KISI INFO INDONESIA ABD-19(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

ABAD KE 19

BAGIAN PERTAMA

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Koleksi Sejarah Indonesia

Abad 19

The Indonesia Historic Collections 1800-1900

 

 

Javanese opium-smokers

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

 Private Limited Edition

Special For Senior Collectors

 

Copyright@201

 

 

1800

 

After the VOC was formally liquidated in 1800, the Batavian Republic expanded all of the VOC’s territorial claims into a fully-fledged colony named the Dutch East Indies. From the company’s regional headquarters, Batavia evolved into the capital of the colony. During this era of concurrent urbanisation and industrialisation, Batavia was involved in the inceptive stage of most of the colony’s modernising developments(wiki)

 

1800

 

Dja’s Datoek Batoeah and brother at Tilatang kamang Payakumuh) in 1800

 

1804

Tiga orang ulama yang kembali dari ibadah haji mereka pada tahun 1804, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik, menjadi penganjur gerakan puritanisme agama Islam di Sumatera Barat.[23]

Mereka menyerang adat dan kebiasaan lama yang meraka anggap tidak sesuai, dan mendesak masyarakat untuk melakukan kewajiban formal agama Islam.[23] Terjadilah perang saudara pada tahun 1803-1838 antara Kaum Padri (kelompok pendukung) dan Kaum Adat (kelompok penentang) gerakan tersebut.[23]

Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) adalah ulama dari Bonjol, Pasaman, yang kemudian menjadi salah seorang pemimpin dalam Perang Padri itu.[24]

Ia menjadi pemimpin setelah wafatnya Haji Miskin dan Tuanku Nan Renceh yang memimpin Kaum Padri sebelumnya.[24] Tuanku Imam Bonjol di kemudian hari mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Indonesia atas perjuangannya dalam melawan kolonialisme

 

1800

Rantau Pariaman 1800-1850: Perang Paderi, Ekspansi dagang dan konsolidasi politik Belanda di utara Padang.

 

Wilayah rantau Pariaman meliputi dataran rendah sempit coastallowland di sebelah barat dataran tinggi Minangkabau yang membentang antara batang Anai di selatan batas dengan wilayah Padang dan Tiku di utara kota pariaman batas wilayah merantau pasaman dan ke pedalaman hingga tepi barat danau Maninjau. Kota terpenting di rantau pariaman adalah pariaman. Kota ini sudah lama memegang peran penting sebagai enterpot (pelabuhan-gudang), dengan segala fluktuasinya. Di zaman kejayaan perdagangan laut di pantai barat Sumatra sampai akhir abade ke 19, pariaman disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar negeri Kato 1986. Di sini antara lain komoditi dagang dari pedalaman Minangkabau ditumpuk sebelum dikapalkan melalui pelabuhan-pelabuhan lain. Bahkan jauh sebelum VOC secara resmi – melalui perjanjian painan (painansch contract) 1663- memasuki kawasan pantai barat Sumatra, pariaman sudah disinggahi oleh kapal-kapal asing dari Gujarat, arab, cina, dan juga kapal-kapal milik bangsa barat.
Para pedagang bangsa barat itu membeli lada dan emas yang banyak dihasilkan di Minangkabau. Selain itu mereka juga mencari kapur barus styrax benzoin atau camphor atau kamfer (drybalanops aromatica) di pelabuhan pelabuhan sebelah utara, terutama barus yang dikalangan pedagang arab dan India disebut pencur atau pansur – sebutan yang kemudian melekat pada nama ulama terkenal kelahiran daerah ini yaitu hamzah fansuri (lihat brakel 1969:209) – dan oleh sumber sumber klasik cina disebut p’olu (drakard 1988:20;1990;2-4;wolters 1967:baba 12[187-96

 

 

 

Dja’s Datoek Batoeah and brother at Tilatang (kamang Payakumuh) in 1800

1800 1835

Sultan Alam II Bidar of Minangkbau

 

1803 1804

King Tuanku Garang Sumpur Sambahyang III King of the

1803-1821

After experiencing a prolonged conflict, Followed by a devastating civil war between the years 1803-1821, Followed by Minangkabau war between the years 1821 – 1838
  to face the armies of the colonial Dutch East Indies,

 

 

 

 

 

I

In 1804

 

 the Soho mint Birmingham struck another copper issue for Sumatra. The arms of the EIC were used for the obverse and closely resemble the design used for Bombay, being struck at Soho at the same time.

The Sumatra denominations in kepings are 4, 2 and 1. The designs were used again in1823 when the weights were reduced to two thirds using thinner blanks, because copper price had increased. The 1804 date was not altered.

 

In 1805

 Penang had been raised to a separate Presidency and in 1809 “a sound copper coinage” was requested. The contract was placed with the Royal Mint, whose machinery was supplied by Boulton and a rolling mill not yet working was supplied by John Rennie. Soho were requested to supply the blanks, but refused to do so because they thought that they had an unofficial agreement to produce all copper orders. Consequently the order was delayed and the coins were not delivered until 1812. The coins produced are clearly inferior to Soho’s minting.

 

This tin uniface cent, or pice, was struck locally in Penang about 1800 by the authority of Governor Leith, whose initials “G. L.” are in script on the obverse. Tin was available locally, but pure tin is soft, wears easily and is easy to re-melt so few have survived.

A similar issue in 1805 has the initials of Governor Farquhar and others may exist; they must also have been easy to forge, so it is no wonder that “a sound coinage” was requested.

 

 

1805

Tuanku Kaduhid mangkat dari Deli , ia digantikan oleh putranya ketiga Tuanku Amaluddin sebagai Raja deli VI, anak kaduhid lainnya Wan Ka ,Wan kumbang, Wan Ayat,Wan mande 1822 menikah dengan Poecoet Oedin putrid Raja Tuanku Aceh)

1808

 

DEI

In 1808, Daendels decided to quit the by-then dilapidated and unhealthy Old Town—a new town center was subsequently built further to the south, near the estate of Weltevreden. Batavia thereby became a city with two centers: Kota as the hub of business, where the offices and warehouses of shipping and trading companies were located; while Weltevreded became the new home for the government, military, and shops.

 These two centers were connected by the Molenvliet Canal and a road (now Gajah Mada Road) that ran alongside the waterway.[16] This period in the 19th century consisted of numerous technological advancements and city beautification initiatives in Batavia, earning Batavia the nickname, “De Koningin van het Oosten”, or “Queen of the East“.(wiki)

 

1809

Tuanku Raja Amalludin  dari Deli menikah dengan anak Raja Hitam dari langkat,  dari pernikahan ini lahir tuanku Osman  di labuhan.

 

1810 1835

 

Marhum Mangkat of Rantau Baru (posthumous name)

 

1814

 

Sultan Siak mengeluarkan Akte yang mengangkat Tuanku Amalludin menjadi Sultan Panglima Mangendar Alam ,inilah awal gelar sultan diberikan  kepada sultan deli dan sultan Siak.Pada pemrintahannya perdaganagn antar daerah semakin terbuka. Hubungan lain mjulai dirintis karena kedudukan Labuhan deli ini dekat dengan lautan lepas, sehingga perdagangan hasil bumi semakin lancer ,tidak begitu lama dalam gemngaman sultan Siak, kerajan deli ditaklukan oleh Sultan Aceh.

 

1815 1871

Sultan Mustafa

1815

setelah peperangan era Napoleon, pada tahun 1819 Belanda mengklaim kembali  Kota Padang (wiki)

1816
extinction of the state and the colonial government of the Netherlands up Successor states of Pinangawan

 

1810 1835


Marhum died of seacoast New (Posthumous name)

Book ‘lost interest Tuanku Rao’ and Controversies Heroism lord Tambusai
by Suryadi
Compass (Thursday, 10/16/2008) the results of the discussion of the Indonesian version of the second edition (the first in 1992 by the INIS) Christine Dobbin book that is quite classic: Economic turmoil, Islamic Awakening and Padri War (New York: Community Bamboo, 2008) . The book was also discussed again at the Padang on 18 October.

Discussion of the book is a sort of continuation of the polemic about

 

1803-1821

After experiencing a prolonged conflict, followed by a devastating civil war between the years 1803-1821, followed by
Minangkabau war between the years 1821 – 1838
 to face the armies of the colonial Dutch East Indies,

 

 

1810 1835

Marhum Mangkat of Rantau Baru (posthumous name)

 

Buku ‘Greget Tuanku Rao’ dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai

Oleh Suryadi

Kompas (Kamis, 16/10/2008) memberitakan hasil diskusi tentang versi Bahasa Indonesia terbitan kedua (yang pertama 1992 oleh INIS) buku Christine Dobbin yang sudah cukup klasik: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Perang Padri (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). Buku itu juga didiskusikan lagi di Padang tanggal 18 Oktober ini.

Diskusi buku itu adalah semacam kelanjutan dari polemik tentang

 

 

Padri War

(1803-1837)
which has been ongoing since last year.
One of the initiators polemic is Basyral Hamidi Harahap (BHH), the author lost interest Tuanku Rao (New York: Community Bamboo, September 2007).

In this book the author, among others criticize lord Tambusai (1784-1882), the first national hero of origin Riau based 071/TK/Tahun Presidential Decree No. 1995.

Polemics about sticking Padri War again, with BHH as one of the main propulsion motors, initially triggered by the user republikasi MO Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela title Tuanku Rao: Hanbali school of Islamic Terror in Batak, 1816-1833 (New York: LKiS, 2006) the first edition (1964) has criticized Hamka (1974).

 

 

Along with that comes a degree of heroism petitions sued  that Tuanku Imam  Bondjol accused of violating human rights because it forces invaded Padri Batak Land (1816-1833) who killed “millions” of people in the area (see: http://www.petitiononline.com/ knurl / petition.html).

Now it seems to go a step further polemic: the title of the report in Kompas dated October 16, 2008 was quite controversial: “Casualties of War Rectification Request Padri History”.

 

Thus, the explicit claims of the children and grandchildren of war casualties that occurred nearly two hundred years ago it was that history Padri War was in the public has been “not correct” to say nothing untrue.
This brief review BHH in lost interest a little view Tuanku Rao (GTR) on the heroic lord Tambusai, the common thread that can be pulled to the discussion that took place in the field as reported by Reuters that.
Although this book is ‘spread’ here and there, less effective, and weak in terms of theory and methodology, but the content that is full of lost interest is clearly focused on criticism of the cruelty and brutality of The Padri when they invaded the Land of Batak. The invasion has joined the ancestors BHH own torment. In GTR BHH questioned the patriotism and heroism Tambusai my lord and my lord Imam Bonjol (hlm.106-7).

Tuanku Tambusai and irony Padri War
It can not be denied that the war had left the memories of heroic Padri well as traumatic to the people in the three regions: West Sumatra, North Sumatra (Tapanuli and vicinity), and Riau (Rokan and vicinity).
For about the first 20 years of the war (1803-1821) was practically a mutually berbunuhan fellow Minangkabau and his brothers from the Land of Batak.
Starting in April 1821
Company involved in the war as “invited” the Indigenous. Furthermore, it is the resistance war repel invaders Netherlands.
Heroism lord Tambusai more associated with the final episode Padri War. After the fortress fell Bonjol

 

 

Original info

Perang Paderi (1803-1837)

yang telah berlangsung sejak tahun lalu.

Salah seorang penggagas polemik itu adalah Basyral Hamidi Harahap (BHH), penulis buku Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, September 2007). Dalam buku itu penulisnya antara lain mengeritik Tuanku Tambusai (1784-1882), Pahlawan Nasional pertama asal Riau berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 071/TK/Tahun 1995.

Polemik mengenai Perang Paderi yang mencuat lagi, dengan BHH sebagai salah seorang motor penggeraknya yang utama, pada awalnya dipicu oleh republikasi buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) yang edisi pertamanya (1964) telah dikritisi Hamka (1974).

Bersamaan dengan itu muncul pula petisi yang menggugat gelar kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol yang dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu (lihat: http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html).

Kini tampaknya polemik itu maju selangkah lagi: judul laporan dalam Kompas tanggal 16 Oktober 2008 itu cukup kontroversial: “Korban Perang Paderi Minta Pelurusan Sejarah”. Dengan demikian, tersurat klaim dari anak cucu korban perang yang terjadi hampir duaratus tahun yang lalu itu bahwa sejarah Perang Paderi yang sudah diketahui umum selama ini “belum lurus” untuk tidak mengatakan tidak benar.

Tulisan singkat ini mengulas sedikit pandangan BHH dalam Greget Tuanku Rao (GTR) mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai, yang dapat ditarik benang merahnya dengan diskusi yang berlangsung di Medan seperti yang diberitakan Kompas itu.

Walaupun isi buku ini ‘menjalar’ ke sana-sini, kurang terarah, dan lemah dari segi teori dan metodologi, tapi isinya yang memang penuh greget itu jelas berfokus kepada kritik terhadap kekejaman dan kebrutalan Kaum Paderi ketika mereka melakukan invasi ke Tanah Batak. Invasi itu telah ikut menyengsarakan nenek moyang BHH sendiri. Dalam GTR BHH mempertanyakan patriotisme dan kepahlawanan Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol (hlm.106-7).

Tuanku Tambusai dan ironi Perang Paderi

Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis kepada masyarakat di tiga daerah: Sumatera Barat, Sumatera Utara (Tapanuli dan sekitarnya), dan Riau (Rokan dan sekitarnya).

Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang saling berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan saudara-saudaranya dari Tanah Batak.

 

1808

 

Hispan 8 real silver coin carolus IIII min PTS Potosi Bolivia very rare mint  found at bukittinggi(provenance Dr Iwan)

1809

 

 

Raja Malewar san Kisah Di Pagaruyung

Oleh: PUTI RENO RAUDHA THAIB

Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat

Chairman of West Sumatra Bundo Kanduang
footage of a king of Minangkabau, among the many kings who were ascending and descending turns.

Tuanku Raja Muning Alamsyah or also called The Sultan Alam Dipertuan Muningsyah

is the natural king Pagaruyung who survived extraordinary tragedy in Koto hands of murder, Tanah Datar in 1809 in Padri War raging in Minangkabau.

Years of this tragedy contested. Christine Dobin recorded in the Islamic Revival In The Changing Peasant Economy, (Inis, Jakarta 1992) the tragedy occurred in 1815, as well as written Rusli Amran in West Sumatra until plaque length, (Sinar Harapan Jakarta 1981).

1810

 

 

Bonjol(perang Padri)

 

1810

Fort suroasso

 

 

1811

 

Biside the Batang arau river picture in  Mesden book the history of sumatra also faound interesting litho illustrations

 

 House in Sumatra

 

NAME OF SUMATRA.

With respect to the name of Sumatra, we perceive that it was unknown both to the Arabian travellers and to Marco Polo, who indeed was not likely to acquire it from the savage natives with whom he had intercourse.

The appellation of Java minor which he gives to the island seems to have been quite arbitrary, and not grounded upon any authority, European or Oriental, unless we can suppose that he had determined it to be the I’azadith nesos of Ptolemy;

but from the other parts of his relation it does not appear that he was acquainted with the work of that great geographer, nor could he have used it with any practical advantage.

At all events it could not have led him to the distinction of a greater and a lesser Java; and we may rather conclude that, having visited (or heard of) the great island properly so called, and not being able to learn the real name of another, which from its situation and size might well be regarded as a sister island, he applied the same to both, with the relative epithets of major and minor. That Ptolemy’s Jaba-dib or dio was intended, however vaguely, for the island of Java, cannot be doubted. It must have been known to the Arabian merchants, and he was indefatigable in his inquiries; but at the same time that they communicated the name they might be ill qualified to describe its geographical position.

In the rude narrative of Odoricus we perceive the first approach to the modern name in the word Sumoltra.

Those who immediately followed him write it with a slight, and often inconsistent, variation in the orthography, Sumotra, Samotra, Zamatra, and Sumatra.

But none of these travellers inform us from whom they learned it; whether from the natives or from persons who had been in the habits of frequenting it from the continent of India;

 

which latter I think the more probable. Reland, an able oriental scholar, who directed his attention to the languages of the islands, says it obtains its appellation from a certain high land called Samadra,

which he supposes to signify in the language of the country a large ant; but in fact there is not any spot so named; and although there is some resemblance between semut, the word for an ant, and the name in question, the etymology is quite fanciful.

 Others have imagined that they find an easy derivation in the word samatra, to be met with in some Spanish or Portuguese dictionaries, as signifying a sudden storm of wind and rain,

and from whence our seamen may have borrowed the expression; but it is evident that the order of derivation is here reversed, and that the phrase is taken from the name of the land in the neighbourhood of which such squalls prevail.

 In a Persian work of the year 1611 the name of Shamatrah occurs as one of those places where the Portuguese had established themselves; and in some very modern Malayan correspondence I find the word Samantara employed (along with another more usual, which will be hereafter mentioned) to designate this island.

PROBABLY DERIVED FROM THE SANSKRIT.

These, it is true, are not entirely free from the suspicion of having found their way to the Persians and Malays through the medium of European intercourse; but to a person who is conversant with the languages of the continent of India it must be obvious that the name,

however written, bears a strong resemblance to words in the Sanskrit language: nor should this appear extraordinary when we consider (what is now fully admitted) that a large proportion of the Malayan is derived from that source,

and that the names of many places in this and the neighbouring countries (such as Indrapura and Indragiri in Sumatra, Singapura at the extremity of the peninsula, and Sukapura and the mountain of Maha-meru in Java) are indisputably of Hindu origin.

It is not my intention however to assign a precise etymology; but in order to show the general analogy to known Sanskrit terms it may be allowed to instance Samuder, the ancient name of the capital of the Carnatik, afterwards called Bider; Samudra-duta, which occurs in the Hetopadesa, as signifying the ambassador of the sea; the compound formed of su, good, and matra, measure; and more especially the word samantara, which implying a boundary, intermediate, or what lies between, might be thought to apply to the peculiar situation of an island intermediate between two oceans and two straits.

NOT ENTIRELY UNKNOWN TO THE NATIVES.

When on a former occasion it was asserted (and with too much confidence) that the name of Sumatra is unknown to the natives, who are ignorant of its being an island, and have no general name for it,

the expression ought to have been confined to those natives with whom I had an opportunity of conversing, in the southern part of the west coast, where much genuineness of manners prevails, with little of the spirit of commercial enterprise or communication with other countries.

But even in situations more favourable for acquiring knowledge I believe it will be found that the inhabitants of very large islands, and especially if surrounded by smaller ones, are accustomed to consider their own as terra firma, and to look to no other geographical distinction than that of the district or nation to which they belong. Accordingly we find that the more general names have commonly been given by foreigners, and, as the Arabians chose to call this island Al-rami or Lameri, so the Hindus appear to have named it Sumatra or Samantara.

MALAYAN NAMES FOR THE ISLAND.

Since that period however, having become much better acquainted with Malayan literature, and perused the writings of various parts of the peninsula and islands where the language is spoken and cultivated, I am enabled to say that Sumatra is well known amongst the eastern people and the better-informed of the natives themselves by the two names of Indalas and Pulo percha (or in the southern dialect Pritcho).

ANDALAS.

Of the meaning or analogies of the former, which seems to have been applied to it chiefly by the neighbouring people of Java,

 I have not any conjecture, and only observe its resemblance (doubtless accidental) to the Arabian denomination of Spain or Andalusia. In one passage I find the Straits of Malacca termed the sea of Indalas, over which, we are gravely told, a bridge was thrown by Alexander the Great.

 

PERCHA.

The latter and more common name is from a Malayan word signifying fragments or tatters, and the application is whimsically explained by the condition of the sails of the vessel in which the island was circumnavigated for the first time;

but it may with more plausibility be supposed to allude to the broken or intersected land for which the eastern coast is so remarkable.

 It will indeed be seen in the map that in the vicinity of what are called Rupat’s Straits there is a particular place of this description named Pulo Percha, or the Broken Islands.

As to the appellation of Pulo Ber-api, or Volcano Island, which has also occurred, it is too indefinite for a proper name in a region of the globe where the phenomenon is by no means rare or peculiar, and should rather be considered as a descriptive epithet.

Source

The history of Sumatra

By

 

William Marsden (1754–1836),

by George Dance, 1794

read the complete info at CD-Rom

The History Of Sumatra

Edited by

Dr Iwan suwandy,MHA

 

 

Dagger

 

Fauna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Flora

 

 

garcinia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

camphor

 

 

 

 

1804

 

In 1795

, a French-backed revolution in Holland expelled the Stadthouder, William of Orange, who fled to Britain, where he issued the so-called ‘Kew Letter’, instructing VOC officials in the Indies to surrender their posts to the British on demand. On this basis, the British occupied Melaka, Padang and Ambon without a struggle, Banda by surprise and Tidore by assault, but were unable to capture Kupang or Ternate. The 1802 Treaty of Amiens restored these territories to the Dutch.

THE BATAVIAN REPUBLIC

1798 -1806

Bali

 

 

 

 

 

 

 

Balinese kingdoms, ca 1800

To the east of Bali lies the long chain of islands known as the Lesser Sundas or Nusatenggara (Southeastern Islands). For the most part, these islands were involved only peripherally in the trade and civilization of the western archipelago until the colonial area. Although the Nagarakertagama (Desawarnyana) lists Timor and Sumba as tributaries of 14th -century Majapahit, Javanese culture has left at the most only scattered traces in the region. No significant local inscriptions have been found to attest to the existence of early kingdoms and Chinese records are vague. The region’s economic relations with the outside world seem to have been based on the export of sandalwood, especially from Timor, a trade which may have begun in the 7th century.

Lombok and Sumbawa, ca 1800

Balinese rule on Lombok was turbulent. By the middle of the 18th century,

they had subdued the Sasak aristocracy in the east of the island. A few decades later, however, disunity led them to split into four separate kingdoms, while the Sasak domains in the east regained much of their independence. Even in times of Balinese control, the east of the island was often restive.

Evidence from the earliest European visitors to the Nusatenggara region suggests that the normal state of affairs was one of division into a large number of small polities, which were linked into larger confederacies or empires whose significance was sometimes political and economic but more often symbolic. Timor produced sandalwood, which was valued for trade to China, and management of this trade necessarily meant a relationship between port towns such as Sorbian, Insana and Dili, and the polities of the interior. In the centre and east of the island, the ruler of Wehale (Belu), sometimes based in the port of Dili, sometimes based in the interior, claimed a hegemony over some forty-six liurai or ‘kings’ along the coast and the interior. In the west the confederacy of Sonba’i (Sonnebait), sometimes based in Sorbian, claimed a similar hegemony over sixteen liurai. The port of Kupang seems to have been independent of both of these power centres.

 

(19th Century prints capture some of the adjuncts of colonialism)

 

But the new king was then in no position to fulfill his end of the bargain with the Dutch-his treasury had been looted and his kingdom was in ruin. All he had to offer was territory, and although he ceded much of western Java to the VOC, they still suffered a heavy financial loss.

On December 31, 1799,

Dutch financiers received stunning news-the VOC was bankrupt!.

 

During the 18th Century,

the spice trade had become less profitable, while the military involvement in Java had grown increasingly costly-this at least is the broad outline of events leading to one of the largest commercial collapses in history.

 

 


1799

The establishment of Bandung

When the Bandung regency led by the Regent RA Wiranatakusumah II, the powers of the Company on the archipelago ended due to the VOC went bankrupt (December 1799). Power in the archipelago then taken over by the Government of the Netherlands East Indies with the first Governor-General Herman Willem Daendels (1808-1811).

In line with change of power in the Dutch East Indies, Bandung regency circumstances change. Changes in the first place is to transfer the capital district of the southern region Krapyak in Bandung to Bandung, which was; etak in the middle area of ​​the district.

 

 

Between January 1800 to end December 1807 in the archipelago in general and in Java in particular, occur foreign power vacuum (invaders), because although the Governor-General of the Company is still there, but he had no power. For the regents, during the vacuum power means the loss of the burden of obligations to be fulfilled for the benefit of a foreign ruler (invaders). Thus, they can devote attention to the interests of local governments respectively. This would occur also in Bandung Regency.

According to the script Sadjarah Bandung, Bandung in 1809 Regent Wiranatakusumah II along with a number of people moved from Karapyak to the area north of the land going to the capital. At that time the land would Bandung still forested, but in the north existing settlements, namely Kampung Cikapundung conservative, Kampung Cikalintu, and Villages Bogor. According to the script, the Regent RA Wiranatakusumah II moved to the city of Bandung after he settled in temporary shelters for two and a half years.

Originally regents living in Cikalintu (Cipaganti area) and then he moved Balubur Downstream. When Deandels Cikapundung inaugurate the construction of the bridge (bridge at Jl. Asia Africa Building near PLN now), Regent of Bandung was there. Deandels with Regent over the bridge and then they walk eastward to one place (in front of the Office of Public Works Jl. Asia Africa now). In that place deandels plugging rod and said: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Try, if I come back here, a city has built! “. Apparently Deandels wants city center was built in the place.

 

 

Peanger Hotel 1910

As a follow-up of his word, Deandels asked Regent Bandung and Parakanmuncang to move the capital of each district to the nearby Jalan Raya Pos. Deandels request was submitted by letter dated May 25, 1810.

beauty of the city of Bandung Regency Bandung in conjunction with the appointment of Raden Suria became Patih Parakanmuncang. Both momentum is confirmed by besluit (decree) dated September 25, 1810. This date is also the date of Decree (besluit), the formal judicial (dejure) designated as the City Anniversary Bandung.

Perhaps the regents began domiciled in Bandung after there in the first district where the building marquee. Certainly the marquee district is the first building constructed for the central government activities Bandung regency.

 

 

 


1805.

In 1805 his son, then aged twenty-one, was on the throne, and had a contention with his paternal uncle, and at the same time his father-in-law, named Tuanku Raja, by whom he had been compelled to fly (but only for a short time) to Pidir, the usual asylum of the Achinese monarchs. Their quarrel appears to have been rather of a family than of a political nature, and to have proceeded from the irregular conduct of the queen-mother. The low state of this young king’s finances, impoverished by a fruitless struggle to enforce, by means of an expensive marine establishment, his right to an exclusive trade, had induced him to make proposals, for mutual accommodation, to the English government of Pulo Pinang.*

(*Footnote. Since the foregoing was printed the following information respecting the manners of the Batta people, obtained by Mr. Charles Holloway from Mr. W.H. Hayes, has reached my hands. “In the month of July 1805 an expedition consisting of Sepoys, Malays, and Battas was sent from Tapanuli against a chief named Punei Manungum, residing at Nega­timbul, about thirty miles inland from Old Tapanuli, in consequence of his having attacked a kampong under the protection of the company, murdered several of the inhabitants, and carried others into captivity. After a siege of three days, terms of accommodation being proposed, a cessation of hostilities took place, when the people of each party having laid aside their arms intermixed with the utmost confidence, and conversed together as if in a state of perfect amity. The terms however not proving satisfactory, each again retired to his arms and renewed the contest with their former inveteracy. On the second day the place was evacuated, and upon our people entering it Mr. Hayes found the bodies of one man and two women, whom the enemy had put to death before their departure (being the last remaining of sixteen prisoners whom they had originally carried off), and from whose legs large pieces had been cut out, evidently for the purpose of being eaten. During the progress of this expedition a small party had been sent to hold in check the chiefs of Labusukum and Singapollum (inland of Sibogah), who were confederates of Punei Manungum. These however proved stronger than was expected, and, making a sally from their kampongs, attacked the sergeant’s party and killed a sepoy, whom he was obliged to abandon. Mr. Hayes, on his way from Negatimbul, was ordered to march to the support of the retreating party; but these having taken a different route he remained ignorant of the particulars of their loss. The village of Singapollam being immediately carried by storm, and the enemy retreating by one gate, as our people entered at the opposite, the accoutrements of the sepoy who had been killed the day before were seen hanging as trophies in the front of the houses, and in the town hall, Mr. Hayes saw the head entirely scalped, and one of the fingers fixed upon a fork or skewer, still warm from the fire. On proceeding to the village of Labusucom, situated little more than two hundred yards from the former, he found a large plantain leaf full of human flesh, mixed with lime-juice and chili-pepper, from which he inferred that they had been surprised in the very act of feasting on the sepoy, whose body had been divided between the two kampongs. Upon differences being settled with the chiefs they acknowledged with perfect sangfroid that such had been the case, saying at the same time, “you know it is our custom; why should we conceal it?”)

 

 

 

 

.

31

References

Alpers, Edward A. (1975) Ivory and slaves in East Central Africa, London: Heinemann.

Alpers, Edward A. (1983) ‘Futa Benaadir; continuity and change in the traditional cotton textile industry of southern Somalia, c.1840-1980,’ in Catherine Coquery-Vidrovitch and Alain Forest, eds., Entreprises et entrepreneurs en Afrique, XIXe et XXe siècles, I, 77-98, Paris: L’Harmattan.

Andaya, Barbara W. (1993) ‘The cloth trade in Jambi and Palembang society during the seventeenth and eighteenth centuries,’ Indonesia, 48, 26-46.

Anderson, John (1971) Mission to the east coast of Sumatra in 1823, Kuala Lumpur: Oxford University Press [reprint of 1826 ed.]

Baker, Patricia L. (1995) Islamic textiles, London: British Museum Press.

Baldry, John (1982) Textiles in Yemen; historical references to trade and commerce in textiles in Yemen, from antiquity to modern times, London: British Museum.

Berg, L. W. C. van den (1886) Le Hadramout et les colonies arabes dans l’archipel indien, Batavia: Imprimerie du Gouvernement.

Bhacker, M. Reda (1992) Trade and empire in Muscat and Zanzibar, roots of British domination, London: Routledge.

Bhila, H. H. K. (1982) Trade and politics in a Shona kingdom; the Manyika and their African and Portuguese neighbours, 1575-1902, London: Longman.

Boomgaard, Peter (1989) Children of the colonial state; population growth and economic development in Java, 1795-1880, Amsterdam: Free University Press.

Braudel, Fernand (1981-84) Civilization and capitalism, fifteenth to eighteenth centuries, London: Collins.

32

Burger, D. H. (1975) Sociologisch-economische geschiedenis van Indonesia, Amsterdam: Koninklijk Instituut voor de Tropen.

Campbell, Gwyn (2005) An economic history of imperial Madagascar, 1750-1895; the rise and fall of an island empire, Cambridge: Cambridge University Press.

Castellan, Georges, and Todorov, Nikolaj (1976) La Bulgarie, Paris: Presses Universitaires de France.

Crampton R. J. (1987) A short history of modern Bulgaria, Cambridge: Cambridge University Press.

Davison, Patricia, and Harries, Patrick (1980) ‘Cotton weaving in South-East Africa; its history and technology,’ Textile History, 11, 175-92.

Dobbin, Christine (1977) ‘Economic change in Minangkabau as a factor in the rise of the Padri movement, 1784-1830,’ Indonesia, 23, 1-38.

Enk, Elly M. C. van (1999) Britse kooplieden en de cultures op Java; Harvey Thomson, 1790-1837, en zijn financiers, Amsterdam: Vrije Universiteit.

Fee, Sarah (2005) ‘Ze mañe aze; looking for patterns in Malagasy cloth,’ in Ruth Barnes, ed., Textiles in Indian Ocean societies, 85-109, London: RoutledgeCurzon.

Ferrier, R. W. (1996) A journey to Persia; Jean Chardin’s portrait of a seventeenth century empire, London: I. B. Tauris.

Fraser-Lu, Sylvia (1988) Handwoven textile of South-East Asia, Singapore: Oxford University Press.

Fraser-Lu, Sylvia (1994) Burmese crafts, past and present, Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Gibb, H. A. R. (1962) The travels of Ibn Battuta, A.D. 1325-1354, Volume 2, Cambridge: Cambridge University Press.

Green, Gillian (2003) Traditional textiles of Cambodia; cultural threads and material heritage, Bangkok: River Books.

Guillain, Ch. (1856-57) Documents sur l’histoire, la géographie et le commerce de l’Afrique orientale, Paris: A. Bertrand, 3 Vols.

33

Hall, Kenneth R. (1996) ‘The textile industry in Southeast Asia, 1400-1800,’ Journal of the Economic and Social History of the Orient, 39, 2, 87-135.

Heersink, Christiaan (1999) Dependence on green gold: a socio-economic history of the Indonesian coconut island Selayar, Leiden: KITLV Press.

Hitchcock, Michael (1991) Indonesian textiles, London: British Museum Press.

Hunter, F. M. (1968) An account of the British settlement of Aden in Arabia, London: Frank Cass, 2nd ed.

Ihsanoglu, Ekmeleddin (2004) Science, technology and learning in the Ottoman empire; Western influence, local institutions and the transfer of knowledge, Aldershot: Variorum.

Inalcik, Halil (1979) ‘Servile labour in the Ottoman empire’, in Abraham Ascher et al., eds., The mutual effects of the Islamic and Judaeo-Christian worlds; the East European pattern, 25-52, New York: Brooklyn College.

Ingram, James C. (1955) Economic change in Thailand since 1850, Stanford: Stanford University Press.

Isaacman, Allen (1972) Mozambique; the Africanisation of a European institution, the Zambezi prazos 1750-1902, Madison: University of Wisconsin Press.

Issawi, Charles (1966) The economic history of the Middle East, 1800-1914, a book of readings, Chicago: University of Chicago Press.

Issawi, Charles (1971) The economic history of Iran, 1800-1914, Chicago: University of Chicago Press.

Issawi, Charles (1988) The Fertile Crescent, 1800-1914; a documentary history, Oxford: Oxford University Press.

Jones, E. L. (1981) The European miracle ; environments, economies and geopolitics in the history of Europe and Asia, Cambridge: Cambridge University Press.

34

Kelly, John B. (1968), Britain and the Persian Gulf, 1795-1880, Oxford: Clarendon Press.

Kerlogue, Fiona (c. 1994) Scattered flowers; textiles from Jambi, Sumatra, Hull: Centre of South-East Asian Studies.

Kerlogue, Fiona (2004) Batik; design, style and history, London: Thames and Hudson.

Khoury, Dina (1997) State and provincial society in the Ottoman empire; Mosul 1540-1834, Cambridge: Cambridge University Press.

Knaap, Gerrit J. (1996) Shallow waters, rising tide, shipping and trade in Java around 1775, Leiden: KITLV Press.

Kraan, Alfons van der (1998) Contest for the Java cotton trade, 1811-40; an episode in Anglo-Dutch rivalry, Hull: Centre of South-East Asian Studies.

Lamm, Carl J. (1937) Cotton in mediaeval textiles of the Near East, Paris: Paul Geuthner.

Landen, Robert G. (1967) Oman since 1856, Princeton: Princeton University Press.

Larson, Pier (2000) Becoming Merina in highland Madagascar; history and memory in the age of enslavement, Oxford: James Currey.

Li Tana (1998) Nguyen Cochinchina: southern Vietnam in the seventeenth and eighteenth centuries, Ithaca: Cornell University.

Li Tana, and Reid, Anthony, comps. (1993) Southern Vietnam under the Nguyen: documents on the economic history of Cochinchina (Dang Trong), 1602-1777, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Lieberman, Victor (2003) Strange parallels; Southeast Asia in global context c. 800-1830; Volume 1, Integration on the Mainland, Cambridge: Cambridge University Press.

Liesegang, Gerhard (1986) ‘A first look at the import and export trade of Mozambique, 1800-1914, in Gerhard Liesegang, H. Pasch and Adam Jones., eds., Figuring African trade; proceedings of the

35

symposium on the quantification and structure of the import, export and long-distance trade in Africa, 1800-1913, 451-523, Berlin: Dietrich Reimer.

Lobato, Alexandre (1957) Evolução administrativa e económica de Moçambique, 1752-1763, Lisbon: Agência Geral Ultramarina.

Lombard, Maurice (1978) Les textiles dans le monde musulman du VIIe au XIIe siècle, Paris: Mouton (Etudes d’économie mediévale, 3)

McCoy, Alfred W. (1982) ‘A queen dies slowly: the rise and decline of Iloilo city,’ in Alfred W. McCoy and Edilberto de Jesús, eds., Philippine social history, global trade and local transformations, 297-358, Quezon City: Ateneo de Manila University Press.

Machado, Pedro A. (2005) ‘Gujarati Indian merchant networks in Mozambique, 1777-c. 1830,’ PhD Thesis, University of London.

Mack, John (1987) ‘Weaving, women and the ancestors in Madagascar,’ Indonesia Circle, 42, 76-91.

Mack, John (1989) Malagasy textiles, London: Shire Publications.

Mallat, Jean (1983) The Philippines: history, geography, customs, agriculture, industry and commerce of the Spanish colonies in Oceania., Manila: National Historical Institute, tr. from French 1846 ed.

Matsuo, Hiroshi (1970) The development of Javanese cotton industry, Tokyo: The Institute of Developing Economies.

Maxwell, Robyn (1990) Textiles of Southeast Asia; tradition, trade and transformation, Melbourne: Australian National Gallery.

Maznah Mohamad (1996) The Malay handloom weavers; a study of the rise and decline of traditional manufacture, Singapore: ISEAS.

Mohebbi, Parviz (1996) Techniques et ressources en Iran, du 7e au 19e siècle, Teheran: Institut Français de Recherche en Iran.

Mudenge, Stanley I. G. (1988) A political history of Munhunmutapa, c. 1400 to 1902, Harare: Zimbabwe Publishing House.

36

Nagtegaal, Luc (1996) Riding the Dutch tiger: the Dutch East Indies Company and the northeast coast of Java, 1680-1743, Leiden: KITLV Press.

Newitt, Malyn (1987) ‘East Africa and Indian Ocean trade,’ in Ashin Das Gupta and M. N. Pearson, eds., India and the Indian Ocean, 1500-1800, Calcutta: Oxford University Press.

Newitt, Malyn (1995) A history of Mozambique, London: Hurst.

Nguyen Thanh Nha (1965) Tableau économique du Vietnam aux XVIIe et XVIIIe siècles, Paris: Bibliothèque Bich-Thanh-Thu.

Oki, Akira (1979) ‘A note on the history of the textile industry in West Sumatra,’ in Francine van Anrooij, ed., Between people and statistics; essays on modern Indonesian history, 147-56, The Hague: M. Nijhoff.

Oorschot, H. J. van (1956) De ontwikkeling van de nijverheid in Indonesië, The Hague and Bandung: W. van Hoeve.

Otavsky, Karel, ‘Abas, Muhammad, and Salim, Muhammad (1995) Mittelalterische Textilien, 1, Ägypten, Persien und Mesopotamien, Spanien und Nordafrika, Riggisberg: Abbegg Stiftung.

Owen, Norman G. (1978) ‘Textile displacement and the status of women,’ in Gordon P. Mearns, ed., The past in South East Asia’s present, 157-70, Ottawa: Canadian Society for Asian Studies.

Pankhurst, Richard (1968) Economic history of Ethiopia, 1800-1935, Addis Ababa: Haile Selassie I University Press.

Pearson, M. N. (1998) Port cities and intruders; the Swahili coast, India and Portugal in the early modern era, Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Pelras, Christian (1996) The Bugis, Oxford: Blackwell.

Picton, John, and Mack, John (1989) African textiles, London: British Museum, 2nd ed.

37

Pires, Tomé (1944) The ‘Suma Oriental’ of Tomé Pires, and the ‘Book’ of Francisco Rodrigues, London: Hakluyt Society, ed. and tr. Armando Cortesão.

Prestholdt, Jeremy G. (1998) As artistry permits and custom may ordain; the social fabric of material consumption in the Swahili world, circa 1450 to 1600, Evanston: Northwestern University, PAS Working Paper No. 3.

Raffles, Thomas S. (1817) The history of Java, London: Black, Parbury and Allen, and John Murray.

Raymond, André (1973-74) Artisans et commerçants au Caire au XVIIIe siècle, Damascus: Institut Français de Damas.

Reese, Scott S. (1996) ‘Patricians of the Benaadir; Islamic learning, commerce and Somali urban identity in the nineteenth century,’ PhD, University of Pennsylvania.

Reid, Anthony (1988) Southeast Asia in the age of commerce, 1450-1680, volume 1, the lands below the winds. New Haven: Yale University Press.

Rita-Ferreira, António (1999) African kingdoms and alien settlement in central Mozambique, c. fifteenth to seventeenth century, Coimbra: Universidade de Coimbra.

Roy, Tirthankar, ed. (1996) Cloth and commerce; textiles in colonial India, New Delhi: Sage.

Schaedler, Karl-Ferdinand (1987) Weaving in Africa south of the Sahara, Munich: Panterra.

Shields, Sarah (2000) Mosul before Iraq; like bees making five-sided cells, Albany: State University of New York Press.

Spuhler, F (1986) ‘Carpets and textiles,’ in P. Jackson and L. Lockhart. eds., The Cambridge history of Iran, volume 6, the Timurid and Safavid periods, 698-727, Cambridge: Cambridge University Press.

38

Vail, Leroy, and White, Landeg (1980) Capitalism and colonialism in Mozambique, a study of the Quelimane district, London, Heinemann.

Weibel, Adèle C. (1952) Two thousand years of textiles; the figured textiles of Europe and the Near East, New York: Pantheon Books.

Weir, Shelagh (1970) Spinning and weaving in Palestine, London: British Museum.

39

 

THE BATAVIAN REPUBLIC

1798 -1806

In the time the possessions of the former VOC were administered by the Batavian Republic it was under the supervision of the Council of the Asiatic Possessions and Establishments (Raad der Asiatische Bezittingen en Etablissementen.)The Batavian Republic introduced the use of the emblem of the sovereign in the colonies and this was continued by the following administrations. First this emblem consisted of an altar charged with an anchor and a dolphin, supported by a lion with the national flag and the Batavian Virgin with spear an hat of Liberty. The legend of these stamps read “raad der asiat(ische): bezitt(ingen): en etabl(issementen) der bataafsche / republiek”. [13]In 1802 the emblem was changed into a lion rampant, armed with a sword and a bundle of arrows.On the stamps for use by the councils the emblem of state was surrounded by the legend “raad der asiat(ische): bezitt(ingen): en etabl(issementen)”.[14]Nevertheless on a florin for circulation in the colonies there appeared the old symbols of the Company and of the States General: a ship sailing to the sinister and the crowned arms with the lion with sword and arrows.  This time the symbols can be considered as the symbols of the territory and of its ruler.

   
 
   
 
   
 

The coat of arms of the quite famous lieutenant governorof the Dutch East Indies from 1811-’16, Thomas Stamford Raffles, was:

 

 

Or a double headed Eagle displayed Gules charged on the breast with an Eastern Crown on the first, on a Chief Vert pendent from a chain two oval Medallions in Pale the one bearing Arabic characters and the other a dagger in fess the blade wavy the point towards the dexter in relief Or, the said medallions and chain being a representation of a personal decoration called the Order of the Golden Sword conferred upon by him by the Chief or King of Atcheen in Sumatra as a mark of the high regard of the said King and in testimony of the good understanding which had been happily established between that Prince and the British Government; and for a crest out of an Eastern Crown Or a Gryphon’s Head Purpure gorged with a collar gemel Gold.”

   
 

 

   

 

 
 
 
 

BORNEO CA 1800
 1801: II became Sultan Sulaiman Saidullah Banjar XV until 1825.
 1806: Muhammad Jamalul Alam I to the Sultan of Brunei until 1807.
 1806: August 11, 1806 changed its name from the royal palace Banjar Kencana into Earth Good Earth.
 1807: Mohammad Alam became the Sultan of Brunei Kanzul until the year 1829.
 1808: Sharif Kasim became the Sultan of Pontianak Alkadrie II until 1819.
 1809: Dutch Banjarmasin release of its colonies. [38]
 1810: British occupy Banjarmasin. [39]
 1810: Sultan Alimuddin became the first sultan Sambaliung Sultanate, the Sultanate of Berau fractions are divided by two.
 1811: Sultan Ibrahim became Sultan of Sand Alamsyah until 1815.
 1812: Alexander Hare became resident-commissioner for the British government in Yogyakarta. [40]
 1814: Queen Imanuddin move the administrative center of Kotawaringin Old Kingdom Kotawaringin to Pangkalan Bun.
 1814: Muhammad Ali Syafeiuddin I to the Sultan of Sambas until the year 1828.
 1815: Sultan Mahmud became the Sultan Han Alamsyah Sand until 1843.
 1816: Sultan Aji Muhammad Salehuddin be Kutai XVI until the year 1845.
[Edit] Age of Dutch East Indies
 1817: On January 1, British Borneo Banjarmasin and handed back to the Dutch, then on the day it was made Coral Diamond Contract Agreement between the Sultan Suleiman I of Banjar with the Dutch East Indies represented Boekholzt Resident Aernout van.
 1817: King Tidung Amiril Tadjoeddin served until 1844. In Kotawaringin, Prince Queen Imanuddin ruled until 1855 [41]
 1819: Sharif Osman Sultan of Pontianak III Alkadrie be until the year 1855. He was appointed to lead the Dutch East Indies government Afdeeling Pontianak.
 1820: Zainul Abidin bin Badruddin II (1820-1834) became Sultan Mountain Sow I, the fraction of the Sultanate of Berau. Prince Sultan Sulaiman-law of Moses Banjar Kusan II became King until the year 1830.
 1823: Mr. Muller Dutch East Indies government employees surveyed northwest Borneo. [42])
 1823: 13 September 1823: Coral Diamond Contract Agreement between the Sultan Suleiman II of the Dutch East Indies represented Banjar with Mr. Resident. Tobias.
 1825: Adam Alwasikh Billah became Sultan of Banjar XVI until 1857. In Brunei, Mohammad Alam became the Sultan of Brunei until 1828.
 1825: In July 1825, Prince Aji Jawi, King of the Land Seasonings establish a contract with the Dutch East Indies.
 1826: After the conquest attack Banjar palace in Yogyakarta in 1826, the Dutch East Indies had been made a rule which areas are still controlled by the Sultanate of Banjar and determine the division of the territories.

Lombok and Sumbawa, ca 1800

Balinese rule on Lombok was turbulent. By the middle of the 18th century, they had subdued the Sasak aristocracy in the east of the island. A few decades later, however, disunity led them to split into four separate kingdoms, while the Sasak domains in the east regained much of their independence. Even in times of Balinese control, the east of the island was often restive.

Evidence from the earliest European visitors to the Nusatenggara region suggests that the normal state of affairs was one of division into a large number of small polities, which were linked into larger confederacies or empires whose significance was sometimes political and economic but more often symbolic. Timor produced sandalwood, which was valued for trade to China, and management of this trade necessarily meant a relationship between port towns such as Sorbian, Insana and Dili, and the polities of the interior. In the centre and east of the island, the ruler of Wehale (Belu), sometimes based in the port of Dili, sometimes based in the interior, claimed a hegemony over some forty-six liurai or ‘kings’ along the coast and the interior. In the west the confederacy of Sonba’i (Sonnebait), sometimes based in Sorbian, claimed a similar hegemony over sixteen liurai. The port of Kupang seems to have been independent of both of these power centres.

1803

 

 

 

 

 

1806

Raid on Batavia

 

 

Part of the Napoleonic Wars


A painting by
Thomas Whitcombe depicting Batavia harbour in 1806.

Date

27 November 1806

Location

Batavia, Java, Dutch East Indies

Result

British victory

Belligerents

United Kingdom

Kingdom of Holland

Commanders and leaders

Rear-Admiral Sir Edward Pellew

Rear-Admiral Hartsink

Strength

Four ships of the line, two frigates and a brig

Frigate Phoenix, eight small warships and support from gun batteries on shore

Casualties and losses

One killed, four wounded

Casualties unknown, Phoenix, seven small warships and 20 merchant ships destroyed. One brig and two merchant ships captured.

 

[

   
 

The Raid on Batavia of 27 November 1806 was an attempt by a large British naval force to destroy the Dutch squadron based on Java in the Dutch East Indies that posed a threat to British shipping in the Straits of Malacca. The British admiral in command of the eastern Indian Ocean, Rear-Admiral Sir Edward Pellew, led a force of four ships of the line, two frigates and brig to the capital of Java at Batavia (later renamed Djakarta), in search of the squadron, which was reported to consist of a number of Dutch ships of the line and several smaller vessels. However the largest Dutch ships had already sailed eastwards towards Griessie over a month earlier, and Pellew only discovered the frigate Phoenix and a number of smaller warships in the bay, all of which were driven ashore by their crews rather than engage Pellew’s force. The wrecks were subsequently burnt and Pellew, unaware of the whereabouts of the main Dutch squadron, returned to his base at Madras for the winter.

The raid was the third of series of actions intended to eliminate the threat posed to British trade routes by the Dutch squadron: at the Action of 26 July 1806 and the Action of 18 October 1806, British frigates sent on reconnaissance missions to the region succeeded in attacking and capturing two Dutch frigates and a number of other vessels. The raid reduced the effectiveness of Batavia as a Dutch base, but the continued presence of the main Dutch squadron at Griessie concerned Pellew and he led a second operation the following year to complete his defeat of the Dutch. Three years later, with the French driven out of the western Indian Ocean, British forces in the region were strong enough to prepare an expeditionary force against the Dutch East Indies, which effectively ended the war in the east.

Contents

Background

In early 1806, Pellew was relieved by the news that a large French squadron under Rear-Admiral Charles Linois had sailed out of the Indian Ocean and into the Atlantic. The departure of Linois after three years of operations in eastern waters freed Pellew’s small squadron based at Madras for operations against the Dutch East Indies. Pellew’s particular target was the island of Java, where the principal Dutch squadron and their base at Batavia were located.[1] The Dutch Kingdom of Holland was a French client state under Emperor Napoleon‘s brother Louis Bonaparte and Batavia had been used by Linois in his preparations for the Battle of Pulo Aura, in which a valuable British convoy came under attack, and its position close to the Straits of Malacca threatened British trade with China.[2]

Pellew’s departure for the East Indies was delayed by the Vellore Mutiny in the spring, and instead he sent frigates to reconnoitre the situation of the Dutch forces in the region. In July, HMS Greyhound under Captain Edward Elphinstone cruised in the Molucca Islands and captured a Dutch convoy at the Action of 26 July 1806 off Celebes.[3] Three months later another frigate, HMS Caroline under Captain Peter Rainier, cruised successfully in the Java Sea and managed to capture a Dutch frigate at the Action of 18 October 1806 from the entrance to Batavia harbour.[4] Shortly before Rainier’s engagement, the principal ships of the Dutch squadron, the two ships of the line Pluto and Revolutie, had sailed westwards towards the port of Griessie, Rear-Admiral Hartsink seeking to divide his forces in preparation for the coming British attack to prevent their complete destruction.[5]

Pellew sailed from Madras in the early autumn of 1806, expecting the full Dutch squadron to be present and preparing accordingly with the ship of the line HMS Culloden under Captain Christopher Cole as his flagship, accompanied by HMS Powerful under Captain Robert Plampin, HMS Russell under Captain Thomas Gordon Caulfield and HMS Belliqueux under Captain George Byng. The ships of the line were accompanied by the frigate HMS Terpsichore under Captain Fleetwood Pellew, Admiral Pellew’s son, as well as the brig HMS Seaflower under Lieutenant William Fitzwilliam Owen.[6]

Pellew’s attack

By 23 November, Pellew’s squadron was approaching the Sunda Strait from the southwest when he encountered the British frigate HMS Sir Francis Drake, which he attached to his force. Three days later, the squadron passed the port of Bantam and seized the Dutch East India Company brig Maria Wilhelmina, continuing on to Batavia during the night.[7] At the approaches to the port, the squadron separated, with the frigates and brig passing between Onrust Island and the shore while the ships of the line took a longer route through deeper water. Although Terpsichore was able to surprise and capture the corvette William near Onrust Island, the main body of the squadron was spotted by Dutch lookouts from a distance, who initially mistook the approaching vessels for a French squadron.[8] The Dutch officers, led by Captain Vander Sande on the frigate Phoenix, decided that resistance against such a large British squadron was useless: the only warships remaining in the harbour were the Phoenix and six small armed ships, none of which could contend with the approaching British force. In an effort to dissuade the British from pressing their attack, the Dutch captains all drove their vessels ashore, joined by the 22 merchant vessels that were anchored in the harbour.[6]

Determined to prevent the Dutch from refloating the grounded ships, Admiral Pellew ordered landing parties to assemble in the boats of his squadron alongside Terpsichore. From there, under distant covering fire from the British frigates, Fleetwood Pellew led the boats against Phoenix, coming under fire from the grounded vessels and gun batteries ashore.[7] Passing through the bombardment from the shoreline, Pellew’s men boarded Phoenix to find that the Dutch crew had just abandoned the vessel, scuttling the frigate as they departed. Although now useless as a ship, Phoenix‘s guns were turned on the other beached vessels to cover the British boats as they spread out to board and burn them. This operation was followed by the destruction of 20 grounded merchant ships in the harbour, although two others were successfully refloated and captured.[9] In a final act before withdrawing to the squadron offshore, Captain Pellew set fire to the wreck of Phoenix, burning the ship to the waterline. The entire operation was conducted under heavy fire from the shore, but British casualties were only one Royal Marine killed and three men wounded.[10]

Without sufficient troops to attempt a landing at Batavia itself, Admiral Pellew withdrew from the harbour. Preparing his prizes for the return to Madras, he ordered all prisoners taken from the captured and burnt ships returned to shore under condition of parole.[11] The captured William was found to be in such a poor state of repair that it was not worth keeping the corvette and Admiral Pellew ordered the ship burnt, noting in his official report that Lieutenant Owen, who as senior lieutenant would otherwise have been placed in command, should be recompensed with another command as reward for his services in the engagement. With his preparations complete, Pellew then ordered his squadron to disperse, Culloden sailing to Malacca.[5]

Aftermath

The British raid on Batavia had destroyed 28 vessels. In addition to Phoenix, William and the merchant ships, Pellew’s squadron had burnt the 18-gun brigs Aventurier and Patriot, the 14-gun Zee-Ploeg, the 10-gun Arnistein, the 8-gun Johanna Suzanna and the 6-gun Snelheid. Just three ships were captured: two merchant vessels and Maria Wilhelmina.[11] The elimination of the smaller vessels of the Dutch squadron was an important victory for Pellew, leaving only the larger ships of the line at large. These ships were old and in poor condition, limiting the threat they posed to British trade routes. Nevertheless, Pellew returned to the Java Sea in 1807 in search of the warships, destroying them at the Raid on Griessie in November, a year after the success at Batavia.[5] A lack of resources in the region and the threat posed by the French Indian Ocean island bases delayed larger scale British operations against the East Indies until 1810, when a series of invasions rapidly eliminated the remaining Dutch presence in the Pacific

Daendels and Raffles

It is one of the great ironies of colonial history that to fully exploit that to fully their colony, the Dutch had to first lose their shirts. The domination of Java-achieved at the expense of VOC bankruptcy-profited the Dutch handsomely in the 19th Century.

In the traumatic aftermatch of the VOC bankruptcy, there was a great indecision in Holland as to the course that should be steered in the Indies. In 1800, the Netherlands government assumed control of all former VOC possessions, now renamed Netherlands India, but for many years no one could figure out how to make them profitable. A number of factors, notably the Napoleonic Wars, compounded the confusion.

A new beginning of sorts was finally made under the iron rule of Governor-General Marshall Daendals (1808-11), a follower of Napoleon who wrought numerous administrative reforms, rebuilt Batavia, and constructed a post road the length of Java.

1808

Herman Willem Daendels (1762-1818) Herman William Daendels lived in a very complex period of national history. As unknown as he is now so well known and controversial, he was in the late 18th and early 19th century.

He was son of the town clerk of Hattem. He studied law at Harderwijk and established himself as a lawyer in his hometown.
William Herman, a regent from family, was one of the leaders of the Hattemerbroek bourgeoisie, who sought a greater influence on the appointment of citizens of the city.

Patriots
In 1785 he was recommended for appointment ships placed. Stadtholder William V wished him not to appoint. Daendels now openly joined the Patriots Party.

The Patriots (patriotic) opposed Prince William V, without public participation in the provincial and municipal officials appointed boards.

Uprising in Hattem
In 1786 led the then 23-year-old William Herman Daendels the uprising against William V. Hattem The patriotic citizen companies were supported by patriots from Overijssel. The Prussian troops of the prince, however, drove them to flee occupied and Hattem. Daendels and many other patriots fled to France.
In 1788 the Court sentenced him in absentia of Ontario, with a sword over the head to be punished and to perpetual exile from Ontario;

The Daendelshuis and Daendelspoortje in Hattem recall the famous resident of this city.

He followed with great interest the progress of the French Revolution and took a seat on the Batavian committee, that a revolution in the Northern Netherlands prepared.

When the favorable moment, he seemed to have come in 1792 as a battalion commander of the Batavian Legion in French military service. As such he participated in the conquest of Belgium under Dumouriez. A year after his defeat at Neerwinden, in 1793, followed Daendels’s appointment as brigadier general in the Northern Army under Pichegru (March 1794). In this capacity he took part in the siege include: ‘s-Hertogenbosch and the conquest of the Bommelerwaard.

French Revolution
In December 1794 the armies of Pichegru on the frozen rivers in the Netherlands.

The patriots had formed in France in a Batavian legion, under the command of General Herman Willem Daendels.
The people offered little resistance and Prince William V fled by fishing boat to England. The Patriots took control and called the Batavian Republic.
Daendels played a prominent role in domestic politics in drafting the new constitution.

Coup d’etat
Daendels volgede with scrutiny work to prepare a Constitution for the Batavian Republic. When this did not to his knowledge went, he committed his first coup, January 22, 1798 and continued with his grenadiers all Federalists outside the National Assembly.
On July 12 d.a.v. He grabbed it again and forced illegally elected Executive Directors to resign, which earned him the nickname Second Brutus. In 1798 the Executive Directors appointed him commander of the Batavian Republic of Batavian troops, who would participate in the landing in Ireland, but the expedition was called off.

In the following year he was the head of a Batavian division under the leadership of Chief General Brune, with an impending mandate English-Russian invasion of England to prevent. He could not prevent the successful landing in 1799.

Slander Campaign
Although he is in the further struggle behaved very bravely and enemies to the agreement of Alkmaar were forced to leave the country, was for Daendels’s many adversaries envious and a welcome opportunity to begin a campaign against him. They even accused him of treason. Disappointed took Daendels in 1800 resigned, settled as a farmer in Ontario and kept himself entirely aloof several years of politics.

Kingdom of Holland 1806
After the founding of the Kingdom of Holland, King Louis Napoleon him the country’s service. The appointments and promotions now followed each other in quick succession.

Governor-General of Dutch East Indies (1807 – 1811)
Louis Napoleon in 1807 to Daendels appointed governor-general of Dutch East Indies.

It was a hard task, which Daendels’s shoulders was laid. The remains of the old Company area, Java, Timor, part of the Moluccas and Bandjermasin was the Dutch authorities declined to an alarming manner. Shipment of troops, money and material from the mother country was impossible, since the British ruled the seaways. It was not easy even for Daendels are employed to reach Batavia.

Reorganizations and reforms
His main task was the Dutch colonies against the British. He therefore began a reorganization of the army and filled it with native volunteers. In Weltevreden, a suburb of Batavia, he built a then modern hospital in Surabaya, the capital of Austria, Java, a construction shop, a cadet school in Semarang and Batavia a cannon foundry. The old unhealthy castle at this place he demolished and replaced by a fortified camp at Meester Cornelis. Surabaya became the Fort Louis.
The most popular work of Daendels, the great highway of Carnation to Panaroekan, was primarily a military objective, rapid troop movements. The construction of a military port in the Bay Gulls (Sunda Strait), he had, because of the disastrous climate, obstruction of Bantam, give up.

Administrative and legal Daendels organized in a modern way, and thereby cleared numerous abuses and abuses of time on the Company. However, all these innovations earned him the hatred and opposition of the old party-guests, who many complaints and accusations against him sent to Napoleon.

Complaints
And there were legitimate complaints. The most serious was the manner in which Daendels enriched themselves. Moreover witnessed his performance against the local rulers of little tact and knowledge of their manners and customs. Shortly after the incorporation of the mother Daendels Napoleon called back and instructed the government on May 16, 1811 the emperor appointed by the General Janssens.

Governor-General of Guinea
After the fall of Napoleon asked Daendels King William I, son of his old adversary William V, a new appointment. Understandably trusted the Orange Frost the former revolutionary not too much, but asked him to lock it in October 1815 as Governor General of Guinea (Ghana), on the Gold Coast in West Africa, a very unhealthy and very little meaning area.

William Herman passed away on May 2, 1818 due to yellow fever and was buried in the fort Elmina

 

 

Portrait Governor-General Herman Willem Daendels

Year

1838

Artist

Raden Syarif Bustaman Saleh

Technique

Oil on canvas

Dimensions

119 x 98 cm

 

 

Extra large view of the image

Herman Willem Daendels’s career was very eventful. Political developments in the Netherlands around 1800 were certainly the reason for this. Within a short space of time there were a large number of changes of rulers. Daendels’s career appeared to survive these changes. He was first and foremost a soldier. In 1808 he was appointed Governor General of the Asian colonies. After heavy criticism of his leadership, he was replaced in 1811. He then became an officer in the French army. King William I appointed Daendels Governor General of the Dutch Colonies on the west coast of Africa. There he died of yellow fever in 1818.

 

THE NAPOLEON ARMY OCCUPATIONS INDONESIA COINS”

Posted on July 31, 2010 by iwansuwandy

THE DATA BELOW NOT EDIT , THIS FREE INFO WITHOUT ANALISIS INFO AND CONCLUSION  FOR FREE INFO, THE EDIT AND INFORMATIONS AFTER ANALISYS  WITH THE BEST CONCLUSION OF THE RARE COINS DURING THIS ERA ONLY FOR PREMIUM MEMBER ,THE SENIOR  SERIUS SPECIALIST NUMISMATIC COLLECTOR, THAT IS WHY IG YOU WANT MORE INFO REGISTERED YOUR NAME AS THE PREM,IUM MAMBER VIA COMMENT, THIS Dr IWAN S STUDY REPORT NEVER PUBLISHED. GREETINGS FROM Dr IWAN S.

CHAPTER ONE REPUBLIC INDIA  BATAV IN INDONESIA ARCHIPHELAGO

1. WHEN,  THE BROTHER OF NAPOLEON I, LOUIS NAPOLEON BECAME THE KING OF HOLLAND., HE POINTED DANDELS AS THE GOUVENOR GENERAL IN INDONESIA ARCHIPHLEGO, WITH THE REPUBLIC INDIA BATAV.

THE NAPOLEON ARMY OCCUPATIONS INDONESIA COINS”

Posted on July 31, 2010 by iwansuwandy

THE DATA BELOW NOT EDIT , THIS FREE INFO WITHOUT ANALISIS INFO AND CONCLUSION  FOR FREE INFO, THE EDIT AND INFORMATIONS AFTER ANALISYS  WITH THE BEST CONCLUSION OF THE RARE COINS DURING THIS ERA ONLY FOR PREMIUM MEMBER ,THE SENIOR  SERIUS SPECIALIST NUMISMATIC COLLECTOR, THAT IS WHY IG YOU WANT MORE INFO REGISTERED YOUR NAME AS THE PREM,IUM MAMBER VIA COMMENT, THIS Dr IWAN S STUDY REPORT NEVER PUBLISHED. GREETINGS FROM Dr IWAN S.

CHAPTER ONE REPUBLIC INDIA  BATAV IN INDONESIA ARCHIPHELAGO

1. WHEN,  THE BROTHER OF NAPOLEON I, LOUIS NAPOLEON BECAME THE KING OF HOLLAND., HE POINTED DANDELS AS THE GOUVENOR GENERAL IN INDONESIA ARCHIPHLEGO, WITH THE REPUBLIC INDIA BATAV.

1) THE OLD DESIGN VOC DOEIT WERE USED IN INDONESIA ARCHIPHELAGO.

Half Doeit 1770-special

Half Doeit 1750

1 doeit 1792

1 doeit special design 1793

1 doeit 1805 Dandaels

2) DAANDEAL ISSUED THE LODEWIJK NAPOLEON COPPER COIN

(1) L.N COIN

LN Lodewijk Napoleon 1 doeit

(2) ANTIQUE LN COPPER COINS

antique char.L.Napoleon

1/2 St L.Napoleon

The energetic Herman Willem Daendels, Governor-General of the Dutch East Indies from 1808 to 1811, had ordered the construction of Die Groete Postweg, the “great post way,” a highway traversing Java and recalled by this roadside monument. van Holland

 

Governor-General of the Dutch East Indies

 

 

Java Great Post Road, commissioned by Daendels.

Louis Bonaparte made Daendels colonel-general in 1806 and Governor-General of the Dutch East Indies in 1807. After a long voyage, he arrived in the city of Batavia (now Jakarta) on 5 January 1808 and relieved the former Governor General, Albertus Wiese. His primary task was to rid the island of Java of the British Army, which he promptly achieved.[citation needed] He built new hospitals and military barracks, a new arms factories in Surabaya and Semarang, and a new military college in Batavia. He demolished the Castle in Batavia and replaced it with a new fort at Meester Cornelis (Jatinegara), and built Fort Lodewijk in Surabaya. However, his best-known achievement was the construction of the Great Post Road (Indonesian: Jalan Raya Pos) across northern Java. The road now serves as the main road in the island of Java, called Jalur Pantura. The thousand-kilometre road was completed in only one year, during which thousands of Javanese forced labourers died.[2]

He displayed a firm attitude towards the Javanese rulers, with the result that the rulers were willing to work with the British against the Dutch. He also subjected the population of Java to forced labour (Rodi). There were some rebellious actions against this, such as those in Cadas Pangeran, West Java.

There is considerable debate as to whether he increased the efficiency of the local bureaucracy and reduced corruption, although he certainly enriched himself during this period.[citation needed]

General in Napoleon’s Grande Armée

When the Kingdom of Holland was incorporated into France in 1810, Daendels returned to Holland. He was appointed a Divisional General (Major General) and commanded the 26th Division of the Grande Armée in Napoleon’s invasion of Russia.

Governor-General of the Dutch Gold Coast

After the fall of Napoleon, king Willem I and the new Dutch government feared that Daendels could become an influential and powerful opposition leader and effectively banned him from the Netherlands by appointing him Governor-General of the Dutch Gold Coast (now part of Ghana). In the aftermath of the abolition of the Atlantic slave trade, Daendels tried to redevelop the rather dilapidated Dutch possessions as an African plantation colony driven by legitimate trade. Drawing on his experience from the East Indies, he came up with some very ambitious infrastructural projects, including a comprehensive road system, with a main road connecting Elmina and Kumasi in Ashanti. The Dutch government gave him a free hand and a substantial budget to implement his plans. At the same time, however, Daendels regarded his governorship as an opportunity to establish a private business monopoly in the Dutch Gold Coast.

Eventually none of the plans came to fruition, as Daendels died of malaria in the castle of St. George d’Elmina, the Dutch seat of government, on 8 May 1818. His body was interred in the central tomb at the Dutch cemetery in Elmina town. He had been in the country less than two years.

In

dit verhaal

hebben we het al eens over het stormachtige leven van Daendels gehad :

Waar uit die buurt (Hattem) ook

Daendels

vandaan kwam, de Nederlandse bevelhebber van het latere Bataafse Legioen, toen

1808

Under French domination during the Napoleonic years in Europe, the Dutch authorities appointed Marshal H. W. Daendels as Governor-General in 1808. He sought both to reform the corrupt administrative practices that had brought down the VOC and to prepare for the defence of Java against an expected British attack. Amongst his measures was to construct a post-road the full length of the island of Java, from Anyer to Panarukan, to improve communications and the movement of troops. Constructed mainly with forced labour working to a tight timetable, the road earned Daendels a reputation for dictatorial cruelty,

Daendels’ postroad on Java

The Great Post Road is the road stretched from west to east at northern part of Java from Anyer to Panarukan along 1,000km. Initaded by Governor-General Herman Willem Daendels, this road is passing through Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Brebes, Tegal Pemalang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo.

Daendels was a marshal appointed as governor general of East Indies by Lodewijk Napoleon who ruling Holland at that time. The ultimate aim was handling military preparation in anticipating British Navy attack that had blockaded Java Island. Daendels landed in Anyer in 1808 after routing a long trip from Cadiz in southern Spain, Canary Islands and then departing from New York using American vessel.

Daendels’s most important military project in defending Java from British attack was constructing a highway connecting west and east corner of this island. The road was built by means of obliging indigenous rulers to mobilize people along the route to work it by force. This road had sacrificed thousands life in nearly a year of its building process. Later, the road was renowned as the Great Post Road (De Groote Postweg) since Daendels also set off post and telegraph services at the moment of the making.

1809Since its operation in 1809, the road formerly intended for military purpose had become a main transportaion infrastructure in Java Island. This highway had witnessed traffice of commodities coveyed over it since colonial era till now. The road has play important role as one of crucial veins of Indonesian economy today.

   
   

Here’s the page of full document as shown on this stamp issue. This document is about appointment of Raksa Manggala as a Head of Bengawan Wetan, Cirebon region by Governor General Daendels. The aim of this appointment is to succeed the development of The Great Post Road.

The document’s date is 18 April 1809.
The Document

 

1809

 an extremely rare 1809 handwritten Ambon bank note

 

info source: Rob Huisman

an extremely rare handwritten VOC bank note of 100 rijksdaalders dating from 1809 and issued in Ambon. “This piece of paper is literally of great value. After 1795 no regular shipping was possible between the Netherlands and the Dutch East Indies due to an English naval blockade, resulting in a severe deficiency in coins and coin materials. The Dutch authorities therefore resorted to issuing paper money. In 1808 Governor General H.W. Daendels decided that an additional three hundred thousand guilders needed to be printed in Ambon. These notes varied in value from 1 to 1,000 silver rijksdaalders. They were widely used in the Moluccas, but could also be exchanged for real money in Batavia. It is conspicuous that this piece of paper mentions the Dutch East India Company, even though the VOC had been nationalized in 1799. The most notable detail however is that only the one hundred rijksdaaldersnote exists as a written currency; the remainder of the issue was printed. An extremely rare piece of paper, which is mentioned in the paper currency catalogue of Mevius, but of which no image has been printed as yet.”

a high resolution scan, which  a great privilege to be able to see this note in great detail and share it through this website. This note has never been published in the past

 

 

 

1811



The English interregnum-a brief period of English rule under Thomas Stamford Raffles (1811-1816)-followed.

Raffless was in many ways an extraordinary man: a brilliant scholar, naturalist, linguist, diplomat and strategist, “discover” of Borobudur and author of the monumental History of Java. In 1811, he planned and led the successful English invasion of Java, and was then placed in charge of its government at the tender age of 32. His active mind and free trade philosophy led him to promulgate reforms almost daily, but the result was bureaucratic anarchy. Essentially, Raffles wanted to replace the old mercantilism system (from which the colonial government derived its income through a monopoly on trade), by one which income was derived from taxes, and trade was unrestrained. This enormous tast was barely begun when the order, came from London, following Napoleon’s defeat at Waterloo in 1815, to restore the Indies to the Dutch. Raffles’ legacy lived one, however. Many of his land taxes were eventually levied by the Dutch, and they in fact made possible the horrible exploitation of Java in later years. And his invasion of Yogyakarta in 1812 led ultimately to the cataclysmic Java War of 1825-30.

 

 

(The Dutch Army poses after a victory over Acehnese forces)

 

From Carnage to “Cultivation”

So numerous were the abuses leading to the Java War, and so great were the atrocities commited by the Dutch during it, that the Javanese leader, Pangeran Diponegoro (1785-1855), has been proclaimed a great hero even by Dutch historians. He was indeed a charismatic figure-crown prince, Muslim mystic and man of the people-who led a series of uprisings against the Dutch trick; lured to negotiate, Diponegoro was captured and exiled to Sulawesi. The cost of the conflict in human terms was staggering-200,000 Javanese and 8,000 Europeans lost their lives, many more from starvation and cholera than on the battle-field.

By this time, the Dutch were indeed in desperate economic straits. All efforts at reform had ended in disaster, to put it mildly, and the government debt had reached 30 million guilders!. New ideas were sought, and in 1829, Johannes van den Bosch submitted a proposal to the crown for what he called a culture Stengel or “Cultivation System” of fiscal administration in the colonies. His unoriginal notion was to levy a tax of 20 per cent (later raised to 33 per cent) on all land in Java, but to demand payment not in rice, but in labour or use of the land. This, he pointed out, would permit the Dutch to grow crops that they could sell in Europe.

Van den Bosch soon assumed control of Netherlands India, and in the estimation of many, his Cultivation System was an immediate, unqualified success. In the very first year, 1831, it produced a profit of 3 million guilders and within a decade, more than 22 million guilders were flowing annually into Dutch coffers, largely from the sale of coffee, but also from tea, sugar, indigo, quinine, copra, palm oil and rubber.

With the windfall profits received from the sale of Indonesian products during the rest of the 19th Century, almost a billion guilders in all, the Dutch not only retired their debt, but built new waterways, dikes, roads and a national railway system. Indeed, observes like Englishman J. B. Money whose book Java, or How To Manage A Colony (1861) was received in Holland with a great fanfare, concluded that the system provided a panacea for all colonial woes.

In reality of course, the pernicious effects of the Cultivation System were apparent from the beginning. While in theory the system called for peasants to surrender only a portion of their land and labour, in practice certain lands were worked exclusively for the Dutch by forced labour. The island of Java one earth, was thus transformed into a huge Dutch plantation. As noted by a succession of writers, beginning with Multatuli (nom de plume of a disillusioned Dutch colonial administrator, Douwes Dekker) and his celebrated novel Max Havelaar (1860), the system imposed unimaginable hardships and injustices upon the Javanese.

The long-range effects of the Cultivation System were equally insidious and are still being felt now. The opening up of new lands to cultivation and the ever-increasing Dutch demand for labour resulted in a population explotion on Java. From an estimated total of between 3 and 5 million in 1800 (a figure kept low, it is true, by frequent twas and famines), the population of Java grew to 26 million by 1900. Now the total has topped 110 million (on an island the size of New York State or England!), and the Malthusian time bomb is still ticking.

Another effect is what anthropologist Clifford Geertz has termed the “involution” of Javanese agriculture. Instead of encouraging the growth of an urban economy, as should have occurred under a free market system, Javanese agricultural development only encouraged more agriculture, due to Dutch intervention. This eventually created a twotier colonial economy in which the towns developed apart from the vast majority of rural peasants.

and in 1811

he was dismissed. Three months later, British forces occupied Java.

