The Indonesian Badminton Historic Collections(Koleksi maestro Bulutangkis Indonesia)

 encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fedMUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

The Driwan’s 

Indonesian Sport  Cybermuseum

 showcase:

Maestro Bulutangkis Indonesia

1. Kata Pengantar

1.Dalam rangka nostalgia dan mengenang para maestro bulutangkis Indonesia, saya menampilkan beberfapa koleksi majalah,buku dan gambar lama dari para mmasetro tersebut.

2.Semoga informasi ini berguna bagi sejarah olah raga bulutangkis kiita dan memacu para generasi muda untuk dapat menyamai bahkan melebihi prestasi para maestro tersebut.

Jakarta Juni 2011

Dr Iwan suwandy

FRAME SATU:

 
encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed
Ferry Sonneville (kiri) salah satu anggota tim piala Thomas Indonesia yang memenangi lambang supremasi tertinggi bulutangkis
Ferry Sonneville

Mantan pemain bulu tangkis Indonesia, organisatoris olahraga dan pengusaha. Lahir di Jakarta, 3 Januari 1931, dan meninggal di Jakarta, 20 November 2003. Menyelesaikan pendidikan: SD St. Yosef Jakarta (1942); HBS Nasau Boulevard, Jakarta (1951); Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam (1963). la merupakan pemain pertama dan pemimpin regu bulu tangkis Indonesia dalam perebutan Piala Thomas tahun 1958 sampai dengan 1967. Pada perebutan Piala Thomas, Indonesia tampil sebagai juara. Prestasi lain yang dicatatnya antara lain juara Negeri Belanda (1955-1961), Jerman Barat (1959-1960), Kanada (1962) dan Amerika Serikat (1962).

Sebagai mantan pemain bulu tangkis Indonesia, ia adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya PBSI yang berkali-kali menjabat ketua IBF dan menjadi anggota Dewan AGF (Asin Games Federation). la juga dikenal sebagai pengusaha real estate. Di pemerintahan, ia sempat diperbantukan sebagai ahli ekonomi pada Gubernur Bank Indonesia (1965-1967); Ketua KONI Pusat dan Anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970); Ketua IBF (1972-1975); Direktur PT Ferry Sonneville & Co. (1968-sekarang).

Kegiatan lain Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda; Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Swasta; Anggota Pengurus Real Estate Indonesia; Ketua Jiu Jitsu Indonesia; Ketua Umum PB-PBSI (1981-1985); Ketua Advisory Council IESC (International Executive Corps). Kaya tulis Better Badminton, Nederland, 1958; Bulu Tangkis Bermutu, Jakarta, 1959. Pada tahun 1961 ia menerima anugerah Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah RI. Pengalaman sebagai pemain bulu tangkis mengilhami dirinya menulis buku Better Badminton (1958) dan Bulu Tangkis Bermutu (1959).

Ferry Sonneville ,Pahlawan Olahraga Indonesia

 
Indonesia berduka. Ferry Sonneville, ‘pahlawan’ tiga kali meraih Piala Thomas, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan, pukul 05.20 WIB, Kamis 20 November 2003. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) ini, tutup usia akibat kanker darah (leukemia) yang telah diderita selama satu setengah tahun. Jenazah Ferry dikremasi di Krematorium Nirwana, Bekasi, Sabtu (22/11) pukul 10.00, setelah diadakan misa requiem di Gereja Katedral, Jumat (21/11).Pebulu tangkis Indonesia di era 1950 hingga 1960-an ini pantas disebut sebagai pahlawan olahraga Indonesia. Pria kelahiran Jakarta 3 Januari 1931 ini, gigih berjuang demi kejayaan olahraga Indonesia. Ia ikut mendirikan PB PBSI (1951), ikut mendirikan KONI (1966), Ketua Umum KONI (1970), anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970), Chef de Mission kontingen Indonesia ke olimpiade (1971), Presiden International Federation Badminton/IBF (1971-1974), dan Ketua Umum PBSI (1981-1985).

