Bedah Buku Tan Malaka “dari Pendjara Ke Pendjara” dan sejarah terkait.

Buku Tan malaka “dari Pendjara Ke Pendjara”

dan sejarah terkait

269,006 views all-time

Bedah Buku

Karya Tan Malaka

 

Dari Pendjara ke Pendjara (1970)

Oleh

Dr Iwan suwandy,MHA

 

 

Pengantar

Saya baru saja menemukan buku tentang Tan Malaka yang berjudul Dari Penjara Ke Penjara ,buku ini juga telah diterjemahkan kedalam bahasa jepang,

Untuk mengenal lebih lanjut tentang sejarah buku ini dan juga tentang Tan Malaka silahkan membaca hasil penelitian oleh dr Iwan di Bawah Ini

Jakarta Juli 2012

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

 

 

Ringkasan

Image of the title page of: Tan Malaka (1947). Dari Pendjara ke Pendjara. vol 1, 3rd ed. Djakarta: Widjaya.

This is Tan Malaka’s autobiography, which was published in three volumes.

May 31, 2011 at 7:39 am

sejauh ini, saya tidak pernah mendengan tentang “memoar dari penjara ke penjara”. Sebab, buku “dari penjara ke penjara” itu sendiri pada dasarnya memoar dari Tan Malaka (karena dia berupa catatan harian yang ditulis oleh Tan Malaka selama masa pergerakannya 

 

 
 

 

 
 

Introduction

 

Selain Madilog, Tan Malaka  menulis beberapa buku, seperti

 Dari Pendjara ke Pendjara

Tan Malaka adalah orang yang dikagumi karena kecerdasannya. Ia menggagas pemikiran Madilog (Matrealisme Dialektika dan Logika). Selain Madilog, ia menulis beberapa buku, seperti Dari Pendjara ke Pendjara dan Gerpolek. Bahkan, ia adalah orang pertama yang mendeklarasikan Partai Republik Indoneisa di Bangkok. Selama masa hidupnya, Tan Malaka banyak sekali diasingkan dari negeri Indonesia.
Saat pengasingan, Tan Malaka hijrah ke Moskow, Berlin, dan Belanda.

 Meskipun berada di luar Indonesia, Tan Malaka tidak penah berhenti mempejuangkan kemerdekaan.

Ia menulis banyak artikel dan melakukan berbagai propaganda politik melalui media luar negeri. 

Tan Malaka meninggal pada 1949. Harry A Poeze, sejarawan asal Belanda, menyebutkan bahwa ia mati ditembak TNI di lereng Gunung Wilis, Kediri.

Dari Penjara Ke Penjara Bagian Satu

by Tan Malaka

Buku sejarah hidup Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia yang ditulis secara pribadi ketika beliau berada dalam Penjara di tanah airnya sendiri. Buku ini terdiri dari Tiga jilid, dimana jilid pertama ditulis oleh beliau ketika berada di Penjara Magelang. Hampir sebagian hidup Tan Malaka dihabiskannya di dalam penjara, akibat aktifitas politiknya yang anti kolonialisme.

Namun pada kenyataannya, Tan Malaka tidak hanya dipenjarakan oleh Pemerintah kolonial, tp juga oleh pemerintahan bangsanya sendiri yang berbeda posisi politik dengan Tan Malaka.

Jilid pertama ini mengisahkan kehidupan beliau disekitar masa pemenjaraan oleh pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Filipina

 

 

 

Dari Pendjara ke Pendjara

Ditulis tahun 1946-1947 di penjara Ponorogo. Berisi tentang riwayat hidup (otobiografi). Ia menguraikan perjalanannya dari suatu negara ke negara lain untuk menghindar dari kejaran agen-agen kolonial. Ia juga memaparkan pandangan tentang kepercayaan, filsafat dan tentang negara. Dari buku inilah kebanyakan para pemerhati mendapat gambaran kehidupan Tan Malaka yang revolusioner.

 

 

Selama dalam tahanan Ariel mengaku banyak mengisi masa dengan membaca buku2 falsafah, dan sesekali menulis. Salah satu buku yang dibaca adalah karya Tan Melaka, tokoh nasional yang pernah menulis buku Dari Pendjara Ke Pendjara.

Ariel menolak komen saat ditanya soal kekasihnya Luna Maya yang mula kembali aktif berlakon drama, begitu juga saat ditanya kemungkinan dirinya mencipta lagu atau duet dengan Luna.

Ariel mengaku bosan di penjara, kerana itu dirinya banyak mengisi kegiatan dengan membaca dan menulis, harus ada yang dikerjakan.

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Tan Malaka dalam fiksi

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.

Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).

Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.

Beberapa judul kisah Patjar Merah:
Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)
Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)
Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)
Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Buku
Dari Pendjara ke Pendjara
Menuju Republik Indonesia
Dari Pendjara ke Pendjara, autobiografi
Madilog
Gerpolek

(Sumber: http://id.wikipedia.org)

 

 

 

Biography

Tan Malaka

 

 

Tan Malaka

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun)[1] adalah Bapak Republik Indonesia,[2] seorang aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan,

 

Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional melalui Ketetapan Presiden RI No. 53 tanggal 23 Maret 1963.[3]

Tan Malaka juga seorang pendiri partai PARI dan Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh sekelompok orang tak dikenal di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.[4] [sunting] Riwayat

         Tahun 1897, Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat. Dia lahir di tengah-tengah lingkungan Minangkabau, dari pasangan Rasad Caniago dan Sinah Simabur.

         Saat berumur 16 tahun, 1913, setelah tamat Kweekschool Bukit Tinggi, atas bantuan gurunya dengan pinjaman biaya dari Engkufonds, meneruskan pelajarannya ke

 

 

 

Karena cerdas, saat berumur 16 tahun, ia dikirim ke Negeri Belanda

         Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda.

Tahun 1919

         ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

Tahun 1921,

          ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik

         Saat kongres PKI 2425 Desember 1921, Tan Malaka di undang dalam acara tersebut.

         Januari 1922

         ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.

         Pada Maret 1922

         Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

         Mewakili Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV, kemudian diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia dan berkedudukan di Kanton.

         Tahun 1924,

         diangkat sebagai Ketua Biro Buruh Lalu Lintas dalam sebuah Konferensi Pan-Pasifik yang diselenggarakan oleh utusan-utusan Komintern dan Provintern.

         Tahun 1924, menerbitkan buku “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) yang berisi konsep tentang negara Indonesia yang tengah diperjuangkan. Lebih dulu dari pleidoi Mohammad Hatta didepan pengadilan Belanda di Den Haag yang berjudul “Indonesia Vrije” (Indonesia Merdeka) (1928) atau tulisan Soekarno yang berjudul “Menuju Indonesia Merdeka” (1933)

         Tahun 1925,

          masuk Filipina dengan nama Elias Fuentes dan berhasil menghubungi salah seorang sahabat Semaun di sana, selanjutnya mendorong didirikannya Partai Komunis Filipina.

         Tahun 1926,

          masuk Singapura dengan nama Hasan Gozali, bertemu dengan Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim yang berhasil meloloskan diri dari Indonesia.

         Tahun 1927,

         bersama Subakat, Sugono, dan Djamaluddin Tamim mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia).

         Tahun 1932,

          berhasil masuk Hongkong dengan nama Ong Soong Lee, kemudian tertangkap oleh Polisi Rahasia Inggris. Setelah lebih kurang 2 ½ bulan ditahan dalam penjara Hongkong, Tan Malaka mendapat keputusan dikeluarkan ke Shanghai.

         Tahun 1936,

         mendirikan dan mengajar pada School for Foreign Languages di Amoy, Cina.

         Tahun 1937,

          Tan Malaka masuk Burma kemudian ke Singapura, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Tinggi Singapura.