British troops landed near Batavia in August 1811 and the Dutch forces surrendered to them at Salatiga six weeks later. Thomas Stamford Raffles took over as Lieutenant Governor and began a vigorous programme of reform in the hopes of convincing the British government to retain Java permanently as a colony (as it was to do with the Cape of Good Hope and Ceylon). Raffles’ authority was quickly challenged by the sultan of Yogyakarta, but in 1812 British forces attacked, plundered the court of Yogyakarta and sent the sultan into exile, replacing him with his pliable son. To keep the court weak, Raffles also created a new principality within it, the Pakualaman, with a lesser status similar to that of the Mangkunegaran within Surakarta.

1811

The Navy was active off the Javanese coastline before and during the expedition. On 23 May 1811 a party from HMS Sir Francis Drake attacked a flotilla of 14 Dutch gunvessels off Surabaya, capturing nine of them.[2] Marrack, in north-western Java, was attacked and the fort defending the town largely demolished by a party from HMS Minden and HMS Leda on 30 July, while that same day a fleet of six Dutch gunboats flying French colours was attacked by HMS Procris, capturing five and destroying the sixth.[3][4]

Java Expedition

The British force was assembled at bases in India in early 1811, initially overseen by Vice-Admiral William O’Bryen Drury, and then after his death in March, by Commodore William Robert Broughton.[5] The first division of troops, under the command of Colonel Rollo Gillespie, left Madras on 18 April, escorted by a squadron under Captain Christopher Cole aboard the 36-gun HMS Caroline. They arrived at Penang on 18 May, and were joined on 21 May by the second division, led by Major-General Frederick Augustus Wetherall, which had left Calcutta on 21 April, escorted by a squadron under Captain Fleetwood Pellew, aboard the 38-gun HMS Phaeton.[5] The two squadrons sailed together, arriving at Malacca on 1 June, where they made contact with a division of troops from Bengal under Lieutenant-General Sir Samuel Auchmuty, and Commodore Broughton aboard the 74-gun HMS Illustrious. Auchmuty and Broughton became the military and naval commanders in chief respectively of the expedition.[5] With the force now assembled Auchmuty had roughly 11,960 men under his command, the previous strength having been reduced by approximately 1,200 by sickness. Those too ill to travel on were landed at Malacca, and on 11 June the fleet sailed onwards. After calling at various points enroute, the force arrived off Indramayu on 30 June.[2]

There the fleet waited for a time for intelligence concerning the strength of the Dutch. Colonel Mackenzie, an officer who had been dispatched to reconnoitre the coast, suggested a landing site at Cilincing, an undefended fishing village 12 miles east of Batavia.[6] The fleet anchored off the Marandi River on 4 August, and began landing troops at 14:00.[4] The defenders were taken by surprise, and nearly six hours passed before Franco-Dutch troops arrived to oppose the landing, by which time 8,000 British troops had been landed.[4][7] A brief skirmish took place between the advance guards, and the Franco-Dutch forces were repulsed.[7]

Fall of Batavia

On learning of the successful British landing, Janssens withdrew from Batavia with his army, which amounted to between 8,000 and 10,090 men, and garrisoned themselves in Fort Cornelis.[7] The British advanced on Batavia, reaching it on 8 August and finding it undefended. The city surrendered to the forces under Colonel Gillespie, after Broughton and Auchmuty had offered promises to respect private property.[7][8] The British were disappointed to find that part of the town had been set on fire, and many warehouses full of goods such as coffee and sugar had been looted or flooded, depriving them of prize money.[9] On 9 August 1811 Rear-Admiral Robert Stopford arrived and superseded Commodore Broughton, who was judged to be too cautious.[9][10] Stopford had orders to supersede Rear-Admiral Albemarle Bertie as commander in chief at the Cape, but on his arrival he learnt of Vice-Admiral Drury’s death, and the planned expedition to Java, and so travelled on.[8]

British advances

General Janssens had always intended to rely on the tropical climate and disease to weaken the British army rather than oppose a landing.[9] The British now advanced on Janssens’s stronghold, reducing enemy positions as they went. The Dutch military and naval station at Weltevreeden fell to the British after an attack on 10 August. British losses did not exceed 100 while the defenders lost over 300.[11] In one skirmish, one of Janssens’s French subordinates, General Alberti, was killed when he mistook some British troops in green uniforms for Dutch troops. Weltevreeden was six miles from Fort Cornelis and on 20 August the British began preparing fortifications of their own, some 600 yards from the Franco-Dutch positions.[10]

Siege of Fort Cornelis

 

 

Diagram of Fort Cornelis, Batavia.

Fort Cornelis measured 1 mile (1,600 m) in length by between 600 yards (550 m) and 800 yards (730 m) in breadth. Two hundred and eighty cannon were mounted on its walls and bastions. Its defenders were a mixed bag of Dutch, French and East Indies troops. Most of the locally raised East Indian troops were of doubtful loyalty and effectiveness, although there were some determined artillerymen from Celebes. The captured station at Weltevreeden proved an ideal base from which the British could lay siege to Fort Cornelis. On 14 August the British completed a trail through the forests and pepper plantations to allow them to bring up heavy guns and munitions, and opened siege works on the north side of the Fort. For several days, there were exchanges of fire between the fort and the British batteries, manned mainly by Royal Marines and sailors from HMS Nisus.[12]

A sortie from the fort early on the morning of 22 August briefly seized three of the British batteries, until they were driven back some of the Bengal Sepoys and the 69th Foot.[11] The two sides then exchanged heavy fire, faltering on 23 August, but resuming on 24 August.[8][13] The Franco-Dutch position worsened when a deserter helped General Rollo Gillespie to capture two of the redoubts by surprise. Gillespie, who was suffering from fever, collapsed, but recovered to storm a third redoubt. The French General Jauffret was taken prisoner. Two Dutch officers, Major Holsman and Major Muller, sacrificed themselves to blow up the redoubt’s magazine.[14]

The three redoubts were nevertheless the key to the defence, and their loss demoralised most of Janssens’s East Indian troops. Many Dutch troops also defected, repudiating their allegiance to the French. The British stormed the fort at midnight on 25 August, capturing it after a bitter fight.[8][13] The siege cost the British 630 casualties. The defenders’ casualties were heavier, but only those among officers were fully recorded. Forty of them were killed, sixty-three wounded and 230 captured, including two French generals.[14] Nearly 5,000 men were captured, including three general officers, 34 field officers, 70 captains and 150 subaltern officers.[13] 1,000 men were found dead in the fort, with more being killed in the subsequent pursuit.[13] Janssens escaped to Buitenzorg with a few survivors from his army, but was forced to abandon the town when the British approached.[13]

Total British losses in the campaign after the fall of Fort Cornelis amounted to 141 killed, 733 wounded and 13 missing from the Army, and 15 killed, 45 wounded and three missing from the Navy; a total of 156 killed, 788 wounded and 16 missing by 27 August.[13]

Later actions

Royal Navy ships continued to patrol off the coast, occasionally making raids on targets of opportunity. On 4 September two French 40-gun frigates, the Méduse and the Nymphe attempted to escape from Surabaya. They were pursued by the 36-gun HMS Bucephalus and the 18-gun HMS Barracouta, until Barracouta lost contact.[15][16] Bucephalus pursued them alone until 12 September, when the French frigates came about and attempted to overhaul her. Bucephalus‘s commander, Captain Charles Pelly, turned about and tried to lead the pursuing French over shoals, but seeing the danger, they hauled off and abandoned the chase, returning to Europe.[17][18]

On 31 August a force from the frigates HMS Hussar, HMS Phaeton and HMS Sir Francis Drake, and the sloop HMS Dasher captured the fort and town of Sumenep, on Madura Island in the face of a large Dutch defending force.[18] The rest of Madura and several surrounding islands placed themselves under the British soon afterwards.[19] Suspecting Janssen to be in Cirebon, a force was landed there from HMS Lion, HMS Nisus, HMS President, HMS Phoebe and HMS Hesper on 4 September, causing the defenders to promptly surrender. General Jamelle, a member of Janssens’s staff, was captured in the fall of the town.[18][19] The town and fort of Taggal surrendered on 12 September after HMS Nisus and HMS Phoebe arrived offshore.[20]

While the navy took control of coastal towns, the army pushed on into the interior of the island. Janssens had been reinforced on 3 September by 1,200 mounted irregulars under Prince Prang Wedono and other Javanese militia. On 16 September Salatiga fell to the British.[20] Janssen attacked a British force under Colonel Samuel Gibbs that day, but was repulsed. Many of the native militia killed their Dutch officers in the ensuing rout.[21] With his effective force reduced to a handful of men, Janssens surrendered two days later, on 18 September.[18][20]

Aftermath

The Dutch-held islands of Amboyna, Harouka, Saparua, Nasso-Laut, Buru, Manipa, Manado, Copang, Amenang, Kemar, Twangwoo and Ternate had surrendered to a force led by Captain Edward Tucker in 1810, while Captain Christopher Cole captured the Banda Islands, completing the conquest of Dutch possessions in the Maluku Islands.[22] Java became the last major colonial possession in the East not under British control, and its fall marked the effective end of the war in these waters.[22][18] Stamford Raffles was appointed Lieutenant Governor of Java.[23][24] He ended Dutch administrative methods, liberalized the system of land tenure, and extended trade. Britain returned Java and other East Indian possessions to the newly independent United Kingdom of the Netherlands under the terms of the Treaty of Paris in 1814.

British order of battle

Stopford’s fleet on his arrival on 9 August to assume command of the expedition, consisted of the following ships, dispersed around the Javanese coast:[10]

Rear-Admiral Stopford’s fleet

Ship

Rate

Guns

Navy

Commander

Notes

HMS Scipion

Third rate

74

 

Rear-Admiral Hon. Robert Stopford
Captain
James Johnson

 

HMS Illustrious

Third rate

74

 

Commodore William Robert Broughton
Captain
Robert Festing

 

HMS Minden

Third rate

74

 

Captain Edward Wallis Hoare

 

HMS Lion

Third rate

64

 

Captain Henry Heathcote

 

HMS Akbar

Fifth rate

44

 

Captain Henry Drury

 

HMS Nisus

Fifth rate

38

 

Captain Philip Beaver

 

HMS President

Fifth rate

38

 

Captain Samuel Warren

 

HMS Hussar

Fifth rate

38

 

Captain James Coutts Crawford

 

HMS Phaeton

Fifth rate

38

 

Captain Fleetwood Pellew

 

HMS Leda

Fifth rate

36

 

Captain George Sayer

 

HMS Caroline

Fifth rate

36

 

Captain Christopher Cole

 

HMS Modeste

Fifth rate

36

 

Captain Hon. George Elliot

 

HMS Phoebe

Fifth rate

36

 

Captain James Hillyar

 

HMS Bucephalus

Fifth rate

36

 

Captain Charles Pelly

 

HMS Doris

Fifth rate

36

 

Captain William Jones Lye

 

HMS Cornelia

Fifth rate

32

 

Captain Henry Folkes Edgell

 

HMS Psyche

Fifth rate

32

 

Captain John Edgcumbe

 

HMS Sir Francis Drake

Fifth rate

32

 

Captain George Harris

 

HMS Procris

Sloop

18

 

Captain Robert Maunsell

 

HMS Barracouta

Sloop

18

 

Captain William Fitzwilliam Owen

 

HMS Hesper

Sloop

18

 

Captain Barrington Reynolds

 

HMS Harpy

Sloop

18

 

Captain Henderson Bain

 

HMS Hecate

Sloop

18

 

Captain Henry John Peachey

 

HMS Dasher

Sloop

18

 

Captain Benedictus Marwood Kelly

 

HMS Samarang

Sloop

18

 

Captain Joseph Drury

 

The British Army troops attached to the force included 12,000 soldiers from the 22nd Light Dragoons; 14th Foot; 59th Foot; 69th Foot; 78th Foot; 89th Foot; 102nd Foot. There were also contingents of the Royal Marines, and several regiments of Madras Native Infantry and Bengal Native Infantry, with half of the overall troop strength consisting of Indian troops of the East India Company. General Samuel Auchmuty was the overall commander, but he delegated the field command to Major General Rollo Gillespie.[9]

 

In addition to the official navy forces, the East India Company provided the services of several of their ships, led by the Malabar under Commodore John Hayes. These were the Ariel; Aurora; Mornington; Nautilus; Psyche; Thetis; Vestal. With the transport vessels, and several gunboats captured as the campaign progressed, Stopford commanded nearly a hundred ships.[10]

 

THE FRENCH EMPIRE

1811

After the annexation of the Kingdom of Holland by France in 1811 the imperial symbol appeared in the East Indian Archipelago.

 

Seal of the Governor General of the Dutch Indies dd. 20 II – 18 IX 1811.

French Imperial Eagle. L.: gouverneur generaal van indien.

This seal was only used for a very short time and prints are very rare [16]

 

From 1811 until 1813 the seal of the combined ministries showed the coat of arms of Napoleon Bonaparte.

THE BRITISH

1811-1815

In the time of British rule in the Dutch possessions in the East Indies the Royal British achievement should have been used. No examples of this achievement from Dutch East Indian soil are known however.

The coat of arms of the quite famous lieutenant governorof the Dutch East Indies from 1811-’16, Thomas Stamford Raffles, was:

 

 

Or a double headed Eagle displayed Gules charged on the breast with an Eastern Crown on the first, on a Chief Vert pendent from a chain two oval Medallions in Pale the one bearing Arabic characters and the other a dagger in fess the blade wavy the point towards the dexter in relief Or, the said medallions and chain being a representation of a personal decoration called the Order of the Golden Sword conferred upon by him by the Chief or King of Atcheen in Sumatra as a mark of the high regard of the said King and in testimony of the good understanding which had been happily established between that Prince and the British Government; and for a crest out of an Eastern Crown Or a Gryphon’s Head Purpure gorged with a collar gemel Gold.”

THE SECOND KINGDOM

1815 -1940/’49

After the defeat of Napoleon the Sovereign Principalityof the Netherlands prepared the restoration of Dutch rule in the Indies. This meant also the restoration of the old symbols of sovereignty. By royal resolution of 8 November 1815 nr. 39 the introduction of new currency was provided for. The design for a 1 guilder-piece shows the Dutch Virgin on the obverse and the crowned ancient arms of the States General and the Executive on the reverse. From this guilder only one minted coin is known.

 

1810

 

This painting is of an East Indiaman, the “Earl of Abergavenny” is an example of the ships built for the 19th Century China trade. They were twelve to fourteen hundred tons and carried twenty to thirty guns; necessary to fight off pirates. Their Captains were mostly ex-Royal Navy officers and they sailed from China in a fleet under a Commodore. The ships were used for about four voyages before being replaced.

 

When Java was taken by the EIC the Old Dutch mint at Sourabaya was restored and its Dutch mint master, Zwekkart reappointed to strike copper similar to Dutch designs, but using the EIC balemark instead of the Dutch one. The ½ stiver of 1811 is shown, obverse on left, reverse on right. The blanks were cast and issued each year from 1811 to 1815. They have a “z” for the mint master.

 

Java also used lighter copper pieces called “doits” (¼ stivers), minted in 1811 & 1812. Obverse left; reverse right, with “B” above balemark. The blanks were cast, with obvious tangs not removed. The letter “B” is for Batavia or possibly British, as on the balemark. No value is stated, but there were 4 doits to a stiver and 30 stivers to a rupee. Java was returned to the Dutch

 

This coin has been struck with the gold ½ mohur dies, obverse left, reverse right, but it is silver. The gold has Christian dates from 1813 to1816, the mint being closed on 8th July 1815. Apparently Zwekkert was empowered to continue minting gold and silver coins at the request of private individuals. There are no silver half rupees known and it is unlikely we shall ever know why this coin was struck. The gold is very rare and this striking is included as an example of the dies.

 

700,000 St. Helena copper halfpennies dated 1821 were intended for use by the local population, greatly increased by the military garrison, who were guarding Napoleon Bonaparte in exile. By the time the coins arrived, Napoleon had died and most of the garrison had left. The order had gone to Birmingham’s Soho mint, with a request that the arms for the obverse should be those used for the Penang 1810 issue.
That issue had been struck by the Royal Mint however, so new obverse as well as reverse dies had to be made.

 

Penang. Top left Rev ½ cent; Top right obverse1 cent; under is the reverse of the 2 cents.
The “money of account” in Penang was changed in 1826 from the Spanish dollar to the Bengal sicca Rupee. The pice then became a cent, with 48 cents = 1 Rupee. In this same year Penang Singapore and Malacca were united as the Straits Settlements. The Royal Mint struck ½ pice and 1 pice in 1810:

 

1811

A Dog’s Life

The upas tree was actually being thoroughly investigated by serious botanists in the same period that Foersch was writing.  They had approached it in person and found that ‘The fiction which has gone abroad of the very atmosphere of the tree being mortal, is unfounded’; they had collected its resins, sketched its blossoms, and sacrificed dozens of dogs, cats and chickens – and at least one rabbit – during thorough scientific investigations of its lethal properties. A report by a Mr B.C. Brodie of just what upas toxin would do to its victims was read to the fascinated Fellows of the Royal Society in February 1811:

About two grains of this poison were made into a thin paste of water, and inserted into a wound in the thigh of a dog.  Twelve minutes afterwards he became languid; at the end of fifteen minutes, the heart was found to beat very irregularly and with frequent intermissions; after this he had a slight rigor.  At the end of twenty minutes, the heart beat very feebly and irregularly; he was languid; was sick, and vomited; but the respirations were as frequent and as full as under natural circumstances, and he was perfectly sensible.  At the end of twenty minutes he suddenly fell on one side, and was apparently dead.

And such, it seems, is a dog’s life…

Brodie and other serious scientists had long sneered at Foersch as a man who had ‘endeavoured to mislead Europe with a degree of impudence scarcely to be believed or forgiven’.

But whatever the scholars thought, Foersch had the populist touch; his tale was reprinted again and again – sometimes under other names which only added to the confusion – and when Napoleon invaded Holland and made Java fair game for British intervention the myth of the Poison Tree was still current and widely believed.  The Government of Britain was faced with the prospect of conquering a little-known land where the trees were toxic, the concubines were faithless, and the dogs suffered terribly in the name of science

 

 

Ketika Batavia berhasil diduduki Inggris pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkeraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.

Tahun 1812, peperangan dengan Inggris dimulai karena Sultan tidak mau mengakui kekuasaan Inggris di Palembang dan mengangkat Najamuddin menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyingkirkan ke Muara Rawas.

Berdasarkan Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia harus dipulihkan, tahun 1818 Inggris mengembalikan kekuasaannya di Palembang kepada Belanda. Selanjutnya Inggris juga kembali mengangkat Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Raja Palembang.

Namun, sejak tahun itu pula perang antara Sultan Mahmud badaruddin II dengan Belanda kembali berkobar. Tanggal 1 Juli 1821, Kesultanan Palembang berhasil diduduki Belanda dan Sultan berhasil ditawan. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Maluku Utara hingga wafatnya. Sultan Mahmud Badaruddin II tercatat sebagai salah satu pejuang Nasional yang melakukan perlawanan terhadap dua penjajah sekaligus yaitu Inggris dan Belanda.

 

1813

 

Minangkabau brass keeping coin in 1813

1813

 

 

Java tin doits, obverse left; reverse right. These doits were only struck in 1813 and 1814 by the Dutch mint master Ekenholm, using the United East India Company balemark. Lead forgeries are known.

 

A separate mint for gold and silver was erected at Sourabaya and silver rupees were struck from 1813 to 1816. The obverse on the left is in Javanese with Zwekkert’s initial below. The reverse on the right is in Arabic script; there is an engraving mistake in the date (mid left side). It reads 1668, instead of 1228; mistakes were common when European engravers reproduced Arabic and other unfamiliar languages.

 

1814

in 1815 after hostilities had ended in Europe, under the Treaty of Vienna, 13th August 1814. The delay was mainly due to the sailing time to the East Indies. Zwekkert continued in office, dying in 1819.

 

Nederlandsch Oost-Indië, 1 gulden, 1815 Æ 31 mm.

At the date of the Royal Resolution the coat of arms of the Sovereign Principality of 14 January 1814 was already substituted by Royal Resolution of 24 August 1815. The new coat of arms, amended in 1816, was used in the Colonies throughout the nineteenth century and was changed again in 1907. [17])

A picture of this coat of arms was in the Audience Hall above the seat of the Governor General in Batavia.

The seal for the Dutch Indies showed this coat of arms with the legend DEPARTEMENT VAN KOLONIËN (until 1848) and MINISTERIE VAN KOLONIËN until 1945.

 

 

The Dutch East Indies never had a coat of arms of its own. The coat of arms of Batavia was often considered as such and it is said that Governor General Van Heutz (1904-‘09) was a strong advocate of the idea. A proposal for a coat of arms was made in 1933 by Dirk Rühl on the frontispeice of his “Nederlandsch Indische Gemeentewapens”. His design shows a parted per pale of the Netherlands and Batavia.However, no specific coat of arms for the Dutch East Indies was ever adopted.

 

THE COMMERCIAL SUCCESSOR OF THE VOC

The commercial successor of the V.O.C. was the Nederlandse Handelmaatschappij (NHM), founded in 1824  (after the Anglo-Dutch treaty). In 1964 this company merged with the Twentsche Bank and changed its name in Nederlandsche Middenstands Bank. In 1990 the NMB merged with the Amsterdam-Rotterdam Bank into the ABN AMRO Bank. This bank was split up in 2007. (Fortis, Bank of Scotland en Banco Santander).

The emblems of the Nederlandsche Handelsmaatschappij were deposed in 1866. They consisted of a larger emblem, a medial emblem and a cypher. [18]

 

 

The larger emblem consists of disc charged with a winged anchor between the date 1824, surrounded by the title nederlandsche handel maatschappy. As a crest a three-masted sailing ship and as supporters two lions couchant. Below the central emblem is the cypher NHM. The achievement is surrounded by waves of the sea and decorated with several floral motives.

 

1809

 

Daendels Palace (1809)

Weltevreden/Jakarta, Indonesia

Construction of this architectural gem was commissioned by Governor-General Herman Willem Daendels. As a governor general, Daendels stimulated the move southwards of Batavia; the densely populated walled city was unhealthy and many inhabitants suffered from malaria and cholera. The area of Weltevreden, several kilometres south of Batavia, originally a country estate, was developed and would turn into a highly fashionable area. Halfway Batavia and Weltevreden, the new accommodation for the club Harmonie was constructed.

In Weltevreden, on the Paradeplaats, a new Government House was erected; since Daendels did not wish to inhabit the old country estate (known as the Van der Parra estate), officially assigned to the governors general. The Government House is a building constructed in the period 1809-1827 in Batavia, ‘capital’ of the Dutch colony in the East-Indies. Construction was ordered by governor general H.W. Daendels (1808-1811) and completed by governor general L.P.J. du Bus de Ghisignies (1826-1830).

The building has been preserved and is located on present Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, which was known in the nineteenth century as Paradeplaats and since 1828 as Waterlooplein. Modelled in the Empire style, the proportionate Witte Huis (White House) measures 160 meters lengthwise. The pillars on the first story are Doric, whereas those on the second level are Ionic in style. In the past, the building hosted many state functions and even served as a post office, a printing office and a high court. Today, it houses the Indonesian Ministry of Finance.


[IMG]www.geheugenvannederland.nl[/IMG]The Supreme Court (left) and the Daendels Palace at the Waterloo Square. (Architect: J.C. Schultze, compl. by J. Tromp, 1809)


Daendels Palace.

 

 


Picture by De Rooij Fotografie

1814

SACRED

to the Memory of

OLIVIA MARIAMNE

Wife of

the Honourable THOMAS STAMFORD RAFFLES

Lieutenant Governor

OF JAVA

And its Dependancies

Who departed this life

Buitenzorg

The 26th day of November 1814

Raffles went on from Java to found Singapore. Any tiredness I had felt before had instantaneously disappeared. Here it was, right before my eyes, a fragment of our colonial past.

the tomb with renewed vigour, snapping away as we circled the majestic final resting place of Olivia Mariamne Raffles. Thoughts filled up our mind. What if Olivia Raffles did not fall victim to her illness during her stay in Java? What if she had followed Raffles to Singapore? What changes would she have implemented as the First Lady of the founder of Singapore?

 

British possessions in Indonesia,

1810-1817

Javanese territories ceded to the colonial governments of Daendels and Raffles, 1808-1812

Both Daendels and Raffles radically restructured the administration of the island, reducing the power of the bupati, changing the taxation system and turning the village into the basic administrative unit. Raffles in particular emphasized that ‘native welfare’ should be an aim of the colonial government, and he introduced a form of land tax, called land rent, in an effort to develop a money economy on the island.

 

 

EIC Indies lead coin 1814

Raffles’ rule, however, was only brief. At the end of the Napoleonic Wars, Britain’s policy was to strengthen the Netherlands as a European counterweight to France, and

1813

1811/ 1813 Raden Demang Anggadipa (1807-1811/1813) dicopot dari kedudukannya oleh pemerintah kolonial Belanda karena menolak penanaman paksa nila sebagai pengganti beras. Beliau keberatan dengan kebijakan Belanda itu karena akan mengakibatkan rakyat kelaparan. Akibat pembangkangan itu, Kadipaten Sukapura sementara waktu dihapuskan dan diserahkan pemerintahannya pada Limbangan di bawah Raden Tumenggung Wangsareja (1805-1811).

 

1815 -1871

 

Sultan Mustafa

 

 

 

Pagaruyung King,

Tuanku Raja Muning Alamsyah Surviving Coup
By: Puti RENO RAUDHA Thaib
Chairman Bundo Kanduang West Sumatra
IN THE past two weeks in a row has been submitted on institutional Rajo Alam, Rajo Rajo Indigenous and Worship. Furthermore, we have also seen footage of a king Minangkabau, among many kings ascending and descending turns.
Tuanku Raja Muning Alamsyah or also called The Sultan Alam Muningsyah lordship is king Pagaruyung nature that survived the incredible tragedy of murder in Koto Tangah, Tanah Datar in 1809 in Padri War raged in Minangkabau. Year this tragedy disputed. Christine Dobin recorded in the Islamic Revival In Its Farmers in Changing Economy, (Inis, Jakarta 1992) tragedy occurred in 1815, as well as written Rusli Amran in West Sumatra Plakat As Long, (Sinar Harapan, Jakarta, 1981).

Original info

Oleh: PUTI RENO RAUDHA THAIB
Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat

PADA dua minggu lalu berturut-turut telah disampaikan tentang institusi Rajo Alam, Rajo Adat dan Rajo Ibadat. Selanjutnya kita melihat pula cuplikan tentang seorang raja Minangkabau, di antara banyaknya raja-raja yang turun naik silih berganti.

Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1809 dalam masa Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau. Tahun terjadinya tragedi ini dipertikaikan. Christine Dobin mencatatkan dalam Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, (Inis, Jakarta 1992) tragedi tersebut terjadi pada tahun 1815, sebagaimana yang juga ditulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (Sinar Harapan, Jakarta 1981).

 

1815

Naskah SKSJ mencatat bahwa akhirnya Tuanku Nan Renceh memusuhi Tuanku Nan Tuo yang tetap memegang sikap moderat dalam memperjuangan cita-cita Gerakan Paderi. Tuanku Nan Tuo mengecam cara-cara di luar peri kemanusiaan yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya terhadap penduduk nagari-nagari yang mereka taklukkan. Tuanku Nan Renceh menghina ulama kharismatik yang dituakan di darek itu dengan menyebutnya sebagai “rahib tua” dan Fakih Saghir, sahabat dan bekas teman seperguruannya, digelarinya “Raja Kafir” dan “Raja Yazid” (Kratz & Amir: 41).

Perpecahan di kalangan pemimpin Paderi tak terelakkan: Tuanku Nan Renceh membentuk kelompok sendiri yang terkenal dengan sebutan “Harimau Nan Salapan” yang militan, yaitu Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galuang, Tuanku di Kota Hambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Bansa dan Tuanku Nan Renceh sendiri (Kratz & Amir: 39).

 Mereka memisahkan diri dari Tuanku Nan Tuo dan mencari patron (imam besar) yang baru, yaitu Tuanku di Mansiang. Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya pun beberapa kali berusaha membunuh Tuanku Nan Tuo. Ia menganggap mantan gurunya itu menghalang-halangi tujuannya dan terus-menerus mengeritik jalan radikal yang ditempuhnya bersama pengikutnya. Namun, seperti diceritakan Fakih Saghir dalam SKSJ, upaya pembunuhan itu gagal.

Seperti diuraikan oleh seorang penulis berinisial v.D.H. dalam artikelnya “Oorsprong der Padaries (Eene secte op de Westkust van Sumatra)” (TNI 1.I, 1838: 113-132), Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya yang militan kemudian menjadi lebih terkenal, meredupkan pamor kelompok moderat (Tuanku Nan Tuo dan pengikutnya). Dalam tahun 1820-an, pengikut golongan radikal itu makin banyak di Luhak Nan Tigo. Mereka mewajibkan kaum lelaki memelihara jenggot, yang mencukurnya didenda 2 suku [1 suku = 0,5 Gulden); memotong gigi didenda seekor kerbau; lutut terbuka didenda 2 suku; wanita yang tidak pakai burka didenda 3 suku; memukul anak didenda 2 suku; menjual/mengkonsumsi tembakau didenda 5 suku; memanjangkan kuku, jari dipotong; merentekan uang didenda 5 shilling; meninggalkan shalat pertama kali didenda 5 suku, jika mengulanginya dihukum mati (lihat: B.d., “De Padries op Sumatra”, IM 2e Twaalftal, No. 5&6, 1845 [1827]:167-180, hal.172).

Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya menjadi momok besar bagi masyarakat Minang waktu itu, khususnya Kaum Adat. Semakin meluasnya pengaruh faksi radikal Kaum Paderi yang dibidani oleh Tuanku Nan Renceh telah mendorong Kaum Adat minta bantuan kepada Belanda.

 

 Ikut “mengundang” sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815

 

 

in 1816

restored Java to Dutch rule; the outer territories were restored in 1817.

1816

 


SULTAN THAHA SYAIFUDDIN
Lahir : Jambi, 1816
Wafat : Betong, 24 April 1904

1818
Bencoolen has become well -known fort the fact that sin Thomas stamford Raffles was the last lieutenant governor from 1818-1824 when the settlements reverted to the dutch. it was from bengkulu, in 1819, that laffles, despite disapproval of the company in london and madras, sailed off to establish a british settlemen in the singapure. the historical and strategic importance and 20 th centries would hard to assess
Following the example of the dutch it was considered necessary to provide military protection for the settlement, and small fortification was built on a narrow spit of land between the sea and the Bengkulu river (now sungai serut). The original fortification named York for was manned by two companies of infantry soldiers and artisans who had been redruited in london. The site proved to be very unhealthy owing to the close proximity of the  river and mangrove swamps. There were many deaths in the early day among the soldiers sen to garrison the fort as well as the civil servants living there.

.

It was Vastly different to the fort that can be seen today, being just a  rectangle of building wit a roof capable of supporting the artillery pieces required to defend the fort. house of the Deputy Govendor was contructed and the diagram on the original plan.

In 1719,

shortly after completion, the fort was abandoned by the Deputy Govendor and the whole garrison in the face of the major di sagreement with the local rules. It was feared that anttack migh be made on the settlemen. It was not until 1723 that the Ease India company despatched a new Deputy Govendor and staff to reestablish the settlement.Following the return of the traders the military garrison, consisting of two companies of infantry and an artillery detachmen, was established. Repairs  were made to the fort and the depences strengthened. The local people who had been seriously affeced by the sudden departure of the settlers were once again contracted to suply pepper to the company. One of the major problems facing the military garrison was the distance between them and their ‘master’. Requests for stores, gunpowder and such like had to be submitted to the court of Directort in London. These would be despatched by the firt available sailing vessel returning to london, a journey which coul take as long as eigh months : 12-16 months for the ron journey. it is not the garris stores were at acrical level, and it is recorded that some times it became necessary for vital.Stores, such as gunpowder,  to be requesisioned from traiding vessels calling at Bencoolen.

 

The garrison at this time was supplied wit sepoy troops from the madras presidency in India, although frequent use was made of the buginese troops from the celebes Islan. The begal sepoys continued to serve at Bencoolen and the other west coast settlemen, until all of the british trading posts along the west coast of sumatra were handed over to the Dutch Argeement of 1824. the actual handover took place earlt in 1825. Raffles arrived in Bencoolen in 1818 and immediately applied his enligh ened style of government which he had demontrated to great effec during his time as lieutenent Govenor of java from 1811-1816. Towards the end of the Napoleoonic wars, java had been captured from the french in a short, sharp campaign bastion at cornelis, now covered by Manggrai, within present day jakarta. With greatly improved relation with the local rules, Raffles was able to begin the run down og the Bencoolen settlement and to reduce the high cost of maitaining a large garrison force. He was also able to place Fort Marlborough on a lower states of readiness, perceiving that there was little or no thereat from any other Euoropean nation. Following the handover of the settlemen to the Dutch in 1825, records show that the for continued to be manned by Dutch colonial troops, although it was never enlarged or upgraded with the exception of the intruduction, during the mid-19 th century, of four breech loading guns mounted on each of the four bastions.The dutch continued to occupy Fort Marlborough until the scond word war and after the fall of sumatra it was then occupied by the japanese army. Following the surrender of the japanese in 1945 the fort was again briefly occupied by the dutch. After independence For Marlboroug was used by the indonesian army and police force until it was abandonednin the late 1970′s. The fort remains in its present state following a sympathetic restorasion programme which was carrid out in the late out 1980′s.

_____________________________________________

 

THE HISTORY
EAST INDIA COMPANY (EIC)
AND FIRST FLEET INTO BENCOOLEN

 

 

~

 

 

Establishment~

The East India Company (EIC) was the oldest among several similarly formed European East India Companies, the Company was granted an English Royal Charter, under the name Governor and Company of Merchants of London Trading into the East Indies, by Elizabeth I on 31 December 1600. The original object of the group of merchants involved was to break the Dutch monopoly of the spice trade with the East Indies. Therefore, EIC formed for the exploitation of trade with East and Southeast Asia and India.The first trading post, known as a station or factory, was set up at Surat on the Indian’s West Coast (Bombay Presidency) around 1612 and the second at Fort St. George (Madras Presidency) 1640.


British East Indiamen

~First Fleet of East Indiamen on Bencoolen~

The East Indiamen were ships operating under charter or license to any of the East India Companies of the major European trading powers of the 17th through the 19th centuries. They were designed to carry both passengers and goods and to defend themselves against piracy, and so constituted a special class of ship.The first British East Indiamen anchored in Bencoolen in 1685, lead by Ralph Ord and William Cowley. Under the command of Captain J. Andrew, there were The Caesar, The Resolution, and The Defense. The EIC’s influence spread with Fort York (1685–1719) and continued in Fort Marlborough (1719–1824), both established in Bencoolen, West Coast of Sumatra.Other factories were established in the Prince of Wales Island (Penang), Singapore, Malacca, Java, Borneo, Celebes, Siam (Thailand), Persia (Iran) and the Persian Gulf, Macao and Whampoa (China), and St. Helena.

~Insolvency~

The Indian Rebellion of 1857, known to the British as the “Great Mutiny” (also known as First War of Indian Independence), brought the consequence that the British government nationalized the EIC indirectly. After this rebellion, the EIC lost all its administrative powers and dissolved on 1st of January 1874.

 

 

THE SOLDIER OF BRITISH EAST INDIA COMPANY

EIC was indirectly subject to the British government and it ruled India through the three presidencies of Bombay, Madras, and Bengal, each of which maintained forces for internal and external defense.The backbone of the EIC military system was the Indian regular soldier or sepoy (from the Persian sipahi) and for infantry private (a cavalry trooper was a Sowar). They served under mainly British officers and mainly Indian NCOs


The painting above depicts a soldier of the European Company of the West Coast of Sumatra garrison, on duty at Fort Anne, Moco Moco, circa 1764.
Courtesy: Alan Harfie, “A History on the Honourable East India Company’s,
Garrison on the West Coast of Sumatra 1685-1825”

Native Troops, East India Companys Service, A Sergeant and a Private Grenadier Sepoy of the Bengal Army, from Costumes of the Army of the British Empire, according to the last regulations 1812, published by Colnaghi and Co. 1812-15, Charles Hamilton Smith.

British officers, trained at the EIC’s ‘military seminary’ at Addiscombe, held their commissions from the EIC’s court of directors and enjoyed the right of command over British troops.

_____________________________________________

THE FIRST GARRISON:
REMNANTS OF FORT YORK


Me and John Verbeek observed the remnants of Fort York
The thick bushes in right side is ruin of the ramparts


Remnants of Fort York


Left End: Location of Fort York
Edge of Serut River Estuary

Fort York was established in small hill close the estuary of Serut River based on the agreement of 12th of July 1685 that The British EIC was permitted to build a settlement in the area close to the estuary, and built a fort to cover their village regarding the spice trading.The agreement was prepared by EIC representative in Fort St. George in Madras, signed by Deputy Governor Ralph Ord and Young Prince from Sungai Lemau.

 


Gravestone of Richard Watts Esquire (moved from British Cemetery in Fort York)“Richard Watts Esq.
Sometime of Council for the

Right Honourable Company Affairs
In the Fort St. George
And in the year 1699 came
over Deputy Governor of this place
And in … years after
Made by … from
The Company the First President of this Coast
In this Station he departed
This life December 17th 1705 and
In the 44th years of his age”

 

 

 

Situation now in 2013

 

 

.
Gravestone of George Shaw (moved from British Cemetery in Fort York)“George Shaw
Son of
Mr. Thomas Shaw
Of London Merchant;
After he had served the Right Honourable Company
as Factor in Fort St.
George for some time;
Came over in the year 1699
served of this place
In this Station he continued
Until has removed by the death, April 25th 1704
Atatis 28”Explanation:
“Atatis 36”, it stands for “anno aetatis suae 28”,
that means “”in the year of his age 28

 

 

 

 

 

 

 

Situation now in 2013

Graveston George shwa not found anymore

 

Other gravestone still found

 

 

Capten James Cuney

 

 

Gravestone Henry Stirling

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Coin EIC found from Bencolen related with  Fort Malborough  at West Sumatera in 1985

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read more info about EIC coin

Source

John Robert Lewis (1999)

 

The East India Company outside India

 

 

 

 

 

The East India Company (E.I.C.) was granted a charter by Elizabeth I in 1600 and in that year these coins were struck in London at the Tower Mint.

 

In 1601 the Company’s first expedition was sent to the Indies, carrying trade goods and silver coin to the value of £28,742. It is not known what proportion of the coins was of the “Portcullis” issue. As trade coins they were too little and too late; the Spanish dollar was the accepted standard for the area, so they were probably used as bullion. The unit is a dollar or 8 testerns with fractions of half, quarter, and eighth.

 

This map shows the locations mentioned in the talk and Bantam in NE Java was the main factory (Trading Post) for the E.I.C.

The enterprise was not successful and the Company withdrew in 1683 or 84 returning in 1687 to establish a factory at Bencoolen on the S.W. coast of Sumatra; this later became a successful settlement.

 

St. Helena was a useful re-supply base on the long journey from Europe to the Indies.

 

It became a Crown Colony in 1651 with the E.I.C. responsible for administration. The Cocos-Keeling Islands were found in 1609 during one of the early voyages when Captain Keeling was blown south, off course, and was making his way back to the Indies.

 

These coins of Sumatra were struck by the E.I.C.’s Bombay mint.
Top left: – silver 3 fanams (1693). Top right: – silver 2 fanams (1695).
Under left: – silver 1 fanam (1693). Under right: – copper 1 cash (1695).


The obverses use the “balemark” of the original London E.I.C. with an orb having a cross over. The letters inside the orb are said to stand for “G(overnor and) C(ompany of the Merchants of London trading to the) E(ast Indies)”. Often a “C” is used for a “G”.

Dr Iwan Also found this  EIC coin in  Bronze

 

These are the reverses of the previous Sumatra coins. The “Malay Arabic” is translated as “English Company”. The monetary system is 24 fanams = 1 Spanish dollar and 20 cash = 1 fanam. Value of a dollar fluctuated in some parts if the East Indies.

 

A montage of extremely rare E.I.C. coins struck in 1714 for use in St. Helena is made from black and white illustrations. The heart –shaped bale mark began use when the New or English East India Company was formed in 1698. The London E.I.C. bought a large number of the former’s shares and the two amalgamated in 1708/9 as “The United Company of Merchants of England trading to the East Indies.” This is shortened to the letters V.E.I.C. on the balemark, for United East India Company.

 

It was 88 years after coins were for struck for Sumatra by the Madras Mint that the next ones were struck for them.

 

This was in 1783 by a private mint in Bengal owned and set up by John Prinsep. The copper pieces of 2 kepings have on the obverse the balemark commonly used in the 19th Century. It has a device like a figure “4” sometimes claimed to be an altered Cross, changed so as not to offend non Christians. However, Madras, for example, was still using the Cross style into the 19th Century, but no other explanation for the “4” seems to exist. The 2 kepings reverse has date and value in Arabic.

 

The Sumatra silver 2 Sookoos were struck by the Calcutta mint dated 1793 and 1794. Fort Marlborough was built in1714, 3 miles south of Fort York. It had a convict settlement attached; whose prisoners worked on the E.I.C. plantations. The reverse inscription in Malay script says “money of the Company”; the designs were approved by Warren Hastings.

 

The next Sumatra copper coinage of one, two, and three kepings was struck by Mathew Boulton, but not at his Soho mint. This was the historic first order for Boulton, who would supply the coining machinery to a makeshift London mint, as Soho had a water-powered rolling mill, but as yet no mint. The first issue was dated 1786 and there were repeat orders in1787 and 1798, the latter struck by Boulton’s steam machinery.

 

A uniface undated copper cent was struck at Calcutta and taken with the founding EIC expedition to Pulu Penang in 1786. The Island had been given to Francis Light by the Rajah of Kedah, whose daughter he had married. Light thought it would make a suitable Naval Station for the EIC and as part of the agreement, the Sultan was offered protection. However Kedah was annexed by Siam in 1821 and the Sultan deposed.

 

The following year, 1787 Calcutta struck copper 1, ½ and ¼ cents for Pulu Penang. The common obverse is a balemark, no value is stated and the reverse inscription translates as “Prince of Wales Island.”

 

Silver followed in 1788 also struck by Calcutta. Again no values stated, the obverse and reverse of the 1/10 dollar is shown. It was overweight being close to 1/8 dollar; the ¼ and ½ dollars were also overweight and it is probable that most of the issue was melted for bullion as the issue is now scarce.

 

A pen and ink drawing, made in the late 20th century is of wooden warehouses on Malacca’s waterfront. Probably it was little different in the time of the East India Company when, during the Napoleonic Wars, the EIC occupied the Dutch settlements, including Malacca, to deny their use to the French.

 

Despite the large orders for Sumatra struck by Boulton, a shortage of coin in 1787 was met by overstriking an emergency half dollar on copper 3 kepings coins. They were struck it is said for the Governor at Fort Marlborough, to pay his troops or possibly the convict workers.

I

In 1804 the Soho mint Birmingham struck another copper issue for Sumatra. The arms of the EIC were used for the obverse and closely resemble the design used for Bombay, being struck at Soho at the same time. The Sumatra denominations in kepings are 4, 2 and 1. The designs were used again in1823 when the weights were reduced to two thirds using thinner blanks, because copper price had increased. The 1804 date was not altered. In 1824 Soho’s mint was being prepared for sale to Bombay, but with one press not yet in a crate, ten more tons of the light 1804 coins were struck for Sumatra.

 

A proof Sumatra 2 kepings obverse shows clearly details of the EIC arms. The cross of St George has the arms of Great Britain in the first quarter. The supporters are Lions rampant, bearing standards with flags carrying the cross of St. George. Above the shield is the crest of a lion rampant, standing on a helm, on a torso, holding between the forepaws an Imperial crown. The whole rests on a scroll whose Latin is translated as “Under the Auspices of the Sovereign and Senate of England.”

 

In 1805 Penang had been raised to a separate Presidency and in 1809 “a sound copper coinage” was requested. The contract was placed with the Royal Mint, whose machinery was supplied by Boulton and a rolling mill not yet working was supplied by John Rennie. Soho were requested to supply the blanks, but refused to do so because they thought that they had an unofficial agreement to produce all copper orders. Consequently the order was delayed and the coins were not delivered until 1812. The coins produced are clearly inferior to Soho’s minting.

 

This tin uniface cent, or pice, was struck locally in Penang about 1800 by the authority of Governor Leith, whose initials “G. L.” are in script on the obverse. Tin was available locally, but pure tin is soft, wears easily and is easy to re-melt so few have survived. A similar issue in 1805 has the initials of Governor Farquhar and others may exist; they must also have been easy to forge, so it is no wonder that “a sound coinage” was requested.

 

This painting is of an East Indiaman, the “Earl of Abergavenny” is an example of the ships built for the 19th Century China trade. They were twelve to fourteen hundred tons and carried twenty to thirty guns; necessary to fight off pirates. Their Captains were mostly ex-Royal Navy officers and they sailed from China in a fleet under a Commodore. The ships were used for about four voyages before being replaced.

 

When Java was taken by the EIC the Old Dutch mint at Sourabaya was restored and its Dutch mint master, Zwekkart reappointed to strike copper similar to Dutch designs, but using the EIC balemark instead of the Dutch one. The ½ stiver of 1811 is shown, obverse on left, reverse on right. The blanks were cast and issued each year from 1811 to 1815. They have a “z” for the mint master.

 

Java also used lighter copper pieces called “doits” (¼ stivers), minted in 1811 & 1812. Obverse left; reverse right, with “B” above balemark. The blanks were cast, with obvious tangs not removed. The letter “B” is for Batavia or possibly British, as on the balemark. No value is stated, but there were 4 doits to a stiver and 30 stivers to a rupee. Java was returned to the Dutch in 1815 after hostilities had ended in Europe, under the Treaty of Vienna, 13th August 1814. The delay was mainly due to the sailing time to the East Indies. Zwekkert continued in office, dying in 1819.

 

Java tin doits, obverse left; reverse right. These doits were only struck in 1813 and 1814 by the Dutch mint master Ekenholm, using the United East India Company balemark. Lead forgeries are known.

 

A separate mint for gold and silver was erected at Sourabaya and silver rupees were struck from 1813 to 1816. The obverse on the left is in Javanese with Zwekkert’s initial below. The reverse on the right is in Arabic script; there is an engraving mistake in the date (mid left side). It reads 1668, instead of 1228; mistakes were common when European engravers reproduced Arabic and other unfamiliar languages.

 

This coin has been struck with the gold ½ mohur dies, obverse left, reverse right, but it is silver. The gold has Christian dates from 1813 to1816, the mint being closed on 8th July 1815. Apparently Zwekkert was empowered to continue minting gold and silver coins at the request of private individuals. There are no silver half rupees known and it is unlikely we shall ever know why this coin was struck. The gold is very rare and this striking is included as an example of the dies.

 

700,000 St. Helena copper halfpennies dated 1821 were intended for use by the local population, greatly increased by the military garrison, who were guarding Napoleon Bonaparte in exile. By the time the coins arrived, Napoleon had died and most of the garrison had left. The order had gone to Birmingham’s Soho mint, with a request that the arms for the obverse should be those used for the Penang 1810 issue.
That issue had been struck by the Royal Mint however, so new obverse as well as reverse dies had to be made.

 

Penang. Top left Rev ½ cent; Top right obverse1 cent; under is the reverse of the 2 cents.
The “money of account” in Penang was changed in 1826 from the Spanish dollar to the Bengal sicca Rupee. The pice then became a cent, with 48 cents = 1 Rupee. In this same year Penang Singapore and Malacca were united as the Straits Settlements. The Royal Mint struck ½ pice and 1 pice in 1810: local dies were made by the Madras mint to strike ½, 1 and 2 pice in 1825; and ½, 1 and 2 cents of similar design in 1828. There are noticeable, but small differences between all these issues.

 

Singapore Tokens, obverse, left and reverse right of 1 keping copper.
Singapore, founded by Sir Stamford Raffles, had no specific currency. The merchants used available currency especially Dutch doits, the exchange rates being quoted daily. They ordered tokens from Birmingham to increase supplies and to avoid paying for the Dutch currency. There are many varieties, some imitating official coins, like the one shown. Though dated 1804 it was struck from 1829 to 1844. It copies an original design issued by the East India Company for Sumatra. However it replaces the Company name with “Island of Sumatra” above the arms. The reverse in “Arabic” is meaningless. A hundred and sixty-six varieties have been noted!

 

Two obverses used for Singapore Tokens.
To avoid accusations of forgery, especially by the Dutch, a mythical “Island of Sultana” is used and on the left horses have replaced lions as shield supporters.

 

Reverses of the above tokens have mistakes in the Arabic, perhaps intentionally, though probably through not understanding the language. On the left hand specimen the Arabic date of 1219 is equivalent to 1804. On the right the date reads 1411.

 

Straits Settlements. Copper ¼ cent, ½ cent, above; 1cent below.
Coins based on the dollar standard were finally struck by the EIC’s Calcutta mint in 1845. The matrix dies were engraved by William Wyon at the Royal Mint and his initials appear on the truncation of the Queen’s bust on the ½ cent only.

 

St. Helena, crown (25p) reverse.

The trading operations of the East India Company in India and China had been wound up in 1833. From that time the Company governed India on behalf of Great Britain. Following the Indian Mutiny all its property was transferred to the Crown in 1858 under the India Act. It was finally dissolved in 1874 when the 1854 Charter expired.
This modern cupronickel coin commemorates the tercentenary (1673-1973) of St. Helena’s Royal Charter. The “East Indiaman,” in full sail on the reverse, is a fitting tribute to a unique company.

 

March 1825 – March 1942
Fort Marlborough was occupied by the Dutch

 

Situation in 1900

 


The Dokar in front of Fort Marlborough – Bencoolen 1900
Source: KITLV

 

Situation in 1920

 

 


A trio of European women dressed in sarong,
with the background of Fort Marlborough Bencoolen – 1920
Source: Tropenmuseum

 

 

 

 

March 1942 – August 1945


Fort Marlborough was captured by Imperial Japanese Army. The Prison chamber was purposed for Japanese internment camp

 

 


Compass and Message that scratched on the wall by Japanese Prisoner of War 1942-45


Siruation now in 2013

 

 

 

 

 

Becoolen  Beach in 2013  picture taken from the Fort Molborough

 

 

Yhe back of Fort <alborougn in 2014

 

 

 

 

 

Canon in the front  of Fort Malborough in 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

the fomaus the bengkulu Flower, Rafflesia anorldi wich Rafflesia nemed wideh his great friend, botanish Dr, Joseph Arnold.

 

1818

 

Spoiler for perjuangannya


Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah Tenggara Pulau Saparua yang nampak betapa hebat srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman.

Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak.

Martha Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, namun ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818.

Menghargai jasa dan pengorbanan, Martha Christina dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia

 

 

1818

Bencoolen (Bengkulu)

 

 

Raffles in 1817

Raffles arrived in Bencoolen (Bengkulu) on 19 March 1818. Despite the prestige connected with the title, Bencoolen was a colonial backwater whose only real export was pepper and only the murder of a previous Resident, Thomas Parr, gained it any attention back home in Britain. Raffles found the place wrecked, and set about reforms immediately, mostly similar to what he had done in Java – abolishing slavery and limiting cockfighting and such games. To replace the slaves, he used a contingent of convicts, already sent to him from India. It is at this point when he realized the importance of a British presence that both challenged the Dutch hegemony in the area and could remain consistently profitable, unlike Bencoolen or Batavia. However, the strategic importance of poorly-maintained but well-positioned British possessions such as Penang or Bencoolen made it impossible for the British to abandon such unprofitable colonies in such close proximity to the Dutch in Java. The competition in the area, between Raffles and the aggressive Dutch de jure Governor, Elout, certainly led at least in part to the later Anglo-Dutch Treaty of 1824. Raffles looked into alternatives in the area – namely Bangka, which had been ceded to the Dutch after its conquest by the British during its occupation of Java.

Bintan was also under consideration. Despite the fact that Warren Hastings overlooked the island before settling upon Penang in 1786, the Riau Archipelago was an attractive choice just to the south of the Malay Peninsula, for its proximity to Malacca. In his correspondences with Calcutta, Raffles also emphasized the need to establish a certain amount of influence with the native chiefs, which had greatly waned since the return of the Dutch. Raffles sent Thomas Travers as an ambassador to the Dutch, to possibly negotiate an expansion of British economic interests. When this failed, and when Raffles’ own expeditions into his new dominion found only treacherous terrain and few exportable goods, his desire to establish a better British presence was cemented.

However, the Anglo-Dutch Convention of 1814 was not completely clear, especially on the issue of certain possessions such as Padang. The Convention of 1814 only returned Dutch territory that was held before 1803, which did not include Padang. Raffles asserted the British claim personally, leading a small expedition to the Sultanate of Minangkabau. Yet, as Raffles confirmed with the sultan regarding the absolute British influence of the area, he realized that the local rulers had only limited power over the well-cultivated and civilized country, and the treaty was largely symbolic and had little actual force.

Gouverneur-Generaal

werd van Nederlands-Indië en zijn laatste jaren doorbracht als

 

 

 

1810

 

malay bencoolen sumatra

Gouverneur van Elmina

, waar hij in 1818 overleed en werd begraven.

Daendels ging naar Elmina met het idee van Elmina e.o. iets te maken als Nederlands-Indië, maar al zijn brieven met plannen werden door het moederland niet beantwoord, men was blij van Daendels verlost te zijn.

Op 3 Meij 1818 werd den Gouverneur-Generaal Daendels ten 4 uur des namiddags in de Tombe gezet, doende het Hoofdkasteel van Elmina bij die gelegenheid 15 schoten

Tot in 1844 zijn er processen gevoerd over de nalatenschap van Daendels…

In 1962 is toch nog in Elmina een gedenkplaat voor Mr. Herman Willem Daendels aangebracht.

 

Herman Willem Daendels (1762 – 1818)

Kwam als Brigade-Generaal van het Bataafsche Legioen
samen met een Frans leger o.l.v. Pichegru in de winter van 1795 naar Nederland
waar alle rivieren tot hun geluk bevroren waren….

 

Het Paleis van en gebouwd door Gouverneur-Generaal Daendels in Batavia

Daendels ging in Indië de geschiedenis in als De Donderende Groote Heer
onder zijn leiding werd onder dwang de Grote Postweg dwars door Java aangelegd

terug in Europa trok hij met Napoleon op naar Moskou en overleefde het ternauwernood
Daendels ging ook de geschiedenis in als de man die grote delen van de Benedenstad liet afbreken en een nieuwe Bovenstad begon, met o.m. de bouw van het bovenstaande paleis, wat later echter geen paleis werd, maar dat is weer een ander verhaal, komen we zoo nog even op terug. Het gebied waar Daendels begon met de Bovenstad was al van een zeer aantrekkelijke naam voorzien :

WELTEVREDEN
Op de plattegrond uit 1897 is nog heel goed de scheiding tussen de Benedenstad en de Bovenstad te zien, de Benedenstad was oorspronkelijk natuurlijk ommuurd en bezat een versterkt kasteel, de Bovenstad kon veel ruimer worden opgezet.

Paleis Rijswijk

genoemd.

Volgens andere bronnen was het latere

Paleis Rijswijk

ooit de residentie van J.A. van Braam, die het eind 18e eeuw liet bouwen. De achtertuin grensde, daar is iedereen het over eens, tot aan het latere Koningsplein. In het stuk grond van Paleis Rijswijk, grenzend aan het Koningsplein, zou later

Paleis Koningsplein

worden gebouwd.

 

 

 

1818

 

NARRATIVE OF A JOURNEY

IN THE INTERIOR OF JAVA 1816-1817

SCANNING from original Abel Clarke Book 1817

Narrative of a Journey in the Interior of China

And added the unique collections related to the story

 

 

 

 

EDITED BY

Dr IWAN S.

Private limited Edition 100 e-book

Special for Collectors

Jakarta 2010

____________________________________________________________________

TO THE

RIGHT  HONOURABLE

LORD  AMHERST

MY LORD

The high situation held by Your Lordship as head of

the Embassy of which these pages contain account,

will, in the public mind, point out the propriety of the

present Dedication. Permit me to declare that this

consideration has less influenced me than the desire

of publicly thanking Your Lordship for your saction

and support to my scientific pursuit , and uniform

kindness to myself.

I am , My Lord,

with the greatest respect

Your Lordship’s

obliged and obedint humble Servant

London,July,1818                                                                                  CLARKE ABEL

___________________________________________________________________

TABLE OF CONTENTS

CHAPTER I

Departure of the Embessy from Portsmouth-Arrival of Mandeira-Town of Funchal-Mountain Torrent-Priest-Flying-fish-Remarks its habits-Pass the line-Cape Frio-South America-Harbour of Rio di Janeiro- St Sebastian-Fish and vegetable market-Visit the Nragamza shore-Sugar Loaf mountain-Musical Instrumet of negro slaves-Importation of Slave-Remarks on the slave trade-Second visit to the Sugar Loaf Mountain-Scenery of the mounitains-Visit the Botanic Garden-Cultivation of the Tea-plant-Its preparation-Plants cultivated in the Botani Garden-Ipecacuanha plant of the Brazil and  of New Spain -fire-flies-Island in the harbour-Their geological structure-Fruits-Gaberal remarks………………………………………………………..page1

CHAPTER II

Departure of the Embassy from Rio di Jeinero-Arrival off the Cape of  Good Hoop -IN THE STRAIGHT OF SUNDA-SHARK-SUCKING FISH-ARRIVAL AT SIRANG-VOLCANIC MOUNTAIN- PLASSUR PITTEE-JAVANESE INSTRUMENT-DEXTERITY OF NATIVES IN CLIMBING THE COCOA-NUT TREES-THEIR HUTS-VISIT TO THE CRATER OF GUNONG KARANG-Precipiytous ascent-Interesting plants-Benevolence of the Javanese-Visit to Pandigalang, famed for the manifactur of bracelets-Javanese arms-Kriss-Gold and silver ornaments worn by Javanese women-Native Sulphur-The Goramy, a fish common in rivers-Return to Sirang-Mineral springs-Bantam-Ceremony of circumcision-Sultan of Bantam-His death-Great bats of Java- Of the large Snake of Java-Power of snakes-Geckoo Lizard of Java-Species of-Characters of-Habits of-Departure from Sirang…………………………………………………………………………………………………24

CHAPTER III

Departure of the Embessy from Batavia Roads-Typhoon-Lemma Island-Physalia-Hongkong……………………………………………………………………………………………….page 58

________________________________________________________________

PREFACE  (read in the limit edition e-book)

________________________________________________________________

CHAPTER I (read in limited edition e-book)

_________________________________________________________________

CHAPTER II

Means of conveyance having been provided to take Lord Amherst and the gemtlement of his suite over land to Batavia, they set off the morning of the 11th June for Sirang (now Serang), which his usual attention to the furtherance of my pursuit,permitted me to select my own mode of trevelling etc……etc……………(read full in CR-ROM)

It was dark before I arrived at the house of Col.Yules, the residenty of district Sirang,from whose hospitality I obtained the pleasure of remaining in a part of Java intersting in the highest degree from its scenery and productions,during the stay of the Embassador at Batavia.At day-light the following morning,Lord Amherst etc ….etc…….(read the limited edition e-book)

Our way ,during the first half of journey …..etc…etc. They also serve as places of refreshment,etc….etc……The better class carry them constantly about their persons in boxes sometimes od rather elegent form, one of which is figures in the annexed engraving. etc….etc……

Our beds were bamboo frames,covered with mats; on these, with our saddles for pillow,we passed the night…etc…etc.

The natives whom I saw in the mountain had limbs of more elegant shape,and greater symmetrry of form, than those of the plains and also appeared more active in their habits, etc……etc……

It was notorious that the name of Raffles was almost idolized by them….etc….etc

…It is a dagger worn by all classes of the native Java, and b y the Malay tribes in its neighbourhood,having sometimes a crookes or curved blade and a handle very beautiful carved. Its sheath is generally of wood or metal;frequently of gold…..etc….etc………………

Before I left Pandigalang(now Padeglang), my friend the mounaineers brought some splendid specimens of native sulphur…etc….etc

Early the next morning a party was again dispatched to the ship.still on fire,and found her copper on the larboard side alone above water, and so hot, that by throwing water upon it they sarcely coolemit sufficiently to permit their getting on board …etc…etc….

Scale-Flat,on the bac k and throat disseminated, on the belly imbricated. The scales of the back are oval and flat,and do not overlay each other still theu approach the belly etc….etc…..

CHAPTER X

ETC…ETC… . i READILY YIELDED TO THE dissipation by which the equal kindness of our countrymen and Baron Van der Capellen hoped to seduce us into  a forgetfully of our misfortunes. etc….etc

Visiting Batavia by the way of the bazaar was my frequent exercise early in the morning,….etc….etc…….

Our  evenings were sometimes spent at balls given by our countrymen or then Dutch authorities, and gave us opportunitie of seeing all,the beauty and fashhion of the colony…..etc….etc

Captain Ross (whom I have just mentined) ,while in his ship off the island of Celebes, was visited by a canoe from the shore,containing two Malays ,and the mangled bvody of a man, the bones of which were mostly broken,te arms es[ecially being dreadfully crushed…etc…etc.

A visit to Buitenzorg ,the country residence of Baron Van der Capellan,give us our only opportunity of seeing the beautiful scenery of the Island. Buitenzorg(now Bogor) is distant about thirty miles sout of Batavia …etc…etc..

Another animal which resemble in most of its external cgaracter the Orang-Outang(Orang Hutan now) from Borneo, is the large monkey ….etc…etc……the existent of thirteen ribs amongst the characteristic marks of Orang-Outang from Borneo…etc…etc….

Many of the Ladies were wll dressed, and had personal charms, especially in the eyess of those who were returning from China …etc….etc

__________________________________________________________________

THE END OF PROMOTIONAL LIMITED E-BOOK  ‘NARATIVE OF A JOURNEY IN THE INTERIOR OF JAVA 1816, AS THE PART OF JOURNEY TO CHINA. PLEASE THE COLLECTORS REGISTERE THEIR NAME TO BE THE uniquecollection Member  via comment,after the administration OK, the scanning of the original Boook  as e-book will send  to you via your e-mail.

@copyright Dr Iwan S.2010.

1814

 Terjadi perdamaian antara Inggris dan Belanda di tahun 1814,

 

1818

Thomas Stamford Raffles mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, dimana saat itu sudah mulai terjadi peperangan antara kaum Padri dan bangsawan (kaum adat) Pagaruyung.

Saat itu Raffles menemukan bahwa ibukota kerajaan mengalami pembakaran akibat peperangan yang terjadi.

1819

Belanda kembali memasuki Padang pada bulan Mei tahun 1819

Runtuhnya Pagaruyung

Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat-saat menjelang perang Padri, meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung.

Pada awal abad ke-19 pecah konflik antara kaum Padri dan golongan bangsawan (kaum adat). Dalam satu pertemuan antara keluarga kerajaan Pagaruyung dan kaum Padri pecah pertengkaran yang menyebabkan banyak keluarga raja terbunuh. Namun Sultan Muning Alamsyah selamat dan melarikan diri ke Lubukjambi.

 

1818

Harap dicatat bahwa apa yang terjadi di pedalaman Minangkabau tetap masih gelap bagi orang Eropa sampai akhirnya Thomas Stamford Raffles berkunjung ke Pagaruyung pada 16-30 Juli 1818.

 Sebelumnya, orang Inggris dan Belanda di pantai memang mendengar ada perseteruan antarsesama orang Minang di pedalaman, tapi mereka hanya dapat kabar berita dari para pedagang yang pergi ke pantai tanpa menyaksikan sendiri dengan mata-kepala mereka apa sesungguhnya yang terjadi di pedalaman. Mungkin karena itu pula sampai akhir hayatnya, sosok Tuanku Nan Renceh tetap lebih banyak mengandung misteri, sebab tak banyak sumber Belanda yang mencatatnya.

 

1819

KNIL founded 1819(1830 official),headquarters Batavia(Jakarta)

 

In 1820,

na de dood van Van Braam, kocht het Gouvernement het huis en werd het ingericht als officiële residentie van de Gouverneur-Generaal van Nederlands-Indië (1820 – 1879), waarbij dus werd afgeweken van het plan van Daendels, waarschijnlijk omdat het Paleis van Daendels nog lang niet klaar was.

 

Mulai bulan April 1821

Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena “diundang” kaum Adat. Selanjutnya perang itu adalah perlawanan mengusir penjajah Belanda.

Kepahlawanan Tuanku Tambusai lebih dihubungkan dengan episode akhir Perang Paderi. Setelah Benteng Bonjol jatuh

Karena terdesak kaum Padri, keluarga kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada Belanda.

 Pada tanggal 10 Februari 1821 Sultan Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Muning Alamsyah, beserta 19 orang pemuka adat lainnya menandatangani perjanjian penyerahan kerajaan Pagaruyung kepada Belanda.(yang terkenal dengan istilah Pelakat Panjang)

Sebagai imbalannya, Belanda akan membantu berperang melawan kaum Padri dan Sultan diangkat menjadi Regent Tanah Datar mewakili pemerintah pusat.

Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kaum Padri dengan kiriman tentara dari Jawa dan Maluku. Namun ambisi kolonial Belanda tampaknya membuat kaum adat dan kaum Padri berusaha melupakan perbedaan mereka dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir Belanda.

BERSAMBUNGKEBAGIAN KEDUA

KISI INFO INDONESIA ABD-19(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

ABAD KE 19

BAGIAN KEDUA

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

1821

 

-Suroasso

Daulat Yang Dipertuan Raja Alam xxxx/1821
xxxx 1821 Kerayahan Sultan Alam

1821
extinction of the state and the colonial government of the Netherlands

Pagar-Ujong

 

 Yang Dupertuan Raja Alam

 

 Pada 21 Februari 1821

mereka resmi menyerahkan wilayah darek kepada Kompeni dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi.

 

1821

Sultan Alam Bageger

 

1821-1834

Raja Yahsir Alam

1822

Namun saya tidak menemukan data sejarah yang menunjukkan bahwa Tuanku Nan Renceh pernah berhadapan langsung dengan Belanda di medan pertempuran.

1822

Dalam penyerangan ke Kamang pada 1822 Belanda hanya berhadapan dengan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Gapuak.

 Catatan-catatan fragmentaris dalam dokumentasi Belanda terhadap Tuanku Nan Renceh lebih didasarkan atas cerita-cerita orang Minang sendiri, bukan dari pertemuan langsung dengan panglima Paderi itu.

 

In 1824

 Soho’s mint was being prepared for sale to Bombay, but with one press not yet in a crate, ten more tons of the light 1804 coins were struck for Sumatra.

 

 

A proof Sumatra 2 kepings obverse shows clearly details of the EIC arms. The cross of St George has the arms of Great Britain in the first quarter. The supporters are Lions rampant, bearing standards with flags carrying the cross of St. George. Above the shield is the crest of a lion rampant, standing on a helm, on a torso, holding between the forepaws an Imperial crown. The whole rests on a scroll whose Latin is translated as “Under the Auspices of the Sovereign and Senate of England.”

 

 

 

1825

 

Let.Gen.Frans David  Cochius

Engineer of Battlefield Fortification Strategy in 1827-30 in sequence capturing Diponegoro

If Frans David Cochius was still alive today, he must be 222 years old in December 2009. Who is he? I’ll bring his short biography and compartment in sequence of capturing Diponegoro in Java War.

Java War 1825-30

was the badly war in the history of colonization in Netherlands Indies. For the first time the colonial government faced a massive social rebellion covering large part of Java: 2 million Javanese people were exposed to the ravages of war, 200 thousands Javanese were died. On the other hand, Dutch suffered 8 thousands European troops and 7 thousands of Indonesian troops who fought for Dutch were perished. The war consequence was rising cost about 20 million guilders! The war that perished everything both Javanese and Dutch side.

The Java War was started in a rebellion led by Pangeran Diponegoro for the reason of Dutch political intervention in the Court of Mataram (general reason), and Dutch decision to build a road across a piece of his ancestral property (personal reason).

F.D. Cochius was an expertise in fortification. He designed the prototype of battlefield fortification strategy [Benteng Stelsel]. The fort was built in high terrain, a square building made by coconut tree height about 7-8 feet.The cannons were applied in the one of diagonal corner of the fort. Each corner has two cannons.

 

In the throne of Governor General Du Bus de Gissignies,

 

the government of Dutch Indies failed to extinguish the rebellion of Diponegoro. In several party the Diponegoro army defeated the Dutch Indies army, such as campaign for capturing Kejiwan [August 1826], campaign of Delanggu [August 1826], and campaign of Gawok [October 1826]. Military operation did not reach the objective. General H.M. de Kock ordered to Colonel F.D. Cochius for planning the prototype of battlefield fortification strategy.

This prototype was implied in battlefield fortification strategy in area Bagelen, Banjoemas, Gowong, Ledok, Kedhu, and Jogjakarta. It could be the simple fort for defense in Java War for the reason for limitation the movement of Diponegoro. It was the temporary battlefield fortification: a simple building for military defense, efficient in raw material for the building, and the materials are available in Java.

1821

The Dutch subjugated the Minangkabau of Sumatra in the Padri War (1821–38) and the Java War (1825–30) ended significant Javanese resistance.[7]

1823

SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO VI
Lahir : Surakarta, 1807
Wafat : Ambon, 5 Juli 1849

MESKIPUN bukan anak dari permaisuri, Paku Buwono VI dapat diangkat menjadi raja.

Sesaat sebelum meninggal, ayahnya mengangkat Paku Buwono VI menjadi raja Kerajaan Surakarta pada tahun 1823.

 

Pada waktu Paku Buwono VI memerintah, pengaruh Belanda sudah amat besar atas kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah, demikian pula di Surakarta. Sehingga sewaktu terjadi perang Diponegoro, Keraton Surakarta tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya.

Bahkan kemudian Paku Buwono VI dipaksa oleh Belanda untuk membantu memerangi Pangeran Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, untuk menutupi kerugian besar akibat perang, Belanda justru melakukan tekanan-tekanan terhadap Paku Buwono VI dan Keraton Surakarta.

Ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian tersebut.

Belanda menjadi kesal, kemudian menganggap Paku Buwono VI sedang menyiapkan pasukannya untuk memberontak.

1824.

Belanda memastikan kembali pengaruhnya di pulau Sumatera dan Pagaruyung, dengan ditanda-tanganinya Traktat London di tahun 1824 dengan Inggris.

Klain Belanda terhadap kawasan Kota Padang dikukuhkan melalui Traktat London, yang ditandatangani pada 17 Maret 1824(wiki)

1824

Raja Indrapura yang melarikan diri ke Bengkulu sejak tahun 1792, akhirnya meninggal disini tahun 1824. Maka berakhirlah Kerajaan Indrapura, mungkin inilah aatu-satunya kejadian dalam sejarah dimana seorang sersan dapat mengulingkan Kerajaan  tanpa dapat bangkit kembali walapun memang kerajaan ini memang sudah goyah

(Rusdi Amran, 1981)

 

Pada tahun 1981 saat Rusdi Amran menulis bukunya memang sitausi kerajaan indrapura seperti itu, tetapi kemudian didunia terjadi peristiwa yang sama sersan maomer Kadhafi juga menguling negaranya Libya dan sampai terakhir pangkat paling tinggi di negerinya adalah Kolonell yang pada tahun 2012 ia juga digulingkan oleh pemberontakan yang didudukung oleh Amerika Serikat dibawah pimpinan President Barack Obama

(Dr Iwan Note)

1824

When the British took over Melaka in 1824, St. Paul’s Church had lost its tower.

The British added a lighthouse in front of it and used the church as convenient storehouse for gunpowder. Today, several old monumental Dutch and Portuguese tombstones, with Dutch

 and Portuguese words engraved on it, can be seen leaning against the strong brick walls of the church.

 

Old Tombstones Along the Brick Walls

 

Belanda dapat angin lagi pasca perjanjian masang 22 Januari 1824 Belanda (van den Berg) dan Pidari (Paderi) berdampak Inderapura bangkrut, semua kapal berkebangsaan apa saja bongkar muat barang di Padang tidak lagi di Inderapura bahkan tambang emas Salido dikuasai pasca pergantian Raff dengan Du Puy (1 Januari 1824).

 

1825

Setelah setahun  sultan Indrapura meninggal   di Bengkulu, maka pada tahun 1825  Saudara perempuan Sultan Indrapura meninggalkan Bengkulu menuju Kota-Padang  membawa seluruh anggota keluarga dan pengikutnya.

Salah seorang yang ikut adalah anak sultan Indrapura yang terakhir yang bernama Marah Yahya,

Mereka mengunjungi Ridder de Steur (residen komandan VOC di Padang), dengan tujuan untuk bertanyaka apakah  asa kemungkinan Marah Yahya   di jadikan sultan Indrapura.

De Steur dalam memoirnya menulis “ Anak muda itu dididik di Bengkulu , pintar sekali dan mengerti bahasa Inggris. Sehingga tidak ada alas an untuk menolaknya untuk mengepalai suatu daerah yang sudah hancur akibat kekacauan yang hebat.

Pada tanggal 6 Desember 1825 Marah Yahya  diangkat menjadi Tuanku Regen  Indrapura dengan nama Ahmadsyah , tetapi daerahnya telah menciut  karena di bagian selatan EIC Inggris telah menempatkan regen mereka di Muko-muko , apalagi juga menciut di bagian utara Indrapura.

(Rusdi Amran, 1981)

 

 

1826

Written By Jimbalang on 15 January 2012

 

Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi (1826). Seorang panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur’an dalam kantong kain yang digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari kejauhan.

Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en uitbreiding den Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1849: menghadap hlm. 92

Bandingkan dengan

 

 litho bonjol  1810

Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit akibat radikalisme agama.

 

Di awal abad ke-19, demikian catatan sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, membasmi bid’ah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan persuasif melalui dakwah dan pengajian.

