KISI INFO BABAD TANAH JAWA2

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

 

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

Setalah dengan susah payah, Dr Iwan Ketua KISI seoarng putra sumatera barat tak pernah belajar bahasa Jawa, dan bukan seorang historian,hanya ohi sejaraha dan belajar sendiri alias otodikak mencoba menterjemahkan Babad Tanah Jawa yang beraksara Jaw,

oleh karena tas permintaan banyak anggota KISI hasil terjemahan yang telah dilaksanakan itu di tampilkan dalam artikel info kisi hari ini, harap koreksi dari para pakar dan ahli bahasa jawa serta para ahli sejarah Indonesia

Selanjutnya KISI INFO akan membandingkan tulisan info Babad Tanah Jawa ini dengan situasi yang sberfnarnya terjadi berdasarkan fakta sejarah dan bukti-bukti sejarah yang asli

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KISI

AGAR INFORMASI YANG ANDA INGINKAN DAPAT DIPEROLEH SECARA LENGKAP

DAN DAPAT DIMANFAATKAN

SEBAGAI PELAJARAN AGAR HAL YANG JELEK TIDAK DIULANGI DAN HAL YANG BAIK DIJADIKAN PEDOMAN

DALAM MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK MENGHADPAI

MASA MENDATANG

SELAMAT MEMBACA BABAD TANH JAWA YANG BENAR DAN BAIK

 

HISTORY Babad Tanah JAVA


Babad Tanah Jawa and Kanda fibers that have been popular among the Java community , even disebagian ‘ve also taught elementary school in the past

In addition to numerous other facts containing input materials and developing Java ground peaceably jug afakta Majapahit descent also showed no invasion caused the Islamic Army Demak
Prof. Dr. Slamet Muljana in his restoration Persada Majapahit Ancestral History at length isis ceritu denied it based on the evidence of history books , said Babad Tanah Jawi and Fiber Kanda written seventeenth century Mataram era it without consulting a reliable source of history . \ Sources sekarah it between another couple of inscriptions and Writing History and the Majapahit as the State Kertagama Pararaton , therefore it is not surprising that on the History of Majapahit found much less information Ghent alais disability info.
 
Broadly speaking , the story may be said to show kemenagan Islam , when in fact the opposite is adverse to the member because the impression as if Islam developed in Java with violence and blood but the reality is not so , for example, one of the guardians of the kingdom of Demak, Sunan sonngo Kalidjaga [ Ernah Agat said Muslims do not look dressed like Arabs because later people are still adopts long will we stay away from Muslims
 

Petak inscription and explain Trailokya last king of Majapahit was Dyah Suraprahawa collapse under attack Rivet led troops in the year 1478 AD Giiridrawardhana according Pararaton .
Since then Majapahit no longer be sebauh Capital kingdom , thus of no possible Majapahit kingdom collapsed in the invasion of Demak , historical sources Portuguese Tom Pires paper also mentions that the Demak Kingdom was established in the reign Girindrawardhana Keling .
At that time Tuban , Coarse sand , Surabaya within the kingdom of Kediri , so it may not happen as told in the Babad Tanah Jawa who wrote the story that Raden Patah collect mengempur The Regents of Majapahit
 
Babad Tanah Jawi author apparently confuses the formation of Demak kingdom in the year 1478 with the collapse of the kingdom of Kediri ( Jengala ) by the invasion of the reign of Sultan of Demak kingdom of Demak Trenggano five years later in 1478 .

The destruction of the kingdom of Kediri because Kublaikan Mogul army invaded with the help of Raden Wijaya who was sduah fled to the Kingdom of Madura , in order to punish the King Singosari Kertajaya perminatan emperor who had refused to make the premises gnarled face scarred with sword envoy the Chinese emperor named Meng Chi , which is currently it is in fact already in Kediri Jayakatwang bunauh by the king .
Demak kingdom to Kediri invasion since the reign of the Sultan of Demak Trenggano because it buakn Kediri who sat as the Kingdom of Kediri ( Jenggala ) again , make contact with the Portuguese in Malacca as reported Tom Pires , Demak Kingdom was against the Portuguese until mengempurnya to Malacca for not willing to Kediri menjalain hubunggan the colonizing nations was the Roman Catholic religion
After Kediri Fall ( not the Majapahit ) Demak attacked , not run kepulau Bali as written in Kanda fiber , but to Penarukan Situbondo after of Sengguruh Nalang . It could be some fled to Bali so until now culturally Hindu Balinese , but it’s not a runaway last king of Majapahit as stated in the chronicle
More details, more Raden Patah not last as the son of King Majapahit dftulis in babd and fiber kanda it says Prof. Dr. Slamet Muljana
 

Historian Mr Moh Yamin in his Gajag Mada , also mentions that the collapse of Brawijaya V, the last king of Majapahit kingdom abkibat seranagn Ranawijaya from Keling , so instead seranga from Demak Kingdom , the description of the involvement of the chief minister Gajah Mada of Majapahit Majapahit led troops when attacked Demak 1478 it is not true because the timing is not sma thus writing in the Chronicle opposed to actual history as dead because Gajah mada in 1364 or 1288 saka .
The narrative of the book ” From Stage History ” IP Simadjuntak sourced translations of writings HJ Van Den berg was also not due to the collapse of the kingdom of Majapahit kingdom of Demak attacks or the Muslim army .
Moreover, the authors Mahuan Chinese who converted to Islam , in his book ” Ying Yai Sheng Lan ” mention when visited in 1413 AD Majapahit and Malacca mention of Gujarat in 1400 AD the Muslim community living in the Majapahit and Malacca berasla of Gujarat . Saudar which he called the Moslem north coast of Java already settled one of them is Maulana Malik Ibrahim who was buried in Gate Pasarean Wetan Coarse sand with a number of 12 Rabi al -Awwal 882 H or 8 april 1419 AD during the reign Wikramawardhana mean ( 1389-1429 ) IV , King of Majapahit after Hayam Wuruk , gravestones carved Arabic calligraphy , according Tjokrosujono ( former Head of History and Archaeology penunggalan Asylum Mojokerto , the original headstone was not made by the new alias repro coffee .
 

Slah the evidence that since the Age majapahit existing Muslim settlement diibu City Majapahit ( Daha ) is the site of the Ancient Tomb Troloyo , sub Trowulan Mojokerto East Java , Islamic tomb site to the village Troloyo Sentonorejo angk atahunnya diverse , ranging from the year 1368 ( XIV century BC ( until 1611 ( XVmasehi century

 

SEJARAH BABAD TANAH JAWA

Babad Tanah Jawa dan serat Kanda yang selama ini popular dikalangan masyarakat Jawa,bahkan pernah juga diajarkan disebagian Sekolah Dasar dimasa lalu

Selain fakta lain banyak mengandung bahan masukan dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai jug afakta keturunan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan Tentara Islam Demak

Prof Dr Slamet Muljana dalam bukunya Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit secara panjang lebar membantah isis ceritu itu berdasarkan bukti buku sejarah, dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi Sumber Sejarah yang dapat dipercaya.\Sumber sekarah itu antara lain beberapa Prasasti dan Karya Tulis Sejarah Majapahit seperti Negara Kertagama dan Pararaton,karena itu tidak mengherankan jika dalamnya tentang Sejarah Majapahit ditemukan banyak informasi yang kurang tepa alais cacat info.

Secara garis besar, cerita itu boleh dikatakan menunjukkan kemenagan Islam,padahal sebenarnya sebaliknya yang dapat member kesan yang merugikan karena seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah padahal kenyataan tidak begitu, misalnya salah seorang wali sonngo dari kerajaan demak Sunan Kalijaga [ernah berkata agat umat Islam jangan berpenampilan dengan pakaian seperti orang arab karena nanti rakyat yang masih menganut paham lama akan menjauhi kita umat islam 

Prasati Petak dan Trailokya menerangkan Raja Majapahit  terakhir adalah Dyah Suraprahawa runtuh akibat serangan tentara Keling pimpinan Giiridrawardhana pada tahun 1478 AD sesuai Pararaton .

Sejak itu Majapahit  tidak lagi menjadi Sebauh Ibu Kota  Kerajaan ,dengandemikian tak mungkin Majapahit runtuh akibat serbuan Kerajaan demak,sumber sejarah Portugis tulisan Tom Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dimasa pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban,Gersik ,Surabaya dalam wilayah Kerajaan Kediri,sehingga tidak mungkin terjadi seperti yang diceritakan dalam Babad Tanah Jawa yang menulis kisah bahwa Raden Patah mengumpulkan Para Bupati untuk mengempur Majapahit

Penulis Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya kerajan Kediri(Jengala)  oleh serbuan Kerajaan demak dimasa pemerintahan Sultan demak Trenggano  lima tahun kemudian tahun 1478.

Hancurnya Kerajaan Kediri kna diserbu Tentara Monggol Kublaikan dengan bantuan Raden Wijaya yang saat itu sduah mengungsi ke Kerajaan Madura,  dalam rangka menghukum  Raja singosari Kertajaya yang telah menolak perminatan kaisar monggol denga membuat codet dengan pedang muka utusan Kaisar  tiongkok  tersebut yang bernama Meng Chi, yang saat itu malah sudah di bunauh oleh raja Kediri Jayakatwang .

Serbuan  Kerajan demak ke Kediri karena dimasa pemerintahan sultan demak Trenggano  karena Kediri yang sat itu buakn sebagai Kerajaan Kediri(jenggala) lagi, mengadakan hubungan dengan Portugis dengan Malaka  seperti yang dilaporkan Tom Pires, Kerajaan demak memang memusuhi Portugis  hingga mengempurnya  ke Malaka  karena tidak rela Kediri menjalain hubunggan dengan  bangsa penjajah itu yang beragama katolik roma

Setelah Kediri Jatuh (bukan Majapahit) diserang Demak,bukan lari kepulau Bali seperti ditulis dalam serat Kanda,melainkan ke Penarukan Situbondo setelah dari Sengguruh Nalang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaan Hindu,tetapi itu bukan pelarian Raja terakhir Majapahit seperti disebutkan dalam babad itu

Lebih jelasnya lagi Raden Patah bukanlah putra Raja majapahit terakhir seperti dftulis dalam babd dan serat kanda itu demikian menurut Prof DR Slamet Muljana

Sejarahwan Mr Moh Yamin dalam bukunya Gajag Mada ,juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V ,Raja majapahit terakhir abkibat seranagn Ranawijaya dari kerajaan Keling,jadi bukan seranga dari Kerajaan demak, uraian tentang keterlibatan  patih Gajah Mada dari Majapahit  yang memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak tahun 1478 itu tidak benar karena waktunya tidak sma dengan demikian tulisan dalam babad tersebut bertentangan dengan sejarah yang sebenarnya karena soalnya Gajah mada sudah meninggal tahun 1364 atau 1288 saka.

Penuturan dari buku “Dari Panggung Sejarah” terjemahan IP Simadjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. van Den berg ternyata juga runtuhnya kerajaan Majapahit bukan akibat serangan Kerajaan demak atau tentara Islam .

Selain itu penulis Tiongkok Mahuan  yang memeluk agama islam, dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” menyebutkan ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi dari Gujarat dan Malaka menyebutkan pada   tahun 1400 masehi  masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasla dari Gujarat dan Malaka. Disebutnya para saudar tersebut yang beragama islam sudah bermukim dipantai utara Jawa salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Gersik dengan angka tahun 12 rabi’ul awwal 882 H atau 8 april 1419 Masehi berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk,batu nisan yang terpahat kaligrafi arab itu menurut Tjokrosujono(mantan Kepala Suaka Penunggalan Sejarah dan Purbakala Mojokerto, nisan itu asli bukan buatan baru alias repro kopi. 

Slah satu bukti bahwa sejak Zaman majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu Kota Majapahit(Daha) adalah situs Makam Kuno Troloyo,kecamatan Trowulan Mojokerto Jawa Timur, Makam Islam disitus desa Troloyo Sentonorejo itu beragam angk atahunnya,mulai dari tahun 1368(abad XIV masehi( hingga tahun 1611 (abad XVmasehi)

BABAD TANAH JAWA

Gubahan

 L. Van Rijckevorsel                                                                                                        Directeur Normaalschool Muntilan

Dibantu                                                                                                                                       R.D.S. HADIWIJANA                                                                                                                   Guru Kweekschool
Muntilan

 Penerbitan

 J.B. Wolters U.M. Groningen – DenHaag –
Weltervreden – 1925


Kronologis  babad pertama  

Dari Abad ke-2  sampai abad ke 3-16

 ketika  Kerajaan Majapahit Hancur

Pembukaan .

Sebagai  Kronoligis (Babad)                                                                                             dikatakan wilayah – timur .seperti sangat menambah ilmu pengetahuan orang  .

 Bahkan  sejak dulu  ketika datang situasi dimana-mana   yang cerah sadar tidak kesurupan  ,

Saya hanya punya keyakinan , dan kemajuan  tatacara prosedur dan  tata susila  dari daya benih sekepalnya  tanah KIdul   

 

.Bercerita dalam  tahun sebelumnya 261

  Aland In.u di layar adalah rajadulu memiliki Açoka , ia mengatur negara Pataliputra ( sawetan di Benares ) , dan agama Kalender Rabu .

Krishna memiliki kasus Praja berlaku dalam kasus di mana Anda ingin untuk menggulir didekade  salah satu generasi dan pengadilan .

 

 Akhirnya dapat terjadi , paling satanah In.u layar semua menumpuk , dikawasan di Raja . Hanya di puncit selatan dari Madras dan saloring Mangalore , keraton keratonnya  Didirikan presasat . Ewe – .ewe , bukan kematian kewengku Praja – Praja tanah utara .

 

 Praja – Praja ke selatan juga berdaya upaya memajukan tata cara  susila  lahan – lahan di sekitar Kerajaan berdiri :

 1 Pan.awa ( Pandawa ) di kocap Singles Mahabharata

 .
2 Pallava Darah ( a
yake di pekecapan : Malawi ) , terkenal sejak ratusan tahun sebelum tahun abad Belanda 9 ,  dan kombul – kombule dimulai                                                                                                     pada pertengahan abad ini sampai pertengahan abad ke 6 8 .

 

Dalam musim VC adegan  Jejasnya Peningalan  Edi – Edi  dudlu-dulu , kajata : Saya dapatkan  atas jasanya  Mahendra – Warman ( 600-625 ) .

 Ada agama Cina Kalender Rabu nama Huen – Tsang menjandra Praja Pallava mengatakan , yen mengatakan Lph tanah dan proses yang baik , orang-orang di masa lalu pa.a kawan terane , setia , arah , damai dan menjaga pengetahuan un.aking(secara keras) .

The Bold lelayaran , dapat membuat koloni- koloni di Indo -China , Malaka dan Kepulauan Sunda , bangsanya  di selatan nusa , lebih dari satu – Palawa .

Sejak seratus tahun  sebelum Belanda

 sejumlah tempat , orang-orang yang menetap di nusantara  , dan ge.e – ge.eninge migratie dalam satu abad mencapai 2 6 , mbok menawa kegawa tanah di mana In.u kakehen Jiwan dan karena paperangan bangsabangsa dengan elore tersebut .

Colony yang ge.e – ge.e , yaitu :

 Berkemah di Annam pasisir timur . Kamboja, kaedegake di 435 . Dan dijasani dapat.Saya – dapat.Saya Brahma atau Kalender Rabu luar biasa .

Kutai  di Kalimantan , dan Sukadana utara-selatan di Kalimantan . Palembang ( Sriwijaya ) Jawa – pusat 

Chronicles of Javanese Land

composite


 L. Van Rijckevorsel

 Directeur Normaalschool Muntilan

Assisted

RDS HADIWIJANA Teacher Kweekschool
Muntilan
 of
 J.B. Wolters U.M. Groningen – DenHaag –
Weltervreden – 1925

First Segment Chronicles
Indhu )Hindu) destroyed half time Majapahit Kingdom                                                                                2nd – century to  3rd – 16th century

Opening .

As The Chronicles of Ek Kate In.ija – East . No people In.u ,
seprene very e.i.ik knowledge.

 I even Indonesia are no unconsicious but  came in the light of consiousness   when Ken Ek Elan how the situations where , since a minute .

I ‘ve got ensure  edits , and the progress of the procedure  Tata susila Indonesia  origin here – one hand  effort from Indonesia nusa archiphelago land in south Inoneia archiphelago

The previous years 261 Story


  Aland In.u the screen are the oldest king  have Açoka , The directeur  of Pataliputra ( sa in East  Benares ) , and religion Calendar Wednesday .

Krishna had cases Praja enacted in cases where inner that you’re anxious for basically (menggulir) near( -didadekake) of one and a general  court .

 Get eventually happen , most land in Arciphelago Nusa Indonesia( (satanah In.u all the mlumpuk) ,   (kawsan or kinuwasan)  the King area  . Tag puncit the south from Madras and Mangalore saloring , palace keratonya Didirikan presasat . Ewe – . Ewe , mortality is not a kewengku Praja – Praja of Cancer .

 Praja – Praja effort to the south too ge.e the progress of the procedure – susilaning Picnic – Picnic in around . King stands :

 

 1 Pan.awa ( Pandawa ) in kocap Singles Mahabharata
 .
2 Daerah Negari state OF Pallava area  , sieve in island Of * pekecapan ) : Malawi  , valuable since hundreds of years before the  Dutch year of century  9th  ,

 and kombul – kombule beginning in mid century till the middle of this century to 6 -8 .
 
In VOC(Dutch east Indie Company)  –  an old season scene Edi – Edi old artifact  ,  I get on the honor of  Mahendra – Warman ( 600-625 ) .

 Are there religious Chinese Calendar Wednesday business Huen – Tsang kidnapped  Praja Pallava said that the said land and Lph the closest ever , people in the future and pa.a friend Teran , loyal , direction , peace and maintain knowledge in strongly.

The Bold lelayaran , Get – making colony colony in Indo- China , Malacca and Pacific Sun.a , Ija nation in South In.u , more relevant from a – Palawan .

Since hundred years before Dutch
 Some place , people filter stayed in archiphelago  , and ge.e – ge.eninge migratie a century dalam reach 2rd  –  6th century  , perhaps kegawa the land where In.u kakehen Jiwan and the War because the nations with the elore .

Colony filter ge.e – ge.e , namely :
 Berkemah in Annam waterside East . Cambodia, kaedegake in 435 . And dijasani dapat.Saya – dapat.Saya Brahma or Calendar Wednesday incredible .

Kutai in Kalimantan , and North – South Sukadana in Borneo . Palembang ( Sriwijaya ) Java – center

Original info

 

 

BABAD TANAH JAWI
Gubahanipun L. VAN RIJCKEVORSEL Directeur Normaalschool
Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIJANA Guru Kweekschool
Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – Den Haag –
Weltervreden – 1925
Perangan Kang Kapisan Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekane
Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 utawa 3 – Abad 16

 

Bebuka.


Mungguh babading tanah In.ija-wetan .ek durung katekan bangsa In.u,
seprene lagi e.i.ik banget kang wus kawruhan.

 Malah wong In.u iku bae ija durung kasumurupan terang .ek kapan tekane ing ken elan keprije
kaanane ing kala wiwit-wiwitane.

Mung bae wus jakin, en kemajuan lan tata-susilaning wong In.ija kene iki bibit-sekawite saka dajaning wong n.u kang asale saka ing tanah In.u sisih kidul.Kacarita nalika taun 261 sadurunge taun alanda ing In.u-ngarep ana ratu ajedulul Prabu Açoka, jumeneng nata ing negara Pataliputra (ing sawetan Benares), lan agamane Buda.

Kresane sang Prabu praja cilik-cilik ing saubenging kono arep digulung didadekake nagara siji, kang ge.e lan sentosa. Akire bisa kelakon, meh satanah In.u-ngarep kabeh mlumpuk, kinuwasan ing ratu sawiji.


Mung ing puncit kidul, wiwit saka saloring Madras lan Mangalore, kratonkratone presasat madeg .ewe-.ewe, ora pati kewengku ing praja-praja tanah lor.

 

 Praja-praja sisih kidul iku mau uga ge.e dajane tumraping kemajuan lan tata-susilaning tanah-tanah ing sakubenge. Dene kang jumeneng ratu:

 1 Para Pan.awa (Pandava) kang kocap ing lajang Mahabharata.
2 Darah Pallava (ajake ing pekecapan Jawa: Malawa) kesuwur wiwit atusan taun sadurunge taun Walanda nganti tekan abad 9, dene kombul-kombule wiwit ing tengahing abad 6 tekan tengahing abad 8. Ing jaman iku titi-mangsa adeging jejasan kang edi-edi, kajata: can.i-can.i jasane Mahendra-warman (600-625).

 Ana wong Cina agama Buda jenenge Hüen-Tsang njandra praja Pallava iku surasane nelakake jen tanahe lph lan becik pengolahe, wong-wonge pa.a punjul ing kawanterane, setya-tuhu,
rukun lan ngudi marang un.aking kawruh.
Kang kendel lelajaran, nganti bisa gawe koloni-koloni ana ing Indo-China,
Malaka lan kapuloan Sun.a, ija para bangsa ing In.u sisih kidul iku, luwih-luwih wong Pallava.

Wiwit satus taunan sadurunge taun Walanda wis ana papan-papan sawetara kang dienggoni wong In.u, dene ge.e-ge.eningemigratie ana ing sajroning abad 2 tekan 6, bokmenawa kegawa saka ing tanah In.u kana kakehen jiwane lan marga saka paperangan karo bangsabangsa ing sisih elore.

Koloni sing ge.e-ge.e, jaiku: Campa ing Annam pasisir wetan. Kamboja, kaedegake ing taun 435. Ing kono dijasani can.i-can.i Brahma utawa Buda akeh banget.

Kutei ing Borneo-lor lan Sukadana ing Borneo-kidul. Palembang (Çrivijaya) Jawa-tengah
01 Perangan Kang Kapisan

chapter 1
 Empires Indonesia ( indhu ) in West Java Land
( From 2 or 3 centuries )

Arrival the land , the people in – land ( inland ) East brings religion ( or Calendar Wednesday Brahma ) and various setiap , kajata read , write for , mbatik , medel , and services – and to scroll berguling home news – good news .

 Custom dikembangkan Commerce together with various products , from jaitu saniang – penganggo , weapons , jewelery , jewelery berwujud strand muntiara , nuts , nuts filter made ​​from gold or ivory color , etc .

Sriwijaya more relevant Jen kegolong light filter ge.e. Ewe , but even Bo Adding knowledge pemanfaatan land and land setiap lijane in the kasbut . Uwur . No ADA estimates Jen and Jayawarman , Narendra in Cambodia, filter start berkuasa ( kuaa services ) and be defeated ( berguling – rolled ) Angkor , the Regional Sumatra .

Praja – Praja time they sekawit enggone with religion Calendar Wednesday .
Yang kasumurupan , Empires Indhu the Land
alone , filter called Empires ” Tarumanagara ” ( name = Tarum river Tom .
Citarum ) .

Settings century Empires to 4 and 5 , and the scene mangsanya VC ( VOC ) rather than knowledge. The King of King Purnawarman . Once the image of flower Tunjung in stone stone patilasan , Regional Purnawarman use religion Vishnu .

Bab 1
 kerajaan
Indonesia (indhu)  di Jawa Barat Tanah
( Dari 2 atau 3 abad )

Kedatangan tanah ,  rakyat Tanah-tanah (Daratan)  TIMUR membawa agama ( atau Kalender Rabu Brahma ) dan setiap berbagai , kajata membaca , menulis , mbatik , medel ; dan jasa – digulung dan berguling rumah baik – baik .

 Adat dikembangkan bersamaan dengan  Perdagangan  berbagai barang ,  jaitu dari saniang – penganggo , senjata , Perhiasan-perhiasan  berwujud untaian muntiara , perkakas-perkakas yang dibuat dari gading atau emas , dll .

Sriwijaya lebih cerah Jen kegolong yang ge.e. Ewe , bahkan malah menambah  bo pengetahuan pemanfaatan  tanah dan setiap tanah lijane di kasbut tersebut . Uwur .

Tidak ada perkiraan Jen dan Jayawarman , Narendra di Kamboja , yang memulai  berkuasa( layanan kuaa ) dan digulingkan oleh  (berguling –conqoure by )   raja Daerah Ankor .

Praja – Praja pada saat sekawit enggone dengan agama Kalender Rabu .
Yang kasumurupan , kerajaan Indhu di Tanah sendiri , yang disebut kerajaan ” Tarumanagara ” ( Tarum = nama sungai Tom .
Citarum ) .

Setelah Kerajaan abad ke 4 dan 5  , dan adegan mangsanya VC (VOC) bukanlah pengetahuan . Daerah Raja Raja Purnawarman  . Sekilas gambar bunga Tunjung di batu batu patilasan , Daerah Purnawarman menggunakan agama Wisnu.

 

Original info

 

 

Bab 1
Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon
(wiwit abad 2 utawa 3)


Tekane ing tanah-tanah iku wong Ing nusa anggawa agama (Buda utawa
Brahma) lan kagunan warna-warna, kajata maca, nulis, mbatik, medel;
banjur jasa canai-canai lan omah apik-apik.

 

 Wong Pribumi diweruhake marang barang-pedagangan warna-warna, jaiku bangsa saniang-penganggo, bangsa gegaman, peni-peni awowjud oncen motiara, bekakas-bekakas lijane kang abakal ga.ing utawa emas, lan sapanunggalane.

Çrivijaya iku terang jen kegolong kang ge.e .ewe, malah bokmenawa dadi baboning kawruh lan kagunan tumraping tanah-tanah lijane kang kasbut ing .uwur.

 Ana kang ngira jen prabu Jayawarman, narendra ing Kamboja, kang miwiti jasa kuaa lan canai-canai Angkor, iku darahing ratu ing Sumatra.


Praja-praja mau ing sekawit nganti suwe enggone nganggo agama Buda.
Kang wus kasumurupan, karajane bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang
dhisik dhewe, diarani karajan “Tarumanagara” (Tarum = tom. kaline jeneng
Citarum).


Karajan iku mau dhek abad kaping 4 lan 5 wis ana, dene titi mangsaning adege ora kawruhan. Ratu ratune darah Purnawarman. Mirit saka gambar gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.

In the year 414

 Chinese FA named Hien , visitors to the Region bersejarah Petilasan ( home enggone sujarah to patilasane ) Buddhist priest , in the land of Indhu ( Indonesia ) visits in the first half month to 5 . By Catatannya menjelaskan ways:

1 . Many people have no religion ( great ) , and the closest ADA
a religion here ( dhewekne ) : Buddhism .
2 . Chinese people no ADA , because no written dalam Notes
.
3 . As people walk 200 Ship from Indonesia ( Indhu ) , ADA horse ( dedagangan ) , edits bepergian , have toward Canton .

If that’s the way you are sailing from Indonesia perdaganagan ( dedagangan of the Indhu ) mendarat in China are through Java .

 Dalam 435

I have already kepada messengers of West China , menawarkan to manage ( mempersembahkan ) kepada the emperor of China , serta menaburkan flour ( Mark tetepungan ) filter memudahkan trade execution ( contour dedagangan ) .

Tarumanagara no successful Empires ( kasumurupan ) several years and how we are losing . no custom controller ADA Indonesia ( The Indhu ngowahake ) and life in the earth , because we are no mengajarkan filter that you’re Perform , and people on the ground may have no one may come cleverness Indonesia ( kapinterane Indhu ) . However, there is strength mengembangkan ( kaundhakaning ) knowledge Mem batik and memwarnai Soga original plant ( nyoga jarit ) .

 

Pada tahun 414

 FA Cina bernama Hien ,  pengunjung bersejarah ke Kawasan Petilasan (rumah enggone sujarah ke patilasane) Imam  Buddhis  , di tanah Indhu(Indonesia)  kunjungan  pertama di Tanah sampai bulan ke 5.  Menurut Catatannya menjelaskan cara :

1 . Banyak orang tidak memiliki agama ( Majapahit ) , dan  yang  ada
satu agama
disini (dhewekne) : Budha.

 

2 . Orang Cina tidak ada , karena tidak ditulis dalam catatan

.
3 . Ketika
200 orang naik  Kapal dari  Indonesia( Indhu)  , ada  pedagang(dedagangan) , hanya bepergian ,  ingin menuju Canton .

Jika itu adalah cara dari  pelayaran perdaganagan Indonesia(tanah dedagangan layar Indhu ) mendarat di Cina adalah melalui Jawa .

 Dalam 435

Saya telah utusan kepada Raja Barat Cina , menawarkan ngatura  ke (mempersembahkan) kepada kaisar di tanah Cina , serta  menaburkan tepung (Mark tetepungan)  yang memudahkan pelaksanaan perdagangan( kontur dedagangan ).

Tarumanagara kerajaan tidak  Berjaya (kasumurupan)  beberapa tahun terakhir dan bagaimana kita rusak. tidak ada kebiasaan  pengatur  Indonesia( The Indhu   ngowahake) dan kehidupan di bumi , karena kita tidak mengajarkan apa yang Anda lakukan , dan orang-orang di bumi mungkin tidak memiliki seseorang mungkin berasal  Kepintaran Indonesia (kapinterane Indhu) . Namun, kekuatan itu mengembangkan (kaundhakaning) pengetahuan mem batik dan  memwarnai soga tumbuhan asli (nyoga jarit ).

Original info

 

Ing tahun

414

 

 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggone sujarah menyang patilasane Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti 5 sasi. Ing cathetane ana kang nerangake mangkene :


1. Ing kono akeh wong ora duwe agama (wong Sundha), sarta ora ana kang
tunggal agama karo dhewekne: Budha.2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetane.
3. Barengane nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing dedagangan,
ana kang mung lelungan, karepe arep padha menyang Canton.

Yen mangkono dadi dalane dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang tanah Cina pancen ngliwati Tanah Jawa.

 

 

 

 

 

 

 Ing Tahun 435

 

malah wis ana utusane Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturake pisungsung
menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta murih gampang lakuning dedagangan.

Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwene lan kepriye rusake. Wong Indhu ana ing kono ora ngowahake adat lan panguripane wong bumi, awit pancen ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga durung duwe akal niru kapinterane wong Indhu. Ewa dene meksa ana kaundhakaning kawruhe, yaiku mbatik lan nyoga jarit.

 


Upon your first 02 segments

about

 2 Empires Indhu ( Indonesia ) in Central Java ( century to- 6 )

Once from:

1 . Recording China.

2 . Unining ( inscription ) expressed on stone and stone Borobudur .

3 . Notes from people Arabic , has several live events ( kasumurupan ) several Kanon ( kaananing ) that Indhu ( Hinduism ) in Central Java in dhek samono (  first era )

first century
Kanem people Indhu ( Indonesia ) new Come in  West Island  ( The West Tanana ) . , Where they were likely to be in poor trouble -sengsara ( lelara ) , so they were  look side -melirik ( nglereg ) to the West , to the Middle Land .

The first time Era -Zamani ( samono ) is , If ditandhing filter (  compare with-ditandingkan or dibandingkan ) are the levels kepandaiannya ( kapinterane ) very high
Indonesia ( The Indhu ) are the only tongue , so down – and Sorani .

Indonesia ( The Indhu ) and ngadegake Empires in Jepara . Homeless family filter padunungane ( bacbone- padukungnya ) and I ‘ve got family filter with-sama Now the home , or apayon Atep ( a roof ) and (palm root) ijuk-eduk Kepang is . Trade berlawan or compete with Chinese Ethnic ( Enggone dedagangan with lelawanan China) ;

Product trade ( dedagangane ) seperti : gold , silver , ivory color color , and the other option . Chinese Chinese ( Chinese people ) had a problem of Kalinga , Besuki , we provide information : Java . Empires My plan for large , even for Small membawahi ( mbawahake ) Empires 28 ( Twenty eight ) .

732 AD

Chinese people did  business  against (mengacu) daughter of the king : Sima ; dikehendakan – desired ( dikandakake ) good itself ( enggone ) ever  directed-memerintah State ( Catch – Directed Praja ) ( 674 years ) .


Writing ‘s -Tuslisannya they ( Tulisaning ) stone – ( inscription ) filter characteristics ( cirine ) 732 years, until very old ,  have founded-ADA diketemukan ( KATEMAN ) around Magelang , look , that the king appeared , dubbed or bergelar ( jejuluk ) had Sannaha , an extra large filter court , concist  his occupation area -mencakup Jajahanya filter ( jajahane ) of Kedhu ( second ) , Yogyakarta , Surakarta and even charming or of Fitness ( bokmenawa ) in East Java also include Picnic Empires .

A once
Governments, peace and procedures that  like
Findings from the text ( KATEMAN ) in patilasan ( Temple ) :
While people in the bedroom being  walking (jalan jalan) , afraid the ADA , ADA Warning or other restriction ( filter aspects prohibited ) . Once said ( written ) Arabic , are ( dhek ) center center century  the 9th kesembilan , king of the land have to under -membawahi ( mbawahake in ) Malacca

( Tin Pamelikan ) .

Empires behalf all knowledge is no , but then the table is written in stone behalf filter in the season ( they ) VC – 919 voor Christa ( BC ) , look Empires Empires Mataram kingdom . It’s jajahanya ( jajahane ) , by both ( Kedhu ) time , Yogyakarta , Surakarta , manglore sea , the land , the land of the West dalam several East Java . They were called the city : Mendhangkamulan ( ) .

Arabic conversation , ADA kings and Empires membedah ( open ) mbedhah Country Cambodia – Khamer ( Indhu Buri or Earth Indonesia ) . That ‘s qualifications are the Empires Empires Mataram kingdom . Also Kambodja ( Khamer ) , Empires island are the mbawahake Island . Island ‘s mountains contain island camp . Empires of gold and bumbu craken . People also Arabic Goose

Trade Competition                                                                                                                    Persaingan Perdagangan ( The lelawanan dedagangan ) .

Goes before ( Sabakdane ) in 928 t no details about ADA lighting situations ( atmosfir ) What filter ( case ) , the Empires Empires Mataram kingdom . Hal ‘s  have report-dilaporkan the Land and East .
 I have a filter ( sieve ) Empires Empires Mataram kingdom broken by an eruption ( panjebluge ) Mount Merapi ( Merbabu ) , and Goose filter – exodus (mengungsi ngungsi) to  West .
 

 

 

 

In  (Dalam ) century to 17


Have Built back Empires Mataram kingdom filter has the power ( or strength filter ) and the large IRIB , IRIB ancient Empires Empires Mataram kingdom .
People Indhu religious ( Hindu ) face face Belief in Javanese ( ngejawa ) are the same .
 The land ( Java ) growth ( spilled onto ) Blood , People’s alone in Hindu worship praying to -Menghadap ( kunane Indhu ngedhep ) Brahma and Vishnu Syiwah , he’s kaaranan Trinity ( Three filter mahakuasa ) . Except that too to pray ( diva ) diva ( filter ) Many other options are , seperti : Ganesya , son diva Durga .

By teaching Indhu religion ( Hinduism ) description from Four groups ,
are :

– The Brahmins ( the Government ) .
– The Knight ( speaker ) .
– The Wesya ( works of art ) .
– The Syudra ( case or lay people )
.
Teaching religion and ( Pedatang Hindu tersurat ) padatane Indhu kaemot dalam valuable filter cover , sand business .
 Estimated about 500 years before the first year from the Christian ( AD ) ,

( The Hindu ) Indhu Blood are the ( large effect ) peparab Syakya sound , or Gautama Buddhisme . Sebagai ( Mahaguru) geseh teach people very religious Hindu filter ( Indhumau ) . ( Pastor ) Buddhist Priest kekayaannya left , and teach ( the closest prohibited aspects ) asesirik muruk well . Also no respect ( diva – diva ) diva diva , Teaching : since by humanity and I , so let’s do not be divided into Four groups . Brahmin Indhu ( hindu )

 I have no thought , no so often irregularly shaped large . On the foreign people ( Hindu ) Indhu Buddha and problems with Indhu religion ( hindu ) .
Events Buddhisme missing and then ngili ( move kehilir ) to Ceylon to the south , a parent Buri , Thibet , China , Japan.

Ass  religion ( Hinduism ) Indhu pangedêpe no . Are there very welcome for memundhi ( worship ) Syiwah are Syiwaiet ( in Central Java ) , so ADA
( worship ) pangedêpe Wisynu , are Wisynuiet ( in the West ) .

Many people may also Buddhist , but the religion is not a religion in peace , but occasionally I mix . religion ( Hindu temple ) Petilasane Indhu saikine filter heavy , seperti :

– Borobudur Borobudur in Plato Dieng ( Syiwah ) , is a development services area ( bokmenawa yasane Blood ) King Sanjaya .

– Borobudur in the same season Kalasan VC 778 years ( AD ) , this filter Borobudur old alone ( Buddhisme ) , Services ( yasane ) The King of Syailendra Blood .

– Diketahui that Borobudur Buddhist Borobudur Temple and Endut . ( Mendut )
– Borobudur image ( Syiwah ) . And there around the Borobudur Prambanan
mix from Buddhisme and Syiwah

 

 Segmen  Pertama 02

sekitar 2
Kerajaan  Indhu(Indonesia)  di Jawa Tengah ( abad ke-6 )

Sekilas dari:

1 . Rekaman Cina .

2 . Unining (prasasti) ditulis dalam batu dan batu Borobudur .

3 . Catatan dari orang-orang Arab , memiliki beberapa peristiwa (kasumurupan) beberapa kanon (kaananing) bahwa                                                                                                       Indhu (Indonesia)  di Jawa Tengah di dhek samono (zaman dulu)

Abad pertama

Kanem orang Indhu (Indonesia) baru datang di Pulaau Barat (Tana The West ). , Di mana mereka mungkin pada sensara ( lelara) , sehingga mereka  melirik  (nglereg)  ke barat , ke Tanah Jawa Tengah .

Jawa waktu zaman dulu( samono)  tersebut ,  yang  jika ditandhing ( ditandingkan atau dibandingkan)  adalah  tingkat kepandaiannya  ( kapinterane) sangat tinggi 

Indonesia (The Indhu ) satunya adalah Ibu , sehingga turun – dan Sorani .

Indonesia (The Indhu) dan ngadegake kerajaan di Jepara . Rumah keluarga yang padunungane ( padunungnya) Jawa , aku punya keluarga yang sama rumah sekarang , atau apayon Atep(satu atap) eduk dan Kepang tersebut .  Perdagangan berlawan atau bersaing dengan etnis Tionghoa ( Enggone dedagangan lelawanan dengan Cina);

 

produk  perdagangan (dedagangane ) seperti : emas, perak, warna gading , dan pilihan lainnya . Cina Cina (orang Tionghoa)  memanggil Negara Kalinga , Besuki , aku  memberikan informasi  : Jawa .  Kerajaan Saya  untuk jangka  besar , bahkan untuk kecil  membawahi (mbawahake ) Kerajaan 28 ( dua puluh delapan) .

732 Masehi

Orang Cina mengacu pada nama putri raja : Sima ;  dikehendakan –diinginkan (dikandakake)  baik dirinya (enggone ) baik  memerintah Negara (catch- directed Praja)  ( 674 tahun ) .

Tusliasannya pada (Tulisaning ) batu – (prasasti ) yang  cirinya (cirine) 732 tahun , sehingga sangat tua, ada  diketumakan (Kateman )sekitar Magelang , lihat , bahwa raja muncul ,  dijuluki  atau bergelar (jejuluk ) Prabu Sannaha , sebuah istana yang besar , yang mencakup  Jajahanya (jajahane ) tanah Kedhu (Kedu)  , Yogyakarta , Surakarta dan  malah menawan atau menduduki ( bokmenawa) di Jawa Timur juga termasuk lahan kerajaan .

Sekilas Cerita

 , Kerajaan perdamaian dan prosedur seperti itu
teks dari
 temuan (Kateman)  di patilasan (dasar Candi)  :
Walaupun orang-orang sedang tidur di jalan jalan , ada rasa takut , ada
peringatan lain atau  larangan (hal yang dilarang ). Kata sekilas (tulisan)Arab, adalah(dhek )pusat pusat abad kesembilan , raja di tanah harus  membawahi ke ( mbawahake di )Malaka

( timah Pamelikan ) .

Kerajaan atas semua pengetahuan ini tidak , tapi kemudian di meja ditulis di atas batu yang musim di (pada) 919  VC-voor Christ (masehi)   , lihat kerajaan kerajaan Mataram . Ini  jajahanya (jajahane ) , berdasarkan  Kedu (Kedhu)  saat , Yogyakarta  , Surakarta , manglore laut , tanahtanah di barat dalam beberapa Jawa Timur . Disebut kota mereka : Mendhangkamulan (?).

Pembicaraan Arab, ada raja-raja dan kerajaan  membedah (membuka) mbedhah  Negara Kamboja –Khamer ( Indhu Buri  atau Bumi Indonesia) . Bahwa itu adalah saringan kerajaan kerajaan Mataram . Juga  Kambodja (Khamer) , kerajaan pulau adalah Pulau mbawahake . Pulau ini berisi pegunungan pulau api . Kerajaan emas kaya dan bumbu craken . Orang-orang Arab juga banyak

 

Persaingan Perdagnagan                                                                                                     (The lelawanan dedagangan ).


Sebelum nya (Sabakdane) tahun  928 t tidak ada rincian tentang  situasi kondisi  (atmosfir)  apa yang (terjadi) di kerajaan Kerajaan Mataram . Hal ini dilaporkan di Tanah dan Timur .

 Saya  saring (Ayak) kerajaan Mataram kerajaan rusak oleh  Letusan (panjebluge) gunung Merapi ( Merbabu ) , dan banyak yang ngungsi barat .

 Dalam  abad ke 17

Didirikan kembali  kerajaan Mataram yang memiliki daya (atau kekuatan yang ) besar dan daya IRIB IRIB kuno kerajaan –Kerajaan Mataram  .
Orang beragama Indhu
(Hindu) tatap muka Kejawen  ( ngejawa) adalah  sama.

 Di tanah (Jawa) pertumbuhan (tumpah) darah,  rakyatnya sendiri di  Memuja  Hindu Menghadap (kunane Indhu ngedhep) Brahma dan Wisnu Syiwah , dia kaaranan Trinitas(Tiga yang mahakuasa ) . Kecuali itu juga sembah ke (dewa) diva  (yang) banyak pilihan lain , seperti: Ganesya , putra dewa Durga .

Menurut ajaran agama Indhu (Hindu) Penjelasan dari empat kelompok ,
adalah:


– Para Brahmana ( Pemerintah ) .
– The Knight (
Pembesar ) .
– The Wesya ( karya seni ) .
– The Syudra ( kasus
atau rakyat jelata )

.
Pengajaran agama dan
(Pedatang Hindu tersurat ) padatane Indhu kaemot dalam surat yang terkenal , nama pasir .

 Kira sekitar 500 tahun sebelum tahun pertama dari Kristen(Masehi),


(Daerah Hindu)Indhu Darah adalah (besar pengaruh) peparab Syakya suara , Gautama atau Buddhisme . Sebagai  (Mahaguru )geseh mengajar orang yang sangat religius  Hindu (Indhumau) .  (Pendeta)Buddha Priest meninggalkan kekayaannya , dan mengajar  (hal yang dilarang)asesirik muruk orang . Juga tidak hormat  (dewa-dewa)diva diva , pengajaran : sejak berdasarkan kemanusiaan dan aku , jadi jangan dibagi menjadi empat kelompok . Brahmana Indhu (hindu)

 Saya tidak ingin berpikir , sehingga sering tidak teratur besar . Di negeri orang (Hindu) Indhu Buddha dan masalah dengan Indhu agama(hindu) .

Acara Buddhisme hilang dan kemudian ngili (pindah kehilir) ke Ceylon ke selatan , induk Buri , Thibet , Cina , Jepang .

 

Sebagai Agama (Hindu) Indhu pangedêpe tidak . Ada sangat welcome untuk memundhi (memuja) Syiwah adalah Syiwaiet ( di Jawa Tengah ) , ada sangat
(memuja) pangedêpe Wisynu , adalah Wisynuiet ( di Tanah Barat ) .
Juga mungkin banyak orang Budha , tetapi di Tanah
agama agama bukan damai , tapi kadang-kadang saya campuran . agama ( candi Hindu)Petilasane Indhu saikine yang berat , seperti:


– Borobudur Borobudur di Plato Dieng ( Syiwah ) ,
adala jasanya daerah  (  bokmenawa yasane Darah)  Raja Sanjaya .


– Borobudur di Kalasan pada musim VC 778 tahun
(masehi), ini saringan Borobudur tua sendiri ( Buddhisme ) ,                                                                            Jasanya ( yasane) Daerah  Raja Syailendra Darah .


– Borobudur Buddha diketahui bahwa Candi Borobudur dan Endut .
(Mendut)
– Borobudur gambar ( Syiwah ) . Di sekitar sana Prambanan Borobudur
campuran dari Buddhisme dan Syiwah .

 

 

Original info

 

02 Perangan Kang Kapisan


Bab 2
Karajan Indhu ing Jawa Tengah (abad kaping 6)
Mirit saka:


1. Cathetane bangsa Cina.


2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi.


3. Cathetane sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan sathithik sathithik
mungguh kaananing wong Indhu ana ing Tanah Jawa Tengah dhek jaman
samono.


Nalika wiwitane abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa
Kulon. Ana ing kono padha kena ing lelara, mulane banjur padha nglereg
mangetan, menyang Tanah Jawa Tengah.

Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterane, yen ditandhing karo
wong Indhu kang lagi neneka mau; mulane banjur dadi sor-sorane.

 

Wong Indhu banjur ngadegake karajan ing Jepara. Omah omah padunungane wong
Jawa, ya wis memper karo omah omahe wong jaman saiki, apayon atep utawa
eduk lan wis nganggo kepang.  Enggone dedagangan lelawanan karo wong Cina;


barang dedagangane kayata: emas, salaka, gading lan liya liyane. Cina cina
ngarani nagara iku Kalinga, besuke, ya diarani: Jawa. Karajan mau saya suwe saya gedhe, malah nganti mbawahake karajan cilik cilik 28 (wolu likur).

 

 

732

 

Wong Cina uga nyebutake asmane sawijining ratu putri: Sima; dikandakake becik
banget enggone nyekel pangrehing praja (tahun 674). Tulisaning watu kang ana cirine tahun 732, dadi kang tuwa dhewe, katemu ana sacedhake Magelang, nyebutake, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk PrabuSannaha, karajane gedhe, kang klebu jajahane yaiku tanah tanah Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wetan uga klebu dadi wewengkone karajan iku.
Mirit caritane, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang
kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan:

Nadyan wong wong padha turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yen ana begal utawa bebaya liyane. Mirit kandhane sawijining wong Arab, dhek tengah tengahane abad kang
kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahake tanah Kedah ing Malaka
(pamelikan timah).

Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenenge, nanging banjur ana karangan kang katulis ing watu kang titi mangsane tahun 919, nyebutake karajan Jawa ing Mataram. Jembar jajahane, mungguha saiki tekan Kedhu,Ngayogyakarta, Surakarta; manglore tekan sagara; mangetane tekan tanahtanah ing Tanah Jawa Wetan sawatara. Kuthane karan : Mendhangkamulan.

 

Wong Arab ngandhakake, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu
Buri). Sing kasebut iki ayake iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer,
karajan Jawa iya wis mbawahake pulo pulo akeh. Pulo pulo iku mawa gunung
geni. Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu craken. Wong Arab iya akeh
kang lelawanan dedagangan.
Sabakdane tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanane karajan
Mataram. Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wetan. Ayake bae karajan
Mataram mau rusak dening panjebluge gunung Merapi (Merbabu), dene wonge
kang akeh padha ngungsi mangetan. Ing abad 17 karajan Mataram banjur
madeg maneh, gedhe lan panguwasane irib iriban karo karajan Mataram kuna.
Agamane wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah
getihe dhewe ing kunane wong Indhu ngedhep marang Brahma, Wisnu lan
Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang
dewa akeh liya liyane, kayata: Ganesya, putrane Bethari Durga.
Manut piwulange agama Indhu pamerange manungsa dadi patang golongan,
yaiku:
– para Brahmana (bangsa pandhita).
– para Satriya (bangsa luhur).
– para Wesya (bangsa kriya).
– para Syudra (bangsa wong cilik).
Piwulange agama lan padatane wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur,
jenenge Wedha. Kira kira 500 tahun sadurunge wiwitane tahun Kristen, ing
tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama
utawa Budha. Mungguh piwulange geseh banget karo agamane wong Indhumau. Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk
marang wong. Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulange: sarehne wong iku
mungguhing kamanungsane padha bae, dadine ora kena diperang patang
golongan. Para Brahmana Indhu mesthi bae ora seneng pikire, mulane kerep
ana pasulayan gedhe. Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur
peperangan karo wong agama Indhu. Wusana bangsa Budha kalah lan banjur
ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang. Mungguh
wong agama Indhu iku pangedêpe ora padha. Ana sing banget olehe memundhi
marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget
pangedêpe marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
Kajaba saka iku uga akeh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa
agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur bae. Petilasane agama
Indhu mau saikine akeh banget, kayata:
– Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasane ratu darah
Sanjaya.
– Candhi ing Kalasan ana titi mangsane tahun 778, ayake iki candhi tuwa
dhewe (Budha), yasane ratu darah Syailendra.
– Candhi Budha kang misuwur dhewe, yaiku Barabudhur lan endut.
– Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhake Prambanan ana candhi
campuran Budha lan Syiwah.

 

The first 03 segments
about 3
Dalam Empires in East Java
( 10 first century – the year 1220 )

On the behalf kasebutake in East Java , kabawah Empires Indhu
Empires Mataram kingdom , but Indhu Land in East Java
Many no mortality , with dibandingkan in the Middle
( Kedhu ) . Because the needs Indhu assembled with the earth , prasasat
sabangsa an extra single . Be the first century are the 10 pepatihing Empires Land
Central accusedaccuseraccusingaccustomaccustomedaceacerbitiesacerbityacetateacetyleneacheacidityaciditiesacidicacidachromaticachingachievementachievedachieveachievable obtain due to Sindhok escaped West . Let ‘s welcome because , several years Sindhok king ( master craftsman spoon ) standing in the East , the Empires Hidup ( Paresidhenan Surabaya to the south ) . Ambawahake ( membawahi ) : Surabaya , Pasuruwan , Kediri , Bali bok that IA kabawah .

( 944 AD )

( Superintendent ) Enggone king stood 944 years, and the IA jejuluk Empires Mataram kingdom .
King of Mataram kingdom Empires filter so ( menghormati ) pangedêpe Buddhisme . Nobody ‘s because , Sindhok ( MPE spoon ) valuable good enggone ngereh Praja ( Superintendent of Government ) . Are there records suaramengatakan :

” For the last stand enggone , marcapada life
Peace ; Bulu Funny how the half or residues or residues no kehe karuhan ” .

( 1010 AD )

In the year 1010 Erlangga stand still king , and melanjutkan Military enggone Mangun ( membangung power ) and down ( against ) jajahan head .

( 1037 AD )

 In the year 1037 filter control ( enggone ) Military do , Reja country , I have peace . Court in the life – Life . He’s no Erlangga forgot kebenciannya ( kabecikaning ) from the Government and asketisme , helps when he’s kasrakat .

Seperti remove the hate terhafap ( pamalesing kabecikane ) government , making the Park ( pasraman ) Indah , located in Bukit under – Underwriting feet . Park ( pasraman ) filter kinubeng patamanan may be more relevant dry ( matang ) , and I rerenggane Peni ( eliminating swimming ) and exotic .

 From Edin , foreign Praja valuable , every  day aselur filter sujarah sama .

Court the vertical straight . Village nrajang regulatory law of trademarks mnghukum or be fined ( or penalty kapatrapan didhendha ) . Perampok , thief ,
etc mortality kapatrapan law . He’s melaksanakan government ( enggone
paprentahan ) Assisted the great man ( priyagung ) 4 , results of pametuning
seat . From Government convert to ( enggone manggalih ) agriculture , filter pegawainya ( pagaweyaning ) My Goose , making the large dam in the river Brantas . King also memikirkan panggaotan and dedagangan .

Tuban place when samono businessman , Get Many attempts are the closest
memajukan trade and sailing ( majuning dedagangan and lelayaran ) .

King sit down sinewaka throne ( palenggahan point Pesagi )
I’m about silk gown gown , and a list of diukel with cênela . If dwipangga context of birth or surface , 700 soldiers berparade . Images and constantly
Go to meet the king and break the land
( Ndhodhok ngapurancang ) .

They were the closest hair has Ngor sama , government has ( enggone
bebedan ) border in milk water . Housing -House , including crisp , with yellow roof payon or FRUIT .

People hurt no edits Request another pertolongan diva ( tetamba pitulunganing diva ) , or Buddha . People filter praon happier and tracked Mountains trip , or a horse from Goose Jolie . Dhek samono people have no dancing, Flute Ensemble ,
kendhang and with .

IA reject Besuki sapengkere the king stood Gumanti Two children , too , so let’s Empires and diparo :

Jenggala ( sabageyaning : Surabaya and Pasuruwan ) and Kediri .
It’s keterbatasan are : loft walls sinebut ” merkuri ” , because the mountain height Bausastra , mangisor , get the Leksa river and ketertiban in branglore Brantas mangulon from the East Village , the closest is now named ” Also ,” said South , are about half waterside readiness .

Gugur kejatuhan heel stone still ADA , seperti around the Leksa , sakulon and sakiduling Brantas River , dalam amount afd . Landscape and Blitar.Mungguhing Chronicles of Erlangga IA kaanggep an extra light darkness , for kasumurupan A little more relevant .

Scientific literature filter height . A special case of an dalam filter is derived from an
Now movies are the story , the most known and A ( speakers people – alias legend Folklore ) teturutaning .

 

 

 

 

 Mail languages ​​called : Old , seperti :

1 . Mahabharata
2 . Ramayana and Arjuna Wiwaha .

Empires Jenggala Berkelanjutan no large , due to destroyed Empires destroyed Small for children diwaris king , Praja Jenggala ( Jenggala new ) ; Tumapel or Singhasari and Urawan .

( Century to 13 )

 Empires cases border near Kediri or time involved filter dalam aggregation and Kediri , filter Didirikan are the other has 13 centuries . Government , Kediri ( Daha , Panjalu ) by Flow ( membawahi Keresidenan ) mbawahake paresidhenan Kediri , several Pasuruwan ( Pasuruan ) and Madiyun ( Maduiun ) . City they were in the city Kediri Now .

Empires be valuable for job postings . dalam literature and too high , Jayabaya day ( abad12 ) , filter already has more relevant from the closest half and large sinebut Now , What’s the ADA madhani

( 1104 AD )

a.
In the year 1104 the palace called the community : Triguna or Managocna . Community are with that letter and Sumanasantakam Kresnayana . Raden Panji son or dilaporkan dalam story is , capture of Malacca ( ​​bokmenawa ) Daha king , filter has jejuluk Kamesywara I. He’s Week 12, the first century .

Friends wife of Ray ( Chandra Ray ) , son of the king Jenggala . Nobody named because the season is , people with an Dharmaja Smaradhana . Raden Panji half Now they always melaporkan theater Perwayangaan ( Dailymotion theaters ) and puppet theater ( theaters ) gedhog mask . community Jayabaya

( 1070 AD )

Nobody ‘s because , hati – hati and get the accusedaccuseraccusingaccustomaccustomedaceacerbitiesacerbityacetateacetyleneacheacidityaciditiesacidicacidachromaticachingachievementachievedachieveachievable due Panuluh . Nobody ‘s because dalam hati – hati 1079 ( = 1157 ) methik saperanganing Mahabharata , dianggit and how didhapur ( didapur ) Java , filter called Bharata Yudha . And in that time has been intelligent ,
Hindu ( The Indhu ) kesilep , Indhu already be Empires Empires .

 

 

The first 04 segments
about 4
( 1220 AD )

Ken Angrok menaklukan ( Nelukake ) Small Empires Empires ( 1220 – 1247 )
The year 1222 are the king or Tumapel Singhasari named Ken Angrok .

A book from Ken Arok Pararaton book . Mail Diketmukan ( Ketemune ) is the
Back dhek the year 1891 . Ken Angrok born in about Tumapel ( Singhasari )
agriculture is the standard I.

Ken Angrok melaporkan changes Herry and holding – menarik they were loved , but very much likes pangaji Father and wanimarang penggawa error. In day – day from the Brahmin found her ( dhewekne ) , He said that he Drops Vishnu ( dhewekne ) .

But, because the know that they were Brahmins Ken Angrok are great and have strict Budin . Brahmins and find the heel so Get ( bisane ) Ken Angrok
  The in – Terhambat ( kacedhak Duke ) there , Tunggul Ametung .

ADA is no time between Ken Angrok kaabdekake happen . As begitu , Ken Angrok and always find ways how the Government ( enggone ) Get the mengantikan ( ngendhih Duke ) , nggenteni stand . Ketemuning development and is due to get the Ken Angrok Mendandani or menciptakan ( ndandakake ) Nobody ever Keris , Gandring ( master craftsman Gandring ) is .

Keris settings , obvious good looks , friends named Ken Angrok Keboijo kepencut wants to use , and nembung peminjam : no ADA . From that , Keris used setiap day and displayed displayed ( pamerake ) , dikehndakan ( dikandhakake ) they were .

As several day Angrok see Ken ( The Keris ) and Nick Keris alone are the friends from disilih used menyandera county ( nyidra Duke ) . Mortality occurs , Keris left side layon . Urusaning material : Ken Angrok friends is that you’re responsible , law diputus half off. Ken Angrok and daughter can get randaning Tunggul Ametung and Didirikan Gumanti Duke : Name of Ken Dhedhes .

Held for Ken procedure Angrok country , Reja , very Small Ador . Build settings ( mbedhah_ Small Empires in Jenggala , Ken Angrok and emoh
Kediri ,

( 1222 AD )

Even in the year 1222 Government of birth ( mbedhah Praja ) Kediri happen , win , King of Kediri Kertajaya of death has been Sabal nggantung
the filter sama .

Kediri and produce the ( factory Duke ) kabawah Singhasari . compilation
Nobody ‘s because the king Sindhok Blood has lost all Ken Arok , Ken Angrok
King and stood large , jejuluk have Rejasa , filter is menurunkan ( nurunake ) filter king of Majapahit

Ken Dedes ( Rêtna Dhedhes ) reported the  mortality of the Duke Tunggul Ametung ambobot .

As cold season , children Rêtna open , Raden give peparab Anusapati . From East to adults I know no What’s that really is not a son of Rejasa , but ccused accuser ccusing accu stomaccu tomedace acerbitie sacerbity acetate acetylene ache acidity acidities acidicacid  achromatic aching achieve mentachieved achieve achievable is not a king in favor , with very different Rayi brother .  on the Birth day Anusapati mother said ,


 ” Mother , what is it , and Kangjeng the  father  no  to  I Come happier ? ”

The Rêtna very problematic Galih mengatur sasambate hear her , and menempatkan keprojol said , his story diceritakan ( dicritani lelakone ) till the End .

Anusapati very  pangungune , About to settings laws bermaksud answers , but still sinamun sama though . Services Keris ( yasane ) Nobody Told due to Gandring ,
pawatane edits menginginkan filter anganggo . Tongue Lamba in Galih , Keris
diberikan .

Anusapati had a problem server – servicing and friends – friends , and they were giving Keris diweruhake in wewadine . Bengine IA death in kaprajaya duratmaka . Layone He’s the temple ( Kagenengan near Malang dicandhi in Kagenengan ) . Anusapatinggenteni still king . Anusapati is no standing , because Raden Tohjaya

Anusapati know What’s the Raman murdered , so for ( sumedya ) reply and law
also occur . Tohjaya still king , but he’s no more . Tohjaya messengers menterinya ( mantrine ) named Sheet Ampal , Online Male ( didhawuhi ) menghancurkan kalilipe Two are : Ranggawuni , Anusapati children , and the closest precedent ( nakdulure ) named Narasingamurti , when no Get going , Sheet Ampal alone will be subject to the same laws mortality .

Fall – fall ‘m a Brahmin filter full dozen pity kepada Two Raden , and
wewarah diperlukan . Knight and menyembunyikannya in Panji – Death is Death .

Ampal cattle for Two Raden found no , no and can go home to home ,
mengungsi filter Panji Death – Death . ADA when back ngiloni Two Raden even membahas no employee accordance with talks Tohjaya for merumuskan ,

Finally happened , found half dead . Ranggawuni King of Syria ( dubbed filter ) ajejuluk stand Wisynuwardhana nakdhereke Narasinga .

Mortality priyagung keduanya much peace , till the dibasakake ” Seperti Wisynu and self Endra God” . Court PULIH large walk seperti dhek day Erlangga , even Jajahanya got serta ( jajahane wuwuh ) Madura Subscribe .
 

 

1268 AD

The king was  death in the year 1268 ,  ass the covin  ( Layonya or quotes ) layone burnt  custom – pakaian , awune a Weleri the temple , statues bring Syiwah , half- dipethak ADA tour Borobudur ( rev aspects in other people ) with Buddha statues . Mince in Buddhism mixed  with Syiwah

 

 

Pertama 03 segmen
sekitar 3
Dalam kerajaan di Jawa Timur
( 10 abad pertama – tahun 1220 )

Di atas kasebutake di Jawa Timur , kabawah kerajaan Indhu
kerajaan Mataram , tapi Indhu Tanah di Jawa Timur
Tidak banyak kematian , dibandingkan dengan Tanah di Tengah
( Kedhu ) . Karena kebutuhan Indhu berkumpul dengan bumi , prasasat
sebuah sabangsa tunggal. Pada abad pertama adalah 10 pepatihing kerajaan Land
CENTRAL merasa Oleh karena Sindhok lolos barat . Mari Oleh karena itu , beberapa tahun Sindhok raja (mpu Sendok)  berdiri di Timur , di kerajaan Hidup ( Paresidhenan Surabaya ke selatan ) .Ambawahake (membawahi) : Surabaya , Pasuruwan , Kediri , Bali bok bahwa ia kabawah .

 

(944 masehi)

(Penguasa)Enggone raja berdiri 944 tahun , dan ia jejuluk raja kerajaan Mataram .
Raja kerajaan Mataram yang sangat
(menghormati) pangedêpe Buddhisme . Oleh karena itu , Sindhok (Mpe sendok) terkenal pintar enggone ngereh Praja(Penguasa Pemerintah Negara ) . Ada rekaman suaramengatakan :

 

” Untuk raja terakhir berdiri enggone , marcapada muncul
damai; bulu Lucu bagaimana bumi sampai residu residu tidak kehe karuhan ” .

(1010 masehi )

 

Pada tahun 1010 Erlangga berdiri masih raja , dan melanjutkan Militer enggone mangun (membangung kekuasaan) dan sakit (menentang)  kepala jajahan .

 

(1037 masehi)

 

 Pada tahun 1037 yang  penguasaan (enggone) Militer dilakukan , Reja negara , saya memiliki kedamaian . Istana di Kehidupan –Life. Dia tidak Erlangga lupa kebenciannya ( kabecikaning )dari Pemerintah dan asketisme , membantu ketika dia kasrakat .

Seperti  Menghilangkan rasa benci terhafap (pamalesing kabecikane) Pemerintah , raja membuat Taman (pasraman) indah, terletak di bukit  dibawah-underwriting kaki . Taman (pasraman) yang kinubeng di patamanan oleh lebih garing (matang) , dan saya rerenggane Peni (menghilangkan pening) dan eksotis .

Dari Edin , asing Praja terkenal , setiap hari aselur yang sujarah sama .

 

Pengadilan raja tegak lurus . Desa nrajang peraturan hukum tanah Mereka  mnghukum atau didenda (penalti kapatrapan atau didhendha) . Perampok , pencuri ,
dll kematian hukum kapatrapan . Dia
 melaksanakan pemerintahan (enggone
paprentahan
) Dibantu di  Pria agung (priyagung) 4 , hasil tanah pametuning
kursi .
Dari  Pemerintahan beralih ke (enggone manggalih) pertanian , yang pegawainya (pagaweyaning) saya banyak , raja membuat bendungan besar di sungai Brantas . Raja juga memikirkan panggaotan dan dedagangan .

 

Tuban ketika tempat  samono pedagang , dapatkan upaya terlalu banyak raja yang
memajukan  perdagangan dan pelayaran (majuning dedagangan dan lelayaran ).

Raja duduk sinewaka tahta ( palenggahan titik Pesagi )
Aku mengenakan gaun gaun sutra , dan dr daftar diukel dengan cênela . Jika
wahana lahir dwipangga atau permukaan , 700 tentara berparade . Gambar dan saya
Memenuhi pergi ke raja dan jatuh di tanah
( Ndhodhok ngapurancang ) .

 

Mereka memiliki Ngor rambut yang sama , pemerintahan  memiliki (enggone
bebedan
)batas pada  air susu  .  Perumahan –House, termasuk renyah , dengan atap payon kuning atau merah .

 

Orang sakit tidak hanya minta  pertolongan Dewa  (tetamba pitulunganing diva ) , atau Buddha . Orang-orang yang bahagia praon dan pegunungan dilacak perjalanan , banyak dari kuda atau Jolie . Dhek samono orang tidak memiliki tarian , seruling ensemble ,
kendhang dan dengan .

 

Ia menolak Besuki di sapengkere raja berdiri Gumanti dua anak ,                                                  juga, jadi kerajaan dan diparo :

 

Jenggala ( sabageyaning : Surabaya dan Pasuruwan ) dan Kediri .
Ini adalah keterbatasan : kandang dinding sinebut ” merkuri ” , karena
gunung tinggi Kawi , mangisor , oleh Leksa sungai dan ketertiban di branglore Brantas dari mangulon timur di desa , yang kini bernama ” Juga , ” kata selatan , adalah tentang kesiapan sampai waterside .

Gugur kejatuhan dinding jalan masih ada , seperti di sekitar Leksa , sakulon dan sakiduling Sungai Brantas , dalam jumlah afd . Lansekap dan Blitar.Mungguhing Chronicles of Erlangga ia kaanggep sebuah cahaya kegelapan , untuk sedikit lebih kasumurupan cerita.

Pengetahuan sastra yang tinggi . Sebuah surat dalam surat yang berasal dari
sekarang adalah kisah wayang yang paling dikenal dan cerita
 (penuturan rakyat alias legenda folklore-)teturutaning . Surat bahasa disebut : Kuno , seperti:


1 . Mahabharata
2 . Ramayana dan Arjuna Wiwaha .

 

 

 

Kerajaan Jenggala Berkelanjutan tidak besar , karena hancur kerajaan hancur kecil  untuk anak-anak raja diwaris , Praja Jenggala ( Jenggala baru) ; Tumapel atau Singhasari dan Urawan .

 

 

(Abad ke 13)

 

 Kerajaan kasus dekat batas Kediri atau waktu yang terlibat dalam pengumpulan dan Kediri , yang lain adalah Didirikan memiliki abad 13 . Pemerintah , Kediri ( Daha , Panjalu) berdasarkan arus (membawahi Keresidenan) mbawahake paresidhenan Kediri , beberapa Pasuruwan(pasuruan) dan Madiyun (Maduiun). Kota mereka di kota Kediri sekarang .

 

Kerajaan pekerjaan untuk menjadi terkenal . dalam sastra dan terlalu tinggi , hari Jayabaya ( abad12 ) , yang sudah lebih dari yang sudah dan sampai sekarang sinebut besar , Apakah ada madhani

 

(1104 masehi)

 

a.
Pada tahun 1104 istana bernama masyarakat : Triguna atau
Managocna . Masyarakat adalah bahwa dengan surat dan Sumanasantakam Kresnayana . Raden Panji putra atau dilaporkan dalam kisah itu , malak menawan (bokmenawa) raja Daha , yang memiliki jejuluk Kamesywara I. Dia Minggu pertama abad 12 .

 

Teman istri Raja Ray ( Chandra Ray ) , putra raja Jenggala . Musim bernama Oleh karena itu , masyarakat Dharmaja dengan surat Smaradhana . Raden Panji sampai sekarang selalu melaporkan pada  teater Perwayangaan (Dailymotion bioskop ) dan  Teater Pewayangan (bioskop ) topeng gedhog . masyarakat Jayabaya

 

(1070 masehi)

Oleh karena itu , hati-hati dan merasa Oleh karena Panuluh . Oleh karena itu hati-hati dalam 1079 ( =1157 ) methik saperanganing Mahabharata , dianggit dan bagaimana didhapur (didapur)Jawa , yang disebut Bharata Yudha . Dan pada waktu itu telah cerdas ,
Hindu  (The Indhu) kesilep , Indhu kerajaan telah menjadi kerajaan .

Pertama 04 segmen
sekitar 4

(1220 masehi)


Ken Angrok
 menaklukan (Nelukake ) Kerajaan Kerajaan Kecil (1220 – 1247)
Tahun 1222 adalah raja Tumapel atau Singhasari bernama Ken Angrok .

Cerita ken Arok dari kitab Pararaton . Surat  Diketmukan (Ketemune)  berada di
Kembali dhek tahun 1891. Ken Angrok lahir di sekitar Tumapel ( Singhasari )
asal pertanian standar I.

 

 

 

Ken Angrok melaporkan perubahan Herry dan nenarik mencintai mereka , tapi sangat pangaji sangat menyukai Bapa dan wanimarang penggawa kesalahan . Pada hari-hari dari para Brahmana ditemukan dirinya (dhewekne) ,  Dia mengatakan bahwa  dirinya tetesan Wisnu( dhewekne) .

 

Tapi, karena mereka tahu bahwa Brahmana Ken Angrok adalah hebat ingin dan ketat Budin . Brahmana dan menemukan jalan agar dapatnya ( bisane)  Ken Angrok
  Terhambat Pangeran di- (kacedhak Duke) sana, Tunggul Ametung .

 

Tidak ada lagi waktu antara Ken Angrok  kaabdekake terjadi. Ketika begitu , Ken Angrok dan selalu menemukan cara bagaimana Pemerintah ( enggone ) dapat mengantikan Pangeran ( ngendhih Duke ),    nggenteni berdiri . Ketemuning pengembangan dan  oleh karena itu Ken Angrok  Mendandani atau menciptakan  (ndandakake) Keris baik Oleh ,Gandring (mpu Gandring) tersebut .

 

Setelah Keris , terlihat baik jelas, teman bernama Ken Angrok Keboijo kepencut ingin menggunakan , dan nembung peminjam : Tidak ada . Dari itu , Keris digunakan setiap hari dan ditampilkan  dipamerkan (pamerake) ,  dikehndakan (dikandhakake) mereka .

 

Ketika beberapa hari Ken Angrok  melihat (keris tersebut) dan mencuri Keris sendiri adalah teman dari disilih digunakan  menyandera pangeran  (nyidra Duke) . Kematian terjadi , Keris kiri samping layon . Urusaning materi : Ken Angrok teman Anda bertanggung jawab , diputus hukum sampai mati . Ken Angrok dan bisa mendapatkan putri randaning Tunggul Ametung dan Didirikan Gumanti Duke : Nama Ken Dhedhes .

Diadakan untuk Ken Angrok prosedur negara , Reja , sangat kecil Adore . Setelah membangun (mbedhah_  kerajaan kecil  di Jenggala , Ken Angrok dan emoh
Kediri ,

 

(1222 masehi )

 

Bahkan pada tahun 1222 melahirkan  Pemerintahan Negara ( mbedhah Praja) Kediri terjadi , menang , Raja Kediri Kertajaya telah meninggal Sabal nggantung
arah yang sama .

 

Kediri dan  Melahirkan Pangeran (pabrik Duke ) kabawah Singhasari . ketika
Oleh karena itu , raja Sindhok Darah telah kehilangan semua Arok Ken , Ken Angrok
Raja dan berdiri besar , jejuluk memiliki Rejasa , yang merupakan
 menurunkan (nurunake) yang raja Majapahit .

 

 

 

Ken Dedes  ( Retna Dhedhes )                                                                                                 melaporkan kematian  Raja Pangeran Duke Tunggul Ametung ambobot .

 

Ketika musim dingin , anak Retna terbuka , Raden memberi peparab Anusapati . Dari Timur ke dewasa Aku tidak tahu apakah itu benar bukanlah putra Raja Rejasa , tapi Merasa bukan raja berkenan di , dengan Rayi sangat berbeda adiknya . dalam Lahir hari Anusapati ibu berkata ,

 ” Ibu, apakah  Kangjeng Sang ayahanda  tidak  bahagia untuk datang kepada saya ? ”

 

The Retna (Ken Dedes) sangat bermasalah Galih mendengar mengatur sasambate anaknya , dan menempatkan keprojol mengatakan , putranya diceritakan kisahnya (dicritani lelakone ) sampai akhir.

Anusapati sangat pangungune , segera setelah hukum bermaksud jawaban , tapi masih sinamun sama sekali. Jasanya Keris ( yasane)  Oleh karena Gandring diminta ,
pawatane hanya menginginkan yang anganggo . Ibu Lamba di Galih , Keris
diberikan .
Anusapati memanggil pelayan-pelayannya dan teman-teman , dan mereka memberi Keris diweruhake di wewadine . Bengine ia meninggal pada kaprajaya duratmaka . Layone Dia  di candi (Kagenengan dekat  Malang dicandhi di Kagenengan )  . Anusapatinggenteni masih raja . Anusapati tidak lagi berdiri , karena Raden Tohjaya

Anusapati tahu apakah Raman dibunuh , sehingga  untuk (sumedya) balasan dan hukum
juga terjadi . Tohjaya masih raja , tapi dia tidak lagi . Tohjaya utusan
 menterinya (mantrine ) bernama Lembar Ampal ,  didakwa (didhawuhi) menghancurkan kalilipe dua adalah : Ranggawuni , anak Anusapati , dan  yang dulunya (nakdulure )bernama Narasingamurti , ketika tidak dapat terjadi , Lembar Ampal sendiri akan tunduk pada kematian hukum .

Tiba-tiba seorang Brahmana yang penuh belas kasihan kepada dua Raden , dan
wewarah diperlukan . Knight dan menyembunyikannya di Panji terletak
PatiPati .

 

Sapi Ampal untuk dua Raden tidak ditemukan , dan tidak bisa pulang ke rumah ,
mengungsi yang Panji PatiPati . Bila ada cadangan ngiloni Raden dua bahkan membahas petugas tidak sesuai dengan pembicaraan Tohjaya untuk merumuskan ,

Akhirnya terjadi, menemukan sampai mati. Ranggawuni Raja Suriah ( yang dijuluki ) ajejuluk berdiri Wisynuwardhana nakdhereke Narasinga .

 

Kematian priyagung keduanya sangat damai , sampai dibasakake “Seperti Wisynu dan diri Endra Allah” . Istana naik  PULIH besar seperti dhek hari Erlangga , bahkan  Jajahanya ikut serta ( jajahane wuwuh) Madura .

 

1268 masehi

 

Raja meninggal pada tahun 1268, sebagai  (Layonya  atau petinya )layone membakar kustom-pakaian  , awune Setengah di candi Weleri , membawa patung Syiwah , setengah
dipethak ada pemimpin Borobudur ( Put hal pada orang lain ) dengan patung Buddha . Mince di
agama Budha bercampur dengan Syiwah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Original info
03 Perangan Kang Kapisan
Bab 3
Karajan Ing Tanah Jawa Wetan
(wiwitane abad 10 – tahun 1220)


Ing dhuwur wus kasebutake yen Tanah Jawa Wetan, kabawah karajan Indhu
ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wetan
ora pati akeh, yen katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah
(Kedhu). Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat
tunggal dadi sabangsa. Ing wiwitane abad 10 ana pepatihing karajan Tanah
Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangetan. Let sawatara tahun empu
Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wetan, karajane ing Kauripan
(Paresidhenan Surabaya sisih kidul).
Ambawahake: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
Enggone jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
Nata ing Mataram mau banget pangedêpe marang agama Budha. Empu
Sindhok misuwur wasis enggone ngereh praja. Ana cathetan kang muni
mangkene: “Awit saka suwening enggone jumeneng ratu, marcapada katon
tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kehe.”
Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusake enggonemangun paprangan lan ngelar jajahan. Ing tahun 1037 enggone paprangan wis
rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Dene karatone iya ana ing
Kauripan. Sang Prabu Erlangga ora kesupen marang kabecikaning para
pandhita lan para tapa, kang gedhe pitulungane nalika panjenengane lagi
kasrakat.
Minangka pamalesing kabecikane para pandhita, Sang Nata yasa pasraman
apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan. Pasraman mau
kinubeng ing patamanan kang luwih dening asri, lan rerenggane sarwa peni
sarta endah. Saka edine, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur
wong kang padha sujarah mrono.
Pangadilane Sang Nata jejeg. Wong desa kang nrajang angger angger nagara
padha kapatrapan paukuman utawa didhendha. Kecu, maling,
sapanunggalane kapatrapan ukum pati. Sang Prabu enggone nindakake
paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah
lenggahe.
Saka enggone manggalih marang tetanen yaiku pagaweyaning kawula kang
akeh, Sang Nata yasa bendungan gedhe ana ing kali Brantas. Sang Nata uga
menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan. Kutha Tuban nalika
samono panggonan sudagar, oleh biyantu akeh banget saka Sang Prabu murih
majuning dedagangan lan lelayaran.
Sang Nata yen sinewaka lenggah dhampar (palenggahan cendhek pesagi),
ngagem agem ageman sarwa sutra, remane diukel lan ngagem cênela. Yen
miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700. Punggawa lan kawula
kang kapethuk tindake Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah
(ndhodhok ngapurancang?). Para kawula padha ngore rambut, enggone
bebedan tekan ing wates dhadha. Omahe kalebu asri, nganggo payon gendheng
kuning utawa abang. Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun
pitulunganing para dewa bae, utawa marang Budha. Wong wong padha seneng
praon lan lelungan turut gunung, akeh kang nunggang tandhu utawa joli.
Dhek samono wong wong iya wis padha bisa njoget, gamelane suling,
kendhang lan gambang.
Karsane Sang Prabu besuk ing sapengkere kang gumanti jumeneng Nata
putrane loro pisan, mulane kratone banjur diparo: Jenggala (sabageyaning:
Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.
Dene kang minangka watese: pager tembok kang sinebut “Pinggir Raksa”, wiwit
saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing
branglore kali Brantas saka wetan mangulon tekan ing desa kang saiki aran
“Juga”, nuli munggah mangidul, teruse kira kira nganti tumeka ing pasisir.
Gugur gugurane tembok iku saiki isih ana tilase, kayata ing sacedhaking kali
Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.Mungguhing babad Jawa jumenenge Prabu Erlangga kaanggep minangka
pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akeh caritane kang kasumurupan.
Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layange ing jaman iku tekane ing
jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
Layang layang mau basane diarani: Jawa Kuna, kayata:
1. Layang Mahabarata
2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.
Karajan Jenggala ora lestari gedhe, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik,
marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala
anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan. Karajan cilik cilik kang cedhak
wates Kedhiri or suwe banjur ngumpul melu Kedhiri, liyane isih terus madeg
dhewe nganti tekan abad 13. Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki
mbawahake paresidhenan Kedhiri, saperangane Pasuruwan lan Madiyun.
Kuthane ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara. Ing
wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamane Jayabaya (abad
12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekane jaman saiki isih sinebut luhur,
durung ana kang madhani.
Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenenge: Triguna utawa
Managocna. Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan
Kresnayana. Raden putra utawa Panji kang kacarita ing dongeng kae,
bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng
ana wiwitane abad kang kaping 12. Garwane kekasih ratu Kirana (Candra
Kirana) putrane ratu Jenggala. Ing mangsa iki ana pujangga jenenge Empu
Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Raden Panji nganti saiki tansah
kacarita ana lakone wayang gedhog lan wayang topeng. Pujanggane Jayabaya
aran Empu Sedah lan Empu Panuluh. Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (=
1157) methik saperanganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara
Jawa, dijenengake layang Bharata Yudha. Wong Jawa ing wektu iku wis pinter,
wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.
04 Perangan Kang Kapisan
Bab 4
Ken Angrok Nelukake Karajan Karajan Cilik (1220 – 1247)
Ing tahun 1222 ana ratu ing Tumapel utawa Singasari, jenenge Ken Angrok.
Critane Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemune layang iki ana ing
Bali dhek tahun 1891. Ken Angrok lair ana ing sacedhake Tumapel (Singasari),
asal wong tani lumrah bae. Ken Angrok kacarita bagus rupane lan bisa nenarik
katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangaji aji lan wanimarang penggawe luput. Ing sawijining dina ana Brahmana ketemu karo
dhewekne, kandha yen dhewekne titising Wisnu. Anggone kandha mangkono
iku, awit Brahmana mau ngerti yen Ken Angrok iku wong kang gedhe karepe
lan kenceng budine. Brahmana banjur golek dalan bisane Ken Angrok
kacedhak karo adipati ing kono, Sang Tunggul Ametung. Ora antara suwe
kelakon Ken Angrok kaabdekake. Bareng wis mangkono, Ken Angrok banjur
tansah golek dalan kapriye enggone bisa ngendhih Sang Adipati, nggenteni
jumeneng. Ketemuning nalar Ken Angrok banjur ndandakake keris becik
marang Empu Gandring. Sawise keris dadi, katon becik temenan, nganti
mitrane Ken Angrok aran Keboijo kepencut kepengin nganggo, banjur
nembung nyilih: oleh. Saka senenge, keris mau saben dina dianggo sarta
dipamer pamerake, dikandhakake duweke dhewe. Bareng wis sawatara dina
Ken Angrok banjur nyolong kerise dhewe kang lagi disilih ing mitrane mau
dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon seda, keris ditinggal ing sandhinge layon.
Urusaning prakara: mitrane Ken Angrok sing kena ing dakwa, diputus ukum
pati. Ken Angrok banjur bisa oleh Sang putri randaning Tunggul Ametung lan
gumanti madeg adipati: Sang Putri asmane Ken Dhedhes.
Sasuwene dicekel Ken Angrok negarane tata, reja, wong cilik banget sungkeme.
Sawise mbedhah karajan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok banjur emoh
kebawah Kedhiri, malah ing tahun 1222 mbedhah praja Kedhiri nganti kelakon
menang, Ratu ing Kedhiri Prabu Kertajaya seda nggantung sabalane kang
padha tuhu. Kedhiri banjur ditanduri adipati kabawah Singasari. Bareng para
ratu darah Empu Sindhok wis kalah kabeh karo Ken Angrok, Ken Angrok
banjur jumeneng Ratu gedhe, jejuluk Prabu Rejasa, yaiku kang nurunake para
ratu ing Majapait.
Kacarita Sang Retna Dhedhes nalika sedane adipati Tunggul Ametung wis
ambobot. Bareng wis tekan mangsane, Sang Retna mbabar putra kakung,
diparingi peparab Raden Anusapati. Wiwit timur nganti diwasa Sang Pangeran
ora ngerti yen satemene dudu putrane Prabu Rejasa, nanging rumangsa yen
ora ditresnani ing Sang Prabu, beda banget karo rayi rayine. Ing sawijining
dina Anusapati kelair marang ibune mangkene: “Ibu, punapa, dene Kangjeng
rama punika teka boten remen dhateng kula?” Sang Retna banget trenyuhing
galih mireng atur sasambate kang putra, wasana banjur keprojol
pangandikane; kang putra dicritani lelakone wiwitan tekan wekasan.
Anusapati banget ing pangungune, sanalika banjur duwe sedya males ukum,
nanging isih sinamun ing semu. Keris yasane Empu Gandring disuwun,
pawatane mung kepingin banget anganggo. Kang ibu lamba ing galih, keris
diparingake.
Anusapati banjur nimbali abdine kekasih, diparingi keris mau lan diweruhake
ing wewadine. Bengine Sang Prabu seda kaprajaya ing duratmaka. Layone
Sang Prabu dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anusapatinggenteni jumeneng Nata. Anusapati jumeneng ora suwe, awit Raden Tohjaya
ngerti yen Anusapati kang nyedani ramane, mulane sumedya males ukum lan
iya kelakon. Tohjaya jumeneng Nata, nanging iya ora suwe. Tohjaya utusan
mantrine aran Lembu Ampal, didhawuhi nyirnakake kalilipe loro, yaiku:
Ranggawuni, putrane Anusapati, lan nakdulure kang aran Narasingamurti; yen
ora bisa kelakon, Lembu Ampal dhewe bakal kena ukum pati.
Dumadakan ana sawijining Brahmana kang welas marang raden loro, banjur
wewarah saperlune. Satriya loro banjur ndhelik ana ing panggonane Panji
Patipati. Lembu Ampal nggoleki raden loro ora ketemu, banjur ora wani mulih,
ngungsi marang Panji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni raden loro,
malah ngrembugi para punggawa kang ora cocog karo Tohjaya diajak ngraman,
wasana kelakon, Sang Prabu nganti nemahi seda.
Ranggawuni jumeneng Nata ajejuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhereke
Narasinga. Nganti tekan ing seda priyagung loro mau rukun banget, nganti
dibasakake: “Kaya Wisynu lan kang raka Bathara Endra”. Karatone mundhak
gedhe pulih kaya dhek jamane Prabu Erlangga, malah jajahane wuwuh
Madura. Sang Nata seda ing tahun 1268, layone diobong kaya adat, awune
sing separo dicandhi ana ing Weleri, ditumpangi reca Syiwah, sing separo
dipethak ana candhi Jago (Tumpang) nganggo reca Budha. Dadi tetela ing
wektu iku agama Syiwah karo Budha campur.

 

The first 05 segments

about 5
Kartanagara standing in Tumapel (1268 – 1292)
King Singhasari V , IA mekasi . Sasedane Syria
Compute Wisynuwardhana mortality stood a king, a king ( bergelar ) ajejuluk Kartanagara .

He’s manggalih ( mendalami ) knowledge about literature and manggalih ( mendalami ) cross jajahan , but less ngatos ( reach ) rough , and I want to drink half wuru . Are there ( Superintendent of Government ) nayakaning named Praja Front Goose Widhi
Someone named a person named Arya Wiraraja , snack filter news and Jayakatwang , Duke Daha . Knight Ador no king , and even has Jayakatwang sekuthon , filter
mbalela ( memberontak ) .

Fall – fall guard said material , but He’s no thinking , even Wiraraja raptured in Madura Subscribe to Duke ( Prince ) . Pepatihe ( governor ) king named Raganatha melindungi the ground , sometimes able mengelola penget in the down right , but He’s no happier in Galih , no mempertimbangkan rumeksaning to filter soft ground ,
Even Governor and the other filter Get ngladeni reject . Governor Wredha ditunda , the winisuda : Pradata government employees , with no bercampur prakarapangreh Praja . Seperti Governor of New ngalem edits and the Minister of the Wave .

1289 AD

Are there large messengers of the king of China ( Chubilai ) or Kublaikan that IA has been
Kartanagara nyalirani alone or representative Suwa ( vice- delegate ) of China may
caos bekti – made ​​big codet Tattoo diwajahnya ( year 1289 ) . He’s very angry . China delegation forehead digambari filter news imagery , katakanlah angry DUKANE King . when the power of the king in China until they were menyebabkan DUKANE
King binathara in Chinese ,

 1292 AD
tahun1292 ADA army in China menginginkan mengeksekusi dalam kuwanene Java . Wiraraja in Madura Subscribe for what you hear but take the filter that you’re Singhasari , and IA If they see that the soldiers time Singhasari ( shipped ) dilurugake to Sumatra . Wiraraja ( Mengajak ) ngajani Jayakatwang Akon nangguh ( Menghancurkan or menyembelih ) mbedhah Singhasari ,

Countries are the soldiers have temporarily kesisan ( odd ) . Jayakatwang sports , and Singhasari bedhah occur ( penhancuran ) . king and katungkep ( dihadapi 0leh ) dikatakan and fight him governor Wave I ( wuru ), so let’s get no ( menghalangi occurrence ) rekasa pinurih mortality .

Raden Wijaya , Narasinga this time , IA ( run ourselves from buying ) umangsah ngetog kaprawiran mbelani country and king , but ( be victims ) kaslepek karoban from Daha , and so on ngoncati Force ( mennemani ) , edits the 12 – lead troops , modification modification nggendhong ( mengendong ) wife Raden Wijaya , son of Kartanagara .

step Raden Wijaya sasentanane nusup angayam ( menyusu Depth ) hutan . The number of these are included 12 ( The War ) Knight Two , Wiraraja son , God have self – ( or Mr Raden wiajaya Madura Subscribe to mengunsi alone ) ngungsi
Madura Subscribe Subscribe .

May be due to the no reject , but semakin outside . Be accepted in Madura Subscribe with good . Discussed Wiraraja , Raden Wijaya told The server Daha . Wiraraja for nglantarake ( mengantarkan ) .

If your server has occurred Raden Wijaya nyetitekake ( bercerita that ) diberitahu officer in Daha , ( strong ) Bold or filter jirih , head hypocritical . If that you’re have more relevant Goose takes between diberitahu

I mendarat tricks land , and ( in writing government ) dibabada dienggonana . Raden Wijaya in pitudhuh , and also occurs in the server Daha . Dilaporkan ( keluaraga husband – wife couples pairs come too ) pasuwitane kanggep too , because the door to go reject , weapons and smooth door ;

 People Daha no filter can filter ADA mengalahkan . Teaching all done Wiraraja , for dhangan I Come , even in the time of the tricks dibabad ,
Raden Wijaya I stay where I am in dililani .

Melaporkan Chronicles

land tricks and who methik ( memetik ) and Maja pe fruit , but Rasane ( the taste ) bitter . Due to ( ‘s name ) and ingkono village called great .

Raden Wijaya together are great , feels time procedure procedure Replies
law , Empires Daha damages , but Wiraraja Akon wait , we are still
waiting for the soldiers from the State for menghukum Chinese people Singhasari . have
Wiraraja Chinese ngrewangi I want to , want to back Besuki vs China.
Wiraraja and Boyong sakulawargane and saprajurite to great
gathered together with Raden Wijaya.06 war first

 

 

 

 

 

Pertama 05 segmen

sekitar 5
Kartanagara berdiri di Tumapel (1268 – 1292)
Raja Singhasari V , ia mekasi . Sasedane Suriah
Wisynuwardhana kematian hitung berdiri raja , raja
( bergelar )ajejuluk Kartanagara .

 

Dia manggalih (mendalami ) pengetahuan tentang sastra dan manggalih (mendalami) Salib jajahan , tapi kurang ngatos (mencapai) kasar , dan saya ingin minum sampai wuru . Ada  (Penguasa Pemerintahan )nayakaning Praja bernama Goose Widhi Depan
Seseorang bernama Arya Wiraraja , makanan yang baik dan Jayakatwang , Adipati Daha . Knight tidak
Adore raja , dan bahkan memiliki Jayakatwang sekuthon , yang
mbalela
(memberontak).

 

Tiba-tiba petugas mengatakan materi, tetapi Dia tidak berpikir , bahkan Wiraraja diangkat di Madura Duke (Pangeran). Pepatihe (patihnya) raja bernama Raganatha melindungi raja lemah, terkadang mampu mengelola penget raja di bawah kanan , namun Dia tidak bahagia di Galih , tidak mempertimbangkan rumeksaning melakukan yang lemah lembut,
Bahkan Gubernur dan yang lainnya dapat ngladeni menolak . Gubernur Wredha
ditunda , para winisuda : Pradata pemerintah karyawan, tidak bercampur dengan prakarapangreh Praja . Seperti Gubernur baru ngalem hanya raja dan menteri Gelombang kata .

 

1289 masehi

Ada utusan besar raja Negara Cina ( Chubilai )  atau Kublaikan bahwa ia telah
Kartanagara nyalirani sendiri atau wakil
suwana ( wakil utusan )  Negara Cina mungkin
caos bekti
–arti dibuat codet tattoo diwajahnya  ( tahun 1289) . Dia sangat marah . Dahi delegasi China digambari perumpamaan yang baik , katakanlah Dukanya  DUKANE Raja . ketika Kekuasaan China di tanah raja sehingga mereka menyebabkan DUKANE
Raja binathara di Cina,

 

 1292 masehi

tahun1292 ada tentara di China menginginkan mengeksekusi dalam kuwanene Jawa . Wiraraja di Madura untuk tetap  mendengar apa yang Anda bawa di Singhasari , dan ia melihat jika pada saat itu para prajurit Singhasari ( dikirimkan )dilurugake ke Sumatera . Wiraraja (Mengajak )ngajani Jayakatwang Akon nangguh ( Menghancurkan atau menyembelih )mbedhah Singhasari ,

 

Sementara Negara adalah tentara kesisan (sisa) . Jayakatwang olahraga, dan Singhasari bedhah terjadi (penhancuran) . raja dan katungkep (dihadapi 0leh)  gubernur lawan dikatakan dan Gelombang I ( wuru ) jadi tidak  (menghalangi terjadinya )rekasa pinurih kematian.


Raden Wijaya , Narasinga saat ini, ia
 (melarikan diri dari membela )umangsah ngetog kaprawiran mbelani Negara dan raja , tetapi ( menjadi korban )kaslepek karoban dari Daha , dan sebagainya ngoncati paksa ( mennemani) , hanya tingkat 12 , membawa pasukan , perubahan perubahan nggendhong(mengendong) Istri Raden Wijaya , putra Raja Kartanagara .

 

langkah Raden Wijaya sasentanane nusup angayam ( menyusu kedalam)  hutan . Jumlah ini termasuk 12 adalah ( Pangeran Kedua )Knight Two , putra Wiraraja , Tuhan harus self-( Tuan atau Raden wiajaya mengunsi sendiri  ke Madura )  ngungsi
Madura Berlangganan .

 

Oleh Karena  Pangeran  tidak bisa menolak, tapi semakin lama  . Di Madura diterima dengan baik. Dibahas Wiraraja , Raden Wijaya serv disuruh Daha . Wiraraja untuk nglantarake (mengantarkan)  .

 

Jika Anda memiliki terjadi serv Raden Wijaya nyetitekake  (bercerita bahwa ) diberitahu petugas di Daha , (kuat) Bold atau yang jirih  , menuju munafik . Jika Anda memiliki lebih banyak waktu antara diberitahu

Aku mendarat trik tanah , dan (di tulis pemerintahan) dibabada dienggonana . Raden Wijaya di pitudhuh , dan juga terjadi pada server Daha . Dilaporkan  (keluaraga –pasutri pasangan suami isteri ikut juga ) pasuwitane kanggep juga, karena pintu pergi menolak , dan senjata halus pintu ;

 

 Orang Daha yang tidak ada yang bisa mengalahkan . Semua pengajaran dilakukan Wiraraja , SELAMA dhangan saya datang , bahkan pada saat tanah tersebut trik dibabad ,
Raden Wijaya Saya tinggal di mana aku dililani .

 

Melaporkan Chronicles


trik tanah dan siapa methik
(memetik) dan memakan buah  Maja , tapi Rasane (rasanya) pahit . Karena  (ini namanya) ingkono desa dan disebut Majapahit .

 

Bersama Raden Wijaya adalah Majapahit , Merasakan saat prosedur prosedur balasan
hukum, kerajaan Daha kerusakan, tetapi Wiraraja Akon menunggu , kita masih
menunggu para prajurit dari Negara untuk menghukum orang-orang Cina Singhasari . ingin
Wiraraja Cina ngrewangi Saya ingin , ingin kembali Besuki vs Cina .
Wiraraja dan Boyong sakulawargane dan saprajurite ke Majapahit
berkumpul bersama dengan Raden Wijaya.06 perang pertama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Original info

 

05 Perangan Kang Kapisan

Bab 5
Jumenenge Kartanagara ing Tumapel (1268 – 1292
)


Ratu Singasari kang Kaping V, jumeneng mekasi. Sasedane Syri
Wisynuwardhana pangeran pati jumeneng Nata, ajejuluk Prabu Kartanagara.
Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iya
manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kersa
ngunjuk nganti dadi wuru. Ana nayakaning praja aran Banyak Widhe utama
Arya Wiraraja, tepung becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya iku ora
sungkem marang ratune, malah wis sekuthon karo Jayakatwang, arep
mbalela. Dumadakan ana punggawa kang matur prakara iku, nanging Sang
Prabu ora menggalih, Wiraraja malah diangkat dadi adipati ana ing Madura.
Pepatihe Sang Nata aran Raganatha rumeksa banget marang ratune, nganti
sok wani ngaturi penget marang Sang Prabu ing bab kang ora bener, nanging
Sang Prabu ora rena ing galih, ora nimbangi rumeksaning patih setya iku,
malah banjur milih patih liya kang bisa ngladeni karsane. Patih wredha
diundur, winisuda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campur karo prakarapangreh praja. Patih anyar senenge mung ngalem marang ratune lan ngladosi
unjuk unjukan.
Ana utusan saka ratu agung ing nagara Cina (Chubilai) dhawuh supaya Prabu
Kartanagara nyalirani dhewe utawa wakilsuwana marang nagara Cina perlu
caos bekti (tahun 1289). Sang Prabu duka banget. Bathuking Cina utusan
digambari pasemon kang ora apik, nelakake dukane Sang Prabu. Bareng tekan
ing nagara Cina patrape ratu Jawa kang mangkono iku mau njalari dukane
ratu binathara ing Cina, Ing tahun1292 ana prajurit gedhe saka ing Cina arep
ngukum ing kuwanene wong Jawa. Wiraraja sasuwene ana ing Madura isih
ngrungok ngrungokake apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weruh uga
yen ing wektu iku prajurit Singasari dilurugake menyang Sumatra. Wiraraja
ngajani Jayakatwang akon nangguh mbedhah Singasari, mumpung nagara lagi
kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratu
lan patihe katungkep ing mungsuh isih terus unjuk unjukan bae (wuru),
mulane ora rekasa pinurih sedane.
Raden Wijaya, wayahe Narasinga, nuli umangsah ngetog kaprawiran mbelani
nagara lan ratune, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, mulane banjur
kepeksa ngoncati, mung kari nggawa bala 12, genti genti nggendhong Sang
Putri garwane Raden Wijaya, putrane Prabu Kartanagara. Lampahe Raden
Wijaya sasentanane nusup angayam alas. Kalebu wilangan 12 iku ana
satriyane loro, putrane Wiraraja, duwe atur marang Gustine supaya ngungsi
menyang Madura. Sang Pangeran maune ora karsa, nanging suwe suwe
nuruti. Ana ing Madura ditampani kalawan becik. Rembuge Wiraraja, Raden
Wijaya diaturi suwita menyang Daha. Wiraraja sing arep nglantarake. Yen wis
kelakon suwita Raden Wijaya diaturi nyetitekake para punggawa ing Daha,
sapa sing kendel utawa jirih, tuhu utawa lamis. Yen wis antara suwe diaturi
nyuwun tanah tanah Trik, dibabada banjur dienggonana. Raden Wijaya nurut
ing pitudhuh, lan iya kelakon suwita ing Daha. Kacarita pasuwitane kanggep
banget, amarga saka pintere nuju karsa, lan saka pintere olah gegaman; wong
sa Daha ora ana sing bisa ngalahake. Kabeh piwulange Wiraraja ditindakake,
dilalah Sang Prabu teka dhangan bae, malah bareng tanah Trik wis dibabad,
Raden Wijaya nyuwun manggon ing kono iya dililani. Kacarita nalika babade
tanah Trik mau, ana wong kang methik woh maja dipangan, nanging rasane
pait. Awit saka iku desa ingkono mau banjur dijenengake Majapait. Bareng
Raden Wijaya wis manggon ing Majapait, rumangsa wis wayahe tata tata males
ukum, ngrusak kraton Daha, ananging Wiraraja akon sabar dhisik, awit isih
ngenteni prajurit saka nagara Cina kang arep ngukum wong Singasari. Karepe
Wiraraja arep ngrewangi Cina bae dhisik, besuke arep mbalik mungsuh Cina.
Wiraraja banjur boyong sakulawargane lan saprajurite menyang Majapait
ngumpul dadi siji karo Raden Wijaya.06 Perangan Kang Kapisan

 

 

about 6
Dalam Malay Empires are about 5 A
He’s Kartanagara enggone anjangka come across endless restrictions jajahane .

In the land of Sumatra ADA filter can happen  occupation area-jajahan . A following several Dalam ,
Empires Empires Malay . Dilaporkan king of Funan , around about a century occupation-jajahan 3 heads down , ngelun Sumatra , Java and the other the other , through the filter make the statues statues in Pasemah land .

century to – 7

Be centuries ketujuh(7th )
Saturday golonganing from local Indhu Buri , they were left in the
sakiwa right Palembang , and membentuk an extra filter broad land , called Empires
Sriwijaya ( = Syriwijaya , sinebut the Chinese State : Sambotsai ) . the king of Blood Warman , located sanak filter Purnawarman Blood in the dhek century to 4 – 5 , and Blood Mulawarman in Kutai danBorneo dhek around the year 400 . Country Sriwijaya jajahane about about Sumateraselatan and center , Malacca , Cambodia and even in Java . dalam in 686 years in the state nglurugi (menyerang) Srivijaya in Java , because dalam
And no head pangedhêpe Sriwijaya .

In 10 century
 tentaraperubahan nglurugi Sriwijaya , win , but they are no Sriwijaya Get kombul
again. ( State Superintendent ) Praja enggone do anything against Narendra messengers in China.

In 12 century and 13
Sriwijaya destroyed the country berkeping – Small Empires
cases . Blood Warman standing in the land of sinebut , ” Malay ” filter ( this time ) saikine Jambi . Rehn waterside land where the turbulence Malay Goose , The Goose filter ngungsi foreign Loh mountain , ada Mereka(they) dedhukuh .

1268 AD

And when they strength large , Kartanagara (1268 – 1292) led realitas damages , and ngejegi ( mengempur ) Jambi , City Riouw locations and cities in the island of Borneo island and Moloko .

In the year 1268

IA Kartanagara angganjar
statues of the king Dharmmaçraya ( Darmasraya ) may be located on the land
Jambi , saikine is no jauh from Lansat River . Empires including Besuki jajahan great ,

Rajani Blood Warman jejuluk Tribuwana ( Mauliwarman ) has Malay wife – wife , daughter ( son daughter ) sieve dai Raden Wijaya filter wife full affection .

King Tribhuwana involved dalam land ( Fitness ) nglurugi mph Hulu . A Malay , lurugan brands may make no , because the edits disertakan title , lost ( power ) enggone adu Kebo , so the city and business as they were .

1275 – 1293 AD

Dalam saantaraning years 1275 and 1293 from land nglurugi * menimbun ) Jambi is a land of mountains as Besuki ( Penyerbuan ) Lurugan called : Pamalayu .

1347 AD

No ADA territory filter Empires Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman of the Malayupura , the closest they have freedom in 1347 , ambawa tools , nglurugi ( Fitness ) as , but no way to fight , and even then the king be raptured in there , because I considered Malay . Standing in as

the year 1347 till 1375 ,
( By A ) kecrita wisdom and good memegang Praja ( State Government ) . Adityawarman and until the day Two slave named Papatih Sabatang and Kyai Katumanggungan dipundhi Where are the people as .
 Sapungkure Aditya has no king in as ( By A ) The kecrita . Country shattered shattered , Now are the point , filter ( keluhuran ) kaluhuraning Indhu the home , in the land where as , more relevant from language and literature . Blood in the store as the lama ‘s no low -end from last daughter , I Now mortality .

