KISI INFO SERAT TANAH JAWA

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw, oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP DAN DAPAT DIMANFAATKAN SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI MASA MENDATANG SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK SERAT TANAH JAWA

 

Penggubahan[sunting | sunting sumber]

Menurut keterangan R.M.A. Sumahatmaka, seorang kerabat istana Mangkunegaran, Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yaitu yang kemudian akan bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V.

Sangkala Serat Centhini, yang nama lengkapnya adalah Suluk Tambangraras, berbunyi paksa suci sabda ji, atau tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi. Berarti masih dalam masa bertahtanya Sunan Pakubuwana IV, atau enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan Pakubuwana V. Menurut catatan tentang naik tahtanya para raja, Pakubuwana IV mulai bertahta pada tahun 1741 (Jawa), sedangkan Pakubuwana V mulai bertahta pada tahun 1748 (Jawa).

Yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa, berarti masih di zamannya Sunan Pakubuwana III). Tidak diketahui siapa yang mengarang kitab Jatiswara. Bila dianggap pengarangnya adalah R.Ng. Yasadipura I, maka akan terlihat meragukan karena terdapat banyak selisihnya dengan kitab Rama atau Cemporet.

Tujuan dan pelaku penggubahan[sunting | sunting sumber]

Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom, dan yang mendapatkan tugas membantu mengerjakannya adalah tiga orang pujangga istana, yaitu:

  1. Raden Ngabehi Ranggasutrasna
  2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I)
  3. Raden Ngabehi Sastradipura

Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yasadipura II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam.

Pengerjaan isi[sunting | sunting sumber]

R. Ng. Ranggasutrasna yang menjelajah pulau Jawa bagian timur telah kembali terlebih dahulu, karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai mengarang. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala Paksa suci sabda ji.

Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid satu, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (sekarang juga bernama Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.

Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. Penyebab Pangeran Adipati Anom mengerjakan sendiri keenam jilid tersebut diperkirakan karena ia kecewa bahwa pengetahuan tentang masalah sanggama kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

Setelah dianggap cukup, maka Pangeran Adipati Anom menyerahkan kembali pengerjaan dua jilid terakhir (jilid sebelas dan duabelas) kepada ketiga pujangga istana tadi. Demikianlah akhirnya kitab Suluk Tambangraras atau Centhini tersebut selesai dan jumlah lagu keseluruhannya menjadi 725 lagu.

Ringkasan isi[sunting | sunting sumber]

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

 

 

Gunung Salak, dilihat dari Bogor.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.

Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, salat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang dari muka bumi.

Lingkup pengaruh[sunting | sunting sumber]

Karya ini boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai “dunia dalam” masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.

Menurut Ulil Abshar Abdalla, terdapat resistensi terselubung dari masyarakat elitis (priyayi) keraton Jawa di suatu pihak, terhadap pendekatan Islam yang menitik-beratkan pada syariah sebagaimana yang dibawakan oleh pesantren dan Walisongo. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur-baur dengan mitos-mitos Tanah Jawa. Ajaran Islam mengenai sifat Allah yang dua puluh misalnya, diterima begitu saja tanpa harus membebani para pengguh ini untuk mempertentangkannya dengan mitos-mitos khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik” seolah antara alam monoteismeIslam dan paganisme/animisme Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Penolakan atau resistensi tampil dalam nada yang tidak menonjol dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.

Dr. Badri Yatim MA menyatakan bahwa keraton-keraton Jawa Islam yang merupakan penerus dari keraton Majapahit menghadapi tidak saja legitimasi politik, melainkan juga panggilan kultural untuk kontinuitas. Tanpa hal-hal tersebut, keraton-keraton baru itu tidak akan dapat diakui sebagai keraton pusat. Dengan demikian konsep-konsep wahyu kedaton, susuhunan, dan panatagama terus berlanjut menjadi dinamika tersendiri antara tradisi keraton yang sinkretis dan tradisi pesantren yang ortodoks.

Serat Centhini terus menerus dikutip dan dipelajari oleh masyarakat Jawa, Indonesia dan peneliti asing lainnya, sejak masa Ranggawarsita sampai dengan masa modern ini. Kepopulerannya yang terus-menerus berlanjut tersebut membuatnya telah mengalami beberapa kali penerbitan dan memiliki beberapa versi, diantaranya adalah versi keraton Mangkunegaran tersebut.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

Sunan Pakubuwana VII, yang bertahta dari tahun 1757 sampai 1786, berkenan menghadiahkan Suluk Tambanglaras tersebut kepada pemerintah Belanda. Akan tetapi yang diberikan hanya mengambil dari jilid lima sampai sembilan, dengan menambah kata pengantar baru yang dikerjakan oleh R.Ng. Ranggawarsita III. Kitab tersebut bersangkala Tata resi amulang jalma, yang berarti 1775, dan dijadikan delapan jilid, diberi judul Serat Centhini, yang terdiri dari 280 lagu.

