KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1967(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1967

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

March,12th.1967
March 12 Assembly (MPR), chaired by Gen. Nasution, receives a committee report on Sukarno’s role in the September 30, 1965 events. The Assembly takes all power away from Sukarno, and names Suharto acting president.

March 12, 1967
Suharto became Acting President
one year after the socalled ” Supersemar” letter

Sumber sukarnoyears

Oktober 1967

Dalam Operasi Saber inilah  peristiwa “Mangkok Merah” terjadi pada bulan Oktober-November 1967. Peristiwa Mangkok Merah sendiri dipicu oleh terjadinya penculikan dan kekerasan  yang dialami Temenggung Dayak di Sanggau Ledo. TNI kemudian mempropagandakan bahwa kekerasan itu dilakukan oleh  GTK alias Paraku-PGRS. Propaganda ini diperkuat lagi dengan penemuan sembilan mayat oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kemudian mereka  sebut sebagai mayat tokoh-tokoh Dayak.

Tak pelak, temuan RPKAD ini membuat marah banyak warga Dayak. Ditambah lagi, Harian milik TNI,  Angkatan Bersenjata (AB),  segera ‘mengipas-ngipas’ orang Dayak agar membalas kematian para pemuka adat mereka.

Kekerasan  horizontal pun dimulai. Warga Dayak terprovokasi untuk turut  bersama TNI melakukan perburuan terhadap anggota Paraku-PGRS.  Namun, gerakan penumpasan oleh orang Dayak ini ternyata tidak hanya menyasar anggota Paraku-PGRS saja, tetapi juga warga etnis Tionghoa secara umum! Wilayah Kalimantan Barat pun segera tenggelam dalam ‘lautan’ kekerasan  berdarah bernuansa rasialis.

Sebenarnya, kekerasan rasialis yang dilakukan warga Dayak ini tidaklah murni inisiatif mereka mengingat harmoni diantara etnis Dayak dan Tionghoa di Kalimantan Barat telah terbangun selama ratusan tahun. Rusaknya hubungan yang harmonis ini terjadi dikarenakan strategi penumpasan Paraku-PGRS yang digunakan militer  Indonesia adalah dengan cara ‘pengeringan kolam’.

Menurut Indonesianis asal Amerika Serikat (AS), Herbert Feith, pengertian dari istilah ini adalah : mengeringkan ‘kolam berarti  menghabisi masyarakat Tionghoa, agar ‘ikan’  atau yang dalam kasus ini diasosiasikan kepada pihak gerilyawan Paraku-PGRS  bisa  mudah terlihat  dan dengan begitu juga mudah  untuk ditumpas. Dan warga Dayak tak lebih Sebagai operator dari implementasi strategi militer tersebut.

Gerakan Warga Dayak yang disokong TNI sebagai upaya melakukan “pengeringan kolam” terhadap warga Tionghoa inilah yang kemudian dikenal sebagai  peristiwa Mangkok Merah.

 Istilah Mangkok Merah diambil dari terminologi adat suku Dayak, dimana terjadi mobilisasi besar-besaran warga suatu klan untuk membalas rasa malu atau penderitaan dari anggota klannya yang disebabkan oleh ulah warga dari klan lain.

 Mobilisasi ini menggunakan alat peraga sebuah mangkuk yang bagian dalamnya diolesi getah jaranang berwarna merah sebagai simbolisasi dari  “ pertumpahan darah “ yang akan dilakukan sebagai bentuk balas dendam tersebut.

Jadi, tampak militer dengan lihai memanfaatkan adat istiadat suku Dayak demi mengobarkan konflik rasialis.

Hasil dari  peristiwa ‘Mangkuk Merah’ ini adalah terbunuhnya ribuan orang Tionghoa Kalimantan Barat. Far Eastern Economic Review (FEER)  terbitan bulan Juni 1978 menyatakan peristiwa tersebut menelan korban jiwa 3.000 orang Tionghoa, terutama mereka yang tinggal di pedalaman Kalimantan Barat. Akibatnya, banyak warga Tionghoa pedalaman pindah  ke daerah  perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang. Bahkan, adapula  warga Tionghoa yang lari ke Kalimantan Utara. .

Peristiwa Mangkok Merah pun menjadi bagian dari catatan kelam riwayat pembantaian massal dan penindasan terhadap golongan kiri dan etnis Tionghoa diawal Orde Baru.

Sejarah telah menunjukkan, bahwasanya dibutuhkan banyak tumbal manusia bagi tegaknya sebuah rezim kaki-tangan imperialis. Peristiwa ini juga merefleksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang  lahir sebagai  buah dari ‘perkawinan’ antara  imperialisme dan rasialisme.

