KISI INFO INDONESIA 1960(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1960

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Maret 1960

Selama 3 bulan ibu masih sempat memonitor keadaan Bapak di penjara Padang.
Kadang kadang berkomunikasi lewat surat dan ibu mengirim makanan seperti Rendang, Samba Lado Tanak.

Suatu ketika Samba Lado Tanak yang dikirim ibu kembali, dan tidak ada khabar apa-apa.
Kakak saya yang jadi anggota Angkatan Laut mencari Bapak ke penjara di Padang.
Tidak ketemu Bapak, dokumen dan arsippun tidak ada.
Wallahu’alam.

Suatu kepedihan yang tiada taranya dan kami tidak dapat berbuat apa-apa.
Konon Bapak saya hilang bertiga, sejak awal ketangkap memang bertiga bersama pengawal pribadi Bapak, dan Bapak Mawardi Yunus, kepala Jawatan agama Sawahlunto.

Akhirnya kami tahu juga bahwa para tokoh yang berunding malam-malam dengan Bapak sebelum tertangkap, ternyata nasibnya serupa tapi tak sama.
Bapak saya hilang tiada tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya.
Kol Zain Jatim konon tertembak oleh tentara pusat.
Paman Burhan Jusuf menyerah ke tentara pusat.

 

 

 

Bantuan dari Jawatan Sosial

Setelah Bapak ketangkap, kami semua kembali ke Talawi, ke runah kami.
Selama itu juga masih sering tentara Pusat datang ke rumah kami, mereka ingin mangambil semua barang kantor yang masih ada di rumah.
Pernah suatu ketika rumah saya didatangi tentara pusat dan menanyakan segala sesuatu kepada ibu dan ibu menjawab dengan ramah dan penuh wibawa.

Ada juga saya lihat, ibu mengembalikan beberapa alat tulis seperti mesin tik.
Menurut ibu barang-barang itu adalah milik negera maka harus dikembalikan.

Suatu ketika saya kesal melihat kelakuan tentara-tentara itu, mereka terlalu sering mendatangi rumah saya, lalu saya marah dan menggentak mereka.
ibu saya jadi khawatir, karena tentara itu marah dan mengancam saya.
ibu mengatakan kepada mereka dengan lembut dan sopan walaupun getir.
…..Maafkan pak, dia kan anak-anak, dia tidak mengerti dan takut.
Mereka jawab …..Kalau takut bukan seperti itu, diam sajalah !

Ibu dan adik saya tinggal di Talawi dan adik saya bersekolah di Talawi.
Saya melanjutkan pendidikan SMA di kota Sawahlunto.
Saya bersekolah di SMA di sana pada tahun 1959-1960.

Waktu itu berkat bantuan Pak Onga (suami adik Bapak), saya mendapat bantuan dari Jawatan Sosial Rp. 120.000,- per bulan.
Tiap bulan saya mengambil ke kantor Jawatan Sosial, lumayan untuk biaya sekolah.

Tapi tidak lama karena Mak Etek saya (adik ibu) yang bernama Lukmanulhakim, kebetulan juga anggota Angkatan laut yang tinggal di Jakarta, pulang ke kampung memohon kepada ibu, agar diizinkan untuk membawa saya ke Jakarta.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

Akhir 59

di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

 

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

 

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

 

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

( Am St Dt Soda)

ketika terjadi pergolakan PRRI tahun 1959, Tergugat – Tergugat telah

membawa tentara untuk tinggal di rumah gadang tersebut, dan disebabkan

karena suasana adalah suasana Pergolakan yang Penggugat- Penggugat tidak

ketahui kenapa Tergugat-Tergugat bisa membawa sekelompok Tentara tersebuttinggal di rumah gadang yang Penggugat dan Tergugat tempati tersebut. NamunTergugat I menempatkan sejumlah tentara perang tinggal di rumah Gadangtersebut adalah salah satu cara bagi Tergugat Tergugat I dan anggota kaumnyauntuk mengusir kaumTergugat tinggal dan menguasai rumah gadang tersebut.

 

Namun yang pasti keberadaan Tentara Tentara Perang masa PRRI itu tentu

membawa ketakutan bagi kaum Penggugat-Penggugat, sehingga mulai semenjakitu kaum Penggugat turun dari rumah dan mulai meninggalkan rumah gadanguntuk tinggal di rumah yang di bangun oleh masing masing anggota kaumPenggugat

 sumber info

 

P U T U S A N

No. 2225 K/Pdt/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

M A H K A M A H A G U N G

 

 

 

 

 

 

 

 

 

memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut

dalam perkara :

I a. SYAMSUL BAHRI DT. MUDO, bertempat tinggal di Jalan

Bunga Seroja No 47 RT 012/RW 05 Kelurahan Cipete, Kecamatan

Cilandak Jakarta Selatan, adalah Mamak Kepala Waris Dalam Kaumnya,

b. YUNIDAR MOERSYID, bertempat tinggal di belakang Komplek

Perumahan Pemda Gurun Lawas No. 2, Kecamatan Lubuk

Begalung, Kota Padang, adalah anggota kakak kandung sekaligus

kaum dari Tergugat I.A di atas,

II a. MARLIYUS, bertempat tinggal di RT 03/RW 04 Gurun Bagan

Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok,

b. FITRI NOVA, bertempat tinggal di RT 03/RW 04 Gurun Bagan

Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok, adalah

istri Tergugat II.a di atas,

III H. RUSLI CHATIB SULAIMAN, bertempat tinggal di Sinapa Piliang,

Kelurahan Sinapa Piliang, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, dalam

hal ini semuanya memberi kuasa kepada USPARDI, SH, Advokat,

berkantor di Jalan Raya Selayo KM.3, Solok, Padang, Kecamatan

Kubung, Kabupaten Solok,

Pemohon Kasasi dahulu Tergugat Ia, Ib, IIa, IIb, III/Para Pembanding;

m e l a w an

1 RAFAI SAMPONO MARAJO, bertempat tinggal di Jalan Latsitarda

No. 9 RT 03 / RW 02 Kelurahan VI Suku Kecamatan Lubuk Sikarah

Kota Solok, adalah Mamak Kepala Waris Dalam Kaum,

2 BUSRI DT. RAJO BUJANG, bertempat tinggal di Jalan Latsitarda No.

9 RT 03 / RW 02 Kelurahan VI Suku Kecamatan Lubuk Sikarah Kota

Solok, adalah adik kandung sekaligus anggota kaum Penggugat I di atas,

Para Termohon Kasasi dahulu Penggugat I dan II/Para Terbanding;

 

Bahwa berdasatkan kepada hal hal yang telah Penggugat Penggugat uraikan

tersebut, maka mohon kiranya Ketua atau Majelis Hakim putusan yang amarnya

berbunyi sebagai berikut:

1 Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya;

2 Menyatakan syah Penggugat I adalah Mamak Kepala Waris dalam kaum

Penggugat-Penggugat dan Tergugat I adalah mamak Kepala waris Dalam Kaum

Tergugat -Tergugat I;

3 Menyatakan sah harta perkara adalah merupakan harta pusaka tinggi kaum

Penggugat-Penggugat;

4 Menyatakan perbuatan dari Tergugat-Tergugat dan kaumnya yang

mensertifikatkan tanah perkara atas nama Hajjah Rawani adalah suatu Perbuatan

melawan Hukum yang sangat merugikan kaum Penggugat- Penggugat;

5 Menyatakan perbuatan dari Tergugat III yang memberi Rekomendasi kepada

Tergugat IV untuk lahirnya Sertifikat Hak Milik atas nama Hajjah Rawani (kini

almarhum) adalah suatu perbuatan melawan hukum;

6 Menyatakan perbuatan dari Tergugat IV yang menerbitkan sertifikat hak milik

yang di mohonkan Tergugat Tergugat I dan kaumnya atas nama Hajjah Rawani

adalah suatu Perbuatan Melawan Hukum yang sangat merugikan kaum

Penggugat-Penggugat;

7 Menyataklan Lumpuh kekuatan berlakunya (buitten Effekstellen) Sertifikat Hak

Milik No. 356 GS tanggal 29 Agustus 1992 No. 407/1992 atas Hajjah Rawani,

yang telah dibalik namakan atas nama Yunidar Moersyid (Tergugat A.l) dan Dra.

Martini ( kini almarhumah);

Menyatakan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi : I.a. SYAMSUL

BAHRI DT. MUDO, I.b. YUNIDAR MOERSYID, II.a. MARLIYUS, II.b. FITRI

NOVA, III. H. RUSLI CHATIB SULAIMAN, tersebut tidak dapat diterima;

Menghukum Para Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam

tingkat kasasi ini sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) ;

 

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung

pada hari SELASA tanggal 05 FEBRUARI 2013

 

oleh Prof. Dr. VALLERINE JL. KRIEKHOFF, SH., MA., Hakim Agung

 

yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai

 

 Ketua Majelis, Dr. HABIBURRAHMAN, M.Hum.,

dan H. DJAFNIDJAMAL, SH., MH., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota,

 

 dan diucapkan dalamsidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim –

 

Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh NAWANGSARI, SH., MH., Panitera

Pengganti dengan tidak dihadiri oleh kedua belah pihak ;

Hakim-Hakim Anggota :

 

K e t u a :

Ttd/ Dr. HABIBURRAHMAN, M. Hum. Ttd/

Ttd/ H. DJAFNI DJAMAL, SH., MH. Prof.Dr. VALERINE JL. KRIEKHOFF, SH., MA

Biaya-biaya : Panitera Pengganti :

1 M e t e r a i ……………… Rp. 6.000,- Ttd/

2 R e d a k s i ……………..Rp. 5.000,- NAWANGSARI, SH.,MH

3 Administrasi kasasi …….. Rp.489.000,-

Jumlah ………………….. Rp.500.000,-

Untuk Salinan

Mahkamah Agung RI

a.n. Panitera

Panitera Muda Perdata

 

 

1960

 

Tahun 1960, saya berangkat ke Jakarta bersama Mak Etek.
Karena Mak Etek itu memakai baju tentara, maka saya diisukan di kampung bahwa saya dibawa oleh tentara Pusat !