 

1377 AD

In the year 1377 in Kota Palembang Sanbotsai rinusak in teir man
He’s Ayamwuruk ( man Wuruk ) . Palembang strength up a business named a person named Arya light nurunake ( derivative ) Raden Patah ( + / – 1500 years ) .

Since my great palace collapsed , Palembang also Katut loved , lost Besuki Banten . Kaluhuraning Land in South Sumatra where up to the time of this IA also a former Goose Trails .

The first 07 segments

about 7
War and Chinese great scene ( 1292 )

In the middle of the center in 1292 Emperor Chubilai forces occurred in ngangkatake for the army ‘s needs for mengutuk dalam Kartanagara . diPace ( Surabaya ) , missing school , and for the Chinese army nglurugi9 Daha ,

My thought is Kartanagara ( when the filter are that you’re dead ) . dilaporkan Raden Wijaya dhek samono has since ( membelot ) mbalela Jayakatwang filter the Daha . Get that you’re due to have hope Assisted destroyed the Chinese Daha , so let’s Raden Wijaya and provide ethok ethok Gulf senapati ( tribute for the emperor ), China.

No filter is seperti diharapkan great distance , Raden Wijaya is taken dalam Daha is , Raden Wijaya get help China can win .

1293 AD

Finally , in the year 1293 in the city closest terkepung from Daha ( general Shi Phi China ) teir man Shih PIH and Raden Wijaya , Daha ( diduduki ) bedhah , ( blocked ) kacekel king , the king of Peni Peni Peni looted Rayah , Raden Wijaya that you’re the daughter of the daughter , son of Kartanagara oncad to do great .

 Is not a time , due to ( might ) Akali Wiraraja , Raden Wijaya should be defeated Chinese army . Wondene soldiers , though bergegas strength milk products still carry Get rayahan , I pengaji with Tail million and one hundred prisoner Daha . Raden Wijaya and stood in rajaMajapahit , jejuluk ( given his or dubbed ) Kertarejasa Jayawardhana or UB I ( 1294 -1309 years ) .

Settings up a king, a king – Gracia My anggeganjar filter can Labuhan , kepadanya . Wiraraja dibagehi land Lumajang town kotakali berturut – traceable . He’s Kartanagara Four they were from his wife , and one anagarwa Paminggir a Malay named Sri Indresywari . istriPaminggir are the king had ‘m a son R. Kaligemet , filter Besuki nggentos
King of the court , ajejuluk Jayanegara , Prameswari bear from daughter Two .

1295 AD

In the year 1295 R. Kalagemet filter sataun usia be raptured mortality king of Kediri , from mother ( Mengemaban memegang ) ngembani memegang Praja ( government Empires ) Kediri .

As IA Kertarejasa Jayawardhana TanahJawa with Chinese filter is good , large trade , China Come in my TanahIntinya , Silver merjan , blue silk , cotton silk flower , soldiers and destroyed MINING times. From the Land , kulak China : rice , kopikacang , Rami , please bumbon craken from Mrican , products or goods i
silver , brass or bronze makeup , Yarn cotton and silk , Welirang , color ivory color , cula Saleh , color color wood , Birds and product jakatuwa
Nam naman .

Land in the same time it’s a Goose palabuhan kemacetan , seperti : Tuban , Sedayu ;
Canggu . King ‘s convenient day – to- day dibasakake be great palace revolt ungsum .

 Knights filter down move in Lapa dhek day Raden Wijaya Now get hati no , because the one – only rule anggega slave bernamaMahapati , menempatkan Knight from these changes and alterations for merumuskan , but thus hati and jurite .

1328 AD

In the year 1328 the king of death , dicidra dicederakan * ) Paranormal filter didhawuhi ambedhel ( disekujur ) body . Sasedane from Jayanegara Gumanti daughter, brother , filter meminjam Bhreng hidup and jejuluk ( dubbed with the title ) Jayawisynuwardhani . Manners get Menetapkan Dewi Knight , Kartawardhana friends , valuable smart , bersemangat penggalihe straight and vertical .

The Prince raptured be the county prosecutor and sit down in Singhasari sawewengkone . Gajahmada warangkaning king . Gajahmada want ( menaklukan entire island land ) nungkulake satanah entire island and island sakiwatengene .

1334 AD

No ADA distance is 1334 years are the Sumbawa and Bali ( diduduki and under ) and bedhah kabawah great , Bali and the difference is membawakan * ) mbawahake Lombok , Madura Subscribe , and Blambangan Selebes sabageyan . Senapatining sick soldiers head out the jajahan named Nala .

In the year 1334 the daughter of the King of birth kakek open diparabi Chicken Wuruk ( visit the man Wukuk ) , and dijumenengake ( dinonatkanke ) king , but still
diembani ( picked up ) his Mother till the year 1350 .

08 , the first war

about 8
Chicken Wuruk , Syria Rajasanagara ,
King of Majapahit IV ( 1350-1389 years )

Because the scale lelabuhane Gajahmada Governor , State great time in my
valuable in my power . He’s still standing Wuruk large chicken King binathara ngereh sapepadhaning king .

Manners get the nakdhereke her wewangi Rêtna Susumnadewi . The Santanu padhaginadhuhan have land in samurwate they were alone . The kuwajibane from Santana and Duke in this season have to have ditamtokake menghadapi
King of direction , so let’s all they were the closest we have dalam good great good , muwuhi State Asrining .

Dalam creature Week ” Prapanca ” ( Buddhisme ) .

1365 AD

In the year 1365 the community named with letters Nagarakertagama . That’s because there are welcome , given the name of the community with an Tantular Arjunawiwaha .

The great emeh mbawahake satanah Indhiya ( membawahi all of Indonesia )
East all , seperti : East Java and Central Java, Sumatra , Lampung since
Bu Acih filter ( Perlak ) , Borneo ( Banjarmasin ) , Selebes ( Banggawai , Salaiya ,
Bantaiyan ) , FLORES ( Larantuka ) , Sumbawa ( Dompo ) , Malacca and saparoning
sabageyaning Nieuw Guinea . No great ditelukake ( dtalukan ) .

King standing in the land of great
( dubbed or given title ) ajejuluk have Wangi , son daughter mendekati Wuruk dicaosake fighting him , but he’s Wangi ( harum ) and no Gajahmada governor irregularly shaped , half-
war . IA of death in military officers and Wangi Many people still do iliter day Sunday , but no land of the great Majapahit down , still alone Didirikan
Sign remaining .

Times samono half or most governments ( or Buddhisme Syiwah )
‘m going to land paprentahan , so they were to sit down

We have called the Earth : Pradikan . Padesan around Borobudur or padhepokaning ( or in place pedepokan Education ) and the Government of the pradikan , filter
diperlukan treatment and ngopeni ( mengurus pedepokan ) Borobudur padhepokan that .

I have the other dikenakan taxes ( per the tens of taxes ) prapuluhan ( saprapuluhing pametuning bumine ) , and subject to the same ( Personnel ) pagaweyan Mountains Gugur and sapepadhane . Rajakaya tribute , tribute panggaotan and ship feri in time samono him . Pametoning Praja berlebihan ,
Costs need to be struggled for the palace of the king , and the king and ( Foundation ) yeyasan State , seperti : Royal , ), community – building ) Gedhong Gedhong , guest house and guest house are Goose .

In the land of great good home good , payone syrup , and family
Standard ( dipagar gedek from Daun and Bamboo ) apager gedheg , but they racake ADA pethine stone ( I come from stone ) filter needs to maintain strong pangaji ever .

 People dhek samono sama seperti nginang , like they were bought from army destroyed
Chinese business , cash payments , reset the filter . priarambut Ngor , Women whorl kondhe ( berkonde or nersanggung filter to scroll ) . Because people youth
Keris with weapons , and weapons are often diempakake . and worried off mass membakar , If that you’re still people and great husband as Suaminya ( widow widow ) involved dalam membakar ( cremate rich widow diikuti get the isterinya ) . No jauh from the land where the ADA adu adu kepada Animals or people or karameyan ( keramaian ) the other .

Council called ” Bubat ” .

King of Lela often leave the country dalam Blambangan berturut – traceable IA ( endowed matter ) dirawuhi.Prakara trade are very large , because the * memajukan sailing keneri – Negra menyebrang great power under the ocean ) majuning lelayaran Kagawa kehing Country Country kabawah that you’re great but Letan
sea ​​.

About anything , seperti : CARVING terukir sapepadhane , kombule Land
EAST dhek mengakhiri berabad – century katelulas , and in the first century
Pat selusin , my edits panggawene statues statues filter method is best
( Ditutuntun Hindu ) tuntunaning Indhu or any mereplikasi Indhu .

A short : he’s got the chicken Wuruk ( man Wuruk ) are from great win win , I Onjo aspects .

brother 1389

He’s fighting death Wuruk ( Be man Wuruk time of death ) born children from concubines ” Bhre Wirabhumi ” king stood dibagian East . ( penganten derivative Majapahit ) The nggenteni keprabon great children Await king ( the title given nicknames ) ajejuluk Wikramawardhana ( year 1389-1400 ) .

In the year 1400-1428

seleh keprabon ( Steklah down the throne ) , mandhita that you’re wanted , but sapengkere mengatur , children and Ras filter Sentani nggenteni keprabon ( down the throne ) . he’s Wikramawardhana kapeksa and return to the stand with half- year 1428 .

During her last -cutter resume Santanu are the closest kabanjur merumuskan the Empires Jengka . Rehn

War ‘s half- time charge disadvantage and damages in Goose large , for three of the Bay mbangkang Beran and sabrang ( opposite the ocean ) not yet I kabawah ( brought ) great .

1428 AD

Rules I Make and break down . About the murder already be standard . Many people play and adu candidate totohane size . dalam In 1428 – 1447 the daughter of the king stood mengatur jejuluk Rêtna Suhita Dewi , a wife from the closest Wikramawardhana Paminggir . readiness

1447 AD

And then He Kertawijaya (1447 – 1452) and King Bhra Hiyang Purwawisyesa
(1456 – 1466) , Pandan Salas (1446 – 1468) , and Bhrawijaya V ( 1468 –
1478 ) .

Sebagai the king finally Chronicles are no easy , so no ADA
referred to . Are there Keling king of the land ( Salor Kediri East , West sakidul Surabaya ) jejuluk ( given the title ) has Ranawijaya Giridrawardhana head down jajahan nelukake ( menaklukan ) Jenggala , Kediri and Majapahit meduduki mbedhah ( year 1478 ) . Bedhahe ( difference ) It’s not a great city they were dihancurkan ,

1521 -1541 AD

since the year 1521 and 1541 great Picnic ( By A ) from kecrita large . Semakin lama takes great error , because the people like no other changes Empires kaereh are the changes for leaving the country ( open ) nglereg land back .

Now the great edits I patilasan ( temple ) ,

pagar former brick around the former gate ( area of ​​Borobudur , Bajang King ) .
Still Majapahit era , Islam dalam several , I Semakin Many time I can mengatasi Indhu religious business in East Java .

Sebagai kaananing great in no time kasumurupan mortality .

Settings berabad – century Britain Tarumanagara dhek 4 and 5 , edits dilaporkan Majapahit Kingdom in the year 1030 diperkirakan Cibadhak reach land . Enggone no
I ‘m also the official that , due to bajag kehing with passenger berturut – traceable .

On the East ADA priyangan Kingdom Galuh accusedaccuseraccusingaccustomaccustomedaceacerbitiesacerbityacetateacetyleneacheacidityaciditiesacidicacidachromaticachingachievementachievedachieveachievable filter the ngadegake named Heritage , another King jejuluk Wastukencana and Wang ( g ) i . in the year 1433 King diva do RajaPurana , ngadegake new city named Pakuan ( Batutulis ) . Great Britain named Pajajaran . Expressed dalam stone filter menjelaskan making plant . Pajajaran Kingdom semune a little more relevant and large ngerehake cirebonan product .

Segment Chronicles doubles in place from the incident

United Kingdom Governments, and the Islamic Nation Europa half
Raya stout from Mataram kingdom Empires and break Vereenig de Oost Indische
Compagenie ( VOC ) in 1500-1799 .
09 segments double –

chapter 1
Demak Empires and Empires Pajang + / – years 1500-1582
Start from Land of Islam are the years 1400-1425 .

In the year 1292

Perlak the island of Sumatra are the ‘m a Muslim , dalam 1300 are the years of the Islamic realitas hidup sea .

 Century – century ending 14 times in Malacca also has Islam.Tekane sama Gujarat .
From Malacca where the Islamic mencar Land , the land of China , ( India ) Indhiya Buri and the Indhiya ( india ) .

( Timbul or memancarnya ) The mencarake Islam in the Land
Java

 are the traders in the Tuban and Gresik , filter dedagangan ( berdagang ) in Malacca , study Islam , so Islam terkadhang sometimes forced . Traders and horse back in the East , traders and Indhu press too Come hither and her mencarake ( mengembangkan ) and the Islamic people .

1419 AD

Yang valuable are : full profile Ibrahim Malik ‘s ( press ) , death in Gresik in the year 1419 , Now pasareane . * Tomb )

My great strength palace mengurangi time I , in Bantul large passenger  strength , able to sakarep ( they were the closest community ) want . that
Bantul already sama since Islam tumapaking 16 century ( year 1500 – 1525 ) , often due to my bertarung with the religious Indhu

I stay in the middle of the center – Land .

Stories : King of Majapahit Kertawijaya has been with Manners
Children ‘s Domba ( land Indhiya Buri ) .

 Women have a mother with kapernah Small Raden gift or Sunan Ngampel ( around Surabaya ) .

Sunan Ngampel have a child, name of Sunan Bonang , one of a Women and children , the name of the Large Malacca . Large Malacca Prince Raden Patah marasepuhe or Jimbun God , that sinebut ( called ) : Sultan Demak first .

Ngampel Sunan Bonang and Sunan are the Wali . the Wali
They were known : Sunan Gunung ( sakidul Gresik ) , ADA filter made ​​kedhatonlan ( palace ) mosque , Pandan Jarang ( in Semarang ) and Sunan Protect River ( in Demak ) .

1458 AD

In the year 1458 Demak mosque ever .
They were dalam mortality passenger Bantul Unus strength alone . mortality Unus
That’s too Sabrang North . Son or Raden Patah ( Mr ) Jimbun God .

In the year 1511

Dipati Unus of Fitness ( Death Unus mbedhah ) Jepara ,

1513 AD

in the year 1513 nglurugi ( menyerang ) Malacca . Enggone procedure procedure for nglurug from tujuh for this year . Ship can mengumpulkan half nine and thirty kehe 12.000 soldiers , and Goose Goose mriyem .

But panempuhe filter ( Portuguese mengrogoti ) Portegis nggegirisi in Malacca , ( Dipati ) Death Unus kapeksa ( had ) back and no back .

1518 AD

Unus mortality in the year 1518 but also for the great mengatasi great dhek
I have no menyamakan large . City dihancurkan they were no edits blue Empires and brought to Demak and mortality Unus admit nggenteni King
Majapahit .

1521 AD
In the year 1521 Unus mortality still www Six people and leaving ‘m a son . The Gumanti Rayi distance from Raden Trenggana , because the brother said : Flower of death

1521 AD

Streaming , son Raden disedani Trenggana , called trust .
The Sultan Trenggana stand ( years 1521-1550 ) court Demak filter strength very good, nguwasani ( master ) in West Java , ngereh cities in North and passenger mbawahake ( membawahi ) jajahan great , and the court Supit Discussion ( Tumapel )
and also kaprentah in Demak . Blambangan in belakang . Harbor Demak down kerumunan noisy , seperti : Jepara , Tuban , Gresik and Jaratan . Gresik and Jaratan kemacetan that alone , where is the closest they please from 23,000 .

1546

 In the year 1546 Sunan Gunung JATI with Sultan Trenggana want mbedhah ( memduduki ) Pasuruwan .

 City Pasuruwan ( Pasuruan ) and the kinepung ( Surround ) army ground force , but that’s no bedhah ( no Get memduduki ) , pangepunge ( pengepungannya unsubscribe ) cancel , because the Sultan of death Trenggana cinidra ( dicedrai or dilukai ) may Punakawan Santana , filter new – new this menegur . Son Sultan Trenggana information .

She has a son ‘m Manners
No ADA priyayi penyimpanan large filter . Manners are the Pajang in Bantul , a filter holder from:
Adiwijaya , the closest I Krebet , Ki Jake Tingkir or Panji Mas . son Sultan Trenggana Two : ‘ll Prawata or Sunan , and East , the Duke of Madura Subscribe Besuki .

Sunan Prawata IA membunuh Flower river of death . All Dalam son Flower River matinama someone named a person named Arya Panangsang want a mortality malesake work . People all filter named a person named Arya Panangsang membunuh people believe sagarwane , children dalam law and son Sultan Trenggana , no Get even make a person named Arya people named Panangsang dipapagake war , find missing mortality .

1576

Adiwijaya and nguwasani in Java :

( bring ketruruan court ) Amboyong blue palace and go to Pajang dijumenengake ( dinobatkan ) get the Sultan Sunan Gunung .

( Empires ) King stood Adiwijaya
the Pajang , and Blambangan

Panarukan kabawah the religious Syiwah in Blambangan , filter too
mbawahake ( membawahi ) back and Sumbawa ( year 1575 ) .

1568 AD

Jajahan jajahan in Pajang
* memerintah ) kaprentah in the area ( Duke – count ) from Surabaya , Tuban , mortality , Demak , Pemalang town city ( Gamecube ) , Purbaya ( Madiyun ) , Blitar ( Kediri ) , Selarong ( Banyumas town city ) , the court Pasundhan Pajang Nearing has no authority , due to the + / – 1568 from dimerdikakake ( dimerdekakan ) may Hasanuddin Banten , filter
Kasultanan land .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sekitar 6
Dalam Melayu kerajaan adalah sekitar 5 cerita
Dia Kartanagara enggone anjangka Palang jajahane .

Di tanah Sumatera ada yang bisa terjadi jajahan . Dalam beberapa cerita berikut,
kerajaan kerajaan Melayu . Dilaporkan raja Funan , sekitar sekitar satu abad jajahan 3 sakit kepala , ngelun Sumatera , Jawa dan lainnya lainnya , saringan raja membuat patung patung di Pasemah tanah .

 

abad ke – 7

 

Pada abad ketujuh
Sabtu golonganing dari daerah Indhu Buri , mereka tinggal di
sakiwa kanan Palembang , dan membentuk sebuah tanah yang luas , bernama kerajaan
Sriwijaya ( = Syriwijaya , sinebut di Negara Cina: Sambotsai ) . raja
raja Darah Warman , terletak sanak yang Purnawarman Darah Tanah di dhek abad ke 4 – 5 , dan Darah Mulawarman di Kutai danBorneo dhek sekitar tahun 400 . Negara Sriwijaya jajahane tentang tentang Sumateraselatan dan tengah , Malaka , Kamboja dan bahkan di Jawa . dalam686 tahun raja di negara besar Sriwijaya nglurugi di Jawa , karena dalam
Dan tidak menuju pangedhêpe Sriwijaya .

 

Pada abad 10

 tentaraperubahan nglurugi Sriwijaya , menang , tetapi tidak lagi Sriwijaya dapat kombul
lagi.
 (Penguasa Negara)Praja enggone melakukan tindakan terhadap Narendra utusan di Cina .

Pada abad 12 dan 13

di Sriwijaya Negara hancur berkeping- kerajaan kecil
kasus. Darah Warman berdiri di tanah tanah sinebut , ” Melayu “
  yang  (saat ini )saikine Jambi . Rehn pasisir tanah di mana banyak Kerusuhan Melayu , The banyak yang ngungsi negeri Loh gunung , adaMereka dedhukuh .

 

 

 

1268 masehi

 

Dan ketika pada kekuatan besar, Kartanagara(1268 – 1292) membawa kerusakan realitas , dan ngejegi (mengempur)  Jambi , Kota Riouw lokasi dan kota di pulau Kalimantan dan pulau Moloko .

 

 

Pada tahun 1268

 

ia Kartanagara angganjar
patung raja Dharmmaçraya ( Darmasraya ) mungkin terletak di tanah
Jambi, merupakan saikine tidak jauh dari Sungai Lansat . Kerajaan Besuki
termasuk jajahan Majapahit ,

 

Rajani Darah Warman jejuluk Tribuwana ( Mauliwarman ) memiliki istri-istri Melayu , putri ( putra putri ) Ayak dai Raden Wijaya istri yang penuh kasih .

 

Raja Tribhuwana terlibat dalam tanah (Menduduki )nglurugi mph Hulu . Cerita Melayu , lurugan Mereka mungkin tidak membuat , hanya karena judul disertakan , kehilangan (Kekuasaan)enggone adu Kebo , sehingga kota mereka dan nama Minangkabau .

 

 

1275- 1293 masehi

 

Dalam saantaraning tahun 1275 dan 1293 dari tanah nglurugi *menimbun) Jambi merupakan gunung tanah Besuki merasa Minangkabau . (Penyerbuan) Lurugan disebut : Pamalayu .

 

 

1347 masehi  

 

Tidak ada wilayah yang Kerajaan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman tanah di Malayupura , yang pada tahun 1347 memiliki Kebebasan , ambawa pribadi, nglurugi (menduduki)Minangkabau , tapi tidak sampai perang , dan bahkan kemudian diangkat menjadi raja di sana, karena Aku dianggap Melayu. Berdiri di Minangkabau

 


tahun 1347 sampai 1375 ,

(Menurut cerita ) kecrita kebijaksanaan dan baik memegang praja (Pemerintahan Negara) .Tumeka hari Adityawarman dan dua hamba bernama Papatih Sabatang dan Kyai Katumanggungan dipundhi adalah di mana orang-orang Minangkabau .

 Sapungkure Aditya tidak memiliki raja di Minangkabau  (menurut cerita) The kecrita . Negara hancur hancur , sekarang adalah titik , yang (keluhuran) kaluhuraning raja Indhu rumah, di tanah di mana Minangkabau , lebih dari bahasa dan sastra . Darah di raja kuno raja Minangkabau itu tidak lama low-end dari putri terakhir, Saya sekarang kematian .

 

 

1377 masehi

 

Pada tahun 1377 Kota Palembang di Sanbotsai rinusak di teir man
Dia Ayamwuruk
(Hayam Wuruk)  . Kekuatan Palembang atas nama seseorang bernama Arya Cahaya nurunake (turunan)  Raden Patah ( + / – 1500 tahun ) .

 

Sejak runtuhnya istana Majapahit , Palembang juga Katut disayangkan , Besuki kehilangan Banten . Kaluhuraning Tanah di selatan Sumatera di mana hingga saat ini ia juga banyak mantan trails.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertama 07 segmen

sekitar 7
Perang dan Cina adegan Majapahit ( 1292)


Di tengah tengah tahun 1292 Kaisar Chubilai terjadi pasukan ngangkatake
Tanah untuk tentara dalam kebutuhan untuk mengutuk Kartanagara . diPace ( Surabaya ) , kapal hilang , dan tentara Cina untuk nglurugi9 Daha ,

Saya pikir terletak Kartanagara (yang adalah ketika Anda mati) . dilaporkan Raden Wijaya dhek samono telah sejak  (membelot) mbalela Jayakatwang yang raja Daha . Karena Anda dapat memiliki harapan dibantu Cina hancur raja Daha , Raden Wijaya jadi dan menyediakan ethok ethok Teluk senapati( upeti untuk kaisar)  Cina .

 

Tidak lagi seperti yang diharapkan jarak Majapahit , Raden terletak Wijaya diambil dalam Daha tersebut , Raden Wijaya mendapatkan bantuan Cina bisa menang .

 

1293 masehi

 

Akhirnya , pada tahun 1293 di kota yang terkepung dari Daha (jendral tiongkok Shi Phi)  teir man Shih PIH dan Raden Wijaya , Daha  (diduduki) bedhah ,  (Dicekal)kacekel raja , raja Peni Peni Peni dijarah Rayah , Raden Wijaya Anda putri putri , putra Raja Kartanagara dilakukan oncad ke Majapahit .

 

 Bukan waktu , karena ( akalnya )Akali Wiraraja , Raden Wijaya akan digulingkan tentara Cina . Wondene tentara , meskipun bergegas kekuatan susu masih dapat membawa barang rayahan , saya pengaji dengan jutaan Tail dan seratus tahanan Daha . Raden Wijaya dan berdiri di rajaMajapahit ,                                                                                                        jejuluk (diberi gelar atau dijuluki)                                                                                                Kertarejasa Jayawardhana atau UB I ( tahun 1294 -1309 ) .

Setelah berdiri raja , raja -tama saya anggeganjar yang bisa Labuhan , kepadanya . Wiraraja dibagehi tanah Lumajang kotakali berturut-turut . Dia Kartanagara empat dari mereka istrinya , dan anagarwa Paminggir salah satu Melayu bernama Sri Indresywari . istriPaminggir adalah raja memiliki seorang putra R. Kaligemet , yang Besuki nggentos
Raja istana , ajejuluk Jayanegara , Prameswari dari beruang putri
dua .

 

1295 masehi

 

Pada tahun 1295 R. Kalagemet yang sataun usia diangkat menjadi kematian raja Kediri , ibu dari (Mengemaban memegang)ngembani memegang Praja ( pemerintahan kerajaan) Kediri.

 

Ketika ia Kertarejasa Jayawardhana TanahJawa dengan Cina yang baik lagi , perdagangan besar, China datang di TanahIntinya saya , perak , merjan , sutra biru, bunga kapas sutra,tentara hancur dan besi tambahan . Dari Tanah Jawa , kulak Cina: beras, kopikacang , Rami , bumbon craken lebih dari Mrican , produk atau barang i
perak, kuningan atau makeup perunggu , benang katun dan sutra ,Welirang , warna gading , cula saleh , warna warna kayu , burung dan produk jakatuwa
nam naman .

Di Tanah Jawa pada saat itu banyak palabuhan kemacetan , seperti: Tuban , Sedayu ;
Canggu . Raja itu pada hari-hari ke istana Majapahit menjadi dibasakake
pemberontakan ungsum .

 

 Ksatria yang sakit bergerak di Lapa dhek hari Raden Wijaya Sekarang tidak mendapatkan hati , karena satu-satunya aturan anggega hamba bernamaMahapati , menempatkan Knight dari perubahan dan perubahan untuk merumuskan , Tapi rendah hati dan jurite .

 

1328 masehi

 

Pada tahun 1328 raja meninggal, dicidra *dicederakan) paranormal yang didhawuhi ambedhel ( disekujur) tubuh . Sasedane dari Jayanegara Gumanti putri saudaranya , yang meminjam Bhreng hidup dan jejuluk (dijuluki dengan gelar) Jayawisynuwardhani . Menetapkan Dewi Manners mendapatkan Knight , teman Kartawardhana , terkenal cerdas, bersemangat dan tegak lurus penggalihe .

 

The Prince diangkat menjadi pangeran dan jaksa duduk di Singhasari sawewengkone . Gajahmada warangkaning raja . Gajahmada ingin (menaklukan seluruh tanah pulau ) nungkulake satanah seluruh pulau dan pulau sakiwatengene .

 

 

1334 masehi

 

Tidak ada jarak lagi 1334 adalah tahun Sumbawa dan Bali  (diduduki dan dibawah ) bedhah dan kabawah Majapahit , Bali dan perbedaan tersebut *membawakan) mbawahake Lombok , Madura ,Blambangan dan Selebes sabageyan . Senapatining prajurit sakit kepala jajahan luar Jawa bernama Nala .

 

Pada tahun 1334 putri Raja lahir terbuka kakek diparabi Ayam Wuruk ( di kunjungi Hayam Wukuk), dan dijumenengake ( dinonatkanke ) raja , tapi masih
diembani
( digendong )  ibunya sampai tahun 1350.

 

08 , perang pertama

sekitar 8
Ayam Wuruk , Suriah Rajasanagara ,
Raja Majapahit IV ( tahun 1350-1389 )


Karena besarnya lelabuhane Gajahmada Gubernur , Negara Majapahit waktu saya
listrik terkenal saya . Dia masih berdiri ayam Wuruk besar Raja
binathara ngereh sapepadhaning raja .

 

Manners mendapatkan raja nakdhereke dirinya wewangi Retna Susumnadewi . The Santanu padhaginadhuhan memiliki tanah di samurwate mereka sendiri . The kuwajibane dari santana dan Duke di musim ini harus memiliki ditamtokake menghadapi
arahnya Raja, jadi semua yang mereka miliki kita dalam good good
Majapahit , muwuhi Negara Asrining .

 

Dalam makhluk Minggu merasa
” Prapanca ” ( Buddhisme ) .

 

1365 masehi

 

Pada tahun 1365 masyarakat bernama dengan huruf Nagarakertagama . Ada Oleh karena itu , masyarakat diberi nama dengan surat Tantular Arjunawiwaha .

 

Majapahit di emeh mbawahake satanah Indhiya( membawahi seluruh tanah Indonesia)
East semua , seperti: Jawa Timur dan Jawa Tengah , Sumatera , Lampung sejak
yang Bu Acih ( Perlak ) , Kalimantan ( Banjarmasin ) , Selebes ( Banggawai , Salaiya ,
Bantaiyan ) , FLORES ( Larantuka ) , Sumbawa ( Dompo ) , Malaka dan saparoning
sabageyaning Nieuw Guinea .
Majapahit tidak ditelukake (dtalukan)  .

 

Raja berdiri di tanah Majapahit
(dijuluki atau diberi gelar ) ajejuluk memiliki Wangi , putra putri mendekati Wuruk ayam dia dicaosake , tapi dia Wangi (harum)  dan tidak teratur Gajahmada gubernur , sampai
perang . Ia meninggal pada perwira militer Wangi dan banyak orang mati pada hari Minggu
iliter, tetapi tidak tanah di bawah Majapahit Majapahit , masih Didirikan sendiri
melalui sisanya .

 

Times samono Paro belajar atau Pemerintah ( Buddhisme atau Syiwah )
akan melakukan tanah paprentahan , sehingga mereka memberi duduknya

Kami memiliki bumi disebut : Pradikan . Padesan sekitar Borobudur atau padhepokaning(pedepokan atu tempat perguruan)  Pemerintah dan bumi pradikan , yang
diperlukan perawatan dan ngopeni
(mengurus pedepokan) Borobudur padhepokan itu .

 

Saya memiliki lainnya dikenakan pajak(per puluhan pajak bumi)  prapuluhan ( saprapuluhing pametuning bumine ) , dan tunduk pada (kepegawaian) pagaweyan pegunungan Gugur dan sapepadhane . Rajakaya upeti , upeti panggaotan dan kapal feri pada saat samono dia . Pametoning Praja berlebihan ,
Biaya perlu berjuang untuk raja istana , dan raja dan
(yayasan) yeyasan Negara , seperti: royal , )gedung-gedung)  Gedhong Gedhong , guest house guest house dan banyak lagi.

Di tanah rumah Majapahit good good , sirup payone , dan keluarga
Standar
(dipagar gedek dari daun dan bamboo) apager gedheg , tetapi pada racake ada pethine batu(pada tiangnya dari batu) yang kuat perlu menjaga pangaji baik.

 

 Orang dhek samono sama seperti nginang , suka membeli mereka dari tentara hancur
pengusaha Cina , pembayaran uang yang di-reset . priarambut Ngor , perempuan whorl kondhe
(berkonde atau nersanggung yang digulung) . Karena orang-orang muda
Keris dengan senjata , dan senjata sering diempakake . dan kalau
off massa membakar , jika Anda masih orang-orang hebat dan suami kaya Suaminya ( janda janda ) terlibat dalam membakar(kremasi orang kaya diikuti oleh janda isterinya) . Tidak jauh dari tanah di mana ada adu adu kepada hewan atau orang-orang atau karameyan(keramaian)  pilihan lain .

Dewan bernama ” Bubat ” .

 

Raja Lela sering meninggalkan negara, dalam Blambangan berturut-turut ia (diberkahi perkara ) dirawuhi.Prakara perdagangan adalah sangat besar , karena *memajukan pelayaran keneri-negri dibawah kekuasaan Majapahit menyebrang lautan )majuning lelayaran Kagawa kehing Negara Negara kabawah Majapahit Anda tetap Letan
laut .

 

Tentang apa saja, seperti : ukiran terukir sapepadhane , kombule Tanah
Jawa Timur dhek mengakhiri berabad-abad katelulas , dan pada abad pertama
Pat selusin , saya hanya panggawene patung patung yang merupakan cara terbaik
( ditutuntun Hindu) tuntunaning Indhu atau mereplikasi Indhu apapun.

 

Singkat cerita : The dia punya ayam Wuruk (Hayam Wuruk) dari Majapahit adalah menang menang , Aku Onjo hal.

 

1389 masei

 

Dia meninggal ayam Wuruk(Pada saat Hayam Wuruk meninggal) lahir  anak  dari  selir ” Bhre Wirabhumi ” raja berdiri dibagian timur . (penganten turunan Majapahit ) The nggenteni keprabon Majapahit anak menantu raja , (diberi julukan gelar) ajejuluk Wikramawardhana ( tahun 1389-1400 ) .

 

 

Pada tahun 1400-1428


seleh keprabon
(Steklah turun tahta)  , mandhita Anda inginkan , tetapi sapengkere mengatur, anak dan ras yang Sentani nggenteni keprabon(turun tahta)  . dia Wikramawardhana kapeksa dan kembali ke raja berdiri sampai dengan tahun 1428 .

Selama dia update resume adalah jerami Santanu yang kabanjur merumuskan raja kerajaan Jengka . Rehn

 

Perang ini sampai waktu menjaga kerugian dan kerusakan di banyak besar , Selama tiga bay di tanah mbangkang berani dan sabrang(Seberang lautan)  belum Saya kabawah (dibawa) Majapahit .

 

1428 masehi

 

Aturan saya lakukan dan rusak. Tentang paten pinaten telah menjadi standar. Banyak orang bermain dan adu kandidat ukuran totohane . dalam Tahun 1428 – 1447 putri raja berdiri mengatur jejuluk Retna Dewi Suhita , anak dari istri yang Wikramawardhana Paminggir . Kesiapan

 

1447 masehi

 

Dan kemudian Dia Kertawijaya (1447 – 1452) dan Raja Bhra Hiyang Purwawisyesa
(1456 – 1466) , Pandan Salas (1446 – 1468) , dan Bhrawijaya V ( 1468 –
1478 ) .

 

Sebagai raja raja Tawarikh akhirnya adalah tidak ringan , sehingga tidak ada
disebutkan . Ada raja Keling tanah ( Salor Kediri Timur, Barat sakidul
Surabaya ) jejuluk (diberi gelar)memiliki Ranawijaya Giridrawardhana sakit kepala jajahan nelukake (menaklukan) Jenggala , Kediri dan  meduduki Majapahit mbedhah ( tahun 1478 ) . Bedhahe (bedanya)Majapahit Ini bukan kota mereka dihancurkan ,

 

1521 -1541 masehi

 

sejak tahun 1521 dan 1541 Majapahit lahan (menurut cerita)kecrita dari besar . Semakin lama waktu Majapahit rusak , karena Orang tidak suka kerajaan kaereh perubahan lain adalah perubahan untuk meninggalkan negara , (membuka ) nglereg tanah kembali .

 

Sekarang Majapahit hanya tingkat I patilasan (candi),


mantan pagar bata di sekitar bekas gerbang ( bidang Borobudur , Bajang Raja ) .
Masih era Majapahit , Islam dalam beberapa , saya
Semakin banyak waktu saya bisa mengatasi Indhu agama usaha di Jawa Timur .

Sebagai kaananing Majapahit pada saat kematian tidak kasumurupan .

Setelah berabad-abad Raya Tarumanagara dhek 4 dan 5 , hanya dilaporkan Kerajaan Majapahit pada tahun 1030 diperkirakan mencapai tanah Cibadhak . Enggone tidak
tak seorang pun di resmi itu , karena bajag kehing
dengan penumpang berturut-turut .

 

Di timur ada priyangan Raya Galuh merasa saringan raja ngadegake bernama Warisan , lain Raja jejuluk Wastukencana dan Wang ( g ) i . pada tahun 1433 Raja diva melakukan RajaPurana , ngadegake baru kota bernama Pakuan ( Batutulis ) . Raya bernama Pajajaran . Ditulis dalam batu yang menjelaskan membuat laut . Pajajaran Raya semune sedikit lebih besar dan ngerehake Cirebonan produk .

 

 

 

 

Segmen Tawarikh ganda Tanah dari tempat kejadian

Raya dan Kerajaan Bangsa Europa Islam sampai
Raya gempal dari kerajaan Mataram dan jatuh Vereenig de Oost Indische
Compagenie ( VOC ) pada 1500-1799 .
09 segmen double-


Bab 1
Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang + / – tahun 1500-1582
Mulai dari Tanah Islam adalah tahun 1400-1425 .

 

 

 

Pada tahun 1292

 

tanah Perlak di pulau Sumatera adalah seorang Muslim , dalam 1300 adalah tahun Islam realitas hidup laut .

 

 Abad-abad berakhir 14 kali di Malaka juga memiliki Islam.Tekane sama Gujarat .
Dari Malaka di mana Islam mencar Tanah , tanah Cina ,
(India) Indhiya Buri dan layar Indhiya(india)  .

 

(Timbulnya atau memancarnya atay Berkembangnya  )                                                                                                          The mencarake Islam di Tanah Java

 

 adalah pedagang di Tuban Jawa dan Gresik , yang dedagangan(berdagang) di Malaka , kajian Islam , sehingga Islam terkadhang kadang dipaksa . Trader pedagang Jawa dan kembalinya Tanah Timur, pedagang dan Indhu pers juga datang ke sana dan dia mencarake(mengembangkan ) Islam dan orang-orang .

 

1419 masehi

 

Yang terkenal adalah:                                                                                                                                                                profil lengkap Ibrahim Malik ‘ s ( Pers ) ,                                                                                         meninggal di Gresik pada tahun 1419 , sekarang pasareane .*pasareannya)

 


Kekuatan istana Majapahit saya mengurangi waktu saya , di Bantul
pasisir Merasa kekuatan besar , mampu melakukan sakarep (semau yang mereka)  inginkan. itu
Bantul sudah sama sejak Islam tumapaking abad 16 ( tahun
1500 – 1525) , karena sering saya bertarung dengan raja agama Indhu

Saya tinggal di tengah-tengah Tanah .

Kisah : Raja Majapahit Kertawijaya telah dengan Manners
Putri Anak Domba ( tanah Indhiya Buri ) .

 

 Perempuan punya ibu kapernah dengan kecil                                                                                    Raden hadiah atau Sunan Ngampel ( sekitar Surabaya ) .

 

Sunan Ngampel punya satu anak , nama Sunan Bonang , salah satu anak perempuan dan anak , nama Pangeran Besar Malaka . Besar Malaka Pangeran marasepuhe Raden Patah atau Tuhan Jimbun , yaitu sinebut(disebut) :                                                                                 Sultan Demak pertama.

Sunan Ngampel dan Sunan Bonang adalah para Wali . The Wali
Mereka dikenal : Sunan Gunung ( sakidul Gresik ) , ada yang dibuat kedhatonlan
(keraton) masjid , Pandan Jarang ( di Semarang ) dan Sunan Sungai Protect ( di Demak ) .

1458 masehi

 

Pada tahun 1458 masjid Demak baik .
Mereka dalam kematian penumpang Bantul Unus kekuatan sendiri . kematian Unus
itu juga Sabrang Utara. Putra Raden Patah atau
(Tuan) Tuhan Jimbun .

 

 

Pada tahun 1511

 

Dipati Unus menduduki (Death Unus mbedhah ) Jepara ,

 

1513 masehi

 

pada tahun 1513 nglurugi (menyerang )  Malaka . Enggone prosedur prosedur untuk nglurug dari tujuh untuk tahun ini . Kapal bisa mengumpulkan sampai sembilan puluh kehe dan 12.000 prajurit , dan banyak banyak mriyem .

 

Tapi panempuhe yang (Portugis mengrogoti) Portegis nggegirisi di Malaka ,(Dipati)  Death Unus kapeksa (terpaksa)  kembali dan tidak kembali .

 

1518 masehi

 

Kematian Unus pada tahun 1518 tetapi juga untuk mengatasi Majapahit Majapahit dhek
Saya tidak menyamakan besar . Kota mereka dihancurkan tidak hanya keturunan kerajaan
dan dibawa ke Demak dan Kematian Unus mengaku nggenteni Raja
Majapahit .

1521 masehi

Pada tahun 1521  Kematian Dipati Unus  dan  masih ada enam orang lagi yang  tewas dan meninggalkan seorang putra . The Gumanti Rayi jarak dari Raden Trenggana , karena kakaknya berkata : Bunga meninggal

1521 masehi

 

Streaming , putra Raden disedani Trenggana , bernama percaya .
The Sultan Trenggana berdiri ( tahun 1521-1550 ) istana Demak
kekuatan yang sangat baik , nguwasani (menguasai) di Jawa Barat , ngereh kota di penumpang utara dan mbawahake (membawahi)  jajahan Majapahit , dan istana Supit Discussion ( Tumapel )
dan juga kaprentah di Demak . Blambangan di belakang.
Harbor Demak bawah kerumunan berisik, seperti: Jepara , Tuban , Gresik dan Jaratan . Gresik dan Jaratan kemacetan itu sendiri , yang pada di mana lebih dari 23.000 .

 

1546

 

 Pada tahun 1546 Sunan Gunung JATI dengan Sultan Trenggana ingin mbedhah (memduduki) Pasuruwan .

 

 

 

 Kota Pasuruwan (pasuruan) dan kinepung di (kepung) tentara angkatan darat , tapi itu tidak bedhah(tidak dapat memduduki)  , pangepunge(pengepungannya batal )  membatalkan , karena Sultan Trenggana meninggal cinidra (dicedrai atau dilukai ) oleh Punakawan Santana , yang baru-baru ini menegur . Putra Sultan Trenggana informasi .

 

Dia memiliki seorang putra Manners
Tidak ada priyayi penyimpanan yang besar. Manners adalah Pajang di Bantul , yang merupakan nama dari :
Adiwijaya , yang saya Krebet , Ki Jake Tingkir atau Mas Panji . putra Sultan
Trenggana dua: percaya atau Sunan Prawata , dan Timur ,di Besuki Adipati Madura .

 

Sunan Prawata ia membunuh Bunga meninggal sungai . Dalam semua putra Bunga Sungai matinama seseorang bernama Arya Panangsang ingin kematian malesake ayahnya . semua orang yang bernama Arya Panangsang membunuh orang-orang percaya sagarwane , anak dalam hukum dan anak Sultan Trenggana , tidak dapat membuat bahkan orang bernama Arya Panangsang dipapagake perang , hilang menemukan kematian.

 

1576

 

Adiwijaya dan nguwasaniMenguasai )  di Jawa :

 

(membawa ketruruan istana) Amboyong istana keturunan dan pergi ke Pajang dijumenengake  ( dinobatkan) oleh Sultan Sunan Gunung .

 

(Kerajaan) Raja berdiri Adiwijaya

di Pajang , dan Blambangan

Panarukan kabawah raja agama Syiwah di Blambangan , yang juga
mbawahake
(membawahi) Bali dan Sumbawa ( tahun 1575 ) .

 

 

 

1568 masehi

 

Jajahan jajahan di Pajang
*memerintah)kaprentah di daerah ( Duke -pangeran) dari Surabaya , Tuban , Kematian , Demak ,Pemalang kota ( Gamecube ) , Purbaya ( Madiyun ) , Blitar ( Kediri ) , Selarong ( Banyumas kota ) , di istana Pasundhan Pajang hampir tidak memiliki kewenangan , karena di + / – 1568 dari dimerdikakake(dimerdekakan)  Banten oleh Hasanuddin , yang
Kasultanan tanah .

Is this translation better than the original?

Yes, submit translation

Thank you for your submission.

Please help Google Translate improve quality for your language here.

 

 

 

 

 

 

 

 

 Original info

Bab 6
Karajan Melayu Ing Bab 5 ana critane
Prabu Kartanagara enggone anjangka undhaking jajahane.


Ana ing tanah Sumatra kelakon bisa oleh jajahan. Ing ngisor iki crita sathithik
tumraping karajan karajan ing tanah Melayu. Kacarita ratu ing Funan, kira
kira ing sajroning abad 3 ngelar jajahan, ngelun tanah Sumatra, Jawa lan liya
liyane, ayake ratu iku kang yasa reca reca ing tanah Pasemah. Ing abad kapitu
ana golonganing para pangeran saka ing Indhu Buri, padha manggon ing
sakiwa tengening Palembang, banjur ngedegake nagara gedhe, jenenge karajan
çrivijaya (= Syriwijaya, sinebut ing bangsa Cina nagara: Sambotsai). Ratu
ratune padha darah Warman, isih dumunung sanak karo darah Purnawarman
ing Tanah Jawa dhek abad 4 – 5, apadene darah Mulawarman ing Kutai lan
Borneo dhek watara tahun 400. Nagara çrivijaya jajahane kira kira Sumatra
sisih kidul lan tengah, Malaka, Kamboja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing
tahun 686 ratu agung ing negara çrivijaya nglurugi Tanah Jawa, awit Tanah
Jawa ora tuhu pangedhêpe marang çrivijaya. Sajroning abad 10 prajurit Jawa
genti nglurugi çrivijaya, menang, nanging ora suwe çrivijaya bisa kombul
maneh. Praja iku ajeg enggone nglakokake utusan marang Narendra ing Cina.
Ing sajroning abad 12 lan 13 nagara gedhe çrivijaya pecah dadi karajan cilik
cilik. Darah Warman jumeneng ana ing tanah kang sinebut tanah: “Melayu”
yaiku saikine Jambi. Rehning pasisire tanah Melayu kono akeh rerusuh, wonge
akeh kang padha ngungsi marang tanah pagunungan kang loh, ana ing kono
padha dedhukuh. Bareng Tanah Jawa gedhe panguwasane, Prabu Kartanagara
(1268 – 1292) kalakon bisa ngrusak kutha Pasei, lan ngejegi Jambi,
Palembang, Riouw sarta kutha kutha akeh ing Borneo apadene pulo pulo ing
Moloko. Ing saantaraning tahun 1275 lan 1293 wong Jawa nglurugi tanah
pagunungan Jambi mau yaiku tanah kang besuke aran Menangkabau.
Lurugan iku diarani: Pamalayu. Ing tahun 1268 Prabu Kartanagara angganjar
reca marang ratu ing Dharmmaçraya (Darmasraya) uga dumunung ing tanah
Jambi, ing saikine ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing besuke
kalebu jajahan Majapait, rajane darah Warman jejuluk Tribuwana
(Mauliwarman) kagungan garwa bangsa Melayu, kang putrine (putrane putri)
ayake dai garwane Raden Wijaya biyen. Sang Raja Tribhuwana melu karo
bangsa Jawa nglurugi tanah Padhang Hulu. Miturut carita Melayu, lurugan
mau ora oleh gawe, mung marga saka klebu ing gelar, kalah enggone adu kebo,
mulane kuthane banjur jeneng Menangkabau iku. Ana raja wewengkone
karajan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman nagarane ing Malayupura, kang
ing tahun 1347 wus merdika, ambawa pribadhi, iku nglurugi Menangkabau,
nanging ora nganti dadi perang, malah banjur diangkat dadi raja ing kono, awit
pancen dianggep bangsa Melayu. Jumenenge ana ing Menangkabau wiwit
tahun 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanane lan pintere nyekel praja.Tumeka saprene Sang Adityawarman sarta nayakane loro kang aran Papatih
Sabatang lan Kyai Katumanggungan isih dipundhi pundhi marang bangsa
Menangkabau. Sapungkure Sang Aditya wis ora ana raja ing Menangkabau
kang kecrita. Negarane pecah pecah, ing saiki isih akeh titike, mungguh ing
kaluhuraning para raja Jawa asal Indhu, ana ing tanah Menangkabau kono,
luwih luwih tumraping basa lan sastrane. Darah raja raja kuna ing
Menangkabau mau enteke durung lawas, kang pungkas pungkasan putri,
sedane lagi saiki bae.
Ing tahun 1377 kutha Sanbotsai ing tanah Palembang rinusak ing balane
Prabu Ayamwuruk. Kang kuwasa ing tanah Palembang kasebut jeneng Arya
Damar nurunake Raden Patah (+/- tahun 1500). Awit saka ambruking karaton
Majapait, Palembang iya katut apes, besuke kalah karo Banten. Kaluhuraning
Tanah Jawa ana ing Sumatra sisih kidul kono tumekane dina iki uga iya isih
akeh tilas tilase.
07 Perangan Kang Kapisan

Bab 7
Perang Cina lan Adege Karajan Majapait (1292)
Ing tengah tengahane tahun 1292 Maharaja Chubilai sida ngangkatake wadya
bala menyang ing Tanah Jawa perlu arep ngukum Prabu Kartanagara. Ana ing
pacekan (Surabaya) prau Jawa kalah, nuli bala Cina arep nglurugi9 Daha,
kang dikira panggonane Kartanagara (kang nalika iku wis seda). Kacarita
Raden Wijaya dhek jaman samono wus wiwit mbalela marang Jayakatwang
ratu ing Daha. Sarehne duwe pangarep arep bisaa ditulungi ing Cina numpes
ratu ing Daha, mulane Raden Wijaya banjur gawe gelar ethok ethok arep teluk
marang senapati Cina. Kabeneran ora let suwe Majapait, panggonane Raden
Wijaya ditempuh ing wong Daha, Raden Wijaya entuk pitulungane wong Cina
bisa menang. Wasana ing tahun 1293 kutha Daha dikepung ing balane Shih
Pih lan Raden Wijaya, Daha bedhah, ratune kacekel, peni peni raja peni dijarah
rayah, Raden Wijaya nulungi putri putri, putrane Prabu Kartanagara digawa
oncad menyang Majapait. Ora antara suwe, marga saka akale Wiraraja, Raden
Wijaya bisa ngusir prajurit Cina. Wondene prajurit mau, senadyan kesusu
susu meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengaji mas satengah yuta tail
lan tawanan wong satus saka Daha. Raden Wijaya banjur jumeneng Nata ing
Majapait, jejuluk Kertarejasa Jayawardhana utawa Brawijaya I (tahun 1294 –
1309).
Sawise jumeneng Nata, Sang Prabu anggeganjar marang sakabehing kawula
kang maune labuh, marang panjenengane. Wiraraja dibagehi tanah Lumajang
saurute. Putrine Kartanagara papat pisan dadi garwane Sang Prabu, lan isi anagarwa paminggir siji saka tanah Melayu aran Sri Indresywari. Saka garwa
paminggir iki Sang Prabu kagungan putra R. Kaligemet, kang besuke nggentos
kaprabon, ajejuluk Jayanegara, saka Prameswari Sang Prabu peputra putri
loro. Ing tahun 1295 R. Kalagemet lagi yuswa sataun wis diangkat dadi
pangeran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibune kang ngembani nyekel praja
Kedhiri. Ing nalika panjenengane Prabu Kertarejasa Jayawardhana iku, Tanah
Jawa karo Cina becik maneh, perdagangane gedhe, wong Cina teka ing Tanah
Jawa nggawa mas, salaka, merjan, sutra biru, sutra kembang kembangan,
bala pecah lan dandanan wesi. Saka ing Tanah Jawa, Cina kulak: beras, kopi
kapri, rami, bumbon craken luwih luwih mrica, barang barang mas utawa
salaka, bangsa dandanan kuningan utawa tembaga, tenunan kapas lan sutra,
welirang, gading, cula warak, kayu warna warna, manuk jakatuwa lan barang
nam naman.
Ing Tanah Jawa ing wektu iku akeh palabuhan rame, kayata: Tuban, Sedayu;
Canggu. Nalika jamane ratu iki ing bawah karaton Majapait kena dibasakake
ungsum kraman. Para satriya kang melu lara lapa dhek jamane Raden Wijaya
saiki ora oleh ati, awit Sang Prabu mung anggega aturing nayakane kang aran
Mahapati, wasana para satriya mau banjur genti genti padha ngraman,
nanging temahan asor jurite. Ing tahun 1328 Sang Prabu seda, dicidra ing
dukun kang didhawuhi ambedhel salirane. Sasedane Prabu Jayanegara kang
gumanti sadhereke putri, kang sesilih Bhreng Kauripan banjur jejuluk
Jayawisynuwardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih
Kartawardhana, misuwur pinter, sregep lan jejeg penggalihe. Sang Pangeran
diangkat dadi panggedhening jaksa lan oleh lungguh bumi Singasari
sawewengkone. Gajahmada dadi warangkaning ratu. Karepe Gajahmada arep
nungkulake satanah Jawa kabeh lan pulo pulo sakiwatengene. Ora let suwe
yaiku tahun 1334 Sumbawa lan Bali bedhah banjur kabawah marang
Majapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahake Lombok, Madura,
Blambangan lan Selebes sabageyan. Senapatining prajurit kang ngelar jajahan
ing sajabaning Jawa aran Nala. Ing tahun 1334 Sang Raja putri mbabar miyos
kakung diparabi Ayam Wuruk, kang banjur dijumenengake Nata, nanging isih
diembani kang ibu nganti tekan tahun 1350.
08 Perangan Kang Kapisan

Bab 8
Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara,
Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 – 1389)
Awit saking gedhene lelabuhane Patih Gajahmada, nagara Majapait saya suwe
saya misuwur kuwasane. Prabu Ayam Wuruk tetep jumeneng ratu agung
binathara ngereh sapepadhaning ratu. Sang Nata krama oleh nakdhereke
piyambak kang wewangi Retna Susumnadewi. Para santanane padhaginadhuhan tanah dhewe dhewe ing samurwate. Dene kuwajibane para
santana utawa adipati mau ing mangsa kang wus ditamtokake kudu ngadhep
ing panjenengane Nata, mulane kabeh padha duwe dalem becik becik ana ing
Majapait, muwuhi asrining nagara. Ing jaman iku ana pujangga kraton aran
“Prapanca” (Budha). Ing tahun 1365 pujangga iki nganggit layang kang aran
Nagarakertagama. Ana maneh pujangga aran Empu Tantular nganggit layang
Arjunawiwaha. Majapait ing wektu iku emeh mbawahake satanah Indhiya
Wetan kabeh, kayata: Tanah Jawa Wetan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung
tekan Acih (Perlak), Borneo (Banjarmasin), Selebes (Banggawai, Salaiya,
Bantaiyan), Flores (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan
sabageyaning Nieuw Guinea.
Tanah Sundha ora ditelukake. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau
ajejuluk Prabu Wangi, putrane putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosake,
ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi
perang. Prabu Wangi seda ing paprangan lan akeh punggawane kang mati ana
paprangan; ewadene tanah Sundha ora dibawah Majapait, isih madeg dhewe
ing sateruse.
Ing Jaman samono paro ajar utawa pandhita (agama Budha utawa Syiwah)
melu nindakake paprentahan nagara, mulane padha diparingi lungguh bumi
dhewe dhewe kang diarani bumi: Pradikan. Padesan ing sakubenging candhi
utawa padhepokaning para pandhita lumrahe uga dadi bumi pradikan, wonge
diwajibake jaga lan ngopeni candhi padhepokan mau. Kawula liyane padha
kena pajeg prapuluhan (saprapuluhing pametuning bumine), lan kena ing
pagaweyan gugur gunung lan sapepadhane. Pajeg rajakaya, pajeg panggaotan
lan tambangan ing wektu samono iya wis ana. Pametoning praja gedhe banget,
perlu kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo
yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan
pasanggrahan lan liya liyane.
Ing nagara Majapait wis akeh omah kang becik becik, payone sirap, dene omah
kang lumrah padha apager gedheg, ananging ing jero racake ana pethine watu
kang santosa perlu kanggo nyimpen barange kang pangaji. Wong wong dhek
jaman samono padha doyan nginang, senengane padha tuku bala pecah saka
juragan Cina, pambayare nganggo dhuwit sing diarani Kepeng. Wong lanang
padha ngore rambut, wong wadon gelungan kondhe. Wiwit enom wong wong
padha nganggo gegaman keris, lan gegaman iku kerep diempakake. Wong yen
mati jisime diobong, yen sing mati iku bangsa luhur utawa wong sugih bojo
bojone (randha randhane) padha melu obong. Ora adoh saka nagara ana papan
kanggo adu adu kewan utawa uwong utawa kanggo karameyan liya liyane.
Papan iku arane “Bubat”. Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing
Blambangan saurute iya tau dirawuhi.Prakara perdagangan iya dadi gedhe banget, awit saka majuning lelayaran
kagawa saka kehing nagara nagara kang kabawah ing Majapait sing kelet letan
sagara. Bab kagunan, kayata: ngukir ukir sapepadhane, kombule ing Tanah
Jawa Wetan dhek pungkasane abad kang katelulas, lan ing wiwitane abad
kang pat belas, mung bae panggawene reca reca kang apik apik iku nganggo
tuntunaning wong Indhu utawa nurun kagunan Indhu. Cekaking carita: Nalika
panjenengane Prabu Ayam Wuruk iku, Majapait lagi unggul unggule,
samubarang lagi sarwa onjo. Prabu Ayam Wuruk tilar putra kakung miyos
saka selir asma “Bhre Wirabhumi” jumeneng Nata ana ing bageyan kang
wetan. Dene kang nggenteni keprabon Majapait putra mantune Sang Nata,
ajejuluk Wikramawardhana (tahun 1389 – 1400). Ing tahun 1400 Sang Prabu
seleh keprabon, kersane arep mandhita, ananging sapengkere Sang nata, putra
lan sentanane padha rebutan nggenteni keprabon. Prabu Wikramawardhana
banjur kapeksa kundur jumeneng ratu maneh nganti tekan tahun 1428.
Sajroning jumeneng sing keri iki Sang Prabu nerusake merangi santanane
kang wus kabanjur ngraman nalika Sang Prabu jengkar saka kraton. Rehning
perang iki nganti suwe dadi nganakake kapitunan akeh lan karusakan gedhe,
awit teluk telukan ing tanah sabrang banjur padha wani mbangkang wus ora
gelem kabawah Majapait. Tataning kawula iya banjur rusak. Prakara paten
pinaten wis dadi lumrah. Akeh wong main lan adu jago totohane gedheni. Ing
tahun 1428 – 1447 kang jumeneng nata ratu putri jejuluk Retna Dewi Suhita,
putrane Prabu Wikramawardhana saka garwa paminggir. Teruse banjur banjur
Prabu Kertawijaya (1447 – 1452) lan maneh Prabu Bhra Hiyang Purwawisyesa
(1456 – 1466), Pandan Salas (1446 – 1468), banjur Prabu Bhrawijaya V (1468 –
1478). Mungguh babade ratu ratu kang wekasan iki ora terang, mulane ora
disebutake. Ana ratu ing nagara Keling (salor wetane Kedhiri, sakidul kulone
Surabaya) jejuluk Prabu Ranawijaya Giridrawardhana ngelar jajahan nelukake
Jenggala, Kedhiri lan uga mbedhah Majapait (tahun 1478). Bedhahe Majapait
iku kuthane ora dirusak, awit ing tahun 1521 lan 1541 nagara Majapait isih
kecrita kutha kang gedhe. Suwe suwe kutha Majapait dadi rusak, awit wong
wonge kang ora seneng kaereh ing kraton liya, padha genti genti ninggal
negarane, nglereg marang tanah Bali. Saiki Majapait mung kari patilasan bae,
awujud pager bata tilas mubeng lan tilas gapura (Candhi Tikus, Bajang Ratu).
Isih sajroning jaman Majapait, agama Islam wis mlebu saka sathithik, saya
suwe saya bisa ngalahake dayaning agama Indhu ana ing Jawa Wetan.
Mungguh kaananing tanah Sundha ing wektu iku ora pati kasumurupan.
Sawise krajan Tarumanagara dhek abad 4 lan 5, mung ana kang kacarita
krajan Sundha ing tahun 1030 nagarane kira kira ing Cibadhak. Enggone ora
ana wong manca kang mlebu mrono, marga saka kehing bajag kang padha
nganggu gawe ing sauruting pasisir. Ing Priyangan sisih wetan ana krajane
aran Galuh, kang ngadegake ayake ratu aran Pusaka, ratu liyane jejuluk
Wastukencana lan Prabu Wang(g)i. ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya RajaPurana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan (Batutulis). Karajan iki aran
Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu
yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon
barang.
Perangan Kang Kaping Pindho Babad Tanah Jawa Wiwit Adege
Karajan Karajan Islam lan Tekane Bangsa Europa tumekane
Gempale Karajan Mataram lan Ambruke Vereenig de Oost indische
Compagenie (VOC) tahun 1500 – 1799.
09 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 1
Karajan Demak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582
Wiwitane ing Tanah Jawa ana agama Islam ing antarane tahun 1400 – 1425.
Ing tahun 1292 ing tanah Perlak ing pulo Sumatra wis ana wong Islam; ing
tahun 1300 ana wong Islam manggon Samudra Pasei. Ing pungkasane abad
kang ping 14 ing Malaka iya wis ana wong Islam.Tekane padha saka Gujarat.
Saka Malaka kono agama Islam mencar marang Tanah Jawa, tanah Cina,
Indhiya Buri lan Indhiya Ngarep. Kang mencarake agama Islam ing Tanah
Jawa dhisike yaiku sudagar Jawa saka Tuban lan Gresik, kang padha
dedagangan ing Malaka, padha sinau agama Islam, dadine Islam terkadhang
sok kepeksa. Sudagar sudagar jawa mau padha bali marang Tanah Jawa
Wetan, sudagar Indhu lan Persi uga ana sing teka ing kono lan nuli mencarake
agama Islam marang wong wong. Sing misuwur yaiku: Maulana Malik Ibrahim
(wong Persi?), seda ana ing Gresik ing tahun 1419, nganti saiki pasareane isih.
Bareng kuwasane karaton Majapait saya suwe saya suda, para bupati ing
pasisir rumangsa gedhe panguwasane, wani nglakoni sakarep karep. Para
bupati mau lumrahe wis padha Islam wiwit tumapaking abad kaping 16 (tahun
1500 – 1525), Jalaran saka iku kerep bae perang karo para raja agama Indhu
kang manggon ing tengahing Tanah Jawa.
Miturut carita: Sang Prabu Kertawijaya ing Majapait iku wis tau krama karo
putri saka ing Cempa (tanah Indhiya Buri). Putri mau kapernah ibu alit karo
Raden Rahmat utawa Sunan Ngampel (sacedhake Surabaya). Sunan Ngampel
kagungan putra kakung siji, asma Sunan Bonang, lan putra putri siji, asma
Nyai Gedhe Malaka. Nyai Gedhe Malaka iku marasepuhe Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun, yaiku kang sinebut: Sultan Demak kang kapisan.
Sunan Ngampel lan Sunan Bonang iku dadi panunggalane para wali. Para wali
mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Gresik), ana ing kono yasa kedhatonlan mesjid; Ki Pandan Arang (ing Semarang) lan Sunan Kali Jaga (ing Demak).
Ing tahun 1458 ing Demak wis ana mesjid becik.
Padha padha bupati ing pasisir pati Unus iku kang kuwasa dhewe. Pati Unus
uga kasebut Pangeran Sabrang Lor. Iku putrane Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun. Ing tahun 1511 Pati Unus mbedhah Jepara, Ing tahun
1513 nglurugi Malaka. Enggone tata tata arep nglurug mau nganti pitung
tahun lawase. Lan bisa nglumpukake prau kehe nganti sangang puluh lan
prajurit 12.000, apadene mriyem pirang pirang. Nanging panempuhe bangsa
Portegis ing Malaka nggegirisi, nganti Pati Unus kapeksa bali lan ora oleh gawe.
Pati Unus ing tahun 1518 uga ngalahake Majapait nanging Majapait dhek
samana pancen wis ora gedhe. Kuthane ora dirusak, mung pusaka kraton
banjur digawa menyang Demak sarta Pati Unus ngaku nggenteni ratu
Majapait.
Ing tahun 1521 Pati Unus seda isih enem lan ora tinggal putra. Kang gumanti
rayi let siji yaiku Raden Trenggana, jalaran rayine tumuli: Pangeran Sekar Seda
Lepen, wis disedani putrane raden Trenggana, kang aran Pangeran Mukmin.
Sajroning jumenenge Sultan Trenggana (tahun 1521 – 1550) karaton Demak
kuwasa banget, nguwasani Tanah Jawa Kulon, ngereh kutha kutha ing pasisir
lor lan uga mbawahake jajahan Majapait, sarta karaton Supit Urang (Tumapel)
uga banjur kaprentah ing Demak. Dene Blambangan iku bawah Bali.
Pelabuhan bawah Demak akeh sing rame, kayata: Jepara, Tuban, Gresik lan
Jaratan. Gresik lan Jaratan iku sing rame dhewe, wong kang manggon ing
kono luwih 23.000. Ing tahun 1546 Sunan Gunung Jati kalawan Sultan
Trenggana arep mbedhah Pasuruwan. Kutha Pasuruwan banjur kinepung ing
wadya bala, nanging durung nganti bedhah, pangepunge diwurungake, jalaran
Sultan Trenggana seda cinidra dening sawijining punakawan santana, kang
mentas didukani. Putrane Sultan Trenggana akeh. Putra putrine padha krama
oleh priyayi gedhe gedhe. Ana sing krama oleh bupati ing Pajang, kang asma:
Adiwijaya, yaiku Mas Krebet, Ki Jaka Tingkir utawa Panji Mas. Putrane Sultan
Trenggana loro: Pangeran Mukmin utawa Sunan Prawata, lan Pangeran Timur,
kang ing besuke dadi adipati ing Madura. Sunan Prawata iku kang nyedani
Pangeran Sekar Seda Lepen. Ing semu putrane Pangeran Sekar Seda Lepen
kang asma Arya Panangsang arep malesake sedane kang rama. Sakawit Arya
Panangsang nyedani Pangeran Mukmin sagarwane, nuli putra mantune Sultan
Trenggana, ora oleh gawe, malah Arya Panangsang bareng dipapagake perang,
kalah nemahi pati. Adiwijaya banjur nguwasani Tanah Jawa: amboyong
pusaka kraton menyang Pajang lan nuli dijumenengake Sultan dening Sunan
Giri. Nalika Adiwijaya jumeneng ratu ana ing Pajang, blambangan lan
Panarukan kabawah ratu agama Syiwah ing Blambangan, kang uga
mbawahake Bali lan Sumbawa (tahun 1575). Jajahan jajahan ing Pajang
kaprentah ing pangeran (adipati) yaiku: Surabaya, Tuban, Pati, Demak,
Pemalang (Tegal), Purbaya (Madiyun), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyumas),Ana ing tanah Pasundhan karaton Pajang meh ora duwe panguwasa, jalaran
ing tahun +/- 1568 tanah Banten dimerdikakake dening Hasanuddin, dadi
tanah kasultanan.

 

 

10 segments War
about 2
Empires Empires Mataram kingdom stand Senapati
( In 1582-1601 )

Are there sinebut keandalan Kyai Large Pamanahan , edits descended from the standard
I. Because the Goose from Sultan Pajang lelabuhane , and didadekake
patinggi Empires in Mataram kingdom . As land not yet Empires Mataram kingdom Reja and Market Large ,

padunungane Kyai Pamanahan that are an extra village .
Son Kyai Large Pamanahan business Sutawijaya or Raden ‘s ,
or any market gabehi Loring called back by a Sultan Lift Pajang and adults are the Empires na , ‘m friends from God are the mortality Banawa . In the year 1575 Sutawijaya Gumanti work
Empires in Mataram kingdom , may jejuluk Senapati Dalam Ngalaga Panatagama martyr .
God Senapati ( Sutawijaya ) dalam direction for the filter very still king .

Dalam Mulud no menghadap Pajang , and Market Large didadekake Beteng , Sultan Adiwijaya ‘ve been making . No war is going on and , Adiwijaya missing and death in the year 1582 since karacun .

1586

The Banawa no Senapati able to fight . Senapati and mengakui
Sultan stood , and pusakaning Empires Empires kaelih Mataram kingdom . Senapati ngerehake Empires Mataram kingdom in the year 1586-1601 .

Jajahan jajahan Pajangyang court in behalf Empires Mataram kingdom kaerehake very ngrekasa . Senapati has often forced to fight , fight with seperti Panaraga , Madiyun ,
Pasuruwan and more relevant from a Blambangan .

But that’s no Blambangan signal can be missing . The Senapati memitran . Banten want ditelukake ( ditaklukan ) , but no berbisik . Galuh pineksa kareh Empires Mataram kingdom . Many cities in the harbor kemacetan , they were ditekani filter Portegis ( Portuguese ) , no dark
The Netherlands is also present . Dedagangane Mrican ( pepper ) , kick , club , cotton products and the other products in the Goose , but knowledge and no mortality diperduli ADA .

1601

In the year 1601 Senapati mortality , filter jolang Gumanti son . Pasareyan Senapati Nunggal work in the market and where Penyimpanan pinundi .

11 – second segments doubles
about 3

Empires and Banten cirebonan IA due to Sunan Gunung JATI ( + / – 1527 years ), half- dead ‘
 
1596

LinkedIn Mohamad ( year 1596 ) Be the first century from 16 rivers in the West Country named Pajajaran , City aKuan accusedaccuseraccusingaccustomaccustomedaceacerbitiesacerbityacetateacetyleneacheacidityaciditiesacidicacidachromaticachingachievementachievedachieveachievable .

City ‘s harbor had too , Banten and Kalapa great , but failed to kemacetan dedagangane ( perdagnagannya ) .

1511 AD

Since the year 1511 in the Malacca kacekel ( dikuasai Portuguese ) in Portegis , businessman filter dedagangan Islam in North waterside in West Java .

 In Banten and large ADA Trade , traders Mrican ( pepper ) . As ADA realitas ( Sumatra ) , Islam , Come to the West in the King -cutter Pejajaran with soldiers from Demak . Realitas tembene accusedaccuseraccusingaccustomaccustomedaceacerbitiesacerbityacetateacetyleneacheacidityaciditiesacidicacidachromaticachingachievementachievedachieveachievable SunanGunung JATI , you can feel the bok Faletehan ( Faletehan the original name of Sunan Gunungjati ) .

1527 AD

It’s ipene ( iparnya ) Raden Raden Help Trenggana.Marga from Trenggana in the year 1527 mbedhah Get great Kalapa ( or Jayakarta Jakarta) and cirebonan .

1552 AD

In the year 1552 SunanGunung JATI in digenteni ( taken so let’s daughter in law , ber besan ) Hasanuddin Banten her . Children from different business Pasarean , Sultan nurunake in cirebonan .

1568

As Trenggana of death , Banten and Didirikan court is alone ( the year 1568 ) .

Hasanuddin also nelukake Lampung , and children from the ngaturake ( mengharut to ) the daughter of Indrapura sebagai ‘m a wife .

Banten city and harbor kemacetan large . However , a sequence of pasisirana 750 M , and ujure of + / – 1600 M. Just sign in your boat to boat out in the city where the city has nrajang , river waled Now , since sand . It’s sasisih are dipageri and gerdhu gerdhune ( box – gardunya ) treatment place and place soldiers mriyem ( shells )

1570

Faletehan of death in the year 1570 and the cirebonan dimakamkan in Mount punthuk JATI . City Pakuan settings bedhahe year 1570 .

People in the West and the Islamic forced Login . As death IA , IA Faletehan Sultan cirebonan the Lord ‘s stone buyute Faletehan . Hasanuddin are the daughter of Manners may Trenggana .

1570 AD

Hasanuddin died in the year 1570 , and the dimakamkan Sabakingking . that
Gumanti the court Yusup .

As the population of people Banten ditanam the field ( ladhang ) . Dieneni parine settings and is not a plant , silk and other location filter made ​​ladhang , growth is diberakake If you are , I enggone plant seperti that . That’s the land that you’re seperti
I will be no good . As Sultan stood Yusup , well-

They were didhawuhi sesawah . Because the people bertani kapeksa dipilihtempat left , switch between no pijer they were , ketiadaan End Village . Yusup make her dam and needs for fodder harvest Pakanuntuk ngelebi

 

10 segmen Kedua
sekitar 2
Kerajaan kerajaan Mataram berdiri Senapati
( Tahun 1582-1601 )


Ada sinebut keandalan Kyai Besar Pamanahan , hanya turunan dari standar
I. Karena banyak dari Sultan Pajang lelabuhane , dan didadekake
patinggi di kerajaan Mataram . Ketika tanah belum kerajaan Mataram Reja dan Pasar Besar ,

padunungane Kyai Pamanahan itu adalah sebuah desa .
Putra Kyai Besar Pamanahan nama Sutawijaya atau Raden itu,
atau anak pasar gabehi Loring dipanggil kembali oleh lift
Sultan Pajang dan orang dewasa berada di kerajaan na , seorang teman dari Tuhan Kematian adalah Banawa . Pada tahun 1575 Sutawijaya Gumanti ayahnya
di kerajaan Mataram , mungkin jejuluk Senapati Dalam Ngalaga martir Panatagama .
Tuhan Senapati ( Sutawijaya ) dalam arah yang sangat untuk
masih raja .

 

Dalam Mulud tidak menghadap Pajang , dan Pasar Besar didadekake Beteng , membuat Sultan Adiwijaya khawatir . Tidak lagi terjadi dan perang , Adiwijaya hilang dan meninggal pada tahun 1582 sejak karacun .

1586

 

The Banawa tidak mampu melawan Senapati . Senapati dan mengakui
Sultan berdiri , dan pusakaning kerajaan kaelih kerajaan Mataram . Senapati
ngerehake kerajaan Mataram di tahun 1586-1601 .

 

Jajahan jajahan istana Pajangyang di atas kerajaan Mataram kaerehake sangat ngrekasa . Senapati telah sering dipaksa perang , seperti perang dengan Panaraga , Madiyun ,
Pasuruwan dan lebih dari Blambangan a .

 

Tapi itu tidak Blambangan sinyal bisa hilang . The Senapati memitran . Banten ingin ditelukake(ditaklukan)  , tapi tidak berbisik . Galuh pineksa kareh kerajaan Mataram . Di banyak kota pelabuhan kemacetan , mereka ditekani yang Portegis (portugis) , tidak tua
Belanda juga hadir itu . Dedagangane Mrican
(Merica)  , Tendang , klub , kapas barang dan produk lainnya di banyak , tetapi pengetahuan dan tidak ada kematian diperduli .

 

1601

 

Pada tahun 1601 Senapati kematian, yang jolang Gumanti putra . Pasareyan Senapati Nunggal ayahnya di pasar dan Penyimpanan pinundi mana .


11 segmen ganda kedua
sekitar 3


Kerajaan Banten dan Cirebonan                                                                                                         karena ia Sunan Gunung JATI ( + / – 1527 tahun ) sampai mati ‘

 

1596

 

LinkedIn Mohamad ( tahun 1596 ) Pada abad pertama dari 16 kali di Tanah Barat bernama Pajajaran Negara , Kota aKuan merasa.

 

Kota ini juga memiliki pelabuhan , Banten dan Kalapa Majapahit , tapi gagal kemacetan dedagangane(perdagnagannya)  .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1511 masehi

 

Sejak tahun 1511 di Malaka kacekel (dikuasai Portugis) di Portegis , pedagang yang dedagangan Islam di pasisir utara di Jawa Barat .

 

 Di Banten dan ada pedagangan besar , pedagang Mrican(merica) . Ketika ada realitas ( Sumatera ) , Islam , datang ke Barat di jerami Raja Pejajaran dengan tentara dari Demak . Realitas tembene merasa SunanGunung JATI , bisa merasakan bok Faletehan(Faletehan nama  asli Sunan Gunungjati)  .

 

1527 masehi

 

Ini ipene(iparnya)  Raden Raden Bantuan Trenggana.Marga dari Trenggana pada tahun 1527 dapat mbedhah Majapahit Kalapa ( atau Jayakarta Jakarta ) dan Cirebonan .

 

 

1552 masehi

 

Pada tahun 1552 SunanGunung JATI di digenteni ( diambil jadi mantu,ber besan) Banten anaknya Hasanuddin . Anak dari nama Pasarean lain, Sultan nurunake di Cirebonan .

 

 

1568


Ketika Trenggana meninggal, Banten dan Didirikan istana itu sendiri ( tahun 1568) .

 

Hasanuddin juga nelukake Lampung , dan anak dari raja ngaturake(mengharut  ke ) putri Indrapura sebagai seorang istri .

 

Kota Banten dan pelabuhan kemacetan besar. Namun, urutan pasisirana 750 M , dan ujure tanah + / – 1600 M. Perahu boat bisa masuk ke luar kota di mana kota memiliki nrajang , sungai sekarang waled , sejak pasir . Ini adalah sasisih dipageri dan gerdhu gerdhune(gardu-gardunya)  tempat perawatan dan tempat tentara mriyem (meriam)

 

1570

 

Faletehan meninggal pada tahun 1570 di Cirebonan dan dimakamkan di Gunung punthuk JATI . Kota Pakuan bedhahe setelah tahun 1570 .

 

Orang-orang di Tanah Barat dan Islam dipaksa Login . Ketika ia meninggal, ia Faletehan Sultan di Cirebonan Lord batu buyute Faletehan itu . Hasanuddin adalah putri Manners mungkin Trenggana .

 

 

1570 masehi


Hasanuddin wafat pada tahun 1570 , dan dimakamkan di Sabakingking . itu
Gumanti raja istana Yusup .

 

 


Ketika populasi orang Banten ditanam di lapangan ( ladhang ) .
Setelah dieneni parine dan bukan tanaman, orang dan lokasi lain yang dibuat ladhang , jika pertumbuhan tersebut diberakake lagi , enggone Saya menanamnya seperti itu . Anda seperti itu tanah
Aku tidak akan baik . Ketika Sultan berdiri Yusup , orang

Mereka didhawuhi sesawah . Karena orang bertani kapeksa dipilihtempat tinggal , saklar tidak pijer antara mereka , penyebab ketiadaan Desa .Yusup dia membuat bendungan dan kebutuhan untuk Pakan Pakanuntuk ngelebi tikus .


 umber

 

Original info

 

10 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 2
Karajan Mataram Nalika Jumenenge Senapati
(tahun 1582 – 1601)

Ana wong linuwih sinebut Kyai Gedhe Pamanahan, asale mung wong lumrah
bae. Jalaran saka akeh lelabuhane marang Sultan Pajang, banjur didadekake
patinggi ing Mataram. Nalika iku tanah Mataram durung reja lan Pasar Gedhe,
padunungane Kyai Pamanahan mau isih awujud desa.
Putrane Kyai Gedhe Pamanahan kang asma Sutawijaya utawa Raden Bagus,
utawa Pangeran gabehi Loring Pasar iku dipundhut putra angkat dening
Sultan Pajang lan nganti diwasa tansah na ing kraton , dadi mitrane Pangeran
Pati yaiku Pangeran Banawa. Ing tahun 1575 Sutawijaya gumanti kang rama
ana ing Mataram, oleh jejuluk Senapati Ing Ngalaga Sahidin Panatagama.
Panembahan Senapati (Sutawijaya) mau banget ing pangarahe supaya bisa
jumeneng ratu. Ing sasi Mulud ora ngadhep marang Pajang, lan Pasar Gedhe
didadekake beteng, ndadekake kuwatire Sultan Adiwijaya. Kelakon ora suwe
banjur peperangan, Adiwijaya kalah lan ing tahun 1582 seda jalaran karacun.
Pangeran Banawa ora wani nglawan Senapati. Senapati banjur ngaku
jumeneng Sultan, sarta pusakaning kraton kaelih marang Mataram. Senapati
ngerehake Mataram ing tahun 1586 – 1601. Jajahan jajahan karaton Pajang
kang wis kasebut ndhuwur kaerehake ing Mataram kanthi ngrekasa banget.
Senapati kepeksa kudu kerep perang, kayata: perang karo Panaraga, Madiyun,
Pasuruwan lan luwih luwih karo Blambangan. Ewadene Blambangan iku ora
bisa kalah babar pisan. Karo Senapati memitran. Banten arep ditelukake,
nanging ora bisa kalakon. Galuh pineksa kareh Mataram. Ing nalika iku akeh
kutha kutha pelabuhan kang rame, padha ditekani wong Portegis, ora lawas
wong Walanda iya padha nekani ing kono. Dedagangane mrica, pala, cengkeh,
kapas lan barang barang liyane akeh, nanging bab kawruh lan kagunan ora
pati diperduli. Ing tahun 1601 Senapati seda, kang gumanti putra Mas Jolang.
Pasareyan Senapati nunggal kang rama ana ing Pasar Gedhe sarta padha
pinundi pundhi.
11 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 3
Karajan Banten lan Cirebon wiwit jumenenge Sunan Gunung Jati (+/- tahun 1527) tumeka Sedane maulana Mohamad (tahun 1596) Ing wiwitane abad kang ping 16 ing Tanah Jawa Kulon ana nagara aran Pajajaran, Kutha aran akuan. Kutha pelabuhan iya duwe, yaiku Banten lan Sundha Kalapa, nanging dedagangane urung rame. Awit saka Malaka ing tahun 1511 kacekel ing bangsa Portegis, para sudagar Islam padha dedagangan ana ing pasisire lor Tanah Jawa Kulon. Ing Banten nuli anapedagangan gedhe, dagangane mrica. Ing nalika iku ana wong Pasei (Sumatra), agamane Islam, teka ing Tanah Jawa Kulon merangi ratu ing Pejajaran nganggo prajurit saka ing Demak. Wong Pasei mau ing tembene aran SunanGunung Jati, maune bok menawa aran Faletehan. Iku ipene Raden Trenggana.Marga saka pitulungane Raden Trenggana ing tahun 1527 bisa mbedhah Sundha Kalapa (Jayakarta utawa Jakarta) lan Cirebon. Ing tahun 1552 SunanGunung Jati ing Banten digenteni kang putra Hasanuddin. Dene putra liyane kang asma Pangeran Pasarean, iku kang nurunake para Sultan ing Cirebon. Faletehan seda ing tahun 1570 ana ing Cirebon lan disarekake ana ing punthuk Gunung Jati. Kutha Pakuan bedhahe sawise tahun 1570. Para wong ing Tanah Jawa Kulon banjur dipeksa manjing agama Islam. Nalika Faletehan seda kang jumeneng Sultan ing Cirebon Panembahan Batu, yaiku buyute Faletehan mau. Hasanuddin iku krama oleh putrine Pangeran Trenggana.
Bareng Pangeran Trenggana seda, karaton Banten banjur madeg dhewe (tahun 1568). Hasanuddin uga nelukake Lampung, sarta raja Indrapura ngaturake putrane putri minangka garwa. Kutha Banten dadi rame lan pelabuhane gedhe. Ananging kutha urut pasisirana 750 M, dene ujure marang dharatan +/- 1600 M. Prau prau bisa lumebu
ing kutha metu ing kali kang nrajang kutha mau; saiki kaline wis waled,
jalaran wedhi. Kutha mau kang sasisih dipageri lan ana gerdhu gerdhune
panggonan prajurit jaga tuwin panggonan mriyem.
Hasanuddin seda ing tahun 1570, banjur kasarekake ing Sabakingking. Kang
gumanti kaprabon Pangeran Yusup.
Nalika iku wong Banten yen nandur pari lumrahe ana ing pategalan (ladhang).
Sawise dieneni parine banjur ora ditanduri maneh, wong wonge banjur golek
panggonan liya digawe ladhang, yen wus panen iya diberakake maneh, enggone
nanduri iya kaya kang wis mau. Sing kaya mangkono iku tumraping lemahe
mesthi bae ora becik. Bareng Pangeran Yusup jumeneng Sultan, wong wong
padha didhawuhi sesawah. Jalaran saka iku wong tani iya kapeksa milih
panggonan sing tetep, ora pijer ngolah ngalih, iku njalari anane desa desa.
Pangeran Yusup uga dhawuh yasa bendungan lan susukan susukan perlu
kanggo ngelebi sawah.

 THE END

MORE INFO LOOK

THE COMPLETE  BOOK

THE JAVA HISTORY COLLECTIONS

PART

BABAD  JAVA LAND

BABAD TANAH JAWI

 

 

KISI INFO BABAD TANAH JAWA 1(BERSAMBUNG)

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEKJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup 

YANG BESARNYA TERSRAH ANDA

sUMBANGAN RENDAH JAD ANGGOTA BIASA

SUMBNAGAN TINGGI JADI ANGGOTA KHUSU-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

The Java History Collections

Part

The Java Babad Legend Story

Created  By

Dr Iwan suwandy,MHA

Special For KISI member

Copyright @ 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Introductions

In 1958 for the first time visit Java Island, when I joined the Indonesian Table Tennis  Championship at Surabaya, that time UI was the Middle Sumatra Table Tennis Champion.

I remember for the first time departed from Tabing Pandang Airport with Garuda Indonesia Airways with my father Djohan Oetama, landed at Kemayoran Airport Jakarta .At the airport we  met my uncle Anton Rahmat Abdisa ,the husbandd of my mother Siste Lies Abdisa, Jakarta still not crowded like now, we stayed at my uncle house at Kramat Raya street.

In 1959 I have three nice there Rafael ,Michael and Grace Abdisa.

Kramat Raya stereet one a small stree only about 20 meters wide, we can walking to Senen Market, then by Oplet Car to Banteng square after that walking to Pasar Baru market, and we went  via juanda street back of Istana Merdeka to harmoni there still have trem to Glodk ,morning Chinese market Glodok,

After that we went to Surabaya by Night Train from gambir, we choose the wrong  Way side because ethere were two side , at the front  via south java via Jogya,solo to Semut train station Surabaya that was why our frined  didn’t there , we must choose the other side the train via north java via semarang to Gubeng train stations.

We were lucky ,the very friendy arek surobouo passenger help us to get our friend home at Surabaya and then we stay at Kali Brantas Hotel .

After that we travelling to Selecta Batu Malang and Malang City, then by our Java Friend by car we we went to Jogya city and then to Borobudur temple at Magelang city.

When went by train I could seen the poor Java people asked for help money from the the window, the house still very bad,many their had only groun sand houses,many java women seeking:Kutu” at the other hair.

After that for the second time in 1959 I visit Semarang , we went with my father uncle Lie Tek Beng, and frined from Lawn Tennis Lie Eng Goan, Kasim and my uncle Teddy Chua. We stayed at Lie Eng Goan brother house at Keselamatan street near Gajama Mada street Jakarta, and from Jakarta we travel by suburban small car via Kerawang bekasi,Cheribon, Tegal,pekalongan to Semarang and stayed at Pavillion Hotel.

I still rembere I play Lawan tennis with the Indonesia champion Tan Liep Tjiauw, I seen other Indnesian Lawan tennis Champion like Amat, Kece Sudarsono, and that time the champion from Japan.

From Semarang by car we visit Solo ,I seen for the first time Surakarta Palace and the Klewer market, then we went to Klaten,Prambanan temple to Jogya where we seen Hemangku Buwono Palace, then we visit Borobudur temple again, after that we went to Bandung stayed at Istana Hotel.

I remebere for the first time breakfast bauffet but we cann’t eat all like this day.

The Third time visit Jakarta when study at Indonesian University Medical Faculty Salemba street  Jakarta, by Garuda Indonesian Airways Fokker 28  flight,when arrived at Kemayoran airport my nice bring me to my uncle new house at Polonia Street Jatinegara Jakarta.

After that several time I visit Jakarta, and in 1083 with all my family included my Mother in Law Eliza Chandra,we use my new Toyota BJ 40 Landcruser Car . I travelling again by road via Krawang,bekasi,Cheribon,Pekalongan,tegal Semarang stayed at my brother in law Aswin-Ay Ling father house at Semarang, from thus city I went by north java road via Kudus,demak,epara,rembang,Tuban,Gersik to Surabaya we went ot Malang transit and stayed at tretes at villa then we wnet to Bali via Basuki,Baunyuwangi, by ferry boat atKetapng to Bali then to Batur lake stayed there, then visit and stayed at den Pasar atPamacutan Hostel, after around Bali we back home via Surabya, Kediri, to Solo, Salatiga, semarang to look Chengo Temple then went toAmbawa stayed at Kretek Villa near air Pening, the other day via Slamet Mount road to Wonosobo, Dieng Temple,then to Borobudur temple, the to Jogya, after that we straight to kebumen,purwokerto stayed there,them we went to Bandung, Bogor ,Jakarta stayed at my brother in law house at Kelapa gading.My Mother in law back home via irfilgt,we by Toyota BJ40 Landcriser back home via tangerang,serang,cilegon. Merak,by ferry to lampong, via lahat-to lampoon, the back home to padang via sijunjung,solok.

In 1989, I am dicided to moved to Jakarta, by my house at kelapa gading still until now, movebecause to many earthquake in my birthmoe Padang city, I sold my house there, and I study Maste hOspital adminsitration post graduate school.my wefie study Medical record administration program then Public Healt,latest Magister Manangrmrent program, my son study high school at Kanisius collage then Geology bachelor at ITB Bandung, the other son Don Bosco High School then Bachalor Mech engineer at Gajamada University Jogya, after that all the family have there own best job I at The National Police Head Quarters Healt and Medical Center with last Police Colonel until retired in year 2000, my wife Medical rexord Consultant ant  amedical administration school directur now, my elder son the GM Bajubang Jambi Pertamina Oil and Gas  Project now, and the other son GM Toyota Astra Car Marketing Jakarta, my son get merried and now I get two grandaugter and ond grand son.

I choose the right way which made we all family succed in our carier, and after retired I built web blog abd became the historian writer, and now built the KISI(Kolektor Informasi sejara Indonesia) Indonesian History inforfation Group.

Iam collecting all kind of information related with Indonesian History, I have write the Padang West Sumatra History Collectins, and I write The Java History Collections book.

I hope all Indonesian History collector will happy to read this special KISI book.

This Book including Java History Collection, Java Land Babad Legend story, Java Folklore, and Java Poem.

Jakarta November 2013

Dr Iwan suwandy,MHA

TheAuthor Profile

 

The List Of Content

Indtroduction ;

history

1.Babad Java Legend Story(Babd TanaJawa)

2.Babd Pecinan

3.Serat Puwaka

4.Serat Chentini

4.Othe java r babad

5.Other Java  Serat

References

 

 

 

 

HISTORY

SEJARAH BABAD TANAH JAWA

Babad Tanah Jawa dan serat Kanda yang selama ini popular dikalangan masyarakat Jawa,bahkan pernah juga diajarkan disebagian Sekolah Dasar dimasa lalu

 

 

 

Selain fakta lain banyak mengandung bahan masukan dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai jug afakta keturunan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan Tentara Islam Demak

Prof Dr Slamet Muljana dalam bukunya Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit secara panjang lebar membantah isis ceritu itu berdasarkan bukti buku sejarah, dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi Sumber Sejarah yang dapat dipercaya.\Sumber sekarah itu antara lain beberapa Prasasti dan Karya Tulis Sejarah Majapahit seperti Negara Kertagama dan Pararaton,karena itu tidak mengherankan jika dalamnya tentang Sejarah Majapahit ditemukan banyak informasi yang kurang tepa alais cacat info.

 

Secara garis besar, cerita itu boleh dikatakan menunjukkan kemenagan Islam,padahal sebenarnya sebaliknya yang dapat member kesan yang merugikan karena seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah padahal kenyataan tidak begitu, misalnya salah seorang wali sonngo dari kerajaan demak Sunan Kalijaga [ernah berkata agat umat Islam jangan berpenampilan dengan pakaian seperti orang arab karena nanti rakyat yang masih menganut paham lama akan menjauhi kita umat islam

 

 

 

Prasati Petak dan Trailokya menerangkan Raja Majapahit  terakhir adalah Dyah Suraprahawa runtuh akibat serangan tentara Keling pimpinan Giiridrawardhana pada tahun 1478 AD sesuai Pararaton .

Sejak itu Majapahit  tidak lagi menjadi Sebauh Ibu Kota  Kerajaan ,dengandemikian tak mungkin Majapahit runtuh akibat serbuan Kerajaan demak,sumber sejarah Portugis tulisan Tom Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dimasa pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban,Gersik ,Surabaya dalam wilayah Kerajaan Kediri,sehingga tidak mungkin terjadi seperti yang diceritakan dalam Babad Tanah Jawa yang menulis kisah bahwa Raden Patah mengumpulkan Para Bupati untuk mengempur Majapahit

 

Penulis Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya kerajan Kediri(Jengala)  oleh serbuan Kerajaan demak dimasa pemerintahan Sultan demak Trenggano  lima tahun kemudian tahun 1478.

 

Hancurnya Kerajaan Kediri karena diserbu Tentara Monggol Kublaikan dengan bantuan Raden Wijaya yang saat itu sduah mengungsi ke Kerajaan Madura,  dalam rangka menghukum  Raja singosari Kertajaya yang telah menolak perminatan kaisar monggol denga membuat codet dengan pedang muka utusan Kaisar  tiongkok  tersebut yang bernama Meng Chi, yang saat itu malah sudah di bunauh oleh raja Kediri Jayakatwang .

Serbuan  Kerajan demak ke Kediri karena dimasa pemerintahan sultan demak Trenggano  karena Kediri yang sat itu buakn sebagai Kerajaan Kediri(jenggala) lagi, mengadakan hubungan dengan Portugis dengan Malaka  seperti yang dilaporkan Tom Pires, Kerajaan demak memang memusuhi Portugis  hingga mengempurnya  ke Malaka  karena tidak rela Kediri menjalain hubunggan dengan  bangsa penjajah itu yang beragama katolik roma

Setelah Kediri Jatuh (bukan Majapahit) diserang Demak,bukan lari kepulau Bali seperti ditulis dalam serat Kanda,melainkan ke Penarukan Situbondo setelah dari Sengguruh Nalang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaan Hindu,tetapi itu bukan pelarian Raja terakhir Majapahit seperti disebutkan dalam babad itu

Lebih jelasnya lagi Raden Patah bukanlah putra Raja majapahit terakhir seperti dftulis dalam babd dan serat kanda itu demikian menurut Prof DR Slamet Muljana

Sejarahwan Mr Moh Yamin dalam bukunya Gajag Mada ,juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V ,Raja majapahit terakhir abkibat seranagn Ranawijaya dari kerajaan Keling,jadi bukan seranga dari Kerajaan demak, uraian tentang keterlibatan  patih Gajah Mada dari Majapahit  yang memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak tahun 1478 itu tidak benar karena waktunya tidak sma dengan demikian tulisan dalam babad tersebut bertentangan dengan sejarah yang sebenarnya karena soalnya Gajah mada sudah meninggal tahun 1364 atau 1288 saka.

Penuturan dari buku “Dari Panggung Sejarah” terjemahan IP Simadjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. van Den berg ternyata juga runtuhnya kerajaan Majapahit bukan akibat serangan Kerajaan demak atau tentara Islam .

Selain itu penulis Tiongkok Mahuan  yang memeluk agama islam, dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” menyebutkan ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi dari Gujarat dan Malaka menyebutkan pada   tahun 1400 masehi  masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasla dari Gujarat dan Malaka. Disebutnya para saudar tersebut yang beragama islam sudah bermukim dipantai utara Jawa salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Gersik dengan angka tahun 12 rabi’ul awwal 882 H atau 8 april 1419 Masehi berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk,batu nisan yang terpahat kaligrafi arab itu menurut Tjokrosujono(mantan Kepala Suaka Penunggalan Sejarah dan Purbakala Mojokerto, nisan itu asli bukan buatan baru alias repro kopi. 

Slah satu bukti bahwa sejak Zaman majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu Kota Majapahit(Daha) adalah situs Makam Kuno Troloyo,kecamatan Trowulan Mojokerto Jawa Timur, Makam Islam disitus desa Troloyo Sentonorejo itu beragam angk atahunnya,mulai dari tahun 1368(abad XIV masehi( hingga tahun 1611 (abad XVmasehi) 

SOURCE

sumber

http://www.wattpad.com/12670082-sejarah-babad-tanah-jawa

Babad Tanah Jawa adalah dokumentasi historis yang menceritakan leluhur masyarakat Jawa, keteladanan, keutamaan,keagungan, kemakmuran, kepahlawanan dan kesaktian manusia Jawa kuno diulas secara tuntas & jelas. warisan kejayaan mereka hingga kini dapat disaksikan dengan adanya bangunan candi, kraton dan petilasan. Kehidupan masyarakat Jawa Kuno yang begitu gemilang tersebut dapat digunakan sebagai kaca benggala bagi generasi sekarang.


Masa keemasan Tanah Jawa pernah diwujudkan dengan tampilnya kerajaan besar. Misalnya Kerajan Medang, Kamulyan, Malawapati, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singasari, Majapahit, demak, Pajang dan mataram. Para raja beserta punggawanya berhasil mengangkat harkat dan martabat negaranya. rakyat hidup makmur, aman dan damai. Didalam dan diluar negeri, eksistensinya cukup berwibawa dan disegani. dalam buku ini, perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan besar tersebut diuraikan secara integrasi, kronologis dan sistematis. sebuah buku bermutu dan berguna bagi siapa saja yang hendak menelusuri sejarah dan kebudayaan Jawa.

 

Berkas Babd Tanag Jawa

 sumber wiki

[sunting]

DeskripsiBabad-tanah-jawi.jpg

Bahasa Indonesia: Wadana atau halaman muka Babad Tanah Jawi yang disalin pada abad 19.

English: Wadana or frontispiece of Babad Tanah Jawi (History of the Javanese Land) copy from the 19th century.

Tanggal

25 Juni 2013, 08:18:27

Sumber

http://kawruhjawa.wordpress.com/

Pembuat

Tak diketahui

 

Ini adalah suatu perbanyakan fotografis dari sebuah karya seni dua dimensi. Karya seni tersebut berada pada domain publik karena alasan berikut

Gambar (atau berkas media lain) ini berada pada domain publik karena hak cipta atasnya telah berakhir.

Aturan ini berlaku di Amerika Serikat, Australia, Uni Eropa, serta negara-negara lain yang memiliki aturan masa berlaku hak cipta selama hidup pencipta ditambah 70 tahun

Perhatikan bahwa beberapa negara memiliki aturan masa berlaku hak cipta lebih lama dari 70 tahun: Meksiko 100 tahun, Kolombia 80 tahun, dan Guatemala serta Samoa 75 tahun. Gambar ini mungkin tidak berada pada domain publik di negara-negara tersebut, dimana juga tidak menerapkan aturan masa berlaku yang lebih singkat. Pantai Gading memiliki aturan masa berlaku umum hak cipta 99 tahun dan Honduras 75 tahun, tetapi negara-negara tersebut menerapkan aturan masa berlaku yang lebih singkat

Posisi resmi Wikimedia Foundation adalah bahwa “faithful reproductions of two-dimensional public domain works of art are public domain, and that claims to the contrary represent an assault on the very concept of a public domain“. Untuk detilnya, lihat Commons:When to use the PD-Art tag.
Oleh karena itu, perbanyakan fotografis ini juga dianggap berada pada domain publik. Mohon diperhatikan bahwa hukum lokal mungkin saja melarang atau membatasi penggunaan kembali berkas ini di wilayah hukum anda

Aksara Jawa
ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ

 

Informasi

Jenis aksara

Abugida

Bahasa

Jawa
Sunda
Madura
Sasak
dll

Periode

± abad 13 hingga sekarang

Arah penulisan

Kiri ke kanan

Silsilah

Proto-Sinaitic

Aksara kerabat

Bali
Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó’o
Kaganga (Rejang)
Lontara (Bugis)
Rencong
Sunda Kuno
Tagbanwa (Tagalog)

Baris Unicode

U+A980U+A9DF

ISO 15924

Java, 361

Nama Unicode

Javanese

Perhatian: Halaman ini mungkin memuat simbol-simbol fonetis IPA menggunakan Unicode.

 

 

Artikel ini memuat aksara Jawa. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari aksara Jawa.

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀), adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak[1]. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida. Setiap huruf pada aksara Jawa melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat dimodifikasi dengan sejumlah tanda baca vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), konsonan akhir, dan ejaan asing[2]. Huruf memiliki bentuk subskrip yang berguna untuk menulis tumpukan konsonan di tengah kalimat, dan beberapa diantaranya memiliki bentuk “kapital” yang digunakan untuk menulis nama. Terdapat pula tanda-tanda yang setara dengan koma, titik, titik dua, serta kutip, dan terdapat pula tanda yang menunjukkan angka, membuka puisi/tembang, mengawali surat, dll[3]. Aksara Jawa ditulis tanpa spasi (scriptio continua)[2], dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata.

Dewasa ini, bahasa Jawa lebih umum ditulis dengan huruf latin karena lebih praktis. Walaupun aksara Jawa telah diimplemetasikan dalam Unicode sejak 2009, penggunaannya di media digital masih tidak semudah huruf latin karena hanya dapat ditampilkan dengan benar pada program yang menggunakan teknologi SIL Graphite seperti Firefox atau Thunderbird email client. Hal ini cenderung membuat penggunaan aksara Jawa tidak luas.

Abugida (Ge’ez አቡጊዳ ’äbugida), atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida.

Istilah abugida diusulkan oleh Peter T. Daniels (1990) dan merupakan nama Ethiopia untuk aksara Ge’ez [1]. Sedangkan istilah alfasilabis (bahasa Inggris: alphasyllabary) diusulkan oleh William Bright (1997) [2]. Istilah lain yang juga pernah diusulkan adalah neosilabis (Février 1959), pseudoalfabet (Householder 1959), semisilabis (Diringer 1968; istilah yang juga memiliki makna lain), serta alfabet silabis (Coulmas 1996; yang juga merupakan sinonim dari aksara silabis) [2]

Sumber wiki

Seperti juga sumbernya yang sekarang ini Babad Tanah Jawi disusun sesudah tahun 1680. Naskah prosa dikerjakan oleh Raden Ngabehi Kertapraja di Surakarta, namun kemudian diperbaiki dan dilengkapi sampai dengan tahun 1742 oleh C.F Winter (1859) atas dasar sebuah naskah lain (Codex B, Collectie KITLV). Meinsma memakai naskah Codex B bila naskah Kertapraja dianggap kurang jelas.

Babad Tanah Jawi dapat dianggap sebagai kronik resmi Kerajaan Mataram, yang mencapai puncaknya pada pemerintahan
Sultan Agung (1613-1645). Beberapa bagian bercorak mistis, genealogis buatan raja-raja dahulu kala, dongeng (seperti, pernikahan Senopati dan Ratu Kidul) dan cerita-cerita tentang berbagai kejadian historis. Babad ini memakai naskah-naskah yang lebih tua yang mungkin sudah direvisi beberapa kali sesuai “keperluan” zamannya, khususnya untuk melegitimasikan wangsa yang sedang berkuasa. Bukan hanya itu, dalam
Babad Tanah Jawi banyak kekalahan-kekalahan yang diubah pandangannya menjadi rencana yang berwawasan jauh ke depan. Misalnya kekalahan Sultan Agung terhadap Batavia yang kemudian mengundurkan diri dianggap sebagai sikap yang bijaksana dengan cerita bahwa Sultan Agung menyuruh tentaranya untuk mengundurkan diri dari Batavia, sebab ia hanya mau memberi pelajaran kepada Belanda, karena nanti mereka akan membantu cucunya waktu terpaksa melarikan diri dari Mataram. Dibalik cerita Babad Tanah Jawi pun banyak terdapat peristiwa historis misalnya pembelaan-pembelaan Fort Holandia oleh Sersan Hans Madelijn pada serangan malam tanggal 20 Oktober 1629.

