KOLEKSI SEJARAH INDONESIA AWAL ABAD KE-20(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

AWAL ABAD KE-20

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Koleksi Sejarah Indonesia

Awal Abad Ke 20

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private Limited Edition Special For Senior Collectors

Copyright @ Dr Iwan 2013

 

 

1899-1904:

Willem Rooseboom

 

 

Willem Rooseboom.

Willem Rooseboom (Amsterdam, 9 March 1843 – The Hague, 6 March 1920) was a Dutch Major General and politician who was governor general of the Dutch East Indies from 1899 until 1904

20 Agustus 1900

Pada tanggal 20 Agustus 1990 lahirlah putra Tengu Amaludin dari Deli  yang diberi nama  Tengku Otteman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1900

Budaya Barat Dan Fashion (Mode):

Surakarta Masa Kolonial

 

Iklan Pembuatan Pakaian di Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Yang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

“Aku Berbicara Lewat Pakaianku” (Dick Hebdige, Sub Culture: The Meaning Of Style, Routledge, 1979)

Pada awal abad XX

 dalam kehidupan masyarakat di Pulau Jawa terjadi suatu perubahan yang mengarah kepada suatu proses transformasi kebudayaan.[1] Proses perubahan kebudayaan yang menurut Sartono Kartodirdjo[2] disebut sebagai proses modernisasi dapat terjadi karena diakibatkan oleh faktor-faktor pemicu antara lain: pesatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintahan kolonial Belanda.

Modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan serta terjadinya diferensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan. Proses modernisasi yang diakibatkan karena terjadinya kontak secara intensif antar unsur-unsur kebudayaan yang didukung oleh agen-agen perubahan yaitu elit birokrat dan elit ekonomi, serta elit pribumi yang terdididik secara Barat yang lebih mengarah kepada dominasi kebudayaan Barat atas kebudayaan agraris tradisional yang oleh Wertheim dimaksudkan sebagai proses Westernisasi.[3]

Dukungan pembuktian terjadinya proses dalam kehidupan masyarakat perkotaan di Surakarta pada masa kolonial Belanda terekam dalam informasi-informasi yang dimiliki oleh perkembangan mode (fashion) terutama pakaian.

 Sebagai salah satu bukti, perkembangan pakaian mempunyai kredibilitas sebagai alat perekam dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Fashion (mode) Sebelum Masuknya Kebudayaan Barat

Berpakaian, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, bahkan serangan binatang, akan tetapi terkait dengan adat istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status dan juga identitas. Pakaian merupakan salah satu penampilan lahiriah yang paling jelas dimana penduduk dibedakan dengan yang lain dan sebaliknya menyamakan dengan kelompok lainnya.[4]

Sartono Kartodirdjo yang mengutip pernyataan HR van Heekren menyatakan bahwa berdasarkan bukti arkeologis, di daerah Sulawesi, Kalimantan, Seram, Halmahera, Nias, dan pantai barat Irian Jaya telah ditemukan sisa-sisa kehidupan zaman pra sejarah yang diantaranya terdapat pakaian dari kulit kayu  yang dinamakan fuya atau tapa.[5]

 Pengetahuan suku bangsa di Indonesia tentang tata cara berpakaian atau berbusana semakin berkembang ketika agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia. Kenyataan bahwa kebudayaan Hindu dan Budha berpengaruh besar terhadap model pakaian Indonesia tampak pada relief-relief bangunan candi. Relief-relief di dinding candi Borobudur misalnya adalah contoh konkrit dan lengkap yang menggambarkan keanekaragaman pakaian dan perhiasan pada zamannya. Pada relief-relief tersebut jelas ditampilkan busana yang dipakai manusia ketika pada masa itu dengan latar belakang peristiwa yang tengah berlangsung.

Dalam berbagai kegiatan seperti mengolah swah, membangun rumah, bermain musik atau tari digambarkan dengan pakaian yang berbeda. Perbedaan juga tampak pada pakaian yang dipakai oleh para pembesar, raja, ratu, tokoh agama serta rakyat kebanyakan.

 Bersamaan dengan pakaian tampil pula kelengkapannya atau perhiasan yang dikenakan. Perhiasan yang dikenakan pun sangat kompleks, meliputi hiasan kepala sebagai lambang kebesaran pemakainya, hiasan telinga, leher, pergelangan kaki bahkan perhiasan dibagian pinggang dan pangkal lengan. Tradisi berpakaian indah dan mengenakan perhiasan dari macam-macam benda tidaklah mati karena terus berubah.

Pengaruh Hindu dan Budha dalam hal berpakaian tampak dalam penggunaan kain terusan tanpa dijahit atau yang biasa disebut sebagai kain panjang yang menutupi tubuh para wanita ataupun pinggang para pria. Hal ini berkaitan dengan ideologi bahwa kain panjang yang tidak dipotong merupakan sebuah hal yang melambangkan kesucian dan bagi masyarakat Jawa hal tersebut merupakan lambang kesakralan.[6] Masyarakat Jawa lebih menyukai kain yang diwiru daripada kain yang dijahit.Tetapi, semenjak kedatangan bangsa Eropa dan mulai berpengaruhnya budaya Eropa di Jawa, pakaian panjang mulai ditinggalkan terutama bagi kaum pria dan perlahan digantikan dengan pakaian gaya Eropa.

 

Reid mengutip dari Crawfurd, menyebutkan bahwa orang Jawa kalaupun mereka telah berpakaian tetapi masih dianggap nyaris telanjang.[7] Ketika Islam datang, model pakaian di Jawa mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pakaian yang pada awalnya terbuka pada bagian dada, kemudian disempurnakan sesuai norma-norma keislaman. Sarung atau kain panjang yang tadinya dililitkan disekitar pinggang kemudian diangkat lebih tinggi untuk menutupi dada. Selain dengan cara di atas, kaum perempuan Jawa juga menambahkan satu pakaian lagi yang dililitkan secara ketat di sekitar dada.[8] Satu keunikan tersendiri bahwa kerajaan-kerajaan Jawa dimana pengaruh budaya Islam telah masuk seperti pada upacara adat, pandangan hidup, seni bangunan, namun ternyata dalam etika berpakaian tidaklah banyak membawa perubahan. Dari beragam komposisi pakaian, perhiasan sampai kepada makna simbolik yang ingin ditampilkan pengaruh Hindu masih memegang dominasi yang kuat dalam lingkungan istana.[9]

Di Indonesia kontak dengan bagian dunia Islam lebih tua dibandingkan dengan benua Eropa. Kontak dengan Islam mulai tampil sebelum Belanda dan orang-orang Eropa lainnya muncul di wilayah ini. Karenanya pilihan antara pemakaian busana didasarkan pada bidang Islam atau pribumi sudah sangat lama ini dilukiskan dalam satu gambaran Barat tentang Indonesia.

 

Susuhunan Pakubuwana IX berpakaian Haji sebagai pengaruh Islam dengan turban di kepala tahun 1866. (Sumber: http://www.kitlv.nl.).

Gambar di atas menunjukkan bagaimana pengaruh Islam berpengaruh hingga dalam berbusana. Pakaian Raja-Raja Jawa terutama Surakarta mengadopsi pakaian Islam dengan memakai celana panjang, pakaian dan turban gaya Turki. Tidak hanya Raja tetapi masyarakat umum juga memakai gaya berpakaian Islam dengan sarung dan kain yang dililitkan dikepala (turban) yang biasanya berwarna putih. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

 

Masyarakat menggunakan pakaian gaya Islam di sebuah kapal ketika akan berangkat ke tanah suci Mekah tahun 1940 (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Pembakuan dalam pakaian merupakan tanda lahir dari perubahan dalam berbagai bidang. Menurut Taylor[10] perubahan penting dalam pakaian untuk semua kelompok laki-laki dan perempuan Jawa adalah mencakup betis ke atas. Kecenderungan menutup tubuh bagian atas pertama tampak di kota-kota pelabuhan Jawa pada abad XVI. Tubuh yang kurang tertutup oleh pakaian menjadi penanda bagi golongan non-muslim, orang miskin, budak dan anak-anak. Dengan kedatangan bangsa Eropa, perkembangan “mode” menjadi lebih beragam. Pada masa VOC pakaian Belanda merupakan penanda yang jelas tentang kebudayaan dan agama para tuan tanah asing. Pada awalnya Belanda ingin mempertahankan pakaian Eropa untuk diri mereka sendiri. Orang-orang Indonesia yang diperbolehkan memakai pakaian gaya Eropa di daerah-daerah yang dikendalikan oleh VOC adalah penganut Kristiani.[11] Meskipun ada aturan ketat yang diterapkan oleh VOC mengenai cara berpakaian berbagai bangsa, peminjaman dan saling meniru unsur-unsur pakaian tetap nampak.

VOC bisa menerapkan aturannya di Batavia dan kota-kota lain tempat mereka memiliki kontrol ketat, namun di luar daerah ini jauh lebih sulit, khususnya menyangkut elit Indonesia yang sering bekerjasama dengan para pejabat VOC. Salah satu orang pertama yang memakai pakaian Eropa adalah Amangkurat II (1677-1703).[12] Pada pertengahan abad XVII ketika Rickloff van Goens, sebagai wakil VOC, mengunjungi istana Mataram, menyaksikan salah satu penampilan publik biasa raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana “sekitar empat, lima, enam, tujuh, sampai 800 bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun” dan “dengan sangat tekun” mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil tutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.[13] Hal ini menunjukan bahwa pengaruh Islam sangat besar terhadap kerajaan dan penggunaan tutup kepala Jawa menunjukkan perjuangan bagi hegemoni kultural yang dimulai sejak kedatangan Islam dan restorasi nilai-nilai Jawa di dalam latar Islam.

Mengenai deskripsi awal bangsa Eropa tentang kostum-kostum di Jawa, sering didapati bahwa para pria berdada terbuka. Akan tetapi, tidak semua orang orang Jawa selalu membiarkan dada mereka tidak tertutup. Dalam puisi lama Siwaratrikalpa (abad kelima belas) terdapat suatu deskripsi tentang seorang pemburu yang berburu mengenakan jas pemburu berwarna biru tua. Namun demikian, kaum bangsawan setidaknya membiarkan sebagian dari dada mereka terbuka. Menurut tata cara berpakaian di istana biasanya seorang pangeran mengenakan dua macam benda dalam berpakaian yaitu wastra atau kampuh, dodot dan sbuah sabuk. Wastra dililitkan disekeliling bagian bawah tubuh, sementara sabuk adalah sebuah selempang yang dikenakan di sekeliling pinggang. Dalam lingkaran kerajaan, tradisi tidak menutup dada bagi pria memiliki fungsi spesifik yaitu cara untuk memperlihatkan penghormatan dan kepatuhan.[14]

 

Dua orang pemuda dengan bertelanjang dada serta berpakaian dodot dan sabuk serta memakai tutup kepala dan aksesoris berupa senjata keris (sumber: http://www.kitlv.nl.)

Peran Barat sebelum tahun 1850 diungkapkan dengan mengimpor ke Jawa bahan kain dari India dan menampilkan tubuh yang berbaju sebagai simbol penguasa. Sejak pertengahan abad XIX, peran Barat dalam perubahan kostum di Jawa ditunjukkan dalam penerimaan unsur-unsur khusus dari pakaian Barat bagi pria.

Beberapa tahun kemudian kaum perempuan mulai menerima pengaruh Barat pada gaya pakaian yang mereka kenakan. Perubahan-perubahan dari penerimaan pengaruh tersebut adalah nulai dikenakannya celana panjang, jas, dan sepatu bagi pria sedangkan pakaian perempuan adalah penerimaan batik sebagai bahan pakaian bagi semua orang.

Sejarah pakaian yang sekarang dikenal sebagai pakaian daerah Surakarta baik laki-laki maupun perempuan berkaiatan dengan keberadaan budaya keraton Surakarta. Keraton sebagai pusat institusi dan tata pemerintahan, mempunyai aturan-aturan khusus yang berkaitan dengan pakaian. Apabila dilihat secara seksama pakaian atau gaya busana Surakarta dapat dibedakan menurut kebutuhan, tingkat umur, dan status pemakainya. Perbedaan keturunan ikut memainkan peran untuk terciptanya ketegasan batasan penggunaan pakaian, baik untuk kegiatan sehari-hari atau dalam kegiatan yang bersifat resmi.

Model dan jenis pakaian yang dikenakan oleh mereka yang tinggal di keraton atau yang mempunyai kaitan tugas dengan keraton antara satu orang dengan lainnya berbeda, sesuai dengan tugas, waktu pakai dan jabatan.

Pergeseran makna simbolis yang terjadi pada pemakaian busana di Jawa khususnya di Surakarta terjadi semenjak kedatangan VOC yang menerapkan larangan-larangan pemakaian busana yang sama bagi setiap penduduk dengan maksud sebagai bentuk kontrol sosial VOC terhadap masyarakat jajahan.

 Kostum Jawa sendiri pada masa VOC berupa kain persegi panjang tidak dipotong yang menutupi tubuh bagian bawah, beragam kain lilit penutup dada dan pinggul, serta kain penutup bahu. Kostum itu dipakai oleh pria dan perempuan, dan pada dasarnya sama untuk semua kelas. Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas kain yang dipakai, desain-desain dan perhiasan. Selop digunakan oleh anggota-anggota istana. Selama masa VOC, para pria dan perempuan istana mulai memakai kain batik sebagai bahan untuk pakaian. Lebih jauh, batik kini dikenakan para pria ningrat dalam dua mode baru yaitu kain dodot dan celana yang terbuat dari sutra yang dibordir atau dihias dengan jalinan pita di bagian pergelangan kaki, sedangkan wanita hanya memiliki mode dodot dan pemakaian baju kebaya.[15] Desain-desain batik khusus digunakan oleh kaum ningrat beserta badi dalem mereka, dan pemakaiannya ditentukan oleh aturan-aturan khusus.

 

Pemakaian kain panjang dalam model dodot oleh wanita Jawa dengan menutupi tubuh tetapi dengan bahu terbuka (Sumber: P.H. Van Moerkerken J.R dan R. Noordhoof, Atalas Gambar-Gambar Akan Dipakai Oentoek Pengadjaran Ilmoe Boemi, Amsterdam-S.L. van Looy: Balai Pustaka, 1922)

 

Peraturan-peraturan tentang pemakaian busana telah diatur semenjak Susuhunan Pakubuwana IV tahun 1788-1820.[16] Peraturan ini berupa larangan pemakaian busana tertentu bagi para keluarga raja, pejabat kerajaan dan rakyat kecil di wilayah keraton Kesunanan Surakarta. Larangan-larangan tersebut berupa:

1. Larangan pemakaian kain

Larangan pemakaian kain yang dibuat oleh Pakubuwanan IV pada tahun 1788-1820 adalah kain batik batik sawat, parang rusak, cemukiran yang memakai talacap modang, udan riris, dan tumpal. Adapaun yang disebut batik tumpal, di tengah putih pinggir batik, kain kakembangan bercorak udaraga (coraknya bermacam-macam) merah di tengah, pinggirnya bercorak hijau kuning, bangun tulak di tengah hitam pinggir putih, lenga teleng di tengah putih pinggir hitam, dara getem merah di tengah pinggir kiri kanan ungu, batik cemukiran yang ber-talacap lulungan atau bermotif bunga yang diperkenankan memakai adalah patih, keluarga raja, dan wadana. Sedangkan batik sawat katandhan sembagen ber-elar (sayap) semua abdi dalem boleh memakainya.

2. Larangan pemakaian keris

Keris (dhuwung) merupakan aksesoris dalam berpakaian bagi para priyayi dan abdi dalem raja maupun rakyat Surakarta pada umumnya. Larangan pemakaian keris yang dikeluarkan oleh Pakubuwana IV antara lain adalah keris dengan gagang tunggak semi, pendhok parijatha, pendhok tatahan sawat, kemalon abang, warangka pupulasan dhasar kayu, sedangkan keris dengan gagang tunggak semi itu, yang boleh memakai hanya abdi dalem mantri dan abdi dalem tamtama.

Keris dengan gagang kawandasa yang diperkenankan memakai hanya lurah dan bekel, sedangkan paneket hanya diperuntukkan bagi abdi dalem Gedhong Kapedhak. Keris dengan gagang tunggak semi yang bubunton, semua abdi dalem baik mantri dan lainnya tidak diperbolehkan memakainya.

3. Larangan memakai payung

Payung merupakan aksesoris dalam berbusana yang menunjukkan sebuah status sosial seseorang. Larangan yang dikeluarkan oleh Paku Buwana IV dalam hal pemakaian payung hanya melarang penggunaan payung di sekitar wilayah kraton. Larangan tersebut berupa tidak bolehnya seseorang yang berpayung besar atau sejenisnya membuka payung di kraton. Kecuali keluarga raja yang bergelar pangeran boleh membuka payung di utara ringin kurung. Masyarakat lainnya hanya sampai pada galedhegan alun-alun.

 

Model payung yang digunakan oleh keluarga dan bangsawan Kraton Surakarta (sumber: http://www.kitlv.nl)

Peraturan-pertauran ini berlangsung hingga Surakarta memasuki dunia modern, tetapi masyarakat yang berkembang telah banyak merubah gaya dan penampilan mereka dalam hal berpakaian yaitu mengikuti mode barat yang terlihat lebih necis dan terlihat mengikuti perkembangan budaya baru dan pemikiran baru.

Perubahan Fashion (mode) Setelah Masuknya Kebudayaan Barat

Perubahan dalam hal berpakaian bagi masyarakat Jawa terutama di Surakarta tidak terlepas dari perkembangan industrialisasi yang telah menggejala pada akhir abad ke-19. Industri pakaian tidak lagi menjadi industri rumah tangga seperti pada masa-masa sebelumnya. Industri rumah tangga berupa pembuatan pakaian di Surakarta memang telah menjadi pekerjaan perempuan di Jawa. Pekerjaan tersebut meliputi kegiatan menenun dan menghias kain yang lebih terkenal dengan bahasa membatik.

 

Perempuan-perempuan di Surakarta sedang mengerjakan aktivitas membatik di sebuah halaman rumah tahun 1901-1902 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Produksi batik pada awal-awal akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 telah menunjukkan diri sebagai industri yang cukup besar baik secara kualitas produksi maupun penyerapan tenaga kerja dengan munculnya pusat industri batik di daerah Laweyan dan memunculkan saudagar-saudagar batik yang terkenal.[17] Di bawah ini tabel yang menunjukkan produktifitas perusahaan besar batik di Laweyan tahun 1930.

Tabel 5. Produktifitas Perusahaan Besar di Laweyan Tahun 1930[18]

Keadaan Produktifitas

Jumlah Tukang Cap

Produk Tiap hari

Jumlah Produk

Prosentase

3 bulan Keadaan ramai

8

360 potong

32400 potong

54%

7 bulan keadaan biasa

8

200 potong

18000 potong

30%

2 bulan keadaan sepi

8

120 potong

10000 potong

16%

Masuknya alat bantu berupa mesin jahit sebagai bagian modernisasi industri pakaian massal tidak serta merta mengubah cara pembuatan pakaian dari yang semula dikerjakan dengan tangan menjadi mempergunakan mesin. Pada beberapa bagian di industri pakaian pengerjaan dengan tangan masih terus dilakukan berdampingan dengan metode industri.[19]

 

Aktivitas industri pakaian jadi dengan menggunakan mesin jahit sebagai bagian dari modernisasi (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Menurut Ash dan Wright[20] terdapat beberapa komponen utama yang membentuk mode, yaitu produksi, komoditi, pemasaran, strata sosial dan pencitraan oleh media. Produksi pakaian di Surakarta sendiri telah berkembang dengan adanya industri batik dengan komoditas berupa kain batik dengan pemasaran yang cukup luas meliputi pulau Jawa diluar pulau Jawa. Penggunaan kain batik sebagai bahan pakaian dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat dari tingkat strata sosial yang terendah hingga golongan raja dan bangsawan, yang membedakan hanya kualitas kain dan corak yang telah diatur oleh penguasa local Surakarta. Bahkan pada awal abad ke-20 masyarakat Belanda yang tinggal di Surakarta juga telah ikut menggunakan kain batik dan kebaya sebagai pakaian sehari-hari dan biasanya yang banyak menggunakan adalah kaum perempuan. Hal ini nampak pada gambar di bawah ini:

 

Miss A. Johan seorang guru Belanda bersama dengan putri Susuhunan Pakubuwana X di Kraton Surakarta menggunakan pakaian kebaya dan kain batik tahun 1926-1927 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pencitraan mode pada masa awal abad ke-20 dilakukan melalui media massa yang terbit pada waktu itu. Pencitraan ini terutama dilakukan kepada mode pakaian barat yang menampilkan bentuk modernisasi yang sesuai dengan perubahan jaman. Pencitraan mode pakaian ini dilakukan melalui iklan-iklan tidak hanya iklan pakaian tetapi iklan-iklan lainnya menampilkan gambar-gambar seseorang dengan pakaian barat.[21] Hal ini terlihat pada iklan rokok dibawah ini yang termuat dalam surat kabar Kawan Kita Jang Toeloes terbitan Surabaya dan beredar di Surakarta tahun 1918.

 

Iklan rokok dengan seseorang berpakaian Eropa (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

Surat Kabar Pawartos Surakarta tahun 1940 menampilkan iklan seseorang Jawa dengan pakaian jas Eropa lengkap dengan dasi tetapi menggunakan tutup kepala gaya Surakarta. Perpaduan ini menunjukkan sebuah kombinasi gaya berpakaian antara gaya modern dan tradisional yang tidak ingin ditinggalkan oleh masyarakat Jawa. Hal ini dapat terlihat dalam gambar berikut:

 

Iklan tembakau Van Nelle, perhatikan pakaian yang digunakan oleh masyarakat dalam gambar iklan tersebut (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Perkembangan fashion (mode) pada awal abad ke-20 yang didukung oleh modernisasi dalam industri pakaian membawa perubahan-perubahan dalam hal jenis pakaian yang akan dipakai baik dalam dimensi tempat maupun waktu. Pengaruh ini dibawa oleh bangsa barat dengan memasukkan unsur-unsur pemakaian pakaian dengan mode dan waktu tertentu. Setiap waktu dan acara-acara resmi, masyarakat Surakarta mulai mengganti mode pakaian disesuaikan dengan aturan-aturan barat. Dari berbagai sumber terutama rekaman foto, pakaian yang dikenakan oleh masyarakat di Surakarta pada awal abad ke-20 tampil dalam dua model yaitu jenis pakaian tradisional dan pakaian modern. Pakaian modern adalah pakaian yang mengacu pada gaya pakaian Barat yang dianggap lebih maju dari segi teknologi. Pakaian jenis ini mempunyai ciri-ciri dan syarat-syarat pakaian untuk berbagai kesempatan, yakni pakaian rumah atau harian,  pakaian kerja (termasuk pakaian sekolah), dan pakaian resmi atau pesta.. Berikut ini akan dipaparkan macam-macam pakaian modern yang dipakai masyarakat di Surakarta.

Pakaian Harian

Pengertian pakaian harian atau pakaian rumah disini adaloah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pakaian harian yang lazim digunakan oleh para perempuan Jawa pada awal abad ke-20 terdiri atas baju yang berbentuk kebaya,[22] kain panjang,[23] setagen,[24], alas kaki, dan kelengkapan atas berupa hiasan rambut yang berbentuk konde atau sanggul. Gaya pakaian tersebut dibuat dari kain lurik ataupun batik. Pakaian harian bias tampil dalam gaya yang utuh atau lengkap, namun seringkali tampil dalam gaya yang tidak lengkap. Sedangkan pakaian laki-laki menggunakan celana yang terbuat dari kain atau menggunakan kain sarung dan baju tanpa kancing di bagian depan dan terkadang menggunakan baju lurik. Golongan terpelajar biasa menggunakan celana sebatas lutut dan pakaian dengan kancing didepan dan terkadang menggunakan topi.

Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian harian perempuan Jawa di Surakarta dengan menggunakan pakaian kebaya serta kain panjang dengan berbagai motif. Sedangkan gambar satunya menunjukkan para pria dan perempuan dengan pakaian sehari-hari. Pakaian laki-laki dengan gaya Eropa biasanya berwarna putih.

 

Para perempuan Jawa di Surakarta menggunakan pakaian sehari-hari berupa kain kebaya dan kain panjang pada awal abad XX

Pakaian harian di Surakarta berupa setelan berupa kain kebaya. Selain itu, pakaian harian yang juga telah lazim dipakai adalah rok Barat. Jenis pakaian itu dipakai oleh anak perempuan usia sekolah dan biasanya dari golongan bangsawan atau golongan orang-orang kaya dengan pendidikan barat. Kelengkapan yang dikenakan berupa alas kaki (sandal). Potongan rambut biasanya panjang ataupun pendek dengan hiasan berupa pita ataupun penjepit rambut. Model baju dengan potongan gaya modern berbahan tekstil buatan pabrik. Perhatikan gambar di bawah ini.

 

Para perempuan Jawa di Surakarta dengan pakaian gaya Eropa berupa rok dan baju berbahan tekstil pabrik (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Penggunaan pakaian sehari-hari gaya Barat pada anak-anak juga telah diterapkan terutama oleh golongan bangsawan dan priyayi-priyayi yang memiliki anak dan memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. Foto di bawah ini menunjukkan pakaian Goesti Raden Adjeng Noeroel Kamaril Asjarati Koesoemawardani putri Mangkunegara VII telah menggunakan pakaian gaya Eropa berupa baju terusan berenda berlengan pendek dengan gaya rambut yang dipotong pendek. Sedangkan kedua orangtuanya Mangkunegara VII dan istrinya Ratoe Timoer menggunakan pakaian tradisional model Mangkunegaran. Hal lain yang terlihat adalah pakaian Mangkunegaran VII merupakan perpaduan gaya Barat dan tradisional dengan baju sikepan ageng, kain panjang yang diwiru serta dasi kupu-kupu sebagai aksesoris.

 

Goesti Raden Adjeng Noeroel bersama Ayah dan Ibunya, Mangkunegara VII dan Ratoe Timoer tahun 1924 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Gambar di bawah ini juga menunjukkan bagaimana remaja putri telah menggunkan rok dan baju berlengan pendek dengan rambut panjang yang diikat kelabang serta menggunakan alas kaki berupa sepatu, dan pria disampingnya menggunakan pakaian berlengan pendek dan bercelana pendek dengan gaya potongan rambut pendek serta memakai alas sepatu.

 

Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Koesoemowardini dan saudara laki-lakinya Raden Mas Saroso Notosoeparto (Mangkoe Nagoro VIII) di Soerakarta tahun 1935 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Selain itu pemakaian kain panjang pada tahun-tahun 1920-an dipakai hingga ke dada dengan dilengkapi oleh kemben (kain penutup dada), baik dengan baju atas atau tanpa baju atas merupakan hal yang biasa dipakai para perempuan terutama perempuan yang telah tergolong tua. Perhatikan gambar dibawah ini, yang melukiskan penggunaan kain hingga dada yang dilengkapi kemben.

 

Para perempuan tengah menjajakan dagangannya dengan pakaian berupa kain yang dipakai hingga ke dada di Surakarta tahun 1928 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian Kerja

Surakarta pada paruh pertama abad XX telah muncul menjadi kota yang penuh dengan pusat perkantoran dan pendidikan. Terutama administrasi pemerintah kolonial Belanda, Kerajaan Surakarta serta Mangkunegaran dan administrasi perkebunan. Banyak foto-foto yang merekam gaya pakaian seragam kerja serta pakaian siswa-siswa sekolah yang ada di kota Surakarta. Lembaga pemerintahan serta pendidikan merupakan lembaga yang memiliki peraturan-peraturan yang ketat dalam setiap aktivitasnya, oleh karena itu peraturan-peraturan mengenai model pakaian dalam lembaga pemerintahan baik kolonial maupun tradisional serta sekolah dapat memberikan gambaran bagaimana pakaian dapat membedakanstatus seseorang di Surakarta.

Perbedaan pakaian kerja dapat ditemukan pada sebuah iklan yang dikeluarkan oleh toko pakaian Sidho Madjoe. Iklan pakaian dalam bentuk bulletin yang dikeluarkan oleh toko Sidho Madjoe ini menggambarkan bentuk pakaian dan harga pakaian serta aksesoris yang digunakan sebagai pelengkap pakaian tersebut. Pakaian yang ditawarkan oleh toko Sidho Madjoe merupakan pakaian yang diperuntukkan bagi priyayi-priyayi (Groot-Ambtscostuums) buat Inlandsche Ambtenaren tanah Jawa dan Madura.[25] Pakaian-pakaian tersebut terdiri dari jas, pantalon dengan warna putih dan hitam, dengan harga yang berbeda-beda sesuai dengan pangkat dan kedudukan dalam pemerintahan. Gambar berikut menunjukkan perbedaan pakaian dari pangkat yang tinggi hingga terendah bagi pejabat Hindia Belanda.

 

Merupakan pakaian dinas bagi pemerintah kolonial Belanda dari kanan ke kiri Pakaian Gubernur, Residen atau Asisten Residen van Billiton, Asisten Residen, Gewestelijk Secretaris, dan Controleur B.B. (Sumber: Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah).

Gambar di atas dapat diketahui perbedaan pakaian seragam dinas yang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pakaian Gubernur dengan jas putih bergaris hitam dibagian kancing jas depan dan memiliki hiasan berupa bunga di ujung lengannya serta memakai pantalon putih bergaris hitam di bagian sisinya dilengkapi aksesoris pedang. Pakaian Residen atau Asisten van Billiton hampir sama dengan pakaian Gubernur hanya tidak menggunakan aksesoris pedang. Pakaian Asisten Residen hingga controleur B.B. hanya dibedakan oleh jas yang tidak memiliki garis hitam di bagian kancing serta ujung lengan yang motifnya semakin sedikit.

Pakaian yang diperuntukkan bagi Inl. Gouv. Ambtenaren juga memiliki perbedaan sesuai dengan tinggi rendahnya pangkat. Seseorang yang menjabat sebagai pejabat pemerintah Hindia Belanda harus memakai seragam dinas sesuai dengan pangkatnya begitu pula dengan aksesoris yang menyertainya. Perbedaan yang nyata dari pakaian dinas ambtenar Hindia Belanda adalah pada bagian jas kancing depan yang bermotif, bagian pundak belakang, ujung lengan baju, dan bagian bawah jas. Semakin tinggi pangkatnya maka semakin banyak hiasan yang menyelimuti pakaian tersebut. Kancing pakaian juga memiliki perbedaan baik dari bentuk maupun bahan yang digunakan, semua hal tersebut disesuaikan dengan hirarki kepangkatan dalam tubuh pemerintahan Hindia Belanda.[26] Berikut ini adalah gambar pakaian bagi Inl. Gouv. Ambtenaren di tanah Jawa dan Madura.

 

Dari atas kanan ke kiri bawah merupakan pakaian bagi Boepati-Pangeran, Boepati-Adipati GS, Boepati-Adipati, dan Boepati-Toemenggoeng (Sumber: Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah).

Perbedaan pakaian-pakaian tersebut juga diikuti dengan perbedaan harga secara kualitas bahan yang digunakan. Di bawah merupakan tabel harga pakaian-pakaian dari para ambtenar Hindia Belanda di Jawa dan Madura.

Tabel 6. Daftar Harga Pakaian Groot-Ambtscostuums oentoek Inl. Gouv. Ambtenaren di Tanah Jawa dan Madoera.[27]

HARGA-CREDIET

Compleet terpasang knoopen, boord, manchetten dan pasment asli

DIENTS-PET

Compleet

Boeat pangkat:

Jas

Pantalon

Stel

Item

Putih

  1. Boepati-Pangeran
  2. Boepati-Adipati GS.
  3. Boepati-Adipati
  4. Boepati-Toemenggoeng
  5. Patih
  6. Wedana
  7. Assitent-Wedana
  8. Mantri Politie
  9. Reg. Secretaris klas I
  10. Reg. Secretaris klas II
  11. Mantri Kaboepaten
  12. Hoofd-Djaksa
  13. Djaksa (Adj. Hfd. Djaksa)
  14. Adjunt-Djaksa

172,-

160,-

144,-

136,-

92,-

80,-

48,-

36,-

80,-

48,-

36,-

80,-

60,-

48,-

44,-

40,-

40,-

40,-

34,-

32,-

24,-

22,-

32,-

24,-

22,-

32,-

24,-

24,-

216,-

200,-

184,-

176,-

126,-

112,-

72,-

58,-

112,-

72,-

58,-

112,-

84,-

72,-

20,-

18,-

18,-

18,-

14,-

13,-

11,-

10,-

13,-

11,-

10,-

13,-

12,-

12,-

10,50,-

10,50,-

10,50,-

10,50,-

8,50,-

8,50,-

7,75,-

7,75,-

8,50,-

7,75,-

7,75,-

8,50,-

8,50,-

8,50,-

Boeat Pangkat:

Jas

Model djobah

Songsong

  1. Hoofd-Pengoeloe
  2. Pengoeloe (Landraad)
  3. Adj. Pengoeloe (Naib)

80,-

60,-

48,-

92,-

72,-

60,-

20,-

20,-

16,-

Pakaian kerja bagi abdi dalem kerajaan Surakarta dan Mangkunegara juga memiliki perbedaan sesuai dengan tingkat kebangsawanannya, tetapi biasanya para abdi dalem kerajaan Surakarta dan Mangkunegara memakai pakaian tradisional berupa beskap dan kain panjang serta memakai tutup kepala berupa kuluk atau blangkon. Para abdi dalem wanita biasanya memakai kebaya dan kain panjang serta ada pula yang memakai kemben. Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta.

 

Para abdi dalem perempuan kraton Surakarta dengan pakaian kerja berupa pakaian lurik dan jarit (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Pakaian kerja yang berubah adalah pakaian seragam militer yang terdapat di kerajaan Surakarta dan Mangkunegaran. Pakaian seragam militer di keraton Surakarta dan Mangkunegaran telah mengadopsi pakaian militer modern dengan baju seragam ala Barat. Seragam militer Kraton Surakarta memadukan unsur pakaian seragam militer Barat dengan baju dan celana pendek ditambah unsur tradisional dengan kain batik yang dililitkan dipinggang menjuntai dibagian depan celana serta aksesoris berupa topi. Selain itu juga masih digunakannya pakaian tradisional bagi prajurit kraton Surakarta dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek serta kain dengan aksesoris sebuah topi. Sedangkan pakaian seragam militer Mangkunegaran (legiun Mangkunegaran) secara total menyerap pakaian seragam militer barat, dengan baju dan pantalon. Perhatikan gambar di bawah ini.

 

Prajurit legiun Mangkunegaran dengan pakaian seragam militer Barat lengkap dengan jas, pantalon, topi dan sepatu tahun 1900 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

 

Prajurit Kraton Surakarta dengan pakaian seragam militer perpaduan antara pakaian model Barat dan Tradisional tahun 1900 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Pakaian kerja yang digunakan oleh masyarakat umum biasanya terdiri dari pakaian harian berupa kebaya dan kain bagi perempuan dan baju serta celana pendek bagi pria. Masyarakat umum tidak terikat dengan seragam dalam bekerja dikarenakan sebagian besar adalah petani, pedagang yang tidak terikat dengan peraturan pemakaian pakaian seperti pekerja di kantor pemerintahan kolonial, maupun abdi dalem kerajaan. Hal ini ditunjukkan oleh gambar berikut.

 

Masyarakat sedang bekerja membatik di sebuah desa di Surakarta tahun 1901-1902 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian Sekolah

Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kemajuan dan perkembangan kota Surakarta pada masa kolonial. Munculnya sekolah-sekolah bagi masyarakat juga diikuti dengan aturan-aturan yang menyertainya, terutama dalam hal berpakaian. Pakaian sekolah memiliki aturan yang berbeda-beda sesuai dengan kepemilikan sekolah tersebut. Pakaian sekolah bagi anak-anak bangsawan berbeda dengan anak-anak masyarakat umum lainnya. Anak-anak bangsawan atau priyayi biasanya bersekolah di sekolah milik pemerintah kolonial Belanda, sehingga aturan berpakaian akan mengikuti aturan di sana.

Pakaian sekolah pada masa kolonial Belanda memang terbagi menjadi dua yaitu pakaian sekolah rakyat kebanyakan dan pakaian sekolah Eropa. Pakaian sekolah rakyat kebayakan biasanya murid-murid perempuan menggunakan kebaya dan jarik, sedangkan pria memakai baju dan jarik. Perhatikan gambar dibawah ini.

 

Pakaian sekolah masayarakat umum dengan kebaya dan jarik untuk perempuan, baju lurik dan jarik bagi pria (Sumber: Koleksi Pribadi).

Pakaian sekolah bagi anak-anak priyayi yang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial biasanya memakai pakaian gaya Eropa, rok dan blouse bagi perempuan serta kemeja dan celana pendek atau panjang bagi pria. Pakaian guru-guru di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial kebanyakan menggunakan pakaian Eropa dengan kemeja dan celana panjang bersepatu. Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian guru-guru di sekolah Christelijke Hollands-Inlandse Kweekschool Surakarta.

 

Para guru di sebuah sekolah milik pemerintah kolonial Belanda (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Pakaian Resmi

Pada masa kolonial Belanda untuk acara-acara resmi seperti perjamuan makan, pernikahan, maupun penyambutan pejabat pemerintah kolonial pakaian yang digunakan biasanya pakaian yang telah ditetapkan oleh aturan-aturan yang jelas. Kaum perempuan biasanya menggunakan kebaya bagi perempuan pribumi dan gaun terusan ataupun baju dan rok dengan mode yang modern digunakan oleh perempuan Eropa. Pakaian pria biasanya menggunakan seragam sesuai dengan pangkat dan jabatannya, sedangkan pria-pria Eropa menggunakan jas dan celana panjang serta dasi yang beraneka ragam. Gambar di bawah menunjukkan penampilan seseorang dalam perjamuan makan bagi pejabat kolonial Belanda.

 

Perjamuan makan malam bagi Gubernur Jendral K.J.A. Orie di Istana Mangkunegaran tahun 1941 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian resmi lain dalam perhelatan pesta-pesta pernikahan bagi masyarakat Surakarta masa kolonial biasanya kaum perempuan menggunakan kain kebaya dengan bahan berkualitas baik dengan kain yang di wiru, selendang, dan aksesoris perhiasan. Sedangkan kum laki-laki menggunakan pakain Jawa lengkap (jas beskap, kain yang di wiru, blankon) dan juga terkadang memakai pakaian gaya Eropa yaitu jas, celana panjang, serta dasi.

 

Keluarga K.P.H. Tjokrokoesoemo dalam sebuah pesta perkawinan tahun 1940 (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Perkembangan fashion (mode) pakaian dan pengaruh kebudayaan asing di Surakarta masa kolonial telah membawa sebuah implikasi-implikasi yang tidak sedikit. Implikasi-implikasi ini tertanam dalam sebuah bentuk perilaku yang harus dilakukan sesuai dengan apa yang dipakai. Perkembangan fashion (mode) pakaian di Surakarta masa kolonial juga mempengaruhi sebuah debat-debat mengenai perkembangan pakaian dan pengaruh asing terhadap etika berpakaian di Surakarta. Selain itu juga munculnya budaya politik dengan bentuk diskriminasi maupun simbolisasi perlawanan melalui pakaian yang dilakukan oleh penguasa kolonial maupun penguasa lokal di Surakarta.

 


[1] Umar Kayam, “Tranformasi Budaya Kita, dalam Kedaulatan Rakyat, Senin 22 Mei 1989.

[2] Sartono Kartodirdjo, Perkembangan Peradaban Priyayi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1987), hal. 166.

[3] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), hal. 236.

[4] Jennifer Craik, The Face of Fashion: Cultural Studies in Fashion, (London/New York: Routledge, 1994), hal. 5.

[5] Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia 1, (Jakarta: Balai Pustaka, 1977), hal. 276.

[6] Menurut Leslie (1991), Joshi (1991) dan Bayly (1986) mencatat perbedaan ideologis penting antara pakaian yang dijahit dan yang tidak dijahit bagi kaum Hindu. Pakaian yang tidak dijahit dianggap lebih suci. Para pria tidak diperbolehkan memasuki bagian dalam kuil memakai celana; dhuti dan sari merupakan pakaian yang disyaratkan untuk ritus-ritus seremonial seperti pernikahan dan ziarah keagamaan, dalam Jean German Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hal. 131.

[7] Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1: Tanah di Bawah Angin, (Jakarta: YOI, 1992), hal. 99.

[8] Ibid., hal. 100.

[9] Dwi ratna Nurhajarini, “Perkembangan Gaya Pakaian Perempuan Jawa Di Kota Yogyakarta Pada Awal Sampai Pertengahan Abad XX”, Tesis S-2, (Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM, 2003), hal. 73.

[10] Jean German Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hal. 121.

[11] Kees van Dijk, “Sarung, Jubah dan Celana: Penampilan Sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Ibid., hal. 66.

[12] Ibid., hal.

[13] Ibid., hal. 65.

[14] Ibid., hal. 73.

[15] Jean German Taylor, op. cit. hal. 133.

[16] Naskah No. 7 mengenai undang-undang tentang larangan pemakaian busana tertentu bagi keluarga raja, pejabat kerajaan dan rakyat kecil di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Undang-undang ini dikeluarkan oleh Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820), dalam S. Margana, Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1788-1880, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 289-292.

[17] Menurut Soedarmono bahwa industri batik di laweyan memproduksi batik cap yang terdiri dari batik kasar, menengah (dagel), batikan cap atau tulis halus. Produksi batik-batik ini lebih diutamakan pada pelayanan kebutuhan batik sandang bagi rakyat daripada batik jenis tulis halus, Soedarmono, “Munculnya Kelompok Pengusaha Batik Di Laweyan Pada Awal Abad XX”, Tesis, (Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana UGM, 1987), hal. 16-46.

[18] P. De Kat Angelino, Batikrapport II, (Weltrevreden: Landsdrukkeerij, 1930), hal. 133. Koleksi Perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta.

[19] Herman Jusuf, “Industri Mode: Sinergi Desain, Manufaktur, dan Pencitraan” dalam Kompas, 20 Maret 2005.

[20] Ibid.

[21] Lihat Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1915), Yogyakarta: Tarawang, 2000, untuk pembahasan mengenai pencitraan sebuah produk melalui iklan.

[22] Kebaya adalah model pakaian perempuan dengan bukaan baju di sebelah depan.

[23] Kain panjang adalah sehelai kain yang berukuran lebih kurang 2,25 X 1 meter, terbuat dari kain mori, sutera atau kain katun dan kain jenis lainnya. Kain tersebut umumnya berupa kain batik atau lurik.

[24] Stagen adalah sepotong kain yang panjang, terbuat dari katun yang kuat. Panjang kain untuk stagen mencapai 12 meter dengan lebar kira-kira 12,5 centimeter. Fungsinya sebagai pengikat kain atau sarung pada pinggang.

[25] Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah, hal. 1.

[26] Ibid.

 

1900

 

Picture postcard of Pangeran  Ngabehi solo 1900

 

Compare with the same place now

 

nDalem Hangabehi Kasunanan Surakarta

A pavilliun next to Sasono Mulyo. Used by the crowned prince Hangabehi in the 19th century, now used by prince Dipokusumo. Several ornaments might have changed but most of the parts of the house are relatively quite similar to as it was.

————————————————————-

nDalem Hangabehi ini terletak di samping Sasono Mulyo, sekarang dipergunakan untuk tempat tinggal keluarga GPH Dipokusumo. Ornamen burung yang mengepakkan sayap sudah tidak ada. Tapi selebihnya masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya

 

 

 

 

Pendopo Mangkunegaran 1900

 

Princess Of susuhunan Pakoeboewono X Surakarta in 1900

 

lower garment, circa 1900. cotton, from Surakarta, Java.

 

 

 

DEI Padang City  Wapen

 

Toko A.H. tunneberg milik keluarga J.Boon, took serba ada pada awal abad ke-20 yang iklannya ada dalam surat kabar terbitan Padang masa hindia belanda sinar Sumatra dan warta berita dll. Toko ini menjual barang impor seperti  sepeda jam,alat music dan gramofon.

Kakek saya punya jam saku merk Junghans,mungkin berasal dari took ini yang lokasinya disamping rumahnya, kakek tersebut kami pangil engkong tanah lapang.

Toko ini juga menerbitkan kartus Pos bergambar yang memiliki tulisan agenschaap  Ne.Indie sport maatscapij  dan dibawahnya ada tulisan Rijwelhandel A.H.Tuuelberg.lihat kartu pos diatas yang dicetak tahun 1899. Kartus pos ini diterbitkan dalam rangka promosi olah raga sepeda yang kelihatan dari deretan sepeda didepan took yang merknya Fonger

Betul kata tukang rabab pariaman Amir Hosen

Lakuak Ubahnya tabingnya tinggi

Padang gantiang duo basimpang

La batandiang Honda jo Suzuki

Tampak tacia releigh Usang

 

Between 1900 and 1932,


when many Chinese organizations stand with political overtones two organizations HTT and HBT  stand in the middle as a socio-cultural organization that is not politically aligned at all.

 

1900

Film di Indonesia masa colonial

Gambar Idoep tiba di Betawi
Sumber 
<http://petualangwaktu.multiply.com/photos/hi-res/upload/RgtkNwoKCq8AAHL

Tanggal 5 Desember 1900 warga Betawi utuk pertama kalinya dapat melihat "gambar-gambar idoep" atau Pertunjukan Film. Pertunjukan iniberlangsung di Tanah Abang, Kebonjae.
 Film pertama yang ditampilkanadalah sebuah dokumenter yang terjadi di Eropa & Afrika Selatan, jugadiperlihatkan gambar Sri Baginda Maha Ratu Belanda bersama Yang MuliaHertog Hendrig memasuki kota Den Haag.
Bioskop yang terkenal saat itu antara lain adalah dua bioskopRialto di Tanah Abang (kini bioskop Surya) dan Senen (kini menjadigedung Wayang Orang Baratha) serta Orion di Glodok. 
Saat itu bioskopdibagi-bagi berdasarkan ras, bioskop untuk orang-orang eropa hanyamemutar film dari kalangan mereka sementarabioskop untuk pribumi &tionghoa selain memutar film import juga memutar film produksi lokal.Kelas pribumi mendapat sebutan kelas kambing, konon hal ini disebabkankarena mereka sangat berisik seperti kambing.
 

 

 

 

Koleksi foto Indonesia tahun 1900

 

 

 

 

Micheill spleen(lapangan tugu)  kota Padang 1900

 

 

 

Emmahaven(Teluk Bayur) in 1900

 

 

Moeara Araoe River Padang in 1900

 

 

The Painting of Moeara Arau river Padang 1900  by Jhr Cornelius rappard

 

Padang city where ? I cannot identified

 

 

Lithography Padang westsumatra city 1900  by

Charles William Meredith van de Velde this collection only - all collections

 

 

 

Native padang women in 1900

 

 

Sekolah Tionghoa Hwee koan di Padang  1900

 

Adabiah School in 1900

 

 

 

 

Minangkabau House brass model  in 1900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Michele spielen now lapangan Tugu Padang in 1900

 

 

 

Lubuk Paraku 1900

 

Muara batang arau park in 1900

 

 

 

 

 

 

Gezelschap in het Stormpark te Padang Sumatra`s We in 1900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minag sarong(kain panjang)

 

 

 

 

 

 

 

Selndang balapak minangkabau shoulder  cloth

 

 

 

Minangkabau selendang shoulder cloth

 

 

 

 

Minang headcloth or scarf

 

 

 

Kain Panjang saruang minangkabau

 

 

 

Saruang kain panjang minangkabau

 

 

 

 

 

Saluak head cloth Minangkabau

 

 

 

Scarf salendang minangkabau

 

 

Minangkbau Women head dress

 

 

 

Minangkabau keris dagger

 

 

 

 

 

 

Galang gadang Minangkabau  goldwomen brecelete

 

 

Tepian Singkarak Tahun 1900

 

 

Di Lubuk Paraku Tahun 1890

 

 

Solok Tahun 1900

 

 

Rumah gadang di Singkarak Tahun 1890

 

 

Jembatan Ombilin di Singkarak Tahun 1920

 

 

Sungai Lasi 1900

 

 

Kolam Air Panas di Cupak Talang solok 1900

 

 

 

Masjid di Muara Labuh Tahun 1900

 

 

Asisten Residen Solok Tahun 1900

 

 

Stasiun Sungai Lasi Solok  1900

 

 

Keluarga Eropa di sebuah Hotel di Talang Solok 1900

Para ulama Minangkabau sejak tahun 1900-an cenderung lebih berfokus pada pendidikan dan aktivitas intelektual daripada perlawanan fisik.

Gerakan modernisme Islam di Timur Tengah, yang antara lain digerakkan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha, juga berimbas pada alim ulama Minangkabau di masa itu. Para ulama reformis di Sumatera Barat disebut juga disebut juga “Kaum Muda”, sedangkan para ulama pendukung tradisi disebut “Kaum Tua”.[23][28]

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860–1916) adalah seorang ulama kelahiran Koto Gadang, Agam, yang menjadi imam besar non-Arab pertama di Masjidil Haram, Mekkah.[29] Ia merupakan guru bagi ulama-ulama besar nusantara pada zamannya, dan sangat kritis terhadap adat-istiadat dan praktik tarikat yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama.[29] Seorang sepupunya, Syekh Tahir Jalaluddin (1869-1956), juga banyak menganjurkan gagasan pembaharuan dan menerbitkan majalah reformisme Islam Al-Imam (1906) di Singapura yang isinya sejalan dengan majalah Al-Manar terbitan Rasyid Ridha di Mesir.[23]

 

Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947) adalah salah seorang pelopor ulama reformis di Minangkabau.[28] Ia banyak menganjurkan pembaharuan dan pemurnian Islam melalui ceramah atau dakwah secara lisan, serta menulis buku-buku yang menentang praktik tarikat yang berlebihan.[28]

Haji Abdul Karim Amrullah (juga dipanggil Haji Rasul atau Inyiak Doto, 1879–1945) berasal dari Sungai Batang, Maninjau adalah tokoh lainnya yang mendirikan sekolah Islam moderen Sumatera Thawalib (1919), dan bersama Haji Abdullah Ahmad (1878–1933) merupakan orang Indonesia terawal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir.[30]

Selain itu Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah Al-Munir (1911) di Padang, yang mengusung ide kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas moderen.[23] [28]

Ulama lainnya Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek, 1882-1963), berasal dari Parabek, Bukittinggi, turut mendirikan Sumatera Thawalib; di mana Syekh Ibrahim Musa mengelola sekolah cabang di Parabek, Bukittinggi, sedangkan Haji Rasul mengelola cabang di Padangpanjang.[28]

Syekh Muhammad Saad Mungka (1857-1942) adalah ulama pendukung tradisi tarikat, yang pernah dua kali mukim di Mekkah (1884-1900 dan 1912-1915).[28] Ia sezaman dengan Syekh Ahmad Khatib, dan keduanya terlibat polemik mengenai tarikat.[28]

Syekh Khatib Ali dan Syekh Muhammad Dalil (juga dipanggil Syekh Bayang, 1864–1923) adalah tokoh-tokoh polemik ulama pendukung tradisi yang cukup menonjol. Di sisi lain, Syekh Abbas Qadhi dari Ladang Laweh melakukan modifikasi pendidikan surau, dengan mendirikan pendidikan dasar bersistim sekolah Arabiyah School.[28]

Ia meminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (juga dipanggil Inyiak Canduang, 1871-1970) membuka sekolah pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga Syekh Sulaiman mendirikan Madrasah Tarbiyah untuk menampung lulusan Arabiyah School.[28] Syekh Sulaiman juga mengajak Syekh Abdul Wahid dari Tabek Gadang, Syekh Muhammad Jamil Jaho dari Padang Panjang, dan Syekh Arifin Al-Arsyadi dari Batuhampar untuk mengembangkan pendidikan bersistim sekolah.[28] Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) (1930) kemudian menjadi organisasi wadah dalam mengembangkan pendidikan di kalangan mereka.[28]

Keprihatinan atas kondisi sosial, politik, dan ekonomi pasca kemerdekaan Indonesia dan di Sumatera Barat pada khususnya, membuat ketegangan antara kedua kelompok ulama tersebut kemudian memudar.[31] Kedua kelompok kemudian bertemu tanggal 10 Desember 1950, disusul dengan konferensi besar mubaligh dan alim ulama pada 21-23 April 1951.[31] Konferensi ini dihadiri wakil-wakil ulama dari hampir semua daerah di Sumatera Barat, serta sedikit dari Riau dan Jambi, yang umumnya adalah ulama yang berasal dari atau pernah belajar di Sumatera Barat.[31]

 

Diputuskanlah misi bersama untuk mencerdaskan kehidupan para pemuda melalui pendidikan Islami, sehingga mereka bersatu dan mendirikan suatu sekolah tinggi Perguruan Tinggi Islam Sumatera Tengah.[31]

Para pemuka kedua kelompok, seperti Ibrahim Musa Parabek, Sulaiman Ar-Rasuli, Mansyur Daud Dt. Palimo Kayo, Darwis Dt. Batu Besar, Nazaruddin Thaher, Saaduddin Jambek, dan A. Malik Sidik kemudian bersama-sama terlibat dalam kepengurusannya.[31]

Menantu dan anak Haji Rasul, yaitu AR Sutan Mansur (1895–1985) dan

 

 

Buya Hamka; ulama Minangkabau abad ke-20

Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908-1981),

kemudian juga menjadi ulama terkenal. AR Sutan Mansur adalah seorang ulama yang pernah memimpin Muhammadiyah.[32]

Sementara itu Hamka selain menjadi pemimpin Muhammadiyah (1953-1971) juga dikenal sebagai ulama internasional serta juga seorang sastrawan. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.[30]

 

 

 

 

 

 

Mohammad Natsir (1908-1993)

adalah seorang ulama sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia kelahiran Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.[33]

Ia pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia, Ketua Dewan Masjid se-Dunia serta pemimpin partai politik Masyumi, serta pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia.[33] Natsir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, meskipun sebelumnya pernah bergabung dengan PRRI tahun 1958 untuk menentang Demokrasi Terpimpin di masa Orde Lama, dan sebagai pembangkang penanda-tangan Petisi 50 di masa Orde Baru.[33][34][35]

 

d. Periode 1900 – 1960 M

Mulai tahun 1900 Belanda mulai melirikkan matanya terhadap pertenunan Silungkang. Belanda mulai menyediakan bahan baku untuk pertenunan seperti benang yang didatangkan dari berbagai negeri seperti Jepang, Inggris, Cina. Apakah saat itu Belanda juga mendatangkan celup kimia, entahlah. Tapi Belanda juga memodifikasi alat-alat tenun menjadi seperti yang dipakai sekarang. Pada tahun 1924 orang Silungkang diajarkan juga cara memakai celup kimia. Pada tahun 1910 dua orang Silungkang dibawa oleh Gubernur General Vanderbergstroom untuk pameran kain songket di Brussel Belgia. Menurut keterangan orang Silungkang yang pulang dari Negeri Belanda, sampai sekarang kain songket Silungkang masih tersimpan di museum negeri Belanda. Piagam dari Negeri Belanda itu juga masih tersimpan baik, juga ada di Bapak Umar Melayu dan pada Bapak Rivai Murad Dalimo Godang. Ibu-ibu yang pergi pameran itu pertama bernama Baiyah, kampung Melayu dan Bainsyah serta Dt. Mangkuto Sati, Kepala Stasiun Silungkang yang berasal dari Paninjauan Solok, beliau juga sangat peduli terhadap pertenunan Silungkang.

 

Medali dari Ratu Belgia

Dari tahun 1900 sampai hari ini kain tenun Songket Silungkang seringkali mengalami pasang naik dan pasang surut. Pada tahun 1926-1929 sewaktu harga karet mahal, kain tenun Songket Silungkang sangat laku dijual ke daerah Jambi, Koto baru, Teluk Kuantan, Palembang, Medan bahkan sampai ke Pulau Jawa. Menurut buku Konferensi Silungkang 1938 diawal abad ini jumlah tenun Songket di Silungkang mencapai 1200 buah. Pada Tanggal 1 Juli tahun 1938 dibentuk badan urusan pertenunan Silungkang dengan nama K.O.T.S (KANTOR OEROESAN TENOENAN SILOENGKANG). Tugasnya semata-mata mengurusi masalah pertenunan dan berupaya untuk meningkatkan pertenunan Silungkang. Dengan adanya badan diatas, maka pemerintah dapat bekerja sama memajukan kain tenun Silungkang.

Mulai dari tahun 1900 produksi kain tenun Silungkang tidak saja sarung songket tapi sudah beraneka ragam jenis produksi, seperti kain kafan, kain bantal kursi, bahan baju, sapu tangan, selendang, ikat kepala, ikat pinggang lelaki, sarung pucuk, dan kain bola buluah yaitu kain penutup jenazah dan lain-lain. Pada masa itu sebagai pembeli utama kain songket Silungkang selain orang Indonesia dan orang Tionghoa, ada pembesar Belanda yang akan pulang ke negaranya, mereka membeli kain songket Silungkang untuk menjadi oleh-oleh pulang ke kampungnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Native Toeankoe Koto Gadang  with children in 1900

 

 

 

Maninjau man kajeinan 1900

Micheill spleen(tugu) 1900

 

 

 

 

Fort de Cock Boekitinggi –maninjaoe  road with native horse carriage”bendi “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngarai Sianok Canyon”Karbouwengat” Fort de Cock Boekittingi

 

 

Fort de Cock Boekittinggi Manindjaoe road

 

 

Bative Minang Fort de Cock Boekitinggi childrens in the front of their house

 

 

Mosque”Soeraoe” Fort de Cock Boekittinggi

 

The Car on Fort de Cock boekittinggi road

 

 

 

Minang traditional House at Fort de Cock Boekittinggi

 

 

Lawang Matoer Minang native house in 1900

 

 

The river at the base of Ngarai sianok “karbouwengat”canyon Boekittinggi in 1900

 

 

 

Ngarai Sianok”Karbouwengat”Canyon Boekittinggi  road to Matoer in 1900

 

 

Road to Matoer at Ngarai sianok in 1900

 

 

Ngarai sianok”Karbouwengat” canyon Boekittinggi in 1900

 

 

Ngarai sianok”Karbouwengat” canyon Boekittinggi in 1900

 

 

Merapi Mount fort de Cock Boekittinggi in 1900

 

 

 

Merapi Agam Mount painting by J.C.Poortenaar(1886-1956)

 

 

Merapi Mount seen from Fort de Cock boekittinggi

 

 

Taloek Boekittinggi Village 1900

 

 

 

Soengai Ombilin sawahloento in 1900

 

 

Talang river minagkabau in 1900

 

1901

Tahun 1901 Belanda mendirikan klub sepakbola di kota Padang dengan nama Padangsche Voetbal Club (PSV), konon merupakan klub sepakbola tertua di Indonesia.
Beberapa tahun kemudian muncul enam tim berikutnya, termasuk tiga tim beranggotakan warga etnis Minang dan satu klub dari kesatuan tentara yang bernama Sparta. Julukan ini mengambil nama dari legenda Yunani, menggambarkan sosok-sosok tangguh dan suka perang, hingga populer dijadikan nama tim sepakbola di lingkungan tentara Hindia Belanda saat itu.

Sumber

http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/

 

 

1901

 

Military leaders and Dutch politicians said they had a moral duty to free the Indonesian peoples from indigenous rulers who were oppressive, backward, or did not respect international law.[10] Although Indonesian rebellions broke out, direct colonial rule was extended throughout the rest of the archipelago from 1901 to 1910 and control taken from the remaining independent local rulers.[11] Southwestern Sulawesi was occupied in 1905–06, the island of Bali was subjugated with military conquests in 1906 and 1908, as were the remaining independent kingdoms in Maluku, Sumatra, Kalimantan, and Nusa Tenggara.[12][7] Other rulers including the Sultans of Tidore in Maluku, Pontianak (Kalimantan), and Palembang in Sumatra, requested Dutch protection from independent neighbours thereby avoiding Dutch military conquest and were able to negotiate better conditions under colonial rule.[13] The Bird’s Head Peninsula (Western New Guinea), was brought under Dutch administration in 1920. This final territorial range would form the territory of the Republic of Indonesia.

16 April 1901

Isteri tengku Besar Amaludin dari Deli(tengku Maheran meninggal dunia tidak berapa lama setelah melahirkan putranya Tengku Otteman

1902

 

Panthaleon Emile Hajenius (Rotterdam, 25 januari 1874Leeuwarden, 29 oktober 1939) was een Nederlands kolonel der infanterie en hoofd van de luchtbeschermingsdienst te Leeuwarden, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde. Hajenius volgde de Koninklijke Militaire Academie en slaagde in juli 1897 voor zijn examens; hij werd vervolgens bij Koninklijk Besluit van augustus van dat jaar benoemd tot tweede luitenant bij het zesde regiment der infanterie. Bij dit regiment won hij in februari 1900 de zesde prijs bij degengevechten; hij werd bij Koninklijk Besluit van 8 augustus 1901 voor de tijd van vijf jaar gedetacheerd bij het Indische leger, waar hij werd geplaatst bij het elfde bataljon infanterie en in december 1902 een verlof van één maand kreeg naar Soekaboemi en Sindanglaja.

 

1903

13 Mei 1903

Sultan deli Ma’mun mendirikan

 

kantor  kerapatan besar (Kantor Sultan deli)

 

anggotaPengadilan sultan deli,disitana Maimoon Medan

Pada mas pemerintaahan beliau banyak didirikan fasilitas umumlainnya untuk kemajuan masyarakat dan mesjid-mesjid  yang berjumlah 800 buah  demi kepentingan menyiarkan agama islam dan atas jasa besar kepada belanda beliau mendapat penghargaan

 

Knight Order of the Dutch Lion dari pemerintah belanda

Setelah tiga tahun isteri sultan Ma’mun meninggal, putranya Tengku Besar amaludin  menikah  dengan Encek maryam  yang kemudian diangkat jadi encek Negara.

Sultan  Aceh M. Dawud

akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Sultan Aceh

Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.

Tradisi kesultanan

Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh

 

Read the complete info at

Dr Iwan CD-ROM

The Aceh History Collections

 

1903

 

 

Tionghoa marchant at Medan belawan harbor in 1903

1903

Under the Decentralization Act (Decentralisatiewet) issued in 1903 and the Decree on decentralization (Decentralisasi Besluit) and the Local Council Ordinance (Ordinance Raden Locale) from the date of 1 April 1906 set as the gemeente (municipality) the governing otonomom. The decision further strengthens the function of the city of Bandung as a center of government, especially Dutch Colonial government in Bandung. Originally Gemeente Bandung
Led by the Assistant Resident Priangan as Chairman of the Board of the City (Gemeenteraad), but since 1913, led by burgemeester gemeente (mayor).

 

 

J. B. van Heutsz

 

 

Portrait of J. B. van Heutsz by Hannké

J. B. (Joannes Benedictus) van Heutsz (February 3, 1851, Coevorden, Drenthe – July 11, 1924, Montreux), was a Dutch military commander who was appointed governor general of the Dutch East Indies in 1904. He had become famous years before by bringing to an end to the long Aceh War.

[edit] Aceh war

Main article: Aceh War

Following twenty-five years of protracted warfare, J. B. van Heutsz was appointed as Military Governor of Aceh.[1] In consort with the Islamic scholar Christiaan Snouck Hurgronje, Van Heutsz succeeded in weakening the Acehnese resistance by exploiting tensions between the Acehnese aristocracy and the religious ulama. He also solicited the support of the Acehnese ruling classes while isolating the rebels from their rural bases. At the advice of an Acehnese noble, he also altered the tactics of the Royal Dutch East Indies Army by introducing small mobile forces which were successful against the guerrilla tactics of the Achenese.[2]

 

 

J. B. van Heutsz circa 1900

Van Heutsz commissioned Colonel Van Daalen with the challenge of breaking any remaining resistance. Van Daalen destroyed several villages, killing at least 2,900 Acehnese, among which were 1,150 women and children. Dutch losses numbered just 26, and Van Daalen was promoted. By today’s standards, these actions would be considered war crimes.[3][4] By 1903, Van Heutsz tactics had succeeded in convincing several secular Acehnese resistance leaders including Sultan Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala, Tuanku Mahmud and Teuku Panglima Polem Muda Perkasa to surrender to the colonial authorities.[1] Having overcome the secular elements of the resistance, Aceh was declared by the Dutch to be officially pacified by 1903.[2] Despite this, resistance from the ulama continued until 1913.[1]

Hendrikus Colijn – future Prime Minister of the Netherlands, was the adjutant of Van Heutsz. In the Netherlands at the time, Van Heutsz was considered a hero, named the ‘Pacificator of Aceh’ and was promoted to the position of Governor-General in 1904.[2] His efforts boosted support for imperialism in Dutch society and government while weakening the position of anti-imperialists.[2] Van Heutsz returned to the Netherlands in 1909 and died in Switzerland on 11 July 1924.

[edit] Monument

During the 1920s and 1930s, monuments to Van Heutsz were erected throughout the major cities of the Netherlands and the Dutch East Indies including Amsterdam, Banda Aceh and Batavia.[2] On 15 June 1935, The Van Heutsz Monument in South Amsterdam (Amsterdam-Zuid) was inaugurated by Queen Wilhelmina. The monument underwent many defacements several times during various protests from 1965 to 2004. The municipality of Amsterdam changed its name and purpose in 2004. The monument is now known as the ‘Dutch East India – Netherlands Monument’ (Monument Indië-Nederland), and all references to Van Heutsz have been removed.

[edit] Regiment Van Heutsz

After the departure of the Dutch from independent Indonesia in 1949, the Regiment Van Heutsz of the Dutch Army was created with the specific aim of being “the bearer of the traditions of KNIL” (the former Dutch Indies colonial army which had carried out the Aceh War).

 

1904

In 1904, he led a group of prominent Chinese leaders in Penang to establish the Chung Hwa Confucian School, and was claimed as the first modern Chinese school in Southeast Asia.

Cheong Fatt Tze’s name had gained high reputation and recognition in the Imperial Chinese Palace, and was made a High Commissioner for Railways and Commerce in China in 1902, and later became the Special Commissioner for Trade in Southeast Asia in

1904.

April 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh Belanda.

Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo.

Saat ini namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang utama di Kota Jambi.

 

Pakubuwono X, 1866 – 1939 Tenth Susuhunan or ruler of Surakarta, Java, Indonesia From The Century Illustrated Monthly Magazine, May to October 1904 |

KNIL after 1904

After 1904 the Netherlands East Indies were considered “pacified”, with no large-scale armed opposition to Dutch rule until World War II, and the KNIL served a mainly defensive role protecting the Dutch East Indies from the possibility of foreign invasion. Once the archipelago was considered “pacified” the KNIL was mainly involved with military police tasks.

1905

 

Frederik Casper Marks

(Schiedam, 17 januari 1877Java, tussen 19441945)

was een Nederlandse sergeant der infanterie van het Indische leger en ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Marks (stamboeknummer 41568), Europees sergeant, raakte in juni 1902 tijdens de krijgsverrichtingen te Atjeh en Onderhorigheden niet levensgevaarlijk gewond gedurende het doorzoeken van een huis te Peudada. Hij werd in augustus 1904 voor zijn verrichtingen tijdens het eerste half jaar van 1903 eervol vermeld.

In juni 1905 behoorde hij tot de landingstroepen nabij Badjowè (Celebes) onder kapitein H. van Stipriaan Luiscius..

1905

Batavia

A significant consequence of these expanding commercial activities was the immigration of large numbers of Dutch employees, as well as rural Javanese, into Batavia. In 1905, the population of Batavia and the surrounding area reached 2.1 million, including 93,000 Chinese people, 14,000 Europeans, and 2,800 Arabs (in addition to the local population).[15]

This growth resulted in an increased demand for housing and land prices consequently soared. New houses were often built in dense arrangements and kampung settlements filled the spaces left in between the new structures. However, such development proceeded with little regard for the tropical conditions and resulted in overly dense living conditions, poor sanitation, and an absence of public amenities.

(wiki)

16 Maret 1905

 

Perumahan keluarga sultan deli

 

dan taman Derikhan

dibangun di depan Masjid raya Al Masun medan

 

 

 

 

 

 

 

 

12  Nopember 1905

 

Sultan Ma’mun mendirikan  sebuah istana baru  antara jalan amaliun dan jalan Puri  yang diberi nama istana kota Maksun.

