MUSEUM LELUHUR KITA WANLI BAGIAN LUKISAN MAESTRO B

The Henk Ngantung Painters

History Collections

Created By

DR wan suwandy,MHA

Limited E-Book In CD-Rom Edition

Special For Indonesian Senior collectors

Copyright @ 2015

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR

Pada tahun 2012 saya membeli beberapa sketch Henk Ngantung beserat buku dan dokumen miliknya,katanya dijual oleh anaknya.

Baca info yang saya upload di web blog saya dibawah ini, dan pada tahun 2014 saya mendengar isteri henk ngantung meninggal dunia,saya berencana menjual beberapa sketch yang saya miliki,bagi yang berminat membaca dan melihat info lengkap dengan ilustrasi saya,silahkan hubunggi email saya iwansuwandy@gmail.com,dengan syarat mengupload kopi KTP dan alamat lengkap rumahnya, harga e-book limartaus ribu rupiah sudah termasuk biaya kirim Titipan Kilat,maaaf ini hanya untuk kolektor dalam negeri saja.

Terima kasih atas kujngannya ke web blog saya

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

Jkarta December 2014

DR Iwan Suwandy<MHA

 

Artikel Saya di Web Blog tahun 2012

Henk Ngantung Painting

History Collection

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Limited Private Edition In DD-ROM

Copyright @ 2012

 

KATA PENGANTAR

Tahun yang lalu saya menemukan beberapa

dokumen, bnku dan

sketsa lukisan Henk Ngantung dasr lukisan diatas

dari teman pedagang barag antik di Jakarta, dan

saya telah menulis web blog saya driwancybermuseum tentang pelukis tersebut serta telah mendapat cukup banyak tanggapan dari teman-teman almarhum.

Minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku  Buku karangan Baharuddin M.S yang diterbitkan

awal Januari 1981 yang berjudul Sketsa-sketsa  Henk dengan ilustrasi sketsa ciptaan Henk Ngantung mulai masa remajatahun 1935  sampai tahun 1951.berjumlah 240.

Buku ini dimulai dengan pengantar berjudul Henk Ngantung Yang swaya kenal.

Berdasarkan dua penemuan besar ini saya mulai melakukan penelitian lebih lanjut dari sumber-sumber lain yang ada sehingga menjadi karya tulis ini.

Selanjutnya Karya tulis ini ditulis dalam bahasa universal Inggris agar almarhum dapat dikenal oleh dunia dan koleksinya dapat dijadikan pusaka dunia , dan bila ada sponsor dapat dibuatkan sebuah museum khusus untuk almarhum karena selama ini tidak ada suatu kenang-kenangan atas karya almarhum akibat ia disayang oleh

Bung Karno dan ikut menjadi

anggota LEKRA

(lembaga Kesenian Rakyat) yang dibina

Partai komunis yang terlarang masa era Pak Harto ,apa yang berbau komunis PKI dilarang,termasuk Almarhum yang tahun 1965 dangkat Bung Karno menjadi Gubernur DKI dicopot dan dikucilkan ,walaupun tak pernah diadili,alamarhum mengalami kesulitan sebagai orang yang terlibat G30 S PKI.

Sungguh tragis nasib almarhum.dalam kata pengantar Burhanuddin M.S. menulis bahwa Henk Ngantung lahir di

Bogor, 1Maret 1921.Ayah bundanya berasal dari temohon (Minahasa) .Ia hanya menamatkan Sekolah dasar Belanda .

Seterusnya tidak bercita-cita meneruskan sekolahnya karena orang tuanya bukan orangberada.Yang di cita-citakannya ialah menjadi pelukis ,sesuai dengan bakatnya yang mulai berkembang semenjak di SD saat itu

HIS(holandse Indische School-Dr Iwan).dan yang mendapat perhatian  dari

Bapak E.Katoppo Kepala SEkolahnya itu.Setelah meninggalkan bangku sekolah almarhum  dimasa remaja memulai sebagai seorang otodidak,dengan segala kesanggupan  7ang dimilikinya ia mrembuat

gambar dan lukisan cat air dalam jumlah yang cukup besar.

