The Ambon Molluca Music record History(Sejarah Rekaman Musik Maluku)

WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

                          SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

                                                AT DR IWAN CYBERMUSEUM

                                          DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

_____________________________________________________________________

SPACE UNTUK IKLAN SPONSOR

_____________________________________________________________________

 *ill 001

                      *ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

                                THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

                           MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

                 DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

                                        PENDIRI DAN PENEMU IDE

                                                     THE FOUNDER

                                            Dr IWAN SUWANDY, MHA

                                                         

    BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

  

                         WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

                     SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

                     Please Enter

                    

              DMRC SHOWROOM

(Driwan Music Record Cybermuseum)

 

SHOWCASE :

The Ambon Molluca   Music record History(Sejarah rekaman Musik Ambon Maluku  )Frame One :

The Ambon Molucca Music Record Before WW II :

No Info Still in Reseach

 

Frame Two :

The Ambon Molluca Music Record After WWII

A. Before 1965

1a.Composer C.Hehanusa

(a) Orkes Kroncong dibp C.Hehanusa

(b)Irama record productions. song Asal ale Mau Menanti ( C. Hehanusa) ,soloist  Rita Sahara

  1. Surat Undangan (Jules Fioole)
  2. Tjai Kopi
  3. Lamunanku (Sohar W)
  4. Asal Ale Mau Nanti (C. Hehanusa)

 

1b. Anneke Gronloh

Biografie van Anneke Gronloh

Anneke Grönloh is born in Indonesia, but the first years of her life were not easy, since she spend those in the Japanese Camps during the Second World War.
After the war, her family moves to Eindhoven, the Netherlands.
In the year 1955 she starts singing in the band Peter Koelewijn & Zijn Rockets a band from Peter Koelewijn but in 1959 she wins a talenthunt, receives a record contract, and in 1960 her first (Malay) single Asmara becomes a big hit in Singapore.
Anneke Grönloh is born in Indonesia, but the first years of her life were not easy, since she spend those in the Japanese Camps during the Second World War.
After the war, her family moves to Eindhoven, the Netherlands.
In the year 1955 she starts singing in the band Peter Koelewijn & Zijn Rockets a band from Peter Koelewijn but in 1959 she wins a talenthunt, receives a record contract, and in 1960 her first (Malay) single Asmara becomes a big hit in Singapore. she became popular in Indonesia  when singing ambon song Burung Kakak Tua, when Bunga anggrek Mulai berbungga(When Orchid flowe bloemen).
Slowly her popularity grows in the Netherlands till in 1962 she storms into the hitparade with Brandend zand where it remains for weeks only to be replaced by her next record Paradiso.
Anneke is the first Dutch teen idol.
Internationally she does well in Indonesia, Singapore and Malaysia and German songs are released in Germany.
Jij bent mijn leven:the Dutch entry for the 1964 Eurovision Song Contest. Not a winner, but she receives the International Press Award and Audience Award.
When new kind of music enters the world of teenagers, Anneke no longer has hits in the hitparade, but through the years she makes a comeback and she is still very popular, even in Indonesia where her songs like Paradiso, Cimeroni and Surabaya are real classics, played on the radio almost weekly.
She celebrated her 45th aniversary as an artist in 2005 with the release of a very special DVD, with unique material on the Eurovision Song Contest in 1964, her wedding and career.

2a.Bram Tittaley

Keroncong asli Bram Aceh

Bram Aceh atau Bram Titaley yang dijuluki “Buaya Keroncong” sejak tahun 30-an sudah mulai menyanyi. Berikut ini beberapa lagu irama keroncong oleh kakek dari Harvey Malaiholo ini dengan iringan Orkes Keroncong Senja Ayu. Pak. Fauzi silahkan nikmati suara berat oleh Bram Aceh.

  1. Kr. Tanah Airku ( Kelly Puspita, 1960)
  2. Kr. Moresko (N N, 1930)
  3. Kr. Pasar Gambir (?, 1930)
  4. Bunga Anggrek (N N, 1910)
  5. Schoon Ver Van You (N N, 1930)
  6. Salabinta (N N, 1955)
  7. Terkenang Kenang (Sariwono, 1950)
  8. Dibawah Sinar Bulan Purnama (Maladi, 1940)

2b George de Fretes

 

George de Fretes and His Royal Hawaiian Minstrels

 

 
Indonesian artist, born in Bandoeng on December 23, 1921. From a young age he started to teach himself to play ukulele and Hawaiian guitar, by listening to records by Sol Hoopii and Andy Iona Long. In 1938 he formed The Royal Hawaiian Quintet, which became The Royal Hawaiian Minstrels one year later. With both this band and various other ones he continued to perform in Indonesia during the 1940s and 1950s. In 1958 the artist went to The Netherlands, where he reformed “Royal Hawaiian Minstrels” and the Krontjong band “Suara Istana”. Both bands were very succesful during the 1960s. In 1969 the artist settled in Los Angeles, U.S.A., where he passed away on November 19, 1981.

