STOP PRESS: INFO JUARA DUNIA BULUTANGKIS WANITA VERAWATI FAJRIN

Pemain Bulutangkis Wanita

VERAWATI FAJRIN

(Bultangkis Putri Pertama Juara Dunia)

Pendahuluan

Bulan Agustus sampai bulan Oktober 2015 , saya menemukan beberapa koleksi Yang snagast tinggi nilainya , karena Koleksi ini berupa foto, Tanda penghargaan juara dunia olimpiade Soul 1980, dan juga terakhir Sabtu yang lalu foto Juara bulu tangkis dunia sedang berjabat Tangan dengan Alm Pk Harto, terlihat difoto itu Verawati Fadjrin, Ivana <Imeld dan kawan-kawan juga sedikit terlihat Liem swi King.(Foto asli dapat dilihat di

Museum Leluhur Kita

“WANLI”

 

Segera hari ini saya menncari informasi terkait denga koleksi tersbeut, saya memperoleh info  Koleksi sejarah Bulu Tangkis indoensia yag sudah ay uplaod ebelumini(lihat lampiran) dan infromasi penting Verawati telah pindah ke Surabaya, dan mungkin sperti kata pemiliklapak barang bekas di Jakarta bahwa koleksi ini dijual oleh orang tionghoayang sudah berumur, apakah ia ada kaitan dengan vrawati atau mungkin kleuarga verawati saat memindahkan barang-barangnya tanpa senagaja membuang koleksi yang berharga tersebut diatas termasuk juga foto pribadi dari pemain juara dunia wanita tersebut.

 

Smula saya sangka Jura Bulutangkis Wanita Indoensia yang menjadi juara Dunia pertama itu sudah kembali kepangkuan Ynag Mahakusa, ternyat atidak karena sampai saat ini belum ada beritatentang pemain terkenal ini.

Harap bagi yang mengetahui info terkait nama-nama pemain Bulutangkis Wanita Indoensia yang sudah meninggal dunia harap berkena memberikan informasi pada komentar

. artikel singkat ini belum iedit dan masih banyak salah ketik dan tatabahaanyapun belum diedit.Info ini belum lengkap segera akan ditambahkan kemudian karena saya sudah saatnya untuk makan siang.

Jakarta Oktober 2015

Dr Iwan Suwandy<MHA

KOMBESPOL(Purn)

KOnsultan Informasi

 

 

Verawaty Wiharjo

(lahir di Jakarta, 1 Oktober 1957; umur 58 tahun)

adalah pemain bulu tangkis terkenal Indonesia era tahun 1980an.

Ia berhasil meraih banyak gelar juara baik di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.

 

Pemain-pemain yang pernah berpasangan dengannya adalah 

 

Imelda Wigoena,

Imelda Wigoena Koerniawan atau Imelda Wiguna Kurniawan (lahir di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, 12 Oktober 1951; umur 63 tahun) adalah seorang pemain bulu tangkis Indonesia di era tahun 1970-an sampai 1980-an. Ia banyak meraih gelar juara dalam berbagai kejuaraan internasional, baik dalam dalam nomor ganda putri maupun ganda campuran. Pemain-pemain yang pernah berpasangan dengannya adalah Theresia Widiastuti, Verawaty Fajrin, Christian Hadinata, dan Rosiana Tendean. Imelda berhasil meraih gelar juara ganda putri dan ganda campuran dalam All England 1979 saat berpasangan dengan Verawaty Fadjrin dan Christian Hadinata.

Pada perebutan Piala Uber 1975 di Jakarta, Imelda Wigoena bersama dengan Theresia Widiastuti, Utami Dewi, Tati Sumirah, Minarni Soedaryanto, dan Regina Masli berhasil mempersembahkan Piala Uber untuk pertama kalinya bagi Indonesia setelah di final menundukkan Jepang dengan skor 5-2. Imelda yang berpasangan dengan Theresia Widiastuti berhasil menyumbangkan dua angka kemenangan dengan menundukkan pasangan Hiroe Yuki/ M. Ikeda (15-4, 15-9) dan pasangan Etsuko Takenaka/ Machiko Aizawa (17-14, 15-0).

Setelah pensiun dari bulutangkis, Imelda sempat berkarier sebagai karyawan bank sebelum akhirnya menjadi Evangelist

sumber wiki

 

 Ivanna Lie(Lie Ing Hwa) , 

Ivanna Lie Ing Hoa (lahir di Bandung, Jawa Barat, 7 Maret 1960; umur 55 tahun) adalah pemain bulu tangkis Indonesia era 1980-an. (sumber wiki)

sebelum 1970

TanYou Hok dan ferry Soneveil

IWAN ‘S CYBERMUSEUM THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM   encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA    DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI      PENDIRI DAN PENEMU IDE       THE FOUNDER     Dr IWAN SUWANDY, MHA                           

WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM                  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

The Driwan’s 

Indonesian Sport  Cybermuseum

 showcase:

