KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1900 AWAL ABAD KEDUAPULUH SAMBUNGAN

  • Today

    464 viewers

  • Best ever

    3.2723 viewers

  • All time

    838,910views1,902comments

INI CONTOH CD Dr IWAN ,BELUM DIEDIT TANPA ILUSTRASI ,BILA MAU YANG LENGKAP RAPI DENGAN ILUSTRASI SILAHKAN MEMESAN LIWAT EMAIL

iwansuwandy@gmail.com,sayaratnya

ANDA HARUSP MENGUPLOAD KOPI KTP DAN ALAMAT RUMAH YANG LENGKAP

HARGA TIGA CD SEKARANG MENINGKAT KARENA KURS RUPIAH MELEMAH JADI TIGA JUTA RUPIAH,PESAN HANYA SEPULUH CD DIBUAT ,DAN DIPERKIRAKAN SELESAI BULAN JANUARI 2015,HARGANYA AKAN NAIK JADI LIMA JUTA RUPIAH.

BELAJARLAH DARI SEJARAH ,AMBIL YANG BAIK JADI PELARAN BAGI MENYUSUN STRATEGI MASA DEPAN DAN JANGN DIULANG-ULANG KESLAHAN MASA DEPAN ITULAH MOTTO HIDUP SAYA DAN TENTU ANDA JUGA

CONTOH SAMPAI DISINI,SAYA TAKUT NANTI ADA YANG MEMBAJAK,HARAP ANDA MENGHARGAI HAK CIPTA SAYA,DENGAN MEMINTA IZIN BILA MAU MENGUNAKANNYA,TENTU DENGAN  BIAYA REPRO TERIMA KASIH

1902

By 1902 the STOVIA had expanded to a six-year course to train two hundred native students as doctors,

September 1902

Nafas Kehidupan telah dihembuskan kedalam Usaha Negara untuk menjalankan Kebijkasaan Baru (Politik Etis) , ketika dalam bulan September 1902

A.W.F. Idenberg memulai pos Menteri Urusan Jajahan yang telah kosong  selama meninggalnya

 T.A.J. van Asch van Wijk.

 

 

Idenberg ,seorang opsir militer baru saja kembali ke Timur,menunjukkan dirinya sebagai seorang yang tangguh dari Partai Kristen, tetapi telah mengabil sikap yang Moderat terhadap perluasan usaga Missi di Tanah Jajahan ini.

Ia menghadapi masalah yang sulit , kegagalan hasil panen dan bahaya kelaparan di berbagai Wilayah di Jawa memerlukan tindakan secepatnya dan dalam menghadapi masalah-masalah ini tiada lain  daripada mendapat pujian . Pemerapan konsep-konsep ini merupakan suatu prosedur yang lambat.

Hindia memerlukan  Uang akan tetapi banyak anggota Legislatif yang secara prinsip tidak setuju terhadap suatu hutang budi ,lebihbaik meminjam uang tanpa bunga .

Untuk segi-segi keuangan dan moral daripada kebijaksanaan  baru ini , pidato-pidato dan tulisan-tulisan  van Deventer menjadi suatu kekuatan kekuatan pengerak yang ampuh. Ia sanggup mempopulerkan dan meningkatan pikiran dn konsep-konsepnya sendiri begitu pula dari tokoh lain yang mempunyai maksud baik, dengan demikian menciptakan suatu semangat  dan peranan untukmenjalankan misi yang menyebarkan kebijaksanaan yang baru itu.

Dengan maksud baik van Deventer telah dijuluki “ Bapak Pegerakan Etis” .Dia menempatkan Kesejahteraan Penduduk Asli diatas segala-galanya dan seorang penentang kemiskinan di Jawa yang paling gigih yang menyerang praktek-praktek pemerasan yang dilakukan Cultuur Stelsel  dan Tanam Paksa Tebu

(Robert,58)

Catatan Dr Iwan

Pendapat Robert van Niel ini benar,memang ilmu politik dan strateginya sangat penting dipelajari agar dapat diterapkan dimasa depan,benar juga nama Van Deventer digubnakan oleh sekolah Rekam medis di Bandung, walaupun bangsa belanda telah menjajah kita hamper tiga ratus tahun khususnya pulau jawa,Sumatra tidak begitu lama hanay hamper seratus tahun saja, walaupun bangsa belanda telah berbuat curang dan kejam kepada bangsa Indonesia, tapi untung masih ada Van Deventer dengan politik ewtisnya telah membawa kemakmuran,kepandaian,dan kemajuan seni kebudayaan di Indonesia, seperti juga dengan Jendral Toyo dari jepang,

 

Para pemimpin PRRI termasuk Prof Sumitro ayahnya Prabowo dan mertuanya Pak Harto perlu diberikan penghargaan sehingga kita bisa mengenjam situasi pada saat ini,mereka perlu diberikan gelar Pahlawan Nasional,malah juga Pahlawan Dunia,tanpa ada mereka situasi duia tidak seperti ini,jepang dan pak harto kejam,koruptor tetapi mereka telah membangun dunia,dan khususnya Indonesia, Presiden Jokowi ayo segera memberikan gelar pahlawan kepad Pak Harto dan Prof sumitro,mari kita maafkan mereka,kenanglah sisi yang positif dari merekambegitulah sifatbangsa yang beradat

 

1902

Dutch Indies NVPH 40-47 MNH

1902 – 09 Cijferserie Vürtheim

Prachtige schaarse postfrisse (MNH) serie

Cat. waarde (value) NVPH 200,00++

Dutch Indies NVPH 40a-49a MNH

1902 – 09  – Cijferserie Vürtheim met loslatende kleuren!! – be carefull , us no water to save the colour of the stamp!!!

Prachtige schaarse postfrisse (MNH) serie

Cat. waarde (value) NVPH 300,00++

 

 

Dutch Indies NVPH 40-59 MNH

1902 – 09 Cijferserie Vürtheim + Koningin Wilhelmina

Prachtige schaarse postfrisse (MNH) serie met de hoge waarden + fotocertificaat C Muis – zeer schaars!!!!!

Cat. waarde (value) NVPH 1567,50++

  1. 12 1/2 c. Grey stationery envelope used to SOERABAJA franked by strip of three and single 2 1/2 c. on 3 c. violet all tied SOERABAJA squared circle datestamps. SG 119.

 

  1. Padang – Switzerland. Fwded with New franking. 5c stat card + 3x 2 1/2 adtls. Cancelled blue SOLOK box cds. VF scarce doble fkd forwarded mail.[

 

7 January 1902

 

With the treaty signed the Empress Dowager Cixi returned to Peking from her “tour of inspection” on 7 January 1902 and the rule of the Qing dynasty over China was restored, albeit much weakened by the defeat it had suffered in the Boxer Rebellion and by the indemnity and stipulations of the peace treaty.[33]

 

Tonghoa Sintang Kalimantan Barat 1902

 

Sebagai pengganti Lok Jiu Jin mengurus urusan orang-orang Cina- Tiong Hua di Sintang di angkatlah saudara kandungnya yang bernama Kwee Jiu Hai

 

 

 

 KWE JIU HAI Alias KOK JIU HOI ( Alias KWEE AHAY) dengan Surat S.P. Tuan Resident Pontianak tertanggal 5 Agustus 1901 menjadi KAPITAN DER CHINEEZEN di Sintang untuk mengatur urusan Orang-orang Tiong Hoa yang ada di Sintang.

 

Dalam Masa yang cukup lama 35 (tiga puluh lima) tahun Kapitan Kwee Jiu Hoi dukungannya dalam membantu pemerintahan kerajaan Sintang mengatur urusan Orang-orang Golongan Cina- Tiong Hoa, terutama pada masa Kekuasaan Wakil Penembahan ADE MUHD. DJOEN yang berkuasa pada tahun 1913 M  S/D 1934 M.

 

 

Xi (Tzu) Xi  returned in 1902 and belatedly tried to install the reforms she had once opposed

 

1902

Since 1902
School of Medicine is a candidate for the written entrance examination.

Following Marie’s work, he moved to Batavia far. Maybe he found shelter with relatives or people from the Minahasa, its birthplace.

At school she was the only girl among the approximately 180 boys and two years later a fellow student, Anna Warouw, even from the Minahasa registered.

Sejak 1902  Sekolah Kedokteran adalah calon untuk ujian masuk tertulis.  Setelah Marie ini berhasil, ia pindah ke Batavia jauh. Mungkin dia menemukan tempat tinggal dengan kerabat atau orang-orang dari Minahasa, tempat kelahirannya.

 

Di sekolah dia adalah satu-satunya gadis di antara sekitar 180 anak laki-laki dan dua tahun kemudian sesama mahasiswa, Anna Warouw, bahkan dari Minahasa terdaftar.

 1903

Pada tahun 1903 seorang fotografer terkenl Joh.F.Snellenman, mengarangbuku tentang pengalamannya mengunjungi daerah Oceana,termausk Indonesia, masri kita lihat bagaimana situasi dan figure orang Indonesia saat itu,mohon maaf bila ada foto yang kurang berkenan bagi anda,info foto karya seni,,mari kita lihat info yang menarik dibawah ini

(Dr Iwan)

 

Asia

Nusantara

 

Selain Dari Papua Barat mengatakan prasasti harus membaca lebih lanjut karena pulau ini dengan sifat warganya telah dibahas di Melanesia. Pengenalan Belanda dengan dunia pulau ini berusia lebih dari tiga abad. Untuk itu di Juni 1596 bahwa kapal-kapal dari “perusahaan keji” oleh sembilan burgher kandang pendapatan rakyat umum untuk Amsterdam. didirikan di pulau Engano barat Sumatera, di jangkar datang setelah perjalanan kal empat belas bulan.

