SERIAL KISAH PERTUALANGAN DRIWAN “EKSPEDISI MENTAWAI 1971”

PARODI EKSPEDISI MENTAWAI 1971

KISAH PERTUALNGAN DRIWAN

 KENANGAN-KENANGAN INDAH

MASA  PENDIDIKKAN KEDOKTERAN TAHUN 1971

SAAT TUGAS PENELITIAN DARAH PENDUDUK TRADISIONAL MENTAWAI UNTUK IDENTIFIKASI JENIS MALARIA BAGIAN PARASITOLOGI PIMPIAN DR MARTONO

PADA EKPEDISI MENTAWAI 1971

saat itu saya sudah Drs med, tingkat terakhir praktek (cos-sschaap) Kedokteran, saat itu saya masih ingat teman-tamn yang umunya sudah dokter semua(Effendi Kamil, Tjia Boen Liong, leo Agusli, Lim sim Gie ) ,malah ada yang sudah almarmhum(Injomanoto) dan sebagiannya masih hidup kepad merekalah kisah ini saya tampilkan juga untuk keluarga besar terutama

isteri tercinta Lily Widjaya , da putra ,mantu sreta cucu.

Betapa sulitnya,menderita da gembira sat makan durian, melihat pemandangan yang indah, serta dapat segar kembali terutama , naik perahu

kesebuah pulau kecil

ambil durian, saat itu durian harganya hanya

lima rupiah (sekarang kurs sekitar lima ribu), bila durian dimakan dengan membelah dua ,lalu di balikan dan dicioba jika tidak enak langsung dibuang Silahkan anda mmbaca komentar teman-teman di face book saat  yunior saya DR Leo Agusli mengupload foto Ekspedisi Metawai 1971


Bakti sosial mahasiswa Fdok Unand juli-agust 71 di kep.mentawai ( pantai sipora ),mudah2an masih ingat teman2 yg ada dalam foto ini
.

 
.
Comments
Upik Yusna Usman
 
Upik Yusna Usman Nah di foto yg ini baru saya kenal mana yg pak Leo Agusli. , yg paling kanan kan ? Yg paling ganteng hehehe . . Kalau ibu Elda tahun berepa pak ? 
Leo Agusli Tahun 71 kita udah tingkat 4 bu ( doktoral 2) dr. Elda adalah kakak kelas saya bu. 
Ruskin Nadiaputra Pak Leo yg PKI kaca Mata Ridwansyah bukan ?Leo Agusli
 
Leo Agusli Betul pak Ruskin,itu dr Ridwansyah alm.Winardi Zainudin
 
Winardi Zainudin Saya ikut waktu itu dr Leo, kebagian di Muara Sikabaluan, Siberut Utara
Leo Agusli
 
Leo Agusli Kita kan dibagi 4 group dok Winardi,1 group di Pagai utara,1 group di Sipora,dan 2 group lagi di siberut,yg di Sikakap sesuai jadwal 10 hari lsg pulang,yg di sipora dan siberut ndak bisa pulang sampai hampir 1 bulan di mentawai dari juli s/d agustus,sampai ikut acara 17 agustus disana,lumayan dokter Winardi kenangan pahit manis yg tak mungkin terlupakan.
Aryo Darmono
 
Aryo Darmono Apakah papa saya dr. Injomanoto ada disana dokter Leo Agusli?
Leo Agusli
 
Leo Agusli Papa anda tugas bukan di group saya,kalau pulangnya cepat( 10 harian ,berarti di Pagai/sikakap),kalau pulangnya 1 bulanan kalau ndak di sipora berarti di Siberut(untuk dua lokasi ini kapal/transportasi waktu itu susah karena musim badai,jadi terpaksa nunggu sampai ada kapal yg berani kesana)
Leo Agusli
 
Leo Agusli Salam kenal ya,papa anda adalah guru kami,dan juga teman ipar saya yg di Surabaya dr.Handaya Liunanda alm,juga doa untuk papa anda alm ya.Aryo Darmono
 
Aryo Darmono Salam kenal juga dok. Papa saya kayaknya 1 bln disana. Sy jg dengar cerita dari beliau, krn wkt itu sy blm lahir. Kalau ndak salah di Siberut. Apa dokter masih punya fotonya? Trims.Ruskin Nadiaputra
 
Ruskin Nadiaputra DrLeo ado Syahdjohar yo disuduik Kiri?Aryo Darmono
 
Aryo Darmono Papa sy meninggal 4 februari 2014. Apa dr. HANDOYO masih hidup? Salam juga untuk beliau. Trims.Leo Agusli
 
Leo Agusli Sdr Aryo Darmono,kami antar masing2 group ndak ada kontak,komunikasi waktu itu susah sekali,kami dari sipora numpang kapal Santa Mari milik paroki katedral yg kebetulan bawa pastor dan BBM ke sipora,ayah anda achirnya pulang dengan landing ship dari Angkatan laut dan hampir bersamaan harinya dengan kami,jadi saya hanya punya foto2 group yg di sipora,ipar saya dr Handaya meninggal 3 th y.l.di Surabaya.Leo Agusli
 
Leo Agusli Betul pak Ruskin beliau juga sudah almarhum.Aryo Darmono
 
Aryo Darmono Baik dokter Leo Agusli. Terima kasih informasinya.
Iwan Suwandy
 
Iwan Suwandy masih punya fotonya, saya masih ingat anda muntah-muntah karena mabuk sejak berangkat dengan kapal kecil dan terpaksa diturunkan pertama di Pulau Sipora, salam kepada kawan-kawan lainnya, saya waktu itu ke Pulau Pagai Utara,silabu, salam dari DR Iwan Suwandy<MHAJoko S Lukito
 
Joko S Lukito Jadi teringat di Sikakap beli durian satu perahu dg uang 100 an anak sana nggak bisa ngitung kasihan sekolah cuma satu bahasa sana ayam makoklok yg sering kita tukar intuk makan siang

  LIHATLAH UPLOAD KISAH TERSEBUT  DARI INFO WEB YANG LAMA DIBAWAH INI.   

