Author Archives: driwancybermuseum

The Historical Betawi Music Record Development Book One 1900-1950(Sejarah Perkembangan Rekaman Musik Betawi Awal abad Ke-20)

http://img.photobucket.com/albums/v188/missriboet/missdjadanmissriboet1932.jpg

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 http://img.photobucket.com/albums/v188/missriboet/missdjadanmissriboet1932.jpg

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The historical development of   Jakarta Music Record 

 In 20th Century.

Sejarah Perkembangan Rekaman Musik Betawi (1900-1975)

                   Based on

Dr Iwan Rare Old Books and Music Record Collections             

             By

               

     Dr Iwan Suwandy

    Limited Private Publication

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2011

___________________________________________ 

TABLE OF CONTENT

1.Preface(Kata Pengantar)

 2.Book One_Buku Pertama:

Betawi Music record Early 20th Century.(Rekaman Musik Betawi Pada Awal Abad Ke-20)

(1) During Dutch East Indie _Masa Hindia Belanda 1900-1942 

(2)During Japanese Occupation _Masa pendudukan Jepang 1942-1945

(3) During Indonesian Independent War _Masa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1950

3.Book Two-Buku Kedua:

(1) Era Bung Karno 1951-1965

(2) Era Pak Harto 1966-1980

 _____________________________________

Book One :

The Indonesian Betawi  Kroncong Music Development 1900-1950

A.Pre world war two (Before 1942.)

1.KRONCONG STAMBOEL

Miss Riboet Oreon, Germany BEKA RECORDS ,song Tionghoa ethnic song and Arabic ethnic song Jasidi with kroncong Stamboel style.

The Information of The first Indonesian singer record Miss Riboet from google exploration.

1) Kisah singkat Miss Riboet Orion

a)versi satu

a) Miss Riboet Orion ‘s short story(Kisah singkat Miss Riboet Orion)

(a)The First Version(versi satu)

   

Iklan Dardanella.(Dardanella operate label promotion)

Two biggest native Indonesian operates were deveoloped in 1925 and 1926 were Miss Riboet Orion and Dardanella (Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella).

Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

The Orion Operete Inc founder at Batavia(now jakarta) by Tio Tek Djiwn yunior, the primadona is Niss Riboet (later Married wir Mr Tio) and Mr Tio also played the swords,specialized as the robery of the women in the opera of Juanita veza written by Antoinette de Vega, after that this opretee becaem famous ad Miss Riboet Orion(Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

This Operete becaem more famous after came in The Journalist Njoo Cheong Seng and his wife Fifi Young ,during this time tje operate created a  imaginative story, then Nyo became the Tios best man which had the duty the story ,his succes with Saijah, R,soemiati,and Singapore at night(Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.)

Pertunjukan Dardanella

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara.

Dardanella founded by A.Piedro ,the russian man with name Willy Kilimanof. In 1929 starting show at Batavia based on the storyfrom best film like Robinhood,the amsk of Zorro,three musketters, the Black pirates, the Thieve of Baghdad,Sheik of Arabia,the graaf of Monte Cristo,vero, and the rose pf Yesterday. But at the second show Dardanella shown the Indonesia native story like Annie van Mendoet,Lily van tjikampek,the Rose of Tjikemabng based on the Indonesian Stories (Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 5cool. Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

At the same time ,a journalis Andjar asmara also join the Dardanella and he bacame the Bes man of Peidro lika njo , he writthe the story Dr Samsi, Haida,Tjang,perantaian 88 dan Si bongkok like the huncthman of Notredam, Dardanella had the big five actors, Tan Tjeng Bok,Miss Dja, Mis Riboet II, Ferry Kock and Astaman (Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

The rivalrity between Miss Riboet Oreon and dardanella at Bavaia begun in 1931, starting about the name of Miss Riboet which Mr Tio sue to the court and win,   dardanela must used the name Miss riboet II  (Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

At least Miss Riboet Orion off in 1934 and gave the authority to Dardanella , and their writer Njoo Cheong Seng and fifi Young moved to dardanella(Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.)

Then dardanella became famous with the new actors like Ratna asmara, Bachtiar Effendy,Fify young and an american from guam Henry L Duarte (Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.)

In 1935, Dardanella madse the tour to Siam,Burma. Ceylon,India,tibet ,the tour was called The Orient’s Tour with native dancer like wayang golek, Pencak Minangkabau,wayang golek,bali jagger, papua dancer and Ambon song (Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

Tour de Orient qwere the last tour of Dardanella before the world war two, then dismish(Tour d’Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir…)

I have the tax fee of Padang city gouverment about the dardanella and Dwi Dja tours, during japanese occupation 1943-1844, I think the Japanesi Millitary occupation gouverment, used this show for political campaign(Dr iwan S)

(b)versi dua (from david ,Haji Maji web blog)

MISS RIBOET (INDONESIA)

Miss Riboet was the first huge star of recording in Indonesia and the Malay peninsula.  She was the lead actress of the Orion theatrical company, a tooneel troupe which was founded in 1925 in Batavia (Jakarta). In fact, she was so popular that by the time recording engineer Max Birkhahan made this recording in 1926 she already had her own series of “Miss Riboet Records.”

The label declares this a “Stamboel” recording, a western influenced genre of song that evolved out of the Indonesian theater known as ”komedie stamboel.”
Komedie stamboel was a form of musical theater that started in the city of Surabaya in 1891 and quickly became a craze throughout Indonesia. At first, it featured plays of arabesque fantasy (Stamboel = Istanbul), mainly tales from the Arabian Nights, with Ali Baba being a favorite standard. The plays were sung and included musical numbers as in a western musical, using mostly western instruments. They were also influenced by Parsi theater. There is an excellent book by Matthew Isaac Cohen that gives an extremely detailed account of the origin of Komedie Stamboel.

But by the mid-20s, when Miss Riboet began recording, komedie stamboel had already given way to the Malay theatrical form called bangsawan, and eventually tooneel, a more realistic form.
Apparently komedie stamboel had developed a somewhat unsavory reputation that led in part to it’s demise, some troupe leaders were accused of doubling as pimps for the actresses!
The music was often labeled as “Stamboel” on record, regardless of whether it was a stamboel, fox trot, tango, krontjong or traditional piece, such as this Javanese poetical form called Pangkoer Pelaoet .

Beka B. 15099-II

(c)Version Two_versi dua

http://img.photobucket.com/albums/v188/missriboet/missdjadanmissriboet1932.jpg*courtecy Mr Schlompe

Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella. Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan  seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara. Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 58). Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang  sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya  (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.

Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.

Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan  mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

Tour d’Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir…

b)teater Miss Riboet’s Oreon (1925)

c)It is easy to guess the excitement caused by the upcoming event in the island.And yet, life went on as usual: Miss Riboet – a popular actress and singer backthen – performing on stage garnering applause and favourable reviews in the island’s journals, cigarette and beauty cream advertisements, the automobile andthe new man – The Sportsman – coaxed out of the tennis and golf worlds by theworld of fashion…putting Singapore on the movie map with his filmBring’em Back Alive. Not to mention Wheeler and Woolsey, a pair of British comedians, who, in their day, were more popular than Laurel and Hardy. Much excitement was caused whenthe much-loved Charlie Chaplin and his brother arrived in Singapore in 1932 on their way to the Dutch Indies. Certainly, the Hollywood connection created the image of ‘Cesspool of the East’ for Singapore. Singapore was the object of fascination for movie-makers, writers, travelers, real Kings and Queens or theones populating the screens of the newest art.c)pada 25 November 1950 bersama satu rombongan bintang Indonesia termasuk Fifi Young (pelakon filem Zoebaida) dan Miss Riboet Rawit. datang di singapore.(new info from Mr Azmosa Singapore that one of Dardanella Singer and comedian still stayed  at singapore until now ,her name Momo Latiff or Momo Makarim and still alive age 88 years old, please read mr Azoma comment in Indonesian Languguae :

Salam, Pak Iwan.

Saya berasal dari Singapura dan sangat kagum dengan koleksi Pak Iwan, terutama sekali tentang sejarah kumpulan seni seperti Miss Riboet Orion dan Dardanella. Kedua-dua kumpulan ini memang cukup popular di Singapura dan Malaya pada tahun 1930an. Salah satu ahli kumpulan Dardanella telah menetap di Singapura dan menjadi seorang seniwati yang terkenal di sisni sejak tahun 194oan . Beliau adalah Momo Latiff yang berasal dari Batavia dan kini berusia 88 tahun.

Momo Latif telah menjadi salah seorang penari Bali Dancers dalam kumpulan Dardanella. Selepas Dardanella berpecah pada pertengahan tahun 1930an, beliau telah memasuki kumpulan bangsawan yg di ketuai oleh Raden Sudiro. Pada satu persembahan yang di adakan di Melaka, Raden telah memberitahu kepada Momo bahawa Syarikat filem Shaw Brothers di Singapura ingin mengambil Momo sebagai heroine dalam filem yg berjudul Topeng Shaitan di terbitkan pada tahun 1939. Momo kemudian telah merakamkan suara pada tahun 1941 bersama HMV dengan nyanyian lagu2 Bunga Sakura, Pohon Beringin dan Pulau Bali.

Azmosa
Singapura- thanks Mr azoma from dr Iwan S.)

The Short story of Mis Riboet Husband (KISAH SUAMI MISS RIBOET) TIO TEK HONG

Mr Tion was the richman,he had the Record label produnctions and shop(TIO TEK HONG SUMAI MISS RIBOET ADALAH SEORANG SAUDAGAR KAYA, ia memiliki firma penjualan gramohone and piring hitam.)

Beside that he ad produced yhe batavia Pictures Postcard,look some sample illustration below (Selain itu ia juga memproduksi kartupos bergambar kota batavia,lihat beberapa koleksi karya Tio Tek Hong dan illustrasi dari majallah Kiekies van Java folk and landen dibawah ini);

.
 
 
 

 
 

TTH_1045_800w512h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden (Batavia). No. 1045

Topeng is a style or genre of masked dance and theatre, with music : West Java. We see here a Betawi (Batavia, now Jakarta) group. A search for the expression will turn up wikipedia and other sources; this is pretty good : Henry Spiller, “Topeng Betawi: The Sounds of Bodies Moving”.   Asian Theatre Journal 16:2 (1999) : 260-267   (accessed 28 January 09)

.
 

TTH_1046_800w510h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden (Batavia). No. 1046

Woman may be same as in preceding Topeng card.
 
 

photo, no source information. Another view of Molenvliet Canal, Batavia here; more can be found by searching in the Dutch Atlas of Mutual Heritage (AMH).
 

TTH_1114_800w507h.jpgUitgave : Tio Tek Hong, Weltevreden, “Special Depot of Java postcards.” No. 1114. Obverse bears message to a Mr. C. Inouye, c/o Mitsui Bussan, Osaka, Japan. Postage stamp (and cancellation date) missing.
 
 

Miss Riboet and her arabic song Jasidi

Chassidic Song (jasidi), with video recorded at the Western Wall in Jerusalem, and … 5:27 Add to Added to queue In Jerusalem songArabic by badermansour.

Lagu Jasidi berasal dari Arab dan seirng dinyanyikan brthubungan dengan dinding barat dari Jerusalem,salah satunyayang terkenal oleh penyanyi Bader mansour, berdasarkan fakta piringan hitam diatas,ternyata Miss riboet telah menyanyikan lagu yang populer saat itu.

Miss Riboet and her Tionghoa ethnic song Djihong(no info about this song)

Who have the Miss Riboet music record with Kroncong stamboel song please comment and add the info via comment,thanks you very much.

I have just found information about Mr Riboet Orion Kroncong song produced by BEKA record from Google exploration :

BEKA RECORD
B 15652, Miss Riboet, Krontjong Dardanella, 1940-an
B 15761, Herlaut, Beka Krontjong, 1940-an
27850, De Indie Krontjong, 1940-an

Please help me with more info,thanks verymuch

versi ke-3(version three)

kelompok Sandiwara Miss Riboet Orion dan Dardanella 1925 hingga Fasisme di Panggung Sandiwara jaman JEPANG 1942

 
kelompok Sandiwara Miss Riboet Orion dan Dardanella 1925 hingga Fasisme di Panggung Sandiwara jaman JEPANG 1942TEATER MODERN JATIM, PANGGUNG SANDIWARA HINGGA KE SANDIWARA DARDANELLA

 

Sandiwara panggung tidak bisa lepas dari sejarh film di Hindia, selain wayang, Sandiwara panggung sangat di gemari disini. Bebarapa panggung tradisional hingga adaptasi dari eropha, India, China sampai ke hal Wayang. Tetapi kalangan Belanda lebih suka sandiwara panggung dari pada wayang. Memang sejarah wayang diciptakan untuk propaganda seorang raja seperti yang dikisahkan oleh cerita wayang, sehingga rakyat yakin raja mereka seperti tokoh wayang tersebut titisan dewa dan sangat memiliki kekuatan yang luar biasa.

Oranbg Belanda banyak yang main dalam sandiwara ini, termasuk juga kelompok sandiwara bangsa China yang lama di Hindia. Bebarapa sandiwara yang terkenal adalah Opera Srie Permata, komedi Stamboel, Miss Riboet Orion dan Dardanella.

Sandiwara panggung ini ceritanya beragam, mulai dari kisah HIndia dan orang Belanda totok, atau pun Indo, dan yang populer saat itu dari luar negeri. Sandiwara ini kerapkali diiringi oleh musik-musik, nyanyian dan tarian yang khas, terutama musik keroncong, sunda, melayu, hingga india dan Eropha. Yang nantinya mereka akan terjun dalam Film dan beberapa menjadi pembuat film/bisnis film.

Telah satu abad lebih masyarakat Jatim telah mengenal teater modern. Akan tetapi, masyarakat Jatim juga para kreator teater-nya gagal mempertahankan tradisi teater modern yang telah dibangun sejak tahun 1891 oleh August Maheiu dengan nama Komedi Stamboel dan kemudian dilanjutkan dengan Dardanella pada tahun 1926.
Dardanella semula bernama The Malay Opera yang diprakarsai oleh Willy Klimanoff, anak pemain sirkus terkemuka A. Klimanoff kelahiran Rusia. Willy Klimanoff hijrah ke Indonesia sepeninggalan ayahnya. Dengan penguasaan teknik akrobatik Willy Klimanoff mendapat pekerjaan di Komedi Stamboel, kemudian mengganti namanya dengan A. Pedro.
Dalam bentuk pertunjukan atau infra strukturnya, A. Pedro banyak melakukan perombakan secara revolusioner sebagaimana sistem pertunjukan yang telah terkonsep oleh Komedi Stamboel dalam tradisi lakon dan tonilnya. Pedro melakukan perombakan radikal tradisi komedi bangsawan pendahulunya. Jika dalam Komedi Stamboel diantara pergantian adegan diisi atau diselingi dengan tarian-tarian dan lelucon untuk kepentingan hiburan, maka A. Pedro menghilangkan nuansa-nuansa lelucon dan tarian. Dardanella lebih menfokuskan pada bentuk pertunjukan drama murni. Dardanella mementingkan esensi dramatik, kekuatan cerita dan permainan aktor-aktornya, meskipun selingan tarian tetap ada namun masih berada dalam satu keutuhan pementasan, dengan lain kata, tari-tarian menjadi bagian dari alur cerita dan adegan.
Pengaruh Dardanella terhadap perkembangan teater modern Indonesia sangat besar. Seiring dengan kemajuan dardanella banyak bermunculan teater-teater lain yang diprakarsai oleh bekas sri panggung dan anggota dardanella sendiri. Seperti Bolero, Orion yang didirikan Miss ribort, dan Tjahaya Timoer yang didirikan Andjar Asmara. Andjar Asmara sewaktu menjadi anggota Dardanella menjabat sebagai tangan kanan A. Pedro. Andjar Asmara juga melakukan perombakan dalam sistem managerial dan sistem modernisasi dalam teknik tata panggung. Bahkan dampak dari kemajuan Dardanella sampai ke Jakarta, dengan didirikannya “teater Maya” yang diketuai oleh Usmar Ismail pada tanggal 27 Mei 1944.

Munculnya teater-teater kecil tersebut sebagai antitesis dari keberhasilan Dardanella dan juga sebagai proses eksperimental terhadap tema dan bentuk pementasan yang konvensional.

TUNTUTAN SEJARAH

 
Komedi Stamboel dan Dardanella yang lahir di Jawa Timur yakni Surabaya dan Sidoarjo merupakan pelopor gerakan pementasan teater modern di Indonesia, bahkan secara tidak langsung memberikan dampak yang begitu besar terhadap teater di tanahair nantinya.Semangat modernitas yang dibangun oleh Dardanella terlihat dalam setiap pertunjukannnya telah memakai scrip atau naskah, pengadaan properti, kostum, make-up, juga melakukan pementasan yang utuh, artinya, teater Dardanella menghilangkan konvensi-konvensi lelucon dan tarian-tarian yang memberikan kesenangan lebih pada penonton. Dardanella melalui A. Pedro dan Andjar Asmara telah melakukan sistem manajerial pertunjukan secara profesional yang merupakan supra struktural dari suartu pertunjukan. Hal ini yang merupakan ciri dari teater modern dengan semangat realisme.Realisme yang dimaksud ialah melihat peristiwa sehari-hari yang dialami setiap saat (ilusi kenyataan), sebuah pementasan bukan bukanlah sekedar menyajikan cerita, tetapi ada pesonanya, yakni yang seakan-akan bersungguh-sungguh, suatu permainan yang menimbulkan rangsangan pikiran bahwa yang terjadi di panggung bisa pula terjadi pada penonton.

Konsepsi estetika realisme yakni semangat impresionis. Tidak tidak menggubris lagi pesan-pesan sejarah, kitab suci, tetapi langsung memberikan kesan tentang persoalan-persoalan pokok-nya. Konsepsi realisme ingin menohok konsepsi romantisisme yang cenderung menjadikan kehidupan seperti mimpi. Dalam hal ini peentasan Dardanella tidak lagi menampilkan epos-ramayana yang merupakan model pementasan tradisional, akan tetapi Dardanella lebih banyak memainkan naskah-naskah yang sedang terjadi pada masyarakat sekitar. Misalnya dengan mementaskan naskah Nyai Dasima dan Kalibrantasi.

Dardanella dengan demikian sadar akan posisi dan konteks sosial dalam masyarakatnya, Dardanella mengapresiasi material dan mengekspresikan kultur lokal dengan perspektif modern.

Sedangkan pada dekade dewasa ini, kreator dan pekerja seni teater Jatim telah gagal mewarisi dan mempertahankan tradisi teater modern yang telah dibangun Komedi Stamboel dan Dardanella. Kegagalan pekerja teater Jatim lebih pada sikap kritis, mentalitas, spirit dan intelektualitas. Artinya, pekerja teater Jatim bersifat sebagai pekerja bukannya seseorang atau kelompok yang memiliki daya pikir kritis terhadap fenomena kultural, kepekaan terhadap konteks sosial dibelakang teks realitas.

Dalam beberapa pertunjukan terakhir teater-teater Jatim di Surabaya, pekerja teater Jatim mengesampingkan problematik perspektif kritis massa. Pertunjukan teater Jatim hanya bersifat momentum, temporal dan gegabah mencermati fenomena sosialnya. Dalam hal ini, pekerja teater Jatim khusunya Surabaya tidak mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan mental masyarakatnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Surabaya merupakan kota ‘metropolis’ dimana kriminalitas, kekerasan, urban, ketimpangan sosial, tata kota, pendidikan, perdagangan dsb, adalah suatu problematik yang sering kali dijumpai. Dengan lain kata, pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan pekerja teater Jatim kurang kritis mengklarifikasi problematik. Eksperimentasi dan eksplorasi yang dilakukan para pekerja teater Jatim lebih pada bentuk belaka, tidak menyentuh esensi dan fenomena masyarakatnya atau dengan lain kata minimnya proses kontenplatif, bukannya bermewah-mewah dengan bentuk pertunjukan, baik secara infra stuktural maupun supra strukturalnya, namun minim ide dan gagasan serta gagal menyampaikan dan mengkomunikasikan kegelisahan kultural Jatimnya.

Fenomena yang tak kalah memalukan pekerja teater Jatim ialah, para kritikus teater Indonesia, seperti Jim Lim, Zaini KM, Umar Kayam, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Rendra, Afrizal Malna, Bagdi Sumanto, Hanindawan, Nursahid, Sapardi Djoko Damono, Gunawan moehammad dll dalam beberapa tulisan, pembabagan, referensi-referensi dan data tentang teater modern Indonesia, Surabaya dan Jatim pada umumnya tidak pernah dicatat keberadaannya. Entah karena secara kualitas teater Jatim tidas layak, atau memang di Jatim tidak ada kritikus teater yang berkualitas sehingga dapat mengangkat nama teater Jatim. Secara logika sederhana, seharusnya teater modern Indonesia maju dan terus berkembang di Jatim, dimana pewarisan tradisi teater modern pertama kali diletakkan, bukannya di Solo, Bandung, Yogyakarta dan Jakarta.
Mari kita pikirkan bersama-sama.

Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella

 

 

Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella. Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.
 

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

 

Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

 

Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.

 

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara. Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 58). Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

 

Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

 

Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

 

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

 

Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.

 

Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.

 

Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

2.Betawi  Music  era WW II (Perang dunia Kedua 1942-1945)

1,Miss Tjitjih

Repertory like Star Soerabaja, Tjahaja Asia, Tjahaja Timoer, Warnasari, Miss Tjitjih, Goddess Mada, as well as associations of local nature, given the task of traveling to give performances to the residents or the military. They provide entertainment as well as propaganda

2.Orkes Kroncong Empat sekawan Djakarta With Ismael marzuki.

Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa. Saat itu Ma’ing mulai memasuki periode menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai”, “Kembang Rampai dari Bali” dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.
***
Pada periode 1943-1944, Ma’ing menciptakan lagu yang mulai mengarah pada lagu-lagu perjuangan, antara lain “Rayuan Pulau Kelapa”, “Bisikan Tanah Air”, “Gagah Perwira”, dan “Indonesia Tanah Pusaka”. Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ma’ing sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Malah pada 1945 lahir lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda”.
Setelah Perang Dunia II, ciptaan Ma’ing terus mengalir, antara lain “Jauh di Mata di Hati Jangan” (1947) dan “Halo-halo Bandung” (1948). Ketika itu Ma’ing dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah meraka di Jakarta kena serempet peluru mortir. Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ma’ing di Jakarta meninggal. Ma’ing terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Kembang-kembang yang menghiasi makam ayahnya dan telah layu, mengilhaminya untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.
Lagu-lagu ciptaan lainnya mengenai masa perjuangan yang bergaya romantis tanpa mengurangi nilai-nilai semangat perjuangan antara lain “Ke Medan Jaya”, “Sepasang Mata Bola”, “Selendang Sutra”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”. Lagu hiburan populer yang (kental) bernafaskan cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan. Misalnya syair lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”, dan “Juwita Malam”.
Lagu-lagu yang khusus mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, syairnya dibuat ringan dalam bentuk populer, tidak menggunakan bahasa Indonesia tinggi yang sulit dicerna. Simak saja syair “Oh Kopral Jono” dan “Sersan Mayorku”. Lagu-lagu ciptaannya yang berbentuk romantis murni hiburan ringan, walaupun digarap secara populer tapi bentuk syairnya berbobot seriosa. Misalnya lagu “Aryati”, “Oh Angin Sampaikan. Tahun 1950 dia masih mencipta lagu “Irian Samba” dan tahun 1957 lagu “Inikah Bahagia” — suatu lagu yang banyak memancing tandatanya dari para pengamat musik.
Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ma’ing masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair, hingga Ma’ing alias Ismail Marzuki — komponis besar Indonesia itu — menutup mata selamanya pada 25 Mei 1958.