Ada berbagai besar dalam penampilan menghindari lebih banyak pulau dengan kepulauan India timur. Bagaimana orang Papua melihat kita lihat, di atas tions dapat Melayu memanggil .which juga dikenal panggilan Indonesia .laatstgenoemden memiliki gelombang halus atau cahaya rambut, coklat muda atau kulit kuning, papan, hidung kadang coneaven, berlian berorientasi dan bertubuh kecil dan menengah atau berkepala panjang, bagi mereka jumlah satu setengah panjang, untuk mereka yang menghitung satu Battaks yang Koeboes dan beberapa suku kecil lainnya di Sumatera, Niassers dan penduduk pulau-pulau selatan dari Nias, Tenggereezen dan Badoej di Jawa dan Sulawesi, yang Moluken, Lesser Sunda, Dayak di Kalimantan, Sulawesi Alfuros dari Maluku dan Sunda kecil.

Sampai Melayu, yaitu kekaguman banyak pendengar pantai Sumatera dan Kalimantan, dataran tinggi Padang dan kelompok Riau, juga Rejang, Pasemah dari Kerinci. Aceh dan Pidie. Orang Jawa, Sunda dan Madura,Palembang, Lampung,makasar, Bugis,maleyu Maluku, Bali di Pulau bali dan Lombok.

 

 

Foto Sepuluh twanita di Cikajang

 

Foto dua wanita Jawa

 

Foto Wanita Sulwesi sleatan

 

Fotok anak-anak Sulawesi

 

Foto Tentara sultan Jawa

 

 

 

 

 Foto orang Papua (negrito)

 

Lelaki

 

Perempuan

 

Foto wanita Melayu

Foto Lelaki Melayu

 

 

Di usantara juga aka orang Hindu,Arab, Tionghoa, Negro,Eropa,

 

 

Sumber

De Volken  der aarde By Joh.F.Snellemen,Amsterdam, 1903

 

Catatan Dr Iwan

Mohon maaf jika terjemahan ini kurang tepat.Foto-foto ini sangat langka ditemukan saat ini,saya sudah coba mencari info di internet bukunya ada dan  harga 55 euro dengan ongkos kirim yang cukup mahal 34 euro(total harga  lebih satu juta rupiah) tetapi ini tidak diketahui edisinya,milik Saya edisi pertama ditemukan di Solo.

De Volken der Aarde- Joh. F. Snelleman deel 1 en 2. 1e dr. 1903. Met meer dan 800 afbeeldingen per deel. Boeken zijn in een goede staat.

Source

.marktplaats

1903

Kala itu barang-barang yang dijual masih berupa kelontong, bukan sepatu atau tekstil seperti sekarang ini.

Baru pada tahun 1903,

Tio Thek Hong mendirikan toko di pojok kanan jalan perempatan gang Kelinci dan Pasar Baru.

Area ini menjual barang-barang anyar dari Eropa dan Amerika. Di toko ini pembeli juga tak harus menawar karena harganya pasti. Berkat Tio Tek Hong pula area ini naik daun.

Pasar baru dikenal sebagai daerah elit karena berada dekat dengan kawasan rijswijk(jalan Veteran) yaitu kawasan khusus dimana orang-orang kaya tinggal. kalau kawasanrijswijk didominasi oleh bangunan perkantoran dan tempat tinggal, maka kawasan ini adalah tempat untuk rekreasi dan belanja mereka. Namun, kini pasar baru pamornya mulai memudar. Hal ini karena menjamurnya pasar-pasar raksasa yang lebih modern seperti hypermart dan mall-mall.

– Kawasan Meester Cornelis Senen -Jatinegara

Pada masa penjajahan Belanda, Jatinegara merupakan pusat dari kabupaten yang dikenal sebagai Meester Cornelis. Kabupaten Jatinegara saat itu meliputi Bekasi, Cikarang, Matraman dan kebayoran.

 

 

 

1903

De pretendent-sultan van Atjeh, Mohamad Dawot (langste Atjeher), biedt met zijn zoon te Koetaradja zijn onderwerping aan het Nederlandse gouvernement aan, vertegenwoordigd door de gouverneur van Atjeh, luitenant-generaal J.B. van Heutsz (rechts van het portret van de koningin), vergezeld door onder meer zijn adjudant kapitein H. Colijn (pal voor het portret) en (bloothoofds op de rug gezien tegenover Colijn) majoor K. van der Maaten

Sultan M. Dawud

akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

1903

Teukoe Moehamat Dawot, pretendent-sultan van Atjeh, te Koetaradja in1903

Vermeulen, W.J.F., Morbeck, J.H., Moehamat Dawot, Teukoe, Maaten, K. van der

 

Toeankoe Ibrahim (midden), zoon van de laatste sultan van Atjeh, Teukoe Moehamad Dawot, te Koetaradja

 

Sultan Aceh

Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.

Tradisi kesultanan

Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh

Sumber wiki

1903

Isteri  Panglima Polim in 1903

 

1903

 

Interior rumah Majoor Sigli, pengusaha sipi Pidie Aceh tahun 1903

 

Voorgalerij van de woning van majoor K. van der Maaten te Sigli, civiel gezaghebber van de onderafdeling Pidië in 1903

1903


After 30 years of endless warfare without prospect of winning, Acehnese guerilla leaders started to surrender.

Setelah bergrilja selama tiga puluh tahun tanpa ada propek kemenangan, pemimpin Grilya Aceh menyerah

On 5 January 1903,

Sultan Mohammad Daoed, now 33 years old, surrendered in Sigli after living in the jungle for 30 years!


Sultan Mohammad Daoed swore oath of loyalty to the portrait of Queen Wilhelmina in Atjeh governor’s office on February 1903.

 

On the 24th January 1903

Colijn overtook the Lieutenant Christopher shelter of the great resistance leader, with books, letters and preciosa fell into our hands. Polem escaped narrowly.

 

 

On the night of 21 to 22 May of the same year

were Major Van der Maaten, Polem’s mother, his wives, Potjoet Boeleuën and some relatives in our hands.

 

In June d.a.v.

Colijn captain knew the hands on Polem’s first wife, Tengkoe Ra’ana.
Thereafter him some heavy losses inflicted so he finally the 6th of September 1903 the head in the lap and put himself, his intention already expressed before the execution, with 150 followers Lho * Seumawe came register


Colijn was de man die “
een beslissende slag toebracht aan het Atjehse verzet“, in huidig Nederlands: Colijn nam de familie van Panglima Polem in gijzeling en dwong hierdoor Panglima Polem zich over te geven. Tegenwoordig zouden we dit een afkeuringswaardige methode vinden die absoluut niet meer getolereerd zou worden volgens het VN tribunaal in Scheveningen………

Wat citaten uit mijn Tjoetnjadin pagina over de Atjehse Nationale Helden tijdens de Nederlandse agressie oorlog tegen Atjeh:

Nu werden alle krachten geconcentreerd op het arresteeren van Polem.
Den 24sten Januari 1903 overviel de Onderluitenant Christoffel een schuilplaats van den grooten verzetsleider, waarbij boeken, brieven en preciosa in onze handen vielen. Polem ontkwam op het nippertje.

 

In den nacht van 21 op 22 Mei

van hetzelfde jaar vielen Majoor Van der Maaten, Polem’s moeder, een zijner vrouwen, Potjoet Boeleuën en eenige familieleden in onze handen.
In Juni d.a.v. wist kapitein Colijn de hand te leggen op Polem’s eerste echtgenoote, Tengkoe Ra’ana.

 

Daarna werden hem nog eenige zware verliezen toegebrachte zoodat hij eindelijk den 6den September 1903

het hoofd in de schoot legde en zich, aan zijn reeds te voren geuit voornemen gevolg gevend, met 150 volgelingen te Lho* Seumawé kwam melden.

Panglima Polem zit links van Colijn

Panglima Polem is left of Colijn



Sultan Mohammad Daoed on January 1903

after his surrender in Sigli, Pidie. He abdicate from the throne, and acknowledged the suzerainity of Queen Wilhelmina over his former sultanate of Atjeh.



Panglima Polim Sri Moeda Perkasa Shah (centre), who had fought the Dutch in Koetaradja since 1873 and was a guerilla leader in Lhokseumawe area, surrendered to the Dutch Kapitein Hendricus Colijn (third from right) in Lhokseumawe in 6 September 1903, together with 150 of his men

 

 

1903

 

tahun 1903, seorang tokoh reformasi dan intelektual di zaman dinasti terakhir Qing bernama

KANG YU WEI,

karena kegagalan gerakan reformasinya, terpaksa meninggalkan Tiongkok dan tiba di Batavia.

 

 Pada tanggal 20 September 1903,

 

KANG YU WEI berkunjung ke Sekolah PA HOA, bertemu serta berfoto bersama dengan pimpinan dan siswa sekolah. Beliau kemudian melanjutkan lawatannya ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tempat lain sambil mendorong dan menginspirasi pendirian sekolah Tiong Hoa dengan sistem pendidikan modern

Di Jawa Timur, pada waktu itu Sekolah THHK yang pertama berdiri adalah di Pasuruan, kemudian menyusul Malang, Surabaya, Tulungagung, Kediri, Tuban, baru kemudian menyusul Mojokerto memiliki Sekolah THHK.