                                                FRAME SATU : PENDAHULUAN

KISAH PERTUALANGAN DRIWAN “EKSPEDISI MENTAWAI 1971” english version

Dr Iwan adventure to Pagai Island with small boat “Semangat” fromTeluk Bayur padang city ship port ,starting at afternoon but because the raining and bigger oceoan waves taht night the boat hide at the Cingkuk Island near painan,

 One of the student (Leo agusli) vomining due to the motion sickness, in the next moening the weater more comfertable.

Dr Iwan and friend (lie lian seng,Tjia boen liong,Salim singgih) haved fishing  the bigger tuna fish,

 At afternoon after eight hours from cingkuk ilsand the team arrived at Sipora Island, and Kian (Leo agusli) the moving sickness student dro there,

Leo picture at Sipora 1971

Leter  Dr Iwan and three team dropped at Siakakap at the north pagai Island.

After two days one team lead by Dr Iwan as the senior intership Doctor as the lead with two yunior student and one native Silabu north Pagai island cops with the Semangat small boat which have dropping another team to siberut Island, bring the Dr iwan team via pagai straight between the north and south pagai island,

 Very beutiful journey until came to small dusun at South Pagai (now there were  biggere arthquacueke 7,

2 skaca Richter and Tsunami,many people died and loss, President and vice presiden of Republic Indonesia this day visit that location by helicopter from Padang city,  also the POLRI and Indonesian Armed forced by ship get helping persons and foods), after that went to silabu the center village of nothern pagai island Dr iwan didnot want back by Boat because  very afriad og the high and bigger wave of Hindia Ocean, then walk in the rain forest

and at leat by native canoe back to sikakap ,

more detail story read the Dr iwan Adventure in Pagai island at hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com and hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com search Dr Iwan Adventures at mentawai island.)   Indonesian version

TAHUN  1971

 Satu tim mhasiswa Kedokteran bekerja sama dengan bagian parasitlogi berangkat ke Pulaua mentawai untuk survey plasmodium malaria pada pendudk asli disana.

Dr iwan saat itu sedang pratek akhir di RS AII (Drs med)  ,bersama satu mahasiswa tingkat IV (D2)dan satu tingkat II, dikawal oleh seorang polisi suku asli Mentawai asla pagai utara, ,memperoleh tugas ke daerah pagai utara ke desa Silabu.

Rombongan terdiri dari  enam tim (18 orang) dan satu rombongan admisnsitrasi berangkat dari Teluk bayur dengan kapal kecil bernama “Semangat” .

 Baru saja berbunyi tanda berangkat dari kapal tersebut,

seorang anggota tim ( Kian -Leo Agusli jongkok nomor dua dari kanan )  langsung muntah-muntah bernama Kian (saat ini sudah pensiun dokter kanwil SUMBAR),

ternyata malam itu hujan sangat lebat dan gelombang ombak samudra  Indonesia sangat tinggi, sehingga terpaksa berlindung

aumber danwahyu

dipulau cingkuk didepan

kota Painan di pesisir Selatan Sumbar.

sumber zonaikan

Keesokan harinya udara cerah dan banyak kesempatan mancing ikan tuna,

sa

saya  telah siap bawa tempat memnaggang ikan da juga

kecap manis

dan jeruk peras,

langsung saya bakar sampai wangi seklai baunya, dan  makanan lezat itu  diserbu kawan-kawan yang tidak mabuk, sekali dapat sampai tiga ekor ikan tuna, umpannya hnya lastik merah putih diptong da talinyatali kapalyang dibuat lebih halus,  tetapi Kian tetap muntah-muntah sehingga terpaksa dsiturunkan

di Pulau Sipora,

ini foto dari Leo Agusli di facebook

Kemudian rombongan  (bersama Lie Lian seng,Tjia Boen liong, Lim Sim Gie, Injomanoto alm) berangkat

ke desa Sikakap di Pulau Pagai Utara, disana istirahat dua hari sambil makan duren dan ikan pangang ynag saya  beli dengan memesan pada

penduduk disna karena bekalnya hanya  ikan klaengan dan supermi sAja yang saya rencanakan akan dibawa sat tim kecil yang terpisah dibagi empat jurusan, dua ke

Image result for pulau pagai utara  mentawai

Pagai selatan dan

dua kepagai utara, saya dapat Ke Pgai Utara  bagian yang menghadapi Lautan Samudera Hindia yang merupakan batas terakhir Indonesia dengan negara Lainnya, rupanya daderah ini Plaing sulit karena

gelombangnya snagat besar.

Keesokan harinya say sempat ,bertemu pastor italia yang sudah lama disana,

Gereja berada diatas Bukit.

Pastornya marah,

katanya mula-mula indah tetapi lama-lama jadi cape karena harus tiap hari mendaki,

sat itu belum ada kendaraan papun disana kecuali

 

perahu saja.