Maestro Bulutangkis Indonesia

1. Kata Pengantar

1.Dalam rangka nostalgia dan mengenang para maestro bulutangkis Indonesia, saya menampilkan beberfapa koleksi majalah,buku dan gambar lama dari para mmasetro tersebut. 2.Semoga informasi ini berguna bagi sejarah olah raga bulutangkis kiita dan memacu para generasi muda untuk dapat menyamai bahkan melebihi prestasi para maestro tersebut. Jakarta Juni 2011 Dr Iwan suwandy FRAME SATU:

 
encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed
Ferry Sonneville (kiri) salah satu anggota tim piala Thomas Indonesia yang memenangi lambang supremasi tertinggi bulutangkis
Ferry Sonneville
Mantan pemain bulu tangkis Indonesia, organisatoris olahraga dan pengusaha. Lahir di Jakarta, 3 Januari 1931, dan meninggal di Jakarta, 20 November 2003. Menyelesaikan pendidikan: SD St. Yosef Jakarta (1942); HBS Nasau Boulevard, Jakarta (1951); Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam (1963). la merupakan pemain pertama dan pemimpin regu bulu tangkis Indonesia dalam perebutan Piala Thomas tahun 1958 sampai dengan 1967. Pada perebutan Piala Thomas, Indonesia tampil sebagai juara. Prestasi lain yang dicatatnya antara lain juara Negeri Belanda (1955-1961), Jerman Barat (1959-1960), Kanada (1962) dan Amerika Serikat (1962). Sebagai mantan pemain bulu tangkis Indonesia, ia adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya PBSI yang berkali-kali menjabat ketua IBF dan menjadi anggota Dewan AGF (Asin Games Federation). la juga dikenal sebagai pengusaha real estate. Di pemerintahan, ia sempat diperbantukan sebagai ahli ekonomi pada Gubernur Bank Indonesia (1965-1967); Ketua KONI Pusat dan Anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970); Ketua IBF (1972-1975); Direktur PT Ferry Sonneville & Co. (1968-sekarang). Kegiatan lain Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda;
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Swasta; Anggota Pengurus Real Estate Indonesia; Ketua Jiu Jitsu Indonesia; Ketua Umum PB-PBSI (1981-1985); Ketua Advisory Council IESC (International Executive Corps). Kaya tulis Better Badminton, Nederland, 1958; Bulu Tangkis Bermutu, Jakarta, 1959. Pada tahun 1961 ia menerima anugerah Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah RI. Pengalaman sebagai pemain bulu tangkis mengilhami dirinya menulis buku Better Badminton (1958) dan Bulu Tangkis Bermutu (1959).

Ferry Sonneville ,Pahlawan Olahraga Indonesia

 

