KIDI INFO STUDI PERBANDINGAN BABAD TANAH JAWA

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw, oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP DAN DAPAT DIMANFAATKAN SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI MASA MENDATANG SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

Babad Tanah Jawa

 The  Legend Of Java Island

Comperative Studies

Part II

 

Created  By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

BABAD TANAH JAWA

Gubahan

L. Van Rijckevorsel   Directeur Normaalschool Muntilan

Dibantu  R.D.S. HADIWIJA   Guru Kweekschool Muntilan

Penerbitan

J.B. Wolters U.M. Groningen – DenHaag – Weltervreden – 1925

  Kronologis  babad pertama

Dari Abad ke-2  sampai abad ke 3-16

ketika  Kerajaan Majapahit Hancur

 

Pembukaan .

Sebagai  Kronoligis (Babad dikatakan wilayah – timur .seperti sangat menambah ilmu pengetahuan orang  .  Bahkan  sejak dulu  ketika datang situasi dimana-mana   yang cerah sadar tidak kesurupan  , Saya hanya punya keyakinan , dan kemajuan  tatacara prosedur dan  tata susila  dari daya benih sekepalnya  tanah KIdul

.Bercerita dalam  tahun sebelumnya 261 Masehi

Aland In.u di layar adalah rajadulu memiliki Açoka , ia mengatur negara Pataliputra ( sawetan di Benares ) , dan agama Kalender Rabu .

Krishna memiliki kasus Praja berlaku dalam kasus di mana Anda ingin untuk menggulir didekade  salah satu generasi dan pengadilan .

 

Akhirnya dapat terjadi , paling satanah In.u layar semua menumpuk , dikawasan di Raja . Hanya di puncit selatan dari Madras dan saloring Mangalore , keraton keratonnya  Didirikan presasat . Ewe – .ewe , bukan kematian kewengku Praja – Praja tanah utara .  Praja – Praja ke selatan juga berdaya upaya memajukan tata cara  susila  lahan – lahan di sekitar Kerajaan berdiri :

 1 Pan.awa ( Pandawa )                                                                                                                                                                                di kocap Singles Mahabharata

FAKTA SEJARAH SEBELUM  261 MASEHI

Dalam babad belum ditemukan fakta sejarah yang bebanr-0beanr terjadi, berdasarkan penelitian Dr Iwan ditemukan beberapa fakta sejarah Tanah Jawa sebelum tahun 261 masehi

2 million to 500,000 years ago:

 Indonesia is inhabited by Homo erectus, now popularly known as the ‘Java

Man’.[1]

40,000 BCE:

 Earliest human societies first thought to have existed in parts of the Indonesian archipelago,highlands of the Malay Peninsula, and the Philippines.[2]

 

 

3000 BCE:

The present day peoples of Indonesia are Austronesian, thought to have originated from an aboriginalChinese society living in Taiwan (or South China). They were Neolithic peoples who learned open-watermaritime skills about 3000 BCE.

2500 BCE to 1500 BCE

These light,brown-skinned people reached the Indonesian archipelago during theperiod 2500 BCE to 1500 BCE and virtually eliminated the existing, dark,brown-skinned inhabitants.[3] [4]

Kerajaan Indonesia Purba

“Kerajaan Caringin Kurung”

Sebelum tarikh saka,manusia itu  mirip kera tetapi makanannya bukan hanya buah-buahan  tetapi juga daging dan hasil buruannya,mereka hidup berkelompok dan sangat buas,mereka disebut manusia buncang.

Manusia Buncang tersebut terbagi dua kelompok,yaitu kelompok pertama yang tinggalnya diats pohon

Sumber

tourculinaryexplorer.blogspot

1.Zaman Pra Sejarah Sebelum Masehi

2.000.000 SM (Sebelum Masehi) Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama ke wilayah Indonesia. 100.000 SM Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. 10.000 SM Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es  

Zaman prasejarah[sunting | sunting sumber]

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Nusantara pada periode prasejarah

Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa tapak di Jawa menunjukkan kemungkinan kontinuitas populasi mulai dari 1,7 juta tahun (Sangiran) hingga 50.000 tahun yang lalu (Ngandong). Rentang waktu yang panjang menunjukkan perubahan fitur yang berakibat pada dua subspesies berbeda (H. erectus paleojavanicus yang lebih tua daripada H. erectus soloensis). Swisher (1996) mengajukan tesis bahwa hingga 50.000 tahun yang lalu mereka telah hidup sezaman dengan manusia modern H. sapiens. [1]

Migrasi H. sapiens (manusia modern) masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara 70 000 dan 60 000 tahun yang lalu. Masyarakat berfenotipe Austrolomelanesoid, yang kelak menjadi moyang beberapa suku pribumi di Semenanjung Malaya (Semang), Filipina (Negrito), Aborigin Australia, Papua, dan Melanesia, memasuki kawasan Paparan Sunda. Mereka kemudian bergerak ke timur. Gua Niah di Sarawak memiliki sisa kerangka tertua yang mewakili masyarakat ini (berumur sekitar 60 sampai 50 ribu tahun). Sisa-sisa tengkorak ditemukan pula di gua-gua daerah karst di Jawa (Pegunungan Sewu). Mereka adalah pendukung kultur Paleolitikum yang belum mengenal budidaya tanaman atau beternak dan hidup meramu (hunt and gathering).

Penemuan seri kerangka makhluk mirip manusia di Liang Bua, Pulau Flores, membuka kemungkinan adanya spesies hominid ketiga, yang saat ini dikenal sebagai H. floresiensis.

Selanjutnya kira-kira 2500 tahun sebelum Masehi, terjadi migrasi oleh penutur bahasa Austronesia dari Taiwan ke Filipina, kemudian ke selatan dan Indonesia, dan ke timur ke Pasifik. Mereka adalah nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara.

Orang Austronesia ini paham cara bertani, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Sumber

tourculinaryexplorer.blogspot

Pre history

Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah oleh “Manusia Jawa” pada masa sekitar 500.000 tahun yang lalu.

More and more prehistoric artifacts have been surfacing in Indonesia`s islands from Sumatra to Papua over the years, attesting to very deep roots of the country`s civilization.

Pithecanthropus Erectus known as Man of Java

The discovery of fossil remains of Pithecanthropus Erectus or “Java Man”, the extinct hominid on the island of Java, proves that Indonesia was already inhabited base early as two million to 500,000 years ago.

The fossil remains comprising skullcap and thighbone discovered by Eugene Dubois, a Dutch anatomist and geologist, in the early 1890s, were the first known fossils of the species Homo erectus.

Indonesia developed many well-organized kingdoms much later. Ruled by indigenous Rajas who embraced the Hindu and Buddhist religions. The period of Buddhist-Hindu Kingdoms lasted from ancient history to the 15th century.

200 BCE:

Dvipantara or Jawa Dwipa Hindu kingdom is thought to have existed in Java and Sumatra.

200 BC

Indian scholars have written about

Dwipantara or Dwipa Javanese Hindu kingdom

Peradaban dunia berasal dari Jateng?