Penerbit PN Balai Pustaka pada tahun 1931 pernah pula menerbitkan ringkasan Serat Centhini, yang dibuat oleh R.M.A. Sumahatmaka, berdasarkan naskah milik Reksapustaka istana Mangkunegaran. Ringkasan tersebut telah dialihaksarakan dan diterjemahkan secara bebas dalam bentuk cerita, yang diharapkan pembuatnya dapat mudah dipahami oleh masyarakat yang lebih luas.

Gubahan kontemporer[sunting | sunting sumber]

Penulisan kembali Centhini dalam bentuk prosa liris dilakukan oleh Elizabeth Inandiak. Bentuk ini dapat dianggap sebagai interpretasi personal karena terdapat perbedaan dengan bentuk kitab aslinya. Sunardian Wirodono mengubah Serat Centhini menjadi trilogi novel dalam bahasa Indonesia (Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin; Centhini, Perjalanan Cinta; dan Cebolang, Petualang Jalang).

Referensi[sunting | sunting sumber]

       Sumahatmaka, R.M.A, Ringkasan Centini (Suluk Tambanglaras), PN Balai Pustaka, Cetakan pertama, 1981.

       Yatim, Dr. Badri, MA, Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Ed. 1, Cet. 12, 2001

       D. Inandiak, Elisabeth, Les chants de l’île à dormir debout, Le Rélié, 2002

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

       (Indonesia) Kompas Online:Serat Centhini, Sinkretisme Islam, dan Dunia Orang Jawa, Jumat, 4 Agustus 2000, Ulil Abshar-Abdalla, Ketua Lakpesdam-NU, Jakarta.

       (Indonesia) Informasi Serat Centhini

       (Indonesia) Banjarmasin Post CyberMedia:Kerinduan Hamba Kepada Ilahi, (Centhini – Ia Yang Memikul Raganya), Kamis, 20 Januari 2005, Laddy Lesmana dan Elizabeth D Inandiak, Galang Press, Cet. I, September 2005, Jakarta.

Catatan penanggalan[sunting | sunting sumber]

       Penanggalan yang diberikan dalam isi artikel ini sebagian besar adalah penanggalan tahun Saka Jawa, kecuali bila diberi keterangan lain. Lihat: Kalender Saka

 

Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi

Serat Centhini ditulis pada abad XIX oleh tiga orang abdi dalem Kasunanan Surakarta, yaitu: Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno dan Raden Ngabehi Sastradipura (Kyai Haji Ahmad Ilhar). Penulisan itu atas perintah putra mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III yang kemudian menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V (1820–1823).

Serat Centhini menceritakan perjalanan hidup Syaikh Among Raga, salah seorang keturunan Sunan Giri yang melarikan diri setelah Keraton Giri diserang dan diduduki oleh tentara Sultan Agung yang dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya. Syaikh Among Raga bersembunyi dan tinggal di satu pesantren ke pesantren lain sebagai santri kelana. Di situlah Syaikh Among Raga banyak mendapatkan pengajaran agama Islam, khususnya tentang kitab-kitab klasik (kitab kuning). Serat Centhini menyebutkan tidak kurang dari 20 nama kitab klasik, yang hingga kini mayoritasnya masih dikenal dan dipakai sebagai pegangan di pesantren.[1]

Baca selebihnya »

Berbagai kitab klasik itu sesuai isinya dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, kitab Akidah dan Tauhid, Kitab Tafsir, dan Kitab Tasawuf.[2]

 

Mengenai Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, Serat Centhini di antaranya menyebutkan Kitab Mukarar, Sujak, Kitab Ibnu Kajar, Ilah, Subkah, dan Kitab Sittin.[3] Kitab Mukarar tak lain adalah Kitab Al-Muharrar karya Muhammad ar–Rafi’i yang digunakan secara luas oleh penganut Mazhab Syafii. Kitab Mukarar pernah digubah kembali oleh Syarif an-Nawawi dengan judul Minhâj al–Thâlibin yang di Jawa dikenal dengan nama kitab Nawawi.[4] Kitab Sujak maksudnya adalah kitab Mukhtasar fî at-Târikh ’ala Madzhab al-Imâm asy-Syâfi’i karya Kadi (Qadhi) Abu Syuja’.

Kitab Ibnu Kajar menunjuk karya Ibn Hajar al-Haitsami yang berjudul Tuhfat al-Muhtâj. Kitab juga disebut Kitab Tuhpah dan banyak dijadikan pegangan oleh para kyai. Pada abad XVIII kitab ini sebagian sudah diterjemahkan dan dialihaksarakan dalam bahasa Jawa. [5]

Kitab Idah yang dimaksud adalah Kitab Idhâh fî al-Fiqh, sedangkan kitab Subakh kemungkinan menunjuk pada kitab Ash-Shuhabah fî al-Mawâ’izh wa al-Adab min Hadîts Rasûl Allâh karya Salama al-Khuda’i.