Semasa mudanya, bahkan ia rela mengorbankan kuliahnya di Amerika untuk memperkuat tim Indonesia meraih Piala Thomas pertama kali pada 1958. Ia ikut berjuang dan berjaya merebut dan mempertahankan Piala Thomas tiga kali berturut-turut 1958, 1961 dan 1964. Ia menjadi Kapten bermain/Pelatih Indonesia (1958, 1961 dan 1964).

Pada saat merebut Piala Thomas pertama kali, Tim Indonesia yang diperkuat Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Eddy Yoesoef, Nyoo Kim Bie, Tan King Gwan, Lie Po Djian, dan Olich Solihin tampil menggemparkan ketika membabat sang juara bertahan Malaya, 6-3 di final.

Selain dalam beregu, Ferry yang memiliki rambut putih sejak usia 19 tahun, itu juga mengukir prestasi di nomor perseorangan, dengan menjuarai Belanda Terbuka (1955-1961), Glasgow (1957), Prancis Terbuka (1959-1960), Kanada (1962), serta runner up All England (1959) dikalahkan Tan Joe Hok di final.

Kesenangannya pada dunia olahraga mengalir dari darah kedua orang tuanya. Ayahnya, Dirk Jan Sonneville adalah jago olah raga tenis sebelum Perang Dunia II. Ibunya, Leonij Elisabeth Hubeek adalah juara bulu tangkis antara tahun 1935-1945.

Ia seorang tokoh olahraga Indonesia yang hidupnya lengkap. Selain hebat sebagai pemain bulu tangkis, juga sukses di bidang studinya, gemilang ketika memegang pucuk pemimpin organisasi olahraga, pemimpin akademi, maupun pemimpin organisasi pengusaha.

Ferry yang terlahir dengan nama Ferdinand Alexander Sonneville, ini tidak hanya andal sebagai pemain, Ferry juga andal dalam berorganisasi. Ia orang Indonesia pertama menjabat Presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) untuk tiga kali masa jabatan tahun 1972-1975. bahkan di dalam negeri, Ferry bersama Sudirman, Ramli Rikin, Sumantri, dan kawan-kawan, yang mendirikan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tahun 1951. Kemudian, ia menjabat Ketua Umum PB PBSI periode 1981-1985.

Alumni Erasmus University, Belanda, ini saat menjabat Ketua Umum PBSI dikenal sebagai pemimpin yang sangat akomodatif dan mampu melakukan pendekatan-pendekatan personal kepada para pemain. Setidaknya hal ini tercermin dari pengakuan Icuk Sugiarto, juara dunia bulu tangkis 1983. Icuk mengatakan, “Beliau selain bertindak sebagai ketua umum, juga mampu bertindak sebagai bapak. Beliaulah yang mengantarkan saya menjadi juara dunia 1983.”

Ferry yang dikenal sebagai seorang yang ulet dan suka tantangan ini juga aktif dan sukses di semua bidang yang didumulinya. Saat Ferry menjadi karyawan Bank Indonesia di Amsterdam (1964), ia merintis lahirnya International Governmental Group on Indonesia (IGGI). Ketika itu, ia mengusulkan kepada Pemerintah RI untuk mengundang Prof Jan Tinbergen, ekonom kondang Belanda dengan reputasi internasional.

Di bidang usaha, Ferry sempat pula membangun perusahan di bidang pariwisata yakni, Vayatour. Perusahaan itu didirikan pertama kali oleh kakak beradik dr. Hoksono Haditono dan (alm) Prakasito Hadisusanto. Perusahaan ini didirikan dengan maksud mendukung animo masyarakat yang pada waktu itu sangat antusias pada tim bulutangkis Indonesia. Usaha utama yang dilakukan saat itu adalah menangani acara perjalanan ke luar negeri dalam kaitannya menampung animo pendukung tim bulutangkis Indonesia.