3.Lokananta souvenier record,Ten Year  Anniversarry  Asia-Africa Conference.(1965).

4.Ade Manahutu

5.Patty Sisters

Pada jamannya lagu seperti Puncak Pas, Dondong Apa Salak yang dibawakan oleh Pattie Bersaudara pernah menggema di setiap radio pemerintah maupun swasta. Personil Pattie Bersaudara adalah Nina (alm) istri dari Nonong adik Titiek Puspa, dan Sylvi istrinya Cucung (alm) pemain Bonggo Los Morenos. Lagu Pattie ini diiringi oleh Orkes Pantja Nada Pimpinan Enteng Tanamal.

  1. PUNCAK PAS
  2. RIUNG GUNUNG
  3. KAU TELAH KEMBALI
  4. PURA PURA
  5. RUJAK ULEG
  6. DONDONG OPO SALAK
  7. PITIK CILIK

6.Bob Tutupoly

  Bob Tutupoly  

Bob Tutupoli penyanyi serba bisa yang sinar terang keartisannya tetap bercahaya di segala jaman, sangat mengerti bagaimana memaknai hidup. Ia berprinsip, kalau lagi susah jangan banyak mengeluh karena di bawah kita masih banyak orang yang lebih susah. Saat artis berhasil meraih posisi tingkat dunia jangan pula terlalu disanjung oleh media massa, atau sebaliknya jangan pula dicaci-maki jika tidak berhasil menuai sukses. Bob memang pernah berkali-kali berada di atas atau di bawah ketenaran.

Karena itu banyak prinsip hidup yang bisa digali dari artis yang memulai ketenarannya sejak mulai bermukim di Jakarta pada dekade 1960-an. Bob kelahiran Surabaya 13 November 1939, mulai rekaman di Jakarta tahun 1965-1966 dengan album pertama lagu-lagu Natal bersama Pattie Bersaudara. Selanjutnya, Bob berturut-turut meluncurkan album Lidah Tak Bertulang yang berhasil memperoleh penghargaan Golden Record, lalu Tiada Maaf Bagimu, Tinggi Gunung Seribu Janji, dan lain-lain.

Pemilik nama lengkap Bobby Willem Tutupoly yang terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara, mewarisi bakat menyanyi dari orangtua. Sang Ayah Adolf Laurens Tutupoly adalah pemain suling serba bisa, demikian pula Sang Ibu Elisabeth Wilhemmina Henket-Sahusilawane seorang penyanyi gereja. Hanya saja keduanya bukanlah pekerja seni profesional.

Bob sudah menunjukkan bakat nyanyi semenjak masih di duduk di bangku taman kanak-kanak, di Yogyakarta. Sang Ayah sesungguhnya tak terlalu berharap, bahkan berusaha agar Bob tak menjadi penyanyi profesional. Karena dalam pandangan ayah masa depan seniman ketika itu terlihat suram-suram saja. Namun Bob, begitu menginjak bangku SMP bersama teman-teman sudah berani mendirikan grup band. Demikian pula ketika di bangku SMA Bob diajak bergabung oleh band-band asal Surabaya. Maka di tahun 1959 Bob bersama kawan-kawan memanfaatkan kesempatan mengikuti festival band di Gedung Ikada, Jakarta, dan berhasil keluar sebagai juara pertama.

Kecintaan terhadap musik membuat Bob menomor duakan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya. Kuliah Bob berantakan macet di tingkat tiga. Ketika pindah ke Bandung dan berharap bisa menjadi mahasiswa yang baik di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, hasilnya tetap sama saja. Bob malah asyik bergabung dengan Band Crescendo yang rutin manggung di beberapa klub malam di Bumi Sangkuriang.