Namun, kemudian muncullah seorang yang radikal dan militan di antara mereka: ia bersama pengikutnya memilih jalan kekerasan. Akibatnya, pertumpahan darah antara sesama orang Minangkabau tak terhindarkan, yang menorehkan lembaran hitam dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi ulama yang radikal itu kalau bukan Tuanku Nan Renceh.

 

Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang Paderi. Dialah panglima Paderi yang paling militan dan ditakuti. Sosoknya tidak sejelas namanya yang sudah begitu sering disebut dalam buku-buku sejarah.

Tak banyak data historis mengenai dirinya. Hanya ada catatan-catatan fragmentris yang terserak di sana-sini. Tulisan ini mencoba merekonstruksi sosok Tuanku Nan Renceh berdasarkan berbagai catatan tersebut, baik yang berasal dari sumber asing (Belanda) maupun dari sumber pribumi sendiri.

 

Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang Ilia, Luhak Agam. Kurang jelas kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam paruh kedua tahun 1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa mudanya. Namun, sedikit banyak dapat direkonstruksi melalui satu sumber pribumi, yaitu Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) karangan Fakih Saghir, salah seorang ulama Paderi dari golongan moderat (lihat transliterasi SKSJ oleh E. Ulrich Kratz dan Adriyetti Amir: Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin Karangan Fakih Saghir. Kuala Lumpur: DBP, 2002).

 

Tahun-tahun terakhir abad ke-18

Tuanku Nan Renceh sudah aktif berdakwah bersama sahabatnya, Fakih Saghir. Mereka “berhimpun…dalam masjid Kota Hambalau di nagari Canduang Kota Lawas” (Kratz & Amir: 23).

 

Mereka telah berdakwah selama empat tahun lamanya sebelum kemudian Haji Miskin (salah seorang pencetus Gerakan Paderi) pulang dari Mekah pada tahun 1803 (ibid.:25). Berarti, paling tidak Tuanku Nan Renceh, yang waktu itu masih seorang ulama muda, sudah aktif berdakwah sejak tahun 1799, beberapa tahun sebelum gerakan Paderi resmi dimulai oleh Haji Miskin, Haji Sumaniak, dan Haji Piobang.

Tampaknya bintang Tuanku Nan Renceh cepat bersinar, dan itu karena satu hal: sikapnya yang sangat radikal dan militan. Ia segera melibatkan diri sepenuh hati dan jiwa ke dalam Gerakan Paderi. Ini mungkin karena berita tentang Negeri Mekah yang didengarnya dari tiga haji yang baru pulang dari sana. Tak ada bukti bahwa Tuanku Nan Renceh pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tapi sudah biasa terjadi dalam soal Islam bahwa pendengar jadi lebih fanatik daripada yang mengalami sendiri pergi ke Mekah.

 

1823

John Anderson seorang pegawai Pemrintahan Inggris yang berkedudukan di Penang pernah berkunjung ke Medan tahun 1823, dalam bukunya bernama M ission  to Eastcoast Sumatra yang diterbitkan tahun 1826 ,Medan merupakan kampong kecil  yang berpenduduk 200 orang ,dipinggir sungai sampai ke tembok Mesjid kampong Medan ,ada dilihatnya susunan batu granit berbentuk bujursangkar  yang dugaannya berasal dari candi Hindu di Jawa.

 

Pada tahun 1823 Osman Perkas Alam Shah diangkat sebagai pewaris dan wakil  direktur dengangelar Sulatn Muda Panglima Perkasa Alam.

1824

Tanggal 18 maret 1824,Sulatan Amaludin mangkat dan dia digantikan oleh putranya Osman Perkasa Alam Shah sebagai Sultan deli VII dan sultan Amaludin pernah memiliki putra dengan selirnya bernama  Raja wan Perak.(raja Wan perak menikah dengan tengkoe Wan Johor putra raja bungsu kota dalam menjadi selir muda)

Pada mas akekuasaannya Osman dapat menaklukan  wilayah empat suku : Sunggal,XII Hamparan Perak, Sukapiring,senambah.

1825

Kerajaan deli kembali menguat dan melepaskan diri dari kekuasaan kerajan Aceh, Negeris ekitarnya seperti Buluh Cina,Sunggal, Langkat dan Suka Piring  ditaklukan menjadi  wilayah kerajaan deli.

1826

 

Tuanku rao

 

 

 

 

Mangaradja writing about his Onggang Parlindungan berjusul “Tuanku Rao”,
caused many polemics starting Hamka Muhammadiyah leaders who argue that Tuanku Rao is not the Batak, though Mangaradja Onggang Parlindungan the complete breakdown by year.
For The Batak Christian religion to accept because it describes the book with The obvious attack Padri Muslim groups bermazhab Hambali (Wahabi) to the land of the Batak Toba area where the cleric-led Tuanku Rao scorch earth Batak lands.

Demikianjuga exposure Batak history writing Marbun Julkifli that recently many people copy and paste (with MOP) in a complete breakdown by year of the incident. Everything can not be accepted by agreement of both parties either Christianity or Islam.

Appeal, Exactly what do the two figures above aganya can be made as a motivation to study more effectively and accurately.
Let all the Batak tribes, both Toba, Mandailing, Karo, Dairi and Simalungun, or Islam and Christianity are both historical mysteries unmasked Batak tribes.

And it is very much capable of Intellectual Batak Batak objective historical research san menyadarai importance of history in managing future Batak tribe,
 
like brothers Sibarani Aware that menulisbuku Siraja BATAK

Original info

tulisan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang bukunya yang berjusul “Tuanku Rao” ,

banyak menimbulkan polemik dimulai dari Tokoh Muhammadiyah Hamka yang membantah bahwa Tuanku Rao bukanlah orang Batak, meskipun Mangaradja Onggang Parlindungan dalam penguraiannya lengkap dengan Tahun.

Bagi Orang Batak beragama Keristen dapat menerimanya karena Buku tersebut dengan gamblangnya menguraikan penyerangan kelompok Paderi yang beragama Islam bermazhab Hambali (wahabi) ke tanah Batak, dimana didaerah Toba kaum paderi yang dipimpin Tuanku Rao membumi hanguskan tanah Batak.

Demikianjuga paparan sejarah Batak tulisan Julkifli Marbun yang belakangan ini banyak di copy paste orang (sama dengan MOP) dalam penguraiannya lengkap dengan tahun kejadian. Semuanya belum dapat diterima dengan sepakat dari kedua belah pihak baik Nasrani maupun Islam .

Himbauan, Sebenarnya apa yang dilakukan kedua tokoh tersebut diatas aganya dapat dibuat sebagai motivasi untuk penelitian yang lebih efektif dan akurat.

Mari  semua Suku Bangsa Batak, baik Toba, Mandailing, Karo, Dairi dan Simalungun, maupun Islam dan Keristen sama-sama membuka tabir misteri sejarah Suku Bangsa Batak.

Dan  sangat banyak Intelektual Batak yang mampu melakukan penelitian sejarah Batak secara objektif san menyadarai pentingnya sejarah didalam menata masa depan Suku bangsa Batak,

seperti saudara Sadar Sibarani yang menulisbuku SIRAJA BATAK

 

Getting to know Islam in the era of Tuanku Rao

Getting to know Islam in the era of Tuanku Rao .. (1)
Posted on February 18, 2010 by thpardede
 

Posts are listed below, related to the attack Gay vicar / Padri the Batak land, in other words attack the new Wahhabi stream of Islam whack indigenous groups in Minangkabau, the grounds clean the creed of all kesirikan.
Since the influx of Wahhabi diminangkabau 1803, violence and violence plagued the Minangkabau (formerly strongly held customs) to the land of Batak (which is inseparable from the customary behavior and kepercayannya).
Who and what exactly is Wahhabi, it is necessary to know where the Islamist group that haunted land of Batak, Kerna in Islam which means that there are several schools of fiqh schools such as Hanafi, Maliki, Hanbali and Syafii. besides that there are also Shia and Wahabi, while the new Wahabi sect diera century including 18/19 are more inclined to the Hanbali school.
Are schools of that?
School is a term from Arabic, meaning of the road and passed, something that becomes one’s goals both concrete and abstract. Something to say to someone if it means schools or roads become his trademark. According to the ulema and religious scholars who called the school is the method (manhaj) formed after thought and research, then the people who live it as a clear guideline limits, the parts, built on the principles and rules. Schools according to the scholars of fiqh, Islamic jurisprudence is a specific methodology undertaken by a mujtahid jurists, which is different from other jurists, who deliver them to choose a number of laws in the area of ​​science furu ‘. It is the understanding of the school in general, not a particular sect.
Wahhabi History
In response to numerous requests the reader about the history of the Wahabis, we seek to meet the request in accordance with the origin and history of its development as much as possible based on a variety of sources and reference books that can be accounted for, inter alia, Fitnatul Wahabiyah by Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus Mr AI-Injizy recognition. Hempher, ottoman and Khulashatul Daulah Kalam by Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, and others. Wahhabi stream name is taken from the name of its founder, Muhammad bin Abdul Wahab (born in Najed year 1111 AH / 1699 AD). Originally he was a merchant who often move from one country to another and between countries are ever visited Baghdad, Iran, India and Sham. Later in the year 1125 AH / 1713 AD, he was influenced by a British orientalist named Mr. Hempher who worked as a British spy in the Middle East. Since then he’s become a tool for the UK to spread the new doctrine. Britain is already successfully established sects even new religions among Muslims like the Ahmadiyya and Baha’i. Even Muhammad bin Abdul Wahab was also included in the work program of the colonial targets with Wahhabi stream.
At first Muhammad bin Abdul Wahab live in Sunni followers of the Hanbali madhhab, even his father Sheikh Abdul Wahab is a good Sunni, as well as teachers. But from the beginning his father and his teachers have a hunch that are less well of him that he is going astray and spread heresy. In fact they tell people to be careful about it. It was not long after hunch was right. After it was shown to him and warned specifically against him. Even his brother, Sulaiman ibn Abdul Wahab, the great scholars of the Hanbali madhhab, wrote a book titled As rebuttal to her divine fir-Raddi Sawa’iqul alal Wahabiyah. Do not miss also a teacher in Medina, Shaykh Muhammad ibn Sulayman Kurdish AI-as-Shafi’i, wrote a letter of advice: “O Ibn Abd al-Wahab, I menasehatimu for God, resist lisanmu from the infidel Muslims, if you hear someone believes ditawassuli that people can benefit without the will of Allah, then teach him the truth and explain their argument that besides Allah can not benefit nor madharrat, when he opposed the so-so he thought you were pagans, but maybe you mengkafirkan As-Sawadul A’zham (group majority) among the Muslims, as you move away from the largest group, those who stay away from the site closer to disbelief, because he did not follow the Muslims. “
As we know that Ahlus Sunnah schools today is the largest group. Allah says: “And those who oppose the Messenger after the obvious truth to him, and follow the path that is not the way of the believers, we let him freely against heresy that has mastered it (God let them wallow in error) and we insert it into the jahannam, and worst of jahannam that place again. “(Surah An-Nisa 115)
One of the teachings of the (believed by Muhammad bin Abdul Wahab, is mengkufurkan Sunni Muslims who practice Tawassul, visiting graves, mawlid prophets, and others. Various propositions accurately conveyed Ahlussunnah Tawassul wal-related pilgrims, visiting the grave and maulid, rejected for no acceptable reason. Even more than that, it turned infidel Muslims since 600 the previous year, including the teachers themselves.
On one occasion someone asked Muhammad bin Abdul Wahab, “How many of God freeing people from hell during Ramadan?” He immediately replied, “Every night Allah frees 100 thousand people, and at the end of the night of Ramadan Allah frees people have as much a matter of freed from the start to the end of Ramadan “The man asked again” Then your followers do not reach one percent of any of these, then who are the Muslims that God freed them? Where did so many of them? While you restrict that only followers are Muslims. “Hearing that Ibn Abd al-Wahab answer was silent speechless. Yet Muhammad bin Abdul Wahab ignored the advice of his father and his teachers were.
With berdalihkan purification of Islam, he continues to spread his message around the Najed. People who lack religious knowledge many are affected. Included among his followers is Dar’iyah ruler, Muhammad bin Saud (died 1178 AH / 1765 AD) the founder of the Saudi dynasty, which later became law. He supports full and use it to expand his realm. Ibn Saud himself very obedient to the command of Muhammad bin Abdul Wahab. If he is ordered to kill or confiscate someone he did at once convinced that the Muslims had pagan polytheism for 600 years and more, and kill the idolaters guaranteed paradise.
From the beginning of Muhammad bin Abdul Wahab was very fond of studying the history of false prophets, such as Al-Kadzdzab Musaylima, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy etc.. Apparently she had been craving claimed prophet, it seems once when he referred to the followers of the area by the name of Al-Ansar, while followers from outside the area called Al-immigrants. If someone wants to be a follower, he must utter the two shahada in front of him and then have to admit that before getting Wahabi himself was polytheistic, so did his parents. He is also required to recognize that the great scholars had previously been dead infidels. If you want to admit that he accepted to be his followers, otherwise he was immediately killed. Muhammad bin Abdul Wahab also often under the guise of humble prophet purification creed, he also let his followers harass Prophets before him, to the extent of his followers said: “My wand is still better than Muhammad, because my stick can still be used to kill the snake, whereas Muhammad had died and left no benefits at all. Muhammad bin Abdul Wahab in the presence of his followers is like a prophet before his time. Followers are more and more extensive territory. Both work together to eradicate the tradition which he considers wrong in Arab societies, such as Tawassul, visiting the grave, to commemorate the birth and so on. Not surprisingly, the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab and then attacking the noble tombs. In fact, in 1802, they attack Karbala-Iraq, where the body was interred Prophet Muhammad’s grandson, Hussein bin Ali bin Abi Talib. Because the tomb is considered a potentially shirk evil to God. Two years later, they attacked Medina, destroying the existing dome over the grave, looted the ornaments that are Hujrah Prophet Muhammad.
The success continues to conquer Medina. They went to Mecca in 1806, and damage kiswa, the cloth covering the Kaaba is made of silk. Then knocked down dozens Ma’la dome, including the dome of the Prophet’s birthplace, birthplace of Sayyidina Abu Bakr and Sayyidina Ali, also dome Sayyidatuna Khadija Abdullah bin Abbas mosque. They keep destroying mosques and places the Solihin while cheering, singing and accompanied by the beat of drums. They also berated experts even partially buried them urinating on the grave of the Solihin. Wahhabis movement is made Sultan Mahmud II, the ruler of the Ottoman Empire, Istanbul-Turkey, wrath. Dikirimlah soldiers based in Egypt, under the leadership of Muhammad Ali, to incapacitate. In 1813, Medina and Mecca can be retaken. Wahabi movement receded. But, at the beginning of the 20th century, Abdul Aziz ibn Sa’ud rose again carried the understanding Wahabi. In 1924, he managed to occupy Mecca and to Medina and Jeddah, exploit weaknesses Turkey due to its defeat in World War I. Since then, until now, the notion of government control of Wahabi in Saudi Arabia. Today the global influence of the Wahhabi movement. Riyadh spend millions of dollars each year to spread the Wahhabi ideology. Since the presence of Wahhabis, the Muslim world is never quiet full throes of thought, because it always dispel the extremes of thought and religious understanding Shafii Sunni-established.
Cruelty and other Wahabi ignorance is undermining domes over graves Prophet companions who were in Ma’la (Mecca), in the Baqi ‘and Uhud (Medina) all demolished and razed to the ground by using dynamite shredder. Likewise dome above ground Prophet was born, which in Suq al Leil razed to the ground by using dynamite and used as a parking camels, but due to incessant insistence International Muslims then built a library. Wahhabis never really appreciate the heritage and respect the noble values ​​of Islam. Originally Qubbatul AI-Khadra (green dome) where the Prophet Muhammad is buried will also be demolished and razed to the ground but because of the threat of International savages then become fearful and the attack. Similarly, the entire series will be modified including the rituals of Hajj Ibrahim maqom will be shifted but because many are against it undone.
The development of the holy city of Makkah and Madinah recently ignored the historical sites of Islam. The more exhausted just building to witness history Prophet Muhammad and his companions. The building was demolished for fear become a shrine. Even now, the birthplace of the Prophet Muhammad in danger of being demolished for the expansion of the parking lot. Previously, the Prophet had already been evicted. In fact, that’s where the Prophet received revelations over and over again. It was also where his children were born and Khadijah died.
Rigid interpretation of Islam practiced by most Wahhabism has contributed to this annihilation. Wahhabis view historical sites that could lead to a new idolatry. In last July, Sami Angawi, an expert in Islamic architecture in the area, said that some of the buildings of ancient Islamic era threatened destroyed. In the 1,400-year-old building site was to build the road to a high tower which is the goal of pilgrims and Umrah pilgrimage.
“Today we are witnessing the last moments of the history of Makkah. Historic section will soon be demolished to build a parking lot, “he told Reuters. Angawi mention at least 300 historical buildings destroyed in Makkah and Madinah during the last 50 years. Even most of the historic buildings of Islam has been extinct since Saudi Arabia was established in 1932. It is related to the edict issued by the Board of Senior Religious Empire in 1994. In the written notice, “Preservation of historic buildings buildings could potentially lead Muslims to worship idols.” (Similar Masonic is not it?)
The fate of the historic sites of Islam in Saudi Arabia is very sad. They destroy many relics of Islam since the time of Ar-Rasul SAW. All traces of the Prophet toil away by the Wahhabi-style modernization. Instead they instead brought archaeologists (archaeologist) from around the world at a cost of hundreds of millions of dollars to dig up the relics before Islam both from the ignorance or earlier on the pretext of tourism. Then they proudly show that the pre-Islamic era have shown remarkable progress, no doubt this is the vanishing historical evidence that would give rise to a doubt in the future.
Wahhabi movement led by radical preachers and extreme hostility and hatred they are supported by substantial financial. They are fond of accusing the Islamic group that is not in line with those charged with infidels, shirk and innovation expert. That speech always sounded at every opportunity, they never acknowledged any Islamic clerics services except their own group. In our country they put a deep hatred and resentment to the Wali Songo who spread Islam and Why the people of this country.
They said the trustees were still teaching mishmash polytheism of Hinduism and Buddhism, although the mayor had been Islamized Why 90% of the population of this country. Can-Wahabi Wahabi Islam-Why it’s the remaining 10%? Maintaining that 90% of terkaman unbelievers just not going to be able, let alone willing to add the remaining 10%. Instead they simply mengkafirkan people with real tauhid to Allah SWT. If not for the grace of God that predetermine the Wali Songo to preach to our country, of the people who became the mouthpiece of the Wahhabis was still in animist, pagan or heathen still. (Naudzu billah min forbid).
Therefore they do not believe that claims to be the only schools cling to the Qur’an and Sunnah. They claim to follow the example of the salaf moreover claimed Sect and so on, it’s all nonsense. They have incised black notes in the history of the slaughter of thousands of people in Makkah and Madinah as well as other areas in the Hijaz (now called Saudi). Did you know that the slain that time consisted of the pious scholars and pious, even children and infants were slain in front of their mother. This bloody tragedy occurred around the year 1805. All that they are doing on the pretext of combating heresy, but not the name itself is a name Arabia heresy “Since the name of the Prophet country changed the name of the royal family supporting Wahhabi ideology that As-Sa’ud.
Indeed the Prophet preached the coming of Wahabi ideology is in some hadith, a prophetic sign of his SAW in preaching something that has not happened. The entire hadeeth is saheeh, as contained in the book of Sahih Bukhari & Muslim and others. Among them: “Slander is coming from there, slander was coming from that direction,” pointing to the east (Najed). (Narrated by Muslim in Kitab ul Fitan)
“Going out of the east class of people who read the Quran but do not get past their throats (do not get to the heart), they came out of the religion as an arrow out of the bow, they would not be able to come back like an arrow that will not be back into place, their signs are shaved (bald). “(HR Bukho-ri No. 7123, 6 things Juz 20 748). This hadith is also narrated by Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, and Ibn Hibban
The Prophet once prayed: “O God, give us grace in the Levant and Yemen,” the friend said: And of Najed, O Messenger of Allah, he prays: “O God, give us grace in the Levant and Yemen, “and on the third time he SAW said:” There (Najed) there will be turmoil slander and there also will appear devil horns. “In another two devil horns.
In the hadiths are explained, that their signs were shaved (bald). And this is a clear texts addressed to the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab, as he had ordered all his followers to shave the hair of his head to those who follow are not allowed to turn away from majlisnya before shaved bald. This kind of thing never happens in other heretical sects before. As has been said by Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “We need not write the book to reject Muhammad bin Abdul Wahab, because it is quite rejected by the hadiths of the Prophet Muhammad himself had confirmed that their signs were shaved (bald), because experts heresy had never done so. “Al-Sayyid AIwi Allama Hasan bin Ahmad bin Abdullah bin Al-Quthub AI-Haddad says in his book Jala’uzh Zholam a hadith narrated by Abbas bin Abdul Muttalib of the Prophet Muhammad:” Going out in the twelfth century (after the move) later in Bany Hanifa valley man, who acted like a bull (arrogant), his tongue licking his lips are always great, at that time a lot of chaos, they justify the wealth of the Muslims, was taken to trade and justifies the blood of the Muslims “AI-Hadith.
Bany Hanifa is the false prophet Al-Kadzdzab Musaylima and Muhammad bin Saud. Later in the book Sayyid AIwi mention that the person who cheated is nothing else is Muhammad bin Abdul Wahab. As to the statement of the Prophet SAW which suggests that there will be turmoil from the east (Najed) and two devil horns, in part, the scholars said that what is meant by two devil horns that no other is Al-Kadzdzab Musaylima and Muhammad Ibn Abd al-Wahab. The founder’s teachings wahabiyah died in 1206 AH / 1792 AD
Why should we discuss the topic above, nothing merely trying to uncover the veil of kesimpang crux interpretation of Islam in particular Tapanuli toba. The end of this paper I try to explain some of the responses on Tuanku Rao alias Pongki nangolngolan Sinambela.
Shia vs Wahabi in Minangkabau
 
Shiites flow spread from Aceh to the Minangkabau, who started spreading since 1128. At that time, Al-Kamil admiral Nazimudin military maneuver of the coast of Aceh to the Kampar river Right and Left, to control the results of pepper in the area. Nazimudin fall when the expedition in 1128. Kampar river area occupied by foreign merchants menganutaliran Shiite, and supported by Fathimiah dynasty in Egypt. They want to monopolize the results of pepper. Results pepper Perlak was transported to the airport, continues to be brought to market Gujarat. In 1513, the Shah in Pariaman Burhanudin lord who ruled Aceh, began to Islamize the Minangkabau region intensively. Burhanuddin is the son of Crown Prince Sultan Syamsul Shah Alam, who co-founded the sultanate of Aceh. The local figures become educated scholars who would then spread Shi’ism among the Minangkabau. The teachers come from Kambayat, Gujarat. Supervision of clerical education in Pariaman, until 1697, conducted by the Shah Burhanuddin hereditary lord. While some are not happy with pengislaman made lord Burhanudin Shah.
 In 1803,
Wahhabi wing three figures bermazhab Hambali, Haji Piobang, Sumanik Haji and Haji Poor, forming a religious cleansing. Their movement sponsored by Abdullah ibn Saud in Riyadh. For the record, the three pilgrimage had been a soldier in Turkey. Tensions arose between the indigenous groups menganutaliran Shia and followers of the Wahhabi movement. Eventually they managed to eradicate the Shiites in Minangkabau, almost nothing left. In Iraq, in 1801, the Wahhabi movement too busy combating the Shiites, and captured Karbala. Shiite mosques and tombs of descendants of Hasan Hussein, grandson of Prophet Muhammad, burned. In 1802, the Wahhabi army under the command of Abdullah ibn Saud, son of Abdul Aziz Saud ib, captured the city of Mecca and Medina, as well as expel the Turks from Arabia. Since the liberation of the city of Mecca and Medina from the Turks that wing Hanafi, then the Wahhabi movement into international fame. Third pilgrimage Minangkabau origin who participated in the Turkish army occupied Mecca and Medina, the Wahhabis arrested. Because they are foreigners, not the Turks, they were not killed. The three men immediately indoctrinated in the Wahhabi movement, and took off his Hanafi school. Upon his return from Mecca in 1803, they formed the Wahhabi movement in Minangkabau. Tensions arose between the indigenous groups menganutaliran Shia and followers of the Wahhabi movement. Peak, Padri War erupted. Eventually they managed to eradicate the Shiites in Minangkabau, almost nothing left. Spread Hambali School began in 1804 with the destruction of the royal family in Suroaso Pagarruyung, who rejected the new flow. Almost the entire royal family Pagarruyung beheaded by forces led by Lord Lelo, whose original name was Idris Nasution. Only a few people can save themselves, among which are The lordship Arifin Muning Alamsyah Kuantan who fled to the Netherlands and then ask for help. His daughter,
 
The cruelty of the Wahhabis bermazhab Hambali in Minangkabau
Since the late nineteenth century, the region has initiated efforts Agam return movement back to the shari’ah which was pioneered by Tuanku Nan Tuo seems to be a poor fit for the Hajj in channeling ideas renewal. Protective Haji poor here are fellow seperguruannya, the lord Nan Renceh. Both stores are student Padri Tuanku Nan Tuo and both also involved in the initial renewal gerkan pioneered by teachers at the end of the eighteenth century. For Tuanku Nan Renceh meeting with Haji Miskin triggered his desire to make a move back to the shari’ah After a long vacuum. Tuanku Nan Renceh disappointment over the attitude of the teacher in the soft launch a return to sharia a major factor in poor Haji easily get support and sympathy of the figure is known to be very fierce. Before meeting with Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh reform movement does not have a clear purpose and form.
So when Haji Poor convey ideas renewal, Tuanku Nan Renceh immediately expressed support. Purpose of his struggle was clearer and seemed more radical. After receiving guidance and counsel of Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh increasingly convinced that the business renewal will have the support of other religious elites in Agam. In fact, Tuanku Nan Renceh also eager to expand his movement throughout the entire region on the island of Sumatra. The second meeting of this character in turn becomes the renewal ideas Padri can run intensively. But in its development, the most prominent is the Tuanku Nan Renceh to begin the work of Agam district. Meanwhile, Haji poor, although it is not got a chance to play further he always tried to play the role available to him. In this respect it more as preachers who invite people to accept the teachings of Padri. Tuanku Nan Renceh start lobbying efforts by scholars who have great influence in support of its motion. In the not long, seven lord of Candung, Sungai Puar, and Banuhampu expressed support. To organize their movements, Tuanku Nan Renceh form an alliance with the lord-lord.
Fellowship is what is known in history as the Tigers Nan Minankabau Salapan, they are: My lord Lubuk Aur (Candung), lord Volcano on the Mount (Candung), lord Galong (Puar River), lord Padang Laweh (Banuhampu), lord Banesa (Agam) , lord Kapau (Agam), and Tuanku Nan Renceh own (Kamang). The presence of Tiger Salapan in turn ideas renewal Padri can run intensively. Before starting movements, Lord Nan Renceh and friends Tuanku Nan Tuo came to implore the blessing of this charismatic cleric. In front of teachers who have brought Islam to know more profound, Tuanku Nan Renceh outlining ideas renewal based on the Qur’an and Hadith and oppose all practices that are contrary to the teachings of Islam. The means to be used to achieve this goal, the act of violence against those who are described at length. Unexpectedly meeting turns religious elites would lead to heated debates. Tuanku Nan Tuo who was the teacher of several members of the Tigers Nan Salapan basically approve renewal ideas Tuanku Nan Renceh and friends but balked violent means in practice. For Tuanku Nan Tuo, preaching is done in ways other than violence unwise also contrary to Islamic teachings. Tuanku Nan Tuo argued that “…. the Prophet spirited peaceable and forgiving, emphasizing that people deserve to die are those who consciously disavow Islam, and that the village has a Mu’min (believer) must not vulnerability. “Tuanku Nan Tuo therefore unwilling to join his former student’s., however Tuanku Nan Renceh remain at its founding. For The Padri, killing people who do not obey the rules of religion is not a sin.
Recognizing that it is difficult to get the blessing of the great scholars Agam, the poor Haji Renceh invite Tuanku Nan and his friends went to Koto Mansiangan Laweh to meet my lord. To these scholars the Tigers Nan Salapan asked as protectors and leaders of the movement. Cleric known for extensive knowledge and influence in this Laweh Koto expressed willingness. Willingness lord Mansiangan willing to join Padri seems more based on the consideration that he was well known and had been a poor Haji patron that he was not familiar with the ideas of Islamic renewal that carried The Padri. Besides, my lord Mansiangan is a snobby, while not covering popularity Tuanku Nan Tuo who also was a disciple of his father. Its popularity was limited Koto Laweh, while Tuanku Nan Tuo not only throughout Agam but also to other areas outside of Agam. His decision to join and be a leader Padri Tribe is expected to boost the popularity and can raise its prestige in kapangan scholars especially in Agam. As a token of gratitude for their willingness to join the Tribe Padri, Tuanku Nan Renceh him a priest. Although leadership is in the hands of the lord Padri Mansiangan but the actor is actually Renceh Tuanku Nan. The person who called then this is more prominent in determining the direction of travel Tribe Padri movement.
In a meeting with the community in Kamang Tuanku Nan Renceh menagajak community to help support its renewal movement. To the public were ordered to run Islamic law and Sholah 5 times should be run. Chewing betel nut, smoking, drinking alcohol, and opium is forbidden. To the men are encouraged to wear white clothes and beards. Wearing clothes of silk and gold jewelry are only allowed to women. The mother is also required to wear a veil. For those who were innocent of breaking the rules will be subject to the death penalty and their property confiscated. Seriousness Tuanku Nan Renceh give the death penalty for those who break the rules are made exemplified by killing her aunt because her younger brother was caught chewing betel.
The murder was apparently invited many scholars from a variety of places to merge with Renceh Tuanku Nan. Tuanku Nan Renceh violence is considered as a form of seriousness in implementing Islamic law. Whoever is guilty should be punished even his own family. Support for The Padri also increasingly widespread. At this moment the Padari started trying to overhaul the Padang ground, while Tuanku Nan Renceh gain greater public support so that it appears a good time for him to continue the implementation of the point. His own village was placed under the authority of scholars. In a matter of days many villages-villages which recognize the Tribe Padri and follow his teachings. The whole force area Agam be Padri territory. The Padri emerged as a new political force in Minangkabau hinterland. The success of the Padri controlled areas are point history Agam start making the nagari government is patterned religion (nagari a-la Padri / rule a-la Padri) and focuses on the teachings of Islam as understood by the Padri. At every districts which had been occupied by the Padri, two scholars appointed as the head (head) to the lord calls Imam (Imam) and lord Qadhi (Qadi). When connected to a variety of political theory and sociological theory, it appears clearly that the religious authorities, in general they can not escape politics.
In the case of Padri movement, marginality influence in social reality led many theologians feel you can not improvise extensively in social reality. So the best way is to seize or create their own system of political authority. Case Wahabi movement in Hejaz soil can also be seen from this perspective. Although, in the case of Padri, religious elites only want to restore their social position and role in the Minangkabau social entities that align with the traditional elite. However, within the leadership, the leadership structure alignment is very difficult to be realized, there must be in a position of hegemony. In the case of the Padri, the religious elite who have been marginalized, to restore its role as an authority in the field of religion, parallel to the prince of the power of government as the holder shoots villages. However, if we look at the theoretical, in the history of intellectual thought Minangkabau, religious authority has existed since Islam in Minangkabau, never be separated from the religious elite, and was never taken over by the indigenous elites, for example, as an elite custom feel they have the authority and capability of science . However, the reduction of the effect can occur. Every elite has its own domain of knowledge or authority, but the authority can influence other authorities across domains. For example, the traditional elite that has authority in the field of customs and religious elite in the field of religion. That their respective domains.
But it could happen, not only has the traditional elite influence in their respective domains, but their influence can be up to other elite domain, even sometimes their influence is far greater than in the domain of scientific authority concerned. This is what happened before the Padri movement emerged. Each elite has its own domain. However, in all aspects of life, even elite custom domains is much greater. Even in the domain of religion that should influence the religious elite is much larger, can be reduced by the indigenous elite. The Padri aware of this. Mastering society is not control of the area, but the most important thing is to master the effect. Their role as a religious elite that had been reduced by the indigenous elites want them to return. And they also want to establish leadership system a-la their own. This shows that they want to reproduce the social conditions of time, to reduce the influence of indigenous elites.
By forming the values ​​manifested in the political order established a-la Padri then the Padri will have flexibility and discretion in carrying out the mission and motivation of their own movement. In this sense of the word, the values ​​established or aspire will only work effectively if the political order established or captured. Political order correlated with the effect (at least legal-formal influence). Thus, the change will be effective and has an endorsement if the pressure and power (even more effective when a hegemonic power) is held. Furthermore, the values ​​will be established in accordance with the values ​​that became a fad the holders of power. In this context, it is assumed Padri movement construct or create their own pattern of leadership which is based on religion (Islam).
Formed values ​​are, theoretically, the maximum will be supported by the manufacturer and sympathy as well as individuals who have an interest in these values. However, it would be minimally acceptable to the fullest even opposed by groups who feel aggrieved by the presence of the new values. This thrust could have been caused by two things, namely because of the presence of the new values ​​to reduce the values ​​that they have so far and this is correlated with the existence as well as their self-esteem. Then the presence of the new values ​​will be rejected if they can no longer make a run activities in accordance with the values ​​they hold or has been allowed by the value system in which they live and active.
Ordinary people who had the freedom of action and activities in accordance with the will of their own hearts, because the presence of a new value system that could potentially curb “safe and comfortable conditions” that have them feel, can not accept the rules that have been established (read: forced) by the Padri. Reaction occurs, or in the language of sociological, social resistance. In these circumstances, the indigenous elites would be the most appropriate place for a shelter for the common people. In theory it is said that the political leadership of a social group (feel) defeated will be affiliated to the social group which they believe was also defeated, although the pre-conditions before, social groups were initially opposed to the social group in which they were affiliated.
As a person who has the ultimate authority in the villages and tribal leaders in the course Indigenous elites do not want such a condition is. Coupled with the presence of system leadership (priest and Qadhi) introduced by the Padri course traditional elites feel their influence would be reduced during this dominant hegemonic even. As customs officers in charge of caring for the child as well as all members of his clan cousin would not let kids niece and all members of his clan are victims of violence the Padri. To that end, the prince agreed to maintain their hegemony, power preserve those who have been “captured” by the Padri. Eventually they find the momentum to “blow” their anger against the Padri.
After successfully embed their influence in Agam district, and governance laid a-la Padri (optimally functioning and role of Imam Qadhi), then attempt the next Padri feudalism scrape out the influence of the Kingdom personified Pagaruyung they consider to have great potential in blocking Islamic reform they do. Attacks on several villages-were introduced. Anarchist-radical approach-destructive thought patterns, and effective best thing to do. So many people indigenous surrendered or fled to other areas. Even Tuanku Nan Tuo, “the ideological teacher” who has been a tendency persuasive, is not spared from attack “ideological disciples”. Mosque where he taught burned. The Hall-hall tradition that became too much debris. Burned by the Padri. In each penalukkan, the automatic Padri laid a-la their leadership, in addition to the primordial Islamic approach to society.
Some leaders of the Padri, like Haji Sumanik also move radically in area, Tanah Datar. However, in the central area of ​​this Minangkabau royal, Haji Sumanik not get the maximum results, it can even be said to fail. This is because, among the peoples (in this case the prince) converge to prevent the spread Haji Sumanik effect. In Minangkabau cultural area, the powers of the primus interpares, still has great influence in the community. The success of the Padri embed their influence in areas Agam, have been aware of the customs at Tanah Datar Padri in principle that the ambition to wrest power from the prince. Due to the social conditions that are different areas in Agam, then finally Haji Sumanik Lintau forced to move to the area.
 
Meanwhile, in other areas such as in Lintau, lord Pasaman Padri movement capable of disseminating mission to the community. Community acceptance is quite good, because my lord Pasaman focus only on improvement of public morality and socialization patterns more persuasive, not radical-destructive as in Agam district. On the initiative eventually he was precisely in 1815, negotiations were held between the Padri with family and dignitaries of the kingdom of Minangkabau. In the negotiations, there was a difference of opinion in the end a fight between the Minangkabau royal family and princes with figures Padri. The whole family and Minangkabau royal princes were killed, except the king and his grandson who can escape to Kuantan in Lubuk jambi. This event put an end to the king’s power of nature Minangkabau. The central political-cultural Minangkabau undermined by the Padri. Nagari-other villages gradually surrendered much. Some princes who do not submit to the Padri, many who fled to Batipuh, a village who do not submit to the Padri. Although the Padri got rid of Minangkabau power, they do not immediately take over the central cultural power. Looks here, the desire of the Padri in principle is to increase their political bargaining power in the middle of the community and not purely to power an-sich.
Minangkabau practical at this time, hegemonic authority in the hands of the religious elite (read: the Padri). Traditional elites who had been felt that the social authority in their hands, was not happy with the condition. Especially after the fall of the kingdom of nature Minangkabau, an institution that is culturally supra protect their existence. Finally, the “sun” other than the out-group they bring, the colonial Dutch. They asked for help from the Netherlands to restore their power usurped by Padri. The request was immediately accepted by the De Puy and then continue or recommend it to Batavia. The first request was rejected because given the number of Dutch military forces in Minangkabau is not so great. Later, in 1821, an agreement was made between the traditional and the Netherlands. Of the Netherlands signed by De Puy, while the indigenous signed by Sutan Bagagarsyah, King Tangsir Nature and Natural kingdom Sutan and many princes from different parts of Tanah Datar LUHAK.
Application for this relief seems to be done in total. This is evident from who those who join the group signing the agreement. According to historical data, the group as a whole amounted to 20 103 people in the name of the prince in LUHAK Tanah Datar, outside of the royal family and relatives Alam Minangkabau. Dutch East Indies government at that time had just received a small portion of the western coast of Sumatra while the British government immediately agreed to request such assistance. Moreover, the group promises to return to the Netherlands. The agreement known as the Treaty February 10, 1821 was later confirmed. Some key points of the agreement include: (1). The heads of government (prince) of the Kingdom of Minangkabau, formally and absolutely handed Pagaruyung, Sungai Tarab and Saruaso so are the areas around the Minangkabau Kingdom of the Netherlands Indies government. (2). Powers of the prince promised to obey and not against any command of Dutch. (3). In order to bring the areas that have been submitted to the Netherlands, to protect people from the Padri, to destroy the Padri and create peace in Minangkabau, the Dutch Government provide an army of 100 people and two guns. (4). The prince was required to provide the coolies in the amount of food needed and take care of the soldiers as well as possible. (5). Customs and old habits and relationship with the prince will be retained and will not be violated as long as not contrary to the articles of the treaty.
Furthermore, the Padri face vis a vis against the Netherlands. Padri War began to be recorded in the history. The movement was later defeated by the Dutch in 1838. Meanwhile, the purpose of the prince asked for help to the Dutch that their position as the elite people and restore their influence back that has been taken by the religious elite, would be counterproductive due to the agreement they signed with the Netherlands. They became the “melting” in the Dutch colonial government power engines and are increasingly active in the successful exploitation of the Dutch economy. Consequently, the defeat Padri not necessarily eliminate their influence. Precisely what happens is winning elite custom make them go down in history as “sycophants” and degrading the Minangkabau. Political elite custom revenge against former follower of the Padri actually makes a lot of the Minangkabau people are disgusted with the doings of them, especially the Dutch government did not seek to distance themselves from the religious elite, even those trying to keep him.
 
Before we discuss about Tuanku Rao alias Pongki Nangolngola Sinambela, let us describe the atrocities of the Wahhabis in eradicating the group who did not like-minded with them. The homage Padri Wahabi and bermazhab Wabi not discriminate who eradicated, whether he the customary or Islamic groups bermazhab another, or any other religion they destroy without mercy. Below kiita kutib Basyral Hamidy Harahap following explanation:

 

 

Original info

Mengenal Islam pada era Tuanku Rao

 

Mengenal Islam pada era Tuanku Rao..(1)

Posted on Februari 18, 2010 by thpardede

 

 

Tulisan yang tertera berikut ini, berhubungan dengan penyerangan Kaum paderi/padri ke tanah Batak , dengan kata lain penyerangan Islam aliran wahabi yang baru mendera kelompok adat di Minangkabau, dengan alasan membersih- kan akidah dari segala kesirikan.

Sejak masuknya Wahhabi diminangkabau 1803, kekerasan demi kekerasan melanda Minangkabau (yang dulunya kuat memegang adat) hingga ke tanah Batak (yang tidak terlepas dari peri laku adat dan kepercayannya).

Siapa dan apakah sebenarnya Wahhabi, hal ini perlu untuk mengetahui kelompok Islam mana yang menghantui tanah Batak, Kerna di dalam Islam ada beberapa mazhab yang artinya mazhab fiqih seperti Mazhab Hanafi, Maliki,Hambali dan syafii. disamping itu ada juga Syiah dan wahabi, sedangkan wahabi termasuk mazhab baru diera abad 18/19 yang lebih cenderung ke mazhab Hambali.

Apakah Mazhab itu ?

Mazhab adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’. Ini adalah pengertian mazhab secara umum, bukan suatu mazhab khusus.

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.

Mengapa perlu kita bahas topik tersebut diatas, tidak lain semata-mata hanya mencoba menyibak tabir kesimpang siuran penafsiran tentang Islam di Tapanuli khususnya toba. Akhir dari tulisan ini saya mencoba memaparkan beberapa tanggapan tentang Tuanku Rao alias Pongki nangolngolan Sinambela.

Syi’ah vs Wahabi di Minangkabau

 

Aliran Syi’ah menjalar dari Aceh ke daerah Minangkabau, yang persebarannya dimulai sejak 1128. Pada waktu itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang menganut aliran Syi’ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut ke bandar Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat. Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan menyebarkan ajaran Syi’ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan Tuanku Burhanudin Syah.

 Pada 1803,

tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama. Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan, ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801, gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi’ah, dan berhasil merebut Karbala. Masjid masjid Syi’ah dan makam-makam keturunan Hasan Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal di dunia internasional. Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya. Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di Minangkabau. Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya,

 

Kekejaman kelompok Wahabi bermazhab Hambali di Minangkabau

Sejak akhir abad ke sembilan belas, daerah Agam telah memulai usaha gerakan kembali kembali ke syari’at yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo agaknya menjadi tempat yang cocok bagi Haji Miskin dalam menyalurkan ide-ide pembaharuannya. Pelindung Haji Miskin di sini adalah rekan seperguruannya, yakni Tuanku Nan Renceh. Kedua toko Padri ini adalah murid Tuanku Nan Tuo dan keduanya juga ikut terlibat dalam gerkan pembaharuan awal yang dipelopori oleh gurunya pada akhir abad ke delapan belas. Bagi Tuanku Nan Renceh pertemuan dengan Haji Miskin menjadi pemicu keinginannya untuk kembali melakukan gerakan ke syari’at setalah vakum cukup lama. Kekecewaan Tuanku Nan Renceh atas sikap lunak gurunya dalam melancarkan gerakan kembali kepada syari’at menjadi faktor utama mudahnya Haji Miskin mendapat dukungan dan simpati dari tokoh yang dikenal sangat garang ini. Sebelum bertemu dengan Haji Miskin, gerakan pembaharuan Tuanku Nan Renceh masih belum mempunyai tujuan dan wujud yang jelas.

Maka ketika Haji Miskin menyampaikan ide-ide pembaharuannya, Tuanku Nan Renceh segera menyatakan dukungannya. Tujuan perjuangannya pun lebih jelas dan tampak lebih radikal. Setelah mendapat petunjuk dan nasehat dari Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh semakin yakin bahwa usaha pembaharuannya akan mendapat dukungan dari elit-elit agama lainnya di Agam. Bahkan, Tuanku Nan Renceh juga berambisi untuk meluaskan gerakannya hingga ke seluruh wilayah di Pulau Sumatera. Pertemuan kedua tokoh ini pada gilirannya menjadi ide-ide pembaharuan kaum Padri dapat dijalankan secara intensif. Akan tetapi dalam perkembangannya, yang paling menonjol adalah Tuanku Nan Renceh yang memulai pekerjaan dari daerah Agam. Sementara ini, Haji Miskin, meskipun tidak mendapat kesempatan untuk berperan lebih jauh ia selalu berusaha untuk memainkan peranan yang tersedia baginya. Dalam hal ini ia lebih berperan sebagai juru dakwah yang mengajak orang-orang untuk menerima ajaran-ajaran Padri. Tuanku Nan Renceh memulai usahanya dengan melobi ulama-ulama yang mempunyai pengaruh besar untuk mendukung gerakannya. Dalam waktu yang tidak lama, tujuh Tuanku dari Candung, Sungai Puar, dan Banuhampu menyatakan dukungannya. Untuk mengorganisir gerakan mereka, Tuanku Nan Renceh membentuk persekutuan dengan Tuanku-Tuanku tersebut.

Persekutuan inilah yang dalam sejarah Minankabau dikenal sebagai Harimau Nan Salapan, mereka itu adalah: Tuanku Lubuk Aur (Candung), Tuanku Berapi di Bukit (Candung), Tuanku Galong (Sungai Puar), Tuanku Padang Laweh (Banuhampu), Tuanku Banesa (Agam), Tuanku Kapau (Agam), dan Tuanku Nan Renceh sendiri (Kamang). Keberadaan Harimau Salapan pada gilirannya menjadi ide-ide pembaharuan kaum Padri dapat dijalankan secara intensif. Sebelum memulai gerakannya, Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan mendatangi Tuanku Nan Tuo untuk memohon restu dari ulama kharismatik ini. Dihadapan guru yang telah membawanya untuk mengenal Islam lebih mendalam lagi, Tuanku Nan Renceh menjabarkan ide-ide pembaharuannya yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadis dan menentang segala praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran Islam. Cara-cara yang akan dipakai untuk mencapai tujuan itu, yakni tindakan kekerasan bagi yang menentang, juga dipaparkan secara panjang lebar. Tanpa diduga ternyata pertemuan elit-elit agama itu justru menimbulkan perdebatan yang sengit. Tuanku Nan Tuo yang merupakan guru dari beberapa anggota Harimau Nan Salapan pada dasarnya menyetujui ide-ide pembaharuan Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan tetapi menolak keras cara-cara kekerasan dalam pelaksanaannya. Bagi Tuanku Nan Tuo, dakwah yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan selain tidak bijaksana juga bertentangan dengan ajaran Islam. Tuanku Nan Tuo mengajukan argumentasi bahwa ”….Nabi berjiwa suka damai dan suka mengampuni, yang menekankan bahwa orang patut dihukum mati adalah orang yang dengan sadar mengingkari Islam, dan bahwa desa yang mempunyai seorang mu’min (orang beriman) pun tidak boleh diserang”. Oleh karenanya Tuanku Nan Tuo tidak bersedia untuk bergabung dengan mantan muridnya itu. Akan tetapi Tuanku Nan Renceh tetap pada pendiriannya. Bagi Kaum Padri, membunuh orang yang tidak mematuhi aturan-aturan agama bukanlah perbuatan dosa.

Menyadari bahwa sulit untuk mendapat restu dari ulama besar Agam itu, Haji Miskin mengajak Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan pergi ke Koto Laweh untuk menemui Tuanku Mansiangan. Kepada ulama ini kelompok Harimau Nan Salapan memintanya sebagai pelindung dan pemimpin gerakan. Ulama yang terkenal karena pengetahuannya yang luas dan cukup berpengaruh di Koto Laweh ini menyatakan kesediaannya. Kesediaan Tuanku Mansiangan bersedia untuk bergabung dengan kaum Padri agaknya lebih didasarkan atas pertimbangan bahwa ia telah mengenal secara baik Haji Miskin dan pernah menjadi pelindungnya sehingga ia tidak merasa asing dengan ide-ide pembaharuan Islam yang diusung Kaum Paderi. Kecuali itu, Tuanku Mansiangan adalah orang yang gila hormat, sementara popularitasnya tidak seluas Tuanku Nan Tuo yang juga adalah murid dari ayahnya. Popularitasnya hanya sebatas Koto Laweh, sedangkan Tuanku Nan Tuo tidak hanya di seluruh Agam tetapi juga ke wilayah lain di luar Agam. Keputusannya untuk bergabung dan menjadi pemimpin Kaum Padri diharapkan dapat mendongkrak popularitas dan dapat menaikkan gengsinya di kapangan ulama khususnya di Agam. Sebagai tanda terima kasih atas kesediaannya bergabung dengan Kaum Padri, Tuanku Nan Renceh memberinya gelar Imam Besar. Meskipun pimpinan kaum Padri berada di tangan Tuanku Mansiangan namun aktor sesungguhnya adalah Tuanku Nan Renceh. Orang yang disebut kemudian inilah yang lebih menonjol dalam menentukan arah perjalanan gerakan Kaum Padri.

Dalam suatu pertemuan dengan masyarakat di Kamang Tuanku Nan Renceh menagajak masyarakat untuk ikut mendukung gerakan pembaharuannya. Kepada masyarakat diperintahkan untuk menjalankan syari’at Islam dan sholah 5 waktu harus dijalankan. Makan sirih, merokok, minum minuman keras, dan madat diharamkan. Kepada kaum laki-laki dianjurkan untuk memakai pakaian putih dan memelihara jenggot. Memakai pakaian dari sutera dan perhiasan emas hanya dibolehkan kepada kaum perempuan. Kaum ibu juga diharuskan memakai cadar. Bagi yang bersalah atau melanggar sebuah dari aturan-aturan tersebut akan dikenakan hukuman mati dan harta bendanya dirampas. Keseriusan Tuanku Nan Renceh memberikan hukuman mati bagi yang melanggar aturan-aturan yang dibuatnya dicontohkan dengan membunuh bibinya lantaran adik kandung ibunya itu kedapatan sedang mengunyah sirih.

Peristiwa pembunuhan tersebut ternyata mengundang banyak ulama dari berbagai tempat untuk menggabungkan diri dengan Tuanku Nan Renceh. Tindakan kekerasan Tuanku Nan Renceh dianggap sebagai wujud dari keseriusan dalam menjalankan syari’at Islam. Siapapun yang bersalah harus dihukum meski itu keluarga sendiri. Dukungan terhadap Kaum Padri juga semakin luas. Pada saat inilah kaum Padari mulai berusaha merombak masyarakat Padang darat, sementara Tuanku Nan Renceh memperoleh dukungan masyarakat yang makin besar sehingga tampaklah saat yang baik bagi dia untuk melanjutkan pelaksanaan maksudnya. Desanya sendiri sudah diletakkannya di bawah kekuasaan alim ulama. Dalam hitungan hari banyak nagari-nagari yang mengakui kekuasaan Kaum Padri dan mengikuti ajaran-ajarannya. Seluruh kekuatan wilayah Agam menjadi daerah kekuasaan Padri. Kaum Paderi muncul sebagai kekuatan politik baru di pedalaman Minangkabau. Keberhasilan kaum Paderi menguasai wilayah Agam merupakan point history dimulainya penyusunan pemerintahan nagari yang bercorak agama (nagari a-la Paderi/pemerintahan a-la Paderi) dan menitikberatkan pada ajaran Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum Paderi. Pada setiap nagari yang telah dikuasai oleh kaum Paderi, diangkat dua orang ulama sebagai pimpinan (kepala) dengan panggilan Tuanku Imam (Imam) dan Tuanku Qadhi (Qadhi). Bila dihubungkan dengan berbagai teori politik maupun teori sosiologi, terlihat secara gamblang bahwa pemegang otoritas agama, pada umumnya tidak bisa melepaskan diri mereka dengan politik.

Dalam kasus gerakan Paderi, keterpinggiran pengaruh dalam realitas sosial membuat kalangan agamawan merasa tidak bisa berimprovisasi secara luas dalam realitas sosial. Maka jalan yang paling baik adalah merebut atau menciptakan sistem otoritas politik sendiri. Kasus Gerakan Wahabi di tanah Hejaz juga bisa dilihat dari perspektif ini. Walaupun, untuk kasus Paderi, kalangan elit agama ini hanya ingin mengembalikan posisi dan peran sosial mereka dalam entitas sosial masyarakat Minangkabau yang sejajar dengan elit adat. Namun dalam sistem kepemimpinan, kesejajaran dalam struktur kepemimpinan tersebut sangat sulit terwujud, pasti ada yang berada dalam posisi hegemoni. Dalam kasus kaum Paderi ini, elit agama yang selama ini terpinggirkan, ingin mengembalikan peranannya sebagai pemegang kekuasaan dalam bidang agama, sejajar dengan kekuasaan penghulu sebagai pemegang pucuk pemerintahan nagari. Namun bila kita lihat secara teoritik, dalam sejarah pemikiran intelektual Minangkabau, pemegang otoritas agama sejak Islam sudah eksis di Minangkabau, tidak pernah lepas dari elit agama, dan tidak pernah diambil alih oleh elit adat misalnya, karena elit adat merasa tidak memiliki otoritas dan kapabilitas keilmuan. Akan tetapi reduksi pengaruh bisa terjadi. Setiap elit memiliki domain keilmuan atau otoritas sendiri, akan tetapi otoritas pengaruh bisa melintasi domain otoritas lain. Misalnya, elit adat yang memiliki otoritas dalam bidang adat dan elit agama dalam bidang agama. Itu domain mereka masing-masing.

Tapi bisa saja terjadi, elit adat tidak saja memiliki pengaruh dalam domain mereka masing-masing, namun pengaruh mereka bisa saja hingga ke domain elit lain, bahkan terkadang pengaruh mereka itu jauh lebih besar dibandingkan pemegang otoritas keilmuan dalam domain bersangkutan. Hal inilah yang terjadi sebelum gerakan Paderi muncul. Masing-masing elit memiliki domain sendiri-sendiri. Akan tetapi, dalam seluruh aspek kehidupan, justru domain elit adat jauh lebih besar. Bahkan dalam domain agama yang seharusnya pengaruh elit agama jauh lebih besar, bisa direduksi oleh elit adat. Kaum Paderi menyadari hal ini. Menguasai masyarakat bukanlah menguasai wilayah, akan tetapi yang paling penting adalah menguasai pengaruh. Peran mereka sebagai elit agama yang selama ini tereduksi oleh elit adat ingin mereka kembalikan. Dan mereka juga ingin membentuk sistem kepemimpinan a-la mereka sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka ingin mereproduksi kondisi sosial yang lama, ingin mereduksi pengaruh elit adat.

Dengan membentuk tata nilai yang termanifestasi dalam tata politik yang dibentuk a-la Paderi maka kaum Paderi akan memiliki fleksibelitas dan keleluasaan dalam menjalankan misi dan motivasi dari gerakan mereka sendiri. Dalam arti kata, tata nilai yang dibentuk atau dicita-citakan hanya akan berjalan secara efektif bila tata politik dibentuk atau direbut. Tata politik berkorelasi dengan pengaruh (minimal pengaruh legal-formal). Jadi, merubah masyarakat akan efektif dan memiliki daya pressure and endorse apabila kekuasaan (bahkan lebih efektif bila kekuasaan yang hegemonik) dipegang. Selanjutnya nilai-nilai akan dibentuk sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi anutan si pemegang kekuasaan. Dalam konteks inilah, diasumsikan gerakan Paderi menyusun atau membuat pola kepemimpinan sendiri yang berbasiskan agama (Islam).

Tata nilai yang terbentuk tersebut, secara teoritis, akan didukung secara maksimal oleh pembuat dan individu yang simpati serta memiliki kepentingan dengan tata nilai tersebut. Namun, akan diterima secara minimal bahkan ditentang secara maksimal oleh kelompok yang merasa dirugikan akan kehadiran tata nilai baru tersebut. Daya tolak ini bisa saja disebabkan oleh dua hal, yaitu karena kehadiran tata nilai baru tersebut mereduksi tata nilai yang mereka miliki selama ini dan ini berkorelasi dengan eksistensi serta harga diri mereka. Kemudian kehadiran tata nilai baru itu akan ditolak apabila membuat mereka tidak bisa lagi menjalankan aktifitas sesuai dengan nilai yang selama ini mereka anut atau diperbolehkan oleh tata nilai dimana mereka hidup dan beraktifitas.

Rakyat awam yang selama ini mendapat kebebasan dalam bertindak dan beraktifitas sesuai dengan kehendak hati mereka masing-masing, karena kehadiran tata nilai baru yang berpotensi mengekang ”kondisi aman dan nyaman” yang selama ini telah mereka rasakan, tidak dapat menerima aturan-aturan yang telah ditetapkan (baca: dipaksakan) oleh kaum Paderi. Terjadi reaksi, atau dalam bahasa sosiologisnya, resistensi sosial. Dalam keadaan seperti ini, maka elit-elit adat akan menjadi tempat yang paling tepat untuk berlindung bagi rakyat awam. Dalam teori kepemimpinan politik dikatakan bahwa suatu kelompok sosial yang (merasa) dikalahkan akan berafiliasi kepada kelompok sosial yang mereka yakini juga dikalahkan, walaupun pra-kondisi sebelumnya, kelompok sosial tersebut awalnya bertentangan dengan kelompok sosial tempat mereka berafiliasi itu.

Sebagai orang yang memiliki otoritas tertinggi dalam nagari dan pemimpin suku dalam kaum, tentu saja elit-elit adat tidak menginginkan kondisi yang demikian tersebut. Ditambah lagi dengan kehadiran tata kepemimpinan (Imam dan Qadhi) yang diperkenalkan oleh kaum Paderi tentu elit-elit adat merasa akan tereduksi pengaruh mereka yang selama ini dominan bahkan hegemonik. Sebagai petinggi adat yang bertugas memelihara anak kemenakan serta seluruh warga sukunya tidak akan membiarkan anak kemenakan serta seluruh warga sukunya menjadi korban kekerasan kaum Paderi. Untuk itu, para penghulu sepakat untuk mempertahankan hegemoni mereka, mempertahankan kekuasaan mereka yang telah ”direbut” oleh kaum Paderi. Akhirnya mereka mencari momentum untuk ”meledakkan” kemarahan mereka terhadap kaum Paderi.

Setelah berhasil menanamkan pengaruh mereka di daerah Agam, dan meletakkan tata pemerintahan a-la Paderi (memfungsikan secara maksimal peran Imam dan Qadhi), maka usaha kaum Paderi berikutnya adalah mengikis habis feodalisme yang dipersonifikasikan pada pengaruh Kerajaan Pagaruyung yang mereka anggap memiliki potensi besar dalam menghalangi pembaharuan Islam yang mereka lakukan. Penyerangan-penyerangan terhadap beberapa nagari-pun mulai dilakukan. Pendekatan anarkis-radikal-destruktif dianggap pola terbaik dan efektif yang harus dilakukan. Maka banyak kalangan adat yang menyerahkan diri atau melarikan diri ke daerah-daerah lain. Bahkan Tuanku Nan Tuo, ”sang guru ideologis” yang selama ini cenderung persuasif, tidak luput dari penyerangan ”murid-murid ideologisnya”. Surau tempat ia mengajar dibakar. Balairung-balairung adat pun banyak yang menjadi puing-puing. Dibakar oleh kaum Paderi. Dalam setiap penalukkan, kaum Paderi otomatis meletakkan dasar kepemimpinan a-la mereka, disamping tentunya pendekatan Islam yang primordial kepada masyarakat.

Beberapa pimpinan kaum Paderi, seperti Haji Sumanik juga bergerak radikal di wilayahnya, Tanah Datar. Akan tetapi, di daerah pusat kerajaan Minangkabau ini, Haji Sumanik tidak mendapat hasil yang maksimal, bahkan bisa dikatakan gagal. Hal ini dikarenakan, kalangan adat (dalam hal ini penghulu) bersatu menghambat pengaruh yang disebarkan Haji Sumanik. Di daerah kultural Minangkabau ini, penghulu yang primus interpares tersebut, masih memiliki pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan kaum Paderi menanamkan pengaruh mereka di daerah-daerah Agam, telah menyadarkan kaum adat di Tanah Datar bahwa kaum Paderi pada prinsipnya berambisi untuk merebut kekuasaan dari penghulu. Karena kondisi sosial yang berbeda dengan daerah-daerah di Agam, maka akhirnya Haji Sumanik terpaksa hijrah ke daerah Lintau.

 

Sementara itu, di daerah-daerah lain seperti di Lintau, Tuanku Pasaman mampu mensosialisasikan misi gerakan Paderi kepada masyarakat. Penerimaan masyarakat cukup baik, karena fokus Tuanku Pasaman hanya kepada perbaikan moralitas masyarakat dan pola sosialisasinya lebih persuasif, bukan radikal-destruktif sebagaimana yang terjadi di daerah Agam. Atas inisiatif beliau pulalah akhirnya pada tahun 1815, diadakan perundingan antara kaum Paderi dengan keluarga dan pembesar-pembesar kerajaan Minangkabau. Dalam perundingan tersebut, terjadi perbedaan pendapat yang pada akhirnya terjadi perkelahian antara keluarga dan pembesar kerajaan Minangkabau dengan tokoh-tokoh Paderi. Seluruh keluarga dan pembesar kerajaan Minangkabau tewas, kecuali raja beserta cucunya yang dapat meloloskan diri ke Kuantan di Lubuk jambi. Peristiwa ini mengakhiri kekuasaan raja alam Minangkabau. Sentral politik-kultural Minangkabau diruntuhkan oleh kaum Paderi. Nagari-nagari lain secara berangsur-angsur banyak yang menyerahkan diri. Beberapa penghulu yang tidak mau tunduk dengan kaum Paderi, banyak yang lari ke Batipuh, sebuah nagari yang tidak mau tunduk dengan kaum Paderi. Meskipun kaum Paderi berhasil menyingkirkan kekuasaan Minangkabau, mereka tidak segera mengambil alih sentral kekuasaan kultural tersebut. Tampak disini, keinginan kaum Paderi pada prinsipnya adalah ingin menaikkan daya tawar politik mereka di tengah-tengah masyarakat dan tidak murni meraih kekuasaan an-sich.

Praktis di Minangkabau pada waktu ini, otoritas hegemonik berada di tangan elit agama (baca: kaum Paderi). Elit adat yang selama ini merasa bahwa otoritas sosial berada di tangan mereka, merasa tidak senang dengan kondisi ini. Apalagi setelah kejatuhan kerajaan alam Minangkabau, sebuah institusi supra yang secara kultural melindungi eksistensi mereka. Akhirnya, ”matahari” lain dari kalangan out-group mereka datangkan, kolonial Belanda. Mereka meminta bantuan kepada Belanda untuk memulihkan kembali kekuasaan mereka yang dirampas oleh Paderi. Permintaan tersebut langsung diterima oleh De Puy dan kemudian melanjutkan atau merekomendasikannya ke Batavia. Permintaan pertama ditolak karena mengingat jumlah kekuatan militer Belanda di Minangkabau tidak begitu besar. Kemudian, pada tahun 1821, dibuatlah perjanjian antara kaum adat dengan Belanda. Dari pihak Belanda ditandatangani oleh De Puy, sementara di pihak adat ditandatangani oleh Sutan Bagagarsyah, Raja Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam serta berbagai penghulu dari berbagai daerah di Luhak Tanah Datar.

Permohonan bantuan ini nampaknya dilakukan secara total. Hal ini terlihat dari siapa-siapa saja yang ikut dalam rombongan penandatangan perjanjian tersebut. Menurut data sejarah, rombongan secara keseluruhan berjumlah 20 orang yang mengatasnamakan 103 penghulu di Luhak Tanah Datar, diluar keluarga dan kerabat kerajaan Alam Minangkabau. Pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu baru saja menerima sebagian kecil wilayah pantai barat Sumatera dari pemerintah sementara Inggris dengan segera menyetujui permintaan bantuan tersebut. Apalagi rombongan tersebut menjanjikan imbalan kepada Belanda. Perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian 10 Februari 1821 tersebut kemudian dikukuhkan. Beberapa point-point penting dari perjanjian tersebut antara lain : (1). Kepala-kepala pemerintahan (penghulu) dari kerajaan Minangkabau, secara formal dan mutlak menyerahkan Pagaruyung, Sungai Tarab dan Saruaso begitu juga daerah-daerah sekeliling Kerajaan Minangkabau kepada pemerintah Hindia Belanda. (2). Penghulu-penghulu tersebut berjanji untuk patuh dan tidak menentang perintah apapun dari Belanda. (3). Dalam rangka menguasai daerah-daerah yang telah diserahkan kepada Belanda, untuk melindungi rakyat dari kaum Paderi, untuk menghancurkan kaum Paderi dan menciptakan perdamaian di Minangkabau, pemerintah Hindia Belanda menyediakan satuan tentara sebanyak 100 orang dan dua pucuk meriam. (4). Para penghulu diharuskan menyediakan kuli-kuli dalam jumlah yang dibutuhkan dan mengurus makanan tentara sebaik-baiknya. (5). Adat dan kebiasaan lama dan hubungan penghulu dengan penduduk akan dipertahankan dan tidak akan dilanggar selama tidak bertentangan dengan pasal-pasal dalam perjanjian.

Selanjutnya, kaum Paderi berhadapan vis a vis melawan Belanda. Perang Paderi pun mulai dicatat dalam sejarah. Gerakan ini kemudian pada tahun 1838 dikalahkan oleh Belanda. Sementara itu, tujuan penghulu meminta bantuan kepada Belanda agar posisi mereka sebagai elit adat dan mengembalikan pengaruh mereka kembali yang telah diambil oleh elit agama, justru kontraproduktif akibat Perjanjian yang telah mereka tanda tangani dengan Belanda. Mereka menjadi ”lebur” dalam mesin kekuasaan pemerintah kolonial Belanda dan semakin aktif dalam menyukseskan eksploitasi ekonomi Belanda. Akibatnya, kekalahan Paderi tidak serta merta menghilangkan pengaruh mereka. Justru yang terjadi adalah kemenangan elit adat membuat mereka tercatat dalam sejarah sebagai ”penjilat” dan merendahkan martabat orang Minangkabau. Politik balas dendam elit adat terhadap bekas pengikut kaum Paderi justru membuat banyak kalangan masyarakat Minangkabau merasa muak dengan tingkah polah mereka, apalagi pemerintah Belanda tidak berupaya menjauhkan diri dari elit agama, bahkan mereka berusaha untuk selalu mendekatinya.