 
Indonesia berduka. Ferry Sonneville, ‘pahlawan’ tiga kali meraih Piala Thomas, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan, pukul 05.20 WIB, Kamis 20 November 2003. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) ini, tutup usia akibat kanker darah (leukemia) yang telah diderita selama satu setengah tahun. Jenazah Ferry dikremasi di Krematorium Nirwana, Bekasi, Sabtu (22/11) pukul 10.00, setelah diadakan misa requiem di Gereja Katedral, Jumat (21/11).Pebulu tangkis Indonesia di era 1950 hingga 1960-an ini pantas disebut sebagai pahlawan olahraga Indonesia. Pria kelahiran Jakarta 3 Januari 1931 ini, gigih berjuang demi kejayaan olahraga Indonesia. Ia ikut mendirikan PB PBSI (1951), ikut mendirikan KONI (1966), Ketua Umum KONI (1970), anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970), Chef de Mission kontingen Indonesia ke olimpiade (1971), Presiden International Federation Badminton/IBF (1971-1974), dan Ketua Umum PBSI (1981-1985). Semasa mudanya, bahkan ia rela mengorbankan kuliahnya di Amerika untuk memperkuat tim Indonesia meraih Piala Thomas pertama kali pada 1958. Ia ikut berjuang dan berjaya merebut dan mempertahankan Piala Thomas tiga kali berturut-turut 1958, 1961 dan 1964. Ia menjadi Kapten bermain/Pelatih Indonesia (1958, 1961 dan 1964)
. Pada saat merebut Piala Thomas pertama kali, Tim Indonesia yang diperkuat Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Eddy Yoesoef, Nyoo Kim Bie, Tan King Gwan, Lie Po Djian, dan Olich Solihin tampil menggemparkan ketika membabat sang juara bertahan Malaya, 6-3 di final. Selain dalam beregu, Ferry yang memiliki rambut putih sejak usia 19 tahun, itu juga mengukir prestasi di nomor perseorangan, dengan menjuarai Belanda Terbuka (1955-1961), Glasgow (1957), Prancis Terbuka (1959-1960), Kanada (1962), serta runner up All England (1959) dikalahkan Tan Joe Hok di final. Kesenangannya pada dunia olahraga mengalir dari darah kedua orang tuanya. Ayahnya, Dirk Jan Sonneville adalah jago olah raga tenis sebelum Perang Dunia II. Ibunya, Leonij Elisabeth Hubeek adalah juara bulu tangkis antara tahun 1935-1945. Ia seorang tokoh olahraga Indonesia yang hidupnya lengkap. Selain hebat sebagai pemain bulu tangkis, juga sukses di bidang studinya, gemilang ketika memegang pucuk pemimpin organisasi olahraga, pemimpin akademi, maupun pemimpin organisasi pengusaha. Ferry yang terlahir dengan nama Ferdinand Alexander Sonneville, ini tidak hanya andal sebagai pemain, Ferry juga andal dalam berorganisasi. Ia orang Indonesia pertama menjabat Presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) untuk tiga kali masa jabatan tahun 1972-1975. bahkan di dalam negeri, Ferry bersama Sudirman, Ramli Rikin, Sumantri, dan kawan-kawan, yang mendirikan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tahun 1951. Kemudian, ia menjabat Ketua Umum PB PBSI periode 1981-1985. Alumni Erasmus University, Belanda, ini saat menjabat Ketua Umum PBSI dikenal sebagai pemimpin yang sangat akomodatif dan mampu melakukan pendekatan-pendekatan personal kepada para pemain. Setidaknya hal ini tercermin dari pengakuan Icuk Sugiarto, juara dunia bulu tangkis 1983. Icuk mengatakan, “Beliau selain bertindak sebagai ketua umum, juga mampu bertindak sebagai bapak. Beliaulah yang mengantarkan saya menjadi juara dunia 1983.” Ferry yang dikenal sebagai seorang yang ulet dan suka tantangan ini juga aktif dan sukses di semua bidang yang didumulinya. Saat Ferry menjadi karyawan Bank Indonesia di Amsterdam (1964), ia merintis lahirnya International Governmental Group on Indonesia (IGGI). Ketika itu, ia mengusulkan kepada Pemerintah RI untuk mengundang Prof Jan Tinbergen, ekonom kondang Belanda dengan reputasi internasional. Di bidang usaha, Ferry sempat pula membangun perusahan di bidang pariwisata yakni, Vayatour. Perusahaan itu didirikan pertama kali oleh kakak beradik dr. Hoksono Haditono dan (alm) Prakasito Hadisusanto. Perusahaan ini didirikan dengan maksud mendukung animo masyarakat yang pada waktu itu sangat antusias pada tim bulutangkis Indonesia. Usaha utama yang dilakukan saat itu adalah menangani acara perjalanan ke luar negeri dalam kaitannya menampung animo pendukung tim bulutangkis Indonesia. Di bidang usaha properti, ia juga sukses. Ia ikut terlibat di berbagai perusahaan yang membangun perumahan, kawasan komersial, perkantoran, pengembangan industi dan pusat rekreasi. Dia adalah Chairman Executive Board pada PT. Lippo Cikarang, yang mengembangkan kota baru di Cikarang, Bekasi. Ia juga pemilik perusahaan PT. Ferry Sonneville & Co yang antara lain mengembangkan perumahan Feery Sonneville di Bukit Sentul. Ia pernah menjabat Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) periode 1986-1989, dan Presiden dan Anggota Executive Committee Federasi Realestat Internasional (FIABCI) sejak 1989. Pada tahun terakhir, pemegang bintang jasa kelas III dari Presiden (pertama) Bung Karno (1964), ini berniat menulis buku otobiografinya, tetapi tak kesampaian.” Menurut Cynthia Givendolyn (45), anak bungsu dari tiga anak almarhum, di sela-sela menerima pelayat di rumah duka, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, 20/11/03, penulisan buku itu mudah-mudah dapat mereka lanjutkan. Ferry adalah sosok manusia bersahaja yang bergaul secara global. Ia sembilan tahun menetap di Rotterdam, Belanda, sejak tahun 1955. “Ia berdarah Belanda, Cina, dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan.,” kata Tan Joe Hok, pebulu tangkis Indonesia pertama menjuarai turnamen paling bergengsi di bulu tangkis dunia, All England, tahun 1959, dengan mengalahkan Ferry Sonneville di final. Ferry menikah dengan Yvonne Theresia de Wit September 1954, dan dikaruniai tiga anak. Pada akhir hayatnya, ia mempunyai dua cucu dari anak keduanya, Genia Theresia, yang kini bermukim di Hongkong. Anak sulungnya, Ferdinand Rudy, sudah terlebih dulu meninggal di London, Inggris, tahun 1976, ketika masih berusia 21 tahun. Ia dididik dalam keluarga bersahaja dan mandiri. Lingkungan keluarga ini membentuknya memiliki kemandirian dan kegigihan berusaha. Karier olahraga dimulai bukan pada bulu tangkis, melainkan olahraga bela diri Jiujitsu. Bahkan ia sempat mejadi pelatih olahraga tersebut pada 1949-1955 dan sempat menjadi orang yang turut membangun Persatuan Judo Seluruh Indonesia. Anak didiknya di antaranya adalah Faisal Abda’oe (mantan Dirut Pertamina), Marsekal R. Oetomo (Mantan KSAU), dan Ahmad Bakrie (pendiri Bakrie & Brothers). Ketika perkembangan bulutangkis di Indonesia mulai bangkit pada tahun tersebut, ia pun ikut bergabung. Setelah lulus dari sekolah di Jakarta, ia melanjutkan studi ke sekolah ekonomi Erasmus University di Rotterdam, Belanda. (1955-1965) dan sempat bekerja di Bank Indonesia cabang Rotterdam. Kendati sudah bekerja, Ferry tidak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Bahkan pimpinan di kantornya malah menyuruh Ferry berlatih bulutangkis dan bergabung dalam tim Piala Thomas Indonesia. Di bidang pendidikan ia adalah Perintis Yayasan Trisakti mewakili Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), pendiri Himpunan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (HIPPERTIS), pendiri Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik Indoneisa (APTIK), Warga Utama dan Anggota Yayasan Atma Jaya, Anggota Yayasan Fatmawati, Anggota Yayasan Bhakti Medika dan Anggota berbagai lembaga kesejahteraan sosial seperti Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC), Yayasan Gedung Arsip Nasional, Forum Indonesia Nederland (FINED), dll. Di dunia internasional dia juga dikenal ketokohannya antara lain sebagai Presiden FIABCI (1995-1996), Presiden International Badminton Federation (1971-1974) dan Chairman Advisory Council of International Executive Corps for Indonesia (1981-1997).

