 1970, dan Ziarah (1970) mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977.
Iwan Simatupang meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970.
1. Bibliografi
• Petang ditaman – drama sebabak (1966)
• Merahnja merah – novel (1968)
• Kering – novel (1972)
o Drought – terj. bahasa Inggris oleh Harry Aveling (1978)
• Kooong: kisah tentang seekor perkutut (1975)
• Tegak lurus dengan langit: lima belas cerita pendek (1982)
• Ziarah – novel (1983)
o The Pilgrim – terj. bahasa Inggris oleh Harry Aveling (1975)
o Ziarah – terjemahan bahasa Perancis (1989)
• Surat-surat politik Iwan Simatupang, 1964-1966 (1986)
• Poems – selections (1993)
• Square moon, and three other short plays – terj. John H. McGlynn (1997)
• Ziarah malam: sajak-sajak 1952-1967 – penyunting: Oyon Sofyan, S. Samsoerizal Dar, catatan penutup, Dami N. Toda (1993)
• Kebebasan pengarang dan masalah tanah air: esai-esai Iwan Simatupang, editor, Oyon Sofyan, Frans M. Parera (2004)
• RT Nol / RW Nol – drama satu babak
Daftar kategori: Kelahiran 1928, Kematian 1970, Sastrawan Indonesia, Marga Simatupang

Kuntowijoyo
Prof. Dr. Kuntowijoyo (juga dieja Kuntowidjojo; lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 – meninggal 22 Februari 2005 pada umur 61 tahun) adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia.

Kuntowijoyo
Kuntowijoyo mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Ia lulus SMP di Klaten dan SMA di Solo, sebelum lulus sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada pada tahun 1969. Gelar MA American History diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, dan Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980.
Ia banyak menulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra, di antaranya Mantra Pejinak Ular, Isyarat, Khotbah di Atas Bukit, dan Impian Amerika. Selain itu, ia juga sering menulis cerita pendek dan esai di surat kabar.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya adalah penghargaan sastra dari Pusat Bahasa atas kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994), ASEAN (1997), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (1999), dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001).
Ia meninggal dunia akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus meningo enchephalitis. Saat meninggal dunia, ia adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada dan juga pengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Gagasannya yang sangat penting bagi pengembangan ilmu sosial di Indonesia adalah idenya tentang Ilmu Sosial Profetik (ISP). Bagi Kuntowijoyo, ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja tapi lebih dari itu, ilmu sosial harus juga mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. Ia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu: humanisasi, liberasi dan transendensi. Ide ini kini mulai banyak dikaji. Di bidang sosiologi misalnya muncul gagasan Sosiologi Profetik yang dimaksudkan sebagai sosiologi berparadigma ISP.
1. Pranala luar
• (id) “Budayawan Kuntowijoyo Tutup Usia”, Liputan 6, 23 Februari 2005
• (id) “Kuntowijoyo Sang Begawan”, KOMPAS, 24 Februari 2005
• (id) Profil di Tokoh Indonesia
• (id) Halaman di situs Fakultas Ilmu Budaya UGM
Daftar kategori: Kelahiran 1943, Kematian 2005, Sastrawan Indonesia, Budayawan Indonesia, Alumni Universitas Gadjah Mada

Kwee Tek Hoay
Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 – 4 Juli 1952) adalah sastrawan Melayu Tionghoa terkenal dan tokoh ajaran Tridharma (Sam Kauw Hwee). Ia banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau.
Ia menerbitkan majalah berbahasa Indonesia pertama yang berisikan ajaran Agama Buddha dengan nama Moestika Dharma (1932-1934). Dari majalah ini diketahui bahwa telah berdiri sebuah organisasi Buddhis bernama Java Buddhist Association di bawah kepemimpinan E. Power dan Josias van Dienst. Organisasi ini merupakan anggota International Buddhist Mission yang berpusat di Thaton Birma dan mengacu pada aliran Buddha Theravada.
Kwee juga memimpin redaksi Moestika Romans (1932-1942), majalah Tionghoa peranakan yang berbobot pada masa itu. Tulisannya Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia yang merupakan serial dalam Moestika Romans edisi Agustus 1936 – Januari 1939 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh sinolog terkemuka Lea E. Williams dengan judul “The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonesia”.
Daftar isi:
1. Karya Kwee Tek Hoay
2. Lihat
3. Pranala luar

Artikel ini tidak memiliki referensi sumber sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.
Bantulah dengan menambahkan referensi yang layak.
Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
1. Karya Kwee Tek Hoay
• Roema Sekola jang Saja Impiken (1925)
• Korbannja Kong-Ek (1926)
• Boenga Roos dari Tjikembang (1927)
• Drama dari Krakatau (1929)
• Drama di Boven Digoel (Typ.Drukkerij “Moestika”, 1938)
• Nonton Capgome (1930)
• Zonder Lentera (1930)
• Pendekar dari Chapei (1932)
• Berkahnja Malaise (1933)
• Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa yang Modern di Indonesia (1933)
• Bertjakap-tjakap tentang Agama Budha (Swastika, 1961)
• Meditasi dan Sembahjang (Swastika, 1961)
• Thay Hak (Swastika, 1961)
• Hauw dari Khong Tju (Swastika, 1962)
• The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonesia (Southeast Asia Program, Cornell University, 1969)
• Avalokitesvara (Panitia Peringatan se-Abad Kelahiran Kwee Tek Hoay, 1986)
• 100 Tahun Kwee Tek Hoay: dari Penjaja Tekstil sampai ke Pendekar Pena (Penyunting: Myra Sidharta, Pustaka Sinar Harapan, 1989)
• Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (Penyunting: Marcus AS dan Pax Benedanto, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001)
• Kesastraan Melayu Tionghoa 1
• Kesastraan Melayu Tionghoa 2
• Kesastraan Melayu Tionghoa 3
• Kesastraan Melayu Tionghoa 4
• Kesastraan Melayu Tionghoa 5
• Kesastraan Melayu Tionghoa 6
• Kesastraan Melayu Tionghoa 7
2. Lihat
• Siauw Tik Kwie
3. Pranala luar
• Perkembangan Agama Buddha di Indonesia
• Artikel tentang Kwee Tek Hoay
• Buku Karya Kwee Tek Hoay di Pustakabersama
• Buku Karya Kwee Tek Hoay di Palasara Online
• Buku Karya Kwee Tek Hoay di Openlibrary
• Ulasan “Roema Sekola jang Saja Impiken”
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Artikel yang tidak memiliki referensi, Rintisan biografi Indonesia, Kelahiran 1886, Kematian 1952, Tionghoa-Indonesia, Sastrawan Indonesia

Linus Suryadi AG
Linus Suryadi (lahir di Sleman, Yogyakarta, 3 Maret 1951 – wafat di Yogyakarta, 30 Juli 1999 pada umur 48 tahun) adalah penyair Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai redaktur kebudayaan pada harian Berita Nasional (1979-1986) di Yogyakarta. Selain itu juga pernah aktif dalam Dewan Kesenian Yogyakarta antara tahun 1986-1988. Ia juga menjadi pemimpin redaksi majalah Citra Yogya pada tahun 1987-1999.
1. Karya
• Langit Kelabu (1976)
• Pengakuan Pariyem: Dunia batin seorang wanita Jawa (1981)
• Dari Desa Ke Kota (1985)
• Perkutut Manggung (1986)
• Kembang Tanjung (1988)
• Rumah Panggung (1988)
• Yogya Kotaku (1997)
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1951, Kematian 1999, Rintisan biografi Indonesia, Pujangga Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh Yogyakarta

Marah Roesli
Marah Roesli atau sering kali dieja Marah Rusli (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari 1968 pada umur 78 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Keterkenalannya karena karyanya Siti Nurbaya (roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. Siti Nurbaya telah melegenda, wanita yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya

Marah Roesli
Daftar isi:
1. Riwayat
2. Kiprah
3. Bibliografi
4. Trivia
5. Pranala luar
1. Riwayat
Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.
Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
2. Kiprah
Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.
Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan.
Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.
3. Bibliografi
• Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
• La Hami. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
• Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.
• Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
• Tesna Zahera (naskah Roman)
Terjemahannya: Gadis yang Malang (novel Charles Dickens, 1922).
4. Trivia
• Marah Roesli adalah kakek dari Harry Roesli, pemusik kontemporer Indonesia
5. Pranala luar
• (id) Pusat Bahasa Depdiknas
Daftar kategori: Kelahiran 1889, Kematian 1968, Tokoh Sumatera Barat, Sastrawan Indonesia
Bahasa lain: English, Basa Jawa

Marga T
Marga Tjoa (lahir di Jakarta, 27 Januari 1943; umur 66 tahun), yang lebih dikenal dengan nama Marga T., adalah salah seorang pengarang Indonesia yang paling produktif. Namanya mulai dikenal pada tahun 1971 lewat cerita bersambungnya, Karmila yang kemudian dibukukan dan difilmkan.
Sejak kecil Marga telah banyak menulis. Karangan-karangannya mula-mula dimuat di majalah sekolahnya. Pada usia 21 tahun, ia menghasilkan cerita pendeknya yang pertama, Kamar 27, yang kemudian disusul oleh bukunya yang pertama, Rumahku adalah Istanaku, sebuah cerita anak-anak, yang diterbitkan pada 1969.
Sebagai penulis, Marga adalah seorang pekerja keras. Ia dapat menghabiskan waktu empat hingga lima jam sehari dalam mengarang. Kedisiplinannya juga tampak dari kegiatannya membaca apa saja. “Masyarakat berhak memilih bacaan yang disukainya, tapi penulis tidak. Ia harus membaca tulisan siapa pun,” begitu prinsip Marga. Karena itu ia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli novel.
Novelnya yang paling mutakhir, “Sekuntum Nozomi”, buku ketiga, yang terbit pada 2004, mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 yang menelan banyak korban khususnya di kalangan kaum perempuan keturunan Tionghoa.
Daftar isi:
1. Aneka rupa
2. Bibliografi
3. Pranala luar
1. Aneka rupa
• Hingga kini Marga telah menerbitkan 128 cerita pendek dan 67 buku (untuk anak-anak, novel serta kumpulan cerpen).
• Marga tidak ingin terlalu dikenal masyarakat karena khawatir bahwa ia tidak bisa lagi bebas naik bus atau pergi ke bioskop.
• Marga adalah seorang dokter lulusan Universitas Trisakti, Jakarta. Karena itulah dalam banyak novelnya Marga memperlihatkan pengenalannya yang cukup dalam terhadap dunia medis.
• “Karmila” telah dicetak berulang kali sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk mengunjungi Eropa, suatu pengalaman yang ingin didapatkannya sebelum ia terikat sebagai dokter. Namun dalam kunjungannya ke Eropa itulah ia bertemu dengan seorang insinyur teknik kimia, sesama alumnus Trisakti, yang kemudian menjadi suaminya.
2. Bibliografi
Daftar berikut ini memuat sebagian dari karya Marga Tjoa:
• Sekuntum Nozomi (buku satu hingga keempat) – (2002-2006)
• Dibakar Malu dan Rindu (2003)
• Dipalu Kecewa dan Putus Asa (2001)
• Amulet dari Nubia (1999)
• Dicabik Benci dan Cinta (1998)
• Didera Sesal dan Duka (1998)
• Matahari Tengah Malam (1998)
• Melodi Sebuah Rosetta (1996)
• Dikejar Bayang-bayang (1995)
• Sepagi Itu Kita Berpisah (1994)
• Rintihan Pilu Kalbuku (1992)
• Seribu Tahun Kumenanti (1992)
• Berkerudung Awan Mendung (1992)
• Sonata Masa Lalu (1991)
• Bukan Impian Semusim (1991)
• Namamu Terukir di Hatiku (1991)
• Istana di Kaki Langit (1990)
• Petromarin (1990)
• Waikiki Aloha: kumpulan satir (1990)
• Kobra Papageno: Manusia Asap dari Pattaya (1990)
• Kobra Papageno: Rahasia Kuil Ular (1989)
• Di Hatimu Aku Berlabuh (1988)
• Ketika Lonceng Berdentang: cerita misteri (1986)
• Kishi: buku kedua trilogi (1987)
• Batas Masa Silam: Balada Sungai Musi (1987)
• Oteba: buku ketiga trilogi (1987)
• Ranjau-ranjau Cinta (1987)
• Sekali dalam 100 tahun: kumpulan satir (1988)
• Tesa (1988)
• Sembilu Bermata Dua (1987)
• Setangkai Edelweiss: sambungan Gema Sebuah Hati (1987)
• Untukmu Nana (1987
• Saskia: sebuah trilogi (1987)
• Bukit Gundaling (1984)
• Rahasia Dokter Sabara (1984)
• Saga Merah (1984)
• Fatamorgana (1984)
• Monik: sekumpulan cerpen (1982)
• Sebuah Ilusi (1982)
• Lagu Cinta: kumpulan cerpen (1979)
• Sepotong Hati Tua (1977)
• Bukan Impian Semusim (1976)
• Gema Sebuah Hati (1976)
• Badai Pasti Berlalu (1974)
• Karmila (1971, dibukukan (1973)
• Rumahku adalah Istanaku (1969)
3. Pranala luar
• Apa dan Siapa Marga T.
• Sekuntum Nozomi 3 oleh Marga T, Memperingati Sewindu Tragedi Mei 1998
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1943, Sastrawan Indonesia, Tionghoa-Indonesia, Tokoh dari Jakarta
Bahasa lain: English