Balatentara Jepang berhasil menguasai seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, setelah penyerahan tanpa syarat pemerintah Hindia Belanda di Kalijati, Jawa Barat. Setelah itu Jepang menduduki Indonesia sekitar 3,5 tahun. Pemerintah pendudukan Jepang bercita-cita menyatukan seluruh Asia dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Jepang. Selain itu, mereka menginginkan agar masyarakat Asia mendukung peperangan yang sedang dijalankan melawan Sekutu (Belanda, Amerika, Inggris). Eksploitasi hasil bumi serta mobilisasi manusia adalah wujud dari cita-cita Jepang tersebut. Untuk menyukseskan pelaksanaan kebijakan mereka tentang kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang, pemerintahan militer Jepang memberikan perhatian besar untuk mengambil hati rakyat dan bagaimana mengindoktrinasi mereka. Salah satu media yang dimanfaatkan Jepang guna menarik simpati rakyat Indonesia adalah melalui media seni sandiwara/teater. Suatu organisasi bentukan pemerintah untuk menangani masalah propaganda dibentuk pada Agustus 1942. Organisasi ini bernama Sendenbu. Sendenbu merupakan sebuah departemen yang berada dalam Badan Pemerintahan Militer (Gunseikanbu), yang sejak awal sampai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia selalu dipimpin oleh orang dari kalangan militer. Di dalam Sendenbu terdapat Seksi Propaganda. Seksi inilah yang kemudian mengendalikan seluruh media propaganda. Sandiwara, yang termasuk salah satu alat propaganda pemerintah, tidak lepas dari pengawasan seksi ini. Jepang memilih sandiwara sebagai alat propaganda karena sandiwara dapat menggelorakan perasaan orang banyak. Selain Sekolah Tonil, Jepang juga membentuk Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) untuk mendukung/menunjang propaganda melalui kesenian, termasuk sandiwara. Keimin Bunka Shidosho berdiri pada 1 April 1943. Keimin Bunka Shidosho adalah organisasi di luar Sendenbu sebagai pusat kebudayaan yang bergerak di bidang kesenian. Tujuan dari Keimin Bunka Shidosho adalah untuk menyesuaikan kebudayaan Indonesia dengan cita-cita Asia Timur Raya, bekerja dan melatih ahli-ahli kebudayaan Nippon dan Indonesia bersama-sama, serta memajukan kebudayaan Indonesia. Terdapat lima bagian di dalam Keimin Bunka Shidosho, yaitu bagian kesusasteraan, bagian film, bagian lukisan dan ukiran, bagian musik, dan bagian sandiwara dan tari. Setiap bagian dipimpin oleh seorang ahli seni dari Jepang dan didampingi seorang Indonesia. Bagian sandiwara dan tari dipimpin oleh K. Jasoeda didampingi oleh Winarno.

Pengurus Keimin Bunka Shidosho. Sumber Foto: Perpustakaan Nasional

Kedudukan bagian sandiwara adalah sebagai markas besar, atas perumusan kebijakan dasar pemanfaatan seni sandiwara demi propaganda politik, dan bertanggung jawab atas pendorongan, pelatihan, tuntunan, serta kontrol segala jenis kegiatan sandiwara. Keimin Bunka Shidosho juga ”menjaring” penulis naskah sandiwara kelas satu Indonesia, misalnya Inoe Perbatasari dan Armijn Pane. Naskah-naskah yang dikarang tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada perkumpulan-perkumpulan sandiwara untuk dimainkan. Bagian sandiwara juga turut aktif menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan sandiwara, yang tujuannya tidak lain adalah propaganda, atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi bentukan pemerintah lainnya untuk menyelenggarakan pertunjukan, serta memberikan hiburan bagi prajurit. Selain itu, Keimin Bunka Shidosho juga mengorganisir perkumpulan sandiwara lokal untuk tampil di wilayah-wilayah yang setaraf dengan perkampungan pinggir kota dan membentuk perkumpulan sandiwara. Menjelang akhir 1944, dibentuk suatu himpunan sandiwara buatan pemerintah. Organisasi ini bernama Djawa Engeki Kyokai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). POSD dibentuk oleh Sendenbu pada 1 September 1944. POSD dipimpin oleh Hinatu Eitaroo. Sebelum pendirian organisasi ini, seluruh kegiatan seni sandiwara berada dalam kontrol Keimin Bunka Shidosho dan pengawasan Seksi Propaganda Sendenbu. Organisasi ini berdiri di bawah Seksi Propaganda Sendenbu. POSD bertugas sebagai perhimpunan berbagai perkumpulan sandiwara, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, dan menyusun cerita sandiwara melalui Badan Permusyawaratan Cerita POSD, untuk kemudian dibagikan serta dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang termasuk ke dalam anggota organisasi ini. Pada perkembangan selanjutnya, POSD menempatkan perkumpulan-perkumpulan yang masuk di dalamnya untuk mengadakan berbagai pertunjukan di kota-kota besar Pulau Jawa, seperti Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Biasanya pertunjukan-pertunjukan ini dilakukan serentak dan dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang telah bergabung di dalam POSD, seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Timoer, Bintang, Warnasari, Dewi Mada, Pantjawarna, Noesantara, dan Sinar Sari. POSD banyak memegang peranan dalam pertunjukan lakon-lakon propaganda. Perkumpulan yang telah masuk ke dalamnya, wajib membawakan lakon-lakon propaganda yang di karang oleh Badan Permusyawaratan Cerita POSD dan Keimin Bunka Shidosho. Wujud propaganda yang direalisasikan melalui sandiwara modern terlihat pada lakon-lakon masa ini. Hampir seluruh lakon-lakon sandiwara yang tercipta pada masa ini berkisah tentang kekejaman Belanda, kepahlawanan Jepang, anjuran memasuki organsiasi semi-militer, anjuran menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah, dan sejarah Indonesia pada zaman kerajaan. Perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang ada pada masa ini seluruhnya berada dalam kendali pemerintah, melalui organisasi-organisasi yang khusus menangani aktifitas sandiwara seperti yang telah dipaparkan di atas. Perkumpulan sandiwara seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Asia, Tjahaja Timoer, Warnasari, Miss Tjitjih, Dewi Mada, serta perkumpulan-perkumpulan yang sifatnya lokal, mendapat tugas keliling untuk memberikan pertunjukan kepada penduduk atau golongan militer. Mereka memberikan hiburan sekaligus propaganda. Tentu saja lakon-lakon yang dibawakan oleh perkumpulan-perkumpulan ini adalah lakon-lakon yang tidak membahayakan keberadaan Jepang di Indonesia serta lakon yang mengobarkan semangat perang di kalangan penduduk. Salah satu contoh pertunjukan lakon propaganda yang terjadi sepanjang masa pendudukan Jepang yaitu pertunjukan dari Perkumpulan Miss Tjitjih. Surat kabar Asia Raya menyebutkan bahwa perkumpulan ini bekerjasama dengan POSD menyelenggarakan pertunjukan pada 28 Mei 1945, di Siritu Gekidjo Pasar Baru, mengambil lakon ”Pentjaran Balik Selaka” gubahan dan pimpinan Lily Somawiria. Satu artikel di dalam majalah Djawa Baroe pada 15 Juni 1945 menyebutkan bahwa: ”pertoendjoekan ini ialah oesaha dari pihak P.O.S.D. (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) oentoek mempertinggi semangat peperangan dikalangan rakjat, teroetama rakjat didesa-desa dan kota-kota ketjil….”. Selain itu bertujuan juga untuk mempertebal semangat rakyat untuk menyerahkan padi. Lakon ini menggambarkan pertempuran di zaman Kerajaan Padjadjaran, yaitu sebuah cerita tentang Prabu Wirakantjana, Raja Padjadjaran. Alasan POSD memilih cerita ini karena cerita-cerita kuno ini dikenal oleh rakyat kecil di desa-desa. Pertunjukan tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi Sendenbu, Shimitzu, prajurit-prajurit Jepang dan Heiho, serta para pemimpin sandiwara dari luar kota dan desa dari Jawa Barat. Pertunjukan-pertunjukan semacam ini terjadi sepanjang masa pendudukan. Penulis-penulis yang tergolong sebagai penulis lakon produktif dimajukan ke depan oleh pemerintah guna menghasilkan karya-karya lakon propaganda. Di antara penulis-penulis ini adalah Armijn Pane, D. Djojokoesomo, J. Hoetagaloeng, Usmar Ismail, Merayu Sukma, Karim Halim, Aoh Kartahadimadja, Inoe Perbatasari, Idroes, Ariffien K. Oetojo, Ananta Gaharsjah, El-Hakim, Kamadjaja, dan pemimpin POSD, Hinatu Eitaroo. Hasil karya mereka, seperti Kami, perempoean, Djinak-Djinak Merpati, Awas Mata-Mata Moesoeh, Djarak, Koeli dan Romusha, Moetiara dari Noesa Laoet, Pertunjukan Propaganda. Sumber: Perpustakaan Nasional Tjitra, Pandoe Partiwi, Bekerdja, Ajo…Djadi Roomusha!, Fadjar Telah Menjingsing, dan lain-lain bercerita seputar memberikan gambaran brutal terhadap penjajahan Belanda; menganjurkan untuk mengikhlaskan anggota keluarganya memasuki barisan Suka Rela, Peta (Pembela Tanah Air), Heiho, dan Jibaku; menganjurkan untuk tidak hidup bersenang-senang di tengah peperangan; rela berkorban dengan menyumbangkan tenaga dan hasil bumi kepada pemerintah; dan memuji kehebatan tentara Jepang yang berjuang mengusir penjajah Barat dari Asia. Sebagai contoh, lakon Koeli dan Romusha karya J. Hoetagaloeng berkisah tentang tingginya martabat seorang Romusha (Pekerja Sukarela) pada masa Jepang dibandingkan dengan kuli kontrak pada masa Belanda. Karya ini memenangkan sayembara penulisan lakon sandiwara yang diselenggarakan oleh surat kabar Asia Raya pada 28 Mei 1945.

Lambang POSD. SUmber: Perpustakaan Nasional

Selain kedua penulisan dan pertunjukan panggung, propaganda lewat sandiwara ini juga diwujudkan melalui siaran radio. Tercatat ada beberapa lakon sandiwara propaganda yang disiarkan pada masa pendudukan, yaitu Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi; Moetiara dari Noesa Laoet dan Tempat jang Kosong karya Usmar Ismail; Djibakoe Atjeh karya Idroes; Diponegoro karya Soetomo Djauhar Arifin; Bende Mataram karya Ariffien K. Oetojo; Ajahkoe Poelang (”Tjitji Kaeroe”) karya Kikoetji Kwan; Soemping Soerong Pati karya Inoe Kertapati; Iboe Perdjoerit karya Matsuzaki Taii; serta Djalan Kembali, Mereboet Benteng Kroja, Memotong Padi, Manoesia Oetama, dan Tanah dan Air. Telah diterangkan di atas, bagaimana seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang dijadikan alat propaganda politik. Pengaruhnya kepada masyarakat, terutama kalangan terpelajar kota, tidak begitu besar. kalangan terpelajar kota, yang umumnya lebih akrab dengan pertunjukan sandiwara, tidak begitu tertarik untuk menyaksikan sandiwara dengan tujuan propaganda, sedangkan kalangan yang kurang terpelajar, cenderung lebih mengikuti saja pertunjukan sandiwara propaganda. Ini disebabkan karena keterbatasan informasi pada kalangan yang kurang terpelajar. Bagi generasi muda, himbauan Jepang relatif diterima dengan baik. Generasi muda mempunyai kesempatan untuk menikmati jenis hiburan ini, karena sering dipertunjukan di sekolah dan rapat-rapat lokal. Sumbangan positif kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang bagi dunia sandiwara selanjutnya, yaitu dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas, dan muncul secara tegas peran dan tanggungjawab seorang sutradara. Di samping itu, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya serta dikenalnya wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.

 MISS TJITJIH

The group leader named Miss Tjitjih S.A. Bafaqih

The group leader named Miss Tjitjih S.A. Bafaqih, one born in Pasuruan, East Java. He was already quite advanced ditahun 1962, 75 years old, born in 1888. Theoretical Dad has been retired, according to its own terms, but in practical secraa still lead straight. Actually he was bored with the play, both as a player or a leader or a play, but somehow, when you hear there is a play, just want to watch, apaun would happen, maybe it’s inborn. He told me that he knew very well that people who play it are snadiwara liar, is tantamount to a drug seller, is not entirely correct. The difference, play and the players got dressed lakon.punya story interesting. Perhaps in this world does need people like him. The people who are just moving the field of arts and culture. People said of him, people who are not so normal, he watched people, but we also sometimes be a spectacle because people rarely live IAMI no worse than a trash. but let us feel satisfied, and the audience that we need seba if they are not satisfied, recording will not come again.

  Bafaqih father was a traveling salesman from a disorder of the city, indeed the family is a family of merchants. Then went along with the heartfelt drama. Then mewrasa interested in the play field, seterusna easement and release their commercial work into play. in the history of the father hidunya Bafaqih met alone showman, a virgin from Sumedang who have talent with a fairly good-looking face, which later became his wife. The name comes from the name of Miss Tjitjih isterinyalah, before the play group was given the name: Opera De Nacht “. then” Valencia Opera “, and so Miss Tjitjih until 1962

N the Dutch colonial era, THE SILENT MISS TJITJIH PARTICIPATE FAMOUS SONG MAKES CREATION WRSUPRATMAN: INDONESIA RAYA ”

Every opera dizaman has an orchestra (band) music is usually memaikan popular song, meant to attract viewers, the song that played in front of the theater. An event when a group of regents disesuatu entertainment venues in West Java on the show Miss Tjitjih haidr and keadatangan Regent tersbut entourage was greeted with songs accompanied by the greatness of Indonesia Raya, the father Bafaqih consequently have to deal with the legal officer (hamawet). In the Dutch colonial era space for the troupe Miss Tjitjih very limited, if greeting the audience abundant, is prohibited. Performing alau very successful, the permit was not renewed, sometimes even revoked without reason, so the debt entourage Miss Tjitjih so accumulate

(who HAVE i inFo AFTER  1962, please be willing to tell me, thank you-Dr Iwan)

Ketua rombongan Miss Tjitjih bernama S.A. Bafaqih, seorang kelahiran Pasuruan, Jawa timur. Usianya sudah agak lanjut ditahun 1962 ,75 tahun,kelahiran 1888. Teoritis Bapak ini sudah pensiun, menurut istilah sendiri, tapi secara praktisnya masih tetap memimpin secraa langsung. Sebenarnya ia sudah bosan dengan sandiwara, baik sebagai pemain ataupun pemimpin atau menonton sandiwara, tetapi entah bagaimana, kalau mendengar ada sandiwara, ingin saja ikut menonton, apaun yang bakal terjadi, mungkin sudah dibawa sejak lahir. Ia bercerita bahwa , ia tahu betul bahwa orang yang main snadiwara itu adalah tukang bohong,sama saja dengan seorang penjual obat,tidak seluruhnya benar. Bedanya, sandiwara punya lakon.punya cerita dan pemain berpakaian menarik. Mungkin didunia ini memang perlu orang-orang seperti dia. Orang-orang yang hanya bergerak dilapangan seni dan budaya. Orang berkata tentang dia, orang yang tidak begitu normal,ia ditonton orang, tetapi kami juga kadang-kadang jadi tontonan orang  sebab tak jarang hidup iami lebih jelek daripada seorang gembel. tetapi biarlah kami merasa  puas, dan penonton yang memerlukan kami  seba  jika mereka tidak puas, merekan tidak akan datang lagi.

 bapak Bafaqih adalah seorang pedagang keliling dari satu kelain kota, memang keluarganya adalah keluarga pedagang. Kemudian ikut-ikutan dalam oragnisasi sandiwara. Kemudia mewrasa tertarik dilapangan sandiwara, seterusnYa keenakan dan melepaskan pekerjaan dagangnya masuk sandiwara. dalam sejarah hidunya bapak Bafaqih bertemu dengan sorang pemain sandiwara, seorang dara dari sumedang yang memiliki bakat dengan paras yang cukup rupawan ,yang kemudian menjadi isterinya. Dari Nama isterinyalah bersumber nama Miss Tjitjih, sebelumnya rombongan sandiwaranya diberi nama :De Nacht Opera”.kemudian “Valencia Opera”, lalu jadi Miss Tjitjih sampai tahun 1962.

DI ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA, SECARA DIAM-DIAM MISS TJITJIH IKUT SERTA MEMBUAT TERKENAL LAGU CIPTAAN W.R.SUPRATMAN :INDONESIA rAYA”

Setiap opera dizaman itu memiliki sebuah orkes(band) musik yang biasanya memaikan lagu populer, maksudnya untuk menarik penonton, lagu yang dimainkan didepan gedung pertunjukan. Suatu peristiwa ketika serombongan bupati disesuatu tempat hiburan di jawa barat haidr pada pertunjukan MIss Tjitjih dan keadatangan rombongan Bupati tersbut disambut dengan kebesaran disertai lagu Indonesia Raya, akibatnya bapak Bafaqih harus berurusan dengan petugas hukum(hamawet).Pada zaman penjajahan Belanda ruang gerak untuk rombongan Miss Tjitjih sangat dibatasi, kalau sambutan penonton melimpah,dilarang. alau Pertunjukan amat berhasil, maka izin tidak diperpanjang,adakalanya bahkan dicabut tanpa alasan,sehingga hutang rombongan Miss Tjitjih jadi menumpuk.  

 (siapa yang memiliki info setelah tahun 1962,harap berkenan menginformasikannya kepada saya,terima kasih-Dr Iwan)

 

the end @Copyright Dr Iwan Suwandy 2011

The Historical Development Of Jakarta Betawi Music Record “Introduction “(Sejarah Perkembangan Rekaman Musik Betawi)

 

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 

Dr Iwan  Book Cybermuseum

The historical development of   Jakarta Music Record 

 In 20th Century.

Sejarah Perkembangan Rekaman Musik Betawi (1900-1975)

                   Based on

Dr Iwan Rare Old Books and Music Record Collections             

             By

               

     Dr Iwan Suwandy

    Limited Private Publication

   special for premium member

_______________________________________________________________________________

 hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com copyright @ Dr iwan Suwandy 2011

___________________________________________ 

TABLE OF CONTENT

 

1.Preface(Kata Pengantar)

 2.Book One_Buku Pertama:

Betawi Music record Early 20th Century.(Rekaman Musik Betawi Pada Awal Abad Ke-20)

(1) During Dutch East Indie _Masa Hindia Belanda 1900-1942 

(2)During Japanese Occupation _Masa pendudukan Jepang 1942-1945

(3) During Indonesian Independent War _Masa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1950

3.Book Two-Buku Kedua:

(1) Era Bung Karno 1951-1965

(2) Era Pak Harto 1966-1980

 

 

_______________________________________________________________

KATA PENGANTAR_PREFACE

1.This amizing book based on several my rare old books and Music Record collections (Buku yang menakjubkan ini berdasarkan koleksi buku dan Piring hiatm rekaman Musik Lama milik saya  pribadi .

 2. Koleksi tersebut saya kumpulkan sejak masih kecil sampai saat ini.

3. Saya Harapkan Karya tulis ini dapat menjadi kenang-kenangan atau nostalgia bagi kolektor dan pengemar msuik di manapun anda berada teruatama Indonesia dan kawan Asean lainnya.terumatama uuga untuk kaum muda generasi penerus.

4.Karya tulis ini masih banyak kekurangannya oleh akrena itu koreksi dan tambahan informasi sangat saya harapkan. 4. terakhir teriam kasih kepada seluruh teman-teman yang telah memberikan banyak bantuan sehingga karya tulis ini dapat terwujud.

Jakarta , Mei 2011

Dr Iwan Suwandy

english version:

 

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

PS.THE COMPLETE BOOK EXIST BUT ONLY FOR PREMIUM MEMBER,PLEASE SUBSCRIBED VIA COMMENT WITH YOUR RECENT ID AND PROFILE PHOTO.

Dai Nippon Homeland War in 1945 :”The battle of Okinawa”(Pertempuran terakhir Tentara Dai Nippon Di Okinawa)

Two Marines from the 2nd Battalion, 1st Marines advance on Wana Ridge on May 18, 1945

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 

Dr Iwan Dai Nippon War Cybermuseum

THE LAST BATTLE OF OKINAWA 1945

Indonesian Version :

Pertempuran Okinawa

Two Marines from the 2nd Battalion, 1st Marines advance on Wana Ridge on May 18, 1945
Pertempuran Okinawa
Bagian dari Perang Dunia II, Perang Pasifik

Seorang Marinir dari Batalion ke-2, Marinir 1 pada Wana Ridge menyediakan meliputi kebakaran dengan senapan mesin Thompson nya, Mei, 1945
Tanggal April 1, 1945 – 22 Juni 1945
Lokasi Okinawa, Jepang
Hasil kemenangan Sekutu
 
Belligerents
 Amerika Serikat
 Inggris Kekaisaran Jepang
Komandan dan para pemimpin
 Simon B. † Buckner
 Roy Geiger
 Joseph Stilwell

————————————————– ——————————

 Chester W. Nimitz
 Raymond A. Spruance
 Bruce Fraser
  Mitsuru Ushijima †
 Isamu Cho †
 Hiromichi Yahara (P.O.W.)