Bekas gurunya itu menganjurkan Henk Ngantung yang saat itu berusia 15 tahun untuk mengadakan pameran .

Di temohon diselengarakan dan menarik cukup banyak pengunjung dan lukisannya banyak pembelinya. Dengan uang hasil pameran tersebut Henk Ngantung meninggalkan temohon menju pulau Jawa tahun  1937 menetap di Bandung.,

D Bandung Henk ngantung sekolah akademi seni lukis kepada

Prof Rudolf Wenghart ,seorang pelukis potret terkenal berasal dari wina Austria.

Rudolf Wenghart (geb. 1887)

 

Sementara itu ia juga berkenalan  dengan seorang kolektor barang antic dan benda seni bernama Neumann .Rumah kolektor tersebut merupakan tempat pertemyuan  para seniman seperti

Prof Wolf Schumacher,

Luigi Nobili,

Dake dan lainlain.Ditempat tersebut tersedia perpustakaan sejarah dan ilmu pengetahuan,sehingga dapat dipergunakan henk Ngantung untuk mengejar ketinggalan ilmunya dikedua bidang tersebut.

Di Bandung Henk Ngantung pertama kali berkenalan dengan  pelukis terkemauka seperti

Affandi,saat itu dia sudah terkenl, dan di kota bandunglah berkat dorongan

Syafei Sumarja yang terkenal sebagai pendidikl kesenian  seni rupa didirikanlah 

perhimpunan seniman lukis

PERSAGI guna mengembangkan  seni lukis dikalangan etnis Indonesia dimana henk ngantung ikut bergabung bersama pelukis lainnya seperti

Agus Djayasuminta

,S.Sudjojono,

Emiria Sunassa,

S.Sudiardjo,

S.Tutut,

Title : “My Mother Sew”

Artist : Sindu Sudjojono

 

Sindu siswaro,

Sjoeib,

Sukirno,

Suromo, dan

soedibio .

Koleksi luisan terakit


Some of the oldest works created were by 

Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880) or

best known as Raden Saleh, a Javanese noble of Arab descent whose painting education was firstly obtained in 1822 from a Belgian-born Dutch painter named A. A. J. Payen. He continued his painting education in some European countries, such as Netherlands and German, and learnt more about romanticism under the influence of a French romanticist painter, Ferdinand Victor Eugene Delacroix. Raden Saleh was widely known by his ability of addressing realities into his paintings—wandering to many places, he searched for dramatic elements and internalised them. Returning to Batavia in 1852, he spent his lifetime painting. Raden Saleh died in Bogor and was named as The Pioneer of Indonesian Modern Art. I took only three pictures of his paintings:

IMG_9259

Pieter Mijer, Governor-General of the Dutch East Indies (1830–1833).

Deer Hunt

Shortly after, there was this period called Mooi Indie or Indonesia Molek (1908-1936), starting in early 20th century. The term was given to mark the beauty of Dutch East Indies nature paintings. Initially, Mooi Indie was introduced by foreign painters coming to Dutch East Indies due to their interest in its beautiful landscape and exotic native men and women, such as: Ernest Dezentje, Walter Spies, and Rudolf Bonnet from the West; Lee Man Fong and Biau Tik Kwie from China. But then the native painters also followed the style, including Abdullah Suriosubroto, Basuki Abdullah, Mas Pirngadi, Wakidi, and so forth.

Dancing in the Cloud, by Antonio Blanco.

Kapal Basuki Abdullah

An easy going afternoon, by a Dutch-born indonesian painter Arie Smit.

