PROMOSI BUKU KARANGAN Dr IWAN”KOLEKSI FOTO PAMERAN BRONBEEK DI BANDUNG 1924″

The Vintage Photos Collections Of

Indisch Bronbeek Exhibition At Bandung in 1924

Based On

Dr Iwan Vintage Photos Collections

 

Part One

Introduction

Created By

Dr Iwan Suwandy , MHA

Copyright @ 2015

 

BAGIAN PERTAMA

PENDAHULUAN

KATA PENGANTAR

 

Saya baru saja  menemukan arsip foto -foto  asli lama Pameran Bronbeek di Bandung pada bulan Juni 1924 , jumlah foto yang disusun dalam 19 album dalam kondisi yang masih bagus.

Bronbeek adala=h sbuah museum di Negeri Belanda

Museum Bronbeek, Velperweg 147 Arnhem

Mungkin museum inilah sebagai pelaksana pamrena di bandung 1924, tetapi info lain sampai saat ini belum dapat ditemukan.

 

 

 

Koleksi museum Bronbeek  dari eksplorsi google  dapat dilihat dibwah ini

Komentar Dr Iwan

Mohon Penulis dan museum Bronbeek tak keberatan info ini dicupliki karena ada hubungan dengan buku ini

Het koloniale verleden van Nederland met name in Nederlands-Indië is het hoofdthema van Museum Bronbeek. Hierbij ligt de nadruk op het militaire aspect.

  1. Bronbeek: Koninklijk Tehuis voor Oud-Militairen en Museum Bronbeek

www.veteranennaardermeer.nl1060 × 768Search by image

Het landgoed Bronbeek werd rond 1820 als buitenplaats aangelegd voor Hermen Stijgerwald. Na diens dood, in 1830, verkocht zijn weduwe Magadalena Wilhelmina

 

  1. Bronbeek: Koninklijk Tehuis voor Oud-Militairen en Museum Bronbeek

www.veteranennaardermeer.nl1237 × 768Search by image

  1. T/m 15 januari 2015: Expositie ‘Met stille trom’ in Museum …

stichtingtongtong.nl804 × 240Search by image

Met stille Trom_Bronbeek_header

  1. Medicijnkist, gebruikt door luitenant Spier, commandant van de ‘Speciale Troepen Groep Spier’

 

  1. Museum Bronbeek te Arnhem: Anke en Gerda hebben wat met Indië en gaan naar Museum Bronbeek. Bronbeek is heden ten dage een verzorgingstehuis voor een aantal ..
  2. Beschrijving: Wajang Revolusi-poppen in de bekroonde film. foto: Museum Bronbeek

 

Kepeloporan Belanda di dunia pendidikan tak perlu diragukan lagi. Universitas-universitas di Belanda termasuk dalam peringkat 10 di antara 200 perguruan terbaik di dunia.

 Beberapa universitas yang layak dicatat di antaranya, Leiden University, Utrecht University, University of Amsterdam, University of Groningen (untuk universitas riset); Amsterdam School of the Arts, Business School of Amsterdam (untuk universitas terapan), dan sebagainya.

Bahkan, pada tahun 2011, sebanyak 12 universitas di Belanda masuk dalam peringkat 200 besar daftar perguruan tertinggi di dunia. Daya tarik dunia pendidikan di Belanda tak terlepas dari keberadaan beberapa museum. Nama-nama museum itu sangat harum ke seluruh dunia, seperti Museum Leiden , Bronbeek, Tropen dan lain-lain. Museum-museum di Belanda menjadi destinasi dan tempat para ilmuan menggali rujukan sejarah

 

Saya beruntung bisa melihat negeri Belanda dari dekat, terutama bisa mengunjungi Museum Bronbeek di Arhem, Belanda pada 27 Juli 2010 silam.

Selain menyimpan banyak benda-benda bersejarah, museum Bronbeek menjadi istimewa karena terdapat 43 veteran perang. Dari mereka pula kita bisa memperoleh cerita-cerita seputar perang di Nusantara.

 Mereka dengan senang hati mau berbagi kisah hidup serta pengalaman perang yang mereka alami sewaktu menjadi tentara kolonial dulunya.