 

Sebelum kita mengulas tentang Tuanku Rao Alias Pongki Nangolngola Sinambela, mari kita paparkan kekejaman- kekejaman kaum wahabi dalam membasmi kelompok yang tidak sealiran dengan mereka . Kaum Paderi yang beraliran Wahabi dan bermazhab Wabi tidak membeda-bedakan yang dibasmi, apakah dia kaum adat atau kelompok Islam bermazhab lain, atau agama lain mereka musnahkan tanpa ampun. Dibawah ini kiita kutib penjelasan Basyral Hamidy Harahap sbb:

 

 

Basyral Hamidy Harahap, exposing Padri to Simanabun invasion army led by Lord Tambusai. (See Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog) ‘… As a writer, there-pounding thud of my heart when writing Datu Bange chapter in this book. Not just because of this chapter tells about non-berperi-kemanusiaanan, genocide, and a smoldering resentment. But because he also told me about my ancestors who continue to fight, even when they are in a disadvantageous position. Meanwhile, white-clad troops who buzzed-touted religious, while slashing human head, burning villages, raping, and doing all sorts of barbarity, continued to pursue the enemy. This is what makes the Dutch so melted, and stirred a sense of humanity. Datu Bange and his entourage continue to fight. Spontaneously, the Dutch troops protecting group Datu Bange. Because if not, a human tragedy that much more cruel inevitable, which, however, will not be accepted civilized man!!! . Datu Bange and his followers are none other than my ancestors, finally succeeded in entering a new area after a rugged terrain, winding up mountains and down valleys and jungle with a distance of over 65 kilometers, and then they settled in the area Angkola and Mandailing Godang. Although for that Datu Bange have to make it up with her own life … Even Basyral Hamidy Harahap considers the basis used by the committee that proposed the title of National Hero for the lord Tambusai naive and dropping the dignity of Datu Bange. BHH writes (p. 67): “… In those upland areas where the population is still parbegu and often make a mess like raiding and taking slaves were disturbing residents. Tambusai lord wanted to end the situation by doing the movement against the group was led by Datu parbegu Bange, King Siminabun the citadel is located on the summit of a steep hill on the banks of the river Batang Pane … “
Islam had entered North Sumatra since the 8th century, and mostly Shiite wing. For hundreds of years Islam and indigenous religions Batak, Parmalim, as well as Hindu-Buddhist can coexist peacefully.
Many people-including-HAMKA reject the issue of mass rape of women prisoners orgy by some forces Padri. The story of how members Padri syahwatnya openly lust for beautiful captives accused Parlindungan Hamka as mere fantasy. Hamka also accused sex stories was accidentally placed Parlindungan appealing to youth than seeking scientific data. In the eyes of Hamka, lord Lelo whose real name according Parlindungan Idris Nasution was Parlindungan sheer floral character. Meanwhile, in his book, MOP stated, that my lord Lelo / Idris Nasution was his great-grandfather.
Regarding the abduction of women in areas that have been conquered, and then sold as a slave, was also written by Rosihan Anwar in Kompas edition of Monday, February 6, 2006 with the title ‘Padri War which not Know’, where it says: “… The interesting thing is habit of abducting women in raid, then transport them to be sold as slaves (slaves). Padri Mandailing do this in the area. Period of the slave trade was a common symptom … “
In the Dutch colonial era, slavery was the official practice. There are even slavery laws, in force since 1640 and recently officially abolished in 1863. But in fact, the practice of slavery in the Dutch colony continued until the late 19th century. Similarly, the rape of women in the area had been attacked and defeated or occupied. It is still happening today.
In his book ‘Between Fact and Fantasy “-whether consciously or not-HAMKA much to expose the violence in the spread of multiple streams of Islam in the Middle East, especially those committed to disseminate any school or sect. HAMKA also wrote cruelty Tuanku Nan Renceh very fanatical kewahabiannya, who ordered to kill her mother’s sister, because they do not want to follow the prayers. (P. 238) Regarding the white garments worn by the clergy in Minangkabau, HAMKA writes, that the white color worn by the clergy is a legacy of Buddhism. HAMKA writes (p. 303): “… Even the white color that may have existed since the Minangkabau still embraced Buddhism. Buddhist monks walk with a white scarf dress will ask (maybe the question is stock – pen.) Food to residents. After the coming of Islam in the Buddhist heritage passed on by students-students in Minangkabau called ‘The Siak’.: Those white gloved, and dressed in white pants stock alms recite every Thursday to runah-houses … “It’s hard to provides an assessment of the events or things that happened in the past, the size of humanity today. Also in the absence or lack of data, facts and documents that can amplify or narrative folklore about a historical event.
Tempo Tempo Magazine October 21, 2007 includes “… the petition is urging the Indonesian government to cancel the appointment of Tuanku Imam Bonjol freedom struggle hero Imam Bonjol is Chairman Padri Wahabi Movement. Movements have the same flow with the Taliban and al-Qaida. Invasion Padri to the ground Batak killed thousands of people “. Another section on page 56 it says “wear their all-white”. Weapons strong enough. They think Parlindungan, having owned former military 88s Napoleon’s armies were purchased second hand in Penang. Two officers Padri sent to study in Turkey. Tuanku Rao, originally named Pongki Nangol a Batak-ngolan Sinambela, sent to study cavalry tactics. Tambusai lord, originally named Hamonangan Harahap, learn about fortification. Padri forces also had military training in Batusangkar. References are used, for example, the obtaining of Schnitger, a Antropholog Netherlands, and JB Neuman in his Het Panai en When Stroomgebied geography magazine published in the Dutch kingdom in 1885, 1886, 1887 states that the so-called Tongku (ie Datuk Engku or Tuk Ongku) written as Tempo (21/10/07) page 61, as the artisan butcher. If “if people do not necessarily want to convert to Islam will be killed”. Tambusai lord known as the most feared figure of the Dutch war, because of the various battlefields through Tambusai lord, it’s pretty meyibukkan the colonizers, as spoken D Brakel in his De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) which states, “during the war Padri, two figures who led the Dutch struggled for so long: Tuanku Imam Tambusai Bonjol and my lord. Without these two, the battle can be finished in a shorter time by winning the Dutch “.
COMPASS, Sunday, July 27, 2008 article Rosihan Anwar, “War of the Not Padri You Know”, published by “Compass”, February 6, 2006, highlighting the dark side Padri War. Rosihan it comes to writing a book compiled by the Dutch military historian, G Teitler, titled “Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, in the article, talks about the habits women kidnap cleric in a raid, then transport them to be sold as slaves (slaves). There is another book that explores the dynamics of remarkable changes in the economic life and movement purification of Islam in Minangkabau. In the process many of the conflicts that arise changes which resulted in human tragedy. The book was written historian Christine Dobbin, Islamic Revivalism original title in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983). Dobbin began a detailed presentation about the social ecology and topography of the Minangkabau, about the challenges and natural grace in movement Minangkabau society trade. We are amazed to read this book. Apparently there is still much we do not know about the social changes that are spectacular and the movement in the Minangkabau and Tapanuli Padri. Approximately 75 percent of the book tells the story of the changing dynamics of the Minangkabau people in the vagaries of trade in the interior and west coast with all the problems it caused, gold and iron mining, industrial houses, farm tools workshop, sharp weapons and guns, carpentry, weaving, farming export commodities, competition and trade war with the Dutch. It happened before any movement since many Padri. Interesting to note that centuries before the birth of the movement Padri, Islam has long been developing in Natal, west coast Mandailing, Tapanuli Southern. This is evidenced by the presence of my Lord Lintau, a rich, native Lintau Sinamar Valley, who came to Natal to study Islam. Then the lord Lintau continue his education to Pasaman who also inhabited Mandailing embracing patrilineal kinship system. After studying the Islamic religion, about 1813, returned to his village lord Lintau convinced that as a resident of Tanah Datar, he has a mission to improve moral behavior and the valley. Tuanku Lintau impressed Padri movement led by Tuanku Nan Renceh in Agam. He also joined the Padri. In particular lord Lintau feel obliged aware lifestyle of the royal family were not in accordance with the teachings of Islam in order to return to the right path. Initially, my lord Lintau get protection from the King Muning, is King of the Minangkabau who sits Pagaruyung. But in the next development, lord Lintau social revolution precisely because he was convinced that the system is corrupt kingdom barriers to the success of his ideals. Lintau lord and his followers attacked the King of Nature. Many were killed, including two sons of the King of Nature. Raja Alam and grandson managed to escape to Lubuk Jambi in Inderagiri. Alam grandson of King’s later known as Emperor Shah Alam Bagagar, last Minangkabau King. That Christmas on the west coast as the first lord Mandailing Lintau studying Islam proves, it is not Padri War Islamization movement in Mandailing. Since centuries before the onset Padri movement, Sufi scholars have taught Islam to the Mandailing Natal. The key figure in spreading Islam to the west coast to the inland Mandailing are great Sufi cleric Sheikh Abdul Fattah (1765-1855). This great scholar died and was buried in Pagaran Sigatal, Panyabungan. Sufi disciples that peacefully brought Islam to the interior Mandailing. Both Padri and the Netherlands are concerned about the threat of mutual destruction of each trading hegemony in the Minangkabau region and the west coast. That’s why the Dutch lock Padang area to the south that was not touched by the Padri. This prompted the occupation of the northern region, in this case a rich Mandailing Rao and high quality gold and other export commodities. We thus understand why trade movement has become hardened in Padri movement era. Mandailing Padri movement in opposition of the lordship Hutasiantar Sutan Kumala, king of the clergy as well as primus inter pares Mandailing kings. He was dubbed by the Dutch as Primaat Mandailing. Dobbin said that the slave trade is very important for the system Padri. Because the slaves not only as a commodity, but also as porters and army reservists. That’s what causes the Padri can last so long in the conduct of war. Probably not good to say that so long Padri War (1803-1838), who had been so sacred, referred to by Dobbin a trade war. The evidence suggests the ways to move Padri war violence and brutality, far from Islamic values. This prompted us consciously or unconsciously, more trusting Dobbin. In addition, Padri able to shift the traders operating in the adjacent settlement of Europeans. One feature that stands out Padri movement is an attempt to foster trade Minangkabau simultaneously resist efforts from outside who want to monopolize trade in the region. Dobbin said that Padri movement, particularly in the north Minangkabau, rather than the trade movement spread of Islam movement. Is worth, none of the former trail Padri in the field of religion in the region. So, according to the indication I lost interest in the book Tuanku Rao that Islam brought by the Mandailing themselves from Pasaman and west coast Mandailing. The process of Islamization took place peacefully in a family atmosphere. They have known Islam centuries before the existence of the Padri. Christmas reputation as a center of Islamic education on the west coast has been demonstrated by the lord Mandailing Lintau, Padri legendary figure who studied Islam in Natal, before he delved into Padri movement. Islamic reform movements and trade pre-Padri, at Padri, and post-Padri is essentially a tremendous social revolution in West Sumatra. Broadly speaking Padri War erupted in Minangkabau between since the year 1821 until 1837. The Padri led Tuanku Imam Bonjol against colonial Dutch East Indies. Padri movement against the rampant acts of that time in Minang people, such as gambling, penyabungan chicken, the use of opium (opium), liquor, tobacco, betel, also matriarchal aspects of customary law on inheritance and generally loose enforcement of formal ritual obligations of Islam. The war was triggered by a split between the leadership of Datuk Bandaro Padri and The Indigenous leader Datuk Sati. The Dutch then help the oppressed peoples Padri. Datuk Bandaro then replaced Tuanku Imam Bonjol. The war against the Dutch only stopped in 1838 after the entire earth Minang captured by the Dutch and the year before, 1837, Imam Bonjol arrested. Although the war officially ended in the fall Padri Bonjol fort, but the last bastion Padri, Dalu-Dalu, under the leadership of Lord Tambusai, then fell in 1838. Alam Minangkabau become part of the pax Neerlandica. But in 1842, Regent Batipuh rebellion erupted. The end of the war Padri Padri Dutch attacked the fort in Bonjol with army led by generals and officers Netherlands, but mostly consisting of various tribes, such as Javanese, Madurese, Bugis, and Ambon. In the list of names of the Dutch army officer is Lieutenant Colonel Bauer, Captain MacLean, Lieutenant Van der Tak, and so on, but also the name of Inlandsche (native) as Captain Noto Prawiro Indlandsche Luitenant Prawiro on Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, and Merto Poero. There are 148 European officers, 36 officers indigenous, European armies 1103, 4130 native troops, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (aka Sumenap auxiliaries Madura). When starting an attack on the fort Bonjol, Bugis people are in front of the defense attack Padri. From Batavia brought additional forces continued the Dutch army. Dated July 20, 1837 arriving Boat Perle in Padang, Captain Sinninghe, a number of European and African, 1st Sergeants, four korporaals and 112 flankeurs. The latter refers to the African soldiers recruited by the Dutch in the continent, the country is now Ghana and Mali. They called Sepoys and served in the Dutch army. Dutch use 2 as a defense fortress during the war Padri, Fort de Kock and Fort van der Capellen in Batusangkar. Head Bonjol War is king Telabie. Other heads are Mudi Padang lord, lord Lake, lord Kali Besar, Mahamed Haji and Haji busty lord who kept daily by 100 people. That gave the command is Tuanku Imam Bonjol with six cannon defense in mountain areas. The pages are surrounded by fences and ditches defense. War of 1833 In 1832, the castle fell into the hands of soldiers Bonjol Company. This triggered a war again. Post Goegoer Sigandang guarded by a Dutch sergeant and 18 soldiers armed with a cannon in 1833 was invaded by the Minang people. They killed the sergeant and the whole castle. Colonel Elout revenge by calling some of the leaders of the region to face in Goegoer Agam Sigandang and 13 faces. By order of Colonel, the 13 people were hanged all. After this incident Bagagarsyah Sultan Alam from Pagaruyung exiled to Batavia. Besides Bonjol population, there are 20 people in the castle Javanese soldiers who had crossed into the Padri. Among the soldiers who had left the Dutch army was there a man named Ali Rachman who strive to harm the Company. Also there is a drum beater named Saleya and a cannon crew (kanonnier) named Mantoto. There are also Bagindo Natural, Natural Doebelang and Doebelang Arabic. Arab Doebelang specifically concentrated to steal the Dutch forts. Dutch East Indies government has now realized that they are no longer just face the vicar, but the Minangkabau. So the government had issued a proclamation called plaque Long (1833) contains a statement that the arrival of the Company to the Minangkabau not intend to rule this country, they just came to trade and security, the Minangkabau would still be governed by the princes of their customary nor required paying taxes. Since the Company’s efforts to maintain security, prevent the occurrence of the “war between villages”, making roads, open schools, and so require a fee, then the population is required to grow coffee. Finally Bonjol fort also fell for the second time in 1837. Negotiations Dutch resident ambassadors sent to negotiate with the Tuanku Imam Bonjol. Tuanku states are willing to negotiate with the resident or by a military commander. The talks should not be more than 14 days. Over the past 14 days waving the white flag and force a ceasefire. My master came to the talks without a weapon. But the negotiations did not take place. Tuanku Imam Bonjol Dutch commander who came to negotiate, even were arrested and immediately taken to Padang, henceforth relegated to different regions of the world until his death in 1864. Colonel Elout have official documents that prove the guilt Sentot Ali Basha with a presence in Sumatra. Sentot, after the end of the Java War, went into the Dutch government. Presence in Java can be problematic. When Colonel Elout attacks on Padri years 1831-1832, he gained additional strength from troops who have defected Sentot it. After the uprising in 1833, raised serious suspicions that Sentot conspiracy with the Padri. Therefore, Elout send Sentot and legions to Java. Sentot fail to remove the suspicion against him. Holland did not want him to be in Java and sent him back to Padang. On the way there Sentot down and arrested in Bengkulu, where he lived until his death as an outcast. His army was disbanded and its members serving in the Indian army. Padri War period can be grouped into: A. 1803 – 1833: The Rebellion Wahabi Padri B. 1833 – 1838: The remnants Eradication Padri Company A. 1803 – 1833: The Rebellion Wahabi Padri rebellion started in 1803 by a mob attack Padri Salapan driven by the Tigers, led by Tuanku Nan Renceh. The uprising ended with the exile of Sultan Baggagarsyah, last king of the Sultanate of Minangkabau Pagarruyung, the Kingdom of the Netherlands, and annexed the kingdom Pagarruyung NEI (Netherland East Indies). This period can be further grouped into: 1. 1803 – 1815: The destruction of the Islamic Empire Pagarruyung Minangkabau. At this time Padri Wahhabi hordes conquered one by one Pagarruyung region. The climax was the massacre Penghulu and the Royal Family in the peace talks in Koto Tangah. Tuanku Raja Alam Muningsyah III, King of the 31st fall, replaced temporarily by Stakeholder Alam Raja, Raja Garang Lord Prayer III (Holy Sumpur). With the completion of the conquest of the region Pagarruyung, Wahhabi hordes Padri begin the invasion of the North. 2. 1815 – 1821: The invasion of the Land of Batak (Tingki ni Pidari I). At this time Padri Wahhabi hordes invaded South Batak, erecting occupation in Rao and Dalu-Dalu as a base of attack. Soon after the occupation of the South Batak, Batak attack is to the North. Batak Land invasion period ended with the outbreak of cholera and marked the start of the Dutch East Indies coalition military campaign to seize territory-Pagarruyung Minangkabau. 3. 1821 – 1833: The crackdown on gangs Padri At this time the Dutch East Indies coalition Minangkabau Minangkabau recapture all regions except the two remote areas of the northern fortress (Bonjol & Dalu-Dalu). This period ends with the annexation of the Kingdom of the Netherlands at the Minangkabau kingdom by capturing and disposing of my lord the King Black – Natural Bagagarsyah Tuanku Raja, Raja Alam to-33, thus ending the history of the kingdom of Minangkabau. Marked also with the fall of the fortress by troops Rao joint Dutch-Mandailing, thus practically Bonjol isolated fortress. This period ends with the signing of plaque length by the recognition of Dutch sovereignty Padri in Minangkabau. B. 1833 – 1838: The remnants Eradication hordes Padri At this time the remains of which survive hordes Padri Fort Bonjol (due August 1837) and Dalu-Dalu (due December 1938) was crushed by the Dutch.
Tuanku Imam Bonjol succumbed to Dutch (according to testimony in a personal note Bonjol Tuanku Imam), was killed Tambusai lord (lord Tambusai news that had lived in Malaysia has not been proven).
Remaining geromboloan Padri trying to build a new base in Malaysia, but failed and ended up as mercenaries.

Original info

Basyral Hamidy Harahap , memaparkan penyerbuan tentara Paderi ke Simanabun yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. (lihat Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog) ‘… Sebagai penulis, ada debar-debum jantung saya ketika menulis bab Datu Bange di dalam buku ini. Bukan hanya karena bab ini bercerita tentang ketidak-berperi-kemanusiaanan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan, sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa, dan melakukan segala macam kebiadaban, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiannya. Datu Bange dan rombongannya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu Bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimanapun tidak akan bisa diterima manusia beradab !!! .Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara dengan jarak lebih dari 65 kilometer, dan kemudian mereka menetap di daerah Angkola dan Mandailing Godang. Walaupun untuk itu Datu Bange harus menebusnya dengan nyawanya sendiri… Bahkan Basyral Hamidy Harahap menganggap dasar yang digunakan oleh panitia yang mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tuanku Tambusai tersebut naif dan menjatuhkan harkat dan martabat Datu Bange. BHH menulis (Hlm. 67): “… Pada masa itu daerah-daerah dataran tinggi yang penduduknya masih parbegu dan sering membuat kekacauan seperti merampok dan mengambil Budak yang meresahkan penduduk. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri keadaan itu dengan melakukan gerakan terhadap kelompok parbegu tadi dipimpin oleh Datu Bange, Raja Siminabun yang bentengnya terletak di atas puncak bukit terjal di tepian sungai Batang Pane…”

Islam telah masuk ke Sumatera Utara sejak abad 8, dan kebanyakan beraliran Syiah. Selama ratusan tahun Islam dan agama asli Batak, Parmalim, serta penganut Hindu-Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai.

Banyak kalangan –termasuk HAMKA- menolak isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Paderi. Cerita tentang bagaimana anggota Paderi melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka. Sedangkan dalam bukunya, MOP menyatakan, bahwa Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyutnya.

Mengenai penculikan kaum perempuan di daerah yang telah ditaklukkan dan kemudian dijual sebagai budak, juga pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas edisi Senin, 06 Februari 2006 dengan judul ’Perang Padri yang Tak Anda Ketahui’ , di mana tertulis: “… Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim…”

Di zaman penjajahan Belanda, perbudakan adalah hal yang resmi dipraktekkan. Bahkan ada undang-undang perbudakan, yang berlaku sejak tahun 1640 dan secara resmi baru dihapus tahun 1863. Namun pada kenyataannya, praktek perbudakan di wilayah jajahan Belanda masih berlangsung hingga akhir abad 19. Demikian juga dengan perkosaaan terhadap perempuan di daerah diserang dan telah dikalahkan atau diduduki. Hal ini masih terus terjadi hingga sekarang.

Dalam bukunya ‘Antara Fakta dan Khayalan’ -entah disadari atau tidak- HAMKA banyak membeberkan tindak kekerasan dalam penyebaran beberapa aliran Islam di Timur-Tengah, terutama yang dilakukan untuk menyebarluaskan sesuatu aliran atau mazhab. HAMKA juga menuliskan kekejaman Tuanku Nan Renceh yang sangat fanatik kewahabiannya, yang memerintahkan untuk membunuh adik ibunya, karena tidak mau mengikuti sembahyang. (Hlm. 238) Mengenai pakaian putih yang dikenakan oleh para ulama di Minangkabau, HAMKA menulis, bahwa warna putih yang dikenakan oleh para ulama merupakan warisan dari agama Buddha. HAMKA menulis (Hlm. 303): “… Bahkan warna putih itu mungkin sudah ada sejak orang Minangkabau masih memeluk Agama Budha. Biksu-biksu Budha berjalan dengan pakaian selendang putih meminta bakal (mungkin yang dimaksud adalah bekal – pen.) makanan kepada penduduk. Setelah datang Agama Islam pusaka secara Budha itu diteruskan oleh santri-santri di Minangkabau yang dinamai ‘Orang Siak’.: Mereka bersarung putih, berbaju dan celana putih meminta sedekah bekal mengaji tiap-tiap hari Kamis ke runah-rumah penduduk…” Memang sulit untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa atau hal-hal yang terjadi di masa lalu, dengan ukuran kemanusiaan sekarang. Juga apabila tidak ada atau kurangnya data, fakta dan dokumen yang dapat memperkuat cerita rakyat atau penuturan mengenai suatu peristiwa sejarah.

Majalah Tempo Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soal perbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar. Referensi yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885, 1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau Tuk Ongku) sebagaimana yang ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Jika “jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh”. Tuanku Tambusai dikenal sebagai sosok perang yang paling ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan, “selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan kemenangan pihak Belanda”.

KOMPAS, Minggu 27 Juli 2008 Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam di Minangkabau. Dalam proses perubahan itu timbul banyak konflik yang mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan. Buku itu ditulis sejarawan Christine Dobbin, berjudul asli Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983). Dobbin mengawali paparannya secara detail tentang ekologi sosial dan topografi Minangkabau, tentang tantangan dan anugerah alam dalam gerakan perdagangan masyarakat Minangkabau. Kita terkesima membaca buku ini. Ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui tentang perubahan sosial yang spektakuler dan tentang gerakan Paderi di Minangkabau dan Tapanuli. Kurang lebih 75 persen dari buku bercerita tentang dinamika perubahan orang Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pantai barat dengan segala masalah yang ditimbulkannya, pertambangan emas dan besi, industri rumah, perbengkelan alat pertanian, senjata tajam dan bedil, pertukangan, pertenunan, perkebunan komoditi ekspor, persaingan dan perang dagang dengan Belanda. Hal itu terjadi sejak berabad sebelum timbul gerakan Paderi. Menarik untuk disimak bahwa berabad sebelum lahirnya gerakan Paderi, agama Islam sudah lama berkembang di Natal, pantai barat Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan. Hal ini terbukti dengan kehadiran Tuanku Lintau, seorang kaya, penduduk asli Lintau di Lembah Sinamar, yang datang ke Natal untuk belajar agama Islam. Kemudian Tuanku Lintau meneruskan pendidikannya ke Pasaman yang juga didiami orang Mandailing yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal. Usai menuntut ilmu agama Islam itu, kira-kira 1813, Tuanku Lintau kembali ke desanya membawa keyakinan bahwa sebagai penduduk Tanah Datar, ia mempunyai misi untuk memperbaiki tingkah laku dan moral penduduk lembah itu. Tuanku Lintau terkesan pada gerakan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di Agam. Ia pun bergabung dengan kaum Paderi. Secara khusus Tuanku Lintau merasa wajib menyadarkan keluarga raja yang bergaya hidup tidak sesuai dengan ajaran Islam agar kembali ke jalan yang benar. Semula, Tuanku Lintau mendapat perlindungan dari Raja Muning, ialah Raja Alam Minangkabau yang bertakhta di Pagaruyung. Tetapi dalam perkembangan berikutnya, Tuanku Lintau justru melancarkan revolusi sosial karena ia yakin bahwa sistem kerajaan yang korup adalah hambatan bagi keberhasilan cita-citanya. Tuanku Lintau dan pengikutnya menyerang Raja Alam. Banyak yang terbunuh, termasuk dua putra Raja Alam. Raja Alam dan cucunya berhasil menyelamatkan diri ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Cucu Raja Alam ini kelak terkenal sebagai Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Minangkabau terakhir. Bahwa Natal di pantai barat Mandailing sebagai tempat pertama Tuanku Lintau menimba ilmu agama Islam membuktikan, ternyata Perang Paderi bukanlah gerakan Islamisasi di Mandailing. Karena berabad sebelum timbulnya gerakan Paderi, ulama-ulama sufi telah mengajarkan agama Islam kepada orang Mandailing Natal. Tokoh utama penyebar agama Islam di kawasan pantai barat sampai ke pedalaman Mandailing adalah ulama besar sufi Syekh Abdul Fattah (1765-1855). Ulama besar ini wafat dan dimakamkan di Pagaran Sigatal, Panyabungan. Murid-murid para sufi itulah yang secara damai membawa Islam ke pedalaman Mandailing. Baik Paderi maupun Belanda saling khawatir terhadap ancaman penghancuran hegemoni dagang masing-masing di kawasan Minangkabau dan pantai barat itu. Itu sebabnya Belanda mengunci wilayah Padang sampai ke selatan agar tidak dijamah oleh kaum Paderi. Inilah yang mendorong pendudukan wilayah utara, dalam hal ini Rao dan Mandailing yang kaya emas berkualitas tinggi dan komoditi ekspor lainnya. Kita jadi mengerti mengapa gerakan perdagangan ini menjadi mengeras dalam era gerakan Paderi. Gerakan Paderi di Mandailing mendapat perlawanan dari Sutan Kumala yang Dipertuan Hutasiantar, raja ulama sekaligus primus inter pares raja-raja Mandailing. Ia dijuluki oleh Belanda sebagai Primaat Mandailing. Dobbin memaparkan bahwa perdagangan budak sangat penting bagi sistem Paderi. Pasalnya, budak-budak bukan saja sebagai dagangan, tetapi juga sebagai pengangkut barang dan tentara cadangan. Itu yang menyebabkan kaum Paderi dapat bertahan begitu lama dalam melancarkan peperangan. Mungkin tidak enak untuk mengatakan bahwa Perang Paderi yang begitu lama (1803-1838), yang selama ini begitu disakralkan, disebut oleh Dobbin sebagai perang dagang. Fakta menunjukkan cara-cara kaum Paderi menggerakkan perang yang penuh kekerasan dan kebrutalan, jauh dari nilai-nilai Islam. Inilah yang mendorong kita sadar atau tidak sadar, lebih percaya kepada Dobbin. Selain itu, Paderi mampu menggeser para pedagang yang beroperasi di permukiman orang Eropa yang berdekatan. Salah satu ciri gerakan Paderi yang menonjol adalah usaha membina perdagangan Minangkabau sekaligus melawan upaya-upaya dari luar yang hendak memonopoli perdagangan di kawasan ini. Dobbin memaparkan bahwa gerakan Paderi, khususnya di utara Minangkabau, lebih pada gerakan perdagangan daripada gerakan penyebaran agama Islam. Pantaslah, tak satu pun bekas jejak kaum Paderi dalam bidang agama di kawasan itu. Jadi, sesuai dengan sinyalemen saya di dalam buku Greget Tuanku Rao bahwa Islam dibawa oleh orang Mandailing sendiri dari Pasaman dan pantai barat Mandailing. Proses Islamisasi itu berlangsung secara damai dalam suasana kekeluargaan. Mereka telah mengenal Islam berabad sebelum keberadaan kaum Paderi. Reputasi Natal sebagai pusat perguruan Islam di pantai barat Mandailing telah dibuktikan oleh Tuanku Lintau, tokoh legendaris Paderi yang belajar agama Islam di Natal, sebelum ia menceburkan diri dalam gerakan Paderi. Gerakan reformasi ajaran Islam dan perdagangan pra-Paderi, pada saat Paderi, dan pasca-Paderi pada hakikatnya adalah revolusi sosial yang dahsyat di Sumatera Barat. Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol. Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap. Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. Tetapi pada tahun 1842, pemberontakan Regent Batipuh meletus. Akhir perang Paderi Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero. Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri,Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang, Tuanku Danau, Tuanku Kali Besar, Haji Mahamed, dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. Yang memberi perintah ialah Tuanku Imam Bonjol dengan pertahanan enam meriam di daerah gunung. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. Perang 1833 Pada tahun 1832, benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Hal ini memicu kembali peperangan. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. Atas perintah Kolonel, ke-13 orang itu digantung semua. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dari Pagaruyung dibuang ke Batavia. Selain penduduk Bonjol, terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. Ada juga Bagindo Alam, Doebelang Alam, dan Doebelang Arab. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi, tetapi masyarakat Minangkabau. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan, mencegah terjadinya “perang antar-nagari”, membuat jalan-jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837. Perundingan Residen Belanda mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol. Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Tapi perundingan tidak terlaksana. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding, malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang, untuk selanjutnya diasingkan ke berbagai daerah hingga meninggal dunia tahun 1864. Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Ketika Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Paderi tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot yang telah membelot itu. Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Pasukannya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia. Masa Perang Paderi dapat dikelompokkan menjadi: A. 1803 – 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi B. 1833 – 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa Paderi Penjelasan A. 1803 – 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi Pemberontakan dimulai 1803 oleh serangan gerombolan Paderi yang digerakkan oleh Harimau Salapan, dipimpin Tuanku Nan Renceh. Pemberontakan diakhiri dengan pembuangan Sultan Baggagarsyah, Raja terakhir Kesultanan Minangkabau Pagarruyung, oleh Kerajaan Belanda, dan Kerajaan Pagarruyung dianeksasi dalam NEI (Netherland East Indies). Masa ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: 1. 1803 – 1815: Masa penghancuran Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung. Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi menaklukkan satu-persatu wilayah Pagarruyung. Puncaknya adalah pembantaian Penghulu dan Keluarga Kerajaan dalam perundingan damai di Koto Tangah. Tuanku Raja Alam Muningsyah III, Raja Alam ke-31 gugur, digantikan sementara waktu oleh Pemangku Raja Alam, Raja Garang Tuanku Sembahyang III (Sumpur Kudus). Dengan selesainya penaklukan wilayah Pagarruyung, gerombolan Wahabi Paderi memulai invasi ke Utara. 2. 1815 – 1821: Masa invasi ke Tanah Batak (Tingki ni Pidari I). Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi meng-invasi Batak Selatan, mendirikan benteng pendudukan di Rao dan Dalu-dalu sebagai basis serangan. Segera setelah pendudukan Batak Selatan, dilakukan serangan ke Batak Utara. Masa invasi ke Tanah Batak berakhir dengan ditandai wabah kolera dan dimulainya kampanye militer koalisi Hindia Belanda-Pagarruyung untuk merebut wilayah Minangkabau. 3. 1821 – 1833: Masa penumpasan gerombolan Paderi Pada masa ini koalisi Hindia Belanda-Minangkabau merebut kembali seluruh wilayah Minangkabau kecuali dua benteng daerah terpencil di utara (Bonjol & Dalu-dalu). Masa ini diakhiri oleh aneksasi Kerajaan Belanda atas Kerajaan Minangkabau dengan cara menangkap dan membuang Tuanku Raja Hitam – Tuanku Raja Alam Bagagarsyah, Raja Alam ke-33, dengan demikian mengakhiri sejarah Kerajaan Minangkabau. Ditandai pula dengan jatuhnya benteng Rao oleh pasukan gabungan Belanda-Mandailing, sehingga benteng praktis Bonjol terisolasi. Masa ini diakhiri oleh penandatanganan Plakat Panjang oleh Paderi sebagai pengakuan kedaulatan Belanda di Minangkabau. B. 1833 – 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa gerombolan Paderi Pada masa ini sisa-sisa gerombolan Paderi yang bertahan di Benteng Bonjol (jatuh Agustus 1837) dan Dalu-dalu (jatuh Desember 1938) ditumpas oleh Belanda.

Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Belanda (sesuai pengakuannya dalam catatan pribadi Tuanku Imam Bonjol), sedang Tuanku Tambusai tewas (berita bahwa Tuanku Tambusai sempat tinggal di Malaysia belum dapat dibuktikan).

Sisa geromboloan Paderi berusaha membangun basis baru di Malaysia, namun gagal dan berakhir sebagai tentara bayaran.

 

 

 

 

 

Tuanku Rao Batak people
One source of controversy in the traditional historiography Batak is about the origin of Tuanku Rao.
Most of the writings, as well as the oral tradition is considered Tuanku Rao Toba Batak people, so it was not the Minang or Rao.
Author historiography Batak named Batara Sangti in his History of Batak (1977) claimed to have done research in 1930 to 1933 to establish kebatakan Tuanku Rao ..
Surely “research” is Batara Sangti is collecting oral traditions in the period it was still strong in the collective memory of the Batak Toba.
 According Batara Sangti, the original name was Pongki Nangolngolan Tuanku Rao. Pongki Nangolngolan been dumped by Mangaraja X Lion to Disneyland where he was put in a coffin made of wooden sticks called “Pongki”.
Being Nangolngolan from Nangirngiran ‘, is eagerly awaited. Pongki as hardwood timber in the center of the country Toba is a very strong type of wood for a long time can only grow.
The symbolic meaning of the name Pongki Nangolngolan it is a figure or figures that have been long-awaited.
Cause why Mangaraja X Lion to throw Sipongki Toba waters by Batara Sangti because Sipongki Nangolngolan has shown signs of magic as owned by Mr. Lion Mangaraja dynasty general.
 Lions feel Sipongki Nangolngolan Mangaraja X will be a rival that the made-up excuse then discarded keperairan Nangolngolan Sipongki Toba.
Sangti Batara Hutagalung Kenan Professor straightened paper saying that Pongki Nangolngolan beheaded Mangaraja X Lion and bring the head back to negrinya.
 Batara Sangti convinced that the story as described above continued to live in the middle of the central State Batak Toba and Batak pustaha noted in (ancient scriptures beraksara Batak), except for the head of Mr. Lion Mangaraja the cut and carry home by Sipongki Nangolngolan.
According to the head of the king’s Batara actually had fallen into the hands of Sipongki Nangolngolan, but the magic really fell into the hands of Empress Mr. X Lion Mangaraja Bakkara.
 At the time of burial bones Mangaraja The Lion XII in Soposurung Balige on June 17, 1953, secretly helped by Batara also pieces of the skull of Mr. X Lion Mangaraja brought by the families there.
Batara Sangti refuted Muhammad Said (1961) that mentions that Mangaraja Lions XII during a meeting with people in Balige mentions that his grandfather (Mangaraja X Lion) have been killed by the Dutch.
According Batara Sangti incorrect Mangaraja Lions XII once stated that Mangaraja X Lion killed by the Dutch.
According Batara sangti news as it never was heard in the midst of the Toba from the past until today although only hearsay or rumor.
Batara Sangti Hamka also refuted suggestions that mentions that the Minangkabau Tuanku Rao is true.
Adniel Lumbantobing in his book History of The Lion Mangaraja (1967) states that at the time of his small Nangolngolan Pongki named Tangkal Stone.
He was banished by Mangaraja X Lion to Disneyland with them in boxes.
But he survived because immune. Tangkalbatu renamed Pongki Nangolngolan. The name was adapted to the immune and suffering. At the time Pongki 17 years, he left to meet his uncle Lions Bakkara Mangaraja X.
But his uncle did not recognize him as kemanakan although he has shown evidence that indicates he is a family of lions Mangaraja.
Because it is not recognized by his uncle proceeded Pongki The West Sumatra. When it came to the power Tuanku Rao, Pongki arrested.
But at that time he got an offer from Tuanku Rao to kill his enemies. If Pongki successful then he will be married to his daughter.
With spearheaded by Pongki few kings around the region Bonjol Rao surrendered to the Lord. The Pongki eventually marries the king’s daughter named Aysjah Siti Wagini.
When Pongki has become chief of the army across the country Bonjol, he continued aggression to Tapanuli region.
Here he planned to kill his uncle (Lion Mangaraja X) by means of deceiving his uncle.
 At the appointed time Pongki pretend to cry and hugged her uncle saw it Pongki Nangolngolan.
When embraced, Pongki Nangolngolan slowly pulled the knife from his waist and suddenly all of his uncle’s neck cut so cut off entirely.
 But head mamaknya soar upwards, wherever sought Pongki Nangolngolan its people, the head was not met.
Processing the oral tradition of the origin of the most monumental Tuanku Rao in Batak traditional historiography is what Onggang Mangaradja Parlindungan (MOP).
Monumental is widely cited as the work of writers Batak to establish justification of existing oral tradition.
 According to MOP The Pongkinangolngolan born of an incestuous relationship between the son of the Lion Mangaraja named Gindoporang Sinambela VIII and IX Mangaraja daughter of Lion named Princess Gana Sinambela.
Because of the Batak do not allow the lions mating semarga Mangaraja IX evict them not to be punished by the public.
They were both out of and into Singkil Bakkara then converted to Islam, the name Muhammad Amiruddin Sinambela Zainal and his wife remained in the faith, so that they can not marry a Muslim.
 Gana Sinambela daughter gave birth to a son and named Mohammad Fakih and Miss Gana Amirudin Sinambela Sinambela called “Na Pongki Ngolngolan” = “Fakih waiting”. When it comes to Pongkinangolngolan Bakkara / Toba, she became the favorite child of the Lion Mangarja X.
Regarding punishment given to Pongkinangolngolan as a result of incest committed by her parents, according to the demands of community leaders (datu), the Lions Mangarja verdict drowned in Lake Toba.
But Mangaraja X Lion loosen the ropes that bind Pongkinangolngolan. He floats on the water up to the beginning of Asahan river, where he was in favor by a man named Lintong Marpaung.
Pongkinangolngolan then migrate to the Minangkabau, at the instigation of Tuanku Nan Rentjeh.
 Chitan Pongkinagolngolan in accordance with the full-laden chitan and creed, on the 9th Rabi 1219 / H = 1804 / M diislamkan with the name: “Umar Katab” turned into “Umar Batak”.
Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab be Padry Army General Officer, with the title of lord Rao. By Padri Army Command ordered Tuanku Rao Overseas learning task.
Meanwhile, a different version of the origin of Tuanku Rao expressed by Basyral lost interest in his book Tuanku Rao (2007).
 For Basyral Tuanku Rao is not from the North but from the Batak Batak South.
According Tuanku Rao is the original Mandailing. Basyral basing his argument from the source script that calls Bonjol Tuanku Imam is Pakih Tuanku Rao Muhammad, his father was Huta Tower [Hutanagodang in Small Mandailing] and her mother the Rao.
Interesting to see where Pakih Muhammad as Priest Nagari Tuanku Rao Rao title.
My lord father Rao is a person according to sources Basyral Huta Tower (Hutanagodang?) And her mother was so Basyral Rao conclude Tuanku Rao was Mandailing.
Unfortunately, the description of the origin of this Tuanku Rao Basyral yet Mandailing explore other sources. Muhammad Said (1961) based on the source he cites meresepsi historiography Batak origin of Tuanku Rao.
According to Said The Nangolngolan Pokki is the “aggressor” who had come to the land of Batak to implement pengislaman. Tuanku Rao is Si Pokki Nangolngolan who had killed his uncle is Ompu Mr. Na Bolon or Lion Mangaraja X.
But once regretted Said penetration events Bonjol especially those concerning life history Tuanku Rao not be the source or sources Padri maintained its neutrality.
In this case, Said holds more sources are considered neutral because the sources are obtained from the first hand, where people still reside and participate in the event.
The sources written by J.B. Neumann 1866 a BB Kontelir who wrote about “ever Bataks en Batakschelanden Studies” (page 51) and call that Tuanku Rao is from Padang Matinggi, not called that Tuanku Rao came from Toba.
 Neumann himself took the essay sources of Resident TJ Tapanuli Willer its 18th year
Tuanku Rao Batak people
One source of controversy in the traditional historiography Batak is about the origin of Tuanku Rao. Most of the writings, as well as the oral tradition is considered Tuanku Rao Toba Batak people, so it was not the Minang or Rao.
Author historiography Batak named Batara Sangti in his History of Batak (1977) claimed to have done research in 1930 to 1933 to establish kebatakan Tuanku Rao .. Surely “research” is Batara Sangti is collecting oral traditions in the period it was still strong in the collective memory of the Batak Toba.
According Batara Sangti, the original name was Pongki Nangolngolan Tuanku Rao. Pongki Nangolngolan been dumped by Mangaraja X Lion to Disneyland where he was put in a coffin made of wooden sticks called “Pongki”.
 Being Nangolngolan from Nangirngiran ‘, is eagerly awaited. Pongki as hardwood timber in the center of the country Toba is a very strong type of wood for a long time can only grow. The symbolic meaning of the name Pongki Nangolngolan it is a figure or figures that have been long-awaited.
Cause why Mangaraja X Lion to throw Sipongki Toba waters by Batara Sangti because Sipongki Nangolngolan has shown signs of magic as owned by Mr. Lion Mangaraja dynasty general.
 Lions feel Sipongki Nangolngolan Mangaraja X will be a rival that the made-up excuse then discarded keperairan Nangolngolan Sipongki Toba.
Sangti Batara Hutagalung Kenan Professor straightened paper saying that Pongki Nangolngolan beheaded Mangaraja X Lion and bring the head back to negrinya.
Batara Sangti convinced that the story as described above continued to live in the middle of the central State Batak Toba and Batak pustaha noted in (ancient scriptures beraksara Batak), except for the head of Mr. Lion Mangaraja the cut and carry home by Sipongki Nangolngolan.
According to the head of the king’s Batara actually had fallen into the hands of Sipongki Nangolngolan, but the magic really fell into the hands of Empress Mr. X Lion Mangaraja Bakkara.
At the time of burial bones Mangaraja The Lion XII in Soposurung Balige on June 17, 1953, secretly helped by Batara also pieces of the skull of Mr. X Lion Mangaraja brought by the families there.
Batara Sangti refuted Muhammad Said (1961) that mentions that Mangaraja Lions XII during a meeting with people in Balige mentions that his grandfather (Mangaraja X Lion) have been killed by the Dutch.
 According Batara Sangti incorrect Mangaraja Lions XII once stated that Mangaraja X Lion killed by the Dutch.

 According Batara sangti news as it never was heard in the midst of the Toba from the past until today although only hearsay or rumor.
Batara Sangti Hamka also refuted suggestions that mentions that the Minangkabau Tuanku Rao is true.
Adniel Lumbantobing in his book History of The Lion Mangaraja (1967) states that at the time of his small Nangolngolan Pongki named Tangkal Stone. He was banished by Mangaraja X Lion to Disneyland with them in boxes. But he survived because immune.
Tangkalbatu renamed Pongki Nangolngolan. The name was adapted to the immune and suffering.
 At the time Pongki 17 years, he left to meet his uncle Lions Bakkara Mangaraja X. But his uncle did not recognize him as kemanakan although he has shown evidence that indicates he is a family of lions Mangaraja.
Because it is not recognized by his uncle proceeded Pongki The West Sumatra. When it came to the power Tuanku Rao, Pongki arrested. But at that time he got an offer from Tuanku Rao to kill his enemies.
If Pongki successful then he will be married to his daughter. With spearheaded by Pongki few kings around the region Bonjol Rao surrendered to the Lord. The Pongki eventually marries the king’s daughter named Aysjah Siti Wagini.
When Pongki has become chief of the army across the country Bonjol, he continued aggression to Tapanuli region.
Here he planned to kill his uncle (Lion Mangaraja X) by means of deceiving his uncle.
 At the appointed time Pongki pretend to cry and hugged her uncle saw it Pongki Nangolngolan.

When embraced, Pongki Nangolngolan slowly pulled the knife from his waist and suddenly all of his uncle’s neck cut so cut off entirely.
But head mamaknya soar upwards, wherever sought Pongki Nangolngolan its people, the head was not met.
Processing the oral tradition of the origin of the most monumental Tuanku Rao in Batak traditional historiography is what Onggang Mangaradja Parlindungan (MOP).
 Monumental is widely cited as the work of writers Batak to establish justification of existing oral tradition.
 According to MOP The Pongkinangolngolan born of an incestuous relationship between the son of the Lion Mangaraja named Gindoporang Sinambela VIII and IX Mangaraja daughter of Lion named Princess Gana Sinambela.
Because of the Batak do not allow the lions mating semarga Mangaraja IX evict them not to be punished by the public.
They were both out of and into Singkil Bakkara then converted to Islam, the name Muhammad Amiruddin Sinambela Zainal and his wife remained in the faith, so that they can not marry a Muslim.
Gana Sinambela daughter gave birth to a son and named Mohammad Fakih and Miss Gana Amirudin Sinambela Sinambela called “Na Pongki Ngolngolan” = “Fakih waiting”.
When it comes to Pongkinangolngolan Bakkara / Toba, she became the favorite child of the Lion Mangarja X.
Regarding punishment given to Pongkinangolngolan as a result of incest committed by her parents, according to the demands of community leaders (datu), the Lions Mangarja verdict drowned in Lake Toba.

But Mangaraja X Lion loosen the ropes that bind Pongkinangolngolan.
He floats on the water up to the beginning of Asahan river, where he was in favor by a man named Lintong Marpaung.
Pongkinangolngolan then migrate to the Minangkabau, at the instigation of Tuanku Nan Rentjeh. Chitan Pongkinagolngolan in accordance with the full-laden chitan and creed, on the 9th Rabi 1219 / H = 1804 / M diislamkan with the name: “Umar Katab” turned into “Umar Batak”.
Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab be Padry Army General Officer, with the title of lord Rao.
By Padri Army Command ordered Tuanku Rao Overseas learning task.
Meanwhile, a different version of the origin of Tuanku Rao expressed by Basyral lost interest in his book Tuanku Rao (2007).
For Basyral Tuanku Rao is not from the North but from the Batak Batak South. According Tuanku Rao is the original Mandailing.
 Basyral basing his argument from the source script that calls Bonjol Tuanku Imam is Pakih Tuanku Rao Muhammad, his father was Huta Tower [Hutanagodang in Small Mandailing] and her mother the Rao.
Interesting to see where Pakih Muhammad as Priest Nagari Tuanku Rao Rao title.
My lord father Rao is a person according to sources Basyral Huta Tower (Hutanagodang?) And her mother was so Basyral Rao conclude Tuanku Rao was Mandailing.
Unfortunately, the description of the origin of this Tuanku Rao Basyral yet Mandailing explore other sources. Muhammad Said (1961) based on the source he cites meresepsi historiography Batak origin of Tuanku Rao.
According to Said The Nangolngolan Pokki is the “aggressor” who had come to the land of Batak to implement pengislaman.
Tuanku Rao is Si Pokki Nangolngolan who had killed his uncle is Ompu Mr. Na Bolon or Lion Mangaraja X.
But once regretted Said penetration events Bonjol especially those concerning life history Tuanku Rao not be the source or sources Padri maintained its neutrality.
In this case, Said holds more sources are considered neutral because the sources are obtained from the first hand, where people still reside and participate in the event.
The sources written by J.B. Neumann 1866 a BB Kontelir who wrote about “ever Bataks en Batakschelanden Studies” (page 51) and call that Tuanku Rao is from Padang Matinggi, not called that Tuanku Rao came from Toba.
Neumann himself took the essay sources of Resident TJ Willer its Tapanuli 1835.
But by stating that Tuanku Rao is the Pongki, it is actually more likely to agree that Tuanku Said Rao is derived from Batak land, rather than the so-called Dutch sources.
Hamka (1974) is a writer who tries to correct historiography Batak origin of Tuanku Rao as the Batak. According Hamka stories (myths) about this in the Tuanku Rao among the Batak Toba much broke, where Hamka find in these writings that Tuanku Rao is true Batak children. Hamka Tuanku Rao said that the history of several authors disclosed Batak as Master of Cainan Hutagalung, Adniel Lumbantobing, Sutan Paruhum Pane is a myth. Hamka also criticized article about the history of Tuanku Rao MOP as a bouquet made-up and assume Parlindungan are good people “make up” a story. In presenting evidence, calling Hamka MOP in making writings on the origins Tuanku Rao raised a lot of things that contain lies. The origin Tuanku Rao by Hamka confirmed that Tuanku Rao had married the daughter of Yang lordship lordship Rao Rao and since then not panganut Wahabi leadership was taken over by a law known as the Tuanku Rao.
Besides Hamka also stressed Tuanku Rao is the Padang Matinggi. Not the Bakkara. Therefore he Minang people. Not the Batak. Hamka phrase is strengthened by conducting interviews with people Rao himself, namely Drs. H. Asrul Sani who is a descendant of Rao Nunang The lordship Padang. To justify and reinforce a statement, citing sources from the author Hamka Batak, Sanusi Pane do not imagine that Tuanku Rao is the Batak. Recent academic research about the origin of this figure by considering multiple sources is rare. One historian who raised the question was Christine Dobbin (2008). According to Dobbin Tuanku Rao from a historical perspective is a vague figure but admitted this is very well known figure in the history of Batak. However, Dobbin said, most written about him is based on oral tradition Batak early 20th century and could dikomfirmasikan in Dutch sources that exist. Dobbin is surprising because he said the letters were written by Dutch officials at that time regularly tells about his contemporaries, lord conqueror Tambusai Batak lands to the east. The lack of information about the Tuanku Rao by Dobbin partly be explained by the fact that he died on tahun1833, shortly after the Dutch entered Rao. Thus, he does not have another position that could invite the Dutch investigation on the activities initially. But what is surprising is the attitude of the opinion menduanya Dobin, on the one hand he says: “It is acceptable that a Batak Tuanku Rao was formerly known as Pongki na Ngolngolan.” But on the other hand he says: “But there is an oral tradition which states that the Batak He is the nephew of King Priest Batak, Sisingamangaraja X, which took control of the Bakara-Toba. However, even this is not certain. “Whatever asalmuasalnya, said Dobbin, Pongki na Ngolngolan Batak is an adventurer who at some point in his career came in the Valley Rao. He found a patron in the day-to-day. Eventually in 1808, he converted to Islam. Then he related to teaching Padri in areas further south and apparently they felt that by gaining recognition as an exponent of this doctrine, its position as an outsider or someone comes in Rao society would be much better. Unfortunately Dobbin said, we do not have a clear picture of the relationship with Imam Bondjol.
3. Cruelty Tuanku Rao and Padri in Batak section I review by outlining the opinion that discusses the historiography Batak Dobbin on assault Padri to Tapanuli. Reports were read Dobbin admitted Batak tend to emphasize the violence and chaos that occurred during the period Padri. However, according to Dobbin Tuanku Rao has tried to introduce a form of administration Padri the Batak villages. However, how the system is institutionalized and how much support received is a question that can not be answered. Some people are already diverse Muslim Batak before the invasion Padri. There are those Muslims who live in Panyabungan when attacked. Even certain villages close by there that have trade relations with the west coast and has been a Muslim for a few years.
But in the early reign of Rao invaders by relying kekuatanya Dobbin himself and lifting people Minagkabau as qadi in Batak villages. These judges are basing administer the Quran says his words. They also try to impose all their moves outward puritanism. Of course Dobbin said people were forced into Islam and there were many murders, in addition, the Padri also very excited destroy Batak literature. At first raid Padri said Dobbin difficult to distinguish from foreign invasion and occupation. Besides Batak trade has led to the special port on the west coast, Tuanku Rao also requires finance tribute to Rao and Alahan length in rice, buffalo and slaves. The dependencies also require maintenance fund Minangkabau troops in their villages and provide armed forces for Padri activities in areas further north again.
In 1822, the Padri was behind Tapanuli, after sweeping across the region Angkola. According to the Batak which Dobbin should be taken with caution, Tuanku Rao appointed a lord Lelo, Nasution clan members and the son of a salt merchant Batak, a “governor” Angkola. In addition, he also built a fort in Padang Sidempuan. This area is a strategic location because it is an important trade route junction that leads to the beach and to the Mandailing and Silindung. This is where he runs Padri policy to promote trade, opening the way – the way of commerce, and support the merchants.
Dobbin said Batak oral tradition that calls a bunch Padri under Tuanku Rao entered Butar far north, at Humbang plateau. In this place, Tuanku Rao faced vice dynasty king Sisingamangaraja faith at the time, who lives a stone Bakkara valley in the northwest of Lake Toba. According to the Batak tradition, Tuanku Rao is the nephew wasted by Sisingamangaraja. This information is an attempt to explain why killing Tuanku Rao said. The tragedy happened in the market Butar, after him Sisingamangaraja invite for a meeting. But, as figures Sisingamangaraja dangerous because they can exert Toba Batak clans to fight Islam. Another factor because Sisingamangaraja have a relationship with the Barus. In fact, the fabric is said Dobbin, who wants to be broken by the Padri.

 

Original info

Tuanku Rao Orang Batak

Salah satu sumber kontroversi dalam historiografi tradisional Batak adalah tentang asal usul Tuanku Rao.

Kebanyakan tulisan, begitu juga tradisi lisan menganggap Tuanku Rao adalah orang Batak Toba, jadi sama sekali bukan orang Minang atau orang Rao.

Penulis historiografi Batak bernama Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak (1977) mengaku telah melakukan riset pada tahun 1930 sampai 1933 untuk mengukuhkan kebatakan Tuanku Rao..

Tentulah “riset” yang dimaksud Batara Sangti ini pengumpulan tradisi lisan yang pada kurun waktu itu masih kuat dalam ingatan kolektif orang Batak Toba.

 Menurut Batara Sangti, nama asli Tuanku Rao adalah pongki Nangolngolan. Pongki Nangolngolan pernah dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dimana dia dimasukkan dalam sebuah peti mati yang dibuat dari batang kayu yang bernama “Pongki”.

Sedang Nangolngolan berasal dari Nangirngiran’, yang ditunggu-tunggu. Kayu Pongki sebagai kayu keras di pusat negeri Toba merupakan jenis kayu sangat kuat yang lama sekali baru bisa tumbuh besar.

Makna simbolik dari nama Pongki Nangolngolan itu adalah sosok atau tokoh yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Penyebab mengapa Singa Mangaraja X membuang Sipongki ke perairan Toba menurut Batara Sangti karena Sipongki Nangolngolan telah menunjukkan tanda-tanda kesaktian seperti yang dimiliki oleh dinasti Tuan Singa Mangaraja umumnya.

 Singa Mangaraja X merasa Sipongki Nangolngolan akan menjadi saingannya sehingga dengan alasan yang dibuat-buat maka Sipongki Nangolngolan dibuang keperairan Toba.

Batara Sangti meluruskan tulisan Guru Kenan Hutagalung yang mengatakan bahwa Pongki Nangolngolan telah memenggal kepala Singa Mangaraja X dan membawa kepala tersebut pulang ke negrinya.

 Batara Sangti meyakinkan bahwa cerita seperti yang telah diuraikan di atas terus menerus hidup di tengah-tengah masyarakat Batak di pusat Negeri Toba dan di catat dalam Pustaha Batak (kitab-kitab kuno beraksara batak) , kecuali mengenai kepala Tuan Singa Mangaraja yang terpotong dan di bawa pulang oleh Sipongki Nangolngolan.

Menurut Batara kepala raja itu sebenarnya tidak sempat jatuh ke tangan Sipongki Nangolngolan, tetapi secara gaib benar-benar jatuh ke tangan Permaisuri Tuan Singa Mangaraja X di Bakkara.

 Pada waktu pemakaman tulang belulang Si Singa Mangaraja XII di Soposurung Balige pada tanggal 17 Juni 1953, secara diam-diam menurut Batara turut juga kepingan-kepingan tengkorak kepala Tuan Singa Mangaraja X di bawa oleh pihak keluarga ke sana.

Batara Sangti membantah pendapat Muhammad Said (1961) yang menyebut bahwa Singa Mangaraja XII dalam sebuah pertemuan dengan rakyatnya di Balige menyebut bahwa kakeknya (Singa Mangaraja X) telah dibunuh oleh Belanda.

Menurut Batara Sangti tidak benar Singa Mangaraja XII pernah menyatakan bahwa Singa Mangaraja X dibunuh oleh Belanda.

Menurut Batara sangti berita seperti itu tidak pernah ada terdengar di tengah-tengah masyarakat Toba dari dulu hingga saat ini walaupun hanya desas-desus atau selentingan.

Batara Sangti juga membantah pendapat Hamka yang menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau sejati.

Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Si Singa Mangaraja (1967) menyebutkan bahwa Pongki Nangolngolan pada waktu kecilnya bernama Tangkal Batu.

Dia dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dengan memasukkannya ke dalam peti.

Tapi dia selamat karena kebal. Tangkalbatu mengganti namanya menjadi Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalan dan penderitaannya. Pada waktu Pongki berumur 17 tahun, ia berangkat ke Bakkara untuk menemui pamannya Singa Mangaraja X.

Tetapi pamannya tidak mengakuinya sebagai kemanakan walaupun dia telah menunjukkan bukti-bukti yang menandakan dia adalah keluarga dari Singa Mangaraja.

Karena tidak diakui oleh pamannya Si Pongki meneruskan perjalanannya ke Sumatra Barat. Ketika sampai ke daerah kekuasaan Tuanku Rao, Pongki ditangkap.

Tapi pada waktu itu ia mendapat tawaran dari Tuanku Rao untuk membunuh musuhnya. Jika Pongki berhasil maka ia akan dikawinkan dengan putrinya.

Dengan dipelopori oleh Pongki beberapa raja-raja disekitar wilayah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Si Pongki akhirnya kawin dengan putri baginda yang bernama Aysjah Siti Wagini.

Ketika Pongki telah menjadi kepala tentara di seluruh Tanah Bonjol, ia pun terus melakukan agresi ke wilayah Tapanuli.

Disini ia merencanakan membunuh pamannya (Singa Mangaraja X) dengan cara mengelabui pamannya.

 Pada waktu yang telah ditentukan Pongki berpura-pura menangis dan melihat hal itu pamannya memeluk Pongki Nangolngolan.

Sewaktu berangkulan, Pongki Nangolngolan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher pamannya sehingga terputus sama sekali.

 Tetapi kepala mamaknya melambung ke atas, kemanapun dicari Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pengolahan tradisi lisan paling monumental tentang asal usul Tuanku Rao dalam historiografi tradisonal Batak adalah apa yang dilakukan Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP).

Monumental karena karya ini banyak dirujuk penulis-penulis Batak untuk mengukuhkan pembenaran tradisi lisan yang ada.

 Menurut MOP Si Pongkinangolngolan lahir dari hubungan incest antara putra dari Singa Mangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela dan Putri dari Singa Mangaraja IX yang bernama Putri Gana Sinambela.

Oleh karena orang Batak tidak membolehkan kawin semarga maka Singa Mangaraja IX mengusir mereka agar tidak di hukum oleh khalayak ramai.

Mereka berdua keluar dari Bakkara dan menuju Singkil lalu masuk Islam, dengan nama Muhammad Zainal Amiruddin Sinambela dan istrinya tetap pada kepercayaannya, sehingga mereka tidak dapat menikah secara Islam.

 Putri Gana Sinambela melahirkan seorang putra dan diberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela dan Putri Gana Sinambela menyebutnya “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih yang menunggu-nunggu”. Ketika Pongkinangolngolan datang ke Bakkara/Toba, ia menjadi anak mas dari Singa Mangarja X.

Mengenai hukuman yang diberikan kepada Pongkinangolngolan sebagai akibat dari incest yang dilakukan oleh orang tuanya, sesuai tuntutan pemuka masyarakat (datu) maka Singa Mangarja menjatuhkan vonis ditenggelamkan di Danau Toba.

Tetapi Singa Mangaraja X melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongkinangolngolan. Ia mengapung di atas air sampai ke permulaan sungai Asahan, dimana dia kemudian di tolong oleh seseorang yang bernama Lintong Marpaung.

Pongkinangolngolan kemudian merantau ke Minangkabau, atas anjuran Tuanku Nan Rentjeh.

 Pongkinagolngolan di chitan sesuai dengan sarat-sarat chitan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabiulawal 1219/H = 1804/M diislamkan dengan nama: “Umar Katab” dibalik menjadi “Umar Batak”.

Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab menjadi General Officer Padry Army, dengan gelar Tuanku Rao. Oleh Padri Army Command Tuanku Rao diperintahkan tugas belajar ke Luar Negeri.

Sementara itu satu versi lain tentang asal usul Tuanku Rao diungkapkan oleh Basyral dalam bukunya Greget Tuanku Rao (2007).

 Bagi Basyral Tuanku Rao bukan berasal dari Batak Utara tapi dari kawasan Batak Selatan.

Menurutnya Tuanku Rao adalah orang Mandailing asli. Basyral mendasarkan argumennya dari sumber naskah Tuanku Imam Bonjol yang menyebut Tuanku Rao adalah Pakih Muhammad, ayahnya orang Huta Gadang [Hutanagodang di Mandailing Kecil] dan Ibunya orang Rao.

Menarik untuk melihat keberadaan Pakih Muhammad sebagai Imam Besar Nagari Rao gelar Tuanku Rao.

Ayah Tuanku Rao menurut sumber Basyral adalah orang Huta Gadang (Hutanagodang?) dan ibunya orang Rao sehingga Basyral membuat kesimpulan Tuanku Rao adalah orang Mandailing.

Sayang sekali, dalam uraian asal-usul Tuanku Rao ini Basyral belum mengeksplorasi sumber-sumber Mandailing lainnya. Muhammad Said (1961) berdasar sumber yang dikutipnya meresepsi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao.

Menurut Said Si Pokki Nangolngolan adalah “agresor” yang pernah datang ke tanah Batak untuk melaksanakan pengislaman. Tuanku Rao adalah Si Pokki Nangolngolan yang telah membunuh pamannya yaitu Ompu Tuan Na Bolon atau Singa Mangaraja X.

Tetapi Said sangat menyayangkan sekali peristiwa penetrasi orang-orang Bonjol apalagi mengenai riwayat hidup Tuanku Rao tidak di dapat dalam sumber Padri atau sumber yang dipertahankan kenetralannya.

Dalam hal ini Said memegang sumber yang lebih dianggap netral karena sumber yang diperoleh dari tangan pertama, dimana orang-orangnya masih berada dan turut serta dalam kejadian itu.

Sumber tersebut ditulis oleh J.B. Neumann 1866 seorang Kontelir B.B yang menulis tentang “Studies ever Bataks en Batakschelanden” (hal 51) dan menyebut bahwa Tuanku Rao adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba.

 Neumann sendiri mengambil sumber karangannya dari Residen T.J Willer yang berada di Tapanuli tahun 18

Tuanku Rao Orang Batak

Salah satu sumber kontroversi dalam historiografi tradisional Batak adalah tentang asal usul Tuanku Rao. Kebanyakan tulisan, begitu juga tradisi lisan menganggap Tuanku Rao adalah orang Batak Toba, jadi sama sekali bukan orang Minang atau orang Rao.

Penulis historiografi Batak bernama Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak (1977) mengaku telah melakukan riset pada tahun 1930 sampai 1933 untuk mengukuhkan kebatakan Tuanku Rao.. Tentulah “riset” yang dimaksud Batara Sangti ini pengumpulan tradisi lisan yang pada kurun waktu itu masih kuat dalam ingatan kolektif orang Batak Toba.

Menurut Batara Sangti, nama asli Tuanku Rao adalah pongki Nangolngolan. Pongki Nangolngolan pernah dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dimana dia dimasukkan dalam sebuah peti mati yang dibuat dari batang kayu yang bernama “Pongki”.

 Sedang Nangolngolan berasal dari Nangirngiran’, yang ditunggu-tunggu. Kayu Pongki sebagai kayu keras di pusat negeri Toba merupakan jenis kayu sangat kuat yang lama sekali baru bisa tumbuh besar. Makna simbolik dari nama Pongki Nangolngolan itu adalah sosok atau tokoh yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Penyebab mengapa Singa Mangaraja X membuang Sipongki ke perairan Toba menurut Batara Sangti karena Sipongki Nangolngolan telah menunjukkan tanda-tanda kesaktian seperti yang dimiliki oleh dinasti Tuan Singa Mangaraja umumnya.

 Singa Mangaraja X merasa Sipongki Nangolngolan akan menjadi saingannya sehingga dengan alasan yang dibuat-buat maka Sipongki Nangolngolan dibuang keperairan Toba.

Batara Sangti meluruskan tulisan Guru Kenan Hutagalung yang mengatakan bahwa Pongki Nangolngolan telah memenggal kepala Singa Mangaraja X dan membawa kepala tersebut pulang ke negrinya.

Batara Sangti meyakinkan bahwa cerita seperti yang telah diuraikan di atas terus menerus hidup di tengah-tengah masyarakat Batak di pusat Negeri Toba dan di catat dalam Pustaha Batak (kitab-kitab kuno beraksara batak) , kecuali mengenai kepala Tuan Singa Mangaraja yang terpotong dan di bawa pulang oleh Sipongki Nangolngolan.

Menurut Batara kepala raja itu sebenarnya tidak sempat jatuh ke tangan Sipongki Nangolngolan, tetapi secara gaib benar-benar jatuh ke tangan Permaisuri Tuan Singa Mangaraja X di Bakkara.

Pada waktu pemakaman tulang belulang Si Singa Mangaraja XII di Soposurung Balige pada tanggal 17 Juni 1953, secara diam-diam menurut Batara turut juga kepingan-kepingan tengkorak kepala Tuan Singa Mangaraja X di bawa oleh pihak keluarga ke sana.

Batara Sangti membantah pendapat Muhammad Said (1961) yang menyebut bahwa Singa Mangaraja XII dalam sebuah pertemuan dengan rakyatnya di Balige menyebut bahwa kakeknya (Singa Mangaraja X) telah dibunuh oleh Belanda.

 Menurut Batara Sangti tidak benar Singa Mangaraja XII pernah menyatakan bahwa Singa Mangaraja X dibunuh oleh Belanda.

 

 Menurut Batara sangti berita seperti itu tidak pernah ada terdengar di tengah-tengah masyarakat Toba dari dulu hingga saat ini walaupun hanya desas-desus atau selentingan.

Batara Sangti juga membantah pendapat Hamka yang menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau sejati.

Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Si Singa Mangaraja (1967) menyebutkan bahwa Pongki Nangolngolan pada waktu kecilnya bernama Tangkal Batu. Dia dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dengan memasukkannya ke dalam peti. Tapi dia selamat karena kebal.

Tangkalbatu mengganti namanya menjadi Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalan dan penderitaannya.

 Pada waktu Pongki berumur 17 tahun, ia berangkat ke Bakkara untuk menemui pamannya Singa Mangaraja X. Tetapi pamannya tidak mengakuinya sebagai kemanakan walaupun dia telah menunjukkan bukti-bukti yang menandakan dia adalah keluarga dari Singa Mangaraja.

Karena tidak diakui oleh pamannya Si Pongki meneruskan perjalanannya ke Sumatra Barat. Ketika sampai ke daerah kekuasaan Tuanku Rao, Pongki ditangkap. Tapi pada waktu itu ia mendapat tawaran dari Tuanku Rao untuk membunuh musuhnya.

Jika Pongki berhasil maka ia akan dikawinkan dengan putrinya. Dengan dipelopori oleh Pongki beberapa raja-raja disekitar wilayah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Si Pongki akhirnya kawin dengan putri baginda yang bernama Aysjah Siti Wagini.

Ketika Pongki telah menjadi kepala tentara di seluruh Tanah Bonjol, ia pun terus melakukan agresi ke wilayah Tapanuli.

Disini ia merencanakan membunuh pamannya (Singa Mangaraja X) dengan cara mengelabui pamannya.

 Pada waktu yang telah ditentukan Pongki berpura-pura menangis dan melihat hal itu pamannya memeluk Pongki Nangolngolan.

 

Sewaktu berangkulan, Pongki Nangolngolan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher pamannya sehingga terputus sama sekali.

Tetapi kepala mamaknya melambung ke atas, kemanapun dicari Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pengolahan tradisi lisan paling monumental tentang asal usul Tuanku Rao dalam historiografi tradisonal Batak adalah apa yang dilakukan Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP).

 Monumental karena karya ini banyak dirujuk penulis-penulis Batak untuk mengukuhkan pembenaran tradisi lisan yang ada.

 Menurut MOP Si Pongkinangolngolan lahir dari hubungan incest antara putra dari Singa Mangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela dan Putri dari Singa Mangaraja IX yang bernama Putri Gana Sinambela.

Oleh karena orang Batak tidak membolehkan kawin semarga maka Singa Mangaraja IX mengusir mereka agar tidak di hukum oleh khalayak ramai.

Mereka berdua keluar dari Bakkara dan menuju Singkil lalu masuk Islam, dengan nama Muhammad Zainal Amiruddin Sinambela dan istrinya tetap pada kepercayaannya, sehingga mereka tidak dapat menikah secara Islam.

Putri Gana Sinambela melahirkan seorang putra dan diberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela dan Putri Gana Sinambela menyebutnya “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih yang menunggu-nunggu”.

Ketika Pongkinangolngolan datang ke Bakkara/Toba, ia menjadi anak mas dari Singa Mangarja X.

Mengenai hukuman yang diberikan kepada Pongkinangolngolan sebagai akibat dari incest yang dilakukan oleh orang tuanya, sesuai tuntutan pemuka masyarakat (datu) maka Singa Mangarja menjatuhkan vonis ditenggelamkan di Danau Toba.

 

Tetapi Singa Mangaraja X melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongkinangolngolan.

Ia mengapung di atas air sampai ke permulaan sungai Asahan, dimana dia kemudian di tolong oleh seseorang yang bernama Lintong Marpaung.

Pongkinangolngolan kemudian merantau ke Minangkabau, atas anjuran Tuanku Nan Rentjeh. Pongkinagolngolan di chitan sesuai dengan sarat-sarat chitan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabiulawal 1219/H = 1804/M diislamkan dengan nama: “Umar Katab” dibalik menjadi “Umar Batak”.

Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab menjadi General Officer Padry Army, dengan gelar Tuanku Rao.

Oleh Padri Army Command Tuanku Rao diperintahkan tugas belajar ke Luar Negeri.

Sementara itu satu versi lain tentang asal usul Tuanku Rao diungkapkan oleh Basyral dalam bukunya Greget Tuanku Rao (2007).

Bagi Basyral Tuanku Rao bukan berasal dari Batak Utara tapi dari kawasan Batak Selatan. Menurutnya Tuanku Rao adalah orang Mandailing asli.

 Basyral mendasarkan argumennya dari sumber naskah Tuanku Imam Bonjol yang menyebut Tuanku Rao adalah Pakih Muhammad, ayahnya orang Huta Gadang [Hutanagodang di Mandailing Kecil] dan Ibunya orang Rao.

Menarik untuk melihat keberadaan Pakih Muhammad sebagai Imam Besar Nagari Rao gelar Tuanku Rao.

Ayah Tuanku Rao menurut sumber Basyral adalah orang Huta Gadang (Hutanagodang?) dan ibunya orang Rao sehingga Basyral membuat kesimpulan Tuanku Rao adalah orang Mandailing.

Sayang sekali, dalam uraian asal-usul Tuanku Rao ini Basyral belum mengeksplorasi sumber-sumber Mandailing lainnya. Muhammad Said (1961) berdasar sumber yang dikutipnya meresepsi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao.

Menurut Said Si Pokki Nangolngolan adalah “agresor” yang pernah datang ke tanah Batak untuk melaksanakan pengislaman.

Tuanku Rao adalah Si Pokki Nangolngolan yang telah membunuh pamannya yaitu Ompu Tuan Na Bolon atau Singa Mangaraja X.

Tetapi Said sangat menyayangkan sekali peristiwa penetrasi orang-orang Bonjol apalagi mengenai riwayat hidup Tuanku Rao tidak di dapat dalam sumber Padri atau sumber yang dipertahankan kenetralannya.

Dalam hal ini Said memegang sumber yang lebih dianggap netral karena sumber yang diperoleh dari tangan pertama, dimana orang-orangnya masih berada dan turut serta dalam kejadian itu.

Sumber tersebut ditulis oleh J.B. Neumann 1866 seorang Kontelir B.B yang menulis tentang “Studies ever Bataks en Batakschelanden” (hal 51) dan menyebut bahwa Tuanku Rao adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba.

Neumann sendiri mengambil sumber karangannya dari Residen T.J Willer yang berada di Tapanuli tahun 1835.

Tapi dengan menyatakan bahwa Tuanku Rao adalah si Pongki, maka sebenarnya Said lebih setuju kalau Tuanku Rao memang berasal dari tanah Batak, bukan sebagaimana disebut sumber-sumber Belanda.

Hamka (1974) merupakan penulis yang mencoba mengoreksi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao sebagai orang Batak. Menurut Hamka dongeng-dongeng (mitos) tentang Tuanku Rao ini dalam kalangan orang Batak Toba banyak tersiar, dimana Hamka menemukan dalam tulisan-tulisan itu bahwa Tuanku Rao adalah anak Batak sejati. Hamka mengatakan bahwa riwayat Tuanku Rao yang di ungkapkan dari beberapa penulis Batak seperti Guru Kenan Hutagalung, Adniel Lumbantobing, Sutan Pane Paruhum merupakan mitos. Hamka juga mengkritik tulisan MOP tentang riwayat Tuanku Rao sebagai karangan yang dibuat-buat dan menganggap Parlindungan adalah orang yang mahir “menyusun” suatu cerita. Dengan mengemukakan bukti-bukti, Hamka menyebut MOP dalam membuat tulisannya tentang asal-usul Tuanku Rao banyak mengemukakan hal-hal yang mengandung kebohongan. Asal-usul Tuanku Rao menurut Hamka membenarkan bahwa Tuanku Rao telah kawin dengan puteri Yang Dipertuan Rao dan karena Yang Dipertuan Rao bukan panganut Wahabi maka pimpinan diambil alih oleh menantunya yang dikenal dengan Tuanku Rao.

Selain itu Hamka juga menekankan Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Bukan orang Bakkara. Sebab itu beliau orang Minang. Bukan orang Batak. Ungkapan Hamka tersebut dimantapkan dengan cara melakukan wawancara kepada orang Rao sendiri, yaitu Drs. H. Asrul Sani yang merupakan keturunan Yang Dipertuan Padang Nunang Rao. Untuk membenarkan dan memperkuat pernyataannya, Hamka mengutip sumber dari penulis Batak, Sanusi Pane yang tidak membayangkan bahwa Tuanku Rao adalah orang Batak. Riset akademis terakhir tentang asal usul tokoh ini dengan memperhatikan berbagai sumber masih jarang dilakukan. Salah seorang sejarahwan yang menyinggung masalah ini adalah Christine Dobbin (2008). Menurut Dobbin Tuanku Rao dari perspektif sejarah merupakan tokoh yang kabur tapi diakuinya tokoh ini sangat dikenal dalam sejarah Batak. Akan tetapi kata Dobbin, kebanyakan yang ditulis tentang dirinya didasarkan atas tradisi lisan Batak awal abad ke 20 dan tak bisa dikomfirmasikan dalam sumber-sumber Belanda yang ada. Ini mengherankan Dobbin karena katanya, surat-surat yang ditulis oleh pejabat-pejabat Belanda pada waktu itu secara teratur menceritakan tentang rekan sejamannya, Tuanku Tambusai penakluk tanah Batak bagian timur. Tidak adanya informasi tentang Tuanku Rao menurut Dobbin sebagian bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa ia meninggal pada tahun1833, tak lama sesudah Belanda memasuki Rao. Dengan demikian, ia tidak mempunyai jabatan lain yang bisa mengundang penyelidikan Belanda mengenai kegiatan-kegiatan awalnya. Akan tetapi yang mengherankan dari pendapat Dobin adalah sikap menduanya, disatu pihak dia mengatakan : ”Dapat diterima bahwa Tuanku Rao adalah seorang Batak yang dulunya dikenal dengan Pongki na Ngolngolan.” Tapi dipihak lain dia mengatakan : ”Akan tetapi ada tradisi lisan Batak yang menyatakan bahwa ia adalah keponakan Raja Imam Batak, Sisingamangaraja X, yang menguasai daerah Bakara-Toba. Namun, ini pun tidak bisa dipastikan.” Apa pun asalmuasalnya, kata Dobbin, Pongki na Ngolngolan adalah seorang petualang Batak yang pada tahap tertentu dalam kariernya tiba di Lembah Rao. Dia menemukan seorang pelindung di sehari-harinya. Pada akhirnya di tahun 1808, ia menjadi Islam. Kemudian ia berhubungan dengan ajaran Padri di daerah lebih ke selatan dan rupanya mereka merasa bahwa dengan memperoleh pengakuan sebagai eksponen ajaran ini, posisinya sebagai orang luar atau orang datang dalam masyarakat Rao akan jauh lebih baik. Sayang kata Dobbin, kita tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai hubungannya dengan Imam Bondjol.

3. Kekejaman Tuanku Rao dan Paderi di Tanah Batak Bagian ini saya ulas dengan menguraikan pendapat Dobbin yang membahas historiografi Batak tentang serangan Paderi ke Tapanuli. Laporan Batak yang dibaca Dobbin diakuinya cenderung menekankan kekerasan dan kekacauan yang terjadi selama periode Padri. Namun, Tuanku Rao menurut Dobbin telah berusaha untuk memperkenalkan bentuk administrasi Padri ke desa-desa Batak. Akan tetapi, bagaimana system ini dilembagakan dan berapa besar dukungan yang diterima adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Beberapa orang Batak memang sudah beragam Islam sebelum serbuan Padri. Ada orang-orang muslim yang tinggal di Panyabungan ketika diserbu. Bahkan desa-desa tertentu didekatnya ada yang mempunyai hubungan dagang dengan pantai barat dan telah menjadi Islam selama beberapa tahun.

Namun pada masa awal pemerintahannya penyerbu dari Rao menurut Dobbin mengandalkan kekuatanya sendiri dan mengangkat orang-orang Minagkabau sebagai kadi di desa-desa Batak. Hakim-hakim ini mendasarkan administrasinya pada Quran secara kata perkata. Mereka juga mencoba memberlakukan semua puritanisme lahiriah gerakan mereka. Tentu saja kata Dobbin orang-orang dipaksa menjadi Islam dan terjadi banyak pembunuhan, disamping itu, para Padri juga sangat bersemangat menghancurkan kesastraan Batak. Pada mulanya penyerbuan Padri kata Dobbin sukar dibedakan dari penyerbuan dan pendudukan asing. Selain telah mengarahkan perdagangan Batak ke kelompok pelabuhan khusus di pantai barat, Tuanku Rao juga mewajibkan membiayai upeti kepada Rao dan Alahan Panjang dalam bentuk beras, kerbau dan budak-budak . Wilayah-wilayah bawahan juga mewajibkan membiayai pemeliharaan pasukan Minangkabau di desa-desa mereka dan menyediakan pasukan bersenjata untuk kegiatan Padri di daerah lebih ke utara lagi.

Pada tahun 1822, para Padri telah berada di belakang Tapanuli, setelah menyapu seluruh wilayah Angkola. Menurut laporan Batak yang menurut Dobbin harus ditanggapi dengan hati-hati, Tuanku Rao mengangkat seorang Tuanku Lelo, anggota marga Nasution dan putra seorang Batak pedagang garam, menjadi “gubernur” Angkola. Selain itu, ia juga membangun benteng di Padang Sidempuan. Daerah ini adalah lokasi yang strategis karena terletak dipersimpangan rute dagang penting yang menuju ke pantai dan ke daerah Mandailing dan Silindung. Di tempat inilah ia menjalankan kebijakan Padri untuk memajukan perdagangan, membuka jalan – jalan dagang, dan mendukung para pedagang.

Dobbin mengungkapkan tradisi lisan Batak yang menyebut segerombolan Padri di bawah Tuanku Rao masuk sampai sejauh Butar di utara, di plato Humbang. Ditempat ini, Tuanku Rao menghadapi wakil dinasti iman Raja Sisingamangaraja pada waktu itu, yang tinggal dilembah Bakkara yang berdinding batu di barat laut Danau Toba. Menurut tradisi Batak, Tuanku Rao adalah kemenakan yang disia-siakan oleh Sisingamangaraja. Keterangan ini adalah usaha untuk menjelaskan mengapa Tuanku Rao dikatakan membunuh. Tragedi ini terjadi di pasar Butar, sesudah tuanku mengundang Sisingamangaraja untuk suatu pertemuan. Namun, Sisingamangaraja sebagai tokoh berbahaya karena dianggap dapat mengerahkan marga-marga Batak Toba untuk melawan Islam. Faktor lainnya karena Sisingamangaraja mempunyai hubungan dengan Barus. Padahal, jalinan inilah kata Dobbin, yang ingin dipatahkan oleh kaum Padri.