The era of Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938)the first modern art foundation ever founded, known as Persagi—was noted as the revival of Indonesian fine art with such paintings by Agus Djaja, S. Sudjojono, Henk Ngantung, Emiria Sunassa, and R. G. A. Sukirno. Persagi was established in the aim of encouraging native painters to create artworks which reflected the national identity—looking for the synthesis of traditional and modern paintings, also developing the Indonesian-characterised style. Persagi era was like the opponent of Mooi Indie, where it emphasised the actual reality of society at that time with its flaws and struggles—against colonialism—which couldn’t be found in all the beauty and perfection of Mooi Indie paintings. I have my own favourite painter of this period who often combined realism and cynicism in his works: S. Sudjojono, the secretary of Persagi.

I can't remember the title of this painting by Otto Djaya, but this was real rad, I can tell!

IMG_9266

IMG_9267

IMG_9268

Maka Lahirlah Angkatan '66, by S. Sudjojono. I love this!

Penjual Ikan Henk Ngantung

When Indonesia was invaded by Japan, Persagi was disbanded by the colonials, and then replaced with Keimin Bunka Sidhoso or KBS (1942-1945). This cultural foundation wasn’t just established for one field (fine art), but also for theatre and film; literature; also music and dance. KBS gave freedom of expression to its artists. In fine art, there were four work plans: (1) providing places for painting practice, (2) providing places for exhibitions, (3) funding travelling exhibitions in several cities, also giving appreciation to best painters in competitions, and (4) organising technical and academical painting lessons—with Basuki Abdullah as the tutor. As Indonesia finally proclaimed its independence, KBS then no longer existed.

Kerja Paksa, by a realist-socialist painter, Itji Tarmizi. He often included the theme of social injustice in his works.

Starting in 1945, several organisations were established to put together ideas in art and culture—artists, writers, and humanists often gathered to hold trainings and activities. This period was called Era Sanggar, best known for its populist aesthetics. In Yogyakarta,Seniman Masyarakat was founded, and led by Affandi, followed by Seniman Indonesia Muda with S. Sudjojono as the founder. Other cities then had their own studios, such as Medan, Jakarta, Bandung, and Surabaya. The painters coming from this era were Sudjono Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan, Barlin Sasmita, and so on. And by that, a new period called Era Akademi emerged, starting from early 50’s until late 90’s.

This was by a revolutionist painter, Sudjana Kerton, but ugh, I forget the title.

IMG_9290

Wanita Memakai Ankin Sudarso

Menyusui Dullah

Lelaki Duduk Joko Pekik Tak Seorang Berniat Pulang Walau Mati Menanti

Rumah-rumah China di Jatinegara Amrus Natalsya

IMG_9293

Kucing Popo Iskandar

Anjing dan Kucing Sunarto P. R.

IMG_9295

Wanita Jeihan

One says that by looking at a painting, we don’t just see a painting, but we see the painter: his point of view, what he has been through, his whole life. I guess that’s why I can’t just stop and think of one painter and wonder how he did it. How he actually did it. Also, my contemplation has not just ended there…

 

 

Gabungan Seni ciptaan pemerintah Hindia belanda saat itu Bataavsche Bond van Kuntskringe  di Batavia(Jakarta) dengan cabang di Surabaya dan Bandung  sejak tahun 196 tidak pernah menghiraukan perkemabnga seni lukis etnis bangsa Indonesia.

D Masa Pendudukan jepang Henk Ngantung mengembangkan profesinya sebagai pelukis,pada bulan pertama ia ikut pameran bersama dibekas gedung perpustakaan inggris di Gambir Barat(kini Merdeka Barat).Kemudian pemaran besar di prinsepark sekarang Lokasari mangabesar bersama anggota PERSAGI. Pada saat diturunkan dari gubernur DKI,Henk dipensiunkan dan dikucilkan,ia terpaksa melukis terus untuk menutup biaya hidup kendatipun matanya hamper buta akibat penyakit Katarak dengan memakai kaca pembesar.

Kisah selanjutnya dapat dibaca dalam  Bab Biografi Henk Ngatung.

