KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1951 (BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1951

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

 

1951 Issue

  P38 – 1 Rupiah
Serial Number: DJ 045209
Front: Palm trees on a beach at left, terraced rice paddy on right, red and blue security fibers in center
Back: Mountain at center, anti-forgery text in box at lower center
Printer: Security Banknote Company
Size: 126 x 65 mm
  P39 – 2½ Rupiah
Serial Number: AM 592225
Front: Palm trees on a beach at right, oceanside cliffs at left, red and blue security fibers in center
Back:
Garuda Pancasila at center, anti-forgery text in box at right center
Printer: Security Banknote Company
Size: 125 x 65 mm

 

 1951

Penemuan Koleksi Langka tjonto prangko jang berlaku di Indonesia dengan stempel tinta violet tjonto (specimen) , oleh kepala kantor pos Bengkulu

Contoh Prangko yang berlaku di Indonesia tahun 1951 termasuk prangko RISprangko RIS Rp.2,-Rp.3.Rp.5 ,-Rp 10.- dan Rp.25. tak dijual diloket,prangko nominal tinggi saat itu langsung dipasang dan di stempel saat pengiriman surat berat atau pospaket.

Koleksi ini hanya baru satu  ditemukan dan dilaporkan, maaf illustrasi kurang jelas,ini disengaja agar tidak di buat palsunya,d an tetap dalam kondisi seperti yang ditemukan di Bengkulu , ini merupakn postal histori sangat langka dan membuktikan bahwa prangko cetak wina tak pernah dijual diloket kantor pos Indonesia,bagi yang memilikinya harap berkenan memberikan informasi liwat comment,terima kasih. Apabila perhimpunan filateli Indonesia atau asia ingin memamerkan koleksi yang sangat langka ini silahkan menghubungi Dr Iwan liwat comment-catatan Dr iwan suwandy)

 

(the RIS Sample Stamp circulated In Indonesia Until 1951, only one exist in the world,if the Phillatelic Exhibtion want to show this amizing and RRRR collections ,please asked the owner Dr Iwan suwandy via comment.Please donnot tag this collections without the owner permission)

 

The close up of specimem stamps will add only in Special Edition CD-ROM

 

The viena printing stamps not list at this official republic Indonesia stamps,and the viennna printing stamps also npot valid when send look the collections below

 

I would like to know if the round double circle stamp which the postage stamp and the Department Seal of the Viennese press issues of Indonesia are stamped a fantasy or a real stamp concerns

 

The second question is how the postage is calculated, both Viennese pressure seals were at that time (1959) no longer valid for postage

 

 

Dr Iwan Notes

The viena printing stamps not list at this official republic Indonesia stamps,and the viennna printing stamps also npot valid when send look the collections above

 

 

  

Indomesia Almium Coin 5 sen 1951

 

Indonesian Al,inium 50 cent  coin 1951

1951

 

Roeslan Muljohardjo ditetapkan sebagai Gubernur Sumatera Tengah dengan dengan tempat kedudukan Bukittinggi.

(alamanak *Indonesia 1952)

 

January 1951

Pada tahun 1951 Yogyakarta menyelenggarakan pemilu pertama dalam sejarah Indonesia.

Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota legislatif di Daerah Istimewa dan Kabupaten. Pemilu dilangsungkan dalam dua tahap, tidak secara langsung. Pemilih memilih electors yang kemudian electors memilih partai (Selo Sumardjan 1962, hal 101).

Komposisi DPRD didominasi dari Masyumi (18 kursi dari total 40 kursi), sisanya dibagi oleh enam parpol lainnya[2].

Tercatat dua parpol lokal yang mengikuti pemilu ini yaitu PPDI dan SSPP[2]. Sementara itu kekuasaan eksekutif tetap dijalankan oleh Dewan Pemerintah Daerah yang beranggotakan lima orang yang dipilih oleh dan dari DPRD sesuai dengan tingkatannya. Untuk tingkatan Daerah Istimewa, selain lima orang tersebut,

Dewan Pemerintah juga diisi oleh kedua raja (Sultan HB IX dan Sri Paduka PA VIII). Namun keduanya tidak bertanggung jawab kepada DPRD melainkan langsung kepada Presiden.

Source wiki

February 1951

Pasca kemerdekaan, Presiden Sukarno mengharuskan semua orang Belanda, orang Indo, prajurit KNIL (banyak di antaranya orang Maluku), dan simpatisan Belanda lainnya meninggalkan Indonesia.

Tahun 1951, sebanyak kira-kira 12.500 orang Maluku diusir ke Belanda. Orang-orang Maluku ini datang dengan menumpang13 armada kapal laut yang tiba di pelabuhan Rotterdam.