 

 

As noted Dobbin, Batak traditions describing the atrocities attacks Batak Padri to the ground. In an essay written the Batak to date, as well as writing Sihombing (2008) still remembered the bitterness of invasion Pidari (Batak writings pidari denominator for the vicar) that is considered one of the best period in the history of black and dark Batak, Angkola- Mandailing-Padang Lawas and Toba. In his Sihombing called Tanah Batak situation became so helter-skelter after the death of troops Pidari and all legal chaos that occurs on the ground next Batak considered the impact of the attacks Padri. According to Sihombing, for quite a long time, laws and manners that govern society in the reign of drug-pushers to fall apart. If there seems any masihb tal should be ignored anymore. There is often a mutual-attack and suspicion among one group against another group (usually based on the “saompu” or collateral). That said, at this stage this time that they are in fact just the start “can” kill and “eat” (literally) of meat from a defeated enemy or from pangkahap (spy) in disguise and caught, as a result of liver indignation.
In another book Bisuk Siahaan (2005) says that the adverse effects of war in Toba Padri hanja not only materially, but also socially in society manners, including uhum dohot slave changes (laws and regulations). For example, katanja, before the invasion of the Pidari, the Toba has fought the law governing the procedure that should not be violated. Code of Conduct-war Batak oang previously set various restrictions, such as attacking the enemy at night, burned the enemy; kill women, etc.. Sihombing regard, the Batak had always been an ethic of international war in which both sides would have to declare war first challenge, intentions and decisions perangnja. According to the Sihombing,: manners war done sincerely by King Sisingamangaraja XII, when declaring (Asleep) Batak War, which must be done in a frontal attack, with the command “ready”. Means everyone in the forces both parties really are ready for battle, spiritual and physical. An chivalry, far from cowardice. But all manners “of international and regional Batak” according to the size of each era, said Sihombing, have been violated by the troops Pidari.
Perhaps, the next Sihombing said, because of the weight of suffering and trauma of the nightmare (nightmare hell) Pidari destruction by the forces, which is why that sepeninggalan the rioters, who are the rest of the Batak people actually even imitate and do the same behavior with the Pidari.
But why is said “those who are the rest?” Sihombing like other Batak authors also refer to MOP saying that troops are retreating Pidari very anxious and in a hurry because begu antuk affected by the epidemic (cholera) from the northern part of the Land of Batak, the rest of the Batak people who live to survive and then come out of hiding in caves the caves and forests during the invasion and occupation of the three years, only 25% lived alone. That said, as well as the condition of the rest of the troops invading Pidari, only the remaining 25 to 30% as well. Although statistics on the number Invaders (30 thousand persons) of the book was considered Sihombing MOP probably exaggerated, but said Sihombing, no matter how large the number of the invading army, we can imagine how much destruction to all aspects of life he left behind. To strengthen the atrocities of war in the land of Batak Padri, Sihombing also refer Basyral Hamidy Harahap (2007) to emphasize the news about the terrible destruction done in the occupation of the Pidari of Minangkabau in Batak Mandailing-Sipirok-Padang Lawas to Toba in the first quarter of the 19th century. Presumably, the book was written by Harahap, so Sihombing, among others, with the intention to correct and refine certain parts of the book Tuanku Rao, while reinforcing justification news about “the dream of hell” suffered by the Batak people of the south and north, as a result of the invasion and occupation of the Pidari it.
Sihombing said the next most Batak people of the younger generation, was deliberately not too intensive diceritai (if not to say the story dideponir) by parental about how horror experience grandfather ancestor “bangso” Batak in the decade from 1820 to 1830-an, which shattered due to invasion of the Pidari. That thousands of relatives who did not die because of the invasion, had died of the plague tokh terrible. Thousands of the rest of the living, so Sihombing, also hijacked the incalculable suffering, sold into slavery in the South Tapanuli and west coasts of Sumatra. The purpose of the elders Batak who was then wanted mendeponir story of the invasion Pidari, is a very shameful disgrace that it does not need to know the younger generation. Generally they are short notes like this: ever experienced a nightmare Batak people is called “ni Tingki Pidari (the Pidari)” Annual Almanac HKBP course, the historical record milestones referred Sihombing, every sunrise-yearly, only a brief note like this: 1825 -1829 porang ni Tuanku Rao (porang Bonjol) na mamorangi bangso Batak (Tuanku Rao War (War Bonjol) who come up against the “nation” Batak). Just like Sihombing, other authors who had already called the Siahaan (2005) in his description of Padri also not miss to refer to the book MOP. Described MOP, thus Siahaan, between the years 1816-1818 Padri troops began to invade and occupy Mandailing Tapanuli, Sipirok and Padang Lawas, while Islamize the population who still worship idols. After Tapanuli controlled, a few years later made the invasion of North Tapanuli targeting Pahae, Silindung, Humbang and Toba. Soldiers burned dozens Padri homes, charming and kill people regardless of whether they are women, children or the elderly are helpless. Even the incomparable cruelty occurred in the Pahae, Humbang and Silindung. Residents who do not submit to the army Padri captive, his eyes gouged out. During the attack hundreds of innocent people were brutally murdered, dead bodies covered walkways, making it no longer possible to bury him properly. Everywhere looks carcasses decompose, causing outbreaks of cholera and typhus raged. Efidemi outbreak suddenly, not only attacking the locals, but also tenatra Padri. Caused so many residents and soldiers who died Padri disease cholera, Padri army leader who ordered that all troops leave northern Tapanuli. It is very difficult to imagine how cruel treatment Padri army to innocent civilians, leading up to this day when people want to describe something that is very cruel and uncivilized, it says “like in the Pidari” (“in tingki ni Pidari). Although the army has left North Tapanuli Padri, but the population according Siahaan remains wary, afraid that one day reappear Padri soldiers torturing them. Witnessing the atrocities of war that has just passed, causing the population is no longer fully obedient to the teachings of “fighting by the rules dohot Uhum slave” as commonly held. They set the rules have changed and the war itself, according to individual taste. This is according to Siahaan, reported by Baron van Hoevel Kontelir GWWC who participated in the Dutch military forces under the command of Captain Infantry Scheltens, and justified by kings Silindung and Toba. Before Scheltens begin his expedition (perjalananya) to the Toba and Silindung, they first learn all the Dutch archives stored since 1845, specifically on how the Batak peoples and war. Apparently text in files no longer compatible with reality. Troops Scheltens very surprised when they suddenly attacked by followers of Si Singamangaraja at night, but according to the rules of slave dohot Uhum they studied, the Batak are not allowed to attack the enemy at night, in addition, several houses and barracks of the Dutch army officers attempted about to be burned, but forbidden by slave dohot Uhum burn enemy houses. Since the incident, according to Siahaan Dutch soldiers realize that things have changed, the invasion army Padri very cruel to the Land of Batak, has changed the way people think. Apparently, according to Siahaan, the suffering experienced during the war cleric, has left a difficult TRUMA dipupus of the minds of the population, they feel constantly threatened by mortal danger. To secure ourselves, even elevated fortress village protection and reinforced with bamboo spiked as far footsteps can still be seen in the Batak villages.
4. Closing The above description shows how the traditional historiography of writing the actual Batak wholly derived from the oral tradition Batak provide verification that Tuanku Rao is a native of the Batak Toba (Sipongki Nangolngolan), born of an affair, a relationship with the royal family Singamangaraja, migrated to Rao, entered Batak lands of Islam and attacked viciously because they want revenge. Later he managed to kill his uncle Singamangaraja X and spread Islam even done by force, cruel, inhuman and very bloody, but failed to convert the northern part of the Land of Batak. Necessary caution dealing with oral tradition of controversy this. Historians such as Dobbin also be trapped decipher “episode” Tuanku Rao in Batak land, basing his description of the oral tradition Batak alone professed not be clarified to historical sources the other. Ironically Dobbin obtained oral tradition is an oral tradition that has been developed, fictionalized the imagination as found in the writings of MOP. Description Dobbin showed as he went into the Batak oral tradition and the academic work is a pity he did not explore and compare the oral tradition that developed in South Tapanuli, Rao and Minangkabau. I think the Batak oral tradition that was written was the result of the construction of a certain period of time, in certain areas and for certain interests. I estimate that, at the time the story was constructed, the Dutch authorities and the missionaries spreading Christianity in worrying about the spread of Islam to the Toba Batak lands and they are trying to prevent the spread of it in various ways, including fortify themselves by creating and developing Padri atrocities in Batak land and reproduce through figures Batak Christian religion of the first generation of Christianity in the land of Batak. Reproduction is done Toba region and Humbang threatened and did not occur in the Samosir. In my research on the oral traditions of Tuanku Rao as I know Nangolngolan Pongki The oral tradition is not known on the island of Samosir. Interpreters maintained complex in the tomb of King Sidabutar Tomok, Samosir right on the edge of Lake Toba, when I interviewed at the end of 2007 does not recognize The Pongki Nangolngolan. In fact, she pointed to a tree in the complex Pongki grave as an old tree which was very loud and powerful without something to do with the symbol of a man who later constructed as Tuanku Rao. The story of the legend of The Pongki is also not found in the South Tapanuli. Batak Padri to the ground assault, especially Toba, an attack which also happens to be recognized that there are resources in the Minangkabau itself. But the version of the oral tradition about the attacks and genealogy Tuanku Rao in Batak tradition is constructed. Not a coincidence that the author reproduces the oral tradition are Christians, even among those included Christian religious leaders. Although MOP Muslims, but the raw material of all writing about Batak came from his father’s archives, Sutan Martua Radja (SMR), a prominent Christian in Siantar. In his analysis Dobbin finally admitted, perhaps this lineage created to explain some of the advantages Tuanku Rao in the military. He according to Dobbin, indeed led his followers a series of extraordinary duress journey to the north, directly entering the Batak Toba people. Here he met and killed Sisingamangaraja X. With regard him as the nephew of the king who lost his right, according to Dobbin Batak traditions can provide a reasonable motivation for a military attack, that is revenge. But the motivation that I think it is absurd and full of controversy. How could Tuanku Rao were imaged as a sadistic killer and invaders and persecute Batak Batak descent is constructed as? How do we understand the logic of Si Pongki: sentenced to death (had drowned in Lake Toba because he was an illegitimate child of an incestuous relationship results Singamangaraja family) then rescued by his uncle the king Singamangaraja X, and after Si Pongki be Tuanku Rao came to kill Singamangaraja X uncle who actually save? Construction of this oral tradition in my interest to subordinating the two imaging, the first Muslim from the South and two Singamangaraja and descendants and followers that can not be tamed by the missionaries and the Dutch authorities. It takes a more in-depth investigation of the construction has already
considered this reality.

 

Original info

Sebagaimana disebut Dobbin, tradisi Batak menggambarkan kekejaman-kekejaman serangan Padri ke tanah Batak. Dalam karangan yang ditulis orang Batak sampai saat ini, sebagaimana tulisan Sihombing (2008) tetap dikenang pahitnya invasi kaum Pidari (tulisan-tulisan Batak penyebut pidari untuk paderi) sehingga dianggap merupakan salah satu periode yang paling hitam dan gelap dalam sejarah orang Batak, Angkola-Mandailing-Padang Lawas dan Toba. Dalam tulisannya Sihombing menyebut situasi Tanah Batak menjadi begitu morat-marit sepeninggal pasukan Pidari dan segala kekacauan hukum yang terjadi di tanah Batak selanjutnya dianggap sebagai dampak dari serangan Paderi. Menurut Sihombing, untuk waktu yang cukup lama, hukum dan tata-krama yang mengatur masyarakat dalam zaman pemerintahan bius-bius menjadi berantakan. Bila pun masihb ada agaknya tal perlu diindahkan lagi. Sering terjadi saling-serang dan saling curiga di antara satu kelompok terhadap kelompok lain ( umumnya berdasarkan wilayah “saompu” atau seketurunan). Konon, pada tahapan waktu inilah mereka malah justru mulai “bisa” membunuh serta “memakan” (secara harfiah) daging dari musuh yang ditaklukkan atau dari pangkahap (mata-mata) yang menyamar dan tertangkap, sebagai akibat kegeraman hati.

Dalam buku lain Bisuk Siahaan (2005) mengatakan bahwa dampak buruk perang Padri di Toba bukan saja hanja secara materiil, tapi juga secara sosial dalam tatakrama kehidupan masyarakat, termasuk terjadinya perubahan patik dohot uhum (peraturan dan hukum). Sebagai contoh, katanja, sebelum serbuan kaum Pidari, orang Toba memiliki hukum yang mengatur tatacara berperang yang tak boleh dilanggar. Kode etik-perang oang Batak sebelumnya menetapkan berbagai larangan, seperti menyerang musuh pada malam hari, membakar rumah musuh; membunuh perempuan, dll. Sihombing menganggap, orang Batak sejak dulu mengenal etika perang internasional dimana kedua belah pihak yang akan berperang lebih dahulu harus mendeklarasikan tantangan, niat dan keputusan perangnja. Menurut catatan Sihombing, : tatakrama perang itu dilakukan dengan tulus oleh Raja Sisingamangaraja XII, ketika mendeklarasikan (Pulas) Perang Batak, dimana serangan harus dilakukan secara frontal, dengan aba-aba “siap”. Berarti semua orang dalam pasukan kedua belah fihak memang benar-benar sudah siap untuk berperang, lahir dan bathin. Suatu sikap kesatria, jauh dari kepengecutan. Tapi semua tata-krama “internasional dan regional Batak” menurut ukuran zamannya masing-masing itu, kata Sihombing, telah dilanggar oleh pasukan kaum Pidari.

Mungkin, demikian Sihombing selanjutnya mengatakan, karena beratnya penderitaan dan trauma dari masa nightmare (mimpi neraka) penghancuran oleh pasukan Pidari, itulah sebabnya bahwa sepeninggalan kaum perusuh, orang Batak yang masih sisa justru malah meniru dan melakukan perilaku yang sama dengan kaum Pidari.

Tapi kenapa dikatakan “orang yang masih sisa”? Sihombing seperti juga penulis Batak lainnya merujuk MOP yang mengatakan bahwa pasukan Pidari yang mundur dengan sangat cemas dan tergesa-gesa karena landaan wabah begu antuk (Kolera) dari Tanah Batak bagian utara, sisa orang Batak yang bisa hidup bertahan dan kemudian keluar dari persembunyian di gua-gua dan hutan selama tiga tahun serbuan dan pendudukan, hanya tinggal 25 % saja. Konon, demikian juga kondisi sisa pasukan Pidari penyerbu, hanya tersisa 25 sampai 30 % juga. Meskipun statistik jumlah penyerbu (30 ribu orang) dari buku MOP itu dianggap Sihombing mungkin terlalu dilebih-lebihkan, namun kata Sihombing, berapa besarpun jumlah pasukan penyerbu, kita bisa membayangkan betapa besar destruksi terhadap segala aspek kehidupan yang ditinggalkannya. Untuk menguatkan kekejaman perang Paderi di tanah Batak, Sihombing juga merujuk Basyral Hamidy Harahap (2007) untuk menekankan pemberitaan perihal hebatnya destruksi yang dilakukan dalam masa pendudukan kaum Pidari dari Minangkabau di Tanah Batak Mandailing-Sipirok-Padang Lawas sampai Toba dalam kuarter pertama abad 19. Agaknya, buku tersebut ditulis oleh Harahap, demikian Sihombing, antara lain dengan niat untuk mengoreksi dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu buku Tuanku Rao, seraya menguatkan pembenaran berita tentang “mimpi neraka” yang dialami oleh orang Batak bagian selatan dan utara, sebagai akibat serbuan dan pendudukan kaum Pidari itu.

Sihombing menyatakan, selanjutnya kebanyakan orang Batak dari generasi lebih muda, memang sengaja tidak terlalu intensif diceritai (kalau tak akan dikatakan kisahnya dideponir) oleh tetuanya tentang betapa ngerinya pengalaman kakek-moyang “bangso” Batak pada dasawarsa 1820-1830-an, yang porak poranda akibat serbuan kaum Pidari. Bahwa ribuan sanak saudara yang tidak mati karena serbuan, tokh harus mati karena wabah mengerikan. Ribuan dari sisa yang hidup, demikian Sihombing, dibajak pula dengan penderitaan tak terkirakan, diperjualbelikan menjadi budak di Tapanuli Selatan dan pantai-pantai barat Sumatra. Maksud tua-tua Batak yang kala itu ingin mendeponir cerita invasi kaum Pidari, ialah supaya aib yang sangat memalukan itu tak perlu diketahui generasi mudanya. Umumnya mereka mencatat singkat begini: pernah ada mimpi buruk dialami orang Batak yang disebut “Tingki ni Pidari (masa Pidari)” Almanak Tahunan HKBP saja, dalam catatan tonggak-tonggak bersejarahnya yang dirujuk Sihombing, setiap terbit-tahunan, hanya mencatat singkat begini: 1825-1829 Porang ni Tuanku Rao (Porang Bonjol) na mamorangi bangso Batak (Perang Tuanku Rao(Perang Bonjol) yang datang memerangi “bangsa” Batak). Sama seperti Sihombing, penulis lain yang tadi sudah disebut yakni Siahaan (2005) dalam uraiannya tentang Padri juga tidak melewatkan untuk merujuk buku MOP. Dijelaskan MOP, demikian Siahaan, antara tahun 1816-1818 tentara Padri mulai menyerbu Tapanuli Selatan dan menduduki Mandailing, Sipirok dan Padang Lawas, sekaligus mengislamkan penduduk yang masih menyembah berhala. Setelah Tapanuli Selatan dikuasai, beberapa tahun kemudian dilakukan penyerbuan ke Tapanuli Utara dengan sasaran Pahae, Silindung, Humbang dan Toba. Tentara Padri membakar berpuluh-puluh rumah, menawan dan membunuh penduduk tanpa memperdulikan apakah mereka wanita, anak-anak atau orang tua yang tak berdaya. Bahkan kekejaman yang tidak ada taranya terjadi di daerah Pahae, Humbang dan Silindung. Penduduk yang tidak mau tunduk kepada tentara Padri ditawan, lalu matanya dicungkil. Selama penyerangan tersebut beratus-ratus penduduk yang tidak bersalah dibunuh secara kejam, mayat bergelimpangan menutupi jalan setapak, sehingga tidak mungkin lagi menguburnya dengan baik. Dimana –mana terlihat bangkai membusuk, menyebabkan wabah penyakit kolera dan tifus mengganas. Efidemi berjangkit secara tiba-tiba, tidak hanya menyerang penduduk setempat,tetapi juga tenatra Padri. Disebabkan sangat banyak penduduk dan tentara Padri yang meninggal terserang penyakit kolera, pemimpin tentara Padri yang memerintahkan supaya semua serdadunya segera meninggalkan Tapanuli Utara. Sangat sulit membayangkan betapa kejamnya perlakuan tentara Padri kepada penduduk yang tidak berdosa, menyebabkan sampai hari ini bila masyarakat hendak menggambarkan sesuatu yang sangat bengis dan tak beradab, dikatakan “seperti di masa Pidari” (“di tingki ni Pidari). Meskipun tentara Padri telah meninggalkan Tapanuli Utara, namun penduduk menurut Siahaan masih tetap waswas, takut jika pada suatu hari tentara Padri muncul kembali menyiksa mereka. Menyaksikan kekejaman perang yang baru saja berlalu, meyebabkan penduduk tidak lagi sepenuhnya patuh pada ajaran “berperang menurut aturan Patik dohot Uhum” seperti yang dianut selama ini. Mereka telah berubah dan menetapkan aturan perang sendiri, sesuai dengan selera masing-masing. Hal ini menurut Siahaan, dilaporkan oleh Kontelir G.W.W.C Baron van Hoevel yang turut dalam pasukan militer Belanda di bawah komando Kapten Infanteri Scheltens, dan dibenarkan oleh raja-raja di Silindung dan Toba. Sebelum Scheltens memulai ekspedisinya (perjalananya) ke daerah Toba dan Silindung, terlebih dulu mereka mempelajari semua arsip-arsip Belanda yang tersimpan sejak tahun 1845, khusus mengenai adat dan cara orang Batak berperang. Ternyata tulisan yang ada di arsip tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pasukan Scheltens sangat terkejut sewaktu mereka secara tiba-tiba diserang oleh pengikut Si Singamangaraja pada malam hari, padahal menurut aturan Patik dohot Uhum yang mereka pelajari, orang Batak tidak diperkenankan menyerang musuh pada malam hari, selain itu, beberapa rumah pejabat dan tangsi tentara Belanda dicoba hendak dibakar, padahal menurut Patik dohot Uhum dilarang membakar rumah musuh. Sejak peristiwa tersebut, serdadu Belanda menurut Siahaan sadar bahwa keadaan sudah berubah, penyerbuan tentara Padri yang sangat kejam ke Tanah Batak, telah mengubah cara berpikir penduduk. Rupanya, demikian Siahaan, penderitaan yang dialami selama perang paderi, telah meninggalkan truma yang sulit dipupus dari benak penduduk, mereka merasa dirinya senantiasa terancam oleh bahaya maut. Untuk mengamankan diri, bahkan benteng perlindungan kampung ditinggikan dan diperkuat dengan bambu-bambu berduri sebagaimana sampai saat ini jejaknya masih bisa dilihat di desa-desa Batak.

4. Penutup Uraian di atas memperlihatkan bagaimana penulisan historiografi tradisional Batak yang sebenarnya sepenuhnya berasal dari tradisi lisan Batak memberikan pengabsahan bahwa Tuanku Rao adalah asli orang Batak Toba (Sipongki Nangolngolan), lahir dari hubungan gelap, memiliki hubungan keluarga dengan raja Singamangaraja, merantau ke Rao, masuk Islam dan menyerbu tanah Batak dengan kejam karena ingin membalas dendam. Selanjutnya dia berhasil membunuh pamannya Singamangaraja X dan menyebarkan Islam yang sekalipun dilakukan dengan paksaan, sadis, tidak berperikemanusiaan dan sangat berdarah, tapi tidak berhasil mengislamkan Tanah Batak bagian utara. Diperlukan kehati-hatian berhadapan dengan tradisi lisan yang penuh kontroversi ini. Sejarahwan seperti Dobbin juga bisa terjebak menguraikan ”episode” Tuanku Rao di tanah Batak dengan mendasarkan uraiannya semata dari tradisi lisan Batak yang diakuinya tidak bisa diklarifikasi ke sumber-sumber sejarah yang lain. Ironisnya tradisi lisan yang didapat Dobbin adalah tradisi lisan yang telah dikembangkan, difiksikan dengan imajinasi seperti yang terdapat dalam tulisan MOP. Uraian Dobbin memperlihatkan seakan dia meneruskan tradisi lisan Batak ke dalam karya akademisnya dan sangat disayangkan dia tidak mengeksplorasi dan membandingkannya dengan tradisi lisan yang berkembang di Tapanuli Selatan, Rao dan Minangkabau. Menurut saya, tradisi lisan Batak yang kemudian dituliskan itu merupakan hasil konstruksi dari satu kurun waktu tertentu, di wilayah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Saya perkirakan, pada waktu cerita itu dikontruksi, penguasa Belanda dan para zending penyebar agama kristen di Toba mencemaskan penyebaran Islam ke tanah Batak dan mereka berusaha untuk menghambat penyebaran itu dengan berbagai cara termasuk membentengi diri dengan menciptakan dan mengembangkan kekejaman Padri di tanah Batak dan mereproduksinya lewat tokoh-tokoh Batak beragama kristen dari generasi pertama kristenisasi di tanah Batak. Reproduksi itu dilakukan dikawasan Toba dan Humbang yang terancam dan tidak terjadi di kawasan Samosir. Dalam penyelidikan saya atas tradisi lisan tentang Tuanku Rao sebagai Si Pongki Nangolngolan saya ketahui tradisi lisan ini tidak dikenal di pulau Samosir. Juru pelihara kompleks makam Raja Sidabutar di Tomok, Samosir tepat di tepi Danau Toba, ketika saya wawancarai di akhir tahun 2007 tidak mengenal Si Pongki Nangolngolan. Bahkan dia menunjuk pohon Pongki yang ada di kompleks makam itu sebagai pohon tua yang sangat keras dan kuat tanpa ada hubungannya dengan simbol dari seorang tokoh yang kemudian dikonstruksikan sebagai Tuanku Rao. Kisah tentang legenda Si Pongki ini juga tidak ditemukan di kawasan tapanuli Selatan. Penyerangan Padri ke tanah Batak, khususnya Toba, merupakan penyerangan yang juga diakui terjadi oleh sumber-sumber yang ada di Minangkabau sendiri. Tapi versi tradisi lisan tentang penyerangan itu dan genealogi Tuanku Rao dalam tradisi Batak adalah hasil konstruksi. Tidak merupakan kebetulan jika penulis yang mereproduksi tradisi lisan itu beragama kristen, bahkan diantara mereka termasuk pemuka agama kristen. Sekalipun MOP beragama Islam, tapi bahan baku dari semua penulisannya tentang Batak berasal dari arsip ayahnya, Sutan Martua Radja (SMR), seorang tokoh kristen di Pematang Siantar. Dalam analisisnya Dobbin akhirnya memang mengakui, barang kali garis keturunan ini diciptakan untuk menjelaskan beberapa keunggulan Tuanku Rao dalam kemiliteran. Dia menurut Dobbin, memang memimpin pengikut-pengikutnya melakukan serangkaian perjalanan paksaan yang luar biasa ke utara, langsung memasuki wilayah orang-orang Batak Toba. Disini ia bertemu dan membunuh Sisingamangaraja X. Dengan menganggap dia sebagai kemenakan raja yang kehilangan haknya, menurut Dobbin tradisi Batak dapat memberikan motivasi yang masuk akal untuk serangan militer ini, yaitu balas dendam. Tapi motivasi itu menurut saya justru tidak masuk akal dan penuh kontroversi. Bagaimana mungkin Tuanku Rao yang dicitrakan sebagai pembunuh dan penyerbu yang sadis dan menganiaya orang Batak itu dikonstruksi sebagai keturunan Batak? Bagaimana kita memahami logika Si Pongki : dijatuhi hukuman mati (harus ditenggelamkan di Danau Toba karena dia anak haram hasil hubungan incest dari keluarga Singamangaraja) kemudian diselamatkan oleh raja Singamangaraja X pamannya sendiri, dan setelah Si Pongki menjadi Tuanku Rao datang membunuh Singamangaraja X paman yang justru menyelamatkannya? Konstruksi tradisi lisan ini menurut saya berkepentingan untuk mensubordinatkan dua pencitraan, pertama Islam dari selatan dan kedua Singamangaraja serta keturunan dan pengikutnya yang tidak bisa dijinakkan oleh zending dan penguasa Belanda. Diperlukan suatu penyelidikan yang lebih mendalam tentang konstruksi yang terlanjur sudah dianggap sebagai realitas ini.

 

 

Source
Pardede Th

Notes Dr. Iwan
My friend was giving out information that the family moved to Penang when  padri War read the original information below
Dear Dr. Iwan,
Congratulations for putting up the materials Contain in this wordpress site and thank you for sharing your research.

I can think of one area where we can possibly collaborate in the Padang-namely Penang connection.
Regards
Mr. Lubis
P.S. I’m a Malaysian national, a descendant of Mandailing migrants to the peninsula during the Padri War


Based on this information turned out to be due to the current situation of Imam knurl Padri movement, there are tribes who migrated abroad Mandailing among others to Penang.
Conversely there is also from Penang migration to Padang Pandjang the Khoe family and his brother’s father Kim Lian Mrs. Lena Khoe, perhaps this relationship and Padang Peang do joint research between dr iwan and Mr. Lubis.

 


The same circumstances occur when the situation is less favorable in the first world war, a Java Minangkbau wife whose son later became members I Dr Azhar Kiman, back into the field, and he became the Indonesian National Army Maj. kIman lights section and was a member in 1949 BFO

1827

The strategy of Battlefield Fortification was implied since May 1827. The Battlefield Fortification means that fort was not only have a passive role in the military defense, but it’s emphasized that the fort has active and important role as quarter for offensive operation, military command and control and logistic purposes. Broadly speaking, fort was attempted as warfare and military strategic. In period of May – December 1827 General H.M. de Kock established about 30 forts surrounding Central Java.

THE ACHIEVEMENTS

F.D. Cochius was born 3rd of December 1787 in Valburg.

His parents are Gerrit Jan Casparus Cochius and Anna Dibbets.

He died in Huize Vredenoord near Rijswijk, Netherlands on 1st of May 1876.

July 1811:

Captain in the French Army

December 1814:

Captain in Netherlands Army

 

Portaal:KNIL/Biografie

Uit Wikipedia, de vrije encyclopedie

< Portaal:KNIL

Ga naar: navigatie, zoeken

/1

 

Karel van der Heijden (Batavia, 12 januari 1826Arnhem, 26 januari 1900) was een Nederlands generaal, onder meer militair en civiel gouverneur van Atjeh. Van der Heijden was de buitenechtelijke zoon van generaal de Stuers en een onbekende inlandse (Boeginese) vrouw; hij werd te Batavia geboren maar groeide, als kind aangenomen door Jean van der Heijden en Wilhelmina Siebing, op in Nederland. Op zestienjarige leeftijd vertrok hij vanaf Nieuwediep, als vrijwilliger, aan boord van de East India Packet en zette in de rang van korporaal voet aan de wal in Nederlands-Indië. Van der Heijden werd vervolgens ingedeeld bij het derde bataljon infanterie en op 1 augustus 1842 benoemd tot sergeant, op 16 oktober 1848 tot majoor en nam als zodanig deel aan de tweede en derde expeditie naar Bali. Zijn gedrag gedurende deze veldtochten was zodanig dat hij bij Koninklijk Besluit van 11 december 1849 benoemd werd tot ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse.

Lees verder

/2

 

Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus (Johan) Pel (Maastricht, 10 januari 1823 – Aceh Besar, 23 februari 1876) was een Nederlands generaal, militair bevelhebber te Atjeh. Pel nam in 1841 vrijwillig dienst dienst (bij het instructiebataljon te Kampen); in 1846, in de rang van sergeant-majoor, vertrok hij in 1846 naar Indië, werd in 1848 benoemd tot tweede en in 1853 tot eerste luitenant; In 1857 werd hij bevorderd tot kapitein, in 1865 tot majoor en in 1870 tot luitenant-kolonel.

Lees verder

/3

 

François Vincent Henri Antoine ridder de Stuers (Roermond, 29 november 1792Den Haag, 29 december 1881) was een Nederlands generaal, commandant van het Indisch leger en onder meer grootofficier, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. De Stuers, vierde zoon van ridder J.R.J. de Stuers, groeide op in Heerenberg, omdat zijn ouders bij de nadering van de Fransen Limburg verlieten. Op 29 maart 1815, na de landing van Napoleon te Cannes, schreef hij zich in in het stamboek der jagers te paard, maar ging vervolgens als volontair over bij het vierde regiment dragonders.

Lees verder

/4

 

Andreas Victor Michiels (Maastricht, 30 mei 1797 – Kusamba, Klungkung, Nederlands-Indië, 25 mei 1849) was een Nederlands generaal, commandant van het Indische leger, ridder, officier en commandeur in de Militaire Willems-Orde. Michiels was door zijn ouders aanvankelijk bestemd voor een gerechtelijke loopbaan; hij doorliep het keizerlijk lyceum te Luik maar werd daarna, in 1814, aangesteld tot tweede luitenant der infanterie, eerst in Franse, toen in Nederlandse dienst. Hij werd in 1815 benoemd tot eerste luitenant en woonde in 1814 en 1815 de veldtocht in Nederland en Frankrijk bij. In 1816 vertrok Michiels naar Indië en nam in 1818 deel aan de krijgsverrichtingen te Cheribon; hij werd datzelfde jaar bevorderd tot kapitein, in 1827 tot majoor, in 1832 tot luitenant-kolonel, in 1837 (bij keuze) tot kolonel en in 1843 tot generaal-majoor titulair. Michiels nam van 1825 tot 1830 deel aan de Java-oorlog en nam daarin een zo’n belangrijk deel, dat hij op één dag bevorderd werd tot ridder en officier in de Militaire Willems-Orde.

Lees verder

/5

 

Mr. Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen (Utrecht, 15 december 1778De Bilt, 10 april 1848) was een Nederlandse diplomaat, onder meer Minister van Binnenlandse Zaken, Gouverneur-Generaal van Nederlands-Indië en commandant van het Indische leger. Van der Capellen studeerde rechten aan de hogeschool van Urecht en werd bevorderd tot Mr. in de rechten, terwijl hij aan de hogeschool van Göttingen onder andere de lessen van George Friedrich von Martens en Johann Friedrich Blumenbach bijwoonde, met wie hij tot het laatst van zijn leven in briefwisseling stond.

Lees verder

/6

 

Johannes graaf van den Bosch (Herwijnen, 2 februari 1780Den Haag, 28 januari 1844) was een Nederlands generaal, onder meer Gouverneur-Generaal van Nederlands-Indië, commandant van het Nederlands-Indische leger, Minister van Koloniën en Minister van Staat; hij was officier in de Militaire Willems-Orde. Van den Bosch werd in 1797 benoemd tot luitenant der genie en op zijn verzoek om op eigen kosten bij de genie in Indië te worden geplaatst, in 1798 aangesteld als eerste luitenant bij het garnizoen te Batavia.

Lees verder

/7

 

Gerrit Jan ter Woord (Winterswijk, 1826 – aldaar, 1 november 1905) was een Nederlands onderofficier, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Ter Woord werd op 25 april 1845 bij het regiment Grenadiers en Jagers ingedeeld als milicien voor de tijd van vijf jaar; hij was een loteling van de lichting 1845 uit de provincie Gelderland, gemeente Winterswijk. Op 15 mei 1846 werd hij in activiteit gesteld en engageerde zich drie dagen later bij de staande armee voor zes jaar. Gedurende een tijd bleef het bataljon Grenadiers, waarbij Ter Woord was ingedeeld, te Den Haag in garnizoen.

Lees verder

/8

 

Jhr. François (Frans) Frederik de Casembroot (Luik, 26 juli 1817Den Haag, 14 april 1895) was een Nederlands viceadmiraal, onder meer officier in de Militaire Willems-Orde. De Casembroot werd op 16 november 1832 benoemd tot adelborst aan het Koninklijk Instituut voor de Marine te Medemblik, dat hij op 1 november 1836 verliet als adelborst eerste klasse. In 1837 werd hij geplaatst op Zr. Ms. korvet Triton en vertrok spoedig daarop naar Indië, waar hij op 25 mei 1840 de expeditie tegen de Atjehnezen op Baros nabij Sinkel bijwoonde. Omdat de Atjehnezen een benting hadden opgericht en bewapend waren met zwaar geschut werd De Casembroot die dag naar de wal gezonden om, onder het vuur van de vijand en door de zware branding heen, een 12 ponds-kanon en een 24 ponds houwitser tegenover de benting op een door de Nederlandse troepen opgerichte borstwering te plaatsen.

Lees verder

/9

 

Hubert Joseph Jean Lambert ridder de Stuers (Roermond, 16 november 1788Maastricht, 13 april 1861) was een Nederlands generaal, commandant van het Indische leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde, ridder en officier van het Legioen van Eer, ridder en commandeur in de Orde van de Nederlandse Leeuw en grootofficier in de Orde van de Eikenkroon. De Stuers trad in 1805 in militaire dienst en scheepte zich in aan boord van de Drie Gebroeders, welk schip deel uit zou maken van een expeditie naar Engeland, maar die niet doorging en nam toen deel aan de veldtocht in Oostenrijk, waar hij de inname van Ulm meemaakte en daarna het legerkorps volgde, dat op Wiener Neustadt tegen de aartshertog van Oostenrijk werd afgezonden. Kort daarna werd de vrede gesloten en vertrok De Stuers met de divisie van generaal Dumonceau naar Rijn- en Münsterland.

Lees verder

/10

 

Günther von Bültzingslöwen (Lübeck, 14 december 1839Berlijn, 21 augustus 1889) was een Duits koopman, welgesteld landheer, consul te Soerabaja, kolonel der Schutterij en eerste flankeur van het Nederlands-Indische leger. Von Bültzingslöwen werd geboren in een oud Thüringsch krijgsmansgeslacht (zijn vader was militair commandant van Lübeck), dat door de oorlogen, die Duitsland eeuwenlang teisterden, zijn bezittingen grotendeels verloren had zien gaan. Hij volgde het gymnasium en wilde net als zijn voorouders in de krijgsmansstand zijn toekomst zoeken, maar de beperkte middelen van zijn ouders stonden een verwezelijking van die wens in de weg. Naar iets anders werd toen voor hem omgezien en het leek op het laatst het beste dat hij in de handel zijn fortuin zou beproeven. Toen hij 19 jaar oud was, kwam hij te Hamburg op een handelskantoor. Het duurde echter niet lang, of dat eentonige leven begon hem tegen te staan. Hij vertrok naar Indië en, om daar des te spoediger aan te komen, deed hij zelfs matrozenwerk tijdens de reis, om in zijn onderhoud te voorzien.

Lees verder

/11

 

Carel August Frederik Willem Wollweber (Brielle, 6 april 1814 – Aan boord van SS De Twee Antonissen, 9 mei 1850) was een Nederlandse kapitein der infanterie van het Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde. Wollweber verkreeg het Metalen Kruis voor zijn verrichtingen tijdens de Belgische Opstand en werd in de rang van tweede luitenant op 15 maart 1839 bij het eerste bataljon jagers overgeplaatst van de tiende afdeling. Hij werd op 9 juni 1841 in rang en anciënniteit overgeplaatst van genoemd regiment jagers bij het wapen der infanterie bij het leger in Indië en vertrok op 13 augustus van dat jaar van Harderwijk naar het Nieuwe Diep, als commandant van een regiment suppletietroepen (onderofficieren en manschappen) van 100 man, om zich in te schepen (de 15de) op het schip Oost-India Packet, dat hen naar Java zou overvaren. Hij werd op 26 mei 1842 bevorderd tot eerste luitenant bij het zevende bataljon. Wollweber was tijdens de eerste expeditie naar Bali eerste luitenant bij het zevende bataljon infanterie. Hij werd bij Koninklijk Besluit van 6 december 1846 nummer 4 benoemd tot ridder in de Militaire Willemsorde vierde klasse voor zijn werkzaamheden gedurende genoemde expeditie. Zijn naam werd met name genoemd bij diegenen die zich loffelijk hadden onderscheiden bij de gelegenheid van de expeditie tegen de vorsten van Beliling en Karang Assem, op het eiland Bali op 28en 29 juni 1846.

Lees verder

/12

 

Dorus “Toontje” Poland (Alkmaar, 20 januari 1795Tjilatjap, 19 december 1857) was een Nederlands kolonel bij het Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger. Poland (zijn voornaam was eigenlijk Dorus) werd geboren als zoon van een welgestelde kruidenier. Omdat zijn vader al jong stierf, zijn moeder een nieuwe verbintenis aanging en zich weinig bekommerde om haar zoon, leefde Poland een leven van twaalf ambachten en dertien ongelukken totdat een sergeant der gardegrenadiers van koning Lodewijk Napoleon Bonaparte hem een plaats bezorgde als kwekeling bij de militaire kweekschool in Den Haag (het doel van de kweekschool was het vormen van een kern, waaruit later soldaten voor het leger konden worden gelicht).

Lees verder

/13

 

Lodewijk Johannes Wilhelmus Benschop (Woerden, 23 augustus 1827Arnhem, 17 april 1902) was een Nederlands majoor van het Nederlands Indisch leger, ridder in de Militaire Willems-Orde, bezitter van de Eresabel. Benschop volgde de Koninklijke Militaire Academie en vertrok in de rang van tweede luitenant op 3 december van Harderwijk over Amersfoort naar Utrecht en vervolgens naar het Nieuwediep, om op 7 december 1849 met een detachement van 80 onderofficieren en manschappen van hier naar Java te vertrekken met de Anna Paulowna. Hij werd in juli 1854 benoemd tot eerste luitenant; in januari 1858 werd hij bij het garnizoensbataljon ter Sumatra’s Westkust overgeplaatst van het vijftiende bataljon en in november 1858 tot kapitein bevorderd (hij diende toen bij het dertiende bataljon). Hij werd in december 1859 overgeplaatst naar het negende bataljon. Intussen werd het in de Zuider- en Oosterafdeling van Borneo steeds onrustiger, werd een luitenant (Bichon) vermoord en scheen ook het leven van de commandant der troepen aldaar, luitenant-kolonel Andresen, gevaar te hebben gelopen. Benschop werd daarheen gezonden met de luitenants Prinsen, Van Schendel en Perné met een sergeant en 20 man van het wapen der artillerie en nam in 1859 en 1860 deel aan de Expeditie naar de Zuider- en Oosterafdeling van Borneo; hij ondernam vele tochten door de afdeling en was onder meer controleur tweede klasse aldaar van Pengaron.

Lees verder

/14

 

Petro Ferdinandus (Ferdinand) Vermeulen Krieger (1782Etten, 27 september 1865) was een Nederlands kolonel in het Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger. Vermeulen Krieger verloor al jong zijn ouders, verliet zijn geboorteplaats en kwam door toedoen van een werver in contact met het regiment van kolonel Achenbach, waar hij zijn opvoeding voltooide. Hij werd geplaatst in de koninklijke garde te Den Haag en vertrok met hen naar Wezel. Koning Lodewijk Napoleon Bonaparte aanvaardde het commando over het legercorps en vaardigde een dagorder uit, waarin hij bekend maakte dat aan Pruissen de oorlog was verklaard; Vermeulen Krieger volgde de marsen als korporaal over Kassel, Lippstadt, Hameln enz. Toen de commandant van de Pruissen capituleerde trok de Hollandse garde naar Den Haag terug. Vermeulen Krieger werd in januari 1807 tot sergeant benoemd en overgeplaatst naar Oost-Friesland bij het negende regiment infanterie. Toen koning Gustaaf IV Adolf van Zweden Straalsond bezette en tegen maarschalk Guillaume Brune bleef verdedigen, kreeg ook het negende regiment order om op te rukken en na het sluiten van de vrede weer terug naar Bremen te keren. Nauwelijks daar aangekomen werd het regiment overhaast naar Hamburg gezonden, alwaar een oproer uitgebroken was. Er volgden nog vele gevechten en in 1809 verwierf Vermeulen Krieger voor zijn moedige gedrag een zilveren medaille.

Lees verder

/15

 

Charles Louis Saint Aubin Martin (Charles) de Roy van Zuydewijn (Breda, 8 december 1825 – Aan boord van de SS Holland, 22 augustus 1876) was een Nederlandse generaal, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. De Roy van Zuijdewijn volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd in augustus 1845 benoemd tot tweede luitenant bij het zevende regiment infanterie. Hij nam, in de rang van kapitein en chef van de staf, eerst onder kolonel Andresen en later onder luitenant-kolonel Verspyck, deel aan de expeditie naar Banjermasin, Borneo, in 1859. De Roy van Zuijdewijn, geen bevelen ontvangend en de gelegenheid schoon ziende om uit zijn stelling aan de andere oever de benting met vrucht te beschieten, liet een paar granaten werpen en door enige scherpschutters vuren op de binnenruimte, waar men de verdedigers duidelijk heen en weer zag lopen. Om elf uur bracht een ordonnans van de commandant hem het bevel om op de rechteroever over te gaan, en enkele ogenblikken later kwam een tweede ordonnans hem de last overbrengen om met de meeste spoed het commando der troepen over te nemen. De Roy van Zuijdewijn beval Tibon met de colonne te volgen en ijlde vooruit naar de overkant, maar vond Van Vloten reeds stervend. Bevelen kon hij niet meer geven; hij kon alleen De Roy van Zuijdewijn de hand drukken en stamelen “zeg aan majoor Verspyck, dat ik als een braaf soldaat gevallen ben.”

Lees verder

/16

 

George Frederik Willem Borel (Maastricht, 22 augustus 1837Bad Nauheim, 4 augustus 1907) was een Nederlands generaal, gouverneur van de Koninklijke Militaire Academie, inspecteur van het militair onderwijs, ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse en begiftigd met de eresabel. Borel begon in 1852 zijn carrière als cadet bij de artillerie voor het Nederlands leger aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda en werd per op 14 juli 1857 aangesteld als tweede luitenant bij het tweede regiment vestingartillerie. Hij aanvaardde in 1857 een aanstelling om als officier gedurende 5 jaar gedetacheerd te worden bij de Indische landmacht. Borel werd in 1859 tot eerste luitenant bevorderd en benoemd tot commandant van de artillerie bij de in dat jaar begonnen expeditie naar de Zuider -en Oostafdeling van Borneo. In deze positie werd hij in mei 1859 ingedeeld bij de colonne van majoor Koch op haar tocht ter onderwerping van de districten Tabalong en Balangan, samen met eerste luitenant Verstege. Bij Koninklijk Besluit van 18 februari 1861 werd hij benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde. Op zijn verzoek werd aan Borel toegestaan op 30 april 1863 naar Nederland terug te keren, waar hij bij aankomst geplaatst werd bij het Derde Regiment Vesting-artillerie en in 1868 werd bevorderd tot kapitein.

Lees verder

/17

 

Gotfried Coenraad Ernst (Frits) van Daalen (Makassar, 23 maart 1863Den Haag, 22 februari 1930) was een Nederlands generaal, commandant van het Nederlands Indisch leger en militair en civiel gouverneur van Atjeh. Van Daalen, zoon van kapitein van Daalen en achterneef van kolonel van Daalen, volgde de Koninklijke Militaire Academie vanaf 6 september 1879 als cadet en werd, in 1883, benoemd tot tweede luitenant bij het wapen der artillerie. In november 1884 vertrok hij naar Oost-Indië, waar hij op Java diende. Van Daalen werd in 1888 bevorderd tot eerste luitenant en overgeplaatst naar Atjeh, waar de zaken er intussen niet op vooruit gingen en het gouvernement tot de concentratie van de Nederlandse stelling, hoofdzakelijk ter bezuiniging, was overgegaan, maar op een manier die geen verkeerde indruk zou maken op de oorlogspartij en de goedgezinden niet aan hun lot overliet.

Lees verder

/18

 

Eduard Willem Bischoff van Heemskerck (Palembang, 6 juni 1850Den Haag, 26 februari 1934) was een Nederlandse kolonel der infanterie van het Nederlands-Indische leger, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde, bezitter van de Eresabel. Bischoff van Heemskerck volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd op 18 juli 1870 benoemd tot tweede luitenant der infanterie voor het leger in Indië. Hij voer op 29 augustus 1871 met de Zuid-Holland Hellevoetsluis uit, kwam op 5 december 1871 te Batavia aan en werd geplaatst bij het zevende bataljon.

Lees verder

/19

 

Petrus Lodewijk Albertus Collard (Delft, 8 mei 1853 -Nijmegen, 9 oktober 1936) was een Nederlands majoor, ridder in de Militaire Willems-Orde. Collard trad op 29 oktober 1870 in militaire dienst bij het Instructiebataljon in Kampen en werd op 10 juli 1875 benoemd tot tweede luitenant bij het achtste regiment infanterie maar al in 1877 ging hij over naar het Nederlands-Indische leger en werd bij het elfde bataljon geplaatst.

Lees verder

/20

 

Johannes Cornelis Lindgreen (1855Sassenheim, 1 februari 1923) was een Nederlands luitenant-kolonel, onder meer officier in de Militaire Willems-Orde. Lindgreen volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd op 1 juli 1876 benoemd tot tweede luitenant der infanterie voor het Indische leger; in deze rang vertrok hij op 30 september 1876 per Stad Amsterdam naar Java; de troepenmacht (105 militairen) die mee werd gevoerd stond onder leiding van kapitein van het Oost-Indische leger A.W.H. Perelaer en werd verder begeleid door Lindgreen, eerste luitenant C.C.H. Smit en de tweede luitenants A.J.F.J. van den Bergh en J.P.P. Graafland.

Lees verder

/21

 

Johannes (Jan) van Swieten (Mainz, 28 mei 1807Den Haag, 9 september 1888) was een Nederlands generaal, politicus en publicist, onder meer commandant van het Nederlands-Indisch leger. Van Swieten, zoon van kolonel van de Generale Staf Johannes van Swieten, trad op 10 april 1821 als volontair in militaire dienst bij de zeventiende afdeling infanterie van het Nederlandse leger en werd aangesteld als cadet (23 april 1822). Op 26 augustus 1824 werd hij benoemd tot tweede luitenant bij de zeventiende afdeling infanterie. Toen Diepo Negoro Java in opstand had gebracht en prins Frederik der Nederlanden als Commissaris-Generaal van Oorlog aan zijn vader, Koning Willem I, had voorgesteld om een expeditionaire afdeling naar Oost-Indië te zenden, werd Van Swieten daarbij geplaatst (26 november 1826). Op 18 januari daarop volgend vertrok hij uit Middelburg met het koopvaardijschip Middelburg en kwam op 4 juni 1827 aan. Hij nam deel aan de veldtochten van 1827, 1828 en 1829 en wist zich zo gunstig te onderscheiden, dat hij al op 22 november 1828 werd benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde; later verkreeg hij ook de Java-medaille (24 februari 1832).

Lees verder

/22

 

Frederik Johannes Sorg (Borculo, 10 april 1810Pontianak, 25 oktober 1850) was een Nederlands luitenant-kolonel van het Indische leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Sorg ging naar kostschool en trad op 20 maart 1824 als cadet in dienst bij de zevende Afdeling Infanterie, waar hij, na tot sergeant te zijn bevorderd, op de 21 juli 1828 werd benoemd tot tweede luitenant. Tijdens de Belgische opstand nam Sorg deel aan de krijgsverrichtingen van het mobiele leger; de derde september 1831 werd hij bevorderd tot eerste luitenant bij de 12de Afdeling Infanterie, alwaar hij tot 1837 diende. Bij Koninklijk Besluit van 13 maart 1837 nr. 67 werd hij overgeplaatst naar het Indische leger en met het schip Prins van Oranje naar Nederlands-Indië gezonden, waar hij na een reis van 3 maanden en 17 dagen te Padang ontscheepte. Op 28 januari 1838 werd hij bevorderd tot kapitein der infanterie en nam in die rang deel aan de krijgsverrichtingen op de westkust van Sumatra. Hij ontving een eervolle vermelding en werd benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse (Koninklijk Besluit van 19 maart 1841, nummer 91). Sorg nam nu deel aan de militaire campagne om de onlusten aan de westkust van Sumatra in de eerste twee maanden van 1841 te bestrijden en werd hiervoor eervol vermeld bij dagorder (besluit Z.M. van 24 februari 1842 nr. 76).

Lees verder

/23

 

Thomas Edouard Roqué (Amsterdam, 1809Terwolde, 3 april 1875) was een Nederlands luitenant-kolonel van het Indische leger, officier in de Militaire Willems-Orde. Roqué werd op 22 augustus 1831 benoemd tot eerste luitenant bij de vijfde afdeling infanterie van het eerste bataljon jagers en op 4 mei 1838 bevorderd tot kapitein. Hij werd bij Koninklijk Besluit van 12 februari 1841 nummer 144 benoemd tot ridder in de Militaire Willemsorde vierde klasse voor zijn verrichtingen op Sumatra en op 30 september 1845 benoemd tot luitenant-kolonel bij het veertiende bataljon (vanaf de vierde afdeling depôt); Roqué nam in 1849 deel aan de derde expeditie naar Bali (bij het vijfde bataljon infanterie).

Lees verder

/24

 

Frans Petrus Cavaljé (1829Breda, 18 mei 1901) was een Nederlands kolonel, commandant van het destijds beroemde derde bataljon infanterie van het Nederlands Indische leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Cavaljé werd op 21 april 1853 benoemd tot tweede luitenant der infanterie bij het Indische leger, op 18 mei 1857 bevorderd tot eerste luitenant, op 14 augustus 1862 benoemd tot kapitein, op 23 juli 1872 tot majoor en op 13 februari 1875 tot luitenant-kolonel bevorderd. Hij verwierf door zijn flinke gedrag in de rang van kapitein op 7 maart 1863 voor de Zuid- en Oosterafdeling van Borneo de Militaire Willems-Orde. In 1873 was hij majoor en commandant van het derde bataljon infanterie. Dit bataljon, bestaande uit Nederlanders en Ambonezen, was bij de drie bestormingen van de Mesigit (in april 1873 en januari 1874) tijdens de eerste expeditie naar Atjeh en de tweede expeditie aanwezig. Als bewijs voor het dappere gedrag van deze militairen draagt het derde bataljon de Militaire Willems-Orde als vaandecoratie aan zijn oranje-vaandel, een eer die het met het zevende bataljon deelde.

Lees verder

/25

 

Johannes Frederik Laurens Cassa (Paramaribo, 9 februari 1844Atjeh, 1 juli 1878) was een Nederlands kapitein der artillerie van het Nederlands-Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Cassa werd op 17 augustus 1859 benoemd tot cadet aan de Koninklijke Militaire Academie voor het wapen der artillerie in Oost-Indië. Hij werd bevorderd tot cadet-korporaal op 28 januari 1863. Op 18 juni 1863 werd hij benoemd tot tweede luitenant en vertrok op 16 november van dat jaar met de Rotterdam naar Batavia; hij werd op 6 mei 1869 bevorderd tot eerste luitenant en nam in deze rang deel aan de expeditie naar Bali in 1868. Op 23 oktober debarkeerde ‘s morgens de marine-landingsdivisie onder commando van luitenant ter zee eerste klasse D. Schuurman, sterk 170 man en 6 officieren plus twee marineveldhouwitsers.

Lees verder

/26

 

Joost Hendrik Romswinckel (Den Haag, 24 september 1832Wiesbaden, 30 november 1908) was een Nederlandse luitenant-generaal in het Nederlands Indische leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Romswinckel, zoon van Abraham François Jean Romswinckel en Anna Maria Canneman, begon zijn loopbaan bij het Indische leger op 21-jarige leeftijd als sergeant. Hij werd in 1855 benoemd tot tweede luitenant en maakt in 1859 (in 1855 tot eerste luitenant benoemd) de expeditie naar Boni mee. Boni, met het onderhorige rijk Lamoeroe, was een inlandse staat op het eiland Celebes en stond onder de bescherming van het Nederlandse gouvernement. Maar omdat men daar de Nederlandse vlag beledigde (de vlag omgekeerd hing), de inlandse hoofden tegen het Nederlandse gezag werden opgezet en inlandse soldaten tot desertie werden aangezet werd een expeditie naar Boni uitgevaardigd onder leiding van generaal van Swieten. Romswinckel werd voor zijn aandeel in deze expeditie tot ridder der vierde klasse in de Militaire Willems-Orde benoemd. Daarna nam hij (in 1861) nog deel aan de expeditie in de Zuider en Oosterafdeling van Borneo, waarvoor hij de gesp 1859-63 verkreeg.

Lees verder

/27

 

Jonkheer Paul Auguste Alting von Geusau (Maastricht, 21 februari 1867Lombok, 26 augustus, 1894) was een Nederlands officier in het Indische leger en publicist. Alting von Geusau volgde het gymnasium in Amsterdam, waar zijn vader toen als kolonel der artillerie in garnizoen was. Hij maakte het gymnasium niet af maar ging over naar de cursus in Kampen om een militaire loopbaan te volgen. Hij nam dienst in het Nederlands Indische leger en werd als commandant van de derde sectie Madoerezen, tijdens de Lombok-expeditie op 26 augustus 1894 dodelijk gewond. Eerst werd hij door een schot in zijn dij getroffen, en terwijl hij zijn slagader aan het opbinden was opnieuw geraakt, ditmaal door een kogel in zijn borst. In de tijd dat Alting von Geusau in Kampen verbleef publiceerde hij zijn eerste gedicht: Gevallen (dat handelde over de dood op het veld van eer, met als laatste zin: Gevallen – zijn roeping vervuld). Later, tijdens zijn militaire loopbaan, bleef hij onder zijn pseudoniem Fabian de Indische warongpraatjes schrijven voor Het Weekblad.

Lees verder

/28

 

François baron van Aerssen Beijeren van Voshol (Deventer, 20 juni 1832Nijmegen, 16 februari 1906) was een Nederlands kolonel, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde. Van Aerssen Beijeren van Voshol, vader van François Cornelis van Aerssen Beijeren van Voshol, werd opgeleid aan de Koninklijke Militaire Academie en op 8 juli 1852 benoemd tot tweede luitenant, waarna hij vele jaren diende bij het regiment Grenadiers en Jagers. Hij schreef in deze tijd onder meer verschillende rapporten over de verdediging van de stad Haarlem tegen een vijandelijke aanval vanuit Amsterdam en het noorden van Holland en de verdediging van het vasteland tegen een vijandelijke invasie op de kust bij Terheijde. In 1873 werd hij voor twee jaar gedetacheerd bij het leger in Oost-Indië, waar hij deelnam aan de eerste- en tweede expeditie naar Atjeh (bij de tweede als commandant van het rechterhalf negende bataljon).

Lees verder

/29

 

Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens (Amboina, 13 april 1868 – Segli, (Atjeh), 17 oktober 1913) was een Nederlandse luitenant-kolonel, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde, begiftigd met de Eresabel. Scheepens werd geboren te Amboina op 13 april 1868 als zoon van Wilhelmus Lodewicus Johannes Scheepens en Hubertha Cornelia Elzabina Roskott. Hij volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd in 1889 benoemd tot tweede luitenant der infanterie; Scheepens bracht vrijwel zijn gehele militaire dienst door bij de marechaussees te Atjeh; in 1896 werd hij zwaar gewond, maar herstelde toen geheel. Hij verkreeg voor zijn verrichtingen in Atjeh in 1897, in de rang van eerste luitenant, de Militaire Willems-Orde vierde klasse (Koninklijk Besluit van 11 mei 1898, nr. 34) en bij Koninklijk Besluit van 30 maart 1903 werd aan hem voor zijn verrichtingen te Atjeh in 1902 de Eresabel toegekend.

Lees verder

/30

 

Huibert Quispel (Dordrecht, 29 maart 1841Den Haag, 22 november 1921) was een Nederlands viceadmiraal, onder meer officier in de Militaire Willems-Orde. Quispel ontving op 16 september 1859 zijn benoeming tot adelborst eerste klasse, doorliep vervolgens de verschillende rangen, werd op 1 november 1896 benoemd tot schout-bij-nacht en op 31 augustus 1899 tot viceadmiraal, waarna hij op 1 november van datzelfde jaar de militaire dienst verliet. Gedurende zijn loopbaan was Quispel achtereenvolgens op bodems als officier geplaatst en maakte hij vele reizen, ook binnen de keerkringen mee, op welke reizen hij zich bij expedities herhaaldelijk onderscheidde. Als luitenant-ter-zee 2de klasse werd hij bij Koninklijk Besluit van 23 april 1870 nummer 21 benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde wegens bijzondere krijgsverrichtingen te St. George d’Elmina (kust van Guinea) in de maanden november en december van 1869 en januari 1870.

Lees verder

/31

 

‘Theodoor Johan Arnold van Zijll de Jong (Velp, 31 maart 1836Den Haag, 28 mei 1917) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse en drager van de eresabel. Van Zijll de Jong volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd in 1855 benoemd tot tweede luitenant der artillerie in Oost Indië. Hij werd tot eerste luitenant benoemd in 1858 en tewerk gesteld bij de Generale Staf in 1861. In 1865 werd hij tot kapitein benoemd; nadat hij in 1868 van verlof wegens gezondheidsredenen uit Nederland in Indië was teruggekeerd, nam hij een werkzaam aandeel aan de krijgsverrichtingen op Bali, alwaar hij als commandant optrad van de expeditionaire artillerie bij de inname van de vijandelijke versterkte kampongs en het verslaan van Ida Madeh Raki’s benden op 24 oktober van dat jaar, bij welke gelegenheid hij volgens de officiële dienaangaande afgelegde verklaringen gedurende het gehele gevecht zich bevond bij die gedeelten der batterij, die het meest in de onmiddellijke nabijheid van en als het ware omringd door de vijand, ook het meest aan diens vuur en steenworpen waren blootgesteld. Hij moest steeds, door vastberaden handelingen en moed aan zijn ondergeschikten een zodanig voorbeeld geven, dat niemand eraan dacht zich in zulk dreigend gevaar te bevinden. De persoonlijke hoofdaanvoering van Van Zijll de Jong had de algemene nederlaag tot gevolg.

Lees verder

/32

 

Jean François Backerus (Antwerpen, 1819Arnhem, 8 april 1880) was een Nederlands majoor der infanterie van het Nederlands-Indische leger, officier in de Militaire Willems-Orde vierde klasse. Backerus werd in de rang van sergeant-majoor bij Koninklijk Besluit van van 6 december 1846 nummer 4 eervol vermeld voor zijn verrichtingen tijdens de eerste expeditie naar Bali ter gelegenheid van de expeditie tegen de vorsten van Beliling en Karang Asem op het eiland Bali op de 28ste en 29ste juni 1846. Hij werd op 28 juli 1848 van het veertiende bataljon benoemd tot tweede luitenant bij het eerste bataljon. Backerus werd bevorderd tot eerste luitenant en nam in die rang deel aan de expedities naar de Palembangse Bovenlanden in 1851 en 1852; hij werd voor zijn verrichtingen aldaar bij Koninklijk Besluit van 15 december 1852 nummer 42 benoemd tot ridder in de Militaire Willemsorde vierde klasse. Hij werd op 18 mei 1853 overgeplaatst van het tweede naar het eerste batajon infanterie, later geplaatst bij het garnizoensbataljon te Palembang en op 22 september 1857 overgeplaatst bij het dertiende bataljon.

Lees verder

/33

 

Gerardus Johannes Berenschot (Solok, 24 juli 1887Batavia, 13 oktober 1941), was een Nederlandse luitenant-generaal en commandant van het Nederlands-Indische leger. Berenschot werd geboren op Sumatra als zoon van de Indisch legerofficier Gerrit Hendrik Berenschot, die getrouwd was met Florence Mildred Rappa (dochter van George Rappa jr. en Charlotte Adriana Meyer). Hij werd op zijn vijftiende jaar naar Nederland gezonden voor zijn opleiding en volgde, na de HBS te Winterswijk, de Cadettenschool te Alkmaar en daarna de Koninklijke Militaire Academie te Breda. Op 19 juli 1907 volgde zijn benoeming tot tweede luitenant en ruim een jaar later keerde hij terug naar Nederlands-Indië. Zijn eerste plaatsing was op Java en daarna was hij actief op Atjeh (1910-1915) waar hij de laatste jaren van de daar sinds 1873 woedende Atjehoorlog meemaakte als lid van het Korps Marechaussee. Berenschot werd in 1919 naar Nederland gezonden voor het volgen van de cursus aan de Hogere Krijgsschool. Hier bleken zijn kwaliteiten opnieuw en na van 1922 tot 1925 weer in Nederlands-Indië gediend te hebben, keerde hij terug naar Nederland, waar hij geplaatst werd als leraar in de tactiek aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda.

Lees verder

/34

 

Huibert Gerard Boumeester (Bantam, 17 september 1831‘s-Gravenhage, 6 januari 1894) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Boumeester werd op 8 juli 1851 benoemd tot tweede luitenant, doorliep achtereenvolgens de verschillende subalterne rangen en werd op 6 mei 1869 benoemd tot majoor, tevens directeur van de constructiewinkel, in welke betrekking hij ook als luitenant-kolonel werkzaam bleef. In 1870 werd hem als zodanig verlof verleend en in 1874 vertrok hij met verlof naar Nederland, van waar hij in 1876 terugkeerde naar Indië. Na korte tijd op non-activiteit geweest te zijn, werd hij benoemd tot commandant der veld- en bergartillerie op Java en op 16 januari 1878 benoemd tot kolonel, chef van het wapen der artillerie. In datzelfde jaar (29 juni) werd hij benoemd tot chef van de Generale Staf. Op 26 september 1878 volgde zijn benoeming tot generaal-majoor en de 30ste oktober van dat jaar werd hem het commando opgedragen over de tweede militaire afdeling op Java.

Lees verder

/35

 

Adriaan Zijlmans (Segli (Sumatra), 19 mei 1914Wassenaar, 8 augustus 1992) was een Nederlands luitenant-kolonel, ridder in de Militaire Willems-Orde. Zijlmans werd op 4 augustus 1935 benoemd tot tweede luitenant, op 4 augustus 1938 bevorderd tot eerste luitenant van het Nederlands-Indisch leger. In 1942 was hij gelegerd aan de westkust van Sumatra als commandant van het detachement (vier brigades) van de marechaussee te Koeala Bhee. Naast zijn militaire functie was hij als schakelofficier belast met het civiele bestuur; deze taak was hem mede opgedragen door zijn kennis van de Atjehnese taal en cultuur. Het aantal eenheden op Sumatra was al vanaf 8 december 1941, dus na de oorlogsverklaring van Japan, sterk teruggebracht ten gunste van versterking op Java. Op 15 februari 1942 viel Malakka en trokken de Japanners door naar Palembang en Java.

Lees verder

/36

 

Gustaaf Eugenius Victor Lambert van Zuylen (‘s-Hertogenbosch, 1837Den Haag, augustus 1905) was een Nederlands kolonel der genie van het Nederlands-Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Van Zuylen volgde de Koninklijke Militaire Academie, werd op 28 juli 1857 benoemd tot tweede luitenant en vertrok op de 27ste augustus van dat jaar met een regiment suppletietroepen, onder commando van kapitein der Oost-Indische infanterie E. Pauw, met de Agneta van Nieuwediep naar Indië. Hij werd bij het wapen der genie en sappeurs op Java op 20 september 1859 bevorderd tot eerste luitenant. Hij nam in 1863 deel aan de tweede expeditie naar Nias en werd voor zijn verrichtingen aldaar bij Koninklijk Besluit van 18 november 1864 nummer 75 eervol vermeld. Hij werd op 27 januari 1866 bevorderd tot kapitein bij het korps der genie en sappeurs en verkreeg op 28 april van dat jaar een tweejarig verlof naar Nederland wegens ziekte, waar hij in augustus aankwam.

Lees verder

/37

 

Simon Hendrik Spoor (Amsterdam, 12 januari 1902Batavia, 25 mei 1949) was een Nederlands generaal en commandant van het Nederlands-Indische leger. Spoor werd in 1923 benoemd tot tweede luitenant en vervolgde zijn loopbaan in het Indische leger. Hij bracht twee maal langere tijd in Nederland door; eerst om de Hogere Krijgsschool te doorlopen en vervolgens werd hij aangesteld als leraar aan de Koninklijke Militaire Academie in Breda. Spoor was in de rang van kapitein verbonden aan de generale staf in Nederlands-Indië toen deze Nederlandse kolonie bij de Tweede Wereldoorlog betrokken raakte en door Japan op 10 januari 1942 werd aangevallen. Spoor ontsnapte ternauwernood samen met collega kapitein Reinderhoff, eveneens bij de generale staf, in het laatste vliegtuig van het vliegveld Andir in de nacht van 8 op 9 maart 1942, terwijl de Japanse strijdkrachten het vliegveld reeds waren genaderd en de overgave van Nederlands-Indië vlak erna zou worden getekend.

Lees verder

/38

 

George Felix Bernard Watrin (Padang, 8 november 1869Den Haag, 2 augustus 1935) was een Nederlands majoor, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde en bezitter van de Eresabel. Watrin nam in 1887 dienst bij het Instructiebataljon te Kampen en werd op 29 september 1896 benoemd tot tweede luitenant der infanterie van het Nederlands-Indische leger. Hij werd op 27 maart 1897 geplaatst bij het eerste depot-bataljon en in 1898 overgeplaatst bij het garnizoensbataljon van Sumatra‘s oostkust, op 27 mei 1899 bevorderd tot eerste luitenant en op 30 november 1900 overgeplaatst bij het veertiende bataljon. Watrin kwam toen te Atjeh waar hij alle krijgsbedrijven zou meemaken en dat hij in zestien jaar niet anders zou verlaten dan om na dertien jaar onafgebroken dienst, waarvan negen doorlopend te velde, met verlof naar Europa te gaan. Hij verwierf al dadelijk, in 1901, twee eervolle vermeldingen: een op 26 februari 1902 als hebbende zich onderscheiden bij de krijgsverrichtingen in Atjeh gedurende het eerste halfjaar van 1901 en een op 31 juli 1902 als hebbende zich onderscheiden gedurende het tweede semester en meer in het bijzonder in Pidië gedurende de maanden mei en juni 1901.

Lees verder

/39

 

Cornelis Jacobus Snijders (Nieuwe-Tonge, 29 september 1852Hilversum, 26 mei 1939) was een Nederlands luitenant-generaal. mei en juni 1901. Na de HBS in Middelburg begon Snijders met de genie-opleiding aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda. In 1873 ging hij als officier mee met de tweede Atjeh-expeditie van het KNIL. Bij thuiskomst in 1875 werd hij benoemd tot Ridder 4e klasse der Militaire Willems-Orde. In Nederland was hij daarna weer actief binnen de genie, om in 1906 tot kolonel gepromoveerd te worden. Tijdens de Eerste Wereldoorlog was hij Opperbevelhebber van de Nederlandse Land- en Zeemacht. De opstelling van Snijders omtrent mogelijke zand- en grindtransporten vanuit Duitsland naar België over Nederlands grondgebied veroorzaakte toentertijd haast een kabinetscrisis in het neutrale Nederland. Aan het einde van de oorlog was hij nog haast aanleiding van een constitutionele crisis; het Kabinet-Cort van der Linden wilde Snijders ontslaan wegens defaitisme, maar Koningin Wilhelmina weigerde het ontslag te bekrachtigen. In de situatie die toen ontstond, werd er een poging gedaan tot een socialistische revolutie, bekend onder de naam Vergissing van Troelstra.

Lees verder

/40

 

Frans Jan Kroesen (Padang, 27 februari 1870Leiden, 20 februari 1950) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indische leger en chef van het kabinet van Oorlog, onder meer commandeur in de Orde van Oranje Nassau. Kroesen werd op 15-jarige leeftijd aangenomen als cadet bij de Koninklijke Militaire Academie te Breda, om vier jaar later, op 25 juli 1889, tot tweede luitenant bij het Nederlands-indische leger, bij het wapen der infanterie te worden benoemd. Hij reisde met het stoomschip Soerabaja naar Indië en werd allereerst geplaatst bij het tiende bataljon, om al spoedig bij de marechaussee over te gaan, op Atjeh. Na op 19 augustus 1893 bevorderd te zijn tot eerste luitenant ging hij in 1896 van Atjeh weg en trad op als adjudant van de commandant der infanterie te Magelang. Het jaar daarop vertrok hij per Franse mailboot naar Europa om in Nederland de studies aan de Hogere Krijgsschool te volgen, om vervolgens, begin 1901, met de stomer Koning Willem II naar Indië terug te keren.

Lees verder

/41

 

George Frank Victor Gosenson (Banjermasin, 26 mei 1888geëxecuteerd te Tg. Gadai (Nederlands-Indië), 9 januari 1945) was een Nederlands kolonel en Indisch verzetsstrijder, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde. Gosenson werd in mei 1908 aan de Koninklijke Militaire Academie benoemd tot cadet in de rang van cadet-sergeant. Hij kwam, in de rang van tweede luitenant, in december 1909 aan in Nederlands Indië en werd geplaatst bij het zevende bataljon. Hij werd in mei 1911 in dezelfde rang naar de troepenmacht te Atjeh gezonden en ingedeeld bij het derde bataljon. Gosenson werd op 19 augustus 1912 bevorderd tot eerste luitenant en geplaatst bij het eerste garnizoensbataljon corpsgedeelte te Roeala Beë (Ajeh). In april 1912 werd in de Alas-landen door een patrouille onder leiding van Gosenson het geestelijke verzetshoofd Goeroe Kramat en een volgeling gevangen genomen. Een karabijn, munitie en blanke wapens werden in beslag genomen.

Lees verder

/42

 

Dr. Leonard Christiaan August Rombach (1837Den Haag, 20 maart 1906) was een Nederlands kolonel van de geneeskundige dienst, ridder in de Militaire Willems-Orde en in de Orde van de Nederlandse Leeuw. Rombach volgde de Rijkskweekschool voor Militaire Geneeskundigen, werd bij Koninklijk Besluit van 2 augustus 1858 nummer 74 benoemd tot officier van gezondheid der derde klasse en aangesteld bij het personeel van de geneeskundige dienst in Indië. Hij vertrok in november van dat jaar daarheen met de Jannetje, samen met een detachement suppletietroepen van 125 man, begeleid door de officieren kapitein P.F.E.F. Saueressig en de tweede luitenants A.C.H. Winter en J. Kat. Hij werd op 14 juli 1859 geplaatst bij het groot militair hospitaal te Weltevreden en in september van datzelfde jaar overgeplaatst naar het groot militair hospitaal te Soerabaja.

Lees verder

/43

 

Murk Boerstra (Sneek, 29 november 1883Den Haag, 9 mei 1953) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indische leger, onder meer commandeur in de Orde van de Nederlandse Leeuw. Boerstra werd op 22 juli 1904 benoemd tot tweede luitenant der artillerie van het leger in Oost Indië, waar hij aan diverse krijgsverrichtingen deelnam. In 1906 werd hij bevorderd tot eerste luitenant en in 1910 keerde hij naar Nederland terug, waar hij aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda als leraar optrad. Enige jaren later werd hij aan de hogere krijgsschool in Den Haag toegelaten, waar hij zijn studies voortzette. In 1919 keerde hij naar Nederlands-Indië terug, waar hij opklom (tot kapitein in 1918, tot majoor in 1926, tot luitenant-kolonel in 1928 en tot kolonel in 1931) tot de rang van generaal-majoor (1932), chef van de generale staf van het Nederlands-Indische leger. Gedurende zijn loopbaan was Boerstra onder meer als militair attaché verbonden aan de gezantschappen te Tokio en te Peking, zodat hij een grondige kennis opdeed van de verhoudingen in het Verre Oosten. Boerstra maakte, gedurende zijn verlof in Nederland, deel uit van verschillende commissies inzake de verdediging van Nederlands-Indië.

Lees verder

/44

 

Jonkheer Vincent Maximiliaan de Brauw (Middelburg, 19 maart 1815Den Haag, 21 februari 1893) was een Nederlands kolonel, ridder in de Militaire Willems-Orde.De Brauw trad op 21-jarige leeftijd in dienst bij de vijfde afdeling infanterie van het Nederlandse leger. Hij werd benoemd tot sergeant, in september 1836 bevorderd tot tweede luitenant en bij Koninklijk Besluit van september 1839 in rang en anciënniteit bij het wapen der infanterie van het Nederlands-Indische leger overgeplaatst; De Brauw vertrok in december 1839 naar Hellevoetsluis met een detachement van 140 onderofficieren en manschappen om daar op het schip Schoonverbond naar Indië te embarkeren en naar Java te worden overgebracht. Hij werd aldaar aangekomen in zijn rang en anciënniteit overgeplaatst naar de vijfde afdeling.