Muhammad Oliez

Jum’at,  19 April 2013  −  11:43 WIB

Ilustrasi (istimewa)

Sindonews.com – Komite Perdamaian Dunia, mencanangkan wilayah Jawa Tengah sebagai provinsi perdamaian. Dipilihnya Jawa Tengah sebagai provinsi perdamaian, karena diyakini provinsi yang kerap disebut sebagai pakunya Nusantara ini dulu kala merupakan tempat hidup Bangsa Lemuria yang merupakan cikal bakal berbagai peradaban besar di dunia.

Dan untuk menyemarakkan pencanangan tersebut, Komite Perdamaian Dunia akan mengarak Gong Perdamaian Dunia (GPD) yang disepakati menjadi satu-satunya simbol persatuan ke seluruh wilayah Jawa Tengah. Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani mengatakan berdasar hasil penelitian, 60 ribu tahun sebelum Masehi, bumi masih berupa satu daratan. Waktu itu, ada satu bangsa dengan peradaban besar yakni Lemuria yang diyakini hidup di kawasan Gunung Muria, masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Namun setelah itu, kata Doctor Peradaban Universitas Hezron Turki ini, muncul Zaman Es. Sekira 40 ribu tahun sebelum masehi saat Zaman Es Plestosen berakhir, gletser-gletser di kutub mencair, dan lelehan air pun menyebar ke daratan yang lebih rendah. Setelah itu, kawasan yang semula satu daratan terpecah-pecah, ada yang berubah menjadi pulau-pulau, laut, dan gunung. Bangsa Lemuria pun terpencar-pencar. Namun dari proses itu, muncullah berbagai suku bangsa di dunia berikut peradabannya, seperti Peradaban Atlantis, Dravida, Maya, Aztek, Inca, Babilon, India, China, Mesir, Yunani, Romawi, Persia, Normandia, Viking dan lain sebagainya. Menurut Doctor Filsafat Universitas Hebrew Israel ini, meski terpencar-pencar, namun keturunan Bangsa Lemuria itu meninggalkan jejak di tempat barunya. Salah satunya yakni adanya nama Muria di berbagai tempat di dunia. Mulai dari Rajastan India, Agrego Yunani, New York USA, Jeniro Brazil, Mali Afrika dan lain sebagainya. Di kawasan Timur Tengah, persisnya antara Jerussalem – Palestina/Israel juga ada Bukit Moriah (Muria). “Jadi induk dari peradaban dunia itu berasal dari Bangsa Lemuria. Kalau soal perubahan struktur wajah, fisik, warna kulit, bentuk rambut dan lain sebagainya itu dipengaruhi oleh kondisi cuaca, makanan dan faktor-faktor alam lainnya,” kata Djuyoto, di Jepara, Jumat (19/4/2013). Pencanangan Jawa Tengah sebagai provinsi perdamaian, kata Djuyoto juga karena GPD “lahir” di Desa Plajan, Kecamatan Pakisaji, Jepara. Saat ini, GDP yang menjadi simbol persatuan bangsa sudah tersebar di 37 negara yang ada di dunia. Sedang Gong Perdamaian Nusantara (GPN) saat ini sudah terpasang di tiga lokasi di Indonesia. Dan direncanakan hingga akhir tahun ini, akan terpasang di tiga lokasi lainnya, yakni Kutai Kartanegara, Palu dan Istana Negara Jakarta. Menurut Djuyoto, proses pencanangan sendiri akan dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Jepara pada akhir April ini. Setelah pencanangan, gong tersebut akan diarak ke 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dalam kurun waktu 17 hari. “Kita berharap dengan kegiatan itu, maka masyarakat akan semakin memahami pentingnya perdamaian karena itu adalah salah satu ekspresi bangsa peradaban besar seperti Bangsa Lemuria,” tandasnya.

 

(ysw)

Sindonews Apps :

Siapa Nenek Moyang Orang Indonesia?

Posted by: Andika Kurniantoro on January 17, 2013 in Sejarah

Pithecanthropus Erectus, manusia purba yang fosilnya ditemukan di pinggir Bengawan Solo pada tahun 1980 oleh Dr. Eugene Dubois

Sains.Me – Pernah ngga kalian bertanya-tanya, dari mana asalnya orang-orang yang mendiami ribuan pulau di Indonesia? Kapankah nenek moyang kita pertama kali menjejakkan kakinya di bumi nusantara?

Teori asal mula nenek moyang orang Indonesia pada umumnya didasarkan pada dua hal, yang pertama adalah dasar kesamaan bentuk fisik dan yang kedua adalah kesamaan akar bahasa yang dipakai. Para ahli sejak lama memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Masing-masing juga memiliki alasan kuat yang mendasari teori mereka.

Namun catatan dan penemuan fosil manusia purba di dataran Indonesia menyebutkan bahwa nenek moyang Indonesia sudah ada sejak 3000 tahun sebelum masehi!

Ada banyak sekali ahli dengan teori yang berbeda. Namun diantaranya, berikut 5 teori dari ahli yang paling sering dipakai sebagai acuan.

1. Drs. Moh. Ali

Moh. Ali meyakini bahwa nenek moyang kita berasal dari China, khususnya daerah Yunan. Orang-orang China kuno ini masuk ke nusantara melalui hulu-hulu sungai besar dataran asia. Mereka juga datang secara bergelombang. Gelombang pertama dikenal dengan sebutan bangsa Proto Melayu atau Melayu Muda (datang mulai dari 3000 hingga 1500 tahun sebelum masehi). Sedangkan gelombang kedua disebut sebagai bangsa Deutro Melayu atau Melayu muda (1500 hingga 500 tahun sebelum masehi). Ciri gelombang pertama adalah kebudayaan neolitikum dan menggunakan perahu bercadik satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik dua.

2. Prof. Dr. H. Kern

Profesor dari Belanda ini berpendapat bahwa orang Indonesia berasal dari daratan Asia. Pendapatnya berdasar pada kesamaan bahasa yang digunakan. menurutnya orang yang hidup di wilayang Indonesia, Polinesia, Melanesia dan Mikronesia memiliki kemiripan bahasa, yakni bersumber dari rumpun Austronesia (berasal dari Austria). Bangsa Indonesia pastilah berasal dari satu daerah yang menggunakan bahasa Campa (bahasa yang kini dipakai di Kamboja). Kern menemukan banyak kesamaan istilah geografis, istilah binatang dan nama alat perang kuno yang pernah dipakai.

3. Prof. Dr. Sangkot Marzuki

Prof. Marzuki menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari dataran Austronesia (berasal dari Austria). Pendapatnya berdasar pada penemuan DNA fosil manusia purba. Beliau juga menyanggah bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan, China.

Karena menurutnya manusia purba jenis Phitecantropus Erectus tidak ada kelanjutannya pada manusia sekarang. Jenis tersebut telah punah dan digantikan oleh jenis baru yang fosilnya ditemukan di Afrika, dan hingga kini masih diyakini sebagai nenek moyang manusia.

4. Mayundar

Mayundar berpendapat bahwa orang Indonesia berasal dari India. Menurutnya bangsa-bangsa yang memakai rumpun bahasa Austronesia (termasuk Indonesia) berasal dari India dan menyebar ke wilayah Indocina (Asia Tenggara) dan berlanjut ke Indonesia hingga Pasifik. Teori Mayundar berdasar pada hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa bahasa Austria adalah bahasa yang pernah digunakan bangsa India bagian timur.

