KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1963(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1963

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

20 januari 1963

 

Pidato Sukarno Ganyang Malaysia

 

Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.

Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963.

Berikut isinya:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Bisa terbakar semangat patriotisme bangsa Indonesia mendengar pidato Soekarno itu. Kedaulatan Indonesia dianggap harga mati bagi Proklamator Republik Indonesia.

 

 

 

 

Ganefo I tahun 1963 (Ganefo hanya sekali dan tak ada kelanjutannya). Hingga 32 tahun berkuasa, Soeharto tak mampu membangun stadion sekelas Senayan di tempat lain, dan juga tak mampu menjadi tuan rumah olahraga internasional yang berbobot, meski mempunyai uang jauh lebih banyak dibanding Soekarno

 

 

 

2 Desember 1963

Tanggal 2 Desember 1963, Soebandrio, Wakil Menteri Pertama atau Menteri Luar Negeri Indonesia, dan atas nama KOPERDASAN (Komando Pertahanan Daerah Perbatasan), datang ke Kalimantan Barat dalam rangka kampanye konfrontasi anti Malaysia dan memperkenalkan Azahari kepada khalayak ramai.[2]

Azahari (Brunei), Kelompok Yap Chung Ho (Sarawak), dan Soebandrio (Indonesia) mengadakan pertemuan di Sintang dan muncul gagasan untuk membentuk suatu pasukan bersenjata.

Pertemuan kedua di Bogor dihadiri Soebandrio, Njoto, Soeroto, Perdana Menteri NNKU Azahari, dan kelompok Yap Chung Ho dari SUPP.

Dalam pertemuan itu, diputuskan membentuk pasukan bersenjata yang akan berkedudukan di perbatasan Kalimantan Barat (Asuangsang di sebelah Utara Sambas). Soebandrio dengan BPI (Badan Pusat Intelijen) Indonesia membantu melatih sepuluh orang anak buah Yap Chung Ho selama sebulan di Bogor, kemudian dibawa ke Asuangsang untuk melatih 60 orang pasukan lagi.

Dengan basis pasukan ini, dibentuk Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) sebagai bagian dari Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU).

Pasukan Rakyat Kalimantan Utara atau Paraku merupakan sayap bersenjata di bawah naungan NKCP (North Kalimantan Communist Party), sebuah partai politik komunis yang berlokasi di Sarawak, Malaysia.

NKCP dibentuk tanggal 19 September 1971 dibawah pimpinan Wen Min Chyuan dari sebuah organisasi bernama Organisasi Komunis Sarawak. Ia pernah menjadi anggota partai Sarawak United People’s Party pada tahun 1960-1964. Keanggotaan NKCP didominasi oleh etnis China

Terbentuknya Paraku-PGRS terkait dengan peristiwa konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dari tahun 1963 hingga 1966. Pemerintah Indonesia menolak pembentukan Federasi Malaysia yang didukung penuh oleh Inggris. Wilayah Kalimantan Utara yang juga merupakan koloni Inggris, seperti halnya Semenanjung Malaya, dimasukkan ke dalam teritori Federasi Malaysia oleh para penggagasnya tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan seluruh rakyat Kalimantan Utara. Penolakan penduduk, khususnya warga Tionghoa, didasari oleh kecemasan akan adanya dominasi warga Melayu Semenanjung Malaya terhadap rakyat Kalimantan Utara.[1]

Peristiwa Mangkok Merah, Ketika Imperialisme ‘Mengawini’ Rasialisme

 

Rasialisme yang  mewarnai perjalanan bangsa ini  telah meninggalkan ‘jejak’ berdarah yang sulit ‘dikeringkan’. Apalagi ketika sentimen rasialis itu digunakan oleh pihak asing yang berupaya menjadikan bangsa ini sebagai koloni secara ‘tersamar’.

Banyak tragedi kemanusiaan dalam sejarah nusantara yang terjadi akibat adanya ‘kawin-mawin’ antara rasialisme dengan imperialisme. Salah satu tragedi itu adalah peristiwa pembunuhan dan pengusiran ribuan warga etnis Tionghoa pada akhir tahun 1967 di Kalimantan Barat. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Mangkok Merah.

Berawal Dari Konfrontasi

Terjadinya peristiwa Mangkok Merah tidak bisa dilepaskan dari upaya penumpasan pemerintah Orde Baru terhadap Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerakan Rakyat
Sarawak (PGRS) yang memang didominasi oleh warga etnis Tionghoa. Dan penumpasan Paraku-PGRS ini merupakan bagian dari upaya Orde Baru menumpas seluruh kekuatan politik kiri/komunis pasca tragedi 1965.