Adapun yang dimaksud Kitab Sittin adalah kitab As- Sittûn Mas’alah fî al-Fiqh karya Muhammad al-Zahid al-Mishri.[6]

Serat Centhini menyebut tidak kurang dari delapan kitab akidah dan tauhid. Yaitu:

  1. Kitab Semarakandi, menunjuk kitab Bayân ‘Aqîdah al-Ushûl karya Ibrahim as-Samarqandi.
  2. Kitab Durat yaitu Kitab Ad-Durrah karya Yusuf al-Sanusi al-Hassani.
  3. Kitab Talmisan – juga disebut Kitab Tilmisani– adalah karya Umar bin Ibrahim al-Tilmisani yang berisi komentar atas Kitab Durah.
  4. Kitab Asanusi, karya al-Sanusi yang juga merupakan komentar atas Kitab Durah.
  5. Kitab Sail, menunjuk pada Kitab Masâ’il karya Abu al-Laits as-Samarqandi. Kitab ini juga dikenal dengan nama Bayân’ Aqîdah al-Ushûl.
  6. Kitab Patakul Mubin yaitu kitab Fath al-Mubîn karya Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri.
  7. Kitab Tasdik menunjuk pada kitab Bayân at-Tasdîq.
  8. Kitab Juwahiru menunjuk pada Kitab Al-Jawâhir ats-Tsaniyah fî Syarh as-Sanusiyyah, ditulis oleh Abdullah as-Sughayir Suwaidan.

Serat Centhini juga menyebut kitab tafsir, seperti Tepsir Baelawi dan Tepsir Jalalen.[7]Tepsir Baelawi adalah kitab Anwâr at-Tamsîl wa Asrâr at-Ta’wîl karya Abdullah bin Umar al-Baidhawi, lebih dikenal sebagai Tafsîr al-Baydhâwî. Adapun Tepsir Jalalen menunjuk pada Tafsîr al-Jalâlayn karya Jalal ad-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuthi. Kedua kitab ini hingga sekarang sangat dikenal dan digunakan di pesantren.

Dalam bidang tasawuf Serat Centhini sering menyebut tiga kitab, yaitu: Kitab Ulumodin, Akhidah dan Insan Kamil.[8]

Kitab Ulumodin adalah kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali. Kitab Akhida tak lain adalah kitab Hidâyah al-Adhkiya karya Zain al-Din ‘Ali al-Malibari yang ditulis dalam bentuk sajak pada tahun 1509. Kedua kitab tasawuf ini mengajarkan tasawuf yang bersifat ortodoks, dalam arti tetap membedakan makhluk dan Pencipta serta lebih menekankan pada syariah.

Kitab Insan Kamil cukup dikenal di masyarakat Jawa karena ajarannya yang sesuai dengan kepercayaan Jawa asli, yaitu manunggaling kawulo lan gusti.

Banyaknya kitab klasik (Kitab Kuning) yang disebut dalam Serat Centhini itu tidak mengherankan, karena para penulisnya lulusan pesantren. Kyai Yasadipura I, belajar selama hampir tujuh tahun di pesantren Kedhu yang dipimpin Kyai Anggamaya.[9] Raden Ngabehi Sastradipura bahkan selepas pesantren melanjutkan pendidikan ke Makkah. Setelah kembali namanya menjadi Kyai Haji Ahmad Ilhar.[10]

Penyebutan kitab-kitab klasik di dalam Serat Centhini itu juga menunjukkan bahwa syariah (ajaran) islam banyak mewarnai kehidupan masyarakat jawa hingga ke keraton.

Hal itu misalnya tampak dalam nasihat Syaikh Among Raga kepada istrinya, Ken Tambang Raras. Ia mengatakan bahwa syariah bersama dengan tarekat merupakan wadhah (tempat) untuk menanam makrifat dan hakikat sebagai perwujudan wiji nugraha (benih anugerah). Benih harus ditanam di wadhah (tempat) yang baik. Jika ditanam di tempat yang jelek, maka akan menghasilkan sesuatu yang jelek pula. Syariah sebagai wadhah sekaligus dasar agama, dengan demikian, harus dipegang teguh dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Mencari kesempurnaan hidup (ilmu makrifat dan hakekat) tanpa didasari syariah yang kuat akan sangat membahayakan.[11]

Catatan kaki:

 

  1. Martin van Bruinessen, hlm. 148-166.
  2. Soebardi, “Santri Religious Elements as Reflected in the Book of Centhini”, dalam BKI, No. 127, 1971, hlm. 335-340.
  3. Serat Centhini Latin, Jilid 7 , alih aksara Kamajaya, (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1988), hlm. 335-340.
  4. Soebardi, op. cit., hlm. 336.
  5. Mengenai identifikasi berbagai kitab klasik dalam Serat Centhini dengan kitab aslinya yang berbahasa Arab, lihat Soebardi, op. cit., hlm. 335-340.
  6. Mengenai kitab tafsir, lihat Serat Centhini Latin Jilid 7 , op. cit., hlm. 120-122; dan Martin van Brunessen, op. cit., hlm. 158-159.
  7. Serat Centhini Latin, Jilid 6 , op. cit., hlm. 112.
  8. Mengenai riwayat hidup Kyai Yasadipura I, lihat R. Sasrasumarta, R. Sastrowaluyo, dan R. Ng. Joyosuroyo, Tus Pajang, (Surakarta: Budhi Utomo, 1939), hlm. 149-151.
  9. Soebardi, op. cit., hlm. 348.
  10. Lihat Serat Centhini Latin, Jilid 6 , op. cit., hlm. 60.