5. Prof. Mohammad Yamin 

M. Yamin, tokoh intelektual Indonesia yang ahli di bidang bahasa, budaya dan sejarah purbakala

Yamin menyangkal semua teori di atas. Beliau yakin bahwa orang Indonesia berasal dari dalam Indonesia sendiri dan tidak berasal dari luar. Hal ini ditegaskan oleh fakta bahwa fosil-fosil manusia purba dan artefak yang ditemukan di Indonesia lebih lengkap dan banyak dibandingkan fosil yang ditemukan di luar negeri. Misalnya saja temuan Pithecanthropus soloensis dan wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina.

Namun dari semua teori tersebut, para pakar sepakat bahwa ras di Indonesia dibagi kedalam tiga kelompok besar, yakni:

1. Negroid (orang Tapiro Irian / papua) Ciri-ciri: kulit hitam, rambut keriting, bertubuh kecil.

2. Weddoid (orang Senoi di Malaya, Sakai di Siak, Kubu di Palembang). Ciri-ciri: rambut berombak tegang, lengkung alis menonjol ke depan, kulit agak coklat.

3. Melayu (suku jawa) Ciri-ciri: tubuh tinggi & ramping, wajah bulat, hidung pesek, rambut hitam, kulit sawo matang. 

Nan Marunai Kerajaan Purba Indonesia Pertama

Benar adanya jika dikatakan nenek moyang Bangsa Indonesia berasal dari negeri pendatang. Karena seperti yang dikatakan Eddy Sadeli, seorang alumni FH-IPK jurusan Publisitik 1964 dan FH-UI program Praktisi Hukum 1985 dalam tulisannya “Tidak ada Pribumi di Negara Kesatuan Republik Indonesia Bagian 1/3”. Dalam tulisannya yang meninjau dari sudut Anthropologi menjelaskan pada 2.000 tahun sebelum masehi, pulau-pulau di Indonesia kosong melompong. Maka hanya terdapat emigrasi bangsa-bangsa dari luar di antaranya empat bangsa yang melakukan emigrasi pada abad sebelum masehi adalah:

  1. 1.      Ras Negroid merupakan gelombang emigrasi penduduk yang pertama datang ke Indonesia dengan ciri berikut : kulit hitam, tinggi, rambut keriting. Ras ini datang dari benua Afrika.
  2. 2.     Ras Wedoid merupakan gelombang perpindahan penduduk yang kedua yang datang ke Indonesia dengan ciri berkulit hitam, tubuhnya sedang,  jenis rambut keriting. Ras ini datang dari India bagian selatan.
  3. 3.     Melayu Tua yang merupakan gelombang perpindahan penduduk yang ketiga dengan ciri-ciri berikut sawo matang, tubuh tidak terlalu tinggi atau sedang dan rambut lurus. Melayu Tua datang dari daerah Tionghoa bagian Selatan yaitu Yunnani Utara tepatnya dari lembah hulu sungai Yang Tze Kiang, Sikiang, Mekong dan sebagainya.
  4. 4.     Melayu Muda, yakni gelombang  perpindahan penduduk yang ke empat dengan ciri-ciri berkulit sawo matang agak kuning, tubuh tidak terlalu tinggi, sedang dan rambut lurus.

Berdasarkan refrensi awal yang saya miliki, berawal dari Panaturan “Tetek Tatum” yang ditulis oleh Tjilik Riwut.

Orang pertama yang menempati bumi atau menurut asumsi saya adalah orang pertama yang menginjakan kakinya di Kalimantan adalah Raja Bunu. Masih juga berdasarkan refrensi awal saya, Raja Bunu memiliki kriteria fisik seperti tokoh-tokoh dipewayangan Mahabrata. Artinya Raja Bunu tersebut adalah orang India yang memiliki warna kulit hitam kemerah-merahan, berambut keriting hitam atau biasa dikenal dengan sebutan Bangsa Brahma

Tabel 1. Kerajaan di Indonesia berdasarkan tahun berdirinya

No

Nama Kerajaan

Lokasi Situs

PerkiraanTahun Berdiri

1.

Kerajaan Kandis*

Lubuk Jambi, Riau

Sebelum Masehi

2.

Kerajaan Melayu Jambi

Jambi

Abad ke-2 M

3.

Kerajaan Salakanegara

Pandeglang, Banten

150 M

4.

Kepaksian Skala Brak Kuno

Gunung Pesagi, Lampung

Abad ke-3 M

5.

Kerajaan Kutai

Muara Kaman, Kaltim

Abad ke-4 M

6.

Kerajaan Tarumanegara

Banten

Abad ke-4 M

7.

Kerajaan Koto Alang

Lubuk Jambi, Riau

Abad ke-4 M

8.

Kerajaan Barus

Barus, Sumatra Utara

Abad ke-6 M

9.

Kerajaan Kalingga

Jepara, Jawa Tengah

Abad ke-6 M

10.

Kerajaan Kanjuruhan

Malang, Jawa Timur

Abad ke-6 M

11.

Kerajaan Sunda

Banten-Jawa Barat

669 M

 

100 masehi

Early civilization in Java and Sumatra was heavily influenced by India. Today’s cultures in Indonesia, and even the language, still show influences from the Sanskrit language and literature.

Dvipantara” or “Jawa Dwipa” kingdom is reported by Indian scholars to be in Java and Sumatra.

Prince Aji Saka introduces writing system to Java based on scripts of southern India.

Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Sekitar Tahun 150: Salakanagara Salakanagara didirikan Wangsa Salaka atau Salanka. Pusat kerajaan diperkirakan di sekitar Teluk Lada, Banten, saat ini

 2nd  Century

122 AD

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Salakanagara, berdasarkan naskah Wangsakerta-Pustaka Rajyarajya i Bumi Nusantara diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.

Salakanagara dalam sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajataputra. Salaka berarti perak, sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga Salakanagara banyak ditafsirkan sebagai Kota perak, kota inilah yang disebut Agyre oleh Ptolemeus tahun 150 M, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.

Salakanagara awalnya berbentuk suatu masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, bahkan namanya belum disebut Salakanagara, hanya dipimpin atau dikelola oleh penghulu. Aki Tirem merupakan penghulu dan penguasa kampung setempat. Nama lain Aki Tirem Luhurmulya adalah Angling Dharma dan Wali Jangkung, namun ada pendapat lain bahwa Prabu Angling Dharma lebih tepat pada Raja Dewawarman. Prabu Angling Dharma terkenal sebagai kisah cerita rakyat (folkore) masyarakat Bojonegoro.

Raja pertama Kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman. Dewawarman yang merupakan duta dari kerajaan India yang diutus ke Nusantara (Pulau Jawa), kemudian Dewawarman dinikahkan oleh Aki Tirem Luhurmulya dengan puterinya bernama Pwahaci Larasati (orang sunda menyebut Dewi Pohaci), maka setelah Dewawarman menjadi menantu dari Aki Tirem Luhurmulya diangkatlah Dewawarman menjadi Raja I yang memikul tampuk kekuasaan Kerajaan Salakanagara. Saat menjadi Raja Dewawarman I dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokopala Dewawarman Haji Raksagapurasagara sedangkan Dewi Pohaci diberi gelar Dwi Dwani Rahayu penyerahan kekuasaan tersebut terjadi pada tahun 122 M, dan pada saat itu diberlakukan pula penanggalan sunda yang dikenal dengan Saka Sunda. Rajataputra adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 326 M menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII). Salakanagara berdiri selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 M sampai 362 M. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra.

