KISI INFO BABAD TANAH JAWA 1(BERSAMBUNG)

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Introductions

In 1958 for the first time visit Java Island, when I joined the Indonesian Table Tennis  Championship at Surabaya, that time UI was the Middle Sumatra Table Tennis Champion.

I remember for the first time departed from Tabing Pandang Airport with Garuda Indonesia Airways with my father Djohan Oetama, landed at Kemayoran Airport Jakarta .At the airport we  met my uncle Anton Rahmat Abdisa ,the husbandd of my mother Siste Lies Abdisa, Jakarta still not crowded like now, we stayed at my uncle house at Kramat Raya street.

In 1959 I have three nice there Rafael ,Michael and Grace Abdisa.

Kramat Raya stereet one a small stree only about 20 meters wide, we can walking to Senen Market, then by Oplet Car to Banteng square after that walking to Pasar Baru market, and we went  via juanda street back of Istana Merdeka to harmoni there still have trem to Glodk ,morning Chinese market Glodok,

After that we went to Surabaya by Night Train from gambir, we choose the wrong  Way side because ethere were two side , at the front  via south java via Jogya,solo to Semut train station Surabaya that was why our frined  didn’t there , we must choose the other side the train via north java via semarang to Gubeng train stations.

We were lucky ,the very friendy arek surobouo passenger help us to get our friend home at Surabaya and then we stay at Kali Brantas Hotel .

After that we travelling to Selecta Batu Malang and Malang City, then by our Java Friend by car we we went to Jogya city and then to Borobudur temple at Magelang city.

When went by train I could seen the poor Java people asked for help money from the the window, the house still very bad,many their had only groun sand houses,many java women seeking:Kutu” at the other hair.

After that for the second time in 1959 I visit Semarang , we went with my father uncle Lie Tek Beng, and frined from Lawn Tennis Lie Eng Goan, Kasim and my uncle Teddy Chua. We stayed at Lie Eng Goan brother house at Keselamatan street near Gajama Mada street Jakarta, and from Jakarta we travel by suburban small car via Kerawang bekasi,Cheribon, Tegal,pekalongan to Semarang and stayed at Pavillion Hotel.

I still rembere I play Lawan tennis with the Indonesia champion Tan Liep Tjiauw, I seen other Indnesian Lawan tennis Champion like Amat, Kece Sudarsono, and that time the champion from Japan.

From Semarang by car we visit Solo ,I seen for the first time Surakarta Palace and the Klewer market, then we went to Klaten,Prambanan temple to Jogya where we seen Hemangku Buwono Palace, then we visit Borobudur temple again, after that we went to Bandung stayed at Istana Hotel.

I remebere for the first time breakfast bauffet but we cann’t eat all like this day.

The Third time visit Jakarta when study at Indonesian University Medical Faculty Salemba street  Jakarta, by Garuda Indonesian Airways Fokker 28  flight,when arrived at Kemayoran airport my nice bring me to my uncle new house at Polonia Street Jatinegara Jakarta.

After that several time I visit Jakarta, and in 1083 with all my family included my Mother in Law Eliza Chandra,we use my new Toyota BJ 40 Landcruser Car . I travelling again by road via Krawang,bekasi,Cheribon,Pekalongan,tegal Semarang stayed at my brother in law Aswin-Ay Ling father house at Semarang, from thus city I went by north java road via Kudus,demak,epara,rembang,Tuban,Gersik to Surabaya we went ot Malang transit and stayed at tretes at villa then we wnet to Bali via Basuki,Baunyuwangi, by ferry boat atKetapng to Bali then to Batur lake stayed there, then visit and stayed at den Pasar atPamacutan Hostel, after around Bali we back home via Surabya, Kediri, to Solo, Salatiga, semarang to look Chengo Temple then went toAmbawa stayed at Kretek Villa near air Pening, the other day via Slamet Mount road to Wonosobo, Dieng Temple,then to Borobudur temple, the to Jogya, after that we straight to kebumen,purwokerto stayed there,them we went to Bandung, Bogor ,Jakarta stayed at my brother in law house at Kelapa gading.My Mother in law back home via irfilgt,we by Toyota BJ40 Landcriser back home via tangerang,serang,cilegon. Merak,by ferry to lampong, via lahat-to lampoon, the back home to padang via sijunjung,solok.

In 1989, I am dicided to moved to Jakarta, by my house at kelapa gading still until now, movebecause to many earthquake in my birthmoe Padang city, I sold my house there, and I study Maste hOspital adminsitration post graduate school.my wefie study Medical record administration program then Public Healt,latest Magister Manangrmrent program, my son study high school at Kanisius collage then Geology bachelor at ITB Bandung, the other son Don Bosco High School then Bachalor Mech engineer at Gajamada University Jogya, after that all the family have there own best job I at The National Police Head Quarters Healt and Medical Center with last Police Colonel until retired in year 2000, my wife Medical rexord Consultant ant  amedical administration school directur now, my elder son the GM Bajubang Jambi Pertamina Oil and Gas  Project now, and the other son GM Toyota Astra Car Marketing Jakarta, my son get merried and now I get two grandaugter and ond grand son.

I choose the right way which made we all family succed in our carier, and after retired I built web blog abd became the historian writer, and now built the KISI(Kolektor Informasi sejara Indonesia) Indonesian History inforfation Group.

Iam collecting all kind of information related with Indonesian History, I have write the Padang West Sumatra History Collectins, and I write The Java History Collections book.

I hope all Indonesian History collector will happy to read this special KISI book.

This Book including Java History Collection, Java Land Babad Legend story, Java Folklore, and Java Poem.

Jakarta November 2013

Dr Iwan suwandy,MHA

TheAuthor Profile

 

The List Of Content

Indtroduction ;

history

1.Babad Java Legend Story(Babd TanaJawa)

2.Babd Pecinan

3.Serat Puwaka

4.Serat Chentini

4.Othe java r babad

5.Other Java  Serat

References

 

 

 

 

HISTORY

SEJARAH BABAD TANAH JAWA

Babad Tanah Jawa dan serat Kanda yang selama ini popular dikalangan masyarakat Jawa,bahkan pernah juga diajarkan disebagian Sekolah Dasar dimasa lalu

 

 

 

Selain fakta lain banyak mengandung bahan masukan dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai jug afakta keturunan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan Tentara Islam Demak

Prof Dr Slamet Muljana dalam bukunya Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit secara panjang lebar membantah isis ceritu itu berdasarkan bukti buku sejarah, dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi Sumber Sejarah yang dapat dipercaya.\Sumber sekarah itu antara lain beberapa Prasasti dan Karya Tulis Sejarah Majapahit seperti Negara Kertagama dan Pararaton,karena itu tidak mengherankan jika dalamnya tentang Sejarah Majapahit ditemukan banyak informasi yang kurang tepa alais cacat info.

 

Secara garis besar, cerita itu boleh dikatakan menunjukkan kemenagan Islam,padahal sebenarnya sebaliknya yang dapat member kesan yang merugikan karena seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah padahal kenyataan tidak begitu, misalnya salah seorang wali sonngo dari kerajaan demak Sunan Kalijaga [ernah berkata agat umat Islam jangan berpenampilan dengan pakaian seperti orang arab karena nanti rakyat yang masih menganut paham lama akan menjauhi kita umat islam

 

 

 

Prasati Petak dan Trailokya menerangkan Raja Majapahit  terakhir adalah Dyah Suraprahawa runtuh akibat serangan tentara Keling pimpinan Giiridrawardhana pada tahun 1478 AD sesuai Pararaton .

Sejak itu Majapahit  tidak lagi menjadi Sebauh Ibu Kota  Kerajaan ,dengandemikian tak mungkin Majapahit runtuh akibat serbuan Kerajaan demak,sumber sejarah Portugis tulisan Tom Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dimasa pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban,Gersik ,Surabaya dalam wilayah Kerajaan Kediri,sehingga tidak mungkin terjadi seperti yang diceritakan dalam Babad Tanah Jawa yang menulis kisah bahwa Raden Patah mengumpulkan Para Bupati untuk mengempur Majapahit

 

Penulis Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya kerajan Kediri(Jengala)  oleh serbuan Kerajaan demak dimasa pemerintahan Sultan demak Trenggano  lima tahun kemudian tahun 1478.

 

Hancurnya Kerajaan Kediri karena diserbu Tentara Monggol Kublaikan dengan bantuan Raden Wijaya yang saat itu sduah mengungsi ke Kerajaan Madura,  dalam rangka menghukum  Raja singosari Kertajaya yang telah menolak perminatan kaisar monggol denga membuat codet dengan pedang muka utusan Kaisar  tiongkok  tersebut yang bernama Meng Chi, yang saat itu malah sudah di bunauh oleh raja Kediri Jayakatwang .

Serbuan  Kerajan demak ke Kediri karena dimasa pemerintahan sultan demak Trenggano  karena Kediri yang sat itu buakn sebagai Kerajaan Kediri(jenggala) lagi, mengadakan hubungan dengan Portugis dengan Malaka  seperti yang dilaporkan Tom Pires, Kerajaan demak memang memusuhi Portugis  hingga mengempurnya  ke Malaka  karena tidak rela Kediri menjalain hubunggan dengan  bangsa penjajah itu yang beragama katolik roma

Setelah Kediri Jatuh (bukan Majapahit) diserang Demak,bukan lari kepulau Bali seperti ditulis dalam serat Kanda,melainkan ke Penarukan Situbondo setelah dari Sengguruh Nalang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaan Hindu,tetapi itu bukan pelarian Raja terakhir Majapahit seperti disebutkan dalam babad itu

Lebih jelasnya lagi Raden Patah bukanlah putra Raja majapahit terakhir seperti dftulis dalam babd dan serat kanda itu demikian menurut Prof DR Slamet Muljana

Sejarahwan Mr Moh Yamin dalam bukunya Gajag Mada ,juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V ,Raja majapahit terakhir abkibat seranagn Ranawijaya dari kerajaan Keling,jadi bukan seranga dari Kerajaan demak, uraian tentang keterlibatan  patih Gajah Mada dari Majapahit  yang memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak tahun 1478 itu tidak benar karena waktunya tidak sma dengan demikian tulisan dalam babad tersebut bertentangan dengan sejarah yang sebenarnya karena soalnya Gajah mada sudah meninggal tahun 1364 atau 1288 saka.

Penuturan dari buku “Dari Panggung Sejarah” terjemahan IP Simadjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. van Den berg ternyata juga runtuhnya kerajaan Majapahit bukan akibat serangan Kerajaan demak atau tentara Islam .

Selain itu penulis Tiongkok Mahuan  yang memeluk agama islam, dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” menyebutkan ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi dari Gujarat dan Malaka menyebutkan pada   tahun 1400 masehi  masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasla dari Gujarat dan Malaka. Disebutnya para saudar tersebut yang beragama islam sudah bermukim dipantai utara Jawa salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Gersik dengan angka tahun 12 rabi’ul awwal 882 H atau 8 april 1419 Masehi berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk,batu nisan yang terpahat kaligrafi arab itu menurut Tjokrosujono(mantan Kepala Suaka Penunggalan Sejarah dan Purbakala Mojokerto, nisan itu asli bukan buatan baru alias repro kopi. 

Slah satu bukti bahwa sejak Zaman majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu Kota Majapahit(Daha) adalah situs Makam Kuno Troloyo,kecamatan Trowulan Mojokerto Jawa Timur, Makam Islam disitus desa Troloyo Sentonorejo itu beragam angk atahunnya,mulai dari tahun 1368(abad XIV masehi( hingga tahun 1611 (abad XVmasehi) 

SOURCE

sumber

http://www.wattpad.com/12670082-sejarah-babad-tanah-jawa

Babad Tanah Jawa adalah dokumentasi historis yang menceritakan leluhur masyarakat Jawa, keteladanan, keutamaan,keagungan, kemakmuran, kepahlawanan dan kesaktian manusia Jawa kuno diulas secara tuntas & jelas. warisan kejayaan mereka hingga kini dapat disaksikan dengan adanya bangunan candi, kraton dan petilasan. Kehidupan masyarakat Jawa Kuno yang begitu gemilang tersebut dapat digunakan sebagai kaca benggala bagi generasi sekarang.


Masa keemasan Tanah Jawa pernah diwujudkan dengan tampilnya kerajaan besar. Misalnya Kerajan Medang, Kamulyan, Malawapati, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singasari, Majapahit, demak, Pajang dan mataram. Para raja beserta punggawanya berhasil mengangkat harkat dan martabat negaranya. rakyat hidup makmur, aman dan damai. Didalam dan diluar negeri, eksistensinya cukup berwibawa dan disegani. dalam buku ini, perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan besar tersebut diuraikan secara integrasi, kronologis dan sistematis. sebuah buku bermutu dan berguna bagi siapa saja yang hendak menelusuri sejarah dan kebudayaan Jawa.

 

Berkas Babd Tanag Jawa

 sumber wiki

[sunting]

DeskripsiBabad-tanah-jawi.jpg

Bahasa Indonesia: Wadana atau halaman muka Babad Tanah Jawi yang disalin pada abad 19.

English: Wadana or frontispiece of Babad Tanah Jawi (History of the Javanese Land) copy from the 19th century.

Tanggal

25 Juni 2013, 08:18:27

Sumber

http://kawruhjawa.wordpress.com/

Pembuat

Tak diketahui

 

Ini adalah suatu perbanyakan fotografis dari sebuah karya seni dua dimensi. Karya seni tersebut berada pada domain publik karena alasan berikut

Gambar (atau berkas media lain) ini berada pada domain publik karena hak cipta atasnya telah berakhir.