Sumber: hizbut-tahrir.or.id.

 

Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Mengenal Serat Centhini | Komentar Dimatikan

Posted on 20 November 2009 by Jayeng Resmi

Centhini adalah nama kumpulan serat-serat atau yang ditulis oleh sebuah tim, atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III. Penulisan kitab Centhini dimulai pada hari Sabtu Pahing 26 Sura 1742 Tahun Jawa atau 1814 Tahun Masehi. Apa saja isi serat tersebut?

Tim yang ditugaskan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III, diantaranya Raden Ngabehi Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara, red), abdidalem bupati pujangga kadipaten, Raden Ngabehi Sastradipura, abdidalem Kliwon carik kadipaten, dan Pangeran Jungut Mandurareja, pradikan krajan Wangga, Klaten Surakarta.

Baca selebihnya »

Selain itu masih ada nama lain yang ditunjuk, yaitu Kyai Kasan Besari, ngulama agung ing Gebangtinatar, Panaraga, menantu Sinuhun Paku Buwana IV, Kyai Mohamad Minhad, ngulama agung ing Surakarta, dan diketuai oleh Ki Ngabei Ranggasutrasna, abdidalem kliwon carik kadipaten.

Yang menjadi acuan tim dalam menulis, menyusun serat-serat tersebut adalah serat “Suluk Jatiswara” yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwono III tahun 1711 Jawa.

Sebenarnya kumpulan serat-serat tersebut diberi nama “Suluk Tambangraras” namun sosialisasinya lebih populer dengan sebutan serat Centhini . Nama Centhini diambil dari nama seseorang yang mengabdi kepada Niken Tambangraras istri Syeh Amongraga tokoh penting dalam serat tersebut.

Serat Centhini berisi berbagai macam pengetahuan, antara lain; kawruh agama, sastra, seks, situs, pawukon, primbon, keris, obat dan lain sebagainya. Karena isinya bermacam-macam, maka serat Centhini dianggap sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa.

Kepeduliannya untuk menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam serat-serat warisan adiluhung, telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Yayasan Centhini yang telah melatinkan teks Centhini berbahasa Jawa dalam tembang macapat dan menerbitkannya sebanyak 12 jilid.

Bagi masyarakat yang berminat mengenal dan memahami isi Serat Centhini , dapat mengikuti sarasehan dan macapatan setiap Selasa Pahing atau malam Rabu Pon yang digelar oleh paguyuban pelestari budaya Jawa, di Rumah Budaya Tembi, Jogjakarta.

Dalam serat Centhini Jilid 1 Pupuh 22 dengan tembang Mijil, dikisahkan, ketika perjalanan Raden Jayengresmi bersama kedua abdinya, Gathak dan Gathuk sampai di Tuban, di hutan Bagor, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara meriam menggelegar bagaikan gempa.

Bersamaan dengan suara tersebut, munculah seorang putri cantik yang mengaku bernama Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan. Menurut penuturannya, Kanjeng Ratu Mas Trengganawulan adalah putri Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir.

Ketika Majapahit runtuh ia melarikkan diri dan sampai di hutan Bagor wilayah Tuban. Di hutan tersebut Trengganawulan mendapat perintah dari Hyang Widdhi untuk merajai para makhluk halus. Setiap hari Sukra Manis Trenggana Wulan muncul di sendang Sugihwaras, tempat ia mandi, untuk menemui seseorang yang sedang menjalani laku tirakat.

Dalam pertemuannya dengan Kangjeng Ratu Trengganawulan, Raden Jayengresmi, menyatakan keprihatinannya, karena hingga kini belum dapat menemukan kedua adiknya yang bernama Raden Jayengsari dan Niken Rangcangkapti.

“Jangan kecewa Raden, bersabarlah, akan tiba saatnya engkau bertemu dengan ke dua adikmu. Nanti sewaktu engkau menjalani hukuman dibuang ke laut, di Tunjungbang, engkau akan bertemu dengan ke dua adikmu.” (Jilid 1 Pupuh 22 Pada 12 & 13).