Marianne Katoppo
Henriette Marianne Katoppo (Tomohon Sulawesi Utara, 9 Juni 1943 – Bogor, 12 Oktober 2007) adalah anak bungsu pasangan Elvianus Katoppo dan Agnes Rumokoij.
Daftar isi:
1. Pendidikan
2. Kegiatan menulis
3. Karya tulis lainnya
4. Karya teologi
5. Kegiatan lain
6. Kematian
1. Pendidikan
Katoppo menyelesaikan studi teologinya pada 1963 di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dengan gelar Sarjana Muda Theologia, dan pada 1977 dari sekolah yang sama dengan gelar Sarjana Theologia. Pada tahun 1978 ia mengikuti pendidikan di Institut Ekumenis, di Bossey, Swiss, dan pada tahun 1992 memperoleh gelar theol.lic.
2. Kegiatan menulis
Sejak masih kecil Katoppo telah aktif menulis. Pada usia 8 tahun karyanya yang pertama diterbitkan di rubrik anak-anak harian berbahasa Belanda Nieuwsgier di Jakarta.
Pada tahun 1960-an Katoppo menulis beberapa cerpen untuk harian Sinar Harapan dan majalah bulanan Ragi Buana. Novelnya, Raumanen, mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1975), Yayasan Buku Utama (1978), dan South East Asian Writer Award (1982) sebagai perempuan pertama. Novel ini diterbitkan kembali pada 2006 oleh Penerbit Metafor.
3. Karya tulis lainnya
Novelnya yang lain adalah Dunia Tak Bermusim (1974), Anggrek Tak Pernah Berdusta, (1977}, Terbangnya Punai (1978), Rumah di Atas Jembatan (1981).
4. Karya teologi
Katoppo dikenal sebagai teolog feminis pertama di Indonesia dan Asia. Karya teologinya Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology (1979) diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Swedia dan bahasa Tagalog, dan dipakai sebagai buku ajar di berbagai sekolah teoogi dan seminari di seluruh dunia.
5. Kegiatan lain
Katoppo adalah anggota pendiri dan mantan Koordinator Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) Indonesia (1982), Forum Demokrasi (1991), Kelompok HATI (1980), International Council WCRP. Ia giat sebagai aktivis dan pencetak opini. Pada tahun 1995 ia mewakili Pramoedya Ananta Toer dalam menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Filipina. Ia juga pernah duduk sebagai salah satu anggota dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
6. Kematian
Katoppo meninggal dunia pada 12 Oktober 2007 di Bogor, di sisi kakaknya, Pericles Katoppo. Penyebabnya diduga serangan jantung. Jenazahnya dikremasikan pada 13 Oktober di Krematorium Oasis, Tangerang.
Daftar kategori: Kelahiran 1943, Kematian 2007, Sastrawan Indonesia, Teolog Indonesia, Teolog feminis, Alumni Sekolah Tinggi Teologi Jakarta
Bahasa lain: Basa Jawa

Medy Loekito
Medijanti Loekito (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 21 Juli 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Medy Loekito adalah seorang penyair Indonesia yang telah mulai menulis sejak tahun 1978. Ia telah beberapa kali mewakili Indonesia dalam event-event internasional. Kini bermukim di Jakarta.
Medy Loekito dikenal sebagai penyair wanita dengan puisi-puisi pendek yang sederhana. Adalah sastrawati pertama yang menggugat peran dan fungsi sastra porno bagi pendidikan dan masa depan bangsanya.
Tulisannya tersebar di berbagai media massa, baik di dalam maupun di luar Indonesia.
Daftar isi:
1. Karya
2. Prestasi/Penghargaan
3. Pranala luar
1. Karya
1. 1. Antologi puisi tunggal
• “In Solitude”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1993.
• “Jakarta, Senja Hari”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1998.
1. 2. Antologi puisi bersama
1. “Festival Puisi Indonesia XIV”, PPIA, Surabaya, 1994.
2. “Trotoar”, Roda Roda Budaya, Tangerang, 1996.
3. “Jakarta, Jangan Lagi”, Kolong Budaya, Magelang, 1996.
4. “Antologi Puisi Indonesia”, Penerbit Angkasa, Bandung, 1997.
5. “Resonansi Indonesia”, Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2000.
6. “Sembilan Kerlip Cermin”, Pustaka Jaya, Jakarta, 2000.
7. “Dewdrops at Dawn”, The International Library of Poetry, USA, 2000.
8. “Jakarta dalam Puisi Mutakhir”, Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, Jakarta, 2000.
9. “Graffiti Gratitude”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Angkasa, Bandung, 2001.
10. “Surat Putih”, Risalah Badai, Jakarta, 2001.
11. “Dari Fanzuri ke Handayani”, Horison, Kakilangit, The Ford Foundation, Jakarta, 2001.
12. “Gelak Esai & Ombak Sajak, Anno 2001”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001.
13. “Horison Sastra Indonesia”, Horison, Kakilangit, The Ford Foundation, Jakarta, 2001.
14. “Pasar Kembang”, KSI Yogyakarta, 2001.
15. “Batu Merayu Rembulan”, Yayasan Damar Warga, Jakarta, 2003.
16. “Bisikan Kata, Teriakan Kota”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
17. “Selagi Ombak Mengejar Pantai 8”, KEMUDI – Pusat Studi & Pengembangan Kebudayaan Asia, Malaysia, 2004.
18. “Maha Duka Aceh”, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005.
19. “Les Cyberlettres”, Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta, 2005.
20. “Surat Putih 3, Negeri Terluka”, Risalah Badai – Jakarta & Logung Pustaka – Yogyakarta, 2005.
21. “Bumi ini adalah Kita jua”, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005.
22. “Perempuan Penyair Indonesia 2005”, Risalah Badai & Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2005.
23. “Le Chant des Villes” (Nyanyian Kota), Centre Culturel Français, Jakarta, 2006.
24. “Legasi”, Warisan Wong Kampung, Malaysia, 2006.
25. “Yogya, 5,9 Skala Richter”, Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2006.
26. “Selendang Pelangi”, Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2006.
27. “The Poetry of Nature”, 2007.
1. 3. Antologi puisi digital
1. “Cyberpuitika”, Yayasan Multimedia Sastra, 2002.
1. 4. Buku kumpulan esai
1. “Cyber Graffiti”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Angkasa, Bandung, 2001.
2. “Kongres Bahasa Indonesia VIII”, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2003.
3. “Sastra Kota”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
4. “Cyber Graffiti, Polemik Sastra Cyberpunk”, Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2004.
1. 5. Pengantar buku
1. “Dua Tengkorak Kepala”, kumpulan cerpen Motinggo Busye.
2. “Dalam Kemarau”, antologi puisi Dharmadi.
3. “Graffiti Gratitude”, antologi puisi cyber.
4. “Cyber Graffiti”, kumpulan esai cyber.
5. “Perjalanan Nol”, kumpulan sajak TS Pinang.
1. 6. Hasil penelitian bersama
1. “Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi”, Komunitas Sastra Indonesia & Litbang. Kompas, Jakarta, 1998.
2. “Without Compass or Map”, Conference of Asian Foundations and Organizations, Seagull Books, Calcutta, 2004.
1. 7. Tercatat dalam buku
1. “Profil Perempuan Pengarang Peneliti Penerbit di Indonesia”, Kelompok Cinta Baca, Jakarta, 2000.
2. “Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia”, P.T. Grasindo, Jakarta, 2000.
3. “Leksikon Susastra Indonesia”, Balai Pustaka, Jakarta, 2000.
4. “International Who’s Who in Poetry and Poets’ Encyclopaedia”, The International Biographical Centre, Cambridge, UK, 1999.
5. “Leksikon Sastra Jakarta”, Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003.
6. “Ensiklopedia Sastra Indonesia”, Jakarta, 2004.
2. Prestasi/Penghargaan
• 1999 Sebagai Research Board of Advisors dari “The American Biographical Institute“, USA.
• 1999 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan.
• 2000 Tergabung dalam “POET 2000 Sculpted Library”, Dublin, Irlandia.
• s00 Semifinalis “North American Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA.
• 2000 Semifinalis “Montel Williams Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA.
• 2000 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan.
• 2001 Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations), bidang Kebudayaan, dalam riset KSK, Kyoto, Jepang.
• 2001 Wakil Republik Indonesia untuk “International Writing Program”, Iowa City, USA.
• 2001 Presentasi di:
o University of Iowa, Iowa City, Iowa.
o Women Resources and Activity Centre, Iowa City, Iowa.
o Public Library of Iowa, Iowa City, Iowa.
o Coe College, Cedar Rapids, Iowa.
o Des Moines Public High School, Des Moines, Iowa.
o Western Illinois University, Illinois.
o Hawthorne Elementary School, Bozeman, Montana.
o University of Central Florida, Orlando, Florida.
o Literary Centre, Washington DC,
• 2002 Delegasi Indonesia untuk “SEA People’s Festival”, Phnom Penh, Kamboja.
• 2003 Pembicara, “Kongres Bahasa Indonesia VIII”, Jakarta, Indonesia.
• 2003 Pembicara, “Temu Sastra Jakarta”, Jakarta, Indonesia.
• 2004 Pembicara, “Fokus Sastra Indonesia 2004”, Bandung, Indonesia.
• 2004 Panelis, “Menolak Pornografi, Menyelamatkan Generasi”, Jakarta, Indonesia
• 2006 Pembicara, “Sastra Cyber”, Jakarta, Indonesia
• 2006 Pembicara, “Sastra Melayu Tionghoa”, Jakarta, Indonesia
• 2007 Pelatih, Pelatihan Sastra Bagi Guru S.D. Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Indonesia, dan lain-lain.
3. Pranala luar
• Kompas
• PDAT
• Blog Asep Sambodja
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1962, Sastrawan Indonesia, Penyair Indonesia, Tokoh dari Surabaya

Mh. Rustandi Kartakusuma
Mh. Rustandi Kartakusuma, (lahir di Ciamis, Jawa Barat, 20 Juli 1921, meninggal di Cibubur, 11 April 2008) adalah sastrawan Indonesia.
Daftar isi:
1. Keluarga
2. Aktivitas
3. Penghargaan
4. Karya lainnya
5. Lain-lain
6. Referensi
7. Pranala luar
1. Keluarga
Sastrawan Angkatan 45 ini sampai akhir hayatnya tidak beristri. Pada masa tuanya, sejak 13 November 1996, ia tinggal di Panti Jompo sebelum menumpang di rumah kakaknya di Kebon Sayur, Jakarta.
2. Aktivitas
Rustandi menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di berbagai media. Ia sempat mengajar di Yale University, Amerika Serikat dan Harvard University, serta memberi kuliah di Massachusetts Institute of Technology atas undangan Stichting voor Culturele Samenwerking. Ia juga pernah tinggal setahun di Belanda dan belajar musik di Muzieklyceum, Amsterdam.
3. Penghargaan
• Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri atas jasanya mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan Sunda (2004)
• Hadiah Sastera Rancagé dari Yayasan Kebudayaan Rancagé untuk jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Sunda (1992) dan untuk karyanya kumpulan cerpen, Amanat dina Napas Panungtungan (Amanat dalam Nafas Terakhir) (2005)
4. Karya lainnya
• Prabu dan Puteri, Sebuah Tragedi (drama, 1950)
• Rekaman dari Tudjuh Daerah (kumpulan sajak, 1951)
• Heddie dan Tuti. Tonil Satu Babak Anak Muda (1951)
• Merah Semua Putih Semua (drama, 1958, mendapat Hadiah BMKN 1960, tetapi ditolak Rustandi)
5. Lain-lain
Masalah kebudayaan Rustandi pernah berpolemik dengan Sutan Takdir Alisjahbana.
6. Referensi
• Zainal Hakim. 1995. Biografi Pengarang Mh. Rustandi Kartakusuma dan Karyanya. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
7. Pranala luar
• (id) Obituari: Sastrawan Rustandi Kartakusuma Berpulang
Daftar kategori: Kelahiran 1921, Kematian 2008, Sastrawan Indonesia