         Tahun 1942,

         Tan Malaka masuk Penang menuju Medan, Padang, dan akhirnya tiba di Jakarta.

         Tahun 1943

         , menulis buku dan menyusun kekuatan bawah tanah (ilegal), dengan menjadi buruh (romusha) pada tambang batu bara di Bayah (Banten) dengan nama Husein.

         Tahun 1945,

         mendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah pada masa pendudukan Jepang (Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Maruto, dan lain-lain) untuk mencetuskan revolusi yang kemudian terjadi dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

         Tahun 1946,

          menjadi promotor Persatuan Perjuangan yang mengikatkan persatuan antara sejumlah 141 organisasi terdiri dari pimpinan partai, serikat-serikat buruh, pemuda, wanita, tentara, dan laskar.

         Tahun 1947,

          menentang politik Perundingan Linggarjati.

         Tahun 1948,

         menentang politik Perundingan Renville. Mendirikan Partai Murba dan Gerilya Pembela Proklamasi.

         21 Februari 1949,

          Tan Malaka mati terbunuh di Kediri, Jawa Timur.[1]

Perjuangan

Pada tahun 1921

 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

 

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, SardjonoAliminMusso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Madilog

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Pahlawan

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Tan Malaka dalam fiksi

 

 

Sampul Majalah Tempo dengan Tan Malaka

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan.

Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.

Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).

Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.

Beberapa judul kisah Patjar Merah:

         Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)

         Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)

         Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)

         Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)

         Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Fakta-fakta Tan Malaka [5]

         Perjalanan Tan Malaka sepanjang 89.000 km, setara 2 kali keliling bumi. Dia mengunjungi dua benua dan sekurang-kurangnya ke 11 Negara.

         Bahasa Yang Dikuasai : Minang, Indonesia, Belanda, Rusia, Jerman, Inggris, Mandarin, Tagalog.

         Nama Samaran : Elias Fuentes, Estahislau Rivera, Alisio Rivera (Filipina); Hasan Gozali (Singapura), Ossorio (Shanghai), Ong Song Lee (13 varian, Hongkong), Tan Ming Sion (Burma), Legas Hussein, Ramli Hussein, Ilyas Hussein (Indonesia), Cheung Kun Tat, Howard Lee (Cina).

         Teman Dekat Wanita : Syarifah Nawawi (Bukittinggi), Fenny Struyvenberg (Belanda), Nona Carmen (Filipina), Paramita Rahayu A. (Jakarta) dan A.P. Toa Chi (Cina)

         Penjara : Filipina (1937), Hongkong (1932), 11 Penjara di Jawa (1922, 1946-1948)

        

 

Tan Malaka

(lengkapnya Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka) lahir di Suluki, Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat dengan nama Ibrahim. Menurut Harry A. Peoze, tahun kelahiran Tan Malaka secara tepat tidak diketahui. Pada waktu itu belum ada register (daftar) penduduk bagi orang Indonesia.

Peoze menemukan data tahun kelahiran Tan Malaka yang berbeda: 1893, 1894, 1895, 2 Juni 1896, 2 Juni 1897, dan 1897. Ia sendiri mengatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 1994, tanggal 14 Oktober 1894, dan pada tahun 1896. Poeze cenderung untuk menganggap tahun 1897 sebagai tahun kelahiran Tan Malaka yang paling tepat; melihat fakta bahwa pada tahun 1903 ia mengikuti pendidikan di sekolah rendah. Maka, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ketika itu ia berusia kurang lebih 6 tahun.

Tan Malaka menyatakan bahwa keluarganya beragama Islam dan beradat asli Minangkabau. Ia lahir dalam kultur yang peduli terhadap pendidikan dan memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Keluarganya adalah tergolong taat kepada agama Islam

Tan Malaka memiliki beberapa nama dalam perjalanan hidupnya baik di dalam maupun luar negeri dengan alasan, karena nama Tan Malaka sudah dikenal di seluruh Sumatera dan pemerintah Belanda, nama tersebut tidak dapat mengadakan perjalanan dan juga untuk menyembunyikan identitas.

Ketika memasuki Manila dan Hongkong (1927) Tan Malaka merubah namanya menjadi Elias Fuente. Bernama Oong Soong Lee ketika memasuki Hongkong dari Sanghai (1932), Ramli Husein saat kembali ke Indonesia dari Singapura melalui Penang terus ke Medan, Padang dan Jakarta (1942). Ketika berada di Bayah (Banten), Jawa Barat sebagai pekerja yang membantu romusha di masa revolusi, ia menggunakan nama Ilyas Husein. Namanya yang lain Cheng Kun, Tat, Elisoe, dan Howard Law.Extille adakalanya ditambah dengan Kiang Mai. Ketika menulis karangan untuk pers Komunis, harian Njali yang terbit di Batavia sejak bulan September 1925 sampai Mei 1926. Ia menggunakan, Haji Hasan dalam beberapa surat-surat yang ditulis buat kawan-kawannya, dan nama Nadir. Tan Malaka menyamar sebagai Tan Ho Seng, ketika belajar dan bekerja sebagai guru bahasa di Nanyang Chinese Normal School, Singapura.

Adapun riwayat hidup Tan Malaka secara urutan waktu, sebagai berikut:

1897 Tan Malaka lahir, bermain dan sekolah di Kweekschool.

1913 Setelah tamat Kweekschool Bukit Tinggi, atas bantuan gurunya dengan pinjaman biaya dari Engkufonds, meneruskan pelajarannya ke Rijks Kkweekschool di Haarlem, Nederland. Selain menuntut ilmu di sekolah, beliau sudah aktif mempelajari keadaan masyarakat Eropa sejak meletus dan selesainya Perang Dunia ke-1 (1914-1918) serta pecah dan selesainya Revolusi Sosial di Rusia (Oktober 1917) yang bersambung dengan mulai berdiri dan mengumandangnya suara Internasionale III.

1918 Atas permintaan Ki Hadjar Dewantara yang mendatangi Tan Malaka bersama Dr. Gunawan di Nederland, mewakili Indische Vereeniging, dalam Kongres Pemuda Indonesia dan Pelajar Indologie di Deventer, memberikan prae-advies tentang pergerakan Nasional.

1919 Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru sekolah untuk anak-anak kaum buruh perkebunan Senembah, di Sumatera Timur.

1921 Terjun dalam lapangan pendidikan rakyat yang didirikan oleh Serikat Islam Semarang, dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) yang dipimpin oleh Semaun di Semarang.

Tan Malaka menjadi penganjur utama tentang pentingnya persatuan antara kaum Komunis dan Islam dalam menentang kolonialisme/imperialisme. Hal ini dikemukakan dalam sebuah rapat SI di Semarang bersama dengan Semaun.

Tan Malaka menjadi Wakil Ketua Serikat Buruh Pelikan (Tambang) Cepu yang didirikan oleh Semaun.

– Dalam Kongres PKI dipilih menjadi ketua, mewakili Semaun yang sedang berada di luar negeri (Moskow), di dalam Kongres beliau berpidato tentang pentingnya Persatuan Islam-Komunis dan memperingatkan bahayanya politik ‘pecah & adu’ (devide et impera) yang di kala itu sedang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk melumpuhkan gerakan-gerakan rakyat Indonesia. Ide Tan Malaka tersebut mendapat dukungan penuh dari seorang tokoh SI, Kyai Tubagus Hadikusumo.

1922 Tan Malaka mewakili Vaksentral-Revolusioner pemimpin pemogokan kaum buruh penggadaian (PPPB) di Jogjakarta dan mengatur solidaritas serta aksi yang dilancarkan oleh serikat buruh anggota Vaksentral-Revolusioner (VSTP., Pelabuhan, Pelikan, Gula, dan lainnya).