 

Pemerintah Indonesia menghargai semua karya dan jasa kepada bangsa dan negara itu antara lain dalam bentuk penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan (1961), Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964). Dari masyarakat internasional dia menerima ”Knighthood” dari Gereja Katolik Roma (1972) dan FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

Tan Joe Hok

 
 
Tan Joe Hok,lahir Bandung 11 Agustus 1937 Tahun 1958 bersama Ferry Sonneville,Lie Po Djian,Nyo Kiem Bie,Eddie Yusuf,Olich Solichin,Tan King Gwan merebut Piala Thomas dan mempertahankan pada tahun berikutnya. Tahun 1959,Usia 22 thn namanya ditulis panjang lebar di majalah sports bergengsi Amerika,Sports Illustrated,berkaitan dengan prestasinya sebagai orang Indonesia Pertama yang menjuarai All England,Kanada dan AS Terbuka Tahun 1962,meraih medali emas pada Asian Games Tahun 1984,sebagai Pelatih Indonesia memimpin Team Thomas Cup Indonesia merebut Piala Thomas dari team bulutangkis RRC (Yakin Piala Thomas ke Indonesia,Suara Merdeka 12-5-2002) (Tan Joe Hok.Kompas 7-12-2008)

Rudi Hartono

All England, Wimbledon, Inggris merupakan arena bergengsi untuk para atlit bulutangkis. Ada beberapa pemain Indonesia yang mengukir nama emas di Arena tersebut seperti Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudy Hartono, Chun Chun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Liem Swie King, Kristian Hadinata, Icuk Sugiarto. Dari nama nama di atas yang paling melegenda adalah Rudi Hartono, 8 kali menjadi juara tunggal dan sampai saat ini belum ada yang menyerupai rekornya. Rudi Hartono memang sangat disiplin, dan tak pernah mengecawakan pelatih, Seperti Almarhum Irsan dan Tahir Djide. Pada suatu kejuaraan All England, Rudy Hartono berhadapan dengan Sture johnson, Juara Eropa asal Swedia, Situasi benar benar kritis, Pada Set pertama Sture Johnson unggul 15 – 4 dan set kedua ia sudah unggul 14 – 0 . Semua pendengar RRI dan pemirsa TVRI (jadul nih) benar benar terhenyak, satu angka lagi tamatlah Rudy Hartono. Horeeeeeee, teriak penyiar RRI, Shutelcock berpindah ke tangan Rudy. “Aku Ingin Satu Angka Saja” kata Rudy ketika Memulai Service, ternyata 1 – 14 . “Aku Ingin Satu Angka Lagi” , dan terjadilah 2 – 14 . Akhirnya 14 – 14 dan Rudy mengakhiri set kedua dengan 17 – 14 . Sture Johnson benar – benar heran, Penonton INDONESIA riuh Rendah. Set ketiga, Rudy lagi – lagi menyatakan , “Aku ingin satu angka lagi….Aku ingin satu angka lagi”. Dan set ketiga berakhir dengan 15 – 0 untuk Rudy Hartono. Ia pun maju ke final melawan Finalis dari Denmark, Spend Pri Punch Gunalan berkomentar : “Jika Melawan Rudy, Belum tercapai angka 15, Belum Menang” Pernahkah kita berpikir bahwa saat kita memutuskan untuk menyerah, terkadang sebenarnya kita hanya tinggal selangkah lagi menuju kemenangan?.. Langkah besar terbentuk dari sekumpulan langkah2 kecil…So, nikmati proses selangkah demi selangkah & never give up!! karena Tuhan sayang pada orang2 yang tekun & mau berusaha keras.
 

DARI DUNIA BULUTANGKIS , KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA. 1.Jakarta,13 Nopember 1962(Mingguan Djaja,no 43-17 nop 1962) DARI DUNIA BULUTANGKIS , KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA. FRAME DUA

 
Semi-Finale Thomas Cup, Pantjawarna 9 Djuni 1958 Artikel ini bertjeritera tentang Tan Joe Hok, salah saorang pemain badminton jang mendjadi djoeara di All England 1958. Oentoek bisa membatja dengan satjoekoep djelasnja, silaken klik di djoedoel artikel ini, soepaja bisa ditampilken di monitor jij dengan lebi’ lebar..

FRAME TIGA .TAN YOE HOK MEMPERKUAT REGU BULU TANGKIT KITA( mingguan Djaja,n0.25.21 Juli 1962)

