KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1959(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1959

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

1959

13 Januari 1959

AWARD

 
13 January 1959

Pat Landry, leader of the Padang (Sumatra-Indonesia) advisory team
receives the Intelligence Star for his efforts from CIA Director Allen Dulles

(Source: “Feet to the Fire” by Conboy & Morrison)

13 Januari 1959
Pat Landry, pemimpin
Tim Penasehat Padang (Sumatera-Indonesia)
menerima
Bintang Intelijen  untuk usahanya dari Direktur CIA Allen Dulles
(Sumber: “Kaki ke dalam neraka” oleh Conboy & Morrison
)

15 Maret 1959

 

Tanggal 15 Maret 1959,

terjadilah suatu perkembanganyang berada di luar dugaan saya. Pukul 10.00 pagi,

Kolonel DI/TII Hasan Saleh, yang menjabat MenteriUrusan Perang DI/TII, telah mengambil alih pimpinan sipildan militer Negara Bagian Aceh dari tangan Wali Negara,

Teungku Muhammad Daud Beureueh. Dalam pengumumannya,Hasan Saleh mengatakan:

‘Aku umumkan kepada seluruh rakyat Aceh bahwakekuasaan sipil dan militer yang sampai pada hari ini beradadi tangan Teungku Muhammad Daud Beureueh, sejakhari ini beralih ke tanganku selaku Penguasa Perang NegaraBagian Aceh (NBA) dari Negara Islam Indonesia (NU). Segerasetelah itu, kekuasaan tersebut aku limpahkan kembali

ke Dewan Revolusi, dengan tugas pokok untuk menyelesaikanpemberontakan Aceh.”

 

Kejutan!

Walaupun kudeta itu terjadi di luar perkiraan, namunapa yang dilakukan oleh Hasan Saleh itu sangat menguntungkanpihak saya. Dengan demikian saya bisa tahu manayang lawan dan mana yang kawan.

 

Di bagian terdahulu bab ini telah saya uraikan bahwabeberapa daerah di Sumatera dan Sulawesi sedang bergolak.Mari kita lihat bagaimana kelanjutannya, dan apa hubungannya

dengan situasi dan tugas saya di Aceh yangmenghadapi DI/TII.

(syamaun Gaharu)

15 Maret 1959

.ThBulletin  PRRI Informations  (9 halaman sangat langka hanya satu baru ditemukan koleksi Dr Iwan )

 

Majalah Peringatan satu Tahun PRRI (koleksi Dr iwan)

Majallah dalam bahasa inggris ini kondisinya sudah sangat rapuh,dan masih ada beberapa info yang dapat dibaca anatar laian sebagai berikut.

No.1

Forward

Thirteen months ago (Febryary,15.1958) The PRRI( Revolutionary Government  of Thre Republic Of Indonesia) was proclaimed at Padang.Sumatra.Indonesia and entering into the second year of their struggle for real freedom ,democracy (not aguided one ) ,justice and properity ,The PRRI leaders at home and abroad  backed by the greater part of  the populations of the daerah(outer Area of Indonesia)

On Februaty 15th last, on the first anniversary of the PRRRI prime menistery Sjafruddin Prawiranegara  an official statement  about the federal Structure of Indonesia as the only way to gain  a unified Indonesia, and which could guaranted the result of the struggle of the PRRI

March,15th.1959

Machinal translate

Tiga belas bulan yang lalu (Febry, 15,1958)  PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) diproklamasikan di  Padang.Sumatra.Indonesia dan memasuki tahun kedua perjuangan mereka untuk kebebasan nyata, demokrasi (tidak dipimpin ), keadilan dan kesejahteraan , para pemimpin PRRI di dalam negeri  dan di luar negeri yang didukung oleh sebagian besar penduduk di daerah adalah (area luar Indonesia)

Pada tanggal 15 Februaty lalu, pada ulang tahun pertama PRRI,   Pernyataan resmi Perdana Menteri  Sjafruddin Prawiranegara tentang Struktur federal (serikat) Indonesia sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kesatuan Indonesia, dan yang dapat   terjamin hasil perjuangan PRRI
Maret, 15th.1959

2-4

Statement

By

Dr S.M.Rasjid ,Ambassadfor at Large reprensentative                                           in  Europe  of The PRRI

On Februry,14th.1959 one years  since the inception of  The PRRI,I should want to make the  following statement statement

There are strong indication that several regions are ready to join us and you heard already the news about the upraising in the South Celebes at the beginning of the last month and recent in the south molluca is officially admitted by Djkaarta.

It is the ad fact that  whenever the civil war breaks outn in the  country both  both parties  will suffer, but  above all people  themselves are the victims of the conflict ; that is  the main reason  why  the Leadres of The PRRI have abstained  up to now  to conduct  a total war  with all  the resources  which they  could use.The Djakareta government  does not  seem to have such  scruples.

It is does not change  very soon  its present attitudetoward  the population  at  the outer region which  it does not consider  as free  Citizen  fighting  to their  fundamental rights and Liberties , but  as common  Rebels who dare to protest against  appression ,we shall be compelled to react , not of course  in the same manner , for we  are not terrorist , but  with all  our strength which as  the World  will see the is greater  than most  people think. It is because  that we  are source of our strength  that we can proclaim  openly,  even at the present moment ,the possibility of a peaceful Settlement  on the  reasobable condition  which have been brought to the cognizance of the Djkarta Gouvernment, but this is the last Opportunistis.

14 February 1959

Machinal translate

pernyataan
oleh
Dr SMRasjid, Ambassadfor di reprensentative besar di Eropa The PRRI

Pada Februry, 14th.1959 satu tahun sejak dimulainya The PRRI, saya harus ingin membuat pernyataan pernyataan berikut

Ada indikasi kuat bahwa beberapa daerah sudah siap untuk bergabung dengan kami dan Anda mendengar sudah berita tentang pembrontakan di Sulawesi Selatan pada awal bulan lalu dan baru-baru ini di Maluku  selatan secara resmi diakui oleh Djakarta.


Ini adalah kenyataan bahwa setiap kali iklan perang saudara pecah di negara
luar  kedua kedua belah pihak akan menderita, tetapi di atas semua orang sendiri adalah korban konflik, yang merupakan alasan utama mengapa Pemimpin PRRI telah abstain sampai sekarang untuk melakukan perang total dengan semua sumber daya yang mereka bisa digunakan.Respresentive pemerintah Djakarta tampaknya tidak memiliki keberatan tersebut.
Hal ini tidak berubah segera
sikap terhadap  yang sekarang , penduduk di luar daerah yang tidak dianggap sebagai pemduduk  bebas berjuang untuk hak-hak dan Kebebasan dasar mereka, tetapi sebagai Pemberontak umum yang berani memprotes appression, kita akan dipaksa untuk bereaksi, tentu saja tidak dengan cara yang sama, karena kita tidak teroris, tapi dengan semua kekuatan kami yang saat Dunia akan melihat lebih besar dari kebanyakan orang berpikir. Hal ini karena bahwa kita adalah sumber kekuatan kita bahwa kita dapat menyatakan secara terbuka, bahkan pada saat ini, kemungkinan Penyelesaian damai pada kondisi reasobable yang telah dibawa ke kesadaran dari Gouvernment Djkarta, tapi ini adalah Opportunistis terakhir .
14 Februari 1959

4

In Defense Of Freedom And Human Dignity

For a full year the fury  a civil war  has raged in Indonesia,while the scenes  of military  operations are  to be found  mainly  in Sumatra  and Celebes , uncertainly  and insecurity  lie no less  heavily  over  the population  in Java  and in other parts of the archiphelago.

Conflict  and tensions  are ata  their peak, not with standing repeated assertions in the contrary  by the Sukarno regime,

Against all despite reversal in the eearlier  of our struggle ,laced  with superiority commercial  strength  at The Djakarta troops , The Revolutionary  Government of Republic Of Indonesia  has displayed  its resilience  and sustained strength.

It is unheard of  that  in a country  has just  conjucted  its freedom from a forign rule, the Liberators are being sent home  with thank you and must continue in obey  to the same people who have been for years the representative s of a destroyed regime.

As a matter of fact, those public officials who had sent under strict,  but well organized Dutch rule, have not lost much time in discovering the shortcomings an the thickness of the new administration. Hence the corruption  which is now it has practically resulted in a complete anarchy.

Why ,fourteen years after  the proclaimed of Independence,  a country like Indonesia  on of the main producers of some of the most importamt raw materials, such as oil, tin,rubber, copper etc. has little volume  of export trade  and practically no industry ?

Why the people in some saction of Java , are literally starving and now have to look the leaves of the trees in order in order the get some clothing like they used to the times the Javanese occupation, when Indonesia was reduced to a state or servitude  and completely cut out of the oustside world ? Can we get accept to get back to the same condition now, when according to the speeches of Sukarno, our nation enter an era of Glory, and we are supposed to enjoy the utmost posperity  in the potential richest country of the world ?

Dalam Mempertahankan Kebebasan Dan Martabat Manusia
Untuk setahun penuh kemarahan perang sipil berkecamuk di Indonesia , sementara adegan operasi militer yang dapat ditemukan terutama di Sumatera dan Sulawesi , ragu-ragu dan ketidakamanan berbohong tidak kurang berat atas penduduk di Jawa dan di bagian lain dari archiphelago tersebut .
Konflik dan ketegangan ata puncak mereka, bukan dengan berdiri pernyataan berulang di sebaliknya oleh rezim Sukarno ,
Terhadap semua meskipun pembalikan dalam
awal  perjuangan kami , dicampur dengan kekuatan komersial keunggulan di Pasukan Djakarta , Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia telah menunjukkan ketahanan dan kekuatan berkelanjutan .
Hal ini pernah terdengar bahwa di negara baru saja conjucted kebebasan dari aturan
asing  , para Liberator sedang dikirim pulang dengan terima kasih dan harus terus di taat kepada orang-orang yang sama yang telah selama bertahun-tahun representatif terhadap rezim hancur .
Sebagai soal fakta , para pejabat publik yang telah dikirim di bawah ketat , tapi terorganisir pemerintahan Belanda , tidak kehilangan banyak waktu dalam menemukan
kekurangan  suatu ketebalan pemerintahan baru . Oleh karena itu korupsi yang sekarang telah praktis menghasilkan anarki lengkap .
Mengapa , empat belas tahun setelah pro
klamasi  Kemerdekaan , sebuah negara seperti Indonesia pada satu produsen utama dari beberapa bahan baku yang paling penting  , seperti minyak , timah , karet , tembaga dll memiliki sedikit volume perdagangan ekspor dan praktis tidak ada industri ?
Mengapa orang-orang di beberapa
bagian Jawa , secara harfiah kelaparan dan sekarang harus melihat daun dari pohon-pohon dalam rangka untuk mendapatkan beberapa pakaian seperti dulu waktu pendudukan Jawa , ketika Indonesia berkurang menjadi negara atau penghambaan dan benar-benar dipotong dari dunia luar ? Bisakah kita menerima untuk kembali ke kondisi yang sama sekarang , ketika menurut pidato-pidato Soekarno , bangsa kita memasuki era Kemenangan Glory , dan kita seharusnya menikmati kesejahteraan  hati dalam potensi negara terkaya  di dunia ?

(dicuplik sebagian,karena banyak yang sudah rusak dan sulit dibaca-Dr Iwan)

5-6

Radio PRRI.Feb.15.1959-10.pm

Speech of the chairman  of The Revolutionary Council  On The Occasion  of The First anniversary  Of of   Revolutionary Gouverment Of The Republic Of Indonesia.