Penelusuran saya tentang kejayaan kerajaan Sunda yang dimulai dari Kerajaan Salakanagara diperkuat setelah membaca novel sejarah berjudul “Perang Bubat” disana dikemukakan pada dasarnya, hampir semua rumpun yang ada di tanah Jawa ini punya hubungan dengan Sunda. Sang Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh, berputra Mandi Minyak. Mandi Minyak kemudian menjadi Raja di Bumi Mataram. Putra Mandi Minyak diantaranya adalah Senna. Kemudian Senna ini pun menjadi Raja Mataram. Senna berputra Sanjaya. Sanjaya ini termasuk ksatria keturunan Sunda yang gagah dan pandai berperang. Dia menaklukkan beberapa di wilayah Jawa Tengah. Berhasil menaklukkan kekuatan perompak di Selat Sunda yang di dukung Kerajaan Sriwijaya. Dan pada akhirnya Sanjaya pun berhasil mengalahkan pasukan Sriwijaya yang kala itu di perintah oleh Raja Sriwijaya Kelima.

Bangunan keraton megah yang pertama kali dibuat adalah di Pakuan, bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Arsiteknya adalah Maharaja Tarusbawa, Raja Kerajaan Sunda. Keraton Kerajaan Sunda yang kala itu ibu kotanya terletak di Pakuan meiliki arti khusus. Lima bangunan megah yang berjajar yang disebut sebagai mandala, melambangkan kekuasaan Kerajaan Sunda. Mandala pertama disebut sebagai “Sri Bima”, melambangkan wilayah kekuasaan Sunda yang ada di Jawa Kulon. Mandala kedua diberi nama “Punta” melambangkan kekuasaan Sunda di sebagian wilayah Sumatra. Mandala ketiga bernama “Narayana” melambangkan kekuasaan Sunda di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mandala keempat bernama “Madura”, melambangkan kekuasaan di Madura dan sekitarnya. Kemudian mandala kelima disebut sebagai “Suradipati” melambangkan kekuasaan Sunda yang mencakup Bali dan Nusa Tenggara. Atas pengakuan ini pula, kelak di kemudian hari di Nusantara di kenal wilayah Sunda Besar dan Sunda kecil.

Kerajaan Majapahit yang kala itu menjadi Kerajaan terbesar di Asia Tenggara mengakui asal usul kerajaannya, Prabu Rajasanagara atau lebih dikenal dengan Hayam Wuruk bermaksud untuk meminang Putri mahkota kerajaan Sunda yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi, kehendak Sang Raja sempat di cegah oleh Mahapatih Gajah Mada dikarenakan Sumpah Amukti Palapa yang telah terucap oleh Gajah Mada bahwa “Tidak akan makan buah palapa sebelum Nusantara dipersatukan di bawah Majapahit”, tapi Prabu Hayam Wuruk mengingatkan kembali bahwa Majapahit ini memiliki riwayat yang panjang, dan kesemuanya bermuara ke tanah Sunda. Sekarang aku beritahu, Sunda itu leluhur kami. Kami harus hormat pada mereka. Mungkin ini jadi masalah berat bagimu. Tundukkanlah seluruh negeri yang ada di Nusantara. Jadikan mereka negeri bawahan Majapahit kecuali Sunda. Dengan mereka, bahkan aku ingin mengentalkan kembali kekerabatan, Itulah sebabnya, aku memutuskan untuk mengambil permaisuri dari tanah Sunda., ” Kata Sang Prabu.

Jadi cikal bakal Kerajaan Nusantara itu berasal dari Kerajaan Salakanagara, dari masa kejayaannya hingga masa keruntuhannya Salakanagara telah melahirkan kerajaan-kerajaan hebat di Nusantara. Sisa-sisa peninggalan berupa Menhir Cihunjura, dolmen, batu magnit, batu dakon, air terjun curug putri, pemandian Prabu Angling Dharma terdapat di Cihunjuran, Citaman, Gunung Pulosari, dan ujung kulon.

Sumber : Dari berbagai sumber

130 A.D.

Kingdom of salakapura

Start in 130 A.D. a small village named Pandegelang from a guy named Aki Tirem,an Indian.He was a village’s chief. Then came Dewawarman, an Indian trader which marry Aki Tirem daughter. When Aki tirem died, Dewawarman hold the power and later built a Kingdom named Salakanagara(from old Sundannese Salaka means Silver and Nagara means country) or Rajaapura samoe says this what Phtolomeus called Argyre.

Dalanagar reign in Westren Java from 200-362

List of Salaka Nagara Kings:

1.Dewawarman I

2.Dewawarman II.

3.Dewawarman III

4Dewawarman IV

5. Dewawarman V 6. Dewawarman VI 7. Dewawarman VII 8. Dewawarman VIII

Salakanagara later replace by Tarumanaagara dynasty 

Dolmen Salaknagara

This is Salakanagara marker. known as Dolmen

Tarumanagara or Taruma Kingdom or just Taruma is an early Sundanese Indianized kingdom, whose fifth-century ruler, Purnavarman, produced the earliest known inscriptions on Java island. The kingdom was not far from modern Jakarta, and according to Tugu inscription Purnavarman apparently built a canal that changed the course of the Cakung River, and drained a coastal area for agriculture and settlement. In his inscriptions, Purnavarman associated himself with Vishnu, and Brahmins ritually secured the hydraulic project.[1]

Tarumanagara existed between 358–669 AD. The earliest known written records of Tarumanagara existence are inscribed monument stones. Inscribed stone is called prasasti in Indonesian language. A prasasti located in a river bed of Ciaruteun river, called Prasasti Ciaruteun, from the fifth century AD, written in Wengi letters (used in the Indian Pallava period) and in Sanskrit language, reports the most famous king of Tarumanagara:

This is the print of the foot soles of the very honorable Purnawarman, the king of Tarumanagara who is very brave and control the world, as those of God Wisnu.

Located nearby is the Prasasti Kebon Kopi I, also called Telapak Gadjah stone, with an inscription and the engraving of two large elephant footprints. The inscription read: These elephant foot soles, akin to those of the strong Airwata (elephant, which God Indra used to ride), belongs to Tarumanagara King who is successful and full of control.

Not only stones testify of the existence of King Purnawarman and his Tarumanagara kingdom. There are also Chinese historical sources, since Tarumanagara maintained extended trade and diplomatic relations in the territory stretching between India and China. The Chinese Buddhist Monk Fa Xian reported in his book fo-kuo-chi (414 CE) that he stayed on the island of Ye-po-ti (Chinese spelling of Javadvipa), most probably the western part of Java island, for six months, from December 412 until May 413 CE. He reported that the Law of Buddha was not much known, but that the Brahmans (Hinduism) flourished, and heretics (animists) too.

The kingdom was mentioned in the annals of the Sui dynasty, the king of To-lo-mo (Taruma) has sent diplomatic mission, which arrived in China in 528 and 535 CE. It was mentioned that the kingdom is located far south of China. The annals of Tang dynasty also mentioned in the year 666 and 669 the envoys of To-lo-mo has visited the court of Tang.