Saya harapkan hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi generasi penerus untuk lebih mengenal karya lukisan Henk Ngatung dan dapt diambil sebagai pejaran dlam mengembangkan karier dibidang politik dan seni lukis,ternyata kedua profesi yang baik itu akan jadi masalah apabila digabungkan.

Hasil pene;itian ini belum sempurna ,masih banyak kekurangannya,oleh karena itu komentar dan koreksi perbakan dari pembaca sangat saya harapkan,dan bila ada yang berminat dapt dilanjutkan pelnelitian untuk disertasi S3 dibidang seni.

Japarta 1 April 2012

Dr Iwan suwandy,MHA

BIOGRAPHY HENK NGATUNG

*Nama : Hendrik Hermanus Joel Ngantung

*Tanggal Lahir : Bogor, 1 Maret 1921

*Pendidikan : Otodidak

*Tanggal Meninggal: Jakarta, 12 Des 1991

Source Wikipedia

Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau juga dikenal dengan nama Henk Ngantung (ManadoSulawesi Utara tahun 1921 – Jakarta12 Desember 1991) adalah seorang pelukis Indonesia dan Gubernur Jakarta untuk periode 19641965.

 

Karier

SEBAGAI PELUKIS

Sebelum menjadi Gubernur Jakarta, Henk dikenal sebagai pelukis tanpa pendidikan formal. Bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani, ia ikut medirikan “Gelanggang”. Henk juga pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok 1955-1958. Henk juga merupakan seorang pelukis dan budayawan dari organisasi Lekrayang pada saat itu berafiliasi ke PKI. Sebagai pengurus Lekra ia juga memprkarsai berdirinya Sanggar Gotong Royong.

] GUBERNUR DKI

Henk Ngantung (tengah) dalam lawatannya ke Wina, bersama Walikota WinaAustria pada masa itu, Bruno Marek dan Konsul Indonesia di Wina, A. Kobir Sasradipoera

 

Sebelum diangkat menjadi gubernur, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai deputi gubernur di bawah Soemarno.

 

Lihat SK henk ngantung yang asli dibawah ini

Dan ucapan selamat dari sekretaris ikatan rumah sakit swasta Jakarta,menteri kesehatan pertama Indonesia DR Boentaran Martoatmodjo

 

Dua dokumen bersejarah yang tak ternilaikan harganya.

 

 

Saat itu banyak kalangan yang protes atas pengangkatan Henk Ngantung. Soekarno ingin agar Henk menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Dan, Ngantung dinilainya memiliki bakat artistik. Salah satu pengalaman yang barangkali menarik adalah tatkala presiden memanggilnya ke istana untuk mengatakan bahwa pohon-pohon di tepi jalan yang baru saja dilewati perlu dikurangi. Masalah pengemis yang merusak pemandangan Jakarta tak lepas dari perhatian Ngantung. Tapi semuanya tidak berhasil.

Henk diberhentikan tiba-tiba sebagai Gubernur DKI bersamaan dengan pemberantasan G30S/PKI. Statusnya sebagai pengurus Lekra telah menyebabkan ia dianggap sebagai antek PKI.

SETELAH TIDAK MENJABAT

Henk Ngantung tidak sekadar tinggal dalam kemiskinan hingga harus menjual rumah di pusat kota untuk pindah ke perkampungan. Derita Henk Ngantung terus menerpa karena nyaris buta oleh serangan penyakit mata dan dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia tanpa pernah disidang, dipenjara, apalagi diadili hingga akhir hayatnya bulan Desember 1991. Henk Ngantung hingga akhir hayatnya tinggal di rumah kecil di gang sempit Cawang, Jakarta Timur.

Kesetiaan Henk melukis terus berlanjut meski dia digerogoti penyakit jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 persen.

Pada akhir 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas dan harus dibantu kaca pembesar. Sebulan sebelum wafat, saat ia dalam keadaan sakit-sakitan, pengusaha Ciputramemberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk.