 

Istana tngku Besar deli

 

 

Sumatra’s first Malay newspaper in Padang. Akhbar pertama

One of my father’s favorite stories was how in 1905 he was talked into buying a printing press by a representative of a printing press firm when he had one too many at his club.

He forgot all about it but one day the press arrived. He had no idea as to what to do and interested a few people into starting a first malay newspaper on Sumatra in 1905. It became a succes.

 

This building maybe beside the Tionghoa Kelenteng which before the Major Tionghoa Lie say house(Dr Iwan)

And in the front the small street

 

pasar borong

Tahun 1905 ada tujuh klub bergabung membentuk asosiasi WSVB (West Sumatran Football Association). Sejarah mencatat bertahun kemudian WSVB bertahan sebagai persatuan klub sepakbola yang memungkinkan klub dengan anggota beragam etnis, yaitu Minang, Eropa dan Cina, melaksanakan kompetisi dan duduk berdiskusi dalam satu meja.

 

 

 

Arena bertanding mereka adalah di lapangan yang punya nama keren, Plein van Rome (Stadion Roma), itulah lapangan Imam Bonjol sekarang.

Kini nama Lapangan Imam Bonjol sudah tidak asing lagi terutama bagi penduduk kota Padang dan sekitarnya.

Sumber

http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/

 

1905

 

In 1905, Cheong Fat Tze came a member of a commission to study the commercial affairs in Southeast Asia on behalf of the Chinese Board of Commerce. Upon his return to China, he had few audiences by the Emperor and Empress Dowager of China, their Majesties were satisfied with his reports. Little was known that, Cheong Fatt Tze had also established business affairs in his homeland, engaged in manufacturing bricks, textile, glass and salt farm by using modern machineries.

Cheong Fatt Tze had eight wives and was the father of eight sons and six daughters, all distributed over the Dutch and British Colonies in Southeast Asia. His mansion at 14 Leith Street was occupied by his third, sixth and seventh wives. All his sons were educated at the St Xavier’s Institution. He died in 1916 in Batavia due to pneumonia and as a mark of respect, the Dutch and British decreed to fly their flags at half-mast.

 

His eldest son though his first wife in Batavia, Chang Kiam Hoe (Thio Nghean Leong) was a well-known figure in Penang and Perak. He had vast interest in tin mining business in Ipoh, Perak as well as large plantation estates in Province Wellesley and Kedah. He was appointed as a trustee in Cheong Fatt Tze’s Will.

 

Cheong Fatt Tze had uncountable number of fine houses all over China, and Dutch and British Colonies in Southeast Asia, among of all, he laid a legacy that remained forever by building the finest Chinese mansion in Southeast Asia, which was then known as Le’ Bleu Mansion.

The double-story mansion built in between 1897 to 1904 was enough to accommodate his large extended families with 34 rooms. Where he expected the mansion shall live for nine generations after him. The most intriguing part of Cheong Fatt Tze’s Will, besides the inheritance of his estate to all his wives and children, he mentioned the future management of his favourite mansion in 14 Leith Street, Penang.

In his will, he said that ordinary repairs of the mansion shall be paid for a monthly sum not exceeding $250. And the house was given to his seventh wife Tan Tay Po @ Chan Kim Po and his last son, Cheong Kam Long and must not be sold until the death of Cheong Kam Long.

 

Cheong Fatt Tze’s business affairs in the Straits Settlements were under the management of his cousin Thio Chee Non also known by the name Chong Yit Nam and Chong Chee Non who was the Kapitan of Deli. While his Penang estate was managed by Thio Siow Kong at 5 Beach Street. Cheong Fatt Tze Estate first appointed Henry Haley Busfield, Choo Shou San and Soo Beng Lim as Executors and Trustees of his estate in Penang, and in 1937 under the Court’s order the positions were taken by Cheong Hock Chye and Wee Sin Choe.

 

Throughout the time after his death,

one by one Cheong Fatt Tze’s considerable property was sold out, and the most significant sale which almost ended up his entire estate was in 1939. And in 1988 the last call for the sale of old porcelain and Chinese furniture belonged to Cheong Fatt Tze at the family mansion at 14 Leith Street was auctioned by Dominion Victor & Morris of Singapore.

Cheong Fatt Tze’s illustrious life ended with the death of his last son, Cheong Kam Long in 1989. Where the family sold the last property of Cheong Fatt Tze at 14 Leith Street, Penang to a cooperate company by Cheong Kam Long’s wife Thong Siew Mee. One of Cheong Fatt Tze’s sons, Thio Phin Long who was also a trustee of his estate violated his capacity by defrauding the estate through illicit transaction involving the three wholesale and retail druggist businesses, and since then escaped to Hong Kong with his son Thio Chee Fook to avoid the warrant arrest on him in 1931. Today many of Cheong Fatt Tze’s descendants lived in Australia.

 

Float Banjir Canal Padang in 1905

 

The bridge at Mata Air between Padang and emma haven teluk Bayur in 1905

 

 

emma haven Teluk Bayur beach in 1905

 

Muara Batang Arau in 1905

 

1905

Chinese Overseas from China

Tionghoa sinkek(asli dari tiongkok) tahun1905

 

 

Tionghoa women with small feet

 

Wanita tionghoa dengan kipas sering disebut nona shanghai

 

 

Wanita tionghoa dengan anaknya

 

Tauke (bos) tionghoa dengan pekerjanya masih pakai taucang era akhir dinasti Ming,saat merdeka tahun 1915 kakek saya Tjoa Gin toen segera memotong Taocangnya.

 

 

 

 

Keluarga tionghoa dengan pakaian tradisional tahun 1905

 

Kakek Tionghoa(Ngkong) dengan cucunya tahun 1905

 

Upacara pemakan etnis Tionghoa di Padang. Peti dihias dengan indah keluarga memakai pakaian dan  topi kain merkan

 

 

1905

 

Auto on the solok hill road 1905

 

 

 

Rumah Gadang(bigger House at Tilatang ) built in 1996

 

Dutch East Indie

Although Indonesian rebellions broke out, direct colonial rule was extended throughout the rest of the archipelago from 1901 to 1910 and control taken from the remaining independent local rulers.[24]

Southwestern Sulawesi was occupied in 1905–06

1906

Sultan Deli  mulai  mendirikan mesjid raya  tahun 1906

 

KNIL  at Sanur Bali in 1906

 

1906

the island of Bali was subjugated with military conquests in 1906

 

 

 

 

1906

 

Herman Scheurleer (Amsterdam, 29 december 1880Doorn, 13 maart 1937) was een Nederlands majoor der infanterie van het Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Scheurleer werd op 22 juni 1902 benoemd tot tweede luitenant, geplaatst bij het zestiende bataljon en vervolgens op 10 april 1904 bij het garnizoensbataljon van Sumatra’s Westkust overgeplaatst, waar hij zijn eerste expeditie meemaakte. Hij werd op 6 augustus 1905 bij het derde bataljon geplaatst, op 6 maart 1906 overgeplaatst naar het zeventiende bataljon en op 2 mei 1906 bij het eerste garnizoensbataljon van Atjeh en Onderhorigheden geplaatst.

 

1906

 

Wilhelmus Johannes Mosselman (Geertruidenberg, 7 september 1884Rangoon, 4 januari 1943) was een Nederlandse tweede luitenant titulair der infanterie van het Indische leger en ridder en officier in de Militaire Willems-Orde.

Mosselman (stamboeknummer 58330) trad op 16 april 1900 in militaire dienst bij het Instructiebataljon te Kampen, werd op 8 augustus van datzelfde jaar bevorderd tot korporaal en ging op 8 september 1901 over naar de grenadiers en jagers. Hij legde in april 1902 het examen voor sergeant af en vertrok in die rang in april 1904 naar Indië;

hier diende hij van december 1906 tot januari 1912 bij het Korps Marechaussees

 

 

Pada 1 Maret 1906,

Padang resmi ditetapkan sebagai daerah Cremente melalui ordonansi yang menetapkan (STAL 1906 No.151) yang berlaku mulai 1 April 1906. Setelah Proklamasi 1945, daerah ini berstatus kotapraja.

2 oktober 1906

Tewngku Amaludin menikah dengan adik kanung tengku Maheran Tengku Chaldijah

1907

Acte van Verband kontrak Kerajaaan deli dan belanda  diperbaharui  pasal-pasalnay dan lahirlah Politiek Contract 2 juni 1907 yang banyak menguntungkan Belanda

1908

1908, as were the remaining independent kingdoms in Maluku, Sumatra, Kalimantan, and Nusa Tenggara.[20][23] Other rulers including the Sultans of Tidore in Maluku, Pontianak (Kalimantan), and Palembang in Sumatra, requested Dutch protection from independent neighbours thereby avoiding Dutch military conquest and were able to negotiate better conditions under colonial rule.[23] The Bird’s Head Peninsula (Western New Guinea), was brought under Dutch administration in 1920. This final territorial range would form the territory of the Republic of Indonesia.

 

1908

 

 

Sjarifah nawawi

the first student of first school at Padang

Sjarifah lahir di Boekittinggi 1896

adalah anak Engku Nawawi sutan Makmoer

 

Engku Nawawi sutan Makmoer(1858-1929)

guru sekolah raja(kweekschool) di Fort de Kock Boekittinggi dan ibunya bernam chatimah sjarifah.

Sjarifah disekolahkan di ELS European large school dan terus ke Kweekschool tahun 1907

 

 

 

Kweekschool

fort de Kock Bukittinggi in 1908

 

 

 

Women and Child at Solok in 1908

 

 

 

The street at Fort de Cock Boekittinggi in 1908

 

Adytiawarman statue from Majapahit found at Rambatan Soengei Langsat branch of Batanghari river above Sidjoedjoeng in 1908 , before only seen the part of stone and used for cloth cleaning by the native people this statue then move to

Boekittinggi Zoo, later put at

The Djakarta Central Museum.

Starting the events of 1908

uprising led by the clergy, the application of taxes by the Dutch colonial government. This is done as a form of resistance to the Dutch who want to implement direct tax. This is contrary to the content of what was once a long plaque agreement has ended the war Padri.

1908

Since its entry into Pariaman Trains in 1908 no longer ship docked in Pariaman (Said Zakaria, 1930)

 

 

 

 

1909

Mesjid Raya  yang didirikan sultan Ma’mun dari Deli diresmikan tanggal  10 Nopember 1909,dihadiri oleh sultan Langkat dan sultan Serdang.

 

1909 building in pondok, padang, west sumatra, indonesia..it was photographed with my Cecil (nikon D60)..look the other  old building at the sam area

 

 

Geo Whery Building near batang arau river(Gho kong Liang ever been the directur here) look the building from other side’

 

 

 

 

Same building from other side name geo Whery

 

 

 

1905

 

Majalah bahasa belanda Het Volk van de arde ( bangsa-bangsa di dunia)

 

Putri jawa

 

anak  jawa telanjang

 

Termasuk pemain korps  musik Jawa tahun 1905

 

 

1906

01/07/1906 – 31/10/1912 G. Vissering (LL.M.)
By decree of February 2, 1906, Vissering,  Director of the Amsterdamsche Bank was appointed as Director of the Javasche Bank.Vissering resigned on October 31, 1912.31/10/1912 – 01/07/1924 E.A. Zeilinga Azn.
In April 1907 Zeilinga started as Director of the Bank and was promoted to President per October 31, 1912. Zeilinga resigned after almost 12 years of serving as President and was honorably discharged on July 1, 1924. (Azn.stands for the Dutch “Abrahamzoon” which means “Son of Abraham”)

1907

unidentified building in batavia postcard 1907

 

 

 

 

 

 

 

Pondik street 1909

Compaere wit  Situation now

 

 

 

1920

The first of Bandung’s university, the Technische Hogeschool (TH) was established on July 3, 1920. Now known as the Institut Teknologi Bandung (ITB), TH’s alumni include independence leader and first president Soekarno.

1907

 

Hendrikus (Hendrik) Colijn (Burgerveen, 22 juni 1869Ilmenau, 18 september 1944) was een Nederlands militair, topfunctionaris en politicus van de Anti-Revolutionaire Partij (ARP). Van 1925 tot 1926 en van 1933 tot 1939 was hij van vijf kabinetten voorzitter van de ministerraad (minister-president). In 1904 werd hij adjudant van generaal Van Heutsz en daarna assistent-resident van de Gajoe- en Alaslanden. In 1907 verliet hij de militaire dienst met de rang van majoor en werd benoemd tot secretaris van het gouvernement van Nederlands-Indië. Hij maakte in deze periode vele reizen door de hele Indonesische archipel. De vrucht van deze jaren is zijn uitvoerige studie Politiek beleid en bestuurszorg in de Buitenbezittingen (1907).

1907

Tahun 1907, Belanda berhasil memperkuat pasukan dan persenjataannya. Kondisi ini membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak dan terkepung. Pada pertempuran yang berlangsung di daerah Pak-pak inilah Sisingamangaraja XII gugur tepatnya pada tanggal 17 Juni 1907. Bersama-sama dengan putrinya (Lopian) dan dua orang putranya (Patuan Nagari dan Patuan Anggi).

Sisingamangaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke Pulau Samosir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1910

1910

 

 

 

 

 

Batik ALTAR CLOTH 1910

 

 

Walter Robert de Greve (Buitenzorg, 25 mei 1864Den Haag, 18 augustus 1924) was een Nederlands luitenant-generaal en commandant van het Nederlands-Indisch leger, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde vierde klasse. De Greve volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd in 1883 benoemd tot tweede luitenant der genie bij het Nederlands-Indisch leger. Hij maakte snel promotie en nam van 1905 tot 1908 deel aan de krijgsverrichtingen in Zuid-Celebes; al in 1914 (1887 eerste luitenant, 1898 kapitein, 1905 majoor, 1909 luitenant-kolonel en 1910 kolonel) werd hij benoemd tot generaal-majoor, chef van de generale staf.

1910

 

 

Salido Goldmine Bond in 1910

 

 

Singkarak school in 1910

 

 

 

 

 

 

Payakumbuh market in 1910

 

 

 

 

 

 

 

Dutch language school farewell party during DEI in 1910

 

 

The Nine turn road  from Payakumbuh to Pekanbaru (Kelok Sembilan)  in 1910

 

 

Tenunan Padang 1910

 

 

 

 

 

Budaya seni tenun tradisional di Sumatera Barat diyakini sudah berumur ratusan tahun. Bahkan, dalam beberapa arsip menyebut bahwa seni tradisional ini sudah berumur lebih dari 100 tahun..

Tidak diketahui secara pasti kapan persisnya seni tenun tradisional, seperti di Pandai Sikek maupun di Kubang muncul dalam catatan sejarah. Seperti yang kita  lihat, tampak ibu-ibu yang menenun kain sarung, ada juga yang menenun tingkuluak dengan benang emas.

Tentunya, kain tenunan dengan benang emas itu dipakai ketika mereka menikah. Tapi, ada juga sebagian dari kain tenunan itu dijual di pasar.

Bahan baku kain songkat yang biasa dipakai perempuan Minang pada masa lalu adalah benang emas atau benang perak, benang linen, bahkan benang sutera, menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang sangat sederhana dan masih tergolong tradisional.

Kalau kita simak dalam foto berikut ini, tampaknya pekerjaan ini benar-benar hanya hasil karya dan kreatifitas tangan manusia, tentunya membutuhkan keahlian dan ketekunan. Sehingga waktu untuk menyelesaikan satu lembar kain sarung yang indah dan berkualitas pada masa lalu, bisa mencapai 1 sampai 3 bulan. Itu pun tergantung kerumitan proses pembuatannya.

Adalah wajar, jika harga sehelai kain songket bisa mencapai belasan, bahkan puluhan juta rupiah. Namun, untuk pengrajin yang mampu menghasilkan songket dengan motif-motif kuno perpaduan bahan sutera dengan benang emas jumlahnya sudah sangat terbatas.

Nah, biasanya kain Songket digunakan pada Upacara Adat di Minangkabau seperti Batagak Gala (Upacara Penobatan Gelar), Baralek Gadang (Pesta Perkawinan), dan lain sebagainya

 

 

 

 

 

The Ombilin Coal Mine Worker Sawahloento in 1910

 

 

The DEI Govermenment Coal Ombilin Mine sawahloento 1910

 

 

Tobacco market Pajakoemboeh 1910

 

 

 

Lithography Pajakoemboeh Market

 

 

 

Tobacco Plantation Pajakoemboeh 1910

 

 

The Princes of Padang Halai Kisam in 1910

 

Salido painan goldmine bonds in 1910

 

KONDISI DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI HINDIA BELANDA AWAL ABAD XX

 

Kampongschool. Kedoe. Village school. Central Java 1910 (Koleksi:www.kitlv.nl)

A. Kondisi dan Perkembangan Pendidikan Hindia Belanda

Sebelum pemerintah kolonial menguasai Indonesia, sejarah pendidikan di Indonesia sudah dimulai. Ketika itu pendidikan pribumi hanya mengenal satu jenis pendidikan yang biasa disebut lembaga pengajaran asli yaitu sekolah-sekolah agama Islam dalam berbagai bentuknya seperti langgar, surau atau pesantren. Di tempat tersebut murid-murid dilatih untuk belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kepercayaan dan syariat agama Islam.[1] Kemudian pada awal abad XX, melalui peraturan pemerintah tahun 1818, maka pemerintah Belanda menetapkan bahwa orang-orang pribumi diperbolehkan masuk sekolah-sekolah Belanda. Pemerintah juga akan menetapkan peraturan-peraturan tata tertib yang diperlukan mengenai sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.[2]

Sebenarnya pendidikan bumiputra telah dimulai pada masa V.O.C. yang didirikan oleh para misionaris dan diperuntukkan bagi pribumi yang beragama Kristen. Tahun 1799 V.O.C. bangkrut dan diambilalih oleh pemerintah kolonial Belanda, selanjutnya antara tahun 1811-1816 Indonesia dikuasai oleh pemerintah Inggris dan ketika pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa tidak ada sekolah yang ditinggalkan.

Regeeringsreglement (Peraturan Pemerintah) yang dimulai tahun 1818 terdapat peraturan yang berhubungan dengan perguruan untuk pribumi. Akan tetapi hal ini tidak jadi dilaksanakan karena pemerintah kolonial mengalami kekurangan uang, dan uang yang mengalir seluruhnya diperuntukkan bagi kas negeri induk. Pada tahun 1848 ditetapkan bahwa tiap-tiap tahun dari begrooting (anggaran belanja) akan diambil f.25.000 untuk mendirikan sekolah-sekolah bumiputra. Tetapi sekolah itu tidak untuk kemajuan rakyat, dan hanya untuk keperluan pemerintah yaitu untuk “mencetak ambtenaar”. Ambtenaar-ambtenaar ini nantinya harus bekerja sebagai mandor dan lain-lain di kebun-kebun milik pemerintah.[3]

Sesudah tahun 1850, pemerintah Hindia Belanda diwajibkan untuk memperhatikan sekolah-sekolah bagi orang-orang Eropa. Untuk sistem pendidikan di sekolah ini, mereka menggunakan sistem yang berlaku dinegeri Belanda. Untuk bumiputra sendiri apabila ingin masuk ke sekolah ini maka syarat-syarat yang sangat berat harus dipenuhi. Pertama-tama, yang boleh masuk sekolah untuk orang Eropa ini ialah bumiputra yang beragama nasrani. Pada tahun 1863 pintu dibuka untuk anak-anaki regent (bupati) dan pada tahun 1864 pintu dibuka (in pricipe/pada prinsipnya) untuk segenap bumiputra, akan tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Gubernur Jendral.[4]

Pada tahun 1860 di Jakarta didirikan Gymnasium Willem III. Pintu sekolah ini tertutup bagi bumiputra. Baru pada tahun 1874 bumiputra dapat memasuki sekolah ini. Pada waktu itu hanaya ada dua sekolah di mana bumiputra sesudah tamat sekolah rendah, dapat meneruskanpelajarannya yaitu Dokter Djawa School dan Kweekschool (sekolah guru). Ini untuk memenuhi kebutuhan pemerintah yang kekurangan tenaga medis dan tenaga pengajar, selain itu juga dikarenakan pengiriman guru dan tenaga dari negara induk banyak mengeluarkan biaya.

Perubahan politik di Hindia Belanda dimana politik cultuurstelsel digantikan oleh politik liberal membawa perubahan pula bagi pengajaran di Hindia Belanda. Bila tujuan awal pengajaran adalah kebutuhan akan ambteenar maka pada masa politik liberal kebutuhan akan tenaga kerja terdidik diperuntukkan bagi perkebunan-perkebunan swasta (onderneming-onderneming). Hal ini dicanangkan oleh Koninklijk Besluit mulai tanggal 3 Mei 1871 dan kebijakkan bagi yang bersekolah pun masih sama yaitu mereka yang merupakan keturunan bangsawan dan ambteenar dengan alasan bahwa pemerintah tidak mampu membiayai pendidikan bagi rakyat kebanyakan.[5] Hal ini tentunnya sangat aneh bila melihat bagaimana perkembangan perdagangan swasta pada masa politik liberal. Perkembangan perdagangan swasta (partikelir) dengan Pemerintah Kolonial dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel. 1. Pertumbuhan Perdagangan (dalam jutaan gulden) [6]

Tahun

Perdagangan Partikelir

Impor dan Ekspor Pemerintah (Perdagangan Partikelir)

Ekspor

Impor

Kelebihan ekspor

Ekspor

Impor

Kelebihan ekspor

1876-1880

119,7

143,7

24,0

129,3

188,0

58,7

1881-1885

133,8

156,3

22,5

141,9

189,0

47,1

1886-1890

126,0

162,1

36,1

130,3

185,3

54,9

1891-1895

154,5

184,3

29,8

161,8

206,0

44,2

1896-1900

164,1

209,1

45,0

170,1

226,7

56,6

1901-1905

187,1

255,1

68,0

196,7

275,2

78,5

1906-1910

250,7

394,9

143,9

258,4

413,8

155,4

1911-1915

386,2

602,6

216,4

407,4

643,3

235,9

1915-1920

630,1

1333,9

703,8

685,2

1338,8

653,6

Tabel di atas menunjukkan bagaimana semakin besarnya keuntungan perdagangan baik swasta maupun pemerintah pada masa awal politik liberal hingga berlakunya politik Ethis, dengan keuntungan yang mencapai hampir f.24,0 juta dan f.58,7 juta pada awal politik liberal dan meningkat menjadi hampir 650%. Merupakan hal aneh ketika pemerintah kolonial tidak mau memberikan pengajaran secara menyeluruh kepada masyarakat pribumi. Padahal untuk biaya sekolah pemerintah kolonial telah memberikan sebuah diskriminasi antara anak-anak Eropa dan pribumi, dimana anak-anak Eropa membayar uang sekolah sebesar f.7,5 sebulan sedangkan anak-anak pribumi sebesar f.15,0 sebulan. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah kolonial di dalam menyaring orang-orang pribumi untuk bersekolah dengan menerapkan biaya sekolah yang tinggi.[7]

Perkembangan pengajaran hingga berakhirnya politik liberal masih meneruskan upaya bagaimana memenuhi kebutuhan akan buruh yang terdidik dan murah. Pada tahun 1893 didirikan 1e klasse scholen (sekolah Klas I) dan Hoofden Scholen (Sekolah Kepala Negeri) yang didirikan tahun 1878 dijadikan untuk Inlandsche ambtenaren (O.S.V.I.A. atau Sekolah Pendidikan untuk Pejabat Pribumi). Dan sejak tahun 1892 pendidikan sekolah dasar bagi pribumi dibagi menjadi dua yaitu sekolah angka siji (Eerste School) yang diperuntukan bagi anak-anak priyayi dan “berada” serta sekolah angka loro (Tweede School) yang diperuntukan bagi anak-anak rakyat kebanyakan.[8] Dari sekolah ini dapat melanjutkan di sekolah rendah Eropa dengan masa belajar tujuh tahun dan menuntut persyaratan bahasa Belanda.

Perkembangan sekolah bumiputra angka dua dan muridnya sejak tahun 1900 mengalami kenaikan, hal ini dapat terlihat dari tabel 2 berikut:

Tabel. 2. Jumlah Sekolah Bumiputra Angka Dua dan Murid[9]

Tahun

Jumlah Sekolah

Jumlah Murid

Negara

Swasta

Total

Negara

Swasta

Total

1900

551

836

1387

64742

36431

98173

1905

674

1286

1942

95975

66741

161816

1910

1021

2106

3127

133425

99204

232629

1915

1202

2198

3400

186300

134644

320974

1920

1845

2368

4213

241414

116556

357970

Walaupun perkembangan sekolah gaya barat mengalami kemajuan yang pesat tetapi jumlah murid-muridnya tidak pernah besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Hindia Belanda dan orang terpelajar hanya sebagian dari seluruh penduduk. Hal ini dapat dilihat dari tabel 3 berikut:

Tabel. 3. Perbandingan anak-anak yang bersekolah dan tidak bersekolah[10]

Anak-anak yang berumur

Jumlah

Yang mendapat pengajaran

Yang tidak mendapat pengajaran

6 – 9 tahun

4.803.600 (100%)

1.431.429 (29,8%)

3.372.200 (70,2%)

6 – 11 tahun

8.009.900 (100%)

1.623.745 (20,3%)

6.386.200 (79,7%)

6 – 13 tahun

11.216.339 (100%)

1.647.761 (14,7%)

9.568.578 (85,3%)

Perkembangan selanjutnya adalah sekolah angka siji pada tahun 1914 dirubah menjadi Hollandsche Inlandsche School (HIS) dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dan dihubungkan dengan sistem sekolah lanjutan Belanda. Sebelum itu, orang tua yang menyadari manfaat pendidikan gaya barat dan cukup mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke Europeesche Lagere Schoolen (ELS), sekolah dasar Eropa, dan setelah tamat dapat terus ke sekolah lanjutan Belanda seperti Hollandsche Burgerscholen (HBS), Sekolah Kelas Menengah Belanda atau S.T.O.V.I.A. dan O.S.V.I.A. (sekolah dokter bumiputra dan pegawai bumiputra).

Menurut M.C. Ricklefs bahwa pembaharuan sekolah-sekolah Kelas Satu dan pengembangan-pengembangan pendidikan selanjutnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan rakyat Indonesia golongan bawah, yang telah diberi kesempatan memasuki sekolah-sekolah Kelas Dua. Memperluas pendidikan untuk rakyat banyak merupakan suatu masalah keuangan yang luar biasa, dan suatu cita-cita yang sama sekali tidak mendapat dukungan penuh di kalangan pendukung-pendukung gagasan Ethis pun. Pada tahun 1918 diperkirakan bahwa akan menghabiskan biaya 417 juta gulden setahun guna mengurus sekolah-sekolah Kelas Dua bagi seluruh penduduk Indonesia, biaya ini jauh lebih besar daripada seluruh pengeluaran pemerintah kolonial.[11]

Untuk mengurangi pengeluaran biaya yang besar bagi kas kolonial maka pada tahun 1904 van Heutsz berhasil mendapatkan jawabannya. Sekolah-sekolah desa (desascholen yang juga disebut volksscholen: sekolah rakyat) akan dibuka yang sebagian besar biayanya ditanggung oleh penduduk desa sendiri, tetapi dengan bantuan pemerintah kalau perlu. Seperti halnya dengan banyak perbaikan Ethis lainnya, pemerintah menetapkan apa yang terbaik untuk rakyat Indonesia dan sesudah itu memberitahukan berapa yang harus dibayar oleh rakyat itu demi perbaikan mereka. Di sekolah-sekolah tersebut akan diterapkan masa pendidikan tiga tahun dan mata pelajarannya, yang memberikan ketrampilan dasar membaca, berhitung dan ketrampilan praktis, diajarkan dalam bahasa daerah serta dipungut uang sekolah.[12]

 

Vijf Javaanse jongens in een schoolbank 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Perkembangan pendidikan ini banyak mendapat kritik terutama mengenai sekolah Kelas Dua karena hanya sedikit dari murid sekolah ini yang dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut Direktur Pendidikan dan Agama, K.F. Creutzberg mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal van Limburg Stirum untuk membangun sekolah peralihan dimana sekolah ini akan menampung murid-murid sekolah Kelas Dua yang pintar untuk dapat melanjutkan belajar di M.U.L.O. (Meer Uitgebreid LagerOnderwijs atau sekolah menengah pertama)[13]. Di dalam sekolah peralihan ini diajarkan bahasa Belanda yang lebih intensif sebagai bekal untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama.  Sekolah peralihan ini dibuka pertama kali di Bandung dan Padang Panjang pada tahun 1921.

Sekolah H.I.S. sendiri masih merupakan impian bagi sebagian besar penduduk pribumi di Hindia Belanda, karena berdasarkan ketentuan pemerintah (Staatblad 1914 No. 359) ada empat dasar penilaian yang memungkinkan orang tua mengirimkan anak-anaknya ke H.I.S. yaitu keturunan, jabatan, kekayaan dan pendidikan. Jadi seorang anak keturunan bangsawan tradisional, keturunan orang yang mempunyai jabatan dalam pemerintahan seperti wedana, demang dan sebagainya, pendidikan barat yang pernah dimiliki orang tua minimal M.U.L.O. atau yang setingkat dan kalangan orang tua yang berpenghasilan f.100 per bulan mempunyai hak untuk sekolah di sekolah ini.[14]

Pemerintah kolonial sengaja membatasi penduduk pribumi yang bersekolah dengan diferensiasi sosial baik secara ras maupun secara materi. Hal ini ditujukan guna mempertahankan hegemoni kekuasaan pemerintahan dan ekonominya di dalam tanah jajahan. Menurut Antonio Gramsci, sifat ekonomi kapitalisme yang berkembang akan selalu diikuti dengan struktur-struktur yang memperkuat sistem tersebut, seperti struktur sosial, struktur politik, hukum  dan kepolisian. Struktur pemerintah atau negara adalah sebagai kekuatan represif dan pelayan bagi klas yang dominan yaitu klas borjuis[15] yang di Hindia Belanda diwakili oleh pemerintah kolonial dan para pemilik modal.

Permasalahan pendidikan sendiri menjadi bagian dari struktur sosial di dalam masyarakat Hindia Belanda. Pendidikan gaya Barat yang diadakan oleh pemerintah kolonial merupakan bagian dari tatanan kolonial yang terbagi secara rasial dan linguistik serta terpusat secara politik, sehingga pemerintah kolonial membatasi segala bentuk pencerdasan penduduk pribumi dengan membuat berbagai produk hukum yang mengharuskan masyarakat pribumi mengikuti garis politik Ethis yang telah ditetapkan. Maka dapat dilihat dari tabel 4 di bawah ini dari tahun 1900-1920 jumlah murid pribumi yang lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke sekolah lanjtan dan sekolah kejuruan sangat sedikit sekali.

Tabel. 4. Jumlah Murid Pribumi di Sekolah Lanjutan[16]

Tahun

Sekolah Dasar

Sekolah Lanjutan

Sekolah Kejuruan

1900

896

13

376

1905

1353

118

-

1910

1681

50

1470

1915

25808

406

-

1920

38024

1168

3917

Sedikitnya jumlah kelulusan ini disebabkan sedikitnya kesempatan bersekolah bagi masyarakat pribumi dalam mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah lanjutan. Hanya golongan kaya dan priyayi bangsawan yang dapat bersekolah tinggi bahkan hingga tingkat pendidikan universitas.

 

Inlandse landbouwschool op Java 1915 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

B. Sekolah Bersubsidi dan Sistem Pendidikan Kolonial Belanda

Semenjak dijalankannya Politik Etis, terlihat adanya kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan. Sebelumnya di Hindia Belanda hanya terdapat dua macam sekolah yang didirikan pada tahun 1892, yaitu Sekolah Angka I khusus untuk anak bumiputra terkemuka dan Sekolah Angka Dua untuk anak-anak bumiputra pada umumnya. Setelah munculnya Politik Etis pendidikan di Hindia Belanda mulai mendapat perhatian khusus, yang menyebabkan dalam dua dasawarsa pertama setelah tahun 1900, lembaga pendidikan dasar di Hindia Belanda.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian menciptakan suatu sistem pendidikan untuk menangani bermacam-macam golongan yang ada dalam masyarakat. Secara umum, sistem pendidikan tersebut menganut sistem diskriminasi ras yang didasarkan menurut keturunan atau lapisan sosial yanga ada. Selain itu sekolah-sekolah yang ada di Hindia Belanda dibagi menjadi dua yaitu Sekolah Bersubsidi dan Sekolah Tak Bersubsidi (Partikelir). Sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda semuanya diberikan subsidi begitu pula sekolah-sekolah yang dianggap satu aliran dengan kebijakkan pemerintah diberikan subsidi serta disediakan guru-guru untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.

1. Sekolah Negeri Pemerintah Kolonial

Pendidikan rendah di Hindia Belanda disebut dengan Lager Onderwijs yang terbagai menjadi tiga macam yaitu sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda atau Westerch Lagere Onderwijas, sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah dan terakhir Sekolah Peralihan atau sekolah Schakelschool.

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda terbagi menjadi tiga, yaitu Europeese Lagere School atau disingkat ELS yang merupakan sekolah rendah Eropa, sekolah yang kedua adalah Hollandsche Chinese School atau disebut HCS, yaitu sekolah untuk anak-anak keturunan China dan sekolah bumiputra Belanda atau Hollandsche Inlandsche School atau disebut HIS yang merupakan peleburan dari Sekolah Kelas Satu. ELS didirikan untuk mendidik anak-anak keturunan Eropa, anak-anak keturunan Timur Asing dan anak-anak pribumi golongan atas. Pada awalnya sekolah yang lama pendidikannya tujuh tahun tersebut merupakan satu-satunya jalur seseorang untuk mengikuti ujian pegawai rendah (Klein Ambtenaars Examen). Dalam perkembangan selanjutnya HIS dan HCS pun dapat mengantar seseorang untuk dapat mengikuti ujian pegawai rendah. HIS dan HCS lama pendidikan yang ditempuh sama seperti pada sekolah ELS yaitu tujuh tahun. Jenis sekolah ini sangat membatasi anak-anak pribumi yang akan menjadi siswa di dalamnya. Selain itu sekolah ini mendapat subsidi dari pemerintah kolonial Belanda karena merupakan sekolah negeri.[17]

 

Leerlingen en onderwijzend personeel van de Fröbelschool te Ternate 1903 (Koleksi:www.kitlv.nl)

Jenis sekolah rendah yang kedua adalah sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah, yang terbagai menjadi tiga yaitu Sekolah Bumiputra Kelas Dua atau Tweede Klasse Scholen atau Sekolah Angka Dua, Sekolah Desa atau Volkschool dan Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool. Sekolah Bumiputra Kelas Dua pertama kali didirikan untuk masyarakat umum pada tahun 1906. Lama pendidikan yang ditempuh mula-mula hanya tiga tahun dengan kurikulum yang sangat sederhana yaitu meliputi membaca, menulis, berhitung dan bahasa Melayu. Dalam tahun-tahun berikutnya sekolah ini mengalami peningkatan mutu, lama pendidikannya diperpanjang menjadi lima tahun dengan tambahan mata pelajaran menggambar, menyanyi, ilmu bumi, geografi, ilmu pengetahuan alam dan pendidikan jasmani. Lulusan pendidikan ini diarahkan menjadi guru sekolah desa setelah mengikuti ujian yang diadakan oleh Kepala Sekolah Negeri bumiputra. Dalam perkembangannya sekolah ini menjadi lembaga pendidikan golongan elit rendah yang keadaannya hampir sama seperti Sekolah Kelas Satu.[18]

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar dengan bahasa pengantar bahasa daerah yang kedua adalah volkshool. Lama pendidikan yang ditempuh tiga tahun dan sekolah tersebut didirikan pertamakali pada tahun 1907. Pendirian sekolah ini diawali dari adanya permintaan penambahan tenaga terdidik dari perusahaan-perusahaan Barat. Sekolah ini dinilai tepat untuk dikembangkan, karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya. Semua pembiayaan sekolah harus ditanggung oleh kas desa. Walaupun tidak diberikan subsidi oleh pemerintah kolonial Belanda tetapi volkschool dianggap sekolah milik pemerintah. Tujuh tahun setelah pembentukan Sekolah Desa, yaitu pada tahun 1914 didirikan vervolgschool atau sekolah lanjutan dari Sekolah Desa dan bertujuan menampung lulusan dari Sekolah Desa. Sebelumnya Sekolah Desa tidak mampu mengantar siswanya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, karena kurikulumnya yang sederhana.[19] Akibat keterbatasan tersebut mendorong pemerintah untuk mendirikan sekolah lanjutan yang terdiri dari kelas empat dan kelas lima.

Pemerintah kolonial Belanda juga menyelenggarakan sekolah lanjutan selain sekolah dasar. Jenis sekolah lanjutan yang pertama adalah sekolah dasar yang diperluas yaitu MULO. Sekolah ini merupakan kelanjutan dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda dengan masa pendidikan tiga tahun. Sekolah lanjutan ini terbagi menjadi dua yaitu Sekolah Menengah Umum atau Algemeene Middelbareschool (AMS) dan Sekolah Tinggi Warga Negara atau Hogere Burgerschool (HBS). Sekolah AMS diperuntukkan bagi golongan pribumi dan golongan Timur Asing lulusan MULO. Sekolah HBS diperuntukkan bagi lulusan ELS yang merupakan golongan Eropa, bangsawan pribumi dan anak-anak tokoh terkemuka.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, pemerintah Belanda juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, agar alumni sekolah jenis ini dapat langsung memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Sekolah kejuruan ini terdiri dari berbagai macam, antara lain Sekolah Pertukangan yang dibagi menjadi dua yaitu Ambachts leergang yang menerima lulusan Sekolah Bumiputra Kelas Dua dan vervolgschool. Sekolah pertukangan yang kedua adalah Ambacthsshool, sekolah ini menerima lulusan dari HIS, HCS, dan sekolah Peralihan. Kedua sekolah pertukangan tersebut mempunyai masa pendidikan tiga tahun. Ambachts leergang mencetak tukang listrik, mebel, dan lain-lain sedangkan Ambacthsshool mencetak mandornya.

Sekolah kejuruan lainnya adalah sekolah dagang atau Handels Onderwijs yang bertujuan untuk memenuhi tenaga administrasi perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang pesat. Kweekschool atau sekolah guru dibagi menjadi tiga yaitu Noormalschool, sekolah guru bagi siswa lulusan Sekolah Kelas Dua dan lama pendidikan empat tahun, Kweekschool adalah sekolah guru yang diperuntukkan bagi lulusan sekolah desa berbahasa Belanda dengan masa studi empat tahun, dan yang terkahir adalah Hollandsche Inlandsche Kweekschool merupakan sekolah guru berbahasa Belanda yang bertujuan menghasilkan guru HIS atau HCS dengan lama belajar enam tahun.

Selain serangkaian sekolah dasar, sekolah kejuruan, dan sekolah lanjutan yang ada, pemerintah kolonial Belanda juga menyelenggarakan jenis pendidikan tinggi atau Hooger Onderwijs. Mulai tahun 1910 ada tiga macam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi yang didirikan di wilayah Hindia Belanda, yaitu Pendidikan Kedokteran, Pendidikan Tinggi Hukum dan Pendidikan Tinggi Teknik. Ketiga sekolah tinggi ini mencetak lulusan-lulusan dokter, ahli hukum dan ahli teknik yang bekerja sebagai dokter, ahli hukum dan ahli teknik di Hindia Belanda.

2. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Zending

Salah satu motif kedatangan bangsa Belanda di Hindia Belanda adalah motif theokratis, yaitu penyebaran Injil. Awalnya sasaran penyebarannya dilakukan secara langsung melalui gereja, penerbitan buku-buku Kristen dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan usaha tersebut berkembang dengan pendirian-pendirian rumah sakit dan sarana pendidikan.

 

School in Kalitjeret met onderwijzer. Salatiga-zending Java 1906 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sekolah ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu sekolah yang dibuka khusus bagi anak-anak Eropa atau yang sederajat serta sekolah Kristen untuk anak Bumiputera. Dalam kurikulumnya selain memperkenalkan ajaran-ajaran Kristen juga memperkenalkan kebudayaan Barat seperti cara berpakaian, cara makan, belajar dan lainnya. Bahasa Belanda menjadi kurikulum pelajaran yang penting, bahasa ini juga digunakan sebagai bahasa pergaulan. Untuk mendukung program di atas maka siswa maupun guru-guru yang mengajar diharuskan tinggal di asrama yang telah disediakan dan sehari-harinya diwajibkan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Aturan-aturan ini menyebabkan orang-orang yang dididik di tempat tersebut terpisah dari budaya Jawa, lebih-lebih Zending juga mampu menampung para alumni sekolahnya dengan memberikan lapangan pekerjaan di berbagai bidang. Tujuan dari sekolah ini yaitu menyebarkan ajaran agama Kristen dan sesuai dengan tujuan pemerintah kolonial Belanda maka sekolah ini mendapatkan bantuan dan kemudahan dari pemerintah kolonial.

3. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Missie

Sekolah Katolik berhasil didirikan oleh Pastor Keyser di daerah Yogyakarta dan Klaten pada tahun 1892 dan sebelumnya telah didirikan pula sekolah yang sama pada tahun 1890 di Semarang dan Magelang. Semula sekolah ini bercorak Europees yang netral dengan memberi kebebasan kepada murid-muridnya untuk mengikuti atau tidak mengikuti pelajaran agama Katolik. Dalam perkembangan selanjutnya dengan masuknya ajaran Kotekismus, pelajaran agama Katolik menjadi pelajaran wajib dan diajarkan juga melalui peraturan-peraturan dalam asrama siswa.[20] Sekolah Katolik pada tahun 1921 terus berkembang dengan bantuan pemerintah melalui penyediaan dana dan fasilitas.

C. Munculnya Sekolah Partikelir Bumiputra tidak Bersubsidi

Perkembangan pendidikan akibat dari politik Ethis belum mampu memberikan kepuasan kepada penduduk pribumi. Mahalnya uang sekolah dan pembatasan secara rasial dan politik untuk mengakses pendidikan membawa organisasi-organisasi modern yang telah berkembang pada saat itu dan individu-individu yang berpikiran maju merencanakan pembangunan sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi. Pemerintah kolonial sendiri telah mengeluarkan peraturan bagi pendirian sekolah-sekolah partikelir ini dalam Lembaran Negara (Indisch Staatblad) tahun 1880 nomor 21 yaitu pengawasan terhadap pendidikan swasta dari orang Eropa kepada orang Bumiputra. Untuk pengawasan ini baik yang diberikan di sekolah maupun di rumah diwajibkan ada ijin dari Kepala Daerah yang diberikan dengan syarat bahwa kondisi setempat tidak mempunyai keberatan[21].

Perkembangan pendidikan barat yang dibawa dan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial walaupun banyak terjadi diskriminasi secara sosial, tetapi membawa perubahan dan cakrawala kepada penduduk pribumi untuk melihat dunia. Menurut Robert Van Niel, bahwa perluasan dan perkembangan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada gilirannya membuahkan beragamnya elit Indonesia. Bila di tahun 1900 kelompok priyayilah yang menjadi kaum bangsawan dan administratur, menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan dengan sejumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendikiawan yang sama-sama memerankan peran elit dan yang di mata rakyat biasa Indonesia di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut “priyayi”.[22] Tentu saja termasuk juga kompetisi antara priyayi lama dan priyayi baru ini, terutama dalam hal kepemimpinan dan pengendalian keinginan-keinginan rakyat biasa.

Perkembangan pendidikan ini juga membawa pengaruh yang besar dalam konteks pergerakan rakyat. Pendidikan dapat dipandang sebagai sebuah dinamit bagi sistem kolonial. Pengaruh pendidikan terhadap masyarakat kolonial diakui sepenuhnya oleh penguasa-penguasa kolonial sendiri, dan menurut Colijn “merupakan tragedi politik kolonial, karena ia membentuk dan membangun kekuatan-kekuatan yang di kemudian hari akan melawan pemerintah kolonial”.[23] Alasan yang dikemukakan Colijn merupakan ekspresi dari penguasa kolonial yang merasa kepentingannya merasa terancam dan apa yang diperkirakan memang menjadi sebuah kenyataan yang tak terelakkan walaupun berjalan sangat lamban.

Organisasi modern pertama pribumi adalah Boedi Oetomo yang terbentuk pada tahun 1908. Organisasi ini mewadahi para priyayi Jawa sebagai anggotanya dan berjalan sesuai dengan garis politik Ethis pemerintah kolonial. Hal ini dapat terlihat dalam permohonan organisasi Boedi Oetomo kepada pemerintah kolonial. Permohonan ini banyak memfokuskan pada bidang pendidikan yaitu (1) menyempurnakan pendidikan Kweekscholen dan O.S.V.I.A., (2) mempertahankan mutu pendidikan di S.T.O.V.I.A., (3) mendirikan sekolah-sekolah Frobel[24] untuk anak-anak pribumi laki-laki dan perempuan dan membuka pintu sekolah-sekolah dasar Eropa bagi anak-anak pribumi, walaupun mereka tidak memahami bahasa Belanda atau jika tidak, mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak pribumi serupa dengan sekolah-sekolah Belanda-China, (4) mendirikan sekolah-sekolah dagang untuk pribumi termasuk kaum perempuan, (5) menyediakan lebih banyak tanah untuk sekolah-sekolah pertanian, (6) memberikan beasiswa kepada murid-murid pribumi, (7) memberi izin penyelenggaraan undian (dengan tujuan mengumpulkan dana beasiswa, dan (8) memberi izin Boedi Oetomo mendirikan sekolah-sekolah desa.[25]

Perkembangan dari permohonan yang diajukan oleh Boedi Oetomo memang sangat lamban di respon oleh pemerintah kolonial. Sehingga memunculkan ide-ide untuk membangun sekolah-sekolah yang bebas dari intervensi pemerintah kolonial tetapi masih dalam garis politik Ethis. Secara umum bahwa pendirian sekolah-sekolah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pergerakan adalah didorong oleh pertentangan kepentingan sosial dengan penjajah, karena perbedaan rasial pertentangan tersebut menjadi lebih serius. Selain itu bahwa sekolah merupakan lahan yang tepat bagi perekrutan kader-kader yang terdidik, sehingga organisasi dapat berjalan sesuai dengan arah yang dituju.

Sejak dekade pertama abad ke-20 telah bermunculan sekolah-sekolah partikelir. Sekolah-sekolah partikelir ini tidak hanya didirikan oleh kaum pergerakan Hindia Belanda, tetapi juga banyak dilakukan oleh komunitas China di Hindia Belanda. Mengenai munculnya sekolah swasta yang dilakukan oleh pribumi dapat dilihat yaitu perkembangan sekolah-sekolah swasta Boedi Oetomo yang mendirikan perhimpunan Neutraal Onderwijs (Sekolah Netral) sebagai pengumpul dana bagi pendirian sekolah Boedi Oetomo dan telah berhasil mendirikan tiga buah sekolah di kota Jogjakarta dua buah dan satu buah di Soerakarta.[26]

Organisasi lain yang pertumbuhannya melalui bidang sosial dan keagamaan adalah Muhammadiyah, yang sejak didirikan pada tahun 1912 sampai tahun 1925 mempunyai anggota 4000 orang, mampu mendirikan 55 sekolah dengan 4000 orang murid.[27] Sekolah-sekolah partikelir banyak didirikan oleh organisasi Islam sebagai bentuk penjagaan umat Islam dari makin masifnya penetrasi para zending (misionaris) dalam penyebaran agama Kristen. Pendidikan yang dibangun oleh para misionaris Kristen melalui sekolah-sekolah mampu menghasilkan guru-guru agama Kristen dari kalangan bumiputra. Selain itu pendirian sekolah-sekolah oleh para misionaris ini didukung oleh pemerintah kolonial melalui subsidi pendidikan yang diberikan kepada sekolah-sekolah tersebut.

Tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah partikelir juga disebabkan kurangnya pemeritah kolonial Belanda di dalam menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak di Hindia Belanda. Dalam publikasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pengajaran Hindia Belanda No. 12 halaman 7b disebutkan bahwa bila kita memperbandingkan perluasan pengajaran sejak tahun 1920 dengan bertambahnya jumlah penduduk sejak tahun yang sama kita akan melihat bahwa pengajaran sekolah dasar dalam bahasa Belanda, betapapun jumlah sekolah itu diperbanyak masih saja terlalu sedikit bila dibandingkan dengan penduduk yang berjuta-juta itu. Dan pengajaran yang biasa pun jauh terbelakang dengan besarnya pertambahan penduduk.[28]

Masalah-masalah pendidikan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pergerakan mendapatkan sebuah perhatian yang besar setelah tahun 1920-an. Hal ini dikarenakan pada tahun 1920-an perubahan-perubahan ekonomi dan sosial semakin terasa menghimpit masyarakat Hindia Belanda. Selain itu banyaknya sekolah partikelir yang didirikan pada masa ini dilakukan karena biaya anggaran untuk pendidikan dipangkas sebagai akibat dari memburuknya kondisi perekonomian Hindia Belanda. Padahal dapat terlihat bagaimana kecilnya dana pendidikan bila dibandingkan dengan keuntungan perdagangan Hindia Belanda dalam tabel 5 berikut:

Tabel. 5. Anggaran Belanja Pengajaran[29]

Tahun

Anggaran Belanja Onderwijs (Pengajaran)

1848

0,25 Juta

1854

1,50 juta

1911

9,70 juta

1915

14,9 juta

1920

28,4 juta

1925

37,7 juta

Memang dalam laporan pemerintah kolonial bahwa masyarakat masih mengutamakan sekolah negeri milik pemerintah baru bila hal ini sulit terjangkau biasanya masyarakat akan memilih sekolah swasta bersubsidi dan sekolah swasta yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah kolonial.[30]

Sekolah-sekolah swasta tidak bersubsidi banyak dibangun oleh kaum pergerakan yang berfungsi selain memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat pribumi yang tidak tertampung di sekolah milik pemerintah kolonial, juga sebagai tempat perekrutan kader bagi organisasi pergerakan tersebut. Memang tidak semua sekolah yang dibangun oleh kaum pergerakan sebagai pemenuhan akan kader yang terdidik, tetapi sebagian besar memiliki tujuan dari keprihatinan akan minimnya aksesbilitas masyarakat pribumi akan pelayanan pendidikan oleh pemerintah kolonial.

Sedangkan pemerintah kolonial Belanda sendiri memiliki tujuan yang berbeda untuk bidang pengajaran ini. Pemerintah mengharapkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar maka dengan pengajaran bahasa Belanda maka buku-buku yang mereka baca dapat mempengaruhi masyarakat untuk membeli barang-barang yang dihasilkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Artinya bahwa motif keuntungan ekonomi sangat di utamakan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam menghasilkan lulusan pendidikannya.

Tumbuhnya sekolah-sekolah partikelir ini dikarenakan dua hal yaitu kurangnya jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah kolonial Belanda bagi masyarakat. Tujuan kedua adalah tujuan pendidikan kolonial yang jauh dari harapan Artinya bahwa kaum pergerakan nasional ingin merubah maksud dan tujuan dari pendidikan kolonial dengan pendidikan yang lebih selaras dengan kebutuhan penghidupan rakyat dengan mendirikan sekolah partikelir.

Dapat dilihat, bahwa sebagian besar kurikulum pada prinsipnya berhubungan dengan bidang-bidang di luar kegiatan lapangan pekerjaan yang biasanya terdapat dalam lingkungan yang tradisional seperti pertanian, industri rumah tangga, kerajinan, dan sebagainya. Kurikulum di sekolah-sekolah kolonial, meskipun menawarkan subjek yang hampir mirip dengan yang diperkenalkan di negeri asal penjajah, tetapi isi materinya berbeda secara mencolok. Sebagai contoh di sekolah-sekolah Eropa (atau negeri asal penjajah) murid-murid perlu mempelajari sejarah negeri mereka sendiri. Ini mulai diperkenalkan mulai dari tingkat sekolah dasar. Akan tetapi di sekolah-sekolah kolonial di negeri jajahan jarang sekali mata pelajaran sejarah diajarkan dan jika itu ada hanya tersedia waktu yang relatif singkat (setengah jam seminggu) itu pun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib.[31]

Hal inilah yang menjadi alasan utama sekolah partikelir didirikan oleh akum pergerakan nasional sebagai pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat dan juga pemberian pelajaran yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia. Sehingga murid-murid tidak menjadi meminjam istilah Mestika Zeid “Belanda Hitam”.


[1] H. Baudet dan I.J. Brugmans, Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan (YOI: Jakarta, 1987), hal. 176.

[2] Ibid., hal. 178.

[3] Sejarah Onderwijs (pengajaran)  Nasional diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933 dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Belenggu Ganas: Capita Selecta Kelima,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982, hal. 177-179.

[4] Ibid.

[5] Ibid.,  hal. 181.

[6] Boekoe Peringatan P.P.P.I., dalam Ibid., hal. 182

[7] S. Nasution,  Sejarah Pendidikan di Indonesia, Jemmars: Bandung, 1983, hal. 40.

[8] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Grafiti Press, 1997, hal. 37.

[9]. S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977, hal. 7.

[10] Publicatie Hollandsche Inlandsche Onderwijsche Commisie No. 7a hal. 18 dalam Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933. Dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Belenggu Ganas: Capita Selecta Kelima,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982,  hal. 185.

[11] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, UGM Press: Yogyakarta, 1995, hal. 240.

[12] Ibid.

[13] Surat Direktur Pendidikan dan Agama K.F. Creutzberg kepada Gubernur Jendral van limburg Stirum tanggal 11 Maret 1920, dalam S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977.

[14]Marwati Djoend Poesponegoro dan Noegroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V, Balai Pustaka: Jakarta, 1993, hal. 143.

[15] Nezar Patria dan Andi Arief, Antonio Gramsci: Negara Dan Hegemoni, Pustaka Pelajar: Jogjakarta, 1999, hal. 30.

[16] Takashi Shirashi, Zaman Bergerak, Radikalisasi Rakyat di Jawa 1912-1926, Grafiti Press: Jakarta, 1997, hal. 38.

[17] S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977, hal. 142-

[18] Ibid.

[19] Sekolah Desa hanya mengajarkan membaca, berhitung dan menulis bagi para siswanya.

[20] H. Baudet dan I.J. Brugmans, Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan, (Jakarta: YOI, 1987), hal. 362.

[21] Dalam Lembaran Negara 1903 nomor 389 diganti dengan jika tidak menimbulkan gangguan tata tertib dan keamanan. Dalam Lembaran Negara tahun 1912 nomor 286 ditetapkan bahwa yang bersangkutan harus membuktikan telah tamat sekolah rendah di negeri Belanda atau sekolah rendah dengan pengantar bahasa Belanda di Hindia Belanda, dalam S.L. van der Wal, Op.Cit., hal. 62.

[22] Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Pustaka Jaya: Jakarta, 1984, hal. 75.

[23]Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Gramedia: Jakarta, 1993, hal. 60.

[24] Sekolah frobel merupakan sekolah bahasa, dimana murid akan diajarkan bahasa Belanda.

[25] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, Grafitti Press: Jakarta, 1989, hal. 85.

[26] Soembangsih, Gedenkboek Boedi Oetomo, 1908-1918, Tijdschrift Nederlandsche Oud & Nieuw, Amsterdam, 1918, hal. 17, dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua, Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982,  hal.131.

[27] M.C. Ricklefs, Op.Cit., hal. 260, lihat juga Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES: Jakarta, 1996, hal. 95.

[28] Publicatie Hollandsche Inlandsche Onderwijsche Commisie No. 12 hal. 7b dalam Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933.[28]

[29] Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933, dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Op.Cit., hal. 183. Bandingkan dengan tabel 1 mengenai Pertumbuhan Perdagangan di Hindia Belanda.

[30] Dari Pejabat Sementara Penasehat Urusan Bumiputera (R.A. Kern) kepada Gubernur Jenderal (Fock), 24 Januari 1924, dalam S.L. van der Wal, Op.Cit., hal. 68.

[31] Mestika Zeid, Pendidikan Nasional dan Masalah Distribusi Ilmu Pengetahuan, MSI dan Gramedia: Jakarta, 1991, hal. 24

(phesolo)

MASYARAKAT DAN PERUBAHAN SOSIAL: SURAKARTA AWAL ABAD XX

 

Tengah Passar Besar-Solo 1895 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada awal abad XX tumbuh elit modern Indonesia yang gejala dan prosesnya juga tampak dalam konteks lokal Surakarta yang semula merupakan kota kerajaan di pedalaman yang diawasi pemerintah kolonial, mulai berubah wajah dan semangatnya. Perubahan ini disebabkan berbagai faktor yang mendorong berbagai kemajuan di tanah kerajaan berkaitan dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, mulai dari status kerajaan hingga berbagai kebijakan ekonomi – politik kolonial.

A.   Struktur Masyarakat

Surakarta sejak lama telah berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Kehadiran bangsa-bangsa lain maupun etnis lain dari luar Surakarta menyebabkan pertemuan beberapa kebudayaan yang berlainan itu semakin “erat”. Kebudayaan asing yang masing-masing didukung oleh etnik berbeda mempunyai struktur sosial yang berbeda pula, bercampur dalam wilayah Surakarta. Akibat pertemuan kebudayaan tersebut, kebudayaan Jawa di Surakarta diperkaya dengan berbagai kebudayaan lain. Lambat laun pengaruh tersebut semakin besar mempengaruhi berbagai bidang dan unsur kebudayaan. Terkait dengan pertemuan berbagai kebudayaan itu menimbulkan perubahan struktur pada masyarakat Jawa. Selain itu wilayah-wilayah kerajaan telah memiliki struktur sosial tradisional yang bertahan hingga pemerintahan kolonial dan bahkan dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian politik kolonialnya.

Banyak ahli antara lain Burger[1], Wertheim[2], Larson[3], Kuntowijoyo[4], Sartono Kartodirdjo[5], Houben[6] dan sebagainya yang telah membahas tentang stratifikasi sosial masyarakat Jawa, khususnya Surakarta. Stratifikasi sosial atau pelapisan masyarakat di Surakarta sangat bertalian dengan kedudukan keraton di dalam struktur sosial di Jawa. Struktur masyarakat di Surakarta memiliki dua anutan yaitu struktur masyarakat tradisional kerajaan dan struktur masyarakat yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Menurut F.A. Sutjipto[7] lapisan atas atau merupakan kelas elite, priyayi luhur, atau wong gede, merupakan kelas yang memerintah. Di strata ini ada raja dan para bangsawan serta pejabat kerajaan. Sebenarnya bila dilihat dalam sistem kategorisasi, kelompok atau golongan ini merupakan kelompok campuran priyayi yang berasal dari darah dalem dengan priyayi yang karena pangkat atau pengabdian. Adapaun lapisan bawah atau rakyat biasa, rakyat kecil atau wong cilik merupakan mayoritas penduduk kelas yang diperintah, baik penduduk kota maupun yang berada di pedesaan. Mereka adalah para pekerja yang tidak terdidik atau sedikit mendapat latihan kerja di perusahaan kecil. Rakyat kecil ini biasanya bekerja sebagai petani, buruh tani, buruh perkebunan dan pabrik serta tukang, perajin dan lainnya.

Sartono Kartodirdjo lebih menekankan pada analisis tentang struktur pada masyarakat Jawa selama jaman kolonial, yang dipusatkan pada ”peranan pekerjaan dan pendidikan serta sebagai indikasi posisi sosial”. Pengamatan perubahan struktur sosial dilakukan oleh Sartono Kartodirdjo dalam perspektif sejarah karena masyarakat Jawa pada masa itu sebagian besar masih berakar pada tradisi lama.[8] Dampak perkembangan pendidikan dan pengajaran, menurut Sartono, menumbuhkan golongan sosial baru yang mempunyai fungsi status baru, sesuai dengan diferensiasi dan spesialisasi dalam bidang sosial ekonomi dan pemerintahan. Lebih lanjut Sartono Kartodirdjo membagi masyarakat Hindia Belanda dalam beberapa kelompok sosial, yaitu: 1) elite birokrasi yang terdiri dari Pangreh Praja Eropa (Europees Binnenlands Bestuur) dan Pangreh Praja Pribumi, 2) Priyayi birokrasi termasuk Priyayi ningrat, 3) Priyayi profesional, 4) golongan Belanda dan golongan Indo yang secara formal masuk status Eropa dan mempunyai tendensi kuat untuk mengidentifikasikan diri dengan pihak Eropa, dan 5) orang kecil (wong cilik) yang tinggal di kampung[9].

Struktur sosial tradisional menempatkan raja dan priyayi sebagai kelas penguasa sedangkan rakyat biasa yang terdiri dari petani, pedagang sebagai kelas yang diperintah. Struktur masyarakat tradisional ini mulai dirombak oleh pemerintah kolonial Belanda semenjak diberlakukannya politik liberal dan dilanjutkan hingga politik etis diberlakukan. Dengan direduksinya kekuasaan feodal Surakarta maka struktur masyarakat Surakarta pada masa awal abad XX mengalami perubahan dengan diberlakukannya struktur masyarakat yang dibuat oleh pemerintah kolonial yaitu golongan Eropa menempati piramida tertinggi dilanjutkan dengan golongan Timur asing yang terdiri dari bangsa China, Arab dan asia lainnya. Masyarakat pribumi Surakarta ditempatkan sebagai masyarakat kelas bawah dalam struktur masyarakat kolonial Belanda.

 

Gambar 1. Bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta tahun 1915 (Sumber: www.kitlv.nl).

Konsekuensi dari pembagian struktur masyarakat kolonial di Surakarta adalah berhubungan dengan politik yaitu untuk melemahkan kekuasaan golongan bangsawan yang memiliki kekuasaan penuh dalam struktur masyarakat tradisional. Walaupun begitu, pemerintah kolonial Belanda tidak menghapuskan struktur masyarakat tradisional di Surakarta secara penuh, struktur masyarakat tradisional ini digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam mengatur masyarakat di wilayah Surakarta. Selain itu, pembagian struktur masyarakat kolonial ini juga memberikan hak dan kewajiban yang berbeda dalam kehidupan masyarakat di Surakarta.

Suhartono[10] menggambarkan bahwa masyarakat Surakarta terbagi dalam dua golongan sosial yang besar yaitu golongan atas yang terdiri dari para bangsawan dam priyayi, dan golongan bawah yang terdiri dari petani, buruh tani, pedagang, tukang, perajin dan lain-lain. Bangsawan adalah golongan sosial atas yang memiliki hubungan genealogi dengan raja. Mereka merupakan sentana atau keluarga raja. Priyayi juga termasuk golongan sosial atas dan mereka merupakan pejabat dalam pemerintahan kerajaan atau narapraja.

 

Gambar 2. Raden Adipati Sosrodiningrat rijksbestuurder Surakarta bersama para nayaka tahun 1900 (Sumber: www.kitlv.nl).

Dua golongan sosial yaitu priyayi dan wong cilik menempati wadah budaya yang berbeda yang ditunjukkan oleh struktur apanage. Di satu pihak, priyayi dengan gaya hidupnya, kebiasaan, makanan, dan pakaian, serta simbol-simbolnya menunjukkan gaya aristokrat. Keadaan semacam ini menjadi pola ideal bagi priyayi, bahkan Dezentje, penyewa tanah asing yang luas meniru gaya hidup bangsawan Jawa. Di lain pihak bagi wong cilik, lingkungan pedesaan banyak mempengaruhi tingkah laku mereka. Kebiasaan polos, terbuka, dan kasar merupakan bentuk budaya pedesaan.

 

Gambar 3. Masyarakat desa di Surakarta sebagai penjual arang dan pengrajin anyaman pandan tahun 1920 (Sumber: www.kitlv.nl).

Status sosial memiliki hirarki yang terdiri dari golongan-golongan sosial sebagai berikut, golongan penguasa, bangsawan, dan priyayi menempati status sosial atas. Para elit birokrat yang mendapatkan tanah apanage membentuk golongan penguasa. Mereka hidup dari pajeg, pundhutan, dan berbagai layanan. Status sosial serta hak-hak pribadi mereka dapat diketahui dari gelar dan lambang yang dipakai yang menunjukkan dari golongan mana mereka berasal.

Bersamaan dengan perkembangan birokrasi kolonial dan agro-industri pada pertengahan abad XIX, golongan birokrat makin kuat statusnya untuk mendukung pelaksanaan administrasi kolonial. Banyak jabatan dalam pemerintahan kolonial mulai diisi oleh priyayi cilik, seperti juru tulis, penarik pajak dan kasir sampai dengan pengawas-pengawasnya dengan gelar mantri. Jadi kedudukan golongan bangsawan dalam birokrasi kolonial maupun dalam pemerintahan kerajaan mulai tergeser setelah masuknya golongan priyayi cilik.

Kuntowijoyo[11] menegaskan bahwa keberadaan priyayi cilik yang mampu menguasai kedudukan dalam birokrasi kerajaan maupun birokrasi kolonial dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu suwita pada priyayi tinggi kemudian magang pada salah satu profesi. Diwisuda menjadi priyayi sungguhan adalah sebuah kehormatan bagi seseorang. Maka mata rantai kepriyayian yang bergerak dari bawah ke atas itu menjadikan politik bagi priyayi adalah patron-client politics. Hal ini berlaku baik bagi priyayi yang bekerja dalam pemerintahan maupun yang bekerja sebagai abdi dalem keraton.

B.   Modernisasi

Perkembangan Masyarakat di kota Surakarta dalam perjalanannya ditunjang dan dibatasi oleh kondisi-kondisi kekinian masyarakat. Tingkat perkembangan masyarakat di Surakarta merupakan hasil dari proses perkembangan jaman yang dipahami bukan sebagai proses yang bersifat kebetulan, melainkan sebagai fenomena historis. Keunikan-keunikan yang terkandung di dalamnya akan dapat dipahami dengan lebih baik apabila realitas-realitas sosio kultural masyarakat tempat berlangsungnya proses perubahan itu tidak dikesampingkan.

Ketika Surakarta mulai bersentuhan dengan modernisasi, masyarakat di daerah ini terbentuk atas beberapa etnis. Selain kelompok pribumi yang menduduki jumlah terbesar, terdapat pula sekelompok orang-orang Eropa dan Timur Asing. Pada tahun 1920 jumlah penduduk Karesidenan Surakarta mencapai 2.049.547 penduduk dan mengalami kenaikan jumlah penduduk ketika sensus pertama kali dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1930 menjadi 2.564.460 penduduk.[12] Sedangkan penduduk kota Surakarta sendiri pada tahun 1920 berjumlah 343.681 penduduk dan mengalami kenaikan pada tahun 1930 menjadi 391.734 penduduk. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 1.

Jumlah Penduduk di Karesidenan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran Tahun 1920 dan Tahun 1930

Kabupaten

Banyaknya Jumlah Penduduk

Luas Wilayah (km)

Banyak Penduduk dalam km

1920

1930

1920

1930

Surakarta

343.681

391.734

5247

656

747

Sragen

244.943

323.621

9953

256

325

Klaten

476.364

574.788

7258

657

792

Boyolali

286.538

378.063

10643

270

355

Jumlah

1.351.526

1.666.906

33101

408

504

Mangkunegaran

217.524

321.441

8127

267

395

Wonogiri

480.497

576.113

19287

244

298

Jumlah

698.021

897.554

27414

218

327

Jumlah Keseluruhan

2.049.547

2.564.460

60515

337

424

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Sedangkan penduduk yang bertempat tinggal di kota khususnya Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran berjumlah 163.013 jiwa, yaitu di pusat kota Surakarta berjumlah 127.830 jiwa dan Kadipaten Mangkunegaran berjumlah 35.183. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 2.

Jumlah Penduduk Yang Tinggal di Kota Tahun 1930

Kota

Banyak Penduduk

Luas Wilayah (km)

Banyak Penduduk dalam km

Surakarta

127.830

20

6.391

Kadipaten Mangkunegaran

35.183

4

9.021

Klaten

12.166

2

6.083

Boyolali

10.166

54

1.804

Sragen

15.381

62

2.461

Wonogiri

7.831

49

1.598

Jumlah

208.557

191

27.358

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan banyak disebabkan semakin berkembangnya kota Surakarta awal abad XX dengan banyak dibangunnya infrastruktur kota dan juga pembukaan industri-industri baru yang banyak membutuhkan tenaga kerja baru. Sehingga terjadi arus urbanisasi dari pedesaan-pedesaan ke kota yang baru berkembang. Hal ini mengindikasikan bahwa kota Surakarta menjadi tempat yang cukup memberikan harapan bagi usaha-usaha di bidang ekonomi.

