KISI INFO INDONESIA 1939 (BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1939

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Koleksi Sejarah Indonesia 1939

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Hak cipta @ Dr Iwan 2013

1939

 

 

Gadis berpakaian adat di Muara Lakitan (tahun 1939)

Kecamatan Muara Lakitan adalah wilayah Kabupaten Musi Rawas yang pertama kali kita masuki jika kita berkendaraan dari kota Palembang lewat Sekayu menuju Kota Lubuk Linggau.Kecamatan Muara Lakitan memiliki Potensi Tambang Batu Bara diantaranya di Desa Semangus yang telah beberaatpa kali didatangi pihak PT.Bukit Asam

 

Pakubuwono X meninggal tahun 1939

 

 

Queen Gusti GKR Hemas, consort of Pakubuwono X, 1866 – 1939 Tenth Susuhunan or ruler of Surakarta, Java, Indonesia From The Century Illustrated Monthly Magazine, May to October 1904

 

1939

 

 

The Bali Jewellary  golden earing and bracelet in 1939

 

 

The motif of Bali gold prada Batik in 1939

 

 

The Bali dance gordel stich embroidery  in 1939

 

 

Bali Dance costume with jewellary in 1939

 

 

The Bali dance costume stich embroidery in 1939

 

 

 

 

 

 

Willem Gerard Hofker, The Farmer From Batoboelan, 1939

Walter Spiess in 1939

Spies’s stay in Bali ended in 1939 when he was taken to court and jailed for homosexuality during a morality-driven witch hunt by the Dutch government. While imprisoned in Surabaya he painted his best work hailed as magical realism depicting changes in feelings and subconscious attitudes: The Landscape and its Children.

The work shows the painter’s longing for Bali and the tricks the mind plays as a place once called home fades into distant memory. In 2002 this painting sold for over US$1 million through Christie’s Singapore.

His Scherzo for Brass Instruments, reputedly painted in a half-trance state contains many incarnations of the artist as he explores an inner landscape from various points of view. In a letter to Carl Gotsch, Spies describes the process of painting Scherzo as a spiritual and sacred purification of the soul akin to rebirth: “The funny thing is I really feel as if this is my very first painting. I really feel as if I am beginning a new life.”


Scherzo for Brass Instruments by Walter Spies, Oil on Board, 1939

Dedicated to Leopold Stokowski, then the conductor of Chicago’s Philharmonic Orchestra, Scherzo was shipped from Surabaya to America but never reached its destination. Today’s reproductions are from photographs taken by Spies in prison.

In his fatherland this German artist is probably better known as the art advisor to several movies such as Friedrich Murnau’s version of the Dracula story, Nosferatu. Yet despite living only a fraction of his life in Germany Spies’ citizenship twice caused him to be interned during war.

Born in Moscow and raised mostly in Russia he was interned in the Ural Mountains during the first World War. He was also interned by the Dutch in Ngawi, East Java and Kotatjane, Sumatra during the second World War.

8 Agustus 1939

 

Majallah wanita 8 agustus 1939 dengan wanita jawa memakai sarung batik dan kebaya.

 

Bioscoop Masa Kolonial

 

1920

Cinema(bioscope)

Scalabio

Bioscoope  192o

The founder Tan Giok Lin

 

The picture of Tan giok Lin hanging at the wall in his daughter and son in law house at Tanah lapang alang Lawas Padang city in 1960

The Scalabio Cinema Location at Balai Baroe street(New Market),now Rio Cinema Pasar raya(Great Market) belong to my grand-grandFather Tan Giok Lin which directed by his son Tan Kim Tjoen after Tan Giok Lin passed away but due to the developed the sound film technology this bioscope off and sold to Ang Eng hoat(grandfather of ang Tjeng Liang) the owner of Cinema Thearer(now Karya Bioscope)

 

During tarzan film,many monkey used as decorations, and the first speaking movie only speak one word only,this told by my mother in memoriam anna,and she went to Scala Bio belong to his grandpa with the Ford Car.

The scala Bio then bankrupt because the speaking movie only contact by Cinema bioscope ownees by Ang eng hoan,grandpa of Ang Tjeng Liang, scala bio that time belong to the grand pa of Johnny hendra only contract the silent movie only.

 

Look the minangkabau film poster  MELATI van AGAM from newspaper clipping below

 

 

Nonton Bioskop Di Padang Tempo Doeloe

 

Padang adalah kota di Sumatera yang paling duluan maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan ‘modern’ sudah mulai berkembang di Padang.

Kota ‘modern’ tentu memerlukan berbagai sarana, termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya.

Media-media hiburan ‘modern’ hasil teknologi Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama kemudian akan diperkenalkan juga di Padang.

Phonograf (mesin bicara), misalnya, pertama kali diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia.


Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah menikmati film bioskop (dari kata Belanda:
bioscoop). Fantastis ya! Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope,

 

ScalaBio[scope]( milik grandgrandpa Dr Iwan ,Tan Giok Lin)dan Cinema Theatre  (milik Ang Eng Hoat ,ayah Ferry Angriawan produser Firgo film)

adalah empat bioskop pertama yang didirikan di Padang.

Menurut Ibu Saya Anna tjoa giok Lan,cucu Tan giok Lin, saat film bisu diputar ,diiringi music band dan saat cerita tarzan banyak monyet di taruh dalam dan digantung sekitar bioskop scalabio, saat fulm bersuara pertama hanya satu kata saja yang di katakana(Dr Iwan,note)

Baca info lebih lanjut

Memasuki tahun 1920-an

 bioskop juga dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), dan Payakumbuh.

Nonton bioskop pada zaman itu unik. Orang nonton film pakai sarung dan peci. Perempuan pakai kebaya (tapi belakangan mulai tampil modern dengan rok dan blus).

Jadi, pakaian ke surau dan ke bioskop pada waktu itu nggak bedabeda amat; susah membedakan apa orang mau pergi nonton atau pergi mengaji.

Antara kaum pribumi dan orang Eropa (Belanda) dan orang Cina kaya dibedakan tempat duduknya dalam panggung bioskop.

 Orang Eropa duduk di kelas Loge; Cina kaya di Kelas I; Pribumidi Kelas II dan Kelas III(namanya stales,alias setalen atau 25 sen)

Jadi, segregasi ras dan kelas sosial jelas banget dalam gedung bioskop pada masa itu.

Pertunjukan film—yang disebut “gambar hidoep”—biasanya diadakan dua atau tiga kali semalam.

 Filmnya masih sangat sederhana dan kebanyakan film bisu (film bersuara baru diperkenalkan sejak tahun 1927) dengan rol film yang pendek-pendek dan oleh karenanya harus sering bersambung Bahkan sering juga bioskop hanya memutar pantulan foto-foto dari ekspedisi ilmiah ke pedalaman Afrika dan Amerika kalau kebetulan tak ada film.

Pada zaman itu bioskop, yang bangunannya sering berbentuk panggung (makanya terkenal istilah ‘panggung bioskop’), bersifat multifungsi.

Tempo-tempo, kalau tidak ada film, bioskop bisa difungsikan jadi panggung sandiwara (toneel) atau pertunjukan musik. Kali lainnya bisa jadi tempat pertemuan atau rapat (vergadering).

Para pemilik (eigenaar) bioskop—biasanya orang Eropa dan orang Cina kaya—saling mengiklankan film yang akan diputar di bioskop mereka di surat kabar-surat kabar (persis kayak sekarang), disertai dengan kalimat gembar-gembor yang berupaya menarik perhatian pembaca (lihat ilustrasi: dari Pertja Barat, Selasa, 6/6/1911).

Nonton ke bioskop segera menjadi tren di kalangan masyarakat. Banyak karya sastra pada zaman itu yang menggambarkan anak muda atau pasangan yang lagi saling naksir pergi ke bioskop.

(Nonton) bioskop segera menjadi salah satu identitas kemodernan pada zaman itu (juga koran; baca koran berarti intelek). Bacalah misalnya roman-roman seperti Melati van Agam, Roos van Pajacomboe, Njai Sida: Roos van Sawah Loento, Orang Rantai dari Siloengkang, Hantjoerleboernja Padang Pandjang, Zender Nirom, dan lain-lain. Di dalamnya sering ditemukan narasi mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi nonton bareng ke bioskop.

Bagaimana dengan harga karcis bioskop pada zaman itu? Sebagai gambaran: tahun 1911 harga karcis kelas Loge berharga ƒ 1 (gulden); kelas II ƒ 0,50; kelas III ƒ 0,25; dan kelas IV ƒ 0,10. Cukup mahal lho untuk ukuran pada waktu itu. “Anak2 dibawah oemoer 10 taheon bajar separo” alias dapat korting, sedangkan “militair dibawah titel onder Officier bajar toeroet tarief di atas” alias tak dapat korting (lihat ilustrasi) (Beda dengan Zaman Orde Baru, ya, dimana tentara sering gratis naik bus).

Banyak hal yang aneh-aneh terjadi di dalam dan di luar panggung bioskop pada zaman itu. Saya sering ketawa sendiri kalau lagi membaca koran-koran kuno: soalnya banyak kejadian lucu yang diberitakan. Ada yang ketakutan dalam gedung bioskop karena film yang memperlihatkan kereta api berlari kencang menuju arah bangku penonton: takut ketabrak ceritanya. Kadang-kadang terjadi juga keributan di luar gedung bioskop karena berdesak-desakan beli karcis.

Beberapa bintang film mulai jadi idola, seperti bintang koboi terkenal, Tom Mix  (tewas dalam kecelakaan mobil di Arizona 12 Oktober 1940), bintang lucu Charlie Chaplin, dll. Di koran Sinar Sumatra saya pernah baca seorang anak yang ‘nakal’ ngerjain seorang penjual minyak tanah keliling pakai gerobak di Padang sehingga minyak terbuang sepanjang jalan karena si anak meniru tindakan Tom Mix dalam salah satu filmnya.

Di antara para intelektual Minang, mungkin hanya Hamka yang sangat rapi mencatat pengalaman masa kecilnya ketika teknologi film masuk ke Sumatera Barat. Saat bersekolah di Padang Panjang tahun 1917, Hamka kecil (lahir 1908) sering nonton film gratis. Dari rumah Hamka bilang kepada orang tuanya mau ke surau, tapi ternyata dia dan kawan-kawanya ngacir ke panggung bioskop. Mereka “pergi mengintip film yang main, sebab wang penjewa tidak ada.

Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu dengan ‘tahi ajam’.

Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat dihidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kenal kain sarung sembahjangnya.

Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak!”, demikian tulis Hamka dalam bukunya, Kenangkenangan Hidup (Jakarta: Gapura, 1951: I, 32-3).

Demikianlah sekelumit cerita mengenai perbioskopan di Padang (Sumatera Barat) tempo doeloe, yang tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perspektif sejarah budaya (cultural history). Mahasiswa dan dosen yang cerdas dari perguruan tinggi di Sumatera Barat pasti akan melakukannya. Yakin saya!

Sumber

 suryadi

harian Padang Ekspres, Minggu, 23 November 2008

 

 

Melati van Agam adalah film romansa tahun 1940 yang disutradarai Tan Tjoei Hock dan diproduseri The Teng Chun. Dibintangi S. Soekarti dan A.B. Rachman, film ini mengisahkan sepasang kekasih muda bernama Norma dan Idrus. Film ini diduga hilang

Norma dikenal di kampung halamannya, Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), sebagai sosok yang jelita dan karena itu ia dijuluki “Melati dari Agam“. Meski ia jatuh cinta dengan Idrus, penambang di Sawahlunto, ia dipaksa menikahi seorang kepala sekolah bernama Nazzaruddin, pria yang dianggap lebih sesuai dengan keluarga bangsawan Norma. Norma pun bingung karena suaminya jauh lebih tua daripada dirinya dan Norma sendiri sudah menyatakan Idrus sebagai cinta sejatinya, bahkan sampai bermimpi membangun keluarga bersamanya.

Setelah pernikahannya, Norma pergi bersama Nazzaruddin ke Kota Raja, Aceh (sekarang Banda Aceh), dan membesarkan anak-anak Nazzaruddin dari pernikahan sebelumnya. Hubungan mereka semakin memburuk: Nazzaruddin kewalahan menghadapi pemikiran Barat yang dimiliki istrinya, sedangkan Norma semakin depresi setelah mendengar kematian Idrus yang patah hati. Norma yang saat itu sedang hamil pulang ke Fort de Kock dan diceraikan oleh Nazzaruddin setelah melahirkan. Nazzaruddin mengira anaknya mirip Idrus dan menganggapnya sebagai bukti perselingkuhan Norma. Akhirnya Norma bunuh diri dan dikuburkan di samping Idrus. Nazzaruddin melihat ruh Norma naik ke surga sambil bergandengan tangan dengan Idru

Melati van Agam disutradarai Tan Tjoei Hock untuk Java Industrial Films dan diproduseri oleh pemilik perusahaannya, The Teng Chun. Tan mengadaptasi ceritanya dari novel tahun 1922 dengan judul yang sama karya Swan Pen (nama pena jurnalis Parada Harahap). Novel tersebut telah berkali-kali diangkat ke pertunjukan panggung dan film bisunya pernah dirilis pada tahun 1931 oleh Tan’s Film.[2] Iklan filmnya menekankan peran Harahap selaku novelis aslinya. Waktu itu, industri film sedang menarik diri dari tradisi teater dan jurnalisme dianggap sebagai profesi “modern”.[3] Alurnya justru membanding-bandingkan gaya hidup tradisional dan modern.[4]

Film hitam putih ini dibintangi S. Soekarti, A.B. Rachman, R. Abdullah, S. Thalib, N. Ismail, Rochani, Lena, dan M. Sani.[2] Soekarti belum pernah berakting sebelumnya, sementara lawan mainnya A.B. Rachman pernah terlibat dalam pertunjukan teater. Iklan Melati van Agam hanya berfokus pada latar belakang Soekarti dan mengabaikan Rachman.[3] Sinematografinya ditangani I. Ch. Chua, sedangkan musiknya ditangani musisi keroncong M. Sardi.[4]

Melati van Agam dirilis pada akhir 1940.[2] Sebuah ulasan di De Sumatra Post yang berpusat di Medan memuji penampilan Soekarti sebagai Norma dan menyebut Soekarti “tampaknya punya bakat yang hebat.”[a][5]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[6] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[7]

 Sumber

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       “Melati Van Agam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

“Deli Bioscoop „Melati van Agam”” [Deli Theatre, ‘Melati van Agam’]. De Sumatra Post (dalam bahasa Dutch) (Medan). 8 January 1941. hlm. 2.

 

Dr Iwan

 

Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rata-rata orang Indonesia gemar menonton film terutama di bioskop. Sejarah mencatat bahwa bioskop pertama kali diperkenalkan tahun 1895 oleh Robert Paul yang mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Lima tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1900 film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) semula hanya lantaran rasa kebanggaan orang kulit putih yang tidak mau kalah dari saudara-saudaranya yang tinggal di tanah airnya. Istilah pada saat itu adalah “gambar idoep”.

 

Borneo Bioscoop 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

Bioscoop Alahambra te Jogjakarta 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.Tidak lama setelah itu (1903), sudah berdiri beberapa bioskop antara lain Elite untuk penonton kelas atas, Deca Park, Capitol untuk penonton kelas menengah, Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang buat penonton kalangan menengah dan menengah ke bawah. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

 

Bioscoop te Magelang 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Setahun kemudian muncul fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos). Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

 

Suasana di dalam Bioskop Rex Batavia 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada  tahun 1936, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh perbioskopan Indonesia, terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda, menyebar di Bandung 9 bioskop, Jakarta 13 bioskop, Surabaya 14 bioskop dan Yogyakarta 6 bioskop. Pada era itu, kepemilikan bioskop sudah didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Ada anggapan bahwa orang Cina pada saat itu merasa tertantang untuk membuka usaha bioskop yang sebelumnya dijalankan oleh pengusaha londo atau kulit putih. Selain itu dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa itu dapat menjamu para pejabat Belanda  yang menjadi relasi mereka di bioskop miliknya dengan disertai undangan menonton bioskop  yang dibuat indah, dan para pejabat yang diundang juga diberi hadiah  upeti makanan dan minuman.

 

Bioskop Rex Surabaya tahun 1936 Memutar Film Captain Blood (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sepanjang tahun 1920 – 1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal  dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar tahun 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda sendiri.

 

Poster Film Mandarin yang berjudul “Love and Justice” di Jakarta 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hiburan di Hindia Belanda memang selalu di sesuaikan dengan kelas dan Bioskop menjadi penanda bagi struktur kelas kolonial di Hindia Belanda

(phesolo)

 

Raden Muchtar dan Roekiah dalam film Gagak Hitam tahun 1939

pasangan romantis pertama dalam film Indonesia, Rd Mochtar & Roekiah. Keduanya pertama kali dipasangkan dalam Terang Boelan (1936). Penampilan romantis mereka bahkan dianggap salah satu penyebab sukses komersial film buatan Indonesia terlaris pertama itu. Mereka pun dipasangkan lagi dalam tiga film berikutnya: Fatima (1938), Siti Akbari (1939), dan Gagak Item (1939). Popularitas pasangan itu juga melahirkan “sistem bintang” (star system) dalam perfilman Indonesia, yang mulai memberi perhatian besar akan pentingnya kedudukan pemain.

Sebagaimana kebanyakan pasangan romantis setelahnya, Rd Mochtar dan Roekiah bukanlah pasangan dalam kehidupan nyata. Saat itu Roekiah yang dalam film pertamanya berusia 19 tahun sudah menikah dengan seniman Kartolo. Sang suami bahkan ikut bermain juga dalam film-film tersebut, di samping menggubah lagu dan mengerjakan ilustrasi musiknya. Pasangan itu mempunyai lima anak. Salah satunya, Rachmat Kartolo, mengikuti jejak sang ayah sebagai pemusik dan pekerja film(beritagar)

 

Poster film Loetoeng Kasaroeng oleh Java Fil Company di bioskop Elita 31 desember

Daftar film Hindia Belanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

 

 

Poster film Loetoeng Kasaroeng, film buatan lokal pertama yang dirilis di Hindia Belanda

Sebanyak 112 film fiksi diketahui pernah dibuat di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sejak 1926 sampai pembubaran koloni ini tahun 1949. Film pertama yang diimpor dari luar negeri ditayangkan pada akhir 1900,[1] dan pada awal 1920-an, film serial dan fiksi impor ditayangkan di negara ini, biasanya dengan judul yang diterjemahkan.[2] Perusahaan-perusahaan Belanda juga membuat film dokumenter seputar Hindia Belanda dan ditayangkan di Belanda.[3] Laporan pertama mengenai pembuatan film fiksi di Hindia Belanda sudah ada sejak 1923, meski karya tersebut tidak selesai dibuat.[4] Film buatan lokal pertama, Loetoeng Kasaroeng, disutradarai oleh L. Heuveldorp dan dirilis tanggal 31 Desember 1926.[5]

Antara 1926 dan 1933, sejumlah film lokal dirilis. Meski orang Belanda seperti Heuveldorp dan G. Kruger terus aktif dalam industri ini, kebanyakan pembuat film dan produsernya merupakan etnis Cina.[6] Tan Bersaudara (Khoen Yauw dan Khoen Hian) dan The Teng Chun adalah produser terbesar waktu itu, sedangkan Wong Bersaudara (Nelson, Othniel, dan Joshua) merupakan sutradara paling terkenal waktu itu.[7] Sepanjang pertengahan 1930-an, produksi film turun seiring Depresi Besar.[8] Peluncuran Terang Boelan karya Albert Balink tahun 1937 menjadi awal kemunculan ketertarikan masyarakat pada industri perfilman,[9] dan pada tahun 1941 ada tiga puluh film yang dibuat di dalam negeri.[10] Tingkat produksi ini menurun setelah pendudukan Jepang dimulai pada awal 1942 yang menutup semua kecuali satu studio.[11] Akibatnya, beberapa film yang sudah mulai dibuat tahun 1941 baru dirilis beberapa tahun kemudian.[12] Mayoritas film yang dibuat selama masa pendudukan adalah rekaman-rekaman propaganda pendek.[13] Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dan Revolusi Nasional Indonesia, beberapa film dibuat oleh produser pro-Belanda dan pro-Indonesia. Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 yang otomatis membubarkan Hindia Belanda.[14][15]

Umumnya, film yang dibuat di Hindia Belanda memiliki alur cerita tradisional atau diadaptasi dari karya yang sudah ada.[16] Film-film pertama waktu itu masih bisu, lalu Karnadi Anemer Bangkong (1930) dirilis sebagai film bicara pertama di Hindia Belanda.[17] Film-film selanjutnya memakai bahasa Belanda, Melayu, atau bahasa pribumi. Semuanya hitam putih.[a][18]

Menurut sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran, film-film yang dirilis pada masa itu tidak dapat dikelompokkan sebagai film Indonesia sejati, karena tidak ada rasa nasionalisme di dalam ceritanya.[19] Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film sejak sebelum 1950 dianggap hilang dari peredaran.[20] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia[21][22] dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[23]

Pra-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kunci

 

Tahun produksi tidak jelas

 

Judul

Tahun

Sutradara

Pemeran

Sinopsis

Ref.