 

 

Keluarga

Henk beristrikan Evie Ngantung. Pernikahan mereka dikaruniai 4 orang anak yaitu Maya NgantungGenie NgantungKamang Ngantung dan Karno Ngantung (meninggal pada usia 71 tahun karena sakit jantung).

Karya

Tugu Selamat Datang yang menggambarkan sepasang pria dan wanita yang sedang melambaikan tangan yang berada di bundaranHotel Indonesia merupakan hasil sketsa Henk.

 

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Henk juga membuat sketsa lambang DKI Jakarta dan lambang Kostrad. Lukisan hasil karya Henk antara lain adalah Ibu dan Anak yang merupakan hasil karya terakhirnya.

 

HENK NGANTUNG PAINTING

Type :

Oil painting

Total 28

watercolour painting

total ?

 

the name of painting

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HENK NGANTUNG SKETSA

 

TOTAL SKETCH

List in Baharuddin M.S,1981

1933-1942

8 sketch

1942-1945

13 sketch

1945-1949

93 sketch

1949-1965

58 sketch

 

 

Henk Ngantung

Peninjau RI Ny. Mr. Maria Ulfah. Menteri Urusan Sosial RI. Sekarang Ny. Subadio Sastrosatomo. Linggarjati, 1947.
Maria Ulfah Santoso, was an Indonesian women’s rights activist and politician. She was the first Indonesian woman to receive a degree in law as well as the first female Indonesian cabinet member.
Pen on Paper, 28.5 x 40 cm.
As seen in the book : “Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari masa ke masa” – No. 91, Hal. 91

 

Loo the complete info with click

http://www.frank-gallery.com/

 

 

 

Source frank galery

Related info

From

Henk Ngantung web blog

Henk Ngantung

Seniman Besar Indonesia

 

 

 

 

 

 

GRAND INDONESIA SHOPPING TOWN MENGGUNAKAN LOGO YANG IDENTIK DENGAN LUKISAN HENK NGANTUNG


  1. Grand Indonesia selaku pengelola Mall Grand Indonesia menggunakan sebagai logo dari pusat perbelanjaan yang terletak berhadapan dengan Bundaran Hotel Indonesia tersebut dalam bentuk karya 2 Dimensi yang identik dengan karya seni lukis berupa Sketsa yang dibuat oleh Henk Ngantung. Hal itu dapat dimengerti, karena sebagai Mall yang berhadapan langsung dengan Patung Tugu Selamat Datang, tentunya mereka akan memperoleh manfaat komersil dari penggunaan Logo tersebut untuk kepentingan usahanya.

Berulang kali kami selaku Keluarga dari Almarhum Henk Ngantung memperingatkan PT. Grand Indonesia, bahwa mereka telah menggunakan lambang tersebut tanpa hak dan tanpa izin dari kami selaku ahli waris dari Pelukis yang membuat desain dari Tugu Selamat Datang tersebut, namun hingga detik release ini dituliskan, tak sepatah kata pengakuan pun yang dinyatakan perusahaan tersebut, apalagi menghargai karya dari Henk Ngantung, meskipun kami telah mendaftarkan hak cipta karya seni Henk Ngantung tersebut guna mendapatkan perlindungan hukum.

Selaku keluarga dari Almarhum Henk Ngantung, kami sangat menyadari betapa lemah dan tak berdayanya kami ketika berhadapan dengan perusahaan besar yang didukung raksasa-raksasa bisnis di Indonesia, juga kami sadari wajah buram peradilan di negeri ini yang mungkin akan membawa kami ke perjalanan tanpa ujung bila kami harus berhadapan dengan perusahaan yang mampu membeli apa saja bahkan rasa keadilan sekalipun.
Namun kami tidak rela bila karya monumental Henk Ngantung tidak diakui sebagai karyanya, dan dibengkokkan kebenaran sejarahnya. Bila bangsa ini bisa marah karena karya seni bangsanya diakui sebagai karya bangsa lain, kami juga percaya bahwa masyarakat Indonesia akan mendukung perjuangan kami agar hak kami tidak diingkari. Sebuah mall yang katanya hanya menjual produk-produk yang dilindungi hak ciptanya, tempat ratusan merk-merk internasional dan nasional mengisi bangunannya, ternyata menggunakan logo yang dibuat dengan tidak menghormati penciptanya.