 

7-9

Radio PRRI.Feb.15.1959-10.pm

Speech By Minestery Of Agriculture of The Occasion  Of The First anniversary Of The PRRI

10

Massage From PRRI

Prime Menistry Sjafruddin Prawiranegara To All PRRI Official Abroad dated February 20th 1959

. Toward A New And Better Indonesia

 

 

 

 

28 Maret 1959

.Surat Keliling PTT no 10

____________________________________________

 Perihal : Pemberian Tunjangan istimewa Kepada Para pegawai yang melakukan tugasnya diaerah tidak aman berhubung  bahaya pembunuhan /penculikan dari pihak gerembolan pengacau bersenjata

Lampiran 1(satu)

Penetapan Direktur jendral Pos ,Telegram dan telepon

 tanggal 28 maret 1959 no 16137/adm

_____________________________________________________

 1.Seperti telah dimaklumi ,sekedar untuk meringankan beban serta menghargai jasa-jasa para pegawai kita yang sedang bertugas didaerah/tempat yang tidak/kurang aman oeh Jawatan telah dikeluarkan Surat Keliling PTTT No.22 tahun 1952

2.Berhubung ketentuan-ketentuan menurut surat keliling tsb,kini dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan pada masa ini, maka Surat kelilling PTT no 22 Tahun 1952 dengan Suart kleiling ini diganti dengan peraturan lain.

Dengan peretujuan Menteri Perhubungan peratura baru tentang pemberian tunjangan istimewa kepada para pegawai PTTT didaerah  tidak aman  sekarang ditetapkan sebagai berikut.

3.Tunjangan  istimewa tersebut  berjumlah Rp. 7,50) tujuh rupiah lima puluh sen) sehari dengan  maksimum Rp.200,-(dua ratus rupiah) sebulan dan diberikan kepada tiap pegawai PTTT yang sedang bertugas didaerah tidak aman.

4.Pernyataan bahwa suatu daerah tidak aman dilakukan dengan surat ketetapan  dari Gubernur Jbs yuntuk tiap-tiap kecamatan dan Kewedanaan .Surat ketetapan ini berlaku paling lama 6 bulan,jangka  waktu mana  dengan surat Ketetapan baru dapat diperpanjang untuk tiap kali tidak lebih dari 6 bulan .Tentang ada atau tidaknya surat Ketetapan  ini, yang dibuat  oleh Gubernur berdasarkan  surat keputusan menteri  Dalam negeri no/19 tahun 1956(tanggal 8 Oktober 1956) ,para kepala  Daerah Pos/Telekomunikasi hendaknya berhubungan dengan gubernur itu.

5.Bilamana diketahui ada surat ketetapan yang dimaksud dalam ayat 4, maka soalnya hendaknya oleh para kepakla daerah Pos/Telekomunikasi jbs segera diberitahukan kepada Sdr Kadms dengan menyampaikan tembuannya kepada sdr Direktur Pos cq Direktur telekomunikasi , sedangkan kantor-kantor jbs diberi Instruksi-instruksi seperlunya.

6.Dengan mengindahkan nulai  berlakunya Surat kelilng ini(lihat ayat 11) ,tunjangan istimewa jdm dapat diberikan mulai tanggal berlakunya surat pernyataan dari Gubernur jbs dan tunjangan istimewa  tersebut dibayarkan pada akhir bulan dalam mana peristiwa itu terjadi dengan tidak dikenakan potongan pajak upah.

Pembayaran dilakukan dengan membuat daftar sperti contoh terlampir dalam ganda dua.Yang selembar dilampirkan pada daftar F/F-td/Tlp  62 dimana pembayaran itu dibukukan dengan uraian sperlunya.

7.Dengan tidak memandang pangkat gajinya,tunjangan istimewa ini, diberikan kepada tiap-tiap pegawai PTT yang bekerja dikantor/pendirian=pendirian PTT yang letaknya didaerah/tempat yang dimaksud  dibawah ayat 4.

8.Jika  sesuatu daerah/tempat harus dikosongkan sehingga keluarga dri para pegawai harus mengungsi kedaerah/tempat lain yang terdekat dan aman atas perintah pihak yang berwajib (Komandan tenatra yang stempat/bupati jbs) ,maka atas kebijkasanaan Kepala daerah/Kantor  hendaknya diusahakan  un5tuk menyediakan perumahan yang layak bagi keluarga yang diungsikan itu.

Jika perumahan itu diadakan dengan jalan menyewa, maka sewanya ditanggung oleh Djawatan dan dibukukan sebagai pengeluaran didaftar F/F-td/Tlp 62 degan uraian seperlunya

9.Apabila pegawai jbs mengunjungi keluarganya yang telah diungsikan itu, maka atas permintaan pegawai jbs Djawatan dapat memberikan penganti ongkos kendaraan untuk paling banyak dua kali perjalanan tiap bulan. JUga pengeluaran ini dibukukan didaftar F/F-td/Tlp 62dengan penjelasan seperlunya.

10.Kepala kantor Pos jbs harus membut laporan yang selengkap-lengkapnya mengenai setiap peristiwa jdm. Laporan tersebut dibuat  dalam ganda dua dan dikirimkan dengan perantaraan Kepala daerah yang meneruskan selembar kekantor pusat,alamat Sdr kadms dengan tembusan kepada Sdr Dirpos cq Dirtel dengan disertai keterangan seperlunya.

Sebagai lampiran dari laporan tersebut harus dikerjakan pula :

a)    Salinan surat keputusan gubernur jbs yang dimaksud dalam ayat 4

b)    daftar-daftar perincian tentang tunjnagan istimewa yang telah dibayarkan.

 

11.Surat Kleiling ini berlaku mulai tanggal 1 Maret 1959.

 

Lampiran Surat keliling PTT no 1o tahun 1959

Daftar pembajaran tunjangan Istimewa berhubung bahaja pembunuhan/pentjulikan kepada pegawai PTT didaerah/tempat tidak aman.

(koleksi Dr Iwan)

 April –Mei 1959

Setelah keamanan dapat dipulihkan seluruhnya di daerah Riau Daratan maka berdasarkan Surat Keputusan KASAD Nomor KPTS-265/4/1959 tanggal 15-4-1959, Surat Keputusan DAN KOOPAG Nomor KPTS-037/4/1959 tanggal 28-4-1959  Surat Keputusan DAN RTP-I “TEGAS” Nomor KPTS-614/6/1959 tanggal 6-6-1959 terhitung mulai tanggal 12-6-1959 RTP-I “TEGAS” diganti namanya menjadi Komando Resor Militer Riau Daratan (KOREM RIDAR), yang daerah kekuasan dan tanggung jawabnya sama dengan daerah kekuasaan dan tanggung jawab RTP-I “TEGAS”

.
Personel KOREM RIDAR sebagian diambil dari anggota-anggota yang tadinya bersifat penugasan dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” kecuali satuan-satuan tempur, yang secara berangsur-angsur diorganikkan pada KOREM RIDAR ditambah dengan anggota-anggota bekas PRRI yang menyerah dan bergabung serta telah selesai di-screening. Dalam pembentukan KOREM RIDAR ini tidak diadakan formatur atau panitia mengingat tenaga sangat kurang dan pembentukkannya bersamaan waktunya dengan pembentukan KOMANDO DAERAH MILITER 17 AGUSTUS.
Sejalan dengan pemberian nomor Kodam 17 Agustus menjadi KODAM III/17 AGUSTUS, maka kepada KOREM RIDAR diberikan nomor kodenya menjadi KOREM 31/RIDAR, yang kemudian berdasarkan Surat Keputusan Panglima Daerah Militer III/17 Agustus Nomor Kep-95/10/1963 tanggal 5 Oktober 1963 dan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat Nomor Kep-233/3/1964 tanggal 11-3-1964 tentang pengesahan DUADJA dan TUNGGUL untuk Rindam, Korem dan Yonif-Yonif, KOREM 31/RIDAR diberi Lambang kesatuannya dengan sebutan “DHUAJA WIRABIMA”, dan dari saat inilah KOREM 31/RIDAR menjelma menjadi KOREM 031/WIRABIMA

Korem 031/Wirabima (Korem Ridar) saat itu  dipimpin oleh Letnan Kolonel Inf Kaharudin Nasution  sebagai pejabat Danrem 031/Wirabima  yang pertama.

 

Letnan Kolonel Inf Kaharudin Nasution

 (korem031)

 

 

 

22 April 1959

di kalangan masyarakat pendapat-pendapat untuk kembali kepada UUD ’45 semakin kuat. Dalam menanggapi hal itu, Presiden Soekarno lantas menyampaikan amanat di depan sidang Konstituante pada 22 April 1959 yang isinya menganjurkan untuk kembali ke UUD ’45.

(palinguniks web blog)

 

Andjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945, jang disampaikan kepada segenap Rakyat Indonesia dengan Amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959,

 

 

tidak memperoleh keputusan dari konstitusante sebagaiaman ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara.

Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagain tersbesar Anggota –anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk menghadiri lagi siding, Konstituate tidak mungkin lagi mendelegasikan tugas jang dipertjajakan oleh Rakjat Indonesia.

(lembaran negra 1958)

 

 

18 April  1959

Sampul surat dikirm dari Padang dengan melalui stempel Pos Militer 18.4.59 prngko sudah dicopot ke Padang Panjang,didalamnya berisi surat undangan Perkawinan

Kepada JTH Tatji Lie Tjeng Kwa

Dengan Hormat

Bersama ini saja kabarkan kepada tatji bahwa pada tanggal 10 Mei 1959 atau 3 Shie Gwe 2510 adalah hari kawinnja anak perempuan kami

Gho Beng Soei

Dengan

The Tjin Shiet

Putra Tuan The Hwee Djian Padang

Besar harapan kami sudilah tatji seta family lainnja membuang sedikit tempo untuk menghadiri pesta tersebut.

Atas perhatian tatjie saja lebih dahulu mengutjapkan terima kasih

Dari Saja Tjia Giok Lian

Jalan India  no 2

Padang

 

23 Mei 1959

Puisiku untuk Bilal Hamka
dari: M. Natsir sedang di rimba gerilya

Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tenngah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam Daftar.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,

Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,

Yang biasa bersenandung itu,

Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun…
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam
daftarmu

Saudaramu,
di Tempat, 23 Mei 1959

(M.Natsir)

29 Mei 1959

29 Mei lima sembilan
Hari Sabtu di akhir pekan
Pukul sembilan pada jam tangan
Akibat perang tak mungkin dilupakan

Insyaallah Banun tidak keliru
Peristiwa terjadi di hari Sabtu
Diiringi tangis anak dan ibu
200 rumah menjadi abu


Saat terjadi perang saudara
Rejim Soekarno mengirim tentara
Memakai perlengkapan beragam senjata
Termasuk serangan pesawat udara

Ini peristiwa kenangan pahit
Bagi Andoleh Baruah Bukit
Nagari dibakar bom langit
Orang berlari menjerit-jerit

Menurut ingatan orang tua tua
Karena takdir dari yang Kuasa
Setelah nagari menjadi rata
Hanya empat rumah tersisa

Saksi hidup yang masih ada
Sjamsir Sjarif lengkapnya nama
Kini bermukim di benua Amerika
Di Santa Cruz state California

Walau tidak memanggul senapang
Sjamsir Sjarif ikut berjuang
Sebagai kurir juru penerang
Ke banyak nagari Sjamsir datang

Memberi penerangan kepada rakyat
Agar tak gentar melawan Pusat
Karena Soekarno telah sesat
Harus diperangi sampai lumat

Ketika Sjamsir kembali dari Lintau
Hatinya sedih sangat risau
Sebagai kenangan di masa lampau
Sjamsir menulis dari rantau

Hati agak badampong-dampong manurun dari Puncak Pato ka Andaleh Baruah Bukik, nagari tu tingga asok-asok jo abu rumah tabaka sajo lai.
Rumah Gadang nan Ambo tumpangi lalok wakatu ka pai ka Selatan sabalunnyo pun indak ado bakehnyo lai karano dibom api dari kapatabang Pusek.
Di sinan iyo titiak aia mato mancaliak dan maagak-i kama lah Rang Kampuang ka pai ijok?
Kalau ijok sajo lai tampek untuak pulang, tapi kini rumah-rumah untuak pulang tu alah habih jadi abu….

