KOLEKSI SEJARAH INDONESI 1962

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1962

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno

 

(lahir dengan nama Naoko Nemoto (????? Nemoto Naoko?) di Tokyo, 6 Februari 1940; umur 71 tahun) adalah istri ke-5 Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia pertama.

Dewi menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ketika berumur 19 tahun dan mempunyai anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno.

Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seorang relasi ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Menjelang redupnya kekuasaan Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah lebih sepuluh tahun bermukim di Paris, sejak 1983 Dewi kembali menetap di Jakarta.

Ketika berumur 19 tahun, Dewi Soekarno bertemu dengan Soekarno yang telah berumur 57 tahun sewaktu sedang dalam kunjungan kenegaraan di Jepang.

Sebelum menjadi istri Sukarno, ia adalah seorang pelajar dan entertainer. Ada gosip bahwa dirinya telah bekerja sebagai geisha, namun beliau telah berulang kali menyangkal hal ini. Dia mempunyai seorang putri bernama Kartika.

Setelah bercerai dengan Sukarno, Ratna Sari Dewi Soekarno kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2008 ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang, di mana dia tinggal di sebuah tempat yang luas dengan empat lantai dan penuh kenangan.

Ratna Sari Dewi Soekarno dikenal dengan kepribadiannya yang terus terang. Beliau sering disebut sebagai Dewi Fujin (??? ?? Devi Fujin, secara harfiah “Ibu Dewi” atau “Madame Dewi”). Nama lengkapnya adalah Ratna Sari Dewi Soekarno (??? ?? ??? ???? Ratona Sari Devi Sukaruno), tapi dia lebih sering disebut sebagai “Madame Dewi”. Dia membuat penampilan di media massa setelah Januari 2008 kematian suaminya penerus Soeharto, menyalahkan dia untuk melembagakan sebuah rezim represif dan menyerupai Despotisme Kamboja, Pol Pot.

Pada tahun 2008 Ratna Sari Dewi Soekarno menjalankan sendiri bisnis perhiasan dan kosmetik serta aktif dalam penggalangan dana. Terkadang dia tampil di acara TV Jepang dan menjadi juri untuk kontes kecantikan, seperti Miss International 2005 di Tokyo.

Pada bulan Januari 1992, Dewi menjadi terlibat di dalam banyak perkelahian dipublikasikan di sebuah pesta di Aspen, Colorado, Amerika Serikat dengan sesama tokoh masyarakat internasional dan ahli waris Minnie Osmeña, putri mantan presiden Filipina. Ketegangan sudah ada antara keduanya, dimulai dengan pertukaran di pihak lain beberapa bulan sebelumnya, di mana Dewi terdengar tertawa ketika Osmena menyatakan rencana politiknya, di antaranya adalah keinginan untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden Filipina.

Aspen meludah yang konon dilaporkan oleh dipicunya sebuah kiasan yang dibuat oleh Dewi untuk Osmena di masa lalu yang kemudian memuncak dengan Dewi memukul wajah Osmena dengan memakai gelas anggur. Pukulan tersebut meninggalkan luka yang membutuhkan 37 jahitan. Dewi kemudian dipenjara selama 34 hari di Aspen untuk perilaku kacau setelah kejadian.

Pada tahun 1998, ia berpose untuk sebuah buku foto berjudul Madame Syuga yang diterbitkan di negara asalnya, di mana sebagian gambar yang ditampilkan ia pose-pose setengah bugil dan menampakan seperti tato. Bukunya untuk sementara tidak didistribusikan di Indonesia dan segera dilarang karena dengan banyak orang Indonesia merasa tersinggung dengan apa yang dianggap mencemarkan nama baik Sukarno dan warisannya

 

 

 

 

 

 

16 Mei 1962

Percobaan Pembunuhan Bung Karno Oleh DI/TII

Ajun Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo mengisahkan peristiwa tanggal 14 mei 1962 itu dalam buku Gerakan 30 September, pelaku, pahlawan dan petualang yang ditulis Wartawan senior Julius Pour, terbitan Kompas.


Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) ini baru menerima kabar dari Kapten (CPM) Dahlan. Laporan itu menyebutkan Kelompok Darul Islam merencanakan untuk membunuh Presiden Soekarno.


Saat itu Mangil memeriksa jadwal presiden Soekarno satu minggu kedepan. Mangil yakin, para pemberontak itu pasti akan menyerang Bung Karno saat sholat Idul Adha. Saat itu istana menggelar sholat Id, penjagaan relatif longgar dan semua pintu istana terbuka.

Maka Mangil bersiaga saat Idul Adha, Dia sengaja tidak ikut sholat Id. “Saya duduk enam langkah di depan bapak. Disamping saya duduk Inspektur Polisi Soedio, kami berdua menghadap kearah umat, sedangkan tiga anak buah, Amon Soedrajat, Abdul Karim dan Susilo pakai pakaian sipil dan berpistol duduk disekeliling bapak,” cerita Mangil.
Tiba-tiba saat ruku’, seorang pria bertakbir keras, dia mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Bung Karno.


Refleks, semua pengawal berlarian menubruk Bung Karno. Amoen melindungi Bung Karno dengan tubuhnya.
Dor ! Sebutir peluru menembus dadanya Amoen terjatuh berlumuran darah.

Dor ! Pistol menyalak lagi. Kali ini menyerempet kepala Susilo. Tapi tanpa menghiraukan luka-lukanya, Susilo menerjang penembak gelap itu.

Dua anggota DKP membantu Susilo menyergap penembak yang belakangan diketahui bernama Bachrum. Pistol milik Bachrum akhirnya bisa direbut DKP. Bung Karno berhasil diselamatkan. Begitu juga dengan dua polisi pengawalnya, untungnya walau terluka parah, Amoen dan Susilo selamat.

Bung Karno juga menceritakan serangan ini dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams. Beliau menyebutkan, berkali-kali Darul Islam mencoba membunuhnya. Mulai dari serangan pesawat udara, granat Cikini, dan akhirnya menyerang saat sholat Idul Adha. Bung Karno menilai mereka adalah orang-orang terpelajar yang ultrafanatik pada ideologi tertentu. Orang-orang yang mencoba membunuh Bung Karno di adili dan dihukum mati.

Namun belakangan Soekarno memberikan amnesti dan membatalkan hukuman mati tersebut.

“Aku tidak sampai hati memerintahkan dia dieksekusi,” kata Bung Karno.

(buku Gerakan 30 September, pelaku, pahlawan dan petualang yang ditulis Wartawan senior Julius Pour, terbitan Kompas)

 

 

Banjirnya uang dari Jepang, memberanikan tekad Soekarno menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962,

dengan sebuah stadion raksasa yang dianggap mewah sampai sekarang. Juga menyelengarakan pesta olah raga antara negara berkembang,

 

Stadion Utama Gelora Bung Karno sangat bersejarah bagi dunia olahraga Indonesia. Stadion ini digagas oleh sang proklamator Bapak Soekarno menyambut Asian Games keempat tahun 1962 sekaligus menjadi ruang terbuka hijau bagi warga Jakarta. Konsep atap stadion yang unik atau Bung Karno menyebutnya “Temu Gelang” layaknya cincin raksasa menjadi ciri khas stadion ini.

21 Juli 1962

Hingga pada 21 Juli 1962 Stadion Utama Gelora Bung Karno selesai dibangun dengan kapasitas mencapai 100 ribu  penonton. Stadion ini terdiri dari lapangan sepakbola dengan luas 105 x 70 meter yang dikelilingi oleh jalan lingkar luar (athletic tracks) sepanjang 920 meter.

Pada masa orde baru nama stadion ini dirubah menjadi Stadion Utama Senayan hingga tahun 1998 namanya kembali menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001. Sejumlah pertandingan olahraga internasional bersejarah pernah digelar di komplek Stadion kebanggaan masyarakat Indonesia ini

 

 

 

 

Pembukaan Asean Games oleh ketua KONI Sulatn hemangku Buwono didampingi presiden sukarno

 

 

 

 

 

.

Booklet perangko Asian games ke IV

 

 

FDC Asain Games ke IV

 

 

DWIKORA : Kempen Ganyang Malaysia

24-01-2013 19:13

credit for garudamiliter

Bila agan melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya. Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964. Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama ‘Negara Boneka” Malaysia. Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan ‘Negara Boneka’ Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.

Terbesar di Asia Tenggara
Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia. sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.

Berbagai Nama Operasi Militer
Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti: Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force. Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet, Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan. Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi. Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI. Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.

Kisah Tragis Hercule T-1307
Pada saat melaksanakan operasi Antasari tanggal 2 September 1964, tiga pesawat angkut C-130 Hercules membawa satu kompi pasukan PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Suroso. Dalam pesawat Hercules dengan nomor ekor T-1307 yang diterbangkan Pilot Mayor Pnb Djalaluddin Tantu, ikut serta seorang perwira menengah pimpinan PGT Letkol Udara Sugiri Sukani, yang ikut sekalian untuk memberi semangat kepada pasukannya.

Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantui berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules. Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

 

 

Ben Mboi ( credit for agan erwin.parikesit ) Bag.1

26-01-2013 03:01

Artikel dibawah ini seluruhnya dikutip dari Buku Biografi Ben Mboi – Dokter, Memoar Prajurit, Pamong Praja. Suntingan Sdr. Candra Gautama & Sdr. Riant Nugroho – Terbitan KPG Desember 2011.
Cuma mengutip teknis kemiliteran, dan yang berkaitan dengan suatu kejadian/peristiwa. Jika agan-agan sudah pernah membaca bukunya, anggap saja thread ini penyegaran kembali.

Jika tidak tersusun rapi, ada kesalahan ejaan, harap dimaklumi.
Maklum Nubie baru belajar posting, buatan thread di Formil.

Uploaded with ImageShack.us

Deklarasi Tri Komando Rakyat
Setelah wisuda, kami berbondong-bondong ke Kementerian Kesehatan di Jl. Kwitang. Sebenarnya sebagai pegawai Kementerian PP&K dengan mudah saya dapat menerima tawaran Prof.Hanifa untuk menjadi asisten kebidanan. Tetapi saya mendaftarkan diri ke Kementerian Kesehatan agar ditempatkan di Flores karena alasan sekian tahun mendapat beasiswa dari Flores. Suatu peluang hilang! Namun saya tidak pernah menganggap pilihan tersebut sebagai satu kerugian. Bagaimanapun, saya mempunyai kewajiban moril untuk membalas jasa rakyat Flores. Dan, karena saya memilih profesi dokter dan telah memilih pegawai negeri, maka diperlukan lolos butuh dari Kementerian PP&K.

Tapi entah apa sebabnya, ada perubahan kebijakan : seluruh dokter angkatan 1961 yang datang mendaftarkan diri ke Kemkes dialihkan ke Program Wajib Militer (Wamil) Angkatan Darat, baik dari UI, UGM, maupun Airlangga. Kebetulan pada masa itu Menteri Kesehatan dirangkap oleh Direktur Kesehatan AD, Mayjen Prof.Dr.Satrio, dulu guru besar Anatomi saya.
Komandan Pusdikkes AD adalah Kolonel dr.Ronodirdjo dengan Kepala Staf Kolonel Latief. Koloel Latief ini empat tahun kemudiannya terkenal sebagai Komandan Brigade Infanteri I/Jaya Sakti Kodam V Jaya dan dedengkot Gerakan 30 September. Di Kramat Jati terpusat Pendidikan Perwira Cadangan (Pacad) Kesehatan, dan di Salemba Pendidikan Bintara Kesehatan AD. Tetapi kami sehari-hari dipimpin oleh Kapten Mansoer sebagai Komandan Kompi Siswa dibantu oleh Peltu Londa dan Serma Salimin sebagai Sersan Pelatih.

Atmosfer dalam pendidikan cukup santai karena tidak ada orang yang percaya akan meletusnya perang, dan bahwa pasti para dokter akan ditempatkan digaris belakang sekiranya perang benar-benar meletus. Saya terpilih sebagai Ketua Senat Siswa Pacad V. Pengalaman aneh saya sepanjang pendidikan, Komandan sangat takut kepada saya. Kalau saya bertanya, dia sangat gugup. Kalau giliran periksa senjata, kami suka tukar-tukaran senapan Garrand kami. Senapan yang bersih pada saya bisa jadi kotor pada siswa lain. Tiap kali gerakan regu atau peleton, saya selalu diberi tugas Danru atau Danton. Aneh!

Selama latihan ada peristiwa penting yang erat berhubungan dengan pendidikan Pacad kami : Pertama, Deklarasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogya tanggal 19 Desember 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, Bung Karno. Sikap para siswa Pacad masih tetap sama, tidak mungkin perang! Bagaimana mungkin perang?Bagaimana cara perangnya? Perangkan harus ke Irian Barat, bagaimana caranya? Jadi Pacad ini lebih bertujuan untuk mewamilkan para dokter muda, dan dikirm ke daerah secara setengah paksa. Kalau toh akan perang, pasti dokter-dokter ditempatkan digaris belakang. Kan dokter itu mahal, tidak mungkin secara gampang menjadi umpan peluru. Begitulah logika para siswa Pacad. Tenang-tengan saja!

Kedua, pada 15 Januari 1962 kami dikeejutkan dengan berita bahwa di Teluk Etna, Laut Arafuru MTB AL KRI Macan Tutul ditenggelamkan oleh AL Belanda. Ikut gugur Komodor Jos Sudarso, Deputy Operasi Mabes AL. Maka terjadi kegeran di Pusdik Kramat Jati. Wah serius nih!…perang beneran ini!
Macam-macam cerita beredar, entah mana yang benar,tapi semua pada menyalahkan AURI mengapa tidak bereaksi ketika kelompok MTB itu diserang oleh Frigat-Frigat, Neptune AL Belanda yang telah menunggu selama beberapa hari. Konon KSAL Laksamana RE.Martadinata, sangat marah dan dalam rapat dengan Bung Karno menuntut mundurnya Suryadharma sebagai KSAU. Tanda tanya makin bertambah karena beberapa hari kemudian di bulan Januari yang sama helikopter yang ditumpangi oleh KSAL Laksamana RE.Martadinata, jatuh di Gn.Riung Puncak, Jawa Barat. Semua kejadian itu simpang siur. Ada apa ditubuh tentara kita? Masalah agak terkuak ketika KSAU Suryadharma digantikan oleh Omar Dhani. Ada yang tidak beres dalam tentara kita, tapi itu bukan urusan siswa Pacad Kesehatan. Sampai sekarang pun misteri 15 Januari 1962 tidak pernah terungkap dengan benar.

Entah kalau di Seskoal atau Seskogab. Bagi kami para siswa, ada pengumuman singkat : Kursus Dipecepat! Itu yang bikin kaget. Apa maksud memperpendek kurukulum Pacad? Berarti kami akan menjadi perwira setengah matang, setengah ilmu, setengah keterampilan, plus setengah keberanian.

Bulan Maret Tiba. Kami selesai dengan segala tentamen yang diperlukan dan akan dilantik oleh Wakil KSAD Letjen Gatot Subroto. Saya terpilih menjadi satu dari empat perwakilan menurut agama : Katolik, Protestan, Islam, dan Hindu. Saya menjadi Letnan Satu Dokter dengan Nrp.6135406.

 

Akhir Maret atau awal April, Lettu dr. Goh Hoh Sang, Lettu dr.Djatmiko, Lettu dr. Asril Aini, Lettu dr. Rudy Pattiatta, dan saya Lettu dr. Ben Mboi dipanggil oleh Aspers Kessad, Letkol Dr. Soeparto. “ Saudara-saudara terpilih untuk menjadi dokter paratropper pertama. Seterusnya saudara-saudara diperintahkan ke Margahayu dan Batujajar untuk menjalani latihan terjun payung”. Bersama dengan kami berlima, juga ada satu Batalion Raiders ikut berlatih, entah dari Batalion Raiders mana. Pada hari penerjunan kedua, terjadi kecelakaan payung terjun yang kami saksikan untuk pertama kali. Parasut seorang prajurit Raiders gagal terbuka. Dia free fall beneran setinggi 700 meter. Kakinya sampai masuk kedalam tubuhnya. Komandan dari latihan di Batujajar mengumpulkan kami semua dan seluruh anggota Raiders. “Hari ini latihan dihentikan. Siapa yang ingin mundur pada saat ini silahkan mundur!” Kmai semua tidak ada yang mau mundur. Kami semua siap meneruskan latihan.

Pada rombongan terjun kami turut juga Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad dan juga Panglima Mandala. Kenyataan ini juga membuat kami menjadi semakin berani dan bersemangat melanjutkan latihan terjun sehingga selesai, dan terjun terakhir adalah terjun malam hari yang dianggap sebagai Wing Day. Setelah lulus, kami kembali ke Jakarta dengan bangga memakai Wing Para di dada kiri.

Sepulang dari Margahayu, kami berlima boleh mengambil cuti. Jadi secara teoritis saya boleh pulang bercuti ke Flores. Namun karena letaknya terlalu jauh, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Di mess para dokter RSPAD. Saya pakai waktu senggang untuk magang di bagian bedah.

Eh suatu hari diawal Mei saya dipanggil oleh Aspers Dikesad, Letkol Dr. Soeparto.
“ Ben Mboi, kamu dinyatakan combat ready!” katanya singkat.
“ Ada satu pasukan akan diterjunkan dalam waktu dekat”.
“ Mengapa saya Overste?” saya bertanya.
“ Kawan kamu si Anu dari PDAD ( Pendidikan Dokter AD ) menolak karena bulan ini akan menikah.”
“ Oh ya? Kalau begitu saya jangan diperintah Overste!. Saya melamar!”
Dia diam, dan tampaknya statement saya itu sebagai konfirmasi.

Dari tempat Letkol Soeparto saya ketempat Kapten Haryono, perwira personalia yang mngurus kepentingan para perwira kesehatan sehari-hari.
“ Kapten, saya minta dimilsukan sebelum terjun di Irian Barat. Saya tidak mau terjun sebagai Wamil.” Milsuk adalah militer sukarela.
“ Wah, tidak bisa. Untuk menjadi milsuk perlu latihan-latihan lagi. Tidak bisa pindah begitu saja,” dia menjawab.

Dalam hati saya sudah mau pergi mati masih menghadapi birokrasi berbelit-belit. Kapten ini tidak mengerti semangat yang ada dalam jiwa saya. Saya ragu apakah dia pernah mengalami perjuangan dan perang beneran. Saya tidak mau berdebat lagi. Ketika kemudian hari saya pulang dari Irian Barat, selesai Trikora, saya temukan satu telegram yang dikirim pada November 1962, menjelaskan bahwa saya dimilsukkan dan dapat pangkat Kapten. Terus terang, pada sata pendaftaran Pacad, sebenarnya saya berstatus pegawai negeri golongan F-II dengan ikatan dinas lima tahun.
Sesuai peraturan kepangkatan lama, seyogyanya ada penyesuaian kepangkatan saya sebagai Kapten. Tetapi tepat pada angkatan saya, Pacad V, peraturan ini dihapuskan. Entah alasannya apa!. Saya tidak perdebatkan lagi kepangkatan, karena saya lebih dulukan kepejuangan demi kprajuritan saya. Ada prajurit tidak berjuang, ada pejuang yang bukan prajurit. Pangkat is not my issue!.

Tugas saya segera adalah : Pertama, menggabungkan diri dengan pasukan saya di Cijantung. Kedua, menyiapkan perbekalan farmasi dan kedokteran. Ketiga, mencari tahu Bintara Kesehatan yang akan mendampingi saya. Ternyata telah siap Serma Kesehatan Teguh Sutarmin dan Serma Kesehatan Amwat.