Diskriminasi untuk anak ex. PRRI di SMA Budi Utomo Jakarta

Saya dimasukkan ke SMAN I Budi Utomo Jakarta.
Ternyata cukup banyak juga anak-anak ex-PRRI yang bersekolah disitu.
Karena kami sudah berantakan, namanya saja kami anak-anak yang datang dari daerah bergolak.

SMA I Budi Utomo ketika itu adalah sekolah yang terpopuler dan terbaik di Jakarta.
Untuk bisa mengikuti pelajaran saya terpaksa mengambil kursus ekstra.
Di SMA Budi Utomo saya mendapat kesempatan belajar seperti siswa lainnya, dan kamipun dapat meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Kira-kira 2 bulan sebelum ujian, semua siswa disuruh mengembalikan buku yang dipinjam.
Kamipun dengan patuh mengembalikan buku-buku itu hanya siswa terheran-heran, kita mau ujian kok disuruh mengembalikan buku.

Ternyata pengembalian buku itu adalah adalah satu tahapan, untuk mengeluarkan kami siswa eks PRRI oleh kepala sekolah.
Tidak lama setelah urusan buku selesai, kami siswa eks PRRI dipanggil dan diberi surat, agar kami semua siswa eks PRRI disuruh pindah kesekolah lain.

Konon sang kepala sekolah takut nanti, kami-kami siswa eks PRRI tidak akan lulus dan dapat menjatuhkan prosentasi kelulusan sekolahnya.
Ini adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.
Mereka hanya mempertahankan nama sekolahnya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba tante saya Rostinah mengirimkan tiket garuda pulang pergi untuk saya, saya disuruh datang ke Tanjung Pinang.

Sampai di Tanjung Pinang, setelah berunding dengan abang saya yang tadinya di Medan, kebetulan juga sedang beada di Tanjung Pinang.
Diputuskan kalau saya sekolah saja dan menamatkannya SMA di Tanjung Pinang.

Berarti saya harus mengulang di kelas III B, dan selama 1 tahun saya di Tanjung Pinang, mengikuti ujian dan lulus pada tahun 1961.
Dari kejadiaan semacam ini jelas sekali bahwa sekolahpun takut sama anak-anak PRRI.
Namun apakah mereka sadar bahwa reformasi yang kita gulirkan pada tahun 1998 itu adalah perjuangan PRRI, 40 tahun yang lalu ?

Artinya dibalik kesedihan kami, terselip suatu kebanggan menjadi orang Minang yang tahu dengan heriang jo gendiang, alun takilek alah takalam, merasa malu kalau tidak pandai dan pandai memprediksi jauh ke depan.
Inilah barangkali berkat filosofi urang Minang
Alam takambang manjadi guru, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (AlQuran).

Selama di kota Tanjung Pinang saya tinggal dengan tante saya, uang sekolah dibayari oleh abang saya.
Saya masuk SMA Negeri jurusan B.
Kebetulan saya hanya satu-satunya perempuan dalam kelas saya.
Dengan modal nekat serta uang pemberian Abang, saya cari tiket kapal laut untuk berangkat ke Jakarta.
Dalam pelayaran di atas kapal laut, saya dititipkan kepada teman pak Etek Azwaer Rauf (suami Etek saya Rostinah).

Dengan berbagai usaha akhirnya saya berhasil masuk Pertguruan Tinggi Fakultas Pertanian UI, yang sekarang berubah menjadi IPB.

Enam bulan pertama saya dibantu oleh tante saya untuk bayar indekos.
Untung setelah itu saya dapat asrama Yayasan, dan biaya lumayan agak ringan, Selama setahun saya dibantu oleh mak Etek saya.
Setelah itu saya diberi biaya ikatan Dinas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tak lama kemudiaan saya masuk asrama putri IPB.

Abang saya membantu menguruskan pensiun untuk ibu karena Bapak memang seorang anggota pegawai negeri.
Beberapa tahun kemudian ibu mendapat uang pensiun, dan ibu saya minta kerelaan kepada saudara saya, mengikhlaskan uang pensiun semuanya dikirimkan untuk saya.
Itu tentang saya, tentang kakak dan tentang adik-adik saya, disekolahkan oleh ibu, kebetulan kakak saya yang perempuan tertua sudah menjadi guru.

 

 

Kakak saya perempuan yang kedua dapat masuk SGA di Bukittinggi.
ibu saya relatif masih muda saat ditinggal oleh Bapak, tanpa ada harta atau simpanan untuk menyekolahkan anak-anak.
ibu yang berumur 45 tahun, yang menjadi janda, mencari uang untuk biaya hidup dan sekolah saudara-saudara saya dengan membuat dan menjual kue-kue.

Membuat Kacang Tojin yang ditumpangkan di kedai-kedai serta menjadi perias penganten, yah apa sajalah yang dapat menghasilkan uang.
Memang tidak mudah, kadangkala ibu mengantarkan kue-kue itu ke kedai yang lumayan jauh dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
Kakak saya perempuan yang paling tua bernama Zoerni, untung masih mau tinggal dan menjadi guru di kampung, sehingga bisa mendampingi ibu dalam mangarungi hidup.

Jasa kakak Zoerni ini cukup besar dan saya bersaudara sangat berterima kasih kepada beliau.
Disamping itu juga sekali-sekali biaya hidup dibantu oleh abang saya yang bernama Imran.

Itulah suatu perjuangan ibu saya, tidak mudah dan tidak lancar, tetapi dapat dilewati.
Perjuangan yang memerlukan keteguhan hati.
Semua itu dijalani dengan lapang dada.
ibu berprinsip, yang penting semua anak-anaknya sekolah dan kebetulan menjadi pegawai negeri.

Karena ibu saya mempunyai pemikiran yang moderen, bagi beliau merasa penting untuk memberikan pendidikan kepada anak anaknya.
Bagi ibu saya, semua anak-anak perlu mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain atau tidak menyusahkan orang lain.
Bapak hilang tak tahu rimbanya, hanyut tak tahu muaranya

Kalau dipikir, kenapa tujuan PRRI itu sangat bagus, akan tetapi malah menimbulkan perang saudara.
Perang yang menimbulkan banyak sekali kerugian, baik fisik, materi maupun sumberdaya manusia.
Sangat banyak cendekiawan Minang yang menjadi korban, belum lagi korban calon intelektual Minang, bahkan korban sosial budaya yang tidak terukur nilainya.

Karena perang saudara pasti memakan anak sendiri, hilangnya satu generasi.
Bapak saya, orangnya sangat jujur, disiplin dan rajin serta penuh tanggung jawab.
Beliau sangat disegani di kampung saya.
Oleh karena itu ketika zaman pendudukan tentara Jepang, konon bapakku disayang dan dipercaya oleh bosnya.

Bapak tak jadi ditembak Belanda, karena beliau tokoh Adat

Sewaktu zaman Belanda agresi ke 2, bapakku ditangkap oleh Belanda.
Beliau ditodong dengan senjata, bapakku pasrah kepada Allah.
Ternyata Allah berkehendak lain, sebelum ditembak, Bapak digeledah dan menemukan identitas bahwa Bapak adalah seorang tokoh adat.
Alhamdulillah akhirnya dibebaskan.
Tetapi di zaman PRRI kenapa Bapakku sudah ketangkap dan dipenjarakan oleh tentara pusat, malah hilang tidak tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya…!
Wallahuallam.

Salah satu masalah yang membuat ibu sedih adalah rusaknya rumah gadang berukir yang sudah tua.
Kerusakan itu dipercepat karena rumah gadang itu dijadikan asrama oleh tentara pusat.
Didepan rumah gadang kami dulunya ada Balai-Balai.
Tapi kini Balai-Balai itu juga sudah tiada, dan berganti dengan rumah biasa.

Rumah Gadang kami sudah dibangun kembali, tanpa ada Balai-Balai, tapi tiada yang memelihara dengan baik.
Ini karena pada umumnya keluarga kami sudah merantau.

Sekarang hanya tinggal 2 keluarga di kampung.
Satu kampung itu bernama Patapang Gurun, kampung yang strategis di desa kami, peninggalan nenek-nenek kami.
ibu saya sangat risau dengan Rumah gadang, dan beliau selalu berpesan agar rumah gadang dipelihara baik-baik.
Karena ibu tahu bahwa rumah gadang itu merupakan lambang keluarga besar dan diharapkan dapat mempersatukan keluarga besar.

Memang sudah sepantasnya ibu saya mendapat penghargaan.
ibu tinggal di kampung, sewaktu mudanya tidak boleh melanjutkan sekolah ke rantau oleh bapaknya karena bapaknya seorang
angku palo, jadi tidak boleh anak gadisnya pergi merantau.
ibu menikah dengan Bapak saya, yang sebelumnya tidak kenal.
Hal semacam ini terjadi karena suami adalah pemberian dari orang tua.
Bapak saya juga pernah menjadi angku palo di Sijantang Talawi.