Aturan ini berlaku di Amerika Serikat, Australia, Uni Eropa, serta negara-negara lain yang memiliki aturan masa berlaku hak cipta selama hidup pencipta ditambah 70 tahun

Perhatikan bahwa beberapa negara memiliki aturan masa berlaku hak cipta lebih lama dari 70 tahun: Meksiko 100 tahun, Kolombia 80 tahun, dan Guatemala serta Samoa 75 tahun. Gambar ini mungkin tidak berada pada domain publik di negara-negara tersebut, dimana juga tidak menerapkan aturan masa berlaku yang lebih singkat. Pantai Gading memiliki aturan masa berlaku umum hak cipta 99 tahun dan Honduras 75 tahun, tetapi negara-negara tersebut menerapkan aturan masa berlaku yang lebih singkat

Posisi resmi Wikimedia Foundation adalah bahwa “faithful reproductions of two-dimensional public domain works of art are public domain, and that claims to the contrary represent an assault on the very concept of a public domain“. Untuk detilnya, lihat Commons:When to use the PD-Art tag.
Oleh karena itu, perbanyakan fotografis ini juga dianggap berada pada domain publik. Mohon diperhatikan bahwa hukum lokal mungkin saja melarang atau membatasi penggunaan kembali berkas ini di wilayah hukum anda

Aksara Jawa
ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ

 

Informasi

Jenis aksara

Abugida

Bahasa

Jawa
Sunda
Madura
Sasak
dll

Periode

± abad 13 hingga sekarang

Arah penulisan

Kiri ke kanan

Silsilah

Proto-Sinaitic

Aksara kerabat

Bali
Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó’o
Kaganga (Rejang)
Lontara (Bugis)
Rencong
Sunda Kuno
Tagbanwa (Tagalog)

Baris Unicode

U+A980U+A9DF

ISO 15924

Java, 361

Nama Unicode

Javanese

Perhatian: Halaman ini mungkin memuat simbol-simbol fonetis IPA menggunakan Unicode.

 

 

Artikel ini memuat aksara Jawa. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari aksara Jawa.

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀), adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak[1]. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida. Setiap huruf pada aksara Jawa melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat dimodifikasi dengan sejumlah tanda baca vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), konsonan akhir, dan ejaan asing[2]. Huruf memiliki bentuk subskrip yang berguna untuk menulis tumpukan konsonan di tengah kalimat, dan beberapa diantaranya memiliki bentuk “kapital” yang digunakan untuk menulis nama. Terdapat pula tanda-tanda yang setara dengan koma, titik, titik dua, serta kutip, dan terdapat pula tanda yang menunjukkan angka, membuka puisi/tembang, mengawali surat, dll[3]. Aksara Jawa ditulis tanpa spasi (scriptio continua)[2], dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata.

Dewasa ini, bahasa Jawa lebih umum ditulis dengan huruf latin karena lebih praktis. Walaupun aksara Jawa telah diimplemetasikan dalam Unicode sejak 2009, penggunaannya di media digital masih tidak semudah huruf latin karena hanya dapat ditampilkan dengan benar pada program yang menggunakan teknologi SIL Graphite seperti Firefox atau Thunderbird email client. Hal ini cenderung membuat penggunaan aksara Jawa tidak luas.

Abugida (Ge’ez አቡጊዳ ’äbugida), atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida.

Istilah abugida diusulkan oleh Peter T. Daniels (1990) dan merupakan nama Ethiopia untuk aksara Ge’ez [1]. Sedangkan istilah alfasilabis (bahasa Inggris: alphasyllabary) diusulkan oleh William Bright (1997) [2]. Istilah lain yang juga pernah diusulkan adalah neosilabis (Février 1959), pseudoalfabet (Householder 1959), semisilabis (Diringer 1968; istilah yang juga memiliki makna lain), serta alfabet silabis (Coulmas 1996; yang juga merupakan sinonim dari aksara silabis) [2]

Sumber wiki

Seperti juga sumbernya yang sekarang ini Babad Tanah Jawi disusun sesudah tahun 1680. Naskah prosa dikerjakan oleh Raden Ngabehi Kertapraja di Surakarta, namun kemudian diperbaiki dan dilengkapi sampai dengan tahun 1742 oleh C.F Winter (1859) atas dasar sebuah naskah lain (Codex B, Collectie KITLV). Meinsma memakai naskah Codex B bila naskah Kertapraja dianggap kurang jelas.

Babad Tanah Jawi dapat dianggap sebagai kronik resmi Kerajaan Mataram, yang mencapai puncaknya pada pemerintahan
Sultan Agung (1613-1645). Beberapa bagian bercorak mistis, genealogis buatan raja-raja dahulu kala, dongeng (seperti, pernikahan Senopati dan Ratu Kidul) dan cerita-cerita tentang berbagai kejadian historis. Babad ini memakai naskah-naskah yang lebih tua yang mungkin sudah direvisi beberapa kali sesuai “keperluan” zamannya, khususnya untuk melegitimasikan wangsa yang sedang berkuasa. Bukan hanya itu, dalam
Babad Tanah Jawi banyak kekalahan-kekalahan yang diubah pandangannya menjadi rencana yang berwawasan jauh ke depan. Misalnya kekalahan Sultan Agung terhadap Batavia yang kemudian mengundurkan diri dianggap sebagai sikap yang bijaksana dengan cerita bahwa Sultan Agung menyuruh tentaranya untuk mengundurkan diri dari Batavia, sebab ia hanya mau memberi pelajaran kepada Belanda, karena nanti mereka akan membantu cucunya waktu terpaksa melarikan diri dari Mataram. Dibalik cerita Babad Tanah Jawi pun banyak terdapat peristiwa historis misalnya pembelaan-pembelaan Fort Holandia oleh Sersan Hans Madelijn pada serangan malam tanggal 20 Oktober 1629.