Kapalpun hanya satu kali sebelulan saj jika gelombang tidaa besar.

baru kemdian saya sadar mengap agereja dibuat diatas bukit, ini untuk mengindari hancur saat

sumber

 

tsunami,

Baca info lebih lanjut tentang Tsunami diabawah ini  dari sumber yang sama

Mentawai Sumatera Barat di landa gempa dengan kekuatan :7.2 SR pada kemarin malam, 25 oktober 21:42:20 WIB, lokasi : 3.61 LS,99.93 BT (78 km BaratDaya PAGAISELATANMENTAWAI-SUMBAR), Kedalaman:10 Km.
 
Beberapa saat kemudian, pada pukul 22.38 WIB, peringatan tsunami dicabut dan dinyatakan nihil.
 
Namun, warga Australia melaporkan menjadi saksi peristiwa tsunami setinggi tiga meter yang terjadi setelah gempa Mentawai. Adalah Rick Hallet yang mengaku kepada Nine Network bahwa ia berada di kapal carteran yang mereka sewa untuk surfing — saat dinding air berwarna putih menggulung mereka di perairan Pulau Mentawai, sekitar pukul  22.00 WIB.
 
Saat itu ada 15 orang dalam kapal, termasuk sembilan warga Australia. Seperti dimuat SkyNews Australia, Selasa 26 Oktober 2010, gelombang dahsyat itu mendorong sebuah perahu lain  ke arah kapal mereka, menabrakkannya, dan menyebabkan ledakan.
 
Bola api muncul di  bagian belakang kapal. Hallet mengaku, ia memerintahkan semua orang pergi ke dek teratas, melemparkan benda apapun yang bisa mengapung — seperti papan selancar — lalu terjun ke laut. Beberapa tamu terbawa 200 meter ke arah pulau dan tinggal di atas pohon hingga diselamatkan perahu lain 90 menit kemudian.
 
Jumlah korban gelombang tsunami di Kepulauan Mentawai hingga kini masih simpang siur. Namun, sedikitnya 212 warga dinyatakan hilang terseret air laut yang tumpah ke darat.
 
Borinte (32), warga
 
Dusun Baru-Baru, Detumonga, Paghai Utara, Kepulauan Mentawai, melapor ke Polsek Sikakap.
 
Menurutnya, sebanyak 212 warganya hilang setelah tsunami terjadi. “Istri bernama Riyani (30) dan tiga anak saya yakni Silvanus (11), Ike (9), dan Fendi (6) juga ditemukan sudah meninggal,” ujarnya, Selasa (26/10/2010).
 
Borinte memaparkan, malam itu anak-anaknya sedang berkumpul di halaman rumah. Tiba-tiba, gempa besar terjadi.
 
Tak lama berselang,
 
gelombang tsunami sekira 2,5 meter menghantam pemukiman warga. “Saya langsung menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi sedangkan anak saya tidak.
 
Saat kembali, ternyata jumlah warga tinggal 40 orang dan 212 lainnya hilang,” pungkasnya lirih.
 
Sebagaimana diketahui, gempa bumi berkekuatan 7,2 skala richter tersebut berdampak gelombang tsunami.
 
Selain menghilangkan nyawa, tsunami juga telah menghilangkan sebuah Resort mewah hingga bangunannya tak bersisa.
 
Hingga kini, belum keterangan resmi dari pemerintah terkait bencana ini. Kemensos: Korban Tewas di Mentawai 428 & 411 Hilang, Korban tewas dalam peristiwa tsunami terus meningkat. Jumlah korban tewas akibat sapuan gelombang tsunami di Mentawai Sumatera Barat terus bertambah.
 
Berdasarkan data Posko Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami Mentawai hingga tercatat jumlah korban tewas mencapai 370 jiwa dan 338 orang dinyatakan masih hilang. Update 28 Oktober Foto dari Mentawai pasca gempa dan tsunami bisa dilihat di galeri di bawah ini.
 
Untuk di kecamatan Sipora Selatan ada dua desa yang diterjang gempa dan tsunami, di Desa Bosua dan Desa Beriulou.
 
Di Desa Bosua, Dusun Bosua sebanyak 6 orang meninggal dan 4 orang hilang. Sementara yang luka berat di dusun tersebut ada 15 orang dan luka ringan. Dusun Gobik ada 9 orang tewas.
 
Di Desa Beriulou,
 
Dusun Masokut sebanyak 7 orang tewas dan Dusun Beriulou ada 19 orang tewas dan 4 orang hilang.
 
Di kecamatan Pagai Selatan
 
di wilayah Desa Malakkopa, 22 orang tewas dan 7 orang hilang.
 
Sementara
 
di Dusun Beleraksok,
 
sementara luka berat 27 orang dan luka ringan 25 orang.
 
Masih
 
di Desa Malakkopa dusun Takparaboat ada sebanyak 27 orang dinyatakan tewas dan 14 orang hilang, sedangkan yang mengalami luka berat 38 dan 18 orang luka ringan.
 
Kecamatan Pagai Selatan,
 
Desa Bulasat, 1 orang di Dusun Bulasat tewas, 9 luka berat dan 4 luka ringan.
 
Di Dusun Purourogat sebanyak 64 orang tewas, 11 hilang, 23 luka berat dan 9 orang luka ringan.
 
Di Dusun Maonai 36 orang tewas, 17 orang hilang, 23 luka berat dan 9 orang luka ringan.
 
