KISI INFO INDONESIA 1960(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1960

 

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Maret 1960

Selama 3 bulan ibu masih sempat memonitor keadaan Bapak di penjara Padang.
Kadang kadang berkomunikasi lewat surat dan ibu mengirim makanan seperti Rendang, Samba Lado Tanak.

Suatu ketika Samba Lado Tanak yang dikirim ibu kembali, dan tidak ada khabar apa-apa.
Kakak saya yang jadi anggota Angkatan Laut mencari Bapak ke penjara di Padang.
Tidak ketemu Bapak, dokumen dan arsippun tidak ada.
Wallahu’alam.

Suatu kepedihan yang tiada taranya dan kami tidak dapat berbuat apa-apa.
Konon Bapak saya hilang bertiga, sejak awal ketangkap memang bertiga bersama pengawal pribadi Bapak, dan Bapak Mawardi Yunus, kepala Jawatan agama Sawahlunto.

Akhirnya kami tahu juga bahwa para tokoh yang berunding malam-malam dengan Bapak sebelum tertangkap, ternyata nasibnya serupa tapi tak sama.
Bapak saya hilang tiada tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya.
Kol Zain Jatim konon tertembak oleh tentara pusat.
Paman Burhan Jusuf menyerah ke tentara pusat.

 

 

 

Bantuan dari Jawatan Sosial

Setelah Bapak ketangkap, kami semua kembali ke Talawi, ke runah kami.
Selama itu juga masih sering tentara Pusat datang ke rumah kami, mereka ingin mangambil semua barang kantor yang masih ada di rumah.
Pernah suatu ketika rumah saya didatangi tentara pusat dan menanyakan segala sesuatu kepada ibu dan ibu menjawab dengan ramah dan penuh wibawa.

Ada juga saya lihat, ibu mengembalikan beberapa alat tulis seperti mesin tik.
Menurut ibu barang-barang itu adalah milik negera maka harus dikembalikan.

Suatu ketika saya kesal melihat kelakuan tentara-tentara itu, mereka terlalu sering mendatangi rumah saya, lalu saya marah dan menggentak mereka.
ibu saya jadi khawatir, karena tentara itu marah dan mengancam saya.
ibu mengatakan kepada mereka dengan lembut dan sopan walaupun getir.
…..Maafkan pak, dia kan anak-anak, dia tidak mengerti dan takut.
Mereka jawab …..Kalau takut bukan seperti itu, diam sajalah !

Ibu dan adik saya tinggal di Talawi dan adik saya bersekolah di Talawi.
Saya melanjutkan pendidikan SMA di kota Sawahlunto.
Saya bersekolah di SMA di sana pada tahun 1959-1960.

Waktu itu berkat bantuan Pak Onga (suami adik Bapak), saya mendapat bantuan dari Jawatan Sosial Rp. 120.000,- per bulan.
Tiap bulan saya mengambil ke kantor Jawatan Sosial, lumayan untuk biaya sekolah.

Tapi tidak lama karena Mak Etek saya (adik ibu) yang bernama Lukmanulhakim, kebetulan juga anggota Angkatan laut yang tinggal di Jakarta, pulang ke kampung memohon kepada ibu, agar diizinkan untuk membawa saya ke Jakarta.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

Akhir 59

di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

 

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

 

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

 

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

( Am St Dt Soda)

ketika terjadi pergolakan PRRI tahun 1959, Tergugat – Tergugat telah

membawa tentara untuk tinggal di rumah gadang tersebut, dan disebabkan

karena suasana adalah suasana Pergolakan yang Penggugat- Penggugat tidak

ketahui kenapa Tergugat-Tergugat bisa membawa sekelompok Tentara tersebuttinggal di rumah gadang yang Penggugat dan Tergugat tempati tersebut. NamunTergugat I menempatkan sejumlah tentara perang tinggal di rumah Gadangtersebut adalah salah satu cara bagi Tergugat Tergugat I dan anggota kaumnyauntuk mengusir kaumTergugat tinggal dan menguasai rumah gadang tersebut.

 

Namun yang pasti keberadaan Tentara Tentara Perang masa PRRI itu tentu

membawa ketakutan bagi kaum Penggugat-Penggugat, sehingga mulai semenjakitu kaum Penggugat turun dari rumah dan mulai meninggalkan rumah gadanguntuk tinggal di rumah yang di bangun oleh masing masing anggota kaumPenggugat

 sumber info

 

P U T U S A N

No. 2225 K/Pdt/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

M A H K A M A H A G U N G

 

 

 

 

 

 

 

 

 

memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut

dalam perkara :

I a. SYAMSUL BAHRI DT. MUDO, bertempat tinggal di Jalan

Bunga Seroja No 47 RT 012/RW 05 Kelurahan Cipete, Kecamatan

Cilandak Jakarta Selatan, adalah Mamak Kepala Waris Dalam Kaumnya,

b. YUNIDAR MOERSYID, bertempat tinggal di belakang Komplek

Perumahan Pemda Gurun Lawas No. 2, Kecamatan Lubuk

Begalung, Kota Padang, adalah anggota kakak kandung sekaligus

kaum dari Tergugat I.A di atas,

II a. MARLIYUS, bertempat tinggal di RT 03/RW 04 Gurun Bagan

Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok,

b. FITRI NOVA, bertempat tinggal di RT 03/RW 04 Gurun Bagan

Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok, adalah

istri Tergugat II.a di atas,

III H. RUSLI CHATIB SULAIMAN, bertempat tinggal di Sinapa Piliang,

Kelurahan Sinapa Piliang, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, dalam

hal ini semuanya memberi kuasa kepada USPARDI, SH, Advokat,

berkantor di Jalan Raya Selayo KM.3, Solok, Padang, Kecamatan

Kubung, Kabupaten Solok,

Pemohon Kasasi dahulu Tergugat Ia, Ib, IIa, IIb, III/Para Pembanding;

m e l a w an

1 RAFAI SAMPONO MARAJO, bertempat tinggal di Jalan Latsitarda

No. 9 RT 03 / RW 02 Kelurahan VI Suku Kecamatan Lubuk Sikarah

Kota Solok, adalah Mamak Kepala Waris Dalam Kaum,

2 BUSRI DT. RAJO BUJANG, bertempat tinggal di Jalan Latsitarda No.

9 RT 03 / RW 02 Kelurahan VI Suku Kecamatan Lubuk Sikarah Kota

Solok, adalah adik kandung sekaligus anggota kaum Penggugat I di atas,

Para Termohon Kasasi dahulu Penggugat I dan II/Para Terbanding;

 

Bahwa berdasatkan kepada hal hal yang telah Penggugat Penggugat uraikan

tersebut, maka mohon kiranya Ketua atau Majelis Hakim putusan yang amarnya

berbunyi sebagai berikut:

1 Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya;

2 Menyatakan syah Penggugat I adalah Mamak Kepala Waris dalam kaum

Penggugat-Penggugat dan Tergugat I adalah mamak Kepala waris Dalam Kaum

Tergugat -Tergugat I;

3 Menyatakan sah harta perkara adalah merupakan harta pusaka tinggi kaum

Penggugat-Penggugat;

4 Menyatakan perbuatan dari Tergugat-Tergugat dan kaumnya yang

mensertifikatkan tanah perkara atas nama Hajjah Rawani adalah suatu Perbuatan

melawan Hukum yang sangat merugikan kaum Penggugat- Penggugat;

5 Menyatakan perbuatan dari Tergugat III yang memberi Rekomendasi kepada

Tergugat IV untuk lahirnya Sertifikat Hak Milik atas nama Hajjah Rawani (kini

almarhum) adalah suatu perbuatan melawan hukum;

6 Menyatakan perbuatan dari Tergugat IV yang menerbitkan sertifikat hak milik

yang di mohonkan Tergugat Tergugat I dan kaumnya atas nama Hajjah Rawani

adalah suatu Perbuatan Melawan Hukum yang sangat merugikan kaum

Penggugat-Penggugat;

7 Menyataklan Lumpuh kekuatan berlakunya (buitten Effekstellen) Sertifikat Hak

Milik No. 356 GS tanggal 29 Agustus 1992 No. 407/1992 atas Hajjah Rawani,

yang telah dibalik namakan atas nama Yunidar Moersyid (Tergugat A.l) dan Dra.

Martini ( kini almarhumah);

Menyatakan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi : I.a. SYAMSUL

BAHRI DT. MUDO, I.b. YUNIDAR MOERSYID, II.a. MARLIYUS, II.b. FITRI

NOVA, III. H. RUSLI CHATIB SULAIMAN, tersebut tidak dapat diterima;

Menghukum Para Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam

tingkat kasasi ini sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) ;

 

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung

pada hari SELASA tanggal 05 FEBRUARI 2013

 

oleh Prof. Dr. VALLERINE JL. KRIEKHOFF, SH., MA., Hakim Agung

 

yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai

 

 Ketua Majelis, Dr. HABIBURRAHMAN, M.Hum.,

dan H. DJAFNIDJAMAL, SH., MH., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota,

 

 dan diucapkan dalamsidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim –

 

Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh NAWANGSARI, SH., MH., Panitera

Pengganti dengan tidak dihadiri oleh kedua belah pihak ;

Hakim-Hakim Anggota :

 

K e t u a :

Ttd/ Dr. HABIBURRAHMAN, M. Hum. Ttd/

Ttd/ H. DJAFNI DJAMAL, SH., MH. Prof.Dr. VALERINE JL. KRIEKHOFF, SH., MA

Biaya-biaya : Panitera Pengganti :

1 M e t e r a i ……………… Rp. 6.000,- Ttd/

2 R e d a k s i ……………..Rp. 5.000,- NAWANGSARI, SH.,MH

3 Administrasi kasasi …….. Rp.489.000,-

Jumlah ………………….. Rp.500.000,-

Untuk Salinan

Mahkamah Agung RI

a.n. Panitera

Panitera Muda Perdata

 

 

1960

 

Tahun 1960, saya berangkat ke Jakarta bersama Mak Etek.
Karena Mak Etek itu memakai baju tentara, maka saya diisukan di kampung bahwa saya dibawa oleh tentara Pusat !

Diskriminasi untuk anak ex. PRRI di SMA Budi Utomo Jakarta

Saya dimasukkan ke SMAN I Budi Utomo Jakarta.
Ternyata cukup banyak juga anak-anak ex-PRRI yang bersekolah disitu.
Karena kami sudah berantakan, namanya saja kami anak-anak yang datang dari daerah bergolak.

SMA I Budi Utomo ketika itu adalah sekolah yang terpopuler dan terbaik di Jakarta.
Untuk bisa mengikuti pelajaran saya terpaksa mengambil kursus ekstra.
Di SMA Budi Utomo saya mendapat kesempatan belajar seperti siswa lainnya, dan kamipun dapat meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Kira-kira 2 bulan sebelum ujian, semua siswa disuruh mengembalikan buku yang dipinjam.
Kamipun dengan patuh mengembalikan buku-buku itu hanya siswa terheran-heran, kita mau ujian kok disuruh mengembalikan buku.

Ternyata pengembalian buku itu adalah adalah satu tahapan, untuk mengeluarkan kami siswa eks PRRI oleh kepala sekolah.
Tidak lama setelah urusan buku selesai, kami siswa eks PRRI dipanggil dan diberi surat, agar kami semua siswa eks PRRI disuruh pindah kesekolah lain.

Konon sang kepala sekolah takut nanti, kami-kami siswa eks PRRI tidak akan lulus dan dapat menjatuhkan prosentasi kelulusan sekolahnya.
Ini adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.
Mereka hanya mempertahankan nama sekolahnya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba tante saya Rostinah mengirimkan tiket garuda pulang pergi untuk saya, saya disuruh datang ke Tanjung Pinang.

Sampai di Tanjung Pinang, setelah berunding dengan abang saya yang tadinya di Medan, kebetulan juga sedang beada di Tanjung Pinang.
Diputuskan kalau saya sekolah saja dan menamatkannya SMA di Tanjung Pinang.

Berarti saya harus mengulang di kelas III B, dan selama 1 tahun saya di Tanjung Pinang, mengikuti ujian dan lulus pada tahun 1961.
Dari kejadiaan semacam ini jelas sekali bahwa sekolahpun takut sama anak-anak PRRI.
Namun apakah mereka sadar bahwa reformasi yang kita gulirkan pada tahun 1998 itu adalah perjuangan PRRI, 40 tahun yang lalu ?

Artinya dibalik kesedihan kami, terselip suatu kebanggan menjadi orang Minang yang tahu dengan heriang jo gendiang, alun takilek alah takalam, merasa malu kalau tidak pandai dan pandai memprediksi jauh ke depan.
Inilah barangkali berkat filosofi urang Minang
Alam takambang manjadi guru, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (AlQuran).

Selama di kota Tanjung Pinang saya tinggal dengan tante saya, uang sekolah dibayari oleh abang saya.
Saya masuk SMA Negeri jurusan B.
Kebetulan saya hanya satu-satunya perempuan dalam kelas saya.
Dengan modal nekat serta uang pemberian Abang, saya cari tiket kapal laut untuk berangkat ke Jakarta.
Dalam pelayaran di atas kapal laut, saya dititipkan kepada teman pak Etek Azwaer Rauf (suami Etek saya Rostinah).

Dengan berbagai usaha akhirnya saya berhasil masuk Pertguruan Tinggi Fakultas Pertanian UI, yang sekarang berubah menjadi IPB.

Enam bulan pertama saya dibantu oleh tante saya untuk bayar indekos.
Untung setelah itu saya dapat asrama Yayasan, dan biaya lumayan agak ringan, Selama setahun saya dibantu oleh mak Etek saya.
Setelah itu saya diberi biaya ikatan Dinas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tak lama kemudiaan saya masuk asrama putri IPB.

Abang saya membantu menguruskan pensiun untuk ibu karena Bapak memang seorang anggota pegawai negeri.
Beberapa tahun kemudian ibu mendapat uang pensiun, dan ibu saya minta kerelaan kepada saudara saya, mengikhlaskan uang pensiun semuanya dikirimkan untuk saya.
Itu tentang saya, tentang kakak dan tentang adik-adik saya, disekolahkan oleh ibu, kebetulan kakak saya yang perempuan tertua sudah menjadi guru.

 

 

Kakak saya perempuan yang kedua dapat masuk SGA di Bukittinggi.
ibu saya relatif masih muda saat ditinggal oleh Bapak, tanpa ada harta atau simpanan untuk menyekolahkan anak-anak.
ibu yang berumur 45 tahun, yang menjadi janda, mencari uang untuk biaya hidup dan sekolah saudara-saudara saya dengan membuat dan menjual kue-kue.

Membuat Kacang Tojin yang ditumpangkan di kedai-kedai serta menjadi perias penganten, yah apa sajalah yang dapat menghasilkan uang.
Memang tidak mudah, kadangkala ibu mengantarkan kue-kue itu ke kedai yang lumayan jauh dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
Kakak saya perempuan yang paling tua bernama Zoerni, untung masih mau tinggal dan menjadi guru di kampung, sehingga bisa mendampingi ibu dalam mangarungi hidup.

Jasa kakak Zoerni ini cukup besar dan saya bersaudara sangat berterima kasih kepada beliau.
Disamping itu juga sekali-sekali biaya hidup dibantu oleh abang saya yang bernama Imran.

Itulah suatu perjuangan ibu saya, tidak mudah dan tidak lancar, tetapi dapat dilewati.
Perjuangan yang memerlukan keteguhan hati.
Semua itu dijalani dengan lapang dada.
ibu berprinsip, yang penting semua anak-anaknya sekolah dan kebetulan menjadi pegawai negeri.

Karena ibu saya mempunyai pemikiran yang moderen, bagi beliau merasa penting untuk memberikan pendidikan kepada anak anaknya.
Bagi ibu saya, semua anak-anak perlu mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain atau tidak menyusahkan orang lain.
Bapak hilang tak tahu rimbanya, hanyut tak tahu muaranya

Kalau dipikir, kenapa tujuan PRRI itu sangat bagus, akan tetapi malah menimbulkan perang saudara.
Perang yang menimbulkan banyak sekali kerugian, baik fisik, materi maupun sumberdaya manusia.
Sangat banyak cendekiawan Minang yang menjadi korban, belum lagi korban calon intelektual Minang, bahkan korban sosial budaya yang tidak terukur nilainya.

Karena perang saudara pasti memakan anak sendiri, hilangnya satu generasi.
Bapak saya, orangnya sangat jujur, disiplin dan rajin serta penuh tanggung jawab.
Beliau sangat disegani di kampung saya.
Oleh karena itu ketika zaman pendudukan tentara Jepang, konon bapakku disayang dan dipercaya oleh bosnya.

Bapak tak jadi ditembak Belanda, karena beliau tokoh Adat

Sewaktu zaman Belanda agresi ke 2, bapakku ditangkap oleh Belanda.
Beliau ditodong dengan senjata, bapakku pasrah kepada Allah.
Ternyata Allah berkehendak lain, sebelum ditembak, Bapak digeledah dan menemukan identitas bahwa Bapak adalah seorang tokoh adat.
Alhamdulillah akhirnya dibebaskan.
Tetapi di zaman PRRI kenapa Bapakku sudah ketangkap dan dipenjarakan oleh tentara pusat, malah hilang tidak tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya…!
Wallahuallam.

Salah satu masalah yang membuat ibu sedih adalah rusaknya rumah gadang berukir yang sudah tua.
Kerusakan itu dipercepat karena rumah gadang itu dijadikan asrama oleh tentara pusat.
Didepan rumah gadang kami dulunya ada Balai-Balai.
Tapi kini Balai-Balai itu juga sudah tiada, dan berganti dengan rumah biasa.