Di bidang usaha properti, ia juga sukses. Ia ikut terlibat di berbagai perusahaan yang membangun perumahan, kawasan komersial, perkantoran, pengembangan industi dan pusat rekreasi. Dia adalah Chairman Executive Board pada PT. Lippo Cikarang, yang mengembangkan kota baru di Cikarang, Bekasi. Ia juga pemilik perusahaan PT. Ferry Sonneville & Co yang antara lain mengembangkan perumahan Feery Sonneville di Bukit Sentul. Ia pernah menjabat Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) periode 1986-1989, dan Presiden dan Anggota Executive Committee Federasi Realestat Internasional (FIABCI) sejak 1989.

Pada tahun terakhir, pemegang bintang jasa kelas III dari Presiden (pertama) Bung Karno (1964), ini berniat menulis buku otobiografinya, tetapi tak kesampaian.” Menurut Cynthia Givendolyn (45), anak bungsu dari tiga anak almarhum, di sela-sela menerima pelayat di rumah duka, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, 20/11/03, penulisan buku itu mudah-mudah dapat mereka lanjutkan.

Ferry adalah sosok manusia bersahaja yang bergaul secara global. Ia sembilan tahun menetap di Rotterdam, Belanda, sejak tahun 1955. “Ia berdarah Belanda, Cina, dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan.,” kata Tan Joe Hok, pebulu tangkis Indonesia pertama menjuarai turnamen paling bergengsi di bulu tangkis dunia, All England, tahun 1959, dengan mengalahkan Ferry Sonneville di final. Ferry menikah dengan Yvonne Theresia de Wit September 1954, dan dikaruniai tiga anak. Pada akhir hayatnya, ia mempunyai dua cucu dari anak keduanya, Genia Theresia, yang kini bermukim di Hongkong. Anak sulungnya, Ferdinand Rudy, sudah terlebih dulu meninggal di London, Inggris, tahun 1976, ketika masih berusia 21 tahun.

Ia dididik dalam keluarga bersahaja dan mandiri. Lingkungan keluarga ini membentuknya memiliki kemandirian dan kegigihan berusaha. Karier olahraga dimulai bukan pada bulu tangkis, melainkan olahraga bela diri Jiujitsu. Bahkan ia sempat mejadi pelatih olahraga tersebut pada 1949-1955 dan sempat menjadi orang yang turut membangun Persatuan Judo Seluruh Indonesia. Anak didiknya di antaranya adalah Faisal Abda’oe (mantan Dirut Pertamina), Marsekal R. Oetomo (Mantan KSAU), dan Ahmad Bakrie (pendiri Bakrie & Brothers). Ketika perkembangan bulutangkis di Indonesia mulai bangkit pada tahun tersebut, ia pun ikut bergabung.

Setelah lulus dari sekolah di Jakarta, ia melanjutkan studi ke sekolah ekonomi Erasmus University di Rotterdam, Belanda. (1955-1965) dan sempat bekerja di Bank Indonesia cabang Rotterdam. Kendati sudah bekerja, Ferry tidak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Bahkan pimpinan di kantornya malah menyuruh Ferry berlatih bulutangkis dan bergabung dalam tim Piala Thomas Indonesia.

Di bidang pendidikan ia adalah Perintis Yayasan Trisakti mewakili Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), pendiri Himpunan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (HIPPERTIS), pendiri Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik Indoneisa (APTIK), Warga Utama dan Anggota Yayasan Atma Jaya, Anggota Yayasan Fatmawati, Anggota Yayasan Bhakti Medika dan Anggota berbagai lembaga kesejahteraan sosial seperti Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC), Yayasan Gedung Arsip Nasional, Forum Indonesia Nederland (FINED), dll.

Di dunia internasional dia juga dikenal ketokohannya antara lain sebagai Presiden FIABCI (1995-1996), Presiden International Badminton Federation (1971-1974) dan Chairman Advisory Council of International Executive Corps for Indonesia (1981-1997).