Sementara di Kecamatan Pagai Utara yang berdekatan dengan pusat gempa terutama di Desa Betumonga ada 88 orang tewas dan 92 masih hilang
 
di daerah Dusun Muntei, sedangkan luka berat di daerah tersebut ada sebanyak 62 orang dan luka ringan 27 orang.
 
Desa Betumonga, Dusun Sabeuguggung ada sebanyak 75 orang tewas, 183 orang hilang, 37 luka berat dan 25 luka ringan.
 
Sedangkan di Desa Silabu, Dusun Maguiruk ada 1 orang tewas, Dusun Gogoa 5 orang tewas dan 4 orang hilang, tapi di Dusun Tumale 1 orang dinyatakan hilang.
 
Di Kecamatan Sikakap disini tempat posko utama ini juga ada korban jiwa, tapi jumlahnya lebih kecil seperti di Desa Taikako, Dusun Muara Taikako korban tewas 1 orang dan hilang 1 orang.
 
Di Dusun Bulakmonga 5 orang tewas, di Dusun Rua Monga ada 1 orang tewas,
sedangkan di Dusun Sikautek 1 orang tewas dan Dusun Silakoinan sebanyak 2 orang tewas.
 
Total keseluruhan dari posko penanggulangan bencana ini juga mencatat 264 orang luka berat dan 140 orang luka ringan. Sedangkan jumlah warga yang mengungsi sebanyak empat ribu orang tersebar di empat kecamatan tersebut dan semuanya ada di bukit. Berita Terupdate bisa di ikuti di forum Kaskus – Klik disini (okezone/yahoo/kaskus/dailytelegraph)  

Baca selengkapnya http://www.infospesial.net/old/indonesia/tsunami-landa-mentawai-sumatera-barat.html /infospesialcom @infospesial

karena itu gereja itu masih ada saat ini lihat foto diatas.

Lihat juga foto sekolah katolik di sikap saat ini

Yang mendirikannya saya masih ingat amanya Pastor Ganizaro,pendiri klup anak-anak TOYE(Tolong Yesus) dan ialah yang mebuat Kamus bahasa mentawai, Kemudian juga ada Pastor Morini yang juga membut Buku yang dia udah kirim kepada kaka saya di medan.

Rupanya yang dip[lih tempat paling sult hanya teman-teman etnis Tionghoa saja, yang cerdirk teman saya Tjia boen Liong hanya sebagipanitia senang-senang di Di Sikakap, teman yang lamarhum Dr Injo Manoto SPMK, malah ke siberut disna ia hampir kena masalah utung ada yang bantu .

Terakhir  Tim Dr Iwan dengan dua teman yang saru Saifudin,dan yang lainnya namanya sudah lupa disebut saja Kamil, dikawal oleh seorang sersan POLRI berasal dari pagai Utara Silabu,namanya juga sudah luap disebut saja Sinumbing.

Saat itu juga Kapolseknya yang kemudian dibunuh rakyat Sikakap karena menyandera babi mereka, serangan dilakukan dengan menarik Kapolsek kedalam air smpai mati, saya hadir saat pengadilan dna ketemu dengan POLISI yang endmpingi saya dulu atutahun kemudian.

Sore hari berangkat dengan

kapal semangat meliwati selat anatar pagai utara dan Pagai selatan,

malamnya ke Pagai selatan (saat ini sdedang ada gempa 7.3 skala richter dan tsunami-baca info selanjutnya).

Sunggup sangat lucu,keesokan hari kami mendarat di sebuah desa dari tengah lautan,

Image result for prahu traditional pagai seltan Mentawai

dengan naik perahu penduduk asli tanpa ada cadik -imbnagan ,sehingga sangat labil, hampir seluruh rakyat tertawa terbahak-bahak melihat Dr Iwan sangat takut jatuh terpaksa ambil posisi  duduk selonjor kaki lurus agar tidak jatuh kelaut.

Setelah memberikan pengobatan gratis kepada beberapa masyarakat disana, yang

antre karena belum pernah berobat kedokter.

Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju Silabu di Pagai Selatan.

Gelombang lautan Hindia yang sangat tinggi lebih kurang lima meter, terasa seperti naik jet coster bergelombang dari bawak ketas,sungguh terasa mulai mau mabuk dan badan diikat ketiang kapal agar tidak jatuh.

Para kelasi kapal semangat enak saja memancing

ikan tengiri dengan ukuran sangat besar.

Sore hari tiba di sebuah pulau kecil di depan muara sungai menuju silabu, sangat banyak

nyamuk kecil disana, namanya sinyitnyit. semulanya sayatakut disangka nyamuk malaria ternyata bukan, tiap harikami minum pil anti malaria,malah saya satu kali smeinggu menyuntik diri dengan obat malaria.

Tiba-tiba terdengar teriakan seperti dalam cerita indian saja,

puluhan perahu traditionil menjemput Dr Iwan dengan Tim, rakyat silabu snagat gembira untuk pertamakali bertemu dengan seorang dokter.

Menyurut cerita

kepala desa silabu,

seorang purnawirawan sersan TNI AL, dulu pernah terdampar kapal perang dari eropa, sehingga ada yang menikah disana dan saat ini ditemui

beberapa turunannya yang cantik-cantik seperti noni bule, mungkin portugis.