– Tanggal 2 Maret ia ditangkap dan dibuang ke Kupang (Timur), kemudian dalam bulan itu juga mendapat externing ke Eropa (Nederland). Tan Malaka ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial ke luar negeri. Dari Belanda, ia pergi ke Moskow (Uni Sovyet) melalui Polandia. Ia dikejar-kejar intel dan spionase kolonial Belanda, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Perancis, rezim nasionalis Kumintang. Di mata mereka, Tan Malaka adalah buronan politik “kaliber kakap.”

– Berbicara dalam Perayaan 1 Mei yang diselenggarkan oleh kaum buruh dan Partai Komunis Holland (CPH), kemudian dipilih sebagai calon dalam pemilihan umum parlemen.

– Menuju Jerman dan terjun langsung di tengah-tengah rakyat Jerman yang masih dalam keadaan penderitaan hidup karena harus menanggung seluruh hutang perang Serikat yang dibebankan kepada rakyat Jerman sebagai negeri kalah perang (Perang Dunia ke-1, tahun 1914-1918).

– Mewakili Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV, kemudian diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia dan berkedudukan di Canton, di mana daerahnya meliputi Seksi-seksi Partai Komunis yang sudah ada atau akan didirikan di daerah ‘Selatan’ yang oleh Tan Malaka disebut ASLIA ialah: Burma, Siam, Annam, Filipina, Malaya dan Indonesia.

– Berhasil bertemu dengan Dr. Sun Yat Sen, Presiden Republik Tiongkok pertama yang daerahnya waktu itu baru meliputi Tiongkok Selatan berpusat di Yenan.

1924 Diangkat sebagai Ketua Biro Buruh Lalu Lintas dalam sebuah Konferensi Pan-Fasifik yang diselenggarakan oleh utusan-utusan Komintern dan Provintern (Serikat Sekerja Internasional Merah) yang dikunjungi oleh utusan-utusan dari Tiongkok Utara & Selatan, Indonesia dan Filipina.

– Memimpin Majalah berbahasa Inggris The Dawn (Fajar) sebagai suara dari Biro tersebut.

1925 Masuk Filipina dengan nama Elias Fuentes dan berhasil menghubungi salah seorang sahabat Semaun di sana, selanjutnya mendorong didirikannya Partai Komunis Filipina.

1926 Masuk Singapura dengan nama Hasan Gozali, bertemu dengan Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim yang berhasil meloloskan diri dari Indonesia.

1927 Bersama Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia) untuk meluncurkan kembali langkah-langkah menyusun kekuatan Partai Komunis di Indonesia yang lumpuh akibat pemberontakan Madiun pada akhir tahun 1926.

– Masuk lagi ke Filipina tetapi tertangkap oleh Dinas Rahasia Amerika, di mana dalam perkara tersebut Tan Malaka dibela oleh parlemen dan presiden pertama Republik Filipina, Manuel Quezon. hakim Filipina atas permintaan pemerintah Amerika memutuskan mengeluarkan Tan Malaka dari Filipina ke Amoy.

1932 Berhasil masuk Hongkong dengan nama Ong Soong Lee, kemudian tertangkap oleh Polisi Rahasia Inggris. Setelah lebih kurang 2 ½ bulan ditahan dalam penjara Hongkong, Tan Malaka mendapat keputusan dikeluarkan ke Syanghai.

1936 Mendirikan dan mengajar pada School for Foreign Languages di Amoy, Cina.

1937 Ketika Jepang mulai mengarahkan serangannya menuju Amoy, Tan Malaka masuk Burma kemudian ke Singapura, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Tinggi Singapura.

1942 Setelah mengalami pertempuran-pertempuran di sekitar Benteng Seletar antara tentara Jepang dan Inggris di Singapura, Tan Malaka masuk Penang menuju Medan, Padang dan akhirnya tiba di Jakarta.

1943 Menulis buku dan menyusun kekuatan di bawah tanah (ilegal) dengan merupakan dirinya sebagai buruh (roomusha) pada tambang batu bara di Bayah (Banten) dengan nama Husein, mengikuti jalannya tempo untuk dicetuskannya kelahiran Republik Indonesia Merdeka melalui revolusi.

1945 Pendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah di waktu pendudukan Jepang (Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Maruto, dan lain-lain) untuk mencetuskan revolusi yang kemudian terjadi dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

1946 Promotor Persatuan Perjuangan yang mengikatkan persatuan antara sejumlah 141 organisasi terdiri dari pimpinan partai, serikat-serikat buruh, pemuda, wanita, tentara, laskar dan lain-lain, di atas dasar program revolusi yang dikenal dengan nama 7 Pasal Minimum Program, menolak politik kompromi dengan imperialis Belanda yang dimulai dengan politik 1 November dan 3 November 1945.

1947 Menentang politik kompromi Linggarjati tahun 1947.

1948 Menentang politik kompromi Renville tahun 1948.

– Pendiri Partai Murba yang melanjutkan Program Persatuan Perjuangan.

– Pendiri Gerilya Pembela Proklamasi (GPP) yang berpusat di Jawa Timur.

1949 Tangggal 19 Februari hilang karena diciderai (ditembak mati dan jenazahnya dilempar ke sungai Brantas) di Kediri, Jawa Timur, di saat beliau sedang memimpin revolusi melawan agresi Belanda, di saat itu pula para pemimpin pemerintahan pusat di Jogja sudah banyak yang ditangkap dan ditawan Belanda.Tan Malaka mati terbunuh di hadapan senapan sekelompok tentara republik sendiri atas perintah gubernur militer Jawa Timur.

Karya-karya Tan Malaka

Tan Malaka termasuk penulis yang cukup produktif dalam menuangkan alam pikirannya. Berikut ini adalah karya-karyanya:

  1. Materialisme-Dialektika-Logika (Madilog)

Tebal kitab ini, 462 halaman, yang ditulis di Rajawati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta dengan waktu yang dipakai lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam. Jadi, menurut Tan Malaka, kira-kira 3 jam sehari. Dalam seminggu empat hari ia pergunakan untuk menulis, yaitu dari pukul 6 sampai pukul 12. Setelah itu berjalan-jalan di desa. Tiga kali seminggu ke perpustakaan di Gambir dengan berjalan kaki yang memakan waktu 4 jam.

Kitab ini ditulisnya dengan tulisan tangan dengan hurup kecil supaya aman dari mata polisi dan tongkat kempetai Jepang. Tidak ada catatan bahan referensi, karena buku-bukunya telantar cerai berai dan lapuk atau hilang di berbagai tempat atau negara, – walaupun demikian menjelang habis Madilog ditulis, ia berjumpa dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Spanyol- sehingga ia mengandalkan ingatan Tan Malaka; jembatan keledai (ezelbruggetje).

Maksud penulisan Madilog menurut Tan Malaka, adalah pertama sebagai cara berpikir. Bukanlah suatu Weltanschauung atau pandangan dunia; walaupun, menurutnya, hubungan antara cara berpikir dan pandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah. Rapat sekali. Dari cara orang berpikir, dapat diduga filsafatnya dan dari filsafatnya dapat diketahui dengan cara dan metode apa sehingga sampai ke filsafat itu.

Kedua, Madilog juga diharapkannya sebagai bacaan penghubung kepada filsafat proletar Barat. Karena, menurutnya, otak proletar Indonesia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Barat yang berbeda sekali dengan masyarakat Indonesia dalam iklim, sejarah, keadaan jiwa dan cita-citanya.