Sumber

http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3118/Tanah-Jawi-Babad

BABAD TANAH DJAWI
Gubahanipun L. VAN RIJCKEVORSEL Directeur Normaalschool
Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool
Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – Den Haag –
Weltervreden – 1925
Perangan Kang Kapisan Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekane
Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 utawa 3 – Abad 16
Beboeka.
Moenggoeh babading tanah In.ija-wetan .ek doeroeng katekan bangsa In.oe,
seprene lagi e.i.ik banget kang woes kawroehan. Malah wong In.oe ikoe bae ija
doeroeng kasoemoeroepan terang .ek kapan tekane ing ken elan keprije
kaanane ing kala wiwit-wiwitane.Moeng bae woes jakin, en kemadjoean lan
tata-soesilaning wong In.ija kene iki bibit-sekawite saka dajaning wong n.oe
kang asale saka ing tanah In.oe sisih kidoel.Katjarita nalika taoen 261
sadoeroenge taoen alanda ing In.oe-ngarep ana ratoe adjedoeloel Praboe Açoka,
djoemeneng nata ing negara Patalipoetra (ing sawetan Benares), lan agamane
Boeda. Kresane sang Praboe pradja tjilik-tjilik ing saoebenging kono arep
digoeloeng didadekake nagara sidji, kang ge.e lan sentosa. Akire bisa kelakon,
meh satanah In.oe-ngarep kabeh mloempoek, kinoewasan ing ratoe sawidji.
Moeng ing poentjit kidoel, wiwit saka saloring Madras lan Mangalore, kratonkratone
presasat madeg .ewe-.ewe, ora pati kewengkoe ing pradja-pradja
tanah lor. Pradja-pradja sisih kidoel ikoe maoe oega ge.e dajane toemraping
kemadjoean lan tata-soesilaning tanah-tanah ing sakoebenge. Dene kang
djoemeneng ratoe: 1 Para Pan.awa (Pandava) kang kotjap ing lajang Mahabharata.
2 Darah Pallava (ajake ing peketjapan Djawa: Malawa) kesoewoer
wiwit atoesan taoen sadoeroenge taoen Walanda nganti tekan abad 9, dene
komboel-komboele wiwit ing tengahing abad 6 tekan tengahing abad 8. Ing
djaman ikoe titi-mangsa adeging jejasan kang edi-edi, kajata: tjan.i-tjan.i
jasane Mahendra-warman (600-625). Ana wong Tjina agama Boeda djenenge
Hüen-Tsang njandra pradja Pallava ikoe soerasane nelakake jen tanahe lph lan
betjik pengolahe, wong-wonge pa.a poendjoel ing kawanterane, setya-toehoe,
roekoen lan ngoedi marang oen.aking kawroeh.
Kang kendel lelajaran, nganti bisa gawe koloni-koloni ana ing Indo-China,
Malaka lan kapoeloan Soen.a, ija para bangsa ing In.oe sisih kidoel ikoe,
loewih-loewih wong Pallava. Wiwit satoes taoenan sadoeroenge taoen Walanda
wis ana papan-papan sawetara kang dienggoni wong In.oe, dene ge.e-ge.eningemigratie ana ing sadjroning abad 2 tekan 6, bokmenawa kegawa saka ing
tanah In.oe kana kakehen djiwane lan marga saka paperangan karo bangsabangsa
ing sisih elore.
Koloni sing ge.e-ge.e, jaikoe: Tjampa ing Annam pasisir wetan.
Kambodja, kaedegake ing taoen 435. Ing kono dijasani tjan.i-tjan.i
Brahma oetawa Boeda akeh banget. Koetei ing Borneo-lor lan
Soekadana ing Borneo-kidoel. Palembang (Çrivijaya) Djawa-tengah
01 Perangan Kang Kapisan
Bab 1
Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon
(wiwit abad 2 utawa 3)
Tekane ing tanah-tanah ikoe wong In.oe anggawa agama (Boeda oetawa
Brahma) lan kagoenan warna-warna, kajata matja, noelis, mba.ik, medel;
bandjoer jasa tjan.i-tjan.i lan omah apik-apik. Wong Priboemi diweroehake
marang barang-pedagangan warna-warna, jaikoe bangsa san.ang-penganggo,
bangsa gegaman, peni-peni awowdjoed ontjen motiara, bekakas-bekakas lijane
kang abakal ga.ing oetawa emas, lan sapanoenggalane.
Çrivijaya ikoe terang jen kegolong kang ge.e .ewe, malah bokmenawa dadi
baboning kawroeh lan kagoenan toemraping tanah-tanah lijane kang kasboet
ing .oewoer. Ana kang ngira jen praboe Jayawarman, narendra ing Kambodja,
kang miwiti jasa koe.a lan tjan.i-tjan.i Angkor, ikoe darahing ratoe ing
Soematra.
Pradja-pradja maoe ing sekawit nganti soewe enggone nganggo agama Boeda.
Kang wus kasumurupan, karajane bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang
dhisik dhewe, diarani karajan “Tarumanagara” (Tarum = tom. kaline jeneng
Citarum).
Karajan iku mau dhek abad kaping 4 lan 5 wis ana, dene titi mangsaning
adege ora kawruhan. Ratu ratune darah Purnawarman. Mirit saka gambar
gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah
Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.
Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggone sujarah menyang
patilasane Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti
5 sasi. Ing cathetane ana kang nerangake mangkene :
1. Ing kono akeh wong ora duwe agama (wong Sundha), sarta ora ana kang
tunggal agama karo dhewekne: Budha.2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetane.
3. Barengane nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing dedagangan,
ana kang mung lelungan, karepe arep padha menyang Canton.
Yen mangkono dadi dalane dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang
tanah Cina pancen ngliwati Tanah Jawa. Ing Tahun 435 malah wis ana
utusane Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturake pisungsung
menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta
murih gampang lakuning dedagangan.
Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwene lan
kepriye rusake. Wong Indhu ana ing kono ora ngowahake adat lan panguripane
wong bumi, awit pancen ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga
durung duwe akal niru kapinterane wong Indhu.
Ewa dene meksa ana kaundhakaning kawruhe, yaiku mbatik lan nyoga jarit.
02 Perangan Kang Kapisan
Bab 2
Karajan Indhu ing Jawa Tengah (abad kaping 6)
Mirit saka:
1. Cathetane bangsa Cina.
2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi.
3. Cathetane sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan sathithik sathithik
mungguh kaananing wong Indhu ana ing Tanah Jawa Tengah dhek jaman
samono.
Nalika wiwitane abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa
Kulon. Ana ing kono padha kena ing lelara, mulane banjur padha nglereg
mangetan, menyang Tanah Jawa Tengah.
Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterane, yen ditandhing karo
wong Indhu kang lagi neneka mau; mulane banjur dadi sor-sorane. Wong
Indhu banjur ngadegake karajan ing Jepara. Omah omah padunungane wong
Jawa, ya wis memper karo omah omahe wong jaman saiki, apayon atep utawa
eduk lan wis nganggo kepang. Enggone dedagangan lelawanan karo wong Cina;
barang dedagangane kayata: emas, salaka, gading lan liya liyane. Cina cina
ngarani nagara iku Kalinga, besuke, ya diarani: Jawa. Karajan mau saya suwe
saya gedhe, malah nganti mbawahake karajan cilik cilik 28 (wolu likur). Wong
Cina uga nyebutake asmane sawijining ratu putri: Sima; dikandakake becik
banget enggone nyekel pangrehing praja (tahun 674). Tulisaning watu kang
ana cirine tahun 732, dadi kang tuwa dhewe, katemu ana sacedhake
Magelang, nyebutake, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk PrabuSannaha, karajane gedhe, kang klebu jajahane yaiku tanah tanah Kedhu,
Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wetan uga klebu dadi
wewengkone karajan iku.
Mirit caritane, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang
kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha
turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yen ana begal utawa bebaya liyane.
Mirit kandhane sawijining wong Arab, dhek tengah tengahane abad kang
kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahake tanah Kedah ing Malaka
(pamelikan timah).
Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenenge, nanging banjur ana
karangan kang katulis ing watu kang titi mangsane tahun 919, nyebutake
karajan Jawa ing Mataram. Jembar jajahane, mungguha saiki tekan Kedhu,
Ngayogyakarta, Surakarta; manglore tekan sagara; mangetane tekan tanah
tanah ing Tanah Jawa Wetan sawatara. Kuthane karan : Mendhangkamulan.
Wong Arab ngandhakake, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu
Buri). Sing kasebut iki ayake iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer,
karajan Jawa iya wis mbawahake pulo pulo akeh. Pulo pulo iku mawa gunung
geni. Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu craken. Wong Arab iya akeh
kang lelawanan dedagangan.
Sabakdane tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanane karajan
Mataram. Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wetan. Ayake bae karajan
Mataram mau rusak dening panjebluge gunung Merapi (Merbabu), dene wonge
kang akeh padha ngungsi mangetan. Ing abad 17 karajan Mataram banjur
madeg maneh, gedhe lan panguwasane irib iriban karo karajan Mataram kuna.
Agamane wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah
getihe dhewe ing kunane wong Indhu ngedhep marang Brahma, Wisnu lan
Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang
dewa akeh liya liyane, kayata: Ganesya, putrane Bethari Durga.
Manut piwulange agama Indhu pamerange manungsa dadi patang golongan,
yaiku:
– para Brahmana (bangsa pandhita).
– para Satriya (bangsa luhur).
– para Wesya (bangsa kriya).
– para Syudra (bangsa wong cilik).
Piwulange agama lan padatane wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur,
jenenge Wedha. Kira kira 500 tahun sadurunge wiwitane tahun Kristen, ing
tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama
utawa Budha. Mungguh piwulange geseh banget karo agamane wong Indhumau. Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk
marang wong. Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulange: sarehne wong iku
mungguhing kamanungsane padha bae, dadine ora kena diperang patang
golongan. Para Brahmana Indhu mesthi bae ora seneng pikire, mulane kerep
ana pasulayan gedhe. Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur
peperangan karo wong agama Indhu. Wusana bangsa Budha kalah lan banjur
ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang. Mungguh
wong agama Indhu iku pangedêpe ora padha. Ana sing banget olehe memundhi
marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget
pangedêpe marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
Kajaba saka iku uga akeh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa
agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur bae. Petilasane agama
Indhu mau saikine akeh banget, kayata:
– Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasane ratu darah
Sanjaya.
– Candhi ing Kalasan ana titi mangsane tahun 778, ayake iki candhi tuwa
dhewe (Budha), yasane ratu darah Syailendra.
– Candhi Budha kang misuwur dhewe, yaiku Barabudhur lan endut.
– Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhake Prambanan ana candhi
campuran Budha lan Syiwah.
03 Perangan Kang Kapisan
Bab 3
Karajan Ing Tanah Jawa Wetan
(wiwitane abad 10 – tahun 1220)
Ing dhuwur wus kasebutake yen Tanah Jawa Wetan, kabawah karajan Indhu
ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wetan
ora pati akeh, yen katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah
(Kedhu). Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat
tunggal dadi sabangsa. Ing wiwitane abad 10 ana pepatihing karajan Tanah
Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangetan. Let sawatara tahun empu
Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wetan, karajane ing Kauripan
(Paresidhenan Surabaya sisih kidul).
Ambawahake: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
Enggone jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
Nata ing Mataram mau banget pangedêpe marang agama Budha. Empu
Sindhok misuwur wasis enggone ngereh praja. Ana cathetan kang muni
mangkene: “Awit saka suwening enggone jumeneng ratu, marcapada katon
tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kehe.”
Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusake enggonemangun paprangan lan ngelar jajahan. Ing tahun 1037 enggone paprangan wis
rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Dene karatone iya ana ing
Kauripan. Sang Prabu Erlangga ora kesupen marang kabecikaning para
pandhita lan para tapa, kang gedhe pitulungane nalika panjenengane lagi
kasrakat.
Minangka pamalesing kabecikane para pandhita, Sang Nata yasa pasraman
apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan. Pasraman mau
kinubeng ing patamanan kang luwih dening asri, lan rerenggane sarwa peni
sarta endah. Saka edine, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur
wong kang padha sujarah mrono.
Pangadilane Sang Nata jejeg. Wong desa kang nrajang angger angger nagara
padha kapatrapan paukuman utawa didhendha. Kecu, maling,
sapanunggalane kapatrapan ukum pati. Sang Prabu enggone nindakake
paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah
lenggahe.
Saka enggone manggalih marang tetanen yaiku pagaweyaning kawula kang
akeh, Sang Nata yasa bendungan gedhe ana ing kali Brantas. Sang Nata uga
menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan. Kutha Tuban nalika
samono panggonan sudagar, oleh biyantu akeh banget saka Sang Prabu murih
majuning dedagangan lan lelayaran.
Sang Nata yen sinewaka lenggah dhampar (palenggahan cendhek pesagi),
ngagem agem ageman sarwa sutra, remane diukel lan ngagem cênela. Yen
miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700. Punggawa lan kawula
kang kapethuk tindake Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah
(ndhodhok ngapurancang?). Para kawula padha ngore rambut, enggone
bebedan tekan ing wates dhadha. Omahe kalebu asri, nganggo payon gendheng
kuning utawa abang. Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun
pitulunganing para dewa bae, utawa marang Budha. Wong wong padha seneng
praon lan lelungan turut gunung, akeh kang nunggang tandhu utawa joli.
Dhek samono wong wong iya wis padha bisa njoget, gamelane suling,
kendhang lan gambang.
Karsane Sang Prabu besuk ing sapengkere kang gumanti jumeneng Nata
putrane loro pisan, mulane kratone banjur diparo: Jenggala (sabageyaning:
Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.
Dene kang minangka watese: pager tembok kang sinebut “Pinggir Raksa”, wiwit
saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing
branglore kali Brantas saka wetan mangulon tekan ing desa kang saiki aran
“Juga”, nuli munggah mangidul, teruse kira kira nganti tumeka ing pasisir.
Gugur gugurane tembok iku saiki isih ana tilase, kayata ing sacedhaking kali
Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.Mungguhing babad Jawa jumenenge Prabu Erlangga kaanggep minangka
pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akeh caritane kang kasumurupan.
Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layange ing jaman iku tekane ing
jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
Layang layang mau basane diarani: Jawa Kuna, kayata:
1. Layang Mahabarata
2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.
Karajan Jenggala ora lestari gedhe, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik,
marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala
anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan. Karajan cilik cilik kang cedhak
wates Kedhiri or suwe banjur ngumpul melu Kedhiri, liyane isih terus madeg
dhewe nganti tekan abad 13. Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki
mbawahake paresidhenan Kedhiri, saperangane Pasuruwan lan Madiyun.
Kuthane ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara. Ing
wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamane Jayabaya (abad
12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekane jaman saiki isih sinebut luhur,
durung ana kang madhani.
Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenenge: Triguna utawa
Managocna. Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan
Kresnayana. Raden putra utawa Panji kang kacarita ing dongeng kae,
bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng
ana wiwitane abad kang kaping 12. Garwane kekasih ratu Kirana (Candra
Kirana) putrane ratu Jenggala. Ing mangsa iki ana pujangga jenenge Empu
Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Raden Panji nganti saiki tansah
kacarita ana lakone wayang gedhog lan wayang topeng. Pujanggane Jayabaya
aran Empu Sedah lan Empu Panuluh. Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (=
1157) methik saperanganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara
Jawa, dijenengake layang Bharata Yudha. Wong Jawa ing wektu iku wis pinter,
wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.
04 Perangan Kang Kapisan
Bab 4
Ken Angrok Nelukake Karajan Karajan Cilik (1220 – 1247)
Ing tahun 1222 ana ratu ing Tumapel utawa Singasari, jenenge Ken Angrok.
Critane Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemune layang iki ana ing
Bali dhek tahun 1891. Ken Angrok lair ana ing sacedhake Tumapel (Singasari),
asal wong tani lumrah bae. Ken Angrok kacarita bagus rupane lan bisa nenarik
katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangaji aji lan wanimarang penggawe luput. Ing sawijining dina ana Brahmana ketemu karo
dhewekne, kandha yen dhewekne titising Wisnu. Anggone kandha mangkono
iku, awit Brahmana mau ngerti yen Ken Angrok iku wong kang gedhe karepe
lan kenceng budine. Brahmana banjur golek dalan bisane Ken Angrok
kacedhak karo adipati ing kono, Sang Tunggul Ametung. Ora antara suwe
kelakon Ken Angrok kaabdekake. Bareng wis mangkono, Ken Angrok banjur
tansah golek dalan kapriye enggone bisa ngendhih Sang Adipati, nggenteni
jumeneng. Ketemuning nalar Ken Angrok banjur ndandakake keris becik
marang Empu Gandring. Sawise keris dadi, katon becik temenan, nganti
mitrane Ken Angrok aran Keboijo kepencut kepengin nganggo, banjur
nembung nyilih: oleh. Saka senenge, keris mau saben dina dianggo sarta
dipamer pamerake, dikandhakake duweke dhewe. Bareng wis sawatara dina
Ken Angrok banjur nyolong kerise dhewe kang lagi disilih ing mitrane mau
dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon seda, keris ditinggal ing sandhinge layon.
Urusaning prakara: mitrane Ken Angrok sing kena ing dakwa, diputus ukum
pati. Ken Angrok banjur bisa oleh Sang putri randaning Tunggul Ametung lan
gumanti madeg adipati: Sang Putri asmane Ken Dhedhes.
Sasuwene dicekel Ken Angrok negarane tata, reja, wong cilik banget sungkeme.
Sawise mbedhah karajan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok banjur emoh
kebawah Kedhiri, malah ing tahun 1222 mbedhah praja Kedhiri nganti kelakon
menang, Ratu ing Kedhiri Prabu Kertajaya seda nggantung sabalane kang
padha tuhu. Kedhiri banjur ditanduri adipati kabawah Singasari. Bareng para
ratu darah Empu Sindhok wis kalah kabeh karo Ken Angrok, Ken Angrok
banjur jumeneng Ratu gedhe, jejuluk Prabu Rejasa, yaiku kang nurunake para
ratu ing Majapait.
Kacarita Sang Retna Dhedhes nalika sedane adipati Tunggul Ametung wis
ambobot. Bareng wis tekan mangsane, Sang Retna mbabar putra kakung,
diparingi peparab Raden Anusapati. Wiwit timur nganti diwasa Sang Pangeran
ora ngerti yen satemene dudu putrane Prabu Rejasa, nanging rumangsa yen
ora ditresnani ing Sang Prabu, beda banget karo rayi rayine. Ing sawijining
dina Anusapati kelair marang ibune mangkene: “Ibu, punapa, dene Kangjeng
rama punika teka boten remen dhateng kula?” Sang Retna banget trenyuhing
galih mireng atur sasambate kang putra, wasana banjur keprojol
pangandikane; kang putra dicritani lelakone wiwitan tekan wekasan.
Anusapati banget ing pangungune, sanalika banjur duwe sedya males ukum,
nanging isih sinamun ing semu. Keris yasane Empu Gandring disuwun,
pawatane mung kepingin banget anganggo. Kang ibu lamba ing galih, keris
diparingake.
Anusapati banjur nimbali abdine kekasih, diparingi keris mau lan diweruhake
ing wewadine. Bengine Sang Prabu seda kaprajaya ing duratmaka. Layone
Sang Prabu dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anusapatinggenteni jumeneng Nata. Anusapati jumeneng ora suwe, awit Raden Tohjaya
ngerti yen Anusapati kang nyedani ramane, mulane sumedya males ukum lan
iya kelakon. Tohjaya jumeneng Nata, nanging iya ora suwe. Tohjaya utusan
mantrine aran Lembu Ampal, didhawuhi nyirnakake kalilipe loro, yaiku:
Ranggawuni, putrane Anusapati, lan nakdulure kang aran Narasingamurti; yen
ora bisa kelakon, Lembu Ampal dhewe bakal kena ukum pati.
Dumadakan ana sawijining Brahmana kang welas marang raden loro, banjur
wewarah saperlune. Satriya loro banjur ndhelik ana ing panggonane Panji
Patipati. Lembu Ampal nggoleki raden loro ora ketemu, banjur ora wani mulih,
ngungsi marang Panji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni raden loro,
malah ngrembugi para punggawa kang ora cocog karo Tohjaya diajak ngraman,
wasana kelakon, Sang Prabu nganti nemahi seda.
Ranggawuni jumeneng Nata ajejuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhereke
Narasinga. Nganti tekan ing seda priyagung loro mau rukun banget, nganti
dibasakake: “Kaya Wisynu lan kang raka Bathara Endra”. Karatone mundhak
gedhe pulih kaya dhek jamane Prabu Erlangga, malah jajahane wuwuh
Madura. Sang Nata seda ing tahun 1268, layone diobong kaya adat, awune
sing separo dicandhi ana ing Weleri, ditumpangi reca Syiwah, sing separo
dipethak ana candhi Jago (Tumpang) nganggo reca Budha. Dadi tetela ing
wektu iku agama Syiwah karo Budha campur.
05 Perangan Kang Kapisan
Bab 5
Jumenenge Kartanagara ing Tumapel (1268 – 1292)
Ratu Singasari kang Kaping V, jumeneng mekasi. Sasedane Syri
Wisynuwardhana pangeran pati jumeneng Nata, ajejuluk Prabu Kartanagara.
Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iya
manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kersa
ngunjuk nganti dadi wuru. Ana nayakaning praja aran Banyak Widhe utama
Arya Wiraraja, tepung becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya iku ora
sungkem marang ratune, malah wis sekuthon karo Jayakatwang, arep
mbalela. Dumadakan ana punggawa kang matur prakara iku, nanging Sang
Prabu ora menggalih, Wiraraja malah diangkat dadi adipati ana ing Madura.
Pepatihe Sang Nata aran Raganatha rumeksa banget marang ratune, nganti
sok wani ngaturi penget marang Sang Prabu ing bab kang ora bener, nanging
Sang Prabu ora rena ing galih, ora nimbangi rumeksaning patih setya iku,
malah banjur milih patih liya kang bisa ngladeni karsane. Patih wredha
diundur, winisuda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campur karo prakarapangreh praja. Patih anyar senenge mung ngalem marang ratune lan ngladosi
unjuk unjukan.
Ana utusan saka ratu agung ing nagara Cina (Chubilai) dhawuh supaya Prabu
Kartanagara nyalirani dhewe utawa wakilsuwana marang nagara Cina perlu
caos bekti (tahun 1289). Sang Prabu duka banget. Bathuking Cina utusan
digambari pasemon kang ora apik, nelakake dukane Sang Prabu. Bareng tekan
ing nagara Cina patrape ratu Jawa kang mangkono iku mau njalari dukane
ratu binathara ing Cina, Ing tahun1292 ana prajurit gedhe saka ing Cina arep
ngukum ing kuwanene wong Jawa. Wiraraja sasuwene ana ing Madura isih
ngrungok ngrungokake apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weruh uga
yen ing wektu iku prajurit Singasari dilurugake menyang Sumatra. Wiraraja
ngajani Jayakatwang akon nangguh mbedhah Singasari, mumpung nagara lagi
kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratu
lan patihe katungkep ing mungsuh isih terus unjuk unjukan bae (wuru),
mulane ora rekasa pinurih sedane.
Raden Wijaya, wayahe Narasinga, nuli umangsah ngetog kaprawiran mbelani
nagara lan ratune, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, mulane banjur
kepeksa ngoncati, mung kari nggawa bala 12, genti genti nggendhong Sang
Putri garwane Raden Wijaya, putrane Prabu Kartanagara. Lampahe Raden
Wijaya sasentanane nusup angayam alas. Kalebu wilangan 12 iku ana
satriyane loro, putrane Wiraraja, duwe atur marang Gustine supaya ngungsi
menyang Madura. Sang Pangeran maune ora karsa, nanging suwe suwe
nuruti. Ana ing Madura ditampani kalawan becik. Rembuge Wiraraja, Raden
Wijaya diaturi suwita menyang Daha. Wiraraja sing arep nglantarake. Yen wis
kelakon suwita Raden Wijaya diaturi nyetitekake para punggawa ing Daha,
sapa sing kendel utawa jirih, tuhu utawa lamis. Yen wis antara suwe diaturi
nyuwun tanah tanah Trik, dibabada banjur dienggonana. Raden Wijaya nurut
ing pitudhuh, lan iya kelakon suwita ing Daha. Kacarita pasuwitane kanggep
banget, amarga saka pintere nuju karsa, lan saka pintere olah gegaman; wong
sa Daha ora ana sing bisa ngalahake. Kabeh piwulange Wiraraja ditindakake,
dilalah Sang Prabu teka dhangan bae, malah bareng tanah Trik wis dibabad,
Raden Wijaya nyuwun manggon ing kono iya dililani. Kacarita nalika babade
tanah Trik mau, ana wong kang methik woh maja dipangan, nanging rasane
pait. Awit saka iku desa ingkono mau banjur dijenengake Majapait. Bareng
Raden Wijaya wis manggon ing Majapait, rumangsa wis wayahe tata tata males
ukum, ngrusak kraton Daha, ananging Wiraraja akon sabar dhisik, awit isih
ngenteni prajurit saka nagara Cina kang arep ngukum wong Singasari. Karepe
Wiraraja arep ngrewangi Cina bae dhisik, besuke arep mbalik mungsuh Cina.
Wiraraja banjur boyong sakulawargane lan saprajurite menyang Majapait
ngumpul dadi siji karo Raden Wijaya.06 Perangan Kang Kapisan
Bab 6
Karajan Melayu Ing Bab 5 ana critane
Prabu Kartanagara enggone anjangka undhaking jajahane.
Ana ing tanah Sumatra kelakon bisa oleh jajahan. Ing ngisor iki crita sathithik
tumraping karajan karajan ing tanah Melayu. Kacarita ratu ing Funan, kira
kira ing sajroning abad 3 ngelar jajahan, ngelun tanah Sumatra, Jawa lan liya
liyane, ayake ratu iku kang yasa reca reca ing tanah Pasemah. Ing abad kapitu
ana golonganing para pangeran saka ing Indhu Buri, padha manggon ing
sakiwa tengening Palembang, banjur ngedegake nagara gedhe, jenenge karajan
çrivijaya (= Syriwijaya, sinebut ing bangsa Cina nagara: Sambotsai). Ratu
ratune padha darah Warman, isih dumunung sanak karo darah Purnawarman
ing Tanah Jawa dhek abad 4 – 5, apadene darah Mulawarman ing Kutai lan
Borneo dhek watara tahun 400. Nagara çrivijaya jajahane kira kira Sumatra
sisih kidul lan tengah, Malaka, Kamboja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing
tahun 686 ratu agung ing negara çrivijaya nglurugi Tanah Jawa, awit Tanah
Jawa ora tuhu pangedhêpe marang çrivijaya. Sajroning abad 10 prajurit Jawa
genti nglurugi çrivijaya, menang, nanging ora suwe çrivijaya bisa kombul
maneh. Praja iku ajeg enggone nglakokake utusan marang Narendra ing Cina.
Ing sajroning abad 12 lan 13 nagara gedhe çrivijaya pecah dadi karajan cilik
cilik. Darah Warman jumeneng ana ing tanah kang sinebut tanah: “Melayu”
yaiku saikine Jambi. Rehning pasisire tanah Melayu kono akeh rerusuh, wonge
akeh kang padha ngungsi marang tanah pagunungan kang loh, ana ing kono
padha dedhukuh. Bareng Tanah Jawa gedhe panguwasane, Prabu Kartanagara
(1268 – 1292) kalakon bisa ngrusak kutha Pasei, lan ngejegi Jambi,
Palembang, Riouw sarta kutha kutha akeh ing Borneo apadene pulo pulo ing
Moloko. Ing saantaraning tahun 1275 lan 1293 wong Jawa nglurugi tanah
pagunungan Jambi mau yaiku tanah kang besuke aran Menangkabau.
Lurugan iku diarani: Pamalayu. Ing tahun 1268 Prabu Kartanagara angganjar
reca marang ratu ing Dharmmaçraya (Darmasraya) uga dumunung ing tanah
Jambi, ing saikine ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing besuke
kalebu jajahan Majapait, rajane darah Warman jejuluk Tribuwana
(Mauliwarman) kagungan garwa bangsa Melayu, kang putrine (putrane putri)
ayake dai garwane Raden Wijaya biyen. Sang Raja Tribhuwana melu karo
bangsa Jawa nglurugi tanah Padhang Hulu. Miturut carita Melayu, lurugan
mau ora oleh gawe, mung marga saka klebu ing gelar, kalah enggone adu kebo,
mulane kuthane banjur jeneng Menangkabau iku. Ana raja wewengkone
karajan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman nagarane ing Malayupura, kang
ing tahun 1347 wus merdika, ambawa pribadhi, iku nglurugi Menangkabau,
nanging ora nganti dadi perang, malah banjur diangkat dadi raja ing kono, awit
pancen dianggep bangsa Melayu. Jumenenge ana ing Menangkabau wiwit
tahun 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanane lan pintere nyekel praja.Tumeka saprene Sang Adityawarman sarta nayakane loro kang aran Papatih
Sabatang lan Kyai Katumanggungan isih dipundhi pundhi marang bangsa
Menangkabau. Sapungkure Sang Aditya wis ora ana raja ing Menangkabau
kang kecrita. Negarane pecah pecah, ing saiki isih akeh titike, mungguh ing
kaluhuraning para raja Jawa asal Indhu, ana ing tanah Menangkabau kono,
luwih luwih tumraping basa lan sastrane. Darah raja raja kuna ing
Menangkabau mau enteke durung lawas, kang pungkas pungkasan putri,
sedane lagi saiki bae.
Ing tahun 1377 kutha Sanbotsai ing tanah Palembang rinusak ing balane
Prabu Ayamwuruk. Kang kuwasa ing tanah Palembang kasebut jeneng Arya
Damar nurunake Raden Patah (+/- tahun 1500). Awit saka ambruking karaton
Majapait, Palembang iya katut apes, besuke kalah karo Banten. Kaluhuraning
Tanah Jawa ana ing Sumatra sisih kidul kono tumekane dina iki uga iya isih
akeh tilas tilase.
07 Perangan Kang Kapisan
Bab 7
Perang Cina lan Adege Karajan Majapait (1292)
Ing tengah tengahane tahun 1292 Maharaja Choebilai sida ngangkatake wadya
bala menyang ing Tanah Jawa perlu arep ngukum Prabu Kartanagara. Ana ing
pacekan (Surabaya) prau Jawa kalah, nuli bala Cina arep nglurugi9 Daha,
kang dikira panggonane Kartanagara (kang nalika iku wis seda). Kacarita
Raden Wijaya dhek jaman samono wus wiwit mbalela marang Jayakatwang
ratu ing Daha. Sarehne duwe pangarep arep bisaa ditulungi ing Cina numpes
ratu ing Daha, mulane Raden Wijaya banjur gawe gelar ethok ethok arep teluk
marang senapati Cina. Kabeneran ora let suwe Majapait, panggonane Raden
Widjaya ditempuh ing wong Daha, Raden Wijaya entuk pitulungane wong Cina
bisa menang. Wasana ing tahun 1293 kutha Daha dikepung ing balane Shih
Pih lan Raden Wijaya, Daha bedhah, ratune kacekel, peni peni raja peni dijarah
rayah, Raden Wijaya nulungi putri putri, putrane Prabu Kartanagara digawa
oncad menyang Majapait. Ora antara suwe, marga saka akale Wiraraja, Raden
Wijaya bisa ngusir prajurit Cina. Wondene prajurit mau, senadyan kesusu
susu meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengaji mas satengah yuta tail
lan tawanan wong satus saka Daha. Raden Wijaya banjur jumeneng Nata ing
Majapait, jejuluk Kertarejasa Jayawardhana utawa Brawijaya I (tahun 1294 –
1309).
Sawise jumeneng Nata, Sang Prabu anggeganjar marang sakabehing kawula
kang maune labuh, marang panjenengane. Wiraraja dibagehi tanah Lumajang
saurute. Putrine Kartanagara papat pisan dadi garwane Sang Prabu, lan isi anagarwa paminggir siji saka tanah Melayu aran Sri Indresywari. Saka garwa
paminggir iki Sang Prabu kagungan putra R. Kaligemet, kang besuke nggentos
kaprabon, ajejuluk Jayanegara, saka Prameswari Sang Prabu peputra putri
loro. Ing tahun 1295 R. Kalagemet lagi yuswa sataun wis diangkat dadi
pangeran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibune kang ngembani nyekel praja
Kedhiri. Ing nalika panjenengane Prabu Kertarejasa Jayawardhana iku, Tanah
Jawa karo Cina becik maneh, perdagangane gedhe, wong Cina teka ing Tanah
Jawa nggawa mas, salaka, merjan, sutra biru, sutra kembang kembangan,
bala pecah lan dandanan wesi. Saka ing Tanah Jawa, Cina kulak: beras, kopi
kapri, rami, bumbon craken luwih luwih mrica, barang barang mas utawa
salaka, bangsa dandanan kuningan utawa tembaga, tenunan kapas lan sutra,
welirang, gading, cula warak, kayu warna warna, manuk jakatuwa lan barang
nam naman.
Ing Tanah Jawa ing wektu iku akeh palabuhan rame, kayata: Tuban, Sedayu;
Canggu. Nalika jamane ratu iki ing bawah karaton Majapait kena dibasakake
ungsum kraman. Para satriya kang melu lara lapa dhek jamane Raden Wijaya
saiki ora oleh ati, awit Sang Prabu mung anggega aturing nayakane kang aran
Mahapati, wasana para satriya mau banjur genti genti padha ngraman,
nanging temahan asor jurite. Ing tahun 1328 Sang Prabu seda, dicidra ing
dukun kang didhawuhi ambedhel salirane. Sasedane Prabu Jayanegara kang
gumanti sadhereke putri, kang sesilih Bhreng Kauripan banjur jejuluk
Jayawisynuwardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih
Kartawardhana, misuwur pinter, sregep lan jejeg penggalihe. Sang Pangeran
diangkat dadi panggedhening jaksa lan oleh lungguh bumi Singasari
sawewengkone. Gajahmada dadi warangkaning ratu. Karepe Gajahmada arep
nungkulake satanah Jawa kabeh lan pulo pulo sakiwatengene. Ora let suwe
yaiku tahun 1334 Sumbawa lan Bali bedhah banjur kabawah marang
Majapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahake Lombok, Madura,
Blambangan lan Selebes sabageyan. Senapatining prajurit kang ngelar jajahan
ing sajabaning Jawa aran Nala. Ing tahun 1334 Sang Raja putri mbabar miyos
kakung diparabi Ayam Wuruk, kang banjur dijumenengake Nata, nanging isih
diembani kang ibu nganti tekan tahun 1350.
08 Perangan Kang Kapisan
Bab 8
Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara,
Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 – 1389)
Awit saking gedhene lelabuhane Patih Gajahmada, nagara Majapait saya suwe
saya misuwur kuwasane. Prabu Ayam Wuruk tetep jumeneng ratu agung
binathara ngereh sapepadhaning ratu. Sang Nata krama oleh nakdhereke
piyambak kang wewangi Retna Susumnadewi. Para santanane padhaginadhuhan tanah dhewe dhewe ing samurwate. Dene kuwajibane para
santana utawa adipati mau ing mangsa kang wus ditamtokake kudu ngadhep
ing panjenengane Nata, mulane kabeh padha duwe dalem becik becik ana ing
Majapait, muwuhi asrining nagara. Ing jaman iku ana pujangga kraton aran
“Prapanca” (Budha). Ing tahun 1365 pujangga iki nganggit layang kang aran
Nagarakertagama. Ana maneh pujangga aran Empu Tantular nganggit layang
Arjunawiwaha. Majapait ing wektu iku emeh mbawahake satanah Indhiya
Wetan kabeh, kayata: Tanah Jawa Wetan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung
tekan Acih (Perlak), Borneo (Banjarmasin), Selebes (Banggawai, Salaiya,
Bantaiyan), Flores (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan
sabageyaning Nieuw Guinea.
Tanah Sundha ora ditelukake. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau
ajejuluk Prabu Wangi, putrane putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosake,
ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi
perang. Prabu Wangi seda ing paprangan lan akeh punggawane kang mati ana
paprangan; ewadene tanah Sundha ora dibawah Majapait, isih madeg dhewe
ing sateruse.
Ing Jaman samono paro ajar utawa pandhita (agama Budha utawa Syiwah)
melu nindakake paprentahan nagara, mulane padha diparingi lungguh bumi
dhewe dhewe kang diarani bumi: Pradikan. Padesan ing sakubenging candhi
utawa padhepokaning para pandhita lumrahe uga dadi bumi pradikan, wonge
diwajibake jaga lan ngopeni candhi padhepokan mau. Kawula liyane padha
kena pajeg prapuluhan (saprapuluhing pametuning bumine), lan kena ing
pagaweyan gugur gunung lan sapepadhane. Pajeg rajakaya, pajeg panggaotan
lan tambangan ing wektu samono iya wis ana. Pametoning praja gedhe banget,
perlu kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo
yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan
pasanggrahan lan liya liyane.
Ing nagara Majapait wis akeh omah kang becik becik, payone sirap, dene omah
kang lumrah padha apager gedheg, ananging ing jero racake ana pethine watu
kang santosa perlu kanggo nyimpen barange kang pangaji. Wong wong dhek
jaman samono padha doyan nginang, senengane padha tuku bala pecah saka
juragan Cina, pambayare nganggo dhuwit sing diarani Kepeng. Wong lanang
padha ngore rambut, wong wadon gelungan kondhe. Wiwit enom wong wong
padha nganggo gegaman keris, lan gegaman iku kerep diempakake. Wong yen
mati jisime diobong, yen sing mati iku bangsa luhur utawa wong sugih bojo
bojone (randha randhane) padha melu obong. Ora adoh saka nagara ana papan
kanggo adu adu kewan utawa uwong utawa kanggo karameyan liya liyane.
Papan iku arane “Bubat”. Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing
Blambangan saurute iya tau dirawuhi.Prakara perdagangan iya dadi gedhe banget, awit saka majuning lelayaran
kagawa saka kehing nagara nagara kang kabawah ing Majapait sing kelet letan
sagara. Bab kagunan, kayata: ngukir ukir sapepadhane, kombule ing Tanah
Jawa Wetan dhek pungkasane abad kang katelulas, lan ing wiwitane abad
kang pat belas, mung bae panggawene reca reca kang apik apik iku nganggo
tuntunaning wong Indhu utawa nurun kagunan Indhu. Cekaking carita: Nalika
panjenengane Prabu Ayam Wuruk iku, Majapait lagi unggul unggule,
samubarang lagi sarwa onjo. Prabu Ayam Wuruk tilar putra kakung miyos
saka selir asma “Bhre Wirabhumi” jumeneng Nata ana ing bageyan kang
wetan. Dene kang nggenteni keprabon Majapait putra mantune Sang Nata,
ajejuluk Wikramawardhana (tahun 1389 – 1400). Ing tahun 1400 Sang Prabu
seleh keprabon, kersane arep mandhita, ananging sapengkere Sang nata, putra
lan sentanane padha rebutan nggenteni keprabon. Prabu Wikramawardhana
banjur kapeksa kundur jumeneng ratu maneh nganti tekan tahun 1428.
Sajroning jumeneng sing keri iki Sang Prabu nerusake merangi santanane
kang wus kabanjur ngraman nalika Sang Prabu jengkar saka kraton. Rehning
perang iki nganti suwe dadi nganakake kapitunan akeh lan karusakan gedhe,
awit teluk telukan ing tanah sabrang banjur padha wani mbangkang wus ora
gelem kabawah Majapait. Tataning kawula iya banjur rusak. Prakara paten
pinaten wis dadi lumrah. Akeh wong main lan adu jago totohane gedheni. Ing
tahun 1428 – 1447 kang jumeneng nata ratu putri jejuluk Retna Dewi Suhita,
putrane Prabu Wikramawardhana saka garwa paminggir. Teruse banjur banjur
Prabu Kertawijaya (1447 – 1452) lan maneh Prabu Bhra Hiyang Purwawisyesa
(1456 – 1466), Pandan Salas (1446 – 1468), banjur Prabu Bhrawijaya V (1468 –
1478). Mungguh babade ratu ratu kang wekasan iki ora terang, mulane ora
disebutake. Ana ratu ing nagara Keling (salor wetane Kedhiri, sakidul kulone
Surabaya) jejuluk Prabu Ranawijaya Giridrawardhana ngelar jajahan nelukake
Jenggala, Kedhiri lan uga mbedhah Majapait (tahun 1478). Bedhahe Majapait
iku kuthane ora dirusak, awit ing tahun 1521 lan 1541 nagara Majapait isih
kecrita kutha kang gedhe. Suwe suwe kutha Majapait dadi rusak, awit wong
wonge kang ora seneng kaereh ing kraton liya, padha genti genti ninggal
negarane, nglereg marang tanah Bali. Saiki Majapait mung kari patilasan bae,
awujud pager bata tilas mubeng lan tilas gapura (Candhi Tikus, Bajang Ratu).
Isih sajroning jaman Majapait, agama Islam wis mlebu saka sathithik, saya
suwe saya bisa ngalahake dayaning agama Indhu ana ing Jawa Wetan.
Mungguh kaananing tanah Sundha ing wektu iku ora pati kasumurupan.
Sawise krajan Tarumanagara dhek abad 4 lan 5, mung ana kang kacarita
krajan Sundha ing tahun 1030 nagarane kira kira ing Cibadhak. Enggone ora
ana wong manca kang mlebu mrono, marga saka kehing bajag kang padha
nganggu gawe ing sauruting pasisir. Ing Priyangan sisih wetan ana krajane
aran Galuh, kang ngadegake ayake ratu aran Pusaka, ratu liyane jejuluk
Wastukencana lan Prabu Wang(g)i. ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya RajaPurana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan (Batutulis). Karajan iki aran
Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu
yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon
barang.
Perangan Kang Kaping Pindho Babad Tanah Jawa Wiwit Adege
Karajan Karajan Islam lan Tekane Bangsa Europa tumekane
Gempale Karajan Mataram lan Ambruke Vereenig de Oost indische
Compagenie (VOC) tahun 1500 – 1799.
09 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 1
Karajan Demak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582
Wiwitane ing Tanah Jawa ana agama Islam ing antarane tahun 1400 – 1425.
Ing tahun 1292 ing tanah Perlak ing pulo Sumatra wis ana wong Islam; ing
tahun 1300 ana wong Islam manggon Samudra Pasei. Ing pungkasane abad
kang ping 14 ing Malaka iya wis ana wong Islam.Tekane padha saka Gujarat.
Saka Malaka kono agama Islam mencar marang Tanah Jawa, tanah Cina,
Indhiya Buri lan Indhiya Ngarep. Kang mencarake agama Islam ing Tanah
Jawa dhisike yaiku sudagar Jawa saka Tuban lan Gresik, kang padha
dedagangan ing Malaka, padha sinau agama Islam, dadine Islam terkadhang
sok kepeksa. Sudagar sudagar jawa mau padha bali marang Tanah Jawa
Wetan, sudagar Indhu lan Persi uga ana sing teka ing kono lan nuli mencarake
agama Islam marang wong wong. Sing misuwur yaiku: Maulana Malik Ibrahim
(wong Persi?), seda ana ing Gresik ing tahun 1419, nganti saiki pasareane isih.
Bareng kuwasane karaton Majapait saya suwe saya suda, para bupati ing
pasisir rumangsa gedhe panguwasane, wani nglakoni sakarep karep. Para
bupati mau lumrahe wis padha Islam wiwit tumapaking abad kaping 16 (tahun
1500 – 1525), Jalaran saka iku kerep bae perang karo para raja agama Indhu
kang manggon ing tengahing Tanah Jawa.
Miturut carita: Sang Prabu Kertawijaya ing Majapait iku wis tau krama karo
putri saka ing Cempa (tanah Indhiya Buri). Putri mau kapernah ibu alit karo
Raden Rahmat utawa Sunan Ngampel (sacedhake Surabaya). Sunan Ngampel
kagungan putra kakung siji, asma Sunan Bonang, lan putra putri siji, asma
Nyai Gedhe Malaka. Nyai Gedhe Malaka iku marasepuhe Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun, yaiku kang sinebut: Sultan Demak kang kapisan.
Sunan Ngampel lan Sunan Bonang iku dadi panunggalane para wali. Para wali
mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Gresik), ana ing kono yasa kedhatonlan mesjid; Ki Pandan Arang (ing Semarang) lan Sunan Kali Jaga (ing Demak).
Ing tahun 1458 ing Demak wis ana mesjid becik.
Padha padha bupati ing pasisir pati Unus iku kang kuwasa dhewe. Pati Unus
uga kasebut Pangeran Sabrang Lor. Iku putrane Raden Patah utawa
Panembahan Jimbun. Ing tahun 1511 Pati Unus mbedhah Jepara, Ing tahun
1513 nglurugi Malaka. Enggone tata tata arep nglurug mau nganti pitung
tahun lawase. Lan bisa nglumpukake prau kehe nganti sangang puluh lan
prajurit 12.000, apadene mriyem pirang pirang. Nanging panempuhe bangsa
Portegis ing Malaka nggegirisi, nganti Pati Unus kapeksa bali lan ora oleh gawe.
Pati Unus ing tahun 1518 uga ngalahake Majapait nanging Majapait dhek
samana pancen wis ora gedhe. Kuthane ora dirusak, mung pusaka kraton
banjur digawa menyang Demak sarta Pati Unus ngaku nggenteni ratu
Majapait.
Ing tahun 1521 Pati Unus seda isih enem lan ora tinggal putra. Kang gumanti
rayi let siji yaiku Raden Trenggana, jalaran rayine tumuli: Pangeran Sekar Seda
Lepen, wis disedani putrane raden Trenggana, kang aran Pangeran Mukmin.
Sajroning jumenenge Sultan Trenggana (tahun 1521 – 1550) karaton Demak
kuwasa banget, nguwasani Tanah Jawa Kulon, ngereh kutha kutha ing pasisir
lor lan uga mbawahake jajahan Majapait, sarta karaton Supit Urang (Tumapel)
uga banjur kaprentah ing Demak. Dene Blambangan iku bawah Bali.
Pelabuhan bawah Demak akeh sing rame, kayata: Jepara, Tuban, Gresik lan
Jaratan. Gresik lan Jaratan iku sing rame dhewe, wong kang manggon ing
kono luwih 23.000. Ing tahun 1546 Sunan Gunung Jati kalawan Sultan
Trenggana arep mbedhah Pasuruwan. Kutha Pasuruwan banjur kinepung ing
wadya bala, nanging durung nganti bedhah, pangepunge diwurungake, jalaran
Sultan Trenggana seda cinidra dening sawijining punakawan santana, kang
mentas didukani. Putrane Sultan Trenggana akeh. Putra putrine padha krama
oleh priyayi gedhe gedhe. Ana sing krama oleh bupati ing Pajang, kang asma:
Adiwijaya, yaiku Mas Krebet, Ki Jaka Tingkir utawa Panji Mas. Putrane Sultan
Trenggana loro: Pangeran Mukmin utawa Sunan Prawata, lan Pangeran Timur,
kang ing besuke dadi adipati ing Madura. Sunan Prawata iku kang nyedani
Pangeran Sekar Seda Lepen. Ing semu putrane Pangeran Sekar Seda Lepen
kang asma Arya Panangsang arep malesake sedane kang rama. Sakawit Arya
Panangsang nyedani Pangeran Mukmin sagarwane, nuli putra mantune Sultan
Trenggana, ora oleh gawe, malah Arya Panangsang bareng dipapagake perang,
kalah nemahi pati. Adiwijaya banjur nguwasani Tanah Jawa: amboyong
pusaka kraton menyang Pajang lan nuli dijumenengake Sultan dening Sunan
Giri. Nalika Adiwijaya jumeneng ratu ana ing Pajang, blambangan lan
Panarukan kabawah ratu agama Syiwah ing Blambangan, kang uga
mbawahake Bali lan Sumbawa (tahun 1575). Jajahan jajahan ing Pajang
kaprentah ing pangeran (adipati) yaiku: Surabaya, Tuban, Pati, Demak,
Pemalang (Tegal), Purbaya (Madiyun), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyumas),Ana ing tanah Pasundhan karaton Pajang meh ora duwe panguwasa, jalaran
ing tahun +/- 1568 tanah Banten dimerdikakake dening Hasanuddin, dadi
tanah kasultanan.
10 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 2
Karajan Mataram Nalika Jumenenge Senapati
(tahun 1582 – 1601)
Ana wong linuwih sinebut Kyai Gedhe Pamanahan, asale mung wong lumrah
bae. Jalaran saka akeh lelabuhane marang Sultan Pajang, banjur didadekake
patinggi ing Mataram. Nalika iku tanah Mataram durung reja lan Pasar Gedhe,
padunungane Kyai Pamanahan mau isih awujud desa.
Putrane Kyai Gedhe Pamanahan kang asma Sutawijaya utawa Raden Bagus,
utawa Pangeran gabehi Loring Pasar iku dipundhut putra angkat dening
Sultan Pajang lan nganti diwasa tansah na ing kraton , dadi mitrane Pangeran
Pati yaiku Pangeran Banawa. Ing tahun 1575 Sutawijaya gumanti kang rama
ana ing Mataram, oleh jejuluk Senapati Ing Ngalaga Sahidin Panatagama.
Panembahan Senapati (Sutawijaya) mau banget ing pangarahe supaya bisa
jumeneng ratu. Ing sasi Mulud ora ngadhep marang Pajang, lan Pasar Gedhe
didadekake beteng, ndadekake kuwatire Sultan Adiwijaya. Kelakon ora suwe
banjur peperangan, Adiwijaya kalah lan ing tahun 1582 seda jalaran karacun.
Pangeran Banawa ora wani nglawan Senapati. Senapati banjur ngaku
jumeneng Sultan, sarta pusakaning kraton kaelih marang Mataram. Senapati
ngerehake Mataram ing tahun 1586 – 1601. Jajahan jajahan karaton Pajang
kang wis kasebut ndhuwur kaerehake ing Mataram kanthi ngrekasa banget.
Senapati kepeksa kudu kerep perang, kayata: perang karo Panaraga, Madiyun,
Pasuruwan lan luwih luwih karo Blambangan. Ewadene Blambangan iku ora
bisa kalah babar pisan. Karo Senapati memitran. Banten arep ditelukake,
nanging ora bisa kalakon. Galuh pineksa kareh Mataram. Ing nalika iku akeh
kutha kutha pelabuhan kang rame, padha ditekani wong Portegis, ora lawas
wong Walanda iya padha nekani ing kono. Dedagangane mrica, pala, cengkeh,
kapas lan barang barang liyane akeh, nanging bab kawruh lan kagunan ora
pati diperduli. Ing tahun 1601 Senapati seda, kang gumanti putra Mas Jolang.
Pasareyan Senapati nunggal kang rama ana ing Pasar Gedhe sarta padha
pinundi pundhi.
11 Perangan Kang Kaping Pindho
Bab 3
Karajan Banten lan Cirebon wiwit jumenenge Sunan Gunung Jati (+/- tahun 1527) tumeka Sedane maulana Mohamad (tahun 1596) Ing wiwitane abad kang ping 16 ing Tanah Jawa Kulon ana nagara aran Pajajaran, Kutha aran akuan. Kutha pelabuhan iya duwe, yaiku Banten lan Sundha Kalapa, nanging dedagangane urung rame. Awit saka Malaka ing tahun 1511 kacekel ing bangsa Portegis, para sudagar Islam padha dedagangan ana ing pasisire lor Tanah Jawa Kulon. Ing Banten nuli anapedagangan gedhe, dagangane mrica. Ing nalika iku ana wong Pasei (Sumatra), agamane Islam, teka ing Tanah Jawa Kulon merangi ratu ing Pejajaran nganggo prajurit saka ing Demak. Wong Pasei mau ing tembene aran SunanGunung Jati, maune bok menawa aran Faletehan. Iku ipene Raden Trenggana.Marga saka pitulungane Raden Trenggana ing tahun 1527 bisa mbedhah Sundha Kalapa (Jayakarta utawa Jakarta) lan Cirebon. Ing tahun 1552 SunanGunung Jati ing Banten digenteni kang putra Hasanuddin. Dene putra liyane kang asma Pangeran Pasarean, iku kang nurunake para Sultan ing Cirebon. Faletehan seda ing tahun 1570 ana ing Cirebon lan disarekake ana ing punthuk Gunung Jati. Kutha Pakuan bedhahe sawise tahun 1570. Para wong ing Tanah Jawa Kulon banjur dipeksa manjing agama Islam. Nalika Faletehan seda kang jumeneng Sultan ing Cirebon Panembahan Batu, yaiku buyute Faletehan mau. Hasanuddin iku krama oleh putrine Pangeran Trenggana.
Bareng Pangeran Trenggana seda, karaton Banten banjur madeg dhewe (tahun 1568). Hasanuddin uga nelukake Lampung, sarta raja Indrapura ngaturake putrane putri minangka garwa. Kutha Banten dadi rame lan pelabuhane gedhe. Ananging kutha urut pasisirana 750 M, dene ujure marang dharatan +/- 1600 M. Prau prau bisa lumebu
ing kutha metu ing kali kang nrajang kutha mau; saiki kaline wis waled,
jalaran wedhi. Kutha mau kang sasisih dipageri lan ana gerdhu gerdhune
panggonan prajurit jaga tuwin panggonan mriyem.
Hasanuddin seda ing tahun 1570, banjur kasarekake ing Sabakingking. Kang
gumanti kaprabon Pangeran Yusup.
Nalika iku wong Banten yen nandur pari lumrahe ana ing pategalan (ladhang).
Sawise dieneni parine banjur ora ditanduri maneh, wong wonge banjur golek
panggonan liya digawe ladhang, yen wus panen iya diberakake maneh, enggone
nanduri iya kaya kang wis mau. Sing kaya mangkono iku tumraping lemahe
mesthi bae ora becik. Bareng Pangeran Yusup jumeneng Sultan, wong wong
padha didhawuhi sesawah. Jalaran saka iku wong tani iya kapeksa milih
panggonan sing tetep, ora pijer ngolah ngalih, iku njalari anane desa desa.
Pangeran Yusup uga dhawuh yasa bendungan lan susukan susukan perlu
kanggo ngelebi sawah.

 OURCE

https://sites.google.com/site/babadnusapenida/sejarah-babad/babad-tanah-jawi

terjemahan dengan mesin yang belum diedit karena huruf oe belum diganti dengan ejaan saat ini jadi u

sebagian sudah diedit,yang sudah diedit dapat dibaca dalam buku asli

Chronicles TANAH Java


Gubahanipun

L. Van Rijckevorsel Directeur Normaalschool
Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool
Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – dibuat Haag –
Weltervreden – 1925
Segmen Chronicles
masa pertama sampai Indhu
Hancurkan Kerajaan Majapahit abad ke- 2 atau 3
sampai  abad ke 16

 

 

 

Bebuka .
Moenggoeh Chronicles of Doeroeng Ek Kate In.
u orang In.ija – timur . ,
seprene sangat e.i.ik kesengsaraan kawr
uhan . Bahkan In.oe iku I IJA
doeroeng kasoemoeroepan cerah . Ek

 

 ketika datang Ken Elan keprije
situasi di mana saya mulai – wiwitane.M
ung kesengsaraan Jakin , dan en kemadjoean prosedur , susilaning In.ija di sini benih – sekawite dari n.u dajaning

 

Tanah di  kidul.Katjarita yang tahun 261


sad
urunge taoen Aland di In.u di layar Rato adjedulul memiliki Açoka ,
djoemeneng mengatur negara Patalip
utra ( di sawetan Benares ) , dan agama
B
udi . Krishna Raja praja Tjilik – Tjilik dalam saubenging di mana Anda ingin
dig
ulung didadekake Satu tanah, yang ge.e dan pengadilan .

Akhirnya dapat terjadi ,satanah hampir semua depan In.u mlumpuk , kinuwasan (kawasan) di Rato Sawidji .

 

Mung di puntjit kidul dari saloring Madras dan Mangalore , kratonkratone(para Keratonya)  Didirikan  Prasati (presasat . Ewe – .ewe) , bukan kematian kewengku di praja – praja


tanah utara . Pradja – praja yang kidoel ikoe maoe oega ge.e dajane toemraping
kemadjoean dan prosedur soesilaning – tanah – tanah di sakoebenge . itu
Penobatan(djumeneng)  Rato :

 1

 Pan.awa tersebut ( Pandawa ) dari kotjap Singles di Mahabharata .

 

 

 

 

2

Darah Palawa ( ajake peketjapan di Jawa : Malawi ) kesuwur
sejak at
usan taun sadurunge taun Belanda abad 9 , dan
komb
ul – kombule dimulai pada pertengahan abad ini sampai pertengahan abad ke 6 8 . dalam Djaman iku VC – musim adegan jejasan Edi – Edi , kajata : tjan.i – tjan.i mahendra jasane – Warman ( 600-625 ) .

Ada orang orang yang religius cina Budi Huen – Tsang njandra praja Pallava iku surasane mengatakan Jen dan tanah Lph Proses betjik , mereka pa.a pundjul di kawanterane , setia – tuhu , rukun dan ngudi yang kawruh u.aking .


The Bold lelajaran , dapat membuat koloni- koloni di Indo -China ,
Malaka dan kapuloan Sun.a , IJA bangsa di In.u kidul iku , luwih – luwih yang Pallava . Karena satus taunan sadurunge taun Belanda adalah tempat , di mana beberapa dari mereka menetap In.u , dan ge.e – ge.eninge migratie pada abad 2 sadjroning 6 , bokmenawa kegawa dari In.u tanah di mana kakehen djiwane dan karena paperangan bangsa bangsa elore tersebut .

 

koloni yang ge.e – ge.e , jaiku : Tjampa di Annam pasisir timur . Kambodja , kaedegake di taun 435 . Dan dijasani tjan.i – tjan.i Brahma oetawa Boedi luar biasa . Kutei di utara Kalimantan , dan Sukadana di Kalimantan – kidul . Palembang ( Sriwijaya ) Jawa – pusat

 

01 , perang pertama
Bab 1
Indhu kerajaan di Jawa Barat Tanah
( Dari 2 atau 3 abad )

 

Kedatangan tanah, tanah iku In.u membawa agama ( Boedi utawa
Brahma ) dan berbagai kag
unan , kajata matja , nulis , mba.ik , medel ;
layanan bandj
ur tjan.i – tjan.i dan keluarga baik – baik. The Pribumi diweruhake
perdagangan barang , berbagai , jaik
u dari san.ang – penganggo ,
senjata , Peni Peni – awowdjoed ontjen m
utiara , bekakas – bekakas lijane

 

 

The abakal ga.ing utawa emas , dan sapanoenggalane .
Sriwijaya ikoe terang Jen kegolong yang ge.e. Ewe , bahkan bokmenawa
hen kawr
uh dan kagunan tumraping lijane lahan – lahan yang kasbut
tersebut .
uwur . Tidak ada perkiraan Jen Jayawarman , Narendra di Kambodja ,
Awal layanan k
u.a dan tjan.i – tjan.i Angkor , iku Darah Rato di Sumatra .

 

Praja – praja mau di sekawit suwe enggone Budi dengan agama . Yang kasumurupan , kerajaan Indhu di Tanah sendiri , yang disebut kerajaan ” Tarumanagara ” ( Tarum = nama sungai Tom .
Citarum ) .


Kerajaan abad dhek 4 dan 5 telah , dan VC mangsaning

 

Adegan bukanlah pengetahuan . Raja Raja Purnawarman Darah . Sekilas gambar
gambar-gambar bunga Tunjung di batu batu patilasan , Darah
Purnawarman sama dengan agama Wisnu.

 

Pada tahun 414

bernama Cina FA Hien , rumah dari enggone sujarah patilasane Buddhis Imam , di tanah Indhu Rumah mengunjungi di Tanah 5 bulan .

Catatan menjelaskan cara :
1 . Dan banyak orang tidak memiliki agama ( Majapahit ) , dan tidak ada yang
satu agama dhewekne : Budha.

2 . Orang Cina tidak memiliki , karena tidak dalam catatan .

 

3 . Ketika naik Kapal  Indhu dari 200 orang , ada dedagangan , hanya bepergian , Anda ingin menjadi Canton .
Jika itu adalah cara dari tanah dedagangan layar Indhu ke
Cina adalah tanah di Tanah genting .

 

 

Dalam tahun 435 bahkan memiliki utusan kepada Raja Barat Cina , menawarkan ngaturake kepada kaisar di tanah China , serta Mark tetepungan
yang mudah kontur dedagangan .

Tarumanagara kerajaan tidak kasumurupan beberapa tahun terakhir dan
bagaimana usang .

The Indhu ada tidak ngowahake adat dan kehidupan bumi , karena kita tidak mengajarkan apa yang Anda lakukan , dan orang-orang di bumi mungkin
mungkin tidak memiliki kapinterane menurunkan Indhu .
Namun, kekuatan itu kaundhakaning pengetahuan mbatik dan nyoga jarit .

 

Pertama 02 segmen
sekitar 2
Indhu kerajaan di Jawa Tengah ( abad ke-6 )
Sekilas dari:
1 . Rekaman Cina .
2 . Unining ditulis dalam batu dan batu Borobudur .
3 . Catatan dari orang-orang Arab , memiliki beberapa kasumurupan beberapa
kaananing bahwa Indhu di Jawa Tengah di dhek
sam
ana .
Abad pertama Kanem orang Indhu baru datang di Tanah
The West . , Di mana mereka mungkin pada lelara , sehingga mereka nglereg
barat , ke Tanah Jawa Tengah .
Java waktu sam
ana , adalah tingkat yang sangat kapinterane , jika ditandhing tersebut
The Indhu satunya adalah Ibu , sehingga turun – dan Sorani . itu
Indhu dan ngadegake kerajaan di Jepara . Rumah keluarga yang padunungane
Jawa , aku punya keluarga yang sama rumah sekarang , atau apayon Atep
eduk dan Kepang tersebut .

 Enggone dedagangan lelawanan dengan Cina;
produk dedagangane seperti : emas, perak, warna gading , dan pilihan lainnya . Cina Cina
memanggil Negara Kalinga , Besuki , aku menelepon :

 

 

 

Jawa . My Kingdom untuk jangka
Saya besar, bahkan kerajaan kecil mbawahake 28 ( dua puluh delapan) . itu
Cina juga mengacu pada nama putri raja : Sima ; dikandakake baik
engg
ane baik catch- directed Praja ( 674 tahun ) .

 Tulisaning batu Sabtu cirine 732 tahun , jadi itu sudah tua , ada sekitar Kateman
Magelang , lihat , bahwa raja muncul , jejuluk PrabuSannaha , sebuah istana yang besar , yang mencakup jajahane tanah Kedhu ,
Yogyakarta , Surakarta dan bokmenawa di Jawa Timur juga mencakup wilayah kerajaan .

 

Cerita sekilas , kerajaan perdamaian dan prosedur seperti itu
teks dari Kateman di patilasan : meskipun orang-orang yang
tidur di jalan jalan , jangan takut , ada peringatan atau terlarang lainnya . Kata sekilas Arab, dhek pusat pusat abadkesembilan , raja di tanah mbawahake harus di Malaka
( timah Pamelikan ) .


Kerajaan atas semua pengetahuan ini tidak , tapi kemudian ada
esai ditulis di batu bahwa VC tahun musiman 919 , lihat
Kerajaan Mataram kerajaan Jawa . Ini jajahane , berdasarkan Kedhu saat ini,Yogyakarta , Surakarta , manglore laut , tanah barattanah di Jawa Timur dalam beberapa . Disebut kota mereka : Mendhangkamulan .

 

Pembicaraan Arab, ada raja-raja dan kerajaan mbedhah Khamer ( Indhu
Buri ) . Bahwa itu adalah saringan kerajaan kerajaan Mataram . Juga Khamer ,
kerajaan pulau adalah Pulau mbawahake . Pulau ini berisi pegunungan pulau
api . Kerajaan emas kaya dan bumbu craken . Orang-orang Arab juga banyak
The lelawanan dedagangan .


Sabakdane 928 tahun

 tidak ada rincian tentang apa yang di kerajaan atmosfer Kerajaan Mataram . Hal ini dilaporkan di Tanah dan Timur .

Saya Ayak kerajaan Mataram kerajaan rusak oleh panjebluge gunung Merapi ( Merbabu ) , dan banyak yang ngungsi barat .

 

Dalam abad ke 17

 Kerajaan Mataram

 Kerajaan didirikan kembali , besar dan daya IRIB IRIB kuno kerajaan Mataram kerajaan . Orang beragama Indhu tatap muka ngejawa sama. Di tanah pertumbuhan darah rakyatnya sendiri di kunane Indhu ngedhep Brahma dan WisnuSyiwah , dia kaaranan Trinitas . Kecuali itu juga sembah kediva banyak pilihan lain , seperti: Ganesya , putra dewa Durga . Menurut ajaran agama Indhu

Penjelasan dari empat kelompok , adalah:
– Para Brahmana ( Pemerintah ) .
– The Knight ( besar ) .
– The Wesya ( karya seni ) .
– The Syudra ( kasus ) .

 

Pengajaran agama dan padatane Indhu kaemot dalam surat yang terkenal ,
nama pasir . Kira sekitar 500 tahun sebelum tahun pertama dari Kristen,
Indhu Darah adalah besar peparab Syakya suara , Gautama
atau Buddhisme . Sebagai geseh mengajar orang yang sangat religius Indhu
mau . Buddha Priest meninggalkan kekayaannya , dan mengajar asesirik muruk orang . Juga tidak hormat diva diva , pengajaran :

 Sejak berdasarkan kemanusiaan dan aku , jadi jangan dibagi menjadi empat
kelompok . Brahmana Indhu Saya tidak ingin berpikir , sehingga sering
tidak teratur besar .

Di negeri orang Indhu Buddha dan masalah dengan Indhu agama . Acara Buddhisme hilang dan kemudian ngili ke Ceylon ke selatan , induk Buri , Thibet , Cina , Jepang . sebagai Agama Indhu pangedêpe tidak . Ada sangat welcome untuk memundhi Syiwah adalah Syiwaiet ( di Jawa Tengah ) , ada sangat
pangedêpe Wisynu , adalah Wisynuiet ( di Tanah Barat ) .

 

 

 

 

 

Juga mungkin banyak orang Budha , tetapi di Tanah agama agama bukan damai , tapi kadang-kadang saya campuran . agama Petilasane
Indhu saikine yang berat , seperti:
– Borobudur Borobudur di Plato Dieng ( Syiwah ) , raja bokmenawa yasane Darah
Sanjaya .
– Borobudur di Kalasan pada musim VC 778 tahun , ini saringan Borobudur tua
sendiri ( Buddhisme ) , yasane Raja Syailendra Darah .

 

– Borobudur Buddha diketahui bahwa Candi Borobudur dan Endut .

 

– Borobudur gambar ( Syiwah ) .

Di sekitar sana Prambanan Borobudur campuran dari Buddhisme dan Syiwah .

 

Pertama 03 segmen
sekitar 3
Dalam kerajaan di Jawa Timur
( 10 abad pertama – tahun 1220 )
Di atas kasebutake di Jawa Timur , kabawah kerajaan Indhu
kerajaan Mataram , tapi Indhu Tanah di Jawa Timur Tidak banyak kematian , dibandingkan dengan Tanah di Tengah( Kedu ) . Karena kebutuhan Indhu berkumpul dengan bumi , prasasat sebuah sabangsa tunggal. Pada abad pertama adalah 10 pepatihing Tanah kerajaan Pusat  merasa Oleh karena mpu Sindok lolos barat . Mari Oleh karena itu , beberapa tahun mpu Sindok raja berdiri di Timur , di kerajaan Hidup
( Paresidhenan Surabaya ke selatan ) .

 

Ambawahake : Surabaya , Pasuruwan , Kediri , Bali bok bahwa ia kabawah .
Enggone raja berdiri 944 tahun , dan ia jejuluk raja kerajaan Mataram .

 

Raja kerajaan Mataram yang sangat pangedêpe Buddhisme . Oleh karena itu ,
Sindhok terkenal pintar enggone ngereh Praja . Ada rekaman suara
mengatakan :

 ” Untuk raja terakhir berdiri enggone , marcapada muncul
damai; bulu Lucu bagaimana bumi sampai residu residu tidak kehe karuhan ” .

 

Pada tahun 1010

Erlangga berdiri masih raja , dan melanjutkan Militer enggonemangun dan sakit kepala jajahan .

Pada tahun 1037

 yang enggone Militer dilakukan , Reja negara , saya memiliki kedamaian . Istana di hidup . Dia tidak Erlangga lupa kabecikaning dari Pemerintah dan asketisme , membantu ketika diakasrakat . Seperti pamalesing kabecikane Pemerintah , raja membuat pasraman indah, terletak di bukit bawah tulis kaki . pasraman yang
kinubeng di patamanan oleh lebih garing , dan saya rerenggane Peni
dan eksotis . Dari Edin , asing Praja terkenal , setiap hari aselur yang sujarah sama .Pengadilan raja tegak lurus .

Desa nrajang peraturan hukum tanah Mereka hokum  kapatrapan atau didhendha . Perampok , pencuri , dll kematian hukum kapatrapan . Dia enggone
paprentahan Dibantu di priyagung 4 , hasil tanah pametuning
kursi .
Dari enggone manggalih pertanian , yang pagaweyaning saya banyak , raja membuat bendungan besar di sungai Brantas .

Raja juga memikirkan panggaotan dan dedagangan . Tuban ketikatempat samono pedagang , dapatkan upaya terlalu banyak raja yang majuning dedagangan dan lelayaran .

 

Raja duduk sinewaka tahta ( palenggahan titik Pesagi )
Aku mengenakan gaun gaun sutra , dan dr daftar diukel dengan cênela . Jika
wahana lahir dwipangga atau permukaan , 700 tentara berparade . Gambar dan saya
Memenuhi pergi ke raja dan jatuh di tanah ( Ndhodhok ngapurancang ) . Mereka memiliki Ngor rambut yang sama , enggone bebedan batas pada payudara . House, termasuk renyah , dengan atap payon kuning atau merah . Orang sakit tidak hanya minta tetamba pitulunganing diva I , atau Buddha . Orang-orang yang bahagia praon dan pegunungan dilacak perjalanan , banyak dari kuda atau Jolie . Dhek samono orang tidak memiliki tarian , seruling ensemble , kendhang dan dengan .

 

 

 Ia menolak Besuki di sapengkere raja berdiri Gumanti dua anak , juga, jadi kerajaan dan diparo : Jenggala ( sabageyaning : Surabaya dan Pasuruwan ) dan Kediri . Ini adalah keterbatasan : kandang dinding sinebut ” merkuri ” karenagunung tinggi Kawi , mangisor , oleh Leksa sungai dan ketertiban di branglore Brantas dari mangulon timur di desa , yang kini bernama ” Juga , ” kata selatan , adalah tentang kesiapan sampai waterside . Gugur kejatuhan dinding jalan masih ada , seperti di sekitar Leksa , sakulon dan sakiduling Sungai Brantas , dalam jumlah afd . Lansekap dan Blitar.Mungguhing Chronicles of Erlangga ia kaanggep sebuah cahaya kegelapan , untuk sedikit lebih kasumurupan cerita.
Pengetahuan sastra yang tinggi . Sebuah surat dalam surat yang berasal dari
sekarang adalah kisah wayang yang paling dikenal dan cerita teturutaning .
Surat bahasa disebut : Kuno , seperti:
1 . Mahabharata
2 . Ramayana dan Arjuna Wiwaha .
Kerajaan Jenggala Berkelanjutan tidak besar , karena hancur kerajaan hancur kecil ,
untuk anak-anak raja diwaris , Praja Jenggala ( Jenggala
baru) ; Tumapel atau Singhasari dan Urawan . Kerajaan kasus dekat
batas Kediri atau waktu yang terlibat dalam pengumpulan dan Kediri , yang lain adalah Didirikan
memiliki abad 13 . Pemerintah , Kediri ( Daha , Panjalu ) berdasarkan arus
mbawahake paresidhenan Kediri , beberapa Pasuruwan dan Madiyun .
Kota mereka di kota Kediri sekarang . Kerajaan pekerjaan untuk menjadi terkenal . dalam
sastra dan terlalu tinggi , hari Jayabaya ( abad
12 ) , yang sudah lebih dari yang sudah dan sampai sekarang sinebut besar ,
Apakah ada madhani a.

 

Pada tahun 1104

 istana bernama masyarakat : Triguna atau Managocna . Masyarakat adalah bahwa dengan surat dan Sumanasantaka Kresnayana . Raden Panji putra atau dilaporkan dalam kisah itu ,bokmenawa raja Daha , yang memiliki jejuluk Kamesywara I. Dia

 

 


Minggu pertama abad 12 .

Teman istri Raja ray ( ChandraRay ) , putra raja Jenggala . Musim bernama Oleh karena itu , masyarakatDharmaja dengan surat Smaradhana . Raden Panji sampai sekarang selalumelaporkan pada Dailymotion bioskop dan bioskop topeng gedhog . masyarakat Jayabaya Oleh karena itu , hati-hati dan merasa Oleh karena Panuluh .

 Oleh karena itu hati-hati dalam 1079 ( =1157 )

methik saperanganing Mahabharata , dianggit dan bagaimana didhapur
Jawa , yang disebut Bharata Yudha . Dan pada waktu itu telah cerdas ,
The Indhu kesilep , Indhu kerajaan telah menjadi kerajaan .

 

Pertama 04 segmen
sekitar 4
Ken Angrok Nelukake Kerajaan Kerajaan Kecil (1220 – 1247)

 

Tahun 1222

 adalah raja Tumapel atau Singhasari bernama Ken Angrok .
Cerita ken Arok dari kitab Pararaton . Surat Ketemune berada di
Kembali dhek tahun 1891.

 Ken Angrok lahir di sekitar Tumapel ( Singhasari ) asal pertanian standar I. Ken Angrok melaporkan perubahan Herry dan nenarik mencintai mereka , tapi sangat pangaji sangat menyukai Bapa dan wanimarang penggawa kesalahan . Pada hari-hari dari para Brahmana ditemukan dhewekne , mengatakan bahwa tetesan Wisnu dhewekne . Dia mengatakan bahwa Tapi, karena mereka tahu bahwa Brahmana Ken Angrok adalah hebat ingindan ketat Budin . Brahmana dan menemukan jalan bisane Ken Angrok

 

kacedhak Duke sana, Tunggul Ametung . Tidak ada lagi waktu antara
Ken Angrok kaabdekake terjadi. Ketika begitu , Ken Angrok danselalu menemukan cara bagaimana enggone dapat ngendhih Duke , nggenteni
berdiri . Ketemuning pengembangan dan Ken Angrok ndandakake Keris baik

 

Oleh karena itu , Gandring tersebut . Setelah Keris , terlihat baik jelas,
teman bernama Ken Angrok Keboijo kepencut ingin menggunakan , dan
nembung peminjam : Tidak ada . Dari itu , Keris digunakan setiap hari dan
ditampilkan pamerake , dikandhakake mereka .

 Ketika beberapa hari Ken Angrok dan mencuri Keris sendiri adalah teman dari disilih digunakan nyidra Pangeran D .

 Kematian terjadi , Keris kiri samping layon .
Urusaning materi : Ken Angrok teman Anda bertanggung jawab , diputus hukum
sampai mati . Ken Angrok dan bisa mendapatkan putri randaning Tunggul Ametung dan
Didirikan Gumanti Duke : Nama Ken Dhedhes .
Diadakan untuk Ken Angrok prosedur negara , Reja , sangat kecil Adore .
Setelah mbedhah kecil kerajaan di Jenggala , Ken Angrok dan emoh
Kediri , bahkan pada tahun 1222 mbedhah Praja Kediri terjadi
menang , Raja Kediri Kertajaya telah meninggal Sabal nggantung
arah yang sama . Kediri dan pabrik Duke kabawah Singhasari . ketika
Oleh karena itu , raja Sindhok Darah telah kehilangan semua Arok Ken , Ken Angrok
Raja dan berdiri besar , jejuluk memiliki Rejasa , yang merupakan nurunake yang
raja Majapahit .
Melaporkan Retna Dhedhes kematian Duke Tunggul Ametung
ambobot . Ketika musim dingin , anak Retna terbuka ,
Raden memberi peparab Anusapati . Dari Timur ke dewasa
Aku tidak tahu apakah itu benar bukanlah putra Raja Rejasa , tapi Merasa
bukan raja berkenan di , dengan Rayi sangat berbeda adiknya . dalam
Lahir hari Anusapati ibu berkata , ” Ibu, apa , dan Kangjeng
Sang ayah tidak datang kepada saya bahagia? ” The Retna sangat bermasalah
Galih mendengar mengatur sasambate anaknya , dan menempatkan keprojol
mengatakan , putranya dicritani lelakone sampai akhir.
Anusapati sangat pangungune , segera setelah hukum bermaksud jawaban ,
tapi masih sinamun sama sekali. Keris yasane Oleh karena Gandring diminta ,
pawatane hanya menginginkan yang anganggo . Ibu Lamba di Galih , Keris
diberikan .
Anusapati memanggil pelayan-pelayannya dan teman-teman , dan mereka memberi Keris diweruhake
di wewadine . Bengine ia meninggal pada kaprajaya duratmaka . Layone
Dia dicandhi di Kagenengan ( dekat Malang ) . Anusapatinggenteni masih raja . Anusapati tidak lagi berdiri , karena Raden Tohjaya
Anusapati tahu apakah Raman dibunuh , sehingga sumedya balasan dan hukum
juga terjadi . Tohjaya masih raja , tapi dia tidak lagi . Tohjaya utusan
mantrine bernama Lembar Ampal , didhawuhi menghancurkan kalilipe dua adalah :
Ranggawuni , anak Anusapati , dan nakdulure bernama Narasingamurti , ketika
tidak dapat terjadi , Lembar Ampal sendiri akan tunduk pada kematian hukum .
Tiba-tiba seorang Brahmana yang penuh belas kasihan kepada dua Raden , dan
wewarah diperlukan . Knight dan menyembunyikannya di Panji terletak
PatiPati . Sapi Ampal untuk dua Raden tidak ditemukan , dan tidak bisa pulang ke rumah ,
ngungsi yang Panji PatiPati . Bila ada cadangan ngiloni Raden dua
bahkan membahas petugas tidak sesuai dengan pembicaraan Tohjaya untuk merumuskan ,
Akhirnya terjadi, menemukan sampai mati.
Ranggawuni Raja Suriah ajejuluk berdiri Wisynuwardhana nakdhereke
Narasinga . Kematian priyagung keduanya sangat damai , sampai
dibasakake “Seperti Wisynu dan diri Endra Allah” . Istana naik
PULIH besar seperti dhek hari Erlangga , bahkan jajahane wuwuh
Madura . Raja meninggal pada tahun 1268, sebagai layone membakar kustom , awune
Setengah dicandhi di Weleri , membawa patung Syiwah , setengah
dipethak ada pemimpin Borobudur ( Put hal pada orang lain ) dengan patung Buddha . Mince di
agama Budha Syiwah campuran .
Pertama 05 segmen
sekitar 5
Kartanagara berdiri di Tumapel (1268 – 1292)
Raja Singhasari V , ia mekasi . Sasedane Suriah
Wisynuwardhana kematian hitung berdiri raja , raja ajejuluk Kartanagara .
Dia manggalih pengetahuan tentang sastra dan
manggalih Salib jajahan , tapi kurang ngatos kasar , dan saya ingin
minum sampai wuru . Ada nayakaning Praja bernama Goose Widhi Depan
Seseorang bernama Arya Wiraraja , makanan yang baik dan Jayakatwang , Adipati Daha . Knight tidak
Adore raja , dan bahkan memiliki Jayakatwang sekuthon , yang
mbalela . Tiba-tiba petugas mengatakan materi, tetapi
Dia tidak berpikir , bahkan Wiraraja diangkat di Madura Duke .
Pepatihe raja bernama Raganatha melindungi raja lemah,
terkadang mampu mengelola penget raja di bawah kanan , namun
Dia tidak bahagia di Galih , tidak mempertimbangkan rumeksaning melakukan yang lemah lembut,
Bahkan Gubernur dan yang lainnya dapat ngladeni menolak . Gubernur Wredha
ditunda , para winisuda : Pradata pemerintah karyawan, tidak bercampur dengan prakarapangreh Praja . Seperti Gubernur baru ngalem hanya raja dan menteri
Gelombang kata .
Ada utusan besar raja Negara Cina ( Chubilai ) bahwa ia telah
Kartanagara nyalirani sendiri atau wakilsuwana Negara Cina mungkin
caos bekti ( tahun 1289) . Dia sangat marah . Dahi delegasi China
digambari perumpamaan yang baik , katakanlah DUKANE Raja . ketika
kekuasaan China di tanah raja sehingga mereka menyebabkan DUKANE
Raja binathara di Cina, tahun1292 ada tentara di China menginginkan
mengeksekusi dalam kuwanene Jawa . Wiraraja di Madura untuk tetap
Mendengar mendengar apa yang Anda bawa di Singhasari , dan ia melihat
jika pada saat itu para prajurit Singhasari dilurugake ke Sumatera . Wiraraja
ngajani Jayakatwang Akon nangguh mbedhah Singhasari , Sementara Negara adalah
tentara kesisan . Jayakatwang olahraga, dan Singhasari bedhah terjadi. raja
dan katungkep gubernur lawan dikatakan dan Gelombang I ( wuru )
jadi tidak rekasa pinurih kematian.
Raden Wijaya , Narasinga saat ini, ia umangsah ngetog kaprawiran mbelani
Negara dan raja , tetapi kaslepek karoban dari Daha , dan sebagainya
ngoncati paksa, hanya tingkat 12 , membawa pasukan , perubahan perubahan nggendhong
Istri Raden Wijaya , putra Raja Kartanagara . langkah Raden
Wijaya sasentanane nusup angayam hutan . Jumlah ini termasuk 12 adalah
Knight Two , putra Wiraraja , Tuhan harus self- ngungsi
Madura Berlangganan . Pangeran tidak bisa menolak, tapi semakin lama waktu
oleh . Di Madura diterima dengan baik. Dibahas Wiraraja , Raden
Wijaya serv disuruh Daha . Wiraraja untuk nglantarake . Jika Anda memiliki
terjadi serv Raden Wijaya nyetitekake diberitahu petugas di Daha ,
Bold atau yang jirih , menuju munafik . Jika Anda memiliki lebih banyak waktu antara diberitahu
Aku mendarat trik tanah , dan dibabada dienggonana . Raden Wijaya
di pitudhuh , dan juga terjadi pada server Daha . Dilaporkan pasuwitane kanggep
juga, karena pintu pergi menolak , dan senjata halus pintu ; orang
Daha yang tidak ada yang bisa mengalahkan . Semua pengajaran dilakukan Wiraraja ,
SELAMA dhangan saya datang , bahkan pada saat tanah tersebut trik dibabad ,
Raden Wijaya Saya tinggal di mana aku dililani . Melaporkan Chronicles
trik tanah dan siapa methik Maja buah makan, tapi Rasane
pahit . Karena ingkono desa dan disebut Majapahit . bersama
Raden Wijaya adalah Majapahit , Merasakan saat prosedur prosedur balasan
hukum, kerajaan Daha kerusakan, tetapi Wiraraja Akon menunggu , kita masih
menunggu para prajurit dari Negara untuk menghukum orang-orang Cina Singhasari . ingin
Wiraraja Cina ngrewangi Saya ingin , ingin kembali Besuki vs Cina .
Wiraraja dan Boyong sakulawargane dan saprajurite ke Majapahit
berkumpul bersama dengan Raden Wijaya.06 perang pertama
sekitar 6
Dalam Melayu kerajaan adalah sekitar 5 cerita
Dia Kartanagara enggone anjangka Palang jajahane .
Di tanah Sumatera ada yang bisa terjadi jajahan . Dalam beberapa cerita berikut,
kerajaan kerajaan Melayu . Dilaporkan raja Funan , sekitar
sekitar satu abad jajahan 3 sakit kepala , ngelun Sumatera , Jawa dan lainnya
lainnya , saringan raja membuat patung patung di Pasemah tanah . Pada abad ketujuh
Sabtu golonganing dari daerah Indhu Buri , mereka tinggal di
sakiwa kanan Palembang , dan membentuk sebuah tanah yang luas , bernama kerajaan
Sriwijaya ( = Syriwijaya , sinebut di Negara Cina: Sambotsai ) . raja
raja Darah Warman , terletak sanak yang Purnawarman Darah
Tanah di dhek abad ke 4 – 5 , dan Darah Mulawarman di Kutai dan
Borneo dhek sekitar tahun 400 . Negara Sriwijaya jajahane tentang tentang Sumatera
selatan dan tengah , Malaka , Kamboja dan bahkan di Jawa . dalam
686 tahun raja di negara besar Sriwijaya nglurugi di Jawa , karena dalam
Dan tidak menuju pangedhêpe Sriwijaya . Pada abad 10 tentara
perubahan nglurugi Sriwijaya , menang , tetapi tidak lagi Sriwijaya dapat kombul
lagi. Praja enggone melakukan tindakan terhadap Narendra utusan di Cina .
Pada abad 12 dan 13 di Sriwijaya Negara hancur berkeping- kerajaan kecil
kasus. Darah Warman berdiri di tanah tanah sinebut , ” Melayu ”
yang saikine Jambi . Rehn pasisir tanah di mana banyak Kerusuhan Melayu , The
banyak yang ngungsi negeri Loh gunung , ada
Mereka dedhukuh . Dan ketika pada kekuatan besar, Kartanagara
(1268 – 1292) membawa kerusakan realitas , dan ngejegi Jambi ,
Kota Riouw lokasi dan kota di pulau Kalimantan dan pulau
Moloko . Dalam saantaraning tahun 1275 dan 1293 dari tanah nglurugi
Jambi merupakan gunung tanah Besuki merasa Minangkabau .
Lurugan disebut : Pamalayu . Pada tahun 1268 ia Kartanagara angganjar
patung raja Dharmmaçraya ( Darmasraya ) mungkin terletak di tanah
Jambi, merupakan saikine tidak jauh dari Sungai Lansat . Kerajaan Besuki
termasuk jajahan Majapahit , Rajani Darah Warman jejuluk Tribuwana
( Mauliwarman ) memiliki istri-istri Melayu , putri ( putra putri )
Ayak dai Raden Wijaya istri yang penuh kasih . Raja Tribhuwana terlibat dalam
tanah nglurugi mph Hulu . Cerita Melayu , lurugan
Mereka mungkin tidak membuat , hanya karena judul disertakan , kehilangan enggone adu Kebo ,
sehingga kota mereka dan nama Minangkabau . Tidak ada wilayah yang
Kerajaan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman tanah di Malayupura , yang
pada tahun 1347 memiliki Kebebasan , ambawa pribadi, nglurugi Minangkabau ,
tapi tidak sampai perang , dan bahkan kemudian diangkat menjadi raja di sana, karena
Aku dianggap Melayu. Berdiri di Minangkabau
tahun 1347 sampai 1375 , kecrita kebijaksanaan dan baik memegang praja.Tumeka hari Adityawarman dan dua hamba bernama Papatih
Sabatang dan Kyai Katumanggungan dipundhi adalah di mana orang-orang
Minangkabau . Sapungkure Aditya tidak memiliki raja di Minangkabau
The kecrita . Negara hancur hancur , sekarang adalah titik , yang
kaluhuraning raja Indhu rumah, di tanah di mana Minangkabau ,
lebih dari bahasa dan sastra . Darah di raja kuno raja
Minangkabau itu tidak lama low-end dari putri terakhir,
Saya sekarang kematian .
Pada tahun 1377 Kota Palembang di Sanbotsai rinusak di teir man
Dia Ayamwuruk . Kekuatan Palembang atas nama seseorang bernama Arya
Cahaya nurunake Raden Patah ( + / – 1500 tahun ) . Sejak runtuhnya istana
Majapahit , Palembang juga Katut disayangkan , Besuki kehilangan Banten . Kaluhuraning
Tanah di selatan Sumatera di mana hingga saat ini ia juga
banyak mantan trails.
Pertama 07 segmen
sekitar 7
Perang dan Cina adegan Majapahit ( 1292)
Di tengah tengah tahun 1292 Kaisar Choebilai terjadi pasukan ngangkatake
Tanah untuk tentara dalam kebutuhan untuk mengutuk Kartanagara . di
Pace ( Surabaya ) , kapal hilang , dan tentara Cina untuk nglurugi9 Daha ,
Saya pikir terletak Kartanagara (yang adalah ketika Anda mati) . dilaporkan
Raden Wijaya dhek samono telah sejak mbalela Jayakatwang yang
raja Daha . Karena Anda dapat memiliki harapan dibantu Cina hancur
raja Daha , Raden Wijaya jadi dan menyediakan ethok ethok Teluk
senapati Cina . Tidak lagi seperti yang diharapkan jarak Majapahit , Raden terletak
Widjaya diambil dalam Daha tersebut , Raden Wijaya mendapatkan bantuan Cina
bisa menang . Akhirnya , pada tahun 1293 di kota yang terkepung dari Daha teir man Shih
PIH dan Raden Wijaya , Daha bedhah , kacekel raja , raja Peni Peni Peni dijarah
Rayah , Raden Wijaya Anda putri putri , putra Raja Kartanagara dilakukan
oncad ke Majapahit . Bukan waktu , karena Akali Wiraraja , Raden
Wijaya akan digulingkan tentara Cina . Wondene tentara , meskipun bergegas
kekuatan susu masih dapat membawa barang rayahan , saya pengaji dengan jutaan Tail
dan seratus tahanan Daha . Raden Wijaya dan berdiri di raja
Majapahit , jejuluk Kertarejasa Jayawardhana atau UB I ( tahun 1294 –
1309 ) .
Setelah berdiri raja , raja -tama saya anggeganjar
yang bisa Labuhan , kepadanya . Wiraraja dibagehi tanah Lumajang kota
kali berturut-turut . Dia Kartanagara empat dari mereka istrinya , dan anagarwa Paminggir salah satu Melayu bernama Sri Indresywari . istri
Paminggir adalah raja memiliki seorang putra R. Kaligemet , yang Besuki nggentos
Raja istana , ajejuluk Jayanegara , Prameswari dari beruang putri
dua . Pada tahun 1295 R. Kalagemet yang sataun usia diangkat menjadi
kematian raja Kediri , ibu dari ngembani memegang Praja
Kediri. Ketika ia Kertarejasa Jayawardhana Tanah
Jawa dengan Cina yang baik lagi , perdagangan besar, China datang di Tanah
Intinya saya , perak , merjan , sutra biru, bunga kapas sutra,
tentara hancur dan besi tambahan . Dari Tanah Jawa , kulak Cina: beras, kopi
kacang , Rami , bumbon craken lebih dari Mrican , produk atau barang i
perak, kuningan atau makeup perunggu , benang katun dan sutra ,
Welirang , warna gading , cula saleh , warna warna kayu , burung dan produk jakatuwa
nam naman .
Di Tanah Jawa pada saat itu banyak palabuhan kemacetan , seperti: Tuban , Sedayu ;
Canggu . Raja itu pada hari-hari ke istana Majapahit menjadi dibasakake
pemberontakan ungsum . Ksatria yang sakit bergerak di Lapa dhek hari Raden Wijaya
Sekarang tidak mendapatkan hati , karena satu-satunya aturan anggega hamba bernama
Mahapati , menempatkan Knight dari perubahan dan perubahan untuk merumuskan ,
Tapi rendah hati dan jurite . Pada tahun 1328 raja meninggal, dicidra
paranormal yang didhawuhi ambedhel tubuh . Sasedane dari Jayanegara
Gumanti putri saudaranya , yang meminjam Bhreng hidup dan jejuluk
Jayawisynuwardhani . Menetapkan Dewi Manners mendapatkan Knight , teman
Kartawardhana , terkenal cerdas, bersemangat dan tegak lurus penggalihe . The Prince
diangkat menjadi pangeran dan jaksa duduk di Singhasari
sawewengkone . Gajahmada warangkaning raja . Gajahmada ingin
nungkulake satanah seluruh pulau dan pulau sakiwatengene . Tidak ada jarak lagi
1334 adalah tahun Sumbawa dan Bali bedhah dan kabawah
Majapahit , Bali dan perbedaan tersebut mbawahake Lombok , Madura

selesai bersambanung ke bagain babad tanah jawa  ke 2

PERHIMPUNAN KISI (KOLEKTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

PERHIMPUHAN

KISI

KOLEKTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

KISI

KISI

MEMBANGUN  NUSA  DAN BANGSA

BELAJAR DARI INFORMASI SEJARAH

ALAM TERKEMBANG JADI GURU

Lambang Ganesha

lambang Ilmu Pengetahuan

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

PROFILE PRESIDEN KISI

.I starting stamps collection during 1955 very young boy. look my vintage photo with mother Diana lanny and father Djohan Oetama at Bukittingi West Sumatra 1955, my father passed away in 1985 and my mother just passed away in june 2011 at  91 years old.

b.Between 1960-1963, during study at Don Bosco high school I had started collected beside stamps all type of informations collections due to my Teacher Frater Servaas told me that I must collected the Informations due to the develping the satellite which made the globalizations which the growing of world cmmunications will became fast and no border between the nations countries, who have the Information he will became the leader and the King in communications, thank you Frater Servaas your info which made me could built the very best informations communications uniquecollection blog in the world.
Look at in memoriam Frater Servaas with my teacher at Frater middle school in memrian Frater Eric at my House during my Sister Erlita 17th years birthday in 1963.


also look my profile with my loving teacher who still alive and stay at Padang city west sumatra Pak Sofjanto at my house in the same time of the photo above


c.Between 1973-1983 many interesting history which related with the stamp and postal history and also with my life :
1. In 1972 I have graduated Medical Doctor(MD)

2.as the temporary assitenst at Pulmonology (Lung Disease) department in Medical faculty

3.In 1973 join the medical officer of Indonesia National Police


4.in September 1973 I was merried with Lily W.


5. in 1974 my first son Albert our photographer was born in November 1974, and later in January 1977 born my second son Anton our Editor .
a. Albert at Solok city west Sumatra 1978

b.Anton at Solok city 1978


6. Between 1975 until 1989 I have travelled around Indonesia myself or officially and I have found many uniquecollections that time.

7.In 1985 I have made a postal communications, I have send the aerogram to all Postal services in the capital city of all oin the world, 90 % send to me back the official cover,this could be done by the helping of Padang postmaster Ahmadsyah Soewil, his father collections I had bought in 1980.
The vintage photo of Soewil St.marajo ,during the chief of Painan West Sumatra Post office
look his photos

During Dai Nippon occupation he still at Painan and during Indonesia Independence war he was the Finance officer of Padang office and later in 1950-1959 the chief of TelukBayur Harbour west Sumatra post office, seme of the rare West sumatra during Dai Nippon occupation and Indonesia Inedependence war were his collectins,thankyou Family Soewil for that rare collections(complete infrmatins source Dai nippon occupatin sumatra under Malaya Singapore or Syonato Dai Nippon military Administrations and Indonesia Independence war collections.

8. Before between 1979-1985 I have joint the postal circuit club and I have found many covers from all over the world especially Latin America.This circuit as the help of my friend Frans,now he was in Bogor.

9.In 1990 I was graduate my Master Hospital Administration.


10.Between 1990-1994
I was n the duty at West Borneo and visit Sarwak,and i have fund some rare Sarawak stamps, revenue there and in Pontianak I have found rare sarawak coins

11.Between 1995 until 2000
I am seeking the postally used cover from the countries I havenot found especailly the new freedom countries.
All the postal stamps and covers I will arranged in the very exciting and unique collections, I will starting with Asia Countries, and later Africa, Australia, America and Euro.
This special collections were built dedicated to my Sons,especially the histrical fact from my vintage books collections as the rememberance what their father collected and I hope they will keep this beautiful and histric collections until put in speciale site in the CyberMuseum.
I hope all the collectors all over the world will help me to complete the collections, frm Asia I donnot have the cover from Bhutan,Mongol, Tibet, and SAfghanistan.but the stamps I have complete from that countries except my thematic bridge on the river kwai from Myanmar and Thailand.
12. In the years of 2000, I was retired from my job
this is my official profile just before retired.


13, Between 2000-2008
I am travelling around Asia,and starting to arranged my travelling unque collections.
14. December,25th 2008
I built the uniquecollection.wordpress.com Blog with articles :
(1). The Unique books collections
(2). The Unique Stamps collectins
(3). The rare Coins collections
(4). The rare ceramic collections
(5.) The Unique label collectins
(6.) The Travelling Unque collections (now changed as the Adventures of Dr iwan S.
(7). The Tionghoa Unique Collections
(8.) The Asia Unique Collections
(9.) The Africa Unique collections
(10). The Padang minangkabau CyberMuseum                                                              

15. In 2010

I built another web :

(1) hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

(2)hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

In this web the collectors will look the amizing collections:

(1) The Vietnam War 1965-1975, and another Vietnam Historic collections like Vienam during Indochina, Vienam Diem War 1955-1963,etc

(2) The Dai Nippon War 1942-1945, five part in homeland,pasific war,in Korea,in China, in south East Asia including Indonesia.

(3) The Indonesia Independence War  1945,1946,1947,1948,1949 and 1950.

(4) The Uniquecollections from all over the world.

(5) The Icon Cybermuseum, including Bung Karno,Bung Hatta,Sultan Hemangkubuwono, and also from foreign countries Iran,Iraq Sadam huseun ,Palestina jerusalam,turkey,afghanistan, libya Moamer Khadafi, Suriah , etc

(6) The Rare Ceramic Collections found In Indonesia, like China Imperial Tang,Yuan,Ming and Qing; also euro ceramic from delf,dutch maastrict ,etc

(7) The Indonesian History Collections  and many other collections

AT LEAST AFTER THE ALL OF MY COLLECTIONS ENTER THE CYBERMUSEUM AND OTHER WEB BLOG, I WILL ASKING TO GET  THE MURI CERTIFICATE.(INDONESIAN RECORD MUSEUM)

8. I also built a amizing collections due to my premium member prefered, like The Indonesia Revenue Collections from 19th to 20th century, the mysteri of the Indonesian vienna Printing Stamps, the China  Gold Coins, The Rare Chian imperial ceramic design foun in Indonesia, The Tionghoa (Indonesia Chinese Overseas collection), Penguasa Wanta di dunia(Women in Leaders) etc.

5. At Least thankyou verymuch to all the collectors who have visit my blog and support me, my last prestation in June 2011 (26 years from the first starting to built the e-antique or uniquecollections info in internet) :

(1) hhtp://www.Driwancybermuseum : visit 60.000, the highest per day 3200.

(2)hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com:visit 21.000,the highest per day 200.

(3)hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com, visit 40.000,the highest per da

Pada tanggal 1 bualn November 2013 saat mengumpulkan data penelitian Alam Terkembang Jadi Guru, Membangun Nusa bangsa Berlajar dari Informasi Sejarah, timbul ide untuk membangun suatu komunitas perhimpunan Kolektor Informasi sejarah Indonesia alias KISI, tujuan komunitas ini agar menghimpun seluruh informasi sejarah Indonesia secara terperinci dan lengkap dengan seluruh informasi dan illustrasi terkait agar menarik untuk dibca sehingga dapat ditemukan informasi hal-hal yang baik dan benar untuk dijadikan pedoman bagi generasi penerus dalam menyusun strategi dan taktik pembangunan sumberdaya manusian Nusa Bangsa Indonesia dimasa mendatang dengan menginggat hal-hal yang Tidak Benar dan Salah dimasa lalu tidak diulangi lagi.

Besar harap penemu KISI agar seluruh pencinta informasi Sejarah Indonesia dan infor terkait dapat bergabung pada perhimpunan yang nirlaba ini , dukungan moril dan materiil dari siapa saja yang mencintai Tanah Tumpah Darah Nusa bangsa indonesia dimanapun berada dpat ikut serta membangun perhimpunan ini.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa meredhoi Perhimpunan KISI ini.

Jakarta October 2013

Greatings from thE founder

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup

sebanyak US50,-

dan

bagi Mahasiswa dan Pelajar US$20>-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA DENGAN MENANGGUNG BIAYA PENGIRIMAN LIWAT TIKI(TITIPAN KILAT)

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

KISI

telah mengumpulkan seluruh dat informasi sejarah Indonesia muali seblum masehi sampai tahun 1999

Lengkap dengan ilustrasi koleksi sejarah yang meliputi

Postal History dan Meterai

Koleksi Numismatik

Koleksi Dokumen dan cetakan majallah surat kabar serta dokumen terkait

koleksi foto lama

lukisan sketsa, litho dan lukisan cat air,cat minyak terkait sejarah

serta koleksi informasi lainnya

Contoh Informasi

PENGURUS KISI MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG DI KANTOR KISI YANG MERANGKAP MUSEUM DUNIAMAYA


UNTUK MELIHAT KANTOR DIMANA SELURUH KARYAWAN BEKERJA UNTUK MENINGKATKAN KEPUASAN PARA
KOLEKTOR INDONESIA DAN SELURUH DUNIA SEHINGGA KOLEKSI UNIK ,KHUSUSNYA PUSAKAN NENEK MOYANG INDONESIA DAN ASIA DAPAT DILESTARIKAN UNTUK GENERASI PENERUS.LIHATLAH SECARA LENGKAP DI hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

SELAMAT DATANG DI PINTU MASUK HOMEOFFICE
SILAHKAN MELIHAT TAMAN TANAMAN HIAS HOME OFFICE

ANDA MEMASUKI RUANG TAMU
DAN RUANG RAPAT.

SILAHKAN MELIHAT RUANGAN KANTOR ELEKTRONIK INTRENET KOMPUTERISASI HOME OFFICE

RUANGAN PERPUSTAKAAN

RUANGAN DAPUR BERSIH
KAMAR REST ROOM

SELANJUTNYA AND DIPERSILAHKAN MELIHAT MUSEUM MINI KOLEKSI Dr IWAN S PRIBADI, MULAI TANGGA MASUK YANG ARTISTIK DENGAN PELINDUNG CHILLIN DAN KERAMIK CHILLIN DINASTI MING

KOLEKSI MUSEUM MINI PERTAMA ADALH PATUNG ETHNIS INDONESIA

LEMARI DAN KURSI ANTIK
TEMPAT TIDUR ANTIK
RUANGAN STUDI KOLEKSI

KOLEKSI LUKISAN

GUCI ANTIK

KERAMIK ANTIK

RUANGAN DAPUR MASAK

 Independent day august,17th.1945

sEBELUM MEMBACAKAN PIDATO PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945,bUNG kARNO BERDOA MENURUT AGAMA YANG DIANUTNYA,AGAMA ISLAM,FOTO INI JARANG DIPUNLIKASIKAN YANG DIPEROLEH DARI ALI SHIHAB-REPUBLIKA

 

 

” Saudara-saudara sekalian.

saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalah sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa indonesia telah bejuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan beratus-rqatus tahun !

Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan turunnya,tetapi jiwa kita tetap menujuu ke arah cita-cita.

Juga didalm zanman Jepang , usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. di dalam zaman Jepang itu,tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dn nasib tanah air didalam tangan kita sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapt berdiri dengan kuatnya.