Jumlah penduduk di Surakarta pada tahun 1930 memiliki keberagaman suku bangsa. Penduduk pribumi yang tinggal di Surakarta menempati jumlah yang cukup besar selanjutnya diikuti oleh masyarakat Cina, Eropa dan Arab. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 3.

Jumlah Penduduk di Karesidenan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran Menurut Suku Bangsa Tahun 1930.

Kabupaten

Jumlah Penduduk

Pribumi

Belanda

China

Arab

Surakarta

377.153

2.493

10.745

1.343

Sragen

321.385

474

946

16

Klaten

569.422

1.754

3.580

32

Boyolali

376.445

466

641

11

Mangkunegaran

317.558

1.222

2.593

68

Wonogiri

574.463

45

1.600

5

Kota Wilayah Dalem Surakarta I

32.541

873

1.708

61

Wilayah Kadipaten Mangkunegaran I

114.607

2.330

9.566

1.327

Jumlah

2.683.574

9.657

31.379

2.863

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah pribumi yang tinggal di wilayah Surakarta cukup besar dan masyarakat pribumi tersebar diberbagai pelosok desa maupun kota Surakarta. Sebagian besar masyarakat pribumi yang hidup di pedesaan hidup sebagai petani maupun buruh perkebunan yang dimiliki oleh orang Eropa maupun China.

 

Gambar 4. Sebuah perkampungan di desa Djawa (Sumber: P.H. Van Moerkerken J.R dan R. Noordhoof, Atalas Gambar-Gambar Akan Dipakai Oentoek Pengadjaran Ilmoe Boemi, Amsterdam-S.L. van Looy: Balai Pustaka, 1922).

Penduduk Eropa dan Belanda banyak tinggal di daerah perkotaan dengan ditandai adanya bangunan yang disebut “loji” dan berada di daerah dekat dengan benteng Vastenburg serta alun-alun utara. Biasanya mereka bekerja sebagai pejabat Gouvernement ataupun sebagai pengusaha perkebunan swasta, dinas militer, dan sebagainya.

 

Gambar 5. Logegebouw van de vrijmetselarij te Soerakarta 1900 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Jumlah penduduk yang berasal dari Timur Asing di wilayah Surakarta cukup besar dan biasanya mereka tinggal dekat dengan pusat ekonomi dan memiliki wilayah tersendiri yang tidak bercampur dengan penduduk pribumi. Pembagian ini dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dapat mengawasi pergerakan masyarakat Timur Asing dan pribumi secara bersama. Masyarakat Timur Asing China berada di wilayah Balong dan dekat dengan pusat ekonomi pasar Gedhe sedangkan masyarakat Arab banyak menempati wilayah Pasar Kliwon.[13] Masyarakat Timur Asing, China dan Arab beraktivitas sebagai pedagang perantara yang cukup berperan besar dalam menjalankan perekonomian kota Surakarta.

 

Gambar 6. Daerah Pasar Kliwon pada tahun 1900 sebagai wilayah pemukiman masyarakat Arab (Sumber: www.kitlv.nl).

Gambar di atas menunjukkan wilayah Pasar Kliwon yang masih berupa kampung dengan jalan yang cukup luas sebagai penghubung dengan wilayah kota Surakarta. Di wilayah ini sebagian masyarakat Arab dan pribumi tinggal dengan rumah-rumah yang masih sederhana. Sedangkan pemukiman masyarakat China telah menunjukkan kemajuan dalam bangunan fisik dengan gedung yang ditembok dan juga terletak di pinggir jalan yang cukup luas.

 

Gambar 7. Perkampungan China di Surakarta tahun 1901-1902 (Sumber: www.kitlv.nl)

Seiring dengan pertumbuhan sektor demografi dan ekonomi di daerah Surakarta, maka sektor transportasi juga mengalami perkembangan. Kalau sebelumnya alat transportasi didominasi oleh kereta-kereta yang ditarik hewan, maka setelah diperkenalkannya kereta api, alat-alat transportasi tersebut mulai ditinggalkan. Pembuatan jaringan transportasi kereta api di Surakarta dilaksanakan pada tahun 1862 atas desakan van de Putte dengan jalan kereta api yang menghubungkan kota Semarang dengan Vorstenlanden, dibuat dan dikerjakan oleh pihak swasta Belanda, yaitu NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschapij). Pembangunan jalur kereta api ini menggunakan upah tenaga dari daerah Blora, Rembang, dan Jepara.[14] Jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden terbagi menjadi empat bagian, pertama, rute Semarang-Kedungjati dibagi dua yaitu Semarang-Tanggung dan Tanggung-Kedungjati dimulai tahun 1864-1867. Kedua, dari Kedungjati-Surakarta, ketiga, dari Surakarta ke Yogyakarta dan terakhir dari Kedungjati ke Ambarawa.[15]

Pembangunan jaringan kereta api ini dimaksudkan sebagai sarana penunjang eksploitasi dari perkebunan tebu yang sedang berkembang dan menghasilkan produksi gula sangat besar di wilayah Surakarta. Di wilayah Surakarta sendiri terdapat 16 buah pabrik gula yang dimiliki oleh bangsa Eropa maupun kerajaan.[16] Artinya bahwa jaringan kereta ini hanya digunakan sebagai pengangkut barang dari pedalaman ke pelabuhan untuk diekspor, tetapi dalam perjalanan waktu, sarana transportasi ini digunakan sebagai sarana mengangkut manusia. Penambahan fungsi ini membawa dampak semakin meluasnya transformasi nilai-nilai ke daerah pedalaman melalui mobilisasi manusia dari kota-kota pelabuhan ke kota-kota di pedalaman.

Di Surakarta pengadaan trem untuk angkutan terjadi pada sekitar tahun 1900 yang dimulai dari pusat kota, yaitu dari halte di depan Benteng Vastenburg. Trem ini ditarik dengan kuda yang pada setiap pos akan berhenti karena menjadi tempat naik turunnya penumpang. Rute yang dilalui dari Benteng Vastenburg ke arah selatan ke barat menuju Purwosari,[17] trem berhenti sekali di Kauman menuju Derpoyudan sebelah barat Nonongan, ke barat sampai di halte Pasar Pon, dari situ kereta dapat bersimpangan dengan trem yang datang dari barat. Perjalanan trem melintasi jalan besar di sebelah selatan ke barat berhenti di Bendha depan Sriwedari menuju Pesanggrahan (Ngadisuryan) berbelok ke utara memotong jalan besar sampai stasiun Purwosari dan berhenti di situ. Dari Purwosari kereta menuju ke barat dan berakhir di Dusun Gembongan di mana ada pabrik gula. Trem berhenti di situ sebagai pengangkut punggawa pabrik yang akan pergi ke Solo.

Trem yang ditarik oleh empat ekor kuda itu hanya memiliki satu gerbong dan setiap empat kilometer kuda tersebut diganti. Gerbong itu berisi sekitar 20 orang. Penumpangnya adalah orang-orang Belanda dan China. Sementara itu, untuk orang pribumi sendiri sangat sedikit jumlahnya karena ongkos yang mahal sehingga para pembesar dan saudagar saja yang mampu membayarnya.[18] Selain itu, jalur kereta yang menghubungkan Surakarta-Boyolali telah dibangun pula pada tahun 1908 dengan panajang 27 km dan dikelola oleh Soloshe Tramweg Mij.[19]

 

Gambar 8. Peresmian Jalur Tram Oleh Solosche Tramweg Maatschappij tahun 1880 (Sumber: www.kitlv.nl).

Perluasan jaringan trem dan kereta api berdampak pada pertumbuhan kota. Pertama, dilihat dari pusat keramaian di stasiun sebagai tempat berhentinya kereta. Stasiun menjadi tempat berkumpulnya manusia dan terakumulasi dengan berbagai sikap , perilakunya. Selain itu, stasiun menjadi tempat aktivitas ekonomi seperti warung, dan rumah makan juga para pedagang kecil yang menjajakan dagangan di dalam kereta. Kedua, munculnya pusat kehidupan yang lebih banyak pada jalur-jalur kereta api. Tempat-tempat yang terisolasi jauh dari kota dapat dijangkau. Bangunan seperti pasar, hotel, bengkel kereta dan bangunan barunya bermunculan untuk keperluan perluasan jaringan kereta api. Pada perkembangan selanjutnya juga ada dinas jaringan telepon untuk melengkapi jaringan komunikasi ini.[20]

Perusahaan kereta api, gas, listrik, air minum, jaringan telepon mengubah segi fisik kota dengan jalan-jalan baru, gedung-gedung, sekolah, gedung pertemuan, asrama-asrama dan rumah sakit. Berbagai segi perkembangan fisik kota dengan pemukiman baru berpengaruh dalam cara berpikir penduduk kota di Surakarta. Kota kerajaan tumbuh menjadi kota dalam situasi kolonial dengan kemudahan-kemudahan baru yang tidak terdapat dalam kota tradisional. Perkembangan itu turut membentuk Surakarta sebagai kota yang dapat menampung tumbuhnya organisasi sosial dan pergerakan nasional.

Dalam situasi kolonial terbukalah masalah-masalah yang menyangkut penggunaan tanah, tenaga kerja dan modal yang diperlukan sebagai keseimbangan perubahan administrasi pemerintahan. Pasaran tenaga kerja makin terbuka, baik dalam hubungan pengisian susunan jabatan pemerintah maupun pada perusahaan dan industri perkebunan yang meluas horizontal dan secara terbatas terjadi mobilitas vertikal. Di samping itu, perluasan gagasan Barat tentang kebebasan, hak mengatur diri sendiri, demokrasi dan kemajuan melai melekat pada banyak pribadi elite kota.

C.   Perkembangan Pendidikan dan Pers di Surakarta

Semenjak permulaan abad XX, di kalangan orang-orang Belanda timbul aliran baru yang bermaksud untuk memberikan sebagian keuntungan yang diperoleh oleh orang-orang Belanda kepada rakyat Bumiputera. Aliran ini berpendapat bahwa sudah saatnya rakyat Bumiputera diperkenalkan dengan kebudayaan dan pengetahuan Barat agar dapat dijadikan bekal hidupnya kelak dikemudian hari. Gagasan dari aliran baru ini kemudian dikenal dengan Politik Etis, yang dijalankan dengan berpijak pada tiga prinsip dasar yaitu pendidikan, perpindahan penduduk dan pengairan.

Politik Etis awalnya dipelopori oleh C. Th. Van Deventer melalui artikelnya yang berjudul Een Eereschuld atau hutang kehormatan, di dalam majalah berkala de Gids. Ia mengatakan bahwa negeri Belanda telah berhutang kepada penduduk pribumi terhadap kekayaan yang telah diperas dari negeri mereka. Hutang ini sebaiknya dibayarkan kembali dengan jalan memberi prioritas utama kepada kepentingan pribumi di dalam kebijakan kolonial.[21]

Pelaksanaan politik Etis sendiri jauh dari harapan seperti yang telah dijanjikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Secara nyata bahwa politik Etis semakin memperkuat eksploitasi kolonial terhadap masyarakat pribumi. Namun, secara tidak langsung telah mendorong perubahan sosial budaya dalam kalangan Bumiputera. Perubahan sebagian besar disebabkan adanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan Barat dan pola pikir rakyat Bumiputera yang ditandai dengan munculnya kaum intelektual. Tampaknya kaum intelektual telah pula memberikan tenaga dan pikiran untuk membangkitkan semangat bangsa yang terpecah belah dalam kebodohan oleh kaum penjajah.[22] Bahkan sejumlah elit intelektual ini telah mengobarkan semangat pergerakan nasional.

Semenjak dijalankannya politik Etis, terlihat adanya kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan. Sebelumnya di Hindia Belanda hanya terdapat dua macam sekolah yang didirikan pada tahun 1892, yaitu Sekolah Angka Satu khusus untuk anak Bumiputera terkemuka dan Sekolah Angka Dua bagi anak Bumiputera pada umumnya. Setelah dijalankannya politik etis terjadi peningkatan jumlah anak yang bersekolah, walaupun secara keseluruhan masih banyak yang belum tersentuh pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari tabel berikut:

Tabel 4.

Jumlah Anak Usia 6-13 Tahun Yang Memerlukan Sekolah dan Yang Telah Bersekolah di Hindia Belanda

Tahun

Penduduk Negeri

Anak-anak Berumur 6-13 tahun

Yang Memerlukan Sekolah

Yang Bersekolah

1900

35.283.248

6.739.101

78.719

1928

58.724.286

11.216.339

1.647.761

Penambahan

23.441.038

4.477.238

1.564.042

Sumber: Hollandsche Inlandsche Onderwijs Commissie, Publicatie No. 7a, hal. 11, dalam Pitut Soeharto, A. Zainoel Ihsan, Belenggu Ganas, Kapita Selecta Kelima, (Jakarta: Aksara Jayasakti, 1982), hal. 186.

Masih banyaknya masyarakat pribumi yang belum bersekolah disebabkan pula oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menciptakan sistem pendidikan bagi masyarakat dengan sistem diskriminasi ras yang didasarkan atas keturunan dan lapisan sosial yang ada. Walaupun terdapat diskriminasi tetapi pendidikan Barat menjadi idaman bagi banyak orang karena dengan pendidikan Barat masyarakat dapat meningkatkan status sosialnya.

1.     Pendidikan di Surakarta

Di Surakarta sendiri terdapat bermacam-macam sekolah model Barat. Menurut data yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di wilayah Surakarta tahun 1930,[23] secara garis besar dikelompokkan sebagai berikut:

a. Sekolah-sekolah negeri berbahasa daerah

Jumlah sekolah-sekolah negeri berbahasa daerah di Surakarta sampai tahun 1930 berjumlah sekitar 22 buah. Terdiri dari 13 Sekolah Angka Dua, 2 Sekolah Meisesschool (Sekolah Putri), dan 7 sekolah-sekolah persiapan pendidikan guru vagi Sekolah Desa (Onderbouw Holland Inlander Kweekschool). Sekolah-sekolah tersebut terdapat di daerah Pasar Kliwon, Laweyan, Serengan, Jebres, Kota Mangkunegaran, dan Colomadu.[24]

 

Gambar 9. Sekolah Putri Bowolaksono di Kauman Solo (Sumber: Koleksi Pribadi).

b. Sekolah-sekolah neutral berbahasa Belanda

Sekolah-sekolah Neutral berbahasa Belanda khusus diperuntukan bagi anak-anak Eropa. Sekolah-sekolah jenis ini mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah-sekolah untuk anak pribumi. Mutu pendidikannya sangat luas, selain memberikan mata pelajaran yang lebih lengkap juga didukung oleh berbagai macam fasilitas yang memadai sebagai penunjang bagi kelancaran proses belajar mengajar. Guru-guru yang mengajar kebanyakan adalah guru-guru berkebangsaan Eropa yang betul-betul mempunyai ijazah Diploma Guru.

Bahasa Belanda merupakan syarat utama dalam penerimaan siswa di sekolah ini, sehingga tidak semua orang dapat memasukkan anaknya ke sekolah ini. Untuk memasuki sekolah ini dibutuhkan biaya yang besar, sehingga hanya orang-orang kaya saja yang mampu menyekolahkan anaknya pada sekolah ini. Lingkungan sekolah yang elit menyebabkan sekolah ini terpisah dari sekolah rakyat kebanyakan, siswa dari sekolah lain yang tidak sederajat tidak berani masuk dalam lingkungan sekolah ini. Kondisi semacam inilah yang semakin memperlebar kesenjangan sosial. Di satu pihak, siswa sekolah ini berkembang menjadi elit yang berbudaya Barat, tetapi terasing dalam lingkungannya sendiri. Di lain pihak, siswa dari sekolah lain yang merupakan masyarakat kebanyakan tetap tidak dapat memperoleh kemajuan yang berarti.

Jumlah sekolah ini di Surakarta ada tiga buah, yaitu HIS Jongen School di Mangkunegaran, HIS Meisesschool di Slompretan dan Schakelschool di Mangkunegaran.[25] Namun dengan jumlah sekolah yang hanya berjumlah tiga buah telah mencukupi kebutuhan pendidikan kalangan Eropa. Bahkan presentase pemenuhan kebutuhan sekolah untuk kalangan Eropa atau yang dianggap sejajar lebih besar dibanding dengan murid pribumi yang dapat bersekolah.

c. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Zending

Salah satu motif kedatangan bangsa Belanda di Hindia Belanda adalah motif theokratis, yaitu penyebaran Injil. Awalnya sasaran penyebarannya dilakukan secara langsung melalui gereja, penerbitan buku-buku Kristen dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan usaha tersebut berkembang dengan pendirian-pendirian rumah sakit dan sarana pendidikan.

Pada awalnya pendirian rumah sakit dan sekolah-sekolah Kristen di Surakarta mendapat tentangan dari Sunan dan Residen Van Wijk. Akhirnya sekolah Kristen di Surakarta mendapat ijin dan pertama kali diperkenalkan dan dibuka oleh Perkumpulan Zending van de Gereformeerde Kerk te Delf, yang terdiri dari C. Van Proosdij, Van Ansel, C.J. De Zomer, G.C.E. de Man serta pendeta Bekker.

Sekolah ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu sekolah yang dibuka khusus bagi anak-anak Eropa atau yang sederajat serta sekolah Kristen untuk anak Bumiputera. Dalam kurikulumnya selain memperkenalkan ajaran-ajaran Kristen juga memperkenalkan kebudayaan Barat seperti cara berpakaian, cara makan, belajar dan lainnya. Bahasa Belanda menjadi kurikulum pelajaran yang penting, bahasa ini juga digunakan sebagai bahasa pergaulan. Untuk mendukung program di atas maka siswa maupun guru-guru yang mengajar diharuskan tinggal di asrama yang telah disediakan dan sehari-harinya diwajibkan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Aturan-aturan ini menyebabkan orang-orang yang dididik di tempat tersebut terpisah dari budaya Jawa, lebih-lebih Zending juga mampu menampung para alumni sekolahnya dengan memberikan lapangan pekerjaan di berbagai bidang.

Tujuan dari sekolah ini yaitu menyebarkan ajaran agama Kristen dan sesuai dengan tujuan pemerintah kolonial Belanda maka sekolah ini mendapatkan bantuan dan kemudahan dari pemerintah kolonial. Dalam waktu singkat sekolah-sekolah ini berkembang dengan pesat, di Surakarta sendiri sekolah ini pada tahun 1930 berjumlah 20 buah yang tersebar di daerah Margoyudan, Villapark (dekat Pasar Legi), Sidokare, Jebres, Kerten, Gemblegan, Danukusuman, Kawatan, Gilingan dan Manahan.[26]

d. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Missie

Sekolah Katolik berhasil didirikan oleh Pastor Keyser di daerah Yogyakarta dan Klaten pada tahun 1892 dan sebelumnya telah didirikan pula sekolah yang sama pada tahun 1890 di Semarang dan Magelang. Semula sekolah ini bercorak Europees yang netral dengan memberi kebebasan kepada murid-muridnya untuk mengikuti atau tidak mengikuti pelajaran agama Katolik. Dalam perkembangan selanjutnya dengan masuknya ajaran Kotekismus, pelajaran agama Katolik menjadi pelajaran wajib dan diajarkan juga melalui peraturan-peraturan dalam asrama siswa. [27]

Sekolah Katolik didirikan di Surakarta pada tahun 1921 dan terus berkembang dengan bantuan pemerintah melalui penyediaan dana dan fasilitas. Hingga tahun 1930, jumlah sekolah Katolik di Surakarta berjumlah 17 buah yang meliputi satu sekolah MULO, satu Sekolah ELS, dua buah HIS, satu buah HIS yang khusus bagi perempuan, sepuluh buah Standarschool, satu buah HCS dan dua buah Meijesvervolkschool. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di daerah Margoyudan, Manahan, Gajahan dan Pasar Legi.[28]

e. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah

Perkembangan sekolah-sekolah Neutral, Zending dan Missie yang pesat, mengakibatkan munculnya reaksi negatif terhadap dominasi kultur Barat dalam bidang pendidikan pada awal abad XX. Sekolah-sekolah tersebut menyebabkan banyak pemuda pribumiyang lebih memilih pengajaran Barat, karena dianggap sebagai pintu gerbang ke arah penyerapan ilmu pengetahuan dan lembaga-lembaga baru yang diperkenalkan oleh administrasi kolonial. Di Surakarta reaksi terhadap penginjilan dan munculnya sekolah-sekolah Kristen dan Katolik paling keras ditentang di daerah Laweyan yaitu daerah yang banyak didiami oleh pedagang Islam Ortodoks.[29]

Penentangan dan untuk menghambat penyebaran sekolah berdasarkan agama Kristen dan Katolik maka Muhammadiyah sebagai organisasi Islam mendirikan majelis pendidikan dan pengajaran tahun 1920. Adanya majelis pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah menyebabkan meluasnya perkembangan sekolah Muhammadiyah diberbagai daerah termasuk di Surakarta. Pada tahun 1930 tercatat ada sepuluh buah sekolah Muhammadiyah di Surakarta yang sebagian besar terdiri atas sekolah Standarschool. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Mangkunegaran, Notokusuman, Kleco, Kampung Sewu, Kauman, Serengan, dan Pasar Legi.[30]

f. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Budi Utomo

Selain sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda dan sekolah yang dijalankan oleh organisasi keagamaan, pada masa awal abad ke 20 telah banyak bermunculan organisasi pergerakan nasional. Budi Utomo adalah organisasi pergerakan nasional yang memiliki perhatian terhadap kemajuan pendidikan Bumiputera.

Budi Utomo di Surakarta memiliki anggota yang sebagian besar adalah priyayi, sehingga dalam merealisasikan program pendidikannya lebih mengutamakan pendidikan tingkat tinggi bagi anggotanya yang sebagian besar adalah priyayi. Pendidikan tingkat dasar dan menengah bagi kaum pribumi secara menyeluruh kurang mendapatkan perhatian yang besar dari organisasi ini.

Di Surakarta, Budi Utomo hanya mendirikan Standardschool di empat desa yaitu Loemboeng Wetan, Timuran, Colomadu dan Tegalgondo.[31] Pendiriannya memperoleh bantuan dari sekolah-sekolah barat yang telah ada. Sekolah-sekolah tersebut tidak pernah menjadi besar, sebab selain kekurangan dana, Budi Utomo tidak cukup progresif dalam menghadapi peraturan-peraturan pemerintah yang membuat batasan dalam bidang pendidikan.[32]

g. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh pihak Kerajaan

Perkembangan pendidikan modern yang dikelola oleh Kerajaan dimulai dengan didirikannya HIS Kastriyan pada tanggal 1 November 1910 yang disusul kemudian dengan pendirian Froberschool Pamardi Siwi pada tanggal 26 Agustus 1926 dan yang terkahir adalah pendirian HIS Pamardi Putri pada tanggal 1 Juli 1927.[33] Sekolah-sekolah ini khusus diperuntukkan bagi keluarga bangsawan dan priyayi tingkat tinggi.

Pendirian-pendirian sekolah-sekolah model barat tersebut pihak Keraton Kasunanan juga mendirikan sekolah bagi rakyat kebanyakan. Sekolah formal bagi rakyat bumiputera ini dinamakan Sekolah Desa (Volkschool) dengan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dan lama pendidikannya adalah 3 tahun. Jumlah sekolah ini di Kasunanan pada tahun 1923 masih sedikit barulah mulai tahun 1925 jumlahnya bertambah berkat kerjasama antara pemerintah Kerajaan, pemerintah kolonial Belanda dan desa. Dalam pendirian sekolah ini, pihak Kasunanan memberikan bantuan biaya pembuatan gedung dan mebel, pihak pemerintah kolonial Belanda memberikan peralatan mengajar seperti buku-buku, sedangkan pihak desa membayar gaji guru-gurunya.[34] Hingga tahun 1933 jumlah Sekolah Desa telah mencapai 66 buah sekolah dan bertambah menjadi 153 buah sekolah pada tahun 1938.[35]

Selain sekolah desa pihak Kasunanan juga mendirikan sekolah bagi anak-anak abdi dalem Mutihan yang diberi nama Mambaul Ulum yang didirikan pada tahun 1905. Sekolah ini menghasilkan kader-kader ulama dan mendidik calon pejabat keagamaan yang ahli dan cakap. Dalam perkembangannya sekolah ini juga menerima murid anak-anak putro sentana dan anggota masyarakat lain.

2.     Pers di Surakarta

Perkembangan pers di kota Surakarta merupakan bentuk modernisasi yang terjadi di kota ini. Sejak masa kolonial kota Surakarta merupakan tempat dimana pers tumbuh dan berkembang secara dinamis, dan merupakan tempat pertama perkembangan pers pribumi dan memasuki abad XX pers di Surakarta berkembang pesat bersamaan dengan munculnya pergerakan nasional.[36]

Surat kabar pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 1615 oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jendral pertama VOC di Batavia. Surat kabar tersebut bernama Memorie der Nouvelles yang ditulis dengan tangan.[37] Memorie der Nouvelles ternyata tidak hanya dibaca oleh orang Batavia saja, tetapi samapai tahun 1644 merupakan pembawa berita-berita dari Nedherland serta kepulauan lainnya dan menjadi bacaan tetap bagi pejabat Belanda di Ambon.

Pada tanggal 7 Agustus 1744 surat kabar atau koran pertama yang dicetak dan diterbitkan di Batavia dengan nama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes yang disingkat menjadi Bataviasche Nouvelles yang dipimpin oleh Jan Erdman Jordens.[38] Koran ini terdiri dari selembar kertas folio yang dicetak atas tiga kolom dan terbit setiap hari Senin. Surat kabar ini memuat pengumuman-pengumuman pemerintah, berita-berita dagang, kapal, kemudian terdapat juga iklan, umumnya berita mengenai kematian, penguburan, penawaran dan pembelian barang.[39]

Sejarah pers dan wartawan di Surakarta dimulai sejak terbitnya surat kabar Bromartani pada tahun 1855. Surat kabar ini diperuntukkan bagi kaum pribumi dengan menggunakan bahasa dan aksara Jawa serta terbit setiap hari kamis. Surat kabar Bromartani pada awalnya terbit secara teratur dengan menerbitkan nomor-nomor contoh sebagai perkenalan dan ajakan kepada pembaca agar suka berlangganan dan memasang iklan.[40]

Memasuki permulaan abad XX penerbitan surat kabar di Surakarta semakin semarak berkaitan dengan tumbuhnya organisasi-organisasi pergerakan. Surat kabar dijadikan sebagai alat propaganda tujuan dari organisasi-organisasi tersebut, hal ini juga dilakukan oleh surat kabar yang dimiliki oleh pemerintah kolonial maupun surat kabar milik bangsa Eropa lainnya. Isi dari surat kabar-surat kabar yang terbit di Surakarta beraneka ragam selain berita-berita juga biasanya berisi iklan-iklan sebagai bagian dari pembiayaan surat kabar tersebut.[41]

Penerbit di Surakarta pada tahun 1912 tercatat sebanyak 9 buah dengan menerbitkan berbagai macam terbitan seperti surat kabar, majalah maupun buku-buku. Surat kabar yang terbit di Surakarta hingga akhir masa pemerintahan kolonial Belanda tercatat sebanyak 62 buah.[42] Dengan terbitan sebanyak itu menjadikan kota Surakarta menjadi kota yang dinamis terhadap masuknya pengaruh berbagai kebudayaan terutama budaya Eropa.


[1] D.H. Burger, Perubahan-Perubahan Struktur dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Bharata, 1983).

[2] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999).

[3] George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990).

[4] Kuntowijoyo, Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta 1900-1915, (Yogyakarta: Ombak, 2004).

[5] Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jilid 2, (Jakarta: PT Gramedia, 1993), hal. 92.

[6] Vincent J.H. Houben, Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870, (Yogyakarta: Bentang, 2002), hal. 604.

[7] F.A. Sutjipto, Beberapa Aspek Kehidupan Priyayi Jawa Masa Dahulu, (Yogyakarta: Jurusan Sejarah UGM, Seri Bacaan Sejarah Indonesia, No. 11, t.t.), hal. 1-2.

[8] Sartono Kartodirdjo, Sejarah…loc.cit.

[9] Sartono Kartodirdjo, Perkembangan Peradaban Priyayi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1987), hal. 11.

[10] Suhartono, Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta 1830-1920, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hal. 32-33.

[11] Kuntowijoyo, Raja, Priyayi dan Kawula: Surakarta 1900-1915, ( Yogayakarta: Ombak, 2004), hal. 109.

[12] Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

[13] A.P.E. Korver, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil?, Grafiti Pers: Jakarta, 1985, hlm. 12-13.

[14] Benny Juwono, “Etnik Cina di Surakarta 1890-1927”, dalam Lembaran Sejarah, Vol. 2 No. 1, (Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1999), hal. 57.

[15] Djoko Suryo, Sejarah Sosial Pedesaan Karesidenan Semarang 1830-1900, (Yogyakarta: PAU Studi Sosial UGM, 1989), hal. 111-112.

[16] Suhartono, loc.cit., hal. 89.

[17] Stasiun Purwosari didirikan tahun 1875 dan hingga kini stasiun ini masih berfungsi. Struktur bangunan utama dengan dinding batu bata dan rangka baja, bahan penutup atap dari seng. Sidharta Eko Budiharjo, Konservasi dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press), hal. 81.

[18] R. M. Sajid, Babad Sala, (Solo: Reksopustoko, 1984), hal. 68-69.

[19] History of Railways in Indonesia, dalam http://www.londoh.com.

[20] Benny Juwono, loc. cit., hal. 58.

[21] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Jogjakarta: UGM Press, 1995), hal. 228.

[22] P.Z. Leirissa, Terwujudnya Suatu Gagasan Sejarah Masyarakat Indonesia 1900-1950, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), hal. 67.

[23] Opgave van Openvare Onderwijsriehtingen in Het Gewest Soerakarta, (Surakarta: Arsip Mangkunegaran tahun 1931, No. B 108).

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] Ibid.

[27] H. Baudet dan I.J. Brugmans, Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan, (Jakarta: YOI, 1987), hal. 362.

[28] Opgave van Openvare Onderwijsriehtingen in Het Gewest Soerakarta, (Surakarta: Arsip Mangkunegaran tahun 1931, No. B 108).

[29] George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Dunia Politik di Surakarta 1912-1942, (Jogjakarta: Gajah Mada University Press, 1990), hal. 52.

[30] Opgave van Openvare Onderwijsriehtingen in Het Gewest Soerakarta, (Surakarta: Arsip Mangkunegaran tahun 1931, No. B 108).

[31] Ibid.

[32] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, (Jakarta: Grafitti Press, 1989), hal. 123.

[33] Kabar Paprentahan, (Reksopustaka Mangkunegaran, 1932), hal. 44.

[34] Kabar Paprentahan, (Reksopustaka Mangkunegaran, 1936), hal. 122-123.

[35] Ibid., hal. 32.

[36] Budaya tulis di Surakarta sendiri telah berlangsung lama dan biasanya sebuah peristiwa dicatat oleh para pujangga keraton dan tidak dipublikasikan secara umum, hasil pencatatan tersebut dalam bentuk babad maupun serat-serat. Pada waktu itu sudah terdapat kertas yang dinamakan kertas gendong atau kertas Ponorogo, dengan media ini para pujangga istana melakukan aktivitas pencatatan-pencatatan.

[37] Soebagijo I.N., Sejarah Pers Indonesia, (Jakarta: Dewan Pers, 1977), hal. 7.

[38] Ibid.

[39] I. Taufik, Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia, (Jakarta: Trinity Pers, 1977), hal. 15.

[40] Marwari Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V, (Jakarta: Depdikbud, 1993), hal. 239.

[41] Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915, (Jogjakarta: Tarawang, 2000), hal. 76.

[42] Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, op.cit.

(phesolo)

Jaran Kepang Tak Seheboh Gangnam Style Tapi Lebih Magis

 

Penari Jaran Kepang (Kuda Lumping) di Jawa tahun 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Beberapa waktu lalu dunia dihebohkan dengan tarian “gangnam style” dari Korea yang dibawakan oleh PSY. Tarian yang mengikuti gaya kuda ini dengan bantuan media massa mulai elektronik hingga cetak mampu mempengaruhi banyak lapisan masyarakat dunia untuk menyukai tarian ini. Banyak orang ramai membicarakan trend ini dari masyarakat kecil hingga selebriti, semua terhipnotis oleh tarian ini. Bahkan official video klip musik dan tarian ini telah dilihat sebanyak lebih dari 1 milyar orang, sesuatu yang fantastis.

Ironisnya ketika masyarakat Korea bersuka-cita dengan keberhasilan PSY dengan gangnam style-nya beberapa waktu lalu di bumi Indonesia yang kaya akan tarian tradisi menakjubkan dihebohkan dengan komentar Gubernur Jawa Tengah yang mengkritik budaya kita sendiri, tarian Jaran Kepang (Kuda Lumping) sebagai seni yang jelek. Padahal seni ini sudah berakar cukup lama sebagai kesenian tradisional yang melampaui berbagai jaman untuk bertahan.

Kuda Lumping (dikenal sebagai Jaran Kepang dalam bahasa Jawa) adalah tarian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok pasukan berkuda. Penari “naik” kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan dihiasi dengan cat warna-warni dan kain. Umumnya, tarian menggambarkan tentara menunggang kuda, tetapi jenis lain dari Kuda Lumping juga mencakup kesurupan dan trik sulap. Ketika “dibawakan” penari sedang melakukan tarian dalam kondisi kesurupan, dia bisa menampilkan kemampuan yang tidak biasa, seperti makan kaca dan resistensi terhadap efek cambuk atau panas bara. Meskipun tarian asli Jawa, Indonesia, tarian ini juga dilakukan oleh masyarakat Jawa di Suriname, Malaysia dan Singapura.

Asal usul Kuda Lumping tidak pasti. Dua hipotesis utama telah diusulkan. Yang pertama menunjukkan bahwa kuda lumping mungkin muncul dari perang Diponegoro melawan pasukan kolonial Belanda, sebagai pemeragaan ritual pertempuran. Yang kedua berpendapat bahwa hal itu didasarkan pada pasukan era Mataram melawan Belanda. Kuda Lumping dikenal dengan nama yang berbeda di daerah yang berbeda. Sementara Kuda Lumping adalah nama yang paling umum di Jawa Barat, di Jawa Tengah itu dikenal sebagai Jaran Kepang, di Bali, itu dikenal sebagai Sang Hyang Jaran.

Jaran Kepang (Kuda Lumping) digandrungi oleh masyarakat bukan melalui hingar bingar pengiklanan budaya oleh media-media. Jaran Kepang (Kuda Lumping) seni yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri. Karena dibangun oleh masyarakat sendiri maka ia mampu bertahan hingga berabad-abad. Tarian ini lebih enak dinikmati selain unsur seninya juga ada unsur mistiknya, sebuah perpaduan seni dan keagamaan. Jadi saya yakin Gangnam Style tidak akan bertahan lama seperti Jaran Kepang, karena ia hanya produk budaya pop yang dihebohkan oleh media untuk mendongkrak rating…..
So, Cintailah Budaya Kita..karena Budaya kita sudah melampaui berbagai jaman dan selalu hidup.

(phesolo)

20 Desember 1911

 

 

Tengku Otteman dari Deli

berangkat ke Batavia untuk meneruskan  pendidikannya

 

1911.

At one time he was given the opportunity to monopoly steamship business in China, but he declined as he was not able to run such a big venture

1911

 

Guguk Malintang Padang Panjang 1911

 

 

 

 

Solok Valley(lembah) 1911

 

 

 

 

 

Rumah Gadang native minang house Solok 1911

 

 

 

 

1913

Batavia

 In 1913, the plague broke out in Java[16] and during this period, the Old Batavia, with its abandoned moats and ramparts, experienced a new boom, as the commercial companies were re-established along the Kali Besar. In a very short period of time, the area of Old Batavia re-established itself as a new commercial center, with 20th-century and 17th-century buildings adjacent to each other

(wiki)

 

1914

 

Johan Henri Azon Jacometti (Lumajang (Nederlands-Indië), 1 september 1887Rhenen, 12 mei 1940) was een Nederlands majoor die sneuvelde in de Slag om de Grebbeberg. Jacometti werd op 27 september 1907 geplaatst op de Koninklijke Militaire Academie als cadet voor de infanterie in Nederlands-Indië. Hij werd in juni 1910 bevorderd van cadet-korporaal tot cadet-sergeant en gedetacheerd te Ede. Bij Koninklijk Besluit van 29 juli 1911 nummer 33 werd hij benoemd tot tweede luitenant en op 30 december van datzelfde jaar vertrok hij met het stoomschip Kawi met onder zijn bevel een detachement van 2 onderofficieren en 20 minderen en met als medebegeleider tweede luitenant A.M. Sierevelt naar Indië. Hij werd bij aankomst geplaatst bij het elfde bataljon en in mei 1913 overgeplaatst bij het garnizoensbataljon van de westerafdeling van Borneo te Pontianak. In december 1914 werd Jacometti bevorderd tot eerste luitenant en in januari 1918 overgeplaatst bij het derde depotbataljon.

 

 

1915

Banten

Label: Perspektif

 

The Reconstruction of Kaibon by LW van Boekhoven 

 

The Ruins of Kaibon in 1915 by Georg Friedrich Johannes Bley 

 

 

 

Anyer in 1915 

 

 

 Waterwork of Pamarayan in 1915

 

Ciujung in 1915

 

1915

Minangkabau

Mulai tahun 1915 orang Silungkang banyak yang menjajakan kain tenun Silungkang di pelabuhan Teluk Bayur ke kapal-kapal Belanda yang akan berangkat pulang ke negerinya begitu juga di Pelabuhan Belawan Medan sedangkan di Pulau Jawa, orang Silungkang ikut berdagang di pasar-pasar malam, yang diadakan Belanda setiap tahun untuk memperingati hari ulang tahun Wiihelmina.

Di samping itu di Padang dan Medan banyak pula orang Silungkang yang menjajakan kain tenun Silungkang ke rumah-rumah pembesar Belanda. Ini semua sangat mendukung pemasaran kain Songket Silungkang, ditambah dengan banyaknya promosi kain songket, kain sarung sutra, sarung pelekat yang dimuat dalam surat-surat kabar di Padang, Jakarta atau di Surabaya. Setiap kali koran itu terbit senantiasa dapat dibaca iklan “Kain

Tenunan Silungkang”. Iklan itu dipasang oleh perusahaan dagang yang besar seperti “Datuk Sati & Co; Muchtar & Co, Sulaiman Labai & Soon dan lain-lain” yang berkantor besar di Silungkang dan mempunyai cabang-cabang di Padang, Jakarta dan Surabaya.

Pada waktu itu, beribu-ribu buah buku catalog / reklame disiarkan melalui pos dan perusahaan-perusahaan dagang tersebut di atas. Iklan dan promosi ini sampai ke seluruh kota-kota di Indonesia, Asia dan Eropa. Sepintas lalu, sealah-olah Silungkang adalah kota dagang yang besar disebabkan iklan-iklan dan reklame-reklame yang disebarluaskan itu. Sebenarnya perusahaan-perusahaan dagang tersebut hanyalah sebagai penyalur hasil produksi pertenunan keluarga dengan modal usaha gotong-royong.

Batang Tabik Payakumbuh 1915

 

 

Batang Tabik merupakan nama sebuah jorong di Kenagarian Sei Kamuyang Kecamatan Luak Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Nama jorong ini diberikan karena sesuai dengan kondisi wilayah yang ada disana. Di wilayah ini terdapat sebuah batang tabik, atau mata air yang keluar dari tanah.

Menurut cerita tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi (oral history), mata air Batang Tabik berasal dari danau Singkarak. Benar atau tidaknya belum diketahui secara pasti.

Namun, satu hal yang jelas mata air ini mengalir terus tanpa henti. Tidak melihat apakah itu musim kemarau. Tetap jumlah airnya tak berkurang. Mengalir sangat banyak.

Menurut folklore yang berkembang di sana, mata air itu menyembur dari tanah, lubang mata air itu dimasukkan sebuah batu yang amat besar ukurannya.

Menurut cerita setempat, fungsi batu besar itu untuk mengurangi debit air yang keluar. Bisa dibayangkan seperti apa besarnya. Jika dulunya tidak ditutupi dengan batu besar itu kemungkinan saat ini daerah yang disebut Batang Tabik itu telah berubah menjadi sebuah danau, barangkali….

lihat pada foto pertama tampak dua anak manusia (barangkali pegawai pemerintah kolonial Belanda) tampak sedang menikmati mandi di Batang Tabik. Foto ini diperoleh dari KITLV dan dinyatakan diambil pada tahun 1915.

 

Namun, jika melihat kondisi pada hari ini (foto kedua) memang jauh berbeda. Pada foto pertama, masih dapay dilihat masih asrinya kawasan pemandian ini, bahkan masih ada satu batang pohon yan rindang di sana.

Namun satu hal yang konkrit, nama Batang Tabik ini dalam perjalanan sejarahnya tidak saja dikenal masyarakat Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota, namun juga masyarakat di luar kedua daerah tersebut. Hingga hari ini, air Batang Tabik ini masih dimanfaatkan PDAM untuk menyupai kebutuhan warga kota Payakumbuh khususnya

1917

In the nineteenth and early twentieth centuries, the KNIL prosecuted the conquest of the Indonesian archipelago. After 1904 the Netherlands East Indies were considered “pacified”, with no large-scale armed opposition to Dutch rule until World War II, and the KNIL served a mainly defensive role protecting the Dutch East Indies from the possibility of foreign invasion. Once the archipelago was considered “pacified” the KNIL was mainly involved with military police tasks. To ensure a sizeable European military segment in the KNIL and reduce costly recruitment in Europe the colonial government introduced obligatory military service for all male conscripts in the European legal class in 1917.[5]

 

 

1915

 

Gambir Fabric at padang bovenlanden(darek) in 1915

 

 

Nias feast  with great ogah ogah poppen at Padang city  in 1915

 

Read related Info

 

Pesta keramaian orang Nias di Padang

Nias People Feast at Padang City in 1915

 

At next page

 

In the rubric ‘Minang Saisuak’ edition of Sunday, March 25, 2012, we have lowered the photos on Nias people dance in Padang. In numbers we present again the visual documentation of the party crowd held by our brothers from the island of Nias that.
Immigrants from Nias including the earliest settlers who inhabited the city of Padang. It is said that they had come to Padang since the glory days of Aceh in the 16th century (or possibly earlier). However, it seems they are not doing spontaneous migration.

Although the Nias people living in the islands of the west coast of Sumatra (the main island: Island of Nias), it seems more oriented to their lives and their land are not so clever in the tradition of seafaring.

Many people of Nias to the west coast of Sumatra island was taken by the people of Aceh. Beach nobility, as in Pariaman and Padang, cultivate their land with the help of slave labor, which are generally imported from the island of Nias.

J.T. Nieuwenhuisen and H.C.B. Rosenberg (1863) said that the tradition of working for someone else to redeem debts, liens, or a slave is already a tradition in the life of Nias in their hometown. It seems that their culture was exploited by outsiders, such as the Aceh. Many of them become people who pawned his inability to pay debts (pandeling; sort of slavery in disguise).

 

 

Several letters from local kings west coast of Sumatra (like Singkil, Trumon, Susoh, Bulusama, etc..) Are now stored in the Library of the University of Leiden, the Netherlands, showed that the Acehnese are merompak township-village on the island of Nias and forcibly brought population to the west coast of Sumatra to ‘sold’ to the rich in order to be employed in the harbor, on the farm and as a houseboy and housemaid (De Stuers 1850, II: 68). In the course of time, finally immigrant communities of Nias Island is part of the Minang on Sumatra’s west coast.
The title photo above (9 × 12 cm.) Is: ‘Niasser feesten met grote poppen te Padang, Sumatra’ (Feast of the Nias with a large doll in Padang, Sumatra). Tarikh-making and mat photo kodaknya unclear.

But by looking at the style of clothing the people captured in these photos can be predicted that this photo was probably made in the late 19th century or early 20th century. Less clear whether this photo was taken in the township and the Nias Palinggam Across Padang or in their residential enclave Kenagarian Tanjuang Basuang, Padang Pariaman District.


The tradition of making dolls are fairly prominent in nations occupants various islands in the Indian Ocean and the Pacific. This photo reminds us of the archaeological sites are found in the tribes of the islands of Melanesia and Micronesia. There may be cultural experts Nias (like Dr. Anatona Gulo, etc..) Who knows the name of this great doll and symbolic significance in the culture of Nias.
Suryadi – Leiden, The Netherlands. (Photo source: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Sunday, July 15, 2012

Original info

Dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ edisi Minggu, 25 Maret 2012, kami sudah menurunkan satu foto tentang tarian orang Nias di Padang. Di nomor ini kami sajikan lagi satu dokumentasi visual tentang pesta keramaian yang diadakan oleh saudara-saudara kita dari Pulau Nias itu.

Imigran dari Nias termasuk pendatang paling awal yang menghuni kota Padang. Konon mereka sudah sampai ke Padang sejak zaman kejayaan Aceh di abad ke-16 (atau mungkin lebih awal lagi). Namun, tampaknya mereka bukan melakukan migrasi spontan. Walaupun orang Nias tinggal di pulau-pulau di pantai barat Sumatra (pulau utama: Pulau Nias), tampaknya kehidupan mereka lebih berorientasi darat dan mereka tidak begitu pintar dalam tradisi pelayaran. Banyak orang Nias yang sampai ke pantai barat pulau Sumatra dibawa oleh orang-orang Aceh. Kaum bangsawan pantai, seperti di Pariaman dan Padang, mengolah tanah-tanah mereka dengan bantuan tenaga budak, yang umumnya didatangkan dari Pulau Nias.

J.T. Nieuwenhuisen dan H.C.B. Rosenberg (1863) mengatakan bahwa tradisi bekerja untuk orang lain penebus hutang, gadai, atau jadi budak sudah merupakan tradisi dalam kehidupan orang Nias di kampung halaman mereka. Tampaknya budaya mereka itu dimanfaatkan oleh orang-orang luar, seperti orang Aceh. Banyak di antara mereka menjadi orang yang tergadai karena tak mampu membayar utang (pandeling; semacam perbudakan terselubung). Beberapa surat dari raja-raja lokal di pantai barat Sumatra (seperti Singkil, Trumon, Susoh, Bulusama, dll.) yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, menunjukkan bahwa orang Aceh sering merompak perkampungan-perkampungan di Pulau Nias dan secara paksa membawa penduduknya ke pantai barat Sumatra untuk ‘dijual’ kepada orang-orang kaya guna dipekerjakan di pelabuhan, di perkebunan dan sebagai jongos dan babu (De Stuers 1850, II:68). Dalam perjalanan waktu, akhirnya komunitas pendatang dari Pulau Nias ini menjadi bagian dari masyarakat Minang di pantai barat Sumatra.

Judulnya foto di atas (9×12 cm.) adalah: ‘Niasser feesten met grote poppen te Padang, Sumatra’ (Pesta orang Nias dengan boneka besar di Padang, Sumatra). Tarikh pembuatan foto ini dan mat kodaknya tidak jelas. Tapi dengan melihat gaya pakaian orang-orang yang terekam dalam foto ini dapat diperkirakan bahwa foto ini mungkin dibuat pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kurang jelas juga apakah foto ini diambil di perkampungan orang Nias Palinggam dan Seberang Padang atau di enclave pemukiman mereka Kenagarian Tanjuang Basuang, Kabupaten Padang Pariaman.

Tradisi membuat boneka besar cukup menonjol pada bangsa-bangsa penghuni berbagai kepulauan di Samudera Hindia dan Pasifik. Foto ini mengingatkan kita pada situs-situs arkeologis yang ditemukan pada suku-suku di Kepulauan Melanesia dan Mikronesia. Mungkin ada ahli kebudayaan Nias (seperti Dr. Anatona Gulo, dll.) yang tahu nama boneka besar ini dan makna simbolisnya dalam kebudayaan Nias.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 15 Juli 2012

 

Sejarah Sabung Ayam Di Nusantara Bukan Sekedar Permainan Semata

 

Sabung Ayam di Bali 1915 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Adu Ayam Jago atau biasa disebut sabung ayam merupakan permainan yang telah dilakukan masyarakat di kepulauan Nusantara sejak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing. Permainan Sabung Ayam di Nusantara ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, budaya maupun politik.

Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berasal dari folklore (cerita rakyat) Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.

 

Anak-anak Menonton Sabung Ayam di Jawa 1900 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada saat itu diarena terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu juga Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh.

Sedangkan di Bali permainan sabung ayam disebut Tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

 

Relief Tentang Sabung Ayam di Dalem Poerwatempel Bangli 1947 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200.

Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam tilem kesanga (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali). Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.

Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Dalam kebudayaan Bugis sendiri sabung ayam merupakan kebudayaan telah melekat lama. Menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

 

Sabung Ayam di Sulawesi 1910 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Dalam kitab La Galigo diceritakan bahwa tokoh utama dalam epik mitik itu, Sawerigading, kesukaannya menyabung ayam. Dahulu, orang tidak disebut pemberani (to-barani) jika tidak memiliki kebiasaan minum arak (angnginung ballo), judi (abbotoro’), dan massaung manu’ (adu ayam), dan untuk menyatakan keberanian orang itu, biasanya dibandingkan atau diasosiasikan dengan ayam jantan paling berani di kampungnya (di negerinya), seperti “Buleng – bulengna Mangasa, Korona Mannongkoki, Barumbunna Pa’la’lakkang, Buluarana Teko, Campagana Ilagaruda (Galesong), Bakka Lolona Sawitto, dan lain sebagainya. Dan hal sangat penting yang belum banyak diungkap dalam buku sejarah adalah fakta bahwa awal konflik dan perang antara dua negara adikuasa, penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dan Bone diawali dengan “Massaung Manu”. (Manu Bakkana Bone Vs Jangang Ejana Gowa).

Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma. Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).

Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya, tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.

Rupanya sabung ayam pada dahulu kala di Nusantara bukan hanya sebuah permainan rakyat semata tetapi telah menjadi budaya politik yang mempengaruhi perkembangan sebuah dinasti kerajaan(phesolo)

PERTARUNGAN ELIT: SURAKARTA MASA PERGERAKAN NASIONAL

 

Soesoehoenan van Soerakarta, Pakoe Boewono X dan Ratoe Mas 1915 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

A. Munculnya Elit Modern dan Pergerakan Nasional

Pergerakan nasional sebagai fenomena historis adalah hasil dari perkembangan berbagai faktor seperti faktor ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan dengan berbagai interrelasinya. Sehingga pergerakan nasional menjadi sebuah fenomena yang kompleks dan multidimensional, maka pemakaian pendekatan multidisiplinerlah yang memungkinkan untuk menerangkan berbagai segi dari pergerakan nasional. Oleh karena itu, pergerakan nasional dapat dianggap sebagai gerakan ekonomi, sosial, politik, ataupun kebudayaan. Hal itu terwujud dengan jelas pada berbagai organisasi nasional dan secara eksplisit menentukan tujuan-tujuannya yang menjadi orientasi setiap aktivitas mereka.[1]

Perkembangan nasionalisme sebagai sebuah gerakan modern di Hindia Belanda tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial, budaya dan politik yang terjadi pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial Belanda melakukan berbagai perubahanan mendasar bagi terciptanya ide-ide dan pola-pola gerakan modern bagi masyarakat Hindia Belanda melalui serangkaian kebijakkan politis. Kebijakkan pemerintah kolonial yang sangat terkenal di dalam  memberikan perubahan mobilitas sosial masyarakat adalah kebijakkan politik etis[2] dengan pendidikan sebagai salah satu mata pisaunya.

Melalui program pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap bumiputra memberikan sebuah pemahaman baru bagi penduduk bumiputra dan perubahan sosial dengan munculnya elit-elit baru yang telah mendapatkan pendidikan barat.[3] Sedikit banyak, bahwa pendidikan mampu memberikan perubahan sosial yang penting dapat terlihat ketika terjadinya erosi terhadap kedudukan istimewa kaum bangsawan tradisional yang telah lama memegang kedudukan sebagai elit tradisional dalam struktur masyarakat. Di Yogyakarta misalnya, sebuah peraturan baru yang pada tahun 1890 ditetapkan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII menyatakan bahwa anak laki-laki para bangsawan yang dahulu secara otomatis mewarisi kedudukan sang ayah, sekarang dituntut memperoleh ijazah pendidikan sebelum diiizinkan mengambil alih jabatan ayahnya itu. Pada akhir abad ke-19 hirierarki tradisional di dalam masyarakat Jawa dengan cepat menuju kehancurannya. Pendidikan formal menurut pola barat telah menjadi keharusan bagi orang-orang Jawa yang menginginkan perbaikan kedudukannya di dalam masyarakat kolonial.[4]

Kehancuran ini didasarkan pada besarnya minat kalangan priyayi untuk melanjutkan pendidikan mereka pada sekolah-sekolah yang memiliki sistem barat hingga tingkat universitas. Para priyayi mulai meninggalkan kehidupan mereka untuk menjadi priyayi pemerintahan dan mulai terjun pada profesi merdeka. Akibatnya adalah hanya anak-anak para pejabat pemerintahan pribumi bawahan , pegawai dan swasta yang bersedia menerima pendidikan bagi calon pegawai pemerintahan pribumi.[5] Sehingga dapat dilihat bahwa distribusi elit yang memerintah mulai berubah dari golongan priyayi tinggi kepada golongan anak-anak priyayi rendahan.

Perhatian politik etis yang sedang berkembang terhadap berbagai segi kehidupan Hindia Belanda, tidak hanya mempengaruhi kaum terpelajar Hindia Belanda tetapi juga seluruh tingkat kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Perkembangan ini dapat dilihat bahwa pendidikan yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap penduduk pribumi telah memberikan perluasan pendirian jawatan-jawatan pemerintah dengan tenaga kerja dari penduduk pribumi. Jawatan-jawatan pemerintah seperti pegadaian, kereta api dan trem, bank desa, candu,[6] pos telegram dan telepon yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Begitu pula dengan perusahaan-perusahaan swasta yang sedang berkembang seperti perkebunan-perkebunan, pabrik-pabrik, dan jawatan-jawatan lain yang menunjukkan kehidupan khas barat modern. Semua ini menambah jumlah penduduk bumiputra yang dipekerjakan.

Penduduk bumiputra yang dipekerjakan dalam sistem ini telah lebih menjauhkan diri dari pola-pola hidup dan pikiran tradisional. Mereka ini sebagian besar adalah orang-orang yang telah mendapatkan pendidikan Barat, terutama dari kalangan priyayi rendahan dan orang-orang desa yang telah mendapat pendidikan Barat di Sekolah Kelas Dua.[7] Sehingga kehidupan mereka mendapatkan status yang sama dengan priyayi-priyayi yang berasal dari keturunan.

Hal ini pada gilirannya membuahkan beragamnya elit Hindia Belanda. Bila di tahun 1900 kelompok priyayi yang menjadi kaum bangsawan dan administratur, menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan jumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendekiawan yang sama-sama memerankan peran elit dan yang di mata rakyat biasa di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut “priyayi”. Tentu saja termasuk juga kompetisi antara priyayi lama dan priyayi baru ini, terutama dalam hal kepemimpinan dan pengendalian keinginan-keinginan rakyat biasa, akan tetapi masih banyak dasar bersama di mana kedua kelompok ini dapat menjadi satu.[8]

Tumbuhnya elit baru yang berpikiran modern adalah hasil dari pendidikan yang sedikit banyak didapatkan oleh masyarakat pribumi. Lambat laun mata pisau ini mendapatkan ketajamannya dengan mulai terbukanya cakrawala pemikiran dan kesadaran mereka terhadap kondisi kehidupan masyarakat sebangsanya. Tumbuhnya kesadaran ini tentunya didapatkan terutama oleh mereka yang telah mengalami pendidikan di negeri Belanda. Mereka sadar akan kenyataan bahwa mereka diperlakukan jauh lebih baik daripada di tanah air sendiri, di negeri Belanda untuk pertama kali integritas mereka dihormati, dan tidak diperlakukan sebagai manusia kelas dua yang selama ini mereka dapatkan di tanah air mereka.

Kondisi ini juga merasuk ke dalam golongan terpelajar yang berada di Hindia Belanda. Kenyataan bahwa adanya diskriminasi terlihat jelas dari pendidikan yang mereka dapatkan, terutama terlihat jelas dari kehidupan masyarakat pribumi bukan dari golongan priyayi. Kesadaran ini memunculkan sebuah ide untuk membentuk sebuah wadah yang lebih modern di dalam memperjuangkan nasib kaum bumiputra.

Kondisi-kondisi ini membawa sebuah pemikiran perlunya sebuah organisasi yang dapat memperjuangkan nasib bumiputra. Organisasi Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908, perlu diperhatikan bahwa Boedi Oetomo merupakan organisasi yang memiliki batasan-batasan etnis dan geografis yang tegas. Batasan-batasan ini tidak hanya mencerminkan kurangnya kesadaran akan persatuan nasional pada penduduk Indonesia secara menyeluruh, tetapi juga karena antipati yang berkepanjangan antara golongan penduduk Jawa yang pribumi dan yang non-Jawa. Kebanggaan orang Jawa terhadap keunggulan budaya mereka sendiri atas golongan-golongan etnis lainnya di Hindia begitu meluas, sehingga tidaklah mengherankan apabila siswa-siswa Jawa di STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi) merasa ragu mengundang siswa-siswa non-Jawa agar ikut serta dalam gerakan mereka.[9]

Hal ini terlihat dalam pernyataan Goenawan Mangoenkoesoema:

“… Kami ingin membentoek soeatoe persatoean di antara orang-orang Djawa, Soenda dan Madoera, soekoe-soekoe bangsa jang dapat kami harapkan mempoenjai keboedajaan jang sama. Kami ingin memberikan sesoeatoe oentoek seloeroeh poelaoe Djawa dan Madoera sebagai soeatoe kesatoean geografis dan koeltoeral”.[10]

Pernyataan ini merupakan sebuah ungkapan bahwa masih adanya sebuah kecurigaan terhadap etnis lain yang memiliki posisi lebih baik dalam hierarki masyarakat kolonial. Selama masa-masa ini Boedi Oetomo memfokuskan diri terhadap kehidupan pendidikan dan kebudayaan Jawa dan perkembangan organisasi ini lebih banyak diikuti oleh para priyayi daripada masyarakat pada umumnya.

Sejalan dengan perkembangan Boedi Oetomo organisasi lainnya muncul dengan pemikiran dan ideologi yang berbeda. Pada masa pergerakan nasional, Islam merupakan agama yang banyak dianut oleh masyarakat Hindia Belanda dan menjadi agama yang dianaktirikan karena berbagai larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah Kolonial. Islam menjadi sebuah pendorong bagi didirikannya organisasi yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Berbagai organisasi Islam telah muncul pada masa awal abad ke-20 walaupun terbuka bagi masyarakat muslim secara keseluruhan tetapi sebagian besar anggotanya adalah masyarakat Arab dan keturunannya.[11]

Pertumbuhan gerakan politik yang dilakukan oleh umat Islam menunjukan sebuah kebangkitan dari kekuatan yang telah lama mengalami berbagai kekalahan. Kekuatan tersebut terefleksikan dalam organisasi Sarekat Islam. Menurut George Mc. Turnan Kahin bahwa kemunculan kekuatan Islam ini pada awalnya didasarkan pada persaingan dan perselisihan ekonomi dengan masyarakat Cina di Hindia Belanda, sehingga sangat dimungkinkan bahwa tumbuhnya pergerakan nasional yang bercorak Islam pada awalnya adalah didasarkan pada kepentingan persaingan dagang.[12] Pertumbuhan kekuatan Islam memang harus dilihat dengan munculnya Sarekat Islam yang didirikan pertama kali sebagai organisasi Sarekat Dagang Islam untuk membendung kekuatan ekonomi monopoli golongan Cina.[13]

Hal ini juga dijelaskan oleh Semaoen dalam kongres istimewa Sarekat Islam tahun 1921 di Surabaya bahwa perkembangan awal dari gerakan Islam terbesar yaitu Sarekat Islam adalah bahwa pada kongres tahun 1915 sebagian besar yang menghadiri kongres Sarekat Islam adalah saudagar-saudagar dan haji-haji yang memiliki kekayaan.[14] Sehingga jelas bahwa perkembangan awal dari Sarekat Islam merupakan perlawanan terhadap persaingan ekonomi.

Pada awal-awal berdirinya Sarekat Islam merupakan kelompok ronda yang bernama Rekso Roemekso. Perkumpulan ini didirikan tanpa badan hukum sehingga menimbulkan reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yaitu perkumpulan yang tidak berstatus badan hukum dapat dibubarkan setiap saat dengan perintah residen, berdasarkan undang-undang tahun 1854 pasal III. Organisasi ini sempat diselidiki oleh polisi dan oleh pemimpinnya yaitu H. Samanhoedi dan Martodharsono disebutkan bahwa organisasi ini merupakan cabang dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berpusat di Bogor. Karena keterbatasan kemampuan dalam menyusun anggaran dasar maka Tirtoadhisoerjo pemimpin SDI, diminta datang ke Solo untuk mendirikan SDI cabang Surakarta yang berganti nama menjadi Sarekat Islam. Pada masa awal berdirinya, anggota Sarekat Islam terdiri dari para pedagang dan haji-haji kaya yang bertempat tinggal di Laweyan.

Berdirinya Sarekat Islam Surakarta pada awal tahun 1912 ini juga ditandai dengan keterlibatan anggota-anggota organisasi ini dalam konflik dengan kelompok Cina yang terjadi di berbagai daerah terutama Surakarta sebagai tempat berdirinya dan tentunya pemogokan yang dilancarkan oleh buruh-buruh perkebunan di perkebunan Krapyak Mangkunegaran pada permulaan bulan Agustus 1912. Konflik yang terjadi antara anggota Sarekat Islam Surakarta dilatarbelakangi oleh monopoli ekonomi bahan-bahan batik yang dilakukan oleh golongan Cina di Surakarta, dihapuskannya kewajiban memberi hormat kepada pegawai-pegawai Belanda dan Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Selain itu juga meletusnya revolusi Tiongkok yang merubah penampilan golongan Cina dengan mencukur rambut kucir mereka sama seperti golongan Eropa. Hal ini menunjukkan naiknya kasta golongan Cina menjadi kasta Timur Asing setingkat lebih tinggi dari golongan pribumi.

Konflik-konflik yang terjadi antara Sarekat Islam dan golongan Cina dilakukan dengan aksi boikot secara ekonomi oleh anggota-anggota Sarekat Islam kepada berbagai perusahaan milik golongan Cina. Bahkan terjadi berbagai bentrokan yang menimbulkan korban dikedua belah pihak.

Akibat dari konflik dengan golongan Cina ini, untuk beberapa lama Sarekat Islam di skors oleh pemerintah kolonial akibat dari konflik dengan komunitas Cina tersebut. Bahkan ijin berdirinya Sarekat Islam untuk sementara ditangguhkan, tetapi akhirnya pada tahun 1913 ijin pendiriannya disetujui oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap SI-SI lokal dengan pengawasan yang ketat dari pemerintah kolonial Belanda.[15]

Perkembangan Sarekat Islam pada masa awal jelas didasarkan pada sifat ekonomi dengan melihat komposisi anggota-anggota Sarekat Islam yang sebagian besar adalah kaum saudagar dan haji-haji kaya. Dalam anggaran dasarnya pun Sarekat Islam ditujukan pada kegiatan ekonomi dan Islam digunakan sebagai tali pengikat organisasi.[16] Tetapi hal ini tidak bertahan lama karena masyarakat memandang kehadiran dan kemunculan Sarekat Islam merupakan sebuah simbol persatuan dan nasionalisme sehingga mampu menarik anggota yang cukup banyak. Selain itu program dari organisasi tersebut mampu mengekspresikan kepentingan-kepentingan massa yang selama ini belum terwakili oleh organisasi yang telah ada.

B. Perkembangan Sarekat Islam dan Pertarungan Elit

Perkembangan Sarekat Islam sangat terasa menjadi sebuah gerakan yang menakjubkan ketika terjadinya pergantian kepemimpinan dari elit pedagang beralih kepada elit-elit cendekiawan yang memperoleh pendidikan barat. Arah perjuangan dikendalikan dan di arahkan kepada tujuan-tujuan yang bersifat politis dan masih dalam garis rust en orde pemerintah kolonial. Hal ini dinyatakan oleh Tjokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam yang menggantikan kedudukan Samanhoedi dalam suatu pertemuan di Semarang tahun 1912 sebagai berikut menurut syarat agama Islam juga, kita harus menurut perintahnya kerajaan Olanda, kita mesti menetapi dengan baik dan setiap wet-wet dan pengaturan Olanda yang diadakan buat rakyat kerajaan Olanda.[17] Hal ini ditegaskan kembali oleh Tjokroaminoto dalam kongres pertama Sarekat Islam pada bulan Januari 1913 menekankan bahwa perkumpulan itu bukan suatu partai politik dan akan tetap sepenuhnya setia kepada pemerintah.[18] Dalam kata pembukaannya diucapkan:

“kami bersikap loyal terhadap gubernemen. Kami senang dibawah kekuasaan pemerintah Belanda. Bohong djika ada jang berkata bahwa kami hendak merusak keamanan. Tidak benar kami hendak bertempur. Yang menyangka demikian, ialah orang gila! Tidaklah pemberontakan atau kekacauan yang kami maksud, sekali-kali tidak!”[19]

Sikap yang diambil oleh Tjokroaminoto ini didasarkan kepercayaannya kepada Gubernur Jendral (A.W.F. Idenburg), sehingga ia menyarankan untuk meminta bantuan Gubernur Jendral di dalam menghapuskan tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kolonial.

Pasca kongres di Surabaya dan dilakukan kembali pada bulan Maret 1913 di Surakarta, Sarekat Islam berkembang pesat, propaganda secara massal dilakukan oleh perkumpulan ini. Perkembangan Sarekat Islam dapat dikatakan sebagai kebakaran padang rumput yang menyambar dengan cepat padang ilalang di sekitarnya.[20] Cabang-cabang segera didirikan diberbagai kota di Jawa dan surat kabar dijadikan organ organisasi untuk menyampaikan propaganda-propaganda Sarekat Islam. Beberapa surat kabar yang dijadikan sebagai organ propaganda adalah Sinar Djawa, Oetoesan Hindia, dan Pantjaran Warta.

Perkembangan Sarekat Islam yang cepat meluas memang sangat meresahkan golongan Eropa dan Cina. Tetapi pernyataan-pernyataan Tjokroaminoto dalam kongres Sarekat Islam pertamanya menarik simpati Gubernur Jendral Idenburg yang menyatakan bahwa pada hakekatnya tidak menolak akan adanya Sarekat Islam walaupun adanya kecurigaan dengan perkembangannya yang pesat. Sikap simpatik Gubernur Jendral Idenburg tidak diikuti oleh golongan Eropa lainnya, bahkan sebagian golongan Eropa menyalahkan Gubernur Jendral mengenai sikapnya yang terlalu lemah terhadap Sarekat Islam.[21]

Pada masa-masa awal gerakan Sarekat Islam memang belum menunjukan arah politik yang jelas karena berbagai aturan pemerintah kolonial yang melarang berdirinya organisasi dan rapat-rapat yang bersifat politik. Selain itu komposisi elit pimpinan yang menggerakkan Sarekat Islam memiliki keseimbangan kekuatan, Sarekat Islam dipimpin oleh tiga aliran elit yaitu elit agama yang bersifat Islam fanatik, kedua golongan revolusioner yang menentang pemerintah kolonial dan ketiga golongan moderat yang ingin memperoleh kemajuan dengan berangsur-angsur dan dengan bantuan pemerintah Kolonial.

Komposisi elit ini dapat terlihat dalam komposisi kepemimpinan pada masa awal Sarekat Islam didirikan. Dalam Statuten Perhimpunan Centraal Sarekat Islam (CSI) adalah sebagai ketua Tjokroaminoto dibantu oleh Goenawan, D.K. Ardiwinata, Haji Achmad Sjadzili, Hasan bin Semit, R.M. Arjo Soerjodipoetro, R.P. Sosrokardono, R. Djojosoediro, Hadji Hisamzaijni, R. Tjokrosoedarmo, R. Mohamad Joesoef, R.M. Pandji Soerjopranoto, Abdoel Moeis, R. Hasan Djajadiningrat, Mohamad Samin, Hadji Mohamad Arip, dan Hadji Achmad Dahlan yang juga pimpinan Muhammadiyah.[22] Melihat komposisi ini terlihat jelas bahwa golongan elit agama fanatik dan pedagang memegang peranan kunci dalam komposisi kepengurusan CSI. Tentunya komposisi elit ini telah menggusur elit-elit yang pertama kali mendirikan Sarekat Islam. Dari sinilah awal mula Sarekat Islam mengalami perkembangan yang dinamis dalam polemik kepemimpinan.