Terbentuknya Paraku-PGRS ini sendiri sangat terkait dengan persitiwa konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dari tahun 1963 hingga  1966.  Konfrontasi yang didasari oleh penolakan pemerintah Indonesia  terhadap pembentukan Federasi Malaysia ini melibatkan warga Tionghoa Kalimantan Utara, yang juga memiliki sikap sama dengan Indonesia, yakni menentang pendirian Federasi Malaysia yang didukung penuh oleh Inggris. Penolakan warga Tionghoa ini didasari oleh kecemasan akan adanya dominasi warga Melayu Semenanjung Malaya terhadap rakyat Kalimantan Utara, khususnya warga Tionghoa.

Wilayah Kalimantan Utara yang juga merupakan koloni Inggris, seperti halnya Semenanjung Malaya, memang dimasukkan kedalam teritori Federasi Malaysia oleh para penggagasnya, tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan seluruh rakyat Kalimantan Utara.

Bung Karno selaku Presiden Indonesia kala itu, yang memang sangat anti terhadap imperialisme, menganggap Federasi Malaysia tak lebih sebagai produk imperialis Inggris guna mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara serta mengganggu jalannya revolusi Indonesia. Karena itu, Bung Karno menyerukan penghancuran negara ‘boneka’ Malaysia tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Ganyang Malaysia’. Dan dalam upayanya ‘mengganyang’ Malaysia, pemerintahan Bung Karno pun mengikutsertakan sebagian rakyat Kalimantan Utara yang juga menolak pembentukan Federasi buatan Inggris itu.

Bung Karno lalu menugaskan salah satu menterinya, Oei Tjoe Tat, untuk menggalang kekuatan warga Tionghoa Kalimantan Utara yang anti-Malaysia guna mendukung konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris. Hasilnya, hampir 900 orang Tionghoa Kalimantan Utara  berkenan pindah ke daerah Kalimantan Barat untuk kemudian diberikan  pelatihan kemiliteran dan dipersenjatai oleh pemerintah Indonesia.

Ratusan orang Tionghoa inilah yang kemudian membentuk Paraku-PGRS dan berada  dibawah komando seorang perwira Angkatan Darat (AD) yang dekat dengan kelompok kiri, yakni  Brigadir Jenderal Supardjo, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau. Buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jilid IV (1966-1983) mengakui bahwasanya Paraku-PGRS adalah pasukan yang dilatih dan dipersenjatai oleh TNI. Buku itu juga menyebutkan  para anggota kedua pasukan itu adalah orang-orang Tionghoa pro-komunis yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi Malaysia-Inggris.

Namun, Paraku-PGRS bukanlah pasukan etnis yang eksklusif. Mereka  juga mengorganisir orang-orang dari suku Dayak dan Melayu untuk melakukan serangkaian  penyusupan ke wilayah Kalimantan Utara seperti  Sarawak dan Brunei.  Yang patut diketahui pula, penganjur perlawanan rakyat Brunei terhadap Malaysia pada tahun 1962 yang juga sekaligus  pemimpin Partai Rakyat Brunei, Doktor Azhari, merupakan sekutu  Paraku-PGRS.

Paraku-PGRS pun bahu-membahu bersama TNI dan sukarelawan Indonesia menghadapi pasukan Malaysia yang dibantu balatentara Gurkha, Inggris, dan Australia sepanjang masa konfrontasi. Wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Kalimantan Utara menjadi area perjuangan pasukan Paraku-PGRS.

Seorang peneliti Tionghoa, Benny Subianto, mengungkapkan  keperkasaan gerilyawan Paraku-PGRS ketika melawan pasukan Gurkha Inggris. Kedua pasukan itu hampir  berhasil menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles dalam sebuah serangan terhadap distrik Long Jawi tanggal 28 September 1963.

Buku A Face Like A Chicken Backside-An Unconventional Soldier in Malaya and Borneo 1948-1971 karya JP Cross juga mencatat kehebatan  serangan relawan Indonesia serta Paraku-PGRS  ditempat  sama yang   menewaskan beberapa prajurit Gurkha dan anggota Border Scout. Dari fakta-fakta sejarah tersebut, tampak betapa Paraku-PGRS menjadi pahlawan bagi Indonesia selama era konfrontasi

Kontra Konfrontasi

Namun, kepahlawanan pasukan Paraku-PGRS itu segera  hilang setelah  meletusnya tragedi politik tahun 1965, yang kemudian menegasikan peran politik Bung Karno serta kekuatan kiri/komunis selaku pendukung utama konfrontasi terhadap Malaysia. Pembantaian besar-besaran simpatisan kiri di seluruh wilayah Indonesia yang dilakukan oleh pihak TNI-AD, kelompok agamis serta nasionalis kanan telah berdampak besar bagi eksistensi Paraku-PGRS yang  didominasi oleh orang Tionghoa berideologi kiri.