Kami, selaku Keluarga dari Almarhum Henk Ngantung, akan menempuh segala upaya yang dapat kami tempuh agar PT. Grand Indonesia mengakui Henk Ngantung sebagai pencipta desain Tugu Selamat Datang yang melatar belakangi pembuatan logo yang digunakan oleh Mall Grand Indonesia. Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, mohon doa dan restu masyarakat Indonesia untuk mendukung perjuangan kami.

PEMBANGUNAN TUGU DI BUNDARAN HOTEL INDONESIA

 

Sejak tahun 1957 Henk Ngantung telah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menata kota Jakarta dalam rangka penerimaan Kepala-Kepala Negara Asing. Berbagai ide untuk menata Kota Jakarta telah ada dalam benak Henk Ngantung sejak lama. Terkait dengan adanya pesta olahraga Asian Games pada tahun 1962, maka pemerintah membangun Hotel dengan fasilitas yang baik untuk tamu-tamu Negara. Hotel tersebut kemudian dikenal dengan nama Hotel Indonesia.


Tepat di depan Hotel tersebut terdapat sebuah jalan yang melingkar yang kemudian dikenal dengan nama Bundaran Hotel Indonesia. Bahwa sesuai dengan latar belakang pengangkatan Henk Ngantung sebagai Wakil Gubernur Jakarta oleh Bung Karno, yaitu antara lain untuk menata kota dan memperindah Kota Jakarta, maka kemudian pada Bundaran tersebut dibangun Tugu. Rancangan tentang patung yang akan diletakan sebagai Tugu pada Bundaran tersebut dating dari Henk Ngantung. Beliau telah jauh sebelumnya memiliki konsep tentang penataan Kota Jakarta. Sehingga ketika Bung Karno meminta untuk dibangunkan sebuah Tugu di depan Bundaran Hotel Indonesia, maka Henk Ngantung telah terlebih dahulu memiliki konsep dan telah memiliki karya seni berupa Lukisan Sketsa sepasang pemuda-pemudi yang sedang melambaikan tangannya, seakan-akan menyambut kedatangan orang. Karya seni itulah yang kemudian menjadi dasar pembuatan Tugu Selamat Datang.

Setelah mendapatkan persetujuan Bung Karno, maka dipanggilah Edhie Sunarso seorang pematung muda untuk menuangkan karya seni Henk Ngantung tersebut menjadi Patung, yang kemudian dikenal dengan nama Tugu Selamat Datang.

LUKISAN-LUKISAN KARYA HENK NGANTUNG

Judul : “KEPASAR”, dilukis tahun 1950

Judul : “MENGHADAPI HARI RAYA GALUNGAN DI BALI & PEMANDANGAN KAMPUNG DI BALI”, dilukis tahun 1951
Judul : “MEMUNGUT CENGKEH”, dilukis tahun 1979
Judul : “IBU DAN ANAK DI KALIMANTAN”, dilukis tahun 1980

 

Dr Iwan Note: I have the sketsa of this painting.

 

HENK NGANTUNG SENIMAN BESAR INDONESIA

 

Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang kemudian sangat dikenal dengan nama Henk Ngantung adalah seorang pelukis otodidak berbakat yang telah menciptakan beberapa karya seni lukis monumental dan menjadi koleksi-koleksi penting yang tersimpan di beberapa Istana Negara, Museum, dan Kantor Pemerintahan, serta menjadi buruan kolektor lukisan.