Ketika ibu ditinggal suami, sedangkan anak yang perlu diurus enam orang perempuan yang memerlukan biaya besar.
Untung saja ibu tinggal di kampung, biaya rumah, makan tidak masalah.
Bapak sudah membuatkan rumah untuk kami.
ibu punya sawah ladang sendiri.
ibu pernah mendapat penghargaan sebagai ibu teladan di kampung sampai dua kali dari Kecamatan, sayangnya penghargaan itu tidak ada sertifikatnya.
Alangkah baiknya bila sertifikat itu ada, dapat dilihat-lihat oleh anak, cucunya nanti di kemudian hari.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

 

 

30 Januari  1960

 

dokumen tentang

 PRRI menyerang POS Brimbob di KUNTU lengkap dengan skets situasinya

Dokumen Polisi Negara Mobile Brigade Kompi  5135 Komisariat RIAU

Berita Atjara/Laporan

Pada ini hari kamis tanggal 27 oktober 1900 enam puluh djam 11.00 siang                     saya Boeang Ngadiman Pangkat Adjudan Inspektur Polisi Tingkat I ,register no 2767 ,dewasa ini sementara pada Mobile Brigade Kompi 5135 di Pakan Baru, ,emerangkan dengan sesungguhnya bahwa:

Sewaktu saja mendjabat Komanda Sub.Sektor B.II Kuntu,maka pada hari Sabtu tanggal 30 Djanuari 1960 kira-kira djam 08.00 pagi Pos Kuntu diserang oleh pihak gerembolan PRRI dan dapat diduduki oleh mereka.

Maka setelah kami mengadakan konsolidasi ternjata seorang anggota Mobile Brigade Kompi 5135 nama Soedardjo Pangkat Agen Polisi tidak ada(hadir).

Setelah kuntu kami rebut kembali tanggal 9 januari 1960, maka diadakan penjelidikan/mentjari anggota tersebut ternjata tidak ada ketemu.

Oleh Karena anggota tersebut tidak ada di Kuntu kemudian kami mengadakan penjelidikan(opsporing)/usaha mentjarinya ternjata  tidak ada hasilnja.

Berhubung jangka waktunya  telah liwat enam bulan  hingga sekarang belum djuga kembali, maka hal mana kami njatakan hilang.

Demikianlah Berita atjara/Laporan ini kami perbuat  dengan lurus  dan sebenarnja  serta ingat sumpah djabatan,ditutup dan di tanda tangani di Pakan baru pada tanggal 2 Oktober 1960

Jang membuat berita Atjara/Laporan

Tanda tangan

(Boeang Ngadiman)

Mengetahui

Komandan Mobile Brigade

Kompi 5135

Inspektur Tingkat Satu(R.Imam Wahono)

 

 

 

Lampiran gambar skets penyerangan pos kuntu

(Dr Iwan)

 

8 Pebruari 1960

 

Proklamasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) dikumandangkan hari ini. Proklamasi RPI ini tertunda semenjak tanggal 17 Agustus 1959.

Presiden merangkap Perdana Menteri RPI adalah Sjafruddin Prawiranegara dengan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) adalah Muhammad Natsir. Dalam pasal 3 UUDnya disebutkan bahwa wilayah negaranya “meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia 17 Agustus tahun 1945”.

Tujuan RPI ini adalah untuk mempersatukan PRRI/Permesta dengan DI/TII Daud Beureuh di Aceh dan DI/TII Kahar Mudzakkhar di Sulawesi Selatan.

Benderanya tetap merah-putih, namun ada sejumlah bintang di tengah yang mana setiap bintang melambangkan masing² pemberontakan (negar-bagian) saat itu yang berada di bawah RPI.

KSAD RPI Brigjen Ventje Sumual menunjuk Henk Lumanauw sebagai Wali-Negara RPI untuk Sulawesi Utara. RPI ini ditentang dengan keras oleh Waperdam PRRI / Kepala Pemerintahan PRRI di Sulawesi Joop Warouw serta Panglima Besar APREV Alex Kawilarang.

Dalam pengumumannya, Ketua Badan Pekerja Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) Permesta, Henk Rondonuwu menolak RPI ini. Meskipun RPI ini telah berdiri, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa – Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT RI secara resmi dan dihadiri oleh tokoh² militer dan sipil Permesta. Sedangkan oleh pihak perwira Permesta di sebelah utara seperti Mayjen Alex Kawilarang, Kolonel D.J. Somba, Letkol Wim Tenges, menolak RPI ini, apalagi mengibarkan bendera baru (RPI) di wilayahnya dan tetap memakai lambang² NKRI seperti Pancasila dan Merah Putih dalam logo maupun atribut lainnya. Distrik/WK-III dibawah komando Letkol Wim Tenges memiliki hampir separuh kekuatan pasukan Permesta, dan merupakan WK yang paling kompak dan disiplin dari antara WK lainnya.

Masalah RPI ini berbeda dengan PRRI. Ka

lau PRRI hanyalah kabinet tandingan, maka RPI lebih merupakan negara dalam negara (negara tandingan). Hal ini memperkuat anggapan sementara orang bahwa gerakan daerah ini adalah gerakan separatisme. Menurut pandangan para pemimpin PRRI dan Permesta, RPI yang lebih banyak merupakan gagasan tokoh² politik, direncanakan sebagai taktik dalam perjuangan PRRI.
Usia RPI sejak direncanakan untuk kemudian diproklamasikan pada September/Februari 1960 hanya 2 tahun.

(panguyuban Pulukadang web blog)

 

10 Maret 1960

Pada tahun 1975 saat bertugas di Solok sepagai Perwira Kes Polda SUMBAR dengan pangkat Letnan satu Polisis ,saya memelihara dan menganti oli keandaraan Dinas saya Jeep Willys tahun 1950 kepala tinggi ex perang Korea di bengkel Polda SUMBAR(saat itu masih KOMDAK) di belakang bengkel kereta api jalan sawahan Padang, saya menemukan beberapa dokumen dari kertas bekas milik Brimob yang ditaruh didalam kardus sebagai kertas bekas, antara lain menemukan

Dokumen Brimbob dari Komando Mobil Brigade Daerah enam Sumatera barat dan RIAU yang meminta pengantian Sepatu untuk Pasukan Rangers dari SPM Porong sebagai berikut.:

Pasukan rangers dari SPMB Porong ,mulai tanggal 10 maret sampai Oktober 1960 telah menjalankan tugas selama tujuh bulan sebagai “Pengempur” di Komda (Komando Mobil brigade_ daerah VI Sumatera Barat dan RIAU pasukan di tempatkan diwilayah KODIM Padang dan kemudian dipindahkan ke daerah RTP III Sukaramai dan Lintau,dan dari daerah Sumatera Barat juga mempertahankan daerah RIDAR(Riau Daratan),lapangan tempat mereka bertugas merupakan daerah rawa dan hutan serta pegunungan sehingga sepatunya lekas rusak. Dan hancur oleh karena itu diminta pengantiannya.

Menginggat Beratnya tugas dari Ton(Peleton) Ranger yang terus-terusan mengadakan pengempuran di tempat-tempat Gerembolan sehingga sepatu yang mereka pakai telah hancur sebelum mencapai waktunya (enam bulan) disulkan agar 34(tiga puluh empat) sepatu dstnya.

Lihatlah dokumen asli tersebut dihalaman berikut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maret 1960

Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.

Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao.

Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.

Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.

Sumber nagari web blog

 

 

 

Maret 1960

Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.

Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao.
Kini terjadi lagi penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
Duduk kejadian adalah sebagai berikut

Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.

Seperti nagari Tabek Patah, Malintang, Salimpaung, Mandahiling Lawang, Situmbuk, Komango, Pasir Lawas, Sei Tarab dan Tiga Batur.
Semua murid lebih kurang 150 orang.

 

Sumber

Epy Buchari

Tambahan informasi

gabungan yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958.

2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai Bukittinggi 21 Mei 1958.

3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara dipimpin oleh Brigjen

Jatikusumo.

4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu

Sutowo.

Sedangkan untuk menumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan

3Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol Rukminto Hendraningrat, yang terdiri

dari :

Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin oleh

Letkol Sumarsono.

Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin oleh

Letkol Agus Prasmono.

Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado, dipimpin

oleh Letkol Magenda.

Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol

Rukminto Hendraningrat

 

Pemberontakan Dewan Banteng yang dipimpin oleh Ahmad Husein akhirnya dapat  dipatahkan oleh Angkatan Perang Republik Indonesia yang melakukan “Operasi 17 Agustus”di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu kurang lebih satu minggu. Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat itu, dengan sendirinya menimbulkan kekacauan, baik terhadap pemerintah daerah, maupun terhadap kehidupan dalam masyarakat, setelah Ahmad Husein mengambil alih fungsi Gubernur Roeslan Muljodihardjo, yang diangkat oleh pemerintah Pusat di Jakarta. Kabinet Karya yang dipimpin

Ir. Djuanda memutuskan pengiriman misi yang dinamakan “Misi Pemerintah untuk

Normalisasi Pemerintah dan Masyarakat Sumatera Barat”. Misi Pemerintah yang dipimpin Wakil Perdana Menteri I Hardi, SH yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa menteri, pejabat-pejabat tinggi dari departemen-departemen dan beberapa perwira Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat, tiba di Padang, satu hari setelah operasi militer dianggap berhasil.

Berkat operasi militer yang cepat, niat luar negeri, khususnya Amerika Serikat untuk campur tangan dalam masalah dalam negeri Indonesia secara terbuka, dapat dihindari.

 

P.R.R.I

 

di nagari Manggopoh
Naskah asli oleh : Deka Maita Sa
Diedit ulang tg. 20 – 9 – 2012 oleh : DR. Mestika Zed, Abraham Ilyas, Drg.