Foto: Arus kedatangan orang Maluku di Belanda, 1951

Ketika orang-orang Maluku tiba di Belanda, mereka mengira kedatangan itu hanya untuk sementara.

Mereka masih menganggap bahwa begitu situasi darurat berlalu, secepatnya mereka akan kembali lagi ke Indonesia. Apalagi ketika itu pihak Belanda menjanjikan mereka akan kembali bisa menetap di Indonesia.

Tidak heran, di masa itu masih banyak wanita Maluku yang tetap berkebaya. Mereka tidak merasa perlu menyesuaikan diri dengan kultur Belanda. Mereka mengajari anak-anaknya tetap berbahasa Indonesia. Bahasa Belanda perlu, tapi jangan sampai lupa bahasa ibu. Soalnya nanti mau kembali ke Indonesia. Jadi anak-anak mereka jangan sampai tidak bisa berbahasa Indonesia.

Selain itu, mereka juga masih percaya perjuangan RMS akan didukung Belanda. Dengan begitu mereka akan bisa kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara di pulau Ambon. Dan punya republik merdeka yang berdiri sendiri. Begitulah mimpi mereka.

 

Foto: Presiden pertama RMS, J.H. Manuhutu

Tapi tunggu punya tunggu, dugaan itu keliru. Tidak ada tanda-tanda pemerintah Belanda membantu perjuangan RMS. Jelas-jelas Belanda menolak dukungannya pada RMS.

Boro-boro dibantu mendirikan negara RMS. Janji pemerintah Belanda, bahwa mereka akan dipindahkan kembali ke Indonesia, tidak menjadi kenyataan. Ini membuat orang-orang Maluku merasa “habis manis sepah dibuang”.

Bagaimana tidak? Sebagai prajurit KNIL, mereka merasa berjasa telah membantu Belanda semasa perang.

Tapi Mana Balasannya!?
Ketika tiba di Belanda, mereka ditempatkan di barak-barak kecil. Makanan dibagikan melalui dapur umum. Kondisi hidup dan tempat tinggal mereka, boleh dikatakan buruk dan primitif. Bahkan ada yang ditempatkan di kamp yang dulu digunakan Jerman untuk menampung orang Yahudi. Mereka menerima biaya hidup yang sangat kecil jumlahnya. Padahal tidak sedikit keluarga Maluku itu punya banyak anak. Tentu butuh biaya tidak sedikit.

Cerita tadi belum selesai. Tak lama kemudian, terdengar berita bahwa Belanda memecat semua prajurit KNIL asal Maluku yang baru tiba itu.

 

Foto: Brosur iklan lowongan kerja sebagai prajurit KNIL, tahun 1930-an

 

Ini dirasa keterlaluan. Sudah kehilangan segalanya di tanah air, hidup pas-pasan, dipecat lagi! Harapan mereka, pemerintah Belanda bersedia membantu mencarikan pekerjaan lain. Tapi uluran tangan yang diharapkan untuk menyalurkan mereka ke lapangan kerja, ternyata nihil.

Begitulah kondisi orang Maluku di awal kedatangan mereka ke Belanda ketika itu. Diusir dari tanah air. Tidak punya pilihan lain. Mau kembali ke kampung halaman, nampaknya hanyalah fatamorgana. Ingin punya negara sendiri, dengan mengharap bantuan Belanda, tapi Belanda kok lepas tangan. Malah ingkar janji. Biaya hidup yang diterima kok tidak cukup. Sudah begitu…dipecat dari KNIL, tanpa diberi pekerjaan lain. Mau cari bantuan ke mana di negeri yang asing ini? Ini membuat mereka frustrasi. Orang Maluku merasa perjuangannya selama ini untuk membantu Belanda, telah dikhianati!

Walentina Waluyanti
Nederland, 5 Oktober 2010

 

1951

The First Anniversary / U.P.U. set is claimed to have been used locally. There are philatelic covers with the stamps cancelled with a genuine cancellation in the right time-frame:

 

Here are a few examples of the U.P.U. stamps with genuine cancels:

 

 

 

Maluku Selatan stamps were also variously overprinted for private purposes:

 

 

Metropole Cinema Jakarta dismiss in 1951

 

Indonesian Asian games new dehli stamps

 

March 1951

Pada tahun 1951,

Kahar Muzakar bergabung dengan DI/TII

dalam mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) dan melakukan pemberontakan di Sulawesi Selatan.