Pertarungan elit terjadi ketika naiknya Tjokroaminoto sebagai ketua CSI berkat usahanya secara halus menyingkirkan H. Samanhoedi untuk mau menjadi ketua cabang Surakarta. Dengan ini terbuka jalan bagi Tjokroaminoto untuk menjadi ketua CSI. Kongres tahun 1914 dilangsungkan di Yogyakarta dari tanggal 18 sampai dengan 20 April. Tujuan utama dari pertemuan ini adalah menetapkan anggaran dasar dan memilih Centraal Comite yang baru. Pemilihan memberikan kemenangan definitif kepada Tjokroaminoto atas Samanhoedi dan Samanhoedi diangkat sebagai ketua kehormatan.[23] Kemenangan Tjokroaminoto dalam pemilihan ini membuat Samanhoedi kehilangan kesempatan menjadi pimpinan umum yang aktif.[24]

Sesudah pemilihan ini Samahoedi tidak pernah lagi menghadiri kongres selanjutnya. Akibat dari kekalahan Samanhoedi tersebut maka terjadi perselisihan terbuka antara kelompok Surakarta pimpinan Samahoedi dengan kelompok CSI pimpinan Tjokroaminoto. Perselisihan ini dilanjutkan dilanjutkan dalam pers. Marco dari Sarekat Islam Surakarta menyerang Tjokroaminoto dan D.A. Rinkes mengenai Welvaartscommisie.[25] Hal ini dilakukan karena D.A. Rinkes dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab menjinakkan Sarekat Islam dengan mendukung Tjokroaminoto sebagai ketua dan menguasai Tjokroaminoto dibawah perlindungan pemerintah kolonial.

Konflik terbuka juga terjadi antara Tjokroaminoto dan Goenawan yang merupakan wakil ketua CSI. Konflik yang terjadi berkaitan dengan pembentukan Sarekat Islam lokal di Sumatra oleh Goenawan yang semakin membesar dan pembentukan “CSI Jawa Barat dan Sumatra”. Pembentukan ini dilakukan dengan merangkul Sarekat Islam Surakarta dan Samanhoedi dijadikan sebagai ketua, Goenawan sebagai sekretaris/bendahara. Hal ini ditentang secara keras oleh Tjokroaminoto dan dengan perang terbukanya di surat kabar Tjokroaminoto melalui tulisannya menyerang Goenawan sebagai satria maling karena menyelewengkan keuangan Sarekat Islam. Dan Goenawan mengalami kekalahannya karena Tjokroaminoto dibantu oleh adanya pengakuan hukum terhadap CSI oleh pemerintah kolonial. Sehingga kepercayaan dikembalikan lagi kepada Tjokroaminoto dalam kongres nasional CSI tahun 1916 di Bandung dan menggantikan Goenawan dengan Abdoel Moeis sebagai wakil ketua serta memecat Goenawan dari kepemimpinan Sarekat Islam Batavia.[26] Menurut Takashi apa yang dilakukan oleh Tjokroaminoto dan Goenawan adalah sebuah pertarungan dari memanipulasi kedudukan, uang, persaingan pribadi dan mengembalikan kenangan masa lalu.[27]

Perpecahan ini mendapatkan berbagai tanggapan yang berbeda dari berbagai kalangan. Pewarta Deli menyesalkanterjadinya perpecahan tersebut dan menganggap bahwa perpecahan tersebut hanya akan menguntungkan orang Eropa dan Cina. Oetoesan Hindia secara terang-terangan mnyerang Goenawan dan menganggap ide pemisahan tersebut sebagai separatisme Sunda dan Melayu. Sedangkan Pemitran menyatakan kekecewaannya karena menganggap Sarekat Islam suatu perkumpulan berdasarkan keagamaan yang ingin mengakhiri perselisihan di kalangan rakyat Indonesia kini menjadi korban perpecahan sendiri.[28]

Konflik elit juga terjadi pada tahun-tahun pertama terjadinya perang dunia pertama ketika muncul ide pemerintah kolonial membuat sebuah pertahanan milisi di Hindia Belanda untuk menghadapi perang. Ide ini terkenal dengan istilah Indie Weerbaar (Hindia Siaga). Boedi Oetomo memberikan usul agar rakyat Jawa wajib membantu pemerintah kolonial secara aktif apabila ada serangan dari luar dengan bantuan berupa tugas-bantuan militer.[29] Keikutsertaan Sarekat Islam dalam Komite Pertahanan Hindia sendiri sangat berhati-hati dan dengan syarat bahwa dengan keikutsertaan mereka dalam rencana milisi maka pemerintah wajib memberikan konsesi politik untuk mendirikan badan perwakilan rakyat, dimana rakyat Hindia dapat meyampaikan pendapat mereka secara bebas. Walaupun begitu hal ini banyak menimbulkan protes dari cabang-cabang Sarekat Islam terutama Sarekat Islam Semarang yang menyatakan bahwa milisi hanya untuk melindungi kapital pengusaha Belanda dengan menggunakan rakyat bumiputra sebagai umpan peluru.[30] Semaoen juga menyatakan bahwa kami tidak suka keluarkan darah untuk keperluan orang lain, apalagi keperluan zondig kapitalisme.[31]

Bila pada awalnya agama Islam dijadikan sebagai tujuan untuk mengahambat misi zending dan persaingan ekonomi dengan golongan Cina maka ketika CSI memperoleh status hukum agama hanya dijadikan alat pemersatu untuk mencapai tujuan-tujuan politik Sarekat Islam. Hal ini dapat terlihat dalam pernyataan Tjokroaminoto yang mengatakan bahwa Sarekat Islam memakai agama sebagai suatu ikatan, suatu sarana kohesi, dan agama tidak menghambat kemajuan yang diinginkan.[32] Perdebatan dan keikutsertaan Sarekat Islam dalam Komite Pertahanan Hindia (Indie Weerbaar) menjelaskan arah pergerakan dari Sarekat Islam. Pada saat Gubernur Jendral van Limburg Stirum memiliki kakuasaan dengan membentuk volksraad (dewan rakyat), Sarekat Islam bersama Boedi Oetomo menjadi organisasi yang aktif terlibat di dalam volksraad.[33] Abdoel Moeis salah seorang pemimpin CSI mengatakan bahwa partisipasi Sarekat Islam di dalam volksraad akan memungkinkan partai untuk mengemukakan pandangannya tentang berbagai masalah dan untuk membela hak-hak rakyat walaupun ia mengakui sendiri tidak sepenuhnya puas dengan kekuasaan dan wewenang yang dimiliki oleh volksraad.[34] Sama seperti keterlibatannya di dalam Indie Weerbaar, keterlibatan Sarekat Islam (CSI) dalam volksraad banyak mendapat kritik dan penentangan. Sarekat Islam Semarang banyak menyerang kebijakan CSI dalam hal keikutsertaannya di dalam volksraad. Semaoen pemimpin Sarekat Islam mengatakan bahwa volksraad hanyalah suatu pertunjukan kosong, suatu akal kaum kapitalis mengelabui mata rakyat jelata untuk memperoleh untung banyak”.[35]

Tujuan-tujuan ini pada akhirnya banyak menimbulkan kritik dan konflik dikalangan elit Sarekat Islam sendiri dan hilangnya dukungan dari berbagai kalangan. Dukungan utama dan yang paling penting adalah golongan Islam putihan (golongan Arab) yang banyak memberikan sokongan dana bagi jalannya roda organisasi. Tetapi semenjak program organisasi Sarekat Islam yang lebih ke arah politik maka dukungan ini dihentikan dan banyak anggota Sarekat Islam yang berasal dari kalangan Islam putihan keluar dan mengalihkan perhatian mereka kepada bidang lain. Dalam harian Sin Po diberitakan bahwa:

“kedoedoekannja Tjokroaminoto, voorzitter dari CSI senantiasa djadi lebih lemah, apalagi sekarang ini, lantaran orang-orang Arab katanja ada sanget tentangin padanja, dalem ia poenja tindakan dalem oeroesan agama Islam. Ini orang-orang kata, Tjokro tjoema poera-poera hendak memadjoekan itoe agama, padahal itoe dipake sadja sebagi pekakas boeat sampeken ia poenja maksoed-maksoed politiek”. [36]

Akibatnya CSI mengalami kesukaran keuangan karena sokongan dari golongan Arab ditarik kembali yang diakibatkan kebijaksanaan organisasi dan sebagian golongan Arab yang lain segera mengalihkan dukungan mereka kepada organisasi lain.[37]

C. Kondisi Sosial Politik dan Budaya Politik Pada Masa Pergerakan Nasional

Pergerakan nasional pada saat memasuki tahun 1918 menjadi sebuah gerakan yang sangat dinamis. Hal ini ditandai dengan berbagai perdebatan antara kaum pergerakan mengenai berbagai pandangan yang dilakukan tidak hanya dalam rapat-rapat umum tetapi juga melalui berbagai media massa. Permasalahan yang diperbincangkan tidak hanya penyikapan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga mencapai pemikiran-pemikiran mengenai budaya dan nasionalisme yang akan terbentuk nantinya. Elit-elit pergerakan memberikan konstribusi yang besar terhadap arah pemikiran perjuangan melalui latar belakang pendidikan dan arah perjuangan yang dianutnya, sehingga masyarakat umum mengikuti pemikiran dalam bentuk aksi walaupun tidak seratus persen mereka memahami secara dalam pemikiran tersebut. Tahun 1918 juga ditandai dengan arus pergerakan yang bersifat komunisme yang berpusat di Semarang serta munculnya nasionalisme Jawa[38] yang berpusat di Surakarta.

Munculnya pergerakan komunisme dan nasionalisme Jawa memberikan nuansa dinamika yang lebih besar dalam pergerakan nasional. Dalam perjalanan waktu tumbuhnya kekuatan ideologi Islam, Komunisme, dan Nasionalisme terutama nasionalisme Jawa menjadi kekuatan dalam menentukan langkah kaum pergerakan. Tetapi, kekuatan-kekuatan tersebut banyak menimbulkan berbagai konflik yang menyebabkan terjadinya perpecahan di tubuh kaum pergerakan sendiri.

Tahun 1918 ditandai dengan munculnya kekuatan kaum kiri di Semarang yang masuk dalam bagian Sarekat Islam. Kekuatan kaum kiri di Semarang membawa pengaruh terhadap berbagai cabang-cabang Sarekat Islam. Hal ini tidak terlepas dari peranan Semaoen pimpinan Sarekat Islam Semarang yang membawa pemikiran radikal dalam menjalankan aksi-aksi massa Sarekat Islam. Selain itu dalam hal pemikiran, Semaoen dan Sarekat Islam Semarang selalu berbeda pendapat dengan pimpinan CSI, Tjokroaminoto yang terlihat sangat kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Perbedaan pandangan sangat jelas terlihat ketika Semaoen berkampanye menentang milisi bumiputra, Indie Weerbaar, dan keterlibatan Sarekat Islam dalam Volksraad. Kampanye ini memberikan pengaruh yang cukup luas bagi Sarekat Islam Semarang terutama dalam hal jumlah keanggotaan. Anggotanya yang berjumlah seribu tujuh ratus orang pada tahun 1916 menjadi dua puluh ribu orang pada tahun 1917.[39]

Meluasnya pengaruh Sarekat Islam Semarang disebabkan juga aksi-aksi pemogokannya yang berhasil dilakukan sehingga memberi contoh bagaimana mengorganisir serikat buruh dan pemogokan. Keberhasilan pemogokan ini juga menjadi bagian penting yang harus dilihat dalam jaman pergerakan yang akan membawa perubahan besar dalam gerakan Sarekat Islam serta pertarungan elit dalam CSI.[40]

Kemunculan Semaoen membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pimpinan CSI terutama Tjokroaminoto. Sayap kiri yang dipimpin oleh Semaoen semakin mendapat tempat di berbagai cabang Sarekat Islam di daerah. Semaoen juga telah banyak melontarkan kritik-kritik terhadap kepemimpinan CSI yang dianggap lemah terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Teriakan yang keras ini membawa pengaruh terhadap gerakan Sarekat Islam lainnya untuk mendukung gerakan sayap kiri Sarekat Islam.

1. Dinamika Sosial Politik di Surakarta

Sementara itu, Surakarta menjadi tempat dinamika pergerakan nasional yang sangat dinamis. Muncul dan berkembangnya organisasi pergerakan nasional berasal dari daerah ini. Sarekat Islam muncul di kota ini sebagai organisasi yang memberikan sebuah perjuangan terhadap golongan Cina yang menguasai perdagangan bahan baku batik. Selain itu berdirinya Sarekat Islam di Surakarta memberikan popularitas yang sangat besar di kalangan masyarakat Surakarta. Hal ini menurut George D. Larson dikarenakan bahwa kondisi sosial di Surakarta dimana ikatan sosial pada tingkat desa ternyata kurang berperan dibandingkan dengan keadaan di sebagian besar pulau Jawa lainnya. Bersamaan dengan ini maka daerah Vorstenlanden, Surakarta dan Yogyakarta adalah daerah yang paling tidak aman di seluruh pulau Jawa. Penggarongan, perampokan dan pembakaran rumah sudah bersifat endemis. Sewaktu-waktu beberapa anggota kaum bangsawan yang jatuh miskin bahkan ikut menggabungkan diri dengan gerombolan perampok (kecu). Sebab itu Sarekat Islam di Surakarta khususnya mempunyai daya tarik yang kuat karena bisa memberi suatu rasa solidaritas dan proteksi dalam menghadapi kejahatan.[41]

Walaupun Sarekat Islam memiliki popularitas yang sangat tinggi dan Surakarta sebagai pusat kegiatan tetapi pada perkembangannya organisasi ini di Surakarta banyak mengalami sebuah kemunduran. Konflik elit antara Samanhoedi sebagai pendiri Sarekat Islam dengan Tjokroaminoto dalam hal kepemimpinan membawa pengaruh yang luas di Sarekat Islam Surakarta. Sarekat Islam Surakarta kehilangan hampir seluruh massa pengikutnya yang dulu. Pada masa jayanya, Sarekat Islam adalah perkumpulan orang Jawa yang kuat pengaruhnya di bawah pimpinan pedagang batik dan aristokrat Kasunanan. Akan tetapi, masa jaya itu telah berlalu. George D. Larson menerangkan juga bahwa pada masa awal gerakan Sarekat Islam, kraton menyediakan suatu tempat yang wajar bagi perasaan nasionalisme Jawa yang sedang bangkit, bukan hanya di kalangan masyarakta Surakarta, tetapi juga di daerah-daerah Jawa lainnya. Ketika pengaruh kraton menurun maka popularitas gerakan ini di Surakarta menurun pula, dan selama suatu periode yang singkat karesidenan ini mengalami masa yang relatif tenang.[42]

Kromo telah hilang minatnya dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Semua toko Sarekat Islam yang didirikan pada akhir 1912 dan 1913 jatuh bangkrut. Pindahnya hoofdbestuur (pengurus pusat) CSI ke Surabaya berarti uang dari Sarekat Islam lokal berhenti mengalir ke tangan pimpinan Sarekat Islam Surakarta. Selain itu juga para anggotanya yang terdiri dari pedagang batik telah beralih kepada kegiatan ekonominya sedangkan pedagang batik dan guru ngaji di bagian tengah kota Surakarta beralih pada pengajian untuk sekedar memajukan Islam. Mereka telah enggan kembali membiayai dan mengikuti aktivitas Sarekat Islam. Begitu pula dengan kalangan pangeran-pangeran Kraton yang banyak beralih kepada Boedi Oetomo yang dianggap lebih terhormat.[43]

Akibat kemunduran tersebut, yang tersisa di Sarekat Islam Surakarta hanyalah para jurnalis yang beralih menjadi pemimpin pergerakan. Sarotomo sebagai organ Sarekat Islam Surakarta akhirnya berhenti karena kehabisan uang. Martodharsono sebagai salah satu pengurusnya akhirnya kembali ke pekerjaan lamanya sebagai pemimpin redaksi Djawi Kanda dan Djawi Hiswara. Hanya Marco dan Sosrokernio yang tinggal mengurus Sarekat Islam Surakarta dan mencoba menghidupkan kembali kejayaan Sarekat Islam Surakarta.[44]

Tetapi, kemunduran dunia pergerakan rakyat di Surakarta bangkit kembali ketika pada tahun 1915 terjadi wabah penyakit pes di kota ini. Kebijakan pemberantasan penyakit pes banyak merugikan penduduk dan menimbulkan keresahan dan gejolak sosial di masyarakat Surakarta. Pada awal munculnya wabah ini pemerintah telah mengambil tindakan dengan menurunkan dokter dan mengadakan program wajib perbaikan rumah untuk memusnahkan tikus pembawa penyakit. Program perbaikan rumah yang dimaksud inilah yang sangat menjengkelkan karena masyarakat diisolasi dan harus meninggalkan perkampungan mereka.

Program perbaikan rumah ini tidak berjalan karena penduduk tidak mampu memperbaiki rumah mereka yang menelan biaya besar. Oleh karena itu pemerintah memberi uang muka dalam bentuk bahan bangunan dan tenaga kerja yang akan dikembalikan lagi dalam angsuran bulanan. Tetapi penduduk telah mengalami suatu kebencian terhadap program ini dan timbullah gerakan perlawanan secara pasif dengan tidak mengembalikan uang persekot.[45]

Gerakan ini muncul dengan pimpinan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Haji Misbach[46] yang tergabung dalam Insulinde. Haji Misbach bertindak sebagai wakil pemilik rumah di ibukota, ia menolak para pegawai yang disuruh  melaksanakan program perbaikan rumah untuk memasuki rumah penduduk dan menghalang-halangi lewat cara apa pun yang dimungkinkan agar program tersebut tidak dilaksanakan.[47]

Program pemberantasan penyakit pes yang sangat memberatkan masyarakat Surakarta akhirnya berakhir dengan perlawanan secara masif yang digerakan oleh Insulinde. Memasuki paruh kedua abad ke-20 Surakarta menjadi kota yang secara cepat dimasuki paham komunis dan kekuatan Sarekat Islam Surakarta merupakan bagian yang terkena pengaruh tersebut.

2. Budaya Politik di Surakarta

Sarekat Islam Surakarta pun terkena imbas dari pengaruh kekuatan sayap kiri Sarekat Islam Semarang. Kepemimpinan Sarekat Islam Surakarta yang terpecah-pecah memberikan dorongan kepada beberapa pimpinan Sarekat Islam Surakarta untuk memberikan afiliansinya kepada kekuatan kiri di Semarang. Mas Marco Kartodikromo mengambil alih pimpinan Sarekat Islam Surakarta setelah kepemimpinan pergerakan di Surakarta mengalami kemacetan. Walaupun akhirnya ia meninggalkan Surakarta dan bergabung ke Semarang.[48]

Perkembangan politik di Surakarta memang menjadi suatu jalur pergerakan nasional yang dinamis tetapi pada sisi yang lain gerakan-gerakan ini juga dilaksanakan melalui gerakan budaya. Kota Surakarta merupakan acuan dari lahir dan berkembangnya pergerakan nasional tidak hanya secara politik tetapi juga menjadi barometer perkembangan budaya Jawa. Pada masa pergerakan nasional terutama pada tahun-tahun awal pergerakan berbagai gerakan budaya muncul sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan nasional sendiri. Hal ini menjadi wajar karena terjadi stagnasi dari proses perkembangan budaya Jawa. Perkembangan bahasa sebagai alat pergaulan pada masa pergerakan telah beralih kepada bahasa Melayu sebagai lingua franca, tidak heran ketika pada tahun-tahun 1918 muncul gerakan nasionalisme Jawa yang diusung oleh kekuatan Keraton Surakarta.

Menurut Benedict R. Anderson,[49] Jawa terutama kerajaan-kerajaannya telah mengalami dua krisis yang telah disangga bersama-sama oleh orang Jawa dan rakyat-rakyat terjajah lainnya. Pertama adalah krisis politiko-kultural dimana sejak permulaan abad ke-17 para penguasa Jawa benar-benar telah mengalami serangkaian kesalahan, kehinaan dan bencana yang hampir-hampir tak kunjung henti.[50] Sejak akhir abad ke-18 raja-raja Pakubuwono, Hamengkubuwono dan Mangkunegoro, semuanya telah menjadi raja-raja kecil yang “berkuasa” dengan perkenan belanja dan bertahan hidup secara ekonomi demi subsidi Belanda. Hancurnya VOC tidak membuat pengaruh yang baik bagi golongan atas masyarakat Jawa. Para penguasa Jawa dari tahun 1800 hanya sedikit berupaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Belanda. Pemberontakan Diponegoro sendiri lebih banyak merupakan perang-saudara Jawa ketimbang masalah anti-Belanda, dan dalam hal ini Belanda mendukung musuh-musuh Sang Pangeran.[51] Sesudah 1830 orang-orang Jawa secara fisik berhantaman dengan kaum penjajah hanyalah sekedar sekelompok haji, jagoan, petani dan unsur-unsur dalam kalangan rakyat biasa.[52] Adapun lapis-atas orang Jawa telah menjadi perkakas setia bagi Belanda dalam menegakkan segala kebijakan penjajah Belanda dan menjadi levende wayangpoppen (boneka-boneka hidup). Ketidakmampuan golongan elit Jawa membebaskan ketertidasan rakyat dari belenggu penjajahan diungkapan secara gamblang oleh pujangga Keraton Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha yaitu:

Ratune Ratu utama

Patihe Patih linuwih

Pra nayaka tyas raharja

Panekare becik-becik

Parandene tan dadi

Paliyasing kalabendu

Paliyasing kalabendu….[53]

(Rajanya raja utama

Perdana menterinya tegak dalam kebenaran

Bupatinya konstan hati

Pembantunya sempurna

Namun tak seorang pun tetap tinggal

Zaman malapetaka).

Bait ini menunjukkan bahwa bahkan seorang raja yang turun menurun sempurna pun sekarang tidak mampu lagi untuk memenuhi tugas lamanya yang telah dirumuskannya sendiri yaitu guna mencegah kalabendu. Raja hanya mampu menunjukan kekuasaannya melalui berbagai politik simbol yang dipergunakan melalui berbagai gaya hidup, karya sastra, dan upacara-upacara yang dibesarkan melalui mitos-mitos.

Kehidupan keraton pada masa-masa awal abad ke-20 mengalami sebuah kemunduran secara politis akibat kekuasaan kolonial Belanda. Gerakan-gerakan perlawanan terhadap kekuatan kolonial Belanda yang dilakukan oleh Keraton pun akhirnya menjadi sebuah gerakan perlawanan simbolis. Baik gerakan politik maupun budaya. Munculnya nasionalisme Jawa menunjukan personifikasi dari Pakubuwana X sebagai pimpinannya. Walaupun gerakan ini tidak dilakukan dengan gerakan politik secara substantif tetapi lawatan-lawatan Pakubuwana X ke berbagi kota pada awal-awal tahun 1900-an mendapatkan sambutan dari berbagai kalangan rakyat dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari pihak pemerintah kolonial, walaupun dalam melakukan perjalanan ini Pakubuwana harus mendapatkan ijin dari pemerintah kolonial.[54] Kuntowijoyo menjelaskan gerakan politik secara simbolis ini juga didukung oleh dua simbol  yaitu pertama simbol religiusitas tradisi dimana ideologi Pakubuwana X sebagai Panatagama[55] dan kedua adalah dapat menjelma menjadi nasionalisme dan Pan-Islamisme yang membuat sulit posisi Residen Surakarta di hadapan elit pribumi dan rakyat.[56] Walaupun adanya gerakan politis simbolis dari Pakubuwana X sebagai raja bukan berarti menjadi pertanda penentangan secara langsung kerajaan Surakarta terhadap hegemoni kolonial karena politik yang dijalankan oleh Pakubuwana X secara simbolis masih bersifat affirmative dimana masih adanya penerimaan kebijakan-kebijakan kolonial yang dianggap wajar.

Krisis mandulnya kekuasaan raja Surakarta juga diikuti oleh prilaku-prilaku priyayi-priyayi yang sangat hedonis. Hal ini juga tidak terlepas dari kebiasaan Sunan Pakubuwana X yang gemar berprilaku hedonis seperti dansa ala barat, minum-minuman keras, memelihara selir yang banyak.[57] Dan tentunya budaya menghisap candu salah satu bagian dari budaya hedonis para priyayi Keraton Surakarta.[58] Kehedonisan raja dan priyayi dapat terlihat dari berbagai perayaan-perayaan untuk memperkuat simbol raja. Perayaan-perayaan yang dilakukan untuk menyambut berbagai upacara keagamaan maupun upacara kerajaaan dilakukan di Istana maupun di taman raja yaitu Taman Sriwedari.[59]

Krisis kedua adalah krisis sastra dan bahasa yang menurut Benedict R. Anderson disebabkan kehancuran kerajaan Majapahit dan kehancuran peradaban pesisir Jawa yang dilakukan oleh Sultan Agung. Kehancuran dua kebudayaan ini dianggap sebagai jaman kegelapan Jawa yang pekat karena terobek-robek oleh berbagai macam peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian dan kelaparan.[60] Betapa dahsyat kehancuran itu dapat dilihat dari keterbatasan pengetahuan tentang kebudayaan Jawa kuno. Pada saat budaya sastra Jawa mulai hidup kembali yaitu dalam abad ke-18 akhir sebagian besar pustaka Sansekerta Jawa Kuno itu telah hilang atau hampir tak dipahami lagi, sementara tradisi panjang penggubahan puisi di kalangan priyayi istana pada dasarnya telah lenyap.[61] Akibatnya, perkembangan bahasa menjadi bagian dari politik dengan munculnya bahasa yang bertingkat-tingkat sesuai dengan hirarki masyarakat Jawa yang feodal. Perkembangan ini didukung oleh pihak kolonial Belanda sebagai bagian dari politiknya mengekalkan kekuasaannya terhadap priyayi-priyayi yang telah memiliki budaya baru yaitu gila hormat.[62]

Krisis-krisis tersebut pada masa pergerakan menjadi sebuah gejolak-gejolak dalam masyarakat yang dituangkan dalam berbagai gerakan-gerakan. Gerakan-gerakan ini terimplementasikan dalam sebuah gerakan budaya yang memiliki dua arah terhadap dua kekuasaan yaitu kekuasaan kolonial dan feodal yang diwakili oleh raja, dan priyayi-priyayi pembantu raja. Dua arah gerakan budaya tersebut adalah budaya affirmative dan budaya kritis.[63]

Gerakan politik yang telah modern juga menunjukan ke arah sana. Di Surakarta seperti telah dibahas di awal kekuatan politik terletak pada gerakan-gerakan Boedi Oetomo dan Sarekat Islam. Boedi Oetomo banyak didukung oleh kalangan priyayi dan bangsawan kerajaan sedangkan Sarekat Islam lebih banyak didukung oleh kalangan rakyat kecil dan pedagang. Dalam perjalanan gerakan Sarekat Islam Surakarta lebih banyak menggunakan budaya kritis dalam menghadapi dua kekuasaan yaitu kekuasaan kolonial dan feodal. Begitu pula menyikapi kondisi organisasi Sarekat Islam sendiri terutama CSI. Budaya kritis yang dilakukan digunakan sebagai penyeimbang kekuatan dari kekuatan dan kekuasaan CSI yang sangat besar. Selain itu, budaya kritis yang digunakan oleh Sarekat Islam Surakarta merupakan bagian dari konflik dengan CSI sendiri yang telah berlangsung cukup lama yaitu semenjak kekuasaan dan kepemimpinan Sarekat Islam berpindah ke kota Surabaya.

 


[1] Suhartono (terjemahan), “Beberapa Persoalan Sekitar Perkembangan Nasionalisme Indonesia”, makalah dalam The First International Conference for Southeast Asian Historian di Singapura tanggal 16-21 Januari 1961, hal. 55.

[2] Menurut D.M.G. Koch, Ethische politiek ialah suatu politik guna kepentingan kaum uang negeri Belanda yang mempunyai  pabrik-pabrik besar dan kantor-kantor dagang ekspor disana dan kantor-kantor impor di negeri ini sedangkan sistem pemerintahan tetap perwalian, D.M.G. Koch, Menudju Kemerdekaan, Sejarah Kebangsaan Indonesia sampai 1942, Jajasan Pembangunan: Djakarta, 1951, hal. 21.

[3] Untuk studi yang lebih lengkap mengenai munculnya elit baru ini lihat buku karya Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Pustaka Jaya: Jakarta, 1984.

[4] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, Grafitti Press: Jakarta, 1989, hal. 25. Robert van Niel juga menyatakan bahwa bila sebelumnya kedudukan-kedudukan tinggi dalam hierarki kepegawaian Hindia Belanda diberikan atas dasar asal keturunan, politik kolonial yang baru membuat pendidikan sebagai suplemen pada asal keturunan dan dalam kurun waktu dan keadaan tertentu pendidikan dijadikan sebagai ukuran utama. Robert van Niel, op.cit., hal. 75.

[5] Akira Nagazumi, op.cit.., hal. 37.

[6] Candu atau Opium telah menjadi monopoli pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1860 pada masa liberalisasi ekonomi yang menggantikan sistem ekonomi tanam paksa. Pemerintah kolonial Belanda mengadakan lelang opium kepada bandar-bandar opium yang kebanyakan dari golongan Cina dan membagi wilayah-wilayah penyebaran opium di Jawa. Pemerintah kolonial Belanda juga membuat jawatan bagi produksi opium yang dinamakan jawatan opium regi. James R.Rush, Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-BandarOpium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910, Mata Bangsa: Yogyakarta, 2000.

[7] Robert van Niel, op.cit., hal. 108.

[8] ibid.., hal. 75.

[9] Akira Nagazumi, op.cit. hal. 62.

[10] Soembangsih, Gedenkboek Boedi Oetomo, 1908-1918, Tijdschrift Nedrl. Indie Oud & Nieuw, Amsterdam, 1918, hal. 9, dalam PitutSoeharto dan Zainoel Ihsan, Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli, Jayasakti: Jakarta, 1981, hal. 25-39.

[11] Pergerakan Islam sangat jelas ditulis dalam buku Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES: Jakarta, 1996.

[12] George Mc. Turnan Kahin menerangkan dalam hal ini adalah pertumbuhan awal dari Sarekat Islam yang bermula dari Sarekat Dagang Islam yang bertujuan menghadang dominasi perdagangan golongan Cina khususnya di wilayah Surakarta, dan juga dijelaskan terlepas dari fungsi ekonomi tersebut tetapi juga sebagai simbol persatuan keagamaan yang bisa menyatukan orang Indonesia melawan orang asing mula-mula terutama orang Cina, George Mc. Turnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, UNS Press: Surakarta, 1996, hal. 86.

[13] Lihat juga Deliar Noer yang menyatakan bahwa kemunculan Sarekat Islam didasarkan pada kompetisi yang meningkat dalam bidang perdagangan batik terutama dengan pedagang Cina, sikap superioritas orang Cina terhadap orang Indonesia sejak berhasilnya Revolusi Cina tahun 1911. Selain itu adanya tekanan dari golongan bangsawan di Solo. Deliar Noer, op.cit., hal. 115-116.

[14] Sin Po, 11 Oktober 1921, lihat juga Neratja, 18 Oktober 1921. Koleksi Perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta.

[15] Takashi Shiraishi, loc.cit., hal. 64, lihat juga Deliar Noer, op.cit., hal. 117, George Mc. Turnan Kahin, loc.cit., hal. 87, Robert van Niel, loc.cit., hal. 126-127, Amelz, H.O.S. Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya, Bulan Bintang: Djakarta, hal. 92-93.

[16] Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli, Jayasakti: Jakarta, 1981.

[17] Utusan Hindia, 24 Maret 1912 dalam Deliar Noer, op.cit., hal. 125.

[18] George Mc Turnan Kahin, op.cit., hal. 87.

[19] D.M.G. Koch, Menudju Kemerdekaan: Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia Sampai 1942, Jajasan Pembangunan: Djakarta, 1951, hal. 28. Lihat juga J.Th. Petrus Blumberger, De Nationalistische Beweging in Nederlandsch-indie, Foris Publications: Dordrecht Holland, 1987, hal. 59.

[20] A.P.E. Korver, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil?, Grafitipers: Jakarta, 1985, hal. 23. lihat juga Dewi Yuliati, Semaoen: Pers Bumiputera dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang, Bendera: Semarang, 2000, hal. 23-24.

[21] A.P.E. Korver, ibid., hal. 24 dan juga D.M.G. Koch, op.cit., hal. 26-29.

[22] Statuten Perhimpoenan CSI Soerakarta, Soerabaja, 26 Juli 1915 dalam Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, loc.cit., hal. Lampiran 3.

[23] A.P.E. Korver, loc.cit., hal. 35.

[24] Lihat Takashi Shiraishi, loc.cit., hal. 99.

[25] ibid., hal. 111-115.

[26] ibid., hal. 105-106. Lihat juga novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Rumah Kaca sangat jelas menerangkan kekalahan Goenawan dan kelompok pertama pendiri Sarekat Islam. Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, Hasta Mitra: Jakarta, 1987.

[27] ibid., hal. 106-107. lihat juga A.P.E. Korver, op.cit., hal. 37-41.

[28] A.P.E. Korver, ibid., hal. 40.

[29] ibid., hal. 57. lihat juga Akira Nagazumi, loc.cit., hal. 157-176, Boedi Oetomo adalah organisasi yang sangat giat mendukung dan mengkampanyekan diadakannya milisi ini. Robert van Niel, loc.cit., hal. 177-178.

[30] Dewi Yuliati, loc.cit., hal. 46.

[31] ibid.

[32] George Mc Turnan Kahin, loc.cit., hal. 89.

[33] Untuk lebih jelas mengenai aktivitas Boedi Oetomo di dalam volksraad dan juga Sarekat Islam lihat Akira Nagazumi, loc.cit., hal. 200-220.

[34] Deliar Noer, loc.cit., hal. 129.

[35]ibid., hal. 130. lihat juga A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Dian Rakyat: Jakarta, 1994, hal. 8,  Takashi Shiraishi, loc.cit., hal. 128-130, Dewi Yuliati, loc.cit., hal. 130-140, Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920, Bentang: Yogyakarta, 1999, hal. 31. Soewarsono, Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen, Lkis: Yogyakarta, 2000, hal. 56.

[36] Sin Po, 14 Juni 1921, koleksi perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta.

[37] Robert van Niel, loc.cit., hal. 163.

[38] Masalah nasionalisme Jawa menjadi kajian yang penting pada tahun 1918 ketika berlangsungnya Kongres Pengembangan Kebudayaan Jawa yang berlangsung di Surakarta dari tanggal 5-7 Juli 1918. Terjadi debat yang serius antara Tjiptomangunkusumo dan Soetatmo Soerjokoesoemo mengenai masalah nasionalisme yang sedang dirancang.  Takashi Shiraishi, “Satria VS. Pandita, sebuah Debat dalam Mencari Identitas”, dalam Akira Nagazumi (ed.), Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang: Perubahan Sosial-Ekonomi Abad XIX dan XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia, Jakarta: YOI, 1986, hal. 159-187.

[39] Ruth McVey, The Rise of Indonesian Communism, Cornell University Press: Ithaca, New York, 1965, hal. 23.

[40] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Grafiti: Jakarta, 1997, hal. 140. Untuk tulisan mengenai munculnya organisasi buruh dan pemogokan buruh dapat dilihat karya yang sangat lengkap dari John Ingleson, In Search of Justice: Workers and Unions in Colonial Java, 1908-1926, Oxford University Press: New York, 1986., dan juga karya Bambang Sulistyo, Pemogokan Buruh: Sebuah Kajian Sejarah, Tiara Wacana: Yogyakarta, 1995.

[41] George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942, UGM Press: Yogyakarta, 1990, hal. 61.

[42] ibid., hal. 132.

[43] Takashi Shiraishi, loc.cit., hal. 107-108. lihat juga George D. Larson, ibid., hal. 75. Mundurnya para petinggi dan pegawai kraton disebabkan campur tangannya Residen Van Wijk yang sangat khawatir terhadap perkembangan Sarekat Islam dan menganggap Sarekat Islam dapat membangkitkan gerakan Nasionalisme Jawa. Kebijakan residen Van Wijk dengan mengirimkan Hangabehi ke Eropa padahal Pangeran Hangabehi sebagai pelindung Sarekat Islam Surakarta. Hubungan Kraton Solo dengan Sarekat Islam didasarkan pada keuntungan yang akan diperoleh kraton sebagai pembawa panji gagasan nasional yang dapat mempertinggi kedudukannya yang telah direndahkan dalam program reorganisasi.

[44] Takashi Shiraishi, ibid., hal. 109.

[45] George D. Larson, op.cit., hal. 132-134, lihat juga Takashi Shiraishi, ibid., hal. 194.

[46] Haji Misbach nantinya akan menjadi tokoh penting dalam gerakan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad di Surakarta pada tahun 1918.

[47] ibid., hal. 154.

[48] ibid.

[49] Benedict R. Anderson, “Sembah-Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa”, dalam Prisma 11, November 1982, hal. 69-96.

[50] Sebagai catatan singkat: 1629-VOC memukul Sultan Agung di gerbang Batavia, 1674-Mataram diobrak-abrik Trunojoyo. Buat pertama pertama kali dalam sejarah, Jawa telah dilanda prajurit wong sebrang Bugis, Bali, Madura, Belanda. 1677-Amangkurat II diangkat di atas tahta baru Kartasura oleh VOC yang berhasil menumpas Trunojoyo. 1707- Amangkurat III dimakzulkan oleh VOC dan dibuang ke Ceylon. Boneka Pakubuwono Pacina. Kartasura dibakar oleh pemberontak-pemberontak Cina dan Jawa. Pakubuwono II menyerahkan seluruh pesisir utara Jawa kepada VOC sebagai imbalan tahta baru di Surakarta. 1755 dan 1757-VOC memaksakan pembagian kerajaan menjadi Kasunanan dan Kasultanan dan Mangkunegaran. 1809- Hamengkubuwono II diturunkan oleh Deandels. 1812-Hamengkubuwono II dibuang ke Penang oleh Raffles. 1814-Kesultanan dipecah dengan diciptakannya Pakualaman oleh Raffles. 1830-Diponegoro dilumpuhkan dan dibuang. Dan seterusnya.

[51] Dalam Babad Diponegoro tak sepatah juga Pangeran Diponegoro berbicara mengusir Belanda, yang pasti tidak jelas apakah Pangeran Diponegoro berpikir tentang “Belanda” sebagai satu kolektivitas. ibid., hal. 74.

[52] Lihat Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java: a Study of Agrarian Unrest in the Nineteenth and Early Twentieth Century, Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1973.

[53] R.Ng. Ranggawarsita, Serat Kalatida, Surakarta: Persatuan, t.t.

[54] Beberapa kunjungan Pakubuwana X adalah tahun 1903 ke Maos dan Semarang, 1905 ke Surabaya, dan tentunya adalah mengutus orang untuk mengunjungi makam Pakubuwana VI di Ambon, Kuntowijoyo, Raja, Priyayi, dan Kawula, Ombak:Jogjakarta, 2004, hal. 35. Lihat Juga George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942, UGM Press: Yogyakarta, 1990.

[55] Panatagama artinya seseorang yang menjadi penata agama kemungkinan hampir sama dengan khalifah.

[56] ibid., hal. 33.

[57] ibid., hal. 31-53. Menurut orang-orang Belanda terutama residen Surakarta, Pakubuwana X adalah seorang yang lemah karakternya, ia dianggap sebagai anak manja yang suka pada pakaian kebesaran yang bagus, bintang penghargaan, perempuan dan makan-makanan yang enak samapai badannya gemuk, suka minum alkohol dan merokok. Tetapi tidak memiliki kecerdasan.

[58] Lihat James R. Rush, Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910, Mata Bangsa: Yogyakarta, 2000, juga Otto Sukatno CR, Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, Bentang: Yogyakarta, 2003.

[59] Perayaan-perayaan ini tentunya sebagai simbolisasi kekuasaan Pakubuwana X yang memainkan peranan politiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hanya dengan simbolisasi inilah maka Pakubuwana X mampu memperlihatkan kekuasaan, kemegahannya sebagai seorang raja yang telah kalah secara politis.

[60] Benedict R. Anderson, op.cit., hal. 77.

[61] ibid., hal. 76.

[62] Penggunaan bahasa yang bertingkat dikalangan masyarakat Jawa mendapat tentangan dari kalangan kaum pergerakan, terutama CSI dengan gerakannya Djawa Dipa. Gerakan ini dipimpin oleh dua pemimpin SI Surabaya yaitu Tirtodanoedjo dan Tjokrosoedarmo yang bertujuan menghapus bahasa Jawa tinggi (kromo) dan menjadikan bahasa Jawa rendah (ngoko) sebagai bahasa Jawa yang standar. Lihat Takashi Shiraishi, loc.cit., hal. 143 dan Benedict R. Anderson, loc.cit., hal. 84-85.

[63] Kuntowijoyo, op.cit., hal. 93. Sebuah budaya disebut afirmatif bila ia mendukung kekuasaan dan menjadi alat dominasi. Sebaliknya, sebuah  budaya disebut kritis bila ia menolak kekuasaan, dan tidak mau menjadi alat dominasi.

(phesolo)

 

 

 

 

Johan Paul van Limburg Stirum

 

 

Johan Paul van Limburg Stirum.

Johan Paul, Count of Limburg Stirum (Zwolle, 2 February 1873 – Den Haag, 17 April 1948) was a reformist in the time of World War I.

He made a rapid career as a diplomat of the Netherlands and was, among others, envoy in China and Sweden. Thanks to his knowledge of Asia, the government Cort van der Linden named him in 1916 Gouverneur General of the Dutch East Indies. He worked for a greater autonomy of the Dutch East Indies and for the economic development of the colony. As Governor General he conducted administrative reforms, such as the extension of the powers of the parliament (Volksraad) of the Dutch East Indies and decentralisation.

He worked in good terms with minister Idenburg, but had a difficult relationship with minister Andries Cornelis Dirk de Graeff. After his departure from the Dutch East Indies he was sent to Egypt, Germany and Great Britain

 

 

1916

 

 

 

Aankomst per m.s. Insulinde van de Gouverneur-Generaal Van Limburg Stirum in de haven van Padang, Westkust-Sumatra

Goveurnur General  Van Limburg stirum visit Padang with Insulinde Ship  at the emma haven (now Teluk Bayur)

 

 

 

 

Governier general Van Limburg Stirum at the Resident Palace Padang in 1916(now West Sumatra Governur Palace).please look the Car that time

 

 

The interior of west Sumatra resident house in 1916

 

 

Welcome * Wel Kom)  to Padang at the bridge  from emma haven to Padang  during the Guvernor genera van limburg stirum Visit Padang in 1916

Tread related info

Gaba-gaba menyambut Tuan Limburg Stirum di Padang

 

In March 1916

the Governor General of the Dutch East Indies Johan Earl Paul van Limburg Stirum official visit to Sumatra’s Westkust.

Van Limburg Stirum was Governor of the Dutch East Indies in 1916-1921. Important group of people that got Emmahaven Batavia (now: Gulf Bayur) by ship ‘Insulinde’.

They greeted like a king and was hailed by the subjects. Governor-General Van Limburg Stirum stay a few days in Padang before continuing his official trip to Tapanuli with rising auto overland through Pasaman.


Photos of our classic cuts within the rubric of ‘Minang Saisuak’ this time to record one of the aspects associated with the flurry of Sumatra’s Weskust officials in welcoming the arrival of the Governor-General Van Limburg Stirum it.

This photograph shows a large gaba-gaba – ‘gate’ said the now – are deliberately made to welcome the arrival of the Governor General in Minang aspect. Gaba-gaba highways were built flanking him from entering the city of Padang.

His position may be on the face of the Bridge Muaro Panyalinan now. Looks posted a welcome in Dutch ‘Welkom te Padang’ is written in capital letters.

In the upper right of the left-gaba gaba snagged tigo flag pattern.
Just as important when people come to the center, all local officials were whispering and fuss made: gaba-gaba established,

the roads quickly in-tumbok, the bad things are put into kungkuangan kitchen are beautiful and fragrant- fragrant placed in front of the house. Remember, for example, the same habits prevailing in the Age of the New Order, to some extent, still valid in the Age of Reformation.

By reading this story you can see now that the traditional helter-tunggik local officials when visited by officials of the center was a legacy of the Colonial Period distant past. However, if the establishment has not obtained the data gateway ‘Welkom te Padang’ to welcome the Governor-General Van Limburg Stirum has received permission from the Mayor of Padang or not at that time.
Suryadi – Leiden, The Netherlands.

(Photo source: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Sunday, June 24, 2012

Original info

Pada bulan Maret 1916 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Earl Johan Paul van Limburg Stirum melakukan kunjungan resmi ke Sumatra’s Westkust. Van Limburg Stirum menjabat Gubernur Hindia Belanda dari tahun 1916-1921. Rombongan besar orang penting dari Batavia itu sampai di Emmahaven (kini: Teluk Bayur) dengan menumpang kapal ‘Insulinde’. Mereka disambut bagai raja dan dielu-elukan oleh kawula. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menginap beberapa hari di Padang sebelum meneruskan lawatan resminya ke Tapanuli dengan naik oto lewat jalan darat melewati Pasaman.

Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini merekam salah satu aspek yang terkait dengan kesibukan para pejabat Sumatra’s Weskust dalam menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum itu. Foto ini memperlihatkan sebuah gaba-gaba besar – ‘gerbang’ kata orang sekarang – yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Sang Gubernur Jenderal di Ranah Minang. Gaba-gaba ini dibangun mengapit jalan raya ketika hendak memasuki kota Padang. Posisinya mungkin di muka Jembatan Muaro Panyalinan sekarang. Kelihatan terpampang ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda ‘Welkom te Padang’ yang ditulis dengan huruf besar. Di kiri kanan bagian atas gaba-gaba tersangkut bendera tigo corak.

Sebagaimana halnya bila orang penting dari pusat datang ke daerah, seluruh pejabat daerah kasak-kusuk dan repot dibuatnya: gaba-gaba didirikan, jalan-jalan cepat di-tumbok, yang busuk-busuk ditaruh ke kungkuangan dapur, yang cantik-cantik dan harum-harum ditaruh di depan rumah. Ingatlah misalnya kebiasaan yang sama yang berlaku di Zaman Orde Baru yang, sampai batas tertentu, masih berlaku di Zaman Reformasi ini. Dengan membaca kisah ini Anda dapat mengerti kini bahwa tradisi tunggang-tunggik pejabat daerah bila dikunjungi oleh pejabat pusat itu sudah merupakan warisan dari Zaman Kolonial jauh di masa lampau. Namun belum diperoleh data apakah pendirian gerbang ‘Welkom te Padang’ untuk menyambut Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ini sudah mendapat izin atau belum dari Walikota Padang pada waktu itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 24 Juni 2012

 

 

 

1917

KNIL

To ensure a sizeable European military segment in the KNIL and reduce costly recruitment in Europe the colonial government introduced obligatory military service for all male conscripts in the European legal class in 1917.[5]

1917

 

Klub sepakbola dijadikan alat kampanye politik itu bukan barang baru. Jauh sebelum era Indonesian Super League, yang meliberalisasi praktik politisasi sepakbola, sepakbola sudah lazim menjadi alat kampanye.

Untuk menengok perulangan sejarah itu, kita bisa menengok kembali ke masa yang jauh, pada 1917, nyaris 100 tahun sebelum Alex Noerdin meng-Golkar-kan stadion Jakabaring di Palembang dengan serentetan gambar dirinya yang terpampang sejak dari tiket sampai papan iklan di pinggir lapangan.

Di suratkabar De Sumatra Post edisi 15 November 1917, saya menemukan sepucuk berita berjudul “Deli, de Volksraad en de Voetbal” (Deli, Dewan Perwakilan Rakyat dan Sepakbola). Kendati eksemplar De Sumatra Post yang saya temukan itu sudah buram dan di sana-sini tak terbaca, khusus berita berjudul “Deli, de Volksraad en de Voetbal” itu masih relatif jelas terbaca.

Dan di situ saya menemukan bagaimana sebuah klub sepakbola menawarkan dirinya menjadi bagian dari kampanye pemilihan anggota Volksraad. Nama klub itu adalah “Boeih Merdeka“. Beberapa kandidat anggota Volksraad yang disebut dalam berita itu adalah Mr. Baradja, T. Moesa dan Dr. Abdul Rasjid. Nama yang terakhir itu akhirnya berhasil menjadi anggota Volksraad mewakili Sumatera Utara dan karier politiknya terus bertahan sampai kedatangan Jepang.

Sebenarnya tidak mengherankan jika Abdul Rasjid memanfaatkan sepakbola sebagai bagian penting kampanyenya. Saat masih bersekolah di STOVIA (sekolah kedokteran di masa kolonial), dia aktif bermain sepakbola bersama rekan-rekan di sekolahnya. Tak hanya main bola, dia juga menjadi pengurus klub sepakbola STOVIA. Seperti yang sudah ditulis dalam artikel Genealogi Sepakbola Indonesia bagian 5, STOVIA adalah klub yang diperkuat para pemain bumiputera pertama yang ikut kompetisi pertama yang pernah digelar di Jawa pada 1904.

Di suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 30 Agustus 1907, ada berita mengenai struktur kepengurusan klub sepakbola STOVIA. Dalam berita itu terlihat Abdul Rasjid menjadi Commissarissen van Materiaal (yang mengurus segala alat-alat dan perlengkapan). Selain Abdul Rasjid, nama lain yang menjadi Commissarissen van Material di klub STOVIA adalah Sam Ratulangi, orang Minahasa yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Di Volksraad, Abdul Rasjid dikenal sebagai anggota Fraksi Nasional yang gigih mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia dalam sidang-sidang di Volksraad. Pada periode 1938-1939, ada 7 anggota Volksraad yang menggunakan bahasa Indonesia yaitu Soangkupon, Suroso, Wirjopranoto, Jahja Datoek Kajo, Abdul Rasjid, MH Thamrin, dan Otto Iskandar Dinata [lihat buku Jahja Datoek Kajo: Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1929, hal. 35].

Dan tahukah Anda, 2 nama terakhir setelah Abdul Rasjid yang saya sebutkan di atas (MH Thamrin dan Otto Iskandar Dinata) adalah para politisi yang sangat aktif mengurusi sepakbola, bahkan jauh lebih aktif daripada Abdul Rasjid.

MH Thamrin tak mungkin dipisahkan dari VIJ (cikal bakal Persija kelak). Dia bukan hanya secara rutin menonton pertandingan VIJ, tapi juga mengurusi banyak hal yang menjadi keperluan Persija, tak terkecuali lapangan sepakbola.

Disebut-sebut, Thamrin merogoh koceknya sendiri untuk menyediakan lapangan bagi VIJ di daerah Petojo pada 1932 (penelusuran saya menyebutkan lapangan VIJ itu bukan 1932, tapi 1936. Lihat surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 16 Maret 1936).

Kesukaan Thamrin pada sepakbola pula yang membuatnya peduli dengan “kericuhan” menyusul tindakan rasis panitia kompetisi sepakboola NIVB di Surabaya yang pada 1932 melarang wartawan bukan kulit putih datang meliput. Larangan itu memicu gelombang protes, terutama dari surat kabar Sin Tit Po yang menyerukan boikot. Liem Koen Hian, hoodredacture/pemred Sin Tit Po, ditangkap atas dugaan memprovokasi kericuhan. Thamrin datang menyelidiki persoalan ini, terutama untuk memastikan agar Liem Koen Hian tidak diperlakukan semena-mena. Thamrin sampai mengajukan beberapa pertanyaan tertulis kepada aparat kepolisian saat itu.

Thamrin pula yang memimpin kesebelasan bentukan PSSI saat berkunjung ke Jepang pada 1939 –kunjungan yang sedikit banyak menjadi jawaban atas “kegagalan” PSSI terlibat dalam pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Paris. Saat itu, Thamrin memimpin delegasi yang terdiri para siswa, dokter, dan beberapa kalangan lainnya. Ini adalah bagian dari kecenderungan politik Thamrin (dan beberapa aktivis pergerakan lainnya) yang mulai terkagum-kagum dengan Jepang (lihat Soerabaiash-Handelsblad edisi 1 Agustus 1936).

Jika Thamrin adalah politisi Betawi yang sangat peduli dengan VIJ, maka di tanah Parahyangan muncul Otto Iskandar Dinata. Sosok yang nama julukannya, Si Jalak Harupat, itu diabadikan menjadi stadion sepakbola di Soreang ini sangat peduli dengan Persib Bandung (berbeda dengan Persija yang bertahun-tahun lamanya masih menggunakan nama VIJ, sejak berdiri Persib sudah menggunakan nama Persib).

Banyak sekali laman atau artikel di internet yang menyebut-nyebut namanya sebagai Ketua Umum Persib Bandung. Itu sebenarnya keliru. Otto memang tak pernah melepaskan kepeduliannya pada Persib, tapi sesungguhnya dia tak pernah jadi Ketum Persib. Dia hanya pernah jadi Ketua Panitia Kongres PSSI di Bandung pada 1936 (lihat buku “Otto Iskandar Dinata: the Untold Stories” karya Iip D. Yahya).

Dia selalu terlibat dalam setiap acara yang melibatkan Persib, termasuk menjadi salah seorang offisial tim saat Persib untuk pertama kalinya menjadi juara Kejurnas PSSI pada 1937 di Solo. Surat kabar berbahasa Sunda yang dipimpinnya, Sipatahoenan, tak ubahnya seperti Pikiran Rakyat di masa pasca kemerdekaan: menjadi corong utama pemberitaan Persib Bandung.

Sebagai seorang aktivis pergerakan dan anggota Volksraad, Otto tak pernah melupakan latar belakangnya sebagai wartawan. Jika Sipatahoenan banyak memberitakan Persib, maka Otto juga menerbitkan majalah Olahraga yang sempat menjadi majalah resmi PSSI. Semua propaganda sepakbola PSSI pada dekade pertama kehadiran PSSI selalu melibatkan Otto melalui majalah Olahraga yang dipimpinnya.

Kecintaan dan kegemaran Thamrin dan Otto akan sepakbola sudah termasyhur di masa itu. Sampai-sampai, pada 16 Mei 1932, digelar pertandingan persahabatan dengan Thamrin dan Otto berada di dua kubu yang berseberangan. Pertandingan yang hanya berlangsung selama 1 babak itu berakhir 0-0.

Kesebelasan Thamrin saat itu diperkuat nama-nama seperti Dachlan Abdollah, L. Djajadiningrat, Dr. Kajadoe, Mokoginta, sampai Brata Moehjiddin. Sementara kesebelasan yang diperkuat Otto dipenuhi nama-nama yang lebih tenar seperti Dr. Boentaran Saragih, Parada Harahap, Soetardjo sampai Mr. Koesoema Atmadja.

Jika kini Persija (nama baru dari VIJ) dikenal juga karena perseteruannya dengan Persib, setidaknya catatan itu sudah dimulai sejak kesebelasan Thamrin bertandingan melawan kesebelasan Otto Iskandar Dinata.(ultrasin)

 

1918

 

The Ricefield Plug Padang 1918

 

 

 

 

 

 

The native Batipoe merapi minang tribe 1918

 

 

Tengku Otteman dari Kerajaan deli melanjutkan pendidikan tinggi dibidang Hukum dan pemerintahan di Raad  van Justitie batavia

 

 

1919

 

Belantung street(now jl a.Yani) Padang in 1919

 

Anai valley singalang waterfalls in 1919

1920

Pendirian Observatorium Bosscha di Lembang pada dekade 1920an dapat dilihat dalam konteks merembesnya ilmu pengetahuan modern keluar dari Eropa dan pelaksanaan riset ilmu alam dalam situasi kolonial.

 

Foto udara Observatorium Bosscha dan lingkungannya pada tahun 1930an. Sumber: Koleksi pribadi Bambang Hidayat.

Kolonialisme, bagaimanapun, adalah hubungan yang tak setara tidak hanya antara para kolonis dengan penduduk asli, namun juga antara negara induk—negara metropolitan—dengan koloni (dalam konteks ini, Hindia Belanda). Ketidaksetaraan ini juga timbul dalam pelaksanaan penelitian ilmu alam, di mana penelitian di koloni didikte oleh institut-institut metropolitan berdasarkan ambisi dan kepentingan mereka. Penelitian astronomi di koloni, misalnya, dilakukan untuk keperluan pemetaan dan pencatatan waktu. Penelitian ilmu alam yang bertujuan untuk berkontribusi pada badan ilmu pengetahuan, tidaklah banyak dan kalaupun ada merupakan program yang ditetapkan oleh institut metropolitan di Negeri

 

 

Minang Saisuak #117 – Si “Muslim – Komunis” Minang: Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah (1895-1949)

West Sumatra in the late of nineteenth and early twentieth centuries became an ideological breeder reactor”, kata Jaffrey Hadler (1998:180). Dan salah satu ‘kayu api’ pemanas reaktor itu adalah Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah, tokoh yang kami tampilkan dalam rubrik Minang Saisuak minggu ini.

Sejarawan Universitas Andalas, Fikrul Hanif Sufyan, yang sedang mendalami biografi tokoh ini, mengatakan bahwa Dt. Batuah adalah seorang Muslim Minangkabau yang memadukan prinsip-prinsip Islam dan ideologi Marxis dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Foto-fotonya jarang ditemukan dalam risalah-risalah historis mengenai gerakan Komunisme di Sumatera Barat tahun 1920-an. Kita beruntung mendapatkan foto Dt. Batuah yang unik ini, dengan baju ala Kamerad Stalin dan wajah yang kelihatan cukup sangar, yang dipajang oleh Fikrul dalam blognya, Basajarah (http://basajarah.wordpress.com dikunjungi, 13-12-2012). Fikrul menulis, Dt. Batuah lahir di Koto Laweh, Padang Panjang, tahun 1895 dari pasangan Syekh Gunung Rajo (seorang pemimpin tarekat Syattariyah) dan Saidah. Ia mempunyai dua saudara perempuan: Sanah dan Jamilah.

Dt. Batuah, yang pergi ke Mekah tahun 1909 dan kembali ke Minangkabau tahun 1915, mengenal Komunisme dari Natar Zainuddin di Aceh. Pada waktu itu ia sudah menjadi guru di Sumatra Thawalib. Ia pergi ke Aceh sebagai utusan Haji Rasul untuk meninjau Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis oleh A.R. Sutan Mansur. Ia sempat bertemu dengan Haji Misbach, salah seorang tokoh komunis yang terkenal pada waktu itu.

Kiprah politik Dt. Batuah tak lepas dari fenomena kelahiran Sarikat Islam Merah (SI Merah) di Jawa yang membuat Tjokroaminoto dkk. berenggang haluan politik dengan Semaun dkk. pada awal 1920, yang tampaknya cepat menjalar ke Minangkabau. Namun, dalam bukunya, Sedjarah PKI (1957:10), Djamaluddin Tamim menulis: “Malah di Padang Pandjang, sebuah kota ketjil di Sumatera Tengah tempat berkumpul dan pusatnja pesarntren Agama/Mahasiswa Ilmu Gaib dari seluruh Sumatera, sudah sedjak awal tahun 1920 disanapun sudah mulai menjebut2 tentang Sosialisme-Komunisme Sarikat Merah, walaupun pada permulaannja makanja Padang Pandjang menjadi pusat kaum merah, menjadi kota merah di Sumatera, hanjalah mendirikan BOPET MERAH sebagai tjabangnja Koperasi kaum Merah disana, jakni lima enam bulan sebelumnja lahir PKI di Semarang tahun 1920″.

Sejarah telah mencatat bahwa Dt. Batuah dan teman-temannya mendirikan PKI cabang Padang Panjang secara resmi pada 20 November 1923. Ia aktif mengampanyekan ideologi perjuangan SI Merah alias Sarekat Rajat melalui ceramah-ceramah maupun media cetak seperti Pemandanga Islam, Djago! Djago!, dan Doenia Achirat. Muhammad Ilham dalam blognya (http://ilhamfadli.blogspot.nl/search?q=Dt.+Batuah dikunjungi 12-12-2012) menulis: “Keberhasilan Dt. Batuah menyebarkan ‘Faham Kuminih’ di kalangan pelajar Sumatera Thawalib menyebabkan timbulnya perpecahan di kalangan guru dan murid” dan mendorong Buya Hamka mundur sebagai pengajar di sekolah itu. Namun, Dt. Batuah (dan Natar Zainuddin) keburu ditangkap Belanda pada 11 November 1923. Mereka ditahan Belanda tanpa diadili. Pada bulan Desember 1924 mereka diasingkan ke daerah Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara Timur).[1]Surat kabar Njala edisi 14 November 1925 dalam artikelnya yang berjudul ‘Korban Pembela Rajat jang Paling Akhir’ memuat foto Dt. Batuah dan Natar Zainuddin. Njala menulis:

Dibawah inilah kami muatkan gambarnja saudara-saudara NATAR ZAINOEDDIN dan DATOE’ BATOEAH.

Korban pembela Rakjat yang paling sehat. Potret ini kami dapat waktu saudara-saudara itu berangkat ke pembuangannya.

Sebagai saudara masih ingat, berdua saudara itu sama dibuang oleh Pemerintah karena didakwa membikin persekutuan akan mengatur pemberontakan di Padang-Panjang (Sumatera Barat). Saudara Zainuddin ke Kafannanoe[2] dan Saudara Datuk Batuah ke Kalabai[3], keduanya turun bagian residensi Timor.

Sekarang saudara-saudara itu telah tinggal dalam pembuangannya masing-masing dengan istri dan anaknya.

Berdua saudara itulah suatu korban gerakan merah di Sumatera. Karena pembuangannya berdua saudara itulah maka gerakan Rakyat yang berdasar Kemerahan di Sumatera-Barat makin hebat. Sebab Rakyat makin mengandung kesumat.

Cobalah di sini kami bikin pemandangan sedikit sepanjang yang telah kami ketahui, riwayatnya berdua saudara ini, mulai masuk dalam gerakan kita sampai datang pada pembuangannya.

NATAR ZAINOEDDIN

Saudara ini kelahiran di Sumatera-Barat. Kemudian untuk mendapatkan pencarian kehidupannya ia bekerja pada Kereta-Api di Aceh. Karena aksinya keras, baik dalam VSTP [Vereeniging van Spoor en Tramwegpersoneel; Syd], maupun dalam PKI, terutama dalam pemogokan Kereta-Api tahun 1923, maka diusirlah ia dari Aceh ke tempat kelahirannya, yaitu ke Sumatera-Barat. Disana ia memimpin S.R. [Serikat Ra'jat; Syd] di Padang-Panjang dan menjadi Redacteur DJAGO! DJAGO!.

Setelah itu maka ia lalu ditangkap dan diusir dari Sumatera-Barat setelah satu tahunan dalam preventif, ke Kafananu, karena didakwa akan mengadakan pemberontakan.

DATOE’ BATOEAH

Saudara ini juga kelahirandi Sumatera-Barat. Ia ada[lah] seorang saudara yang sangat pandai dalam agama Islam. Karena itulah ia lalu diangkat oleh penduduk kampungnya di Padang-Panjang menurut ada menjadi Penghulu dan diberi gelar Datoe’. Karena keyakinannya tentang agama Islam yang luas dan Revolusioner maka tiada heranlah bahwa saudara itu lalu masuk dalam kalangan kita, sebagai juga halnya saudara H. Misbach, karena bagi tiap kaum Islam yang Revolusioner setujulah jalannya menurut keselamatan dan datangnya Kemerdekaan itu sama-sama kaum Communist.

Karena geraknya yang keras maka saudara ini lalu ditangkapnya dan diusir dari Sumatera-Barat, setelah satu tahun dalam preventif ke Kalabai karena didakwa membuat komplotan pemberontakan bersama-sama dengan saudara Natar Zainoeddin.

Begitulah keadaannya.

Saudara-saudara! Berdua saudara ini sekarang sudah menjadi korban dan hidup dalam pembuangan dengan anak-istri, jauh dengan kawan Separtai dan family. Sebab itu tunjukkanlah pembalasan budimu.

Sampai di sini. Lain kali kami muatkan gambarnya saudara H. Misbach.[4]

Sebelumnya, dalam edisi 7 November 1925, dalam rangka memperingati kemenangan kaum proletar merebut kekuasaan di Uni Sovyet, Njala mengucapkan selamat kepada para pemuka PKI di Hindia Belanda, termasuk Dt. Batuah dan Natar Zainuddin. Berikut kutioannya:

Kepada Datoe’ Batoeah dan Natar Zainoeddin, kedua pemuka yang dengan memajukan agama Islam sejati dan selalu berdiri tegak atas kebenaran dan selalu dengan susah-payah berdaya-upaya menyebarkan kebenaran itu, sehingga tertariklah banyak orang masuk ke kalangan Merah, sedang semua halangan dan rintangan sama sekali tidak diperdulinya.[5]

Selama dalam pembuangan di Timor, Dt. Batuah dan Natar Zainuddin terus mengampanyekan ajaran komunis. Ia ikut memberi andil dalam pendirian cabang PKI di Timor.

 

 

Nagari Koto Laweh Padang Panjang

 

untuk menyinggahi

 

 

Haji Ahmad Khatib gelar Dt. Batuah. Haji Dt. Batuah, demikian sosok ini sering kenang namanya.Ahmad Khatib lahir tahun 1895 di Nagari Koto Laweh dari pasangan Syech Gunung Rajo (seorang pimpinan Tarekat Syattariyah) dan Saidah.

 

Ahmad Khatib merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, masing-masing Sanah, Ahmad Khatib gelar Dt. Batuah, dan Jamaliah.

 

Pada tahun 1909 ia memutuskan berangkat kembali ke Mekah untuk mendalami Islam dan berguru pada Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Enam tahun bermukim di sana

 

, tahun 1915 ia kembali ke Padang Panjang dan meneruskan untuk berguru pada Haji Abdul Karim Amrullah. Sejak saat itu, ia menjadi salah seorang murid kesayangan tokoh modernisme Islam tersebut dan diamanahi sebagai guru di Sumatra Thawalib Padang Panjang.

Perkenalannya dengan komunisme dimulai sejak keberangkatannya ke Aceh sebagai utusan dari Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis Buya A.R Sutan Mansur. Ia bertemu dengan salah seorang propagandis komunis asal Padang, yakni Natar Zainuddin.

Sejak pertemuannya dengan Natar Zainuddin tersebut, terjadilah diskusi yang hangat di antara keduanya. Untuk membuktikan rasa penasarannya terhadap perkembangan komunis di Jawa, ia diajak untuk bertemu dengan Haji Misbach.

Sejak pertemuan dengan Haji Misbach, muncul keinginan dai Dt Batuah untuk merintis PKI di Padang Panjang. Pada tanggal 20 November 1923 berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota).

Sejak saat itu, Haji Dt. Batuah dianggap sebagai propagandis ilmu kuminih (komunis), yang memadukan ajaran Islam dengan unsur-unsur Marxis di kalangan murid-murid Thawalib Padang Panjang. Tidak hanya mendirikan pusat diskusi dengan nama bufet merah, ia juga mendirikan media pers Pemandangan Islam, dan aktif menulis di Djago Djago dan Doenia Achirat.

Haji Dt. Batuah mengakhiri masa lajangnya pada umur 23 tahun dengan mempersunting gadis asal Nagari Koto Laweh, yakni Saadiah. Dari hasil pernikahannya, ia dikaruniai tiga orang anak, yakni LENIN, SAUKANI, dan NABAWIYAH. Pada saat LENIN berumur satu tahun, Dt. Batuah menikah lagi dengan Zainab dan dikaruniai satu orang anak, yakni KARTINI.

Membesarnya pengaruh komunis di Padang Panjang, membuat pemerintah Hindia Belanda gusar. Untuk mencegah semakin membesar dan bertambahnya jumlah pengikut Haji Dt. Batuah, pemerintah Hindia Belanda melakukan penggeledahan terhadap kantor IDC.

Tanggal 11 November 1924, Haji Dt. Batuah dan Natar Zainuddin ditangkap. Kejadian yang sama juga menimpa pimpinan PKI di Padang, seperti Magas, A. Wahab, Kaharoeddin, Djalaludin, dan lainnya.