Sumber

http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3118/Tanah-Jawi-Babad

BABAD TANAH DJAWI
Gubahanipun L. VAN RIJCKEVORSEL Directeur Normaalschool
Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool
Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – Den Haag –
Weltervreden – 1925
Perangan Kang Kapisan Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekane
Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 utawa 3 – Abad 16
Beboeka.
Moenggoeh babading tanah In.ija-wetan .ek doeroeng katekan bangsa In.oe,
seprene lagi e.i.ik banget kang woes kawroehan. Malah wong In.oe ikoe bae ija
doeroeng kasoemoeroepan terang .ek kapan tekane ing ken elan keprije
kaanane ing kala wiwit-wiwitane.Moeng bae woes jakin, en kemadjoean lan
tata-soesilaning wong In.ija kene iki bibit-sekawite saka dajaning wong n.oe
kang asale saka ing tanah In.oe sisih kidoel.Katjarita nalika taoen 261
sadoeroenge taoen alanda ing In.oe-ngarep ana ratoe adjedoeloel Praboe Açoka,
djoemeneng nata ing negara Patalipoetra (ing sawetan Benares), lan agamane
Boeda. Kresane sang Praboe pradja tjilik-tjilik ing saoebenging kono arep
digoeloeng didadekake nagara sidji, kang ge.e lan sentosa. Akire bisa kelakon,
meh satanah In.oe-ngarep kabeh mloempoek, kinoewasan ing ratoe sawidji.
Moeng ing poentjit kidoel, wiwit saka saloring Madras lan Mangalore, kratonkratone
presasat madeg .ewe-.ewe, ora pati kewengkoe ing pradja-pradja
tanah lor. Pradja-pradja sisih kidoel ikoe maoe oega ge.e dajane toemraping
kemadjoean lan tata-soesilaning tanah-tanah ing sakoebenge. Dene kang
djoemeneng ratoe: 1 Para Pan.awa (Pandava) kang kotjap ing lajang Mahabharata.
2 Darah Pallava (ajake ing peketjapan Djawa: Malawa) kesoewoer
wiwit atoesan taoen sadoeroenge taoen Walanda nganti tekan abad 9, dene
komboel-komboele wiwit ing tengahing abad 6 tekan tengahing abad 8. Ing
djaman ikoe titi-mangsa adeging jejasan kang edi-edi, kajata: tjan.i-tjan.i
jasane Mahendra-warman (600-625). Ana wong Tjina agama Boeda djenenge
Hüen-Tsang njandra pradja Pallava ikoe soerasane nelakake jen tanahe lph lan
betjik pengolahe, wong-wonge pa.a poendjoel ing kawanterane, setya-toehoe,
roekoen lan ngoedi marang oen.aking kawroeh.
Kang kendel lelajaran, nganti bisa gawe koloni-koloni ana ing Indo-China,
Malaka lan kapoeloan Soen.a, ija para bangsa ing In.oe sisih kidoel ikoe,
loewih-loewih wong Pallava. Wiwit satoes taoenan sadoeroenge taoen Walanda
wis ana papan-papan sawetara kang dienggoni wong In.oe, dene ge.e-ge.eningemigratie ana ing sadjroning abad 2 tekan 6, bokmenawa kegawa saka ing
tanah In.oe kana kakehen djiwane lan marga saka paperangan karo bangsabangsa
ing sisih elore.
Koloni sing ge.e-ge.e, jaikoe: Tjampa ing Annam pasisir wetan.
Kambodja, kaedegake ing taoen 435. Ing kono dijasani tjan.i-tjan.i
Brahma oetawa Boeda akeh banget. Koetei ing Borneo-lor lan
Soekadana ing Borneo-kidoel. Palembang (Çrivijaya) Djawa-tengah
01 Perangan Kang Kapisan
Bab 1
Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon
(wiwit abad 2 utawa 3)
Tekane ing tanah-tanah ikoe wong In.oe anggawa agama (Boeda oetawa
Brahma) lan kagoenan warna-warna, kajata matja, noelis, mba.ik, medel;
bandjoer jasa tjan.i-tjan.i lan omah apik-apik. Wong Priboemi diweroehake
marang barang-pedagangan warna-warna, jaikoe bangsa san.ang-penganggo,
bangsa gegaman, peni-peni awowdjoed ontjen motiara, bekakas-bekakas lijane
kang abakal ga.ing oetawa emas, lan sapanoenggalane.
Çrivijaya ikoe terang jen kegolong kang ge.e .ewe, malah bokmenawa dadi
baboning kawroeh lan kagoenan toemraping tanah-tanah lijane kang kasboet
ing .oewoer. Ana kang ngira jen praboe Jayawarman, narendra ing Kambodja,
kang miwiti jasa koe.a lan tjan.i-tjan.i Angkor, ikoe darahing ratoe ing
Soematra.
Pradja-pradja maoe ing sekawit nganti soewe enggone nganggo agama Boeda.
Kang wus kasumurupan, karajane bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang
dhisik dhewe, diarani karajan “Tarumanagara” (Tarum = tom. kaline jeneng
Citarum).
Karajan iku mau dhek abad kaping 4 lan 5 wis ana, dene titi mangsaning
adege ora kawruhan. Ratu ratune darah Purnawarman. Mirit saka gambar
gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah
Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.
Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggone sujarah menyang
patilasane Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti
5 sasi. Ing cathetane ana kang nerangake mangkene :
1. Ing kono akeh wong ora duwe agama (wong Sundha), sarta ora ana kang
tunggal agama karo dhewekne: Budha.2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetane.
3. Barengane nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing dedagangan,
ana kang mung lelungan, karepe arep padha menyang Canton.
Yen mangkono dadi dalane dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang
tanah Cina pancen ngliwati Tanah Jawa. Ing Tahun 435 malah wis ana
utusane Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturake pisungsung
menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta
murih gampang lakuning dedagangan.
Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwene lan
kepriye rusake. Wong Indhu ana ing kono ora ngowahake adat lan panguripane
wong bumi, awit pancen ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga
durung duwe akal niru kapinterane wong Indhu.
Ewa dene meksa ana kaundhakaning kawruhe, yaiku mbatik lan nyoga jarit.
02 Perangan Kang Kapisan
Bab 2
Karajan Indhu ing Jawa Tengah (abad kaping 6)
Mirit saka:
1. Cathetane bangsa Cina.
2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi.
3. Cathetane sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan sathithik sathithik
mungguh kaananing wong Indhu ana ing Tanah Jawa Tengah dhek jaman
samono.
Nalika wiwitane abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa
Kulon. Ana ing kono padha kena ing lelara, mulane banjur padha nglereg
mangetan, menyang Tanah Jawa Tengah.
Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterane, yen ditandhing karo
wong Indhu kang lagi neneka mau; mulane banjur dadi sor-sorane. Wong
Indhu banjur ngadegake karajan ing Jepara. Omah omah padunungane wong
Jawa, ya wis memper karo omah omahe wong jaman saiki, apayon atep utawa
eduk lan wis nganggo kepang. Enggone dedagangan lelawanan karo wong Cina;
barang dedagangane kayata: emas, salaka, gading lan liya liyane. Cina cina
ngarani nagara iku Kalinga, besuke, ya diarani: Jawa. Karajan mau saya suwe
saya gedhe, malah nganti mbawahake karajan cilik cilik 28 (wolu likur). Wong
Cina uga nyebutake asmane sawijining ratu putri: Sima; dikandakake becik
banget enggone nyekel pangrehing praja (tahun 674). Tulisaning watu kang
ana cirine tahun 732, dadi kang tuwa dhewe, katemu ana sacedhake
Magelang, nyebutake, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk PrabuSannaha, karajane gedhe, kang klebu jajahane yaiku tanah tanah Kedhu,
Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wetan uga klebu dadi
wewengkone karajan iku.
Mirit caritane, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang
kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha
turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yen ana begal utawa bebaya liyane.
Mirit kandhane sawijining wong Arab, dhek tengah tengahane abad kang
kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahake tanah Kedah ing Malaka
(pamelikan timah).
Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenenge, nanging banjur ana
karangan kang katulis ing watu kang titi mangsane tahun 919, nyebutake
karajan Jawa ing Mataram. Jembar jajahane, mungguha saiki tekan Kedhu,
Ngayogyakarta, Surakarta; manglore tekan sagara; mangetane tekan tanah
tanah ing Tanah Jawa Wetan sawatara. Kuthane karan : Mendhangkamulan.
Wong Arab ngandhakake, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu
Buri). Sing kasebut iki ayake iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer,
karajan Jawa iya wis mbawahake pulo pulo akeh. Pulo pulo iku mawa gunung
geni. Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu craken. Wong Arab iya akeh
kang lelawanan dedagangan.
Sabakdane tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanane karajan
Mataram. Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wetan. Ayake bae karajan
Mataram mau rusak dening panjebluge gunung Merapi (Merbabu), dene wonge
kang akeh padha ngungsi mangetan. Ing abad 17 karajan Mataram banjur
madeg maneh, gedhe lan panguwasane irib iriban karo karajan Mataram kuna.
Agamane wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah
getihe dhewe ing kunane wong Indhu ngedhep marang Brahma, Wisnu lan
Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang
dewa akeh liya liyane, kayata: Ganesya, putrane Bethari Durga.
Manut piwulange agama Indhu pamerange manungsa dadi patang golongan,
yaiku:
– para Brahmana (bangsa pandhita).
– para Satriya (bangsa luhur).
– para Wesya (bangsa kriya).
– para Syudra (bangsa wong cilik).
Piwulange agama lan padatane wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur,
jenenge Wedha. Kira kira 500 tahun sadurunge wiwitane tahun Kristen, ing
tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama
utawa Budha. Mungguh piwulange geseh banget karo agamane wong Indhumau. Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk
marang wong. Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulange: sarehne wong iku
mungguhing kamanungsane padha bae, dadine ora kena diperang patang
golongan. Para Brahmana Indhu mesthi bae ora seneng pikire, mulane kerep
ana pasulayan gedhe. Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur
peperangan karo wong agama Indhu. Wusana bangsa Budha kalah lan banjur
ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang. Mungguh
wong agama Indhu iku pangedêpe ora padha. Ana sing banget olehe memundhi
marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget
pangedêpe marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
Kajaba saka iku uga akeh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa
agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur bae. Petilasane agama
Indhu mau saikine akeh banget, kayata:
– Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasane ratu darah
Sanjaya.
– Candhi ing Kalasan ana titi mangsane tahun 778, ayake iki candhi tuwa
dhewe (Budha), yasane ratu darah Syailendra.
– Candhi Budha kang misuwur dhewe, yaiku Barabudhur lan endut.
– Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhake Prambanan ana candhi
campuran Budha lan Syiwah.
03 Perangan Kang Kapisan
Bab 3
Karajan Ing Tanah Jawa Wetan
(wiwitane abad 10 – tahun 1220)
Ing dhuwur wus kasebutake yen Tanah Jawa Wetan, kabawah karajan Indhu
ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wetan
ora pati akeh, yen katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah
(Kedhu). Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat
tunggal dadi sabangsa. Ing wiwitane abad 10 ana pepatihing karajan Tanah
Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangetan. Let sawatara tahun empu
Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wetan, karajane ing Kauripan
(Paresidhenan Surabaya sisih kidul).
Ambawahake: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
Enggone jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
Nata ing Mataram mau banget pangedêpe marang agama Budha. Empu
Sindhok misuwur wasis enggone ngereh praja. Ana cathetan kang muni
mangkene: “Awit saka suwening enggone jumeneng ratu, marcapada katon
tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kehe.”
Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusake enggonemangun paprangan lan ngelar jajahan. Ing tahun 1037 enggone paprangan wis
rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Dene karatone iya ana ing
Kauripan. Sang Prabu Erlangga ora kesupen marang kabecikaning para
pandhita lan para tapa, kang gedhe pitulungane nalika panjenengane lagi
kasrakat.
Minangka pamalesing kabecikane para pandhita, Sang Nata yasa pasraman
apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan. Pasraman mau
kinubeng ing patamanan kang luwih dening asri, lan rerenggane sarwa peni
sarta endah. Saka edine, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur
wong kang padha sujarah mrono.
Pangadilane Sang Nata jejeg. Wong desa kang nrajang angger angger nagara
padha kapatrapan paukuman utawa didhendha. Kecu, maling,
sapanunggalane kapatrapan ukum pati. Sang Prabu enggone nindakake
paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah
lenggahe.
Saka enggone manggalih marang tetanen yaiku pagaweyaning kawula kang
akeh, Sang Nata yasa bendungan gedhe ana ing kali Brantas. Sang Nata uga
menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan. Kutha Tuban nalika
samono panggonan sudagar, oleh biyantu akeh banget saka Sang Prabu murih
majuning dedagangan lan lelayaran.
Sang Nata yen sinewaka lenggah dhampar (palenggahan cendhek pesagi),
ngagem agem ageman sarwa sutra, remane diukel lan ngagem cênela. Yen
miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700. Punggawa lan kawula
kang kapethuk tindake Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah
(ndhodhok ngapurancang?). Para kawula padha ngore rambut, enggone
bebedan tekan ing wates dhadha. Omahe kalebu asri, nganggo payon gendheng
kuning utawa abang. Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun
pitulunganing para dewa bae, utawa marang Budha. Wong wong padha seneng
praon lan lelungan turut gunung, akeh kang nunggang tandhu utawa joli.
Dhek samono wong wong iya wis padha bisa njoget, gamelane suling,
kendhang lan gambang.
Karsane Sang Prabu besuk ing sapengkere kang gumanti jumeneng Nata
putrane loro pisan, mulane kratone banjur diparo: Jenggala (sabageyaning:
Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.
Dene kang minangka watese: pager tembok kang sinebut “Pinggir Raksa”, wiwit
saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing
branglore kali Brantas saka wetan mangulon tekan ing desa kang saiki aran
“Juga”, nuli munggah mangidul, teruse kira kira nganti tumeka ing pasisir.
Gugur gugurane tembok iku saiki isih ana tilase, kayata ing sacedhaking kali
Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.Mungguhing babad Jawa jumenenge Prabu Erlangga kaanggep minangka
pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akeh caritane kang kasumurupan.
Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layange ing jaman iku tekane ing
jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
Layang layang mau basane diarani: Jawa Kuna, kayata:
1. Layang Mahabarata
2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.
Karajan Jenggala ora lestari gedhe, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik,
marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala
anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan. Karajan cilik cilik kang cedhak
wates Kedhiri or suwe banjur ngumpul melu Kedhiri, liyane isih terus madeg
dhewe nganti tekan abad 13. Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki
mbawahake paresidhenan Kedhiri, saperangane Pasuruwan lan Madiyun.
Kuthane ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara. Ing
wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamane Jayabaya (abad
12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekane jaman saiki isih sinebut luhur,
durung ana kang madhani.
Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenenge: Triguna utawa
Managocna. Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan
Kresnayana. Raden putra utawa Panji kang kacarita ing dongeng kae,
bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng
ana wiwitane abad kang kaping 12. Garwane kekasih ratu Kirana (Candra
Kirana) putrane ratu Jenggala. Ing mangsa iki ana pujangga jenenge Empu
Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Raden Panji nganti saiki tansah
kacarita ana lakone wayang gedhog lan wayang topeng. Pujanggane Jayabaya
aran Empu Sedah lan Empu Panuluh. Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (=
1157) methik saperanganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara
Jawa, dijenengake layang Bharata Yudha. Wong Jawa ing wektu iku wis pinter,
wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.
04 Perangan Kang Kapisan
Bab 4
Ken Angrok Nelukake Karajan Karajan Cilik (1220 – 1247)