Bob kemudian berhasil bergabung dengan Bill Saragih di Band The Jazz Riders di tahun 1960. Mereka antara lain berkesempatan manggung di Hotel Indonesia, sebuah hotel favorit dan termewah sekaligus menjadi landmark kota Jakarta ketika itu. Ketika sudah mulai bermukim di Jakarta inilah Bob, pada tahun 1965-1966 memulai pekerjaan besarnya memasuki dapur rekaman. Ia mengawalinya dengan menyanyikan lagu-lagu Natal bersama Pattie Bersaudara. Selanjutnya adalah cerita tentang kecemerlangan sinar terang Bob sebagai penyanyi serba bisa, pengusung irama 1960-an namun sesekali dibumbui pula dengan berbagai kegagalan. Namun kegagalan ketika berada di tangan seorang anak manusia yang pandai memaknai hidup, itu bisa berubah menjadi kearifan baru untuk kemudian mendatangkan kecemerlangan lain.

Bob yang sesungguhnya tak bisa do re mi fa sol merasa kok begitu gampangnya berada di atas keberhasilan dan popularitas. Ia lalu memberanikan diri pergi ke Amerika untuk mendapatkan tempat baru di sana. Itu sebab sejak tahun 1969 penggemar tak pernah lagi mendengar senandung Lidah Tak Bertulang, Tiada Maaf Bagimu, atau Tinggi Gunung Seribu Janji, langsung dari bibir manis Bob. Bob hilang dari peredaran sebab lebih suka memimpin sebuah restoran milik Pertamina di kota New York, sekaligus merangkap sebagai penyanyi di situ.

Di New York jabatan resmi Bob adalah Kepala Public Relations Pertamina New York (1972-1976), sekaligus Manajer merangkap Entertainer Restoran Ramayana New York (1972).

Harapan dan impian Bob pada akhirnya meleset. Karena Bob adalah artis non-Amerika, ia sulit menembus birokrasi dan sistem ekonomi yang kuat untuk merekam suara atau sekadar tampil dalam suatu pertunjukan panggung. Ketidakberhasilan Bob meniti karir keartisan masih diperparah dengan kegagalan pernikahannya dengan seorang perempuan berdarah Amerika. Bob segera kembali ke tanah air.

Tahun 1977 Bob di Indonesia kembali memasuki dapur rekaman hingga tercetuslah lagu Widuri, sebuah masterpiece lagu pop nasional yang sekaligus lekat sebagai trademark abadi buat Bob. Bob pun kembali mendapatkan penghargaan Golden Record. Uang dari keberhasilan Widuri Bob manfaatkan untuk membeli tanah dan membangun rumah yang sekaligus dijadikan Bob kantor perusahaan yang miliknya, PT Widuri Utama. Perusahaan ini bergerak di bisnis hiburan dan pembangunan rumah untuk para transmigran.

Selain penyanyi serba bisa Bob dikenal pula sebagai bintang panggung. Ia pernah lama menghibur pemirsa televisi sebagai pemandu acara sejumlah kuis di TVRI. Kesibukan Bob memang tak pernah berhenti. Ia pandai memilih pekerjaan yang bisa memelihara keawetan dirinya sebagai artis panggung. Bob adalah pemandu acara musik televisi “Tembang Kenangan” yang menghadirkan nuansa kenangan nostalgia hidup tahun-tahun 1960-an. Bob masih enggan membuat album karena ogah berhadapan dengan pembajakan yang tak kunjung henti. Karena hobi main golf setiap kali melihat matahari rasanya Bob ingin main golf saja.

Penyuka warna-warna cerah untuk pakaian demi membalut kulitnya yang rada hitam, Nyong Ambon pengagum Bunda Theresa dan Nelson Mandela ini dengan rendah hati mengisahkan kunci sukses kehidupannya salah satunya mungkin karena sudah takdir saja. Kunci kedua ia mempunyai disiplin yang sangat kuat.

Kunci kedua inilah agaknya yang membuat Bob tak lagi mengulangi kegagalan pernikahannya. Bob dengan istri Rosmaya Suti Nasution serta putri tunggal Sasha Karina Tutupoly sukses membina keluarga, sebagaimana Bob sukses di atas panggung hiburan. Sebab Bob berprinsip di atas panggung ia adalah artis ternama namun selepas dari itu ia adalah suami dari istri ayah dari anak semata wayang dan kepala keluarga sekaligus imam dari keluarga. Dengan posisi demikian Bob sukses menanamkan filosofi ke dalam keluarga, kalau lagi susah jangan banyak mengeluh karena di bawah kita masih banyak orang yang lebih susah.

Demikian pula kepada artis-artis yang berhasil mencapai posisi tingkat dunia, sebagai senior yang sudah banyak merasakan pahit-getir dan asam-manis dunia keartisan, Bob memberi saran agar artis jangan terlalu disanjung oleh media massa dan jangan pula dicaci maki manakala tidak berhasil menuai sukses. Peluang artis Indonesia meraih posisi tingkat dunia Bob katakan semakin terbuka luas karena adanya globalisasi, keterbukaan, dan teknologi yang begitu tinggi. Semua kemajuan merupakan peluang terbuka bagi artis-artis untuk meraih posisi dunia.