 

Belanda. Korps Cadangan Tentara (CTN)


Pada tanggal 25 Maret 1951

 

Source

http://trimudilah.blogspot.com/2010/09/abdul-qahhar-mudzakkar-sang-patriot.html

 

, akhirnya tibalah hari yang lama dinanti-nantikan:  pembentukan resmi Persiapan Brigade Hasanuddin sebagai bagian dari Korps Cadangan Nasional Tentara Republik. Pada hari ini juga Abdul Qahhar Mudzakkar meninggalkan tempat persembunyiannya.

Suatu upacara khusus untuk menyambutnya diadakan di Maros: sebanyak lima sampai enam ribu orang telah berkumpul untuk menyaksikan dia bersama prajurit-prajuritnya memasuki kota pukul tujuh malam hari. Salawati Daud dan Abdul Qahhar Mudzakkar  sendiri yang bicara kepada pasukan.

Abdul Qahhar Mudzakkar dalam pidatonya, yang berlangsung kira-kira setengah jam, secara panjang lebar membicarakan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepadanya bahwa ia terlalu ambisius, ia masuk hutan semata-mata untuk melanjutkan tujuannya, dan ia sengaja melarut-larutkan perundingan agar terjamin pengukuhan pangkatnya sebagai letnan kolonel.

Walaupun banyak orang yang percaya, dia dan Saleh Sjahban “haus pangkat dan kedudukan”,

disangkalnya tuduhan-tuduhan ini dengan mengemukakan, walaupun kenyataan membuktikan ia memiliki “kursi-kursi besar, meja-meja besar, dan telah menghadapi orang-orang penting “di masa lampau, semuanya ini bukanlah satu-satunya tujuan hidupnya. Saya dicurigai sangat mendambakan pangkat letnan kolonel, tetapi pangkat letnan kolonel ini yang didesakkan kepada saya”, ditegaskannya, sambil menambahkan, bila ada orang yang menginginkan mengambil alih pimpinan Brigade Hasanuddin, mereka dipersilakan maju ke depan dan melakukan keinginan itu; hanya saja dia tidak sudi menyerahkan tugas ini kepada mereka yang telah membakari rumah-rumah rakyat yang tidak berdosa.

Namun amat disayangkan adanya pembentukan Korps Cadangan Nasional pada bulan Maret sama sekali tidak berarti, pejuang-pejuang muslim Abdul Qahhar Mudzakkar telah menjadi prajurit biasa dari Tentara Republik.

Penggabungan resminya direncanakan pada bulan Agustus.

21 Juni 1951

 

Pada tanggal 21 Djuni 1951 oleh Panglima Tentara Teritorium I(Bukit barisan) diresmikan ,kewadjiban pemakaian lentjana”Bukit barisan” untuk anggota Angkatan darat Territorium I.

(Surat Kabar Penerangan,Koleksi Dr Iwan)

Dalam Reorganisasi TNI saat ini, Ahmad Husein mendapat kepercayaan memegang Komando Resimen 4 ( Resimen E.E.Banteng)  yang begabung dalam  Tentara dan teritorium I Bukit Barisan.

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

 

 

 

Tetapi antara

Maret dan Agustus 1951

terjadi serangkaian insiden yang mengakibatkan perpecahan baru lagi antara Tentara dan Abdul Qahhar Mudzakkar. Pertentangan baru ini pada akhirnya menuju keretakan terbuka dan tak terdamaikan.

Dalam minggu-minggu sebelum hari yang telah ditetapkan untuk integrasi resmi Korps Cadangan Nasional, pertentangan intern yang pertama di kalangan pengikut-pengikut Abdul Qahhar Mudzakkar terjadi ketika Andi Selle memihak Pemerintah dalam persoalan apakah integrasi Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan akan dilakukan batalyon demi batalyon atau tidak.

Penggabungan Batalyon Bau Masseppe Andi Selle ke dalam Tentara sebagai Batalyon 719

pada 7 Agustus 1951

hanyalah memperbesar pertentangan antara Abdul Qahhar Mudzakkar dan Tentara, selanjutnya. Namun tidak seluruh Batalyon Bau Masseppe mengikuti komandannya, melainkan sebagian dari padanya dengan Hamid Gali dan Usman Balo sebagai pemimpin-pemimpin utamanya dan tetap setia kepada Abdul Qahhar Mudzakkar.

Setelah terjadi sedikit pertempuran dengan para pengikut Andi Selle mereka mengundurkan diri ke bagian lain Pare-pare dan membentuk batalyon baru, yang dipimpin Hamid Gali. Tidak pula hubungan-hubungan antara Kahar Muzakkar dan Andi Selle putus sama sekali, dan pada waktunya hubungan antara keduanya membaik lagi. Bahar Mattaliu menyebut Andi Selle sebagai salah satu sumber pokok senjata Abdul Qahhar Mudzakkar, dan benar-benar dikatakannya: “Ini berarti, bahan-bahan mentah terus dikirimkan Kahar kepada Andi Selle yang membayarya dengan pelor, senjata berat dan ringan, dan dengan pakaian seragam tentara”.