Hati dag, dig, dug turun dari Puncak Pato menuju Andaleh Baruah Bukik, nagari itu tinggal asap dan abu saja lagi.
Rumah Gadang yang saya tumpangi tidur ketika pergi ke Selatan sebelumnyapun tidak ada lagi bekasnya karena dibom api oleh kapal terbang Pusat.
Ketika itulah menetes air mata memikirkan ke mana orang kampung akan pergi lagi.
Kalau ijok (bersembunyi ke hutan) saja ada tempat pulang, tapi kini rumah rumah untuk pulang itu telah habis jadi abu….

14-8-2009
Santa Cruz, California
Sjamsir Sjarif

Walau tiada bukti kodak
Sebelum pesawat melepas tembak
Api menyala tak bisa jinak
Karena pilot menumpahkan minyak

Ketika udara panas menyengat
Temperatur lebih 30 derajat
Api menjalar sangat cepat
Tiada pencegahan bisa dibuat

Karena rumah musnah terbakar
Hidup sehari-hari jadi sukar
Tidur di tanah beralas tikar
Disertai derita menahan lapar

Kalau kebakaran terjadi di kota
Api dipadamkan oleh PBK
Musibah dikampung timbulkan sengsara
Tiada bantuan bisa diminta

Semua harta menjadi abu
Hidup serupa di rimba kubu
Kain tersisa selembar baju
Tiada pemerintah datang membantu

Andoleh Br. Bukik dibumihanguskan
Habis semua harta kekayaan
Termasuk pula bahan makanan
Hanya baju tinggal di badan

II. Pesawat terbang membakar musnah Andoleh


Beginilah strategi saat berperang
Tentara Pusat tak berani datang
Nagari Andoleh lalu dipanggang
Dengan bom pesawat terbang

Pesawat Mustang cocornya merah
Terbang melayang sangat rendah
Menembakkan mitraliur bagaikan muntah
Peluru ditujukan ke segala arah

Warisan pusaka datuk datuk
Rumah godang beratap ijuk
Berkayu Surian tak mungkin lapuk
Kini hangus tiada berbentuk

Menjadi topik buah bibir
Rumah godang dinding berukir
Ukirannya rancak berulir ulir
Nilainya tinggi tak mungkin ditaksir

Tak mungkin ditaksir dengan rupiah
Begitu adat Minang-Ranah
Ketika rumah dibakar musnah
Harga diri menjadi rendah

 

Ketika perang menegakkan kebenaran
Orang Andoleh banyak berkorban
Ninik mamak beserta kemenakan
Nyawa dan harta jadi taruhan

Akibat nagari dilalap api
Bermacam kerugian telah terjadi
Tidak hanya kehilangan materi
Hewan ternak banyak yang mati

Ketika api tinggi menjulang
Terasa panas tidak kepalang
Binatang mati di dalam kandang
Kerbau dan Jawi hangus terpanggang

Rezim Soekarno bersalah besar
Saat sekolah ikut dibakar
Hilang sudah ruang belajar
Semua murid jadi terlantar

Setelah surau hangus membara
Tiada lagi kitab tersisa
Qur’an dicari kemana mana
Untuk pedoman belajar agama

III. Nagari lain ikut membantu

Begini adat orang Minang Kabau
Kabar baik, datang dihimbau
Kabar buruk membuat risau
Sesama dunsanak silau-menyilau

Mendengar berita malapetaka
Tidak dipesan, tanpa diminta
Datang bantuan sanak saudara
Orang Tanjung datang pertama

Nasi disiapkan berbungkus bungkus
Dimasukkan karung maupun kardus
Lalu diantarkan secara khusus
Bantuan diberikan secara tulus

Tua muda membawa bantuan
Di atas kepala dijunjung beban
Berjalan kaki beriring iringan
Ada yang cepat, ada yang pelan

Dalam kondisi suasana kalut
Anak kecil ada yang ikut
Dibimbing yang tua berusia lanjut
Kalau melangkah nyeri di lutut

Mendengar Andoleh menjadi abu
Orang Tanjung ikut terharu
Si Cuik Amril berniat membantu
Izin diminta kepada ibu

Tak dicatat dalam sejarah
Amril mengingat untuk berkisah
Bersua orang tua terluka parah
Terkena peluru mengeluarkan darah

Ketika peluru menembus kaki
Kemungkinan putus pembuluh nadi
Darah mengalir tiada henti
Walau ditaburi bubuk kopi

Karena daging telah terkelupas
Tulang tampak kelihatan jelas
Warnanya putih mirip kertas
Kalau disentuh terasa keras

Menahan sakit tiada terkira
Di pipi meleleh air mata
Ingin menolong tapi tak bisa
Amril sedih diam saja

Beginilah Allah menguji orang
Bermacam cobaan bisa datang
Supaya iman tidak berkurang
Manusia disuruh untuk sembahyang

Inilah petuah orang tua tua
Mujur ada sepanjang masa
Malang terjadi dalam seketika
Manusia disuruh untuk bertakwa

Peristiwa lain diingat si Cuik
Kejadian kecil sangat menarik
Banyak hikmah bisa dipetik
Walau hanya masalah Gacik 1

Kalau berburu ke bukit gunung
Anak nagari saling bergabung
Orang Andoleh dan orang Tanjung
Ibarat dunsanak saudara kandung

Karena di leher tali melingkar
Saat api sedang berkobar
Anjing tak bisa lari menghindar
Lalu binatang mati terbakar

Anjing pemburu banyak yang mati
Nasib baik binatang Babi
Setelah anjing terpanggang api
Tiada lagi yang perlu ditakuti

Melewati Andoleh yang tinggal puing
Amril mual, kepala pusing
Melihat bangkai si manis kucing
Mengalirkan darah dari daging

Ketika dialog tak lagi bisa
Adu senjata dilakukan manusia
Walau binatang tidak berdosa
Hewan kesayangan ikut menderita

Amril sedih penuh perhatian
Waktu melangkah tak ingat badan
Telapaknya luka menginjak pecahan
Dia terpekik karena kesakitan

IV. Si Ampuah menjadi korban

Jangan dianggap masalah remeh
Kisah si Ampuah penduduk Andoleh
Orang gila berkelakuan aneh
Sering meminta disediakan teh

Karena mengganggu penduduk kampung
Si Ampuah diikat lalu dipasung
Dia menjerit meraung raung
Sering menangis duduk termenung

Ini pelanggaran hak azasi
Untuk bebas di atas bumi
Tak boleh dirampas atau dikebiri
Duhulu pernah telah terjadi

Ketika nagari sedang terbakar
Api menyala sangat besar
Si Ampuah terkurung di dalam kamar
Sangat susah lari menghindar

Untung ada orang menolong
Tali pengikat lalu dipotong
Si Ampuah lolos ke bawah kolong
Lalu berteriak melolong lolong

Karena dibaju menyala api
Kulit terbakar pedih sekali
Sambil menjerit berkali kali
Si Ampauh berlari kian kemari

Bertemu tebat sangat dalam
Si Ampuah melompat langsung terbenam
Dia mati karena tenggelam
Syahid di dunia menurut Islam

Sumber: Nagari Web Blog

30 Mei 1959

 

Pada 30 Mei 1959 Konstituante melaksanakan pemungutan suara. Hasilnya 269 suara menyetujui UUD 1945 dan 199 suara tidak setuju. 

Akan tetapi yang menyatakan setuju lebih banyak oleh karena itu pemungutan suara ini harus diulang, karena jumlah suara tidak memenuhi kuorum. Kuorum adalah jumlah minimum anggota yg harus hadir di rapat, majelis, dan sebagainya (biasanya lebih dari separuh jumlah anggota) agar dapat mengesahkan suatu putusan

(palinguniks.wen Blog)

 

1-2 Juni 1959

 

Pemungutan suara kembali dilakukan pada tanggal 1 dan 2 Juni 1959. 

Dari pemungutan suara ini Konstituante juga gagal mencapai kuorum. Untuk meredam kemacetan, Konstituante memutuskan reses (masa perhentian sidang parlemen; masa istirahat dari kegiatan bersidang) yang ternyata merupakan akhir dari upaya penyusunan UUD

(palinguniks.wen Blog)

 

 

 

Juni 1959

Belajar Mengajar Di bawah Dentuman Mariam

Mendengar bunyi dentuman mariam, tembakan mortir dan senapan mitriliur bagi murid-murid dan guru-guru di saat belajar di zaman P.R.R.I adalah suatu pendengaran yang sudah lumrah.

Yang penting perlu diperhitungkan agar sosok meriam itu jangan tiba-tiba sudah berada di dekat kita, tetapi biasanya bunyi dentuman itu kedengaran masih jauh.

Jika ada operasi tentara Soekarno ke Rao-Rao tidaklah serta merta bisa langsung sampai ke Rao-Rao, karena di nagari Tigo Batur kira-kira 5 km dari Rao-Rao jalan raya itu sudah di putus.
Penduduk menggali lubang di tengah jalan dan dengan sendirinya konvoi alat pengangkut mariam tidak bisa lewat.
Alat pengangkut senjata yang bernama mariam itu ditarok di atas sebuah kenderaan semacam mobil yang ditarik oleh mobil lain.

Berlainan dengan senjata berat tentara P.R.R.I yang sering kami lihat cuma disandang saja namanya bazoka, ukurannya hanya sebesar bambu buluh lemang panjangnya kira-kira 80 cm.
Cara mempergunakannya juga tidak sulit.
Suatu hari bunyi dentuman mariam arah dari Batusangkar sudah di mulai sejak subuh, dan berlainan dari yang biasanya terus-terusan sampai siang hari.
Sekali ini murid tidak masuk sekolah alias libur.
Masyarakat jadi takut sebab itu tak berani ke luar rumah.
Baru sore diketahui bahwa tembakan meriam itu diarahkan ke kaki gunung merapi dekat Rao-Rao.

Perkiraan orang Rao-Rao tidak meleset. Ketika magrib kemaren rombongan para tokoh P.R.R.I Kolonel Zulkifli Lubis melintas di jalan raya. Beliau datang dari arah Batusangkar. Beliau inilah yang jadi sasaran operasi meliter hari itu. Dan operasi sudah terlambat karena yang dicari itu hanya sebentar sajadi Rao-Rao, setelah itu rombongan langsung melanjutkan perjalanannya.

Geografi kenagarian Rao-Rao untuk zaman perang agak strategis karena terletak persis di jalan raya pelintasan.
Itu pula sebabnya banyak tentara P.R.R.I mampir dan malahan ada yang tinggal beberapa waktu di kampung ini.

Seperti pendekar Silat Nasional yang bernama Malin Marajo, anak Tuangku Kumango tokoh agama dan jago silat yang terkenal bersama dengan sekelompok anak buahnya .
Orang Rao-Rao menyegani beliau dan anak buahnya pernah kontak senjata dengan tentara Pusat.
Rakyat menganggap bahwa tindakannya selalu membela rakyat.

Di zaman P.R.R.I tokoh nasional Mohammad Natsir dan beberapa orang temannya dalam perjalannya pernah pula singgah untuk shalat magrib di Masjid Raya Rao-Rao.
Setelah bertemu dengan sahabat-sahabat beliau yaitu dengan saudagar-saudagar yang dulu pernah di Padang, beliaupun melanjutkan perjalanannya.

Operasi Gabungan TNI-AD Tewaskan 7 Orang Penduduk Rao-Rao.

Pada pertengahan tahun 1959 sebelum Rao-Rao diduduki oleh tentara pusat , kenagarian di kecamatan Sei Tarab sempat jadi sasaran Operasi Gabungan TNI dari kesatuannnya dari Payakumbuh dan Batusangkar.