Lees verder

/45

 

Karel Felix Eduard Gerth van Wijk (Magelang, 15 april 1870 – Den Haag, 7 januari 1935) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indische leger en adjudant in buitengewone dienst van de Koningin, officier in de Orde van Oranje Nassau en ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw. Gerth van Wijk werd, na de HBS te Haarlem gevolgd te hebben, op 30 augustus 1887 geplaatst als cadet der infanterie aan de Koninklijke Militaire Academie; hij keerde op 14 mei 1892 terug naar Indië, aan boord van de Ardjoeno, als tweede luitenant (benoemd op 30 augustus 1891). Op 29 november 1894 volgde zijn promotie tot eerste luitenant en werd hij geplaatst te Magelang; in deze jaren diende hij bij het 10de, 9de en het 15de bataljon. Na het verraad van Teukoe Oemar volgden er diverse militaire acties, onder andere geleid door generaal Vetter, die naar Atjeh was gezonden door gouverneur-generaal van der Wijck. In de maanden maart tot en met november 1896 kwam Gerth van Wijck in actie bij diverse expedities tegen Toekoe Oemar en zijn volgelingen.

Lees verder

/46

 

Michael Théophile Hubert Perelaer (Maastricht, 4 augustus 1831Den Haag, 2 januari 1901) was een Nederlands majoor en schrijver, ridder in de Militaire Willems-Orde. Perelaer kreeg zijn opleiding te Rolduc en te Rome om tot priester te worden opgeleid maar meldde zich in 1854 aan bij het werfdepot te Harderwijk en vertrok het jaar daarop naar Nederlands-Indië om dienst te nemen in het Indische leger. Hij werd in 1858 benoemd tot tweede luitenant en nam in die rang deel aan de expeditie naar de Zuider- en Oosterafdeling van Borneo. In de nacht van de 18de op de 19de oktober 1860 rukte een colonne, bestaande uit 100 bajonetten, een houwitser, een handmortier met bediening en een detachement sappeurs, onder bevel van kapitein van Ooijen, van Martapoera op, om over Mataram tegen Tjinra-Poeri te ageren, waar zich enige muitelingen hadden verzameld.

Lees verder

/47

 

Hermanus Leonardus La Lau (Haarlem, 4 april 1876Meester Cornelis, 16 mei 1945) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indisch leger, onder meer ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw. La Lau bezocht vanaf 1893 de cadettenschool in Alkmaar en vanaf 1895 de Koninklijke Militaire Academie, als bestemd voor de infanterie in Nederlands-Indië. Hij werd in 1898 benoemd tot tweede luitenant, geplaatst te Padang, in 1900 bevorderd tot eerste luitenant en nam in die rang deel aan de krijgsverrichtingen te Djambi. In 1903 vertrok La Lau naar Atjeh, waar hij optrad als adjudant. In 1907 vertrok hij weer naar Nederland om daar aan de Hogere Krijgsschool een cursus te volgen; hij keerde in 1910 naar Nederlands-Indië terug, waar hij korte tijd gedetacheerd werd bij de topografische dienst. In 1911 volgde zijn benoeming tot kapitein, en na enige tijd doorgebracht te hebben op Timor werd hij gedetacheerd bij de generale staf.

Lees verder

/48

 

Frans van Haaften (Utrecht, 1 mei 1837Den Haag, 27 november 1901) was een Nederlands kolonel der infanterie van het Nederlands-Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse, begiftigd met de Eresabel.Van Haaften meldde zich op 31 januari 1853 aan bij het Instructiebataljon te Kampen, werd op 1 juni van dat jaar overgeplaatst naar het Koloniaal Werfdepot en benoemd tot korporaal (titulair op 25 juni) op 26 juni 1854. Hij werd tot sergeant benoemd op 6 februari 1855, embarkeerde op 25 jui 1855 te Nieuwediep aan boord van het schip Triton en debarkeerde op 1 november 1855 te Batavia, waar hij werd ingedeeld bij het zesde bataljon infanterie; dit bataljon werd op 1 november 1856 bij de reorganisatie omgevormd tot het vijftiende.

Lees verder

/49

 

Jhr. Gustave Marie Verspyck (Gent, 19 februari 1822Den Haag, 7 mei 1909) was een Nederlandse luitenant-generaal titulair, onder meer commandeur in de Militaire Willems-Orde en drager van het Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau. Verspyck werd in 1842, na zijn militaire opleiding aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda, als tweede luitenant geplaatst bij het vijfde regiment infanterie. In 1846 vertrok hij met de Amboina vanuit Hellevoetsluis naar Nederlands-Indië om aldaar dienst te gaan doen bij de infanterie en werd in 1852 benoemd tot kapitein. In 1854 nam hij deel aan de expeditie naar Montrado en in 1859 werd Verspyck, dan majoor bij keuze, als opperbevelhebber naar Bandjermasin gezonden, om daar kolonel Andresen te vervangen, die – in de ogen van het gouvernement – niet aan de verwachtigen had voldaan.

Lees verder

/50

 

Jean Henri Idisbald le Cocq d’Armandville (Maastricht, 15 januari 1873Brussel, 21 februari 1942) was een Nederlands generaal-majoor, ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse. Le Cocq d’Armanville volgde de officiersopleiding aan de Koninklijke Militaire Academie en werd op 24 juli 1893 benoemd tot tweede luitenant der infanterie. Op 23 oktober 1893 nam hij dienst in het Nederlands-Indische leger en werd op 23 maart 1897 bevorderd tot eerste luitenant. Hij werd bij Koninklijk Besluit van 28 september 1899 nummer 93 benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse voor zijn verrichtingen aan de noord- en oostkust van Atjeh gedurende het tijdvak van 1 juni tot en met 25 oktober 1898.

Lees verder

/51

 

Karel Willem Frederik Marie Doorman (Utrecht, 23 april 1889Javazee, 28 februari 1942) was een Nederlands Schout-bij-nacht. De Engelse naam voor zijn rang is Rear Admiral, en zo raakte hij bij de geallieerden onder zijn bevel, en later in de Engels sprekende wereld, bekend als Admiral Doorman. Doorman kwam om tijdens de Slag in de Javazee. Ter nagedachtenis heeft de Koninklijke Marine tot drie keer toe een schip naar hem genoemd, te weten in 1946, 1948 en 1991.

Lees verder

/52

 

Gerard Leonard (‘Dick’) Reinderhoff (Den Haag, 12 juni 1904 – London, 16 mei 1977) was een Nederlandse militair in de rang van brigadegeneraal bij het wapen van de infanterie. Van 1928 tot 1950 diende hij als officier bij het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) en daarna bij de Koninklijke Landmacht tot 1960. Reinderhoff groeide op in Den Haag, zoon van leraar en later kunstschilder Gerhard Leonard Reinderhoff en Marie Louise Hekker, violiste. Het gezin telde 4 kinderen, waaronder de bekende illustratrice en kunstschilderes Rie Reinderhoff. In 1922 is hij vrijwillig in dienst gegaan bij het KNIL instructie bataljon in Kampen. Daarna volgde hij in 1924 de officiers opleiding bij de Koninklijke Militaire Academie in Breda en is in 1928 aangesteld als tweede luitenant.

Lees verder

/53

 

Hendrik Merkus baron de Kock, (Heusden, 25 mei 1779Den Haag, 12 april 1845) was een Nederlands luitenant-generaal, onder meer gouverneur-generaal van Nederlands-Indië, commandant van het Nederlands Indisch Leger, opperbevelhebber der troepen in Zeeland, Minister van Binnenlandse Zaken, Minister van Staat en Kanselier der Nederlandse Orden; hij was onder meer ridder Grootkruis der Militaire Willems-Orde. De Kock werd op 15-jarige leeftijd, als tweede luitenant, bij generaal Daendels geplaatst, maar ging op 15 oktober 1795 in burgerlijke dienst over als klerk bij het Comité van Openbaar Welzijn; op 1 april 1797 werd hij commies bij het Ministerie van Oorlog te Den Haag, deed als secretaris dienst bij verschillende buitenlandse missies en werd in maart 1801, aanvankelijk als luitenant-ter-zee, secretaris der Bataafse vloot onder vice-admiraal de Winter.

Lees verder

/54

 

Karel Cornelis Bunnik (Delft, 25 oktober 1830Den Haag, 10 januari 1884) was een Nederlandse kapitein-ter-zee, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde, drager van de Gouden Kroon en ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw. Na het overlijden van zijn vader en moeder, in 1834 en 1835 werd Bunnik verder opgevoed door zijn oom, C.A. Bergsma, toenmalig hoogleraar aan de Rijks-hogeschool te Utrecht; in 1846 begon hij aan zijn maritieme opleiding te Medemblik, aan het Koninklijk Instituut voor de Marine, waarna hij op 1 september 1850 werd bevorderd tot adelborst 1ste klasse. Met ingang van 1 januari 1853 werd Bunnik, na diverse kruistochten meegemaakt te hebben op de Ambon, gestationeerd te Timor, bevorderd tot luitenant ter zee 2de klasse.

Lees verder

/55

Cornelis Hendrik van Rietschoten (‘s-Hertogenbosch, 11 februari 1862Den Haag, 16 april 1942) was een Nederlandse Luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indisch leger en onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde. Rietschoten nam op vijftienjarige leeftijd dienst en werd op 9 december 1878 benoemd tot sergeant. Hij kwam in 1882 op de hoofdcursus en werd op 3 december 1884 benoemd tot tweede luitenant der infanterie. Op 9 november 1885 kwam hij in Indië aan en werd geplaatst bij het achtste bataljon, het garnizoensbataljon van Atjeh en Onderhorigheden. Hij werd vervolgens overgeplaatst naar het vijftiende en het zevende bataljon en werd op 15 oktober 1888 benoemd tot eerste luitenant.

Lees verder

/56

 

Wouter Cool (‘s-Gravenhage, 26 mei 1848‘s-Gravenhage, 20 november 1928) was een Nederlands luitenant-generaal, onder meer Minister van Oorlog en lid van de Raad van State. Cool werd geboren te Den Haag, als petekind van zijn vader, hoofdambtenaar aan het Ministerie van Binnenlandse Zaken, uit diens tweede huwelijk met Maria van Coppenaal, weduwe van Pieter Craandijk; hierdoor was hij een halfbroer van dominee J. Craandijk. Gedurende de jeugd van Cool was er sprake van dat hij, evenals ouderen in de familie, doopsgezind predikant zou worden, maar toen hij als jongen de grenadiers en Jagers met muziek en slaande trom voorbij zag gaan, trok hem spoedig de militaire dienst aan. Na de lagere school bezocht hij de afdeling B van het gymnasium, waarvan hij de eerste klas oversloeg, en besloot om militair ingenieur te worden.

Lees verder

/57

 

Frans David Cochius (Valburg, 3 december 1787Rijswijk, 1 mei 1876) was een Nederlands generaal, commandant van het Nederlands Indisch leger. Cochius trad op zeventienjarige leeftijd in militaire dienst als cadet der genie aan de militaire school te Zutphen. Hij werd in 1808 tot luitenant surnumerair der genie en artillerie benoemd. Gedurende de inlijving van de Nederlanden bij Frankrijk, in 1810, werd hij benoemd tot eerste luitenant bij de staf der genie, in 1811 benoemd tot tweede kapitein der sappeurs, in 1812 tot eerste kapitein en nog hetzelfde jaar tot kapitein van de tweede klasse bij de staf der genie bevorderd. In 1812 ontving hij de last zich naar het grote Franse leger te begeven maar hij bereikte het niet.

Lees verder

/58

 

Jhr. Gustave Marie Verspyck (Gent, 19 februari 1822Den Haag, 7 mei 1909) was een Nederlandse luitenant-generaal titulair, onder meer commandeur in de Militaire Willems-Orde en drager van het Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau. Verspyck werd in 1842, na zijn militaire opleiding aan de Koninklijke Militaire Academie te Breda, als tweede luitenant geplaatst bij het vijfde regiment infanterie. In 1846 vertrok hij met de Amboina vanuit Hellevoetsluis naar Nederlands-Indië om aldaar dienst te gaan doen bij de infanterie en werd in 1852 benoemd tot kapitein. In 1854 nam hij deel aan de expeditie naar Montrado en in 1859 werd Verspyck, dan majoor bij keuze, als opperbevelhebber naar Bandjermasin gezonden, om daar kolonel Andresen te vervangen, die – in de ogen van het gouvernement – niet aan de verwachtigen had voldaan.

Lees verder

/59

 

Karel Bernhard (Weimar, 30 mei 1792Bad Liebenstein, 31 juli 1862), hertog van Saksen-Weimar-Eisenach, was een Duits generaal in Nederlandse dienst en onder meer commandant van het Nederlands Indische leger.Van Saksen Weimar nam op veertienjarige leeftijd als vrijwilliger dienst onder generaal Hohenlohe bij de slag bij Jena en, toen zijn vader zich had aangesloten bij het Rijnverbond, trad hij in Saksische dienst en hield zich meestal te Dresden op. Hij nam, in de rang van majoor van de Generale Staf, deel aan de veldtocht van 1809 onder generaal Bernadotte en onderscheidde zich in de Slag bij Wagram.

Lees verder

/60

 

Karel Ferdinand Caspersz (Tanah Abang, 1835Nijmegen, 13 januari 1914) was een Nederlands majoor der genie, ridder in de Militaire Willems-Orde. Caspersz volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd bij Koninklijk Besluit van 22 juli 1855 nummer 77 benoemd tot tweede luitenant bij het corps der genie en sappeurs. Hij vertrok op 14 april 1856 met het schip Rotterdam naar Indië en werd bij het Nederlands-Indische leger ingedeeld; in mei 1858 werd hij bij het wapen der genie en sappeurs bevorderd tot eerste luitenant. Caspersz nam deel aan de expeditie naar de Zuider- en Oosterafdeling van Borneo.

Lees verder

/61

 

Johan Wilhelm Cornelis Vuyk (Serang, 1 maart 1866Atjeh, 31 maart 1896) was een Nederlands eerste luitenant, ridder in de Militaire Willems-Orde. Vuyk trad op 17-jarige leeftijd bij het instructiebataljon te Kampen in dienst, waar hij zijn opleiding tot officier genoot. Hij werd op 16 november 1888 benoemd tot tweede luitenant der infanterie van het Oost-Indische leger en vertrok in 1889 naar Nederlands-Indië, waar hij eerst werd geplaatst te Meester Cornelis en daarna te Atjeh. Hij werd op 30 juni 1893 bevorderd tot eerste luitenant en in 1895, op zijn verzoek, ingedeeld bij het corps marechaussee. Vuyk voerde meerdere malen op belangrijke posten het bevel (onder meer als commandant te Blang, een post in de geconcentreerde linie, in 1894) en nam aan diverse krijgsverrichtingen deel.

Lees verder

/62

 

Jan Louis Doerrleben (Buitenzorg, 5 maart 1871Arnhem, 6 november 1947) was een Nederlands majoor der infanterie van het Nederlands-Indische leger, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde en ridder in de Orde van Oranje Nassau met de Zwaarden. Doerrleben werd op 30 augustus 1888 aangesteld als cadet der infanterie voor het Indische leger bij de Koninklijke Militaire Academie, werd op 7 december 1891 benoemd tot korporaal en op 21 juli 1892 bevorderd tot tweede luitenant. Hij kwam op 28 december 1892 te Batavia aan en werd geplaatst bij het garnizoensbataljon van Amboina. Hij werd op 13 januari 1893 overgeplaatst bij het garnizoensbataljon van Samarang en op 14 oktober 1895 bevorderd tot eerste luitenant. Doerleben werd op 26 september 1897 overgeplaatst bij het korps marechaussee en raakte tijdens de krijgsverrichtingen te Atjeh in december 1898 licht gewond.

Lees verder

/63

 

Adriaan Rudolf Willem Gey van Pittius (Den Haag, 13 augustus 1838 – aldaar, 16 januari 1896) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands Indisch leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde en adjudant in buitengewone dienst van H.M. de Koningin. Gey van Pittius doorliep de Koninklijke Militaire Academie en werd in 1857 benoemd tot tweede luitenant der artillerie in het Indische leger. Hij werd tot eerste luitenant benoemd in 1860 en nam deel aan de expeditie naar de Palembangse Bovenlanden (expeditie naar Lematang en Ule, Palembang) in 1859. Per Koninklijk Besluit van 13 april 1860, nummer 79 werd hij benoemd tot ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse. Gey van Pittius werd bevorderd tot kapitein in 1865 en geplaatst als hoofd der eerste afdeling van het Departement van Oorlog in 1869. In 1870 ging hij over bij de IIde afdeling en werd adjudant van de commandant van het leger in 1873; hij werd overgeplaatst bij de generale staf in 1874.

Lees verder

/64

 

Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege (Ternate (eiland), 4 juli 1836Den Haag, 2 september 1890) was een Nederlands luitenant-kolonel in het Nederlands Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde en publicist. Verstege volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd, vlak na zijn benoeming tot tweede luitenant, in januari 1857, meegezonden als medewerker van een detachement suppletietroepen, die onder bevel van 1ste luitenant Hamakers met de Eline Susanna naar Indië vertrekken zou. De 12de, ’s avonds om 8 uur kwam soldaat Grune de commandant waarschuwen dat er binnen het detachement (17 Nederlanders en niet meer dan 93 vreemdelingen) plannen waren gesmeed en dat een opstand binnen een uur zou uitbreken; de officieren, gezagvoerder en verder allen die zich zouden verzetten zouden vermoord worden; de opstandelingen zouden vervolgens, meester van schip en lading, koers zetten naar de Zuid-Amerikaanse havens. De opstand werd gebroken en in zijn verslag prees de commandant in het bijzonder de ijver en het moedige gedrag van tweede luitenant Verstege; aan hem, onder andere, zo schreef hij, hebben wij, naast God, niet alleen ons leven, maar ook het behoud van schip en lading te danken.

Lees verder

/65

 

Johannes Cornelis Koster (Overschie, 6 februari 1882Den Haag, 7 februari 1963) was een Nederlands luitenant-generaal, commandant van het Nederlands-Indisch leger en onder meer Commandeur in de Orde van Oranje-Nassau. Koster bezocht de Koninklijke Militaire Academie en werd op 22 juli 1902 benoemd tot tweede luitenant. Hij kwam in februari 1903 in Nederlands-Indië aan en werd geplaatst bij het negentiende bataljon. In 1905 verwierf hij wegens zijn gedrag tijdens de krijgsverrichtingen te Ceram een eervolle vermelding, zodat hij het Ereteken voor Belangrijke Krijgsbedrijven met de gesp 1905-1908 met het kroontje mocht dragen. Koster werd op 10 mei 1905 bevorderd tot eerste luitenant en was van 1907 tot 1909 belast met de functie van civiel tevens militair gezaghebber op West-Ceram. Hij volgde van 1911 tot 1914 een studie aan de Hogere Krijgsschool en werd voor een praktische stage gedetacheerd bij het tweede regiment veldartillerie te Den Haag.

Lees verder

/66

 

Albert Harold Rooks Colton, Washington, 29 december 1891Baai van Bantam bij de Javazee, 1 maart 1942) was een Amerikaans marine-officier. Rooks werd op 20 februari 1948 bij Koninklijk Besluit door Koningin Wilhelmina der Nederlanden postuum benoemd tot Ridder in de Militaire Willems-Orde. Rooks had op 28 Februari in de avond met H.M.A.S. Perth de haven van Tandjong Priok verlaten met opdracht te trachten door Straat Soenda, Tjilatjap te bereiken; ter hoogte van de Bantam Baai stootte hij onverwacht op vijandelijke oorlogsschepen, die een landing aldaar beschermden; zich omsingeld ziende, met H.M.A.S. Perth viel hij deze landingsvloot in de baai zelf aan, ten gevolge van welke kloekmoedige actie een viertal grote, voor de Japanse operaties belangrijke schepen tot zinken werden gebracht, waarna beide oorlogsschepen onverschrokken de strijd aanbonden tegen de inmiddels genaderde overmachtige vijandelijke oorlogsvloot, bij welke ongelijke strijd hij, tot het laatst vechtend, met zijn schip en het grootste deel van de bemanning ten onder ging.

Lees verder

/67

 

Bernardus Franciscus Josephus H. le Bron de Vexela (18091872) was een Nederlands kolonel der infanterie van het Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde en bezitter van de eresabel. Le Bron de Vexela werd op 25 augustus 1831 benoemd tot eerste luitenant bij de veertiende afdeling infanterie, op 16 december 1836 in rang en anciënniteit overgeplaatst bij het Indische leger en op 25 november 1838 bevorderd tot kapitein bij het tweede bataljon infanterie, later overgeplaatst bij het zevende. Hij werd op 20 december 1843 bevorderd tot majoor, overgeplaatst naar het veertiende bataljon en op 25 april 1848 bevorderd tot luitenant-kolonel bij het derde bataljon. Le Bron de Vexela werd op 22 november 1848 overgeplaatst bij de vierde afdeling depôt en nam als commandant van het derde en het dertiende bataljon infanterie tijdens de tweede en het zevende bataljon infanterie tijdens de derde deel aan de tweede en derde Bali-expeditie (met onder zijn bevelen onder meer de luitenants Crena en Wollweber).

Lees verder

/68

 

Rudolph Maximiliaan Crommelin (Leiden, 19 april 1908Den Haag, 27 september 1993) was een Nederlands Marine-commandant. Op 8 december 1941 om 5 uur ‘s ochtends hoorde hij dat er oorlog met Japan was. Luitenant-ter-zee A. Kroese was commandant van de Kortenaer, die zich op dat moment in Straat Lombok bevond. Crommelin werd op 16 januari 1942 gepromoveerd tot luitenant ter zee 1ste klasse en werd oudste officier op Hr. Ms. Kortenaer, zes weken voordat die tijdens de Slag in de Javazee werd getorpedeerd. Op 15 februari stond de gehele bemanning (151 man) paraat om de aanval op Java te voorkomen. De Kortenaer beschikte over slechts één ketel en liep maar 25 knopen. Op 27 februari om 16:00 uur begon de Slag in de Javazee. De Kortenaer werd door een torpedo getroffen; het schip kwam omhoog, viel terug, waarna het voorschip omviel. De rest van het schip richtte zich weer op en het schip leek als een knipmes dubbelgevouwen te worden. De zee lag vol stookolie. Crommelin was op tijd de zee ingesprongen. Alles ging zo snel dat er geen reddingssloepen werden gestreken, maar een deel van de bemanning had een reddingsvest aan. Crommelin en de torpedo-officier niet. Veertien vlotten kwamen bovendrijven terwijl de Kortenaer langzaam wegzonk.

Lees verder

/69

 

Jonkheer Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel (Amersfoort, 14 december 1831 – Lontontoeor, 27 december 1859) was een Nederlands luitenant-ter-zee 1ste klasse en ridder in de Militaire Willems-Orde. Von Pestel werd overgenomen als adelborst der tweede klasse van de Koninklijke Militaire Academie door het Koninklijk Instituut voor de Marine te Medemblik op 15 september 1850. Hij werd benoemd tot adelborst der eerste klasse bij de Zeemacht op 23 maart 1851 en benoemd tot luitenant ter zee 2de klasse op 1 mei 1853. Von Pestel was page des Konings vanaf 29 september 1846 (zijn vader was adjudant van de Koning en hield een hoge rang in de landmacht).

Lees verder

/70

 

Giovanni Narcis Hakkenberg (Soerabaja, Nederlands-Indië, 6 december 1923) is een gepensioneerde Nederlandse marinier (luitenant-ter-zee b.d.) en één van de weinig nog in leven zijnde ridders der Militaire Willems-Orde. Op 17-jarige leeftijd meldde Hakkenberg zich met een broer en een aantal neven in Nederlandsch-Indië aan bij de Nederlandse Marine om in Europa tegen de Duitsers te gaan vechten. Het was toen 1941, in Indië was nog geen oorlog. Na hun opleiding waren deze elf jongens nodig in eigen land, de dreiging van de Jappen was te groot geworden. Aan boord van Hr. Ms. Kortenaer ging hij als jongste matroos op 27 februari 1942 naar de Javazee. De Kortenaer werd getorpedeerd en zonk binnen een paar minuten. Hakkenberg had een zwemvest maar zijn benen zaten verstrikt in touwen. Toch heeft hij zich kunnen redden en was hij één van de 104 overlevenden. Door de HMS Encounter werden ze opgepikt en naar Soerabaja gebracht.

Lees verder

/71

 

Lees verder

/72

 

Raymond Pierre Paul Westerling (Istanboel, 31 augustus 1919Purmerend, 26 november 1987), bijgenaamd de Turk, was de eigenzinnige en omstreden commandant van de speciale troepen in Nederlands-Indië/Indonesië in de jaren 1946-’48. Westerling is vooral bekend geworden door de bloedige contraterreur-campagne onder zijn leiding in Zuid-Celebes in 1946-’47 en door een mislukte coup, kort na de soevereiniteitsoverdracht, gericht tegen het Indonesische bewind. Toen de oorlog in Europa ten einde was, trad Westerling in dienst van het KNIL. Na een tussenstop in Ceylon werd hij uitgezonden naar Medan op Sumatra in Nederlands-Indië. Zijn opdracht was om het herstel van het Nederlandse gezag daar voor te bereiden en Nederlandse krijgsgevangen en burger-geïnterneerden op te sporen. Formeel stond Westerling hier onder Brits bevel, maar hij ging vooral zijn eigen weg. Hierbij viel hij op door zijn gevoel voor het inlichtingenwerk, waarmee hij de basis legde voor enkele belangrijke successen van de Britse troepen.

Lees verder

/73

Lees verder

/74

Lees verder

/75

Lees verder

/76

 

Conrad Emile Lambert Helfrich (Semarang, Nederlands-Indië, 11 oktober 1886‘s-Gravenhage, 20 september 1962) was een Nederlands marineofficier. Tijdens de Tweede Wereldoorlog was hij Commandant der Zeemacht in Nederlands-Indië. In 1941 werd een samenwerkingsverband tussen de Amerikaanse, Britse, Australische en Nederlandse strijdkrachten in de Pacific opgericht, het American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM). Tot zijn teleurstelling werd Helfrich gepasseerd als commandant van de maritieme component: die functie ging naar de Amerikaanse admiraal Thomas C. Hart. Op 10 januari 1942 vielen de Japanners Nederlands-Indië binnen, en Helfrich leidde de maritieme operaties tegen de Japanners.

Lees verder

/77

Lees verder

/78

Lees verder

/79

Lees verder

/80

Lees verder

/81

.

Lees verder

/82

Lees verder

/83

 

Lees verder

/84

Lees verder

/85

Lees verder

/86

Lees verder

/87

Lees verder

/88

Lees verder

/89

Lees verder

/90

Lees verder

/91

Lees verder

/92

Lees verder

/93

Lees verder

/94

Lees verder

/95

Lees verder

/96

.

Lees verder

/97

.

Lees verder

/98

Lees verder

 

/100

Lees verder

/101

Lees verder

/102

Lees verder

/103

 

Lees verder

/104

Lees verder

/105

Lees verder

/106

Lees verder

/107

Lees verder

/108

Lees verder

/109

Lees verder

/110

Lees verder

/111

Lees verder

/112

Lees verder

/113

Lees verder

/114

Lees verder

/115

Lees verder

/116

 

/117

Lees verder

/118

Lees verder

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1819

 

Jacob Cornelis van Rijneveld (Enkhuizen, 27 maart 1799Nijmegen, 29 november 1851) was een Nederlands kolonel, ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse, ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw, drager van het Metalen Kruis en oprichter van de Militaire Spectator. Van Rijneveld onderscheidde zich al vroeg bij het elementair onderwijs en trad in 1815 in dienst als vaandrig bij de Militaire Academie te Delft. Hij richtte hier een sociëteit op, onder meer met Löben Sels, waarin diverse aspecten van het militaire beroep werden bediscussieerd. Hij werd in 1819 benoemd tot tweede luitenant bij het wapen der Rijdende Artillerie en werd voor anderhalf jaar naar de Leuvense hogeschool gezonden om zich daar verder te scholen. Van Rijneveld promoveerde te Leuven op het proefschrift De singularibus quibusdam proprietatibus quoe vaporibus aquoeis, tanquam viribus mechanisis insunt (over enige bijzonderheden betreffende de werktuigelijke kracht van stoom).

KISI INFO INDONESIA ABAD – 19(BERAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

ABAD KE 19

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Koleksi Sejarah Indonesia

1821

 

-Suroasso

Daulat Yang Dipertuan Raja Alam xxxx/1821
xxxx 1821 Kerayahan Sultan Alam

1821
extinction of the state and the colonial government of the Netherlands

Pagar-Ujong

 

 Yang Dupertuan Raja Alam

 

 Pada 21 Februari 1821

mereka resmi menyerahkan wilayah darek kepada Kompeni dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi.

 

1821

Sultan Alam Bageger

 

1821-1834

Raja Yahsir Alam

1822

Namun saya tidak menemukan data sejarah yang menunjukkan bahwa Tuanku Nan Renceh pernah berhadapan langsung dengan Belanda di medan pertempuran.

1822

Dalam penyerangan ke Kamang pada 1822 Belanda hanya berhadapan dengan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Gapuak.

 Catatan-catatan fragmentaris dalam dokumentasi Belanda terhadap Tuanku Nan Renceh lebih didasarkan atas cerita-cerita orang Minang sendiri, bukan dari pertemuan langsung dengan panglima Paderi itu.

 

In 1824

 Soho’s mint was being prepared for sale to Bombay, but with one press not yet in a crate, ten more tons of the light 1804 coins were struck for Sumatra.

 

 

A proof Sumatra 2 kepings obverse shows clearly details of the EIC arms. The cross of St George has the arms of Great Britain in the first quarter. The supporters are Lions rampant, bearing standards with flags carrying the cross of St. George. Above the shield is the crest of a lion rampant, standing on a helm, on a torso, holding between the forepaws an Imperial crown. The whole rests on a scroll whose Latin is translated as “Under the Auspices of the Sovereign and Senate of England.”

 

 

 

1825

 

Let.Gen.Frans David  Cochius

Engineer of Battlefield Fortification Strategy in 1827-30 in sequence capturing Diponegoro

If Frans David Cochius was still alive today, he must be 222 years old in December 2009. Who is he? I’ll bring his short biography and compartment in sequence of capturing Diponegoro in Java War.

Java War 1825-30

was the badly war in the history of colonization in Netherlands Indies. For the first time the colonial government faced a massive social rebellion covering large part of Java: 2 million Javanese people were exposed to the ravages of war, 200 thousands Javanese were died. On the other hand, Dutch suffered 8 thousands European troops and 7 thousands of Indonesian troops who fought for Dutch were perished. The war consequence was rising cost about 20 million guilders! The war that perished everything both Javanese and Dutch side.

The Java War was started in a rebellion led by Pangeran Diponegoro for the reason of Dutch political intervention in the Court of Mataram (general reason), and Dutch decision to build a road across a piece of his ancestral property (personal reason).

F.D. Cochius was an expertise in fortification. He designed the prototype of battlefield fortification strategy [Benteng Stelsel]. The fort was built in high terrain, a square building made by coconut tree height about 7-8 feet.The cannons were applied in the one of diagonal corner of the fort. Each corner has two cannons.

 

In the throne of Governor General Du Bus de Gissignies,

 

the government of Dutch Indies failed to extinguish the rebellion of Diponegoro. In several party the Diponegoro army defeated the Dutch Indies army, such as campaign for capturing Kejiwan [August 1826], campaign of Delanggu [August 1826], and campaign of Gawok [October 1826]. Military operation did not reach the objective. General H.M. de Kock ordered to Colonel F.D. Cochius for planning the prototype of battlefield fortification strategy.

This prototype was implied in battlefield fortification strategy in area Bagelen, Banjoemas, Gowong, Ledok, Kedhu, and Jogjakarta. It could be the simple fort for defense in Java War for the reason for limitation the movement of Diponegoro. It was the temporary battlefield fortification: a simple building for military defense, efficient in raw material for the building, and the materials are available in Java.

1821

The Dutch subjugated the Minangkabau of Sumatra in the Padri War (1821–38) and the Java War (1825–30) ended significant Javanese resistance.[7]

1823

SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO VI
Lahir : Surakarta, 1807
Wafat : Ambon, 5 Juli 1849

MESKIPUN bukan anak dari permaisuri, Paku Buwono VI dapat diangkat menjadi raja.

Sesaat sebelum meninggal, ayahnya mengangkat Paku Buwono VI menjadi raja Kerajaan Surakarta pada tahun 1823.

 

Pada waktu Paku Buwono VI memerintah, pengaruh Belanda sudah amat besar atas kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah, demikian pula di Surakarta. Sehingga sewaktu terjadi perang Diponegoro, Keraton Surakarta tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya.

Bahkan kemudian Paku Buwono VI dipaksa oleh Belanda untuk membantu memerangi Pangeran Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, untuk menutupi kerugian besar akibat perang, Belanda justru melakukan tekanan-tekanan terhadap Paku Buwono VI dan Keraton Surakarta.

Ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian tersebut.

Belanda menjadi kesal, kemudian menganggap Paku Buwono VI sedang menyiapkan pasukannya untuk memberontak.

1824.

Belanda memastikan kembali pengaruhnya di pulau Sumatera dan Pagaruyung, dengan ditanda-tanganinya Traktat London di tahun 1824 dengan Inggris.

Klain Belanda terhadap kawasan Kota Padang dikukuhkan melalui Traktat London, yang ditandatangani pada 17 Maret 1824(wiki)

1824

Raja Indrapura yang melarikan diri ke Bengkulu sejak tahun 1792, akhirnya meninggal disini tahun 1824. Maka berakhirlah Kerajaan Indrapura, mungkin inilah aatu-satunya kejadian dalam sejarah dimana seorang sersan dapat mengulingkan Kerajaan  tanpa dapat bangkit kembali walapun memang kerajaan ini memang sudah goyah

(Rusdi Amran, 1981)

 

Pada tahun 1981 saat Rusdi Amran menulis bukunya memang sitausi kerajaan indrapura seperti itu, tetapi kemudian didunia terjadi peristiwa yang sama sersan maomer Kadhafi juga menguling negaranya Libya dan sampai terakhir pangkat paling tinggi di negerinya adalah Kolonell yang pada tahun 2012 ia juga digulingkan oleh pemberontakan yang didudukung oleh Amerika Serikat dibawah pimpinan President Barack Obama

(Dr Iwan Note)

1824

When the British took over Melaka in 1824, St. Paul’s Church had lost its tower.

The British added a lighthouse in front of it and used the church as convenient storehouse for gunpowder. Today, several old monumental Dutch and Portuguese tombstones, with Dutch

 and Portuguese words engraved on it, can be seen leaning against the strong brick walls of the church.

 

Old Tombstones Along the Brick Walls

 

Belanda dapat angin lagi pasca perjanjian masang 22 Januari 1824 Belanda (van den Berg) dan Pidari (Paderi) berdampak Inderapura bangkrut, semua kapal berkebangsaan apa saja bongkar muat barang di Padang tidak lagi di Inderapura bahkan tambang emas Salido dikuasai pasca pergantian Raff dengan Du Puy (1 Januari 1824).

 

1825

Setelah setahun  sultan Indrapura meninggal   di Bengkulu, maka pada tahun 1825  Saudara perempuan Sultan Indrapura meninggalkan Bengkulu menuju Kota-Padang  membawa seluruh anggota keluarga dan pengikutnya.

Salah seorang yang ikut adalah anak sultan Indrapura yang terakhir yang bernama Marah Yahya,

Mereka mengunjungi Ridder de Steur (residen komandan VOC di Padang), dengan tujuan untuk bertanyaka apakah  asa kemungkinan Marah Yahya   di jadikan sultan Indrapura.

De Steur dalam memoirnya menulis “ Anak muda itu dididik di Bengkulu , pintar sekali dan mengerti bahasa Inggris. Sehingga tidak ada alas an untuk menolaknya untuk mengepalai suatu daerah yang sudah hancur akibat kekacauan yang hebat.

Pada tanggal 6 Desember 1825 Marah Yahya  diangkat menjadi Tuanku Regen  Indrapura dengan nama Ahmadsyah , tetapi daerahnya telah menciut  karena di bagian selatan EIC Inggris telah menempatkan regen mereka di Muko-muko , apalagi juga menciut di bagian utara Indrapura.

(Rusdi Amran, 1981)

 

 

1826

Written By Jimbalang on 15 January 2012

 

Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi (1826). Seorang panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur’an dalam kantong kain yang digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari kejauhan.

Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en uitbreiding den Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1849: menghadap hlm. 92

Bandingkan dengan

 

 litho bonjol  1810

Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit akibat radikalisme agama.

 

Di awal abad ke-19, demikian catatan sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, membasmi bid’ah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan persuasif melalui dakwah dan pengajian.

Namun, kemudian muncullah seorang yang radikal dan militan di antara mereka: ia bersama pengikutnya memilih jalan kekerasan. Akibatnya, pertumpahan darah antara sesama orang Minangkabau tak terhindarkan, yang menorehkan lembaran hitam dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi ulama yang radikal itu kalau bukan Tuanku Nan Renceh.

 

Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang Paderi. Dialah panglima Paderi yang paling militan dan ditakuti. Sosoknya tidak sejelas namanya yang sudah begitu sering disebut dalam buku-buku sejarah.

Tak banyak data historis mengenai dirinya. Hanya ada catatan-catatan fragmentris yang terserak di sana-sini. Tulisan ini mencoba merekonstruksi sosok Tuanku Nan Renceh berdasarkan berbagai catatan tersebut, baik yang berasal dari sumber asing (Belanda) maupun dari sumber pribumi sendiri.

 

Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang Ilia, Luhak Agam. Kurang jelas kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam paruh kedua tahun 1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa mudanya. Namun, sedikit banyak dapat direkonstruksi melalui satu sumber pribumi, yaitu Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) karangan Fakih Saghir, salah seorang ulama Paderi dari golongan moderat (lihat transliterasi SKSJ oleh E. Ulrich Kratz dan Adriyetti Amir: Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin Karangan Fakih Saghir. Kuala Lumpur: DBP, 2002).

 

Tahun-tahun terakhir abad ke-18

Tuanku Nan Renceh sudah aktif berdakwah bersama sahabatnya, Fakih Saghir. Mereka “berhimpun…dalam masjid Kota Hambalau di nagari Canduang Kota Lawas” (Kratz & Amir: 23).

 

Mereka telah berdakwah selama empat tahun lamanya sebelum kemudian Haji Miskin (salah seorang pencetus Gerakan Paderi) pulang dari Mekah pada tahun 1803 (ibid.:25). Berarti, paling tidak Tuanku Nan Renceh, yang waktu itu masih seorang ulama muda, sudah aktif berdakwah sejak tahun 1799, beberapa tahun sebelum gerakan Paderi resmi dimulai oleh Haji Miskin, Haji Sumaniak, dan Haji Piobang.

Tampaknya bintang Tuanku Nan Renceh cepat bersinar, dan itu karena satu hal: sikapnya yang sangat radikal dan militan. Ia segera melibatkan diri sepenuh hati dan jiwa ke dalam Gerakan Paderi. Ini mungkin karena berita tentang Negeri Mekah yang didengarnya dari tiga haji yang baru pulang dari sana. Tak ada bukti bahwa Tuanku Nan Renceh pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tapi sudah biasa terjadi dalam soal Islam bahwa pendengar jadi lebih fanatik daripada yang mengalami sendiri pergi ke Mekah.

 

1823

John Anderson seorang pegawai Pemrintahan Inggris yang berkedudukan di Penang pernah berkunjung ke Medan tahun 1823, dalam bukunya bernama M ission  to Eastcoast Sumatra yang diterbitkan tahun 1826 ,Medan merupakan kampong kecil  yang berpenduduk 200 orang ,dipinggir sungai sampai ke tembok Mesjid kampong Medan ,ada dilihatnya susunan batu granit berbentuk bujursangkar  yang dugaannya berasal dari candi Hindu di Jawa.

 

Pada tahun 1823 Osman Perkas Alam Shah diangkat sebagai pewaris dan wakil  direktur dengangelar Sulatn Muda Panglima Perkasa Alam.

1824

Tanggal 18 maret 1824,Sulatan Amaludin mangkat dan dia digantikan oleh putranya Osman Perkasa Alam Shah sebagai Sultan deli VII dan sultan Amaludin pernah memiliki putra dengan selirnya bernama  Raja wan Perak.(raja Wan perak menikah dengan tengkoe Wan Johor putra raja bungsu kota dalam menjadi selir muda)

Pada mas akekuasaannya Osman dapat menaklukan  wilayah empat suku : Sunggal,XII Hamparan Perak, Sukapiring,senambah.

1825

Kerajaan deli kembali menguat dan melepaskan diri dari kekuasaan kerajan Aceh, Negeris ekitarnya seperti Buluh Cina,Sunggal, Langkat dan Suka Piring  ditaklukan menjadi  wilayah kerajaan deli.

1826

 

Tuanku rao

 

 

 

 

Mangaradja writing about his Onggang Parlindungan berjusul “Tuanku Rao”,
caused many polemics starting Hamka Muhammadiyah leaders who argue that Tuanku Rao is not the Batak, though Mangaradja Onggang Parlindungan the complete breakdown by year.
For The Batak Christian religion to accept because it describes the book with The obvious attack Padri Muslim groups bermazhab Hambali (Wahabi) to the land of the Batak Toba area where the cleric-led Tuanku Rao scorch earth Batak lands.

Demikianjuga exposure Batak history writing Marbun Julkifli that recently many people copy and paste (with MOP) in a complete breakdown by year of the incident. Everything can not be accepted by agreement of both parties either Christianity or Islam.

Appeal, Exactly what do the two figures above aganya can be made as a motivation to study more effectively and accurately.
Let all the Batak tribes, both Toba, Mandailing, Karo, Dairi and Simalungun, or Islam and Christianity are both historical mysteries unmasked Batak tribes.

And it is very much capable of Intellectual Batak Batak objective historical research san menyadarai importance of history in managing future Batak tribe,
 
like brothers Sibarani Aware that menulisbuku Siraja BATAK

Original info

tulisan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang bukunya yang berjusul “Tuanku Rao” ,

banyak menimbulkan polemik dimulai dari Tokoh Muhammadiyah Hamka yang membantah bahwa Tuanku Rao bukanlah orang Batak, meskipun Mangaradja Onggang Parlindungan dalam penguraiannya lengkap dengan Tahun.

Bagi Orang Batak beragama Keristen dapat menerimanya karena Buku tersebut dengan gamblangnya menguraikan penyerangan kelompok Paderi yang beragama Islam bermazhab Hambali (wahabi) ke tanah Batak, dimana didaerah Toba kaum paderi yang dipimpin Tuanku Rao membumi hanguskan tanah Batak.

Demikianjuga paparan sejarah Batak tulisan Julkifli Marbun yang belakangan ini banyak di copy paste orang (sama dengan MOP) dalam penguraiannya lengkap dengan tahun kejadian. Semuanya belum dapat diterima dengan sepakat dari kedua belah pihak baik Nasrani maupun Islam .

Himbauan, Sebenarnya apa yang dilakukan kedua tokoh tersebut diatas aganya dapat dibuat sebagai motivasi untuk penelitian yang lebih efektif dan akurat.

Mari  semua Suku Bangsa Batak, baik Toba, Mandailing, Karo, Dairi dan Simalungun, maupun Islam dan Keristen sama-sama membuka tabir misteri sejarah Suku Bangsa Batak.

Dan  sangat banyak Intelektual Batak yang mampu melakukan penelitian sejarah Batak secara objektif san menyadarai pentingnya sejarah didalam menata masa depan Suku bangsa Batak,

seperti saudara Sadar Sibarani yang menulisbuku SIRAJA BATAK

 

Getting to know Islam in the era of Tuanku Rao

Getting to know Islam in the era of Tuanku Rao .. (1)
Posted on February 18, 2010 by thpardede
 

Posts are listed below, related to the attack Gay vicar / Padri the Batak land, in other words attack the new Wahhabi stream of Islam whack indigenous groups in Minangkabau, the grounds clean the creed of all kesirikan.
Since the influx of Wahhabi diminangkabau 1803, violence and violence plagued the Minangkabau (formerly strongly held customs) to the land of Batak (which is inseparable from the customary behavior and kepercayannya).
Who and what exactly is Wahhabi, it is necessary to know where the Islamist group that haunted land of Batak, Kerna in Islam which means that there are several schools of fiqh schools such as Hanafi, Maliki, Hanbali and Syafii. besides that there are also Shia and Wahabi, while the new Wahabi sect diera century including 18/19 are more inclined to the Hanbali school.
Are schools of that?
School is a term from Arabic, meaning of the road and passed, something that becomes one’s goals both concrete and abstract. Something to say to someone if it means schools or roads become his trademark. According to the ulema and religious scholars who called the school is the method (manhaj) formed after thought and research, then the people who live it as a clear guideline limits, the parts, built on the principles and rules. Schools according to the scholars of fiqh, Islamic jurisprudence is a specific methodology undertaken by a mujtahid jurists, which is different from other jurists, who deliver them to choose a number of laws in the area of ​​science furu ‘. It is the understanding of the school in general, not a particular sect.
Wahhabi History
In response to numerous requests the reader about the history of the Wahabis, we seek to meet the request in accordance with the origin and history of its development as much as possible based on a variety of sources and reference books that can be accounted for, inter alia, Fitnatul Wahabiyah by Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus Mr AI-Injizy recognition. Hempher, ottoman and Khulashatul Daulah Kalam by Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, and others. Wahhabi stream name is taken from the name of its founder, Muhammad bin Abdul Wahab (born in Najed year 1111 AH / 1699 AD). Originally he was a merchant who often move from one country to another and between countries are ever visited Baghdad, Iran, India and Sham. Later in the year 1125 AH / 1713 AD, he was influenced by a British orientalist named Mr. Hempher who worked as a British spy in the Middle East. Since then he’s become a tool for the UK to spread the new doctrine. Britain is already successfully established sects even new religions among Muslims like the Ahmadiyya and Baha’i. Even Muhammad bin Abdul Wahab was also included in the work program of the colonial targets with Wahhabi stream.
At first Muhammad bin Abdul Wahab live in Sunni followers of the Hanbali madhhab, even his father Sheikh Abdul Wahab is a good Sunni, as well as teachers. But from the beginning his father and his teachers have a hunch that are less well of him that he is going astray and spread heresy. In fact they tell people to be careful about it. It was not long after hunch was right. After it was shown to him and warned specifically against him. Even his brother, Sulaiman ibn Abdul Wahab, the great scholars of the Hanbali madhhab, wrote a book titled As rebuttal to her divine fir-Raddi Sawa’iqul alal Wahabiyah. Do not miss also a teacher in Medina, Shaykh Muhammad ibn Sulayman Kurdish AI-as-Shafi’i, wrote a letter of advice: “O Ibn Abd al-Wahab, I menasehatimu for God, resist lisanmu from the infidel Muslims, if you hear someone believes ditawassuli that people can benefit without the will of Allah, then teach him the truth and explain their argument that besides Allah can not benefit nor madharrat, when he opposed the so-so he thought you were pagans, but maybe you mengkafirkan As-Sawadul A’zham (group majority) among the Muslims, as you move away from the largest group, those who stay away from the site closer to disbelief, because he did not follow the Muslims. “
As we know that Ahlus Sunnah schools today is the largest group. Allah says: “And those who oppose the Messenger after the obvious truth to him, and follow the path that is not the way of the believers, we let him freely against heresy that has mastered it (God let them wallow in error) and we insert it into the jahannam, and worst of jahannam that place again. “(Surah An-Nisa 115)
One of the teachings of the (believed by Muhammad bin Abdul Wahab, is mengkufurkan Sunni Muslims who practice Tawassul, visiting graves, mawlid prophets, and others. Various propositions accurately conveyed Ahlussunnah Tawassul wal-related pilgrims, visiting the grave and maulid, rejected for no acceptable reason. Even more than that, it turned infidel Muslims since 600 the previous year, including the teachers themselves.
On one occasion someone asked Muhammad bin Abdul Wahab, “How many of God freeing people from hell during Ramadan?” He immediately replied, “Every night Allah frees 100 thousand people, and at the end of the night of Ramadan Allah frees people have as much a matter of freed from the start to the end of Ramadan “The man asked again” Then your followers do not reach one percent of any of these, then who are the Muslims that God freed them? Where did so many of them? While you restrict that only followers are Muslims. “Hearing that Ibn Abd al-Wahab answer was silent speechless. Yet Muhammad bin Abdul Wahab ignored the advice of his father and his teachers were.
With berdalihkan purification of Islam, he continues to spread his message around the Najed. People who lack religious knowledge many are affected. Included among his followers is Dar’iyah ruler, Muhammad bin Saud (died 1178 AH / 1765 AD) the founder of the Saudi dynasty, which later became law. He supports full and use it to expand his realm. Ibn Saud himself very obedient to the command of Muhammad bin Abdul Wahab. If he is ordered to kill or confiscate someone he did at once convinced that the Muslims had pagan polytheism for 600 years and more, and kill the idolaters guaranteed paradise.
From the beginning of Muhammad bin Abdul Wahab was very fond of studying the history of false prophets, such as Al-Kadzdzab Musaylima, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy etc.. Apparently she had been craving claimed prophet, it seems once when he referred to the followers of the area by the name of Al-Ansar, while followers from outside the area called Al-immigrants. If someone wants to be a follower, he must utter the two shahada in front of him and then have to admit that before getting Wahabi himself was polytheistic, so did his parents. He is also required to recognize that the great scholars had previously been dead infidels. If you want to admit that he accepted to be his followers, otherwise he was immediately killed. Muhammad bin Abdul Wahab also often under the guise of humble prophet purification creed, he also let his followers harass Prophets before him, to the extent of his followers said: “My wand is still better than Muhammad, because my stick can still be used to kill the snake, whereas Muhammad had died and left no benefits at all. Muhammad bin Abdul Wahab in the presence of his followers is like a prophet before his time. Followers are more and more extensive territory. Both work together to eradicate the tradition which he considers wrong in Arab societies, such as Tawassul, visiting the grave, to commemorate the birth and so on. Not surprisingly, the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab and then attacking the noble tombs. In fact, in 1802, they attack Karbala-Iraq, where the body was interred Prophet Muhammad’s grandson, Hussein bin Ali bin Abi Talib. Because the tomb is considered a potentially shirk evil to God. Two years later, they attacked Medina, destroying the existing dome over the grave, looted the ornaments that are Hujrah Prophet Muhammad.
The success continues to conquer Medina. They went to Mecca in 1806, and damage kiswa, the cloth covering the Kaaba is made of silk. Then knocked down dozens Ma’la dome, including the dome of the Prophet’s birthplace, birthplace of Sayyidina Abu Bakr and Sayyidina Ali, also dome Sayyidatuna Khadija Abdullah bin Abbas mosque. They keep destroying mosques and places the Solihin while cheering, singing and accompanied by the beat of drums. They also berated experts even partially buried them urinating on the grave of the Solihin. Wahhabis movement is made Sultan Mahmud II, the ruler of the Ottoman Empire, Istanbul-Turkey, wrath. Dikirimlah soldiers based in Egypt, under the leadership of Muhammad Ali, to incapacitate. In 1813, Medina and Mecca can be retaken. Wahabi movement receded. But, at the beginning of the 20th century, Abdul Aziz ibn Sa’ud rose again carried the understanding Wahabi. In 1924, he managed to occupy Mecca and to Medina and Jeddah, exploit weaknesses Turkey due to its defeat in World War I. Since then, until now, the notion of government control of Wahabi in Saudi Arabia. Today the global influence of the Wahhabi movement. Riyadh spend millions of dollars each year to spread the Wahhabi ideology. Since the presence of Wahhabis, the Muslim world is never quiet full throes of thought, because it always dispel the extremes of thought and religious understanding Shafii Sunni-established.
Cruelty and other Wahabi ignorance is undermining domes over graves Prophet companions who were in Ma’la (Mecca), in the Baqi ‘and Uhud (Medina) all demolished and razed to the ground by using dynamite shredder. Likewise dome above ground Prophet was born, which in Suq al Leil razed to the ground by using dynamite and used as a parking camels, but due to incessant insistence International Muslims then built a library. Wahhabis never really appreciate the heritage and respect the noble values ​​of Islam. Originally Qubbatul AI-Khadra (green dome) where the Prophet Muhammad is buried will also be demolished and razed to the ground but because of the threat of International savages then become fearful and the attack. Similarly, the entire series will be modified including the rituals of Hajj Ibrahim maqom will be shifted but because many are against it undone.
The development of the holy city of Makkah and Madinah recently ignored the historical sites of Islam. The more exhausted just building to witness history Prophet Muhammad and his companions. The building was demolished for fear become a shrine. Even now, the birthplace of the Prophet Muhammad in danger of being demolished for the expansion of the parking lot. Previously, the Prophet had already been evicted. In fact, that’s where the Prophet received revelations over and over again. It was also where his children were born and Khadijah died.
Rigid interpretation of Islam practiced by most Wahhabism has contributed to this annihilation. Wahhabis view historical sites that could lead to a new idolatry. In last July, Sami Angawi, an expert in Islamic architecture in the area, said that some of the buildings of ancient Islamic era threatened destroyed. In the 1,400-year-old building site was to build the road to a high tower which is the goal of pilgrims and Umrah pilgrimage.
“Today we are witnessing the last moments of the history of Makkah. Historic section will soon be demolished to build a parking lot, “he told Reuters. Angawi mention at least 300 historical buildings destroyed in Makkah and Madinah during the last 50 years. Even most of the historic buildings of Islam has been extinct since Saudi Arabia was established in 1932. It is related to the edict issued by the Board of Senior Religious Empire in 1994. In the written notice, “Preservation of historic buildings buildings could potentially lead Muslims to worship idols.” (Similar Masonic is not it?)
The fate of the historic sites of Islam in Saudi Arabia is very sad. They destroy many relics of Islam since the time of Ar-Rasul SAW. All traces of the Prophet toil away by the Wahhabi-style modernization. Instead they instead brought archaeologists (archaeologist) from around the world at a cost of hundreds of millions of dollars to dig up the relics before Islam both from the ignorance or earlier on the pretext of tourism. Then they proudly show that the pre-Islamic era have shown remarkable progress, no doubt this is the vanishing historical evidence that would give rise to a doubt in the future.
Wahhabi movement led by radical preachers and extreme hostility and hatred they are supported by substantial financial. They are fond of accusing the Islamic group that is not in line with those charged with infidels, shirk and innovation expert. That speech always sounded at every opportunity, they never acknowledged any Islamic clerics services except their own group. In our country they put a deep hatred and resentment to the Wali Songo who spread Islam and Why the people of this country.
They said the trustees were still teaching mishmash polytheism of Hinduism and Buddhism, although the mayor had been Islamized Why 90% of the population of this country. Can-Wahabi Wahabi Islam-Why it’s the remaining 10%? Maintaining that 90% of terkaman unbelievers just not going to be able, let alone willing to add the remaining 10%. Instead they simply mengkafirkan people with real tauhid to Allah SWT. If not for the grace of God that predetermine the Wali Songo to preach to our country, of the people who became the mouthpiece of the Wahhabis was still in animist, pagan or heathen still. (Naudzu billah min forbid).
Therefore they do not believe that claims to be the only schools cling to the Qur’an and Sunnah. They claim to follow the example of the salaf moreover claimed Sect and so on, it’s all nonsense. They have incised black notes in the history of the slaughter of thousands of people in Makkah and Madinah as well as other areas in the Hijaz (now called Saudi). Did you know that the slain that time consisted of the pious scholars and pious, even children and infants were slain in front of their mother. This bloody tragedy occurred around the year 1805. All that they are doing on the pretext of combating heresy, but not the name itself is a name Arabia heresy “Since the name of the Prophet country changed the name of the royal family supporting Wahhabi ideology that As-Sa’ud.
Indeed the Prophet preached the coming of Wahabi ideology is in some hadith, a prophetic sign of his SAW in preaching something that has not happened. The entire hadeeth is saheeh, as contained in the book of Sahih Bukhari & Muslim and others. Among them: “Slander is coming from there, slander was coming from that direction,” pointing to the east (Najed). (Narrated by Muslim in Kitab ul Fitan)
“Going out of the east class of people who read the Quran but do not get past their throats (do not get to the heart), they came out of the religion as an arrow out of the bow, they would not be able to come back like an arrow that will not be back into place, their signs are shaved (bald). “(HR Bukho-ri No. 7123, 6 things Juz 20 748). This hadith is also narrated by Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, and Ibn Hibban
The Prophet once prayed: “O God, give us grace in the Levant and Yemen,” the friend said: And of Najed, O Messenger of Allah, he prays: “O God, give us grace in the Levant and Yemen, “and on the third time he SAW said:” There (Najed) there will be turmoil slander and there also will appear devil horns. “In another two devil horns.
In the hadiths are explained, that their signs were shaved (bald). And this is a clear texts addressed to the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab, as he had ordered all his followers to shave the hair of his head to those who follow are not allowed to turn away from majlisnya before shaved bald. This kind of thing never happens in other heretical sects before. As has been said by Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “We need not write the book to reject Muhammad bin Abdul Wahab, because it is quite rejected by the hadiths of the Prophet Muhammad himself had confirmed that their signs were shaved (bald), because experts heresy had never done so. “Al-Sayyid AIwi Allama Hasan bin Ahmad bin Abdullah bin Al-Quthub AI-Haddad says in his book Jala’uzh Zholam a hadith narrated by Abbas bin Abdul Muttalib of the Prophet Muhammad:” Going out in the twelfth century (after the move) later in Bany Hanifa valley man, who acted like a bull (arrogant), his tongue licking his lips are always great, at that time a lot of chaos, they justify the wealth of the Muslims, was taken to trade and justifies the blood of the Muslims “AI-Hadith.
Bany Hanifa is the false prophet Al-Kadzdzab Musaylima and Muhammad bin Saud. Later in the book Sayyid AIwi mention that the person who cheated is nothing else is Muhammad bin Abdul Wahab. As to the statement of the Prophet SAW which suggests that there will be turmoil from the east (Najed) and two devil horns, in part, the scholars said that what is meant by two devil horns that no other is Al-Kadzdzab Musaylima and Muhammad Ibn Abd al-Wahab. The founder’s teachings wahabiyah died in 1206 AH / 1792 AD
Why should we discuss the topic above, nothing merely trying to uncover the veil of kesimpang crux interpretation of Islam in particular Tapanuli toba. The end of this paper I try to explain some of the responses on Tuanku Rao alias Pongki nangolngolan Sinambela.
Shia vs Wahabi in Minangkabau
 
Shiites flow spread from Aceh to the Minangkabau, who started spreading since 1128. At that time, Al-Kamil admiral Nazimudin military maneuver of the coast of Aceh to the Kampar river Right and Left, to control the results of pepper in the area. Nazimudin fall when the expedition in 1128. Kampar river area occupied by foreign merchants menganutaliran Shiite, and supported by Fathimiah dynasty in Egypt. They want to monopolize the results of pepper. Results pepper Perlak was transported to the airport, continues to be brought to market Gujarat. In 1513, the Shah in Pariaman Burhanudin lord who ruled Aceh, began to Islamize the Minangkabau region intensively. Burhanuddin is the son of Crown Prince Sultan Syamsul Shah Alam, who co-founded the sultanate of Aceh. The local figures become educated scholars who would then spread Shi’ism among the Minangkabau. The teachers come from Kambayat, Gujarat. Supervision of clerical education in Pariaman, until 1697, conducted by the Shah Burhanuddin hereditary lord. While some are not happy with pengislaman made lord Burhanudin Shah.
 In 1803,
Wahhabi wing three figures bermazhab Hambali, Haji Piobang, Sumanik Haji and Haji Poor, forming a religious cleansing. Their movement sponsored by Abdullah ibn Saud in Riyadh. For the record, the three pilgrimage had been a soldier in Turkey. Tensions arose between the indigenous groups menganutaliran Shia and followers of the Wahhabi movement. Eventually they managed to eradicate the Shiites in Minangkabau, almost nothing left. In Iraq, in 1801, the Wahhabi movement too busy combating the Shiites, and captured Karbala. Shiite mosques and tombs of descendants of Hasan Hussein, grandson of Prophet Muhammad, burned. In 1802, the Wahhabi army under the command of Abdullah ibn Saud, son of Abdul Aziz Saud ib, captured the city of Mecca and Medina, as well as expel the Turks from Arabia. Since the liberation of the city of Mecca and Medina from the Turks that wing Hanafi, then the Wahhabi movement into international fame. Third pilgrimage Minangkabau origin who participated in the Turkish army occupied Mecca and Medina, the Wahhabis arrested. Because they are foreigners, not the Turks, they were not killed. The three men immediately indoctrinated in the Wahhabi movement, and took off his Hanafi school. Upon his return from Mecca in 1803, they formed the Wahhabi movement in Minangkabau. Tensions arose between the indigenous groups menganutaliran Shia and followers of the Wahhabi movement. Peak, Padri War erupted. Eventually they managed to eradicate the Shiites in Minangkabau, almost nothing left. Spread Hambali School began in 1804 with the destruction of the royal family in Suroaso Pagarruyung, who rejected the new flow. Almost the entire royal family Pagarruyung beheaded by forces led by Lord Lelo, whose original name was Idris Nasution. Only a few people can save themselves, among which are The lordship Arifin Muning Alamsyah Kuantan who fled to the Netherlands and then ask for help. His daughter,
 
The cruelty of the Wahhabis bermazhab Hambali in Minangkabau
Since the late nineteenth century, the region has initiated efforts Agam return movement back to the shari’ah which was pioneered by Tuanku Nan Tuo seems to be a poor fit for the Hajj in channeling ideas renewal. Protective Haji poor here are fellow seperguruannya, the lord Nan Renceh. Both stores are student Padri Tuanku Nan Tuo and both also involved in the initial renewal gerkan pioneered by teachers at the end of the eighteenth century. For Tuanku Nan Renceh meeting with Haji Miskin triggered his desire to make a move back to the shari’ah After a long vacuum. Tuanku Nan Renceh disappointment over the attitude of the teacher in the soft launch a return to sharia a major factor in poor Haji easily get support and sympathy of the figure is known to be very fierce. Before meeting with Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh reform movement does not have a clear purpose and form.
So when Haji Poor convey ideas renewal, Tuanku Nan Renceh immediately expressed support. Purpose of his struggle was clearer and seemed more radical. After receiving guidance and counsel of Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh increasingly convinced that the business renewal will have the support of other religious elites in Agam. In fact, Tuanku Nan Renceh also eager to expand his movement throughout the entire region on the island of Sumatra. The second meeting of this character in turn becomes the renewal ideas Padri can run intensively. But in its development, the most prominent is the Tuanku Nan Renceh to begin the work of Agam district. Meanwhile, Haji poor, although it is not got a chance to play further he always tried to play the role available to him. In this respect it more as preachers who invite people to accept the teachings of Padri. Tuanku Nan Renceh start lobbying efforts by scholars who have great influence in support of its motion. In the not long, seven lord of Candung, Sungai Puar, and Banuhampu expressed support. To organize their movements, Tuanku Nan Renceh form an alliance with the lord-lord.
Fellowship is what is known in history as the Tigers Nan Minankabau Salapan, they are: My lord Lubuk Aur (Candung), lord Volcano on the Mount (Candung), lord Galong (Puar River), lord Padang Laweh (Banuhampu), lord Banesa (Agam) , lord Kapau (Agam), and Tuanku Nan Renceh own (Kamang). The presence of Tiger Salapan in turn ideas renewal Padri can run intensively. Before starting movements, Lord Nan Renceh and friends Tuanku Nan Tuo came to implore the blessing of this charismatic cleric. In front of teachers who have brought Islam to know more profound, Tuanku Nan Renceh outlining ideas renewal based on the Qur’an and Hadith and oppose all practices that are contrary to the teachings of Islam. The means to be used to achieve this goal, the act of violence against those who are described at length. Unexpectedly meeting turns religious elites would lead to heated debates. Tuanku Nan Tuo who was the teacher of several members of the Tigers Nan Salapan basically approve renewal ideas Tuanku Nan Renceh and friends but balked violent means in practice. For Tuanku Nan Tuo, preaching is done in ways other than violence unwise also contrary to Islamic teachings. Tuanku Nan Tuo argued that “…. the Prophet spirited peaceable and forgiving, emphasizing that people deserve to die are those who consciously disavow Islam, and that the village has a Mu’min (believer) must not vulnerability. “Tuanku Nan Tuo therefore unwilling to join his former student’s., however Tuanku Nan Renceh remain at its founding. For The Padri, killing people who do not obey the rules of religion is not a sin.
Recognizing that it is difficult to get the blessing of the great scholars Agam, the poor Haji Renceh invite Tuanku Nan and his friends went to Koto Mansiangan Laweh to meet my lord. To these scholars the Tigers Nan Salapan asked as protectors and leaders of the movement. Cleric known for extensive knowledge and influence in this Laweh Koto expressed willingness. Willingness lord Mansiangan willing to join Padri seems more based on the consideration that he was well known and had been a poor Haji patron that he was not familiar with the ideas of Islamic renewal that carried The Padri. Besides, my lord Mansiangan is a snobby, while not covering popularity Tuanku Nan Tuo who also was a disciple of his father. Its popularity was limited Koto Laweh, while Tuanku Nan Tuo not only throughout Agam but also to other areas outside of Agam. His decision to join and be a leader Padri Tribe is expected to boost the popularity and can raise its prestige in kapangan scholars especially in Agam. As a token of gratitude for their willingness to join the Tribe Padri, Tuanku Nan Renceh him a priest. Although leadership is in the hands of the lord Padri Mansiangan but the actor is actually Renceh Tuanku Nan. The person who called then this is more prominent in determining the direction of travel Tribe Padri movement.
In a meeting with the community in Kamang Tuanku Nan Renceh menagajak community to help support its renewal movement. To the public were ordered to run Islamic law and Sholah 5 times should be run. Chewing betel nut, smoking, drinking alcohol, and opium is forbidden. To the men are encouraged to wear white clothes and beards. Wearing clothes of silk and gold jewelry are only allowed to women. The mother is also required to wear a veil. For those who were innocent of breaking the rules will be subject to the death penalty and their property confiscated. Seriousness Tuanku Nan Renceh give the death penalty for those who break the rules are made exemplified by killing her aunt because her younger brother was caught chewing betel.
The murder was apparently invited many scholars from a variety of places to merge with Renceh Tuanku Nan. Tuanku Nan Renceh violence is considered as a form of seriousness in implementing Islamic law. Whoever is guilty should be punished even his own family. Support for The Padri also increasingly widespread. At this moment the Padari started trying to overhaul the Padang ground, while Tuanku Nan Renceh gain greater public support so that it appears a good time for him to continue the implementation of the point. His own village was placed under the authority of scholars. In a matter of days many villages-villages which recognize the Tribe Padri and follow his teachings. The whole force area Agam be Padri territory. The Padri emerged as a new political force in Minangkabau hinterland. The success of the Padri controlled areas are point history Agam start making the nagari government is patterned religion (nagari a-la Padri / rule a-la Padri) and focuses on the teachings of Islam as understood by the Padri. At every districts which had been occupied by the Padri, two scholars appointed as the head (head) to the lord calls Imam (Imam) and lord Qadhi (Qadi). When connected to a variety of political theory and sociological theory, it appears clearly that the religious authorities, in general they can not escape politics.
In the case of Padri movement, marginality influence in social reality led many theologians feel you can not improvise extensively in social reality. So the best way is to seize or create their own system of political authority. Case Wahabi movement in Hejaz soil can also be seen from this perspective. Although, in the case of Padri, religious elites only want to restore their social position and role in the Minangkabau social entities that align with the traditional elite. However, within the leadership, the leadership structure alignment is very difficult to be realized, there must be in a position of hegemony. In the case of the Padri, the religious elite who have been marginalized, to restore its role as an authority in the field of religion, parallel to the prince of the power of government as the holder shoots villages. However, if we look at the theoretical, in the history of intellectual thought Minangkabau, religious authority has existed since Islam in Minangkabau, never be separated from the religious elite, and was never taken over by the indigenous elites, for example, as an elite custom feel they have the authority and capability of science . However, the reduction of the effect can occur. Every elite has its own domain of knowledge or authority, but the authority can influence other authorities across domains. For example, the traditional elite that has authority in the field of customs and religious elite in the field of religion. That their respective domains.
But it could happen, not only has the traditional elite influence in their respective domains, but their influence can be up to other elite domain, even sometimes their influence is far greater than in the domain of scientific authority concerned. This is what happened before the Padri movement emerged. Each elite has its own domain. However, in all aspects of life, even elite custom domains is much greater. Even in the domain of religion that should influence the religious elite is much larger, can be reduced by the indigenous elite. The Padri aware of this. Mastering society is not control of the area, but the most important thing is to master the effect. Their role as a religious elite that had been reduced by the indigenous elites want them to return. And they also want to establish leadership system a-la their own. This shows that they want to reproduce the social conditions of time, to reduce the influence of indigenous elites.
By forming the values ​​manifested in the political order established a-la Padri then the Padri will have flexibility and discretion in carrying out the mission and motivation of their own movement. In this sense of the word, the values ​​established or aspire will only work effectively if the political order established or captured. Political order correlated with the effect (at least legal-formal influence). Thus, the change will be effective and has an endorsement if the pressure and power (even more effective when a hegemonic power) is held. Furthermore, the values ​​will be established in accordance with the values ​​that became a fad the holders of power. In this context, it is assumed Padri movement construct or create their own pattern of leadership which is based on religion (Islam).
Formed values ​​are, theoretically, the maximum will be supported by the manufacturer and sympathy as well as individuals who have an interest in these values. However, it would be minimally acceptable to the fullest even opposed by groups who feel aggrieved by the presence of the new values. This thrust could have been caused by two things, namely because of the presence of the new values ​​to reduce the values ​​that they have so far and this is correlated with the existence as well as their self-esteem. Then the presence of the new values ​​will be rejected if they can no longer make a run activities in accordance with the values ​​they hold or has been allowed by the value system in which they live and active.
Ordinary people who had the freedom of action and activities in accordance with the will of their own hearts, because the presence of a new value system that could potentially curb “safe and comfortable conditions” that have them feel, can not accept the rules that have been established (read: forced) by the Padri. Reaction occurs, or in the language of sociological, social resistance. In these circumstances, the indigenous elites would be the most appropriate place for a shelter for the common people. In theory it is said that the political leadership of a social group (feel) defeated will be affiliated to the social group which they believe was also defeated, although the pre-conditions before, social groups were initially opposed to the social group in which they were affiliated.
As a person who has the ultimate authority in the villages and tribal leaders in the course Indigenous elites do not want such a condition is. Coupled with the presence of system leadership (priest and Qadhi) introduced by the Padri course traditional elites feel their influence would be reduced during this dominant hegemonic even. As customs officers in charge of caring for the child as well as all members of his clan cousin would not let kids niece and all members of his clan are victims of violence the Padri. To that end, the prince agreed to maintain their hegemony, power preserve those who have been “captured” by the Padri. Eventually they find the momentum to “blow” their anger against the Padri.
After successfully embed their influence in Agam district, and governance laid a-la Padri (optimally functioning and role of Imam Qadhi), then attempt the next Padri feudalism scrape out the influence of the Kingdom personified Pagaruyung they consider to have great potential in blocking Islamic reform they do. Attacks on several villages-were introduced. Anarchist-radical approach-destructive thought patterns, and effective best thing to do. So many people indigenous surrendered or fled to other areas. Even Tuanku Nan Tuo, “the ideological teacher” who has been a tendency persuasive, is not spared from attack “ideological disciples”. Mosque where he taught burned. The Hall-hall tradition that became too much debris. Burned by the Padri. In each penalukkan, the automatic Padri laid a-la their leadership, in addition to the primordial Islamic approach to society.
Some leaders of the Padri, like Haji Sumanik also move radically in area, Tanah Datar. However, in the central area of ​​this Minangkabau royal, Haji Sumanik not get the maximum results, it can even be said to fail. This is because, among the peoples (in this case the prince) converge to prevent the spread Haji Sumanik effect. In Minangkabau cultural area, the powers of the primus interpares, still has great influence in the community. The success of the Padri embed their influence in areas Agam, have been aware of the customs at Tanah Datar Padri in principle that the ambition to wrest power from the prince. Due to the social conditions that are different areas in Agam, then finally Haji Sumanik Lintau forced to move to the area.
 