 Perlu diketahui ketika Sekolah THHK di Pasuruan didirikan pada tahun 1903, seorang pemimpin pemberontakan di Tiongkok bernama

 Kang Yu Wei

sempat mendarat di pelabuhan Pasuruan dan menyebarkan semangat nasionalisme Tiongkok dan membawa

1903

Dutch Indies NVPH 48-57 MNH

1903 – 09 Koningin Wilhelmina

Prachtige postfrisse (MNH) complete serie

Cat. waarde (value) NVPH € 767,50

 

 

Dutch Indies NVPH 56 MNH

1903 -1909    Koningin Wilhelmina – Veth

Prachtige postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH €  225,00

 

Dutch Indies NVPH 58 A MNH

1903 -1909   Koningin Wilhelmina – Veth – zegel – Type A

Prachtige postfrisse (MNH) zegel –

Cat. waarde (value) NVPH € 300,00++++

Dutch Indies NVPH 59 D

1903 -1909 Koningin Wilhelmina – Veth – D – lijntanding 11

Prachtige postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH 300,00++

 

Dutch Indies NVPH 58 B – 59 C MNH

1903 -1909   Koningin Wilhelmina – Veth – 58 B – 59 C Prachtige postfrisse (MNH) zegels + fotocertificaat C. Muis

Cat. waarde (value) NVPH € 600,00

Dutch Indies NVPH 59 D MNH

1903 -1909 Koningin Wilhelmina – Veth – D – lijntanding 11

Prachtige postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH 300,00++

  1. 12 1/2 c. Optd stationery envelope used to ST GALLEN with additional 1900 15 c., 20 c. with 1902 2 1/2 c. on 3 c., all tied MENADO squared circle datestamps with WELTVREDEN transit on reverse of colourful cover. SG 113, 114, 119.

Unusual 1903. Soerabaja – DWI, fwded USA. Fkd PPC via St Thomas + Frederiksted. On front “Postal Agent Penang” cds (xx) + aux pmk. Dest+.[

1903

Under the Decentralization Act (Decentralisatiewet) issued in 1903 and the Decree on decentralization (Decentralisasi Besluit) and the Local Council Ordinance (Ordinance Raden Locale) from the date of 1 April 1906 set as the gemeente (municipality) the governing otonomom. The decision further strengthens the function of the city of Bandung as a center of government, especially Dutch Colonial government in Bandung. Originally Gemeente Bandung
Led by the Assistant Resident Priangan as Chairman of the Board of the City (Gemeenteraad), but since 1913, led by burgemeester gemeente (mayor).

 

 

Uncommon 1903. (26 May) Batavia to Berlin/Canada. 10c grey Queen stationery envelope with adtl. franking 20c green Queen stamp, 2c and 3c (Sc. 34, 40, 42) all tied c.d.s.’s, registration label alongside. Via Weltevrenden, London/UK, Toronto and arrival pmks on reverse

 

 

 

Uncommon 1903. Batavia to Berlin/Canada. Registered 20c green Queen issue stationery envelope with adtl. franking 5c ultramarine (Sc. 22) 2½ on 3c violet x2 (Sc. 47), and 2½c green x2 (Sc. 41), tied c.d.s.’s registration label alongside, with several transits and arrival pmks on reverse, including Montreal. Most appealing multiple franking on an unusual stationery

 

  1. Weltevreden to Quiphon/Indochine.

PRINTED MATTER RATE small envelope sent by the french Consulate in Batavia. (cachet on reverse), bearing sing 2½ on 3c violet (Sc. 47) tied c.d.s. Very rare rate and destination.

 

INDIA HOLANDESA. 1903.

Picture post card to Holland bearing 5 cents blue (SG 93) and 2 1/2 on 3 cents purple (SG 119) tied by PADANG PANDJANG squared circle routed via Padang with GRAVENHAGE arrival

1903/05, three different surcharged stat. envelopes incl. Wilhelmina 20c on 20c green uprated with 1/2c violet on reverse registered from PADANG (11.7.1903) to Batavia, Wilhelmina 15c on 15c brown uprated with 20c olive black registered from PROBOLINGGO (17.1.1905, some toning) to Germany and King Willem 10 on 10c blue uprated with 10c + 15c stamps registered from BATAVIA (7.3.1905) to Germany, all with arrival postmarks on reverse

 

1903

Kapitan cina Bangka lim Woe Sieng

Kapitan cina Tandjung pinag Ong Sintek

Kapitan cina  Tanjung karang teluk betung Lampong Phoa Tjoen Lim

1903

The policy of decentralization was initiated in 1903 to allow more local autonomy and encourage emigration from crowded Java to the outer islands. Java was only one-fifteenth of the area but had two-thirds of the population of Indonesia.

The Dutch only allowed the councils to be advisory, and the real government remained centralized. To vote on a city council one had to know Dutch and pay more than 300 guilders in annual taxes.

Most Europeans resided in cities, but most natives lived in rural areas. In 1899 the Japanese had gained equal rights with Europeans in the Netherlands Indies, but Chinese efforts to get the same status were resisted.

1903

in 1903 she sent her famous memorandum “Educate the Javanese!” to the colonial government. In her new home she opened a school for the daughters of regents;

 

 

 

1903

. Governor-General W. Rooseboom (1898-1904)

was so frustrated by a widow burning (sati) at Tababan in 1903 that he tried to resign;

 

1903

Hutang-budi yang dicetuskan van Deventer telah membayangkan bukan hanya sokongan terhadap tanah jajahan yang memerlukan bantuan itu tetapi juga menganjurkan pemisahan antara Keuangan Negara Induk dengan negeri Jajahan.

Hal yang akhir ini oleh Kaum Oposisi lebih dipersoalkan datanya daripada pinciannya,  Dengan H.van Kol ,yang berwenang dalam soal-soal Jajahan untuk Partai  Sosial Demokrat yang mendorong  dari dalam Parlemen, dan van Deventer yang ketika ia pulang  ke negeri Belana  pada tahun 1897, telah mengabungkan diri dengan Partai Radikal Demokrat ,melakukan tekanan dari luar, hingga akhirnya Hindia Belanda pun diringankan bebanyan dengan ditentukan bagiannya  dalam hutang Nasional Negeri Belanda pada tahun 1903.

Tentu ini adalah satu segi saja dari Politik baru itu,namum yang penting, karena uang  adalah kunci untuk pelakanaannya.

(Robert,58)

1903

February 1903.

 


Panglima Polim Sri Moeda Perkasa Shah (centre), who had fought the Dutch in Koetaradja since 1873 and was a guerilla leader in Lhokseumawe area, surrendered to the Dutch Kapitein Hendricus Colijn (third from right) in Lhokseumawe in 6 September 1903, together with 150 of his men. He was given the post raja of Sigli by the Dutch. In 1928, Panglima Polim received the cross of Nassau-Oranje Orde

 

Kapitein der chinezen aceh

1904

1904–1909: 

Johannes Benedictus van Heutsz

1904

Tahun berikutnya 1904 ,keadaan keuangan Hindia belanda agak membaik ketika Negara Induk memberikan kredit sebesar Empat Juta Gulden ,ini lebih merupakan urahan Hutang-budi demi menutup sebagian Hutang Negeri Jajahan

Ketika pada tahun 1904 ,menteri Idenberg menginginkan keterangan lanjutan mengenai menurunnya Kemakmuran di Jwa ,ia menugaskan van Deventer dan ahli-ahli Tanah Jajahan lainnya, G.P. Rauffear, S.B .Kielstra dan D.Fock (semua merak diilhami oleh prinsip-prinsip Etis) untuk membuat ihtisar keadaan, menunggu suatu laporan yang lebih lengkap oleh suatu Komisi tenta ng hal itu di Jawa.

Laporan van Deventer yang keluar pada tahun yang sama berperan banyak untuk dibawa pulang  dan diserahkan ketanggan orang-orang di Negeri Belanda tentang Kemundururan Ekonomi dan taraf hidup orang Jawa dan berhasil dalam mendiamkan suara-suara yang berusaha untuk  mengurangi  arti situasi tersebut

 

Laporan ini dijadikan usul dan Menteri telah bersedia untuk mengikutinya

(Robert,58)

 

1904

Chinese cementary semarang in 1904

1904

All but four Chinese opium farmers went out of business, and the state’s Opium Administration took over in 1904. That year Dutch officials sent out an etiquette circular to discourage aristocratic displays involving parasols, retainers, and regalia. Those in the officials class rose by merit as status based on birth declined.

1905

By 1905 the 3,725 Indonesians were 18% of the students in 184 European primary schools.

1905

Pecinan berkembang pesat di sekitar Pasar Baru  Bandung sejak 1905.

Umumnya warga Tionghoa menjadi  Pedagang.

1906

20 Tionghoa Hwe Koan school Jakarta had choosen to joined the school in    Nam Hak Tjong (Jinan XuetangNanking

1906

Dutch Indies 79 a hinged

1906 – 08    Koningin Wilhelmina met foutdruk “JAVA” hoogstaande overdruk in zwart

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel + certificaat C Muis 1999

Cat. waarde (value) NVPH € 275,00

 

1908

Lahirnya Boedi Oetomo
Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908

. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.
Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Latar Belakang Lahirnya Boedi Oetomo
Budi Utomo lahir dari inspirasi yang dikemukakan oleh Wahidin Soedirohoesodo alumnus Sekolah Dokter Djawa, disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman.

Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu.

Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan.

Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

1908

Before  empress Tzu  Xi death, on Nov. 15, 1908, she had the emperor poisoned. His successor was a 2-year old who was forced from the throne four years later.