Maka,kami tadi malam telah menadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluru Indonesia .

Permusyawaratan ity seiiya sekata berpendapat,bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan itu.

Saudara-saudara dengan ini,kami menyatakan kebulatan tekat itu.

Dengarlah proklamasi kami.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

 

Jakarta,17 Agustus 1945

Atan nama Bangsa Indonesia

Soekarno -Hatta

Singkat,hanya dua kalimat,tidak sampai 30 kata.

Kata-kata sederhana dipilih dengan cermat,netral,tidak emosional,tidak menghasut,suatu pemberitahuan yang tidak menyinggung siapapun.

Ditujukan kepada bangsa sendiri dan kepada seluruh dunia.Bahwa,mulai saat ini,Indonesia bangsa merdeka.

Pemindahan kekuasaan dan bukan pengambilalihan kekuasaan dari siapapun. Diselenggarakan dengan cara seksama maksunya teratur dan bukan semerawutan.Dalam tempo yang sesingkat=singkatnya artinya sebelum siapapun datang atau datang kembali untuk meniadakan kemerdekaan kita.Disusul dengan kata-kata penutup yang juga singkat dan tenang,tapi jelas.

Demikianlah saudara-saudar .Kita sekarang telah merdeka.Kita sekarang telah merdeka.

Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita.Mulai saat ini kita menyusun Negara kita.Negara Merdeka.

Negara Republik Indonesia.Merdeka,kekal,dan abadi. Insyaalah Tuhan memberkahi kemerdekaan itu(diturunkan dari himpunan Peraturan Perundangan-Undangan RI ,1989 Jakrta.penYusun dan penerbit PT Ichtiar Baru-van Hoeve)

After that Latief Hendranigrat with Peta Uniform mengerek(up) the Red and white flag with penghormatan (honour to ) .The Indonesian national anthem sing spontanously together without derigent(conductor0 .

The ceremony simple without protocoler, dihadiri only by hundreds people,with their ordinary shirt,without pasukan kehormatan(Honouraly ),without music corps,without radio journalist and without reception because that time Ramadhan month(puasa,feast) every bodies proud  and many cries.

No Dai nippon Kempetai attack ,although the Banteng Movement(Barisan banteng) Had already exist to protect command by Dr Muwardi and Sudiro with young man militan included the Medical Doctor student  in the command of Piet Mamahit and Suraryo whic send from their headquaters(Markas) at Prapatan 10 street

 

g dalam rangka perinagtan satu tahun merdeka 17.8.1945 dibuat oleg kolektor padang gho kong Liang dengan prangko yang asli tetapi distempel kemudian karena saat ini padang sudah dikuasai belanda,inilah salah satu contoh koleksi CTO yang langka.

    • Pada tanggal 15 april 1946, saat Tarakan sudah dikuasai tentara belanda NICA,slah seorang anggotanya mengirim surat dengan stempel tarakan 15.4.46 disensor RNF ke Jakarta(batavia) dengan stempel kantor pos pusat yang dikuasai belanda dibagian belakang surat tersebut.

Koleksi postal history langka yang asli yang ditemukan Dr Iwan di Bukittinggi.

THE TJILEDOEK HISTORIC COLLECTIONS(KOLEKSI SEJARAH KOTA CILEDUK)
FRAME ONE:
Dr IWAN COLLECTIONS
Postal Used cover from Tjiledoek with official Ducth Opziener E.H.Boschzwezen pre WWII


FRAME TWO:
INTERNATIONAL COLLECTIONS
A.Vintage Collections


B.RECENT COLLECTIONS
1.Ciledug Phrase in Indonesia laanguage(sanjak)
Ciledug

Ciledug….Ciledug…..
Jauhnya euuuuyy…..bikin mabug…
Nyampe di tempat..cuma dudug-dudug…
Nungguin tumjahe kerja…malah ngantug….

Ciledug….Ciledug…..
Jalanannya muacettt… jadi suntug…
Angkot plus Mikrolet… uuuhhh…blegug !!!!
2.Cileduk Road at Night

3.Cileduk Trading area


4.CILEDUK BINTARO REGENCY

5.CILEDUK BUS

6.CILEDUK RAILWAY STATION

7.CILEDUK NATIVE PEOPLE

FRAME THREE:
THE HISTORY OF CILEDUK CITY
CILEDUG

Ciledug, ialah salah satu kecamatan di wilayah kota Tangerang. Namun, terkadang wilayah sekitarnya, termasuk Pondok Aren, Serpong, Bintaro, Karang Tengah, biasa disebut Ciledug juga secara garis besar, dilihat dari kesamaan ciri geografis wilayah tersebut, berupa rawa-rawa atau kocolan. Ciledug sendiri terletak di 6° 19′ 45′ Lintang Selatan dan 106° 43′ 18” Bujur Timur.

Peta wilayah Ciledug
Berasal dari kata Bahasa Sunda, Ci = cai (air), dan Ledug = ngaledug (berkumpul, menggenang), dalam arti lain genangan air atau rawa-rawa (bog, swamp) yang mengendap. Memang, dahulu kala Ciledug identik dengan kawasan rawanya, hal inilah yang menjadikan air di Ciledug buruk mutunya . Ciledug, yang memiliki wilayah yang cukup besar dan luas, menghadapi masalah banjir akibat perumahan yang mulai marak di dasawarsa 90-an, sebagai bagian dari kota pinggiran (suburban) yang sedang berkembang dan menjadi pilihan murah untuk memiliki rumah, akibatnya tempat resapan air (reservoir), mulai berkurang, dan jika hujan tiba, datanglah banjir.

SITU GINTUNG CILEDUK
a.During Dutch East Indie

Tangerang District is location of the Situ Gintungreservoir built by Dutch colonial authorities in 1933. It was surrounded by a dam up to 16 metres (52 ft) high, which failed on 27 March 2009 with the resulting floods killing at least 93 people. The flood could have been prevented had local authorities not neglected the recommendation of American engineers which recommended the reinforcement of the dam and possible evacuation of the lower villages located at the very bottom of the dam

b.now
Pemkot Tangsel belum Tangani Kerusakan Situ Ciledug
Situ Ciledug—ANTARA/Muhammad Deffa/ip
TANGERANG–MICOM: Gugusan Alam Nalar Ekosistem Pemuda (Ganespa) Kota Tangerang Selatan, Banten, melaporkan kerusakan Situ Ciledug, Pamulang, ke penjabat wali kota.

“Ada enam kerusakan yang terjadi di Situ Ciledug sejak tiga tahun lalu dan belum mendapat perbaikan,” kata Ketua Genespa Tangerang Selatan Arizal Maulana di Tangerang, Minggu (21/11).

Kerusakan tersebut, kata dia, berupa keberadaan jaring dan keramba ikan yang berakibat pada proses sedimentasi dan pendangkalan. “Banyak sekali pemilik keramba ikan di situ sehingga menyebabkan kerusakan,” katanya.

Kemudian, kerusakan lainnya adalah pendangkalan situ yang berdampak pada kurangnya daya tampung air sebagai fungsi pengendali banjir. Pengerukan situ yang dilakukan oleh warga dengan maksud untuk memperluas lahan perkarangan mereka yang jaraknya berdekatan.

Bangunan permanen pada daerah bantaran dan garis sepada situ, kata dia, juga telah dilanggar oleh berbagai pihak sehingga merusak tatanan situ sendiri. Pembuangan sampah juga dilakukan oleh warga sekitar situ dan pencemaran air situ akibat pembuangan limbah cair oleh pengusaha di bantaran situ, lanjut dia.

THE END @ copyright Dr Iwan Suwandy

1. Kalung manik dengan taring binatang dan kulit mutiara dari etnis Papua

2. Kalung manik kayu dari etnis asli Dayak Kalbar

3.Kalung manik dari etnis Pagai Kepulauan Mentawai Sumbar

4.Kalung manik dari etnis Tionghoa Minangkabau Sumbar

5. Kalung Manik Mata Tiung etnis Dayak Kalbar

Selain kreasi kalung manik, juga ditemukan kreasi jimat pemberi keaman berupa patung dan seperti medali

6. Tongkat Tuntun Dayak Kalbar

7. Medali Sunan gunung Jati dari Banten, jimat dibuat dari timah bentuk bonk (bar) dan untuk menghormati belaiu yang beragama Islam, profilnya dibuat sedemikian halus,dan disamarkan serta penulis membuat jadi kabur dengan teknik foto diberi sinar. penemuan ini perlu mendaptkan konfirmasi pakar arkeologis

8. Medali Tunutan dari Jawa Tengah

Marilah kita lestarikan benda warisan nenek Moyang bangsa Indonesia, semoga seluruh bangsa didunia setelah melihat kreasi ini akan lebih menghargai kebesaran dan keunikan kreasi anak bangsa Indonesia.

1. KODAK 1948*ill 001

*ill 001

23. INDONESIA ETHNIC STATUE AND FIGURINE ARTPHOTOPICTURE

1) THE OLD BALI STATUE . *ill 006 dan 007

*ill 006 dan 007

2.0THE OLD BATTAKS AND OTHER INDONESIA ETHNIC STATUE (Dr Iwan private museum) *ill 008

*ill 008 PRIVATE MUSEUM

3) THE TIONGHOA AND INDONESIAN CHINESE OVERSEAS STATUE AND FIGURINE ART PHOTOPICTURES. (complete collections look at the Driwancybermuseum.wordpress.c0m)

(1) THE SMILING BUDDHA, this old rosewood wooden statue had burn in the flame of burning house, but the statue still in best quality,smelt well altough some scrap in the head ,The Buddha still smile and amizing fase and big belly, magic spiritula fengsui Buddha)*ill 009

*ill 009

(2) MORE ART PHOTO WILL SHOW AT THE DR IWAN CYBERMUSEUM, plese clic hhtp://www.Driwancybermusueum.wordpress.com.

The  Aceh History Collections

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Padang West sumatra history collections part one

PADANG WEST SUMATRA

MY LOVING BIRTHCITY

Part

 Introduction

Minangkabau

 

Created by

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Copyright@DR Iwa Suwandy 2011

 

batang arau padang litho from the history of sumatra 1810

PREFACE

 

.As the opening of the writings that I collated as a sign of my love for the born land , his wife and entire family, hoping to be nostalgic for the old and add insight for future generations so that the root dtaang origins can be traced.
Writing with illustrations image collections, postal history and other dedicated  to my son Albert and Anton Jimmi, and the grandson of Sesa, Celin and Antoni, and also all my extended family and wife.
These literary works are still many shortcomings so that corrections and additional information and advice legendary from all my friends so I would expect.
Thank you kep there are many people who have helped me to  complete this paper

 

West Sumatra called Sphere minang or Land Minangkabau was the birthplace and the land where the author was raised until the age of 45 years (1945-1989).

Various ups and downs have been experienced on Earth Minang by name Hotel-ever besides the residence of the last author of the years 1950-1989, the author was born in Padang Small Road, behind the Land Market Kongsi from 1945 until 1950.
During their stay in Padang authors have kept memoriable  objects or memorabilia collection which is a love filling to  homeland and is able to evoke memories of the realm Minang Beautiful, peaceful and full of such intimacy.


Information from The book also discusses information collection dzari choice and displayed in such a way that can satisfy the longing  Minang people  In Overseas wherever it is located on a remote village in the eyes of beloved pages, such as the song always sung the nomads as follows:


Rumah gadang nan sambilan ruang,Pusako bundo sajak dulunyo. Bilo den kanang hatinya ta ibo ta ibo Ta bayang-bayang diruang mato..

In the Indonesian language as follows:
A  Big House with nine-room, Heritage from nowadays .If I remember my heart recalls sad. Memory  shadows (village) in the eyelid

Indonesia version:

Sumatera barat yang disebut Ranah minang atau Tanah minangkabau adalah tempat kelahiran dan tanah dimana penulis dibesarkan sampai berumur 45 tahun( 1945-1989). Berbagai suka duka telah dialami di Bumo Minang sesuai nama Hotel yang pernah ada disamping rumah kediaman penulis terakhir dari tahun 1950-1989,penulis dilahirkan di Jalan Kali Kecil Padang ,dibelakang Pasar Tanah Kongsi dari tahun 1945 sampai 1950.

Selama berada di Padang penulis telah menyimpan benda-benda koleksi kenagan atau memorabilia yang merupakan laupan rasa cinta terhapa tanah kelahiran dan mampu membangkitkan ingatan kepada ranah Minang yang Indah, damai dan penuh keakraban tersebut.

Informasi dari Buku juga membahas informasi dzari koleksi pilihan dan ditampilkan sedemikian rupa agar dapat memuaskan kerinduan urang Atau Orang Miang Di Rantau dimanapun dia berada terhadap kampong halaman tercinta yang jauh dimata, seperti lagu yang selalu dinyanyikan para perantau sebagai berikut:

Rumah Gadang Nan Sambilan Ruang, Pusako Bundo Sajak dulu dulunyo. Bilo den kanang hati den ta ibo .Tabayang bayang di ruang mato.

 

Dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Rumah Besar yang sembilan ruang,Pusaka Ibu sejak dulunya.Bila saya kenang hati saya sedih.terbayang-bayang (kampung) di pelupuk mata.

Sebagai pembukaan dari tulisan yang saya susun sebagai tanda cinta kepada tanah kelahi ran saya ,isteri dan seluruh keluarga, dengan harapan dapat dijadikan nostalgia bagi yang tua dan menambah wawasan bagi generasi yang akan datang sehingga akar asal usulnya dapat diketahui.Tulisan dengan ilustrasi koleksi gambar,postal history dan lainnya ini.

Pada kunjungan terakhir 5 Maret 2012 ke Sumatra Barat saya memperoleh tambahan informasi tentang mayor Tionghoa Li Say(Li Ma say) dan menemukan koin perak era The Holy Roman Empire dari German tahun 1541 dan beberapa temuan baru.

Karya tulisa ini masih banyak kekurangannya sehingga koreksi dan tambahan informasi serta saran dari seluruh teman-teman sangat saya harapkan.Terima kasih kep[ada berbagai pihak yang telah membantu saya untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Jakarta April 2013

Dr iwan suwandy,MHA

 

 lareh soegei poear

Karya tulis ini saya persembahkan kepada Isteri tercinta

Lily Widjaja,

Putra and Mantu

Albert Suwandy –Alice,

 Anton jimmi suwandy-Grace  look below

 

serta para cucu cesa,celin dan Antoni

 

Preface

I was borned in Padang city February,9th.1948 at the old wooden house which belonging to the sister of My grandfather IpoTjoa Bun Tak and Ntiokong Lie Seng Tok (  Sinyo),this house located behind the Chinese camp Market called Tanah Kongsi(Joint Land).

I had found the pictures of this house  were taken by my father in 1948,three pictures black and white,my profile and with mother Anna Tjoa Giok Land with my brother Gho Bian Hoat(Dr Edhie Johan),Sister Elina(Gho soe Kim) and younger sister Gho soei Lian (Dr Erlita Lianny Djohan),

 We lived there until 1950 and move to latest House at Gereja Street near Ambacang Market and now became Bundo Kandung Street,the old Dutch house which built into wooden house,and then we built three stair house,until sold to my nice Gho Bian An(Ir Andri Virgo) ,he built Fried Chieckinen and Ambacang Plaza ,later became Ambacang Hotel which broken during earfrthquake 2008,now re built again with new name Elena hotel in 2012.

The famous old Padang City are Padang Beach, Muara Sungai Arau , Chinese Camp(Kampung Tionghoa),Pondok,Hilligoo –Pasar ambacang,complex Rooe catholic one church Theresia, two chapel Agnes ,basic School(Sekolah Rakyat-Dasar )Zuster  Hollanse Indisce School then Theresia and Agnes, Frater fransiscus and andreas,Middle School MULO Frater ,later SMP Zuster Maria, Frater,and Hig School (SMA) Don Bosco

My teacher in memoriam Frater Servaas (A.J.M de beer) sugest to me to collect all kind of information because in 1959 the communication system via internet will growth after the Satelite have send to the outer space.

All the informations now I put in my web blog in 2009

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

And after thatin 2011  I am starting made the special informations in CD_ROM,pravited limited editions special for my web blog premium member.

This Padang west Sumatra is one of the CD_ROM pravite edition.

I hope all my family and another friend from Padang west Sumatra will help me to add the informations about their family and relative informations which made this CD_ROM more complete for the next generations.

This CD-ROM became two part,the part one contain the general informations, and part two special for Chinese oversees or Tionghoa informations only.

Jakarta April 2013

Dr Iwan Suwandy,MHA

Bali vintage Paintings (intro)

My profile in the Painting’s Museum Ubud (1976)@Copyright Xr iwan S.2010

Vintage Native Bali Painting”catch the frog” by Ida Bagus Made Poleng(1976)
Vintage photo Bali Dancer “Nji Polok” who became the wife of famous Bali Painters La Mayeur.@Copy Right Dr Iwan S.2010.
Vintage photo of Bali Dancer who became the famous painters La Mayeur”Nji Polok”, look my profile with her in 1976 below.@Copyright Dr Iwan S.2010.
My profile with Nji Polok (La mayeur wife) at her husband Painting museum at Sanur(1976)

 

Vintage Native Bali Painting (anonim) in the museum ubud(1976)my profile with bali painting “Nji Polok” by La Mayeur famous Fench Expatriat painters in Bali. My Profile in the Museum painting Ubud(1976) Vintage Native Bali Painting “Catch and Eat Frog” by Ida Made Bagus Poleng(1976)
Vintage Bali painting circa 1937(anonim)” Sanghyang Boemboeng magic dancer”
Vintage Bal Painting circa 1934 ” The Dutchman joint Barong dancer”

The Unusual Rare Indonesian Phillately,Revenue and Numismatic History Collections(Koleksi Postal,Meterai dan numismatik histori Indonesia Yang aneh dan Langka)

 

Dr Iwan Unusual  Indonesian Postal,Revenue and Numismatic Cybermuseum(Koleksi Filateli , Meterai dan  Numismatik Indonesia Yang  Aneh)

1.Kata Pengantar(Introduction)

If you look carefully the postal,revenue and numismatic history collections , one day you will find the images you are not usual or strange, and was never seen anymore  again at this time.

The  unusual collections  is a collection which, when compiled with trim, will be a collection of rare and interesting as the remembrance from the past as our human heritage.

I will starting to reseach  my   privately owned collections in the cybermuseum world and flaunt my period, so that collectors can enjoy them.

If you have a collection like this please willing to flaunt it in Driwancybermuseum, please sent  comment, thanks.

How amazing is not it, I hope to entertain you all

Jakarta, November  2013

Dr Iwan Suwandy

Apabila anda memperhatikan dengan saksama koleksi sejarah pos,meterai dan numismatik  ,suatu saat anda anda akan menemukan koleksi  yang tak biasanya atau aneh  serta sangat sulit ditemukan lagi pada saat ini.

Koleksi  aneh dan tak biasa tersebut merupakan suatu koleksi yang bila disusun dengan apik akan menjadi suatu koleksi yang langka dan menarik.yang merupakan warisan manusia tempo dulu.

Saya akan mulai mempelajari koleksi  milik pribadi dan memamerkannya dalam museum dunia maya saya, agar para kolektor dapat menikmatinya.

Apabila anda memiliki koleksi seperti ini harap bersedia memamerkannya di Driwancybermuseum, harap dikirimkan liwat comment, terima kasih.

Bagaimana menakjubkan bukan, saya harap dapat menghibur anda semua

Jakarta November  2013

Dr Iwan Suwandy

 The Vintage Indonesian’s Unusual Postal,Revenue and Numismatic History Collections 

 (Koleksi postal,meteri dan numismatik histori Indonesia yang  Aneh Dan Langka)

1.POSTAL HISTORY

1) Koleksi Kartupos Pendudukan Jepang di Jawa dengan stempel pos aneh, ” Tida(tidak) Diperkenanken(diperkenankan) Kombali(Kembali) , hal ini jarang terjadi , hanya apabila  tempelan terlarang di tempelkan  diatas kartupos, sayang tempelan tersebut sudah dilepas, namun hanya satu kartupos saja   yang saya temukan,harap para kolektor yang memiliki stempel pos yang sama melaporkan temuannya.

Japanese Occupation Postcards Collection in Java with a strange postmark, “Tida (not) Diperkenanken (allowed) return  to sender (Back), this rarely happens, only if the patch forbidden of posting the above postcard, darling patch has been released, but only one postcard only I found, hope the collectors who have same postmark reported findings.

2.Unusual Stamps

Prangko Sial

Beberapa tahun sebelum lengser(mundur ) dari Jabatan Presiden, telah ditandai dengan adanya prangko salah cetak dengan tanda-tanda kesialan antara lain Coretan garis di tepi sampai mengenai wajah Pak Harto ,hal sama pada prangko sial Hitler.

Selain itu juga ditemukan prangko pah harto yang kepanasan sehingga mukanya jadi hitam seperti terbakar matahari yang menunjukkan pak harto diserang dari segala lapisan masyarakat dan politik. Bagaimana anehkan.

Damn Stamps
A few years before his resignation (backwards) from Position of President, has been marked by a misprinted stamps with signs of misfortune among other graffiti on the edge of the line until about Soeharto’s face,

 this same shift on stamps of Hitler.

It also found that heat Harto hero stamps so that his face became black like a burning sun which shows Soeharto was burning by the attacking from all walks of life and politics. How amizing.

3.Unusual Atjeh 1 real cenderella stamp 1882

 
 
File:Atjeh11.jpg

 

Description   

English: Cinderella stamp of Acheh (Indonesia)
 
Date 1882(1882)
 

3a.Used on Money order fragment ,RMS overprint Indonesia numeric smelt

 

and building stamps

3c.Kartupos dulu sangat populer untuk mengirim berita singkat,walaupun saat ini tidak diterbitkan lagi karena ada teknologi SMS ,hal sama juga dengan telegram.Salah satu koleksi aneh dan anda pasti berum pernah lihat adalah kartupos tahun 1953 yang belum digunting (Uncutting) masih satu lembar kartupos prooff cetak percobaan  dengan empat kartu pos yang belum dipotong , kalau pernah lihat mungkin telat mikir untuk dijadikan koleksi postal history lihatlah illustrasinya dibawah ini :

Selain itu juga ditemui salah cetak sampul cetakan Pos Udara yang dicetak pada bagian luar dan bagian dalam

Postcards used to be very popular to send brief news, although currently not published anymore because there is SMS technology, the same thing with telegram.Salah a collection of strange and definitely berum you ever see is the postcard of 1953 that have not been cut (Uncutting) is still one sheet postcards proeff with four postcards to be one, if you never see might be late thinkers to be a collection of postal history behold its illustrasi

. Also found the error print of PTT envelope on out and inside .

4.The Postal History could told us the situation like two money order send during The PRRI movement in middle Sumatra, first Money order send one day after Pakanbaru captured by The APRI frm PRRI,send to Sawahlunto still in PRRI hand in March 11 th.1958,return to sender because the communication broken,look at the handwritten”Kembali Perhubungan belum ada”

and the second Money order send from Padang to angkola south tananuli return to sender looh the handwritten”Kembali Untuk sementara perhubungan Terputus”(return for temporary communicationbroken)

5.Cinderella Historic Collections Cinderela adalah label sampul surat yang bentuknya sama seperti prangko tetapi tanpa nominal,digunakan untuk menutup bagian belakang sampul atau sebagai sarana marketing produk. Koleksi cinderela indonesia yang paling aneh dan langka adalah satu sheet lengkap cinderela label promosi Obat Radja dengan perforasi terdiri dari 100 label dengan pembatas kosong diantara 50 label yang dikenal dengan istilah “gutter pair”.menakjubkan bukan.

english version:

Cinderela is a label that looks the same envelope as postage stamps but without par, used to close the back cover or as a means of marketing the product. Collection cinderal Indonesia’s most bizarre and rare is a complete sheet cinderela label drug promotion Radja with perforation consists of 100 blank labels with a divider between the 50 labels are known by the term “Gutter pair”. amazing is not.

 

3..Revenue History Collections

1) METERAI PENDUDUKAN JEPANG ANEH.

Mulai 1 April 1943, meterai seluruh meterai di Indonesia dicetak tindih secara machinal untuk menutup wajah ratu belanda atau aksara belanda yang dianggap milik musuh dengan berbagai bentuk , untuk meterai di pulau jawa di cetak tindih gambar matahari bewarna merah. Salah seorang pedagang di Jawa merasa sayang membuang meterai Hindia belanda yang ia miliki, maka dengan nekat mengambar dengan pena  gambar matahari meniru cetak tindih asli pemerintah balatentara nippon(Dai Nippon Gunseikanbu) diatas meterai hindia belanda dan memakainya diatas kwitansi tanggal 1 agustus 1944(2604), sikap ini dikatakan nekat karena bila ketahuan akan ditangkap dan dihukum oleh Kampetai,polisi militer Jepang.

, silahkan melihat illustrasi meterai tersebut dibandingkan dengan yang asli cetak tindih dengan mesin, bagaimana anehkan,bila anda memiliki yang sama harap berkenan melaporkannya.

STRANGE JAPANESE OCCUPATION seal.
Beginning April 1, 1943, the seal of all seals in Indonesia printed in machinal overlapping to cover the queen’s face or script netherlands dutch deemed enemy property in various forms, to seal in the island of Java in the print image superimposed on a red colored sun. One trader in Java feel affection discard seal Dutch East Indies he had, then with reckless drawing with pen drawings mimic the sun original print overlapping government army nippon (Dai Nippon Gunseikanbu) above the seal of the Dutch East Indies and wear it on a receipt dated August 1, 1944 (2604) , is said to be reckless attitude because if caught would be arrested and punished by Kampetai, the Japanese military police.

, please see the illustration of the seal is compared to the original print overlapping with the machine, how anehkan, if you have the same hope is pleased to report it.

 

3. Numismatic History collections

Koleksi koin langka

INDONESIA UNIQUE COINS COLLECTIONS’
UCM-uniquecollection.wordpress.com CyberMuseum
@copyright Dr iwan S 2010

THE RARE DUTCH COLONY (NED.INDIE) SILVER COINS, THE LOWEST VALUE 1/20 cent and rare years mint.

AA.Dr Iwan Notes
this site still waiting for sponsorship to built in special blog with profesional best photographic illustrations, if in one month no sponsorship the illustration wil installed one by one with the blur illustrations.

BB. Dr IWAN S UNIQUE COINS FUND INDONESIA COLLECTIONS
the collectors can send their collections to add in the illustrations with their name as the curtecy

A. THE ANCIENT INDONESIA KINGDOM COINS
I. THE ANCIENT SUMATRA KINGDOM COINS
1. THE SRIVIJAYA COINS
2. THE PALEMBANG ISLAMIC KINGDOM PITIS COINS
(1) THE RARE UNCIRCULATED PALEMBANG PITIS COINS NEVER PUBLISHED, COMPARE WITH THE LITOGRAPHIC BACKGRUND PICTURES.

(2) THE PALEMBANG PITIS COINS HAVE REPORTED BEFORE IN BEST CONDITIONS (23 TYPES)THE COMPLETE COLLECTINS LOOK AD MY VIDEO PITIS PALEMBANG AT MY FACEBOOK Gho Biangoan(Dr iwan S). below several samples.




II. THE ANCIENT JAVA KINGDOM COINS
(1) The Bantam Sultanate local coin
complete coins look at Dr iwan s (Gho Biangoan) face book video,the sample look below

III. THE ANCIENT BORNEO COINS
IV. THE ANCIENT CELEBES COINS

B. THE ANCIENT FOREIGN KINGDOM COINS USED IN INDONESIA
1. THE ANCIENT CHINA EMPIRE COINS
the complete coins look at Dr iwan s (Gho Biangoan) facebook video some sample look below



II. THE ANCIET JAPAN COINS
III. THE ANCIENT DUTCH EAST INDIA COMPANY -VOC COINS
The cmplete coins look at Dr iwan s (Gho Biangoan) facebook video,some sample of rare VOC bonk(bar) coins look at below


IV THE ANCIENT BRITISH EAST INDIA COMPANY -EIC COINS
V.THE OTHER ANCIENT COUNTRIES COINS

 

:”The Rare Numismatic Collections”(Koleksi Numismatik Langka)

KOLEKSI CONTOH TEKNIS PERCETAKAN UANG GAMBAR PELUKIS TERKENAL AFFANDI

silahkan mencari Koleksi Langka Numismatik Indonesia berpedoman dari Info Koleksi numismatik langka didunia di Bawah INI

 
 
 
 
.
The Coca .Cola Medal was described on another Mutt & Jeff page. CLICK HERE. The Mayflower Medal was part of a different page, the same as the Ham & Eggs script. CLICK HERE. Roger has a special interest in this as some of his relatives crossed over on the Mayflower.
 

This Medal was purchased unidentified at the flea market. It took hours of searching the internet with google, before the identification was located. The success was based on typing into google ‘mico‘ and yo and behold the artist was identified. He is well known to the ANS. Their collection has 29 other medals attributed to Mico Kaufman, but not this one.

Obverse: Portrait of young Artist kneeling and holding a circler painting of 5 men. He has buster in left hand, within raised rim.

Reverse: THE HAMILTON MINT / Signature of Artist engraver – MICO KAUFMAN / SPIRIT OF AMERICA, within raised rim.

Ag 50mm Edge: .999  FS C HA 75 P  1640

OBV: HERNANDO DE SOTO / above around / 1500 / Coat of Arms, right,Bust of deSoto, left / 1532 below/

CONQUISTADOR, around below

REV: DE SOTO NATIONAL MEMORIAL, above around,

Memorial Marker between two trees / P.D. designer / BRADENTON FLORIDA, around below

Undated medal – 50 mm – pewter

Vietnam War Patriotic Peace Medal 1973

63.5mm bronze

Medallic Art Co. N.Y.

Paul Calle, des. & Joseph DeLorenzo, Sc.

Obv. dove of peace flyng above clasped hands. PEACE IN VIETNAM 1973 below.

Rev. Standing figures of soldier holding child, wife and son within wreath,

OUR BOYS ARE HOME below.

The Bank of Scotland 1991 One Pound sterling Note is still legal tender in the United Kingdom.

 

Obverse: In center oval, AL DOCTOR / FEDERICO N. VIDELA / (small cross) 19 DE DICIEMBRE / DE 1920 / SUS AMIGOS, between decorative columns, small hourglass below.

Reverse: EN EL PRIMER / ANIVERSARIO / DE (divided by laurel) / SU / MUERTE

Engraver: GOTTUZZO Y PIANA at lower edge.

Placquette – gold plated copper

NATIONAL PARKS CENTENNIAL 1872-1972 Bronze Medal

VIRGIN ISLANDS NATIONAL PARK 1956

Obverse: Bay surrounded by hills and mountains, small sailing ship moored.

Reverse: Stone building

Bronze 39 mm

Comemorative Medal for the 450th Anniversary of the city of San Juan, Puerto Rico

1521 – 1971

Obverse: Four views of building, in circles, imposed over country view of mountains, trees, road and buildings.

Reverse: Coat of arms – Five tower crown for El Morro castel, The Lamb of God carrying a cross with flag, surmonted on rock surrounded with water.

Bronze 40 mm

 

Mutt and Jeff still go to the local flea market on Thursday – free parking day, when most of the garage sale venders have to arrive at 5:30AM to be assigned a free selling spot. As a result, you never know what odd and interesting collectables you can see and sometimes purchase.

The National Park medal with the MOOSE on the obverse and the WOLF on the reverse, commerates the first National Park – Yellowstone 1872-1972. The 1940 refers to the date the Isle Royale National Park was established . The park is made up of 200 islands in Lake Superior.

Argentina medals are quite plentiful in South Florida after the monetary changes a dozen years ago in that country. Many citizens visited or emorgrated here during that period, and small things of value were brought out of the country, only to find a very limited market for them in the U.S.

These historical medals were often available at $5 to $10.

The designs and engraving far exceed the street value.

This Medal dated 1896 in Buenos Aires commerates tlishment of a charity sch

Proof AE 47mm

This Medal has a very close connection to our collector.  He spent his whole life working in the hotel business, coming from a hotel family.  When he saw this medal at the flea market, he immediately knew what it represented. As a teenager, he accompanied his Father to the National Hotel & Motel Exposition at Madison Square Garden New York City during one of World War II years in the early forties. Dick Johnson, former head of the Medallic Art Co. advises that the dies were cut by a local New York firm and that the medal was only issued in bronze 73mm size. All were issued to the Exposition in 1965.

THE NEXT SIX ITEMS are of a contempary historical interest.  To have your portrait on American Currency, you have to be a former President and no longer living. As a result of this limitation, satirical political notes have been printed since the 1970′s for presidential candidates to promote their election.  They have an odd numismatic connection as exonumia and some of them are quite hilarious, as the 1998 Hillary Rodham Clinton note shows.

On October 13, 1983 Federal Express donated aircraft #199, which it had operated under N8FE for twenty years, to the National Air and Space Museum of the Smithsonian Institution. The Falcon was the first commercial jet to be placed in the Air Transportation gallery.

This bronze 52 mm medal was issued to commerate this event.

Thanks to a Stacks employee who reads Cyrillic and her father who was better able to explain the meaning of the words, we identified this medal as IX Summer Tryouts for all Cultural Groups of the USSR. 

Reverse: Large letters

K=committee,

Ф= Physical,K=Athletes,

C=Sports,

legend below: City Committee of USSR. These medals were given for participation in tryouts at Moscow 1980.  Struck in Gold, Silver & Bronze

SILAHKAN BERGABUNG DENGAN PERHIMPUNAN KISI

KISI INFO BUKU Dr IWAN”ALAM BERKEMBANG JADI GURU”

INI CUPILKAN BUKU Dr IWAN SEBAGAI CONTOH,BUKU YANG LENGKAP AKAN DIPUBLIKAIKAN  9 PEBUARI TAHUN 2015

HARAP KOMENTAR,SARAN DAN SOKONGAN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DILARANG MENGKOPI DAN MENIRU IDE INI

HAK CIPTA Dr IWAN DILINDUNGI UNDANG-UNDAR RI

ALAM BERKEMBANG MENJADI GURU

 

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

STRATEGI MEMBANGUN

GENERASI PENERUS INDONESIA MASA MENDATANG

OLE H

Dr Iwan Suwandy, MHA

HAK CIPTA @ Dr IWAN 2013

KATA PENGANTAR

Saya dilahirkan dan dibesarkan di Ranah Minangkabau sampai berusia 45 tahun, pada saat itu banyak hal yang telah dipelajari dan yang paling mempengaruhi jalan hidup selruh keluarga besar saya adalah makan dari  pepatah Minangkabau dibawah ini

  ALAM BERKEMBANG MENJADI GURU, SETIAP AIR NAIK  TEPIAN BERPINDAH, DI MANA TANAH DIINJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG,

TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT, LURUS KURUS, CERDIK PANDAI ,TERHIMPIT DIATAS TERKURUNG DILUAR

CEPAT TIDAK MENDAHULUI , CEPAT HANYA SELANGKAH

PINTAR TIDAK MENGURUI TAPI MEMBERI TELADAN

BIARKAN ANJING MENGONGGONG KAFILAH JALAN TERUS

Setelah bertahun-tahun mengkaji arti dan makna pepatah tersebut diatas   secara teliti dan mendalam , telah  dijadikan sebagai  pedoman dalam menjusun strategi  dan taktik pelaksanaan pembangunan generasi penerus didalam keluarga besar saya .

Hasil kajian tersebut diatas ditambah dengan kajian faktor positif dan faktor negatip dari sejarah Indonesia dapatlah disusun strategi dan taktik pembangunan generasi penerus dilingkungan keluarga pembaca, dan akhirnya juga dapat dijadikan strategi dan taktik pembangunan generasi penerus diseluruh Indonesia sehingga munculah pemimpin –pemimpin bangsa Indonesia yang mampu membawa Negara dan Bangsa Indonesia untuk mecapai cita-cita Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamsi Kemerdekaan Indonedia 17 Agustus 1945, Indonesia Merdeka beerazakan Panca sila,untuk mencapai masyarakat yang adil dan Makmur bagi selurh suku di Indonesia yang bersatu dalam perbedaan Bhineka Tunggal Eka yang sampai saat ini belum dapat diraik secara memuaskan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya telah mengkaji secara dan teliti sejarah Indonesia mulai dari awalnya masa dimana ada catatatan sejarah  meliputi :

A.Kerajaan Abad Ke-1 sampai Abad Ke-19 seperti:

Kerajaan Taruma Negara, Kerajaan Sriwijaya,Kerajaan Mataram Kuno,Kerajaan Sunda, Kerajaan Singgosari, Kerajaan Mojopahit,Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya), kerajaan Mataram Islam,

  1. B.  Berbagai Kerajaan pada awal abad ke-20,

C.Republi Indonesia

Negara Republik Indonesia masa revolusi dan Perjunagan Kemerdekan,RIS,NKRI mulai dari Demokrasi Liberal,Demokrasi Terpimpin,Demokrasi Panca Sila dan Demokrasi Reformsi smampai tahun 2014

Kajian Ini dilaksanakan untuk  menemukan hal yang plus dan minus bagi menyusun  strategi dan taktik pembangunan sumberdaya mnusia generasi penerus Indonesia dimasa mendatang.

Moto saya adalah Belajarlah dari Sejarah  (Kajian Sejara)dan pengalaman  orang lain(Kajian Manusia Sukses didunia), agar Kesalahn yang telah didlakukan tidak diulang lagi dimasa mendatang  serta hal yang plus atau benar  dapat dikembangkan sesuai situasi perkembangan ilmu social,Budaya dan Politik  untuk dijadikan stratedi dan taktik pembangunan sumaber daya generasi penerus dimasa mendatang di Negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama ini  agar cit-cita proklamasi kemrdekaan 17 aguistus 1945 dapat dicapai secara bertahap dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang berlaku saat mendatang.

Saya  bukan seorang pakar Ilmu  Sejarah, Sosial Budaya, dan Politik tetapi hanya seorang dokter umum pakar administrasi Rumah sakit ,Pensiunan Komisaris Besar Polisi dari MABES POLRI  yang memiliki hobi koleksi artifak Fakta Sejarah, sehingga sangat maklum bahwa  hasil kajian  ini sangat banyak kekurangannya sehingga koreksi,saran perbaikan dn tambahan informasi sangat saya harapkan  serta mohon maaf bila kasil kajian ini kurang berkenan bagi berbagai pihak yang merasa dirugikan.

 saya ucapkan ribuan  terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan emberikan dorongan  sehingga kajian ini dapat dirampungkan untuk dipublikasikan saat ulang tahun saya ke tujuh puluh ,tanggal 9 pebruari 2015 ,terutama dari keluarga besar seperti isteri Lily,putra Albert dan Anton.

Kajian ini saya dedikasikan kepada putra saya albert dan anton untuk dapat menjadikan pedoman dalam pembangunan sumberdaya penerus generasi keluarga besar cucu saya Cesa,Celine, Antoni serta generasi penerus selanjutnya

Jakarta, November 2013

Dr iwan Suwandy,MHA

 

 PROFIL PENELITI

 

The Author Profile

.I starting stamps collection during 1955 very young boy. look my vintage photo with mother Diana lanny and father Djohan Oetama at Bukittingi West Sumatra 1955, my father passed away in 1985 and my mother just passed away in june 2011 at  91 years old.

b.Between 1960-1963, during study at Don Bosco high school I had started collected beside stamps all type of informations collections due to my Teacher Frater Servaas told me that I must collected the Informations due to the develping the satellite which made the globalizations which the growing of world cmmunications will became fast and no border between the nations countries, who have the Information he will became the leader and the King in communications, thank you Frater Servaas your info which made me could built the very best informations communications uniquecollection blog in the world.
Look at in memoriam Frater Servaas with my teacher at Frater middle school in memrian Frater Eric at my House during my Sister Erlita 17th years birthday in 1963.


also look my profile with my loving teacher who still alive and stay at Padang city west sumatra Pak Sofjanto at my house in the same time of the photo above


c.Between 1973-1983 many interesting history which related with the stamp and postal history and also with my life :
1. In 1972 I have graduated Medical Doctor(MD)

2.as the temporary assitenst at Pulmonology (Lung Disease) department in Medical faculty

3.In 1973 join the medical officer of Indonesia National Police


4.in September 1973 I was merried with Lily W.


5. in 1974 my first son Albert our photographer was born in November 1974, and later in January 1977 born my second son Anton our Editor .
a. Albert at Solok city west Sumatra 1978

b.Anton at Solok city 1978


6. Between 1975 until 1989 I have travelled around Indonesia myself or officially and I have found many uniquecollections that time.

7.In 1985 I have made a postal communications, I have send the aerogram to all Postal services in the capital city of all oin the world, 90 % send to me back the official cover,this could be done by the helping of Padang postmaster Ahmadsyah Soewil, his father collections I had bought in 1980.
The vintage photo of Soewil St.marajo ,during the chief of Painan West Sumatra Post office
look his photos

During Dai Nippon occupation he still at Painan and during Indonesia Independence war he was the Finance officer of Padang office and later in 1950-1959 the chief of TelukBayur Harbour west Sumatra post office, seme of the rare West sumatra during Dai Nippon occupation and Indonesia Inedependence war were his collectins,thankyou Family Soewil for that rare collections(complete infrmatins source Dai nippon occupatin sumatra under Malaya Singapore or Syonato Dai Nippon military Administrations and Indonesia Independence war collections.

8. Before between 1979-1985 I have joint the postal circuit club and I have found many covers from all over the world especially Latin America.This circuit as the help of my friend Frans,now he was in Bogor.

9.In 1990 I was graduate my Master Hospital Administration.


10.Between 1990-1994
I was n the duty at West Borneo and visit Sarwak,and i have fund some rare Sarawak stamps, revenue there and in Pontianak I have found rare sarawak coins

11.Between 1995 until 2000
I am seeking the postally used cover from the countries I havenot found especailly the new freedom countries.
All the postal stamps and covers I will arranged in the very exciting and unique collections, I will starting with Asia Countries, and later Africa, Australia, America and Euro.
This special collections were built dedicated to my Sons,especially the histrical fact from my vintage books collections as the rememberance what their father collected and I hope they will keep this beautiful and histric collections until put in speciale site in the CyberMuseum.
I hope all the collectors all over the world will help me to complete the collections, frm Asia I donnot have the cover from Bhutan,Mongol, Tibet, and SAfghanistan.but the stamps I have complete from that countries except my thematic bridge on the river kwai from Myanmar and Thailand.
12. In the years of 2000, I was retired from my job
this is my official profile just before retired.


13, Between 2000-2008
I am travelling around Asia,and starting to arranged my travelling unque collections.
14. December,25th 2008
I built the uniquecollection.wordpress.com Blog with articles :
(1). The Unique books collections
(2). The Unique Stamps collectins
(3). The rare Coins collections
(4). The rare ceramic collections
(5.) The Unique label collectins
(6.) The Travelling Unque collections (now changed as the Adventures of Dr iwan S.
(7). The Tionghoa Unique Collections
(8.) The Asia Unique Collections
(9.) The Africa Unique collections
(10). The Padang minangkabau CyberMuseum                                                              

15. In 2010

I built another web :

(1) hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

(2)hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

In this web the collectors will look the amizing collections:

(1) The Vietnam War 1965-1975, and another Vietnam Historic collections like Vienam during Indochina, Vienam Diem War 1955-1963,etc

(2) The Dai Nippon War 1942-1945, five part in homeland,pasific war,in Korea,in China, in south East Asia including Indonesia.

(3) The Indonesia Independence War  1945,1946,1947,1948,1949 and 1950.

(4) The Uniquecollections from all over the world.

(5) The Icon Cybermuseum, including Bung Karno,Bung Hatta,Sultan Hemangkubuwono, and also from foreign countries Iran,Iraq Sadam huseun ,Palestina jerusalam,turkey,afghanistan, libya Moamer Khadafi, Suriah , etc

(6) The Rare Ceramic Collections found In Indonesia, like China Imperial Tang,Yuan,Ming and Qing; also euro ceramic from delf,dutch maastrict ,etc

(7) The Indonesian History Collections  and many other collections

AT LEAST AFTER THE ALL OF MY COLLECTIONS ENTER THE CYBERMUSEUM AND OTHER WEB BLOG, I WILL ASKING TO GET  THE MURI CERTIFICATE.(INDONESIAN RECORD MUSEUM)

8. I also built a amizing collections due to my premium member prefered, like The Indonesia Revenue Collections from 19th to 20th century, the mysteri of the Indonesian vienna Printing Stamps, the China  Gold Coins, The Rare Chian imperial ceramic design foun in Indonesia, The Tionghoa (Indonesia Chinese Overseas collection), Penguasa Wanta di dunia(Women in Leaders) etc.

5. At Least thankyou verymuch to all the collectors who have visit my blog and support me, my last prestation in June 2011 (26 years from the first starting to built the e-antique or uniquecollections info in internet) :

(1) hhtp://www.Driwancybermuseum : visit 60.000, the highest per day 3200.

(2)hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com:visit 21.000,the highest per day 200.

(3)hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com, visit 40.000,the highest per day 210.

Jakarta October 2013

Greatings from teh founder

Dr Iwan Suwandy,MHA

 

 

DAFTAR ISI

I.KAJIAN PEPATAH  SEPULUH MINANG KABAU

II.KAJIAN KERAJAAN NUSANTARA

2.1. Kajian Kerajaan Nusantara  Abad Ke-1 sampai Abad Ke-19

2.2 Kajian  Kerajaan Nusantara pada awal abad ke-20,

2.3 Kajian Republik Indonesia 1945-2014

III. HASIL PENELITIAN

IV. PEMBAHASAN PENELITIAN

V.  KESIMPULAN

VI.STRETEGI DAN TAKTIK PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA GENERASI PENERUS

PEMBAHSAN CATATAN KAKI

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

 

 

BAB I.

KAJIAN SEPULUH PEPATAH MMINANG KABAU

1.1.ALAM BERKEMBANG MENJADI GURU,

1,2.SETIAP AIR NAIK  TEPIAN BERPINDAH

1, 3.DI MANA TANAH DIINJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG,

1.4.TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT,

1.5. LURUS KURUS,

1.6. CERDIK PANDAI ,

1.7 TERHIMPIT DIATAS TERKURUNG DILUAR

1.8.CEPAT TIDAK MENDAHULUI , CEPAT HANYA SELANGKAH

1.9.PINTAR TIDAK MENGURUI TAPI MEMBERI TELADAN

1.10.BIARKAN ANJING MENGONGGONG KAFILAH JALAN TERUS

 

 

 

 

 

 

 

BAB II.

KAJIAN KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014)

 

 

BAB III.

HASIL PENELITIAN

3.1 KESALAHAN  MASA LALU

KAJIAN KESKAHAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

3.2. KEBERHASILAN MASA LALU

KAJIAN KEBERHASILAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

 

 

BAB IV. PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 ANTISIPASI KESALAHAN  MASA LALU

3.1 KESALAHAN  MASA LALU

KAJIAN KESKAHAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

3.2. KEBERHASILAN MASA LALU

KAJIAN KEBERHASILAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

 

 

4.2. PEMANFAATAN KEBERHASILAN MASA LALU

3.1 KESALAHAN  MASA LALU

KAJIAN KESKAHAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

3.2. KEBERHASILAN MASA LALU

KAJIAN KEBERHASILAN MASA KERAJAAN NUSANTARA

2.1.Kerajaan Nusantara  Abad Ke.1 – Ke.19

 

2.1.1

Kerajaan Taruma Negara

2.1.2

Kerajaan Sriwijaya

2.1.3

Kerajaan Mataram Kuno

2.1.4

Kerajaan Sunda

2.1.5

 Kerajaan Singgosari

2.1.6

Kerajaan Mojopahit

2.1.7

Kerajaan –Kerajaan Islam Indonesia era wali sonngo (Demak,, Banten dsbnya),

 

 

2.1.8

 Kerajaan Mataram Islam,

 

2.2

Kajian  Kerajaan Nusantara  Awal Abad ke-20,

2.3

 Kajian NRI  1945-2014

2.2.3.Negara Republik Indonesia Masa Revolusi dan Perang  Kemerdekan

2.3.

Kajian 1RIS,

 

2.4.

 

Kajian NKRI(1950-2014)

A.Demokrasi Liberal(1950-1959)

B.Demokrasi Terpimpin(1959-1965)

C.Demokrasi Panca Sila (1965-1998)

D. Demokrasi Reformasi (1998- 2014

 

 

 

BAB V.

 KESIMPULAN

5.1.KESALAHAN MASA LALU

5.2.KEBERHASILAN MASA LALU

BAB VI.

STRETEGI DAN TAKTIK PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA GENERASI PENERUS

 

PEMBAHASAN CATATAN KAKI

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 SELESAI HAK CIPTA @ Dr IWAN 2013

 

KISI INFO NAPAK TILAS SEJARAH INDONESIA (BERSAMBUNG)

Napak Tilas

PERGOLAKAN PRRI

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

BAGIAN KEDUA

 

1958

Tahun 1958 didirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang diketuai oleh

 

 Letnan Kolonel Achamad Husein.

Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai  pejabat presiden.

(Masa ke Masa DEPLU,2005)

 

 

 

 

 

 

Januari 1958

 

 

 

Tak lama kemudian Ahmad Yani Mendapat jabatan  Deputi  I-KASAD Bidang Intel dan pangkatnya naik jadi Kolonel.

 

Pak Yani turut dalam misi pembelian senjata ke Yugoslavia. Yang saat itu dipimpin

 

 

 

Jozeb Broz Tito dan bung Karno

Pada waktu itu bepergian keluar negeri masih sulit  harus ada izin dari Presiden

 (Dr Iwan sebagai perwira POLRI-ABRI tahun 1974 pergi ke Singapura atas biaya sendiri harus ada izin dari Panglima ABRI,setelah melalui perjalanan panjang izin mulai kari Kapolres,Kapolda,Asspers KAPOLRI,KAPOLRI,sampai PANGAB selama satu tahun-Dr Iwan).

 

 

Pada saat ini Presiden Yugoslavia Josef Broz Tito sedang berkunjung ke Indonesia dan saat pesta perjamuan oleh Presiden Sukarno  di Istana Negara, Pak Yani diundang dan mulai dikenal oleh Bung Karno.

(Ahmad yani)

 

 

 

 

4 Januari 1958

 

Sekembalinya ke dari Luar negeri, Pak Yani mendapat tugas lagi ke London, dan saat itu Ibu Ahmad Yani melahirkan anak ke delapan, dan Ibnu Sutowo menirim berita  liwat telex ke Pak Yani.

 

(Ahmad yani)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

15 Januari 1958

 

 

 

Pada tanggal 15 Januari 1958 , Tokoh PSI Prof  Soemitro Djojohadikusumo meninggalkan Sumatera Barat menuju singapura dan kemudian ke  Eropa Barat untuk mengalang dana dan bantuan lainnya termasuk mendapatkan senjata

 

(Audrey Kahin,Dari Pemebrontakan ke Integrasi,yayasan Obor,Jakarta,2008 hal 322)

 

Sumitro lalu ke Saigon juga dengan menyamar sebagai kelasi kapal sebelum ke Manila dan melakukan kontak dengan Perjuangan Semesta (Permesta). Menyamar menjadi cargo supervisor atas nama pemilik kopra, Sumitro masuk ke Bitung. Ia ke Sumatra menggelar pertemuan dan memperluas hubungan dengan pemimpin militer di Sumatra, juga Sumual di Sulawesi.

Subadio, utusan Sjahrir, bertemu Sumitro di Singapura. Sumitro berperan menangani bidang logistik bersama Kolonel Simbolon dan Husein bagi PRRI. Ia sempat mengecek pengadaan senjata. Sebagian senjata dibeli di Phuket (Thailand) dan Taiwan. Dua kali ia masuk Taiwan, dan kembali ke Minahasa dengan pesawat bermuatan amunisi.

Konsep semula, menurut Sumitro, hanya untuk memperbaiki Jakarta. Tidak ada bayangan membuat suatu pemerintahan tandingan. Tuntutan mereka hanyalah ingin otonomi dan pengembangan daerah.

Sumitro mempercayai gagasan persatuan Indonesia. Namun, tatkala PRRI hendak mendirikan Republik Persatuan Indonesia (RPI), dan Pulau Jawa tidak termasuk di dalamnya, ia menolak tegas, “Kalau demikian, saya tidak bisa ikut, sebab negara kita satu.”(iluni)

Informasi terkait dari Prabowo Subianto putra Sumitro

 

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya sekaligus calon presiden untuk pemilihan umum 2014 Prabowo Subianto mengaku pernah menjadi pengungsi di Malaysia dan Singapura sekitar 1960-an. Dia menghabiskan masa kecilnya di dua negara itu.

Karena itu, menurut Prabowo, dia memiliki ikatan emosional dengan dua negara tetangga itu. “Waktu itu keluarga saya menjadi pengungsi karena kalah dalam konflik politik. Singapura dan Malaysia memberi kami tempat berlindung,” kata Prabowo berkemeja batik merah saat menjadi pembicara tunggal dalam acara makan siang digelar oleh Dewan Dagang Singapura bersama Malaysian Club di Ballroom Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Rabu (29/5).

Selama sepuluh tahun, Sumitro Dojohadikusumo membawa lari keluarganya ke luar negeri setelah rencana PRRI Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia Perjuangan Rakyat Semesta) mendirikan RPI (Republik Persatuan Indonesia) tidak memasukkan Pulau Jawa sebagai wilayahnya.

Dia tidak bisa kembali ke Jakarta lantaran Presiden Soekarno masih menganggap dia sebagai pemberontak. Sumitro bergabung dengan PRRI dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara karena menolak Soekarno terlalu dekat dengan komunis.

 


Meski sudah setengah abad, Prabowo masih ingat kenangan masa kecilnya di Malaysia dan Singapura. “Saya sangat suka nasi lemak, sangat berbahaya (disambut tawa hadirin) dan pergi ke warung makan Uncle Don di Kuala Lumpur.”

Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara lebih dari dua tahun. Mereka berpindah mulai dari Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur (Malaysia), Zurich (Swiss), London (Inggris), kemudian pindah ke Bangkok.

Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, dia menjadi saudagar mebel dan pengembang perumahan di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for Asia and the Far East (Ecosafe) di Hong Kong dan cabangnya di Kuala Lumpur. Dia memakai nama Kusumo.(fas)

(Merdeka Com)

 

Ketidak sepakatan ini mendorong Sumitro mengungsi ke luar negeri, lantaran belum memungkinkan pulang ke Jakarta. Pemerintahan Soekarno masih menganggapnya pemberontak yang harus disingkirkan.

Selama 10 tahun di pelarian, Sumitro menggunakan banyak nama samaran. Para mahasiswa di Jepang mengenalnya sebagai Sungkono. Di Jerman dipanggil Sunarto.

Di luar Frankfurt pakai nama Abdul Karim. Di Hongkong orang mengenalnya Sou Ming Tau (bahasa Kanton) dan Soo Ming Doo (bahasa Mandarin). Warga Malaysia mengenalnya Abu Bakar. Ia dipanggil Henry Kusumo atau Henry Tau di Bangkok.

 

Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara lebih dari dua tahun. Mulai dari Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, Zurich-Swiss, London, kemudian pindah ke Bangkok.

Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, ia menjadi saudagar mebel dan real estate di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for Asia and the Far East (Ecosafe) di Hongkong, dan cabangnya di Kuala Lumpur. Ia memakai nama Kusumo.

Sebagai orang tua, ia dikenal keras dan disiplin dalam mendidik keempat anaknya.

 Buktinya, putri tertua, Ny. Biantiningsih yang istri mantan Gubernur BI J Soedrajat Djiwandono, sampai memiliki dua gelar kesarjanaan.

 

Begitu juga Ny Marjani Ekowati, putri kedua yang menikah dengan orang Prancis. Letjen Prabowo Subianto berhasil meniti karier sebagai Danjen Kopassus dan Pangkostrad.

Lalu si bungsu Hashim Sujono menjadi pengusaha sukses.

(iluni)

 

 

Tanggal 15 Januari 1958, Ahmad Husein memaklumkan

berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia

(PRRI)

 

16 Januari 1958

 

Pada 16 Januari 1958 Bung Hatta & Bung Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-derah bergolak seperti Syauman Gaharu  di Palembang dan Dewan Banteng di Sumteng.

Utusan itu ialah Djoeir Moehammad salah seorang anggota dari DPP Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Kok bakisa duduak ja’an kalua di lapiak nan sahalai

Kok bakisa tagak ja’an kalua di tanah nan sabingkah

Kalau bergeser dari duduk jangan keluar dari lapik yeng sehalai

Kalau bergeser berdiri jangan keluar dari paki yang sehelai

Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah:

 ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat).

 Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”.

 

Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

 Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini,

akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.

(oetoesan melajoe)

.

 

Menanggapi rapat rahasia di Sungai Dareh itu,

 Bung Hatta mengirim pesan yang kemudian disiarkan Pers di Jakarta: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiek nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah”.

Sekitar tanggal 16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

 

Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”.

Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya. PRRI terperangkap ke dalam strategi Amerika Serikat.

Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Dapat dirasakan sekarang. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini, akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.

Isi tulisan itu menyadarkan akan kualitas Bung Hatta sebagai bapak bangsa yang ingin mempertahankan keutuhan NKRI, dan kemampuan beliau untuk membaca apa kira-kira akibat buruk dari sesuatu kebijaksanaan yang akan diambil.

Pertanyaan sejak lama, kenapa TT II Sriwijaya dibawah komando Let Kol Barlian tidak meneruskan perlawanan terhadap pemerintahan pusat. Beliau patuh mengikuti petunjuk dan permintaan dari Bung Hatta tersebut. “Wong Kito Palembang” selamat tanpa korban baik jiwa maupun masa depan daerahnya. Tidak ada trauma pada mereka.

(dokumentasi buya)

Peristiwa Mayor Djuhartono

Apa yang terjadi ternyata diluar kehendak MBAD, malahan Panglima TT. II/SRIWIJAYA memerintahkan menangkap Komandan Resimen V dengan menggerakan pasukan dari KMKB. Hal ini mengakibatkan Mayor Djuhartono membawa pasukannya ke Talang Betutu dalam rangka mengamankan diri.

 KKMB (Garnisun) segera memerintahkan Lettu. Sainan Sagiman, dan dibantu oleh skuadron-skuadron panser pimpinan Lettu. Faisol dan Satu Batalyon Penuh Infrantri pimpinan Kapten. Abdulla yang bersama-sama untuk memimpin pasukan serta meminta penyerahan diri Mayor Djuhartono dan pasukan yang ternyata ditanggapi dingin oleh Mayor Djuhartono.

Mayor Riacudu segera mengambil usulan untuk menempuh jalur diplomasi mengingat kawan dan lawan adalah sesama mantan pejuang kemerdekaan dengan usulan-usulan :

  • Semua pasukan siap ditempat dan tidak boleh bergerak
  • Tidak ada sebutir peluru ditembakkan
  • KSAD dibenarkan mendarat di Talang Betutu

 

Peristiwa semakin rumit dengan mendaratnya tiga flight Dakota yang membawa Pasukan RPKAD

 

di Talang Betutu.

 Mengingat kondisi yang rumit Mayor Nawawi segera diperintahkan untuk membawa pasukan dalam jumlah besar mengepung Talang Betutu.

 Untunglah sebelum front terbuka, Ketengan mulai mencair ketika jalur diplomasi dari TT. II/SRIWIJAYA yang dipimpin oleh Mayor Kastubi mencapai kesepakatan dengan dihadiri oleh Kolonel A.Yani dan Kolonel Ibnu Sutowo sebagai utusan KSAD. Peristiwa ini sangat menggemparkan dan dikenal dengan peristiwa “Djuhartono”.

Setelah dimutasikanya Djuhartono dan disetujuinya tidak ada released ke media massa tentang peristiwa ini, tiba-tiba terdengar issu bahwa akan adanya serangan dari pusat terhadap daerah dan penangkapan tokoh-tokoh pergerakan daerah dari kalangan mliter. Hal ini mengakibatkan ketersinggungan unsur TT. II/SRIWIJAYA dan mensiagakan seluruh kekuatan mliter yang ada.

Untunglah sebelum situasi bertambah panas Lettu Sainan Sagiman diperintahkan untuk mengkonsolidasi dan mengkoordinasikan dengan Panglima Sumatera Tengah Letkol A. Husain, Panglima Sumatera Utara Letkol. Djamin Ginting serta Panglima Aceh Letkol  Syamaun Gaharu agar memberikan dukungan kepada TT. II/SRIWIJAYA meyakinkan MBAD masalah Sumatera Selatan dibawa ketingkat pusat dan tidak perlu dengan pengerahan kekuatan mliter. Usulan ini didukung secara penuh oleh ketiga panglima wilayah sumatera dengan tujuan mencegah pertempuran sesama kekuatan NKRI

 

(KODAM Sriwjaya web blog)

 

 

17 Januari 1958

 

 pada tanggal 17 Januari 1958,

LetkolD. J. Somba, Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan

Tengah mendirikan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta)

 

Pemerintah RI memutuskan untuk menumpas pemberontak

PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi.

 

Untukwilayah Sumatera dipersiapkan operasi militer gabungan

yang terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan

Angkatan Udara:

1. Operasi Tegas, di bawah pimpinan Letnan Kolonel

Kaharuddin Nasution. Mereka dapat menguasai Riau,

dan Pekanbaru bisa dikuasai tanggal 12 Maret

1958.

2. Operasi 17 Agustus, di bawah pimpinan Kolonel

Ahmad Yani, untuk menguasai Sumatera Barat.

Tanggal 17 April 1958, Padang dapat dikuasai.

3. Operasi Sapta Marga, dilaksanakan di Sumatera

Utara di bawah pimpinan Brigadir Jendral GPH Jati

Kusumo.

4. Operasi Sadar, dilaksanakan untuk daerah Sumatera

Selatan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dr.

Ibnu Sutowo. Mereka berhasil menguasai Palembang.

 

 

Pecahnya pemberontakan PRRI/PERMESTA, telah mengakibatkan perundingan antara saya dengan pihak DI/TII terhenti sejenak. Kami mengkonsolidasikan diri sambilmenjaga agar PRRI tidak menjalar ke Aceh. Ini bisa menjadibahaya yang lebih gawat lagi. Apa yang saya kuatirkan itu terjadi. Utusan PRRIpun datang menghadap Teungku Muhammad Daud Beureueh

 

 

di Cangek, yang terletak antara Pante Raja dengan Trieng Gadeng.

 

Utusan mereka itu adalah Mr. BurhanuddinHarahap. Tokoh PRRI ini disambut oleh Hasan Aly danTeungku Sulaiman Daud. DI/TII membuat hubungan lanjut

dengan pihak PRRI.

 

Teungku Sulaiman Daud diberangkatkanke Sumatera Barat dan sebulan kemudian ia kembali keAceh dengan membawa senjata.

 

Markas besarpun dipindahkanke Lubuk. Dengan demikian berarti kekuatan pasukan

DI/TII bertambah dan kini mereka berada di atas angin.

 

Sekembalinya Teungku Sulaiman Daud dari SumateraBarat, Hasan Saleh yang menjabat Menteri PeperanganDI/TII menyusun satu unit pasukan baru untuk menyerang

Kutaraja.

 

 Pasukan ini dinamakan Korps Cadangan. Bersamaan dengan meletusnya peristiwa Boyke Nainggolan danHendri Siregar di Medan, malam itu pula diadakan musyawarah

di Lubuk, untuk menyusun rencana penyerangan Kutaraja

di bawah pimpinan Hasan Saleh.

 

Demikianlah, Kutarajadikepung oleh pasukan DI/TII di bawah pimpinan Ibrahim Saleh dengan 2 batalion,tempurnya.

 

Saya mencari akal untuk meiepaskan Kutaraja dari keadaan itu. Jalan yang harus saya tempuh haruslah jalanyang tidak mengakibatkan pertumpahan darah.

 

Kebetulanwaktu itu pasukan RPKAD berada di Sumatera Utara untukmenumpas Gerakan Sabang Merauke di Medan. Sayamengatur siasat.

 

Saya meminta pasukan RPKAD sebanyaksatu peleton berehat di Kutaraja, sambil mengadakan show

of farce, unjuk kekuatan. Untuk itu saya mengirim MayorRivai Harahap dan Kapten A. Manan S ke Medan mengundangpasukan RPKAD itu.

 

Kemudian siasat itu saya lanjutkan dengan memanggilAyah Pawang Leman dan Ismail ke rumah saya.Kepada mereka saya mengatakan: “Kalau sampai besokpagi batalion DI/TII masih tetap berada pada posisi yang sekarang , saya akan meminta RPKAD menjalankan tugasnyasesuai dengan perintah perang yang akan dikeluarkan.”

 

Ayah Pawang Leman kembali ke tempatnya.

 

Apa yang dikatakannya pada pihak DI/TII  tidak saya ketahui, tapi yang jelas pasukan DI/TII yang mengepung Kutaraja mundur teratur ke pangkalannya di Pidie.

 

 Saya tersenyum,tipu Aceh saya berhasil. Kutaraja terlepas dari kepunganpasukan DI/TII.

 

Ikrar Lamteh telah satu tahun berjalan. PemberontakanPRRI dan Operasi Sabang Merauke bahkan menyulu tapi baru di Aceh.

 

Mereka sempat mengepung Kutaraja. Rasanyasudah tiba waktunya untuk menentukan suatu sikap.

 

Saya merasa perlu menyampaikan laporan tentang situasiterakhir di Aceh dan usul-usul mengenai penyelesaian masalahkepada Pemerintah Pusat.

 

Laporan dan usul itu saya buat dalam bentuk Memorandum Mengenai Penyelesaian

Masalah Keamanan di Provinsi Aceh, yang sifatnya sangat rahasia.

 

 

Konsep Memorandum itu dikerjakan oleh Mayor A.Sani dan Achmid Abdullah berdasarkan petunjuk saya. Memorandumitu diketik di bawah pengawasan ketat SekretarisPenguasa Perang, A. K. Abdullah, dan dibuat sebanyak

5 (lima) eksemplar.

 

Masing-masingnya disampaikan

kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Ir. Djuanda,KSAD/Penguasa Perang Jendral AH Nasution, Wakil KetuaDewan Nasional Ruslan Abdulgani dan satu eksemplaruntuk saya sendiri.

 

Memorandum itu terdiri dari lima bagian,memuat pendahuluan, laporan keadaan, pendapat-pendapat,kesimpulan dan penutup.

 

Agar memorandum itu sampai ke tempat yang dituju,setelah mempersiapkan segala sesuatunya, maka saya,Gubernur Ali Hasjmi dan beberapa staf berangkat ke Jakarta

menemui Presiden, Perdana Menteri, Menteri Dalam Negeri,KSAD dan beberapa pejabat lainnya. Saya juga harushadir dalam sidang Kabinet Istimewa.

(syamaun Gaharu)

18 Januari 1958

Presiden Sukarno Berkunjung ke Jepang

Tanggal 29 Januari 1958, Soekarno menjadi presiden pertama Indonesia yang berkunjung ke Jepang selama 18 hari. Inilah kunjungan kenegaraan pertamanya dan satu-satunya ke Jepang.

 

KISAH TIGA PETUALANG MILITER

Oleh Satrya

Dalam kelicinannya sebagai Organisator gerakan terror dan berusaha merobah struktur Negraa Zulkifli Lubis berhasil mempenaruhi tiga orang Komandan Daerah bergolak yang dengan taat merencanakan usaha merobah struktur Negara menurut Program Z.Lubis dan kalau perlu menganti Bung Karno sebagai Presiden.

 

Barlian,Ventje Samual dan Ahmad Husein

Pemberontakan di Suamtera Barat/Tengah dengan Proklamasi Pemerintah Tandingan denagn Nama PRRI dan didukung oleh Dewan Banteng dan Permesta, dalah kelanjutan dan usaha tindakan terachir  dari aktivis Z.Lubis dalam usahanya untuk merubah struktur  Negara.

 

Dalam kegiatan ini Z.Lubis mendapat kawan sefaham, setujuan dan sealiran serta secita-cita dari mereka kaum Politisi yang menghadapi jalan buntu dalam usaha mereka untuk menjatuhkan Presidden Sukarno untuk dapat menguasaai Negara agar dapat mereka atur sesuai dengan cita-cita mereka

Mereka itu antara lain Mohammad Natsir , ketua Umum Masjumi, Mr Burhanuddin Harahap , Mr Sjafruddin Prawiranegara,Amelz dan sebagainya.

Disamping itu Z.Lubis mendapat bantuan kuat dari kaum Petualang Militer yang telah banayk menjalankan kejahatan memperkaya diri dengan tidak sah dan menyalahguankan kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki.

Mereka itu sedang “ bentanyangan” mencarai jalan kleuar menghindarkan diri dari cengkrmanan hokum.

Maka bertemunya ketiga anasir jahat mengkhianat tersebut merupakan suatu hal yang melapangkan jalan nebuju ketindakan khianat memberontak terhadap Pemerintah Republik Indonesia.

APAKAH INI BUKAN KEJAHATAN BESAR !

Setalh melalui Pewrgolakan-pergolakan Daswrah-Daerah Sumatera Tengah,Suamtera Utara(baca Medan) dan Sulawesi Utara sebagai siasat  Z.Lubis untuk menjatuhkan Kabinet Ali ke-III dan berhasil membubarkan Kabinet tersebut, makia Z.Lubis sesuai rencana mereka mela njutkan kegiatan mereka. Dan kini lebih nekat.

Rencana Z.Lubis itu diatur secaraplanmatig dan meurut yang disiarkan yang berwajib , dari dokumen-dokumen yang dapat dirampas dari Sekretaris Z.Lubis, SATRIA di Padeglang ,antara lain berbunyi :

“Jalan Menuju Realisasi Cita”

1.Cukuplah argumentasi untuk menilai “Negatif” Pusat Pemerintahan  yang sekarang itu, yang menempatkan Presiden Sukarno sebagai alat Sandaran Kekuatan, pimpinan Angkatan Darat ,sebagai alat sandarac hokum,

Kbinet Djuanda dan sebagai alat tampungan pada potensi kemasyarakatan Dewan nasional (machtsconcentartie)(kosentrasi masa)

2.Maka dengan demikian jelas bagi kita, bahwa Presiden Sukarno, Pemimpin Besar kita adalah menjadi sasaran utama bagi Z.Lubis dan komplotannya  untuk dijatuhkan  dan setelah Bung Karno tidak berkuasa lagi  barulah mereka dapat berbuat sekehendak hatinya.

Maka diusahakan untuk membunuh Prseiden Sukarno dan diganti dengan lain orang menurut pengakuan Penjahat-penjahat  terorit Cikini dimuka pengadilan, adalah Bung Hatta atau Sulatan (atau lainnya).

Tetapi oleh karena usaha membunuh Bung Karno gagal, maka dipraktekkan rencana mereka yang berbunyi :

Alternatif  yang bertempat jauh dari tujuan adalah:

1.Proklamasi Negara sebagai suatu “Move” taktis yang maksimum

2.Pembentukan Pemerintah Pusat yang la8in.

Foto Samual

Foto Zulkifli Lubis.

( majallah Sektsa Massa 12 Desember 1958 koleksi Dr Iwan)

 

 

Pertemuan Sungai Dareh dari kiri kekanan Letnan Tema,Kol Zulkifli Lubis,Kol Dahlan Djambek, Kolonel Mauludin Simbolon,Letkol Ventje Samual,Letkol Barlian,Letkol Ahmad Husein

 

 

Pertemuan Sungei Dareh

 

Hadir dalam pertemuan itu, selain para panglima yang dianggap memberontak, juga politisi seperti Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Abdullah, Mohammad Natsir, hingga Sumitro Djojohadikusumo.

 

 Di desa itu, kami sepakat membuat wadah perjuangan yang nantinya dinamakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

 

Selain menyiapkan logistik perang, saya juga melakukan pembicaraan untuk membantu perjuangan di dalam negeri. Dalam perjalanan ke Taipei, Manila, dan Tokyo, saya sempat mampir ke Hong Kong.

 

Di situ saya bertemu Joop Warouw, mantan Panglima Kodam Wirabuana. Warouw saat itu sudah menjadi atase militer RI di KBRI Beijing.

 

Saya dan Warouw terbang ke Tokyo. Presiden sedang berada di Tokyo, awal Februari. Warouw adalah perwira yang dikenal Soekarno lantaran loyalitas dan integritasnya karena menolak Nasution dalam peristiwa 17 Oktober 1952.

 

 Warouw menemui Soekarno dan menjelaskan perihal krisis yang terjadi setelah peristiwa Cikini.

 

Soekarno setuju perlunya jalan damai. Ia langsung mengirim surat ke Perdana Menteri Djuanda.

Tapi itikad baik Soekarno gagal dilaksanakan. Nasution sudah memerintahkan pengeboman Padang dan Manado.

(Ventje Samual)

 

 Pebruari 1958

Pertemuan Padang

 

 

were not so much attempts to break away from Indonesia as they
were attempts to get more local control over local affairs and resources within Indonesia. Rebellious officers meet in Padang

 

while Sukarno is in Thailand. Masyumi leaders join in, including Natsir

 

10 Februari 1958

Pertemuan Sungei dareh

 

Ultimatum yang dibacakan Ahmad Husein itu menyebut, ”Dalam tempo 5 x 24 jam kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda.

 

 Presiden membentuk kabinet baru di bawah Bung Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX.”

 

Ultimatum ditolak. Buntutnya, Ahmad Husein dan Maludin Simbolon dipecat. Dua hari berselang Padang dibom oleh AURI. Menyusul kemudian Manado.

(Ventje Samual)

 

 

 

Menyusul ultimatum yang dikirim Jakarta, kami sepakat berkumpul lagi. Saya terbang ke Singapura dan menyewa motor ke Pekanbaru. Dari sana saya langsung meluncur ke Sungai Dareh di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi,

 

Perintah pengeboman menyusul ultimatum yang dilontarkan Dewan Perjuangan, 10 Februari 1958, di Sungai Dareh.

 

 (Ventje Samual)

 

Info terkait

Saat Bung Karno tahun 1967 diajak mengungsi keluar negeri atau ke jawa timur ia teringat dengan peristiwa PRRI

Soekarno yang semula diam, angkat bicara.

 

 Dia mengingatkan tahun 1957, kapal induk Amerika Serikat sudah berlayar ke perairan Indonesia. AS kala itu membantu pemberontakan PRRI/Permesta di Sulawesi dan Sumatera. AS menyumbang dana dan senjata untuk memecah Indonesia. Kini, jika dirinya pergi, pasti AS akan melakukan hal itu lagi.

 

(Merdeka Com)

 

Akibatnya segenap pemimpin di daerah semakin khawatir dengan perkembangan politik di Jakarta.

 Pada bulan Januari 1958, atas usul dari Kol. Barlian maka diadakanlah pertemuan di Sungai Dareh. Pertemuan ini berlangsung dari 8-9 Januari 1958. Dihadiri oleh segenap pimpinan sipil daerah dan beberapa pimpinan politik pusat (Masyumi).

Dalam pertemuan ini para pemimpin Masyumi terperangkap dalam persekongkolan dengan AS yang sudah digarap oleh Sumitro, Simbolon, dan Sumual. Menurut Syafruddin, mereka tidak tahu sebelumnya tentang kontak-kontak Kolonel Hussein dengan CIA. Namun mereka terdesak oleh para pemimpin militer yang hadir pada saat itu.

(oetoesan melajoe)

di Palembangpun ada persiapan perang

Banyak hal yang dapat dipelajari dan hikmah yang dapat disimpulkan dari rentetan peristiwa PRRI ini.
Saya sendiri berada di Palembang antara tahun 1950-1958, yang merupakan wilayah dari Dewan Garuda (Teritorium II = TT II Sriwijaya).

 

Sebagai siswa SMP saya mengikuti suasana pergolakan daerah ini melalui cerita orang-orang yang lebih dewasa, koran, siaran radio RRI, dan kemudian Radio PRRI yang disiarkan dari Malaysia dengan suaranya yang sangat jernih dan jelas.

 

Suara bariton penyiarnya sangat khas, dan ada yang mengatakan bahwa penyiarnya itu adalah Des Alwi.

Pada waktu sejumlah pimpinan daerah Sumatera Selatan (Lampung dan Bengkulu masih termasuk Sumsel) masih banyak yang dipegang urang awak, seperti antara lain Dr. Isa, Dr. Adnan Kapau (AK) Gani, Kol. Hasan Kasim.

 

Yang paling terlihat jelas dengan jelas adalah suasana harian yang diwarnai oleh semangat perjuangan yang tampak melalui latihan tentara sukarela Sriwijaya Training Center (STC) yang setiap hari berlangsung di dekat kediaman saya di daerah Bukit Kecil, Palembang.

Acara-acara latihan ini sangat menarik bagi anak-anak, karena dapat mengamati senjata-senjata baru yang tidak pernah dilihat sebelumnya, dengan para sukarelawan yang memakai pakaian tentara Amerika yang kedodoran (belum sempat divermaak).
Kalau mereka memakai singlet hijau militer, belahan singlet bagian bawah sudah sampai di pinggang mereka.
Walau demikian dengan senjata barunya mereka tetap terlihat gagah.
Semangat kedaerahan sangat menonjol saat itu, yang juga merasuki anak-anak dengan tingkat pemahaman yang masih terbatas

(nagai web blog)

 

10 Pebruari 1958

Hussein demands that the Djuanda goverment step down in five days

On February 10, 1958, when Sukarno was out of the country, a group of Sumatran military officers, Masyumi politicians, and others sent an ultimatum to Jakarta demanding Sukarno’s return to a figurehead role as president and the formation of a new government under Hatta and Yogyakarta sultan Hamengkubuwona IX. Five days later, the group proclaimed the Revolutionary Government of the Indonesian Republic (PRRI).

(sukarnoyeras web blog)

 

Maksud Melo Kaliseer Keadaan

Saya sendiri sebagai kSAD selalu menyatakan tidak akan datang di Padang selama mereka yang harus ditangkap berkeliaran disana dngan leluasa.

Memang sulit buat saya sebagai pimpian Angkatan Darat untuk datang kesuatu tempat  dimana orang-orang  yang diperintahkan ditangkap  tidak ditangkap tapi dengan biasa dapat dipekerjakan .

Hal ini kejadian di Sungai Dareh , maka Pemerintah dan Pimpinan Angkatan  Perang No 1 ditujukan untuk mengusahakan  jangan sampai  terjadi dan kalau terjadi  supaya dilokalisir  karena kita dapat memperhitungkan  kalau kejadian yang semacam itu yang secara militer kurang lebih  sepertiperistiwa Madiun , akan membawa pula suatu peristiwa yang berat yang minta korban yang berat dari tentara dan masyarakat.

Jadi dengan tulus ikhlas baik Pemerintah yang berhubungan dengan pemimpin politik  yang mundar mandir ke Padang, maupun saya yang langsung ke Sumatera Utara dan Sumatera selatan untuk mengusahakan kalau  mereka punya pendirian begitu, tapi lain daerah jangan ikut, supaya dilokalisir  persoalan ini  di Sumatera tengah.Dengan demikian  dapat kita batasi .

Begitu juga saya memanggil  komandan  dari Indonesia bagian Timur  untuk menjaga supaya dilokalisir soal ini, jangan terjadi juga  di Indonesia bagian Timur. Untuk itulah pula diadakan  rapat-rapat.

Saya telah menerima Panglima KDMSST di Jawa Timur , juga saya sampaikan pe4intah-perintah dan mendapat kesanggupan  pelaksanaan perintah itu.

Begitu juga saya menerima Komandan  dari pada Sulawesi Utara dan tengah, uang juga menyanggupi pelaksanaan perintah itu.

Dan terhadap komandan-komandan  Sumatera saya  adakan rapat di bandung berhubung mereka  punya keberatan mengadakan di Jakarta yang dianggap  pada waktu rapat yang dulu  mempunyai suasana yang menekan terhadap jiwa mereka, tapi Komanda KDMST tidak hadir , yang mengusulkan supaya  diadakan ditempat dan waktu lain.

Soal ini saya penuhi  dan saya tugaskan kepada Panglima TT-II untuk mengaadakan rapat di Bangka, supaya dapat kita membicarakan maslah-masalah Sumatera yng seang dihadapi dan mengusahakan menghindari jangan terjadi dan kalau terjadi supaya kita dapat melokalisir.

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

9 Februari 1958

Pada tanggal 9 Februari 1958, Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad  Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuat terhadap Pemerintah Jakarta.

 

 

Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek

dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein.

Sebagian besar dari isi resolusi itu yang diadopsi ke dalam ultimatum Dewan Perjuangan yang diumumkan lewat radio tanggal 10 Pebruari 1958:

*    Agar Ahmad Husein mengirim tuntutan kepada Perdana Menteri Djuanda dan Kabinetnya di Jakarta supaya mengembalikan mandatnya dan menunjuk Hatta dan Hamengkubowono IX sebagai formatur pembentukan Kabinet baru.

*    Agar Pemerintah Pusat mencabut larangan terhadap barter.

*    Agar Presiden Soekarno kembali ke UUD 1950 dalam membentuk kabinet. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Ahmad Husein harus mengambil langkah-langkah bijaksana dan kuat

Kol Dahlan Jambek berkata lewat pidato-pidatonya, bahwa keadaan sekarang sudah berada pada titik, ”the point of no return”.

Pada tanggal 9 Februari 1958 Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuatk terhadap Pemerintah Jakarta.

Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein

(kedaikopi web blog)

 

Dalam Buku Dokumentasi Dinas sejarah TNI Angkatan darat, Ibu Ahmad Yani pernah membaca bahwa bekas Kolonel Dahlan Djambek dalam rapat umum yang yang diadakan tanggal 9 Pebruari 1958 di Padang, mengatakan bahwa kalau tuntutan itu tidak dipenuhi , maka akan dipilih jalan Sjahid dan  kepada Kepala Staf  TNI Angkatan darat, Laut dan Udara diperingatkannya agar jangan mengambil tindakan karena itu berarti  mayat-mayat akan bergelimpangan.

Inilah keadaan yang mencemaskan

 (Ahmad Yani, hal 171-172)

 

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

(H.Bustanudin St Kayo)

Sesudah Rapat di Sungai Dareh(tepatnya berlokasi dekat tepi sungai ,(Dr Iwan pernah mampir disana saat bertugas sebagai perwira kesehatan dokter polisi POLRES  tahun 1975)

 

Letkol Ventje Samual dan Prof Soemitro Djojohadikusumo berangkat ke Singapura . Pada suatu ketika sedang makan  di sebuah restaurant  seorang yang mereka belum kenal  mendekati mereka  menawarkan sejumlah senjata , sungguh mengherankan  penawaran tersebut adalah orang yang belum dikenal dan  sejata itu tidak usah dibeli  dan akan diberikan cuma-cuma.(Gratis)

Tawaran itu diterima  dengan catatan tanpa persyaratan  dan ikatan apapun.Belakangan baru diketahui  bahwa orang tersebut anngota dinas rahasia Amerika Serikat CIA.

 

(Mauludin Simbolon)

 

 

 

 

10 Februari 1958

 

PRRI membentuk Dewan Perjuangan dan tidak mengakui kabinet Djuanda. Dewan Perjuangan PRRI membentuk Kabinet baru, Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI). Pembentukan kabinet ini berlangsung saat Persiden Soekarno sedang berada di Tokyo, Jepang.

Pada tanggal 10 Februari 1958 sebuah Dewan Perjuangan melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan “Piagam Jakarta” yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Persiden Soekarno agar “bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan…”.

Tuntutan tersebut diantaranya adalah:
1. Supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya pada Persiden.
2. Agar pejabat persiden Sartono membentuk kabinet baru Zaken kabinet nasional yang bebas dari pengaruh komunis dibawah Mohammad Hatta dan Hamengkubuwono IX.
3. Agar kabinet baru diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai pemilihan umum yang akan dating.
4. Agar Persiden Soekarno membetasi diri menurut konstitusi.
5. Apabila tuntutan diatas tidak dipenuhi dalam tempo 5×24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijakan sendiri
.

(kolektorsejarah)

 

 

Tanggal 10 Februari 1958,

 Wakil Komandan Brimob Kepolisan Negara,

 

 Kombes Sutjipto Judodihardjo,

 datang ke Sumatera Tengah. Dia menemui Kaharoeddin dan menyerahkan uang Rp 5 juta untuk bantuan pada Kepolisan Sumatera Tengah. Diharapkan uang ini bisa jadi dana operasional kepolisian jika situasi di Sumatera terus memburuk. Demikian dikutip dalam buku Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan, terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1998.

Saat itu jumlah uang Rp 5 juta sangat luar biasa. Gaji Kombes Kaharoeddin hanya Rp 1.230. Jadi uang Rp 5 juta itu setara dengan 4.000 kali gaji Kapolda.Jika dihitung, uang ini juga bisa menggaji seluruh anggota polisi di Sumatera Tengah selama enam bulan. Kalau misalnya gaji Kapolda saat ini Rp 10 juta, maka jumlah uang itu kira-kira Rp 40 miliar.

Maka Kaharoeddin kemudian membagikan uang itu ke kepolisian tingkat Kabupaten/Kota serta kecamatan. Setara Polres dan Polsek. Ketika itu, uang tersebut sisa Rp 3,2 juta.Kondisi terus memburuk, Kaharoeddin pun harus bersembunyi di tempat aman.

Di persembunyian dia bersama pasukan TNI AD yang juga tidak memihak PRRI. Pasukan kecil itu dikepung pasukan PRRI yang kuat.

Walau punya dana Rp 3,2 juta, Kaharoeddin tak mau menggunakannya selama dalam pelarian. Uang ini tetap utuh, dan hanya digunakan untuk kepentingan operasional yang sangat mendesak. Kaharoeddin juga menolak saat Kapten Noermathias, pimpinan TNI AD di sana hendak meminjam uang itu untuk keperluan pasukannya.
“Saya pinjamkan nanti uang itu habis begitu saja. Bagaimana nanti menggantinya,” kata Kaharoeddin.
Karena was-was, akhinya Kaharoeddin menitipkan tas berisi uang itu pada istrinya, Mariah. Dia pesan agar menjaga baik-baik tas dan isinya karena merupakan milik kepolisian. Saat dibuka, isinya masih Rp 3,2 juta. Ada juga tanda terima dan kwitansi dari beberapa kepala polisi.

(Merdeka Com)

Keadaan yang berubah

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

Nagari Com

 

Ultimatum kepada Presiden dan Kabinet

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

Ketika semua upaya rekonsialisasi mengalami jalan buntu, sebuah badan disebut dengan Dewan Perjuangan, yaitu unsur inti dari gabungan dewan-dewan yang disebut sebelumnya, mengeluarkan ultimatum kepada pusat pada 10 Februari 1958, setelah mengadakan rapat di Sungai Dareh, Sumatera Tengah.

Isinya antara lain ialah tuntutan agar Kabinet (Pemerintahan) Djuanda dibubarkan dan menyerahkan mandatnya kepada Presiden atau Pejabat Presiden; memberikan kesempatan dan bantuan sepenuhnya kepada Hatta dan Sultan Hamengkubuwno IX untuk membentuk “zakenkabinet” sampai Pemilu berikutnya; meminta kepada Presiden Soekarno agar bersedia kembali sebagai Presiden konstitusional dengan membatalkan semua tindakannya yang melanggar konstitusi selama ini.

Apabila dalam tempo 5 x 24 jam Presiden Soekarno dan Kabinet Djuanda tidak mememuhi tuntutan tersebut, maka mereka akan membentuk pemerintahan sendiri yang “terlepas dari kewajiban untuk mentaati pemerintah Jakarta.” Oleh karena kedua belah pihak tidak mau mundur dengan pendirian masin-masing, maka ketika ultimatum itu mencapai tenggat waktu yang ditetapkan,

(DR Mestika Zed)

Ultimatum Kepada Presiden Dan Kabinet

Tapi  ini(upaya melokalisir persoalan) belum dapat berbukti, kita telah membaca yang disebut Ultimatum Dalam tempo Lima Kali Dua Puluh Empat Jam  kepada Presiden Dan kepada Kabinet,  agar Presiden atau Kabinet  membubarkan Kabinet  sekarang ini dan menunjuk Hatta-Hemangkubuwono sebagai pembentuk Kabinet  yang baru.

Kalau ini tidak dipenuhi maka akan memutuskan hubungan  dengan Kepala Negara  dan bahwa dari pada ketaatan kepada Kepala Negara.

Dengan adanya Ultimatum ini terus  terang saja pada saat itu estimasi kita tidak sampai begitu jauh.

Kalau kita lihat peristiwa yang lalu belum  pernah sampai bersedia untuk  tidak mengakui Kepala Negara .

Inilah pertama kali . Paling bnayak tidak mengakui pemerintah,maka dengan demikian kita dapat menghitung reaksi dalam soal ini.

Pemerintah dan Pimpinan Angkatan Perang sependapat bahwa  tindakan dari sejumlah perwira Menengah  ini harus dihukum dan tidak bisa dibenarkan.

Mereka yang pernah turut dalam aksi ini harus dihukum dan tidak bia dibenarkan lagi sebagai Perwira karena itu dengan tegas Dipecat dan diperintahkan penangkapan dari pada mereka yang telah berbuat ini.

Saya perlu menjelaskan tindakan ini lebih lanjut, Pemerintah selalu katakana Pergolakan di Daerah seperti di Sumatera Selatan ada yang disebut Terbukti, artinya mereka mengusahakan stabilitas Pemerintah ,Pembangunan Daerah  dan Keaaman sebagai usaha yang murni dari Daerah, diakui dan disokong sepenuhnya oleh Pemerintah,dibantu  sepenuhnya dengan segala  tenaga yang ada  pada Pemerintah supaya  bisa tercapai.

Tapi soal yang lain seperti yang terjadi ini tidak lagi dalam batas apa yang terjadi, tidak lagi dalam batas apa yang disanggupi oleh Pemrintah.Ini sudah meliwati batas.

Klau sesuatu Pemerintah membiarkan beberapa Komandan bawahan mengultimatum dia, dan kemudian memenuhi  tuntutannya , kita dapat mengerti bahwa selanjutnya tidak aka nada satu Pemerintahanpun. Kemudian  yang bisa berdiri .Bisa setiap waktu oleh seorang Pejabat Angkatan Darat di ultimatum dan  dengan demikian tidak ada lagi norma-norma Militer dsn norma-norma Negara buat itu. Jadi bagaimanapun juga hal yang semacam itu harus dihukum.

Jika kita melihat seorang Komandan Batalion juga mengirim ultimatum kepada Komandan Resimen,kalu tidak dipenuhi tuntutan saya dalam tempo sekian jam ,maka  saya tidak mengakui Komanda resimen lagi.

Kita semua bisa menghadapi keadaan ini ,KSAD bisa menghadapi Panglima, bisa . Komandan resimen  dan setiap Pejabat akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan semacam itu.

Bagaimanapun juga tidak ada satu Pemerintahpun atau Pejabat  Militerpun yang dapat mengelakkan diri dari pada kewajiban  untuk mengambil tindakan Penghukuman terhadap kejadian yang sebegaitu jauh.

Kita bisa melanggar hokum dan disiplin dalam batas-batas  yang sering ,saya tidak usah bicara  mengenai Politik

Bolehlah kita katakana pelangaran yang merupakan pelangaran rutin ,akan tetapi pelanggarn seperti tadi bukan ppelangaran rutin lagi, sudah merupakan pelanggaran yang fundamental yang Pemerintah manapun juga,Kepala Negara manapun juga.pimpinan Tentara manapun tidak bisa mengelakkan diri dari pada menghukum dan menindaki kejadian yang semacam itu.

Saya kira dikalangan kita dalam Angkatan darat tidak ada yang berbeda dalam pendapat ini, kalau kita masih mau menyelamatkan Angkatan darat itu sebagai Tentara dan Negara  karena bagaimanapun orang bilang jangan adakan tindakan hokum, musyawarahlah berdengung juga banyak sampai kepada Pimpinan Angkatan Perang, sama  pendirian hal ini harus dihukum dan ditindaki .

Harus juga kita mengerti yang penting buat  kita  pendirin sebagai Negara  yang selalu  menyebut setia kepada Proklamsi 17 Agustus a945.Pada kita cukup sekarang petunjuk-petunjuk bahwa usaha ini juga dibidang lain telah meliwati batas-batas yang bisa kita pakai.

 

Pertama saya berpendapat selaludan  dengan saya juga saya kira sebagian besar  dari pada Angkatan Perang kita bahwa  Pergolakan dalam negeri ini tidak pada tempatnya ada  Militer yang bekerja sama dengan Gerembolan DI.Dalam hal semacam ini kita tidak  dapat sebagai tentara  menyebut ini masih dalam batas pelanggaran rutin, seperti dalam peristiwa Cikini dan lain-lainnya  maupun dalam soal ini .

 

 Kedua kita  tidak bisa membenarkan  bagaimanapun juga bahwa  dalam Pergolakan anatar kita  dengan kita sebagai Negara  yang muda ini kita bersedia  bekerja sama dengan Angkatan Perang Asing.Hal ini sudah melanggar  Tujuh Belas Agustus  Empat Lima Saya tidak usah bicara mengenai  Politik Bebas Yang Aktif  tapi  semua kita  percuma lah berjuang  sejak  45 kalau kita  dalam perkelahian anatar kita dengan kita yang  lumayan sebagai Negara Yang Muda ini, juga bersedia bekerja sama dengan Negara Asing  dan juga alat-alat Senjata asing.Saya tidak akan memberikan satu persatu peristiwa disini,kan tetapi inipun sekarang kita konstantir.

 

TIDAK ADA YANG DAPAT MEMBENARKAN ULTIMATUM

Jadi hal ini jelas sekali tidak ada satupun Pemerintah yang menyebut dirinya Pemrintah atau KSAD yang menyebut dirinya KSAD  atu CPM  yang menyebut dirinya CPM atau Prajurit-Prajurit  yang menyebut dirinya Prajurit  TNI bisa membenarkan bawahan memberikan Ultimatum sedemikian kepada Kepala Negara.

 

Bisa membiarkan dalam pergolakan itu bekerja sama dengan Gerembolan DI yang tidak mengakui Republik lagi dan bersama dengan Kekuatan Angkatan Perang Asing karena itu walaupun kerja sama dengan Asing tidak pada tingkat legal ,akan  tetapi  tingkat Ilegal ,kita tidak bisa membenarkan  itu semua.Dan karena itu  inilah Landasan dari pada keputusan Pemerintah dan  Angkatan Perang selanjutnya dalam menjelaskan soal ini.

 

Keadaan kita memang sekarang ini pada waktu Cikini mulai dalam satu konflik yang besar sekali dengan belanda yang disebut  Pembebasan Irian Barat.Dimana kita sedang  melikwidasi  Kekuasaan ekonomi Belanda di Indonesia  dan dimana  Belanda  dan lain-lainnya  yang suka membantunya  itu  berusaha  meniadakan tindakan kita  itu yang  dianggap  sebagai lanjutan Kemerdekaan kita  harus  kita laksanakan.

Dalam hubungan ini juga  juga tidak dapat kita benarkan pendirian dari mereka yang membentuk Pemrintahan yang baru  itu yang juga tidak membenarkan ini dan  mereka bersedia mengembalikan atau meminta tolong kepada mereka itu kembali.

 

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

 

 

 

 

 

11 Februari 1958

Menanggapi ultimatum dari Padang sehari yang lalu, maka pada tanggal 11 Februari 1958 Kabinet Perdana  Menteri Djuanda memerintahakn KSAD untuk memecat Letkol Ahmad Hussein dan Kol. Maludin Simbolon dari dinas kemiliteran. Serta Komando Daerah Militer Sumatera Tengah dibekukan.

Kemudian dilanjutkan dengan membekukan hubungan darat, laut, maupun udara ke Sumatera Tengah. Arti kata, Pemerintah Pusat melakukan blokade terhadap Sumatera Tengah.

(Oetoesan melajoe)

 

Tuntutan-tuntutan ini ditolak oleh pemerintah pusat

 

Tuntutan Dewan Perjuangan ini dikumandangkan saat Persiden Soekarno sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang berada di Tokyo, Jepang.

 

Maka Kabinet Djuanda segera mengambil keputusan. Tuntutan PRRI ini ditolak dan sehari setelah pengambilan keputusan, keputusan disiarkan melalui radio dan perintah-perintah selanjutnya dikeluarkan yakni semua tuntutan Dewan

 

Perjuangan ditolak dan sejalan dengan itu diambil keputusan memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatra. Kemudian diikuti dengan pembekuan komando militer di Sumatra (TT I Sumatra Utara dan TT II Sumatra Selatan) dan seterusnya

 

(kolektorsejarah.)

 

 

Pada 11 Februari 1958 Kabianet menyiarkan Jawaban Penolakannya dan memerintahkan kASAD untuk memecat Ahmad Husein, dan Simbolon. Selain itu , Komado kDMST STTT dibekukan dan hubungan darat maupun udara dengan Sumatera tengah dihentikan sama sekali seperti yang dilakukan di Sulawesi Utara. Kedua belah pihak pada awal Februari 1956 itu berada pada point of no return Konfrontasi adalah akibatnya

(R.Z.Leirissa)

 

Tuntutan yang semakin mencemaskan diajukan (pihak PRRI), dialamatkan kepada pemerintah ,mereka menuntut  dalam waktu 5 x 24 jam  sejak diumumkannya Ultimatum  Kabinet Djuanda menyerahkan Mandatnya kepada Prseiden Sukarno  atau Pejabat Presiden.

 

Selanjutnya Presiden atau Pejabat Presiden  member tugas kepada Drs Moh Hatta dan Sri Sultan hemangkubuwono  untuk membentuk Kabinet baru.Anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh yang jujur , berwibawa  dan bebas dari anasir-anasir anti Tuhan.

 

Ultimatum ini tidak dapat diterima oleh Pemerintah ,tidak diterima jelas ! KSAD mengatakan tuntutan ini merupakan perbuatan melanggar  Sumpah Jabatan dan Sumpah Prajurit.

 

Kabinet Djuanda menanggapi Ultimatum sebagai tindakan yang membahayakan disiplin seluruh Angkatan Perang dan Keamanan Negara.

Penolakn ini akhirnya membawa Dewan Perjuangan di Sumatera tengah  itu kepada suatu Keputusan yang mengejutkan .

 

Dari Padang diumumkan  Proklamasi berdirinya PRRI Pemrintah revolusioner republic Indonesia.Inilah yang perlu segera diselesaikan  Pemerintah agar keutuhan Bangsa dapat dijamin .

 

 

 

  KASAD TNI AD Jendral Nasution

 

 

memangil Ahmad yani untuk segera kembali  ke Tanah Air.

Pak Nasution sedang pusing  menghadapi keadaan di tanah Air  yang semakin panas.

 

 

Pada saat ini Jenderal Gatot Subroto menjadi Wakil KASAD  timbul ekseemnya karena situasi Tanah Air Gawat.karena  terlalu prihatin memikirkan Bangsa dan Tanah Air.

 

Ahmad yani dipanggil pulang ke tanah Air ketika sedang menjalankan tugas Negara Kleuar negeri, untuk memimpin Gerakan Operasi Militer untuk memulihkan keamanan di Sumatera Barat yang terganggu karena adanya PRRI.

Sebenarnya Pak Hatta tidak menyetujui gerakan PRRI dan berusaha mencegah Ahmad husein dari tindakan itu.tetapi Ahmad Husein lebih menuruti Simbolon, Sjafruddin Prawira Negara .

Kembali Ahmad yani mendapat tugas memimpin Pasukan Gabungan   TNI Darat, Laut dan Udara untuk mengakhiri Pemberontakan PRRI.

 

 

(Ahmad Yani)

 

   Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang

(H.Bustanuddin St Kayo)

                                                

15 pebruari 1058

 

Rebels set up rival PRRI government (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) at Bukittingi. Prawiranegara is PRRI President. Natsir and Harahap of Masyumi support the PRRI, as odes Djojohadikusumo of the PSI party.

Permesta rebels in Sulawesi join forces with PRRI.

The USA promises secret aid to the rebels. Sukarno demands a hard response

 

 

14 Pebruari 1948

 

 

 

 

Foto IPPHOS

Rapat Pejuang-Pejuang Sumatera mempertahankan Kabinet Karya di Jakarta ,14 Pebruari 1958                                                                                                                                       (Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

Foto IPPHOS

Demo mahasiwa Jakarta mengutuk PRRI 14 Pebruari 1958                                                                  (Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15 Februari 1958

 

Reaksi dari PRRI adalah dengan mengumumkan pendirian Pemerintahan Tandingan yaitu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) lengkap dengan kabinetnya pada tanggal 15 Februari 1958. Susunan Kabinet PRRI adalah sebagai berikut:
1. Syarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan.
2. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri.
3. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman.
4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Ment
eri Perhubungan/Pelayaran

 

(kolektorsejarah

 

 

Pada 15 Februari 1958,

 

Kabinet PRRI diumumkan di Bukittinggi, Sumatera Tengah. Sjafruddin Prawiranegara menjadi perdana menteri.

 

Disebut juga pembentukan angkatan perang PRRI.

 

 Sewaktu proklamasi, saya sedang ada di Manila.

 

 Segala perkembangan saya pantau melalui radio, termasuk pemecatan saya oleh Markas Besar Angkatan Darat.

 

Sebetulnya, dengan proklamasi PRRI, terjadi perpecahan di tubuh deklarator Permesta.

 

Ada Permesta yang ikut PRRI, ada yang tidak.

 

Ada pula yang anti-Permesta tapi ikut PRRI.

 

Dari 51 orang deklarator Permesta, hanya 16 yang bertahan. Kebetulan, semuanya berasal dari Sulawesi Utara, yang kemudian meneruskan gerakan.

 

Lantaran itu saya tidak sepakat jika istilah PRRI dan Permesta digabung, karena keduanya berbeda.

 

 Pada 1970-an, ketika bertemu Jenderal M. Yusuf, kami berkelakar. “Ven, kalau aku Permesta saja, kau Permesta perang,” ujarnya.

 

 

Bom yang dijatuhkan di Padang, Manado, dan Ambon memaksa kami tak lagi bertahan, tapi menyerang.

 

Apalagi logistik kami cukup memadai untuk melakukan serangan.

 

Mayor Jenderal Alex Kawilarang juga telah meninggalkan pos Duta Besar nya di Washington dan ikut bergabung.

 

 Posko penyerangan tak lagi berada di Sumatera, tapi sudah berpindah ke Sulawesi Utara.

 

 Inilah awal perang saudara di antara sesama pejuang kemerdekaan.(Ventje Samual)

 

 

 

 

Info terkait

Melihat kekerasan hati dari Kabinet Djuanda, maka tak ada lagi jalan keluar selain melawan sehingga  pada tanggal 15 Februari 1958 Dewan Perjuangan memutuskan untuk membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) untuk menggantikan pemerintahan Jakarta yang dipimpin oleh Perdana Mentri Djuanda.

 Cakupan wilayah kekuasaan dari Pemerintahan Baru yang berpusat di Sumatera ini ialah seluruh wilayah Indonesia.

Dalam artian, dengan dikeluarkannya deklarasi pembentukan pemerintahan baru ini maka Pemerintahan Jakarta yang dikomandoi oleh PM Djuanda tidak berlaku lagi.