Tahanan politik itu pun diasingkan ke Boven Digoel. Setahun setelah pengasingannya, isteri pertama Haji Dt. Batuah pun menyusul ke sana.

Pada tahun 1943, eks Digoelis ini pun dipindah ke New South Wales Australia karena kawasan Indonesia diduduko pemerintah fasisme Jepang.

Pada tahun 1945, Dt. Batuah dan Saadiah menghirup udara kebebesannya dan memutuskan berangkat menuju Solo (belum diketahui apa aktivitasnya di sana).

Pada tahun 1948, pasangan suami isteri ini kembali ke Nagari Koto Laweh.

Aktivitas yang dijalani Ahmad Khatib menjelang akhir hayatnya tidak jauh berbeda saat ia menjadi propagandis komunis, tetap berdakwah, mengajak masy Koto Laweh diskusi masalah politik di rumahnya ataupun di kedai kopi.

Pada tahun 1949, tokoh fenomenal ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di Nagari Koto Laweh.

Namun ada satu hal yang menjadi tanda tanya besar, sejauh mana interaksi Haji Dt. Batuah dengan Tan Malaka, komunikasinya dengan tokoh komunis Jawa, seperti Semaun, Alimin dan Darsono???

Lembaran sejarah Sumatra Thawalib Padang Panjang tidak bisa dilepaskan dari kedua tokoh, seperti yang Bloggers lihat pada foto berikut.

 

Ya..

 

, Haji Abdul Karim Amrullah

 

 

dan Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah.

Kedua tokoh ini, dideskripsikan Hamka tak ubahnya, seperti Bapak-Anak.Selama menuntut ilmu di Sumatra Thawalib Padang Panjang, Haji Ahmad Khatib merupakan murid kesayangan Haji Rasul yang dikenal cerdas dan alim. Setelah menamatkan pendidikannya di Thawalib Padang Panjang, Haji Rasul mengizinkan sang murid untuk kembali ke kampung halamannya di Koto Laweh untuk mengajar di sana.

Perkenalannya dengan komunisme dimulai sejak keberangkatannya ke Aceh sebagai utusan dari Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis Buya A.R Sutan Mansur. Ia bertemu dengan salah seorang propagandis komunis asal Padang, yakni Natar Zainuddin. Sejak pertemuannya dengan Natar Zainuddin tersebut, terjadilah diskusi yang hangat di antara keduanya. Untuk membuktikan rasa penasarannya terhadap perkembangan komunis di Jawa, ia diajak untuk bertemu dengan Haji Misbach.

Sejak pertemuan dengan Haji Misbach, muncul keinginan dai Dt Batuah untuk merintis PKI di Padang Panjang. Pada tanggal 20 November 1923 berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota).

Sejak saat itu, Haji Dt. Batuah dianggap sebagai propagandis ilmu kuminih (komunis), yang memadukan ajaran Islam dengan unsur-unsur Marxis di kalangan murid-murid Thawalib Padang Panjang. Tidak hanya mendirikan pusat diskusi dengan nama bufet merah, ia juga mendirikan media pers Pemandangan Islam, dan aktif menulis di Djago Djago dan Doenia Achirat.

 

Sementara, Haji Rasul yang pernah melawat ke Jawa tahun 1917, pernah ditawari HOS Tjokroaminto untuk mendirikan SI di Sumatera Barat pun ditolaknya, karena ia bukan tipe ulama partisan. Apatah lagi dengan komunisme. Lewat Arra’du ‘alad Dahriyyin karangan Djamaluddin Al-Afghani, Haji Rasul sadar bahwa marxisme menetang seluruh agama. Namun, satu hal yang perlu dicatat komunisme yang berkembang di SUmatera Barat pada 1920an tersebut belum dipengaruhi historis-materialism, namun menitik beratkan pada kapitalisme-imprealisme.

Sampai suatu hari, Haji Dt. Batuah dan Natar Zainuddin menemui Haji Rasul di Gatangan dan berdeleaktika mengenai komunisme-Islam. Terjadilah, perdebatan sengit malam itu, Haji Rasul menguatkan hujjahnya bahwa komunisme bertentangan dengan Islam, pada saat yang sama Haji Dt. Batuah pun mempertahankan pendapatnya dengan penuh semangat.

Hingga suatu hari Dt. Batuah dan Natar Zainuddin pun ditangkap. Meskipun Dt. Batuah pernah menentang pendapatnya, mendengar berita penangkapan itu, wajah Haji Rasul pun muram. Ia berujar kepada puteranya, “Sudah tertangkap Haji Dt. Batuah.. Sayang dia seorang alim besar, terbenam saja ilmunya. Waang jangan masuk komunis pula”. Haji Rasul pun sadar, Dt. Batuah tidak saja berpengaruh di Thawalib Padang Panjang, namun juga mempengaruhi Duski Samad,adik sepupu A.R Sutan Mansur.

Fikrul Hanif, saat ini sedang merampungkan naskah:”Menentang Kolonialisme di Sumatera Barat. Protes Intelektual Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah 1923-1948″.

1920

Deli

 

Kunjung Gubernur general Fock ke Istanana maimon kerajaan deli di Medan

 

Tionghoa worker in 1920

 

1920

Banten

 

Cisadane in 1920 

Cisadane in 1920

 

1920

minangkabau

 

Emma Haven(teluk Bayur) in 1920)

 

Portret van een werknemer van de Padang Tabak Maatschappij op Sumatra in 1920

 

 

Mgr Cluts of Padang in 1920

 

1920

 

Rantepao hill solok 1920

 

 

 

 

 

The Ombilin Coal Mine sawahloento”s workers in 1920

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Horse Rice show Pajakoemboeh 1920

 

 

Horse Rice show Pajakoemboeh 1920

 

 

 

Horse Rice show Pajakoemboeh 1920

 

 

 

Hadji Maad 1920

 

1920

Sejak remaja Adna Kapau  Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bond dan Jong Java.

Roestam Effendi.

 

Roestam lahir dari pasangan Soelaiman Effendi dan Siti Sawiah. Ayahnya merupakan seorang fotografer, yang kemudian pindah ke Jakarta dan mendirikan Effendi Bank.

 Roestam tamatan Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi yang kemudian melanjutkan sekolahnya di Hogere Kweekschool voor Indlanse Onderwijzers (Sekolah Guru Tinggi untuk Guru Bumiputra) di Bandung.

Pada tahun 1926 ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan Hoofdakte. Sejak masih duduk di bangku sekolah, Roestam sudah banyak menaruh minat pada soal-soal kebudayaan dan pernah bercita-cita hendak memperbaharui dunia sandiwara yang saat itu lebih bersifat komedi stambul.

Sebelum pergi ke Belanda, Roestam sempat beberapa lama menjadi kepala sekolah di Adabiah, Padang.

 Sebelum di Adabiah, ia pernah diangkat menjadi Waarnemend hoofd pada sekolah tingkatan HIS di Siak Sri Indrapura. Namun pengangkatan tersebut ditolaknya. Ia kemudian mendirikan sekolah partikelir yang diberi nama “Adabiah”.

 

 Sebagai kepala sekolah, ia merasa memiliki kemerdekaan untuk berbuat. Sehingga ketika ia mengepalai sekolah, ia juga terjun ke dunia politik dan aktif menulis.

Selama 19 tahun (1928-1947) ia menetap di Belanda, dan bergabung dengan Partai Komunis Belanda (Communistische Party Nederland, CPN) dan selama 14 tahun (1933-1946) Roestam merupakan satu-satunya orang Hindia Belanda yang pernah menjadi anggota Majelis Rendah (Tweede Kamer) mewakili partai tersebut.

Di dunia sastra, keseriusannya untuk mengembangkan sastra Melayu diperlihatkan dengan kegigihannya mempelajari hasil-hasil kesusastraan Melayu seperti hikayat, syair, dan pantun. Pada masa awal kepengarangannya, Roestam sering menggunakan nama-nama samaran seperti Rantai Emas, Rahasia Emas, dan Rangkayo Elok.

Karya Roestam yang cukup terkenal ialah Bebasari, yaitu naskah drama yang ditulisnya pada tahun 1920-an. Naskah ini sempat dilarang oleh pemerintah Belanda ketika ingin dipentaskan oleh siswa MULO Padang dan para mahasiswa kedokteran di Batavia (Jakarta). Pelarangan itu disebabkan karena karya ini dianggap sindiran terhadap pemerintah Hindia-Belanda.

Cuplikan teks Bebasari :
Harapan beta perawan pada Bujangga hati pahlawan
Lepaskan beta oh kakanda, lepaskan
Dengarlah peluk asmara hamba
Kilatkan jaya kekasih hati

Penjual Daging Babi Keliling Di Jawa Masa Kolonial

 

Penjual Daging Babi di Jawa 1920 (Koleksi; http://www.kitlv.nl)

Penjual daging babi keliling merupakan jenis pekerjaan yang ada pada masa kolonial Belanda di Jawa. Pekerjaan ini didominasi oleh Etnis China dan diperjualbelikan kepada masyarakat China dan Eropa. Masyarakat Jawa yang mayoritas Islam melarang anggota masayarakatnya yang muslim untuk mengkonsumsi daging ini karena dianggap haram. Penjual daging babi keliling ini membawa barang jualannya dengan dipikul menggunakan pikulan bambu yang disamping kanan dan kirinya terdapat keranjang dari bambu untuk menaruh daging babi. Peralatan lain yang dibawa adalah timbangan dan pisau untuk memotong daging babi tersebut.

 

Penjual Daging Babi di Jawa 1880 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Saat ini penjual daging babi keliling sudah langka karena peredaran daging ini sangat dibatasi dan biasanya terdapat di pasar-pasar tertentu. Saya yakin disetiap kota besar pada masa kolonial Belanda dulu terutama di wilayah pecinan banyak berlalu-lalang penjual babi keliling ini.

(phe solo)

Dirk Fock

 

 

Dirk Fock, ca. 1921

Dirk Fock (Wijk bij Duurstede, 19 June 1858 – The Hague, 17 October 1941) was a Dutch politician, Governor of Suriname (1908–1911), President of the House of Representatives of the Netherlands (1917–1921) and Governor-General of the Dutch East Indies (1921–1926).

 

Fock as Governor-General of the Dutch East Indies

[edit] Education

After attending Gymnasium Haganum, Fock studied law at the Rijksuniversiteit Leiden from 1875 to 1880.[1

 

Kunjungan Gubernur General Fock ke Istana Maimoon dari kerajaan Deli di Medan tahun 1920

 

 

 

 

 

 

 

1921

Kubu Tribe

 

 

1921

Deli Medan

SEJARAH TJONG A FIE

 

 

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

 

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

PENDIRI DAN PENEMU IDE

THE FOUNDER

Dr IWAN SUWANDY, MHA

 

The Driwan’s  Cybermuseum

THE HISTORY OF TJONG A FIE

SEJARAH Tjong A Fie

Sejarah Mansion A Tjong A Fie


Sebuah rumah yang menonjol yang terletak di jantung Kota Medan di Kesawan Square, rumah yang indah penuh dengan karakter dan budaya belakang sejarah di Medan.

Sejarah Tjong A Fie

 

Tjong Fung Nam, lahir dari keluarga Hakka dan lebih dikenal sebagai Tjong A Fie lahir pada 1860 di desa Sungkow, Moyan atau Meixien. Ia dibesarkan dari sebuah rumah sederhana, dengan kakaknya, Tjong Yong Hian. Keduanya harus menyerahkan sekolah dari usia muda untuk membantu ayah mereka di tokonya. Bahkan dengan pendidikan yang terbatas, Tjong A Fie Cepat belajar keterampilan bisnis dan perdagangan dan segera mengejar mimpi-mimpinya untuk Menjadi Independen dan Sukses, Oleh karena meninggalkan desanya dalam mencari kehidupan yang lebih baik.

 

Tjong A Fie

Pada tahun 1880, setelah berlayar selama berbulan-bulan, ia akhirnya tiba di pelabuhan Deli (Medan). Itu waktu di Tjong Yong saudaranya Hian Apakah sudah tinggal di Sumatera selama lima tahun dan telah menjadi seorang pedagang dihormati di Sumatera. Namun, Tjong A Fie independen ingin mencari hidup sendiri dan pergi tentang menemukan karyanya sendiri. Tjong A Fie mulai belajar dan mengembangkan keterampilan bisnis dari bekerja untuk Tjong Sui Untuk. Dia mengembangkan keterampilan sosialnya berinteraksi dengan orang-orang dari semua ras, Cina, Melayu, Arab, India, termasuk Belanda. Dia mulai dengan mempelajari bahasa Melayu yang yang Menjadi bahasa nasional yang digunakan di Deli Medan.

Aula Menghibur

 

Tjong A Fie tumbuh dan Menjadi orang yang dihormati di Medan Sumatera, di mana dia tinggal jauh dari judi, alkohol dan Prostitusi di kota Medan berkembang. Dengan rasa yang kuat tentang kepemimpinan dan keadilan, ia Menjadi mediator bagi Cina. Belanda juga mencari Pls bantuannya Perkebunan mereka memiliki masalah dengan isu-isu perburuhan. Kemampuannya untuk memecahkan masalah ini membuatnya mendapatkan Cina untuk Menjadi Mayor. Dengan kinerja yang luar biasa, ia terpilih menjadi Kapten (Kapten).

Para Berbagai kamar

 

Tjong A Fie dikenal sebagai pengusaha dihormati WHO memiliki jaringan sosial yang baik dan telah membangun hubungan baik dengan Sultan Deli, Al Rasjid Perkasa Alamsjah Makmoen Moeda raja dan tuan. Seperti Mereka Menjadi teman yang baik, Tjong A Fie terpercaya Menjadi pribadi-Nya dan membantu banyak urusan bisnis ditangani.

Tjong A Fie juga Menjadi orang China pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga dikembangkan dan diperluas untuk perkebunan teh di Bandar Baroe dan Besar Kelapa / Palm Perkebunan Kelapa.

Seiring dengan saudaranya Tjong Yong Hian tua, Tjong A Fie mitra joint dengan Tio Tiaw Siat juga dikenal sebagai Chang Pi Shih, pamannya serta Konsulat China di Singapura dan mendirikan sebuah perusahaan kereta api yang dikenal sebagai The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. di Cina

Ruang Tidur

 

Tjong A Fie, kontributor sosial yang sangat aktif, menyumbangkan sebagian besar kekayaan-bangunannya banyak fasilitas untuk kesejahteraan masyarakat miskin terlepas dari keyakinan ras, kebangsaan atau budaya termasuk banyak tempat ibadah Seperti kuil-kuil Cina & Hindu, Masjid dan Gereja.

Sebagai orang yang dihormati di Medan WHO memiliki banyak Perkebunan, kelapa sawit dan pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api, ia mempekerjakan lebih dari 10.000 pekerja. Seperti yang direkomendasikan oleh Sultan Deli, Tjong A Fie diangkat anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (budaya dewan)

4 Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dari ayan atau perdarahan di otak, di rumahnya di Jalan Kesawan, Medan. Ini Shook kota Medan, Ribuan kawanan untuk membayar hormat dari seluruh termasuk Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapura dan Jawa. Dia Menjadi legenda dikenal oleh banyak orang di Medan sampai hari ini.

Empat bulan sebelum kematiannya, Tjong A Fie menulis Will di hadapan Notaris Grave Dirk Johan den Facquin.

Side mobil: Mungkin ini nama yang aneh adalah miss-ejaan Kuburan de Fouquain – seperti misalnya ditunjukkan pada Blog Pucca di: Kenangan dari Grave Notaris Nonya Fouquain de – tapi entah cara saya tidak ingin mengucapkan Bahwa nama terkemuka dengan aksen amerika .

Ditulis dalam surat wasiatnya, ia ingin semua kekayaannya untuk dikelola oleh Yayasan Toen Moek Tong tersebut yang didirikan di Medan dan Sungkow pada saat kematiannya. Foundation, yang berbasis di Medan telah diberikan lima misi. Tiga dari Mereka adalah untuk Memberikan bantuan keuangan kepada Orang muda berbakat yang ingin menyelesaikan pendidikan mereka, tanpa ada pilihan budaya atau ras. Foundation juga akan membantu para penyandang cacat yang mampu untuk bekerja tidak lagi termasuk Buta atau Mereka dengan penyakit yang fatal. Ketiga, Yayasan juga Akan Membantu Korban bencana alam dari setiap ras atau kebangsaan.

1873-1924 Aturan Sultan Rashid Al Perkasa Alamsyah Ma’mum, “Builder”.
1878-Miao Zhenjun didirikan oleh orang-orang Chaozhou di Tanjung Mulia (antara Titipapan & Labuan)
Guandi 1880-Miao (Guandi, Caishen, Dabogong) didirikan oleh orang-orang Guangdong di Medan (Jl Irian Barat. 2).
Guanyin 1880-gong (Shakyamuni, Guanyin, Dizang-wang) didirikan oleh orang-orang Xinghua di Medan (Jl. Yos Sudarso 46).
1885 Surat kabar pertama “Deli Courant” diterbitkan.
 
Side Catatan: dalam memeriksa web untuk “Deli Courant” Saya DATANG di banyak gerai makanan cepat saji, atau di toko makanan, di mana Mereka melayani “toko makanan” (Belanda untuk makanan lezat), tetapi juga referensi ke Sutan Sharir – sebuah awal Penting indonesian Negarawan – satu itu para pendiri negara pada kenyataannya, WHO Apakah Akar di Padang dan Medan. Apakah ia juga telah menjadi teman saya studi di Leiden Opa Otto University, di mana Mereka Baik hukum dipelajari. Di perjalanan kembali ke Hindia, Sharir membuat perjalanan laut yang panjang sebagai ‘baby sitter’ pro forma pamanku Ernst (alias Paman Kiddie) Opa sejak Otto masih pada membayar Pemerintah dan berhak atas satu ‘hamba’. Dia memilih untuk membantu Sharir temannya sebagai gantinya.
 
Sjahrir: politik dan pengasingan di Indonesia – Hasil Google Books oleh Rudolf Mrazek – 1994 – Biografi & Otobiografi – 526 halaman
128 Pada 1909-1934 Gemeente Medan (Medan: Deli Courant, 1934), yang menyebutkan Deli Itu adalah sedikit seperti Hindia Timur, liar barat: jika Anda Apakah melakukan pembunuhan di Batavia, Anda masih akan disambut di Medan – dan setiap sepatu Belanda merupakan potensi besar bangsawan di Deli. Sharir Saya Disebutkan sebelumnya dalam entri jurnal saya
 
Kita sekarang dapat melanjutkan dengan timeline:

1886 Lapangan Menjadi ibukota Sumatera Utara.
1886 “Witte Societeit” (“klub lebih besar”) didirikan di samping kantor pos. [Lihat di bawah ini foto]

 

1888 Sultan Deli (Sultan Rashid Al Perkasa Alamsyah Ma’mum) pindah dari Deli Labuan [serangkaian pitcures bawah ini]


ke Istana Maimun di Medan. [Setelah dua foto eksterior dan interior:]
 

1890 Guandi-gong (Guandi) didirikan di Medan (Jl. Pertemburan 81 – Pulo Brayan dekat)
Shoushan 1891-gong (Guanyin) didirikan oleh Fujianese di Deli Labuan
1895-Miao Zhenjun didirikan oleh orang-orang Chaozhou di Titipapan.
Hotel De Boer 1898 dibangun.
1898-1939 Publikasi dari “Post Sumatera De” oleh Joseph Hallermann, seorang Jerman.
1900 Tjong A Fie rumah dibangun.
1906 Tianhou-gong (Mazu Temple) didirikan di Medan (Baru Jl Pandu 2.)
1907 Sultan Masjid ini dibangun [lihat gambar di bawah ini]
 
 

 

1908 City Hall (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam)
1909-1911 Pembangunan kantor pos (Snuyf, arsitek – kepala Ned.Ind.PWD)
1910 Lapangan adalah kota kecil. Penduduk = 17,500.
1910 Javasche Bank (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam) [lihat gambar di bawah ini]
 


  

 

 

1913 Tjong A Fie menyumbangkan menara jam balai kota.
Gerobak ditarik kuda 1917 adalah nara sumber dengan Sapu digunakan untuk membersihkan kota.
1923 Renovasi Balai Kota.
1923 Zhenlian-si (Guangze-zunwang, Yii-dadi) didirikan oleh orang-orang Chaozhou di toko-toko Durian.
1924-1945 Aturan Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah
1928 Bermotor kendaraan nara sumber yang digunakan untuk menggantikan kuda mobil untuk membersihkan kota.
1929 Kantor Perusahaan Dagang Belanda (sekarang Bank Exim) telah selesai (digunakan oleh Gunseikanbu Selama pendudukan Jepang).
1936-ting Guanyin (Guanyin) dibangun oleh Hakka perempuan di Medan (Jl. Lahat 54)
1936 Baolian-tang (Guanyin) didirikan oleh perempuan Chaozhou di Medan (Jl. Sun Yat Sen)
Akhir 1942 pemerintahan Belanda. Penduduk = 80.000.
2000 populasi Field = 1.898.013
 
. Cf: Deli Maatschappij – Wikipedia
Deli Maatschappij NV de bedrijf van een adalah Nederlands koloniale oorsprong. Het bedrijf pintu adalah pada tahun 1869 Nienhuys opgericht Yakub als een tabakscultuurmaatschappij Met voor het concessie Sultanaat Deli di Sumatera, Nederlands-Indie. Di Deli Maatschappij voor de 50% geparticipeerd werd pintu de Nederlandsche Handel-Maatschappij. Dalam de eeuw negentiende exploiteerde Deli Maatschappij de 120 000 hektar. De activiteiten vormden Maatschappij voor een van de een impuls sterke groei van de stad Medan. Het toenmalige hoofdkantoor Deli Maatschappij van de di Medan Paleis van het tegenwoordig van de Gouverneur Sumatera.

Terjemahan: Deli Maatschappij NV adalah sebuah perusahaan asal Belanda kolonial. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1869 oleh budaya tembakau Nienhuys Yakub sebagai perusahaan dengan konsesi untuk Kesultanan Deli di Sumatera, Hindia Belanda. Di Deli Company ada partisipasi 50% dari Masyarakat Perdagangan Belanda. Pada Abad Kesembilan Belas Deli Company dieksploitasi 120.000 hektar. Kegiatan perusahaan membentuk suatu dorongan untuk pertumbuhan yang kuat dari kota Medan. Markas mantan Deli Company di Medan saat ini istana Gubernur Sumatera. [Lihat foto di bawah ini di sebelah kiri]

1922

KNIL

In 1922 a supplemental legal enactment introduced the creation of a ‘Home guard’ (Dutch: Landstorm) for European conscripts older than 32.[6]

No large-scale armed threat to Dutch rule existed until World War II. The KNIL hastily and inadequately attempted to transform into a modern military force able to protect the Dutch East Indies from foreign invasion.

On the eve of the Japanese invasion in December 1941, Dutch regular troops in the East Indies comprised about 1,000 officers and 34,000 men, of whom 28,000 were indigenous. After the defeat and occupation of the Netherlands by Nazi Germany,

(wiki)

1922

Kira – kira satu abad yang lalu dilahirkan guru besar Mohammad Sjafei yang mendirikan I.N.S Kayutanam.

Seorang guru sejati yang dipanggil murid-muridnya dengan sebutan Engku Syafei telah berhasil merekat spirit pendidikan Indonesia dari sabang hingga Merauke dalam bentuk aplikasi melatih guru – guru sekolah rakyat (SD) dengan berkendara kapal api dan kereta api. Kemudian mereka dikumpulkan di gedung ASKI Padang Panjang Sumatra Barat.

Tiap-tiap kelompok dilatih 3 bulan lamanya. Yang sudah dilatih ada 6 kelompok, hingga kemudian pecah pergolakan PRRI/ Permesta.

 

Moh. Syafei pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri.

Belajar selama 3 tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan.

1922

Minagkabau

 

Foto ini berkisah seperti pepatah yang mengatakan: Asam digunung,ikan dilaut bertemunya dalam belanga juga. Bagaimana seorang pemuda yang berasal dari daratan Tiongkok ketemu dipulau Sumatera dengan seorang pemudi yang berasal dari Pulau Jawa,dan memperoleh sepasang anak.Menurut perhitungan foto ini dibuat sekitar tahun 1922,karena anak perempuan difoto itu sekarang berumur 92 tahun dan baru meninggal pada tahun lalu. Foto aslinya masih berada ditangan saya sebagai koleksi saja(Koleksi Indra Sanusi)

 

 

 

Kampong Tionghoa In 1922(that time called Chinese Kamp)

 

 

 

Smpang kampong  Nias tahun 1922 dengan pasar mudik menuju pulau air,saya ingat disini dulu Johan Wijaya(oei Tjin siang) tinggal saat saya mendaftra untuk kejuaran tennis meja sumatera barat untuk PON ke tifga Makasar tahun 1957. Oi Tjin Siang (Johan wijaya adalah putra Oei bie Liong saudara Oei Bie giok kakek isteri saya(Dr Iwan)

 

Pondok Street in 1922

Compare with

 

 

 

 

Situation now

Read the article about Kampung tionghoa

Menikmati Keindahan Padang Tempo Dulu

Menelisik kawasan etnis dan bangunan tua peninggalan Hindia belanda

By.

Wuri Handayani ,  Eri Naldi (Padang)

Senin, 5 November 2012,

 

 

 

 

 

 

salah satu bangunan peninggalan Belanda di Padang.

 

salah satu bangunan peninggalan Belanda di Padang.

 

VIVAlife - Balutan bangunan bergaya Eropa dan Melayu mewarnai salah satu sudut kota di tepian sungai Batang Arau. Perahu nelayan dengan motor tempel menghiasi pinggiran sungai yang membelah Kota Padang, Sumatera Barat.

Terletak di Kecamatan Padang Selatan, kawasan ini dikenal dengan sebutan Muaro, daerah yang pada abad ke-19 menjadi pusat pemerintahan Kota Padang.

Sejarawan Universitas Andalas, Profesor Gusti Asnan menceritakan, Muaro merupakan pusat kota Padang saat Belanda menduduki Indonesia. Muaro menjadi pusat kota yang menghubungkan kegiatan dagang Belanda pada dunia luar.

Kemajemukan etnis yang menghuni kawasan ini, menandakan Muaro memiliki daya tarik  bagi kalangan urban.

Tidak hanya pendatang dari belahan nusantara, etnis-etnis lain, seperti Tinghoa, Arab, dan India, dan Indo (sebuatan orang Eropa di luar Belanda) tercatat pernah menetap di kawasan ini.

“Etnis India menghuni kawasan Dobi, yang kini dikenal dengan Jalan Dobi. Mereka menguasai perkebunan dalam skala besar di Lubuk Kilangan dan Riumbo Data,” kata Gusti.

Tak heran jika Padang memiliki atmosfir Belanda yang kental.

Meski sudah berkembang menjadi kota metropolis. Untuk dapat merasakan kekhasan masing-masing etnis, Anda dapat mengunjungi blok-blok khusus.

Kawasan Indo bersebelahan langsung dengan kantor-kantor pemerintahan Hindia-Belanda, sedangkan etnis Tionghoa menghuni kawasan pecinan di Pondok, bersebelahan dengan kampung Keling.

 

 

 

Para saudagar Minang sendiri menghuni kawasan Pasa Mudik (Pasar Mudik) dan Pasa Gadang.

Perkampungan Keling dan Arab yang awalnya berada di Kampung Dobi, dipindah berdampingan dengan pecinan. Tidak habis sampai cerita ini, Padang juga menyajikan sejarah wisata yang patut dikunjungi.

 

 

 

 

 

Bangunan Tua

 

Setidaknya terdapat 75 bangunan kuno di kawasan Padang

 

Salah satunya Klenteng See Hin Kiong. Klenteng ini dibangun pada tahun 1861 dan dipugar kembali 1905.

Awalnya klenteng ini berfungsi sebagai tempat peribadatan, sampai gempa 2009 merusak bangunannya.

 

Klenteng ini tengah dialihfungsikan sebagai museum, dan sebuah klenteng baru saat ini dipersiapkan untuk menggantikannya.

Selain klenteng, Masjid Muhammadan yang letaknya tak jauh dari klenteng juga menyisakan guaratan-guratan dinamis era lampau.

Masjid yang berada di jalan Kampung Keling ini diyakini sudah berusia sekitar 200 tahun.

Menyusuri Padang Kota Tua tentu belum lengkap tanpa menyaksikan bangunan-bangunan bergaya Melayu di areal Pasa Gadang dan Pasa Mudik.

 

 

 

Hiruk pikuk bongkar muat barang masih mewarnai kawasan pasar pertama di Padang ini.

Bangunan yang ada di sini terlihat sepuh dan kurang terawat.

 

 

Di areal pinggir Batang Arau,

 

 

 

 

kita bisa menjumpai jejeran bangunan peninggalan Belanda.

Mulai dari Padangsche Sparbank di ujung jalan Batang Arau, yang dibangun tahun 1908.

 

 

Juga De Javasche Bank, yang kini menjadi museum Bank Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berseberangan dengan DJB,

 

gedung Nederlanche Handel Maatshappij (NHM) yang merupakan gudang peninggalan VOC, masih terlihat kokoh meski dimakan usia.

 

Tentunya tak lengkap jika Anda melewatkan keindahan Padang di malam hari. Jembatan Siti Nurbaya siap menjamu Anda dengan sederetan kuliner khas Padang.

 

 

 

 

 

 

 

Emma haven teluk bayur in 1922

 

 

 

 

 

Padang city in 1922

 

Komunisme dan Pan-Islamisme: Pidato Tan Malaka pada Kongres Keempat Komunis Internasional 12 November 1922

 

Tan Malaka Bersama Anggota Komintern pada Kongres Komintern ke-4 tahun 1922

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh Tan Malaka pada Kongres Keempat Komunis Internasional di Moscow 12 November 1922. Mengambil masalah dengan tesis yang disusun oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka berpendapat untuk pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) terpilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Timur oleh pemerintah kolonial. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, ia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Dia menjadi pemimpin dari Partai Murba (Partai Proletar), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengatur oposisi kelas pekerja terhadap pemerintahan Soekarno. Pada Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

Kawan-kawan! Setelah mendengar pidato yang dibuat oleh Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kawan-kawan Eropa lainnya, dan dengan memperhatikan pentingnya, untuk kita di Timur juga, dari masalah front persatuan, saya berpikir bahwa saya harus berbicara, dalam nama Partai Komunis Jawa, untuk ribuan jutaan rakyat tertindas di Timur.
Saya harus meletakkan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan tentang sebuah front persatuan di Jawa, mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Namun keputusan Kongres Kedua Komunis Internasional dalam prakteknya kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan nasionalisme revolusioner. Mengingat, seperti yang kita harus mengakui, bahwa membentuk sebuah front persatuan diperlukan di negara kita juga, front persatuan kami tidak bisa dengan Demokrat Sosial tapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis melawan imperialisme sangat sering berbeda dari kita, mengambil, misalnya, boikot dan perjuangan pembebasan Islam, Pan-Islamisme. Ini adalah dua bentuk yang saya terutama mengingat, jadi saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot nasional atau tidak? Kedua, kita mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Jika ya, seberapa jauh kita untuk mendukungnya?
Boikot, saya harus mengakui, tentu bukan sebuah metode Komunis, tapi itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah melihat keberhasilan tahun 1919 boikot rakyat Mesir melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot dari Cina yang besar pada akhir 1919 dan awal 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di British India. Kita bisa menganggap bahwa dalam beberapa tahun ke depan bentuk-bentuk boikot akan dilakukan di Timur. Kita tahu bahwa itu bukan metode kami, itu adalah metode borjuis kecil, sesuatu yang dimiliki oleh kaum borjuis nasionalis. Kita dapat mengatakan lebih, bahwa pemboikotan berarti dukungan untuk rumah-tumbuh kapitalisme, tetapi kita juga telah melihat bahwa setelah pada gerakan boikot di British India, sekarang ada seribu delapan ratus pemimpin mendekam di penjara, bahwa pemboikotan telah menghasilkan suasana yang sangat revolusioner , memang bahwa gerakan boikot benar-benar memaksa pemerintah Inggris untuk meminta Jepang untuk bantuan militer, dalam kasus itu harus berkembang menjadi pemberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin Mahommedan di India – Dr Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – dalam kenyataannya nasionalis, kami tidak naik untuk merekam ketika Gandhi ditangkap. Tetapi orang-orang di India tahu betul apa yang ada setiap revolusioner tahu: bahwa kekuatan lokal hanya dapat berakhir dengan kekalahan, karena kita tidak memiliki senjata atau bahan militer lainnya di sana, maka pertanyaan dari gerakan boikot, sekarang atau di masa depan, akan menjadi satu untuk menekan Komunis kita. Baik di India dan di Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung memberitakan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin karena ada semacam melepaskan perasaan Komunis di British India bisa menantang seluruh gerakan. Dalam setiap kasus kita dihadapkan dengan pertanyaan: Apakah kita untuk mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita bisa mendukung?
Pan-Islamisme adalah cerita panjang. Pertama-tama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Timur di mana kami telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Kami di Jawa, memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan petani yang sangat miskin, Sarekat Islam (Islamic League). Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah gerakan rakyat yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.
Sampai 1921 kami bekerja sama dengan itu. Partai kami, yang terdiri dari 13.000 anggota, masuk ke gerakan populer dan melakukan propaganda di sana. Pada tahun 1921 kami berhasil mendapatkan Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam terlalu gelisah di desa-desa untuk mengontrol pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, semua kekuatan untuk kaum proletar! Jadi Sarekat Islam membuat propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya kadang-kadang dengan nama lain.
Namun pada tahun 1921 terjadi perpecahan sebagai akibat dari kritik janggal dari kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Kedua Komunis Internasional: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa yang mereka katakan kepada para petani yang sederhana? Mereka berkata: Lihatlah, Komunis tidak hanya ingin membagi, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu banyak untuk seorang petani muslim yang sederhana. Petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, harus saya kehilangan surga saya juga? Itu tidak akan melakukannya! Ini adalah bagaimana umat Islam berpikir sederhana. Para propagandis antara agen pemerintah dieksploitasi ini sangat berhasil. Jadi kami harus perpecahan. [Ketua: Waktu Anda sudah habis.]
Saya datang dari Hindia Timur, dan melakukan perjalanan selama empat puluh hari. [Tepuk tangan.]
Sarekat Islam-percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kami dalam perut mereka, untuk menggunakan ungkapan populer, tetapi dalam hati mereka mereka tetap dengan Sarekat Islam, dengan surga mereka. Untuk surga adalah sesuatu yang kita tidak bisa memberi mereka. Oleh karena itu, mereka memboikot pertemuan kami dan kami tidak bisa melanjutkan propaganda lagi.
Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan dengan Sarekat Islam. Pada kongres pada bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, dan kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat propaganda untuk agama mereka , mereka bisa melakukannya, meskipun mereka tidak harus melakukannya dalam pertemuan tetapi di masjid-masjid.
Kami telah diminta pada pertemuan publik: Apakah Anda Muslim – ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawab ini? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di hadapan Allah aku adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di hadapan laki-laki saya bukan [tepuk tangan meriah]

Muslim, karena Tuhan mengatakan ada banyak setan di antara manusia! [Tepuk tangan keras.]

Jadi kita ditimpakan kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan pada tahun kongres terakhir kami, kami memaksa para pemimpin Sarekat Islam, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerja sama dengan kami.
Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki buruh kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerja sama dengan kami, sehingga Anda harus membantu kami, juga. Tentu saja kami pergi kepada mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda sangat kuat, tapi ia telah mengatakan bahwa di bumi ini buruh kereta api lebih kuat! [Tepuk tangan keras.]

Buruh Kereta Api (VSTP) adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa.]
Tapi ini tidak menyelesaikan pertanyaan, dan jika kita memiliki perpecahan lain kita bisa yakin bahwa agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan mereka Pan-Islamisme. Jadi pertanyaan tentang Pan-Islamisme adalah salah satu yang sangat cepat. Tapi sekarang yang pertama harus memahami apa kata Pan-Islamisme benar-benar berarti. Sekali, itu memiliki makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan bahwa ini harus terjadi di bawah kepemimpinan Khalifah, dan khalifah harus berasal dari Arab. Sekitar 400 tahun setelah kematian Muhammad Muslim terpecah menjadi tiga negara besar dan dengan demikian Perang Suci kehilangan maknanya bagi seluruh dunia Muslim. Dengan demikian kehilangan makna bahwa dalam nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan seluruh dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, Akulah Khalifah yang benar, saya harus membawa spanduk, dan Khalifah Mesir mengatakan sama, dan Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena saya dari suku Arab Quraish.
Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki makna aslinya, tetapi sekarang dalam prakteknya makna yang sama sekali berbeda. Hari ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan pembebasan nasional, karena bagi Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga negara, ekonomi, makanan, dan segala sesuatu yang lain. Dan begitu Pan-Islamisme sekarang berarti persaudaraan semua orang Muslim, dan perjuangan pembebasan tidak hanya dari Arab tetapi juga India, Jawa dan semua orang muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan pembebasan praktis bukan hanya melawan Belanda, tetapi juga bahasa Inggris, kapitalisme Prancis dan Italia, karena itu melawan kapitalisme dunia secara keseluruhan. Itulah yang Pan-Islamisme saat ini berarti di Indonesia antara bangsa-bangsa kolonial tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan pembebasan melawan kekuatan imperialis yang berbeda dari dunia.
Ini adalah tugas yang baru bagi kita. Sama seperti kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan pembebasan, sangat agresif sangat aktif 250 juta Muslim hidup di bawah kekuasaan imperialis. Oleh karena itu saya bertanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?
Jadi saya mengakhiri pidato saya. (Tepuk tangan Hidup).

————————00000000000—————-

(Sumber Asli dari Bahasa Inggris: http://www.tanmalaka.estranky.cz/clanky/karya-karya-tan-malaka/communism-and-pan-islamism-_1922_.html)

 

 

1923

 

Siti Nurbaya grave at the top of Appenberg Hill Padang(guung monyet) in 1923

 

 

 

 

 

 

 

The bridge out of Padang city across the batang arau  on the road to Mata air Teluk Bayur in 1923 still exist until now

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1923

 

Adnan .Kapau . Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905. Ayahnya adalah seorang guru. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923.

1923

 

Menyambut ulang tahun sultan Ma’mun al Rasyid yang ke 70  diadakan acara besar-besaran di istana maimoon

1924

produser Tionghoa lokal lebih cenderung untuk membangun representasi fiksional Hindia Belanda dengan dipengaruhi gaya film-film Hollywood dan Shanghai yang mereka impor pertama kali pada tahun 1924 (Arief, 2010: 20).

Sementara film-film China (masih bisu) ditujukan untuk penonton Tionghoa lokal, film dari sejak kedatangannya telah menjadi aksesibel untuk semua kelompok ras dan bahkan menarik penonton pribumi yang cukup besar (Arief, 2010).

 

 

Pemutaran film awal memiliki harga tiket yang berbeda dengan tempat duduk yang terpisah untuk orang Eropa, Tionghoa, dan pribumi. Para sejarawan lokal biasanya menggunakan fakta ini sebagai bukti segregrasi rasial diberlakukan dan bahwa Tionghoa menduduki posisi sebagai komprador dan memiliki hak yang relatif istimewa (Ardan, 1992: 7; Abdullah dkk., 1993: 50).

Namun, hal ini juga berarti bahwa film terbuka untuk siapa pun yang dapat menjangkau harga tiketnya, dan meski mahal, mereka tidak menutup pintu bagi penonton pribumi.

1924

 Deli

 

9 desember 1924

 

9 Septemebr 1924 Sultan Ma’mun al Rasyid  mangkat dan dimakamkan di mesjid Raya Al Mashun, beliau mangkat dalam usia 71 tahun  dan digantikan oleh putra sulungnya tengku Amalludin dengan gelar Amaluddin Sani Perkasa alamsyah sebagai sultan deli X

 

Penobatan Sultan Amaluddin

1924

Sultan Amalludin meinta putranya Tengku Otteman untuk bekerja di makamah Sultan deli.

 

1925

Deli

 

 

Pada tanggal 7 mei saat tengku Otteman berusia  25 tahun,

 

 menikah dengan Raja  amnah Raja Chulan dihilir dari Perak

1925

Banten

 

Cisadane in 1925

 

Andries Cornelis Dirk de Graeff

Andries Cornelis Dirk de Graeff

 

Governor-General of the Dutch East Indies

In office
1927–1931

Preceded by

Dirck Fock

Succeeded by

Bonifacius Cornelis de Jonge

Minister of Foreign Affairs

In office
1933–1937

Preceded by

Charles Ruijs de Beerenbrouck

Succeeded by

Hendrikus Colijn

Personal details

Born

August 7, 1872
Den Haag

Died

April 24, 1957
Den Haag

Nationality

Dutch

Spouse(s)

Caroline Angelique van der Wijk

Occupation

Statesman

Religion

Remonstrants

Jonkheer Andries Cornelis Dirk de Graeff (Den Haag, August 7, 1872 – April 24, 1957) was a Governor General of Dutch East Indies and a Dutch minister for foreign affairs.

[edit] Family

Andries Cornelis Dirk de Graeff was a descendant of the De Graeff-family from the Dutch Golden Age. He was a son of the general consul and Dutch minister in Japan Dirk de Graeff van Polsbroek, and jonkvrouw Caroline Angelique van der Wijk, daughter of jonkheer Carel Herman Aart van der Wijk. They had a son and four daughters.

[edit] Carriere

 

De Graeff as Governor-General of Dutch East Indies. Gorontalo, ca. 1926–1931.

from 1919 to 1922 De Graeff was a Dutch Ambassador in Tokyo, and from 1922 to 1926 in Washington.

He served as Gouvernor General between March 26,[1] 1926 until September 11, 1931.

De Graeff was also the Dutch minister for foreign affairs for an unspecified period during 1936 and 1937.[2] During 1936, de Graeff served as a “sort of stooge” [3] to British Foreign Secretary Anthony Eden in relation to the question of weakening the League of Nations.

De Graeff wanted to “modify the League until it became “purely consultive”, coax Germany back into it, and abolish forever all Sanctions “except the one Sanction that an aggressor would be automatically expelled from the League””.[3]

1924

SEJARAH MIRING BANGSAWAN NUSANTARA

Sebahagian besar Para Bansawan saat ini, dulunya disebut Arung Berdarah Menenga. Mereka di Pura Purakan sebagai Bangsawan Berdarah Tinggi sejak Para Bangsawan Berdarah Tinggi Kalah berperang di tahun 1924-1926.

Muhammad Yusuf Tonggi

 

1925

Pada tahun 1925 Moh sjafei  kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya.

Ketajaman kalbu dan pemikiran M. Syafei sebagai pendidik, meliputi hampir semua aspek kehidupan. Beliau benar – benar tercelup sebagai ‘lifelong learners” bersama dengan murid – muridnya, beliau mendidik dengan pijakan awal bertumbuh dari ranah domestik sains.

Dari ranah domestik sains yang mengolah kalbu, raga, dan rasa karsa itulah olah pikir murid – muridnya tumbuh pesat dan beliau membuktikan saat mengajar disekolah Kartini Kweekschool yang bergerak dibidang kepandaian putri. Saat perkumpulan guru – guru Belanda mengadakan kongres tahun 1918 semua muridnya menampilkan hasil pekerjaan tangan yang mendapat pujian pengawas pendidikan Pemerintah Hindia Belanda kala itu.

 

Adapun aspek – aspek yang diajarkan di mulai dari :

 

1. Pendidikan dan Pengajaran

 

Apakah yang dimaksud pendidikan dan pengajaran?

Secara ringkas dapat dijawab :  ” Untuk membawa si anak kepada kesempurnaan lahir dan batin “.

 

2. Pendidikan dan Pengajaran untuk Anak – Anak

 

Mengapa pendidikan dan pengajaran dimulai dari bawah benar? mengapa tidak dari masyarakat dewasa? jawab  atas pertanyaan ini banyak ragamnya. Boleh disendikan kepada ilmu jiwa atau sendi ilmu ekonomi atau ilmu tubuh dan sebagainya. Jawab yang mudah adalah “di masa-masa manusia kecil itulah mudah mengubahnya, kalau ia telah dewasa sulit !”.

Indonesia saat ini memilki kepentingan yang hebat dalam menaruh anak – anak Indonesia :

a. Sebanyak Mungkin orang – orang pandai

b. Selekas mungkin karena kita sudah tertinggal.

3. Sedikit Ilmu Jiwa

Prof. Dr. Van Houte berkata :

” Dalam tahun – tahun terakhir sudah dibuktikan dengan jelas oleh ahli ilmu jiwa, bahwa pembentukan tinjauan, pandangan, dan alam pikiran semata-mata dapat dibangunkan jika ada kerja sama yang serapat-rapatnya antara bagian – bagian tubuh yang melakukan, sehingga terbentuklah kemudian suatu alam keinsyafan”.

 

4. Pengalaman, Kebiasaan, Pengertian

 

Pengalaman – pengalaman ini memberikan kepada otak dua macam pekerjaan, antara lain  :

 

a. Pengalaman berulang sehingga otak mendapat istirahat (tidak berfikir)

 

b. Pengalaman berulang yang memaksa otak bekerja terus-menerus.

 

5. Bermain

 

Semua anak biasanya suka bermain. Bermain bebas atau bermain merdeka merupakan salah satu alat yang banyak mengandung emosi dan spontanitiet . Kalau ada anak – anka yang tidak suka bermain, ia masuk ke bilangan meluar daripada biasa. Tentu ada suatu sebab yang menjadikan dia menjadi demikian. Kewajiban guru atau otang tua untuk menyelidiki hal itu dan berusaha membantu supaya kembali kepada keadaan biasa.

 

 

Ziarah bersama Elvira Putri Alm. Mohammad Syafei

 

 

Halaman luas di Kayutanam

Sekarang I.N.S Kayutanam masih berdiri dengan luas lahan 18 Hektar merupakan boarding school tingkat SMA dan akan dikembangkan lebih jauh atas perkarsa banyak orang awak antara lain Prof. Dr. Fasli Djalal, Prof. Dr. Muluk, Asmaniar, Dewi Utama, Zulkifli dan lain-lain. Saya pun sempat mengunjungi makam beliau bersama anaknya elvira beberapa waktu lalu untuk mengenang jasa – jasa beliau dalam mendidik anak – anak bangsa.

 

Semoga Tuhan YME memberikan Taufiq dan Hidayahnya.

 

 

 

Pohon rindang dan kuat mahoni di pekarangan I.N.S  Kayutanam

Sumber : Arah Aktif, Yayasan Jembatan Pekerti didukung Penerbit Tiga Serangkai yang dipersembahkan untuk Para Pendidik Indonesia

Gubahan : M. Syafei

Editor Budaya : DU. Faizah

(sumber Dedi Sjair Panigoro)

 

 

1925

Minangkabau

 

 

 

Ombilin coal mine sawahloento in 1925

 

1925

 

Joannes Paris

(1889 – Tapatoean, Atjeh, 2 april 1926)

was een Nederlands kapitein der infanterie van het Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Paris volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd in augustus 1910 benoemd tot tweede luitenant der infanterie voor het leger in Oost-Indië. Hij kwam daar in 1911 aan en bracht eerst een jaar door op Java en vervolgens twaalf te Atjeh. Hij werd aldaar geplaatst bij het korps marechaussee. Paris werd op 10 mei 1913 bevorderd tot eerste luitenant. Hij sprak al snel vloeiend Atjehnees en was een goed kenner van de zeden en gewoonten, waardoor hij bij de hoofden in hoog aanzien stond. Gedurende zijn diensttijd te Atjeh werd hij voor de tijd van een jaar belast met het civiel bestuur te Meulaboh, maar aangezien hij zich niet kon verenigen met de inzichten van de assistent-resident daar ter plaatse en omdat hij een meningsverschil had met de gewestelijke commandant werd hij in juli 1925 teruggeplaatst naar het wapen der infanterie.

1926

Deli

 

12 Maret 1926

Gubernur general Hindia belanda mengeluarkan besluit mengkat tengku Otteman  sebagai tengku Mahkota.

 

12 Juli 1926

 

Sebulan setelah tengku Otteman diangkat jadi tengku Mahkota, diistana Maimoon diadakan perayaan besar-besran  dengan adat Qanun, Tuan Gewsetelijk membacakan surat besluit dihadapan  kumpulan orang besar ,orang bergelar dan kaum kerabat di balairung istana Maimoon.Besluit diserahkan kepaka Tengku Mahkota yang bersemayan diatas pelaminan berftingkat 7 yang berwarna kuning bersendikan hijau kemudian dititah menghadap Datuk Sri Indera Wazir Srbanyaman  utnuk membacakan Surat Cindra Gelaran Yang isinya sebagai berikut

Perman Sahifah Angkatan

Bahwa Kita Sripaduka Tuanku Sultan Amaluddin  Al Sani alam Perkasa  Alamsyah, yang bertahta dan memereintah kerajaan dalam negeri deli serta rantau Jajahan takluknya.Seketika bersemayan di istana Maimoon adanya.Setelah membaca risalah persembahan orang-orang besar wazir kita yang didalam kerajaan negeri deli  serta Rantau Jajahan  yang bertanggal 1 hari  bulan November 1925

Dengan mendengar lagi  permusyawarahan sekata taswar sembahnya  yang disuntingkan bersuara pada rislah itu menyambung perjalinan  yang bersambutan dengan surat yang sudan qanum  didlam kerajaan yang dimaklumkan bertambat-tambatan adat yang diistiadatkan sejak zaman purbakala ,Bahwasanya putra kita yang sulung bernama tengku Otteman sepanjang titikan pemandangan  orang-orang besar wazir  kita itu yang putra kita itu baik perilakunya dan sejahtera perangainya.Maka dengan kenyataan itu dipohonkan oleh orang-orang bear wazir kita didalam masa  yang jernih ini ditetapkan akan jadi ganti kita ini yang bertahta  dan memerintah kerajaan didalam Negeri deli serta pendaerahnya rantau jajahan takluknya pada akhir kita adanya.

Bahkan Kalam  perkataan yang matang itu cermelang sinarnya Dizihin kita yang bersih membuka pintu buat kita yang ichlas mengikut mengabulkan sebagai maksud dimastur dipermohonan  orang-orang besar wzir  kita itu dengan menepati jalan-jalan saluran yang sudah dimatabarkan almarhum Seipaduka Sultan yang terdahulu.Istimewa pula seripaduka Tuan Gubernur Pesisir  Timur.Pulau Pertja telah sepakat dengan setuju dibebankan lembaga itu diletakan diatas diri putera kita sebagai yang diwartakan.Tambahan lagi dengan kebenarfan yang dipertuan besar Gubewrnur general tanah Hindia Nederland sebagimana yang berlukis sabdanya pada syatar sijil  yang Mubarak besluit angkatan kita itu yang bertrikh 12 hari bulan maret tahun 1926 no  2 adanya.

Syahdan  oleh karena sudah tkhsis perihak itu isabit qararlah paham kita dengan timbangan yang mustahak limpah kurnia kita mengangkat serta mengelari putra kita itu dengan gelar an Tengku Mahkota Kerajaan negeri deli  dengan meneguh sebagai keteguhan menyimpulkan rahim ihsan kita bagi putra kita itu manakalah kita keuzuran atau ketakdiran Tuhan yang Mahakuasa Khalilus Asya’I maka putra kita itulah badan ganti kita sultan Negeri Deli ,karea itu di’itibarkan lagi kepadanya suatu nasehat yang muslihat sejogya bersungguh-sungguh tak dapat tiada hendaklah mengekali memegang sifat rresmi raja-raja yang bertabiat yang terlebih baik lagi yakni suka berbuat bakti dan bertertib kelakuan yang lemah lembut ,santun,sopan, yakin,setia,rajin,tulus ihlas kasih dan saying kepada hamba rakyatnya yang berpanjang-panjangan mencari keselamatan nama yang harum agar kelak dapat dipuji dibelakang hari Wabillahi taufik walhidayat intahil kalam adanya.

Termaktub di Istana maimoon

Pada hari 12 bulan Juli 1926

Sultan Amaluddin Sani Perkasa alamsyah

 

Seketika setelah tamat mebaca surat cindra gelaran itu Bentara kiri memberikan tanda alamat untuk menembakkan mariam sebayak 7 das.Selesai daripada itu Tengku Mahkota berangkat turun dari Balairung Istana menuju Panca Persada diiringi orang-orang Besar ,anak-anak  raja dimuktabarkan lantik gelaran itu kepada sekalaian hamba rakyat ,bentara kiri berseru kepadsa sekalian mereka itu untuk mengangkat sembah,kemudisn berangkatlah Tengku Mahkota menuju Mesjid raya Kota Ma’sum untuk Sholat dan ziarah kubur lalu kembali pulang ke istana untuk jamuansantap.Acara ini juga dihadiri oleh controleur C.J.Batenburg ,controleur W.Huender dan controleur L.C.Heyting.

 

13 Juli 1926

Diadakan pula istiadat penganugerahan gelar kepada raja Amnah(isteri Tengku Mahkota) bergelar” tengku Puan Indera” dengan upacara kebesaran sebagaiman yang dilakukan

 

Tengku Otteman bersama isteri

 

Tewngku Amaruddin putra kedua Sultan amaluddin

1926

Film Indonesia masa colonial

 

Judul

Tahun

Sutradara

Pemeran

Sinopsis

Loetoeng Kasaroeng

1926

Heuveldorp, L.L. Heuveldorp

Martoana, Oemar

Purbararang mengganggu adiknya setelah si adik berkencan dengan seekor lutung. Lutung tersebut rupanya ajaib dan setelah berubah jadi manusia, wajahnya lebih tampan daripada kekasih Purbararang.

         
         

 

 Loetoeng Kasaroeng (1926)

 

 

Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.

 

Poster promosi  film Loetoeng Kasaroeng  oleh bioskop Elita 1926

1926

Sebagai akibatnya, pada tahun 1926, hampir 80 persen dari penonton film adalah pribumi dan Tionghoa (Arief, 2010: 20). Pada masa ini, mulai muncul juga sebuah kesadaran bahwa penonton berbahasa lokal Melayu (kemudian menjadi bahasa Indonesia) merupakan penonton potensial untuk film.

Bioskop dan film Indonesia era colonial

Film Cerita Lokal Pertama

 

Film cerita lokal pertama berjudul “Loetoeng Kasaroeng” (1926)

diambil dari cerita legenda yang berasal dari Jawa Barat. Pembuatannya

dilakukan di Bandung, oleh Perusahan Film: Java Film Company yang

dipimpin oleh G.Krugers dari Bandung dan L. Heuveldorf dari Batavia.

Heuveldorf adalah seorang Belanda totok yang disebutkan sudah

berpengalaman di bidang penyutradaraan di Amerika. Krugers adalah

seorang Indo-Belanda asal Bandung, ia adalah adik menantu dari Busse

seorang raja bioskop di Bandung. Penyutradaraan Film ini dilakukan oleh

Heuveldorf, sementara pemainnya adalah anak2 dari bupati Bandung

Wiranata Kusuma II. Hasilnya tergolong sukses, diputar selama satu

minggu di Bandung, antara 31 Desember 1926-6 Januari 1927. Kemudian Java

Film Co. membuat film kedua: “Euis Atjih”, perekamannya kembali

dilakukan di Bandung. Tidak seperti “Loetoeng kasaroeng” yang merupakan

cerita legenda, “Euis Atjih” adalah kisah drama modern. Hasilnya juga

tergolang sukses.

 

Setelah orang Belanda memproduksi film lokal, berikutnya datang

Wong bersaudara, yang hijrah dari industri film Shanghai. Awalnya hanya

Nelson Wong yang datang, ia menyutradarai “Lily van Java” (1928) pada

perusahaan South Sea Film Co. Kemudian kedua adiknya Joshua & Otniel

Wong menyusul dan mendirikan perusahaan Halimoen Film.

 

 

Cinema(bioscope)

Scalabio

Bioscoope  192o

The founder Tan Giok Lin

 

The picture of Tan giok Lin hanging at the wall in his daughter and son in law house at Tanah lapang alang Lawas Padang city in 1960

The Scalabio Cinema Location at Balai Baroe street(New Market),now Rio Cinema Pasar raya(Great Market) belong to my grand-grandFather Tan Giok Lin which directed by his son Tan Kim Tjoen after Tan Giok Lin passed away but due to the developed the sound film technology this bioscope off and sold to Ang Eng hoat(grandfather of ang Tjeng Liang) the owner of Cinema Thearer(now Karya Bioscope)

 

During tarzan film,many monkey used as decorations, and the first speaking movie only speak one word only,this told by my mother in memoriam anna,and she went to Scala Bio belong to his grandpa with the Ford Car.

The scala Bio then bankrupt because the speaking movie only contact by Cinema bioscope ownees by Ang eng hoan,grandpa of Ang Tjeng Liang, scala bio that time belong to the grand pa of Johnny hendra only contract the silent movie only.

 

Look the minangkabau film poster  MELATI van AGAM from newspaper clipping below

 

 

Nonton Bioskop Di Padang Tempo Doeloe

 

Padang adalah kota di Sumatera yang paling duluan maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan ‘modern’ sudah mulai berkembang di Padang.

Kota ‘modern’ tentu memerlukan berbagai sarana, termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya.

Media-media hiburan ‘modern’ hasil teknologi Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama kemudian akan diperkenalkan juga di Padang.

Phonograf (mesin bicara), misalnya, pertama kali diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia.


Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah menikmati film bioskop (dari kata Belanda:
bioscoop). Fantastis ya! Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope,

 

Scala-Bio[scope]( milik grandgranpa dr Iwan Tan Giok Lin)dan Cinema Theatre adalah empat bioskop pertama yang didirikan di Padang.

Menurut Ibu Saya Anna tjoa giok Lan,cucu Tan giok Lin, saat film bisu diputar ,diiringi music band dan saat cerita tarzan banyak monyet di taruh dalam dan digantung sekitar bioskop scalabio, saat fulm bersuara pertama hanya satu kata saja yang di katakana(Dr Iwan,note)

Baca info lebih lanjut

Memasuki tahun 1920-an

bioskop juga dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), dan Payakumbuh.

Nonton bioskop pada zaman itu unik. Orang nonton film pakai sarung dan peci. Perempuan pakai kebaya (tapi belakangan mulai tampil modern dengan rok dan blus).

Jadi, pakaian ke surau dan ke bioskop pada waktu itu nggak beda-beda amat; susah membedakan apa orang mau pergi nonton atau pergi mengaji.

Antara kaum pribumi dan orang Eropa (Belanda) dan orang Cina kaya dibedakan tempat duduknya dalam panggung bioskop.

Orang Eropa duduk di kelas Loge; Cina kaya di Kelas I; Pribumidi Kelas II dan Kelas III(namanya stales,alias setalen atau 25 sen).

Jadi, segregasi ras dan kelas sosial jelas banget dalam gedung bioskop pada masa itu.

Pertunjukan film—yang disebut “gambar hidoep”—biasanya diadakan dua atau tiga kali semalam.

Filmnya masih sangat sederhana dan kebanyakan film bisu (film bersuara baru diperkenalkan sejak tahun 1927) dengan rol film yang pendek-pendek dan oleh karenanya harus sering bersambung Bahkan sering juga bioskop hanya memutar pantulan foto-foto dari ekspedisi ilmiah ke pedalaman Afrika dan Amerika kalau kebetulan tak ada film.

Pada zaman itu bioskop, yang bangunannya sering berbentuk panggung (makanya terkenal istilah ‘panggung bioskop’), bersifat multifungsi.

Tempo-tempo, kalau tidak ada film, bioskop bisa difungsikan jadi panggung sandiwara (toneel) atau pertunjukan musik. Kali lainnya bisa jadi tempat pertemuan atau rapat (vergadering).

Para pemilik (eigenaar) bioskop—biasanya orang Eropa dan orang Cina kaya—saling mengiklankan film yang akan diputar di bioskop mereka di surat kabar-surat kabar (persis kayak sekarang), disertai dengan kalimat gembar-gembor yang berupaya menarik perhatian pembaca (lihat ilustrasi: dari Pertja Barat, Selasa, 6/6/1911).

Nonton ke bioskop segera menjadi tren di kalangan masyarakat. Banyak karya sastra pada zaman itu yang menggambarkan anak muda atau pasangan yang lagi saling naksir pergi ke bioskop.

(Nonton) bioskop segera menjadi salah satu identitas kemodernan pada zaman itu (juga koran; baca koran berarti intelek). Bacalah misalnya roman-roman seperti Melati van Agam, Roos van Pajacomboe, Njai Sida: Roos van Sawah Loento, Orang Rantai dari Siloengkang, Hantjoer-leboernja Padang Pandjang, Zender Nirom, dan lain-lain. Di dalamnya sering ditemukan narasi mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi nonton bareng ke bioskop.

Bagaimana dengan harga karcis bioskop pada zaman itu? Sebagai gambaran: tahun 1911 harga karcis kelas Loge berharga ƒ 1 (gulden); kelas II ƒ 0,50; kelas III ƒ 0,25; dan kelas IV ƒ 0,10. Cukup mahal lho untuk ukuran pada waktu itu. “Anak2 dibawah oemoer 10 taheon bajar separo” alias dapat korting, sedangkan “militair dibawah titel onder Officier bajar toeroet tarief di atas” alias tak dapat korting (lihat ilustrasi) (Beda dengan Zaman Orde Baru, ya, dimana tentara sering gratis naik bus).

Banyak hal yang aneh-aneh terjadi di dalam dan di luar panggung bioskop pada zaman itu. Saya sering ketawa sendiri kalau lagi membaca koran-koran kuno: soalnya banyak kejadian lucu yang diberitakan. Ada yang ketakutan dalam gedung bioskop karena film yang memperlihatkan kereta api berlari kencang menuju arah bangku penonton: takut ketabrak ceritanya. Kadang-kadang terjadi juga keributan di luar gedung bioskop karena berdesak-desakan beli karcis.

Beberapa bintang film mulai jadi idola, seperti bintang koboi terkenal, Tom Mix  (tewas dalam kecelakaan mobil di Arizona 12 Oktober 1940), bintang lucu Charlie Chaplin, dll. Di koran Sinar Sumatra saya pernah baca seorang anak yang ‘nakal’ ngerjain seorang penjual minyak tanah keliling pakai gerobak di Padang sehingga minyak terbuang sepanjang jalan karena si anak meniru tindakan Tom Mix dalam salah satu filmnya.

Di antara para intelektual Minang, mungkin hanya Hamka yang sangat rapi mencatat pengalaman masa kecilnya ketika teknologi film masuk ke Sumatera Barat. Saat bersekolah di Padang Panjang tahun 1917, Hamka kecil (lahir 1908) sering nonton film gratis. Dari rumah Hamka bilang kepada orang tuanya mau ke surau, tapi ternyata dia dan kawan-kawanya ngacir ke panggung bioskop. Mereka “pergi mengintip film yang main, sebab wang penjewa tidak ada.

Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu dengan ‘tahi ajam’.

Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat dihidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kenal kain sarung sembahjangnya.

Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak!”, demikian tulis Hamka dalam bukunya, Kenang-kenangan Hidup (Jakarta: Gapura, 1951: I, 32-3).

Demikianlah sekelumit cerita mengenai perbioskopan di Padang (Sumatera Barat) tempo doeloe, yang tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perspektif sejarah budaya (cultural history). Mahasiswa dan dosen yang cerdas dari perguruan tinggi di Sumatera Barat pasti akan melakukannya. Yakin saya!

Sumber

suryadi

harian Padang Ekspres, Minggu, 23 November 2008

 

 

Melati van Agam adalah film romansa tahun 1940 yang disutradarai Tan Tjoei Hock dan diproduseri The Teng Chun. Dibintangi S. Soekarti dan A.B. Rachman, film ini mengisahkan sepasang kekasih muda bernama Norma dan Idrus. Film ini diduga hilang

Norma dikenal di kampung halamannya, Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), sebagai sosok yang jelita dan karena itu ia dijuluki “Melati dari Agam“. Meski ia jatuh cinta dengan Idrus, penambang di Sawahlunto, ia dipaksa menikahi seorang kepala sekolah bernama Nazzaruddin, pria yang dianggap lebih sesuai dengan keluarga bangsawan Norma. Norma pun bingung karena suaminya jauh lebih tua daripada dirinya dan Norma sendiri sudah menyatakan Idrus sebagai cinta sejatinya, bahkan sampai bermimpi membangun keluarga bersamanya.

Setelah pernikahannya, Norma pergi bersama Nazzaruddin ke Kota Raja, Aceh (sekarang Banda Aceh), dan membesarkan anak-anak Nazzaruddin dari pernikahan sebelumnya. Hubungan mereka semakin memburuk: Nazzaruddin kewalahan menghadapi pemikiran Barat yang dimiliki istrinya, sedangkan Norma semakin depresi setelah mendengar kematian Idrus yang patah hati. Norma yang saat itu sedang hamil pulang ke Fort de Kock dan diceraikan oleh Nazzaruddin setelah melahirkan. Nazzaruddin mengira anaknya mirip Idrus dan menganggapnya sebagai bukti perselingkuhan Norma. Akhirnya Norma bunuh diri dan dikuburkan di samping Idrus. Nazzaruddin melihat ruh Norma naik ke surga sambil bergandengan tangan dengan Idru

Melati van Agam disutradarai Tan Tjoei Hock untuk Java Industrial Films dan diproduseri oleh pemilik perusahaannya, The Teng Chun. Tan mengadaptasi ceritanya dari novel tahun 1922 dengan judul yang sama karya Swan Pen (nama pena jurnalis Parada Harahap). Novel tersebut telah berkali-kali diangkat ke pertunjukan panggung dan film bisunya pernah dirilis pada tahun 1931 oleh Tan’s Film.[2] Iklan filmnya menekankan peran Harahap selaku novelis aslinya. Waktu itu, industri film sedang menarik diri dari tradisi teater dan jurnalisme dianggap sebagai profesi “modern”.[3] Alurnya justru membanding-bandingkan gaya hidup tradisional dan modern.[4]

Film hitam putih ini dibintangi S. Soekarti, A.B. Rachman, R. Abdullah, S. Thalib, N. Ismail, Rochani, Lena, dan M. Sani.[2] Soekarti belum pernah berakting sebelumnya, sementara lawan mainnya A.B. Rachman pernah terlibat dalam pertunjukan teater. Iklan Melati van Agam hanya berfokus pada latar belakang Soekarti dan mengabaikan Rachman.[3] Sinematografinya ditangani I. Ch. Chua, sedangkan musiknya ditangani musisi keroncong M. Sardi.[4]

Melati van Agam dirilis pada akhir 1940.[2] Sebuah ulasan di De Sumatra Post yang berpusat di Medan memuji penampilan Soekarti sebagai Norma dan menyebut Soekarti “tampaknya punya bakat yang hebat.”[a][5]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[6] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[7]

Sumber

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       “Melati Van Agam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

“Deli Bioscoop „Melati van Agam”” [Deli Theatre, 'Melati van Agam']. De Sumatra Post (dalam bahasa Dutch) (Medan). 8 January 1941. hlm. 2.

 

1926

Minangkabau

 

 

Seorang militer Belanda bersama tetua adat dan ulama di Sumatera Barat (1926). Belanda berusaha memulihkan hubungan setelah pecahnya Perang Belasting yang dimotori kalangan ulama, terutama di Kamang Magek, Agam

 

 

 

Singkarak Lake west Sumatra painting by E.Dezentjes

the revolt of the Communist Party of Indonesia (PKI) at the end of the year 1926-1927,

 

which was centered in Silungkang. The uprising was initially the result of an agreement PKI officials in Indonesia who plan to implement the rebellion in Indonesia to fight the invaders and oppression to the poor.

 

1925

Java

 

 

 

 

Majalah Perhimpunan Pemuda Islam  dalam bahasa Belanda tahun 1925

Het lich Mandblad van den

Java Islamicten Bond

Toilet Pada Masa Lampau

 

Wc di atas kolam di Jawa 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Masalah kesehatan memang berkaitan dengan kebersihan, maka banyak slogan-slogan yang mengkaitkan kebersihan dengan kesehatan. Mulai kesehatan pribadi hingga lingkungan, semua telah diatur dengan cermat agar individu menjadi sehat dan masyarakat menjadi kuat.