Bob melihat musik Indonesia sebetulnya sangat kaya namun susah sekali untuk mencari ke-Indonesiaannya. Ke-Indonesiaan yang dimaksudklan Bob mungkin salah satunya bisa

 

B.After 1965

1.Broery Marantika (Pesulima)

Broery


Broery (June 25, 1944 – April 7, 2000) was the stage name of the famous Indonesian singer Broery Pesulima, also known as Broery Marantika.

Broery was born in Ambon, Maluku as “Simon Dominggus Pesulima”. His parents were Gijsberth Pesulima and Wilmintje Marantika.

he have ever merried with the Malaysian singer Anita Serawak and later have divorced.look anita sarawak record found in Indonesia by Dr Iwan S below

He died on 7 April 2000 in Jakarta.

Contents

//

 List of songs

  • Widuri
  • Mengapa Harus Jumpa
  • Siti Nurbaya
  • Seiring dan Sejalan (duet with Sharifah Aini from Malaysia)
  • Selamat Tinggal
  • Aku Jatuh Cinta
  • Ayah
  • Kharisma Cinta
  • Aku Orang Tak punya
  • Duri Dalam Cinta
  • Senja Di Kuala Lumpur
  • Sabar Menanti
  • Rindumu Rinduku
  • Abang Beca
  • Kasih
  • Biarkan bulan bicara
  • Cinta
  • Waktu potong Padi
  • Sabar Menanti
  • Mungkinkah
  • Antara Cinta dan Dusta
  • Balada seorang Minta-minta
  • Alam Jadi saksi
  • Rindumu rinduku
  • Senja Kelabu
  • Setangkai Bunga Anggrek (duet with Emillia Contessa) from Indonesia
  • Bahasa Cinta (duet with Vina Panduwinata)
  • Untuk apa Lagi (duet with Vina Panduwinata)
  • Jangan ada dusta di antara kita (duet with Dewi Yull)
  • Kharisma Cinta (duet with Dewi Yull)
  • Segalaku Untukmu (duet with Dewi Yull)
  • Rindu Yang Terlarang (duet with Dewi Yull)
  • Dekat Tapi Jauh (duet with Ziana Zain from Malaysia

Album

 Music Award

  • 1997 He was winner with his song Surat Untuk Kekasih at Malaysia Official Music Industry Award ( AIM ).
  • 1996 The Best of Sound Track Album of the Movie at Malaysia Hapuslah Air Mata( wipe your tears )
  • 1991 Win of six Categories at Jakarta Music Festival in Best Vidio, Clip, Sound track, Composition and Producer He sings Once There Was Love

 Filmography

  • Jangan biarkan mereka lapar 1974
  • Lagu untukmu 1973
  • Akhir sebuah impian 1973
  • Istriku sayang istriku malang 1977
  • Kasih sayang 1974
  • Wajah tiga perempuan 1976
  • Impian perawan 1976
  • Brandal – brandal metropolitan 1971
  • Bawang putih 1974
  • Perempuan histiris 1976
  • Sesuatu yang indah 1976
  • Matahari hampir terbenam 1971
  • Hapuslah air matamu 1975

Anita Sarawak

Anita Sarawak

Anita Sarawak.
Gambar oleh Laman web Jaggat
Latar belakang
Nama lahir Ithnaini Mohd Taib
Nama lain Anita Sarawak
Lahir 23 Mac 1952 (umur 58)
Asal Bendera Singapura Singapura
Genre Wanita
Pekerjaan Penyanyi, Pelakon , Pengacara

Anita Sarawak (lahir 23 Mac 1952[1]) atau Ithnaini binte Mohd Taib merupakan seorang penyanyi kelahiran Singapura, yang pernah menerima anugerah dari “Asian Entertainment Establishment” kerana perkhidmatannya kepada industri hiburan. Selain daripada banyak anugerah piring emas yang diterimanya, Anita pernah juga dipilih sebagai ‘Dewi Utama’ (The Top Diva) di Asia.

Dilahirkan kepada seorang penerbit filem dan pelakon terkenal dan ibunda yang merupakan seniwati filem Melayu yang mashyur iaitu Allahyarham S. Roomai Noor dan Allahyarhamah Siput Sarawak. Ibubapanya berpisah apabila Anita berusia sembilan bulan. Dia merupakan anak tunggal hasil perkahwinan Roomai Noor dan Siput Sarawak,[2] walaupun mempunyai 15 adik beradik angkat, termasuk pelakon dan bekas model terkemuka Noor Kumalasari.