Ing tahun 1222 ana ratu ing Tumapel utawa Singasari, jenenge Ken Angrok.
Critane Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemune layang iki ana ing
Bali dhek tahun 1891. Ken Angrok lair ana ing sacedhake Tumapel (Singasari),
asal wong tani lumrah bae. Ken Angrok kacarita bagus rupane lan bisa nenarik
katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangaji aji lan wanimarang penggawe luput. Ing sawijining dina ana Brahmana ketemu karo
dhewekne, kandha yen dhewekne titising Wisnu. Anggone kandha mangkono
iku, awit Brahmana mau ngerti yen Ken Angrok iku wong kang gedhe karepe
lan kenceng budine. Brahmana banjur golek dalan bisane Ken Angrok
kacedhak karo adipati ing kono, Sang Tunggul Ametung. Ora antara suwe
kelakon Ken Angrok kaabdekake. Bareng wis mangkono, Ken Angrok banjur
tansah golek dalan kapriye enggone bisa ngendhih Sang Adipati, nggenteni
jumeneng. Ketemuning nalar Ken Angrok banjur ndandakake keris becik
marang Empu Gandring. Sawise keris dadi, katon becik temenan, nganti
mitrane Ken Angrok aran Keboijo kepencut kepengin nganggo, banjur
nembung nyilih: oleh. Saka senenge, keris mau saben dina dianggo sarta
dipamer pamerake, dikandhakake duweke dhewe. Bareng wis sawatara dina
Ken Angrok banjur nyolong kerise dhewe kang lagi disilih ing mitrane mau
dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon seda, keris ditinggal ing sandhinge layon.
Urusaning prakara: mitrane Ken Angrok sing kena ing dakwa, diputus ukum
pati. Ken Angrok banjur bisa oleh Sang putri randaning Tunggul Ametung lan
gumanti madeg adipati: Sang Putri asmane Ken Dhedhes.
Sasuwene dicekel Ken Angrok negarane tata, reja, wong cilik banget sungkeme.
Sawise mbedhah karajan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok banjur emoh
kebawah Kedhiri, malah ing tahun 1222 mbedhah praja Kedhiri nganti kelakon
menang, Ratu ing Kedhiri Prabu Kertajaya seda nggantung sabalane kang
padha tuhu. Kedhiri banjur ditanduri adipati kabawah Singasari. Bareng para
ratu darah Empu Sindhok wis kalah kabeh karo Ken Angrok, Ken Angrok
banjur jumeneng Ratu gedhe, jejuluk Prabu Rejasa, yaiku kang nurunake para
ratu ing Majapait.
Kacarita Sang Retna Dhedhes nalika sedane adipati Tunggul Ametung wis
ambobot. Bareng wis tekan mangsane, Sang Retna mbabar putra kakung,
diparingi peparab Raden Anusapati. Wiwit timur nganti diwasa Sang Pangeran
ora ngerti yen satemene dudu putrane Prabu Rejasa, nanging rumangsa yen
ora ditresnani ing Sang Prabu, beda banget karo rayi rayine. Ing sawijining
dina Anusapati kelair marang ibune mangkene: “Ibu, punapa, dene Kangjeng
rama punika teka boten remen dhateng kula?” Sang Retna banget trenyuhing
galih mireng atur sasambate kang putra, wasana banjur keprojol
pangandikane; kang putra dicritani lelakone wiwitan tekan wekasan.
Anusapati banget ing pangungune, sanalika banjur duwe sedya males ukum,
nanging isih sinamun ing semu. Keris yasane Empu Gandring disuwun,
pawatane mung kepingin banget anganggo. Kang ibu lamba ing galih, keris
diparingake.
Anusapati banjur nimbali abdine kekasih, diparingi keris mau lan diweruhake
ing wewadine. Bengine Sang Prabu seda kaprajaya ing duratmaka. Layone
Sang Prabu dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anusapatinggenteni jumeneng Nata. Anusapati jumeneng ora suwe, awit Raden Tohjaya
ngerti yen Anusapati kang nyedani ramane, mulane sumedya males ukum lan
iya kelakon. Tohjaya jumeneng Nata, nanging iya ora suwe. Tohjaya utusan
mantrine aran Lembu Ampal, didhawuhi nyirnakake kalilipe loro, yaiku:
Ranggawuni, putrane Anusapati, lan nakdulure kang aran Narasingamurti; yen
ora bisa kelakon, Lembu Ampal dhewe bakal kena ukum pati.
Dumadakan ana sawijining Brahmana kang welas marang raden loro, banjur
wewarah saperlune. Satriya loro banjur ndhelik ana ing panggonane Panji
Patipati. Lembu Ampal nggoleki raden loro ora ketemu, banjur ora wani mulih,
ngungsi marang Panji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni raden loro,
malah ngrembugi para punggawa kang ora cocog karo Tohjaya diajak ngraman,
wasana kelakon, Sang Prabu nganti nemahi seda.
Ranggawuni jumeneng Nata ajejuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhereke
Narasinga. Nganti tekan ing seda priyagung loro mau rukun banget, nganti
dibasakake: “Kaya Wisynu lan kang raka Bathara Endra”. Karatone mundhak
gedhe pulih kaya dhek jamane Prabu Erlangga, malah jajahane wuwuh
Madura. Sang Nata seda ing tahun 1268, layone diobong kaya adat, awune
sing separo dicandhi ana ing Weleri, ditumpangi reca Syiwah, sing separo
dipethak ana candhi Jago (Tumpang) nganggo reca Budha. Dadi tetela ing
wektu iku agama Syiwah karo Budha campur.
05 Perangan Kang Kapisan
Bab 5
Jumenenge Kartanagara ing Tumapel (1268 – 1292)
Ratu Singasari kang Kaping V, jumeneng mekasi. Sasedane Syri
Wisynuwardhana pangeran pati jumeneng Nata, ajejuluk Prabu Kartanagara.
Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iya
manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kersa
ngunjuk nganti dadi wuru. Ana nayakaning praja aran Banyak Widhe utama
Arya Wiraraja, tepung becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya iku ora
sungkem marang ratune, malah wis sekuthon karo Jayakatwang, arep
mbalela. Dumadakan ana punggawa kang matur prakara iku, nanging Sang
Prabu ora menggalih, Wiraraja malah diangkat dadi adipati ana ing Madura.
Pepatihe Sang Nata aran Raganatha rumeksa banget marang ratune, nganti
sok wani ngaturi penget marang Sang Prabu ing bab kang ora bener, nanging
Sang Prabu ora rena ing galih, ora nimbangi rumeksaning patih setya iku,
malah banjur milih patih liya kang bisa ngladeni karsane. Patih wredha
diundur, winisuda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campur karo prakarapangreh praja. Patih anyar senenge mung ngalem marang ratune lan ngladosi
unjuk unjukan.
Ana utusan saka ratu agung ing nagara Cina (Chubilai) dhawuh supaya Prabu
Kartanagara nyalirani dhewe utawa wakilsuwana marang nagara Cina perlu
caos bekti (tahun 1289). Sang Prabu duka banget. Bathuking Cina utusan
digambari pasemon kang ora apik, nelakake dukane Sang Prabu. Bareng tekan
ing nagara Cina patrape ratu Jawa kang mangkono iku mau njalari dukane
ratu binathara ing Cina, Ing tahun1292 ana prajurit gedhe saka ing Cina arep
ngukum ing kuwanene wong Jawa. Wiraraja sasuwene ana ing Madura isih
ngrungok ngrungokake apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weruh uga
yen ing wektu iku prajurit Singasari dilurugake menyang Sumatra. Wiraraja
ngajani Jayakatwang akon nangguh mbedhah Singasari, mumpung nagara lagi
kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratu
lan patihe katungkep ing mungsuh isih terus unjuk unjukan bae (wuru),
mulane ora rekasa pinurih sedane.
Raden Wijaya, wayahe Narasinga, nuli umangsah ngetog kaprawiran mbelani
nagara lan ratune, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, mulane banjur
kepeksa ngoncati, mung kari nggawa bala 12, genti genti nggendhong Sang
Putri garwane Raden Wijaya, putrane Prabu Kartanagara. Lampahe Raden
Wijaya sasentanane nusup angayam alas. Kalebu wilangan 12 iku ana
satriyane loro, putrane Wiraraja, duwe atur marang Gustine supaya ngungsi
menyang Madura. Sang Pangeran maune ora karsa, nanging suwe suwe
nuruti. Ana ing Madura ditampani kalawan becik. Rembuge Wiraraja, Raden
Wijaya diaturi suwita menyang Daha. Wiraraja sing arep nglantarake. Yen wis
kelakon suwita Raden Wijaya diaturi nyetitekake para punggawa ing Daha,
sapa sing kendel utawa jirih, tuhu utawa lamis. Yen wis antara suwe diaturi
nyuwun tanah tanah Trik, dibabada banjur dienggonana. Raden Wijaya nurut
ing pitudhuh, lan iya kelakon suwita ing Daha. Kacarita pasuwitane kanggep
banget, amarga saka pintere nuju karsa, lan saka pintere olah gegaman; wong
sa Daha ora ana sing bisa ngalahake. Kabeh piwulange Wiraraja ditindakake,
dilalah Sang Prabu teka dhangan bae, malah bareng tanah Trik wis dibabad,
Raden Wijaya nyuwun manggon ing kono iya dililani. Kacarita nalika babade
tanah Trik mau, ana wong kang methik woh maja dipangan, nanging rasane
pait. Awit saka iku desa ingkono mau banjur dijenengake Majapait. Bareng
Raden Wijaya wis manggon ing Majapait, rumangsa wis wayahe tata tata males
ukum, ngrusak kraton Daha, ananging Wiraraja akon sabar dhisik, awit isih
ngenteni prajurit saka nagara Cina kang arep ngukum wong Singasari. Karepe
Wiraraja arep ngrewangi Cina bae dhisik, besuke arep mbalik mungsuh Cina.
Wiraraja banjur boyong sakulawargane lan saprajurite menyang Majapait
ngumpul dadi siji karo Raden Wijaya.06 Perangan Kang Kapisan
Bab 6
Karajan Melayu Ing Bab 5 ana critane
Prabu Kartanagara enggone anjangka undhaking jajahane.
Ana ing tanah Sumatra kelakon bisa oleh jajahan. Ing ngisor iki crita sathithik
tumraping karajan karajan ing tanah Melayu. Kacarita ratu ing Funan, kira
kira ing sajroning abad 3 ngelar jajahan, ngelun tanah Sumatra, Jawa lan liya
liyane, ayake ratu iku kang yasa reca reca ing tanah Pasemah. Ing abad kapitu
ana golonganing para pangeran saka ing Indhu Buri, padha manggon ing
sakiwa tengening Palembang, banjur ngedegake nagara gedhe, jenenge karajan
çrivijaya (= Syriwijaya, sinebut ing bangsa Cina nagara: Sambotsai). Ratu
ratune padha darah Warman, isih dumunung sanak karo darah Purnawarman
ing Tanah Jawa dhek abad 4 – 5, apadene darah Mulawarman ing Kutai lan
Borneo dhek watara tahun 400. Nagara çrivijaya jajahane kira kira Sumatra
sisih kidul lan tengah, Malaka, Kamboja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing
tahun 686 ratu agung ing negara çrivijaya nglurugi Tanah Jawa, awit Tanah
Jawa ora tuhu pangedhêpe marang çrivijaya. Sajroning abad 10 prajurit Jawa
genti nglurugi çrivijaya, menang, nanging ora suwe çrivijaya bisa kombul
maneh. Praja iku ajeg enggone nglakokake utusan marang Narendra ing Cina.
Ing sajroning abad 12 lan 13 nagara gedhe çrivijaya pecah dadi karajan cilik
cilik. Darah Warman jumeneng ana ing tanah kang sinebut tanah: “Melayu”
yaiku saikine Jambi. Rehning pasisire tanah Melayu kono akeh rerusuh, wonge
akeh kang padha ngungsi marang tanah pagunungan kang loh, ana ing kono
padha dedhukuh. Bareng Tanah Jawa gedhe panguwasane, Prabu Kartanagara
(1268 – 1292) kalakon bisa ngrusak kutha Pasei, lan ngejegi Jambi,
Palembang, Riouw sarta kutha kutha akeh ing Borneo apadene pulo pulo ing
Moloko. Ing saantaraning tahun 1275 lan 1293 wong Jawa nglurugi tanah
pagunungan Jambi mau yaiku tanah kang besuke aran Menangkabau.
Lurugan iku diarani: Pamalayu. Ing tahun 1268 Prabu Kartanagara angganjar
reca marang ratu ing Dharmmaçraya (Darmasraya) uga dumunung ing tanah
Jambi, ing saikine ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing besuke
kalebu jajahan Majapait, rajane darah Warman jejuluk Tribuwana
(Mauliwarman) kagungan garwa bangsa Melayu, kang putrine (putrane putri)
ayake dai garwane Raden Wijaya biyen. Sang Raja Tribhuwana melu karo
bangsa Jawa nglurugi tanah Padhang Hulu. Miturut carita Melayu, lurugan
mau ora oleh gawe, mung marga saka klebu ing gelar, kalah enggone adu kebo,
mulane kuthane banjur jeneng Menangkabau iku. Ana raja wewengkone
karajan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman nagarane ing Malayupura, kang
ing tahun 1347 wus merdika, ambawa pribadhi, iku nglurugi Menangkabau,
nanging ora nganti dadi perang, malah banjur diangkat dadi raja ing kono, awit
pancen dianggep bangsa Melayu. Jumenenge ana ing Menangkabau wiwit
tahun 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanane lan pintere nyekel praja.Tumeka saprene Sang Adityawarman sarta nayakane loro kang aran Papatih
Sabatang lan Kyai Katumanggungan isih dipundhi pundhi marang bangsa
Menangkabau. Sapungkure Sang Aditya wis ora ana raja ing Menangkabau
kang kecrita. Negarane pecah pecah, ing saiki isih akeh titike, mungguh ing
kaluhuraning para raja Jawa asal Indhu, ana ing tanah Menangkabau kono,
luwih luwih tumraping basa lan sastrane. Darah raja raja kuna ing
Menangkabau mau enteke durung lawas, kang pungkas pungkasan putri,
sedane lagi saiki bae.
Ing tahun 1377 kutha Sanbotsai ing tanah Palembang rinusak ing balane
Prabu Ayamwuruk. Kang kuwasa ing tanah Palembang kasebut jeneng Arya
Damar nurunake Raden Patah (+/- tahun 1500). Awit saka ambruking karaton
Majapait, Palembang iya katut apes, besuke kalah karo Banten. Kaluhuraning
Tanah Jawa ana ing Sumatra sisih kidul kono tumekane dina iki uga iya isih
akeh tilas tilase.
07 Perangan Kang Kapisan
Bab 7
Perang Cina lan Adege Karajan Majapait (1292)
Ing tengah tengahane tahun 1292 Maharaja Choebilai sida ngangkatake wadya
bala menyang ing Tanah Jawa perlu arep ngukum Prabu Kartanagara. Ana ing
pacekan (Surabaya) prau Jawa kalah, nuli bala Cina arep nglurugi9 Daha,
kang dikira panggonane Kartanagara (kang nalika iku wis seda). Kacarita
Raden Wijaya dhek jaman samono wus wiwit mbalela marang Jayakatwang
ratu ing Daha. Sarehne duwe pangarep arep bisaa ditulungi ing Cina numpes
ratu ing Daha, mulane Raden Wijaya banjur gawe gelar ethok ethok arep teluk
marang senapati Cina. Kabeneran ora let suwe Majapait, panggonane Raden
Widjaya ditempuh ing wong Daha, Raden Wijaya entuk pitulungane wong Cina
bisa menang. Wasana ing tahun 1293 kutha Daha dikepung ing balane Shih
Pih lan Raden Wijaya, Daha bedhah, ratune kacekel, peni peni raja peni dijarah
rayah, Raden Wijaya nulungi putri putri, putrane Prabu Kartanagara digawa
oncad menyang Majapait. Ora antara suwe, marga saka akale Wiraraja, Raden
Wijaya bisa ngusir prajurit Cina. Wondene prajurit mau, senadyan kesusu
susu meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengaji mas satengah yuta tail
lan tawanan wong satus saka Daha. Raden Wijaya banjur jumeneng Nata ing
Majapait, jejuluk Kertarejasa Jayawardhana utawa Brawijaya I (tahun 1294 –
1309).
Sawise jumeneng Nata, Sang Prabu anggeganjar marang sakabehing kawula
kang maune labuh, marang panjenengane. Wiraraja dibagehi tanah Lumajang
saurute. Putrine Kartanagara papat pisan dadi garwane Sang Prabu, lan isi anagarwa paminggir siji saka tanah Melayu aran Sri Indresywari. Saka garwa
paminggir iki Sang Prabu kagungan putra R. Kaligemet, kang besuke nggentos
kaprabon, ajejuluk Jayanegara, saka Prameswari Sang Prabu peputra putri
loro. Ing tahun 1295 R. Kalagemet lagi yuswa sataun wis diangkat dadi
pangeran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibune kang ngembani nyekel praja
Kedhiri. Ing nalika panjenengane Prabu Kertarejasa Jayawardhana iku, Tanah
Jawa karo Cina becik maneh, perdagangane gedhe, wong Cina teka ing Tanah
Jawa nggawa mas, salaka, merjan, sutra biru, sutra kembang kembangan,
bala pecah lan dandanan wesi. Saka ing Tanah Jawa, Cina kulak: beras, kopi
kapri, rami, bumbon craken luwih luwih mrica, barang barang mas utawa
salaka, bangsa dandanan kuningan utawa tembaga, tenunan kapas lan sutra,
welirang, gading, cula warak, kayu warna warna, manuk jakatuwa lan barang
nam naman.
Ing Tanah Jawa ing wektu iku akeh palabuhan rame, kayata: Tuban, Sedayu;
Canggu. Nalika jamane ratu iki ing bawah karaton Majapait kena dibasakake
ungsum kraman. Para satriya kang melu lara lapa dhek jamane Raden Wijaya
saiki ora oleh ati, awit Sang Prabu mung anggega aturing nayakane kang aran
Mahapati, wasana para satriya mau banjur genti genti padha ngraman,
nanging temahan asor jurite. Ing tahun 1328 Sang Prabu seda, dicidra ing
dukun kang didhawuhi ambedhel salirane. Sasedane Prabu Jayanegara kang
gumanti sadhereke putri, kang sesilih Bhreng Kauripan banjur jejuluk
Jayawisynuwardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih
Kartawardhana, misuwur pinter, sregep lan jejeg penggalihe. Sang Pangeran
diangkat dadi panggedhening jaksa lan oleh lungguh bumi Singasari
sawewengkone. Gajahmada dadi warangkaning ratu. Karepe Gajahmada arep
nungkulake satanah Jawa kabeh lan pulo pulo sakiwatengene. Ora let suwe
yaiku tahun 1334 Sumbawa lan Bali bedhah banjur kabawah marang
Majapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahake Lombok, Madura,
Blambangan lan Selebes sabageyan. Senapatining prajurit kang ngelar jajahan
ing sajabaning Jawa aran Nala. Ing tahun 1334 Sang Raja putri mbabar miyos
kakung diparabi Ayam Wuruk, kang banjur dijumenengake Nata, nanging isih
diembani kang ibu nganti tekan tahun 1350.
08 Perangan Kang Kapisan
Bab 8
Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara,
Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 – 1389)
Awit saking gedhene lelabuhane Patih Gajahmada, nagara Majapait saya suwe
saya misuwur kuwasane. Prabu Ayam Wuruk tetep jumeneng ratu agung
binathara ngereh sapepadhaning ratu. Sang Nata krama oleh nakdhereke
piyambak kang wewangi Retna Susumnadewi. Para santanane padhaginadhuhan tanah dhewe dhewe ing samurwate. Dene kuwajibane para
santana utawa adipati mau ing mangsa kang wus ditamtokake kudu ngadhep
ing panjenengane Nata, mulane kabeh padha duwe dalem becik becik ana ing
Majapait, muwuhi asrining nagara. Ing jaman iku ana pujangga kraton aran
“Prapanca” (Budha). Ing tahun 1365 pujangga iki nganggit layang kang aran
Nagarakertagama. Ana maneh pujangga aran Empu Tantular nganggit layang
Arjunawiwaha. Majapait ing wektu iku emeh mbawahake satanah Indhiya
Wetan kabeh, kayata: Tanah Jawa Wetan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung
tekan Acih (Perlak), Borneo (Banjarmasin), Selebes (Banggawai, Salaiya,
Bantaiyan), Flores (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan
sabageyaning Nieuw Guinea.
Tanah Sundha ora ditelukake. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau
ajejuluk Prabu Wangi, putrane putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosake,
ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi
perang. Prabu Wangi seda ing paprangan lan akeh punggawane kang mati ana
paprangan; ewadene tanah Sundha ora dibawah Majapait, isih madeg dhewe
ing sateruse.
Ing Jaman samono paro ajar utawa pandhita (agama Budha utawa Syiwah)
melu nindakake paprentahan nagara, mulane padha diparingi lungguh bumi
dhewe dhewe kang diarani bumi: Pradikan. Padesan ing sakubenging candhi
utawa padhepokaning para pandhita lumrahe uga dadi bumi pradikan, wonge
diwajibake jaga lan ngopeni candhi padhepokan mau. Kawula liyane padha
kena pajeg prapuluhan (saprapuluhing pametuning bumine), lan kena ing
pagaweyan gugur gunung lan sapepadhane. Pajeg rajakaya, pajeg panggaotan
lan tambangan ing wektu samono iya wis ana. Pametoning praja gedhe banget,
perlu kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo
yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan
pasanggrahan lan liya liyane.
Ing nagara Majapait wis akeh omah kang becik becik, payone sirap, dene omah
kang lumrah padha apager gedheg, ananging ing jero racake ana pethine watu
kang santosa perlu kanggo nyimpen barange kang pangaji. Wong wong dhek
jaman samono padha doyan nginang, senengane padha tuku bala pecah saka
juragan Cina, pambayare nganggo dhuwit sing diarani Kepeng. Wong lanang
padha ngore rambut, wong wadon gelungan kondhe. Wiwit enom wong wong
padha nganggo gegaman keris, lan gegaman iku kerep diempakake. Wong yen
mati jisime diobong, yen sing mati iku bangsa luhur utawa wong sugih bojo
bojone (randha randhane) padha melu obong. Ora adoh saka nagara ana papan
kanggo adu adu kewan utawa uwong utawa kanggo karameyan liya liyane.
Papan iku arane “Bubat”. Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing
Blambangan saurute iya tau dirawuhi.Prakara perdagangan iya dadi gedhe banget, awit saka majuning lelayaran
kagawa saka kehing nagara nagara kang kabawah ing Majapait sing kelet letan
sagara. Bab kagunan, kayata: ngukir ukir sapepadhane, kombule ing Tanah
Jawa Wetan dhek pungkasane abad kang katelulas, lan ing wiwitane abad
kang pat belas, mung bae panggawene reca reca kang apik apik iku nganggo
tuntunaning wong Indhu utawa nurun kagunan Indhu. Cekaking carita: Nalika
panjenengane Prabu Ayam Wuruk iku, Majapait lagi unggul unggule,
samubarang lagi sarwa onjo. Prabu Ayam Wuruk tilar putra kakung miyos
saka selir asma “Bhre Wirabhumi” jumeneng Nata ana ing bageyan kang
wetan. Dene kang nggenteni keprabon Majapait putra mantune Sang Nata,
ajejuluk Wikramawardhana (tahun 1389 – 1400). Ing tahun 1400 Sang Prabu
seleh keprabon, kersane arep mandhita, ananging sapengkere Sang nata, putra
lan sentanane padha rebutan nggenteni keprabon. Prabu Wikramawardhana
banjur kapeksa kundur jumeneng ratu maneh nganti tekan tahun 1428.
Sajroning jumeneng sing keri iki Sang Prabu nerusake merangi santanane
kang wus kabanjur ngraman nalika Sang Prabu jengkar saka kraton. Rehning
perang iki nganti suwe dadi nganakake kapitunan akeh lan karusakan gedhe,
awit teluk telukan ing tanah sabrang banjur padha wani mbangkang wus ora
gelem kabawah Majapait. Tataning kawula iya banjur rusak. Prakara paten
pinaten wis dadi lumrah. Akeh wong main lan adu jago totohane gedheni. Ing
tahun 1428 – 1447 kang jumeneng nata ratu putri jejuluk Retna Dewi Suhita,
putrane Prabu Wikramawardhana saka garwa paminggir. Teruse banjur banjur
Prabu Kertawijaya (1447 – 1452) lan maneh Prabu Bhra Hiyang Purwawisyesa
(1456 – 1466), Pandan Salas (1446 – 1468), banjur Prabu Bhrawijaya V (1468 –
1478). Mungguh babade ratu ratu kang wekasan iki ora terang, mulane ora
disebutake. Ana ratu ing nagara Keling (salor wetane Kedhiri, sakidul kulone
Surabaya) jejuluk Prabu Ranawijaya Giridrawardhana ngelar jajahan nelukake
Jenggala, Kedhiri lan uga mbedhah Majapait (tahun 1478). Bedhahe Majapait
iku kuthane ora dirusak, awit ing tahun 1521 lan 1541 nagara Majapait isih
kecrita kutha kang gedhe. Suwe suwe kutha Majapait dadi rusak, awit wong
wonge kang ora seneng kaereh ing kraton liya, padha genti genti ninggal
negarane, nglereg marang tanah Bali. Saiki Majapait mung kari patilasan bae,
awujud pager bata tilas mubeng lan tilas gapura (Candhi Tikus, Bajang Ratu).
Isih sajroning jaman Majapait, agama Islam wis mlebu saka sathithik, saya
suwe saya bisa ngalahake dayaning agama Indhu ana ing Jawa Wetan.
Mungguh kaananing tanah Sundha ing wektu iku ora pati kasumurupan.
Sawise krajan Tarumanagara dhek abad 4 lan 5, mung ana kang kacarita
krajan Sundha ing tahun 1030 nagarane kira kira ing Cibadhak. Enggone ora
ana wong manca kang mlebu mrono, marga saka kehing bajag kang padha
nganggu gawe ing sauruting pasisir. Ing Priyangan sisih wetan ana krajane
aran Galuh, kang ngadegake ayake ratu aran Pusaka, ratu liyane jejuluk
Wastukencana lan Prabu Wang(g)i. ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya RajaPurana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan (Batutulis). Karajan iki aran
Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu
yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon
barang.
Perangan Kang Kaping Pindho Babad Tanah Jawa Wiwit Adege
Karajan Karajan Islam lan Tekane Bangsa Europa tumekane
Gempale Karajan Mataram lan Ambruke Vereenig de Oost indische
Compagenie (VOC) tahun 1500 – 1799.
09 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 1
Karajan Demak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582
Wiwitane ing Tanah Jawa ana agama Islam ing antarane tahun 1400 – 1425.
Ing tahun 1292 ing tanah Perlak ing pulo Sumatra wis ana wong Islam; ing
tahun 1300 ana wong Islam manggon Samudra Pasei. Ing pungkasane abad
kang ping 14 ing Malaka iya wis ana wong Islam.Tekane padha saka Gujarat.
Saka Malaka kono agama Islam mencar marang Tanah Jawa, tanah Cina,
Indhiya Buri lan Indhiya Ngarep. Kang mencarake agama Islam ing Tanah
Jawa dhisike yaiku sudagar Jawa saka Tuban lan Gresik, kang padha
dedagangan ing Malaka, padha sinau agama Islam, dadine Islam terkadhang
sok kepeksa. Sudagar sudagar jawa mau padha bali marang Tanah Jawa
Wetan, sudagar Indhu lan Persi uga ana sing teka ing kono lan nuli mencarake
agama Islam marang wong wong. Sing misuwur yaiku: Maulana Malik Ibrahim
(wong Persi?), seda ana ing Gresik ing tahun 1419, nganti saiki pasareane isih.
Bareng kuwasane karaton Majapait saya suwe saya suda, para bupati ing
pasisir rumangsa gedhe panguwasane, wani nglakoni sakarep karep. Para
bupati mau lumrahe wis padha Islam wiwit tumapaking abad kaping 16 (tahun
1500 – 1525), Jalaran saka iku kerep bae perang karo para raja agama Indhu
kang manggon ing tengahing Tanah Jawa.
Miturut carita: Sang Prabu Kertawijaya ing Majapait iku wis tau krama karo
putri saka ing Cempa (tanah Indhiya Buri). Putri mau kapernah ibu alit karo
Raden Rahmat utawa Sunan Ngampel (sacedhake Surabaya). Sunan Ngampel
kagungan putra kakung siji, asma Sunan Bonang, lan putra putri siji, asma
Nyai Gedhe Malaka. Nyai Gedhe Malaka iku marasepuhe Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun, yaiku kang sinebut: Sultan Demak kang kapisan.
Sunan Ngampel lan Sunan Bonang iku dadi panunggalane para wali. Para wali
mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Gresik), ana ing kono yasa kedhatonlan mesjid; Ki Pandan Arang (ing Semarang) lan Sunan Kali Jaga (ing Demak).
Ing tahun 1458 ing Demak wis ana mesjid becik.
Padha padha bupati ing pasisir pati Unus iku kang kuwasa dhewe. Pati Unus
uga kasebut Pangeran Sabrang Lor. Iku putrane Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun. Ing tahun 1511 Pati Unus mbedhah Jepara, Ing tahun
1513 nglurugi Malaka. Enggone tata tata arep nglurug mau nganti pitung
tahun lawase. Lan bisa nglumpukake prau kehe nganti sangang puluh lan
prajurit 12.000, apadene mriyem pirang pirang. Nanging panempuhe bangsa
Portegis ing Malaka nggegirisi, nganti Pati Unus kapeksa bali lan ora oleh gawe.
Pati Unus ing tahun 1518 uga ngalahake Majapait nanging Majapait dhek
samana pancen wis ora gedhe. Kuthane ora dirusak, mung pusaka kraton
banjur digawa menyang Demak sarta Pati Unus ngaku nggenteni ratu
Majapait.
Ing tahun 1521 Pati Unus seda isih enem lan ora tinggal putra. Kang gumanti
rayi let siji yaiku Raden Trenggana, jalaran rayine tumuli: Pangeran Sekar Seda
Lepen, wis disedani putrane raden Trenggana, kang aran Pangeran Mukmin.
Sajroning jumenenge Sultan Trenggana (tahun 1521 – 1550) karaton Demak
kuwasa banget, nguwasani Tanah Jawa Kulon, ngereh kutha kutha ing pasisir
lor lan uga mbawahake jajahan Majapait, sarta karaton Supit Urang (Tumapel)
uga banjur kaprentah ing Demak. Dene Blambangan iku bawah Bali.
Pelabuhan bawah Demak akeh sing rame, kayata: Jepara, Tuban, Gresik lan
Jaratan. Gresik lan Jaratan iku sing rame dhewe, wong kang manggon ing
kono luwih 23.000. Ing tahun 1546 Sunan Gunung Jati kalawan Sultan
Trenggana arep mbedhah Pasuruwan. Kutha Pasuruwan banjur kinepung ing
wadya bala, nanging durung nganti bedhah, pangepunge diwurungake, jalaran
Sultan Trenggana seda cinidra dening sawijining punakawan santana, kang
mentas didukani. Putrane Sultan Trenggana akeh. Putra putrine padha krama
oleh priyayi gedhe gedhe. Ana sing krama oleh bupati ing Pajang, kang asma:
Adiwijaya, yaiku Mas Krebet, Ki Jaka Tingkir utawa Panji Mas. Putrane Sultan
Trenggana loro: Pangeran Mukmin utawa Sunan Prawata, lan Pangeran Timur,
kang ing besuke dadi adipati ing Madura. Sunan Prawata iku kang nyedani
Pangeran Sekar Seda Lepen. Ing semu putrane Pangeran Sekar Seda Lepen
kang asma Arya Panangsang arep malesake sedane kang rama. Sakawit Arya
Panangsang nyedani Pangeran Mukmin sagarwane, nuli putra mantune Sultan
Trenggana, ora oleh gawe, malah Arya Panangsang bareng dipapagake perang,
kalah nemahi pati. Adiwijaya banjur nguwasani Tanah Jawa: amboyong
pusaka kraton menyang Pajang lan nuli dijumenengake Sultan dening Sunan
Giri. Nalika Adiwijaya jumeneng ratu ana ing Pajang, blambangan lan
Panarukan kabawah ratu agama Syiwah ing Blambangan, kang uga
mbawahake Bali lan Sumbawa (tahun 1575). Jajahan jajahan ing Pajang
kaprentah ing pangeran (adipati) yaiku: Surabaya, Tuban, Pati, Demak,
Pemalang (Tegal), Purbaya (Madiyun), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyumas),Ana ing tanah Pasundhan karaton Pajang meh ora duwe panguwasa, jalaran
ing tahun +/- 1568 tanah Banten dimerdikakake dening Hasanuddin, dadi
tanah kasultanan.
10 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 2
Karajan Mataram Nalika Jumenenge Senapati
(tahun 1582 – 1601)
Ana wong linuwih sinebut Kyai Gedhe Pamanahan, asale mung wong lumrah
bae. Jalaran saka akeh lelabuhane marang Sultan Pajang, banjur didadekake
patinggi ing Mataram. Nalika iku tanah Mataram durung reja lan Pasar Gedhe,
padunungane Kyai Pamanahan mau isih awujud desa.
Putrane Kyai Gedhe Pamanahan kang asma Sutawijaya utawa Raden Bagus,
utawa Pangeran gabehi Loring Pasar iku dipundhut putra angkat dening
Sultan Pajang lan nganti diwasa tansah na ing kraton , dadi mitrane Pangeran
Pati yaiku Pangeran Banawa. Ing tahun 1575 Sutawijaya gumanti kang rama
ana ing Mataram, oleh jejuluk Senapati Ing Ngalaga Sahidin Panatagama.
Panembahan Senapati (Sutawijaya) mau banget ing pangarahe supaya bisa
jumeneng ratu. Ing sasi Mulud ora ngadhep marang Pajang, lan Pasar Gedhe
didadekake beteng, ndadekake kuwatire Sultan Adiwijaya. Kelakon ora suwe
banjur peperangan, Adiwijaya kalah lan ing tahun 1582 seda jalaran karacun.
Pangeran Banawa ora wani nglawan Senapati. Senapati banjur ngaku
jumeneng Sultan, sarta pusakaning kraton kaelih marang Mataram. Senapati
ngerehake Mataram ing tahun 1586 – 1601. Jajahan jajahan karaton Pajang
kang wis kasebut ndhuwur kaerehake ing Mataram kanthi ngrekasa banget.
Senapati kepeksa kudu kerep perang, kayata: perang karo Panaraga, Madiyun,
Pasuruwan lan luwih luwih karo Blambangan. Ewadene Blambangan iku ora
bisa kalah babar pisan. Karo Senapati memitran. Banten arep ditelukake,
nanging ora bisa kalakon. Galuh pineksa kareh Mataram. Ing nalika iku akeh
kutha kutha pelabuhan kang rame, padha ditekani wong Portegis, ora lawas
wong Walanda iya padha nekani ing kono. Dedagangane mrica, pala, cengkeh,
kapas lan barang barang liyane akeh, nanging bab kawruh lan kagunan ora
pati diperduli. Ing tahun 1601 Senapati seda, kang gumanti putra Mas Jolang.
Pasareyan Senapati nunggal kang rama ana ing Pasar Gedhe sarta padha
pinundi pundhi.
11 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 3
Karajan Banten lan Cirebon wiwit jumenenge Sunan Gunung Jati (+/- tahun 1527) tumeka Sedane maulana Mohamad (tahun 1596) Ing wiwitane abad kang ping 16 ing Tanah Jawa Kulon ana nagara aran Pajajaran, Kutha aran akuan. Kutha pelabuhan iya duwe, yaiku Banten lan Sundha Kalapa, nanging dedagangane urung rame. Awit saka Malaka ing tahun 1511 kacekel ing bangsa Portegis, para sudagar Islam padha dedagangan ana ing pasisire lor Tanah Jawa Kulon. Ing Banten nuli anapedagangan gedhe, dagangane mrica. Ing nalika iku ana wong Pasei (Sumatra), agamane Islam, teka ing Tanah Jawa Kulon merangi ratu ing Pejajaran nganggo prajurit saka ing Demak. Wong Pasei mau ing tembene aran SunanGunung Jati, maune bok menawa aran Faletehan. Iku ipene Raden Trenggana.Marga saka pitulungane Raden Trenggana ing tahun 1527 bisa mbedhah Sundha Kalapa (Jayakarta utawa Jakarta) lan Cirebon. Ing tahun 1552 SunanGunung Jati ing Banten digenteni kang putra Hasanuddin. Dene putra liyane kang asma Pangeran Pasarean, iku kang nurunake para Sultan ing Cirebon. Faletehan seda ing tahun 1570 ana ing Cirebon lan disarekake ana ing punthuk Gunung Jati. Kutha Pakuan bedhahe sawise tahun 1570. Para wong ing Tanah Jawa Kulon banjur dipeksa manjing agama Islam. Nalika Faletehan seda kang jumeneng Sultan ing Cirebon Panembahan Batu, yaiku buyute Faletehan mau. Hasanuddin iku krama oleh putrine Pangeran Trenggana.
Bareng Pangeran Trenggana seda, karaton Banten banjur madeg dhewe (tahun 1568). Hasanuddin uga nelukake Lampung, sarta raja Indrapura ngaturake putrane putri minangka garwa. Kutha Banten dadi rame lan pelabuhane gedhe. Ananging kutha urut pasisirana 750 M, dene ujure marang dharatan +/- 1600 M. Prau prau bisa lumebu
ing kutha metu ing kali kang nrajang kutha mau; saiki kaline wis waled,
jalaran wedhi. Kutha mau kang sasisih dipageri lan ana gerdhu gerdhune
panggonan prajurit jaga tuwin panggonan mriyem.
Hasanuddin seda ing tahun 1570, banjur kasarekake ing Sabakingking. Kang
gumanti kaprabon Pangeran Yusup.
Nalika iku wong Banten yen nandur pari lumrahe ana ing pategalan (ladhang).
Sawise dieneni parine banjur ora ditanduri maneh, wong wonge banjur golek
panggonan liya digawe ladhang, yen wus panen iya diberakake maneh, enggone
nanduri iya kaya kang wis mau. Sing kaya mangkono iku tumraping lemahe
mesthi bae ora becik. Bareng Pangeran Yusup jumeneng Sultan, wong wong
padha didhawuhi sesawah. Jalaran saka iku wong tani iya kapeksa milih
panggonan sing tetep, ora pijer ngolah ngalih, iku njalari anane desa desa.
Pangeran Yusup uga dhawuh yasa bendungan lan susukan susukan perlu
kanggo ngelebi sawah.