Isyarat Burung Dhandhang

Selain meramal bertemunya Raden Jayengresmi dengan kedua adiknya, Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan menuturkan kaweruh alam kepada Raden Jayengresmi, kaweruh tersebut diantaranya:

  • Pertanda alam melalui suara Burung Dhandhang. Dhandhang adalah jenis burung, berwarna hitam, bentuknya mirip burung Gagak namun lebih kecil.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Timur ke Barat rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu seorang pandhita atau orang luhur.
  • Jika burung Dhandhang bersuara dari arah Timur ke Selatan rumah, itu pertanda baik, apa yang dikerjakan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Selatan rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Selatan Barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada pertengkaran merebutkan hal-hal sepele.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Barat rumah, itu pertanda baik, akan segera mendapat jodhoh.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara Barat rumah, itu pertanda jelek, akan menderita sakit dan kekecewaan yang mendalam.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara rumah, itu pertanda jelek, akan mendapat malu.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara Timur rumah, itu pertanda baik, akan kedatangan saudara jauh.
  • Jika burung Dhandhang bersuara, di atap rumah, itu pertanda jelek, akan ada anggota keluarga yang meninggal.

Isyarat Burung Prenjak

Masih dalam serat Centhini , pertanda alam bisa ditengarai berdasarkan suara burung Prenjak. Jika ada dua burung Prenjak berkicau bersautan di arah Selatan rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu bangsawan yang berkendak baik.

  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada tamu yang mengajak bertengkar.
  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Utara rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu seorang guru memberi wangsit yang baik dan suci
  • Jika ada burung Prenjak berkicau di arah Timur rumah, itu pertanda jelek, akan ada kebakaran.
  • Jika ada burung Prenjak berkicau mengitari rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki yang khalal.

Setelah menjelaskan pertanda burung Dhandhang dan Burung Prenjak, Kangjeng Ratu Mas Trengganawulan menggarisbawahi, bahwa sebenarnya kawruh tersebut merupakan tinggalan jaman dahulu, benar salahnya diserahkan pada kehendak Hyang Widdhi.

Pada awalnya alam memang bersahabat dengan manusia, ketika manusia menghargai alam karena merasakan hidupnya tergantung kepada alam. Sehingga melalui alam ada tanda-tanda yang sangat berguna bagi kehidupan. Apa yang dituliskan dalam Kitab Centhini memberi gambaran hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Namun apakah pertanda alam itu masih cocok jika diterapkan pada jaman sekarang. Tentunya tidak! Karena jaman sekarang, Kicau burung Prenjak yang merdu indah hanya memberi satu tanda, yaitu “uang.” Orang akan berebut menangkapnya untuk kemudian menjualnya. Demikian juga suara Burung Dhandhang yang semakin jarang, memberi pertanda bahwa ada yang sudah hilang dalam hidup ini, yaitu penghargaan akan hidup, penghargaan akan alam yang menghidupi. (*tmb)

Sumber: misterionline.com

 

Posted on 17 November 2009 by Jayeng Resmi

Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.

Baca selebihnya »

Banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji, dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini yang kaya akan data, fakta, dan analisa. Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar menyebut serat yang disusun atas prakarsa Sinuhun Paku Buwana V di Surakarta ini sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, telah menunjukkan para cendekiawan Jawa. Elit cendekiawan mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.

Kehadiran serat centhini pada kancah pustaka dunia itu, secara otomatis mengangkat harkat, martabat dan derajat jatidiri bangsa. Ternyata dientitas suatu bangsa hanya bisa ditampilkan lewat kreativitas dan produktivitas. Serat centhini sudah membuktikan kaitan antara prestise dan prestasi bangsa Indonesia. Buku Ensiklopedi serat Centhini ini bermaksud memberikan rangkuman atas data, falta dan analisa terpenting dari kitab tersebut. Kehadiran buku ini sungguh akan memudahkan pembaca dalam memahami isi kitab yang sangat tebal ini dalam waktu singkat , tepat dan akurat.

Keterangan Rinci:

Judul: Ensiklopedi Serat Centhini Penulis: Drs. Djoko Dwiyanto, M. Hum Thn Terbit: 2008 Bahasa: Indonesia ISBN: 1001071mhus Halaman: 821

 

Filed under: Buku Serat Centhini, Resensi Serat Centhini | Komentar Dimatikan

Posted on 13 November 2009 by Jayeng Resmi

Centhini begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjungannya sehingga akhirnya dia memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari Suluk, pulang ke zatnya yang sejati, ilahi.

Adalah seorang perempuan bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menguak satu lembar sastra Jawa yang tersembunyi dan hampir terlupakan ke dalam kancah dunia sastra Indonesia yang sedang sumringah dengan terbitnya berbagai jenis buku dan tulisan.