Dalam menghadapi perjuangan Abdul Qahhar Mudzakkar, Tentara Republik berusaha menghadapinya dengan melakukan serangkaian operasi militer. Terutama sekali pada tahun-tahun mula kerusuhan dengan mengajak kesatuan-kesatuan pejuang yang merasa tidak puas dengan Abdul Qahhar Mudzakkar untuk menyerah. Dan mengenai hal yang akhir ini, Tentara Republik mengambil sedikit keuntungan dari adanya perselisihan antar pejuang sendiri. Pertikaian ini bisa muncul karena sebagian ambisi dan dendam pribadi, sebagian lagi karena perbedaan ideologi mengenai jalan yang harus ditempuh dalam perlawanannya terhadap Pemerintah Republik.

Bertepatan waktunya dengan ketika Pemerintah menganjurkan penyelesaian “politik psikologis”, Abdul Qahhar Mudzakkar memperkuat posisinya. Dalam masa inilah dilakukan pembaharuan hubungan antara dia dan Kartosoewirjo. Hubungan pertama antara mereka telah dilakukan Agustus tahun sebelumnya, ketika Abdul Qahhar Mudzakkar masuk hutan. Pada waktu itu Abdul Qahhar Mudzakkar didesak melalui perantaraan Bukhari, ketika itu wakil ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dan Abdullah Riau Soshby, salah seorang tampuk pimpinan Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat, untuk membentuk “Komandemen TII” untuk Sulawesi. Kartosoewirjo secara pribadi mengirimkan sepucuk surat kepada Abdul Qahhar Mudzakkar yang menawarkan kepadanya pimpinan Tentara Islam Indonesia di Sulawesi beberapa bulan kemudian.

 

 

 

 

.

Dilanjutkannya dengan menyatakan, dia ingin memulai suatu revolusi Islam

sejak 16 Agustus 1951,

dan segala sesuatunya telah direncanakan bersama komandan-komandan bawahan Saleh Sjahban dan Abdul Fatah, tetapi yang belakangan ini ternyata tidak teguh pendiriannya sehingga rencana itu gagal.

Dia dirintangi, katanya, oleh kekuatan yang lebih perkasa dengan pengaruh yang lebih besar dalam masyarakat, yaitu “kaum feodalis dan rakyat banyak”. Mengenai penduduk Islam di Sulawesi Selatan menurut pendapatnya “diperlukan waktu untuk menanamkan dan memupuk semangat Islam yang sejati dalam diri mereka”. Dalam sebuah surat jawaban pada 27 Februari, Kartosoewirjo mendesak Abdul Qahhar Mudzakkar melakukan segala upaya untuk menjadikan rakyat “bersemangat Islam” dan “bersemangat Negara Islam”, serta melanjutkan melakukan apa saja yang dianjurkan syariat Islam di masa perang.

Walaupun ada pengangkatannya sebagai panglima daerah Tentara Islam Indonesia Abdul Qahhar Mudzakkar untuk sementara tidak mau menggunakan nama ini bagi pasukan-pasukannya.

 

 

 

 

 

 

Secara resmi tawaran ini diterima Abdul Qahhar Mudzakkar

pada 20 Januari 1952.

 

Source

http://trimudilah.blogspot.com/2010/09/abdul-qahhar-mudzakkar-sang-patriot.html

 

Demikianlah ia menjadi panglima Divisi IV Tentara Islam Indonesia, yang juga disebut Divisi Hasanuddin. Syamsul Bachri diangkat menjadi Gubernur Militer Sulawesi Selatan. Dalam sepucuk surat tanggal yang tersebut di atas yang ditulis Abdul Qahhar Mudzakkar dalam menerima pengangkatannya, dinyatakan bahwa ia sendiri merasa berterima kasih dan menjunjung tinggi kepercayaan yang diperlihatkan Kartosoewirjo kepadanya dengan keputusan mengangkatnya menjadi panglima Tentara Islam Indonesia untuk Sulawesi.

Bersamaan dengan itu dinyatakannya, tak dapat sepenuhnya ia mengabdikan diri, karena berbagai keadaan yang mungkin merintanginya dalam setiap tindakan yang diambilnya sebagai panglima Tentara Islam.