Loetoeng Kasaroeng

1926

Heuveldorp, L.L. Heuveldorp

Martoana, Oemar

Purbararang mengganggu adiknya setelah si adik berkencan dengan seekor lutung. Lutung tersebut rupanya ajaib dan setelah berubah jadi manusia, wajahnya lebih tampan daripada kekasih Purbararang.

[24][25]

Eulis Atjih

1927

Kruger, G.G. Kruger

Arsad, Soekria

Seorang pria meninggalkan istri mudanya yang cantik, Eulis Atjih, dan anak-anaknya untuk berfoya-foya. Ia jatuh miskin dan setelah suaminya pulang sekian tahun kemudian, ia ternyata juga miskin.

[24][26]

Lily van Java

1928

Wong, NelsonNelson Wong

Lie Lian Hoa, Lie Bouw Tan, Kwee Tiang An, Yah Kwee Pang

Putri seorang juragan dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya dan diam-diam sudah berhubungan dengan orang lain.

[24][27]

Resia Boroboedoer

1928

Tidak dikenal

Young, OliveOlive Young

Seorang perempuan Cina pergi ke Candi Borobudur untuk mencari abu Gautama Buddha. Setelah gagal, ia menjadi seorang asketik.

[24][28]

Setangan Berloemoer Darah

1928

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tan Hian Beng mencari pembunuh ayahnya dan balas dendam menggunakan ilmu bela diri.

[29]

Njai Dasima

1929

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, nyai seorang juragan Inggris, dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus.

[24][30]

Rampok Preanger

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Resmini, IningIning Resmini, Ferry, MSMS Ferry

Tidak diketahui

[31][32]

Si Tjonat

1929

Wong, NelsonNelson Wong

Lie A Tjip, May Ku Fung, Sim, HermanHerman Sim

Tjonat kabur dari Batavia setelah membunuh salah seorang temannya. Ia bergabung dengan geng preman. Ia mencoba menculik gebetannya, Lie Gouw Nio, namun dihentikan Thio Sing Sang.

[31][33]

Karnadi Anemer Bangkong

1930

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Film komedi yang mengisahkan seorang pemburu kodok muda bernama Karnadi

[34][35]

Lari ke Arab

1930

Wong Bersaudara

Resmini, IningIning Resmini, Oemar

Seorang pria Jawa yang malas tidak mau menerima kenyataan Depresi Besar dan lari ke Makkah.

[36][37]

Melati van Agam

1930

Lie Tek Swie

Rachman, A.A. Rachman, Titi, NengNeng Titi, Oemar, Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Norma mencintai Idrus tetapi dipaksa menikahi seorang pria kaya. Idrus jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, Norma pergi ke makam Idrus dan bunuh diri.

[31][38]

Nancy Bikin Pembalesan

1930

Lie Tek Swie

Tidak dikenal

Putri Dasima, Nancy, pulang ke Hindia Belanda untuk membalas kematian ibunya. Para pembunuh ibunya berhasil dibunuh.

[31][39]

Njai Dasima

1930

Lie Tek Swie

Nurhani, Anah, Wim Lender, Momo

Dasima, mantan nyai seorang juragan Inggris, tinggal bersama sepasang kekasih yang memancingnya. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

[31][40]

De Stem des Bloeds
(atau
Njai Siti)

1930

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn, Boekebinder, SylvainSylvain Boekebinder, Lank, VallyVally Lank

Siti menunggu kepulangan kekasihnya. Akan tetapi, saat kekasihnya pulang ia tak dapat bertemu Siti. Ia bisa bersatu lagi dengan keluarganya setelah putri angkatnya jatuh cinta dengan adik iparnya.

[31][41]

Si Ronda

1930

Lie Tek Swie

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi, Momo

Film laga yang didasarkan pada film sebelumnya

[31][42]

Boenga Roos dari Tjikembang

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Oh Ay Ceng dipaksa menikahi seorang gadis kaya. Putri mereka bertunangan namun meninggal sebelum menikah. Tunangannya kemudian menikah dengan putri Oh dari mantan kekasihnya.

[31][43]

Huwen op Bevel
(atau
Terpaksa Menika)

1931

Kruger, G.G. Kruger

Tidak dikenal

Seorang intelek Indonesia jatuh cinta dengan seorang wanita yang dipaksa menikah dengan orang lain.

[44][45]

Indonesia Malaise

1931

Wong Bersaudara

Ferry, MSMS Ferry, Oemar

Seorang wanita muda dipaksa menikahi pria yang tidak dicintainya. Ia meninggalkan wanita tersebut dan kekasihnya dipenjara, membuat si wanita depresi. Ia sembuh setelah kekasihnya dibebaskan.

[31][46]

Sam Pek Eng Tay

1931

The Teng Chun

Tidak dikenal

Berdasarkan sebuah legenda Cina. Eng Tay dan Sam Pek jatuh cinta namun terpisahkan. Ia disembunyikan dan Sam Pek dibunuh. Eng Tay melemparkan dirinya ke dalam makam Sam Pek.

[31][47]

Si Pitoeng

1931

Wong Bersaudara

Sim, HermanHerman Sim, Resmini, IningIning Resmini, Zorro

Si Pitung, bandit asal Batavia, terlibat konflik dengan polisi Belanda A.W.V. Hinne.

[31][48]

Sarinah

1931

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Film romansa yang berlatar di pantai selatan Jawa

[49]

Sinjo Tjo Main di Film
(atau
Tjo Speelt Voor de Film)

1931

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Schilling, IdaIda Schilling

Komedi yang diadaptasi dari cerita radio Schillings di Bandung

[b][50][51]

Karina’s Zelfopoffering
(atau
Pengorbanan Karina)

1932

Carli, Ph.Ph. Carli

Krohn, AnnieAnnie Krohn

Kisah hidup Raden Ajeng Karina, wanita ras campuran yang tinggal di keraton Yogyakarta

[52]

Njai Dasima

1932

Effendi, BachtiarBachtiar Effendi

Momo, Oesman

Dasima dipancing untuk meninggalkannya dan putrinya oleh sepasang kekasih yang rakus. Setelah mengetahui mereka tidak jujur, Dasima dibunuh.

[44][53]

Zuster Theresia

1932

Schilling, M. H.M. H. Schilling

Schilling, M. H.M. H. Schilling, Diephuis, DaisyDaisy Diephuis, Maschhaup, HenkHenk Maschhaup, Heymann, AlleAlle Heymann

Henk bekerja di Bandung dan menikahi anak bosnya. Henk mmeminta Flora membesarkan anaknya, namun ia memutuskan menjadi suster setelah menganggap Daisy ibu yang lebih baik.

[54]

Pat Bie To
(atau
Delapan Wanita Tjantik)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

Pat Kiam Hap
(atau
Delapan Djago Pedang)

1933

The Teng Chun

Tidak dikenal

Kisah bela diri

[55]

Ouw Phe Tjoa
(atau
Doea Siloeman Uler Puti en Item)

1934

The Teng Chun

Tidak dikenal

Diadaptasi dari legenda Cina. Seorang pria menikahi ular yang menyamar sebagai wanita, Setelah ularnya ditemukan, si wanita ditangkap tapi tidak dibunuh karena sedang hamil.

[44][56]

Ang Hai Djie

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[44][57]

Pan Sie Tong

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[44][58]

Poei Sie Giok Pa Loei Tay

1935

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Poei Sie Giok, sudah berlatih bela diri sejak masih kecil. Ia mengalahkan master Loei Lo Ho, murid-murid Loei, dan istri Loei.

[59][60]

Tie Pat Kai Kawin
(atau
Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet)

1935

The Teng Chun

Tidak dikenal

Siluman babi Tie Pat Kai menikahi wanita dari kaum manusia. Setelah ayahnya mengusir Tie, Tie menculik istrinya dan kabur. Ia diburu oleh dua dukun.

[44][61]

Anaknja Siloeman Oeler Poeti

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Sekuel Ouw Phe Tjoa. Anak ular putih dan suami manusianya mencari ibu anak tersebut.

[59][62]

Lima Siloeman Tikoes

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Seorang wanita, dibantu siluman kucing, harus mengetahui yang mana suami aslinya dan lima siluman tikus yang menyamar sebagai suaminya.

[59][63]

Pareh

1936

Franken, MannusMannus Franken, Balink, AlbertAlbert Balink

Roegaya, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Doenaesih, Mochtar, RdRd Mochtar

Mahmud, seorang nelayan, jatuh cinta dengan Wagini, putri seorang petani. Sayangnya, takhayul setempat meramalkan hubungan mereka membawa bencana.

[59][64]

Pembakaran Bio “Hong Lian Sie”
(atau
Moesnanja Gowa Siloeman Boeaja Poeti)

1936

The Teng Chun

Tidak dikenal

Geng Kuen Luen Pai berperang melawan geng Oen Kung Pai setelah sebuah kapal pengangkut senjata hancur.

[59][65]

Gadis jang Terdjoeal

1937

The Teng Chun

Tidak dikenal

Han Nio dijual kepada seorang juragan dan dijadikan istri. Mereka tidak bahagia dan akhirnya Han meninggal. Mantan kekasihnya mencoba balas dendam kepada suaminya namun terbunuh.

[59][66]

Terang Boelan
(atau
Het Eilan der Droomen)

1937

Balink, AlbertAlbert Balink

Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah, Effendi, E. T.E. T. Effendi

Rohaya sedang jatuh cinta tetapi dipaksa menikahi pria yang tidak ia cintai. Ia kawin lari namun ketahuan. Kekasihnya berhasil merebut Rohaya kembali.

[59][67]

Fatima

1938

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Kartolo, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah

Fatima jatuh cinta dengan Idris, tetapi pemuda kaya Ali mencoba menculiknya. Ia kemudian ditahan karena menjadi ketua geng perampok.