Ketiga, untuk mengupas dan mengobati penyakit penjajahan, keterbelakangan dan kolonialisme, Tan Malaka menyajikan landasan pandangan yang beralaskan pada materialisme, dialektika dan logika. yang dituangkannya dalam sebuah buku Madilog. Dari sinilah kemudian, Tan Malaka memandang realitas lokal, nasional dan internasional dalam aneka lini kehidupan, termasuk di dalamnya keberadaan agama yang ia masukkan ke dalam kelompok kepercayaan.

Karya terbesar dari Tan Malaka ini diniatkannya sebagai upaya untuk merombak sistem berpikir bangsa Indonesia, dari pola berpikir yang penuh dengan mistik kepada satu cara berpikir yang rasional. Tanpa perombakan cara berpikir, sulit rasanya bangsa Indonesia untuk maju dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka dan sosialistik. MADILOG sebagai konsep berpikir yang memadukan ketiga unsurnya, yaitu MAterialisme, DIalektika dan LOGika, merupakan kesatuan dan tidak boleh dipecah-pecah.

  1. Dari Pendjara ke Pendjara

Ditulis tahun 1946-1947 di penjara Ponorogo. Berisi tentang riwayat hidup (otobiografi). Ia menguraikan perjalanannya dari suatu negara ke negara lain untuk menghindar dari kejaran agen-agen kolonial. Ia juga memaparkan pandangan tentang kepercayaan, filsafat dan tentang negara. Dari buku inilah kebanyakan para pemerhati mendapat gambaran kehidupan Tan Malaka yang revolusioner.

  1. Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi)

Ditulis di penjara Madiun 1948. Berisi tentang ajarannya dalam melakukan gerilya politik maupun ekonomi. Uraian tentang cara bergerilya dalam politik dengan strategi militer, maupun dengan penguatan ekonomi dengan merebut seluruh kekayaan asing. Keduanya menjadi satu dan saling menguatkan.

4. Sovyet atau Parlemen

Ditulis tahun 1921 di Semarang. Berisi tentang uraian sistem pemerintahan yang dikenal saat itu seperti sistem parlemen di Inggris mulai abad ke-12, juga di Perancis, Jerman dan lain-lain. Intinya menurut Tan Malaka, parlemen dengan sistem perwakilan yang dikenalnya hanya akan menjadi perkakas dari yang memerintah. Bersamaan dengan mulai menguatnya kapitalisme dengan ujung imperialisme, parlemen pada akhirnya hanyalah alat dari kapitalisme. Kemudian dengan tegas Tan Malaka membedakan parlemen dengan sovyet (Dewan Rakyat) yang menurutnya parlemen adalah alat untuk mengekalkan perburuhan dan kapitalisme, sedangkan sovyet (Dewan Rakyat) adalah alat sementara guna menghilangkan pengaruh kapitalisme (modal) untuk mendatangkan sosialisme.

  1. Toendoek Kepada Kekoesaan, Tetapi Tidak Toendoek Kepada Kebenaran

Ditulis di Berlin tahun 1922. Berisi tentang pembelaannya ketika ditangkap di Bandung tanggal 13 Februari 1922 dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum, membuat keonaran dan yang terberat adalah adalah usaha menggerakkan rakyat untuk mengadakan pemberontakan guna mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia. Ia menyatakan bahwa tuduhan itu tidak benar dan penguasa kolonial hanya berusaha untuk mematikan aktivitas pergerakan nasional saat itu.

  1. Goetji Wasiat Kaoem Militer

Ditulis tahun 1924 di Saigon. Diterbitkan dengan nama Sumendap dan Daniel, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka.

  1. Indonesiai ejo mesto na proboezjdajoesjtsjemsja vostoke

Diterbitkan di Moskow tahun 1924. Pada brosur ini tertulis Sukindat, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka. Poeze mengatakan, brosur ini berisi tentang thesis bagi keadaan sosial dan ekonomi serta tuntutan untuk berorganisasi yang mengembangkan strategi dan taktik untuk diterapkan di Indonesia.

  1. Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)

Diterbitkan di Canton, April 1925. Berisi tentang uraiannya akan kondisi dunia, pertentangan dua sistem antara kapitalisme dan komunisme yang diyakininya akan dimenangkan oleh komunisme. Dilanjutkan dengan dengan situasi di Indonesia di mana penjajah Belanda melakukan penjajahan dengan biadab, namun Tan Malaka yakin suatu saat penjajah akan kalah apabila semua organisasi perjuangan yang ada terutama PKI, dapat menyusun tujuan revolusionernya.

  1. Massa Actie

Ditulis di Singapura tahun 1926. Secara umum brosur ini berisi tuntutan bagaimana melakukan sebuah revolusi di Indonesia. Sebuah revolusi terutama di Jawa dan Sumatera adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Baginya tidak ada sikap yang netral, yang ada adalah berpihak pada penjajah Belanda atau rakyat terjajah Indonesia. Dari sini kemudian baru Tan Malaka beralih pada bagaimana menjalankan revolusi yang benar, dan massa aksi bukan putch, tidak bisa dicapai oleh pemberontakan atau kudeta secara anarkis.

  1. Manifesto PARI (Manifesto Bangkok)

Ditulis di Bangkok 1927. Berisi uraian tentang perlunya membentuk partai baru dan menamakannya PARI (Paratai Republik Indonesia) yang dibentuk semata-mata untuk kepentingan Indonesia serta akan memberikan yang terbaik untuk itu. Manifesto ini mengoreksi kesalahan PKI, yaitu pemberontakan 1926/1927 yang menyebabkan hancurnya partai dan mereka tidak bermaksud memunculkan partai ini lagi, karena beranggapan tidak mungkin jika mendirikan partai-partai yang telah melakukan cukup kesalahan. Kemudian manifesto juga menyatakan pemutusan dengan Internasionale (Comintren) yang menurutnya tidak akan baik di Indonesia. Dengan mengambil contoh dari Jerman, Italia, Bulgaria dan China dinyatakannya kepemimpinan Moscow gagal untuk negeri lain. Seluruh Internasionale Ketiga (Comintern) dibangun demi kepentingan Rusia dan terutama pemimpin-pemimpin komunis dari Timur cenderung akan terjebak kepada ketaatan buta dan kehilangan kemandirian mereka, akibatnya mereka akan kehilangan hubungan dengan rakyat mereka sendiri yang tentunya berlainan dengan suasana kejiwaan rakyat Rusia.

  1. Lokal dan Nasional Aksi di Indonesia

Diterbitkan di Singapura 1926. Menurut Poeze, brosur ini diterbitkan dalam bagian yang terpisah, secara rahasia disebabkan dengan cara menyalinnya dengan mesin ketik. Bagian pertama dikenal juga dengan judul “Soerat Rahasia boeat lokal aksi di Minangkabau”, 20 September 1926.

  1. SI Semarang dan Onderwijs

Ditulis di Semarang tahun 1921 pada saat Tan Malaka berusaha merumuskan tujuan pendidikan dari sekolah Serikat Islam yang mulai dibangunnya (dikenal juga dengan sekolah Tan Malaka). Berisi pokok-pokok pikiran yang akan dikembangkan/diajarkan dalam sekolahnya.

  1. Asia Bergabung (Gabungan Aslia)

Ditulis tahun 1943. Menurut Poeze hanya selesai separuh.

  1. Semangat Moeda

Ditulis di Manila tahun 1926, namun oleh Tan Malaka dikatakan di Tokyo sebagai tempat penerbitannya.

15. Politik

Ditulis di Surabaya pada tanggal 24 November 1945. Berisi tentang percakapan antara Godam (simbolisasi kaum buruh), Pacul (petani), Toke (pedagang), Den Mas (ningrat) dan Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Menguraikan tentang bagaimana caranya merdeka, maksud dan tujuan kemerdekaan, serta bagaimana mengisi kemerdekaan itu dan yang tak kalah penting adalah Indonesia Merdeka harus berdasarkan sosialisme.