 

Unknown origin and name of Chinese ancestor java

1908

In 1908 the colonial government established the Dutch-Chinese schools , because they were afraid of losing their grip on the Peranakan Chinese and the school system had a curriculum that was identical to the curriculum of the European primary schools

1909

1909–1916: 

Alexander Willem Frederik Idenburg

1904

The Dutch East Indies never had a coat of arms of its own.

The coat of arms of Batavia was often considered as such and it is said that Governor General Van Heutz (1904-‘09) was a strong advocate of the idea.

A proposal for a coat of arms was made in 1933 by Dirk Rühl on the frontispeice of his “Nederlandsch Indische Gemeentewapens”. His design shows a parted per pale of the Netherlands and Batavia.However, no specific coat of arms for the Dutch East Indies was ever adopted

1905

Pemalang

Lang stempel(Halte stempel)

  1. Postal stationary envelope 10 on 20 cents olive upgraded with 5 cents rose (Sg 126) and 10 cents slate (SG 128) cancelled by handstruck PEMALANG with TEGAL squared circle and PEMALANG registered label routed via Weltevreden. To Brabant Nederland Very fine and scarce.
  2. Djokjakarta 8.7.05 to – Germany.Cerlin 10.8.06  Postal stationer  7 1/2 cent

Netherlands Indies: PPC (Caroet; Aloon-Aloon) franked by 1/2 +2+5c, posted at TANDJONGERIOK on 8.5.1905, transit WELTVREDEN, arrival pmk Salzburg, Austria

1905

Price: € 250.00

1905,

dek. Jugdenstil-AK ab Medan nach Barmen mit gutem Nebenstempel N.I. AGENT SINGAPORE[ Brief]

1905, dek. Jugdenstil-AK ab Medan nach Barmen mit gutem Nebenstempel N.I. AGENT SINGAPORE[ Brief]

 

  1. Weltevreden Batavia vai Tandjongpriok –to Middleberg Netherlands. 7 1/2c stat card. VF
  2. Tegal – via weltevreden batavia to Germany. 7 1/2c stat card. Fine

1905, stationery card QV 3 C. scarlet canc. „PENANG B JY 8 1905” to Netherlands w. 29 JUL arrival, senders date „Sabang, 3 Juli 05 Hotel Ceram

  1. Medan to London. P.P.C. franked 2½ orange (Sc. 19) and 5c red (Sc 44) MIXED usage, tied c.d.s. “Post Agent Penang” c.d.s. alongside.[ 7843]

1905, INCOMING MAIL: Nederlandisch Indien 2 1/2 C und 5 C auf Ansichtskarte (Sanatoriom TOSARI, Karte leicht stockig) vom „SOERABAJA 20.1.1905” via San Francisco nach Papeete, Tahiti.

Rare 1905, 10 Pfg Schiffszeichnung entwertet mit Dienstsiegel von Ponape auf „Gruss von…” Ansichtskarte nach Makassar via Batavia, Soerabaja und Victoria/Hong-Kong,

1905


Tjoet Nja Dhien and Pang Laot after her capture.
Tjoet Nja Dhien continued guerilla warfare in West Aceh area, assited by Pang Laot. Years of living in the jungle caused her to go blind and she also suffered rheumatism, yet she refused to surrender.

 

Tjoe Nja Dhien

On 16 October 1905,

Pang Laot, unable to let Tjoet Nja Dhien suffered anymore, led a Dutch Marechausse squad under Luitenant Van Vuuren to her hideout. She was arrested and exiled to West Java, where she died in 1908.

Schmidt, H.J., Keumangan, Teukoe, Djoehan, Teukoe

Eerste luitenant der marechaussee H.J. Schmidt (midden), bivakcommandant van Djeuram, met de voormalige verzetsleiders Teukoe Djoehan, vorst van Seunangan (links) en zijn broer Teukoe Keumangan in de landstreek Seunagan bij Meulaboh

1906

Aceh Peace or The People magazine cover in 1906

Vrede Atjeh of  Het Volk magazine cover  in 1906

Christopher with the long stick, on tour, as it was called

Christoffel met de lange stok, op excursie, zoals dat toen genoemd werd

Chinese camp in Sigli  aceh 19o6

Puinhopen na de brand van 1906 in het Chinese kamp te Sigli

Pastoor Henricus Christianus Verbraak S.J., aalmoezenier van het Koninklijk Nederlands-Indische Leger te Atjeh en op Sumatra’s Westkust van 28 juni 1874 tot 23 mei 1907

In 1907,

this was described as follows:

“No war, but termination of any war, no correction of foreign tribes, but the submission to a regular state of all, under the Dutch flag standing peoples of the archipelago, in the public interest, which is the goal”

You just raises, the country is now under Dutch rule, because there’s ever been a Dutchman, and so we have the moral sovereignty of this country, because we are much more developed. Then go to those nations with violence explain why they now stand among civilized Dutch rule …….. and it is in their own interest!

Colijn with family for his house with nameplate in Buitenzorg


In 1907 werd dit als volgt omschreven:

“Geen oorlog, maar beeindiging van allen oorlog, geen tuchtiging van vreemde volksstammen, maar de onderwerping aan een geregelde toestand van alle, onder Nederlandse vlag staande volkeren van den archipel, in het algemeen belang, dat is het doel”

Je roept gewoon, het land staat vanaf nu onder Nederlands bestuur, want er is ooit wel eens een Nederlander geweest en dus hebben wij over dit land de morele soevereiniteit, want wij zijn immers veel ontwikkelder. Vervolgens ga je het die volken met geweld uitleggen waarom ze vanaf nu onder beschaafd Nederlands bestuur staan……..en dat in hun eigen belang!

Colijn met familie voor zijn huis met naambordje in Buitenzorg:

Source

http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/colijn.htm

 

1906

Dutch Indies 60-61 MNH + Cert M. +

1906 – 08    Koningin Wilhelmina op blauw papier (loslatende kleuren)

Prachtige postfrisse (MNH) zegels met fotocertificaat C. Muis sept. 2010 – schaars in deze kwaliteit!!!

Cat. waarde (value) NVPH € 775,00++ (omgerekend via NVPH cat. naar PF)

Dutch Indies NVPH 60 B MNH

1906 – 08    Koningin Wilhelmina op blauw papier (loslatende kleuren – be carefull no water!!!)

Prachtige postfrisse (MNH) zegel  –  Cat. waarde (value) NVPH €  250,00++ (omgerekend via NVPH cat. naar PF)

Dutch Indies NVPH 61 A MNH

1906 – 08    Koningin Wilhelmina op blauw papier (loslatende kleuren)

Prachtige postfrisse (MNH) zegel  – schaars in deze kwaliteit!!!

Cat. waarde (value) NVPH €  480,00++ (omgerekend via NVPH cat. naar PF)

 

Dutch Indies NVPH 60 B MNH

1906 – 08    Koningin Wilhelmina op blauw papier (loslatende kleuren – be carefull no water!!!)

Prachtige postfrisse (MNH) zegel  –  Cat. waarde (value) NVPH €  250,00++ (omgerekend via NVPH cat. naar PF)

 

 

DEI port 1906 on the postcard from destination CDS soerabia 17.9.1906

1906 (Aug. 22). Postcard to SOERABAJA franked by Reichpost 10pf. carmine tied by RIXDORF cds, underpaid and charged on arrival with Netherlands East Indies Postage Due 2½c. and 10c. black & red tied by SOERABAJA</B< div>

2 cent op drukwerk van Haarlem naar Soekaboemi 17-12-1906, strook D?c?d?. op achterzijde en via ‘bureau rebuten Batavia’ en ‘bureel der rebuten Hoofdbestuur der post:&Tel. 25-10-1907’ retour naar Haarlem,

1905

 

The Young Nederland”Overhelming”

The KNIL bali poster painted by albert Han in 1905

 

 

The bali Hindu temple at Sangsit near Boeleleng in 1905

1906

 

The Bali expeditie on Het Volk Magazine Cover in 1906

in 1906

after he witnessed the brutal climax of a Dutch military action. In a bloody puputan (ending), an estimated one hundred members of the raja’s palace household, regally dressed in white, walked straight out of the palace into the gunfire of the Dutch. White, used in cremation rites, is the color of purification.

This same gallery covers another chapter in Bali’s dense and fascinating narrative.

The “Paradise Collected” section of the show documents the intense interest in Bali that arose in the twentieth century, with such luminaries as H. G. Wells, Charlie Chaplin, and Noel Coward drawn to the island. Everything from shadow puppets to theatrical masks to wooden statues made specifically for the tourist trade, some of which are quite captivating, is on display.

Recognizing that no conventional exhibition could do credit to the important performative aspect of Balinese culture, the Asian Art Museum has mounted a series of live events and demonstrations.

The sumptuous Makrokosma Bali, performed four times in May, featured Sekaa Gong Taruna Mekar, a 25-member gamelan orchestra from Tunjuk in Bali.

As video screens behind the musicians danced with scenes of village life, images of nature and dreamy abstractions, the musicians conjured up Akasa (space), Bayu (wind), Apah (water), Teja (fire), and Pertiwi (earth). The effects ranged from loud and clangorous to charged yet silent, when the performers bobbed and weaved and thrust their hands up to represent a crackling fire.

At once inventive, eventful, and wistful, Makrokosma Bali brought to mind an ink painting called Goodbye and Good Luck to Margaret Mead and Gregory Bateson, which appears near the end of the museum show.