Eksistensi Paraku-PGRS semakin terganggu ketika pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto yang menggantikan  Bung Karno tidak berniat untuk  melanjutkan konfrontasi terhadap Malaysia dan Inggris. Hal ini tidak mengherankan, karena  memang ada dukungan dari negara-negara imperialis, termasuk Inggris, terhadap Soeharto ketika merebut kekuasaan dari Bung Karno.  Padahal Paraku-PGRS merupakan gerilyawan yang sengaja dibentuk oleh pemerintahan Bung Karno  guna menggagalkan pembentukan negara boneka Malaya-Inggris.

Tendensi politik anti-komunis rezim Orde Baru, serta keinginan untuk berdamai dengan Malaysia-Inggris inilah yang kemudian menempatkan Paraku-PGRS sebagai musuh pemerintah Indonesia dan TNI. Maka, penumpasan terhadap mereka pun dilakukan, sebagaimana yang juga telah dilakukan kepada seluruh golongan kiri dan Soekarnois di berbagai daerah. Bahkan TNI bersekutu dengan militer Malaysia dan inggris dalam penumpasan Paraku-PGRS. Inilah ironi sejarah!

TNI juga memiliki ‘julukan’ baru bagi  Paraku-PGRS, yakni Gerombolan Tjina Komunis (GTK). Perang antara TNI dengan gerilyawan Paraku-PGRS meletus, salah satunya yang terjadi di Pangkalan Udara Sanggau Ledo, Kalimantan Barat. Memasuki tahun 1967, operasi penumpasan diintensifkan oleh pemerintah Orde Baru melalui Operasi Sapu Bersih (Saber)  I, II, dan III yang digelar sejak April 1967 hingga Desember 1969 dibawah komando  Brigadir Jenderal AJ Witono.

Dalam Operasi Saber inilah  peristiwa “Mangkok Merah” terjadi pada bulan Oktober-November 1967. Peristiwa Mangkok Merah sendiri dipicu oleh terjadinya penculikan dan kekerasan  yang dialami Temenggung Dayak di Sanggau Ledo. TNI kemudian mempropagandakan bahwa kekerasan itu dilakukan oleh  GTK alias Paraku-PGRS. Propaganda ini diperkuat lagi dengan penemuan sembilan mayat oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kemudian mereka  sebut sebagai mayat tokoh-tokoh Dayak.

Tak pelak, temuan RPKAD ini membuat marah banyak warga Dayak. Ditambah lagi, Harian milik TNI,  Angkatan Bersenjata (AB),  segera ‘mengipas-ngipas’ orang Dayak agar membalas kematian para pemuka adat mereka.

Kekerasan  horizontal pun dimulai. Warga Dayak terprovokasi untuk turut  bersama TNI melakukan perburuan terhadap anggota Paraku-PGRS.  Namun, gerakan penumpasan oleh orang Dayak ini ternyata tidak hanya menyasar anggota Paraku-PGRS saja, tetapi juga warga etnis Tionghoa secara umum! Wilayah Kalimantan Barat pun segera tenggelam dalam ‘lautan’ kekerasan  berdarah bernuansa rasialis.

Sebenarnya, kekerasan rasialis yang dilakukan warga Dayak ini tidaklah murni inisiatif mereka mengingat harmoni diantara etnis Dayak dan Tionghoa di Kalimantan Barat telah terbangun selama ratusan tahun. Rusaknya hubungan yang harmonis ini terjadi dikarenakan strategi penumpasan Paraku-PGRS yang digunakan militer  Indonesia adalah dengan cara ‘pengeringan kolam’.

Menurut Indonesianis asal Amerika Serikat (AS), Herbert Feith, pengertian dari istilah ini adalah : mengeringkan ‘kolam berarti  menghabisi masyarakat Tionghoa, agar ‘ikan’  atau yang dalam kasus ini diasosiasikan kepada pihak gerilyawan Paraku-PGRS  bisa  mudah terlihat  dan dengan begitu juga mudah  untuk ditumpas. Dan warga Dayak tak lebih Sebagai operator dari implementasi strategi militer tersebut.

Gerakan Warga Dayak yang disokong TNI sebagai upaya melakukan “pengeringan kolam” terhadap warga Tionghoa inilah yang kemudian dikenal sebagai  peristiwa Mangkok Merah.

Istilah Mangkok Merah diambil dari terminologi adat suku Dayak, dimana terjadi mobilisasi besar-besaran warga suatu klan untuk membalas rasa malu atau penderitaan dari anggota klannya yang disebabkan oleh ulah warga dari klan lain.

Mobilisasi ini menggunakan alat peraga sebuah mangkuk yang bagian dalamnya diolesi getah jaranang berwarna merah sebagai simbolisasi dari  “ pertumpahan darah “ yang akan dilakukan sebagai bentuk balas dendam tersebut.

Jadi, tampak militer dengan lihai memanfaatkan adat istiadat suku Dayak demi mengobarkan konflik rasialis.