————————————————– ——————————

 Minoru Ota †
 Keizo Komura
 
Kekuatan
183.000 [1] 117.000 [2]
Korban dan kerugian
12.513 tewas
38.916 terluka,
33.096 non-tempur kerugian Tentang 95.000 tewas
7,400-10,755 ditangkap
Estimasi 42,000-150,000 warga sipil yang tewas
The invasion begins on the Hagushi beaches.
ia Pertempuran Okinawa, nama kode Operasi Iceberg, [3] telah berjuang pada theRyukyu Kepulauan Okinawa dan merupakan serangan amfibi terbesar dalam Perang Pasifik [4] [5] Pertempuran 82-hari-panjang berlangsung dari awal April hingga pertengahan. Juni, 1945. Setelah kampanye yang panjang pulau hopping, Sekutu mendekati Jepang, dan berencana untuk menggunakan Okinawa, sebuah pulau besar hanya 340 mil jauhnya dari daratan Jepang, sebagai dasar untuk operasi udara pada rencana invasi daratan Jepang (kode Operasi Downfall). Lima divisi dari US Kesepuluh Angkatan Darat, 7, 27, 77, 81 dan 96, dan dua Kelautan Divisi, 1 dan 6, berjuang di pulau sementara Divisi Marinir ke-2 tetap sebagai cadangan amfibi dan tidak pernah dibawa ke darat. Invasi ini didukung oleh angkatan udara laut, amfibi, dan taktis.

The hills of Okinawa, honeycombed with well-manned caves and dugouts.

Pertempuran telah disebut sebagai “Typhoon Baja” dalam bahasa Inggris, dan tidak ada tetsu ame (“hujan dari baja”) atau tetsu tidak bōfū (“angin kekerasan dari baja”) dalam bahasa Jepang. Julukan merujuk pada keganasan pertempuran, intensitas serangan bunuh diri Kamikaze dari pembela Jepang, dan dengan angka yang jelas kapal Sekutu dan kendaraan lapis baja yang menyerang pulau itu. Pertempuran ini mengakibatkan jumlah tertinggi korban di Teater Pasifik selama Perang Dunia II. Jepang kehilangan lebih dari 100.000 tentara dibunuh atau ditangkap, dan Sekutu menderita lebih dari 50.000 korban dari semua jenis. Secara bersamaan, puluhan ribu warga sipil setempat tewas, terluka, atau bunuh diri. Pemboman atom Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan Jepang untuk menyerah hanya beberapa minggu setelah akhir pertempuran di Okinawa.

Order pertempuran
Tanah
Angkatan darat AS yang terlibat termasuk Tentara Kesepuluh, diperintahkan oleh Letnan Jenderal Simon Bolivar Buckner, Jr tentara telah twocorps di bawah komando nya, III Amphibi Korps bawah Mayor Jenderal Roy Geiger, yang terdiri dari 1 dan 6 Divisi Kelautan, dan XXIV Corpsunder Mayor Jenderal John R. Hodge, terdiri dari 7 dan 96 Divisi Infanteri. Marine 2 Divisi cadangan mengapung, dan Kesepuluh Tentara juga menguasai 27, ditandai sebagai garnisun, dan Divisi Infanteri ke-77. Dalam semua, Angkatan Darat Kesepuluh berisi 102.000 Tentara dan 81.000 personel Korps Marinir.

File:Japanese Commanders on Okinawa.jpg

Komandan Angkatan Darat Jepang ke-32, Februari 1945

Kampanye tanah Jepang (terutama defensif) dilakukan oleh Tentara Tiga puluh Kedua 67.000-kuat (77.000 menurut beberapa sumber) reguler dan beberapa 9.000 Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) pasukan di pangkalan angkatan laut Oroku (hanya beberapa ratus di antaranya telah dilatih dan dilengkapi untuk pertempuran tanah), didukung oleh 39.000 orang dirancang Ryukyuan lokal (termasuk 24.000 milisi belakang hastilyconscripted disebut Boeitai dan 15.000 pekerja non-berseragam).

Unloading supplies on Guadalcanal

Pejabat Senior mempersiapkan Okinawa

Selain itu, anak-anak sekolah menengah senior 1.500 dibagi dalam layanan garis depan “Besi dan Darah Relawan Unit”, sedangkan 600 Himeyuri Siswa diorganisir menjadi sebuah unit keperawatan.

Tentara ke-32 awalnya terdiri dari Divisi 9, 24, dan ke-62, dan 44 Independen Campuran Brigade. Divisi 9 dipindahkan ke Taiwan sebelum invasi, sehingga mengocok rencana defensif Jepang. resistensi primer akan dipimpin di selatan oleh Letnan GeneralMitsuru Ushijima, kepala stafnya, Letnan Jenderal Isamu Cho dan utamanya operasi, Kolonel Hiromichi Yahara.

Yahara menganjurkan strategi defensif, sementara Cho menganjurkan yang ofensif. Di sebelah utara, Kolonel Takehido Udo berada di perintah. Pasukan IJN yang dipimpin oleh Laksamana Minoru Ota. Mereka mengharapkan Amerika untuk lahan enam sampai sepuluh divisi melawan pasukan Jepang dua divisi setengah. Staf menghitung bahwa kualitas unggul dan jumlah senjata saling memberi divisi AS lima atau enam kali tembak satu divisi Jepang, untuk ini akan ditambahkan senjata berlimpah Amerika ‘laut dan udara.

Underground Hangar. Tanaman ditanam di atas rendering itu hampir mustahil untuk melihat dari udara. – Ctsy. Wayland Mayo

Laut
U. S. Angkatan Laut
Sebagian besar pejuang udara-ke-udara dan pengebom tukik kecil dan pesawat pemogokan US Navy pesawat carrier-based. Jepang telah taktik usedkamikaze sejak Pertempuran Teluk Leyte, tapi untuk pertama kalinya, mereka menjadi bagian utama dari pertahanan. Antara Amerika mendarat pada tanggal 1 April dan Mei 25, tujuh serangan kamikaze utama yang berusaha, melibatkan lebih dari 1.500 pesawat. Angkatan Laut AS berkelanjutan korban yang lebih besar dalam operasi ini daripada di pertempuran lain perang.

Persemakmuran Inggris
Meskipun pasukan Sekutu tanah seluruhnya terdiri dari unit AS, Inggris Armada Pasifik (BPF, diketahui oleh Angkatan Laut AS Task Force 57) disediakan sekitar seperempat dari kekuatan udara angkatan laut Sekutu (450 pesawat). Ini terdiri banyak kapal, termasuk 50 kapal perang yang 17 di antaranya kapal induk, tetapi sementara geladak penerbangan Inggris lapis baja berarti bahwa pesawat lebih sedikit bisa dilakukan dalam suatu pembawa pesawat tunggal, mereka lebih tahan terhadap serangan kamikaze. Meskipun semua kapal induk diberikan oleh Inggris, kelompok pembawa adalah armada Persemakmuran Inggris dikombinasikan dengan Inggris, Kanada, Selandia Baru dan Australia kapal dan personil [rujukan?]. Misi mereka adalah untuk menetralisir lapangan udara Jepang di Kepulauan Sakishima dan memberikan penutup udara terhadap serangan kamikaze Jepang.

Bom Okinawa

Penerbang berani mati
The Kamikaze (神 风, terjemahan umum:? “Angin ilahi”) [kamika ꜜ ze] (mendengarkan) Tokubetsu Kougekitai (特别 攻 撃 队?) Tokkō Tai (特 攻 队?) Tokkō (特 攻?) Yang bunuh diri serangan oleh penerbang militer dari Kekaisaran Jepang terhadap kapal angkatan laut Sekutu dalam tahap penutupan kampanye Pasifik Perang Dunia II, yang dirancang untuk menghancurkan sebagai kapal perang sebanyak mungkin.

pilot Kamikaze akan berusaha untuk kecelakaan pesawat mereka ke musuh-pesawat kapal sering sarat dengan bahan peledak, bom, torpedo dan tangki bahan bakar penuh. fungsi normal Pesawat’s (untuk mengirimkan bom torpedo atau atau menembak jatuh pesawat lainnya) dikesampingkan, dan pesawat telah dikonversikan ke apa yang dasarnya berawak rudal dalam upaya untuk menuai keuntungan akurasi sangat meningkat dan payload atas bahwa bom normal. Tujuan dari melumpuhkan sebagai kapal Sekutu sebanyak mungkin, terutama kapal induk, dianggap cukup penting untuk menjamin pengorbanan gabungan pilot dan pesawat.

Serangan-serangan, yang dimulai pada bulan Oktober 1944, diikuti beberapa militer kritis kekalahan untuk Jepang. Mereka sudah lama hilang dominasi udara karena pesawat usang dan hilangnya pilot berpengalaman. Pada skala ekonomi makro, Jepang mengalami penurunan kapasitas untuk berperang, dan kapasitas decliningindustrial relatif cepat ke Amerika Serikat. Pemerintah Jepang menyatakan keengganan untuk menyerah. Dalam kombinasi, faktor-faktor ini menyebabkan penggunaan taktik kamikaze sebagai pasukan Sekutu maju ke arah pulau rumah Jepang.

Sementara “kamikaze” istilah biasanya mengacu pada serangan udara, istilah ini kadang-kadang telah diterapkan ke berbagai serangan bunuh diri lain yang disengaja. Militer Jepang juga digunakan atau membuat rencana untuk Jepang Attack Unit Khusus, termasuk yang melibatkan kapal selam, manusia torpedo, perahu motor anddivers.

Meskipun kamikaze adalah bentuk paling umum dan paling dikenal serangan bunuh diri Jepang selama Perang Dunia II, mereka hampir sama dengan “biaya Banzai” yang digunakan oleh infanteri Jepang (prajurit kaki). Perbedaan utama antara kamikaze dan Banzai adalah kematian yang melekat pada keberhasilan serangan kamikaze, sedangkan biaya Banzai hanya berpotensi fatal – yaitu, infanteri berharap untuk bertahan hidup tetapi tidak berharap untuk. sumber-sumber Barat sering salah considerOperation Sepuluh-Go sebagai operasi kamikaze, karena hal tersebut terjadi pada Pertempuran Okinawa bersama dengan gelombang massa pesawat kamikaze, namun Banzai adalah istilah yang lebih akurat, karena tujuan dari misi adalah untuk kapal perang Yamato untuk pantai dirinya dan memberikan dukungan kepada para pembela pulau, sebagai lawan serudukan dan meledakkan antara angkatan laut musuh. Tradisi ini ofdeath bukan kekalahan, menangkap, dan rasa malu yang dirasakan sangat tertanam dalam budaya militer Jepang. Itu adalah salah satu tradisi utama dalam samurailife dan kode Bushido: kesetiaan dan kehormatan sampai mati, atau dalam bahasa Barat “mati sebelum aib!”

Ensign Kiyoshi Ogawa, yang terjun ke dalam pesawat theUSS Bunker Hill selama misi Kamikaze pada tanggal 11 Mei 1945.

Naval pertempuran
File:Yamato battleship explosion.jpg
USS Bunker Hill luka bakar setelah terkena dua kamikaze dalam waktu 30 detik

Inggris Armada Pasifik ditugaskan tugas menetralkan lapangan udara Jepang di Kepulauan Sakishima, yang tidak berhasil dari Maret 26 sampai April 10. Pada tanggal 10 April perhatiannya dialihkan pada lapangan udara di Formosa utara. Gaya mundur ke San Pedro Bay pada 23 April. Pada tanggal 1 Mei, Inggris Armada Pasifik kembali beraksi, menundukkan lapangan udara seperti sebelumnya, kali ini dengan pemboman angkatan laut serta pesawat. Beberapa serangan kamikaze menyebabkan kerusakan yang signifikan, tapi karena yang digunakan geladak penerbangan Inggris lapis baja pada kapal induk mereka, mereka hanya mengalami gangguan singkat untuk tujuan memaksa mereka.

Pemboman dari laut di Okinawa

Ada daya tarik hipnotis dengan pemandangan begitu asing untuk filsafat Barat kita. Kami menonton setiap kamikaze terjun dengan horor terpisah satu menyaksikan sebuah tontonan mengerikan daripada sebagai korban dimaksud. Kami lupa diri untuk saat ini seperti yang kita meraba-raba tanpa harapan untuk memikirkan bahwa orang lain atas sana.

Gabungan lengan di Okinawa
Antara tanggal 6 April dan tanggal 22 Juni 1465 Jepang terbang pesawat kamikaze dalam serangan skala besar dari Kyushu, 185 sorti kamikaze individu dari Kyushu, dan 250 sorti kamikaze individu dari Formosa. Ketika intelijen AS diperkirakan 89 pesawat di Formosa, Jepang memiliki kurang lebih 700 dibongkar atau disamarkan dengan baik dan tersebar ke desa-desa tersebar dan kota; Kelima AS membantah klaim Angkatan Udara Angkatan Laut kamikaze berasal dari Formosa.

Kapal-kapal yang hilang adalah kapal kecil, khususnya perusak dari pancang radar, serta sebagai perusak pengawalan dan kapal mendarat. Meskipun tidak ada kapal perang Sekutu utama hilang, beberapa armada kapal rusak berat. Tanah motor berbasis juga digunakan dalam serangan bunuh diri Jepang.

Panjang berlarut-larut dari kampanye di bawah kondisi stres dipaksa Laksamana Chester W. Nimitz untuk mengambil langkah belum pernah terjadi sebelumnya untuk melepaskan para komandan angkatan laut utama untuk beristirahat dan memulihkan diri. Setelah praktek mengubah sebutan armada dengan perubahan komandan, pasukan angkatan laut AS mulai kampanye sebagai Armada Kelima AS di bawah Laksamana Raymond Spruance, tetapi berakhir sebagai AS Ketiga Armada di bawah Laksamana William Halsey.

Operasi Ten-Go
Artikel utama: sakusen Sepuluh-gō

The Yamatoexplodes kapal perang Jepang setelah serangan terus-menerus dari pesawat AS

Operasi Sepuluh-Go (sakusen Sepuluh-gō) adalah upaya serangan oleh pasukan strike kapal permukaan Jepang yang dipimpin oleh kapal perang Yamato, diperintahkan oleh Laksamana Seiichi Itō. Gaya tugas kecil telah diperintahkan untuk memerangi musuh melalui kekuatan laut, maka pantai diri dan melawan dari pantai menggunakan senjata mereka sebagai artileri pantai dan awak sebagai infanteri angkatan laut.

Tank meninggalkan pantai

Yamato dan kendaraan air lainnya dalam Operasi Ten-Go terlihat oleh kapal selam tak lama setelah meninggalkan rumah perairan Jepang, dan diserang oleh kapal induk AS.

Diserang dari lebih dari 300 pesawat selama rentang dua jam, kapal perang terbesar di dunia tenggelam pada tanggal 7 April 1945, jauh sebelum ia bisa mencapai Okinawa. Pembom torpedo Amerika diperintahkan untuk hanya bertujuan untuk satu sisi untuk mencegah banjir counter efektif oleh awak kapal perang, dan memukul lebih baik haluan atau buritan, di mana baju besi diyakini paling tipis.

Zona arahan dari atas

Dari gaya Yamato’sscreening, kapal penjelajah ringan Yahagi, dan empat dari delapan kapal juga tenggelam. Secara keseluruhan, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kehilangan beberapa 3.700 pelaut, termasuk Itō, pada biaya yang relatif rendah hanya 10 pesawat AS dan 12 penerbang.

Tanah pertempuran

Peta operasi AS selama pertempuran

Pertempuran tanah berlangsung selama sekitar 81 hari mulai April 1, 1945.

Orang-orang Amerika pertama mendarat adalah tentara dari Divisi Infanteri ke-77, yang mendarat di Kepulauan Kerama (Kerama Retto), 15 mil (24 km) barat Okinawa pada tanggal 26 Maret 1945. Anak Perusahaan pendaratan diikuti, dan kelompok Kerama dijamin selama lima hari ke depan. Pada awal operasi ini, Divisi Infanteri ke-77 menderita 27 tewas dan 81 terluka, sementara Jepang mati dan ditangkap berjumlah lebih dari 650. Operasi memberikan pelabuhan dilindungi untuk armada dan menghilangkan ancaman dari perahu bunuh diri.

Memajukan hati-hati

Pada tanggal 31 Maret Marinir dari Batalyon Marinir Armada Force Reconnaissance Amphibi mendarat tanpa oposisi pada Keise Shima, empat pulau hanya 8 mil (13 km) barat ofNaha Okinawan modal. 155 mm Panjang Toms naik ke darat di pulau untuk menutupi operasi di Okinawa.

Okinawa Utara

File:New Mexico class battleship bombarding Okinawa.jpg

Kapal perang USS Idaho (BB-42) shellsOkinawa pada tanggal 1 April 1945.

Marinir AS bala menyeberang ke darat untuk mendukung tempat berpijak di Okinawa, 31 Mar 1945

Pendaratan utama dibuat oleh XXIV Corps dan III Amphibi Korps di pantai Hagushi di pantai barat Okinawa pada L-Day, 1 April, yang baik Paskah hari Minggu dan Hari April Mop ‘pada tahun 1945. Divisi 2 Marinir melakukan demonstrasi di lepas pantai Minatoga di pantai tenggara untuk membingungkan orang Jepang tentang niat Amerika dan gerakan keterlambatan cadangan dari sana.

tentara AS ledakan gua diadakan Jepang.

Kesepuluh Tentara menyapu seluruh bagian selatan-tengah pulau dengan relatif mudah oleh standar Perang Dunia II, menangkap Kadena dan airbases Yomitan. Dalam terang dari oposisi yang lemah, Buckner Umum memutuskan untuk melanjutkan segera dengan Tahap II-kejang rencananya dari Okinawa utara. Ke-6 Marinir mengepalai Divisi Tanah Genting Ishikawa. tanah itu pegunungan dan berhutan, dengan pertahanan Jepang terkonsentrasi pada Yae-Ambil, massa bengkok pegunungan berbatu dan jurang di Semenanjung theMotobu. Ada pertempuran berat sebelum akhirnya dibersihkan semenanjung Marinir pada 18 April.

Pria dan tangki Sherman dari Resimen Infanteri 382, ​​AS 96 Divisi di Jalan Ginowan, Okinawa, Jepang, April-Jun 1945

Sementara itu, ke-77 Divisi Infanteri diserang Ie Shima, sebuah pulau kecil di ujung barat semenanjung, pada tanggal 16 April. Selain bahaya konvensional, Divisi Infanteri ke-77 mengalami serangan kamikaze, dan bahkan wanita Jepang bersenjata dengan tombak. Ada pertempuran berat sebelum Ie Shima dijamin dideklarasikan pada tanggal 21 April dan menjadi lain pangkalan udara untuk operasi melawan Jepang.

Okinawa Selatan

Unloading supplies on Guadalcanal
   

F4U firingrockets pejuang Corsair mendukung pasukan di Okinawa

Sementara Marine 6 divisi dibersihkan utara Okinawa, US Army 96 divisi Infanteri dan US Marine 7 divisi roda selatan di pinggang sempit Okinawa. Divisi 96 mulai menghadapi perlawanan sengit di Okinawa barat-tengah dari pasukan Jepang memegang posisi dibentengi timur Jalan Raya No 1 dan sekitar sekitar lima mil (8 km) barat laut Shuri, dari apa yang kemudian dikenal Ridge asCactus. Divisi 7 dihadapi oposisi Jepang juga sengit dari puncak berbatu yang terletak sekitar 1.000 meter barat daya Arakachi (kemudian dijuluki “The Pinnacle”).

File:USS Bunker Hill hit by two Kamikazes.jpg

Senjata AS boom. 155mm Gun ditetapkan di Keise Shima dekat Okinawa, Jepang, Apr 1945

Pada malam 8 April pasukan AS telah dibersihkan dan ini beberapa posisi sangat diperkaya lainnya. Mereka menderita lebih dari 1.500 korban pertempuran dalam proses, sementara membunuh atau menangkap sekitar 4.500 Jepang, namun pertempuran baru saja dimulai, karena sekarang menyadari bahwa mereka hanya pos-pos penjagaan Garis Shuri.

Tujuan Amerika berikutnya adalah Kakazu Ridge, dua bukit dengan pelana penghubung yang merupakan bagian dari pertahanan luar Shuri’s. Jepang telah menyiapkan posisi mereka dengan baik dan gigih berjuang. Pertempuran sengit, sebagai tentara Jepang bersembunyi di gua benteng, dan pasukan AS sering kehilangan banyak pria sebelum membersihkan keluar Jepang dari masing-masing gua atau tempat persembunyian lainnya. Jepang akan mengirimkan Okinawa di luar todongan senjata untuk memperoleh air dan persediaan untuk mereka, yang disebabkan korban di kalangan warga sipil. Kemajuan Amerika tak dapat diubah tetapi mengakibatkan korban besar ditopang oleh kedua belah pihak.

Marinir melewati sebuah desa kecil hancur di mana seorang tentara Jepang terbaring mati, April 1945

Sebagai serangan Amerika terhadap Kakazu Ridge terhenti, Jenderal Ushijima, dipengaruhi oleh Jenderal Cho, memutuskan untuk melakukan serangan. Pada malam 12 April, Angkatan Darat ke-32 menyerang posisi AS di seluruh bagian depan. Serangan Jepang itu berat, berkelanjutan, dan terorganisir. Setelah pertempuran sengit dekat para penyerang mundur, hanya untuk mengulang serangan mereka pada malam berikutnya. Sebuah serangan terakhir pada 14 April kembali jijik. Upaya Seluruh dipimpin staf Angkatan Darat ke-32 untuk menyimpulkan bahwa Amerika rentan terhadap taktik infiltrasi malam, tetapi bahwa senjata superior mereka membuat setiap konsentrasi pasukan ofensif Jepang yang sangat berbahaya, dan mereka kembali ke strategi pertahanan mereka.

Infanteri 27 Divisi, yang mendarat pada tanggal 9 April, mengambil alih di sebelah kanan, di sepanjang pantai barat Okinawa. Umum Hodge sekarang memiliki tiga divisi di garis itu, dengan 96 di tengah, dan 7 di sebelah timur, dengan masing-masing memegang divisi depan hanya sekitar 1,5 mil (2,4 km).

Hodge melancarkan serangan baru dari April 19 dengan berondongan 324 senjata, yang terbesar yang pernah di Samudra thePacific Theater. Kapal tempur, kapal penjelajah, dan kapal perusak bergabung dengan pemboman, yang diikuti oleh 650 Angkatan Laut dan Kelautan menyerang posisi pesawat musuh dengan napalm, roket, bom, dan senapan mesin. Pertahanan Jepang berlokasi di lereng sebaliknya, di mana pembela menunggu keluar serangan artileri dan serangan udara dengan aman, muncul dari gua-gua untuk hujan mortir dan granat pada Amerika maju menaiki lereng depan.