Selanjutnya dikemukakannya, dari lima batalyon yang dipimpinnya beberapa di antaranya meliputi kelompok bukan Muslim yang dipengaruhi ide-ide Komunis

(1)Capt. Andi Aziz, formerly of KNIL, takes control of Makassar. Republic and pro-Dutch forces clash; East Indonesia government is shaken.Minahasa region separates itself from Negara Indonesia Timur and joins the Republic.

 

April 1951

April,10th.1951

postally used registered homemade cover with RIS overprint building stamps 25 sen,one stamp cutting.

OCTOBER 1951

October,24th. 950

Postally used cover from  panitia penyelesaian  urusahan pemulihan  jawa tengah semarah cover cds semarang  24,.1o.51 to pekalongan,return to sender witth therare building stamps overprint RIS 30 sen.\

 

 

1951

the  rare official Djawatan PTT Padangpandjang cover ,free stamps with official postal office handstamped.(not many cover ,like this found,Dr iwan note)

January 1951

January,23th.1951

RIS Priting Office CARD OVERPRINT BLOB INK TO COVER THE ris SEND FROM CDS jAKARTA 23,1.51.

 

 

September,14th.1951

Tentang adanya infiltrasi  anasir seperti Bosch(kleef) dan sebagainya, yang memimpin gerombolan APRA dan pelarian bekas KNIL serta golongan-golongan yang tidak puas, hal ini bukan hal rahasia lagi terutama bagi rakyat didekat gunung Garut khususnya.

Malah dalam penerangannya kepada rakyat yang dapat dikumpulkannya secara paksa, Kartosuwirjo dengan bangga dan sombong berkata terang-terangan dan mengakui adanya kerja sama , juga dengan pihak tertentu, “didalam’ dari mana Darul Islam dapat mempunyai banyak senjata dan peluru .

(kempen 1955)

 

Dari Keterangan-Keterangan  tersebut diatas dapat diambil kesimpulan

Kartosuwirjo adalah advonturir(Petualang) Politik yang selalu memimpikan Kekuasaan untuk diri sendiri. Dan gerakannya adalah hal yang disengajakan, meskipun tdiak dapat dibenarkan dan dilakukannya menurut kesempatan yang dicarikan.

Kesempatan yang dicarikan itu dapat terlihat dari usaha-usahanya, diantaranya pembentukan Barisan Sabilillah .

 

Sesudah proklamasi 17 Agustus 1945 perjuangannya masih disembunyikan dan ia bergerak dalam lapangan Ke Partaian.

Perjuangan Kepartaian ini diharapkan untuk meluaskan pengaruhnya, dan bila hal tersebut sudah tercapai kekuasaan Pimpinan yang konkrit akan dapat diperoleh pula.

Dengan jalan itu suatu Coup D’Etat dapat digerakannya dan diharapkan berhasil.

Tapi agaknya maksud ini dari Kartosuwirjo tidak dapat dijalankan.Tokoh Bung Karno yang kuat dan yang dapat mengikat simpati Rakyat pada umumnya dan fase Perjuangan Nasional masih menjadi perhatain Masyarakat Indonesia khususnya, mengagalkan aspirasi Politik lainnya.

Oleh karena ini usaha Coup d’Etat yang terkenal sebagai peristiwa 3 Juli 1946 gagal, apa yang dinamakan Madium Affair (1948) gagal dan maksud –maksud Kartosuwirjo pun tidak berhasil.

Dengan kegagalanya ini Kartosuwirjo tidak putus harapan. Jalan-jalan lain dipikirkannya dan kesempatan-kesempatan baru ditunggunya.

Ini ternyata dengan perkembangan yang dapat kita hubungkan dengan satu dengan lainnya.

 

Sesudah adanya agresi Kolonial Pertama  pada tanggal 27 Juli 1947 dan masa renville,  terutama sesudah Tentara Republik Indonesia Hidjarh ke Djokja sehingga di Jawa Barat adanya Kekoso9ngan Kekuasaan Republik Indonesia, Keadaan ini dipakai sebagai kesempatan oleh Kartosuwirjo untuk sedikit demi sedikit mempraktekan maksud-masudnya lagi ( Peristiwa Pengrumusan)

Hal-hal nyata kelihatan lagi sesudah pertahanan Rakyat di gunung Cepu ( Daerah Tasikmalaya) dapat didubrak oleh tentara Belanda. Seperti kita ketahui belanda hanya menguasaai kota dan sekitarnya saja dan daerah yang jauh masih dikuasai Pasukan Gerilja Republik Indonesia.

Masa Vacuum(Kekosongan) Pemerintahan Republik Indonesia ini dimanfaatkan  oleh Kartosuwirjo untuk menjadi dasar pelaksaan tujuannya dan sebagai  alasan untuk orang membenarkan tindakannya.