Manggopoh tidak mudah ditaklukkan tentara Soekarno

Dua tahun setelah dimulai
Tujuan perang belum tercapai
Walau ke Manggopoh telah sampai Kedua pihak intai-mengintai

Ketika APRI pergi menyerbu
Penunjuk jalan sangat perlu
Dulah Palak sedia membantu
Saat menyusuri Batang Tiku

Dulah Palak telah berjasa
Kepada Pusat Pemerintah Jakarta
Dia disebut sebagai mata mata
Dulah berpihak kelompok berbeda

Walau tak disepakati Ninik Mamak
Pilihan berbeda dipilih Palak
Kepada APRI Dulah berpihak
Niat di hati susah ditebak

Balas jasa dari APRI
Setelah Pusat menguasai nagari
Dulah diangkat sebagai Wali
Begitulah manusia menyalurkan ambisi

Karena belajar peta situasi
Musuh mengubah konsep strategi
Nagari perlu segera diduduki
Tahun 60 perubahan terjadi

Sesudah tahun enam puluh
APRI gunakan kekuatan penuh
Pertahanan PRRI banyak yang jatuh
Kini nagari diduduki musuh

Guna menduduki daerah musuh
Akhir Mei tahun enam puluh
APRI bergerak secara penuh
Memakai truk berpuluh puluh

Operasi Katenggang mereka namakan
Berjalan kaki, naik kenderaan
Jumlahnya banyak mungkin ribuan
Bersenjata berat maupun ringan

Tentara Pusat sangat berpengalaman
Sudah dewasa ada yang jenggotan
Veteran perang zaman kemerdekaan
Menghadapi TP bukanlah padanan

Sukarelawan PRRI pemuda remaja
Periode asuhan ayah bunda
Senang bergelut sambil bercanda
Kini terpanggil menyelamatkan bangsa

Dalam pertempuran di saat perang
Terjadi kelahi tidak seimbang
Hanya bermodal besar karengkang
Melawan APRI yang telah matang

Ibarat cerita berakhir sedih
Meskipun senjata sudah canggih
Ketika bertempur belum dilatih
Kurang disiplin, kerap berdalih

H. Korban berjatuhan pada rakyat sipil

Wali Perang Datuk Rangkayo Hitam
Beliau mengingatkan ajaran Islam
Masyarakat jangan menyimpan dendam
Semua sengketa diakhiri salam

Kewajiban pemimpin sejak dahulu
Pemuka masyarakat, para Pangulu
Tempat bertanya, tempat mengadu
Kemenakan dibimbing, anak dipangku

Sahabuddin Datuk Rangkayo Hitam
Ibarat pelita di tempat yang kelam
Sumber informasi bagi yang awam
Karena masyarakat banyak tak paham

Sahabuddin menjabat wali nagari
Sebagai sumber bermacam informasi
Guna mendukung perjuangan PRRI
Menyelamatkan negara, membela nagari

Bukan karena hambatan musim
Informasi belum menjadi sistim
Sarana komunikasi sangat minim
Kabar berita sulit dikirim

Sebagai Wali punya kewajiban
Mengatur nagari dan anak kamanakan
Agar bersatu tidak terceraikan
Ibarat sapulidi, satu ikatan

Dalam situasi perang saudara
Dendam lama sangat berbahaya
Bisa terjadi kehilangan nyawa
Masalah kecil besar akibatnya

Saat perang kerap terjadi
Dendam lama dan sakit hati
Termasuk urusan masalah pribadi
Akibatnya fatal ngeri sekali

Kejadiaan si Akuik mati ditembak
Dia salah mengikuti kehendak
Janda gerilyawan yang dia ajak
Dijadikan isteri menurut syarak

Walaupun syah menurut aturan
Hukum perang tiada kepastian
Yang lemah langsung ditelan
Yang kuat berlantas angan

Kisah cinta membawa getir
Kini menjadi buah bibir
Jasad si Akuik ditimbun pasir
Di tepi sungai tenang mengalir

Saat menunggu pondok di ladang
Di tempat sepi keadaannya lengang
Mak Cangkuah ditimpa malang
Anak beranak dibunuh orang

Walau Cangkuah tidak terlibat
Mendukung PRRI ataupun Pusat
Nasib sial tetap mendekat
Begitulah derita menimpa rakyat

Kejahatan perang perlu didaftar
Dangau Mak Cangkuah juga dibakar
Mencari pelaku sangatlah sukar
Sampai kini tak pernah terbongkar

Agar gerilyawan segera kembali
Isteri disuruh membujuk suami
Rumah diberi bertanda kali
Nama dituliskan jelas sekali

Nama ditulis di dinding rumah
Hurufnya hitam atau merah
Tanda keluarga ada yang bersalah
Menjadi pemberontak melawan pemerintah

Isteri juga wajib melapor
Sekali seminggu datang ke kantor
Ini bukan cerita rumor
Begitulah Soekarno menebar teror

Oleh tentara berwajah seram
Pertanyaan diberikan macam macam
Di mana suami kini berdiam
Apakah pernah pulang malam

Di book istilah dari penguasa
Maksudnya isteri dijadikan sandera
Ketika malam nginap di pos jaga
Setelah pagi kembali ke keluarga

Peraturan kejam, aneh sekali
Perbuatan cemo di adat nagari
Perempuan tidur di dalam tangsi
Bayi di rumah ditinggal sepi

Karena suami belum tertangkap
Di Pos tentara isteri menginap
Tidur kedinginan di kamar gelap
Sering menangis disertai ratap

Ini kejahatan luar biasa
Rezim Soekarno punya dosa
Adat nagari mereka perkosa
Perlu diingat anak bangsa

Datuk Soda meninggalkan pesan
Untuk diingat anak kemenakan
Dosa Soekarno bisa dimaafkan
Kesalahan rezim tak boleh dilupakan

I. Asal mula pelanggaran Hak Azasi di Indonesia

Ketika Manggopoh diduduki APRI
Banyak penduduk pergi mengungsi
Rimba Antokan berhutan Kopi
Tempat ijok paling disukai

Waktu APRI menempatkan serdadu
Pos didirikan di Balai Sabtu
Markas diberi pagar bambu
Penduduk bimbang mulai ragu

Inilah kisah pasca PRRI
Ceritanya penuh dengan ironi
Walau dikeluarkan amnesti abolisi
Tapi Soekarno tidak menepati

Ketika OPR naik bintang
Rakyat ketakutan bukan kepalang
Salah sedikit kena lampang
Kalau membantah tinju melayang

Asal mulanya pelanggaran Hak Asasi
Saat penguasa lakukan interogasi
Lampang melampang selalu terjadi
Terhadap tertuduh ataupun saksi

OPR bertindak over akting
Susah diajak untuk berunding
Karena butahuruf, gembala kambing
Kini diberi peranan penting

Begini kebiasaan raja memerintah
Dilarang bertanya, haram membantah
Kalau menghadap wajib menyembah
Pemimpin dan rakyat perlu dipisah

Ketika pemerintahan tidak cocok
Orang Minang menjadi syok
Tiada kekuasaan yang dipandang elok
Banyak terjadi sogok menyogok

 

Mei 1960

 

 

Peristiwa Penarik, Muko – Muko, 1960

Peristiwa ini diangkat dari pertempuran antara dua peleton pasukan dari kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Suwandi (Danton II) dan Aiptu Soepeno (Danton III) dengan satu Batalion PRRI/Permesta.

Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori beberapa perwira menengah AD di Sumatera. Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta.


Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan Operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus.

Pada akhir 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak menyerah.

Namun demikian, sampai tahun 1961 banyak sisa pasukan PRRI. Salah satunya batalion dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera. Batalion ini dipersenjatai senjata bantuan Amerika Serikat pada awal 1958.

Para prajurit infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garand, M1 US Carbine, Thompson submachinegun, serta mortir 60mm dan 80mm. Menurut nara sumber dari Kompi A Brimob Rangers, Carbine mereka dari versi jungle popor lipat, yang berarti adalah M1A1 versi paratrooper.


Dua peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan Pantai Ipuh pada Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801.

Seperti standar pendaratan operasi ampibi, diawali tembakan senapan mesin 12,7mm dari kapal pendarat.

Setelah penembakan baru satu kompi Brimob Rangers mendarat. Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk membantu Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya dibantai oleh Batalion Nawawi.

Satu Batalion Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari PRRI.

Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan didalam markas hanya tinggal tesisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.


Pasca pendaratan,

dua kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di Kecamatan Ipuh.

Mereka kemudian bergabung dengan satu Batalion TNI AD dari Bangka Belitung dibawah komando Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak lima kilometer di depan infanteri.

Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalion Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama. Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak.

Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “istirahat makan…….!!!”.

Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu.

Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga percuma juga untuk menyerang.

Selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.

Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, muko-muko (saat ini menjadi daerah transmigran).Pada jam 5 sore, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan di tengah hutan.

Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan. Setelah melapor kepada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata kompi staf batalion dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat.

Musuh yang beristirahat diperkirakan 300 orang, sedang menunggu giliran menyeberang sungai. Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang.

Pada saat itu (1960) Brimob Rangers yang menggunakan Carbine, submachinegunCarl Gustav dan Bren MK3.

Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh danton sebaik mungkin. Kemudian Danton memberikan komando, tembak….!!!

Desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan. Pada tembakan magasen pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai teori.

Namun pada magasen kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.

Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 m, namun yang terjadi kemudian adalah pertem-puran jarak dekat.

Jarak antara Brimob Rangers dan musuh menjadi sekitar 5-6 m. Pertempuran yang terjadi tanpa garis pertahanan.

Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak pewira tewas.