According to the book Nusantara, Maharshi Rajadirajaguru Jayasingawarman founded the Tarumanagara kingdom in 358 AD. Jayasingawarman originated from Salankayana, India that collapsed after the invasion of Samudragupta from Gupta Empire. After re-settling in Western Java, he married a Sundanese princess daughter of King Dewawarman VIII of Salakanagara.[2] He died in 382 AD and was buried at the bank of Kali Gomati river (present-day Bekasi city). His son, Dharmayawarman ruled from 382 to 395 AD. His burial site is at Kali Chandrabaga. His grandson Purnawarman was the third king of Tarumnagara and reigned from 395 to 434 AD.

babad tanah jawa info

Bab 1  kerajaan Indonesia (indhu)  di Jawa Barat Tanah ( Dari 2 atau 3 abad ) Kedatangan tanah ,  rakyat Tanah-tanah (Daratan)  TIMUR membawa agama ( atau Kalender Rabu Brahma ) dan setiap berbagai , kajata membaca , menulis , mbatik , medel ; dan jasa – digulung dan berguling rumah baik – baik .  Adat dikembangkan bersamaan dengan  Perdagangan  berbagai barang ,  jaitu dari saniang – penganggo , senjata , Perhiasan-perhiasan  berwujud untaian muntiara , perkakas-perkakas yang dibuat dari gading atau emas , dll .

Sriwijaya lebih cerah Jen kegolong yang ge.e. Ewe , bahkan malah menambah  bo pengetahuan pemanfaatan  tanah dan setiap tanah lijane di kasbut tersebut . Uwur .

Tidak ada perkiraan Jen dan Jayawarman , Narendra di Kamboja , yang memulai  berkuasa( layanan kuaa ) dan digulingkan oleh  (berguling –conqoure by )   raja Daerah Ankor . Praja – Praja pada saat sekawit enggone dengan agama Kalender Rabu . Yang kasumurupan , kerajaan Indhu di Tanah sendiri , yang disebut kerajaan ” Tarumanagara ” ( Tarum = nama sungai Tom . Citarum ) . Setelah Kerajaan abad ke 4 dan 5  , dan adegan mangsanya VC (VOC) bukanlah pengetahuan . Daerah Raja Raja Purnawarman  . Sekilas gambar bunga Tunjung di batu batu patilasan , Daerah Purnawarman menggunakan agama Wisnu.

 

Faktual info

Age of Purnawarman

Book Nusantara, parwa II sarga 3 (page 159 – 162) notes that under the reign of King Purnawarman, Tarumanagara held control over 48 small kingdoms with area stretching from Salakanagara or Rajatapura to Purwalingga (current city of Purbalingga in Central Java Province). Traditionally Cipamali river (Brebes river) was the border between Sunda and Java.

In 397 AD, King Purnawarman established a new capital city for the kingdom, located near to a beach, called Sunda Pura meaning Holy Town or Pure Town. Thus, word “Sunda” was introduced for the first time by King Purnawarman in 397. Sunda Pura could have been near present day Tugu (North Jakarta), or near present day Bekasi. He left seven memorial stones with inscriptions bearing his name spread across current Banten and West Java provinces. The prasasti tugu, which is a few years older than the Parasasti Ciaruteun, is considered the oldest of all the inscriptions.

There are more stones with inscriptions from the time of king Purnawarman, some close to Bogor city. They are Prasasti Muara Cianten, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Cidanghiang, and Parasasti Jambu. Prasasti Cidanghiang (sits further to the west at Lebak in the Pandeglang area), consisting of two lines, proclaiming Purnawarman as the standard for rulers around the world. Prasasti Jambu, with a two-line inscription in Pallava/Sanskrit, bears the large footprints of the king. The inscription translates as:

The name of the king who is famous of faithfully executing his duties and who is incomparable (peerless) is Sri Purnawarman who reigns Taruma. His armour cannot be penetrated by the arrows of his enemies. The prints of the foot soles belong to him who was always successful to destroy the fortresses of his enemies, and was always charitable and gave honorable receptions to those who are loyal to him and hostile to his enemies.

 Kings after Purnawarman

Purnawarman’s son, Dharmayawarman ruled from 382 to 395 AD. His burial site is at Kali Chandrabaga. The next kings of Tarumanagara were:

  • From 434 to 455: King Wisnuwarman
  • From 455 to 515: King Indrawarman
  • From 515 to 535: King Candrawarman
  • From 535 to 561: King Suryawarman King Suryawarman established a new capital city for the kingdom eastward and left Sunda Pura and its communities to preserve their own order. Then, Sunda Pura become a new smaller kingdom called Sunda Sambawa which was under control of Tarumanagara. Before the king reigned Tarumanagara, Manikmaya, his son in law, in 526, left Sunda Pura southeastward and established a new kingdom near current Nagreg, Garut city.

After Suryawarman, Tarumanagara was ruled by kings:

  • From 561 to 628: King Kertawarman In this period, the grandson of Manikmaya, Wretikandayun, in 612, established Galuh Kingdom, southeast of current Garut with its capital city located in Banjar Pataruman.
  • From 628 to 650 Linggawarman

The second daughter of King Linggawarman, Princess Sobakancana married Dapunta Hyang Sri Jayanasa, who later established the Sriwijaya kingdom. Their daughter, Manasih, married Tarusbawa.

Decline

Tarumanagara kingdom was attacked and defeated by Srivijaya around 650. After this, Tarumanegara’s influence over its neighbors began to decline.

This event was made as a reason by king Wretikandayun (Monarchic founder of Galuh) to dissociate the small kingdom from the power of Tarumanagara and asked King Tarusbawa to divide Tarumanagara territory into two parts. Galuh got a support from Kalingga kingdom (the first kingdom in Central Java) to separate from Tarumanagara because Galuh and Kalingga had made an alliance through dynastic marriage; a son of King Wretikandayun married Parwati (a daughter of Queen Sima) from Kalingga and Sana alias Bratasenawa alias Sena (a grandson of King Wretikandayun) married Sanaha (a granddaughter of Queen Sima). In a weak position and wishing to avoid civil war, the young King Tarusbawa accepted the request of old King Wretikandayun. In 670, Tarumanagara was divided into two kingdoms: Sunda Kingdom and Galuh Kingdom with the Citarum river as the boundary. Then Galuh Kingdom comprised many vassal kingdoms which covered areas of present-day West and present-day Central Java Provinces.

King Tarusbawa then established a new capital of his kingdom near the Cipakancilan river upstream which centuries later became the city of Pakuan Pajajaran (or shortly called Pakian or Pajajaran). King Tarusbawa becomes the ancestor of melau kings

200 BCE – 200 CE:

Trade pottery from Arikamedu in India reached Sembiran in Bali. Ardika & Bellwood, ‘Sembiran and the first Indian contacts with Bali’, Antiquity, Mar 1997, http://findarticles.com/p/articles/mi_hb3284/is_n271_v71/ai_n28685066/

Kerajaan Gilingaya Penulis: Jacinta F. Rini

Kesejarahan Indonesia mempunyai banyak sisi yang belum di eksplorasi, termasuk penelusuran berbagai kerajaan yang pernah ada di nusantara. Selama ini, proses mencari jejak kerajaan-kerajaan di nusantara banyak menghasilkan informasi baik yang lama maupun yang baru; bahkan tidak jarang menimbulkan pertanyaan yang menggugah keinginan untuk menggali serta menemukan bukti historis yang bisa melengkapi mata rantai kesejarahan nusantara.