Pemerintah Indonesia menghargai semua karya dan jasa kepada bangsa dan negara itu antara lain dalam bentuk penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan (1961), Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964). Dari masyarakat internasional dia menerima ”Knighthood” dari Gereja Katolik Roma (1972) dan FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

Tan Joe Hok

 

Tan Joe Hok,lahir Bandung 11 Agustus 1937
Tahun 1958 bersama Ferry Sonneville,Lie Po Djian,Nyo Kiem Bie,Eddie Yusuf,Olich Solichin,Tan King Gwan merebut Piala Thomas dan mempertahankan pada tahun berikutnya.
Tahun 1959,Usia 22 thn namanya ditulis panjang lebar di majalah sports bergengsi Amerika,Sports Illustrated,berkaitan dengan prestasinya sebagai orang Indonesia Pertama yang menjuarai All England,Kanada dan AS Terbuka
Tahun 1962,meraih medali emas pada Asian Games
Tahun 1984,sebagai Pelatih Indonesia memimpin Team Thomas Cup Indonesia merebut Piala Thomas dari team bulutangkis RRC
(Yakin Piala Thomas ke Indonesia,Suara Merdeka 12-5-2002)
(Tan Joe Hok.Kompas 7-12-2008)

Rudi Hartono

All England, Wimbledon, Inggris merupakan arena bergengsi untuk para atlit bulutangkis. Ada beberapa pemain Indonesia yang mengukir nama emas di Arena tersebut seperti Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudy Hartono, Chun Chun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Liem Swie King, Kristian Hadinata, Icuk Sugiarto. Dari nama nama di atas yang paling melegenda adalah Rudi Hartono, 8 kali menjadi juara tunggal dan sampai saat ini belum ada yang menyerupai rekornya. Rudi Hartono memang sangat disiplin, dan tak pernah mengecawakan pelatih, Seperti Almarhum Irsan dan Tahir Djide. Pada suatu kejuaraan All England, Rudy Hartono berhadapan dengan Sture johnson, Juara Eropa asal Swedia, Situasi benar benar kritis, Pada Set pertama Sture Johnson unggul 15 – 4 dan set kedua ia sudah unggul 14 – 0 .

Semua pendengar RRI dan pemirsa TVRI (jadul nih) benar benar terhenyak, satu angka lagi tamatlah Rudy Hartono.

Horeeeeeee, teriak penyiar RRI, Shutelcock berpindah ke tangan Rudy. “Aku Ingin Satu Angka Saja” kata Rudy ketika Memulai Service, ternyata 1 – 14 . “Aku Ingin Satu Angka Lagi” , dan terjadilah 2 – 14 .

Akhirnya 14 – 14 dan Rudy mengakhiri set kedua dengan 17 – 14 . Sture Johnson benar – benar heran, Penonton INDONESIA riuh Rendah. Set ketiga, Rudy lagi – lagi menyatakan , “Aku ingin satu angka lagi….Aku ingin satu angka lagi”. Dan set ketiga berakhir dengan 15 – 0 untuk Rudy Hartono.

Ia pun maju ke final melawan Finalis dari Denmark, Spend Pri Punch Gunalan berkomentar : “Jika Melawan Rudy, Belum tercapai angka 15, Belum Menang” Pernahkah kita berpikir bahwa saat kita memutuskan untuk menyerah, terkadang sebenarnya kita hanya tinggal selangkah lagi menuju kemenangan?..

Langkah besar terbentuk dari sekumpulan langkah2 kecil…So, nikmati proses selangkah demi selangkah & never give up!! karena Tuhan sayang pada orang2 yang tekun & mau berusaha keras.

 

DARI DUNIA BULUTANGKIS ,

KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA.

1.Jakarta,13 Nopember 1962(Mingguan Djaja,no 43-17 nop 1962)

DARI DUNIA BULUTANGKIS ,

KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA.

FRAME DUA

 

Semi-Finale Thomas Cup, Pantjawarna 9 Djuni 1958

Artikel ini bertjeritera tentang Tan Joe Hok, salah saorang pemain badminton jang mendjadi djoeara di All England 1958.