Berita tentang tibanya Joe Hok di Tanah air ( dengan pesawat PANAM hari senin sore tanggal 16 Juli yl) sudah barang tentu disambut dengan gembira oleh para peminat olah raga kita pada umumnya dan para peminat bulutangkis khususnya. Semenjak pertandingan try out antara pemain-pemain TC melawan Kombinasi Thomas Cup dibulan Juni Yl ,dunia olahraga kita menanti-nantikan kembalinya,terutama setealh Ferry tiba disini pada tanggal 27 juni jl. Ketika belum juga ada berita bila Joe Hok akan tiba, mulailah sementara orang bertanya-tanya , apakah ia akan tiba pada waktu masih ada kesempatan untuk berlatih sehingga taraf permainannya yang biasa pulih menjelang Asian Games nati. Tibanya Joe Hok di tanah Air,sekaligus melenyapkan rasa gawat yang mencengkam sementara oreang dalam menanti-nantikan kembalinya dan menimbulkan rasa lega; walaupun kekalah-kekalahannya yang paling belakang dalam beberapa tornoi Internasional Joe Hok, sebagaimana beberapa kali telah kami kemukakan , tetap seorang  pemain yang berkaliber besar,yang kedatangannya di tanah Air bersama Ferry berarti perkuatan tidak sedikit bagi regu bulutangkis kita.Keyakinan kami mengenai hal itu diperkuat pula oleh kata-kata Ferry, dalam suatu pertemuan yang kebetulah beberapa hari setelah Ferry tiba di tanah Air,bahwa yoe hok tiada dalam kondisi yang baik( tubuhnya kegemukan) ketika menghadapi lawannya dalam tornoi tsb dan bahwa dengan latihan serius dalam sedikit waktu ia akan memperoleh lagi vormnya yang lama. Kini berat badan Yoe hok kuarng lebih 78 kg ,berat badan ini akan dapat diturunkan setelah siutu masa latihan sehingga dengan demikian kelincahannya yang biasa pasti akan pulih. Kembalinya Joe Zhok di tanah Air tidak saja berarti suatu perkuatan fisik bagi regu kita,melainkan juga “moral boosting”(mempertinggi morfal) tidak sedikit bagi pemain kita,terutama yang muda-muda. Dengan Ferry dan Joe Hok dalam regu kita, yang kini sebagian besar terdiri atas pemain-pemain muda dengan harapan baik,dapatlah kita menantikan Asian games IV dengan penuh kepercayaan. FRAME TIGA .FERRY SONNEVILLE TERGELINCIR DIFINAL(mingguan Djaja no 6,3 maret 1962) Dilapangan bulutangkis kita kurang begitu beruntung diluar negeri pekan yang lampau. Moh.Djundi telah berhasil mencapai babak kedua Invstasi Skotlandia di Glasgow, akan tetapi dijatuhkan pemain Thomas Cup Muangthai ,Narong Boonchina, yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Playing captain regu Thomas Cup kita,Ferry Sonnevile berhasil menyisihkan lawan-lawan nya dan masuk final. Ia berhadapan dengan lasan lama Charoen Wattanasin,bekas pemain Thomas Cup Muangthai . Diluar dugaan Ferry telah jatuh terhadap lawan ini dalam straight set 15-3 dan 15-5.Sebelumnya dalam kejuaran Belanda sebelum bertoilak ke Glasgow Ferry telah mengalahkannyadalam long set 15-7,7-15 dan 15-3. Charoen telah masuk final setelah menyisihkan pemain thomascup Denmark Finn Kobero dengan 15-6 dan 15-4, Dengan demikian pemain muangthaui itu telah keluar sebagai Juara dan Ferry sebagai runner up. Dalam pada itu diberitakan , bahwa Tan Yoe Hok kini berada dalam perjalanan untuk turut serta dalam kejuaraan All England, yang befarti kejuaran dunia tak resmi.JUga Ferry dan Edy Yusuf akan turut serta dalam kejuaraan tersebut yang tahun ini kabarnya mencatat suatu jumlah rekor peserta dari 15 negara. FRAME EMPAT: MENGENANG MAESTRO BULUTANGKIS INDONESIA  HADI MULYADI (Fan tek Hong) Kamis, 9 Juni 2011

1977 – Tjun Tjun/Johan Wahyudi

 

1979

 

Verawaty Wiharjo kemudian dikenal dengan nama Verawaty Fajrin setelah memeluk agama Islam pada bulan April 1979. Nama Fajrin di belakang namanya diambil dari nama suaminya, Fajrin Biduin Aham.

1980

1980 – Rudy Hartono, Verawaty Fajrin, Christian Hadinata/Ade Chandra, Christian Hadinata/Imelda Wiguna

 

 

 

Finalis Tunggal Putri All England 1980

1980

Setelah Pelatih asing penghuni Pelatnas, Wong Tat Meng meninggalkan Cipayung, PBSI pun merekrut mantan Juara Dunia 1980, Verawati Fajrin sebagai Pelatih Tunggal Putri di Pelatnas Cipayung.

1981

Juara Tunggal Putri SEA Games 1981

1982

Juara Tunggal Putri Indonesia 1982

 

1983 –

Juar bulutangkis dunia

Icuk Sugiarto

1993 –

Juar bulutangkis dunia

Joko Surprianto, Susi Susanti, Ricky Subagja/Rudy Gunawan

1995 –

Juar bulutangkis dunia

Heryanto Arbi, Ricky Subagja/Rezy Mainaky

1997 –

Juar bulutangkis dunia

Candra Wijaya/Sigit Budiarto

2001 –

Juar bulutangkis dunia

Hendrawan, Tony Gunawan/Halim Haryanto

2005 –

Juar bulutangkis dunia

Taufik Hidayat, Nova Widianto/Liliyana Natsir

2007 –

Juar bulutangkis dunia

 Markis Kido/Hendra Setiawan, Nova Widianto/Liliyana Natsir

2008

Ketika dahulu Maria Kristin mampu meraih medali, karena ia sudah menunjukkan perfoma yang baik di beberapa turnamen sebelum Olimpiade, seperti sudah seringnya Maria mengalahkan unggulan dan sempat mencapai Final turnamen Superseries Indonesia Terbuka 2008.