Mochtar Lubis
Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 – wafat di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

Mochtar Lubis
Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.
Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).
1. Bibliografi
• Tidak Ada Esok (novel, 1951)
• Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
• Teknik Mengarang (1951)
• Teknik Menulis Skenario Film (1952)
• Harta Karun (cerita anak, 1964)
• Tanah Gersang (novel, 1966)
• Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
• Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
• Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
• Manusia Indonesia (1977)
• Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
• Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
• Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)
Karya jurnalistiknya:
• Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
• Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
• Catatan Korea (1951)
• Indonesia di Mata Dunia (1955)
Mochtar Lubis juga menjadi editor:
• Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
• Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
• Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (1986)
Terjemahannya:
• Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
• Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
• Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
• Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
• Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)
Studi mengenai Mochtar Lubis:
• M.S. Hutagalung, Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963)
• Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l’Indonésie Contemporaine (diseertasi, Paris, 1974)
• David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor (disertasi, Canberra, 1989)
2. Pranala luar
• (en) The Ramon Magsaysay Award Awardees
• (id) Profil di TokohIndonesia.com
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Kelahiran 1922, Kematian 2004, Rintisan biografi Indonesia, Jurnalis Indonesia, Penulis Indonesia, Sastrawan Indonesia, Tokoh dari Padang, Marga Lubis
Bahasa lain: English, Français, Română, ไทย

Motinggo Busye
Motinggo Busye (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – wafat di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sutradara dan seniman Indonesia.
Menamatkan SMA di Bukittinggi, kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.
Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, “Nasehat buat Anakku”, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962.
1. Daftar karyanya yang lain
• Malam Jahanam (novel, 1962)
• Badai Sampai Sore (drama, 1962)
• Tidak Menyerah (novel, 1963)
• Hari Ini Tak Ada Cinta (novel, 1963)
• Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963)
• Dosa Kita Semua (novel, 1963)
• Tiada Belas Kasihan (novel, 1963)
• Nyonya dan Nyonya (drama, 1963)
• Sejuta Matahari (novel, 1963)
• Nasehat buat Anakku (kumpulan cerpen, 1963)
• Malam Pengantin di Bukit Kera (drama, 1963)
• Buang Tonjam (legenda, 1963)
• Ahim-Ha (legenda, 1963)
• Batu Serampok (legenda, 1963)
• Penerobosan di Bawah Laut (novel, 1964)
• Titian Dosa di Atasnya (novel, 1964)
• Cross Mama (novel, 1966)
• Tante Maryati (novel, 1967)
• Sri Ayati (novel, 1968)
• Retno Lestari (novel, 1968)
• Dia Musuh Keluarga (novel, 1968)
• Sanu, Infita Kembar (novel, 1985)
• Madu Prahara (novel, 1985)
• Dosa Kita Semua (novel, 1986)
• Aura Para Aulia: Puisi-Puisi Islami (1990)
• Dua Tengkorak Kepala (1999).
Pada paruh pertama tahun 1970-an, Motinggi Busye menyutradarai beberapa buah film. Selain itu, dia juga aktif di bidang seni lukis.
Daftar kategori: Kelahiran 1937, Kematian 1999, Pujangga Indonesia, Sastrawan Indonesia, Sutradara Indonesia
Bahasa lain: English

Ngarto Februana
Ngarto Februana (lahir di Batu, Malang, 4 Februari 1967) adalah seorang novelis Indonesia.
Setelah menyelesaikan SMA di kota kelahirannya, ia melanjutkan studi di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Aktif menulis cerpen sejak 1986 hingga 1997. Karya cerpennya antara lain pernah dimuat Bernas, Yogya Post, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Pelita, dan beberapa majalah remaja terbitan Jakarta. Cerpennya Imajinasi dimuat dalam buku kumpulan cerpen Maling; Ancaman diantologikan dalam Guru Tarno (Cerpen Pilihan Bernas 1994); dan Lewat Tengah Malam dimuat dalam Antologi Candramawa (Cerpen Pilihan Bernas 1995), serta Katak Sudah Mati dimuat dalam antologi Grafiti Imaji. Pernah mengikuti Program Penulisan Novel yang diselenggarakan oleh Majelis Sastra Asia Tenggara pada Oktober 2001.
Ia telah menulis empat judul novel. Novel perdana, Lorong Tanpa Cahaya, terbit pada 1999. Berikutnya, Menolak Panggilan Pulang (2000), Tapol (2002), novel keempat, “Harga Seorang Wanita” terbit 2007 oleh Dastan Books, Jakarta. Selain menulis novel, ia juga menulis skenario sinetron dan film walau tidak produktif karena tak aktif mencari pesanan. Salah satu skenario sinetron yang dia tulis berjudul Darlis, sebanyak 13 episode, ditayangkan TVRI dari September 2003 sampai Desember 2003, produksi Giz Cipta Pratama. Adapun skenario film layar lebar, Salma, produksi Giz Cipta Pratama dan Departemen Kesehatan RI, sudah siap diedarkan. Ia juga menulis script untuk film animasi (kartun) “Kampung Edu” produksi Creative TV dan Departemen Pendidikan Nasional 2006. Sesekali ia menerima pesanan menyunting buku, antara lain “Mencari Jalan” (Yayasan Bina Usaha Lingkungan/YBUL, 2003), “Menempuh Langkah Meraih Herapan (YBUL, 2007).
Sejak April 1997 ia bekerja sebagai redaktur bahasa majalah D&R, sampai majalah tersebut tidak terbit lagi pada Februari 2000. Ngarto sempat bekerja di tabloid Semanggi, kemudian DeTAK. Sempat menjadi kontributor majalah Pantau sebelum akhirnya majalah itu tutup. Sejak November 2001 hingga kini, ia penulis di Pusat Data & Analisa TEMPO (PDAT), kelompok Tempo Inti Media, Jakarta. Di luar kesibukan rutinnya, Ngarto dosen luar biasa untuk mata kuliah penyuntingan di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta.
Menikah dengan Windarsih pada 1997, pasangan ini dikarunia dua putri: Retami Aliffiani dan Savita Dyuti Anaya. Saat ini ia tinggal di Perumahan Permata Depok, Depok, Jawa Barat.
1. Pranala luar
• (id) Situs resmi
Daftar kategori: Kelahiran 1967, Sastrawan Indonesia

Nh. Dini
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936; umur 73 tahun) atau lebih dikenal dengan nama NH Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia.

NH Dini
Daftar isi:
1. Sejarah hidup
2. Karir
3. Pranala luar
1. Sejarah hidup
NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul”.
NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.
Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi supir lokomotif atau masinis. Tapi ia tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.
Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan teknik menulis yang dikuasainya.
Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Jakarta dalam acara Tunas Mekar.
2. Karir
Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telajur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.
Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan. Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya. Ia seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, seperti komentar Putu Wijaya; ‘kebawelan yang panjang.’
Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Namun banyak orang berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”. Ada pula yang berpendapat bahwa dia menceritakan dirinya sendiri. Pandangan hidupnya sudah amat ke barat-baratan, hingga norma ketimuran hampir tidak dikenalinya lagi. Itu penilaian sebagian orang dari karya-karyanya. Akan tetapi terlepas dari semua penilaian itu, karya NH Dini adalah karya yang dikagumi. Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra.
Bukti keseriusannya dalam bidang yang ia geluti tampak dari pilihannya, masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah. Ia bergabung dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama Kuncup Berseri. Sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini benar-benar remaja yang sibuk. Selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama Pura Bhakti. Langkahnya semakin mantap ketika ia memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah di SMA Semarang, ia pun menyelenggarakan sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang. Bakatnya sebagai tukang cerita terus dipupuk.
Pada 1956, sambil bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali – hal yang sulit dicapai oleh kebanyakan buku sastra. Buku lain yang tenar karya Dini adalah Namaku Hiroko dan Keberangkatan. la juga menerbitkan serial kenangan, sementara cerpen dan tulisan lain juga terus mengalir dari tangannya. Walau dalam keadaan sakit sekalipun, ia terus berkarya.
Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekedar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.
Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia mengambil contoh bukunya yang berjudul Pada Sebuah Kapal, prosesnya hampir sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan. Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di blocknote dengan tulis tangan.
Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil berpikir, mengolah dan menganalisa. la merangkai sebuah naskah yang sedang dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.
Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (kini 42 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 36 tahun). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.
Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun kemudian pindah ke Pnom Penh, Kamboja. Kembali ke negara suaminya, Prancis, pada 1966, Dini melahirkan anak keduanya pada 1967. Selama ikut suaminya di Paris, ia tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace). Dia turut serta menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi oleh tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Perancis.
Setahun kemudian ia mengikuti suaminya yang ditempatkan di Manila, Filipina. Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang menjabat Konsul Jenderal Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.
Mantan suaminya masih sering berkunjung ke Indonesia. Dini sendiri pernah ke Kanada ketika akan mengawinkan Lintang, anaknya. Lintang sebenarnya sudah melihat mengapa ibunya berani mengambil keputusan cerai. Padahal waktu itu semua orang menyalahkannya karena dia meninggalkan konstitusi perkawinan dan anak-anak. Karena itulah ia tak memperoleh apa-apa dari mantan suaminya itu. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS yang kemudian digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang.
Dini yang pencinta lingkungan dan pernah ikut Menteri KLH Emil Salim menggiring Gajah Lebong Hitam, tampaknya memang ekstra hati-hati dalam memilih pasangan setelah pengalaman panjangnya bersama diplomat Perancis itu. la pernah jatuh bangun, tatkala terserang penyakit 1974, di saat ia dan suaminya sudah pisah tempat tidur. Kala itu, ada yang bilang ia terserang tumor, kanker. Namun sebenarnya kandungannya amoh sehingga blooding, karena itu ia banyak kekurangan darah. Secara patologi memang ada sel asing. Kepulangannya ke Indonesia dengan tekad untuk menjadi penulis dan hidup dari karya-karyanya, adalah suatu keberanian yang luar biasa. Dia sendiri mengaku belum melihat ladang lain, sekalipun dia mantan pramugrari GIA, mantan penyiar radio dan penari. Tekadnya hidup sebagai pengarang sudah tak terbantahkan lagi.
Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya di Sekayu. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut SIUPP-nya, dengan tema transmigrasi.
Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.
Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000.
Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah serta biaya lain-lain memaksa ia harus membayar biaya total sebesar 11 juta. Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya. Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.
Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha Mulya. Ia senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.
Dalam kondisinya sekarang, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai nilai manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.
Ia juga pernah ditawari bekerja tetap pada sebuah majalah dengan gaji perbulan. Akan tetapi dia memilih menjadi pengarang yang tidak terikat pada salah satu lembaga penerbitan. Bagi Dini, kesempatan untuk bekerja di media atau perusahaan penerbitan sebenarnya terbuka lebar. Namun seperti yang dikatakannya, ia takut kalau-kalau kreativitasnya malah berkurang. Untuk itulah ia berjuang sendiri dengan cara yang diyakininya; tetap mempertahankan kemampuan kreatifnya.
Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. Begitulah spontanitas penuturan pengarang yang pengikut kejawen ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya
3. Pranala luar
• (id) NH Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) – Pengarang Sastra Feminis
• (id) Detail Buku – Dari Fontenay Ke Magallianes – Nh Dini
• (id) Buku-buku Nh Dini – Cermin Batin Perempuan
• (id) NH Dini Pengarang Sastra Feminis
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1936, Rintisan biografi Indonesia, Sastrawan Indonesia, Feminis Indonesia, Novelis Indonesia
Bahasa lain: Basa Jawa, Français