Kerajaan Salaka Nagara merupakan salah satu mata rantai kerajaan di nusantara. Penelusuran jejak Salaka Nagara pernah dilakukan berbagai pihak dan dari berbagai perspektif seperti yang dapat di baca pada artikel ini. Keberadaan kerajaan ini pernah tercatat di tahun 150 oleh seorang ahli ilmu bumi Yunani, Claudius Ptolemaeus dalam bukunya Geographike Hypergesis. Ptolemaeus menyebutnya sebagai Argyre, atau perak yang terletak di ujung barat Pulau Iabadious (Dalam mitologi Roma dan Yunani, Argyre dikatakan mythical island of silver ). Nama Iabadiou disamakan dengan nama dalam bahasa sansekerta, Yawadwipa, yang artinya Pulau Jelai atau Pulau Jawa.

Hingga kini, terbatasnya informasi mengenai Salaka Nagara menimbulkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa di jawab dengan terus melakukan penggalian sejarah, mencari kaitan-kaitan historis yang akhirnya bisa semakin memperjelas latar belakang kerajaan Salaka Nagara ini.

LOKASI

Kerajaan ini berada di wilayah Pandeglang yang kini bagian dari Propinsi Banten yang dulunya merupakan kerajaan yang sangat besar bernama Kerajaan Gilingaya, atau Salaka Nagara. Menurut naskah Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara, Salaka Nagara di dirikan tahun 52 Saka, atau 130/131 Masehi (2). Lokasi di perkirakan ada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal hasil logamnya. Di kabupaten Lebak dan Pandeglang serta Serang memang sejak dulu terkenal dengan tambang logam mulia. Sementara wilayah Cikotok dan sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi wilayah pertambangan emas dan bahan galian lain seperti perak. Di sana juga di temukan bahan galian logam seperti galena (biji timah hitam /Pb), serta berbagai bahan non-logam seperti andesit, basalt, tras, zeolit, feldspar, bentonit, pasir kuarsa, batu sempur, batu mulia dan batubara, serta minyak bumi dan gas di daerah Ujung Kulon. Tidak mengherankan jika sejak jaman dulu Salaka Nagara sudah di kenal sebagai Negeri Perak karena hasil buminya.

Perjalanan sejarah kerajaan Salaka Nagara memiliki riwayat perjalanan yang cukup panjang. Ada sumber yang mengatakan bahwa Salaka Nagara, atau nama lainnya Gilingaya sudah ada sejak jaman Kala Brawa (1). Nama Salaka Nagara juga muncul pada penelitian sejarah kerajaan awal nusantara (2), dan di sebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara. (2)

KERAJAAN GILINGAYA atau SALAKA NAGARA

Pendiri Kerajaan Gilingaya adalah Sang Prabu Budawaka yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Ismaya. Setelah masanya berakhir, Sang Prabu Budawaka moksa di Gunung Karang di candi yang berada diatas Gunung Karang di daerah Watu Lawang.

Setelah itu dilanjutkan oleh Sang Prabu Bramakadi yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara

Brama. Setelah lengser keprabon, sang prabu menjadi pertapa di puncak Gunung Krakatau dan digantikan oleh putranya yang bernama Sang Prabu Dewaesa yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Bayu. Prabu Dewaesa adalah raja terakhir dari Kerajaan Gilingaya ketika keraton tersebut masih menjadi pusat kerajaan. Karena sesudah sang prabu dan ayahandanya Prabu Bramakadi moksha, terjadi goncangan alam yang sangat besar, sehingga mayoritas bumi terendam air. Air baru surut pada masa akhir Kerajaan Medang Galungan di Kuningan saat di perintah oleh Prabu Satmata. Kerajaan Gilingaya yang menguasai jagad pada jaman Kala Brawa di jaman besar Kali Tirtha, di kenal juga dengan nama Salakanagri atau Salaka Nagara. Setelah surut dari kerjaan induk, sampai di jaman masa surutnya Majapahit, tetap bernama Gilingaya atau Salaka Nagara, tetapi statusnya sudah menjadi Kadipaten. (1)

Perjalanan Salaka Nagara dari masa ke masa selanjutnya mengalami pasang surut sejalan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Mengingat bahwa kerajaan ini termasuk yang tertua di nusantara, maka hingga kini belum banyak penemuan yang bisa mengungkapkan secara lebih jelas lagi tentang Salaka Nagara. Namun demikian di tahun 1677, Pangeran Wangsakerta salah satu anggota keluarga Keraton Cirebon bersama-sama dengan tim nya, menyusun naskah Pustaka Rajya Rajya Bhumi Nusantara yang menjelaskan sejarah kepulauan nusantara, Pulau Jawa dan Tatar Sunda. Dalam salah satu naskah itu lah nama Salaka Nagara muncul dan disebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara.

CIKAL BAKAL TARUMANEGARA

Dalam naskah Wangsakerta, diceritakan bahwa Salaka Nagara merupakan sebuah wilayah di Teluk Lada. Masyarakat Salaka Nagara di masa itu memiliki sistem religi Pitarapuja, atau pemujaan roh leluhur dan Aki Tirem adalah tokoh pemimpin masyarakatnya. Di katakana pula, Dewawarman yang kelak menjadi Raja Salaka Nagara, adalah seorang duta keliling, pedagang dan perantau dari India yang tiba di Teluk Lada hingga menetap dengan Dewi Pwahaci Larasati, putri Aki Tirem, sang penguasa setempat.

Hubungan antara Aki Tirem dengan Demawarman sudah terjalin jauh sebelum Demawaman menetap di Teluk Lada. Mereka berdua telah bekerja sama mengatasi perompak yang mengganggu wilayah sekitar perairan Salaka Nagara dan sekitarnya. Aki Tirem mempunyai putri yang kemudian di nikahkan dengan Demawaman. Kelak Aki Tirem menyerahkan kekuasaan pada Demawarman.

Kerajaan Salaka Nagara baru berdiri setelah meninggalnya Aki Tirem, yakni pada kisaran tahun 130 Masehi. Demawarman mendirikan kerajaan Salaka Nagara dengan ibu kota Rajatapura dan menjadi Raja Salaka Nagara pertama, bergelar Prabu Dharmaloka Demawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Wilayah-wilayah di sekitarnya menjadi daerah kekuasaan Raja Dermawarman, termasuk kerajaan Agnynusa (Negeri Api) di Pulau Krakatau. Jaman sekarang ini wilayah kuno Salaka Nagara mencakup Banten, Jawa Barat bagian barat, pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Pulau Sangiang dan pesisir Sumatera bagian selatan. Demawarman membuka hubungan diplomatic dengan Cina dan India; dan ketika kerajaan itu menggalang kerja sama mengatasi gangguan perompak, termasuk para perompak dari Cina.

Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun, dan pada kisaran tahun 168 masehi di gantikan puteranya Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Senapati Bahadur harigana Jayasakti, adik Prabu Dewawarman I menjadi raja di daerah Mandala Ujung Kulon. Sedangkan Sweta Liman Sakti, adiknya yang lain dijadikan raja di daerah Cianjur selatan

Early history

350-400 – Kutai – the Martadipura phase – earliest known stone inscriptions in Indonesia [5]

358 A.D.

Tarumanagara Kingdom start in 358.

when it first start it was a vassal of Salakanagara.