Tentara PRRI dengan perlengkapan lengkap yaitu Bazooka berhasil melepaskan beberapa tembakan dan memakan korban Agen Polisi Suharto yang terkena pecahan peluru Bazooka di punggungnya.

Korban lain adalah Brigadir Fattah yang terkena tembakan pada kakinya. Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena kelelahan.

Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan petempuran.

Beberapa menit setelah kontak selesai, dua orang anggota pasukan PRRI melakukan perembesan masuk ke daerah pertahanan peleton III dengan membawa senjata Garand.

Bigadir Ketut Wahadi, Danru 1 Peleton III yang mengetahui hal itu, spontan membidikkan senjata Jungle-nya dan dua tembakan dilepaskan tepat mengenai kepala kedua tentara PRRI. Anggota regu 1 lain mengambil posisi tiarap dan menunggu penyusup lain, ternyata tidak ada tentara PRRI yang menyusul, hanya dua prajurit malang itu.

Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan sekitar 10 perwira tewas. Senjata yang diringgalkan adalah puluhan M1 Garand, mortir dan Bazooka.

Para anggota peleton 1 lega, karena musuh hanya sebentar menggunakan senjata tersebut. Jika senjata digunakan secara optimal ceritanya bisa lain. Agen Polisi Kartimin terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak.

Dalam pertempuran ini tidak ada satupun prajurit Brimob Rangers tewas, hanya dua korban luka Selanjutnya korban luka dibawa ke Palembang untuk perawatan.
(anton a setyawan)

 

 

 

KISAH SATUAN PELOPOR BRIMOB -PERISTIWA PENARIK, MUKO-MUKO, PERTENGAHAN TAHUN 1960

“Hasil wawancara dengan mantan anggota Kompi A Brimob Rangers. Mei 2008″

 

Brimob di Aceh

Peristiwa pertempuran antara dua peleton pasukan dari Kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Ketut Wahadi dengan satu batalyon pemberontak PRRI/Permesta.

Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori oleh beberapa perwira menengah Angkatan Darat di Sumatera.

Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta. Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus.

Pada akhir tahun 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak yang menyerah. Namun demikian, sampai dengan tahun 1961 banyak sisa pasukan pemberontak PRRI.

Salah satunya batalyon yang dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera.

Batalyon ini dipersenjatai dengan senjata-senjata bantuan dari Amerika Serikat pada awal 1958.

 Para prajurit Infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garrand, M1 Karabin (Jungle Lipat), senjata otomotatis Thompson, senjata berat mortir 60 mm dan 80 mm. 2 peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan pantai Ipoh pada bulan Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801.

 

Seperti standar pendaratan operasi ampibi, pendaratan diawali dengan tembakan senapan mesin 12,7 dari kapal pendarat untuk memastikan tidak ada pemberontak yang menguasai pantai.

Setelah penembakan dilakukan, baru satu kompi pasukan Brimob Rangers mendarat dengan aman.

Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk memback up Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya di bantai oleh batalyon Nawawi.

 Satu batalyon Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban yang sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari pemberontak PRRI.

Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan di dalam markas hanya tinggal tersisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.

Pasca pendaratan 2 kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di kecamatan Ipoh.

 Mereka kemudian bergabung dengan satu batalyon TNI AD dari Pekanbaru dibawah komando Letkol Dani Effendi.

Oleh Danyon Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak 5 kilometer di depan Batalyon Infanteri.

Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalyon Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama.

Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak. Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “Istirahat makan….!!!”.

Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu. Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga kesulitan untuk menyeberang, selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.

 Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, Muko-Muko (saat ini menjadi daerah transmigran).

Pada jam 17.00, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan ditengah hutan. Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan.

Setelah melapor pada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata Kompi staf batalyon dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat.

 Musuh yang beristirahat diperkirakan berjumlah 300 orang, mereka sedang menunggu giliran menyeberang sungai.

Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang.

Pada saat itu (tahun 1960) Brimob Rangers menggunakan senjata M1 karabin (jungle riffle), sub-machine gun Carl Gustav dan bren MK3. Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh Danton sebaik mungkin.

 Kemudian, danton memberikan komando,tembak….!!!maka desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan.

Pada tembakan magasin pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai dengan teori.

Namun pada magasin kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.

Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 meter, namun yang terjadi kemudian adalah pertempuran jarak dekat. Jarak antara pasukan Brimob Rangers dan musuh hanya sekitar 5-6 meter.

Pertempuran yang terjadi tanpa ada garis pertahanan. Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak perwira yang tewas.

Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena anggota pasukan kelelahan.

Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan pertempuran.

Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan ada sekitar 10 perwira yang tewas.

Senjata yang ditinggalkan adalah puluhan M1 Garrand (pada awal 60-an senjata ini dianggap sangat canggih), mortir dan bazooka. Para anggota peleton 1 Brimob Rangers lega, karena musuh tidak sempat menggunakan senjata-senjata tersebut. Jika senjata itu digunakan ceritanya bisa lain.

Agen Polisi Kartimin, terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak. Dalam pertempuran ini tidak ada satu pun prajurit Brimob Rangers yang menjadi korban.

Sumber : Bung Rudy79 (ForMil KasKus)

Pertengahan 1960

1960 pertengahan tahun
APRI menyusun sebuah kekuatan
Untuk menyerang nagari Paninggahan
Pertempuran sengit tidak terelakkan

Di Lawang jorong Subarang
Jalan sepi suasana lengang
Saat subuh berangsur terang
Terjadi pertempuran yang agak seimbang

Tentara Pusat muncul dari Saningbaka
Bersenjata lengkap bertopi baja
Berjawah tegang selalu curiga
Berpakaian loreng bewarna warna

Naik truk dan berjalan kaki
Jumlah banyak dua kompi
Mortir ditembakkan berkali kali
Bom meletus keras sekali

Malang tak bisa ditolak
Mujur tidak mungkin sekehendak
Kamandan kompi mati tertembak
Prajurit marah berteriak teriak

Kita harus menuntut balas
Pemimpin pasukan telah tewas
Kematian ini tidak pantas
Musuh perlu wajib dilibas

Untuk membalas rasa dendam
APRI beroperasi diam diam
Masuk hutan ketika malam
Lalu mengintai berjam jam

Bagi pejuang di rimba hutan
Lakasi persembunyian terasa aman
Sifat waspada sering dilupakan
Di situ terjadi celaka badan

Sersan Yance bernasib malang
Pemuda Ambon yang rajin sembahyang
Menerima takdir bernasib malang
Ditembak Apri dari belakang

Sudah kehendak Yang di Atas
Yance tertembak langsung tewas
Ada jasanya yang sangat jelas
Perlu dihargai secara pantas

Perlu dihargai diberi acungan
Yance berpikir masalah kelangsungan
Bidang pendidikan jadi usungan
Dia merintis Sekolah Penampungan

Bidang Pendidikan selama PRRI

Walau perang sedang berlangsung
Bidang pendidikan tetap dianjung
Ada SMP, SMA Penampung
Letak lokasi di tengah kampung

Sekolah terletak di jorong Subarang
Banyak gurunya pengungsi pendatang
Tiada digaji menerima uang
Mereka termasuk kelompok pejuang

Ada yang aneh pernah terjadi
Madrasah Paninggahan dibakar APRI
OPR mencegah dinyalakan api
Baiknya madrasah ditarik tali

Dalam buku banyak ditulis
Cita cita kaum Komunis
Semua penduduk disuruh Ateis
Sekolah agama dibuang habis

Tentara membentak dengan angkuh
Ustadz dan guru diusir menjauh
Mereka takut, semuanya patuh
Tiada yang protes atau mengeluh

Menurut info berbagai sumber
saat Komunis melibatkan militer
Letkol. Untung dijadikan kader
Sifatnya rahasia, tak boleh pamer

Dengan tali buatan pabrik
Tiang madrasah ketika ditarik
Terdengar bunyi berderik derik
Bangunan miring tampak menarik

OPR berpikir menggunakan nalar
Kalau madrasah sampai terbakar
Semuanya hangus termasuk tikar
Tiada tersisa walau selembar

Mereka berharap sungguh sungguh
Agar madrasah segera rubuh
Kayunya dirampas dibawa jauh
Sebagai jarahan harta musuh

Kalau madrasah rubuh berantakan
OPR berharap merampas papan
Niat yang buruk tidak kesampaian
Bangunan tak rubuh tetap bertahan

Kini sekolah tampak miring
Bangunannya condong ke arah samping
Masih utuh atap dan dinding
Bukti sejarah yang sangat penting

Korban berjatuhan di sekitar danau nan indah

Try Sutrisno kalau diceritakan
Di zaman Orba punya jabatan
Pernah ditugasi oleh komandan
Di nagari Kacang, seberang Paninggahan

Di nagari Kacang dekat Tikalak
Try dianggap sebagai anak
Karena dia berlaku bijak
Kalau bicara terasa enak

Dari Kacang terlihat jelas
Nagari Paninggahan terhampar luas
Memiliki rimba tiada batas
Tempat satwa berkembang bebas

Dengan teropong alat bantuan
Gerak gerik orang Paninggahan
Dari Ombilin juga kelihatan
Peluru mortir banyak ditembakkan

Ketika serdadu takut datang
Mereka enggan pergi menyerang
Mortir ditembakkan dari seberang
Di atas danau peluru melayang

Di tepi danau yang sangat indah
Kekejaman OPR dicatat sejarah
Perbuatan sadis berdarah darah
Mengikuti Setan Iblis bedebah

Kekejaman OPR sangat terlalu
Bisa dibaca catatan di buku
Agar tiada pembaca yang ragu
Penulis kutip paragraf yang perlu

….Setelah Datuk Aceh ditangkap, Dia dipaksa dan disiksa hingga akhirnya dibunuh secara keji.
Masih segar dalam ingatan saya, Datuk Aceh dipaksa minum Cendol.
Setelah menolak, kemudian kumisnya dicabut secara kasar.
Dengan mulut berlumuran darah dan tangan terikat.