Nirwan Dewanto

Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.
Tulisan rintisan ini belum dikategorikan, tapi Anda dapat membantu Wikipedia .
Nirwan Dewanto adalah penyair dan esais. Ia dilahirkan di Surabaya, menghabiskan masa kanak dan remajanya di Banyuwangi dan Jember, dan menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam (dan pernah menjadi ketua redaksinya) dan kini menjaga Lembar Sastra pada Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007, ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, di mana ia merampungkan buku puisinya Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Ia tampil dalam sejumlah forum sastra internasional, yang terakhir adalah simposium bertajuk Home/Land di Paros, Yunani, pada musim panas 2008. Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Madison (Wisconsin).
Daftar kategori: Artikel yang perlu diwikifisasi, Rintisan umum

Noorca M. Massardi
Artikel mengenai biografi tokoh Indonesia ini adalah suatu tulisan rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia .
Noorca M. Massardi (lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954; umur 55 tahun) adalah anak kelima dari 12 bersaudara dan dikenal sebagai penyair, pengarang, penyunting, penulis lakon sandiwara, pemeran pria, sutradara, penulis skenario, juri festival film atau sinetron, penerima Anugrah Kebudayaan, juri lomba iklan, pewarta, serta pembawa acara televisi, kolumnis, dan budayawan.
Lakon-lakon sandiwaranya yang memenangi Sayembara Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) antara lain adalah:
• Perjalanan Kehilangan (1974), dan Terbit Bulan Tenggelam Bulan (1976)
• Sayembara Penulisan Lakon Anak-anak Direktorat Kesenian Depdikbud: Tinton (1976), dan Mencari Taman (1978)
• Sayembara Penulisan Lakon Pemerintah Daerah Jawa Barat Kuda-Kuda (1975).
Lakon lainnya adalah Growong (1982), Kertanegara (1973), dan Bhagawad Gita (1972).
Dua novelnya yang dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas telah diterbitkan PT Gramedia antara lain adalah Sekuntum Duri (1978) dan Mereka Berdua (1981), dan skenarionya Sekuntum Duri telah difilmkan oleh PT Cipta Permai Indah Film (1979). Novelnya yang ketiga September, dengan latar cerita tragedi September 1965 diterbitkan PT Tiga Serangkai, Solo (2006), setelah sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Media Indonesia, Jakarta, (2 Juni – 30 September 2002) dengan judul Perjalanan Darius. Novelnya yang keempat, “d.I.a” masih dimuat sebagai cerita bersambung di koran Seputar Indonesia sejak 10 Januari 2007 sampai sekarang.
Penerima General Award in the Arts dari The Society for American – Indonesian Friendship, Inc (1975), yang mengikuti South-East Asian Young Writer Seminar di Baguio City, Filipina, atas undangan Ford Foundation (1983), ini menerbitkan puisi Mata Pelajaran dan Syair Kebangkitan sebagai penanda ulang tahun ke-40 Noorca & Yudhistira ANM Massardi (1994). Menyunting buku Mega Simarmata: Anak Bangsa (1999), Mega Simarmata: Kebebasan Bersuara di Radio (1998), dan Udin: Darah Wartawan (1997), Rayni N. Massardi: 1.655 Tak Ada Rahasia dalam Hidup Saya (2005), serta menulis Sejarah Teater Modern Indonesia dalam Antologi Seni 2003, karya-karya terjemahannya antara lain, Misteri Piramid Besar (Le Mystere des Grands Pyramids) – 2 volume (1985), Sejarah Golongan Kiri di Indonesia (l’Histoire de la Gauche en Indonesie – Jacques Leclerc) (1983), dan Biografi Mr. Amir Syarifuddin – Jacques Leclerc (1984).
Lulusan Ecole Superieure de Journalisme (ESJ), Paris, Perancis (1976-1981) ini pernah menjadi koresponden Majalah Berita Tempo di Paris, Perancis (1978-1981), pewarta Harian Kompas (1982-1985), Pemimpin Redaksi Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta (1985-1989), Redaktur Eksekutif Majalah Vista FMTV (1990-1992), Redaktur Eksekutif/Pemred Majalah Berita Forum Keadilan (1992-2003), Pemred Majalah telset (2002-2003), dan Pemred Majalah Hongshui Living Harmony (2004-2006).
Mantan anggota dan Ketua Komite Teater dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1992-1993), ini pernah menjabat Ketua Bidang Humas/Luar Negeri Organisasi Karyawan Film dan Televisi (KFT) (1996-1999), dan kini menjadi Ketua Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia GPBSI (2005-2008). Sejak 1990, suami dari Rayni N. Massardi, ayah dari dua putri (Cassandra Massardi dan Nakita Massardi) serta kakek seorang cucu (Bondi) ini, pernah tampil sebagai pemandu pelbagai acara talk-show di televisi tentang film, politik, dan kebudayaan, antara lain di RCTI, ANTV, TVRI, SCTV, dan MetroTV.
Daftar kategori: Orang hidup, Kelahiran 1954, Rintisan biografi Indonesia, Penulis Indonesia, Budayawan Indonesia

Nirwan Dewanto

Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.
Tulisan rintisan ini belum dikategorikan, tapi Anda dapat membantu Wikipedia .
Nirwan Dewanto adalah penyair dan esais. Ia dilahirkan di Surabaya, menghabiskan masa kanak dan remajanya di Banyuwangi dan Jember, dan menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam (dan pernah menjadi ketua redaksinya) dan kini menjaga Lembar Sastra pada Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007, ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, di mana ia merampungkan buku puisinya Jantung Lebah Ratu (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Ia tampil dalam sejumlah forum sastra internasional, yang terakhir adalah simposium bertajuk Home/Land di Paros, Yunani, pada musim panas 2008. Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Madison (Wisconsin).
Daftar kategori: Artikel yang perlu diwikifisasi, Rintisan umum

the end @copyright 2012

THE SAMPLE OF SOME LEGENT WRITERS WILL UPLOAD LATER.THE COMPLETE E-BOOK EXIST BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER P-LEASE SUBSCRIBE VIA COMMENT

THE END @COPYRIGHT 2012

The Indonesian legend writer Utuy Tatang Sontani history collections

THIS IS THE SAMPLE OF INDONESIAN LEGEND WRITTERS HISTORY COLLECTIONS,THE COMPLETE CD EXIST WITH FULL ILLUSTRATIONS BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER. LOOK THE PART OF UTUY TATANG SONTANI

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The Legend of Indonesian Writer history Collections

Part U

Utuy Tatang Sontani

Koleksi Sejarah Penulis legendaris  Indonesia

Bab U

Utuy Tatang Sontani   Based on

Dr Iwan Rare Old  and Vintage Books Collections             

             Created By

               

     Dr Iwan Suwandy,MHA

    Limited Private Publication In CD-ROM

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2012

INTRODUCTIONS

I have just find  a vintage magazine  Budaya 23,Year IX,Pebruary March 1960 ,in this rare magazine I find a informations of  Indonesia Legend Writer

 Utuy Tatang Sontani  written by H.B.Jassin

He created many books which famous one bunga rumah makan or the flower of food court.

 During era President Suharto, he flee to Russia because he joint the communist organization LEKRA which forbidden and banned by the Indonesian goverment.and he will put to jail at Pulau buru Island molluca if he still stayed in Indonesiam he never back to Indonesia again because He was pass away at Moscow in 1970

His book were forbidden to keep because related to the communist literature, very rare to found now because all were burned before,very lucky still exist  and may be this is the first report.

This was the part of the amizing and rare e-book about indonesian legend writers, I hope this informations will add the informations of Indonesian legend writers

 Jakarta May 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

DURING GOOGLE EXPLORATION I FOUND SOME INFO RELATED TO UTUY TATANG SONTANI

Utuy Tatang  Sontani

born in Cianjur, West Java, May 31, 1920, and died in Moscow, Soviet Union, 17 September 1979.

Literary works of members of the leadership LEKRA (1959-65) who wrote many novels and literary works of this drama are:

Flute (1948), Flower Restaurant (1948), Tambera (1949), People Shit (1951), Early and Mira (1952; BMKN awarded the National Literature, 1953), Human Iseng (1953), Dayang Sangkuriang Sumbi (1953 ), Other People’s Love There (1954), In Heaven There is a Star (1955), Street Children Welcome Kufr (1956), On the Front Page (1957), At the Genting (1958; received the National Literature Prize BMKN 1957-58), Human Cities (1961), Globs Animate Flesh (1961), Never Ageing (1963), The Sapar (1964), The Kampreng (1964), and translation dozen Tale (1949; Jean de la Fountain).

Utuy Tatang

Tatang Utuy Sontani (Cianjur, 1 May 1920 – Moscow, 1979), ’45 One of the leading forces, at first mainly because of the romance “Tambera” and the short stories collected in “People Shit” But he is more famous then with the play-lakonnya. Although the initial lakonnya “Flute” and “Flower Rumahmakan” is written as usual, but eventually he found a unique way of writing the play.
Among the play-nu lakonna kawentar nyaéta Early and Mira (1952), Other People’s Love There (1954), In Heaven There is a Star (1955), The Kuriang (1955), Street Children Welcome Kufr (1956), Si Kabayan (1959) , Jeung Never Ageing (1963).
Monday, September 17, 1979, leading the author died in Moscow, Soviet Union (Russia) from a heart attack. According Ajip Rosidi in his History of Literature Overview Indonesia, Utuy is one of Indonesia’s most important authors, including force” 45 and his name is lifted through romance Tambera, 1949, 1943 original backgrounds Sunda Banda state of the 17th century.
Before 1965, Utuy never been to Peking (Beijing) for treatment. Then from there he went to the Soviet Union as well as teaching at the Institute of Eastern Languages in Moscow.
According Ajip in the early 1960s, entered Utuy Lekra / PKI. This action by Ajip Rosidi referred to as’ sharp turn in the journey of life” Utuy. Because, before that, in his plays he really accentuate individualistic nature, which does not correspond to understand Lekra. His plays, baby There’s Others, such as displaying the tragedy that occurred due to the interference of others into one’s domestic life.
 Peak in the drama Utuy individualism, according to Ajip, contained in Sangkuriang.
 In a drama that turned into a libretto, the mythology of this Sunda gets new spotlight indiviualistis.
About motivation Utuy enter Lekra, Ajip difficult economic differences that drive he took that step.
Literary critic H.B. Jassin provide a place large enough for Indonesia Utuy in his book Literature and Modern Essays in Criticism. “In the essay, as if Sontani has many rewards us dramas, but quantity does not mean the quantity of contents.
The issues he presented in his many plays it mostly just wrote and I got the impression that some are still in the form of exercise “, wrote Jassin.
Utuy may be the author of the most advanced among the authors of his generation. He has a very keen sense of proportion and he succeeded in gripping the attention through variety and contrast, and especially his plays often soaring thanks to the skillful composition. Language is lively and interesting. To Sontani humor and irony is a powerful weapon. The deceased leaves a wife and 5 children Sontani
Author profile
 

born
May 01, 1920 in Cirebon, Indonesia
 

Died
Moscow January 01, 1979
 

gender
male
 

genre
Literature & Fiction, Biographies & Memoirs
 

 
About this author
 
’45 One of the leading forces, at first mainly because of the romance “Tambera” and the short stories collected in “People Shit”
But he is more famous then the play-lakonnya. Although the initial lakonnya “Flute” and “Flower Rumahmakan” is written as usual, but eventually he found a unique way of writing the play.
Other works:
“Early and Mira”, “Baby There’s People”, “In Heaven there are Stars”, “The Kuriang”, “Si Kabayan”, “Happy Street Children Kufr”, and “Never Ageing”

Utuy sent by the government of Indonesia in 1958 as a representative of Indonesia in the Asia-Africa Conference Directory in Tashkent, Uzbekistan. When Indonesia-political relations of the Soviet Union more intimate, Indonesia is the author of many works translated and published into the Russian language, including works Utuy, “Tambera”, which is thought to reflect the spirit of revolution and struggle of the people. Meanwhile, “Damn People”, just published in Tallinn, in Estonia, as too pessimistic, and only reveals the dark side of revolution.
On October 1, 1965 Utuy with a number of authors and journalists attended the celebration of Indonesia October 1 in Beijing at the invitation of the Chinese government. The outbreak of the G-30 in 1965 in Indonesia to make them Ramanujan are displaced in a foreign land. Back to Indonesia means arrested and accused of G-30, as experienced by so many of their comrades. Their situation more difficult when the RRT itself the Cultural Revolution broke out in 1966. Some people are stranded in Indonesia China finally decided to leave the country and went to Western Europe by the Trans Siberian train ride. Some of the passengers was stopped in Moscow, including Utuy and a number of his friends, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, and Soerjana, People’s Daily reporter.