Rajadirajaguru Jayasingawarman is Tarumanagara First king.

Read more

Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh, Pajajaran

Jumat, 23 September 2005M 18 Syaban 1426H Dirgahayu Bandung! Sebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang!

Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang nama-nama jalan di atas.

Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran). Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:

* Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan * Galuh Pakuan beribukota di Kawali * Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili * Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan * Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan * Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan * Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman * Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan * Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo * Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan

Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora yang termasuk cucu pendiri Galuh melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).

Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.

Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.

Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep keluarga kerajaan Sunda sebagai ikatan politik.

Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.

Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan mata dan telinga bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.

Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.

Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.

Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.

Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.

Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):

Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.

Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.

Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.

Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan dihadiahkan kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan di pinang oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.

Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.

Lanjut!

Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.

Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai kerajaan diubah menjadi kabupaten.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan Dalem Sawidak karena memiliki anak yang sangat banyak.

Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.

Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian kalau tidak salah ingat adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.

In AD 397,

King Purnawarman

  • established Sunda Pura as a new capital city for the kingdom, located at the northern coast of Java. Purnawarman left seven memorial stones across the area with inscriptions bearing his name, including the present-day
  • IVth Century
  • Hindu-Buddhist kingdom History of Nusantara in the era of Hindu-Buddhist kingdom Inscription of King Purnawarman monuments of Taruma
  • In the 4th century until the 7th century in the region of West Java, there are Hindu-Buddhist kingdom that is patterned Tarumanagara kingdom, followed by the Sundanese kingdom until the 16th century.
  • The Tarumanagara inscriptions of the 4th century AD
  • Tugu Inscription
  • are the earliest evidence of Hindu influence in Java.
  • The Tarumanagara inscriptions of the 4th century AD are the earliest evidence of Hindu influence in Java
  • The earliest recorded mention of Jakarta is as a port of origin that can be traced to a Hindu settlement as early as the 4th century.
  • The Jakarta area was part of the fourth century Indianized kingdom of Tarumanagara

BABAD TANAH JAWA INFO

Pada tahun 414  FA Cina bernama Hien ,  pengunjung bersejarah ke Kawasan Petilasan (rumah enggone sujarah ke patilasane) Imam  Buddhis  , di tanah Indhu(Indonesia)  kunjungan  pertama di Tanah sampai bulan ke 5.  Menurut Catatannya menjelaskan cara : 1 . Banyak orang tidak memiliki agama ( Majapahit ) , dan  yang  ada satu agama disini (dhewekne) : Budha.

 

2 . Orang Cina tidak ada , karena tidak ditulis dalam catatan

. 3 . Ketika 200 orang naik  Kapal dari  Indonesia( Indhu)  , ada  pedagang(dedagangan) , hanya bepergian ,  ingin menuju Canton . Jika itu adalah cara dari  pelayaran perdaganagan Indonesia(tanah dedagangan layar Indhu ) mendarat di Cina adalah melalui Jawa .  Dalam 435 Saya telah utusan kepada Raja Barat Cina , menawarkan ngatura  ke (mempersembahkan) kepada kaisar di tanah Cina , serta  menaburkan tepung (Mark tetepungan)  yang memudahkan pelaksanaan perdagangan( kontur dedagangan ). Tarumanagara kerajaan tidak  Berjaya (kasumurupan)  beberapa tahun terakhir dan bagaimana kita rusak. tidak ada kebiasaan  pengatur  Indonesia( The Indhu   ngowahake) dan kehidupan di bumi , karena kita tidak mengajarkan apa yang Anda lakukan , dan orang-orang di bumi mungkin tidak memiliki seseorang mungkin berasal  Kepintaran Indonesia (kapinterane Indhu) . Namun, kekuatan itu mengembangkan (kaundhakaning) pengetahuan mem batik dan  memwarnai soga tumbuhan asli (nyoga jarit ).

 

FACTUAL HISTORY INFO

425 A.D.

 

 

 

Initial physical evidence that the date is from the 5th century the two kingdoms patterned Hinduism:

Kingdom of West Java Tarumanagara

master and the Kingdom of Kutai in coastal Mahakam River, Kalimantan. In 425 Buddhism reached the area.

When Europe entered the Renaissance, the archipelago has had inherited thousands of years old civilizations with the two great kingdoms of Sriwijaya in Sumatra and Majapahit in Java, plus dozens of small kingdoms which often becomes a more powerful neighbor vazal or connected to each other in a kind of bond trading ( such as in Maluku).

Nama Prasasti : TUGU

Lokasi Penemuan : Desa Tugu, Kelurahan Tugu Selatan Kecamatan Koja, JAKARTA UTARA Tahun Penemuan : 1911

Koleksi : MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah) Jalan Medan Merdeka Barat no.12, Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110 INDONESIA

No. Inventaris : D.124

Bahan : Batuan Andesit Ukuran : Kurang lebih 1 m, berbentuk bulat telur Era : Kerajaan TARUMANEGARA Tahun Penerbitan : Diperkirakan abad ke-5 Masehi Aksara : Pallawa, dalam 5 baris Bahasa : Sansekerta

Isi dari Prasasti : Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama. Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga. Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula.

Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

Salinan dalam Bahasa Aslinya : pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih// ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan kedalam Bahasa Indonesia : “Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. 

Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Neneknda (Raja Purnnawarmman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.

Kingdom of Tarumanegara – the 5th century AD

 

Tarumanegara kingdom located

in the valley of the river Cisadane, Bogor, West Java. King of the Kingdom’s largest Tarumanegara is Punawarman.

Evidence of existence can be known from 7 Tarumanegara inscription written in letters Pallawa and Sanskrit. The inscription is:

  1. 1.                  Monument inscription, found in Cilincing, Jakarta. Contains the excavation of the river Gomati 11 kilometers in length, and finalized within 21 days.

Indonesian ‘Hinduïsm’

It may one day be shown by students of prehistory that Indonesians were sailing to other parts of Asia long ago. Records of foreign trade, however, begin only in the early centuries AD.  

A study of the Roman historian Pliny the Elder’s Natural History suggests that, in the 1st century AD, Indonesian outriggers were engaged in trade with the east coast of Africa. Indonesian settlements may have existed at that time in Madagascar, an island with distinct Indonesian cultural traits.

The geographer Ptolemy, in the following century, incorporated information from Indian merchants in his Guide to Geography concerning “Iabadiou,” presumably referring to Java, and “Malaiou,” which, with its variants, may refer to Malayu in southeastern Sumatra.

Regular voyages between Indonesia and China did not begin before the 5th century AD.

 Chinese literature in the 5th and 6th centuries refers to western Indonesian tree produce, including camphor from northern Sumatra, and also to two resins that seem to have been added to the seaborne trade in western Asian resins and were known in China as “Persian resins from the south ocean.”

Indonesian shippers were probably exploiting the economic difficulties southern China was suffering at the time because it had been cut off from the ancient Central Asian trade route.

Certain small estuary kingdoms were beginning to prosper as international entrepôts.

Their location is unknown, though Palembang’s commercial prominence in the 7th century suggests that the Malays of southeastern Sumatra had been active in the “Persian” trade with southern China. River rock with name and ‘footprints’ of Purnawarman, ruler of the 5th century Tarumanegara. West-Java.