 OURCE

https://sites.google.com/site/babadnusapenida/sejarah-babad/babad-tanah-jawi

terjemahan dengan mesin yang belum diedit karena huruf oe belum diganti dengan ejaan saat ini jadi u

sebagian sudah diedit,yang sudah diedit dapat dibaca dalam buku asli

Chronicles TANAH Java


Gubahanipun

L. Van Rijckevorsel Directeur Normaalschool
Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool
Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – dibuat Haag –
Weltervreden – 1925
Segmen Chronicles
masa pertama sampai Indhu
Hancurkan Kerajaan Majapahit abad ke- 2 atau 3
sampai  abad ke 16

 

 

 

Bebuka .
Moenggoeh Chronicles of Doeroeng Ek Kate In.
u orang In.ija – timur . ,
seprene sangat e.i.ik kesengsaraan kawr
uhan . Bahkan In.oe iku I IJA
doeroeng kasoemoeroepan cerah . Ek

 

 ketika datang Ken Elan keprije
situasi di mana saya mulai – wiwitane.M
ung kesengsaraan Jakin , dan en kemadjoean prosedur , susilaning In.ija di sini benih – sekawite dari n.u dajaning

 

Tanah di  kidul.Katjarita yang tahun 261


sad
urunge taoen Aland di In.u di layar Rato adjedulul memiliki Açoka ,
djoemeneng mengatur negara Patalip
utra ( di sawetan Benares ) , dan agama
B
udi . Krishna Raja praja Tjilik – Tjilik dalam saubenging di mana Anda ingin
dig
ulung didadekake Satu tanah, yang ge.e dan pengadilan .

Akhirnya dapat terjadi ,satanah hampir semua depan In.u mlumpuk , kinuwasan (kawasan) di Rato Sawidji .

 

Mung di puntjit kidul dari saloring Madras dan Mangalore , kratonkratone(para Keratonya)  Didirikan  Prasati (presasat . Ewe – .ewe) , bukan kematian kewengku di praja – praja


tanah utara . Pradja – praja yang kidoel ikoe maoe oega ge.e dajane toemraping
kemadjoean dan prosedur soesilaning – tanah – tanah di sakoebenge . itu
Penobatan(djumeneng)  Rato :

 1

 Pan.awa tersebut ( Pandawa ) dari kotjap Singles di Mahabharata .

 

 

 

 

2

Darah Palawa ( ajake peketjapan di Jawa : Malawi ) kesuwur
sejak at
usan taun sadurunge taun Belanda abad 9 , dan
komb
ul – kombule dimulai pada pertengahan abad ini sampai pertengahan abad ke 6 8 . dalam Djaman iku VC – musim adegan jejasan Edi – Edi , kajata : tjan.i – tjan.i mahendra jasane – Warman ( 600-625 ) .

Ada orang orang yang religius cina Budi Huen – Tsang njandra praja Pallava iku surasane mengatakan Jen dan tanah Lph Proses betjik , mereka pa.a pundjul di kawanterane , setia – tuhu , rukun dan ngudi yang kawruh u.aking .


The Bold lelajaran , dapat membuat koloni- koloni di Indo -China ,
Malaka dan kapuloan Sun.a , IJA bangsa di In.u kidul iku , luwih – luwih yang Pallava . Karena satus taunan sadurunge taun Belanda adalah tempat , di mana beberapa dari mereka menetap In.u , dan ge.e – ge.eninge migratie pada abad 2 sadjroning 6 , bokmenawa kegawa dari In.u tanah di mana kakehen djiwane dan karena paperangan bangsa bangsa elore tersebut .

 

koloni yang ge.e – ge.e , jaiku : Tjampa di Annam pasisir timur . Kambodja , kaedegake di taun 435 . Dan dijasani tjan.i – tjan.i Brahma oetawa Boedi luar biasa . Kutei di utara Kalimantan , dan Sukadana di Kalimantan – kidul . Palembang ( Sriwijaya ) Jawa – pusat

 

01 , perang pertama
Bab 1
Indhu kerajaan di Jawa Barat Tanah
( Dari 2 atau 3 abad )

 

Kedatangan tanah, tanah iku In.u membawa agama ( Boedi utawa
Brahma ) dan berbagai kag
unan , kajata matja , nulis , mba.ik , medel ;
layanan bandj
ur tjan.i – tjan.i dan keluarga baik – baik. The Pribumi diweruhake
perdagangan barang , berbagai , jaik
u dari san.ang – penganggo ,
senjata , Peni Peni – awowdjoed ontjen m
utiara , bekakas – bekakas lijane

 

 

The abakal ga.ing utawa emas , dan sapanoenggalane .
Sriwijaya ikoe terang Jen kegolong yang ge.e. Ewe , bahkan bokmenawa
hen kawr
uh dan kagunan tumraping lijane lahan – lahan yang kasbut
tersebut .
uwur . Tidak ada perkiraan Jen Jayawarman , Narendra di Kambodja ,
Awal layanan k
u.a dan tjan.i – tjan.i Angkor , iku Darah Rato di Sumatra .

 

Praja – praja mau di sekawit suwe enggone Budi dengan agama . Yang kasumurupan , kerajaan Indhu di Tanah sendiri , yang disebut kerajaan ” Tarumanagara ” ( Tarum = nama sungai Tom .
Citarum ) .


Kerajaan abad dhek 4 dan 5 telah , dan VC mangsaning

 

Adegan bukanlah pengetahuan . Raja Raja Purnawarman Darah . Sekilas gambar
gambar-gambar bunga Tunjung di batu batu patilasan , Darah
Purnawarman sama dengan agama Wisnu.

 

Pada tahun 414

bernama Cina FA Hien , rumah dari enggone sujarah patilasane Buddhis Imam , di tanah Indhu Rumah mengunjungi di Tanah 5 bulan .

Catatan menjelaskan cara :
1 . Dan banyak orang tidak memiliki agama ( Majapahit ) , dan tidak ada yang
satu agama dhewekne : Budha.

2 . Orang Cina tidak memiliki , karena tidak dalam catatan .

 

3 . Ketika naik Kapal  Indhu dari 200 orang , ada dedagangan , hanya bepergian , Anda ingin menjadi Canton .
Jika itu adalah cara dari tanah dedagangan layar Indhu ke
Cina adalah tanah di Tanah genting .

 

 

Dalam tahun 435 bahkan memiliki utusan kepada Raja Barat Cina , menawarkan ngaturake kepada kaisar di tanah China , serta Mark tetepungan
yang mudah kontur dedagangan .

Tarumanagara kerajaan tidak kasumurupan beberapa tahun terakhir dan
bagaimana usang .

The Indhu ada tidak ngowahake adat dan kehidupan bumi , karena kita tidak mengajarkan apa yang Anda lakukan , dan orang-orang di bumi mungkin
mungkin tidak memiliki kapinterane menurunkan Indhu .
Namun, kekuatan itu kaundhakaning pengetahuan mbatik dan nyoga jarit .

 

Pertama 02 segmen
sekitar 2
Indhu kerajaan di Jawa Tengah ( abad ke-6 )
Sekilas dari:
1 . Rekaman Cina .
2 . Unining ditulis dalam batu dan batu Borobudur .
3 . Catatan dari orang-orang Arab , memiliki beberapa kasumurupan beberapa
kaananing bahwa Indhu di Jawa Tengah di dhek
sam
ana .
Abad pertama Kanem orang Indhu baru datang di Tanah
The West . , Di mana mereka mungkin pada lelara , sehingga mereka nglereg
barat , ke Tanah Jawa Tengah .
Java waktu sam
ana , adalah tingkat yang sangat kapinterane , jika ditandhing tersebut
The Indhu satunya adalah Ibu , sehingga turun – dan Sorani . itu
Indhu dan ngadegake kerajaan di Jepara . Rumah keluarga yang padunungane
Jawa , aku punya keluarga yang sama rumah sekarang , atau apayon Atep
eduk dan Kepang tersebut .

 Enggone dedagangan lelawanan dengan Cina;
produk dedagangane seperti : emas, perak, warna gading , dan pilihan lainnya . Cina Cina
memanggil Negara Kalinga , Besuki , aku menelepon :

 

 

 

Jawa . My Kingdom untuk jangka
Saya besar, bahkan kerajaan kecil mbawahake 28 ( dua puluh delapan) . itu
Cina juga mengacu pada nama putri raja : Sima ; dikandakake baik
engg
ane baik catch- directed Praja ( 674 tahun ) .

 Tulisaning batu Sabtu cirine 732 tahun , jadi itu sudah tua , ada sekitar Kateman
Magelang , lihat , bahwa raja muncul , jejuluk PrabuSannaha , sebuah istana yang besar , yang mencakup jajahane tanah Kedhu ,
Yogyakarta , Surakarta dan bokmenawa di Jawa Timur juga mencakup wilayah kerajaan .

 

Cerita sekilas , kerajaan perdamaian dan prosedur seperti itu
teks dari Kateman di patilasan : meskipun orang-orang yang
tidur di jalan jalan , jangan takut , ada peringatan atau terlarang lainnya . Kata sekilas Arab, dhek pusat pusat abadkesembilan , raja di tanah mbawahake harus di Malaka
( timah Pamelikan ) .


Kerajaan atas semua pengetahuan ini tidak , tapi kemudian ada
esai ditulis di batu bahwa VC tahun musiman 919 , lihat
Kerajaan Mataram kerajaan Jawa . Ini jajahane , berdasarkan Kedhu saat ini,Yogyakarta , Surakarta , manglore laut , tanah barattanah di Jawa Timur dalam beberapa . Disebut kota mereka : Mendhangkamulan .

 

Pembicaraan Arab, ada raja-raja dan kerajaan mbedhah Khamer ( Indhu
Buri ) . Bahwa itu adalah saringan kerajaan kerajaan Mataram . Juga Khamer ,
kerajaan pulau adalah Pulau mbawahake . Pulau ini berisi pegunungan pulau
api . Kerajaan emas kaya dan bumbu craken . Orang-orang Arab juga banyak
The lelawanan dedagangan .


Sabakdane 928 tahun

 tidak ada rincian tentang apa yang di kerajaan atmosfer Kerajaan Mataram . Hal ini dilaporkan di Tanah dan Timur .

Saya Ayak kerajaan Mataram kerajaan rusak oleh panjebluge gunung Merapi ( Merbabu ) , dan banyak yang ngungsi barat .