Namun sayangnya, pendirian semacam itu hanya berlaku jika berada di pihak yang berkuasa. Nyatanya yang berkuasa dengan segenap alat kekuasaan yang sah ialah orang-orang Jakarta.

 Oleh karena itu, betapapun keras hati orang Minang mengatakan bahwa tindakannya pada hari itu merupakan tindakan koreksi terhadap pemerintah pusat, meraka mau tidak mau harus pasrah dicap sebagai pemberontak.

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) memutuskan untuk menyusun pemerintahan sendiri, dengan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan sedangkan Soekarno tetap diakui sebagai Kepala Negara. Adapun susunan Kabinet PRRI ialah:

 

 

PM. PRRI Syafruddin Prawiranegara Berpidato Dihadapan Kabinetnya di Padang

Perdana Menter   : Mr. Syafruddin Prawiranegara                                                                                                Menteri Luar Neger  : Kol. Maluddin Simbolon                                                                                                          Menteri Pertahanan & Menteri Kahakiman : Mr. Burhanuddin Harahap                                                             Menteri Perhubungan & Pelayaran : Dr. Soemitro Joyohadikusumo                                                                       Menteri Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan(PP & K)                                                                                        merangkap Menteri Kesehatan : Mohammad Syafei                                                                                                                                                                                                                             Menteri Perhubungan     : JF. WarouwMenteri Pertanian & Perburuhan    : S. Sarumpait                            Menteri Agama: Mochtar Lintang                                                                                                                               Menteri Penerangan  : M.Saleh Lahade                                                                                                                     Menteri Sosi    : Ayah Gani Usman                                                                                                                                                 Menteri Dalam Negeri* : Kol. Dahlan Djambek kemudian digantikan Mr. Assa                                               tmenteri Pos dan Telekomunikasi*  : Kol. Dahlan Djambek.

Jabatan Menteri Dalam Negeri dijabat oleh Kol. Dahlan Djambek sampai Mr. Assat Dt.Mudo tiba di Padang.

Setelah kedatangan Mr. Assat tersebut, jabatan Mendagri diserahkan kepada beliau.

 Sedangkan Kol. Dahlan Djambek menjabat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi.

maka pada tanggal 15 Februari, genderang “perang saudara” segara ditabuh.

Itu ditandai dengan dibentuknya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indoensia) lengkap dengan susunan kabinet tandingan Jakarta.


Beberapa tokoh utamanya, ialah Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (bekas Ketua PDRI) sebagai Perdana Menterinya.

Sejumlah tokoh pusat juga bergabung ke dalamnya seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Asa’at, Moh. Natsir, Kol. Zulkifli Lubis dan bekas Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Sejak itu meletuslah apa yang disebut oleh Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukungnya menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rejim Jakarta yang inkonstitusional. amanah konstitusionalnya
( DR Msetika Zed)

TINDAKAN ISOLASI TERHADAP SUMATERA TENGAH

Inilah masalah yang besar  sekali yang tiap hari  kit abaca dan kita dengar  tetapi manjadi kewajiban kita mau tidak mau semua yang memegang uniform TNI ini sudah menjadi  sumpahnya untuk menyelamatkan  Negara.

Kita tidak bisa menghindarkan diri dari pada ini, lebih-lebih Pejabat  seperti  Komandan KDMST ,sepeerti KOMSUT yang 6telah saya sumpah  sendiri dengan  sumaph agama  akan tetap setia kepada Pemerintah republic Indonesia , akan tetap taat  kepada atasan  dengan tidak membantah  perintah atau keputusan  dll.

Saya kira kita dapat mengukur  dalam hati sendiri, saya juga sebagai  pejabat yang disumpah sedemikian  secara agama  tidak ada kita yang  bisa melanggar sumpah  jabatan kita itu dengan tidak hati kecil kita  akan menuduh kita  telah melanggar sumpah kita kepada Tuhan.

Karena sumpah itu bukanlah kita kerjakan terhadap orang-orang  tapi menurut Agama kita kerjakan kepada Tuhan kita sendiri  tentu saja dalam usaha ini mereka akan berusaha dengan macam-macam taktik, taktik ekonomi.

Sekarang mengusahakan supaya  misalnya perkongsian minyak membayar kepada mereka kalau tidak mereka ancam ,memanggil kembali KPM  supaya belayar kembali  buat mereka , memanggil kembali lain-lain dari Asing untuk  bekerja dan mereka tentu akan berusaha  juga dengan sendirinya keluar negeri sebanyak mungkin  membeli senjata.

Di Singapura sudah beli banyak Jeep bekas  panserwagen  ddl yang selekas mungkin ingin diangkut ,berusaha keluar negeri supaya mendapat pengangkutan dari banyak Negara,

 

Berusaha didalam Negeri supaya di Tapanuli,di Aceh,di Sumatera selatan, di Jawa Barat , di Sulawesi , dimana-mana timbul gerakan yang sama memperluas itu dengan  sendirinya dapat kita perhitungkan , Tentu kita menghadapi kesulitan-kesulitan didalam soal ini.

Sebaliknya dapat dimengerti bahwa dari pihak Pemerintah yang harus bertindak dalam  soal ini menutup hubungan-hubungan itu agar supaya jangan diteruskan usaha mereka keluar negeri. Jangan sampai  bekerja sama dengan Angkatan Perang Luar Negeri.

Mengambil tindakan  supaya jangan  mereka meneruskan maksud untuk mengirim  senjata dan pasukan  kedaerah lain , dengan sendirinya  diambil tindakan-tindakan itu  sehingga sekarang dilakukan tindakan –tindakan isolasi  terhadap  Sumatera tengah yang saya harap tidak  bagian yang hubungan baik kembali  sebagaimana mustinya tentu akan dibuka  hubungan dengan yang sudah terurus itu.

 

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

Then, on 15th February 1958, Lieutenant Colonel Ahmad Hussein declared the establishment of the PRRI. This prompted the Central Government to deploy troops.

As Army Chief of Staff, Nasution would have been involved in mobilizing the troops to Sumatra. However, it would be his 2nd Deputy, Colonel Ahmad Yani who would make his name by successfully putting down the rebellions

Pasukan  PRRI

 

 

 

Bersiap mengantisipasi serangan pemerintahan pusat

Sumber: Citizen Jurnalist,2012

 

 

15 Februari 1958

 

Kol Dahlan Djambek, Mr Burhanuniddin harahap, Letkol Ahmad Husein,Mr Sjafruddin Prawira Negara  dan Kol Maludin Simbolon 

Namun, pada 15 Februari 1958, atas prakarsa “Dewan Banteng”, organisasi yang dilahirkan dari hasil reuni militer yang dikepalai oleh Letkol Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek dan Kolonel Maludin Simbolon, “diproklamirkan” sebuah pemerintahan baru yang bernama “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia” yang disingkat dengan sebutan PRRI, dengan kota Padang sebagai “ibukota negara” dan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai “Presiden PRRI”.

Kolonel Mauludin simbolon  ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri  dalam pemerintahan ( Kabinet) PRRI. Kedudukan itu sangat penting  bagi PRRI  yang membutuhkan  dukungan diplomatic dan bantuan senjata  dan perlengkapan militer . Penilaian Pers asing atas pribadinya  sebagai jurubicara tak resmi  dari Pemberontah suamteraeletak kebijaksanaan  dan tokoh penting  dibelakang gerakan Sumatera.(maludin Simbolon)

 Proklamasi PRRI ini, menjadi titik awal perlawanan secara terbuka terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 Ranah Minang dikuasai oleh oknum-oknum, baik militer maupun sipil, yang tidak merasa puas dengan kepemimpinan Bung Karno, dan membawa rakyat Minangkabau untuk memberontak melepaskan diri dari ikatan persatuan NKRI.

Sementara itu, dalam waktu yang sama, di bagian Timur tanah air, juga timbul satu pemberontakan yang senada, perlawanan terhadap NKRI di bawah pimpinan Letkol Ventje Sumual, dengan membentuk pemerintah tandingan yang bernama PERMESTA (Pemerintah Rakyat Semesta).

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin gerakan-gerakan tersebut sama, tidak lain adalah pemerintah Pusat dianggap kurang memperhatikan keadaan daerah disertai tuntutan menambah anggota kabinet dengan Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Menghadapi tantangan dari daerah-daerah, pemerintah Pusat memprakarsai Musyawarah Nasional di Jakarta yang berlangsung tanggal 9 hingga 11 Februari 1958

Para tokoh dan pentolan PRRI maupun PERMESTA mendapat bantuan dan sokongan kuat dari Imperialis Amerika Serikat yang memang tidak suka atas kepemimpinan Bung Karno. AS memberi support dan bantuan apa saja untuk PRRI/PERMESTA.

Persenjataan-persenjataan modern dari Amerika, seperti LMG 12,7 MM, penangkis serangan udara, Bazooka, Granat-semi automatis, persenjataan Infantri, dan lain-lain diturunkan dari kapal terbang pengangkut AS di hutan-hutan Sumatra untuk melengkapi persenjataan militer PRRI guna melawan Pemerintahan NKRI.

Proklamasi berdirinya PRRI menyebabkan Pemerintahan Republik Indonesia  melakukan tindakan disiplin  terhadap anggota tentara, Kepolisian dan Pegawai Negeri  yang terlibat dalam PRRI.  Kol simbolon, Let Kol Ahmad Hoesein, Termasuk AKBP Soetan Soeis dan Des Alwi seta perintah penangkapan  terhadap  H.D.Manopo ,Yan A Toran dan  Saladin sarumpaat. Dewan –Dewan didaerah yaitu Dewan Banteng, DEwan Gajah ,Dewan Garuda  dan Permesta  beserta cabang-cabangnya  dinyatakan sebagai terlarang.

Selain itu dilakukan pembekuan terhadap KDMST(Komando Daerah Militer Sumatera tengah)  dan Penguasa Perang Daerah Swatentara Tingkat I Sumatera barat dan Riau, dan selanjutnya bekas daerah TT I  yang terdiri dari KDMA(komando Daerah Milter Aceh), TT-I  dan KDMST dikonsolidasi  dibawah Brigadir Jenderal Djatikusumo sebagai Deputi KSAD untuk Komando Antar Daerah  Militer Bagian Barat , dan Brigadir jenderal Gatot Subroto sebagai Deputi Kasad untuk Komandio Antar Daerah  Militer Bagian Timur.

Untuk mengambil alih Pemerintahan daerah oleh Ahmad ZHusein maka untuk propinsi Riau diangkat S.M.Amin menjadi Gubernur yang berkedudukan di tanjung Pinang.(Maludin Simbolon)Saya hadir bersama teman-teman dari sekolah  saat itu saya SMP Frater kelas I.

 Proklamasi dibacakan oleh Let Kol Ahmad Hussein di halaman istana  Gubernurjalan Sudirman Padang, saya melihat seoran rohaniwan italia Bruder Tossi mengabil foto dengan kameranya, hanya sayang saya saat itu masih belum mengerti nilai sejarah dari foto tersebut sehingga tidak meminatnya dari bruder tosi yang say kenal baik,banyak rakyat berkumpul disana,

ada sebuah foto  situasi tersebut cukup  jelas lihatlah foto tersebut dibawah ini (Dr Iwan)

 

16 Februari 1958

Setelah liwat lima hari Kabinet memberi tanggapan terhadap ultimatum Ahmad Husein(16 februari 1958)

Dewan Perjuangan membentuk Kabinet Baru dan tidak lagi mengakui Kabinet Djuanda, Kabinet Baru ini dinamakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.

(R.Z.Leirissa

 

 

Bertepatan waktu dengan diumumkannya PRRI pada tanggal 15 Pebruari 1958, di Staf Umum Angkatan Darat oleh Gabungan Kepala-Kepala Staf Angkatan dibentuklah suatu Komando Operasi Gabungan (Task Force) yang diberi nama “TEGAS” dengan Komandannya waktu itu Letkol Inf Kaharudin Nasution (sekarang Mayjen TNI) dari AD, dengan Wakil Komandan I Letkol (U) Wirijadinata dari AU dan Wakil Komandan II Mayor (L) Indra Soebagio dari AL. Komando ini merupakan komando pertempuran expedisionir yang langsung di bawah perintah Kasad dengan ditentukan sebagai kawasan operasi daerah Sumatera Tengah

  1. Kesatuan-Kesatuan yang termasuk dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” adalah satuan-satuan dari AD, AU dan AL ditambah dengan Jawatan-Jawatan Dinas-Dinas teknis AD yang terdiri dari:
    1. 2 (dua) Kompi RPKAD (1 Ki para troops, 1 Ki Komando),
    2. 1 (satu) Kompi KKO dari Angkatan Laut,
    3. 1 (satu) Kompi PGT dari Angkatan Udara,
    4. 1 (satu) Esquadron Angkatan Udara,
    5. 1 (satu) Kapal Perang dari Angkatan Laut,
    6. 1 (satu) Baterai Altilleri Lapangan Ringan,
    7. 3 (tiga) Batalyon Infanteri yaitu:
      1. Satu Batalyon dari Ter-V (Bn-528),
      2. Satu Batalyon dari Ter-IV (Banteng Raiders),
      3. Satu Batalyon dari Ter-III (Bn-322),
    8. 1 (satu) Kompi Intendans,
    9. 1 (satu) Kompi Peralatan,
    10. 1 (satu) Kompi Kesehatan,
    11. 1 (satu) Kompi Zeni Pionir,
    12. 1 (satu) Kompi Perhubungan,
    13. 1 (satu) Kompi Polisi Militer,
    14. 1 (satu) Kompi Angkutan Bermotor,
    15. 1 (satu) Peleton Perawatan Udara dari DAAD
  2. Untuk pengangkutan seluruh pasukan AD, AU serta peralatan dan perbekalan, diperbantukan 12 (dua belas) kapal angkut dan pemindahan pasukan dalam operasi dipergunakan 38 (tiga puluh delapan) kapal udara yang terdiri dari: 24 (dua puluh empat) buah pesawat Dakota, 4 (empat) buah pesawat B-25, 10 (sepuluh) buah pesawat Mustang. Adapun untuk kebutuhan persediaan logistik disediakan untuk masa waktu 3 (tiga) bulan.
  3. Batalyon 322 dari Ter-III dan Baterai Altilleri Lapangan Ringan dari Jakarta merupakan pasukan cadangan dari Komando Operasi Gabungan “TEGAS”, dan pemberangkatannya ke daerah operasi ditentukan dengan perintah. Untuk melaksanakan operasi menuju sasaran pokok, pasukan dibagi dan disusun dalam team-team taktis sebagai berikut:
    1. Komando X Ray (Airbone) di bawah pimpinan Letkol (U) Wirijadinata,
    2. Komando Kuat (Airground) di bawah pimpinan Mayor Inf Tjiptono,
    3. Komando Kaladjengking (Seaborne) di bawah pimpinan Mayor Inf Soekartojo,
    4. Komando Kantjil di bawah pimpinan Mayor (L) Indra Soebagio,
    5. Team Tempur di bawah pimpinan Letkol Inf Magenda,
    6. Komando Lambung di bawah pimpinan Letkol Inf Bedjo,
    7. Komando Obor (Advance Staf) di bawah Koordinasi Kapten Inf Mohd. Zazoeli,
    8. Komando Rear Area (Rear Staf) di bawah Koordinasi Kapten Inf Kadaroesno

(korem031)

16 Pebruari 1958

Sukarno Kembali dari Luar negeri

Setelah Persiden Soekarno kembali dari luar negeri pada 16 Februari 1958 Persiden Soekarno menyatakan “Kita harus menghadapi penyelewengan tanggal 5 Februari 1958 di Padang dengan segala kekuatan yang ada pada kita”.

 

Diputuskan akan menggunakan kekerasan senjata untuk menghadapi Dewan Kabinet PRRI. Persiden Soekarno memerintahkan untuk menangkap tokoh-tokoh PRRI. Hubungan darat maupun udara dengan Sumatra Tengah dihentikan.

 

Tidak semua tokoh dalam pemerintah pusat setuju dengan keputusan ini. Salah seorang yang menentang keputusan ini adalah Mohammad Hatta. Sebagai Wakil Persiden dia muncul ke depan menentang keputusan ini.

Dia mengirim utusan ke Padang untuk menemui Ahmad Husein dan meminta agar Dewan Banteng menghindari konflik bersenjata dengan pemerintah pusat namun entah mengapa utusan ini tidak pernah sampai ke Padang. Karena pengiriman utusan gagal maka Mohammad Hatta berusaha untuk mendekati Persiden Soekarno agar mengurungkan niatnya agar tidak meletus perang saudara. Namun usaha ini juga gagal.

(Kolektor Sejarah)

Presiden sukarno kembali ke Jakrta pada 16 februari 1958, lalu mengatakan “ Kita harus menghadapi penyelewengan pada 15 februari 1958 di Padang itu dengan tegas dan dengan segala kekuatan yang ada pad kita”

Pada  dasarnya ia menyokong rencana Djuanda dan Nasution  untuk menggunakan Kekerasan senjata, kemudian Kabinet juga mengeluarkan pereintah menangkap Mr Sjafruddin,Mr Burhanuddin Harahap dan dr Soemitro Djojohadikusumo.

Menghadapi situasi ini, Bung Hatta muncul kedepan, garis besar perkembangan ini dikemukan Muchtar Lubis dalam sebuah bukunya. Dr Hatta berusaha mendekati Bung Karno untuk mencegah Perang Saudara,

namun usaha yang dilakukannya dengan sangat hati-hati itu, disalhgunakan oleh media masa tertentu sehingga Sukarno membatalkan niatnya berunding dengan mantan Wakil Presiden tersebut

(R.Z.Leirissa)

 

Sejak februari 1958 Sumatera Barat berdiri sepenuhnya dibelakang PRRI yang dibentuk 15 Februari 1958

(R.Z.Leirissa)

 

Beberapa hari setelah proklamasi PRRI di Padang

 

 

Masyarakat sumatera barat melakukan aksi protes menentang pemerintah Pusat yang mereka tuduh pro komunis, aksi dilakukan didepan kantor pusat penerangan kedutaan besar  amerikan serikat(USIS) di Padang

 

Foto ini hasil jempretean majalah Life James Burke,ini secara jelas menunjukkan keterlibatan Amerika serikat yang tidak mengenal lelah untuk menyingkirkan Sukarno dari tumpuk kekuasaan dan mendegredasi  semua potendsi revolusioner  yang terdapat dalam kalangan masyarakat Indonesia.

 

 

Masyarakat pendukung PRRI di depan Balai Pemuda Padang

 

Bung Karno dan tertembaknya Allan Pope pada sampul Majallah time terkait  pemberontakan PRRI

Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada  hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade.

(ventje Samual)

Ketika  PRRI terbentuk, Sumatera Selatan mengambil jalan berbeda dengan dewan banteng dan Permesta, Let Kol Barlian mengadakan Rapat Dewan Garuda dikediamannya . Disini Panglima TT III Sriwijaya  itu  berhasil mempengaruhi  para  perwira lainnya agar tidak mengikuti jejak  Padang.

Sejak semula  Dewan Perjuanagan memang meragukan iktikad Barlian , hubungannya dengan para Utusan KSAD seperti colonel  dr Ibnu Sutowo  dan Kolonel Hasan Kasim  membuatnya ragu-ragu.Akhirnya Ibnu Sutowo berhasil  mempengaruhinya untuk tidak bergabung dengan PRRI. Malah ketika itu, Barlian mengirim Ryucudu  ke Jakarta untuk melaporkan situasi kepada Presiden sukarno.

Selain memutuskan  untuk tidak mengakui PRRI, Dewan Garuda pun mempersilahkan pihak yang tetap ingin melanjutkan perjuangan  untuk meninggalkan Sumatera selatan.

(R.Z.Leirissa)

 

Tiada perlawanan di Palembang

Sampailah pada suatu pagi di awal tahun 1958, sewaktu saya mengayuh sepeda menuju sekolah yang terletak di jalan Pagar Alam.

Suatu pemandangan yang sama sekali tidak biasa tampak di sepanjang jalan Pagar Alam tersebut pasukan berpakaian tempur lengkap berdiri berjaga pada jarak-jarak tertentu.

Sikap mereka tampak sangat profesional, dan ternyata mereka adalah pasukan KKO-AL (Korps Komando AL, sekarang: Marinir).

Tidak ada pertempuran, tidak ada kekacauan, tidak ada kerusuhan sama sekali, dan…… tidak ada tembakan.

Sekolah berjalan seperti biasa.
Sepulang sekolah ternyata mereka masih standby, tetapi tidak dengan wajah sangar atau menakutkan.Kami para anak-anak kecewa dan tidak mengerti (tidak habis pikir, bahasa populernya), karena Palembang diduduki secara sangat mudah oleh Tentara Pusat.

Tentara TT II Sriwijaya dan STC ternyata tidak melakukan perlawanan sama sekali.

Lapangan terbang Talang Betutu kemudian juga diduduki, dan sejak itu sejumlah pesawat fighter Harvard dan Mustang selalu ada di lapangan terbang tersebut.

Kalau tidak salah, komando tentara Pusat berada dibawah Letkol. Juhartono.

(nagari web blog)

Satu-atunya anggota Dewan Garuda yang ikut serta dengan PRRI adalah Mayor Nawawi , dengan bekal senjata dan perlengkapan ia bersama sejumlah Pasukannya bertolak kedaerah Bengkulu dan selanjutnya membentuk pasukan disana untuk mendampingi Pasukan Ahmad Husein sampai tahun 1961

(R.Z.Leirissa)

Saya menemukan di bukittinggi dan lampung uang kertas PRRI Sumatera selatan pecahn rp 500,- dengan tanda tangan Mayor Nawawi lihat fotonya dibawah ini

(Dr Iwan)

 

 

 

Uang Rp 500,- PRRI Sumatera selatan ditanda tangani Oleh Mayor   Nawawistempel Pemerintah revolusioner republic Indonesia  Komado kordinator Sumatera Selatan dan Stempel alat pembajaran jang sah  dibagian depan, khusus  untuk daerah Sumatera Selatan

 

 Ditemukan di Bukittinggi

 

ditemukan di Tanjungkarang Lampung oleh Dr Iwan Suwandy.

15 Pebruari 1958

 

Kartupos stasioner RI  15 sen  dikirim dari Bukittinggi dengan stempel pos tanggal 15.2.58 ke Padang Panjang, ini merupakan kartu pos RI yang tidak diberikan cetak tindih PRRI,merupakan kartu selamat tahum baru Tionghoa  Sin Tjoen Kiong Hie.(Dr Iwan)

Semenjak meresmikan pendirian Sekolah Tinggi Ekonomi (STE), Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo tetap tinggal di Padang. Bahkan beliau tetap memberikan kuliah, disamping berbagai tugas yang dihadapinya dalam Dewan Banteng, sampai sekitar seminggu sebelum diproklamirkannya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958.

Selama pergolakan PRRI, sebagian sivitas akademika Unand, termasuk dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan bukan Unand secara institusional mulai terlibat dalam kegiatan PRRI, dampaknya tidak dapat dielakkan. Kegiatan perkuliahan di luar kota Padang terhenti sama sekali, sebagian tenaga pengajar Unand mulai berperan selaku staf ahli dalam lingkungan PRRI. Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa telah berada dalam medan pertempuran melawan pasukan ABRI. Sebagian besar Tim affiliasi FEUI memegang peranan penting dalam Dewan Banteng. Sjofjan Jusuf langsung ditugaskan untuk mendirikan sebuah bank kemudian berkembang menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD), Samiadji Djajengwinardo sebagai Kepala Urusan Perdagangan Luar Negeri, dan Dwiono Chandradi sebagai penasihat Menteri Perdagangan Kabinet PRRI yang dijabat oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo.(fekonenand)

 

17 Februari 1958

 Pada tanggal 17 februari atas desakan stafnya,  Somba menyatakan dukungan pad PRRI dan pemutusan hubungan dengan cabinet Djuanda .

(R.Z.Leirissa

18 Februari 1958

 

February,18th 1958. RI Lettersheet 35 cent without overprint  from Padang To Padang Panjang. Pada era PRRI kantor pos masih mengunakan benda pos RI tanpa cetak tindih PRRI seperti warkat pos stationer 35 sen  diatas dikirim dari Padang Ke Padang Panjang  beberapa hari setelah proklamasi PRRI dari ayahnya wirako Ang Isiang kepada mertuanya Ori Bie Giok Padang Panjang untuk mengucapkan selamat tahun baru Tionghoa

(Dr iwan)

19 Februari 1958

Beberapa hari kemudian keluar peintah KSAD untuk menangkap Letkol Somba,mayor Dolf Runturambi,Gubernur manopo dan Jan Torar.

Sesunggunya Kawat Ventje samual kepad Somba bertujuan mengulur waktu , ia memerlukan waktu untuk berhubungan dengan tokoh-tokoh Permesta di Sulawesi Selatan. Selain itu para anggota Korps SSKAD di Jakrta juga belum dihubungi , untuk mengatur siasat baru.

Dengan diputuskannya hubungan dengan Jakarta ,maka sirna pula kemungkinan itu.Strategi ventje samual adalah melancarkan tekanan-tekanan pada Jakarta agar mau berunding dengan PRRI.

Dengan bantuan pesawat dan senjata, ia berniat membom tangki-tangki bensin di Surabaya,Bandung,Semarang,Jakarta.dan ketika pasukan Pusat lumpuh , ia akan mendaratkan pasukan di cilincing (Jakarta) untuk membentuk suatu tekanan pada cabinet agar mau berunding dengan PRRI.

Untuk itu ia telah mendapat dukungan Balikpapan(Hartoyo) dan diharapkan  Banjarmasin(Kol Hasan Basri,Ketua dewan Lambung Mangkurat) akan menyediakan Bandar Udara untuk pesawat pembomnya. Kapal-kapal pendarat ke Jakarta itu bersifat pendadakan, karena pasukan Pusat sedang memusatkan perhatian ke Indonesia Timur dan Sumatera tengah. Padahal serangan-serang di indonesai Timur itu (antara lain Pope) hanya gerak tipu saj karena Pusat sudah terikat pada mitos “ Gerakan separatis” yang seolah-olah ingin memisahkan Indonesia  Timur dari RI,maka strategi itu tidak pernah dipahami.Berkobarnya pertempuran di Sulawesi Utara dan Sumatera tengah sejak April 1958 menutup kemungkinan dilaksanakannya rencana tersebut

(R.Z.Leirissa)

Kartu Pos era PRRI

 

dengan prangko RI kancil  15 sen tanpa cetak tindih PRRI dikirim dari Padang (Lie thian Hwie)  jalan sungei Bong no 5 setempel pos 19.3.58 kepada  Oei Bie Giok Padang Panjang ,kartu ucapan selamat tahun baru Tionghoa(Dr Iwan)

20 – 21 Februari 1958

Pada tanggal 20 dan 21 Februari 1958 serangan ke Padang dimulai. Serangan dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus. PRRI mendapat dukungan rakyat Sumatra Tengah

(Kolektor Sejarah web blog)

 

Dalam pertemuan di Istana negara, Presiden Sukarno bertanya kepada Ahmad Yani, apakah sanggup dan berani melakukan pendaratan di pantai Padang.Ahmad Yani menjawab Bagi saya  hanya ada dua  alternative pertama berkubur didalam lautan dan kedua  ialah mendarat  di Padang.(Ahmad Yani)

Tidak lama setelah pengumuman berdirinya PRRI, tiga Orang Amerika  dengan mempergunakan Pesawat Catalina  mendarat di danau singkarak.

Kedatangan mereka untuk mengatur  penerimaan pengiriman  Senjata dan Peralatan Militer lainnya. Mereka menghubungi Komando Militer Sumatera tengah  dan meminta bantuan  mempertemukan mereka dengan Kolonel Mauludin Simbolon , Kolonel Mauludin simbolon melayani mereka  dengan baik sebagai mana biasanya . Besama Letkol Ahmad Husein ia menerima  perangkat alat komunikasi  serta buku sandi  dan memberikan pelatihan cara mengunakannya.

Satu perangkat untuk KDMST dan satu lagi diguankan oleh  Kapten Azwar Lukman dan puteranya Sudaryanto.

Setelah itu dilakukan pengiriman senjata dengan kapal laut, melalui penerjunan dua kali di  udara di lapangan terbang tabing  sehingga cukup untuk mempersenjatai 8000 orang. Sebagain senjata itu secara sembunyi-sembunyi dikirim Kol Simbolon ke Tapanuli untuk melengkapai persenjataan  Mayor Sinta Pohan  dan 3000 pucuk kepada Daud Berueh  di Aceh dan sebagian lagi untuk melengkapi persenjataan Mayor  Nawawi di Bengkulu , Kol Zulkifli Lubis diperbatasan  Sumatera Barat dan Jambi.menurut orang Amerika tersebut pemberian senjata  dalam rangka menjamin  tetap adanya daerah de Facto PRRI dan dijadikan basis operasi militernya dalam rangka membentung kekuatan Komunis diwilayah tersebut.

(Mauludin Simbolon)

Semangat rakyat Sumatera Barat menngkat, ketika pada tanggal 20-21 Februari Pesawat AURI membom Kota Padang.

Pada Tanggal 20 februari 1958 Ahmad Husein mengadakan rapat umum di Padang dan berseru kepada masyarakat untuk member dukungan kepada PRRI. Sambil melepaskan tanda-tanda pangkatnya  dan melemparkannya ke tanah, ia mengatakan , apabila rakyat tidak mempercayainya,mereka dapat menangkapnya ketika itu juga dan menyerahkannya kepada Pusat.

Beberapa orang pemuda lalu memunggut  tanda pangkat itu dan mengembalikan nya kepada Ahmad husein.

(R.Z.Leirissa)

21 Pebruari 1958

Air Force bombs Padang, Bukittingi, and Manado.

22 Februari 1958

 

KSAD A.H.Nasution

(halaman depan majallah PHB  Angkatan Darat Suara telekomunikasi no  3 1958)

 

Ceramah KSAD DGN Perwira Garnizun Jakarta Raya di Gedung OLah Raga Pada Tanggal 22 Februari 1958

Para Perwira saya akan jelaskan perkembngan terakhir si Tanah Air,khususnya dengan adanya Pemberontakan di Padang dan di Menado  dan bagaimana kita harus menghadapi ini sebagai Perwira dan sebagai Tentara.

Soal yang terakhir ini kita tidak bisa melepaskan dari  perkembangan sejak bermula kita melihat selama ini didalam Negeri  adanya pertentangan politik mengenai Pemerintahan,pimpinan Negara dan lain lain yang tidak habis-habisnya  yang meluas kedalam Angkatan Perang kita kecuali  itu janganlah kita lupakan bahwa  Republik kita ini juga belum lepas dari pada persoalan  Perjuangan lain, baik dalam persoalan Irian Barat menghadapi Belanda,maupun dalm persoalan ada dua blok didunia yang juga ingin  membikin Indonesia ini  menjadi  sesuatu  operasi  dari pada cold war yang berlaku itu (di Asia) sekarang ini.

Ini semua  kita tidak bisa lepaskan satu sama lain. Seperti Presiden kemarin katakana, itu semua bisa dengan jalan terbuka tetapi juga bisa dengan jalan tidak terbuka. Masalahnya, persolannya, didalam negeri kita lihat berganti-ganti.

Kembali Ke 13 Agustus 1956

Beberapa Peristiwa Timbul Di Daerah

Peristiwa 20 Oktober 1956

Peristiwa di medan Panglima TT I memisahkan diri dari pusat,sehari sebelumnya peristiwa sumatera tengah dimana Dewan Banteng  mengoper kekuasaan dari Gubernur dan disusul oleh peristiwa-peristiwa di sumatera selatan dan pada bulan maret di Indonesia Timur.

Saya perlu membuka ini semua untuk kita melihat prkembangan itu berturut-turut sejak peristiwa itu.

Maka kita lihat bermacam-macam sasaran yang diajukan pada waktu itu. Ada sasaran yang diajujkan kepada tidak setunya kepada konsepsi Presiden.Hal mana dengan resmi dinyatakan sebagai salah satu alas an dari pada proklamasi 2 Maret .Adapula yang diajukan ktidak setujunya pembentukan Pemerintahan.

Adapula usaha –usaha yang ditujukan untuk menganti Pimpinan Angkatan darat.

Pada hahekaktnya ini semua, tempo-tempo sasaran ditujukan kepada Kepala Negara, tempo-tempo kepada cabinet dan tempo-tempo kepada Pimpinan Angkatan Darat, tempo-tempo semuanya sekaligus.

Dalam selama itu suasana dalam Angkatan Perang dan Negra kita belum begitu jelas buat kita semuanya , sehingga cara-cara yang diikuti selama itupun carayang oleh banyak orang disebut tidak tegas.

Dapat kita ingat Rapat daripada Penguasa-Penguasa Militer telah memutuskan penyelesiaian soal kita ini dengan jalan Musyawarah tetapi tidak mengabaikan Hukum dan Disiplin Militer dengan mengusahakan kerjasama kembali Dwitunggal .Soal ini pernah menjadi keputusan daripada Rapat Penguasa Militer yang diajukan kepada Pemerintah dan Kepada Negara.

Soal ini menerus dengan adanya Musyawarah Nasional dimana kita lihat Pemerintah Pusat memberikan/mengeluarkan/kepada keinginan-keinginan tadi itu untuk mencari penyelesaian,baik persoalan Dwitunggal, maupun persoalan beberapa Daerah dengan Pusat maupun Persoalan dalam Angkatan Darat  dengan sesuatu Musyawarah yang disbeut Musyawaran Nasional . Ini sudah tentu suatu Kompromi.

Munas Adalah Penyelesaian Dwitunggal dan AD

Dari segi hokum Musyawarah ini tidak mempunyai tempat dalam Ketatanegaraan kita,tidak lebih dari suatu kebijaksanaan karena itupun dari pihak yang sama sekali berdiri atas Ketatanegaraan tentu tidak setuju dengan Musyawarah Nasional tersebut dank arena itupun dari pihak yang sama sekali tidak sertuju kalau diadakan penyelesaian secara Ketatanegaraan dan Hukum, juga tidak bisa menyetujui Musyawarah Nasional karena itu dianggap bukan Musyawarah tetapi dianggap dienst konferensi.

Memang itu sesuatu yang ditengah-tengah  antara yang dua itu, Dimana dengan jalan berunding dapat dicari penyelesaian soal-soal penting yang dimintakan kerjasama Dwitunggal, perselisihan anatra beberapaah dengan Pusat, dan penyelesaian soal dalam Angkatan Darat.

Kita masih ingat tititk yang tertinggi daripada Musyawarah nasional itu adalah dalam arti penyelesaian antara Dwitunggal danPersoalan Angkatan darat.

Dalam persoalan Angkatan darat dibentuk Panitia 7 dan dalam persoalan Dwitunggal timbulah statement bersama Sukarno-Hatta yang kemudian dioper oleh Parlemen dengan membentuk Panitia 9

Panitia 7 Akan Adakan Amnesti Umum

Panitia 7 pun tidak mempunyai status dalam hokum Negara kita tetapi dalam susunannya dimana duduk Dwitunggal sendiri,diharapkan bahwa keputusannya itu akan ditaati oleh semua.Maka tentu sebagai badan yang timbuldari suatu kompromi ,keputusannyapun merupakan hasil Kompromi.

Dalam rangka penyelesaian itu disebut bahwa kan diadakan Amensti Umum kepada semua Pelangaran Hukum dan Disiplin yang bercorak Politik yang telah terjadi dalam Pergolakan Politik itu akan ditanyakan apakah akan mau menjadi Militer selanjutnya ,apakah akan jadi Politikus.

Kalau akan jadi militer maka pada saat itu kembalilah kepada Disiplin dan Hukum Militer.Kalau mau jadi Politikus silahkan meninggalkan Angkatan Perang dengan Pensiun yang terhormat.

Kemudian berhubung dianggap Pimpinan Angkatan darat dianggap kurang bijaksana selama ini dalam rangka itu diputuskan membentuk suatu Dewan Militer yang dimana akan dibahas hal-hal pokok untuk Kebijkasanaan penyelesaian Angkatan darat, selanjutnya yaitu mengalihkan Tentara itu kepada yang disebut Tenra regu lain.

Dan di Dewan Militer itu dimaksukan akan didudukan mereka yang telah berperistiwa-peristiwa itu  dan yang diberi Amensti dan akan  setia kembali sebagai militer untuk mengabdi kepada tentara kita

Inilah rangka yang telah diputuskan Panitia 7.Keputusan ini tentu sangat berat dan dapat kita ketahui  lebih dulu bahwa Panitia 7 akan menghadapi dalam soal ini Kesulitan-kesulitan dari mereka yang tegas tetap berdiri diatas dasar Hukum dan Disiplin yang tidak bisa menerima ini.

Dengan demikian kita sudah mengetahui bahwa dipihak lain daripada yang bermula juga tidak dapat menyetujui kepada cara Musyawarah Nasional

yang lalu  juga tidak dapat menerima Keputusan ini sehingga dari pihak hokum yang lainpun sudah dapat kita perhitungkan dengan tegas bahwa sejumlah Perwira-Perwira Menengah tidak dapat menerima keputusan itu.

Jadi dapatlah kita lihat Keputusan Kompromi yang semacam itu berarti mengorbankan suatu pihak ujung dan dilain pihak ujung tidak dapat mengikuti itu.Yang satu kaerna tegas atas dasar hokum dan disiplin , yang satu karena tegas Musyawarah 100 % .Jadi dapat kita perhitungkan lebih dahulu kemungkinan  yang semacam itu.

 

Panitia 7 Beku Berhubung Peristiwa Cikini

Amnesti Umum Tak Jadi Karena Peristiwa Cikini

Persoalan Barter

Pemerintah Buka Jalan Lain

Persoalan baru

Dokumennya Lubis

Maksud Melo Kaliseer Keadaan

Ultimatum Kepada Presiden Dan Kabinet

Tidak Ada Yang dapat Membenarkan Ultimarum

Tindakan isolasi Terhadap Sumatera tengah

(info diatas dapat dibaca dalam kurun waktu kejadian-Dr Iwan)

Kita Bukan Komunis

Ada sesuatu soal juag yang mereka dengung-dengungkn  smpai sekarang,bahwa Pemerintah telah dikuasai Komunis,bahwa Pimpinan Angkatan Darat juga dikuasai oleh Komunis.

Saya berkali-kali menerima delegasi-delegasi dari Sumatera  yang menanyakan  langsung kepada saya apakah betul Pemerintah  sudah Komunis ?

Saya selalu  mengutarakan , sebut satu persatu namanya dan saya akan sebut dari Partai mana diaa,begitu  juga disebut  bahwa Pimpinan Angkatan  Darat telah dikuasai Komunis, seya selin menanya,sebutlah Perwira mana  yang memang Komunis itu. Memang nama-nam itu  belum pernah dapat disampaikan kepada saya, jani memang jelas bahwa  pemberitaan itu  berlangsung dengan luas bahwa Pemerintah  dan Pimpinan Angkatan darat telah dikuasai Komunis ,dikoran-koran Luar Negeri  saya membaca  sendiri seperti di Koran Australia ,dikoran Singapura , bahwa  ayapun telah  komunis. Jadi itu bukan barang baru.

Saya kira Perwira-Perwira yang masih ingat Peristiwa Madiun ,justru pada saat kita menghadapai Peristiwa madiun  saya membaca  sendiri Pengumuman dari Leger Voorlichting Dienst  dari Belanda bahwa  Kol. Nasution adalah Komunis.Pada saat itu sayajustru sedang memegang pimpinan Operasi  terhadap Madiun. Akan tetapi saya membaca sendiri juga pada waktu itu bahwa Kol Nasution adalah Komunis dari Leger Verlichting Dienst tahun 48.

Jadi soal-soal semacam ini sudah biasa menjadi Psy-war tapi bahayanya pada itu adalah bahwa justru dalam pertentangan Dunia antara  Komunis dan Anti Komunis yang bedsar sekarang, ingin menyeret  kita kedalam salah satu Bloknya, dan Presiden kemarin dengan tegas menyatakan kita tidak  ingin turut  yang manapun  juga.

Kita tetap  Politik  yang Bebas dan Aktif. Yang mana Politik Bebas dan Aktif  itu buat pertama kali telah dirumuskan  waktu Kabinet Hatta  tahun 48 ,disetujui  oleh BP KNIP di Yogja.

Kita masih ingat pidato yang beriwayat dari wakil Presiden  sebagai Kepala Pemerintahan  yang merumuskan pertama kali  politi bebas dan aktif daripada republic ,yang sampai sekarang  ini sejak diucapkan  oleh wakil Presiden  dimuka BP KNIP bulan Februari 48 dipegang teguh oleh kita sebagai suatu  kelanjutan daripada  Proklamasi Kemerdekaan  ini. Karena itu juga selalu dianggap suatu pengkhianatan dalam meninggalkan politik bebas yang aktif itu

Kesimpulan

Demikianlah bermacam-macam uraian yang saya berikan tentang kejadian itu mengapa kita mengambil  tindakan dan  saya ingin sekarang berbicara kepada Perwira-Perwira persatu.

Saya yakin bahwa dikalangan Perwira yang bnayk dihadapan saya  sekarang ini saya kira hamper 70 orang , tentu ada yang setuju  dengan tujuan daripada  mereka  yang telah memberontak di Padang , saya  sebut dengan tujuannya, aertinya tumuannya itu  Kabinet Hatta,Hemangakubuwono adanya  sesaat, adanya Pemerintahan yang tegas anti Komunis  dan Presiden  Sukarno Cuma  konstitutionil  Presiden. Mungkin disini ada yang setuju  saya akan menghormat, tujuan dari tiap-tiap  orang yang semacam itu.itu tersilah, Mungkin  ada yang setuju  dengan perbuatan  itu.Dalam soal ini saya tidak bisa menghormati . Tujuan Politik itu bisa disetujui  tapi  perbuatan itu tidak bisa disetujuinya.

 Terletak kepada kita yang beruniform ini, karena  Tentara ini melakukan perintah  dari Kepala Negara untuk mengambil tindakan menghukum Pemberontakan itu, lebih baik kita tegas satu sama lain.

Saya memberikan kesempatan kepada semua Perwira Angkatan darat  juga sekarang meminta berhenti berhubung menyetujui  itu.

Juga perlu buat kita  jelas masing-masing  bahwa buat selanjutnya perintah saya tegas kepada  semua Pejabat ,setiapang  yang membantu dan menyanggupi akan membantu, kita ambil tindakan menurut hokum dengan tidak pandang siapapun  juga.

Jadi harus ini juga menjadi pegangan dari pada kita semuanya,jangan kita terkecuali karena kita justru pada saat yang genting buat kelanjutan daripada Negara Kita.

Inilah Perintah  Saya  dan Penjelasan saya kepada Perwira-Perwira yang saya harapkan direnungkan sepenuhnya.

Sekian terima kasih

(Pidato KASAD AH Nasution di Garnizun Jakarta  22 februari 1958 dalam majalah PHB AD no 2 1958)

Pernyataan Seluruh Perwira Garnizun Jakarta Diucapkan Oleh Brigjen Sungkono Pada tanggal 22-2-1958

1.Kami menyambut dengan antusias pertemuan perwira yang ada di Jakarta ,yang diadakn hari ini.Keadaan Tanah Air  cukup genting ,sehingga tak mungkin lagi putera-putera Indonesia, yang patriotic seperti  telah berulang kali diuji oleh  sejarah akan tinggal diam.Lebih-lebih bagi putera-putera yang telah dinyatakan sebagai perwira seperti kita yang berkumpul  sekarang  ini.

Rasa tanggung-jawab  kita terhadap kesatuan Bangsam rasa tanggung jawab kita terhadap sejarah  Bangsa tidak bisa lagi kecuali kita harus  tampil kedepan ,menunjukkan pelaksanaan tanggung jawab yang dipikulkan oleh Rakyat kita, oleh Pemerintah Kita  dang oleh Bangsa kita. Pertemuan ini merupakan manifestasi dari kesadaran kita,kesadaran bertanggung jawab.

2.Penjelasan KSAD mengenai  situasi Tanah Air, cukup memberikan penjelasan kepada kita semua, bahwa ujian sejarah kembali kita hadapi.

Kita semua tahu bahwa ujian itu tidaklah mudah. Tetapi bagaimanapun sulitnya ,kalau kita mau maju terus  mencapai cita-cita bangsa dan Rakyat, yaitu satu Indonesia  yang bersatu jaya dan sejahtera  bagi seluruh rakyatnya, betapun rumitnya ujian itu, harus kita tempuh,. Dari penjelasan tentang situasi Tanah Air, dapatlah  kita pahami, bahwa anasir-anasir yang lebih mementingkan diri daripada  kepentingan bangsa  dan Rakyat, sudah menyatakan dirinya sebagai pemberontak, dengan segala kemampuan nya yang ada, dengan segala cara kaum pemberontak, sudah berbuat jauh bertentangan  dengan sumpah pemuda, bertentangan dengan Proklamasi 1945, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara,bertentangan dengan Sumpah Prajurit.

3.Menginggat bahwa taraf perjuangan Bangsa Indonesia sekarang sedang sengit-sengitnya dan tak kenal mundur  terys berjuang menghapuskan sisa-sisa kolonialisme Belanda, yang menjadi sumber segala kesengsaraan Rakyat, yang menjadi sumber segala ketidk puasan Rakyat, maka tindakan kaum pemberontak tersebut, sangat merugikan Bangsa dan Rakyat Indonesia dan  sebalikny menguntungkan Belanda.

Kita semua tahu bahwa penderitaaan Rakyat disebabkan karena belum bebasnya secara penuh Tanah Air kita ini dari sisa-sisa Kolonialisme terutama dilapangan ekonomi.Sekarang Rakyat selangkah demi selangkah secara postif menghapuskan sisa-sisa Kolonialisme ini. Dengan penuh rasa persatuan, saling mengerti akan tugasnya, terutama anatara angkatan Perang dan Rakyat,tugas pembebasan ini dilakukan dengan setia tanpa mementingkan diri sendiri.Tetapi kita melihat bahwa pukulan dari rakyat Indonesia terhadap Kolonialisme ini ternyata membikin beringasan orang-orang  avonturir yang mengabdi kepada kolonialsme . Seelsi alam tersu menerus terjadi dan ini akan berfjalan terus. Orang-orang ini dengan berbagai dalih, dengan menunggangi tokoh-tokoh daerah  yang sempit, dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dari Rakyat untuk memberontak.Karena  itu penilaian yang secepat-cepatnya dari kita tidak bisa lain pemebrontak ini adalah pengkhianatan! Pengkhianatan terhadap Proklamasi 1945, pengkhianatan terhadap UUD,Negara RI,pengkhianatan terhadap Sumpah Prajurit,Sumpah jabatan dan Saptamarga.

4.Dalam menghadapi keadaan tanah-air yang genting ini,yaitu rongrongan oleh kaum pemberontakan,Pemerintah kita yaitu Kabinet Juanda dan juga Pimpina Angkatan Perang kita sudah mengambil langkah-langkah yang tegas.

Tindakan-tindakan tersebut adalah tindkan yang wajar, suatu tindakan yang adil demi keselamatn Bangsa,Rakyat dan Tanah Air dijiwai oleh api cita-cita Rewvolusi Agustus 1945.Cita-cita yang senantiasa menuntun arah eprjuangan kita,cita-cita keramat bagi seluruh Bangsa Indonesia,kita harus bertindak setimpal terhadap kaum pemberontak itu. Jalan lain tidak da,demikian pula jalan-jalan mundur tidak ada,sepenuhnya kami menyetujui sikap Pimpina Angkatan Perang bahwa tindkan itu hanya ditujukan kepada yang bersalah.

5.Kita semua tahu bahwa sandaran kaum pemberontak bukan Rakyat di Suamtera Barat,rakyat disana sendiri  dengan putera-puteranya ayng patriotic,putera-puteranya sadar akan tanggung jawabnya terhadap keutuhan Negara Republik Indonesia pasti tidak dipihak pemberontak.

Sandarn kaum pemerontak buka Rakyat, malainkan impian kekuatan asing, kekuatan kolonialisme. Memang kekuatan kolonialisme di Asia masih ada, Tetapi terang bahw akekuatan ini sedang dengan secepat menuju keproses keruntuhannya. Sebaliknya kekuatan rakyat inti Kolonialisme sedang tumbuh berkembang ddengan kemungkinan tak terbatas. Kaum pemberontak bersandar kepada kekuatan yang lapuk, sebaliknay kita berada dalam kandungan  kekuatan Raksasa rakyat yang sedang tumbuh. Inilah  yang meyakinkan kami,bahwa kaum pemberontak pasti  dapat kita hancurkan, betapapun sulitnya.

Angkatan Perang beserta Rakyat dan Pemerintahnya pasti dapat menyelesaikan tugas sejarah yang mulia ini,yaitu melaksanakan sumpah epmuda tahun ’28, cita-cita Revolusi Agustus 1945 dengan bersatu dengan Rakyat kami yakin tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi.

6.Bedasarkan kesadaran dan keyakinan seperti diuraikan diatas,maka kami menyatakan dengan tegas sikap sebagai berikut :

1) tetap setia kepada Proklamasi 17-8-1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia bersendikan Pancasila.

2)Menjunjung tinggi dan mentaati Undang-Undang Dasar Negara republic Indonesia,Sumpah Prajurit, Sumpah Jabatan dan Sapat Marga.

3)Mendudkung penuh hikmah kebijakasanaan yang ditempuh oleh Pemerintah Djuanda dan Pimpinan Angkatan Perang.

4) Menyarankan segera merealisir tindakan lanjutan yang  lebih tegas dan cepat untuk menindas kaum pemberontak.

5)Mengajak Rakyat Indonesia seluruhnya untuk mengikuti jejak Pemeintah dan Pemimpin Angkatan Perang.

Selesai

Jakarta 22 Pebruari 1958.

(pidato kASAD AH Nasution di Garnizun Jakarta ,majalah PHB AD no 2 1958)

22 pebruari 1958.

 Battalion  322/Siliwangi  kali ini berangkat  meninggal kampung halaman  tanggal 22 pebruari 1958  sewaktu battalion  tersebut sedang bertugas  di Kerawang ,perintah  bertugas ke Pulau sumatera diterima  tanggal 22 pebruari 1958 .

(Umar Wirahadikusuma)

23 Pebruari 1958

 

Kwitansi era PRRI tanda  terima uang Rp 450  di Padang Panjang dengan meterai RI RP 50.-tanpa cetak tindih PRRI

(Dr Iwan)

 

 

24 Pebruari 1958

 

Surat dari Kepala daerah Pos 5 kepada Kepala kantor pos padang tentang  pertanyaan kecakapan Marah Sjoekur(Alh), M Zai (Pasar kuok) buat kenaikan pangkat degan form 1956.

(Buku agenda RHS Kantor pos padang, buku ini sudah dibuang dan dikar tetapi sebagian masih ditemukan pada lapak kertas bekas di pasar Jawa Pdang oleg Dr Iwan,buku ini memuat banyak informasi terkait PRRRI tahun 1958,koleksi Dr Iwan)

25 Pebruari 1958

Surat Dewan Pemerintah  daerah Peralihan Kotapradja Padang Panjang kepada  pengusaha kapur di padang panjang oei bie giok,laykai lunah,Sapa,Gaek,Maruheen,Bagindo Sutan

 Perihal  Gotong Royong mengerjakan perbaikan jalan pondok kapur diharapkan para pengusaha  perusahan kapur

 untuk mengeluarkan tenaga gotong royong dari perusahannya  dengan membawa  perkakas,cangkul,sikap(skop), keranjang,linggis,baling pada  hari minggu tanggal 2 maret 1958  jam 8 pagi

Ditanda tangani seksi Pekerjan Umum  MUhamad Sjafei dengan stempel  kotapradja padang panjang dengan lambang Garuda RI

Maret 1958

 

Foto Kalender Maret  juga terlihat Pebruari dan April 1958 masa PRRI

Army units from Diponegoro and Siliwangi divisions land in Sumatra and take Medan.

1 Maret 1958

 

Kartu Penduduk Era PRRI kepala kampong Pondok Padang anggota Polisi PRRI Goei Tjoen Goan alias sibuncit(gendut) ayahnya Lin

 

8 Maret 1958

 

March,8th.1958.RI Lettersheet without overprint send from Padang to Padang PanjangPada era PRRI kantor Pos tetap mengunakan benda pos RI  warkat pos stationer 35 sen tanpa dicetak tindih dan stempelnya juga tidak diubah. Padang  8.3.58, surat dari oei tiong gie kepada ayahnya oei bie giok memesan kapur  untuk temnnya oey tjij tjay  sekalaian juga pesan sayur-sayuran untuk dikirim ke Padang (Dr Iwan)

Ketika Kota Padang diserang dalm bulan maret 1958,KSAD memerintahkan agar M.Saleh Lahade dan semua tokoh Permesta di Makasar di tangkap

(R.Z.Leirissa)

10 Maret 1958

 10/3 Kapal perang jakarta di perairan PRRI ,jam 12.000 terdengar bunyi dentuman mariam ,kami seiisi rumah dikejutkan oleh dentuman mariam dari kapal tersebut

(catatan tertulis  Soewil St Bandaro pegawai kantor pos Padang,koleksi Dr iwan)

Info terkait

Untuk mengalihkan perhatian lawan(PRRI), beberapa hari sebelum Operasi 17 Agustus di parairan Pantai Padang  telah hilir mudik  Kapal-kapal TNI ALRI , kegiatan ini member kesan  seakan-akan  pendaratan akan dilakukan  melalui perairan itu  sehingga kekuatan untuk menahannya dipusatkan didaerah itu. Tetapi rencananya serangan pertama tidak disitu,  tetapi ke Riau.

(Ahmad Yani)

11 Maret 1958

Sejak ditunjuk sebagai pemimpin Operasi 17 Agustus, kelihatan kesibukan Ahmad yani meningkat , sekalipun hari sebelumnya  selalu sibuk untuk menghadapi tugasnya , namun  semenjak itu  kelihat kesibukannya agak meningkat.

Ibu Yani tahu apa yang sedang Ahmad Yani lakukan. Hanya dari dokumen-dokumen Dinas sejarah TNI Angkatan Darat  Ibu Yani ketahui  kemudian bahwa  Pak Yani ketika itu membentuk Staf  Komando Operasi 17 Agustus nama yang diberikan untuk tugas ke Sumatera barat.

Karena dalam Rapat-Rapat  yang dilakukan  sudah didapat kata sepakat  bhwa pendaratan  akan merupakan  suatu Operasi gabungan  dari Angkatan Darat, Laut dan Udara dengan susunan komado sebagai berikut:

Komandan : Kol. TNI ADAhmad Yani

 

Wakil Komandan I : Let.KOl. TNI AL.John Lie

 

 

Wakil Komandan II : Let.KOl. TNI AU Wiriadinata

Staf terdiri dari Kepala Staf Letkol Daryatmo, KSU I, KSU II, KSU III<KSU IVITPR dan Penerangan AD Kapten Muin Muchtar.

Jawatan Dinas serta senjata Bantuan yang disipakan terdiri dari :

Batalyon Perhubungan, Destamen Zeni,Batalyon Artileri,Detasmen Kavaleri, Detasmen Polisi Militer,Kompi Kesehatan, Konpi Angkutan, Kompi Intendans dan Kompi Markas

(Ahmad Yani)

Kartu pos selamat tahun baru Tionghoa dari Padang stempel pos 11,3,58 diatas prangko RI 15 sen tanpa cetak tindih PRRI ke padang Panjang

(Dr Iwan)

 

Pos Wesel yang dikirimkan dari Pakan Baru ke Sawahlunto SUMBAR tidak dapat diteruskan karena tidak ada hubungan yang unik prangko sukarno masih dipergunakan satu hari sebelum pendaratan APRI di Pakan baru( lihat tulisan tangan pihak pos kembali pengirim perhubungan belum ada )

(Koleksi Dr Iwan)

12 Maret 1958

Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958

 

Majallah PHB TNI AD

dengan foto Operasi Tegas Pasukan Gabungan di Pakanbaru  tanggal 12 Maret 1958

keterangan gambar

 

1.Rakyat Pakanbaru menyambut  dengan meriah ketika KSAD tiba disana  yang disertai Let Kol Kaharudin Nasution (tengah menunjuk)  dan alm kapt Fadillah yang mengemudi

2.

 

 

Inilah kapal perang kita yang turut  pula menjalankan tugasnya dalam peristiwa Sumatera Tengah

3.

 

Senjata-senjata yang didrop di Simpang Tiga yang  dirampas APRI

4

 

.KSAD ketika tiba di lapangan terbang pakanbaru disambut oleh Let.Kol. Kaharudin Nasution dan komandan  PGT Let.Kol Wiradinata

 

 

 

 

5.

 

Ketika diadakan pembersihan oleh APRI disekitar Kota dan lapangan terbang Pakanbaru.

6.

 

Dengan memakai perahu  APRI terus mengadakan Operasi tegas

7.

 

Banteng Raiders dengan PHB nya ketika turun di Pakan Baru.

 

(sumber :Majalah PHB,Koleksi Dr Iwan)

Pada tanggal 12 Maret 1958 jam 05.00 waktu setempat, dimulai gerakan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” dengan memberangkatkan 10 (sepuluh) buah pesawat Mustang dari Tanjung Pinang (tempat berkumpul) menuju sasaran pokok yakni lapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru dengan tugas pokok mengadakan penyerangan terhadap objek tersebut. Kemudian menyusul pula pesawat-pesawat Dakota dengan mengangkut dan untuk menerjunkan Komando X Ray di lapangan udara Simpang Tiga untuk merebut dan menguasai lapangan terbang ini.

 Setelah lapangan udara Simpang Tiga dikuasai dengan tidak mendapat perlawanan sama sekali dari musuh, dan sesudahnya lapangan dibersihkan dari ranjau-ranjau serta diadakan perbaikan seperlunya atas landasan yang rusak oleh Komando X Ray, maka mendaratlah Komando Kuat yang akan melakukan gerakan merebut dan menduduki kota Pekanbaru.

Hari itu kota Pekanbaru dapat dikuasai tanpa ada perlawanan dari musuh dan hari itu juga KASAD mengadakan Inspeksi atas gerakan operasi yang dilaksanakan di lapangan udara Simpang Tiga dan kota Pekanbaru.

 Pada hari itu pula Dumai diduduki oleh Komando Kaladjengking dan melakukan gerakan menuju Rumbai, sedangkan Komando Kantjil sudah mulai opvaren Sungai Siak menuju Pekanbaru

(korem031)

 

Peranan Lanud Tanjung Pinang Dalam Operasi PRRI

Pada tahun 1958

di Sumatera disinyalir adanya usaha dari beberapa oknum untuk membentuk suatu pemerintah tandingan “Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia” dengan mengeluarkan ultimatum dan macam alasan serta tuduhan-tuduhan terhadap pemerintah pusat, serta adanya tanda-tanda intervensi asing di Sumatra.

Untuk menjaga kewibawaan dan harga diri NKRI pemerintah menolak ultimatum dan mengadakan serangkaian operasi untuk menumpasnya.

 TNI AU bersama angkatan lain dan rakyat ikut berperan aktif dalam penumpasan pemberontakan PRRl tersebut melalui Operasi Tegas, Saptamarga, 17 Agustus, Sadar, Insyaf, Merdeka dan lain-lain.

Dalam proses rencana operasi, AURI bersama angkatan lain berusaha untuk mengalihkan perhatian lawan agar tidak mengetahui rencana gerakan operasi yang sebenarnya.

Untuk itulah AURI telah memusatkan kekuatan pesawat udaranya di Tanjung Pinang, sehingga pihak lawan terjerumus dalam perkiraan-perkiraan yang salah.

 Disamping itu juga untuk membentuk jembatan udara Tanjung Pinang- Pekanbaru guna membuka jalan ke arah pembebasan perbatasan daerah-daerah Sumatra utara dan barat.

Peranan Lanud Tanjung Pinang dalam penumpasan PRRI tersebut sangant besar.

 Tidak hanya dalam pelaksanaan operasi tegas tetapi juga dalam pelaksanaan operasi sapta marga dan operasi 17 agustus.

 Dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI di sumatra ini, AURI melibatkan beberapa jenis pesawat yang berpangkalan di Lanud Tanjung Pinang (Lanud Kijang).

 

B 26 siap terbang menumpas PRRI

 Berbagai peran yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat AURI di Lanud Tanjung Pinang dalam operasi tersebut yaitu:

1.                   Memutuskan hubungan/komunikasi antar daerah-daerah yang berupa Radio, titian-titian, jembatan-jembatan umum, jembatan air dan sebagainya.

2.                   Pengintaian udara yang menggunakan pesawat Harvard maupun pesawat catalina.

3.                   Serangan udara untuk membebaskan lapangan udara Simpang Tiga di Pekanbaru dengan menggunakan pesawat pembom B-25 Mitchell dan pemburu P-51 Mustang.

4.                   Penerjunan PGT dan RPKAD yang tergabung dalam Komando X-Ray dengan mengerahkan pesawat-pesawat transport C-47 Dakota di Pekanbaru.

5.                   Mengawal dan mengamankan gerakan operasi pasukan di darat dari dumai ke rumbai dan pasukan Brigjen Djati Kusumo dan mengadakan gerakan pengejaran terhadap pemberontak yang berhasil meloloskan diri, serta mengawal gerakan operasi laut dari ALRI dari Bengkalis menuju Pekanbaru.

6.                   Melumpuhkan pertahanan pemberontak di daerah Lubuk Djambi dan Muara Makat (daerah-daerah disekitar Riau) oleh pesawat B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

7.                   Melakukan operasi jembatan udara dalam rangka angkutan logistic antara Lanud Tanjung Pinang-Pekanbaru-Rengat dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

8.                   Melaksanakan angkutan udara antara Tanjung Pinang-Jakarta –Medan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

9.                   Melaksanakan patroli udara diatas kepulauan Riau.

10.               Serangan udara untuk merebut pangkalan udara Padang dengan menggunakan sandi operasi “Red Flight” dan “Blue Flight” melancarkan serangan dengan menggunakan pesawat B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

11.               Menerjunkan PGT dan RPKAD dengan menggunakan 10 pesawat angkut C-47 Dakota yang dikawal oleh 4 pesawat P-51 Mustang dan 2 B-25 Mitchell di Padang.

12.               Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell.

Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu.   Sikap pemerintah ini diambil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil.

Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan.

Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu.

Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron IIl P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota.

Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang.

Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI didaerah Sumatra sampai selesai, Tni Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 Buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

1.                   Melaksanakan operasi pengintaian udara yang mempergunakan pesawat Harvard maupun pesawat Catalina.

2.                   Pada tanggal 10 Februari 1958 menyebarkan Famflet diatas kota padang.

Dan dua B-25 Mitchell di Padang.Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell. Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu. Sikap pemerintah ini diarnbil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil. Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan. Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu. Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron III P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota. Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang. Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI di daerah Sumatra sampai selesai. TNI Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang, dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

1.            Melaksanakan operasi pengintaian udara yang mempergunakan pesawat Harvard maupun pesawat Catalina.

2.            Pada tanggal 10 pebruari 1958 menyebarkan pamphlet diatas kota Padang Sumatera Barat yang diduduki PRRI, dengan dua buah pesawat pembom B-25 Mitchell yang diterbangkan oleh Mayor Udara Soetopo dan Kapten Udara Sri MulyonoHerlambang.

3.            Mengahancurkan pertahanan lawan mengadakan serangan udara Simpang Tiga Pekanbaru oleh pesawat B-25 Mitchell dan pesawat P-51 Mustang.

4.         Melaksanakan penerjunan pasukan PGT dan RPKAD untuk pembebasan Pekanbaru dan Dumai menggunakan pesawat C-47 Dakota dengan kekuatan 300 orang dipimpin oleh Letnan Udara Satu S. Sukani. Selama berlangsungnya penerjunan tersebut pesawat B-25 Mitchell terus rnelakukan perlindungan udara.

5.         Melakukan operasi jembatan udara dalam rangka angkutan logistik antara Lanud Tanjung Pinang Pekanbaru Rengat dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

6.         Melaksanakan angkutan udara bagi pasukan APRI antara Tanjung Pinang – Jakarta Medan menggunakan pesawat C-27 Dakota.

7.         Menghancurkan obyek vital lawan berupa stasiun RRI di Padang dan Bukit Tinggi.

8.         Melaksanakan operasi perlindungan udara terhadap gerakan pasukan darat yang menyerang kedudukan lawan, menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell.

9.         Mengawal dan mengamankan gerakan operasi termasuk gerakan pengejaran terhadap pemberontak-pemberontak yang berhasil meloloskan diri keluar kota.

10.               Melaksanakan patroli udara diatas wilayah Kepulauan Riau.

Pembangunan monumen di Lanud Tanung Pinang dimaksud sebagai sarana pelestarian nilai-nilai kejuangan dan pengabdian jasa dan peran TNI Angkatan Udara dalam menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu dapat membangkitkan profesionalisme bagi generasi penerus Angkatan Udara, membangkitkan kembali rasa kesatuan dan meningkatkan minat dirgantara di lingkungan masyarakat Kepulauan Riau. Isi atau keterangan Relief di dalam monument tersebut adalah :

 

Lanud Tanjung Pinang 1958

1.         Pasukan diberangkatkan dari Jakarta menuju Tanjung Pinang dengan menggunakan kapal Tampomas dari pelabuhan Tanjung Priok.

2.         Kekuatan Udara yang terdiri dari pesawat TNI Angkatan Udara dan Wing Garuda di Lanud Tanjung Pinang terdiri dari pesawat Harvard, Catalina, C-47 Dakota, P-51 Mustang dan Pembom B-25 Mitchell.

3.         Pesawat Catalina dan Harvard digunakan sebagai pesawat Intai dalam rangka pembebasan Pekanbaru dan Dumai.

4.         Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat menuju daerah penerjunan di Pekanbaru dengan kekuatan 300 personel dibawah pimpinan Letnan Udara Satu S. Sukani.

5.         Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat diterjunkan didaerah musuh sebelumnya telah dibersihkan melalui serangan udara oleh pesawat Pembom B-25 Mitchell.

6.         Pasukan PGT dan RPKAD berhasil melawan anggota PRRI dan merampas persenjataannya.

Pada tanggal 12 Maret 1958

Dilakukan Operasi Tegas kedaerah RIAU  dan berhasil menguasai daerah itu dalam waktu yang singkat.

(Ahmad Yani)

 

 

Peran PHB Didalam “Perang radio” Didaerah PRRI

sepasukan  Batalion  Bateng Raiders Divisi Diponegoro pad atanggal 12/3-58 telah berhasil mendarat dan menduduki

 

kota Pakanbaru.

Tidak disangsikan lagi didalam pasukan itu terdapat Peleton PHB-nya yang berkauatan  julah anggota 22 orang.Kebeulan saya yang diserahi bertanggung jawab terselenggaranya cara bekerja komunikasi PHB

(majalah PHB no 8/1958)

Waktu banteng raiders masuk

 

 

kota Pakanbaru kami dapat ikut serta menormalisasikan hubungan telpon kota, baik soal kepegawaian maupun soal teknisnya.Dengan mempelajari keadaan hubungan telpon ini, saya mengetahui bahwa  anatara Pakanbaru-Padang ada saluran saluran telpon interlokal yang  ditranformer oleh PTTT Talukkuantan, harapan baik bagi Peleton PHB Banteng Raider karena mungkin hubungna telepoon ini dapat kami pakai sebagai  sebagi salah satu alat komunikasi selama gerakan operasi dijalankan.

 

Dalam Long March Banteng raiders terjadilah pertempuran yang pertama

 

 

didesa

 

 

Sungaipagar

 

 

 kurang lebih 50 km dari Pakanbaru.

Setelah Pasukan konsolidasi(karena musuh sudah menundurkan diri) kami mencoba aftakken seluruh telepon yang melintang dijalan besar.Ternyata saluran tersebut masih dipergunakan yaitu yang kejuruusan Padang.Adapun yang kejurusan Pakanbaru (jadi daerah yang sudah kita lalui) tidak terpakai.Terdengar pembicaran  dengan mengunakan bahasa minang.Kemudian dia ikut bicara pura-pura menjadi temannya yang sedang bertahan di Sungaipagar.

 

Pada hari itu juga jam 17.00 terjadi vurcontact antara sebuah truk musuh berisi 15 orang Tentara yang dikirim dari Kebondurian menuju ke Sungai-pagar

 dengan sebuah truk Kompi  A Banteng raiders  yang berangkat dari Sungaipagar dengan maksud menyerang atau merebut

 

 

jembatan Kebondurian.

Pertempuran terjadi ditengah jaln, waktu kedua truk musuh dengan semua muatannya mungkin akibat daripada pengacau telpon yang telah dilakukan siang harinya,karena musuh menyangka bahwa Sungaipagar masih diduduki  teman-temannya. Memang benar,musuh yang mundur dari Sungaipagar itu tidak langsung ke Kebondurian, tetapi kacau balau  masuk hutan  dan rawa-rawa sekitarnya.

 

Nah Sdr  dengan pengalaman ini kami mengambil kesimpulan bahwa pihak musuh juga mengunakan alat-alat dan tenaga PHB yang sempurna.Selama kita bergerak melalui jalan besar Pakanbaru-Padang sambil lalu kami memperbaiki  saluran telpon yang ada disampin alat SCR dan P 22 yang aktif untuk hubungan.

 

 

 

(majallah PHB no 8/1958,koleksi Dr Iwan )

 

 

12 Maret 1958,

satu kompi pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ditugaskan merebut Pekanbaru, Riau.

Saat itu Sumatera telah bergolak. Sebagian daerah yang tak puas pada pemerintah Jakarta mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Maka Jakarta membalas aksi PRRI dengan operasi militer. Mereka mengirimkan pasukan untuk menguasai Sumatera dari para kolonel pembangkang.

Kompi A RPKAD dipimpin Lettu Benny Moerdani. Mereka diberangkatkan dari Pangkal Pinang dengan pesawat Dakota untuk terjun di daerah landasan udara Simpang Tiga.

 Tugas mereka merebut landasan itu agar pesawat Angkatan Udara bisa segera mendarat membawa perbekalan dan pasukan tambahan.

Walau memimpin pasukan terjun, Benny Moerdani belum pernah terjun payung sebelumnya. Ketika RPKAD mengadakan latihan terjun, Benny sedang sakit.

Tapi Benny tak takut, dia hanya berpesan kalau ragu-ragu agar didorong saja keluar dari pesawat. Soal penerjunan pertama ini ditulis Julius Pour dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis yang diterbitkan KAta.

Informasi intelijen menyebutkan

 

Simpang Tiga

dan Pekanbaru dijaga 800 tentara PRRI. Tentunya risiko penerjunan besar sekali, mendarat tepat di jantung musuh.

Benny dan pasukan terjun serta mendarat mulus. Walau tak pernah terjun, Benny bisa mendarat dengan baik.

Para pemberontak tak mengira pasukan dari Jakarta telah mendarat. Begitu melihat RPKAD yang datang, mereka ambil langkah seribu. Sama sekali tak berani melakukan perlawanan. Pasukan PRRI begitu saja meninggalkan peralatan perang dan bantuan dari Amerika Serikat yang baru dikumpulkan di landasan.

Saat itulah Letnan II Dading Kalbuadi, rekan Benny, menendang sebuah peti kayu. Perwira muda RPKAD itu terkejut setengah mati melihat isinya.

“Wah duit, Ben! Uang, gimana ini?” kata Dading.

“Sudahlah jangan kau hiraukan. Tinggalkan saja, nanti kamu mati,” kata Benny.

Selain uang, pasukan baret merah itu dikejutkan dengan persenjataan para pemberontak yang ditinggalkan. Jumlahnya melimpah. Semuanya senjata modern, bahkan ada bazooka. TNI sama sekali belum memiliki senjata-senjata secanggih itu.

Walau menerima bantuan senjata dari asing, rupanya PRRI tak punya semangat juang yang tinggi. Setelah Pekanbaru, berikutnya TNI bisa merebut Padang, Jambi, Medan, Jambi dan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak.

Seorang bintara pensiunan baret merah, Peltu Nadi (86) berkisah soal perebutan Sumatera pada merdeka.com. Dia membenarkan memang perlawanan PRRI tak begitu berat.

“Mereka punya senjata lebih canggih, tapi semangat bertempur lemah. Apalagi kalau sudah mendengar harus berhadapan dengan RPKAD. Sengaja juga dibuat kabar RPKAD yang diterjunkan satu batalyon. Padahal satu kompi pun tak ada. darimana jumlah satu batalyon? Jika dikumpulkan juga paling-paling cuma dua kompi,” kenang Nadi sambil tertawa.

Benny Moerdani kelak menjadi Panglima ABRI dengan pangkat jenderal bintang empat. Dia menjadi salah satu tokoh legendaris ABRI di masa orde baru

Nama RA Fadillah diberikan sebagai penghormatan untuk Kapten RA Fadillah Tjitrokoesoemo yang gugur saat menumpas gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Riau tahun 1958.

Ada dua kompi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang diturunkan dalam operasi Tegas kala itu. RPKAD ini dikenal sebagai Kopassus. Kompi A dipimpin Letnan I Benny Moerdani diterjunkan di Simpang Tiga, untuk merebut landasan udara. Kompi B yang dipimpin Kapten Fadillah mendarat di Bengkalis menyapu Sungai Siak selanjutnya menembus hutan menuju Pekanbaru. Kompi B juga bertugas mengamankan ladang-ladang minyak yang tersebar di Pekanbaru.

Pasukan Benny sukses merebut Simpang Tiga nyaris tanpa kerugian. Rupanya pasukan pemberontak memilih mundur dan memusatkan pertahanan di Batang Kuantan yang terletak di tepi Sungai Siak. Ada ribuan pasukan PRRI yang memperkuat kekuatan di sana.

(Merdeka Com)

14 Maret 1958

Demonstrasi Mahasiswa Jakarta Anti PPRI , di Jakarta 14 Maret 1958 mengutuk PRRI

(Nugroho Notosutanto)

 

San Fransisco Chronicle

Buku ini mengungkapkan rahasia intervensi oleh Amerika Serikat di Indonesia pada akhir 1950-an yang melibatkan antara lain pasokan ribuan senjata, penciptaan dan penyebaran ofa rahasia CIA angkatan udara dan dukungan logistik dari Armada Ketujuh. Operasi telah disimpan hampir sepenuhnya rahasia dari publik Amerika selama hampir 40 tahun.Operasi ini CIA terbukti menjadi lebih bencana daripada Teluk Babi

 

 

 

 

 

 

 

 

The book reveals a covert intervention by the United States in Indonesia in the late 1950s involving among other things the supply of thousands of weapons, creation and deployment ofa secret CIA airforce and logistical support from the Seventh Fleet. The operation has been kept almost totally secret from the American public for nearly 40 years.
This CIA operation proved to be even more disastrous than the Bay of Pigs

 

 

Dulles

 

Lloyd

 

Casey

On March 14, 1958
US Secretary Dulles meeting with Foreign Minister Casey of Australia
and British Secretary Selwyn Lloyd, raised the question as to
possible recognition of the rebel regime in Sumatra
(Source: Howard Jones – Indonesia, a Possible Dream p116)

Pada 14 Maret 1958


Menlu AS bertemu dengan Menteri Luar Negeri Dulles Casey Australia
dan Sekretaris British Selwyn Lloyd, mengangkat pertanyaan tentang
kemungkinan pengakuan rezim pemberontak di Sumatera
(Sumber: Howard Jones – Indonesia, Dream Kemungkinan P116

 

PERTENGAHAN

 tahun 1958

 Gedung Putih akhirnya harus mengakui kegagalannya “menegakkan demokrasi” dan “membendung komunisme” di Indonesia. KSAD Jenderal AH Nasution yang disebut AS sebagai antikomunis, bergerak di luar perkiraan.

 

Ia menerjunkan pasukan para merebut Bandara Pekanbaru. Dari pantai timur, didaratkan Marinir untuk menggunting pertahanan pemberontak. Alhasil, Dumai yang merupakan ladang minyak Caltex, berhasil diamankan.

 

Pasukan Kolonel Akhmad Husein kocar-kacir, meninggalkan segala peralatan perang, termasuk senjata antiserangan udara yang belum sempat digunakan.

Mereka tidak mengira serangan dadakan itu. Pesan rahasia dari Armada VII AS agar meledakkan Caltex tidak sempat lagi dipikirkan. Padahal inilah nantinya akan dijadikan kunci intervensi AS ke Indonesia. Dua batalyon Marinir AS sudah siaga penuh. Dalam tempo 12 jam, Marinir ini akan tiba di Dumai.

 

Sejak itu sesungguhnya tamatlah riwayat PRRI yang dimotori para kolonel pembangkang serta tokoh PSI dan Masyumi. Pentagon tercengang.

 

Pasukan PRRI makin terdesak, walaupun Sumitro Djojohadikusumo sebagai wakil PRRI di pengasingan tetap optimis. Kota demi kota berhasil direbut TNI hingga akhirnya para pemberontak hanya mampu melakukan perang gerilya terbatas. Bersamaan dengan itu dukungan rakyat kepada pasukan Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Akhmad Husein, Kolonel Dahlan Djambek, dan sejumlah perwira menengah lainnya, makin menciut. Bahkan terjangkit perpecahan intern.

 

CIA gagal membaca situasi. Atas rekomendasi CIA pula sedikitnya AS telah mengedrop persenjataan bagi 8.000 prajurit pemberontak. Ini belum mencakup meriam, mortir, senapan mesin berat, dan senjata antitank.

 

AS juga melatih sejumlah prajurit Dewan Banteng dan Dewan Gajah, yang diangkut dengan kapal selam menuju pangkalan militernya di Okinawa, Jepang. Keunggulan dalam sistem persenjataan dan pendidikan militer, ternyata bukan jaminan superioritas dalam setiap pertempuran.

 

Penguasa Gedung Putih mulai patah semangat. Tanda kekalahan kelompok yang dibantu, yang disebutnya “patriot” sejati itu, makin jelas. Tetapi, CIA dengan intelijen AL AS, tetap memasok informasi keliru.

 

Dalam laporannya, kekalahan pemberontak antikomunis akan mengguncang Malaya, Thailand, Kamboja, dan Laos. Ini sangat berbahaya. Atas pertimbangan itu, AS akhirnya tetap melanjutkan bantuan pada pemberontak, khususnya Permesta di Sulawesi Utara.

 

Belajar dari kekalahan PRRI di Sumatera, di Sulawesi Utara penerbang AS dan Taiwan memberi perlindungan payung udara bagi Permesta. Pesawat pembom malang-melintang memutus jalur transportasi laut. Ambon, Makassar, bahkan Balikpapan dihujani bom. Korban terus berjatuhan.

 

Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta. Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta.

 Puncaknya ketika ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir.

 

Tanpa sedikit pun merasa bersalah, AS kemudian dengan gampang putar haluan. Dari membantu peralatan perang dan pelatihan pemberontak, serta menyebarkan informasi bohong mengenai ancaman komunis terhadap stabilitas Asia Tenggara jika pemberontak kalah, Gedung Putih kemudian memutuskan membantu ekonomi dan militer Indonesia.

 

Namun, kebijakan baru ini bukan berarti terputusnya hubungan dengan pemberontak yang disebutnya masih punya “masa depan” itu. Melalui jaringan CIA, sejumlah senjata ringan masih dipasok bagi DI/TII di Sulawesi dan Aceh, serta Permesta di Sulut.

 

Presiden Eisenhower menyebutnya sebagai “bermain di dua pihak”.

KEBIJAKAN bermuka dua ini, tanpa peduli apa dan berapa banyak korban jiwa dan harta benda.

 

(penasukarno.web blog)

16 Maret 1958

Pada tanggal 16 Maret 1958  Masyarakat

 

 Kota Medan dikejutkan oleh suara tembakan-tembakan meriam yang bergema sejak jam 03.00   sampai jam 07.00 pagi.Paginya baru diketahui  kiranya tembakan mariam itu datang dari dua jurusan  dan menembaki landing 

 

Lapangan terbang Polonia  dengan maksud untuk dirusak supaya  pasukan-pasukan  Pusat tidak bisa mendarat.

Kemudian berturut-turut terdengar di

 

RRI Medan,suara Mayor Said Usman  yang mengatakan bahwa Komando TT-IV yang menamakan dirinya “Operasi Sabang Marauke” tindakan kekuatan Pemerintah Pusat  dan KSAD terhadap penyelesaiaan Peristiwa Sumatera tengah,Sulawesi Tengah dan Utara.

Jika Pemerintah Pusat tidak mau menyetujui  apa yang diminta Komando Operasi sabang Marauke , akan mengambil jalan tersendiri dan Komando dari Pasukan itu adalah Mayor M.F.Naingolan ,Wakil Kepala Staf TT-I yang terkenal dengan nama Boyke untuk mengerakkan Pasukannya guna menentang tindakan Pusat.

Boyke mengunakan Batalyon TT-I yang dipimpin Mayor Henry Siregar dan Pasukan Polisi  PM Mobrig dan Pelajar-pelajar yang dipersenjatai.

Malam itu mulanya Boyke dan Anak Buahnya ingin mendinamit Polonia dan Belawan tetapi ketika beberapa motor Berlapis Baja yang dibawa mereka masuk kelapngan Polonia ditembak Pasukan AURI hiangga dua diantaranya terpaksa diseret pulang.

Karena itu mereka menembak dari jauh dengan mariam Polonia ,.

(Terang Bulan 1958)

 

Foto IPPHOS

Demonstrasi Front Masional  Pembebasan Irian Barat Di Jakarta  ,16 maret 1958,mengutuk PRRRI

(Nugroho Notosutanto)

17 Maret 1958

Dalam waktu 5 (lima) hari seluruh daerah Riau Daratan sebelah Utara(daerah konsesi Caltex) dapat dikuasai dalam keadaan utuh tanpa korban dipihak kita.

Begitu pula Bagan Siapi-api diduduki oleh Komando Lambung, dan selanjutnya team-team taktis dibubarkan dalam rangka pelaksanaan operasi selanjutnya.

 Dapat dikatakan bahwa seluruh pelaksanaan operasi ini mencapai hasil sebagaimana yang dikehendaki oleh pimpinan Angkatan Darat.Kemudian posisi pasukan mulai ditetapkan dengan ketentuan bahwa Batalyon 528 ditugaskan untuk menduduki daerah yang telah kita kuasai, dan seluruh kesatuan Angkatan Laut sesampainya di Pekanbaru ditarik dari penugasannya dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS”.

 

Dengan adanya pemberontakan oleh Nainggolan Cs. di Medan, pasukan PGT dan kompi para RPKAD didrop ke Medan untuk memperkuat kedudukan pasukan kita, begitu pula Batalyon dari Ter-III dan Baterai Altilleri Lapangan Ringan yang telah berada di Tanjung Pinang diperbantukan pula ke Medan.

 Dengan demikian praktis kekuatan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” sangat berkurang sekali, sehingga rencana untuk melanjutkan operasi ke Sumatera Barat dibatalkan dan ditetapkan menduduki, menguasai serta melakukan pembersihan di seluruh daerah Riau Daratan.

(korem031)

Melihat perkembangan PRRI di Kota Medan,maka Batalion 322/Siliwangi  yang sebetulnya mendarat di kota Pangkal Pinang(RIAU Kepulauan),segera dengan

 

kapal Tampomas bergerak ke

 

 Belawan Deli tanggal 17 Maret 1958,

 

hari itu juga masuk kota  Medan,

(Djamin Ginting)

 

17 Maret 1958

Pagi ini  Boyke Naingolan mengancam Komandan AURI Polonia, sebelum Polonia sebelum jam 12.00 Siang harus diserahkan kepada mereka (Boyke Naingolan Komando Operasi sabang marauke), kalau tidak lapangan Polonia akan digempur Habis-habisan.

Nyatanya sehari itu Masyarakat jadi sangat gelisah, karena disana-sini kelihatan Setumpuk  Tentara berjaga dengan senjata lengkap dan ada beberapa jalan dinyatakan tertutup karena dipasang dinamit.

Hari Ini Boyke naingolan berkuasa penuh , beberapa kali Via radio dia menyatakan pendapatnya yang ditujukan kepada Panglima tertinggi Presiden Sukarno .

Kiranya sebelum peristiwa ini Kapten Sinta Pohan  dan kapten P.Hasibuan telah mencoba pula mengadakan coup dan mempersenjatai Pelajar-pelajar .Demikian pula di Kota Medan sendiri,ketika Naingolan berkuasa 24 jam banyak sekali pelajar mereka persenjatai

Pihak AURI meskipun diancam akan diserang tetap tidak mau menyerahkan Polonia.Mereka bertindak demikian karena telah mengetahui  bahwa jam 13.00 berikutnya akan tiba Pasukan RPKAD dan KKO di Medan.

Pagi ini Dua  Mustang AURI telah menembak Pemancar RRI Medan  yang terletak di Sei Sekambing,penembakan karena mereka menyangka Naingolan masih berkuasa.

Karena Kedatangan Pasukan Pemerintah ini diketahui oleh Boyke Naingolan hingga maksudnya untuk merusak Belawan jadi terhenti dan mereka sebelumnya melarikan diri dengan membawa seluruh alat-alat TT 4  kebetulan Panglima TT I Let.Kol. Djamin Gintings sedang pergi kegunung untuk beristirahat. Sebelum mereka melarikan diri dari Kota Medan ,mereka memasuki Bank Indonesia dan mengambil uang sejumlah Rp 120 Juta.

 

Menurut catatan Naingolan membawa  pasukan Artileri ,Kavaleri dan Kendaraan  lainnya serta Senjata-senjata Berat.Dalam perlarian itu Naingolan  berpencar dan Naingolan menuju arah Tapanuli , sedangkan Mayor Said Usman menuju Aceh.

Dan benar saja sore ini Kota Medan kembali dikuasai Pasukan Pemerintah yaitu RPKAD dan KKO yang turun via udara di Belawan.Kemudian diperkuat dengan Pasukan dalam Kota Medan yang tidak mau turut dalam Gerakan Naingolan.

Malam ini KSAD  via Radio Jakarta menyatakan bahwa Perwira-Perwira yang terlibat peristiwa ini dipecat.Mereka ialah Mayor Said Usman,Overste  Dr Nazaruddin, Kapten Liano Siregar, Kapten PM Hasannuddin, Kapten Pendeta R.L.Sihombing dan Kapten Sinta Pohan.

(Terang Bulan 1958)

18 Maret 1958

Pasukan Pemerintah kemudian mengadakan pengejaran jurusan Prapat dan Pangklaan Brandan.

(terang Bulan 1958)

Foto Mobil Berlapis Baja yang dikerahkan untuk menduduki Prapat

(terang Bulan 1958)

Foto  mereka inilah yang tidak insyaf untuk apa berjuang.Pemuda-pemuda yang mendaftarkan diri untuk menjadi Pasukan Sukarela  di Medan tanggal 18 maret 1958 kebanyakan diantara mereka tewas karena tidak paham tentang Perang

(terang Bulan 1958)

17 Maret 1958

Melihat perkembangan di medan , battalion 322/Siliwangi yang  sudah mendarat di  kota pelabuhan Pangkal Pinang  segera diembarkasikan  lagi ke kapal “Tampomas”  dan mendarat di belawan deli  tanggal 17 Maret 1958,hari itu juga memasuki  kotaMedan ,

 (Umar Wirahadikusuma)

 

18 Maret  1958

setelah dipukul mundur dalam petempuran diSamarimbun pada tanggal 18 Maret 1958 oleh pasukan RPKAD dan TT 2/ Bukitbarisan.

(Djamin Ginting)

 

 

18 Maret 1958

Bataliom 322/Siliwangi menuju  kota  Pematang Siantar  dan harus banyak menyingkirkan rintanagn di jalan yang dibuat oleh  PRRI.

(Umar Wirahadikusuma)

 

 

Surat dikirim dari  Padang ke Padang Panjang ,prangko sudah disobek

 

dengan stempel pos militer  18.4.58

 

Isinya surat undangan perkawinan

 

19 Maret 1958

Pasukan Batalion 322/Siliwangi  bergerak ke Pematang siantar dan tiba dikota tersebut pada tanggal 19 Maret 1958 pagi dengan menyingkirkan banyak rintangan-rintangandi Jalan yang dibuat TNI Bukit Braisan yang semula dibuat untuk menghabat jalan mundur PRRI kearah Medan.

Hari ini juga jam 13.00 Kompi A dan B dibantu  1 panser  digerakan untuk mengejar pasukan PRRI yang mundur kearah Prapat

(Djamin Ginting)

19 Maret 1958

Pagi hari ini Batalion 322/siliwangi memasuki kota Pematang siantar

(Umar Wirahadikusuma)

Beberapa hari setelah banteng raiders memasuki

 

 kota Talukuantan ,hubungan telpon  dengan Pakanbaru dapat dibuka kembali. Baik untuk militr ataupun untu interlokal umum.

Selama pasukan mengadakan   konsolidasi beberapa hari,saya mencoba mendengar hubungan raio PHB KDMST Banteng yang meliputi 7 radio-station subsector. Semua pemberitaan yang dikirim oleh/diantara mereka saya ambil(opname)dengan jelas.

 Tentu saja kekuatan suara penerimaaan sangat jelas, karena kedudukan dan tempat saya sudah dekat  sekali dengan stasion musuh.Radio gram PRRI mengenai dislokasi pasukannnya sangat menguntungkan bagi siasat pengempuran  Komando Operasi gabungan Tegas khusunya kesatuan banteng Raiders.

Secara kebetulan yang kami gunakan untuk hubungan dengan PHB Komando Operasi Tegas sangat dekat dengan  frekuensi PRRI yang saya sebutkan diatas.Pernah satu kali station PRRI SHX-1 masuk dalam net frekuensi saya dan memangil-mangil. Untunglah berpendapat bahwa pangilan tersebut  harus saya diamkan saja, kalau tidak dijawab tentu mereka akan beranggapan bahwa suara radio stationnya tidak didengar oleh Tentara Pusat.

Dengan demikian banyak sekali radiogram dikirim plain karena merasa aman dari censuur musuh.Akhirnya kami yang untung dapat teryus langsung mendapatkan berita-berita itu.

Contoh sebuah berita yang kami tangkap, sangat berguna bagi pimpinan Angkatan Darat sebagai beriktu:

Dari : kmd kdmst banteng o414 1900

Untuk :kmd sector 1 s/d 7 kdmst

Tembusan: l.kol Moh Dahlan Djambek

2.Overste Sjuib

Sumber dari Jakarta utk I operasi 17 Agustus hari h 15 April rencana penyerangan 3 etape utk 1 pendaratan dari laut dan udara tt 2.menduduki tabing kma padang koma telukbayurkmsolokkmapajakumbuhttk3.konsolidasitth II timetable ttk 1 dari jamD-60 menit sampai D-30 menit penembakan dari laut dan udarattkdari jam D-30 menit smapai d+menit auri akan menembaki daerah ujungkarang dan air tawar ttkdari jam D-5 menit samapai jam 30 menit penembakan atas tabing dan sekitarnya ttk

Jam D pendaratan 1 bn kko didaerah airtawar dan paratroop di tabing dan sekitarnya ttk jam D tambah 30 menit sampai jam D tambah 210 menit  pemboman objek-objek militer  termasuk jembatan-jembatan ttk jam D tambah 30 menit kapal-kapal mendekati pantai ttk jam D tambah 35 menit waktu untuk 1 bn Infanteri dan komando rtp 2 mendarat ttk jam D tambah X menit pendaratan dari keseluruhan rtp-rtp time table 2 rtp I akan menduduki solok dan pajakumbuh kurungbuka kemungkinan rtp 1 ini adalah pasukan yang dipimpin oleh kaharudin nasution yang bergerak dari timur kuruntutup ttk rtp 2 menduduki jembatan muarapenjalinan dan mengambil over dari rpkad tabing dengan 1 bn cadangan ttp rtp 3 mnduduki padang dan telukbayur ttk konosildasi sesudah itu tt IV keteragan-kterangan sesudah itu kko mendarat akan diberi tanda dengan 2 sein hijau ttk jika mendapat perlawanan yang sengit akan diberi seinmerah ttk batas dari komadua  pancangan kaki komadua kurungbuka bechea kurungtutup akan diberi tanda panels kuning/oranye ttk headquarters dri komando bersama rtp3 berada dikapal tampomas ttk auri akan mempergunakan pbr dan rgt sebagai landasan untuk untuk pemberian penembakan dan drop ttk habis(X)0414 1900 =

Hasil censuur tersebut diatas segera kami serahkan kepada Komandan operasi Tegas lewat Kmd Banteng raiders entah berguna atau tidak nyatanya penyerangan dan pendudukan kota Padng dilakukan oleh Komado Operasi 17 agustus termasuk Bn Perhubungannya pada 17 April 1958.

Kecualai radiogram penting seperti ditas, kami juga dapat mengikuti hubungan radio anatara KDMST BANTENG dengan perwakilannya di TT-II dengan samara Kancil. Contoh tidak perlu saya kemukakan disini.

Waktu Banteng Raiders sampai

 

Di Kiliranjao.

sebuah persimpangan jalan anatar Jambi-Padang, saya berhasil  mengunakan saluran telepon yang masih terdapat baik akan tetapi lucunya,segala pembicaraan yang kita lakukan terpaksa campur aduk dengan pembicaraan  PRRI karena saluran tersebut merupakan “driesprong”

 

Lubukjambi

-Kiliranjao-Sungaidareh –Kiliranjao dan Tandjunggadang-Kiliranjao.

Sedangkan

 

Sungaidareh

 

dan Tandjunggadang masih diduduki PRRI.

Kode yang paling ampuh kita gunakan adalah bahasa Jawa halus sedangkan pRRRI mengunakan bahasa Minang yang mudah kita ketahui artinya.

Jadi aneh kecuali perang radio  terjadi juga perang telpon, saatu kejadian lucu pada waktu Banteng raiders samapai di Sijunjung segera kami perbaiki semua hubungan telepon kesegala jurusan semampu-mampunya.

Ternyata kita kita dapat bicara dengan sawahlunto yang pada waktu itu masih diduduki PRRI .

 Secara kebetulan saya dapat berbicara dengan Seorang tetara yang berasal dari Jawa dengan nama samaran smj Wongso, dengan perantaraan telpon kami menganjurkan agar mereka (PRRI) menyerah saja tentu akan selamat dan terjamin pensiunnya.

Benar setelah kita masuk kota sawahlunto yang mengaku sebagai smj Wongso itu tidak lain dari  smj/PHB Z.Subaidi yang menjabat sebagai Kmd Peleton PHB Bn 141 trermasuk CPHB Detasmen 1o dia bernama sran PHB Moch Sanusi sekarang kami serah menyelengarakan hubungan telepon PTTT Sawahlunto selama para pegawai PTT belum diisi dari Bandung.

Nyata sekali bahwa PHB KDMST BANTENG mempunyai alat dan tenaga yang cukup sempurna untuk menghadapi datangnya APRI waktu itu.Karena semua pegawai PTTT baik radio telegrafist meupun teknikersnya dibawah oleh PRRRI .

Perang radio  dan perang telepon masih terbatas pad prosedur PHB jadi belum menjengkelkan . Akhir-akhir ini pada waktu banteng riders betugas menghancurkan pertahanan apa yang diseurt :Harimau Kuranji” telah bertemu dengan PRRI dalam P 22 ,perang P 22 inilah yang betul-betul memerlukan kecerdasan system komunikasi  dan kecepatan bertindak  dalam mengkoordinir jaring hubungan yang sedang berjalan.

Pesawt P 22 adalah satu-satunya alat yang banyak menolong gerakan pasukan Infantri APRI,akan tetapi kalau sudah terbentur pada persoalan diganggu  obatnya hanya keuletan dan sabar. Klaau dikutib perkatam-perkatan musuh PRRRI pada waktu menyerobot hubungan kita sangat tidak pantas diucapkan untuk adat kesopanan bangsa kita.

Bagaimana cara mengatasinya kalau kita jawab akhirnya tetu hanya caci maki yang megakibatkan terlanatrnya hubungan, Kalau kita memindahkan channel(frekuensi) mereka bisa mengejar dengan mudah, karena memutar seluruh channel P 22 itu lebih dari 15 detik.

Sungguh suatu kejadian perlu mendapat perhatian para pencipta teknis pesawart P 22. Wlaupun kita diganggu,kita harus diam saja.Perlunya agar mereka mengira bahwa suaranya tidak bisa kita tangkap (ingat jarak capai dari pesawat P 22).Disamping itu ada satu hal lagi yang dapat merhasiakan pembicaraan kita melalui P 22 yaitu mengunakan bahsa jawa halus. Cara ini setelah dilakukan ternyata musuh menjadi marah dan jengkel, karena tidak mengethui pembicaraan kita buktinya mereka pernah masuk dalam channel kita dengan memgatakan Kalau berani  tentara  Sukarno sipaya mengunakan bahasa Indonesia,tetapi kita diam saja.

Sayang,hingga sekarang dari sejumlah senjata yang selalu dapat kita rampas dsari PRRI baru beberapa buah P 22 dapat kita trampas.

(majalah PHB 1958)

23 Maret 1958

Minggu dikejutkan sirene hamya krelihatan kapal terbang membuangkan pamphlet.

(catatan tertulis  Soewil St Bandaro pegawai kantor pos Padang,koleksi Dr iwan)

26 Maret 1958

 

 

Surat tercatat dikirim dari Sekayu(Sumatera selatan)stempel pos diata strip tiga  prangko sukarno Rp 1,- Sekaju 26.3.58 dan cerik tercatat sekaju dikirim ke Jakarta diterima dengan stempel kantor 13 April 1958.

 

 

Koleksi postal history yang langka dan merupa bukti sejarah bahwa ada situasi pergolakan di sumatera selatan  dan perhubungan dibuka kembali karena sumatera selatan tidak ikut pemberonatkan terhadap PUSAT karena surat baru sampai setelah 18 hari.

(Koleksi Dr Iwan)

27 Maret 1958

 

Foto IPPHOS

Senjata PRRI yang dapat dirampas dipamerkan di Jakarta 27 Maret 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

28 Maret 1958

 

Surat Keliling PTT no 10 Tentang Pemberian Tunjangan istimewa Kepada Para pegawai yang melakukan tugasnya diaerah tidak aman berhubung bahaya pembunuhan/penculikan dari fhak gerombolan pengatjau bersenjata. Lapiarn 1(satu) Penetapan Direktur Djenderasl Pos,Telegraph dan telephon tanggal 28 Maret 1959 no.16137/adm 2.Lampiran Surat keliling PTT no 10 tahun 1959, Daftar pembajaran tunjangan Istimewa berhubung bahaja pembunuhan/pentjulikan kepada pegawai PTT didaerah/tempat tidak aman.

(Dr Iwan)

31 Maret 1958

 

Foto DEPPEN

Patroli APRI di Rantau Berangin                                                                                                                 dalam rangka menumpas PRRI  pada tanggal 31 maret 1958                                                                                                                                           (Nugroho Notosutanto)

Saya pernah naik mobil truk dari Padang ke Medan tahun 1962 bersama Ang toen ZHin dan putrinya Ang Ham Lie  yang masih kecil(alm), berangkat dari padang jam 8 pagi sampai dirantau Berangin jam 22.00 karena jalan rusak dan truk sering macet.(Dr Iwan)

 

Rantau Berangin  Pasaman  SUMBAR saat ini

Maret 1958

Waktu Komando 17 Agustus belum menduduki kota Padang,  malah dapat dikatakan jauh sebelum itu, Banteng Raider hanya bergerak bersama dengan RPKAD dan Bn 528 Divisi Brawijaya. Route yang harus dialaui BantenrG raiders tercatat 

Pakanbaru- Taratakbuluh-Lipat Kain-Talukkuantan-Lubukjambi-Kiliranjao-Sungaidareh-Tanjunggadang-Sijunjung-Sawahlunto-Padang-Bukittinggi-Pajakumbuh-Suliki dan seterusnya menurut kebutuhan taktis.

 

(majallah PHB no 8/1958)

2 April 1958

Pertahanan pasukan PRRI sangat ideal. Mereka memasang banyak kubu senapan mesin di tepi sungai yang lebarnya hampir 100 meter dan berarus deras.  Di belakang mereka , hutan rimba kawasan Bukit Barisan membentang luas. Ideal sekali untuk medan gerilya. Tak lupa, PRRI juga menghancurkan semua akses penyeberangan. Tentu ini kesulitan besar bagi pasukan TNI.

 

Kompi B RPKAD tak gentar. Pertempuran di  Batang Kuantan berjalan sengit. Angkatan Udara mengirimkan pesawat B-25 untuk memberikan bantuan tembakan udara. Tetapi pilot pesawat terkena tembakan gencar sehingga harus kembali ke pangkalan Tanjung Pinang.

Tembakan bertubi-tubi membuat pasukan pemberontak bisa dipukul. Mereka mencoba meloloskan diri dari pasukan TNI. Kompi B mencoba menghadang mereka yang mundur.


Namun, nahas saat itulah Kapten Fadillah tertembak. Dia dan seorang prajurit RPKAD lainnya tewas tertembak muntahan peluru senapan mesin tanggal 2 April 1958.

Sejumlah sumber menyebut, Kapten Fadillah masih mencoba mengobarkan semangat tempur anak buahnya sebelum tewas. “Selamat berjuang,” pesannya.

Kematian Fadillah membuat semangat tempur pasukannya menyala. Mereka menggempur pertahanan PRRI habis-habisan. Seluruh pertahanan di Batang Kuantan bersih disapu RPKAD dan pasukan lain. Hal ini sekaligus mematahkan perlawanan RI di seluruh Riau

(Merdeka Com)

3 April 1958

Penulis melihat sendiri di pingir pantai Kota Padang sebuah kapal selam yang mendrop kedarat   beberapa container yang berisi  senjata modern hadiah dari luar Negeri (menurut info dari Amerika Serikat?) seperti Thompson, juga ada Basoka dan juggle riffle serta Mitralyur dsbnya yang penulis tidak kenal namanya

 (Dr iwan)

Berdasarkan pengalaman  dan hasil Operasi TEGAS di TIAU, maka ke Sumatera Barat disusun  satuan dari

a.RTP I (TEGAS)

Komandan Let.Kol.Kaharuddin Nasution

Kekuatan dari  Kompi B /RPKAD, Batalyon 432/Banteng Raiders,Batalyon 528  , Staf dan jawatan ,Dinas dan senjata bantuan.

 

b. RTP II (Brawijaya)

Komandan Let.Kol. Sabirin Muchtar

Kekuatan : Batalyon 509, Batalyon 510, Staf,Jawatan,Dinas dan Senjata bantuan.

c.RTP III.(Diponegoro)

Komandan Let.KOL. Suwito Haryoko

Kekuatan : Batalyon 438,Batalyon 410, Kompi A RPKAD, Staf,Jawatan, Dians dan Senjata Bantuan.

d. ATP 17 (Angkatan Laut )

Kesatua bantuan dengan 3 buah Kapal Perang, Kesatuan Amphibi yang terdiri dari 1 Batalyon KKO, dan Kesatuan Angkatan yang terdiri dari 18 Kapal Pengangkut.

e. Angkatan Udara

25 buah Pesawat Dakota sebagai pesawat pengangkut, 6 buah Mustang (Pesawat Pengempur), 6 Buah B-26 (Pesawat Pengebom) dan 1 Batalyon PGT(Pasukan Gerak Cepat).