Rumah Gadang kami sudah dibangun kembali, tanpa ada Balai-Balai, tapi tiada yang memelihara dengan baik.
Ini karena pada umumnya keluarga kami sudah merantau.

Sekarang hanya tinggal 2 keluarga di kampung.
Satu kampung itu bernama Patapang Gurun, kampung yang strategis di desa kami, peninggalan nenek-nenek kami.
ibu saya sangat risau dengan Rumah gadang, dan beliau selalu berpesan agar rumah gadang dipelihara baik-baik.
Karena ibu tahu bahwa rumah gadang itu merupakan lambang keluarga besar dan diharapkan dapat mempersatukan keluarga besar.

Memang sudah sepantasnya ibu saya mendapat penghargaan.
ibu tinggal di kampung, sewaktu mudanya tidak boleh melanjutkan sekolah ke rantau oleh bapaknya karena bapaknya seorang
angku palo, jadi tidak boleh anak gadisnya pergi merantau.
ibu menikah dengan Bapak saya, yang sebelumnya tidak kenal.
Hal semacam ini terjadi karena suami adalah pemberian dari orang tua.
Bapak saya juga pernah menjadi angku palo di Sijantang Talawi.

Ketika ibu ditinggal suami, sedangkan anak yang perlu diurus enam orang perempuan yang memerlukan biaya besar.
Untung saja ibu tinggal di kampung, biaya rumah, makan tidak masalah.
Bapak sudah membuatkan rumah untuk kami.
ibu punya sawah ladang sendiri.
ibu pernah mendapat penghargaan sebagai ibu teladan di kampung sampai dua kali dari Kecamatan, sayangnya penghargaan itu tidak ada sertifikatnya.
Alangkah baiknya bila sertifikat itu ada, dapat dilihat-lihat oleh anak, cucunya nanti di kemudian hari.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

 

 

30 Januari  1960

 

dokumen tentang

 PRRI menyerang POS Brimbob di KUNTU lengkap dengan skets situasinya

Dokumen Polisi Negara Mobile Brigade Kompi  5135 Komisariat RIAU

Berita Atjara/Laporan

Pada ini hari kamis tanggal 27 oktober 1900 enam puluh djam 11.00 siang                     saya Boeang Ngadiman Pangkat Adjudan Inspektur Polisi Tingkat I ,register no 2767 ,dewasa ini sementara pada Mobile Brigade Kompi 5135 di Pakan Baru, ,emerangkan dengan sesungguhnya bahwa:

Sewaktu saja mendjabat Komanda Sub.Sektor B.II Kuntu,maka pada hari Sabtu tanggal 30 Djanuari 1960 kira-kira djam 08.00 pagi Pos Kuntu diserang oleh pihak gerembolan PRRI dan dapat diduduki oleh mereka.

Maka setelah kami mengadakan konsolidasi ternjata seorang anggota Mobile Brigade Kompi 5135 nama Soedardjo Pangkat Agen Polisi tidak ada(hadir).

Setelah kuntu kami rebut kembali tanggal 9 januari 1960, maka diadakan penjelidikan/mentjari anggota tersebut ternjata tidak ada ketemu.

Oleh Karena anggota tersebut tidak ada di Kuntu kemudian kami mengadakan penjelidikan(opsporing)/usaha mentjarinya ternjata  tidak ada hasilnja.

Berhubung jangka waktunya  telah liwat enam bulan  hingga sekarang belum djuga kembali, maka hal mana kami njatakan hilang.

Demikianlah Berita atjara/Laporan ini kami perbuat  dengan lurus  dan sebenarnja  serta ingat sumpah djabatan,ditutup dan di tanda tangani di Pakan baru pada tanggal 2 Oktober 1960

Jang membuat berita Atjara/Laporan

Tanda tangan

(Boeang Ngadiman)

Mengetahui

Komandan Mobile Brigade

Kompi 5135

Inspektur Tingkat Satu(R.Imam Wahono)

 

 

 

Lampiran gambar skets penyerangan pos kuntu

(Dr Iwan)

 

8 Pebruari 1960

 

Proklamasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) dikumandangkan hari ini. Proklamasi RPI ini tertunda semenjak tanggal 17 Agustus 1959.

Presiden merangkap Perdana Menteri RPI adalah Sjafruddin Prawiranegara dengan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) adalah Muhammad Natsir. Dalam pasal 3 UUDnya disebutkan bahwa wilayah negaranya “meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia 17 Agustus tahun 1945”.

Tujuan RPI ini adalah untuk mempersatukan PRRI/Permesta dengan DI/TII Daud Beureuh di Aceh dan DI/TII Kahar Mudzakkhar di Sulawesi Selatan.

Benderanya tetap merah-putih, namun ada sejumlah bintang di tengah yang mana setiap bintang melambangkan masing² pemberontakan (negar-bagian) saat itu yang berada di bawah RPI.

KSAD RPI Brigjen Ventje Sumual menunjuk Henk Lumanauw sebagai Wali-Negara RPI untuk Sulawesi Utara. RPI ini ditentang dengan keras oleh Waperdam PRRI / Kepala Pemerintahan PRRI di Sulawesi Joop Warouw serta Panglima Besar APREV Alex Kawilarang.

Dalam pengumumannya, Ketua Badan Pekerja Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) Permesta, Henk Rondonuwu menolak RPI ini. Meskipun RPI ini telah berdiri, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa – Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT RI secara resmi dan dihadiri oleh tokoh² militer dan sipil Permesta. Sedangkan oleh pihak perwira Permesta di sebelah utara seperti Mayjen Alex Kawilarang, Kolonel D.J. Somba, Letkol Wim Tenges, menolak RPI ini, apalagi mengibarkan bendera baru (RPI) di wilayahnya dan tetap memakai lambang² NKRI seperti Pancasila dan Merah Putih dalam logo maupun atribut lainnya. Distrik/WK-III dibawah komando Letkol Wim Tenges memiliki hampir separuh kekuatan pasukan Permesta, dan merupakan WK yang paling kompak dan disiplin dari antara WK lainnya.

Masalah RPI ini berbeda dengan PRRI. Ka

lau PRRI hanyalah kabinet tandingan, maka RPI lebih merupakan negara dalam negara (negara tandingan). Hal ini memperkuat anggapan sementara orang bahwa gerakan daerah ini adalah gerakan separatisme. Menurut pandangan para pemimpin PRRI dan Permesta, RPI yang lebih banyak merupakan gagasan tokoh² politik, direncanakan sebagai taktik dalam perjuangan PRRI.
Usia RPI sejak direncanakan untuk kemudian diproklamasikan pada September/Februari 1960 hanya 2 tahun.

(panguyuban Pulukadang web blog)

 

10 Maret 1960

Pada tahun 1975 saat bertugas di Solok sepagai Perwira Kes Polda SUMBAR dengan pangkat Letnan satu Polisis ,saya memelihara dan menganti oli keandaraan Dinas saya Jeep Willys tahun 1950 kepala tinggi ex perang Korea di bengkel Polda SUMBAR(saat itu masih KOMDAK) di belakang bengkel kereta api jalan sawahan Padang, saya menemukan beberapa dokumen dari kertas bekas milik Brimob yang ditaruh didalam kardus sebagai kertas bekas, antara lain menemukan

Dokumen Brimbob dari Komando Mobil Brigade Daerah enam Sumatera barat dan RIAU yang meminta pengantian Sepatu untuk Pasukan Rangers dari SPM Porong sebagai berikut.:

Pasukan rangers dari SPMB Porong ,mulai tanggal 10 maret sampai Oktober 1960 telah menjalankan tugas selama tujuh bulan sebagai “Pengempur” di Komda (Komando Mobil brigade_ daerah VI Sumatera Barat dan RIAU pasukan di tempatkan diwilayah KODIM Padang dan kemudian dipindahkan ke daerah RTP III Sukaramai dan Lintau,dan dari daerah Sumatera Barat juga mempertahankan daerah RIDAR(Riau Daratan),lapangan tempat mereka bertugas merupakan daerah rawa dan hutan serta pegunungan sehingga sepatunya lekas rusak. Dan hancur oleh karena itu diminta pengantiannya.

Menginggat Beratnya tugas dari Ton(Peleton) Ranger yang terus-terusan mengadakan pengempuran di tempat-tempat Gerembolan sehingga sepatu yang mereka pakai telah hancur sebelum mencapai waktunya (enam bulan) disulkan agar 34(tiga puluh empat) sepatu dstnya.

Lihatlah dokumen asli tersebut dihalaman berikut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maret 1960

Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.

Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao.

Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.

Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.

Sumber nagari web blog

 

 

 

Maret 1960

Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.

Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao.
Kini terjadi lagi penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
Duduk kejadian adalah sebagai berikut

Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.

Seperti nagari Tabek Patah, Malintang, Salimpaung, Mandahiling Lawang, Situmbuk, Komango, Pasir Lawas, Sei Tarab dan Tiga Batur.
Semua murid lebih kurang 150 orang.

 

Sumber

Epy Buchari

Tambahan informasi

gabungan yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958.

2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai Bukittinggi 21 Mei 1958.

3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara dipimpin oleh Brigjen

Jatikusumo.

4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu

Sutowo.

Sedangkan untuk menumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan

3Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol Rukminto Hendraningrat, yang terdiri

dari :

Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin oleh

Letkol Sumarsono.

Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin oleh

Letkol Agus Prasmono.

Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado, dipimpin

oleh Letkol Magenda.

Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol

Rukminto Hendraningrat

 

Pemberontakan Dewan Banteng yang dipimpin oleh Ahmad Husein akhirnya dapat  dipatahkan oleh Angkatan Perang Republik Indonesia yang melakukan “Operasi 17 Agustus”di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu kurang lebih satu minggu. Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat itu, dengan sendirinya menimbulkan kekacauan, baik terhadap pemerintah daerah, maupun terhadap kehidupan dalam masyarakat, setelah Ahmad Husein mengambil alih fungsi Gubernur Roeslan Muljodihardjo, yang diangkat oleh pemerintah Pusat di Jakarta. Kabinet Karya yang dipimpin

Ir. Djuanda memutuskan pengiriman misi yang dinamakan “Misi Pemerintah untuk

Normalisasi Pemerintah dan Masyarakat Sumatera Barat”. Misi Pemerintah yang dipimpin Wakil Perdana Menteri I Hardi, SH yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa menteri, pejabat-pejabat tinggi dari departemen-departemen dan beberapa perwira Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat, tiba di Padang, satu hari setelah operasi militer dianggap berhasil.

Berkat operasi militer yang cepat, niat luar negeri, khususnya Amerika Serikat untuk campur tangan dalam masalah dalam negeri Indonesia secara terbuka, dapat dihindari.

 

P.R.R.I

 

di nagari Manggopoh
Naskah asli oleh : Deka Maita Sa
Diedit ulang tg. 20 – 9 – 2012 oleh : DR. Mestika Zed, Abraham Ilyas, Drg.

Manggopoh tidak mudah ditaklukkan tentara Soekarno

Dua tahun setelah dimulai
Tujuan perang belum tercapai
Walau ke Manggopoh telah sampai Kedua pihak intai-mengintai

Ketika APRI pergi menyerbu
Penunjuk jalan sangat perlu
Dulah Palak sedia membantu
Saat menyusuri Batang Tiku

Dulah Palak telah berjasa
Kepada Pusat Pemerintah Jakarta
Dia disebut sebagai mata mata
Dulah berpihak kelompok berbeda

Walau tak disepakati Ninik Mamak
Pilihan berbeda dipilih Palak
Kepada APRI Dulah berpihak
Niat di hati susah ditebak

Balas jasa dari APRI
Setelah Pusat menguasai nagari
Dulah diangkat sebagai Wali
Begitulah manusia menyalurkan ambisi

Karena belajar peta situasi
Musuh mengubah konsep strategi
Nagari perlu segera diduduki
Tahun 60 perubahan terjadi

Sesudah tahun enam puluh
APRI gunakan kekuatan penuh
Pertahanan PRRI banyak yang jatuh
Kini nagari diduduki musuh

Guna menduduki daerah musuh
Akhir Mei tahun enam puluh
APRI bergerak secara penuh
Memakai truk berpuluh puluh

Operasi Katenggang mereka namakan
Berjalan kaki, naik kenderaan
Jumlahnya banyak mungkin ribuan
Bersenjata berat maupun ringan

Tentara Pusat sangat berpengalaman
Sudah dewasa ada yang jenggotan
Veteran perang zaman kemerdekaan
Menghadapi TP bukanlah padanan

Sukarelawan PRRI pemuda remaja
Periode asuhan ayah bunda
Senang bergelut sambil bercanda
Kini terpanggil menyelamatkan bangsa

Dalam pertempuran di saat perang
Terjadi kelahi tidak seimbang
Hanya bermodal besar karengkang
Melawan APRI yang telah matang

Ibarat cerita berakhir sedih
Meskipun senjata sudah canggih
Ketika bertempur belum dilatih
Kurang disiplin, kerap berdalih

H. Korban berjatuhan pada rakyat sipil

Wali Perang Datuk Rangkayo Hitam
Beliau mengingatkan ajaran Islam
Masyarakat jangan menyimpan dendam
Semua sengketa diakhiri salam

Kewajiban pemimpin sejak dahulu
Pemuka masyarakat, para Pangulu
Tempat bertanya, tempat mengadu
Kemenakan dibimbing, anak dipangku

Sahabuddin Datuk Rangkayo Hitam
Ibarat pelita di tempat yang kelam
Sumber informasi bagi yang awam
Karena masyarakat banyak tak paham

Sahabuddin menjabat wali nagari
Sebagai sumber bermacam informasi
Guna mendukung perjuangan PRRI
Menyelamatkan negara, membela nagari

Bukan karena hambatan musim
Informasi belum menjadi sistim
Sarana komunikasi sangat minim
Kabar berita sulit dikirim

Sebagai Wali punya kewajiban
Mengatur nagari dan anak kamanakan
Agar bersatu tidak terceraikan
Ibarat sapulidi, satu ikatan

Dalam situasi perang saudara
Dendam lama sangat berbahaya
Bisa terjadi kehilangan nyawa
Masalah kecil besar akibatnya

Saat perang kerap terjadi
Dendam lama dan sakit hati
Termasuk urusan masalah pribadi
Akibatnya fatal ngeri sekali

Kejadiaan si Akuik mati ditembak
Dia salah mengikuti kehendak
Janda gerilyawan yang dia ajak
Dijadikan isteri menurut syarak

Walaupun syah menurut aturan
Hukum perang tiada kepastian
Yang lemah langsung ditelan
Yang kuat berlantas angan

Kisah cinta membawa getir
Kini menjadi buah bibir
Jasad si Akuik ditimbun pasir
Di tepi sungai tenang mengalir

Saat menunggu pondok di ladang
Di tempat sepi keadaannya lengang
Mak Cangkuah ditimpa malang
Anak beranak dibunuh orang

Walau Cangkuah tidak terlibat
Mendukung PRRI ataupun Pusat
Nasib sial tetap mendekat
Begitulah derita menimpa rakyat

Kejahatan perang perlu didaftar
Dangau Mak Cangkuah juga dibakar
Mencari pelaku sangatlah sukar
Sampai kini tak pernah terbongkar

Agar gerilyawan segera kembali
Isteri disuruh membujuk suami
Rumah diberi bertanda kali
Nama dituliskan jelas sekali

Nama ditulis di dinding rumah
Hurufnya hitam atau merah
Tanda keluarga ada yang bersalah
Menjadi pemberontak melawan pemerintah

Isteri juga wajib melapor
Sekali seminggu datang ke kantor
Ini bukan cerita rumor
Begitulah Soekarno menebar teror

Oleh tentara berwajah seram
Pertanyaan diberikan macam macam
Di mana suami kini berdiam
Apakah pernah pulang malam

Di book istilah dari penguasa
Maksudnya isteri dijadikan sandera
Ketika malam nginap di pos jaga
Setelah pagi kembali ke keluarga

Peraturan kejam, aneh sekali
Perbuatan cemo di adat nagari
Perempuan tidur di dalam tangsi
Bayi di rumah ditinggal sepi

Karena suami belum tertangkap
Di Pos tentara isteri menginap
Tidur kedinginan di kamar gelap
Sering menangis disertai ratap

Ini kejahatan luar biasa
Rezim Soekarno punya dosa
Adat nagari mereka perkosa
Perlu diingat anak bangsa

Datuk Soda meninggalkan pesan
Untuk diingat anak kemenakan
Dosa Soekarno bisa dimaafkan
Kesalahan rezim tak boleh dilupakan

I. Asal mula pelanggaran Hak Azasi di Indonesia

Ketika Manggopoh diduduki APRI
Banyak penduduk pergi mengungsi
Rimba Antokan berhutan Kopi
Tempat ijok paling disukai

Waktu APRI menempatkan serdadu
Pos didirikan di Balai Sabtu
Markas diberi pagar bambu
Penduduk bimbang mulai ragu

Inilah kisah pasca PRRI
Ceritanya penuh dengan ironi
Walau dikeluarkan amnesti abolisi
Tapi Soekarno tidak menepati

Ketika OPR naik bintang
Rakyat ketakutan bukan kepalang
Salah sedikit kena lampang
Kalau membantah tinju melayang

Asal mulanya pelanggaran Hak Asasi
Saat penguasa lakukan interogasi
Lampang melampang selalu terjadi
Terhadap tertuduh ataupun saksi

OPR bertindak over akting
Susah diajak untuk berunding
Karena butahuruf, gembala kambing
Kini diberi peranan penting

Begini kebiasaan raja memerintah
Dilarang bertanya, haram membantah
Kalau menghadap wajib menyembah
Pemimpin dan rakyat perlu dipisah

Ketika pemerintahan tidak cocok
Orang Minang menjadi syok
Tiada kekuasaan yang dipandang elok
Banyak terjadi sogok menyogok

 

Mei 1960

 

 

Peristiwa Penarik, Muko – Muko, 1960

Peristiwa ini diangkat dari pertempuran antara dua peleton pasukan dari kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Suwandi (Danton II) dan Aiptu Soepeno (Danton III) dengan satu Batalion PRRI/Permesta.

Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori beberapa perwira menengah AD di Sumatera. Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta.


Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan Operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus.

Pada akhir 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak menyerah.

Namun demikian, sampai tahun 1961 banyak sisa pasukan PRRI. Salah satunya batalion dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera. Batalion ini dipersenjatai senjata bantuan Amerika Serikat pada awal 1958.

Para prajurit infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garand, M1 US Carbine, Thompson submachinegun, serta mortir 60mm dan 80mm. Menurut nara sumber dari Kompi A Brimob Rangers, Carbine mereka dari versi jungle popor lipat, yang berarti adalah M1A1 versi paratrooper.


Dua peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan Pantai Ipuh pada Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801.

Seperti standar pendaratan operasi ampibi, diawali tembakan senapan mesin 12,7mm dari kapal pendarat.

Setelah penembakan baru satu kompi Brimob Rangers mendarat. Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk membantu Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya dibantai oleh Batalion Nawawi.

Satu Batalion Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari PRRI.

Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan didalam markas hanya tinggal tesisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.


Pasca pendaratan,

dua kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di Kecamatan Ipuh.

Mereka kemudian bergabung dengan satu Batalion TNI AD dari Bangka Belitung dibawah komando Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak lima kilometer di depan infanteri.

Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalion Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama. Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak.

Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “istirahat makan…….!!!”.

Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu.

Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga percuma juga untuk menyerang.

Selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.

Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, muko-muko (saat ini menjadi daerah transmigran).Pada jam 5 sore, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan di tengah hutan.

Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan. Setelah melapor kepada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata kompi staf batalion dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat.

Musuh yang beristirahat diperkirakan 300 orang, sedang menunggu giliran menyeberang sungai. Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang.

Pada saat itu (1960) Brimob Rangers yang menggunakan Carbine, submachinegunCarl Gustav dan Bren MK3.

Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh danton sebaik mungkin. Kemudian Danton memberikan komando, tembak….!!!

Desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan. Pada tembakan magasen pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai teori.

Namun pada magasen kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.

Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 m, namun yang terjadi kemudian adalah pertem-puran jarak dekat.

Jarak antara Brimob Rangers dan musuh menjadi sekitar 5-6 m. Pertempuran yang terjadi tanpa garis pertahanan.

Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak pewira tewas.

Tentara PRRI dengan perlengkapan lengkap yaitu Bazooka berhasil melepaskan beberapa tembakan dan memakan korban Agen Polisi Suharto yang terkena pecahan peluru Bazooka di punggungnya.

Korban lain adalah Brigadir Fattah yang terkena tembakan pada kakinya. Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena kelelahan.

Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan petempuran.

Beberapa menit setelah kontak selesai, dua orang anggota pasukan PRRI melakukan perembesan masuk ke daerah pertahanan peleton III dengan membawa senjata Garand.

Bigadir Ketut Wahadi, Danru 1 Peleton III yang mengetahui hal itu, spontan membidikkan senjata Jungle-nya dan dua tembakan dilepaskan tepat mengenai kepala kedua tentara PRRI. Anggota regu 1 lain mengambil posisi tiarap dan menunggu penyusup lain, ternyata tidak ada tentara PRRI yang menyusul, hanya dua prajurit malang itu.

Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan sekitar 10 perwira tewas. Senjata yang diringgalkan adalah puluhan M1 Garand, mortir dan Bazooka.

Para anggota peleton 1 lega, karena musuh hanya sebentar menggunakan senjata tersebut. Jika senjata digunakan secara optimal ceritanya bisa lain. Agen Polisi Kartimin terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak.

Dalam pertempuran ini tidak ada satupun prajurit Brimob Rangers tewas, hanya dua korban luka Selanjutnya korban luka dibawa ke Palembang untuk perawatan.
(anton a setyawan)

 

 

 

KISAH SATUAN PELOPOR BRIMOB -PERISTIWA PENARIK, MUKO-MUKO, PERTENGAHAN TAHUN 1960

“Hasil wawancara dengan mantan anggota Kompi A Brimob Rangers. Mei 2008″

 

Brimob di Aceh

Peristiwa pertempuran antara dua peleton pasukan dari Kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Ketut Wahadi dengan satu batalyon pemberontak PRRI/Permesta.

Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori oleh beberapa perwira menengah Angkatan Darat di Sumatera.

Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta. Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus.

Pada akhir tahun 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak yang menyerah. Namun demikian, sampai dengan tahun 1961 banyak sisa pasukan pemberontak PRRI.

Salah satunya batalyon yang dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera.

Batalyon ini dipersenjatai dengan senjata-senjata bantuan dari Amerika Serikat pada awal 1958.

 Para prajurit Infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garrand, M1 Karabin (Jungle Lipat), senjata otomotatis Thompson, senjata berat mortir 60 mm dan 80 mm. 2 peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan pantai Ipoh pada bulan Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801.

 

Seperti standar pendaratan operasi ampibi, pendaratan diawali dengan tembakan senapan mesin 12,7 dari kapal pendarat untuk memastikan tidak ada pemberontak yang menguasai pantai.

Setelah penembakan dilakukan, baru satu kompi pasukan Brimob Rangers mendarat dengan aman.

Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk memback up Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya di bantai oleh batalyon Nawawi.

 Satu batalyon Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban yang sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari pemberontak PRRI.

Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan di dalam markas hanya tinggal tersisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.

Pasca pendaratan 2 kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di kecamatan Ipoh.

 Mereka kemudian bergabung dengan satu batalyon TNI AD dari Pekanbaru dibawah komando Letkol Dani Effendi.

Oleh Danyon Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak 5 kilometer di depan Batalyon Infanteri.

Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalyon Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama.

Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak. Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “Istirahat makan….!!!”.

Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu. Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga kesulitan untuk menyeberang, selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.

 Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, Muko-Muko (saat ini menjadi daerah transmigran).

Pada jam 17.00, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan ditengah hutan. Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan.

Setelah melapor pada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata Kompi staf batalyon dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat.

 Musuh yang beristirahat diperkirakan berjumlah 300 orang, mereka sedang menunggu giliran menyeberang sungai.

Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang.

Pada saat itu (tahun 1960) Brimob Rangers menggunakan senjata M1 karabin (jungle riffle), sub-machine gun Carl Gustav dan bren MK3. Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh Danton sebaik mungkin.

 Kemudian, danton memberikan komando,tembak….!!!maka desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan.

Pada tembakan magasin pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai dengan teori.

Namun pada magasin kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.

Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 meter, namun yang terjadi kemudian adalah pertempuran jarak dekat. Jarak antara pasukan Brimob Rangers dan musuh hanya sekitar 5-6 meter.

Pertempuran yang terjadi tanpa ada garis pertahanan. Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak perwira yang tewas.

Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena anggota pasukan kelelahan.

Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan pertempuran.

Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan ada sekitar 10 perwira yang tewas.

Senjata yang ditinggalkan adalah puluhan M1 Garrand (pada awal 60-an senjata ini dianggap sangat canggih), mortir dan bazooka. Para anggota peleton 1 Brimob Rangers lega, karena musuh tidak sempat menggunakan senjata-senjata tersebut. Jika senjata itu digunakan ceritanya bisa lain.

Agen Polisi Kartimin, terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak. Dalam pertempuran ini tidak ada satu pun prajurit Brimob Rangers yang menjadi korban.

Sumber : Bung Rudy79 (ForMil KasKus)

Pertengahan 1960

1960 pertengahan tahun
APRI menyusun sebuah kekuatan
Untuk menyerang nagari Paninggahan
Pertempuran sengit tidak terelakkan

Di Lawang jorong Subarang
Jalan sepi suasana lengang
Saat subuh berangsur terang
Terjadi pertempuran yang agak seimbang

Tentara Pusat muncul dari Saningbaka
Bersenjata lengkap bertopi baja
Berjawah tegang selalu curiga
Berpakaian loreng bewarna warna

Naik truk dan berjalan kaki
Jumlah banyak dua kompi
Mortir ditembakkan berkali kali
Bom meletus keras sekali

Malang tak bisa ditolak
Mujur tidak mungkin sekehendak
Kamandan kompi mati tertembak
Prajurit marah berteriak teriak

Kita harus menuntut balas
Pemimpin pasukan telah tewas
Kematian ini tidak pantas
Musuh perlu wajib dilibas

Untuk membalas rasa dendam
APRI beroperasi diam diam
Masuk hutan ketika malam
Lalu mengintai berjam jam

Bagi pejuang di rimba hutan
Lakasi persembunyian terasa aman
Sifat waspada sering dilupakan
Di situ terjadi celaka badan

Sersan Yance bernasib malang
Pemuda Ambon yang rajin sembahyang
Menerima takdir bernasib malang
Ditembak Apri dari belakang

Sudah kehendak Yang di Atas
Yance tertembak langsung tewas
Ada jasanya yang sangat jelas
Perlu dihargai secara pantas

Perlu dihargai diberi acungan
Yance berpikir masalah kelangsungan
Bidang pendidikan jadi usungan
Dia merintis Sekolah Penampungan

Bidang Pendidikan selama PRRI

Walau perang sedang berlangsung
Bidang pendidikan tetap dianjung
Ada SMP, SMA Penampung
Letak lokasi di tengah kampung

Sekolah terletak di jorong Subarang
Banyak gurunya pengungsi pendatang
Tiada digaji menerima uang
Mereka termasuk kelompok pejuang

Ada yang aneh pernah terjadi
Madrasah Paninggahan dibakar APRI
OPR mencegah dinyalakan api
Baiknya madrasah ditarik tali

Dalam buku banyak ditulis
Cita cita kaum Komunis
Semua penduduk disuruh Ateis
Sekolah agama dibuang habis

Tentara membentak dengan angkuh
Ustadz dan guru diusir menjauh
Mereka takut, semuanya patuh
Tiada yang protes atau mengeluh

Menurut info berbagai sumber
saat Komunis melibatkan militer
Letkol. Untung dijadikan kader
Sifatnya rahasia, tak boleh pamer

Dengan tali buatan pabrik
Tiang madrasah ketika ditarik
Terdengar bunyi berderik derik
Bangunan miring tampak menarik

OPR berpikir menggunakan nalar
Kalau madrasah sampai terbakar
Semuanya hangus termasuk tikar
Tiada tersisa walau selembar

Mereka berharap sungguh sungguh
Agar madrasah segera rubuh
Kayunya dirampas dibawa jauh
Sebagai jarahan harta musuh

Kalau madrasah rubuh berantakan
OPR berharap merampas papan
Niat yang buruk tidak kesampaian
Bangunan tak rubuh tetap bertahan

Kini sekolah tampak miring
Bangunannya condong ke arah samping
Masih utuh atap dan dinding
Bukti sejarah yang sangat penting

Korban berjatuhan di sekitar danau nan indah

Try Sutrisno kalau diceritakan
Di zaman Orba punya jabatan
Pernah ditugasi oleh komandan
Di nagari Kacang, seberang Paninggahan

Di nagari Kacang dekat Tikalak
Try dianggap sebagai anak
Karena dia berlaku bijak
Kalau bicara terasa enak

Dari Kacang terlihat jelas
Nagari Paninggahan terhampar luas
Memiliki rimba tiada batas
Tempat satwa berkembang bebas

Dengan teropong alat bantuan
Gerak gerik orang Paninggahan
Dari Ombilin juga kelihatan
Peluru mortir banyak ditembakkan

Ketika serdadu takut datang
Mereka enggan pergi menyerang
Mortir ditembakkan dari seberang
Di atas danau peluru melayang

Di tepi danau yang sangat indah
Kekejaman OPR dicatat sejarah
Perbuatan sadis berdarah darah
Mengikuti Setan Iblis bedebah

Kekejaman OPR sangat terlalu
Bisa dibaca catatan di buku
Agar tiada pembaca yang ragu
Penulis kutip paragraf yang perlu

….Setelah Datuk Aceh ditangkap, Dia dipaksa dan disiksa hingga akhirnya dibunuh secara keji.
Masih segar dalam ingatan saya, Datuk Aceh dipaksa minum Cendol.
Setelah menolak, kemudian kumisnya dicabut secara kasar.
Dengan mulut berlumuran darah dan tangan terikat.

OPR serta pasukan Diponegoro tersebut menembak kepala Datuk Aceh hingga berserakan benaknya.
Ketakutan makin bertambah ketika ada 3 orang yang dibunuh oleh OPR Ombilin.
Mereka ditembak dan lehernya dipotong.
Kepala tanpa badan tersebut digantung di pos OPR dengan mulut berisi rokok.

Saya yang saat itu masih kelas 2 SMP, takut melihatnya, sehingga bayangan kepala tergantung itu terus menghantui tidur saya.
(Dikutip dari buku: Perempuan Berselimut Konflik, Reni Nuryanti, halaman 105).

Kontak senjata memakan korban
Dua pelajar putera Paninggahan
Sudah takdir ketetapan Tuhan
Keduanya tewas dalam pertempuran

Samsani dan Maniar langsung tewas
Mereka pergi meninggalkan bekas
Semangat berkorban penuh ikhlas
Semoga Allah memberi balas

Si Mangguang orang tak waras
Saat bicara tidak awas
Terkadang ucapan kurang pantas
Dianggap pejuang melampaui batas

Karena sengaja berolok olok
Sambil mengisap sebatang rokok
Ada ucapan yang tidak cocok
PRRI penakut, senangnya ijok

Mangguang dijemput lalu diinterogasi
Dia bertanya kesalahan Diri
Pemeriksa marah timbul emosi
Emosi pindah ke ujung jari

Tidak dimandikan, tidak disolatkan
Mangguang mati segera dikuburkan
Begitulah keadaan saat peperangan
Semua orang ditimpa penderitaan

Penderitaan besar ataupun kecil
Untuk dihindari rasanya mustahil
Meskipun rakyat warga sipil
Nyawa dikuasai pemilik bedil

Kisah lengkap baca di lampiran

 

Ijok Sampai Ke Unggan, Durian Gadang dan Sumpur Kudus Pertengahan tahun 1960.
Sudah lebih dari sebulan nagari Rao-Rao diduduki oleh tentara Pusat dan pemerintahan nagari ditunjuk Pelaksana Pemerintah Nagari Zainal Abidin.


Pemerintahan dibantu oleh Lutan, Ahmad Nawi dan Hasan Basri, kemudian datang dari Payakumbuh Abu Bakar Rasyidin terkenal dengan panggilan Bakar Baradai dan beberapa orang OPR yang berasal dari nagari Rao-Rao.
Mereka inilah yang menjalankan roda pemerintahan nagari sejak P.R.R.I meninggalkan Rao-Rao.

Tentara Pusat menempati Surau surau di nagari

Jumlah tentara Pusat lk. 2 kompi (sekitar 200 sampai 250 orang), semuanya mendiami nagari Rao-Rao .
Kini semua surau di Rao-Rao ditempati, dan di sanalah mereka makan minum, serta MCK.

Penduduk yang biasa pergi ke sungai dan pancuran untuk mandi kini merasa takut, apalagi kaum ibu memilih biar dilakukan di rumah saja.
Kaum laki-laki terpaksa memberanikan diri untuk ke sungai.
Selain dari surau, adapula rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penduduk ditempati tentara tsb.

Selama tentara menduduki Rao-Rao maka selama itu pula kami yang berjumlah ratusan orang yang terdiri dari berbagai profesi pegawai negeri, mahasiswa , pedagang, ulama, murid dan guru berada di nagari orang, pergi ijok ke Lintau dan nagari-nagari sekitarnya.

Dapat dibayangkan sangat ramainya pengungsi mendatangi Lintau, yaitu orang-orang yang berasal dari berbagai nagari di kabupaten Tanah Datar,…. orang-orang yang ingin menyelamatkan nyawa dari kekejaman tentara pusat.

Bagi orang Rao-Rao yang tidak bisa dilupakan dan menjadi trauma ialah peristiwa beberapa bulan yang lalu yaitu tujuh orang rakyat biasa petani atau pedagang kecil ditembaki secara sadis di daerah Situmbuak.
Mereka yang ijok sekarang ini kebanyakan berstatus pegawai negeri, mahasiswa dan pedagang yang bukan beraliran kiri (Komunis).

Sudah biasa bahwa dalam situasi yang membingungkan dan panik itu banyak pula tersiar isu atau berita-berita dari orang ke orang.

Kabarnya tentara yang di Batusangkar dan Payakumbuh akan melancarkan operasi besar-besaran ke Lintau yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.

Berita ini sampai kepada masyarakat Rao-Rao yang ada di Lintau.
Mendengar berita ini orang Rao-Rao yang ijok di Lintau pecah dua ada yang akan lari lagi ke arah Sumpur Kudus, Durian Gadang, Unggan, Santo Lawe dan sebagainya berarti sudah ke propinsi Riau dan sebagian lagi berpendapat lebih baik kembali saja ke kampung halaman apapun terjadi itu adalah kampung kita.