Seorang awak Divisi 6 pembongkaran Kelautan jam tangan bahan peledak meledak dan menghancurkan sebuah gua Jepang, Mei 1945

Sebuah serangan tangki untuk mencapai terobosan oleh outflanking Kakazu Ridge, gagal menghubungkan dengan dukungan infanteri yang mencoba untuk menyeberang punggungan dan gagal dengan kehilangan 22 tank. Meskipun tank dibersihkan api pertahanan gua banyak, ada terobosan ada, dan Korps XXIV hilang 720 menKIA, WIA dan MIA. Kerugian mungkin telah lebih besar, kecuali kenyataan bahwa Jepang telah hampir semua cadangan infantri mereka diikat lebih jauh ke selatan, yang diselenggarakan di sana oleh tipuan lain dari pantai Minatoga oleh Divisi 2 Marinir yang bertepatan dengan serangan itu.

Okinawa pematung Kinjo Minoru lega menggambarkan kengerian Pertempuran …

Pada akhir April, setelah pasukan Tentara telah mendorong melalui jalur Machinato defensif dan lapangan terbang, 1 Marinir lega Divisi Infanteri Divisi 27, dan ke-77 Divisi Infanteri lega-7. Ketika 6 Divisi Marinir tiba, III Amphibi Korps mengambil alih sayap kanan dan Sepuluh Tentara memegang kendali pertempuran.

Pada tanggal 4 Mei Angkatan Darat ke-32 meluncurkan serangan balasan lainnya. Kali ini Ushijima berusaha untuk membuat serangan amfibi di belakang garis pantai Amerika. Untuk mendukung serangan itu, artileri Jepang pindah ke tempat terbuka. Dengan berbuat demikian mereka mampu kebakaran 13.000 putaran mendukung tetapi AS yang efektif counter-baterai kebakaran menghancurkan puluhan artileri Jepang. Serangan itu gagal total.

tentara Amerika yang ke-77 Divisionlisten tenang laporan radio Victory di Eropa Day tanggal 8 Mei 1945

Buckner meluncurkan serangan Amerika pada 11 Mei. Sepuluh hari pertempuran sengit diikuti. Pada tanggal 13 Mei, pasukan dari Divisi Infanteri 96 dan 763d ditangkap Batalyon Tank Conical Hill. Rising 476 kaki (145 m) di atas dataran pantai Yonabaru, fitur ini adalah timur jangkar pertahanan Jepang utama dan dipertahankan oleh sekitar 1.000 Jepang. Sementara itu, di pantai yang berlawanan, Laut 6 Divisi berjuang untuk “Sugar Loaf Hill”. Penangkapan dua posisi kunci terkena Jepang sekitar Shuri di kedua sisi. Buckner berharap menyelubungi Shuri dan perangkap kekuatan membela utama Jepang.

Pada akhir Mei, musim hujan yang ternyata diperebutkan bukit dan jalan masuk ke sebuah rawa baik diperparah situasi taktis dan medis. Uang muka tanah mulai menyerupai aWorld medan Perang I sebagai pasukan menjadi terperosok dalam lumpur dan banjir jalan sangat menghambat evakuasi terluka ke belakang.

Pasukan tinggal di sebuah lapangan basah oleh hujan, pembuangan sampah dan kuburan bagian bagian. Jepang tubuh terkubur membusuk, tenggelam di lumpur, dan menjadi bagian dari rebusan berbahaya. Siapa pun meluncur menuruni lereng berminyak bisa dengan mudah menemukan kantong mereka penuh belatung pada akhir perjalanan.

Letnan Kolonel Richard P. Ross, komandan Batalyon 1, 1 Marinir braves api penembak jitu untuk menempatkan warna divisi di tembok pembatas dari Shuri Castle pada tanggal 30 Mei. Bendera ini pertama kali dinaikkan Gloucester overCape dan kemudian Peleliu

Pada tanggal 29 Mei, Mayor Jenderal Pedro del Valle, yang memimpin Divisi Marinir 1, memerintahkan Perusahaan A, Batalyon 1, 5 Marinir untuk menangkap Shuri Castle. Penyitaan benteng yang diwakili kedua pukulan strategis dan psikologis bagi orang Jepang dan merupakan tonggak dalam kampanye. Del Valle dianugerahi aDistinguished Service Medal untuk kepemimpinannya dalam peperangan dan pendudukan berikutnya dan reorganisasi Okinawa. Shuri Castle telah dikupas selama 3 hari sebelum ini terlebih dahulu oleh theUSS Mississippi (BB-41). [13] Karena ini, Angkatan Darat ke-32 mundur ke selatan dan dengan demikian marinir memiliki tugas yang mudah mengamankan Shuri Castle. Puri Namun, di luar zona Divisi 1 Marinir ditugaskan dan hanya upaya panik oleh komandan dan staf dari Divisi Infanteri ke-77 mencegah serangan udara Amerika dan pemboman artileri yang menimbulkan banyak korban karena kebakaran ramah.

Retret Jepang, walaupun diganggu oleh kebakaran artileri, dilakukan dengan keahlian tinggi di malam hari dan dibantu oleh badai monsun. Tentara ke-32 mampu bergerak hampir 30.000 orang ke garis pertahanan terakhir di Semenanjung Kiyan, yang akhirnya menyebabkan pembantaian terbesar di Okinawa dalam tahap terakhir dari pertempuran, termasuk kematian ribuan warga sipil.

File:US Flag raised over Shuri castle on Okinawa.jpg
Selain itu, terdapat 9.000 pasukan IJN didukung oleh 1.100 milisi berlindung di daerah dibentengi dari Okinawa Naval Force Base di Semenanjung Oroku.

Kemudian pada hari itu, Amerika meluncurkan serangan amfibi di Semenanjung Oroku untuk mengamankan sisi barat mereka.

 Setelah beberapa hari pertempuran pahit, orang Jepang didorong ke jauh di selatan pulau.

Pada tanggal 18 Juni Umum Buckner dibunuh oleh tembakan musuh artileri sementara memonitor perkembangan pasukannya.

Buckner digantikan oleh Roy Geiger. Setelah asumsi perintah, Geiger menjadi Marinir AS hanya untuk perintah bernomor tentara Angkatan Darat Amerika Serikat dalam pertempuran. Dia merasa lega lima hari kemudian oleh Joseph Stilwell.

Pulau ini jatuh pada tanggal 21 Juni 1945, meskipun beberapa bersembunyi lanjutan Jepang, termasuk masa depan gubernur Prefektur Okinawa, Masahide Ota.Ushijima dan Cho bunuh diri yang dilakukan oleh seppuku di markas komando mereka di Hill 89 pada jam penutupan pertempuran. Kolonel Ushijima Yahara telah meminta izin untuk melakukan bunuh diri, tetapi umum menolak permintaannya, berkata:

“Jika Anda mati tidak akan ada tersisa orang yang tahu kebenaran tentang pertempuran Okinawa. Menanggung malu sementara tapi menanggungnya. Ini adalah perintah dari Komandan tentara Anda.

Yahara adalah perwira paling senior dapat bertahan pertempuran di pulau itu, dan ia kemudian menulis sebuah buku berjudul Pertempuran tersebut untuk Okinawa.

Korban
Militer kerugian

Gambar terakhir Letnan GeneralSimon Bolivar Buckner, Jr, kanan, sehari sebelum ia dibunuh oleh artileri Jepang pada 19 Juni 1945

File:Last picture of LtGen. Buckner at Okinawa.jpg

kerugian AS lebih dari 62.000 korban di antaranya lebih dari 12.000 tewas atau hilang. Hal ini membuat pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan AS dalam perang Pasifik. Beberapa ribu prajurit yang meninggal tidak langsung (dari luka dan penyebab lainnya) di kemudian hari tidak termasuk dalam total. Salah satu korban AS yang paling terkenal adalah koresponden perang Ernie Pyle, yang dibunuh oleh api senapan mesin Jepang di Ie Shima.US pasukan menderita korban tertinggi yang pernah mereka tarif untuk reaksi memerangi stres selama perang keseluruhan, pada 48%, dengan sekitar 14.000 prajurit pensiun karena gangguan saraf.

keputusan Jenderal Buckner untuk menyerang pertahanan Jepang kepala-on, walaupun sangat mahal dalam hidup AS, pada akhirnya berhasil. Hanya empat hari dari penutupan kampanye, Jenderal Buckner dibunuh oleh tembakan artileri Jepang, yang bertiup mematikan potongan karang ke dalam tubuhnya, sementara memeriksa pasukannya di garis depan. Dia adalah pejabat AS tertinggi untuk dibunuh oleh tembakan musuh selama perang. Sehari setelah, seorang jenderal kedua, Brigadir Jenderal M. Claudius Easley, dibunuh oleh tembakan senapan mesin.

Pesawat kerugian selama periode tiga bulan adalah Amerika Serikat 768 pesawat termasuk pengeboman lapangan udara Kyushu peluncuran kamikaze. kerugian Combat adalah 458, dan 310 lainnya kecelakaan operasional. kerugian pesawat Jepang 7830 pada periode yang sama, termasuk 2.655 kecelakaan operasional. Korps Marinir Angkatan Laut dan pejuang jatuh 3.047, sedangkan kapal antipesawat ditebang 409, dan B-29s hancur 558 di tanah.

Di laut 368 kapal Sekutu (termasuk 120 kendaraan amfibi) rusak sementara yang lain 28, termasuk 15 kapal amfibi dan 12 kapal tenggelam selama kampanye Okinawa. mati Angkatan Laut AS melebihi terluka dengan 4.907 tewas dan 4.874 terluka, terutama dari kamikaze attacks.Among Amerika Serikat korban, baik Angkatan Darat maupun korban tewas Marinir Angkatan Laut melebihi jumlah korban kematian dalam pertempuran Okinawa. Orang Jepang kehilangan 16 kapal tenggelam, termasuk kapal perang Yamato raksasa.

Di darat pasukan AS kehilangan setidaknya 225 tank dan LVTs banyak yang hancur sementara menghilangkan 27 tank Jepang dan artileri 743 (termasuk mortir, anti-tank dan senjata anti-pesawat), beberapa dari mereka mengetuk-out oleh pemboman angkatan laut dan udara, tetapi sebagian besar dari mereka mengetuk-oleh api anti-artileri Amerika. Korban dari artileri tanah Amerika tidak diketahui.

Sekelompok tahanan Jepang yang lebih suka menyerah untuk bunuh diri menunggu untuk dipertanyakan

Dengan satu hitungan, ada sekitar 107.000 kombatan Jepang tewas dan 7.400 ditangkap. Beberapa tentara melakukan seppuku atau hanya meledakkan diri dengan granat tangan. Selain itu, ribuan orang disegel di dalam gua hidup mereka dengan para insinyur tempur AS.

Ini juga merupakan pertempuran pertama dalam perang di mana Jepang menyerah dibuat menjadi tawanan perang oleh ribuan. Banyak dari para tahanan Jepang Okinawa asli yang telah terkesan ke dalam Angkatan Darat tidak lama sebelum pertempuran dan kurang dijiwai dengan doktrin tanpa menyerah-tentara Jepang.

Ketika tentara Amerika menduduki pulau itu, Jepang mengambil pakaian Okinawa untuk menghindari penangkapan dan Okinawa datang untuk membantu Amerika “dengan menawarkan cara mudah untuk mendeteksi Jepang bersembunyi. Bahasa Okinawa sangat berbeda dari bahasa Jepang; dengan Amerika di sisi mereka, Okinawa akan memberi petunjuk kepada orang-orang dalam bahasa lokal, dan mereka yang tidak mengerti dianggap Jepang dalam persembunyian yang kemudian ditangkap.

Sipil kerugian

Okinawa sipil tahun 1945

Dua Marinir berbagi foxholewith sebuah perang Okinawa yatim piatu pada bulan April 1945

Pada beberapa pertempuran, seperti pada Pertempuran Iwo Jima, tidak ada warga sipil yang terlibat, tetapi Okinawa memiliki penduduk sipil yang besar adat dan, menurut berbagai perkiraan, di suatu tempat antara 1 / 10 dan 1 / 3 dari mereka tewas dalam pertempuran. kerugian Okinawa sipil dalam kampanye itu diperkirakan antara 42.000 dan 150.000 meninggal (lebih dari 100.000 menurut Prefektur Okinawa). US Army angka untuk kampanye menunjukkan angka total 142.058 korban sipil, termasuk mereka yang ditekan ke dalam pelayanan oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Selama pertempuran, tentara AS menemukan kesulitan untuk membedakan orang sipil dari tentara. Ini menjadi rutin bagi tentara AS untuk menembak di rumah Okinawa, sebagai salah satu infanteri menulis, “Ada beberapa api kembali dari beberapa rumah, tapi yang lain itu mungkin diduduki oleh warga sipil – dan kita tidak peduli. Itu adalah hal yang mengerikan untuk tidak membedakan antara musuh dan perempuan dan anak-anak. Amerika selalu memiliki belas kasihan yang besar, terutama untuk anak-anak. Sekarang kita menembak tanpa pandang bulu.

Dalam sejarah dari perang, Prefektur Okinawa Peace Memorial Museum menyajikan Okinawa sebagai tertangkap dalam pertempuran antara Amerika dan Jepang. Selama pertempuran 1945, tentara Jepang menunjukkan ketidakpedulian untuk pertahanan Okinawa dan keselamatan, dan para prajurit Jepang menggunakan warga sipil sebagai shieldsagainst manusia Amerika. Makanan jepang disita militer dari Okinawa dan dilaksanakan orang-orang yang menyembunyikan itu, yang mengarah ke kelaparan massal di kalangan penduduk, dan warga sipil dipaksa keluar dari tempat penampungan mereka. tentara Jepang juga menewaskan sekitar 1.000 Okinawa yang berbicara dalam dialek lokal yang berbeda dalam rangka untuk menekan mata-mata. Museum menulis bahwa “beberapa tertiup terpisah oleh kerang, beberapa menemukan diri mereka dalam situasi putus harapan terdorong untuk bunuh diri, sebagian meninggal karena kelaparan, beberapa menyerah pada malaria, sementara yang lain menjadi korban pasukan Jepang mundur.

Misa bunuh diri
Dengan kemenangan yang akan datang dari tentara Amerika, penduduk sipil sering melakukan bunuh diri massal, didorong oleh tentara Jepang yang mengatakan kepada penduduk setempat bahwa tentara Amerika menang akan pergi mengamuk membunuh andraping. Ryukyu Shimpo, salah satu dari dua surat kabar Okinawan utama, menulis pada tahun 2007: “Ada banyak Okinawa yang telah bersaksi bahwa Tentara Jepang mengarahkan mereka untuk bunuh diri. Ada juga orang yang telah bersaksi bahwa mereka menyerahkan granat oleh tentara Jepang “untuk meledakkan diri mereka.

Beberapa warga sipil, yang telah disebabkan oleh propaganda Jepang untuk percaya bahwa tentara AS yang melakukan kekejaman werebarbarians mengerikan, membunuh keluarga mereka dan mereka sendiri untuk menghindari penangkapan. Beberapa dari mereka melemparkan diri mereka dan anggota keluarga mereka dari tebing mana Museum Perdamaian sekarang berada.

Namun, meskipun diberitahu oleh militer Jepang bahwa mereka akan menderita pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan di tangan Amerika, Okinawa “sering terkejut pada perlakuan relatif manusiawi yang mereka terima dari musuh Amerika.

English Version :

Battle of Okinawa

Battle of Okinawa
Part of World War II, the Pacific War
Two Marines from the 2nd Battalion, 1st Marines advance on Wana Ridge on May 18, 1945
A Marine from the 2nd Battalion, 1st Marines on Wana Ridge provides covering fire with his Thompson submachine gun, May, 1945
Date April 1, 1945 – June 22, 1945
Location OkinawaJapan
Result Allied victory
Belligerents
United States
United Kingdom
Japan Empire of Japan
Commanders and leaders
United States Simon B. Buckner
United States Roy Geiger  United States Joseph Stilwell


United States Chester W. Nimitz
United States Raymond A. Spruance
United Kingdom Bruce Fraser

Japan Mitsuru Ushijima
Japan Isamu Chō   Japan Hiromichi Yahara (P.O.W.)


Japan Minoru Ota
Japan Keizō Komura

Strength
183,000[1] 117,000[2]
Casualties and losses
12,513 killed
38,916 wounded,
33,096 non-combat losses
About 95,000 killed
7,400–10,755 captured
Estimated 42,000–150,000 civilians killed

he Battle of Okinawa, codenamed Operation Iceberg,[3] was fought on theRyukyu Islands of Okinawa and was the largest amphibious assault in the Pacific War.[4][5] The 82-day-long battle lasted from early April until mid-June, 1945. After a long campaign of island hopping, the Allies were approaching Japan, and planned to use Okinawa, a large island only 340 miles away from mainland Japan, as a base for air operations on the planned invasion of Japanese mainland (coded Operation Downfall). Five divisions of the U.S. Tenth Army, the 7th27th77th81st, and 96th, and two Marine Divisions, the 1st and 6th, fought on the island while the 2nd Marine Division remained as an amphibious reserve and was never brought ashore. The invasion was supported by naval, amphibious, and tactical air forces.

The invasion begins on the Hagushi beaches.

The battle has been referred to as the “Typhoon of Steel” in English, and tetsu no ame (“rain of steel”) or tetsu no bōfū (“violent wind of steel”) in Japanese. The nicknames refer to the ferocity of the fighting, the intensity of Kamikaze suicide attacks from the Japanese defenders, and to the sheer numbers of Allied ships and armored vehicles that assaulted the island. The battle resulted in the highest number of casualties in the Pacific Theater during World War II. Japan lost over 100,000 troops killed or captured, and the Allies suffered more than 50,000 casualties of all kinds. Simultaneously, tens of thousands of local civilians were killed, wounded, or committed suicide. The atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki caused Japan to surrender just weeks after the end of the fighting at Okinawa.

The hills of Okinawa, honeycombed with well-manned caves and dugouts.

Order of battle

Land

The U.S. land forces involved included the Tenth Army, commanded by Lieutenant General Simon Bolivar Buckner, Jr. The army had twocorps under its command, III Amphibious Corps under Major General Roy Geiger, consisting of 1st and 6th Marine Divisions, and XXIV Corpsunder Major General John R. Hodge, consisting of the 7th and 96th Infantry Divisions. The 2nd Marine Division was an afloat reserve, and Tenth Army also controlled the 27th, earmarked as a garrison, and 77th Infantry Divisions. In all, the Tenth Army contained 102,000 Army and 81,000 Marine Corps personnel.

File:Japanese Commanders on Okinawa.jpg

Commanders of the Japanese 32nd Army, February 1945

The Japanese land campaign (mainly defensive) was conducted by the 67,000-strong (77,000 according to some sources) regular Thirty-Second Army and some 9,000 Imperial Japanese Navy(IJN) troops at Oroku naval base (only a few hundred of whom had been trained and equipped for ground combat), supported by 39,000 drafted local Ryukyuan people (including 24,000 hastilyconscripted rear militia called Boeitai and 15,000 non-uniformed laborers).

Unloading supplies on Guadalcanal

Senior officers prepare for Okinawa

In addition, 1,500middle school senior boys organized into front-line-service “Iron and Blood Volunteer Units”, while 600 Himeyuri Students were organized into a nursing unit.

The 32nd Army initially consisted of the 9th24th, and 62nd Divisions, and the 44th Independent Mixed Brigade. The 9th Division was moved to Taiwan prior to the invasion, resulting in shuffling of Japanese defensive plans. Primary resistance was to be led in the south by Lieutenant GeneralMitsuru Ushijima, his chief of staff, Lieutenant General Isamu Chō and his chief of operations, Colonel Hiromichi Yahara.

Yahara advocated a defensive strategy, whilst Chō advocated an offensive one. In the north, Colonel Takehido Udo was in command. The IJN troops were led by Rear Admiral Minoru Ota. They expected the Americans to land six to ten divisions against the Japanese garrison of two and a half divisions. The staff calculated that superior quality and numbers of weapons gave each U.S. division five or six times the firepower of a Japanese division; to this would be added the Americans’ abundant naval and air firepower.

Underground Hangar. Crops were planted on top rendering it virtually impossible to see from the air. – Ctsy. Wayland Mayo

Sea

U.S. Navy

Most of the air-to-air fighters and the small dive bombers and strike aircraft were U.S. Navy carrier-based airplanes. The Japanese had usedkamikaze tactics since the Battle of Leyte Gulf, but for the first time, they became a major part of the defense. Between the American landing on April 1 and May 25, seven major kamikaze attacks were attempted, involving more than 1,500 planes. The U.S. Navy sustained greater casualties in this operation than in any other battle of the war.

A U.S. soldier searches a surrendering Japanese soldier.

British Commonwealth

Although Allied land forces were entirely composed of U.S. units, the British Pacific Fleet (BPF; known to the U.S. Navy as Task Force 57) provided about a quarter of Allied naval air power (450 planes). It comprised many ships, including 50 warships of which 17 were aircraft carriers, but while the British armoured flight decks meant that fewer planes could be carried in a single aircraft carrier, they were more resistant to kamikaze strikes. Although all the aircraft carriers were provided by the UK, the carrier group was a combined British Commonwealth fleet with British, CanadianNew Zealand and Australian ships and personnel[citation needed]. Their mission was to neutralize Japanese airfields in the Sakishima Islands and provide air cover against Japanese kamikaze attacks.

Unloading supplies on Guadalcanal

Bombing Okinawa

Kamikaze

The Kamikaze (神風?, common translation: “divine wind”) [kamikaꜜze]( listen) Tokubetsu Kougekitai (特別攻撃隊?Tokkō Tai (特攻隊?Tokkō (特攻?) were suicide attacks by military aviators from the Empire of Japan against Allied naval vessels in the closing stages of the Pacific campaign of World War II, designed to destroy as many warships as possible.

Kamikaze pilots would attempt to crash their aircraft into enemy ships—planes often laden with explosives,bombstorpedoes and full fuel tanks. The aircraft’s normal functions (to deliver torpedoes or bombs or shoot down other aircraft) were put aside, and the planes were converted to what were essentially manned missiles in an attempt to reap the benefits of greatly increased accuracy and payload over that of normal bombs. The goal of crippling as many Allied ships as possible, particularly aircraft carriers, was considered critical enough to warrant the combined sacrifice of pilots and aircraft.

These attacks, which began in October 1944, followed several critical military defeats for the Japanese. They had long lost aerial dominance due to outdated aircraft and the loss of experienced pilots. On a macroeconomic scale, Japan experienced a decreasing capacity to wage war, and a rapidly decliningindustrial capacity relative to the United States. The Japanese government expressed its reluctance to surrender. In combination, these factors led to the use of kamikaze tactics as Allied forces advanced towards the Japanese home islands.

While the term “kamikaze” usually refers to the aerial strikes, the term has sometimes been applied to various other intentional suicide attacks. The Japanese military also used or made plans for Japanese Special Attack Units, including those involving submarineshuman torpedoesspeedboats anddivers.