Beliau juga bercetita bahwa menurut nenek moyang mereka pulau pagai pernah gempa besar diikuti gelumbang air laut yang sangat besar menhancurkan desa mereka,karena itu mereka memilih tinggal di perdalaman dekat bukit-bukit (kemudian Dr iwan baru memeahi peristyiwa tersebut dinamakan Tsunami,

sangat sayang tempat ini sangat indah dan cocck untuk

kegiatan berselancar disana,dan dipingir pantai sangat banyak kerang-kerang laut yang indah-indah

,tetapi tak dapat dibawa karena perjalana sangat jauh liwat darat)

Dr Iwan dan tim menginap dirumah kepala desa, malamnya memberikan ceramah tentang kesehatan Lingkungan yang diterjemahkan kedalam bahasa mentawai oleh kepala desa diringi dengan tepuk tangan penduduk.

*rumah-rumah sudah semi eprmanen,terlihat ibu kepala desa menapis beras di sungai yang terletak dibelakang rumah di Silabu,dimana Dr iwan s menginap Dr Iwan yang dianggap sebagai tamu terhormat,diberikan tempat tidur disebelah kamar putri kepala desa, Dr Iwan dapat menjaga diri sehingga tidak tergoda untuk melakukan hal yang melangar adat, sebab bila menganggu putri Pagai,hukumannya nikah adat atau ganti rugi sepuluh ekor babi.

Pagi hari dilakukan pengobatan gratis dan pengambvilan sample darah untuk pemeriksaan kuman malaria.seluruh info dicatat, dan trenyata

keadaan fisik merka umumnya

sehat tetapi 80 % telah dierang malaria denagn tanda

limpanya umumny membengkak sampai S-2 dan S3, tetapi yang sakit cirrhosis selma ekspedisi ini hanya dua orang,

saat itu sduah ada obat nyamuk dan obat malaria dan kmai pakai klambu setiap sore sudah siap didalm kelambu, sambil berkata siap untuk berlayar tidur, tentunya setelah selesai bakti sosial.

Hampir 80 % penduduk silabu sudah menderita malaria dengan pembesaran limpa . Keseokan harinya akan kembali ke Sikakap

naik kapal Semangat tetapi Dr Iwan keberatan karena takut kapal akan tengelam,

 Maka perjalan dilakukan dengan jalan kaki didarat, menempuh beberapa desa kecil,kemudian naik perahu ke Sikakap.

Pada perjalanan ini Dr iwan diberikan beberapa hadiah pusaka etnis pagai seperti busur dan anak panah , gendrang kayu dan  tempat menyimpang tembakau dengan disain monyet untuk merokok yang dalam bahasa pagai disebut ubek. (kisah lengkap baca dalm web blog hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com search Kisah Pertualangan Dr Iwan Kepulau mentawai.)

Dr iwan tahun 1980 , pernah memiliki pasien seorang peneliti dari USA, ia ketagihan Luminal, ada surat keterangan dari Kedokteran USA.

selama hampir enam bulan menjadi pasien langanan Dr iwan di Padang, Pasien tersebut melakukan penelitian untuk thesis S3 tentang monyet kepala putih yang hanya ada di Pulau mentawai. Selain itu kakak Dr iwan (Dr Edhie) pernah dikirimkan sebuah buku tentang pulau mentawai oleh seorang pastor,mungkin saat ini masih ada, bila ada kesempatan beberapa illustrasi akan dicuplik.

Selain itu dr iwan juga meiliki bukukisah perjalanan seornag Belanda ke Pulau mentawai akhir abad ke 19, bebrapa illustrasi lihat di koleski milik Dr Iwan.liwat beberapa koleksi foto dari penuis buku tersebut pastor dari Italai Morini yang diberikan kepada penulis dibawh ini: 1) ceremonial sikere dukun

2) Man Bead jewellery

3)

woomen traditional bead jewellery

4) Tattouage traditional ritual

5) Arrow spear ritual

2. Kisah Pulau Mentawai Versi Penulis Asing (1) the Ducth writer justus van Maurik had published about his adventure   to Indonesia in 1896 , the name of the Book  “INDIE” ,and he visit mentawai island , some of the rare picture book illustrations look below.

Perjalan melalui dart saj karena gelombnagnya sangat besar, kami berjalan pagi hari da sore baru smpai kesebuah desa, sat itu

kami diberi bekal makanan dalam bambu seprti lemang, diisi pulut, ikan kecil dan sayur-sayuran, ternyata ditunggu yang mengantar ternyata tidak datang mungkin di lapar dia makan saja atau dia takut,

maklum banyak diantara mereka belum pernah liwat jalan alam, yang baru kami rintis itu menginp

di gereja protestn setelah sorenya memberikan pengobatan gratis smabil mengambikl sample darah mereka, mereka umumnya merasa geli ,

umumnya tanpa memakaipenutup dada , bagin bawah sudah pakai pakaian, dan mreka tentunya eras geli gei karena belum pernah diperiksa doketr, say  periksa diruang khusus ganti apkaianan, dan hari berikutnya

Memang sya termausk paling berani dna kemudian jadi Polisi.

kami berangkat lagi ternyata hari hujan lebat, salah seorang teman yang paling yunior katanya nanti tengelam, sehingga tinggal di desa tersebut,

Kami berjalan terus pakai matel, untung hujan berhenti ternyata air tidak tinggi hanya skitar satu meter saja, sambil berenang terus soe sampai didesa beikutnya dan  juga melaksnakan seperti desa sebelumnya,

kemudian kami berngkat lagi setelh teman yang ditinggal dijemput pakai perahu, paginya saat mandidi sungai kecil,

sumber pualingoubat

 banyak anak wanita tertawa katanya Uteknya sebeu,kemudian aya tanya Polisi pendamping katanya maa bapa tidka tahu utek artinya kepala sebeu besar,kemudian say adar apa yang dimasud anda smeua pasti athu 9kalau di batak si uco namanya tau K…),

 disnilah saya memperoleh busur dn panah asli mentawaiyang and abis alihat d Museum Lluhur Kita WANLI jkarta, yang fotnya ada diatas.