Hiski Darmayana, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan alumnus FISIP Universitas Padjajaran (Unpad

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20130120/peristiwa-mangkok-merah-ketika-imperialisme-mengawini-rasialisme.html#ixzz2gXBCqMPU
Follow us:
@berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

 

Dalam operasi gelombang kedua (Operasi Sapu Bersih II) kesatuan-kesatuan

tempur Kodam XII/Tanjungpura telah diperkuat dengan RPKAD, Siliwangi,

Kopasgat AURI, dan KKO. Operasi Sapu Bersih II menghasilkan lebih memuaskan,

dibanding dengan operasi-operasi sebelumnya. Operasi Sapu bersih II ini ternyata

54 Ibid., hlm. 235. Hierarki dalam pelaksanaan Dwikora adalah (1) KOTI (Komando Tertinggi)

 

dipimpin Presiden Soekarno; (2) KOGA (Komando Siaga) yang berganti nama menjadi KOLAGA(Komando Mandala Siaga) sebagai komandan gabungan angkatan-angkatan; (3) Kopur (KomandoTempur) dan Kodam (Komando Daerah Militer) sebagai pelaksanan dan supporting unit..

55 Ibid., hlm. 243.

56 Ibid., hlm. 244.

57 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

58 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 256.

59 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

 

1967

 

60 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.258.

memakan waktu kurang lebih dua (2) tahun yaitu Agustus 1967 hingga Februari

1969.61 Operasi-operasi militer yang dilakukan ternyata belum mampu

melumpuhkan semua kekuatan PGRS/PARAKU. Dalam perjalanan selanjutnya

pihak militer menggandeng suku Dayak untuk melumpuhkan kekuatan PGRS/

PARAKU.

Pada tanggal 14 Oktober 1967 terjadi peristiwa yang membantu Tentara

Indonesia dalam menumpas PGRS/PARAKU. Gerakan pembasmian terhadap

PGRS/PARAKU dikenal dengan sebutan “Demonstrasi Suku Dayak”. Gerakan ini

kemudian menyebar luas menjadi luapan emosi etnis Dayak, hingga upacara

“mangkok merah”62 pun diadakan. Gerakan Suku Dayak ini kemudian menjadi

sentimen rasial dengan mengidentikkan etnis Tionghoa sebagai anggota

PGRS/PARAKU. Masyarakat dari etnis Tionghoa tanpa pandang “bulu” menjadi

korban dari gerakan demonstrasi.63

Gerakan ini mengakibatkan pengungsian besar-besaran yang dilakukan oleh

etnis Tionghoa menuju ke Kota Pontianak.64 Pengungsian ini tidak saja menimbulkan

masalah di kota-kota penampungan dan derita psikis yang dialami keluarga korban

pembantaian oleh etnis Dayak tersebut. Namun juga, sirkulasi perdagangan di

daerah pedalaman Kalimantan Barat menjadi lumpuh. Setelah gerakan Suku Dayak

terhadap PGRS/PARAKU, maka kegiatan-kegiatan PGRS/PARAKU mulai

menurun intensitasnya. Tekanan-tekanan Pasukan Indonesia menyebabkan

PGRS/PARAKU semakin terjepit. Putusnya jalur logistik dengan mengungsinya

ribuan orang Tionghoa menyebabkan banyak anggota PGRS/PARAKU yang

menyerahkan diri.

Dilihat dari sudut ekonomi dan sosial akibat yang dapat dirasakan adalah

sebagai berikut: (1) Putusnya aliran perdagangan yang semula dilakukan oleh

pedagang-pedagang Tionghoa, maka muncul problema bagaimana mengalirkan lalu

lintas perdagangan dari dan ke pedalaman; (2) Kebun dan ladang yang ditinggalkan

pemiliknya menjadi terlantar yang berakibat turunnya produksi beberapa jenis

komoditi Kalimantan Barat; (3) Arus pengungsi yang mengalir ke kota-kota

merupakan beban yang harus ditanggung pemerintah dan masyarakat.65

F. Penutup

Terbentuknya Pasukan Gerilya Rakyat Serawak/Pasukan Rakyat Kalimantan

Utara (PGRS/PARAKU) merupakan kristalisasi dari gerakan kelompok-kelompok

yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Pihak yang secara langsung

dirugikan atas pembentukan Federasi Malaysia melakukan perlawanan, yang

61 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

62 Upacara adat yang merupakan ajakan (solidaritas) perang, berupa sesajen yang diletakkan di

mangkok dan diedarkan dari kampung ke kampung. Bagi kampung/orang yang menerimanya

wajib mengirimkan perwakilannya untuk berperang. Bagi masyarakat umum Mangkok Merah juga

dapat dijadikan ukuran bahwa konflik/perang yang terjadi merupakan perang besar, yang

membutuhkan solidaritas lintas sub-suku Dayak.

63 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.270.