Sebagaimana biasa, pagi-pagi sudah kedengaran dentuman mariam dan tembakan mortir.
Karena ramainya bunyi tembakan dari berbagai arah, maka murid-murid pada hari itu terpaksa libur.
Penduduk Rao-Rao yang biasanya pergi ijok ke hutan-hutan untuk menyelamatkan diri sudah mulai berkemas dan menyiapkan bekal untuk satu hari.

Lokasi ijok biasanya ke ladang-ladang arah ke gunung merapi.
Akan tetapi sekali ini ada juga orang Rao-Rao yang lari menyelamatkan diri ke ladang-ladang arah ke Situmbuak.
Kebetulan kedua kesatuan operasi yang datang dari Payakumbuh dan dari Batusangkar ini sudah merencanakan pula bertemu di daerah Situmbuak.

Mereka sampai di daerah ini tidak lagi melahirkan bunyi letusan senjata api.
oleh sebab itu banyak penduduk tidak mengetahui kedatangan mereka sehingga beberapa orang yang dicurigai sebagai tentara ditangkapi.

Warga Rao-Rao yang ditangkap ada 7 orang antara lain H. Rasul, pedagang besar di Payakumbuh dan Rasyad Sibak yang baru beberapa hari pulang dari Jakarta, keduanya dari suku Caniago.
Rasyid dan Rasyad orang dari Kota Kaciek.
Penulis lupa nama tiga orang lagi akan tetapi ada juga berasal dari suku yang lain.

Mereka yang bertujuh ini ditangkap, digeledah oleh tentara yang dibantu oleh beberapa orang yang disebut sebagai anggota OPR.
Semua warga ini adalah rakyat biasa tidak bersenjata
Di badannya hanya ditemui sekedar uang untuk bekal.
Uang ini dirampas dan kemudian mereka disiksa secara sadis sekali tanpa menghiraukan rasa perikemanusiaan.


Bukit Talao, di lereng ini tempat pembunuhan oleh tentara Sukarno dan OPR

Akhirnya setelah disiksa mereka disandarkan ke tebing di pinggir jalan di nagari Talao barulah diberondongi dengan senjata api.
Ketujuh orang ini tewas di tempat itu juga.

Salah seorang yang tertangkap orang Situmbuak bernasib baik.
Dia berhasil melarikan diri, dan nekad melompat ke jurang Yang dalam walaupun diberondongi tembakan.
Tuhan masih menyelamatkan jiwanya, dan beliaulah yang menyaksikan langsung peristiwa tragis yang dialami oleh warga nagari Rao-Rao yang menjadi korban penembakan di Talao itu.

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

Kini hutan banyak dirusak
oleh kepentingan berbagai pihak
termasuk pejabat bersifat tomak
harus dilawan wajib ditolak

Kemudian salah seorang anggota OPR yang ikut operasi meliter datang ke Rao-Rao memberi tahu supaya menjemput mayat-mayat yang bergelimpangan di Talao tersebut.

Penduduk yang tidak ikut ijok pergi menjemput dan membawa ketujuh jenazah itu dalam keadaan yang sangat menyayat hati bagi yang mempersaksikannya.
Pada sore sampai malam hari itu juga, ketujuh jenazah ini setelah di shalatkan langsung dikebumikan di masing-masing pekuburan keluarga.

Kejadian ini menggemparkan masyarakat Rao-Rao yang kebetulan sangat ramai di kampung.
Inilah salah satu peristiwa yang tragis yang tak bisa dilupakan oleh penduduk Rao-Rao.
Khususnya bagi keluarga korban yang kehilangan suami, ayah dan anaknya.
Mereka diperlakukan secara kejam oleh bangsa sendiri ketika perang saudara.

Belum lagi penderitaan batin akibat dari tekanan dari penguasa.
Fitnah, propokasi dan intimidasi juga berkembang sehingga orang tidak lagi enak dan nyaman tinggal di kampung sendiri.
Buktinya pada waktu itu mudah saja orang diambil oleh OPR kalau tak ada penjamin dari pihak yang berkuasa maka orang tersebut bisa saja hilang tak tahu rimbanya kalau meninggal tak tahu kuburannya.

Nagari Rao-Rao diduduki Tentara Pusat

Pada bulan Maret 1960 diadakan operasi militer terakhir ke Rao-Rao.
Pada hari itu juga resmi nagari Rao-Rao jatuh ke tangan tentara pusat yang berjumlah satu atau dua kompi, semuanya kira-kira 200 orang.
Tempat-tempat stategis dijadikan pos pengamanan yang ditempati 15 sampai 20 orang serdadu pusat.

Selain kantor Wali Nagari juga rumah-rumah penduduk yang ditinggal kosong ditempati oleh mereka.
Termasuk beberapa buah surau dijadikan pos pengamanan.

Perbatasan nagari seperti Banda Gadang, Gudang , Surau Sungai Luang, Ikue Koto, Bukik Kaciek dan Sibunbun didirikam pos pengamanan.
Kedua Bukik ini dibersihkan dan digunduli yang mengerjakan adalah penduduk nagari dengan istilah
sadar ba nagari dilakukan secara gotong royong tiap hari Rabu dan Sabtu.

Yang menjadi Kepala Nagari ialah Pelaksana Pemerintahan Nagari (PPN) adalah Zainal Abidin dengan pembantu-pembantunya yaitu : Lutan dan Achmad Nawi.

Sebelum Zainal Abidin yang menjad Wali Nagari Rao-Rao adalah Amir Syarif, sebagai pengganti Anwar May yang kemudian diangkat sebagai Camat P.R.R.I.
Amir Syarif tidak lama memerintah karena terpaksa ijok jauh ke Lintau terus ke Unggan dan akhirnya pada tahun 1960 beliau meninggal di daerah itu.

Pada permulaan pemerintahan Zainal Abidin, maka pulang pula tokoh masyarakat Rao-Rao yang di Payakumbuh yaitu A. Bakar Rasyidin dan Ilyas Intan.
Sejak itu makin ramailah pembantu pelaksana pemerintahan.

Kepala Nagari Zainal Abidin aktif sekali menjalankan roda pemerintahan.
Hampir setiap Jumat beliau berpidato di masjid minta rakyat membantu pemerintahannya.
Akan tetapi pada zaman pemerintahan beliau pula terjadi peristiwa penculikan, hilangnya anggota masyarakat dan ada yang meninggal dunia tidak tahu kuburannya.

SMA dan SMP Penampung ditutup

SMA dan SMP Penampung, terhitung sejak bergantinya penguasa dari P.R.R.I ke pemerintahan yang dipimpin oleh Zainal Abidin, maka sejak itu sekolah SMA dan SMP Penampung tidak lagi melaksanakan tugas belajar dan mengajar.

Berarti umur SMA dan SMP Penampung di Rao-Rao di zaman P.R.R.I hanya dua tahun yaitu dari Maret 1958 sampai Maret 1960.
Pengumuman secara resmi tidak dilakukan, namun semua guru dan murid sudah memaklumi sendiri situasi tidak mengizinkan.
Sebagian besar guru-guru dan Pengurus SMA-SMP Penampung tanpa diberi komando sudah bertemu saja di nagari Lintau.

Penulis sendiri ikut exodus dengan teman-teman sejawat yang lain seperti Amir Bahar, Yusuf Samah, Fahmi Mahyuddin, Sofyan Syarif, Rusli Muhammad, Muchtar Syarif.
Dan juga sebagian besar murid-murid yang duduk dikelas terakhir tidak tinggal diam di nagari seperti Daud Ersal, Bustami Gani, Ruslan Muhammad, Azwar Hamid dan sebagainya.

Akhirnya semua guru, pengurus sekolah dan murid-murid tidak bisa berlama-lama di nagari orang.
Mereka kehabisan biaya perjalanan.
ijok masuk hutan dan keluar hutan sudah barang tentu memerlukan dana yang banyak

Penduduk Rao-Rao Ijok ke Lintau

Lintau adalah satu-satu kecamatan di Tanah Datar yang terakhir sekali diduduki oleh tentara pusat.
Pusat pemerintahan P.R.R.I bukanlah Lintau akan tetapi instansi pemerintah yang mengungsi banyak di temui di kecamatan ini.

Antara lain kegiatan Departemem P dan K terletak di Lintau, oleh sebab itu kegiatan sekolah-sekolah terdapat disini seperti SMP dan SMA Negeri tetap belajar meskipun keadaan negeri dalam situasi perang.

Fakultas Hukum Universitas Andalas juga tetap melangsungkan kuliahnya dan ujian sarjana seperti biasanya dilakukan di waktu masa damai.

Didudukinya nagari Rao-Rao oleh tentara pusat dan terbentuknya pula pemerintahan dibawah Wali Nagari PPN Zainal Abidin membawa perubahan besar bagi kehidupan sosial masyarakat Rao-Rao.
Bagaimana tidak, masyarakat Rao Rao dari hari pertama lahirnya P.R.R.I bertekad berjuang bersama-sama mendukung perjuangan.

Konsekwensi logisnya jika Rao-Rao diduduki maka para pedagang dan masyarakat yang dahulu pulang, kini mereka kembali mengungsi pergi meninggalkan nagari.
Mereka pergi jauh bukan untuk satu dua hari seperti sediakala, mungkin lebih lama.
Tujuannya bukan lagi kearah gunung Merapi, akan tetapi ke nagari yang belum diduduki tentara Pusat yaitu daerah Lintau dan sekitarnya.

Untuk pergi ijok menyelamatkan diri ke Lintau, kita harus melewati beberapa nagari, di mulai dari Kumango, Sumaniak, Sungayang, Tanjung Sungayang, Pato baru sampai di Lintau kira-kira 35 km dari Rao=Rao.

Daerah Lintau tidak asing bagi orang Rao-Rao, karena daerah ini adalah juga tempat orang pergi merantau jauh sebelum zaman P.R.R.I.
Ketika P.R.R.I, tempat tinggal orang Rao-Rao tersebar di beberapa nagari, seperti Lubuk Jantan, Balai Tangah dan Pangian.
Para pedagang besar Rao-Rao pergi ijok ke Lintau seperti H.Ahmad Saruji, Zainal Abidin Sara, Hamzah Harun dan tokoh agama H. Abdurrahman May serta puluhan tokoh-tokoh masyarakat Rao-Rao yang lain ikut berbondong-bondong, akan tetapi penulis lupa nama-nama mereka.

Sumber

Epy Buchari

 

 

5 Juli 1959

 

 

Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno pada 5 Juli 1959.

Adapun isi dari dekrit ini adalah pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian undang-undang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD ’45.

(Palingunik web blog)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dektrit Presiden Soekarno untuk kembali ke UUD 1945.

 

 

 

(Dr Iwan)

 

8 Juli 1959

Pada 8 Juli 1959 Ki-II Yon E (Bangka) dipimpin oleh Lettu Sukoco menumpas PRRI di Sekayu dan kemudian dibantu oleh pasukan Ki-I pimpinan Kapten Yusuf Rosadi.  Sedangkan Yon B melaksanakan operasi di sektor IV/V dipimpin oleh Mayor Suratmi dan Kapten Pratelo.

(KODAM Sriwijaya web blog)

 

10 Juli 1959

 

Dengan berlakunya kembali UUD 1945, maka Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) dibubarkan terhitung hari ini. Kemudian dibentuk Kabinet Kerja I dengan Perdana Menterinya adalah Presiden Soekarno sendiri, sedangkan Ir. Djuanda ditunjuk sebagai Menteri Pertama.

 

17 Agustus 1959

 

 

Sistem pemerintahan yang baru diperkenalkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraannya dalam rangka HUT RI dengan nama “Manifestasi Politik” atau Manipol

 

28 Agustus 1959

 

Mata uang Rupiah didevaluasi oleh Pemerintah Pusat: Rp 1,000,- menjadi Rp 100,-; banknotes lebih dari Rp 25,000,- di- demonetized.


Militer mulai memindahkan etnis Cina dari pedesaan ke kota-kota besar. Sebanyak 100.000 orang meninggalkan Indonesia menuju Republik Rakyat Cina dalam setahun kedepan; disamping 17.000 orang untuk Taiwan.