Meanwhile, in other areas such as in Lintau, lord Pasaman Padri movement capable of disseminating mission to the community. Community acceptance is quite good, because my lord Pasaman focus only on improvement of public morality and socialization patterns more persuasive, not radical-destructive as in Agam district. On the initiative eventually he was precisely in 1815, negotiations were held between the Padri with family and dignitaries of the kingdom of Minangkabau. In the negotiations, there was a difference of opinion in the end a fight between the Minangkabau royal family and princes with figures Padri. The whole family and Minangkabau royal princes were killed, except the king and his grandson who can escape to Kuantan in Lubuk jambi. This event put an end to the king’s power of nature Minangkabau. The central political-cultural Minangkabau undermined by the Padri. Nagari-other villages gradually surrendered much. Some princes who do not submit to the Padri, many who fled to Batipuh, a village who do not submit to the Padri. Although the Padri got rid of Minangkabau power, they do not immediately take over the central cultural power. Looks here, the desire of the Padri in principle is to increase their political bargaining power in the middle of the community and not purely to power an-sich.
Minangkabau practical at this time, hegemonic authority in the hands of the religious elite (read: the Padri). Traditional elites who had been felt that the social authority in their hands, was not happy with the condition. Especially after the fall of the kingdom of nature Minangkabau, an institution that is culturally supra protect their existence. Finally, the “sun” other than the out-group they bring, the colonial Dutch. They asked for help from the Netherlands to restore their power usurped by Padri. The request was immediately accepted by the De Puy and then continue or recommend it to Batavia. The first request was rejected because given the number of Dutch military forces in Minangkabau is not so great. Later, in 1821, an agreement was made between the traditional and the Netherlands. Of the Netherlands signed by De Puy, while the indigenous signed by Sutan Bagagarsyah, King Tangsir Nature and Natural kingdom Sutan and many princes from different parts of Tanah Datar LUHAK.
Application for this relief seems to be done in total. This is evident from who those who join the group signing the agreement. According to historical data, the group as a whole amounted to 20 103 people in the name of the prince in LUHAK Tanah Datar, outside of the royal family and relatives Alam Minangkabau. Dutch East Indies government at that time had just received a small portion of the western coast of Sumatra while the British government immediately agreed to request such assistance. Moreover, the group promises to return to the Netherlands. The agreement known as the Treaty February 10, 1821 was later confirmed. Some key points of the agreement include: (1). The heads of government (prince) of the Kingdom of Minangkabau, formally and absolutely handed Pagaruyung, Sungai Tarab and Saruaso so are the areas around the Minangkabau Kingdom of the Netherlands Indies government. (2). Powers of the prince promised to obey and not against any command of Dutch. (3). In order to bring the areas that have been submitted to the Netherlands, to protect people from the Padri, to destroy the Padri and create peace in Minangkabau, the Dutch Government provide an army of 100 people and two guns. (4). The prince was required to provide the coolies in the amount of food needed and take care of the soldiers as well as possible. (5). Customs and old habits and relationship with the prince will be retained and will not be violated as long as not contrary to the articles of the treaty.
Furthermore, the Padri face vis a vis against the Netherlands. Padri War began to be recorded in the history. The movement was later defeated by the Dutch in 1838. Meanwhile, the purpose of the prince asked for help to the Dutch that their position as the elite people and restore their influence back that has been taken by the religious elite, would be counterproductive due to the agreement they signed with the Netherlands. They became the “melting” in the Dutch colonial government power engines and are increasingly active in the successful exploitation of the Dutch economy. Consequently, the defeat Padri not necessarily eliminate their influence. Precisely what happens is winning elite custom make them go down in history as “sycophants” and degrading the Minangkabau. Political elite custom revenge against former follower of the Padri actually makes a lot of the Minangkabau people are disgusted with the doings of them, especially the Dutch government did not seek to distance themselves from the religious elite, even those trying to keep him.
 
Before we discuss about Tuanku Rao alias Pongki Nangolngola Sinambela, let us describe the atrocities of the Wahhabis in eradicating the group who did not like-minded with them. The homage Padri Wahabi and bermazhab Wabi not discriminate who eradicated, whether he the customary or Islamic groups bermazhab another, or any other religion they destroy without mercy. Below kiita kutib Basyral Hamidy Harahap following explanation:

 

 

Original info

Mengenal Islam pada era Tuanku Rao

 

Mengenal Islam pada era Tuanku Rao..(1)

Posted on Februari 18, 2010 by thpardede

 

 

Tulisan yang tertera berikut ini, berhubungan dengan penyerangan Kaum paderi/padri ke tanah Batak , dengan kata lain penyerangan Islam aliran wahabi yang baru mendera kelompok adat di Minangkabau, dengan alasan membersih- kan akidah dari segala kesirikan.

Sejak masuknya Wahhabi diminangkabau 1803, kekerasan demi kekerasan melanda Minangkabau (yang dulunya kuat memegang adat) hingga ke tanah Batak (yang tidak terlepas dari peri laku adat dan kepercayannya).

Siapa dan apakah sebenarnya Wahhabi, hal ini perlu untuk mengetahui kelompok Islam mana yang menghantui tanah Batak, Kerna di dalam Islam ada beberapa mazhab yang artinya mazhab fiqih seperti Mazhab Hanafi, Maliki,Hambali dan syafii. disamping itu ada juga Syiah dan wahabi, sedangkan wahabi termasuk mazhab baru diera abad 18/19 yang lebih cenderung ke mazhab Hambali.

Apakah Mazhab itu ?

Mazhab adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’. Ini adalah pengertian mazhab secara umum, bukan suatu mazhab khusus.

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.

Mengapa perlu kita bahas topik tersebut diatas, tidak lain semata-mata hanya mencoba menyibak tabir kesimpang siuran penafsiran tentang Islam di Tapanuli khususnya toba. Akhir dari tulisan ini saya mencoba memaparkan beberapa tanggapan tentang Tuanku Rao alias Pongki nangolngolan Sinambela.

Syi’ah vs Wahabi di Minangkabau

 

Aliran Syi’ah menjalar dari Aceh ke daerah Minangkabau, yang persebarannya dimulai sejak 1128. Pada waktu itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang menganut aliran Syi’ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut ke bandar Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat. Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan menyebarkan ajaran Syi’ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan Tuanku Burhanudin Syah.

 Pada 1803,

tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama. Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan, ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801, gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi’ah, dan berhasil merebut Karbala. Masjid masjid Syi’ah dan makam-makam keturunan Hasan Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal di dunia internasional. Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya. Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di Minangkabau. Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat yang menganut aliran Syi’ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Syi’ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya,

 

Kekejaman kelompok Wahabi bermazhab Hambali di Minangkabau

Sejak akhir abad ke sembilan belas, daerah Agam telah memulai usaha gerakan kembali kembali ke syari’at yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo agaknya menjadi tempat yang cocok bagi Haji Miskin dalam menyalurkan ide-ide pembaharuannya. Pelindung Haji Miskin di sini adalah rekan seperguruannya, yakni Tuanku Nan Renceh. Kedua toko Padri ini adalah murid Tuanku Nan Tuo dan keduanya juga ikut terlibat dalam gerkan pembaharuan awal yang dipelopori oleh gurunya pada akhir abad ke delapan belas. Bagi Tuanku Nan Renceh pertemuan dengan Haji Miskin menjadi pemicu keinginannya untuk kembali melakukan gerakan ke syari’at setalah vakum cukup lama. Kekecewaan Tuanku Nan Renceh atas sikap lunak gurunya dalam melancarkan gerakan kembali kepada syari’at menjadi faktor utama mudahnya Haji Miskin mendapat dukungan dan simpati dari tokoh yang dikenal sangat garang ini. Sebelum bertemu dengan Haji Miskin, gerakan pembaharuan Tuanku Nan Renceh masih belum mempunyai tujuan dan wujud yang jelas.

Maka ketika Haji Miskin menyampaikan ide-ide pembaharuannya, Tuanku Nan Renceh segera menyatakan dukungannya. Tujuan perjuangannya pun lebih jelas dan tampak lebih radikal. Setelah mendapat petunjuk dan nasehat dari Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh semakin yakin bahwa usaha pembaharuannya akan mendapat dukungan dari elit-elit agama lainnya di Agam. Bahkan, Tuanku Nan Renceh juga berambisi untuk meluaskan gerakannya hingga ke seluruh wilayah di Pulau Sumatera. Pertemuan kedua tokoh ini pada gilirannya menjadi ide-ide pembaharuan kaum Padri dapat dijalankan secara intensif. Akan tetapi dalam perkembangannya, yang paling menonjol adalah Tuanku Nan Renceh yang memulai pekerjaan dari daerah Agam. Sementara ini, Haji Miskin, meskipun tidak mendapat kesempatan untuk berperan lebih jauh ia selalu berusaha untuk memainkan peranan yang tersedia baginya. Dalam hal ini ia lebih berperan sebagai juru dakwah yang mengajak orang-orang untuk menerima ajaran-ajaran Padri. Tuanku Nan Renceh memulai usahanya dengan melobi ulama-ulama yang mempunyai pengaruh besar untuk mendukung gerakannya. Dalam waktu yang tidak lama, tujuh Tuanku dari Candung, Sungai Puar, dan Banuhampu menyatakan dukungannya. Untuk mengorganisir gerakan mereka, Tuanku Nan Renceh membentuk persekutuan dengan Tuanku-Tuanku tersebut.

Persekutuan inilah yang dalam sejarah Minankabau dikenal sebagai Harimau Nan Salapan, mereka itu adalah: Tuanku Lubuk Aur (Candung), Tuanku Berapi di Bukit (Candung), Tuanku Galong (Sungai Puar), Tuanku Padang Laweh (Banuhampu), Tuanku Banesa (Agam), Tuanku Kapau (Agam), dan Tuanku Nan Renceh sendiri (Kamang). Keberadaan Harimau Salapan pada gilirannya menjadi ide-ide pembaharuan kaum Padri dapat dijalankan secara intensif. Sebelum memulai gerakannya, Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan mendatangi Tuanku Nan Tuo untuk memohon restu dari ulama kharismatik ini. Dihadapan guru yang telah membawanya untuk mengenal Islam lebih mendalam lagi, Tuanku Nan Renceh menjabarkan ide-ide pembaharuannya yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadis dan menentang segala praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran Islam. Cara-cara yang akan dipakai untuk mencapai tujuan itu, yakni tindakan kekerasan bagi yang menentang, juga dipaparkan secara panjang lebar. Tanpa diduga ternyata pertemuan elit-elit agama itu justru menimbulkan perdebatan yang sengit. Tuanku Nan Tuo yang merupakan guru dari beberapa anggota Harimau Nan Salapan pada dasarnya menyetujui ide-ide pembaharuan Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan tetapi menolak keras cara-cara kekerasan dalam pelaksanaannya. Bagi Tuanku Nan Tuo, dakwah yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan selain tidak bijaksana juga bertentangan dengan ajaran Islam. Tuanku Nan Tuo mengajukan argumentasi bahwa ”….Nabi berjiwa suka damai dan suka mengampuni, yang menekankan bahwa orang patut dihukum mati adalah orang yang dengan sadar mengingkari Islam, dan bahwa desa yang mempunyai seorang mu’min (orang beriman) pun tidak boleh diserang”. Oleh karenanya Tuanku Nan Tuo tidak bersedia untuk bergabung dengan mantan muridnya itu. Akan tetapi Tuanku Nan Renceh tetap pada pendiriannya. Bagi Kaum Padri, membunuh orang yang tidak mematuhi aturan-aturan agama bukanlah perbuatan dosa.

Menyadari bahwa sulit untuk mendapat restu dari ulama besar Agam itu, Haji Miskin mengajak Tuanku Nan Renceh dan kawan-kawan pergi ke Koto Laweh untuk menemui Tuanku Mansiangan. Kepada ulama ini kelompok Harimau Nan Salapan memintanya sebagai pelindung dan pemimpin gerakan. Ulama yang terkenal karena pengetahuannya yang luas dan cukup berpengaruh di Koto Laweh ini menyatakan kesediaannya. Kesediaan Tuanku Mansiangan bersedia untuk bergabung dengan kaum Padri agaknya lebih didasarkan atas pertimbangan bahwa ia telah mengenal secara baik Haji Miskin dan pernah menjadi pelindungnya sehingga ia tidak merasa asing dengan ide-ide pembaharuan Islam yang diusung Kaum Paderi. Kecuali itu, Tuanku Mansiangan adalah orang yang gila hormat, sementara popularitasnya tidak seluas Tuanku Nan Tuo yang juga adalah murid dari ayahnya. Popularitasnya hanya sebatas Koto Laweh, sedangkan Tuanku Nan Tuo tidak hanya di seluruh Agam tetapi juga ke wilayah lain di luar Agam. Keputusannya untuk bergabung dan menjadi pemimpin Kaum Padri diharapkan dapat mendongkrak popularitas dan dapat menaikkan gengsinya di kapangan ulama khususnya di Agam. Sebagai tanda terima kasih atas kesediaannya bergabung dengan Kaum Padri, Tuanku Nan Renceh memberinya gelar Imam Besar. Meskipun pimpinan kaum Padri berada di tangan Tuanku Mansiangan namun aktor sesungguhnya adalah Tuanku Nan Renceh. Orang yang disebut kemudian inilah yang lebih menonjol dalam menentukan arah perjalanan gerakan Kaum Padri.

Dalam suatu pertemuan dengan masyarakat di Kamang Tuanku Nan Renceh menagajak masyarakat untuk ikut mendukung gerakan pembaharuannya. Kepada masyarakat diperintahkan untuk menjalankan syari’at Islam dan sholah 5 waktu harus dijalankan. Makan sirih, merokok, minum minuman keras, dan madat diharamkan. Kepada kaum laki-laki dianjurkan untuk memakai pakaian putih dan memelihara jenggot. Memakai pakaian dari sutera dan perhiasan emas hanya dibolehkan kepada kaum perempuan. Kaum ibu juga diharuskan memakai cadar. Bagi yang bersalah atau melanggar sebuah dari aturan-aturan tersebut akan dikenakan hukuman mati dan harta bendanya dirampas. Keseriusan Tuanku Nan Renceh memberikan hukuman mati bagi yang melanggar aturan-aturan yang dibuatnya dicontohkan dengan membunuh bibinya lantaran adik kandung ibunya itu kedapatan sedang mengunyah sirih.

Peristiwa pembunuhan tersebut ternyata mengundang banyak ulama dari berbagai tempat untuk menggabungkan diri dengan Tuanku Nan Renceh. Tindakan kekerasan Tuanku Nan Renceh dianggap sebagai wujud dari keseriusan dalam menjalankan syari’at Islam. Siapapun yang bersalah harus dihukum meski itu keluarga sendiri. Dukungan terhadap Kaum Padri juga semakin luas. Pada saat inilah kaum Padari mulai berusaha merombak masyarakat Padang darat, sementara Tuanku Nan Renceh memperoleh dukungan masyarakat yang makin besar sehingga tampaklah saat yang baik bagi dia untuk melanjutkan pelaksanaan maksudnya. Desanya sendiri sudah diletakkannya di bawah kekuasaan alim ulama. Dalam hitungan hari banyak nagari-nagari yang mengakui kekuasaan Kaum Padri dan mengikuti ajaran-ajarannya. Seluruh kekuatan wilayah Agam menjadi daerah kekuasaan Padri. Kaum Paderi muncul sebagai kekuatan politik baru di pedalaman Minangkabau. Keberhasilan kaum Paderi menguasai wilayah Agam merupakan point history dimulainya penyusunan pemerintahan nagari yang bercorak agama (nagari a-la Paderi/pemerintahan a-la Paderi) dan menitikberatkan pada ajaran Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum Paderi. Pada setiap nagari yang telah dikuasai oleh kaum Paderi, diangkat dua orang ulama sebagai pimpinan (kepala) dengan panggilan Tuanku Imam (Imam) dan Tuanku Qadhi (Qadhi). Bila dihubungkan dengan berbagai teori politik maupun teori sosiologi, terlihat secara gamblang bahwa pemegang otoritas agama, pada umumnya tidak bisa melepaskan diri mereka dengan politik.

Dalam kasus gerakan Paderi, keterpinggiran pengaruh dalam realitas sosial membuat kalangan agamawan merasa tidak bisa berimprovisasi secara luas dalam realitas sosial. Maka jalan yang paling baik adalah merebut atau menciptakan sistem otoritas politik sendiri. Kasus Gerakan Wahabi di tanah Hejaz juga bisa dilihat dari perspektif ini. Walaupun, untuk kasus Paderi, kalangan elit agama ini hanya ingin mengembalikan posisi dan peran sosial mereka dalam entitas sosial masyarakat Minangkabau yang sejajar dengan elit adat. Namun dalam sistem kepemimpinan, kesejajaran dalam struktur kepemimpinan tersebut sangat sulit terwujud, pasti ada yang berada dalam posisi hegemoni. Dalam kasus kaum Paderi ini, elit agama yang selama ini terpinggirkan, ingin mengembalikan peranannya sebagai pemegang kekuasaan dalam bidang agama, sejajar dengan kekuasaan penghulu sebagai pemegang pucuk pemerintahan nagari. Namun bila kita lihat secara teoritik, dalam sejarah pemikiran intelektual Minangkabau, pemegang otoritas agama sejak Islam sudah eksis di Minangkabau, tidak pernah lepas dari elit agama, dan tidak pernah diambil alih oleh elit adat misalnya, karena elit adat merasa tidak memiliki otoritas dan kapabilitas keilmuan. Akan tetapi reduksi pengaruh bisa terjadi. Setiap elit memiliki domain keilmuan atau otoritas sendiri, akan tetapi otoritas pengaruh bisa melintasi domain otoritas lain. Misalnya, elit adat yang memiliki otoritas dalam bidang adat dan elit agama dalam bidang agama. Itu domain mereka masing-masing.

Tapi bisa saja terjadi, elit adat tidak saja memiliki pengaruh dalam domain mereka masing-masing, namun pengaruh mereka bisa saja hingga ke domain elit lain, bahkan terkadang pengaruh mereka itu jauh lebih besar dibandingkan pemegang otoritas keilmuan dalam domain bersangkutan. Hal inilah yang terjadi sebelum gerakan Paderi muncul. Masing-masing elit memiliki domain sendiri-sendiri. Akan tetapi, dalam seluruh aspek kehidupan, justru domain elit adat jauh lebih besar. Bahkan dalam domain agama yang seharusnya pengaruh elit agama jauh lebih besar, bisa direduksi oleh elit adat. Kaum Paderi menyadari hal ini. Menguasai masyarakat bukanlah menguasai wilayah, akan tetapi yang paling penting adalah menguasai pengaruh. Peran mereka sebagai elit agama yang selama ini tereduksi oleh elit adat ingin mereka kembalikan. Dan mereka juga ingin membentuk sistem kepemimpinan a-la mereka sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka ingin mereproduksi kondisi sosial yang lama, ingin mereduksi pengaruh elit adat.

Dengan membentuk tata nilai yang termanifestasi dalam tata politik yang dibentuk a-la Paderi maka kaum Paderi akan memiliki fleksibelitas dan keleluasaan dalam menjalankan misi dan motivasi dari gerakan mereka sendiri. Dalam arti kata, tata nilai yang dibentuk atau dicita-citakan hanya akan berjalan secara efektif bila tata politik dibentuk atau direbut. Tata politik berkorelasi dengan pengaruh (minimal pengaruh legal-formal). Jadi, merubah masyarakat akan efektif dan memiliki daya pressure and endorse apabila kekuasaan (bahkan lebih efektif bila kekuasaan yang hegemonik) dipegang. Selanjutnya nilai-nilai akan dibentuk sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi anutan si pemegang kekuasaan. Dalam konteks inilah, diasumsikan gerakan Paderi menyusun atau membuat pola kepemimpinan sendiri yang berbasiskan agama (Islam).

Tata nilai yang terbentuk tersebut, secara teoritis, akan didukung secara maksimal oleh pembuat dan individu yang simpati serta memiliki kepentingan dengan tata nilai tersebut. Namun, akan diterima secara minimal bahkan ditentang secara maksimal oleh kelompok yang merasa dirugikan akan kehadiran tata nilai baru tersebut. Daya tolak ini bisa saja disebabkan oleh dua hal, yaitu karena kehadiran tata nilai baru tersebut mereduksi tata nilai yang mereka miliki selama ini dan ini berkorelasi dengan eksistensi serta harga diri mereka. Kemudian kehadiran tata nilai baru itu akan ditolak apabila membuat mereka tidak bisa lagi menjalankan aktifitas sesuai dengan nilai yang selama ini mereka anut atau diperbolehkan oleh tata nilai dimana mereka hidup dan beraktifitas.

Rakyat awam yang selama ini mendapat kebebasan dalam bertindak dan beraktifitas sesuai dengan kehendak hati mereka masing-masing, karena kehadiran tata nilai baru yang berpotensi mengekang ”kondisi aman dan nyaman” yang selama ini telah mereka rasakan, tidak dapat menerima aturan-aturan yang telah ditetapkan (baca: dipaksakan) oleh kaum Paderi. Terjadi reaksi, atau dalam bahasa sosiologisnya, resistensi sosial. Dalam keadaan seperti ini, maka elit-elit adat akan menjadi tempat yang paling tepat untuk berlindung bagi rakyat awam. Dalam teori kepemimpinan politik dikatakan bahwa suatu kelompok sosial yang (merasa) dikalahkan akan berafiliasi kepada kelompok sosial yang mereka yakini juga dikalahkan, walaupun pra-kondisi sebelumnya, kelompok sosial tersebut awalnya bertentangan dengan kelompok sosial tempat mereka berafiliasi itu.

Sebagai orang yang memiliki otoritas tertinggi dalam nagari dan pemimpin suku dalam kaum, tentu saja elit-elit adat tidak menginginkan kondisi yang demikian tersebut. Ditambah lagi dengan kehadiran tata kepemimpinan (Imam dan Qadhi) yang diperkenalkan oleh kaum Paderi tentu elit-elit adat merasa akan tereduksi pengaruh mereka yang selama ini dominan bahkan hegemonik. Sebagai petinggi adat yang bertugas memelihara anak kemenakan serta seluruh warga sukunya tidak akan membiarkan anak kemenakan serta seluruh warga sukunya menjadi korban kekerasan kaum Paderi. Untuk itu, para penghulu sepakat untuk mempertahankan hegemoni mereka, mempertahankan kekuasaan mereka yang telah ”direbut” oleh kaum Paderi. Akhirnya mereka mencari momentum untuk ”meledakkan” kemarahan mereka terhadap kaum Paderi.

Setelah berhasil menanamkan pengaruh mereka di daerah Agam, dan meletakkan tata pemerintahan a-la Paderi (memfungsikan secara maksimal peran Imam dan Qadhi), maka usaha kaum Paderi berikutnya adalah mengikis habis feodalisme yang dipersonifikasikan pada pengaruh Kerajaan Pagaruyung yang mereka anggap memiliki potensi besar dalam menghalangi pembaharuan Islam yang mereka lakukan. Penyerangan-penyerangan terhadap beberapa nagari-pun mulai dilakukan. Pendekatan anarkis-radikal-destruktif dianggap pola terbaik dan efektif yang harus dilakukan. Maka banyak kalangan adat yang menyerahkan diri atau melarikan diri ke daerah-daerah lain. Bahkan Tuanku Nan Tuo, ”sang guru ideologis” yang selama ini cenderung persuasif, tidak luput dari penyerangan ”murid-murid ideologisnya”. Surau tempat ia mengajar dibakar. Balairung-balairung adat pun banyak yang menjadi puing-puing. Dibakar oleh kaum Paderi. Dalam setiap penalukkan, kaum Paderi otomatis meletakkan dasar kepemimpinan a-la mereka, disamping tentunya pendekatan Islam yang primordial kepada masyarakat.

Beberapa pimpinan kaum Paderi, seperti Haji Sumanik juga bergerak radikal di wilayahnya, Tanah Datar. Akan tetapi, di daerah pusat kerajaan Minangkabau ini, Haji Sumanik tidak mendapat hasil yang maksimal, bahkan bisa dikatakan gagal. Hal ini dikarenakan, kalangan adat (dalam hal ini penghulu) bersatu menghambat pengaruh yang disebarkan Haji Sumanik. Di daerah kultural Minangkabau ini, penghulu yang primus interpares tersebut, masih memiliki pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan kaum Paderi menanamkan pengaruh mereka di daerah-daerah Agam, telah menyadarkan kaum adat di Tanah Datar bahwa kaum Paderi pada prinsipnya berambisi untuk merebut kekuasaan dari penghulu. Karena kondisi sosial yang berbeda dengan daerah-daerah di Agam, maka akhirnya Haji Sumanik terpaksa hijrah ke daerah Lintau.

 

Sementara itu, di daerah-daerah lain seperti di Lintau, Tuanku Pasaman mampu mensosialisasikan misi gerakan Paderi kepada masyarakat. Penerimaan masyarakat cukup baik, karena fokus Tuanku Pasaman hanya kepada perbaikan moralitas masyarakat dan pola sosialisasinya lebih persuasif, bukan radikal-destruktif sebagaimana yang terjadi di daerah Agam. Atas inisiatif beliau pulalah akhirnya pada tahun 1815, diadakan perundingan antara kaum Paderi dengan keluarga dan pembesar-pembesar kerajaan Minangkabau. Dalam perundingan tersebut, terjadi perbedaan pendapat yang pada akhirnya terjadi perkelahian antara keluarga dan pembesar kerajaan Minangkabau dengan tokoh-tokoh Paderi. Seluruh keluarga dan pembesar kerajaan Minangkabau tewas, kecuali raja beserta cucunya yang dapat meloloskan diri ke Kuantan di Lubuk jambi. Peristiwa ini mengakhiri kekuasaan raja alam Minangkabau. Sentral politik-kultural Minangkabau diruntuhkan oleh kaum Paderi. Nagari-nagari lain secara berangsur-angsur banyak yang menyerahkan diri. Beberapa penghulu yang tidak mau tunduk dengan kaum Paderi, banyak yang lari ke Batipuh, sebuah nagari yang tidak mau tunduk dengan kaum Paderi. Meskipun kaum Paderi berhasil menyingkirkan kekuasaan Minangkabau, mereka tidak segera mengambil alih sentral kekuasaan kultural tersebut. Tampak disini, keinginan kaum Paderi pada prinsipnya adalah ingin menaikkan daya tawar politik mereka di tengah-tengah masyarakat dan tidak murni meraih kekuasaan an-sich.

Praktis di Minangkabau pada waktu ini, otoritas hegemonik berada di tangan elit agama (baca: kaum Paderi). Elit adat yang selama ini merasa bahwa otoritas sosial berada di tangan mereka, merasa tidak senang dengan kondisi ini. Apalagi setelah kejatuhan kerajaan alam Minangkabau, sebuah institusi supra yang secara kultural melindungi eksistensi mereka. Akhirnya, ”matahari” lain dari kalangan out-group mereka datangkan, kolonial Belanda. Mereka meminta bantuan kepada Belanda untuk memulihkan kembali kekuasaan mereka yang dirampas oleh Paderi. Permintaan tersebut langsung diterima oleh De Puy dan kemudian melanjutkan atau merekomendasikannya ke Batavia. Permintaan pertama ditolak karena mengingat jumlah kekuatan militer Belanda di Minangkabau tidak begitu besar. Kemudian, pada tahun 1821, dibuatlah perjanjian antara kaum adat dengan Belanda. Dari pihak Belanda ditandatangani oleh De Puy, sementara di pihak adat ditandatangani oleh Sutan Bagagarsyah, Raja Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam serta berbagai penghulu dari berbagai daerah di Luhak Tanah Datar.

Permohonan bantuan ini nampaknya dilakukan secara total. Hal ini terlihat dari siapa-siapa saja yang ikut dalam rombongan penandatangan perjanjian tersebut. Menurut data sejarah, rombongan secara keseluruhan berjumlah 20 orang yang mengatasnamakan 103 penghulu di Luhak Tanah Datar, diluar keluarga dan kerabat kerajaan Alam Minangkabau. Pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu baru saja menerima sebagian kecil wilayah pantai barat Sumatera dari pemerintah sementara Inggris dengan segera menyetujui permintaan bantuan tersebut. Apalagi rombongan tersebut menjanjikan imbalan kepada Belanda. Perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian 10 Februari 1821 tersebut kemudian dikukuhkan. Beberapa point-point penting dari perjanjian tersebut antara lain : (1). Kepala-kepala pemerintahan (penghulu) dari kerajaan Minangkabau, secara formal dan mutlak menyerahkan Pagaruyung, Sungai Tarab dan Saruaso begitu juga daerah-daerah sekeliling Kerajaan Minangkabau kepada pemerintah Hindia Belanda. (2). Penghulu-penghulu tersebut berjanji untuk patuh dan tidak menentang perintah apapun dari Belanda. (3). Dalam rangka menguasai daerah-daerah yang telah diserahkan kepada Belanda, untuk melindungi rakyat dari kaum Paderi, untuk menghancurkan kaum Paderi dan menciptakan perdamaian di Minangkabau, pemerintah Hindia Belanda menyediakan satuan tentara sebanyak 100 orang dan dua pucuk meriam. (4). Para penghulu diharuskan menyediakan kuli-kuli dalam jumlah yang dibutuhkan dan mengurus makanan tentara sebaik-baiknya. (5). Adat dan kebiasaan lama dan hubungan penghulu dengan penduduk akan dipertahankan dan tidak akan dilanggar selama tidak bertentangan dengan pasal-pasal dalam perjanjian.

Selanjutnya, kaum Paderi berhadapan vis a vis melawan Belanda. Perang Paderi pun mulai dicatat dalam sejarah. Gerakan ini kemudian pada tahun 1838 dikalahkan oleh Belanda. Sementara itu, tujuan penghulu meminta bantuan kepada Belanda agar posisi mereka sebagai elit adat dan mengembalikan pengaruh mereka kembali yang telah diambil oleh elit agama, justru kontraproduktif akibat Perjanjian yang telah mereka tanda tangani dengan Belanda. Mereka menjadi ”lebur” dalam mesin kekuasaan pemerintah kolonial Belanda dan semakin aktif dalam menyukseskan eksploitasi ekonomi Belanda. Akibatnya, kekalahan Paderi tidak serta merta menghilangkan pengaruh mereka. Justru yang terjadi adalah kemenangan elit adat membuat mereka tercatat dalam sejarah sebagai ”penjilat” dan merendahkan martabat orang Minangkabau. Politik balas dendam elit adat terhadap bekas pengikut kaum Paderi justru membuat banyak kalangan masyarakat Minangkabau merasa muak dengan tingkah polah mereka, apalagi pemerintah Belanda tidak berupaya menjauhkan diri dari elit agama, bahkan mereka berusaha untuk selalu mendekatinya.

 

Sebelum kita mengulas tentang Tuanku Rao Alias Pongki Nangolngola Sinambela, mari kita paparkan kekejaman- kekejaman kaum wahabi dalam membasmi kelompok yang tidak sealiran dengan mereka . Kaum Paderi yang beraliran Wahabi dan bermazhab Wabi tidak membeda-bedakan yang dibasmi, apakah dia kaum adat atau kelompok Islam bermazhab lain, atau agama lain mereka musnahkan tanpa ampun. Dibawah ini kiita kutib penjelasan Basyral Hamidy Harahap sbb:

 

 

Basyral Hamidy Harahap, exposing Padri to Simanabun invasion army led by Lord Tambusai. (See Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog) ‘… As a writer, there-pounding thud of my heart when writing Datu Bange chapter in this book. Not just because of this chapter tells about non-berperi-kemanusiaanan, genocide, and a smoldering resentment. But because he also told me about my ancestors who continue to fight, even when they are in a disadvantageous position. Meanwhile, white-clad troops who buzzed-touted religious, while slashing human head, burning villages, raping, and doing all sorts of barbarity, continued to pursue the enemy. This is what makes the Dutch so melted, and stirred a sense of humanity. Datu Bange and his entourage continue to fight. Spontaneously, the Dutch troops protecting group Datu Bange. Because if not, a human tragedy that much more cruel inevitable, which, however, will not be accepted civilized man!!! . Datu Bange and his followers are none other than my ancestors, finally succeeded in entering a new area after a rugged terrain, winding up mountains and down valleys and jungle with a distance of over 65 kilometers, and then they settled in the area Angkola and Mandailing Godang. Although for that Datu Bange have to make it up with her own life … Even Basyral Hamidy Harahap considers the basis used by the committee that proposed the title of National Hero for the lord Tambusai naive and dropping the dignity of Datu Bange. BHH writes (p. 67): “… In those upland areas where the population is still parbegu and often make a mess like raiding and taking slaves were disturbing residents. Tambusai lord wanted to end the situation by doing the movement against the group was led by Datu parbegu Bange, King Siminabun the citadel is located on the summit of a steep hill on the banks of the river Batang Pane … “
Islam had entered North Sumatra since the 8th century, and mostly Shiite wing. For hundreds of years Islam and indigenous religions Batak, Parmalim, as well as Hindu-Buddhist can coexist peacefully.
Many people-including-HAMKA reject the issue of mass rape of women prisoners orgy by some forces Padri. The story of how members Padri syahwatnya openly lust for beautiful captives accused Parlindungan Hamka as mere fantasy. Hamka also accused sex stories was accidentally placed Parlindungan appealing to youth than seeking scientific data. In the eyes of Hamka, lord Lelo whose real name according Parlindungan Idris Nasution was Parlindungan sheer floral character. Meanwhile, in his book, MOP stated, that my lord Lelo / Idris Nasution was his great-grandfather.
Regarding the abduction of women in areas that have been conquered, and then sold as a slave, was also written by Rosihan Anwar in Kompas edition of Monday, February 6, 2006 with the title ‘Padri War which not Know’, where it says: “… The interesting thing is habit of abducting women in raid, then transport them to be sold as slaves (slaves). Padri Mandailing do this in the area. Period of the slave trade was a common symptom … “
In the Dutch colonial era, slavery was the official practice. There are even slavery laws, in force since 1640 and recently officially abolished in 1863. But in fact, the practice of slavery in the Dutch colony continued until the late 19th century. Similarly, the rape of women in the area had been attacked and defeated or occupied. It is still happening today.
In his book ‘Between Fact and Fantasy “-whether consciously or not-HAMKA much to expose the violence in the spread of multiple streams of Islam in the Middle East, especially those committed to disseminate any school or sect. HAMKA also wrote cruelty Tuanku Nan Renceh very fanatical kewahabiannya, who ordered to kill her mother’s sister, because they do not want to follow the prayers. (P. 238) Regarding the white garments worn by the clergy in Minangkabau, HAMKA writes, that the white color worn by the clergy is a legacy of Buddhism. HAMKA writes (p. 303): “… Even the white color that may have existed since the Minangkabau still embraced Buddhism. Buddhist monks walk with a white scarf dress will ask (maybe the question is stock – pen.) Food to residents. After the coming of Islam in the Buddhist heritage passed on by students-students in Minangkabau called ‘The Siak’.: Those white gloved, and dressed in white pants stock alms recite every Thursday to runah-houses … “It’s hard to provides an assessment of the events or things that happened in the past, the size of humanity today. Also in the absence or lack of data, facts and documents that can amplify or narrative folklore about a historical event.
Tempo Tempo Magazine October 21, 2007 includes “… the petition is urging the Indonesian government to cancel the appointment of Tuanku Imam Bonjol freedom struggle hero Imam Bonjol is Chairman Padri Wahabi Movement. Movements have the same flow with the Taliban and al-Qaida. Invasion Padri to the ground Batak killed thousands of people “. Another section on page 56 it says “wear their all-white”. Weapons strong enough. They think Parlindungan, having owned former military 88s Napoleon’s armies were purchased second hand in Penang. Two officers Padri sent to study in Turkey. Tuanku Rao, originally named Pongki Nangol a Batak-ngolan Sinambela, sent to study cavalry tactics. Tambusai lord, originally named Hamonangan Harahap, learn about fortification. Padri forces also had military training in Batusangkar. References are used, for example, the obtaining of Schnitger, a Antropholog Netherlands, and JB Neuman in his Het Panai en When Stroomgebied geography magazine published in the Dutch kingdom in 1885, 1886, 1887 states that the so-called Tongku (ie Datuk Engku or Tuk Ongku) written as Tempo (21/10/07) page 61, as the artisan butcher. If “if people do not necessarily want to convert to Islam will be killed”. Tambusai lord known as the most feared figure of the Dutch war, because of the various battlefields through Tambusai lord, it’s pretty meyibukkan the colonizers, as spoken D Brakel in his De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) which states, “during the war Padri, two figures who led the Dutch struggled for so long: Tuanku Imam Tambusai Bonjol and my lord. Without these two, the battle can be finished in a shorter time by winning the Dutch “.
COMPASS, Sunday, July 27, 2008 article Rosihan Anwar, “War of the Not Padri You Know”, published by “Compass”, February 6, 2006, highlighting the dark side Padri War. Rosihan it comes to writing a book compiled by the Dutch military historian, G Teitler, titled “Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, in the article, talks about the habits women kidnap cleric in a raid, then transport them to be sold as slaves (slaves). There is another book that explores the dynamics of remarkable changes in the economic life and movement purification of Islam in Minangkabau. In the process many of the conflicts that arise changes which resulted in human tragedy. The book was written historian Christine Dobbin, Islamic Revivalism original title in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983). Dobbin began a detailed presentation about the social ecology and topography of the Minangkabau, about the challenges and natural grace in movement Minangkabau society trade. We are amazed to read this book. Apparently there is still much we do not know about the social changes that are spectacular and the movement in the Minangkabau and Tapanuli Padri. Approximately 75 percent of the book tells the story of the changing dynamics of the Minangkabau people in the vagaries of trade in the interior and west coast with all the problems it caused, gold and iron mining, industrial houses, farm tools workshop, sharp weapons and guns, carpentry, weaving, farming export commodities, competition and trade war with the Dutch. It happened before any movement since many Padri. Interesting to note that centuries before the birth of the movement Padri, Islam has long been developing in Natal, west coast Mandailing, Tapanuli Southern. This is evidenced by the presence of my Lord Lintau, a rich, native Lintau Sinamar Valley, who came to Natal to study Islam. Then the lord Lintau continue his education to Pasaman who also inhabited Mandailing embracing patrilineal kinship system. After studying the Islamic religion, about 1813, returned to his village lord Lintau convinced that as a resident of Tanah Datar, he has a mission to improve moral behavior and the valley. Tuanku Lintau impressed Padri movement led by Tuanku Nan Renceh in Agam. He also joined the Padri. In particular lord Lintau feel obliged aware lifestyle of the royal family were not in accordance with the teachings of Islam in order to return to the right path. Initially, my lord Lintau get protection from the King Muning, is King of the Minangkabau who sits Pagaruyung. But in the next development, lord Lintau social revolution precisely because he was convinced that the system is corrupt kingdom barriers to the success of his ideals. Lintau lord and his followers attacked the King of Nature. Many were killed, including two sons of the King of Nature. Raja Alam and grandson managed to escape to Lubuk Jambi in Inderagiri. Alam grandson of King’s later known as Emperor Shah Alam Bagagar, last Minangkabau King. That Christmas on the west coast as the first lord Mandailing Lintau studying Islam proves, it is not Padri War Islamization movement in Mandailing. Since centuries before the onset Padri movement, Sufi scholars have taught Islam to the Mandailing Natal. The key figure in spreading Islam to the west coast to the inland Mandailing are great Sufi cleric Sheikh Abdul Fattah (1765-1855). This great scholar died and was buried in Pagaran Sigatal, Panyabungan. Sufi disciples that peacefully brought Islam to the interior Mandailing. Both Padri and the Netherlands are concerned about the threat of mutual destruction of each trading hegemony in the Minangkabau region and the west coast. That’s why the Dutch lock Padang area to the south that was not touched by the Padri. This prompted the occupation of the northern region, in this case a rich Mandailing Rao and high quality gold and other export commodities. We thus understand why trade movement has become hardened in Padri movement era. Mandailing Padri movement in opposition of the lordship Hutasiantar Sutan Kumala, king of the clergy as well as primus inter pares Mandailing kings. He was dubbed by the Dutch as Primaat Mandailing. Dobbin said that the slave trade is very important for the system Padri. Because the slaves not only as a commodity, but also as porters and army reservists. That’s what causes the Padri can last so long in the conduct of war. Probably not good to say that so long Padri War (1803-1838), who had been so sacred, referred to by Dobbin a trade war. The evidence suggests the ways to move Padri war violence and brutality, far from Islamic values. This prompted us consciously or unconsciously, more trusting Dobbin. In addition, Padri able to shift the traders operating in the adjacent settlement of Europeans. One feature that stands out Padri movement is an attempt to foster trade Minangkabau simultaneously resist efforts from outside who want to monopolize trade in the region. Dobbin said that Padri movement, particularly in the north Minangkabau, rather than the trade movement spread of Islam movement. Is worth, none of the former trail Padri in the field of religion in the region. So, according to the indication I lost interest in the book Tuanku Rao that Islam brought by the Mandailing themselves from Pasaman and west coast Mandailing. The process of Islamization took place peacefully in a family atmosphere. They have known Islam centuries before the existence of the Padri. Christmas reputation as a center of Islamic education on the west coast has been demonstrated by the lord Mandailing Lintau, Padri legendary figure who studied Islam in Natal, before he delved into Padri movement. Islamic reform movements and trade pre-Padri, at Padri, and post-Padri is essentially a tremendous social revolution in West Sumatra. Broadly speaking Padri War erupted in Minangkabau between since the year 1821 until 1837. The Padri led Tuanku Imam Bonjol against colonial Dutch East Indies. Padri movement against the rampant acts of that time in Minang people, such as gambling, penyabungan chicken, the use of opium (opium), liquor, tobacco, betel, also matriarchal aspects of customary law on inheritance and generally loose enforcement of formal ritual obligations of Islam. The war was triggered by a split between the leadership of Datuk Bandaro Padri and The Indigenous leader Datuk Sati. The Dutch then help the oppressed peoples Padri. Datuk Bandaro then replaced Tuanku Imam Bonjol. The war against the Dutch only stopped in 1838 after the entire earth Minang captured by the Dutch and the year before, 1837, Imam Bonjol arrested. Although the war officially ended in the fall Padri Bonjol fort, but the last bastion Padri, Dalu-Dalu, under the leadership of Lord Tambusai, then fell in 1838. Alam Minangkabau become part of the pax Neerlandica. But in 1842, Regent Batipuh rebellion erupted. The end of the war Padri Padri Dutch attacked the fort in Bonjol with army led by generals and officers Netherlands, but mostly consisting of various tribes, such as Javanese, Madurese, Bugis, and Ambon. In the list of names of the Dutch army officer is Lieutenant Colonel Bauer, Captain MacLean, Lieutenant Van der Tak, and so on, but also the name of Inlandsche (native) as Captain Noto Prawiro Indlandsche Luitenant Prawiro on Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, and Merto Poero. There are 148 European officers, 36 officers indigenous, European armies 1103, 4130 native troops, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (aka Sumenap auxiliaries Madura). When starting an attack on the fort Bonjol, Bugis people are in front of the defense attack Padri. From Batavia brought additional forces continued the Dutch army. Dated July 20, 1837 arriving Boat Perle in Padang, Captain Sinninghe, a number of European and African, 1st Sergeants, four korporaals and 112 flankeurs. The latter refers to the African soldiers recruited by the Dutch in the continent, the country is now Ghana and Mali. They called Sepoys and served in the Dutch army. Dutch use 2 as a defense fortress during the war Padri, Fort de Kock and Fort van der Capellen in Batusangkar. Head Bonjol War is king Telabie. Other heads are Mudi Padang lord, lord Lake, lord Kali Besar, Mahamed Haji and Haji busty lord who kept daily by 100 people. That gave the command is Tuanku Imam Bonjol with six cannon defense in mountain areas. The pages are surrounded by fences and ditches defense. War of 1833 In 1832, the castle fell into the hands of soldiers Bonjol Company. This triggered a war again. Post Goegoer Sigandang guarded by a Dutch sergeant and 18 soldiers armed with a cannon in 1833 was invaded by the Minang people. They killed the sergeant and the whole castle. Colonel Elout revenge by calling some of the leaders of the region to face in Goegoer Agam Sigandang and 13 faces. By order of Colonel, the 13 people were hanged all. After this incident Bagagarsyah Sultan Alam from Pagaruyung exiled to Batavia. Besides Bonjol population, there are 20 people in the castle Javanese soldiers who had crossed into the Padri. Among the soldiers who had left the Dutch army was there a man named Ali Rachman who strive to harm the Company. Also there is a drum beater named Saleya and a cannon crew (kanonnier) named Mantoto. There are also Bagindo Natural, Natural Doebelang and Doebelang Arabic. Arab Doebelang specifically concentrated to steal the Dutch forts. Dutch East Indies government has now realized that they are no longer just face the vicar, but the Minangkabau. So the government had issued a proclamation called plaque Long (1833) contains a statement that the arrival of the Company to the Minangkabau not intend to rule this country, they just came to trade and security, the Minangkabau would still be governed by the princes of their customary nor required paying taxes. Since the Company’s efforts to maintain security, prevent the occurrence of the “war between villages”, making roads, open schools, and so require a fee, then the population is required to grow coffee. Finally Bonjol fort also fell for the second time in 1837. Negotiations Dutch resident ambassadors sent to negotiate with the Tuanku Imam Bonjol. Tuanku states are willing to negotiate with the resident or by a military commander. The talks should not be more than 14 days. Over the past 14 days waving the white flag and force a ceasefire. My master came to the talks without a weapon. But the negotiations did not take place. Tuanku Imam Bonjol Dutch commander who came to negotiate, even were arrested and immediately taken to Padang, henceforth relegated to different regions of the world until his death in 1864. Colonel Elout have official documents that prove the guilt Sentot Ali Basha with a presence in Sumatra. Sentot, after the end of the Java War, went into the Dutch government. Presence in Java can be problematic. When Colonel Elout attacks on Padri years 1831-1832, he gained additional strength from troops who have defected Sentot it. After the uprising in 1833, raised serious suspicions that Sentot conspiracy with the Padri. Therefore, Elout send Sentot and legions to Java. Sentot fail to remove the suspicion against him. Holland did not want him to be in Java and sent him back to Padang. On the way there Sentot down and arrested in Bengkulu, where he lived until his death as an outcast. His army was disbanded and its members serving in the Indian army. Padri War period can be grouped into: A. 1803 – 1833: The Rebellion Wahabi Padri B. 1833 – 1838: The remnants Eradication Padri Company A. 1803 – 1833: The Rebellion Wahabi Padri rebellion started in 1803 by a mob attack Padri Salapan driven by the Tigers, led by Tuanku Nan Renceh. The uprising ended with the exile of Sultan Baggagarsyah, last king of the Sultanate of Minangkabau Pagarruyung, the Kingdom of the Netherlands, and annexed the kingdom Pagarruyung NEI (Netherland East Indies). This period can be further grouped into: 1. 1803 – 1815: The destruction of the Islamic Empire Pagarruyung Minangkabau. At this time Padri Wahhabi hordes conquered one by one Pagarruyung region. The climax was the massacre Penghulu and the Royal Family in the peace talks in Koto Tangah. Tuanku Raja Alam Muningsyah III, King of the 31st fall, replaced temporarily by Stakeholder Alam Raja, Raja Garang Lord Prayer III (Holy Sumpur). With the completion of the conquest of the region Pagarruyung, Wahhabi hordes Padri begin the invasion of the North. 2. 1815 – 1821: The invasion of the Land of Batak (Tingki ni Pidari I). At this time Padri Wahhabi hordes invaded South Batak, erecting occupation in Rao and Dalu-Dalu as a base of attack. Soon after the occupation of the South Batak, Batak attack is to the North. Batak Land invasion period ended with the outbreak of cholera and marked the start of the Dutch East Indies coalition military campaign to seize territory-Pagarruyung Minangkabau. 3. 1821 – 1833: The crackdown on gangs Padri At this time the Dutch East Indies coalition Minangkabau Minangkabau recapture all regions except the two remote areas of the northern fortress (Bonjol & Dalu-Dalu). This period ends with the annexation of the Kingdom of the Netherlands at the Minangkabau kingdom by capturing and disposing of my lord the King Black – Natural Bagagarsyah Tuanku Raja, Raja Alam to-33, thus ending the history of the kingdom of Minangkabau. Marked also with the fall of the fortress by troops Rao joint Dutch-Mandailing, thus practically Bonjol isolated fortress. This period ends with the signing of plaque length by the recognition of Dutch sovereignty Padri in Minangkabau. B. 1833 – 1838: The remnants Eradication hordes Padri At this time the remains of which survive hordes Padri Fort Bonjol (due August 1837) and Dalu-Dalu (due December 1938) was crushed by the Dutch.
Tuanku Imam Bonjol succumbed to Dutch (according to testimony in a personal note Bonjol Tuanku Imam), was killed Tambusai lord (lord Tambusai news that had lived in Malaysia has not been proven).
Remaining geromboloan Padri trying to build a new base in Malaysia, but failed and ended up as mercenaries.

Original info

Basyral Hamidy Harahap , memaparkan penyerbuan tentara Paderi ke Simanabun yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. (lihat Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog) ‘… Sebagai penulis, ada debar-debum jantung saya ketika menulis bab Datu Bange di dalam buku ini. Bukan hanya karena bab ini bercerita tentang ketidak-berperi-kemanusiaanan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan, sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa, dan melakukan segala macam kebiadaban, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiannya. Datu Bange dan rombongannya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu Bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimanapun tidak akan bisa diterima manusia beradab !!! .Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara dengan jarak lebih dari 65 kilometer, dan kemudian mereka menetap di daerah Angkola dan Mandailing Godang. Walaupun untuk itu Datu Bange harus menebusnya dengan nyawanya sendiri… Bahkan Basyral Hamidy Harahap menganggap dasar yang digunakan oleh panitia yang mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tuanku Tambusai tersebut naif dan menjatuhkan harkat dan martabat Datu Bange. BHH menulis (Hlm. 67): “… Pada masa itu daerah-daerah dataran tinggi yang penduduknya masih parbegu dan sering membuat kekacauan seperti merampok dan mengambil Budak yang meresahkan penduduk. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri keadaan itu dengan melakukan gerakan terhadap kelompok parbegu tadi dipimpin oleh Datu Bange, Raja Siminabun yang bentengnya terletak di atas puncak bukit terjal di tepian sungai Batang Pane…”

Islam telah masuk ke Sumatera Utara sejak abad 8, dan kebanyakan beraliran Syiah. Selama ratusan tahun Islam dan agama asli Batak, Parmalim, serta penganut Hindu-Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai.

Banyak kalangan –termasuk HAMKA- menolak isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Paderi. Cerita tentang bagaimana anggota Paderi melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka. Sedangkan dalam bukunya, MOP menyatakan, bahwa Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyutnya.

Mengenai penculikan kaum perempuan di daerah yang telah ditaklukkan dan kemudian dijual sebagai budak, juga pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas edisi Senin, 06 Februari 2006 dengan judul ’Perang Padri yang Tak Anda Ketahui’ , di mana tertulis: “… Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim…”

Di zaman penjajahan Belanda, perbudakan adalah hal yang resmi dipraktekkan. Bahkan ada undang-undang perbudakan, yang berlaku sejak tahun 1640 dan secara resmi baru dihapus tahun 1863. Namun pada kenyataannya, praktek perbudakan di wilayah jajahan Belanda masih berlangsung hingga akhir abad 19. Demikian juga dengan perkosaaan terhadap perempuan di daerah diserang dan telah dikalahkan atau diduduki. Hal ini masih terus terjadi hingga sekarang.

Dalam bukunya ‘Antara Fakta dan Khayalan’ -entah disadari atau tidak- HAMKA banyak membeberkan tindak kekerasan dalam penyebaran beberapa aliran Islam di Timur-Tengah, terutama yang dilakukan untuk menyebarluaskan sesuatu aliran atau mazhab. HAMKA juga menuliskan kekejaman Tuanku Nan Renceh yang sangat fanatik kewahabiannya, yang memerintahkan untuk membunuh adik ibunya, karena tidak mau mengikuti sembahyang. (Hlm. 238) Mengenai pakaian putih yang dikenakan oleh para ulama di Minangkabau, HAMKA menulis, bahwa warna putih yang dikenakan oleh para ulama merupakan warisan dari agama Buddha. HAMKA menulis (Hlm. 303): “… Bahkan warna putih itu mungkin sudah ada sejak orang Minangkabau masih memeluk Agama Budha. Biksu-biksu Budha berjalan dengan pakaian selendang putih meminta bakal (mungkin yang dimaksud adalah bekal – pen.) makanan kepada penduduk. Setelah datang Agama Islam pusaka secara Budha itu diteruskan oleh santri-santri di Minangkabau yang dinamai ‘Orang Siak’.: Mereka bersarung putih, berbaju dan celana putih meminta sedekah bekal mengaji tiap-tiap hari Kamis ke runah-rumah penduduk…” Memang sulit untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa atau hal-hal yang terjadi di masa lalu, dengan ukuran kemanusiaan sekarang. Juga apabila tidak ada atau kurangnya data, fakta dan dokumen yang dapat memperkuat cerita rakyat atau penuturan mengenai suatu peristiwa sejarah.

Majalah Tempo Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soal perbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar. Referensi yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885, 1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau Tuk Ongku) sebagaimana yang ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Jika “jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh”. Tuanku Tambusai dikenal sebagai sosok perang yang paling ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan, “selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan kemenangan pihak Belanda”.

KOMPAS, Minggu 27 Juli 2008 Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam di Minangkabau. Dalam proses perubahan itu timbul banyak konflik yang mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan. Buku itu ditulis sejarawan Christine Dobbin, berjudul asli Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983). Dobbin mengawali paparannya secara detail tentang ekologi sosial dan topografi Minangkabau, tentang tantangan dan anugerah alam dalam gerakan perdagangan masyarakat Minangkabau. Kita terkesima membaca buku ini. Ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui tentang perubahan sosial yang spektakuler dan tentang gerakan Paderi di Minangkabau dan Tapanuli. Kurang lebih 75 persen dari buku bercerita tentang dinamika perubahan orang Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pantai barat dengan segala masalah yang ditimbulkannya, pertambangan emas dan besi, industri rumah, perbengkelan alat pertanian, senjata tajam dan bedil, pertukangan, pertenunan, perkebunan komoditi ekspor, persaingan dan perang dagang dengan Belanda. Hal itu terjadi sejak berabad sebelum timbul gerakan Paderi. Menarik untuk disimak bahwa berabad sebelum lahirnya gerakan Paderi, agama Islam sudah lama berkembang di Natal, pantai barat Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan. Hal ini terbukti dengan kehadiran Tuanku Lintau, seorang kaya, penduduk asli Lintau di Lembah Sinamar, yang datang ke Natal untuk belajar agama Islam. Kemudian Tuanku Lintau meneruskan pendidikannya ke Pasaman yang juga didiami orang Mandailing yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal. Usai menuntut ilmu agama Islam itu, kira-kira 1813, Tuanku Lintau kembali ke desanya membawa keyakinan bahwa sebagai penduduk Tanah Datar, ia mempunyai misi untuk memperbaiki tingkah laku dan moral penduduk lembah itu. Tuanku Lintau terkesan pada gerakan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di Agam. Ia pun bergabung dengan kaum Paderi. Secara khusus Tuanku Lintau merasa wajib menyadarkan keluarga raja yang bergaya hidup tidak sesuai dengan ajaran Islam agar kembali ke jalan yang benar. Semula, Tuanku Lintau mendapat perlindungan dari Raja Muning, ialah Raja Alam Minangkabau yang bertakhta di Pagaruyung. Tetapi dalam perkembangan berikutnya, Tuanku Lintau justru melancarkan revolusi sosial karena ia yakin bahwa sistem kerajaan yang korup adalah hambatan bagi keberhasilan cita-citanya. Tuanku Lintau dan pengikutnya menyerang Raja Alam. Banyak yang terbunuh, termasuk dua putra Raja Alam. Raja Alam dan cucunya berhasil menyelamatkan diri ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Cucu Raja Alam ini kelak terkenal sebagai Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Minangkabau terakhir. Bahwa Natal di pantai barat Mandailing sebagai tempat pertama Tuanku Lintau menimba ilmu agama Islam membuktikan, ternyata Perang Paderi bukanlah gerakan Islamisasi di Mandailing. Karena berabad sebelum timbulnya gerakan Paderi, ulama-ulama sufi telah mengajarkan agama Islam kepada orang Mandailing Natal. Tokoh utama penyebar agama Islam di kawasan pantai barat sampai ke pedalaman Mandailing adalah ulama besar sufi Syekh Abdul Fattah (1765-1855). Ulama besar ini wafat dan dimakamkan di Pagaran Sigatal, Panyabungan. Murid-murid para sufi itulah yang secara damai membawa Islam ke pedalaman Mandailing. Baik Paderi maupun Belanda saling khawatir terhadap ancaman penghancuran hegemoni dagang masing-masing di kawasan Minangkabau dan pantai barat itu. Itu sebabnya Belanda mengunci wilayah Padang sampai ke selatan agar tidak dijamah oleh kaum Paderi. Inilah yang mendorong pendudukan wilayah utara, dalam hal ini Rao dan Mandailing yang kaya emas berkualitas tinggi dan komoditi ekspor lainnya. Kita jadi mengerti mengapa gerakan perdagangan ini menjadi mengeras dalam era gerakan Paderi. Gerakan Paderi di Mandailing mendapat perlawanan dari Sutan Kumala yang Dipertuan Hutasiantar, raja ulama sekaligus primus inter pares raja-raja Mandailing. Ia dijuluki oleh Belanda sebagai Primaat Mandailing. Dobbin memaparkan bahwa perdagangan budak sangat penting bagi sistem Paderi. Pasalnya, budak-budak bukan saja sebagai dagangan, tetapi juga sebagai pengangkut barang dan tentara cadangan. Itu yang menyebabkan kaum Paderi dapat bertahan begitu lama dalam melancarkan peperangan. Mungkin tidak enak untuk mengatakan bahwa Perang Paderi yang begitu lama (1803-1838), yang selama ini begitu disakralkan, disebut oleh Dobbin sebagai perang dagang. Fakta menunjukkan cara-cara kaum Paderi menggerakkan perang yang penuh kekerasan dan kebrutalan, jauh dari nilai-nilai Islam. Inilah yang mendorong kita sadar atau tidak sadar, lebih percaya kepada Dobbin. Selain itu, Paderi mampu menggeser para pedagang yang beroperasi di permukiman orang Eropa yang berdekatan. Salah satu ciri gerakan Paderi yang menonjol adalah usaha membina perdagangan Minangkabau sekaligus melawan upaya-upaya dari luar yang hendak memonopoli perdagangan di kawasan ini. Dobbin memaparkan bahwa gerakan Paderi, khususnya di utara Minangkabau, lebih pada gerakan perdagangan daripada gerakan penyebaran agama Islam. Pantaslah, tak satu pun bekas jejak kaum Paderi dalam bidang agama di kawasan itu. Jadi, sesuai dengan sinyalemen saya di dalam buku Greget Tuanku Rao bahwa Islam dibawa oleh orang Mandailing sendiri dari Pasaman dan pantai barat Mandailing. Proses Islamisasi itu berlangsung secara damai dalam suasana kekeluargaan. Mereka telah mengenal Islam berabad sebelum keberadaan kaum Paderi. Reputasi Natal sebagai pusat perguruan Islam di pantai barat Mandailing telah dibuktikan oleh Tuanku Lintau, tokoh legendaris Paderi yang belajar agama Islam di Natal, sebelum ia menceburkan diri dalam gerakan Paderi. Gerakan reformasi ajaran Islam dan perdagangan pra-Paderi, pada saat Paderi, dan pasca-Paderi pada hakikatnya adalah revolusi sosial yang dahsyat di Sumatera Barat. Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol. Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap. Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. Tetapi pada tahun 1842, pemberontakan Regent Batipuh meletus. Akhir perang Paderi Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero. Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri,Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang, Tuanku Danau, Tuanku Kali Besar, Haji Mahamed, dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. Yang memberi perintah ialah Tuanku Imam Bonjol dengan pertahanan enam meriam di daerah gunung. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. Perang 1833 Pada tahun 1832, benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Hal ini memicu kembali peperangan. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. Atas perintah Kolonel, ke-13 orang itu digantung semua. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dari Pagaruyung dibuang ke Batavia. Selain penduduk Bonjol, terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. Ada juga Bagindo Alam, Doebelang Alam, dan Doebelang Arab. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi, tetapi masyarakat Minangkabau. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan, mencegah terjadinya “perang antar-nagari”, membuat jalan-jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837. Perundingan Residen Belanda mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol. Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Tapi perundingan tidak terlaksana. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding, malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang, untuk selanjutnya diasingkan ke berbagai daerah hingga meninggal dunia tahun 1864. Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Ketika Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Paderi tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot yang telah membelot itu. Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Pasukannya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia. Masa Perang Paderi dapat dikelompokkan menjadi: A. 1803 – 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi B. 1833 – 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa Paderi Penjelasan A. 1803 – 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi Pemberontakan dimulai 1803 oleh serangan gerombolan Paderi yang digerakkan oleh Harimau Salapan, dipimpin Tuanku Nan Renceh. Pemberontakan diakhiri dengan pembuangan Sultan Baggagarsyah, Raja terakhir Kesultanan Minangkabau Pagarruyung, oleh Kerajaan Belanda, dan Kerajaan Pagarruyung dianeksasi dalam NEI (Netherland East Indies). Masa ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: 1. 1803 – 1815: Masa penghancuran Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung. Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi menaklukkan satu-persatu wilayah Pagarruyung. Puncaknya adalah pembantaian Penghulu dan Keluarga Kerajaan dalam perundingan damai di Koto Tangah. Tuanku Raja Alam Muningsyah III, Raja Alam ke-31 gugur, digantikan sementara waktu oleh Pemangku Raja Alam, Raja Garang Tuanku Sembahyang III (Sumpur Kudus). Dengan selesainya penaklukan wilayah Pagarruyung, gerombolan Wahabi Paderi memulai invasi ke Utara. 2. 1815 – 1821: Masa invasi ke Tanah Batak (Tingki ni Pidari I). Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi meng-invasi Batak Selatan, mendirikan benteng pendudukan di Rao dan Dalu-dalu sebagai basis serangan. Segera setelah pendudukan Batak Selatan, dilakukan serangan ke Batak Utara. Masa invasi ke Tanah Batak berakhir dengan ditandai wabah kolera dan dimulainya kampanye militer koalisi Hindia Belanda-Pagarruyung untuk merebut wilayah Minangkabau. 3. 1821 – 1833: Masa penumpasan gerombolan Paderi Pada masa ini koalisi Hindia Belanda-Minangkabau merebut kembali seluruh wilayah Minangkabau kecuali dua benteng daerah terpencil di utara (Bonjol & Dalu-dalu). Masa ini diakhiri oleh aneksasi Kerajaan Belanda atas Kerajaan Minangkabau dengan cara menangkap dan membuang Tuanku Raja Hitam – Tuanku Raja Alam Bagagarsyah, Raja Alam ke-33, dengan demikian mengakhiri sejarah Kerajaan Minangkabau. Ditandai pula dengan jatuhnya benteng Rao oleh pasukan gabungan Belanda-Mandailing, sehingga benteng praktis Bonjol terisolasi. Masa ini diakhiri oleh penandatanganan Plakat Panjang oleh Paderi sebagai pengakuan kedaulatan Belanda di Minangkabau. B. 1833 – 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa gerombolan Paderi Pada masa ini sisa-sisa gerombolan Paderi yang bertahan di Benteng Bonjol (jatuh Agustus 1837) dan Dalu-dalu (jatuh Desember 1938) ditumpas oleh Belanda.

Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Belanda (sesuai pengakuannya dalam catatan pribadi Tuanku Imam Bonjol), sedang Tuanku Tambusai tewas (berita bahwa Tuanku Tambusai sempat tinggal di Malaysia belum dapat dibuktikan).

Sisa geromboloan Paderi berusaha membangun basis baru di Malaysia, namun gagal dan berakhir sebagai tentara bayaran.

 

 

 

 

 

Tuanku Rao Batak people
One source of controversy in the traditional historiography Batak is about the origin of Tuanku Rao.
Most of the writings, as well as the oral tradition is considered Tuanku Rao Toba Batak people, so it was not the Minang or Rao.
Author historiography Batak named Batara Sangti in his History of Batak (1977) claimed to have done research in 1930 to 1933 to establish kebatakan Tuanku Rao ..
Surely “research” is Batara Sangti is collecting oral traditions in the period it was still strong in the collective memory of the Batak Toba.
 According Batara Sangti, the original name was Pongki Nangolngolan Tuanku Rao. Pongki Nangolngolan been dumped by Mangaraja X Lion to Disneyland where he was put in a coffin made of wooden sticks called “Pongki”.
Being Nangolngolan from Nangirngiran ‘, is eagerly awaited. Pongki as hardwood timber in the center of the country Toba is a very strong type of wood for a long time can only grow.
The symbolic meaning of the name Pongki Nangolngolan it is a figure or figures that have been long-awaited.
Cause why Mangaraja X Lion to throw Sipongki Toba waters by Batara Sangti because Sipongki Nangolngolan has shown signs of magic as owned by Mr. Lion Mangaraja dynasty general.
 Lions feel Sipongki Nangolngolan Mangaraja X will be a rival that the made-up excuse then discarded keperairan Nangolngolan Sipongki Toba.
Sangti Batara Hutagalung Kenan Professor straightened paper saying that Pongki Nangolngolan beheaded Mangaraja X Lion and bring the head back to negrinya.
 Batara Sangti convinced that the story as described above continued to live in the middle of the central State Batak Toba and Batak pustaha noted in (ancient scriptures beraksara Batak), except for the head of Mr. Lion Mangaraja the cut and carry home by Sipongki Nangolngolan.
According to the head of the king’s Batara actually had fallen into the hands of Sipongki Nangolngolan, but the magic really fell into the hands of Empress Mr. X Lion Mangaraja Bakkara.
 At the time of burial bones Mangaraja The Lion XII in Soposurung Balige on June 17, 1953, secretly helped by Batara also pieces of the skull of Mr. X Lion Mangaraja brought by the families there.
Batara Sangti refuted Muhammad Said (1961) that mentions that Mangaraja Lions XII during a meeting with people in Balige mentions that his grandfather (Mangaraja X Lion) have been killed by the Dutch.
According Batara Sangti incorrect Mangaraja Lions XII once stated that Mangaraja X Lion killed by the Dutch.
According Batara sangti news as it never was heard in the midst of the Toba from the past until today although only hearsay or rumor.
Batara Sangti Hamka also refuted suggestions that mentions that the Minangkabau Tuanku Rao is true.
Adniel Lumbantobing in his book History of The Lion Mangaraja (1967) states that at the time of his small Nangolngolan Pongki named Tangkal Stone.
He was banished by Mangaraja X Lion to Disneyland with them in boxes.
But he survived because immune. Tangkalbatu renamed Pongki Nangolngolan. The name was adapted to the immune and suffering. At the time Pongki 17 years, he left to meet his uncle Lions Bakkara Mangaraja X.
But his uncle did not recognize him as kemanakan although he has shown evidence that indicates he is a family of lions Mangaraja.
Because it is not recognized by his uncle proceeded Pongki The West Sumatra. When it came to the power Tuanku Rao, Pongki arrested.
But at that time he got an offer from Tuanku Rao to kill his enemies. If Pongki successful then he will be married to his daughter.
With spearheaded by Pongki few kings around the region Bonjol Rao surrendered to the Lord. The Pongki eventually marries the king’s daughter named Aysjah Siti Wagini.
When Pongki has become chief of the army across the country Bonjol, he continued aggression to Tapanuli region.
Here he planned to kill his uncle (Lion Mangaraja X) by means of deceiving his uncle.
 At the appointed time Pongki pretend to cry and hugged her uncle saw it Pongki Nangolngolan.
When embraced, Pongki Nangolngolan slowly pulled the knife from his waist and suddenly all of his uncle’s neck cut so cut off entirely.
 But head mamaknya soar upwards, wherever sought Pongki Nangolngolan its people, the head was not met.
Processing the oral tradition of the origin of the most monumental Tuanku Rao in Batak traditional historiography is what Onggang Mangaradja Parlindungan (MOP).
Monumental is widely cited as the work of writers Batak to establish justification of existing oral tradition.
 According to MOP The Pongkinangolngolan born of an incestuous relationship between the son of the Lion Mangaraja named Gindoporang Sinambela VIII and IX Mangaraja daughter of Lion named Princess Gana Sinambela.
Because of the Batak do not allow the lions mating semarga Mangaraja IX evict them not to be punished by the public.
They were both out of and into Singkil Bakkara then converted to Islam, the name Muhammad Amiruddin Sinambela Zainal and his wife remained in the faith, so that they can not marry a Muslim.
 Gana Sinambela daughter gave birth to a son and named Mohammad Fakih and Miss Gana Amirudin Sinambela Sinambela called “Na Pongki Ngolngolan” = “Fakih waiting”. When it comes to Pongkinangolngolan Bakkara / Toba, she became the favorite child of the Lion Mangarja X.
Regarding punishment given to Pongkinangolngolan as a result of incest committed by her parents, according to the demands of community leaders (datu), the Lions Mangarja verdict drowned in Lake Toba.
But Mangaraja X Lion loosen the ropes that bind Pongkinangolngolan. He floats on the water up to the beginning of Asahan river, where he was in favor by a man named Lintong Marpaung.
Pongkinangolngolan then migrate to the Minangkabau, at the instigation of Tuanku Nan Rentjeh.
 Chitan Pongkinagolngolan in accordance with the full-laden chitan and creed, on the 9th Rabi 1219 / H = 1804 / M diislamkan with the name: “Umar Katab” turned into “Umar Batak”.
Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab be Padry Army General Officer, with the title of lord Rao. By Padri Army Command ordered Tuanku Rao Overseas learning task.
Meanwhile, a different version of the origin of Tuanku Rao expressed by Basyral lost interest in his book Tuanku Rao (2007).
 For Basyral Tuanku Rao is not from the North but from the Batak Batak South.
According Tuanku Rao is the original Mandailing. Basyral basing his argument from the source script that calls Bonjol Tuanku Imam is Pakih Tuanku Rao Muhammad, his father was Huta Tower [Hutanagodang in Small Mandailing] and her mother the Rao.
Interesting to see where Pakih Muhammad as Priest Nagari Tuanku Rao Rao title.
My lord father Rao is a person according to sources Basyral Huta Tower (Hutanagodang?) And her mother was so Basyral Rao conclude Tuanku Rao was Mandailing.
Unfortunately, the description of the origin of this Tuanku Rao Basyral yet Mandailing explore other sources. Muhammad Said (1961) based on the source he cites meresepsi historiography Batak origin of Tuanku Rao.
According to Said The Nangolngolan Pokki is the “aggressor” who had come to the land of Batak to implement pengislaman. Tuanku Rao is Si Pokki Nangolngolan who had killed his uncle is Ompu Mr. Na Bolon or Lion Mangaraja X.
But once regretted Said penetration events Bonjol especially those concerning life history Tuanku Rao not be the source or sources Padri maintained its neutrality.
In this case, Said holds more sources are considered neutral because the sources are obtained from the first hand, where people still reside and participate in the event.
The sources written by J.B. Neumann 1866 a BB Kontelir who wrote about “ever Bataks en Batakschelanden Studies” (page 51) and call that Tuanku Rao is from Padang Matinggi, not called that Tuanku Rao came from Toba.
 Neumann himself took the essay sources of Resident TJ Tapanuli Willer its 18th year
Tuanku Rao Batak people
One source of controversy in the traditional historiography Batak is about the origin of Tuanku Rao. Most of the writings, as well as the oral tradition is considered Tuanku Rao Toba Batak people, so it was not the Minang or Rao.
Author historiography Batak named Batara Sangti in his History of Batak (1977) claimed to have done research in 1930 to 1933 to establish kebatakan Tuanku Rao .. Surely “research” is Batara Sangti is collecting oral traditions in the period it was still strong in the collective memory of the Batak Toba.
According Batara Sangti, the original name was Pongki Nangolngolan Tuanku Rao. Pongki Nangolngolan been dumped by Mangaraja X Lion to Disneyland where he was put in a coffin made of wooden sticks called “Pongki”.
 Being Nangolngolan from Nangirngiran ‘, is eagerly awaited. Pongki as hardwood timber in the center of the country Toba is a very strong type of wood for a long time can only grow. The symbolic meaning of the name Pongki Nangolngolan it is a figure or figures that have been long-awaited.
Cause why Mangaraja X Lion to throw Sipongki Toba waters by Batara Sangti because Sipongki Nangolngolan has shown signs of magic as owned by Mr. Lion Mangaraja dynasty general.
 Lions feel Sipongki Nangolngolan Mangaraja X will be a rival that the made-up excuse then discarded keperairan Nangolngolan Sipongki Toba.
Sangti Batara Hutagalung Kenan Professor straightened paper saying that Pongki Nangolngolan beheaded Mangaraja X Lion and bring the head back to negrinya.
Batara Sangti convinced that the story as described above continued to live in the middle of the central State Batak Toba and Batak pustaha noted in (ancient scriptures beraksara Batak), except for the head of Mr. Lion Mangaraja the cut and carry home by Sipongki Nangolngolan.
According to the head of the king’s Batara actually had fallen into the hands of Sipongki Nangolngolan, but the magic really fell into the hands of Empress Mr. X Lion Mangaraja Bakkara.
At the time of burial bones Mangaraja The Lion XII in Soposurung Balige on June 17, 1953, secretly helped by Batara also pieces of the skull of Mr. X Lion Mangaraja brought by the families there.
Batara Sangti refuted Muhammad Said (1961) that mentions that Mangaraja Lions XII during a meeting with people in Balige mentions that his grandfather (Mangaraja X Lion) have been killed by the Dutch.
 According Batara Sangti incorrect Mangaraja Lions XII once stated that Mangaraja X Lion killed by the Dutch.

 According Batara sangti news as it never was heard in the midst of the Toba from the past until today although only hearsay or rumor.
Batara Sangti Hamka also refuted suggestions that mentions that the Minangkabau Tuanku Rao is true.
Adniel Lumbantobing in his book History of The Lion Mangaraja (1967) states that at the time of his small Nangolngolan Pongki named Tangkal Stone. He was banished by Mangaraja X Lion to Disneyland with them in boxes. But he survived because immune.
Tangkalbatu renamed Pongki Nangolngolan. The name was adapted to the immune and suffering.
 At the time Pongki 17 years, he left to meet his uncle Lions Bakkara Mangaraja X. But his uncle did not recognize him as kemanakan although he has shown evidence that indicates he is a family of lions Mangaraja.
Because it is not recognized by his uncle proceeded Pongki The West Sumatra. When it came to the power Tuanku Rao, Pongki arrested. But at that time he got an offer from Tuanku Rao to kill his enemies.
If Pongki successful then he will be married to his daughter. With spearheaded by Pongki few kings around the region Bonjol Rao surrendered to the Lord. The Pongki eventually marries the king’s daughter named Aysjah Siti Wagini.
When Pongki has become chief of the army across the country Bonjol, he continued aggression to Tapanuli region.
Here he planned to kill his uncle (Lion Mangaraja X) by means of deceiving his uncle.
 At the appointed time Pongki pretend to cry and hugged her uncle saw it Pongki Nangolngolan.