(Ahmad Yani)

4 April 1958

Kapal Perang APRI yang terdiri dari beberapa kapal perang dan juga kapal-kapal barang yang kecil  show of force di lautan Hindia didepan Pantai Kota padang, penulis melihat ratusan kapal besar kecil tersebut dan malam hari mereka menembakan kembang api ,mungkin untuk melihat sasaran yang akan di tembak dengan mortir.

Warga kota Padang membuat lubang perlindungan dengan mengali lubang ditanah, tetapi kami dirumah membuat ruang perlindungan dengan tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur

(Dr Iwan)

11 April 1958

Dengan tidka mengusik daerah Tapanuli dengan harapan RI 3 sendiri akan bertindak dan menyelesaikan persoalan pasukan PRRI yang memasuki daerah Tapanuli. Akan tetapi nampaknya karena factor kekuatan yang tidak berimbang, Mayor Sahala Hutabarat tidka mampu untuk berbuat itu.,

 sehingga pasukan PRRI dengan leluasa mempergunakan daerah Tapanuli sewbagai pangkalan penyerangan  dan “terugval” mereka.

Dan karena keadaan yang memaksa itu maka KSAD akhirnya memerintahkan memasuki daerah itu untuk menguasai keadaan.

Hari H adalah tanggal 11 April 1958 jam 00.00 .Gerakan penyerangan terhadap PRRI yang bertahan di tapanuli dilancarkan dari tiga tempat yakni bergerak dari Sidikalang diutara danau toba, Prapat di ztimur danau toba dan Rantau Prapat.

Pasukan yang bergerak dari Sidikalang adalah Mayor Palawi yang didampingi  oleh Panglijma TT I?Bukit Barisa, dengan tugas merebut garis Sidikalang,Dolok sangul – siborong-borong

(Umar Wirahadikusuma)

Info terkait

Hari H adalah tanggal 11 April 1958 jam 0.00,gerakan penyerangan terhadap PRRI yang bertahan di Tapanuli dan dilancarkan pada 3 tempat yakni dari Sidikalang diutara danau toba,Prapat ditimur Danau Toba dan Rantau Prapat.

Pasaukan yang bergerak dari Sidikalang adalah pasukan Mayor Palawi yang didampingi Panglima TT I?

Bukit Barisan (Let.Kol Djamin ginting) dengan tugas merebut Sidikalang,Dolok sanggul dan siborong-borong.

Pasukan Yang bergerak dari Rantau Prapat adalah pasukan Mayor Raja Sjahman yang didampingi oleh Brigadir Jendral TNI Djatikusumo dengan tugas merebut Rantau Prapat,Kotapinang,Gunung Tua,Lingga Payung,Padang sidempuan dan sibolga.

Pasukan yang bergerak dari Prapat adalah Batalion 122/siliwangi dibawah pimpinan Mayor Sjafei,dengan tugas merebut Prapat,Porsea,Balige dan Siborong-Borong.

(Djamin Ginting)

Pada Tanggal 11 April 1958, Batalio9n 322/Siliwangi bersama batalion lain diperintahkan oleh panglima  TT 1/Bukit Barisan Letnan Kolonel Djamin Ginting untuk memasuki daerah tapanuli tempat bersarang gerakan separatis PRRI.

Pada jam 9.00 pasukan tersebut mulai bergerak menuju sasarannya maisng-masing,Kompi  B 322/Siliwangi berhasil menduduki Labuhandjulu bebrapa  ssat kemudian tanpa mendapat perlawanan  sedikitpun,

 Jam 10.00 gerakan  dibatu panser menuju Lumbanjangga,saat ini mendapat perlawanan  dari tentara PRRI sehuingga tidak dapat maju.

Panser juga tidak dapat maju karena ditikungan jalan pasukan PRRI  dengan basoka telah bersiap-siap untuk memusnahkannya.

Peleton masuk dalam jarring tembakan tentara PRRI dari atas bukit-bukit kan dan kiri jalan raya tanpa suatu eprlindungan karena merupakan suatu lapangan terbuka.

Mundur berarti kemusnahan peleton,kemudian koimAndan peleton mengambil keputusan untuk maju 200 meter kedepan dimana terdapt tanggul-tanggul tempat berlindung,merayap maju 200 meter saja diperlukan waktu 2 jam lamnya dan dibawah tembakan yang gencar dari tentara PRRI ,namun alhirnya selureuh peleton dapt diselamatkan.

Tembakan mariam serta tembakan dari udara yang dilakukan oleh Bomber B-25 dan 3 pesawat Harvar pada jam 16.30 ternyata tidak berhasil memaksa Tentara PRRI untuk meninggalkan Pertahannya.

(Djamin ginting)

Pasukan yang bergerak dari Rantau Prapat adalah  pasukan Mayor Raja Sjahman yang didmpingi oleh Brigjen  TNI Djatikusumo dengan tugas merebut garis Rantau Prapat- Kotapinang-Gunung tua-Lingga Payung-Padang Sidempuan- Sibolga.

Pasukan yang bergerak dari Prapat adalah Batalion 322/Siliwangi dibawah pimpinan Mayor Sjafei dengan tugas merebut garis Prapat-Porsea- balige- Siborong-borong.

(Umar Wirahadikusuma)

 

 

12 April 1958

 

Dalam briefing Persiapan Pendaratan APRI di Padang , Ahmad Yani didepan stafnya  mengulangi ucapan  yang pernah dikatakannya ketika ditanya Presiden sebelumnya.

 

 Didalam briefing itu  Ahmad yani berkata :

 

” Kita hanya mempunyai dua kemungkinan mendarat dikota padang atau tengelam didasar laut. Pilihan kita mendarat di Padang dan Menang.”

 

 Ibu Ahmad Yani membayangkan betapa perasaan Pak Yani sampainya pada detik-detik menjelang perdaratan itu dilakukian.

 

Selain itu juga didengar kabar bahwa Pantai Padang dan disekitar  lapangan terbang Tabing ditempatkan sejata penangkis  untuk menghadang pendaratan, demikian pula di gunung Padang yang mempunyai pandanagn bebas kelaut ditempatkan mariam yang sangat membahayakan pihat pendarat.

(Ahmad Yani)

 

12 April 1958

Keesokan harinya tanggal 12 April 1958 jam 05.00 (AM)  Kompi TNI A melambung kekanan,mengadakan serangan pada sayp kiri tentara PRRI dan berhasil merebut bagian lapangan jalan raya

pada jam 09.00 pihak PRRI mulai mundur dan jam 10.30 seluruh pertahanan PRRI di Lumbanjangga berhasil direbut TNI.

Masih pada hari ini jam 13.00 dilakukan pengekaran terhadap pasukan PRRI dan tiga jam kemudian Porsea berhasil diduduki TNI tanpa mengalami suatu perlawanan.

(Djamin Ginting)

 

 

 

 

 

14 April 1958

Kapal Perang APRI Membombardir Kota Padang 14 April  1958

Kapal Perang APRI dalam Operasi Militer 17 Agustus ,membombardir kota Padang dengan Montir dari Kapal Perang APRI

sudah hampir sepuluh hari Kapal Perang APRI show of force di lautan Hindia didepan Pantai Kota padang, penulis melihat ratusan kapal besar kecil tersebut dan malam hari mereka menembakan kembang api ,mungkin untuk melihat sasaran yang akan di tembak dengan mortir.

(Dr Iwan)

Kolonel Ahamd Yani secara resmi ditetapkan sebagai Komandan Operasi 17 Agustus dengan Suarat Perintah No SP 523/4/1958 tanggal 14-4-1958

Kol Ahmad Yani berangkat ,dengan Konvoi ke Sumatera barat, Konvoi ini merupakan gelombang kedua karena gelombang pertama sudah berangkat sehari sebelumnya.

(Ahmad Yani)

 

KTP masa PRRI

 

 

KTP Era PRRI  bagian dalam

 

Foto KTP era PRRI

Kartu no 422

Nama Goei Tjoan Goan

Warga Kepolisian Negara

Jl Baru Kampung Sebelah no 26

Nama isteri Njo Pek Lian

Diterbitkan

Padang ¼-1958

  • oleh 

Daerah Pemerintah Kotapraja Padang

 kepala bagian Pendaftaran Penduduk

 M.St,Mansjur

 

 Stempel kepala kampong pondok denga lambing garuda tetapi Republik Indonesia dihapus(belum diganti dengan PRRI)

 

 Cetatan Dr Iwan

Yang bersangkutan saya kenal , karena gendut dianmakan si Buncik, beliau setelah pendaratan APRI ikut mengungsi ke pedalaman dan setelah itu tidak pernah ditemukan laigi informainya, KTP ini ditemukan bersama arsip yang bersangkuta lainnya termasuk SK pengangkatannya jadi anggotaKepolisian Negara RI di tempat sampah kertas bekas dari arsip-arsip brimob Sumbar   yang dibuang dan digunakan untuk membersihkan tangan di bengkel POLDA Sumbar d jalan sawahan dekat stasiun kereta api waktu saya menservis ganti oli kendaraan dinas jsaya jeep willys 1957 disana.sebagian arsipnya sudah saya serahkan kepada putrinya Lien yang menikah dengan putra saudara nenek mantu saya grace iteri putra saya anton.

(Dr Iwan)

 

 

Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang

Dari laut dan dari udara
Kota Padang sasaran pertama
Dijatuhkan bom membabi buta
Banyak korban mati dan luka

Karena kota kini tak aman
Badan diri wajib diselamatkan
Gaji terhenti tak bisa makan
Lalu berunding sesama teman

Nagari web blo

14 April 1958

 

Pada tanggal 14 April  1958 , sekitar  jam dua  dini hari anggota militer kantor Dewan Banteng di depan rumah penulis di jalan Bundo Kandung no 16 (saat itu Jalan Gereja) mengedor pintu membangunkan almarhum ayah untuk mengajak mengungsi ke Ladang padi dan Sukaramai Solok yang dijadikan Markas baru,mereka mengatakan tentara Pusat maksudnya APRI akan menyerang dan menembak kota padang dengan Mortir. , tetapi ayah tidak mau ikut dan tetap bertahan dirumah.

Tentara Dewan Banteng membeli alat-alat tulis di took percetakan Suamtera Bode dimana ayah saya sebagai direkturnya dan berjanji akan membaya besok di Sukaramai  Solok  .

(Dr Iwan)

Ketika Kota Padang terancam Jatuh ke tangan Pemerintah RI, kedudukan pemerintah PRRI dipindahkan  ke Padang Panjang.

Pemeindahan ini bersifat sementara  karena sebenarnya  sudah disepakati mencadangkan  Badaralam  di Hulu Sungai Batanghari sebagai tempat kedudukan  bila keadaan  mengharuskan. Badaralam diperhitungkan sangat tepat  dan cukup aman seperti yang pernah dialami Sjafruddin Prawiranegara  sewaktu  PDRI  tahun 1948-1949.

(Mauludin Simbolon)

14 April 1958

Buku Ahmad Yani Sebuah Kenang-kenangan “tulisan Ibu Ahmad Yani  dengan sekelumit kisah”

 

 

 profile Ahmad Yani.

 

Almarmuh Ahmad Yani menempa dan memantapkan Korps Banteng Raiders yang kemudian tahun 1958 dipimpinnya dalam operasi militer untuk memulihkan keamanan Sumatera Barat yang menjadi terganggu karena adanya PRRI.

Baru kira-kira setengah tahun Ahmad Yani menjabat jabatan  Deputi – I KASAD    Pemerintah mempercayakan kepadanya untuk melaksanakan tugas ke Sumatera Tengah.  Seperti dikatahui bahwa  apa yang terjadi   di wilayah tersebut cukup mencemaskan, suatu pergolakan sedang terjadi.Mereka menuntut dibubarkan Kabinet Djuanda, dan menyerahkan mandatnya  selakas mungkin,yang merupakan Tuntutan dengan nada mengancam.

Sebelum berangkat Operasi Ahmad yani mendapat perintah dan petunjuk dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Juga dari Presiden Sukarno.

Sekembali dari luar negeri Ahmad Yani dipanggil oleh Presiden Sukarno, sat itu seorang staf Keduataan USA di Jakarta Tuan benson sedang bertamu dirumah Ahmad Yani, dan sebagai sifat orang timur Ahmad Yani bersifat ramah dengan tamunya . Tuan Benson itu memang sudah sejak beberapa waktu datang ke rumah Ahmad yani untuk mendapat informasi yang mereka butuhkan dari Ahmad Yani dan kalau tidak dari isterinya.

Ibu Ahmad yani benci karena yang dipikirkan mereka adalah kepentingannya sendiri saja.

Apa kata orang tentang keluarga Ahmad Yani ? Akrab dengan orang Asing.Bayangkan pada waktu itu seorang Amerika dalam bukunya menulis secara tersirat seolah-olah Tuan Benson itu membantu Ahmad Yani  menyusun rencana Operasi 17 Agustus, padahal Amerika waktu itu menyokong PRRI dan PERMESTA dengan isntruktur, senjata dan Peralatan Militer.

Aneh sekali,sebab dalam buku itu  pada buku itu juga tersirat bahwa Amerika pada waktu ikut mendorong-dorong lahirnya PRRI dan PERMESTA dengan tujuan untuk membendung Komunis yang semakin kuat saja di Di Indonesia.

Padahal akibatnya malah member kesempatan kepada PKI menjadi semakin kuat posisinya dikemudian hari.Berangkat ke Sumatera barat Ahmad Yani tenang saja seperti berangkat ke kantornya saja.

Pak Yani berangkat operasi tanggal 14 April 1958 dengan motto  “Bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama : berkubur didasar lautan dan kedua ialah mendarat dikota Padang”.”

Kapal-kapal yang ada dikerahkan untuk mengangkut Pasukan, bahkan Tongkang-Tongkang 

(Ahmad Yani),

 

 

Foto DEPPEN

Iring-iringan kapal Tampomas .Timor,Lokan.Lacin,Lagong dan Menghua di Samudra Indonesia dalam rangka operasi 17 Agustus pada tanggal 14 April 1958     (Nugroho Notosutanto)

 

Kapal tampomas I

 

14 April 1958

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerang Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra.

(http://kolektorsejarah.wordpress.com/tag/prri/)

 

 Kota Padang relative tidak hancur, kecuali kantor Zeni  Di pinggir laut, Rumah Penduduk di Nipah dengan korban 2 orang saja, dan tidak ada pertempuran sama sekali, tentara PRRI sudah melarikan diri beberapa hari sebelum pendaratan APRI, (Dr Iwan)

Map (Peta Operasi militer PRRI dan Parmesta)

 

 

 

Menurut informasi dari teman saya  seorang mayor Angkatan Darat Pak Suko , ia sudah  mendarat dengan parasut DILOKASI SEKITAR Tabing  mendahului kedatangan Pak Yani (Dr Iwan)

15 April 1958

 Pagi harinya tanggal  ayah Dr Iwan berangkat ke Sukaramai dengan Paman untuk menjemput Uang untuk membayar alat-alat tulis milik Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya yang dibeli  oleh Tentara Dewan Banteng.

Saat ayah DR Iwan  berangkat menuju Sukaramai, jam delapan pagi tanggal 15 April 1958, terdengar tembakan Mortir yang bunyinya BOOM BOOM ….Sing..Sing…. ,bila bunyi mendesing berarti peluiru mortir sudah liwat dan selamat.

Kemudian siang hari suasana tenang, mulailah kami ,saya dan kakak naik spepeda melihat rumah yang jadi korban, kantor Tentara Bagian Zeni di pinggir pantai Padang hancur,

Rumah di Simpang Enam hancur dan  satu orang ibu dan anak meninggal  ,ini tembakan salah arah sebenarnya untuk Kantor Komdak (saat ini POLDA) PRRI di jalan Nipah ,satu lagi peluru mortir jatuh di belakang bioskop Karya tapi tidak meledak ,salah arah sebenarnya ditujukan kekantor Dewan Banteng didepan rumah ,syukur rumah kami selamat.

Sore harinya syukur ayah selamat pulang kerumah dan berhasil memperoleh pembayaran atas alat tulis miliknya, saya salut pada tentara Dewan Banteng atas kejujuran mereka karena biasa saat genting seperti itu umumnya main ambil semaunya dengan gratis.

Ayah membawa makanan lezat dari Sukaramai namanya Dendeng Batokok(diketok), masih saya ingat saat makan malam dengan teman kakak ,tembakan mortir kembali mulai lagi, pembantu rumah tangga Kami namanya EKA ,saat bunyi BOOM BOOM segera sembunyikan kepalanya dibawah tungku Masak dari beton tetapi bokongnya  masih kelihatan.

Segera para wanita Ibu ,kakak dan adik sembunyi diruang perlindungan yang sudah dipersiapkan satu minggu yang lalu dibuat dalam tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur, tetapi karena serangan bom mortir tambah gencar,serta lubang perlindingan sangat pengap, Para wanita dari keluarga kami malam tersebut saya dan akak lelaki mengantarkan mereka berlindung dirumah Paman di kompleks  kampung Pondok Namanya (sekarang jalan Niaga), hal ini diprtuskan ayah berdasarkan pengalaman saat serangan pendudukan jepang tahnun 1942 yang lalu,

Warga  di kampung Pondok juga telah mempersiapkan diri dengan perlindungan Polisi Rakyat seperti penjaga kota masa hindia Belanda Stadt Wacht,antara lain seorang teman bernama  Johnson dating kerumah dengan seragamnya  (Dr Iwan).

15 April 1958

Gerakan untuk menduduki Balige ditunda sampai tanggal 15 April 1958,karena pasukan Butkit-16 dapat dipukul mundur oleh Tnetara PRRI di PintuPohan dan baru dapat ditembus ke Porsea pada hari ini.

Dalam gerakan ke Balige hanya dilami satu kali perlawanan di Laguboti pada waktu pasukan PRRI pada tanggal 15 April 1958 jam 02.00 sampai jam 04.00 pagi  berushaa untuk melakukan serangan balasan .

Sewaktu di Balige,telah tiba Kompi Bantuan Resimen 10 Siliwangi dan Battery”Dharma” dari Pusat Pendidikan Artilleri Cimahi ,yang telah berangkat bersama dengan Bataluion 322/Siliwangi dari Tanjung Priok,Battery Dharma ini beklum pernah mengikuti operasi diluar daerah Teritorium III Jawa barat.

Gerakan ke Siborong-Borong tertahan disebabkan jembatan anatara Balige_SiborongBorong dihancurkan tentara PRRI,setelaj jembatan Bailey  di Gurbur selesai dipasang oleh pasikan Zeni,barulah Batalion  322/Sikliwangi dapat melanjutkan gerakannya.Pasukan bukitBarisan ternyata pada tanggal 24 April 1958 sudah dapat menddudki  terlebih dahulu kota SiborongBorng sewaktu kompi A/322 siliwangi masih berada 7 kim dari siborongBorong.

(Djamin Ginting)

16 April 1958

 

Foto  DEPPEN

Kapal Tampomas memberikan isyarat kepada Kapal Perang ALRI  di perairan Padang sebelum pendaratan dilakukan, 16 April 1958                                                   (Nugroho Notosutanto)

Setelah berlayar  selama lebih kurang enam puluh jam, pada tanggal 16 April Jam  7.00 Konvoi Ahmad Yani tiba

 

 

 di Pulau Pandan

(Pulau di perairan Kota Padang , terkenal dengan pantunnya Pulau Pandan Jauh Di tengah dibalik Pulau Angsa Dua, Hancur Bandan Dikandung Tanah Budi baik Dikenang Jua-Dr iwan)

, diPulau Padan Kol Ahmad yani menunggu Kapal-Kapal Lain yang berangkat  dalam Konvoi gelombang pertama. Kiranya cocok juga bila pulau  itu ditetapkan sebagai tempat pertemuan (Redenvouz), dari situ tampak jelas

 

 pantai padang didepannya.

Melalui Peta daerah sitempat Ahmad Yani beserta stafnya  membuat perencanaan  yang penting bagi berhasil atau tidaknya operasi tersebut. Ahmad yani membagi daerah sepanjang tempat pendaratan menjadi tiga daerah yaitu

  1. a.     Area Bantuan (Support): daerah dimana Kapal dapat membantu dengan tembakan
  2. b.     Area Transport : daerah dimana Kapal Pengangkut  berkumpul untuk memudahkan persiapan pendaratan.
  3. c.      Area Demontrasi: daerah dimana kapal-kapal mengadakan demonstrasi seolah-olah akan mendarat ditempat itu.Sesuai dengan namanya kegiatan diarea demonstrasi benar-benar membingungkan PRRI sehingga timbul berbagai dugaan  dan gerak-gerik yang dibuat kapal –kapal demostrasi tersebut. Ada yang mengira pendaratan dilakukan di teluk bayur,ada yang mengira di Padang dan ada yang mengira di Tabing.

Menurut rencana Operasi 17 Agustus yang telah ditetapkan pendartaan akan dilakukan 3 Taraf yaitu:

A.Taraf Pertama

Babak I : Pendaratan atau pembuatan “Beach Head”

Babak II : Gerakan mendekat Lapangan terbang tabing Kota Padang dan Pelabuhan Teluk Bayur , RTP II,RTP III.Batalyon KKO,Batalyon PGT dan Kompi RPKAD ditambah dengan gerakan menuju Sijunjung dan Muara mahat oleh RTP I

Babak III : Konsolidasi Pasukan

B.TARAF KEDUA

Melakukan gerakan ke Korta/daerah yang belum dibebaskan

C.TARAF TIGA

Babak I:Konsolidasi Pasukan

Babak II: Gerakan kekota daerah yang belum dibebaskan

Babak III : Konsolidasi daerah

Hari Pendaratan ditetapkan 17 April 1958 karena menurut info yang diterima tanggal 18 April 1958  dua buah pesawat Asing akan mendarat di Padang membawa perbekalan senjat. Jadi Ahmad Yani mau mendahului . Pendaratan akan dilakukan ditempat yang disebut

 

“Pantai Merah” lebih kurang 1 km dari kelapangan terbang Tabing atau hanya 9 km dari kota Padang.(saat ini disebut Padang beach Tabing, menurut informasi saat itu pendaratan di tepi pantai dekat Muara Sungai batang Kuranji  -Dr Iwan)

 

 

 

Eks lapangan terbang tabing

(Ahmad Yani)

17 April 1958

Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958

Urutan Kegiatan 

Jam 05.00

Dilakukan penembakan oleh Kapal Perang TNI AL ke daerah tempat pendaratan selama satu jam

 

“Beach head “lokasi  1km dari  lapangan terbang Tabing

Tempat Pendaratan sebagai Pancangan kaki ini disebut  “Beach Head”

 

 

Foto DEPPEN

Kapal Perang ALRI tiba di perairan Ulak Karang Padang ,17 April 1958

(NUgroho Notosutanto)

Tembakan juga diarahkan pula ke tempat-tempat yang diperkirakan sebagai pusat Senjata bantuan PRRI sampai sejauh 4 km kearah Pedalaman.

Dua Puluh Lima menit kemudian  Pesawat-Pesawat Red Flight  TNI AU melakukan penembakan  dan pemboman ditempat yang sama.

Kemudian  selama 35 menit “Blue Flight”Pesawat TNI AU  mengadakan penembakan yang terutama ditujukan ke

 

 

Lapangan Terbang Tabing dan sekitarnya.

Penembakan ini bertujuan untuk melindungi pendaratan

 

 pasukan (terjun Payung) dari Udara

(Ahmad Yani)

 

Foto DEPPEN

Tembakan perlindungan untuk melindungi pasukan  yang didaratkan di Ulak Karang,17 April 1958(Nugroho Notosutanto)

 

Kisah Pendaratan APRI di Kota padang 17 April 1958

Sejak pagi hari beberapa pesawat terbang melayang-layang diudara, penduduk kota Padang sangat gembira, karena ada pengumuman diradio bahwa ada bantuan pesawat terbang dari Armada ke tujuh Amerika Serikat yang sudah mangkal di Perbatasan dekat kepulauan RIAU, untuk menyelamatkan ladang minyak Caltex di Rumai Pakan Baru milik mereka, tetapi kemudian ternyata itu pesawat APRI dari operasi Militer untuk melindungi pendaratan Tentara Payung di Lapangan Terbang Tabing dan pendaratan Marinir

 dan Banteng raiders  dengan kapal Amfibi di wilayah dekat lapangan terbang di muara sunggai Batang Kuranji di Air Tawar dekat kompleks UNAND (saat ini UNAS) dan Universitas Bung Hatta

Tentara PRRI lari liwat selokan dan berusaha menembak Kapal Terbang dengan senjata modern hadiah dari luar Negeri seperti Thompson, juga ada Basoka dan senapan Juggle Riffle serta Mitralyur dsbnya yang penulis tidak kenal namanya ,yang didaratkan liwat kapal selama dua minggu yang lalu dalam kontainer yang tiba di pantai Padang,banyak rakyat yang menyaksikan termasuk penulis karena tempat itu dekat kediaman.

(Dr Iwan)

Tulisan Tangan.

 

Suwil Dt Bandaro

tentang Pendaratan APRI Di Padang Tangal 17 April 1958 yang rumahnya di Tepi Bandar Belakang Olo.

 

Koleksi Prangko alm Suwil saya beli dari keluarganya isteri dan anaknya ahmad suwil ,dan  dalam dokumennya ditemukan catatan pribadinya tentang pendaratan APRI dipadang saat PRRI(Dr Iwan)

Keadaan di Kota padang hari rabu jam 13.15 (tanggal 16 April 1958)dari pantai Padang mulai tembakan dari laut canon dan mortir kekota padang sejak malam hari mulai setengah satu dan dua,sampai jam 7  dirumah terdengar terus dengan dentuman yang dahsyat dari darat dan lautan balasan bertambah-tambah saja bertubi-tubi kedarat.

Kira-kira jam 10 masuk kedalam lubang perlindungan karena bunyinya sangat dahsyat dan dari darat tidak sanggup lagi memberi perlawanan maka dari laut tidak berhenti-hentinya sampai jam 6 pagi tembakan kedarat.

Maka ketika sedang rebut-ribut dentuman itu muncul kapal terbang dengan aksinya yang dahsyat membikit panik , dan hilang akal penduduk dan hamper tidak kelihatan lagi Tentara PRRRI dan akhirnya jam 11 siang siang terdengar kabar tentara Pusat telah mendarat(koleksi dr Iwan)

Sementara penembakan-penembakan dari laut  dan udara  berlangsung Batalyon KKO TNI AL melakukan pendaratan  untuk membuat daerah Pancang kaki pada jam 7.00 semua  pasukan KKO sudah selesai  mendarat. Jadi dilakukan hanya dalam 20 menit saja .

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan KKO  itu dilapangan terbang Tabing Pasukan PGT TNI AU dan satu kompi RPKAD TNI AD diterjunkan .

Untuk membantu kelancaran pendaratan 4 buah Mustang , 4 buah Mitchelll, 1 Albatros dan 12 Dakota membantu , itu berlangsung selama waktu 4 jam.

Ketika penerjunan dari udara berlangsung mendapat tembakan-tembakan dari bawah, ini menyebabkan gugurnya seorang anggota PGT.

Pendaratan dari laut jam 08.50 yang diawali oleh Batalyon KKO yang berturut-turt diikuti oleh Batalyo 310,Batalyon 438, Batalyo 440, Komando RTP III dan Komando RTP III.

Hampir 3 ½ jam  pendaratan itu berlangsung  baru selesai jam 12.00 siang.

 

Foto DEPPEN

Kolonel A.Yani dan Let.KOl.Wiradinaya menyaksikan pendaratan  APRI di Padang 17 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto pasukan pendaratan APRI turun dari kapal menuju kota Padang

(Umar wirahadikusuma)

Komado Operasi 17 Agustus  mendarat pada jam 13.00 menuju Beach Head dan bertemu ditempat  itu dengan Komandan RTP II dan RTP III.

Demikianlah sementara Pendaratan dilakukan, secara kebetulan Ahmad Yani melihat seorang Prajurit dengan susah payah memikul kopor. “ Hai Apa Itu” gertaknya, Prajurit menjawab”Kopor Pak Darman Pak ” “ Buang” perintah  Pak Yani,maka dibuanglah kopor Pak Darman. Sekarang dapat kita menceritakan kembali segala sesuatunya dengan tertawa. Memang membawa kopor di waktu pendaratan yang disertai temmbakan gencar memang mengelikan seolah-olah seperti akan berpiknik saja.

Foto pendaratan pasukan AD di Ulak karang Padang tanggal 17 April 1958

(umar Wirahadikusuma)

 

 

Foto DEPPEN AL

Sebagian pasukan yang didaratkan  di padang(ULak Karang)

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Pantai air tawar tempat pendarat APRI

 

Setelah Batalyon KKO mengamankan Beach head ,Batalyon 510 dengan komando RTP II bergerak menuju jalan besar Padang – Lubuk Alung, terus ke Tabing yang terletak di arah menuju Lubuk Alung.

Di Tabing pasukan tersebut membuat perkemahan sambil ikut memperkuat Lapangan terbang yang telah diduduki oleh Batalyon PGT dan kompi RPKAD.

 

 

Foto DEPPEN AL

Mayor KKKO Budoyo memberikan perintah operasi-menerangkan peta

(Nugroho Notosutanto)

Batalyon 438,Batalion 440 dan komano RTP III  melalui jalan besar bergerak menuju Padang, disusul oleh Komando Operasi 17 Agustus.

 

Foto DEPPEN AL

Pasukan KKO bergerak menuju kota padang

Menyebrang jembatan  Air Tawar

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Foto pasukan TNI sedang bergerak membebaskan kota padang  dalam rangka penumpasan pemebrontak PRRI di Sumatera barat

(Umar Wirahadikusama)

Dalam perjalanan inilah tiba-tiba muncul satu peleton  Pasukan PRRI bersenjata lengkap beserta du pucuk 12,7 menyerahkan diri ke Ahmad Yani.

Apabila pasukan tersebut berpura-pura menyerah Pak yani beserta Staf  sulit terhindar dari bahaya.

Tetapi sebagaimana dikatan teman-temannya karena kepribadiannya yang percaya kepada diri sendiri, tanpa curiga Ahmad yani menerima penyerahan itu, bahkan  menempatkan peleton yang baru menyerah itu  sebagai pasukan pengawalnya malahan menjadikan salah seorang dari anggota peleton yang menyerah itu sabagai pengawal pribadinya.,

secara logika tindakan Ahmad Yani tersebut membahayakan dirinya maupun stafnya, karena sewaktu=waktu mereka dapat berbuat jahat dan membunuh Ahmad yani., tetapi keraguan-raguan tersebut dapat dihilangkan karena Ras percaya diri Ahmad Yani.

Ternyata kepercayaan tersebut tidak sia-sia, selain itu juga kebiasaan Ahmad Yani menempatkan dirinya dibelakang Komanda batalyon yang mengikuti kompi kawal terdepan, inipun dilakukannya seaktu menuju Tabing dan Padang.

Secara psikologis anggota pasukan  yang merasa berada didekat atasannya ,hatinya menjadi besar dan cendrung berani berkorban untuk menyempingkan rasa takut bahaya.

Kota Padang segera dapat dikuasai hari ini juga, dan Ahmad yani beserta stafnya memasuki kota jam 17.00.

Malam itu Ahmad Yani berkemah

 

di Gurbenuran Padang,

 

 tetapi kira-kira tengah malam  perkemahan dipindahkan  lebih ketengah kota karena adanya tembakan-tembakan mortar dari PRRI.

 (Ahmad Yani)

 

KISAH PENYERANGAN KANTOR DEWAN BANTENG MALAM HARI 17 APRIL 1958

Malam hari penerangan lampu kota Padang dimatikan , saya,ayah Djohan  dan kakak Edhie serta pembantu Lelaki si Panjang  (sudah menjadi pembantu sejak saat Ayah masih kecil).

 Suasana sangat sepi tidak ada bunyi apapun, tidak ada satupun manusia dan kendaraan dijalan depan rumah, gelap mencekam .

 

Kami berempat melihat dari

 

 ruangan tamu depan rumah dengan  jendela  kaca ke arah Kantor Dewan Banteng,pembantu si Panjang ketakutan dan ia  menepuk nyamuk yang  mengigitnya sampai dilarang ayah untuk jangan membuat suara dengan berkata bahwa bila ribut akan ditangkap dan dibunuh Tentara Pusat (maksudnya APRI)

Sekitar jam 11.00 malam, tiba-tiba terdengan bunyi ledakan beberapa buah granat diiringi suara derap sepatu bot tentara yang berlari , saya melihat tentara dengan wajah yang sudah digelapkan dan memakai penyamaran berlari berliku-liku menuju kantor Dewan Banteng didepan rumah , setelah setengah  jam suara ribut tembakan ,kemudian suasana jadi sunyi lagi dan Kamipun pergi tidur.

(Dr Iwan) 

 

Penulis Dr Iwan paling kanan difoto dari rumah dan kelihatan Kantor dewan Banteng dengan  patung Bundo kandung.foto tahun 1956.

 

 

Dan foto kakak dan adik perempuan dengan tetangga di depan rumah kelihatan kantor Dewan Banteng foto tahun 1956

 

Foto DEPPEN

Pasukan KKO didepan Kantor Dewan Banteng

( jalan Bundo kandung didepan rumah -Dr Iwan)

setelah kota Padang diduduki tahun 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Dr  Iwan  berdiri nomor dua kanan dihalaman rumah jalan Bundo Kandung 16  yang lokasi  didepan

 

Kantor Dewan Banteng(sebelumnya adalah Panti Asuhan Bundo Kandung),sekarang  Kantor Polisi Militer Korem SUMBAR. Foto ini dibuat  sekitar tahun 1959.

 

 

 

Dilokasi inilah  saya  mengntip dari jendela operasi 17 Agustus menyerbuan kantor Dewan banteng

 

Dilokasi ini para tentara Banteng Raiders beristirahat setelah menduduki kantor dewan Banteng tanggal 17- 18 April 1958

(foto Dr Iwan  nomor dua dari kanan dengan Kakak dan ibu tahun 1953)

 

Foto kantor Dewan Banteng yang telah diubah jadi markas POM KOREM SUMBAR tahun 2011,atap dan bangunan masih sama, tetapi patung bundo kandung sudah tidak ada lagi.(Dr Iwan)

 

 lokasi rumah Dr iwan yang sudah dijual dan dijadikan hotel ambacang yang ambruk karena gempa tahun 2010 difoto tahun 2011,disinilah para tentara Banteng Raiders dulunya beristirahat setelah merebut kantor tersebut ,dan mandi disini karena mereka takut diracun sumur di kantor tersebut oleh PRRI

Kekecewaan Orang Amerika

Kekecewaan orang Amerika  menyebabkan penghentian  pengiriman bantuan  persenjataan, meskipun  sudah dijanjikan . Demikian pula halnya dengan janji disediakannya  pesawat pembom  jenis B-26  yang tidak kunjung jadi kenyataan

 (Maludin simbolon)

 

Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah merdeka.

Tentara pusat (APRI) atau “tentara Soekarno”, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut dan udara dan kepolisian).

Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan.
Mereka umumnya dari Satuan Diponogoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).

 

Semantara Kekuatan PRRI pada tahap awalnya disokong oleh CIA.

Namun karena sama sekali tidak menduga dan karena itu tidak siap untuk menghadapi perang ’sungguhan’, maka kota-kota di Sumatera Tengah dengan mudah dapat diduduki.

 

Pusat perlawanan terutama terjadi di Sumatera Barat dan Riau serta mitra PRRI, yaitu Permesta di Sulawesi.

Para pejuang PRRI secara lambat laun tapi pasti terpaksa mundur ke pedalaman dengan melancarkan perang gerilya.

(DR Mestiak Zed)

Pada tanggal 17 April Presiden Sukarno telah mengirim pasukan udara ke Sumatera bagian tengah di daerah dekat ladang minyak milik Amerika Caltex Pacific Oil Company.

 Pasukan pemerintah telah bertemu hanya resistensi lemah dari pemberontak.

Pada hari surat ini ditulis, Allen Dulles telah melaporkan kepada Dewan Keamanan Nasional bahwa pemberontakan itu telah “praktis runtuh,” meskipun tindakan masa depan oleh pemerintah Jakarta yang sulit diprediksi

Source sukarnoyears.web blog

Original info

On April 17 President Sukarno had sent airborne troops into central Sumatra in the area near the oil fields of the American-owned Caltex Pacific Oil Company. The government forces had met only feeble resistance from the rebels. On the day this letter was written, Allen Dulles had reported to the National Security Council that the rebellion had “practically collapsed,” although future actions by the Jakarta government were difficult to predict

 
 

 

 

18 April 1958

Keesokan harinya tanggal 18 April 1958 jam enam pagi waktu melihat keluar halaman rumah, sungguh kaget ada lebih kurang limaratus tentara Banteng Raiders tidur bergelimpangan dihalaman rumah yang luasnya 3500 meter persegi,

 

 

 tidur pulas dengan senjata dan ranselnya dan yang lainnya mandi dengan telanjang terjun kedalam sumur air tanah milik kami sampai airnya habis terkuras,

 

tetangga kami yang tinggal dipaviliun rumah (Ani,Eng Siau dan Eng Hoa),Adiknya Hok tiauw dan Hok Sin  bercerita bahwa putrinya tertawa cekikikan karena mengintip tentara Banteng Raiders mandi telanjang masuk sumur sampai dilarang oleh ayahnya.

Saya salut komandan Banteng Raiders dan anak buahnya tidak membangunkan kami, dan dengan ramah meyalami kami semua, mereka berkata kami sudah sepuluh hari tidak mandi,mohon maaf air sumurnya kotor dan habis karena anak buahnya sangat gerah,

Rupanya tentara PRRI tidak memberikan perlawan,mereka sudah lari keMarkasnya yang baru di Sukaramai Solok dan Muarapanas.(Dr Iwan)

tentara PRRI termasuk penjaga kota(stadwach) sipil sudah menghilang saat pendarat tanggal 18 April ,saat itu mereka lari menyusuri selokan menuju keluar kota, menurut informasi mereka lari ke lembah anai dan ladang padi menuju pertahan mereka di Sukaramai

(Dr Iwan)

APRI datang menyerang

Masih terbayang di benak saya, beberapa waktu setelah pengumuman dibentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, diikuti penyerangan oleh tentara Pusat ke Padang.
Nampaknya tidak mendapat perlawanan yang heroik, bahkan adanya batalyon yang datang menyambut kedatangan tentara Pusat.
Saya tidak mengerti kenapa demikian.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

18 April 1958

 

Pagi harinya Tentara Banteng Raiders dari APRI saya lihat patroli menyisir kota Padang dalam bentuk regu berjalan berbaris satu persatu dengan senjata Karaben dengan sangkur terhunus ,kasihan senjatanya masih kuno sisa perang dunia kedua jauh dibandingkan dengan milik tentara PRRI.

Siang hari rakyat sudah mulai ramai dijalan  dan kemudian diperintahkan agar selama satu bulan sampai 17 Agustus 1958 Bendera Merah Putih  harus dikibarkan  siang hari dan diturunkan malam hari.

Sungguh saya terharu melihat perjuang Tentara APRI dalam rangka melindungi Sang Saka Merah Putih,kendatipun PRRI tetap mengunakan bendera yang sama .

(Dr Iwan)

 

Foto DEPPEN

Pengiriman makanan ke darat dengan kapal pontoon di panatai Padang,18 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

Dari foto diatas  terlihat  ponton berisi kardus bahan makanan

 

 

di muara batang arau padang depan gunung Monyet.

(Dr Iwan)

Foto senjata yang berhasil dirampas dari tangan pemeberonatak PRRI di suamtera barat

(Umar Wirahadikusuma)

20 April 1958

Jatuhnya Kota Padang  dan kemajuan Gerak Cepat  pasukan Pemerintah Pusat  menyebabkan pemimpin PRRI terpencar, Kolonel Mauludin Simbolon mundur ke

 

 Alahan Panjang (kab Solok), yang disusul oleh rombongan Burhanuddin Harap 

dan kemudian bersama-sama

 

Ke  Muaralabuh

(Mauludin Simbolon)

Dr Iwan selama enam tahun dari tahun 1973 sampai 1979 bertugas diwilayah PRRI ini sebagai doketr polres solok dari Polda SUMBAR, dan melihat sendiri bagaimana situasi wilayah dan penduduk yang eks PRRI disana.                                                    (Dr Iwan)

Dua hari setelah pendaratan APRI dikota Padang(20 April 1958),suasana kota padang sudah hidup lagi rakyat  mulai melaksanakan kegiatan,dan terlihat pasukan patroli  per regu berjalan satu persatu dalam barisan berjalan menyisir jalan membawa senjata api (Karaben).

(Dr Iwan)

Senjata PRRI  dirampas oleh APRI di Padang April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
                                                                                                        Di situ Jurnalis hampir mati

 

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos

Di Ladang Padi

 

 mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

 

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang

 


Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

(Am St Dt Soda)

 

23 April 1958

Ketika Pulang dari mengadakan Inspeksi dari Solok setelah kota ini dikuasai, Rombongan Ahmad Yani terjebak.

Heri telah jam 15.00 berarti sebentar lagi ,matahari akan terbenam diarah barat.

 

 

Rumah gadang di Kota solok

Sebagaimana situasi  saat ini masih panas bari sepuluh hari  setelah  pendaratan , sehingga emosi tak terkendali dapat terjadi  melampaui perkiraan sebelum nya.

Walaupun demikan Ahmad yani  seperti biasanya tetap tenang  menghadapinya. Dengan ketenangan yang dimilikinya Ahmad yani turun dari kendaraan , segera member perintah untuk menyelidiki dari mana asal tembakan.

Dalam waktu singkat keadaan dapat dikuasai kembali seperti biasa, Para Penghadang mengundurkan diri sementara Rombongan Ahmad yani  menderita kesusakan satu Jeep, dan Perjalanan akhirnya dapat dilanjutkan dan sampai di padang dengan selamat.

Seminggu setelah pendaratan di Padang, sebagai langkah  pertama dikeluarkan Surat Keputusan  yang menyangkut penyelesaian  Secara Administratif  anggota  Militer maupun Sipil bekas anggota KDMST (Komando daerah Militer Sumatera Tengah) . Inti dari pada Suart Keputusan itu menyebutkan bahwa Anggota Militer dan Sipil yang mengabungkan diri kepada Komando Operasi 17 Agustus  sebelum bertempur terlebih dahulu diaktifkan kembali , sedangkan soal Gaji  disesuaikan dengan Ketentuan Yang ditetapkan.

Ahmad yani tidak memusuhi Rakyat  Sumatera Tengah, tugasnya adalah mengakhiri PRRI didaerah ini untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah di proklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945

(Ahmad Yani)

Menyusul kota diduduki APRI
Tiada perintah, tanpa koordinasi
Ke kampung kampung rakyat mengungsi
Berbondong bondong berjalan kaki

 

Ke Sitalang pergi mengungsi
Didalam kecamatan Ampek Nagari
Disitu bermukim sanak famili
Mereka bekerja sebagai petani

 

Nagari Sitalang Barajo Sorang
Di kaki gunung beriklim sedang
Penduduk ramah sangat periang
Kepada dunsanak sangat sayang

Semua orang taat beribadah
Untuk kebaikan mau mengalah
Perbuatan mudarat langsung dicegah
Ketika berusaha pantang menyerah

(Nagari web blog)

 

 

 

 

 

Foto DEPPEN

Pertempuran Di Lubuk Alung 23 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

24 April 1958

 

Foto DEPPEN

Lubuk Alung dikuasai APRI 24 April 1958

 

 

 

 

Puncak kiambang setelah sicincin.nostalgia minum es kelapa dengan almarhum ayah tercinta bersama kakak Dr Edhie yang meneteskan air mata bila melihat tempat ini.

(Dr Iwan)

25 April 1958

Sampai akhir April 1958 sudah banyak kota-kota besar didaerah Sumatera barat dikuasai APRI, seperti yang terletak diselatan Kota Padang kecuali

 

Teluk Bayur.

Maka yang terjauh adalah

 

Muaralabuh,

 

Daerah ini terkenal sebagai daerah surplus beras

 

 

dan juga merupakan daerah penghubung ke Sumatera Selatan

 

(Jambi Kerinci

terus ke

 

 sarolangun jambi

 

 Sarolangun regency tempo dulu  -Dr iwan).

 

Disebelah timur dikuasai pula kota Solok dan  Ombilin singkarak .

 

 

Lembah anai

Sedang disebelah Utara Padang gerakan sudah sampai ke Lembah Anai yang kira-kira 9 km dari Padang Panjang.

 

 

Foto DEPPEN

Batalio 510/Brawijaya menuju Pariaman 25 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Kota Pariaman yang terletak disebelah barat daya Padang dikuasai 25 april 1958

 

Dalam kurun waktu yang trelatif singkat tugas yang dipikul Ahmad yani telah berhasil dengan baik.dalam melakukan inspeksi ke front terdepan 

Ahmad yani sering kurang memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan seperti berangkat dengan pengawalan besar, mungkin maksudnya untuk menghindari perhatian sehingga orang tidak mengira kalau rombongan itu adalah rombongan Komandan Operasi. Lagipula dengan rombonga yang kecil  bergeraknyapun lebih cepat.

Kebiasaan ini sering mengejutkan pasukan yang diinspeksinya  serba mendadak, kalu tadi masih ada ditempat lain, tiba-tiba sekarang muncukl disini, tak lama kemudian sudah berada lagi dimarkas.

Suatu waktu Ahmad yani bertemu dengan seorang  mengaku Wartawan Asing, dengan mengaku wartawan didaerah operasi militer sedang berlangsung tentu dia akan selamat. Lepas dari bahaya demikian menurut si wartawan.

Ahamd yani yang telah mengetahui informasi yang diterimanya,bersikap seakan-akan  percaya dan membenarkan pengakuan si orang asing ini.

Bila  ia membekuk orang asing itu yang sebenarnya  dibayar sebagai instruktur ,jadi bukan Wartawan tentu dapt saja.tetapi disinilah letak keaneh Ahamd Yani.

Ia tidak berbuat demikian, orang asing itu dilepaskan dan dibiarkan meneruskan perjalanannya ke Bukittinggi  yang sewaktu ini masih dikuasai PRRI dan kepada wartawan tersebut Ahamd yani menitip pesan  tolong sampaikan salam say kepada rekan-rekan disana , mereka semua adalah  saudara-saudara kami dan teman baik kami.

Kota-kota yang telah dikuasai disebelah utara Padang berturut-turut

 

 

Lubuk Alung,

 

 

 

Sicincin,

 

Kayu Tanam

Dan

 

 Kandang Empat pada tanggal 25 April 1958.

Dilihat dari peta sebenarnya jarak kandang Empat dengan Padang panjang  lebih kurang 11 km lebih dekat dari Ombilin Singkarak , tetapi berdasarkan pengalaman perang kemerdekaan dulu 

 

jalan Kandang empat ke padang Panjang  sangat berbahaya  karena

 

 

 

jalannya diapit oleh hutan pehunungan  dan berdampingan dengan lembah(lembah Anai-Dr Iwan) yang merupakan tempat ideal untuk penghadangan ,karena itu gerakan menuju utara berhenti di kandang empat ,sementara yang dilanjutkan yang dari arah

 

 

  solok-ombilin singkarak menuju padang Panjang.

Tidak semua rakyat didaerah Sumatera Barat  berada di pihak PRRI , sperti Ketika Kota Pariaman dikuasai pasukan batalyon 140 pimpinan Mayor Nurmatias  dan tokoh lainya seperti Komisaris Beasr Kaharuddin Datuk Rangkajo Besar  langsung memberikan bantuan, kesediaan mereka  member bantuan itu diterima dengan tangan terbuka oleh Ahmad Yani, bahkan sebagai  tindak lanjut merekapun diberikan kepercayaan tugas-tugas  yang bertujuan mempercepat penyelesaian keadaan .

(Ahmad yani)

 

Foto DEPPEN

Let.Kol. Sobirin Mochtar dan rombongan meninjau  jemabatan yang rusak di Pauh Kambar,25 April 1958

 

Jembatan Pauh kambar saat ini

 

 

Seminggu setelah APRI mendarat, saya  bertemu dengan patroli tentara APRI dua orang dengan mengendarai Jeep willys sedang melihat peta

 

di jalan Belakang Tangsi samping Gereja Teresia Padang , saat di tanya mau mencari apa, Tentara APRI marah katanya,anak-anak pergi pulang kerumah, saat itu saya  berusia 13 tahun.

(Dr Iwan)

 

Foto DEPPEN

APRI  Memasuki kota Solok  25 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

25 April 1958

Kemudian tentara Pusat mulai menyerbu daerah-daerah pedalaman. Akhirnya sampailah di daerah kami di Sawahlunto. Semua kantor di kota Sawahlunto diduduki oleh tentara Pusat dan para pegawainya mulai mengungsi. Begitu pula orang-orang dari kantor kabupaten yang mengungsi, mereka berdatangan ke kampung saya, tepatnya ke rumah saya.Mereka makan dulu setelah itu, lalu berangkat lagi entah kemana.

Ibu dengan ibu-ibu seksi G sibuk memasak dan mendirikan Dapur Umum, untuk memberi makan.
Para pengungsi yang datang dari kota atau dari daerah lainnya, ada yang membawa berbagai macam peralatan kantor.Bahkan Bupati sekeluarga juga mengungsi kerumah saya, dan mereka menginap di rumah saya.

Hanya sekitar seminggu.Bupati tidak sanggup pindah atau mengungsi ke tempat lain, karena beliau ini sudah tua, dan juga bukan orang asli dari desa saya, keluarga mereka berasal dari Bukittinggi.Istrinya minta maaf dan mohon izin untuk kembali ke Sawahlunto.Setelah berunding, akhirnya mereka kembali ke Sawahlunto dengan membawa bekal yang cukup, terutama beras.

Dalam situsi yang tidak menentu ini, kami sudah tidak bersekolah lagi, sekolah pun semuanya sudah ditutup.Saya juga tidak kembali sekolah ke SMA Batusangkar.Situasi yang tidak jelas.

Orang-orang banyak yang datang-pergi; Bapak saya sudah pergi mobile dengan urusan pemerintahannya.apak waktu itu diangkat menjadi camat militer PRRI.Waktu itu rahasia daerahnya ada di tangan Bapak, jadilah Bapak orang yang paling di cari-cari di desa saya oleh tentara Pusat.

 

Banyak rahasia ada pada beliau, akan tetapi kami tidak mengetahuinya karena beliau tidak pernah menceritakan kepada kami anak-anaknya.Itu semua merupakan hal-hal yang bersifat dinas dan rahasia.

Semenjak Bapak pergi mobile dengan pemerintahannya, kami tidak tahu lagi di mana beliau berada.Konon beliau selalu berpindah-pindah bersama stafnya dari satu desa ke desa lainnya.
Beliau jarang sekali pulang kerumah.Kadang kadang Bapak pulang pada malam hari.
Pada saat Bapak pulang, kami sangat senang berjumpa dengan beliau dan mendengar cerita serta perkembangan perjuangan PRRI.

Pada awalnya kami senang sekali, karena perjuangan PRRI selalu mengalami kemajuan.
Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

26 April 1958

Saya  melihat Tukang rokok didepan rumah,dekat bekas  kantor Dewan Banteng yang sudah dijadikan Markas POM TNI, dimarahi dan dihukum push up dan menghormat Bendera Merah Putih karena bendera dan tiangnya jatuh dihembus angin,juga malamnya ayah penulis dibawa Ke KODIM Padang untuk menerima teguran dan menanda tangani pernyataa agar tidak lupa menurunkan bendera Merah Putih mmalam hari yang ditaruh di tingkat dua dekat jendela Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya.(Dr iwan)

Selain itu suatu pagi saya melihat beberapa panser berangkat dari ex  kantor Dewan Banteng didepan rumah saya, saya dengan menuju Ladang Padi Indurung untuk menyerang  ke

 

 Sukaramai Talang solok, tetapi sore harinya seluruh panser itu dalam keadaan rusak di tarik dengan truk kembali ke Markas, rupanya mereka tak berhasil.

Menurut informasi Komanda Depo pendidikan Sukaramai saat saya bertugas di Solok dan mengajar di pendidikan tersebut Pasukan Brimob berhasil membebaskan Sukaramai, dan mulai saat itu dimanfaatkan sebagai Depo Pendidikan brimob POLDA SUMBAR

Komandan Depo Pendidikan brimob tersebut tahun 1978 tidak mau menyerahkan kompleks Sukaramai kembali kepada Kebun Raya Bogor, karena mereka merasa berjasa merebut area tersebut, dan setelah berunding mereka dianugerahkan kenaikan Pangkat da jabatan baru mereka meninggalkan area tersebut dan pihak PORES SOLOK diberikan tanah pengantian diwilayah Solok lainnya.

27 April 1958

Pada Tanggal 27 April jam 05.00 pagi Kota Tarutung dapat diduki tanpa perlawan yang berarti  dari pasukan PRRI ,setelah itu Kota Tarutung diduuki oleh pasukan penganti dari Bataluion 330 Kujang II Siliwangi.

Sesudah pihak PRRI mengetahui bahwa kekuatan yang dihapai mereka cukup banyak dan berpengalaman  dan sanggup bergerak di Medan yang berat,

maka mereka merubah siasat,tidak lagi bertempur secara langsung,hanya sekali-kali  melakukan serangan balasan dan merusak jembatan untuk menghambat gerakan,setelah seluruh kota besar telah dapat diduki oleh TNI,maka pasukan PRRI melakukan perang Grilya.

(Djamin Ginting)

Akhir April 1958

Dalam waktu singkat sudah banyak kota besar yang dikuasai, setelah tabing dan padang ,dan menyusul

 

Teluk Bayur. Setelah itu

 

Indarung,

 

Lubuk Selasih

 

 

dan solok sedangkan

 

 ombilin Singkarak  pada akhir April 1958.

 

Pantun kisah PRRI di Nagari kinari ,dan Parambahan Solok

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

 

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit

Setelah Solok dikuasai APRI
Pusat bersiap untuk operasi
Pos dibuat di pasar Sumani
PRRI berjaga di jorong Lasi

 

 

 

Untuk menuju rimba raya
Dari Sulik Aie melewati Saniangbaka
Simpang Tiga harus dijaga
Agar pejuang tidak leluasa

 

Rimba raya terus ke Padang
Jalan pintas di kala perang
Kini telah dilupakan orang
Karena tidak dilalui pedagang

Pertempuran pertama yang terjadi
Masih diingat sampai kini
Antara Pusat dengan PRRI
Serdadu muncul dari Sumani

Nagari web blog

Kisah  dan Gurindam masa PRRI lengkap baca dalam lampiran

Teman-teman di fakultas kedokteran tahun 1963-1972 ada beberapa eks Tentara Pelajar PRRI ,dan ada yang berasal dari solok, dan ada juag anak kapolres Pariaman masa PRRI, mereka seluruhnay akhirnay jadi dokter dan bertugas di suamtera barat. Duluntya sebelum PRRI  diproklamirkan telah dimualai mendirikan Fakultas kedoteran di Baso dekat Payakumbuh, sisas-sias bangunannya masih ada sedikit, dan baru setelah PRRI  Fakultas kedokteran Universitas Andalas di Pindahkan ke Padang di Air Tawar, dan sekarang sudah dipindahkan Ke jalan Jati Kota Padang/Salam buat mereka Uda Baidar, Cheir, dan Anja NazarAnja pernah bertugas di sulit air, dan pasien saya saat bertugas di solok tahun 1974 sampai 1979  banyak dari Saninbakar yang lokasinya diseberang danau singkarak.

(Dr Iwan)

 

Sebelum itu sudah dikuasai

 

Alahan Panjang dan

 

 Muara Labuh.

Menguasai kota ini mempunyai dua arti sekaligus. Pertama memutuskan hubungan ke selatan karena jalan keluar masuknya dikuasai, dan Kedua dengan menguasai daerah beras ini akan berpengaruh besar kepada daya tahan lawan.

(Ahmad yani)

Saya pernah mengunjungi kota Alahan Panjang yang sejuk dan Muara Panas saat bertugas di Solok tahun 1974-1979, saya masih ingat ada mariam kecil didepan kantor distrik polisi Muara Panas.

setelah menyusun dan membaca informasi PRRI yang lengkap ,saya menjadi ingat dan terkeanng kota Solok dimana putra saya kedua Anton Jimmi Suwandy dilahirkan oleh saya sendiri dirumah jalan benteng Solok disamping Polres Solok ,dan saya sempat mendirikan tempat perawatan sementara di sana,

 Saat kunjungan tahun 2011 sempat mampir  dan masih ada rumah dan Tempat perawan Sementara itu itu,dan ketemu perawat saya  dulu Enny yang  berasal dari Muara Panas  dulu masih bertugas disana , Bidan Ros isterinya Uc ok  yang membantu saya  sudah meninggal begitu juga dengan anggota saya rifai,Herminus dari Kinari,Alex ternyata juga sudah mendahului kita.

Semoga karya koleksi sejarah PRRI ini dapat mengugah seluruh masyarakat minangkabau dan generasi mendatang betapa susahnya pada saat itu, dan bagaimana akibatnya bila terjadi perpecahan dan perang, bila sengketa berdamailah dengan perundingan perang tak ada gunanya hanya membuat sengsara.

(Dr iwan)

Sebagai naluri seorang ibu, setiap Bapak pulang, ibu selalu mengingatkan, karena bupati sekeluarga telah kembali ke kota Sawahlunto yang dikuasai APRI.
Sebaiknya Bapak pulang saja kerumah, dan kembali bekerja seperti biasa sebelum ada PRRI.
Usul ibu itu sangat manusiawi, karena mendengar cerita Bapak yang selalu mobil.
Tempat tinggal beliau tidak jelas, dan juga mengingat Bapak sudah tua dan tidak mempunyai anak laki-laki yang bisa membantu dan mengikuti Bapak.
ibu saya risau sekali, kalau terjadi apa-apa pada Bapak, siapa yang akan membantu.

Pertimbangan ibu juga mengingat anak-anak relative masih kecil-kecil, perempuan semua, belum ada yang mandiri.Akan tetapi Bapak menolak dan sangat yakin dengan perjuangan PRRI, malah beliau menjawab bila terjadi apa-apa jangan risau.Allah akan selalu melindungi, kata Bapak.

Selanjutnya kata beliau lagi, bila terjadi apa-apa, kan ada semut yang akan memakan.
Kami, anak-anakpun mendukung sikap Bapak, mengingat kami berada di kampung sendiri.

Bagaimana malunya kita kalau Bapak menyerah, apalagi Bapak seorang kepala suku Caniago, orang yang dipanuti di kampung.Bapak pulang ke rumah dengan sangat hati-hati, agar tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak dipercaya atau mata-mata tentara Pusat.Mata mata ini biasa disebut sebagai tukang tunjuk.Tukang tunjuk inilah yang melaporkan kepulangan Bapak ke rumah.

Besoknya pasti kami diteror dan ada saja tentara Pusat yang datang ke rumah menanyakan Bapak dan pada malam hari mereka menembak di sekitar rumah.
Walaupun tembakannya diarahkan ke udara, kami tentu saja sangat takut, karena mereka menembaknya mungkin di depan rumah kami.Bunyinya sangat keras, rasanya rumah kami turut bergetar.
Setiap malam diteror dengan tembakan senapan

Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.

Ada saja orang kampung yang ditangkap, kemudian diinterogasi, dan dibebaskan kembali setelah beberapa hari kemudian.Kadang-kadang dengan tiba-tiba bisa saja beberapa orang tentara Pusat datang ke kampung.Bahkan ada juga yang datang sendirian jalan kaki… berani sekali dia.

 

Hampir setiap malam ada teror di lingkungan rumah saya.Kalau pagi dan siang mereka datang ke rumah menanyakan Bapak sambil menggeledah rumah dan lemari.Aneh juga mencari Bapak, kok lemari yang diperiksa.

 

Malam hari mereka menembakan senjatanya terus-terusan sehingga kami ketakutan sekali.
Ibu saya sangat tidak tahan dengan teror-teror terutama di malam hari.Mereka melakukan penembakan ke udara, tapi sangat mencekam, karena bunyi tembakan itu sangat keras.Kondisi yang demikian itu ternyata diketahui oleh Bapak, karena saya tahu dari kurirnya.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

30 April 1958

 

 

Foto DEPPEN

Satuan Bn 510 dan Bn 438 berada  3 km diluar kota solok menuju danau SIngkarak 30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

Foto DEPPEN

Sebuah Mariam APRI  Ditepi danau singkarak  30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

Foto DEPPEN

APRI bergerak menuju Ombilin  tempat pertahanan PRRI

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Foto DEPPEN

Jeep komando kavaleri meliwati lubang kecil yang  dirusak oleh PRRI  ditepi danau Sngkarak 30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

President Eisenhower:

Dwight D. Eisenhower had emphatically denied charges that the United States was supporting the rebellion against President Sukarno.
“Our policy,” he said at a press conference on April 30, “is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as not to be taking sides where it is none of our business.”

Komando Operasi Gabungan “TEGAS” ini hanya berjalan selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, kemudian dengan dibentuknya Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani, Komando Operasi Gabungan “TEGAS” dimasukkan dalam susunan Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” dan berganti nama menjadi Resimen Pertempuran I “TEGAS” (RTP- TEGAS), yang taktis, operatif dan administrasinya langsung di bawah Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” (KOOPAG).

(korem031)

1 Mei 1958

Di Hutan-hutan Tapanuli kini tersebar beberapa anak buak Naingolan yang pecah-pecah  dri indik pasukannya dan  neraka inilah yang sering-sering mengadakan serangan terhadap pasukan pemerintah  dengan maksud bukan untuk mencari menang tetapi untuk membalas dendam saja

 

Foto  Mayor A.Manaf Lubis  Komandan Res.II

Banyak pula diantara anak buah Naingolan  yang menyerahkan dirinya kepada pasukan Pemerintah karena  sadar bahwa  tindakan yang mereka lakukan itu telah melanggar  Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.Apakah Nainggolan telah mengabungkan diri ke Sumatera Tengah  masih belum diketahui.

Foto senjata-senjata yang dapat disita ketika terjadi pertempuran dekat Pematang Siantar anata lain terdapat bazooka,mitralyiur dan lain.lain

Pasukan Pemereintah kini terus  mengadakan serangan-serangan  dan pengejaran ,tetapi beberapa kota di Tapanuli sampai saat ini masih tetap dikuasaai Pemberontak seperti Padang Sidempuan, Balige dan banyak lagi.

Sewaktu reportase ini dibuat  memang kota-kota itu belum jatuh, tetapi Pasukan Pemerintah menjepit  terus kearah  itu,anatara lain berita tentang  berhasilnya Ibukota PRRI Padang jatuh  ketangan Pemerintah setelah diserah dari Uadara dan Laut.

Foto pasukan  Resimen II  sedang istirahat dengan membaca Koran ketika mengadakan pengejaran terhadap sisa-sisa Pasukan Pemberontak di Aek nauli dekat Prapat.

 

Aek nauli dekat Prapat.

Foto pasukan Resimen III  yang mengadakan Operasi  terhadap  anak buah Naingollan  didaerah Prapat

Foto beberapa anak Buah Naingollan yang dapat ditawan

Lalu Panglima sendiri dan Deputi KSAD  Brigardir Jendra Djatikusumo  terus menerus sibuk karena terus menerima dan mempertimbangkan  apa yang harus diperbuat  dan senantiasa melapor  pula kepada KSAD  di Jakarta.

Jendral Djatikusumo telah beberapa kali  ke Jakakarta  untuk bertemu dengan KSAD Nasution .

Sampai saat ini kota Medan  kleihatannya tenang  dan peristiwa  apa yang akan  terjadi lagi masih kita nantikan saja.

(Terang Bulan 1958)

2 Mei 1958

Pada tanggal 2 Mei 1958,Pasukan dari arah

 

Sungai  Ombilin Singkarak  untuk dapat menguasai

 

kota Padang Panjang

(Ahmad Yani)

 

Meliwati jembatan sungai ombilin

 

Foto DEPPEN

Ombilin dikuasai APRI 30 April 1958

 

Kelihatan statiun kereta api ombilin singakarak

 

 

 

 

Foto DEPPEN

Dua Orang naggota BN 510 memberikan tembakan perlindungan  bagi pasukan APRI yang memasuki kota Padangpanjang 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto DEPPEN

Dua Orang naggota BN 510 memberikan tembakan perlindungan  bagi pasukan APRI yang memasuki kota Padangpanjang 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

Foto DEPPEN

Pasukan APRI   Buktitinggi 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

4 Mei 1958

 

Foto DEPPEN

Penjagaan disekitar sungai buluh sebelum menduduk   Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

Foto DEPPEN

APRI Menduduki  Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto DEPPEN

RRI  Buktitinggi dikuasai APRI 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto DEPPEN

APRI patrol di Ngarai Sianok Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Foto DEPPEN

Sebagain pasukan Bn 510 ditempatkan  dijalan menuju payakumbuh dari Bukittinggi,4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

5 Mei 1958

Surat RHS dari KDP 5 kepada Kepala kantor Pos Padang perihal  Surat kabar Pelopor, dan Pembangunan kirim dengan pos  jika diminta  oleh tentara serahkan  seperlunya.

 

(Buku agenda surat RHS Kantor pos Padang)

 

 

Foto DEPPEN AL

 Pasukan  KKO AL sedang menyeberangi sungai Air Gadang di Pasaman       (Nugroho Notosutanto)

 

9 mei 1958

 

INDONESIA 1957-1958

 

 

 

 


NY Times editorial:

On 9 May, an editorial in the New York Times had stated:
It is unfortunate that high officials of the Indonesian Government have given further circulation to the false report that the United States Government was sanctioning aid to Indonesia’s rebels.

 

 

The position of the United States Government has been made plain, again and again. Our Secretary of State was emphatic in his declaration that this country would not deviate from a correct neutrality … the United States is not ready … to step in to help overthrow a constituted government.

Those are the hard facts. Jakarta does not help its case, here, by ignoring them.
(Who ignored the hard facts? -Ed.)


Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT.

 

Note: The US and US media had denied any involvement in the PRRI Permesta rebellions.
The above picture (and subsequent developments) reflect the untrustworthiness of their statements and misrepresentation of actual facts. -Ed.

12 Mei 1958

 

Cover Majalah starweekly no 50 12 mei 1958.sayang isinya tidak ada,bila ada tentu ada berita tentang PRRI

 

15 Mei  1958

Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai

 

 

Kota Padang Panjang 15 Mei 1958.Setelah Dikuasai Padang Panjang,Pasukan dari Kandangempat bergerak  menuju Padang Panjang

 

.(meliwati lembah anai)

Dengan pertimbangan menunggu kemajuan  pasukan  dari Operasi Sapta Marga ,psukan  Komando Operasi 17 Agustus  yang sudah berada di Padang Panjang  tidak langsung bergerak  Ke Bukittinggi

(Ahmad Yani)

 

Menurut cerita

 

isteri saya Lily  dan kakaknya Maria yang bermukim di Kota Padang Panjang saat pergolakan PRRI , setelah kota ini dikuasai APRI, kota padang Panjang sering  di tembak PRRI dari gunung Sigalang pada malam hari, kadang-kadang sore hari.

Suatu waktu sore hari

 

sebuah bom mortir jatuh diatap

 

rumahnya tembus  atap seng dan plafond

jatuh kedalam lemari untung tidak meledak sehingga ia ,neneknya dan keluarga selamat.

 (Dr Iwan)

Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi milietr dan dibantu  Dokter Wajib Militer yang ditugaskan ke Daerah PRRI di Sumatera Barat,  yang saya kenal anatara lain Dr Liem Tjoen Hway yang menjadi partner saya main tennis. Ia pernah bercerita kepada saya bahwa sebenarnya ia di-tugaskan ke Bukittinggi tetapi dibatalkan karena saat ia berangkat ke Bukittinggi dengan kendaraan konvoi tentara APRI

 

di lembah anai kendaraannya di tembak oleh PRRI dari gunung ,dia selamat karena duduk ditengah, teman disampingnya dan pengemudi Meningal dunia.

ia selanjutnya bertugas  di  RSUP Padang dan kemudian pindah ke Jawa Timur,Surabaya.

 Saya juga memperoleh informasi dari seorang bekas pengemudi Truk Polisi saat saya bertugas sebagai dokter POLRI di Polda Sumbar tahun 1973  mengangkut korban yang meninggal saat ditembak PRRI dilembah anai,hal ini membuat ia trauma dan tidak mau naik mobil lagi,tetapi tragis ia malah meninggal ditabrak mobil saat naik sepeda.

Selain itu juga salah seorang dokter ex wamil saat penumpasan PRRI adalah Dr Oei Hok Kim ,yang bertugas di

 

RS Tentara Padang, kemudian tahun 1966 menjadi dosen kepala bagian Patologi Anatami di

 

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dengan nama Prof Wijaya Hakim.

Isteri saya juga kenal dengan seorang dokter wajib militer saat penumpasan PRRI yaitu Dr Tan Tjong Swan yang bertugas

 

di Rumah Sakit Umum Padang Panjang, yang kemudian pindah ke Kediri.                           (Dr Iwan)

16 Mei 1958

Baru pada hari berikutnya tanggal 16 Mei 1958  pasukan Operasi 17 agustus  bergerak menuju Bukittinggi

(Ahmad Yani)

Pasukan ini menyusur jalan liwat jalan antara

 

Gunung marapi dan

 

Gunung Singalang ,

 

 

liwat Koto Baru dan akhirnya sampai ke Bukittinggi

(Dr Iwan)

18 Mei 1958

 

Majallah ini dilarang beredar di Sumatera barat

Surat RHS Kepala daerah Pos Sumatera Tengah kepada Kepala Kantor Padang perihal Kecuali majallah Time dan ,Newsweek,dan New York time ,semua buku yang dikirim toko buku Indera boleh diserahkan.

(buku agenda surat rhs kdpos padang)

US pilot Alan Pope is shot down over Ambon while secretly helping PRRI rebels

Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT.

by mid1958 .

There were several important consequences: the forced retirement of many officers from Sumatra and the eastern archipelago, making the officer corps proportionately more Javanese (and presumably more loyal to Sukarno); the firm implantation of central authority in the Outer Islands; and the emergence of Nasution, promoted to lieutenant general, as the most powerful military leader. But the army’s victory in suppressing regional rebellion caused Sukarno dismay. To offset the military’s power, Sukarno’s ties with the PKI grew closer.

The PRRI revolt also soured Sukarno’s relations with the United States. He accused Washington of supplying the rebels with arms and angrily rejected a United States proposal that marines be landed in the Sumatra oil-producing region to protect American lives and property.

The United States was providing clandestine aid to the rebels and Allen Pope, an American B-25 pilot, was shot down over Ambon on May 18, 1958, creating an international incident.

Deteriorating relations prompted Sukarno to develop closer relations with the Soviet Union and, especially, the People’s Republic of China.

   

Air Force Captain
Ignatius Dewanto

Dewanto fired until
the last bullet

18 May 1958

Dewanto’s Mustang Shot Down
Pope’s B-26 Invader

US pilot Alan Pope is shot down over Ambon
while secretly helping PRRI rebels

In 1958 the Sumatrans under Colonel Simbolon declared their formal opposition to Sukarno’s policies by forming the Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia, PRRI).

The Sumatran action was quickly followed by revolt in the Celebes (modern-day Sulawesi), and suddenly the government on Java was feeling vulnerable, for without Sumatra and Sulawesi there would be no Indonesian Republic.

At first it seemed that Sukarno was incapable of acting, for the rebel challenge remained unanswered.


Eventually, in mid-1958, after much posturing by both sides, the central government despatched military forces to deal with the threat. Despite Western observers’ contempt for the military ability of these forces, the rebels on Sumatra and Sulawesi posed no real threat and they collapsed without any serious battles being fought.
By 1960 the central government had restored its authority, albeit in a limited sense, across Indonesia

Indonesia 1958:Nixon, The CIA and The Secret War

By L.Fletcher Prouty

The  1958 Indonesian  action involved  nos than  42.000 CIA armed rebel supported  by a fleet  of bombrs  and vast  numbers  of four engine  transport aircraft as well as submarine assistance from the US Navy.I

 

1958: The First CIA Attempt

Indonesia: “Soldiers of Fortune

PRRI-Permesta

In spite of occasional flashes of truth in the press, the real U.S. involvement in the 1965 coup is one of the best-kept secrets in Washington. Official statements on the coup and its aftermath are practically nonexistent. Somewhat more is known of the 1958 attempt to overthrow the Sukarno government in which the CIA was involved.

In their authoritative book about the CIA entitled The Invisible Government, Washington correspondents Thomas Ross and David Wise related how the U.S. supplied a right-wing rebel force in Indonesia with arms and a small air force of B-26 bombers in an attempt to overthrow Sukarno. The attempt failed, but not before one of the American pilots, Allen Lawrence Pope, was captured by loyalist forces.

Wise and Ross now began work on a new book called Invisible Government. John McCone, the director of the Central Intelligence Agency, discovered that the book intended to look at his links with the Military Industrial Congress Complex. The authors also claimed that the CIA was having a major influence on American foreign policy. This included the overthrow of Mohammed Mossadegh in Iran (1953) and Jacobo Arbenz in Guatemala (1954).


The book also covered the role that the CIA played in the Bay of Pigs operation, the attempts to remove President Sukarno in Indonesia and the covert operations taking place in Laos and Vietnam.

The Invisible Government was published in 1964. It was the first full account of America’s intelligence and espionage apparatus. In the book Wise and Ross argued that the “Invisible Government is made up of many agencies and people, including the intelligence branches of the State and Defense Departments, of the Army, Navy and Air Force”. However, they claimed that the most important organization involved in this process was the CIA.

Ross and Wise explain:

 

Three weeks before Pope was shot down, Dwight D. Eisenhower had emphatically denied charges that the United States was supporting the rebellion against President Sukarno.
“Our policy,” he said at a press conference on April 30, “is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as not to be taking sides where it is none of our business.

“Now on the other hand, every rebellion that I have ever heard of has its soldiers of fortune….” But Pope was no freebooting soldier of fortune. He was flying for the CIA, which was secretly supporting the rebels who were trying to overthrow Sukarno. [p. 137]

This cool revelation was never contradicted by Eisenhower or anyone else. All the authors omitted
to mention was the all too obvious fact that the CIA is the arm of the United States government itself.

 

After the Administration changed hands and President Kennedy had arranged for Pope’s exchange and invited Sukarno
to Washington, the new President was somewhat more candid than the old on the subject
of the U.S. try at counter-revolution in 1958.

During the visit Kennedy commented to one of his aides:
“No wonder Sukarno doesn’t like us very much. He has to sit down with the people who
tried to overthrow him
. ” [p. 145]

Arthur Schlesinger, Jr., in his authoritative biography of President Kennedy matter-of-factly confirms this story in a chapter analyzing Sukarno:

 

His deep mistrust of the white West was understandably compounded in the case of the United States by
his knowledge that in 1958 the CIA had participated in an effort to overthrow him. [A Thousand Days, p. 532]

Wise and Ross also pointed out some of Washington’s reasons for being favorable to the right-wing generals:
And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States. [The Invisible Government, p. 139]
That attempted coup failed.
But seven years and nearly a million lives later these “changes” were effected.

A series of articles written by a Times team of journalists researching the activities of the CIA has confirmed the Wise-Ross story of the 1958 CIA intervention into Indonesia’s internal affairs.
In Indonesia in the same year [1958], against the advice of American diplomats, the CIA was authorized to fly supplies from Taiwan and the Philippines to aid army officers rebelling against President Sukarno in Sumatra and Java. An American pilot was shot down on a bombing mission and was released only at the insistent urging of the Kennedy Administration in 1962. Mr. Sukarno, naturally enough, drew the obvious conclusions…. [New York Times, April 25, 1966]

CIA “PRINCIPAL ARM OF U.S. POLICY”

There has been no slacking off of CIA activity in Indonesia since 1958. On the contrary, there is every indication that the influence of this agency deepened in right-wing circles as the position of the Indonesian government moved to the left. In the same articles which the Times researchers so carefully prepared, the following remarkable statement appears:

In Southeast Asia over the last decade, the CIA has been so active that the agency in some countries has been the principal arm of American policy. It is said, for instance, to have been so successful at infiltrating the top of the Indonesian government and army that the United States was reluctant to disrupt CIA covering operations by withdrawing aid and information programs in 1964 and 1965. [New York Times, April 27, 1966]
If the intelligence agency of another country had infiltrated the U.S. government and armed forces to their highest level, and if such infiltration were followed by a coup favorable to that foreign power and consolidated by a bloodbath of monumental proportions, there should be little doubt in people’ minds about what had happened.

The thread of continued U.S. infiltration, subversion and economic sabotage in Indonesia after the 1958 attempted coup can be picked up only in small pieces. But enough has been made public to get the drift of what Washington was attempting to do. Control over the army was the key factor in undermining the Sukarno regime, and every effort was bent in this direction.
Senator Eugene J. McCarthy in the July 9, 1966, issue ofSaturday Review discussed the effects that the U.S. “military assistance” program has on foreign policy. He wrote:
Supplying arms opens the way to influence on the military and also on the political policies of the recipient countries. Experience has demonstrated that when an arms deal is concluded, the military hardware is only the first step. Almost invariably, a training mission is needed and the recipient country becomes dependent on the supplier for spare parts and other ordnance.
. . . Indonesia, where military elements appear to have taken de facto control of the government in the wake of recent turmoil, received, in addition to Soviet military assistance, nearly $64,000,000 in military-grant aid from the United States between 1959 and 1965.

When Sukarno told the U.S. “To hell with your aid!” it was an attempt to break loose from this armored stranglehold.

Even with the information revealed by Ross and Wise, however, the general public hasn’t the least idea how deeply the U.S. was involved in the 1958 attempt to overthrow the Sukarno government. But in the case of thesuccessful coup of 1965, not even the gossips of Washington knew what really happened. So much was at stake for U.S. big business and for the world politics of U.S. imperialism that few indeed were the slips of “security” on the Indonesian question.

McNAMARA THOUGHT IT PAID DIVIDENDS

 

Probably no one knows better than former Secretary of Defense McNamara what importance Indonesia has in Washington’s Asian strategy. While he is known to have a thousand answers ready and a volume of statistics at hand on other vital subjects, he was suspiciously tight-lipped on this. In the 1967 Fulbright Committee hearings on the U.S. Foreign Assistance Program, McNamara testified at length on the results of U.S. military aid programs in many countries throughout the world. Yet he was strangely uninformative on the results of such “assistance” to Indonesia, despite the unofficial leaks from “informed sources” greeting the military coup with glee. But McNamara was too modest to take credit for it.

Not as discreet was Senator Sparkman of Alabama, who perhaps needed assurance that all this aid was worth it. In banker’s language he questioned Secretary McNamara:

SEN. SPARKMAN. I want to go back to . . . our continuing military aid to Indonesia. At a time when Indonesia was kicking up pretty badly — when we were getting a lot of criticism for continuing military aid — at that time we could not say what that military aid was for. Is it secret any more?
SECY. McNAMARA.I think in retrospect, that the aid was well-justified. SEN. SPARKMAN.You think it paid dividends?

SECY. McNAMARA. I do sir.
[Foreign Assistance Hearings,
p. 693]

BUNDY HAD HOPES

 

Probably no one knows better than former Secretary of Defense McNamara what importance Indonesia has in Washington’s Asian strategy. While he is known to have a thousand answers ready and a volume of statistics at hand on other vital subjects, he was suspiciously tight-lipped on this. In the 1967 Fulbright Committee hearings on the U.S. Foreign Assistance Program, McNamara testified at length on the results of U.S. military aid programs in many countries throughout the world. Yet he was strangely uninformative on the results of such “assistance” to Indonesia, despite the unofficial leaks from “informed sources” greeting the military coup with glee. But McNamara was too modest to take credit for it.

In the prolonged period between the abortive coup attempt of 1958 when the CIA pilot was shot down and the successful military takeover in 1965, even top-ranking members of Congress were kept in the dark about the progress of U.S. subversion and infiltration.

One such Congressman was Clement Zablocki, Chairman of the House Foreign Affairs subcommittee on the Far East. The extent of the secrecy shrouding relations between the U.S. and key persons in the Indonesian military and government can be judged by the fact that Zablocki, a Congressional “watchdog” over the U.S. interests in Asia, did not know in the summer of 1965, a few short months before the coup, why the Administration wanted to increase military aid to Indonesia.

Rep. Zablocki’s committee was worried that increased military aid to Indonesia, which was being urged by the State Department after Johnson sent Ellsworth Bunker on a special mission to Djakarta in March, would be used to implement President Sukarno’s outspokenly anti-imperialist policies. Called to testify before the committee in closed-door hearings was Assistant Secretary of State for Far Eastern Affairs, William Bundy. What’s the purpose of this aid, the committee wanted to know. Won’t it be used in the campaign against Malaysia? “I want to point out,” replied Bundy carefully, “that this equipment is being sold to the Indonesian army and not the Indonesian government.” “What’s the difference?” demanded Rep. William Broomfield. “It will be used against Malaysia.” “We hope not,” said Bundy. “When Sukarno leaves the scene, the military will probably take over. We want to keep the door open.”

Broomfield continued to press the point, asking what “proof” the State Department had that the army leaders would be friendly to the United States. “We have hopes,” was Bundy’s reply. (Allen-Scott report — Hall Syndicate, July 15, 1965]

Bundy’s reticence to allay the fears of his less-informed colleagues seems to be the policy of top-level Administration personnel when questioned about Indonesia. As James Reston pointed out “Washington is being careful not to claim any credit” for the coup “but this does not mean that Washington had nothing to do with it.” [New York Times, June 19, 1966] And former Secretary of Defense McNamara, who could have adopted an I-told-you-so attitude when reminded in the spring of 1966 by Senator Sparkman of earlier criticism of the military aid program, modestly limited his comment to “I think, in retrospect that the aid was well-justified.”

By now, Zablocki must surely be convinced that it wasn’t out of some idealistic urge or altruism that Washington tightened its connections with the Indonesian military. Since the takeover led by Generals Nasution and Suharto, Indonesia has moved into the American orbit. Final proof of this was the visit of the new Indonesian Foreign Minister, Adam Malik, to then President Johnson in September of 1966. And on that trip, Malik also dropped in on Zablocki and personally reassured him that the new government was “friendly” to the United States.

 

The secret Eisenhower and Dulles
debacle in Indonesia

———–

During the 1950s the Eisenhower administration provoked and strongly abetted a major rebellion and then civil war in Indonesia
that tore the country apart. Aiming to replace and transform its political leadership, the administration launched what was then the largest U.S. covert operation since World War II,involving not only
the Central Intelligence Agency (CIA) but also the U.S. navy and
a camouflaged American airforce.

—In 1957, President Eisenhower, his secretary of state,
John Foster Dulles, and the CIA–unbeknownst to Congress or to
the American public–launched a massive covert military operation
in Indonesia. Its aims were to topple or weaken Indonesia’s populist President Sukarno, viewed as too friendly toward Indonesia’s Communist Party, and to cripple the Indonesian army.

Finger in the pie

Audrey R. & George McT. Kahin,
Subversion as foreign policy: The secret Eisenhower and Dulles debacle in Indonesia,
New York: The New Press/ Petaling Jaya: Forum, 1995.

Reviewed by KERRY COLLISON

The revelations described in the authors’ study of American covert action comes at a time when nations around the globe continue to operate their clandestine arms almost without fear of discovery due to governments’ ability to suppress information.
The Kahins have presented us with the results of what is obviously an exhaustive study relating to the United States Government’s use of their intelligence service which, even at this time, continues to operate on foreign soil, subverting elected representatives and influencing outcomes within sovereign states almost without reproach, or accountability.
The content of the book is most alarming. As the authors take us through the political quagmire created primarily by successive American Administrations, we come to understand how the United States, virtually at the whim of a select, albeit powerful few, orchestrated the demise of millions in Southeast Asia. Detailed research provides startling information and an informed perspective of the Eisenhower years and how policy was formulated under the Dulles brothers. John Foster Dulles was secretary of state under President Eisenhower between 1953 and 1959. His younger brother Allen Dulles was director of the CIA.

We are given an in-depth view of how Indonesia was influenced by the United States’ inability to understand Sukarno’s philosophy of non-alignment, and how historically the Americans applied one basic foreign policy to all Asian nations regardless of their socio-political differences. The Kahins clearly identify the origins of this syndrome, establishing how the Americans never quite recovered from what they considered to be their loss of China to Mao Tse Tung.
Most intensively between April 1957 and March 1958, the US supplied military rebels in Sumatra and Sulawesi with arms and political support. Eisenhower and his colleagues thought Sukarno leaned dangerously toward communism, and they believed the rebels would be able to move in on Jakarta and take over the government. Alternatively, they did not flinch from the idea of Indonesia’s breakup. They drew down their support when Jakarta’s army commander Gen Nasution called their bluff and put down the PRRI rebellion with little military effort, but not till after US planes had bombed many hundreds to death on Indonesian navy ships and in a crowded market and churches in Ambon.

Subversion as foreign policy cleverly draws comparisons between the Indonesian debacle and other flawed attempts by the United States to control the destiny of other nations. The Bay of Pigs disaster has some chilling similarities.
Unfortunately, as the writers point out, insufficient detail has been released by the US Government with relation to what role their Administration played in bringing about the change of government in Indonesia during 1965-66. We can only hope that, in the event of this detail being forthcoming, then it will be passed to the capable hands of the Kahins.

 

The Revolutionary Government, 1957–59
Dissatisfied with the division of power in 1957 and Sukarno’s open flirtation with the communists, the outer islands of the Indonesian Archipelago decided to act. In 1958 the Sumatrans under Colonel Simbolon declared their formal opposition to Sukarno’s policies by forming the Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia, PRRI). The Sumatran action was quickly followed by revolt in the Celebes (modern-day Sulawesi), and suddenly the government on Java was feeling vulnerable, for without Sumatra and Sulawesi there would be no Indonesian Republic.

At first it seemed that Sukarno was incapable of acting, for the rebel challenge remained unanswered. Eventually, in mid-1958, after much posturing by both sides, the central government despatched military forces to deal with the threat. Despite Western observers’ contempt for the military ability of these forces, the rebels on Sumatra and Sulawesi posed no real threat and they collapsed without any serious battles being fought. By 1960 the central government had restored its authority, albeit in a limited sense, across Indonesia.


Indonesia: “Soldiers of Fortune

THE INDONESIAN anti-aircraft fire hit the rebel B-26 and the two-engine bomber plunged toward the sea, its right wing aflame. The pilot, an American named Allen Lawrence Pope, jumped clear and his parachute opened cleanly. But as he drifted down onto a small coral reef, the chute caught a coconut tree and Pope’s right leg was broken.

It was May 18, 1958, and the twenty-nine-year-old pilot had just completed a bombing and strafing run on the Ambon Island airstrip in the Moluccas, 1,500 miles from Indonesia’s capital at Jakarta. It was a dangerous mission and Pope had carried it off successfully. But when the Indonesians announced his capture, Ambassador Howard P. Jones promptly dismissed him as “a private American citizen involved as a paid soldier of fortune.”
The ambassador was echoing the words of the President of the United States. Three weeks before Pope was shot down,

Dwight D. Eisenhower had emphatically denied charges that the United States was supporting the rebellion against President Sukarno.
Our policy,” he said, at a press conference on April 30, “is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as not to be taking sides where it is none of our business.

“Now on the other hand, every rebellion that I have ever heard of has its soldiers of fortune. You can start even back to reading your Richard Harding Davis. People were going out looking for a good fight and getting into it, sometimes in the hope of pay, and sometimes just for the heck of the thing. That is probably going to happen every time you have a rebellion.”
But Pope was no freebooting soldier of fortune. He was flying for the CIA, which was secretly supporting the rebels who were trying to overthrow Sukarno.
Neither Pope nor the United States was ever to admit any of this — even after his release from an Indonesian jail in the summer of 1962. But Sukarno and the Indonesian Government were fully aware of what had happened. And that awareness fundamentally influenced their official and private attitude toward the United States. Many high-ranking American officials — including President Kennedy — admitted it within the inner circles of the government, but it is not something that they were ever likely to give public voice to.

Allen Pope, a six-foot-one, 195-pound Korean War ace, was the son of a moderately prosperous fruit grower in Perrine, just south of Miami. From boyhood he was active and aggressive, much attracted by the challenge of physical danger. He attended the University of Florida for two years but left to bust broncos in Texas. He volunteered early for the Korean War, flew fifty-five night missions over Communist lines as a first lieutenant in the Air Force, and was awarded the Distinguished Flying Cross.
After the war Pope returned to Texas, got married, had a daughter, and was divorced. He worked for a local airline but found it dull stuff compared with the excitement he had experienced as a combat pilot in the Far East. And so in March of 1954 Pope signed on with Civil Air Transport, an avowedly civilian airline based on Formosa. He spent two months flying through Communist flak to drop supplies to the French at Dienbienphu. CAT grew out of the Flying Tigers and inherited much of its technique and swagger.
Pope found the outfit congenial. After Dienbienphu he renewed his contract, rising in three years to the rank of captain with a salary of $1,000 a month. He met his second wife, Yvonne, a Pan American stewardess, in Hong Kong. They settled down in a small French villa outside Saigon and had two boys.

Big-game hunting in the jungles of South Vietnam was their most daring diversion. Pope was ready for an even more dangerous challenge when the CIA approached him in December, 1957. The proposition was that he would fly a B-26 for the Indonesian rebels, who were seeking to topple Sukarno. A half-dozen planes were to be ferried in and out of the rebel airstrip at Menado in the North Celebes from the U.S. Air Force Base at Clark Field near Manila. In the Philippines the planes would be safe from counterattack by Sukarno’s air force.
The idea of returning to combat intrigued Pope, and he signed up. His first mission, a ferrying hop from the Philippines to the North Celebes, took place on April 28, 1958. That was two days before President Eisenhower offered his comments about “soldiers of fortune” and promised “careful neutrality … We will unquestionably assure [the Indonesian Government] through the State Department,” he declared, “that our deportment will continue to be correct.”

But Sukarno was not to be easily convinced. A shrewd, fifty-six-year-old politician, he was a revolutionary socialist who led his predominantly Moslem people to independence after 350 years of Dutch rule. Sukarno knew he was deeply distrusted by the conservative, businesslike administration in Washington. A mercurial leader, he was spellbinding on the stump but erratic in the affairs of state. He was also a ladies’ man (official Indonesian publications spoke openly of his “partiality for feminine charm” and quoted movie-magazine gossip linking him with such film stars as Gina Lollobrigida and Joan Crawford) and has had four wives.
In particular, Sukarno was aware of Washington’s understandable annoyance with his sudden turn toward the Left: he had just expropriated most of the private holdings of the Dutch and had vowed to drive them out of West lrian (New Guinea); he had requested Russian arms; and he had brought the Communists into his new coalition government.

From the start of its independence in 1949 until 1951 Indonesia was a parliamentary democracy. The power of the central government was balanced and diffused by the local powers of Indonesia’s six major and 3,000 minor islands stretching in a 3,000-mile arc from the Malayan peninsula. But in February, 1957, on his return from a tour of Russia and the satellites, Sukarno declared parliamentary democracy to be a failure in Indonesia. He said it did not suit a sharply divided nation of
close to 100,000,-000 people. Besides, the government could not successfully exclude a Communist Party with over 1,000,000 members.
“I can’t and won’t ride a three-legged horse,” Sukarno declared. His solution was to decree the creation of a “Guided Democracy,” It gave him semi-dictatorial powers while granting major concessions to the Communists and the Army.

The Eisenhower Administration feared that Sukarno would fall completely under Communist domination. And that, of course, would be a genuine disaster for the United States. Although its per capita income of $60 was one of the lowest in the world, Indonesia’s bountiful supply of rubber, oil and tin made it potentially the third richest nation in the world. And located between the Indian Ocean, the Pacific Ocean, Asia and Australia, it commanded one of the world’s principal lines of communication.
Many of Indonesia’s political leaders, particularly those outside of Java, shared Washington’s apprehensions about Sukarno’s compromises with the Communists. And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States.

On February 15, 1958, a Revolutionary Council at Padang, Sumatra, proclaimed a new government under the leadership of Dr. Sjafruddin Prawiranegara, a forty-seven-year-old Moslem party leader and former governor of the Bank of Indonesia. A multi-party cabinet was established, with representation from Java, Sumatra and Celebes.

Sukarno declared:
“There is no cause for alarm or anxiety. Like other countries, Indonesia has its ups and downs.”
General Nasution promptly asserted his allegiance by dishonorably discharging six high-ranking officers who had sided with the rebels. A week later Indonesian Air Force planes bombed and strafed two radio broadcasting stations in Padang and another in Bukittinggi, the revolutionary capital forty-five miles inland. The attack, carried out by four old U.S. planes, succeeded in silencing the rebel radios.

In testimony to Congress early in March, John Foster Dulles reiterated the United States pledge of strict neutrality.
“We are pursuing what I trust is a correct course from the point of international law,” he said. “And we are not intervening in the internal affairs of this country …”
On March 12 Jakarta announced that it had launched a paratroop invasion of Sumatra, and the next week the rebels formally appealed for American arms. They also asked the United States and the Southeast Asia Treaty Organization to recognize the revolutionary government.

On April 1 Dulles declared:
“The United States views this trouble in Sumatra as an internal matter. We try to be absolutely correct in our international proceedings and attitude toward it. And I would not want to say anything which might be looked upon as a departure from that high standard.”
A week later, commenting on Indonesia’s announcement that it was purchasing a hundred planes and other weapons from Communist Poland, Yugoslavia and Czechoslavakia, State Department spokesman Lincoln White declared:
“We regret that Indonesia turned to the Communist bloc to buy arms for possible use in killing Indonesians who openly opposed the growing influence of Communism in Indonesia.”
Jakarta responded angrily that it had turned to the Communists only after the United States had refused to allow Indonesia to buy $120,000,000 worth of American weapons. Dulles confirmed the fact the same day but claimed the Indonesians were rebuffed because they apparently intended to use the weapons to oust the Dutch from West Irian.

“Later, when the Sumatra revolt broke out,” Dulles added, “it did not seem wise to the United States to be in the position of supplying arms to either side of that revolution …
“It is still our view that the situation there is primarily an internal one and we intend to conform scrupulously to the principles of international law that apply to such a situation.”
During the night of April 11, some 2,000 Indonesian Army troops launched an offensive against the rebels in northwest Sumatra, and at sunrise on April 18 a paratroop and amphibious attack was hurled against Padang. Twelve hours later, after modest resistance, the rebel city fell. Turning his troops inland toward Bukittinggi, Nasution declared he was “in the final stage of crushing the armed rebellious movement.”
Throughout that month Jakarta reported a series of rebel air attacks against the central government, but it was not until April 30 that the United States was implicated. Premier Djuanda Kartawidjaja then asserted that he had proof of “overt foreign assistance” to the rebels in the form of planes and automatic weapons.

“As a consequence of the actions taken by the United States and Taiwan adventurers,” Djuanda commented, “there has emerged a strong feeling of indignation amongst the armed forces and the people of Indonesia against the United States and Taiwan. And if this is permitted to develop it will only have a disastrous effect in the relationships between Indonesia and the United States.” Sukarno accused the United States of direct intervention and warned Washington “not to play with fire in Indonesia … let not a lack of understanding by America lead to a third war …
“We could easily have asked for volunteers from outside,” he declared in a slightly veiled allusion to a secret offer of pilots by Peking. “We could wink an eye and they would come. We could have thousands of volunteers, but we will meet the rebels with our own strength.”

On May 7, three days after the fall of Bukittinggi,* the Indonesian military command charged that the rebels had been supplied weapons and ammunition with the knowledge and direction of the United States. The military command cited an April 3 telegram to the Revolutionary Government from the “American Sales Company” of San Francisco. Robert Hirsch, head of the company, confirmed that he had offered to sell the arms to the rebels but said he had done so without clearing it with the State Department. In any case, he said, the arms were of Italian make and none had been delivered.
The State Department flatly denied the accusation, and the New York Times editorialized indignantly on May 9:

Fact

“It is unfortunate that high officials of the Indonesian Government have given further circulation to the false report that the United States Government was sanctioning aid to Indonesia’s rebels.

The position of the United States Government has been made plain, again and again. Our Secretary of State was emphatic in his declaration that this country would not deviate from a correct neutrality. The President himself, in a news conference, reiterated this position but reminded his auditors, and presumably the Indonesians, that this government has no control over soldiers of fortune …

“It is always convenient for a self-consciously nationalistic government to cry out against ‘outside interference’ when anything goes wrong. Jakarta … may have an unusually sensitive conscience. But its cause is not promoted by charges that are manifestly false …
“It is no secret that most Americans have little sympathy for President Sukarno’s ‘guided democracy’ and his enthusiasm to have Communist participation in his government …
“But the United States is not ready … to step in to help overthrow a constituted government. Those are the hard facts. Jakarta does not help its case, here, by ignoring them
“(Who provided the manifestly false statement and who ignored the hard facts?? – Ed.)

 

.”
On April 29, 1960, the court handed down the death sentence, but it seemed unlikely that the penalty would be imposed. It had not once been invoked since Indonesia gained its independence eleven years before.
Pope appealed the sentence the following November, and when it was upheld by the Appeals Court, he took the case to the Military Supreme Court. Mrs. Pope made a personal appeal to Sukarno on December 28 during the first of two trips to Indonesia, but she was offered no great encouragement despite the prospect of improved relations between Sukarno and President-elect Kennedy.

Sukarno received an invitation to visit Washington a month after Kennedy took office. The Indonesian leader had been feted by President Eisenhower during a state visit to the United States in 1956; and he had more or less forced a second meeting with Eisenhower at the United Nations in the fall of 1960. But on most of his trips to the United States, Sukarno felt snubbed. Kennedy’s invitation clearly flattered and pleased him.
The two men sat down together at the White House the week after the Bay of Pigs. The meeting went well enough, but Kennedy was preoccupied with the CIA’s latest failure at attempted revolution.
During the visit Kennedy commented to one of his aides: No wonder Sukarno doesn’t like us very much. He has to sit down with people who tried to overthrow him.

Still Sukarno seemed favorably disposed toward the new Kennedy Administration. The following February, during a good-will tour of Indonesia, Robert Kennedy asked Sukarno to release Pope. (Secret negotiations were then far advanced for the exchange the next week of U-2 pilot Francis Gary Powers and Soviet spy Rudolph I. Abel. And the White House was favorably impressed with the tight-lipped Mr. Pope as contrasted with Powers, a CIA pilot who talked freely about his employer.)
Sukarno’s first reaction to Robert Kennedy’s request was to reject it out of hand, but when the Attorney General persisted, he agreed to take it under consideration. Six months later, on July 2, 1962, Pope was freed from prison without prior notice and taken to the American Embassy for interrogation by Ambassador Jones and other officials. Then he was put aboard a Military Air Transport Service plane and flown back to the United States.
Pope was hidden away for seven weeks and the State Department did not reveal his release until August 22. Pope insisted there had been no secret questioning (such as that to which Powers was subjected by the CIA on his return from Russia). The State Department’s explanation of the long silence was that Pope had asked that the release be kept secret so he could have a quiet rendezvous with his family.

* The rebels then moved their capital to Menado, which fell late in June.

 

Operation Haik

 

With the capture of Pope, the CIA’s clandestine operation was not clandestine any more, even if the Indonesian government made no efforts to reveal the extension of the US involvement to the full lenght. Nevertheless, the Operation Haik was continued until in August 1958 the PRR/PERMESTA ceased to operate after a series of defeats by the Indonesian Army.

AURI F-51D “F-338” was the Mustang flown by Capt. Dewanto when he finished off Pope’s B-26 on 18 May 1958. Several details about the appearance of this aircraft at the time remain unclear, however: it is unknown if the plane has got the full national insignia, for example. By 1958, most – but by far not all – of the Indonesian Mustangs (regardless if F-51Ds or F-51Ks), should have got the national markings between the prefix “F”, and serial. If not, then the aircraft might still have carried the Indonesian flag underneath the right wing instead the Pentagon. Unclear is also the colour of the spiner and propeler: some sources insist these were painted blue, as seen here, others that they were pained red (spinner) and black (propelers, like on the artwork bellow), but it is also possible that the spinner was blue, but propellers black with yellow tips. Interestingly, today there is an AURI Mustang F-338 preserved at the Yogyakarta Air Force Musuem. The aircraft in question, however, is a Cavalier Mustang previously coded F-361: it was re-serialled into F-338 in memory of Capt. Dewant’s aircraft, which scored the only known air-to-air kill in the history of the Indonesian Air Force. There is also a second F-338 – possibly fake – displayed on pole at the Air Force’s Headquarters in Jakarta

 

 

US Navy AJ-2P Savage hit by Permesta
anti-aircraft fire over Manado

 

US supplied B26 Permesta plane as used by
US pilot Alan Pope who was shot down
May 1958 in Ambon by Capt. Dewanto

The Revolutionary Government, 1957–59
Dissatisfied with the division of power in 1957 and Sukarno’s open flirtation with the communists, the outer islands of the Indonesian Archipelago decided to act. In 1958 the Sumatrans under Colonel Simbolon declared their formal opposition to Sukarno’s policies by forming the Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia, PRRI). The Sumatran action was quickly followed by revolt in the Celebes (modern-day Sulawesi), and suddenly the government on Java was feeling vulnerable, for without Sumatra and Sulawesi there would be no Indonesian Republic.

At first it seemed that Sukarno was incapable of acting, for the rebel challenge remained unanswered. Eventually, in mid-1958, after much posturing by both sides, the central government despatched military forces to deal with the threat. Despite Western observers’ contempt for the military ability of these forces, the rebels on Sumatra and Sulawesi posed no real threat and they collapsed without any serious battles being fought. By 1960 the central government had restored its authority, albeit in a limited sense, across Indonesia.

 

Prime Minister Menzies inspecting his guard of honour
at Kemajoran Airport, 1959. NAA: AA1972/341, 006

Australia was faced with a dilemma. It was unhappy with Sukarno’s policies, the erosion of constitutional democracy and the rise of the Partai Komunis Indonesia (PKI). However, recognition of, or even support for, the Revolutionary Government was fraught with danger for it could well have played into the hands of the communists and encouraged Sukarno’s anti-Western rhetoric. Australia trod warily, careful to nurture the constitutional validity of the central government, but at the same time cautious of Sukarno’s wayward mood and the ability of the PKI to use the situation to its own advantage.
Moreover the PRRI rebellion and its consequences soured Indonesia’s relations with the United States (US). Believing that the
United States had supplied the rebels with arms, Sukarno then rejected a US proposal that marines be landed in Sumatra to protect American lives and property. Consequently Sukarno began to cultivate closer relations with the United Soviet Socialist Republic and the People’s Republic of China.

The winners in the defeat of the PRRI were Sukarno, the PKI and the Army. The losers were parliamentary democracy, the people of the outer islands and the political parties that had procrastinated over how to deal with the rebels. Ever the opportunist, Sukarno capitalised on his new position. His problem now was playing his arch rivals, the communists and the Army, off against each other to maintain his pre-eminent position.