Utuy arrival in Moscow in 1971 was warmly welcomed by the Soviet government and the scientific community there, especially since the name is well known Utuy through his works and his presence in the Asia-Africa Conference Directory in 1958. Utuy asked to teach Bahasa Indonesia and Literature in Moscow and had also produced a number of papers. He composed at least four novels and three autobiographies until he died in 1979 in Moscow. One of his novels that he wrote and published in Moscow is an old-fashioned Kolotok. The novel is printed only limited to the study of materials at the Department of Indonesia, Moscow State University. Under the Sky is Not Classified memoir and autobiography which recounts his experiences living in exile in the PRC and Russia.

When he died, in honor of the first headstone headstone was placed as the first Muslim cemetery in Moscow

Tatang Utuy Sontani in Exile

 “Under the Sky Not Classified”
Title: Under the Sky Not Classified

Author: Utuy Tatang Sontani

Publisher: Library Jaya, 2001

Thickness: 150 pages
 

This book is a collection of memoirs or autobiography of a writer Sunda, Utuy Tatang Sontani, which is one writer who helped define the history of Indonesia.

Born on May 13, 1920 in Cianjur earth and died on 17 September 1979 in Moscow, Soviet Union.

From the time span of his life, it has produced nineteen Utuy literature. His role as a poet can not be underestimated, given the scarcity of letters that can achieve such success Utuy.

In a book titled Under the Sky Not Classified tells how Utuy experience living in exile in the PRC and Russia.

At first, Utuy sent by the Indonesian government in 1958 as a representative of Indonesia in the Asia-Africa Conference Directory in Tashkent, Uzbekistan. When Indonesia-political relations of the Soviet Union more intimate, Indonesia is the author of many works translated and published into the Russian language, including works Utuy, “Tambera”, which is thought to reflect the spirit of revolution and struggle of the people. Meanwhile, “Damn People”, just published in Tallinn, in Estonia, as too pessimistic, and only reveals the dark side of revolution.

However, when Utuy visit to the PRC in September 1965, he was able to return to Indonesia pascameletusnya Events September 30th Movement of 1965. Utuy was a writer who can be called literary exiles who can not return to Indonesia. Meanwhile, Lekra valued as a cultural organization with the PKI. Therefore, it can not go home because Utuy considered a member of the government revoked his passport Lekra well as the impact Soeharto, Utuy can not return to his homeland until his death in the Soviet Union in 1979.

Utuy, a true individualist, and looked very beautiful “Communist”, clearly implied in the words of this book , “do not tell us as communists, who escorted us here because that has become a communist? to my knowledge, all of us new to the PKI. And a PKI is not necessarily a communist, as well as the Masyumi not necessarily a Muslim and not necessarily those of the Nationalist PNI. “

The book is packaged in a very simple grammar and can be understood from various circles. For the lovers of literature and history, this book is required to be collected.

Tatang Utuy Sontani, The Novel and Lekra Kuriang / PKI
 
Honestly, I’m a little bit surprised when the organizers of the Student Choir (PSM) Unpar inviting and made me as a guest speaker at the press conference Unpar the PSM birthday celebration. Not a problem other big name speakers who attended the event as Avip Priatna (musical conductor), Dian HP (composer), Sofwan Henry (director) and Beng Rahardian (comics). But the musical theme that revolves around questions about this version of the Kuriang Utuy Tatang Sontani to be used for pegelaran they would take.

 

How could I not surprised, of the many versions of the legend Pasundan Kuriang, why should choose the version Utuy Tatang Sontasi (abbreviated UTS)? UTS is the electronic invitation is clearly known is the armed version LEKRA! Lekra that in the annals of the art movement that is banned from one party PKI (Indonesian Communist Party).

For a moment I was a little begidik. Understandably, our families, especially from the father is very anti-family and across familiar with the PKI. I never remember how late father used to tell about the art competition art Lekra group against group. No need to detail is explained, from his snorting breath I know the feeling of the lack sukaan Lekra the art. And now, suddenly the invitation is made is at a crossroads. Petanyaan occurred, if I betray the deceased father by being willing to be guest speaker at the event?

Had a couple of days I just mute invitation. I’m still undecided, just moments before the show then I started to calm her feelings and began to pry information about the figure-orek Utuy Tatang Santoni and its relationship with the student choir Parahyangan University Bandung.

Shock increases. Starting from the Wikipedia site, biography Utuy surprise me. Apparently in the eyes of Wikipedia, Cianjur Utuy homeland was recognized as the state flag of the Dutch East Indies with the same color with the Dutch in 1920. Huaaa …

And surprise, surprise another party increases, among others about how great it is in the realm of authorship Utuy and books. Just imagine, at the age of 17 years has published a book titled legendary literary class ‘Tambera’ is her language. This book is a historical novel that takes place in the Maluku Islands in the 17th century. Before being appointed to the novel, was published in a newspaper article-speaking area and Sinar Sunda Sipatahoenan Pasundan in 1937. Gilee … it is so, his work was translated in Russian and other foreign languages.

After that, berjibun other works unfold like a collection of short stories, People Shit (1951), the play ‘Flute and Flower diner’ (1948), Early and Mira (1952), Sajang There is Other People (1954), In Heaven There Star (1955), The Kuriang (1955), Happy Child The way Kufr (1956), The Kabajan (1959), and Never become Old (1963). Lots of it?

Well my view about the relationship with LEKRA Utuy its PKI was little changed, information about the departure Utuy on October 1, 1965 at the invitation of the Government of the PRC and its reporters and other journalists to China makes it stuck in a messy political situation. Exactly 30 days later, events of the rebellion erupted G30S is very legendary. Utuy seemed to hesitate, if you choose to return to Indonesia will be directly in the cap of the PKI and may at his or her identity card will be stamped with the sign of ET and will be a handful of his descendants. While living in China was not a safe option for the same year until the year 1966 in China alone is ongoing Cultural Revolution.

It seems the choice is only one, namely the migration to Western Europe Trans Siberian train ride. There, UTS and some other friends like Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, and Soerjana, People’s Daily reporter stops in Moscow and plans to settle there. The plan, which was warmly welcomed by the government and the Soviet Union student who admires the works of literary and asked him to become one of the teacher / lecturer at Moscow State University.

Hmm, it seems very doubtful indeed UTS is an artist Lekra. Although the question had crossed again to the committee, why choose the Kuriang version of UTS versions answered Utuy and do not reveal the myths as stories that tend the other Kuriang tell the story more complex Odiepus or incest only. And according to one committee, the story is more easily translated version of UTS on stage with a classical music composition.

And if it really UTS Lekra, does not make sense of a group of University Student Choir is why even the Catholic faith-based lifting the benchmark pegelarannya? Not to mention, apparently UTS at death in 1979 by the government and the citizens of the Soviet Union put the first headstone on his grave as the first Muslim cemetery in Moscow as a tribute to him. Weleh-weleh ….

May not be too trusting ‘myth’ that make a big name UTS considered very smelly “Lekra / PKI”, when all religious streams flow there is also a very not believe the myth.

Well, finally after a moment I was willing to contemplate himself become one of the speakers at the event press release. Although not yet clear what exactly will be there. After all, at least now I realize that, despite the work that will be on his fellow Student Choir Unpar take UTS version which if true Lekra all, is not the time now to avoid direct means. At least need to look directly in order to add additional insight and discourse in order to (hopefully) more wise.

 
 
 

original info

Utuy Tatang Sontani

dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920, dan meninggal di Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979.

Karya-karya sastrawan anggota pimpinan LEKRA (1959-65) yang menulis novel dan banyak karya sastra drama ini adalah:

Suling (1948), Bunga Rumah Makan (1948), Tambera (1949), Orang-orang Sial (1951), Awal dan Mira (1952; mendapat hadiah Sastra Nasional BMKN 1953), Manusia Iseng (1953), Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Di Muka Kaca (1957), Saat yang Genting (1958; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), Manusia Kota (1961), Segumpal Daging Bernyawa (1961), Tak Pernah Menjadi Tua (1963), Si Sapar (1964), Si Kampreng (1964), dan terjemahan Selusin Dongeng (1949; Jean de la Fountain).

 

Utuy Tatang

Utuy Tatang Sontani (Cianjur, 1 Méi 1920 – Moskow, 1979), Salah seorang angkatan ’45 terkemuka, mula-mula terutama karena romannya “Tambera” dan cerita-cerita pendeknya yang dikumpulkan dalam “Orang-orang Sial” Tetapi ia kemudian lebih terkenal dengan lakon-lakonnya. Meskipun lakonnya yang awal “Suling” dan “Bunga Rumahmakan” ditulis seperti biasa, tapi akhirnya ia menemukan cara menuliskan lakon yang unik.
Di antara lakon-lakonna nu kawentar nyaéta Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Si Kabayan (1959), jeung Tak Pernah Menjadi Tua (1963).
Senin 17 September 1979, pengarang terkemuka tersebut wafat di Moskow, Uni Soviet (Rusia) akibat serangan jantung. Menurut Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Utuy adalah salah seorang pengarang Indonesia yang penting, termasuk angkatan’’45 dan namanya terangkat lewat roman Tambera, tahun 1949, aslinya Sunda 1943 yang berlatar belakang keadaan Banda abad ke-17.

Sebelum tahun 1965, Utuy pernah ke Peking (Beijing) untuk berobat. Kemudian dari sana ia pergi ke Uni Soviet serta mengajar pada Institut Bahasa-Bahasa Timur di Moskow.
Menurut Ajip pada awal 1960-an, Utuy masuk Lekra/PKI. Tindakan ini oleh Ajip Rosidi disebut sebagai ‘belokan tajam’’ dalam perjalanan hidup Utuy. Sebab, sebelum itu, dalam drama-dramanya ia sangat menonjolkan sifat individualistis, yang tidak sesuai dengan paham Lekra. Dramanya, Sayang Ada Orang Lain, misalnya menampilkan tragedi yang terjadi karena adanya campur tangan orang lain ke dalam kehidupan rumah tangga seseorang.

 Puncak individualisme dalam drama Utuy, menurut Ajip, terdapat dalam Sangkuriang.

 Dalam drama yang diubah menjadi sebuah Libretto ini, mitologi Sunda satu ini mendapat sorotan baru yang indiviualistis.

Tentang motivasi Utuy masuk Lekra, Ajip mengatakan bahwa kesulitan ekonomilah yang mendorong ia mengambil langkah tersebut.
Kritikus sastra H.B. Jassin memberikan tempat cukup luas bagi Utuy dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai. “Dalam jumlah karangan, seolah-olah Sontani telah banyak sekali menghadiahi kita drama-drama, tapi kuantitas hasil tidak berarti kuantitas isi.