Pasa fase pertama ia masih berselubung dalam bentuk Majelis Islam, dimana Garis besar Perjuangan masih ditujukan untuk membantu Perjuangan republic Indonesia.

Lingkungan pengaruh Gerilja yang langsung  yang disebut D(daerah) I(pertama) tetapi kemudian mucul yang dilegalisir oleh Kartosuwirjo  dan kawan-kawan  dalam pengertia Darul Islam.

Mungkin ini peristiwa yang sama dengan munculnya dan timbulnya apa yang dinamakan “Ketata negaraan Islam” hasik konperensi Ketiga tanggal 1 Mai 1948 dimana Kartosuwirjo sudah mulai menampakan dirinya sebagai Imam.

Pada waktu Pendudukan belanda kita pernah mendengar adanya Proklamasi DI untuk Wilayah Jawa Barat.Mungkin hal ini adalah peristiwa diatas.

Pada mulanya Opini kebanyakan orang, Tindakan  Kartosuwirjo ditujukan untuk mengimbangi Negara Pasundan sehigga saat itu banyak sedikitnya orag menyetujuinya.

Tetapi kenyataannya terjadi lain. Kita tidak perlu heran hal ini bisa terjadi,  sebab dalam segala perundingan itu selain sifatnya terbatas  juga didlam lingkungan mereka yang sealiran ( segerombolan) denga Kartosuwirjo sendiri.

Pada umumnya mereka yang bergerak bergerilja ditempat-tempat yang tersebar, khususnya mereka yang menjadi Anak Buah tidak menegrti dan tidak tahu adanya kegiatan Politik ini.

Kemudian sesudah agresi Belakada Kedua 28 Desember 1948 yang mengakibat pusat Pemerintahan Republik di djoja diduduki belanda Presiden Sukarno dan lai-lain Pemimpin ditangkap dan diasingkan Ke Bangka.

Perkembangan Politik Kemudian menghasilkan perundinga Roem-Royen, dan dilakukan Peundingan KMB (Konperensi Meja Bundar  dimana dihasil Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia.

Hal tersebut diatas dipakai sebagai alsaan yang lebih kuat bagi Kartosuwirjo untuk meneruskan maksudnya dan mengelabui mata Masyarakat.

Telah disiapkannya apa yang dinamakan “Undang-Undang Dasar Darul Islam ” (Kanun Assay) yang tertanggal 28 Agustus 1948 dan kemudian dilakukan apa yang dinamakan Proklamasa NII Negara islam Indonesia tanggal 7 Agustus 1949

Tindakan yang memusuhi secara nyata terhadap Republic Indonesia  adalah dekat dan setelah Agresi Belanda Kedua dimana sebagian Rakyat Jawa barat Yang kembali dari Djokja dan Divisi Siliwangi mengadakan long March kembali ke Jawa barat

Ini terbukti dengan banyaknya terjadi penyerangan oleh DI-Kartosuwirjo terhadap mereka, secara kasar maupun  halus, yang dasarnya untuk menguasai senjatanya dan menghalang-halangi masuknya Korps Pemerintah republic Indonesia.

 

 

Major Utarja seorang perwira TNI dan pengawal-pengawalnya menjadi korban dari sifat permusuhan Darul Islam tersebut.

Bukan berita yang tidak benar bila kita mendengar adanya tindakan meracun dari Darul Islam terhadap khususnya pasukan TNI diatas.

Tetapi sokongan Masyarakat kepada Darul Islam  tidaklah sama dengan saat masa pendudukan Belanda, kini mereka ditinggalkan oleh rakyat dan dikutuknya.

Cara Darul Islam memungut uang ada berberapa rupa, yakni secara paksa dan ancaman atau suka rela yang dianggapnya sebagai tanda setia, pajak atau iuran.

Selain uang beras dan lainya juga dipungutnya dari rakyat, hal ini terpaksa diberikan karena takut dibunuh atau dibakar rumahnya.

Dan desa-desa yang banyak penghasilannya dan letaknya dekat gunung-gunung kedudukannya tidak aman, karena sering didatangi Gerembolan Darul Islam untuk menarik Pajak

 

 

 

contoh dibawah ini

 

 

 

A.PICTURES(NOT UPLOAD)

1.Foto Bendera Negara Islam Indonesia yang dirampas oleh TNI(Tentara nasional Indonesia)

2.Foto Sajuti, Kepala Pilisi Darul Islam Kartosuwirjo yang ditangka di daerah Tjiandjoer

(kempen 1955)

B.DOCUMENTS(NOT UPLOAD)

1..Karcis Infaq

KARTJIS INFAQ

Tanda Bukti kepada Pemerintahan Negra islam Indonesia

Berupa uang sebanyak Rp 25.- (Dua Puluh Lima Rupiah)

Gabuswetan, Tgl………..