Perlengkapan farmasi dan kedokteran semuanya tidak kurang dari satu pluzak ditambah satu tumpuk stensilan tentang flora dan fauna Irian Barat, berisi info tentang tumbuhan dan binatang bermanfaat maupun beracun dalam bahasa lokal, Indonesia, dan Latin. Yang paling mengerikan adalah tiga jenis Ular Papua berbisa yang sangat mematikan. Terkenal dengan nama The Back Papuan Snakes. Celakanya, serum anti bisa ular buatan Kimia Farma tidak mempan. Harus diimport dari Australia. Bagaimana mendapatkannya? Tapi toh serum anti bisa buatan Kimia Farma tetaplah dibawa. Namun, ironisnya lagi, tidak ada ice box untuk serum!. Maka saya katakan, “Ini lebih sebagai berjuang dan berperang.: Sayarat-syarat teknis untuk berperang jauh dari cukup.”

Setelah semua persiapan selesai, saya pergi melapor kepada komandan saya nanti: Kapten Inf. Benny Moerdani. Saya diperkenalkan Kapten Benny kepada pasukannya, 1 Peleton Plus berkekuatan 50 orang. Tambah kami bertiga menjadi 53 orang. Perkenalan dilakukan dilapangan tembak, dimana para prajurit sedang berlatih menggunakan senapan AK-47.

Begitu dikatakan seorang dokter, perwira kesehatan akan ikut serta, seluruh pasukan langsung sumringah, naik morilnya. Baru saya menyadari bahwa tugas utama seorang dokter, perwira kesehatan dalam perang gerilya adalah to boost to morale of the troop ketimbang melakuakn tugas-tugas teknis medis. Lebih meningkatkan keberanian berperang daripada melakukan pekerjaan dokter di medan perang itu sendiri.

Sepanjang bulan Mei dan awal Juni, tiap hari pukul lima pagi, saya dijemput, dibawa ke Cijantung untuk ikut latihan-latihan dengan para prajurit, antara lain turun dari pohon dengan menggunakan tali dan snipering.

 

Sepak Terjang Manusia KodoPembebasan Irian Barat, The One Way Ticket
Pertengahan Juni 1962, kami pemilik Wing-Para diundang makan malam dirumah Menteri Kesehatan/Direktur Kesehatan AD, Brigjen dr. Satrio di Jalan Mangunsarkoro. Banyak perwira dari Ditkes AD beserta istri ada disana. Saya datang bersama pacar saya.

Tidak ada pidato seingat saya, tapi tiba-tiba saya menjadi titik tengah karena potongan pertama tumpeng diserahkan kepada saya, baru kepada orang lain. Saya mendengar para ibu-ibu berbisik pelan sesamanya melihat saya menerima tumpeng itu: “Kasihan!”

Mungkin isu akan ada penerjunan disertai dokter sudah diketahui. Pikiran saya juga jauh sekali: The war is becoming real!

Bagi saya perang masih sesuatu yang aneh, tidak ada pengalaman, kecuali melalui vuurdoop (baptis dengan api) pada penutupan dan dopper di Pusdikkes tempo hari. Tapi itukan tembakan yang diatur ketingian dan arahnya, bagaimana dengan perang beneran?tembakan beneran? Pikiran saya berkecamuk.

Perang! Jelas 1000 kali lebih dahsyat! Jadi keberanian di depan Letkol Soeparto itu kadang-kadang diganti oleh ketakutan dan keraguan. Tapi tekad untuk menunjukkan naluri bela negara sentiasa membangkitlan lagi keberanian. Jadi ketakutan dan keberanian silih berganti. Pukul 10 malam jamuan bubar. Saya anggap acara tumpengan tadi seperti mohon doa restu dan berkat Tuhan Allah bagi perjuangan yang akan saya tempuh sebentar lagi. Saya pulang ke asrama RSPAD dengan keyakinan pomimpin kesehatan AD mendoakan operasi ini, apapun namanya.

Masih lekat dalam ingatan saya peristiwa tanggal 22 Juni 1962 pukul 14.00, ketika saya sedang tidur siang. Terdengar ketukan di pintu kamar, seorang sersan RPKAD melapor:

“ Letnan, sejak saat ini letnan dinyatakan ready for combat, siap tempur. Tidak boleh beritahu siapapun! Kepada saya supaya diberikan alamat orang yang bisa dihubungi di Jakarta bila ada yang perlu disampaikan. Siapkan perlengkapan, jemputan pukul 17.00 tepat.”

Saya pergi ke asrama St.Ursula RSPAD di jalan Pos 2, asrama pacara saya. Saya menjemput dia untuk mengurus barang-barang saya di RSPAD. Tidak banyak pembicaraan, memang sukar mencari kata-kata. Pada saat perpisahan dia memberikan saya sebuah buku untuk catatan harian selama perang. How thoughtful she was! Saya sendiri tidak pikirkan.

Pukul 17.00 sore tepat, saya dijemput dengan kenderaan Jeep Gaz dan dibawa ke rumah Kapten Benny Moerdani di Cijantung. Disana juga akan bergabung Letda Czi I Gede Awet Sara dari Zipur. Malam itu ada briefing singkat dari Kapten Benny.

“ Operasi ini Operasi Naga namanya. Kita akan diterjunkan di Irian Barat bagian selatan. Persisnya dimana, nanti akan dijelaskan”. Begitu briefing singkat komandan operasi.

Para perwira, artinya Letda Czi I Gede Awet Sara (Dandenzipassus), Letda Inf. Soedarto (Dantonpassus), dan saya Lettu dr. Ben Mboi (Dandenkespassus), semuanya menginap dirumah Kapten Benny, karena tepat pukul 4 dinihari besok akan ke Halim Perdanakusumah dalam satu kenderaan.

Kapten Benny masih bujangan, jadi kami diurus oleh ajudannya. Makan malam biasa-biasa saja, dan saya seperti tidak punya nafsu makan. Sesudah makan langsung tidur, tetapi saya sulit tidur. Muncul macam-macam pikiran yang membuat mata terus terbuka, menerawang. Kalau kita menonton filem-filem perang, seperti filem D Day Normandia, kadang-kadang akan kita rasakan ketegangan para prajurit paratrooper dalam landing boat ke pantai. Tapi perasaan itu tidaklah sama dengan perasaan kalau kita sendiri yang harus menghadapi pertempuran.

Pergi menuju perang rill seperti Operasi Naga, seolah kita tidak tahu hendak pergi kemana meski pertempurannya pasti. Kita tidak tahu apakah akan terluka atau tidak, akan hidup atau tidak, akan pulang atau tidak, dan katanya hutan belantara dirimba Papua luar biasa lebatnya. Siapa yang tidak takut? Belum lagi binatang buas, dan saya harus menolong/menyembuhkan para prajurit komando itu. Saya sendiripun baru lulus sekolah kedokteran dan Perwira Cadangan AD. Pikiran-pikiran berkecamuk dan saya pun tertidur.
Tidak lama kemudian dibangunkan, sudah pukul 03.00 pagi lewat. Kami mandi, berpakaian, sarapan, dan naik Jeep Gaz Kapten Benny. Kami bersama-sama berangkat pukul 04.00 tepat ke Halim Perdanakusumah. Disana sudah menanti tiga Hercules. Seluruh peleton plus RPKAD yang berjumlah 53 orang dalam satu Hercules. Konvoy Hercules dipimpin Oleh Letkol Pnb. Slamet, dengan Navigator Mayor Nav. Ir. Tan, yang diumumkan sebagai Navigator terbaik AURI. Ketiga Hercules Take off menembus keremangan dinihari.

Pukul 0700 23 Juni 1963 kami mendarat disuatu lapangan terbang. Ternyata Lanud Iswahjudi Madiun. Rupanya kedua Hercules yang kosong tadi untuk mengangkut Kompi Bambang Soepeno Yon 530/Raider Brawijaya berkekuatan 160 orang. Jadi seluruh personil Operasi Naga berkekuatan 1 Kompi Plus berjumlah 213 orang. Kurang lebih satu jam di Madiun, penerbangan diteruskan. Tidak tahu kemana.

Pukul 1200 kami mendarat. Ternyata Lanud Mandai di Makassar. Kami semua diperintahkan debarkasi dan menanti perintah selanjutnya. Makan siang di apron Lanud Mandai. Secara kebetulan saya bertemu seorang kawan Kapten Pilot Garuda, namanya Ariffin. Kami sama-sama punya pacar di Asrama Ursula.

“ Ben Mboi, tidak telefon calon mertua?” dia bertanya.
“ Tidak,” saya jawab. “ Tidak tahu nomor teleponnya.”
Saya tidak berani melepon, karena tidak dibenarkan untuk menelpon sesiapapun. It is becoming real, my war is real!

Jump Into The Unknown: The Sky Above, The Mud Below
Setelah makan siang di Mandai, penerbangan dilanjutkan. Destination unknown! Kira-kira pukul setengah lima sore kami mendarat di lapangan terbang tanpa gedung. Amahai, suatu tempat di Pulau Seram. Saya belum pernah mendengar nama Amahai. Kmai diperintah debarkasi dan terus pergi mandi di suatu sungai kecil dekat landasan. Belakangan saya tahu, maksudnya adalah karena diperkirakan ada yang akan gugur, maka sebaiknya mandi dulu!.

Setelah mandi makan malam – makan terakhir yang saya tau jam makannya pukul 18.30. Setelah makan sore/malam, para perwira dan bintara dikumpulkan dibawah suatu tenda daun kelapa. Yang memberi briefing tidak tanggung-tanggung! Langsung Panglima Mandala sendiri. Mayjen Soeharto. briefing nya singkat :

“ Kalian akan diterjunkan di daerah Merauke, Irian Barat bagian selatan. Mengapa di Merauke?

Pertama: tiap kali kita menyanyikan dari Sabang sampai Merauke, kita tahu/sadar bahwa Merauke masih diluar Indonesia Merdeka. Tugas kalian adalah secara konkret menarik garis Sabang-Merauke itu, sehingga Merauke de facto bagian NKRI.

Kedua: di Biak ada tumpukan 10.000 Marinir AL Belanda, sedangkan disana nantinya tujuan Operasi Jayawijaya. Kalian bertugas memancing sebagian pasukan itu keluar dari Biak.

Ketiga: sampai sekarang, semua pasukan terdahulu yang diterjunkan hilang 100 persen!. Malah dari kalian ini diperkirakan gugur 60 persen, kembali 40 persen. Saya berikan waktu 1 menit untuk mundur. Mundur sekarang, bukan penghianat! Kalau setelah itu, dia adalah penghianat!”

Saya melihat kekiri dan kekanan, tidak ada yang angkat tangan mundur. Saya juga tidak mau mundur!

Briefing kedua diberikan oleh Komandan Gugus Tugas Operasi Naga, Kapten Inf. Benny Moerdani. Briefing nya lebih detail, disertai dengan peta Irian Barat bagian selatan, US Army Map 1937. Saya melihat Kali Maro dan Kali Kumbe. Kami akan diterjunkan disebelah timur Kali Maro, lebih kurang 50km di utara kota Merauke. Paling lambat tanggal 1 Juli melakukan konsolidasi disuatu titik, ujung dari suatu jalan setapak yang menjurus kearah timur laut dropping zone. Masing-masing kami diberi buku kecil tentang Irian Barat dengan peta yang besarnya 10x15cm.
” Ada pertanyaan?”
“Tidak ada !”
” Sudah jelas semua?”
” Sudah!”

Semua dibekali dengan ransum NAR (Nasi kaleng), masing-masing prajurit mendapat jatah tujuh kaleng untuk tujuh hari akan datang. Harapannya akan bertemu tanggal 1 Juli!.
“Ayo naik pesawat!”
Kami satu persatu menuju pesawat dengan bagasi masing-masing. Kapten Benny memeriksa dari pesawat ke pesawat dan berteriak supaya cepat naik. Didepan pintu embarkasi pesawat tiba-tiba muncul dari kegelapan seorang kawan sesama Pacad angkatan V, Lettu dr.Liem Tjing Ham. Dia datang membesarkan semangat saya.
Hou je taai, ya Mboi!”
Katanya dalam bahasa Belanda, artinya ya tabah ya Mboi!

Saya tidak menjawab lagi karena berkecamuk perasaan takut dan rasa haru berpisah. Saya naik kepesawat dengan beban sama berat dengan badan saya, dengan payung terjun buatan Russia yang sama sekali belum pernah kami coba!.

Stick saya 10 orang. Penerjun pertama, Serma Kesehatan Teguh Sutarmin, kedua Serma Amwat, lalu saya. Menyusul dibelakang Serda Achyat, Serma Kasmin, Serma Rumasukun, Pelda Ismail, Serda Soepangat, Serda Suyatno, dan Serma Sutiyono.

Saya duduk dipesawat sudah dengan memakai seluruh perlengkapan dalam urutan sebagai berikut:

Jungle dress, smock, zwemvest, payung induk punggung, payung cadangan dibawah dagu, ransel dibawha payung cadangan, plujezak kedokteran tergantung dibawah ransel. Pada kopelrim teregantung pistol dan tali dengan snipering. Pemakaian zwemvest adalah sebagai precaution kalau-kalau jatuh ditengah-tengah sungai Maro, yang lebarnya tidak ada bandingannya sama sekali dengan sungai-sungai di Pulau Jawa.

Take off sekitar pukul 11 malam waktu Maluku, berarti pukul 12 malam waktu Papua. Prajurit-prajurit kawakan RPKAD ada yang ngobrol, malahan bernyanyi-nyanyi. Seperti mau piknik saja. Mungkin karena sebagian senior-senior RPKAD itu adalah bekas pasukan Korps Speciale Troepen zaman Belanda dibawah pimpinan Westerling. Jadi sudah makan asam garam komando pertempuran.

Tetapi sebagian ada juga prajurit komando yang sama dengan saya, baru mengalami vuurdrop dilatihan perang-perangan di Pusdik. Tidak heran kalau ada satu prajurit saking gugupnya, mungkin karena rasa takut, kelepasan membuka payungnya dalam pesawat, sehingga ruang Hercules penuh terisi payungnya. Dia batal terjun.

Saya sendiri langsung duduk dan mulai berdoa rosario. Saya lupa berapa rosario saya habiskan, sampai ada bunyi bel tanda ready to jump, dan pintu terjun menganga lebar.

Selamat Bejuang Pahlawanku!
Pilot Hercules, Letkol Slamet memberikan ucapan intinya tugas dia hanya sampai disitu, dan mengucapkan: “Selamat Berjuang, Pahlawan!”
Namun putaran satu kali belum tampak dropping zone, dua kali juga belum, dan pada putaran ketiga terdengar teriakan Overste Slamet,
” Disini saja!”
Kenapa disini saja? Jawabnya nanti didarat kami ketahui!

Dipintu berdiri Jump-master yang menendang pantat kami keluar pesawat karena saking beratnya beban yang menempel dibadan kami sambil berteriak “Selamat Berjuang, Pahlawanku!”
Pahlawan yang ditendang pantatnya untuk pergi berjuang! Alangkah ironisnya!
Dari stick saya Serma Teguh Sutarmin terjun duluan, disusul Serma Amwat.

Ketika sampai pada giliran saya, keringat dingin mendadak keluar. Tiba-tiba ada tepukan dibahu kiri saya dari belakang disertai suara yang sudah lama sekali saya tidak dengar,
” Ben, jangan takut, saya akan selalu turut!”
Ya Tuhan Allah Yang Mahakuasa! Itu suara arwah almarhum saya, yang saya tidak pernah dengar lagi selama 14 tahun. Segera keringat takut, keringat dingin saya hilang, seperti masuk kembali kembali kedalam tubuh. Saya berjalan kepintu pesawat, terjun dengan penuh ketenangan dan keberanian.

Kami terjun diketinggian 700m kurang lebih jam 0300 pagi, ketika bulan mati gelap gulita, tetapi langit dipenuhi bintang-bintang. Saya melihat sekeliling, suatu pemandangan yang begitu indah sekali, puluhan payung mengambang dalam keremangan jutaan bintang-bintang dilangit. Romantis sekalia kalau tidak mengingat bahwa dibawah sana ada musuh yang menunggu untuk menembak kami.

Begitu payung terbuka, saya lepaskan ransel dan pluzak bergantung bebas dari badan saya agar nanatinya jatuh tidak terlalu keras. Sepanjang latihan terjun di Margahayu, saya tidak pernah terjun dengan beban dibadan. Untunglah payung terjun yang kami pakai adalah buatan Russia yang tebal. Bayangkan kalau memakai payung sutra buatang Inggris, dengan beban dibadan saya lebih 60kg, pasti seperti free-fall saja.

Makin dekat kebawah, makin tampak pohon-pohon, makin lama makin tinggi (makin dekat?). Celaka pikir saya. Latihan turun memakai tali dan snipering di Margahayu hanya simulasi saja. Rencana Kolonel Moeng ( Komandan RPKAD) untuk sekali terjun di hutan karet batal dikerjakan karena terhalang hujan.

Saya terjatuh kedalam satu pohon, meluncur diantara cabang-cabang. Bergantung 20 meter dari tanah!. Saya lepaskan diri dari ikatan tali payung terjun, dan dengan tali dan snipering perlahan-lahan turun ketanah dan duduk disana, sampai kira-kira pukul setengah enam. Kmai dibekali dengan 1 pluit, dengan kode panggil 3x, jawab 2x.

Pukul 0600 pagi terkumpul 9 orang, stick saya utuh kecuali Serma Teguh Sutarmin, penerjun pertama. Memang dapat dibayangkan betapa kesulitannya kami untuk konsolidasi, karena kecepatan Dakota waktu latihan berbeda dengan kecepatan Hercules yang menerjunkan kami. Dapat dibayangkan berapa jarak jatuh antara penerjun dengan kecepatan Hercules yang kira-kira 150 meter per detik diatas rimba belantara Papua yang dikelilingi rawa itu.

Saya sudah dibumi Irian Barat.Misi kami baru mulai. Kami harus berperang dengan belanda. Pekerjaan saya sebagai perwira kesehatan belum ada.semoga tidak ada yang tercedera. Apa mungkin? Mustahil peperangan tanpa cedera, peperangan tanpa kematian!

Tunggu saja!

Pertempuran di Kampung Kelapa Lima
Setelah kami sudah terkonsolidasi, kami mulai orientasi medan dan mendapati satu kenyataan bahwa kami diterjunkan disebelah barat sungani yang kami yakini Sebagai Sungai Maro. Sungai ini mengalami pasang surut setiap 6 jam. 6 jam mengalir kehulu, dan kemudiannya megalir kehilir!. Benar-benar tidak ada perbandingannya di Pulau Jawa. Dengan kata lain, untuk bertemu dengan pasukan, kami harus menyeberang dengan rakit. Menyeberangi sungai yang begitu luasnya.

Setelah konsolidasi stick terjun kami, saya menginventarisasi kekuatan regu kecil kami. Semulanya stick terjun terdiri dari 10 orang. Achyat, Kasmin, Sutiyono, Suyatno, Suyatno pelontar granat, Rumasukun, Ismail pemegang bren, Serma Kesehatan Amwat dan saya. Lettu Kes dr.Ben Mboi. Serma Kesehatan Teguh Sutarmin belum juga bergabung, kami menunggu dia.