Persoalan-persoalan yang dikemukakannya dalam sekian banyak drama itu kebanyakan sama aja dan saya mendapat kesan bahwa beberapa masih berupa latihan”, tulis Jassin.
Utuy mungkin merupakan pengarang yang paling mahir diantara pengarang-pengarang seangkatannya. Ia mempunyai perasaan yang sangat tajam terhadap proporsi dan dia berhasil dalam mencekam perhatian lewat variasi dan kontras, dan terutama drama-dramanya seringkali menjulang berkat komposisinya yang terampil. Bahasanya hidup dan menarik. Untuk Sontani humor dan ironi merupakan senjata yang kuat. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak Sontani

Author profile

 

born
May 01, 1920 in Cirebon, Indonesia

 

died
Moscow January 01, 1979

 

gender
male

 

genre

 

 
About this author
 
Salah seorang angkatan ’45 terkemuka, mula-mula terutama karena romannya “Tambera” dan cerita-cerita pendeknya yang dikumpulkan dalam “Orang-orang Sial”
Tetapi ia kemudian lebih terkenal dengan lakon-lakonnya. Meskipun lakonnya yang awal “Suling” dan “Bunga Rumahmakan” ditulis seperti biasa, tapi akhirnya ia menemukan cara menuliskan lakon yang unik. Karya-karya lainnya:
“Awal dan Mira”, “Sayang Ada Orang Lain”, “Di Langit ada Bintang”, “Sang Kuriang”, “Si Kabayan”, “Selamat Jalan Anak Kufur”, dan “Tak Pernah Menjadi Tua”
 
Utuy diutus oleh pemerintah Indonesia pada 1958 sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan. Ketika hubungan politik Indonesia-Uni Soviet semakin mesra, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy, “Tambera”, yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat. Sementara itu, “Orang-Orang Sial”, hanya terbit di Tallin, dalam bahasa Estonia, karena dianggap terlalu pesimistik dan hanya mengungkapkan sisi gelap revolusi.
Pada 1 Oktober 1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan 1 Oktober di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok. Pecahnya G30S pada 1965 di Indonesia membuat mereka terlunta-lunta di tanah asing. Kembali ke Indonesia berarti ditangkap dan dituduh terlibat G30S, seperti yang dialami oleh begitu banyak kawan mereka. Situasi mereka semakin sulit ketika di RRT sendiri pecah Revolusi Kebudayaan pada 1966. Sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan negara itu dan pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti di Moskwa, termasuk Utuy dan sejumlah kawannya, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakjat.Kedatangan Utuy di Moskwa pada 1971 disambut hangat oleh pemerintah Uni Soviet dan masyarakat ilmiah di sana, terutama karena nama Utuy sudah dikenal luas lewat karya-karyanya dan kehadirannya dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika pada 1958. Utuy diminta mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Moskwa dan sempat pula menghasilkan sejumlah karya tulis. Ia menyusun sekurang-kurangnya empat buah novel dan tiga otobiografi hingga ia wafat pada 1979 di Moskwa. Salah satu novelnya yang ditulisnya dan diterbitkan di Moskwa adalah Kolot Kolotok. Novel ini hanya dicetak terbatas untuk bahan studi di Jurusan Indonesia, Universitas Negara Moskwa.
 
Di Bawah Langit Tak Berbintang adalah memoar dan otobiografinya yang mengisahkan pengalamannya hidup di pengasingan di RRT dan di Rusia.
 

Ketika ia meninggal, sebagai penghormatan nisannya ditempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam pertama di Moskwa

 

Utuy Tatang Sontani, Novel Sang Kuriang dan Lekra/PKI 

Jujur saja, aku agak sedikit terkejut saat panitia dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar mengundang dan menjadikanku sebagai salah satu narasumber dalam acara press conference perayaan ultah PSM Unpar tersebut. Bukan masalah nama besar narasumber lain yang menghadiri acara tersebut seperti Avip Priatna (konduktor drama musikal), Dian HP (komposer), Wawan Sofwan (sutradara) dan Beng Rahardian (komikus). Tapi soal tema musikal yang berkisah soal Sang Kuriang ini versi Utuy Tatang Sontani yang akan digunakan untuk pegelaran yang akan mereka ambil. 

Bagaimana tidak kaget, dari sekian banyak versi legenda pasundan Sang Kuriang, kenapa mesti memilih versi Utuy Tatang Sontasi (disingkat UTS)? UTS  yang dalam undangan elektronik tersebut dengan jelas disebut adalah versi angkatan LEKRA! Lekra yang dalam catatan sejarah adalah gerakan kesenian dari satu partai terlarang yaitu PKI (Partai Komunis Indonesia).

Sejenak aku sedikit begidik. Maklum, keluarga kami, khususnya dari keluarga bapak sangat anti dan berseberangan paham dengan PKI. Aku pernah ingat, betapa almarhum bapakku dulu sering bercerita soal persaingan kesenian kelompoknya melawan kelompok seni Lekra. Tak perlu detail dijelaskan, dari dengusan nafas beliau aku tahu rasa ketidak sukaan terhadap kelompok seni Lekra tersebut. Dan kini, mendadak undangan itu membuatku berada pada persimpangan jalan. Terbersit petanyaan, apakah aku mengkhianati almarhum bapakku dengan kesediaan menjadi narasumber di acara tersebut?

Sempat beberapa hari aku hanya mendiamkan undangan tersebut. Aku masih bimbang, baru beberapa saat menjelang acara barulah aku mulai tenang perasaannya dan mulai mengorek-orek informasi sekitar sosok Utuy Tatang Santoni ini beserta hubungannya dengan kelompok paduan suara mahasiswa Universitas Parahyangan Bandung ini.

Keterkejutanku bertambah. Dimulai dari situs Wikipedia, biografi Utuy membuatku terkejut. Ternyata dimata Wikipedia, Cianjur tanah kelahiran Utuy itu diakui sebagai negara Hindia Belanda dengan warna bendera sama dengan Belanda di tahun 1920. Huaaa…
Lalu keterkejutan-keterkejutan lainpun bertambah, antara lain soal betapa hebatnya Utuy ini dalam ranah kepenulisan dan buku. Bayangkan saja, pada usia 17 tahun sudah menerbitkan buku berkelas sastra yang legendaris berjudul ‘Tambera’ yang ber-bahasa Sunda. Buku ini adalah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17. Sebelum diangkat menjadi novel, tulisan ini dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun 1937. Gilee… sudah begitu, karya nya pun di terjemahkan dalam bahasa Rusia dan bahasa asing lainnya.

Setelah itu, berjibun karya lainnya tergelar seperti kumpulan cerita pendeknya, Orang-orang Sial (1951), Lakon ‘Suling dan Bunga Rumah makan’ (1948), Awal dan Mira (1952), Sajang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Djalan Anak Kufur (1956), Si Kabajan (1959), dan Tak Pernah Mendjadi Tua (1963). Banyak sekali kan?

Nah pandanganku soal hubungan Utuy dengan LEKRA-nya PKI pun sedikit berubah, informasi soal keberangkatan Utuy tanggal 1 Oktober 1965 atas undangan Pemerintah RRC beserta wartawan dan jurnalis lainnya ke Tiongkok membuatnya terjebak dalam situasi politik yang carut marut. Tepat 30 hari kemudian, meletuslah peristiwa pemberontakan G30S yang sangat melegenda itu. Utuy sepertinya bimbang, jika memilih pulang ke Indonesia akan langsung di cap PKI dan mungkin di KTP nya akan diberi cap tanda ET dan bakal merepotkan anak cucunya. Sedangkan hidup di Tiongkok pun bukan pilihan yang aman sebab di tahun yang sama sampai dengan tahun 1966 di tiongkok sendiri sedang berlangsung Revolusi Kebudayaan.

Sepertinya pilihannya hanya satu, yaitu migrasi ke Eropa Barat menumpang kereta Trans Siberia. Disana, UTS  beserta beberapa kawannya yang lain seperti Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakjat berhenti di Moskwa dan berencana menetap disana. Rencana yang disambut hangat oleh pemerintah dan pelajar Uni Soviet yang sangat mengagumi karya-karya sastranya dan memintanya menjadi salah satu pengajar/dosen di Universitas Negara Moskwa.

Hmm, sungguh sepertinya memang sangat diragukan UTS  adalah seorang seniman Lekra. Walau sempat terlintas pertanyaan lagi kepada panitia, kenapa memilih Sang Kuriang versi Utuy dan dijawab versi UTS tidak terlalu menonjolkan mitos seperti kisah-kisah Sang Kuriang lain yang cenderung lebih banyak menceritakan kisah Odiepus complex atau Incest saja. Dan menurut salah satu panitia, cerita versi UTS  lebih mudah diterjemahkan di atas panggung dengan komposisi musik klasik.

Dan kalau memang UTS benar-benar Lekra, sungguh tidak masuk akal sebuah kelompok Paduan Suara Mahasiswa dari universitas yang berbasis agama Katolik kok malah mengangkatnya jadi patokan pegelarannya? Belum lagi, ternyata UTS saat meninggal di tahun 1979 oleh pihak pemerintah dan warga Uni Soviet menempatkan nisan beliau sebagai nisan pertama pada pemakaman Islam pertama di Moskwa sebagai penghormatan kepada beliau. Weleh-weleh….

Mungkin tidak terlalu percaya ‘mitos’ itulah yang membuat nama besar UTS  dianggap sangat berbau “Lekra/PKI”, padahal semua aliran agama juga terdapat aliran yang sangat tidak mempercayai mitos.

Ya sudah, akhirnya setelah sejenak merenungkan diri—aku bersedia menjadi salah satu narasumber di acara press release tersebut. Walau belum jelas betul akan menjadi apa disana. Toh setidaknya kini aku sadar, terlepas karya yang akan di gelar rekan-rekan Paduan Suara Mahasiswa Unpar mengambil versi UTS yang kalau memang benar Lekra-pun, bukan saatnya sekarang berarti langsung menghindari. Setidaknya perlu melihat langsung agar menambah wawasan dan wacana tambahan agar (semoga) makin bijaksana.

Books by Utuy Tatang

Utuy Tatang Sontani dalam Pengasingan “Di Bawah Langit Tak Berbintang”

Judul : Di Bawah Langit Tak Berbintang

Penulis : Utuy Tatang Sontani

Penerbit : Pustaka Jaya, 2001

Tebal : 150 halaman

 

Buku ini adalah kumpulan dari memoar atau otobiografi seorang sastrawan Sunda, Utuy Tatang Sontani, yang merupakan salah satu sastrawan yang turut menentukan perjalanan sejarah Indonesia. Dilahirkan pada 13 Mei 1920 di bumi Cianjur dan wafat pada 17 September 1979 di Moskwa, Uni Soviet. Dari masa kurun hidupnya itu, Utuy telah menghasilkan sembilan belas karya sastra. Perannya sebagai sastrawan memang tak bisa dipandang sebelah mata, mengingat jarangnya sastrawan yang dapat mencapai kesuksesan seperti Utuy.

Dalam buku yang berjudul Di Bawah Langit Tak Berbintang menceritakan bagaimana pengalaman Utuy yang hidup dalam pengasingannya di RRC dan Rusia.

Pada awalnya, Utuy diutus oleh pemerintah Indonesia pada 1958 sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan. Ketika hubungan politik Indonesia-Uni Soviet semakin mesra, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy, “Tambera”, yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat. Sementara itu, “Orang-Orang Sial”, hanya terbit di Tallin, dalam bahasa Estonia, karena dianggap terlalu pesimistik dan hanya mengungkapkan sisi gelap revolusi.

Namun, saat Utuy berkunjung ke RRC pada September 1965, ia tak dapat pulang kembali ke Indonesia pascameletusnya Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Utuy pun menjadi sastrawan yang bisa disebut sastrawan eksil yang tidak bisa pulang ke Indonesia. Sementara, Lekra dinilai sebagai organisasi kebudayaan yang dekat dengan PKI. Karena itu, Utuy tak dapat pulang karena dianggap sebagai anggota Lekra serta paspornya dicabut pemerintahan Soehart yang berimbas Utuy tidak dapat pulang ke tanah airnya hingga wafat di Uni Soviet pada tahun 1979.

Utuy, seorang Individualis sejati dan memandang sangat indah “Komunis”, tersirat jelas dalam kata-kata dibuku ini, “jangan bilang kita sebagai orang komunis, sebab disini siapa diantar kita yang sudah menjadi komunis? setahu saya, kita semua baru menjadi orang PKI. Dan seorang PKI belum tentu orang komunis, seperti juga orang Masyumi belum tentu orang Islam dan orang PNI belum tentu Nasionalis.”

Buku ini dikemas dalam tata bahasa yang sangat sederhana dan dapat dipahami dari berbagai kalangan. Bagi para pencinta sastra dan sejarah, buku ini wajib untuk dikoleksi.