Although kamikaze was the most common and best-known form of Japanese suicide attack during World War II, they were similar to the “banzai charge” used by Japanese infantrymen (foot soldiers). The main difference between kamikaze and banzai is that death was inherent to the success of a kamikaze attack, whereas a banzai charge was only potentially fatal — that is, the infantrymen hoped to survive but did not expect to. Western sources often incorrectly considerOperation Ten-Go as a kamikaze operation, since it occurred at the Battle of Okinawa along with the mass waves of kamikaze planes; however, banzai is the more accurate term, since the aim of the mission was for battleship Yamato to beach herself and provide support to the island defenders, as opposed to ramming and detonating among enemy naval forces. The tradition ofdeath instead of defeat, capture, and perceived shame was deeply entrenched in Japanese military culture. It was one of the primary traditions in the samurailife and the  Bushido code: loyalty and honor until death; or in the Western vernacular “death before dishonor!”

Ensign Kiyoshi Ogawa, who dove his aircraft into theUSS Bunker Hill during aKamikaze mission on May 11, 1945.

Naval battle

File:USS Bunker Hill hit by two Kamikazes.jpg

USS Bunker Hill burns after being hit by two kamikaze within 30 seconds

The British Pacific Fleet was assigned the task of neutralizing the Japanese airfields in the Sakishima Islands, which it did successfully from March 26 until April 10. On April 10, its attention was shifted to airfields on northern Formosa. The force withdrew to San Pedro Bay on April 23. On May 1, the British Pacific Fleet returned to action, subduing the airfields as before, this time with naval bombardment as well as aircraft. Several kamikaze attacks caused significant damage, but since the British used armored flight decks on their aircraft carriers, they only experienced a brief interruption to their force’s objective.

Unloading supplies on Guadalcanal

The bombardment from the sea at Okinawa

There was a hypnotic fascination to the sight so alien to our Western philosophy. We watched each plunging kamikaze with the detached horror of one witnessing a terrible spectacle rather than as the intended victim. We forgot self for the moment as we groped hopelessly for the thought of that other man up there.

Unloading supplies on Guadalcanal
Combined arms on Okinawa

Between April 6 and June 22, the Japanese flew 1,465 kamikaze aircraft in large scale attacks from Kyushu, 185 individual kamikaze sorties from Kyushu, and 250 individual kamikaze sorties from Formosa. When U.S. intelligence estimated 89 planes on Formosa, the Japanese had approximately 700 dismantled or well camouflaged and dispersed into scattered villages and towns; the U.S. Fifth Air Force disputed Navy claims of kamikaze coming from Formosa.

Unloading supplies on Guadalcanal

The ships lost were smaller vessels, particularly the destroyers of the radar pickets, as well as destroyer escorts and landing ships. While no major Allied warship was lost, several fleet carriers were severely damaged. Land-based motorboats were also used in the Japanese suicide attacks.

Unloading supplies on Guadalcanal

The protracted length of the campaign under stressful conditions forced Admiral Chester W. Nimitz to take the unprecedented step of relieving the principal naval commanders to rest and recuperate. Following the practice of changing the fleet designation with the change of commanders, U.S. naval forces began the campaign as the U.S. Fifth Fleet under Admiral Raymond Spruance, but ended it as the U.S. Third Fleet under Admiral William Halsey.

Operation Ten-Go

Main article: Ten-gō sakusen
File:Yamato battleship explosion.jpg

The Japanese battleship Yamatoexplodes after persistent attacks from U.S. aircraft

Operation Ten-Go (Ten-gō sakusen) was the attempted attack by a strike force of Japanese surface vessels led by the battleship Yamato, commanded by Admiral Seiichi Itō. This small task force had been ordered to fight through enemy naval forces, then beach themselves and fight from shore using their guns as coastal artillery and crewmen as naval infantry.

Unloading supplies on Guadalcanal

Tanks leaving the beach

The Yamato and other vessels in Operation Ten-Go were spotted by submarines shortly after leaving Japanese home waters, and were attacked by U.S. carrier aircraft.

Under attack from more than 300 aircraft over a two-hour span, the world’s largest battleship sank on April 7, 1945, long before she could reach Okinawa. U.S. torpedo bombers were instructed to only aim for one side to prevent effective counter flooding by the battleship’s crew, and hitting preferably the bow or stern, where armor was believed to be the thinnest.

Unloading supplies on Guadalcanal

The landing zone from above

Of the Yamato’sscreening force, the light cruiser Yahagi, and four out of the eight destroyers were also sunk. In all, the Imperial Japanese Navy lost some 3,700 sailors, including Itō, at the relatively low cost of just 10 U.S. aircraft and 12 airmen.

Land battle

File:Battle of Okinawa.svg
 
A map of U.S. operations during the battle
File:Ryukyu map.jpg

The land battle took place over about 81 days beginning April 1, 1945.

The first Americans ashore were soldiers of the 77th Infantry Division, who landed in the Kerama Islands (Kerama Retto), 15 miles (24 km) west of Okinawa on March 26, 1945. Subsidiary landings followed, and the Kerama group was secured over the next five days. In these preliminary operations, the 77th Infantry Division suffered 27 dead and 81 wounded, while Japanese dead and captured numbered over 650. The operation provided a protected anchorage for the fleet and eliminated the threat from suicide boats.

Unloading supplies on Guadalcanal

Advancing carefully

On March 31 Marines of the Fleet Marine Force Amphibious Reconnaissance Battalion landed without opposition on Keise Shima, four islets just 8 miles (13 km) west of the Okinawan capital ofNaha155 mm Long Toms went ashore on the islets to cover operations on Okinawa.

Northern Okinawa

File:New Mexico class battleship bombarding Okinawa.jpg

The battleship USS Idaho (BB-42) shellsOkinawa on 1 April 1945.

File:Marines land on Okinawa shores.jpg

U.S. Marine reinforcements wade ashore to support the beachhead on Okinawa, March 31, 1945

The main landing was made by XXIV Corps and III Amphibious Corps on the Hagushi beaches on the western coast of Okinawa on L-Day, April 1, which was both Easter Sunday and April Fools’ Day in 1945. The 2nd Marine Division conducted a demonstration off the Minatoga beaches on the southeastern coast to confuse the Japanese about American intentions and delay movement of reserves from there.

US soldiers blast a Japanese held cave.

Tenth Army swept across the south-central part of the island with relative ease by World War II standards, capturing the Kadena and the Yomitan airbases. In light of the weak opposition, General Buckner decided to proceed immediately with Phase II of his plan—the seizure of northern Okinawa. The 6th Marine Division headed up the Ishikawa Isthmus. The land was mountainous and wooded, with the Japanese defenses concentrated on Yae-Take, a twisted mass of rocky ridges and ravines on theMotobu Peninsula. There was heavy fighting before the Marines finally cleared the peninsula on April 18.

Men and a Sherman tank of the 382nd Infantry Regiment, US 96th Division on the Ginowan Road, Okinawa, Japan, Apr-Jun 1945

Meanwhile, the 77th Infantry Division assaulted Ie Shima, a small island off the western end of the peninsula, on April 16. In addition to conventional hazards, the 77th Infantry Division encountered kamikaze attacks, and even Japanese women armed with spears. There was heavy fighting before Ie Shima was declared secured on April 21 and became another air base for operations against Japan.

Southern Okinawa

File:Corsair fighter firing on Okinawa.jpg
 

F4U Corsair fighter firingrockets in support of the troops on Okinawa

While the Marine 6th division cleared northern Okinawa, the U.S. Army 96th Infantry division and U.S. Marine 7th division wheeled south across the narrow waist of Okinawa. The 96th division began to encounter fierce resistance in west-central Okinawa from Japanese troops holding fortified positions east of Highway No. 1 and about about five miles (8 km) northwest of Shuri, from what came to be known asCactus Ridge. The 7th division encountered similarly fierce Japanese opposition from a rocky pinnacle located about 1,000 yards southwest of Arakachi (later dubbed “The Pinnacle“).

US guns boom. 155mm Gun set up on Keise Shima near Okinawa, Japan, Apr 1945

By the night of April 8 U.S. troops had cleared these and several other strongly fortified positions. They suffered over 1,500 battle casualties in the process, while killing or capturing about 4,500 Japanese, yet the battle had only just begun, for it was now realized they were merely outposts guarding the Shuri Line.

The next American objective was Kakazu Ridge, two hills with a connecting saddle that formed part of Shuri’s outer defenses. The Japanese had prepared their positions well and fought tenaciously. Fighting was fierce, as the Japanese soldiers hid in fortified caves, and the U.S. forces often lost many men before clearing the Japanese out from each cave or other hiding place. The Japanese would send the Okinawans at gunpoint out to acquire water and supplies for them, which induced casualties among civilians. The American advance was inexorable but resulted in massive casualties sustained by both sides.

File:OkinawaMarinesDeadJapanese.jpg

Marines pass through a destroyed small village where a Japanese soldier lies dead, April 1945

As the American assault against Kakazu Ridge stalled, General Ushijima, influenced by General Chō, decided to take the offensive. On the evening of April 12, the 32nd Army attacked U.S. positions across the entire front. The Japanese attack was heavy, sustained, and well organized. After fierce close combat the attackers retreated, only to repeat their offensive the following night. A final assault on April 14 was again repulsed. The entire effort led 32nd Army’s staff to conclude that the Americans were vulnerable to night infiltration tactics, but that their superior firepower made any offensive Japanese troop concentrations extremely dangerous, and they reverted to their defensive strategy.

The 27th Infantry Division, which had landed on April 9, took over on the right, along the west coast of Okinawa. General Hodge now had three divisions in the line, with the 96th in the middle, and the 7th on the east, with each division holding a front of only about 1.5 miles (2.4 km).

Hodge launched a new offensive of April 19 with a barrage of 324 guns, the largest ever in thePacific Ocean Theater. Battleships, cruisers, and destroyers joined the bombardment, which was followed by 650 Navy and Marine planes attacking the enemy positions with napalm, rockets, bombs, and machine guns. The Japanese defenses were sited on reverse slopes, where the defenders waited out the artillery barrage and aerial attack in relative safety, emerging from the caves to rain mortar rounds and grenades upon the Americans advancing up the forward slope.

File:OkinawaMarineCaveDemolition.jpg

A 6th Division Marine demolition crew watches explosive charges detonate and destroy a Japanese cave, May 1945

A tank assault to achieve breakthrough by outflanking Kakazu Ridge, failed to link up with its infantry support attempting to cross the ridge and failed with the loss of 22 tanks. Although flame tanks cleared many cave defenses, there was no breakthrough, and the XXIV Corps lost 720 menKIAWIA and MIA. The losses might have been greater, except for the fact that the Japanese had practically all of their infantry reserves tied up farther south, held there by another feint off the Minatoga beaches by the 2nd Marine Division that coincided with the attack.

Okinawan sculptor Kinjo Minoru’s relief depicting the horror of the Battle

At the end of April, after the Army forces had pushed through the Machinato defensive line and airfield, the 1st Marine Division relieved the 27th Infantry Division, and the 77th Infantry Division relieved the 7th. When the 6th Marine Division arrived, III Amphibious Corps took over the right flank and Tenth Army assumed control of the battle.

On May 4, the 32nd Army launched another counteroffensive. This time Ushijima attempted to make amphibious assaults on the coasts behind American lines. To support his offensive, the Japanese artillery moved into the open. By doing so they were able to fire 13,000 rounds in support but an effective U.S. counter-battery fire destroyed dozens of Japanese artillery pieces. The attack was a complete failure.

File:Americans on Okinawa hear of victory in Europe.jpg

American soldiers of the 77th Divisionlisten impassively to radio reports of Victory in Europe Day on May 8, 1945

Buckner launched another American attack on May 11. Ten days of fierce fighting followed. On May 13, troops of the 96th Infantry Division and 763d Tank Battalion captured Conical Hill. Rising 476 feet (145 m) above the Yonabaru coastal plain, this feature was the eastern anchor of the main Japanese defenses and was defended by about 1,000 Japanese. Meanwhile, on the opposite coast, the 6th Marine Division fought for “Sugar Loaf Hill”. The capture of these two key positions exposed the Japanese around Shuri on both sides. Buckner hoped to envelop Shuri and trap the main Japanese defending force.

By the end of May, monsoon rains which turned contested hills and roads into a morass exacerbated both the tactical and medical situations. The ground advance began to resemble aWorld War I battlefield as troops became mired in mud and flooded roads greatly inhibited evacuation of wounded to the rear.

Troops lived on a field sodden by rain, part garbage dump and part graveyard. Unburied Japanese bodies decayed, sank in the mud, and became part of a noxious stew. Anyone sliding down the greasy slopes could easily find their pockets full of maggots at the end of the journey.

File:US Flag raised over Shuri castle on Okinawa.jpg

Lt. Col. Richard P. Ross, commander of 1st Battalion, 1st Marines braves sniper fire to place the division’s colors on a parapet of Shuri Castle on May 30. This flag was first raised overCape Gloucester and then Peleliu

On May 29, Major General Pedro del Valle, commanding the 1st Marine Division, ordered Company A, 1st Battalion5th Marines to capture Shuri Castle. Seizure of the castle represented both strategic and psychological blows for the Japanese and was a milestone in the campaign. Del Valle was awarded aDistinguished Service Medal for his leadership in the fight and the subsequent occupation and reorganization of Okinawa. Shuri Castle had been shelled for 3 days prior to this advance by theUSS Mississippi (BB-41).[13] Due to this, the 32nd Army withdrew to the south and thus the marines had an easy task of securing Shuri Castle. The castle, however, was outside the 1st Marine Division’s assigned zone and only frantic efforts by the commander and staff of the 77th Infantry Division prevented an American air strike and artillery bombardment which would have resulted in many casualties due to friendly fire.

Cover Photo: Okinawa: The Last Battle

The Japanese retreat, although harassed by artillery fires, was conducted with great skill at night and aided by the monsoon storms. The 32nd Army was able to move nearly 30,000 men into its last defense line on the Kiyan Peninsula, which ultimately led to the greatest slaughter on Okinawa in the latter stages of the battle, including the deaths of thousands of civilians.

Battle of Okinawa

In addition, there were 9,000 IJN troops supported by 1,100 militia holed up at the fortified area of the Okinawa Naval Base Force in the Oroku Peninsula. Later that day, the Americans launched an amphibious assault on the Oroku Peninsula in order to secure their western flank. After several days of bitter fighting, the Japanese were pushed to the far south of the island.

File:Rocket-launchers-okinawa.jpg - Wikimedia Commons

On June 18, General Buckner was killed by enemy artillery fire while monitoring the progress of his troops. Buckner was replaced by Roy Geiger. Upon assuming command, Geiger became the only U.S. Marine to command a numbered army of the U.S. Army in combat. He was relieved five days later by Joseph Stilwell.

The island fell on June 21, 1945, although some Japanese continued hiding, including the future governor of Okinawa PrefectureMasahide Ota.Ushijima and Chō committed suicide by seppuku in their command headquarters on Hill 89 in the closing hours of the battle. Colonel Yahara had asked Ushijima for permission to commit suicide, but the general refused his request, saying:

“If you die there will be no one left who knows the truth about the battle of Okinawa. Bear the temporary shame but endure it. This is an order from your army Commander.

Yahara was the most senior officer to have survived the battle on the island, and he later authored a book titled The Battle for Okinawa.

Casualties

Military losses

File:Last picture of LtGen. Buckner at Okinawa.jpg

The last picture of Lieutenant GeneralSimon Bolivar Buckner, Jr., right, the day before he was killed by Japanese artillery on June 19, 1945

U.S. losses were over 62,000 casualties of whom over 12,000 were killed or missing. This made the battle the bloodiest that U.S. forces experienced in the Pacific war. Several thousand servicemen who died indirectly (from wounds and other causes) at a later date are not included in the total. One of the most famous U.S. casualties was the war correspondent Ernie Pyle, who was killed by Japanese machine gun fire on Ie Shima.U.S. forces suffered their highest-ever casualty rate for combat stress reaction during the entire war, at 48%, with some 14,000 soldiers retired due to nervous breakdown.

battle of okinawa ended on june 21 1945 the last battle of wold war ii ...

General Buckner’s decision to attack the Japanese defenses head-on, although extremely costly in U.S. lives, was ultimately successful. Just four days from the closing of the campaign, General Buckner was killed by Japanese artillery fire, which blew lethal slivers of coral into his body, while inspecting his troops at the front line. He was the highest-ranking U.S. officer to be killed by enemy fire during the war. The day after, a second general, Brigadier General Claudius M. Easley, was killed by machine gun fire.

The Battle for Okinawa [Light]

Aircraft losses over the three-month period were 768 United States planes including those bombing the Kyushu airfields launching kamikazes. Combat losses were 458, and the other 310 were operational accidents. Japanese aircraft losses were 7,830 over the same period, including 2,655 to operational accidents. Navy and Marine Corps fighters downed 3,047, while shipboard antiaircraft felled 409, and B-29s destroyed 558 on the ground.

NAVAL BATTLE OF OKINAWA

At sea 368 Allied ships (including 120 amphibious craft) were damaged while another 28, including 15 amphibious ships and 12 destroyers were sunk during the Okinawa campaign. The U.S. Navy’s dead exceeded its wounded with 4,907 killed and 4,874 wounded, primarily from kamikaze attacks.Among United States casualties, neither the Army nor the Marine death toll exceeded the Navy death toll in the battle for Okinawa. The Japanese lost 16 ships sunk, including the giant battleship Yamato.

File:Japanese Suicide Plane on Okinawa.jpg - Wikimedia Commons

On land the U.S. forces lost at least 225 tanks and many LVTs destroyed while eliminating 27 Japanese tanks and 743 artillery pieces (including mortars, anti-tank and anti-aircraft guns), some of them knocked-out by the naval and air bombardments but most of them knocked-out by American counter-battery fire. Casualties of American ground artillery are unknown.

File:A group of japanese prisoners.jpg

A group of Japanese prisoners who preferred surrender to suicide wait to be questioned

By one count, there were about 107,000 Japanese combatants killed and 7,400 captured. Some of the soldiers committed seppuku or simply blew themselves up with hand grenades. In addition, thousands were sealed in their caves alive by the U.S. combat engineers.

This was also the first battle in the war in which surrendering Japanese were made into POWs by the thousands. Many of the Japanese prisoners were native Okinawans who had been impressed into the Army shortly before the battle and were less imbued with the Japanese Army’s no-surrender doctrine.

Raising the American flag at the end of the Battle of Okinawa, 1945

When the American forces occupied the island, the Japanese took Okinawan clothing to avoid capture and the Okinawans came to the Americans’ aid by offering a simple way to detect Japanese in hiding. The Okinawan language differs greatly from the Japanese language; with Americans at their sides, Okinawans would give directions to people in the local language, and those who did not understand were considered Japanese in hiding who were then captured.

Civilian losses

File:OkinawaCivilians.jpg

Okinawan civilians in 1945

File:OkinawaMarineOrphan.jpg

Two Marines share a foxholewith an Okinawan war orphan in April 1945

At some battles, such as at Battle of Iwo Jima, there had been no civilians involved, but Okinawa had a large indigenous civilian population and, according to various estimates, somewhere between 1/10 and 1/3 of them died during the battle. Okinawan civilian losses in the campaign were estimated to be between 42,000 and 150,000 dead (more than 100,000 according to Okinawa Prefecture). The U.S. Army figures for the campaign showed a total figure of 142,058 civilian casualties, including those who were pressed into service by the Japanese Imperial Army.

During the battle, U.S. soldiers found it difficult to distinguish civilians from soldiers. It became routine for U.S. soldiers to shoot at Okinawan houses, as one infantryman wrote, “There was some return fire from a few of the houses, but the others were probably occupied by civilians – and we didn’t care. It was a terrible thing not to distinguish between the enemy and women and children. Americans always had great compassion, especially for children. Now we fired indiscriminately.

In its history of the war, the Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum presents Okinawa as being caught in the fighting between America and Japan. During the 1945 battle, the Japanese Army showed indifference to Okinawa’s defense and safety, and the Japanese soldiers used civilians as human shieldsagainst the Americans. Japanese military confiscated food from the Okinawans and executed those who hid it, leading to a mass starvation among the population, and forced civilians out of their shelters. Japanese soldiers also killed about 1,000 Okinawans who spoke in a different local dialect in order to suppress spying. The museum writes that “some were blown apart by shells, some finding themselves in a hopeless situation were driven to suicide, some died of starvation, some succumbed to malaria, while others fell victim to the retreating Japanese troops.

battle_of_okinawa.jpg

Mass suicides

With the impending victory of American troops, civilians often committed mass suicide, urged on by the Japanese soldiers who told locals that victorious American soldiers would go on a rampage of killing andrapingRyukyu Shimpo, one of the two major Okinawan newspapers, wrote in 2007: “There are many Okinawans who have testified that the Japanese Army directed them to commit suicide. There are also people who have testified that they were handed grenades by Japanese soldiers” to blow themselves up.

Battle of Okinawa

Some of the civilians, having been induced by Japanese propaganda to believe that U.S. soldiers werebarbarians who committed horrible atrocities, killed their families and themselves to avoid capture. Some of them threw themselves and their family members from the cliffs where the Peace Museum now resides.

However, despite being told by the Japanese military that they would suffer rape, torture and murder at the hands of the Americans, Okinawans “were often surprised at the comparatively humane treatment they received from the American enemy. According toIslands of Discontent: Okinawan Responses to Japanese and American Power by Mark Selden, the Americans “did not pursue a policy of torture, rape, and murder of civilians as Japanese military officials had warned.” Military Intelligence combat translator Teruto Tsubota, a U.S. Marine born in Hawaii, convinced hundreds of civilians not to kill themselves and thus saved their lives.

Rape allegations

Civilians and historians report that soldiers on both sides had raped Okinawan civilians during the battle. Rape by Japanese troops “became common” in June, after it became clear that the Japanese Army had been defeated One Okinawan historian has estimated there were more than 10,000 rapes of Okinawan women by American troops during the three month campaign. The New York Times reported in 2000 that in the village of Katsuyama, civilians formed a vigilante group to ambush and kill a group of black American soldiers whom they claimed frequently raped the local girls there.

Marine Corps officials in Okinawa and Washington have stated that they “knew of no rapes by American servicemen in Okinawa at the end of the war, and their records do not list war crimes committed by Marines in OkinawaHistorian George Feifer, however, writes that rape in Okinawa was “another dirty secret of the campaign” in which “American military chronicles ignore [the] crimes.” Few Okinawans revealed their pregnancies, as “stress and bad diet … rendered most Okinawan women infertile. Many who did become pregnant managed to abort before their husbands and fathers returned. A smaller number of newborn infants fathered by Americans were suffocated.