 

2012

 

Namun masuknya Vera mendapat sambutan yang kurang baik dari para punggawa tunggal Putri Pelatnas Cipayung. Ini terlihat ketika Pebulutangkis yang akan mewakili Indonesia ke Olimpiade 2012, Adrianti Firdasari mengeluarkan tweet di hari yang sama saat Verawati pertama kali melatih

“Baru hari pertama aja udah banyak ngomong jadi males , gimana nanti huffft…”, begitulah tweet yang dikeluarkan pada 9 Juli lalu.

 

Tweet ini pun di Retweet oleh pebulutangkis putri lain, Bellaetrix Manuputty.

Dari tweet itu, berarti dapat kita simpulkan bahwa zamannya Wong Tat Meng, pelatih tunggal putri sebelumnya, pemain putri kita terlalu dimanjakan.

Bahkan terlihat di beberapa pertandingan, Wong selalu membawakan tas Firdasari ketika terjadi pergantian gim (tempat juga berganti).

Perilaku seperti ini yang tidak mendidik sebenarnya karena membuat Atlet serasa dimanja, justru sangat didukung omelan-omelan yang pertama kali diberikan Verawai karena ini bisa menjadi pemicu untuk perubahan di tunggal putri sehingga mental mereka bisa terbentuk.

Masuknya Vera melatih tunggal putri Pelatnas ini rasanya menjadi jawaban dari pihak Djoko Santoso saat melakukan debat dalam acara Today’s Dialogue Metro TV mengenai Mundurnya Prestasi Bulutangkis Indonesia.

Saat itu Mbak Vera sedikit menyinggung masalah Pelatih asing yang direkrut padahal Indonesia punya banyak sekali Pelatih yang berkualitas.

Saat itu Pak Dkoko pun menantang, jika anda bisa menanggung medali emas Olimpiade, anda saya jadikan pelatih.

Akhirnya Mbak Vera pun direkrut menjadi pelatih, tetapi ia mengisyaratkan agar ia tak mau diintervensi dalam melatih, alhasil Wong Tat Meng lah yang ‘disisihkan’ oleh PBSI.

Khusus untuk Li Mao, ada kabar beberapa atlet mengatakan bahwa ia meninggalkan Pelatnas, tetapi pihak PBSI sendiri menyangkal dengan menyebutkan bahwa Li Mao pulang ke China karena mengunjungi ayahnya yang sakit dan meninggal.

2013 – Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

2012

(Jakarta, 18/7/2012) Dalam rangka keberangkatan Tim Bulu Tangkis Indonesia ke Olimpiade London 2012 serta menanamkan nilai-nilai kejuangan para pahlawan, PB PBSI dan pelatih serta atlet melaksanakan ziarah

“Acara ini dicetuskan oleh Pak Djoko, dengan maksud meningkatkan rasa nasionalis para atlet dan kecintaan pada tanah air. Atlet kan juga pahlawan, berjuang di bidang olahraga” ujar Yacob Rusdianto, Sekretaris Jenderal PB PBSI yang ditemui Rabu (18/7) di

pelatnas PBSI Cipayung.

Acara ziarah ini juga dimanfaatkan untuk acara pelepasan tim bulu tangkis ke olimpiade.

Sebelumnya pengukuhan kontingen olimpiade Indonesiaa sudah dilangsungkan oleh KOI, serta pelepasan di Istana Negara oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

 

 

2013

KETIDAKADILAN yang selama ini dialami pebulutangkis asal Jatim untuk menjadi pahlawan nasional, kemungkinan besar setahap demi setahap akan tersingkir. Potensi pebulutangkis Indonesia akan terakui dengan jujur oleh para pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Pusat, juga para pelatih di Pelatnas Cipayung. Peluang itu akan hadir dengan hadirnya legenda bulutangkis Indonesia, Verawaty Fajrin di Jatim.

Sosok Verawaty adalah pebulutangkis putri Indonesia pertama yang merebut gelar juara dunia dalam Kejuaraan Dunia 1980 di Jakarta. Verawaty menyandang predikat juara, setelah di final menang atas putri Indonesia lainnya, Ivanna Lie. Prestasi ini sangat mengejutkan, krena pada saat itu arena bulutangkis nomor putri dikuasai para pemain dunia dari Jepang, China, dan Eropa khususnya Denmark melalui Lene Koppen.

 

Setelah gantung raket, nama Vera melejit ketika menukangi PB Ragunan. Setelah itu, ia dipanggil untuk menjadi tim pelatih Pelatnas. Namun di era kepengurusan Gita Wiryawan, Vera sudah tak lagi menjadi bagian dari Pelatnas bulutangkis. Kini di Surya Baja, Vera didapuk sebagai pelatih kepala.

 

Peluang pebulutangkis asal Jatim agar tidak lagi menempati posisi kelas dua di Pelatnas Cipayung, karena kehadiran Verawaty Fajrin di Jatim. Pemain top pada tahun 1980-an ini hadir secara resmi, sebagai pelatih di Perkumpulan Bulutangkis (PB) Surya Baja Surabaya sejak 1 Februari 2013.

 

Verawaty berjanji akan menyumbangkan semua ilmu dan pengalaman yang dimiliki kepada anak didiknya di PB Surya Baja Surabaya. Finalis All England 1980 ini optimis, anak didiknya bisa menjadi pemain nasional dan menembus level dunia jika punya kemauan kuat dan disiplin tinggi.