Penulis dan beberapa teman yang lain seperti Fahmi Mahyuddin, Rusli Muhammad, Hamzah Harun, Ruslan Muhammad, Yusuf Samah, Abdurrahman May, Amir Bahar, Syofyan Syarif, Syofyan Zen dan banyak yang lain memilih biarlah pergi menyelamatkan diri ke negari orang lagi dari pada nanti kalau pulang kampung akan terjadi hal-hal yang tak diingini.

Oleh sebab itu kami sampai ke nagari yang jauh masuk hutan keluar hutan sampai ke kenagarian Durian Gadang, Unggan dan Sumpur Kudus dan nagari-nagari lain yang tak bisa diingat lagi namanya.
Pada hal waktu itu Lintau masih aman dan tenang saja belum ada operasi meliter yang diarahkan ke daerah itu.
Untuk itu kami kembali saja ke Lintau karena masing-masing sudah lelah dan yang penting bahwa dana untuk perjalanan jauh sudah mulai menipis.

Sepucuk Surat Kecil Dari Kampung

 

Beberapa hari kemudian setelah shalat Asyar di suatu surau di Lintau pada hari itu Senin.

 

 

Senin adalah hari pasar di nagari Sungayang.
Sore harinya penulis didatangi seseorang menyerahkan satu surat yang dimasukkan kedalam kotak korek api.
Orang itu menunggu sampai kami selesai membaca surat itu.

Saya buka surat itu jelas sekali tulisan itu adalah tulisan abang kandung saya Anwar Mahyuddin yang isinya:

….Adinda Suardi, Agus dan Fahmi.
Jangan ragu-ragu cepat pulang kami menunggu !
Surat itu ditanda tangani oleh Anwar Mahyuddin dan Assad Mahyuddin.

Saya terhenyak dan kurir itu mengatakan kalau ingin pulang bersama dia saja sampai di Sungayang hari Senin depan di sana sudah ada yang menunggu bapak katanya.

Isi surat ini kami rembukkan dengan Anwar May dia mengatakan kalau kalian mau pulang tak apa-apa dia setuju saja, kalau beliau diajak tidak mungkin karena dia adalah Camat P.R.R.I.

Setelah shalat Istigarah dan berdoa kepada Allah minta perlindungan kami bertiga mengambil keputusan berangkat ke Tanjung Sungayang hari Senin yang sudah ditentukan.

Siang hari kami sudah sampai di Tanjung Sungayang nagari ini baru dikuasai oleh tentara pusat tapi kami masuk nagari ini tidak diperiksa.
Kata orang karena hari ini hari pasar, jadi tak ada pemeriksaan, kalau diperiksa agak repot juga karena satu surat keteranganpun tak ada ditangan.

Kami dipertemukan orang Rao-Rao oleh kurir tadi, rupanya yang menjemput kami ialah kakak Naro janda abang kami yang benama Jamirin Sutan Adil.

Untuk terus ke Rao-Rao melalui

 

nagari Sumanik dan

 

 Nagari Kumango

kami diajari oleh kak Naro nanti kalau ada pemeriksaan di jalan beri tahu saja,….. baru saja dari pasar mau pulang ke Rao-Rao.

Setelah sampai di

 

 Rao-Rao

 di rumah kak Naro kami disambut abang kami Anwar dan Assad dan beberapa orang tua seperti A. Muluk Sutan Saripado dan ada yang lain kemudian terus ke Kantor Kepala Nagari.

Di sinilah kami diperiksa agak mendalam oleh Kepala Nagari, Ahmad Nawi dan Hasan Basri.
Pokoknya kami dianggap pemberontak tetapi syukur kalian cepat sadar katanya.

Yang penting kita sabar dan tebalkan saja kuping kita mendengar makian atau penghinaan, …. kalau tidak demikian kita bisa terpancing .
Anggap saja pemimpin kita di kampung waktu itu seperti katak di bawah tempurung.
Rupanya kepulangan kami yang bertiga itu menjadi dorongan bagi teman-teman yang masih di Lintau untuk pulang .

Secara berangsur-angsur setiap hari ada saja yang melapor pulang dari ijok.

Demikian suka duka pengalaman selama masa perang saudara di kampung halaman.
Tidak sampai sebulan penulis memperoleh Surat Jalan tanpa punya KTP agar bisa berangkat dari Rao-Rao dulu.

Penulis terus ke Payakumbuh dan Pekanbaru.
Beberapa bulan kemudian baru ke Medan melanjutkan pelajaran disana.

: Sumber

Epy Buchari

16 Agustus 1960

16 Agustus 1960 di Istana Negara, Bung Karno secara resmi membubarkan dan melarang Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), karena kedua partai itu terlibat Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Mereka yang ditangkap dan dipenjarakan Soekarno di Wisma Wilis Madiun, bukan orang biasa. Sutan Sjahrir adalah perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Indonesia yang pertama. Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia yang dianggap terlibat pemberontakan PRRI/Permesta.

Sementara Mohamad Roem dan Prawoto Mangkusasmito adalah tokoh Partai Masjumi. Partai ini juga dianggap terlibat pemberontakan PRRI/Permesta.

 Sama seperti Sjahrir, M Roem juga kawan seperjuangan Soekarno. Dia pernah menjabat sederetan posisi penting di negeri ini. M Roem tiga kali menjabat sebagai menteri dalam negeri. Dia juga pernah menjadi wakil perdana menteri

 

M.Natsir

adalah perdana menteri pertama republik ini. Sebelumnya dia menjabat menteri penerangan. Kesederhanannya menjadi teladan sepanjang zaman. Natsir tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah.

Lebih dari itu Natsir menunjukkan keteguhan. Di depan penguasa dia tak mau bermanis-manis. Natsir mengkritik Soekarno yang dekat dengan komunis dan dinilai mengabaikan kesejahteraan rakyat di luar Jawa. Natsir pun meninggalkan Jawa, bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI).

Soekarno menganggap gerakan ini sebagai pemberontak. Dia mengirimkan tentara untuk melawan gerakan ini. PRRI kalah, Natsir menyerah dan dipenjara Soekarno. Partai Masyumi yang pernah dipimpinnya juga dibekukan. Padahal dalam Pemilu 1955, Masyumi menduduki posisi nomor dua.

Tuduhan Soekarno pada Natsir, kontra revolusioner.

Saat Soekarno tumbang, Natsir dibebaskan dari penjara 26 Juli 1966. Dia meneruskan aktivitas dakwahnya

(Merdeca Com)

Puisiku untuk Bilal Hamka
dari: M. Natsir sedang di rimba gerilya

Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tenngah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam Daftar.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun…
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam
daftarmu

Saudaramu,
di Tempat, 23 Mei 1959

Teladan di Tengah Hutan

Oleh Tan Kebesar mantan pembantu Moh Natsir

Meski inti dari perjuangan pak Natsir adalah agar Negara yang baru merdeka tidak jatuh ke tangan komunis dan tidak terpecah belah menjadi beberapa Negara boneka bagi Negara Asing,  dan meskipun dukungan terhadap perjuangan pak Natsir  itu amat besar  seperti  rekomendasi Alim Ulama se-Sumatera itu,  tetapi tidak juga digubris rezim penguasa. Justru, jawaban yang diberikan pada pak Natsir adalah penyerbuan. Beliau  akhirnya  harus masuk hutan-keluar hutan, bahkan dipenjarakan. Tapi itulah  pak Natsir yang saya kenal. Beliau  seorang pemimpin  yang ikhlas dan istiqamah  dimana dan kapan pun,  bahkan  ditengah hutan sekalipun.

Saya adalah  kader  dengan status sebagai “pembawa tas” pak Natsir saat harus masuk hutan, keluar hutan. Tapi  sampai ke tengah hutan sekalipun saya mendapati  beliau yo bana pemimpin.

 Suatu ketika  di dalam hutan, saya menyaksikan beliau didatangi  orang kampung  yang mengantarkan pucuk ubi, nangka dan segala macam  sayuran. Memang orang kampung yang datang itu sudah terseleksi oleh kami.  Saya lupa namanya, dia datang  dengan pakaian kotor, berkeringat dan rambutnya kusut-masai. Tampaknya,  dari ladang dia langsung saja membawa sayuran dengan mengendap-ngendap terus ke  tempat persembunyian pak Natsir.

Oleh pak Natsir orang kampung yang datang dengan pakaiannya masih baluluak itu,  belum dibolehkan  pulang  sebelum makan sama-sama dengan beliau. Bahkan sampai ke tempat duduk pun beliau ‘istimewakan’.  Orang kampung itu  disuruh duduk di sebelah kanan  beliau,  di sebelah kiri beliau duduk ummi dan anak-anak beliau. Sedangkan saya oleh pak Natsir  di suruh duduk  di sebelah kiri orang kampung itu.

Berapa kali tampak  pak Natsir membasoi orang kampung itu. “Buekan samba, tambuahlah,” begitu sapa  pak Natsir. Beliau juga tidak buru-buru membasuh tangan begitu nasi di piringnya licin (habis). Beliau menanti  orang kampung itu sampai  selesai makan, dan barulah sama-sama mencuci tangan.

 

Kebesaran pak Natsir juga tampak ketika beliau berbincang-bincang  dengan orang kampung itu. Memang Rasulullah pernah mengatakan, “Berbicaralah dengan orang,  sepanjang  pengetahuannya”. Itu dipraktekkan  pak Natsir dalam pembicaraan dengan orang kampung itu.

Beliau  memang bicarakan juga spirit perjuangan, tapi tidak dengan bahasa ‘tinggi’. Jadi, siapapun  yang mau datang  tidak dibebani rasa takut. Lain dengan pak Syaf (Syafruddin Prawiranegara) atau   pak Bur  (Burhanuddin Harahap), banyak  kawan-kawan takut bila disuruh berbicara empat mata  dengan beliau, ‘setelannya’ tinggi.

Pak Natsir kalau berbicara,  selalu menyesuaikan dengan audiensnya. Saat berbicara dengan pak Wali Nagari Sungai Batang, dia bicara tidak  secadiak Camat. Setiap orang yang pertama bertemu dengan beliau, cepat terpaut hatinya dan  merasa seperti sudah kenal lama.

Dari pengalaman selama  hampir dua tahun berada dalam rimba bersama pak Natsir, saya sangat merasakan betapa beliau adalah pemimpin sejati yang tidak ada duanya  di republik ini. Di masa susah itu, beliau benar  sama-sama susah dengan yang dipimpin. Ketika  mendaki bukit atau menuruni lembah,  beliau  sama-sama berjalan kaki  dengan kami. Minta dipapah saja  beliau tidak pernah, apalagi minta ditandu.

Teladan dari seorang pemimpin yang ikhlas itulah yang menumbuhsuburkan benih kesetiaan  di hati  para  kader hingga  tinggal  di pelosok kampung dan di pinggir hutan sekali pun. Kesetiaan  para kader pak Natsir itu saya saksikan langsung  ketika kami baru masuk hutan.

 

Rimbo (hutan) pertama yang kami huni adalah rimbo Sitalang. Ini merupakan kawasan terujung dari wilayah  Lubukbasung Utara berbatasan dengan Palembayan.

Dari kampung  Sitalang ke  rimbo Sitalang cuma berjarak  satu jam  berjalan kaki  saja. Amat dekat sebenar, bagi kaki  tentara terlatih.

Pada sebuah dangau  di tengah rimba Sitalang itulah pak Natsir diungsikan dari kejaran tentara Soekarno yang sudah sampai di kampung Sitalang.  Lebih delapan bulan pak Natsir di  sini. Tapi tidak pernah tercium oleh  tentara Soekarno yang terpisahkan oleh jarak cuma  satu jam  jalan kaki saja.

Pemimpim Masyumi Sitalang  bersama masyarakat benar-benar berjuang menyelamatkan pak Natsir,  sehingga tidak ada orang yang tahu lokasinya. Bila pun ada yang tahu, tapi masyarakat benar-benar bisa menutup mulut.

Begitulah kharisma pak Natsir di hati ummat. Andai beliau  bukan pemimpin paling dicintai ummat, maka pada hari kedua masuk hutan saja,  pak Natsir  sudah ditangkap. Ya, berapa jauhlah jarak kami dengan balatentara Sekarno. Hanya sekitar satu jam  perjalanan saja, dan bagi tentara terlatih tentu itu sangatlah dekat.

Hanya karena kegelisahan seorang  tua yang  menjadi penunjuk jalan,  akhirnya pak Natsir setuju melanjutkan  perjalan  dari rimbo Sitalang  menembus

 

 hutan  Palembayan, kemudian turun ke

 

  Kayu Pasak,

 

 lalu  berbelok

 

 ke desa Maur. Setelah  berdiam beberapa malam,  Ketua Masyumi Palembayan memandu kami  ke dalam hutan yang jarang  dilalui orang.

Saya mengawal pak Natsir 

 

 menuju tepi  Batang Masang. Menjelang malam dari sini pak Natsir  diberangkatkan  ke seberang  Batang Masang  dengan menaiki rakit.

Di sebarang Batang Masang itulah  selama 11 bulan, pak Natsir diselamatkan. Padahal jaraknya  tidaklah jauh  dari  tentara musuh.  Dari  persembunyian itu masih jelas terdengar deru oto prah  (truk)  yang hilir-mudik  mengangkut  tentara Soekarno.

 

 

17 Agustus 1960

 

Keppres No.200/Th.1960 dan No.201/Th.1960 tanggal 17 Agustus 1960, tentang pembubaran partai politik Masjumi (Majelis Sjuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia), karena “organisasi itu melakukan pemberontakan, karena pemimpin²nya turut serta dengan pemberontakan apa yang disebut dengan ‘PRRI’ atau ‘RPI’ atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan”.

Dalam pidato peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-15, Presiden Soekarno memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, yang merupakan tanggapan atas sikap Pemerintah Belanda yang dianggap tidak menghendaki penyelesaian secara damai mengenai pengembalian wilayah Irian Barat kepada Indonesia.
Meskipun Republik Persatuan Indonesia (RPI) telah didirikan oleh tokoh² PRRI, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa – Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia secara resmi yang dihadiri oleh tokoh² militer dan sipil Permesta

 

18 Agustus 1960

 

Menurut sejarah Sumpur Kudus
 18 Agustus 1960
perlu diingat secara khusus
jangan dilupakan, apalagi dihapus

Akibat laporan mata-mata
kampung ditembak membabi buta
oleh AURI lewat udara
menimbulkan korban harta dan nyawa

Ketika spion memberi informasi
di Sumpur berkumpul pemimpin PRRI
Sedang merayakan hut R.I

Bisa dibom sampai mati

walau nagari didalam hutan
HUT RI diperingati besar-besaran
para pelajar ikut perlombaan
orang dewasa membuat permainan

Satu hari setelah upacara
Datang pesawat membuat bencana
Membidik sasaran dimana mana
Dua korban anak remaja

 

Begini petuah orang bijak
Takdir Allah berlaku mutlak
Mujur tak mungkin sekehendak
Malang tak bisa ditolak

Anwar dan Amir anak bujang
Mati tertembak kapal terbang
Saat berlindung di dalam lubang
Karena peluru tak mengenal orang

Mereka berdua pelajar S.M.P
Anak kesayangan Ibu dan Ande
Tak cukup umur masuk T.P
Belum mampu menyandang L.E

ande = ibu (MK)
T.P = Tentara Pelajar
L.E = Lee Enfield (sejenis senapan pada PD II)

Kampuang Koto pusat keramaian
SR, mesjid dan Balai Pengobatan
Dengan SMP letaknya berdekatan
Menjadi sasaran objek tembakan

Zender radio sebagai pemancar
menyampaikan berita berbagai kabar
dimasukkan juga di dalam daftar
sasaran penting yang selalu diincar

Di hulu sungai Batang Somi
di bukit Sibakua rimba yang sunyi
hutan Ulayat anak nagari
banyak berkeliaran Beruk dan Babi

Dari kampung di tengah Koto
letaknya zender dua kilo
tempat Natsir menyampaikan pidato
untuk membantah propaganda Soekarno

Menyiarkan berita walaupun sedikit
Pemancar PRRI di lembah sempit
Zender terletak diantara bukit
Untuk ditembak sangat sulit

 

Kepala zender bernama Samsulbahri
punya pengalaman sangat ahli
asalnya Cubadak, di selatan Tapanuli
di Sumpur Kudus dia beristri

 

Serangan udara di nagari Sitalang dan Batu Kambing kabupaten Agam

Di Sitalang dan Batu Kambing
Pesawat Mustang berbaling-baling
Mitraliurnya dua di badan samping
Pernah menembak bukit dan tebing

Menurut Bustanuddin penulis kisah
Tembakan tertuju ke segala arah
Batang pohon ada yang rebah
Dahan dan ranting banyak yang patah

Ada dangau di tengah hutan
Tempat petani mencari makan
Dikira gubuk asrama gerilyawan
Lalu dibidik jadi sasaran

Nagari Batukambing dan Sitalang
Letaknya jauh susah diserang
Menjadi tempatan para pejuang
Sangat strategis di kala perang

Serangan Udara di Bukik Andiang Suliki

Bukik Andiang di daerah Suliki
Serangan udara dilakukan AURI
Tiada catatan secara rinci
Inilah ingatan seorang saksi