 

414 CE: The Chinese monk Fa Xian returned home from India by sea, after visiting Sri Lanka. A Record of Buddhist Kingdoms, Fa-Xian/Legge, p100; see www.maritimeasia.ws/topic/Malaysia_crossroads.html#FaXian for description of sea journey, http://faculty.washington.edu/dwaugh/CA/texts/faxian.html for his prior travels on land, and http://www.lankalibrary.com/geo/ancient/trade.htm for his vist to Anuradhapura.

383-484 CE: Persian coins of the Sassanian dynasty have been excavated at various places in Guangdong province, and are assumed to result from maritime trade. Maritime Silk Route 1996, p.72.

Late C4th – early C5th: Most east-west traffic started to go through the Straits of Malacca, instead of overland at the Isthmus of Kra, leading to the rise of Srivijaya in southeastern Sumatra. Srivijaya became a Chinese trade partner, controlled piracy, and dominated the Straits for over 500 years. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.20-23 & 26, citing O.W. Wolters, Early Indonesian Commerce: a study of the origins of Sri Vijaya, Ithaca, 1967.

C 4-5th: Coin from Aksum (Ethiopia) found at Mahagama in Sri Lanka. Susanne Loos-Jayawickrema / Sunday Times, http://www.is.lk/times/010930/plusm.html

422 CE: The Indian prince and Buddhist monk Gunavarman arrived in Java; he stayed for several years before continuing to China, and missed an expected stop in Champa due to unfavourable winds. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.40 & 104, citing George Coedès, The Indianized states of Southeast Asia, ed. Walter F.Vella, trans. Susan Brown Cowing, Honolulu 1968, p.54 & O.W. Wolters, Early Indonesian Commerce: a study of the origins of Sri Vijaya, Ithaca, 1967, p.35.

428 CE: Sri Lankan king Mahanamo sent a jade Buddha statue to the Chinese emperor. http://www.lankalibrary.com/geo/ancient/trade.htm.

431 CE: The Cham kingdom of Lin-yi assembled over a hundred ships to pillage the north Vietnamese coast. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.74-5, citing George Coedès, The Indianized states of Southeast Asia, ed. Walter F.Vella, trans. Susan Brown Cowing, Honolulu 1968, p.56-7.

430-452 CE: The ruler of Ho-lo-tan in NW Java sent seven missions to the Chinese court. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.104, citing the Liu Sung shu [history of the early Sung] composed 470-478, per O.W. Wolters, Early Indonesian Commerce: a study of the origins of Sri Vijaya, Ithaca, 1967: 151, 313 nn. 92, 95

mid-C5th: The people of Funan were said to charter ships to go both east and west, far and near; shipowners were paid only if on schedule. Yoshiaki Ishizawa, ‘Chinese chronicles of C1st-5th century AD Funan’, p.16, citing Yiyuan.

467 CE: The Buddhist monk Hui-Shen and his Afghan companions travelled from China to Fu-Sang, which some interpret merely as Japan, and others as the west coast of North America, perhaps Mexico. Mayan art at this time develops features suggesting Hindu and Buddhist influence. Hui Shen returned to China in 499, and reported to emperor Wu of the Liang dynasty in 502 CE. Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Buddhism_in_Japan Louise Levathes, When China Ruled the seas, p.40-41, citing the Liang Shu (History of the Liang dynasty) and (i) Paul Shao, Asiatic Influence in Precolumbian art, Ames, Iowa State Univ 1976, p.5-7, 3, 163 and (ii) David H.Kelley, ‘Nine lords of the night’, Studies in the Archaeology of Mexico and Guatemala, 16, Berkeley, Univ of California Dept of Anthropology, Oct 1972 & ‘Calendar animals and deities’, Southwestern Journal of Anthropology, 16, Albuqerque, Univ of New Mexico, 1960. http://www.personal.psu.edu/users/m/v/mvp111/karin.htm, citing vol.231 of The Great Chinese Encyclopedia, compiled by court historians of the Wang emperors from 502 to 556 AD (other refs give the editor’s name as Ma Tuan-Lin); Prof V.G.Nair, Buddhist mission visits America before Columbus, http://www.saigon.com/~hoasen/mission.htm; http://www.1s.com/hkmission/history/chinese.htm, citing hearsay of an 1100 page diary in the Chinese imperial archives of which only 75 pages of partial excerpts seen; http://users.wi.net/~maracon/; http://www.ventanawild.org/news/se01/fusang.html; Kenneth L. Feder, Frauds, Myths and Mysteries: Science and Pseudoscience in Archaeology, p113-4, citing Frost, F, 1982, The Palos Verdes Chinese anchor mystery, Archaeology, Jan/Feb 23-27, quoted on www.kenspy.com/Menzies/Ships.html regarding irrelevance of these anchors.

484 CE: King Jayavarman of Funan sent merchants to Guangzhou to solicit trade. The Indian Buddhist monk Nagasena accompanied them on their return, and was then sent to the Chinese court to request help for Funan against marauding Chams from Lin-yi. Nagasena reported to the Chinese emperor that he had been shipwrecked on the Cham coast and robbed. In 491 the Chinese bestowed titles and anti-piracy responsibilities on Fan Tang, the ruler of Lin-yi. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.73-75.

C3rd-5th: Estimated date of the Pontian boat, discovered in Pahang, Malaysia in 1926, based on radiocarbon and accompanying ceramics similar to some at Oc-eo in south Vietnam, which is broadly dated to C1st-6th. I.H.N. Evans, ‘Notes on the remains of an old boat found at Pontian’; C.A. Gibson-Hill, ‘Further notes on the old boat found at Pontian, in south Pahang’; Sean McGrail, Boats of the World, p.305; Pierre-Yves Manguin, ‘Southeast Asian shipping in the Indian Ocean during the first millennium AD’.

mid-late C5th: a Sanskrit inscription found near Jakarta Bay records that king Purnavarman of Tarumanagara (the Tarum river basin) diverted the river to improve drainage and make the port more accessible for trading vessels. Kenneth Hall, Maritime trade and state development in early Southeast Asia, p.105, citing J.Ph. Vogel, ‘The earliest Sanskrit inscriptions of Java’, Publicaties van de Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie 1 (1925):15-35; J.G. de Casparis, Indonesian Palaeography, 18-20; H.B. Sarkar, Corpus of the inscriptions of Java (up to 928 AD) Calcutta, 1971-72, vol 1:1-12; and J. Noorduyn & H.Th. Verstappen, ‘Purnavarman’s river works near Tugu’, BKI Leiden 128 (1972): 298-307. The river diversion was in the 22nd year of Purnavarman’s reign. Hall notes that Van der Meulen’s belief that Purnavarman conquered Ho-lo-tan shortly after 452 AD, the date of its last embassy to China: W.J. Van der Meulen, ‘In search of Ho-ling’, Indonesia 23 (1977): 87-111.

Southern Dynasties [420-589 CE]: Guangzhou was a prosperous port filled with merchant ships, merchants and envoys. Many Buddhist monks came from India; the centre of their teaching and sutra translation was Guangxiao temple. G’zhou Mar.Silk Rd 2001, p.29; Maritime Silk Route 1996, p.59, 74.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s