[59][68]

Oh Iboe

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Seorang janda menikah lagi dan berjudi, sedangkan bisnisnya dijalankan oleh Kian Hwat yang tidak jujur. Putrinya, Loan, merebut kekayaan keluarga setelah dicuri Kian.

[59][69]

Tjiandjoer

1938

The Teng Chun

Lo Tjin Nio, Bissu

Kim Tjiang yang terlalu dimanja mengusir saudaranya, Kim Djin, dari rumah, tetapi ayah mereka Koan Liong segera menyadari kesalahannya.

[59][70]

Alang-Alang

1939

The Teng Chun

Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu, Lena, Moesa

Suhiyat jatuh cinta dengan Surati, namun Surati diculik. Suhiyat akhirnya menyelamatkannya.

[59][21]

Gagak Item

1939

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Kartolo, Roekiah, Mochtar, RdRd Mochtar

Film bandit yang terinspirasi oleh Zorro

[71][72]

Impian di Bali

1939

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Perjalanan sepasang kekasih di Bali yang disertai aksi komedi dan musik.

[73][74]

Roesia si Pengkor
(atau
Hadji Saleh)

1939

The Teng Chun

Da’ing, Bissu, Hadidjah

Suti tinggal bersama ibunya setelah ayahnya ke luar kota. Ia dilamar sejumlah pemuda, termasuk pemuda yang dicintainya. Keduanya menikah setelah mengalahkan para pemuda yang lain.

[73][75]

Bajar dengan Djiwa

1940

Hu, RR Hu

Bakar, AA Bakar, Ali, ItjangItjang Ali, Haroen, Oesman

Drama yang mengisahkan interaksi antara beberapa keluarga, termasuk Basuki yang dermawan dan Umar yang pemalas

[73][76]

Dasima

1940

Tan Tjoei Hock

Soekarti, SS Soekarti, Mochtar, MohMoh Mochtar, Sani, MM Sani, S Talib

Dasima bercerai dengan suaminya, lalu menikahi Samiun. Samiun menghabiskan uangnya untuk berjudi. Setelah Dasima meminta uangnya kembali, ia malah dibunuh Samiun.

[73][77]

Harta Berdarah

1940

Hu, RR Hu, Ariffien, RdRd Ariffien

Soelastri, Zonder, RS Fatimah, Moesa

Seorang juragan meninggalkan tempat tinggalnya dalam keadaan menderita, lalu melihat sepasang kekasih yang melarikan diri. Si juragan akhirnya melihat dampak negatif dari harta.

[73][78]

Kartinah

1940

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Astaman, Tjokrohandoko, RARA Tjokrohandoko, Manggis, M RasjidM Rasjid Manggis

Istri Suria, Titi, menderita gangguan ingatan. Suria jatuh cinta dengan perawatnya, Kartinah, dan setelah Titi meninggal dalam serbuan udara, Suria menikahinya.

[73][79]

Kedok Ketawa

1940

Jo An Djan

Oedjang, Fatimah, RSRS Fatimah, Kock, EddyEddy Kock, Zonder

Marsinah dan Basuki jatuh cinta dan dilindungi dari serangan preman oleh “Kedok Ketawa”

[73][80]

Kris Mataram

1940

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Rodriga, OmarOmar Rodriga

Priyayi R.A. Rusmini jatuh cinta dengan orang jelata Bachtiar, namun cinta mereka sangat ditentang oleh masyarakat tradisional.

[73][81]

Matjan Berbisik

1940

Tan Tjoei Hock

Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu, Said

Ayah Hamid kabur dan tidak pulang setelah putranya dewasa. Waktu itu, Hamid dan putra perawatnya bersaing memperebutkan hati seorang perempuan.

[73][22]

Melati van Agam

1940

Tan Tjoei Hock

Soekarti, SS Soekarti, Rachman, ABAB Rachman, Abdullah, RR Abdullah, S Thalib

Siti Norma menikahi pria yang tidak ia cintai demi menghormati orang tuanya, namun ia kawin lari dengan kekasihnya, Idrus.

[73][82]

Pah Wongso Pendekar Boediman

1940

Jo Eng Sek

Wijnhamer Jr., LVLV Wijnhamer Jr., Joenara, EllyElly Joenara

Barja memulai hidup bergelimang kejahatan setelah sepupunya meremehkan kemajuannya. Penyidik LV Wijnhamer menyelidiki segala tindak kejahatan Barja.

[83][84]

Rentjong Atjeh

1940

The Teng Chun

Mada, DewiDewi Mada, Kock, FerryFerry Kock, Mochtar, MohMoh Mochtar, Hadidjah

Dua pemuda, Rusna dan Daud, dilatih untuk memburu dan membunuh seorang perompak yang membuat mereka yatim piatu 15 tahun sebelumnya.

[73][85]

Roekihati

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Djoemala, RdRd Djoemala, Roekiah, Kartolo, Landauw, AnnieAnnie Landauw

Roekihati menikahi Mansur. Ia mulai melenceng setelah bertemu Aminah, tetapi karena Roekihati begitu setia Mansur kembali ke pelukannya.

[73][86]

Siti Akbari

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Landauw, AnnieAnnie Landauw, Kartolo, Mochtar, RdRd Mochtar, Roekiah

Suami Siti Akbari selingkuh, tetapi Siti berhasil menemukan kebahagiaan.

[59][87][88]

Sorga ka Toedjoe

1940

Wong, JoshuaJoshua Wong, Wong, OthnielOthniel Wong

Djoemala, RdRd Djoemala, Roekiah, Kartolo, Landauw, AnnieAnnie Landauw

Seorang gadis miskin menikah dengan juragan kaya, namun ia tidak bahagia.

[89][90]

Sorga Palsoe

1940

Tan Tjoei Hock

Lo Tjin Nio, Tong, HuiHui Tong, Lim, Pun TjiawPun Tjiaw Lim, Rohana

Hian Nio dijadikan pelayan oleh ibunya. Bos kekasihnya, Bian Hong, menikahinya. Akan tetapi, ia tidak senang dengan pernikahannya, lalu lari dan meninggal dunia.

[73][91]

Zoebaida

1940

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Soerip, Aisah, Young, SallySally Young

Kisah cinta yang berlatar di Timor

[92][93]

Air Mata Iboe

1941

Njoo Cheong Seng

Young, FifiFifi Young, Ismail, RdRd Ismail, Yugo, AliAli Yugo, Soerip

Sumadi membalas dendam pada saudara-saudaranya setelah mereka menolak merawat ibunya, Sugiati, setelah ayah mereka meninggal.

[94][95]

Ajah Berdosa

1941

Wu Tsun

Arief, MM Arief, Waldy, SS Waldy, Joenara, EllyElly Joenara, Soetijem

Tidak diketahui

[94][96]

Aladin dengan Lampoe Wasiat

1941

Wong Bersaudara

Joenara, EllyElly Joenara, Benny, Sutinah, WollyWolly Sutinah

Aladin muda yang miskin jatuh cinta dengan seorang putri dan mengalahkan penguasa agung yang jahat.

[97][98]

Asmara Moerni

1941

Ariffien, RdRd Ariffien

Gani, AKAK Gani, Djoewariah

Tidak diketahui

[94][99]

Boedjoekan Iblis

1941

Jo An Djan

Mochtar, RdRd Mochtar, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Anwar, Radiah, DewiDewi Radiah

Tidak diketahui

[94][100]

Djantoeng Hati

1941

Njoo Cheong Seng

Sarosa, AA Sarosa, Anggraini, RrRr Anggraini, Ariati

Dua gadis, Karina yang tradisional dan Roesdjana yang modernis, sedang bersaing. Film ini memperingatkan bahwa modernitas tidak selalu jalan yang terbaik.

[94][101]

Elang Darat

1941

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Astaman, Yugo, AliAli Yugo, Rohana, Salam

Parlan dipanggil ke Kresek untuk melacak bandit bernama Elang Darat yang rupanya adik ipar Parlan, Gunawi.

[94][102]

Garoeda Mas

1941

Jo An Djan

Mochtar, RdRd Mochtar, Radiah, DewiDewi Radiah, Effendi, E. T.E. T. Effendi, Kosasih, RdRd Kosasih

Tidak diketahui

[94][103]

Ikan Doejoeng

1941

Lie Tek Swie

Asmanah, Soerjono, A Thys, Poniman

Asmara disuruh menikahi seseorang yang tidak dicintainya. Ia malah kawin lari dengan Sanusi dan kabur setelah dipergoki perampok.

[94][104]

Koeda Sembrani

1941

Wong Bersaudara

Roekiah, Djoemala, RdRd Djoemala, Sutinah, WollyWolly Sutinah, Kartolo

Kisah kuda bersayap.

[105][106]

Lintah Darat

1941

Wu Tsun

Joenara, EllyElly Joenara, Satijem, Arief, MM Arief, Djoenaedi, AboebakarAboebakar Djoenaedi

Kumala bergabung dengan Safi’i untuk melawan seorang rentenir dan istrinya, Asnah, adik Kumala yang egois.

[94][107]

Matula

1941

Tan Tjoei Hock

Kock, FerryFerry Kock, Mada, DewiDewi Mada, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu

Matula menemui dukun dan meminta agar dijadikan tampan. Ia wajib membayarnya dengan tumbal. Ia mencoba menjadikan Emma tumbal, tetapi dihentikan ayahnya dan keduanya dijodohkan.

[94][108]

Mega Mendoeng

1941

Boen Kim Nam

Soekarno, RdRd Soekarno, Oedjang, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Sofiati, BoenBoen Sofiati

Kustini dikhianati oleh temannya, Sujono, namun bersatu lagi.

[94][109]

Moestika dari Djenar

1941

Jo An Djan

Dhalia, Mochtar, RdRd Mochtar, Djoeriah

Tidak diketahui

[94][110]

Noesa Penida

1941

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Astaman, Ismail, RdRd Ismail, Yugo, AliAli Yugo

Dua kakak beradik jatuh cinta dengan seorang putri, tetapi terhambat oleh perbedaan kasta mereka.