OPR serta pasukan Diponegoro tersebut menembak kepala Datuk Aceh hingga berserakan benaknya.
Ketakutan makin bertambah ketika ada 3 orang yang dibunuh oleh OPR Ombilin.
Mereka ditembak dan lehernya dipotong.
Kepala tanpa badan tersebut digantung di pos OPR dengan mulut berisi rokok.

Saya yang saat itu masih kelas 2 SMP, takut melihatnya, sehingga bayangan kepala tergantung itu terus menghantui tidur saya.
(Dikutip dari buku: Perempuan Berselimut Konflik, Reni Nuryanti, halaman 105).

Kontak senjata memakan korban
Dua pelajar putera Paninggahan
Sudah takdir ketetapan Tuhan
Keduanya tewas dalam pertempuran

Samsani dan Maniar langsung tewas
Mereka pergi meninggalkan bekas
Semangat berkorban penuh ikhlas
Semoga Allah memberi balas

Si Mangguang orang tak waras
Saat bicara tidak awas
Terkadang ucapan kurang pantas
Dianggap pejuang melampaui batas

Karena sengaja berolok olok
Sambil mengisap sebatang rokok
Ada ucapan yang tidak cocok
PRRI penakut, senangnya ijok

Mangguang dijemput lalu diinterogasi
Dia bertanya kesalahan Diri
Pemeriksa marah timbul emosi
Emosi pindah ke ujung jari

Tidak dimandikan, tidak disolatkan
Mangguang mati segera dikuburkan
Begitulah keadaan saat peperangan
Semua orang ditimpa penderitaan

Penderitaan besar ataupun kecil
Untuk dihindari rasanya mustahil
Meskipun rakyat warga sipil
Nyawa dikuasai pemilik bedil

Kisah lengkap baca di lampiran

 

Ijok Sampai Ke Unggan, Durian Gadang dan Sumpur Kudus Pertengahan tahun 1960.
Sudah lebih dari sebulan nagari Rao-Rao diduduki oleh tentara Pusat dan pemerintahan nagari ditunjuk Pelaksana Pemerintah Nagari Zainal Abidin.


Pemerintahan dibantu oleh Lutan, Ahmad Nawi dan Hasan Basri, kemudian datang dari Payakumbuh Abu Bakar Rasyidin terkenal dengan panggilan Bakar Baradai dan beberapa orang OPR yang berasal dari nagari Rao-Rao.
Mereka inilah yang menjalankan roda pemerintahan nagari sejak P.R.R.I meninggalkan Rao-Rao.

Tentara Pusat menempati Surau surau di nagari

Jumlah tentara Pusat lk. 2 kompi (sekitar 200 sampai 250 orang), semuanya mendiami nagari Rao-Rao .
Kini semua surau di Rao-Rao ditempati, dan di sanalah mereka makan minum, serta MCK.

Penduduk yang biasa pergi ke sungai dan pancuran untuk mandi kini merasa takut, apalagi kaum ibu memilih biar dilakukan di rumah saja.
Kaum laki-laki terpaksa memberanikan diri untuk ke sungai.
Selain dari surau, adapula rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penduduk ditempati tentara tsb.

Selama tentara menduduki Rao-Rao maka selama itu pula kami yang berjumlah ratusan orang yang terdiri dari berbagai profesi pegawai negeri, mahasiswa , pedagang, ulama, murid dan guru berada di nagari orang, pergi ijok ke Lintau dan nagari-nagari sekitarnya.

Dapat dibayangkan sangat ramainya pengungsi mendatangi Lintau, yaitu orang-orang yang berasal dari berbagai nagari di kabupaten Tanah Datar,…. orang-orang yang ingin menyelamatkan nyawa dari kekejaman tentara pusat.

Bagi orang Rao-Rao yang tidak bisa dilupakan dan menjadi trauma ialah peristiwa beberapa bulan yang lalu yaitu tujuh orang rakyat biasa petani atau pedagang kecil ditembaki secara sadis di daerah Situmbuak.
Mereka yang ijok sekarang ini kebanyakan berstatus pegawai negeri, mahasiswa dan pedagang yang bukan beraliran kiri (Komunis).

Sudah biasa bahwa dalam situasi yang membingungkan dan panik itu banyak pula tersiar isu atau berita-berita dari orang ke orang.

Kabarnya tentara yang di Batusangkar dan Payakumbuh akan melancarkan operasi besar-besaran ke Lintau yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.

Berita ini sampai kepada masyarakat Rao-Rao yang ada di Lintau.
Mendengar berita ini orang Rao-Rao yang ijok di Lintau pecah dua ada yang akan lari lagi ke arah Sumpur Kudus, Durian Gadang, Unggan, Santo Lawe dan sebagainya berarti sudah ke propinsi Riau dan sebagian lagi berpendapat lebih baik kembali saja ke kampung halaman apapun terjadi itu adalah kampung kita.

Penulis dan beberapa teman yang lain seperti Fahmi Mahyuddin, Rusli Muhammad, Hamzah Harun, Ruslan Muhammad, Yusuf Samah, Abdurrahman May, Amir Bahar, Syofyan Syarif, Syofyan Zen dan banyak yang lain memilih biarlah pergi menyelamatkan diri ke negari orang lagi dari pada nanti kalau pulang kampung akan terjadi hal-hal yang tak diingini.

Oleh sebab itu kami sampai ke nagari yang jauh masuk hutan keluar hutan sampai ke kenagarian Durian Gadang, Unggan dan Sumpur Kudus dan nagari-nagari lain yang tak bisa diingat lagi namanya.
Pada hal waktu itu Lintau masih aman dan tenang saja belum ada operasi meliter yang diarahkan ke daerah itu.
Untuk itu kami kembali saja ke Lintau karena masing-masing sudah lelah dan yang penting bahwa dana untuk perjalanan jauh sudah mulai menipis.

Sepucuk Surat Kecil Dari Kampung

 

Beberapa hari kemudian setelah shalat Asyar di suatu surau di Lintau pada hari itu Senin.

 

 

Senin adalah hari pasar di nagari Sungayang.
Sore harinya penulis didatangi seseorang menyerahkan satu surat yang dimasukkan kedalam kotak korek api.
Orang itu menunggu sampai kami selesai membaca surat itu.

Saya buka surat itu jelas sekali tulisan itu adalah tulisan abang kandung saya Anwar Mahyuddin yang isinya:

….Adinda Suardi, Agus dan Fahmi.
Jangan ragu-ragu cepat pulang kami menunggu !
Surat itu ditanda tangani oleh Anwar Mahyuddin dan Assad Mahyuddin.

Saya terhenyak dan kurir itu mengatakan kalau ingin pulang bersama dia saja sampai di Sungayang hari Senin depan di sana sudah ada yang menunggu bapak katanya.

Isi surat ini kami rembukkan dengan Anwar May dia mengatakan kalau kalian mau pulang tak apa-apa dia setuju saja, kalau beliau diajak tidak mungkin karena dia adalah Camat P.R.R.I.

Setelah shalat Istigarah dan berdoa kepada Allah minta perlindungan kami bertiga mengambil keputusan berangkat ke Tanjung Sungayang hari Senin yang sudah ditentukan.

Siang hari kami sudah sampai di Tanjung Sungayang nagari ini baru dikuasai oleh tentara pusat tapi kami masuk nagari ini tidak diperiksa.
Kata orang karena hari ini hari pasar, jadi tak ada pemeriksaan, kalau diperiksa agak repot juga karena satu surat keteranganpun tak ada ditangan.

Kami dipertemukan orang Rao-Rao oleh kurir tadi, rupanya yang menjemput kami ialah kakak Naro janda abang kami yang benama Jamirin Sutan Adil.

Untuk terus ke Rao-Rao melalui

 

nagari Sumanik dan

 

 Nagari Kumango

kami diajari oleh kak Naro nanti kalau ada pemeriksaan di jalan beri tahu saja,….. baru saja dari pasar mau pulang ke Rao-Rao.

Setelah sampai di

 

 Rao-Rao

 di rumah kak Naro kami disambut abang kami Anwar dan Assad dan beberapa orang tua seperti A. Muluk Sutan Saripado dan ada yang lain kemudian terus ke Kantor Kepala Nagari.

Di sinilah kami diperiksa agak mendalam oleh Kepala Nagari, Ahmad Nawi dan Hasan Basri.
Pokoknya kami dianggap pemberontak tetapi syukur kalian cepat sadar katanya.

Yang penting kita sabar dan tebalkan saja kuping kita mendengar makian atau penghinaan, …. kalau tidak demikian kita bisa terpancing .
Anggap saja pemimpin kita di kampung waktu itu seperti katak di bawah tempurung.
Rupanya kepulangan kami yang bertiga itu menjadi dorongan bagi teman-teman yang masih di Lintau untuk pulang .

Secara berangsur-angsur setiap hari ada saja yang melapor pulang dari ijok.

Demikian suka duka pengalaman selama masa perang saudara di kampung halaman.
Tidak sampai sebulan penulis memperoleh Surat Jalan tanpa punya KTP agar bisa berangkat dari Rao-Rao dulu.

Penulis terus ke Payakumbuh dan Pekanbaru.
Beberapa bulan kemudian baru ke Medan melanjutkan pelajaran disana.