Oentoek bisa membatja dengan satjoekoep djelasnja, silaken klik di djoedoel artikel ini, soepaja bisa ditampilken di monitor jij dengan lebi’ lebar..

FRAME TIGA

.TAN YOE HOK MEMPERKUAT REGU BULU TANGKIT KITA( mingguan Djaja,n0.25.21 Juli 1962)

Berita tentang tibanya Joe Hok di Tanah air ( dengan pesawat PANAM hari senin sore tanggal 16 Juli yl) sudah barang tentu disambut dengan gembira oleh para peminat olah raga kita pada umumnya dan para peminat bulutangkis khususnya. Semenjak pertandingan try out antara pemain-pemain TC melawan Kombinasi Thomas Cup dibulan Juni Yl ,dunia olahraga kita menanti-nantikan kembalinya,terutama setealh Ferry tiba disini pada tanggal 27 juni jl. Ketika belum juga ada berita bila Joe Hok akan tiba, mulailah sementara orang bertanya-tanya , apakah ia akan tiba pada waktu masih ada kesempatan untuk berlatih sehingga taraf permainannya yang biasa pulih menjelang Asian Games nati.

Tibanya Joe Hok di tanah Air,sekaligus melenyapkan rasa gawat yang mencengkam sementara oreang dalam menanti-nantikan kembalinya dan menimbulkan rasa lega; walaupun kekalah-kekalahannya yang paling belakang dalam beberapa tornoi Internasional Joe Hok, sebagaimana beberapa kali telah kami kemukakan , tetap seorang  pemain yang berkaliber besar,yang kedatangannya di tanah Air bersama Ferry berarti perkuatan tidak sedikit bagi regu bulutangkis kita.Keyakinan kami mengenai hal itu diperkuat pula oleh kata-kata Ferry, dalam suatu pertemuan yang kebetulah beberapa hari setelah Ferry tiba di tanah Air,bahwa yoe hok tiada dalam kondisi yang baik( tubuhnya kegemukan) ketika menghadapi lawannya dalam tornoi tsb dan bahwa dengan latihan serius dalam sedikit waktu ia akan memperoleh lagi vormnya yang lama. Kini berat badan Yoe hok kuarng lebih 78 kg ,berat badan ini akan dapat diturunkan setelah siutu masa latihan sehingga dengan demikian kelincahannya yang biasa pasti akan pulih. Kembalinya Joe Zhok di tanah Air tidak saja berarti suatu perkuatan fisik bagi regu kita,melainkan juga “moral boosting”(mempertinggi morfal) tidak sedikit bagi pemain kita,terutama yang muda-muda. Dengan Ferry dan Joe Hok dalam regu kita, yang kini sebagian besar terdiri atas pemain-pemain muda dengan harapan baik,dapatlah kita menantikan Asian games IV dengan penuh kepercayaan.

FRAME TIGA

.FERRY SONNEVILLE TERGELINCIR DIFINAL(mingguan Djaja no 6,3 maret 1962)

Dilapangan bulutangkis kita kurang begitu beruntung diluar negeri pekan yang lampau. Moh.Djundi telah berhasil mencapai babak kedua Invstasi Skotlandia di Glasgow, akan tetapi dijatuhkan pemain Thomas Cup Muangthai ,Narong Boonchina, yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Playing captain regu Thomas Cup kita,Ferry Sonnevile berhasil menyisihkan lawan-lawan nya dan masuk final. Ia berhadapan dengan lasan lama Charoen Wattanasin,bekas pemain Thomas Cup Muangthai . Diluar dugaan Ferry telah jatuh terhadap lawan ini dalam straight set 15-3 dan 15-5.Sebelumnya dalam kejuaran Belanda sebelum bertoilak ke Glasgow Ferry telah mengalahkannyadalam long set 15-7,7-15 dan 15-3. Charoen telah masuk final setelah menyisihkan pemain thomascup Denmark Finn Kobero dengan 15-6 dan 15-4, Dengan demikian pemain muangthaui itu telah keluar sebagai Juara dan Ferry sebagai runner up. Dalam pada itu diberitakan , bahwa Tan Yoe Hok kini berada dalam perjalanan untuk turut serta dalam kejuaraan All England, yang befarti kejuaran dunia tak resmi.JUga Ferry dan Edy Yusuf akan turut serta dalam kejuaraan tersebut yang tahun ini kabarnya mencatat suatu jumlah rekor peserta dari 15 negara.