KSAD Letjen A.H. Nasution menggabungkan organisasi² veteran dalam sebuah wadah dibawah kontrol militer dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

 

Pada tahun 1959 Mata Uang  RI tahun 1952 dengan tanda tangan Sjafruddin Prawiranegara yang saat itu menjadi Menteri Keuangan RI  ditarik dari peredaran karena Sjafruddin Prawiranegara memimpin Pemberontakan PRRI dan banyak Uang ini dirampas PRRI dari Bank Pemerintah di Seluruh Wilayah Yang dikuasainya, dan untuk mengatasinya  PRRI mengunakan uang NICA lama, Uang  RI 1952 dibubuhi tanda tangan dan stempel PRRI  yang dinyata sebagai alat pembayaran yang sah di area  yang dikuasai PRRI kecuali nominal 5 rupiah deri Kartini sampai saat ini belumpernah ditemukan..

 

Lihatlah jenis uang  RI tahun 1952 tersebut

1952 Issue

  P42 – 5 Rupiah
Front: Portrait of R.A. Kartini, a national woman hero at left
Back: Ornamental design
Watermark: Wavy vertical lines
Printer: Thomas De La Rue & Co. Ltd.
Signatures: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 135 x 75 mm

Raden Ayu Kartini, (21 April 1879 – 17 September 1904), or sometimes known as Raden Ajeng Kartini, was a prominent Javanese and an Indonesian national heroine. Kartini is known as a pioneer in the area of women’s rights for native Indonesians.

  P43b – 10 Rupiah
Front: Statue of Ken Dedes at left
Back: Ornamental design
Watermark: Wavy vertical lines
Printer: Pertjetakan
Signatures: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 133 x 75 mm

Ken Dedes, first queen of Singhasari, was the wife of Ken Arok, the first ruler of Singhasari, Java, Indonesia. She was later considered as the origin of the lineage of kings that rule Java, the great mother of the Rajasa dynasty, the royal family that ruled Java from the Singhasari to the Majapahit era. Local tradition also mentioned her as a woman with extraordinary beauty, an embodiment of perfect beauty.

  P44 – 25 Rupiah
Issue Date: 08 June 1954
Serial Number: LKF059941
Front: Regional Indonesian design at both sides
Back: Regional design at center
Signatures: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 142 x 82 mm
  P45 – 50 Rupiah
Issue Date: 13 August 1954
Serial Number: PSC072054
Front: Regional Indonesian design at both sides
Back: Regional design at center
Signatures: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 142 x 82 mm
  P46 – 100 Rupiah
Serial Number: VV084692
Front: Portrait of Prince Diponegoro at right, Chinze at left
Signatures: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 142 x 80 mm
  P47 – 500 Rupiah
Replacement Note
Issue Date: 25 January 1955
Serial Number: XXW007763
Front: Relief at center bottom, frieze at center right, denomination at left
Ornamental design
Signature: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 151 x 90 mm
  P48 – 1000 Rupiah
Issue Date: 23 November 1954
Serial Number: WN076473
Front: Statue of Padmapani from Prambanan temple on a relief background
Ornamental design
Signature: Mr. Sjafruddin Prawiranegara and Mr. Indra Kasoema
Size: 148 x 87 mm

Prambanan is the ninth century Hindu temple compound in Central Java, Indonesia, dedicated to Trimurti, the expression of God as the Creator (Brahma), the Sustainer (Vishnu) and the Destroyer (Shiva). The temple compound located approximately 18 km east of Yogyakarta city on the boundary between Yogyakarta and Central Java province.

The temple is a UNESCO World Heritage Site, currently is the largest Hindu temple in Indonesia, and is one of the largest Hindu temples in south-east Asia. It is characterised by its tall and pointed architecture, typical of Hindu temple architecture, and by the towering 47m high central building inside a large complex of individual temples.


 

 Pada awalnya Uang NICA yang lama dimanfaatkan dengan membubuhi stempel PRRI untuk nilai 50 dan 100 Rupiah dan nilai 500 gulden dengan tanda tangan Sjafruddin Prwira Negara

 

1)PRRI Overprint and handsign of Old DEI Nica banknote

 

Uang NICA Javasche bank 50 gulden distempel walinagari PRRI (unidentified)

 

Dan

 

 100 gulden  dengan stempel walinagari PRRI Pasir Lawas

 

 

 

 

Nagari pasir lawas(laweh)

 

Uang NICA Javasche  bank 500 gulden  atas distempel Panglima Devisi Banteng tanpa ditanda tangani dibagian belakang  dan bawah ditanda tangani sjafruddin prawira Negara dibagian depan.

 

Tanda tangan sjafruddin prawiranegara dibagian depan 500 gulden

 

Stempel panglima divisi banteng dibagian belakang 500 gulden

 

 

 

 

 

 

 

 

Uang RIS RP.10,- distempel wali nagari Sungai Batang,sangat langka hanya dietmukan dua lembar,belum pernah dilaporkan kolektor lain atau katalogus(koleksi dr Iwan)

 

Nagari sungai batang

 (pasir pangaraian riau)

 

 Uang RI 1952-1955 Nominal Rp.10, Rp 25,-,Rp.50, dan Rp. 100,- dibubuhi stempel Walinegeri PRRI,ternyata Pecahan RP.5,- tidak pernah ditemui dengan stempel PRRI

 Stempel wali Nagari PRRI Nagari di bagian depan dan stempel mata uang PRRI dibagian belakang   uang  RI nominal rendah tahun 1952-1958 dari pecahan Rp 10. Dan sebaliknya pada pecahan

Rp.25,Rp.50 dan Rp 100.-(posisi stempel walinagari dibagian belakang)

 

 

Uang distempel walinegeri PRRI Sibiruang, koto bondjol,Batu kalang.Tandjung berangin ketjamatan Lubuk sikaping,Tjubadak,kepala nagari Bondjol ilajah bonjol, Pintu Padang, lima puluh koto.

Nagari ini merupakan kantong-kantong yang dikuasai PRRI,bagaimana situasinay saat ini mari kita lihat foto dibawah ini

 

 

 

Sibiruang,(RIAU)

 

 

Batu kalang.(tarusan pesisir selatan)

 

 

Tandjung Berangin ketjamatan Lubuk sikaping,

 

Tjubadak,

 

kepala nagari Bondjol wilajah bonjol,

 

Pintu Padang, lima puluh koto

 

 

 

 

Stempel wali nagari PRRI Sumpur Kudus,

 

Sumpur Kudus,sijunjung

 

 

Stempel wali nagari PRRI

kampung Pinang ,

Sibiruang,

Air Hadji,

matur mudik.

 

 

 

 

 

kampung Pinang ,

 

Sibiruang,

 

 

 

Air Hadji pesisir selatan

 

matur mudik.

 

 

 

 

 

Ditulis diperiksa 26/3-1960

 

Stempel walinagari PRRI Sarik Malintang, Bidar Alam, Sibiruang, Padang Mentinggi, kuala simpang,

 

Batang Gumanti yang membelah nagari Talang Babungo, Sariak Alahan Tigo & Sungai Abu di kec. Hiliran Gumanti kab Solok. Banyak yang tidak bahwa inilah hulu sungai Batang Hari yang membelah kota Jambi hingga ke Kuala tungkal yang merupakan salah sungai penting di Minangkabau pada masa lalu.

Sarik Malintang alahan panjang

 

 

Bidar Alam,

 

 

 

Dinagari  Bidar Alam ini terdapat Rumah PDRI

Pada tanggal 19 Desember 1948, kota Jogjakarta diduduki oleh Belanda. Soekarno dan Hatta kemudian ditangkap untuk diasingkan ke Pulau Bangka (foto dikiri). Rupanya sebelum ditangkap, sang Dwi-tunggal sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara.

 Sehingga pada tanggal 22 Desember 1948, dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan Mr. Syafruddin Prawiranegara, sebagai Ketua PDRI. Kantor Pemerintahan Indonesia saat itu, antara lain berpindah dari Jogjakarta ke Bidar Alam, Sumatra Barat  (foto dikanan). Berikut Pidato Syafruddin yang sangat terkenal, saat ia dilantik (tentu bahasa aslinya dalam ejaan lama) :

Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti.

Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh.”

Sejak pidato yang disiarkan secara luas itu membahana ke seluruh pelosok negeri, PDRI menjadi musuh nomor satu Belanda. Tokoh-tokoh PDRI harus bergerak terus sambil menyamar untuk menghindari kejaran dan serangan Belanda.

Perlawanan bersenjata dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta berbagai laskar di Jawa, Sumatera serta beberapa daerah lain. Perlawanan PDRI di Sumatra dilakukan dengan membentuk 5 (lima) wilayah pemerintahan militer.

Sehingga menjelang pertengahan 1949, posisi Belanda makin terjepit. Dunia internasional mengecam agresi militer Belanda. Sedang di Indonesia, pasukannya tidak pernah berhasil berkuasa penuh. Keadaan ini memaksa Belanda untuk menghadapi RI di meja perundingan, yang nantinya menghasilkan kesepakatan yang bernama Perjanjian Roem-Royen. Dengan perjanjian ini, kembalilah ibu kota Jogjakarta ke tangan Soekarno-Hatta (foto dikiri saat Jendral Soedirman kembali ke Jogja, diterima Soekarno).

 

Sibiruang,

 

 

INDONESIA 50 RUPIAH 1952 CAP SIBIRUANG – PRRI

 

 

 

 

 

 

Nagari sibiruang RiAU

 

 

Padang Mentinggi, Rao

 

 

 

 

kuala simpang,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uang RI Rp. 500,- ditanda tangani Ahmad Husein dengan stempel Divisi Banteng umumnya tanda tangan  dengan tiga jenis tinta biru, hitam  dan bagian belakang stempel alat pembayaran yang SAH PRRI

 

 

 

 

 

 

Uang Lima ratus rupiah ditanda tangani Ahmad Husein  tinta merah dan hiatm dengan stempel panglima Divisi Banteng

 

 

 

 

 

 

 

 

Uang Rp 500,- juga ditanda tangani Oleh Let Kol Nawawi

(semula saya kira let kol Barlian lihat catatan tulisan saya disamping koleksi  ,tetapi berdasarkan fakta Barlian tidak ikut pemberontakan PRRI  dan tanda tangan dimulai huruf N serta  informasi Simbolon mengirim senjata ke Nawawi di Bengkulu,jadi kemungkinan besar Nawawi sebagai komandan operasi PRRI di Sumatera Selatan,hal ini  dibuktikan dengan informasi pertempuran Brimob Rangers di Muko-muko tahun 1960(Dr iwan)

dengan stempel Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia Komado Koordinator  Sumatera Selatan dan Stempel alat pembajaran jang sah  dibagian depan

 

 

 Ditemukan di Bukittinggi

 

 

 

ditemukan di Tanjungkarang Lampung oleh Dr Iwan Suwandy.

 

 

 

Uang Rp.1000,-

ditanda tangani  oleh

 

Ahmad Husein tinta hitam dengan stempel panglima Divisi Banteng dibagian belakang

 

Ahmad Hussein  tinta biru dibagian belakang

 

Bagian depan  stempel alat pembayaran yang sah PRRI

 

Dan

 

 

 Sjafruddin Prawiranegara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wali nagari ikut membubuhkan cap di setiap uang kertas

Ketika terjadi perang saudara di Indonesia (peristiwa PRRI tahun 1958 -1961) hampir seluruh anak nagari Minang Kabau terlibat berjuang.Sebagai bukti tertulis, seluruh Wali nagari ikut membubuhkan cap di setiap uang kertas yang beredar ketika itu.Diharapkan peristiwa PRRI ini perlu diingat untuk membangkitkan semangat kejuangan anak nagari melawan ketidakadilan, kediktatoran

(Abraham Ilyas)

.

