Good Bye My Idle Indonesian Senior Journalist Rosihan Anwar(Selamat Jalan Wartawan senior Rosihan Anwar)

 

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DIC SHOWROOM

(Driwan Icon  Cybermuseum)

This Show Dedicated to the family of in memoriam my Idle senior Journalist  Rosihan Anwar.

Selamat Jalan Wartawan senior Idolaku Rosihan Anwar,semoga keluarga yang ditinggal diberikan keuatan Lahir dan bhatin oleh Yang Mahakuasa.

 

Showcase:

The Indonesian Senior Journalist and Writer In memoriam Rosihan Anwar Collections.

(Selamat jalan Idolaku Wartawan Senior Rosihan Anwar)

Frame One :Introduction

1.This Show Dedicated to the family of in memoriam my Idle senior journalist Rosihan Anwar.

Selamat Jalan Wartawan senior Idolaku Rosihan Anwar,semoga keluarga yang ditinggal diberikan keuatan Lahir dan bhatin oleh Yang Mahakuasa.

2.Pada sore hari ini saat saya menulis artikel Almarhun Wartawan senior Indonesia Rosihan Anwar yang meninggal kemarin sesudah operasi by pass Jantung dan pulang kerumah satu hari ,tiba-tiba mengalami serangan Jantung dibawa kerumah sakit tetapi tidak dapat tertolong, saat ini almarhum sedang dimakamkan di TMP Kalibata dengan inspektur upacara menteri Sosial RI.dengan upacara militer disaksikan oleh keluarga dan teman-teman almarhum.

 .

3. Almarhum menyusul Almarhum Isterinya tercinta yang telah mendahuluinya delapan bulan yang laly(September 2010)

4.In order to remambrance of In Memoriam Rosihan Anwar, I show my special collections related to him.

(1) Rosihan Anwar Tahun 1946(oleh Wartawan Harian Merdeka dalam Buku Peringatan 6 Bulan Kemerdekaan RI.

(2)Kata Pengantar Buku Karangan Rosihan Anwar SEBELUM PRAHARA (Penerbit Sinar harapan, Jakarta .1981)

Jakarta April 2011

Dr Iwan Suwandy

Frame Two: Dr Iwan collections 

(1) Rosihan Anwar Tahun 1946(oleh Wartawan Harian Merdeka dalam Buku Peringatan 6 Bulan Kemerdekaan RI.

Dikutib sesuai ejaan aslinya halman 121 (nomor Khusus Merdeka enam bulan,17 Februari 1946)

Mas Rosihan mendjadi motor dan pendorong bagi redaksi(sk.Merdeka), dan pendorong bagi redaksi.Tjiptaannja oentoek keamdjoean teknik soerat kabar ., tidak koerang hebatnja dari tjiptaannja oentoek sandiwara”Maya”.Boekoe2 tentang djoernalistik dan doenia persoeratkabaran banjak dibatjanja dan kini ia sedang mempraktekan apa jang ditemoekannja dalam boekoe2 itoe. Sebagai ahli “headline” jang soeka kepada sensasi janh sehat, tidak poeas djika koran hanja memakai kepala2 dengan hoeroef “bodoni” dan”memphis” atau “poster bodoni”, tapi haroes memakai hoeroef2 jang tebal-tebal sematjam “erbar” dengan “onderkopnja”,”Calson” jang cursief. Ia mempoenjai kekoeatan dalam sastra,toelisannjapoen lain dari pada jang lain.Djoega saudara ini selain mempoenjai djengot sebagai Boung Diah dan “tjambangnja” tjambang perdjoeangan,djoega orientasinja internasional(loeas). Djiwa seninja kadang-kadang berkoemandang dibelakang medja toelis dan kalau memboeat keterangan2 gambar boekanlah lagi kata-kata biasa jang memantjar dari djiwanja,tapi kata-kata”Sadjak” jang terkenal.

Apa lagi kalau menghapadi gambar pemandangan alam,  tari-serimpi,keloealah kata-kata sebagai demikian:”MENDAJOE-DAJOE BOENJI GAMELAN. AJOE-AJOE PARAS PERAWAN.LENTIK-LENTIK DJARI TANGAN…” dan demikian seteroesnja.

Ia pandai mentjeritakan pengalaman-pengalamannja, sehingga sering Boeng Diah dan Mas Win, menekan peroet tertawa terbahak-bahak mendengarkannja. Jang lain2 melihat dia mendongeng dengan eksentoeasinja jang djityoe2,tinggal melongo sadja…mesem-mesem tertawa ramai-ramai.

Dongengnja tentang Soerabaja,Semarang ,Bandoeng dan lain-lain tempat lagi,jang diwakrtoe jang achir-achir ini sering didjalaninja selakoe wartawan,sangat menarik.Digambarkannja semoeanja itoe dengan kata-kata jang loetjoe dan gembira.

Brewoknja wartawan moeda ini,tak dapat dikatakan istimewa, tapi agaknja menpoenjai….. goena-goena, karena setiap orang jang melihatnja tertarik.