: Sumber

Epy Buchari

16 Agustus 1960

16 Agustus 1960 di Istana Negara, Bung Karno secara resmi membubarkan dan melarang Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), karena kedua partai itu terlibat Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Mereka yang ditangkap dan dipenjarakan Soekarno di Wisma Wilis Madiun, bukan orang biasa. Sutan Sjahrir adalah perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Indonesia yang pertama. Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia yang dianggap terlibat pemberontakan PRRI/Permesta.

Sementara Mohamad Roem dan Prawoto Mangkusasmito adalah tokoh Partai Masjumi. Partai ini juga dianggap terlibat pemberontakan PRRI/Permesta.

 Sama seperti Sjahrir, M Roem juga kawan seperjuangan Soekarno. Dia pernah menjabat sederetan posisi penting di negeri ini. M Roem tiga kali menjabat sebagai menteri dalam negeri. Dia juga pernah menjadi wakil perdana menteri

 

M.Natsir

adalah perdana menteri pertama republik ini. Sebelumnya dia menjabat menteri penerangan. Kesederhanannya menjadi teladan sepanjang zaman. Natsir tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah.

Lebih dari itu Natsir menunjukkan keteguhan. Di depan penguasa dia tak mau bermanis-manis. Natsir mengkritik Soekarno yang dekat dengan komunis dan dinilai mengabaikan kesejahteraan rakyat di luar Jawa. Natsir pun meninggalkan Jawa, bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI).

Soekarno menganggap gerakan ini sebagai pemberontak. Dia mengirimkan tentara untuk melawan gerakan ini. PRRI kalah, Natsir menyerah dan dipenjara Soekarno. Partai Masyumi yang pernah dipimpinnya juga dibekukan. Padahal dalam Pemilu 1955, Masyumi menduduki posisi nomor dua.

Tuduhan Soekarno pada Natsir, kontra revolusioner.

Saat Soekarno tumbang, Natsir dibebaskan dari penjara 26 Juli 1966. Dia meneruskan aktivitas dakwahnya

(Merdeca Com)

Puisiku untuk Bilal Hamka
dari: M. Natsir sedang di rimba gerilya

Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tenngah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam Daftar.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun…
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam
daftarmu

Saudaramu,
di Tempat, 23 Mei 1959

Teladan di Tengah Hutan

Oleh Tan Kebesar mantan pembantu Moh Natsir

Meski inti dari perjuangan pak Natsir adalah agar Negara yang baru merdeka tidak jatuh ke tangan komunis dan tidak terpecah belah menjadi beberapa Negara boneka bagi Negara Asing,  dan meskipun dukungan terhadap perjuangan pak Natsir  itu amat besar  seperti  rekomendasi Alim Ulama se-Sumatera itu,  tetapi tidak juga digubris rezim penguasa. Justru, jawaban yang diberikan pada pak Natsir adalah penyerbuan. Beliau  akhirnya  harus masuk hutan-keluar hutan, bahkan dipenjarakan. Tapi itulah  pak Natsir yang saya kenal. Beliau  seorang pemimpin  yang ikhlas dan istiqamah  dimana dan kapan pun,  bahkan  ditengah hutan sekalipun.

Saya adalah  kader  dengan status sebagai “pembawa tas” pak Natsir saat harus masuk hutan, keluar hutan. Tapi  sampai ke tengah hutan sekalipun saya mendapati  beliau yo bana pemimpin.

 Suatu ketika  di dalam hutan, saya menyaksikan beliau didatangi  orang kampung  yang mengantarkan pucuk ubi, nangka dan segala macam  sayuran. Memang orang kampung yang datang itu sudah terseleksi oleh kami.  Saya lupa namanya, dia datang  dengan pakaian kotor, berkeringat dan rambutnya kusut-masai. Tampaknya,  dari ladang dia langsung saja membawa sayuran dengan mengendap-ngendap terus ke  tempat persembunyian pak Natsir.

Oleh pak Natsir orang kampung yang datang dengan pakaiannya masih baluluak itu,  belum dibolehkan  pulang  sebelum makan sama-sama dengan beliau. Bahkan sampai ke tempat duduk pun beliau ‘istimewakan’.  Orang kampung itu  disuruh duduk di sebelah kanan  beliau,  di sebelah kiri beliau duduk ummi dan anak-anak beliau. Sedangkan saya oleh pak Natsir  di suruh duduk  di sebelah kiri orang kampung itu.

Berapa kali tampak  pak Natsir membasoi orang kampung itu. “Buekan samba, tambuahlah,” begitu sapa  pak Natsir. Beliau juga tidak buru-buru membasuh tangan begitu nasi di piringnya licin (habis). Beliau menanti  orang kampung itu sampai  selesai makan, dan barulah sama-sama mencuci tangan.

 

Kebesaran pak Natsir juga tampak ketika beliau berbincang-bincang  dengan orang kampung itu. Memang Rasulullah pernah mengatakan, “Berbicaralah dengan orang,  sepanjang  pengetahuannya”. Itu dipraktekkan  pak Natsir dalam pembicaraan dengan orang kampung itu.

Beliau  memang bicarakan juga spirit perjuangan, tapi tidak dengan bahasa ‘tinggi’. Jadi, siapapun  yang mau datang  tidak dibebani rasa takut. Lain dengan pak Syaf (Syafruddin Prawiranegara) atau   pak Bur  (Burhanuddin Harahap), banyak  kawan-kawan takut bila disuruh berbicara empat mata  dengan beliau, ‘setelannya’ tinggi.

Pak Natsir kalau berbicara,  selalu menyesuaikan dengan audiensnya. Saat berbicara dengan pak Wali Nagari Sungai Batang, dia bicara tidak  secadiak Camat. Setiap orang yang pertama bertemu dengan beliau, cepat terpaut hatinya dan  merasa seperti sudah kenal lama.

Dari pengalaman selama  hampir dua tahun berada dalam rimba bersama pak Natsir, saya sangat merasakan betapa beliau adalah pemimpin sejati yang tidak ada duanya  di republik ini. Di masa susah itu, beliau benar  sama-sama susah dengan yang dipimpin. Ketika  mendaki bukit atau menuruni lembah,  beliau  sama-sama berjalan kaki  dengan kami. Minta dipapah saja  beliau tidak pernah, apalagi minta ditandu.

Teladan dari seorang pemimpin yang ikhlas itulah yang menumbuhsuburkan benih kesetiaan  di hati  para  kader hingga  tinggal  di pelosok kampung dan di pinggir hutan sekali pun. Kesetiaan  para kader pak Natsir itu saya saksikan langsung  ketika kami baru masuk hutan.

 

Rimbo (hutan) pertama yang kami huni adalah rimbo Sitalang. Ini merupakan kawasan terujung dari wilayah  Lubukbasung Utara berbatasan dengan Palembayan.

Dari kampung  Sitalang ke  rimbo Sitalang cuma berjarak  satu jam  berjalan kaki  saja. Amat dekat sebenar, bagi kaki  tentara terlatih.

Pada sebuah dangau  di tengah rimba Sitalang itulah pak Natsir diungsikan dari kejaran tentara Soekarno yang sudah sampai di kampung Sitalang.  Lebih delapan bulan pak Natsir di  sini. Tapi tidak pernah tercium oleh  tentara Soekarno yang terpisahkan oleh jarak cuma  satu jam  jalan kaki saja.

Pemimpim Masyumi Sitalang  bersama masyarakat benar-benar berjuang menyelamatkan pak Natsir,  sehingga tidak ada orang yang tahu lokasinya. Bila pun ada yang tahu, tapi masyarakat benar-benar bisa menutup mulut.

Begitulah kharisma pak Natsir di hati ummat. Andai beliau  bukan pemimpin paling dicintai ummat, maka pada hari kedua masuk hutan saja,  pak Natsir  sudah ditangkap. Ya, berapa jauhlah jarak kami dengan balatentara Sekarno. Hanya sekitar satu jam  perjalanan saja, dan bagi tentara terlatih tentu itu sangatlah dekat.

Hanya karena kegelisahan seorang  tua yang  menjadi penunjuk jalan,  akhirnya pak Natsir setuju melanjutkan  perjalan  dari rimbo Sitalang  menembus

 

 hutan  Palembayan, kemudian turun ke

 

  Kayu Pasak,

 

 lalu  berbelok

 

 ke desa Maur. Setelah  berdiam beberapa malam,  Ketua Masyumi Palembayan memandu kami  ke dalam hutan yang jarang  dilalui orang.

Saya mengawal pak Natsir 

 

 menuju tepi  Batang Masang. Menjelang malam dari sini pak Natsir  diberangkatkan  ke seberang  Batang Masang  dengan menaiki rakit.

Di sebarang Batang Masang itulah  selama 11 bulan, pak Natsir diselamatkan. Padahal jaraknya  tidaklah jauh  dari  tentara musuh.  Dari  persembunyian itu masih jelas terdengar deru oto prah  (truk)  yang hilir-mudik  mengangkut  tentara Soekarno.

 

 

17 Agustus 1960

 

Keppres No.200/Th.1960 dan No.201/Th.1960 tanggal 17 Agustus 1960, tentang pembubaran partai politik Masjumi (Majelis Sjuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia), karena “organisasi itu melakukan pemberontakan, karena pemimpin²nya turut serta dengan pemberontakan apa yang disebut dengan ‘PRRI’ atau ‘RPI’ atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan”.