5 Juli 1959

Dalam iklim Perang Dingin yang sedang melanda dunia masa itu, Uni Soviet, Republik Rakyat Cina, dan negara Blok Komunis lainnya akan beraksi, jika Amerika Serikat bertindak terlalu jauh, dan Indonesia dapat menjadi kancah pertarungan politik dunia interansional dengan segala akibatnya bagi persatuan Indonesia.

 

Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno

mengeluarkan Dekrit “Kembali ke Undang Undang Dasar 1945”

 

 

Keputusan Presiden Republik ndonesia No 150 tahun 1959                                     Dekrit Presiden Indonesia/Panglima tertinggi Angkatan Perang                        Tentang

Kembali Kepada Undang-Undang Dasar 1945

Dengan Rachmat Tuhan Jang Maha Esa                                                                             Kami Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Dengan ini menjatakan dengan chidmat :

Bahwa andjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945, jang disampaikan kepada segenap Rakyat Indonesia dengan Amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959,tidak memperoleh keputusan dari konstitusante sebagaiaman ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara.

Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagain tersbesar Anggota –anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk menghadiri lagi siding, Konstituate tidak mungkin lagi mendelegasikan tugas jang dipertjajakan oleh Rakjat Indonesia.

Dalam hal jang demikian menimbulkan keadaan ketatanegaraan jang membahajakan persatuan dan keselamatan Negara,Nuda dan bangsa,serta merintangi pembangunan semesta untuk mentjapai masjarakat jang adil dan makmur.

Nahwa dengan dukungan bagain terbesar Rakjat Indonesia dan didorong oleh kejakinan kami sendiri,kami terpaksa menempuh satu-satunja djalan untuk menjelamatkan Konstitusi tersebut;

Maka atas dasar-dasar tersebut diatas,

Kami Presiden Republik Indonesia/Panglima tertinggi Angkatan Perang,

Menetapkan pembubaran Konstituante:

Menetapkan Undang-Undang dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai tanggal penetapan Dekrit ini , dan tidak berlakunja lagi Undang-Undang Dasar sementara.

Pbentukan Mdjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara, jang terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan rakjat ditambah dengan utusan-utusan daerah-daerah dan golongan,serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnja.

Ditetapkan di Djakarta

Pada tanggal 5 Djuli 1959

Atas nama Rakjat Indonesia

Presiden republic Indonesia/

Panglijma Tertinggi Angkatan Perang

Sukarno

(sumber: buku lembaran Negara 1958)

 

dekrit

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Kototinggi

 

 

Pertemuan berikutnya beberapa bulan kemudian di Kototinggi

Seperti halnya di Sumpur Kudus  hadsir tokoh politik dan Militer untuk membahas  Rancangan Undang-Undang RPI .

Setelah perdebatan yang sengit (alot), untuk menghindari perpecahan tokoh Militer menyetujui mencoba membentuk RPI . Menurut Kol Simbolon pembentukan RPI merupakan langkah yang jauh  dan sama sekali berbeda dengan cita-cita  semula PRRI dan tidak akan menguntungkan PRRI  

 

Selain terlalu jauh , rencana tersebut tidak didukung oleh momentum yang tepat karena telah adanya  Dekrit Presiden RI  Kembalinya Indonesia Ke Undang-Undang Dasar 1945.

 

Dekrit dilihatnya akn menguntungkan  bagi keuatan Pancasila , termasuk Angkatan Darat . Sebagai yang tetap memegang dan mempertahankan Pancasila, Kol Mauludin Simbolon  mencurigai pembentukan RPI  .Kol Simbolon setelah rapat di Kototinggi  memindahkan kedudukannya dari dekat Batusangkar  ke Tapanuli.

 

Demikianlah setelah menempuh perjalanan panjang  melalui Bonjol, Lubuk Sikaping,

 

 

 

Rao

 

 

dan Sibuhuan akhirnya

 

 

 

 

 

 

 

sampai di Hutainbaru(Purbatua), sebuah desa diperbatasan Tapanuli Utara dan Selatan.Desa itulah menjadi  tempat tinggalnya  dan tempat markasnya  selanjutnya sampai selesainya pemberontakan PRRI.(Mauludin Simbolon)

 

 

 

The RPI Document Collections

Koleksi ini ditemukan teman dr iwan di Bukittinggi, sayang yang bersangkutan tidak mengizinkan untuk difoto.saya berusaha tahun depan untuk membeli koleksi tersebut agar info RPI yang pernah ada dapat dibuktikan.

Surat utang Negara(SUN)RPI  dan Surat pengantarnya

surat Hutang RPI berbentuk secarik kertas dengan lambang garuda Indonesia, menerangkan bahwah pemerintah RPI berhutang (seperti SUN) dan akan dibayar dengan mata uang yang berlaku setelah jatuh tempo.

Surat pengantar SUN tersebut,mene rangkan bahwa nama seseorang yang ditugaskan mengantar sSUN RPI tersebut,lengkap dengan tanda tangan komadan kesatuan dan stempelnya.

(Dr Iwan)

10 Juli 1959

Pada  tanggal 10 Juli 1959 dibentuk Kabinet Karya I dipimpin langsung oleh Presiden sebagai Perdana Menteri

 

Suatu pagi pada tahun 1959,

saya berjalan naik mendaki ke puncak bukit Kaluang.
Di puncak bukit disiapkankan senjata otomatis penembak pesawat berupa senapang kaliber 12,7.
Sesampai di puncak ternyata senjata berat itu hanya ditunggu oleh satu orang saja yaitu sdr. Hasan Basri, yang biasanya dipanggil si Bai.
Pai ka maa anggota lainnya (pergi kemana anggota lainnya), pertanyaan saya kepada si Bai dalam bahasa Minang.
Si Bai menjawab:
Kawan-kawan sedang turun ke bawah mencari rokok.
Belum sampai si Bai melanjutkan cerita tentang kawan-kawannya yang tidak berdisiplin itu, tiba-tiba muncul pesawat Mustang yang terbang rendah menuju ke arah kami.
Nah, itu dia kapal terbang menuju ke sini,… kita tembak saja!.

Langsung si Bai mengokang senjata berat itu dan mengarahkan muncung senapan ke arah pesawat.


Saya membantu/menadahi rantai peluru tersebut.
Tak sampai kira-kira sepuluh butir peluru ditembakkan, pesawat langsung berbelok ke arah kiri menyusuri lereng gunung merapi, sambil mencoba terbang lebih tinggi.
Akhirnya pesawat menghilang dari pandangan kami.
Sekitar tahun tujuh puluhan, saya membaca berita koran, bahwa telah ditemukan bangkai pesawat di rimba hutan di tepi danau Singkarak, antara nagari Malalo dan Padang.
Berita koran ini saya sampaikan kepada si Bai yang sedang berjualan kelapa di Pasar Bawah Kota Bukit Tinggi.
Alangkah kaget dan masgulnya si Bai membaca berita tersebut.
Dia seakan-akan ketakutan untuk dipanggil oleh pihak yang berwajib dan ditanyai macam-macam.

                                                                 (Nagari Com)

2 September 1959

 

Saya ingat waktu itu tanggal 2 September 1959.
Berarti kami di pengungsian ada sekitar 2,5 bulan, padahal kami telah berencana mengungsi ketempat lain.


Proklamasi pembentukan PRRI terjadi pada tanggal 15 Februari 1958, dan ketika Bapak tertangkap nampaknya sudah banyak daerah PRRI yang dikuasai tentara pusat.

Bapak dibawa ke Sawahlunto dan dimasukkan ke dalam penjara.
Kami dalam waktu-waktu tertentu bisa melihat Bapak di penjara.
Selama di penjara Sawahlunto kami berusaha agar Bapak bisa dibebaskan.

Konon banyak juga di pihak orang Minang yang berkhianat, dan umumnya mereka dari golongan anggota PKI.
Ada di pihak keluarga bako saya, keluarga Bapak saya yang ingin menjadi Penghulu artinya ingin merebut gelar Bapak.
Secara adat, mereka itu masih jauh, belum berhak, tapi dia kepingin.

Ini juga provokator bagi Bapak saya.
Saudaranya itu berada di pihak organisasi Pemuda Rakyat, yang merupakan onderbow dari PKI.
Dia ingin agar Bapak dihukum terus, karena dia berfikir bahwa dengan demikian dia bisa merebut gelar tersebut.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

7-14 September 1959

Pidato Kawan Samtiar

(Jambi)

Sumber: Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960

Dimuat dan diedit oleh Ted Sprague (22 September, 2012)


Kawan-kawan Presidium dan Kawan-kawan sekalian,

Saya merasa bangga sekali dapat ikut menghadiri Kongres ini bersama dengan kawan-kawan, Kongres dari suatu Partai yang tidak saja besar, tapi juga mempunyai tradisi perjuangan yang heroik dari sejak lahirnya hingga sekarang, Partai yang mempunyai sejarah gemilang dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, Partai yang kesetiaannya telah teruji dengan pengabdiannya yang tulus membela kepentingan rakyat — dengan gagah berani tampil ke depan melawan musuh-musuh rakyat, tidak saja dulu terhadap Belanda, tapi juga sekarang terhadap “PRRI”-Permesta.

Kawan-kawan,

Laporan CC yang disampaikan oleh Kawan D. N. Aidit dalam Kongres Nasional ke-VI Partai, saya menyetujui sepenuhnya. Menurut pendapat saya Laporan CC tidak saja telah mengemukakan pengalaman-pengalaman Partai, kelemahan-kelemahan dan sukses-sukses yang pernah dicapai oleh Partai di lapangan politik, organisasi dan ideologi, tapi juga telah menggariskan tugas-tugas pokok Partai untuk masa depan, taktik dan strategi Partai dalam perjuangannya menyelesaikan tuntutan Revolusi 17 Agustus ‘45 yang belum selesai. Mempelajari Laporan CC, sekaligus berarti mempelajari keadaan rakyat dan masyarakat kita, watak revolusi, arah dan perspektif Revolusi kita, disamping mengetahui sejarah perjuangan Partai dan kebesaran Partai kita sekarang. Laporan CC pada Kongres Nasional ke-VI Partai, tidak saja mempunyai anti penting bagi pembangunan Partai, tapi juga mempunyai arti sejarah yang amat penting sekali bagi Rakyat Indonesia dalam perjuangannya menciptakan syarat-syarat untuk memenangkan Revolusi Agustus 1945.

Kawan-kawan,

Pada kesempatan ini saya ingin hendak mengemukakan mengenai beberapa persoalan daerah Jambi, tentang penduduk dan kebudayaannya, tentang keadaan kaum tani, dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Partai kita. Penduduk daerah ini terdiri dari dua golongan, penduduk asli (suku Melayu) dan penduduk yang datang dari pulau Jawa, Sumbar, dan Tapanuli. Keadaan penduduk asli, ekonomi dan kebudayaannya belum dapat dikatakan maju. 85% dari penduduk yang dewasa masih buta huruf, tifus dan kolera merupakan penyakit yang biasa di kalangan rakyat. Balai-balai Pengobatan di desa-desa hampir tak ada sama sekali, kecuali di ibu negeri Kewedanaan dan Kecamatan-kecamatan. Takhayul, kepercayaan kepada roh-roh yang dianggap keramat merupakan kepercayaan yang teguh di kalangan rakyat.

 Merajalelanya buta huruf dan keterbelakangan ini, adalah dìsebabkan akibat politik Pemerintah kolonial Belanda dulu yang memang tidak berkepentingan untuk meningkatkan pengetahuan dan kebudayaan rakyat.

Pada tahun-tahun belakangan keadaan sudah mulai agak berubah, semangat dan kemauan belajar sudah mulai menjalar ke desa-desa. Akan tetapi semangat yang tumbuh ini, tidak dapat ditampung karena kurangnya gedung-gedung sekolah, karena kurangnya gedung ini tiap tahunnya tidak sedikit anak-anak yang tidak dapat diterima menjadi murid SR, dan yang tidak dapat meneruskan pelajarannya pada sekolah-sekolah menengah.