 

1906

 

In September 1906,

a large Dutch fleet arrived. In Denpasar, kings, princes and Brahmans dressed in white and had their ritual weapon blessed. As the Dutch advanced towards the town, they were met by hundreds of men, women and children emerging from Denpasar palace.

The Balinese ran towards the Dutch guns and were mown down. The survivors turned their weapon on themselves in an orgy suicide.

That afternoon a similar tragedy took place at nearby Pemecutan palace. The king of Tabanan surrendered with his son; two days later they committed suicide in their cell.

1906

01/07/1906 – 31/10/1912 G. Vissering (LL.M.)
By decree of February 2, 1906, Vissering,  Director of the Amsterdamsche Bank was appointed as Director of the Javasche Bank.Vissering resigned on October 31, 1912.31/10/1912 – 01/07/1924 E.A. Zeilinga Azn.
In April 1907 Zeilinga started as Director of the Bank and was promoted to President per October 31, 1912. Zeilinga resigned after almost 12 years of serving as President and was honorably discharged on July 1, 1924. (Azn.stands for the Dutch “Abrahamzoon” which means “Son of Abraham”)

1907

1907, Ansichtskarte von Eski-Chehir nach Java, von dort umgeleitet nach Soerabaja, neben dem nicht lesbaren Aufgabestempel (vermutlich Smyrna) noch 6 andere Stempel, interessant

1907

unidentified building in batavia postcard 1907

 

Postally used Soerabaia  picture postcard send to Boheme

Dutch East Indies: PPC (Chinese Locksmith) franked by 2 1/2c, posted at SOERABAJA on 7 DEC 1907, sent to Bohemia, arrival pmk Praha

Netherlands Indies: PPC (Bataksche Kampong) franked by 1/2 + 2c, posted at INDRAMAJOE on 26.7.1907, transit CHERIBOB & WELTVREDEN, sent to Prague, Austria. Nice card

Dutch East Indies: PPC (Nude native) on picture side franked by 2 1/2c, posted at INDRAMAJOE on 2.11.1907 (= Java), transit Cheribon, sent to Prague, Bohemia

Dutch East Indies: PPC (Chinese soup kitchen, Litho) franked by 2 1/2c, posted at INDRAMAJOE on 9.9.1907 (= Java), transit Cheribon & Weltevreden, sent to Prague, Bohemia

1907, LADY MINTO’S FETE: Group with the three stamps mint and the special red cross circled postmark on uprated QV 9p Soldiers’ and Seamen’s Env., KE PS card and env, on cover, and on PPC ‘The Inland Steamer ”SERANG” ‘, fine/very fine and attractive

KPM ship  ss serang

1908

 

The Atjeg women asking Young man to dance 8in 1908

1908

De groep van Van Daalen na de verovering van de kampong Koeto Reh. Achter rotsblok overste Van Daalen. Foto J. Neeb

The group of Van Daalen after the conquest of the kampong Koeto Reh. Behind boulder captain Van Daalen. Photo J. Neeb
In mid 1908, Van Daalen succeeded by the then Lieutenant-Colonel HNA Swart. From Daalen 1910 was appointed commander of the army in the Dutch East Indies. From Daalen left the military service in 1914.

Medio 1908 werd Van Daalen opgevolgd door de toenmalige Luitenant-kolonel H.N.A. Swart. Van Daalen werd 1910 werd benoemd tot commandant van het leger in Ned.-Indië. Van Daalen verliet de militaire dienst in 1914.

1908

Luitenant-kolonel H.N.A. Swart, ‘pacificator’ van Atjeh

LieutenantColonel H.N.A. Swart, “pacifier” of Aceh
From 1908-1918 Swart acted as governor of Aceh. His pacification of Aceh involves many bloody battles. In the Gayo highlands were still under Dutch estimates 5-6000 Acehnese, who were willing to fight to the death they were animated by the Teungku Di Tiro, the sons and grandsons of Teungku Tjèh Thaman di Tiro. (About this resistance fighter I have already written) .. The trooper pulled the rough highlands and gave chase. Exhausted by the constant raids saw some opposition leaders Atjeese no alternative but to surrender. Lieutenant H. J. Schmidt was commissioned in 1909 to devote themselves entirely to disable the last Teungku Di Tiro, located in the mountains near Tangse had entrenched.

Van 1908 tot 1918 trad Swart op als gouverneur van Atjeh. Zijn pacificatie van Atjeh gaat gepaard met vele bloedige veldslagen. In de Gajo-hooglanden waren volgens Nederlandse schattingen nog vijf tot zesduizend Atjehers, die bereid waren  zich dood te vechten Ze werden bezield door de Teungkoe Di Tiro, de zonen en de kleinzonen van Teungkoe Tjèh Thaman di Tiro. (Over deze verzetstrijder heb ik al eerder geschreven).. De marechaussee trok de ruwe hooglanden in en zette de achtervolging in. Uitgeput door de voortdurende klopjachten zagen sommige Atjeese verzetsleiders geen andere uitweg dan zich over te geven.  Luitenant H.J. Schmidt kreeg in 1909 de opdracht zich geheel te wijden aan het uitschakelen van de laatste Teungkoe Di Tiro, die zich in de bergen in de omgeving van Tangsé hadden verschanst.

1908

Dutch Indies NVPH 63-80 MNH

1908 – Koningin Wilhelmina overdrukt in zwart met “JAVA”

Prachtige complete postfrisse (MNH) serie + fotocertificaat C Muis

Cat. waarde (value) NVPH € 1100,00+++

Uit deze serie kunt u zolang de extra voorraad strekt ook losse nummers bestellen tegen 45% van de cat. prijs per e-mail of via het contactformulier.

Duitch Indies NVPH 75 MNH

1908 – Koningin Wilhelmina overdrukt in zwart met “JAVA”

Prachtige postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH € 20,00

Dutch Indies NVPH 79 MNH

1908 – Koningin Wilhelmina overdrukt in zwart met “JAVA” – nr. 79

Prachtige postfrisse (MNH) zegel + fotocertificaat C. Muis

Cat. waarde (value) NVPH € 275,00

Dutch Indies NVPH 80 a hinged

1906 – 08 Koningin Wilhelmina met foutdruk “JAVA” hoogstaande overdruk in zwart

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel met fotocertificaat NVPH en keurstempeltje – zeer zeldzaam!!!!!!!!!!!! 80a –

Cat. waarde (value) NVPH € 3500,00++

 

Dutch Indies NVPH 79 a hinged

1906 – 08    Koningin Wilhelmina met foutdruk “JAVA” hoogstaande overdruk in zwart

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel

Cat. waarde (value) NVPH € 275,00

Dutch Indies NVPH 79 a MNH

1906 – 08 Koningin Wilhelmina met foutdruk “JAVA” hoogstaande overdruk in zwart

Prachtige postfrisse (MNH) zegel met fotocertificaat C. Muis

Cat. waarde (value) NVPH € 750,00++ Mocht het certificaat onduidelijk zijn, klik dan nogmaals op het certificaat en Windows zorgt voor een scherpe afdruk!!!!!

Dutch Indies NVPH 79 a used

1906 – 08    Koningin Wilhelmina met foutdruk “JAVA” hoogstaande overdruk in zwart

Prachtige gebruikte (used) zegel

Cat. waarde (value) NVPH € 400,00

Dutch Indies NVPH 77 a MNH

1908 – Zegels der uitgiften 1902/03-1909 overdrukt in zwart met hoogstaande “JAVA”

Prachtige schaarse postfrisse (MNH) zegel met volle originele gom

Cat. waarde (value) NVPH € 200,00

Dutch Indies NVPH 74 f MNH

1908 – Zegel der uitgiften 1902/03-1909 overdrukt in zwart met kopstaande “JAVA”

Prachtige schaarse postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH € 45,00+

Dutch Indies NVPH 81-98 hinged

1908 – Koningin Wilhelmina met overdruk in zwart “BUITEN BEZIT”

Prachtige complete ongebruikte (hinged) serie

Cat. waarde (value) NVPH € 300,00

Dutch Indies NVPH 98 MNH

1908 – Koningin Wilhelmina met overdruk in zwart “BUITEN BEZIT”

Prachtige postfrisse (MNH) zegel

Cat. waarde (value) NVPH € 425,00++

Dutch Indies NVPH 97 f used

1908 – Foutdruk “Bezit Buiten” met kopstaande opdruk – 1 gld doflila

Prachtige gebruikte (used) zegel

Cat. waarde (value) NVPH ca. € 300,00

Dutch Indies NVPH 97 f inverted MNH

1908 – Foutdruk “Bezit Buiten” met kopstaande (inverted) opdruk – 1 gld doflila

Prachtige postfrisse (MNH) zegel met keur Hekker en fotocertificaat Bakker –

Cat. waarde (value) NVPH € 600,00++++ z e e r  s c h a a r s!!!

Dutch Indies NVPH 98 f inverted hinged

1908 – Foutdruk “Bezit Buiten” met kopstaande (inverted) opdruk – 2,5 gld zwartblauw

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel met fotocertificaat      H. Vleeming

Cat. waarde (value) NVPH € 3500,00+++ – zeldzame zegel!!!

Top of Form

€ 2595,00

 

  1. Cheribon to Lille/France. P.P.C. bearing 2½° green and ½violet (Sc.38,41), cancelled Indramade, with “Naposttiji” straightline alongside, also Cheribon d.s. Printed matter rate. Fine[ 7876]

Dutch East Indies: PPC (Blauwwater) franked by 2 1/2c, posted at INDRAMAJOE on 21 JUN 1908 (= Java), box pmk NAPOSTTIJD, sent to Prague, Bohemia

 

1908

 

In Klungkung, the Dewa Agung and his court were shot down in another Puputan in 1908. Bali was then wholly incorporated into Dutch East Indies.