Baca selebihnya »

Dengan cerdasnya Elizabeth melakukan terobosan dengan menerjemahkan ribuan halaman naskah tembang Jawa tua yang sudah berusia lebih dari 2 abad ke dalam tulisan Latin yang hampir pasti akan menyalahi pakem tembang dalam sejarah penulisan sastra Jawa yang kental dengan penafsiran akan Suluk atau Nyanyian atau ajaran yang dinyanyikan secara sacral dalam ritual-ritual kebudayaan Jawa. Elizabeth juga melakukan interpretasi terhadap berbagai penokohan dan dialog dalam tembang tersebut untuk membuatnya lebih dinamis di dalam buku, hal ihwalnya Suluk ini bukanlah untuk dibaca tapi didengarkan dalam tembang. Seperti di tulis Elizabeth di prakata atau penjelasan awal dalam buku “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (hal.9), Dalam sastra Jawa kuno, suara merasuki penyair bagai suatu wahyu yang datang lebih dulu, baru kemudian lahirlah irama dan ragam menemani si pujangga memasuki kata-kata satu per satu. Penyesuaian antara irama, macapat dan gema kata-kata itulah yang menciptakan makna suluk dan keindahannya. Di dalam syair-syair cabul, kekotoran kata dihalau terbang oleh keanggunan tembangnya.Justru perpaduan antara Lumpur dan emas itulah yang membentuk watak dan sosok yang luar biasa serta khas Serat Centhini .

Keseluruhan terjemahan Inandiak dari disertasinya tentang Serat Centhini yang sudah diterbitkan Bahasa Indonesia adalah 4 buku, Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Minggatnya Cebolang, Ia Yang Memikul Raganya dan Nafsu Terakhir.

Mengapa Serat Centhini

Dalam banyak kehidupan manusia, kita mengenal ajaran nyanyian atau tembang atau bahkan berbalas pantun, dimana isi dari ungkapan-ungkapan di dalamnya mengajarkan perumpamaan untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit ajaran-ajaran agama juga memiliki tembangnya sendiri, seperti dalam agama Kristiani, di dalam Kitab Suci ada bagian disebutkan sebagai mazmur, atau puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya juga bisa kita tangkap beberapa kata yang menggambarkan hubungan harmonis antara makhluk hidup yang ada di bumi ini, sebagai penghormatan kepada Sang Penciptanya.

Serat Centhini atau dalam judul aslinya Suluk Tembangraras , adalah salah satu hasil karya sastra Jawa Kuno, dikabarkan disusun pada 1809 Masehi, atas perintah putera mahkota Kesultanan Surakarta Hadiningrat di Pulau Jawa kepada tiga pujangganya Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura untuk menyusun suatu cerita (Jawa) kuno yang merangkum segala ilmu dan ngelmu Jawa bahkan hingga seni hidup, agar pendengarnya hanyut dalam kesadaran tak berakal. (Tembang 1). Maka pergilah tiga punjangga ini ke penjuru tanah Jawa bahkan sampai ke bagian Barat (sampai ke Mekah) untuk menghimpun segala kearifan dan penyimpangan di kalangan petapa, peramal, empu dan pandai besi dll. Kisah intinya berkisar tentang perjalanan Jayengresmi atau lebih dikenal sebagai Syekh Amongraga putra Sunan Giri yang termasyhur sebagai manusia unggul, aulia mujedub. Tokoh Jayengresmi atau Amongraga mewakili berbagai sisi perilaku dan watak manusia, yang di satu sisi penuh kekuatiran, kecemasan dan keingintahuan. Tetapi di sisi lain memiliki kekuatan, kemampuan berpikir, mencintai, menghamba pada Tuhannya, bahkan juga mencoba mencapai kesempurnaan sebagai manusia yang mengalahkan nafsunya sendiri.

Yang berkeliaran di antara tembang

Di awal buku, kita melihat keliaran keajaiban pada tembang 2 sampai tembang 5, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam.

Menarik melihat latarbelakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah dewa Siwa (Budha). Dituliskan di berbagai bagian tembang mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam tembang-tembang di Serat Centhini , terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ngelmu Jawa Kuno.

Selanjutnya tercerita mengarah tentang Gajah Mada menyerang daerah kekuasaan Sunan Giri dan menghancurkan “kerajaannya” termasuk murid-muridnya. Sunan Giri yang murka mengeluarkan kekuatan gaibnya dan mengusir prajurit Gajah Mada dari tanahnya.Ketika Sunan Giri wafat dan diganti cucunya, kerajaan Majapahit balik menyerang dan berhasil menghancurkan kekuasaan Giri. Sunan Giri muda lari dan malah terlindungi oleh lebah ajaib yang menghancurkan prajurit dan kerajaan Majapahit.

Masuk ke tembang ketujuh, kita melihat bagaimana Sultan Agung yang dulu sangat berkuasa itu, yang dipercaya memiliki dua Kerajaan, di bumi (Jawa) dan di laut Selatan (penguasa Lautan bersama Ratunya Ratu Kidul). Sultan Agung sangat ingin menguasai Kekhalifan Giri (yang dikuasai keluarga Sunan Giri muda, keturunan Sunan Giri) walaupun pada saat bersamaan sudah terjadi pertalian kekeluargaan karena pernikahan. Peperangan tidak bisa dihindari lagi, sehingga jelaslah, Keluarga Sunan Giri dalam mara bahaya karena penumpasan yang dilakukan Sultan Agung. Putera sulung Sunan Giri, yaitu Jayengresmi terpisah dari kedua adiknya dalam pertempuran hebat yang melanda kerajaannya. Dikisahkan betapa Jayengresmi tidak mengerti awalnya atas keputusan perang yang dipilih ayahandanya, tetapi memilih mematuhi dan menjalan titah sebagai anak yang patuh dan setia.