Mengenai masalah kaum tani

Kawan-kawan,

Mengenai penghidupan rakyat umumnya tergantung pada pertanian. Penduduk yang datang dari pulau Jawa, disamping bekerja sebagai buruh tani, menyadap karet tuan tanah, juga bertani. Tanaman kaum tani disamping selalu terancam oleh bahaya binatang liar (gajah, babi, monyet dan sebagainya), juga sering-sering mengalami bahaya banjir yang tak dapat dihindari.

Untuk bertani kaum tani harus menyewa tanah tuan tanah feodal (Pasirah) untuk kebutuhan hidup kaum tani sehari-hari biasanya disediakan oleh tuan tanah dan lintah darat lintah darat ada juga oleh pedagang-pedagang Tionghoa dengan berupa bahan-bahan sebagai pinjaman dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran, dengan ketentuan karet bagian kaum tani harus dijual pada mereka dengan harga yang jauh lebih murah dan pasaran.

 Keadaan penghidupan kaum tani yang demikian ini yang diperas dari segala jurusan, menyebabkan hidup mereka terus menerus tenggelam dalam hutang kepada tuan tanah dan lintah darat yang menyebabkan mereka selalu dalam keadaan sengsara. Untuk menutupi keperluan hidup mereka sekeluarga, anak-anak kaum tani yang masih di bawah umur terpaksa bekerja keras membantu orang tuanya menyadap karet, mencari kayu api untuk dijual dan sebagainya.

Kaum tani yang berada di sekitar tanah konsesi Niam (sekarang Permindo) keadaannya lebih sengsara lagi, disamping mereka yang selalu terancam oleh Permindo, terhadap mereka juga sering-sering dilakukan penangkapan-penangkapan.

 Penangkapan-penangkapan ini terjadi hanya atas pengaduan Permindo dengan seribu satu macam tuduhan, misalnya sebatang pohon yang ditebang oleh kaum tani ujung dahannya yang rebah mengenai tiang kawat, terus diadukan dengan tuduhan kaum tani merusak milik Permindo.

Dengan pengaduan seperti ini tanpa pemeriksaan lebih dulu, kaum tani sudah mendapat panggilan dari Kepolisian, ada kalanya diambil begitu saja dan tempat pekerjaannya, tanpa diketahui keluarganya.

Tindakan seperti ini sangat memberatkan kaum tani, ongkos mobil (pulang pergi) dari tempatnya ke kantor polisi tidak kurang dari Rp. 30,—. Untuk memenuhi satu kali panggilan kaum tani harus mengeluarkan uangnya tidak kurang dari Rp. 50,—. Uang Rp. 50,— sudah cukup banyak bagi mereka.

Disamping itu jika Permindo menemukan sumber minyak baru, untuk keperluan pembikinan jalan dan sebagainya, mau tak mau kaum tani harus menyerahkan tanah berikut tanamannya dan membongkar gubuknya yang dibangun dengan susah payah ¡tu, untuk kepentingan Permindo. Memang oleh Permindo sebelumnya diadakan perundingan dengan kaum tani untuk mengganti kerugian kaum tani, tapi perundingan itu tidak dengan ikhlas diterima oleh kaum tani, karena bagaimana juga mereka tetap merasa dirugikan oleh tindakan ini.

Uang ganti rugi dari Permindo itu, tidak pula sepenuhnya jatuh ke tangan kaum tani, beberapa persen daripadanya harus diserahkan pada kas Pemerintah (Marga).

Jumlah ini bergantung pada ketentuan-ketentuan Marga setempat. Perusahaan Minyak Permindo yang menggaruk keuntungan ribuan rupiah tiap harinya, bagi kaum tani hanya merupakan bahaya besar yang selalu mengancam penghidupannya.

Disamping itu lagi jika terjadi persengketaan antara kaum tani dengan Permindo, kaum tani merasa tidak mendapat perlindungan dari Pemerintah, karena Peraturan Pemerintah mengenai persengketaan tanah antara kaum tani dengan Permindo pada pokoknya membenarkan tindakan Permindo untuk menguasai tanah kaum tani, dan memberikan bantuan langsung pada Permindo dengan mengirim tenaga polisi ke tempat tersebut untuk menjaga keamanan orang-orang yang mentraktor tanah kaum tani. Ini baru sebagian saja dari penderitaan-penderitaan yang dipikul oleh kaum tani, belum lagi peraturan-peraturan lainnya seperti bunga kayu, pancung alas, bunga pasir dan sebagainya yang sangat memberatkan penderitaan kaum tani.

 Keadaan ini sepenuhnya membenarkan perumusan Partai, tentang masih berkuasanya sisa-sisa feodalisme di desa-desa, tentang beratnya penderitaan kaum tani karena pengisapan yang terus menerus dari tuan tanah dan lintah darat dan peraturan-peraturan lain yang sangat merugikan kaum tani, yang menempatkan kedudukan mereka sebagai budak tuan tanah dan lintah darat. Ini sepenuhnya berlaku di daerah Jambi. Semboyan Partai di lapangan pertanian, sita tanah tuan tanah, bagikan pada kaum tani, terutama pada kaum tani tidak bertanah, adalah semboyan yang sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan kaum tani. Karenanya semboyan ini tidak saja akan disambut hangat oleh kaum tani, tapi juga akan membangkitkan daya juang mereka untuk mengakhiri sama sekali kekuasaan tuan tanah di segala lapangan.

Kawan-kawan,

Penduduk yang mendatang (dari Sumbar dan Tapanuli), sebagian kecil bekerja pada berbagai instansi-instansi jawatan Pemerintahan. Pedagang-pedagang kecil termasuk pedagang pinggiran jalan, umumnya terdiri dari penduduk yang berasal dan Sumbar. Nasib pedagang-pedagang ini tidak berbeda banyak dengan nasib kaum tani, disamping tidak mempunyai modal mereka juga dihisap terus menerus oleh pedagang-pedagang besar. Pedagang-pedagang besar, pemilik-pemilik N.V., pemilik-pemilik perusahaan-perusahaan kecil, seperti rumah-rumah asap, gedung-gedung bioskop, restoran-restoran, warung-warung, pabrik roti, kecap dan sebagainya umumnya dimiliki oleh orang-orang Tionghoa.

 

Pada waktu pemberontak DB-”PRRI” berkuasa, beberapa dari pedagang-pedagang besar ini aktif ikut membantu kaum pemerontak, menyediakan bahan-bahan bakar, kendaraan dan sebagainya untuk keperluan kaum pemberontak.

Setelah Pemerintah melarang semua organisasi-organisasi KMT, oleh Pemerintah (Penguasa Perang) Daerah diambil tindakan, menutup semua Sekolah-sekolah Tionghoa KMT. Akan tetapi tindakan ini belum dilanjutkan oleh Pemerintah dengan tindakan pengambilan alih seperti di tempat-tempat lain, begitu juga tindakan terhadap maskapai milik Belanda juga belum  diambil alih.

 Rakyat mengharapkan tindakan ambil alih dari Pemerintah, terutama terhadap perusahaan-perusahaan mereka yang sudah terbukti membantu kaum pemberontak.

Masalah kerjasama dengan kekuatan tengah

Kawan-kawan,

Pergolakan DB di Sumteng, sangat mempengaruhi situasi Jambi yang pada waktu itu administratif Pemerintahannya tunduk ke Sumteng, di bidang militer berada di bawah kekuasaan TT II Sumsel.

Pada waktu sob dinyatakan berlaku di seluruh negeri, yaitu setelah kekuasaan dipegang oleh pihak militer, antara DB-”PRRI” dengan “TT II” Barlian cs timbul perjuangan untuk saling menguasai daerah Jambi.

 Untuk mencegah daerah Jambi sepenuhnya dikuasai oleh DB-”PRRI” atau oleh Barlian cs, dan sesuai dengan kepentingan Rakyat Jambi Partai menyokong dan menganjurkan politik menuntut Otonomi Tingkat I bagi daerah Jambi, politik ini mendapat dukungan dari semua pihak.

Dengan politik ini usaha dari sementara orang-orang yang hendak menyeret daerah Jambi membantu DB-”PRRI” dapat digagalkan.

 Tuntutan Otonomi Tingkat I, akhirnya menjadi pendirian semua partai-partai, termasuk Masyumi kecuali PSI.

Karena tuntutan Otonomi ini menyangkut kepentingan semua golongan, maka kerja sama di kalangan Partai-partai, juga dengan beberapa tokoh-tokoh Masyumi dapat kita wujudkan. Ikutnya beberapa dari tokoh-tokoh kepala batu dalam perjuangan menuntut otonomi ini, ialah dengan tujuan untuk dapat terus berkuasa, atau untuk mempertahankan kedudukannya dalam badan-badan instansi pemerintahan, atau untuk mengharapkan kedudukan baru dalam Pemerintahan Otonomi yang akan dibentuk itu nanti. Begitu pun dari sebagian golongan tengah, juga ada yang dengan harapan seperti itu.

Ini dibenarkan oleh kenyataan, bahwa baru saja ada tanda-tanda bahwa Pemerintah Pusat menyetujui pembentukan Otonomi Daerah, orang-orang yang ingin kedudukan ini, segera menyusun formasi kepegawaian di kalangan mereka untuk menduduki jabatan-jabatan penting di instansi-instansi Jawatan Pemerintahan, disamping mereka berlagak kepada rakyat sebagai pejuang membela kepentingan daerah dan kepentingan rakyat.

Dalam perebutan kedudukan ini, terdapat kontradiksi yang juga tajam antara kekuatan tengah dengan kepala batu, usaha mendepak kepala batu dari jabatan-jabatan penting, karena mereka sudah mempunyai jaringan-jaringan yang kuat sebelumnya, bukan pekerjaan yang mudah bagi golongan tengah.

 Karena adanya faktor psikologis yang khusus mengenai Jambi, baik kekuatan tengah maupun kepala batu, sama-sama berkepentingan untuk mencegah timbulnya kontradiksi yang tajam di antara mereka, faktor yang juga mengikatkan kekuatan tengah pada kepala batu.

Karena adanya faktor ini menyebabkan tidak adanya keberanian kekuatan tengah melawan kepala batu, disamping kuatnya kedudukan kepala batu dalam badan-badan perwakilan (DPRD-DPRD) dan DPD-DPD Provinsi dan Kabupaten-kabupaten.

Kawan-kawan, tentang tidak teguhnya kekuatan tengah menjalankan politik yang progresif anti-imperialis dan anti-feodal, seperti yang dikatakan Kawan D. N. Aidit dalam Laporan CC pada Kongres ini, yaitu, bergantung kepada tepat atau tidak tepatnya garis politik Partai dalam menghadapi kekuatan tengah, bergantung kepada besar atau kecilnya kekuatan Partai sendiri sebagai sandaran kekuatan tengah, bergantung kepada ada atau tidak adanya pukulan yang jitu dari kekuatan progresif terhadap kepala batu yang menguntungkan kekuatan tengah, sepenuhnya dibenarkan oleh pengalaman Partai kita di daerah Jambi.

Belum berhasilnya Partai kita bersatu dengan kekuatan tengah untuk tetap berada di pihak kekuatan progresif yang dengan teguh menjalankan politik anti-imperialis dan anti-feodal, menentang politik reaksioner dan kepala batu, karena belum berhasilnya Partai kita memobilisasi massa yang luas, kaum buruh dan kaum tani, dan karena belum berhasilnya kita meningkatkan lebih tinggi kesadaran politik massa rakyat kepada taraf yang lebih tinggi, terutama kesadaran politik kaum tani yang masih terbelakang dari kaum buruh.