 

Beberapa lukisannya yang sangat terkenal antara lain lukisan berjudul : “Pemanah”, “Gajah Mada”, “Ibu dan Anak”, dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Beliau juga terkenal luas sebagai pelukis yang meliput berbagai peristiwa sejarah penting di Republik ini sejak zaman kolonial Belanda hingga zaman kemerdekaan. Peristiwa penting yang pernah beliau liput dalam bentuk lukisan sketsa antara lain : Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville, dan banyak lagi peristiwa penting lainnya yang diabadikan dalam bentuk lukisan sketsa. Sebagian lukisan sketsa-sketsa ini diabadikan dalam buku “Sketsa-Sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa”, penerbit Sinar Harapan, 1981. Beliau juga adalah perancang/pencipta Lambang Kostrad dan perancang/pencipta Lambang Pemerintahan Propinsi DKI Jakarta. Henk Ngantung juga adalah sahabat Bung Karno sejak masa penjajahan Jepang. Mereka telah saling mengenal bahkan sebelum Bung Karno menjadi Presiden pertama RI.

Pada Tahun 1957 beliau diangkat menjadi Ketua Seksi Dekorasi dalam Panitia Negara Penerimaan Kepala-Kepala Negara Asing, selanjutnya pada tahun 1959-1966, menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung mewakili Golongan Karya Seniman, 1959-1964 menjadi Wakil Gubernur Kepala Daerah Chusus Ibukota. 1964- 15 Juli 1965 beliau diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sebagai seniman besar yang memiliki komitmen dan dedikasi terhadap cita-cita kemerdekaan, maka atas keinginan Presiden RI pertama, Soekarno, Henk Ngantung diminta untuk menjabat sebagai Wakil Gubernur selanjutnya Gubernur DKI Jakarta. Bung Karno mengharapkan Henk Ngantung dapat menata Kota Jakarta sebagai ibukota Negara yang modern serta memiliki keindahan dengan cita rasa seni yang tinggi. Beberapa karya besar memang dihasilkan selama masa tersebut, antara lain “Tugu Pembebasan Irian Barat” dan “Tugu Selamat Datang”. Desain dari kedua patung tersebut dirancang berdasarkan oleh karya seni lukis yang diciptakan Henk Ngantung.

 

Source :minahsa geleri

Galeri Foto Minahasa: HUT bulan Maret

 

01 Maret 1921 – Henk Ngantung

01 Maret 1921 – Henk Ngantung
seorang seniman: pelukis.

02 Maret 1957 Proklamasi Gerakan Perjuangan Semesta (Permesta)
Naskah Proklamasi Permesta

02 Maret 1957 – Proklamasi Permesta oleh Ventje Sumual pada saat subuh tanggal 2 Maret 1957

02 Maret 1957 – Penandatanganan Piagam Permesta oleh Panglima TT-VII/Wirabuana (Indonesia Timur) Letkol Ventje Sumual dan Gubernur Sulawesi Andi Pangerang tanggal 2 Maret 1957.

Para staf dan pejabat di Kantor Pemerintah Daerah Minahasa – Permesta di Pinaras.

Kantor dan Staf Pemerintah Daerah Minahasa (KDM) kubu Permesta di Pinaras – Tomohon, dengan penjabat Kepala Daerah Minahasa (KDM) Patih Arie Mandagi.

05 Maret 1928 – Brigjen. TNI Purn. Drs. Johanes Paat

07 Maret 1921 – Letkol. TNI Purn. F.J. (Broer) Tumbelaka

09 Maret 1911 – Laksda TNI Purn John Lie – John Yahya Daniel Dharma
Satu-satunya orang WNI keturunan yang meraih pangkat perwira tinggi.(Dr iwan Note, there is another Tionghoa PATI from POLRI BrigjenPOl Dr Hardja sjamsursa,Dr Tjiam)

09 Maret 1943 – Prof DR Paulus Effendie Lotulung, SH
Hakim Agung RI.

12 Maret 1919 – Mayjen TNI Purn Hein Victor Worang (Kembi)
orang Minahasa pertama yang menjadi Mayor Jenderal
(selain Mayjen Revolusioner Alex Kawilarang dalam pangkat pemberontak APREV PRRI)