Anita bermula kerjayanya sebagai penyanyi sewaktu dia berumur lima belas di Singapura. Ibundanya selalu mengiringinya. Akhirnya, Anita ditemui oleh EMI Records dan mencapai satu tempoh yang amat berjaya, mencatatkan satu kejayaan demi satu kejayaan dengan nyanyian solonya. Dia telah banyak kali menerima anugerah piring emas.

Setelah mencapai kemasyhuran di Asia, pada 1985 Anita meninggalkan Singapura untuk menuju ke Amerika Syarikat dan mengikat kontrak dengan Caesar’s Palace di Las Vegas, sebuah hotel dan kasino yang termasyhur di dunia. Tanpa dirancang, kerjayanya di sana berlangsung selama hampir 20 tahun, satu rekod di Las Vegas.

Kepopularannya disebabkan oleh usaha-usaha sentiasa mengubah gaya persembahannya. Selain daripada mengimbangkan persembahan lagu-lagu klasik dan lagu-lagu sezaman, Anita juga terpaksa sentiasa menukar pemain-pemain muzik dalam pancaragamnya, American Dream, sesuatu tindakan yang amat dikesalinya. Bagaimanapun, Anita dibantu oleh pengarah muzik, Nate Wingfield, yang mempunyai reputasi yang dapat menarik pemain-pemain yang terbaik dalam dunia muzik.

Selepas hampir 20 tahun di luar negeri, Anita kemudian memutuskan pulang ke Singapura dan menetap di Kuala Lumpur untuk meneruskan kerjaya sebagai penghibur. Sebelum menerima tawaran menjadi hosTV di Malaysia Anita banyak mengacarakan rancangan2 hiburan Inggeris dan Melayu di Mediacorp TV & SURIA CHANNEL di Singapura antaranya seperti :

  • Phua Chu Kang (cameo appearance guest artist)
  • SPEAK OF A Diva
  • Bersama ANITA
  • MAHLIGAI KITA

Bila ditanyai saatnya yang amat berbangga, Anita telah menujukan kepada empat peristiwa dalam kehidupannya, iaitu:

  • sewaktu dipilih sebagai ‘Dewi Utama’ (The Top Diva) di Asia;
  • sewaktu menerima anugerah dari Asian Entertainment Establishment kerana perkhidmatannya kepada industri hiburan;
  • mengendalikan rancangan temu bualnya di Astro; serta
  • kontrak perakamannya dengan KRU.

Kini, Anita mempunyai sitcom sendiri dan ingin menumpukan masanya dalam bidang filem. Selain daripada persembahan-persembahannya di hadapan penonton, dia amat sibuk dengan kerja amal. Bagaimanapun, Anita juga telah melancarkan barang kemas sendiri yang digelarkan “Anita Sarawak, Koleksi Cinta”.

Anita sudah menghasilkan banyak album EP dan LP dari 1974 dalam bahasa Inggeris dan Melayu. Dalam tahun 1975 , Anita berduet dengan Ismail Haron, dan membentuk pasangan duet yang ideal ketika itu. Maka lahirlah album Ismail & Anita. Judul dan lagu-lagu di bawah ini adalah seglintir sahaja.

Pada tahun 2008, Anita telah diberi Anugerah OXCEL (The Oxford Centre for Leadership)Lifetime Achievement Award di OXCEL International Conference. Anugerah itu mengiktiraf kejayaan sebagai professional yang berjaya bukan sahaja di Asia tetapi juga di Las Vegas, USA.

2. Melky Goeslow

Melky Goeslaw

Melky Goeslaw (Morotai, Halmahera, 7 Mei 1947 – Jakarta, 20 Desember 2006) adalah penyanyi Indonesia yang pernah memperoleh sejumlah penghargaan nasional maupun internasional atas prestasinya dalam bidang seni ini.

Daftar isi

 

//

 Karier

Melky pernah menjadi salah satu penyanyi terbaik yang dimiliki Indonesia. Lagu-lagu yang dibawakannya banyak yang mendapat sambutan masyarakat. Beberapa lagunya yang terkenal adalah Pergi untuk Kembali, Hiroshima dan Nagasaki dan Tuhan Semesta Alam. Ia sempat bernyanyi duet dengan penyanyi Diana Nasution, dan lagu mereka Bila Cengkeh Berbunga, meledak di pasaran.