[97][111]

Pah Wongso Tersangka

1941

Wu Tsun

Wijnhamer Jr., LVLV Wijnhamer Jr., Hatjirah, SylviaSylvia Hatjirah, Waldy, SS Waldy, Sarip, MM Sarip

Tidak diketahui

[94][112]

Panggilan Darah

1941

Sutan Usman Karim

Dhalia, Soerip, Sutinah, WollyWolly Sutinah, Mochtar Widjaja

Dua yatim piatu bekerja di rumah Iskak. Karena istrinya menindas mereka, mereka kabur dari rumah. Setelah mengetahui mereka punya hubungan keluarga dengan Iskak, mereka pulang.

[94][113]

Pantjawarna

1941

Njoo Cheong Seng

Widjaja, MochtarMochtar Widjaja, Dhalia, Martha, IdrisIdris Martha, Rodriga, OmarOmar Rodriga

Disebut-sebut sebagai film musikal pertama di Hindia Belanda.

[94][114]

Poesaka Terpendam

1941

Tidak dikenal

Roekiah, Djoemala, RdRd Djoemala, Titing, Kartolo

Sekelompok orang menjelajah mencari harta karun.

[94][115]

Poetri Rimba

1941

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Aisjah, Loedi, Yugo, AliAli Yugo, Bissu, Soetiati

Achmad dibawa ke sebuah desa setelah tersesat di hutan belantara. Ia bersaing dengan Perbada untuk menarik hati putri kepala desa.

[94][116]

Ratna Moetoe Manikam

1941

Sutan Usman Karim

Ratna Asmara, Astaman, Yugo, AliAli Yugo, Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Dua dewi memperebutkan cinta seorang raja.

[97][117]

Selendang Delima

1941

Duarte, Henry L.Henry L. Duarte

Young, CellyCelly Young, Asmana, Soerjono

Tidak diketahui

[97][118]

Si Gomar

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Bissu

Soebardja dan Mariani terpisah dan menjadi yatim piatu setelah perampok membunuh orang tua mereka. Setelah dewasa, mereka hampir menikahi satu sama lain, namun berhasil dihentikan saat sang sepupu mengenali mereka.

[97][119]

Singa Laoet

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Bissu, Mochtar, MohMoh Mochtar

Mahmud pergi menantang geng perompak yang dipimpin Singa Laoet untuk mencari pembunuh ayahnya dua puluh tahun sebelumnya.

[94][120]

Siti Noerbaja

1941

Lie Tek Swie

Asmanah, Momo, Soerjono, A. Thys

Sitti Nurbaya jatuh cinta dengan Samsulbahri, tetapi dipaksa menikahi Datuk Meringgih untuk membayar utang ayahnya.

[94][121]

Soeara Berbisa

1941

Wu Tsun

Soekarno, RdRd Soekarno, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Oedjang, Soehaena

Mitra dan Neng Mardinah jatuh cinta, tetapi Mardjohan yang cemburu menyebarkan rumor bahwa Mitra adalah anak seorang pencuri. Mereka bertemu dan mengetahui bahwa keduanya kakak beradik yang lama hilang.

[97][122]

Srigala Item

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Hadidjah, Mochtar, MohMoh Mochtar, Aisah

Mochtar dipaksa tinggal bersama pamannya setelah ayahnya hilang. Paman dan putranya yang kejam sering diganggu makhluk bertopeng bernama De Zwarte Wolf (“Serigala Hitam”).

[97][123]

Tengkorak Hidoep

1941

Tan Tjoei Hock

Tan Tjeng Bok, Mochtar, MohMoh Mochtar, Misnahati, Bissu

Darmadji dan teman-temannya pergi ke Pulau Mustika, tempat mereka melihat Maha Daru bangkit kembali setelah 2.000 tahun. Mereka harus mengalahkannya supaya selamat.

[97][124]

Tjioeng Wanara

1941

Jo Eng Sek

Sukran, RR Sukran, Joenara, EllyElly Joenara, Djoenaedi, ABAB Djoenaedi, Arief, MM Arief

Tjioeng Wanara memberontak terhadap raja Galuh yang lalim.

[94][125]

Wanita dan Satria

1941

Ariffien, RdRd Ariffien

Djoewariah, Djoewita, RatnaRatna Djoewita, Hidajat, RR Hidajat

Tidak diketahui

[97][126]

1001 Malam

1942

Wu Tsun

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[97][127]

Boenga Sembodja

1942

Said HJ, MohMoh Said HJ

Dhalia, Mochtar, MohMoh Mochtar, Effendi, TossinTossin Effendi, Anwar

Tidak diketahui

[97][128]

Poelo Inten

1942

Tidak dikenal

Mochtar, MohMoh Mochtar, Djoeriah, Noersani, Bapet, RamliRamli Bapet

Tidak diketahui

[97][129]

Berdjoang

1943

Ariffien, RdRd Ariffien

Mochtar, MohMoh Mochtar, Sambas, Dhalia, Kartolo

Anang dan Saman memperebutkan hati Hasanah. Setleah Anang bergabung dengan pasukan Jepang, Hasanah memutuskan ingin bersamanya.

[97][130]

Di Desa

1943

Roestam Sutan Palindih

Mochtar, MohMoh Mochtar, Garkiah, Epen

Tidak diketahui

[b][97][131]

Di Menara

1943

Roestam Sutan Palindih

Soekarno, RdRd Soekarno, Garkiah, Epen,

Tidak diketahui

[b][97][132]

Kemakmoeran

1943

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[b][133][134]

Djatoeh Berkait

1944

Koesoema, B.B. Koesoema

Astaman, Kartolo, Dimin

Tidak diketahui

[b][133][135]

Hoedjan

1944

Perbatasari, InoeInoe Perbatasari

Djoenaedi, AboebakarAboebakar Djoenaedi, Dhalia, Effendi, E. T.E. T. Effendi

Tidak diketahui

[b][133][136]

Keris Poesaka

1944

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Tidak diketahui

[b][133][137]

Koeli dan Romoesha

1944

Tidak dikenal

Tidak dikenal

Propaganda yang mempromosikan program romusha

[b][133][138]

Pasca-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kunci

 

Tahun produksi tidak jelas

 

Judul

Tahun

Sutradara

Pemeran

Sinopsis

Ref.

Djaoeh Dimata

1948

Andjar Asmara

Ratna Asmara, Yugo, AliAli Yugo, Sucarno, IskandarIskandar Sucarno, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Ratna harus pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah setelah suaminya, Ali, menderita tunanetra.

[133][139]

Anggrek Bulan

1948

Andjar Asmara

Soekarno, RdRd Soekarno, Arief, A HamidA Hamid Arief, Djuwita, NilaNila Djuwita, Sucarno, IskandarIskandar Sucarno

Kati terlibat cinta segitiga dengan Atma dan Subrata, tetapi Atma punya masalah lain yang harus diperhatikan.

[133][140]

Air Mata Mengalir di Tjitarum

1948

Roestam Sutan Palindih

Sofia, Waldy, SS Waldy, Ismail, DD Ismail, Endang, RdRd Endang

Tidak diketahui

[133][141]

Aneka Warna

1949

Said HJ, MohMoh Said HJ

Arief, A HamidA Hamid Arief, Mochsin, Busono, RR Busono, Mulya, AnnieAnnie Mulya

Cerita tentang Dul Kalong dan Mat Codot, dua pelawak dari grup sandiwara Aneka Warna yang hidup miskin.

[133][142]

Bengawan Solo

1949

Jo An Tjiang

Sofia, Mochtar, RdRd Mochtar, Mochtar, MohMoh Mochtar, Ismail, Rd DadangRd Dadang Ismail

Dua anak seorang perempuan desa dibesarkan oleh keluarga yang berbeda setelah ibunya bunuh diri di Bengawan Solo.

[133][143]

Gadis Desa

1949

Andjar Asmara

Djaelani, BasukiBasuki Djaelani, Ruthinah, RatnaRatna Ruthinah, Yugo, AliAli Yugo, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Abu Bakar jatuh cinta dengan anak tuan tanahnya, padahal sudah punya istri.

[133][144]

Harta Karun

1949

Ismail, UsmarUsmar Ismail

Soekarno, RdRd Soekarno, Arief, A HamidA Hamid Arief, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi, Herawati

Suliati dan Ahmad saling jatuh cinta, namun ayah Suliati tidak merestui hubungan mereka karena Ahmad miskin.

[133][145]

Tjitra

1949

Ismail, UsmarUsmar Ismail

Soekarno, RdRd Soekarno, Djuwita, NilaNila Djuwita, Ismail, RdRd Ismail, Arief, A HamidA Hamid Arief

Harsono mencabut keperawanan Suryani, lalu kabur ke kota. Ia ditangkap karena terlibat kasus pembunuhan.

[133][146]

Menanti Kasih

1949

Said HJ, MohMoh Said HJ

Harro, ChatirChatir Harro, Arief, A HamidA Hamid Arief, Djuwita, NilaNila Djuwita, Djoeriah

Husni Anwar mengetahui biaya sekolahnya dibayarkan Rachman, dan sekarang ia harus menikahi putri Rachman.

[133][147]

Saputangan

1949

Young, FredFred Young

Kasur, PakPak Kasur, Harro, ChatirChatir Harro, Noorsini, Herawati, NettyNetty Herawati

Hardjono mendadak buta saat berlayar di laut, tetapi berhasil melihat kembali setelah menjalani operasi.

[133][148]

Sehidup Semati

1949

Young, FredFred Young

Prijatni, IdaIda Prijatni, Yugo, AliAli Yugo, Harro, ChatirChatir Harro, Effendi, DjauhariDjauhari Effendi

Saat bepergian ke Bandung, Kusmayadi melamar Asmarani meski sudah dijodohkan dengan Lasminah.