Digambarkan bagaimana hubungan antara orang tua dan anaknya sebagai suatu keharusan untuk mematuhi karena berbagai keputusan penting keluarga layaknya menjadi perintah tetap atau menjadi ketetapan yang absolute, layaknya suatu kebijakan yang dibuat suatu Negara, apapun itu konsekuensinya.

Cinta yang penuh makna

Dalam pelariannya dan pencarian adik-adiknya Jayengresmi yang merubah namanya menjadi Amongraga dihadapkan pada pencarian akan dirinya sendiri. Terlibat dalam ajaran agama Islam yang taat dan cukup ketat. Perjalanan Jayengresmi dalam buku Elizabeth terbagi lagi dalam buku lainnya yaitu Ia Yang Memikul Raganya dan juga Nafsu Terakhir, yang dianggap paling eksplisit mengungkapkan relasi hubungan seksual jaman Jawa kuno. Uniknya, keseluruhan deskripsi tentang perilaku seksual di jaman dahulu sama sekali tidak memiliki tedeng aling-aling terhadap perilaku seksual yang dianggap “menyimpang” bahkan ungkapan gamblang tentang hubungan seks antar sesama jenis dan hubungan seks dengan Perempuan muda di bawah umur.

Singkatnya, dalam buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Amongraga jatuh cinta dan bertemu dengan seorang Perempuan cantik bernama Tembangraras (atau Ken Tembangraras) putri seorang Kyai pesantren, Ki Panurta di suatu tempat bernama pondok Wanamarta. Di tempat ini Amongraga banyak bersemedi dan mendekatkan diri pada Tuhan. Setelah menikahi Tembangraras, yang selalu diikuti pembantu setianya Centhini, Amongraga memilih untuk mengenal istrinya dengan lebih baik selama empat puluh malam lebih dan menyiraminya dengan hujan kata-kata rohani bagi peningkatan diri sang istri dan juga kebersamaan yang romantis. Amongraga tidak menyentuh istrinya tetapi nurani dan akal pikirannya dengan berbagai tembang berisikan filosofi hidup yang penuh interpretasi.

Sampai di sini, buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, kalau boleh saya bilang bisa disandingkan dengan The Prophet miliknya Khalil Gibran. Dari tembang 71 sampai 111, penuh dengan filosofi kehidupan yang begitu dalam dan bagaimana memandang hidup dengan berbeda. Mengapa Amongraga melakukan ini kepada sang istri?

Amongraga mengatakan di awalnya bahwa “Namun hatimu sudah dalam hatiku dan hatiku dalam hatimu, kau dengarkah keduanya berdebar-debar gugup karena asmara ? Padahal kegugupan adalah halangan sanggama.”

Bait ini dirasakan begitu menyentuh, ketika sepasang kekasih yang gelisah menanti malam pertama, malahan harus menahan diri dari luapan gairah dan seluruh reaksi kimiawi dirinya untuk merasakan tubuh satu sama lain layaknya pengantin baru. Suatu ujian atas nafsu birahi dan pengakuan terhadap penghormatan akan satu sama lain. Amongraga merasakan bahwa mencintai dan mengenali pasangan bukan hanya dari persetubuhan tetapi dari suatu hal yang lebih mendalam. Suatu filosofi kehidupan yang sebenarnya sudah kurang banyak diterapkan dalam kehidupan manusia modern. Sastra Jawa membuktikan bahwa makna cinta dulu selayaknya punya interpretasi lain, bukan hanya kebersamaan fisik dan gairah asmara .

Lanjutnya Amongraga juga mengatakan, Jika kau tidak keberatan Dinda, dan dengan rahmat Allah, mulai malam ini berdua kita akan berlayar dalam diam, menentramkan nafas satu dalam lainnya, dan agar kau jadi buritan dan aku haluan. Awalnya pelayaran ini akan terasa kejam penuh larangan sebab ancaman karam sangat besar, kita akan dibawa selama empat puluh malam mengarungi tujuh lautan, silih berganti.

Kata-kata Amongraga yang bijak tentang kebersamaan sepasang suami istri, untuk saling memahami dan saling mengerti atau sepakat dalam kata, belajar bersama melewati berbagai badai yang akan dirasakan dan juga mencoba berdamai satu sama lain selama 40 hari masa perkenalan mereka. Suatu yang romantis juga unik. Bukankah jaman sekarang kecenderungan cinta tanpa eros seperti ini sudah tidak ada lagi.