 

Tak mengherankan jika negeri berpenduduk lebih kurang 8 juta orang itu mulai diperhitungkan sebagai kiblat kemajuan dan pusat pendidikan.

Hal itu pula yang menyebabkan museum-museum di Belanda ramai dikunjungi para peneliti, pelajar, mahasiswa dan professor dari seluruh dunia.

 

Awalnya saya membayangkan museum Bronbeek pastilah seperti kebanyakan museum lain di tempat kita: tak terurus, pengap, berantakan dan sangat tak nyaman dikunjungi.

Namun, begitu memasuki areal museum, kita pun terkagum-kagum. Kita dapat melihat bagaimana rapinya Belanda merawat ingatan bangsanya dengan nilai-nilai sejarah: melalui benda-benda perang (meriam) dan literatur.

 Meriam dari berbegai jenis itu dipajang mengelilingi dinding museum. Benda-benda perang ini dibawa dari sejumlah wilayah taklukan di Nusantara.

 

Museum Bronbeek ini termasuk salah satu museum tertua di Belanda. Pengelola atau conservator museum, Drs. Hans van den Akker menyebutkan, usia museum yang sering disebut Museum Perang ini sudah 150 tahun, sejak pertama kali dibangun oleh Raja Willem III tahun 1863.

 

Willem atau Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau, lahir di Brussels, Belgia, 17 Februari 1817  merupakan Raja Belanda dan Grand-Ducal House of Luxembourg.

Pada 23 November 1890, dia meninggal (pada umur 73 tahun) dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina (ketika itu baru berumur 10 tahun).

Menurut Hans, Raja Willem III membangun museum ini untuk mengenang pasukan setianya, KNIL sebagai penghormatan atas jasa mereka. Nama Bronbeek diberikan karena “di lokasi dibangun museum ini dulunya terdapat sungai kecil asli (bukan sungai buatan),” kata Hans. Dalam bahasa Belanda, Bronbeek berarti aliran air/sungai kecil.

 

Meskipun Bronbeek sebagai destinasi wisata untuk umum, museum ini juga menjadi tempat untuk anak-anak sekolah di Belanda mengenal sejarah bangsanya. Ini tak terlepas dari terobosan sistem pembelajaran yang dianut Belanda, melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan masalah dengan praktis dan mandiri melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan.

 

 

Museum Bronbeek ini jadi pilihan para peneliti yang ingin mempelajari sejarah Belanda dan bangsa-bangsa taklukannya. Mereka dapat mengakses semua dokumen, benda atau prasasti yang ada di sini untuk keperluan akademiki/studi. []

 

Referensi:

http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/institusi-pendidikan-di-belanda

 

http://www.defensie.nl/cdc/bronbeek/museum/

 

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/06/0949462/Mengapa.Memilih.Studi.ke.Belanda.

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Willem_III_dari_Belanda

 

http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html

—– > Tulisan ini merupakan edisi pendek (hasil revisi) untuk lomba Kompetiblog 2013 dari tulisan sebelumnya http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/aceh-willem-iii-dan-bronbeek.html yang menurut admin kompetiblog terlalu panjang (syarat tulisan tak lebih dari 500 kata).

Sumber

jumpueng

Melihat info diatas saya jadi berpirkir kapan saya bisa membuat museum mirip dengan museum diatas, saya harap setlah mebaca buku ini ada donator yang berkenan menyumbangkan rumah kunonya untuk diisikoleksi saya yang skarang sangat banyak sehingga untuk jalan saja sudah susa

Mungkin dapat juga ditampilkan di Televisi secara berkala sepert yang ditampilkan dalam statsiun TV Interational History HD yang merupakan favorit saya dan banyak memberikan pelajaran kepada saya bagaimana memilih dan menilai koleksi sejarah.

 

 Sebenarnya  sesuai dengan nomor urut dari Buku arsip tersebut album tersebut lebih dari seratus buah , saya harapkan mungkin dalam menyusun buu ini ada tambahan lagi.

 Ini adalah penemuan besar  yang perlu dilestarikan dalam sebuah buku yang dapat dijadikan kenang-kenangan bagi sleuruh kluarga dan masyarakat Indonesia yang terkait dengan foto-foto dalam arsip ini.