 

Dalam abad ke 17

 Kerajaan Mataram

 Kerajaan didirikan kembali , besar dan daya IRIB IRIB kuno kerajaan Mataram kerajaan . Orang beragama Indhu tatap muka ngejawa sama. Di tanah pertumbuhan darah rakyatnya sendiri di kunane Indhu ngedhep Brahma dan WisnuSyiwah , dia kaaranan Trinitas . Kecuali itu juga sembah kediva banyak pilihan lain , seperti: Ganesya , putra dewa Durga . Menurut ajaran agama Indhu

Penjelasan dari empat kelompok , adalah:
– Para Brahmana ( Pemerintah ) .
– The Knight ( besar ) .
– The Wesya ( karya seni ) .
– The Syudra ( kasus ) .

 

Pengajaran agama dan padatane Indhu kaemot dalam surat yang terkenal ,
nama pasir . Kira sekitar 500 tahun sebelum tahun pertama dari Kristen,
Indhu Darah adalah besar peparab Syakya suara , Gautama
atau Buddhisme . Sebagai geseh mengajar orang yang sangat religius Indhu
mau . Buddha Priest meninggalkan kekayaannya , dan mengajar asesirik muruk orang . Juga tidak hormat diva diva , pengajaran :

 Sejak berdasarkan kemanusiaan dan aku , jadi jangan dibagi menjadi empat
kelompok . Brahmana Indhu Saya tidak ingin berpikir , sehingga sering
tidak teratur besar .

Di negeri orang Indhu Buddha dan masalah dengan Indhu agama . Acara Buddhisme hilang dan kemudian ngili ke Ceylon ke selatan , induk Buri , Thibet , Cina , Jepang . sebagai Agama Indhu pangedêpe tidak . Ada sangat welcome untuk memundhi Syiwah adalah Syiwaiet ( di Jawa Tengah ) , ada sangat
pangedêpe Wisynu , adalah Wisynuiet ( di Tanah Barat ) .

 

 

 

 

 

Juga mungkin banyak orang Budha , tetapi di Tanah agama agama bukan damai , tapi kadang-kadang saya campuran . agama Petilasane
Indhu saikine yang berat , seperti:
– Borobudur Borobudur di Plato Dieng ( Syiwah ) , raja bokmenawa yasane Darah
Sanjaya .
– Borobudur di Kalasan pada musim VC 778 tahun , ini saringan Borobudur tua
sendiri ( Buddhisme ) , yasane Raja Syailendra Darah .

 

– Borobudur Buddha diketahui bahwa Candi Borobudur dan Endut .

 

– Borobudur gambar ( Syiwah ) .

Di sekitar sana Prambanan Borobudur campuran dari Buddhisme dan Syiwah .

 

Pertama 03 segmen
sekitar 3
Dalam kerajaan di Jawa Timur
( 10 abad pertama – tahun 1220 )
Di atas kasebutake di Jawa Timur , kabawah kerajaan Indhu
kerajaan Mataram , tapi Indhu Tanah di Jawa Timur Tidak banyak kematian , dibandingkan dengan Tanah di Tengah( Kedu ) . Karena kebutuhan Indhu berkumpul dengan bumi , prasasat sebuah sabangsa tunggal. Pada abad pertama adalah 10 pepatihing Tanah kerajaan Pusat  merasa Oleh karena mpu Sindok lolos barat . Mari Oleh karena itu , beberapa tahun mpu Sindok raja berdiri di Timur , di kerajaan Hidup
( Paresidhenan Surabaya ke selatan ) .

 

Ambawahake : Surabaya , Pasuruwan , Kediri , Bali bok bahwa ia kabawah .
Enggone raja berdiri 944 tahun , dan ia jejuluk raja kerajaan Mataram .

 

Raja kerajaan Mataram yang sangat pangedêpe Buddhisme . Oleh karena itu ,
Sindhok terkenal pintar enggone ngereh Praja . Ada rekaman suara
mengatakan :

 ” Untuk raja terakhir berdiri enggone , marcapada muncul
damai; bulu Lucu bagaimana bumi sampai residu residu tidak kehe karuhan ” .

 

Pada tahun 1010

Erlangga berdiri masih raja , dan melanjutkan Militer enggonemangun dan sakit kepala jajahan .

Pada tahun 1037

 yang enggone Militer dilakukan , Reja negara , saya memiliki kedamaian . Istana di hidup . Dia tidak Erlangga lupa kabecikaning dari Pemerintah dan asketisme , membantu ketika diakasrakat . Seperti pamalesing kabecikane Pemerintah , raja membuat pasraman indah, terletak di bukit bawah tulis kaki . pasraman yang
kinubeng di patamanan oleh lebih garing , dan saya rerenggane Peni
dan eksotis . Dari Edin , asing Praja terkenal , setiap hari aselur yang sujarah sama .Pengadilan raja tegak lurus .

Desa nrajang peraturan hukum tanah Mereka hokum  kapatrapan atau didhendha . Perampok , pencuri , dll kematian hukum kapatrapan . Dia enggone
paprentahan Dibantu di priyagung 4 , hasil tanah pametuning
kursi .
Dari enggone manggalih pertanian , yang pagaweyaning saya banyak , raja membuat bendungan besar di sungai Brantas .

Raja juga memikirkan panggaotan dan dedagangan . Tuban ketikatempat samono pedagang , dapatkan upaya terlalu banyak raja yang majuning dedagangan dan lelayaran .

 

Raja duduk sinewaka tahta ( palenggahan titik Pesagi )
Aku mengenakan gaun gaun sutra , dan dr daftar diukel dengan cênela . Jika
wahana lahir dwipangga atau permukaan , 700 tentara berparade . Gambar dan saya
Memenuhi pergi ke raja dan jatuh di tanah ( Ndhodhok ngapurancang ) . Mereka memiliki Ngor rambut yang sama , enggone bebedan batas pada payudara . House, termasuk renyah , dengan atap payon kuning atau merah . Orang sakit tidak hanya minta tetamba pitulunganing diva I , atau Buddha . Orang-orang yang bahagia praon dan pegunungan dilacak perjalanan , banyak dari kuda atau Jolie . Dhek samono orang tidak memiliki tarian , seruling ensemble , kendhang dan dengan .

 

 

 Ia menolak Besuki di sapengkere raja berdiri Gumanti dua anak , juga, jadi kerajaan dan diparo : Jenggala ( sabageyaning : Surabaya dan Pasuruwan ) dan Kediri . Ini adalah keterbatasan : kandang dinding sinebut ” merkuri ” karenagunung tinggi Kawi , mangisor , oleh Leksa sungai dan ketertiban di branglore Brantas dari mangulon timur di desa , yang kini bernama ” Juga , ” kata selatan , adalah tentang kesiapan sampai waterside . Gugur kejatuhan dinding jalan masih ada , seperti di sekitar Leksa , sakulon dan sakiduling Sungai Brantas , dalam jumlah afd . Lansekap dan Blitar.Mungguhing Chronicles of Erlangga ia kaanggep sebuah cahaya kegelapan , untuk sedikit lebih kasumurupan cerita.
Pengetahuan sastra yang tinggi . Sebuah surat dalam surat yang berasal dari
sekarang adalah kisah wayang yang paling dikenal dan cerita teturutaning .
Surat bahasa disebut : Kuno , seperti:
1 . Mahabharata
2 . Ramayana dan Arjuna Wiwaha .
Kerajaan Jenggala Berkelanjutan tidak besar , karena hancur kerajaan hancur kecil ,
untuk anak-anak raja diwaris , Praja Jenggala ( Jenggala
baru) ; Tumapel atau Singhasari dan Urawan . Kerajaan kasus dekat
batas Kediri atau waktu yang terlibat dalam pengumpulan dan Kediri , yang lain adalah Didirikan
memiliki abad 13 . Pemerintah , Kediri ( Daha , Panjalu ) berdasarkan arus
mbawahake paresidhenan Kediri , beberapa Pasuruwan dan Madiyun .
Kota mereka di kota Kediri sekarang . Kerajaan pekerjaan untuk menjadi terkenal . dalam
sastra dan terlalu tinggi , hari Jayabaya ( abad
12 ) , yang sudah lebih dari yang sudah dan sampai sekarang sinebut besar ,
Apakah ada madhani a.

 

Pada tahun 1104

 istana bernama masyarakat : Triguna atau Managocna . Masyarakat adalah bahwa dengan surat dan Sumanasantaka Kresnayana . Raden Panji putra atau dilaporkan dalam kisah itu ,bokmenawa raja Daha , yang memiliki jejuluk Kamesywara I. Dia

 

 


Minggu pertama abad 12 .

Teman istri Raja ray ( ChandraRay ) , putra raja Jenggala . Musim bernama Oleh karena itu , masyarakatDharmaja dengan surat Smaradhana . Raden Panji sampai sekarang selalumelaporkan pada Dailymotion bioskop dan bioskop topeng gedhog . masyarakat Jayabaya Oleh karena itu , hati-hati dan merasa Oleh karena Panuluh .

 Oleh karena itu hati-hati dalam 1079 ( =1157 )

methik saperanganing Mahabharata , dianggit dan bagaimana didhapur
Jawa , yang disebut Bharata Yudha . Dan pada waktu itu telah cerdas ,
The Indhu kesilep , Indhu kerajaan telah menjadi kerajaan .

 

Pertama 04 segmen
sekitar 4
Ken Angrok Nelukake Kerajaan Kerajaan Kecil (1220 – 1247)

 

Tahun 1222

 adalah raja Tumapel atau Singhasari bernama Ken Angrok .
Cerita ken Arok dari kitab Pararaton . Surat Ketemune berada di
Kembali dhek tahun 1891.

 Ken Angrok lahir di sekitar Tumapel ( Singhasari ) asal pertanian standar I. Ken Angrok melaporkan perubahan Herry dan nenarik mencintai mereka , tapi sangat pangaji sangat menyukai Bapa dan wanimarang penggawa kesalahan . Pada hari-hari dari para Brahmana ditemukan dhewekne , mengatakan bahwa tetesan Wisnu dhewekne . Dia mengatakan bahwa Tapi, karena mereka tahu bahwa Brahmana Ken Angrok adalah hebat ingindan ketat Budin . Brahmana dan menemukan jalan bisane Ken Angrok

 

kacedhak Duke sana, Tunggul Ametung . Tidak ada lagi waktu antara
Ken Angrok kaabdekake terjadi. Ketika begitu , Ken Angrok danselalu menemukan cara bagaimana enggone dapat ngendhih Duke , nggenteni
berdiri . Ketemuning pengembangan dan Ken Angrok ndandakake Keris baik

 

Oleh karena itu , Gandring tersebut . Setelah Keris , terlihat baik jelas,
teman bernama Ken Angrok Keboijo kepencut ingin menggunakan , dan
nembung peminjam : Tidak ada . Dari itu , Keris digunakan setiap hari dan
ditampilkan pamerake , dikandhakake mereka .

 Ketika beberapa hari Ken Angrok dan mencuri Keris sendiri adalah teman dari disilih digunakan nyidra Pangeran D .