The beginning of ‘guided democracy’, 1957–59
In 1954 the Australian Department of External Affairs assessed the Indonesian Parliament as being incapable of dealing authoritatively ‘with the grave political and economic problems arising from eight years of military occupation, war and revolution’.[4] The same assessment went on to describe Sukarno’s pivotal role in Indonesian politics:

President Sukarno occupies a key position. As the father of the revolution, his prestige is firmly established and with the frustration and disillusionment which have resulted from the wranglings and manoeuvres of coalition governments, his importance as controller of the balance of power has increased as the reputations of others have declined. He has a remarkable understanding of the public relations technique required of a national figure and he has successfully kept Vice-President Hatta in the background.[5]


By 1957 Sukarno had become increasingly annoyed with the restrictions placed on his power by the Parliament, an annoyance compounded by interminable parliamentary debates and lack of any progress on important national issues. Early that year he announced the idea of ‘guided democracy’, which would cut through the irrelevant Western liberal democratic debate and reach proper decisions under the guidance of an enlightened leader, namely Sukarno. His concept was modelled on that of the Indonesian village: after prolonged deliberation by village elders, the villagers would reach consensus. Although practical at the village level, it did not translate easily into running a nation deeply divided by ethnic, regional, class and religious differences.

Sukarno created a national council which, apart from members of the political parties, comprised representatives from functional groups such as religious and workers’ organisations and the military. Under Sukarno’s personal guidance, this national council would come to national consensus on various matters. This innovation allowed Sukarno to bypass the political parties and, more importantly, it promoted the interests of the functional groups, particularly the military, who were soon deeply involved in managing the nationalised Dutch estates.

he creation of the national council ushered in a series of crises, including the resignation of the government, the formation of a revolutionary government in Sumatra and the seizing of Dutch assets as part of the campaign to recover ‘Irian Barat’ (the PKI term for Netherlands New Guinea). Despite these setbacks Sukarno pressed on with his concept of guided democracy. After he was thwarted by the Constituent Assembly, which was elected in 1955 to draft the permanent constitution, he simply brought down the policy of guided democracy by presidential decree on 5 July 1959.[6]

Vindicated in his quest for national power, Sukarno ruled as a President should, with grand imperious gestures that appealed to the Indonesian public and to nationalist ideals but with scant regard for the public purse. The nationalisation of Dutch assets fed his profligacy and Indonesia was soon on the steep and slippery slope to financial ruin.

 


The following appeared in the August, 1976 issue of Gallery magazine:

Indonesia 1958: Nixon, the CIA, and the Secret War
By L. Fletcher Prouty

Blood ran in the streets. Villages were wiped out and a million people massacred in a battle for the riches and
political control of Indonesia. Nixon and the CIA wanted Sukarno overthrown. But the creator of Indonesia knew
how to fight.

A letter from one of the most beautiful women in the world lies buried in a stack of mail on President Ford’s desk. Written in Paris on July 24, 1975, by Dewi Sukarno, the former First Lady of Indonesia and widow of Dr. Achmed Sukarno, the charismatic Father of Indonesia, the letter is an appeal to President Ford for a complete explanation of the CIA-led and supported rebellions that took place in Indonesia in 1958 and 1965.
It is not well known in the United States that the 1958 rebellion led to a major Indonesian civil war. The CIA-inspired uprising in Indonesia, unlike the Bay of Pigs invasion of Cuba, was a full-scale military operation. The Bay of Pigs invasion in 1961 was made by a thin brigade of about 1,500 Cuban exiles trained by the CIA in Guatemala. But the 1958 Indonesian action involved no less than 42,000 CIA-armed rebels supported by a fleet of bombers and vast numbers of four-engine transport aircraft as well as submarine assistance from the U.S. Navy. It also involved a major training and logistical supporting effort on the part of the Philippines, Okinawa, Taiwan, and Singapore. But despite this massive armed force, the 1958 rebellion, like the Bay of Pigs invasion, was a total failure. Sukarno’s army drove the rebels on Sumatra and Celebes into the sea.

There are some who might call the 1965 uprising a success. At least the rebels were not driven into the sea. However, for the United States it was a fantastically costly endeavor. The rebellion ended in the most massive and ruthless bloodbath since World War II. While the headlines in the United States dealt with the slaughter in Vietnam, the press of the rest of the world heaped blame on the United States for the barbaric massacre in Indonesia. The victorious new government of General Suharto proceeded to assassinate nearly one million people. This terrible slaughter and the ensuing imprisonment of tens of thousands of Indonesians stirred Dewi Sukarno to seek President Ford’s assistance in gaining the release of her countrymen from prison.

Dewi Sukarno has received no answer. But even without a reply she knows. The silence from Washington speaks for itself. A denial, if true, would have come without hesitation. The Indonesians know. The Latins had a phrase for it, “Is fecit cui prodest” — the perpetrator of a crime is he who profits by it. Today, major U.S. enterprises are plundering the raw material wealth of Indonesia — rubber, tin, and oil — in a manner that is more vile than what is happening in Chile. And there is no one to stop them.

Achmed Sukarno was one of those rare men who rose during the hours of crisis to unite one hundred million people and lead them out of the ashes of World War II. Sukarno came to liberate his country from the Japanese, the Dutch, the Portuguese, and from all others who were ready to enslave his country once again. He established his government on the “Five Pillars”: (l) belief in one supreme God (2) just and civilized humanity (3) unity of Indonesia (4) democracy (5) social justice.

Sukarno was forced to thread his way between communism and capitalism. His independence made him both friends and enemies. His worst enemies came from his polyglot people who are scattered over more than 3,000 islands. These islands make up the world’s largest archipelago; they stretch along the equator for over 3,400 miles and are located in Southeast Asia between the Philippines and Australia. From one of these islands came Lt. Col. Alex Kawilarang, the military attache serving in Washington who was to defect to the rebel forces and lead the rebel contingent on Sumatra, the Indonesian island richest in natural resources.

His Excellency President Gerald Ford
The White House
Washington, D.C.


Dear Mr. President,

As the widow of the late President Sukarno and being the only member of the family living overseas, I address myself to you, being deeply alarmed and disturbed by numerous and persistent reports in the international press. For instance, the CIA is said to have spied on my husband: manufactured a fake film in order to slander the good name and honor of Sukarno: prepared an assassination attempt against him and conspired to oust him from power to estrange him from the Indonesian people by accusing him of collaborating with international communism in betrayal of Indonesian independence, which of course was totally absurd.

My husband has repeatedly informed me that he was fully aware of these immoral, illegal, subversive, anti-Indonesian activities against his beloved Indonesia, his people, and against him personally.
I would like to request from you, as well as from the responsible Congressional Committees in the United States a full explanation about these reports and reprehensible practices as carried out by an official United States Government Agency in the name of several American Presidents and Governments.
Both in 1958 and in 1965, the CIA directly interfered in the internal affairs of Indonesia. In 1958, this monstrous action led to civil war. In 1965, it led to the ultimate takeover by a pro-Amencan military regime, while hundreds of thousands of innocent peasants and loyal citizens were massacred in the name of this insane crusade against international communism. Still today, ten years later, many tens of thousands of true patriots and Sukarnoists are locked up in jails and concentration camps being denied the simplest and most elementary human rights. American companies and aggressive foreign interests are indiscriminately plundering the natural riches of Indonesia to the advantage of the few and the disadvantage of the millions of unemployed and impoverished masses.

I must now ask you, Mr. President, in the name of freedom and justice, in the name of decency in relations between states and statesmen, between powerful nations and developing lands, in the name of the Indonesian people and the Sukarno family: did the United States of America commit these hideous crimes against Indonesia and against the founder of the nation? Will your Government be prepared to accept responsibility for these evil practices? Over one hundred million Indonesians have been brainwashed, as was the rest of the world by the present regime’s propaganda to believe that the communists carried out the insurrection. My countrymen, as well as everyone else, have the right to know the truth of the historic facts. It will be the painful duty for America now to reveal the CIA involvement in Indonesia and release all information and documents relevant to who really initiated the terrifying bloodbath that led to the overthrow of the legal Government and to the inhuman treatment in house arrest lasting three years until my husband’s death.
In closing, I would like to strongly appeal to you, Mr. President, to use your influence with the military regime in Jakarta, to immediately free those many thousands of political prisoners, men and women, former cabinet ministers, writers and journalists, who I know are entirely innocent of the crime of treason they have been accused of. If the United States were to be instrumental in helping to improve the fate of so many thousands of courageous compatriots, I think the entire Indonesian nation would be grateful and Indonesians would regain their confidence in America’s intentions towards the Third World.

Respectfully,


R. S. Dewi Sukarno
July 24, 1975

 

 

What is not generally known about the complex Indonesian struggle
is the role that was played by the then Vice President of the United States, Richard M. Nixon, and the bitter aftermath that involved the sudden ouster of Allen Dulles’ protege, Frank Wisner, who at that time was the head of the clandestine arm of the CIA. After Watergate, when Anthony Lukas wrote in
his book Nightmare, about the growing mistrust between Nixon and the
Director of Central Intelligence, Richard Helms, he could have added that since the 1958 Indonesian rebellion there were many in the CIA who made a career of hating Nixon because of what he had done to Frank Wisner, among others.

 

The Indonesian campaign began rather casually as so many CIA ventures do. Few if any ever originate at the top.
During an unguarded conversation in Washington the Indonesian military attache mentioned earlier made it known
to certain U.S. military acquaintances that there were many prominent and strong people in Indonesia who would
be ready to rise against Sukarno if they were given a little support and encouragement from the United States. It happened that one of those U.S. military friends he talked to was not a military man at all, but a member of the
CIA. The provocative words got back to Frank Wisner, then the Deputy Director of Plans. He was in charge of the CIA’s clandestine activity and he authorized agents to follow up on that first conversation.

The Indonesian attache was wined and dined and encouraged to talk more. Reasons for the attache’s return to Indonesia on official business were successfully arranged. He was accompanied by CIA agents traveling under the cover of “U.S. military” personnel. During this visit they spoke with rebel leaders. They learned enough about the potential strength of this opposition to encourage the CIA to set in motion its biggest operation up to that date.

In the Philippines there was a strong nucleus of military men, chief among them a Colonel Valeriano, who had been President Magsaysay’s military assistant. He had also worked on paramilitary exercises with the CIA during the Magsaysay campaign against the leftist rebel Huk movement. This military group had gained considerable power during the Magsaysay tenure. Many of these special warfare experts from the Philippines had volunteered for duty in South Vietnam in 1955 when the CIA was deeply involved in providing undercover support for the new and uncertain regime of President Ngo Dinh Diem.

By early 1958 these Filipinos and their CIA counterparts were prepared to involve the Philippines in the rebellion against Sukarno by setting up special warfare “Green Beret” training bases and by providing the Indonesian revolutionary council with clandestine air bases. One of those bases was on Palawan, the most western island of the Philippine archipelago, in the vicinity of the airfield at Puerto Princessa on Honda Bay. The other base was on the big southern island of Mindanao, near Davao Gulf.

Concurrently, in Washington, operations were being organized. Frank Wisner took over direct command of the everyday operations of the Indonesian project. A large staff under Desmond Fitzgerald of the Far East Division was set up. The most active element of this special staff came from the CIA’s clandestine Air Division which at that time was under the control of Dick Helms. As the plans expanded for this major undertaking, requirements for military equipment, people, aircraft, weapons, bases, submarines, and communications skyrocketed.

In the Pentagon there are thousands of nondescript offices in which all sorts of tasks are done. One of these unobtrusive offices was an Air Force Plans Division office. One day in 1958 two men from the CIA entered that office. After being identified they were permitted entrance to an interior office that was the “Focal Point” office for all U.S. Air Force Support of the clandestine operations of the CIA. I had established that office in 1955 on orders from Gen. Thomas D. White, then Chief of Staff of the Air Force. This came about after several meetings with Allen W. Dulles, the Director of Central Intelligence, and others. When the CIA men entered that office in 1958, I was still in charge.

The agents outlined the Indonesian Plan, the Philippine support and training program, and told me about their own special operations staff that had been put together specifically for this vast project. Then they urgently requested light bombardment aircraft and long-range transport aircraft. We decided to take a number of twin engine B-26 aircraft out of mothball storage, put them through a retrofit line, and modify them so that they could be armed with a special 50-caliber machine gun package of eight guns, in the nose of the plane. This would give the B-26 more firepower than it ever had during the Korean War or World War II. The project was given top priority and covered in deep secrecy. Programs for pilot training and the recruitment of “mercenaries” were established.

Concurrent with our work the CIA was putting together a “wartime” operational staff. Lt. Gen. Earl Barnes, who had been a senior air commander during World War II under Gen. Douglas MacArthur, was brought in to run all clandestine air activities.

At that time Gen. Lyman L. Lemnitzer was Commander in Chief of the Ryukyu Command on Okinawa. One day he received a call from General David M. Shoup, the U.S. Marine Commander on Okinawa, asking if the Army could spare 14,000 rifles for a Marine requirement. Surprised at the Marine request for such a large order of guns, Lemnitzer acquiesced nonetheless and ordered the transfer of these weapons on the condition that they would be quickly replaced.[1]

High on the ridge line of central Okinawa overlooking the city of Naha there was a modest size “Army” installation that hustled with considerable activity. This was the main CIA operational base in the Far East. It was under the direction of Ted Shannon, one of the Agency’s most powerful agents. It was Shannon’s office that had actually requested 42,000 rifles from General Shoup and since the order was so large Shoup had been unable to supply them, and had therefore borrowed 14,000 from the Army.

On nearby Taiwan, the CIA had another large facility — a “Navy” base known as the Naval Auxiliary Communication Center (NACC). This “Comm Center” controlled a large and very active air base a few miles south of Taiwan’s capital, Taipei, and the huge Air America facilities near Taipei and the city of Tainan.
The B-26 bombers were ready to fly and a special ferrying arrangement was made with the Air Force to fly them across the Pacific to the Philippines and Menado.

Rebel Indonesians, trained and equipped in the Philippines, were returned to Sumatra. Some were air-dropped and others landed on the beach from submarines that the U.S. Navy was operating, in support of the CIA, in the oceans south of Indonesia near the Christmas Islands.

 

The war was on.

On Feb. 9, 1958, rebel Colonel Maluddin Simbolon issued an ultimatum in the name of a provincial government, the Central Sumatran Revolutionary Council, calling for the formation of a new central government. Sukarno refused and called upon his loyal army commander, General Abdul Haris Nasution, to destroy the rebel forces. By Feb. 21 loyal forces had been airlifted to Sumatra and had begun the attack. The rebel headquarters was in the southern coastal city of Padang. Rebel strongholds stretched all the way to Medan, near the northern end of the island and not far from Malaysia.

This was important administratively because by that time Frank Wisner, the CIA Deputy Director of Plans, had set up his forward headquarters in Singapore and at the direction of the 5412 Committee of the National Security Council, headed by Nixon, Wisner occupied that faraway headquarters himself. (It should be noted that in 1958 Allen Dulles was the head of the CIA, his brother John Foster Dulles was the Secretary of State, Eisenhower was President, and Nixon, as Vice President, chaired the clandestine affairs committee, then known as the “Special Group 5412/2.” In other words nothing was done in Indonesia that was not directed by Nixon. If an action had not been directed by the NSC, then it was done unlawfully by the CIA.)


In 1958 Allen Dulles would have brought such a major operation to the attention of the Special Group and he would operate with its approval. This was an essential step in national policy because it then empowered the Department of Defense to provide the necessary support requested by the CIA. Much of this fell within the area of my responsibility at Air Force Headquarters, and I was kept informed on a regular basis of approved action and of Nixon’s keen interest in this project.

The rebellion flared sporadically from one end of Indonesia to the other.

While the CIA was supporting up to 100,000 rebels, the State Department professed innocence. The U.S. ambassador, Howard P. Jones, maintained that the United States had nothing to do with the rebellion and he protested the capture of the American oil properties. On the other hand, Sukarno had asked for more arms aid from the United States. He must have had strong suspicions about the source of rebel support. The vast number of guns, the bombers and heavy air transport aircraft dropping hundreds of tons of arms and equipment, as well as submarines supporting beach operations were just too sophisticated to be anything but major power ploys. Thus, his appeal for U.S. arms aid had the ring of gamesmanship.

Playing along with the game, John Foster Dulles issued a statement saying that the United States would not provide arms to either side. And while he was publishing that falsehood, the United States furnished and piloted B-26 bombers, and these were bombing shipping in the Makassar Straits. Some had even flown as far south as the Java Sea. Almost immediately all insurance rates on shipping to and from Indonesia went on a wartime scale and costs became so prohibitive that most shipping actually ceased. The bombing attacks, kept so quiet in the United States that they hardly made the news, were being viewed with great alarm by the rest of the world. What was “Top Secret” in Washington was barroom gossip in the capitals of the world.

While Wisner communicated with Washington clandestinely, anyone in the bar at the Raffles Hotel in Singapore, in the Peninsula Hotel in Kowloon, or even on the streets of Istanbul, could learn all about the “American CIA attack” on Sukarno.

The CIA was demanding so much support for its far-flung operations that a top-level committee was established in the Pentagon. Its purpose was to keep track of how much war equipment was being requested and sent to Indonesia. Not unlike the Lemnitzer-Shoup rifle problem, there were problems in the Pentagon because of the way the CIA requested equipment through phony “military” cover channels.


Early in this operation I had put some men from my office into the air-combat section in the Philippines, and the Air Force was reasonably well aware of what was going on. But that was not so for the other services. At the time, Admiral Arleigh Burke was the Chief of Naval Operations. He went one step further than we did. At the height of the rebel operations, Burke sent his Chief of Naval Intelligence, Admiral Luther Frost, to Jakarta, Indonesia’s capital, where he stayed for several months carrying on a delicate relationship with the American ambassador and with the Indonesian naval chiefs. This, while U.S. Navy submarines were aiding the rebels south of Sumatra. It turned out to have been a masterful gambit because later, when the rebellion collapsed, the U.S. Navy was able to declare innocence. The Air Force was not so fortunate.

The pretense that the U.S. Government was in no way involved in this massive civil war against Sukarno was wearing thin. It was a reasonable cover as long as the United States could plausibly deny its role in the action. But one day, a lone B-26 out of the rebel CIA base at Menado, flying low over the Straits of Makassar, came upon an Indonesian ship — an ideal target. The pilot banked to take a good run at the ship and began strafing it with those eight lethal .50-caliber machine guns. He was committed to the attack before he found out that the freighter was armed. The B-26 was hit and it ditched near the ship. The pilot, an American named Allan Lawrence Pope, was picked up. Pope was identified as a former U.S. Air Force pilot. The cork was out of the bottle. Sukarno had his proof of U.S. involvement and he played his ace card for an international audience. That one plane and that one pilot cost the U.S. Government tens of millions of dollars in ransom and tribute during the next several years.

 

After the capture of Pope the rebellion rapidly fell apart. Loyal forces captured Donggala in central Celebes. And on far away Halmahera, government forces captured Jailolo. That ended all opposition except for the CIA-rebel air base at Menado. With the rebellion all but crushed, except for the continued existence of the main CIA force, Secretary of State John Foster Dulles ended the embargo of arms to Sukarno and agreed to send aid to the government of Indonesia! What wondrous duplicity! And Sukarno was not fooled. His forces had been fighting a major civil war inspired and clandestinely supported by the United States, while concurrently the overt branches of the U.S. Government acted as though nothing at all had happened.

By the end of June 1958 it was all over. Then a very strange and rare (rare in terms of normal bureaucracy) thing happened. During the months of this operation it had been my custom to visit the CIA special operations center.

One morning I caught the unmarked, dull-green CIA shuttle bus at the Pentagon and rode to the operations center.
I went in. Not a soul was there. The place had been cleaned out. Office after office was absolutely bare. Finally I found one secretary. She was sitting in a straight-back chair and her telephone was on the floor. There were tears in her eyes. She took a call from time to time and gave guarded answers about the former members of that huge staff. The entire section had been scattered to the four corners of the world. A large number of top-level, experienced, clandestine agents and operators had vanished. It took our Air Force office, skilled as we were in the ways of the CIA, months to find some
of them again.

Then we began to piece together what had happened. With the collapse of such a major effort and with the inability of the Government to deny plausibly before the world its role in the whole sordid affair, blame had to be placed somewhere. In an unprecedented action, Nixon had summarily fired Frank Wisner, along with some others. But Frank Wisner, a longtime OSS and CIA man, was a key intelligence officer. Few knew enough about his career to realize that he was senior, by far, to Helms and Colby. Clearly, he was Allen Dulles’ heir apparent. When the OSS had been deactivated after World War II by President Truman, it was Wisner who had kept a tight-knit band of professionals together. This small cadre kept valuable OSS records and, more importantly, they had maintained the delicate lines of communication with agents, spies, and underground personnel in Eastern Europe, Russia, and Germany. They held this fragile web together. Without them hundreds of people might have been killed and priceless assets destroyed. And Frank Wisner suddenly, almost whimsically, had been fired.

To a man, the Agency was aroused by this action. Rightly or wrongly, they hated Nixon for this. I remember being at meetings during which the name of Nixon would be mentioned and I have seen CIA men bristle and redden as though someone had let a poisonous snake loose in the room. Some vowed he would never become President.

Meanwhile the Agency moved to pull itself together. That one deft bloodbath appeared to end things. There was no Board of Inquiry as there was after the Bay of Pigs. And, remarkably, there was no public outcry as there would be a few years later after the U-2 scandal. The agency was busy sweeping things under the rug.

 

Meanwhile those special B-26s were all flown back to the States and based at Elgin Air Force Base in Flonda. That was late in 1958. By 1959 they began to stir again. A man named Castro had come to power in Cuba. During those fateful days in April 1961 it was those same B-26s that the CIA used to attack Cuba.
This is the story that Dewi Sukarno is asking President Ford to explain to her and to the Indonesian people. Actually, the 1958 civil war was child’s play compared to the brutal bloodbath of 1965. Sukarno was in control after the 1958 disaster and he wrung a heavy tribute from the U.S. Government for its indiscretions. But in 1965 his game ended, like Allende’s in Chile, with defeat. An attempted communist coup d’etat was defeated by General Suharto. Sukarno never made the great public statement that was to assure the success of the coup, and after its defeat and the ensuing bloodbath, he was stripped of his power. After a few years of ignominious house arrest the hero of all Indonesia died in 1970.

What was the story behind Nixon’s harsh action against Wisner? Was that the deep-rooted reason why CIA top-echelon insiders such as Dick Helms really hated and distrusted Nixon? In later years did they take out their grudge against him with a piece of tape on a Watergate doorway? There may never be answers to these questions, or perhaps they have been answered already. It is said that when the great volcanic mountain of Krakatoa in Indonesia blew up causing the greatest explosion the world had ever known, the dust of Indonesia was spread all over the world.
The holocausts of 1958 and 1965 may have done the same thing.


* * * * * * *

 

The following is an excerpt from an interview conducted with
L. Fletcher Prouty on May 6, 1989, regarding his book
The Secret Team, The CIA and Its Allies in Control of the United States and the World, Prentice Hall, 1973.

This segment recounts Prouty’s experience when he found out that some things he had been doing for years in support of the CIA had not been known by the senior military officer in the armed forces — the chairman of the JCS — and that they had been done, most likely, in response to other authority. A transcript of this interview will be published in 1998 by rat haus reality press as the book Understanding Special Operations.

   

Prouty: . . . Millions and millions of dollars were poured into that exercise — a lot of people were involved in it — and it never went through any Air Force procurement. Now, the cleared individual — the man in the team — in the procurement offices, made papers that covered up this gap. There were papers in the files but they had never been worked on — they were simple dummy papers in the files. Now, we could do things like that with no trouble at all. The U2 was started like that. That’s how the U2 got off the ground. Ostensibly, purchased by the Air Force, but not paid for by the Air Force, and so on.
So, when I say that this team was quite effective, it was very effective, very strong, handled a lot of money, worked all over the world, thousands of people were involved. I know, one time, when I was speaking to the Chairman of the Joint Chiefs
of Staff, at that time General Lemnitzer, he said, “You know, I’ve known of two or three units in the Army that were supporting CIA. But you’re talking about quite a few. How many were there?” Well, at that time, there were 605. Well General Lemnitzer had no idea. It’s amazing — here’s the top man in the military and he had no idea that we were supporting that many CIA units. Not military units — they were phony military units. They were operating with military people but they were controlled entirely, they were financed by the CIA. Six hundred and five of them. And I’m sure that from my day it increased; I know it didn’t decrease.
So, people don’t understand the size and the nature of this clandestine activity that is designed for clandestine operations all over the world. And it goes back, again, to things we’ve spoken of earlier, that that activity must be under somebody’s control. There is no law for the control of covert operations other than at the National Security Council level. And if the National Security Council does not sign the directives, issue the directives, for covert operations, then nobody does. And that’s when it becomes a shambles as we saw in the Contra affair and in other things. But when the National Security Council steps in and directs it and holds that control, then things are run properly. And we’ve seen that during the last decade theres been quite a few aberrations where they were talking about Iran or Latin America or even part of the Vietnam War itself. In fact, it was in the Vietnam War where the thing really began to come apart — it just outgrew itself and the leadership role disintegrated. And we see the worst of it in the Iran-Contra affair.
Ratcliffe: Following on that you write about Dulles being able to “move them up and deeper into their cover jobs” — would this be a function of them being there longer than the people who would be promoted to something else in time?


Prouty: Yes. When we put them in, they might be somebody’s assistant. And they’ve been there for three years and the man that was above them, who was probably a political appointee, leaves and they might move this man up there. Or when a newer political appointee comes, he has no knowledge that this man is really from CIA. He’s just a strong person in his office and he gives him a broader role. Sometimes these people (chuckling) were working — well, one man I know was in FAA and we needed his work to help us with FAA as a focal point there. He’d been there so long the FEA had him in a very big, very responsible job, and you might say 90% of his work was regular FAA work. A very strong individual. Well, that meant that when we needed him to help us with some of our activities on the covert side of things, he was in a much better position to handle this than he had been originally.
This happened with quite a few of them. That’s why I say in the case of Frank Hand, he had been in the Defense Department so long that he was able to handle really major operations that weren’t even visualized at the time he was assigned. All this carries over into many other things. I pointed out that the Office of Special Operations under General Erskine had the responsibility for the National Security Agency as well as CIA contacts and the State Department, and so on. Well, as we filled up these positions, some of them became dominant in some those organizations, such as NSA.
Early people in this program have created quite a career for themselves in other work. For instance, a young man in this system was Major Haig. Major Al Haig. He went up through the system. He was working as a deputy to the Army’s cleared Focal Point Officer for Agency support matters who was the General Counsel in the Army, a man named Joe Califano — a very prominent lawyer today. When the General Counsel of the Army was moved up into the office of Secretary of Defense later — in McNamara’s office — he carried with him this then-Lieutenant Colonel Al Haig up to the office of Secretary of Defense. And during the Johnson Administration when they moved to the White House, Califano and Haig moved to the White House. Then during the Nixon time, Haig with all his experience in the White House worked with Kissinger. And you can see that it was this attachment through the covert side which gave Haig his ability to do an awful lot of things that people didn’t understand, because he had this whole team behind him. To be even more up-to-date, there was a Major Secord in our system. And Major Secord is the same General Secord you’ve been reading about in the Iran-Contra business.
A lot of these people worked right up into the White House. And there were these same assigned people even at the White House level that really were working on this CIA covert work rather than the jobs that they seemed to hold, that the public understood was the job that they were working for. It’s a much more effective system than people have thought it was. . . .

Ratcliffe: You describe what seems to be a very enlightening day — an event in 1960 or 1961 when you briefed “the Chairman of the JCS on a matter that had come up involving the CIA and the military.” [p.257] As you described it:

The chairman was General Lyman L. Lemnitzer, and his commandant was General David M. Shoup. They were close friends and had known each other for years. When the primary subject of the briefing had ended General Lemnitzer asked me about the Army cover unit that was involved in the operation. I explained what its role was and more or less added that this was a rather routine matter.

 

Then he said, “Prouty, if this is routine, yet General Shoup and I have never heard of it before, can you tell me in round numbers how many Army units there are that exist as `cover` for the CIA?” I replied that to my knowledge at that time there were about 605 such units, some real, some mixed, and some that were simply telephone drops. When he heard that he turned to General Shoup and said, “You know, I realized that we provided cover for the Agency from time to time; but I never knew that we had anywhere near so many permanent cover units and that they existed all over the world.”

 

I then asked General Lemnitzer if I might ask him a question. He said I could. “General”, I said, “during all of my
military career I have done one thing or another at the direction of a senior officer. In all those years and in all of those circumstances I have always believed that someone, either at the level of the officer who told me to do what I was doing
or further up the chain of command, knew why I was doing what I had been directed to do and that he knew what the reason for doing it was. Now I am speaking to the senior military officer in the armed forces and I have just found out that some things I have been doing for years in support of the CIA have not been known and that they have been done, most likely, in response to other authority. Is this correct?”

This started a friendly, informal, and most enlightening conversation, more or less to the effect that where the CIA was concerned there were a lot of things no one seemed to know. [p.258]

Can you recount more of the details of this enlightening conversation for us?

Prouty: Well, you know I referred to it earlier. It astounded me, that day. I assumed that there were a lot things that the Chairman of the Joint Chiefs of Staff was not aware of every day in the Air Force, in the Navy, and in the CIA. But I had never expected such a blanket answer, that he didn’t know, and that General Shoup didn’t. Now, what we were talking about was rather specific.
At the time of the rebellion in Indonesia when the CIA supported tens of thousands of troops with aircraft, and ships, submarines, and everything else, in an attempt to overthrow the government of Sukarno, we needed rifles pretty quick to support these rebels and I called out to Okinawa and found out that the Army didn’t have enough rifles for what we wanted. We wanted about 42,000 rifles and they had about 28,000. But that he said he thought he could get — General Lemnitzer was a Commander at that time in Okinawa. So he was right up close to this thing. He said that he’d have somebody call the Marine Corps and see what he could get from them. Well, it just happened that General Shoup was the head of the Marine unit at Okinawa and he said, sure, he could provide the extra 14,000. So without delay, we had 4-engine aircraft — C-54’s- -flown by Air America crews but under military cover — appeared to be military aircraft — come into Okinawa, pick up these 42,000 rifles, prepared for air drop in Indonesia. They’d fly down to the Philippines and then down to another base we had and then over into Indonesia and drop these rifles.

Well of course, we replaced those rifles. The General didn’t know where they were going, we just borrowed them, and the unit that borrowed them was military and the call had come from the Pentagon. There was no problem with supplying the rifles. So years later, we replaced them. Well then when I told him about that in the Pentagon, he said he never knew where those rifles went and General Shoup said, “you know, Lem, when you asked me for 14,000 rifles, I thought you wanted them and, of course, being a good Marine, I gave you 14,000 rifles.” He said, “you owe me 14,000.” They were sitting there kidding but they never knew they went to Indonesia. You see, they never knew they were part of a covert operation going into Indonesia.

Well, this is true of a lot of things that go on. We kept the books in the Pentagon. We covered that. We got reimbursement for it. That part of it was all right. And that’s what kept it from being a problem because as long as
General Lemnitzer’s forces got the 28,000 rifles back and Shoup got the 14,000 back for the total of 42,000, they
didn’t complain to anybody. They had their full strength of rifles. That’s the magic of reimbursement.
Well, his kind of thing, on an established basis — the units are there — when I said there are 605 units, those are operating units- -now, some of them may only be telephone drops, because that’s their function, they don’t need a whole lot of people, they’re just handling supplies, or something like that. But put this in present terms. When Colonel North believed that he had been ordered to take 2,008 Toe missiles and deliver them to Iran — see? — there has to be some way that the supply system can let those go. You can’t just drive down there with a truck to San Antonio at the warehouse, and say, “I want 2,008 missiles.” You have to have authority. And 2,008 Toe missiles — I don’t know what one of them costs, but it’s an awful lot of money, and somebody had to prepare the paperwork for the authorization to let the supply officer release those. And I’m sure they went to a cover unit that North was using for that purpose. But it appears from what we’ve heard from this that, unlike the way we used to run the cover operations, when these things got to Iran, these characters sold hem them for money. In fact, they sold them for almost four times the listed value of these things.

Permesta Rebellion – Timeline

1956
June Government clamps down on smuggling in North Sulawesi.

1957
June Rebel army officers in Manado declare autonomous state of North Sulawesi (beginning of Piagam Perjuangan Semesta, or Permesta, rebellion).
September Various rebellious officers from Sumatra and Sulawesi meet in Padang to coordinate forces.

1958
February Rebellious officers meet in Padang while Sukarno is in Thailand.
February 15 Rebels set up rival PRRI government (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) at Bukittingi. Permesta rebels in Sulawesi join forces with PRRI. The USA promises secret aid to the rebels. Sukarno demands a hard response.
February 21 Air Force bombs Padang, Bukittingi, and Manado.
March Army units from Diponegoro and Siliwangi divisions land in Sumatra and take Medan.
April Padang falls to central government forces.
May Bukittingi falls to central government forces,
as does Gorontalo on Sulawesi.
May 18 US pilot Alan Pope is shot down over Ambon while secretly helping PRRI rebels.
June Manado falls to central government forces.

1960
September Sulawesi is divided into North Sulawesi and South Sulawesi provinces.
Last traces of “Zelfbesturen” or autonomy for local rulers are removed from the law.

1961
February Remnants of “Permesta” guerillas in Sulawesi begin surrendering after offer of amnesty.
May 29 Last of Permesta rebels in Sulawesi surrender.

 

PERMESTA
Half a Rebellion

Barbara S. Harveys monograph
Permesta – Half A Rebellion is recommended for all those who wish to read more about the Permesta in North Sulawesi.


This title aptly signifies the several failed movements for increased regional autonomy over what was felt to be an economic and administrative overcentralization in Indonesia’s capital of Java. Harvey’s focus is especially important as it relates to the country’s political development as a whole since these movements, in opposition to influence of Sukarno, the PKI, and the central army, led to the authoritative strengthening of all three.

Based on research and fieldwork (e.g. interviews with participants in Permesta) conducted in 1971 and 1972, this monograph traces the course of the Permesta movement and rebellion in Sulawesi and casts light on central-regional relations in Indonesia.
Various chapters survey the national context, the regional context, and the struggle itself. (1977)”This work grows out of her long interest in Indonesia’s political development and a recent focus, involving substantial periods of field research, on the political history of Sulawesi.

She has done much to fill one of the major lacunae in modern Indonesian history, and readers will undoubtedly welcome her study
not only for the light that it throws on this period, but also because it makes much more understandable the extensive political changes that followed.” George McT. Kahin

     

 

.

 

The Secret
Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia

 

 

Subversion as a Foreign Policy

The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia.
New York: The New Press, 1995. 318 pages.

George Kahin has taught at Cornell University since 1951 and is one of the leading scholars of Southeast Asian history

—————————-

The book reveals a covert intervention by the United States in Indonesia in the late 1950s involving among other things the supply of thousands of weapons, creation and deployment ofa secret CIA airforce and logistical support from the Seventh Fleet. The operation has been kept almost totally secret from the American public for nearly 40 years.
This CIA operation proved to be even more disastrous than the Bay of Pigs-
San Francisco Chronicle

Kahin, George McT. and Kahin, Audrey R.

An extraordinary account of civil war in Indonesia provoked by President Eisenhower and Secretary of State John Foster Dulles.

U.S. Policy / Indonesia

This book covers Indonesian history from the end of the colonial period through the Eisenhower years. It stops short of the 1965 coup, which a CIA study described as follows: “In terms of the numbers killed the anti-PKI massacres in Indonesia rank as one of the worst mass murders of the 20th century, along with the Soviet purges of the 1930s, the
Nazi mass murders during the Second World War, and the Maoist bloodbath of the early 1950s.” To get anything else out of the CIA about Indonesia, you still need a crowbar, even if you leave out 1965.
But George Kahin was personally acquainted with most of the key players in Indonesian politics during the 1950s, and
he managed even without the CIA’s documents.The importance of this work is that it exposes the covert policy of Eisenhower and the Dulles brothers in Indonesia during the 1950s. This policy set the stage for the 1960s. The events
of 1965-1966, dismissed at the time by the world’s media as an “abortive Communist coup,” are still hotly disputed, and appear suspicious by any reasonable standard — the whole thing could have been set up by the CIA. That’s a book that cannot yet be written, but at least we’re off to a reliable start.

 

PRRI- Permesta

Ross and Wise explain:

After t their authoritative book about the CIA entitled The Invisible Government, Washington correspondents Thomas Ross and David Wise related how the U.S. supplied a right-wing rebel force in Indonesia with arms and a small air force of B-26 bombers in an attempt to overthrow Sukarno. The attempt failed, but not before one of the American pilots, Allen Lawrence Pope, was captured by loyalist forces.

 

Three weeks before Pope was shot down, Dwight D. Eisenhower had emphatically denied charges that the United States was supporting the rebellion against President Sukarno.
“Our policy,” he said at a press conference on April 30, “is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as not to be taking sides where it is none of our business.

“Now on the other hand, every rebellion that I have ever heard of has its soldiers of fortune….” But Pope was no freebooting soldier of fortune. He was flying for the CIA, which was secretly supporting the rebels who were trying to overthrow Sukarno. [p. 137]dministration changed hands and President Kennedy had arranged for Pope’s exchange and invited Sukarno to Washington, the new President was somewhat more candid than the old on the subject of the U.S. try at counter-revolution in 1958.

 

During the visit Kennedy commented to one of his aides:
“No wonder Sukarno doesn’t like us very much.
He has to sit down with the people who tried to overthrow him.
” [p. 145]

Arthur Schlesinger, Jr., in his authoritative biography of President Kennedy matter-of-factly confirms this story in a chapter analyzing Sukarno:

His deep mistrust of the white West was understandably compounded in the case of the United States by his knowledge that in 1958 the CIA had participated in an effort to overthrow him. [A Thousand Days, p. 532]
Wise and Ross also pointed out some of Washington’s reasons for being favorable to the right-wing generals:
And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States. [The Invisible Government, p. 139]
That attempted coup failed. But
seven years and nearly a million lives later these “changes” were effected.

A series of articles written by a Times team of journalists researching the activities of the CIA has confirmed the Wise-Ross story of the 1958 CIA intervention into Indonesia’s internal affairs.

In Indonesia in the same year [1958], against the advice of American diplomats, the CIA was authorized to fly supplies from Taiwan and the Philippines to aid army officers rebelling against President Sukarno in Sumatra and Java.

 

An American pilot was shot down on a bombing mission and was released only at the insistent urging of the Kennedy Administration in 1962. Mr. Sukarno, naturally enough, drew the obvious conclusions…. [New York Times, April 25, 1966

 

Feet to the Fire

Detailed information of a controversial period in US-Indonesia relations.

In-depth information of US government assistance to
PRRI and Permesta
movements and their subsequent change
of attitude when the Sukarno government prevailed.

We are given an in-depth view of how Indonesia was influenced
by the United States’ inability to understand Sukarno’s philosophy
of non-alignment, and how historically the Americans applied one basic foreign policy to all Asian nations regardless of their socio-political differences.

 

“I think it’s time we held Sukarno’s feet to the fire,”


said Frank Wisner, the CIA’s Deputy Director of Plans (covert operations), one day in autumn 1956.{1}

 

INDONESIA 1957-1958
War and pornography

Wisner was speaking of the man who had led Indonesia since its struggle for independence from the Dutch following the war.

A few months earlier, in May, Sukarno had made an impassioned speech before the US Congress asking for
more understanding of the problems and needs of developing nations like his own.{2}
The ensuing American campaign to unseat the flamboyant leader of the fifth most populous nation in the world was to run the gamut from large-scale military maneuvers to seedy sexual intrigue.

The previous year, Sukarno had organized the Bandung Conference as an answer to the Southeast Asia Treaty Organization (SEATO), the US-created political-military alliance of area states to “contain communism”. In the Indonesian city of Bandung, the doctrine of neutralism had been proclaimed as the faith of the underdeveloped world.
To the men of the
CIA station in Indonesia the conference
was heresy, so much so that their thoughts turned toward assassination as a means of sabotaging it.

   

In 1975, the Senate committee which was investigating the CIA heard testimony that Agency officers stationed in an
East Asian country had suggested that an East Asian leader be assassinated “to disrupt an impending Communist [sic] Conference in 1955”.{3} (In all likelihood, the leader referred to was either Sukarno or
Chou En-lai of China.) But, said the committee, cooler heads prevailed at CIA headquarters in Washington and the suggestion was firmly rejected.

 

Nevertheless, a plane carrying eight members of the Chinese delegation, a Vietnamese, and two European journalists to the Bandung Conference crashed under mysterious circumstances. The Chinese government claimed that it was an act of sabotage carried out by the US and Taiwan, a misfired effort to murder Chou En-lai. The chartered Air India plane had taken off from Hong Kong on 11 April 1955 and crashed in the South China Sea. Chou En-lai was scheduled to be on another chartered Air India flight a day or two later. The Chinese government, citing what it said were press reports from the Times of India, stated that the crash was caused by two time bombs apparently placed aboard the plane in Hong Kong. A clockwork mechanism was later recovered from the wrecked airliner and the Hong Kong police called it a case of “carefully planned mass murder”. Months later, British police in Hong Kong announced that they were seeking a Chinese Nationalist for conspiracy to cause the crash, but that he had fled to Taiwan.{4}

In 1967 a curious little book appeared in India, entitled I Was a CIA Agent in India, by John Discoe Smith, an American. Published by the Communist Party of India, it was based on articles written by Smith for Literaturnaya Gazeta in Moscow after he had defected to the Soviet Union around 1960. Smith, born in Quincy, Mass. in 1926, wrote that he had been a communications technician and code clerk at the US Embassy in New Delhi in 1955, performing tasks for the CIA as well. One of these tasks was to deliver a package to a Chinese Nationalist which Smith later learned, he claimed, contained the two time bombs used to blow up the Air India plane. The veracity of Smith’s account cannot be determined, although his employment at the US Embassy in New Delhi from 1954 to 1959 is confirmed by the State Department Biographic Register.{5}

Elsewhere the Senate committee reported that it had “received some evidence of CIA involvement in plans to assassinate President Sukarno of Indonesia”, and that the planning had proceeded to the point of identifying an agent whom it was believed might be recruited for the job.{6} (The committee noted that at one time, those at the CIA who were concerned with possible assassinations and appropriate methods were known internally as the “Health Alteration Committee”.)
To add to the concern of American leaders, Sukarno had made trips to the
Soviet Union and China (though to the White House as well), he had purchased arms from Eastern European countries (but only after being turned down by the United States),{7} he had nationalized many private holdings of the Dutch, and, perhaps most disturbing of all, the Indonesian Communist Party (PKI) had made impressive gains electorally and in union-organizing, thus earning an it was a familiar Third World scenario, and the reaction of Washington policy-makers was equally familiar. Once again, they were unable, or unwilling, to distinguish nationalism from pro-communism, neutralism from wickedness. By any definition of the word, Sukarno was no communist. He was an Indonesian nationalist and a “Sukarnoist” who had crushed the PKI forces in 1948 after the independence struggle had been won.{8} He ran what was largely his own show by granting concessions to both the PKI and the Army, balancing one against the other. As to excluding the PKI, with its more than one million members, from the government, Sukarno declared: “I can’t and won’t ride a three-legged horse.”{9}

To the United States, however, Sukarno’s balancing act was too precarious to be left to the vagaries of the Indonesian political process. It mattered not to Washington that the Communist Party was walking the legal, peaceful road, or
that there was no particular “crisis” or “chaos” in Indonesia, so favored as an excuse for intervention. Intervention there would be.
It would not be the first. In 1955, during the national election campaign in Indonesia, the CIA had given a million dollars to the Masjumi party, a centrist coalition of Muslim organizations, in a losing bid to thwart Sukarno’s Nationalist Party as well as the PKI. According to former CIA officer Joseph Burkholder Smith, the project “provided for complete write-off of the funds, that is, no demand for a detailed accounting of how the funds were spent was required. I could find no clue as to what the Masjumi did with the million dollars.”{10}
In 1957, the CIA decided that the situation called for more direct action. It was not difficult to find Indonesian colleagues-in-arms for there already existed a clique of army officers and others who, for personal ambitions and because they disliked the influential position of the PKI, wanted Sukarno outmportant role in the coalition government.

I, or at least out of their particular islands. (Indonesia is the world’s largest archipelago, consisting of some 3,000 islands.)
The military operation the CIA was opting for was of a scale that necessitated significant assistance from the Pentagon, which could be secured for a political action mission only if approved by the National Security Council’s “Special Group” (the small group of top NSC officials who acted in the president’s name, to protect him and the country by evaluating proposed covert actions and making certain that the CIA did not go off the deep end; known at other times as the 5412 Committee, the 303 Committee, the 40 Committee, or the Operations Advisory Group).
The manner in which the Agency went about obtaining this approval is a textbook example of how the CIA sometimes determines American foreign policy. Joseph Burkholder Smith, who was in charge of the Agency’s Indonesian desk in Washington from mid-1956 to early 1958, has described the process in his memoirs: Instead of first proposing the plan to Washington for approval, where “premature mention … might get it shot down” … we began to feed the State and Defense departments intelligence that no one could deny was a useful contribution to understanding Indonesia. When they had read enough alarming reports, we planned to spring the suggestion we should support the colonels’ plans to reduce Sukarno’s power. This was a method of operation which became the basis of many of the political action adventures of the 1960s and 1970s. In other words, the statement is false that CIA undertook to intervene in the affairs of countries like Chile only after being ordered to do so by … the Special Group. … In many instances, we made the action programs up ourselves after we had collected enough intelligence to make them appear required by the circumstances. Our activity in Indonesia in 1957-1958 was one such instance.{11}

When the Communist Party did well again in local elections held in July, the CIA viewed it as “a great help to us in convincing Washington authorities how serious the Indonesian situation was. The only person who did not seem terribly alarmed at the PKI victories was Ambassador Allison. This was all we needed to convince John Foster Dulles finally that he had the wrong man in Indonesia. The wheels began to turn to remove this last stumbling block in the way of our operation.”{12} John Allison, wrote Smith, was not a great admirer of the CIA to begin with. And in early 1958, after less than a year in the post, he was replaced as ambassador by Howard Jones, whose selection “pleased” the CIA Indonesia staff.{13} go to notes

On 30 November 1957, several hand grenades were tossed at Sukarno as he was leaving a school. He escaped injury, but 10 people were killed and 48 children injured. The CIA in Indonesia had no idea who was responsible, but it quickly put out the story that the PKI was behind it “at the suggestion of their Soviet contacts in order to make it appear that Sukarno’s opponents were wild and desperate men”. As it turned out, the culprits were a Muslim group not associated with the PKI or with the Agency’s military plotters.{14}
The issue of Sukarno’s supposed hand-in-glove relationship with Communists was pushed at every opportunity. The CIA decided to make capital of reports that a good-looking blonde stewardess had been aboard Sukarno’s aircraft everywhere he went during his trip in the Soviet Union and that the same woman had come to Indonesia with Soviet President Kliment Voroshilov and had been seen several times in the company of Sukarno. The idea was that Sukarno’s well-known womanizing had trapped him in the spell of a Soviet female agent. He had succumbed to Soviet control, CIA reports implied, as a result of her influence or blackmail, or both. ”
This formed the foundation of our flights of fancy,” wrote Smith. “We had as a matter of fact, considerable success with this theme. It appeared in the press around the world, and when Round Table, the serious British quarterly of international affairs, came to analyze the Indonesian revolt in its March 1958 issue, it listed Sukarno’s being blackmailed by a Soviet female spy as one of the reasons that caused the uprising.”


Seemingly, the success of this operation inspired CIA officers in Washington to carry the theme one step further.
A substantial effort was made to come up with a pornographic film or at least some still photographs that could pass for Sukarno and his Russian girl friend engaged in “his favorite activity”. When scrutiny of available porno films (supplied by the Chief of Police of Los Angeles) failed to turn up a couple who could pass for Sukarno (dark and bald) and a beautiful blonde Russian woman, the CIA undertook to produce its own films, “the very films with which the Soviets were blackmailing Sukarno”. The Agency developed a full-face mask of the Indonesian leader which was to be sent to Los Angeles where the police were to pay some porno-film actor to wear it during his big scene. This project resulted in at least some photographs, although they apparently were never used.{15}
Another outcome of the blackmail effort was a film produced for the CIA by Robert Maheu, former FBI agent and intimate of Howard Hughes. Maheu’s film starred an actor who resembled Sukarno. The ultimate fate of the film, which was entitled “Happy Days”, has not been reported.{16}
In other parts of the world, at other times, the CIA has done better in this line of work, having produced sex films of target subjects caught in flagrante delicto who had been lured to Agency safe-houses by female agents.
In 1960, Col. Truman Smith, US Army Ret., writing in Reader’s Digest about the KGB, declared: “It is difficult for most of us to appreciate its menace, as its methods are so debased as to be all but beyond the comprehension of any normal person with a sense of right and wrong.” One of the KGB methods the good colonel found so debased was the making of sex films to be used as blackmail. “People depraved enough to employ such methods,” he wrote, “find nothing distasteful in more violent methods.”{17}

Sex could be used at home as well to further the goals of American foreign policy. Under the cover of the US foreign aid program, at that time called the Economic Cooperation Administration, Indonesian policemen were trained and then recruited to provide information on Soviet, Chinese and PKI activities in their country. Some of the men singled out as good prospects for this work were sent to Washington for special training and to be softened up for recruitment. Like Sukarno, reportedly, these police officers invariably had an obsessive desire to sleep with a white woman. Accordingly, during their stay they were taken to Baltimore’s shabby sex district to indulge themselves.{18}

The Special Group’s approval of the political action mission was forthcoming in November 1957{19}, and the CIA’s paramilitary machine was put into gear. In this undertaking, as in others, the Agency enjoyed the advantage of the United States’ far-flung military empire. Headquarters for the operation were established in neighboring Singapore, courtesy of the British; training bases set up in the Philippines; airstrips laid out in various parts of the Pacific to prepare for bomber and transport missions; Indonesians, along with Filipinos, Taiwanese, Americans, and other “soldiers of fortune” were assembled in Okinawa and the Philippines along with vast quantities of arms and equipment.

For this, the CIA’s most ambitious military operation to date, tens of thousands of rebels were armed, equipped and trained by the US Army. US Navy submarines, patrolling off the coast of Sumatra, the main island, put over-the-beach parties ashore along with supplies and communications equipment. The US Air Force set up a considerable Air Transport force which air-dropped many thousands of weapons deep into Indonesian territory. And a fleet of 15 B-26 bombers was made available for the conflict after being “sanitized” to ensure that they were “non-attributable” and that all airborne equipment was “deniable”.
In the early months of 1958, rebellion began to break out in one part of the Indonesian island chain, then another. CIA pilots took to the air to carry out bombing and strafing missions in support of the rebels. In Washington, Col. Alex Kawilarung, the Indonesian military attachÆ, was persuaded by the Agency to “defect”. He soon showed up in Indonesia to take charge of the rebel forces. Yet, as the fighting dragged on into spring, the insurgents proved unable to win decisive victories or take the offensive, although the CIA bombing raids were taking their toll. Sukarno later claimed that on a Sunday morning in April, a plane bombed a ship in the harbor of the island of Ambon — all those aboard losing their lives — as well as hitting a church, which demolished the building and killed everyone inside. He stated that 700 casualties had resulted from this single run.

 

On 15 May, a CIA plane bombed the Ambon marketplace, killing a large number of civilians on their way to church on Ascension Thursday. The Indonesian government had to act to suppress public demonstrations.
Three days later, during another bombing run over Ambon, a CIA pilot, Allen Lawrence Pope, was shot down and captured. Thirty years old, from Perrine, Florida, Pope had flown 55 night missions over Communist lines in Korea for the Air Force. Later he spent two months flying through Communist flak for the CIA to drop supplies to the French at Dien Bien Phu. Now his luck had run out. He was to spend four years as a prisoner in Indonesia before Sukarno acceded to a request from Robert Kennedy for his release.

 

Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT. Like all men flying clandestine missions, Pope had gone through an elaborate procedure before taking off to “sanitize” him, as well as his aircraft. But he had apparently smuggled the papers aboard the plane, for he knew that to be captured as an “anonymous, stateless civilian” meant having virtually no legal rights and running the risk of being shot as a spy in accordance with custom. A captured US military man, however, becomes a commodity of value for his captors while he remains alive.
The lndonesian government derived immediate material concessions from the United States as a result of the incident. Whether the Indonesians thereby agreed to keep silent about Pope is not known, but on 27 May the pilot and his documents were presented to the world at a news conference, thus contradicting several recent statements by high American officials.{20}

 

Notable amongst these was President Eisenhower’s declaration
on 30 April concerning Indonesia:

“Our policy is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as
not to be taking sides where it is none of our business.”{21}

 

 

And on 9 May, an editorial in the New York Times had stated:
It is unfortunate that high officials of the Indonesian Government have given further circulation to the false report that the United States Government was sanctioning aid to Indonesia’s rebels. The position of the United States Government has been made plain, again and again. Our Secretary of State was emphatic in his declaration that this country would not deviate from a correct neutrality … the United States is not ready … to step in to help overthrow a constituted government. Those are the hard facts. Jakarta does not help its case, here, by ignoring them.

 

Editor’s Note: NY Times should increase its credibility by accepting the hard facts, not by ignoring them and throwing the blame at Jakarta.

With the exposure of Pope and the lack of rebel success in the field, the CIA decided that the light was no longer worth the candle, and began to curtail its support. By the end of June, Indonesian army troops loyal to Sukarno had effectively crushed the dissident military revolt.
The Indonesian leader continued his adroit balancing act between the Communists and the army until 1965, when the latter, likely with the help of the CIA, finally overthrew his regime.

 

The Invisible Government
By David Wise and Thomas Ross

Invisible Government was published in 1964.
In their authoritative book about the CIA entitled
The Invisible Government, Washington correspondents Thomas Ross and David Wise related how the U.S. supplied a right-wing rebel force in Indonesia with arms and a small air force of B-26 bombers in an attempt to overthrow Sukarno. The attempt failed, but not before one of the American pilots, Allen Lawrence Pope, was captured by loyalist forces.

 

Killing Hope:
US Military and CIA Interventions Since World War II

by William Blum

1958: CIA vs. Sukarno
“I think its time we held Sukarno’s feet to the fire,” said Frank Wisner, then Deputy Director of Plans for the CIA, in 1956. By 1958, having failed to buy the government through the election process, the CIA was fomenting a full-fledged operation in Indonesia. Operation Hike, as it was called, involved the arming and training of tens of thousands of Indonesians as well as “mercenaries” to launch attacks in the hope of bringing down Sukarno.

In addition to the paramilitary activities, the CIA tried psychological warfare tricks to discredit Sukarno, such as passing rumors that he had been seduced by a Soviet stewardess

An Incident in the PRRI/Permesta Rebellion of 1958
Daniel F. Doeppers
Indonesia, Vol. 14, Oct., 1972 (Oct., 1972), pp. 182-195

doi:10.2307/3350738

In February 1958 certain elements of the Indonesian Army participated in a revolt against the government of President Sukarno. This action was centered in the outer islands of Sumatra and Sulawesi (Celebes), and although the major cities had fallen to the government by June 1958, the rebellion sputtered on until 1961. The revolt failed in the face of unexpectedly resolute action by the Indonesian government. At that time there were charges that The United States participated in this conflict in alimited and clandestine fashion — on the side of the rebels. Except for the occasional rebel use of British or American military airfields, Western intervention has been difficult to trace to official agencies. This article present evifence that a U.S. Navy reconnaissance plane, flown by a rgularly assigned active duty crew, was very nearly shot down during a classified mission in the Sulawesi area on March 27, 1958.

 

 

18 mei 1958

The following week, one day after the United States officially proposed a cease-fire, Allen Pope was shot down while flying for the rebels and the CIA. However, the Indonesian Government withheld for nine days the fact that an American pilot had been captured. On May 18 it announced only that a rebel B-26 had been shot down.

Minggu berikutnya, satu hari setelah Amerika Serikat secara resmi mengusulkan gencatan senjata, Allen Pope ditembak jatuh saat terbang untuk pemberontak dan CIA. Namun, Pemerintah Indonesia yang telah dipotong selama sembilan hari fakta bahwa seorang pilot Amerika telah ditangkap. Pada tanggal 18 Mei mengumumkan hanya itu pemberontak B-26 telah ditembak jatuh

18 Mei 1958

Dewanto’s Mustang Shot Down Pope’s B-26 Invader

 


He was the only Indonesia fighter pilot who shot down an enemy plane. He was also the only person who reconciled two armed forces who were engaged in shooting each other in Halim AFB, October 1965. But nobody cared when in an effort to survive, he became a pick-up driver transporting coconuts along the Banten-Jakarta route.

Dewanto fired until the last bullets
Liang apron, May 18, 1958. Air Force Captain Ign. Dewanto in his P-51 Mustang’s cockpit, was preparing for a take-off. That morning, he was assigned to attack AUREV (Angkatan Udara Revolusioner/Revolutionary Air Force) of the rebellion movement Permesta in North Sulawesi (Celebes). Rockets were under the Mustang’s wing, impatiently to be fired. Just a few seconds before Dewanto started the engine, he received order to cancel the attack mission on Manado but instead was diverted to Ambon.

What the hush about? An AUREV bomber B-26 Invader bombed Ambon! Immediately he started the engine. The four blades turned the 1.590 horsepower Rolls-Royce engine. Dewanto took off and sped his Mustang impatiently. From the air, he saw black smokes engulfing Ambon. Ruins were seen scattered everywhere, indicating it had just been under heavy air attack. He flew around for awhile but there was no sign of the B-26. He later headed his plane to the west. The ferry tank was released to speed up his Mustang.

Dewanto flew low. Just seconds as he saw the ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia/Indonesian Navy)’s convoy ships, also saw a glimpse of a plane. “B-26,” he mumbled. Oh no! The plane was flying towards the ships. Dewanto throttled full speed his Mustang. Luckily his position was right behind the Invader. For a moment he hesitated to release his rocket because the enemy plane position was between his Mustang and the ship. One, two rockets were fired. They all missed. None hit the target. In seconds, he then fired his 12.7 machine gun. Row of bullets spurted from the gun. Dewanto was definitely sure, this time he hit the target.


At the same moment, KRI Sawega also fired its guns. Bofors, Oerlikon, 12.7 and 7.62 Water Mantle simulatenously were barking. The platoon on the deck by chance, was also manning their gun on the enemy plane. “The enemy is hit,” shout was heard from the ship.

 


The B-26 Invader, piloted by Allen Lawrence Pope, a U.S. soldier of fortune with radio operator Hary Rantung (a former AURI personnel)., burning with thick smokes, plunged down to the sea. For Dewanto the tension has not eased yet.

While returning to his airbase, Dewanto confronted another B-26. Head on attack and face-to-face air duel, could not be avoided. With full courage Dewanto fired his Mustang’s gun on the B-26, flown by Cony, another U.S. hired pilot. Cony returned the firing. “He fires until the last bullets,” said Petit Muharto, the former Permesta Airforce Chief-of-Staff remembering the event to Angkasa.

Both Dewanto’s and Cony’s plane suffered from the air duel. The tire of Cony’s plane was hit. According to Petit, it was known when the bomber landed on Mapanget runway skidding to a trench. While Dewanto’s Mustang suffered bullets shot on the fin. “He’s a brave pilot,” Cony said to Petit after he landed, praising his opponent.

Long after the air duel action, Petit met Dewanto. Petit asked, “Why don’t you use the rockets to bring down Cony?” Dewanto answered, “I had used all my rockets to the other B-26 (Allen Pope).” In other words, Dewanto’s rocket or his machine gun brought down Pope’s bomber to the bottom of the sea. Up to the present the polemic who shot down Pope still remains a question ­ the Navy claimed their guns brought down Pope’s B-26 Invader.

Unfortunately we could never get an answer from Dewanto, a fighter pilot who with his virtuosity deserved an ace title ­ the honorary title for pilot who shoot down an enemy plane. The word “ace” is taken from the ace playing card, the deadly card to beat an opponent.

There are many basic reasons in giving an ace title. In America for example, the title is given to a pilot who has shot down at least five enemy aircrafts. The World War II produced 268 P-51 Mustang aces alone!

Permesta
Later, Pope brought to trial in Jakarta
Four days earlier, Dewanto was involved in operations attacking Permesta Airforce Base at Mapanget (now Sam Ratulangi, Manado), Tasuka (near Tondano Lake), Morotai dan Jailolo (Halmahera). The operations engaged five P-51 Mustangs and four B-25 Mitchell bombers, flying from separate places. From Laha, Air Lieutenant Soewoto Sukendar flew a B-25 escorted by Air Lieutenant Rusman and Air Major Leo Wattimena in P-51s.


Two other B-25 Mitchell bombers were flown from Liang, piloted by Air Captain Sri Mulyono Herlambang and First Air Lieutenant Sudarman. The bombers were escorted by Captain Dewanto’s Mustang. From Amahai, two P-51s piloted by First Air Lieutenant Luly Wardiman and First Air Lieutenant Nayarana Soesilo escorted Air Captain Suwondo’s Mitchell bomber.

Leo Wattimena was the operation commander, while the bomber fleet was trusted under Sri Mulyono command. The Mustangs were assigned to shoot down every enemy aircraft seen and Mitchell bombers were to destroy enemy runways. Departing from three different places, they rendezvoused at the edge of Lifamatola of the Sula Islands, the Mangole chain islands before headLeo Wattimena briefed all the pilots. The briefing was short, he only said: tomorrow at dawn an air strike would be conducted to grab air supremacy over the East Indonesian sky. “In the afternoon around 15.00 hours,” recalled Sri Mulyono, nine aircrafts departed from their respective airbases to three designated points around Ambon Island and spent the night there.

When they reached Ambon, the sun had gone already. One by one, the planes landed. A habit of Allen Lawrence Pope, the Permesta’s hired U.S. pilot, he never showed up at night. At dawn on May 15, Leo launched his mission. He calculated as the sun rose at 05.45 a.m., formation of his air attack aircrafts arrived on the target location. Based on intelligence reports, Permesta has about 10 aircrafts consisting of B-26 bomber, P-51 Mustang and PBY Catalina amphibian plane.

In this air theatre Dewanto, Leo Wattimena and Rusman formed an umbrella for the B-25s piloted by Sri Mulyono, Soewoto Sukendar, and Sudarman who successfully destroyed Permesta Airforce bases, feared by the TNI.

The heroic air assault was dramatized by Noordono ­ the aviation painter ­ on canvas. His painting depicted an Indonesian Airforce’s B-25 number M-429 passing and its bomb left catastrophic blast on the enemy runway airfield. Smokes came out of the parked Catalina, probably in front of an operation room, indicating it was hit during the surprise attack.

From this big air assault operation, air supremacy was finally seized. “We destroyed eight planes,” recalled Sri Mulyono.
He was called Totok

He look like wedono, comment President Soekarno

Only few people really knew who Ignatius Dewanto was. Like his name, according to Sri Mulyono, “He wanted his name to be written as Dewanta not Dewanto. But many knew him as Dewanto.”

Just mentioned (Ret) Air Chief Marshal Saleh Basarah, (Ret) Air Marshal Omar Dhani, (Ret) Air Marshal Sri Mulyono Herlambang, (Ret) Air Marshal Wisnu Djajengminardo, (Ret) Air Commodore Agustinus Andy Andoko (Dewanto’s former mate in TALOA), (Ret) Air Major Petit Muharto, to (Ret) Colonel PGO Noordraven ­ and many other names ­ all agreed to say: “Dewanto is a brave man!”

“We called him Totok,” said Saleh Basarah. Omar Dhani who called himself as observer to his colleagues, explained that underneath his tough figure, Dewanto was in fact a cheerful and “an all round” person. He played piano, loved singing, swimming, athletic, and loved to hang out. “Compared to his friends, his progress chart was higher than the others,” he added.

Wisnu had other opinion. To him, Dewanto who always kept well his mustache, actually was a gentleperson, different than Leo Wattimena. Saleh Basarah added, not only Dewanto had firmed characteristic, his IQ was above average.

Born from a Catholic couple, M. Mardjahardjana and Theresia Sutijem in Kalasan, Yogyakarta on August 9, 1929, Dewanto’s young life was greatly influenced by the struggle for Indonesian independence atmosphere.

Its burned the young soul of Dewanto. Gun shots, bomb explosions, cries of agony those who were tortured and tales of heroic deeds for independence in the frontline, crystalized in Totok.

His father who was a teacher, could not subdued his son’s intention to join the fight for independence. Totok chose Solo and he melt into the fighting force, which in history is known as “Solo youngsters,” or well known as Tentara Pelajar (TP). He joined Slamet Riyadi group. His career was quite bright and was trusted to head a squad (1950). Earlier (1948) he was trusted head of TP’s grenade manufacturer.

“We were in the same lichting (generation), but we looked up to him because of his leadership qualities. Perhaps also because of his Faculty of Technique Gajah Mada University background,” explained Sri Mulyono who had enough knowledge to describe Dewanto’s obstinacy. Dewanto once led TP to intercept Dutch tank convoy enroute from Semarang to Solo in Boyolali area. To Sri Mulyono the unforgetable part was when TP were in ready position and the tank convoy was getting closer, Dewanto behind a trench suddenly with “craziness” opened fire with local built sten-gun against the Dutch armoured troop. “He was so brave and yet less considerate,” he recalled.

In several ambushes, TP acquired assistance from the Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI led by OMO (Second Lieutenant) II A. Wiriadinata because Sri Mulyono recalled, Wiriadinata’s troops were the only troop who had a 12.7 mm. He later became the first PGT (Pasukan Gerak Tjepat, now Korpaskhau/Airforce Special Troop) commander in 1952. Because of his distinction, Wiriadinata was appointed Battle Commander of Panembahan Senopati 105 (PPS-105) which later on became known as Pasukan Garuda Mulya.

Even after Dewanto became a pilot, Totok was still the old brave Totok. Andoko had a unique tale. Not long after he landed in Halim AFB, a Mustang landed. “To my astonishment, a long electric wire was hanging behind the Mustang. I asked the (ground) crew, who was the pilot. Pak Dewanto they answered lightly,” Andoko recalled the incident to Angkasa.

While still wondering what kind of manouver Dewanto did and how low he flew, Andoko was even more confused when someone burst out saying that it was not Dewanto if he had not brought along an electric wire after his routine exercise flights.

After the cease-fire (1948), Dewanto (also Sri Mulyono) was posted in Semarang ­ only for TPs who spoke Dutch making them as counterpart between Dutch Military Police and the Indonesian Army.

 On July 25, 1950, the Indonesian Defence Ministry announced the Airforce needed pilots. So Dewanto and Mulyono enlisted and recalled Sri Mulyono, (the late retired Colonel) Abdul Kadir and (Lieutenant) Soegiarto from TP, were also accepted while some of their colleagues had already joined AURI. “Soegiarto crashed with a P-51 in Depok,” Omar Dhani added

Mustang Dewanto  menembak serangan   B – 26 Allan Pope  
 
Dia adalah satu-satunya pilot tempur Indonesia yang menembak jatuh sebuah pesawat musuh . Dia juga satu-satunya orang yang mendamaikan dua pasukan yang terlibat dalam saling tembak di Halim, Oktober 1965. Tapi tak seorang pun peduli ketika dalam upaya untuk bertahan hidup , ia menjadi sopir pick-up mengangkut kelapa di sepanjang rute Banten – Jakarta .

Dewanto dipecat sampai peluru terakhir
Liang apron , 18 Mei 1958. Kapten Udara Ignatius . Dewanto dalam P – 51 Mustang kokpit , bersiap untuk lepas landas . Pagi itu , dia ditugaskan untuk menyerang AUREV ( Angkatan Udara Revolusioner / Revolusioner Angkatan Udara ) dari pemberontakan gerakan Permesta di Sulawesi Utara ( Sulawesi ) . Rockets berada di bawah sayap Mustang , sabar akan dipecat. Hanya beberapa detik sebelum Dewanto take , ia menerima pesanan untuk membatalkan misi serangan di Manado melainkan dialihkan ke Ambon .

Apa hush tentang ? Sebuah bomber B – 26 AUREV Invader dibom Ambon ! Segera ia menyalakan mesin . Keempat pisau berbalik 1.590 tenaga kuda mesin Rolls-Royce . Dewanto lepas landas dan melesat Mustang tak sabar . Dari udara , ia melihat asap hitam melanda Ambon . Reruntuhan terlihat berserakan di mana-mana , yang menandakan bahwa ia baru saja berada di bawah serangan udara berat . Dia terbang sekitar untuk sementara tapi ada ada tanda-tanda B – 26 . Dia kemudian menuju pesawatnya ke barat . Tangki feri dirilis untuk mempercepat Mustang nya .
Dewanto terbang rendah . Hanya beberapa detik saat ia melihat ALRI ( Angkatan Laut Republik Indonesia / Angkatan Laut Indonesia ) ‘ s kapal konvoi , juga melihat sekilas pesawat . ” B – 26 , ” gumamnya . Oh tidak! Pesawat itu terbang menuju kapal . Dewanto mencekik kecepatan penuh Mustang nya . Untungnya posisinya berada tepat di belakang Invader tersebut . Sejenak ia ragu-ragu untuk melepaskan roket karena posisi pesawat musuh adalah antara Mustang dan kapal . Satu , dua roket ditembakkan . Mereka semua terjawab . Tidak mencapai target. Dalam hitungan detik , ia kemudian menembakkan senapan mesin 12,7 . Row peluru muncrat dari pistol . Dewanto pasti yakin , kali ini ia mencapai target.

Pada saat yang sama , KRI Sawega juga menembakkan senjatanya . Bofors , Oerlikon , 12,7 dan 7,62 water mantle menggonggong . Peleton di dek secara kebetulan , juga berjaga senjata mereka di pesawat musuh . ” Pesawat musuh kena , ” teriak personil yang ada dari kapal .
 

The B – 26 Invader , dikemudikan oleh Allen Lawrence Pope , seorang tentara AS keberuntungan dengan operator radio Hary Rantung ( mantan personel AURI ) . , Terbakar dengan asap tebal , terjun ke laut . Untuk Dewanto, ketegangan belum mereda .

Saat kembali ke pangkalan udara , Dewanto berpapasan dengan B – 26 . Kepala menyerang dan tatap muka duel udara, tidak bisa dihindari . Dengan beraninya Dewanto menembakkan pistol Mustang -nya di B – 26 yang diterbangkan oleh Cony , AS lainnya disewa percontohan . Cony kembali penembakan . ” Dia kebakaran sampai peluru terakhir,” kata Petit Muharto , mantan Permesta Airforce Kepala -of – Staf mengingat acara untuk Angkasa .
Kedua Dewanto dan Cony itu pesawat menderita duel udara. Ban pesawat Cony yang ditabrak . Menurut Petit , diketahui ketika pembom mendarat di Mapanget landasan meluncur ke parit . Sementara Dewanto Mustang menderita peluru ditembak pada sirip . ” Dia seorang pilot pemberani , ” kata Cony ke Petit setelah ia mendarat , memuji lawannya .

Lama setelah aksi duel udara, Petit bertemu Dewanto . Petit bertanya, ” Mengapa Anda tidak menggunakan roket untuk menjatuhkan Cony ? ” Dewanto menjawab , ” Saya telah menggunakan semua roket saya yang lain B – 26 ( Allen Pope ) . ” Dengan kata lain , roket Dewanto atau senapan mesinnya dibawa turun bomber Paus ke dasar laut . Sampai saat ini polemik yang ditembak jatuh Paus masih tetap pertanyaan ¬ Angkatan Laut mengklaim senjata mereka menjatuhkan Paus B – 26 Invader .

Sayangnya kita tidak pernah bisa mendapatkan jawaban dari Dewanto , seorang pilot pesawat tempur yang dengan keahlian nya layak gelar ace ¬ gelar kehormatan untuk pilot yang menembak jatuh pesawat musuh . Kata ” ace ” diambil dari kartu ace bermain , kartu mematikan untuk mengalahkan lawan .

Ada banyak alasan dasar dalam pemberian gelar ace . Di Amerika misalnya , dianugerahkan kepada penerbang yang menembak jatuh sedikitnya lima pesawat musuh . Perang Dunia II menghasilkan 268 P – 51 Mustang ace saja !
Permesta
Kemudian, Paus dibawa ke pengadilan di Jakarta
Empat hari sebelumnya , Dewanto terlibat dalam operasi menyerang Permesta Airforce Base di Mapanget (sekarang Sam Ratulangi , Manado ) , Tasuka ( dekat Danau Tondano ) , Morotai Dan Jailolo ( Halmahera ) . Operasi terlibat lima P – 51 Mustang dan empat B – 25 Mitchell pembom , terbang dari tempat terpisah . Dari Laha , Air Letnan Soewoto Sukendar terbang B – 25 dikawal oleh Air Letnan Rusman dan Mayor Udara Leo Wattimena dalam P – 51s .

Dua B – 25 Mitchell pembom lainnya diterbangkan dari Liang , dikemudikan oleh Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang dan First Air Letnan Sudarman . Para pembom dikawal oleh Mustang Kapten Dewanto . Dari Amahai , dua P – 51s dikemudikan oleh First Air Letnan Luly Wardiman dan First Air Nayarana Soesilo dikawal Mitchell bomber Kapten Udara Suwondo .

Leo Wattimena adalah komandan operasi , sedangkan armada bomber dipercaya di bawah komando Sri Mulyono . The Mustang ditugaskan untuk menembak jatuh setiap pesawat musuh dilihat dan Mitchell pembom adalah untuk menghancurkan landasan pacu musuh . Berangkat dari tiga tempat berbeda , mereka rendezvoused di tepi Lifamatola dari Kepulauan Sula , pulau-pulau rantai Mangole sebelum headLeo Wattimena penjelasan semua pilot . Briefing pendek , ia hanya mengatakan : besok subuh serangan udara akan dilakukan untuk meraih supremasi udara di atas langit Indonesia Timur. ” Pada sore hari sekitar jam 15.00, ” aku Sri Mulyono , sembilan pesawat berangkat dari pangkalan masing-masing untuk tiga poin tentukan di sekitar pulau Ambon dan bermalam di situ .

Ketika mereka tiba di Ambon , matahari telah pergi sudah . Satu demi satu , pesawat mendarat . Sebuah kebiasaan Allen Lawrence Pope , menyewa pilot AS yang Permesta , ia tidak pernah muncul di malam hari . Saat fajar pada tanggal 15 Mei , Leo memulai misinya . Dia dihitung sebagai matahari terbit di 05:45 , pembentukan nya pesawat serangan udara tiba di lokasi target . Berdasarkan laporan intelijen , Permesta memiliki sekitar 10 pesawat yang terdiri dari B – 26 bomber , P – 51 Mustang dan PBY Catalina amfibi pesawat.

Dalam teater Dewanto , Leo Wattimena dan Rusman membentuk payung untuk B – 25s dikemudikan oleh Sri Mulyono , Soewoto Sukendar , dan Sudarman, menghancurkan sarang AU Permesta yang ditakuti oleh TNI .
Serangan udara heroik ini didramatisir oleh Noordono ¬ ¬ pelukis kedirgantaraan di atas kanvas . Lukisannya digambarkan seorang Airforce itu Indonesia B – 25 nomor M – 429 passing dan bom yang meninggalkan ledakan hebat di landasan musuh . Asap keluar dari Catalina diparkir , mungkin di depan ruang operasi , menunjukkan itu terkena selama serangan mendadak .

Dari operasi udara besar , akhirnya keunggulan udara berhasil disita . ” Delapan pesawat kita hancurkan , ” aku Sri Mulyono .
Ia dipanggil Totok

Dia terlihat seperti wedono , komentar Presiden Soekarno

Hanya sedikit orang yang benar-benar tahu siapa Ignatius Dewanto adalah . Seperti namanya , menurut Sri Mulyono , “Dia ingin namanya ditulis sebagai Dewanta tidak Dewanto . Tapi banyak mengenalnya sebagai Dewanto . ”
Hanya disebutkan ( Pur) Marsekal Saleh Basarah , ( Pur) Marsekal Omar Dhani , ( Pur) Marsekal Sri Mulyono Herlambang , ( Pur) Marsekal Wisnu Djajengminardo , ( Pur) Komodor Udara Agustinus Andy Andoko ( mantan rekan Dewanto di Taloa ) , ( Pur) Petit Muharto Mayor Udara , untuk ( Pur) PGO Kolonel Noordraven ¬ dan banyak nama lain ¬ semua sepakat untuk mengatakan : ” ! Dewanto seorang pemberani ”

” Kami memanggilnya Totok , ” ujar Saleh Basarah . Omar Dhani yang menyebut dirinya sebagai pengamat untuk rekan-rekannya , menjelaskan bahwa di balik sosok tangguh , Dewanto ternyata adalah seorang ceria dan ” semua bulat ” orang . Dia bermain piano , mencintai bernyanyi , berenang , atletik , dan senang bergaul . ” Dibandingkan dengan teman-temannya , grafik kemajuan lebih tinggi dari yang lain , ” tambahnya .
Wisnu memiliki pendapat lain . Baginya , Dewanto si pemelihara kumisnya , sebenarnya sosok yang halus , berbeda dari Leo Wattimena . Saleh Basarah menambahkan , tidak hanya Dewanto telah menguat karakteristik , IQ-nya di atas rata-rata.

Lahir dari pasangan Katolik , M. Marjahardjana dan Theresia Sutijem di Kalasan , Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 1929, kehidupan muda Dewanto sangat dipengaruhi oleh perjuangan untuk suasana kemerdekaan Indonesia .
Yang membakar jiwa muda Dewanto . Gun tembakan , ledakan bom , teriakan penderitaan mereka yang disiksa dan kisah-kisah perbuatan heroik untuk kemerdekaan di garis depan , mengkristal dalam Totok .
Ayahnya yang seorang guru , tak kuasa membendung keinginan anaknya untuk bergabung dengan perjuangan kemerdekaan . Totok memilih Solo dan dia melebur menjadi kekuatan pertempuran , yang dalam sejarah dikenal sebagai ” anak-anak Solo, ” atau dikenal sebagai Tentara Pelajar ( TP ) . Dia bergabung Slamet Riyadi kelompok . Karirnya cukup cerah dan dipercaya untuk memimpin skuad ( 1950 ) . Sebelumnya ( 1948) pernah menjadi kepala pabrik granat TP .

” Kami berada di lichting sama ( generasi ) , tapi kami mengaguminya karena kualitas kepemimpinannya . Mungkin juga karena kuliah di bagian teknik Universitas Gajah Mada , ” jelas Sri Mulyono yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggambarkan ketegaran Dewanto . Dewanto pernah memimpin TP untuk mencegat konvoi tank Belanda enroute dari Semarang ke Solo di daerah Boyolali . Untuk Sri Mulyono bagian tak terlupakan adalah ketika TP berada dalam posisi siap dan konvoi tank semakin dekat , Dewanto balik parit tiba-tiba dengan ” kegilaan ” melepaskan tembakan dengan lokal dibangun sten -gun terhadap pasukan lapis baja Belanda. ” Dia begitu berani dan namun kurang perhatian , ” kenangnya .

Di beberapa penyergapan , TP memperoleh bantuan dari Pasukan Pertahanan Pangkalan ( PPP ) AURI dipimpin oleh OPT ( Letnan Dua ) II A. Wiriadinata karena Sri Mulyono ingat , pasukan Wiriadinata itu adalah satu-satunya pasukan yang memiliki 12,7 mm . Dia kemudian menjadi PGT pertama ( Pasukan Gerak Tjepat , sekarang Korpaskhau / Airforce Pasukan Khusus ) komandan pada tahun 1952 . Karena perbedaan itu , Wiriadinata diangkat Pertempuran Komandan Panembahan Senopati 105 ( PPS – 105 ) yang kemudian dikenal sebagai Pasukan Garuda Mulya .
Bahkan setelah Dewanto menjadi pilot , Totok masih merupakan Totok berani tua. Andoko memiliki kisah yang unik . Tidak lama setelah ia mendarat di Halim , Mustang mendarat . ” Saya terkejut , kawat listrik panjang itu tergantung di belakang Mustang . Aku bertanya ( tanah) awak , yang pilot . Pak Dewanto mereka menjawab ringan , ” Andoko menceritakan hal tersebut kepada Angkasa .

Sementara masih bertanya-tanya apa jenis manuver Dewanto lakukan dan seberapa rendah ia terbang , Andoko bahkan lebih bingung ketika seseorang meledak mengatakan bahwa itu tidak Dewanto jika ia tidak membawa kawat listrik setelah penerbangan latihan rutinnya .

Setelah gencatan senjata ( 1948 ) , Dewanto ( juga Sri Mulyono ) telah diposting di Semarang ¬ hanya untuk TPS yang berbicara Belanda untuk dijadikan counterpart antara polisi militer Belanda dan Tentara Nasional Indonesia .
 Pada tanggal 25 Juli 1950, Departemen Pertahanan Indonesia mengumumkan Angkatan Udara membutuhkan penerbang . Jadi Dewanto dan Mulyono terdaftar dan Sri Mulyono , ( Kolonel purnawirawan, almarhum ) Abdul Kadir dan ( Letnan ) Soegiarto dari TP , juga diterima sementara beberapa rekan mereka telah bergabung AURI . ” Dia crash dengan P – 51 di Depok , ” tambah Omar Dhani

 

Source sukarnoyears web blog

 

 

 

18 Mei 1958,

 Kapten Udara Ignatius Dewanto sedang berada di Lapangan Terbang Liang. Saat itulah dia menerima laporan ada pesawat B-26 Invader yang menyerang Kota Ambon.

Pasukan TNI memang selalu dalam keadaan siaga, Angkatan Udara Revolusioner Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), kerap menyerang wilayah RI.

Dewanto bergerak cepat. Dia segera memacu pesawat P-51 Mustang kebanggannya ke ujung landasan. Salah satu pilot terbaik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) itu bergerak mencari musuhnya. Demikian ditulis dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003.

Di atas Kota Ambon, Dewanto melihat kerusakan akibat serangan pesawat udara. Namun dia tidak menemukan B-26 buruannya. Setelah bergerak ke arah Barat, Dewanto baru melihat B-26 itu. Rupanya pesawat yang dipiloti Allan Lawrence Pope itu hendak menyerang konvoi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Dewanto segera menyerang pesawat musuh itu dengan senapan mesin 12,7 mm dan roket pesawat P-51 Mustang. Berhasil, pesawat itu terbakar dan jatuh.

Namun Allan Pope dan juru radio Hary Rantung berhasil selamat walau pesawat mereka ditembak jatuh Dewanto. Mereka sempat terjun dengan parasut sebelum pesawat mereka hancur.

Tertembaknya pesawat yang dipiloti Allan Pope ini penting artinya. Saat itu Indonesia bisa membuktikan kalau pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), dibantu oleh Amerika Serikat. Dalam hal ini diduga Central Intelligence Agency (CIA) yang banyak berperan.

Tertangkapnya Alan Poppe juga membuat AS malu dan kemudian menghentikan bantuannya pada Permesta. Dengan demikian TNI menjadi lebih mudah untuk menghancurkan pasukan Permesta.

Allan Pope sendiri kemudian divonis mati oleh pengadilan militer. Namun akhirnya Presiden Soekarno membebaskan Pope, alasannya Soekarno tidak tega saat istri Pope datang dan menangis minta suaminya agar dibebaskan. Itu pengakuan Soekarno, tapi diduga pemerintah AS yang gencar melobi agar Pope tidak dihukum mati.

(forum u2)

 

 

 

 

 

20 Mei 1958

 

Kota Payakumbuh sudah dikuasai oleh Pasukan  komando Operasi 17 Agustus.(Ahmad Yani)

Pelaksanan perintah KSAD untuk menangkap  M.Saleh Lahade dan semua tokoh Permesta di Mkaasar dilakukan tanggal 20 Mei 1958, selain itu juga Mochtar Lintang, Anwar bey,Nazaruddin Rachmat,Kaligis,Bing Latumahina, dr O.F.Engelen dan lainnya ditahan. Setelah melalui proses pemeriksaan,mereka dipenjarakan di Madiun dan Jakarta. Sejumlah perwira lainnya juga dikeluarkan dari dinas militer

(R.Z.Leirissa)

21 Mei 1958

Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai

 

Kota Bukittinggi 21 Mei 1958

Pada hari ini juga Ahmad Yani telah berada di kota Bukittinggi,

Pada hari itu juga Ahmad Yani mengunjungi asrama yang ditempati keluarga tentara  PRRI yang ditawan.

(ahmad Yani)

 

Pada 21 Mei 1958, pasukan TNI dari Jakarta berhasil merebut Bukittinggi dan mematahkan perlawanan PRRI.

Tanggal 10 Februari 1958,

Wakil Komandan Brimob Kepolisan Negara, Kombes Sutjipto Judodihardjo, datang ke Sumatera Tengah.

Dia menemui Kaharoeddin dan menyerahkan uang Rp 5 juta untuk bantuan pada Kepolisan Sumatera Tengah. Diharapkan uang ini bisa jadi dana operasional kepolisian jika situasi di Sumatera terus memburuk.

Demikian dikutip dalam buku Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan, terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1998.

Maka uang operasional yang diserahkan itu diserahkan secara utuh

 

 oleh Kaharoeddin,

pada penggantinya Kombes Soewarno Tjokrodiningrat. Serah terima dilakukan secara tertib administrasi dan lengkap dengan dokumen serah terima.

Saat itu banyak orang yang geleng-geleng kepala melihat kejujuran Kaharoeddin. Namanya saat perang, tidak ada pertanggungjawaban penggunaan uang.

Bisa saja sebenarnya Kaharoeddin menghabiskan uang itu, toh tidak akan ada yang mencarinya. Lagipula uang itu sudah dipercayakan sepenuhnya pada Kaharoeddin.

Namun Kaharoeddin tetap menjaga keteladanannya. Dia tidak mau korupsi.

“Kakek saya memang jujur. Jangankan uang, dia juga tidak mau menggunakan fasilitas dinas. Saat menjabat Gubernur Sumatera Barat, anaknya hendak menikah. Tapi Kakek tidak mau anaknya menikah di Gedung Gubernuran,” kata cucu Kaharoeddin, Aswil Nasir, saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

 


[ian]

 

(merdeka com)

 

22 Mei 1958

 

Melihat keadaan kota yang sepi dan lengang di Bukittinggi   memberi kesan kota itu dikosongkan  karena dicekam rasa takut yang ditiupkan kepada penduduk. Kepada penduduk disebarkan serita tentang kekejaman  TNI sehingga tidak ada pilihan  bagi penduduk kecuali menghindar agar selamat .

Menyadari keadaan ini 

 

Ahmad yani segera  memberikan penjelasan  melalui perinth hariannya . Dalam Perintah harian itu  dijelaskan  bahwa  TNI dating hanya  untuk mengakhiri para petualang.

 

 

Penjelasan ini melegakan rakyat , satu persatu pintu pertokoan  mulai terbuka.

Rakyat sedikit demi sedikit  berani keluar rumah.

Cerita yang mengerikan sebelumnya tidak terbukti dalam kenyataan

(Ahmad yani)

Kampung Matur Dibumi Hangus

Saya ingat ketika itu kami bermukim di Pekanbaru, ayah kami saat itu bertugas sebagai Kepala Polisi Pekanbaru.Karena, situasi yang tidak kondusif untuk urang awak saat itu, ayah kami sempat diperiksa di Bukittinggi,

 

sedangkan kami mengungsi ke Matur.

 Saat itu saya baru duduk dikelas 1 SR. Saya sempat melihat betapa kejamnya tentara Soekarno yang membakar kampung kami,

 

karena di Padang Kasaik yaitu daerah hutam beberapa kilo memasuki Matur Komandan Batalyonnya tertembak, yang akibatnya mereka membumi hangusin kampung Matur kami.

Masih tergiang pada saya, ketika itu tentara Soekarno menembak membabi buta dan menghujanikampung dengan mortir dari pesawat terbang. Sebagian besar dari kami tinggal di bawah tanah (tempat perlindungan)untuk menyelamatkan diri. Kesan yang tidak terlupakan dikala masih kecil

 

Setelah itu, ayah kami dipindahkan ke Tanjungpinang, dan kami kembali tinggal di Pekanbaru sebelum diboyong ke Tanjungpinang.

 (Dr Ir Herman Moechtar)

24 Mei 1958

Gelombang pengabungan pasukan PRRI dari hari ke hari semakin banyak, 5000 orang dari Anggota batalyon 141 menyatakan dirinya  kembali kepangkuan Ibu Pertiwi , jumlah ini adalah yang terbesar langsung ditangani

 

 Ahmad Yani dilapangan.

Penerimaaan ke 500 orang ini dilakukan di

 

Padang Panjang yang merupakan kota terdekat dari tempat mereka berada dengan suatu upacara militer  pada tanggal 24 Mei 1958.Mereka diterima dengan upacara Keprajuritan dengan senjata lengkap.

 

 

25 Mei 1958

 

Pada tanggal 25 Mei 1958  Pasukan Operasi Sapta Marga yang dipimpin oleh Deputi KASAD Brigjen TNI Djatikusumo memasuki kota Bukittinggi , dan dalam pertemuan yang diadakan di kota ini, Deputi KASAD menyerahkan sebuah piala yang merupakan lambing simbolik kepada Ahmad Yani selaku Komadan Operasi 17 Agustus .

Pergi mengungsi ke nagari lain

Dalam situasi sedemikian, ibu berkirim pesan kepada Bapak melalui kurir.
Atas isyarat dari Bapak, ibu mengambil keputusan, bahwa kami tak mampu menghadapi terror semacam itu.Oleh sebab itu,

 

 maka kami mengungsi ke Padang Gantiang sesuai isyarat dari Bapak.

Suatu hari ibu dan kakak saya mencari pedati dan mengumpulkan barang-barang yang penting-penting saja untuk dibawa.Agar tidak ketahuan oleh orang orang lainnya, kami diam-diam perginya.Kalau masyarakat tahu, pastilah semua pada ikut mengungsi.Ibu saya berpendapat kampung jangan ditinggal.Pagi-pagi sekali, sekitar pukul tiga pagi, pedati yang membawa barang barang bawaan kami berangkat duluan.Kami buat tiga rombongan, seolah-olah ada urusan ke sawah, ke ladang, ke pasar atau ke mana saja.Memang setiap ada yang melihat kami, orang orang selalu bertanya, mau kemana kalian?


Tapi kami sudah diberi tahu Bapak, kalau ada yang bertanya jangan dijawab pergi mengungsi.
Jawab saja pergi ke manalah.
Ketika itu rombongan kami terdiri 6 (enam) orang yaitu, ibu dan saya kakak beradik, semuanya perempuan, relative masih kecil-kecil.Sebenarnya saya bersaudara 7 (tujuh) orang, hanya yang paling tua laki-laki, ketika itu sudah menjadi tentara Angkatan laut.

Dia ketika itu sedang bertugas di Belawan, Medan.Tinggal di kampung enam orang lagi, semuanya perempuan dan seorang adik saya yang masih SR (Sekolah Rakyat) dibawa abang saya.
Tinggalah kami lima orang adik-beradik perempuan semua, dan dengan ibu menjadi berenam.

Akhirnya sampailah kami di nagari Padang Gantiang, yang ternyata masyarakatnya senang sekali menerima kami, dan kami ditempatkan di sebuah rumah gadang.Selama di pengungsian kami selalu menjaga agar jangan ketahuan oleh orang lain bahwa kami adalah anak Camat militer Talawi.Di pengungsian kami merasa lebih aman karena nagari Padang Gantiang tidak termasuk Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung.

Orang-orang kampung juga membantu kami.Bila ada situasi yang mencurigakan, mereka segera memberi tahu kami.Hampir setiap hari kami naik ke bukit, yang sebenarnya untuk menyem-bunyikan diri , seolah-olah sedang mencari kayu api.Dengan demikian terkumpul banyak sekali kayu api di rumah gadang tempat kami mengungsi.

Suasana kehidupan di pengungsian

Di tempat pengungsian sekali-sekali Bapak datang, dan beliau membawa cerita baru.
Adakalanya Bapak datang dan berunding dengan para tokoh PRRI (militer, sipil, adat dan agama).Kadang kadang sempat menginap semalam, dalam situasi seperti itu, orang rundo atau hansip di sekitar rumah jaga-jaga.

Bila ada orang yang dicurigai, Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.Kalau tentara Pusat datang, kami tidak boleh menampakkan diri, kecuali saya.Kenapa demikian ?
Katanya, saya adalah orang yang paling hitam kulitnya dalam keluarga dan tidak langsung mencirikan Bapak.Kakak dan adik-adik biasanya naik ke loteng rumah gadang.

Di pengungsian sering sekali terjadi bakutembak, dan saya sering melihat para tentara pelajar, anak-anak kita yang masih muda muda dengan semangat tinggi, memakai baju seragam hijau-hijau.Mereka semua memanggul senjata, ada juga senjatanya besar dan baru.

Para tentara pelajar itu sebenarnya calon intelektual Minang, tidak sedikit mereka yang tewas.
Kadang terjadi, hari ini saya melihat wajahnya, dan besoknya sudah ada kabar bahwa mereka sudah tertembak, sungguh menyedihkan kalau di ingat-ingat.

Di pengungsian kami sebenarnya kurang nyaman, dan merasa tidak enak dengan penduduk setempat.Karena selama kami di pengungsian, sepertinya daerah itu menjadi agak terganggu.

Tentara Pusat mulai sering datang ke tempat pengungsian kami karena mereka sepertinya sudah tahu kalau kami mengungsi ke sana.
Suasana ini sudah tidak nyaman lagi, dan kami sudah dua bulan mengungi di sana.
Orang tua saya memutuskan bahwa kami akan mengungsi ke tempat lain.

Ada juga yang surprise, di pengungsian kami ketemu dengan keluarga yang sudah agak jauh.
Konon setelah ditelusuri mereka adalah belahan bako dari Mak Etek sepupu saya yang bernama Jusbar.Salah seorang anaknya ternyata sudah menikah dengan Mak Etek selama bergolak itu.

Isterinya yang pertama tidak mau diajak mengungsi, saya tidak sempat berjumpa dengan Mak etek itu.Dia itu terkenal dengan pasukannya, yang gagah berani dan disegani di tempat lain.
Memang Mak Etek saya komandan Batalyon dari tentara Dewan Banteng yang mobil gerakannya ke daerah lain seperti Kiliran Jao.Sebelum pergolakan Mak Etek itu bertugas di Bukittinggi.

Orang Minang memang malu kalau tidak pandai, maka dalam situasi perangpun masyarakat sempat membuka sekolah-sekolah darurat yang biasanya dsebut sebagai Sekolah Penampungan.

Karena saya telah menjadi murid SMA sebelum PRRI meletus, maka saya pun sempat ikut sekolah di SMA darurat itu, walaupun jurusannya beda.Situasi ini berjalan tidak lama.Hanya sekitar dua bulan.

Bapak tertangkap

Beberapa waktu kemudian, di suatu hari kebetulan malam-malam Bapak pulang, dan malam itu seperti biasanya beliau berunding dengan tiga tokoh, ada komandan tentara.
Saya masih ingat yaitu Kol Zein Yatim, Drs Mawardi Yunus (Kepala Jawatan Agama), paman Burhan Jusuf.Setelah berunding malam itu, mereka langsung berpisah.Rupanya kepulangan Bapak telah tercium oleh tentara pusat.

Pagi-pagi sekali Bapak dikasih tahu bahwa tentara pusat sudah masuk ke Padang Gantiang.
Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.Dalam kondisi seperti itu, seperti biasanya saudara-saudara saya segera bersembunyi di loteng.
Apa daya, malang tidak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, rupanya tentara pusat sudah menunggu Bapak diseberang sungai.Bapak segera tertangkap dan digiring lalu dibawa ke jalan besar.Kakak saya yang biasa mengintip gerak–gerik tentara pusat dari loteng melihat Bapak sedang digiring, maka kontan teriak-teriak, histeris… Bapak… Bapak….Bapak tertangkap.

Bukan main kagetnya kami, rencana ditangan kita, keputusan Allah yang menentukan.
Senanglah tentara pusat waktu itu.Saya sangat bersedih, apalagi ibu hanya terduduk lemah melihat kami berteriak-menangis agar Bapak dibebaskan.Itulah suasana yang sangat mengharukan.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

 

1958.

.

Sumatera Barat bergolak dengan gerakan yang bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, dibawah komando Safrudin Prawiranegara. Rakyat yang mengerti politik maupun tidak, bangkit menggugat dan melawan pemerintah pusat.

 

Pemerintah pusat mengirim tentaranya ke ranah Minangkabau untuk memadamkan pergolakan ini. Awalnya mereka hanya menyebar dikota-kota. Tapi karena medan pertempuran semakin luas, akhirnya para tentara itupun mulai masuk sampai ke nagari-nagari diluar kota.

 

Dan akhirnya merekapun hadir

 

 

di nagari Kamang,

 tempat dimana pada tahun 1908 rakyat ikut berperang melawan tentara penjajahan Belanda, yang kemudian terkenal dengan Perang Kamang.dimana jorong Ladang Darek kampungku,

 termasuk didalamnya. Rakyat Kamang kini  tidak berhadapan dengan Belanda, tapi dengan bangsa sendiri.

.

Kehidupan kampung kami yang tadinya tenang dan damai, kini telah berubah. Kedamaian dan ketenteraman hidup mulai terusik. PKI dengan organ Organisasi Pembebasan Rakyat-nya pun ikut mengail diair keruh.

 

Fitnah merebak, OPR gampang saja menuduh siapa saja sebagai mata-mata musuh, dan menuduh sebagai penghianat. Padahal itu hanya karena ketidak sukaan terhadap orang yang dituduh, atau karena ada masalah pribadi yang tak kunjung selesai dan berujung dendam.

 

 

 Kepada tentara dalam, (istilah yang diberikan untuk Tentara pusat yang menguasai kampung), dia menuduh si anu sebagai pengikut tentara luar.( rakyat maupun tentara PRRI yang berperang melawan tentara pusat yang bergerilya di hutan-hutan)  Korban tak bersalahpun berjatuhan

.

Laki-laki dewasa yang merasa terpanggil untuk ikut berjuang kini jarang kelihatan.  Mereka mulai kucing-kucingan dengan tentara pusat – istilah yang dipakai untuk tentara yang dikirim dari Jawa untuk menumpas pergolakan ini, yang dikirim oleh pemerintah pusat di Jakarta. Yang tidak ikut berjuang, pergi menghindar dan mengungsi, agar tidak diciduk oleh tentara pusat dan dituduh sebagai pemberontak.

.

Sejak meletusnya perang saudara atau pergolakan PRRI itu, ayah kami sudah jarang pulang, begitu juga pak aciak suami etekku. Sementara wanita dan anak-anak maupun laki-laki yang telah tua, tetap tinggal di dalam kampung.

 

Mereka mulai menggali lubang perlindungan dibawah rumah masing-masing. Ini dimungkinkan karena rumah penduduk semuanya merupakan rumah panggung, walaupun sebagian rumah mereka bukan rumah adat atau rumah gadang.

.

Begitupun dengan kami, sebuah lubang yang dalamnya sepaha orang dewasa juga telah digali dikolong rumah dapur yang ada di halaman belakang rumah gadang. Sebagaimana namanya, rumah dapur adalah bangunan dapur yang dipakai untuk memasak untuk seluruh keluarga.

 

Bangunan rumah dapur ini dibuat lebih besar dari dapur biasa, karena disamping sebagai fungsi utamanya sebagai dapur sekaligus dibuat dan berfungsi sebagai ruang makan keluarga. Karena terlalu repot bila setiap makan harus membawa semua makanan ke rumah gadang. Kecuali untuk makan malam, kalau ada tamu atau ada acara baralek, atau bulan puasa barulah acara makan-makan ini diadakan di rumah gadang.

.

Rumah dapur ini diberi lantai papan, sebagian ada juga palupuah– bambu yang dibelah-belah dan dihamparkan jadi lantai tempat duduk baselo-lesehan atau tidur-tiduran. Tinggi lantainya dari tanah selutut orang dewasa. Biasanya kolong ini dipakai untuk meletakkan kayu bakar, atau ada juga yang dipakai sebagai kandang ayam.

.

Dikolong rumah dapur inilah lubang persembunyian dibuat. Siang hari kami keluar, dan melakukan aktifitas rutin, karena siang hari situasi cukup tenang, suasana perang tidak begitu terasa, karena jarang terdengar bunyi tembakan senjata api. Karena tentara luar telah kembali ke hutan bukit barisan untuk bersembunyi dan menghindari patroli tentara pusat siang harinya, serta menyusun kekuatan kembali untuk melakukan serangan balik terhadap tentara pusat malam harinya.

.

Malam hari, bila telah terdengar suara rentetan tembakan senjata api, atau dentuman granat. Kami segera berkumpul dan bersembunyi didalam lubang di kolong rumah dapur tersebut. Dengan hati berdebar dan rasa takut kalau-kalau ada peluru yang nyasar kearah kami. Aku selalu dalam pelukan umi, aku dengar dia selalu berdo’a, untuk keselamatan kami semua. Juga kakak-kakakku yang sudah bisa mengaji, mereka juga berdo’a sambil berbisik, kadang sambil me-lantunkan ayat Al-Qur’an yang mereka hafal dengan lirih. Suasana hening mencekam, matapun tidak dapat dipejamkan untuk tidur, karena semua tegang, dalam suasana perang yang kami tidak tahu kapan akan berakhirnya.

.

Menjelang pagi suara letusan senjata terdengar semakin jarang, hingga beduk subuh ditabuh di masjid-masjid dan mushalla. Umi yang pertama bangun meraih lampu senter dan menyalakannya mencari  korek api dan menyalakan lampu tempel.

 

 Satu persatu mulai bangun dan keluar dari lubang perlindungan, udara subuh diluar lubang perlindungan begitu dingin, embun turun menyelimuti tanah, kelihatan seperti kapas beterbangan ketika ditimpa cahaya lampu tempel yang disangkutkan di paku dekat pintu rumah dapur, semua mendekapkan tangan kedada melawan dinginnya udara subuh, ada yang menggigil kedinginan hingga giginya gemertakan, yang pakai sarung menutupi seluruh tubuhnya hingga yang kelihatan hanya muka, atau yang memakai kain panjang menyelimuti badannya. Belum semuanya tenang, suasana masih mencekam, tapi tidak seperti beberapa jam sebelumnya, disaat suara tembakan dan dentuman senjata api saling bersahutan.

.

Tidak seorangpun yang bersuara, yang terdengar hanya cipratan air.  Umi serta kakak-kakakku mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat shubuh, kecuali aku dan udaku yang masih balita.

 

Kami semua naik kerumah gadang yang semalaman dibiarkan kosong, karena semua berlindung dilubang persembunyian. Aku dipangku oleh umi hingga masuk rumah, kakak-kakakku yang sudah berwudhu melanjutkannya dengan shalat shubuh, sedang aku dan udaku masuk ke kamar, naik keatas kasur dan tidur lagi, ditutup oleh umi dengan selimut tebal yang hangat, setelah itu, barulah umi shalat subuh.

Sambil memeluk bantal aku mencoba untuk meneruskan tidurku yang semalaman terganggu oleh suara tembakan senjata api. Sayup-sayup terdengar suara kakakku yang sudah selesai shalat subuh mengaji membaca Al-Qur’an, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tertidur pulas.