16. Rentjana Ekonomi

Ditulis di Surabaya pada tanggal 28 November 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang rencana pembangunan ekonomi, yang menurutnya ekonomi sosialislah yang dapat membawa kemakmuran bagi Indonesia kelak.

  1. Moeslihat

Ditulis di Surabaya pada tanggal 2 Desember 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang strategi dan taktik dalam perjuangan untuk membawa Indonesia ke arah kemerdekaan.

  1. Manifesto PARI (Manifesto Jakarta)

Ditulis di Jakarta tahun 1945. Menguraikan tentang pertentangan sistem yang ada di dunia, antara kapitalisme dengan komunisme yang menurutnya akan dimenangkan oleh komunisme serta penolakan atas percobaan pendirian Republik Indonesia yang kapitalis dan membatalkan semua upaya dari luar untuk menjajah kembali Indonesia dengan cara apa pun.

  1. Thesis

Ditulis tahun 1946 di Lawu. Berisi tentang ajarannya mengenai pembentukan negara sosialistis. Uraian tentang perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia seratus persen. Juga pembelaannya terhadap tuduhan Trotsky yang selalu dituduhkan kepadanya, berkenaan dengan pemberontakan PKI 1926 yang gagal dan oleh pihak PKI kegagalan itu selalu dialamatkan kepada Tan Malaka sebagai orang yang menyabotnya.

  1. Koehandel Di Kaliurang (Perdagangan Sapi di Kaliurang)

Ditulis tanggal 16 April 1948 dengan nama samaran Dasuki. Berisi tentang penolakan terhadap perjuangan diplomasi yang tidak berprinsip, yang dilakukan oleh pemerintah saat itu. Perjuangan lewat diplomasi hanya akan merugikan Indonesia dan menjual Indonesia kepada kaum kapital asing, oleh karena itu perundingan harus dibatalkan atau dihandel dan mempersiapkan kaum MURBA untuk berjuang.

  1. Surat Kepada Partai Rakyat

Ditulis 31 Juli 1948 di penjara Magelang sebagai sambutan tertulis dalam pembentukan Kongres Partai Rakyat tanggal 10-11-12 Agustus 1948. berisi tentang bagaimana mengorganisasikan Partai Rakyat agar menjadi partai yang memperhatikan dan memperjuangkan rakyat MURBA.

  1. Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Pidato tertulis pada Kongres Rakyat Indonesia Desember 1948. Berisi tentang penolakan perundingan yang dilakukan Indonesia saat itu dan persiapan perang kemerdekaan dalam menghadapi agresi militer Belanda.

  1. Uraian Mendadak

Merupakan salinan tertulis dari pidato yang diucapkan di depan Kongres peleburan tiga partai (Partai Rakyat, Partai Buruh, dan Partai Rakyat Jelata) menjadi Partai Murba. Berisi tentang reorganisasi partai dan uraian untuk tetap mempertahankan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Karya-karya tulis Tan Malaka meliputi semua bidang kemasyarakatan dan kenegaraan-politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran, terlihat benang putih keilmiahan dan ke-Indonesiaan, serta benang merah orsinalitas, kemandirian, kekonsekuenan, dan konsistensi yang direnda jelas dalam gagasan-gagasannya dan perjuangan implementasinya dalam rumusan konsepsional dan penjabaran operasionalnya.

Setting Sosial Politik Tan Malaka

Latar kehidupan Tan Malaka berada dalam ruang dan waktu dengan sosiopolitikkultural yang melingkupinya. Paling tidak, ada tiga situasi dan kondisi penting yang mewarnai pandangan serta perjalanan hidup Tan Malaka yaitu, keadaan internasional, Minangkabau dan alam pikir Barat.

Pertama. Keadaan internasional. Menurut Tan Malaka:

Tahun 1918, terjadi perjanjian Versailles. Pada waktu itu dunia sedang gemuruh. Satu negara besar dan baru dalam di segala-gala timbul, ialah Sovyet Rusia. Pada jaman itu saya masih muda, masih belajar di Eropa Barat. Dalam usia Sturm und Drang periode itu, dalam usia sedang bergelora itu saya dilondong topan yang bertiup dari Eropa Timur itu. Dunia Barat sendiri pada masa itu seakan-akan mengikuti Sovyet Rusia. Dari dunia Eropa Timur itulah saya mendapatkan semua ilham dan petunjuk yang saya rasa perlu buat perjuangan politik, ekonomi dan sosial kita.

Di bidang politik di Eropa, terjadi dampak pergolakan politik Pascaperang Dunia I di Eropa pada umumnya dan di Belanda pada khususnya. Revolusi Oktober 1917 di Rusia yang disusul oleh gerakan revolusioner kaum sosial-demokrat Belanda yang dipimpin oleh Troestra memberi inspirasi kepada unsur-unsur progresif Indonesia yang tergabung dalam ISDV untuk menuntut pemerintahan sendiri dan perwakilan hak-hak yang luas.

Di bidang ekonomi, Perang Dunia I mengakibatkan kemacetan pengangkutan hasil perkebunan sehingga pengusaha perkebunan mengurangi produksinya sehingga berakibat rakyat banyak kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Penderitaan rakyat bertambah besar lebih-lebih karena gubernemen membebankan pajak yang lebih berat kepada rakyat.

Perkembangan politik kolonial Belanda adalah politik kolonial konservatif (1800-1848), cultuurstelsel (1830-1870), permulaan politik kolonial liberal (1850-1870) dan politik ethis (1900), yakni edukasi, irigasi dan emigrasi.Tan Malaka lahir pada akhir abad ke-19, ketika diberlakukannya politik etis Belanda. Politik etis ini merupakan politik balas budi bangsa Belanda kepada Hindia Belanda oleh keuntungan yang diperolehnya selama dasawarsa-dasawarsa yang lalu. Kebijakan politik ini adalah terbukanya kesempatan yang makin luas di kalangan pribumi untuk memperoleh pendidikan modern ala Belanda. Pendidikan ini juga untuk memenuhi kebutuhan atas tenaga-tenaga terdidik untuk birokrasi. Dari sinilah munculnya beberapa intelektual muda yang bersentuhan dengan pemikiran Barat, termasuk tentang nasionalisme.

Kedua, alam Minangkabau. Secara sosiologis, nagari -kesatuan masyarakat lokal dalam masyarakat Minangkabau- merupakan konsep kosmologis yang di dalamnya terkandung kehidupan religius yang bersifat kontemplatif transenden. Secara holistik, dalam nagari tidak saja diurus masalah teknis pemerintahan, malahan sampai pada hal-hal yang bersifat transenden seperti kehidupan surau. Surau pada jaman dahulu merupakan kelengkapan suku dan tempat berkumpulnya anak-anak muda serta remaja dalam upaya menimba ilmu pengetahuan. Surau sekaligus juga digunakan sebagai tidur bersama, membahas berbagai ilmu agama, dan juga dimanfaatkan sebagai tempat penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi oleh suku melalui musyawarah bersama yang merupakan inti demokrasi kultural nagari.

Daerah Minangkabau pada permulaan abad ini mengenal tiga paham yang pada umumnya berpengaruh pada diri penduduknya. Ketiga paham itu adalah paham Islam, adat dan kolonialisme serta berbagai implikasi yang dikandungnya. Ketiganya mempunyai pendukung walaupun para pendukung ini juga terpengaruh oleh ketiganya. Bentrokan paham, negosiasi dan saling memanfaatkan dari interaksi pendukung tersebut sering terjadi.