 

Hasil dari  peristiwa ‘Mangkuk Merah’ ini adalah terbunuhnya ribuan orang Tionghoa Kalimantan Barat. Far Eastern Economic Review (FEER)  terbitan bulan Juni 1978 menyatakan peristiwa tersebut menelan korban jiwa 3.000 orang Tionghoa, terutama mereka yang tinggal di pedalaman Kalimantan Barat. Akibatnya, banyak warga Tionghoa pedalaman pindah  ke daerah  perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang. Bahkan, adapula  warga Tionghoa yang lari ke Kalimantan Utara. .

Peristiwa Mangkok Merah pun menjadi bagian dari catatan kelam riwayat pembantaian massal dan penindasan terhadap golongan kiri dan etnis Tionghoa diawal Orde Baru.

Sejarah telah menunjukkan, bahwasanya dibutuhkan banyak tumbal manusia bagi tegaknya sebuah rezim kaki-tangan imperialis. Peristiwa ini juga merefleksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang  lahir sebagai  buah dari ‘perkawinan’ antara  imperialisme dan rasialisme.

Hiski Darmayana, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan alumnus FISIP Universitas Padjajaran (Unpad

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20130120/peristiwa-mangkok-merah-ketika-imperialisme-mengawini-rasialisme.html#ixzz2gXBCqMPU
Follow us:
@berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

29 desember 1963

 

Bro ada yang janggal menurut saya.
Penyerangan ke Kalabakan terjadi pada 29 Desember 1963. sedangkan perjanjian damai itu terjadi pada tahun 1966.

Mungkin yang dimaksud adalah peristiwa perang yang terjadi di Kalabakan pada tanggal 30
Oktober 1966

Saat itu tentara kita menyerang posisi 3RMR. Hasil dari serangan itu dilaporkan dari pihak lawan 8 tewas dan 19 luka

Yang hasil nya 8 tewas, 19 luka itu yang terjadi tanggal 29 Des 1963, dipimpin Sersan Rebani dan korban pihak Malaysia dimonumenkan serta dikenal sebagai Kalabakan Raid.
Jadi penasaran dg “serangan Kalabakan lainnya”
Denger denger atau baca baca sih memang pada tahun 67 pun masih ada serangan ke pihak Malaysia krn pasukan yg menyerang sudah jadi gerilyawan yg susah menerima informasi karena sulitnya medan.

mau nanya apakah bener itu gerilyawan PGRS /Paraku merupakan hasil sampingan milisi yg dilatih selama Dwikora? Malaysia butuh 20 tahun loh untuk menyelesaikannya sampe2 mereka bilang, mereka adalah antigerily terbaik di ASEAN

 

Pertempuran di Kalabakan

 

 

 

Harus diakui, dari sekian banyak kegagalan penyusupan sukarelawan Dwikora ke perbatasan, kesuksesan penyerbuan dan penyerangan ke Kalabakan merupakan suatu catatan gemilang bagi pihak Indonesia. Namun, ada sejumlah fakta menarik yang tak banyak diketahui publik, seperti dikisahkan sendiri oleh Mayjen Walter Walker dalam otobiografinya, :Fighting General. The Public and Private Campaigns of Sir General Walter Walker.”

 

Alkisah, sebenarnya pendadakan di Kalabakan tidak perlu terjadi, karena sudah ada peringatan sebelumnya dari Brigadir Jenderal Glennie, Deputy Director of Operations. Glennie yang gemar menyusuri anak sungai di Kalimantan dapat membaca, kalau Tawau yang memiliki banyak industri perkebunan dan 3/5 populasinya adalah warga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), merupakan wilayah atau tempat strategis yang dengan mudah dapat didadaki.

 

 

Lima kompi digelar dan diterjunkan Indonesia di Pulau Sebatik. Reputasi serta keahlian tempur prajurit Indonesia yang cukup membuat ngeri, membuat Glennie memberikan peringatan waspada bagi prajurit 3rd Batt, Royal Malay Regiment (RMA) dan satu kompi King’s Own Yorkshire Light Infantry yang saat itu menjaga Tawau. Karena Royal Navy memiliki destroyer yang memiliki radar di lepas pantai Tawau, Brigjen Glennie bisa membaca bahwa arah serangan nantinya akan datang bukan melalui wilayah laut, melainkan dari wilayah rawa yang sulit dijaga.

 

Sayangnya, 3rd RMA yang baru tiba di Tawau tidak mengikuti perintah Glennie. Saat 35 KKO dan 128 sukarelawan menyeberangi perbatasan, tujuan awal mereka memang menyerang Kalabakan di sebelah barat dan kemudian menunggu dukungan dari TKI yang bekerja disana untuk bergabung bersama dan menduduki Tawau. Strategi popular uprising, yang merupakan gaya komunis ini didasarkan pada laporan intelijen yang terlalu berani dan cenderung mengarah ke ilusi.