Kemudian kami membuat rakit dari bambu, dan ketika hari sudah gelap kami menyeberang, berenang sambil mendorong rakit bermuatan perlengkapan kami. Kami langsung masuk ke dalam rawa, dan sepanjang malam tidur disana.

Begitu hari mulai terang, kami mulai bergerak, mencari jalan setapak yang dijelaskan dalam briefing di Amahai. Ternyata jalan setapak tersebut tidak ada! Apa yang salah? Perjanjian di Amahai adalah bahwa apabila sampai dengan tanggal 1 Juli tidak bertemu dengan induk pasukan, maka setiap prajurit yang selamat diharuskan bergerak kearah Merauke. Kita pasti akan bertemu di sekitar Kota Merauke. Namun sampai tanggal 1 Juli kami belum juga bertemu dengan induk pasukan.

Kami menganggap bahwa sungai yang telah kami seberangi ini adalah Sungai Maro. Jadi, kalau kami menyusur sungai dengan sesekali menjauhi pinggiran sungai, pasti kami akan sampai ke Kota Merauke. Maka berjalanlah kami kearah baratdaya. Tetapi aneh sekali, pesawat-pesawat terbang yang lewat diatas kami semuanya menuju arah tenggara.

Ilmu bumi yang saya pelajari mengatakan bahwa disebelah timur Kota Merauke tidak ada kota lagi. Kota merauke adalah kota yang paling selatan dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Maka kami putuskan untuk mengikuti arah penerbangan pesawat yang lewat, tidak mustahil kami diterjunkan ditempat yang salah. Setelah beberapa hari berjalan, menyeberangi rawa-rawa, kami mendengar bunyi seruling kapal laut. Bunyi itu memastikan kepada kami bahwa Merauke ada di depan kami, di tenggara.

Anda harus membayangkan rapatnya hutan belantara Irian pada masa itu. Tiba-tiba saja kami bertemu dengan seorang tua, yang kemudian kami tahu bernama Bakri, seorang Jawa asal Gresik-Jawa Timur yang pada awal abad ke-20 mausk dalam rombongan migran yang dibawa oleh Belanda ke New Caledonia. Rombongan mereka singgah di Merauke dan tidak dilanjutkan ke New Caledonia. Dia menunjukkan kepada kami beberapa pohon singkong diantara pohon-pohon sagu, dan dia berjanji akan datang membawa makanan.

Terjadilah dialog lucu berikut:
” Kita sekarang ada dimana?” tanya seorang prajurit.
” Di West New Guinea,” jawab Bakri.
” Busyettt,” cetus prajurit saya, ” Bang*sat AURI! Kita mestinya terjun di Irian Barat, malah dijatuhkan di Di West New Guinea!”

Saya jelaskan kepadanya bahwa Irian Barat itu Di West New Guinea dalam bahasa Belanda. Bakri tidak tahu Irian Barat, prajurit yang muda-muda itu tidak kenal Di West New Guinea. Suatu lelucon ditengah perang gerilya.

Kami tidak begitu saja mempercayai Pak Bakri, siapa tau dia voor-spit dan mata-mata Belanda. Karena dia berjanji akan kembali, maka buat berjaga-jaga kami menyiapkan penyergapan andaikata dia datang membawa tentara Belanda. Ternyata Pak Bkari jujur. Dia datang kembali membawa ubi-ubian buat kami. Namun setelahnya, kami menghindari bertemu dia lagi sampai cease-fire beberapa minggu kemudian.

Kami meneruskan perjalanan menuju tepi barat Kali Maro. Kami kaget bukan main, karena sungai ini begitu lebar, mungkin 2-3 km lebarnya. Diseberang terlihat Kota Merauke. Kalau ingin ke Merauke jelas harus ke hulu sungai dulu, dimana lebar sungai lebih sempit dan ada sedikit belokan agar lebih mudah menyeberang. Dan ketika kami ke hulu, kami meliwati tepi luar areal persawahan yang luas. Kemudian setelah cease-fire kami tahu persawahan itu sebagai Kampung Kuprik, dengan penduduk sebagian besar suku Buton dan Jawa, seperti keluarga La Bulla

Akhirnya kami sampai ke hulu Kali Maro, dimana lebar sungai hanya lebih kurang 200-300m. Disitu kami berhenti sambil mengumpulkan rumput serta membungkus ransel dan kelengkapan lain dalam ponco. Kami menunggu saat peralihan air pasang dan surut. Pada ssat itu sungai agak tenang, momen terbaik untuk menyeberang. Kami berenang dengan hanya mengenakan celana dalam saja.

Ditengah sungai saya sempat kaget bertemu ular sebesar paha manusia dewasa. Tetapi karena mungkin dia juga sedang mencari penghidupan seperti kami dia melewati depan saya saja. Seorang teman yang terlambat menyeberangi sungai disambar arus naik, terbawa arus kuat ke hulu dan kembali terdampar ditepi barat sungai. Terpaksa kami menginap lagi semalam untuk menunggu prajurit tersebut. Sekarang, kami sudah sampai ke daerah operasi yang benar, sisi timur Sungai Kali Maro.
Hello Merauke, here we come!

Sudah mausk minggu ketiga setelah penerjunan kami tanggal 24 Juni 1962, namun belum kelihatan tanda-tanda daripada induk pasukan, komandan Operasi Naga. Jadi kembali kami lanjutkan perjalanan, kearah Merauke pada sisi timur Sungai Moro.

23 Juli, kurang lebih pukul 1500 kami dikejutkan dengan suara lonceng sapi. Trenyata ada kawanan sapi yang sedang merumput disekitar kami. Kami sudah berada dipinggir lapangan terbang Merauke. Sadar secara fisik sudah akan memasuki kota, kami berusaha menghindar mencari kemungkinan keberadaan induk pasukan. Tidak mungkin akan ada konsentrasi pasukan kami didalam kota, bayangkan saja kami bergerilya sendiri tanpa peta!

Kami menyusuri pinggiran lapangan terbang yang sunyi senyap, tidak ada pesawat, tidak ada kegiatan yang berlebihan. Kami berusaha tetap berjalan dalam hutan. Begitu sore, kira-kira pukul 1700 kami berhenti. Tiba-tiba muncul 3 orang pemuda Papua, pemuda setempat, ngobrol sebentar dengan kami lalu pergi. Segera kami curiga dan mempersiapkan diri seperlunya, mengatur tudut agak berpencar! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan satu pistol ditangan dalam perang gerilya, dimana orang tidak akan bertanya siapa dokter, siapa bukan, melainkan tembak saja.

Kira-kira pukul 8 malam mulailah tembakan pertama ke arah kami, disusul rentettan semakin lama semakin gencar. Pertempuran real pertama saya meletus. Berlangsung kira-kira satu jam, namun secara mendadak berhenti. Pagi-pagi 24 Juli terjadi tembakan pancingan lagi kearah kami, pertempuran dilanjutkan sebelum kami sempat konsolidasi. Pertempuran berlangsung sengit kira-kira setengah jam, berhenti setelah terdengar jeritan kesakitan seorang pasukan Belanda yang terkena tembakan. Pasukan Belanda dengan terburu-buru mundur, sambil menyeret anggota pasukannya yang terluka tadi. Dna kami berkumpul.

Konsolidasi kami kehilangan 3 personil : Serma Rumasukun, Serda Ismail, dan Prajurit Sutiyono. Pelda Soepangat putus urat achillesnya kena tembakan musuh. Saya periksa, kalau toh harus dioperasi harus di mobilisasikan, namun akan memperlambat gerakan kelompok yang tinggal 5 orang ini. Kami putuskan, Soepangat ditempatkan dipinggir jalanan setapak Kampung Kelapa Lima dengan harapan pasti nantinya akan ditolong warga, dengan asumsi menjadi tawanan tentara Belanda.

Kami menyingkir dan bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan besar karena mulai pukul 0900 pagi hingga 1700 sore kami dibombardir dengan tembakan mortir. Besoknya kami bergerak kearah timur lagi, mencari induk pasukan. 3 Kawan kami yang hilang tidak diketahui nasibnya, entah gugur, tercecer, atau tertangkap. Entahlah!. Baru setelah cease-fire kemudian diketahui bahwa Rumasukun, Ismail, dan Sutiyono tercecer sampai Papua New Guinea dan ditangkap oleh tentara Australia.

Dua hari kami bertempur secara terus menerus dengan Belanda, saya mengambil kesimpulan bahwa tentara Belanda bertempur cuma ala kadarnya saja, dan se[ertinya tidak kepingin mati untuk Irian Barat. Begitu teman-temannya terkena peluru, cedera atau tewas, langsung mereka mengundurkan diri. Sayang, psikologi ini tidak kita baca sebelumnya. Andaikata kita tahu suasana moril musuh ini, strategi dan taktik perang pihak kita mungkin akan lain.

25 Juli pagi-pagi sekali kami keluar dari persembunyian disekitar hutan kampung Kelapa Lima, langsung menuju arah timur mencari induk pasukan, baik itu RPKAD maupun Raiders 530.Mula-mula kami kearah perbatasan PNG melalui daerah rawa-rawa kering. Makanan kami hanya terdiri dari daun bluntas dan daun nipah. Sesekali kami menangkap Biawak yang cukup banyak diwilayah tersebut. Bila dekat anak Sungai Maro, dengan gampang kami menangkap ikan gabus yang tidur dalam lumpur.

15 Juli 1962, timbul kejadian aneh. Tentara Belanda secara bertubi-tubi seperti menyirami pinggiran Sungai Maro dengan mortir dan peluru senapan mesin. Ini sampai 2 hari penuh dilakukan mereka. Kami yakin, induk pasukan kami berada disekitar sungai tersebut. Maka kami memutuskan menyusuri Kali Maro lagi kehulu.

Terus terang, kami belum pernah bertemu pasukan Raiders Yon 530. Maka hampir saja terjadi salah paham dan baku tembak. Untung kemudian terdengar orang bicara memakai bahasa Jawa diseberang sana. Setelah kami tanya, baru ketahuan mereka anggota Raiders Yon 530. Kmai saling mendekat, berpelukan, bersalaman.

” Mana Komandan?” saya bertanya kepada salah seorang dari mereka.
” Komandan Kapten Bambang Soepeno berada sekitar 1-2km dari sini”

Kami bersama-sama ke tempat Kapten Bambang Soepeno, Komandan Kompi Raiders 530/Brawijaya, yang juga merangkap Wakil Komandan Pasukan Operasi Naga. Saya melapor dan seterusnya bergabung dengan sisa 5 orang pasukan saya.

Sambil beristirahat setelah bergabung dengan Raiders 530, kami masih menunggu Bintara Kesehatan Serma Teguh Sutarmin yang mulai hari pertama tidak kami ketahui nasibnya bagaimana selama 3 hari. Mencarinya sekitar dropping zone dengan menggunakan kode pencarian kami, tapi tetap saja gagal. Sementara itu ada higgins boat patrol Belanda lewat. Kmai biarkan saja kapal kecil itu lewat, dengan maksud membiarkannya bertemu dengan induk pasukan kami yang lebih besar. Dan benar saja, pada siang hari setelah 3 hari penerjunan, terjadi kontak senjata dengan pasukan RPKAD yang ternyata terjun lebih jauh ke hulu sungai.

The War is Over!
Ternyata berondongan mitraliur Belanda sepanjang Kali Maro dari higgins boat patrol pada tanggal 15 Agustus itu adalah hari cease-fire, yang ditandatangani di New York oleh diplomat kita Adam Malik dari Indonesia, Mr. Van Rooyen dari Belanda, dan Mr.Bunker diplomat kawakan AS yang menegahi dan menfasilitasi perundingan.

Ditengah hari yang sama, datang speed boat dengan penumpang seorang Sersan intel dari induk pasukan untuk menjemput saya dan Kapten Bambang Soepeno terlebih dahulu, ke markas gerilya Operasi Naga di Kuprik. Anda harus bayangkan wajah saya yang kurus dan berjenggot lebat, berat badan 62kg waktu berangkat, kini tinggal sekitar 50kg. Sepatu terjun saya robek-robek. Di jetti dipinggir Sungai Maro, berdiri Kapten Inf. Benny Moerdani, Komandan Operasi Naga memanti saya dan Kapten Bambang Soepeno. Kami berpelukan.

Perang telah usai! Apa operasi Naga menang? Benar secara taktis inisiatif perang ada ditangan Belanda, tetapi Operasi Naga berhasil mencegah pembentukan Negara Papua. Setelah berkumpul dengan induk pasukan di Kuprik, Merauke, kami ketahui bahwa pada malam sebelum penandatanganan Bunker Agreement, TNI masih menerjunkan pasukan lagi, kurang lebih 1.300 prajurit, di Merauke ditambah 1 Kompi PGT AURI dibawah pimpinan Letnan Satu Pas.Mattitaputy. Alasan penerjunan tambahan, karena dari pengalaman revolusi fisik dulu Belanda selalu ingkar janji. Dengan tambahan ini maka seluruh kekuatan TNI yang diterjunkan di Bumi Irian Barat berjumlah sekitar 2.100 personil.

Setelah seluruh pasukan terkumpul di Kuprik, Merauke, saya diperintahkan untuk memimpin pengambilan jenazah-jenazah anggota pasukan yang gugur yang tersebar bersama Letda Soekarso, yang terjun tanggal 15 Agustus malam, dengan dibantu oleh seorang Kopral Marinir Belanda, dan diperbantukan dengan sebuah Jepp. Para prajurit yang gugur ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Merauke. Setelah cease fire baru kami ketahui nasib Serma Kesehatan Teguh Sutarmin. Rupanya dalam penerjunan dia tersesat, berjalan memasuki perkampungan penduduk, dan dibunuh oleh orang-orang kampung disitu.

Korban Operasi Naga sendiri adalah 36 orang gugur, termasuk Serma Teguh Sutarmin, missing in action (MIA) 20 orang, sehingga total 56 orang. Kalau dipresentasekan lebih kurang 25 persen, lebih baik dari perkiraan Panglima tempo hari. Pengorbanan dan penderitaan tidak sia-sia! Semoga tidak disia-siakan. Saya harus mengatakan ini, karena ketika bergabung dengan induk pasukan, saya membawa serta dan menyerahkan dokumen-dokumen dan bendera Bintang Kejora yang kami temukan dalam petualangan kami di dalam hutan. Kesimpulan saya membaca dokumen-dokumen tersebut adalah, adanya suatu kelompok di Irian Barat yang tidak setuju bergabung dengan NKRI, baik atas kemauan sendiri dan/atau hasil politik Belanda dimasa lalu.

Datang berkunjung setelah pasukan kami lengkap terkonsolidasi Brigjen Achmad Wiranatakusumah menggunakan Hercules AS. Segera kami dibagikan kertas dan amplop untuk menulis surat kepada keluarga. Saya tulis surat kepada pacar saya, Saya lupa apa yang saya tulis disitu, tapi intinya adalah : I am alive, Dearest!.

 

 

 

24-01-2013 19:17

Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase.

”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

”Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura. Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya.

”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura – Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor.

Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia – Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia – Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”….(Iwan Santosa)

 

Peristiwa Kalabakan

24-01-2013 19:43

credit for garudamiliter

Masih dalam rangka politik konfrontasi guna memperoleh data intelejen di daerah lawan. Pada Desember 1963, Peleton X satuan khusus KKo/Korps Marinir yang bertugas di perbatasan Kaltim – Sabah yang operasional di bawah Basis VI Ops.A/Koti, bekerja sama dengan kesatuan tugas operasional. KKo/Korps Marinir didaerah Kaltim, telah ditugaskan melakukan raid ke Sabah (Sandakan, Lahat Datu dan Sempurna).

Sasaran pertama dipimpin oleh Kopral Mar Sukibat dan Prajurit Mar Subroto. Sasaran dua dipimpin Sersan Dua Mar Rebani dan sasaran tiga dipimpin Prajurit Mar Asmat. Masing-masing berkekuatan satu peleton.

Karena pada hakikatnya setiap anggota KKo/Marinir sudah dibekali latihan dasar komando, maka tugas-tugas raid yang memerlukan kemampuan komando mampu dipikul oleh mereka. Disamping nama Korps Komando memang merupakan ‘beban’ dan sekaligus kebanggaan, sehingga bila diperlukan untuk melakukan tugas selaku prajurit Komando, mereka berusaha melakukan tugas sebaik-baiknya.

Hal ini memang terbukti dalam banyak penugasan di berbagai operasi militer. Mereka mampu bergerak dalam satuan-satuan kecil, dalam medan yang cukup berat, rawa, pantai berbakau maupun dalam hutan lebat seperti Kalimantan.

Meskipun pihak pasukan Inggris di Sabah sudah berpengalaman dalam perang anti gerilya di Malaya (semenanjung), namun dalam menghadapi gerilya Indonesia ternyata tidak semudah yang disangka. Rebani dan kawan-kawannya dengan perlengkapan seringan mungkin, berhasil menerobos wilayah lawan dan berhasil menghancurkan kesatuan inggris yang ada di Kalabakan, menewaskan 8 orang termasuk seorang Mayor dan 38 serdadu lainnya luka-luka. Merampas 1 bren, 7 SMR, 10 sten gun dan 1 pistol. Kerugian Marinir, gugur 1 orang yakni Prajurit Gabriel.

Peristiwa kalabakan menunjukkan keberhasilan Peleton X melakukan raid melalui medan belantara di perbatasan. Padahal lawan memiliki kemampuan tinggi dengan perlengkapan yang lebih. Ini suatu prestasi yang sulit dilakukan.

Setelah keberhasilan penyusupan ini Rebani berusaha memimpin pasukannya kembali ke pangkalan. Sayang karena medan yang berat ditambah kekurangan makanan, sebagian tidak dapat sampai kembali ke basis, termasuk Sersan Rebani sendiri. Atas jasa dan keberaniannya Rebani dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Mayor Anumerta dan Pemerinta RI menganugerahkan Bintang Sakti kepadanya.

Dengan dilakukan patroli dan raid tersebut lawan kemudian mengurangi aktivitasnya. Sebaliknya raid yang dilakukan lawan di wilayah RI yang dijaga oleh Brigade Pendarat I KKo AL tidak pernah berhasil. Mereka bahkan lebih sering menderita kerugian lebih besar (periode 1965-1966 sampai tercapai persetujuan pengakhiran konfrontasi) terutama di Siglayan.

Korban Perwira Inggris
Pembunuhan terhadap komandan Inggris ini terjadi di kampung Kalabakan. Saat itu Kalabakan merupakan perkampungan yang menjadi salah satu pos keamanan daerah Tawau yang berdekatan dengan pelabuhan Cowie.

Ada 2 posisi pertahanan berstelling di Kalabakan, polisi setempat dan pasukan militer dari Royal Malay Regiment yang menempati 2 buah gubuk Pihak Malaysia sama sekali meremehkan kemampuan tempur pasukan Indonesia yang mengakibatkan lemahnya penjagaan dan kewaspadaan mereka di Kalabakan hal inilah yang dimanfaatkan sersan Rebani dan pasukannya untuk memulai serangan terhadap kedudukan musuh di Kalabakan.

Tapi berdasarkan beberapa catatan sejarah mengenai perwira-perwira Inggris yang tewas di Malaysia bisa diambil beberapa nama antara lain Mayor RM Haddow, Mayor R.H.D. Norman, dan Mayor H.A.I. Thompson, yang pasti pihak Inggris berusaha menutupi nama perwiranya yang tewas dalam kejadian ini, bahkan pihak inggris pun mengarang cerita kepada pemimpin Malaysia Tunku Abdul Rahman yang mengadakan inspeksi bahwa tentara persemakmuran yang tewas di Kalabakan walaupun kalah memberikan perlawanan yang gigih dan pantang menyerah dimana kenyataannya mereka benar-benar diserang mendadak dalam kondisi santai dan tidak siap atau istilah inggrisnya “caught with their trousers down”. Pemerintah Malaysia membangun monumen untuk menghormati korban mereka yang gugur disana.