Daerah Minangkabau merupakan daerah terbuka dari lalu lintas dunia internasional untuk melakukan aktivitas politik, ekonomi, agama dan budaya. Sifat pragmatis dari sebagian penduduk cepat mengambil manfaat dari perkembangan yang berlaku. Kemudian dalam mengambil manfaat dari administrasi perdagangan, administrasi pemerintahan dan juga dalam bidang pendidikan.

Bukit Tinggi menjadi pusat pendidikan se-Sumatera. Sekolah Raja, yaitu sekolah guru berbahasa Belanda (Kweekschool) yang berada di kota itu merupakan tempat melatih pada tingkat menengah anak-anak Indonesia dari seluruh Sumatera. Sekolah ini adalah tempat penampungan bagi anak-anak kalangan bangsawan dan orang-orang besar lainnya di pulau tersebut.

Merantau merupakan bagian dari tradisi Minangkabau. Kedudukan perantau begitu mulia dalam masyarakat. Pergi merantau, menurut visi falsafah Minangkabau dapat membuka mata untuk mengenal dunia luar yang luas, di mana mereka akan mendapatkan hal-hal baru yang nanti akan dibawanya pulang. Merantau, bukanlah semata mencari uang atau harta, melainkan juga menuntut ilmu atau mengaji. Berdasarkan batasan ini, menurut Alfian, Tan Malaka adalah seorang perantau, baik fisik maupun mental (pemikiran).

Rantau pertama yang dialami Tan Malaka ialah ketika dia meninggalkan desa tempat lahirnya pergi menuntut ilmu ke “Sekolah Raja” di Bukit Tinggi. Walaupun masih berada di alam Minangkabau, tapi alam asalnya adalah Nagari Pandan Gadang. Sewaktu dia tamat belajar di Bukit Tinggi, ia diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum atau sukunya, sebagai kepala adat mereka. Ini berkait erat dengan ilmu yang diperolehnya di rantau. Tidak lama sesudah itu, dia pergi lagi melanjutkan studinya ke negeri Belanda, perantauan yang amat jauh bagi anak muda yang baru berumur 16 tahun. Ruang lingkup alamnya lambat laun berubah dari Nagari Pandan Gadang yang kecil meluas menjadi Minangkabau dan kemudian Indonesia. Modal ini dikembangkan Tan Malaka untuk memahami dan menginterpretasikan permasalahan-permasalahan masyarakat Indonesia.

Visi adat dan falsafah Minangkabau dari merantau untuk mengontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realitas alam asalnya, sehingga dapat melihat mana yang baik dan yang buruk dari keduanya. Hal ini mengundang orang berpikir kritis dan dialektis. Oleh karena itu kontradiksi atau konflik dianggap wajar, terutama karena suasana tersebut akan selalu dapat diintegrasikan atau diselesaikan secara memuaskan atau harmonis melalui proses pemilihan mana yang baik dan buruk dengan akal, yaitu kemampuan berpikir secara rasionil. Dengan demikian, visi itu mendorong orang untuk berpikir secara kritis, dinamis atau dialektis. Cara berpikir demikian dengan sendirinya menolak dogmatisme atau parokhialisme. Karena menolak dogmatisme, maka dengan sendirinya menghendaki kebebasan berpikir.

Dalam perantauan, mental Tan Malaka berhasil melepaskan diri dari keterikatan terhadap salah satu dari berbagai corak nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat dan berhasil melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bercorak lain, berbobot dan orisinal. Ini karena mempunyai idealisme untuk membangun manusia dan masyarakat Indonesia baru, menghargai kebebasan berpikir dan memiliki sikap kritis yang tajam serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri yang kuat sehingga mendorong untuk memiliki keberanian mengembangkan pemikiran sendiri.

Ketiga, alam pikir Barat. Pada usia sekitar 23 tahun, Tan Malaka mengalami pergulatan batin dan pikiran tentang agama yang bekaitan dengan mistik. Dalam satu suratnya Tan Malaka menulis untuk salah seorang temannya, Dick: “…aku pun masih mencari-cari, atau yang lebih tepat, masih menyelidiki. Aku sudah memilih arah pokok dalam kehidupan sosial dan agama, bila yang belakangan ini dapat kusebut demikian. Pertanyaan berikut kini sedang mendapat perhatianku: ‘Yang disebut kejadian di luar hukum alam (gaib) itu, apakah memang benar-benar ada?’ aku hidup di tengah bangsa yang gemar akan mistik. Hari ini atau lusa aku akan berjumpa dengan ahli mistik…”

Tan Malaka memberikan penilaian terhadap agama dan pilihannya marxisme: “…gereja itu, Dick, benar-benar suatu organisai ekonomi…gereja Katolik kupandang sebagai eksploitasi kapitalistis yang paling rendah, karena nama tuhan dipakai.

…tentang Islam lebih baik kita diam saja. Dalam agama itu pun ajaran lebih penting daripada praktik. Setiap praktik kebanyakan masih diarahkan pada pemilihan harta benda, tercapainya kedudukan yang lebih baik, atau kekayaan.

….kulihat dengan kepalaku sendiri apakah artinya mistik Islam. Berhari-hari kuserahkan diriku kepada suatu bimbingan. Kesimpulan akhirnya adalah sebagai berikut: mistik itu mungkin sekali omong kosong saja, atau penipuan, atau kedua-duanya sekaligus. Ah, aku sungguh muak melihat penipuan itu di manapun agama menyelinap di dalam masyarakat! Bukannya aku menolak kebajikan itu sendiri yang juga menjadi tujuan, misalnya Islam. Tetapi itu berlaku pada jaman dulu sekali ketika Muhammad sendiri masih hidup sangat sederhana…

… Jadi, kebajikan dan perdamaian itu kupandang hanya mungkin dapat tercapai melalui revolusi. Begitulah seorang Marxis yang materialistis sesungguhnya mempunyai latar belakang yang idealistis…”

Kelak pada perkembangan kehidupannya Tan Malaka memiliki pandangan bahwa Islam memiliki kekuatan revolusioner dan dapat menjadi alat untuk melawan kolonialisme dan imperialisme dengan melakukan pembelaan dan menganjurkan PKI untuk bekerja dengan terhadap Serikat Islam.Di bidang agama perhatiannya besar sekali pada soal-soal mistik: tetapi di bidang sosial ia sudah memilih gagasan komunisme.

Kepergiannya ke negeri Belanda bisa disebut sebagai jendela awal perkenalannya pada dunia luar. Berkenalanlah dirinya dengan paham sosialisme dan menjadikannya berkenalan dengan pemikiran Nietzche dan karya-karya Th. C. Arlyle, yang membuatnya berada dalam semangat dan paham revolusioner. Tan Malaka menyerap secara kritis alam pikir Hegel, Lenin, Karl Marx, Engels dan Charles Darwin. Ini ditandai dengan banyaknya rujukan kepada tokoh-tokoh tersebut sebagai kerangka acuan pemikirannya, terutama dalam bukunya, Madilog.

Selanjutnya adalah persentuhan pemikiran Tan Malaka dengan berbagai kalangan sampai para aktivis, pemikir dan tokoh dunia Barat. Dengan didukung modal minat, semangat dan kecerdasan yang dimilikinya untuk belajar; jaringan pergaulan, berorganisasi ditambah kemampuan penguasaan bahasa yang banyak, menjadi bekal perjuangannya di dalam maupun luar negeri. Menurut pengakuan Tan Malaka, ia menguasai berbagai bahasa seperti, Belanda, Jerman, Inggris, Melayu, Jawa, Perancis, Tagalog, Siam, dan sedikit bahasa Cina. Dari kemampuan bahasa ini, Tan Malaka mendirikan sekolah bahasa di Amoy, School for Foreigen Languages yang berkembang pesat kemajuannya

Dari sebagian tulisannya, basis pandangan tentang realitas, Tan Malaka memilih menggunakan materialisme dan rasionalisme dan paham komunisme sebagai ideologi perjuangan politik, meski Tan Malaka melakukan penafsiran ulang demi penyesuaian situasi dan kondisi Indonesia. Alam pikir Barat berperan dalam perjalanan kehidupan Tan Malaka. Alam dan kerangka pikir Barat diselami, akan tetapi dalam penggunaannya disaring secara kritis dan dinamis.