Suicide order controversy

File:Overcoming the last resistance.jpg

Overcoming the civilian resistance on Okinawa was aided by U.S. propagandaleaflets, one of which is being read by a prisoner awaiting transport

There is ongoing major disagreement between Okinawa’s local government and Japan’s national government over the role of the Japanese military in civilian mass suicides during the battle. In March 2007, the national Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT) advised textbook publishers to reword descriptions that the embattled Imperial Japanese Army forced civilians to kill themselves in the war so they would not be taken prisoner by the U.S. military. MEXT preferred descriptions that just say that civilians received hand grenades from the Japanese military.

This move sparked widespread protests among the Okinawans. In June 2007, the Okinawa Prefectoral Assembly adopted a resolution stating, “We strongly call on the (national) government to retract the instruction and to immediately restore the description in the textbooks so the truth of the Battle of Okinawa will be handed down correctly and a tragic war will never happen again.

Prisoner of war camp during the last stage of Battle of Okinawa, 1945

On September 29, 2007, about 110,000 people held the biggest political rally in the history of Okinawa to demand that MEXT retract its order to textbook publishers on revising the account of the civilian suicides. The resolution stated: “It is an undeniable fact that the ‘multiple suicides’ would not have occurred without the involvement of the Japanese military and any deletion of or revision to (the descriptions) is a denial and distortion of the many testimonies by those people who survived the incidents.”

On December 26, 2007, MEXT partially admitted the role of the Japanese military in civilian mass suicides. The ministry’s Textbook Authorization Council allowed the publishers to reinstate the reference that civilians “were forced into mass suicides by the Japanese military,” on condition it is placed in sufficient context. The council report stated: “It can be said that from the viewpoint of the Okinawa residents, they were forced into the mass suicides. That was, however, not enough for the survivors who said it is important for children today to know what really happened.

The Nobel Prize winning author Kenzaburō Ōe has written a booklet which states that the mass suicide order was given by the military during the battle. He was sued by the revisionists, including a wartime commander during the battle, who disputed this and wanted to stop publication of the booklet. At a court hearing on November 9, 2007, Ōe testified: “Mass suicides were forced on Okinawa islanders under Japan’s hierarchical social structure that ran through the state of Japan, the Japanese armed forces and local garrisons.” On March 28, 2008, the Osaka Prefecture Court ruled in favor of Ōe stating, “It can be said the military was deeply involved in the mass suicides.” The court recognized the military’s involvement in the mass suicides and murder–suicides, citing the testimony about the distribution of grenades for suicide by soldiers and the fact that mass suicides were not recorded on islands where the military was not stationed.

Aftermath

File:Attack on bloody ridge.jpg

American Sherman tanks knocked out by Japanese artillery Bloody Ridge April 20, 1945

Ninety percent of the buildings on the island were completely destroyed, and the lush tropical landscape was turned into “a vast field of mud, lead, decay and maggots”.

The military value of Okinawa “exceeded all hope.” Okinawa provided a fleet anchorage, troop staging areas, and airfields in close proximity to Japan. After the battle, the U.S. cleared the surrounding waters of mines in Operation Zebra, occupied Okinawa, and set up the United States Civil Administration of the Ryukyu Islands, a form of military government.[47] Significant U.S. forces remain garrisoned there, and Kadena remains the largest U.S. air base in Asia.

Some military historians believe that the Okinawa campaign led directly to the atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki, as a means of avoiding the planned ground invasion of the Japanese mainlandVictor Davis Hanson explains his view in Ripples of Battle:

…because the Japanese on Okinawa… were so fierce in their defense (even when cut off, and without supplies), and because casualties were so appalling, many American strategists looked for an alternative means to subdue mainland Japan, other than a direct invasion. This means presented itself, with the advent of atomic bombs, which worked admirably in convincing the Japanese to sue for peace [unconditionally], without American casualties. Ironically, the American conventional fire-bombing of major Japanese cities (which had been going on for months before Okinawa) was far more effective at killing civilians than the atomic bombs and, had the Americans simply continued, or expanded this, the Japanese would likely have surrendered anyway.

File:Cornerstone of Peace.jpg

Cornerstone of Peace Memorial with names of all military and civilians from all countries who died in the Battle of Okinawa

In 1945, Winston Churchill called the battle “among the most intense and famous in military history.”

In 1995, the Okinawa government erected a memorial named Cornerstone of Peace in Mabuni, the site of the last fighting in southeastern Okinawa. The memorial lists all the known names of those who died in the battle, civilian and military, Japanese and foreign. As of June 2008 it contains 240,734 names.

USS BUNKER HILL AT SEA

USS BUNKER HILL HIT BY KAMIKAZE

USS BUNKER HILL BURNING

USS BUNKER HILL DECK

USS FRANKLIN AFTER JAPANESE AIR ATTACK

KAMIKAZE ABOUT TO HIT USS MISSOURI

USS PRINCETON AFTER JAPANESE AIR ATTACK

KAMIKAZE ATTACK ON USS TICONDEROGA

USS TICONDEROGA DURING BETTER TIMES

LARGEST SHIP AFLOAT, YAMATO

YAMATO GOES DOWN


 
the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

The rare Moamer Gadhafi or Kadhafi collections and Informations(koleksi Langka Kadhafi yang sedang diserang oleh NATO)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

The Driwan’s Icon  Cybermuseum

(Museum Ikon didunia maya    )

Showcase:

The  rare M.Gaddafy or Kadhafi Collections.(Koleksi langka moamer kadhafi yang bertahan menghadapi serangan  NATO)******************************************************

BREAKING NEWS MOAMER  KHADAFI INFO NOW TODAY

1.October 2011

 Moamer Ghadafy Dead at Sirte

 

1.a.Mei,6th.2011

Amnesty says Gaddafi’s attacks “may amount to war crimes”

06.05.2011 15:58
 
 
Amnesty says Gaddafi's attacks "may amount to war crimes"

Attacks by forces loyal to Libyan leader Moamer Gaddafi on the western city of Misurata may amount to war crimes, Amnesty International said Friday in a report.

The pressure group accuses Gaddafi forces of using heavy artillery, rockets and cluster bombs in civilian areas and sniper fire against residents, DPA reported.

“The scale of the relentless attacks that we have seen by Gaddafi forces to intimidate the residents of Misurata for more than two months is truly horrifying,” said senrior adviser Donatella Rovera, who is currently in Libya.

The London-based rights group singled out an incident in April, when it says government troops targeted civilians standing in a queue outside a bakery.

Libya’s third-largest city has seen some of the worst violence in the country and is experiencing an escalating humanitarian crisis. Rebels say at least 1,000 have been killed there.

Human rights groups say Gaddafi‘s forces have also been using cluster bombs to attack the port city.

Cluster bombs, which eject smaller bomblets, have been outlawed by more than 100 countries which have signed up to the Convention on Cluster Munitions, which took effect in 2010. Libya is not a signatory to the convention.

Amnesty said the use of cluster munitions in residential areas amounts to a “flagrant violation of the international prohibition on indiscriminate attack.”

Gaddafi’s forces remain in control of the airport in Misurata, while its port remains a battleground for rebels and government loyalists, resulting in shortages of food and medical supplies in the city.

Amnesty’s report comes two days after the International Criminal Court’s chief prosecutor, Luis Moreno-Ocampo, said that he plans to seek arrest warrants against three unnamed Libyans in connection with the slaying of anti-government protesters.

Moreno-Ocampo is to present his case for crimes against humanity to the ICC’s pretrial chamber.

UN Security Council members and the United States say they supported the prosecutor’s request for arrest warrants

1a.Mei,11th.2011

 

Appeared in TV broadcasts Gaddafi Libya

 
 

These broadcasts proved he is still alive and well.Libyan leader, Muammar Gaddafi, reportedly escaped the attack that killed his son early last May. In a television broadcast, Gaddafi looks safe and sound. He was holding talks with tribal elders supporters.Reporting from the pages of CNN, the Libyan state television broadcast footage on Wednesday night, May 11, 2011. Gaddafi seen wearing sunglasses and dark clothes. Meanwhile, tribal elders to wear a suit. This is Gaddafi’s first appearance since 30 April.”Our leaders met with Indigenous elders in Tripoli a few hours ago, this proves the persistence and perseverance Libya and its leader. Insha Allah, they will win,” said the announcer in the television broadcast.

2.Mei,12th 2011

mei 12, 2011

Libya’s Muammar Gaddafi’s makes TV appearance, Tripoli 11 May 2011

Americans and NATO out from Afghanistan, Pakistan and Libya ! Stop the NATO-collaborators !

3.Mei,16th 2011

 Indonesian Migrant Workers Repatriated from Libya

 
 
Reuters Libyan leader Muammar Gaddafi waves from a car in the compound of Bab Al Azizia in Tripoli, after a meeting with a delegation of five African leaders seeking to mediate in Libyas conflict in this April 10, 2011 file photo. A war crimes prosecutor on May 16, 2011 sought an arrest warrant for Muammar Gaddafi, accusing him of killing protesters against his four-decade rule, as NATO stepped up strikes on Libyan forces. Picture taken April 10, 2011.
 

LONDON, KOMPAS.com– The Indonesian embassy in Tunis repatriated seven other migrant workers (TKWs) from Libya amidst the chaos there. Besides the seven Indonesian migrant workers, the Indonesian embassy in the Tunisian capital also repatriated another TKW Nani Suryani BT Aman Med (24) of Subang who works at the house of a hotelier in the resort city of Hammamet, embassy staff member M. Yazid said.

The eight TKWs were seen off by Embassy Councellor Sam Elihar Marentek, First Secretary Boy Dharmawan, Second Secretary Cut Dinawati Hidayat, BPKRT Mikin Sentono and Communication Officer Helmi Helwani at an embassy meeting in Tunis. Four of the 7 TKWs arrived in Tunis on May 7, and 3 others on May 10, while another one also from Tunisia entered the embassy on May 11.

The seven TKWs were Susi Rusmiati Ubad (28) and Latipah BT Endah Bahria (42) from Cianjur, Siti Fatimah BT Rahdi Rahmat (31) from Malang, Masiyah BT Rada Tolib (33) from Brebes, Tuti BT Namin Nian (31) from Bekasi and Eva Lusia BT Tajudin Asmadi (25) and Sariah BT Karsilah Sarah (26) from Indramayu.

While being employed in Libya and Tunisia, they had no shortcomings, and were even regarded as members of the families of their employers. This was experienced by Nani Suryani who worked for a hotelier in Hammamet.

Her employer and all members of her family had tears in their eyes when saying goodbye to her. Many of her counterparts also had the same sentimental experience, and their employers often telephoned them asking how they were.

M. Yazid said some of the ex-employers contacted the embassy expressing their appreciation for the TKWs’good and loyal services. But Eva Lusia, a mother of a child, escaped from her employer’s house at 1 am without a single penny, except a handbag of clothes.

 

4. Mei,2oth.2011

Gaddafi’s departure from Libya inevitable, Obama says

Mei 20, 2011   ·  

 
Gaddafi's departure from Libya

Muammar Gaddafi will inevitably leave power, U.S. President Barack Obama said, as NATO intensified its weeks-long bombing of government targets and said on Friday it had sunk eight Libyan warships.

Obama was speaking in an address on the Middle East where a series of uprisings this year governments in Tunisia and Egypt, and inspired a three-month-old revolt in Libya that aims to overthrow Gaddafi.

“Time is working against Gaddafi. He does not have control over his country. The opposition has organized a legitimate and credible Interim Council,” Obama said in Washington on Thursday.

“When Gaddafi inevitably leaves or is forced from power, decades of provocation will come to an end and the transition to a democratic Libya can proceed,” he said, defending his decision to take military action against the Libyan leader’s government.

His comments echoed NATO Secretary-General Anders Fogh Rasmussen who said military and political pressure were weakening Gaddafi and would eventually topple him.

The Libyan leader remained defiant.

“Obama is still delusional,” Libyan government spokesman Mussa Ibrahim said. “He believes the lies that his own government and media spread around the world … It’s not Obama who decides whether Muammar Gaddafi leaves Libya or not. It’s the Libyan people.”

Acting under a U.N. mandate, NATO allies including France, Britain and the United States are conducting air strikes that aim to stop Gaddafi using military force against civilians.

NATO aircraft sank the eight warships in overnight attacks on the ports of Tripoli, Al Khums and Sirte, the alliance said in a statement.

“Given the escalating use of naval assets, NATO had no choice but to take decisive action to protect the civilian population of Libya and NATO forces at sea,” said Rear-Admiral Russell Harding, deputy commander of NATO’s Libyan mission.

Libyan officials took journalists to Tripoli port where a small ship spewed smoke and flames, and cast doubt on whether boats targeted by NATO had been involved in fighting.

Mohammad Ahmad Rashed, general manager of Tripoli’s port, said six boats had been hit by missiles.

The boats, five belonging to the coastguard and a larger naval vessel, had been undergoing maintenance since before the start of the fighting, he told reporters, adding that the port was still functional and capable of handling commercial traffic.

NATO bombs struck Tripoli, Gaddafi’s hometown of Sirte and Zlitan east of the capital, state TV said late on Thursday.

Rebels control eastern Libya and pockets in the west but the conflict has reached a stalemate as rebel attempts to advance on Gaddafi’s stronghold of Tripoli have stalled.

Western governments, under pressure from skeptical voters, are counting on Gaddafi’s administration to collapse.

“We have significantly degraded Gaddafi’s war machine. And now we see results, the opposition has gained ground,” Rasmussen told a news conference in the Slovak capital, Bratislava.

“I am confident that a combination of strong military pressure and increased political pressure and support for the opposition will eventually lead to the collapse of the regime.”

LIBYA TV SHOWS GADDAFI

Libyan state TV showed footage of Gaddafi meeting a Libyan politician in Tripoli. Government spokesman Ibrahim said the politician had been in a delegation that met Russian officials in Moscow this week to explore possibilities for a ceasefire.

The footage zoomed in on a TV screen in the room that showed Thursday’s date displayed in the corner. Gaddafi wore a brown robe with a hat and sunglasses.

Gaddafi was last seen on May 11 when state TV showed him meeting tribal leaders in Tripoli. NATO bombed his compound the next day, and a day later TV broadcast an audio clip in which he taunted NATO and said the alliance could not kill him.

The last few days have seen a flurry of diplomatic activity focusing on a possible ceasefire deal.

But Western powers are likely to stress their determination to keep the pressure on Gaddafi when heads of state from the Group of Eight industrialized nations meet on May 27-28.

In an attempt to raise pressure on Tripoli, the European Union is considering tightening sanctions by blacklisting some Libyan ports to prevent exports of oil and imports of fuel, a Western diplomatic source told Reuters.

4a.Mei,26th.2011

Keep NATO bombardment of Tripoli
  This is as reported JANA news agency and reported by Press TV on Friday (27/05/2011). In the attack, NATO fighter jets bombed the places that troops loyal to the Libyan leader Muammar

Friday, 27/05/2011 12:49 pm – http://www.detiknews.com

 

“khadafi hari ini 26 mei 2011” ditemukan dalam 1 dokumen detikNews

khadafiiiluar.jpg

NATO Terus Bombardir Tripoli

 Demikian seperti diberitakan kantor berita  JANA  dan dilansir  Press TV,  Jumat (27/5/2011).  Dalam serangan itu, jet-jet tempur NATO membombardir tempat-tempat pasukan yang setia pada pemimpin Libya Muammar

Jumat, 27/05/2011 12:49 WIB – www.detiknews.com
TYRANTS LEADING THE ARAB WORLD: COLONEL MUAMMAR GADDAFI AND BASHAR AL-ASSAD

May 26, 2011

BARCELONA Colonel Muammar Gaddafi should be tried for the Lockerbie Bombing that took place in Scotland. I hope that the African Union and Arab League will join forces in ensuring that this diabolic leader is tried for his crimes and brought to justice. Colonel Muammar Gaddafi must be brought to justice for the mayhem he is

5.Mei,30th.2011

South Africa’s President Jacob Zuma has arrived in Tripoli to attempt to broker a peace deal with the Libyan leader Colonel Gaddafi.

 

Jacob Zuma

Jacob Zuma arrives in Tripoli

 

It is expected that Mr Zuma will meet face to face with Col Gaddafi – who hasn’t been seen publicly for weeks and whose own officials admit is ‘on the move’ fearing Nato is trying to kill him.

The meeting may give some sense of whether or not Col Gaddafi accepts that the time for talk has arrived – and it could be a significant indicator as to the dictator’s thinking.

Publicly regime officials insist Col Gaddafi will not accept a deal which involves stepping aside, but privately some are starting to voice the view with me that he must step aside in order for the country to hold new elections.

The visit comes as state media reports 11 people have been killed in Zlitan in Nato-led air strikes.

 

Muammar Gaddafi appears on state TV

Col Gaddafi is trying to avoid death by Nato air strike

 

I was first here at the end of February and a meeting between Mr Zuma and Col Gaddafi then would have been unthinkable.

Mr Zuma and Gaddafi are old friends.

The South African is widely reported to have accepted financial assistance from Gaddafi during his serial trials for fraud and rape, but has never confirmed this himself.

Mr Zuma’s officials say he is visiting in his capacity as a member of the African Union High Level Panel for the Resolution of the Conflict in Libya.

South Africa is a member of the UN Security Council and despite voting for UN Resolution 1973 has criticised the bombing campaign.

 

Nato has unleashed a series of deadly airstrikes on the Libyan capital of Tripoli as it tries to oust leader Colonel Gaddafi.

Nato has started day raids against the regime in Tripoli

 

Mr Gaddafi has a circle of advisors but notoriously after nearly 42 years in power he is a political island.

There are several key factors which will make attempts to force Col Gaddafi out of the country more difficult.

He may see it as betraying the memory of his son Saif al-Arab and three grandchildren who were killed in a Nato air strike.

And it has to be remembered that the International Criminal Court is seeking arrest warrants for Col Gaddafi and his son Saif al-Islam.

 

British Apache helicopters are being deployed to Libya

British Apache helicopters are also trying to oust regime forces

 

Until now his son Saif al-Islam has continued to insist he and his father will “live in Libya and die in Libya”.

Government officials insist the regime can weather the continuing and increasing Nato air strikes.

Over the last week the military actions has intensified and there’ve been daytime bombings for the first time over the long weekend.

This may signal a change in strategy by Nato sending a message to the dictator that they will continue to strike at the heart of his regime whenever they want.

6.7.

B.LIBYA GUERILLAS INFO

Libia – Guerra Civil – Rebeldes
 
 
Slideshow
 
 
Share
 
 
Add photos
 
Prints
 
 
Actions
 
 
Download
 
 
 
Organize
A Libyan rebel arms a rocket launcher during an exchange of fire with pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

T-55

 

 

 

 

Fuerzas rebeldes sobre un BMP-1 en Shahat (24 feb. 2011)

A billobard against foreign interventi​on in Libya stands in Benghazi on March 11, 2011. AFP PHOTO / DAVE CLARK (Photo credit should read DAVE CLARK/AFP/​Getty Images)

General Abdel Fattah Yunis, commander of Libya’s rebel forces, holds a press conference at a hotel in Benghazi on March 13, 2011. Yunis, who resigned as interior minister soon after rebels rose up against Moamer Kadhafi in mid-Februa​ry, vowed to defend the next town of Ajdabiya. AFP PHOTO/GIAN​LUIGI GUERCIA (Photo credit should read GIANLUIGI GUERCIA/AF​P/Getty Images)

 

BMP-1 en Shahat (24 feb. 2011)

T-55 en manos rebeldes. Nótese la antigua bandera libia

T-62. Nótese el evacuador de humo a mitad del cañón.

T-62

T-55

BMP-1 Las fotos muestran supuestame​nte a personas muertas durante las revueltas a manos de las fuerzas de seguridad del régimen.

BMP-1

Soldados rebeldes en Tobruk

Toyota Land Cruiser serie 70 en manos de soldados rebeldes

 

SA-2 en Tobruk

An anti-gover​nment protester wearing a military uniform holds up an RPG launcher that was brought back after it was stolen from a military unit as people bring back stolen weapons to a state security building taken over by anti-gover​nment protesters in Ben Ghazi February 23, 2011. People in Benghazi said earlier they now felt safe enough to start handing in weapons recovered after security forces lost control of the Libyan city. REUTERS/As​maa Waguih (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST POLITICS)

BMP-1 en la base aérea de Benina (cerca de Bengasi)

MiG-23BN con sonda de repostaje en la base aérea de Labraq

Restos de un Mi-24

Mil Mi-24

 

 

 

 

Montaje ZPU-4 (4 ametrallad​oras KPV de 14,5mm.) y lanzacohet​es de 107mm. Tipo 63

ZPU-4 (14,5mm. x 4)

 

 

People walk inside a destroyed weapons dump near Benghazi March 5, 2011. An attack by Libyan military forces loyal to Muammar Gaddafi on a weapons dump near Benghazi in rebel-cont​rolled eastern Libya killed 17 people on Friday, Al Jazeera television reported. There were no further details. REUTERS/Su​haib Salem (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST)

 

T-55 en majos rebeldes

 

 

ZU-23 (23mm. x2)

 

A Libyan army tank manned by soldiers opposed to leader Muammar Gaddafi is surrounded by protesters in the city of Zawiya February 27, 2011. Armed men opposed to the rule of Libyan leader Muammar Gaddafi were in control of the city of Zawiyah, 50 km (30 miles) west of the capital Tripoli, on Sunday. REUTERS/Ah​med Jadallah (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST MILITARY)

Boys climb on the tank of Libyan army defectors in the centre of the city of Zawiyah, 50 km (30 miles) west of the capital Tripoli, March 1, 2011. Libya could descend into civil war if Muammar Gaddafi refuses to quit, the United States said on Tuesday, its demand for his departure carrying fresh weight after news of Western military preparatio​ns. REUTERS/Ah​med Jadallah (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST MILITARY)

Rebelde sostiene un misil anticarro AT-3 “Sagger” (según denominaci​ón OTAN) en una base militar de Bengasi.

Un rebelde se lava los pies en una caja de munición con montajes ZPU-4 (14,5mm. x4) a su espalda en una base militar en Bengasi.

Rebeldes libios organizan munición para montajes antiaéreos en una base militar en Bengasi.

Un Toyota Land Cruiser serie 40 con un montaje ZPU-1 (14,5mm. x1) remolcando un montaje ZU-23 (23mm. x2).

Montaje antiaéreo ZU-23 (23mm. x2) en manos de rebeldes libios en Bengasi.

Rebeldes libios manejando un montaje ZU-23 (23mm. x2) en Zawiya.

Material militar libio en una base ahora en manos de los rebeldes en Bengasi. Se aprecian montajes antiaéreos ZU-23 (23mm. x2) y un lanzacohet​es múltiple de 107mm. Tipo 63.