When embraced, Pongki Nangolngolan slowly pulled the knife from his waist and suddenly all of his uncle’s neck cut so cut off entirely.
But head mamaknya soar upwards, wherever sought Pongki Nangolngolan its people, the head was not met.
Processing the oral tradition of the origin of the most monumental Tuanku Rao in Batak traditional historiography is what Onggang Mangaradja Parlindungan (MOP).
 Monumental is widely cited as the work of writers Batak to establish justification of existing oral tradition.
 According to MOP The Pongkinangolngolan born of an incestuous relationship between the son of the Lion Mangaraja named Gindoporang Sinambela VIII and IX Mangaraja daughter of Lion named Princess Gana Sinambela.
Because of the Batak do not allow the lions mating semarga Mangaraja IX evict them not to be punished by the public.
They were both out of and into Singkil Bakkara then converted to Islam, the name Muhammad Amiruddin Sinambela Zainal and his wife remained in the faith, so that they can not marry a Muslim.
Gana Sinambela daughter gave birth to a son and named Mohammad Fakih and Miss Gana Amirudin Sinambela Sinambela called “Na Pongki Ngolngolan” = “Fakih waiting”.
When it comes to Pongkinangolngolan Bakkara / Toba, she became the favorite child of the Lion Mangarja X.
Regarding punishment given to Pongkinangolngolan as a result of incest committed by her parents, according to the demands of community leaders (datu), the Lions Mangarja verdict drowned in Lake Toba.

But Mangaraja X Lion loosen the ropes that bind Pongkinangolngolan.
He floats on the water up to the beginning of Asahan river, where he was in favor by a man named Lintong Marpaung.
Pongkinangolngolan then migrate to the Minangkabau, at the instigation of Tuanku Nan Rentjeh. Chitan Pongkinagolngolan in accordance with the full-laden chitan and creed, on the 9th Rabi 1219 / H = 1804 / M diislamkan with the name: “Umar Katab” turned into “Umar Batak”.
Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab be Padry Army General Officer, with the title of lord Rao.
By Padri Army Command ordered Tuanku Rao Overseas learning task.
Meanwhile, a different version of the origin of Tuanku Rao expressed by Basyral lost interest in his book Tuanku Rao (2007).
For Basyral Tuanku Rao is not from the North but from the Batak Batak South. According Tuanku Rao is the original Mandailing.
 Basyral basing his argument from the source script that calls Bonjol Tuanku Imam is Pakih Tuanku Rao Muhammad, his father was Huta Tower [Hutanagodang in Small Mandailing] and her mother the Rao.
Interesting to see where Pakih Muhammad as Priest Nagari Tuanku Rao Rao title.
My lord father Rao is a person according to sources Basyral Huta Tower (Hutanagodang?) And her mother was so Basyral Rao conclude Tuanku Rao was Mandailing.
Unfortunately, the description of the origin of this Tuanku Rao Basyral yet Mandailing explore other sources. Muhammad Said (1961) based on the source he cites meresepsi historiography Batak origin of Tuanku Rao.
According to Said The Nangolngolan Pokki is the “aggressor” who had come to the land of Batak to implement pengislaman.
Tuanku Rao is Si Pokki Nangolngolan who had killed his uncle is Ompu Mr. Na Bolon or Lion Mangaraja X.
But once regretted Said penetration events Bonjol especially those concerning life history Tuanku Rao not be the source or sources Padri maintained its neutrality.
In this case, Said holds more sources are considered neutral because the sources are obtained from the first hand, where people still reside and participate in the event.
The sources written by J.B. Neumann 1866 a BB Kontelir who wrote about “ever Bataks en Batakschelanden Studies” (page 51) and call that Tuanku Rao is from Padang Matinggi, not called that Tuanku Rao came from Toba.
Neumann himself took the essay sources of Resident TJ Willer its Tapanuli 1835.
But by stating that Tuanku Rao is the Pongki, it is actually more likely to agree that Tuanku Said Rao is derived from Batak land, rather than the so-called Dutch sources.
Hamka (1974) is a writer who tries to correct historiography Batak origin of Tuanku Rao as the Batak. According Hamka stories (myths) about this in the Tuanku Rao among the Batak Toba much broke, where Hamka find in these writings that Tuanku Rao is true Batak children. Hamka Tuanku Rao said that the history of several authors disclosed Batak as Master of Cainan Hutagalung, Adniel Lumbantobing, Sutan Paruhum Pane is a myth. Hamka also criticized article about the history of Tuanku Rao MOP as a bouquet made-up and assume Parlindungan are good people “make up” a story. In presenting evidence, calling Hamka MOP in making writings on the origins Tuanku Rao raised a lot of things that contain lies. The origin Tuanku Rao by Hamka confirmed that Tuanku Rao had married the daughter of Yang lordship lordship Rao Rao and since then not panganut Wahabi leadership was taken over by a law known as the Tuanku Rao.
Besides Hamka also stressed Tuanku Rao is the Padang Matinggi. Not the Bakkara. Therefore he Minang people. Not the Batak. Hamka phrase is strengthened by conducting interviews with people Rao himself, namely Drs. H. Asrul Sani who is a descendant of Rao Nunang The lordship Padang. To justify and reinforce a statement, citing sources from the author Hamka Batak, Sanusi Pane do not imagine that Tuanku Rao is the Batak. Recent academic research about the origin of this figure by considering multiple sources is rare. One historian who raised the question was Christine Dobbin (2008). According to Dobbin Tuanku Rao from a historical perspective is a vague figure but admitted this is very well known figure in the history of Batak. However, Dobbin said, most written about him is based on oral tradition Batak early 20th century and could dikomfirmasikan in Dutch sources that exist. Dobbin is surprising because he said the letters were written by Dutch officials at that time regularly tells about his contemporaries, lord conqueror Tambusai Batak lands to the east. The lack of information about the Tuanku Rao by Dobbin partly be explained by the fact that he died on tahun1833, shortly after the Dutch entered Rao. Thus, he does not have another position that could invite the Dutch investigation on the activities initially. But what is surprising is the attitude of the opinion menduanya Dobin, on the one hand he says: “It is acceptable that a Batak Tuanku Rao was formerly known as Pongki na Ngolngolan.” But on the other hand he says: “But there is an oral tradition which states that the Batak He is the nephew of King Priest Batak, Sisingamangaraja X, which took control of the Bakara-Toba. However, even this is not certain. “Whatever asalmuasalnya, said Dobbin, Pongki na Ngolngolan Batak is an adventurer who at some point in his career came in the Valley Rao. He found a patron in the day-to-day. Eventually in 1808, he converted to Islam. Then he related to teaching Padri in areas further south and apparently they felt that by gaining recognition as an exponent of this doctrine, its position as an outsider or someone comes in Rao society would be much better. Unfortunately Dobbin said, we do not have a clear picture of the relationship with Imam Bondjol.
3. Cruelty Tuanku Rao and Padri in Batak section I review by outlining the opinion that discusses the historiography Batak Dobbin on assault Padri to Tapanuli. Reports were read Dobbin admitted Batak tend to emphasize the violence and chaos that occurred during the period Padri. However, according to Dobbin Tuanku Rao has tried to introduce a form of administration Padri the Batak villages. However, how the system is institutionalized and how much support received is a question that can not be answered. Some people are already diverse Muslim Batak before the invasion Padri. There are those Muslims who live in Panyabungan when attacked. Even certain villages close by there that have trade relations with the west coast and has been a Muslim for a few years.
But in the early reign of Rao invaders by relying kekuatanya Dobbin himself and lifting people Minagkabau as qadi in Batak villages. These judges are basing administer the Quran says his words. They also try to impose all their moves outward puritanism. Of course Dobbin said people were forced into Islam and there were many murders, in addition, the Padri also very excited destroy Batak literature. At first raid Padri said Dobbin difficult to distinguish from foreign invasion and occupation. Besides Batak trade has led to the special port on the west coast, Tuanku Rao also requires finance tribute to Rao and Alahan length in rice, buffalo and slaves. The dependencies also require maintenance fund Minangkabau troops in their villages and provide armed forces for Padri activities in areas further north again.
In 1822, the Padri was behind Tapanuli, after sweeping across the region Angkola. According to the Batak which Dobbin should be taken with caution, Tuanku Rao appointed a lord Lelo, Nasution clan members and the son of a salt merchant Batak, a “governor” Angkola. In addition, he also built a fort in Padang Sidempuan. This area is a strategic location because it is an important trade route junction that leads to the beach and to the Mandailing and Silindung. This is where he runs Padri policy to promote trade, opening the way – the way of commerce, and support the merchants.
Dobbin said Batak oral tradition that calls a bunch Padri under Tuanku Rao entered Butar far north, at Humbang plateau. In this place, Tuanku Rao faced vice dynasty king Sisingamangaraja faith at the time, who lives a stone Bakkara valley in the northwest of Lake Toba. According to the Batak tradition, Tuanku Rao is the nephew wasted by Sisingamangaraja. This information is an attempt to explain why killing Tuanku Rao said. The tragedy happened in the market Butar, after him Sisingamangaraja invite for a meeting. But, as figures Sisingamangaraja dangerous because they can exert Toba Batak clans to fight Islam. Another factor because Sisingamangaraja have a relationship with the Barus. In fact, the fabric is said Dobbin, who wants to be broken by the Padri.

 

Original info

Tuanku Rao Orang Batak

Salah satu sumber kontroversi dalam historiografi tradisional Batak adalah tentang asal usul Tuanku Rao.

Kebanyakan tulisan, begitu juga tradisi lisan menganggap Tuanku Rao adalah orang Batak Toba, jadi sama sekali bukan orang Minang atau orang Rao.

Penulis historiografi Batak bernama Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak (1977) mengaku telah melakukan riset pada tahun 1930 sampai 1933 untuk mengukuhkan kebatakan Tuanku Rao..

Tentulah “riset” yang dimaksud Batara Sangti ini pengumpulan tradisi lisan yang pada kurun waktu itu masih kuat dalam ingatan kolektif orang Batak Toba.

 Menurut Batara Sangti, nama asli Tuanku Rao adalah pongki Nangolngolan. Pongki Nangolngolan pernah dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dimana dia dimasukkan dalam sebuah peti mati yang dibuat dari batang kayu yang bernama “Pongki”.

Sedang Nangolngolan berasal dari Nangirngiran’, yang ditunggu-tunggu. Kayu Pongki sebagai kayu keras di pusat negeri Toba merupakan jenis kayu sangat kuat yang lama sekali baru bisa tumbuh besar.

Makna simbolik dari nama Pongki Nangolngolan itu adalah sosok atau tokoh yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Penyebab mengapa Singa Mangaraja X membuang Sipongki ke perairan Toba menurut Batara Sangti karena Sipongki Nangolngolan telah menunjukkan tanda-tanda kesaktian seperti yang dimiliki oleh dinasti Tuan Singa Mangaraja umumnya.

 Singa Mangaraja X merasa Sipongki Nangolngolan akan menjadi saingannya sehingga dengan alasan yang dibuat-buat maka Sipongki Nangolngolan dibuang keperairan Toba.

Batara Sangti meluruskan tulisan Guru Kenan Hutagalung yang mengatakan bahwa Pongki Nangolngolan telah memenggal kepala Singa Mangaraja X dan membawa kepala tersebut pulang ke negrinya.

 Batara Sangti meyakinkan bahwa cerita seperti yang telah diuraikan di atas terus menerus hidup di tengah-tengah masyarakat Batak di pusat Negeri Toba dan di catat dalam Pustaha Batak (kitab-kitab kuno beraksara batak) , kecuali mengenai kepala Tuan Singa Mangaraja yang terpotong dan di bawa pulang oleh Sipongki Nangolngolan.

Menurut Batara kepala raja itu sebenarnya tidak sempat jatuh ke tangan Sipongki Nangolngolan, tetapi secara gaib benar-benar jatuh ke tangan Permaisuri Tuan Singa Mangaraja X di Bakkara.

 Pada waktu pemakaman tulang belulang Si Singa Mangaraja XII di Soposurung Balige pada tanggal 17 Juni 1953, secara diam-diam menurut Batara turut juga kepingan-kepingan tengkorak kepala Tuan Singa Mangaraja X di bawa oleh pihak keluarga ke sana.

Batara Sangti membantah pendapat Muhammad Said (1961) yang menyebut bahwa Singa Mangaraja XII dalam sebuah pertemuan dengan rakyatnya di Balige menyebut bahwa kakeknya (Singa Mangaraja X) telah dibunuh oleh Belanda.

Menurut Batara Sangti tidak benar Singa Mangaraja XII pernah menyatakan bahwa Singa Mangaraja X dibunuh oleh Belanda.

Menurut Batara sangti berita seperti itu tidak pernah ada terdengar di tengah-tengah masyarakat Toba dari dulu hingga saat ini walaupun hanya desas-desus atau selentingan.

Batara Sangti juga membantah pendapat Hamka yang menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau sejati.

Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Si Singa Mangaraja (1967) menyebutkan bahwa Pongki Nangolngolan pada waktu kecilnya bernama Tangkal Batu.

Dia dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dengan memasukkannya ke dalam peti.

Tapi dia selamat karena kebal. Tangkalbatu mengganti namanya menjadi Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalan dan penderitaannya. Pada waktu Pongki berumur 17 tahun, ia berangkat ke Bakkara untuk menemui pamannya Singa Mangaraja X.

Tetapi pamannya tidak mengakuinya sebagai kemanakan walaupun dia telah menunjukkan bukti-bukti yang menandakan dia adalah keluarga dari Singa Mangaraja.

Karena tidak diakui oleh pamannya Si Pongki meneruskan perjalanannya ke Sumatra Barat. Ketika sampai ke daerah kekuasaan Tuanku Rao, Pongki ditangkap.

Tapi pada waktu itu ia mendapat tawaran dari Tuanku Rao untuk membunuh musuhnya. Jika Pongki berhasil maka ia akan dikawinkan dengan putrinya.

Dengan dipelopori oleh Pongki beberapa raja-raja disekitar wilayah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Si Pongki akhirnya kawin dengan putri baginda yang bernama Aysjah Siti Wagini.

Ketika Pongki telah menjadi kepala tentara di seluruh Tanah Bonjol, ia pun terus melakukan agresi ke wilayah Tapanuli.

Disini ia merencanakan membunuh pamannya (Singa Mangaraja X) dengan cara mengelabui pamannya.

 Pada waktu yang telah ditentukan Pongki berpura-pura menangis dan melihat hal itu pamannya memeluk Pongki Nangolngolan.

Sewaktu berangkulan, Pongki Nangolngolan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher pamannya sehingga terputus sama sekali.

 Tetapi kepala mamaknya melambung ke atas, kemanapun dicari Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pengolahan tradisi lisan paling monumental tentang asal usul Tuanku Rao dalam historiografi tradisonal Batak adalah apa yang dilakukan Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP).

Monumental karena karya ini banyak dirujuk penulis-penulis Batak untuk mengukuhkan pembenaran tradisi lisan yang ada.

 Menurut MOP Si Pongkinangolngolan lahir dari hubungan incest antara putra dari Singa Mangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela dan Putri dari Singa Mangaraja IX yang bernama Putri Gana Sinambela.

Oleh karena orang Batak tidak membolehkan kawin semarga maka Singa Mangaraja IX mengusir mereka agar tidak di hukum oleh khalayak ramai.

Mereka berdua keluar dari Bakkara dan menuju Singkil lalu masuk Islam, dengan nama Muhammad Zainal Amiruddin Sinambela dan istrinya tetap pada kepercayaannya, sehingga mereka tidak dapat menikah secara Islam.

 Putri Gana Sinambela melahirkan seorang putra dan diberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela dan Putri Gana Sinambela menyebutnya “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih yang menunggu-nunggu”. Ketika Pongkinangolngolan datang ke Bakkara/Toba, ia menjadi anak mas dari Singa Mangarja X.

Mengenai hukuman yang diberikan kepada Pongkinangolngolan sebagai akibat dari incest yang dilakukan oleh orang tuanya, sesuai tuntutan pemuka masyarakat (datu) maka Singa Mangarja menjatuhkan vonis ditenggelamkan di Danau Toba.

Tetapi Singa Mangaraja X melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongkinangolngolan. Ia mengapung di atas air sampai ke permulaan sungai Asahan, dimana dia kemudian di tolong oleh seseorang yang bernama Lintong Marpaung.

Pongkinangolngolan kemudian merantau ke Minangkabau, atas anjuran Tuanku Nan Rentjeh.

 Pongkinagolngolan di chitan sesuai dengan sarat-sarat chitan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabiulawal 1219/H = 1804/M diislamkan dengan nama: “Umar Katab” dibalik menjadi “Umar Batak”.

Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab menjadi General Officer Padry Army, dengan gelar Tuanku Rao. Oleh Padri Army Command Tuanku Rao diperintahkan tugas belajar ke Luar Negeri.

Sementara itu satu versi lain tentang asal usul Tuanku Rao diungkapkan oleh Basyral dalam bukunya Greget Tuanku Rao (2007).

 Bagi Basyral Tuanku Rao bukan berasal dari Batak Utara tapi dari kawasan Batak Selatan.

Menurutnya Tuanku Rao adalah orang Mandailing asli. Basyral mendasarkan argumennya dari sumber naskah Tuanku Imam Bonjol yang menyebut Tuanku Rao adalah Pakih Muhammad, ayahnya orang Huta Gadang [Hutanagodang di Mandailing Kecil] dan Ibunya orang Rao.

Menarik untuk melihat keberadaan Pakih Muhammad sebagai Imam Besar Nagari Rao gelar Tuanku Rao.

Ayah Tuanku Rao menurut sumber Basyral adalah orang Huta Gadang (Hutanagodang?) dan ibunya orang Rao sehingga Basyral membuat kesimpulan Tuanku Rao adalah orang Mandailing.

Sayang sekali, dalam uraian asal-usul Tuanku Rao ini Basyral belum mengeksplorasi sumber-sumber Mandailing lainnya. Muhammad Said (1961) berdasar sumber yang dikutipnya meresepsi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao.

Menurut Said Si Pokki Nangolngolan adalah “agresor” yang pernah datang ke tanah Batak untuk melaksanakan pengislaman. Tuanku Rao adalah Si Pokki Nangolngolan yang telah membunuh pamannya yaitu Ompu Tuan Na Bolon atau Singa Mangaraja X.

Tetapi Said sangat menyayangkan sekali peristiwa penetrasi orang-orang Bonjol apalagi mengenai riwayat hidup Tuanku Rao tidak di dapat dalam sumber Padri atau sumber yang dipertahankan kenetralannya.

Dalam hal ini Said memegang sumber yang lebih dianggap netral karena sumber yang diperoleh dari tangan pertama, dimana orang-orangnya masih berada dan turut serta dalam kejadian itu.

Sumber tersebut ditulis oleh J.B. Neumann 1866 seorang Kontelir B.B yang menulis tentang “Studies ever Bataks en Batakschelanden” (hal 51) dan menyebut bahwa Tuanku Rao adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba.

 Neumann sendiri mengambil sumber karangannya dari Residen T.J Willer yang berada di Tapanuli tahun 18

Tuanku Rao Orang Batak

Salah satu sumber kontroversi dalam historiografi tradisional Batak adalah tentang asal usul Tuanku Rao. Kebanyakan tulisan, begitu juga tradisi lisan menganggap Tuanku Rao adalah orang Batak Toba, jadi sama sekali bukan orang Minang atau orang Rao.

Penulis historiografi Batak bernama Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak (1977) mengaku telah melakukan riset pada tahun 1930 sampai 1933 untuk mengukuhkan kebatakan Tuanku Rao.. Tentulah “riset” yang dimaksud Batara Sangti ini pengumpulan tradisi lisan yang pada kurun waktu itu masih kuat dalam ingatan kolektif orang Batak Toba.

Menurut Batara Sangti, nama asli Tuanku Rao adalah pongki Nangolngolan. Pongki Nangolngolan pernah dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dimana dia dimasukkan dalam sebuah peti mati yang dibuat dari batang kayu yang bernama “Pongki”.

 Sedang Nangolngolan berasal dari Nangirngiran’, yang ditunggu-tunggu. Kayu Pongki sebagai kayu keras di pusat negeri Toba merupakan jenis kayu sangat kuat yang lama sekali baru bisa tumbuh besar. Makna simbolik dari nama Pongki Nangolngolan itu adalah sosok atau tokoh yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Penyebab mengapa Singa Mangaraja X membuang Sipongki ke perairan Toba menurut Batara Sangti karena Sipongki Nangolngolan telah menunjukkan tanda-tanda kesaktian seperti yang dimiliki oleh dinasti Tuan Singa Mangaraja umumnya.

 Singa Mangaraja X merasa Sipongki Nangolngolan akan menjadi saingannya sehingga dengan alasan yang dibuat-buat maka Sipongki Nangolngolan dibuang keperairan Toba.

Batara Sangti meluruskan tulisan Guru Kenan Hutagalung yang mengatakan bahwa Pongki Nangolngolan telah memenggal kepala Singa Mangaraja X dan membawa kepala tersebut pulang ke negrinya.

Batara Sangti meyakinkan bahwa cerita seperti yang telah diuraikan di atas terus menerus hidup di tengah-tengah masyarakat Batak di pusat Negeri Toba dan di catat dalam Pustaha Batak (kitab-kitab kuno beraksara batak) , kecuali mengenai kepala Tuan Singa Mangaraja yang terpotong dan di bawa pulang oleh Sipongki Nangolngolan.

Menurut Batara kepala raja itu sebenarnya tidak sempat jatuh ke tangan Sipongki Nangolngolan, tetapi secara gaib benar-benar jatuh ke tangan Permaisuri Tuan Singa Mangaraja X di Bakkara.

Pada waktu pemakaman tulang belulang Si Singa Mangaraja XII di Soposurung Balige pada tanggal 17 Juni 1953, secara diam-diam menurut Batara turut juga kepingan-kepingan tengkorak kepala Tuan Singa Mangaraja X di bawa oleh pihak keluarga ke sana.

Batara Sangti membantah pendapat Muhammad Said (1961) yang menyebut bahwa Singa Mangaraja XII dalam sebuah pertemuan dengan rakyatnya di Balige menyebut bahwa kakeknya (Singa Mangaraja X) telah dibunuh oleh Belanda.

 Menurut Batara Sangti tidak benar Singa Mangaraja XII pernah menyatakan bahwa Singa Mangaraja X dibunuh oleh Belanda.

 

 Menurut Batara sangti berita seperti itu tidak pernah ada terdengar di tengah-tengah masyarakat Toba dari dulu hingga saat ini walaupun hanya desas-desus atau selentingan.

Batara Sangti juga membantah pendapat Hamka yang menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau sejati.

Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Si Singa Mangaraja (1967) menyebutkan bahwa Pongki Nangolngolan pada waktu kecilnya bernama Tangkal Batu. Dia dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dengan memasukkannya ke dalam peti. Tapi dia selamat karena kebal.

Tangkalbatu mengganti namanya menjadi Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalan dan penderitaannya.

 Pada waktu Pongki berumur 17 tahun, ia berangkat ke Bakkara untuk menemui pamannya Singa Mangaraja X. Tetapi pamannya tidak mengakuinya sebagai kemanakan walaupun dia telah menunjukkan bukti-bukti yang menandakan dia adalah keluarga dari Singa Mangaraja.

Karena tidak diakui oleh pamannya Si Pongki meneruskan perjalanannya ke Sumatra Barat. Ketika sampai ke daerah kekuasaan Tuanku Rao, Pongki ditangkap. Tapi pada waktu itu ia mendapat tawaran dari Tuanku Rao untuk membunuh musuhnya.

Jika Pongki berhasil maka ia akan dikawinkan dengan putrinya. Dengan dipelopori oleh Pongki beberapa raja-raja disekitar wilayah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Si Pongki akhirnya kawin dengan putri baginda yang bernama Aysjah Siti Wagini.

Ketika Pongki telah menjadi kepala tentara di seluruh Tanah Bonjol, ia pun terus melakukan agresi ke wilayah Tapanuli.

Disini ia merencanakan membunuh pamannya (Singa Mangaraja X) dengan cara mengelabui pamannya.

 Pada waktu yang telah ditentukan Pongki berpura-pura menangis dan melihat hal itu pamannya memeluk Pongki Nangolngolan.

 

Sewaktu berangkulan, Pongki Nangolngolan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher pamannya sehingga terputus sama sekali.

Tetapi kepala mamaknya melambung ke atas, kemanapun dicari Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pengolahan tradisi lisan paling monumental tentang asal usul Tuanku Rao dalam historiografi tradisonal Batak adalah apa yang dilakukan Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP).

 Monumental karena karya ini banyak dirujuk penulis-penulis Batak untuk mengukuhkan pembenaran tradisi lisan yang ada.

 Menurut MOP Si Pongkinangolngolan lahir dari hubungan incest antara putra dari Singa Mangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela dan Putri dari Singa Mangaraja IX yang bernama Putri Gana Sinambela.

Oleh karena orang Batak tidak membolehkan kawin semarga maka Singa Mangaraja IX mengusir mereka agar tidak di hukum oleh khalayak ramai.

Mereka berdua keluar dari Bakkara dan menuju Singkil lalu masuk Islam, dengan nama Muhammad Zainal Amiruddin Sinambela dan istrinya tetap pada kepercayaannya, sehingga mereka tidak dapat menikah secara Islam.

Putri Gana Sinambela melahirkan seorang putra dan diberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela dan Putri Gana Sinambela menyebutnya “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih yang menunggu-nunggu”.

Ketika Pongkinangolngolan datang ke Bakkara/Toba, ia menjadi anak mas dari Singa Mangarja X.

Mengenai hukuman yang diberikan kepada Pongkinangolngolan sebagai akibat dari incest yang dilakukan oleh orang tuanya, sesuai tuntutan pemuka masyarakat (datu) maka Singa Mangarja menjatuhkan vonis ditenggelamkan di Danau Toba.

 

Tetapi Singa Mangaraja X melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongkinangolngolan.

Ia mengapung di atas air sampai ke permulaan sungai Asahan, dimana dia kemudian di tolong oleh seseorang yang bernama Lintong Marpaung.

Pongkinangolngolan kemudian merantau ke Minangkabau, atas anjuran Tuanku Nan Rentjeh. Pongkinagolngolan di chitan sesuai dengan sarat-sarat chitan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabiulawal 1219/H = 1804/M diislamkan dengan nama: “Umar Katab” dibalik menjadi “Umar Batak”.

Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab menjadi General Officer Padry Army, dengan gelar Tuanku Rao.

Oleh Padri Army Command Tuanku Rao diperintahkan tugas belajar ke Luar Negeri.

Sementara itu satu versi lain tentang asal usul Tuanku Rao diungkapkan oleh Basyral dalam bukunya Greget Tuanku Rao (2007).

Bagi Basyral Tuanku Rao bukan berasal dari Batak Utara tapi dari kawasan Batak Selatan. Menurutnya Tuanku Rao adalah orang Mandailing asli.

 Basyral mendasarkan argumennya dari sumber naskah Tuanku Imam Bonjol yang menyebut Tuanku Rao adalah Pakih Muhammad, ayahnya orang Huta Gadang [Hutanagodang di Mandailing Kecil] dan Ibunya orang Rao.

Menarik untuk melihat keberadaan Pakih Muhammad sebagai Imam Besar Nagari Rao gelar Tuanku Rao.

Ayah Tuanku Rao menurut sumber Basyral adalah orang Huta Gadang (Hutanagodang?) dan ibunya orang Rao sehingga Basyral membuat kesimpulan Tuanku Rao adalah orang Mandailing.

Sayang sekali, dalam uraian asal-usul Tuanku Rao ini Basyral belum mengeksplorasi sumber-sumber Mandailing lainnya. Muhammad Said (1961) berdasar sumber yang dikutipnya meresepsi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao.

Menurut Said Si Pokki Nangolngolan adalah “agresor” yang pernah datang ke tanah Batak untuk melaksanakan pengislaman.

Tuanku Rao adalah Si Pokki Nangolngolan yang telah membunuh pamannya yaitu Ompu Tuan Na Bolon atau Singa Mangaraja X.

Tetapi Said sangat menyayangkan sekali peristiwa penetrasi orang-orang Bonjol apalagi mengenai riwayat hidup Tuanku Rao tidak di dapat dalam sumber Padri atau sumber yang dipertahankan kenetralannya.

Dalam hal ini Said memegang sumber yang lebih dianggap netral karena sumber yang diperoleh dari tangan pertama, dimana orang-orangnya masih berada dan turut serta dalam kejadian itu.

Sumber tersebut ditulis oleh J.B. Neumann 1866 seorang Kontelir B.B yang menulis tentang “Studies ever Bataks en Batakschelanden” (hal 51) dan menyebut bahwa Tuanku Rao adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba.

Neumann sendiri mengambil sumber karangannya dari Residen T.J Willer yang berada di Tapanuli tahun 1835.

Tapi dengan menyatakan bahwa Tuanku Rao adalah si Pongki, maka sebenarnya Said lebih setuju kalau Tuanku Rao memang berasal dari tanah Batak, bukan sebagaimana disebut sumber-sumber Belanda.

Hamka (1974) merupakan penulis yang mencoba mengoreksi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao sebagai orang Batak. Menurut Hamka dongeng-dongeng (mitos) tentang Tuanku Rao ini dalam kalangan orang Batak Toba banyak tersiar, dimana Hamka menemukan dalam tulisan-tulisan itu bahwa Tuanku Rao adalah anak Batak sejati. Hamka mengatakan bahwa riwayat Tuanku Rao yang di ungkapkan dari beberapa penulis Batak seperti Guru Kenan Hutagalung, Adniel Lumbantobing, Sutan Pane Paruhum merupakan mitos. Hamka juga mengkritik tulisan MOP tentang riwayat Tuanku Rao sebagai karangan yang dibuat-buat dan menganggap Parlindungan adalah orang yang mahir “menyusun” suatu cerita. Dengan mengemukakan bukti-bukti, Hamka menyebut MOP dalam membuat tulisannya tentang asal-usul Tuanku Rao banyak mengemukakan hal-hal yang mengandung kebohongan. Asal-usul Tuanku Rao menurut Hamka membenarkan bahwa Tuanku Rao telah kawin dengan puteri Yang Dipertuan Rao dan karena Yang Dipertuan Rao bukan panganut Wahabi maka pimpinan diambil alih oleh menantunya yang dikenal dengan Tuanku Rao.

Selain itu Hamka juga menekankan Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Bukan orang Bakkara. Sebab itu beliau orang Minang. Bukan orang Batak. Ungkapan Hamka tersebut dimantapkan dengan cara melakukan wawancara kepada orang Rao sendiri, yaitu Drs. H. Asrul Sani yang merupakan keturunan Yang Dipertuan Padang Nunang Rao. Untuk membenarkan dan memperkuat pernyataannya, Hamka mengutip sumber dari penulis Batak, Sanusi Pane yang tidak membayangkan bahwa Tuanku Rao adalah orang Batak. Riset akademis terakhir tentang asal usul tokoh ini dengan memperhatikan berbagai sumber masih jarang dilakukan. Salah seorang sejarahwan yang menyinggung masalah ini adalah Christine Dobbin (2008). Menurut Dobbin Tuanku Rao dari perspektif sejarah merupakan tokoh yang kabur tapi diakuinya tokoh ini sangat dikenal dalam sejarah Batak. Akan tetapi kata Dobbin, kebanyakan yang ditulis tentang dirinya didasarkan atas tradisi lisan Batak awal abad ke 20 dan tak bisa dikomfirmasikan dalam sumber-sumber Belanda yang ada. Ini mengherankan Dobbin karena katanya, surat-surat yang ditulis oleh pejabat-pejabat Belanda pada waktu itu secara teratur menceritakan tentang rekan sejamannya, Tuanku Tambusai penakluk tanah Batak bagian timur. Tidak adanya informasi tentang Tuanku Rao menurut Dobbin sebagian bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa ia meninggal pada tahun1833, tak lama sesudah Belanda memasuki Rao. Dengan demikian, ia tidak mempunyai jabatan lain yang bisa mengundang penyelidikan Belanda mengenai kegiatan-kegiatan awalnya. Akan tetapi yang mengherankan dari pendapat Dobin adalah sikap menduanya, disatu pihak dia mengatakan : ”Dapat diterima bahwa Tuanku Rao adalah seorang Batak yang dulunya dikenal dengan Pongki na Ngolngolan.” Tapi dipihak lain dia mengatakan : ”Akan tetapi ada tradisi lisan Batak yang menyatakan bahwa ia adalah keponakan Raja Imam Batak, Sisingamangaraja X, yang menguasai daerah Bakara-Toba. Namun, ini pun tidak bisa dipastikan.” Apa pun asalmuasalnya, kata Dobbin, Pongki na Ngolngolan adalah seorang petualang Batak yang pada tahap tertentu dalam kariernya tiba di Lembah Rao. Dia menemukan seorang pelindung di sehari-harinya. Pada akhirnya di tahun 1808, ia menjadi Islam. Kemudian ia berhubungan dengan ajaran Padri di daerah lebih ke selatan dan rupanya mereka merasa bahwa dengan memperoleh pengakuan sebagai eksponen ajaran ini, posisinya sebagai orang luar atau orang datang dalam masyarakat Rao akan jauh lebih baik. Sayang kata Dobbin, kita tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai hubungannya dengan Imam Bondjol.

3. Kekejaman Tuanku Rao dan Paderi di Tanah Batak Bagian ini saya ulas dengan menguraikan pendapat Dobbin yang membahas historiografi Batak tentang serangan Paderi ke Tapanuli. Laporan Batak yang dibaca Dobbin diakuinya cenderung menekankan kekerasan dan kekacauan yang terjadi selama periode Padri. Namun, Tuanku Rao menurut Dobbin telah berusaha untuk memperkenalkan bentuk administrasi Padri ke desa-desa Batak. Akan tetapi, bagaimana system ini dilembagakan dan berapa besar dukungan yang diterima adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Beberapa orang Batak memang sudah beragam Islam sebelum serbuan Padri. Ada orang-orang muslim yang tinggal di Panyabungan ketika diserbu. Bahkan desa-desa tertentu didekatnya ada yang mempunyai hubungan dagang dengan pantai barat dan telah menjadi Islam selama beberapa tahun.

Namun pada masa awal pemerintahannya penyerbu dari Rao menurut Dobbin mengandalkan kekuatanya sendiri dan mengangkat orang-orang Minagkabau sebagai kadi di desa-desa Batak. Hakim-hakim ini mendasarkan administrasinya pada Quran secara kata perkata. Mereka juga mencoba memberlakukan semua puritanisme lahiriah gerakan mereka. Tentu saja kata Dobbin orang-orang dipaksa menjadi Islam dan terjadi banyak pembunuhan, disamping itu, para Padri juga sangat bersemangat menghancurkan kesastraan Batak. Pada mulanya penyerbuan Padri kata Dobbin sukar dibedakan dari penyerbuan dan pendudukan asing. Selain telah mengarahkan perdagangan Batak ke kelompok pelabuhan khusus di pantai barat, Tuanku Rao juga mewajibkan membiayai upeti kepada Rao dan Alahan Panjang dalam bentuk beras, kerbau dan budak-budak . Wilayah-wilayah bawahan juga mewajibkan membiayai pemeliharaan pasukan Minangkabau di desa-desa mereka dan menyediakan pasukan bersenjata untuk kegiatan Padri di daerah lebih ke utara lagi.

Pada tahun 1822, para Padri telah berada di belakang Tapanuli, setelah menyapu seluruh wilayah Angkola. Menurut laporan Batak yang menurut Dobbin harus ditanggapi dengan hati-hati, Tuanku Rao mengangkat seorang Tuanku Lelo, anggota marga Nasution dan putra seorang Batak pedagang garam, menjadi “gubernur” Angkola. Selain itu, ia juga membangun benteng di Padang Sidempuan. Daerah ini adalah lokasi yang strategis karena terletak dipersimpangan rute dagang penting yang menuju ke pantai dan ke daerah Mandailing dan Silindung. Di tempat inilah ia menjalankan kebijakan Padri untuk memajukan perdagangan, membuka jalan – jalan dagang, dan mendukung para pedagang.

Dobbin mengungkapkan tradisi lisan Batak yang menyebut segerombolan Padri di bawah Tuanku Rao masuk sampai sejauh Butar di utara, di plato Humbang. Ditempat ini, Tuanku Rao menghadapi wakil dinasti iman Raja Sisingamangaraja pada waktu itu, yang tinggal dilembah Bakkara yang berdinding batu di barat laut Danau Toba. Menurut tradisi Batak, Tuanku Rao adalah kemenakan yang disia-siakan oleh Sisingamangaraja. Keterangan ini adalah usaha untuk menjelaskan mengapa Tuanku Rao dikatakan membunuh. Tragedi ini terjadi di pasar Butar, sesudah tuanku mengundang Sisingamangaraja untuk suatu pertemuan. Namun, Sisingamangaraja sebagai tokoh berbahaya karena dianggap dapat mengerahkan marga-marga Batak Toba untuk melawan Islam. Faktor lainnya karena Sisingamangaraja mempunyai hubungan dengan Barus. Padahal, jalinan inilah kata Dobbin, yang ingin dipatahkan oleh kaum Padri.

 

 

As noted Dobbin, Batak traditions describing the atrocities attacks Batak Padri to the ground. In an essay written the Batak to date, as well as writing Sihombing (2008) still remembered the bitterness of invasion Pidari (Batak writings pidari denominator for the vicar) that is considered one of the best period in the history of black and dark Batak, Angkola- Mandailing-Padang Lawas and Toba. In his Sihombing called Tanah Batak situation became so helter-skelter after the death of troops Pidari and all legal chaos that occurs on the ground next Batak considered the impact of the attacks Padri. According to Sihombing, for quite a long time, laws and manners that govern society in the reign of drug-pushers to fall apart. If there seems any masihb tal should be ignored anymore. There is often a mutual-attack and suspicion among one group against another group (usually based on the “saompu” or collateral). That said, at this stage this time that they are in fact just the start “can” kill and “eat” (literally) of meat from a defeated enemy or from pangkahap (spy) in disguise and caught, as a result of liver indignation.
In another book Bisuk Siahaan (2005) says that the adverse effects of war in Toba Padri hanja not only materially, but also socially in society manners, including uhum dohot slave changes (laws and regulations). For example, katanja, before the invasion of the Pidari, the Toba has fought the law governing the procedure that should not be violated. Code of Conduct-war Batak oang previously set various restrictions, such as attacking the enemy at night, burned the enemy; kill women, etc.. Sihombing regard, the Batak had always been an ethic of international war in which both sides would have to declare war first challenge, intentions and decisions perangnja. According to the Sihombing,: manners war done sincerely by King Sisingamangaraja XII, when declaring (Asleep) Batak War, which must be done in a frontal attack, with the command “ready”. Means everyone in the forces both parties really are ready for battle, spiritual and physical. An chivalry, far from cowardice. But all manners “of international and regional Batak” according to the size of each era, said Sihombing, have been violated by the troops Pidari.
Perhaps, the next Sihombing said, because of the weight of suffering and trauma of the nightmare (nightmare hell) Pidari destruction by the forces, which is why that sepeninggalan the rioters, who are the rest of the Batak people actually even imitate and do the same behavior with the Pidari.
But why is said “those who are the rest?” Sihombing like other Batak authors also refer to MOP saying that troops are retreating Pidari very anxious and in a hurry because begu antuk affected by the epidemic (cholera) from the northern part of the Land of Batak, the rest of the Batak people who live to survive and then come out of hiding in caves the caves and forests during the invasion and occupation of the three years, only 25% lived alone. That said, as well as the condition of the rest of the troops invading Pidari, only the remaining 25 to 30% as well. Although statistics on the number Invaders (30 thousand persons) of the book was considered Sihombing MOP probably exaggerated, but said Sihombing, no matter how large the number of the invading army, we can imagine how much destruction to all aspects of life he left behind. To strengthen the atrocities of war in the land of Batak Padri, Sihombing also refer Basyral Hamidy Harahap (2007) to emphasize the news about the terrible destruction done in the occupation of the Pidari of Minangkabau in Batak Mandailing-Sipirok-Padang Lawas to Toba in the first quarter of the 19th century. Presumably, the book was written by Harahap, so Sihombing, among others, with the intention to correct and refine certain parts of the book Tuanku Rao, while reinforcing justification news about “the dream of hell” suffered by the Batak people of the south and north, as a result of the invasion and occupation of the Pidari it.
Sihombing said the next most Batak people of the younger generation, was deliberately not too intensive diceritai (if not to say the story dideponir) by parental about how horror experience grandfather ancestor “bangso” Batak in the decade from 1820 to 1830-an, which shattered due to invasion of the Pidari. That thousands of relatives who did not die because of the invasion, had died of the plague tokh terrible. Thousands of the rest of the living, so Sihombing, also hijacked the incalculable suffering, sold into slavery in the South Tapanuli and west coasts of Sumatra. The purpose of the elders Batak who was then wanted mendeponir story of the invasion Pidari, is a very shameful disgrace that it does not need to know the younger generation. Generally they are short notes like this: ever experienced a nightmare Batak people is called “ni Tingki Pidari (the Pidari)” Annual Almanac HKBP course, the historical record milestones referred Sihombing, every sunrise-yearly, only a brief note like this: 1825 -1829 porang ni Tuanku Rao (porang Bonjol) na mamorangi bangso Batak (Tuanku Rao War (War Bonjol) who come up against the “nation” Batak). Just like Sihombing, other authors who had already called the Siahaan (2005) in his description of Padri also not miss to refer to the book MOP. Described MOP, thus Siahaan, between the years 1816-1818 Padri troops began to invade and occupy Mandailing Tapanuli, Sipirok and Padang Lawas, while Islamize the population who still worship idols. After Tapanuli controlled, a few years later made the invasion of North Tapanuli targeting Pahae, Silindung, Humbang and Toba. Soldiers burned dozens Padri homes, charming and kill people regardless of whether they are women, children or the elderly are helpless. Even the incomparable cruelty occurred in the Pahae, Humbang and Silindung. Residents who do not submit to the army Padri captive, his eyes gouged out. During the attack hundreds of innocent people were brutally murdered, dead bodies covered walkways, making it no longer possible to bury him properly. Everywhere looks carcasses decompose, causing outbreaks of cholera and typhus raged. Efidemi outbreak suddenly, not only attacking the locals, but also tenatra Padri. Caused so many residents and soldiers who died Padri disease cholera, Padri army leader who ordered that all troops leave northern Tapanuli. It is very difficult to imagine how cruel treatment Padri army to innocent civilians, leading up to this day when people want to describe something that is very cruel and uncivilized, it says “like in the Pidari” (“in tingki ni Pidari). Although the army has left North Tapanuli Padri, but the population according Siahaan remains wary, afraid that one day reappear Padri soldiers torturing them. Witnessing the atrocities of war that has just passed, causing the population is no longer fully obedient to the teachings of “fighting by the rules dohot Uhum slave” as commonly held. They set the rules have changed and the war itself, according to individual taste. This is according to Siahaan, reported by Baron van Hoevel Kontelir GWWC who participated in the Dutch military forces under the command of Captain Infantry Scheltens, and justified by kings Silindung and Toba. Before Scheltens begin his expedition (perjalananya) to the Toba and Silindung, they first learn all the Dutch archives stored since 1845, specifically on how the Batak peoples and war. Apparently text in files no longer compatible with reality. Troops Scheltens very surprised when they suddenly attacked by followers of Si Singamangaraja at night, but according to the rules of slave dohot Uhum they studied, the Batak are not allowed to attack the enemy at night, in addition, several houses and barracks of the Dutch army officers attempted about to be burned, but forbidden by slave dohot Uhum burn enemy houses. Since the incident, according to Siahaan Dutch soldiers realize that things have changed, the invasion army Padri very cruel to the Land of Batak, has changed the way people think. Apparently, according to Siahaan, the suffering experienced during the war cleric, has left a difficult TRUMA dipupus of the minds of the population, they feel constantly threatened by mortal danger. To secure ourselves, even elevated fortress village protection and reinforced with bamboo spiked as far footsteps can still be seen in the Batak villages.
4. Closing The above description shows how the traditional historiography of writing the actual Batak wholly derived from the oral tradition Batak provide verification that Tuanku Rao is a native of the Batak Toba (Sipongki Nangolngolan), born of an affair, a relationship with the royal family Singamangaraja, migrated to Rao, entered Batak lands of Islam and attacked viciously because they want revenge. Later he managed to kill his uncle Singamangaraja X and spread Islam even done by force, cruel, inhuman and very bloody, but failed to convert the northern part of the Land of Batak. Necessary caution dealing with oral tradition of controversy this. Historians such as Dobbin also be trapped decipher “episode” Tuanku Rao in Batak land, basing his description of the oral tradition Batak alone professed not be clarified to historical sources the other. Ironically Dobbin obtained oral tradition is an oral tradition that has been developed, fictionalized the imagination as found in the writings of MOP. Description Dobbin showed as he went into the Batak oral tradition and the academic work is a pity he did not explore and compare the oral tradition that developed in South Tapanuli, Rao and Minangkabau. I think the Batak oral tradition that was written was the result of the construction of a certain period of time, in certain areas and for certain interests. I estimate that, at the time the story was constructed, the Dutch authorities and the missionaries spreading Christianity in worrying about the spread of Islam to the Toba Batak lands and they are trying to prevent the spread of it in various ways, including fortify themselves by creating and developing Padri atrocities in Batak land and reproduce through figures Batak Christian religion of the first generation of Christianity in the land of Batak. Reproduction is done Toba region and Humbang threatened and did not occur in the Samosir. In my research on the oral traditions of Tuanku Rao as I know Nangolngolan Pongki The oral tradition is not known on the island of Samosir. Interpreters maintained complex in the tomb of King Sidabutar Tomok, Samosir right on the edge of Lake Toba, when I interviewed at the end of 2007 does not recognize The Pongki Nangolngolan. In fact, she pointed to a tree in the complex Pongki grave as an old tree which was very loud and powerful without something to do with the symbol of a man who later constructed as Tuanku Rao. The story of the legend of The Pongki is also not found in the South Tapanuli. Batak Padri to the ground assault, especially Toba, an attack which also happens to be recognized that there are resources in the Minangkabau itself. But the version of the oral tradition about the attacks and genealogy Tuanku Rao in Batak tradition is constructed. Not a coincidence that the author reproduces the oral tradition are Christians, even among those included Christian religious leaders. Although MOP Muslims, but the raw material of all writing about Batak came from his father’s archives, Sutan Martua Radja (SMR), a prominent Christian in Siantar. In his analysis Dobbin finally admitted, perhaps this lineage created to explain some of the advantages Tuanku Rao in the military. He according to Dobbin, indeed led his followers a series of extraordinary duress journey to the north, directly entering the Batak Toba people. Here he met and killed Sisingamangaraja X. With regard him as the nephew of the king who lost his right, according to Dobbin Batak traditions can provide a reasonable motivation for a military attack, that is revenge. But the motivation that I think it is absurd and full of controversy. How could Tuanku Rao were imaged as a sadistic killer and invaders and persecute Batak Batak descent is constructed as? How do we understand the logic of Si Pongki: sentenced to death (had drowned in Lake Toba because he was an illegitimate child of an incestuous relationship results Singamangaraja family) then rescued by his uncle the king Singamangaraja X, and after Si Pongki be Tuanku Rao came to kill Singamangaraja X uncle who actually save? Construction of this oral tradition in my interest to subordinating the two imaging, the first Muslim from the South and two Singamangaraja and descendants and followers that can not be tamed by the missionaries and the Dutch authorities. It takes a more in-depth investigation of the construction has already
considered this reality.

 

Original info

Sebagaimana disebut Dobbin, tradisi Batak menggambarkan kekejaman-kekejaman serangan Padri ke tanah Batak. Dalam karangan yang ditulis orang Batak sampai saat ini, sebagaimana tulisan Sihombing (2008) tetap dikenang pahitnya invasi kaum Pidari (tulisan-tulisan Batak penyebut pidari untuk paderi) sehingga dianggap merupakan salah satu periode yang paling hitam dan gelap dalam sejarah orang Batak, Angkola-Mandailing-Padang Lawas dan Toba. Dalam tulisannya Sihombing menyebut situasi Tanah Batak menjadi begitu morat-marit sepeninggal pasukan Pidari dan segala kekacauan hukum yang terjadi di tanah Batak selanjutnya dianggap sebagai dampak dari serangan Paderi. Menurut Sihombing, untuk waktu yang cukup lama, hukum dan tata-krama yang mengatur masyarakat dalam zaman pemerintahan bius-bius menjadi berantakan. Bila pun masihb ada agaknya tal perlu diindahkan lagi. Sering terjadi saling-serang dan saling curiga di antara satu kelompok terhadap kelompok lain ( umumnya berdasarkan wilayah “saompu” atau seketurunan). Konon, pada tahapan waktu inilah mereka malah justru mulai “bisa” membunuh serta “memakan” (secara harfiah) daging dari musuh yang ditaklukkan atau dari pangkahap (mata-mata) yang menyamar dan tertangkap, sebagai akibat kegeraman hati.

Dalam buku lain Bisuk Siahaan (2005) mengatakan bahwa dampak buruk perang Padri di Toba bukan saja hanja secara materiil, tapi juga secara sosial dalam tatakrama kehidupan masyarakat, termasuk terjadinya perubahan patik dohot uhum (peraturan dan hukum). Sebagai contoh, katanja, sebelum serbuan kaum Pidari, orang Toba memiliki hukum yang mengatur tatacara berperang yang tak boleh dilanggar. Kode etik-perang oang Batak sebelumnya menetapkan berbagai larangan, seperti menyerang musuh pada malam hari, membakar rumah musuh; membunuh perempuan, dll. Sihombing menganggap, orang Batak sejak dulu mengenal etika perang internasional dimana kedua belah pihak yang akan berperang lebih dahulu harus mendeklarasikan tantangan, niat dan keputusan perangnja. Menurut catatan Sihombing, : tatakrama perang itu dilakukan dengan tulus oleh Raja Sisingamangaraja XII, ketika mendeklarasikan (Pulas) Perang Batak, dimana serangan harus dilakukan secara frontal, dengan aba-aba “siap”. Berarti semua orang dalam pasukan kedua belah fihak memang benar-benar sudah siap untuk berperang, lahir dan bathin. Suatu sikap kesatria, jauh dari kepengecutan. Tapi semua tata-krama “internasional dan regional Batak” menurut ukuran zamannya masing-masing itu, kata Sihombing, telah dilanggar oleh pasukan kaum Pidari.

Mungkin, demikian Sihombing selanjutnya mengatakan, karena beratnya penderitaan dan trauma dari masa nightmare (mimpi neraka) penghancuran oleh pasukan Pidari, itulah sebabnya bahwa sepeninggalan kaum perusuh, orang Batak yang masih sisa justru malah meniru dan melakukan perilaku yang sama dengan kaum Pidari.

Tapi kenapa dikatakan “orang yang masih sisa”? Sihombing seperti juga penulis Batak lainnya merujuk MOP yang mengatakan bahwa pasukan Pidari yang mundur dengan sangat cemas dan tergesa-gesa karena landaan wabah begu antuk (Kolera) dari Tanah Batak bagian utara, sisa orang Batak yang bisa hidup bertahan dan kemudian keluar dari persembunyian di gua-gua dan hutan selama tiga tahun serbuan dan pendudukan, hanya tinggal 25 % saja. Konon, demikian juga kondisi sisa pasukan Pidari penyerbu, hanya tersisa 25 sampai 30 % juga. Meskipun statistik jumlah penyerbu (30 ribu orang) dari buku MOP itu dianggap Sihombing mungkin terlalu dilebih-lebihkan, namun kata Sihombing, berapa besarpun jumlah pasukan penyerbu, kita bisa membayangkan betapa besar destruksi terhadap segala aspek kehidupan yang ditinggalkannya. Untuk menguatkan kekejaman perang Paderi di tanah Batak, Sihombing juga merujuk Basyral Hamidy Harahap (2007) untuk menekankan pemberitaan perihal hebatnya destruksi yang dilakukan dalam masa pendudukan kaum Pidari dari Minangkabau di Tanah Batak Mandailing-Sipirok-Padang Lawas sampai Toba dalam kuarter pertama abad 19. Agaknya, buku tersebut ditulis oleh Harahap, demikian Sihombing, antara lain dengan niat untuk mengoreksi dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu buku Tuanku Rao, seraya menguatkan pembenaran berita tentang “mimpi neraka” yang dialami oleh orang Batak bagian selatan dan utara, sebagai akibat serbuan dan pendudukan kaum Pidari itu.

Sihombing menyatakan, selanjutnya kebanyakan orang Batak dari generasi lebih muda, memang sengaja tidak terlalu intensif diceritai (kalau tak akan dikatakan kisahnya dideponir) oleh tetuanya tentang betapa ngerinya pengalaman kakek-moyang “bangso” Batak pada dasawarsa 1820-1830-an, yang porak poranda akibat serbuan kaum Pidari. Bahwa ribuan sanak saudara yang tidak mati karena serbuan, tokh harus mati karena wabah mengerikan. Ribuan dari sisa yang hidup, demikian Sihombing, dibajak pula dengan penderitaan tak terkirakan, diperjualbelikan menjadi budak di Tapanuli Selatan dan pantai-pantai barat Sumatra. Maksud tua-tua Batak yang kala itu ingin mendeponir cerita invasi kaum Pidari, ialah supaya aib yang sangat memalukan itu tak perlu diketahui generasi mudanya. Umumnya mereka mencatat singkat begini: pernah ada mimpi buruk dialami orang Batak yang disebut “Tingki ni Pidari (masa Pidari)” Almanak Tahunan HKBP saja, dalam catatan tonggak-tonggak bersejarahnya yang dirujuk Sihombing, setiap terbit-tahunan, hanya mencatat singkat begini: 1825-1829 Porang ni Tuanku Rao (Porang Bonjol) na mamorangi bangso Batak (Perang Tuanku Rao(Perang Bonjol) yang datang memerangi “bangsa” Batak). Sama seperti Sihombing, penulis lain yang tadi sudah disebut yakni Siahaan (2005) dalam uraiannya tentang Padri juga tidak melewatkan untuk merujuk buku MOP. Dijelaskan MOP, demikian Siahaan, antara tahun 1816-1818 tentara Padri mulai menyerbu Tapanuli Selatan dan menduduki Mandailing, Sipirok dan Padang Lawas, sekaligus mengislamkan penduduk yang masih menyembah berhala. Setelah Tapanuli Selatan dikuasai, beberapa tahun kemudian dilakukan penyerbuan ke Tapanuli Utara dengan sasaran Pahae, Silindung, Humbang dan Toba. Tentara Padri membakar berpuluh-puluh rumah, menawan dan membunuh penduduk tanpa memperdulikan apakah mereka wanita, anak-anak atau orang tua yang tak berdaya. Bahkan kekejaman yang tidak ada taranya terjadi di daerah Pahae, Humbang dan Silindung. Penduduk yang tidak mau tunduk kepada tentara Padri ditawan, lalu matanya dicungkil. Selama penyerangan tersebut beratus-ratus penduduk yang tidak bersalah dibunuh secara kejam, mayat bergelimpangan menutupi jalan setapak, sehingga tidak mungkin lagi menguburnya dengan baik. Dimana –mana terlihat bangkai membusuk, menyebabkan wabah penyakit kolera dan tifus mengganas. Efidemi berjangkit secara tiba-tiba, tidak hanya menyerang penduduk setempat,tetapi juga tenatra Padri. Disebabkan sangat banyak penduduk dan tentara Padri yang meninggal terserang penyakit kolera, pemimpin tentara Padri yang memerintahkan supaya semua serdadunya segera meninggalkan Tapanuli Utara. Sangat sulit membayangkan betapa kejamnya perlakuan tentara Padri kepada penduduk yang tidak berdosa, menyebabkan sampai hari ini bila masyarakat hendak menggambarkan sesuatu yang sangat bengis dan tak beradab, dikatakan “seperti di masa Pidari” (“di tingki ni Pidari). Meskipun tentara Padri telah meninggalkan Tapanuli Utara, namun penduduk menurut Siahaan masih tetap waswas, takut jika pada suatu hari tentara Padri muncul kembali menyiksa mereka. Menyaksikan kekejaman perang yang baru saja berlalu, meyebabkan penduduk tidak lagi sepenuhnya patuh pada ajaran “berperang menurut aturan Patik dohot Uhum” seperti yang dianut selama ini. Mereka telah berubah dan menetapkan aturan perang sendiri, sesuai dengan selera masing-masing. Hal ini menurut Siahaan, dilaporkan oleh Kontelir G.W.W.C Baron van Hoevel yang turut dalam pasukan militer Belanda di bawah komando Kapten Infanteri Scheltens, dan dibenarkan oleh raja-raja di Silindung dan Toba. Sebelum Scheltens memulai ekspedisinya (perjalananya) ke daerah Toba dan Silindung, terlebih dulu mereka mempelajari semua arsip-arsip Belanda yang tersimpan sejak tahun 1845, khusus mengenai adat dan cara orang Batak berperang. Ternyata tulisan yang ada di arsip tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pasukan Scheltens sangat terkejut sewaktu mereka secara tiba-tiba diserang oleh pengikut Si Singamangaraja pada malam hari, padahal menurut aturan Patik dohot Uhum yang mereka pelajari, orang Batak tidak diperkenankan menyerang musuh pada malam hari, selain itu, beberapa rumah pejabat dan tangsi tentara Belanda dicoba hendak dibakar, padahal menurut Patik dohot Uhum dilarang membakar rumah musuh. Sejak peristiwa tersebut, serdadu Belanda menurut Siahaan sadar bahwa keadaan sudah berubah, penyerbuan tentara Padri yang sangat kejam ke Tanah Batak, telah mengubah cara berpikir penduduk. Rupanya, demikian Siahaan, penderitaan yang dialami selama perang paderi, telah meninggalkan truma yang sulit dipupus dari benak penduduk, mereka merasa dirinya senantiasa terancam oleh bahaya maut. Untuk mengamankan diri, bahkan benteng perlindungan kampung ditinggikan dan diperkuat dengan bambu-bambu berduri sebagaimana sampai saat ini jejaknya masih bisa dilihat di desa-desa Batak.

4. Penutup Uraian di atas memperlihatkan bagaimana penulisan historiografi tradisional Batak yang sebenarnya sepenuhnya berasal dari tradisi lisan Batak memberikan pengabsahan bahwa Tuanku Rao adalah asli orang Batak Toba (Sipongki Nangolngolan), lahir dari hubungan gelap, memiliki hubungan keluarga dengan raja Singamangaraja, merantau ke Rao, masuk Islam dan menyerbu tanah Batak dengan kejam karena ingin membalas dendam. Selanjutnya dia berhasil membunuh pamannya Singamangaraja X dan menyebarkan Islam yang sekalipun dilakukan dengan paksaan, sadis, tidak berperikemanusiaan dan sangat berdarah, tapi tidak berhasil mengislamkan Tanah Batak bagian utara. Diperlukan kehati-hatian berhadapan dengan tradisi lisan yang penuh kontroversi ini. Sejarahwan seperti Dobbin juga bisa terjebak menguraikan ”episode” Tuanku Rao di tanah Batak dengan mendasarkan uraiannya semata dari tradisi lisan Batak yang diakuinya tidak bisa diklarifikasi ke sumber-sumber sejarah yang lain. Ironisnya tradisi lisan yang didapat Dobbin adalah tradisi lisan yang telah dikembangkan, difiksikan dengan imajinasi seperti yang terdapat dalam tulisan MOP. Uraian Dobbin memperlihatkan seakan dia meneruskan tradisi lisan Batak ke dalam karya akademisnya dan sangat disayangkan dia tidak mengeksplorasi dan membandingkannya dengan tradisi lisan yang berkembang di Tapanuli Selatan, Rao dan Minangkabau. Menurut saya, tradisi lisan Batak yang kemudian dituliskan itu merupakan hasil konstruksi dari satu kurun waktu tertentu, di wilayah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Saya perkirakan, pada waktu cerita itu dikontruksi, penguasa Belanda dan para zending penyebar agama kristen di Toba mencemaskan penyebaran Islam ke tanah Batak dan mereka berusaha untuk menghambat penyebaran itu dengan berbagai cara termasuk membentengi diri dengan menciptakan dan mengembangkan kekejaman Padri di tanah Batak dan mereproduksinya lewat tokoh-tokoh Batak beragama kristen dari generasi pertama kristenisasi di tanah Batak. Reproduksi itu dilakukan dikawasan Toba dan Humbang yang terancam dan tidak terjadi di kawasan Samosir. Dalam penyelidikan saya atas tradisi lisan tentang Tuanku Rao sebagai Si Pongki Nangolngolan saya ketahui tradisi lisan ini tidak dikenal di pulau Samosir. Juru pelihara kompleks makam Raja Sidabutar di Tomok, Samosir tepat di tepi Danau Toba, ketika saya wawancarai di akhir tahun 2007 tidak mengenal Si Pongki Nangolngolan. Bahkan dia menunjuk pohon Pongki yang ada di kompleks makam itu sebagai pohon tua yang sangat keras dan kuat tanpa ada hubungannya dengan simbol dari seorang tokoh yang kemudian dikonstruksikan sebagai Tuanku Rao. Kisah tentang legenda Si Pongki ini juga tidak ditemukan di kawasan tapanuli Selatan. Penyerangan Padri ke tanah Batak, khususnya Toba, merupakan penyerangan yang juga diakui terjadi oleh sumber-sumber yang ada di Minangkabau sendiri. Tapi versi tradisi lisan tentang penyerangan itu dan genealogi Tuanku Rao dalam tradisi Batak adalah hasil konstruksi. Tidak merupakan kebetulan jika penulis yang mereproduksi tradisi lisan itu beragama kristen, bahkan diantara mereka termasuk pemuka agama kristen. Sekalipun MOP beragama Islam, tapi bahan baku dari semua penulisannya tentang Batak berasal dari arsip ayahnya, Sutan Martua Radja (SMR), seorang tokoh kristen di Pematang Siantar. Dalam analisisnya Dobbin akhirnya memang mengakui, barang kali garis keturunan ini diciptakan untuk menjelaskan beberapa keunggulan Tuanku Rao dalam kemiliteran. Dia menurut Dobbin, memang memimpin pengikut-pengikutnya melakukan serangkaian perjalanan paksaan yang luar biasa ke utara, langsung memasuki wilayah orang-orang Batak Toba. Disini ia bertemu dan membunuh Sisingamangaraja X. Dengan menganggap dia sebagai kemenakan raja yang kehilangan haknya, menurut Dobbin tradisi Batak dapat memberikan motivasi yang masuk akal untuk serangan militer ini, yaitu balas dendam. Tapi motivasi itu menurut saya justru tidak masuk akal dan penuh kontroversi. Bagaimana mungkin Tuanku Rao yang dicitrakan sebagai pembunuh dan penyerbu yang sadis dan menganiaya orang Batak itu dikonstruksi sebagai keturunan Batak? Bagaimana kita memahami logika Si Pongki : dijatuhi hukuman mati (harus ditenggelamkan di Danau Toba karena dia anak haram hasil hubungan incest dari keluarga Singamangaraja) kemudian diselamatkan oleh raja Singamangaraja X pamannya sendiri, dan setelah Si Pongki menjadi Tuanku Rao datang membunuh Singamangaraja X paman yang justru menyelamatkannya? Konstruksi tradisi lisan ini menurut saya berkepentingan untuk mensubordinatkan dua pencitraan, pertama Islam dari selatan dan kedua Singamangaraja serta keturunan dan pengikutnya yang tidak bisa dijinakkan oleh zending dan penguasa Belanda. Diperlukan suatu penyelidikan yang lebih mendalam tentang konstruksi yang terlanjur sudah dianggap sebagai realitas ini.

 

 

Source
Pardede Th

Notes Dr. Iwan
My friend was giving out information that the family moved to Penang when  padri War read the original information below
Dear Dr. Iwan,
Congratulations for putting up the materials Contain in this wordpress site and thank you for sharing your research.

I can think of one area where we can possibly collaborate in the Padang-namely Penang connection.
Regards
Mr. Lubis
P.S. I’m a Malaysian national, a descendant of Mandailing migrants to the peninsula during the Padri War


Based on this information turned out to be due to the current situation of Imam knurl Padri movement, there are tribes who migrated abroad Mandailing among others to Penang.
Conversely there is also from Penang migration to Padang Pandjang the Khoe family and his brother’s father Kim Lian Mrs. Lena Khoe, perhaps this relationship and Padang Peang do joint research between dr iwan and Mr. Lubis.

 


The same circumstances occur when the situation is less favorable in the first world war, a Java Minangkbau wife whose son later became members I Dr Azhar Kiman, back into the field, and he became the Indonesian National Army Maj. kIman lights section and was a member in 1949 BFO

1827

The strategy of Battlefield Fortification was implied since May 1827. The Battlefield Fortification means that fort was not only have a passive role in the military defense, but it’s emphasized that the fort has active and important role as quarter for offensive operation, military command and control and logistic purposes. Broadly speaking, fort was attempted as warfare and military strategic. In period of May – December 1827 General H.M. de Kock established about 30 forts surrounding Central Java.

THE ACHIEVEMENTS

F.D. Cochius was born 3rd of December 1787 in Valburg.

His parents are Gerrit Jan Casparus Cochius and Anna Dibbets.

He died in Huize Vredenoord near Rijswijk, Netherlands on 1st of May 1876.

July 1811:

Captain in the French Army

December 1814:

Captain in Netherlands Army

 

Portaal:KNIL/Biografie

Uit Wikipedia, de vrije encyclopedie

< Portaal:KNIL

Ga naar: navigatie, zoeken

/1

 

Karel van der Heijden (Batavia, 12 januari 1826Arnhem, 26 januari 1900) was een Nederlands generaal, onder meer militair en civiel gouverneur van Atjeh. Van der Heijden was de buitenechtelijke zoon van generaal de Stuers en een onbekende inlandse (Boeginese) vrouw; hij werd te Batavia geboren maar groeide, als kind aangenomen door Jean van der Heijden en Wilhelmina Siebing, op in Nederland. Op zestienjarige leeftijd vertrok hij vanaf Nieuwediep, als vrijwilliger, aan boord van de East India Packet en zette in de rang van korporaal voet aan de wal in Nederlands-Indië. Van der Heijden werd vervolgens ingedeeld bij het derde bataljon infanterie en op 1 augustus 1842 benoemd tot sergeant, op 16 oktober 1848 tot majoor en nam als zodanig deel aan de tweede en derde expeditie naar Bali. Zijn gedrag gedurende deze veldtochten was zodanig dat hij bij Koninklijk Besluit van 11 december 1849 benoemd werd tot ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse.

Lees verder

/2

 

Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus (Johan) Pel (Maastricht, 10 januari 1823 – Aceh Besar, 23 februari 1876) was een Nederlands generaal, militair bevelhebber te Atjeh. Pel nam in 1841 vrijwillig dienst dienst (bij het instructiebataljon te Kampen); in 1846, in de rang van sergeant-majoor, vertrok hij in 1846 naar Indië, werd in 1848 benoemd tot tweede en in 1853 tot eerste luitenant; In 1857 werd hij bevorderd tot kapitein, in 1865 tot majoor en in 1870 tot luitenant-kolonel.

Lees verder

/3

 

François Vincent Henri Antoine ridder de Stuers (Roermond, 29 november 1792Den Haag, 29 december 1881) was een Nederlands generaal, commandant van het Indisch leger en onder meer grootofficier, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. De Stuers, vierde zoon van ridder J.R.J. de Stuers, groeide op in Heerenberg, omdat zijn ouders bij de nadering van de Fransen Limburg verlieten. Op 29 maart 1815, na de landing van Napoleon te Cannes, schreef hij zich in in het stamboek der jagers te paard, maar ging vervolgens als volontair over bij het vierde regiment dragonders.

Lees verder

/4

 

Andreas Victor Michiels (Maastricht, 30 mei 1797 – Kusamba, Klungkung, Nederlands-Indië, 25 mei 1849) was een Nederlands generaal, commandant van het Indische leger, ridder, officier en commandeur in de Militaire Willems-Orde. Michiels was door zijn ouders aanvankelijk bestemd voor een gerechtelijke loopbaan; hij doorliep het keizerlijk lyceum te Luik maar werd daarna, in 1814, aangesteld tot tweede luitenant der infanterie, eerst in Franse, toen in Nederlandse dienst. Hij werd in 1815 benoemd tot eerste luitenant en woonde in 1814 en 1815 de veldtocht in Nederland en Frankrijk bij. In 1816 vertrok Michiels naar Indië en nam in 1818 deel aan de krijgsverrichtingen te Cheribon; hij werd datzelfde jaar bevorderd tot kapitein, in 1827 tot majoor, in 1832 tot luitenant-kolonel, in 1837 (bij keuze) tot kolonel en in 1843 tot generaal-majoor titulair. Michiels nam van 1825 tot 1830 deel aan de Java-oorlog en nam daarin een zo’n belangrijk deel, dat hij op één dag bevorderd werd tot ridder en officier in de Militaire Willems-Orde.

Lees verder

/5

 

Mr. Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen (Utrecht, 15 december 1778De Bilt, 10 april 1848) was een Nederlandse diplomaat, onder meer Minister van Binnenlandse Zaken, Gouverneur-Generaal van Nederlands-Indië en commandant van het Indische leger. Van der Capellen studeerde rechten aan de hogeschool van Urecht en werd bevorderd tot Mr. in de rechten, terwijl hij aan de hogeschool van Göttingen onder andere de lessen van George Friedrich von Martens en Johann Friedrich Blumenbach bijwoonde, met wie hij tot het laatst van zijn leven in briefwisseling stond.

Lees verder

/6

 

Johannes graaf van den Bosch (Herwijnen, 2 februari 1780Den Haag, 28 januari 1844) was een Nederlands generaal, onder meer Gouverneur-Generaal van Nederlands-Indië, commandant van het Nederlands-Indische leger, Minister van Koloniën en Minister van Staat; hij was officier in de Militaire Willems-Orde. Van den Bosch werd in 1797 benoemd tot luitenant der genie en op zijn verzoek om op eigen kosten bij de genie in Indië te worden geplaatst, in 1798 aangesteld als eerste luitenant bij het garnizoen te Batavia.

Lees verder

/7

 

Gerrit Jan ter Woord (Winterswijk, 1826 – aldaar, 1 november 1905) was een Nederlands onderofficier, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Ter Woord werd op 25 april 1845 bij het regiment Grenadiers en Jagers ingedeeld als milicien voor de tijd van vijf jaar; hij was een loteling van de lichting 1845 uit de provincie Gelderland, gemeente Winterswijk. Op 15 mei 1846 werd hij in activiteit gesteld en engageerde zich drie dagen later bij de staande armee voor zes jaar. Gedurende een tijd bleef het bataljon Grenadiers, waarbij Ter Woord was ingedeeld, te Den Haag in garnizoen.

Lees verder

/8

 

Jhr. François (Frans) Frederik de Casembroot (Luik, 26 juli 1817Den Haag, 14 april 1895) was een Nederlands viceadmiraal, onder meer officier in de Militaire Willems-Orde. De Casembroot werd op 16 november 1832 benoemd tot adelborst aan het Koninklijk Instituut voor de Marine te Medemblik, dat hij op 1 november 1836 verliet als adelborst eerste klasse. In 1837 werd hij geplaatst op Zr. Ms. korvet Triton en vertrok spoedig daarop naar Indië, waar hij op 25 mei 1840 de expeditie tegen de Atjehnezen op Baros nabij Sinkel bijwoonde. Omdat de Atjehnezen een benting hadden opgericht en bewapend waren met zwaar geschut werd De Casembroot die dag naar de wal gezonden om, onder het vuur van de vijand en door de zware branding heen, een 12 ponds-kanon en een 24 ponds houwitser tegenover de benting op een door de Nederlandse troepen opgerichte borstwering te plaatsen.

Lees verder

/9

 

Hubert Joseph Jean Lambert ridder de Stuers (Roermond, 16 november 1788Maastricht, 13 april 1861) was een Nederlands generaal, commandant van het Indische leger, ridder en officier in de Militaire Willems-Orde, ridder en officier van het Legioen van Eer, ridder en commandeur in de Orde van de Nederlandse Leeuw en grootofficier in de Orde van de Eikenkroon. De Stuers trad in 1805 in militaire dienst en scheepte zich in aan boord van de Drie Gebroeders, welk schip deel uit zou maken van een expeditie naar Engeland, maar die niet doorging en nam toen deel aan de veldtocht in Oostenrijk, waar hij de inname van Ulm meemaakte en daarna het legerkorps volgde, dat op Wiener Neustadt tegen de aartshertog van Oostenrijk werd afgezonden. Kort daarna werd de vrede gesloten en vertrok De Stuers met de divisie van generaal Dumonceau naar Rijn- en Münsterland.

Lees verder

/10

 

Günther von Bültzingslöwen (Lübeck, 14 december 1839Berlijn, 21 augustus 1889) was een Duits koopman, welgesteld landheer, consul te Soerabaja, kolonel der Schutterij en eerste flankeur van het Nederlands-Indische leger. Von Bültzingslöwen werd geboren in een oud Thüringsch krijgsmansgeslacht (zijn vader was militair commandant van Lübeck), dat door de oorlogen, die Duitsland eeuwenlang teisterden, zijn bezittingen grotendeels verloren had zien gaan. Hij volgde het gymnasium en wilde net als zijn voorouders in de krijgsmansstand zijn toekomst zoeken, maar de beperkte middelen van zijn ouders stonden een verwezelijking van die wens in de weg. Naar iets anders werd toen voor hem omgezien en het leek op het laatst het beste dat hij in de handel zijn fortuin zou beproeven. Toen hij 19 jaar oud was, kwam hij te Hamburg op een handelskantoor. Het duurde echter niet lang, of dat eentonige leven begon hem tegen te staan. Hij vertrok naar Indië en, om daar des te spoediger aan te komen, deed hij zelfs matrozenwerk tijdens de reis, om in zijn onderhoud te voorzien.

Lees verder

/11

 

Carel August Frederik Willem Wollweber (Brielle, 6 april 1814 – Aan boord van SS De Twee Antonissen, 9 mei 1850) was een Nederlandse kapitein der infanterie van het Indische leger, ridder in de Militaire Willems-Orde. Wollweber verkreeg het Metalen Kruis voor zijn verrichtingen tijdens de Belgische Opstand en werd in de rang van tweede luitenant op 15 maart 1839 bij het eerste bataljon jagers overgeplaatst van de tiende afdeling. Hij werd op 9 juni 1841 in rang en anciënniteit overgeplaatst van genoem