[133][149]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

       Daftar film Indonesia

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. 1.       ^ Film berwarna pertama yang sepenuhnya buatan Indonesia, Sembilan karya Wim Umboh, dirilis tahun 1967.[18]
  2. 2.       ^ a b c d e f g h Film pendek
  3. 1.       ^ Biran 2009, hlm. 27.
  4. 2.       ^ Biran 2009, hlm. 35.
  5. 3.       ^ Biran 2009, hlm. 54.
  6. 4.       ^ Biran 2009, hlm. 57.
  7. 5.       ^ Biran 2009, hlm. 61, 68.
  8. 6.       ^ Biran 2009, hlm. 379–381.
  9. 7.       ^ Biran 2009, hlm. 81, 97, 98.
  10. 8.       ^ Biran 2009, hlm. 145.
  11. 9.       ^ Biran 2009, hlm. 171.
  12. 10.   ^ Biran 2009, hlm. 384–385.
  13. 11.   ^ Biran 2009, hlm. 319, 332.
  14. 12.   ^ Biran 2009, hlm. 284.
  15. 13.   ^ Biran 2009, hlm. 334, 340.
  16. 14.   ^ Biran 2009, hlm. 367–370.
  17. 15.   ^ Kahin 1952, hlm. 445.
  18. 16.   ^ Heider 1991, hlm. 15.
  19. 17.   ^ Prayogo 2009, hlm. 14.
  20. 18.   ^ Republika 1996, Telah Pergi.
  21. 19.   ^ Biran 2009, hlm. 45.
  22. 20.   ^ Heider 1991, hlm. 14.
  23. 21.   ^ Filmindonesia.or.id, Alang-Alang.
  24. 22.   ^ Filmindonesia.or.id, Matjan Berbisik.
  25. 23.   ^ Biran 2009, hlm. 351.
  26. 24.   ^ Biran 2009, hlm. 379.
  27. 25.   ^ Filmindonesia.or.id, Loetoeng Kasaroeng.
  28. 26.   ^ Filmindonesia.or.id, Eulis Atjih.
  29. 27.   ^ Filmindonesia.or.id, Lily van Java.
  30. 28.   ^ Filmindonesia.or.id, Resia Borobudur.
  31. 29.   ^ Biran 2009, hlm. 72 & 379.
  32. 30.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima (I).
  33. 31.   ^ Biran 2009, hlm. 380.
  34. 32.   ^ Filmindonesia.or.id, Rampok Preanger.
  35. 33.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Tjonat.
  36. 34.   ^ Biran 2009, hlm. 76, 380.
  37. 35.   ^ Filmindonesia.or.id, Karnadi.
  38. 36.   ^ Biran 2009, hlm. 114, 380.
  39. 37.   ^ Filmindonesia.or.id, Lari ke Arab.
  40. 38.   ^ Filmindonesia.or.id, Melati Van Agam 1930.
  41. 39.   ^ Filmindonesia.or.id, Nancy Bikin Pembalesan.
  42. 40.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima (II).
  43. 41.   ^ Filmindonesia.or.id, De Stem Des Bloed.
  44. 42.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Ronda.
  45. 43.   ^ Filmindonesia.or.id, Boenga Roos.
  46. 44.   ^ Biran 2009, hlm. 381.
  47. 45.   ^ Het Nieuws 1931, Film-critieken.
  48. 46.   ^ Filmindonesia.or.id, Indonesia Malaise.
  49. 47.   ^ Filmindonesia.or.id, Sam Pek Eng Tay.
  50. 48.   ^ Filmindonesia.or.id, Si Pitoeng.
  51. 49.   ^ De Indische Courant 1931, Indische filmkunst.
  52. 50.   ^ Biran 2009, hlm. 117, 380.
  53. 51.   ^ Filmindonesia.or.id, Sinjo ‘Tjo’.
  54. 52.   ^ Biran 2009, hlm. 124, 381.
  55. 53.   ^ Filmindonesia.or.id, Njai Dasima.
  56. 54.   ^ Biran 2009, hlm. 126–128, 381.
  57. 55.   ^ Biran 2009, hlm. 147, 381.
  58. 56.   ^ Filmindonesia.or.id, Ouw Peh Tjoa.
  59. 57.   ^ Filmindonesia.or.id, Ang Hai Djie.
  60. 58.   ^ Filmindonesia.or.id, Pan Sie Tong.
  61. 59.   ^ Biran 2009, hlm. 382.
  62. 60.   ^ Filmindonesia.or.id, Poei Sie Giok.
  63. 61.   ^ Filmindonesia.or.id, Tie Pat Kai Kawin.
  64. 62.   ^ Filmindonesia.or.id, Anaknja Siloeman.
  65. 63.   ^ Filmindonesia.or.id, Lima Siloeman.
  66. 64.   ^ Filmindonesia.or.id, Pareh.
  67. 65.   ^ Filmindonesia.or.id, Pembakaran Bio.
  68. 66.   ^ Filmindonesia.or.id, Gadis jang Terdjoeal.
  69. 67.   ^ Filmindonesia.or.id, Terang Boelan.
  70. 68.   ^ Filmindonesia.or.id, Fatima.
  71. 69.   ^ Filmindonesia.or.id, Oh Iboe.
  72. 70.   ^ Filmindonesia.or.id, Tjiandjoer.
  73. 71.   ^ Biran 2009, hlm. 176, 383.
  74. 72.   ^ Filmindonesia.or.id, Gagak Item.
  75. 73.   ^ Biran 2009, hlm. 383.
  76. 74.   ^ Filmindonesia.or.id, Impian di Bali.
  77. 75.   ^ Filmindonesia.or.id, Roesia si Pengkor.
  78. 76.   ^ Filmindonesia.or.id, Bajar dengan Djiwa.
  79. 77.   ^ Filmindonesia.or.id, Dasima.
  80. 78.   ^ Filmindonesia.or.id, Harta Berdarah.
  81. 79.   ^ Filmindonesia.or.id, Kartinah.
  82. 80.   ^ Filmindonesia.or.id, Kedok Ketawa.
  83. 81.   ^ Filmindonesia.or.id, Kris Mataram.
  84. 82.   ^ Filmindonesia.or.id, Melati Van Agam 1940.
  85. 83.   ^ Biran 2009, hlm. 234, 383.
  86. 84.   ^ Filmindonesia.or.id, Pah Wongso.
  87. 85.   ^ Filmindonesia.or.id, Rentjong Atjeh.
  88. 86.   ^ Filmindonesia.or.id, Roekihati.
  89. 87.   ^ Filmindonesia.or.id, Siti Akbari.
  90. 88.   ^ Bataviaasch Nieuwsblad 1940, Cinema: Siti Akbari.
  91. 89.   ^ Biran 2009, hlm. 248, 383.
  92. 90.   ^ Filmindonesia.or.id, Sorga ka Toedjoe.
  93. 91.   ^ Filmindonesia.or.id, Sorga Palsoe.
  94. 92.   ^ Biran 2009, hlm. 254, 383.
  95. 93.   ^ Filmindonesia.or.id, Zoebaida.
  96. 94.   ^ Biran 2009, hlm. 384.
  97. 95.   ^ Filmindonesia.or.id, Air Mata Iboe.
  98. 96.   ^ Filmindonesia.or.id, Ajah Berdosa.
  99. 97.   ^ Biran 2009, hlm. 385.
  100. 98.   ^ Filmindonesia.or.id, Aladin.
  101. 99.   ^ Filmindonesia.or.id, Asmara Moerni.
  102. 100.                        ^ Filmindonesia.or.id, Boedjoekan Iblis.
  103. 101.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djantoeng Hati.
  104. 102.                        ^ Filmindonesia.or.id, Elang Darat.
  105. 103.                        ^ Filmindonesia.or.id, Garoeda Mas.
  106. 104.                        ^ Filmindonesia.or.id, Ikan Doejoeng.
  107. 105.                        ^ Biran 2009, hlm. 224, 384.
  108. 106.                        ^ Filmindonesia.or.id, Koeda Sembrani.
  109. 107.                        ^ Filmindonesia.or.id, Lintah Darat.
  110. 108.                        ^ Filmindonesia.or.id, Matula.
  111. 109.                        ^ Filmindonesia.or.id, Mega Mendoeng.
  112. 110.                        ^ Filmindonesia.or.id, Moestika dari Djenar.
  113. 111.                        ^ Filmindonesia.or.id, Noesa Penida.
  114. 112.                        ^ Filmindonesia.or.id, Pah Wongso Tersangka.
  115. 113.                        ^ Filmindonesia.or.id, Panggilan Darah.
  116. 114.                        ^ Filmindonesia.or.id, Pantjawarna.
  117. 115.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poesaka Terpendam.
  118. 116.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poetri Rimba.
  119. 117.                        ^ Filmindonesia.or.id, Ratna Moetoe Manikam.
  120. 118.                        ^ Filmindonesia.or.id, Selendang Delima.
  121. 119.                        ^ Filmindonesia.or.id, Si Gomar.
  122. 120.                        ^ Filmindonesia.or.id, Singa Laoet.
  123. 121.                        ^ Filmindonesia.or.id, Siti Noerbaja.
  124. 122.                        ^ Filmindonesia.or.id, Soeara Berbisa.
  125. 123.                        ^ Filmindonesia.or.id, Srigala Item.
  126. 124.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tengkorak Hidoep.
  127. 125.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tjioeng Wanara.
  128. 126.                        ^ Filmindonesia.or.id, Wanita dan Satria.
  129. 127.                        ^ Filmindonesia.or.id, Seribu Satu.
  130. 128.                        ^ Filmindonesia.or.id, Boenga Sembodja.
  131. 129.                        ^ Filmindonesia.or.id, Poelo Inten.
  132. 130.                        ^ Filmindonesia.or.id, Berdjoang.
  133. 131.                        ^ Filmindonesia.or.id, Di Desa.
  134. 132.                        ^ Filmindonesia.or.id, Di Menara.
  135. 133.                        ^ Biran 2009, hlm. 386.
  136. 134.                        ^ Filmindonesia.or.id, Kemakmoeran.
  137. 135.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djatoeh Berkait.
  138. 136.                        ^ Filmindonesia.or.id, Hoedjan.
  139. 137.                        ^ Filmindonesia.or.id, Keris Poesaka.
  140. 138.                        ^ Filmindonesia.or.id, Koeli dan Romoesha.
  141. 139.                        ^ Filmindonesia.or.id, Djaoeh Dimata.
  142. 140.                        ^ Filmindonesia.or.id, Anggrek Bulan.
  143. 141.                        ^ Filmindonesia.or.id, Air Mata Mengalir.
  144. 142.                        ^ Filmindonesia.or.id, Aneka Warna.
  145. 143.                        ^ Filmindonesia.or.id, Bengawan Solo.
  146. 144.                        ^ Filmindonesia.or.id, Gadis Desa.
  147. 145.                        ^ Filmindonesia.or.id, Harta Karun.
  148. 146.                        ^ Filmindonesia.or.id, Tjitra.
  149. 147.                        ^ Filmindonesia.or.id, Menanti Kasih.
  150. 148.                        ^ Filmindonesia.or.id, Saputangan.
  151. 149.                        ^ Filmindonesia.or.id, Sehidup Semati.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

       “Air Mata Iboe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Air Mata Mengalir di Tjitarum”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Ajah Berdosa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Aladin dengan Lampoe Wasiat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Alang-Alang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Anaknja Siloeman Oeler Poeti”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Aneka Warna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Ang Hai Djie”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Anggrek Bulan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Asmara Moerni”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Bajar dengan Djiwa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Bengawan Solo”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Berdjoang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.