Tenaga langsoeng jang bekerdja bersama-sama dengan Engkoe Brewok, jaitoe Mas Achmad,jang kini mendjadi”make-up Editor” dengan teori-teori jang direntjanakan oleh Engkoe Brewok sendiri.Mas Achmad seorang pendiam,oelet dan tegas pendiriannja dan kalau marah….oewaah sebagai djoega Goenoeng Merapi meletoes….Djoega soatoe tenaga jang artinja penting bagi soerat kabar kita, jang berani menerima dan mendjalankan pekerdjaan tanggoeng djawab.Saudara ini pernah menerima kata-kata dorongan dari kawan-kawan lain.

(2) Prakata Buku Karangan Rosihan Anwar SEBELUM PRAHARA (Penerbit Sinar harapan, Jakarta .1981)

Setelah harian Pedoman yang saya pimpin sejak tahun 1946 dilarang terbit oleh pemerintah sukarno tanggal 7 Januari 1961 dan saya  tidak aktif lagi sebagai wartawan. Saya memelihara sebuah buku catatan harian atau diary, yang meliputi kurun zaman awal tahun 1961 hingga menjelang penutup tahun 1965. Saya mencatat perkembangan di tanah air di berbagai bidang, tetapi pekembangan politik mendjadi sasaran perhatian saya yang masa itu berkisar pada permainan segitiga pelaku-pelaku utama yaitu(1) Presiden Sukarno,(2) Partai Komunis Indonesia dan (3) Tentara Nasional Indonesia.

Karena Penerbit Sinar Harapan mau menerbitkan diaryu saya, maka saya usahakan penyuntingan kembali(re-editing) supaya hilang hal-hal yang sifatnya berulang,ditiadakan catatan yang kurang relevan dengan jalannya pokok cerita,diperbaiki bahasanya guna memenuhi persyaratan ekonomi kata.Tetapi buat selebihnya,catatan-cattan dibiarkan utuh semula.

Catatan-catatan ini memberikan suatu sejarah yang tidak selalu diketahui oleg generasi muda Indonesia sekarang. Ia melukiskan keadaan masyarakat masa itu dari sudut ekonomi,sosial dan budaya, juga manusia-manuisia Indonesia yang sebagian sudah meninggal dunia,sebagain masih hidup dan sudah tua.

Kalau kesinabungan catatan-catatan tidak selalu terpelihara dengan rapi atau kalau sifatnya berbeda-beda kedslamannya,maka keterangannya ialah: memang begitulah adanya. Ia ditulis tidak terlepas dari pengaruh keadaan pribadi,suasana perasaan pada suatu ketika.

Meskipun demikian saya harapkan catatan-catatan ini ada manfaatnya untuk menambah pengetahuan generasi muda tentang sejarah tanah air kita dan menyegarkan ingatan generasi tua yang mengalami suka-duka zaman itu.Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah itu.

Jakarta,14 Desember 1980

H.Rosihan Anwar

Frame Three :Rosihan Anwar Informations

1. December 27, 2009

Hari ini 27 Desember 2009, RNW (Radio Nederland Wereld Omroep) Hilversum akan mengadakan acara 60 tahun Peringatan Penyerahan Kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Wartawan senior Rosihan Anwar telah bertolak ke Belanda atas undangan RNW untuk menghadiri beberapa acara yang sudah dipersiapkan seperti seminar dan siaran radio. Untuk Rosihan, ini merupakan napak tilas dalam kesaksiannya baik Konperensi Meja Bundar (Agustus – November 1949) maupun penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana kepada Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta (27 Desember 1949).

2.Friends Share Memory of Rosihan Anwar
April 14, 2011

Veteran journalist Rosihan Anwar died at 89 on Thursday. Considered to be an important figure in Indonesian history, he started his career in journalism in 1943 as a reporter for Asia Raya newspaper. In 1945, he became an editor at Merdeka newspaper and the chief editor for Pedoman newspaper. (Antara Photo) Veteran journalist Rosihan Anwar died at 89 on Thursday. Considered to be an important figure in Indonesian history, he started his career in journalism in 1943 as a reporter for Asia Raya newspaper. In 1945, he became an editor at Merdeka newspaper and the chief editor for Pedoman newspaper. (Antara Photo)

Comments

 Apr 14, 2011

Bapak Rosihan Anwar, thank you very much for your enormous contribution to Indonesian journalism. May your integrity, honesty and courage live on in all of us and be sterling examples to all Indonesians. May Allah S.W.T, receive your soul with love. Rest in peace.

 

Veteran journalist Rosihan Anwar died at 89 on Thursday. His death was mourned not only by his family, but also by the good friends he left behind.

One of them is columnist Bondan Winarno.

“The last time I met Pak Rosihan was last month at Galeri Cemara [in Menteng, Central Jakarta]. He was climbing up the stairs, breathing hard, so I held his hand and walked with him up the stairs. His memory was still very sharp. He waved and smiled at me when I said goodbye,” Bondan told the Jakarta Globe.

Bondan said his most unforgettable memory with Rosihan happened in the mid 1980s when both of them were assigned by the then Information Ministry to train journalists in remote areas.

He remembered that Rosihan, who always spoke Indonesian, scolded him because Bondan often used English terms.