 

“Saya akan selalu berusaha memberikan kemampuan yang saya miliki. Kuncinya, hanya satu pemain harus mau disiplin, tidak manja, dan patuh terhadap teknik bermain yang diajarkan pelatih. Jangan di depan pelatih manggut-manggut, setelah itu berkeluh kesah lewat twitter. Perilaku itu mencerminkan tidak adanya jiwa satria seorang pemain,” kata Verawaty saat ditemui di lapangan PB. Surya Baja, beberapa hari lalu.

 

Tekad besar yang diusung pelatih berpostur tinggi besar kelahiran 1957 itu, adalah obsesi untuk mencetak dan melahirkan pemain hebat kelas dunia dari Surabaya khususnya dan Jatim umumnya. Selama hampir sebulan, ia sudah bisa menilai kemampuan 24 pebulutangkis binaan klub Sura Baja. Mayoritas pemain dinilai memiliki bakat dan potensi menjadi pemain besar berkualitas.

 

 

Legenda bulutangkis putri Indonesia, Verawaty Fajrin (dua dari kiri) bersama Liem Swi King dan para legenda bulutangkis lain.

“Saya melihat anak-anak punya potensi untuk menjadi pemain bagus tapi pola latihannya yang belum standar. Ini jadi tugas saya dan pelatih lain untuk membenahi,” kata pemilik tinggi badan 178 cm itu.

Salah satu otokritik yang disampaikan Verawaty, pemain Surya Baja masih memiliki kecanggungan dalam melakukan aktivitas latihan. Seharusnya pemain lebih tekun, kerja keras dan disiplin tinggi saat berlatih. Ini supaya hasilnya bisa terarah dan maksimal.

 

“Saya minta anak-anak lebih fokus dalam latihan dan selalu disiplin. Disiplin itu sangat penting dan akan saya terapkan kepada atlet. Memang perlu waktu, tapi harus dibangun sejak dini dan jadi kebiasaan seorang atlet. Saya coba lah, Insya Allah bisa,” katanya dengan tersenyum.

 

Abdul Qodir tak ragu mengakui, bergabungnya Vera bagaikan sebuah berkah luar biasa. Prosesnya pun di luar dugaan, sebab pinangan Chodir langsung diiyakan oleh mantan juara dunia tahun 1980 silam ini. “Saya sudah kenal lama dengan beliau. Hubungan kita sudah seperti saudara. Adalah sebuah langkah positif Bu Vera bisa bergabung dengan kita,” ucap Chodir.

 

Ia akan bekerjasama dengan pelatih Surya Baja sebelumnya, seperti M Nadib dan Agus Santosa. “Ini bukan mengganti, tapi menambah. Apalagi jumlah atlet kita juga bertambah. Apalagi Bu Vera lebih senior dibanding dua pelatih kita sebelumnya,” ucap Chodir.

 

“Pelatih yang lama itu bukan jelek, mereka juga bagus. Tapi sentuhan seorang ibu itu pasti beda. Baru beberapa minggu disini, sentuhan seorang itu lebih tertata. Tak hanya di lapangan, atlet yang juga dididik untuk disiplin di luar lapangan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Pengprov PBSI Jatim ini.

 

Abdul Qodir tak ragu mengakui, bergabungnya Vera bagaikan sebuah berkah luar biasa. Prosesnya pun di luar dugaan, sebab pinangan Chodir langsung diiyakan oleh mantan juara dunia tahun 1980 silam ini. “Saya sudah kenal lama dengan beliau. Hubungan kita sudah seperti saudara. Adalah sebuah langkah positif Bu Vera bisa bergabung dengan kita,” ucap Chodir.

 

Ia akan bekerjasama dengan pelatih Surya Baja sebelumnya, seperti M Nadib dan Agus Santosa. “Ini bukan mengganti, tapi menambah. Apalagi jumlah atlet kita juga bertambah. Apalagi Bu Vera lebih senior dibanding dua pelatih kita sebelumnya,” ucap Chodir.

 

“Pelatih yang lama itu bukan jelek, mereka juga bagus. Tapi sentuhan seorang ibu itu pasti beda. Baru beberapa minggu disini, sentuhan seorang itu lebih tertata. Tak hanya di lapangan, atlet yang juga dididik untuk disiplin di luar lapangan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Pengprov PBSI Jatim ini.

 

Verawaty Fajrin yang pernah melatih PB Ragunan, lanjut Chodir, dinilai memiliki kesamaan visi dan misi dengan klub Surya Baja yang ingin melahirkan pemain-pemain berkelas dunia.

 

Kendati tergolong klub baru, PB Surya Baja memiliki atlet binaan dari berbagai daerah dan salah satunya telah sukses menembus persaingan sengit masuk Pelatnas Cipayung hingga saat ini, yakni Wisnu Yuli Prasetyo.

 

“Mudah-mudahan kehadiran pelatih baru dan berpengalaman bisa semakin mengangkat motivasi anak-anak untuk terus maju dan berkembang. Yang lebih penting, pelatih-pelatih muda yang kami miliki juga bisa menimba ilmu dari beliau,” tambah Chodir.

 

Vera akan mengembleng 24 atlet yang kini dibina Surya Baja. Dari 24 nama itu, 22 di antaranya adalah laki-laki dan dua sisanya adalah perempuan.