 

Colonial Rule
Royal houses were stripped of property and power as the Dutch recruited surviving “rajas”, as junior personnel, into their bureaucracy. With a modus Vivendi established, The Netherlands were to conserve Bali as a “living museum” of classical culture, a show case for enlightened Dutch colonialism. The restoration of the role of the Rajas as custodians of ritual matters gave the appearance of cultural continuity.

At the same time the Dutch used compulsory labor, formerly a royal prerogative to improve irrigation and build a network of roads across the island. They streamlined village laws and class structure; new taxes rewarded loyal nobility but impoverished the peasantry, and were especially harsh on Lombok.

These actions created tensions that were to erupt later, when post-colonial governments raised popular expectations but were not able to resolve certain fundamental social problems.

The Last Paradise

The Dutch cautiously encouraged tourism. Some visitors stayed on more permanently, settling mainly in Ubud and Sanur, and presented to the outside world an image of Bali as “The island of gods” where “everyone is an artist”.

Meanwhile, a modern bureaucracy was growing, whose members soon constituted, with Chinese, Arab and Muslim traders, the core of a new urban intelligentsia. Together with other Indonesians from Java, Sumatra and the eastern islands, they formed the pan-archipelago political networks which later gave

1908

The Dutch mounted large naval and ground assaults at the Sanur region in 1906 and were met by the thousands of members of the royal family and their followers who fought against the superior Dutch force in a suicidal puputan defensive assault rather than face the humiliation of surrender.[10] Despite Dutch demands for surrender, an estimated 200 Balinese marched to their death against the invaders.[11] In the Dutch intervention in Bali (1908), a similar massacre occurred in the face of a Dutch assault in Klungkung. Afterwards the Dutch governors were able to exercise administrative control over the island, but local control over religion and culture generally remained intact. Dutch rule over Bali came later and was never as well established as in other parts of Indonesia such as Java and Maluku.

 

1909

 

The Bali hindu cremation ceremony in 1909

1909

 

Militairen van de 5e en 6e brigade 3e divisie van het korps marechaussee onder leiding van 1e luitenant H.J. Schmidt, Atjeh in 1909

1910

Luitenant-kolonel H.N.A. Swart, civiel en militair gouverneur van Atjeh, met vrouw en dochter voor de pasanggrahan te Bireuën tijdens een reis langs de pas voltooide Gajoweg naar Takingeun

1910

Tapi pengejaran pasukan Belanda yang sangat intensif membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Dalam suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjut Nyak Meutia  berhasil ditemukan.

Walaupun pasukan Belanda bersenjata api lengkap tapi itu tidak membuat hatinya kecut.

Dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan perlawanan.

Namun tiga orang tentara Belanda yang dekat dengannya melepaskan tembakan.

Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya.

Cut Nyak Meutia gugur sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan pengorbanannya, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.107 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

1910

Aceh bridge

 

1910

Commandant H.J. Schmidt

Top of Form

Commander H.J. Schmidt
They were considered the most dangerous opponents of Dutch rule. Schmidt left with two brigades. He tried everywhere to obtain information (Schmidt spoke fluent Achinese), but nobody said a word about the whereabouts of the Di Tiro’s.

In May 1910,

he finally figured out where a shelter was and managed to kill him. In 1911 Schmidt knew more relatives of

the Di Tiro’s killing.

Thus came to an end the pacification of Aceh. (Later Schmidt chamberlain of Queen Wilhelmina, with the exclusive task as a financial watchdog Prince Henry to shadows and for new loans to save).

1910

Museum Bali 1910

the Bali Museum, which is located in the Central of Denpasar City, and based on the existence history and art of Bali, with it’s ancient culture basically is the acculturation of local culture since pre-history, contacted with Hindu – Javanese around 4th century, and Indian culture in 8th century.

WalterSpies

In creating the image of Balinese idyll, the influence of German painter, photographer and musician Walter Spies (1895-1942), who was banished by the Dutch from his adopted home, is still visible and tangible today..

As a young man, Walter Spies moved in high society; the avant garde culture of pre-war Moscow, then in Berlin and Dresden, Germany, to where he moved in 1918.

However by 1923 he no longer felt at home with all the decadence of Europe. In his journal he wrote: “I then decided to just go somewhere, anywhere, to a faraway land. And after going on a challenging and formidable journey as a sailor in a cargo vessel I arrived in Java where I decided to jump ship!”

Arriving in Bali to live permanently in 1927 after a stint as court conductor for the Sultan of Yogyakarta’s European orchestra,

 

this Russian born son of a German businessman-diplomat settled in Ubud as a painter where with Tjokorda Agung Sukawati he eventually founded the Pita Maha Arts Society, the catalyst of modern art in Bali.

A pavilion of his home is preserved as part of Hotel Campuhan, and at the ARMA, you will find two large buildings – named “Walter Spies” and “Pita Maha” – housing an impressive collection of original works of art,

reproductions of important work from private collections as well as a reproduction of a priceless Spies paintings that has been “missing” since 1942.

The gala anniversary event also featured the screening of Baron von Plessen’s thriller Island of Demons. Saluted as an exceptional film event of 1932 Germany Island of Demons is perhaps the only feature film of the 20th century to really showcase the details of daily Balinese life hence providing the West with a glimpse of Bali packaged as a dramatic thriller. Filmmakers Baron von Plessen and Friedrich Dahlseim came to the island with no script, only a brief list of what to feature: agriculture, harvest, religion, cockfighting, the Rangda and Barong.

Balinese amateur actors were chosen from the village of Bedaulu and the script developed in-situ. As art director of the film Spies explored the darker side of Bali through a reinterpretation of Calon Arang, the widow-witch and her beautiful daughter.

Some scholars blame Spies for the simplification of the Rangda as Calon Arang.

Of over 30 versions of her story many of which were lessons of dharma, or of charity and redemption, he elected one that denied her humanity. For the European audience perhaps, the witch had to become an embodiment of evil that must be defeated.

For Island of Demons Spies also supervised the choreography of what would become the modern ketjak dance popular to tourists with its now familiar syncopated chanting.

Though he credits this combination of classic dance forms to a local dancer it was Spies who made the form famous by requesting the performance of the dance for the likes of comedian Charlie Chaplin, Woolworth heiress Barbara Hutton as well as anthropologists and writers such as Margaret Mead, Gregory Bateson and Vicki Baum. Variations of the dance are still performed for tourists today.

It was around this man that the image of Bali became crystallized during the golden age of Bali tourism, the late 1920s to 1930s. Hosting the European and American glitterati, scholars and even Indian poet Rabindranath Tagore at his Campuhan home, Spies presented his version of “real Bali” as a rich culture based on an authentic folk tradition.

In terms of the world’s perception of Bali, Spies’ greatest influence can be seen through his Mexican visitor, writer and painter Miguel Covarrubias, whose book Island of Bali has outlasted all other travel books to become the key descriptive work on Bali.

 

 

Spies also researched the arts in great depth. With Beryl de Zoete of Britain he co-authored Dance and Drama in Bali while he shared his musical interests with Canadian musician and composer Colin McPhee, author of Music in Bali.

I recently acquired two photographs pulled from a Dutch photo album from the early 20th century, mostly from the 1920′s.  The above is a photograph of I Ketut Maria, usually known as Mario.  He is performing a dance he originally choreographed, called Kebyar Duduk (duduk means sitting).

There is apart of me that wants to think these pictures were made by Walter Spies.  The timing is right, and they look like photographs he might have made for his important book co-written by Beryl de Zoete, Dance and Drama in Bali.

1911

By 1911,  all the Balinese principalities had been defeated in battle, leaving the whole island under Dutch control.

 

The Bali Exposition at Rotterdam in 1911

1909

Java: PPC (Garoel/ Hotel Rupert) franked by 5c (ovpt JAVA on Neth. Indies), posted at Indramajoe on 15/5 1909, sent to Finland (!! Unique destination), arrival pmk Helsingfors 17.6.08; box pmk NAPOSTEIJD. Nice item

1910

Peanger Hotel bandung wsst java 1910

Braga street Bandung West Java 1910

1910, 3 C. Java bs. auf AK “Soerabaia Hofdaltaar” mit “Soerabaja 17.2.10”, nicht gelaufen

Unusual 1910. Soerabaja to Bangkok-2/Siam. 5c red stationery, cancelled c.d.s. Singapore c.d.s. transit and arrival c.d.s. on front. Fine and scarce

IRC international reply coupon 14 cent of Pay Bas Nederland CDS Sgravenhage and Soerakarta  18.9.1910

1910, Postkarte mit Vielfarben-Frankatur von Niederländisch Indien (Indonesien) aus Sabang 7.2.1910 an einen Bootsmannsmaat des Panzerkreuzers SMS “Scharnhorst”, der sich zu dieser Zeit in Sabang aufhielt. Seit 1909 war “Scharnhorst” das Flaggschiff des Ostasiatischen Kreuzergeschwaders unter dem Admiral Graf Spee. Nach Beginn des 1. Weltkriegs 1914 erfolgreiche Seeschlacht von Coronel (Chile) gegen britische Seestreitkräfte; Untergang des Schiffes mit der gesamten Besatzung am 8.12.1915 in der Schlacht bei den Falkland-Inseln. Karte mit Randbug. Dazu Foto-Ansichtskarte des Schiffes