Kepala Jawatan Keuangan

Ttd

Ilyas

 

Pemerasan Harta benda rakyat yang dilakukan oleh Gerembolan DI itu bukan hal yang disukai sekalipun pakai alasan untuk Djihad atau sebagai Bakti kepada Tuhan.Dan bagi Gerembolan itu sendiri malahn merupakan suatu sumber penghasilan yang tidak sedikit lumayan.

2.Usaha keluar  Negeri yang dilakukan yang dilkukan Komandan APNII(angkatan Perang Negara islam Indonesia) nyaris resmi dari Imam NII dan telah sampai kepada Presiden  Amerika Truman , Presiden Pakistan Ali Khan, Raja Arab Saudi dengan perantaraan Konsul Saudi Arabia di jkarta.

3.Komandan Batalion VIII(Thoriq Bin Zijad) ,II S.D.(Raden Rachmat Sungkawa) beserta Kapten Bosch dan Mayor I.G. Smith(Kedua perwira bangsa Belanda yang kini telah masuk Islam)  .

Ketiga Perwira TII(Tentara Islam Indonesia) ini sedang mengadakan operasi sekitar Sumedang Barat ,Purwakarta Selatan, Bandung Utara, Bandung Timur, bandung Barat , Kemudian berkontak rapat dengan Resimen VIIII “ Brigadir Hasanuddin” (Thabrani) di Cianjur Selatan dan Cianjur Timur.

 

 

Dari dokumen diatas kita dapat mengetahui kini akan adanya usaha-uasaha Kartosuwirjo untuk melegalisir Darul Islam sebagai mempunyai aspirasi kenegaraan kepada dunia dengan demikian dapt diharapkan setidak-tidaknya kemungkinan  pengakuan de factonya. Anasir Bosch –Smith

( Smith adalah nama samaran van Kleef)  yang merupakan Perwira belanda yang sudah masuk Islam , hal ini adalah tidak lain suatu permainan Komedi belaka dimana dulu pernah disandiwarakan oleh orang-sorang seperti Snouch Hurgronje.(Di Aceh) dan Van der Plaas.

Malahan pada hakekatnya semua itu merupakan mata rantai yang sambung menyambung dalam program politik Penjajahan. Dan haji Shimizu juga bukan suatu hal yang asing bagi kita.

Pokok tujuannya sama ialah dengan berkedok KeIslaman, menginggatsebagian besar masyarakat Indonesia menganut Agama Islam  untuk mengelabui Masyarakat untuk di jajah.

Anasir-anasir Infiltran dan Reaksioner Bosch-Smith beserta Angkatan Bersenjatanya yang terdiri dari Gerembolan Pelarian KNIL mempunyai dasar Perjuangan yang tidak lepas kepada sifat merusak , khususnya didalam satu garis dan mempunyai hubungan erat dengan Aksi dan rencana Raymond Westerling untuk menyabot Pemerintah Republik Indonesia  dan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Kalau dahulunya itu maksudnya mau melumpuhkan dan mengacau potensi nasional sehingga Indonesia secara politis dan ekonomis berada dalam kedudukan lemah dan labil.

Dan keadaan demikian dapat kita hubungkan dengan kepentingan pihak luaran, khusunya kaum Kapitalis, yang mempunyai kepentingan penanaman modal dan lain-lainnya di Indonesia.

Suatu Negara yang kedudukannya lemah hidupnya selalu tergantung tergantung dan memerlukan bantuan dari bangsa lain.

Infiltrasi dan penetrai anasir Kolonial dengan cara berkedok itu , dimasa lampau yang sudah kita alami yang mempunya akibat bahwa Perjuangan Kemerdekaan Nasional (didalam lapangan politik) menjadi lemah dan kena sabotir.

 

 

 

 

 

Untuk memberikan bukti kepada  kenyataan ini kita sajikan sebagian penting dari berita “Antara” dari tanggal `14 september 1951 dengan tajuk “Van der Plaas di Jedah:

Backgrown

Selanjutnya diterangkannya, dalam masa Perang dunia Pertama , di Saudi Arabia bayak juga orang Indonesia yang bermukim .Merekan karena kebanyakan hidupnya terlantar , karena perhubungan antara keluarga atau family mereka di Indonesia terputus. Sebagai diketahui pada masa itu kaum Muslim tidak dapat naik haji(pilgrim), karena berbahaya.