 

Anti-gover​nment rebels listen to a lecture in a training and recruitmen​t center for the army in Benghazi, March 1, 2011. Libya’s eastern rebel army is urging young men eager to dash west and engage Muammar Gaddafi’s forces to wait so they can turn them into an effective fighting force. Hundreds from the eastern city of Benghazi are setting off each day across the desert to Libya’s capital, some carrying knives and assault rifles, residents told Reuters. REUTERS/As​maa Waguih (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST POLITICS)

Libyan soldiers who joined the rebellion against Khadafi man an antiaircra​ft gun at an army barrack on February 28, 2011 in Benghazi where dozens of civilians registered for a civil defense training amid fears of an air raid from Tripoli. Libyan air force planes attacked ammunition depots in two separate locations south of opposition​-held second city Benghazi, witnesses said. AFP PHOTO / MARCO LONGARI (Photo credit should read MARCO LONGARI/AF​P/Getty Images)

Enlisted anti-gover​nment trainees learn how to operate an anti-aircr​aft gun at a training and recruitmen​t center for the army in Benghazi, March 1, 2011. Libya’s eastern rebel army is urging young men eager to dash west and engage Muammar Gaddafi’s forces to wait so they can turn them into an effective fighting force. Hundreds from the eastern city of Benghazi are setting off each day across the desert to Libya’s capital, some carrying knives and assault rifles, residents told Reuters. REUTERS/As​maa Waguih (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST POLITICS MILITARY)

A Libyan opposition forces fighter manages a mobile antiaircra​ft position in the city of Ajdabiya, 160kms west of Benghazi, on March 1, 2011 as Libyan rebels said they have formed a military council in the eastern city of Benghazi in what could be a step towards creating a unified nationwide force against leader Moamer Kadhafi. AFP PHOTO / GIANLUIGI GUERCIA (Photo credit should read GIANLUIGI GUERCIA/AF​P/Getty Images)

Libyan anti-regim​e protesters show machinegun​s and ammunition confiscate​d from soldiers in Benghazi on February 25, 2011. Euphoria in Libya’s second city Benghazi gave way to growing concern that it remains vulnerable to a counter-at​tack by Moamer Kadhafi’s forces. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

Enlisted anti-gover​nment trainees learn how to operate weaponry at a training and recruitmen​t center for the army in Benghazi, March 1, 2011. Libya’s eastern rebel army is urging young men eager to dash west and engage Muammar Gaddafi’s forces to wait so they can turn them into an effective fighting force. Hundreds from the eastern city of Benghazi are setting off each day across the desert to Libya’s capital, some carrying knives and assault rifles, residents told Reuters. REUTERS/As​maa Waguih (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST POLITICS MILITARY)

A Libyan civilian mans an anti aircraft gun at an army barrack on February 28, 2011 in Benghazi where dozens of civilians registered for a civil defense training amid fears of an air raid from Tripoli. Libyan air force planes attacked ammunition depots in two separate locations south of opposition​-held second city Benghazi, witnesses said. AFP PHOTO / MARCO LONGARI (Photo credit should read MARCO LONGARI/AF​P/Getty Images)

Rebels guard outside an army base in Benghazi March 1, 2011. REUTERS/Su​haib Salem (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST MILITARY)

Libyan anti-Kadha​fi protesters wave their old national flag as they stand atop an abandoned army tank in the eastern Libyan city of Benghazi on February 28, 2011 as world powers ramped up the pressure on Kadhafi’s regime and the United States urged the internatio​nal community to work together on further steps to end bloodshed in Libya. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

A rebel holds a SAM 7 anti-aircr​aft missile as he takes stock of weapons and ammunition in a munitions storage hanger at a government military base which they have taken over in Ajdabia March 1, 2011. REUTERS/Go​ran Tomasevic (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST)

 

 

A rebel helps his colleague with a rocket propelled grenade outside their army base in Benghazi March 1, 2011. REUTERS/Su​haib Salem (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST MILITARY)

A Libyan soldier from forces that defected against Libyan leader Moammar Gadhafi guards next to an anti-aircr​aft battery outside a military base in Benghazi, eastern Libya, Monday, Feb. 28, 2011. (AP Photo/Kevi​n Frayer)

 

Rebelde con un SA-7 cerca de Mars el-Brega el 2 de marzo de 2011.

Rebelde a 5km. de Ajdabiya el 2 de marzo de 2011. Lleva un Carl Gustav de 84mm.

Libyan rebel fighters stand ready with anti-aircr​aft weapons at a checkpoint on the outskirts of Ras Lanuf on March 6, 2011 which in spite of air strikes by the regime, the key oil pipeline hub was still in rebel hands, AFP correspond​ents reported, countering claims by a state-owne​d television that it had been recaptured​. AFP PHOTO / MARCO LONGARI (Photo credit should read MARCO LONGARI/AF​P/Getty Images)

ZPU-1 de 14,5mm. en la plataforma de una Toyota Hilux.

Cañón sin retroceso M40 de 106mm. en las afueras de Ras Lanuf el 4 de marzo.

Cañón sin retroceso M40 de 106mm.

 

ZPU-2 (14,5mm x 2)

 

ZPU-4 (14,5mm x4)

ZPU-1 (14,5mm. x1) sobre todeterrno​.

Estabiliza​dor vertical de Sujoi Su-24MK derribado por las fuerzas rebeldes.

Foto del mismo Su-24MK en el que se aprecia el numeral.

Sistema antiaéreo autopropul​sado ZSU-23-4 “Shilka” capturado en Az Zawiya por los rebeldes.

Toyota Land Cruiser serie 70 con cañón sin retroceso M40 de 106mm. cerca de Ras Lanuf. El rebelde a su lado duerme la siesta.

Strela 2M (SA-7B Grail según OTAN) en manos rebeldes. Al fondo un montaje ZPU-4 (14,5mm. x4).

Libyans pray in front of a weapon on the outskirts of the eastern city of Ajdabiya, Libya, Sunday, March 6, 2011. Libyan helicopter gunships fired on a rebel force advancing west toward the capital along the Mediterran​ean coastline Sunday and forces loyal to leader Moammar Gadhafi fought intense ground battles with the rival fighters.(​AP Photo/Tara Todras-Whi​tehill)

Rebeldes. Al fondo se ve un SA-7B.

A Libyan rebel poses near a tank captured from Libyan government forces, on the frontline near Sultan, south of Benghazi, Libya, Friday, March 18, 2011. The U.N. Security Council voted Thursday to impose a no-fly zone over Libya and authorize “all necessary measures” to protect civilians from attacks by Moammar Gadhafi’s forces, hours after the Libyan leader vowed to crush the rebellion with a final assault on the opposition capital of Benghazi. (AP Photo/Anja Niedringha​us)

Libyan anti-regim​e protesters show machinegun​s and ammunition confiscate​d from soldiers in Benghazi on February 25, 2011. Euphoria in Libya’s second city Benghazi gave way to growing concern that it remains vulnerable to a counter-at​tack by Moamer Kadhafi’s forces. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

This image taken from video shows rebels on the back of a vehicle in the area of Benina, a civilian and military airport, outside Benghazi in eastern Libya Thursday March 17, 2011. Libyan rebels shot down at least two bomber planes that attacked the airport in their main stronghold of Benghazi Thursday, according to residents who witnessed the rare success in the struggle against Moammar Gadhafi’s superior air power. (AP Photo/APTN​)

Defected Libyan soldiers and volunteers sit with weapons on the outskirts of the eastern town of Brega, Libya, Friday, March 4, 2011. Mutinous army units in pickup trucks armed with machine-gu​ns and rocket launchers deployed around the strategic oil installati​on at Brega Thursday, securing the site after the opposition repelled an attempt by loyalists of Moammar Gadhafi to retake the port in rebel-held east Libya. (AP Photo/Tara Todras-Whi​tehill)

Toyota Land Cruiser serie 70 con ametrallad​ora ZPU-1. En primer plano los tubos de un montaje ZPU-4.

Libyan rebels patrol the eastern coastal city of Benghazi on March 12, 2011, as Libyan rebels beat a further retreat under air strikes and shellfire from Moamer Kadhafi’s forces, even as an Arab League decision to back a no-fly zone boosted their uprising. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

Caravana de Toyota Land Crusier serie 70 rebeldes. Dos vehículos llevan lanzacohet​es de 107mm. Tipo 63.

A Libyan rebel flashes the victory sign as he arrives with his weapon to the frontline near Sultan, south of Benghazi, Libya, Friday, March 18, 2011. The U.N. Security Council voted Thursday to impose a no-fly zone over Libya and authorize “all necessary measures” to protect civilians from attacks by Moammar Gadhafi’s forces, hours after the Libyan leader vowed to crush the rebellion with a final assault on the opposition capital of Benghazi. (AP Photo/Anja Niedringha​us)

A rebel aims a rocket launcher in Brega March 3, 2011. REUTERS/Go​ran Tomasevic (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST MILITARY)

Rebel fighters opposing Libyan ruler Moamer Kadhafi organize themselves at Ras Lanuf before advancing westward into the north central town of Bin Jawad on March 05, 2011. The fighters took over the town of Bin Jawad without encounteri​ng any resistance from Khadafi forces. AFP PHOTO/ROBE​RTO SCHMIDT (Photo credit should read ROBERTO SCHMIDT/AF​P/Getty Images)

 

Toyota Land Cruiser pick up de la serie 70 con ametrallad​ora DShk de 12,7mm.

Un rebelde camino del frente con un RPG-7 y a su lado un pickup con montaje ZPU-1.

Rebeldes remunicion​ando un lanzacohet​es BM-21 “Grad” el 11 de marzo en Ras Lanuf.

RAS LANUF, LIBYA – MARCH 11: Libyan rebels battle government troops as smoke from a damaged oil facility darkens the frontline sky on March 11, 2011 in Ras Lanuf, Libya. Government troops loyal to Libyan leader Muammar Gaddafi drove opposition forces out of the strategic oil town, forcing a frantic rebel retreat through the desert. (Photo by John Moore/Gett​y Images)

Libyan rebel fighters take cover as a bomb dropped by an airforce fighter jet explodes near a checkpoint on the outskirts of the oil town of Ras Lanuf on March 7, 2011. AFP PHOTO/MARC​O LONGARI (Photo credit should read MARCO LONGARI/AF​P/Getty Images)

Lanzacohet​es BM-21 “Grad” de 122mm.

 

Smoke billows from a burning oil refinery behind an abandoned rebel rocket position on a road leading to the flashpoint Libyan town of Ras Lanuf on March 12, 2011. Rebels said fighting had flared again in Ras Lanuf, after most of them were driven out by government forces in a fierce battle after holding it for a week. AFP PHOTO / MARCO LONGARI (Photo credit should read MARCO LONGARI/AF​P/Getty Images)

A rebel fighters fires an antiaircra​ft gun during an air strike in Ras Lanuf March 7, 2011. Libya’s army fought rebels for control of Ras Lanuf on Monday and a rebel official said Muammar Gaddafi could attack oilfields like a “wounded wolf” if the West did not stop him with air strikes. REUTERS/Go​ran Tomasevic (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST)

 

T-55

Dos T-55 rebeldes y un BM-21 “Grad”. Al menos 3 T-55 combatiero​n en el lado rebelde entre Ras Lanuf y Ajdabiya.

Rebels wave a Kingdom of Libya flag as they ride on top of a tank on the outskirts of Ajdabiyah, on the road leading to Brega, March 2, 2011. The flag which was used when Libya gained independen​ce from Italy in 1951, has been used as a symbol of resistance against Libya’s leader Muammar Gaddafi in the recent protests. REUTERS/Go​ran Tomasevic (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST MILITARY POLITICS IMAGES OF THE DAY)

RAS LANUF, LIBYA – MARCH 11: Libyan rebel tanks advance across the battlefiel​d towards government troops on March 11, 2011 in Ras Lanuf, Libya. Forces loyal to Libyan leader Moammar Gaddafi drove opposition forces out of the strategic oil town, forcing a frantic rebel retreat through the desert. (Photo by John Moore/Gett​y Images)

T-55

T-55

BMP-1

BMP-1

Libyan rebels load a tank in Ajdabiya on March 14, 2011 as Libyan strongman Moamer Kadhafi’s forces shelled rebel positions on the doorstep of the key town which the revolution against his rule has vowed to defend at all costs. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

BMP-1

Libyan rebels guard the southern entrance of Tobruk on March 17, 2011. Libya warned it could target all Mediterran​ean air and sea traffic in the case of foreign military interventi​on, as world powers edged towards tough measures aimed at shutting down Moamer Kadhafi’s military machine. AFP PHOTO/PATR​ICK BAZ (Photo credit should read PATRICK BAZ/AFP/Ge​tty Images)

 

 

A rebel fighter wears a Barcelona soccer shirt at a petrol station on the road between Ajdabiyah and Brega, in Libya, March 30, 2011. REUTERS/An​drew Winning (LIBYA – Tags: CONFLICT MILITARY POLITICS)

Libyan rebels gather at the west gate of the eastern city of Ajdabiya on March 30, 2011. The first air strike in two days against Moamer Kadhafi’s forces in the east was carried out near Ajdabiya, where rebels are sheltering after having been routed from their frontlines​. AFP PHOTO / ARIS MESSINIS (Photo credit should read ARIS MESSINIS/A​FP/Getty Images)

A Libyan rebel prays by a rocket launcher during an exchange of fire with pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

Libyan rebels fire rocket launchers toward pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

A Libyan rebel arms a rocket launcher during an exchange of fire with pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

Libyan rebels fire rocket launchers toward pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

A Libyan rebel plugs his ears as rebels fire a rocket at troops loyal to Libyan leader Moammar Gadhafi on the road between Ajdabiya and Brega, Libya, Thursday, March 31, 2011. An important Libyan oil town became a no man’s land Thursday as rebels to the east traded rocket and mortar fire with Gadhafi’s forces to the west. (AP Photo)

Libyan rebels fire rockets at troops loyal to Libyan leaderMoam​mar Gadhafi on the road between Ajdabiya and Brega, Libya, Thursday, March 31, 2011. An important Libyan oil town became a no man’s land Thursday as rebels to the east traded rocket and mortar fire with Gadhafi’s forces to the west. (AP Photo)

Libyan rebels fire rocket launchers toward pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

EDITOR’S NOTE: PICTURE TAKEN ON GUIDED GOVERNMENT TOUR A Libyan tank belonging to soldiers loyal to leader Muammar Gaddafi take position in the city of Misrata, 200 km (124 miles) east of the capital Tripoli March 28,2011. Gaddafi’s forces have gained control in part of Misrata although fighting continued in what the government said was the “liberated​” western Libyan city, rebels said. RUTERS/Ahm​ed Jadallah (LIBYA – Tags: CIVIL UNREST POLITICS)

Libyan rebels return from battle some 30 kilometers before the eastern town of Brega on March 31, 2011, as rebel fighters fought running street battles for the oil town, about 800 kilometres (500 miles) from the capital Tripoli, with forces loyal to Moamer Kadhafi driving around and shooting at people. AFP PHOTO / ARIS MESSINIS (Photo credit should read ARIS MESSINIS/A​FP/Getty Images)

Libyan rebels stand with a missile launcher in the eastern city of Ajdabiya on March 30, 2011. The first air strike in two days against Moamer Kadhafi’s forces in the east was carried out near Ajdabiya, where rebels are sheltering after having been routed from their frontlines​. AFP PHOTO / ARIS MESSINIS (Photo credit should read ARIS MESSINIS/A​FP/Getty Images)

Libyan rebels prepare tea at the west gate of the eastern city of Ajdabiya on March 30, 2011. The first air strike in two days against Moamer Kadhafi’s forces in the east was carried out near Ajdabiya, where rebels are sheltering after having been routed from their frontlines​. AFP PHOTO / ARIS MESSINIS (Photo credit should read ARIS MESSINIS/A​FP/Getty Images)

Libyan rebels armed vehicles retreating back east, drive through the outskirts of the town of al-Agila, Libya Wednesday, March 30, 2011. Moammar Gadhafi’s ground forces recaptured a strategic oil town Wednesday and were close to taking a second, making new inroads in beating back a rebel advance toward the capital Tripoli. (AP Photo/Nass​er Nasser)

A Libyan rebel walks with a rocket-pro​pelled grenade (RPG) as he takes position at the west gate of the eastern city of Ajdabiya on March 30, 2011. The first air strike in two days against Moamer Kadhafi’s forces in the east was carried out near Ajdabiya, where rebels are sheltering after having been routed from their frontlines​. AFP PHOTO / MAHMUD HAMS (Photo credit should read MAHMUD HAMS/AFP/G​etty Images)

Libyan rebels ride on a damaged pickup truck during clashes with troops loyal to Moammar Gadhafi on the road between Ajdabiya and Brega, Libya, Thursday, March 31, 2011. An important Libyan oil town became a no man’s land Thursday as rebels to the east traded rocket and mortar fire with Libyan leader Moammar Gadhafi’s forces to the west. (AP Photo)

 

 

Libyan rebels fire rocket launchers toward pro Gadhafi forces, along the front line outside the eastern town of Brega, Libya Thursday, March 31, 2011. Libya conceded Thursday that Foreign Minister Moussa Koussa had resigned but claimed that it was a personal decision driven by health problems, not a sign that the embattled regime is cracking at the highest levels. (AP Photo/Nass​er Nasser)

A rebel fighter holds his gun as soldiers loyal to Libyan leader Muammar Gaddafi approach Ajdabiyah March 15, 2011. Gaddafi’s forces reached Ajdabiyah after storming through Ras Lanuf and Es Sider, reversing the advance of a rag-tag rebel army, which only a few weeks ago was confident of charging into the capital Tripoli and toppling Gaddafi. REUTERS/Go​ran Tomasevic (LIBYA – Tags: POLITICS CIVIL UNREST)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
Driwancybermuseum
 
 
Feb 22, 2011
photos: 151 – 13 MB
Public on the web
 
 
 
 
 
 
Driwancybermuseum
 
 

**************************************

Frame One :

The Women Bodyguard of Moamer Khadafi or Gaddhafi.

Frame Two:

The Libyan POSTAL HISTORY COLLECTIONS

LIBYA 2010 “41st Anniversary of 1st September Revolution”
Date of issue: 01.09.2010
Denomination 1000 dirhams
Size of stamp mm.40×50 – Perforation 11
Printed in minisheets with 12 stamps
Printing 4-colours offset with gold foil application
Designer: Eng. Mohamed M.Tarabolsi – Khaled M.Tabbakh

Souvenir-sheet including one stamp, denomination 1500 dirhams
Size of souvenir-sheet mm.135×100
Printing 4-colours offset with gold foil application and embossing
Designer: Eng. Mohamed M.Tarabolsi – Khaled M.Tabbakh

Word from Colonel Muammar Al Gadhafi: ‘FORMING PARTIES SPLITS SOCIETIES’ – see a Libyan stamp about that, issued in 1984!!! Also, 2 FDCs from Libya. Read from BBC: ‘Libyan leader Muammar Gaddafi appears on state TV’.

Read from BBC: ‘Libyan leader Muammar Gaddafi appears on state TV’.

In 1949, George Orwell wrote ‘Nineteen Eighty-Four’.
In 1984, this stamp was issued by Libya:

Muammar Abu Minyar al-Gaddafi might not be completely wrong about that.
There could be “democratic” societies that are deeply split, nonetheless.
There could be autocratic societies that are united, for a while, especially if the dictator is “enlightened”, truly serving the interest of the nation, as needed.
Not possible, you think?
Read about Cincinnatus, Dictator of the Roman Empire, not corrupted by power
 Statue of Cincinnatus, Cincinnati, OH
“With one hand he returns the fasces, symbol of power as appointed dictator of Rome. His other hand holds the plow, as he resumes the life of a citizen and farmer.
LIBYA 2010 “Al-Fateh Revolution Through 40 Years”
Date of issue: 23.08.2010
Forty self-adhesive stamps printed in sheet
Denomination 400 dirhams each stamp
Stamps size mm.33×46 – Sheet size mm.295×295
Printed 4-colors offset with gold and green foil application
Designer: Dr. Mohammed Moammar Al-Gathafi

LIBYA 2009 “Khadafi Leader of the African Union”

Single stamp
size mm.55×37, face-value 1000 dirhams
adhesive stamp with gold foil application and embossing
Minisheet with 12 stamps
size mm.200×230
Souvenir-sheet
size mm.130×85, with one stamp mm.55×37 face-value 2000 dirhams
adhesive souvenir-sheet with gold foil application and embossing
Postcard postal-stationery
with pre-printed stamp face-value 1500 dirhams

// Monday, August 17, 2009

LIBYA year 2008

2008, March 2 – “People’s Authority Declaration” (31st Anniversary) 2008, April 2 – “Tripoli International Fair” (37th Session) 2008, May 1st – “WWF World Wide Fund for Nature” (Rueppell’s Fox) 2008, May 25 – “The 4th Annual Exhibition for Communication and Information Technology” 2008, July 23 – “The 56th Anniversary of 23rd of July Revolution” (Gamel A. Nasser) 2008, July 27 – “Al Gathafi Mediterranean Project 6+6” 2008, August 3 – “10th Regular Session of Leaders and Heads of States of the CEN-SAD” 2008, August 18 – “Libyan Participation in Beijing Olympic Games 2008” 2008, September 1 – “1st September Revolution” (39th Anniversary) 2008, September 1 – ” 1st September Revolution ” (39th Anniversary) 2008, September 11 – “Libya Mobile Telephone Network” 2008, September 23 – “The Fourth International Waatasemu Women Competition for Memorizing the Holy Koran”
2008, September 26 – “Exhibition of the Holy Quran Book”

HOLOGRAMS STAMPS OF LIBYA

2001 “32nd Anniversary of September Revolution” minisheet with 16 stamps
2001 – detail of the minisheet

2001 – two souvenir-sheets

2001 – detail of one of the stamps inside the souvenir-sheets (with gold foil application)
2002 “33rd Anniversary of September Revolution” minisheet with 16 stamps
2002 – detail of the minisheet

2002 – two souvenir-sheets

2002 – detail of one of the stamps inside the souvenir-sheets (with gold foil application)
2003 “People’s Authoirity Declaration” minisheet with 6 stamps

2003 – detail of the minisheet

2004 “Khairi Nuri Khaled” minisheet with 4 stamps
2004 – detail of the minisheet

Libyan Stamps

international childrn's day
International Children Day 1968 Postal Stamp

libyan stamp shown the slogan: freedom, socialism & unity

The Libyan GPTC (General Posts and Telecommunications Company):

The Libyan GPTC was established in 1984 to operate and maintain the Libyan postal system, the internal wire and wireless telecommunication systems, and the international communication system.

screenshot of the Libyan GPTC

 

History of Postal Stamps in Libya:

By the nature of the profession the early Libyan post offices were built near foreign consulates and companies at the major seaports, where people are most likely to use the service. These offices continued to operate until the Italians established their first post office to guarantee contact between the various colonies.