 

Setelah delapan hari melintasi rawa, pada 29 Desember pasukan KKO tiba di tepi hutan di sekitar Kalabakan, dan siap untuk melancarkan serangan. Kalabakan sendiri hanya diperkuat di dua posisi, satu pos polisi di tepi sungai yang mengarah ke Cowie Harbour dan dua gubuk milik RMA. Pos polisi yang diperkuat oleh barikade kawat berduri dan kantung pasir dijaga oleh 15 personel. Sementara itu RMA memiliki kekuatan satu peleton dan dua seksi. Bodohnya, gubuk-gubuk ini tidak diperkuat oleh karung-karung pasir yang setidaknya bisa menghentikan laju peluru.

 

Saat malam tiba, prajurit 3rd RMA juga tidak disiplin. Sebagian besar bersantai, ada yang sedang makan, membaca buku, mencuci baju, dan tidak ada personel yang berpatroli. Tepat pukul 11 malam, para prajurit KKO yang bergerak dalam senyap mencabut pin granat dan melemparkannya melalui lubang jendela yang terbuka lebar, lalu dengan cepat menghujani kedua gubuk tersebut dengan tembakan senapan serbu AK-47.

 

Delapan prajurit Malaysia yang sama sekali tak sigap, terlambat bereaksi, dan akhirnya tewas seketika diberondong peluru, termasuk komandan kompi, 19 prajurit Malaysia lainnya terluka sehingga tak mampu melawan. Kelompok KKO lain yang menyerang pos polisi tidak seberuntung serangan pertama, karena para prajurit yang berjaga dapat mundur ke pos mereka yang memiliki pertahanan baik dan lalu menyerang dari dalam. Kelompok lain yang menyerang perusahaan kayu menemukan kantor dalam keadaan kosong, lalu menjarah apa saja yang ada didalamnya, termasuk wiski.

 

Sementara itu, sang manajer perusahaan kayu kabur dan lari ke markas 3rd RMA yang baru diserang, dan meminta para prajurit Malaysia untuk menyerang balik, tapi mereka terlalu takut dan memilih bersembunyi. Tak sampai satu jam, seluruh penyerang undur diri ke rawa-rawa di sekitar Kalabakan dan menunggu pergerakan rakyat Indonesia untuk merebut Tawau. Seandainya saja para penyerang langsung bergerak maju ke Tawau, akhir ceritanya pasti akan berbeda.

 

Mayjen Walter Walker dikabari pukul 2 malam waktu setempat, bahwa Tawau telah diduduki. Ia melakukan inspeksi sendiri ke lokasi pertempuran di Kalabakan pada pagi harinya. Walker juga dikabari bahwa Tunku Abdul Rahman sudah mengetahui kejadian penyerangan di Kalabakan, dan mengumumkan akan berangkat ke Sabah dan langsung ke Tawau untuk observasi lapangan lebih lanjut. Itu merupakan penyerangan terbuka pertama, perang pertama antara Indonesia-Malaysia.

 

Mendengar hal ini, Mayjen Walker langsung minta diterbangkan ke Kinabalu- saat itu bernama Jesselton- untuk mengunjungi Tunku. Disana ia bertemu Inspektur Jenderal Polisi Claude Fenner yang telah tiba lebih dulu. Walker lalu memberitahu Fenner segala sesuatunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, juga termasuk peringatan yang sudah diumumkan oleh Glennie jauh-jauh hari sebelumnya dan juga mengenai pasukan 3rd RMA yang payah. Walker memutuskan akan menceritakan segala fakta pada Tunku, tapi ditahan sejenak oleh Fenner. Fenner yang mengenal Tunku dengan sangat baik, tahu bahwa Tunku memiliki rasa ego yang tinggi. Tunku pasti tidak akan percaya bahwa prajurit pribumi melayu, yang dikenal hebat, ternyata takluk dan dapat dikalahkan oleh prajurit Indonesia dengan stanpa perlawanan yang berarti.

 

Atas nasehat Fenner, Walker akhirnya memoles ceritanya. “Pasukan Indonesia melakukan penyerbuan dengan gerakan merapat dengan sangat baik, memanfaatkan hutan-hutan disekitar wilayah Kalabakan, dan melakukan penyerangan mendadak dalam jumlah yang sangat besar, kira-kira satu batalion, perlawanan pasukan Malaysia yang kalah jumlah berlangsung sampai titik darah penghabisan!” , dari sinilah, maka disebutkan bahwa Kalabakan diserbu oleh satu batalion prajurit KKO, padahal faktanya para penyerang hanyalah berjumlah tidak lebih dari tiga regu. Tunku yang mendengar hal tersebut merasa terharu dan tergerak hatinya, dan saat menjenguk prajurit yang selamat di Tawau, Beliau memberikan para prajurit tersebut sejumlah uang, serta mendirikan monumen baru- untuk mengenang peristiwa penyerangan tersebut- yakni; Monumen Kalabakan.