 Penghargaan

Pada 1977 ia bersama Diana merebut juara kedua Festival Penyanyi Tingkat Nasional. Pada 1995 di Jepang ia memperoleh Penghargaan Kawakami untuk kategori penyanyi pop.

 Akhir hidup

Melky Goeslaw meninggal dunia setelah menderita sejumlah komplikasi karena kanker payudara stadium empat, penyakit pada paru-paru, diabetes, dan jantung.

Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta, namun karena kondisinya sudah kritis, ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, ternyata Melky telah meninggal dunia, kemungkinan selagi di perjalanan.

 Keluarga

Melky Goeslaw mempunyai beberapa orang anak, salah satunya adalah Melly Goeslaw yang juga menjadi penyanyi dan pencipta lagu. Anaknya, Tansa Goeslaw, sudah lebih dulu mendahuluinya.

Pemakaman

Jenazah Melky dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada hari Jumat, 22 Desember, di samping makam Tansa.

3.Harvey Malaiholo

Harvey Malaiholo

Harvey Benjamin  Malaiholo (Harvey Malaiholo) was born in Jakarta, May 3, 1962, is an Indonesian singer. This singer launches album contains 12 songs that hits all the 20-year career, entitled Reflections of Harvey Malaiholo (Greatest Hits 1987-2007).
The album has involved five stylists best music of Indonesia, namely Addie MS, Elfa Secioria, Erwin Gutawa, Yovie Widianto, and cultivation. Harvey also received support from Dian Pramana Panduwinata Poetra and Vina, who are willing duet, each in their songs and I Realize That Love.
Alumnus of the Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia (UI) is to start recording first album at age 11 years. Since childhood, the eldest of three brothers have been taught to be responsible to maintain his family. “My father was a sailor. Each will go sailing, he always says, keep the mother and younger siblings, “said the man was 43 years old, still remembering.
Indeed, since childhood, Harvey was trained with the affairs within the responsibility and open communication by their parents – (late) DB Malaiholo and M. Malaiholo. “We used to tell each other and focus on the obligations we have to do, especially about education,” says the singer who once dubbed “tiger festival” is.
In Haervey family have a strong presumption that the correlation between formal education and the art of singing. Regardless of that, young Harvey spent his time with joy wrapped up in love with her parents and two siblings. It is an impression on him. “It’s become one of my mirror to uphold the meaning of love in a family,” said the man ora et bermoto this lab.
Men who never appeared in the music arena North Sea Jazz Festival is a family rate of the entire estuary has always been searching for meaning of life. “Family is my life. No matter what I strive to be returned to the family, “he said, seriously.
Now, Harvey has been a complete life. Malaiholo marriage to Lolita – which also doubles as his manager – has been endowed with two sons, Joshua Benjamin Malaiholo (14 years) and Joshua Benjamin Malaiholo (2 years). “They are God’s gift to me awake and give them the best,” said choir director who had joined in this Elfa’s Singer.
As head of the family, Harvey instill openness in communication. This method also is a foundation to educate Joshua and Beni. “I often spend time chatting with them,” he said. He added that the importance of formal education for their children. However, as an art worker, Harvey felt obliged to introduce the values of art to the two pieces of his heart. “Although they did not want to become an art worker, at least they love art,” she said. According to him, a love of art capable of honing instincts someone sensitivity.
However, Harvey and Lolita continue to give to his children the freedom to select the fields you want they do. “Joshua is starting to look interested in sports,” said the man who had joined the basketball team this UI.
Concerning the position of the wife who became a partner at home and at work, Harvey admitted encountering many obstacles in the beginning. Initially, doubts had occurred to make Lolita as a manager. “Several times I had discussed the matter with him,” said the singer of this song That’s Love.
Over time, it is no longer a major problem. In fact, he argues, become much more open communication. “I feel no chemistry with my wife at work,” says a fan of this biography books. Another consideration, he said, Lolita has the competence in that position. “All arranged more neatly. If so, professionally it’s brilliant, “he said. Viewed from different angles, for Harvey the wife’s position as a manager to give a positive input for their domestic life.
However, although not admitted romantic, Harvey always keep the intimacy with his wife. Start walking with the hand to travel abroad alone, like a repeat period of their courtship that lasted five years.
He felt warm in the middle of the family, while his spare time is filled with a gathering at home, watching TV, or just to chat. “Sometimes me and Joshua’s conquest television remote control,” she said, laughing. Occasionally, he was spoiling their holidays with the family during the weekend. “Usually when the school holidays, we’d vacation together,” he said.
Harvey told me, at certain moments, such as Christmas or birthday, they always come together and exchange gifts. This black color buff to enjoy and get peace when with his wife and two children. “I never take Joshua to the studio. I sing, she slept under the speakers, “said festival Stars won the first national Radio and Television at the age of 14 this year. He, then smiled. However, his eyes still wander about all the beauty with the people closest ever gone through.
Associated with a single grand concert desire HARVEY MALAIHOLO gig was not long enough. However, that does not mean losing fans. Proven, concerts mininya siphon hundreds of spectators. The singer had moved to three-decade designing a concert grand. “The next concert I want a much larger scale so that more spectators who came,” said Harvey. Harvey held a mini concert at the Hard Rock Cafe, Jakarta. He menembangkan songs from the best hits album, Reflections of Harvey Malaiholo.
Hundreds of loyal fans, including Vina Panduwinata, Rafika Duri, Maya, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, and Heddy Jonah, attend the event. Harvey brings 10 songs, including Say Only, Thanks Love, and Get Up is the favorite of fans.
Voiced singer with a distinctive tone that recognizes long-time concert this lack of sponsorship. That’s why he was unable to hold a great performance. It was funny, ‘tigers lack of sponsorship the festival instead? [Manly / bang]
Several awards and festivals have been followed Harvey Malaiholo:1. Participant, Cerbul de Aur Song Festival, Bosof, Romania 19932. 1st Prize For Jakarta’s Radio & Television Singer Contest 19753. 1st Prize for Indonesia’s Radio & Television’s Singer Contest 19764. The Best Singer Of National Pop Song Festival 19865. The Best Singer Of National Pop Song Festival 19876. The Best Singer Of National Pop Song Festival 19887. The Best Singer Of National Pop Song Festival 19918. Kawakami’s Special Award, The 13th World Popular Song Festival, Tokyo, Japan 19829. Best Performer, 1st Golden Kite World Song Festival, Kuala Lumpur, Malaysia 198410. 2nd Prize, 2nd Golden Kite World Song Festival, Kuala Lumpur, Malaysia 198611. Best Performer, The 17th World Popular Song Festival, Tokyo, Japan 198612. Best Performer, ASEAN Popular Song Festival, Singapore 198813. Participant’s The Vina del Mar World Song Festival, Chile 198814. Best Singer with Elfa’s Singer, ASEAN Popular Song Festival, Manila, Philippines 198915. Silver Award with Mask ‘n Mask Band, Band Explotion, Tokyo, Japan 1 98916. Participant, with Masks’ n Mask Band, The Star Search Program, Los Angeles, USA 198917. Participant, with Elfa’s Combo Band, North Sea Jazz Festival, Den Haag, Holland 199018. Participant, with Bhaskara Band, North Sea Jazz festival, Den Haag, Holland 199119. Representing Indoneisa on the Opening & Closing Ceremony Of The 17th Sea Games, Singapore