Hal yang menarik dalam peristiwa ini ikut gugurnya seorang perwira inggris yang coba dicover oleh pemerintah inggris karena takut dipermalukan oleh dunia internasional, perwiranya tewas ditangan pasukan dunia ketiga disaat sedang santai pula.

Tambahan Info :
Pada masa Dwikora Pasukan persemakmuran khususnya Inggris sangat menjaga gengsi dan prestise mereka dimedan tempur, hal ini dilakukan oleh banyak covert operation yang mereka lakukan dimana covert operation ini sampai detik ini masih tergolong classified karena tidak semuanya berjalan mulus seperti yang mereka harapkan, bahkan SOP (Standart Operating Procedure) pasukan persemakmuran saat melakukan patroli dan raid mereka selalu sangat berhati-hati terutama dalam menutupi jejak-jejaknya, pasukan Indonesia banyak belajar mengenai teknik-teknik perang hutan yang sangat lihai diterapkan oleh musuh bahkan mereka tidak pernah meninggalkan korbankorban dari pihak mereka bila terjadi kontak senjata, biasanya acuan bagi pihak Indonesia bila ada korban dari suatu kontak senjata adalah barang-barang atau ransel yang ditinggalkan pemiliknya, hal inilah yang membuat perkiraan terhadap korban pasukan persemakmuran khususnya dari kalangan tentara non-Malaysia sangat sulit karena memang dalam setiap pergerakannya mereka menjaga benar eksistensinya dimedan tempur.

Satu peristiwa yang tidak mungkin dapat dilupakan, sekaligus menjadi satu titik hitam dalam lipatan sejarah 3 RAMD ialah Peristiwa Kalabakan. Dalam tragedi berdarah ini, seorang pegawai dan tujuh anggota Platun 1 Kompeni A3 RAMD terkoban, manakala 18 orang anggota lagi tercedera. Peristiwa berdarah ini berlaku pada tanggal 29 Disember 1963.

Tempat berlakunya tragedi berdarah yang menimpa 3 RAMD itu terletak tidak jauh dari tebing Sungai Kalabakan. Lokasinya kira-kira 30 batu ke utara Tawau dan 12 batu ke utara sempadan Kalimantan, Indonesia. Di situ terletak dua penempatan kecil Pasukan Keselamtan Malaysia yang terdiri daripada satu penempatan Pasukan Polis Hutan dan sebuah lagi penempatan tentera terletak di suatu lereng bukit.

Kedua-dua penempatan dipisahkan dalam jarak lebih 400 ela sahaja. Pos Polis yang dipagari dengan dawai berduri mempunyai kekuatan 15 orang anggota, manakala penempatan pasukan tentera tidak pula berpagar. Anggota Platun 1 Kompeni A dan kemudiannya disertai oleh seksyen dari Palatun 10 Kompeni C 3 RAMD ditempatkan di situ. Kawasan perkhemahan ini terletak suatu kawasan lereng tanpa sistem keselamatan serta pertahanan yang lengkap. Ini berlaku kerana ketiadaaan bekalan peralatan walaupun usaha mendapatkannya telah berulangkali dilakukan.

Seramai 41 anggota 3 RAMS terlibat dalam peristiwa di Kalabakan, mereka adalah;

1. 5415 Mejar Zainol Abidin Bin Hj. Yaacob
2. 11709 Leftenan Muda Raja Shaharudin bin Raja Rome
3. 2380 Pegawai Waran Dua Awaluddin bin Kamoi
4. 5237 Sarjan Ab.Aziz bin Meon
5. 6775 Koperal Hitam bin Mahmood
6. 9899 Koperal Hashim bin Hj. Ahmad
7. 9894 Lans Koperal Osman bin Darus
8. 33876 Lan Koperal Isa bin Bujang
9. 13960 Lans Koperal Abdullah bin Abdul Rahman
10. 6357 Prebet Hashim bin Abd. Ghani
11. 7966 Prebet Ibrahim bin Ahmad
12. 9542 Prebet Che Amat bin Che Leh
13. 9808 Prebet Mokhtar bin Hassan
14. 10385 Prebet Othman bin Hj. Budin
15. 10557 Prebet Ramli bin Awang
16. 10787 Prebet Othman bin Darus
17. 11020 Prebet Harun bin Abdullah
18. 11955 Ramli bin Salleh
19. 1386 Prebet Adnan bin Jabar
20. 14241 Prebet Zainuddin bin Yaacob
21. 14630 Prebet Ahmad bin Abu Yamin
22. 14185 Prebet Mat Sa’at bin Yaakob
23. 14626 Prebet Ahmad bin Hussin
24. 11245 Prebet Abdul Aziz bin Abdul Ghani
25. 11471 Prebet Ismail bin Mat
26. 11509 Prebet Mohamad Zain bin Yaacob
27. 13784 Prebet Ismail bin Mansor
28. 14447 Prebet Yusof bin Sulong
29. 14469 Prebet Shamsuddin bin Yasin
30. 10277 Prebet Abdul Ghani bin Mohamad
31. 10530 Prebet Shukri bin Suratman
32. 10586 Prebet Mohamed Nafiah bin Yahaya
33. 10587 Prebet Mohamad Nor bin Ahmad
34. 11051 Prebet Yaacob bin Ngah
35. 1164 Prebet Mohamad Arfah bin Almunir
36. 11244 Prebet Ariffin bin Yusof
37. 11957 Prebet Abdul Wahab bin Mat
38. 13885 Prebet Yahya bin Hj. Yaacob
39. 14346 Prebet Ab Karim bin Mat Johan
40. 14571 Prebet Bidin bin Abu
41. 14655 Prebet Mat Saad bin Othman
Menurut laporan, seramai 130 orang tentera Indonesia daripada pelbagai pasukan bergerak dari Kalimantan menyusup ke kawasan Malaysia pada pertengahan Disember 1963. Pasukan ini singgah di Serudong dalam perjalanan menuju ke Selimpopon dengan melewati Tarakan untuk ke kem balak Teck Guan dekat Kalabakan. Mereka bermalam di situ pada 28 Disember. Mejar Zainol Abidin bersama dua seksyen dari Kompeni C digerakkan ke penempatan Platun 1 Kompeni A di Kalabakan pada 29 Disember bagi memperkuatkan subunit berkenaan. Tiga buah kubu, setiap satu untuk tiga orang, dibina untuk tujuan pertahanan, Kubu berkenaan terletak di kiri dan kanan serta di Sebelah kanan belakang rumah atap dan digunakan untuk menempatkan senjata RISLB. Rumah berkenaan diberikan oleh Mr. Ress Pengurus Bombay Burma Timber Company Limited.

Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin menyatakan, beliau ada menerima maklumat yang menyatakan satu kumpulan tentera Indonesia sedang bergerak dari Kalimantan menyusup masuk ke kawasan Malaysia. Mereka dilaporkan telah merampas barang-barang dari sebuah kedai kepunyaan seorang peniaga Cina di kawasan Serudong Laut. Mereka dikatakan sedang bergerak ke arah kawasan Kalabakan.

Tidak lama selepas itu satu tembakan kedengaran memecah keheningan malam dan kemudiannya diikuti pula oleh tembakan yang bertubi-tubi. Ketika saya dan sebilangan anggota keluar dari rumah untuk ‘stand to’, anggota TNI telah pun mula melepaskan tembakan dan melemparkan bom tangan ke kedudukan kami, cerita Lettenan Kolonel (bersara) Raja Shaharudin. Semua anggota bertempiaran keluar dari rumah mencari perlindungan. Sarjan Abdul Aziz berjaya menerjunkan diri ke dalam kubu dan berada bersama ketua platun serta dua anggota lagi. Kami membalas tembakan dan turut melontarkan bom tangan ke arah anggota TNI, saya kemudiannya memerintahkan anggota agar mengambil perlindungan dan tidak melepaskan tembakan kecuali mereka melihat anggota TNI.

Tembak-menembak berhenti kira-kira pukul 11.00 malam, terang Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin. Mr. Ress, besama seorang lalaki datang menemui Leftenan Muda Raja Shaharudin sejurus selepas pertempuran berhenti. Pada lebih kurang pukul 3.30 pagi 30 Disember 1963 satu platun bantuan yang diketuai oleh Leftenan Muda Wan Nordin bnin Wan Mohammad (12176) sampai ke lokasi platun di Kalabakan. Anggotanya diarah mengumpulkan anggota yang terkorban dan tercedera sambil memberikan rawatan sekadar terdaya. Apabila matahari pagi 30 Disember 1963 mula menampakkan sinarnya, anggota mula melakukan penggeledahan kawasan secara terperinci bagi mengumpul mayat dan anggota yang tercedera untuk dimaklumkan kepada markas batalion. Lapan anggota termasuk ketua kompeni disahkan terkorban, manakala 18 anggota lagi tercedera.

Anggota 3 RAMD yang terkorban ialah;

1. Pegawai Waran Dua Awaluddin
2. Sarjan Ab. Aziz
3. Las Koperal Osman
4. Las Koperal Isa
5. Prebet Che Amat
6. Prebet Abdul Ghani
7. Prebet Shukri
8. Prebet Mohamed Nafiah
9. Prebet Mohamad Nor
10.Prebet Yaacob
11. Prebet Mohamad Arfah
12. Prebet Ariffin
13. Prebet Abdul Wahab
14. Prebet Yahya
15. Prebet Mat Sa’at
16. Prebet Ab. Karim
17. Prebet Bidin
18. Prebet Mat Saad

Mengikut Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin, beliau menahan Sulaiman yang datang pada lebih kurang pukul 8.00 pagi itu. Saya mendapati tiga kelongsong peluru terselit di pinggangnya, ketika memeriksa laras senjatanya, saya mendapati laras senjara tersebut masih berbau serta ada kesan yang menunjukkan senjata tersebut telah digunakan. Sulaiman diserahkan kepada pihak Polis Kalabakan.

Sebelum itu, saya telahpun menahan seorang lelaki yang saya jumpai berjalan di hadapan pejabat Burma Timber Company pada pukul 4.oo pagi itu. Sebuah helikopter tiba ke tempat kejadian pada pukul 11.00 pagi dan 30 Disember bagi mengeluarkan anggota yang tercedera dan terkorban. Anggota tercedera diterbangkan ke Hospital Tawau, manakala yang terkorban diterbangkan pula dari Tawau ke Labuan dengan Pesawat Dakota. Pesawat Dakota sampai ke Labuan pada waktu malam. Penduduk tempatan di Labuan telah membantu memandi dan menyempurnakan jenazah sebelum jenazah diterbangkan balik ke Semenangjung keesokan paginya. Ketibaan jenazah di Lapangan Terbang sungai Besi disambut oleh para Menteri Kabinet dan Pegawai tinggi Tentera juga para pembesar negara. Dari Kuala Lumpur jenazah dibawa pula ke kampung halaman masing-masing untuk dikebumikan.

Pasukan 1/10 Gurkha pimpinan Lieutenant Colonel Burnett dikejarkan ke Kalabakan bagi membantu 3 RAMD membuat penggeledahan Kalabakan. Berikutan itu, pada 12 Januari 1964, seramai 22 orang Tentera Indonesia berjaya dibunuh disamping banyak yang telah ditangkap. Batalion ini berjaya menangkap 3 orang anggota TNI. Walaupun bilangan yang ditawan itu agak kecil jumlahnya, tetapi ia telah membantu pasukan dalam operasi selepas itu. Beberapa kawasan di Tawau telah diisytiharkan sebagai kawasan terhad bagi memudahkan operasi pasukan keselamatan. Pada 27 Januari, satu kumpulan ronda dari Kompeni B di bawah pimpinan Leftenan Muda Ishar bin Sham (12221) menjumpai satu perkhemahan anggota TNI dan pertempuran berlaku. Seorang anggota TNI berjaya dibunuh, dua pucuk senapang, 12 butir bom tangan dan sejumlah peluru berjaya dijumpai.

Platun 6 di bawah pimpinan Leftenan Muda Abdul Aziz bin Shaari (12178) ketika membuat serang hendap di Merotai Estet pada 28 Januari berjaya membunuh tiga orang anggota TNI, selepas mengalami satu pertempuran sengit dengan mereka. Sehingga 10 Februari, seramai 29 anggota TNI berjaya dibunuh, 33 ditawan, manakala 22 menyerah diri. Selain itu, operasi di Pulau Sebatik terus dilakukan. Pada 25 Januari, Presiden Soekarno bersetuju mengisytiharkan gencatan senjata. Walau bagaimanapun, anggota pasukan Keselamatan diperingatkan agar bersiap sedia menghadapi sebarang kemungkinan. Pemberhentian pertempuran telah dipersetujui di majlis perdamaian yang diadakan di Bangkok antara Malaysia dan Indonesia. Ketika operasi Malaysia secara haram.

Oleh kerana kegagalan persidangan damai di Bangkok, keadaan menjadi tegang semula dan perhatian penuh mula ditumpukan semula di perbatasan. Penyusupan dan tembakan anggota TNI di Pulau Sebatik menyebabkan Kompeni A dihantar membantu Kompeni C di situ. Kampung Sungai limau merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat pergerakan anggota TNI. Pada 19 April seorang anggota TNI berjaya dibunuh oleh satu seksyen yang membuat serang hendap. Penyusup telah cuba menawan kedudukan satu platun yang ditugaskan di situ pada 20 April, tetapi gagal kerana platun terlibat telah membuat pertahanan yang teguh di kedudukan mereka.

Batalion kemudiannya kembali semula ke Alor Setar selepas lebih kurang lima bulan berkhidmat di Sabah. Sebagai penghargaan terhadap perkhidmatan cemerlang batalion ketika konfrontasi dua warga 3 RAMD, Pegawai Waran Dua Awaludin dan Prebet Mohamed Nafiah dikurniakan kepujian Perutusan Keberanian (KPK) sepanjang penglibatannya dalam era konftontasi, 3 RAMD, beroperasi dua kali di Tawau dan sekali di Sibu. Seramai lapan warganya terkorban, manakala 18 mengalami kecederaan. Dalam operasi bersama 1/10 Gurkha dan Trup 2 Peninjau sekitar Tawau, seramai 29 TNI berjaya dibunuh, 33 orang ditawan, manakala 22 lagi menyerah diri

 

30 personel kalahkan 3000 milisi

Tahun 1962, Kongo, negara di belahan Bumi Afrika sedang bergolak, TNI kembali diundang untuk Misi Perdamaian PBB dengan nama Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Letjen TNI (Purn) Kemal Idris (Alm). Garuda III diambil dari dari Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur lainnya.

Pasukan ini berangkat dengan pesawat pada bulan Desember 1962, dan berada di medan tugas selama delapan bulan di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo). Mereka di tempatkan di Albertville. Di tempat ini telah disiapkan satu kekuatan pasukan besar, yang terdiri dari 2 batalyon kavaleri. Sedangkan Batalyon Arhanud di tempatkan di Elizabethville, yang menjadi wilayah kekuasaan tiga kelompok milisi yang ingin memisahkan diri, di bawah pimpinan Moises Tsommbe dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu.

Daerah ini terkenal dengan kekayaan mineralnya. Sempat terjadi beberapa pertempuran sengit antara pasukan PBB dari India melawan kelompok-kelompok pemberontak tersebut. Disini interaksi antara pasukan Garuda III dengan pasukan PBB lainnya sangat erat. Mereka terdiri dari pasukan Filipina, India, bahkan Malaysia. Walaupun ditanah air konfrontasi Ganyang malaysia dikumandangkan, interaksi persahabatan antara Garuda III dengan Malaysia tetap terjalin erat. Tanpa sedikit pun permusuhan (profesionalitas personel Garuda III).

Pasukan PBB asal India merupakan yang terbesar dan terbanyak jumlahnya. Mereka terorganisir dengan sangat baik. Mereka ditempatkan di kawasan-kawasan vital yang penting dan strategis. Sebaliknya Garuda III yang hanya berkekuatan kecil, mampu melakukan operasi taktik gerilya yang terkenal dalam sejarah PBB sehingga mencapai sukses besar. Disamping itu, personel Garuda III sangat luwes, pandai bergaul dengan penduduk setempat sehingga mereka menaruh kepercayaan besar kepada pasukan Garuda III.

Pasukan Garuda III mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Padahal mereka mengetahui memasak singkong hanyalah untuk makanan inti dengan cara dibusukkan, dikeringkan, ditumbuk jadi tepung baru dapat dimasak. Dengan adanya interaksi dan hubungan dengan penduduk setempat, maka semua program yang direncanakan berjalan dengan baik. Penduduk setempat menaruh simpati pada program yang dicanangkan, misalkan melakukan tindakan pengamanan daerah setempat dari pengacau. Dengan spontan tanpa di perintah, masyarakat memberitahukan kepada personel Garuda III, bila akan ada serangan yang di lancarkan oleh gerombolan pengacau.

Suatu hari terjadi serangan mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi dari jam 12.00 malam hingga dinihari. Markas Garuda III terkepung dengan rapat. Semua personel merapatkan barisan, berusaha menangkis serangan tersebut. Menurut Informasi Intelijen, serangan dilakukan oleh sekitar 2000 pengacau, hasil gabungan 3 kelompok pemberontak. Sedangkan markas komando Garuda III dipertahankan sekitar 300an personel, 40 persen dari seluruh kekuatan Garuda III di Kongo. Tidak ada korban jiwa dari Garuda III, hanya beberapa yang cedera ringan dan langsung ditangani tim medis lapangan. Menjelang subuh, gerombolan pengacau mengendurkan serangan kemudian menarik diri ke basis mereka di wilayah gurun pasir yang membentang gersang.

Hasil konsolidasi pasukan, maka di bentuk tim berkekuatan 30 orang personel RPKAD sebagai tim bayangan sekaligus tim terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak sekalipun. Mereka bergerak cepat pada jam 06.00 waktu setempat, dengan perlengkapan garis 1 untuk pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar terlihat jelas di wajah-wajah mereka yang terpilih. Iringan doa rekan-rekan di markas, juga dari pasukan PBB lain, mengiring langkah kaki mereka. Menuju kawasan “no mand land” -wilayah tak bertuan-, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak, sekaligus juga merupakan daerah terlarang untuk pasukan PBB. Di kawasan itu, 2 kompi plus Pasukan India pernah di bantai tanpa tersisa.

Pasukan ini di pimpin seorang Kapten dengan dibantu 5 orang Letnan. Dengan penyamaran layaknya kumpulan suku pengembara, mereka bergerak dalam 3 kelompok yang saling berkomunikasi, tidak lupa kambing, sapi, bakul sayuran di bawa bersama untuk penyamaran. Badan dan wajah di gosok arang sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli tempatan, ada juga personel yang berpakaian wanita dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka bergerak melambung melalui pinggiran danau, melewati “no mand land” tujuan akhir.