Utuy Tatang sontani’s book

 
Di Bawah Langit Tak Berbintang Di Bawah Langit Tak Berbintang
by Utuy Tatang Sontani, Ajip Rosidi (Introduction)
3.73 of 5 stars 3.73 avg rating — 15 ratings — published 2001
My rating:

didn't like it it was ok liked it really liked it it was amazing
Menuju Kamar Durhaka: Sepil... Menuju Kamar Durhaka: Sepilihan Cerita Pendek Karya Sastrawan Eksil
by Utuy Tatang Sontani, Ajip Rosidi (Introduction)
3.43 of 5 stars 3.43 avg rating — 7 ratings — published 2002
My rating:

didn't like it it was ok liked it really liked it it was amazing
Sang Kuriang: Libretto Dala... Sang Kuriang: Libretto Dalam Dua Babak (Seri Sastra Nostalgia)
3.5 of 5 stars 3.50 avg rating — 4 ratings — published 1959
My rating:

didn't like it it was ok liked it really liked it it was amazing
Tambera Tambera
3.5 of 5 stars 3.50 avg rating — 2 ratings — published 1952
My rating:

didn't like it it was ok liked it really liked it it was amazing
Bunga Rumah Makan Bunga Rumah Makan
0.0 of 5 stars 0.00 avg rating — 0 ratings
My rating:

didn't like it it was ok liked it really liked it it was amazing

 

Utuy Tatang Sontani

Author of

THE FLOWER OF FOOD COURT

(BUNGA RUMAH MAKAN)
By
H.B.Jassin

Culture, Magazine, Year IX, Feb-March 1960
(Dr. Iwan collections)

In the description we may note the excess essay Sontani from year to year as follows:

In 1948
Published two books are allegorical plays flute in the form of poetry and one-act drama EATING HOUSE FLOWERS

1949 a tender
Tambora historical romance.

 

In 1951
Short story collection PEOPLE – those pesky

 

In 1952
One-act plays AWAL AND MIRA

 

Next we see in some Majalah Drama One episode  s too, namely:

 

In 1953
HUMAN fun and Sangkuriang-Dayang Sumbi

 

In 1954
LOVE SOMEONE ELSE

 

In 1955
NO STARS in the sky
In 1956
STREET CHILDREN WELCOME KUFUR

(SELAMAT JALAN ANAK KUFUR)

 

Year 1957
ADVANCE GLASS


And
In 1958
Published as a book
 SANG KURIANG

 

Libretto in two rounds
In an interview with the Editor, Story 1) Sontani said that the basic story is “HUMAN TRAGEDY ‘(in the sense wardelijk) in the middle instead of Man (” ontmouselijk “) and to the question why, he wrote one-act stage play and not a few rounds he explained that the one-act drama she can focus on the human issues within a specific time, the question of man at that time in his life that was so long.
“Provides a human issue at a time” so Sontani, “It is an approach close enough to the truth.”
Description sontani think my eyesight is true for his plays, published later, the first is still showing the composition of the traditional problems of traditional flute consists of 13 scenes between the first and last serving as a prologue and epilogue Drama-Drama and then the banner of Sri issues in the midst of living in a society that is reviewed by the authors of the proximity and the longer the closer into the pounding of her heart.
What is the problem sontani Man? In more detail: What is a HUMAN FREEDOM? TO WHERE PEOPLE CAN FREE TO THE PUBLIC attachment, TO AROUND, TO HIMSELF?

 

Of the matter by Sontani  we see the essence of the approach is reminiscent of the L’evolution creatrice Bergson, Freud and philosophy of life pscychoanalisis exislensialisme. The way how Sontani influenced by Freud is still a question for saya.Pasti with knowledge of Freudian psychology readers will be able to meninjaukan in the essay-essay-sample contohyang menginggatkan to psychoanalisa.

 

I doubt whether Sontani get first-hand knowledge, from books written by Freud himself. Maybe he get it from second hand, from Freud to briefly talk about the popular bias or inferred by appealing it may also influence seeping from the essays in literary creation consciously and with understanding Freud’s theories in his writing implement.
How many authors who are acquainted with the essay Idrus and then in the implementation of free writing and painting as a mature science In -Freud.’s science

 

Determine whether a person is affected or not by Freud at first hand atapun second hand, becomes difficult because Freud was too well known through popular writings are easy to understand and not too difficult to be implemented preformance of thought.

 

But there was a time even Freud no authors who paint psychoanalitis. It is not surprising that after Freud there, the bias also analyze psychoanalisis without knowing Freud. Only for the person that is difficult to prove its authenticity and others who know Freud’s easy to accuse him of taxable real influence of Freud.

 

For possible bias dijadikkan Sontani perkenalnnya pointer of the second hand. When Mahmud in “When the Genting” said he watched “The story (the film) based on depth psychology” (p. 135) and therefore does not invite his wife.

 

Is unreasonable when people grumble that the world depicted in Sontani sepereti “HUMAN fun” and others not in masyarakt. No one is so freely trample on all rules and ethics as the master Kasim and Tuti.
Mrmang drama Sontani only pendagingan of passions and desires that are normally hidden but can not deny the existence of bias.

 

Say fantasy but rooted in the very core of human nature. The same problem peeled Sontini preformance “ADVANCE GLASS” and “critical moment”, where the painter and Mahmud are both facing a turbulent passions libido with Jeti and Karlin as an object, two girls who eventually mendapt victory over lust animal fathers.

 

In this case Sontai majors have their own thoughts that deviate from the Department of Freud’s mind, and elements-elements that we hear when existensialisme Mahmud said: “The so-called sense of responsibility (to you) it is simply human pretense, seab man alone in the world and in solitude need others to friends and enemies at all, for love and lust goals “(p. 142 WHEN A Genting”)

 

In the essay as if Sontani has presented us a lot of dramas, but the quantity (quantity) this result does not mean kwatiti content. Issues that have been suggested in the many dramas that most of the same and I get the impression that some form of exercise is still unfinished.
It seems the mental development of the characters of the drama of one into another drama.

 

The play, then a perlanjutan (continuation) of the previous drama or the individual’s mind or in the development of one corner of the experience.

 

If we are looking for equality-equality in the context of the story, pertokohan and issues then we will get the following:

 

Pertokohan about the “flute” and “INTEREST HOME EATING” CAN THE MENARUS PERSERUPAAN banner by artist Alexander, Sri and ani, Comrade First and Karnaen; Comrade Second and Kijai Usman, Kawsn Third and Sudarma shop owner, and friend Fourth and police.
Are not we meet in “flute” is ekwivalentnya Suherman a satirical character by author to the Army.

 

If the “INTEREST RATE Rumah Makan ” FRAGILE Sontani bring us home to eat, then the dam ‘AWAL  AND MIRA “(Dr Iwan Note, info last book was banned by the Deputy Minister of Education of the Republic of Indonesia) is the neighborhood coffee shop, is Mira, who like Ani’s also from “EATING HOUSE FLOWERS relationship” became acquainted with an eccentric young man Karnae in “Interest rate restaurant”, it can be considered the prototype of the host sebahgai

 

Eunuch in “HUMAN fun” and Hamdani in “NO STARS in the sky”, while the old-fashioned type Kijai several times Secondly we find a friend in a “flute”, as kijai Usman dam “INTEREST RATE EATING HOUSE” AS A PARENT in the “early and mira” and as a pilgrimage Salim in “LOVE SOMEONE ELSE ‘

 

In “Man kicks” Kasim family living in luxury but between Kasim and wife there is no harmony in the intercourse of daily life.

 

Mrs Kasim who suspect that the vapidity that arise because they do not have kids, take a Tuti niece living with them.

 

Between Tuti and Kasim occurred romance relationships that give rise to clashes between Kasim and wife, Kasim then be car accident and in pain when he mentions his wife Dewi nam, who heard ingauan Tuti was disappointed and left the husband and wife.

 

Something similar happened also in the “heavens NO STARS” Hamdan who also lives in the eyes can not quite get along with his wife and to fill the emptiness nurture young widow Marlina, also women like Tuti riah.

 

Hamdan was severely hit by the ex-husband Rodi Marlina and unconscious while his wife who refused to serve him sent for Marlina, but when he regained consciousness hamdani mention his wife’s name Supraba. This menimbulkn disappointed at Marlina and he left the Hamdani.

 

The type of husband that we encounter empty Tuti also visit the “HAPPY STREET CHILDREN KUFR” as the guest of Mr. Kasim’s experience in “Human fun” Tuti said to want to pounce like a tiger pounce kemenakannyas goats. Behavior in “ADVANCE GLASS” as well as his son Jerti would pounce like a tiger.
It seems as though there is no equality ‘LOVE SOMEONE ELSE “with other Sontini drama. It is only at the end of the story appears the wolf’s eyes are in his mind remberance  in Iskandar “INTEREST RATE HOME EATING”, but Curry is a version of the wolf is more radical, an anarchist, which is not bound to anything.

 

Her notions of illicit, illegal, adultery, it is outdated notions which are not in the dictionary.
Hamid a moderate type that reinforce this character. The wolf’s eyes the way of thinking we menginggatkan to Tuti utterances preformance “HUMAN fad” and the painter in “ADVANCE GLASS”.

 

Philosophy women  disappointed in “the heavens NO STARS” and in its mother’s abusive pimp in “HAPPY CHILDREN KUFR ROAD”, three is three-to-face with one point as well.

 

In the “NO STARS in the sky” Rodi “penganggur” raised so that His wife was unfaithful and left him for not living death. Marlina looking for others, expecting a luxurious life with others.

 

 In “LOVE SOMEONE ELSE” Suminta we met, an employee who lives not sufficient, but the wife loves her Mini to create domestic tranquility he is looking for additional income by doing that can not be unfaithful husband agreed. Although the different nature of the problems we see similarities also in Rodi and Suminta. Likewise Marlina and Mini, both have the same mind with Hamdan and the wolf’s eyes in “LOVE SOMEONE ELSE ‘

 

And so we continued looking for the bus aterus equations in Sontani drama, It’s an interesting pkrjaan important lbih probing drama, but one by one and look up where he succeeded in exposing his heart problems.

For that I am talking about the results one by one “flute”, “EARLY AND MIRA”. “DRAMA OTHER” “Kufr kids goodbye”, and “THE KURIANG”
 ends with a poem

Ah ignorance! Finally, I must confess
That everyone who witnessed the presence
That’s what I know
This is the truth-beanrnya sebeanr
That stopped me was wondering

 

Jakarta 15 Januati 1960
H.B.Jassin

(More text is not displayed, only for premium members, can be read in E-BOOK IN THE CD-ROM-equipped)
THIS IS FOR PREMIUM MEMBERS sequel)

 

 

 

ORIGINAL INFO

Bunga Rumah Makan

By

H.B.Jassin

Budaya,Magazine,Year IX,Peb-March 1960

(collections dr Iwan,EJAAN DISESUAIKAN)

Secara uraian dapatlah kita mencatat kelebihan karangan Sontani dari tahun ketahun  seperti berikut:

Tahun 1948

Terbit dua bukunya yaitu drama allegoris  dalam bentuk puisi  SULING dan drama satu babak  BUNGA RUMAH MAKAN

Tahum 1949

Roman sejarah TAMBORA.

Tahun 1951

Kumpulan cerita Pendek  ORANG – ORANG SIAL

Tahun 1952

Drama satu babak  AWAL DAN MIRA

        Selanjutnya kita lihat  dalam beberapa MajalahDraba sebabak pula,yaitu:

Tahun  1953

MANUSIA ISENG dan SANGKURIANG-DAYANG SUMBI

Tahun 1954

SAYANG ADA ORANG LAIN

Tahun 1955

DILANGIT ADA BINTANG

Tahun 1956

SELAMAT JALAN ANAK KUFUR

Tahun 1957

DIMUKA KACA

Dan

Tahun 1958

Terbit sebagai buku

 SANG KURIANG

Libretto dalam dua babak

Dalam suatu wawancara dengan Redaksi,Kisah 1) Sontani mengatakan bahwa dasar ceritanya ialah “TRAGEDI MANUSIA” (dalam pengertian wardelijk) ditengah-tengah bukan Manusia(”ontmouselijk”) dan atas pertanyaan mengapa,Ia menulis cerita sandiwara satu babak  dan tidak beberapa babak ia menerangkan  bahwa dalam  drama satu babak ia dapat  menitik- beratkan  pada persoalan manusia didalam suatu waktu ,persoalan manusia pada waktu didalam hidupnya yang begitu panjang.