       “Boenga Roos dari Tjikembang”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Boenga Sembodja”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Boedjoekan Iblis”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Cinema: Siti Akbari”. Bataviaasch Nieuwsblad (dalam bahasa Belanda) (Batavia: Kolff & Co.). 1 May 1940.

       “Dasima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “De Stem Des Bloed (Njai Siti)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Di Desa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Di Menara”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Djantoeng Hati”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Djaoeh Dimata”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Djatoeh Berkait”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Elang Darat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Eulis Atjih”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 6 July 2012. Diakses 6 July 2012.

       “Fatima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Film-critieken. „Huwen op Bevel.”” [Film review „Huwen op Bevel.”]. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda) (Batavia: NV Mij tot Expl. van Dagbladen). 11 August 1931. hlm. 5. Diakses 7 February 2013.

       “Gadis jang Terdjoeal”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Gadis Desa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Gagak Item”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Garoeda Mas”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Harta Berdarah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Harta Karun”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Indische filmkunst” [Indies Cinema]. De Indische Courant (dalam bahasa Belanda) (Surabaya). 11 June 1931. hlm. 5.

       Heider, Karl G (1991). Indonesia Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.

       “Hoedjan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Ikan Doejoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Impian di Bali”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Indonesia Malaise”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       Kahin, George McTurnan (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-9108-5.

       “Karnadi Anemer Bangkong”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 11 September 2012. Diakses 11 September 2012.

       “Kartinah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Kedok Ketawa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Kemakmoeran”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Keris Poesaka”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Koeda Sembrani”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Koeli dan Romoesha”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses 27 January 2013.

       “Kris Mataram”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Lari ke Arab”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Lily van Java”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Lima Siloeman Tikoes”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Lintah Darat”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Loetoeng Kasaroeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Matjan Berbisik”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Matula”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Mega Mendoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Melati Van Agam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Melati Van Agam (I dan II)” [Melati Van Agam (I and II)]. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Menanti Kasih”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Moestika dari Djenar”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Nancy Bikin Pembalesan (Njai Dasima III)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Njai Dasima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Njai Dasima (I)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 12 July 2012. Diakses 12 July 2012.

       “Njai Dasima (II)”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Noesa Penida”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Oh Iboe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Ouw Peh Tjoa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pah Wongso Pendekar Boediman”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pah Wongso Tersangka”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Pan Sie Tong”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Panggilan Darah”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Pantjawarna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Pareh”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Pembakaran Bio ‘Hong Lian Sie'”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Poei Sie Giok Pa Loei Tay”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Poelo Inten”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Poesaka Terpendam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Poetri Rimba”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       Prayogo, Wisnu Agung (2009). “Sekilas Perkembangan Perfilman di Indonesia [An Overview of the Development of Film in Indonesia]” (dalam bahasa Indonesia). Kebijakan Pemerintahan Orde Baru Terhadap Perfilman Indonesia Tahun 1966–1980 [New Order Policy Towards Indonesian Films (1966–1980)] (Bachelour’s of History Thesis). University of Indonesia.

       “Rampok Preanger”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Ratna Moetoe Manikam (Djoela Djoeli Bintang Tiga)”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Rentjong Atjeh”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Resia Borobudur”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 10 July 2012. Diakses 10 July 2012.

       “Roekihati”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Roesia si Pengkor”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Sam Pek Eng Tay”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Saputangan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Sehidup Semati”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Selendang Delima”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Seribu Satu (1001) Malam”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Si Gomar”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Si Pitoeng”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Si Ronda”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Si Tjonat”. filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 21 July 2012. Diakses 21 July 2012.

       “Singa Laoet”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Sinjo ‘Tjo’ Main Di Film”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 July 2012. Diakses 22 July 2012.

       “Siti Akbari”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Siti Noerbaja”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Soeara Berbisa”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Sorga ka Toedjoe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Sorga Palsoe”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Srigala Item”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

       “Telah Pergi Seorang Wim Umboh” [Wim Umboh has Passed Away]. Republika (dalam bahasa Indonesia). 25 January 1996.

       “Tengkorak Hidoep”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Terang Boelan”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Tie Pat Kai Kawin”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 July 2012. Diakses 23 July 2012.

       “Tjiandjoer”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 24 July 2012. Diakses 24 July 2012.

       “Tjioeng Warna”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.

       “Tjitra”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 August 2012. Diakses 23 August 2012.

       “Wanita dan Satria”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 27 July 2012. Diakses 27 July 2012.

       “Zoebaida”. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 25 July 2012. Diakses 25 July 2012.

(wiki)

 

 

 

 

 

Bioskop Masa colonial

 

Sumber Dr Iwan

 

Sumber :Joko Prayitno

 

Rata-rata orang Indonesia gemar menonton film terutama di bioskop. Sejarah mencatat bahwa bioskop pertama kali diperkenalkan tahun 1895 oleh Robert Paul yang mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Lima tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1900 film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) semula hanya lantaran rasa kebanggaan orang kulit putih yang tidak mau kalah dari saudara-saudaranya yang tinggal di tanah airnya. Istilah pada saat itu adalah “gambar idoep”.

 

Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

 

Borneo Bioscoop 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

 

Bioscoop Alahambra te Jogjakarta 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.Tidak lama setelah itu (1903), sudah berdiri beberapa bioskop antara lain Elite untuk penonton kelas atas, Deca Park, Capitol untuk penonton kelas menengah, Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang buat penonton kalangan menengah dan menengah ke bawah. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

 

Bioscoop te Magelang 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Setahun kemudian muncul fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos). Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

 

Suasana di dalam Bioskop Rex Batavia 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada  tahun 1936, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh perbioskopan Indonesia, terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda, menyebar di Bandung 9 bioskop, Jakarta 13 bioskop, Surabaya 14 bioskop dan Yogyakarta 6 bioskop. Pada era itu, kepemilikan bioskop sudah didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Ada anggapan bahwa orang Cina pada saat itu merasa tertantang untuk membuka usaha bioskop yang sebelumnya dijalankan oleh pengusaha londo atau kulit putih. Selain itu dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa itu dapat menjamu para pejabat Belanda  yang menjadi relasi mereka di bioskop miliknya dengan disertai undangan menonton bioskop  yang dibuat indah, dan para pejabat yang diundang juga diberi hadiah  upeti makanan dan minuman.

 

Bioskop Rex Surabaya tahun 1936 Memutar Film Captain Blood (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sepanjang tahun 1920 – 1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal  dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar tahun 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda sendiri.

 

Poster Film Mandarin yang berjudul “Love and Justice” di Jakarta 1940 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hiburan di Hindia Belanda memang selalu di sesuaikan dengan kelas dan Bioskop menjadi penanda bagi struktur kelas kolonial di Hindia Belanda.(baltyra)

 

 

Yahya datuk Kayo tahun 1939

Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939.

kiprah seorang wakil Minangkabau yang paling vokal di Volksraad (Dewan Rakyat) di zaman kolonial: Jahja Datoek Kajo (JDK). Ia dua kali terpilih mewakili masyarakat Minangkabau di Volksraad (Dewan Rakyat), yaitu pada periode 1927-1931 dan 1935-1939

(Azizah Etek, Mursyid A.M. dan Arfan B.R)

Maret 1939

Kunjungan Kerja Gubernur General Hindia Belanda

Johan Paul van Limburg Stirum

 

 

Johan Paul van Limburg Stirum.

Johan Paul, Count of Limburg Stirum (Zwolle, 2 February 1873 – Den Haag, 17 April 1948) was a reformist in the time of World War I.

He made a rapid career as a diplomat of the Netherlands and was, among others, envoy in China and Sweden. Thanks to his knowledge of Asia, the government Cort van der Linden named him in 1916 Gouverneur General of the Dutch East Indies. He worked for a greater autonomy of the Dutch East Indies and for the economic development of the colony. As Governor General he conducted administrative reforms, such as the extension of the powers of the parliament (Volksraad) of the Dutch East Indies and decentralisation.

He worked in good terms with minister Idenburg, but had a difficult relationship with minister Andries Cornelis Dirk de Graeff. After his departure from the Dutch East Indies he was sent to Egypt, Germany and Great Britain

 

 

1916

 

 

 

Aankomst per m.s. Insulinde van de Gouverneur-Generaal Van Limburg Stirum in de haven van Padang, Westkust-Sumatra

Goveurnur General  Van Limburg stirum visit Padang with Insulinde Ship  at the emma haven (now Teluk Bayur)

 

 

 

 

Governier general Van Limburg Stirum at the Resident Palace Padang in 1916(now West Sumatra Governur Palace).please look the Car that time

 

 

The interior of west Sumatra resident house in 1916

 

 

Welcome * Wel Kom)  to Padang at the bridge  from emma haven to Padang  during the Guvernor genera van limburg stirum Visit Padang in 1916

Tread related info

Gaba-gaba menyambut Tuan Limburg Stirum di Padang

 

In March 1916

the Governor General of the Dutch East Indies Johan Earl Paul van Limburg Stirum official visit to Sumatra’s Westkust.

Van Limburg Stirum was Governor of the Dutch East Indies in 1916-1921. Important group of people that got Emmahaven Batavia (now: Gulf Bayur) by ship ‘Insulinde’.

They greeted like a king and was hailed by the subjects. Governor-General Van Limburg Stirum stay a few days in Padang before continuing his official trip to Tapanuli with rising auto overland through Pasaman.


Photos of our classic cuts within the rubric of ‘Minang Saisuak’ this time to record one of the aspects associated with the flurry of Sumatra’s Weskust officials in welcoming the arrival of the Governor-General Van Limburg Stirum it.

This photograph shows a large gaba-gaba – ‘gate’ said the now – are deliberately made to welcome the arrival of the Governor General in Minang aspect. Gaba-gaba highways were built flanking him from entering the city of Padang.

His position may be on the face of the Bridge Muaro Panyalinan now. Looks posted a welcome in Dutch ‘Welkom te Padang’ is written in capital letters.