“He was asking me ‘Tasnya cuma satu itu?’ (‘Is that your only bag?’) and I said, ‘Yes, I always travel light,’ Bondan said.

Rosihan also scolded their friend, Salim Said, who defended Bondan.

“He said Salim said was also English minded because he had a PhD from Chicago,” Bondan said.

However, 15 minutes later it was Rosihan who slipped into English mode.

“Pak Rosihan said, “Look at us. We’re like a traveling circus,” and we broke out in laughter while he was only grinning innocently,” Bondan said.

Author, poet and journalist Gunawan Muhammad remembered Rosihan fondly as one of his “teachers.”

“I am lucky to have had the chance to study journalism from Rosihan Anwar’s reports,” he said.

“Rosihan’s reports reflected the principle that journalism is the first rough draft of history,” he said.

“Rosihan was not a thinker. He was a recorder of history and that’s what made him special. A thinker is often wrong because they overlook facts,” Gunawan said.

3.


© 4.bp.blogspot.com

rosihan anwar

Friends Share Memory of Rosihan Anwar

News found at 04:43 04/14/2011 on thejakartaglobe.com
Veteran journalist Rosihan Anwar died at 89 on Thursday. Considered to be an important figure in Indonesian history, he started his career in journalism in …

Frame Four:

Foto Upacara Militer Pemakaman Almarhum Rosihan Anwar Di TMP Kalibata.

1.Rombongan Jenazah Tiba Di TMP Kalibata.

2.Pasukan Upacara Siap Didepan  Makam di TMP

3.PETI DITUTUP BENDERA MERAH PUTIH DILETAKAN DISAMPING MAKAM,EMPAT PATI TNI DAN POLRI SIAP DISAMPING MAKAM,RIWAYAT HIDUP DIBACAKAN OLEH PEMBAWA ACARA.

4.PARA KELUARGA ANAK CUCU IKUT MENYAKSIKAN UPACARA DENGAN PENUH RASA HARU DAN BANGGA.

5.JENAZAH DIMASUKKAN KEDALAM MAKAM DIPAYUNGI BENDERA MERAH PUTIH DIIRINGI PENGHORMATAN MILITER DAN TEMBAKAN SALVO KEHORMATAN.

6.DOA SETELAH JENAZAH DI SEMAYANKAN DIDALAM MAKAM

7.BENDERA DILIPAT UNTUK DISERAHKAN KEPADA KELUARGA

8.TABUR BUNGA OLEH INSPEKTUR UPACARA,KELUARGA DAN PARA SAHABAT.

Frame Five :The Biography Of Rosihan Anwar

rosihan-anwar

Rosihan Anwar before dead

| name = Rosihan Anwar | image = | birthname =

| birth_date = May 10 1922 | birth_place = Kubang Nan Dua, West Sumatra, Indonesia

| death_date = April 14 2011 | death_place = Jakarta, Indonesia | occupation = journalist, editor | alias = | gender = male | status = | title = | family = | spouse = | children = | relatives = | ethnicity = Minangkabau | religion = Moslem | salary = | networth = | credits = Siasat magazine and Pedoman newspaper, several books |

Rosihan Anwar (May 10 1922April 14 2011) is a renowned Indonesian journalist and author.

Rosihan Anwar was born in Kubang Nan Dua, West Sumatra. Rosihan received early education at HIS and MULO in Padang. He continued his school to AMS in Yogyakarta and often participated journalism workshop at Columbia University, New York. His career began as reporter in Asia Raya newspaper while Japanese invasion. In 1947, he founded Siasat magazine. He also the founder and editor of Pedoman newspaper, which was twice forcibly closed by Sukarno regime (1961) and Suharto’s New Order administration (1974), because of its vocal criticism of the authoritarian regime.

Rosihan Anwar was not interested in power, but more of conscience and of culture. He wrote criticism in local and foreign media. He was one of the founders of the National Film Company (Perfani). He well known as writer, and published 30 books and wrote hundreds of articles mostly in Indonesian. The last book he wrote Petite Histoire Indonesia was about Indonesian history.

Rosihan Anwar

Sosok pria yang lahir 86 tahun silam di Sumatera Barat ini dikenal sebagai orang yang bersikap tegas dan jelas terhadap pers Indonesia. Rosihan memang sudah menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia. Ia selalu menjadi narasumber bagi perkembangan pers Indonesia. Karenanya, sebutan sebagai ‘man of conscience and  of culture‘ yang diberikan oleh Jakob Oetama terasa tepat disandangnya.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasati (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama 6 tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum persatuan Wartawan Indonesia (PW) dan pada tahun 1950, bersama rekannya mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film hingga kini.

Selain itu, kegiatannya sampai sekarang adalah menjadi kolumnis Business News yang sudah ia jajaki sejak 1963, dan juga masih aktif sebagai kolumnis Asia Week Hong Kong, serta menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat dari tahun 1983. Beliau juga dianggap sebagai salah satu tokoh sastrawan di Indonesia, dan saat ini menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ilmu Budaya Universitas

the end @ copyright Dr Iwan suwandy 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s