4. Yopie Latul

Yopie Latul

.

Yopie Latul adalah seorang penyanyi Indonesia asal Ambon, Maluku. Pada tahun 1994 Dr Iwan Suwandy saat bertugas di Pontianak pernah bertemu dan melihat pergelaran musik acara Bhayangkari POLDA KALBAR atas saran Ibu Kapolda .

Sudah dicari biografinya tetapi belum ketemu sedang diusahakan.

Yopie Latul MP4 Video

list
// <![CDATA[
document.write('');
// ]]> 

Yopie Latul – Simalakama 2Lyric/Composer:Aat ArsyadViewDownload Yopie Latul, Poco Poco Yopie Latul, Poco PocoCollection of high quality Indonesian KARAOKES. Enjoy!!

Yopi Latul Yopi Latulalbum yopi latul

Enggo Lari – Yopie Latul.wmv Enggo Lari – Yopie Latul.wmv 

Goyang – Yopie Latul – Ambon Jazz Rock Goyang – Yopie Latul – Ambon Jazz Rockold 80′s ambon jazz rock tape Yopie Latul – Goyang

Yopie Latul-nona Papua Yopie Latul-nona Papual

Yopie Latul – Seliter Dua Liter Yopie Latul – Seliter Dua LiterLyric/Composer:Didin AbuViewDownload Yopie Latul – Siw Sang Fa Yopie Latul – Siw Sang FaYihiii!!ViewDo Yopie Latul – Poco Poco Yopie Latul – Poco Pocothe tuichi’s engagement

2by2 – Simalakama (mtv Karaoke) Oa Yopie Latul 2by2 – Simalakama (mtv Karaoke) Oa Yopie LatulMalaysia Composer/Lyricist – Cover Song (CC) Copyright Controlled by Suria Records Video by SURIA Records (SRC) @ 1999 2by2 Group Members : – Faizal – Halim (Halim Khan) – Neiziman – Zul

Yopie Latul, Jawaban Sms Yopie Latul, Jawaban SmsCollection of high quality Indonesian KARAOKES. Enjoy!!