Buku ini  terdiri  dari  empat  bagian agar tidak terlalu tebal untuk dengan lebih mudah dan menyenangkan untuk dinikmati info dan ilustrasinya, yaitu Bagian  Pertama Introduction, Bagian Kedua Koleksi Pameran bronbeek Bandung 1 m Bagian Ketiga Koleksi Pmeran Bronbeek Bandung 2, dan Bagian Ketiga Koleksi Pameran Bronbeek 3

 

 Buku ini akan didahului oleh informasi yang saya kumpulkan yaitu koleksi sejarah Indonesia tahun 1924 bersumber dari beberapa buku elektronik yang saya sudah susun dalm bentuk CD-Rom dan sebagian dicuplik disini  dan juga akan dilampirkan koleksi informasi dan foto-foto dari eksplorasi google saat saya mencari info tentang pameran Bronbeek di Bandung tersebut diatas.

Menyusun buku ini sangat membutuhkan tenaga dan konsentrasi yang sangat besar4, apalagi saya sudah tua berumur 70 tahun dan mulai sakit-sakitan,tetapi demi untuk mengenang situasi dan jasa para pahlawan tempo dulu yang banyak tidak diketahui dan belum diberi gelar ,saya beruaha mati-matian menulis buku ini.

Saya bukan ahli sejarah, tetapi waktu sekolah sudah berminat dan senang dengan sejarah, begitu juga koleksi benda-benda bersejarah.

Saja harap semua orang yang nfonya tercantum dalam buku ini berkenan memberikan izin kepada saya untuk memanfaatkan infonya ,untuk itu aya ucapakan terima kasih. Mohon maaf juga karena saya tidak dapat menuliskan nama satu persatu dari oarng-orang yang telah berjasa dan telah membantu saya dalam menyususn buku serta menolong saya dalm menjalani hidup didunia ini, untuk itu saya ucapak ribuan terima kasih, serta saya panjatkan doa kepada Yang Mahakuasa agar merka memperoleh imbalan setimpal dengan  pahala yang telah mereka kepada kami sekeluarga dan kepada seluruh umat manusia khususnya masyarakat indoensia yang saya cintai sepenuh hati.

Buku ini saya tulis untuk keluarga saya,isteri Lily Widjaja,putra Albert dan Anton serta isteri dan anaknya,serta cucu saya tercinta Cessa,Celine dan Antoni .

Saya harap para pembaca berkenan menghormati hak cipta saya dengan tidak merepro buku ini dengan berbagai cara dan teknologi tanpa meminta izin dari saya sebagai pemengang hak cipta.

Jakarta , Pebuari  2015

Dr Iwan Suwandy, MHA

 

Acara Jaarbeurs atau Annual Trade Fair (Bursa dagang tahunan) di Bandung, tahun 1924

Pengunjung pada acara Jaarbeurs atau Annual Trade Fair (Bursa Dagang Tahunan) di Bandung, tahun 1924
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)

Para wanita yang berpose disalah satu stand (tenda) pada acara Jaarbeurs atau Annual Trade Fair (Bursa Dagang Tahunan) di Bandung, tahun 1924
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)
Gubernur Jendral Hindia Belanda Dirk Fock, mengunjungi  acara Jaarbeurs atau Annual Trade Fair (Bursa Dagang Tahunan) di Bandung, tahun 1924 (1)
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)
Gubernur Jendral Hindia Belanda Dirk Fock (tengah), mengunjungi  acara Jaarbeurs atau Annual Trade Fair (Bursa Dagang Tahunan) di Bandung, tahun 1924 (2)
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)
Display “Pohon Teh”, pada stand milik salah satu perusahaan perkebunan teh di acara Jaarbeurs Bandung, tahun 1924
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)
Salah satu View di acara Jaarbeurs Bandung, tahun 1924
(Sumber : http://commons.wikimedia.org/)

 http://sejarahdalamkamera.blogspot.com/2014/09/acara-jaarbeurs-atau-annual-trade-fair.html

Ini contoh buku Dr Iwan Yng segera akan diterbitka

Bagi yang berminat dapat memesanny liwat email iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat mengupload kopi KTP nya dan alamat lengkap, buku ini terdiri dari empat bagian buku yang penhuh dengan foto ilustrasi gambar lama, dan tiga buku dengan ilustrasi foto lama pameran bronbeek di Bandung tahun 1924 yang tiak pernah dipublikasikan ,jumlah foto lebih kurang 400 lembar psotcard ,dengan tema bermacam-macam mulai lukisan lama, foto raja-raja dan orang terkenal, pemandangan, foto etnik, foto upacara pembukaan pameran oleh gubernur Jenderal sbnya

Cepat dipesan untuk edisi pertama hanya sepuluh buah diterbitkam diprint dengan baik dengan kulit yang memadai.