 Kematian terjadi , Keris kiri samping layon .
Urusaning materi : Ken Angrok teman Anda bertanggung jawab , diputus hukum
sampai mati . Ken Angrok dan bisa mendapatkan putri randaning Tunggul Ametung dan
Didirikan Gumanti Duke : Nama Ken Dhedhes .
Diadakan untuk Ken Angrok prosedur negara , Reja , sangat kecil Adore .
Setelah mbedhah kecil kerajaan di Jenggala , Ken Angrok dan emoh
Kediri , bahkan pada tahun 1222 mbedhah Praja Kediri terjadi
menang , Raja Kediri Kertajaya telah meninggal Sabal nggantung
arah yang sama . Kediri dan pabrik Duke kabawah Singhasari . ketika
Oleh karena itu , raja Sindhok Darah telah kehilangan semua Arok Ken , Ken Angrok
Raja dan berdiri besar , jejuluk memiliki Rejasa , yang merupakan nurunake yang
raja Majapahit .
Melaporkan Retna Dhedhes kematian Duke Tunggul Ametung
ambobot . Ketika musim dingin , anak Retna terbuka ,
Raden memberi peparab Anusapati . Dari Timur ke dewasa
Aku tidak tahu apakah itu benar bukanlah putra Raja Rejasa , tapi Merasa
bukan raja berkenan di , dengan Rayi sangat berbeda adiknya . dalam
Lahir hari Anusapati ibu berkata , ” Ibu, apa , dan Kangjeng
Sang ayah tidak datang kepada saya bahagia? ” The Retna sangat bermasalah
Galih mendengar mengatur sasambate anaknya , dan menempatkan keprojol
mengatakan , putranya dicritani lelakone sampai akhir.
Anusapati sangat pangungune , segera setelah hukum bermaksud jawaban ,
tapi masih sinamun sama sekali. Keris yasane Oleh karena Gandring diminta ,
pawatane hanya menginginkan yang anganggo . Ibu Lamba di Galih , Keris
diberikan .
Anusapati memanggil pelayan-pelayannya dan teman-teman , dan mereka memberi Keris diweruhake
di wewadine . Bengine ia meninggal pada kaprajaya duratmaka . Layone
Dia dicandhi di Kagenengan ( dekat Malang ) . Anusapatinggenteni masih raja . Anusapati tidak lagi berdiri , karena Raden Tohjaya
Anusapati tahu apakah Raman dibunuh , sehingga sumedya balasan dan hukum
juga terjadi . Tohjaya masih raja , tapi dia tidak lagi . Tohjaya utusan
mantrine bernama Lembar Ampal , didhawuhi menghancurkan kalilipe dua adalah :
Ranggawuni , anak Anusapati , dan nakdulure bernama Narasingamurti , ketika
tidak dapat terjadi , Lembar Ampal sendiri akan tunduk pada kematian hukum .
Tiba-tiba seorang Brahmana yang penuh belas kasihan kepada dua Raden , dan
wewarah diperlukan . Knight dan menyembunyikannya di Panji terletak
PatiPati . Sapi Ampal untuk dua Raden tidak ditemukan , dan tidak bisa pulang ke rumah ,
ngungsi yang Panji PatiPati . Bila ada cadangan ngiloni Raden dua
bahkan membahas petugas tidak sesuai dengan pembicaraan Tohjaya untuk merumuskan ,
Akhirnya terjadi, menemukan sampai mati.
Ranggawuni Raja Suriah ajejuluk berdiri Wisynuwardhana nakdhereke
Narasinga . Kematian priyagung keduanya sangat damai , sampai
dibasakake “Seperti Wisynu dan diri Endra Allah” . Istana naik
PULIH besar seperti dhek hari Erlangga , bahkan jajahane wuwuh
Madura . Raja meninggal pada tahun 1268, sebagai layone membakar kustom , awune
Setengah dicandhi di Weleri , membawa patung Syiwah , setengah
dipethak ada pemimpin Borobudur ( Put hal pada orang lain ) dengan patung Buddha . Mince di
agama Budha Syiwah campuran .
Pertama 05 segmen
sekitar 5
Kartanagara berdiri di Tumapel (1268 – 1292)
Raja Singhasari V , ia mekasi . Sasedane Suriah
Wisynuwardhana kematian hitung berdiri raja , raja ajejuluk Kartanagara .
Dia manggalih pengetahuan tentang sastra dan
manggalih Salib jajahan , tapi kurang ngatos kasar , dan saya ingin
minum sampai wuru . Ada nayakaning Praja bernama Goose Widhi Depan
Seseorang bernama Arya Wiraraja , makanan yang baik dan Jayakatwang , Adipati Daha . Knight tidak
Adore raja , dan bahkan memiliki Jayakatwang sekuthon , yang
mbalela . Tiba-tiba petugas mengatakan materi, tetapi
Dia tidak berpikir , bahkan Wiraraja diangkat di Madura Duke .
Pepatihe raja bernama Raganatha melindungi raja lemah,
terkadang mampu mengelola penget raja di bawah kanan , namun
Dia tidak bahagia di Galih , tidak mempertimbangkan rumeksaning melakukan yang lemah lembut,
Bahkan Gubernur dan yang lainnya dapat ngladeni menolak . Gubernur Wredha
ditunda , para winisuda : Pradata pemerintah karyawan, tidak bercampur dengan prakarapangreh Praja . Seperti Gubernur baru ngalem hanya raja dan menteri
Gelombang kata .
Ada utusan besar raja Negara Cina ( Chubilai ) bahwa ia telah
Kartanagara nyalirani sendiri atau wakilsuwana Negara Cina mungkin
caos bekti ( tahun 1289) . Dia sangat marah . Dahi delegasi China
digambari perumpamaan yang baik , katakanlah DUKANE Raja . ketika
kekuasaan China di tanah raja sehingga mereka menyebabkan DUKANE
Raja binathara di Cina, tahun1292 ada tentara di China menginginkan
mengeksekusi dalam kuwanene Jawa . Wiraraja di Madura untuk tetap
Mendengar mendengar apa yang Anda bawa di Singhasari , dan ia melihat
jika pada saat itu para prajurit Singhasari dilurugake ke Sumatera . Wiraraja
ngajani Jayakatwang Akon nangguh mbedhah Singhasari , Sementara Negara adalah
tentara kesisan . Jayakatwang olahraga, dan Singhasari bedhah terjadi. raja
dan katungkep gubernur lawan dikatakan dan Gelombang I ( wuru )
jadi tidak rekasa pinurih kematian.
Raden Wijaya , Narasinga saat ini, ia umangsah ngetog kaprawiran mbelani
Negara dan raja , tetapi kaslepek karoban dari Daha , dan sebagainya
ngoncati paksa, hanya tingkat 12 , membawa pasukan , perubahan perubahan nggendhong
Istri Raden Wijaya , putra Raja Kartanagara . langkah Raden
Wijaya sasentanane nusup angayam hutan . Jumlah ini termasuk 12 adalah
Knight Two , putra Wiraraja , Tuhan harus self- ngungsi
Madura Berlangganan . Pangeran tidak bisa menolak, tapi semakin lama waktu
oleh . Di Madura diterima dengan baik. Dibahas Wiraraja , Raden
Wijaya serv disuruh Daha . Wiraraja untuk nglantarake . Jika Anda memiliki
terjadi serv Raden Wijaya nyetitekake diberitahu petugas di Daha ,
Bold atau yang jirih , menuju munafik . Jika Anda memiliki lebih banyak waktu antara diberitahu
Aku mendarat trik tanah , dan dibabada dienggonana . Raden Wijaya
di pitudhuh , dan juga terjadi pada server Daha . Dilaporkan pasuwitane kanggep
juga, karena pintu pergi menolak , dan senjata halus pintu ; orang
Daha yang tidak ada yang bisa mengalahkan . Semua pengajaran dilakukan Wiraraja ,
SELAMA dhangan saya datang , bahkan pada saat tanah tersebut trik dibabad ,
Raden Wijaya Saya tinggal di mana aku dililani . Melaporkan Chronicles
trik tanah dan siapa methik Maja buah makan, tapi Rasane
pahit . Karena ingkono desa dan disebut Majapahit . bersama
Raden Wijaya adalah Majapahit , Merasakan saat prosedur prosedur balasan
hukum, kerajaan Daha kerusakan, tetapi Wiraraja Akon menunggu , kita masih
menunggu para prajurit dari Negara untuk menghukum orang-orang Cina Singhasari . ingin
Wiraraja Cina ngrewangi Saya ingin , ingin kembali Besuki vs Cina .
Wiraraja dan Boyong sakulawargane dan saprajurite ke Majapahit
berkumpul bersama dengan Raden Wijaya.06 perang pertama
sekitar 6
Dalam Melayu kerajaan adalah sekitar 5 cerita
Dia Kartanagara enggone anjangka Palang jajahane .
Di tanah Sumatera ada yang bisa terjadi jajahan . Dalam beberapa cerita berikut,
kerajaan kerajaan Melayu . Dilaporkan raja Funan , sekitar
sekitar satu abad jajahan 3 sakit kepala , ngelun Sumatera , Jawa dan lainnya
lainnya , saringan raja membuat patung patung di Pasemah tanah . Pada abad ketujuh
Sabtu golonganing dari daerah Indhu Buri , mereka tinggal di
sakiwa kanan Palembang , dan membentuk sebuah tanah yang luas , bernama kerajaan
Sriwijaya ( = Syriwijaya , sinebut di Negara Cina: Sambotsai ) . raja
raja Darah Warman , terletak sanak yang Purnawarman Darah
Tanah di dhek abad ke 4 – 5 , dan Darah Mulawarman di Kutai dan
Borneo dhek sekitar tahun 400 . Negara Sriwijaya jajahane tentang tentang Sumatera
selatan dan tengah , Malaka , Kamboja dan bahkan di Jawa . dalam
686 tahun raja di negara besar Sriwijaya nglurugi di Jawa , karena dalam
Dan tidak menuju pangedhêpe Sriwijaya . Pada abad 10 tentara
perubahan nglurugi Sriwijaya , menang , tetapi tidak lagi Sriwijaya dapat kombul
lagi. Praja enggone melakukan tindakan terhadap Narendra utusan di Cina .
Pada abad 12 dan 13 di Sriwijaya Negara hancur berkeping- kerajaan kecil
kasus. Darah Warman berdiri di tanah tanah sinebut , ” Melayu ”
yang saikine Jambi . Rehn pasisir tanah di mana banyak Kerusuhan Melayu , The
banyak yang ngungsi negeri Loh gunung , ada
Mereka dedhukuh . Dan ketika pada kekuatan besar, Kartanagara
(1268 – 1292) membawa kerusakan realitas , dan ngejegi Jambi ,
Kota Riouw lokasi dan kota di pulau Kalimantan dan pulau
Moloko . Dalam saantaraning tahun 1275 dan 1293 dari tanah nglurugi
Jambi merupakan gunung tanah Besuki merasa Minangkabau .
Lurugan disebut : Pamalayu . Pada tahun 1268 ia Kartanagara angganjar
patung raja Dharmmaçraya ( Darmasraya ) mungkin terletak di tanah
Jambi, merupakan saikine tidak jauh dari Sungai Lansat . Kerajaan Besuki
termasuk jajahan Majapahit , Rajani Darah Warman jejuluk Tribuwana
( Mauliwarman ) memiliki istri-istri Melayu , putri ( putra putri )
Ayak dai Raden Wijaya istri yang penuh kasih . Raja Tribhuwana terlibat dalam
tanah nglurugi mph Hulu . Cerita Melayu , lurugan
Mereka mungkin tidak membuat , hanya karena judul disertakan , kehilangan enggone adu Kebo ,
sehingga kota mereka dan nama Minangkabau . Tidak ada wilayah yang
Kerajaan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman tanah di Malayupura , yang
pada tahun 1347 memiliki Kebebasan , ambawa pribadi, nglurugi Minangkabau ,
tapi tidak sampai perang , dan bahkan kemudian diangkat menjadi raja di sana, karena
Aku dianggap Melayu. Berdiri di Minangkabau
tahun 1347 sampai 1375 , kecrita kebijaksanaan dan baik memegang praja.Tumeka hari Adityawarman dan dua hamba bernama Papatih
Sabatang dan Kyai Katumanggungan dipundhi adalah di mana orang-orang
Minangkabau . Sapungkure Aditya tidak memiliki raja di Minangkabau
The kecrita . Negara hancur hancur , sekarang adalah titik , yang
kaluhuraning raja Indhu rumah, di tanah di mana Minangkabau ,
lebih dari bahasa dan sastra . Darah di raja kuno raja
Minangkabau itu tidak lama low-end dari putri terakhir,
Saya sekarang kematian .
Pada tahun 1377 Kota Palembang di Sanbotsai rinusak di teir man
Dia Ayamwuruk . Kekuatan Palembang atas nama seseorang bernama Arya
Cahaya nurunake Raden Patah ( + / – 1500 tahun ) . Sejak runtuhnya istana
Majapahit , Palembang juga Katut disayangkan , Besuki kehilangan Banten . Kaluhuraning
Tanah di selatan Sumatera di mana hingga saat ini ia juga
banyak mantan trails.
Pertama 07 segmen
sekitar 7
Perang dan Cina adegan Majapahit ( 1292)
Di tengah tengah tahun 1292 Kaisar Choebilai terjadi pasukan ngangkatake
Tanah untuk tentara dalam kebutuhan untuk mengutuk Kartanagara . di
Pace ( Surabaya ) , kapal hilang , dan tentara Cina untuk nglurugi9 Daha ,
Saya pikir terletak Kartanagara (yang adalah ketika Anda mati) . dilaporkan
Raden Wijaya dhek samono telah sejak mbalela Jayakatwang yang
raja Daha . Karena Anda dapat memiliki harapan dibantu Cina hancur
raja Daha , Raden Wijaya jadi dan menyediakan ethok ethok Teluk
senapati Cina . Tidak lagi seperti yang diharapkan jarak Majapahit , Raden terletak
Widjaya diambil dalam Daha tersebut , Raden Wijaya mendapatkan bantuan Cina
bisa menang . Akhirnya , pada tahun 1293 di kota yang terkepung dari Daha teir man Shih
PIH dan Raden Wijaya , Daha bedhah , kacekel raja , raja Peni Peni Peni dijarah
Rayah , Raden Wijaya Anda putri putri , putra Raja Kartanagara dilakukan
oncad ke Majapahit . Bukan waktu , karena Akali Wiraraja , Raden
Wijaya akan digulingkan tentara Cina . Wondene tentara , meskipun bergegas
kekuatan susu masih dapat membawa barang rayahan , saya pengaji dengan jutaan Tail
dan seratus tahanan Daha . Raden Wijaya dan berdiri di raja
Majapahit , jejuluk Kertarejasa Jayawardhana atau UB I ( tahun 1294 –
1309 ) .
Setelah berdiri raja , raja -tama saya anggeganjar
yang bisa Labuhan , kepadanya . Wiraraja dibagehi tanah Lumajang kota
kali berturut-turut . Dia Kartanagara empat dari mereka istrinya , dan anagarwa Paminggir salah satu Melayu bernama Sri Indresywari . istri
Paminggir adalah raja memiliki seorang putra R. Kaligemet , yang Besuki nggentos
Raja istana , ajejuluk Jayanegara , Prameswari dari beruang putri
dua . Pada tahun 1295 R. Kalagemet yang sataun usia diangkat menjadi
kematian raja Kediri , ibu dari ngembani memegang Praja
Kediri. Ketika ia Kertarejasa Jayawardhana Tanah
Jawa dengan Cina yang baik lagi , perdagangan besar, China datang di Tanah
Intinya saya , perak , merjan , sutra biru, bunga kapas sutra,
tentara hancur dan besi tambahan . Dari Tanah Jawa , kulak Cina: beras, kopi
kacang , Rami , bumbon craken lebih dari Mrican , produk atau barang i
perak, kuningan atau makeup perunggu , benang katun dan sutra ,
Welirang , warna gading , cula saleh , warna warna kayu , burung dan produk jakatuwa
nam naman .
Di Tanah Jawa pada saat itu banyak palabuhan kemacetan , seperti: Tuban , Sedayu ;
Canggu . Raja itu pada hari-hari ke istana Majapahit menjadi dibasakake
pemberontakan ungsum . Ksatria yang sakit bergerak di Lapa dhek hari Raden Wijaya
Sekarang tidak mendapatkan hati , karena satu-satunya aturan anggega hamba bernama
Mahapati , menempatkan Knight dari perubahan dan perubahan untuk merumuskan ,
Tapi rendah hati dan jurite . Pada tahun 1328 raja meninggal, dicidra
paranormal yang didhawuhi ambedhel tubuh . Sasedane dari Jayanegara
Gumanti putri saudaranya , yang meminjam Bhreng hidup dan jejuluk
Jayawisynuwardhani . Menetapkan Dewi Manners mendapatkan Knight , teman
Kartawardhana , terkenal cerdas, bersemangat dan tegak lurus penggalihe . The Prince
diangkat menjadi pangeran dan jaksa duduk di Singhasari
sawewengkone . Gajahmada warangkaning raja . Gajahmada ingin
nungkulake satanah seluruh pulau dan pulau sakiwatengene . Tidak ada jarak lagi
1334 adalah tahun Sumbawa dan Bali bedhah dan kabawah
Majapahit , Bali dan perbedaan tersebut mbawahake Lombok , Madura

selesai bersambanung ke bagain babad tanah jawa  ke 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s