Data intelijen yang didapat mengatakan kekuatan musuh diperkirakan 3000an bersenjatakan campuran termasuk RPG/Bazooka dan beberapa tank, panzer, bisa dimaklumi sebab ini markas mereka, tentara lain belum memasuki wilayah yang dijaga ketat tersebut. Memasuki senja, personel bermalam dipinggiran danau sambil mengatur strategi penyerangan. Dikejauhan terlihat kerlip lampu-lampu dari markas pemberontak. Menurut data intelijen lagi, suku-suku di kongo, termasuk pemberontak sangat takut akan Hantu Putih (sosok berpakaian putih yang berbau bawang putih). Nah, disinilah strategi penyamaran diubah. Dibalik pakaian loreng darah mengalir mereka, terbungkus jubah putih yang menggerbang ditiup angin danau. Sambil tidak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya harum semerbak.

Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam pun dipersiapkan. Menunggu jam 12.00 tengah malam. Isyarat serangan pun diberikan oleh sang komandan. Dengan gesit, ke 30 orang personel RPKAD mengambil posisi masing-masing. Penyerangan tepat di mulai jam12.00 tengah malam, dengan kapal yang di digelapkan warnanya di atas Danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah “no mand land.” Ke 30 personel yang menyamar menjadi “Hantu Putih” ini (atau lebih dikenal masyarakat dengan sprititesses), berhamburan keluar dari dalam kapal, mendobrak pos penjagaan terdepan pemberontak. Para pemberontak yang sangat percaya akan keberadaan Hantu putih ini, kaget, terpana dan ketakutan melihat kelebatan bayangan putih melayang-layang disekitar mereka (jubah putih yang diikat kayu dan tertiup angin) sambil melepaskan rentetan tembakan yang riuh rendah.

Ternyata semangat melawan pemberontak hilang sama sekali, mereka percaya bahwa mereka berhadapan dengan hantu, bukan manusia biasa. Ketika akan didekati, para pemberontak yang disergap itu terkejut, secara reflek melemparkan ayam yang sedang dibakarnya tepat mengenai anggota pasukan Garuda III. Hanya sekitar setengah jam, markas pemberontak dapat di kuasai, Ribuan pemberontak beserta keluarganya menyerah, puluhan yang lain tewas dan luka-luka, sedangkan dipihak RPKAD cedera 1 orang, terkena pecahan proyektil RPG. Dengan sigap, tawanan dikumpulkan. Tidak lama kemudian, bantuan dari pasukan di markas pun tiba, beserta pasukan PBB yang lain dari India, Malaysia, Filipina.

Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang !!. Bisa dibayangkan, dengan hanya berkekuatan 30 orang bisa menawan sekitar 3000an pemberontak bersenjata lengkap!!! Keesokan harinya, pimpinan operasi dan Komandan Garuda III dipanggil menghadap oleh Panglima Pasukan PBB di Kongo, Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia. Ia mengatakan bangga dan takjub atas keberhasilan RPKAD Garuda III menawan basis terbesar pemberontak dan 3000an lainnya tanpa jatuh korban. Namun ia kecewa. Tentara Indonesia katanya tidak bertanggungjawab, irresponsible terhadap pemberontak yang ditawan itu. Kenapa sampai dikatakan irresponsible?. Biasanya, standar operasi tentara, jika musuh berkekuatan 3000 orang, harus disergap dengan kekuatan 3 kali lipat, yaitu 9000 personel. Nah, jika 3000 orang musuh dihadapi hanya dengan kekuatan 30 sampai 50 orang, itu namanya irresponsible dan tidak masuk akal. Mustahil dan nekad!! Bagaimana seandainya para pemberontak tersebut melawan? dan ada yang membocorkan taktik Hantu Putih tersebut? tanya panglima PBB di Kongo.

Apapun, sanjungan dan pujian, serta decak kagum tetap di lontarkan, dan strategi penyerangan ini sampai sekarang masih menjadi legenda Misi Pasukan Perdamaian PBB. Mungkin kisah ini banyak yang tidak tahu, terutama masyarakat tanah air sendiri. Yang jelas, ini sudah bukti nyata keberhasilan anak-anak bangsa kita mengharumkan nama Indonesia, RPKAD khususnya di seantero dunia. Jelas cara taktik, muslihat, strategi serangan ini menjadi bahan penyelidikan Pasukan PBB lainnya, dan tentu saja menjadi legenda hingga sekarang

 

 

Tahun 1950

 

Pada tahun 1950 Indonesia termasuk Negara yang tidak disukai Amerika Serikat yang saat itu terjadi  dengan blok komunis di Korea Utara . sedang diIndonesia Partai Komunis adalah Partai yang legal.

 

Sejak Oktober 1952

Sejak 17 oktober 1952 pemerintah sukarno sudah mulai digoyang Kubu Nasution membentuk dewan banteng dan dewan Garuda di Sumatera , pembentukan dewan ini sebenarnya sebagai pengalangan massa ,tetapi kemudian mereka membentuk pemerintahan tandingan karena tidak suka melihat hubungan mesar sukarno dengan PKI

 

Kebencian Amerika serikat bertambah sehingga menghentikan bantuan akibat ucapan sukarno Go To Hell with your aid.Dasar sikap Sukarno karena Indomnesia Alamnya kaya raya.dan suatu waktu Indonesia akan makmur dan tidak memerlukan bantuan Barat dan hal ini pula yang mengilhamkan Sukarno  sikap Konfrontasi  “Ganyang Nekolim (neo kolonialsme & Imperialisme).

Bung Karno menyatakan Indonesia hanya memerlukan Pemuda yang bersemangat untuk menjadi bangsa Besar.

Akibatnya sikap Amerika serikat Gulingkan Presiden sukarno, sikap Amerika sekikat didudukung oleh Inggris dan Australia.

Sejak Amerika serikat menghentikan bnatuannya ke Indonesia, mereka menghubungi Militer Indonesia

Mereka melngkapi dan melatih Perwira meliter dan melalui operasi intelijen yang dilakukan CIA mereka mengelitik milter untuk mengrongrong Bung Karno, Usaha Kudeta dimualai bulan November 1956.

Deputi Kepala Staf AD Kol Zulkifli Lubis berusaha menguasai Jakarta dan mengulingkan Pemerintah, namun usaha ini dapat dipatahkan.

Lantas di sumatera Utara dan suamtera tengah  Militer berupaya mengambil alih kekuasaan tetapi juga gagal. Militer  dengan pasokan Bantuan Amerika Serikat seperti mendapat angin untuk menganggu Bung Karno.

Namun Bung Karno mampu  menguasai keadaan karena banyak perwira militer yang loyal kepadanya.kendati usaha As untuk menjatuhkan sukarno sudah dirancang.

Sayangnya konstelasi politik di Indonesia tidak stabil, Bung Karno berusaha menciptakan Stabilitas.namum keadaan sangat rumit .

Ada Tiga Kekuatan  yang mendominasi politik di Indonesia saat ini yaitu

 

Unsur Kekuatan Presiden sukarno

Presiden sukarno sebagai kepala Negara,Kepala Pemerintahan,  Perdana menteri, Pemimpin Besar revolusi ,Presiden Seumur Hidup  dan anggota Kabinet Dwikora.termasuk dalam unsure ini

 

 

Unsur Kekuatan TNI-AD

Ada Dua Kubu yaitu Kubu Yani dan kubu Nasution,Suharto mulanya masuk Kubu Nasution tetapi kemudian membuat kubu sendiri.

 

Unsur Kekuatan PKI

 

PKI  berkeuatan 3 juta anggota dan didudukung oleh 17 juta anggota oragnisasi onderbouw PKI  seperti SOBSI,BTI dan Gerwani.(juga LEKRA,Pemuda Rakyat) dengan jumlah tersebut PKI adalah komunis nomor tiga didunia setelah RRC.

Dalam PEMILU 1955 PKI dalam nomor urut ke-4 dan sebagai Partai besar PKI memiliki wakilnya di cabinet antara lain D.N.Aidit, Menko/Ketua MPRS.Lukman sebagai wakil ketua DPRGR ,dan Nyoto Menteri Landreform(sekarang BPN)

 

Gerakan Kubu Nasution tidak cukup hanya mengalang massa sipil, tetapi juga mempengaruhi Militer agar ikut mendukung gerakannya ,sebagai petinggi Milter bagi Nasution itu adalh hal mudah.

Caranya anatara lain Pembebasan Irian barat  digunakan untuk membentuk Gerakan Front Nasional yang aktif dikegiatan Politik.

Pada mulanya usaha melibatkan Militer dalam kegiatan Politik ysng kelsk dilestarikan oleh Orde baru.

Disisi lain Kubu Nasution mengalang simpati masyarakat dengan mebentuk BKS yang melibatkan Pemuda,partai politik dan para petani yang menyatau dengan militer dibawah payung TNI.AD

Saat itu dapat diambil kesimpulan inilah doktrin tingkat regional (krena memmanfaatkan Perjuangan membebaskan Irian barat) hingga melibatkan tingkat Desa(Petani),maka lengkaplah gerakan menentang Pemerintah yang terencana dengan rapi,dan cerdik dan memiliki kekuatan cukup potensial.Berdasarkan laporan Intelijen  CIA berada dibelakang Nasution .

 

Presiden Sukarno akhirnya mengetahui gerakan menentang Pemerintah itu ,ia tahu Pemerintah sedang terancam dan biang keroknya adalah nasution.

Maka sukarno langsung menghantam ulu hati persoalan, dengan membatasi peranan Nasution.

Kepala Staf angkatan Bersanjata tetap dipertahankan dengan perannya  yang diabatasi  dan Nasution diberikan tugas dalam urusan administrative pasukan, Nasution dilarang ikut campur urusan operasional Prajurit , itu sama artinya Nasution dimasukan dalam kotak.

 

Gerakan itu diimbanga-I Presiden Sukarno dengan mengangkat Letjen Ahmad Yani sebagai Menteri Pangad,tugas secara formal memimpin pasukan AD ,namun dibalik itu Yani mendapat misi khusus dari Presiden Sukarno  agar membatasi  desakan kubu nasution kepada Pemerintah.Ini semacam operasi Intelijen,akibatnya hubungan nasution dan Yani memburuk.

Mulanya konflik Yani-Nasution tidak Nampak dipermukaaan, hanya kalangan elite saja yang memahami situasi yang sebenarnya.

 

Tetapi beberapa waktu kemudain Ahmad yani menganti beberapa Penglima daerah, Pangdanm yang diganti adalah orang-orangnya Nasution karena itu tampaklah Peta situasi yang sesungguhnya. Ini adalah gerakan Militer.

 

 

1963

Gerakan sipilnya  Presiden sukarno dan Wakil Perdana menteri I Dr Subandrio, memindahkan kedudukan Nasution  dari kepala Staf Angkatan darat ke Penasehat Presiden.ini terjadi tahun 1963

 

Tentu saja nasution harus tunduk dan tidak alasan dia  untuk Mbelelo  sebab dikelangan tentara sudah kuatir terjadi perpecahan ketika hubungan nasution dan yani memanas.Seandainya nasution melakukan tindakan membangkang tidak akan didukung pasukan dari bawah.dan kemungkinan keadaan ini sudah diperhitung nasution dengan cermat itu sebabnya  ia tunduk.

 

 

 

 

 

1964

Langkah selanjutnya bagi sukarno tinggal mengunduli sisa-sisa kubu nasution  anatara lain PARAN( Panitia retoling Aparatur Negara) sebuah Komisi Anti Korupsi yang dibentuk Nasution.sebagai gantinya Presiden Sukarno membentuk Komisi Tertinggi retooling Aparatur Revolusi (KOTRAR) yang dipimpin oleh orang kepercayaan Bung Karno.Dr Subandrio.untuk memperkuat Ahmad Yani ditunjuk sebagai Kepala Staf  KOTRAR.

 

.

Dari perpektif Sukarno retaknya hubungan Ahmad Yani dan AH Nasution merupakan kemenangan , apalagi kemudian Nasution dicopot dari dari posisi Strategis dan dimasukkan dalam kotak

Dengan demikian politik Negara dalam Negara yang dicptakan nasution  berubah menjadi sangat lemah.

Melihat kondidi demikian Pimpinan Angkatan bersenjata menjadi cemas, mereka kuatir konflik Nasution-Yani akan merembes ke Prajurit dilapisan bawah ,kalau itu terjadi akan Fatal.

Kekuatitan ini disampaikan kepada Presiden ,karena itu presiden menugas beberapa Perwira senior termasuk May jendral Suharto dan Pangdam  Jawa Timur Basuki Rahmat untuk menemui Nasution tugasnya menyarankan Nasution untuk menyesuaikan diri denga jalur yang sudah digariskan oleh Presiden Sukarno  jangan sampai ada Pembangkangan.

Dua Kubu berkonflik itu pada dasarnya sam-sama Anti-PKI ,meskipun Yani berada di kubu Bung Karno , namum ia tidak menyukai PKI akrab dengan Bung Karno , sementara Suhartio ditugaskan menjadi perantara untuk mendamaikan Nasution dan yani, cendrung berpihak kepada nasution.

 

1965

Konflik antara Nasution dan yani tidak gampang didamaikan.

Suatu hari di awal tahun 1965 ada pertemuan penting yang dihadiri oleh 12 jenddral di MABES AD.

Sebenarnya Nasution dan Yani juga diundang dalam pertemuan ini,namun kuduanya sama-sama tidak datang.Mereka diwakili oleh penasehat mereka masing-masing.

Pertemuan ini diadakan untuk mendamaikan nasution dan Yani .alhasil pertemuan penting itu tidak mencapau tujuan utamanya karena yang berkonflik tidak datang sendiri hanya diwakli saja.

 

Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide membentuk Angkatan Kelima tujuannya tujuangnya untuk menampung bnatuan senjata dari RRC ,saat itu persenjataan untuk empat angkatan sudah cukup, karena itu agar bantuan senjata dapat dimanfaatkan secara maksimal Bung Karno mempunyai Ide memntuk Angkatan Kelima, jik persenjataan yang dikirim cukup untuk 40 Batalyon maka angkatan kelima berkuatan seperti itu, tetapi Bung Karno belum memperinci bentuk Angkatan kelima.

Beliau berkata Angkatan Kelima tidak sama dengan Angkatan yang sudah ada, Ini adalah Pasukan Istimewa yang berdiri sendiri, tidak terkait dengan Angkatan Lain.hal ini perlu ditegaskan karena kemudian beredar isu Angkatan Kelima adlah para buruh dan petani yang dpersenjatai .PKI pernah mengatakan hal itu tetapi Bung Karno belu mmerinci bagaiman bentuk Angkatan kelima itu.

Menpagad Ahmad yani sudah menyampaikan langsung kepada presiden Sukarno bahwa ia tidak setuju dibentukanya angkatan kelima,para jendral angkatan lain mendukung Ahmad Yani,empat angkatan sudah cukup menurut mereka

Maslah ini kemudian menjadi pembicaraan dikalangan elite politik, dan pembicraan menjadi berlarut-larut ,juga muncul banyak spekulasi tentang bentuk Angkatan Kelima ,Bung Karno tetap tidak menjelaskan secara rinci bentuk angkatan kelima dan orang yang terdekat dengannya Dr subandrio juga tidak diberitahukan.

(Subandrio)

 

Pertengahan April 1965

Pada pertengahan April 1965 ada Pertemuan yang lebih besarkali ini dihadiri 200 perwira di MABES AD , dalam pertemuan ini Nasution dan Yani juga tidak datang.Namun pertemuan ini melahirkan doktrin baru yang dinamakan tri Uoaya Sakti  pencetusnya Suharto.Isinya tiga janji jujur dari jajaran AD.yang substansinya TNI berhak memberikan saran   dan tugas  politik tak terbatas kepada Presiden.

 

 

Doktrin baru ini menimbulkan kecemasan baru dikalangan elite Politik dan Masyarakat inteltual , dengan demikian semakin jelas bahwa AD mempertahankan politik dalam Negara ada Negara yang sudah dirintis nasution.Ini berarti Kubu Nasution menang dari kubu Yani yang didukung oleh Presiden  Sukarno.

 

Suharto salah satu perwira yang ditugaskan menjadi perantara mendamaikan Yani dan nasution berada dalam posisi yang tidak enak, karena Suharto mempunyai meori yang buruk terhadap yani dan nasution.penyebabnya adalah perilaku Suharto sendiri yang buruk yang terjadi ketika Suharto masih di Divisi Diponegoro.

Pada saat Divisi Diponegoro mewngadakan hubungan baik dengan pengusaha Liem Soei Liong, Perkawan mereka antara lain menyeludupkan berbagi barang.Suharto pernah berdalih penyeludupan itu untuk kepentingan Divisi Diponegoro, Berita Penyeludupan ini cepat menyebar semua perwira staf mengetahuintya, bahkan terungkap hasil penyeludupan uangnya masuk kekantong Suharto dan Liem Soei Liong.

Saat mengetahui ulah Suharto, Yani marah pada suatu kesempatan malah sempat menempeleng Suharto, karena penyeludupan itu memalukan Korps.

AH Nasution mengusulakn agar Suharto diadili di makamah Militer  dan segera di pecat dari AD, namun Mayjen Gatot Subroto mencegah dengan alas an perwira itu masih bisa dibina.Gatot mengusulkan kepada Presiden sukarno agar Suharto diampuni dan disekolahkan  di SESKOAD Bandung.

 

Presiden sukarno setuju, karena itu Suharto masuk SESKOAD  dan diterima oleh DAN SESKOAD Brigjen  Suwarto. Saat itu SESKOAD tidak hanya mengajarkan Pendidikan kemiliteran tapi juga bidang Ekonomi dan Pemerintahan.

Perwira di Seskoad  bertugas sebagi guru teori Negara dalam Negara.

Namun akhirnya Suharto membangun kubu sendiri ,kubu ini terbentuk setelah kepercayaan Amerika serikat kepada Kubu Nasution sudah  mulai luntur, ini disebabkan  fungsi nasution terhadap Pemberontakan PRRI Permesta, Kampanya Pembebasan Irian barat dan Zslogan Gnyang Malaysia tidak efektif , Tiga hal ini membuat kepentingan Ameriak Serikat di Indonesia khusus  Asia tenggara terganggu.sehngga AS tidak akrab lagi dengan Nasution.dari perspektif AS pada mulanya perlu untuk mengimbangi kebijkan Sukarno yang centrung lunak kepada PKI.

Disaat kepercayaan AS kepada Nasution Luntur, Suharto sudah menjabay ZPangkostrad, dan Suharto telah membangun kubu sendiri.

 

Awal januari 1965

Awal januari 1965, dikantor kedutaan Besar RI Di Beograd Yugoslavia datang sepucuk surat yang ditujukan kepada Duta besar Yugoslavia, Yoga sugoma (kelak jadi BAKIN), pengirimnya Pangkostrad Suharto isinya Yoga sugomo ditawarkan untuk pulang ke Jakarta  dengan jabatan baru kepala Intelijen Kostrad. Tawan ini menarik karena itu pada tanggal 5 Februari 1965 Yoga sudah tiba di jkarta  langsung menghadap Pangkostrad dirumahnya jalan haji Agus salim ,mereka bermusyawarah dan itulah awalnya terbentuk kubu Suharto.

 

Pemanggilan Yoga oleh Suharto mangandung tiga indikasi, pertama Pemangilan Yoga tidak melalui jalan normal, seharusnya penarikanya dilakukan oleh Menpagad Ahmad Yani.karena Yoa adalah perwira AD, kenyataannya Yoga ditarik berdasarkan surat Pangkostrad Suharto. Kedua tujuan kepulangan Yoga kejakarta untuk bersama-sama Suharto menyabot  politik Sukarno. Ketiga Mereka bertujuan menghancurkan PKI.