Harga termasuk biaya kirim liwat titipan kilat dua juta rupiah.

Terima kasih atas perhatiannya

Dr Iwan suwandy,MHA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Saya udah menulis sebuah buku elektronik berjudul Koleksi Sejarah Indonesia Awal Abad kedua Puluh, informasi pendahuluan buku elektronik tersebut penting untuk mengantar buku ini agar lebih mendalami apa yang terjadi. Inilah info dari bku  elektronik tersebut

Dua puluh lima tahun pertama pada abad keduapuluh kita menyksikan suatu pertumbuhan  dan perkembangan di Indonesia, yang saat itu dinamakan Hindia Belanda, yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Tidak seluruh segi pertumbuhan itu akan dibahas dalam buku ini.Yang menjadi tekanan disini adalah mengenai perubahan sosiakl dalam kurun waktu tersebut ditas, khususnya perubahan social yang terjadi dikalangan erlompok pemimpin dalam masyarakat Indobnesia.

Masyrakat Indonesia pada kurun waktu tersebut merupakan suatu bagian dari apa yang saya sebutkan masyarakat Hindia Timur, kedalam masyarakat ini termasuklah semua orang yang tinggal di Kepulauan Indonesia , disamping orang Indonesia yang jumlahnya terbanyak ,juga orang-orang Eropa (kebanyakan Belanda), cina dan Arab.

Oleh karena Indonesia telah memeperoleh Kemerdekaan Politik pada tahun 1949, dan mendirikan suatu Negara <erdeka, studi inipun akan dipusatkan pada perkembangan social dan politik mereka.

Selama tahun-tahun yang dicakup oleh studi ini, pemimpin-pemimpin Masyarakat Hindia Timur, sebab penduduk Indonesia merupakan orang bawahan dalam linkungan jajahan bangsa belanda.

Dengan demikian,perkembangan Masyarakat Indonesia terjadi didalam konteks dikuasai Kolonial, dan sangat dipengaruhi oleh Kebijakan Kolonial, tindak –tanduk dan sikap Belanda.

Buku ini merupakan suatu usaha untuk menganalisa dan menafsirkan Kebijakan politik,tidak-tanduk  dan sikap ini  dan juga untukmenunjukan akibat-akibatnya pada masyarakat Indonesia.,disamping sekaligus akan menganalisa dan member tafsiran tentang dinamika Masyarakat Indonesia dengan tekanan khusus pada golongan Elit masyarakat itu.

Bila kita adakan tinjauan melampaui batas jangkauan buku ini ke masa sekarang, bukanlah tidak patut untuk mengatakan, bahwa perubahan pola-pola Kepemimimpinan didalam msyarakat Indonesia pada perempat abad ini membentuk dasar social bagi Kemerdekaan Politik beberapa tahun kemudian.

Dalam batas-batas jangkauan studi inipula dapat dikatakan, bahwa garis besar perkembangan elit Indonesia adalah dari yang bersifat traditional yang berorientasi kosmologuis, dan berdasarkan keturunan  kepada elit modern yang berorientasi kepada Negara Kemakmuran, berdasarkan Pendidikan,

Elit modern ini jauh ,lenih beranekaragam dari elit traditional, tetapi disini sedikit saja usaha dilakukan untuk menguraikan elit modern ini secara structural.

Ada disebutkan tentantang administrator-administrator ,pegawai-pegawai pemerintah, tehnisi-tehnisi, orang-orang professional dan para intelektual ,tetapi pada akhirnya perbedaan utama yang dibuat di sini ialah antara elit fungsional dan elit politik.