Glenn Fredly Ft. Yopie Latul – Sudah Belayar Glenn Fredly Ft. Yopie Latul – Sudah Belayar

d Mtv Yopie Latul – Poco Poco Mtv Yopie Latul – Poco Pocosuaz fmy

d 01 – Special Natal – Putra Tunggal Kudus – Yopie Latul 01 – Special Natal – Putra Tunggal Kudus – Yopie Latul01 – Special Natal – Putra Tunggal Kudus – Yopie LatulViewDownload Poco-poco Dance Yopie Latul Poco-poco Dance Yopie LatulBalenggang pata-pata Ngana pe goyang pica-pica Ngana pe bodi poco-poco Cuma ngana yang kita cinta Cuma ngana yang kita sayang Cuma ngana suka biking pusing Ngana bilang Kita na sayang Rasa hati ini ma..

.

ad Yopie Latul – Kembalikan Baliku + Lyrics Yopie Latul – Kembalikan Baliku + LyricsLagu karya emas Guruh Soekarno Putra ini pernah mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Tokyo Jepang, mewakili Indonesia pada World Populer Song Festival 1987 di Tokyo. Lagu ini berhasil …

 Andi Meriem & Yopie Latul Jumpa Lagi Andi Meriem & Yopie Latul Jumpa Lagiduet andi meriem mattalatta dan yopie latul di acara selekta pop tvri membawakan lagu ciptaan dodo zakaria

Hitam Manggustang yopie Latul Hitam Manggustang yopie LatulHitam tapi manis

d Poco Poco – Slam Dunk Contest Poco Poco – Slam Dunk Contestgymnastics, senam best sports. yopie latul song Yopie Latul-simalakama Yopie Latul-simalakamaMUSIC INDONESIA,MALUKU SONG,BY MAHYUDIN IN JAPAN

 Diskografi

  • The Best of Yopie Latul 1998 “Hey Gadis” dan “Emen” diproduksi oleh Blackboard
  • Lomba Cipta Lagu Pembangunan 1987. Yopie menyanyikan dalam lagu “Bersatulah” diproduksi Asia Record
  • Album dari Niagara. Yopie menyanyikan lagu “Metro Jakarta” di Produksi oleh Billboard Indonesia
  • Album Cinta pop Kreatif 1989. Yopie menyanyikan lagu “Ketika Cinta Bersatu” diproduksi Harpa record
  • 7 BintangJangan Menambah Dosa. Yopie duet dengan Mus Mujiono “Daripada-daripada” diproduksi Hins Collection
  • Ekki Soekarno Kharisma Indonesia 2. Yopie menyanyikan lagu “Dea Deo” diproduksi oleh Atlantic Record
  • Festifal lagu popular Indonesia 1987. Yopie menyanyikan lagu “Kembalikan Baliku” diproduksi Bulletin record
  • Festifal Lagu popular Indonesia 1986. Yopie menyanyikan lagu “Ayun Langkamu” diproduksi oleh Billboard
  • Dian PP – Fantasi. Yopie menyanyikan lagu “Hasrat dan Cinta” diproduksi Hins Collection
  • Dian PP – Jalan masih Panjang 1989. Yopie menyanyikan lagu “Ketika Cinta Bersatu” di produksi Hins Collection
  • Kami & Deddy Dhukun ABG. Yopie menyanyikan lagu “Banyak cara banyak jalan”
  • Album Indonesia 10 “Semua Karena Kau” – berduet dgn Deddy Dhukun
  • Album Jopie Latul – Ambon Jazz Rock diproduksi Atlantic record. Mari Badansa, Enggo Lari, Mama Beta, Nusaiwe, Beta Cuma Rindu, Hasa Hasa Ambon, Huhate, Bulang Terang, Goyang Goyang, Ambon Manise, Kawengit Lari Pung Sansara, Beta Berlayar

the end @  copyright Dr Iwan Suwandy 2011

 

About these ads

2 responses to “The Ambon Molluca Music record History(Sejarah Rekaman Musik Maluku)

  1. Fantastic beat ! I would like to apprentice whilst you amend your site, how can i subscribe for a weblog site? The account aided me a acceptable deal. I had been a little bit acquainted of this your broadcast offered vivid clear concept

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s