12 Maret 1919 – Mayjen TNI Purn Hein Victor Worang (Kembi) – (ziarah kubur tgl 30 Juli 2008)

12 Maret 1922 – Letkol TNI Purn dr OscarEduard Engelen (Nos)
Bendahara Dewan Gereja Indonesia (DGI – sekarang PGI)

14 Maret 1844 – Majoor Estefanus Arnold Gerungan
Majoor/Hukum Besar Tondano-Touliang. Adik dari opa Dr. Sam Ratulangi.

14 Maret 1938 – Aristides Katoppo
Tokoh pers Indonesia. Di Sinar Harapan/Suara Pembaruan.

18 Maret 2006 – peresmian Radio Suara Minahasa 93,3 FM & Perpustakaan Minahasa AZR Wenas.
In memoriam…

18 Maret 2006 – peresmian Radio Suara Minahasa – Perpustakaan Minahasa AZR Wenas – prasasti.
In memoriam…

19 Maret 1922 – Markus Hendrik Willem Dotulong
Walikota Manado 1971-1977.

20 Maret 1602 – VOC = Verenigde Oost–Indische Compagnie berdiri.

20 Maret 1954 – Ir Alexander Edwin Kawilarang
anak dari Alex E. Kawilarang.

25 Maret 1878 – Hukum Besar Alexander Hendrik Daniel Supit (Ayeh)
Hukum Besar Tonsea, anggota Dewan Minahasa (Minahasaraad).

25 Maret 1878 – kubur Hukum Besar Alexander Hendrik Daniel Supit (Ayeh) – (ziarah kubur 17 Des 2007).

26 Maret 1931 – Prof DR Eduard Karel Markus Masinambouw
Pejabat senior LIPI.

27 Maret 1920 – Kolonel Permesta Laurens Frits Saerang
Bupati/Kepala Daerah Minahasa pra-Permesta meletus.

27 Maret 1920 – kubur Kol Permesta Laurens Frits Saerang – (ziarah kubur bulan September 2007)

29 Maret 1923 – Frans Sumampow Watuseke
Sejarawan Minahasa. Penulis beberapa buku sejarah Minahasa.

30 Maret 1808 – zendeling Karl Traugott Herrmann lahir di Jerman.
kubur di Ranoiapo Amurang.

30 Maret 1808 – Zendeling Karl Traugott Herrmann – di depan rumah Amurang tahun 1847

30 Maret 1920 – Nelwan Arthur Dendeng Katuuk (Nelwan Katuuk)
Pencipta lagu-lagu daerah Minahasa.
Pencipta/pengembang & memopulerkan musik kolintang modern.

30 Maret 1923 – Nicolaas Maximilian (Nick)
Pianis Indonesia

Koleksi http://www.bode-talumewo.blogspot.co

I always know the first PFI Indonesia Phillately Organisation leader Dr N.H.Nelwan.(Dr Iwan note)

 

 

 

CONCLUSSION

1.Heng Ngantung have created many sketsch than painting

2.Many of the collections did not know who were the owner, may be some at foreign collectors, Indonesian collectors may be Mr Ir Ciputra who have sponsored Heng Ngantung Painting exhibiton in 1980

3 I suggest Mr Ciputra be kind to sponsored the Henk Ngantung Painting Museum with the blessing from his wife and children.

4.the history of heng ngantung family must study from his own family like the wife Evie Ngantung and his children Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung Ngantung and Karno (died at age 71 years due to heart disease).

5,Where were the family now,please contact me via comment,also the brother and sister of Henk Ngantung ,and be kind to send me more informations

REFERENCES

1.Burhanuddin M.S.,Setsa-Sketsa henk Ngantung,1981

2.Web blog henk ngantung

3.Wikipedia Indonesia

4.google explorations

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s