 

Wc di Pinggir kali di Nederlands-Indië 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Berbicara masalah kebersihan dan kesehatan juga tidak dapat dilepaskan dengan berbagai budaya masyarakat yang melingkupinya. Masyarakat Eropa yang datang ke Indonesia pada masa kolonial jelas menganggap masyarakat kita sebagai masyarakat yang kotor baik secara pribadi maupun lingkungan. Maka budaya sanitasi Eropa mulai diterapkan kepada masyarakat Indonesia, salah satunya adalah buang air terutama buang air besar.

 

Jamban Primitif di Semarang 1900 (Koleksi: Tropen Museum Nederland: TMnr_10010442)

Memang telah menjadi kebiasaan masyarakat kita membuang hajat di sungai yang mengalir, hal ini tentunya didasarkan pertimbangan praktis dan kemudahan untuk membersihkan diri juga setelah membuang hajat tersebut. Kebiasaan ini perlahan-lahan mulai dikikis walaupun tidak hilang hingga sekarang dengan memperkenalkan toilet yang bersifat privat dan lebih bersih. Masyarakat membangun toilet atau jamban tertutup dipinggir sungai, ada juga yang membangun di kolam ataupun empang ikan.

 

Wc Eropa di Ngawi, Jawa Timur 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Dengan adanya toilet yang tertutup selain menunjukkan wilayah privat juga menunjukkan bahwa sungai tidak menjadi tempat yang kumuh dengan berbagai kotoran manusia yang berserakan tetapi diatur sehingga lebih nyaman untuk dilihat. Memang mau tidak mau masalah kesehatan individu dan kebersihan lingkungan kita mendapatkan banyak dari pertukaran budaya pada masa kolonial

 

1926

Banten

 

Banten Girang di Tahun 1920

Banten girang bekas kerajaan banten sebelum dipindahkan ke Karang Hantu surosuan.

1926

Minangkabau

 

 

 

Kemudian  A.K.Gani  pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran. Dia lulus dari sekolah dokter STOVIA pada tahun 1926.

 

. A.R Sutan Mansur

. Bagi warga Muhammadiyah, sosok ini dianggap sebagai pendobrak, sekaligus penyebar organisasi sosial keagamaan ini di Tanah Air. A.R Sutan Mansur, demikian nama lengkapnya atau di kalangan aktivis Muhammadiyah dipanggil Buya Tuo.

Buya Sutan Mansur atau Buya Tuo lahir pada tanggal 15 Desember 1895 di Air Hangat Maninjau dari pasangan Abdul Samad dan Siti Abbasyiah. Bayi itu diberi nama Ahmad Rasyid. Bayi yang lahir itu dipelihara dan diurus oleh neneknya Andung Bayang dengan segala kasih sayang, dibedungnya dengan kain panjang dan dihangatkan-nya dengan air panas di dalam botol.

Setelah cukup umur untuk bersekolah, Ahmad Rasyid dimasukkan ke Tweede Class School (setingkat SR) di Maninjau. Sore harinya belajar mengaji dengan ayahnya dari tahun 1902-1909. Setamat Tweede Class School di Maninjau, Ahmad Rasyid berangkat ke rumah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dua tahun kemudian, Ahmad Rasyid pindah ke Padang Panjang, mengikuti Syech Rasul yang mendirikan Surau Jembatan Besi,

 

sampai gempa mengguncang Padang Panjang tahun 1926.

Earthquake 1926

 

 

 

The Tjan Tji seng house after rebuild with wooden,still exist until now

 

 

Merapi Padang Panjang

volcano Earthquake

june,28th. 1926

 

 

 

 

Pada tahun 1921 Sutan Mansur berangkat ke Pulau Jawa. Di Pekalongan ia mulai jadi guru agama sambil berdagang kain batik. Sementara istrinya Fatimah Karim yang hamil besar dititipkan kepada mertuanya Syech Rasul di Tanjung Sani Maninjau. Di Pekalongan inilah AR Sutan Mansur bertemu dengan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Dari dialog singkat tersebut, Sutan Mansur menyadari bahwa di Minangkabau, Islam hanya dipelajari sebagai teori belaka, tetapi tidak ada gerakkan untuk mengamalkannya. Tertarik dengan pengajian KH Ahmad Dahlan, kemudian Sutan Mansur mendaftarkan diri sebagai anggota Muhammadiyah Cabang Pekalongan. Melihat potensi dan bakat kepemimpinan Sutan Mansur, KH Ahmad Dahlan kemudian mengangkatnya sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Pekalongan.

Perkembangan dan kemajuan Muhammadiyah di Minangkabau mendapat perhatian khusus dari Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah Yogyakarta. Maka pada akhir tahun 1926, PB Muhammadiyah mengutus Sutan Mansur untuk mengawal perkembangan persyarikatan agar tidak melenceng ke arah yang tidak dikehendaki.

Kedatangan Sutan Mansur ke Minangkabau, ternyata makin memperbesar pengaruh Muhammadiyah di Minangkabau. Penyebaran Muhammadiyah dilaku-kan Sutan Mansur melalui pengajian-pengajian, telah sesuai dengan metode dakwah, yakni penuh kelembutan, tegas, dan tidak menyinggung perasaan si pendengar. Demikian sekelumit kisah dari ulama modernis ini, tidak cukup kata untuk menguraikan aktivitas semasa hidupnya, baik saat mengembangkan Muhammadiyah, saat pergolakan daerah, dan kembali ke Jakarta.

Salah satu kata-kata populer saat kepemimpinannya di Muhammadiyah di Minangkabau adalah, Muhammadiyah dinagarikan, Nagari di Muhammadiyahkan

Pada tahun 1927

 

Dt. Batuah dan Natar Zainuddin dipindahkan ke Digul.[6] (suryadi,2012)

 

1927

 

A car in the front of Limau Manis office in 19271927-1928

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa lapangan imam Bonjol  (dulu dikenal sebagai Plein van Rome) juga sangat berkesan bagi proklamator kita, Bung Hatta. Sebagai anak muda dia juga menemukan kesenangan hidup yang salah satunya ada di Plein van Rome, lapangan sepak bola yang terletak di alun-alun kota di depan kantor Gemeente Padang.

Hatta bergabung dalam klub sepak bola Young Fellow yang pemainnya terdiri anak-anak Belanda dan pribumi. Klub ini pernah menjadi juara Sumatera selama tiga tahun berturut-turut semasa Hatta menjadi anggotanya

Sumber

http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/

 

 

 

 

1927

Eulis Atjih

1927

Kruger, G.G. Kruger

Arsad, Soekria

Seorang pria meninggalkan istri mudanya yang cantik, Eulis Atjih, dan anak-anaknya untuk berfoya-foya. Ia jatuh miskin dan setelah suaminya pulang sekian tahun kemudian, ia ternyata juga miskin.

[24][26]

. Eulis Atjih (1927)

 

 

Sebuah film bisu bergenre melodrama keluarga, film ini disutradarai oleh G. Kruger dan dibintangi oleh Arsad & Soekria. Film ini diputar bersama-sama dengan musik keroncong yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Kajoon, seorang musisi yang populer pada waktu itu. Kisah Eulis Atjih, seorang istri yang setia yang harus hidup melarat bersama anak-anaknya karena ditinggal suaminya yang meninggalkannya untuk berfoya-foya dengan wanita lain, walaupun dengan berbagai masalah, akhirnya dengan kebesaran hatinya Eulis mau menerima suaminya kembali walaupun suaminya telah jatuh miskin.

 

 

 

 

1928

Film Indonesia masa kolonial

Lily van Java

1928

Wong, NelsonNelson Wong

Lie Lian Hoa, Lie Bouw Tan, Kwee Tiang An, Yah Kwee Pang

Putri seorang juragan dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya dan diam-diam sudah berhubungan dengan orang lain.

Resia Boroboedoer

1928

Tidak dikenal

Young, OliveOlive Young

Seorang perempuan Cina pergi ke Candi Borobudur untuk mencari abu Gautama Buddha. Setelah gagal, ia menjadi seorang asketik.

Setangan Berloemoer Darah

1928

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tan Hian Beng mencari pembunuh ayahnya dan balas dendam menggunakan ilmu bela diri.

 

 

Lily Van Java (1928)

 

 

 

Film yang diproduksi perusahaan The South Sea Film dan dibuat bulan Juni 1928. Bercerita tentang gadis yang dijodohkan orang tuanya padahal dia sudah punya pilihan sendiri. Pertama dibuat oleh Len H. Roos, seorang Amerika yang berada di Indonesia untuk menggarap film Java. Ketika dia pulang, dilanjutkan oleh Nelson Wong yang bekerja sama dengan David Wong, karyawan penting perusaahaan General Motors di Batavia yang berminat pada kesenian, membentuk Hatimoen Film. Pada akhirnya, film Lily van Java diambil alih oleh Halimoen. Menurut wartawan Leopold Gan, film ini tetap digemari selama bertahun-tahun sampai filmnya rusak. Lily van Java merupakan film Tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia.

 

4. Resia Boroboedoer (1928)

 

 

Film yang diproduksi oleh Nancing Film Co, yang dibintangi oleh Olive Young, merupakan film bisu yang bercerita tentang Young pei fen yang menemukan sebuah buku resia (rahasia) milik ayahnya yang menceritakan tentang sebuah bangunan candi terkenal (Borobudur). Diceritakan juga di candi tersebut terdapat sebuah harta karun yang tak ternilai, yaitu guci berisi abu sang Buddha Gautama.

 

5. Setangan Berloemoer Darah (1928)

 

Film yang disutradarai oleh Tan Boen San, setelah pencarian di beberapa sumber, sinopsis film ini belum diketahui secara pasti.

 

6. Njai Dasima I (1929)

 

 

Film ini berasal dari sebuah karangan G. Francis tahun 1896 yang diambil dari kisah nyata, kisah seorang istri simpanan, Njai (nyai) Dasima yang terjadi di Tangerang dan Betawi/Batavia yang terjadi sekitar tahun 1813-1820-an. Nyai Dasima, seorang gadis yang berasal dari Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Ia menjadi istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William. Oleh sebab itu, akhirnya ia pindah ke Betawi/Batavia. Karena kecantikan dan kekayaannya, Dasima menjadi terkenal. salah seorang penggemar beratnya Samiun yang begitu bersemangat memiliki Nyai Dasima membujuk Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasima agar mau menerima cintanya. Mak buyung berhasil membujuk Dasima walaupun Samiun sudah beristri. Hingga akhirnya Nyai Dasima disia-siakan Samiun setelah berhasil dijadikan istri muda.

 

 

1928

 

Roelof Theodorus Overakker (Haarlem, 9 januari 1890Fort de Kock, 9 januari 1945) was een Nederlandse generaal-majoor van het Indische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Hij werd in 1945, samen met kolonel G.F.V. Gosenson, geëxecuteerd door de Japanners.

Overakker volgde de Koninklijke Militaire Academie en werd op 20 juli 1912 aangesteld als tweede luitenant bij het wapen der infanterie van het Indische leger.

Hij werd op 8 april 1916 bevorderd tot eerste luitenant en in 1921 naar Nederland gezonden voor het volgen van de leergang van krijgskundige studies aan de Hogere Krijgsschool te Den Haag; hij keerde in december 1924 terug naar Indië.

Op 26 januari 1926 werd hij overgeplaatst bij het garnizoensbataljon van Timor en op 24 juni 1926 van datzelfde jaar bevorderd tot kapitein.

Hij werd in februari 1928

overgeplaatst bij de generale staf, diezelfde maand werd hij ingedeeld bij de staf der eerste divisie te Weltevreden. Hij nam in 1929 zitting in het comité voor de regeling van de wedstrijden om het Java-kampioenschap van de Nederlands-Indische voetbalbond.

1928

Pada tahun 1928 adnan kapau gani  terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta.

1928

Batavia

 

During the Indonesian National Revival era, Mohammad Husni Thamrin, a member of Volksraad, criticized the Colonial Government for ignoring the development of kampung (“inlander’s area”) while catering for the rich people in Menteng. Thamrin also talked about the issue of Farming Tax and the other taxes that were burdensome for the poorer members of the community

(wiki)

1929

Film masa colonial

Film Bicara

 

Pada akhir tahun 1929 diputar di sini film-film bersuara yaitu “Fox

Follies” dan “Rainbouw Man” yang merupakan film bicara pertama yang

disajikan di Indonesia. Perkembangan pemutaran film bicara agak lambat.

Sampai tengah tahun 1930, baru sebagian kecil saja bioskop yang sanggup

memasang proyektor film bicara.

 

Masuknya film bicara sebetulnya menguntungkan kedudukan film buatan

dalam negeri. Karena penonton kalangan bawah semakin kurang faham

menyaksikan film asing. Sebab informasi yang semula hanya disampaikandalam bentuk aksi, kini banyak diganti dengan dialog, yang bahasanyatidak dipahami mereka. Sejak 1931 pembuat film lokal mulai membuat filmbicara. Percobaan pertama yang antara lain dilakukan oleh The Teng Chundalam film perdananya: “Bunga Roos dari Tjikembang” (1931) hasilnya amatburuk. Film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film adalah IndonesieMalaise (1931). Sampai 1934 usaha pembuatan film bicara oleh perusahaanfilm lokal belum mendapatkan sambutan yang sangat antusia daripenontonnya sendiri.

Film bicara perrtama di Kota Padang menurut informasi almerhumah ibu saya Anna Tjoa yang kakeknya memiliki bioskop pertama di Padang Scalabio, hanya menyebutkan satu kata saja,sudah membuat gempar. Waktu film bisu diiringi oleh orkes pengiring film tersebut dan pada film tarsan digantung monyet-monyet yang menimbulkan sura riu rendah alami mengiringi sang tarsan dengan monyetnya(Dr Iwan)

Njai Dasima

1929

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, nyai seorang juragan Inggris, dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus.

Rampok Preanger

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Resmini, IningIning Resmini, Ferry, MSMS Ferry

Tidak diketahui

Si Tjonat

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Lie A Tjip, May Ku Fung, Sim, HermanHerman Sim

Tjonat kabur dari Batavia setelah membunuh salah seorang temannya. Ia bergabung dengan geng preman. Ia mencoba menculik gebetannya, Lie Gouw Nio, namun dihentikan Thio Sing Sang.

 

Rampok Preanger (1929)

 

Ibu Ining tidak pernah menduduki bangku sekolah, tahun 1920-an adalah seorang penyanyi keroncong terkenal pada Radio Bandung (NIROM) yang sering pula menyanyi berkeliling di daerah sekitar Bandung. Kemudian ia memasuki dunia tonil sebagai pemain sekaligus sebagai penyanyi yang mengadakan pagelaran keliling di daerah Priangan Timur. Main film tahun 1928 yang berlanjut dengan 3 film berikutnya. Film-film itu seluruhnya film bisu.

 

 

Ketika Halimoen Film ditutup tahun 1932, hilang pulalah Ibu Ining dari dunia film.

 Namun sampai pecahnya PD II, ia masih terus menyanyi dan sempat pula membuat rekaman di Singapura dan Malaya. Pada tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 69 tahun karena sakit lever.

 

8. Si Tjonat (1929)

 

Cerita dalam film ini berputar pada kisah seseorang yang dijuluki si Tjonat. Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, bukannya berterima kasih karena mendapat pekerjaan, ia juga menggerogoti harta nyai tuannya itu. Tak lama kemudian ia beralih profesi menjadi seorang perampok dan jatuh cinta kepada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, penolakan Gouw Nio membuatnya dibawa lari oleh si Tjonat. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.

 

1930

Karnadi Anemer Bangkong

1930

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Film komedi yang mengisahkan seorang pemburu kodok muda bernama Karnadi

Lari ke Arab

1930

Wong Bersaudara

Resmini, IningIning Resmini, Oemar

Seorang pria Jawa yang malas tidak mau menerima kenyataan Depresi Besar dan lari ke Makkah.

Melati van Agam

1930

Lie Tek Swie

Rachman, A.A. Rachman, Titi, NengNeng Titi, Oemar, Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Norma mencintai Idrus tetapi dipaksa menikahi seorang pria kaya. Idrus jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, Norma pergi ke makam Idrus dan bunuh diri.

Nancy Bikin Pembalesan

1930

Lie Tek Swie

Tidak dikenal

Putri Dasima, Nancy, pulang ke Hindia Belanda untuk membalas kematian ibunya. Para pembunuh ibunya berhasil dibunuh.

Njai Dasima

1930

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, mantan nyai seorang juragan Inggris, tinggal bersama sepasang kekasih yang memancingnya. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

De Stem des Bloeds
(atau
Njai Siti)

1930

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn, Boekebinder, SylvainSylvain Boekebinder, Lank, VallyVally Lank

Siti menunggu kepulangan kekasihnya. Akan tetapi, saat kekasihnya pulang ia tak dapat bertemu Siti. Ia bisa bersatu lagi dengan keluarganya setelah putri angkatnya jatuh cinta dengan adik iparnya.

Si Ronda

1930

Lie Tek Swie

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi, Momo

Film laga yang didasarkan pada film sebelumnya

         
         
         
         
         
         
         
         
         
         
         
         

 

1930

film Indonesia masa colonial

Acculturatie’, Teater, dan Sinema Hindia Belanda Awal
Sangat berguna untuk kembali pada risalah tentang kehidupan budaya di  Hindia Belanda di awal dekade abad ke-20. Hildred Geertz menggambarkan sebuah ‘superkultur metropolitan Indonesia’ yang dicirikan oleh ‘penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan sehari-hari, dan secara langsung   diasosiasikan dengan bahasa ini adalah susastra Indonesia baru, musik populer, film, tulisan sejarah, dan tulisan politik’ (1963: 17). Pada masa ini, menonjol pula variasi teater yang secara lokal disebut Komedie Stamboel7  yang melakukan pentas keliling di pusat-pusat metropolitan sebagai hiburan populer (Cohen, 2006). Di luar itu, kelompok-kelompok teater yang datang dari dalam dan luar negeri menambah semangat internasional. Pemutaran  film kadang mengiringi pertunjukan-pertunjukan ini sebagai film keliling, dan kemudian, usaha pembuatan film juga datang dari dunia teater dan sastra populer masa itu (Siegel, 1997; Cohen, 2006).

1930
Etnis Tionghoa telah sangat terlibat dalam bentuk kebudayan populer ini. Salah satu dari penulis paling produktif masa itu adalah Njoo Cheong Seng. Ia masuk ke teater melalui kelompok Stamboel populer Miss Riboet dan kemudian ke dunia film pada tahun 1930-an.

1930

Membayangkan Alam, Kebudayaan, dan Orang-orang ‘Indonesia’ dalam Film-film Pra-kemerdekaan

Sejak awal tahun 1930-an, industri film Hindia Belanda telah cukup mapan  dengan kurang-lebih tujuh film dibuat setiap tahun. Namun demikian, tema-tema dan alur cerita film-film ini beraneka ragam karena para pembuat film masih sangat bereksperimentasi dengan selera konsumen.

Masih barunya sinema di Hindia Belanda pada masa kolonial berarti bahwa pembuat film memiliki banyak ruang untuk mencoba gaya film yang berbeda-beda, namun di saat yang sama, mereka hanya sedikit mengetahui tentang jenis-jenis dan format cerita yang menarik segmen penonton yang berbeda-beda.

Perlu diingat bahwa bahkan dalam kategori penonton umum seperti ‘pribumi’ dan Tionghoa, mereka juga terbagi dalam berbagai segmen yang begitu rumit.
Sebagai contoh, di antara penonton Tionghoa sendiri, ada penonton kategori Tionghoa totok dan peranakan yang berbeda dalam orientasi kebudayaan, bahasa, dan selera film (lihat Biran, 2009; Nio, 1941).

Begitu pun dalam pasar‘pribumi’, terdapat berbagai afiliasi wilayah yang berbeda, tingkat pendidikan, dan orientasi kebudayaan. Akibatnya, banyak film gagal dalam berbagai segmen penonton dan pembuat film harus menanggung risiko bangkrut setiap membuat film.

Meskipun begitu, tahap eksperimental juga berarti film yang dibuat mencakup tema-tema yang luas,  dan mencerminkan banyak segi dan multi-suku masyarakat Hindia Belanda saat itu (Pané, 1953).
Di tangan pembuat film Tionghoa, film-film awal Hindia Belanda  mengombinasikan gaya sinematik Hollywood dan Shanghai dengan cerita dan gaya teater lokal. Oleh karena itu, para produser Tionghoa ini telah menciptakan gaya film khas ‘Hindia Belanda’ yang melukiskan gambaran orang-orang yang sangat kosmopolitan dan hibrida.

1930-1940

Dalam film, seperti Si Tjonat (1930), Terang Boelan (1937), Impian di Bali (1939), dan Rentjong Atjeh (1940), kita dapat melihat contoh bagaimana pembuat film Tionghoa mengombinasikan naratif lokal dan gaya teater toneel dengan pengaruh sinema asing seperti teater bela diri (martial arts) yang umum dijumpai dalam  film-film Mandarin.

Tentunya, jenis film yang istimewa ini terbukti populer, terutama di antara penonton ‘pribumi’ kelas rendah yang melihat gaya ini sangat menghibur (lihat Said, 1991).

Lebih penting lagi, film-film ini selalu mengambil setting pemandangan alam lokal, menggunakan kombinasi aktor  ‘pribumi’ dan Tionghoa, dan berbicara atau setidaknya dengan subtitle bahasa Melayu11. Ini berlaku juga bahkan ketika pembuat film Tionghoa membuat film gaya silat  Mandarin atau filmnya berdasar pada cerita Tionghoa.

Melihat secara lebih dekat sebagian besar film-film pra-kemerdekaan, bisa dirasakan bahwa pembuat film Tionghoa mencoba sangat keras untuk memberikan gambaran lokal—meski dieksotisasi – kebudayaan Hinda Belanda dalam film mereka.

1930

Dari penjelasan ini, kecenderungan untuk ‘indonesianisasi’ alur cerita dan citraan di film-film awal pada dasarnya  merupakan langkah penting dalam kelak yang disebut film Indonesia. Juga dalam masa ini, produser film mulai mengonstruksi ‘wajah’ orang-orang Indonesia di layar13. Barangkali secara ironis, beberapa dari aktor dan aktris Hindia Belanda yang paling terkenal di dekade 1930-an

1930

Pada tahun  1930-an, film-film Hindia Belanda telah sangat dihargai di kawasan Selat Malaka, seperti Singapura dan Malaya (sekarang Malaysia), dan bahkan di  Tiongkok..

1930

Banten

 

 

 

Anyer in 1930 

 

 

1930

Minangkabau

 

 

1930 : Bendi (Delman) diatas Jam gadang

Native horse carriage at Bigger wacth Boekittinggin in 1930

In 1930

In 1930

If we yachting from Padang to Sibolga, along the waterfront when we turn to right look yangf roofed buildings = buildings Genting, located in the middle and still looked a slender trains that smoke mengebul as we see pelabun Tanjung Priok, that town Pariaman
. Also kelikatan home = home raffia (palm leaves) are shaded by trees Nyiur (kwelapa) and Dibelakan the houses look the boat (which in terms minang called the Big Dipper) disinalah tingal versatile fisherman fishing with poverty. Amid the sea that State child Pariaman tears flow, because ksedinh leave home dicibtaibya blood spilled.
At the moment they seem Pariaman former port, a few pillars (milestones) ynag arise in sea surface visible in the dry season and the warehouse is still there, as is currently used as an office BCW
This sea seringkla gives danger to the country boy, almost a kilometer of sand spilled on a palm tree and house banayk victims and the sea so that it becomes part of the ocean (sea aberration term)
  It berates the Government to prevent the loss of thousands of sea water attack and stones that do not necessarily have the many waterfalls along the edge of the ocean sea. Includes iron = iron barrier also exhausted by the waves of the sea.
Railways have moved three times karea destructive ocean waves rails

 

For complete info please read

Dr Iwan CD Rom The Padang  West Sumatra History Collections Part Pariaman City

(Said Zakaria,1930)

 

Baginda Said Zakaria, the  minangkabau  ethnic from Pariaman,

He came from the nobility, and he said that with a handwritten essay is to expand the knowledge and love of the beloved land of their ancestors, the city pariaman.At the  end of his writings, Said Zakaria writes greeting “sayings” that means hopefully all of you  welfare which is Muslims greeting.
At the moment the work is created simultaneously tuls denagn the age “malaise” era that is now known as the recession period. And rconomic in all  Indonesia (this time  was the Dutch East Indies)

1930

 

Dr Iwan mother (Ana Tjoa giok Lana lm.) with her aunt Ncim Cuma(Mother in Law of Dr ronny Handoko)  sit at the front the Sirocok(amongphasa) Adityawarman Statue at Boekittingi Zoo,now the statue at Cenrtral Jacarta

In 1930

If we yachting from Padang to Sibolga, along the waterfront when we turn to right look yangf roofed buildings = buildings Genting, located in the middle and still looked a slender trains that smoke mengebul as we see pelabun Tanjung Priok, that town Pariaman
. Also kelikatan home = home raffia (palm leaves) are shaded by trees Nyiur (kwelapa) and Dibelakan the houses look the boat (which in terms minang called the Big Dipper) disinalah tingal versatile fisherman fishing with poverty. Amid the sea that State child Pariaman tears flow, because ksedinh leave home dicibtaibya blood spilled.
At the moment they seem Pariaman former port, a few pillars (milestones) ynag arise in sea surface visible in the dry season and the warehouse is still there, as is currently used as an office BCW
This sea seringkla gives danger to the country boy, almost a kilometer of sand spilled on a palm tree and house banayk victims and the sea so that it becomes part of the ocean (sea aberration term)
  It berates the Government to prevent the loss of thousands of sea water attack and stones that do not necessarily have the many waterfalls along the edge of the ocean sea. Includes iron = iron barrier also exhausted by the waves of the sea.
Railways have moved three times karea destructive ocean waves rails

 

For complete info please read

Dr Iwan CD Rom The Padang  West Sumatra History Collections Part Pariaman City

(Said Zakaria,1930)

Baginda Said Zakaria, the  minangkabau  ethnic from Pariaman,

He came from the nobility, and he said that with a handwritten essay is to expand the knowledge and love of the beloved land of their ancestors, the city pariaman.At the  end of his writings, Said Zakaria writes greeting “sayings” that means hopefully all of you  welfare which is Muslims greeting.
At the moment the work is created simultaneously tuls denagn the age “malaise” era that is now known as the recession period. And rconomic in all  Indonesia (this time  was the Dutch East Indies)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mgr Brahms of Padang in 1930

 

Bewerkte staande stenen onder een Minangkabau afdak in 1930(Batu Basukek Batusangkar)

 

Muara Batang Arau Padang in 1930

 

 

Padang and appen mount gunung monyet in 1930.look the javasche bank and Geo whery building at left,now we cannpt seen this scene becauase there were the bridge built by Hutama Karya lead by Ir Adiwijaya.

 

Chineesche optocht, Padang in 1930

 

 

 

 

 

 

 

In the front of SD Agnes Vikaris Apostolik and Pastoran.SD Frater,Mulo(SMP) Frater 1930

 

1930

Pada tahun 1930 paling tidak 51%  etnis Tionghoa merupakan perantau keturunan ketiga, dengan 80% adalah Hokkian, 2% Hakka, dan 15% Kwongfu.(wiki)

Supir Pada Masa Kolonial Belanda

 

Taxi di Jawa Tahun 1930-an (Koleksi Tropen MuseumTMnr_10013851)

Semenjak jalan-jalan di Hindia Belanda mulai dibangun sebagai sarana mobilitas eksploitasi kolonial maka semenjak itu pula persentuhan peradaban modern mulai merambah ke dalam wilayah-wilayah di kepulauan Hindia. Jawa, dapat dikatakan menjadi tempat pertama dari persentuhan dan gesekan laju modernitas ini. Mulai dari pendidikan hingga teknologi modern menghinggapi kehidupan masyarakat Hindia Belanda saat itu sehingga tak heran pemerintah kolonial Hindia Belanda mengimbanginya dengan membangun sarana dan prasarana modernitas ini.

 

Taxi di Surabaya tahun 1936 (Koleksi Tropen Museum TMnr 10013841)

Masuknya mobil sebagai sarana transportasi modern ke Hindia Belanda diimbangi dengan pembangunan jalan-jalan yang mulus bahkan dengan teknologi pengerasan jalan menggunakan aspal, kita dapat melihat jalan yang mulus dan keras yang dapat dilalui oleh mobil kecil maupun besar. Buku Rudolf Mrazek yang berjudul Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in Colony, menjelaskan semua ini. Bagaimana jalan-jalan di Hindia Belanda telah menjelma menjadi sebuah pameran dengan menciptakan tontonan perbedaan kelas yang gamblang terlihat mata. Mulai masyarakat yang berjalan kaki, naik sepeda, naik delman, dolar, andong, trem dan bahkan mobil-mobil pribadi yang memenuhi jalanan. Tidak hanya itu, mobil telah menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Hindia Belanda terutama sebagai supir.

Supir mobil, tidak jauh berbeda dengan kusir yaitu orang yang ahli mengendarai alat transportasi. Supir mobil pun pada masa kolonial terbagi menjadi dua yaitu supir pribadi dan supir mobil angkutan umum. Coba saja cermati dialog-dialog dalam novel Rumah Kaca milik Pramoedya Ananta Toer yang banyak menceritakan perjalanan menggunakan mobil baik mobil pribadi maupun mobil sewaan (Taxi).

 

Supir tahun 1930-an (Koleksi: Tropen Museum TMnr 60042793)

Supir pribadi biasanya bekerja bagi tuan-tuan Eropa ataupun bangsawan yang memiliki mobil, mereka merupakan bagian dari domestic workers, sedangkan supir kendaraan umum merupakan supir yang menjalankan mobil yang disewakan dan biasanya mereka bekerja kepada juragan atau pemilik mobil yang disewakan. Rudolf Mrazek sekali lagi menggambarkan bagaimana gambaran supir taxi dalam sebuah foto memperlihatkan sebuah mobil yang modern, dengan sopir orang Indonesia, menggunakan peci yang sejak tahun 1930-an menjadi penanda bagi kaum nasionalis radikal. Mereka juga memiliki sebuah serikat pekerja terutama di Yogyakarta dengan nama PCM (Persatoean Chaeffeur Mataram) yang didirikan sekitar tahun 1931-an. Memang pada awal abad ke-20 profesi supir merupakan profesi yang yang bagus dengan bayaran yang tinggi dan hampir semua masyarakat seperti Belanda, China dan Indonesia suka menjadi supir tetapi seiring berjalannya waktu hanya bangsa Indonesia saja yang tetap menjadi supir, bangsa Belanda dan China telah meninggalkan profesi ini.

So, modernitas kembali membuka lembaran bentuk profesi baru untuk menjalankan mesin-mesinnya dengan menciptakan Supir sebagai profesi untuk menjalankan mobil. Dari profesi yang baik bagi semua bangsa menjadi profesi bagi kaum pribumi…!!

(phesolo)

 

 

 

 

1931

 

 

1931-1936: Bonifacius Cornelis de Jonge

Bonifacius Cornelis de Jonge

 

Bonifacius Cornelis de Jonge

 

Governor-General of the Dutch East Indies

Preceded by

Andries Cornelis Dirk de Graeff

Succeeded by

A. W. L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer

Personal details

Born

Bonifacius Cornelis de Jonge
January 22, 1875(1875-01-22)
The Hague, Netherlands

Died

June 24, 1954(1954-06-24) (aged 79)

Nationality

Dutch

Bonifacius Cornelis de Jonge (22 January 1875 – 24 June 1954) was a Dutch politician.

 

B.C. de Jonge arriving in Bali in the 1930’s.

 

Gouvernor-Generaal B.C. de Jonge visits the HVA hospital Toeloengredjo near Kediri, 06-04-1935.

[edit] See also

[edit] References

This article incorporates

1931

Deli

 

16 Mei 1931

Dengan kurnia dan kebenaran paduka ayahandanya  berangkatlah tengku mahkota bertamasyah ke eropa bersama denga Putera mahkota Serdang Anawar dan adinda nya Tenguku Amiruddin ,kemudian mereka menghadap ratu Wihelmina dan keluarganya.Tengku mhakota juga mengunjungi negeri Mesir dan lain-lain tempat di Egypt.

September 1931

 

Kunjungan Tengku Otteman di pabrik cerutu Karel I di Endhoven

 

Tengku Ottoman bersama pangeran Belanda

 

Tengku Ottomn bergandola menitari sungai ditemani oleh Mr/Mrs Goeyon (1931)

1931

Film Indonesia masa kolonial

Boenga Roos dari Tjikembang

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Oh Ay Ceng dipaksa menikahi seorang gadis kaya. Putri mereka bertunangan namun meninggal sebelum menikah. Tunangannya kemudian menikah dengan putri Oh dari mantan kekasihnya.

[31][43]

Huwen op Bevel
(atau
Terpaksa Menika)

1931

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Seorang intelek Indonesia jatuh cinta dengan seorang wanita yang dipaksa menikah dengan orang lain.

[44][45]

Indonesia Malaise

1931

Wong Bersaudara

Ferry, MSMS Ferry, Oemar

Seorang wanita muda dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya. Ia meninggalkan wanita tersebut dan kekasihnya dipenjara, membuat si wanita depresi. Ia sembuh setelah kekasihnya dibebaskan.

[31][46]

Sam Pek Eng Tay

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Berdasarkan sebuah legenda Cina. Eng Tay dan Sam Pek jatuh cinta namun terpisahkan. Ia disembunyikan dan Sam Pek dibunuh. Eng Tay melemparkan dirinya ke dalam makam Sam Pek.

[31][47]

Si Pitoeng

1931

Wong Bersaudara

Sim, HermanHerman Sim, Resmini, IningIning Resmini, Zorro

Si Pitung, bandit asal Batavia, terlibat konflik dengan polisi Belanda A.W.V. Hinne.

[31][48]

Sarinah

1931

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Film romansa yang berlatar di pantai selatan Jawa

[49]

Sinjo Tjo Main di Film
(atau
Tjo Speelt Voor de Film)

1931

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Schilling, IdaIda Schilling

Komedi yang diadaptasi dari cerita radio Schillings di Bandung

[b][50][51]

           
           
           
           
           

 

 

 

 

. Boenga Roos dari Tjikembang (1931)

 

Film bersuara pertama di Indonesia, film ini menceritakan tentang hubungan antar etnis Cina & pribumi. Dalam film ini, The Teng Chun bertindak sebagai sutradara dan kamera. Cerita ini dikarang oleh Kwee Tek Hoay dan pernah dipentaskan Union Dalia Opera pada 1927, meskipun cuma ringkasan cerita saja, yaitu tentang Indo-Tiongha. Dan film ini diberitakan oleh pengarangnya film Cina buatan Java ini adalah karya Indo-Tiongha.

 

 

 

 

 

 

1931

 

 

Di tahun 1931 Adnan kapau gani  bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial

 

1932

Film Indonesia Masa Kolonial

Karina’s Zelfopoffering
(atau
Pengorbanan Karina)

1932

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Kisah hidup Raden Ajeng Karina, wanita ras campuran yang tinggal di keraton Yogyakarta

[52]

Njai Dasima

1932

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Momo, Oesman

Dasima dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

[44][53]

Zuster Theresia

1932

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Diephuis, DaisyDaisy Diephuis, Maschhaup, HenkHenk Maschhaup, Heymann, AlleAlle Heymann

Henk bekerja di Bandung dan menikahi anak bosnya. Henk mmeminta Flora membesarkan anaknya, namun ia memutuskan menjadi suster setelah menganggap Daisy ibu yang lebih baik.

[54]

Pat Bie To
(atau
Delapan Wanita Tjantik)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

Pat Kiam Hap
(atau
Delapan Djago Pedang)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

 

 

 

 

 

1933

Banten

 

The Ruins of Kaibon in 1933 

 

The Ruins of Kaibon in 1933 

 

The Ruins of Kaibon in 1933 

 

The Ruins of Kaibon in 1933 

 

The Ruins of Kaibon in 1933

 Tim

 

Anyer in 1933 

 

Anyer in 1933 

 

Anyer Before Krakatoa Eruption

 

 

1934

Deli

 

Pada tanggal 26 januari , Tengku Puan Indersa mangkat dalam keadaan hamil almarhum dikebumikan di mesjid Raya al Mashun dari pernikahannya dengan tengkoe Ottoman dikaruniai 4 putri.

16 agustus 1934

Tengku mahkota berangkat ke Pulau pinang  terus menuju Kuala angsar, Perak untuk menitip putra-putrinya disana karena Tengku Mahkota harus menemani ayahanda ke betawi dalam rangka perayaan Jubeleum Ratu Wihelmina

 

Penghargaan Knight order of Oranje Nassau kepada Sultan amaluddin

1934

Film Indonesia masa colonial

Film cerita lokal pertama yang "Meledak"Nama Albert Balink tercatat sebagai orang pertama yang memproduksifilm lokal yang sangat laris, judulnya "Terang Boelan". Albert Balinkadalah seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia filmdan hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan.Pada tahun 1934 Balink mengajak Wong Bersaudara untuk membuat film"Pareh". Untuk mendampinginya didatangkan dari negeri Belanda tokoh filmDokumenter Manus Franken. Mungkin karena Franken berlatar belakandokumenter maka banyak adegan dari film "Pareh" yang menampilkankeindahan alam Hindia Belanda. Film seperti ini rupanya tidak mempunyaidaya tarik buat penonton film lokal karena sehari-harinya mer
<http://petualangwaktu.multiply.com/photos/hi-res/upload/Rgti9QoKCq8AAFD
 
 
VOf41> eka sudah sering melihat gambar-gambar tersebut. Kemudian Balinkmembuat perusahaan film "ANIF" (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadigedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wongbersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen, merekamembuat film "Terang Boelan" (1934). Hasilnya: inilah Film cerita lokalpertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah.
 
<http://petualangwaktu.multiply.com/photos/hi-res/upload/RgtgxgoKCq8AADt
 

 

Ouw Phe Tjoa
(atau
Doea Siloeman Uler Puti en Item)

1934

The Teng Chun

Tidak dikenal

Diadaptasi dari legenda Cina. Seorang pria menikahi ular yang menyamar sebagai wanita, Setelah ularnya ditemukan, si wanita ditangkap tapi tidak dibunuh karena sedang hamil.

[44][56]

           
           
           
           

 

 

1935

Film Indonesia masa Kolonial

Ang Hai Djie

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

Pan Sie Tong

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

Poei Sie Giok Pa Loei Tay

1935

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Poei Sie Giok, sudah berlatih bela diri sejak masih kecil. Ia mengalahkan master Loei Lo Ho, murid-murid Loei, dan istri Loei.

Tie Pat Kai Kawin
(atau
Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet)

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Siluman babi Tie Pat Kai menikahi wanita dari kaum manusia. Setelah ayahnya mengusir Tie, Tie menculik istrinya dan kabur. Ia diburu oleh dua dukun.

1935

Banten

 

Cisadane in 1935

 

 

 

1935

Deli

 

Pada tanggal 11 April, Paduka ayahanda meminang Putri Harun al Rasyid Raja Kechik sulung ,adinda sultan Perak.Putri ini bernama Raja nor shida  adinda Raja  Nor Aziah isteri  Tengku Amirudin (adinda Tengku mahkota)

Perkawinan antara tngku mahkota dan Raja Nor Shida dilangsungkan meriah kemudian setelah itu ia diberi gelar tengku puan Besar dan isteri Tengku Amiruddin diubah gelarnya menjadi Tengku Puan Bongsu .Dari pernikahan ini Tengku Ottoman mendapatkan seorang  Putri.

Untuk meneruskan garis keturunan Sultan deli Tengku Otteman menikah lagi dengan Encek Maryam dab dari isteri ketiga ini Tengku Otteman memperoleh putra yang kelak meneruskan Kesultanan dinegeri deli.ia adalah tengku Azmy.

1935

 

Padang Pandjang autobus  in 1935

1935

 

 

The Bali Priest’s daughter with an US camera in 1935look the traditional earing

 

 

 

 

 

1936

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer

Tjarda van Starkenborgh Stachouwer

 

Governor-General of the Dutch East Indies

In office
1936–1942

Preceded by

Bonifacius Cornelis de Jonge

Succeeded by

Japanese occupation of Indonesia

Personal details

Born

7 March 1888
Groningen

Died

16 August 1978
Wassenaar

Nationality

Dutch

Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (7 March 1888, Groningen – 16 August 1978, Wassenaar) was a Dutch nobleman and statesman, primarily noted for being the last colonial Governor-General of the Netherlands East Indies, now Indonesia. He was taken captive after accepting Japan’s demands for an unconditional surrender of the islands on 9 March 1942.[1]

[edit] Early life

He joined the diplomatic service in 1915. Prior to World War II, he was Queen’s Commissioner in Groningen (1925–33) and envoy to Brussels (1933–36).

On 16 September 1936, he became Governor-General of the Netherlands East Indies.

[edit] Second World War

 

Portrait of Tjarda van Starkenborgh Stachouwer as Governor-General.

When the Netherlands surrendered to Germany on 10 May 1940, Jhr. van Starkenborgh declared martial law in the Dutch East Indies, ordering 19 German cargo ships to be seized and all German nationals to be interned pending the liberation of the Netherlands.[2]

In December 1941, when Japan began operations in the Pacific, there were 93,000 Dutch troops and 5,000 American and British soldiers to defend against an invasion of the Netherlands East Indies.

By 15 February, Japanese bombers were attacking the capital at Batavia (now Jakarta) and government operations were removed to Bandoeng. On Sunday, 8 March, Lt. Gen. Hitoshi Imamura met with van Starkenborgh and set a deadline for an unconditional surrender. Jhr. van Starkenborgh ordered the Dutch and Allied troops to cease fire in a broadcast the next day, and the Allied forces surrendered at 1:00 p.m.[3]

Tjarda van Starkenborgh, his family, and other Dutch government and military personnel were taken prisoner. While the Japanese offered him to stay at his home under house arrest and receive special treatment he refused. He stated that when the people were put in a POW Camp he as well should be put in a camp. He was separated from his wife, Christine,[4] and daughters, who were interned in a different POW camp.

Later, he was transferred to the Manchurian camp at Hsien (now Liaoyuan), where he was held along with other prominent prisoners, including General Jonathan M. Wainwright, until the camp was liberated on 16 August 1945.[5]

[edit] Post-war life

Jhr. van Starkenborgh returned to the Netherlands with his family, but declined a request from Queen Wilhelmina to serve as Governor-General, in that the Queen had pledged self government to Indonesia in 1942. He resigned effective 16 October 1945. Instead, he became the Dutch Ambassador to France (1945–48) and was then the Dutch Representative to NATO (1950–56).

After his retirement he settled a long-standing argument on canal links with Belgium in negotiations during 1963-66. With Gerbrandy and Beel, he formed an advisory committee on the Greet Hofmans affair.

 

1936

Film masa kolonial

Anaknja Siloeman Oeler Poeti

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Sekuel Ouw Phe Tjoa. Anak ular putih dan suami manusianya mencari ibu anak tersebut.

[59][62]

Lima Siloeman Tikoes

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Seorang wanita, dibantu siluman kucing, harus mengetahui yang mana suami aslinya dan lima siluman tikus yang menyamar sebagai suaminya.

[59][63]

Pareh

1936

Franken, MannusMannus Franken, Balink, AlbertAlbert Balink

Roegaya, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Doenaesih, Mochtar, RdRd Mochtar

Mahmud, seorang nelayan, jatuh cinta dengan Wagini, putri seorang petani. Sayangnya, takhayul setempat meramalkan hubungan mereka membawa bencana.

[59][64]

Pembakaran Bio “Hong Lian Sie”
(atau
Moesnanja Gowa Siloeman Boeaja Poeti)

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Geng Kuen Luen Pai berperang melawan geng Oen Kung Pai setelah sebuah kapal pengangkut senjata hancur.

[59][65]

 

 

 

 

1937

Banten

 

Cisadane in 1937

1937

Paramayan bridge

Label: Gallery

Fotografer: Georg Friedrich Johannes Bley

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1937

Film Indonesia masa colonial

 
Film tersebut dibintangi oleh Miss. Roekiah & R.d Mochtar
dimanaberkat film "Terang Boelan" ini nama mereka jadi ikut melambung.
Ketika namanya naik Miss. Roekiah sudah berkeluarga, ia bersuamikan
Kartolo (pemain film juga) dan anak mereka kelak menjadi pemain film
terkenal yaitu Rachmat Kartolo. Cerita film "TB" sendiri sebenarnya
sangat mirip dengan film buatan Amerika yang berlatar kepulauan Hawai.
Pada film "Terang Boelan" kostum penduduk pulau SAWOBA (pulau fiktif ,
SWOBA adalah singkatan dari: SAeroen, WOng & BAlink) mirip dengan kostum
penduduk kepulauan Hawai yang bisa diliat pada film-film Amerika, jadi
bisa dipastikan bahwa film "TB" adalah hasil adaptasi. Kesuksesan TB di
pasar menyebabkan pembuat film lain jadi ikut tergiur, maka film-film
selanjutnya banyak yang menggunakan resep "TB".
 

 

 

1937

Film seperti Terang Boelan (1937) sangat dihargai di kawasan karena kualitasnya yang tinggi yang hampir dapat menyamai film-film yang dibuat oleh Hollywood. Di sini, Nio berpendapat bahwa pemutaran film-film Hindia Belanda di luar Hindia Belanda memamerkan keindahan dan karekteristik kepulauan Indonesia yang membantu membentuk persepsi internasional akan Hindia Belanda dan orang-orangnya (1941: 18).

Dampak psikologis dari pengakuan internasional ini, menurut Nio, adalah munculnya rasa kebanggaandi antara orang-orang Hindia Belanda yang pada masa ini, mulai memahami diri mereka sebagai bagian lebih besar dan lebih menyatu dari ‘Indonesia’.
Hal itu melalui kemampuan pembuat film Tionghoa dalammengombinasikan yang lokal dan kosmopolitan, orang-orang Hindia Belanda mampu tidak hanya melihat diri mereka di layar, namun juga merasa berpartisipasi dalam lingkungan regional yang lebih besar dan modernitas gaya Barat.

 

1937

Figur 1 Poster promosi Kris Mataram
Figur 2 Poster promosi

 

 

 

Promotional poster of Kris Mataram. Picture credit: Sinematek Indonesia

Kris Mataram (2)

 

 

 

Promotional poster for Kris Mataram. Picture credit: Sinematek Indonesia

Poster Kris Mataram menampilkan campuran gambar-gambar, nama-nama, bahasa, dan dalil pemasaran yang diambil dari beberapa kebudayaan lokal dan asing. Sebuah foto ukuran besar dari Fifi Young, aktris utama film beretnis Tionghoa memakai kebaya lurik dari Jawa Tengah ditempatkan di tengah poster, dengan judul film, ‘Kris Mataram’, tertulis dengan gaya huruf Jawa, di latar belakang keris Jawa.

Latar belakang umumnya adalah batik motif parang dari Jawa Tengah, dikontraskan dengan gambar-gambar dari adegan film dalam rangkaian seluloid yang membingkai bagian kanan dan kiri poster.

Film mengiklankan bahwa film ‘bitjara menjanji Melajoe’, bahwa film ini menampilkan lebih dari sembilan lagu keroncong populer dan tujuh di antara bintang filmnya adalah mantan bintang toneel.

Kata-kata dalam poster itu sendiri tertulis dalam kombinasi antara bahasa Melayu dan Belanda, sebagai aturan umum waktu itu. Gambaran yang lama dan baru, tradisional dan modern, kebudayaan Jawa dan bintang film Tionghoa, semuanya dikombinasikan untuk menciptakan citraan ikon lokal dan internasional yang berada dalam kebudayaan visual modern.

 

Pastiche citraan seperti ini yang disajikan dalam poster film Kris Mataram juga dapat dilihat dalam poster-poster film lain, seperti film laga  bajak laut,Rentjong Atjeh (1939), dan drama musikal Terang Boelan (1937).

 

 

Dalam kedua film, jelas bahwa jenis percampuran kebudayaan yang
sama dapat ditemukan, baik dalam gambaran pemandangan alam yang eksotik dengan orang-orang lokal yang hampir terlihat primitif memakai  kain tradisional semacam batik dan ulos dalam adegan yang mirip dengan film musikal Hollywood yang menggambarkan bentang alam eksotik Hawaii atau Pasifik selatan.

Meski gaya pseudo-Barat yang ditemukan dalam gambargambar ini kelak dikritik oleh sejarawan film, seperti Biran dan Said, sebagai salinan tidak nasionalis dari film-film Hollywood, gambaran ini sebenarnya mewakili tahap yang penting, namun terlupakan dalam sejarah film Indonesia.

Periode ini adalah ketika terutama produser film Tionghoa mulai mencari ‘rasa’ film Indonesia, dan bagian dari proses ini adalah ‘mengindonesiasikan’ Barat dan gaya film asing yang lain untuk menciptakan ‘look’ (tampilan) Hindia Belanda yang unik.

Meskipun demikian, sangat penting untuk mengakui bahwa gambaran-gambaran Hindia Belanda yang ditemukan dalam film-film yang diproduksi oleh Tionghoa memang sangat bernada orientalis. Sebagai contoh, dalam Terang Boelan,

 

1936

penduduk asli ditampilkan menggunakan pakaian batik, memakai bunga di rambut, dan hidup di pulau dengan gaya hidup primitif
seperti yang dapat dijumpai di film Hollywood seperti
The Jungle Princess(1936).

1939

.

Meski menganalisis kecenderungan orientalis sepenuhnya dari film-film ini berada di luar jangkauan artikel ini, kami menganjurkan bahwa gambaran yang bersifat reduktif ini adalah peranti praktis dengan mana pembuat film Tionghoa membayangkan gambaran khas Hindia Belanda di sinema.

Sesungguhnya, mau tidak mau, menangkap gambaran yang beragam tentang kepulauan Indonesia di layar film butuh melibatkan proses reduksi dan ‘self-essentialism’.

Meskipun demikian, hal yang penting di sini adalah bahwa orientalisasi Hindia Belanda dalam film bisa dilihat sebagai bagian dari usaha untuk menempatkan Hindia Belanda dalam arus global pertukaran kebudayaan sinema.

Dalam artikelnya yang dibuat pada tahun 2006, Aihwa Ong berargumen bahwa usaha untuk mengorientalisasi diri sendiri secara strategis bukanlah sesuatu yang tidak umum, dan dapat dipahami sebagai sebuah taktik dari subjek terjajah untuk merepresentasikan diri dan mengambil klaim agensi dari proyek hegemonik Barat (hlm. 135).

Hal ini berarti bahwa dengan ‘mengindonesiakan’ film-film asing dan menggambarkan gambaran Hindia Belanda yang unik—meski sangat reduktif—sebagai kebudayaan yang khas, produser film Tionghoa menciptakan ceruk bagi film-film Hindia Belanda. William van der Heide mengambil kesimpulan yang hampir sama ketika ia mengatakan bahwa:

1937

Produksi film Terang Boelan (Full Moon) pada tahun 1937 mewakili konsolidasi kecenderungan terhadap ‘indonesianisasi’, dan menjanjikan arah baru dalam film Indonesia (2002: 128).

 

TERANG BOELAN – het eilan der droomen (1937)

 

Terang Boelan adalah film Indonesia yang disutradarai oleh Saeroen serta dibintangi antara lain oleh Roekiah dan Rd Mochtar.

 


Film ini dalam selebaran promosinya, dikatakan Sawoba adalah pulau yang tak kalah indahnya dengan pulau Hawaii. Padahal, pulau itu cuma khayalan yang diambil dari SA (eroen), WO (ng), BA (link).
Selain itu, film ini adalah film terlaris pertama dan dijual kepada RKO Singapura dan dalam dua bulan peredarannya menghasilkan S$ 200.000.
Serta melalui film ini lahirlah pasangan romantis pertama, Rd Mochtar-Miss Roekiah.

 

 

 

Piringan hitam Terang Boelan                                                                                                                dan lengang-lengang kangkung  oleh Rudy van Dalm 1937

Film Terang Boelan 1937

 

 

 

 

 

 

Terang Boelan


Poster teartikal,
Batavia

Sutradara

Albert Balink

Skenario

Saeroen

Pemeran

       Rd Mochtar

       Roekiah

       E. T. Effendi

       Kartolo

Musik

Ismail Marzuki

Sinematografi

       Joshua Wong

       Othniel Wong

Studio

Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat

Tanggal rilis

       1937 (1937)

Negara

Hindia Belanda

Bahasa

Indonesia

 

Terang Boelan (diucapkan [təraŋ bulan]; Terang Bulan dalam Ejaan Yang Disempurnakan), dirilis secara internasional dengan nama Full Moon, merupakan sebuah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang dikeluarkan tahun 1937.[a] Ditulis oleh Saeroen, disutradarai oleh Albert Balink, dan dibintangi antara lain oleh Rd Mochtar, Roekiah dan E. T. Effendi, Terang Boelan menceritakan dua sejoli yang kawin lari setelah diganggu oleh seorang penyeludup candu. Film ini dibuat di Hindia dan Singapura, dan diilhami oleh film Hollywood yang berjudul The Jungle Princess. Film ini, yang menggunakan musik kroncong, dituju pada audiens pribumi. Pemainnya kebanyakan diambil dari film Balink sebelumnya, yaitu Pareh (1936).

Terang Boelan meraih sukses komersial di Hindia dan wilayah lainnya, meraih 200,000 Dollar Selat di Malaya Britania. Kesuksesan ini menghidupkan kembali industri film domestik yang pada itu nyaris punah dan menginspirasikan pemasaran film terkhusus untuk penonton Malayu di Malaya. Rumusannya, yang terdiri dari lagu, pandangan indah, dan cinta, diikuti sampai puluhan tahun kemudian. Sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran menyebut film ini sebagai titik tolak dalam sejarah perkembangan sinema Indonesia karena telah memicu pembuatan banyak film lain. Seperti film Indonesia kontemporer lainnya, Terang Boelan telah hilang sejak tahun 1970an

Kasim (Rd Mochtar) dan Rohaya (Roekiah), dua sejoli yang telah saling jatuh cinta, terpaksa berpisah karena ayah Rohaya (Muhin) telah menjodohkannya Musa (E. T. Effendi). Malam sebelum pernikahan diberlangsungkan, Kasim menyanyikan sebuah lagu bernama “Terang Boelan” untuk Rohaya, dan mereka setuju untuk kawin lari. Pada hari itu juga, Rohaya dan Kasim kabur dari Pualu Sawoba menuju Malaka. Kasim medapatkan pekerjaan di pelabuhan, sementara Rohaya menjadi seorang ibu rumah tangga. Mereka menemui teman lama Kasim, Dullah (Kartolo), yang hidup di Malaka untuk sementara waktu.

Kebahagiaan mereka tidak lama, karena ditemukan oleh Musa, yang ternyata seorang penyelundup opium. Saat Kasim sedang sibuk bekerja, ayah Rohaya mengambil kembali putrinya dan membawanya ke Sawoba. Kasim, yang telah ketahui perbuatan Musa, juga kembali ke Sawoba dan memanggil warga untuk melawan Musa dengan membongkar rahasia penyelundupan candunya. Ia dan Musa kemudian berkelahi. Ketika tambpak bahwa Kasim akan kalah, ia diselamatkan oleh Dullah, yang telah mengikutinya pulang ke Sawoba. Ayah Rohaya dan semua warga desa menyetujui agar Kasim dan Rohaya hidup bersama, karena mereka benar-benar telah jatuh cinta.[b]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Selama 1934 dan awal 1935, semua film yang dibuat di Hindia Belanda digarap oleh seorang Tionghoa-Indonesia bernama The Teng Chun, yang pernah belajar film di Amerika Serikat.[1] Filmnya, yang mempunyai anggaran rendah tetapi sangat populer, pada umumnya didasarkan pada mitologi Tionghoa dan silat, dan biarpun dituju pada penonton Tionghoa cukup disenangi oleh kalangan pribumi.[2] Dominasi The Teng Chun merupakan salah satu akibat dari Zaman Malaise serta perubahan dalam pasar. Karena Zaman Malaise pemerintah Hindia-Belanda mulai menarik pajak lebih tinggi dan pemilik bioskop menjual karcis dengan harga yang lebih rendah, sehingga membuat film lokal tidak menguntungkan. Karena itu, bioskop di koloni Hindia-Belanda banyak mempertontonkan film Hollywood, sementara industri film domestik nyaris punah.[3] The Teng Chun was able to continue his work only because his films often played to full theatres.[2]

In an attempt to show that locally produced, well-made films could be profitable, the Dutch journalist Albert Balink, who had no formal film experience,[4] produced Pareh (Rice) in 1935 in collaboration with the ethnic Chinese filmmakers the Wong bersaudara (Othniel dan Joshua) and the Dutch documentary filmmaker Mannus Franken.[5] The film cost 20 times as much as an average local production,[6] in part because of Balink’s perfectionism, and was ultimately a failure. The Indonesian writer and cultural critic Armijn Pane wrote that Pareh had performed poorly with native audiences as it was seen as looking at them through European eyes.[6] Pareh bankrupted its producers,[6] and enabled The Teng Chun to dominate the industry – although with less traditional stories – for a further two years.[1]

Produksi[sunting | sunting sumber]

 

 

Salah satu Wong bersaudara, sekitar tahun 1947; Wong berkolaborasi dengan Balink pada Terang Boelan untuk kedua kalinya, setelah Pareh.

By late 1936 Balink had obtained financial backing from several domestic and foreign companies with which he, the Wongs, and Franken opened the Dutch Indies Film Syndicate (Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat, or ANIF) in Batavia (now Jakarta). Although this new establishment focused mainly on newsreels and documentaries, on 1 January 1937 ANIF announced that it would produce several feature films, one of which was Terang Boelan.[7]

Cerita mengenai Terang Boelan ditulis oleh Saeroen, a reporter with the newspaper Pemandangan who had close connections to the theatrical community, shortly after the domestic release of the American-produced Dorothy Lamour vehicle The Jungle Princess (1936), which served as an inspiration.[8] The Indonesian film historian Misbach Yusa Biran wrote that this gave Terang Boelan stylistic and thematic similarities to the earlier film.[9] The Indonesian film critic Salim Said also recognised such similarities, describing Terang Boelan as reflecting the “jungle princess” works popular at the time.[10] Saeroen named the fictional island on which Terang Boelan takes place “Sawoba” after the crew: Saeroen, Wong, and Balink.[11]

Difilmkan pada bulan Februari 1937, under Balink’s direction and with the Wongs as cinematographers.[12] Sources conflict as to whether Franken was involved: Biran wrote that Franken had been left in charge of the studio’s documentaries,[13] while the American film scholar Karl G. Heider recorded Franken as co-directing the film.[14] As opposed to The Teng Chun, who aimed his films at lower-class audiences, Balink aimed his film at educated native Indonesians, attempting to show them not from a European perspective but as they viewed themselves.[15] According to Said, this arose as a reaction to Pareh’s failure and resulted in a less ethnological approach.[16] Terang Boelan was shot in black-and-white using highly flammable nitrate film at Cilincing in Batavia, Merak Beach in Banten, and Tanjong Katong in Singapore.[17] The use of nitrate film may have been a factor in the film’s later loss.[18]

The cast of Terang Boelan mainly consisted of actors who had appeared in Pareh. This included the leading actor, Rd Mochtar, and several minor players, including E. T. Effendi and Soekarsih. Other cast members, including the leading lady Roekiah and her husband Kartolo, were drawn from traditional toneel theatrical troupes; this may have been part of an effort to attract theatregoers. The film, which included the songs “Terang Boelan” and “Boenga Mawar” (“Rose”), required its cast to sing keroncong music (traditional music with Portuguese influences); because Mochtar’s voice was ill-suited to the task, the musician Ismail Marzuki – who also composed the film’s score – sang while Mochtar lip synced.[19]

Rilis dan penerimaan[sunting | sunting sumber]

Terang Boelan ditayangkan pada tahun 1937 di Bioskop Rex di Batavia, ibu kota Hindia-Belanda.[20] Dalam iklan, yang kadang menggunakan nama bahasa Belanda Het Eilan der Droomen, film ini disebut sebagai bukti bahwa Hindia-Belanda itu sama indahnya dengan Hawaii, sebuah kepulauan tropis yang banyak digunakan dalam film Hollywood. Poster film juga menekankan penggunaan bahasa Indonesia.[21] William van der Heide, seorang dosen ilmu film di University of Newcastle di Australia, beranggapan bahwa film ini melanjutkan kebiasaan “Indonesiasisasi”, alias penerapan pengertian nasional (Indonesia) pada konsep dari luar; untuk Terang Boelan proses ini termasuk penggunaan tempat lokal yang eksotis dan musik kroncong. Adaptasi dari film asing seperti ini telah muncul beberapa tahun sebelumnya, dan berlangsung lama setelah Terang Boelan ditayangkan.[22]

The film was a commercial success, both in the Indies and nearby British Malaya. Native audiences filled the cinemas, most of them working-class people, including native fans of toneel and kroncong who rarely watched films.[23] After being licensed by RKO Radio Pictures, the film was screened in British Malaya, where it was advertised as “the first and best Malay musical” and earned 200,000 Straits dollars (then equivalent to US$ 114,470[24]) in two months.[25] Terang Boelan proved to be the most successful production in the area until Krisis (Crisis) in 1953, released after the Netherlands recognised Indonesia’s independence in 1949.[26]

Despite the success, ANIF was displeased with the film and halted its other non-documentary productions; one of the studio’s cameramen, an Indo man named J.J.W. Steffens,[c] suggested that ANIF’s management preferred works of non-fiction as a more intellectual medium. Disappointed by the company’s reaction, Balink left the Indies and emigrated to the United States.[27] Terang Boelan’s cast left ANIF not long afterwards and, after briefly touring Malaya, joined Tan’s Film.[28] They made their first film for Tan’s, Fatima, in 1938. Mochtar, who soon married fellow Terang Boelan actress Soekarsih, continued to be cast as Roekiah’s lover; the two were a popular screen couple until Mochtar left Tan’s in 1940 over a wage dispute.[29]

 

 

Roekiah dan Rd Mochtar (diambil oleh Siti Akbari) continued to be cast as lovers until 1940.

The success of Terang Boelan led to an increase in film production in the colony, many of the films following the same formula, including songs, beautiful scenery and romance.[30] Before Terang Boelan, local studios had generally been unsuccessful in finding a formula popular with audiences,[31] but the triple successes of Terang Boelan, Fatima, and Alang-Alang (Grass, 1939) revived the industry.[32] Four new production houses were established in 1940,[33] and actors and actresses previously attached to theatrical troupes entered the film industry, which was reaching new audiences.[34] Most locally produced films released in the Indies were made between 1939 and the Japanese occupation in 1942.[35] Meanwhile, in Malaya, the brothers Run Run and Runme Shaw, drawing inspiration from Terang Boelan and Alang-Alang’s success with Malay audiences, established Malay Film Productions in Singapore, where it became one of the more successful production houses.[36]

Heider considered Terang Boelan one of the two most important cinematic works from the Dutch East Indies during the 1930s; Balink’s earlier film Pareh was the other. He notes that Terang Boelan “set the tone for popular Indonesian cinema”, a tone that remained dominant into the 1990s.[14] Biran considered the film a turning point in the history of Indonesian cinema, showing the possibilities of the medium and serving as a catalyst for further development.[11] Said concurred, describing the film as a milestone in Indonesia’s history because of the widespread formula it introduced.[16] The repeated use of Terang Boelan’s formula has been criticised. The director Teguh Karya, for instance, denounced films that used it without building on it, leaving the formula “undeveloped and static”.[37]

Terang Boelan is considered lost,[38] as are most domestic productions from the era.[d] Sejarawan film Filipina dan sutradara Nick Deocampo menulis bahwa produksi made with nitrate film – such as Terang Boelan – burned easily and were thus easily lost, but suggested that copies of the film may have survived until the 1970s.[18] In a 1991 publication Said, Heider, and the American translator John H. McGlynn expressed hope that a copy of the film might be lying around in someone’s attic or closet in Indonesia or the Netherlands.[38]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. 1.       ^ Sumber lain, seperti Anwar (2004), mengatakan bahwa film ini dirilis pada tahun 1938.
  2. 2.       ^ Plot diambil dari Said (1982) dan Biran (2009).
  3. 3.       ^ Biran does not indicate his full name.
  4. 4.       ^ Heider (1991) mencatat bahwa semua film Indonesia sebelum 1950 sudah hilang. Namun, Katalog Film Indonesia JB Kristanto mencatat beberapa masih ada di arsip Sinematek Indonesia, dan Biran (2009) mencatat bahwa beberapa film propaganda Jepang masih disimpan di Netherlands Government Information Service.
  5. 1.       ^ Biran 2009, hlm. 380–382.
  6. 2.       ^ Biran 2009, hlm. 147–150.
  7. 3.       ^ Biran 2009, hlm. 145.
  8. 4.       ^ Jakarta City Government, Albert Balink.
  9. 5.       ^ Biran 2009, hlm. 155, 159.
  10. 6.       ^ a b Biran 2009, hlm. 160–162
    Original: “Anggaran f 75.000 itu hampir 20 kali anggaran film yang wajar masa itu.”
    Translation: “The film’s budget of f 75,000 was almost 20 times that common for films of the time”.
  11. 7.       ^ Biran 2009, pp. 165–168; Said 1982, p. 142.
  12. 8.       ^ van der Heide 2002, p. 128; Biran 2009, p. 169.
  13. 9.       ^ Biran 2009, hlm. 170.
  14. 10.   ^ Said 1982, hlm. 11.
  15. 11.   ^ Biran 2009, hlm. 169.
  16. 12.   ^ Filmindonesia.or.id, Kredit Lengkap.
  17. 13.   ^ Biran 2009, hlm. 165–168.
  18. 14.   ^ Heider 1991, hlm. 15–16.
  19. 15.   ^ Biran 2009, hlm. 146.
  20. 16.   ^ Said 1982, hlm. 23–24.
  21. 17.   ^ Esha et al. 2005, hlm. 32; Filmindonesia.or.id, Terang Boelan
  22. 18.   ^ Deocampo 2006, hlm. 1917–1919.
  23. 19.   ^ van der Heide 2002, p. 128; Said 1982, pp. 23–24; Esha et al. 2005, p. 32.
  24. 20.   ^ Filmindonesia.or.id, Terang Boelan; Biran 2009, hlm. 25; Esha et al. 2005, hlm. 32
  25. 21.   ^ Filmindonesia.or.id, Terang Boelan.
  26. 22.   ^ van der Heide 2002, hlm. 128.
  27. 23.   ^ van der Heide 2002, p. 128; Said 1982, p. 25; Deocampo 2006, pp. 1917–1919.
  28. 24.   ^ New York Times 1938, Foreign Exchange.
  29. 25.   ^ Biran 2009, p. 171; Esha et al. 2005, p. 33; Barnard 2010, p. 52.
  30. 26.   ^ Anwar 2004, hlm. 84.
  31. 27.   ^ Biran 2009, hlm. 172–173.
  32. 28.   ^ Biran 2009, p. 174; Esha et al. 2005, p. 33.
  33. 29.   ^ Filmindonesia.or.id, Terang Boelan; Biran 2009, hlm. 214; Filmindonesia.or.id, Pareh
  34. 30.   ^ Biran 2009, p. 25; Said 1982, p. 25.
  35. 31.   ^ Biran 2009, hlm. 87.
  36. 32.   ^ Biran 2009, hlm. 182.
  37. 33.   ^ Biran 2009, hlm. 205.
  38. 34.   ^ Said 1982, hlm. 27.
  39. 35.   ^ Biran 2009, hlm. 383–385.
  40. 36.   ^ Khoo 2006, hlm. 90.
  41. 37.   ^ Heider 1991, hlm. 6, 16.
  42. 38.   ^ Said, McGlynn & Heider 1991, hlm. 31.

Catatan[sunting | sunting sumber]

       “Albert Balink”. Encyclopedia of Jakarta (dalam bahasa Indonesian). Jakarta City Government. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       Anwar, Rosihan (2004). Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia [A Short History of Indonesia] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Kompas. ISBN 978-979-709-428-7.

       Barnard, Timothy P. (February 2010). “Film Melayu: Nationalism, Modernity and Film in a pre-World War Two Malay Magazine”. Journal of Southeast Asian Studies (Singapore: McGraw-Hill Far Eastern Publishers) 41 (1): 47–70. doi:10.1017/S0022463409990257. ISSN 0022-4634.

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       Deocampo, Nick, ed. (2006). Lost Films of Asia. Manila: Anvil. ISBN 978-971-27-1861-8.