Dalam pidato peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-15, Presiden Soekarno memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, yang merupakan tanggapan atas sikap Pemerintah Belanda yang dianggap tidak menghendaki penyelesaian secara damai mengenai pengembalian wilayah Irian Barat kepada Indonesia.
Meskipun Republik Persatuan Indonesia (RPI) telah didirikan oleh tokoh² PRRI, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa – Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia secara resmi yang dihadiri oleh tokoh² militer dan sipil Permesta

 

18 Agustus 1960

 

Menurut sejarah Sumpur Kudus
 18 Agustus 1960
perlu diingat secara khusus
jangan dilupakan, apalagi dihapus

Akibat laporan mata-mata
kampung ditembak membabi buta
oleh AURI lewat udara
menimbulkan korban harta dan nyawa

Ketika spion memberi informasi
di Sumpur berkumpul pemimpin PRRI
Sedang merayakan hut R.I

Bisa dibom sampai mati

walau nagari didalam hutan
HUT RI diperingati besar-besaran
para pelajar ikut perlombaan
orang dewasa membuat permainan

Satu hari setelah upacara
Datang pesawat membuat bencana
Membidik sasaran dimana mana
Dua korban anak remaja

 

Begini petuah orang bijak
Takdir Allah berlaku mutlak
Mujur tak mungkin sekehendak
Malang tak bisa ditolak

Anwar dan Amir anak bujang
Mati tertembak kapal terbang
Saat berlindung di dalam lubang
Karena peluru tak mengenal orang

Mereka berdua pelajar S.M.P
Anak kesayangan Ibu dan Ande
Tak cukup umur masuk T.P
Belum mampu menyandang L.E

ande = ibu (MK)
T.P = Tentara Pelajar
L.E = Lee Enfield (sejenis senapan pada PD II)

Kampuang Koto pusat keramaian
SR, mesjid dan Balai Pengobatan
Dengan SMP letaknya berdekatan
Menjadi sasaran objek tembakan

Zender radio sebagai pemancar
menyampaikan berita berbagai kabar
dimasukkan juga di dalam daftar
sasaran penting yang selalu diincar

Di hulu sungai Batang Somi
di bukit Sibakua rimba yang sunyi
hutan Ulayat anak nagari
banyak berkeliaran Beruk dan Babi

Dari kampung di tengah Koto
letaknya zender dua kilo
tempat Natsir menyampaikan pidato
untuk membantah propaganda Soekarno

Menyiarkan berita walaupun sedikit
Pemancar PRRI di lembah sempit
Zender terletak diantara bukit
Untuk ditembak sangat sulit

 

Kepala zender bernama Samsulbahri
punya pengalaman sangat ahli
asalnya Cubadak, di selatan Tapanuli
di Sumpur Kudus dia beristri

 

Serangan udara di nagari Sitalang dan Batu Kambing kabupaten Agam

Di Sitalang dan Batu Kambing
Pesawat Mustang berbaling-baling
Mitraliurnya dua di badan samping
Pernah menembak bukit dan tebing

Menurut Bustanuddin penulis kisah
Tembakan tertuju ke segala arah
Batang pohon ada yang rebah
Dahan dan ranting banyak yang patah

Ada dangau di tengah hutan
Tempat petani mencari makan
Dikira gubuk asrama gerilyawan
Lalu dibidik jadi sasaran

Nagari Batukambing dan Sitalang
Letaknya jauh susah diserang
Menjadi tempatan para pejuang
Sangat strategis di kala perang

Serangan Udara di Bukik Andiang Suliki

Bukik Andiang di daerah Suliki
Serangan udara dilakukan AURI
Tiada catatan secara rinci
Inilah ingatan seorang saksi

……., sesudah Bukik Andiang di Suliki ditembaki oleh tentara Pusat dari kapal terbang yang kami lihat dari Padang Jopang, kami tidak sempat lagi kembali ke tempat bapak Dt.Rajo Malano di Padang Jopang, dan tidak ada kabar sejak itu.
Sjamsir Sjarif
St. Cruz. Ca. US

 

Dari Padang Jopang Sjamsir melihat
AURI yang berpihak ke rezim Pusat
Melepas tembakan yang sangat dasyat
Serangan dibalas dari darat

Dalam peristiwa perang saudara
Tak semua AURI di pihak yang sama
Ada yang bergabung PRRI juga
Letnan Nazar seorang perwira

Letnan Nazar orang Limpasi
Dia berpihak kepada PRRI
Tak bisa disebut sebagai desersi
Karena Nazar membela nagari

Walau kondisi selalu siaga
tak ketinggalan ada upacara
hormat kepada bendera sang saka
diiringi lagu Indonesia Raya

Ada pula anggota Marinir
Orangnya bernama Sersan Zubir
Dengan adiknya prajurit Sawir
Menjadi pejuang sampai akhir

Di puncak bukit berhutan Damar
diselingi kerimbunan semak belukar
Merah Putih tetap berkibar
mereka memimpin Tentara Pelajar

Pertahanan di Andiang jadi terkenal
Karena komandannya prajurit professional
Musuh yang datang bisa menyesal
atau terkena musibah sial

Lembu menjadi Korban pada serangan udara di Guguak Sikaladi

Sebelum saksi meninggal habis
Jauda St. Bagindo ingin menulis
meskipun hanya beberapa baris
menggunakan syair kalimat puitis

Tiada korban yang sampai mati
di Guguak dekat Sikaladi
Pernah ditembak pesawat AURI
Bom meledak mengeluarkan api

Saat pesawat membom rumpun Bambu
Malang nasib seekor Lembu
Kena tembakan sasaran keliru
Dikira pejuang sembunyi di situ

Rumpun Bambu telah terbongkar
Tampak terlihat serabut dan akar
Batang dan daun lalu terbakar
Api menyala sangat besar

Lubuak Tan di Sungai Jambu
melalui darat sulit di serbu
pesawat udara datang membantu
menjatuhkan bom, menembakkan peluru

Ibarat Menembak Setan Hantu di Rimba Anai

Tanpa tanggal maupun bulan
di akhir tahun lima delapan
perang di Anai baik diceritakan
untuk anak cucu jadi pelajaran

Pertempuran dahsyat di air mancur
tentara Pusat tak bisa mundur
konvoi pasukan hancur lebur
banyak prajurit yang mati gugur

Karena unggul dalam siasat
kemenangan PRRI sering dicatat
banyak korban di pihak Pusat
ketika terjadi pertempuran hebat

Beginilah strategi yang dipakai
saat penghadangan di Lembah Anai
waktu musuh sedang lalai
hutan digunakan untuk mengintai

Tempat sembunyi para pejuang
rimba dijadikan sebagai sarang
sambil berlindung dibalik batang
sebelum mereka turun menyerang

 

Para perjuang menunggu kesempatan
setelah konvoi tampak kelihatan
pelatuk Bazoka lalu ditekan
diikuti tembakan berbagai senapan

Walau banyak korban yang tewas
tentara Pusat tak bisa membalas
Posisi musuh tiada jelas
PRRI berlindung di hutan luas

Pesawat diminta datang membantu
Tiada jelas sasaran dituju
hutan rimba disiram peluru
ibarat menembak mahkluk hantu

Kalau menembak setan hantu
peluru habis beribu-ribu
perbuatan mubazir tidak perlu
dikatakan orang sangat lucu

Operasi AURI di bukit lembah
bukan pekerjaan masalah mudah
kalau terbang sangat rendah
bukit diterjang pesawat pecah

Menurut berita banyak beredar
entah gosip, entah benar
karena operasi sangat sukar
pilot asing lalu dibayar

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba hutan yang lengang

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

(Sjamsi sjarif)

 

Akhir Tahun 1960

 

Kini terjadi lagi penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
Duduk kejadian adalah sebagai berikut:

Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.

Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,….cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.

Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.


Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.

Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun.
Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah tahanan Sei Tarab.

Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.

Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab.
Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.

Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

Sarung Yusuf dipakai orang lain
Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.

Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.

Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.

Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif.

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar,  beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan …… Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi.
Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.

Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal, dosen di FKIP Padang dan Drs. Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao, kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.

Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.
Profesor ada di tempat pengungsiaannya di Talang Dasun Pasir Laweh.
Kami bersama alm. Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.

Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

Arif Fadila dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak tahu rimbanya, mati tidak tahu kuburannya

Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara Pusat.
Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.

Dalam perjalanan ke Padang itu, orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi militer sewaktu itu.
Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

OPR menghilangkan jejak pembunuhan Malin Maradjo
Berlainan dengan Idris, Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun, pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat menguasai nagari.

Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR.
Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.

Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.

Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
Diperkirakan orang, bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula
.

Sumber Nagari web blog

 

 

Akhir 1960

Ketika perang usai sebagian diantaranya ada yang langsung melapor ke Padang atau Jakarta, selanjutnya sejak peristiwa itu mereka banyak menetap di Jakarta.
Banyak pula dari Lintau ini orang Rao-Rao menyelamatkan diri ke propinsi terdekat seperti Riau dan Jambi.

Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.

Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,….cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.

Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.
Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.

Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun.
Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah tahanan Sei Tarab.

Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.

Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab.
Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.

Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

Sarung Yusuf dipakai orang lain
Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.

Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.

Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.
Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif.

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan …… Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi.
Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.
Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal, dosen di FKIP Padang dan Drs. Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao, kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.

Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.
Profesor ada di tempat pengungsiaannya di Talang Dasun Pasir Laweh.
Kami bersama alm. Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.

Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

Arif Fadila dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak tahu rimbanya, mati tidak tahu kuburannya

Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara Pusat.
Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.

Dalam perjalanan ke Padang itu, orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi militer sewaktu itu.
Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

OPR menghilangkan jejak pembunuhan Malin Maradjo
Berlainan dengan Idris, Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun, pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat menguasai nagari.
Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR.
Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.

Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.

Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
Diperkirakan orang, bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula.

Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.

Sumber

Epy Buchari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s