Yang dimaksud dengan elit fungsional adalah pemimpin-pemimpin ,yang baik pada masa yang lalu maupun masa sekarang , mengabadikan diri untuk kelangsungan berfungsinya suatu Negara dan Masyarakat yang modern,sedangkan elit politik adalah orang-orang Indonesia yang tyerlibat di dalam aktivitas politik untuk berbagai tujuan tapi  yang biasanya bertalian dengan sekedar perubahan politik .

Didalam masa yang dicakup dalam buku ini , kelompok pertamaberlainan dengan yang biasa ditafsirkan, menjalankan fungsi sosialyang lebih besar dengan bertindak sebagai perubahan –perubahan, sedangkan golongan kedua lebih mempunyai arti simbolis daripada praktis. Mungkin saja ungkapan “Elit Indonesia” agak mengelirukan.

Berbicara secara teknis ada suatu kesatuan yang dikenal sebagai Indonesia, baik dalam pergerakan politis maupun pengertian social tahyn=tahun yang dibicarakan dalam studi ini.Tidak pula seluruh Hindia Timur atau Kepulauan Indonesia sama pentingnya di dalam pengembangan yang dijajaki oleh studi ini.

Menurut kenyataan, pulau Jawa, dengan tetangganya Madura ,yang selanjutnya setara bersama=sama disebut “Jawa”, tidak dapat disangkal lagi merupakan titik pusat kegiiatan Hindia Timur. Jawa bukan saja sebvagai pusat politik , administrasi dan  ekonomi untukHindia Belanda, tetapi untuk pulau-pulau Indonesia ini ia juga suatu pusat penduduk  dengan kurang lebih 70 % dari jumlah seluruhnya.

Bagian terbesar pendudk pulau Jawa adalah suku Jawa yang sebagian besar berdiam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun 1900Jawa berjumlah kurang lebih tujugbelas juta.Tetapi di pulau Jawa terdapat juga kelompok suku yang lain yang yang besar yaitu suku Sunda di Jawa Barat  yang berjumlah kira-kira tujuh juta pada permulaan abad  ini dan suku Madura di Madsura dan Jawa timur yang jumlahnya sekitar tiga juta.

Di samping itu dari kelompok-kelompok besar ini  , terdapat orang-orang Indonesia lainnya yang berasal dari kepulauan-kepulauan lain di Nusantara ini. Akibatnyaistilah “Elit Indoesia’ ini ditujukan pada kelompok Elit yang berpusat di Jawa yang terdiri dari berfbagai suku Indonesia tetapi yang unsure pokoknya adalah Jawa,

 studi ini tidaklah mencoba untuk membicarakan perkembangan Masyarakat di Bagian lain Kepulauan Indonesia dalam masa yang diperhatikan oleh tulian ini, baik dalam persaan maupun pertentangannya.

(Dr Iwan mencoba menambah beberapa info penting dari beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh,sumatera Barat,Sumatera Selatan,Makasar,Bali dan Ambon serta Papua yang erat juga hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang bersejarah di Indonesia pada awal abad kedua puluh ini,mungkin penulis kurang memahami peranan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indoneia)

Jawa, dengan perkembangan-perkembangan yang telah terjadi  dalam Masyarakatnya, amat penting dalam Kebangkitan Masyarakat Indonesia dan akan menjadi titik perhatian utama dalam studi ini

(Saat ini di Indonesia dinamakan Kebangkita Nasional, yang dirayakan sebagai Hsri Kebangkitan Nasional atau HARKITNAS 28 Oktober 1928 ,hari su,mpah Pemuda,Dr Iwan)

Studi ini pertama-tama diuraikan secara kronologis dan kedu menurut masalah. Bab Pertama, mengambarkan dasar-dasar kehidupan Hindia Timur di tahun 1900,. Dengan Bagian ini sebagai Batu Landasan. Tiga bab berikutnya menguraikan perkembangan sesuai dengan perjalanan waktu ke tahun 1914, ke tahun 1926 dan akhirnya sampai sekitar tahun 1927.

Penguraian dan  Penafsiran  pokok dilakukan dan dikembangkan dalam seluruh penelitian sedemikian rupa , sehingga kesimpulan seolah-olah tidak diperlukan lagi. Setiap nab dibagi-bagi dalam beberapa Sub-Judul , seperti akan segera jelas kelihatan, secara samar-samar  saja bersifat deskritif , serta  yang tidak pula  dimaksudkan untuk menjadi Judul yang menerangkan isinya.