       Esha, Teguh; Alhaziri, Wasmi; Fauzi, Muhammad; Donald W., Sabu; Sigarlaki, Erwin R. (2005). Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta [Ismail Marzuki: Music, Homeland, and Love] (dalam bahasa Indonesian). Yogyakarta: LP3ES. ISBN 978-979-3330-36-5.

       “Foreign Exchange”. The New York Times (New York). 8 June 1938. Diakses 24 November 2012.  (perlu langganan)

       van der Heide, William (2002). Malaysian Cinema, Asian Film: Border Crossings and National Cultures. Amsterdam: Amsterdam University Press. ISBN 978-90-5356-580-3.

       Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       Khoo, Gaik Cheng (2006). Reclaiming Adat: Contemporary Malaysian Film and Literature. Vancouver: University of British Columbia Press. ISBN 978-0-7748-1172-9.

       “Kredit Lengkap” [Full Credits]. Filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). National Library of Indonesia and Sinematek. Diarsipkan dari aslinya tanggal 12 August 2012. Diakses 12 August 2012.

       “Pareh”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: National Library of Indonesia and Sinematek. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       Said, Salim (1982). Profil Dunia Film Indonesia [Profile of Indonesian Cinema] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Grafiti Pers. OCLC 9507803.

       Said, Salim; McGlynn, John H.; Heider, Karl G (1991). Cinema of Indonesia: Eleven Indonesian Films, Notes & Synopses. New York: Festival of Indonesia Foundation. ISBN 978-1-879578-00-5.

       “Terang Boelan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: National Library of Indonesia and Sinematek. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 Juli 2012. Diakses 24 Juli 2012.

(sumber wiki)

 

 

 

Bali

 

 

Mask of a refined woman, approx. 1935. Wood. Asian Art Museum, Vicki Baum Bali Collection; Gift of Wolfgang Lert and Ruth Clark Lert, 1992.37

 

Arjuna and Supraba, approx. 1935. Mas, South Bali. Perhaps by Ida Bagus Putu. Wood. Asian Art Museum, Vicki Baum Bali Collection; Gift of Wolfgang Lert and Ruth Clark Lert, 1992.43

 

 

 

Abimanyu, approx. 1930–1938.

Hide, wood, pigment, plant fiber. American Museum of Natural History, 70.0/7954

 

 

 

Coin images of deities (Sri Sedana), approx. 1900–1930. Probably Sanur, South Bali. Copper alloy coins, cotton fabric, silk fabric, plant fiber, wood, skin, imitation gemstones, metallic thread, gold leaf, lacquer, paint. Fowler Museum at UCLA, The Katharane Mershon Collection of Indonesian Art, X61.77 and X61.78

 

 

 

 

 

1936

Bali

 

 

The Bali native building in 1936

 

 

The bali House in 1936

 

 

 

The euro man with native  bali children  at the font of Gajah Cave in 1936

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Bali women dancer in 1936(nine  pictures)

 

 

 

The bali Mask dancer in 1936(barong dancer)

 

 

 

 

 

 

The bali dancer in 1936(two pictures)

 

 

 

Bali man  dancer in 1936

 

 

 

 

The Bali  statue in 1936

 

 

 

The Bali Batur mountain  in 1936 look the perkutu bird hanging high

 

 

 

The ductn man and women at terrace in Bali 1936

 

 

Dutch with their auto and driver in Bali 1936

 

 

The bali women drag rice numbuk padi dilesung in 1936

 

 

 

 

The Bali wajang dancer group in 1936

 

 

 

 

The bali Kecak dancer groep in 1936

 

 

literature

 

 

Kleen, T. A. 1936. The temple dances in Bali. Stockholm

 

1936

Hofkers reputation as a portrait painter was such, that he received the assignment in 1936 to paint a portrait of queen Wilhelmina for the head office of the Koninklijke Pakketvaart Maatschappij (KPM) in Batavia, the former Dutch colonies in East-Indies.

 

1937

 

Film Indonesia masa colonial

 

Gadis jang Terdjoeal

1937

The Teng Chun

Tidak dikenal

Han Nio dijual kepada seorang juragan dan dijadikan istri. Mereka tidak bahagia dan akhirnya Han meninggal. Mantan kekasihnya mencoba balas dendam kepada suaminya namun terbunuh.

[59][66]

Terang Boelan
(atau
Het Eilan der Droomen)

1937

Balink, AlbertAlbert Balink

Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah, Effendi, E. T.E. T. Effendi

Rohaya sedang jatuh cinta tetapi dipaksa menikahi pria yang tidak ia cintai. Ia kawin lari namun ketahuan. Kekasihnya berhasil merebut Rohaya kembali.

[59][67]

 

 

Film terang bulan 1937

 

 

 

Film hiburan yang berorientasi pada publik pribumi. Dibuat dalam payung perusahaan Algemeene Nederlnds Indische Film Synd (ANIF) dengan Albert Balink yang bertindak sebagai produser; Saeroen menulis skenario merangkap sutradara; Joshua Wong menangani kamera; dan berkisah tentang lika-liku perkawinan dua sejoli berbeda adat istiadat diperankan oleh Rd Mochtar dan Miss Roekiah, di sebuah pulau fiktif bernama Sawoba (singkatan Saroen, Wong dan Balink). Cilincing (Tanjungpriok), pantai Merak di Banten, dan Tanjung Katong di Singapura diambil sebagai tempat lokasi film.

Selain Rd Mochtar dan Miss Roekiah pemeran lainnya ialah Kartolo, Eddy, dan Ismail Marzuki. Walau hanya mendapat peran sebagai figuran, Maing boleh dikatakan mempunyai andil yang cukup besar. Dia mengisi ilustrasi musik film itu, bahkan suaranya dipakai secara sinkro dengan teknik sulih suara untuk Rd Mochtar saat menyanyikan lagu-lagu romantis. Poelaoe Sawoba, Doedoek Termenoeng, Di Tepi Laoet adalah lagu-lagu yang menurut Armijn Pane, ilustrasi musik film Terang Boelan kental bernafaskan keroncong modern. Jenis musik ini dimasukkan ke dalam film saat pergerakan pemuda tengah berolah-pikir soal kesenian kesatuan. Masyarakat menyambut antusias film Terang Boelan. Saat pertunjukkan perdana di Bioskop Rex, Batavia, calon penonton terpaka antre-berdesakan. Sejak itu pula beberapa produser film di Hindia-Belanda berlomba memproduksi film-film yang sesuai dengan publik untuk tujuan komersial.

Film Terang Boelan menyeberang sampai Singapura dan Malaya. Para penonton kedua negeri bukan saja menyukai isi cerita yang ditampilkan film itu, tetapi juga ilustrasi musiknya. Impresario bernama Robert Chiang agaknya mampu menangkap rasa penasaran mereka. Dia segera mengundang Ismail Marzuki dan kawan-kawan untuk menggelar pertunjukan musik di Singapura dan Malaysia. Setelah menandatangani kontrak, gabungan orkes Lief Java dan The Sweet Java Islnder berangkat menuju kedua negeri melalui Pelabuan Tanjungpriok dengan menumpang kapal laut KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij) SS Plancius pada 16 Juli 1938. Violis terkenal M “Raja Jali-Jali” Sagi ikut serta dalam rombongan yang mereka namakan Terang Boelan Party. Setelah bermain musik di Singapura, menurut jadwal, mereka akan manggung di beberapa kota mulai dari Johor, Sungai Muar (Malaka), Tampin (Negeri Sembilan), Kuala Lumpur, Taiping (Ipoh), sampai Alor Star (Kedah). Lawatan direncanakan berlangsung selama 40 hari penuh. Iklan dan poster berbagai ukuran yang mencantumkan jadwal rinci pertunjukkan Terang Boelan Party, termasuk profil singkat para pemain, tereetak dalam surat kabar setempat dan terpampang di dinding beberapa gedung jauh hari sebelum rombongan menjejakkan kaki di Singapura.

Pertunjukan pertama Terang Boelan Party digelar di salah satu gedung bioskop yang cukup lapang. Para musikus berbusana seragam dan tampak sangat apik: kemeja putih, jas putih berbalut warna merah di sekitar leher dan dada, berdasi kupu-kupu hitam, celana panjang dan sepatu hitam mengkilat. Usai lagu pembukaan, mereka memainkan lagu-lagu pop, dendang Melayu, keroncong, dan kembali lagi ke instrumental disambung dengan potpouri Melayu. Terus-menerus, silih-berganti, non-stop. Penonton terpesona dan menyambut pertunjukan mereka dengan antusias. Tepuk tangan membahana sekitar satu menit ketika Terang Boelan Party menutup pergelaran musik. Bahkan beberapa penonton menyempatkan diri naik ke panggung untuk menghadiahkan karangan bunga kepada mereka. Keesokan pagi, halaman pertama dari sebagian besar surat kabar setempat penuh berisi ulasan panjang lebar tentang kepiawaian musiku dari Hindia Belanda itu. Tiga hari berturut-turut Terang Boelan Party menghibur masyarakat Singapura. Sesudah itu mereka melanjutkan perjalanan dan mengadakan pertunjukkan di beberapa kota di Malaya. Kadang-kadang mereka menemukan pengalaman baru khususnya saat berinteraksi dengan para penonton melemparkan uang ringgit, meminta mereka memainkan atau menyanyikan ulang lagu-lagu yang disukai

(Jakarta go)

 

 

 

 

 

1937

 

 

 

Fatimah, prince of Kloengkoeng bali in 1937 look the morif of vintage Batik Kloengkoeng sarong

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bali Artworks Collections(Vintage Children Paintings-1937)

 

 

 

Vintage Bali painting circa 1937(anonim)” Sanghyang Boemboeng magic dancer”

 

 

 

 

 

 

 

 

1938

Banten

 

The Ruins of Kaibon in 1938

 

 

1938

Bali

A 1938 work by I Ketut Ngendon,

the painting crowds the wonder and whimsy, the sensuality, and sense of playfulness of Bali into a single frame.

As nearly nude villagers gather on the shore to bid farewell to the anthropologist couple in their outrigger canoe, a volcano puffs out the letters that read “Goodbye and Good Luck.”


The water ripples in quilted patterns. Trees thick with leaves rise above thatched huts.

Enormous blossoms open in the foreground. Why, one can’t help thinking of Mead and Bateson, would anyone choose to leave all this behind?

 

 

 

The Bali bengawan Hreshaspati wooden statue in 1938

 

 

The Bali women wooden statue in 1938

 

 

The Bali Garuda  on turtle wooden statue in 1938

 

1938

Film Indonesia masa colonial

Fatima

1938

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Kartolo, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah

Fatima jatuh cinta dengan Idris, tetapi pemuda kaya Ali mencoba menculiknya. Ia kemudian ditahan karena menjadi ketua geng perampok.

[59][68]

Oh Iboe

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Seorang janda menikah lagi dan berjudi, sedangkan bisnisnya dijalankan oleh Kian Hwat yang tidak jujur. Putrinya, Loan, merebut kekayaan keluarga setelah dicuri Kian.

[59][69]

Tjiandjoer

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Kim Tjiang yang terlalu dimanja mengusir saudaranya, Kim Djin, dari rumah, tetapi ayah mereka Koan Liong segera menyadari kesalahannya.

[59][70]

 

 

 

1938

When, in 1938, he was called up by the Dutch Army to serve in Jakarta (then called Batavia), it seemed like a dream come true.

Born in Zaandam in The Netherlands on April 15, 1916, the third of eight children, he was christened Adrianus Wilhelmus Smit. Already as a young boy he showed signs of artistic talent so, after leaving school in his home town, he studied design at the Academy of Arts in Rotterdam. Whenever there was a major art exhibition at the museums in Rotterdam or Amsterdam, he would go there and carefully study the paintings.

Smit remembers being especially impressed by the watercolours of Signac, and the paintings by Gaugain and Cezanne. “I’ve looked really closely at the paintings of Cezanne, how every touch is pure. And that I have tried to sustain in my own paintings.” Then he laughs: “Cezanne was so intrigued by his own technique that sometimes his hand would quiver – ‘Shall I do this, shall I put this touch of blue there?’ Although I admire Cezanne very much, I’m not like that.”

1938

In 1938 the couple accompanied the painting to the Dutch East-Indies and concluded with a trip through the colonies. During this trip they made drawings and paintings of Indonesian subjects which could be reproduced and used by the KPM.

 

The Hofker couple settled in Bali where Willem made popular drawings of Balinese landscapes and dancers. The Hofkers socialized with many painters, amongst other Spies, Strasser, Meyer and their good friend Rudolf Bonnet.

1938

Prosesi Manjalang (Padang Magek, c.1938)

Published By niadilova under Minang Saisuak

 

Pada awal 1938 seorang peneliti etnografis dari Perancis berkelana di Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatra, dan Pulau Nias. Tujuannya adalah mendokumentasikan (dalam bentuk film dan foto) sebanyak mungkin aktifitas penduduk lokal yang disaksikannya, khususnya tari-tarian. Peneliti wanita tersebut adalah Claire Holt. Sekarang dokumentasi visual yang dibuat oleh Holt tersimpan dengan baik di Perancis dan di Amerika Serikat.

Di Minangkabau, Claire Holt membuat banyak foto mengenai berbagai jenis tarian dan seni pertunjukan lokal, baik di darek maupun di pesisir. Selain itu dia juga membuat banyak foto mengenai aktifitas keseharian masyarakat Minangkabau. Hal itu dapat dikesan dalam dua artikelnya “Dances of Sumatra and Nias: Notes by Claire Holt, Indonesia 11 (April 1971): 120 dan Dances of Minangkabau”, Indonesia 14 (October 1972): 7288.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan satu foto yang dibuat oleh Holt. Foto ini diberinya judul “Minangkabau – Wedding procession. Padang Magek (Minangkabau). Wedding procession: bridegroom, preceded by two matrons, is led to house of bride”. Jadi, foto ini merekam prosesi anak daro manjalang rumah marapulai dalam satu pesta perkawinan di Padang Magek.

Foto ini (17 x 22,5 cm) merekam jenis pakaian dan bentuk hantaran dalam prosesi manjalang dalam pesta perkawinan di Padang magek tahun 1930-an. Para pengiring perempuan memakai gaun yang indah dan menjujung hantaran dengan aksesori yang unik dan penuh makanan.

Kini material culture seperti yang terekam dalam foto ini mungkin sudah tinggal kenangan. Padang Magek, sebagaimana nagari-nagari lainnya di Minangkabau, sudah berubah karena dilanda modernisasi dan globalisasi. Seandainya unsur budaya itu sudah terlanjur kita tinggalkan karena asyik melihat kebudayaan bangsa asing, foto ini mungkin dapat digunakan untuk merekonstruksi kembali kebudayaan kita yang sudah hilang itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: The New York Public Library for the Performing Arts/Jerome Robbins Dance Division). | Singgalang, Minggu, 22 September 2013

 

 

 

1939

 

Koleksi keramik pesanan khusus dari  Eropa dengan photo permaisuri (mangkunegara?) dan

 

kaligrafi bahasa  kawi ditemukan di solo 2012,mungkin dari peringatan terkait permaisuri PB

Lihat photo keramik pesanan khusus keraton ( Surakarta )

 

dari sisi kiri gambar permaisuri (mangkunegra?)

 

dari sisi kanan kaligrafi bahasa kawi

 

Close up kaligrafi bahasa kawi

2 Agustus 1939

 

Iklan Ban Silverstown Sinpo 2 Agustus  1939

4 November 1939

Iklan  Anggur Habis Beranak Sinpo 1939

 

Iklan Anggur Pektay Sinpo 4 November 1939

Pada masa Yunani Kuno, praktek periklanan dalam bentuknya yang paling awal yaitu periklanan lisan atau oral telah dilakukan oleh para penjaja yang berteriak keliling kota menawarkan barang-barang dagangannya. Di kota Athena para penjaja keliling menawarkan produk kosmetik merk Aesclyptos yang paling terkenal pada masa itu dengan menyanyikan semacam puisi sebagai pemikat calon konsumennya. Pada sekitar 3000 tahun yang lalu, di Babylonia telah digunakan tanda-tanda (sign) atau simbol-simbol visual sebagai wahana periklanan yang ditempelkan pada produk-produk yang diperdagangkan. Di jaman Romawi orang-orang memasang iklan dalam bentuk tulisan-tulisan papan pengumuman yang ditempelkan pada dinding-dinding kota untuk mencaribudak-budak yang melarikan diri dan juga untuk mengumumkan pertandingan pertarungan para gladiator. Di kota Pompei lukisan dinding dalam bentuk grafiti oleh para politikus digunakan sbagai media periklanan untuk propaganda agar rakyat memilihnya. Bentuk awal periklanan yang lainnya, ketika gilda-gilda para artisan (pengrajin) menguasai perdagangan di abad pertengaha, digunakan logo, tanda, juga simbol yang dilekatkan pada produk-produk atau karya-karya kerajinan mereka sebagai ciri khas dan penanda kualitas produk tersebut.

 

 

 

 

The Bali Jewellary  golden earing and bracelet in 1939

 

 

The motif of Bali gold prada Batik in 1939

 

 

The Bali dance gordel stich embroidery  in 1939

 

 

Bali Dance costume with jewellary in 1939

 

 

The Bali dance costume stich embroidery in 1939

 

 

 

 

 

 

Willem Gerard Hofker, The Farmer From Batoboelan, 1939

 

 

 

 

1939

Film Indonesia masa kolonial

Demikian pula, film-film lain seperti Impian di Bali (1939), tokoh-tokoh lokal hampir selalu terlihat menggunakan pakaian tradisional seperti kebaya atau penutup kepala khas Bali, dan musik tradisional seperti gamelan selalu dimainkan di latar belakang sebagai musik pengiring

 

 

Walter Spiess in 1939

Spies’s stay in Bali ended in 1939 when he was taken to court and jailed for homosexuality during a morality-driven witch hunt by the Dutch government. While imprisoned in Surabaya he painted his best work hailed as magical realism depicting changes in feelings and subconscious attitudes: The Landscape and its Children.

 

The work shows the painter’s longing for Bali and the tricks the mind plays as a place once called home fades into distant memory. In 2002 this painting sold for over US$1 million through Christie’s Singapore.

His Scherzo for Brass Instruments, reputedly painted in a half-trance state contains many incarnations of the artist as he explores an inner landscape from various points of view. In a letter to Carl Gotsch, Spies describes the process of painting Scherzo as a spiritual and sacred purification of the soul akin to rebirth: “The funny thing is I really feel as if this is my very first painting. I really feel as if I am beginning a new life.”


Scherzo for Brass Instruments by Walter Spies, Oil on Board, 1939

Dedicated to Leopold Stokowski, then the conductor of Chicago’s Philharmonic Orchestra, Scherzo was shipped from Surabaya to America but never reached its destination. Today’s reproductions are from photographs taken by Spies in prison.

In his fatherland this German artist is probably better known as the art advisor to several movies such as Friedrich Murnau’s version of the Dracula story, Nosferatu. Yet despite living only a fraction of his life in Germany Spies’ citizenship twice caused him to be interned during war.

 

Born in Moscow and raised mostly in Russia he was interned in the Ural Mountains during the first World War. He was also interned by the Dutch in Ngawi, East Java and Kotatjane, Sumatra during the second World War.

 

1940

1940

In 1940 the couple moved to Ubud. In the period between 1938 to 1944 most of Hofker’s work in Indonesia was made. His art pieces were refined and flowing, as well as poetic. In Bali he mainly painted temples and religious life on the island and he concentrated on the people of Bali. Many of his paintings are exhibited in Ubud in ARMA and the Neka Museum.

 

 

 

 

The famous dancer I Mario, picture taken 1940.

 

 

Nusa Penida temple 1940

foto yang dibuat tahun 1940 yang dimiliki oleh Puri Kanginan Blahbatuh, maka rupa-rupanya Padmasana itu sudah ada sejak dulu

 

 

 

1940

Kemajuan periklanan semakin terbuka lebar ketika mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg yang memungkinkan iklan-iklan disampaikan melalui lembaran-lembaran cetakan.  Maka mulailah jaman periklanan modern merambah Eropa, Amerika dan Benua lain untuk mempromosikan hasil-hasil produksi ke pusat-pusat pasar dunia. Pertama adalah Inggris melalui surat kabar periklanan spectator yang memuat berbagai macam iklan, kemudian Amerika Serikat dengan surat kabar periklanan Pennsylvania Gazette.

 

Iklan Lampu Philip Pandji Poestaka 6 Januari 1940

Hindia Belanda pada awal abad ke-20 merupakan gambaran bagaimana kehidupan modern merasuki kehidupan masyarakat di setiap kota dengan berbagai pernak-perniknya. Modernitas masyarakat Hindia Belanda, terutama di kota-kota di Pulau Jawa tidak datang begitu saja, ia merupakan pergulatan dari perombakan kehidupan agraris tradisional kerajaan menuju masyarakat kapital. Melalui berbagai cara pemerintah kolonial Belanda perlahan tetapi pasti mulai menjadikan wilayah Nusantara sebagai wilayah yang berdaulat penuh tanpa adanya gejolak masyarakat. Modernitas kota awal abad ke-20 dapat kita lihat dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, “Jejak Langkah”, ketika Minke berlayar dari Surabaya menuju Batavia menggunakan Kapal Uap, memasuki kota Batavia dengan menggunakan Trem dan pemandangan sepanjang perjalanan dipenuhi dengan produk-produk modernitas, mulai dari lampu gas, sepeda, dan kebudayaan modernitas berupa sebuah iklan di surat kabar yang mengabarkan akan datangnya seorang deklamator Belanda. Beberapa hari lagi akan mendeklamasikan sajak-sajak Belanda dan Shakespeare di gedung Komidi, Pasar Baru.

 

Iklan Kain dan pakaian Sinpo 2 Agustus 1940

Memang, pada awal abad XX masyarakat Hindia Belanda tidak bisa lagi digambarkan sebagai dualisme, tetapi sebagai masyarakat plural. Pluralisme itu disebabkan karena adanya perbedaan agama, perbedaan kebudayaan, dan perbedaan suku bangsa. Wertheim menyebut perbedaan itu sebagai “persatuan dalam perbedaan”.  Pluralisme masyarakat Hindia Belanda tampak semakin kompleks ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Barat yang pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh diskriminasi rasial yang hanya menguntungkan golongan elite Eropa dan elite pribumi.

 

Iklan Kipas angin Sinpo 2 Agustus 1940

Suara microphone terdengar nyaring di depan alun-alun Kraton Surakarta menawarkan sebuah produk obat. Orang-orang yang berlalu-lalang pun tersenyum karena kata-kata penawaran obat tersebut dalam bahasa Jawa sangat lucu dan menarik. Ya, itulah bentuk promosi dari obat segala macam penyakit ,“Moonlite” yang setiap hari terdengar di sekitar alun-alun Kraton Surakarta dekat dengan pasar Klewer. Menarik, karena bentuk iklan atau promosi barang semacam ini merupakan bentuk iklan yang paling tua dan masih dipergunakan.

 

 

Iklan Pertunjukan Tonnel Sinpo 4 November 1939

Perluasan pendidikan dan pengajaran untuk golongan pribumi terus dikembangkan oleh pihak pemerintah kolonial Belanda sejak dicanangkannya Politik Etis pada awal abad XX.  Dalam konteks ini pemerintah kolonial tidak hanya bertanggungjawab, tetapi secara politis dan ekonomis juga berkepentingan terhadap perkembangan pendidikan dan pengajaran. Tujuan politis, untuk membentuk kelompok baru yang western minded dan terpisah dari masyarakat kebanyakan. Sementara itu, secara ekonomis perluasan birokrasi dan administrasi pada lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah kolonial memerlukan tenaga-tenaga terdidik dan terampil yang murah. Oleh karena penyelenggaraan pendidikan tidak terlepas dari kebutuhan birokrasi pemerintahan dan kepentingan ekonomi, maka berakibat pada diferensiasi sosial. Diferensiasi itu terjadi karena perkembangan tingkat spesialisasi dalam pembagian pekerjaan dan administrasi birokratis. Diferensiasi juga terdapat pada spesialisasi untuk menjalankan peran tertentu dalam memenuhi persyaratan-persyaratan fungsional yang berbeda-beda. Masyarakat Hindia Belanda yang pluralistik semakin heterogen dengan berlangsungnya proses diferensiasi pada struktur politik dan ekonomi. Meskipun sistem pendidikan Barat yang diterapkan bagi masyarakat pribumi itu masih bersifat diskriminatif dan rasialistik, akan tetapi telah berhasil melahirkan proses emansipasi yang memunculkan suatu lapisan menengah yang cukup progresif bagi golongan bumi putera. Dengan semakin meluasnya jumlah lapisan menengah pribumi yang berpendidikan Barat, maka semakin mempercepat terjadinya proses modernisasi yang mengubah sistem orientasi masyarakat pribumi dari feodal tradisional menjadi pandangan yang kosmopolit Barat.

 

Iklan Sabun Mandi Lifebouy Sinpo 2 Agustus 1940

Mobilitas sosial vertikal yang dialami oleh golongan pribumi akibat masuknya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan kaum priyayi yang disebut sebagai priyayi profesional.  Berkat keahlian profesional dari bidang keilmuan yang dipelajari lewat sekolah-sekolah Barat, maka golongan priyayi profesional bersama-sama dengan golongan elite priyayi birokrasi, golongan elit aritokrasi tradisional dan kaum elit kolonial Barat menempati puncak piramida lapisan atas pada masyarakat jajahan di Jawa.

 

Iklan Buku Sinpo 4 November 1939

Selain pendidikan, arah modernisasi kehidupan masyarakat Jawa diawali dengan masuknya teknologi-teknologi permesinan dan yang paling berpengaruh adalah teknologi transportasi berupa kereta api dan trem. Transportasi ini membawa mobilitas masyarakat menjadi lebih cepat dan efisien dalam penggunaan waktu, sesuatu yang dituntut dalam budaya masyarakat modern.

Perkembangan komunikasi melalui telegram dan surat kabar juga membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terutama dalam bidang sosial – budaya masyarakat kota di Hindia Belanda pada masa kolonial. Di dalam surat kabar tidak hanya memuat tulisan-tulisan saja tetapi juga gambar-gambar iklan hasil produksi kapital yang siap dikonsumsi oleh masyarakat. Artinya, kota-kota di Hindia Belanda, telah menjadi pasar dari produksi kapital.

 

Iklan Pengobatan Penyakit TBC Pandji Poestaka 9 Maret 1940

Perusahaan periklanan yang cukup besar di Hindia Belanda adalah ANETA (Algemeen Generaal Nieuws en Telegraaf Agentschap) berdiri tahun 1905 milik pemerintah kolonial Belanda. Banyak perusahaan besar pada masa itu yang menjadi klien perusahaan ini seperti Bataafsche Petroleum Maatschappij, General Motors maupun Koninklijke Paketvaart Maatschappij, sedangkan perusahaan periklanan besar yang lain adalah Albrecht & Co serta Algemeen Reclame Bureau Excelsior. Pada akhir abad ke-19 seiring pesatnya laju perekonomian Hindia Belanda banyak perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Cina dengan perintisnya Yap Goan Ho sedangkan pribumi dirintis oleh R.M. Tirtoadisoerja dengan surat kabar Medan Prijaji.

 

Iklan Permen Wybert Pandji Poestaka 7 Februari 1940

Tak pelak lagi surat kabar menjadi motor utama dari diperkenalkannya barang-barang modern hasil produksi kapital ini. Surat kabar menjadi tempat yang menguntungkan bagi produk-produk modern baru di Hindia Belanda untuk diketahui oleh masyarakat. Iklan-iklan produk modern terhampar di surat kabar-surat kabar yang terbit diberbagai kota. Iklan-iklan ini meliputi iklan Produksi Konsumsi, Barang Spesial, dan Jasa, Hiburan dan Informasi. Jenis iklan produksi konsumsi meliputi makanan dan minuman, rokok dan cerutu, parfum dan toiletries, obat-obatan. Iklan barang spesial berupa iklan barang-barang perabot rumah tangga, alat-alat tulis dan percetakan, alat-alat musik, alat transportasi dan suku cadang, mesin, industri, instalasi dan suku cadang serta properti. Iklan Jasa, hiburan dan informasi meliputi jasa pelelangan, jasa pelayanan kesehatan, asuransi, jasa pendidikan, jasa pelayaran, bioskop, buku-buku, serta lowongan pekerjaan.

 

Iklan Lotere Poestaka 6 Januari 1940

Melalui iklan-iklan inilah masyarakat Hindia Belanda mengenal, membeli dan memakai barang-barang tersebut. Iklan-iklan ini juga menunjukkan modernisasi di Hindia Belanda terus bergerak dan masyarakat mengejar ini melalui gaya hidup mereka dengan mengkonsumsi barang-barang pada saat itu untuk menjadi modern.

Koleksi Sejarah Indonesia 1939

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Hak cipta @ Dr Iwan 2013

1939

 

 

Gadis berpakaian adat di Muara Lakitan (tahun 1939)

Kecamatan Muara Lakitan adalah wilayah Kabupaten Musi Rawas yang pertama kali kita masuki jika kita berkendaraan dari kota Palembang lewat Sekayu menuju Kota Lubuk Linggau.Kecamatan Muara Lakitan memiliki Potensi Tambang Batu Bara diantaranya di Desa Semangus yang telah beberaatpa kali didatangi pihak PT.Bukit Asam

 

Pakubuwono X meninggal tahun 1939

 

 

Queen Gusti GKR Hemas, consort of Pakubuwono X, 1866 – 1939 Tenth Susuhunan or ruler of Surakarta, Java, Indonesia From The Century Illustrated Monthly Magazine, May to October 1904

 

1939

 

 

The Bali Jewellary  golden earing and bracelet in 1939

 

 

The motif of Bali gold prada Batik in 1939

 

 

The Bali dance gordel stich embroidery  in 1939

 

 

Bali Dance costume with jewellary in 1939

 

 

The Bali dance costume stich embroidery in 1939

 

 

 

 

 

 

Willem Gerard Hofker, The Farmer From Batoboelan, 1939

Walter Spiess in 1939

Spies’s stay in Bali ended in 1939 when he was taken to court and jailed for homosexuality during a morality-driven witch hunt by the Dutch government. While imprisoned in Surabaya he painted his best work hailed as magical realism depicting changes in feelings and subconscious attitudes: The Landscape and its Children.

The work shows the painter’s longing for Bali and the tricks the mind plays as a place once called home fades into distant memory. In 2002 this painting sold for over US$1 million through Christie’s Singapore.

His Scherzo for Brass Instruments, reputedly painted in a half-trance state contains many incarnations of the artist as he explores an inner landscape from various points of view. In a letter to Carl Gotsch, Spies describes the process of painting Scherzo as a spiritual and sacred purification of the soul akin to rebirth: “The funny thing is I really feel as if this is my very first painting. I really feel as if I am beginning a new life.”


Scherzo for Brass Instruments by Walter Spies, Oil on Board, 1939

Dedicated to Leopold Stokowski, then the conductor of Chicago’s Philharmonic Orchestra, Scherzo was shipped from Surabaya to America but never reached its destination. Today’s reproductions are from photographs taken by Spies in prison.

In his fatherland this German artist is probably better known as the art advisor to several movies such as Friedrich Murnau’s version of the Dracula story, Nosferatu. Yet despite living only a fraction of his life in Germany Spies’ citizenship twice caused him to be interned during war.

Born in Moscow and raised mostly in Russia he was interned in the Ural Mountains during the first World War. He was also interned by the Dutch in Ngawi, East Java and Kotatjane, Sumatra during the second World War.

8 Agustus 1939

 

Majallah wanita 8 agustus 1939 dengan wanita jawa memakai sarung batik dan kebaya.

 

Bioscoop Masa Kolonial

 

1920

Cinema(bioscope)

Scalabio

Bioscoope  192o

The founder Tan Giok Lin

 

The picture of Tan giok Lin hanging at the wall in his daughter and son in law house at Tanah lapang alang Lawas Padang city in 1960

The Scalabio Cinema Location at Balai Baroe street(New Market),now Rio Cinema Pasar raya(Great Market) belong to my grand-grandFather Tan Giok Lin which directed by his son Tan Kim Tjoen after Tan Giok Lin passed away but due to the developed the sound film technology this bioscope off and sold to Ang Eng hoat(grandfather of ang Tjeng Liang) the owner of Cinema Thearer(now Karya Bioscope)

 

During tarzan film,many monkey used as decorations, and the first speaking movie only speak one word only,this told by my mother in memoriam anna,and she went to Scala Bio belong to his grandpa with the Ford Car.

The scala Bio then bankrupt because the speaking movie only contact by Cinema bioscope ownees by Ang eng hoan,grandpa of Ang Tjeng Liang, scala bio that time belong to the grand pa of Johnny hendra only contract the silent movie only.

 

Look the minangkabau film poster  MELATI van AGAM from newspaper clipping below

 

 

Nonton Bioskop Di Padang Tempo Doeloe

 

Padang adalah kota di Sumatera yang paling duluan maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan ‘modern’ sudah mulai berkembang di Padang.

Kota ‘modern’ tentu memerlukan berbagai sarana, termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya.

Media-media hiburan ‘modern’ hasil teknologi Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama kemudian akan diperkenalkan juga di Padang.

Phonograf (mesin bicara), misalnya, pertama kali diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia.


Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah menikmati film bioskop (dari kata Belanda:
bioscoop). Fantastis ya! Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope,

 

Scala-Bio[scope]( milik grandgrandpa Dr Iwan ,Tan Giok Lin)dan Cinema Theatre  (milik Ang Eng Hoat ,ayah Ferry Angriawan produser Firgo film)

adalah empat bioskop pertama yang didirikan di Padang.

Menurut Ibu Saya Anna tjoa giok Lan,cucu Tan giok Lin, saat film bisu diputar ,diiringi music band dan saat cerita tarzan banyak monyet di taruh dalam dan digantung sekitar bioskop scalabio, saat fulm bersuara pertama hanya satu kata saja yang di katakana(Dr Iwan,note)

Baca info lebih lanjut

Memasuki tahun 1920-an

bioskop juga dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), dan Payakumbuh.

Nonton bioskop pada zaman itu unik. Orang nonton film pakai sarung dan peci. Perempuan pakai kebaya (tapi belakangan mulai tampil modern dengan rok dan blus).

Jadi, pakaian ke surau dan ke bioskop pada waktu itu nggak beda-beda amat; susah membedakan apa orang mau pergi nonton atau pergi mengaji.

Antara kaum pribumi dan orang Eropa (Belanda) dan orang Cina kaya dibedakan tempat duduknya dalam panggung bioskop.

Orang Eropa duduk di kelas Loge; Cina kaya di Kelas I; Pribumidi Kelas II dan Kelas III(namanya stales,alias setalen atau 25 sen).

Jadi, segregasi ras dan kelas sosial jelas banget dalam gedung bioskop pada masa itu.

Pertunjukan film—yang disebut “gambar hidoep”—biasanya diadakan dua atau tiga kali semalam.

Filmnya masih sangat sederhana dan kebanyakan film bisu (film bersuara baru diperkenalkan sejak tahun 1927) dengan rol film yang pendek-pendek dan oleh karenanya harus sering bersambung Bahkan sering juga bioskop hanya memutar pantulan foto-foto dari ekspedisi ilmiah ke pedalaman Afrika dan Amerika kalau kebetulan tak ada film.

Pada zaman itu bioskop, yang bangunannya sering berbentuk panggung (makanya terkenal istilah ‘panggung bioskop’), bersifat multifungsi.

Tempo-tempo, kalau tidak ada film, bioskop bisa difungsikan jadi panggung sandiwara (toneel) atau pertunjukan musik. Kali lainnya bisa jadi tempat pertemuan atau rapat (vergadering).

Para pemilik (eigenaar) bioskop—biasanya orang Eropa dan orang Cina kaya—saling mengiklankan film yang akan diputar di bioskop mereka di surat kabar-surat kabar (persis kayak sekarang), disertai dengan kalimat gembar-gembor yang berupaya menarik perhatian pembaca (lihat ilustrasi: dari Pertja Barat, Selasa, 6/6/1911).

Nonton ke bioskop segera menjadi tren di kalangan masyarakat. Banyak karya sastra pada zaman itu yang menggambarkan anak muda atau pasangan yang lagi saling naksir pergi ke bioskop.

(Nonton) bioskop segera menjadi salah satu identitas kemodernan pada zaman itu (juga koran; baca koran berarti intelek). Bacalah misalnya roman-roman seperti Melati van Agam, Roos van Pajacomboe, Njai Sida: Roos van Sawah Loento, Orang Rantai dari Siloengkang, Hantjoer-leboernja Padang Pandjang, Zender Nirom, dan lain-lain. Di dalamnya sering ditemukan narasi mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi nonton bareng ke bioskop.

Bagaimana dengan harga karcis bioskop pada zaman itu? Sebagai gambaran: tahun 1911 harga karcis kelas Loge berharga ƒ 1 (gulden); kelas II ƒ 0,50; kelas III ƒ 0,25; dan kelas IV ƒ 0,10. Cukup mahal lho untuk ukuran pada waktu itu. “Anak2 dibawah oemoer 10 taheon bajar separo” alias dapat korting, sedangkan “militair dibawah titel onder Officier bajar toeroet tarief di atas” alias tak dapat korting (lihat ilustrasi) (Beda dengan Zaman Orde Baru, ya, dimana tentara sering gratis naik bus).

Banyak hal yang aneh-aneh terjadi di dalam dan di luar panggung bioskop pada zaman itu. Saya sering ketawa sendiri kalau lagi membaca koran-koran kuno: soalnya banyak kejadian lucu yang diberitakan. Ada yang ketakutan dalam gedung bioskop karena film yang memperlihatkan kereta api berlari kencang menuju arah bangku penonton: takut ketabrak ceritanya. Kadang-kadang terjadi juga keributan di luar gedung bioskop karena berdesak-desakan beli karcis.

Beberapa bintang film mulai jadi idola, seperti bintang koboi terkenal, Tom Mix  (tewas dalam kecelakaan mobil di Arizona 12 Oktober 1940), bintang lucu Charlie Chaplin, dll. Di koran Sinar Sumatra saya pernah baca seorang anak yang ‘nakal’ ngerjain seorang penjual minyak tanah keliling pakai gerobak di Padang sehingga minyak terbuang sepanjang jalan karena si anak meniru tindakan Tom Mix dalam salah satu filmnya.

Di antara para intelektual Minang, mungkin hanya Hamka yang sangat rapi mencatat pengalaman masa kecilnya ketika teknologi film masuk ke Sumatera Barat. Saat bersekolah di Padang Panjang tahun 1917, Hamka kecil (lahir 1908) sering nonton film gratis. Dari rumah Hamka bilang kepada orang tuanya mau ke surau, tapi ternyata dia dan kawan-kawanya ngacir ke panggung bioskop. Mereka “pergi mengintip film yang main, sebab wang penjewa tidak ada.

Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu dengan ‘tahi ajam’.

Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat dihidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kenal kain sarung sembahjangnya.

Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak!”, demikian tulis Hamka dalam bukunya, Kenang-kenangan Hidup (Jakarta: Gapura, 1951: I, 32-3).

Demikianlah sekelumit cerita mengenai perbioskopan di Padang (Sumatera Barat) tempo doeloe, yang tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perspektif sejarah budaya (cultural history). Mahasiswa dan dosen yang cerdas dari perguruan tinggi di Sumatera Barat pasti akan melakukannya. Yakin saya!

Sumber

suryadi

harian Padang Ekspres, Minggu, 23 November 2008

 

 

Melati van Agam adalah film romansa tahun 1940 yang disutradarai Tan Tjoei Hock dan diproduseri The Teng Chun. Dibintangi S. Soekarti dan A.B. Rachman, film ini mengisahkan sepasang kekasih muda bernama Norma dan Idrus. Film ini diduga hilang

Norma dikenal di kampung halamannya, Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), sebagai sosok yang jelita dan karena itu ia dijuluki “Melati dari Agam“. Meski ia jatuh cinta dengan Idrus, penambang di Sawahlunto, ia dipaksa menikahi seorang kepala sekolah bernama Nazzaruddin, pria yang dianggap lebih sesuai dengan keluarga bangsawan Norma. Norma pun bingung karena suaminya jauh lebih tua daripada dirinya dan Norma sendiri sudah menyatakan Idrus sebagai cinta sejatinya, bahkan sampai bermimpi membangun keluarga bersamanya.

Setelah pernikahannya, Norma pergi bersama Nazzaruddin ke Kota Raja, Aceh (sekarang Banda Aceh), dan membesarkan anak-anak Nazzaruddin dari pernikahan sebelumnya. Hubungan mereka semakin memburuk: Nazzaruddin kewalahan menghadapi pemikiran Barat yang dimiliki istrinya, sedangkan Norma semakin depresi setelah mendengar kematian Idrus yang patah hati. Norma yang saat itu sedang hamil pulang ke Fort de Kock dan diceraikan oleh Nazzaruddin setelah melahirkan. Nazzaruddin mengira anaknya mirip Idrus dan menganggapnya sebagai bukti perselingkuhan Norma. Akhirnya Norma bunuh diri dan dikuburkan di samping Idrus. Nazzaruddin melihat ruh Norma naik ke surga sambil bergandengan tangan dengan Idru

Melati van Agam disutradarai Tan Tjoei Hock untuk Java Industrial Films dan diproduseri oleh pemilik perusahaannya, The Teng Chun. Tan mengadaptasi ceritanya dari novel tahun 1922 dengan judul yang sama karya Swan Pen (nama pena jurnalis Parada Harahap). Novel tersebut telah berkali-kali diangkat ke pertunjukan panggung dan film bisunya pernah dirilis pada tahun 1931 oleh Tan’s Film.[2] Iklan filmnya menekankan peran Harahap selaku novelis aslinya. Waktu itu, industri film sedang menarik diri dari tradisi teater dan jurnalisme dianggap sebagai profesi “modern”.[3] Alurnya justru membanding-bandingkan gaya hidup tradisional dan modern.[4]

Film hitam putih ini dibintangi S. Soekarti, A.B. Rachman, R. Abdullah, S. Thalib, N. Ismail, Rochani, Lena, dan M. Sani.[2] Soekarti belum pernah berakting sebelumnya, sementara lawan mainnya A.B. Rachman pernah terlibat dalam pertunjukan teater. Iklan Melati van Agam hanya berfokus pada latar belakang Soekarti dan mengabaikan Rachman.[3] Sinematografinya ditangani I. Ch. Chua, sedangkan musiknya ditangani musisi keroncong M. Sardi.[4]

Melati van Agam dirilis pada akhir 1940.[2] Sebuah ulasan di De Sumatra Post yang berpusat di Medan memuji penampilan Soekarti sebagai Norma dan menyebut Soekarti “tampaknya punya bakat yang hebat.”[a][5]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[6] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[7]

Sumber

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       “Melati Van Agam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

“Deli Bioscoop „Melati van Agam”” [Deli Theatre, 'Melati van Agam']. De Sumatra Post (dalam bahasa Dutch) (Medan). 8 January 1941. hlm. 2.

 

Dr Iwan

 

Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rata-rata orang Indonesia gemar menonton film terutama di bioskop. Sejarah mencatat bahwa bioskop pertama kali diperkenalkan tahun 1895 oleh Robert Paul yang mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Lima tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1900 film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) semula hanya lantaran rasa kebanggaan orang kulit putih yang tidak mau kalah dari saudara-saudaranya yang tinggal di tanah airnya. Istilah pada saat itu adalah “gambar idoep”.

 

Borneo Bioscoop 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

Bioscoop Alahambra te Jogjakarta 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.Tidak lama setelah itu (1903), sudah berdiri beberapa bioskop antara lain Elite untuk penonton kelas atas, Deca Park, Capitol untuk penonton kelas menengah, Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang buat penonton kalangan menengah dan menengah ke bawah. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

 

Bioscoop te Magelang 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Setahun kemudian muncul fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos). Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

 

Suasana di dalam Bioskop Rex Batavia 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada  tahun 1936, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh perbioskopan Indonesia, terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda, menyebar di Bandung 9 bioskop, Jakarta 13 bioskop, Surabaya 14 bioskop dan Yogyakarta 6 bioskop. Pada era itu, kepemilikan bioskop sudah didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Ada anggapan bahwa orang Cina pada saat itu merasa tertantang untuk membuka usaha bioskop yang sebelumnya dijalankan oleh pengusaha londo atau kulit putih. Selain itu dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa itu dapat menjamu para pejabat Belanda  yang menjadi relasi mereka di bioskop miliknya dengan disertai undangan menonton bioskop  yang dibuat indah, dan para pejabat yang diundang juga diberi hadiah  upeti makanan dan minuman.

 

Bioskop Rex Surabaya tahun 1936 Memutar Film Captain Blood (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sepanjang tahun 1920 – 1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal  dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar tahun 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda sendiri.

 

Poster Film Mandarin yang berjudul “Love and Justice” di Jakarta 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hiburan di Hindia Belanda memang selalu di sesuaikan dengan kelas dan Bioskop menjadi penanda bagi struktur kelas kolonial di Hindia Belanda

(phesolo)

 

Raden Muchtar dan Roekiah dalam film Gagak Hitam tahun 1939

pasangan romantis pertama dalam film Indonesia, Rd Mochtar & Roekiah. Keduanya pertama kali dipasangkan dalam Terang Boelan (1936). Penampilan romantis mereka bahkan dianggap salah satu penyebab sukses komersial film buatan Indonesia terlaris pertama itu. Mereka pun dipasangkan lagi dalam tiga film berikutnya: Fatima (1938), Siti Akbari (1939), dan Gagak Item (1939). Popularitas pasangan itu juga melahirkan “sistem bintang” (star system) dalam perfilman Indonesia, yang mulai memberi perhatian besar akan pentingnya kedudukan pemain.

Sebagaimana kebanyakan pasangan romantis setelahnya, Rd Mochtar dan Roekiah bukanlah pasangan dalam kehidupan nyata. Saat itu Roekiah yang dalam film pertamanya berusia 19 tahun sudah menikah dengan seniman Kartolo. Sang suami bahkan ikut bermain juga dalam film-film tersebut, di samping menggubah lagu dan mengerjakan ilustrasi musiknya. Pasangan itu mempunyai lima anak. Salah satunya, Rachmat Kartolo, mengikuti jejak sang ayah sebagai pemusik dan pekerja film(beritagar)

 

Poster film Loetoeng Kasaroeng oleh Java Fil Company di bioskop Elita 31 desember

Daftar film Hindia Belanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

 

 

Poster film Loetoeng Kasaroeng, film buatan lokal pertama yang dirilis di Hindia Belanda

Sebanyak 112 film fiksi diketahui pernah dibuat di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sejak 1926 sampai pembubaran koloni ini tahun 1949. Film pertama yang diimpor dari luar negeri ditayangkan pada akhir 1900,[1] dan pada awal 1920-an, film serial dan fiksi impor ditayangkan di negara ini, biasanya dengan judul yang diterjemahkan.[2] Perusahaan-perusahaan Belanda juga membuat film dokumenter seputar Hindia Belanda dan ditayangkan di Belanda.[3] Laporan pertama mengenai pembuatan film fiksi di Hindia Belanda sudah ada sejak 1923, meski karya tersebut tidak selesai dibuat.[4] Film buatan lokal pertama, Loetoeng Kasaroeng, disutradarai oleh L. Heuveldorp dan dirilis tanggal 31 Desember 1926.[5]

Antara 1926 dan 1933, sejumlah film lokal dirilis. Meski orang Belanda seperti Heuveldorp dan G. Kruger terus aktif dalam industri ini, kebanyakan pembuat film dan produsernya merupakan etnis Cina.[6] Tan Bersaudara (Khoen Yauw dan Khoen Hian) dan The Teng Chun adalah produser terbesar waktu itu, sedangkan Wong Bersaudara (Nelson, Othniel, dan Joshua) merupakan sutradara paling terkenal waktu itu.[7] Sepanjang pertengahan 1930-an, produksi film turun seiring Depresi Besar.[8] Peluncuran Terang Boelan karya Albert Balink tahun 1937 menjadi awal kemunculan ketertarikan masyarakat pada industri perfilman,[9] dan pada tahun 1941 ada tiga puluh film yang dibuat di dalam negeri.[10] Tingkat produksi ini menurun setelah pendudukan Jepang dimulai pada awal 1942 yang menutup semua kecuali satu studio.[11] Akibatnya, beberapa film yang sudah mulai dibuat tahun 1941 baru dirilis beberapa tahun kemudian.[12] Mayoritas film yang dibuat selama masa pendudukan adalah rekaman-rekaman propaganda pendek.[13] Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dan Revolusi Nasional Indonesia, beberapa film dibuat oleh produser pro-Belanda dan pro-Indonesia. Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 yang otomatis membubarkan Hindia Belanda.[14][15]

Umumnya, film yang dibuat di Hindia Belanda memiliki alur cerita tradisional atau diadaptasi dari karya yang sudah ada.[16] Film-film pertama waktu itu masih bisu, lalu Karnadi Anemer Bangkong (1930) dirilis sebagai film bicara pertama di Hindia Belanda.[17] Film-film selanjutnya memakai bahasa Belanda, Melayu, atau bahasa pribumi. Semuanya hitam putih.[a][18]

Menurut sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran, film-film yang dirilis pada masa itu tidak dapat dikelompokkan sebagai film Indonesia sejati, karena tidak ada rasa nasionalisme di dalam ceritanya.[19] Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film sejak sebelum 1950 dianggap hilang dari peredaran.[20] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia[21][22] dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[23]

Pra-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kunci

 

Tahun produksi tidak jelas

 

Judul

Tahun

Sutradara

Pemeran

Sinopsis

Ref.

Loetoeng Kasaroeng

1926

Heuveldorp, L.L. Heuveldorp

Martoana, Oemar

Purbararang mengganggu adiknya setelah si adik berkencan dengan seekor lutung. Lutung tersebut rupanya ajaib dan setelah berubah jadi manusia, wajahnya lebih tampan daripada kekasih Purbararang.

[24][25]

Eulis Atjih

1927

Kruger, G.G. Kruger

Arsad, Soekria

Seorang pria meninggalkan istri mudanya yang cantik, Eulis Atjih, dan anak-anaknya untuk berfoya-foya. Ia jatuh miskin dan setelah suaminya pulang sekian tahun kemudian, ia ternyata juga miskin.

[24][26]

Lily van Java

1928

Wong, NelsonNelson Wong

Lie Lian Hoa, Lie Bouw Tan, Kwee Tiang An, Yah Kwee Pang

Putri seorang juragan dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya dan diam-diam sudah berhubungan dengan orang lain.

[24][27]

Resia Boroboedoer

1928

Tidak dikenal

Young, OliveOlive Young

Seorang perempuan Cina pergi ke Candi Borobudur untuk mencari abu Gautama Buddha. Setelah gagal, ia menjadi seorang asketik.

[24][28]

Setangan Berloemoer Darah

1928

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tan Hian Beng mencari pembunuh ayahnya dan balas dendam menggunakan ilmu bela diri.

[29]

Njai Dasima

1929

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, nyai seorang juragan Inggris, dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus.

[24][30]

Rampok Preanger

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Resmini, IningIning Resmini, Ferry, MSMS Ferry

Tidak diketahui

[31][32]

Si Tjonat

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Lie A Tjip, May Ku Fung, Sim, HermanHerman Sim

Tjonat kabur dari Batavia setelah membunuh salah seorang temannya. Ia bergabung dengan geng preman. Ia mencoba menculik gebetannya, Lie Gouw Nio, namun dihentikan Thio Sing Sang.

[31][33]

Karnadi Anemer Bangkong

1930

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Film komedi yang mengisahkan seorang pemburu kodok muda bernama Karnadi

[34][35]

Lari ke Arab

1930

Wong Bersaudara

Resmini, IningIning Resmini, Oemar

Seorang pria Jawa yang malas tidak mau menerima kenyataan Depresi Besar dan lari ke Makkah.

[36][37]

Melati van Agam

1930

Lie Tek Swie

Rachman, A.A. Rachman, Titi, NengNeng Titi, Oemar, Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Norma mencintai Idrus tetapi dipaksa menikahi seorang pria kaya. Idrus jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, Norma pergi ke makam Idrus dan bunuh diri.

[31][38]

Nancy Bikin Pembalesan

1930

Lie Tek Swie

Tidak dikenal

Putri Dasima, Nancy, pulang ke Hindia Belanda untuk membalas kematian ibunya. Para pembunuh ibunya berhasil dibunuh.

[31][39]

Njai Dasima

1930

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, mantan nyai seorang juragan Inggris, tinggal bersama sepasang kekasih yang memancingnya. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

[31][40]

De Stem des Bloeds
(atau
Njai Siti)

1930

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn, Boekebinder, SylvainSylvain Boekebinder, Lank, VallyVally Lank

Siti menunggu kepulangan kekasihnya. Akan tetapi, saat kekasihnya pulang ia tak dapat bertemu Siti. Ia bisa bersatu lagi dengan keluarganya setelah putri angkatnya jatuh cinta dengan adik iparnya.

[31][41]

Si Ronda

1930

Lie Tek Swie

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi, Momo

Film laga yang didasarkan pada film sebelumnya

[31][42]

Boenga Roos dari Tjikembang

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Oh Ay Ceng dipaksa menikahi seorang gadis kaya. Putri mereka bertunangan namun meninggal sebelum menikah. Tunangannya kemudian menikah dengan putri Oh dari mantan kekasihnya.

[31][43]

Huwen op Bevel
(atau
Terpaksa Menika)

1931

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Seorang intelek Indonesia jatuh cinta dengan seorang wanita yang dipaksa menikah dengan orang lain.

[44][45]

Indonesia Malaise

1931

Wong Bersaudara

Ferry, MSMS Ferry, Oemar

Seorang wanita muda dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya. Ia meninggalkan wanita tersebut dan kekasihnya dipenjara, membuat si wanita depresi. Ia sembuh setelah kekasihnya dibebaskan.

[31][46]

Sam Pek Eng Tay

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Berdasarkan sebuah legenda Cina. Eng Tay dan Sam Pek jatuh cinta namun terpisahkan. Ia disembunyikan dan Sam Pek dibunuh. Eng Tay melemparkan dirinya ke dalam makam Sam Pek.

[31][47]

Si Pitoeng

1931

Wong Bersaudara

Sim, HermanHerman Sim, Resmini, IningIning Resmini, Zorro

Si Pitung, bandit asal Batavia, terlibat konflik dengan polisi Belanda A.W.V. Hinne.

[31][48]

Sarinah

1931

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Film romansa yang berlatar di pantai selatan Jawa

[49]

Sinjo Tjo Main di Film
(atau
Tjo Speelt Voor de Film)

1931

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Schilling, IdaIda Schilling

Komedi yang diadaptasi dari cerita radio Schillings di Bandung

[b][50][51]

Karina’s Zelfopoffering
(atau
Pengorbanan Karina)

1932

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Kisah hidup Raden Ajeng Karina, wanita ras campuran yang tinggal di keraton Yogyakarta

[52]

Njai Dasima

1932

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Momo, Oesman

Dasima dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

[44][53]

Zuster Theresia

1932

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Diephuis, DaisyDaisy Diephuis, Maschhaup, HenkHenk Maschhaup, Heymann, AlleAlle Heymann

Henk bekerja di Bandung dan menikahi anak bosnya. Henk mmeminta Flora membesarkan anaknya, namun ia memutuskan menjadi suster setelah menganggap Daisy ibu yang lebih baik.

[54]

Pat Bie To
(atau
Delapan Wanita Tjantik)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

Pat Kiam Hap
(atau
Delapan Djago Pedang)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

Ouw Phe Tjoa
(atau
Doea Siloeman Uler Puti en Item)

1934

The Teng Chun

Tidak dikenal

Diadaptasi dari legenda Cina. Seorang pria menikahi ular yang menyamar sebagai wanita, Setelah ularnya ditemukan, si wanita ditangkap tapi tidak dibunuh karena sedang hamil.

[44][56]

Ang Hai Djie

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[44][57]

Pan Sie Tong

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[44][58]

Poei Sie Giok Pa Loei Tay

1935

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Poei Sie Giok, sudah berlatih bela diri sejak masih kecil. Ia mengalahkan master Loei Lo Ho, murid-murid Loei, dan istri Loei.

[59][60]

Tie Pat Kai Kawin
(atau
Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet)

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Siluman babi Tie Pat Kai menikahi wanita dari kaum manusia. Setelah ayahnya mengusir Tie, Tie menculik istrinya dan kabur. Ia diburu oleh dua dukun.

[44][61]

Anaknja Siloeman Oeler Poeti

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Sekuel Ouw Phe Tjoa. Anak ular putih dan suami manusianya mencari ibu anak tersebut.

[59][62]

Lima Siloeman Tikoes

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Seorang wanita, dibantu siluman kucing, harus mengetahui yang mana suami aslinya dan lima siluman tikus yang menyamar sebagai suaminya.

[59][63]

Pareh

1936

Franken, MannusMannus Franken, Balink, AlbertAlbert Balink

Roegaya, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Doenaesih, Mochtar, RdRd Mochtar

Mahmud, seorang nelayan, jatuh cinta dengan Wagini, putri seorang petani. Sayangnya, takhayul setempat meramalkan hubungan mereka membawa bencana.

[59][64]

Pembakaran Bio “Hong Lian Sie”
(atau
Moesnanja Gowa Siloeman Boeaja Poeti)

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Geng Kuen Luen Pai berperang melawan geng Oen Kung Pai setelah sebuah kapal pengangkut senjata hancur.

[59][65]

Gadis jang Terdjoeal

1937

The Teng Chun

Tidak dikenal

Han Nio dijual kepada seorang juragan dan dijadikan istri. Mereka tidak bahagia dan akhirnya Han meninggal. Mantan kekasihnya mencoba balas dendam kepada suaminya namun terbunuh.

[59][66]

Terang Boelan
(atau
Het Eilan der Droomen)

1937

Balink, AlbertAlbert Balink

Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah, Effendi, E. T.E. T. Effendi

Rohaya sedang jatuh cinta tetapi dipaksa menikahi pria yang tidak ia cintai. Ia kawin lari namun ketahuan. Kekasihnya berhasil merebut Rohaya kembali.

[59][67]

Fatima

1938

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Kartolo, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah

Fatima jatuh cinta dengan Idris, tetapi pemuda kaya Ali mencoba menculiknya. Ia kemudian ditahan karena menjadi ketua geng perampok.

[59][68]

Oh Iboe

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Seorang janda menikah lagi dan berjudi, sedangkan bisnisnya dijalankan oleh Kian Hwat yang tidak jujur. Putrinya, Loan, merebut kekayaan keluarga setelah dicuri Kian.

[59][69]

Tjiandjoer

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Kim Tjiang yang terlalu dimanja mengusir saudaranya, Kim Djin, dari rumah, tetapi ayah mereka Koan Liong segera menyadari kesalahannya.

[59][70]

Alang-Alang

1939

The Teng Chun

Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu, Lena, Moesa

Suhiyat jatuh cinta dengan Surati, namun Surati diculik. Suhiyat akhirnya menyelamatkannya.

[59][21]

Gagak Item

1939

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Kartolo, Roekiah, Mochtar, RdRd Mochtar

Film bandit yang terinspirasi oleh Zorro

[71][72]

Impian di Bali

1939

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Perjalanan sepasang kekasih di Bali yang disertai aksi komedi dan musik.

[73][74]

Roesia si Pengkor
(atau
Hadji Saleh)

1939

The Teng Chun

Da’ing, Bissu, Hadidjah

Suti tinggal bersama ibunya setelah ayahnya ke luar kota. Ia dilamar sejumlah pemuda, termasuk pemuda yang dicintainya. Keduanya menikah setelah mengalahkan para pemuda yang lain.

[73][75]

Bajar dengan Djiwa

1940

Hu, RR Hu

Bakar, AA Bakar, Ali, ItjangItjang Ali, Haroen, Oesman

Drama yang mengisahkan interaksi antara beberapa keluarga, termasuk Basuki yang dermawan dan Umar yang pemalas

[73][76]

Dasima

1940

Tan Tjoei Hock

Soekarti, SS Soekarti, Mochtar, MohMoh Mochtar, Sani, MM Sani, S Talib

Dasima bercerai dengan suaminya, lalu menikahi Samiun. Samiun menghabiskan uangnya untuk berjudi. Setelah Dasima meminta uangnya kembali, ia malah dibunuh Samiun.

[73][77]

Harta Berdarah

1940

Hu, RR Hu, Ariffien, RdRd Ariffien

Soelastri, Zonder, RS Fatimah, Moesa

Seorang juragan meninggalkan tempat tinggalnya dalam keadaan menderita, lalu melihat sepasang kekasih yang melarikan diri. Si juragan akhirnya melihat dampak negatif dari harta.

[73][78]

Kartinah

1940

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Astaman, Tjokrohandoko, RARA Tjokrohandoko, Manggis, M RasjidM Rasjid Manggis

Istri Suria, Titi, menderita gangguan ingatan. Suria jatuh cinta dengan perawatnya, Kartinah, dan setelah Titi meninggal dalam serbuan udara, Suria menikahinya.

[73][79]

Kedok Ketawa

1940

Jo An Djan

Oedjang, Fatimah, RSRS Fatimah, Kock, EddyEddy Kock, Zonder

Marsinah dan Basuki jatuh cinta dan dilindungi dari serangan preman oleh “Kedok Ketawa”

[73][80]

Kris Mataram

1940

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Rodriga, OmarOmar Rodriga

Priyayi R.A. Rusmini jatuh cinta dengan orang jelata Bachtiar, namun cinta mereka sangat ditentang oleh masyarakat tradisional.

[73][81]

Matjan Berbisik

1940

Tan Tjoei Hock

Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu, Said

Ayah Hamid kabur dan tidak pulang setelah putranya dewasa. Waktu itu, Hamid dan putra perawatnya bersaing memperebutkan hati seorang perempuan.

[73][22]

Melati van Agam

1940

Tan Tjoei Hock

Soekarti, SS Soekarti, Rachman, ABAB Rachman, Abdullah, RR Abdullah, S Thalib

Siti Norma menikahi pria yang tidak ia cintai demi menghormati orang tuanya, namun ia kawin lari dengan kekasihnya, Idrus.

[73][82]

Pah Wongso Pendekar Boediman

1940

Jo Eng Sek

Wijnhamer Jr., LVLV Wijnhamer Jr., Joenara, EllyElly Joenara

Barja memulai hidup bergelimang kejahatan setelah sepupunya meremehkan kemajuannya. Penyidik LV Wijnhamer menyelidiki segala tindak kejahatan Barja.

[83][84]

Rentjong Atjeh

1940

The Teng Chun

Mada, DewiDewi Mada, Kock, FerryFerry Kock, Mochtar, MohMoh Mochtar, Hadidjah

Dua pemuda, Rusna dan Daud, dilatih untuk memburu dan membunuh seorang perompak yang membuat mereka yatim piatu 15 tahun sebelumnya.

[73][85]

Roekihati

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Djoemala, RdRd Djoemala, Roekiah, Kartolo, Landauw, AnnieAnnie Landauw

Roekihati menikahi Mansur. Ia mulai melenceng setelah bertemu Aminah, tetapi karena Roekihati begitu setia Mansur kembali ke pelukannya.

[73][86]

Siti Akbari

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Landauw, AnnieAnnie Landauw, Kartolo, Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah

Suami Siti Akbari selingkuh, tetapi Siti berhasil menemukan kebahagiaan.

[59][87][88]

Sorga ka Toedjoe

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Djoemala, RdRd Djoemala, Roekiah, Kartolo, Landauw, AnnieAnnie Landauw

Seorang gadis miskin menikah dengan juragan kaya, namun ia tidak bahagia.

[89][90]

Sorga Palsoe

1940

Tan Tjoei Hock

Lo Tjin Nio, Tong, HuiHui Tong, Lim, Pun TjiawPun Tjiaw Lim, Rohana

Hian Nio dijadikan pelayan oleh ibunya. Bos kekasihnya, Bian Hong, menikahinya. Akan tetapi, ia tidak senang dengan pernikahannya, lalu lari dan meninggal dunia.

[73][91]

Zoebaida

1940

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Soerip, Aisah, Young, SallySally Young

Kisah cinta yang berlatar di Timor

[92][93]

Air Mata Iboe

1941

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Ismail, RdRd Ismail, Yugo, AliAli Yugo, Soerip

Sumadi membalas dendam pada saudara-saudaranya setelah mereka menolak merawat ibunya, Sugiati, setelah ayah mereka meninggal.

[94][95]

Ajah Berdosa

1941

Wu Tsun

Arief, MM Arief, Waldy, SS Waldy, Joenara, EllyElly Joenara, Soetijem

Tidak diketahui

[94][96]

Aladin dengan Lampoe Wasiat

1941

Wong Bersaudara

Joenara, EllyElly Joenara, Benny, Sutinah, WollyWolly Sutinah

Aladin muda yang miskin jatuh cinta dengan seorang putri dan mengalahkan penguasa agung yang jahat.

[97][98]

Asmara Moerni

1941

Ariffien, RdRd Ariffien

Gani, AKAK Gani, Djoewariah

Tidak diketahui

[94][99]

Boedjoekan Iblis

1941

Jo An Djan

Mochtar, RdRd Mochtar, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Anwar, Radiah, DewiDewi Radiah

Tidak diketahui

[94][100]

Djantoeng Hati

1941

Njoo Cheong Seng

Sarosa, AA Sarosa, Anggraini, RrRr Anggraini, Ariati

Dua gadis, Karina yang tradisional dan Roesdjana yang modernis, sedang bersaing. Film ini memperingatkan bahwa modernitas tidak selalu jalan yang terbaik.

[94][101]

Elang Darat

1941

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Astaman, Yugo, AliAli Yugo, Rohana, Salam

Parlan dipanggil ke Kresek untuk melacak bandit bernama Elang Darat yang rupanya adik ipar Parlan, Gunawi.

[94][102]

Garoeda Mas

1941

Jo An Djan

Mochtar, RdRd Mochtar, Radiah, DewiDewi Radiah, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Kosasih, RdRd Kosasih

Tidak diketahui

[94][103]

Ikan Doejoeng

1941

Lie Tek Swie

Asmanah, Soerjono, A Thys, Poniman

Asmara disuruh menikahi seseorang yang tidak dicintainya. Ia malah kawin lari dengan Sanusi dan kabur setelah dipergoki perampok.

[94][104]

Koeda Sembrani

1941

Wong Bersaudara

Roekiah, Djoemala, RdRd Djoemala, Sutinah, WollyWolly Sutinah, Kartolo

Kisah kuda bersayap.

[105][106]

Lintah Darat

1941

Wu Tsun

Joenara, EllyElly Joenara, Satijem, Arief, MM Arief, Djoenaedi, AboebakarAboebakar Djoenaedi

Kumala bergabung dengan Safi’i untuk melawan seorang rentenir dan istrinya, Asnah, adik Kumala yang egois.

[94][107]

Matula

1941

Tan Tjoei Hock

Kock, FerryFerry Kock, Mada, DewiDewi Mada, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu

Matula menemui dukun dan meminta agar dijadikan tampan. Ia wajib membayarnya dengan tumbal. Ia mencoba menjadikan Emma tumbal, tetapi dihentikan ayahnya dan keduanya dijodohkan.

[94][108]

Mega Mendoeng

1941

Boen Kim Nam

Soekarno, RdRd Soekarno, Oedjang, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Sofiati, BoenBoen Sofiati

Kustini dikhianati oleh temannya, Sujono, namun bersatu lagi.

[94][109]

Moestika dari Djenar

1941

Jo An Djan

Dhalia, Mochtar, RdRd Mochtar, Djoeriah

Tidak diketahui

[94][110]

Noesa Penida

1941

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Astaman, Ismail, RdRd Ismail, Yugo, AliAli Yugo

Dua kakak beradik jatuh cinta dengan seorang putri, tetapi terhambat oleh perbedaan kasta mereka.

[97][111]

Pah Wongso Tersangka

1941

Wu Tsun

Wijnhamer Jr., LVLV Wijnhamer Jr., Hatjirah, SylviaSylvia Hatjirah, Waldy, SS Waldy, Sarip, MM Sarip

Tidak diketahui

[94][112]

Panggilan Darah

1941

Sutan Usman Karim

Dhalia, Soerip, Sutinah, WollyWolly Sutinah, Mochtar Widjaja

Dua yatim piatu bekerja di rumah Iskak. Karena istrinya menindas mereka, mereka kabur dari rumah. Setelah mengetahui mereka punya hubungan keluarga dengan Iskak, mereka pulang.