Dari latar keadaan internasional, adat Minangkabau dan alam pikir Barat, tidaklah aneh jika dia dijuluki nasionalis, sosialis dan komunis yang beragama Islam. Berikut beberapa komentar atas sosok Tan Malaka:

Pokoknya di dalam sekujur tubuhnya mengalir sederas-derasnya, darah anti-Imperialisme, anti-Kolonialisme, sedang setiap denyut jantungnya membersihkan nafas perjuangan kemerdekaan Tanah Air dan Bangsanya.

Saya kenal almarhum Tan Malaka. Saya baca semua ia punya tulisan-tulisan. Saya berbicara dengan beliau berjam-jam, dan selalu di dalam pembicaraan-pembicaraan saya dengan almarhum Tan Malaka ini, kecuali tampak bahwa Tan Malaka adalah pecinta tanah air dan bangsa Indonesia, ia adalah sosialis sepenuh-penuhnya.

Tan Malaka adalah tokoh yang mewakili komunis di Timur Jauh. Ia adalah pemimpin komunis yang paling berhasil dan berpengalaman.

Perjalanan hidup Tan Malaka, pahlawan kemerdekaan nasional Republik Indonesia ini, seringkali diwarnai kegulitaan dalam kesejarahannya. Seperti kepastian kapan Tan Malaka lahir dan kematiannya yang tragis; tidak ada kuburan Tan Malaka, rencana penyerahan kepemimpinan nasional dari Bung Karno kepada Tan Malaka, pandangan terhadap Tan Malaka hendak melakukan kudeta terhadap Soekarno-Hatta dan perpecahan di kalangan kader PKI hingga kematian Tan Malaka penuh teka-teki dan mengenaskan. 
Redaksi : Seniman Kehidupan

Tautan : http://www.pmii-ciputat.or.id/alumni/kolom-alumni/158-riwayat-tan-malaka.html 

Tags :
Biografi Tan Malaka, sejarah tan malaka, kisah tan malaka, seniman kehidupan, tan malaka

 

         Senin, 09 Mei 2011

         Tan Malaka Memikirkan Indonesia (2)

         Ditulis ulang : Muhammad Ilham

        

          

         Madilog adalah cara berpikir Tan yang menautkan ilmu bukti melalui penyesuaian dengan akar kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan mondial.

          

          Tidak sepenuhnya memang Tan menyelisihi filsafat materialisme yang sebatas menganggap materi dan kenyataan menampak (fisikiah) sebagai yang ada dan utama; namun dalam Madilog, Tan menekankan bukti (meliputi budi, kesatuan, pikiran, dan inderawi) sebagai yang utama. Bukti merupakan fakta. Adapun fakta menjadi fondasinya ilmu bukti.

          

         Melalui Madilog, Tan bukan cuma memikirkan realita Indonesia pada masa hidupnya. Namun layaknya seorang futuris, ia membenturkan kontemplasi filsafatnya ini untuk masa depan Indonesia.

          

         Dan gagasan dalam Madilog-nya menerap dan jalin-menjalin sebagai sebuah pola yang konsisten dan konsekwen (ilmiah dan Indonesia sentris) melalui karya-karya lainnya yang secara holistik memikirkan berbagai permasalahahan Indonesia berikut implementasinya. Maka boleh dibilang pemikirannya tidak lekang dimakan jaman. Avonturisasi politiknya di mancanegara selalu licin. Tapi ironis, di tanah airnya sendiri Tan justru tetap bergerak secara klandestin.

          

         Tak banyak diketahui dalam buku-buku pelajaran sejarah bahwa Tan-lah yang menggerakkan massa untuk menggelar rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Soekarno mengagumi pemikiran Tan yang banyak menginspirasi perjuangan Revolusi Kemerdekaan.

Dalam salah satu artikel Kisruh Ahli Waris Obor Revolusi yang dimuat Majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka (2008), disebutkan begitu kagumnya dengan pemikiran Tan Malaka, Soekarno pernah membuat sebuah testamen ahli waris revolusi untuk Tan jika terjadi sesuatu pada diri Soekarno – Hatta.

          

         Ketika masa Revolusi Kemerdekaan, Tan lebih memilih jalannya sendiri membentuk Persatuan Perjuangan (PP) pada 1 Januari 1946 untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan sekutu. Namun niatnya disalahartikan sebagai sebentuk jalan mengkudeta Soekarno – Hatta.

          

          Tan dibui, berpindah-pindah di penjara Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga lepas pada September 1948 sejalan dengan tuntasnya naskah Dari Pendjara ke Pendjara yang ia tulis. Sebagai responsnya atas situasi politik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati (1947) dan Renville (1948), Tan merintis Partai Murba pada November 1948. Tan –lagi-lagi– dituding mengkudeta pemerintah. Pada 21 Februari 1949 akhirnya Tan tewas di tangan orang sebangsanya sendiri dan di tanah airnya sendiri. Sejatinya, sejarah tentang seorang tokoh pendiri bangsa lazimnya menyampaikan pesan-pesan moral dan edukasi untuk generasi sesudahnya. Tapi bukanlah sejarah namanya jika kepentingan atas masa lalu sarat juga dengan kepentingan-kepentingan politis yang memungkinkan citra tokoh itu untuk dibelokkan, dikaburkan, bahkan dihilangkan. Asa hidup di alam kemerdekaan berupa keterbukaan dan kejujuran mengungkapkan masa lalu pun kadang terhadang oleh narasi-narasi besar (grand narratives [baca: negara]). Sebagaimana hal itu didapati dari sepinya jejak pemikiran Tan Malaka dalam buku-buku pelajaran sejarah seputar gagasannya mewujudkan republik ini. Sebagai sosok pejuang sekaligus pemikir yang lain dari keumuman eksponen pergerakan nasional, jalan hidup Tan yang asing dan banyak mengasing itu pun membuat Matu Mona mengiaskan dalam karya Patjar Merah Indonesia­-nya dengan julukan mysteryman. Senyata dengan jejak kehidupannya yang asing dan banyak mengasing. Dan dalam penulisan sejarah Indonesia modern, memori kolektif masyarakat Indonesia –khususnya siswa-siswa sekolah– terhadap sosok Tan Malaka tidaklah sebagus dibandingkan terhadap Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Konteks bagus itu pun tak lebih hanya sebatas mengenal nama, kedudukan, dan momen seputar sang tokoh.

        

          

         Napak Tilas periodesasi kiprah Tan Malaka (sumber : tempo.com)/perbesar : klik gambar

        
Jejak pemikiran para tokoh pendiri bangsa sebagai hal yang lebih hakiki untuk diteladani justru menguap dalam teks-teks pelajaran sejarah yang diproduksi untuk kepentingan pendidikan nasional. Meski begitu, dalam wacana sejarah selama beberapa dasawarsa terakhir ada pergeseran nilai terkait subjek, perspektif, dan pendekatan masa lalu yang menjauhi narasi-narasi besar. Pergeseran itu dimaklumi juga terjadi karena ketidakpuasan terhadap narasi besar dalam mengendalikan dan memproduksi teks-teks sejarah. Ketika teks tidak berbunyi sebab ada yang ter/di-sembunyikan, maka medium seni visual (seperti fotografi, film, dan teater) menjadi alternatif menggali hakikat dan pemahaman masa lalu melalui pendekatan
subaltern (Nordholt & Steijlen [2007]; rujuk juga Nordholt, Purwanto, & Saptari [2007]). Jelas ini menjadi penting sebagai sebentuk penyi(ng)kapan terhadap narasi besar dalam menarasikan masa lalu, yang mana salah satunya menyangkut citra tokoh semisal Tan Malaka ini.