In the upper right of the left-gaba gaba snagged tigo flag pattern.
Just as important when people come to the center, all local officials were whispering and fuss made: gaba-gaba established,

the roads quickly in-tumbok, the bad things are put into kungkuangan kitchen are beautiful and fragrant- fragrant placed in front of the house. Remember, for example, the same habits prevailing in the Age of the New Order, to some extent, still valid in the Age of Reformation.

By reading this story you can see now that the traditional helter-tunggik local officials when visited by officials of the center was a legacy of the Colonial Period distant past. However, if the establishment has not obtained the data gateway ‘Welkom te Padang’ to welcome the Governor-General Van Limburg Stirum has received permission from the Mayor of Padang or not at that time.
Suryadi – Leiden, The Netherlands.

(Photo source: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Sunday, June 24, 2012

Original info

Pada bulan Maret 1916 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Earl Johan Paul van Limburg Stirum melakukan kunjungan resmi ke Sumatra’s Westkust. Van Limburg Stirum menjabat Gubernur Hindia Belanda dari tahun 1916-1921. Rombongan besar orang penting dari Batavia itu sampai di Emmahaven (kini: Teluk Bayur) dengan menumpang kapal ‘Insulinde’. Mereka disambut bagai raja dan dielu-elukan oleh kawula. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menginap beberapa hari di Padang sebelum meneruskan lawatan resminya ke Tapanuli dengan naik oto lewat jalan darat melewati Pasaman.

Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini merekam salah satu aspek yang terkait dengan kesibukan para pejabat Sumatra’s Weskust dalam menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum itu. Foto ini memperlihatkan sebuah gabagaba besar – ‘gerbang’ kata orang sekarang – yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Sang Gubernur Jenderal di Ranah Minang. Gabagaba ini dibangun mengapit jalan raya ketika hendak memasuki kota Padang. Posisinya mungkin di muka Jembatan Muaro Panyalinan sekarang. Kelihatan terpampang ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda ‘Welkom te Padang’ yang ditulis dengan huruf besar. Di kiri kanan bagian atas gabagaba tersangkut bendera tigo corak.

Sebagaimana halnya bila orang penting dari pusat datang ke daerah, seluruh pejabat daerah kasak-kusuk dan repot dibuatnya: gabagaba didirikan, jalan-jalan cepat di-tumbok, yang busuk-busuk ditaruh ke kungkuangan dapur, yang cantik-cantik dan harum-harum ditaruh di depan rumah. Ingatlah misalnya kebiasaan yang sama yang berlaku di Zaman Orde Baru yang, sampai batas tertentu, masih berlaku di Zaman Reformasi ini. Dengan membaca kisah ini Anda dapat mengerti kini bahwa tradisi tunggangtunggik pejabat daerah bila dikunjungi oleh pejabat pusat itu sudah merupakan warisan dari Zaman Kolonial jauh di masa lampau. Namun belum diperoleh data apakah pendirian gerbang ‘Welkom te Padang’ untuk menyambut Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ini sudah mendapat izin atau belum dari Walikota Padang pada waktu itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 24 Juni 2012

1920

 

 

Kunjung Gubernur general Fock ke Istanana maimon kerajaan deli di Medan

 

(Dr Iwan)

 

Sebagaimana layaknya pemimpin sebuah negara, pada masa kolonial Belanda, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pun banyak melakukan kunjungan-kunjungan ke kota-kota maupun kabupaten-kabupaten di wilayah kekuasaan.

Dalam beberapa kesempatan melakukan perjalanan, biasanya ia juga mengunjungi kampung-kampung, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan tempat-tempat peristirahatan, atau juga meresmikan beberapa proyek. Media di Hindia Belanda turut memberikan komentar dan menceritakan beberapa fakta terkait perjalanan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer keliling Jawa pada pertengahan tahun 1937, dan juga pada bulan Maret tahun 1939:

Koran Het Nieuws Van Den Dag, 03-07-1937:

GUBERNUR JENDERAL KE BANYUMAS
Koresponden kami di Cilacap menuliskan:

Menurut berita yang kami terima, Z. E. (Zijne Excellentie) Gubernur Jenderal pada September yang akan datang, setelah mengadakan kunjungan ke Vorstenlanden (wilayah-wilayah kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta), akan meneruskan perjalanannya melalui Wonosobo menuju Banyumas untuk bermalam disana di rumah dinas resident setempat. Keesokan harinya, dengan menggunakan mobil menuju Cilacap, terus melakukan kunjungan ke LP Nusakambangan, Kinderzee (Segara Anakan) dan Kampung Laut. Dengan menggunakan kapal milik N. V. “Soekapoera-Bongaardt”, rombongan akan melakukan penyeberangan Tjilatjap-Kalipoetjang (Priangan) yang diteruskan dengan perjalanan pulang.

Selanjutnya diberitakan pula oleh De Indische Courant pada 30 September 1937 bahwa dalam perjalanan tersebut kendaraan yang ditumpangi Gubernur Jenderal mengalami kepanasan atau overheat pada 4 km sebelum memasuki kawasan Diëngplateau. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mendinginkan kembali mesin mobilnya, baru kemudian Gubernur Jenderal melanjutkan kembali perjalanannya.

Dua tahun berselang, yakni pada 1939, sang Landvoogd (julukan gubernur jenderal Hindia Belanda), juga mengadakan kunjungan ke residensi Banyumas lagi, kali ini untuk meresmikan proyek irigasi Serayu. Proyek yang menghabiskan dana sekitar satu setengah juta gulden itu diharapkan dapat berguna bagi kehidupan sekitar 200.000 rakyat sekitarnya.

Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan pada 15 Maret 1939 bahwa Gubernur Jenderal tiba di Pompstation (Pompa Air) Gambarsari untuk acara peresmian yang juga diselingi acara penganugerahan penghargaan pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan diberikan kepada mereka yang berjasa membantu melancarkan pembangunan proyek irigasi tersebut. Selasa siang pukul 12.30 tanggal 14 Maret 1939 Gubernur Jenderal memimpin seremonial pembukaan proyek irigasi itu.

Berturut-turut memberikan pidato kata sambutan adalah gubernur Jawa Tengah RKA Bertsch, kepala dinas Provincialen Waterstaat (Dinas Pengairan Provinsi), Adriaanse, mewakili Departement Verkeer en Waterstaat (Pekerjaan Umum), ir. Valkenburg, atas nama ANIEM (PLNnya HIndia Belanda), Dekker, dan Regent Cilacap, RMAA Tjokrosiwojo atas nama rakyatnya.

Kepada segenap jajaran pejabat dan tokoh masyarakat yang terkait dengan pengerjaan pengairan tersebut mendapatkan penghargaan dari pemerintah, termasuk pengawas irigasi dan wedono Kroya yang menerima penghargaan berupa bintang perak besar, opnemer Minggoe menerima bintang perak kecil, bintang perunggu kepada para penatoe dari Gentasari dan Sampang, dan kepada lurah-lurah dari Glempang dan Sikampoh (Sikampuh). Sekitar 300 lebih undangan dan masyarakat sekitar turut menyaksikan dan meramaikan acara peresmian stasiun pompa air Gambarsari tersebut.

 

Foto: Gubernur Jenderal AWL. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer sedang melintas di depan pasukan eerewacht yang menyalaminya dengan menunduk, dalam sebuah acara peresmian dibukanya wilayah pengairan Serayu 1939. Sumber: Leeuwarder Courant.

 

Masyarakat yang antusias pada acara peresmian Stasiun Pompa Air Gambarsari. Foto: Zaans Volksblad

 

Stasiun Pompa Air Gambarsari Banyumas, yang menghabiskan dana satu setengah juta gulden. Foto: Algemeen Handelsblad

Sumber:

 

-Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch-Indië

-Bataviaasch Nieuwsblad

-Algemeen Handelsblad

(Mas osse kompasiana)

 

4 Juli 1939

 

Majallah Kejawen 4 juli 1939 Tembakau Hitam

2 Agustus 1939

 

Iklan Ban Silverstown Sinpo 2 Agustus  1939

4 November 1939

Iklan  Anggur Habis Beranak Sinpo 1939

 

Iklan Anggur Pektay Sinpo 4 November 1939

Pada masa Yunani Kuno, praktek periklanan dalam bentuknya yang paling awal yaitu periklanan lisan atau oral telah dilakukan oleh para penjaja yang berteriak keliling kota menawarkan barang-barang dagangannya. Di kota Athena para penjaja keliling menawarkan produk kosmetik merk Aesclyptos yang paling terkenal pada masa itu dengan menyanyikan semacam puisi sebagai pemikat calon konsumennya. Pada sekitar 3000 tahun yang lalu, di Babylonia telah digunakan tanda-tanda (sign) atau simbol-simbol visual sebagai wahana periklanan yang ditempelkan pada produk-produk yang diperdagangkan. Di jaman Romawi orang-orang memasang iklan dalam bentuk tulisan-tulisan papan pengumuman yang ditempelkan pada dinding-dinding kota untuk mencaribudak-budak yang melarikan diri dan juga untuk mengumumkan pertandingan pertarungan para gladiator. Di kota Pompei lukisan dinding dalam bentuk grafiti oleh para politikus digunakan sbagai media periklanan untuk propaganda agar rakyat memilihnya. Bentuk awal periklanan yang lainnya, ketika gilda-gilda para artisan (pengrajin) menguasai perdagangan di abad pertengaha, digunakan logo, tanda, juga simbol yang dilekatkan pada produk-produk atau karya-karya kerajinan mereka sebagai ciri khas dan penanda kualitas produk tersebut.

Advertisements

2 responses to “KISI INFO INDONESIA 1939 (BERSAMBUNG)

  1. Saya tjari keturunan captein der Chinese di Padang

    • jIKA ANDA MAU CARI KETURUAN KAPTEN TIONGHO PADANG, SILAHKAN MEMBELI cd-rOM SAYA PADAN TIONGHOA, HARGA SATU JUTA RUPIAH SAJA SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM,ATAU BILA MAU INFO LAIN SATU INFO SERATUS RIBU RIPAH,SUSUN LIMA PEWRTANYAAN BIAYANYA JADI LIMA RATUS RIBU RUPIAH,DILUAR NEGERI SATU INFO TIGA RATUS RIBUS RUPIAH, BILA TIDAK BERKENAN TIDA APA,TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR DI WEB BLOG SAYA
      aalamat gmail iwansuwady@gmail.com,syarat komunikasi upload kopi ktpnya dan alamat lengkap rumah dan nomor tilpon,ini untuk mencegah spam hijack internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s