Dari sini saya harus menyeberangi lembah, katanya sangat tinggi  gunungnya,ternyata hanyabukit saja,

memang di Pagi tidak a a gunung yng tinggi dan di hutan hanya ada

Anggrek bulan ja, dn dipngiirPantai

banyak sekali koleksi kerang (shell) yang indh tetapi tidak sempat saya bawa, Juga say tidka alat pemotret karean takut situasi disana, memnag benar ada hujan dan banjir, sayang saat itu say lupa minta foto dari teman-teman panitia yang aenak santai dikota sikakap saja seperti Tjia Boen Lion (yang sbelum tamat pindah ke Italia, saat ini doketr bedh,menetap disana), dan sbelum lupa ternyata seluruh derah sulit yang memimpin umunyayang sudha paling sneior dan ini kebanyak dari etnis Tionghoa, maaf saya buka protes  atas RS, tetapi memnag begitukenyataannya dan wanitatidkaad ayang ikut.

sepanjang jalan hanya makan

super mie dengan ir eklapa dan

ikan kaleng tetapi saya ada persiapan

sosis  (lakjiang) untuk dipanggang.

Saya juga ditertawakan, karena saat merangkak diatas kayu untuk mnyeberangi lembah yang licin karen ahujna, dikata yang artinya

Kera besar, kemudian baru say tahu, tak apalah demi untuk tugas maju terus pantang mundur, memang say apaling berani dari tim tersebutnya dan memang trenyta sy jadi anggoyta POLRI pertama dari Fakultas.

Setibanya didesa terakhir, malamnya

putri kepala desa demam panas dan megigil, saya dpat akal dengan syarat baru saya suntik obat malaria Sulfas chininne asal besok disediakan perahu untuk mengantar kami kembali ke sikakap yang jaraknya cukup jauh, ternyata ia mau, setelah berdo saya suntik ternyata berhasil,

saat itu juga malamnya dipangil ad pasien yang menderita Penyakit cirrhosis hepatis, (Penyakit hati yangtidka dpat disembuhkan saat itu) saya ktakan ini asien sudha parah harus dibawa ke Padang.

Paginya memnag diseidakan Perahu tetapi tidak a ayang mau ikut mendayung, sampai Polisi menembak keudara tak ad ajuga yang mau, saya memang sudah sedia

Temabkau, dengan disogok tembakau ternyata mereka mau,diberinya sedikti demis edikit kalu sudh ngantuk beri lagi karena Tembakau aatau rokok dinmaa Ubek.

Ubek Pagai ini ditaruh dalam sebuah wadah khsusu yang amsih saya koleksi sepeti gamabar diabwah ini

kolesi dr iwan Wadah tembakau dengan ukiran monyet

Sepaanjang jalan dnegan perhau diamna-man bial ketemu penduduk asli lagi cari duian ditoong Polisipengantar dan di beri bagian, begitulah sorenya baru kembali ke Sikakap sekitar jam tiga sore.

Sedangkan jam lima kapal sudah mau berngkat, teryata masih menungu atuteman belum kembali

, Dr effendi kamil, untung diaat teakhir erdengar

bunyi tromper dari kerang, ternyata I tiba,dengan membw

daging rusa, da malmnya kami berangkat amabil makn daging rusa.

Rom bagan kami paling beruntung karena tugas dapat diselselsai dengan tepat waktu selama dua minggu sedangkan yang lainnya di Sipora dan sibeut sampai 17 Agusts disana dan terpaksa dijemput dengankapal landing dari armadalaut ALRI> karena itu mereka banyak yang terlambat lulus.
Setiba di Di padang CoschaanaP dilanjtkan lagi, wkatu itu di penyakit Dalam dibawah prif hanif. alm

Trenyat hasil olesan darah menatwai terlantar tidka diperiksa sma sekeli,

Untuk itulah saya tlis kesimpulan smentara mentawai satiu sduh terjangkit malaria, jenis tidka dpat dideteksi, porcentase sekitar 80% Gizi bagus, umumnya sudha beragama krsiten protestan dan katolik masih sedikit, umumnya memilikipostur tegap, sangat pintar smesh main voly dan makan ikan mentanh-menath secara langsung , dan ada kebudayaan hidup bebas sebelummenikah,mereka bbo;eh pacaran dsbnya dipulau saat musim mencari kepiting dengan isitilah mnganjau, teta[pi kalu sudha menikah sangat ketat ,jangan diganggu and abisa dibunuh, juga mas kawinnya babi, jdi juga jangandiganggu andasmeua bisa dibunuh, perhatika akuariu ikankoki andda karenammereka akan mengabil dan menelannya entah-menatah, slain itu acara tradisionil juga ad, foto aslinya ad dimuseum WANLI> ternyata pimpian Parasitologi dr Martono lagi skait, saat itulah say menjeguk beliau di RSUP DR Mohamad jamil, ketumu dengan Pak Oetoro, dr azhari , saat itulah mereka mnegnal say dan kemudian atas dar itulah aya dipanluntuk amsuk Polisis, kisahpertualangan tersbeut akan dilanjutkan pada srial yan akan datang berhjjudu;l”Pertualangan driwan jdi polisi

a) book cover b) Mentawai Chief c) Husband and wife d) The native mentawai people in the front their  house (2) The Mentawai Islands by USA reseacher (google exsploration)

The Mentawai Islands lie to the West of Sumatra in the Indian Ocean. They are composed of over seventy different islands.