Indeks pada Penutup buku dirasa perlu sebagai  panduan pasti dalam memperoleh butir-butir keterangan yang tersebar  dibuku ini

(dalam  Cd-rom ini indeks tidak dicantumkan karena banyak memakan tempat dan membosnkan untuk dibaca,bilamau tahu baca buku aslinya-Dr Iwan)

Wanita bali 1900

Dr Iwan membagi info ini atas empat bagian

Penari keraton jogyakarta 1900

Bagian pertama era sebelum sumpah pemuda 1900-1915,

Bagian Kedua Era Sebelum sumpah pemuda 1916-1927

Foto sumpah pemuda 1928

 

Bagian Ketiga  Era saat dan sesudah  Sumpah Pemuda d 1928-1939,

Poster film Tengkorak hidup karya Tan Tjeng Bok

Sumber ceritamu.com

serta terakhir  Bab Keempat  1939-1941. Ers menjelang Perang Dunia kedua Di Indonesia

Sayang buku ini tidak ada illustrasinya, sehingga bukti sejarah yang nyata tidak kelihatan, dan kurang disenangi oleh generasi masa kini,

Djoewariah aktris Indonesia tahun 1940

Sumber

wiki

Dr Iwan berusha menampilkan ilustrasi yang menaraik terkait ,yang ia namakan “koleksi sejarah” atau dalam bahasa Inggris “History Collections” dari berbagai Aspek Kehidupan politik, dan Sosial.

Thamrin buyutnya Prabowo, RM Margono Djoohadikusumo tahun 1941

Sumber

skyscrapercity.

Agar tidak membosankan kata Pengantar,Indeks dan Referensi tidak dicantumkan,jika ingin membacanya silahkan membaca buku aslinya yang merupakan koleksi pribadi dr Iwan,memang kelihatannya kurang menghargai dan menghormati hak cipta dari informasi,tetapi untuk menghemat biaya terpaka tidak dilampirkan,mohon maaf kepada yang bersangkutan.Dr Iwan)

Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesian studi ini penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sedslam-dalamnya

Troy,New York

R.v.H

October 1958

(Robert,58)

Komentar dr Iwan,

Tidak terasa buku ini sudah hampir lima puluh enam tahun yang lalu, dan sudah hampir dua puluh empat tahun yang lalu saya jumpai di lapak samping percetakan Negara ,Jalan Salemba tengah ,Jakarta Pusat. Cukup lama buku ini saya simpan,karena sibuk menyiapkan buku Koleksi Sejarah Kemerdekaan 9indonesia dan pendudukan Jepang di Indonesia,serta Indonesia sejak sebelum Masehi sampai 1967.

Semoga Buku ini berguna bagi generasi penerus  pada umumnya dan koielktor informasi sejara serta para historian  Indonesia demi untuk memahami apa yang terjadi pada tahun 1924 umumnya dan khususnya pada pameran  Bronbeek di Bandung tanggal 21 juni 1924 yang dibuka oleh Gubernur jendral Hindia Belanda de fock dan didampingi olehResiden dan Regent daerah Periangan antara lain tuan Eijken sesuai dengan teks yang tertulis dibawah foto. Dalam album no A 111.

Saya tidak tahu apakah seluruh isi  album lain terkait  degan Pameran ini , tetapi kelihatannya hampir sama kondisinya.

Selain itu juga ada beberapa foto dan info yang saya peroleh saat melakukan eksplorasi google untuk mencari nfo Pameran Bronbeek tersbut diatas, dan ternyata foto-fot koleksi ini belum pernah dipublikasikan , mungkin antinya mungkin ada dietmukan akan saya tambahkan dalam lampiran informasi.

Saya mengucapkan terimakasih kepada pemilik album  buku asrip ini karena Ia telah menyelamatkan infromasi sejarah Indonesia, dan juga kepada temanp-teman saya yang telah menjual buku album arsip ini kepada saya.

Mohon maaf   apabila edjaannya  dan s alah ketik dalam buku oni ,   maklum saya sudah tua usia 70 tahun, mata sudah mulai kurang baik.

Terima kasih atas perhatiannya

Jakarta,Desember 2014

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s