 

 

ini masa dwikora

howitzer Type 54

 

Quote:Original Posted By suromenggolo
tambahin ahhhh
ini masa dwikora

foto yang DP

17-01-2013 01:43


dua anggota tni yang tertangkap penduduk setempat


lima anggota tni yang juga tertangkap saat menyusup lewat laut


anggota tni yang tidak beruntung menjadi trophy of war

beberapa barang yang disita :

Mau tanya dulu tapi agak OOT, suku2 di Irian jaman2 segitu masih banyka yg suka kanibalisme atau mengayau ya? Kalau nggak salah seorang Rockefeller juga pernah hilang tanpa jelas nasibnya di salah satu sungai di Irian, terus populasi di sana pada saat itu lebih banyak pro Belanda atau Indonesia sih? Plus apakah setiap prajurit yg diterjunkan diajari adat istiadat dan bahasa orang Irian ya mungkin kalau jaman sekarang konsep “Winning Hearts and Minds”nya US di Iraq dan Afghanistan, btw ada buku bagus ttg Operasi Trikora ?

setahu saya belum ada satu buku pun yg merujuk ke trikora yg ada hanyalah edisi koleksi angkasa mengenai trikora dan yg lebih banyak dibahas disana adalah peran PGT (korpaskhas, yg pasca Orba emang terpinggirkan)

suku2 di Irian bukan hanya mengayau tapi memakan musuh adalah tradisi mereka. jelas jumlah penduduk asli pasca di bawah Indonesia jauh lebih besar drpada di jaman belanda

Sayangnya tentara kita tak ada yg diajarin bahasa daerah Irian khan, ini karena jumlah bahasa di Irian adalah terbanyak di muka bumi sekitar 200-an

mau nanya foto2 penggelaran Marinir di Dwikora

Sudah sepantasnya pemerintah melaksanakan hari Trokora secra nasional kalo dwikora mkn dilaksanakan dalam lingkup TNI

Menambahkan data saja soal TRIKORA:

– Jumlah infiltran yang berhasil masuk ke Irian sebanyak 1.592 orang, dengan rincian melalui laut 438 orang dan melalui udara 1.154 orang.

– Jumlah yang gugur 153 orang
– MIA 64 orang
– POW 296 orang

Penghargaan:

1.165 orang mendapatkan Bintang Sakti
20 orang mendapatkan Satyalencana Bhakti
1.402 mendapatkan Satyalencana Dharma.

sumber: Sejarah TNI AD 1945 – 1973

howitzer Type 54

 

 

Kalabakan, the untold story……

Friday, April 20, 2007

In the excitement of going on active service the 3rd Battalion overlooked some basic, practical precautions. They had, in fact, been told what to expect by Brigadier Glennie (Deputy Director of Operations) himself. An enthusiastic yachtsman, Glennie took a particular interest in the maze of creeks and rivers that ran through the swamps along the Tawau coastline and had himself set about organizing a flotilla of small patrol craft that came to be known rather grandly as the Tawau Squadron. He studied the particular problems of this end of the Borneo flank and decided that an attack was to be expected.

Tawau was almost as tempting a target as Kuching. It was prosperous centre for many rural industries-timber, rubber, tea, cocoa, hemp and palm oil-and three-fifths of the population were Indonesian immigrant workers and their families. The port itself stood on the northern shore of Cowie Harbour, and across the bay lay Sebatik Island, some thirty miles long, of which half belonged to Malaysia, half to Indonesia. On Sebatik and along the frontier the Indonesians had deployed five companies of regular marines-the Korps Komando Operasi or KKO- and a training camp for volunteer terrorists, some of them from the logging camps of Sabah.

The 3rd Battalion, Royal Malay Regiment, together with a company of the King’s Own Yorkshire Light Infantry and some local gendarmerie were responsible for the defence of Tawau and its environs and Glennie told them to expect an attack. Despite the presence of the Indonesian marines he did not expect this to come by sea, if only because the Royal Navy always kept a frigate or destroyer off Tawau and an efficient radar watch was maintained. But he did think that the attack would come through the swamps and he advised the newly-arrived Malays to prepare for it with patrolling and a defence system in depth.

They had not acted on Glennie’s advice when a strong force of raiders-thirty five Indonesian regulars leading one hundred and twenty –eight volunteers –crossed the border. Their intention was first to capture the defended village of Kalabakan to the west of Tawau and at the head of Cowie Harbour , then, as the Indonesian expatriates rose to support them, advance on Tawau itself. After crossing into Sabah, the raiders lurked undetected in the swamps and forests for eight days, then on 29th December were ready to launch their attack.

There were two defensive positions at Kalabakan. On the bank of the river running into Cowie Harbour stood the police station, fortified with sandbags and barbed wire and manned by fifteen policemen. Four hundred yards away, a platoon and two sections of the Royal Malay Regiment, under their Company Commander occupied two huts. Although trenches had been dug nearby, the huts themselves were not fortified in any way. After dark that evening, the unsuspecting Malay soldiers were engaged in domestic activities, washing and cleaning clothes and equipment. Their sentries were not alert.