Keadaan hidup kaum Muslimim bertambah buruk, karena di Saudi Arabia timbul perebutan kekuasaan antara Sjarief  Husein ( Raja Dulu) dengan Ibnu Sa’ud (Raja sekarang)

Ketika Perang dunia Pertama selesai maka Vice Consult Belanda di Jeddah yang bernama Van der Plaas nucul sebagai orang yang murqh hati dan penolong dari 162 orang Mukmin Indonesia yang sedang terlantar itu, sehingga mereka dapat kembali ketananh airnya, dimana mereka dengan segera mendapat surat keputusan (besluit) dari Bupata didaerah mereka masing-masing untuk menjadi Kiai.

Dalam tahun 1919

suasana politik di Indonesia sedang hangat, berbuhungan dengan gerakan Politik yang mengingginkan Kemerdekaan Indonesia.Dianatara pengerak Politik yang besar pengaruhnya ialah Serikat Islam  dibawah pimpinan H.O.S Tjokroaminoto dalam Volsraad(Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda)

Tetapi kemudian sejarah mengatakan kemunduran Api Perjuangan  Kemerdekaan .Disamping itu Tindakan Pemerintah dalam tahun  kemudiannya yang menetang gerakan Kebangsaan dan Kemerdekaan itu, seperti TBTO(tolak Bala Tawil Umur) ,Serikat Hejo, oragnisasi ini tidak berakar didalam masyarakat, karena sangat insidentil sebagai reaksi dan sangat lokal, yaitu hanya didaerah Garut saja.

Yang ternyata lebih tajam , ialah tusukan dari dalam Serikat Islam sendiri sehinggamenjadi pecah belah dan kurang potensinya.

Setelah itu jumlah Kiai yang patuh dan setia kepada yang berwajib dan yang pasif semakin banyak dari sebaliknya.

Deri Bagian berita diatas, kita dapat menegtahui bagaimana praktek Penjajah untuk menguasai rakyat jajahannya .Penghambatan aspirasi Nasional tidak saja dilakukan dari luar dengan perundang-undangan dan peraturan-peraturan seperti dengan apa yang dinamakan “Exhorbitante Rechten Governor General” dam Artike 153 Kitab Undang-undang(Wetboek) ,

tetapi juga dengan cara “uitholding” dengan memasukan kaki tangan dan anasir-anasirkolonial secara infiltrasi.Tindakan ini tidak lain dari Politik Devide et  Impera

(pecah –pecah dan kuasai ).

Memang dengan cara ini Kekuasaan Penjajah dapt dipertahankan dan ditegakkan.

Dengan mengadakan Pecahan kecil-kecil didalam masyarakat ataupun didalam suatu organisasi yang masing-masing memiliki thesis sendiri-sendiri dan satu dengan lainnya kontradiksi  prinsip ideologis, sosiologis tradisi maupun kultural , hal ini hanya bisa disatukan kembali oleh satu kekuasaan supra-thesis yang lazim kita sebut sebagai Pemerintaha Penjajahan.(kempen 1955)

Late 1951

Dr Adnan Kapau Gani pada akhir tahun 1951 sampai Februari 1952 berada di Holland sebagai anggota Delegasi RI pada perundingan Indonesia-Belanda dari hasil KMB, dan mengenai kedaulatan Irian Barat, tepatnya di kota Den Haag Dr. Adnan Kapau Ganiat the end of1951 until February 1952 in Holland as a member of the delegation of Indonesia on Indonesia-Dutch negotiations of the Round Table Conference, and the sovereignty of West Irian, precisely in the city of Den Haag.

Akhir tahun 1951

Peranan militer Let.Kol. Ahmad Husein  menjadi sangat penting ketika  MBAD(markas besar Angkatan Darat)  membentuk suatu Komando daerah Militer di Sumatera tengah  yang terlepas dati mTT I  dan langsung dibawah KASAD , Ahmad Husein dipercayakan sebagai Panglimanya.

Keadaan Negara saat ini menarik perhatiannya karena banyak rekan yang berdinas di Ibukota membicarakan masalah itu di Padang.Selain itu  ia harus mengikuti peran lain, seperti ke Maluku untuk menumpas RMS,Bandung Jawa barat ,Kalimantan,Aceh,Sulawesi Selatan yang berhubngan dengan Darul Islam(DI) .

Situasi Negara yang demikian gawat dapat dipahami melalui pengamatan  dari jauh itu.

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

Advertisements

One response to “KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1951 (BERSAMBUNG)

  1. Pingback: INFO PENTING BAGI MENCARI IDENTITAS KELUARGANYA TAHUN 1952 | Driwancybermuseum's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s