 

  1. Medan to Punjab/India. Envelope bearing Queen Wilhelmina 25c violet (Sc. 27) tied c.d.s., also alongside “Moga” c.d.s. transit on front, several on reverse, including portuguese India Tuticorin, with YELLOW PRINTED label of postal readressing/return, tied c.d.s. V.fine and most unusual.[ 7849]

Antonio Torres Worldwide net price sale nr. 51

Closing: Oct 21 – Mar 31, 2012

Bid Info: Price: $ 325.00

  1. (16 July) Medan to Ond-Beierland/Holland. 10c on 12½c grey King stationery with adtl 15c yellow brown Queen stamp (Sc. 33), tied c.d.s., with registration label alongside. Transit and arrival pmk on reverse and five wax seals. A few minimal spots, otherwise still fine.[ 8664]

Antonio Torres Worldwide net price sale nr. 51

Closing: Oct 21 – Mar 31, 2012

Bid Info: Price: $ 100.00

  1. (23 Oct) Medan to Ond Beierland/Holland. 10c on 20c blue King stationery with adtl. 15c yellow brown Queen strip (Sc. 33), tied c.d.s., registration label alongside. Transit and arrival c.d.s on reverse. Fine.[ 8665]

Antonio Torres Worldwide net price sale nr. 51

Closing: Oct 21 – Mar 31, 2012

Bid Info: Price: $ 120.00

  1. Medan to Ond Beiejeland. 10c on 10c violet King stationery with adtl. 15c brown yellow (Sc. 33) Queen stamp, tied c.d.s., also alongside. Registration red and black label on front. Transit on reverse “N-I Post agent Penang” and arrival c.d.s. Fine.[ 8666]

Antonio Torres Worldwide net price sale nr. 51

Closing: Oct 21 – Mar 31, 2012

Bid Info: Price: $ 120.00

1911

Dutch Indies NVPH Dienst 1-7 hinged

1911 – Dienstzegels met overdruk in zwart

Prachtige ongebruikte (hinged) complete serie – schaars!!

Cat. waarde (value) NVPH € 125,00

Top of Form

€ 63,00

Dutch Indies NVPH Service 1-7 MNH

 

1911 – Dienstzegels met overdruk in zwart

Prachtige postfrisse (MNH) complete serie + fotocertificaat NKD!!!!

Cat. waarde (value) NVPH € 600,00++

Top of Form

€ 465,00

Bottom of Form

 

Dutch Indies NVPH Service 2f hinged

 

1911 – Dienstzegels met overdruk in zwart –

Prachtige ongebruikte (hinged) kopstaande (inverted) zegel met keurstempeltje – uitstekende centrering

Cat. waarde (value) € 350,00++

€ 225,00

Dutch Indies NVPH Service 3 f hinged

 

1911 – Dienstzegels met overdruk in zwart –

Prachtige ongebruikte (hinged) kopstaande (inverted) zegel met keur Hekker – uitstekende centrering

Cat. waarde (value) € 325,00++

Dutch Indies NVPH Service 7f hinged

 

1911 – Dienstzegels met kopstaande (inverted) overdruk in zwart – 2,50 gld

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel + keurstempeltje Ned. Bond

Cat. waarde (value) € 750,00+++

 

Dutch Indies NVPH Service 9f MNH

1911 – Frankeerzegels der uitgiften1883 en 1902 -1909 overdrukt in zwart 1/2 ct lila kopstaand (inverted)

Prachtige postfrisse (MNH) zegel – schaars!!

Cat. waarde (value) € 75,00++++ (In de NVPH cat. ontbreekt de PF kolom)

Top of Form

€ 162,00

 

Dutch Indies NVPH Service12f MNH (scan B)

 

1911 – Dienstzegels met kopstaande (inverted) overdruk in zwart

Prachtige postfrisse (MNH) zegel – zeer schaars!!!

Cat. waarde (value) NVPH € 15,00++++ – in de NVPH cat. ontbreekt de PF kolom!

Dutch Indies NVPH Service 21f hinged

1911 – Dienstzegels met kopstaande (inverted) overdruk in zwart

Prachtige ongebruikte (hinged) zegel met keurstempeltje Ned. Bond

Cat. waarde (value) NVPH € 225,00+++

 

1913

Kapitan Cina Onderafdeelling Bireuen

Luitenant der Chineezen Wong Tjiauw ,26 sept 1913

1913

//

Ambon military Marchosce in 1913

In 1912
The second physician training in Surabaya opened, the Dutch East Indies Medical School (NIAS). Both schools (Medical School and NIAS) is open to all people and for women. It is not impossible that it was expected by the new groups – young women and non-native – admitted that the shortage of doctors in the reduction of the colony. Now all the treated population, change the title of the original Indian doctor doctor [ii].

Although the girl who attend the program, but they have their own training and pay for their own accommodation during the study in question. \

Male students were given pocket money and living in a boarding school. Instead, they have a contract called a mortgage bond.

Even when they go to Medical School have them sign a declaration in which they committed after their graduation at least ten consecutive years in government service to serve at any location where their government will send [iii]

Purpose of government is clear:. “In view of the desire for bonding between the State and strengthen the doctor-Java and zoodoende prevent them, because until now often the case, their respect for the changes in retirement benefit” [iv]
On departure. from the public in the past ten years has the full price will be returned without service.

Some Dutch women in Batavia established scholarship (Scholarship Training Indigenous Women Physicians, Sovia).

Owned founders include Charlotte Jacobs, sister Aletta Jacobs and pharmacists in Batavia, author Marie-Kooij from Zeggelen and Elisabeth van Deventer-Maas, wife of the author of “eereschuld A. Dana were intended not only to support the study of female doctors, but also that the nurses. Student The first in 1912 using PEF enrolled in the School of Medicine, Marie Thomas. The IIAV (International Institute and Archives for the Women in Amsterdam) is to have a picture in which the board Sovia pose with their first Klantje.

 

Marie Thomas

Marie E. Thomas was born in 1896 in Likupang (near Manado Minahasa). It is not known how they got the idea to apply for graduate medical education.

 

 

Tentu saja selama tur dunianya pada April 18, 1912

bertemu dengan Gubernur Jenderal AWF Idenburg.

Ini memiliki itu –

 

sebagaimana dibuktikan oleh surat perjalanannya – menyerukan penerimaan gadis-gadis untuk pelatihan kedokteran:
“Bahkan ketika membahas dokter wanita untuk wanita pribumi dan rumah sakit untuk para wanita, hanya bantuan medis perempuan dan pelatihan Djawas dokter wanita, HE itu. lebih dekat kepada kita daripada banyak pejabat dengan isu-isu yang telah kita bahas sebelumnya.

 

Sampai sekarang memiliki semua gadis pribumi, yang mendaftar untuk dokter Djawa sekolah, kembali keluar, selalu di bawah dalih, tapi hanya karena para pemangku kepentingan kekuasaan di departemen kesulitan berbagi dengan orang-orang muda untuk menerima pendidikan kedokteran terlalu berat dan mengenali keinginan memiliki dokter wanita untuk wanita pribumi tidak merasa cukup “[i].

Pada tahun 1912

pelatihan dokter kedua di Surabaya dibuka,

Sekolah Kedokteran Hindia belanda (NIAS) 1912 .

Kedua sekolah (Medical School dan NIAS) dibuka untuk semua orang dan bagi perempuan. Hal ini tidak mustahil bahwa itu diharapkan oleh kelompok-kelompok baru – anak perempuan dan non-pribumi – mengakui, kekurangan dokter dalam pengurangan koloni. Sekarang semua populasi dirawat, mengubah judul dokter dokter India asli [ii].

Meskipun gadis yang mengikuti program tersebut, tetapi mereka memiliki pelatihan mereka sendiri dan membayar untuk akomodasi mereka sendiri selama studi yang bersangkutan. \

Siswa laki-laki diberi uang saku dan tinggal di sebuah pondok pesantren. Sebagai gantinya, mereka memiliki kontrak yang disebut mortgage bond.

Bahkan saat masuk mereka ke Medical School telah mereka menandatangani deklarasi di mana mereka berkomitmen setelah lulus mereka setidaknya sepuluh tahun berturut-turut dalam pelayanan pemerintah untuk melayani pada setiap lokasi di mana pemerintah mereka akan mengirim [iii]

Tujuan pemerintah jelas:. ” Dalam pandangan dari keinginan untuk ikatan antara Negara dan dokter-Djawa memperkuat dan zoodoende mencegah mereka, karena sampai sekarang sering terjadi, rasa hormat mereka untuk perubahan pensiun lebih menguntungkan “[iv]

Pada keberangkatan. dari publik dalam sepuluh tahun memiliki harga penuh akan dikembalikan tanpa layanan.

 

Beberapa wanita Belanda di Batavia mendirikan beasiswa di (Beasiswa Pelatihan Dokter Pribumi Perempuan, Sovia).

Milik pendiri termasuk Charlotte Jacobs, adik Aletta Jacobs dan apoteker di Batavia, penulis Marie-Kooij dari Zeggelen dan Elisabeth van Deventer-Maas, istri penulis “eereschuld A. Dana tersebut dimaksudkan tidak hanya studi dokter wanita untuk mendukung, tetapi juga bahwa perawat. Mahasiswa pertama yang pada tahun 1912 menggunakan PEF terdaftar di Sekolah Kedokteran, Marie Thomas. The IIAV (International Institute dan Arsip untuk Perempuan di Amsterdam) adalah memiliki sebuah foto di mana dewan Sovia pose dengan Klantje pertama mereka.