Ketiga indikasi ini bukan kesimpulan Subandrio tetapi diungkapkan oleh ali Moertopo (salah satu trio Suharto yoga) dengan bangga tanpa tending aling-aling (secara blak-blakan) mengungkapkan hal itu dengan gaya seperti orang tak berdosa.

Bagi Suharto menarik orang dengan cara itu adalah hal biasa, padahal ia sudah melangar garis komado dan hirarki.dengan cara yang inilah ia membangun kubunya,pokok perhatian kubu ini tidak kepada panglima AD tetapi menyangkut Politik nasional dan Internasional ,perhatian kubu tertuju kepada Bung Karno dan PKI.

 

Kubu Suharto disebut juga Trio Suharto-Yoga-Ali yang selanjutnya kista sebut kelompok bayangan Suharto.Mereka bersatu dengan cara tersamar.Mereka bergerak dibawah permukaaan.Awalnya teman lama dan merupak suatu tim kompak  ketika berada di KODAM Diponegoro.Kekompakn trio ini sudah teruji saat Pimpinan AD memilih panglima Diponegoro dan kekompakan mereka dilanjutkan di Jakarta.

Saat itu Pimpina AD mencalonkan Kolonel bambang Supeno menjadi Pangdam Diponegoro, rencana tersebut diketahui oelh perwira  dissana,saat itu Suharto berpangkat Let.Kol.juga mendengar, walaupun pangkat Suharto lebih rendah dari bambang supeno namun ia berani merebut jabatan tersebut caranya mengunakan strategi kotor namun terselubung .

Saat rencana pengangkatan tersebut bocor,ada sebuah rapat gelap di Kopeng, Jateng, yang dihadiri perwira  KOdam Diponegoro, rapat dikoordinir suarto melalui triona Yoga, tetapi Suharto tidak hadir ,intinya rapat merumuskan Suharto harus tampil sebagai Panglima Diponegoro ,jika tidak suahrto dan Yoga akan mengalang kekuatan bersama-sama untuk menolak  pencalonan bambang Supeno.

Saat itu Pencalonan bamabang supeno menjadi Pandam Diponegor belum ditanda tangani Presiden Sukarnosehingga upaya Suharto merebut jabatan tersebut bdengan waktu.

 

Namum scenario Suharto melalui Yoga tidak didukung oleh perwira Diponegoro, yang hadir, hanya satu perwira yang menanda tangani dr Suhardi tanda setuju sedangkan yang lain yang hadir tidak.

 

Yoga semula mengaku pertemuan tersebut tidak dibereitahu kepada Suharto, ini bisa diartikan scenario tidfak dibuat Suharto, Ketika dua Utusan KODAM Diponegoro hendak ke Jakarta untuk meminta tanda tangan presiden tentang pengangkatan Bambang supeno ,barulah Rapat gelap itu disebarkann

 

Berdasarkan memori Yoga, rapat itu adalah gagasan Suharto, pengakuan awal Yoga  bahwa Suahrto tidak mengetahui rapat tersebut agar tidak menimbulkan kecurigaan Jakarta bahwa Suharto mengalang kekuatan menolak pencalonan bambang Supeno.tetapi hal ini tidak mendapat konfirmasi apakah rapat gelap itu dikoordinir Suharto melalui Yoga atau  inisiatif Yoga sendiri.

Sebagai pembanding ,salah seorang trio Suharto-yog-ali, al moertopo ,menyatakan bahwa saat itu ia sebagai kmandan  pasukan banteng Raiders dimnta membantu Yoga melancarkan operasi intelijen.Tidak dirinci operasi intelijen yang dimaksud, tetapi tujuannya untuk mengusahakan Suharto menjadi Panglima Diponegoro,tapi Ali tidak menjelaskan siapa yang memintanya  Suharto,yoga atau kedu-duanya .

Terlepas Yoga berbohong atau tidak,tetapi rangkaian pernyatan Yoga dan Ali Moertopo menunjukkan adanya suatu komplotan Suharto.Komplotan yang berfgerak dalam operasi militer. Suharto adalah dalang yang sedang memainkan wayang-wayangnya. Tentu,dalamnngnya tidak perlu terjun langsung.

 

(subandrio)

 

 

1946

Kesimpulan diambil karena saat Suharto dan komplotnya mengadakan KUDETa 3 juli 1946,namun gagal, Suharto berbalik arah mengkhiananti komplotnya sendiri.Suharto mennagkap komplot tersebut dengan dalih mengamankan Negara.Kudeta ini dipimpin oleh Tan Malaka  dari partai MURBA ,Tan Malaka mengajak Militer Jawa tengah termasuk Suharto  yang akan digulingkan Perdana menteri St Sjahrir, awalnya 20 Juni 1946  PM Syahril dan kawan-kawnnya diculik di Surakarta,penculiknya komplot militer dibawah komando divisi III yang dipimpin Sudarsono, Suharto selaku salah seorang Komandan militer terlibat dalam penculikan.

 

2 juli 1946 komplot penculik berkumpul dimarkas Suharto  sebanyak dua Batalyon, Pasukan dikerahkan untuk menguasai sector strategis seperti RRI dan Telkom, Mlam itu juga mereka menyiapkan surat keputusan membubarkan Kabinet Sjahrir dan menyusun cabinet Baru yang akan ditanda tangani oleh presiden Sukaron esok harinya di istana Negara yogja.

SK dibuat dalam empat  tingkat,

Keputusan Presiden dimuat dalam maklumat nomor 1,2,dan 3.

Semua maklumat mengarah Kudeta.

Maklumat kedua berbunyi

Atas desakan rakyat dan tentara  dalam tingkat dua terhadap Ketua Revolusi Indonesia yang berjuang untuk Rakyat ,maka atas nama Kepala Negara  hari ini memperhentikan seluruh kementerian negra  Suatn Sjahrir.3 juli 1946 tertanda presiden RI Sukarno

 

Tetapi percobaan KUDETA gagal, para pelauknya ditangkap dan ditahan persis saat itu Suharto berbalik arah.Ia semula berkomplot dalam penculikan, berbalik menangkap komplotan tersbut,I berdalih keberadaannya dalam komplotan penculik merupakan upaya Suharto mengamankan penculik.

 

Inilah karakter Suharto dan ia bangga dengan hal itu. Suharto tidak malu berbalik arah dari penjahat menjadi penyelamat.

Dalam autobiografinya Suharto menulis sekilas peristiwa ini, menurut versi dia yang tentu saja fakta dia balik  sendiri.

 

(subandrio)

 

19 pebruari 1962

 

Setelah mengadakan dengar pendapat dari 19 Februari sampai 17 April 1962,

Komisi Cobbald mengeluarkan laporan yang dimuat dalam Report of the Commision of

Inquiry, North Borneo and Sarawak. Hasilnya menggungkapkan dua pertiga

masyarakat yang diwawancarai menyetujui penggabungan.3 Pada tanggal 18-31 Juli

1962 di London diadakan pertemuan lagi antara perwakilan PTM dan Inggris yang

hasilnya menyetujui rekomendasi Komisi Cobbald dan merencanakan 31 Agustus

1963 sebagai hari lahirnya Malaysia.4

 

 

Pada tanggal 8 Desember 1962

 

di Brunei muncul gerakan yang menolakgagasan pembentukan Malaysia. Syekh A.M. Azahari, pemimpin Partai RakyatBrunei, partai terbesar di Brunei5, memproklamirkan berdirinya Negara NasionalKalimantan Utara (NNKU) dan membentuk Tentara Nasional Kalimantan Utara(TNKU). Azahari mengklaim wilayah NNKU meliputi daerah Sarawak, Brunei danSabah.6 Di daerah lain, seperti PTM, Singapura dan Sarawak juga terdapat partaipartaipolitik yang tidak setuju dengan pembentukan Malaysia, diantara dapat

disebutkan: Labour Party, Partai Rakyat dan Socialis Front dari PTM; Singapura

Congres, Partai Rakyat Singapura, Labour Party dari Singapura; Sarawak United People

M. S. Mitchel Vinco, adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah periode 2004-2009.

1 SEMDAM XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang, Pontianak, Kodam XII Tanjungpura,

1970, hlm. 182. Sebelumnya gagasan mengenai penggabungan PTM dan Singapura ditolak oleh

Tunku Abdul Rahman, dengan alasan komposisi etnis Melayu lebih kecil dibandingkan etnis Cina.

2 Hidayat Mukmin, TNI Dalam Politik Luar Negeri, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1991, hlm. 88.

Lihat juga SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 157.

3 Baskara T. Wardaya, Cold War Shadow, Yogyakarta, Galang Press, 2007, hlm. 362. Lihat juga

James P. Ongkili, Nation-Building in Malaysia 1946-1974, Singapura, Oxford University Press,

1985, hlm. 165.

4 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 158.

5 Partai Rakyat Brunei didirikan oleh Azahari pada tahun 1956. Pada pemilihan umum bulan

Agustus 1962 memenangkan lima puluh (50) dari lima puluh empat (54) kursi yang diperebutkan.

Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 89.

6 Soemadi, Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia Tenggara,

Pontianak, Yayasan Tanjungpura, 1974, hlm. 53.

Party (SUPP) dari Sarawak.7

 

Di kemudian hari, tarik menarik kepentingan dan perbedaan sikap antara

pihak yang pro dan kontra terhadap pembentukan Malaysia, akan menyebabkan

konflik yang berkepanjangan, yang melibatkan dunia internasional. PTM yang

kemudian membentuk Federasi Malaysia, yang didukung Inggris dan negara-negara

sekutunya berhadapan dengan gerakan Azahari dan kelompok SUPP dari Sarawak,

yang didukung Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Filipina. Pada bulan

Desember 1963 di Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, kelompok-kelompok yang

menentang Malaysia kemudian membentuk Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak dan

Pasukan Rakyat Kalimantan Utara, yang akrab disebut PGRS/PARAKU, sebagai

usaha konsolidasi untuk terus menentang usaha pembentukan Malaysia.8

B. Reaksi Indonesia Terhadap Rencana ”Malaysia”

Pada awalnya Indonesia tidak berkeberatan dengan rencana pembentukan

Federasi Malaysia. Dalam surat kepada New York Times, tanggal 17 November 1961,

Menteri Luar Negeri Indonesia, Soebandrio menyatakan dukungan terhadap

rencana ”Malaysia”:

”As an example of our honesty and lack of expansionist intent, one-fourth of

the island of Kalimantan (Borneo), consisting of three Crown Colonies of

Great Britain, is now becoming the target of the Malayan Government for a

merger… Still, we do not show any objection toward this Malayan policy of

merger. On the contrary, we wish the Malayan Government well if it can

succeed with this plan”9

Pernyataan tersebut diperkuat ketika Soebandrio berpidato di hadapan

Majelis Umum PBB, 20 November 1961:

“When Malaya told us of their intentions to merge with the three British

Crown Colonies… We told them that we have no objections and that we wish

them success… Indonesia had no objections to merger based on the will of the

people concerned”10

Sikap Pemerintah Indonesia berbalik arah ketika Azahari memproklamirkan

berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara pada tanggal 8 Desember 1962. Bagi

Indonesia pecahnya perlawanan yang dikobarkan Azahari menunjukkan tidak

semua masyarakat di koloni Inggris setuju dengan rencana “Malaysia”. Soekarno

mengakui bahwa dia menerima pembentukan Malaysia ketika gagasan tersebut

diperkenalkan pada 1961. Tetapi revolusi anti Malaysia di Brunei tahun 1962 tidak

memberinya pilihan lain selain membantu Brunei, sebab Soekarno percaya bahwa

setiap rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri.11

Pada tanggal 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Soebandrio

mengumumkan sikap Pemerintah yaitu konfrontasi terhadap “Malaysia”:

”Now the President has decided that henceforth we shall pursue a policy of

confrontation against Malaya. This does not mean that we are going to war.

This is not necessary… I, too, consider it as normal that we have to adopt a

7 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 159-160.

8 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182 dan lihat juga Soemadi, op. cit., hlm. 57.

9 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 363.

10 Idem.

11 Ibid., hlm. 364.

policy of confrontation. What is to be regretted is that the confrontation

policy has to be adopted against an Asian country, a neighboring country.

We have always been pursuing a confrontation policy against colonialism

and imperialism in all its manifestations. It is unfortunate that Malaya, too,

has lent itself to become tools of colonialism and imperialism. That is why we

are compelled to adopt a policy of confrontation.”12

Menurut buku sejarah Kodam XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang,

sikap Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia berhubungan dengan

politik luar negerinya yang anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala

bentuknya.13 Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya kedok dari

Inggris dan sekutunya untuk tetap berkuasa di Asia Tenggara dalam bentuk neokolonialisme,

dan kemudian mengepung Indonesia. Menurut M.C. Ricklefs, banyak

pemimpin Indonesia menganggap Malaya (PTM) tidak benar-benar merdeka karena

tidak terjadi suatu revolusi. Mereka merasa tidak senang dengan keberhasilan

Malaya di bidang ekonomi, merasa curiga dengan tetap hadirnya Inggris di sana

dengan pangkalan-pangkalan militernya, dan merasa tersinggung karena Malaya

dan Singapura membantu PRRI.14

Selain itu dapat pula ditambah alasan adanya keinginan agar Indonesia

memainkan peran yang lebih besar di dalam masalah-masalah Asia Tenggara. Hal

serupa dikemukakan Hilsman dalam bukunya To Move a Nation seperti yang dikutip

dari Cold War Shadow:

“Indonesia’s opposition to Malaysia was part of the country’s expression of

‘new nationalism’ in which Jakarta wanted to stand tall in international

affairs, particularly in dealing with former colonial power… Sukarno,

moreover, was offended that the British never adequately consulted Indonesia

on the federation plan”15

Reaksi Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia mendapat

dukungan yang besar dari rakyat Indonesia. PKI mengecam rencana “Malaysia”

sebagai ”neo-colonialist attempt to prevent the people of the former British colonies from

attaining ‘genuine national independence and freedom from imperialism’”16 Angkatan

Darat (ABRI-AD)mendukung sikap Presiden Soekarno, tapi dalam kasus akan

munculnya bahaya komunisme yang lebih kuat. ”The Army feared that in light of the

federation’s Chinese population, Malaysia could become a springboard for Communist

China’s penetration of Indonesia through the Indonesian-Malaysian common borders”17

Mengenai berdirinya NNKU, pimpinan Azahari, Kepala Staf Angkatan Bersenjata

Indonesia menyatakan “Indonesia had no intention to take over northern Borneo

territories, but at the same time would support any movement for self-determination and

againts colonialism”18

Selain dari dalam negeri, Indonesia juga mendapat dukungan dari Filipina.

Presiden Filipina Diosdado Macapagal mengklaim Sabah sebagai bagian dari

wilayah negaranya atas dasar hubungan antara Filipina dan Sultan Sabah pada masa

pra-kolonial. Filipina juga takut bahwa federasi baru itu akan menjadi basis bagi

12 Ibid., hlm. 368.

13 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 161.

14 M.C. Ricklef, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Serambi: Jakarta, 2005, hlm. 537.

15 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 366-367.

16 Idem.

17 Idem.

18 Ibid., hlm. 369.

tekanan komunis dari populasi Cina Malaysia dan elemen komunis Indonesia.”The

Philippines also feared that the new federation could become a basis for communist

penetration Malaysia’s Chinese population and Indonesia’s communist elements”19

Meskipun demikian, Filipina tetap ingin bertindak bersama Indonesia, yang oleh

banyak kalangan di negara itu dipandang sebagai calon negara kuat di Asia

Tenggara pada masa datang, selain itu Indonesia juga dianggap bebas dari pengaruh

kekuasaan kolonial Barat.20

 1962

C. Terbentuknya PGRS/PARAKU

Keberadaan PGRS/PARAKU berkaitan dengan situasi politik di sekitar

pembentukan Malaysia. Pada tanggal 8 Desember 1962, sebagai bentuk penolakan

terhadap Federasi Malaysia, berdiri Negara Nasional Kalimantan Utara dengan

Perdana Menteri Azahari dari Partai Rakyat Brunei. Setelah itu didirikan juga

Tentara Nasional Kalimantan Utara sebagai kekuatan pertahanan NNKU. Wilayah

yang diklaim sebagai wilayah negaranya adalah Sarawak, Brunei dan Sabah, yang

meliputi seluruh wilayah jajahan Inggris di Kalimantan/Borneo Inggris.

Negara Nasional Kalimantan Utara pimpinan Azahari mendapat tantangan

dari Pemerintahan PTM dan Inggris. Gerakan Azahari tersebut dianggap gerakan

separatis oleh pihak yang pro dengan Federasi Malaysia. Inggris yang pro dengan

”Malaysia” mengerahkan tentara untuk melawan NNKU. Hal tersebut

mengakibatkan Azahari tidak mampu mempertahankan pemerintahan pusat di

Kalimantan Utara. Kemudian pemerintahan pusat NKKU dipindahkan ke Manila.

Menurut pandangan Indonesia, terbentuknya NNKU merupakan suatu

bentuk gerakan nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme.

Pemerintah Indonesia mendukung gerakan Azahari tersebut dan memberi peluang

bagi NNKU untuk menyusun kekuatan dengan mengambil basis di wilayah

Indonesia, yaitu Kalimantan Barat.21 Kebijaksanaan Pemerintah Indonesia saat itu

memberikan asylum politik kepada Perdana Menteri Azahari dan Panglima Abang

Kifli di Jakarta.22

Berdirinya Negara Kalimantan Utara mengakibatkan Partai Komunis

Sarawak juga mendapat tekanan dari penguasa.23 Sejalan dengan kebijaksanaan

politik Indonesia waktu itu, pemimpin-pemimpin komunis dari Sarawak ”hijrah” ke

Kalimantan Barat. Sedangkan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dalam rangka

menyelamatkan Partai Komunis Sarawak mengirimkan Wen Min Tjuen dan Wong

Kee Chok ke Kalimantan Barat pada awal tahun 1963.24 Kedua pemimpin Partai

19 Idem.

20 Periksa Pidato Presiden Philipina di KTT Manila, 30 Juli 1963. Departemen Penerangan RI,

Gelora Konfrontasi Menggajang Malaysia, Jakarta, Departemen Penerangan, 1964, hlm. 33.

21 Soemadi, op. cit., hlm. 53-54.

22 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 233.

23 Partai Komunis Serawak adalah SCO (Serawak Communist Organization), partai yang ilegal,

semacam “PKI malam” di Indonesia pasca 1965. SCO kemudian menginfiltrasi SUPP (Sarawak

United People Party), partai politik legal yang dalam Anggaran Dasarnya adalah non komunis,

lihat Soemadi, op. cit., hlm. 54. SCO juga dikenal dengan Clandestine Communist Organization

(CCO) sebuah organisasi yang sudah berdiri sejak Perang Dunia II, embrionya adalah Sarawak

Anti-Fascist League, periksa James P. Ongkili, op. cit., hlm. 143.

24 Wen Min Tjuen dan Wong Kee Chok adalah tokoh-tokoh komunis di Malaysia yang telah diusir

dan lari ke Peking. Dari Peking kemudian dikirim untuk membantu perjuangan Partai Komunis

Sarawak yang lari ke Kalimantan Barat, lihat SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.182 dan

Soemadi, op. cit., hlm. 54.