[94][113]

Pantjawarna

1941

Njoo Cheong Seng

Widjaja, MochtarMochtar Widjaja, Dhalia, Martha, IdrisIdris Martha, Rodriga, OmarOmar Rodriga

Disebut-sebut sebagai film musikal pertama di Hindia Belanda.

[94][114]

Poesaka Terpendam

1941

Tidak dikenal

Roekiah, Djoemala, RdRd Djoemala, Titing, Kartolo

Sekelompok orang menjelajah mencari harta karun.

[94][115]

Poetri Rimba

1941

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Aisjah, Loedi, Yugo, AliAli Yugo, Bissu, Soetiati

Achmad dibawa ke sebuah desa setelah tersesat di hutan belantara. Ia bersaing dengan Perbada untuk menarik hati putri kepala desa.

[94][116]

Ratna Moetoe Manikam

1941

Sutan Usman Karim

Ratna Asmara, Astaman, Yugo, AliAli Yugo, Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Dua dewi memperebutkan cinta seorang raja.

[97][117]

Selendang Delima

1941

Duarte, Henry L.Henry L. Duarte

Young, CellyCelly Young, Asmana, Soerjono

Tidak diketahui

[97][118]

Si Gomar

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu

Soebardja dan Mariani terpisah dan menjadi yatim piatu setelah perampok membunuh orang tua mereka. Setelah dewasa, mereka hampir menikahi satu sama lain, namun berhasil dihentikan saat sang sepupu mengenali mereka.

[97][119]

Singa Laoet

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Bissu, Mochtar, MohMoh Mochtar

Mahmud pergi menantang geng perompak yang dipimpin Singa Laoet untuk mencari pembunuh ayahnya dua puluh tahun sebelumnya.

[94][120]

Siti Noerbaja

1941

Lie Tek Swie

Asmanah, Momo, Soerjono, A. Thys

Sitti Nurbaya jatuh cinta dengan Samsulbahri, tetapi dipaksa menikahi Datuk Meringgih untuk membayar utang ayahnya.

[94][121]

Soeara Berbisa

1941

Wu Tsun

Soekarno, RdRd Soekarno, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Oedjang, Soehaena

Mitra dan Neng Mardinah jatuh cinta, tetapi Mardjohan yang cemburu menyebarkan rumor bahwa Mitra adalah anak seorang pencuri. Mereka bertemu dan mengetahui bahwa keduanya kakak beradik yang lama hilang.

[97][122]

Srigala Item

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Aisah

Mochtar dipaksa tinggal bersama pamannya setelah ayahnya hilang. Paman dan putranya yang kejam sering diganggu makhluk bertopeng bernama De Zwarte Wolf (“Serigala Hitam”).

[97][123]

Tengkorak Hidoep

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Mochtar, MohMoh Mochtar, Misnahati, Bissu

Darmadji dan teman-temannya pergi ke Pulau Mustika, tempat mereka melihat Maha Daru bangkit kembali setelah 2.000 tahun. Mereka harus mengalahkannya supaya selamat.

[97][124]

Tjioeng Wanara

1941

Jo Eng Sek

Sukran, RR Sukran, Joenara, EllyElly Joenara, Djoenaedi, ABAB Djoenaedi, Arief, MM Arief

Tjioeng Wanara memberontak terhadap raja Galuh yang lalim.

[94][125]

Wanita dan Satria

1941

Ariffien, RdRd Ariffien

Djoewariah, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Hidajat, RR Hidajat

Tidak diketahui

[97][126]

1001 Malam

1942

Wu Tsun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[97][127]

Boenga Sembodja

1942

Said HJ, MohMoh Said HJ

Dhalia, Mochtar, MohMoh Mochtar, Effendi, TossinTossin Effendi, Anwar

Tidak diketahui

[97][128]

Poelo Inten

1942

Tidak dikenal

Mochtar, MohMoh Mochtar, Djoeriah, Noersani, Bapet, RamliRamli Bapet

Tidak diketahui

[97][129]

Berdjoang

1943

Ariffien, RdRd Ariffien

Mochtar, MohMoh Mochtar, Sambas, Dhalia, Kartolo

Anang dan Saman memperebutkan hati Hasanah. Setleah Anang bergabung dengan pasukan Jepang, Hasanah memutuskan ingin bersamanya.

[97][130]

Di Desa

1943

Roestam Sutan Palindih

Mochtar, MohMoh Mochtar, Garkiah, Epen

Tidak diketahui

[b][97][131]

Di Menara

1943

Roestam Sutan Palindih

Soekarno, RdRd Soekarno, Garkiah, Epen,

Tidak diketahui

[b][97][132]

Kemakmoeran

1943

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[b][133][134]

Djatoeh Berkait

1944

Koesoema, B.B. Koesoema

Astaman, Kartolo, Dimin

Tidak diketahui

[b][133][135]

Hoedjan

1944

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Djoenaedi, AboebakarAboebakar Djoenaedi, Dhalia, Effendi, E. T.E. T. Effendi

Tidak diketahui

[b][133][136]

Keris Poesaka

1944

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[b][133][137]

Koeli dan Romoesha

1944

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Propaganda yang mempromosikan program romusha

[b][133][138]

Pasca-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kunci

 

Tahun produksi tidak jelas

 

Judul

Tahun

Sutradara

Pemeran

Sinopsis

Ref.

Djaoeh Dimata

1948

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Yugo, AliAli Yugo, Sucarno, IskandarIskandar Sucarno, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Ratna harus pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah setelah suaminya, Ali, menderita tunanetra.

[133][139]

Anggrek Bulan

1948

Andjar Asmara

Soekarno, RdRd Soekarno, Arief, A HamidA Hamid Arief, Djuwita, NilaNila Djuwita, Sucarno, IskandarIskandar Sucarno

Kati terlibat cinta segitiga dengan Atma dan Subrata, tetapi Atma punya masalah lain yang harus diperhatikan.

[133][140]

Air Mata Mengalir di Tjitarum

1948

Roestam Sutan Palindih

Sofia, Waldy, SS Waldy, Ismail, DD Ismail, Endang, RdRd Endang

Tidak diketahui

[133][141]

Aneka Warna

1949

Said HJ, MohMoh Said HJ

Arief, A HamidA Hamid Arief, Mochsin, Busono, RR Busono, Mulya, AnnieAnnie Mulya

Cerita tentang Dul Kalong dan Mat Codot, dua pelawak dari grup sandiwara Aneka Warna yang hidup miskin.

[133][142]

Bengawan Solo

1949

Jo An Tjiang

Sofia, Mochtar, RdRd Mochtar, Mochtar, MohMoh Mochtar, Ismail, Rd DadangRd Dadang Ismail

Dua anak seorang perempuan desa dibesarkan oleh keluarga yang berbeda setelah ibunya bunuh diri di Bengawan Solo.

[133][143]

Gadis Desa

1949

Andjar Asmara

Djaelani, BasukiBasuki Djaelani, Ruthinah, RatnaRatna Ruthinah, Yugo, AliAli Yugo, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Abu Bakar jatuh cinta dengan anak tuan tanahnya, padahal sudah punya istri.

[133][144]

Harta Karun

1949

Ismail, UsmarUsmar Ismail

Soekarno, RdRd Soekarno, Arief, A HamidA Hamid Arief, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi, Herawati

Suliati dan Ahmad saling jatuh cinta, namun ayah Suliati tidak merestui hubungan mereka karena Ahmad miskin.

[133][145]

Tjitra

1949

Ismail, UsmarUsmar Ismail

Soekarno, RdRd Soekarno, Djuwita, NilaNila Djuwita, Ismail, RdRd Ismail, Arief, A HamidA Hamid Arief

Harsono mencabut keperawanan Suryani, lalu kabur ke kota. Ia ditangkap karena terlibat kasus pembunuhan.

[133][146]

Menanti Kasih

1949

Said HJ, MohMoh Said HJ

Harro, ChatirChatir Harro, Arief, A HamidA Hamid Arief, Djuwita, NilaNila Djuwita, Djoeriah

Husni Anwar mengetahui biaya sekolahnya dibayarkan Rachman, dan sekarang ia harus menikahi putri Rachman.

[133][147]

Saputangan

1949

Young, FredFred Young

Kasur, PakPak Kasur, Harro, ChatirChatir Harro, Noorsini, Herawati, NettyNetty Herawati

Hardjono mendadak buta saat berlayar di laut, tetapi berhasil melihat kembali setelah menjalani operasi.

[133][148]

Sehidup Semati

1949

Young, FredFred Young

Prijatni, IdaIda Prijatni, Yugo, AliAli Yugo, Harro, ChatirChatir Harro, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Saat bepergian ke Bandung, Kusmayadi melamar Asmarani meski sudah dijodohkan dengan Lasminah.

[133][149]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

       Daftar film Indonesia

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. 1.       ^ Film berwarna pertama yang sepenuhnya buatan Indonesia, Sembilan karya Wim Umboh, dirilis tahun 1967.[18]
  2. 2.       ^ a b c d e f g h Film pendek
  3. 1.       ^ Biran 2009, hlm. 27.
  4. 2.       ^ Biran 2009, hlm. 35.
  5. 3.       ^ Biran 2009, hlm. 54.
  6. 4.       ^ Biran 2009, hlm. 57.
  7. 5.       ^ Biran 2009, hlm. 61, 68.
  8. 6.       ^ Biran 2009, hlm. 379–381.
  9. 7.       ^ Biran 2009, hlm. 81, 97, 98.
  10. 8.       ^ Biran 2009, hlm. 145.
  11. 9.       ^ Biran 2009, hlm. 171.
  12. 10.   ^ Biran 2009, hlm. 384–385.
  13. 11.   ^ Biran 2009, hlm. 319, 332.
  14. 12.   ^ Biran 2009, hlm. 284.
  15. 13.   ^ Biran 2009, hlm. 334, 340.
  16. 14.   ^ Biran 2009, hlm. 367–370.
  17. 15.   ^ Kahin 1952, hlm. 445.
  18. 16.   ^ Heider 1991, hlm. 15.
  19. 17.   ^ Prayogo 2009, hlm. 14.
  20. 18.   ^ Republika 1996, Telah Pergi.
  21. 19.   ^ Biran 2009, hlm. 45.
  22. 20.   ^ Heider 1991, hlm. 14.
  23. 21.   ^ Filmindonesia.or.id, Alang-Alang.
  24. 22.   ^ Filmindonesia.or.id, Matjan Berbisik.
  25. 23.   ^ Biran 2009, hlm. 351.
  26. 24.   ^ Biran 2009, hlm. 379.
  27. 25.   ^ Filmindonesia.or.id, Loetoeng Kasaroeng.
  28. 26.   ^ Filmindonesia.or.id, Eulis Atjih.
  29. 27.   ^ Filmindonesia.or.id, Lily van Java.
  30. 28.   ^ Filmindonesia.or.id, Resia Borobudur.
  31. 29.   ^ Biran 2009, hlm. 72 & 379.
  32. 30.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima (I).
  33. 31.   ^ Biran 2009, hlm. 380.
  34. 32.   ^ Filmindonesia.or.id, Rampok Preanger.
  35. 33.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Tjonat.
  36. 34.   ^ Biran 2009, hlm. 76, 380.
  37. 35.   ^ Filmindonesia.or.id, Karnadi.
  38. 36.   ^ Biran 2009, hlm. 114, 380.
  39. 37.   ^ Filmindonesia.or.id, Lari ke Arab.
  40. 38.   ^ Filmindonesia.or.id, Melati Van Agam 1930.
  41. 39.   ^ Filmindonesia.or.id, Nancy Bikin Pembalesan.
  42. 40.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima (II).
  43. 41.   ^ Filmindonesia.or.id, De Stem Des Bloed.
  44. 42.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Ronda.
  45. 43.   ^ Filmindonesia.or.id, Boenga Roos.
  46. 44.   ^ Biran 2009, hlm. 381.
  47. 45.   ^ Het Nieuws 1931, Film-critieken.
  48. 46.   ^ Filmindonesia.or.id, Indonesia Malaise.
  49. 47.   ^ Filmindonesia.or.id, Sam Pek Eng Tay.
  50. 48.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Pitoeng.
  51. 49.   ^ De Indische Courant 1931, Indische filmkunst.
  52. 50.   ^ Biran 2009, hlm. 117, 380.
  53. 51.   ^ Filmindonesia.or.id, Sinjo ‘Tjo’.
  54. 52.   ^ Biran 2009, hlm. 124, 381.
  55. 53.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima.
  56. 54.   ^ Biran 2009, hlm. 126–128, 381.
  57. 55.   ^ Biran 2009, hlm. 147, 381.
  58. 56.   ^ Filmindonesia.or.id, Ouw Peh Tjoa.
  59. 57.   ^ Filmindonesia.or.id, Ang Hai Djie.
  60. 58.   ^ Filmindonesia.or.id, Pan Sie Tong.
  61. 59.   ^ Biran 2009, hlm. 382.
  62. 60.   ^ Filmindonesia.or.id, Poei Sie Giok.
  63. 61.   ^ Filmindonesia.or.id, Tie Pat Kai Kawin.
  64. 62.   ^ Filmindonesia.or.id, Anaknja Siloeman.
  65. 63.   ^ Filmindonesia.or.id, Lima Siloeman.
  66. 64.   ^ Filmindonesia.or.id, Pareh.
  67. 65.   ^ Filmindonesia.or.id, Pembakaran Bio.
  68. 66.   ^ Filmindonesia.or.id, Gadis jang Terdjoeal.
  69. 67.   ^ Filmindonesia.or.id, Terang Boelan.
  70. 68.   ^ Filmindonesia.or.id, Fatima.
  71. 69.   ^ Filmindonesia.or.id, Oh Iboe.
  72. 70.   ^ Filmindonesia.or.id, Tjiandjoer.
  73. 71.   ^ Biran 2009, hlm. 176, 383.
  74. 72.   ^ Filmindonesia.or.id, Gagak Item.
  75. 73.   ^ Biran 2009, hlm. 383.
  76. 74.   ^ Filmindonesia.or.id, Impian di Bali.
  77. 75.   ^ Filmindonesia.or.id, Roesia si Pengkor.
  78. 76.   ^ Filmindonesia.or.id, Bajar dengan Djiwa.
  79. 77.   ^ Filmindonesia.or.id, Dasima.
  80. 78.   ^ Filmindonesia.or.id, Harta Berdarah.
  81. 79.   ^ Filmindonesia.or.id, Kartinah.
  82. 80.   ^ Filmindonesia.or.id, Kedok Ketawa.
  83. 81.   ^ Filmindonesia.or.id, Kris Mataram.
  84. 82.   ^ Filmindonesia.or.id, Melati Van Agam 1940.
  85. 83.   ^ Biran 2009, hlm. 234, 383.
  86. 84.   ^ Filmindonesia.or.id, Pah Wongso.
  87. 85.   ^ Filmindonesia.or.id, Rentjong Atjeh.
  88. 86.   ^ Filmindonesia.or.id, Roekihati.
  89. 87.   ^ Filmindonesia.or.id, Siti Akbari.
  90. 88.   ^ Bataviaasch Nieuwsblad 1940, Cinema: Siti Akbari.
  91. 89.   ^ Biran 2009, hlm. 248, 383.
  92. 90.   ^ Filmindonesia.or.id, Sorga ka Toedjoe.
  93. 91.   ^ Filmindonesia.or.id, Sorga Palsoe.
  94. 92.   ^ Biran 2009, hlm. 254, 383.
  95. 93.   ^ Filmindonesia.or.id, Zoebaida.
  96. 94.   ^ Biran 2009, hlm. 384.
  97. 95.   ^ Filmindonesia.or.id, Air Mata Iboe.
  98. 96.   ^ Filmindonesia.or.id, Ajah Berdosa.
  99. 97.   ^ Biran 2009, hlm. 385.
  100. 98.   ^ Filmindonesia.or.id, Aladin.
  101. 99.   ^ Filmindonesia.or.id, Asmara Moerni.
  102. 100.                        ^ Filmindonesia.or.id, Boedjoekan Iblis.
  103. 101.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djantoeng Hati.
  104. 102.                        ^ Filmindonesia.or.id, Elang Darat.
  105. 103.                        ^ Filmindonesia.or.id, Garoeda Mas.
  106. 104.                        ^ Filmindonesia.or.id, Ikan Doejoeng.
  107. 105.                        ^ Biran 2009, hlm. 224, 384.
  108. 106.                        ^ Filmindonesia.or.id, Koeda Sembrani.
  109. 107.                        ^ Filmindonesia.or.id, Lintah Darat.
  110. 108.                        ^ Filmindonesia.or.id, Matula.
  111. 109.                        ^ Filmindonesia.or.id, Mega Mendoeng.
  112. 110.                        ^ Filmindonesia.or.id, Moestika dari Djenar.
  113. 111.                        ^ Filmindonesia.or.id, Noesa Penida.
  114. 112.                        ^ Filmindonesia.or.id, Pah Wongso Tersangka.
  115. 113.                        ^ Filmindonesia.or.id, Panggilan Darah.
  116. 114.                        ^ Filmindonesia.or.id, Pantjawarna.
  117. 115.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poesaka Terpendam.
  118. 116.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poetri Rimba.
  119. 117.                        ^ Filmindonesia.or.id, Ratna Moetoe Manikam.
  120. 118.                        ^ Filmindonesia.or.id, Selendang Delima.
  121. 119.                        ^ Filmindonesia.or.id, Si Gomar.
  122. 120.                        ^ Filmindonesia.or.id, Singa Laoet.
  123. 121.                        ^ Filmindonesia.or.id, Siti Noerbaja.
  124. 122.                        ^ Filmindonesia.or.id, Soeara Berbisa.
  125. 123.                        ^ Filmindonesia.or.id, Srigala Item.
  126. 124.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tengkorak Hidoep.
  127. 125.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tjioeng Wanara.
  128. 126.                        ^ Filmindonesia.or.id, Wanita dan Satria.
  129. 127.                        ^ Filmindonesia.or.id, Seribu Satu.
  130. 128.                        ^ Filmindonesia.or.id, Boenga Sembodja.
  131. 129.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poelo Inten.
  132. 130.                        ^ Filmindonesia.or.id, Berdjoang.
  133. 131.                        ^ Filmindonesia.or.id, Di Desa.
  134. 132.                        ^ Filmindonesia.or.id, Di Menara.
  135. 133.                        ^ Biran 2009, hlm. 386.
  136. 134.                        ^ Filmindonesia.or.id, Kemakmoeran.
  137. 135.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djatoeh Berkait.
  138. 136.                        ^ Filmindonesia.or.id, Hoedjan.
  139. 137.                        ^ Filmindonesia.or.id, Keris Poesaka.
  140. 138.                        ^ Filmindonesia.or.id, Koeli dan Romoesha.
  141. 139.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djaoeh Dimata.
  142. 140.                        ^ Filmindonesia.or.id, Anggrek Bulan.
  143. 141.                        ^ Filmindonesia.or.id, Air Mata Mengalir.
  144. 142.                        ^ Filmindonesia.or.id, Aneka Warna.
  145. 143.                        ^ Filmindonesia.or.id, Bengawan Solo.
  146. 144.                        ^ Filmindonesia.or.id, Gadis Desa.
  147. 145.                        ^ Filmindonesia.or.id, Harta Karun.
  148. 146.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tjitra.
  149. 147.                        ^ Filmindonesia.or.id, Menanti Kasih.
  150. 148.                        ^ Filmindonesia.or.id, Saputangan.
  151. 149.                        ^ Filmindonesia.or.id, Sehidup Semati.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

       “Air Mata Iboe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Air Mata Mengalir di Tjitarum”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Ajah Berdosa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Aladin dengan Lampoe Wasiat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Alang-Alang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Anaknja Siloeman Oeler Poeti”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Aneka Warna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Ang Hai Djie”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Anggrek Bulan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Asmara Moerni”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Bajar dengan Djiwa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Bengawan Solo”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Berdjoang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       “Boenga Roos dari Tjikembang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Boenga Sembodja”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Boedjoekan Iblis”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Cinema: Siti Akbari”. Bataviaasch Nieuwsblad (dalam bahasa Belanda) (Batavia: Kolff & Co.). 1 May 1940.

       “Dasima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “De Stem Des Bloed (Njai Siti)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Di Desa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Di Menara”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Djantoeng Hati”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Djaoeh Dimata”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Djatoeh Berkait”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Elang Darat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Eulis Atjih”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 6 July 2012. Diakses 6 July 2012.

       “Fatima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Film-critieken. „Huwen op Bevel.”” [Film review „Huwen op Bevel."]. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda) (Batavia: NV Mij tot Expl. van Dagbladen). 11 August 1931. hlm. 5. Diakses 7 February 2013.

       “Gadis jang Terdjoeal”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Gadis Desa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Gagak Item”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Garoeda Mas”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Harta Berdarah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Harta Karun”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Indische filmkunst” [Indies Cinema]. De Indische Courant (dalam bahasa Belanda) (Surabaya). 11 June 1931. hlm. 5.

       Heider, Karl G (1991). Indonesia Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       “Hoedjan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Ikan Doejoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Impian di Bali”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Indonesia Malaise”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       Kahin, George McTurnan (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-9108-5.

       “Karnadi Anemer Bangkong”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 11 September 2012. Diakses 11 September 2012.

       “Kartinah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Kedok Ketawa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Kemakmoeran”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Keris Poesaka”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Koeda Sembrani”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Koeli dan Romoesha”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Kris Mataram”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Lari ke Arab”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Lily van Java”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Lima Siloeman Tikoes”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Lintah Darat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Loetoeng Kasaroeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Matjan Berbisik”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Matula”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Mega Mendoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Melati Van Agam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Melati Van Agam (I dan II)” [Melati Van Agam (I and II)]. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Menanti Kasih”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Moestika dari Djenar”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Nancy Bikin Pembalesan (Njai Dasima III)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Njai Dasima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Njai Dasima (I)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 12 July 2012. Diakses 12 July 2012.

       “Njai Dasima (II)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Noesa Penida”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Oh Iboe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Ouw Peh Tjoa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pah Wongso Pendekar Boediman”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pah Wongso Tersangka”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Pan Sie Tong”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Panggilan Darah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Pantjawarna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Pareh”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pembakaran Bio ‘Hong Lian Sie'”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Poei Sie Giok Pa Loei Tay”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Poelo Inten”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Poesaka Terpendam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Poetri Rimba”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       Prayogo, Wisnu Agung (2009). “Sekilas Perkembangan Perfilman di Indonesia [An Overview of the Development of Film in Indonesia]” (dalam bahasa Indonesia). Kebijakan Pemerintahan Orde Baru Terhadap Perfilman Indonesia Tahun 1966–1980 [New Order Policy Towards Indonesian Films (1966–1980)] (Bachelour’s of History Thesis). University of Indonesia.

       “Rampok Preanger”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Ratna Moetoe Manikam (Djoela Djoeli Bintang Tiga)”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Rentjong Atjeh”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Resia Borobudur”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 10 July 2012. Diakses 10 July 2012.

       “Roekihati”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Roesia si Pengkor”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Sam Pek Eng Tay”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Saputangan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Sehidup Semati”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Selendang Delima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Seribu Satu (1001) Malam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Si Gomar”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Si Pitoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Si Ronda”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Si Tjonat”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Singa Laoet”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Sinjo ‘Tjo’ Main Di Film”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Siti Akbari”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Siti Noerbaja”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Soeara Berbisa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Sorga ka Toedjoe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Sorga Palsoe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Srigala Item”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Telah Pergi Seorang Wim Umboh” [Wim Umboh has Passed Away]. Republika (dalam bahasa Indonesia). 25 January 1996.

       “Tengkorak Hidoep”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Terang Boelan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Tie Pat Kai Kawin”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Tjiandjoer”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Tjioeng Warna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Tjitra”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Wanita dan Satria”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Zoebaida”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

(wiki)

 

 

 

 

 

Bioskop Masa colonial

 

Sumber Dr Iwan

 

Sumber :Joko Prayitno

 

Rata-rata orang Indonesia gemar menonton film terutama di bioskop. Sejarah mencatat bahwa bioskop pertama kali diperkenalkan tahun 1895 oleh Robert Paul yang mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Lima tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1900 film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) semula hanya lantaran rasa kebanggaan orang kulit putih yang tidak mau kalah dari saudara-saudaranya yang tinggal di tanah airnya. Istilah pada saat itu adalah “gambar idoep”.

 

Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

 

Borneo Bioscoop 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

 

Bioscoop Alahambra te Jogjakarta 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.Tidak lama setelah itu (1903), sudah berdiri beberapa bioskop antara lain Elite untuk penonton kelas atas, Deca Park, Capitol untuk penonton kelas menengah, Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang buat penonton kalangan menengah dan menengah ke bawah. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

 

Bioscoop te Magelang 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Setahun kemudian muncul fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos). Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

 

Suasana di dalam Bioskop Rex Batavia 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada  tahun 1936, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh perbioskopan Indonesia, terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda, menyebar di Bandung 9 bioskop, Jakarta 13 bioskop, Surabaya 14 bioskop dan Yogyakarta 6 bioskop. Pada era itu, kepemilikan bioskop sudah didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Ada anggapan bahwa orang Cina pada saat itu merasa tertantang untuk membuka usaha bioskop yang sebelumnya dijalankan oleh pengusaha londo atau kulit putih. Selain itu dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa itu dapat menjamu para pejabat Belanda  yang menjadi relasi mereka di bioskop miliknya dengan disertai undangan menonton bioskop  yang dibuat indah, dan para pejabat yang diundang juga diberi hadiah  upeti makanan dan minuman.

 

Bioskop Rex Surabaya tahun 1936 Memutar Film Captain Blood (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sepanjang tahun 1920 – 1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal  dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar tahun 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda sendiri.

 

Poster Film Mandarin yang berjudul “Love and Justice” di Jakarta 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hiburan di Hindia Belanda memang selalu di sesuaikan dengan kelas dan Bioskop menjadi penanda bagi struktur kelas kolonial di Hindia Belanda.(baltyra)

 

 

Yahya datuk Kayo tahun 1939

Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939.

kiprah seorang wakil Minangkabau yang paling vokal di Volksraad (Dewan Rakyat) di zaman kolonial: Jahja Datoek Kajo (JDK). Ia dua kali terpilih mewakili masyarakat Minangkabau di Volksraad (Dewan Rakyat), yaitu pada periode 1927-1931 dan 1935-1939

(Azizah Etek, Mursyid A.M. dan Arfan B.R)

Maret 1939

Kunjungan Kerja Gubernur General Hindia Belanda

Johan Paul van Limburg Stirum

 

 

Johan Paul van Limburg Stirum.

Johan Paul, Count of Limburg Stirum (Zwolle, 2 February 1873 – Den Haag, 17 April 1948) was a reformist in the time of World War I.

He made a rapid career as a diplomat of the Netherlands and was, among others, envoy in China and Sweden. Thanks to his knowledge of Asia, the government Cort van der Linden named him in 1916 Gouverneur General of the Dutch East Indies. He worked for a greater autonomy of the Dutch East Indies and for the economic development of the colony. As Governor General he conducted administrative reforms, such as the extension of the powers of the parliament (Volksraad) of the Dutch East Indies and decentralisation.

He worked in good terms with minister Idenburg, but had a difficult relationship with minister Andries Cornelis Dirk de Graeff. After his departure from the Dutch East Indies he was sent to Egypt, Germany and Great Britain

 

 

1916

 

 

 

Aankomst per m.s. Insulinde van de Gouverneur-Generaal Van Limburg Stirum in de haven van Padang, Westkust-Sumatra

Goveurnur General  Van Limburg stirum visit Padang with Insulinde Ship  at the emma haven (now Teluk Bayur)

 

 

 

 

Governier general Van Limburg Stirum at the Resident Palace Padang in 1916(now West Sumatra Governur Palace).please look the Car that time

 

 

The interior of west Sumatra resident house in 1916

 

 

Welcome * Wel Kom)  to Padang at the bridge  from emma haven to Padang  during the Guvernor genera van limburg stirum Visit Padang in 1916

Tread related info

Gaba-gaba menyambut Tuan Limburg Stirum di Padang

 

In March 1916

the Governor General of the Dutch East Indies Johan Earl Paul van Limburg Stirum official visit to Sumatra’s Westkust.

Van Limburg Stirum was Governor of the Dutch East Indies in 1916-1921. Important group of people that got Emmahaven Batavia (now: Gulf Bayur) by ship ‘Insulinde’.

They greeted like a king and was hailed by the subjects. Governor-General Van Limburg Stirum stay a few days in Padang before continuing his official trip to Tapanuli with rising auto overland through Pasaman.


Photos of our classic cuts within the rubric of ‘Minang Saisuak’ this time to record one of the aspects associated with the flurry of Sumatra’s Weskust officials in welcoming the arrival of the Governor-General Van Limburg Stirum it.

This photograph shows a large gaba-gaba – ‘gate’ said the now – are deliberately made to welcome the arrival of the Governor General in Minang aspect. Gaba-gaba highways were built flanking him from entering the city of Padang.

His position may be on the face of the Bridge Muaro Panyalinan now. Looks posted a welcome in Dutch ‘Welkom te Padang’ is written in capital letters.

In the upper right of the left-gaba gaba snagged tigo flag pattern.
Just as important when people come to the center, all local officials were whispering and fuss made: gaba-gaba established,

the roads quickly in-tumbok, the bad things are put into kungkuangan kitchen are beautiful and fragrant- fragrant placed in front of the house. Remember, for example, the same habits prevailing in the Age of the New Order, to some extent, still valid in the Age of Reformation.

By reading this story you can see now that the traditional helter-tunggik local officials when visited by officials of the center was a legacy of the Colonial Period distant past. However, if the establishment has not obtained the data gateway ‘Welkom te Padang’ to welcome the Governor-General Van Limburg Stirum has received permission from the Mayor of Padang or not at that time.
Suryadi – Leiden, The Netherlands.

(Photo source: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Sunday, June 24, 2012

Original info

Pada bulan Maret 1916 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Earl Johan Paul van Limburg Stirum melakukan kunjungan resmi ke Sumatra’s Westkust. Van Limburg Stirum menjabat Gubernur Hindia Belanda dari tahun 1916-1921. Rombongan besar orang penting dari Batavia itu sampai di Emmahaven (kini: Teluk Bayur) dengan menumpang kapal ‘Insulinde’. Mereka disambut bagai raja dan dielu-elukan oleh kawula. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menginap beberapa hari di Padang sebelum meneruskan lawatan resminya ke Tapanuli dengan naik oto lewat jalan darat melewati Pasaman.

Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini merekam salah satu aspek yang terkait dengan kesibukan para pejabat Sumatra’s Weskust dalam menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum itu. Foto ini memperlihatkan sebuah gaba-gaba besar – ‘gerbang’ kata orang sekarang – yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Sang Gubernur Jenderal di Ranah Minang. Gaba-gaba ini dibangun mengapit jalan raya ketika hendak memasuki kota Padang. Posisinya mungkin di muka Jembatan Muaro Panyalinan sekarang. Kelihatan terpampang ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda ‘Welkom te Padang’ yang ditulis dengan huruf besar. Di kiri kanan bagian atas gaba-gaba tersangkut bendera tigo corak.

Sebagaimana halnya bila orang penting dari pusat datang ke daerah, seluruh pejabat daerah kasak-kusuk dan repot dibuatnya: gaba-gaba didirikan, jalan-jalan cepat di-tumbok, yang busuk-busuk ditaruh ke kungkuangan dapur, yang cantik-cantik dan harum-harum ditaruh di depan rumah. Ingatlah misalnya kebiasaan yang sama yang berlaku di Zaman Orde Baru yang, sampai batas tertentu, masih berlaku di Zaman Reformasi ini. Dengan membaca kisah ini Anda dapat mengerti kini bahwa tradisi tunggang-tunggik pejabat daerah bila dikunjungi oleh pejabat pusat itu sudah merupakan warisan dari Zaman Kolonial jauh di masa lampau. Namun belum diperoleh data apakah pendirian gerbang ‘Welkom te Padang’ untuk menyambut Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ini sudah mendapat izin atau belum dari Walikota Padang pada waktu itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 24 Juni 2012

1920

 

 

Kunjung Gubernur general Fock ke Istanana maimon kerajaan deli di Medan

 

(Dr Iwan)

 

Sebagaimana layaknya pemimpin sebuah negara, pada masa kolonial Belanda, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pun banyak melakukan kunjungan-kunjungan ke kota-kota maupun kabupaten-kabupaten di wilayah kekuasaan.

Dalam beberapa kesempatan melakukan perjalanan, biasanya ia juga mengunjungi kampung-kampung, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan tempat-tempat peristirahatan, atau juga meresmikan beberapa proyek. Media di Hindia Belanda turut memberikan komentar dan menceritakan beberapa fakta terkait perjalanan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer keliling Jawa pada pertengahan tahun 1937, dan juga pada bulan Maret tahun 1939:

Koran Het Nieuws Van Den Dag, 03-07-1937:

GUBERNUR JENDERAL KE BANYUMAS
Koresponden kami di Cilacap menuliskan:

Menurut berita yang kami terima, Z. E. (Zijne Excellentie) Gubernur Jenderal pada September yang akan datang, setelah mengadakan kunjungan ke Vorstenlanden (wilayah-wilayah kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta), akan meneruskan perjalanannya melalui Wonosobo menuju Banyumas untuk bermalam disana di rumah dinas resident setempat. Keesokan harinya, dengan menggunakan mobil menuju Cilacap, terus melakukan kunjungan ke LP Nusakambangan, Kinderzee (Segara Anakan) dan Kampung Laut. Dengan menggunakan kapal milik N. V. “Soekapoera-Bongaardt”, rombongan akan melakukan penyeberangan Tjilatjap-Kalipoetjang (Priangan) yang diteruskan dengan perjalanan pulang.

Selanjutnya diberitakan pula oleh De Indische Courant pada 30 September 1937 bahwa dalam perjalanan tersebut kendaraan yang ditumpangi Gubernur Jenderal mengalami kepanasan atau overheat pada 4 km sebelum memasuki kawasan Diëngplateau. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mendinginkan kembali mesin mobilnya, baru kemudian Gubernur Jenderal melanjutkan kembali perjalanannya.

Dua tahun berselang, yakni pada 1939, sang Landvoogd (julukan gubernur jenderal Hindia Belanda), juga mengadakan kunjungan ke residensi Banyumas lagi, kali ini untuk meresmikan proyek irigasi Serayu. Proyek yang menghabiskan dana sekitar satu setengah juta gulden itu diharapkan dapat berguna bagi kehidupan sekitar 200.000 rakyat sekitarnya.

Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan pada 15 Maret 1939 bahwa Gubernur Jenderal tiba di Pompstation (Pompa Air) Gambarsari untuk acara peresmian yang juga diselingi acara penganugerahan penghargaan pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan diberikan kepada mereka yang berjasa membantu melancarkan pembangunan proyek irigasi tersebut. Selasa siang pukul 12.30 tanggal 14 Maret 1939 Gubernur Jenderal memimpin seremonial pembukaan proyek irigasi itu.

Berturut-turut memberikan pidato kata sambutan adalah gubernur Jawa Tengah RKA Bertsch, kepala dinas Provincialen Waterstaat (Dinas Pengairan Provinsi), Adriaanse, mewakili Departement Verkeer en Waterstaat (Pekerjaan Umum), ir. Valkenburg, atas nama ANIEM (PLNnya HIndia Belanda), Dekker, dan Regent Cilacap, RMAA Tjokrosiwojo atas nama rakyatnya.

Kepada segenap jajaran pejabat dan tokoh masyarakat yang terkait dengan pengerjaan pengairan tersebut mendapatkan penghargaan dari pemerintah, termasuk pengawas irigasi dan wedono Kroya yang menerima penghargaan berupa bintang perak besar, opnemer Minggoe menerima bintang perak kecil, bintang perunggu kepada para penatoe dari Gentasari dan Sampang, dan kepada lurah-lurah dari Glempang dan Sikampoh (Sikampuh). Sekitar 300 lebih undangan dan masyarakat sekitar turut menyaksikan dan meramaikan acara peresmian stasiun pompa air Gambarsari tersebut.

 

Foto: Gubernur Jenderal AWL. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer sedang melintas di depan pasukan eerewacht yang menyalaminya dengan menunduk, dalam sebuah acara peresmian dibukanya wilayah pengairan Serayu 1939. Sumber: Leeuwarder Courant.

 

Masyarakat yang antusias pada acara peresmian Stasiun Pompa Air Gambarsari. Foto: Zaans Volksblad

 

Stasiun Pompa Air Gambarsari Banyumas, yang menghabiskan dana satu setengah juta gulden. Foto: Algemeen Handelsblad

Sumber:

 

-Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch-Indië

-Bataviaasch Nieuwsblad

-Algemeen Handelsblad

(Mas osse kompasiana)

 

 

 

 

1938

 

 

Alamanak Indonesia  tahun 1938

 

Pemain sepak Bola Hindia belanda saat Kejuaran Sepak Bola dunnia 1938

 

 

 

Can Wim Rijsbergen Regain The 1938 World Cup Dream?

By: Jacobus E. Lato

The history of Indonesian football, as well as many other societal and cultural phenomena, derives from its long and complicated relationship with the Dutch. The national team (often shortened to Timnas) has struggled time and time again to join the World Cup.

 

So far Indonesia only joined once; under Dutch occupation on June 5 1938.  The match took place in France, against Hungary and ended in a 0-6 defeat for the Indonesian team. Indonesia was the first Asian country to enter the World Cup, but hasn’t managed to repeat that feature ever since.

 

Timnas & the World Cup: Bad Memories

The coach and president of the Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) was Johannes Christoffel van Mastenbroek, a Dutchman. Even though the national anthem, “Het Wilhelmus” was solemnly sung twice, it didn’t help the Indonesian team. More than 10.000 eager soccer fans saw Hungary walk over the Indonesian team at Reims Municipal Velodrome. The major of Reims at the time described the game as one of giants against gnomes. “It seemed like watching 22 Hungarian athletes surrounded 11 gnomes,” Asep Ginandjar and Agung Harsya depict in their “100 + Fakta Unik Piala Dunia” (100 + Word Cup Unique Facts) published last January 2010.

 

Only 15 countries entered the World Cup at the time. The Indonesian team consisting of NIVB players Bing Mo Heng (goalkeeper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan and Achmad Nawir (captain) returned to East Indie the day after.

 

Actually, the team didn’t represent East Indies football potential. The NIVB as well as Johannes Christottel van Mastenbroek, chose to sent out the NIVB team, instead of the more able PSSI team. NIVB was a Dutch football club; its players were Dutchmen or high ranking Indonesian elites. The bumiputera club PSSI, standing for Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia (Indonesia Sepakraga Association) might have been better equipped to do the job

 

October 16, 2011
by Jack Lato

Can Wim Rijsbergen Regain The 1938 World Cup Dream?

By: Jacobus E. Lato

 

 

Dutch East Indies players in 1938

The history of Indonesian football, as well as many other societal and cultural phenomena, derives from its long and complicated relationship with the Dutch. The national team (often shortened to Timnas) has struggled time and time again to join the World Cup.

 

So far Indonesia only joined once; under Dutch occupation on June 5 1938.  The match took place in France, against Hungary and ended in a 0-6 defeat for the Indonesian team. Indonesia was the first Asian country to enter the World Cup, but hasn’t managed to repeat that feature ever since.

 

Timnas & the World Cup: Bad Memories

The coach and president of the Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) was Johannes Christoffel van Mastenbroek, a Dutchman. Even though the national anthem, “Het Wilhelmus” was solemnly sung twice, it didn’t help the Indonesian team. More than 10.000 eager soccer fans saw Hungary walk over the Indonesian team at Reims Municipal Velodrome. The major of Reims at the time described the game as one of giants against gnomes. “It seemed like watching 22 Hungarian athletes surrounded 11 gnomes,” Asep Ginandjar and Agung Harsya depict in their “100 + Fakta Unik Piala Dunia” (100 + Word Cup Unique Facts) published last January 2010.

 

Only 15 countries entered the World Cup at the time. The Indonesian team consisting of NIVB players Bing Mo Heng (goalkeeper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan and Achmad Nawir (captain) returned to East Indie the day after.

 

Actually, the team didn’t represent East Indies football potential. The NIVB as well as Johannes Christottel van Mastenbroek, chose to sent out the NIVB team, instead of the more able PSSI team. NIVB was a Dutch football club; its players were Dutchmen or high ranking Indonesian elites. The bumiputera club PSSI, standing for Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia (Indonesia Sepakraga Association) might have been better equipped to do the job.

 

Sepakraga(sepak takraw)

—until now played by some Indonesians—is Indonesia’s traditional sport; the ball is made of plaited rattan and the game is somewhat similar to foot volley and played on a much smaller court with a net

 

October 16, 2011
by Jack Lato

Can Wim Rijsbergen Regain The 1938 World Cup Dream?

By: Jacobus E. Lato

 

 

Dutch East Indies players in 1938

The history of Indonesian football, as well as many other societal and cultural phenomena, derives from its long and complicated relationship with the Dutch. The national team (often shortened to Timnas) has struggled time and time again to join the World Cup.

 

So far Indonesia only joined once; under Dutch occupation on June 5 1938.  The match took place in France, against Hungary and ended in a 0-6 defeat for the Indonesian team. Indonesia was the first Asian country to enter the World Cup, but hasn’t managed to repeat that feature ever since.

 

Timnas & the World Cup: Bad Memories

The coach and president of the Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) was Johannes Christoffel van Mastenbroek, a Dutchman. Even though the national anthem, “Het Wilhelmus” was solemnly sung twice, it didn’t help the Indonesian team. More than 10.000 eager soccer fans saw Hungary walk over the Indonesian team at Reims Municipal Velodrome. The major of Reims at the time described the game as one of giants against gnomes. “It seemed like watching 22 Hungarian athletes surrounded 11 gnomes,” Asep Ginandjar and Agung Harsya depict in their “100 + Fakta Unik Piala Dunia” (100 + Word Cup Unique Facts) published last January 2010.

 

Only 15 countries entered the World Cup at the time. The Indonesian team consisting of NIVB players Bing Mo Heng (goalkeeper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan and Achmad Nawir (captain) returned to East Indie the day after.

 

Actually, the team didn’t represent East Indies football potential. The NIVB as well as Johannes Christottel van Mastenbroek, chose to sent out the NIVB team, instead of the more able PSSI team. NIVB was a Dutch football club; its players were Dutchmen or high ranking Indonesian elites. The bumiputera club PSSI, standing for Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia (Indonesia Sepakraga Association) might have been better equipped to do the job.

 

Sepakraga—until now played by some Indonesians—is Indonesia’s traditional sport; the ball is made of plaited rattan and the game is somewhat similar to foot volley and played on a much smaller court with a net:

It originated in Malaysia and is played all over Southeast Asia until this day. Soccer, or sepakbola in Indonesian has gained popularity over sepakraga, but national success has so far not been brought home yet.

 

Wim Rijsbergen is not the only Dutchman ever coaching the Indonesian team. In addition to Johannes Christoffel van Mastenbroek, there are three more: Wiel Corver (1975 – 1976), Frans Van Balkon (1978- 1979) and Henk Willems (1996 – 1997).

Wim Rijsbergen Demands Professionalism

 

Wim Rijsbergen

Wim started his career in Indonesia with a row with some of the players. The conflict was the result of the sub-par effort of the PSSI National team when it met Bahrain in the FIFA World Cup qualifier on  (they lost the match with 0-2). Wim was said to be angry and disappointed with some of the players, adding that they play like celebrities or divas.

 

A day after the game, three players met up with Riedl, their former coach. Many people linked the meeting to the players dissatisfaction with Wim, but it was denied by three of them. They claimed to have met Riedl just to say goodbye.

 

However, three days later, nine players pledged to launch a boycott against Wim. Indonesian soccer fans were divided, with some at the side of Wim and others rather seeing the back of him. Returning from the Netherlands, Wim met up with the team and managed to get the team back on track.

 

Yesayas Octavianus, the former sport editor at Kompas, a Jakarta based leading newspaper mentioned the psychological shortcomings of the Indonesian players in his talk show at Metro TV a couple of weeks ago, “they are professionals and economically well established. They don’t have to think about their economic life anymore. They should act as professionals.”

 

koiHindia belanda 1 sen 1938

 

4 Juli 1939

 

Majallah Kejawen 4 juli 1939 Tembakau Hitam

2 Agustus 1939

 

Iklan Ban Silverstown Sinpo 2 Agustus  1939

4 November 1939

Iklan  Anggur Habis Beranak Sinpo 1939

 

Iklan Anggur Pektay Sinpo 4 November 1939

Pada masa Yunani Kuno, praktek periklanan dalam bentuknya yang paling awal yaitu periklanan lisan atau oral telah dilakukan oleh para penjaja yang berteriak keliling kota menawarkan barang-barang dagangannya. Di kota Athena para penjaja keliling menawarkan produk kosmetik merk Aesclyptos yang paling terkenal pada masa itu dengan menyanyikan semacam puisi sebagai pemikat calon konsumennya. Pada sekitar 3000 tahun yang lalu, di Babylonia telah digunakan tanda-tanda (sign) atau simbol-simbol visual sebagai wahana periklanan yang ditempelkan pada produk-produk yang diperdagangkan. Di jaman Romawi orang-orang memasang iklan dalam bentuk tulisan-tulisan papan pengumuman yang ditempelkan pada dinding-dinding kota untuk mencaribudak-budak yang melarikan diri dan juga untuk mengumumkan pertandingan pertarungan para gladiator. Di kota Pompei lukisan dinding dalam bentuk grafiti oleh para politikus digunakan sbagai media periklanan untuk propaganda agar rakyat memilihnya. Bentuk awal periklanan yang lainnya, ketika gilda-gilda para artisan (pengrajin) menguasai perdagangan di abad pertengaha, digunakan logo, tanda, juga simbol yang dilekatkan pada produk-produk atau karya-karya kerajinan mereka sebagai ciri khas dan penanda kualitas produk tersebut.

 

 

Foks station Padang mengatas in 1940

 

Cocntrolwoning house at Boeo Padang bovenlanden(darek) in 1940

 

Baso Pajakumbuh date unknown

 

Solok Bukit gompong onderneming date unknown

 

Sugar mills at Padang bovenlanden darek date unknown

 

 

 

 

 

1940

 

Eugène Edouard Bernard Lacomblé (Arnhem, 26 oktober 1896Javazee, 28 februari 1942) was een Nederlands marineofficier. Op 1 Febr. 1940 wordt Lacomblé bevorderd tot Kapitein-LtZ. Tijdens de Japansche invasie in Oost-Indië is hij commandant van De Ruyter. SbN K.W.F.M. Doorman voert aan boord van De Ruyter het bevel over de ‘Combined Striking Force’. Op 27 februari wordt De Ruyter tijdens de slag in de Javazee door een Japanse torpedo getroffen. Lacomblé en Doorman laten de bemanning van boord gaan, maar gaan zelf met het schip ten onder.

1940

Ia kemudian menulis dan menyutradarai film Kris Mataram (1940) dan Zoebaidah (1940) (Chandra,2009). Lebih umum, perusahaan teater dan film pada masa ini biasanya dimiliki dan dijalankan oleh pemilik Tionghoa, dengan aktor, teknisi, dan musisi dari berbagai suku dan kelompok sosial. Kelak, banyak orang Tionghoa masuk ke film dan usaha impor film, terutama karena film bisa jadi bisnis yang menguntungkan secara ekonomi (Pané, 1953: 15)8.

Hal ini mencerminkan menonjolnya etnis Tionghoa dalam kehidupan budaya Hindia Belanda dan pentingnya peran ekonomi mereka.

Dalam studi penting pertama tentang film Indonesia, Armijn Pané menggunakan konsep ‘acculturatie’ (‘akulturasi’) untuk menggambarkan bentuk kebudayaan modern teater dan film dalam masa pra-perang di Indonesia. Ia menjelaskan acculturatie sebagai ‘campuran antara berbagai sumber internasional dan pan-Asia’9.

Di sini, Pané menguraikan lebih jauh:
‘Pendeknya, teater dapat dikatakan merupakan acculturatie antara teknik serta susunan teater dan opera Eropa sekitar tahun 1900, dengan teknik serta susunan tonil Melayu yang sudah ada dan yang mengambil pengaruh India dan Persia. Perpaduan keduanya itu disesuaikan oleh orang-orang Eropa lokal untuk publik umum di Indonesia zaman itu’ (Pané, 1953: 8)10.


Di sini, ia berargumentasi bahwa proses ini telah membantu sebagai kekuatan penyatu bangsa, dan dengan nyata sekali berbeda dengan teori primordial yang muncul di kemudian hari tentang kebudayaan bangsa Indonesia.

Sebagian besar teater terkemuka pra-kemerdekaan terbawa ke dalam film. Cohen (2006) dalam studi komprehensif tentang Komedie Stamboel mencatat bagaimana teater menangkap suasana sosial dan kebudayaan yang  unik di Hindia Belanda dipergantian abad.

Cohen menambahkan bahwa teater adalah salah satu manifestasi dari ‘pandangan dunia modern’ yang didasarkan  pada pandangan kosmopolitan, berbeda dari bentuk-bentuk teater tradisional seperti wayang (2006: 344).

Hal ini disebabkan oleh beragamnya latar belakang  dan kemampuan para pelaku teater yang dipengaruhi oleh kebudayaan yang berbeda-beda. Film-film awal juga menggunakan gaya dan cerita yang hampir sama karena banyak dari orang-orang dari teater dipekerjakan untuk membuat film.

Dalam karya Pané, teater merupakan pendahulu dari film. Film merangkum aspirasi modernitas Hindia Belanda, baik dalam gambar maupun teknologi. Film-film awal dilihat sebagai media modern yang memiliki kemampuan untuk menjangkau penonton dalam jumlah banyak melalui proses reproduksi mekanis (Hansen, 1995). Apalagi, mengingat bahwa ‘sinema adalah internasional sebelum ia menjadi nasional’ (Gunning, 2008: 11), sinema diasosiasikan dengan citraan dan cerita yang bersifat global.

Dalam konteks ini, karena produser film Belanda lebih terfokus pada representasi etnografis Hindia  Belanda sebagai koloni jajahan mereka (de Klerk, 2008),

 

1940

Satu contoh bagus dapat dilihat dalam film buatan tahun 1940 berjudul Kris Mataram yang disutradarai oleh Njoo Cheong Seng. Meski sayangnya tidak ada kopi film asli yang masih ada dari tahun 1940, alur cerita film, resensi-resensi, dan materi promosi mengungkapkan banyak hal tentang kebudayaan dan masyarakat Hinda Belanda dalam film.

Alur cerita film mengisahkan perjuangan seorang perempuan aristokrat dari Jawa Tengah (dimainkan oleh Fifi Young) dalam menegosiasi antara tradisi dan modernitas.

Sebuah resensi pada masa itu menunjukkan pesan film bahwa: ‘‘Akhir ceritera didapat kesimpulan yang adil bahwa tidak ada kesalahan antara kekolotan dan kemodernan’12.

Tema ini merupakan topik yang sesuai dengan masyarakat Hindia Belanda yang pada waktu itu masih mencari karakternya di tengah  pengaruh kebudayaan kolonial dan tarikan modernitas gaya Barat (lihat juga Biran, 2009; Kristianto, 2007). Meski demikian, poster promosi filmlah yang memberikan contoh menarik tentang campuran kebudayaan ini.

 

1940

dan 1940-an beretnis Tionghoa. Nama seperti Fifi Young, Ferry Kok, dan Tan Tjeng Bok adalah nama yang diasosiasikan dengan selebritas dan film Hindia Belanda. Fifi Young secara khusus adalah kasus yang menarik karena perempuan muda Tionghoa yang lahir di Aceh ini (nama Tionghoanya adalah Tan Kim Nio), menjadi wajah dari kecantikan Hindia Belanda yang sopan dan feminin di film.

Ia memakai kebaya Jawa (baju tradisional Jawa yang nantinya akan menjadi pakaian nasional untuk perempuan Indonesia) dalam Kris Mataram, baju tradisional Timor dalam Zoebaida (1940), dan di film-film berikutnya, ia memainkan peran tipikal perempuan Indonesia modern yang mewakili, baik tradisi maupun modernitas.

Ia, bersama rekan-rekan seangkatannya, memiliki daya tarik internasional, muncul di Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain. Melalui gambar-gambar di film mereka, pemilihan aktor dan penggunaan bahasa Melayu, pembuat film Tionghoa mengadaptasi berbagai pengaruh lokal ataupun internasional untuk menciptakan penafsiran visual atas kebudayaanIndonesia. Meski barangkali representasi dan teknik mereka tidak sempurna, gambar-gambar ini se-sungguhnya merupakan gambaran pertama ‘Indonesia’ yang dilihat orang-orang di layar.

Dalam analisis ini, sangat penting untuk mengakui bahwa strategi ‘comot  sana-sini’ atau mengambil sedikit dari sini dan sedikit dari sana dari khazanah kebudayaan lokal yang beragam, mungkin memiliki beberapa alasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

1950

Pertama,

 

 

 

Fifi Young appears in Singapore in 1950 (The Straits Times 21 Nov, p.5)

usaha seperti ini mungkin diarahkan demi menambah relevansi film pada penonton orang lokal dan kelas rendah yang ingin melihat sisi-sisi kebudayaan mereka sendiri di layar.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan permintaan sosial yang tumbuh pada masa itu untuk memotret kebudayaan ‘Indonesia’ yang lebih menyatu walau diambil dari berbagai sumber lokal dan internasional yang bermacam-macam.

Meski demikian, harus juga diingat bahwa karena film-film ini merupakan film-film lokal pertama yang dibuat yang mencoba menggambarkan kebudayaan lokal, tidak ada acuan tentang bagaimana seharusnya kebudayaan Hindia Belanda digambarkan di dalam film.

 

Hal ini barangkali benar, mengingat bahwa banyak produser Tionghoa seperti Wong bersaudara adalah imigran generasi pertama dari Cina yang harus mengonstruksi apa yang mereka lihat sebagai kebudayaan ‘asli’ Hindia Belanda yang berdasar gambaran pokok dan reduktif dari kelompok kebudayaan lokal yang telah terkenal.

Namun, apa pun alasannya, sebagai perintis pembuatan film di Hindia Belanda, produser Tionghoa menyumbang besar dalam pembentukan apa yang disebut Cohen (2006) ‘kebudayaan Indische yang unik’. Dalam perkembangan selanjutnya, gambaran ‘superbudaya’ yang unik dan tunggal inilah yang sangat diintegrasikan ke dalam gerakan protonasionalis pada tahun 1940-an.

1941

Nio Joe Lan, sejarawan film Tionghoa, menulis pada tahun 1941 bahwa melalui film-film lokal awal, orang-orang Hindia Belanda untuk pertama kalinya sampai kepada perwujudan bahwa naratif dan pemandangan alam Hindia Belanda tidaklah inferior daripada Barat (1941: 18).

Penggambarkan cerita-cerita lokal menumbuhkan perasaan kepemilikan (a sense of belonging) dan refleksi diri di antara penduduk Hindia Belanda, terutama di tengah atmosfer kebangkitan nasional dan kemerdekaan.

Namun, di saat yang sama, juga harus diingat bahwa maraknya interkonektivitas dari arus kebudayaan regional pada masa itu berarti bahwa film-film lokal yang dibuat oleh pembuat film Tionghoa juga ditonton di luar Hindia Belanda.

1940

Meskipun demikian, sangat ironis bahwa justru karena pandangan dan koneksi kosmopolitan inilah yang membuat produser Tionghoa dianggap ‘berbahaya’ terhadap ideologi etno-nasionalis yang sedang berkembang di negara Indonesia yang  tumbuh sejak tahun 1940-an dan seterusnya

 

 

1942

 

Jacob Pieter van Helsdingen geboren te Soerabaja (Nederlands-Indië) op 7 maart 1907, gesneuveld bij Lembang (Nederlands-Indië) op 7 maart 1942, was een Nederlandse militaire oorlogsheld en ridder in de Militaire Willems Orde. Verklaringen van ooggetuigen melden dat ze een vliegtuig (vermoedelijk het toestel van Van Helsdingen) in de buurt van Lembang in glijvlucht zagen neerstorten. Van het toestel en van Van Helsdingen zijn, mede doordat Nederlands-Indië capituleerde en er geen serieuze zoekacties werden gehouden, nooit iets teruggevonden.

 

1942

Wednesday, 18 February.1942

 

Destroyer ENCOUNTER was sent from Batavia to evacuate RAF and service personnel from Padang.

 

 

 

 

Light cruiser DANAE and

 

 

ENCOUNTER evacuated 877 evacuees from

 

Padang.

 

Japanese military delivering speech at the padang in 1942(my father told me that every body from padang must take bigger stone to protect the beach in 1942 and in 1943 my father dan mother backhome to pajacomboeh to delivery my sister Gho soei Kim there in my grandfather house at lubuksilang pajakoemboeh)

 

 

Muara Padang

 

 

March,1st.1942

 

 

 

 

 

 

On 1 March 1942 at 11.35pm

the Rooseboom was steaming west of Sumatra(Teluk Bayur tahun 1942 masa sebelum pendudukan Jepang)

 

 

read the story on next page

 

 

On 1 March 1942 at 11.35pm

 the Rooseboom was steaming west of Sumatra when it was spotted by the Japanese submarine I-59 and torpedoed. It capsized and sank rapidly leaving one life boat (designed to hold 28) and 135 people in the water. 80 people were in the lifeboat the rest clung to flotsam or floated in the sea.

Two of these survivors, one of whom was a Corporal Walter Gibson, were picked up nine days later by the Dutch freighter Palopo.

Until the end of the Second World War they were assumed to be the only survivors.

Sadly, Robert Kingshott did not survive and his body was never recovered. The reason that I mention Walter Gibson, is that he wrote an account of his survival which demonstrates the conditions he, and others, endured in the days following the sinking.

 

According to Gibson in and around the lifeboat were an estimated 135 survivors, many with injuries, including Gibson himself who was in the lifeboat due to those injuries. 

 

By the time the boat had drifted for more than 1,000 miles, to ground on a coral reef, less than 100 miles from Padang, Rooseboom’s starting point, only five of its 80 passengers remained alive, and one of those drowned in the surf while trying to land.

 

In Gibson’s account the ordeal that followed the sinking showed the worst of human nature under some of the most extreme conditions. On the first night many of those in the water drowned or gave up. Some twenty men built a raft from flotsam and towed it behind the boat. The raft slowly sank and all twenty perished three days later. In the first few days discipline collapsed men and women went mad with thirst, some drinking sea water which sent them into hallucinations.

Many threw themselves overboard rather than face further suffering, and a gang of five renegade soldiers positioned themselves in the bows and at night systematically pushed the weaker survivors overboard to make the meagre rations go further.

 

 Gibson claims to have organized an attack on the renegades with a group of others who rushed them and pushed them en masse into the sea. Brigadier Paris died, hallucinating before he fell into his final coma.

 

The Dutch captain was killed by one of his own engineers. Towards the end Gibson realized that all who remained alive were himself, another white man, a Chinese girl named Doris Lin (who turned out to be a secret agent for the British) and four Javanese seamen.

 

That night the Javanese attacked the other white man and started to eat him alive. Later the oldest Javanese died.

 

The lifeboat eventually landed on Sipora, an island off Sumatra and only 100 miles from Padang, where the Rooseboom started its journey 30 days earlier.

 

One of the Javanese seaman drowned in the surf whilst the other two disappeared into the jungle and have never been found.

 

After a period of being treated by some of the local population Doris Lin and Gibson were discovered by a Japanese patrol.

 

 Gibson was returned to Padang as a prisoner of war while Lin was shot as a spy soon afterwards. 

 

It is not clear at what point Robert died, but I would hope that his death was quick and as painless as possible.

 

Robert was my 5th cousin once removed

Source:

 Jan Brian Kingshot

 

 

1946

 

Albert Hoeben (Stramproy, 13 februari 1920) was een Nederlandse marinier in Nederlands-Indië ten tijde van de Politionele acties. Hoeben is één van de weinig nog in leven zijnde ridders van de Militaire Willems-Orde, en de enige uit Limburg. Op 29 augustus 1946 heeft hij op Oost-Java als commandant gestreden bij kampong Gondang. Met een automatische geweergroep slaagt hij erin een door “extremisten” verdedigde stelling te veroveren.

 

 

 

 

1942

Para Bangsawan Berdarah Tinggi baru Kembali menucul di tahun 1942, dan lalu mereka bersatu padu menghadapi Perang Dunia II dibawa Pimpinan Putra Bungsu Laparenrengi MatinroE Ri Ajang Benteng yang bernama Eropa Dwight Diederik Eisenhower dari Lawara Pattojo.

Pesan Lalehurku Menyebutkan, Dee Nalabu Matanna Essoe Narekko Dee Namubba Tongennge Ri Umpungeng, Dunia Ini Tidak Akan Kiamat Sebelum BakkaE Kembali Ke Umpungan!!!!!!!…………..

Tanah Negeriku Bernama ‘Tanah Tompo’ Tikka”, Laluhurku Adalah Kesatria Poliimi Tenri Kala, Nenek Moyangku Yang Mencium Tanda Kematian Pada Lawannya, Dan Tidak Melihat Tanda Tanda Kematian Pada Pihaknya Akan Berucap “Dee Nalabu Mantanna Essoe Kutengana Bitarae”.

Moyangku To-Warani Na Pangulu Muusu, Ketika Iya Melihat Tanda Kemenangannya Di Saat Akan Berangkat Berperang, Maka Iya Akan Berucap Seusai Mappanguju Muusu, Iya lalu Menyampaikan Pesan pada Laskarnya “Tellabu Matana Essoe Kutengngana BitaraE.

Nenek Moyangku Yang Sudah Tidak Ingin Bersatu Negeri Dengan Musuhnya Akan Berdiri Menginjak Bumi Menjunjung Langi Dan Berpijak Pada Satu Tekat Membunuh Atau Dibunuh, Lalu Massompa Siketti “Deena Welo Masseddi Mata Esso Sibawa Iko”.

Tompok’ Tikka Adalah Singa Yang Sedang Tidur, Masa Kejayaan Wijanna Tanrena TanreE, Bauuna Decengnge Hanya Menunggu Waktu Untuk Kembali. Dee Nodding Madeceng ParentaE KulinoE, Narekkko Dee Na Lesu Wijanna Tanrena TanreE, Bauuna Decengnge Mapparenta, Tettompo’nami Matanna Essoe Na Dee Nalesu Bakkae Ri Umpungeng, Hanya Karena Wijanna Tanrena TanreE, Bauuna Decengnge belum menjadi Pemimpin Na Dee Nalesu BakkaE.

Pesan Leluhurku Ini Tidak Kana Terhapus di Terjang Badai DiTerjan Zaman, Abadi dan Abadi,-

Muhammad Yusuf Tonggi

 

 

PANGERAN CHARLES SILSILANYA SAMPAI PADA RASULULLAH SAW

Bila anda merupakan salah satu orang yang Rajin mencari berbagai Riwayat yang berkaitan dengan Keturunan Bangsawan yang sampai pada Garis Silsila Rasulullah SAW, maka mungkin anda pernah membaca beberapa Artikel yang di yang di Translet oleh Penulis Loka Indonesia, yang mencopi beberapa pendapat Ahli Silsila Eropa yang meyebutkan  bahwa Garis Silsila Pangeran Charles sampai pada Rasulullah SAW.

Dari beberapa Penulis Lokal yang mencuplik tentang hal itu, anehnya, mereka ternyata “Mencuplik” tulisan itu untuk iya bantah. Dalam Pikiran Saya kemudian berkata, apa yang mereka pernah teliti kemudian membantah hasil penelitian orang lain.

Menurut Saya, Pangeran Charles Inggris, memang Silsilanya sampai pada Rasulullah SAW. Hanya saja, orang orang yang tidak bisa menerima ini, tentu akan mengatakan itu tidak benar. Disini, Saya mau tekankan bahwa Wilaya Indonesia, dulunya merupakan Daerah Permungkiman Bangsa Bangsa diseluruh Dunia ini, sebelum mereka membentuk Perkampungan Baru ditempatnya yang sekarang

. Hal ini, tentu sejalan dengan Diskripsi Prof Aryo Santo dan Oppen Heimmer yang mengatakan bahwa di Wilaya Indonesialah tempat awal mulanya peradaban Manusia.

 

Bukti Bukti Tulang Manusia yanng kakinya berukuran 1 Kaki atau lebih, dan Tulang Belulangnya bila dirangkai tingginya rata arata malah lebih 2 Meter, seperti Tulang Belulang yang biasa ditemukan dii Pekuburan Tua di Appung Soppeng bila seorang penggali kubur pada saat menggali pada Lokasi yang dianggap Kosong dan ternyata menemukan Tulang Belulang Manusia,

Tulang belulang Manusia yang pernah ditemukan di di dekat Rumah Hs Jnd di Jalan Wijaya tidak jauh dari Rumah Saya,

Tumpukan Tulang Belulang di Goa Bawa Air di Tanjung Wawoni di Kepulauan Sulawesi Tenggara, dan ditempat tempat lain, itu merupakan tidak dapat dibantah.

Kalau kita membantahnya hanya karena ukuran kaki Masyarakat Indonesia 99,99% tidak ada yang sampai 1 Kaki, dan tinggi badannya hanya rata rata di kisaran 160-170 cm, itu bukan suatu alasan bahwa Nenek Moyang Mereka tidak berasal ddari Wilaya Indonesia.

Apa Dasar Dalilnya Justifikasi kita yang mengatakan, bahwa memang Nenek Moyang kita pada masa lampau Posturnya Tinggi Tinggi dan besar kalau bukan karena Wilay Indonesia,

Khususnya di bagian timur, memang merupakan tempat awal mulanya Peradaban Ummat Manusia.

 

 

Dua tempat yang berhubungan dengan Deskripsi Saya tentang kata Wessex pada halaman atas dan halaman bawa yaitu; Way She di perbatasan Soppeng-Bone-Barru, dan sebua tempat di Rate Rate yang terletak di Lokasi Ketinggian dalam Hutan di Daerah Rate Rate Kabupaten Kolak di Sulawesi Tenggara.

Muhammad Yusuf Tonggi

 

 

 

English Version

 

1940

KNIL

 

in 1940 the KNIL was cut off from external Dutch assistance except for the Royal Navy units stationed in the colony. During the Dutch East Indies campaign of 1941–42 the KNIL and the Allied forces were quickly defeated.[7] All European soldiers, which in practice included all able bodied Indo-European males, were interned by the Japanese as POWs. 25% of the POWs did not survive their internment

References

(wiki)

 

 

 

 

 

 

 

1941

ISLANDS AND PEOPLES OF THE INDIES

By
RAYMOND KENNEDY

 

(Publication 3734)



City of Washington
Published by the Smithsonian Institution
August 5, 1943

CONTENTS

   

Page

Geography

1

Climate

2

Disease

3

Animal life

3

Population

4

Racial stocks

5

Temperamental qualities

6

History

7

Main divisions and peoples

11

 

Sumatra

11

 

Java

14

 

Borneo

16

 

Celebes

19

 

The Lesser Sunda Islands

21

 

The Moluccas

24

Language and writing

31

Economic organization

31

Settlements and housing

34

Clothing and adornment

36

Weapons

37

Travel and transportation

38

Handicrafts

38

Drama, dancing, and music

39

Social and political organization

40

Property, class, and caste

44

Native warfare

45

Religion

46

Dutch administration

49

Education

53

Missionary activity

54

Europeans and Americans

55

The Chinese

56

The half-castes

57

Export production and trade

58

Selected bibliography

62

ILLUSTRATIONS

PLATES

   

Page

1.

Balinese beauty

1

2.

Upper, Bromo crater in eastern Java

4

 

Lower, Landscape in Bali

4

3.

Upper, Crocodile captured in Sibolga, Sumatra

4

 

Lower, Orang-utan, Borneo

4

4.

Upper, Javanese children

4

 

Lower, Batak women and girls, Sumatra

4

5.

Left, Javanese girls in working clothes

4

 

Right, Native of Kupang, Timor

4

6.

Left, Native of Larantuka, Flores, in festive attire

20

 

Right, Karo Batak girls, Sumatra

20

7.

Upper, Seti of central Ceram doing a war dance

20

 

Lower, Mentawei women fishing

20

8.

Upper, Dyak group, western Borneo

20

 

Lower, Bahau Dyak group, Borneo

20

9.

Left, Balinese beauty

20

 

Right, Balinese girls

20

10.

Left, Batak “hot dog” stand, Sumatra

36

 

Right, Entrance to Batak village, Sumatra

36

11.

Upper, Minangkabau longhouse, Sumatra

36