At two o’clock in the morning Walker’s telephone rang and the duty officer at his headquarters told him that Kalabakan had been attacked and had fallen. The attack had been launched just before eleven o’clock. An assault group had crept up to the Malays, flung grenades through the windows and opened automatic fire. Before the Malays could reach their weapons, eight had been killed, including the company commander, and nineteen wounded. Tem minutes later, another party had assaulted the police station but the small garrison had had time to rush inside their perimeter and successfully fought off the attack. In the timber company manager’s house they helped themselves to his whisky, while his wife and their cook hid under the bed. The manager himself, out at a logging camp, made for the Malays’ strongpoint. Reaching the survivors, he told them that this was the moment to counter-attack and he would join them himself. But, shocked into inaction, they stayed where they were.

The Indonesians moved out of the village but, content with their success, did not move directly upon Tawau, where they might have been able to repeat it. Instead, they traveled north to lie low in the wilds where they believed they would be safe.

Next morning Walker flew to Tawau. On arrival Walker sent a signal asking for urgent reinforcements and, at once, the 1/10th Gurkhas who had already served in Sarawak, began returning from Malacca. But Walker also heard that the news had been reported to the Tunku Abdul Rahman verbally and, to spare his feelings, the signal giving details of the action had been kept from him. On hearing of the disaster he had at once announced his intention of flying to Sabah to visit the survivors of the first battle fought directly between Malaysia and Indonesia.

Walker flew to Jesselton-the capital of Sabah, now to be renamed Kota Kinabalu-to meet him and was relieved when Fenner (Inspector General of Police Claude Fenner) arrived by an earlier aircraft. Walker told him that the inexperienced Malay soldiers had been ‘caught with their trousers down’. This often happened under such circumstances and was a lesson to be learned. He intended to tell the Tunku exactly what had happened. The Inspector General of Police Claude Fenner strongly advised him not to do so. Whether or not British troops had suffered similar disasters in war, the Tunku would never accept or believe that his soldiers had been caught by surprise and defeated. Walker realizing that Fenner knew the Tunku better than he did, agreed.

When the Tunku arrived, Walker told him the story of the action in diplomatic language. The Indonesians had approached with great skill, using the cover of Kalabakan, so enabling them to rush the Malay position in overwhelming numbers. This was both true and tactful. The Tunku was immensely moved and, on arrival at Tawau, tearfully greeted his wounded soldiers, gave each a handsome cash bounty and decreed that a monument should be erected at Kalabakan to the dead.

Reference:Extracts from, “Fighting General. The Public and Private Campaigns of General Sir Walter Walker”. Author : Tom Pocock

Library Mindef

 

Yakin Raid Kalabakan cuma terjadi sekali?
Ada 1 Raid yang mengakibatkan Inggris/Australia/Malaysia menjadi sangat berang, sehingga Operasi Claret dilancarkan, dan rencana carpet bombing ke Kalimantan/Sumatera, bahkan ke Pulau Jawa jika perlu.

Memang masih banyak fakta yang belum terungkap ke publik. Hanya bisa kita ketahui dari arsip-arsip pelaku sejarah. Sama halnya dengan Inggris/Australia/Malaysia, mereka menutup rapat akses info ke beberapa “operasi/peristiwa”.

Jika anda jeli, dalam buku pertama LB pernah disinggung raid yang hampir menghancurkan perjanjian damai, walau tidak diulas secara detail, dan itu bukan Kalabakan 1. Detail operasi sekilas juga pernah disinggung di buku Faisal Tandjung.

Mengenai sumber, cukup banyak. Panjang kalau dituliskan satu persatu, terutama dari testimoni para pelaku-pelaku sejarah.

Di quote ada yang ketawa-ketawa emot nya. Ngga tau maksudnya apa

1963

Jumlah kaum intelek anggota PKI, LEKRA telah mencapai 100.000 orang pada medio tahun 1963. Semua ini telah menempatkan PKI sebagai partai komunia terbesar diluar negara komunis. Bagi T.N.I, kampanye untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda adalah kesempatan terbaik untuk membangun kekuatan militernya.

Hal ini sejalan dengan usaha memancing simpati Rusia sebagi blok sovyet yang sedang perang dingin dengan blok Amerika. Bantuan hibah (grant) atau pinjaman ringan merupakan masa paling mewah bagi pembangunan kekuatan militer Indonesia.

Ketika tidak satupun negara Asia Tenggara yang memiliki pesawat pembom jarak menengah, kita suda punya squadron Elyusin dengan semua perangkat penunjangnya.

Kekuatan udara pesawat tempur AURI tiba-tiba melompat dari pesawat propeler tua kepada pancargas modern, seperti Mig 15, 17 dan terahir 21.