FRAME EMPAT:

MENGENANG MAESTRO BULUTANGKIS INDONESIA  HADI MULYADI (Fan tek Hong)

Kamis, 9 Juni 2011

   
 

 
 
Mantan pemain Timnas Indonesia Fan Tek Fong Alias Hadi Mulyadi 
 
     
  PSSI berkabung, Fan Tek Fong Terkena Jantung  
  Olahraga – – 31 January 2011 | 14:29  
     
  JAKARTA, Licom:Mantan pemain Timnas Indonesia Fan Tek Fong yang kemudian dikenal dengan nama Hadi Mulyadi (67), meninggal dunia pada Minggu (30/1) malam di Jakarta, karena serangan jantung.Almarhum adalah salah seorang pemain besar pada zamannya, sebagaimana teman-teman seangkatannya yang telah mendahuluinya pergi, seperti Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Yakob Sihasale.”Kita kehilangan salah seorang bintang besar yang banyak berjasa pada persepakbolaan nasional,” kata Sekjen PSSI Nugraha Besoes dikutip dari situs resmi PSSI, Senin.Menurut Nugraha, Hadi Mulyadi adalah pemain besar yang sangat bersahaja, tidak sombong, mudah diajak bicara oleh orang yang usianya jauh di bawah dia sekalipun.Jenazah Fan Tek Fong masih disemayamkan di Ruang C RS Husada itu. Pihak keluarganya memastikan, almarhum akan dikremasi pada Rabu (2/2) sekitar pukul 10.00 WIB.Fan Tek Fong, lahir di Serang, Banten, 19 September 1943, adalah salah satu bintang timnas Indonesia era 1960-an dan 1970-an.Belajar sepak bola secara serius sejak usia 10 tahun di bawah bimbingan pelatih nasional legendaris (alm) Endang Witarsa, Tek Fong memulai karir fenomenalnya di klub UMS Petak Sinkian, sebelum kemudian bergabung dengan Persija Jakarta.Ia kemudian sempat bermain untuk Pardedex, Medan, walau kemudian kembali ke Jakarta memperkuat klub Warna Agung.Pada tahun 1960, Tek Fong diterima masuk Union Makes Strength (UMS) setelah Dokter Endang melihat ada kelebihan di kakinya. Hampir bersamaan dengannya, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto.Saat dokter Endang Witarsa dipercaya sebagai pelatih tim nasional, ia juga meminta Tek Fong untuk bergabung. Pretasinya di tim nasional semakin cemerlang.Tek Fong bersama dengan Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, Yacob Sihasale, Risdianto, Surya Lesmana, Reni Salaki, Yuswardi, serta Anwar Udjang berhasil membawa berbagai gelar juara ke Indonesia.Tek Fong memang tak tergeserkan selama delapan tahun di tim nasional.Ia tidak hanya membawa Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan pada tahun 1963 tetapi juga ikut mempersembahkan empat gelar juara bagi tim nasional Indonesia, yaitu; King`s Cup 1968, Merdeka Games 1969, Anniversary Cup 1972, dan Pesta Sukan 1972.(Ant/Red)

Daftar pemain bulu tangkis tingkat dunia

 

Pemain yang sudah pensiun

Pemain yang masih bermain

 
 

Ferry Sonneville

encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed
 
 
Ferry Sonneville
Personal information
Birth name Ferdinand Alexander Sonneville
Date of birth January 3, 1931(1931-01-03)
Place of birth Jakarta, DKI Jakarta
Date of death November 20, 2003(2003-11-20) (aged 72)
Place of death Jakarta, DKI Jakarta
Country  Indonesia
Handedness Right
Men’s singles