1913

Akhirnya pada tahun 1913,

diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia) karena sekolah ini kemudian dibuka untuk siapa saja, termasuk penduduk keturunan “Timur Asing” dan Eropa, sedangkan sebelumnya hanya untuk penduduk pribumi. Pendidikan dapat diperoleh oleh siapa saja yang lulus ujian dan masuk dengan biaya sendiri.

 

1912

 

1912

 

1912

Khouw Khim An wooden panel 1918

 

Chinese board kon Koan Batavia meeting report

 

 

1908

 

1910

 

1912

 

Chinese kapitan Bondowoso Leutenant rank Tjoa Liang gie

1913

 

Chinese Immigrant At Batavia

bring their  homeland banknote

and the family still keep as remembrance until 1998.

 

Due to high devaluation during president Suharto down,

they sold this history collectons

and some found by Dr Iwan In Jakarta

 

1908

Ta ching government bank 1908,

Five dollars

 

 

 

1909

Imperial ningpo bank

Five dollars

 

 

1909

 

Chinese general bank of communication 1909

1 dollar

 

5 dollars

10 dollars

 

Wayang Tionghoa Batavia postcard mei 19o9 courtecy delbampe auction

 

1912

One hundred cents

Ten dollars

 

 

1910

17  school in DEI  had been established by 1910

1911

Diverse andere maatregelen ter verbetering van de postie van de Peranakan Chinezen leidde uiteindelijk tot het Consulaire verdrag van 8 mei 1911 met de Chinese regering, waardoor het mogelijk werd dat China consuls naar Indië mocht en kon sturen, die de belangen van de aldaar wonende Chinezen kon behartigen.

Tal van discrimenerende maatregelen genomen destijds van regeringswege werden langzamerhand afgeschaft waaronder het passenstelsel in 1915 en het wijkenstelsen in 1918 en waren de Chinezen voortaan vrij om te gaan en staan waar zij wilden.

 

1912

In 1912 they shortened the name to Sarekat Islam (SI) and began appealing to the masses.

 

1913

In 1913 the more aristocratic regents formed their own Bupatis’ Union (Regentenbond), which did little.

1913

 

In 1913 the director almost throughout Sumatra , and in the east was of the Archipelago , Borneo , Bali , Sumatra and Lombok ‘ s East Coast , the Riau Islands and Aceh was the last region that were included in the opiumregie.

 

First building on which the subjugated in Aceh saw the Dutch flag fluttering was

the office of the opiumregie.

 

After the abolition of the opium lease and the introduction of the

Apparently opium monopoly had the problem and its significance verloren disappeared

opium case almost entirely of the Dutch geschiedenis.79 But not completely out of the Indian- Dutch literature

1914

though only 135   of 200 STOVIA STUDENT could afford to graduate by 1914. They treated Indonesians but could not transfer to a Dutch medical school.

 

1914.

Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus pada tahun 1914. Setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah

Thung Pek Koey,

sedangkan untuk daerah Citepus adalah

Tan Nyim Coy.

Wijkmeester dipimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen.

 

Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914). Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat, misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.

 

1914

Ten yuan

 

1915

Sekolah THHK Mojokerto berhasil melalui masa-masa sulit berkat tangan dingin seorang saudagar Tionghoa bernama Njoo Tik Tjiong.

Ia menjadi pengurus di perkumpulan THHK Mojokerto pada tahun 1915 -1921:

Johan Paul van Limburg Stirum

1916–1921:

Johan Paul van Limburg Stirum

 

Johan Paul van Limburg Stirum

Johan Paul van Limburg Stirum.

Johan Paul, Count of Limburg Stirum (Zwolle, 2 February 1873 – Den Haag, 17 April 1948) was a reformist in the time of World War I.

He made a rapid career as a diplomat of the Netherlands and was, among others, envoy in China and Sweden. Thanks to his knowledge of Asia, the government Cort van der Linden named him in 1916 Gouverneur General of the Dutch East Indies. He worked for a greater autonomy of the Dutch East Indies and for the economic development of the colony. As Governor General he conducted administrative reforms, such as the extension of the powers of the parliament (Volksraad) of the Dutch East Indies and decentralisation.

He worked in good terms with minister Idenburg, but had a difficult relationship with minister Andries Cornelis Dirk de Graeff. After his departure from the Dutch East Indies he was sent to Egypt, Germany and Great Britain

 

 

1916

Aankomst per m.s. Insulinde van de Gouverneur-Generaal Van Limburg Stirum in de haven van Padang, Westkust-Sumatra

Goveurnur General  Van Limburg stirum visit Padang with Insulinde Ship  at the emma haven (now Teluk Bayur)

 

Governier general Van Limburg Stirum at the Resident Palace Padang in 1916(now West Sumatra Governur Palace).please look the Car that time

The interior of west Sumatra resident house in 1916

 

Welcome * Wel Kom)  to Padang at the bridge  from emma haven to Padang  during the Guvernor genera van limburg stirum Visit Padang in 1916

Tread related info

Gaba-gaba menyambut Tuan Limburg Stirum di Padang

In March 1916

the Governor General of the Dutch East Indies Johan Earl Paul van Limburg Stirum official visit to Sumatra’s Westkust.

Van Limburg Stirum was Governor of the Dutch East Indies in 1916-1921. Important group of people that got Emmahaven Batavia (now: Gulf Bayur) by ship ‘Insulinde’.

They greeted like a king and was hailed by the subjects. Governor-General Van Limburg Stirum stay a few days in Padang before continuing his official trip to Tapanuli with rising auto overland through Pasaman.


Photos of our classic cuts within the rubric of ‘Minang Saisuak’ this time to record one of the aspects associated with the flurry of Sumatra’s Weskust officials in welcoming the arrival of the Governor-General Van Limburg Stirum it.

This photograph shows a large gaba-gaba – ‘gate’ said the now – are deliberately made to welcome the arrival of the Governor General in Minang aspect. Gaba-gaba highways were built flanking him from entering the city of Padang.

His position may be on the face of the Bridge Muaro Panyalinan now. Looks posted a welcome in Dutch ‘Welkom te Padang’ is written in capital letters.

In the upper right of the left-gaba gaba snagged tigo flag pattern.
Just as important when people come to the center, all local officials were whispering and fuss made: gaba-gaba established,

the roads quickly in-tumbok, the bad things are put into kungkuangan kitchen are beautiful and fragrant- fragrant placed in front of the house. Remember, for example, the same habits prevailing in the Age of the New Order, to some extent, still valid in the Age of Reformation.

By reading this story you can see now that the traditional helter-tunggik local officials when visited by officials of the center was a legacy of the Colonial Period distant past. However, if the establishment has not obtained the data gateway ‘Welkom te Padang’ to welcome the Governor-General Van Limburg Stirum has received permission from the Mayor of Padang or not at that time.
Suryadi – Leiden, The Netherlands.

(Photo source: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Sunday, June 24, 2012

Original info

Pada bulan Maret 1916 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Earl Johan Paul van Limburg Stirum melakukan kunjungan resmi ke Sumatra’s Westkust. Van Limburg Stirum menjabat Gubernur Hindia Belanda dari tahun 1916-1921. Rombongan besar orang penting dari Batavia itu sampai di Emmahaven (kini: Teluk Bayur) dengan menumpang kapal ‘Insulinde’. Mereka disambut bagai raja dan dielu-elukan oleh kawula. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menginap beberapa hari di Padang sebelum meneruskan lawatan resminya ke Tapanuli dengan naik oto lewat jalan darat melewati Pasaman.

Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini merekam salah satu aspek yang terkait dengan kesibukan para pejabat Sumatra’s Weskust dalam menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum itu. Foto ini memperlihatkan sebuah gabagaba besar – ‘gerbang’ kata orang sekarang – yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Sang Gubernur Jenderal di Ranah Minang. Gabagaba ini dibangun mengapit jalan raya ketika hendak memasuki kota Padang. Posisinya mungkin di muka Jembatan Muaro Panyalinan sekarang. Kelihatan terpampang ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda ‘Welkom te Padang’ yang ditulis dengan huruf besar. Di kiri kanan bagian atas gabagaba tersangkut bendera tigo corak.

Sebagaimana halnya bila orang penting dari pusat datang ke daerah, seluruh pejabat daerah kasak-kusuk dan repot dibuatnya: gabagaba didirikan, jalan-jalan cepat di-tumbok, yang busuk-busuk ditaruh ke kungkuangan dapur, yang cantik-cantik dan harum-harum ditaruh di depan rumah. Ingatlah misalnya kebiasaan yang sama yang berlaku di Zaman Orde Baru yang, sampai batas tertentu, masih berlaku di Zaman Reformasi ini. Dengan membaca kisah ini Anda dapat mengerti kini bahwa tradisi tunggangtunggik pejabat daerah bila dikunjungi oleh pejabat pusat itu sudah merupakan warisan dari Zaman Kolonial jauh di masa lampau. Namun belum diperoleh data apakah pendirian gerbang ‘Welkom te Padang’ untuk menyambut Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ini sudah mendapat izin atau belum dari Walikota Padang pada waktu itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 24 Juni 2012

 

 

1916

the first Kartini schools

for women

opened in 1916

selesai

HAK CIPTA @ Dr IWN 2014

HORMATILAH HAK CIPTA SAYA

TERIMA KASIH TELAH MAMPIR DI WEBBLOG Driwancybermuseum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s