Among the early overprints found on Italian stamps are “Tripoli di Barbaria” and “Libia“, and after the independence of 1951 “The United Kingdom of Libya“, “The Kingdom of Libya“, and “Libya“. Some of these stamps are included in this page for historical reasons and are no longer effective. Then after the September revolution of 1969 the overprint “The Libyan Arab Jamhuriyah” appeared at the top of the stamp, like the one shown below; followed by “The Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya“, then by “The Greate Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya“.

Please note that a number of the old postal stamps shown in this webpage are not valid any more and they are here merely for historical reasons. For example all the stamps carrying the name United Kingdom of Libya or the Kingdom of Libya are no longer valid.

our army is our protective shield
Our Army Our Protective Shield
Libyan Arab Jamhuriyah (L.A.R.)

green libya stamps
Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya Postal Stamps

This group of stamps illustrates the various principles on which the green revolution and commemorates the tenth anniversary of the September revolution of 1969.

Above left: “partners not paid workers”.
Above right: “wealth is in the hands of people”.
Below right: “The Third World Theory” (as explained in Gaddafi’s Green Book).
Below left (top): “a house belongs to its dweller” (people with no homes were given houses).
Below left (bottom): “arms are in the hands of people”.

green book stamps Libya
Stamps commemorating Gaddafi’s Third World Theory as described in his Green Book.

Oil & Gas Stamps

 

Postal stamp commemorating the inauguration of the first petrol pipe line in libya, 25th of October 1961.The first line that kept wealth pumping into the heart of the Libyan economy. The two round pipes show the oil well at Zelten and the sea port of Marsa Brega.Zuetina oil terminalZueitina Oil Terminal Postal Stamp.

The Libyan Boy Scouts in Stamps:

 

libyan scouts 1962 envelope with stampsAn envelope with postal stamps commemorating the Third Philia  For The Mediteranean Boy Scouts, held in Juddaiem between the 13th and the 20th of July 1962. The actual enevelop stamp shows that the letter was sent on the opening day, the 13th.the reverse of the libyan scouts 1962 envelopeLibyan Boy Scouts’ Websitelibyan scouts 1962 Third Philia
Three stamps commemorating the Third Philia of 1962.
 10th anniversary of Libya's independence
Libya’s 10th anniversary Independence: 24 December 1961.Trajan Arch in Leptis Magna
The Arch of Trajan in Leptis Magna
libya archaeology stamp
archaeology stamp: save the Nubian antiquities
Unesco’s Save The Nubian Antiquities Postal Stamp.
 
flowers stampcyrenaica stamp
 
collection of Libyan stamps
A collection of Libyan stamps from 1960s and 1970s. These stamps are no longer in operation and are shown here for historical value.
 
 the stamp shows Ahmed Rafik AlmehdawiThe Libyan poet exiled by the Italians during the Italian occupation of Libya. He was born in 1898 and died in 1961.
 
 The Burnt Algerian Libraryalgerian burning library stamp, 1965A Libyan stamp commemorating the Algerian burnt library, 1965.On the 7th of June 1962 the OAS set fire to the University of Algiers’ library, destroying a total of 112500 books. In case you are wondering what sort of organisation is this OAS, it is a militant underground group opposed to the movement of the Algerian independence. As a result, the event triggered a series of commemorative postal stamps from various countries including Libya, where the event became a symbol of Algerian wars against oppression and for freedom and independence. The Libyan stamp is remarkably similar to the stamp issued by Yemen in the same year.
 
arab union stamplibyan stamps from the 1960s
 
 international meteorological dayThe International Meteorological Day, 23rd March 1965.
 
 maghreb satellite communications stamp
 
 
 tripoli internation fourth fair
4th Tripoli International Fair: 28th of February to 20th of March 1965.
The 7th Arab Boy Scouts Camp, 12th of August 1966, Juddaiem.birds from libya
Libyan Birds.
 
 
 birds from Libya
 world united against malaria postal stampThe World United Against Malaria Postal Stamp 

African-European Union Third Summit (29-30/11/2010)

muhammad gaddafi issues a stamp commemorating the African summit

Muhammad Gaddafi, the secretary of the general communication board, issues a new stamp commemorating the African-European Union Third Summit in Libya.  The image and the Arabic text are a screen shot from the the Libyan General Board of Communication

libyan stamps commemorating Berber shoes and boots
Libyan stamps commemorating Libyan traditional leather shows & boots.
 
 dinosaurs on Libyan stamps
Dinosaurs Libyan Stamps

The Scott Stamp Catalogue:

 The Scott catalogue of postage stamps lists all the stamps of the entire world. The catalogue began as a 21-page pamphlet of American and Foreign Postage Stamps, Issued from 1840 to Date, and was published in September 1868 by a New York stamp dealer John Walter Scott. The catalogue conatined both information as well as the prices of the stamps.

  • 1867 – first J.W. Scott & Co. Monthly Price List
  • 1868 – first bound and illustrated edition of the Descriptive Catalogue of American and Foreign Postage Stamps
  • 1888 – 46th Edition of the Scott catalogue assigns a number to each stamp listed.
  • As of 2006, and despite annual changes to save space, the catalog was more than 5,000 pages.

scott catalogue website screenshot

 Libyan Goddess stamp
The Libyan Goddess Stamps

BIRDS STAMPS OF LIBYA

1978 “75th Anniversary of the first Powered Flight”
1978 “75th Anniversary of the first Powered Flight”
1978 “75th Anniversary of the first Powered Flight”
1978 “Birds” airletter postal-stationery with pre-printed stamp 100dh.
1978 “Birds” airletter postal-stationery with pre-printed stamp 35dh.

// Friday, August 14, 2009

WWF STAMPS OF LIBYA

2008 “Rueppell’s Fox – Vulpes rueppelli” minisheet
2008 set on special FDC First Day of Issue cover with special postmark

2008 final printing-proof in complete sheet
1997 “African Wildcat – Felis lybica” minisheet
1997 imperforated set on FDC First Day of Issue cover
1987 “Slender-horned Gazelle – Gazella leptoceros”
1987 FDC First Day of Issue cover

ECLIPSE STAMPS OF LIBYA

2006 “The Total Eclipse at Great Jamahiriya 29.3.2006”

Special FDC First Day of Issue cover of the Libyan Posts. Stamped and signed by the designer of the stamps (Mr. Khaled Tabbakh, libyan artist)

FOSSILS STAMPS OF LIBYA

1996 “Fossils” maximum-card on postcard postal-stationery with pre-printed stamp
1996 “Fossils and Dinosaurs” (fossils: Mene rhombea, Mesodon macrocephalus, Eyron arctiformis)

1985 “Fossils” (frog, fish, mammal)1976 “Museum of Natural History” (Mastodon skull)

FRAME Three :

The Moamer Kadhafi numismatic Collections

Libya_IMG_1918, 1-Dinar Note with Muammar Qadhafi.jpg
//
Libya - One-Dinar Banknote, showing Muammar Qadhafi
Libya – One-Dinar Banknote, showing Muammar Qadhafi
Size: 2880×1896 / 3.9MB

Lukisan Kontemporer Terbaik didunia saat Ini

 

 Water_Dance_by_CQcat

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 

Dr Iwan Art Painting Cybermuseum

Showcase:

Lukisan Kontemporer Terbaik di Dunia (The best Contemporary Painting)

1.Water Dance 

Water_Dance_by_CQcat

2.Vanishing Bride

Vanishing_Bride_by_CQcat

3.Guelermy,Venessa Hudgens

Vanessa_Hudgens_by_Guileermy

4.Trueblu, Today

today_by_trueblu

5.Zv3zda,the beauty in the dark

The_beauty_in_darkness_by_zv3zda

6.ddsout,stella victor

Stella_Vector_by_ddsoul

7.Cebercus,Sparkle

Sparkle_by_Cerbercus

8.Cqcat,Snail Pace

Snail_Pace_by_CQcat

9.Limkis,Single

single_by_LimKis

10.Phoenixvector,she blind

she_blind_by_phoenixVector

11.Ayib,secret admirer

Secret_Admirer_by_AYIB

12.sygnin,samurai duel

Samurai_Duel_by_sygnin

13.zanthia,red lips

Red_Lips_by_Zzanthia

14.aliaskajan,prince of persia

prince of persia by aliaskajan

15.Limkis, personage

personage_by_LimKis

16.Zzanthia,Odalisque

Odalisque_by_Zzanthia

17.Limkis,mount(gunung)

Mount_01_by_LimKis

18.Misin,like candy

Missin___Like_Candy_by_incredibledarlz04

19.mel marcelo,jim morrison face

mel-marcelo_jim-morrison-face-art

20.Limkis man of genius

man_of_genius_by_LimKis

21.Vinshart,Lindsay

Lindsay_by_VinshArt

22.LimKis,jelly fish

jellyfish_by_LimKis

23.archlove,Intention

intentions_by_archlove

24.javiaracalde,Ghotic Girl

Ghotic_Girl_by_javieralcalde

25.Capuccino girl,Forever beautiful(Cantik selamanya)

Forever_Beautiful_by_Cappuccino_Girl

26.LimKis,ex girlfriend

Ex_Girlfriend_by_LimKis

27.Zzantha,elegance of black and white

Elegance_of_Black_and_White_by_Zzanthia

28.p00pstr34ks, creative vomit

Creative_vomit_by_p00pstr34ks

29.dik2enz,colourful kiss

Colourful_Kiss_by_dik2enz

30.

cNQNjKTBqo20054mHDsJY8bGo1_500

31.nxhan,book 1

Book_1_by_xnhan00

32.rockfield,Amphritite

Amphritite_by_Rockfield

33.cd marcus, adriana Lima

adrianaLima_by_cd_marcus

34.

1202031267147864

35.

774401217650543

36.heist

heist

37.anonim

66c71c720146e84a0d7e70e9a28ae176

38.anonim

9bb32b217aa9da36dee3b714a3f3bd2f

39.anonim

8______1

40. anonim

6c92ffb12511acb10fb8274f8addb287

 
 

Lukisan Pensil Bewarna Yang Paling Indah Didunia Saat Ini(The Best Colour Pencil Drawing In The world Now)

Keindahan Lukisan Dengan Pensil berwarna

Pensil Bewarna  menawarkan media lain yang relatif lingkungan aman dan nyaman untuk orang tua dari rumah siswa bersekolah atau artis yang menyukai portable dan kemudahan penggunaan sementara di lapangan bahwa affords pensil warna. Bersihkan adalah mudah dengan pensil warna dan media cocok untuk belajar terus dan eksperimen. Pensil warna modern dibuat dengan pigmen halus sama seperti cat kualitas artis dan gambar dapat berlangsung selama beberapa generasi

Beautiful Colored Pencil Drawings

The “Color Pencil” offers another relatively environmentally safe and convenient media to the parent of the home schooled student or to the artist that likes the portably and ease of use while in the field that the color pencil affords. Clean up is a snap with color pencils and the media lends itself to continued learning and experimentation. Modern color pencils are made with the same fine pigments as artist quality paints and the drawings can last for generations.

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

Lukisan Euro Lama Yang Paling Indah Didunia

 

 GLEYRE_Charles_The_Bath_1868_Chrysler_Museum_of_Art_Source_Sandstead_d2h_65

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 

Dr Iwan Art Painting Cybermuseum

Showcase:

Lukisan Euro Kuno Yang Paling Indah Didunia(Old Euro Best Painting In The World)

beautiful old paintings

1. Batoni “Diana and Cupid” 1761

BATONI_Diana_and_Cupid_1761_Met_LS_d2h_

2.Alam Tadema, Sappho and Alcaeus 1881

ALMA-TADEMA_Sappho_and_Alcaeus_1881_WAM_source_sandstead_d2h_00

3.Biodina

biondina-large

4.Boucher, Venus Consoling Love,1751
BOUCHER_Venus_Consoling_Love_1751_NGA_source_sandstead_d2h_013

5.Bouguereu, Meditation,1901

BOUGUEREAU_Meditation_1901_CMA_source_sandstead_d2h_

6.Bugiardini Giuliano, Madona and child enthrone

BUGIARDINI_Giuliano_Madonna_and_Child_Enthroned_Met_85mm_source_sandstead_d2h_08

7.Church,the Parthenon,1871

CHURCH_The_Parthenon_1871_LS_d2h_

8.Anthony van Dyck,Virgin and Child

DYCK_Anthony_van_Virgin_and_Child_Met_85mm_source_sandstead_d2h_16

9.Eucharias,A women with Basket of fruit

eucharis_-_a_girl_with_a_basket_of_fruit-large

10.Fragornad ,Diana and Edymion ,1753

FRAGONARD_Diana_and_Endymion_c1753-55_NGA_source_sandstead_d2h_018

11.Henry Brown Fuller,illusion,1901

FULLER_Henry_Brown_Illusions_before_1901_SAAM_source_sandstead_d2h_03

12.Gerome,the christian martyr last prayer,1863

GEROME_The_Christian_Martyr's_Last_Prayer_1863-83_WAM_source_sandstead_d2h_41

13.Giodarno,annunciation,1672

GIORDANO_Annunciation_1672_LS_d2h_

14.Gleyre Charles,The Bath,1868

GLEYRE_Charles_The_Bath_1868_Chrysler_Museum_of_Art_Source_Sandstead_d2h_65

15.Ingres ,precesse broglie

Ingres_precesse_broglie_LS_d2h_

16.La Charite

la_charite-large

17. La Vierge Aux Anges

la_vierge_aux_anges-large

18. Le Guepier

le_guepier-large

19.La ravissement de physche

le_ravissement_de_psyche-large

20.Nerrisa

nerissa-large

21.Rembrandt,A Man In Oriental costum,1635

REMBRANDT_A_Man_in_Oriental_Costume_c1635_source_sandstead_d2h_

22.Reni Guido,Charity

RENI_Guido_Charity_c_1630_Met_85mm_source_sandstead_d2h_17

23.Springtime

springtime-large

24.the finding of moses

the_finding_of_moses-large

25.Winter halter, Countess Landorff,1859

WINTERHALTER_Countess_Lamsdorff_1859_Met_LS_d2h_01

Thank You Lee Sandstead for your amizing paintings informations.

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

SEPULUH MUSEUM YANG PALING ANEH DAN MENGERIKAN DIDUNIA

 

bizarre museum 5 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom : 

 

Dr Iwan Mystery  Cybermuseum

Showcase:

SEPULUH MUSEUM YANG PALING ANEH DAN MENGERIKAN DIDUNIA(STRANGE AND MYSTERIOUS MUSEUM )

Saya suka museum aneh, sejak saya melihat orang gajah sebagai anak, menunjukkan freak dan sirkus’s telah membuat saya terpesona. Di AS selama depresi atau 1840, karnaval perjalanan yang sangat populer, diisi dengan pameran hewan cacat, beberapa nyata seperti dua betis berkepala, beberapa tipuan’s. Mereka aneh dari beberapa permainan rolet internet.

bizarre museum 1 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Sideshows ini manusia juga fitur yang telah berbagai penyakit dan kondisi yang pada saat itu tidak diketahui oleh masyarakat umum. Orang-orang ini dianggap aneh dan diperlakukan sebagai barang antik bagi orang untuk membayar untuk melihat, kembar siam, orang dengan Hypertrichosis (orang serigala), anggota badan tambahan dan tanduk, ketakutan publik dan juga terpesona mereka.
bizarre museum 2 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Freak menunjukkan tanggal kembali lebih jauh dari depresi besar, kembali tahun 1630’s Lazarus Colloredo dan kembar siam John Baptista yang tergantung dari sternum Lazarus tempat terkenal untuk tur Eropa. Pada tahun 1727 Peter Agung dikumpulkan dan ditampilkan apa yang disebutnya “keingintahuan alam dan manusia dan langka” pada awalnya Kunstkamera di Rusia Museum, dia namun bersemangat tentang studi cacat dan ingin menghilangkan prasangka mitos-mitos monster disebabkan oleh penyakit tertentu.

Versi paling modern dari Freakshow, harus The LA Kongres Circus Freaks dan Exotics dan TV sensasional program Bodyshock dan dokumenter Orang Luar Biasa. Bahkan koneksi ke hal-hal yang mengerikan, mengganggu atau sirkus seperti, menarik perhatian orang.
bizarre museum 4 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Jadi ini menuntun kita untuk apa yang ada di acara hari ini dan apa yang ada di balik beberapa museum ini yang membuat mereka masih begitu populer, mengingat salah satu pemilik pertunjukan orang aneh modern masih dapat mengisi sirkus kursi 2000. Sebuah tontonan banyak seperti beberapa yang kita akan lihat dalam menampilkan bawah ini ditampilkan dalam film Rob Zombie House of 1000 Mayat, beberapa remaja malang menulis sebuah buku tentang off-beat atraksi pinggir jalan, dan ketika mereka berhenti untuk gas mereka menemukan pemilik , badut bernama Kapten Spaulding juga menjalankan pertunjukan orang aneh aneh sedikit.
bizarre museum 5 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

1. John Strong
John Strong memiliki pertunjukan orang aneh bepergian (museum) bahwa ia membuat hidup tampan dari. keanehan fitur-Nya meliputi Life Ukuran Fiji Mermaid, Dua Berkepala Sapi disebut Nosey Rosey yang masih hidup, Lima Legged Yorkie Puppy dan seorang wanita gajah bernama Kima.

bizarre museum 6 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

http://johnstrongshows.com/oddity-museum/

bizarre museum 7 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

2. Museum Ventriloquist Vent Haven

bizarre museum 9 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

OK, saya telah menemukan film Magic dengan Anthony Hopkins benar-benar menyeramkan, dan sejak itu saya membenci dummy’s. The Haven Vent adalah satu-satunya dari jenisnya dan merupakan rumah bagi 700 boneka, semua yang creepier dari berikutnya. Salah satunya adalah Cleo yang dibeli pada tahun 1956 yang mengaku terkenal adalah bahwa dia telah bergerak payudara … tidak yakin mengapa yang akan datang menolong.

http://venthavenmuseum.com/

3. Museum kematian

bizarre museum 10 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Didirikan di San Diego pada tahun 1995, bangunan sebenarnya mayat pertama City dan dimiliki oleh Wyatt Earp. Museum ini memiliki foto-foto adegan pembunuhan Charles Manson, karya seni oleh pembunuh berantai, kepala guillotined, foto kamar mayat dari pembunuhan dahlia hitam dan berbagai perangkat eksekusi ukuran penuh. Jika itu tidak cukup buruk, Anda juga dapat menonton video dari otopsi dan Jejak video kematian, menampilkan cuplikan kematian sebenarnya … bagus.

4. John Zaffis Museum Paranormal

bizarre museum 11 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Seorang anggota komunitas paranormal selama lebih dari 35 tahun, John Zaffi menunjukkan koleksi 100 + artefak diambil dari segala macam kekerasan menghantui dan sihir upacara’s. Ia percaya bahwa semangat dapat melampirkan dirinya kepada suatu objek.

bizarre museum 12 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

http://www.johnzaffisparanormalmuseum.com/
bizarre museum 13 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

5. Museum Mummy

bizarre museum 14 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Di jantung Meksiko kebohongan Guanajuato, dan di kota agak kecil terletak ‘Museo de las momias’ atau ‘museum mumi’. Museum ini memiliki tubuh dari katakombe Panteón, dimana jenazah telah alami diawetkan.

bizarre museum 15 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Guanajuato adalah sebuah kota kolonial di jantung Meksiko, yang terletak di negara bagian nama yang sama. Kota bersejarah dan tambang bersebelahan adalah Situs Warisan Dunia. Guanajuato juga merupakan rumah dari Museo de las momias luar biasa, atau Mummy Museum. Dalam katakombe Panteón sebelah barat kota adalah pemakaman terkenal terutama dikenal untuk mumi alami yang dihasilkan dari alat yang tidak diketahui. Sekitar 1 dari 100 mayat dikuburkan di sana mengalami mumifikasi alami. Kunjungi Mummy mengesankan dan menyeramkan Museum of Guanajuato.

bizarre museum 16 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

http://www.mummymuseum.com/

7. Museum Phallological Islandia

bizarre museum 18 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

bizarre museum 19 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Hal ini menjadi salah satu museum hanya di dunia untuk fitur setiap jenis penis binatang, Anda mungkin bertanya “mengapa anda inginkan juga?”. Museum ini memiliki 100’s dari spesimen yang berbeda dari beruang kutub dan segel untuk 12 jenis ikan paus berbeda dan tikus.

http://www.ismennt.is/not/phallus/ens.htm

8. Museum Mutter

bizarre museum 20 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

bizarre museum 21 Top 10 Worlds Most Stranges Museumsbizarre museum 22 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Museum ini berbasis di Philadelphia dan memiliki koleksi langka keanehan dan misteri medis mengerikan. Museum ini memiliki sebuah rumah megah tua merasa untuk itu, langit-langit tinggi dan lemari kayu hitam yang berisi botol ginjal manusia yang diawetkan dan hati. Di antara semua riasan ini adalah yang Hyrtl Skull Koleksi, usus besar manusia sembilan-kaki-panjang, Lady Sabun dan bayi berkepala dua.

http://www.roadsideamerica.com/story/2207

9. Bangkok Forensik Museum

bizarre museum 23 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

bizarre museum 24 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Segala macam bagian tubuh yang dipajang di museum ini, dari wajah manusia penuh, untuk tangan putus, kaki dan badan penuh. Ini menampilkan kepala milik seorang korban tembakan pistol, kepala telah melihat setengah sehingga Anda dapat melihat melalui kaca tempat peluru telah melakukan perjalanan melalui kepala. Jika itu tidak cukup muram, mereka juga menunjukkan testis raksasa milik seorang penderita kaki gajah, skrotum 75cm diameter.

10. Museum Glore

bizarre museum 25 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

bizarre museum 26 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

bizarre museum 27 Top 10 Worlds Most Stranges Museums

Apa menambahkan elemen menyeramkan utama untuk pameran ini adalah yang didasarkan pada sebuah bangsal rumah sakit ditinggalkan, museum baru-baru ini memperluas pameran yang sekarang fitur perangkat lebih mengerikan ‘pengobatan’ dari abad ke-16, 17 dan 18, jika Anda dapat memanggil mereka bahwa . Metode pengobatan untuk orang-orang miskin, terlihat lebih seperti penyiksaan.

Glore terus mengembangkan salah satu koleksi terbesar barang-barang kesehatan mental sejarah sampai ia akhirnya pensiun dari Departemen Kesehatan Mental Missouri