……., sesudah Bukik Andiang di Suliki ditembaki oleh tentara Pusat dari kapal terbang yang kami lihat dari Padang Jopang, kami tidak sempat lagi kembali ke tempat bapak Dt.Rajo Malano di Padang Jopang, dan tidak ada kabar sejak itu.
Sjamsir Sjarif
St. Cruz. Ca. US

 

Dari Padang Jopang Sjamsir melihat
AURI yang berpihak ke rezim Pusat
Melepas tembakan yang sangat dasyat
Serangan dibalas dari darat

Dalam peristiwa perang saudara
Tak semua AURI di pihak yang sama
Ada yang bergabung PRRI juga
Letnan Nazar seorang perwira

Letnan Nazar orang Limpasi
Dia berpihak kepada PRRI
Tak bisa disebut sebagai desersi
Karena Nazar membela nagari

Walau kondisi selalu siaga
tak ketinggalan ada upacara
hormat kepada bendera sang saka
diiringi lagu Indonesia Raya

Ada pula anggota Marinir
Orangnya bernama Sersan Zubir
Dengan adiknya prajurit Sawir
Menjadi pejuang sampai akhir

Di puncak bukit berhutan Damar
diselingi kerimbunan semak belukar
Merah Putih tetap berkibar
mereka memimpin Tentara Pelajar

Pertahanan di Andiang jadi terkenal
Karena komandannya prajurit professional
Musuh yang datang bisa menyesal
atau terkena musibah sial

Lembu menjadi Korban pada serangan udara di Guguak Sikaladi

Sebelum saksi meninggal habis
Jauda St. Bagindo ingin menulis
meskipun hanya beberapa baris
menggunakan syair kalimat puitis

Tiada korban yang sampai mati
di Guguak dekat Sikaladi
Pernah ditembak pesawat AURI
Bom meledak mengeluarkan api

Saat pesawat membom rumpun Bambu
Malang nasib seekor Lembu
Kena tembakan sasaran keliru
Dikira pejuang sembunyi di situ

Rumpun Bambu telah terbongkar
Tampak terlihat serabut dan akar
Batang dan daun lalu terbakar
Api menyala sangat besar

Lubuak Tan di Sungai Jambu
melalui darat sulit di serbu
pesawat udara datang membantu
menjatuhkan bom, menembakkan peluru

Ibarat Menembak Setan Hantu di Rimba Anai

Tanpa tanggal maupun bulan
di akhir tahun lima delapan
perang di Anai baik diceritakan
untuk anak cucu jadi pelajaran

Pertempuran dahsyat di air mancur
tentara Pusat tak bisa mundur
konvoi pasukan hancur lebur
banyak prajurit yang mati gugur

Karena unggul dalam siasat
kemenangan PRRI sering dicatat
banyak korban di pihak Pusat
ketika terjadi pertempuran hebat

Beginilah strategi yang dipakai
saat penghadangan di Lembah Anai
waktu musuh sedang lalai
hutan digunakan untuk mengintai

Tempat sembunyi para pejuang
rimba dijadikan sebagai sarang
sambil berlindung dibalik batang
sebelum mereka turun menyerang

 

Para perjuang menunggu kesempatan
setelah konvoi tampak kelihatan
pelatuk Bazoka lalu ditekan
diikuti tembakan berbagai senapan

Walau banyak korban yang tewas
tentara Pusat tak bisa membalas
Posisi musuh tiada jelas
PRRI berlindung di hutan luas

Pesawat diminta datang membantu
Tiada jelas sasaran dituju
hutan rimba disiram peluru
ibarat menembak mahkluk hantu

Kalau menembak setan hantu
peluru habis beribu-ribu
perbuatan mubazir tidak perlu
dikatakan orang sangat lucu

Operasi AURI di bukit lembah
bukan pekerjaan masalah mudah
kalau terbang sangat rendah
bukit diterjang pesawat pecah

Menurut berita banyak beredar
entah gosip, entah benar
karena operasi sangat sukar
pilot asing lalu dibayar

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba hutan yang lengang

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

(Sjamsi sjarif)

 

Akhir Tahun 1960

 

Kini terjadi lagi penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
Duduk kejadian adalah sebagai berikut:

Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.

Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,….cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.

Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.


Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.

Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun.
Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah tahanan Sei Tarab.

Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.

Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab.
Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.

Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

Sarung Yusuf dipakai orang lain
Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.

Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.

Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.

Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif.

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar,  beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan …… Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi.
Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.

Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal, dosen di FKIP Padang dan Drs. Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao, kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.

Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.
Profesor ada di tempat pengungsiaannya di Talang Dasun Pasir Laweh.
Kami bersama alm. Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.

Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

Arif Fadila dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak tahu rimbanya, mati tidak tahu kuburannya

Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara Pusat.
Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.

Dalam perjalanan ke Padang itu, orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi militer sewaktu itu.
Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

OPR menghilangkan jejak pembunuhan Malin Maradjo
Berlainan dengan Idris, Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun, pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat menguasai nagari.

Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR.
Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.

Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.

Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
Diperkirakan orang, bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula
.

Sumber Nagari web blog

 

 

Akhir 1960

Ketika perang usai sebagian diantaranya ada yang langsung melapor ke Padang atau Jakarta, selanjutnya sejak peristiwa itu mereka banyak menetap di Jakarta.
Banyak pula dari Lintau ini orang Rao-Rao menyelamatkan diri ke propinsi terdekat seperti Riau dan Jambi.

Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.

Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,….cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.

Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.
Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.

Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun.
Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah tahanan Sei Tarab.

Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.

Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab.
Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.

Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

Sarung Yusuf dipakai orang lain
Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.

Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.

Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.
Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif.

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan …… Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi.
Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.
Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal, dosen di FKIP Padang dan Drs. Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao, kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.

Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.
Profesor ada di tempat pengungsiaannya di Talang Dasun Pasir Laweh.
Kami bersama alm. Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.

Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

Arif Fadila dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak tahu rimbanya, mati tidak tahu kuburannya

Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara Pusat.
Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.

Dalam perjalanan ke Padang itu, orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi militer sewaktu itu.
Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

OPR menghilangkan jejak pembunuhan Malin Maradjo
Berlainan dengan Idris, Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun, pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat menguasai nagari.
Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR.
Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.

Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.

Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
Diperkirakan orang, bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula.

Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.

Sumber

Epy Buchari

KISI INFO INDONESIA 1961(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1961

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Dr IWAN SUWANDY,MHA

PENEMU DAN PRESIDEN PERTAMA

PERHIMPUNAN

KISI

(KOLEKSTOR INFORMASI SEJARAH INDONESIA)

TAHUN 2013-2020

SEJEN KISI

LILI WIDJAJA,MM

DEWAN KEHORMATAN

KETUA

Dr IWAN SUWANDY,MHA

ANGGOTA

ALBERT SUWANDY DJOHAN OETAMA,ST,GEA

ANTON JIMMI SUWANDY ST.MECH.

 

ANNGOTA KEHORMATAN

GRACE SHANTY

ALICE SUWAMDY

ANNABELA PRINCESSA(CESSA(

JOCELIN SUWANDY(CELINE)

ANTONI WILLIAM SUWANDY

ANNGOTA

ARIS SIREGAR

HANS van SCHEIK

 

MASA JABATAN PREDIDEN DAN SEKJEN HANYA SATU KALI SELAMA TUJUH TAHUN, PENGANTINYA AKAN DIPILIH OLEH DEWAN KEHORMATAN

BAGI YANG BERMINAT MENJADI ANGGOTA KISI

MENDAFTAR LIWAT  EMAIL KISI

iwansuwandy@gmail.com

dengan syarat

mengirimkan foto kopi KTP(ID )terbaru dan melunasi sumbangan dana operasional KISI untuk seumur hidup sebanyak US50,-

HAK ANGGOTA

SETIAP BULAN AKAN DI,KIRIMKAN INFO LANGSUNG KE EMAILNYA

DAPAT MEMBELI BUKU TERBITAN KISI YANG CONTOHNYA SUDAH  DIUPLOAD DI

hhtp”//www. Driwancybermuseum.wordpress.com

dengan memberikan sumbangan biaya kopi dan biaya kirim

TERIMA KASIH SUDAH BERGABUNG DENGAN KISI

SEMOGA KISI TETAP JAYA

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

1961

Perkembangan Politik dan Kehidupan  Nasional, posisi PRRI semakin terjepit,persedian amunisi dan perlengkapan lain  semakin tipis serta pertentangan  didalam tubuh PRRI sendir kemudian mendorong para pemimpin  untuk mengadakan hubungan untuk menyelesaikan pertikaian dengan Pemerintahan Pusat.

Hubungan dalam rangka penyelesaian pemberontakan dapat  berlangsung karena  Pihak Pemerintah Pusat,  melalui MKN/KSAD Jendral Nasution  sudah berulangkali  mengeluarkan himbauan  dan ikut mendorong kearah tercapainya perdamaian.Dia mengajak kembali kepangkuan Republik karena Kita telah Kembali Ke Undang-Undang dasar 1945, dan diperlukan  semua tenaga  bersatu kembali  meneruskan perjuangan bersama seperti semula.

Rupanya situasi Tahun 1961 diwarna dengan kembalinya para Pemberontak  PRRI/Permesta  secara berangsur-angsur.

 

(Mauludin Simbolon)

Akhir Kisah

Di awal 19 enam satu
Nagari Saniangbaka terjadi ricuh
Gerilyawan berniat mengejar musuh
Hewan ditarik melenguh lenguh

Banyak nagari telah diduduki
Oleh Pusat tentara APRI
Muncul masalah bagi PRRI
Bahan makanan susah didapati

Adalah Organisasi Perlawanan Rakyat
Kaki tangan tentara Pusat
Siap diperintah setiap saat
Mengejar pejuang ke semua tempat

Ketika menduduki nagari Paninggahan
APRI bertugas tidak sendirian
Serdadu menciptakan tenaga bantuan
Dibuat OPR sebagai kakitangan

Saat melakukan taktik militer
Angku Suwari seorang kader
Oleh APRI dijadikan OPR
Terkadang diajak menaiki panser

Dua partai saling membenci
PKI berlawanan dengan Masyumi
Komunis berniat mengkudeta negeri
Masyumi berpihak kepada PRRI

PKI menumpang ambil kesempatan
OPR dijadikan batu loncatan
Kader disuruh ikut latihan
Untuk menembak musuh saingan

Kisah lengkap baca di

 lampiran Gurindam Masa PRRI

1961

 

Taktik Barter Sukarno Melawan CIA

 

 

 

 

 

 

Jakarta – Banyak cerita mengenai Bung Karno (6 Juni 1901-21 Juni 1970) di luar yang tertulis di sejarah.

Sukarno tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Pagi itu perutnya melilit dan terburu-buru hendak masuk toilet Istana.

Sesaat sebelum masuk, ia menunjuk ke arah tumpukan koran, yang setiap pagi ditaruh di muka kamarnya. “Heh, ayo cepat, itu koran semua aku mau baca di kakus,” kata Sukarno.

Namun orang yang dimintai tolong malah menyandera harian Suluh Indonesia, corong Partai Nasional Indonesia. “Apa benar ini berita Bapak menukar Pope dengan jalan bypass?” tanya Guntur Soekarno.

Pope yang dimaksud adalah Allen Lawrence Pope, pilot asal Amerika Serikat yang pesawatnya, B-26 Invader, ditembak jatuh TNI di Maluku pada 1958. Saat itu Pope, yang pensiunan militer Amerika, tengah menjalani misi pengeboman CIA buat menyokong pemberontakan Perdjuangan Rakjat Semesta alias Permesta.

Pope awalnya disebut Amerika sebagai tentara bayaran. Nahas bagi Pope. Saat dibekuk, dia membawa banyak dokumen yang mengindikasikan dia memang bekerja buat CIA lewat Civil Air Transport, maskapai yang dipakai dinas rahasia Amerika itu buat operasinya di Timur Jauh.

Pope setidaknya 12 kali membombardir lapangan udara TNI dan pelabuhan sipil di Maluku dan Sulawesi. Pria asal Miami itu hanya mengakui dua misi penerbangan saja, tapi pengadilan Indonesia pada 1960 memvonisnya hukuman mati.

Pada 1961, Presiden Dwight D. Eisenhower diganti John F. Kennedy. Gaya politik luar negeri Amerika pun berubah dan lebih bersahabat terhadap Indonesia.

Sukarno, yang sebelumnya akan digergaji kursi presidennya, malah diundang ke Gedung Putih. Diduga saat itulah masalah Pope dibahas.

Setahun setelah pertemuan itu, Pope diam-diam diantar pesawat Negeri Abang Sam di bandara Jakarta. Sebelum dia dipulangkan, Sukarno berpesan, ”Jangan muncul ke publik, jangan membuat cerita aneh-aneh. Pulang dan menghilanglah dan kami akan melupakan semuanya,” ujarnya seperti ditulis dalam bukuSubversion as Foreign Policy The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia.

Pemulangan Pope itu tidaklah gratis. Kennedy mesti membarternya dengan pesawat angkut Hercules dan dana pembangunan jalan bypass dari Cawang ke Tanjung Priok.

Lain lagi cerita Bambang Avianto, putra sulung Marsekal Pertama Joko Nurtanio. Anak penggagas industri penerbangan Indonesia itu menunjuk pada bangkai helikopter Bell-47 J2A Roger, yang 30 tahun teronggok di ujung landas pacu Husein Sastranegara.

Bambang mengatakan helikopter kepresidenan era Sukarno itu merupakan hadiah Presiden Kennedy. Helikopter berjulukan si Walet itu status resminya hadiah, tapi sejatinya bagian dari barter dengan Pope. “Itulah salah satu kelebihan diplomasi Bung Karno,” ujarnya.

Kennedy memang ingin menjauhkan Sukarno dari Cina dan Uni Soviet. Taktik yang dipakai adalah memberi bantuan nonmiliter.

Namun bernarkah Sukarno menukar Pope dengan pesawat dan sejumlah proyek pembangunan? Ketika Guntur Soekarno mendesak soal itu, ayahnya cuma tertawa.

Usai urusannya di toilet istana pada 1960-an itu, Sukarno cuma berujar, “Mudah-mudahan Amerika kirim Pope yang lain. Kalau tertangkap nanti, aku minta tukar dengan Ava Gardner dan Yvonne de Carlo

Januari 1961

Sumber Tan Kebesar Pembantu Moh natsir

 Sebenarnya,  perjuangan dengan cara dan nama lain,  sudah  diproklamirkan . Tepatnya,  di awal Januari tahun 1961.

 

Dalam suatu upacara di Bonjol Pasaman, diproklamirkanlah Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang diikuti pak Natsir sebagai Menteri PDK dan Agama,  sedangkan Presiden RPI adalah pak Syafruddin Prawiranegara.

Setelah memproklamirkan RPI di Bonjol ,  rombongan kemudian dibagi  dua. Rombongan pak Syaf dan Burhanuddin  berjalan ke arah Timur, sedangkan rombongan pak Natsir,  Dahlan Djambek dan saya berjalan  ke arah ke Barat.

Adapun  sebab RPI diproklamirkan karena perjuangan PRRI akan  segera berakhir dan dibubarkan oleh pemerintahan Soekarno. Sedangkan cita-cita perjuangan  PRRI belum tercapai, terutama tentang Pembubaran Dewan Nasional dan pembersihan Kabinet dari unsur PKI.

Karena tidak ada lagi jalan kompromi dengan rezim Soekarno,  maka ‘dilatuihkan bana‘ Republik  Persatuan Indonesia .  Jalannya upacara ya,  seperti  upacara militer dilengkapi  dengan pasukan militer, di antaranya pasukan  Batalyon Kemal Amin.

RPI merupakan gerakan lanjutan PRRI yang dilengkapi  dengan naskah Proklamasi dan UUD. Mukaddimah UUD RPI merupakan kutipan langsung dari Pidato Mohammad Natsir dalam suatu pertemuan lengkap  Dewan Perjuangan PRRI.  Masyarakat akan dapat membaca selengkapnya Mukaddimah UUD RPI  di buku Kapita Selecta III yang akan terbit.

Memang, yang diproklamirkan tetap saja bernama Republik Persatuan Indonesia (RPI).Ya, sebenarnya pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan sejumlah tokoh sipil itu sangat cinta Republik Indonesia.

 Tadinya, sebelum  dibentuknya PRRI para tokoh sipil ini sudah membuktikan kecintaannya pada Republik Indonesia. Jadi sebelum meraka datang dan bergabung,  para Panglima  yang membentuk Dewan-Dewan Daerah sudah sampai  pada  rencana pemisahan diri dari NKRI.

 Bahkan rapat di Sungai Dareh arahnya memang sudah ke sana, berjuang  melepaskan diri dari Republik Indonesia. Tapi dengan  keberadaan pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan Mr. Asaat, cita-cita itu dapat dipadamkan. Orang berempat ini bertahan dengan seruan,  “Jangan!” dan makanya yang dibentuk bernama PRRI  bukan Republik Sumatera atau bukan seperti yang sudah lebih dulu diproklamirkan yaitu RMS (Republik Maluku Selatan).

Jadi, pak Natsir cs ini bukan pemberontak.Karena yang akhirnya dibentuk hanya Pemerintahan Revolusioner  Republik Indonesia. Bukan pemerintahan  Negara Sumatera misalnya atau seperti RMS itu.