The islands straddle the equator, which explains the lush temperate climate that is associated with Indonesia. The history of the Mentawai Islands begins between 2000 and 500 BC.

The islands where once a part of Sumatra and during the Pleistocene Era the islands were separated.

The culture of the Mentawai people is distinctly different from their fellow Indonesians because of how long they’ve been separated from each other.

The islands were have been influenced culturally by the British, the Dutch, the Germans, and finally by Catholic Italian missionaries.

Currently the Mentawai’s are considered regency within the Suatera Barat. There are over twenty different endemic species spread through out the seventy islands. There are four endemic primate species on the islands; the Kloss Gibbon, the Mentawai Macaque, Mentawai leaf- monkey and the sub-nosed monkey.

*macacae

In total the Mentawai’s house at least seventeen endemic mammal species. Other common animals (at least in these islands) are sea turtles, dolphins, fruit pigeons, endemic squirrels, tropical fish like parrotfish, sharks, snakes and many more.

The Mentawai’s are composed of lush tropical rainforests, mangroves, coral reefs, and beautiful white sand beaches. Some of which are protected by the government. The Siberut National Park is one of themost famous protected areas. Not only can you see the beautifulvegetation of the Siberut Island, but you can also experience the lives of indigenous Mentawai tribes.

The islands lie over one of the most active earthquake zones in the entire world; because of its location the Mentawai’s are very much at risk for tsunamis and earthquakes.
The culture of the Mentawai people is becoming increasingly difficult to preserve because of rapid globalization.
 
Historically the people were jungle inhabitants until the Indonesian government forced people to live in villages, thus becoming more modernized. Before they lived in the government-run villages, the people lived in umas, which are traditional long houses where an entire clan would live in.  
 
Before modernization, the people of the Mentawai have lived off of the tropical rainforests and of the natural resources that were available. Everyone, including women and children were treated as equals.
 
Sikeireis or shamans, who shared everything that they knew with their people, led the clans.
 
With modernization came modern life styles,many people renounced their clans and became more concerned withmaterialistic ideals and thoughts.
 
The government does provide school for the children of the islands, but they tend to ignore the indigenous history and culture of the Mentawai people.
The traditional religion of the Mentawai Islands is a form of animism called Jarayak.
 
This form of religion isn’t allowed by the Indonesian government, many people have converted to either Islam or to Christianity, but at the same time many people still practice Jarayak.
 
The Mentawai’s have become an incredibly popular surf destination, not only for professional surfers, but also for surfers of all skill levels since the mid-1990’s.
One of the most popular ways to enjoy the Islands is to take boat trips that take visitors to surf locations around all of the islands. Another option is to stay at one of the many hotels and resorts that are on the islands.
These places accommodate all of a surfer’s needs by providing the best in food and service with transportation to the best waves. The most popular islands with the best surf are Siberut, Sipora, and North and South Pagai Islands.
The most well known surfing area is called Playgrounds. It is one of the worlds greatest spots to surf bringing in top surfers like Andy Irons, Kelly Slater, and my all time favorite Taj Burrow.
Many of
Taj Burrow’s videos are filmed in the Mentawai Islands, especially at Macaroni’s, North Pagai and Lance’s Left, South Pagai. Surfing became huge during a period during 1995 and still continues to gain more fame as surfers continue to go and explore all of the wonders that the Mentawai’s offer.
The surfing industry has greatly expanded the economy of the islands. Tourism is now a huge industry.
 
Since the 1980’s luxury resorts are springing up all around the islands to cater to all a visitor’s wants and needs. Fishing, surfing, relaxation, snorkeling, canoeing, kayaking, hiking, learning about the culture and people, and just enjoying the hospitality of the friendly Indonesian people are some of the things that attract visitors to the islands.

3.Kisah Tsunami di Pagai Selatan 2010

mentawai

The disaster-prone expanse of Indonesia has suffered three powerful blows to the region that has left over one hundred people dead Tuesday –and all three disasters were within hours of each other.

 
The fault that caused one of the world’s largest natural disasters back in December 2004, when a powerful earthquake trembled undersea and sent raging water to 14 countries in Indonesia, killing over 230,000 people, unleashed a strong undersea earthquake late Monday registering 7.7 in magnitude.
 
The quake triggered a 10-foot tsunami that struck Tuesday, killing over 100 people and leaving thousands homeless.   
 
According to officials, the tsunami struck the Mentawai Islands, a chain of about seventy islands and islets off the western coast of Sumatra, Siberut being the largest, that has become a destination popular among foreign surfers. The death toll from the tsunami is currently 113 – but steadily rising. Mujiharto, head of the Health Ministry’s crisis center, expects the toll to rise significantly.
 
“We have 200 body bags on the way, just in case,” he said. Meanwhile, between 150 and 500 people have been reported missing.
In addition to the killer tsunami were the eruptions of ash from Indonesia’s Merapi Volcano, located on the island of Java, that left one dead and about a dozen injured.
 
Thousands living on the wall of the volcano have evacuated the area due to the smoke. Indonesia, the world’s largest archipelago that houses approximately 237 million people, is located on a string of fault lines stretching from the Western Hemisphere through Japan and Southeast Asia known as the ‘Pacific Ring of Fire’ – making it extremely vulnerable to earthquakes, tsunamis and volcanic activity.