Ferry Sonneville (3 January 1931 – 20 November 2003) was an Indonesian badminton player noted for his touch, consistency, tactical astuteness, and coolness under pressure. He won numerous international singles titles from the mid 1950s through the early 1960s and his clutch performances helped Indonesia to win its first three Thomas Cup (men’s world team) titles consecutively in 1958, 1961, and 1964, setting the pattern for his country’s continued formidable presence in world badminton. Unfortunately, Sonneville’s playing career ended on a sour note in the 1967 Thomas Cup final in Jakarta when, past his prime, he was roundly booed by his countrymen after dropping singles matches in Indonesia’s controversial loss to Malaysia.[1]

After his high-level playing days ended Sonneville was elected to terms as both president of the International Badminton Federation (now World Badminton Federation) and president of the Badminton Association of Indonesia (PBSI).

Contents

Private life

His wife’s name was Yvonne Theresia de Wit (they married September 1954) and had 3 children, called Ferdinand Rudy Jr. (died in age 21 years old), Genia Theresia Sonneville, and Cynthia Guedolyn Sonneville. Sonneville also had two grandchild. Sonneville’s parents name were Dirk Jan Sonneville (father) and Leonij Elisabeth Hubeek (mother). His religion was Catholic.

Education

Erasmus University, Netherlands

Sports career

  • Jiujitsu Athlete and coach (1949–1955)
  • Playing captain or coach when Indonesia won or successfully defended Thomas Cup (world team badminton championships) 3 times in succession (1958, 1961, and 1964).
  • Winning Malaysia Open (1955), Dutch Open (1956, 1958, 1960, 1961, 1962), Scotland’s World Invitational Tourney (1957), French Open (1957, 1960), German Open (1958, 1960, 1961), Canadian Open (1962), U.S. Open (1962), along with runner-up finish at All England (1959)
  • PB PBSI’s founder (1951) and KONI‘s founder (1966)
  • KONI’s President (1970)
  • Member of staff Asian Games Federation Council (1970)
  • Chef de Mission Indonesian contingen to Olympic (1971)
  • International Federation Badminton/IBF President (1971–1974)
  • PBSI‘s President (1981–1985)

 Business career

  • Vayatour Chairman Executive Board Lippo Cikarang inc.
  • Ferry Sonneville & Co inc. owner
  • Chairman of Realestat Indonesia Center Council (REI) 1986-1989 periods
  • President and Member of Executive Committee Realestat Internasional Federation (FIABCI) since 1989.
  • Advisory Council IESC Chairman (International Executive Service Corp)

 Educational career

  • Pioneer of Trisakti Foundation represent Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB)
  • Founder of Himpunan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (HIPPERTIS)
  • Founder of Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik Indoneisa (APTIK)
  • Special Citizen and member of Atma Jaya Foundation
  • Member of Fatmawati Foundation
  • Member of Bhakti Medika Foundation
  • Member of Penyandang Anak Cacat Foundation (YPAC)
  • Member of Gedung Arsip Nasional Foundation
  • Indonesian Nederland Forum (FINED), etc.

Honours

  • Satya Lencana Kebudayaan (1961)
  • Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964)
  • ”Knighthood” from Catholic Rome Church (1972)
  • FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

References

  1. ^ Pat Davis, The Guinness Book of Badminton (Enfield, Middlesex, England: Guinness Superlatives Ltd., 1983) 123.

 

 

the end @ Copyright Dr Iwan suwandy 2011

Advertisements

2 responses to “The Indonesian Badminton Historic Collections(Koleksi maestro Bulutangkis Indonesia)

  1. Terima Kasih atas informasinya

    Jual dan Jasa Cetak Kartu Mahasiswa
    Tidak Luntur, Patah ataupun Terkelupas
    Hubungi 031 805 2559

    http://goo.gl/fF8Q7R

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s