 

Kami tidak tahu, berapa lama perang saudara antara PRRI dan tentara pemerintah pusat akan berlangsung. Dilubang perlindungan, setiap malam umi maupun kakak-kakakku, aku dengar berdo’a agar perang ini berakhir. Terutama umi, yang mencemaskan anak-anaknya yang setiap malam tidur meringkuk kedinginan, didalam lubang sempit berdindingkan tanah yang beralaskan tikar seadanya.

 

 Sementara kakak-kakakku mengharapkan segera dapat kembali tidur didalam kamar dirumah gadang, beralaskan kasur dan berselimutkan selimut tebal, yang melindungi tubuh dari dinginnya udara malam.Beberapa malam belakangan ini suara tembakan tidak lagi seramai hari-hari sebelumnya. Kami kembali tidur di rumah gadang,

 

Siangnya umi dan kakak-kakakku mulai beraktifitas lagi memproduksi bubuk kopi. Umi mulai berdagang lagi, menjajakan kopi bubuk yang dikampung kami bernama sabuak. Umi berjualan dari kampung ke kampung di sekitar nagari Kamang. Awalnya kami merasa takut dan cemas melepas umi pergi berdagang, takut umi ditangkap atau ditembak oleh tentara pusat. Perasaan kami baru tenteram setelah umi kembali kerumah dalam keadaan selamat

(Dian Kelana)

 

Saya masih ingat adanya bangunan    di nagari  Baso Agam yang sudah dipersiapkan untuk mendirikan fakultas Kedokteran di sana.sampai  tahun 1960 an masih terlihat sisa bangunan tersebut yang hancur saat serangan tentara Pusat terhadap RRI didesa tersebut.

(Dr Iwan)

 

 Banyak dosen dan mahasiswa Unand yang menunjukkan kesepahamannya dengan PRRI. Akibatnya, Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan untuk menumpas PRRI juga memporak porandakan kampus Unand yang tersebar di beberapa kota: Padang, Bukittinggi, Batusangkar, dan Payakumbuh serta juga yang baru dibangun di Baso.

Situasi politik pada waktu itu benar-benar tidak kondusif untuk melaksanakan aktivitas perkuliahan. Dosen-dosen yang didatangkan dari luar negeri, terutama dari Eropa, ada yang pulang ke negaranya masing-masing dan ada pula yang pindah ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Pada masa PRRI dapat dikatakan sebagai masa kemunduran Universitas Andalas

 

26 Mei 1958

Pada tanggal 26 mei 1958, Ahmad yani dalam perjalan kembali  dari Padang Panjang  mengadakan inspeksi  ke Bukittinggi

(Ahmad Yani)

 

Terminal bus  Aurtajungkang Bukittinggi tahun 1958

 

 

 

27 Mei 1958

Pada tanggal 27 mei Ahmad yani dari Bukittinggi berkunjung ke Payakumbuh  yang telah diduduki sejak tanggal 20 Mei 1958.

Dari Payakumbuh Rombongan Ahmad Yani ke Batusangkar,  dan kembali ke Padang  panjang

(Ahamd Yani)

 

Surat pribadi dari adik Mertua saya di payakumbuh kepada ayahnya di padang Pandjang dikirim liwat kurir

Isi surat

Pajakumbuh

Kepada  Pa YTH

Surat Pa kami sudah terima dengan baik,kami disini  semua ada baik-baik saja , Kami mau ke Padang Panjang belum bisa sebab di jalan masih berbahaya ,apalagi bawa anak-anak kecil.

Mwnumpang sama auto orang kami ada kirim radio dengan surat-suratnya.

Harap pa terima dengan baik.

Bagaimana ne(mama) sekarang ? Pekerjaan oran di Padang Panjang ada jalan dengan biasa saja ? sampai disini saja dahul drai kami

Heng

(koleksi dr Iwan)

27 Mei 1958

 

Nevertheless, with Pope in Indonesian hands things began to move rapidly in Washington. Within five days: (1) the State Department approved the sale to Indonesia for local currency of 37,000 tons of sorely needed rice; (2) the United States lifted an embargo on $1,000,000 in small arms, aircraft parts and radio equipment — destined for Indonesia but frozen since the start of the rebellion; and (3) Dulles called in the Indonesian ambassador, Dr. Mukarto Notowidigdo, for a twenty-minute meeting.
“I am definitely convinced,” said the ambassador with a big smile as he emerged, “that relations are improving.”

But the Indonesian Army was not prepared to remain permanently silent about Pope. On May 27 a news conference was called in Jakarta by Lieutenant Colonel Herman Pieters, Commander of the Moluccas and West Irian Military Command at Ambon. He announced that Pope had been shot down on May 18 while flying a bombing mission for the rebels under a $10,000 contract.
Pieters displayed documents and identification papers showing Pope had served in the U.S. Air Force and as a pilot for CAT. He said Philippine pesos, 28,000 Indonesian rupiahs, and U.S. scrip for use at American military installations were also found on the American pilot. Pieters said 300 to 400 Americans, Filipinos and Nationalist Chinese were aiding the rebels, but he did not mention the CIA.
Many Indonesian officials were outraged by Pope’s activities, and accused him of bombing the marketplace in Ambon on
May 15. A large number of civilians, church bound on Ascension Thursday, were killed in the raid on the predominantly Christian community. But the government did its best to suppress public demonstrations.

Pope was given good medical treatment, and he could be seen sunning himself on the porch of a private, blue bungalow in the mountains of Central Java. Although the Communists were urging a speedy trial, Sukarno also saw advantages in sunning himself — in the growing warmth of United States policy. Pope’s trial was delayed for nineteen months while Sukarno kept him a hostage to continued American friendliness.
Late the next year, however, Sukarno found himself in a quarrel with Peking over his decision to bar Chinese aliens from doing business outside of the main cities of Indonesia. The powerful Indonesian Communist Party was aroused over the issue and Sukarno may have felt the need to placate them.

Namun demikian, dengan Tangan  Allan Pope  di Indonesia hal-hal mulai bergerak cepat di Washington . Dalam lima hari :

( 1 ) Departemen Luar Negeri menyetujui penjualan ke Indonesia untuk mata uang lokal dari 37.000 ton beras sangat dibutuhkan ,

(2 ) Amerika Serikat mengangkat embargo pada $ 1.000.000 dalam pelukan kecil , suku cadang pesawat dan peralatan radio – ditakdirkan untuk Indonesia tapi dibekukan sejak awal pemberontakan ,

dan ( 3 ) Dulles memanggil duta besar Indonesia , Dr Mukarto Notowidigdo , untuk pertemuan dua puluh menit .
” Aku pasti yakin , ” kata duta besar dengan senyum lebar saat ia muncul , ” bahwa hubungan membaik . “

Tapi Tentara Nasional Indonesia tidak siap untuk tetap permanen diam tentang Allan Pope . . Pada tanggal 27 Mei dalam konferensi pers di Jakarta dipanggil oleh Letnan Kolonel Herman Pieters , Komandan Komando Militer Maluku dan Irian Barat di Ambon .

 Dia mengumumkan bahwa Allan  Pope telah ditembak jatuh pada 18 Mei saat terbang misi pemboman untuk pemberontak di bawah kontrak $ 10.000.

Pieters  menampilkan dokumen dan surat identifikasi menunjukkan Pope  pernah bertugas di Angkatan Udara AS dan sebagai pilot untuk CAT . Ia mengatakan peso Filipina , 28.000 rupiah Indonesia , dan scrip AS untuk digunakan pada instalasi militer Amerika juga ditemukan pada pilot Amerika .

 Pieters mengatakan 300 hingga 400 orang Amerika , Filipina dan Nasionalis China membantu para pemberontak , namun ia tidak menyebutkan CIA .

Banyak pejabat Indonesia marah oleh kegiatan Paus , dan menuduhnya pemboman pasar di Ambon 15 Mei. Sejumlah besar warga sipil, gereja terikat pada Ascension Kamis , tewas dalam serangan itu pada masyarakat yang didominasi Kristen . Namun pemerintah melakukan yang terbaik untuk menekan demonstrasi publik .

Pope  diberi perawatan medis yang baik , dan ia bisa dilihat menjemur dirinya di teras pribadi , bungalow biru di pegunungan Jawa Tengah .

Meskipun Komunis mendesak pengadilan yang cepat , Sukarno juga melihat keuntungan dalam menjemur sendiri – dalam kehangatan tumbuh kebijakan Amerika Serikat . Sidang Pope ditunda selama sembilan belas bulan sementara Sukarno terus dia sandera keramahan Amerika lanjutan .

Akhir tahun depan , namun, Soekarno menemukan dirinya dalam pertengkaran dengan Peking atas keputusannya untuk melarang  Cina asing dari melakukan bisnis di luar kota-kota utama Indonesia .  Partai Komunis Indonesia yang kuat  terangsang atas masalah ini dan Sukarno mungkin merasa perlu untuk menenangkan merek

 

Juni 1958

untuk melihat kemajuan keamanan keamanan didaerah ini pada bulan Juni 1958 Panglima  Teritorial IV(sekarang KODAM VII) Diponegoro  dan TT V (SEkarang KODAM Brawijaya) telah berkunjung ke Sumtaera Barat.

(Ahmad Yani)

Sudah tiga bulan perang berlangsung.
Perang antara tentara APRI yang datang dari ibu kota melawan tentara PRRI.
Perang yang ganjil.
Perang yang brutal dari pihak yang datang menyerang.
Tentara PRRI banyak menghindar.
Menghindar ke hutan, ke kampung-kampung yang jauh di pegunungan terpencil.

Tentara APRI yang dijuluki rakyat dengan tentara Pusat atau tentara Soekarno adalah tentara yang bengis dan tega.

Mereka menembaki orang-orang yang dicurigai sebagai tentara pemberontak.
Kalau terjadi pertempuran di dekat suatu kampung lalu ada tentara APRI yang jadi korban, maka beberapa rumah di kampung itu dibakar.

Itulah sebabnya tentara PRRI menghindar.
Mereka tidak mau mencelakai dan merugikan rakyat di kampungnya sendiri.
Ketika PRRI menghindar, tentara APRI dengan mudah menguasai kampung dan nagari, lalu membuat pos di kota-kota kecamatan.

Syamsu batal ikut bergabung dengan tentara PRRI.

Ada sebuah telegram dari kakaknya di Padang memberi tahu bahwa maknya yang sejak perang pecah tinggal di Padang, saat ini sedang sakit dan masuk rumah sakit.
Dia diminta segera datang.

Padahal teman-temannya sudah pada pergi semua.

Ikut memanggul senjata.

Ada delapan orang anak-anak muda yang masih sekolah di SMA, di STM dan SMEA dari kampung itu yang ikut bergabung dengan kompi Udin Pitok.
Syamsupun sudah ikut mendaftar.

Tapi tepat sehari sebelum dia seharusnya melapor di markas tentara itu di Lasi Tuo, telegram dari kakaknya itu datang.

Tidak mudah untuk bepergian ke Padang, walaupun jarak antara Bukit Tinggi – Padang tidak lebih dari 91 kilometer.
Oto bus NPM dapat menempuh jarak itu antara dua sampai tiga jam.

Yang lebih sulit bagi Syamsu adalah untuk mendapatkan surat jalan.

Tanpa surat jalan yang ditandatangani komandan tentara APRI, jangan dicoba-coba untuk bepergian antar kota.

Apalagi bagi seorang anak bujang mentah seusia Syamsu.

Tanpa surat jalan, kalau ada razia di perjalanan, dia akan dituduh tentara PRRI.

Akan dituduh tentara pemberontak.

Kalau sudah dapat cap seperti itu dia bisa ditembak mati.

Tentara APRI sangat alergi dengan anak-anak muda seusia Syamsu.

Di kampungnya sudah tiga orang yang mati ditembak tentara APRI.
Anak-anak muda malang yang lari ketakutan ketika tentara APRI secara diam-diam datang masuk kampung.
Dan anak-anak muda itu ditembak dari belakang di bagian kepala.
Ada yang terkapar di batang air, ada yang tertelungkup di sawah bancah, ada yang tersandar di rumpun betung.
Pada hal mereka tidak bersenjata dan lari benar-benar karena takut.
Itu pulalah sebabnya kebanyakan anak-anak muda jadi benci kepada tentara Pusat.
Mereka beramai-ramai mendaftar untuk ikut berperang.

Syamsu harus pergi ke Padang menengok emaknya.
Dia bergegas mengurus surat jalan.
Yang pertama sekali adalah meminta surat pengantar di kantor wali nagari.
Tidak sulit mendapatkan surat ini.
Wali nagari menyatakan dalam surat keterangannya bahwa Syamsu akan meneruskan sekolah di Padang.
Sekarang surat itu harus dibawa untuk mendapatkan pengesahan dari komandan tentara APRI di kecamatan.

Syamsu diantarkan wali jorong, yang masih terhitung mamaknya, ke kantor Buter.
Buter adalah penguasa militer di tingkat kecamatan.

Kantor itu menempati sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya.

Di depan rumah ada gardu jaga dimana selalu ada seorang tentara bersiaga mengawal.
Di teras luar rumah itu ada meja dan dua buah kursi.
Dua orang tentara duduk disitu.
Mereka adalah petugas piket.

Siapapun yang ingin berurusan ke kantor itu harus melapor terlebih dahulu kepada tentara petugas piket ini.
Agak terjarak ke samping ada dua buah bangku panjang tempat menunggu bagi orang yang ingin bertemu dengan komandan tentara.

Ketika Syamsu sampai di kantor itu ada tiga orang wanita separuh baya duduk di bangku panjang.

Mereka sedang menunggu untuk diwawancara.
Mereka juga ingin mendapatkan surat jalan.
Begitu ketentuannya kalau ingin mendapatkan surat jalan yang ditandatangani komandan Buter.

Wali jorong yang menemani Syamsu mendaftar melalui tentara piket itu, yang rupanya seorang OPR.

OPR adalah tentara bantuan yang dibuat oleh APRI, berasal dari penduduk lokal.
Sebagian besar mereka adalah simpatisan PKI dari kampung-kampung dan tak mahir berbahasa Indonesia yang benar.


….Siapa yang hendak berurusan?…. tanya tentara OPR itu dalam bahasa Indonesia.
….
Kamanakan wak ko ha, jawab wali jorong….
….
Di sika harus cara Indonesia!…. kata tentara OPR itu garang.

Mendengar kata-kata disika satu di antara ibu-ibu yang sedang menunggu itu menahan tawa sambil menutup mulut.

….Jangan gelak-gelak….
….Apa yang digelakkan?
….

bentak tentara OPR ke arah ibu-ibu itu.
Si ibu itu menekur dan terdiam.
Ibu yang satunya masih tersenyum.
….
Jangan cimees-cimees disika! ….Kesika mau mintak surat atau mau mencimees?…..
….Kalau cimees-cimees nanti kamu tidak diagis surat
…..

Perut Syamsu juga memilin mendengar kata-kata tentara yang gagah ini.
Dia berusaha menekur menahan rasa geli.
….
Hang yang hendak berurusan?…. bentaknya pula ke arah Syamsu.
….Iya, pak,…. jawab Syamsu.
….Ada surat wali nagari?…. tanyanya pula.
….Ada pak…. ini…. Syamsu menyerahkan sebuah amplop.

Tentara itu membuka amplop dan mengeluarkan surat pengantar dari wali nagari.
Diperhatikannya surat itu dengan bola matanya menari ke kiri dan ke kanan.
Syamsu tambah sakit perut melihat tingkah tentara itu.
Surat yang ditangan tentara itu terbalik.

….Catat nama hang disika!…. katanya menunjuk ke sebuah buku tulis besar di atas meja di hadapannya.
Syamsu mengisi buku itu.
….
Catat apo keperluan hang!…. perintahnya lagi.
….Sudah pak…..
….Sudah awak tulis,…. jawab Syamsu.
….Apa keperluan hang?….
….Sudah awak tulis di dalam buku ini…..
….Apa yang hang tulis? Mau mintak surat apa hang?….
….Surat jalan, pak…..
….Suratkan
disika…..bahasa hang mintak surat jalan…..
….Ini sudah awak tulis pak…..
….Kalau sudah nantikan di
sinan!…. perintahnya pula sambil menunjuk ke bangku panjang.

Kedua lelaki itu pergi duduk ke bangku yang ditunjukkan.
Lamat-lamat Syamsu mendengar kedua tentara itu berbicara setengah berbisik.
….
Indak ba hang do, ba kau,…. kata kawannya.
….
Maa lo jaleh di Ang, Kau tu untuak padusi,…. jawab tentara itu.
Dua orang tentara lain datang.

Kedua tentara OPR itu berdiri dan memberi hormat.
Rupanya yang datang itu komandan di kantor ini.
Dia itulah yang biasa di sebut orang pak Buter.
Satu persatu ibu-ibu yang menunggu itu disuruh masuk menghadap komandan tentara tadi di dalam ruangannya.

Masing-masing berada di ruangan itu sekitar sepuluh menit.
Akhirnya sampai pula giliran Syamsu disuruh masuk.
….
Inya saja yang masuk, Engku indak berurusan jadi indak boleh masuk,…. tentara OPR tadi mengingatkan ketika dilihatnya wali jorong ikut pula berdiri.

Syamsu masuk sendirian.
Dia mengangguk ke arah komandan itu.
….Ada perlu apa kau?…. bentak komandan tentara itu.
….Awak mau minta surat jalan, pak,…. jawab Syamsu tenang.
….Surat jalan apa? Kau ndak ikut berontak?….
….Tidak, pak, jawab Syamsu.
….Mana surat pengantar?
Syamsu menyerahkan surat dari wali nagari.
Tentara itu membacanya.

….Dimana kau sekolah?
….Di SMA, pak.
….Dulu di SMA mana? Kenapa sekarang mau pergi ke Padang melanjutkan sekolah?
….Dulu di Bukit Tinggi, pak, sekarang orang tua ada di Padang.
….Ada saudara kau yang ikut memberontak?
….Tidak, pak.
….Teman-teman kau?
….Tidak ada pak.
….Bohong kau! Banyak anak-anak muda seumur kau ikut-ikut pergi ke hutan.
….Masak di kampung kau tidak ada yang ikut?
….Awak tidak tahu pak, jawab Syamsu.
….Untung kau masih punya otak, mau bersekolah.
….Kalau kau ikut-ikut memberontak, suatu saat kau akan terbunuh.
….Paham kau?
….Iya, pak.
….Kapan kau mau berangkat ke Padang?
….Segera, pak.
….Kalau bisa hari ini juga.
….Ya, sudah.
….Jangan sampai hilang surat ini.
….Kalau ada razia di jalan, kau tidak punya surat, habis kau.

Tentara itu menyerahkan surat jalan itu kepada Syamsu.
Dia mengangguk kepada komandan tentara itu sebelum keluar.
….Sudah selesai urusan hang?…. tanya tentara OPR lagi, begitu Syamsu keluar.
….Sudah pak, jawab Syamsu.
….Ndak pandai hang berterima kasih agak sedikit?
….Terima kasih banyak, pak, ujar Syamsu seramah mungkin.
….Indak itu do.
Tinggalkan tanda terima kasih agak sedikit, tambah tentara itu pula.
Maksudnya bagaimana, pak? Syamsu pura-pura tidak mengerti.

….Tentara OPR itu menggesek-gesekkan tiga buah jari tangannya memberi isyarat.
Bertepatan dengan itu komandannya keluar.
….Kok belum pergi kau? Apa lagi? tanya komandan itu membentak Syamsu dengan mata melotot.
….Sudah mau pergi pak, jawab Syamsu.
….Kau siapa? Ada urusan apa? bentak komandan itu ke wali jorong.
….Ambo wali jorong, mengawani dia saja, jawab wali jorong dengan wajah pucat.

Kedua orang itu segera berlalu dari kantor Buter.
Tentara OPR menggerutu dalam hati karena tidak jadi dapat tanda terima kasih.

 

Kisah selengkapnya di lampiran kumpulan kisah nyata PRRI

 

Pasukan KKO AL sedang menyebrangi  Sungai Air Gadang di Pasaman

(Nugroho Notosutanto)

Mei 1958

 Pembentukan Markas PDM di Padang Panjang.

Pada akhir bulan Mei 1958 dibentuk Markas PDM (Perwira Distrik Militer) yang berkedudukan di Padang Panjang (bertempat dilokasi sekarang) dan sebagai pejabat PDM adalah Kapten Amir Hatta. Sebagai pembantu pelaksanaan tugas Perwira Distrik Militer (PDM), merupakan biro-biro yaitu :
a.    Biro- A Bidang Intel, dijabat oleh Serka Amir. H.
b.    Biro- B Bidang Logistik, dijaabat oleh Serma Hasmi Mansyur.
c.    Biro- C Bidang Administrasi, dijabat oleh Serma Djanawir.

(kodimtanahdatar)

31 Mei 1958

Surat dari KDpos kepada KKPos Padang perihal kepala kantor pos  menyampaikan surat-surat  PRRI

(buku agenda Surat rhs Kantor Pos Padang)

Juni 1958

Pemindahan Markas PDM.(Perwira Distrik Militer)

a.    Pada bulan Juni 1958 Markas PDM pindah ke Batusangkar dan bertempat di jalan Sukarno Hatta disebelah kanan kantor PUSPENMAS Batusangkar sekarang, dan sebagai Perwira PDM Kapten Amir Hatta. Kemudian di Padang Panjang dibentuk Markas PODM (Perwira Onder Distrik Militer) dan sebagai pejabat Perwira PODMnya Letda Soetikno dari Brawijaya(kodimtanahdatar)

4 Juni 1958

 

Wakarkat pos PTT dikirim dengan prangko RI 35 sen stempel pos Padang panjang 4.6.58 ke Padang.Surat dari Ahmadsyah soewil pegawa kantor pos Padang panjang ke pada ibunya  siti  Aisjah d/a Soeiwl  Tepi Bandar Olo 35 Padang

Isi surat

Ibunda yang terhormat

Bersama ini surat ananda khabarkan  pada Ibunda . amada telah selamat sampai di Padang Panjang jam 11.45 dan tidak kurang suatu apapun  berkat doa ibu  dan ayah  sekeluarga. Tentang kepindahan ananda telah bicarakan  sama bapak  Saleh ,dia tidak menyetujuinya hanya  maklumlah  kantor baru dibuka  oleh sebab itu  tentu segala nya tentu memakan  waktu agak  sebulan ,persenang saja lah hati Ibunda  jangan suka mendengar  kata-kata orang diluar , selain dari itu  ananda adalah sehat  saja dan  begitu pula  hendaknya  ibu dan ayah  sekeluarga

Wassalam

Tanda tangan Ahmad Soewil.(koleksi Dr Iwan)

14 Juni 1958

Surat dari kDPOs kepada KKpos Padang perihal  pengiriman daftar  pengiriman uang diatas seribu rupiah oleh  tentara

(buku agenda rhs kantor pos padang)

21 Juni 1958

Surat dari pos tentara tentang  kiriman surat-surat PRRI

(buku agenda rhs kantor pos padang)

23 Juni 1958

Suart laporan Pgr Pmn kepada KKPos Padang perihal pegawai pos Marah Kirman dan  Ahmad nain  yang pada tangga 16/6 sampai  18/6 1958 tidak masuk  kerja oleh karena  takut terhadap PRRI

(buku agenda rhs kantor pos padang)

Juli 1958

3 juli 1958

Pad waktu Banteng Raiders menghancurkan konsentrasi PRRI di Suliki dan Kototinggi(dkat Pajakumbuh) ,kita ketemu lagi dengan P 22 milik PRRI tetapi dalam kejadian ini PRRI meniru kita,mereka tidak lagi mengunakan bahasa Indonesia atau bahasa Minang tetapi memakai bahasa inggeris munkin PRRI mengunakan orang asing atau tokoh PRRI sendiri yang memegang mikropon pesawat.

 Akan tetapi bagaimanapun baiknya alat yang mereka pergunakan(kemungkinan alat radio baru dari Luar negeri) koordinasi hubungan untuk melayani gerakan opoerasi pasukan  APRI misalnya antara infanteri –eskadron yang melinduni –artileri yang membantu tembakan senjata bantuan mortar dan sebagainya tetap berjalan dengan lancer .

Nah sekian cerita singkat tentang komunikasi  yang bersifat lelucon didaerah PRRI yang pernah saya alami .

Sebagai akhir  dikhabarkan bahwa pada waktu operasi ke

 

Suliki 

dan

 

Kototinggi

tanggal  3 juli 1958 telah tertangkap/menyerah Kapten PHB Julius Alim dan Ltd PHB Samun .Keterangan mereka nanti akan membuka semua simpanan alat PHB KDMST BANTENG terutama PO 22nya Penuois

Ltn Wienoto

Komanda Pn PHB Bn banteng Raidres.

(majalah PHB 1958)

Untuk menambah nostalgi atas wilayah pertempuran APRI dengan PRRI dari Pakan baru Ke Padang, saya cuplik artikel perjalanan dari Pakan baru Ke Padang saat ini  semoga wawsan pembaca jadi lebih mantap (Dr Iwan)

Perjalanan dari Pekanbaru ke Padang

Bang Ardin / November 3, 2012

Pekanbaru (Ibukota Prov Riau) dan padang (Ibukota Prov Sumatra Barat) adalah 2 kota yang berada di dua provinsi yang berbeda namun memiliki hubungan yang erat satu sama lainnya. Bagaimana tidak, hampir 70% penduduk Pekanbaru berasal dari Perantau Sumatra Barat.

Sebaliknya pada saat weekend dan hari libur, mayoritas penduduk melayu Riau dan pendatang berwisata ke Sumatra Barat. Sehingga terjadilah hubungan timbal balik di antara dua provinsi bertetangga ini. Tidak heran rute Padang – Pekanbaru dan sebaliknya selalu ramai dilalui kendaraan hilir mudik.

 

Riau – Sumbar

Pekanbaru dan Padang berjarak kurang lebih 300 km, dengan waktu tempuh sekitar 7 jam perjalan darat. Kendaraan umum yang biasa di gunakan adalah Bis, seperi Yanti Group, Sinar Riau, ANS, dll. Atau bisa juga menggunakan travel seperti Bumi Minang Wisata. Kalau mau cepat anda bisa menggunakan travel “gelap” yang banyak berkeliaran di simpang Panam, Pekanbaru. Tarif angkutan umum ini berkisar antara 70- 90 ribu. Yang penting pintar menawar saja hehe.. Kalau anda ingin lebih leluasa, efisien waktu dan nyaman, sewa mobil saja dengan tarif sekitar 250 ribu perhari. Yang disayangkan adalah tidak adanya penerbangan komersial dari Pekanbaru ke Padang, kabarnya dulu pernah ada namun tidak bertahan lama karena pihak travel merasa di rugikan.

Jam 09.30 kami berangkat dari Panam, Pekanbaru menuju Padang. Rute Pekanbaru-Padang akan melewati beberapa tempat menarik diantaranya adalah Bangkinang – Rumah Lontiok – Pintu masuk Candi Muara Takus – Danau Buatan PLTA Koto Panjang – Perbatasan Riau Sumbar – Lembah Harau – Payakumbuh – Bukit Tinggi – Padang Panjang – Air terjung lembah Anai – Padang. Fiuh.. perjalanan yang cukup panjang ya..

 

Rute perjalanan pekanbaru – padang

Bangkinang

Satu jam telah terlewati, tempat pertama yang dilewati adalah Bangkinang, ibukota Kab Kampar, Riau. Sebuah kota yang cukup berkembang pesat karena jaraknya yang dekat dengan Pekanbaru. Salah satu objek menarik yang kami lewati ketika di Bangkinang adalah Islamic Center.

 

islamic center bangkinang

Desa Pulau Belimbing dan Rumah Lontiok

Tidak begitu jauh dari bangkinang, terdapat sebuah desa wisata yang bernama pulau Belimbing (Bukan pulau beneran, tapi cuma nama aja ). Dari ruas jalan utama, pintu masuk desa pulau belimbing hanya berjarak  2 kilometer saja. Yang unik didesa ini adalah rumah Lontiok yang berumur ratusan tahun. Rumah Lontiok adalah rumah tradisional di Kabupaten Kampar, khususnya di pulau Belimbing ini. Lontiok artinya lentik, alias melengkung ke atas. Atap rumah Lontiok ini melengkung ke atas, namun tidak selentik rumah adat di Sumbar.

 

Rumah Lontiok ( foto dari Skyscrapercity)

Pintu masuk candi Muara Takus

Kami sampai di pintu masuk candi Muara Takus setelah kurang lebih 2 jam perjalanan. Bila ingin mengunjungi Candi Muara Takus, anda harus masuk kedalam lagi melalui pintu gerbang ini sejauh 20 menit. Mengenai candi Muara Takus, bisa anda lihat di Postingan disini

 

Gerbang masuk candi muara takus

Danau Buatan PLTA Koto Panjang

Tidak lama setelah melewati pintu masuk ke candi Muara Takus, kami sampai ke danau Buatan. Danau ini yang nampaknya cukup luas ini adalah hasil dari bendungan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Disepanjang tepi danau terdapat pondok pondok dan rumah makan yang biasanya digunakan oleh pengemudi dan penumpang untuk beristirahat dan makan sambil menikmati pemandangan Danau.

 

Bendungan PLTA Koto Panjang

 

Jalan Riau – Sumbar dengan pemandangan waduk

 

Waduk Koto Panjang

 

Jembatan yang melalui waduk

Perbatasan Riau – Sumbar

Akhirnya setelah melewati dua buah jembatan yang melintasi Danau Buatan/Waduk Koto Panjang, akhirnya kami sampai di perbatasan Riau-Sumbar. Diperbatasan ini nampak perbedaan design rumah tradisional Riau dan Sumbar

 

 

 

.Sayangnya pada saat kami melewati tempat ini, gerbang perbatasannya masih dalam tahap di bangun.

 

perbatasan riau – sumbar

UPDATE!!!

Tanggal 14 januari 2013 kemaren kami kembali melakukan perjalanan dari pekanbaru – padang. Saat itu ternyata gapura perbatasannya sudah selesai dibangun loh.. ini dia gambarnya saat selesai dibangun..

 

Batas Riau – SUmbar

Setelah melewati perbatasa, nanti akan melewati “pintu angin” (puncak tertinggi dari jalan riau – sumbar), panorama selat malaka, dan tugu katulistiwa di koto alam. Setelah itu barulah kami tiba di kelok 9

Kelok 9

Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam , kami sampai di kelok 9 yang tersohor itu. Disebut kelok 9 karena memang jalan disini terdapat kelokan tajam yang menanjak dan menurun sebanyak 9 kali belokan. Sangat diharamkan buat anda yang baru belajar menyetir untuk mencoba melalui kelokan maut ini Karena sulitnya medan kelokan ini, tidak heran kalau disini sering terjadi macet panjang. . Untuk mengatasi itu, maka dibuatlah jembatan layang yang sangat tinggi serta memutar dan menanjak/menurun dengan landai.

 

Kelok 9 dan jembatan layang

 

Jembatan Layang

 

Jembatan Layang

Lembah Harau dan Payakumbuh

Setelah melewati Kelok 9, kami tibai di kecamatan Harau. Disini terdapat objek wisata Lembah Harau yang menakjubkan. Lembah harau adalah ngarai yang di apit 2 buah tebing curam dengan tinggi diatas 100 meter. Lembah harau ini seperti grand canyonnya sumatra barat, yang membedakannya adalah ngarai di lembah harau sebagian ditutupi dengan tumbuhan.

 

Harau dari kejauhan

Tidak jauh dari Harau adalah kota Payakumbuh. Tempat menarik yang kami lihat sebelum memasuki kota payakumbuh adalah kantor bupati kabupaten Limapuluh Koto yang berada di perbukitan. Kantor ini relatif baru dan terlihat sangat megah. Tidak hanya itu, pemandangan dari atas kantor ini sangat menakjubkan, dari sini kami bisa melihat gunung Sago dari kejauhan.

 

Kantor Bupati Lima Puluh Koto

 

Gunung Sago

 

Ada yang baralek di Payakumbuh

Bukit Tinggi

Kota ini adalah pusat pariwisata di Sumatra Barat. Bukit tinggi adalah kota kecil namun padat, apalagi pada saat weekend dan hari libur, Jalanan dikota ini bisa macet berkilo-kilometer panjangnya. Dibukit tinggi banyak tempat menarik namun nanti akan saya uraikan di postingan khusus.

 

Bunga di tepi jalan sebelum memasuki kota bukittinggi

 

Salah satu ruas jalan di Bukit Tinggi

Padang Panjang dan Air terjun Lembah Anai

Melanjutkan perjalanan dari bukit tinggi, kami menuju ke arah Padang Panjang, yang punya julukan serambi mekkahnya sumatra barat. Mungkin julukan itu didapat karena banyaknya pondok pesantren disini.

 

Memasuki Padang Panjang

Dari Padang Panjang ke Padang, tepatnya di lembah Anai, kami melewati air terjun yang tepat berada di pinggir Jalan. Air terjun setinggi 40 meter ini memang menarik banyak wisatawan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati keindahannya. Air terjun ini dilengkapi dengan mushola, rumah makan, dan toko.

 

air terjun lembah anai

 

 

Padang

Akhirnya kami sampai juga di padang. Waktu sudah gelap sehingga kami putuskan untuk segera mencari penginapan. Penginapan di Padang cukup banyak, tapi dengan harga yang lumayan mahal. Salah satu penginapan yang cukup bersahabat dengan kantong adalah di Wisma bakti yang berada di Jl. Belakang Olo.

 

wisma bhakti

 

sungai kecil di padang

Malamnya kami sempatkan diri untuk berkeliling kota padang sejenak dan menikmati makanan yang banyak di jual di sepanjang pantai Padang. Selain itu kami juga berfoto foto dibeberapa lokasi di kota padang, salah satunya adalah di sungai kecil ini.

Setelah puas berfoto, akhirnya kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Sumber :

Jalan-foto web blog

24 Juli 1958

Pada tanggal  24 Juli 1958 Ahamd yani menyerahkan Komandan OPerasi 17 Agustus kepada Let.Kol.Inf  Pranoto Rekso Samudro

(Ahmad Yani)

27 Juli 1958

Poswesel dari Bukittinggi ke Batang Angkora tidak dapat dikirim tanggal 27 juli 1958  karena perhubungan terputus  antara Bukittinggi dengan Tapanuli selatan.

 

 

 

The money order from Bukittingi CDS 22.7.58 to Batang ankola south Tapanuli, return to sender with handwirtten mark in indonesian language :”Kembali Pengirim Perhubungan untuk sementara waktu terputus “(Return to sender the cute of road communications exist),

 

and One years  later  in CDS Padangsidempuan  12.8.59 the reciever get the money  with red handstamped postmark in Indonedia langauge  “DENGAN PERDJAJIAN AKAN MENGEMBALIKAN DJUMLAH INI KEPADA DJAWATAN PTT APABILA TERNYATA BAHWA POSWESEL ASLI DJUGA TELAH DIBAYAR”.WITH THE NUMBER OF THIS AGREEMENT WILL RETURN TO PROVE THAT IF PTT service money order also HAS PAID THE ORIGINAL

(This very interestin and rare postal history collections after APRI occupayied Padang City, the communication from Padang to Padang Panjang,Bukittinggi and Payakumbuh exist only with army Convoy, but to south Tapanuli still didinot exist-Dr Iwan Notes

 

 

29 Juli 1958

 

Mengenai Lintau buo ,menurut keterangan  yang diperoleh koresponden ,sebelum APRI mengadakan gerakannya,daerah tersebut menjadi tempat pemusatan sisa-sisa pemberontak PRRI. Dari daerah ini pula kaum pemberontak mempersiapkan penyerangan ke kota Batusangkar pada tanggal 29 Juli 1958 yang dapat digagalkan APRI

Menurut keterangan 1300 orang sisa Pemberontak PRRI dipusatkan didaerah ini ,terdiri dari 500 orang apa yang mereka namakan “KKO PRRI” dibawah pimpinan Kapten pemberontak Ali Sjahruddin yang terdiri dari Pemuda-Pemuda Pasar dan Preman Pakanbaru dan sekitarnya. 500 orang lagi dari Pasukan  yang mereka namakan SKDR(Staf Komando Dearah riau) dibawah pimpinan  Mayor pemberontak Sjamsi nurdin,yang sebagian besar  terdiri dari Pelajar dan 5000 orang lainya lagi  dari pasukan yang mereka namakan “ Baringin Sati” dan kemudian ditukarnya dengan nama “Harimau Minang” dibawah pimpinan malin Maradjo.

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

1 Agustus 1958

INFORMASI DARI SK PEMUDA

APRI HANCURKAN DAERAH KERAMAT PEMBERONTAK PRRI            BURHANUDIN HARAHAP. SERING DI LINTAU BUO

Koresponden INPS yag baru-baru ini mengikuti gerakan pembersihan

 

 kedaerah Lintau Buo dalam kabupaten Tanah datar yang selama ini belum dibebaskan oleh APRI                                                                                                                             menulis kesan-kesannya sebagai yang diuarikan dibawah ini.

 

Daerah Lintau buo dalam Kabupaten Tanah datar yang letaknya lebih kurang 40 km dari kota batusangkar, yang selama ini oleh kaum pemberontak PRRI dijadikan tempat pemusatan sisa-sisa pengikutnya dan diberikan julukan  nam “ daerah Keramat” yang menurut mereka tak dapat dimasuki APRI,pada tanggal 1 Agustus  telah dapat dibersihkan oleh APRI.

Memang menurut sejarah seperti juga daerah Kamang ,Lintau tidka pernah dapat dimasuki oleh tentara Belanda ketika melakukan Agresinya dan tiap usaha memasukinya dapat  digagalkan dengan meninggalkan korban yang bukan sedikit

Tapi kedua tempat itu telah dapat dimasuki oleh APRI, Pasukan APRI yang memasuki daerah tersebut bergerak

 

dari Tanjung Ampalu pada tanggal 1 Agustus 1958 dan sampai di Lintau Buo  jam 16.00 sore itu juga tanpa menemui perlawanan dari kaum pemebrontak.dalam gerakan pemebrsihan ini mendapat bantuan sepenuhnya dari pesawat AURI.

Menurut keterangan  yang diperoleh di padang, Burhanuddin harahap yang menamakan dirinya  “Menteri Pertahanan PRRI”  sering berada didaerah sekitar  Lintau Buo,ia sering datang kesini dengan menyamar memakai kain sarung ,berkopiah, dan sering kelihatan kumisnya dicukur.

 

Tempat persembunyian selalu di Unggan dan kalau ia bepergian  elalu dikawal dengan keras  oleh orang-orang yang tergabung dalam pasukan TII, tetapi setelah  Lintau buo dibersihkan  oleh APRI,Burhanuddin harahap  mengundurkan diri  lebih kpedalaman  yaitu perbatasan  anatar kecamatan lintau buo  dengan kecamatan Sijunjung.

 

Sumpur kudus

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

Agustus 1958

Sekitar akhir Agustus sembilanbelas limadelapan
Tujuan perjalananku terganggu


Ketika dari Utara kutersendat di Tantaman

Kini terjarak waktu setengah abad


Kulingkari Gunung Singgalang dan Tandikat

Menuju Malalak belum pernah kulihat
Tahun lalu ikut dihantam gempa dahsyat

 

Merenung di pinggir kampung Malalak Barat
Geografi Tantaman Simpang Malalak kuingat-ingat


Balingka Lawang jalan yang sendat
Pandanganku lepas ke Pantai Barat
Seperti di Tantaman dahulu di Masa Darurat

Polapikirku saling berkisar di dua topik
Kuah Darah Perang Saudara dianggap heroik
Gempa Piaman seketika membuat panik
Kenangan mssa ku berbolak balik
Bertema Sejarah Kampung Halaman nan unik

Di Pinggir Kampung Malalak Barat
Terbayang di angan di bawah bukit
Walaupun mataku tidak melihat


Tanjung Sani dihempas gempa penuh jerit

Jauh pandangan ku di Sebelah Barat
Terbayang di ufuk episenter yang kuat
Pusat Gempa menghantam Sumatera Barat
Ditahan di Timur oleh Tandikat

Kuarahkan perjalanan ke Selatan
Melalui nagari-nagari di Patamauan
Mengobservasi daerah nan jadi korban
Hoyakan gempa tidak tertahan.

Rusli Marzuki dan Buya Mas’oed
Syair Sejarahmu taut bertahut
Setengah abad telah berlarut
Airmata, Darah, dan Doa sangkut-berpaut
Bahagia dan duka taut-bertaut

Agustus 1958

Pemimpin Redaksi Harian haluan Darwis Abas  “Terompetnya PRRI”Ditembak mati di Cengkeh

Saya sendiri sbg Orang Minang tidak suka kalau peristiwa ini dianggap pemberontakan,dan lebih suka mengkategorikannya sebagai “pergolakan” daerah.
Dari PRRI ini, saya sbg putra kedua dari Darwis Abas, yang dulu sbg Pemred Harian Haluan yang ditembak mati oleh tentara pusat yang dikomandoi Ahmad Yani( ref makalah diatas ayah saya dianggap sebagai”terompetnya PRRI”,dia menjadi korban keganasan tentara saat itu, dibunuh di Cengkeh Padang Agustus 1958

(Syukran Darwin Abas)

Saya masih ingat didalam surat kabar Haluan ada suatu rubrik cerita yang lucu namanya di Jibun .sayang tidak ada surat kabar tersebut ditemukan karena rakyat minangkabau takut menyimpan harian haluan masa PRRI tersebut karena takut dituduh mata-mata PRRI

(Dr Iwan)

Peranan PHB didalam Perang Radio dengan PRRI

Oleh Ltn winoto

Mungkin sdr telah  mendengar sepasukan  Batalion  Bateng Raiders Divisi Diponegoro pad atanggal 12/3-58 telah berhasil mendarat dan menduduki kota pakanbaru. Tidak disangsikan lagi didalam pasukan itu terdapat Peleton PHB-nya yang berkauatan  julah anggota 22 orang.Kebeulan saya yang diserahi bertanggung jawab terselenggaranya cara bekerja komunikasi PHB.

Selam pasukan tersebut bertugas tentu Sdr akan sudah mengerti  bahwa disamping kesanggupan dan semanggat bekerja dari pada anggota PHB untuk memenuhi kewajibannya,kami hanya dspat mengunakan alat-alat PHB, yang sangat sedikit dan merosot keadaan teknisnya.

Segala macam gerakan infantry yang akan dilancarkan, dengan tenaga dan alat itu pula kami harus menyesuaikan diri.Mungkin pasukan keluar masuk hutan lebat,menyusur pantai,naik turun gunung ,mendaki bukit dan perlu disertai bantuan artileri jarak jauh berikut kapal terbangnya.

Kesemuanya harus dikoordinir sebaik-baiknya oleh kemampuan komunikasi PHB. Betapa pentingnya peran PHB, selama pasukan infantry bergerak mngulung pemberontak PRRI,tidaklah perlu diapnjang lebarkan ceritanya.Akan tetapi, satu hal penting dikethui dan dicatat oleh para tokoh PHB , bahwa akibat dipelajarkan nya vak PHB di SSKAD,PPPL dan lain sebagainya, kami sekarang benar-benar melihat,setiap Komandanpasukan (didaerah bekas PRRRI) tidak pernah pisah dengan Komanda PHBnya,kemanapun beliau pergi atau membuat siasat pertempurannya. Ini adalah suatu kemajuan yang snagat mengembirkan ,yang berrati pula timbulnya suatu kenyataan bahw aPHB, tahu 1958 itu benar-benar lin dengan PHB tahanu 1945 sampai dengan tahun 1957.Keuntungan lain ialah apabila Negara kita cq APRI akan merencanakan dan melaksanakan operasi militer bersama diantara Angkatan Darat.Laut dan udara,para Prajurit PHB tidak pelu kuatir lagi,karena segala sesuatunya tentu sudah dipikirkan oleh atasan,tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu.

Hanya perlu kita doakan bersama,agar alat-alat PHB,yang skearang sudah merupakan besi tua ini,segera ada gantinya yang lumayan.

Sdr mungkin sudha mengetahui mungkin juga ada yang belum mengethaui, bahwaanya Pleteon PHB yang melayani Banteng raiders(BR) hingga sekarang ini sudah berlong march lebih dari 800 km dengan waktu 4 bulan.

Memang benar, arti BR itu hanya Banteng Raiders saja, tetapi ada sementara anngota yang mengartikan dengan “Bojok remuk”,kecuali  kita harus menarik pelatuk senjata kalau bertempur dengan musuh gaya berat dari P 22 Scr 694 G.N. dan segala perlatanya harus dipikul dengan tenaga yang ada pada kami . bantua rakyat tidak mungkin diharapkan karea lecuali mereka sudah terlalu mendarah daging diracuni propaganda PRRRI denga anati Pusatnya, juga rakyat tidak baik dibawa dalam pertempuran yang tarsus menerus itu.

 

 

(majallah PHB no 8/1958)

3 Agustus 1958

Pada  tanggal 3 Agustus 1958 Pasukan APRI meninggalkan Lintau buo untuk meneruskan gerakannya pembersihannya ke

 

 Tanjung sungayang. (SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

4 Agustus 1958

Pada tanggal 4 Agustus pasukan APRI dari tanjung sungayang kembali lagi ke  Batusangkar (SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

5 Agustus 1958

Pada tanggal 5 Agustus 1958 pasukan APRI melanjutkan gerakan pembersihan

 

ke Talang tengah , tempat persembunyian  kaum pemberontak PRRI, dimana mereka sedang melatih pemuda-pemuda kampong, Pada saat APRI masuk nagari Talangtangah ,Nagari tersebut dalam keadaan terbakar hebat.

Menurut keterangan penduduk  disana ketka itu  pemberontak sedang melatih  tentara sukarela  yang diambil dengan paks  dari penduduk setempat. Dianatra rumah penduduk  itu terdapat  tempat penyimpanan senjata  dan bhaan mesiu  pemberontsk PRRRI  yang tidak sempat dibawa lari. Akibat pembakaran itu  lebih kurang 200 rumah  penduduk  hangus menjadi abu. Dalam gerakan pembersiahn  di talangtengah  pasukan ASPRI berhasil menawan  3 orang anggota Pemberontak lngkap dengan senjatanya.

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

 

9 Agustus 1958

Informasi dari SK  POS Indonesia

PRESIDEN MENGAJAK ADAKAN REVOLUDI DALAM ILMU PENGETAHUAN

Masih saja dipakai sistim filsafah,teori politik dan outlook yang sudah using. Tanpa suasana Politik yang sesuai dengan pembangunan itu pembangunan tidak dapay berjalan denag  baik.Pembangunan tak mungkin diadakan dalam susasna bertengkar.

Dalam resepsi penutupan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional di Malang hari Juma’at siang ini Prsediden sukarno mengajak para sarjana yang berkumpul dikota ini untuk berani mengadakan revolusi pula dalam ilmu pengetahuan.Dikatakannya bahwa kita sampai sekarang masih saja memakai system falsafah teori politk dan outlook yang using,yang dilahirkan dalam abad yang lalu,abad lahirnya industrial revolution, sedasng kita kini hidup dalam abad nuclear revolution.Presiden  menyatakan,bahwa kaum sarjana harus berani think and rethink ,terus berusaha mencari kebenaran dan mengabadikan Ilmu Pengetahuan pada masyarakat yang bercita-citkan Keadilan dan kemakmuran.

Sekali lagi Presiden menrangkan tentang pentingnya modal(modal nasional dan kalau perlu pinjaman, tetapi jangan investasi modal  asing) Mangerial Knew how (dimana science penting sekali)  dan suasana (terutama  suasana politik)  yang baik bagi pembangunan.Berkali-kali Presiden  mengemukankan perlunya  kaum sarjana melakukan her-orientasi ,karena  tanpa ini Ilmu Pengetahuan  akan beku, mati, menjadi bangkai,.Terutama  dikemukakannya  pentingnya kaum sarjana  untuk menyelenggarakan  blue-print Pembangunan sesudash  ini disetujui oleh DPR kelak.

SURAT PERINTAH KASAD

MASUK PARTAI ATAU TIDAK? SEMUA PEGAWAI NEGERI GOLONGAN F  HARUS MEMBERI KETERANGAN                                                                                                                        KSAD Letnan Jendral A.H.Nasution  selaku Pneguasa Perang Pusat telah mengeluarkan surat perintah kepada semua kepala Urusan pegawai dari semua Kementerian dan Instasi Pemerintah Pusat, yang mewajibkan mereka untuk menyampaikan Laporan mengenai Keanggotaan Partai Politik daripada semua Pegawai negeri Golongan “F” yang administratip berdada dalam pengurusannya., harus disampaikan  kepad penuasa Perang Pusat KSAD,dalam hal ini pejabat yang ditunjuk ialah Assisten I KSAD paling lambat tgl 30 Nopember 1958.                                   Surat Perintah ini dikeluarkan atas dasar pertimbangan dalam hubungan dengan penyelenggaraan ketertiban dan keamanan umum dalam intasi pemerintah.Jurubicara KSAD menegaskan  bahwa hal itu adalah salah satu pasal menyatakanSetiap Pegawai negeri  wajib memberikan segala keteranagn yang diperlukan oleh Pemerintah  Perang bila keterangan tsb sangat diperlukan untuk kepentingan ketertiban Umum maupun bila dperlukan untuk menegakkan kelancaran roda pemrintahan,demikian letnan colonel Pirgandie.

(SK POS Indonesia ,koleksi dr iwan)

10 Agustus 1958

Sampul Surat dikirim dariR Bassan djaja sutan Jalan dipati Ukur bandung dengan stempel pos bandung 10.8.58 diatas prangko definite desain karet 75 sen , dan diteruskan oleh pos milter dengan stempel pso militer  025 , 22.8.6.1958 kepada sdr K.K.P.B. Padang di Pandang(Sum barat)

(koleksi Dr iwan)

11 Agustus 1958

KELANJUTAN NORMALISASI KEADAAN NEGARA RI

Kementerian penerangan dalam ruang siaran Pemerintah sabtu malam menguraikan  dalam acara “Kelanjutan Normalisasi Keadaan negar RI)

Rencana Normalisasi Keadaan yang dibicarakan Kabinet merupakan langkah normalisasi  yang menjadi follow up  atau kelanjutan sesudah berhasilnya tindakan tegas dan Operasional mematahkan potensi pemberontakan di sumatera barat  dan Sulawesi utara. Terutama rakyat didaerah-daerah  tersebut sedang mdnantikan kelanjutan  langkah-langkah  untuk menormalisasikan  daerahnya sesudah  beberapawaktu  lamanya daerah tersebut  dikocar-kacirkan  para pemberontak  dan dirugikan  kerkayaan dan harta –Benda daerah  dan rakyat olh  Petualang-petualang itu dan  mengalami  kerusakan tidak sedikit.

Jika melihat keadaan daerah bekas pemberontakan itu khusus, maka  ada dua masalah pokok yang menjadi objek langkah normalisasi itu.Pertama usaha dalam rangka keputusan Pemerintah melalui Munas dan Munap dalam bidang-bidang Pemerintahan dan Perekonomian serta Pembnagunan Umum, dan kedua normalisasi keadaan sesudah dikacaukan pemberontak dibidang Pemerintahan dan ekonomi.

Usaha Normalisasi yang umum, sudah tentu menjadi landasan utama,keputusan Pemerintah dalam MUNAS dan MUNAP tersebut, yang sebenarnya menunggu pelaksanaannya dan tempo hari tertunda karena pemberontakan itu.

Malah sebagian sudah dilaksanakan seperti pemberian  subsidi kedaerah anatara lain sumatera Barat dan Sulawesi dalam rangka  pelaksanaan otonomi daerah,meliputi  juga  Biaya Pemereintahan, Pendidikan dan  Usaha social lainnya dan rencana  pengirman bahan makanan  dan keperluan lainnya.

Dibidang ekonomi, maslah barter gelap  sudah dikeluarkan Peraturan laranagn  oleh Pemerintah, tapi tidak terlaksana  seluruhnya terumatama  sewaktu pemberontakan  di sumatera barat dan Sulawesi  Utara.,pihak Pemberontak melakukan terus perdagangan barter gelap itu.

Sekarang sebagai  tindak kelanjutan normalisasi  itu, tentunya  menjadi  perhatian khusus  maslah perdagangan barter  itu untuk pelaksanaannya.Selain itu  yang mengenai bidang perekonomian, dan pembangunanumunya, perlu dilanjutkan  rencana Pemerintah  yang telah diletakka rangkanya dalam keputusan neklui MUNAS dan MUNAP itu, serta keputusan pelaksanaannya.

Yang Kedua, meliputi keadaan daerah khusus sesudah pemberontakan , rencana Pemrintah yang akan dilanjutkan ialah pembnagunan dan pengembalian keamanan keseluruhannya.

Betapa hebatnya penderitaan rakyat daerah selama pemberontakan itu, krugian yang dialami rakyat berupa harta milik dan korban jiwa serta perlakuan lainnya yang tidak kenal perikemanusiaan ,dapatlah kita ketahui jelas baik dari keterangan umum dan bekas Komandan “operasi 17 agustus” di sumatera barat  Kolonel Ahmad yani .Selain korban manusia yang diderita Rakyat ,pun kesukaran yang dialami sebagai akibat pemberontakan  seperti kekuranagn beras,obat-obatan, sekolah bagi pemuda pelajar dan mahasiswa ,kerugian materiiil seperti alat-alat kantor dlll yang dilarikan pemberontakan,Semuanya itu tentunya menjadi efek dari rencana Pemerintah kearah normalisasi keadaan daerah sesudah pemberontakan.

Guna melaksanakan tindakan normalisasi itu, baik dalam rangka rencana umum meliputi keseluruhan tanah-air kita maupun yang berkenaan dengan normalisasi daerah itu khusus sesudah mengalami pemberontakan diperlukan pula ketenangan dan keamanan.sebab elama dibagian tanah air ini masih ada pergolakan dan pertentangan  serta ganguan-ganguan  keamanan, maka  keadaan ini  akan  merupakan  gangguan bagi tindakan Pemrintah  untuk normalisasi keadaan.

Oleh sebab itu  perlu juga  diserukan  kepada segenap lapisan  masyarakat diseluruh Tanah Air  supaya memberikan bantuan nya pula  kepad usaha-usaha pemerintah  untuk normalisasi keadaan Negara  dan daerah itu.Salah satu usaha  yangperlu perhatian, ialah mengelakkan Provokasi  yang merugikan, baik datang dari  luar maupun dalam negeri kita sendiri,maupun usaha pengacau lainnya dalam bentuk apapaun disegala  lapangan.

 

Tetaplah kita waspada terhadap nusuh-musuh disegala lapangan ,yang masih mengcau baik dari luar  mapun dari dalam negeri sendiri.tetapi sudah pasti kita tidak bisa  menungggu lebihlama  lagi usaha normalisasi Negara dan daerah ,guna mengatasi  kesulitan sekarang,dan untuk memenuhi harapan rakyat,demikian KEMPEN

(SK Pos Indonesia,11 agustus 1958,koleksi Dr iwan)

Komentar dr Iwan

Pada saat sesudah Kota Padang dibebaskan ARI, sekolah tetap berjalan dengan lancer hanya keuliatn guru, guru-guru dimana saya sekolah SMP FRater,kecuali frater masih ada beberapa orang,ada pelajaran yang gurunya masih baru dan belum begitu pengalaman sehingga sebagai murid kita harus aktif belajar mandiri,saya banyak belajar dari buku-buku yang saya peroleh saat mengikuti pertandinagn tennis meja di Surabaya tahun 199,dan tennis di semarang tahun berikutnya sehingga berhasil lusu ujian Negara sMP dengan nilai yang lumaya, kami hanya lulsu 8 orang dari 32 murid kelas III jurusan B,inilah hasil SMP Frater yang paling jelek dalam sehjarah sejak berdiri, dan hanya 5 orang yang diterima di SMA Don Bosco jurusan B,kami seluruhnya yang lim aorang tiga orang jadi dokter,2 orang lulus fakultas tehnik,sedang yang tidak diterima terpaksa sekolah di SMA Adabiah,dan yang tidak lulsu terpaksa mengulang tahun berikutnya,

Guru say Ahli Paru Prof Ilyah dt batuah mengayakan kepada saya bahwa akibat penderitaan rakyat baik fisik maupu mental,sejak setelah PRRI penderita penyakit TBC Paru sangat meningkat,dengan sangat gigih kami yang bertugas di suamtera barat sebagai doker telah berusah dan berhasil mengobati dan mencegah berkembangnay penyakit TBC paru tersebut,saat saya bertugas di solok tahun 1974-1979,saya menemui sangat banyak rakyat Minang asal solok yang menderita TBC=paru dan saya telah membantu mereka dengan program terapi murthakhir dengan biaya sangat ekonomis untuk membuat penyakit jadi inaktif dan mencegah penularannya lebih lanjut,saya harap saat ini permaslahan TBC paru tersebut dapat teratasi.

(Dr Iwan)

 

16 Agustus 1958

APRI SERANG BUNGUS

 

Penerangan Komando operasi 17 Agustus mengabarkan ,bahwa dalam suatu gerakan pembersihan yang dilakukan dengan snagat tiba-tiba dan sangat mendadak paukan APRI tanggal 16 Agustus  siang telah memukul dan mencerai-beraikan pusat-pusat kecil dari sidsa pasukan pemberontak  di Bungus,suatu tempat anatara Padang dan Painan.

 

Serangan yang sangat cepat dan mendadak itu telah menyebabkan pasukan PRRRI lari mocar-kacir  dan bingung  dan dalam tembak menembak  yang terjadi 15  orang kaum pemberontak  tewas, sedang mayat-mayatnya  ditinggalkan  begitu saja oleh kawan-kawannya.Sejumlah senjata  diantaranya  sebuah karaben dengan pelurunya  telah jatuh ketangan APRI sedang dari pihak  APRI  tak seorangpun yang kean atau luka-luka(Ant.)

(SK Indonesia raya,koleksi dr iwan)

17 Agustus 1958

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar, Jusuf  yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan ……

Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri

Sumber nagari web blog

Kisah lengkap baca  pada lampiran Kisah Nyata Masa PRRI

Sekitar bulan Agustus sampai September 1958 Markas PDM dipindahkan ke Padang Panjang (Kantor koramil sekarang) dan Markas PODM di Padang Panjang dibubarkan, akan tetapi di Batusangkar dibentuk lagi Markas PODM dengan lokasi Markas PODM dengan lokasi Markas tetap disebelah kanan kantor PUSPENMAS Batusangkar, dengan pejabat PODM adalah Pelda Hasan Basri.(kodimtanahdatar)

21 Agustus 1958

Informasi dari SK Indonesia Raya

PENDARATAN 2000 TENTARA AS DI SINGAPURA MENGELISAHKAN

Dubes Jones: Tak Perlu Khawatir  ,Hnay rekreasi  Belaka, Akan Pergi dalam 2-3 hari

Menteri Luar negeri Dr Subandrio menerangkan atas pertanyaan pers, bahwa pndaratan 2000 tentara amerika serikat di Singapura adalah sangat mengelisahkan ,nerhubung dengan masih adanya persoalan  di Timur tengah dan juga karena kita masih menghadapi pemberontkan dalam negeri.

Dalam suasana sekarang ini memang Pemerintah Indonesia mengharapkan supaya *ndonesia diberitahukan  lebih dahulu mengenai gerka-gerik Angkatan Perang Asing disekitar Indonesia, justru untuk tidak menimbulkan  kecurigaan dikalangan rakyat,demikian Subandrio.

Mengenai senjata Amerika Serikat  yang telh didaratkan  oleh pesawat Glober Master  di jkarta  atas pertanyaan , Subandrio  menerangkan, bahwa senjata  itu adalah  sebagain dari senjata AS yang penjualanannya  kepada Indonesia telah disetujui ,Subandrio tidak menerangkan tentang jumlah,harga dan macam senjata itu.

(SK Indonesia raya,koleksi dr iwan)

22 Agustus 1958

Informasi dari SK Warta Bandung

MAKLUMAT KSAD

DILARANG KERAS BERHUBUNGAN DG PRRI,PERMESTA &DI/TII                     Yang melanggar akan dikenakan Hukuman

PKI AKAN USULKAN AGAR KOSTITUANTE MEMBUBARKN DIRI                      Kalau tidak ada Gambaran Akan Hasil

ALM KAPTEN UDARA NAJARANA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN                  Upacara pemakaman  Jenazah Kapten penrbang Najarana susilo  yang gugur dalam  melaksanakan tugasnya menumpas  pemberontakan Permesta di Manado pada kamis pagi telah dilangsungkan,dihadiri oleh KSAU laksmana madya suryadarma ,Panglima TT III kol Kosasih,Kepala daerah  Jawa barat  Oja Somantri,Komandan pangkalan husein sastranegara  Let.kol. Wiriadinata.

Menteri Luar Negeri Subandrio                                                                                                            KITA BELI SENJATA DIMANA SAJA                                                                                       SETELAH AMERIKA NYUSUL INGGRIS

(SK Warta Bandung ,koleksi dr Iwan)

 

 

22 Agustus 1958

 

Surat dikirim dari Bandung 23.8.58 stempel tak jelas  ke Padang  dengan prangko 25sen, baru sampai di Padang 22.8.60 dikirim liwat pos Militer mungkin surat ini nyasar kemana  ?

25 Agustus 1958

Informasi dari surat kabar Sin Po(koleksi Dr iwan)

Masih Ada  Negara”Sewakan” Lapangan Terbang Kepada Pemberontak    Awas PM Djuanda pernah peringatkan akan membalas serangan terhadap Wilayah RI

Ketua seksi Pertahanan Parlemen <Manai Sophian (PNI),menerangkan dalam percakapan dengan pers bahwa sesudah semua Lapangan Terbang di Seluruh Tanah Air dibebaskan dari tangan kaum pemberontak oleh APRI kita, tidak mungkin ada lagi Lapangan terbang yang dapat digunakan oleh Kaum Pemberontak untuk memberangkatkan sesuatu PesAwat Terbng guna melakukan pengeboman atau pengacauan didaerah RI.

Oleh karena itu,maka ketua Seksi Pertahanan Parlemen  itu berpendapat bahwa masih adanya pesawat terbang  asing yang diseewa oleh kaum pemberontak untuk melakukan pengacauaan didaerah Indonesia bagian Timur tentunya diberangkatkan dari suatu Lapangan terbang diluar wilayah RI (dari Negara lain)

Peringatan Djuanda

Berhubung dengan itu maka Manai Sophiaan berpendapat bahwa kewajiban Pemerintah sekarang ialah menyelidiki Pngkalan terbang Asing  manakah yang dipakai untuk memberangkatkan  Peasawt terbang Asing yang disewa oleh kaum Pemberontak.Dalam hubungan ini ,Manai Sphiaan memperingatkan bahwa PM Djuanda dalam keterangannya kepada Parlemen pernah menyatakan  bahwa apabila Pemrintah Indonesia dihadapkan terus-menerus  pada kenyataan tentang  dipakainya Lapangan terbang  oleh Kaum Pemberontak PRRI/Permesta ,maka

Pemerintah Indonesia akan mengerahkan  kekuatannya untuk membalas  serangan Pemberontak yang berpangkalan dilapangan terbang  asing itu,dengan mengambil resiko Pemberontakan di Indonesia menjalar  jadi Persengketaan Internasional.

Dengan demikian Manai berpendapat bahwa apabila Pemerintah menegtahui Pangkalan Asing yang dipakai oleh Pesawat asing yang disewa kaum pemebrontak maka peringatan PM Djuanda didepan Parlemen itu akan tidak dapat dihindarkan pelaksanaannya.

Terus waspada

Patut ditambahkan bahwa seperti diberitakan  Kantor berita Antara, menjelang perayaan ulang tahun ke-13 RI baru-baru ini di Menado masih terjadi serangan oleh pesawat terbang asing guna mengacaukan perayaan itu.Manai membernarkan ketika salah seorang wartawan mengatakan bahwa  seklaipun berita tentang Pengacauan Pemberontak dengan peswat asing itu sudah  agak terlambat ,tapi soalnya kalau bisa menjelang hari Preoklamasi tempo hari,maka unya juga bisa diulangi lagi dihari-hari yang akan datang, lebih-lebih jika kitta kurang waspada.

 

Peristiwa PRRI-PERMESTA Dibukukan

Peristiw PRRI-Permesta oleh Letkol Pirgandie telah dibukukan  dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia, buku yang berbahsa Indonesia sedang dicetak di Jogya.

KUOMINTANG DILARANG

Penguasa Perang Daerah Swatantara I Jakrta Raya Letkol E.Dachjar mulai tanggal 20 Agustus 1958 melarang semua kegiatan dan berdirnya partai,Badan dan Yaysan dri golongan Kuomintang dalam daerah hokum Jakarta. Dalam larangan itu dimaksud juga badan yang menjadi bagian atau sehaluan dengan Kuomintang termasuk cabang-cabang dan ranting-rantingnya.Yang dimaksud dengan partai Kuomintang ialah A.Tjanang,Bagian,Ranting dari partai tersebut.B.Organisasi ,Badan,Yayasan yang sehaluan dengan partaitersebut.C.Badan Hukum dimana terdapat diantara Pengurus,Direksi,Komisaris,Pemegang Saham atau Pegawainya terdapat orang jadi atau pernah jadi anggota partai Kuomintang.

PERMULAAN INVASI?

Kapal perang RRC dan Taiwan senin pagi telah terlibat  dalam salah satu pertempuran Laut yang terlama  yang eprnah berkobar  dalam Permusahan dis elat Taiwan.

Kapal Perat RRC minggu malam  telah menyerang Kapal Taiwan  disebelah selatan Quemoy dan pertempuran ini masih  terus berlangsung  sampai senin pagi demikian menurut pengumuman Kemnterian  Pertahanan Taiwan.

Sumber  Kementerian Pertahanan Taiwan  mengatakan  bhawa serangan  serntak  dari Udara,Laut dan  Drat itu  mungkin merupakan permulaan  suatu Penyerbuan  terhadap Quemoy.Seorang jurubicara  Kementerian itu mengatakan  bahwa kapal perat RRC dan Taiwan  sedang bakuhantam di perairan antara Quemoy Besar dan Pulau  RTungting yang dikuasai Taiwan  diujung selatan Taiwan.

 

 

QUEMOY YANG DISERANG,DULLES YANG MARAH-MARAH

Menururt Kementerian Pertahanan di Pulau Taiwan, meriam RRC malam Minggu yang ini telah memuntahkan lebih dari 55.000 buah peluru didalam jangka waktu 2 jam terhadap 2 pulau yang diduduki pasuka Kuomintang yakni Quemoy besar dan Ketcil. Dikatakan bahwa ini adalah pemboman yang paling hebat atas pulau-pulai tadi selama sejarah permusuhan didaerah selat Taiwan .

Ini mungkin permulaan dari pemboman untuk melelahkan pihak Chiang Kai  Shek ,siang-malam, untuk melelahkan Gernisun Quemoy.

DULLES MEMPERINGATKAN

Amerika Serikat Sabtu 23-8 secara tidak langsung memperingatkan RRC supaya jangan sampai berusaha merebut Quemoy atau Matsu karena langkah itu bisa membahayakan Perdamaian didaerah sekitarnya.Peringatan ini tercantum didalam surat dari Mentyeri Luar negeri AS Dulles kepada Ketua seksi Luar negeri Majeleis Rendah  AS Thomas Morgan dan morgan dengan segera mengumumkannya.Dalam surat tadi Dulles mengatakan bahwa merasa “gelisah”bahwa Angkatan Perang RRC dipesisir Tiongkok  Drat yang letaknya seberang Menyeberang dengan Pulau Quemoy,Matsu dlll yang didduki pasukan Kuomintang diperkuat. Surat dulles tadi adalah Jawaban terhadap surat Morgan Juma’at ini  dalam mana Morgan mengatakan bahw aia “merasa kuatir” memperhatikan Laporan bahwa Angkatan Udara RRC disebrang Pulau Quemoy dan Matsu sedang diperkuat.

ISI SURAT DULLES

Kata dulles dalam suratnya AS sungguh merasa gelisah dengan adanya bukti tentang Pemusatan Kekuaatan Komunis tiongkok.Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka(RRC) mungkin akan ken goda untuk mencoba merebut dengan kekerasan Pulau Quemoy atau matsu.Saya kira akan sangat besarlah resikonya bagi setiap orang yang berkata bahwa seandainay Komunis Tiongkok mencoba mengubah keadaan ini dnegan kekerasan dan mencoba menyerang dan menaklukan Pulau-pulau itu,maka hal itu dapat mwrupakan operasi yang terbatas sja, saya kuatir bahwa perbuatan semacam itu akan berarti ancaman terhadap Perdamaian daerah itu,.Oleh sebab itu saya mengharapkan dan saya percaya bahwa itu tidka akan terjadi kata dulles.

Info terkait

 

(Quemoy 1958 – A kind of/sort of shooting war)

With Cold War fears dominating our life and policies towards the rest of the world in the 1950s, there was no end to skirmishes, threats and outbreaks in just about every corner of the planet.

One such skirmish had to do with the Formosa Straits, the islands lying between Mainland China and Taiwan known as Quemoy and Matsu.

Their possession had been contested ever since Mainland China fell to the Communists and the former government of China set up shop on Taiwan in 1949. At the time, Mainland China wasn’t recognized by the the United States or the U.N. and Taiwan, or Free China as it was known, was.

So when the Mainland Chinese launched a series of bombings and a threatened invasion on the islands of Quemoy and Matsu in September of 1958, the Domino theory of Communist conquest came into full play, and The U.S. was quickly drawn into the conflict, prompting President Eisenhower to go before the American people and explain what was going on and what we were potentially about to get ourselves into.

Pres. Eisenhower: “Congress has made clear its recognition that the security of the Western Pacific is vital to the security of the United States, and that we should be firm. The Senate has ratified by overwhelming vote, security treaties with The Republic of China, covering Formosa and The Pescadores, and also the Republic of Korea. We have a mutual security treaty with the Republic of The Philippines which, situated so close as it is to Formosa, could be next in line for conquest if Formosa into hostile hands.”

The crisis eventually simmered down, with Mainland China backing away from a full-on shooting war. But it certainly didn’t end the saber rattling that went on in the region.

Then again, Vietnam was on slow simmer at the time.

(newstalgia)

 

 

FRAKSI-FRAKSI ILSAM DI KONSTITUATE BERJINGKRAK MERAS TERSINGGUNG OLEH KRITIK SARTONO

Ketua frakis Masjumi,NU,PSII<PERTI,PPTI dan AKUI dalam Konstituantye telah meminta perantaraan Ketua Konstituante untuk meminta kepada ketua Parlemen Mr sartono mencabut ucapannya di Magelang.Pada surat yang meminta perantaraan tersebut, dilampirkan berita surat kabar “Kedalatan Rakjat” di Jogya yang memuat ucapana Mr sartono dalam pertemuan dengan para pemimpin di Magelang.

Demikianlah isi suart tersebut:”Kedaulatan Rakjat “Jogya tgl 14-8- memuat laporan mengenai pidato Mr sartono itu sebagai berikut :”Mengenai Demokrasi terpimpin,Mr sartono katakana, bahwa Demokrasi terpimpin dengan UU Dasar berdasarkan Panca sila itu, merupakan syarat mutlak untuk Kesatuan Negara dan bangsa Kita yang terdiri banyak Pulau dan Suku-Suku Bangsa itu,

 

Hendaknya konstitunte dalam hal ini dapat berbuat  hanya memperbaiki UU Dasar Sementara itu dengan tidak merobah azas dan tujuannya,  merobah Azas dan Tujuan ,berarti tidak mentaati kepada jiwa Proklamasi.

Kalau ada anggota tentara  bertanya kepada saya , apakah yang akan diperbuatnya, jika konstituate merubah  UU Dasra yang tidak lagi berdasarkan Panca sila ,maka bagi saya, Jika saya jadi  Tentara, tidak akan mentaati Putusan Konstituante itu.dan Konstituante yang merobah UU Dasar tidak berdasarkan Panca sila itu, sudah tidak metaati lagi pada  tujuan Prokjlamsi ke,rdekaan  kita.

Demikian  Mr sartono  menurut “KR” Ia berbicara  dikediaman Residen Kedu  dimuka Pejabat-Pejabat Sipil dan Militer  setempat. Minggu Mlam  usaha untuk menghubungimMr sartono, untuk ditanyai  bagaimana pendapatnya  mengenai hal tersebut ditas tidak berhasil.

( SK Sinpo,koleksi dr Iwan)

September 1958

Gejolak api besar membakar satu kampung yang tak mungkin saya lupakan.
Saat itu penghadangan oleh gerilya PRRI di Jalan antara Solok – Padang sekitar

 

nagari Cupak, kabupaten Solok, mungkin pertengahan September 1958.

Saya melihat peperangan dan gejolak api dari tempat persembunyian di dangau Santo di Batu Kuali di lereng bukit di sebelah Selatan.

(Nagari Com)

Kisah lengkap baca di lempiran

Saya jadi ingat saat bertugas di Solok tahun 1974, ketika bersama orang tua naik mobil pribadi toyota Corolla 1000 cc, hamper saja menabrak seorang anak kecil umur 4 tahun yang tiba-tiaba lari  menyebrang dari rumahnya, untung saya dapat mengrem karena jalan mobil cukup pelan saat itu lagi ramai hari pasar, tiba-tiba orang—orang drai pasar lari menyerbu hendak merusak mocbil, saya saat itu berpakaian preman, keluar mencabut revolver dan siap untuk menembak perinagtan keatas , dan melihat anak tersebut diatas kap mobil dan ternyata masih hidup dan sehat, dan beberapa polisis lalulintas  dari polres Solok berteriak itu dokter polisi dan saya selamat dari serbuan rakyat.

Kemudian bnayak orang cupak yang berobat ke tempat praktek pribadi saya di solok.

(Dr iwan)

September 1958

Yon E berangkat ke Jambi dan Bengkulu dipimpin oleh kapten Win Tamawawi sukses menumpas gerombolan dan kehilangan satu orang anggota Serka Ito Tusnawan di front Muara Tebo yang berlangsung pada September 1958 s/d Mei 1959

Sedangkan Yon A yang ikut melaksanakan operasi sadar yang dipimpin oleh Kolonel  Ibnu  Sutowo berhasil membersihkan pengaruh PRRI pada unsur perwira di wilayah TT.II/SRIWIJAYA.

 Hasil gemilang diperoleh oleh Yon C TT.II/SRIWIJAYA pimpinan Mayor Sai Sohar yang berhasil merampas 100 pucuk senjata dan menewaskan 250 orang musuh difront bengkulu, dengan kerugian gugur 10 orang personil.

(KODAM Sriwijaya weblog)

 

3 Oktober 1958

Dalam rangka mengakhiri pergolakan separatis bersenjata PRRI,Siliwangi dengan Surat Keputusan Panglima TT III tertanggal Bandung 3 Oktober 1958, telah menyusun suatu Resimen Team tempur dengan nama pengenal RTP-01/Siliwangi.

Setiap enambulan sekali pimpinan pasukan tersbut telah mengalami pergantian .

Adapun pimpinan itu berturut-turut adalah letbnan Kolonel Umar Wirahadikusuma, Letnan Kolonel E.Dacgjar, Letnan Kolonel Ishak JUarsa,Letnan Kolonel Supardjo dan Letnan Kolonel R.Tarmat widjaja.

Tim termpur RTP-01/siliwangi terdiri dari  battalion 309 dan 330/Kujang I, Batalion 328/Kujang II dan Gabungan “Galuh” .dan terdiri dari kesatuan Kaveleri,Artileri ,dan lain-lain kesatuan bantuan.

RTP-01/Siliwangi mendapat tugas didaerah Tapanuli,suatu daerah dimana pengikut PRRI berbeda dengan di daerah lainnya,ternyata melakukan perlawanan yang cukup gigih.

RTP 01-Siliwangi mulai terjun didaerah operasi pada minggu terakhir Oktober 1958

. Kapten Sinta Pohan dan kawan-kawannya mendudung PRRI,menyabot usaha  pembangunan di tapanuli.

Mereka menentang pembukaan lapangan terbang Pinangsori dan menyusun organisasi penyeludupan lewat pelabuhan laut Sibolga,serta dengan diam-diam  mereka menerima senjata dari Sumatera tengah dan mempersenjatai  pemuda-pemuda yang disebut”Pemuda Pelopor  Pembnagunan”,juga mereka melalukan penyeludupan dan barter.

 Pasukan Kapten Sinta Pohan kemudian bergerak kearah Medan ,dan pasukan PRRI yang mundur dari Kota Medan akibat diserang oleh  tentara APRI dalam operasi SAPTA MARGA  ,bergabung ke Tapanuli,sehingga Tapanuli menjadi pusat  dan pangkalan penyerangan PRRI.

Kecuali Sidikalang,pasukan TNI  TT I/Bukit Barisan dan Batalion 322/Siliwangi tidak ada yang masuk kedaerah  keResidenan Tapanuli,mengapa demikian?

Hal ini karena KSAD(Kepala Staf angkatan darat, A.H.Nasution) tetap memegang teguh janjinya untuk tidak mengusik daerah Tapanuli,dengan harapan daera RI 3 sendiri akan bertindak dan menyelesaikan persoalan pasukan PRRI di daerah Tapanuli,akan tetapi karena faktor kekuatan yang tidak berimbang,Mayor Sahala Hutabarat tidak mampu untuk melaksanan pengamanan mandiri,sehingga pasukan PRRI dengan leluasa mengunakan daerah Tapanuli sebagai pangkalan penyerangannya.

(Djamin ginting)

19 Oktober 1958

Foto Bergelimpangan mayat mayat mereka ,mati muda karena mereka mengikuti kata hati mereka, inilah anak buah Sinta Pohan yang tewas dalam pertempuran  dekat Siantar.

Pada tanggal 19 Oktober sekitar jam 16.00 sore terjadi  Pertempuran sengit

 

didekat kota Pematang Siantar

 antara Pasukan Pemerintah (RPKAD) dan Pasukan Resimen II yang dipimpin sendiri oleh Mayor Manaf Lubis

 

di desa Simarimbun (7 km dari Siantar) .

Pertempuran berlangsung selama empat jam ,dimana kekuatan pasukan Pemberontak yang dipimpin oleh  Lts Frietz Hutabarat yang berjumlah kira-kira 500 orang dengan bersenjata lengkap dan modern, diantaranya terdapat Bazoka dan Mitralyur.Sebenarnya sejak dari

 

 Prapat

Res.II sudah mengulur dan pasukan Pemberontak yang kebanyakan terdiri dari Pelajar-Pelajar dan Pemuda-Pemuda yang dipersenjatai terus juga menyerang .

Mau tak mau untuk mempertahankan Kota Pematang siantar RPKAD yang datang tepat pada waktunya menyerang pula mereka

Dalam pertempuran tersebut Lts Franz Hutabarat tewas ditembaki oleh pasukan RPKAD dan hancurlah Pasukan Itu, banyak diantara mereka yang menyerahkan diri.

Foto dokumen penting didalam saku Lts Franz Hutabarat(terang bulan)

Didalam saku Lts Fritz Hutabarat didapati dokumen penting.dokumen itu menyatakan mereka harus menduduki kota Pematang Siantar pada malam itu juga.

Kiranya Naingolan tidak bermaksud melarikan diri ke Tapanuli .tapi untuk sementara waktu ingin bertahan diluar kota Medan dan selanjutnya menyerang kembali Kota Medan dari empat jurusan, yaitu dari jurusan Kabanjahe dan Rantau Prapat secara serentak dengan sehgala kekuatan mereka.

Tapi dengan gagalnya Sinta Pohan menduduki Pematang Siantar gagallah segala usaha mereka dan naingolan terpaksa melarikan diri ke Tapanuli.

Juga ketika terjadi pertempuran di Simarimbun,

 

terjadi pula pertempuran di Titi Pelawi dekat Pangkalan Berandan antara Pasukan Pemerintah dan Pasukan Pemberontak yang ingin melarikan diri ke Aceh.

Disini banyak Pasukan Pemberontak yang tewas, tetapi pada pertempuran di Simarimbun hanya seorang anggota RPKAD yang tewas bernama M. Sihombing dan 3 orang luka-luka.

Naingolan yang dulu pernah menangkap Mayor Samosir ketika menjadi koamndan KMKB Medan dan membongkar peristiwan penyeludupan M.Simbolon di teluk Nibung dan pernah ingin menagkap Kol. M.Simbolon , kini dinyatakan sebagai pemberontak.

Nyata-nyata Naingolan telah menjadi alat PRRI dan mengikuti kata hati mereka masing-masing dan kalah dengan bujukan uang Nainggolan.

Kiranya tindakan nainggolan ini banyak mendapat sokongan dari Tokoh-tokoh Politik ,antaranya anggota Parlemen (Udin sjamsudin dan Marwardi Nur ) dan konstituante ( H.Bharum Djamil).Mereka membuat pernyatan menyokong Tindan Nainggolan, karena itu ketika naiggolan lari,Pemerintah terus menjepit terus kerah itu pihak TT I lalu mengadakan penangkapan-penangkapan terhadap mereka.

Dari kalangan Polisi Kota Medan banyak yang ditangkap dan adea yang dibawa ke jakrta untuk diperiksa seperti kepal Polisi Propinsi sumatera Utara Komisaris Besar M Isja dan Kepal DPKN AKBP Baharuddin.

Dikota Medan sendiri Panglima TT I Let.Kol. Djamin Gintings membentung Panitia Screening terhadap mereka yang dituduh ter;libat dengan Nainggolan.

Di Hutan-hutan Tapanuli

(Terang bulan 1958)

24 Oktober 1958

Pada tanggal 24 Oktober 1958,Letnan Kolonel Umar Wirahadikusuma,komadan RTP-01/Siliwangi dengan dikawal oleh Peleton Combat 309 dan Panser Eskadron IV Kavaleri, bertolak dari Padangsidempuan untuk mengadakan kontak dengan Letnan Kolonel Bahari Effendi Siregar Komandan Infantri 3(RI3) ,

 

 

akan tetapi dalam perjalanan mendapat hadangan dari pihak PRRI

 

disekitar Batangtoru.Rombongan dapat terhindar dari bahaya,selanjutnya pasukan Batalion 309/Siliwangi digerakan untuk mengadaka n pengintaian dari

 

Padang sidempuan untuk menentukan rencana operasi selanjut.Pada hari yang sama, Kompi II diperintahkan untuk merebut

  

 Simaningir dan Bohandolok

dengan gerakan melaui jalan besar,sedangkan kompi I dan IV melambung ke Simaninggir,

(Djamin ginting)

 

Pada tanggal 24 Oktober 1958,Let.Kol.Umar Wirahadikusuma ,komanda RTP-o1 /Siliwangi  dengan dikawal oleh peleton  Combat 309 dan Panser Eskadron IV Kavaleri bertolak ke Padang Sidempuan untuk mengadakan kontak dengan letnan colonel Bahari Effendi Siregar,komandan resimen Infanteri 3(RI 3) akan tetapi dalam perjalanan mendapat hadangan dari pihak PRRI

 

disekitar Batangtoru.Rombongan dapat terhindar dari bahaya, hanya seorang sersan Mayor kavaleri mendapat cedera.

Pasukan Batalion 309/Siliwangi mulai digerakkan untuk mengadakan pengintaian keluar kota.Dengan kembalinya Komandan RTP-01/Siliwangi dari Padangsidempuan,maka ditentukanlah rencana operasi selanjutnya.

Kompi II dibawah pimpinan  Letnan Abidin, diperintahkan untuk merebut Simaninggir(Pemandangan Indah) dan Bohandolok dengan gerakan dilakukan melaui jalan darat, sedangkan Kompi I dan Kompi IV melambung ke Simaninggir dibawah pimpinan Komandan Batalion sendiri,Kapten Sajiman Surjohadiprojo.

(Umar Wirahadikusuma)

25 Oktober 1958

kesesokan harinya hanya simaninggir yang berhasil direbut setelah mendapat perlawanan yang sengit dari Tentara PRRI,akat tetspi pihak PRRI dapat dipukul mundur dan bertemu dengan pasukan battalion 309/Siliwangi.Bohandolok akhirnya dapat direbut dan merampas 1 jeep. Tjung riffle dan 1 Carl Gustaf,degan demikian jalan menuju Tarutung dapat dikuasai.

Kemudian gerakan dilanjutkan melalui Tebing yang curam  dengan ,medan yang berbahaya dsekitar Kilometer 9 telah dapat dilalui setelah ada pos bataluion 309.siliwangi di Simaninggir dan Bohandolok.

(Djamin Ginting)

Hari ini Simanggir dapat direbut dengan mengalami perlawanan yang sengit dari pihak PRRI akan tetapi pihak lawan akhirnya dapat dipukul mundur dan bertemu dengan pasukan yang berada dibawah pimpinan Komandan battalion 309/Siliwangi.Bohandolok akhirnya dapat pula dikuasai APRI dan berhasil mrampas 1 Jeep, I jungle-rifle dan 1 pucuk Carl Gustaaf , dengan demikian maka jalan yang menuju Tarutung baru dikuasai APRI 12 kilometer.

Gerakan kemudian dilanjutkan, tebing-tebing curam,pemandangan yang indah dan medan yang membahayakan disekitar km-9 telah dilalui lalulitas kendaraan tentara mulai sibuk dan tidak perlu lagi kuatir karena Simangir dan Bohandolok ditempati Pos battalion 309/Siliwangi

(Umar wirahadikusuma)

28 Oktober 1958

Harian Merdeka menulis soal pidato Soekarno yang disampaikan tanggal 28 Oktober 1958. Secara tegas Soekarno mengutuk para pimpinan PRRI-Permesta. Cuplikan berita itu ditulis Keith Foulcher, dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan yang diterbitkan Komunitas Bambu,

“Presiden Soekarno menjatakan dengan tegas kalau dia seperti Ahmad Husein, Simbolon, Somba dan Warouw, dia akan merebahkan diri di dalam hutan dan minta ampun kepada Allah SWT karena telah mendurhakai kemerdekaan bangsa Indonesia dan mendurhakai Sumpah Pemuda yang keramat itu.”

(harian Merdeka)

 

 

5 Nopember 1958

Surat undangan  rapat dari kantor Walikota /Kepala daerah Kota Pradja Padang Pandjang,

Dengan hromat’Bersama ini  diundang saudara-sudara untuk menghadiri  rapat penyambutan Pemrintah Kabupaten tanah datar pada

Hari  Kamis Tanggal 6 Nopember 1958

Bertempat di Gedung fakultas Muhamadijah Guguk Malintang Padang Pandjang                                                                                                                                  mulai Djam 10 pagi                                                                                                                  ATJARA                                                                                                                                             1.Uraian dri walikota Kepala daerah Kotapradja P.P                                                 

  2. Sambutan komandan sektor I BN 502 Brawidjaja P.Pandjang

3.Sambutan dari  Koordinator  Pemerintah Kabupaten tanah Datar.

 4.Sambutan dari  Kepala Polisi  Kabupaten tanah datar   

                                      5 Sambutan  dari Pa onder Distrik Militer(ODM) P/P.                      

6.Sambutan dari Badan  Penasehat  Kabupaten tanah datar /Kotapradja Padang Pandjang

Demikianlah  agar saudar maklum  dan kedatangan saudara sangat diharapkan

Pd Wali Kota/Kepala daerah  Kotapradja   Padang Pandjang

Tanda tangan  dan stempel walikotapradja R.I.

(M.J.Dt.Malano Basa)

(koleksi Dr iwan)

8 November 1958

SK PENERANGAN 8 NOPEMBER 1958:

 

1) PERHUBUNGAN DGN SOLOK  DAN SEI PENUH LANTJAR KEMBALI

Perhubungan lalu lintas antara Padang denganSsolok yang terputus bebrapa hari yang lalu karena ada gangguan dari pihak pemberontak, kiini telah pulih kembali.

2)DAHLAN DJAMBEK DISINJALIR DI KOTO TANGAH

 

Penerangan Komando operasi 17 Agustus mengumumkan bahwa hari senin tanggal 27 oktober yang lalu Dhalan Djambek,kapten PRRI Sjahruddin dan Kapten PRRI Azhari disinyalir berada dikoto Tengah dalam kabupaten 50 kota (Payakumbuh).

 Selanjutnya mengenai penghadangan yang dilaukan terhadap Bus Umum didesa Jawi-Jawi Kabupaten Solok ,dikabarkan 111 Bus Umum dicegat dan dilarikan Gerembolan Pemberontak. Pencegatan itu dilakukan oleh lebih kurang 200 orang gerembolan dipimpin oleh bekas kapten Isris M. Keesokan harinya

 tanggal 2 Desember 1958, kesatuan dari BR 441 Diponegoro mengadakan penegjaran dan telah berhasil menemukan ke sebelas Bus tersebut. Menurut keterangan,selain merampok dan melucuti barang-barang  penumpang Bus tersebut , gerembolan juga membawa lari beberapa orang penumpang.

Tanggal 5 Nopember yang lalu,

dalam suatu gerekana pembersihan yang dilakukan oleh APRI dari

 

Pos Lubuk Selasih kesekitar Desa Cupak Kecamatan gunung Talang (di Kabupaten Solok),

 telah dapat menembak mati dua orang gerembolan dan merampas

 

Sepucuk senjata pistol Bouwman.

3)TAHAN KMT DAN PRRI DITEMPATKAN DIPULAU ONRUST

Para tahanan Kuomintang (Tionghoa) dan PRRI -PERMESTA yang pokoknya dituduh terlibat dalam berbagai kegiatan suversif didaerah, sejak bebrapa lama ini ditempatkan di pulau Onrus yang terletak di teluk Jakarta(Kepulauan seribu).

Wakil KASAD

 

Brigadir Jendral Gatot Suroto ,

 hari rabu telah melakukan inspeksi

 

dipulau Onrust

dengan diantar oleh ketua Penguasa Perang Jakarta Raya Letkol. Dachjar.

 Pulau Onrust termasuk salah satu tempat yang dinyatakan sebagai objek militer, dimana orang dilarang masuk kedaerah itu tanpa izin pihak Penguasa Perang Daerah Swatantra I Jakarta Raya.

4)IKLAN KEMATIAN DR.MOEHAMMAD JOESOEF

 

Dengan kodrat ilahi telah berpulang Dr Mohammad Joesoef dalm usia 64 tahun, semas hidupnya beliau adalah dokter partikelir Ahli Penyakit Mata, telah berpulang dirumahnya jalan Sekolah no.2 Bukit Tinggi pada hari selasa tanggal 4 November 1958. Kami yang berduka ,isteri Dr M.E.Joesoef Thomas ,Anak : Sonja dan Erwin Dameri, dsbnya(DR Thomas adalh dokter terkenal di Sumatera Barat, khusus buta keluarganya untuk jadi kienangan-crtatan dr Iwan)

 

Desember 1958

4 Desember 1958

Surat dikirm lewat kurir dari adik mertua saya Payakumbuh kepada ayah mertua saya di Padang Panjang isinya sebagai berikut

PJK 9 Des 1958

Pa dan ne yth

Bagaimana   pa dan ne sekarang? Ada sehat-sehat saja hendaknya.Heng sampai  sekarang belum beranak sebetulnya bulan November  tetapi di tunggu-tunggu  sampai skearang belum juga.  Heng dengar  dari padang  masa Kim mau kawin  tanggal 29 Desember  ini.Sayang  sekali Heng  tidak bisa  datang sebab  kalau sudah beranak  mana bisa  dibawa anak kecil  naik motor,baik kalau tidak ada dapat serangan  di jalan,kalau ada  masuk-masuk dalam Bandar  sama anak kecil  susah sekali.

Si sui(Tjoa Tjoan soei) belum lagi bekerja dan belum dapat etrima uang dari PU.Dia janji barangkali tahun 1959 . Harap-harap sajalah bisa terima uang kita tapi obat Heng sudah terima.Lain kabar ada baik saja

Oei Sioe Heng Pjk

(koleksi Dr Iwan)

 

12 Desember 1958

Bagaimana pendapat wartawan majallah Skets Massa Jakarta, silahkan dibaca cuplikan info yang kontaversial dari majallah tersebut (koleksi Dr iwan)

KISAH TIGA PETUALANG MILITER

Oleh Satrya

Dalam kelicinannya sebagai Organisator gerakan terror dan berusaha merobah struktur Negara Zulkifli Lubis berhasil mempenaruhi tiga orang Komandan Daerah bergolak yang dengan taat merencanakan usaha merobah struktur Negara menurut Program Z.Lubis dan kalau perlu menganti Bung Karno sebagai Presiden.

 

Barlian,Ventje Samual dan Ahmad Husein

Pemberontakan di Suamtera Barat/Tengah dengan Proklamasi Pemerintah Tandingan denagn Nama PRRI dan didukung oleh Dewan Banteng dan Permesta, dalah kelanjutan dan usaha tindakan terachir  dari aktivis Z.Lubis dalam usahanya untuk merubah struktur  Negara.

Dalam kegiatan ini Z.Lubis mendapat kawan sefaham, setujuan dan sealiran serta secita-cita dari mereka kaum Politisi yang menghadapi jalan buntu dalam usaha mereka untuk menjatuhkan Presidden Sukarno untuk dapat menguasaai Negara agar dapat mereka atur sesuai dengan cita-cita mereka

Mereka itu antara lain Mohammad Natsir , ketua Umum Masjumi, Mr Burhanuddin Harahap , Mr Sjafruddin Prawiranegara,Amelz dan sebagainya.

Disamping itu Z.Lubis mendapat bantuan kuat dari kaum Petualang Militer yang telah banayk menjalankan kejahatan memperkaya diri dengan tidak sah dan menyalahguankan kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki.

Mereka itu sedang “ bentanyangan” mencarai jalan kleuar menghindarkan diri dari cengkrmanan hokum.

Maka bertemunya ketiga anasir jahat mengkhianat tersebut merupakan suatu hal yang melapangkan jalan nebuju ketindakan khianat memberontak terhadap Pemerintah Republik Indonesia.

APAKAH INI BUKAN KEJAHATAN BESAR !

Setalh melalui Pewrgolakan-pergolakan Daswrah-Daerah Sumatera Tengah,Suamtera Utara(baca Medan) dan Sulawesi Utara sebagai siasat  Z.Lubis untuk menjatuhkan Kabinet Ali ke-III dan berhasil membubarkan Kabinet tersebut, makia Z.Lubis sesuai rencana mereka mela njutkan kegiatan mereka. Dan kini lebih nekat.

Rencana Z.Lubis itu diatur secaraplanmatig dan meurut yang disiarkan yang berwajib , dari dokumen-dokumen yang dapat dirampas dari Sekretaris Z.Lubis, SATRIA di Padeglang ,antara lain berbunyi :

“Jalan Menuju Realisasi Cita”

1.Cukuplah argumentasi untuk menilai “Negatif” Pusat Pemerintahan  yang sekarang itu, yang menempatkan Presiden Sukarno sebagai alat Sandaran Kekuatan, pimpinan Angkatan Darat ,sebagai alat sandarac hokum, Kabinet Djuanda dan sebagai alat tampungan pada potensi kemasyarakatan Dewan nasional (machtsconcentartie)(kosentrasi masa)

2.Maka dengan demikian jelas bagi kita, bahwa Presiden Sukarno, Pemimpin Besar kita adalah menjadi sasaran utama bagi Z.Lubis dan komplotannya  untuk dijatuhkan  dan setelah Bung Karno tidak berkuasa lagi  barulah mereka dapat berbuat sekehendak hatinya.

Maka diusahakan untuk membunuh Prseiden Sukarno dan diganti dengan lain orang menurut pengakuan Penjahat-penjahat  terorit Cikini dimuka pengadilan, adalah Bung Hatta atau Sulatan (atau lainnya).

Tetapi oleh karena usaha membunuh Bung Karno gagal, maka dipraktekkan rencana mereka yang berbunyi :

Alternatif  yang bertempat jauh dari tujuan adalah:

1.Proklamasi Negara sebagai suatu “Move” taktis yang maksimum

2.Pembentukan Pemerintah Pusat yang lain..

( majallah Sektsa Massa 12 Desember 1958 koleksi Dr Iwan)

 

 

17 Desember 1958

 

Demikianlah, seluruh proses yang sudah saya uraikanitu akhirnya melahirkan Memorandum PM Djuanda, 17Desember 1958, seperti yang saya kutip selanjutnya ini.

Memorandum.

 

1. Untuk mencari jalan dalam mencapai pemulihan keamanan

di daerah Aceh, telah dilaksanakan beberapa

pembicaraan antara Pemerintah dan Penguasa Perang

Aceh. Di antara pembicaraan-pembicaraan itu, suatu

pembicaraan khusus dilakukan di Istana Merdeka pada

tanggal 9 Desember 1958, yang dihadiri Presiden selaku

Panglima Tertinggi, Perdana Menteri, Wakil Perdana

Menteri I dan II, GKS (Gabungan Kepala Staf), Komandan

KDMA/Penguasa Perang Daerah Aceh dan Gubernur

Aceh.

 

2. Pembicaran khusus tersebut menghasilkan suatu persetujuan

paham yang dipakai sebagai pegangan dalam

penyelesaian soal Aceh. Secara garis besar persetujuan

itu terdiri dari:

 

A. Bidang Politik, Sosial dan Ekonomi

 

a. Pemerintah akan memberikan hak dan isi otonomi seluas-luasnya

untuk daerah Aceh, terutama dalam lapangan keagamaan,

pendidikan, dan peradatan. Semua itu tentu saja dalam

batas-batas UUDS RI dan Undang-undang, serta peraturanperaturan

lain yang berlaku.

Untuk merealisasikan ini Pemerintah akan bersedia menerima

Delegasi Aceh yang akan menyampaikan hasil-hasil dari

kerja Komisi Lima dan mempelajari serta mempertimbangkan

dengan sungguh-sungguh saran-saran yang akan diajukan Delegasi

tersebut.

b. Mengenai penampungan dari anggota-anggota eks DI/TII, penyantunanterhadap kekacauan, baik moril ataupun materiel,telah didapat persesuaian yang sama dengan kebijaksanaanselama ini.

c. Apabila masa kerja DPR DP dan DPD Aceh telah selesai, Pemerintahakan menentukan suatu prosedur sehingga antaraDPD-DPR DP, Penguasa Perang Daerah, Angkatan Perangdan Pemerintah dapat tercipta suatu kerjasama yang lebihsempurna, dalam usaha-usaha menertibkan kembali Daerah

Aceh.

e. Mengenai penempatan wakil-wakil yang capable dan acceptabledari Aceh dalam Lembaga Demokrasi Republik Indonesiapada waktu sekarang, Pemerintah sedang mengusahakansuatu modus yang dapat diterima oleh semua pihak.

 

 

B. Bidang Militer

1. Atas dasar hasrat kesatuan DI/TII Aceh untuk kembali kepadapangkuan Negara Republik Indonesia, maka kesatuan DI/TIItersebut akan meletakkan senjata dan akan taat kepada pimpinan

TNI.

2. Pemerintah Republik Indonesia, kemudian menampung kesatuanDI/TII itu dan menyalurkannya ke lapangan kemiliterandan ke lapangan kemasyarakatan dalam rangka pembangunanAceh khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk itu:

 

(1) Kesatuan tersebut di atas sementara akan diperlakukansebagai milisi darurat di bawah Komando seorang perwiratertinggi dari kesatuan itu.

(2) Komandan itu berada di bawah Komando KDMA.Kesatuan tersebut dipelihara oleh KDMA dan seterusnyadari kalangan mereka direkrutier tenaga-tenaga yang memenuhinorma-norma militer yang berlaku guna perluasanTNI di Aceh.

(3) Pangkat yang akan diberikan oleh Komandan tersebutdi atas ditentukan menurut Instruksi yang diberikanPerdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan KSAD kepada

Komandan KDMA.

Jakarta, 17 Desember 1958

Perdana Menteri

(Ir. Djuanda)

(syamaun Gaharu)

19 Desember 1958

Dokumen asli Kutipan Surat keputusan Kepala Polisi Daerah sumatera tengah  tanggal 19 Desember 1958 tentang kenaikan pangkat atas nama  Djamain dari Agen Polisi menjadi Brigardir Polisi ditanda tangani oleh  Kepala Polisi sumatera tengah Ajundan Komirasir Besar  PolisiSoetan SoeisStempel Kepala Polisi suamtera tengah  Polisi Negara PRRI

(koleksi dr Iwan)

Akhir Tahun 1958

Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI

Pada akhir tahun 58
Enam bulan waktu berjalan
Aku berada di kampung halaman
Kini datang suatu kesempatan

Kesempatan baik untuk berbakti
Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
Pergi berperang menyelamatkan negeri
Dari serangan tentara APRI

 

 

 

Di Ujung Gading dekat lautan
Di sana bermarkas induk pasukan
Kompi KKO diberi sebutan
Letnan Isrul sebagai komandan

17 pemuda berbadan sehat
Percaya diri penuh semangat
Lalu berkumpul mengadakan rapat
Ingin berperang melawan Pusat

Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
Setelah berkumpul sambil berunding

 

 


Siap berangkat ke nagari Silaping
Dekat pantai di Ujung Gading

 

Para remaja anak bujang

 

Dari Batu Kambing dan

 

Sitalang

Ke rantau Pasaman pergi berperang
Namanya ditulis untuk dikenang

Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai,
Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih – 1 nama !

Pagi hari sebelum berangkat
Calon pejuang diberi nasehat
Dilanjutkan doa kaum kerabat
Kembali pulang dengan selamat

Selesai bermohon kepada Tuhan
Para remaja mulai berjalan
Masuk hutan ke luar hutan
Hanya berhenti ketika makan

Walau kaki beralas sandal
Baju di badan banyak bertambal
Niat berjuang sejak awal
Bukan ambisi ingin terkenal

Berjalan kaki beriring iring
Ada yang gemuk banyak yang langsing
Melewati jalan di tepi tebing
Bila tergelincir jatuh terguling

Saat melewati banyak nagari

Sumadang, Gudang,

 

Tapian Kandi

 


Padang Gantiang, Padang Sawah

 

dan Kinali
Terasa berada di kampung sendiri

Ninik Mamak datang menyambut
Diikuti orang tua berusia lanjut
Berjabat tangan berebut rebut
Meskipun malam telah larut

 

Ketika sampai di batang Masang
Sungai besar airnya tenang
Rombongan berhenti karena terhalang
Tiada titian untuk menyeberang

Penduduk bertanya kepada yang tua
Ke mana tujuan para pemuda
Kami menjawab apa adanya
Hendak ke Pasaman membela negara

Karena rombongan pemuda PRRI
Semua orang ikut bersimpati
Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
Makanan disumbang Amai dan Umi

 H. Bustanuddin yang bertugas di Pasaman, Riau sampai tertangkap

 

 di Naga Seribu Pd Bolak, Tapsel

 

dan dipenjara Tanjung Gusta Medan

Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji

Untuk dicontoh para remaja
Menjadi teladan sampai tua
Hasan dan Husen tak berebut harta
Ketika berperang sesama saudara

Saudara kembar Husen dan Hasan
Bermuka mirip susah dibedakan
Hobinya sama, senang berteman
Ketika bergolak saling berlawan

Bukan karena dapat indoktrinasi
Tapi keyakinan hak azasi
Husen menjadi pejuang PRRI
Hasan bertugas di kesatuan APRI