Tetapi  setelah lebih  2,5 tahun berjalan,  tak ada juga titik temu antara PRRI dan pemerintahan Jakarta. Bahkan jaraknya makin lama makin jauh, sementara di Maluku, Sulawesi dan Kalimantan kian tumbuh gerakan separatis yang mengancam keutuhkan Republik Indonesia. Maka, diproklamirkanlah Republik Persatuan  Indonesia  itu

 

 

 

 

 

6 Januari 1961

Saya menemukan sebuah dokumen faktur pengiriman barang dari PT Yudha Bhakti mengunakan ex BUMN Hindia Belanda Jacobson van De Berg Padang ke Toko Sim Hok Liong (milik Kakek Isteri Saya) Padang Panjang, dengan stempel sampai didaerah melapor kepada PKP,izin berlaku selama dua hari setelah dikeluarkan  dan dibelakang faktur ini lengkap stempel legalisir dari para pejabat  setempat Pelaksana Perang KMKB Padang, (Dr Iwan) , setlah tiba di Padang panjang tanggal 10 januari  dilapor ke Kantor Polisi Distrik Padang Panjang dan Kantor Walikota Padang Panjang.

 

 

Surat Izin Pas Jalan pengangkutan Barang dari Padang ke Padang Panjang masa PRRI tahun 1961.

Hal yang sama juga berlaku bila melakukan pejalanan keluar kota, saya pernah dari padang ke Bukittinggi meminta surat jalan dari Kantro kepala Kampung ,dan dilegalisir Kantor Penguasa Perang KMKB yang lokasinay di Jalan Hiligoo Padang, setelah sampai di bukittinggi lapor lagi ke Kantor Militer setempat dan kantor polisi setempat, malam hari sering dirahasia di Hotel tempat kita menginap (Dr iwan)

 

 

 

 

Februari 1961

 

Bulan Februari enam satu
Tiga tahun telah berlalu
Sejak perang pakai peluru
Ada pemimpin mulai ragu

Perjuangan bersenjata tak akan berhasil
Pendukung PRRI bertambah kecil
Untuk menang rasanya mustahil
Kebijaksanaan baru perlu diambil

Presiden umumkan sebuah kewajiban
Indonesia masih punya beban
Irian Barat perlu dibebaskan
Dengan berunding atau kekerasan

Tugas utama yang lebih patut
Irian Barat perlu direbut
Bekas PRRI boleh ikut
Begitu janji dia sebut

Kalau mencermati kejadiaan fakta
Banyak pejuang bekas Permesta
Mereka direkrut jadi tentara
Mantan PRRI pilih berbeda

Pasar Paninggahan ramainya Kemis
Banyak dagangan berjenis jenis
Barang kesukaan bujang dan gadis
Kini dipromosikan para
selebritis

Nagari web blog,kisah lengkap baca dalam lampiran Gurindam Masa PRRI

 

 

 

 

4 April 1961

 Pada tanggal 4 April 1961  ditanda tangani pernyataan penyelesaian  pemberontakan oleh Kol  D.J.Somba  dengan disaksikan oleh Kol A.J.Kawilarang  dari pihak Permesta dan  Kol Priyosudardon Pandam  XIII/Merdeka dari  Pihak Pemerintah RI.Pelaporan resmi pasukan  Permesta diterima  oleh  Mayor Jenxdral  Hidayat deputi  MKN di Woloann (Mauludin Simbolon)

 

11 mei 1961

 

Kolonel Simbolon mengambil prakarsa menulsi surat kepada Jendral Nasution, Isi surat adalh menawarkan perdamaian  agar kekuatan anti komunis yaitu Angkatan darat dan PRRI  tidak terpecah , dan Kol simbolon mengajukan syarat amnesti –abolisi  untuk penyelesai pemberontakan dan .Kol Simbolon meminta  kesedian Dr Andar Lumbantobing,Rektor Universitas Nomensen Pematangsiantar  mengantarkan  suratnya kepada  Jendral Nasution di Jakarta.

Pada tanggal 11 Mei 961 Dr A.L.Tobing berangkat ke Jakarta menyampaikan surat Kol simbolon, dan jendral Nasution berkata “  Inilah yang saya tunggu-tunggu selama ini”

(mauludin Simbolon)

 

20 Mei 1961

 

Kolonel Ahmad Husein mulai merintis  perdamaian dan penyelesiaan  dengan mengirim surat  yang diantar oleh  kurir kepada Presiden Panglima tertinggi Skarno dan  Menteri Keamanan nasional (MKN) &KSAD Jendral nasution .Melalui surat tersebut Kol Ahmad Husein  mengemukan bahwa ia yakin untuk menyatakan diri  kembali kejalan  yang tegas  yang telah PYM(paduka Yang Mulai)  Presiden  gariskan. Berdasarkan pemikiran tersebut  adalah menjadi kewajiban  dan tanggung jawab  kami(Kol Ahmad Husein dan pasukannya)  untuk menghentikan perlawanan dan mengakhiri perang saudara.

Rintisan surat ini  kemudian diikuti  oleh pertemuan  dengan Panglima KODAM 17 Agustus  , yang akhirnya  menghasilkan pelaporan  resmi Kol Ahmad Husein  beserta Psukannya  kepada Deputi KSAD  Wilayah Milter Sumatera pada tanggal 20 mei 1961

Pelaporan tersebut kepmudian diikuti oleh took politik  dan militer PRRI/RPI  lainnya di Sumatera barat (Mauludin Simbolon).

 

8 Maret 1961

SUARA PERSATUAN 8 MARET 1961

1)Pistol A.Husein Diramopas  Operasi “Rudjak Polo” RTP III Dip

Untuk kesekian kalinya Rumah Tahan Politik(RTP) IIII?Diponegoro selam 6 hari berturut-turut telah melancarkan Operasi”Rujak Polo” dibawah pimpinan Komandan RTP Let Kol Parwoto yang dibatu stafnya. Selain irtu pasukan dari Bataljon 441 dalam operasi tersebut dipimpin oleh Letkol Hardojo Dan Jon 441.

Objek operasi adalah Tanjung Balit,Simosa dan Batu Berjanjang kecamatan Payung Sekaki(Kabupaten solok).

 Ditempat tersebut diduga berada gembong gerembolan PRRI Ahmad Husein cs. Operasi dari tanggal 18 sampai 24 Pebruari 1961 dilancarkan dengan gerakan non stop sehingga Gerembolan tidak mempunyai kesempatan untuk berlindung dan terpaksa melarikan diri kehutan menghindari pertempuran langsung VC dengan pesaukan APRI.

 

 

Pistol Milik Ahmad Husein

Selama dalam gerakan non stop tersebut, pasukan APRI telah berhasil merampas senjata dengan initial AH yang diduga milik Ahmad Husein, juga satu pucuk Stengun, 1 generator ;listrik 125 KW, selai iru juga dirampas alat radio penyiar, bahan makanan dan juga gubuki-gubuk persembunyian gerembolan dan tealh dimusnahkan. Dalam gerakan ini juga telah tertembak mati seorang Letnan satu gerembolan  yang bernama Anwar dan Pembantu Letnan Dua gerembolan H.Munir.

Alat radio ditemukan di Guguk Runcing, pembersihan yang dilakukan oleh TOn 2/1/431 di Guguk Runtjing telah berhasil  ditemukan alat penyiar Radio Perhubungan,kendaran bermotor,sepeda,satu peti peluru 12,7 mm dan perlengkapan militer lainnya.

 

Selanjutnya dalam operasi ini di area Sarik Alam Tigo Daerah Alam Pandjang tanggal 23 pebruari 1961 berhasil dirampas beberapa senjata  dan dokumen-dokumen penting PRRI.Di kompleks Sarik tersebut diduga Mayor PRRI Amirhamsjah dan stafnya berada. dan pasukan APRI telah merapas didaerah tersebut sejanta yang terdiri dari 2 buah Bazooka, 2 LMG,1 Karaben, 1 Own Gun.sebuah radio penerima Phillips disamping beberapa dokumen.

2)Dalam surat kabar ini juga ada berita dari Kota Padang Panjang

Diruangan balaikota Padang Panjang telah diadakan penyerahan bantuan kepada para korban keganasan gerembolan PRRI didaerah Kotapraja Padangpanjang.Hadir  pada upacara ini R.Sudioto sebagai wakil Walikota Padang Panjang, DAN Vak a Jon 439 Diponegoro Lettu Kasimin, Dan CPM Pelda Sukarim,BUTERPRA Peltu  Mawardi,dsbnya.Para korban berjumlah 50 orang.

Kepala KAntor Sosial Padang Panjang  M.H,Dt.Gamuk  menyatakan bahwa bantuan ini diberikan oleh PAPERDA (Penguasa Perang Daerah)  via Inspeksi  Sosial Provinsi sumatera Barat  yang terdiri dari  kain blacu 10 blok, kain panjang 40 lembar dan untuk korban yang rumahnya terbakar  telah disediakan  pula bantuan 70 karung semen dan paku 94 kg.Juga diberikan bantuan 4 kg beras untuk waktu sepuluh hari bagi tiap-tiap niwa.

Selanjutnya Lettu Kasimin menegaskan dalam keadaan sekarang ini,dimana gerembolan sudah sangat terjepit dan tidak berdaya lagi menghadapi kekuatan APRI,maka rakyatlah yang menjadi sasaran mereka., oleh karena itu rakyat harus waspada dalam menghadapi gerask gerik gerembolan, Akhirnya ditandaskan ,supaya rakyat harus  dapat  memidsahkan garis-garis anasir gerembolan PRRI_RPI, agar persatuan kita untuk masa mendatang  lebih kuat lagi.

 

 

 

 

3)DJAREK BUNG KARNO

 

dalam pidato Djalannya Revolusi Kita(Djarek) bung karno yang dimuat dalm surat kabar ini terdapat tentang PRRI :

Semua warganegara ,Jawakah ia, Minangkabaukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, semua warganegara harus bersatu, dengan tidak pandang perbedaan suku bnagsa,tidak pandang agama,tidang pandang keturunan asli atau tidak alsi. Pemberontakan PRRI,pemberontakan Permesta,kegiatan subversif Manguni,tidak boleh diarftikan berontakan atau kegiatan subversif suku Minangkabau atau suku Minahasa. Pemberontakan itu adalah perbuatan kaum imperialis yang memeprgunakan orang-orang pengchianak  dari budak-budak dari suku itu atau suku lain.Rakyat dari semua suku dan dari semua turunan ,asli atau tak asli-sipetani,siburuh,situkang dokar,sinelayan,sipegawai kecil, sipedagang kecil,sijembel ,simarhaen- adalah cinta kepada Republik Proklamsi menyetujui Manipol (manifesto Politik) dan USDEK,gandurng kepada masyarakat adil dan makmur.Rakyat itu semua harus di Gotong Royongkan dalam perjuangan raksasa ini.

25  Maret 1961

Surat Keputusan Pejabat Polisi PRRI Resort Pariaman DAN Pulau Mentawai yang ditanda tangani oleh Kepala Polisi PRRI Resort Padang Pariaman Inspektur Polisi Tk Satu Norman Dt.Pamoentjak dengan stempel POLISI PRRI(koleksi Dr Iwan)

 

 

 

 

30 Maret 1961

KESATUAN BANTENG MELAPOR

tanggal 30 maret 1961, sekitar jam 06.00 telah datang melaorkan diri pada pos APRI di Lubukalung serombongan sisa gerembolan dari kesatuan yang dinamakan “Kesatuan Banteng”

DIBAWAH PIMPINAN BEKAS SERSAN i  IDRUS DENGAN ANAK BUAHNYA   SEBANYAK 23 ORANG LENGKAP DENGAN SENJATANYA 20 PUCUK TERDEIRI DARI 1 BREN,10 GARAND,2 JUNGLE,1 lOUSER, 1 KIROF,2 PINGPONG, 2 STEN DAN 1 PISTOL BIKINAN TAIWAN LENGKAP DENGAN PELURUNYA.

Daftar nama gerombolan tersbut,sersan I Idris, Bj.Udin,Bulap,Idris, Ali Umar, Mhd Sulis dstnya Nur Basri 

sisa Gerombolan yang benar-benar insjaf hendaknya kembali kepangkuan RI, mereka dapat diterima dengan wajar asal saja merekan membawa persenjataannya, tepai jika masih membangkang APRI tidak akan segan-segan menghancurkannya ,demikian kata Lettu moch.Kasimin Dsn Vak LA Tor/Dim 32/03 08 Kie III Jon 446 Diponegoro.

(INFO DARI Surat kabar Penerangan tanggal 6 April 1961 koleksi Dr Iwan)

Koleksi tersebut dapat dilihat dihalaman berikut

 

 

 

 

6 April 1961

SUARA PERSATUAN 6 APRIL 1961

1)bekas Letkol somab dan 25.0000 anggtota Permesta Kembali

 

 

 

2) Mobrig Tewaskan Sisa gerembolan Didaerah Agam.

3)Iklan Restoran Lape salero di depan Apotik Kinol Padang denga sate goyang lidahnya(Dr Iwan Masih ingat makan disana-nstalgia

 

Kabar gembira ! Goyang Lidah! Restoran Lape Salero muka Apotik Kiol mulai 1 April (1961) dibuka kembali saban(setiap) hari menyadikan makana seperti Mertabak Mesir(dulu dimuka Hotel Heng Seng) ,Mie Rebus, Mie Goreng,Nasi Goreng,Nasi Soto, Gado-Gado, Tahu Goreng dan lain-lain. Istimewa Hari JUm’at Gulai Kambing. Masakan enak,kebersihan terjamin . Nan Dimakan Rado Nan Dpandang Rupo. Silahkan anda dating ketempat kami. Reklame ini membuat saya jadi nostalgia dan rindu kampong halaman(DR iwan)

 

4)KESATUAN BANTENG MELAPOR

tanggal 30 maret 1961, sekitar jam 06.00 telah datang melaorkan diri pada pos APRI di Lubukalung serombongan sisa gerembolan dari kesatuan yang dinamakan “Kesatuan Banteng” DIBAWAH PIMPINAN BEKAS SERSAN  IDRUS DENGAN ANAKI B UAHNYA SEBAYAK 23 ORANG LENGKAP DENGAN SENJATANYA 20 PUCUK TERDEIRI DARI 1 BREN,10 GARAND,2 JUNGLE,1 MAUSER, 1 KIROF,2 PINGPONG, 2 STEN DAN 1 PISTOL BIKINAN TAIWAN LENGKAP DENGAN PELURUNYA.

Daftar nama gerombolan tersbut,sersan I Idris, Bj.Udin,Bulap,Idris, Ali Umar, Mhd Sulis dstnya Nur Basri .

sisa Gerombolan yang benar-benar insjaf hendaknya kembali kepangkuan RI, mereka dapat diterima dengan wajar asal saja merekan membawa persenjataannya, tepai jika masih membangkang APRI tidak akan segan-segan menghancurkannya ,demikian kata Lettu moch.Kasimin Dsn Vak LA Tor/Dim 32/03 08 Kie III Jon 446 Diponegoro.

 

17 April 1961

.SUARA PENERANGAN 17 APRIL 1961

1)     PangDam III/17 agustus: Tugas APRI menolong melepaskan masayrakat dari Fitnahan/Penderitaan(Kol.Soerjosoempeno)

 

2)SAMBUTAN GUBERNUR SUMBAR(Kaharudin Dt Rkj Basa) :

‘ 17 april 58 awal penumpasan Penyelewengan.

 

Gubernur Kepala daerah Sumatera Barat Kaharuddin Dt. RKJ.Basa dalam pidato radionya yang diucapkan minggu malam melalui RRI Padang dalam menyambut peringatan ulang tahun ke III hari pembebasan Sumatera barat dari cengkraman pemberontak memesankan kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat baik kepada segenap pemimpin dan segenap yang dipimpin agar supaya untuk masa mendatang ini kita meningkatkan grafik usaha dalam segala bidang sebagaimana telah digariskan Pusat.

Gubernur selanjutkanya memesankan sebagaimana amanat Panglima Kolonel Soerjosempeno di Balai Selasa tanggal 1 April 1961 yl dijadikan  filsafat berpegang tempat hidup karena amanta yang singkat dan tegas itu merupakan Pancarana Sinar  Kebudayaan  dan kepribadian Bangsa Indonesia yang tinggi dan jug adapat menyingkirkan kesulitan yang bersumber dari kepribadian.

APRI selain membebaskan dan memulihkan  Keamanan.Demikian dikatakan selanjutnya oleh Pejabat tersebut.Juga menginggatkan Pembangunan secara luas baik secara lahir maupun batin yang dilakakukan oleh para ahli yang tidak mengenal lelah.Hal ini sudah dilihat dan dirasakan oleh kita bersama dan tidak dapat disangkal oleh siapapun kenyataan ini.

3) Illustrasi Masyarakat sumatera barat umumnya dan Kota Padang khususnya memperingatai hari ulang tahun III pembebasan Sumbar , ditengah meneriahkan hari bersejarah ini sejenak kita kenangkan bagaimana kekejaman sisa gerembolan selama ini dengan teroir yang dilakukan dalam kota seperti melemparkan granat di bioskjop,saat Pekan USDEK yang membawa korban bukan sedikit dikalangan rakyat dan anak-anak dibawa umur., mereka baru sjaa menerim abnatuan dari masyarakat yang dilangsungkan dengan satu upacara di Balai Kota Padang tanggal 4 April 1961.