 Indonesia Earthquake and Tsunami Kill 113, Merapi Volcano Eruptions Hours Later Indonesia Earthquake and Tsunami Kill 113, Merapi Volcano Eruptions Hours Later President Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono and Wife with the local governement leader visit the Mentawai ‘s tsunami area.

FRAME DUA : KOLEKSI PULAU MENTAWAI MILIK Dr IWAN 1. Koleksi SMOKING (UBEK in native mentawai languague),koleski untuk merokok 1) Tobacco Box with monkey design 2) foto native mentawai smoking ubek 2.  Weapon collcetions,arrow and spear (Koleski Busur dan anak panah)   3. Koleksi Gendrang dari kayu pakis(Native wooden drum) 4. The Picture Postcard collection 1900

FRAME TIGA : KOLEKSI HISTORIS PULAU MENTAWAI

Mentawai Islands

Mentawai Islands Regency Kepulauan Mentawai
—  Regency  —
Coordinates: 2°11′S 99°39′E / 2.183°S 99.65°E / -2.183; 99.65Coordinates: 2°11′S 99°39′E / 2.183°S 99.65°E / -2.183; 99.65
Country  Indonesia
Province West Sumatra
Capital Tua Pejat
Government
 – Regent EDISON SALELEUBAJA
Area
 – Total 6,011.35 km2 (2,321 sq mi)
Population (2000)
 – Total 38,300
 – Density 6.4/km2 (16.5/sq mi)
Time zone WIB (UTC+7)

The Mentawai Islands are a chain of about seventy islands and islets off the western coast of Sumatra in Indonesia. Siberut (4,030 km²) is the largest of the islands.

The other major islands are Sipura , North Pagai (Pagai Utara) sikakap the biggesrt city and South Pagai (Pagai Selatan)

*

sikakap .

The islands lie approximately 150 km off the Sumatran coast, across the Mentawai Strait. The indigenous inhabitants of the islands are known as the Mentawai people. The Mentawai Islands have become a noted destination for surfing. History

Following the Pleistocene glaciation, the Mentawai Islands were separated once more from the Sumatran mainland by rising sea levels.

The Mentawai people are estimated to have arrived on the islands somewhere between 2000 and 500 BCE, migrating from the north through Siberut and then moving south to Sipora and the Pagai islands.

Their Austronesian language, their customs and habits of life indicated as early as Crisp’s report an origin that was distinct from the nearby coast of Sumatra.

A Mentawai village in 1895.

The Portuguese were aware of the islands early in the 17th century: a map dated 1606 shows Siberut as “Mintaon”. In August 1792 John Crisp, an employee of the British East India Company, visited the Pagai (“Poggy”) islands at his own expense to study the Mentawai people.

His account was published in 1799,[1] providing the first details of the Mentawai people in western literature. The Mentawai Islands officially became part of the Dutch East Indies on 10 July 1864, not having been subject to the Anglo-Dutch Treaty of 1824. In 1901 the German Royal Missionary Society established a presence on the south coast of North Pagai island at the invitation of the Dutch colonial authorities. The first missionary was murdered, and it wasn’t until 1915 that the first person was converted, with the program then being extended to other islands.

Mentawai Islanders, picture taken 1930.

After Indonesian independence, Catholic Italian missionaries established a presence in the islands. Post-independence government policies relocated the indigenous population into villages, in contrast to their traditional dispersed house groups (uma), with the aim of promoting “development”.

Cultural tourism started to develop in the late 1980s, and when in the mid-1990s world-class waves were discovered by some Australian surfers, surfing tourism started to develop. The island of Siberut was extensively logged from the 1970s after the government granted logging permits for most of the island. In 1993, the logging concessions were revoked and about half the island was declared a national park. In 2001 logging recommenced after a new logging permit was granted for an area of 500 km².

Administration

The Mentawai Islands have been administered as a regency within the West Sumatra (Sumatera Barat) province since 1999.

The regency seat is Tua Pejat, located on the island of Sipura. Padang, the capital of the province, lies on the Sumatran mainland opposite Siberut. The regency is divided in five subdistricts (kecamatan):

Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora, Siberut Selatan, and Siberut Utara.

Ecology

Dugout canoes on a river in Siberut.

The islands have been separated from Sumatra since the mid-Pleistocene period, which has allowed at least twenty endemic species to develop amongst its flora and fauna. This includes five endemic primates: the Mentawai or Kloss Gibbon (Hylobates klossii), Mentawai Macaque (Macaca pagensis), Siberut Macaque (“Macaca siberu”), Mentawai leaf-monkey (Presbytis potenziani), and snub-nosed monkey (Simias concolor). Some areas of the Mentawai Islands rain forest ecoregion are protected, such as the Siberut National Park. Red Junglefowl and the Crab-eating macaque are also native.

Seismic activity

The Mentawai Islands lie above the Sunda megathrust, a seismically active zone responsible for many great earthquakes.

This megathrust runs along the southwestern side of Sumatra island, forming the interface between the Eurasian Plate and Indo-Australian Plate. Earthquake and tsunami activity has been high since the 2004 Indian Ocean earthquake. In 1833, the region was hit with an earthquake, possibly similar in size to the 2004 Indian Ocean Earthquake[2]; another large earthquake struck in 1797. On October 26, 2010, an earthquake in southern Sumatra led to a deadly tsunami that devastated villages in South and North Pagai.

HABIS

HAK CIPTA @ Dr iwan 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s