Komunis Cina tersebut menemui Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa dan

Yacob dari Sarawak Advance Youth Association (SAYA)25 untuk membahas garis

perjuangan dari Partai Komunis Sarawak.26

Akibat dari tantangan pemerintah Malaysia yang didukung oleh Inggris dan

di satu sisi didukung oleh Soekarno atas nama pemerintah Indonesia, maka tokohtokoh

dari yang kontra dengan Federasi Malaysia “melarikan” diri ke Indonesia,

tepatnya di Kalimantan Barat. Azahari dan Abang Kifli dengan Tentara Nasional

Kalimantan Utara (TNKU)-nya kemudian berhubungan dan bekerja sama dengan

tokoh-tokoh dari Sarawak, seperti Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa dan

Yacob dari SUPP yang sudah disokong oleh tokoh komunis Wong Kee Chok dan

Wen Min Tjun dari RRT.27

 

Pada tanggal 2 Desember 1963,

 

Soebandrio, Wakil Menteri Pertama atau

Menteri Luar Negeri Indonesia dan atas nama KOPERDASAN (Komando

Pertahanan Daerah Perbatasan), datang ke Kalimantan Barat. Dalam rapat-rapat

umum di Pontianak dan daerah-daerah di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia,

dalam rangka kampanye konfrontasi anti Malaysia, secara demonstratif Soebandrio

telah memperkenalkan Azahari kepada khalayak ramai.28 Dengan demikian, mulai

muncul kerja sama yang saling menguntungkan antara pihak NNKU, SUPP, dengan

Pemerintah Indonesia.

Sebagai tindak lanjut kerja sama Azahari (Brunei), Kelompok Yap Chung Ho

(Sarawak) dan Soebandrio (Indonesia) diadakanlah pertemuan di Sintang untuk

menggariskan kerja sama untuk mengadakan gerakan menentang Federasi Malaysia

dengan basis kekuatan di Kalimantan Barat. Pada kesempatan itu muncul gagasan

untuk membentuk suatu pasukan bersenjata yang akan mendukung gerakan “baru”

anti Malaysia. Setelah pertemuan pertama di Sintang, kemudian diadakan

pertemuan lanjutan yang dilaksanakan di Bogor. Pertemuan tersebut dihadiri oleh

Wakil Menteri Pertama Soebandrio, Njoto, Soeroto, Perdana Menteri NNKU Azahari

dan kelompok Yap Chung Ho dari SUPP. Dalam pertemuan itu telah diputuskan

untuk membentuk pasukan bersenjata yang akan berkedudukan di perbatasan

Kalimantan Barat (Asuangsang di sebelah Utara Sambas).29

 

Tindak lanjut dari kesepakatan di Bogor, Soebandrio dengan BPI (Badan

Pusat Intelijen) Indonesia, membantu melatih 10 (sepuluh) orang anak buah Yap

Chung Ho selama sebulan di Bogor.

 

Sepuluh (10) orang yang telah dilatih oleh BPI

kemudian langsung dibawa ke Asuangsang untuk melatih 60 orang pasukan lagi.

Dengan basis pasukan ini, kemudian oleh SUPP “pelarian” di Kalimantan Barat

dibentuklah Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat

Kalimantan Utara (PARAKU) sebagai bagian dari Tentara Nasional Kalimantan

Utara (TNKU).30 Selain itu juga memasukkan anggota-anggota PGRS yang dipimpin

25 SAYA adalah organ dari SUPP, namun sudah dimasuki pengaruh komunis. SEMDAM

XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182 dan Soemadi, op. cit., hlm 57. SAYA berdiri tahun 1954,

pembaharuan dari Sarawak Liberation League, kemudian menjadi organ SCO atau CCO. Sejak

awal SAYA dan SCO/CCO sudah anti terhadap Inggris, seperti kerja sama mereka dengan Anti-

British League dari Singapura tahun 1952.

 

 Periksa James P. Ongkili, op. cit., hlm. 143.

26 Dalam Pembayun Sulistyorini, “Pemberontakan PGRS/ PARAKU di Kalimantan Barat, Jurnal

Sejarah dan Budaya Kalimantan, edisi 03/2004, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,

Pontianak, hlm. 39.

27 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182.

28 Idem.

29 Idem.

30 Ibid., hlm 183. Selain itu juga, sebagai hasil persetujuan TNKU akan menyediakan senjata untuk

Saleh sebagai anggota BPI. Dislokasi umum mereka adalah dari Pantai Barat sampai

daerah Sungkung ditempati PGRS dan dari Sungkung sampai Benua Martinus di

sebelah Timur ditempati PARAKU.31

D. Politik Konfrontasi: Dukungan Terhadap PGRS/PARAKU

Pada 10 Juni 1963 diadakan pertemuan antara perwakilan Indonesia,

Malaysia dan Filipina mengenai masalah ”Malaysia”. Pertemuan tersebut berhasil

membentuk Maphilindo, sebagai alternatif solusi bagi masalah ”Malaysia”.32 Pada

pertemuan tingkat tinggi, 30 Juli dan 5 Agustus 1963, Presiden Indonesia Soekarno,

Presiden Filipina Diosdado Macapagal dan Perdana Menteri PTM Tunku Abdul

Rahman mendukung Maphilindo dan meminta PBB menyelenggarakan jajak

pendapat di Sabah dan Sarawak guna memastikan apakah rakyat kedua wilayah

tersebut mau bergabung dengan Federasi Malaysia atau tidak. Kepututusan KTT di

Manila tersebut menghasilkan Manila Accord 31 Juli 1963.33 Namun, jajak pendapat

tidak diadakan di Brunei, sebab pada Juli 1963 wilayah tersebut telah memutuskan

untuk tidak bergabung dengan federasi.34

Menanggapi Manila Accord, Sekretaris Jenderal PBB, U Thant membentuk

Misi Michelmore35. Misi tersebut tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963,

dan melaksanakan programnya tanggal 26 Agustus 1963.36 Dalam jajak pendapat

anggota misi berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis dan

buruh, pejabat pemerintahan, pemimpin politik, serta kepala suku di Sabah dan

Sarawak. Hasilnya misi PBB tersebut menemukan bahwa mayoritas rakyat yang

diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan

Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. “favored the merger of the two

territories with Malaya and Singapore in the Malaysia Federation”37

Pemerintah Indonesia dan Filipina menolak hasil tersebut, mengeluh bahwa

waktu yang digunakan untuk jajak pendapat terlalu singkat. Penolakan juga

diakibatkan pengamat dari kedua negara38 hanya mengamati sebagian proses jajak

PGRS/PARAKU.

31 Soemadi, op. cit., hlm. 57 dan SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 183. Basis PGRS di

Sungkung, Bengkayang dan Sajingan Hulu. Sedangkan PARAKU di wilayah Benua Martinus dan

Badau, Kapuas Hulu.

32 Ibid., 384-385. Dalam Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 94., disebutkan tanggal 7 Juni dan 11 Juni

1963 telah diadakan pertemuan antara Deputi PM/Menlu Tun Abdul Razak, Menlu Soebandrio dan

Menlu Pelaez dengan hasil mendukung Maphilindo dan harus diadakannya pertemuan pada tingkat

Kepala Negara.

33 Baskara T. Wardaya, op. cit., 386. Konferensi tingkat tinggi antara Pemimpin Negara Indonesia,

Malaysia dan Filipina berhasil mempopulerkan pernyataan ”Masalah Asia diselesaikan oleh

Bangsa Asia”. Lihat juga Departemen Penerangan RI, op. cit., hlm. 33, 43, 53, kumpulan pidato

Presiden Macapagal dan Presiden Soekarno di KTT Manila tersebut.

34 Baskara T. Wardaya, op. cit., 386.

35 Misi diketuai oleh Laurence Michelmore (Amerika Serikat) dengan anggota-anggota: George

Janicek (Cekoslovakia), George Howard (Argentina), Neville Kanakaratne (Ceylon), Kenneth

Danzie (Ghana), Ishad Bagai (Pakistan), Jasushi Akashi (Jepang), Abdul Dajani (Yordania) dan

Jose Machado (Brazil). Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 95. Periksa juga Departemen

Penerangan RI, op. cit., hlm. 59.

36 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 388.

37 Idem

38 Jajak pendapat yang dilakukan Misi Michelmore juga dihadiri para peninjau dari Indonesia,

Malaysia dan Filipina. Dari Indonesia adalah Nugroho, Otto Abdulrahman, Teuku Hasan dan Rudi

Gonta. Dari Malaysia adalah Zaiton Ibrahim, Athi Nahappan, Yakup Latief, dan Mohammad

Zahir. Dari Filipina adalah Benito M. Bautista, Melquiades Iabanez, Vicento Muyoo dan Ramon

pendapat karena kesulitan yang diciptakan penguasa Inggris. Terlebih ketika pada

29 Agustus 1963 Tunku Abdul Rahman sudah mengumumkan Malaysia akan

didirikan pada 16 September 1963 dan menyatakan bahwa federasi baru itu akan

tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak pendapat yang

diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Serawak dan Sabah ingin

bergabung ke dalamnya atau tidak. “Would be established on that day whether or not the

result of the U.N. survey indicated that the people of Serawak and Sabah wanted to join the

federation”39

Tanggal 3 Mei 1964 bertempat di depan Istana Merdeka, Presiden Soekarno

mengumumkan Dwikora atau Dwi Komando Rakyat.

“Kami Pemimpin Besar Revolusi Indonesia dalam rangka politik

konfrontasi terhadap proyek neo-kolonialis Malaysia… dengan ini

kami perintahkan kepada dua puluh satu juta Sukarelawan Indonesia

yang telah mencatatkan diri:

Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia dan bantu perjuangan

revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Sarawak dan

Brunei untuk mebubarkan negara boneka Malaysia.

Semoga Rahmat dan Taufik Tuhan beserta kepada kita.

Demikian Dwikora, saudara-saudara, maka, saudara-saudara, inilah

Komando Dwikora yang saya berikan kepadamu sekalian.

Kerjakan. Bismillah!”40

Menurut Lie Sau Fat atau X. F. Asali, budayawan Tionghoa Kal-Bar dan saksi

sejarah, ketika peristiwa Dwikora, banyak sukarelawan membantu perang dengan

Malaysia. Mereka terdiri dari para pelarian dari Sarawak, yang pada umumnya etnis

Tionghoa dan partisipan komunis. Kemudian ada juga sukarelawan yang berasal

dari Singkawang, Bengkayang dan berbagai wilayah di Indonesia, yang terdiri dari

berbagai etnis seperti Melayu, Dayak, dan Tionghoa.41 Selain melakukan perang

langsung dengan Malaysia, Indonesia juga merekrut kelompok yang menentang

pembentukan Federasi Malaysia. Kelompok tersebut adalah kelompok NNKU dan

TNKU pimpinan Azahari, serta kelompok SUPP yang melarikan diri ke Kal-Bar.42

Kodam Tanjungpura pada Mei dan Juni 1964, memberikan latihan militer

pada 28 orang sukarelawan dari SUPP (Sarawak United People Party) yang “lari” ke

Kal-Bar dan juga para sukarelawan yang dikirim dari Jakarta. Latihan militer

tersebut di lakukan di Dodiktif 18 – Tandjungpura di Bengkayang.43 Seperti yang

diungkapkan Letnan Kolonel Harsono Subardi, mantan Biro Intel POM Kodam XII

Barrios. Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 95.

39 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm 389.

40 ”Amanat Komando/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Pada Appel Besar

Sukarelawan Pengganjangan Malaysia di Depan Istana Merdeka, Djakarta, 3 Mei 1964.”, hlm.16,

dokumen Arsip Nasional RI.

41 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, Borneo Tribune, Minggu, 11 Februari 2008, tulisan

dikutip dari blog pribadi penulis di alamat http://muhlissuhaeri.blogspot.com dengan isi yang sama

seperti edisi cetak surat kabar Borneo Tribune. Lihat juga La Ode, M.D., Tiga Muka Etnis Cina–

Indonesia Fenomena di Kalimantan Barat, Biograf Publishing, Yogyakarta, 1997, hlm. 117.

42 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, op. cit.

43 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 183 dan 185. Dalam Pembayun Sulistyorini, op. cit.,

hlm.53, disebutkan: selama masa konfrontasi 85 orang dari Sarawak telah meyeberang ke

Kalimantan Barat. Mereka pada umumnya termasuk dalam onderbouw SUPP.

Tanjungpura, “Saat itu, kita melatih PGRS/PARAKU untuk dipergunakan

membantu memerdekakan Malaysia. Mereka dilatih oleh RPKAD di Bengkayang.” 44

Selama periode 1963-1965 PGRS/PARAKU ”membina” rakyat perbatasan

yang berada di Indonesia. Tujuan penyerangan PGRS/PARAKU dan para

sukarelawan diarahkan kepada Sarawak di Malaysia Timur. Targetnya untuk

mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah Federasi Malaysia dan

merebut Kota Kuching sebagai Ibukota wilayah Sarawak. Agar tujuan itu tercapai,

mereka membentuk basis-basis strategis di Distrik Sempadi/Matan, Lundu, Nonok,

Bau, Sibu, Binatang dan Semanggang, serta melakukan penyerangan-penyerangan

terhadap pos-pos Tentara Diraja Malaysia.45

Kebijakan Pemerintah Indonesia melalui BPI (Badan Pusat Intelijen),

membuat “kisah” PGRS/PARAKU tidak menjadi konsumsi publik pada tahun 1963-

1965 (sebelum G 30 S). Hal ini seperti yang diuraikan L.H. Kadir, saksi sejarah,

mantan Wakil Gubernur Kal-Bar 2003-2008, pada masa konfrontasi bekerja sebagai

pegawai negeri di Putusibau (1963-1965) dan Mahasiswa APDN (1965-1968).

“Sekitar tahun 1963-1964 tidak ada pernyatan dukungan Indonesia

terhadap PGRS/PARAKU. Masyarakat hanya tahu bahwa ada

pergolakan rakyat di perbatasan. Setahu saya setelah peristiwa G 30 S

baru ada di koran berita tentang PGRS/PARAKU. Sebelum itu yang

dikenal sukwan… Sewaktu masih di Putusibau, saya pernah

mengantar sukwan dari Putusibau untuk berlatih di perbatasan. Saya

dengan speed ke Semitau diperintah Dandim Hartono supaya

mengantar. Orang-orang yang saya antar Cina semua waktu itu.

Mereka bawa senjata, ada pula amoi-amoi, banyak perempuan. Ada

juga dokter dua orang, mereka latihan di Badau.”46

Sejak bulan Januari 1965 sampai meletusnya G30S, kegiatan infiltrasi dan

pertempuran ke Malaysia meningkat sehingga rakyat perbatasan di kedua belah

pihak sangat terpengaruh oleh kegiatan tersebut. Pasca G30S situasi belum

mempengaruhi PGRS/PARAKU, karena pemerintah belum membubarkan PKI.

Situasi komando di Kalimantan Barat masih belum jelas. Satu-satunya komando

yang diberikan oleh Pangdam XII/Tanjungpura adalah tetap di pos masing-masing

dan mempertinggi kewaspadaan. Situasi demikian ternyata dimanfaatkan PGRS/

PARAKU untuk konsolidasi kekuatan, di mana banyak simpatisan PKI yang

bergabung karena situasi politik yang semakin menekan PKI.47

Pada perjalanan sejarah selanjutnya gerakan sukarelawan Indonesia akan

sulit dibedakan dengan para gerilyawan PGRS/PARAKU. Mereka sama-sama

memperoleh pelatihan militer dari Tentara RI dan sama-sama diterjunkan di

perbatasan.48 Hal ini semakin kompleks ketika PKI memanfaatkan pengerahan

sukarelawan untuk melatih para kadernya, yang kebanyakan dari etnis Tionghoa,

sehingga akan sulit dibedakan yang mana PGRS/PARAKU, kader PKI dan

kelompok yang tidak mengetahui tentang semua itu.

44 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, op. cit.

45 Pembayun Sulistyorini, op. cit., hlm. 54.

46 Wawancara langsung dengan penulis pada hari Minggu, 20 Juni 2008 sekitar pukul 17.00 Wib

lokasi di kediaman L.H. Kadir, jalan M.T. Haryono No. 40 Pontianak, Kalimantan Barat.

47 Pembayun Sulistyorini, op. cit., hlm. 56.

48 Ibid., hlm. 39.

E. Penumpasan PGRS/PARAKU

Ada kelompok-kelompok dalam tubuh Angkatan Bersenjata maupun sipil di

Indonesia yang menginginkan konfrontasi berakhir. Mereka yang masuk ke dalam

kelompok ini adalah: Soeharto, Kemal Idris, Ali Moertopo, L.B. Moerdani, Yoga

Soegomo dan A. Rachman Ramli. Dari pihak sipil ada Adam Malik dan Sri Sultan

Hamengku Buwono IX. Dari pihak Malaysia adalah Menteri Luar Negeri Tun Abdul

Razak, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri (1969-1970) Tan Sri Muhamad

Ghazali bin Shafie dan staf Kementerian Luar Negeri Muhamad Sulong.49 Setelah

peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melemahkan kekuatan PKI, dan

keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 yang melemahkan kekuatan Soekarno,

kelompok-kelompok di ataslah yang mengambil inisiatif untuk menyelesaikan

masalah “Malaysia”.

Menurut Hidayat Mukmin ada tiga faktor yang mendorong penyelesaian

konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Pertama, faktor internal Malaysia, adanya

perpecahan di dalam Federasi yang mengakibatkan Brunei dan Singapura

melepaskan diri. Kedua, internal Indonesia, pergantian kekuasaan yang didasari

perisitiwa 30 September 1965. Ketiga, upaya kedua pihak untuk menyelesaikan

konfrontasi tanpa mediasi pihak ketiga.50 Dengan perkembangan historiografi yang

pesat pasca Orde Baru, sulit mengatakan berakhirnya konfrontasi tanpa campur

tangan pihak ketiga. Beberapa penulisan sejarah terbaru menunjukkan adanya

campur tangan pihak asing dalam pergantian kekuasaan di Indonesia.

Secara khusus bagi Indonesia, alasan-alasan di atas harus ditambah dengan

alasan ekonomi dan politik. Secara ekonomi, sulit bagi Indonesia yang pemerintah

dan rakyatnya sedang dalam ekonomi lemah, dapat menjalankan perang dengan

berhasil.51 Meskipun faktanya Indonesia memiliki armada militer yang kuat dari

kerja samanya dengan Uni Soviet.52 Sedangkan secara politis, terdapatnya kelompokkelompok

yang politiknya berseberangan dengan Soekarno. Kelompok-kelompok ini

mengidentikkan konfrontasi sebagai politik Soekarno dan PKI. Dengan melemahkan

kekuasaan Soekarno Pasca G30S, mereka pun menginginkan berakhirnya politik

konfrontasi.

Pada 29 Mei – 1 Juni 1966 diadakan perundingan antara Menteri Luar Negeri

RI Adam Malik dan Menteri Luar Negeri Malaysia Tun Abdul Razak di Bangkok

atas bantuan Menteri Luar Negeri Thailand Thanat Khoman. Perundingan yang

dikenal dengan Bangkok Talks menghasilkan pertukaran surat-surat yang memuat

prinsip-prinsip untuk suatu perjanjian bagi penyelesaian persoalan Malaysia. Puncak

dari semua perundingan itu adalah ditandatanganinya suatu persetujuan antara

Indonesia dan Malaysia untuk normalisasi hubungan antara kedua negara di Jakarta

pada tanggal 11 Agustus 1966. Persetujuan itu dikenal dengan Jakarta Accord.53

Konfrontasi baru selesai setelah ada pengakuan terhadap Malaysia seperti yang

tertuang dalam pasal 1 Jakarta Accord. Segala sesuatu yang tercantum dalam Jakarta

Accord hanya dapat dilaksanakan apabila tidak ada kegiatan-kegiatan permusuhan

lagi antara kedua negara.