“Menyuguhkan persoalan manusia pada suatu waktu” demikian Sontani,”Adalah  pendekatan yang sedekat-dekatnya kepada yang sebenarnya.”

Keterangan sontani ini menurut penglihatan saya berlaku bagi drama  -dramanya  yang terbit kemudian , yang pertama masih memperlihatkan komposisi tradisionil dengan persoalan-persoalan tradisionil SULING terdiri dari 13 adegan antaranya yang pertama dan terakhir  bertugas sebagai prolog dan epilog Drama- Drama kemudian adalah persoalan Sri dan Pandji ditengah-tengah hidup bermasyarakat yang ditinjau oleh pengarang dari jarak yang dekat dan makin lama  makin dekat kedalam degup hati nurani.

Persoalan sontani ialah Apakah Manusia? Dengan lebih terperinci :Apakah  yang disebut KEBEBASAN MANUSIA?SAMPAI KEMANA MANUSIA BISA BEBAS DALAM KETERIKATANNYA KEPADA MASYARAKAT,KEPADA SEKITARNYA,KEPADA DIRINYA?

Dari pengemukaan soal oleh Sontani kita lihat pendekatan hakekat yang mengingatkan pada L’evolution creatrice Bergson,pscychoanalisis Freud dan filsafat hidup exislensialisme. Cara bagaimana Sontani dipengaruhi oleh Freud masih pertanyaan bagi saya.Pasti dengan pengetahuan ilmu jiwa Freud pembaca akan dapat meninjaukan dalam karangan- karangannya contoh-contohyang menginggatkan kepada psychoanalisa.

Saya ragukan apakah Sontani mendapat pengetahuannya dari tangan pertama,dari buku-buku yang ditulis Freud sendiri. Mungkin dia memperolehnya dari tangan kedua, dari selintas pembicaraan  tentang freud yang secara popular bias disimpulkan dengan menarik hati atau mungkin juga pengaruh itu merembes dari karangan-karangan sastrawan yang dalam penciptaannya secara sadar dan dengan pengertian melaksanakan teori Freud dalam karangannya.

Betapa banyak pengarang yang secara ini berkenalan dengan karangan Idrus dan kemudian dalam pelaksanaan bebas menulis dan melukis sebagai orang yang matang dalamilmu-ilmu Freud.

Memastikan apakah seseorang terpengaruh atau tidak oleh Freud dari tangan pertama atapun tangan kedua , menjadi sukar karena Freud sudah terlalu dikenal melalui tulisan-tulisan popular yang mudah dimengerti dan tidak terlalu sukar dilaksanakan dalm pemikiran.

Tapi ada suatu masa bahkan Freud  belum ada pengarang-pengarang yang melukis psychoanalitis. Maka tidak mengherankan kalau sesudah Freud  ada, orang bias juga menganalisa secara psychoanalisis tanpa mengenal Freud. Hanya bagi orang itu sukar membuktikan keasliannya dan orang lain  yang mengenal Freud gampang saja menuduhnya  kena pengaruh yang nyata dari Freud.

Bagi Sontani  mungkin bias dijadikkan  penunjuk perkenalnnya dari tangan kedua. Apabila Mahmud dalam”Saat yang  Genting”mengatakan bahwa ia menonton”Cerita (film yang) berdasarkan ilmu jiwa yang mendalam”(hal 135) dan karena itu tidak mengajak isterinya .

Adalah beralasan apabila orang menggerutu bahwa dunia yang dilukiskan Sontani sepereti dalam “MANUSIA ISENG” dan lain-lain tidak ada dalam masyarakt. Tidak ada orang yang begitu bebas menginjak-injak  segala aturan  dan tata susila seperti tuan Kasim dan Tuti.

Mrmang drama Sontani hanya pendagingan dari nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan yang biasanya terpendam tapi tak bias disangkal adanya.

Katakanlah fantasi tapi berakar pada hakekat manusia yang paling inti. Persoalan yang sama dikupas  Sontini  dalm “DIMUKA KACA”  dan “ SAAT YANG GENTING” , dimana pelukis  dan Mahmud sama-sama menghadapi nafsu libido yang bergolak dengan Jeti dan Karlin sebagai objeknya , dua orang gadis yang akhirnya mendapt kemenangan atas nafsu hewani ayah-ayahnya.

Dalam hal ini Sontai punya jurusan pikiran sendiri  yang menyimpang  dari jurusan pikiran Freud , dan anasir-anasir existensialisme yang kita  dengar  apabila Mahmud berkata :” Yang  disebut rasa tanggung jawab(padamu) itu  sebetulnya hanyalah kepura-puraan manusia , seab manusia  itu sendirian didunia dan didalam kesepiannya membutuhkan orang lain untuk kawan dan lawan sekali, untuk sasaran cinta dan nafsunya”(hal 142  SAAT Yang Genting”)

Dalam jumlah karangan seolah-olah   Sontani telah banyak sekali menghadiahkan kita  drama-drama , tetapi kuantiti(quantity)  hasil ini tidak berarti kwatiti  isi. Persoalan yang dikemukankan dalam sekian banyak  drama itu kebanyakan sama dan saya mendapat kesan bahwa beberapa masih berupa latihan yang belum selesai.

Hal ini Nampak pada perkembangan  jiwa tokoh-tokohnya  dari drama yang satu ke drama yang lain. Drama yang kemudian merupakan perlanjutan(kelanjutan)  dari drama terdahulu atau dalam jalan pikiran perorangan  atau dalam perkembangan salah satu sudut pengalaman.

Kalau kita cari persaman-persamaan  dalam rangka cerita,pertokohan dan persoalan maka akan kita dapatkan yang berikut:

Mengenai pertokohan dalam”SULING” dan”BUNGA RUMAH MAKAN” DAPAT MENARUS PERSERUPAAN ANTARA Pandji dengan seniman Iskandar, Sri dan ani,Kawan Pertama dan  Karnaen;Kawan Kedua dan Kijai Usman,Kawsn Ketiga dan  Pemilik warung Sudarma, dan Kawan Keempat dan Polisi.

Yang tidak kita temui dalam” SULING” ialah ekwivalentnya Suherman yang menurut pengarang tokoh sindiran kepada Tentara.

Apabila dalam “BUNGA BUNGA RUMA MAKAN” Sontani membawa kita kelingkungan rumah makan,maka dam ‘AWAL DAN MIRA”(Dr Iwan Note,info terakhir buku ini dilarang oleh Wakil Menteri Pendidikan Republik Indonesia) lingkungan itu ialah kedai kopi, ialah Mira,yang seperti juga si Ani dari”BUNGA BUNGAN RUMAH MAKAN”  berkenalan dengan  pemuda eksentrik  Karnae dalam “Bunga bunga rumah makan” , dapatlah dianggap sebahgai prototip dari tuan Kasim dalam “MANUSIA ISENG” dan Hamdani dalam “DILANGIT ADA BINTANG” , sedangkan tipe Kijai  kolot beberapa kali kita temukan sebagai Kawan Kedua dalam “SULING” , sebagai kijai Usman  dam”BUNGA BUNGA RUMAH MAKAN” SEBAGAI SEORANG TUA  DAlAM ”awal dan  mira” dan sebagai haji Salim dalam “ SAYANG ADA ORANG LAIN”

Dalam”MANUSIA ISENG” keluarga Kasim hidup mewah tapi antara Kasim dan Isterinya tidak terdapat harmoni dalam pergaulan hidup sehari-hari. Nyonya Kasim yang menduga bahwa kehambaran itu timbul karena mereka tidak punya anak, mengajak seorang kemenakan perempuan Tuti tinggal bersama mereka.

Antara tuti dan Kasim terjadi hubungan romance yang menimbulkan bentrokan antara Kasim dan Isterinya, Kasim kemudian dapat kevcelakaan mobil dan dalam ingauannya tatkala sakit, ia menyebut-nyebut nam isterinya Dewi, Tuti yang mendengar ingauan itu kecewa lalu meninggalkan suami isteri tersebut.

Hal serupa itu terjadi pula dalam”DILANGIT ADA BINTANG” dimata Hamdan yang juga hidup cukup tak dapat rukun dengan isterinya dan untuk mengisi kekosongannya memelihara janda muda Marlina,juga perempuan riah seperti Tuti.

Hamdan kemudian dipukul oleh Rodi bekas suami Marlina dan tak sadar diri beberapa waktu isterinya yang tak mau melayaninya menyuruh panggil Marlina,tapi tatkala hamdani siuman kembali ia menyebut –nyebut nama isterinya Supraba. Ini menimbulkn kecewa pada Marlina dan iapun meninggalkan Hamdani.

Tipe suami yang kosong kita temui pula mengunjungi Tuti dalam “SELAMAT JALAN ANAK KUFUR” sebagai tamu pengalaman Tuan Kasim dalam”MANUSIA ISENG” dikatakan mau menerkam kemenakannyas Tuti seperti harimau menerkam kambing. Perilaku dalam”DIMUKA KACA” juga seperti mau menerkam anaknya Jerti seperti harimau.

Nampaknya seolah tak ada persamaan”SAYANG ADA ORANG LAIN”  dengan drama Sontini lain. Memang hanya pada akhir cerita muncul si Mata Serigala yang dalam jalan pikirannya menginggatkan pada Iskandar”BUNGA BUNGA RUMAH MAKAN”, tapi Si Mata serigala ini suatu versi yang lebih radikal,seorang anarkis,yang tidak terikat kepada apapun juga.

Baginya pengertian-pengertian haram,sah,zinah, itu adalah pengertian-pengertian usang yang tak terdapat dalam kamusnya.

Hamid suatu tipe moderat yang memperkuat tokoh ini. Djalan pikiran Si Mata serigala menginggatkan kita juga kepada ucapan-ucapan Tuti dalm”MANUSIA ISENG” dan  Pelukis dalam”DIMUKA KACA”.

Filsafat waniat kecewa dalam “DILANGIT ADA BINTANG” dan dalam bentuknya yang kasar si Ibu Germo dalam”SELAMAT JALAN ANAK KUFUR”, ketiganya merupakan tiga muka dengan satu pokok juga.

Dalam”DILANGIT ADA BINTANG” dimunculkan penggur Rodi yang Isterinya jadi tidak setia dan meninggalkannya karena tak mau hidup melarat. Marlina mencari orang lain,mengharapkan hidup mewah dengan orang lain. Dalam”SAYANG ADA ORANG LAIN”  kita berkenalan dengan Suminta, seorang pegawai yang hidup tak kecukupan, Isterinya Mini mencintainya tapi untuk menciptakan ketenangan rumah tangga ia cari tambahan penghasilan dengan melakukan perbuatan serong yang tak mungkin disetujui suaminya. Meskipun berlainan sifat kita lihat persamaan persoalannya juga pada Rodi dan suminta. Begitupun Marlina dan Mini ,keduanya punya arah pikiran yang sama juga dengan Hamdan dan si mata Serigala dalam”SAYANG ADA ORANG LAIN”

Demikianlah kita bis aterus berlanjut cari persamaan-persamaan dalam dramanya Sontani, Ini satu pkrjaan yang menarik tapi lbih penting menyelidik dramanya satu persatu dan melihat sampai kemana ia berhasil dalam mengungkap persoalan-persoalan kalbunya . Untuk itu saya bicarakan hasilnya satu persatu “SULING”,”AWAL DAN MIRA”.”DRAMA LAIN” “selamat jalan anAk kufur”,Dan”SANG KURIANG”  

 diakhiri dengan sebuah sajak

Ah ketidak tahuan ! Akhirnya aku musti mengaku

Bahwa setiap yang kusaksikan dengan kehadiranku

Itulah yang aku tahu

Inilah kebenaran yang sebeanr-beanrnya

Yang menghentikan aku bertanya-tanya

Jakarta 15 Januati 1960

H.B.Jassin

 

(tulisan lebih lanjut tidak ditampilkan, hanya untuk anggota premium,dapat dibaca dalam E-BOOK DALAM CD-ROM yang lengkap)

KHUSUS UNTUK ANGGOTA PREMIUM INILAH LANJUTANNYA

the end @copyright 2012