64 Dalam Tandjungpura Berdjuang, idem, hlm. 277, disebutkan 50.000 orang Tionghoa mengungsi

dan 250 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Menurut Tyhie Dju Khian atau Petrus yang

diperolehnya dari badan dunia yang menangani pengungsi saat kejadian, ada 3.000 orang

meninggal dan 70.000 mengungsi, lihat Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (10)”, Borneo

Tribune, Selasa, 19 Februari 2008, tulisan dikutip dari blog pribadi penulis dengan alamat

http://muhlissuhaeri.blogspot.com

65 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.280..

ditandai dengan terbentuknya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) dan

kemudian PGRS/PARAKU. Sedangkan di luar negeri, Indonesia dan Filipina

sebagai penentang utama Federasi Malaysia kemudian mendukung gerakan anti

Malaysia, yang berarti mendukung NNKU dan PGRS/PARAKU.

Sikap Pemerintah Indonesia pada Orde Lama yang menentang pembentukan

Federasi Malaysia menyebabkan keluarnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang

mendukung PGRS/PARAKU. PGRS/PARAKU berhasil bertahan dan terus

melakukan perlawanan terhadap Federasi Malaysia karena dukungan yang

diberikan Pemerintah RI, bahkan PGRS/PARAKU berhasil mendapat suntikan

tenaga dengan bekerja sama dengan PKI dan terbantu dengan pengerahan para

sukarelawan oleh Pemerintah Indonesia.

Sikap Pemerintah Orde Baru sangat bertolak-belakang dengan Orde Lama.

Dengan ditandatanganinya Jakarta Accord, maka konflik antara Indonesia-Malaysia

berakhir. Namun, PGRS/PARAKU tidak mengakui persetujuan tersebut dan tetap

menolak pembentukan Federasi Malaysia. Akibatnya Pemerintah Orde Baru

menumpas PGRS/PARAKU. Operasi-operasi penumpasan yang dilakukan Tentara

Indonesia, seperti Operasi Sapu Bersih dan Operasi Tertib berhasil melumpuhkan

sebagian kekuatan PGRS/PARAKU. Puncaknya ketika terjadi gerakan Suku Dayak,

yang pada awalnya ditujukan untuk menumpas PGRS/PARAKU, namun meluas

menjadi kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa.

Daftar Pustaka

Baskara T. Waradaya. 2007. Cold War Shadow: United States Policy Toward Indonesia

1953-1963, Yogyakarta: Galang Press.

Departemen Penerangan RI. 1964. Gelora Konfrontasi Menggajang Malaysia. Jakarta:

Departemen Penerangan.

Hidayat Mukmin. 1991. TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian

Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

La Ode, M.D. 1997. Tiga Muka Etnis Cina–Indonesia Fenomena di Kalimantan Barat.

Yogyakarta: Biograf Publishing.

Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.

Muhlis Suhaeri, 2008. “The Lost Generation (1)”. Borneo Tribune. Minggu. 10 Februari

2008.

____________, 2008. “The Lost Generation (10)”. Borneo Tribune. Selasa. 19 Februari

2008.

Ongkili, James P. 1985. Nation-Building in Malaysia 1946-1974. Singapura: Oxford

University Press.

Pembayun Sulistyorini. 2004. “Pemberontakan PGRS/PARAKU di Kalimantan

Barat”. Jurnal Sejarah dan Budaya Kalimantan, edisi 03/2004. Pontianak: Balai

Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Halaman 39.

Ricklef, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.

SEMDAM XII/Tanjungpura. 1970. Tandjungpura Berdjuang, Pontinak: Kodam XII

Tanjungpura.

Soemadi. 1974. Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia

Tenggara. Pontianak: Yayasan Tanjungpura.

__________________. Amanat Komando Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin

Besar Revolusi Indonesia Pada Appel Besar Sukarelawan Pengganjangan

Malaysia di Depan Istana Merdeka, Djakarta, 3 Mei 1964.

Wawancara langsung dengan L.H. Kadir, pada hari Minggu, 20 Juni 2008 pukul

17.00 Wib lokasi di kediaman L.H. Kadir, jalan M.T. Haryono No. 40 Pontianak,

Kalimantan Barat.

Muhlis Suhaeri. “The Lost Generation”. http://muhlissuhaeri.blogspot.com

 

Seragam PARAKU (Eksponen Komunis Cina)

 

Seragam PARAKU

Advertisements

6 responses to “KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1967(BERSAMBUNG)

  1. Saya tertarik dgn buku dan catatan ini, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan, email ku adiwunegara@yahoo.com

  2. Reblogged this on The Best Colourful Country – Indonesia and commented:
    Pergolakan Kalbar Versi Dr. Iwan Suwandy, MHA

  3. Arief Sepya Maulana

    pak, saya membutuhkan buku2 referensi mengenai PGRS/PARAKU khususnya fokus kajian ke “Peristiwa Mangkok Merah” yang melibatkan TNI dan suku dayak dalam menumpas PGRS/PARAKU utk skripsi saya pak. Bagaimana saya bisa mendapatlan buku2 tersebut? mohon info ke email saya sepyamou@gmail.com

    trmksh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s