Menanggapi Jakarta Accord, maka KOLAGA (Komando Mandala Siaga)

49 Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 106-107, 114, 129 dan 130.

50 Ibid., hlm. 108.

51 G. Moedjanto, Indonesia Abad ke-20, Yogyakarta, Kanisius, 1988, hlm.119. Hidayat Mukmin, op.

cit., hlm. 113.

52 G. Moedjanto, op. cit., hlm.124.

53 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 194.

mengeluarkan instruksi dengan radiogram tanggal 10 Agustus 1966 No. TSR-

26/1966 kepada semua Komando Bawahan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan

operasi. Langkah selanjutnya yang diambil oleh Komando Tempur (Kopur)

IV/Mandau, adalah menyerukan agar PGRS/PARAKU mengadakan konsolidasi di

tempat-tempat yang sudah ditentukan. Ternyata yang mengikuti seruan tersebut

hanya 99 orang, sedangkan sejumlah 739 orang membangkang.54

Akibat dari pembangkangan tersebut, maka Kopur IV/Mandau melancarkan

gerakan Operasi Tertib I dan Operasi Tertib II ke daerah-daerah seperti: Gunung

Sentawi/Sempatung complex, Sungkung complex, Melanjau complex, dan Benua

Martinus complex. Gerakan Operasi Tertib I dilaksanakan tanggal 1 Oktober 1966

sampai Desember 1966. Sedangkan Operasi Tertib II dilaksanakan sejak Januari 1967

sampai dengan Maret 1967. Pelaksana penuh Operasi Tertib I dan Tertib II adalah

Kopur IV/Mandau dan langsung berada di bawah KOLAGA. Sebagai hasil dari

Operasi Tertib tersebut, Kopur IV/Mandau dapat menghancurkan lima puluh

persen (50%) kekuatan PGRS/PARAKU.55

Pada tanggal 17 Februari 1967 berdasarkan Surat Rahasia Pangkolaga No. 12-

33/1967 wewenang pengendalian operasi dialihkan dari Kopur IV/Mandau kepada

Kodam XII/Tanjungpura. Kodam XII/Tanjungpura melancarakan rentetan gerakan

operasi yang dikenal dengan Operasi Sapu Bersih. Dalam perjalanannya Operasi

Sapu Bersih dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu: Operasi Sapu Bersih I (April

1967-Juli 1967), Operasi Sapu Bersih II (Agustus 1967-Februari 1969) dan Operasi

Sapu Bersih III (Maret 1969-Desember 1969).56

Pelaksanaan Operasi Sapu Bersih I belum mencapai hasil memuaskan,

pasukan yang gugur sebanyak 29 orang. Faktor-faktor kegagalan disebabkan

kurangnya tenaga tempur, selain itu pihak PGRS/PARAKU lebih mengenal keadaan

medan dan dapat menarik simpati kaum pribumi yaitu suku Dayak setempat.57

Ditambah lagi PGRS/PARAKU mudah memencar dan menyusup ke dalam

masyarakat untuk menghilangkan diri dari pengejaran. Hal itu disebabkan

masyarakat dan kampung-kampung Tionghoa tersebar luas sampai daerah

pedalaman seluruh Kalimantan Barat.58 Penyerbuan PGRS/PARAKU di Sanggau

Ledo 16 Juli 1967 terhadap Pangkalan Udara AURI, Singkawang, merupakan

pukulan telak bagi tentara Indonesia. PGRS/PARAKU berhasil merampas senjata

150 pucuk.59 Akibat penyerangan tersebut tiga prajurit dan satu pegawai sipil tewas.

Pada penyerangan tersebut, PGRS/PARAKU meninggalkan surat kepada pihak

Tentara AURI yang berbunyi: “Kami Pinjam Senjata Untuk Melawan Imperialis

Inggris Malaysia.60”

Dalam operasi gelombang

 

 

8 Desember 1962

 

Proklamasi

Negara Kesatuan Kalimantan utara

 

 

 

 

 

19 pebruari 1962

Hasil jajak pendapat dari tanggal 19 Februari sampai 17 April 1962 mengungkapkan bahwa dua pertiga masyarakat yang diwawancarai menyetujui penggabungan. Pertemuan di London pada tanggal 18-31 Juli 1962 merencanakan pembentukan Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1963.[2]

Kelompok sayap kiri dan komunis berkembang dengan pesat semenjak tahun 1950an diantara penduduk perkotaan Sarawak dari suku Iban dan China.

Mereka akhirnya menjadi inti pasukan Paraku dalam rangka gerakan Ganyang Malaysia (Dwikora) oleh presiden Indonesia saat itu, yaitu Soekarno. Partai NKCP mempropagandakan penyatuan seluruh wilayah Kalimantan yang berada di bawah kekuasaan Inggris untuk membentuk negara merdeka Kalimantan Utara. Ide tersebut awalnya diajukan oleh Azahari, ketua Partai Rakyat Brunei, yang memiliki hubungan dengan gerakan nasionalisme yang dicetuskan oleh Soekarno, bersama dengan Ahmad Zaidi di Jawa pada tahun 1940an.[3][1]

8 desember 1962

Syekh A.M. Azahari, pemimpin Partai Rakyat Brunei, partai terbesar di Brunei, memproklamirkan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) yang meliputi Serawak, Brunei, dan Sabah pada tanggal 8 Desember 1962.

Di daerah lain, seperti di PTM, Singapura, dan Serawak, ada beberapa partai politik yang juga tidak menyetujui pembentukan. Pemerintah Indonesia yang awalnya mendukung pembentukan Federasi Malaysia, menjadi berbalik arah setelah Azahari memproklamirkan pembentukan NNKU. Presiden Soekarno mengakui bahwa ia menerima pembentukan Malaysia ketika gagasan tersebut diperkenalkan pada 1961, tetapi revolusi anti-Malaysia di Brunei tahun 1962 tidak memberinya pilihan lain selain membantu Brunei, sebab Soekarno percaya bahwa setiap rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri.[2]

Ide tersebut muncul sebagai sebuah alternatif bagi penduduk setempat untuk melawan rencana Malaysia. Perlawanan penduduk lokal berdasarkan perbedaan ekonomi, politik, sejarah, dan budaya antara penduduk Kalimantan dengan Federasi Malaya, disamping juga mereka menolak didominasi secara politik oleh federasi tersebut. Sebagai hasil Pemberontakan Brunei, diperkirakan sebanyak ribuan masyarakat China penganut paham komunis lari meninggalkan Sarawak. Pasukan yang masih bertahan di sana dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS).

Dukungan Bung Karno[sunting]

Bung Karno, Presiden Indonesia saat itu, terkenal sangat anti imperialisme dan menganggap Federasi Malaysia tidak lebih dari sekedar produk imperialis Inggris untuk mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara serta mengganggu jalannya revolusi Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan Bung Karno untuk menyerukan penghancuran ‘negara boneka’ Malaysia tersebut, dikenal dengan istilah Ganyang Malaysia. Pemerintahan Bung Karno mengikutsertakan sebagian rakyat Kalimantan Utara yang juga menolak pembentukan Federasi itu.[1]

Menurut buku sejarah Kodam XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang, sikap Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia berhubungan dengan politik luar negerinya yang anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuknya. Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya kedok dari Inggris dan sekutunya untuk tetap berkuasa di Asia Tenggara dalam bentuk neo-kolonialisme, dan kemudian mengepung Indonesia. Menurut M.C. Ricklefs, banyak pemimpin Indonesia menganggap Malaya (PTM) tidak benar-benar merdeka karena tidak terjadi suatu revolusi. Mereka merasa tidak senang dengan keberhasilan Malaya di bidang ekonomi, merasa curiga dengan tetap hadirnya Inggris di sana dengan pangkalan-pangkalan militernya, dan merasa tersinggung karena Malaya dan Singapura membantu PRRI. Selain itu dapat pula ditambah alasan adanya keinginan agar Indonesia memainkan peran yang lebih besar di dalam masalah-masalah Asia Tenggara. Hal serupa dikemukakan Hilsman dalam bukunya To Move a Nation seperti yang dikutip dari Cold War Shadow:[2]

Oposisi Indonesia terhadap Malaysia merupakan bagian dari ekspresi ‘nasionalisme baru’ mereka yaitu Jakarta ingin berdiri tinggi dalam permasalahan internasional, terutama yang berkaitan dengan kekuatan kolonial sebelumnya… Sukarno, terlebih lagi, menekankan bahwa Inggris tidak pernah benar-benar berbicara dengan Indonesia mengenai rencana pembentukan federasi.”

Bung Karno menugaskan salah satu menterinya, Oei Tjoe Tat, untuk menggalang kekuatan warga Tionghoa Kalimantan Utara yang anti-Malaysia untuk mendukung konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris.

Hasilnya pemerintah Indonesia. Pasukan tersebut membentuk Paraku-PGRS dan berada dibawah komando seorang perwira Angkatan Darat yang dekat dengan kelompok kiri, yakni Brigadir Jenderal Supardjo, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau.[1]

 Soebandrio bertemu dengan sekelompok pemimpin , hampir 900 orang Tionghoa Kalimantan Utara berkenan pindah ke daerah Kalimantan Barat untuk diberi pelatihan kemiliteran dan dipersenjatai olehmereka di Bogor, dan Nasution mengirim tiga pelatih dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Batalion 2 ke Nangabadan yang dekat dengan perbatasan Serawak. Di sana terdapat sekitar 300 orang prajurit yang akan dilatih. Sekitar 3 bulan kemudian, dua letnan dikirim ke sana.[4]

Buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jilid IV (1966-1983) mengakui bahwa Paraku-PGRS adalah pasukan yang dilatih dan dipersenjatai oleh TNI. Buku itu juga menyebutkan, para anggota kedua pasukan itu adalah orang-orang Tionghoa pro-komunis yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi Malaysia-Inggris.

Namun, Paraku-PGRS juga mengorganisir orang-orang dari suku Dayak dan Melayu untuk melakukan serangkaian penyusupan ke wilayah Kalimantan Utara seperti Sarawak dan Brunei.[1]

Pengaruh komunis[sunting]

Reaksi Indonesia menentang pembentukan Malaysia mendapat dukungan besar dari rakyat Indonesia. PKI mengecam rencana “Malaysia” sebagai ”usaha neo-kolonialis untuk mencegah masyarakat dari koloni-koloni Inggris untuk memperoleh ‘kemerdekaan nasional yang sebenarnya dan kebebasan dari imperialisme’”. Angkatan Darat mendukung sikap Presiden Soekarno, tapi dalam kasus akan munculnya bahaya komunisme yang lebih kuat. ”Pasukan khawatir berdasarkan populasi China pada federasi tersebut, Malaysia akan menjadi batu loncatan bagi Komunis China untuk masuk ke Indonesia melalui perbatasan Indonesia-Malaysia”.[2]

Indonesia juga mendapat dukungan dari Filipina. Presiden Filipina, Diosdado Macapagal mengklaim Sabah sebagai bagian dari wilayah negaranya atas dasar hubungan antara Filipina dan Sultan Sabah pada masa pra-kolonial. Filipina juga takut bahwa federasi baru itu akan menjadi basis bagi tekanan komunis dari populasi Cina Malaysia dan elemen komunis Indonesia.”[2]

Pergerakan[sunting]

Pada tanggal 8 Desember 1962,

 bersama dengan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara, Tentara Nasional Kalimantan Utara dibentuk sebagai kekuatan pertahanan. Inggris mengerahkan tentara untuk melawan NNKU sehingga membuat Azahari tidak mampu mempertahankan pemerintahan pusat di Kalimantan Utara kemudian memindahkannya ke Manila. Kebijaksanaan Pemerintah Indonesia saat itu adalah memberikan asylum politik kepada Perdana Menteri Azahari dan Panglima Abang Kifli di Jakarta.[2]

Berdirinya Negara Kalimantan Utara mengakibatkan Partai Komunis Sarawak mendapat tekanan dari penguasa. Sejalan dengan kebijaksanaan politik Indonesia masa itu, pemimpin-pemimpin komunis dari Sarawak berpindah ke Kalimantan Barat. Sedangkan RRC (Republik Rakyat Cina), dalam rangka menyelamatkan Partai Komunis Sarawak, mengirim Wen Min Tjuen dan Wong Kee Chok ke Kalimantan Barat pada awal tahun 1963. Kedua pemimpin Partai Komunis Cina tersebut menemui Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa, dan Yacob dari Sarawak Advance Youth Association (SAYA) untuk membahas garis perjuangan dari Partai Komunis Sarawak. Azahari dan Abang Kifli dengan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU)-nya kemudian berhubungan dan bekerja sama dengan mereka.

 

Operasi Militer era Dwikora

 

B ila Anda melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya.

 Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964.

 

Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi denagn Malaysia.

Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama ‘Negara Boneka” Malaysia.

Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

 

Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan ‘Negara Boneka’ Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.

 

Terbesar Di Asia tenggara

Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.

 

Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

 

Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia.

 

Sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.

Berbagai Operasi militer

Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti:

Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force.

 

Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

 

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet,

Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan.

Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi.

 

Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI.

 

Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.

Ini foto mbah waktu masih jaguh

Stambuk 13…..

 

 pasukan yang disusupkan saat trikora

Kompi X yang ditempatkan di Sigalayan, dipersenjatai dengan senjata bener2 berat di antaranya Recoilees rifle 105mm dan mortir 120mm yg bisa menyaingi howi pack Inggris

-sempat akan trerjadi bentroikan antara Marinir vs TNI-AD gara2 seoarang anggota TNI AD menodong anggota marin ir yg menyamar dr nelayan dan pulang dr misi recon, dan temannya menembak mati anggota AD ini. sempat akan terjadi duel, namun gara2 fire power marinir gede bayangin aja Dushka, RPD, ama AK dan Bren vs Bren , sten ama Garrand, bentroikan gak jadi

-satu pos marinir yg dipertahankan 4 orang tentara yg masih hijau berhasil mengusr rombongan SAS stelah mereka menembakkan HMG dushka mereka dengan konsep 3-3 bukan rentetena panjang, hasilnya seorang terluka dan memakasa SAS mundur

oiya say amu nanya mengapa trikora dan dwikora itu cuman senjata Marinir,paskhas ama kopassus aja yg banyak ya? apa karena punya AD masih cukup gara2 “sumbangan Amerika di sumatra dan Sulawesi”?

Berbagai senjata yang digunakan dalam Operasi Trikora:

IRIAN, IRIAN, IRIAAAANNN…….
Itulah bait pertama lagu yang diajarkan kepada para pelajar pada awal tahun 60-an dalam rangka kampanye perebutan Irian Barat.

 Lagunya amat menarik sehingga sebagi pelajar kami terbawa pada retorika vokalnya. Gerakan Trikomando Rakyat (TRIKORA) untuk mengembalikan Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi saat itu nampaknya sudah menjadi bagian hidup sehari-hari bangsa Indonesia.

 

 Disekolah, dikantor, ditempat-tempat umum topik pembicaran orang lebih sering kepada soal TRIKORA ini.

 Emosi masa Setiap saat selalu bangkit, muncul berupa ketidak senangan kepada bangsa Belanda.

Apalagi semangat anti Belanda tidak pernah putus sejak pengambil alihan perusahaan milik Belanda pada tahun-tahun sebelumnya.

Kegandrungan masyarakat ini tentu saja terutama karena dipicu pidato-pidato Presiden soekarno. Sejak tahun limapuluhan, Bung Karno memang tidak pernah melupakan untuk menyelipkan soal Irian Barat dalam pidatonya.

Dengan perkataan lain telah terjadi etape politik memusuhi Belanda babak kedua setelah masa Revolusi Perang Kemerdekaan 1945-1949. Itulah suasana gejolak politik 60-an yang terjadi.

Dalam suasana ini, tanpa disadari masyarakat, dua kekuatan politik mulai berebut pengaruh dan bersaing habis-habisan, yaitu Angkatan Darat dan PKI. Persaingan ini baru berahir nanti saat meletusnya peristiwa G30S pada tahun 1965. Tapi dalam soal TRIKORA, keduanya melihat kalau kampanye perebutan Irian Barat akan menuai pembangunan kekuatan politik masing-masing secara nyata.

 

……Pada bulan Juli 1962

 anggota BTI (organisasi tani dibawah PKI) berjumlah 5,7 juta orang, anggota SOBSI 3,3 juta orang, Gerwani 1,5 juta orang. Jumlah anggota PKI yang tercatat pada ahir tahun 1962 telah mencapai lebih dari 2 juta orang.

Advertisements

4 responses to “KOLEKSI SEJARAH INDONESI 1962

  1. Thanks on your marvelous posting! I actually enjoyed reading it, you happen to be a great author.I will make sure to bookmark your blog and
    will come back later on. I want to encourage one to continue your great work, have a nice
    morning!

  2. Salut! Informasi historis di blog anda mampu menjawab banyak pertanyaan mengenai peristiwa-peristiwa sejarah negara kita. Penghargaan yang tinggi untuk ketekunan anda mengumpulkan begitu banyak informasi yang berharga ini.
    Saya tertarik khususnya pada sosok Komodor Jos Soedarso dan peristiwa pertempuran Laut Arafura. Memoar Lettu dr. Ben Mboi tentu saja sudah jadi santapan yang bergizi bagi saya. Tapi saya ingin tahu apakah ada catatan atau memoar lain, khususnya yang merekam saat-saat mana Komodor Jos Soedarso memutuskan untuk berangkat bersama Kolonel Laut Soedomo ke Irian.
    Ada banyak pertanyaan memenuhi pikiran saya, seperti ‘mengapa dalam rapat dimana Presiden Soekarno memerintahkan Laksamana Martadinata untuk mengerahkan kapal-kapal TNI AL menjalankan operasi dropping pasukan dan sukarelawan TNI AD di Irian, Komodor Jos Soedarso tidak hadir’. Lalu ‘apakah benar Bung Karno menawarkan sebuah jabatan kepada Jos Soedarso ketika dia ditarik kembali ke Jakarta’, ‘jabatan apa yang ditawarkan’, ‘mengapa justru Jos Soedarso ditawari jabatan itu, bukankah seorang seperti dia justru sangat diperlukan untuk menunjang operasi TNI AL dalam pelaksanaan amanat Trikora’ dan masih banyak lagi.
    Alangkah menyenangkan apabila jawaban dari banyak pertanyaan tersebut bisa dihadirkan oleh blog kesejarahan ini, terimakasih.

    • hallo pak Leo budhiarto
      terima kasih telah mampir di web saya dan memberika komentar yang manembah semangat saya untuk menulis lebih banyak
      jika anda ingin info lebih lanjut tenrtang sejarah indonesia silahkan menghubungi saya liwat emai
      iwansuwandy@gmail.cpm
      dengan mengupload kopi KTP,riwayat kerja singkap,alamat lengkap dengan nomor tilpon ini untuk sekuriti terhadap hijeck internet
      sebutkan apak info yang anda inginkna
      nanti akan saya susun sebuah E-book dalam CD-Rom dengan info lengkap yang anda inginkan
      biaya operational ditambah ongkos kirim liwat Titipan KIlat hanya lma ratus ribu rupiah saja
      terima kasih telah berkomunikasi dengan saya
      salam DR Iwan Suwandy,MHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s