4) 342 orang Tahanan  SOB (darurat Perang) dan RPT Kodam III/17 Agustus  di Padang telah dibebaskan dalam upacara yang dihadiri oleh Pangdam III/17 Agustus Kolonel Soerjosoempeno(terakgir jendra,MenHankam,Pangab) dalam rangka hari ulang tahun ke III Pembebasan Sumatra Barat tanggal 17 April 1961

 

5)Iklan Ucapan selamat  Ulang Tahun Ke III Pembebasan Kota Padang Oleh APRI dari HARIBROS,LAY HIN,Toko Shanghai,Eng Djoe Seng,Fa KAMBO,LAM KIAUW,Toko Gembira,

 

 

khusus ditampilkan untuk kenang-kenangan bagi pemilik toko dan usaha dikota Padang dari Dr Iwan S, seperti NV Lam Kiauw,Lay Hin, Toko Shanghai,Eng Djoe Seng,Toko Diamond,Restoran Hongkong(Gho Wu),toko Tip Top,Maison Tokio, Toko Maskot,Toko Hercules,Bioskop Raya,Bioskop Cinema ( wirako)dan Toko Seng (ayah Sho Toan An)didepannya,restorant Selamat dsbnya,semoga para anak-cucu dri perusahan tersebut menngiggat leluhurnya saat PRRI.(Dr Iwan)

 

 

18 April 1961

SUARA PERSATUAN 18 APRIL 1961

1)Kata kawilarang “saya Tak ada Hubungan apa-apa dengan Samual dan PRRI”

2)Peringatan 2 tahun KODAM 17 agustus, Kolonel Ahmad yani menyerahkan pandji KODAM III “Wira sakti” kepada Panglima Kodam III Kol.Soerjosoempeno.

 

3)TENTANG SERANGAN B 26 LANGSUNG RUDUH as SEBAGAI PENJAHAT

4) Semua Kegiatan PTT daerah V sudah Berjalan Seperti BIasa

M.Soepardi kepala PTT DAerah V meliputi Sumatera Barat dan Riau Daratan mengatakan bahwa dalam masa tiga tahun ini sejak 24 April 1958,seluruh kegiatan PTT daerah V sudah berjalan seperti sebelum pergolakan PRRI .

Admninistrasi kantor-kantor PTT sekarang dibawah kearah normal ,sekalipun mengalami kesulitan antara lain karena keadaan pegawai yang masih dibawah formal.

Pada tingkat keadaan sekarang seluruh kantor PTT di Sumbar dan Riau daratan telah dibuka kecuali di Di Sulitair, Sungai Dareh dan Rao. (Dr iwan menemukan koleksi Wesel Pos Yang dikirm dari Padang ke Batang ankola Tapanuli Selatan yang tak dapat diteruskan karena belum ada hubungan.jalan pos harus liwat Rao dan panti kecamatan Lubuk sikaping).

 

Tapi ditiga tempat tersebut dalam waktu pendek akan dibuka. Disampoing mengadakan perbaikan besar dan kecil pada kantor-kantor Pos,juga diadakan pembangunan kantor pos baru yang permanen dibeberapa daerah seperti Lubuk alung,Priaman,Lubuk Basung dan Teluk Bayur.

4) 1500 Orang Rakyat Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi.

Akibat operasi yang dilakukan oleh Jon 431 Diponegoro semenjak 7 sampai 11 april 1961 secara terus mmenrus dodaerah operasi Gantung Tjiri,Pinang Sinawa dan Bukit Silaung , telah berhasil mengemluikan 1500 orang rakyat dinegeri itu kembali kepangkuan Ibu Pertiwi, dan kini mengungsi ke negarai Tjupak,Talang dan Guguk Kabupaten Solok.

5)Iklan National Optical, milik teman Dr Iwan Drg Willy dan adiknya POP serta suaminya almarhum The See Liang(meninggal tahun 2012).

 

dan iklan restauran TRIPOLI didepan apotik Kinol,tempat nostalgia Dr iwan karena membeli Undian  yang memperoleh hadiah Sepeda Motor tahun 1966.(ini ditampilkan buat kenangan anda dari Dr Iwan )

 

21 April 1961

.SUARA PENERANGAN 21 APRIL 1961

1) Lagi Anggota Kesatuan Kurandji Kembali

2)27.000 anggota Paermesta Kembali termasuk Yg Dibawa Oleh Somba.

3) Pertunjukan “Mak Djomblang” Oleh artis Fiolm trekenal Daeng Harris, Bambang Hermanto,Ramlah,Didit,Hartini biduan RRI dan Suhaimi biduan orkes Bukit Siguntang. dr iwan ikut menyaksikan dan berftemu dengan arktor Bambang Hermato, pertunjukan di Wisma Pantjasila dipingir laut yang saat ini sudah hilang dikuras ombak lautan hindia.(nostaligia lagi buat teman-teman Dr Iwan)

 

 

 

1961

 Setelah PRRI turun dari rimba dan kampung Sawahlunto telah aman, paman Burhan Jusuf sempat menjadi sekretaris Gubernur.

 

Akan tetapi sewaktu gagalnya kudeta Gerakan 30 September/PKI beliau ditangkap dan masuk penjara, tanpa diadili, kemudian sempat dibebaskan dan akhirnya meninggal karena sakit.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

1 Juni 1961

SUARA PENERANGAN 1 DJUNI 1961

1) Mr Sjafruddin Sedih dan Harap Belas Kasihan .Surat pribadinya untuk “Alat Bersendjata PRRI”

 

 

 

 

2)639 Orang anggota gerombolan Melapor Insjaf

Juni 1961

Awal Juni  1961

Teladan Moh Natsir

Oleh Tan Kebesar Pembantu moh natsir

Pak Natsir  berada  di sana lebih 11 bulan dengan aman. Dan, barulah keluar dari hutan 

 

 melalui Aia Kijang setelah Ketua Dewan Perjuangan PRRI,  Ahmad Husein, mengumumkan dihentikannya perlawanan,  pada awal Juni 1961.

Tapi pengumunan penghentian perlawanan oleh  PRRI,  bukan akhir perjuangan.

 

4 Juni 1961

.MIMBAR MINGGU 4 DJUNI 1961

1) Mr Sjafruddin Di Hutan Rao , Simbolon di Hutan Tapu

 

 

 

Silahkan membaca kisah putridSafruddin Prawira Negara saat mengikuti ayah ke Hutan

Pengalaman Salviyah Prawiranegara Yudanarso (Pipi) mengikuti Ayah
ditulis oleh: dryuda42@gmail.com

Perjalanan diteruskan ke Utara
Rombongan terus berjalan ke arah utara, tampaknya sampai pada suatu lembah yang dimewahkan dengan sinar matahari.


Pada pagi hari, begitu matahari bersinar dan embun berkilau menetes dari dahan dan dedaunan, suatu pemandangan mentakjubkan terlihat di suatu pojok hutan.

 

Kupu-kupu aneka warna beterbangan dan memberikan suasana gembira pada anakanak; tak ketinggalan adik-adik Pipi.

Mereka semua lari ke sana dan ke mari sambil berteriak untuk menonjolkan keindahan kupu-kupu yang sedang jadi perhatiannya, besar atau kecil.

 

Mereka semua ingat kupu-kupu aneka warna yang telah dikeringkan dan dijual di pintu-pintu masuk kebun raya Bogor.

 

Ternyata kupu-kupu yang hidup jauh lebih indah, karena mereka menari-nari dan terbang ke segala penjuru tanpa arah tertentu.

Ada yang berwarna yang agak redup, tetapi lebih banyak warna-warna biru, kuning dan hijau cemerlang, atau kombinasi warna-warna itu.

 

Memang tempat ini tampak agak luar biasa, ada beberapa hektar barangkali.

 

Saat Pipi bercerita tentang daerah berkupu-kupu ini, langsung penulis ingat pengalaman di sekitar tahun delapan puluh limaan.

Pada saat diadakan kongres internasional para Ahli Penyakit Dalam di Palembang, Sumatera Selatan, ada seorang profesor dari Jepang yang secara khusus minta diantar ke hutan kupu-kupu seperti ini.

 

Beruntung ada mahasiswa anggota panitia yang mengetahui dan bersedia mengantar.

 

Walau untuk mencapainya bukan perjalanan yang mudah, tetapi sang profesor menyatakan sangat puas.

 

Pengalaman dan dokumentasi tentang hal itu, yang dibawanya kembali ke Jepang, akan merupakan kenang-kenangan berharga seumur hidupnya.

Bunga-bunga juga bermunculan memekarkan diri aneka warna, seakan ikut bergembira bersama kupu-kupu dan anak-anak dalam menyambut pagi yang cerah dan indah.

 

Di sela-sela rumput ilalangpun di daerah itu, bunga kecil-kecil memamerkan keindahan.

 

Seakan-akan tak mau kalah dengan bunga-bunga yang lebih besar di pohon-pohon besar, walau ada juga bunga merah kecil mungil yang muncul di suatu pohon yang besar.
Sangat sulit menggambarkan keaneka ragaman warnanya.

 

Bahkan, di tepi sungai terlihat aneka ragam capung, juga ikut memeriahkan pagi yang penuh keceriaan hewani dan nabati ini.

Semua bersuka ria menyambut pagi yang cerah.

 

Sebelum memasuki tempat ini, Pipi-pun menceritakan adanya bunga-bunga anggrek hutan di pohon-pohon.
Bunga anggrek aneka ragam ini didominasi dengan warna gelap kehitaman; walau tak jarang di sela-sela pemandangan demikian terlihat warna-warna yang lebih cerah, seperti ungu dan merah, bahkan putih.

Lumutpun mewarnai kehidupan pepohonan di tempat yang relatif lembab ini, dari yang warnanya hitam pekat sampai yang hijau muda berbinar sinar matahari yang sekali-kali memasuki tempat mereka.

 

Pipi sangat menikmati perjalanan di sisi kehidupan yang penuh dengan kegairahan hidup sebagai berkah dari Allah SWT ini.

 

Tak henti-hentinya dia mengucapkan syukur, bahwa di sela-sela perjalanan berat mengikuti orang tua ini, ternyata disajikan banyak hal yang di kota tidak mungkin mendapatkannya.

Dia bahagia berkesempatan mendampingi orang tuanya yang sedang berjuang demi cita-cita mulya dengan cara ini.

 

Mungkin ini yang disebutkan sebagai surga dunia, semua makhluk bersuka-ria.

 

Bertemu dengan Inyiak penunggu Rimba Rombongan terus menuju ke utara, ke dataran tinggi yang tampaknya hijau indah di sebelah atas sana, baik di bukit maupun di gunung, sangat mungkin hutannya belum pernah membaui keringat manusia.

Bertemu dengan Inyiak Belang
Pemandu jalan mengarahkan rombongan lebih ke arah kiri, sambil memperingatkan akan kemungkinan bertemu dengan hutan durian yang banyak dihuni kera, bahkan harimau.
Benar, setengah hari perjalanan sejak dia mengutarakan hal itu, tibalah di hutan durian.

 

Kembali kami semua bersuka-ria mencari durian yang bertebaran, ada juga beberapa orang anggota rombongan yang menunjukkan kebolehannya memanjat pohon.
Bahkan, ada beberapa anak yang bertarung dalam memanjat pohon durian dan mendapatkan durian yang terbaik.

Mereka bersemangat sekali untuk mendapatkan durian untuk dipetik bagi seluruh anggota rombongan.
Tiba-tiba, Chalid (adik Pipi) berteriak-teriak, …..Da Din…da Din…, mengapa lari?!….. (maksudnya Uda atau kakak Abidin/pengawal).
….Chalid cepat kembali ke istana…..… (sebutan Chalid untuk dangau keluarganya) !
….Ado inyiek….id! Cepat ke mari! (inyiek adalah sebutan bagi harimau).

 

Dengan patuh Cahlid mengikuti petunjuk pengawalnya, dia tahu, kemungkinan besar uda Din-nya membaui ada harimau di sekitar situ.

Bau Harimau untuk orang-orang yang telah terlatih dapat dicium lebih dari sepuluh meter jauhnya, karena amis atau sangit.

 

Ternyata benar, walau harimau betina itu tidak tergolong besar, saat dia muncul dari balik semak sungguh menakutkan.
Telah diketahui, bahwa durian juga merupakan makanan kesenangannya.
Sadar akan bahaya, orang-orang ribut dan menabuh apa saja yang didekatnya untuk mencoba mengusir harimau itu.

Benar, setelah menoleh ke arah datangnya bunyi-bunyian, dia terus melenggang pelan menjauhi kami dengan penuh rasa percaya diri.

 

Pernah di suatu tempat sebelumnya, Yazid – adik Pipi yang paling kecil, juga diteriaki pengawal, karena dia bermain-main dengan dua anak harimau yang baru lebih besar sedikit dari kucing.
Mereka terlihat lucu-lucu dan jinak, tetapi yang dikhawatirkan adalah emak-bapaknya yang setiap saat dapat muncul.

Saat malam tiba, di daerah yang demikian, anggota rombongan tidur saling mendekatkan diri untuk mengurangi resiko di terkam harimau.
Ada seorang pemuda yang sangat takut dalam situasi demikian, sehingga dia selalu minta tidur di tengah-tengah anggota rombongan lain.
Tiba-tiba pada suatu saat, dia ditemukan telah mati diterkam harimau di bagian kepalanya dan disèrètnya keluar dari tengah kumpulan anggota rombongan tidur…… kata orang, inyiek senang mengisap otak korbannya, dan tampaknya penemuan tentang nasib pemuda itu membuktikan kebenaran cerita itu.
Anak-anak tidak boleh melihat jasadnya.
Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.
Pipi juga bercerita pengalamannya di suatu tempat yang ada sungai penuh dengan ikan.
Ikan itu seperti cendol laiknya.
Di tempat demikian, biasanya rombongan berhenti agak lama, karena sengaja melakukannya agar mengkonsumsi protein sebanyak-banyak, untuk bekal tenaga.
Bahkan, sebagian dipèpès dan dikeringkan untuk bekal perjalanan.
Walau di tempat lain, ada juga suatu sungai yang ikannya justru tidak boleh dikonsumsi semua patuh atas petunjuk itu.
Chalid sebagai laki-laki tertua dari saudara-saudaranya sering ingin menunjukkan kepiawaiannya bermain sumpit atau bahkan menembak ikan.

Pernah Pipi berteriak-teriak histeris, karena mendengar dan melihat adiknya asyik menembaki ikan dengan L.E yang ledakkannya memang keras dan mengerikan di keheningan hutan.
….. Hentikan…hentikan! Saya bisa mati ketakutan nih !…. Ayah…Chalid menembak nembak!
Tentu saja, teriakan ini membuat semua orang ribut, walau mereka juga telah mendengar bunyi letusan-letusan itu.
(Yang dimaksud senapan LE mungkin adalah senapan Lee Enfield buatan Inggris yang mulai diproduksi sekitar awal abad sembilan belas.

LE ini diproduksi dalam berbagai jenis, panjangnya sekitar satu meter lebih sedikit, dengan berat sekitar empat kilogram.
Senjata ini sangat berjasa untuk meramaikan perang dunia I dan ke II, utamanya dipakai oleh pasukan dari kerajaan Inggris, negara-negara Persemakmuran dan Thailand.
Total senapan jenis LE ini telah diproduksi lebih dari tujuh belas juta buah.
Sisa senjata itulah yang mungkin menemani Chalid bermain).

Datuk Ula menunggu kedatangan Rombongan Pemimpin
Pada suatu saat dalam perjalanan, dilaporkan akan memasuki daerah yang penuh ular.
Wauw…mengerikan sekali.
Rombongan, terutama anak-anak diberi petunjuk, agar kalau melihat ular tidak diganggu…… bahkan dianjurkan untuk diam saja, walau ular tersebut melintas dekat sekali.
Tak berapa lama kemudian memang satu-satu kita melihat kehadiran ular itu, baik saat melata tak jauh dari kita atau sedang berada di pohon dan ranting semak.

Saat pengawal menunjukkan pada Pipi adanya ular besar di pohon sebelah kanannya, dia merasa ngeri sekali, karena ternyata memang ular itu sebesar paha orang dewasa, sepanjang kira-kira empat meter.
Tampaknya, dia sedang bermalas-malasan, karena barangkali baru makan babi hutan.
Tak lama kemudian, rombongan menemukan tanda-tanda orang berkebun, dan satusatu pula melihat dangau dan rumah orang.
Orang yang kebetulan berpapasan, melihat dengan penuh perhatian kepada rombongan, dan ada yang terus lari.
Ternyata dia lari untuk melaporkan kedatangan kami kepada kepala kampung.

Tak berapa lama kemudian, rumah makin banyak dijumpai dan ada sekelompok orang yang tampaknya sengaja menyambut rombongan.
Selanjutnya, kami disilahkan untuk singgah ke suatu rumah seperti sebuah rumah gadang, yang tampaknya sering dipakai untuk balai pertemuan warga Kampung Ular ini.
Pipi memberi julukan kepala kampungnya dengan Datuk Ula(r).

Datuk Ula ini tampak gembira menerima rombongan tamu ini, mungkin sangat jarang mereka melihat orang-orang bertampang seperti kami ini.
Datuk Ula, serta merta menyajikan minum dan buah-buahan, seperti pisang, nanas, dan papaya, serta beberapa jenis tèrong hutan yang terasa sedap….. sejenis dengan tèrong de Kock yang kita kenal.
Minumnya disajikan di tempat yang terbuat dari bambu, sebesar gelas bir.

Rombongan mendapat pembagian rumah-rumah penduduk, yang telah disiapkan untuk menginap.
Kata Datuk Ula, kedatangan kami telah diketahui dua hari yang lalu, sehingga dia sempat mempersiapkan.
Chalid diberitahu oleh seseorang yang berasal dari kampung Ular itu, bahwa kemarin telah sekitar empat puluhan ekor ular dibunuh, baik besar maupun kecil, banyak yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai ular yang berbisa.
Itu semua dilakukan, atas perintah Datuk Ula untuk mengurangi bahaya bagi anak anak anggota rombongan.