Setidaknya patut disyukuri adanya ikhtiar menempatkan Tan Malaka berdasarkan sejarah dalam konteksnya (historicizing history), selain melalui teater juga film sebagai alternatif yang baik untuk membangunkan masyarakat dari amnesia sejarah. Saya tidak ada hasrat berlebih untuk terlalu menyoalkan masih ditemukan kelemahan historical mindedness dalam film karya kawan-kawan dari Institut Kesenian Jakarta tersebut. Tapi dengan menyisipkan beberapa perkataan yang lekat dengan cerminan jiwa dan pemikiran Tan Malaka dalam mengecam taklid buta dan fanatisme sempit terhadap ideologi atau kepercayaan apapun dalam fragmen-fragmen film tersebut, telah menyambung lidah “bapak republik” itu untuk mengedukasi mental dan sikap rakyat Indonesia yang hidup pada alam kekinian. Misalnya perkataan Tan (adalah pola pikir madilognya [rujuk juga perkataan ini dalam Alfian. 1977]) di hadapan anak-anak kecil yang diajari berhitung: “Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian dapat belajar dari orang Barat. tapi jangan sekali-kali kalian meniru dari orang Barat. Kalian harus menjadi murid-murid dari Timur yang cerdas…

Secara generis, perkataan itu sebetulnya akan terus patut dan layak dipakai kapanpun sebagai pandangan dan kedudukan bangsa Indonesia untuk menilai, menghadapi, dan terlibat dalam kumparan masalah nasional dan dunia. Tidak terjerembab dalam banalitas hubungan kebudayaan Barat dan Timur serta punya prinsip dalam menghadapi benturan peradaban antarkedua kutub tersebut. Relasi ideal antara Barat dan Timur memang menjadi salah satu pokok pemikiran Tan Malaka. Seperti halnya juga Sutan Sjahrir atau Sutan Takdir Alisjahbana, Tan Malaka –seperti halnya Sjahrir– agaknya gelisah juga dengan tabiat dan sikap kaum bumiputra yang mana satu pihak begitu mengagungkan adiluhungnya dominasi Barat secara taklid sehingga tanpa disadarinya merendahkan diri sendiri sebagai seorang Indonesia. Pihak lain terpenjara dalam kekolotan alam pikiran Timur yang masih dikuasai mitos dan menolak sama sekali segala hal berbau Barat sebagai yang dinilai sesat dan menyesatkan. Permasalahan itu pun kini masih hadir dalam wajah baru, tapi esensinya tak banyak berubah jika menyelami dalam-dalam perkataan Tan Malaka tersebut. Sejarah yang memihak untuk Tan Malaka jelas melebihi apresiasi pemerintah yang pada 1963 sebatas memberinya gelar pahlawan kemerdekaan nasional. Menghadirkan kembali gagasan-gagasan jenialnya tentang Indonesia, tentunya jauh lebih penting melebihi gelar kepahlawanan. Pemikirannya yang mengajarkan: anti-dogmatisme, berpikir kritis, anti-kekerasan sebagai siasatnya melawan kezaliman dan kebodohan pada masa hidupnya, am

Bibliografi

 

 

Dari Pendjara ke Pendjara

         Parlemen atau Soviet (1920)

         SI Semarang dan Onderwijs (1921)

         Dasar Pendidikan (1921)

         Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) (1924)

         Semangat Muda (1925)

         Massa Actie (1926)

         Pari dan Nasionalisten (1927)

         Pari dan PKI (1927)

         Pari International (1927)

         Manifesto Bangkok(1927)

         Aslia Bergabung (1943)

         Muslihat (1945)

         Rencana Ekonomi Berjuang (1945)

         Politik (1945)

         Manifesto Jakarta (1945)

         Thesis (1946)

         Pidato Purwokerto (1946)

         Pidato Solo (1946)

         Madilog (1948)

         Islam dalam Tinjauan Madilog (1948)

         Gerpolek (1948)

         Pidato Kediri (1948)

         Pandangan Hidup (1948)

         Kuhandel di Kaliurang (1948)

         Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948)

         Dari Pendjara ke Pendjara (1970)

[sunting] Referensi

  1. 1.     ^ a b c “Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap”, Kompas, diakses Juli 2007
  2. 2.     ^ Muhammad Yamin, Tan Malaka Bapak Republik Indonesia: Riwajat Politik Seorang Pengandjoer Revolusioner jang Berfikir, Berdjoeang dan Menderita Membentoek Negara Republik Indonesia, Djakarta: Berita Indonesia, 1946
  3. 3.     ^ M. Yuanda Zara, Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta Pertama dalam Sejarah Indonesia, MedPress, 2009
  4. 4.     ^ lihat Soejatno dan Anderson B 1974. Revolution and social tensions in Surakarta 1945-1950. Indonesia 17:99-111 (dengan dua rujukan lainnya di catatan kaki).
  5. 5.     ^ Majalah Tempo Edisi Khusus Tan Malaka, 7 Agustus 2008

[sunting] Bacaan lanjutan

         Castle, James W. Diplomasi and Perdjuangan Tan Malaka Contra Sjahrir: Kegelisahan Kepada Revolusi. , 1972.

         Hery, Yunior H. Tan Malaka Dibunuh!: Meneropong Krisis Politik, 1945-1949. Yogyakarta: Resist Book, 2007.

         Mrazek, Rudolf. Semesta Tan Malaka. Yogyakarta: Bigraf Pub, 1994.

         Poeze, Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia. Jakarta: KITLV-Jakarta, 2008.

         Poeze, Harry A, and Hersri Setiawan. Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia: Jil. 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009.

         Poeze, Harry A, and Hersri Setiawan. Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia: Jil. 3. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

         Poeze, Harry A. Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999.

         Yamin, Muhammad. Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia. Djawa Timur: Moerba Berdjoeang, 1946.

         Zulkifli, Arif. Tan Malaka. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2010.

[sunting] Pranala luar

 

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:

Tan Malaka

       (Indonesia) Catatan Pinggir: Tan Malaka, Sejak Agustus Itu 

       (Indonesia) “Arsip Tulisan Tan Malaka”

       (Indonesia) “Arsip Tulisan Tan Malaka dalam Bahasa Inggris”

       (Indonesia) Tan Malaka (1897-1949)

       (Indonesia) Manifesto Djakarta

       (Indonesia) Petualangan Pacar Merah Indonesia

       (Indonesia) Kisruh Ahli Waris Obor Revolusi

       (Indonesia) Gerilya Dua Sekawan

       (Indonesia) “seniman-kehidupan.blogspot.com ‘Tan Malaka'”

 

Advertisements

4 responses to “Bedah Buku Tan Malaka “dari Pendjara Ke Pendjara” dan sejarah terkait.

  1. Sir Roger począł wycofywać się Alejandrina przy osłoną wiklin.
    W tej chwili należy
    wprost przeciwnie poczekać. Przypływ wstrząsnął grodem.
    Spośród kamieniczek posypały się dachówki, gołębie wzbiły się
    spośród łopotem z

  2. This excellent website certainly has all of the information I needed about this subject
    and didn’t know who to ask.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s