Tidak lupa untuk pertama kali kita juga diperkenalkan dengan sistim radar canggih dan peluru kendali dari darat keudara.

Demikian pula kekuatan laut kita saat itu tidak bisa dibilang kecil. Kita memiliki sejumlah kapal perang besar, kapal selam, kapal cepat torpedo, penyapu ranjau, amtrack, tank amfibi dan masih banyak lagi.

Tapi semua itu yang paling mewah adalah angkatan darat. Sejumlah perwira tinggi yang diketuai Jenderal AH. Nasution, telah mendapat undangan untuk berkunjung ke Rusia untuk diperkenalkan pada kekuatan militer pakta warsawa. Angkatan darat dengan kekuatan infantrinya akan ditunjang oleh kekuatan arteleri dan kavaleri tingkat dunia.

 

Senjata pasukan yang dimiliki mulai dari senjata ringan Kalasnikof (AK 47), Bren AK, pistol Tokaref, sampai peluncur granat yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Demikian juga telah diadakan pelatihan militer bagi personil ketiga angkatan di negara-negara blok sovyet dan kunjungan konsultan militer Rusia juga bagi ketiga angkatan.

Semua kenyataan ini rupanya sukar dipahami secara arief oleh para pejabat Pemerintahan. Seyogyanya persiapan perang ini juga diimbangi dengan penkondisian sosial, politik dan ekonomi secara baik pula. Namun hal itu tidak segampang membalik tangan. Kondisi ekonomi nasional sedang merosot. Indonesia justru sedang menghadapi hiper-inflasi yang permanen (sekitar 100 % pertahun) mulai tahun 1961 sampai tahun 1964.

 

Padahal dilihat dari sudut pandang dunia luar dalam negeri kita sedang hanyut pada keadaan radikalisme politik. Bagi kepentingan Amerika, hal ini rupanya bukan main-main. Melihat pihak militer yang amat tergantung pada blok Sovyet, dan pembangunan politik dalam negeri yang dikuasai PKI. Maka tidak ada pilihan lain. Amerika menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Sebagai negara kecil Belanda yang saat itu dipimpin Perdana menteri de Quai tidak punya pilihan lain. Pada bulan Februari 1962, Presiden Kennedy mengutus adiknya Jaksa Agung Robert Kennedy untuk bertindak sebagai penengah. Meskipun perundingan berjalan tidak terlalu mulus, pada tanggal 15 Agustus 1962,

 

Belanda sepakat menyerahkan wilayah Irian Barat pada tanggal 1 Oktober 1962 kepada suatu pemerintahan sementara PBB yang selanjutnya akan menyerahkan kepada pihak Indonesia tanggal 1 Mei 1963.

Dan seperti tertulis dalam sejarah, setelah melalui PEPERA, Irian Barat yang kini bernama PAPUA itu kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Tapi dibalik itu meskipun Soekarno telah mencapai cita-citanya, dalam negeri Indonesia bagai api dalam sekam. Pihak militer melihat PKI sebagai musuh, sebaliknya PKI melihat tentara sebagai seteru. Ketegangan berhasil diatasi Soekarno dengan membangun musuh imajiner baru yang namanya Neo Imperialisme, Neo Kolonialisme dan Neo Kapitalisme.

Yang bentuk nyatanya digambarkan sedang bercokol tidak jauh dari Indonesia, yaitu apa yang disebutnya negara boneka Malaysia. Malaysia dan Singapura telah dimerdekakan Inggris sejak tahun 1957, tapi ada ganjalan Soekarno mengenai hal tersebut. Bukan saja karena merasa satu rumpun, tapi sesungguhnya cita-cita Indonesia Raya itu tak pernah padam.

Pada suatu hari ketika kembali dari Dalat (tanggal 13 Agustus 1945), setelah menghadap Marsekal Terauchi, dikota Taiping (Malaya Utara), Soekarno dan Hatta bertemu dengan sejumlah pemuda perwakilan rakyat Malaya. Ketuanya bernama Ibrahim Yakub, dan atas nama rakyat Malaya, mereka menginginkan bergabung dengan Republik Indonesia saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Soekarno menjanjikannya. Belakngan demikian juga rakyat Kalimantan Utara pernah menyampaikan petisi yang sama ingin bergabung dengan Indonesia.

Bagi Indonesia juga tidak terlalu bersih karena keerap campur tangan dalam negari Indonesia. Misalnya berkaitan dengan gerakan PRRI-Permesta, Malasia merupakan tempat transit kaum pemberontak.

Mungkin saja ada dalam pikiran Soekarno saat itu, kalau peralatan militer yang menggunung yang tidak sempat dipakai saat Irian Barat, bisa dipergunakan untuk konfrontasi dengan Malasia.

Tapi mimpi itu rupanya sukar diwujudkan, karena didalam negeri keadaan politik sudah kadung bagaikan hamil tua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s