Baru beberapa minggu melatih, Vera akan menghadapi ujian pertama dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) I Balikpapan, Maret mendatang.

Sumber

.kompasiana

Info terkait

“Setelah ditangani beliau, semoga Surya Baja semakin berkembang, performa anak-anak bisa lebih baik dan semoga pada Sirnas besok kita bisa mengambil hasil positif,” tutup Chodi

Surya Baja Surabaya menargetkan masuk babak delapan besar dalam Kejuaraan Bulutangkis Piala Walikota 2013, di GOR Sudirman Surabaya pada 4-9 Mei 2013. Optimisme itu disampaikan Ketua Umumnya, Abdul Qodir karena melihat materi pemain yang dimiliki.

Namun sekalipun bermain di kota sendiri, PB Surya Baja tak berani memasang target tinggi. Dipastikan, persaingan dalam even tingkat internasional yang rutin digelar setiap tahun ini akan semakin ketat. Bahkan kini, peserta dari Korea Selatan yang resmi mendaftar sudah mencapai 43 orang.

“Korea Selatan ingin mempertahankan gelar juara umum dengan mengirimkan atlet banyak,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengkot Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Surabaya ini.

Tantangan makin berat karena Jepang juga sudah mendaftarkan sekitar 40 atlet. “Jadi kalau target juara itu omong kosong. Kita sadar dengan materi pemain yang ada,” ungkap Abdul Qodir merendah.

Pelatih PB Surya Baja, Verawati Fajrin, menambahkan persiapan timnya dalam menyongsong Piala Walikota Surabaya 2013 terbilang singkat.

Efektif hanya empat bulan, semenjak dirinya bergabung sebagai pelatih di PB Surya Baja pada Januari 2013. “Idealnya persiapan satu tahun. Empat bulan latihan fisik, dilanjutkan teknik dan sebagainya. Tapi saya akan mencoba melakukan persiapan dengan waktu yang ada,” terang Verawati.

PB Surya Baja sendiri akan menurunkan 30 atlet semua kategori. Yakni kategori pemula, taruna dan dewasa. Hanya saja, ada beberapa atlet yang bermain dikategori berbeda dengan kejuaraan sebelumnya. Seperti Agi yang akan mulai bermain di kategori dewasa.

Sementara itu, pebulutangkis terbaik Tanah Air yang sekarang bernaung di progam Pelatihan Nasional (Pelatnas) dipastikan absen dalam Piala Walikota Surabaya 2013. Ini dikarenakan para atlet Pelatnas disiapkan mengikuti kejuaraan lain, yang jadwalnya bersamaan dengan gelaran Piala Walikota Surabaya 2013.

Sumber info

lensaindo.

Dari 20 edisi kejuaraan, total 20 gelar dimenangi oleh pemain-pemain Indonesia. Yang terbanyak masih China dengan total 55 nomor. Denmark berada di posisi ketiga dengan total 10 gelar, diikuti Korea Selatan (9).

 

Berikut ini daftar juara dunia asal Indonesia berdasarkan tahun kemenangan: 

2014

Firdasari yang setahun belakangan nyaris semuanya tersingkir di babak pertama, ditambah dengan cedera yang sempat menimpanya, lolos dari Penyisihan Grup di Olimpiade nanti sudah pencapaian yang luar biasa

Sumber info

kompasiana

 

2015

Verawati terlihat datang ketika PBSI mengadakan acara Ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, 19 Juli 2015.

Sumber global news

Sumber

Sportnews

 

(Jakarta, 18/7/2012) Dalam rangka keberangkatan Tim Bulu Tangkis Indonesia ke Olimpiade London 2012 serta menanamkan nilai-nilai kejuangan para pahlawan, PB PBSI dan pelatih serta atlet akan melaksanakan ziarah pada:

 

 

Hari/Tanggal                       : Kamis, 19 Juli 2012

 

Waktu                                 : Pukul 11.00 WIB

 

Tempat                                 : Taman Makam Pahlawan, Kalibata

 

 

Pimpinan Rombongan        : Djoko Santoso, Ketua Umum PB PBSI

 

“Acara ini dicetuskan oleh Pak Djoko, dengan maksud meningkatkan rasa nasionalis para atlet dan kecintaan pada tanah air. Atlet kan juga pahlawan, berjuang di bidang olahraga” ujar Yacob Rusdianto, Sekretaris Jenderal PB PBSI yang ditemui Rabu (18/7) di pelatnas PBSI Cipayung.

 

Acara ziarah ini juga dimanfaatkan untuk acara pelepasan tim bulu tangkis ke olimpiade. Sebelumnya pengukuhan kontingen olimpiade Indonesiaa sudah dilangsungkan oleh KOI, serta pelepasan di Istana Negara oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Kontingen bulu tangkis akan bertolak ke London pada hari Senin, 23 Juli 2012 dini hari, pukul 00.10 WIB, menggunakan maskapai Qatar Airways.

 

Tim bulu tangkis Indonesia akan mengirimkan sembilan orang atlet yaitu Simon Santoso dan Taufik Hidayat (tunggal putra), Adriyanti Firdasari (tunggal putri), Mohammad Ahsan/Bona Septano (ganda putra), Greysia Polii/Meiliana Jauhari (ganda putri), serta Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran).

 

Sumber info

kaskus.

HABIS

HAL CIPTA @ Dr Iwan 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s