Masalah organisasi Partai

Kawan-kawan,

Masalah Pembangunan Partai yang ditetapkan oleh Sidang Pleno Ke-IV CC tahun 1956, belum terlaksana dengan baik. Belum terlaksananya Plan ini, disebabkan karena adanya kelemahan-kelemahan dalam Partai kita, baik di lapangan ideologi, maupun di lapangan organisasi.

Keadaan organisasi Partai kita, sebagai badan yang akan melaksanakan tugas belum tersusun dengan baik, Comite-comite Seksi, Sub-seksi dan Comite-comite Resort selfstanding belum mampu memberikan pimpinan pada massa anggota dalam melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, disamping Comite-comite atasan belum dapat memberikan pimpinan yang tepat pada Comite-comite bawahan.

Kolektifitas sebagai syarat pokok bagi kelancaran jalannya organisasi belum terwujud dalam badan pimpinan Partai, disamping belum terwujudnya kolektifitas, rasa tanggung jawab kader-kader terhadap Partai sangat tipis sekali.

Kurangnya rasa pertanggungan jawab ini disebabkan karena belum dikuasainya oleh kader-kader kita fungsinya sebagai pimpinan terhadap kemajuan Partai. Disamping itu kawan-kawan yang memegang fungsi dalam Partai, umumnya terdiri dari kawan-kawan yang mempunyai pekerjaan khusus di lapangan lain, karena terikat pada pekerjaannya amat sedikit sekali waktu dan tenaganya yang dapat dipergunakan untuk Partai, untuk mendatangi Comite-comite bawahan dan sebagainya.

Hal ini menyebabkan kurang dikuasainya oleh kader-kader kita tentang keadaan Partai yang sesungguhnya di Comite-comite bawahan. Karena kurangnya penguasaan pimpinan terhadap keadaan organisasi menyebabkan pimpinan tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan Partai.

Tentang pendiskusian Plan yang dapat dikatakan baik, baru terbatas hingga Comite-comite Subseksi, sedangkan massa anggota begitu juga pimpinan-pimpinan Resort belum memiliki hakekat Plan, untuk apa Partai membikin Plan dan tujuan apa yang harus dicapai dengan Plan.

Kawan-kawan. Sebab-sebab lain yang merintangi pelaksanaan Plan ialah keadaan situasi sendiri.

Ketika Plan baru mau dilaksanakan di Sumteng timbul pergolakan DB-”PRRI” yang sangat mempengaruhi situasi dan pekerjaan Partai di daerah Jambi.

Penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh DB-”PRRI” terhadap kawan-kawan kita di Sumbar, dalam Partai timbul gejala-gejala menyerahisme yang menampakkan dirinya dalam bentuk tidak mau tahu terhadap Partai dan menghentikan sama sekali kegiatan organisasi.

Pentingnya usaha mengaktifkan dan memperkuat Partai dan organisasi-organisasi rakyat sebagai senjata di tangan rakyat tidak diyakini sepenuhnya, adanya sikap acuh tak acuh terhadap pemberontak DB-”PRRI”, sebagai pernyataan watak bimbang dan ideologi borjuis-kecil yang tidak teguh dalam perjuangan.

Karena belum adanya kesatuan ideologi, kesatuan tindakan dan kesatuan pendapat dalam Partai, karena belum adanya cara kerja dan pembagian pekerjaan yang tepat dalam Partai, kanena belum adanya koletifitas dalam badan pimpinan Partai, kelemahan-kelemahan ini tidak segera dapat diatasi, sedangkan di kalangan massa anggota dan rakyat membutuhkan sekali adanya pimpinan yang tepat dari Partai.

Tapi karena adanya kelemahan-kelemahan ini keinginan massa anggota dan rakyat untuk mendapat pimpinan dari Partai belum dapat terpenuhi oleh Partai. Karena tidak adanya pimpinan ini, tidak saja di kalangan rakyat, di dalam Partai pun, tampak adanya kebingunan yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut, menyerahisme seperti disebutkan di atas.

 Di sementara kader untuk menyelimuti ketakutan ini, kewaspadaan yang dianjurkan oleh Partai, digunakan sedemikian rupa bukan untuk memperkuat Partai mengkonsolidasi organisasi, tapi membenarkan dengan tidak mengadakan perlawanan terhadap pikiran-pikiran yang dengan atas nama kewaspadaan, sob dan sebagainya menghentikan sama sekali kegiatan-kegiatan Partai.

Kawan-kawan. Tentang belum berkuasanya ideologi proletar dalam Partai tidak saja berakibat tidak terurusnya masalah organisasi, dan tidak dapatnya Partai memberikan pimpinan pada rakyat, tapi juga berakibat timbulnya ketegangan-ketegangan dalam badan pimpinan Partai. Ketegangan ini timbul hanya disebabkan karena perbedaan-perbedaan pendapat — yang memang wajar — mengenai masalah yang dihadapi oleh Partai, ketegangan-ketegangan ini jika tidak segera diatasi akan sangat membahayakan Partai. Ucapan-ucapan “tidak mau aktif, terserah pada kawan-kawan”, “merajukisme”, dan sebagainya, sebagai pernyataan ideologi tuan tanah sering dikemukakan dalam Partai. Diskusi-diskusi yang diadakan oleh Partai lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan soal-soal seperti ini daripada mendiskusikan masalah tugas-tugas Partai. Dari pengalaman ini amat dirasakan sekali oleh Partai kita, betapa perlu dan dibutuhkannya oleh Partai adanya kesatuan ideologi, kesatuan pendapat, kesatuan tindakan dan kolektifitas dalam badan pimpinan Partai. Masalah mewujudkan kesatuan ini, merupakan masalah yang penting bagi Partai kita di daerah Jambi.

Disamping itu masalah menggunakan kritik otokritik sebagai suatu metode untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang timbul dalam Partai, juga memerlukan suatu pengertian dan penguasaan yang mendalam tentang prinsip-prinsip bagaimana cara menggunakannya, dan tujuan utama yang harus dicapai dengan kritik otokritik ini bagi kader-kader Partai. Tanpa memiliki prinsip-prinsip ini, kritik yang dimaksudkan untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang ada, malah menimbulkan sebaliknya yaitu mempertajam kontradiksi-kontradiksi itu. Karena belum menguasai sepenuhnya prinsip-prinsip ini, kritik otokritik yang pernah kita adakan belum dapat berhasil membawa perbaikan-perbaikan dalam Partai.

Demikian beberapa persoalan yang dihadapi oleh Partai kita yang menyebahkan Plan belum dapat dilaksanakan dengan baik. Disamping Comite-comite bawahan yang belum tersusun rapi, disamping kekurangan kader di tiap tingkat organisasi dan keterbatasan tenaga kader yang dapat digunakan untuk Partai, ditambah lagi dengan masih rendahnya teori kader, serta tipisnya rasa tanggung jawab kader terhadap Partai. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini, untuk dapat melaksanakan tugas-tugas Partai selanjutnya penting sekali artinya peringatan Kawan D. N. Aidit yang dikemukakan dalam laporan CC, memperbaiki cara kerja, langgam kerja Partai, mewujudkan kolektifitas dan menjaga kemurnian ideologi Marxisme-Leninisme dalam Partai. Terlaksana atau tidaknya tugas-tugas Partai, dalam pengalaman kita sepenuhnya bergantung kepada ada atau tidak adanya cara kerja dan langgam kerja yang tepat dalam Partai, bergantung kepada ada atau tidak adanya kesatuan ideologi, kesatuan pendapat dan kesatuan tindakan dalam Partai.

Kawan-kawan. Mengingat keadaan Partai kita pada waktu ini, pekerjaan memperkuat Comite-comite Partai, mengadakan pembagian pekerjaan di dalam Partai, mengaktifkan dan memperbarui Comite-comite Partai di semua tingkat, adalah pekerjaan yang mendesak yang harus segera dilaksanakan. Kemudian meneruskan pelaksanaan Plan, mengkonkretkan keanggotaan, mengintensifkan pembentukan Grup-grup, membuang cara kerja yang liberal dan cara berpikir yang subjektif. Jika pekerjaan ini dapat kita laksanakan, barulah ada kemungkinan bagi Partai kita untuk menduduki tempatnya melaksanakan tugas sejarah yang dipikul oleh kelas proletariat sebagai Partai pelopor, sebagai jenderal-staf dari massa rakyat yang mampu mempersatukan massa rakyat ke bawah panji-paji Partai, guna berjuang menghapuskan sama sekali kekuasaan imperialisme dan tuan tanah, menuju pembangunan Indonesia baru yang merdeka di lapangan politik, ekonomi dan kebudayaan, membangun masyarakat Indonesia yang demokratis, bersatu dan makmur sebagaimana yang dicantumkan dalam Program PKI.

Demikian sambutan kami terhadap Laporan CC pada Kongres Nasional ke-VI Partai yang disampaikan oleh Kawan D. N. Aidit, dan keterangan-keterangan kami terhadap persetujuan kami pada Laporan CC.

Terima kasih.

(Marxis .org)

21 September 1959

PRRI menerbitkan Uang Kertas Lokal

 Rp,-1,Rp.5,-. Rp.25 dan Rp 100.-Awas banyak pemalsuan saat ini,lihat koleksi Dr Iwan yang asli uang local PRRI

 

Tertulis

PRRI

membajar kepada pemegang Surat Ini

SATU RUPIAH

Ditanda tangani menteri Keuangan PRRI

Sjafruddin prawiranegara

Bagian belakang distempel

Pemerintah revolusioner

Menteri Keuangan

Republik Indonesia

Stempel pada uang Rp.1,- berbentuk oval  berbeda bentuknya dari pecahan lain yang bulat.;

 

a)Rp.1 (tidak pernah ditemukan di suamtera barat, ditemukan di jambi)

 

 

 

 

 

 

b)Rp.5,

 

 

 

 

 

 

c)Rp.25.

 

 

Koleksi asli

 

 

 

Ditemui juga uang PRRI yang palsu kertas dandisain berbeda kuga stempelnya

 

Asli

 

 

 

d)Rp 100.

 

 

 

 

24 Desember 1950

Tepat 24 Desember 1959, pada hari ulang tahun saya yang ke-17, Bapak dibawa ke penjara Padang.
Kami tidak boleh datang menjenguk ke penjara Padang, bahkan sanak famili juga melarang.

Ini terjadi karena kami semua perempuan, takut kalau terjadi apa-apa.
Perjalanan dari kampung saya ke Padang yang jaraknya sekitar 130 km cukup rawan ketika itu.

Tentara bertebaran, ada dimana-mana dan tidak jelas mana tentara lawan dan mana tentara kawan.

SUMBER:

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

Advertisements

6 responses to “KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1959(BERSAMBUNG)

  1. Salam,bapak saya nanang surya dari kota sawahlunto sumatera barat,saya sangat tertarik dgn tulisan bapak ini.banyak menambah pengetahuan saya tentang sejarah,terutama kejadian prri,selama ini saya hanya dapat cerita dari orang tua ataupun kakek saya saja.bapak saya ada uang rp 500 tahun 1952 ad stempel tulisan alat pembajaran jang sah menurut u.u darurat prri,di bagian lain ad tanda tangan katanya tanda tangan ahmad husein.apakah ini benar pak.mohon petunjuk.terimakasih

    • uang PRRI pecahan besar lima ratus dan seribu rupiah ditanda tangani oleh ahmad husein dan sjafruddin prawira negara,
      saat ini harganya sudah sangat mahal,,nanti bila ada yang mau akan saya buat film dokumenter tebntang PRRI dan di tayangkan d9i TV
      doakan semoga ada yang berminat agar sejarah perjuangan rakyat sumatera barat menentang komunisme dapat diketahui semua orang
      salam
      DR Iwan suwandy<MHA

  2. Salam bapak,kalau saya akan mnjual uang pecahan 500 tersebut apakah ada yg akan mmbelinya pak?,saya jg mndoakan film dokumenter tntang PRRI akan terwujud pak.terimakasih, salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s