Bandingkan kata-kata cinta Amongraga dengan Khalil Gibran dalam the Prophet:

Love possesses not nor would it be possessed; For love is sufficient unto love. When you love you should not say, “God is in my heart,” but rather, I am in the heart of God.” And think not you can direct the course of love, if it finds you worthy, directs your course. Love has no other desire but to fulfil itself. But if you love and must needs have desires, let these be your desires:

Amongraga mengatakan, dengan rahmat Allah kita berlayar dalam diam, sementara Gibran mengatakan, ketika kau mencintai janganlah berkata,”Tuhan ada dalam hatiku” tapi yang benar adalah, “Aku bertahta dalam hati Tuhan. Jangan berpikir kamu bisa mengarahkan cinta, tapi bila memang kau dianggap layak, ia akan mengarahkan layarmu”. Betapa begitu bersinggungannya kedua tembang tersebut. Keduanya menceritakan bahwa cinta tidak lepas dari rahmat dan titipan yang Maaha Kuasa atau sang Pencipta. Hanya dengan berserah diri pada Tuhan maka cinta itu bisa ada dan bisa hidup.

Di tembang lainnya, Amongraga mengajak Tembangraras mengenal dasar pilar kehidupan tentang hukum, hakekat dan ilmu pengetahuan. Katanya: Hukum adalah tanah, sedangkan Hakekat dan Ilmu adalah benih. Bila benih itu jatuh di tanah gersang, ia hanya menghasilkan semak belukar. Oleh karenanya pengetahuannya mengenai hokum haruslah kuat sebelum kamu menjelajahi jalan menuju ke Hakikat dan Ilmu.

Amongraga mengajarkan istrinya, sebagai perempuan untuk mengetahui dasar hukum tempat berpijak dan mencari hakikat dan ilmu pengetahuan. Suatu prinsip yang cukup mengagumkan, apalagi berkaitan dengan pengembangan pengetahuan dan falsafah hidup bagi perempuan sebagai pribadi mandiri.

Secara ringkas dalam tembang lainnya, Amongraga mengajarkan istrinya dengan berbagai ajaran islam, termasuk tentang sholat, nabi Muhammad, juga posisi manusia sebagai hamba Allah, bagaimana dunia diwujudkan/penciptaan, empat unsur duniawi yang mengandung zat Allah, bahkan juga tentang senggama dan berbagai hal lainnya dengan berbagai perumpamaan atau filosofi kehidupan dan nafas islami. Hampir mirip dalam the Prophet (Khalil Gibran) dimana masing-masing segmen juga membicarakan berbagai hal terbagi dalam beberapa segmen tentang cinta, pernikahan, anak-anak, tentang kerja, tentang kebahagiaan dan kepedihan dan lainnya.

Yang menarik dari semua perakapan Amongraga dan Tembangraras dalam kelambu tempat tidur mereka selalu didengarkan oleh sang pembantu atau emban, Centhini yang dengan setia melupakan keberadaan dirinya dan selalu siap sebagai hamba duduk menunggu tidak jauh dari pelaminan. Tanpa disadari awalnya oleh Amongraga, dalam saat bersama ia telah memberikan pengetahuan kepada dua perempuan yang paling dekat dalam hidupnya pada saat bersamaan. Tentunya ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa tembang ini begitu terkenal dengan nama Serat Centhini , nama seorang hamba sahaja perempuan. Dalam buku, “Nafsu Terakhir” digambarkan Centhini memiliki kekuatan supranatural dan berhasil membela sang majikannya dari mara bahaya laki-laki hidung belang. Sebegitu dasyatnya Centhini sehingga keberadaannya sampai akhir hayatnya tidak disadari siapapun tetapi ia telah melebur dalam pekerjaannya tanpa pamrih apapun. Centhini hilang dari muka bumi dan tidak ditemukan siapapun. Kepercayaan ini juga masih dianut oleh ajaran Buddha dimana manusia yang bisa melampaui keduniawian bisa menghilang dan sampai ketingkat yang lebih tinggi.

Melihat ketabahan dan kesabaran Amongraga dan Tembangraras, saya melihat ada suatu pesan utama dalam Serat Centhini di buku ini, yaitu mengenai arti cinta dan pernikahan dalam kehidupan manusia. Manusia hidup dalam satu proses yang berputar atau siklus dimana mencintai dan dicintai adalah hal yang silih berganti. Ketika bayi manusia dirawat dan dicintai, ketika dewasa merawat dan mencintai tetapi juga bisa dicintai dan dirawat sebagai suatu “lingkaran penuh” kehidupan. Apa sebenarnya yang dinanti manusia selain penemuan akan cinta sejati, kehidupan, kebahagiaan dan kematian? Apakah kematian dan kebahagiaan bisa berjalan bersama? Semuanya hanya ada di dalam hati manusia masing-masing. Nilai-nilai ini telah coba ditawarkan oleh Serat Centhini . Selanjutnya memang kembali kepada kita semua masing-masing untuk mencari dirinya dan cinta sejatinya.

Saya menutup dengan ungkapan Amongraga di bagian akhir:

Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahaan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”

Olin Monteiro, Cibubur, 6 Februari 2007 Sumber: olinmonteiro.multiply.com.

 

Filed under: Apresiasi Serat Centhini, Buku Serat Centhini, Elizabeth Inandiak, Resensi Serat Centhini | Komentar

serst

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s