Lebih lanjut, anak-anak dianjurkan untuk bermain di tempat yang agak lapang saja, khawatir di tempat yang bersemak atau pohon, ularnya tak terlihat oleh kami.
Beberapa kali, Pipi melihat ular melintas atau berjalan di pohon.
Benar-benar kampung ular.
Pada suatu dini hari, tiba-tiba Pipi mendengar teriakan dari tempatnya bu Bur, salah satu anggota rombongan.

Ternyata ada ular cukup besar masuk ke dalam dapurnya.
Semua orang akhirnya terbangun, dan melihat sekeliling tempat tinggalnya, jangan jangan diselipi oleh ular juga.

Sejak itu, kami tidur selalu dalam keadaan was-was.
Alhamdullillah, selama sekitar dua minggu di kampung ini tidak ada anggota rombongan yang digigit ular.
Chalid bercerita, bahwa dia dibawa seorang dari kampung itu untuk melihat sarangsarang ular, termasuk ke sebuah gua yang sebetulnya dapat dimasuki orang, tetapi jelas sekali banyak bekas-bekas ular keluar masuk ke dan dari dalamnya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Datuk Ula yang telah menerima kami dengan penuh kemewahan hutan.

Perjalanan lebih lanjut, memasuki perjalanan yang berat, utamanya bagi anak-anak, karena naik turun bukit, serta menyeberangi sungai, besar dan kecil.
Pernah, Pipi berteriak-teriak mengatakan ada: …Ada ular besar! Ada ular besar! Ternyata, yang dilihatnya hanyalah sebuah akar pohon yang besar.

Sering anak-anak digèndong saat menyeberang sungai dan ditarik saat menaiki bukit.
Sesekali kesunyian hutan dipecahkan oleh kicau burung dan suara binatang lain.

Bahkan, Pipi pernah melihat burung merak jantan yang sedang menari-nari memperagakan keindahannya di hadapan yang betina.
Di waktu lain, juga menemui banyak burung enggang dengan suaranya yang khas.
Hutan makin tebal dan kalau malam gelap gulita.
Untuk menghemat minyak tanah, saat mengobrol diterangi
upet saja, yaitu jalinan tali yang terbuat dari kulit pohon kering dan dibakar ujungnya dengan harapan baranya menjadi pengganti lampu, jadi penerangnya bukan berupa lidah api.
Upet ini juga mudah untuk dibawa kemana-mana sebagai sekedar penerang jalan.

Wanita wanita cantik di dalam Hutan
Pada suatu pagi, tiba-tiba ada pemandangan yang menarik mata laki-laki, karena melihat suatu suku di hutan itu yang wanitanya cantik-cantik, putih kulitnya, dan jalannya tegap.
Hebatnya lagi, mereka tak memakai penutup dada (braless).
Pakaian penutup bagian bawah badannya dibuat dari kulit kayu yang dikeringkan.
Mereka jalan tegap seperti peragawati, karena terbiasa membawa ranting-ranting kayu di atas kepalanya.
Rombongan juga singgah di kampung mereka yang sederhana.

Yang menarik adalah jendela rumah mereka, kalau terbuka, maka jendela dari rumah yang satu dengan jendela rumah di sebelahnya itu tampak sebaris.
Jadi kita dapat dengan mudah melihat jendela-jendela empat atau lima rumah berikutnya.
Pipi menceritakan, kecantikan wanita-wanita muda itu banyak yang bagai bintang film kesenangannya, yaitu Pier Angeli.

Walau itu adalah bentuk pengungkapan yang berlebihan, tetapi kita toh dapat mempercayainya, karena Pipi yang bercerita.
Di samping itu, tampaknya memang wanita-wanita ini senang kawin cerai; ada yang dengan bangga bercerita, bahwa suami temannya yang dia tunjuk, dulu adalah bekas suaminya.

 

Hebatnya lagi, bahkan ada wanita yang sempat menunjuk empat laki-laki yang kebetulan melintas, bahwa semua bekas suaminya.

Suatu suku yang pasti menarik bagi pecinta adat istiadat suku terasing (anthropologist).

 

Anak-anak yang lelaki sering mengomentari sambil menunjuk wanita yang lewat, bahwa wanita ini gadis, wanita yang itu sedang menyusui, atau yang ini nenek-nenek, hanya dengan melihat payudaranya.

 

Betul-betul selingan yang menarik mata para lelaki, dari anak sampai yang anggota rombongan yang tua.

2)illustrasi pantai kota padang

 

 

 

3)poster iklan Taruna AMN

 

4)Illustrasi Latihan Militer di Air Tawar

 

 

20 Juni 1961

SUARA PERSATUAN 20 DJUNI 1961

1) 247 Ex pengikut PRRI/RPI Dikembalikan Kemasyarakat

2)602 Pucuk Senjata Disita

3)Tukarkan Segera  uang kerta Bank Indonesia edisi 1952 pecahan Rp.5,Rp.10,Rp 25 dan Rp.50.- berdasarkan pengumuman 2 juni 1961.

4)Mobrig Jon 1130 Sampai di Padang yang diperbantukan di KODAM III  dipimpin Komandannya AKP Soewarso Haryono. dengan persenjataan lengkap.

21 Juni 1961

SUARA PERSATUAN 21 DJUNI 1961

1) Nj, Samual dan Pantouw  Tertangkap ,Operasi “Gontjang” hantjurkan Kekuatan Sumual.

 

.SUARA PERSATUAN 27 DJUNI 1961

1) Achmad Husein cs Telah kembali Kepangkuan RI

2) 36 ex Pengikut PRRI/RPI Dikembalikan Kemasjarakat

(Dr Iwan)

29 Juni 1961

SUARA PERSATUAN 29 DJUNI 1961

1) Sjafruddin Gelisah dan Curiga Yang Dianggap Kawan Mau Menangkap

 

2) Sudah 2737 Gerombolan Laporkan diri Selama  1 Minggu

3) Iklan  

(1) Reklame Film Bioskop Raya Detik2 Berbahaya, bintang film,Mieke Widjaja,Hadisjam Tahax,Alwi dan Jeffry Sani  diiringi band Taruna ria,

(2) Taruna Djenaka (Ayam den Lapeh),

(3) Konsepsi Ajah ,bitang film Fifi Young dan chaitir Harro

 

Pengalaman Salviyah Prawiranegara Yudanarso (Pipi) mengikuti Ayah
ditulis oleh: dryuda42@gmail.com

Suatu pagi, hari yang istimewa bagi anak-anak

 

Di suatu pagi, ada yang istimewa, Pak Sjaf menyampaikan, bahwa seluruh anggota rombongan harus bersiap-siap untuk turun kembali ke kota, perjuangan telah dianggap cukup.

 

Kata Pipi, saat itu terlihat di saku baju ayahnya ada amplop surat dengan petanda dari Departemen Pertahanan, dan di amplopnya tertulis: Ayahanda tercinta.

Kami menyambut dengan berbagai tanggapan: yang gembira, karena dapat segera sekolah kembali
Yang tidak setuju mengungkapkan dengan agak histeris, bahwa …..kalau begitu, kita menyerah dong! Katanya kita akan menang!
Dengan lembut, ibunya Pipi menenangkan dan berhasil membuat dia dapat menerima dengan ikhlas.

Ayahnya mengatakan: ….Demi kebenaran, tak apa kita kalah…untuk menang! (di kemudian hari ketika disyahkannya undang-undang Otonomi Daerah, Pipi mengerti arti ucapan beliau itu).

Rasanya telah lama sekali kami berkelana, tanpa kepastian akan masa depan…. di sekitar hutan terakhir ini saja rombongan sudah kurang lebih setengah tahun.
Ibunya Pipi langsung memerintahkan anak-anaknya untuk bersiap-siap: …..Pakai pakaian yang bagus, jangan perlihatkan yang compang-camping.
Kita harus menunjukkan, bahwa kita tidak sengsara!
Yes, mum!…. kata Pipi singkat dengan gembira.
Disusul keributan saudarasaudaranya yang lain mempersiapkan pakaian untuk hari yang dinanti-nantikan.

 

 

Suatu keputusan telah diambil!
Pada saat itu, ternyata rombongan berkumpul di dekat desa Pinarik.

 

Pada siang hari, datanglah Pak Bachtiar, komandan Resimen, dikawal oleh beberapa Perwira dan tentara yang lain.

Beliau setelah memberi hormat pada ayah Pipi, kemudian memeluknya.

 

Pipi melihat tentara-tentara yang datang berpakaian dinas, berperasaan seperti melihat raksasa-raksasa gagah yang berbadan besar-besar.

Sungguh sulit diungkapkan, karena merekalah yang selama ini harus dihindari untuk bertemu di hutan.
Rombongan diminta bersiap-siap naik kendaraan militer malam hari.
Singkat kata, perjalanan malam hari itu berlalu sudah, dan dini hari kami sampai di kota Padangsidempuan.

Kami ditempatkan di rumah pak Aswin.
Besoknya, beramai-ramai masyarakat menyambut kami dengan membawa beras, baju, bahkan uang dan sebagainya, yang tampaknya diberikan dengan ikhlas.

 

Malam harinya,

Pipi sekeluarga diundang untuk makan malam di rumah pak Bachtiar.
Terasa makanannya mewah dan
uèènak, sekali, sangat lain dengan makanan di hutan.

Oleh pak Bachtiar, kami juga satu persatu diberi buku kecil berjudul MANIPOL USDEK dan berkata: ….Adik-adik, ini ada buku untuk dibaca, beginilah negara kita saat ini.

 

Kita tahu, bahwa buku itu bagian dari tugasnya untuk memberi pendidikan politik.


Memang, adalah suatu pengalaman hidup yang luar biasa indah dan aneka ragam saat…Pipi jadi orang utan.

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi dirimba hutan yang lengang

Kita semua tak perlu ragu
pelajaran penting dari masa lalu
ketika Soekarno bertindak keliru
rimba dan hutan telah membantu

Kini hutan banyak dirusak
oleh kepentingan berbagai pihak
termasuk pejabat bersifat tomak
harus dilawan wajib ditolak

 

 

 

30 Juni 1961

.SUARA PERSATUAN 30 DJUNI 1961

1) Achmad Husein dan pengikutnja Laporkan diri Kepada dejah (Deputi MKN/KASAD Wilayah  )Sumatera

 

2)illustrasi makan bersam achmad husein, dan KASTAF KODAM III

(Dr Iwan)

 

 

Pasukan  PRRI  Kembali ke Ibu Pertiwi dari Grilya

Saya  melihat banyak sekali ex pasukan PRRI yang kembali ke Kota padang dari grilya, sebagian ditampung di gedung CCH Santu Jusuf di depan HBT Padang.dibelakang Tanah Kongsi.

Semoga  kisah dan koleksi PRRI ini dpat memberikan tambahan faktual historis PRRI..(Dr Iwan)

 

Pada tahun 1961 PRRI menyerah, Komando  Operasi 17 Agustus (KOPAG) dirobah menjadi Komando Daerah Militer 17 Agustus (KODAMAG), selanjutnya berobah menjadi Kodam III/17 Agustus. Kemudian jajaran KOPAG seperti RTP-I sampai RTP-III berobah menjadi KOREM, dan PDM berobah menjadi KODIM dan Biro-biro A,B,C, dan E berobah menjadi Staf-1 sampai 5.

(kodim Tanah datar)

 

21 Juli 1961

 

Perundingan Soposurung , Balige diadakan hari ini di kompleks pemakaman Sisingamangaraja, atas usul  Komanda KOREM Selamat Ginting.

Dalam perundingan  antara KOREM  dan Utusan PRRI  Divisi Pusuk bubit  ynag dipimpin mayor  Nanti Sitorus, diputuskan  eplaksanaan berupa pelaporan  umum kepada  Pemerintah republic Indonesia  aakn diselengarakan 12 Agustus 1961.

(mauludin Simbolon)

 

 

12 Agustus 1961

Pagi hari yang telah ditetapkan  yaitu tanggal 12 Agustus 1961 Kol Mauludin simbolon, beserta rombonga  berangkat ke Balige,

Beberapa kilometer sebelum memasuki balige, Kol simbolon  berhenti,beliau ingin berziarah ek makam sisingamangaraja.

 

 Disana ia mengucapkan “Kami dapat kembali dengan selamat karena kasih  dan karunia Tuhan yang mahaesa” dalam bahasa batak.

Kolonel Simbolon  melapor  kepada  kepada Menhankam  yang diwakili oleh Jnedral Gatot subroto  untuk kembali kepangkuan  Ibu Pertiwi di balige.

(Mauludin Simbolon)

Oktober 1961

Hasil gemilang diperoleh oleh Yon A (Yonif 141) yang berhasil menawan sejumlah besar pejuang yang menjadi pengikut Mayor Nawawi dkk yang terlibat dalam PRRI. Kemudian pada Oktober 1961 Yon C (Yon 144) bertugas menumpas PRRI diwilayah Air Hitam pendopo dengan pimpinan Kapten Z.A. Sikin dan Mayor Usman dengan keberhasilan menewaskan 28 orang musuh dan merebut 16 pucuk senjata. Operasi terus berlanjut terutama di sekayu oleh pasukan dari Yon D Ki-II dan Ki-III.

Untuk mencegah perluasan pengaruh gerakan dari Mayor Nawawi dkk dalam PRRI yang mengusung semangat ketidakpuasan atas timpangnya pembangunan antara Pusat – Daerah. KSAD memerintahkan dijalankanya Operasi Sadar dibawah pimpinan Kolonel Ibnu Sutowo dengan bantuan Kastaf TT II/SRIWIJAYA Letnal Kolonel Harun Sohar dan Komandan Resimen V. Letnan Kolonel Ryacudu.

Langkah awal yang dilakukan adalah membekukan kekuasaan Panglima TT. II/SRIWIJAYA Letkol Barlian dan diganti dengan Letkol Harun Sohar dan kemudian dibentuk komando-komando operasi dengan daerah :

Komando Resimen V sebagai ujung tombak dengan tiga sektor :

  • Sektor I Berdiskolakasi di Sungai Penuh
  • Sektor II Berdislokasi di Jambi
  • Sektor III Berdislokasi di Curup

Dibantu oleh Resimen VI sebagai Cop-II untuk cadangan dan Komandan KMKB di Palembang sebagai Cop-III.

Pasukan Mayor Nawawi Cs terus diburu dan dikepung dari segala penjuru serta diputuskan kontaknya dengan Syafruddin Prawira Negara selaku presiden PRRI yang berkedudukan di Padang. Sayangnya pasukan Nawawi dalam jumlah yang tidak sedikit dan merupakan mantan pejuang kemerdekaan berhasil  melewati kepungan untuk bergabung dengan pasukan Letkol Husain Cs di Padang

Namun Gerakan PRRI di wilayah Sumatera Bagian Selatan sendiri praktis beku dan dibuat tak berdaya oleh tindakan taktis dari Resimen V yang dilanjutkan dengan pengejaran dan pembersihan diwilayah Banyu Asin  terhadap pasukan Mayor Nawawi Cs.

Untuk operasi pengejaran dibentuklah gugus intelejen dibawah pimpinan Mayor Sainan Sagiman. Kondisi semakin sulit setelah pasukan dari Mayor A. Kori yang berkedudukan di sekayu bergabung dengan pasukan Mayor Nawawi Cs. 

Melihat akibat yang begitu luas pertempuran terbuka dalam jumlah besar antar sesama mantan pejuang kemerdekaan akhirnya MBAD mengutus Kolonel Sabirin Muchtar untuk mengusahakan Mayor Nawawi, Mayor A Kori, dan perwira lainya berikut pasukan mereka kembali kepangkuan Ibu pertiwi

Untuk tugas ini diminta bantuan ulama sepuh Sumatera Selatan Kyai. Haji Kiagus Rasyid Siddiq yang sangat dihormati kedua pimpinan utama PRRI ini dibantu oleh Kyai Haji Kiagus Muhammad Zen.

Akhirnya Mayor Nawawi dan lain-lain perwira yang ikut andil dalam gerakan PRRI beserta pasukan takluk dibawah jalur diplomasi dan bersedia menandatangani kembali kepangkuan NKRI dengan dihadiri oleh KSAD. Jendral Abdul Haris Nasution, Panglima TT. II/SRIWIJAYA Kolonel Harun Sohar, Gubernur Achmad Bastari, Sainan Sagiman, Wahab Sarobu dan Ulama serta tokoh masyarakat Sumatera Bagian Selatan

(KODAM Sriwijaya web blog)

26 Oktober 1961

KSAD RPI, Brigjen Ventje Sumual dengan bantuan para bekas perwira Permesta yang telah menyerah, menyerahkan diri dengan menghadap KSAD Jenderal TNI A.H. Nasution di rumah dinasnya dan diantar Panglima Kodam XIII/Merdeka,

Kolonel Soenandar Priosudarmo dan secara tertulis menyatakan “menyerah, ulangi menyerah tanpa syarat“, serta dengan tegas menyatakan bahwa ia memikul diatas pundaknya seluruh tanggung jawab bagi segenap jajaran pasukan tentara dan sipil Permesta baik di dalam maupun di luar negeri.

Surat penyerahan diri tersebut bertanggal 4 Oktober (karena batas akhir ultimatum surat keputusan Presiden RI berakhir tanggal 5 Oktober).

Saat itu, ikut pula 50 orang yang ikut menyerah bersamanya.

Sebelumnya, Pemerintah Pusat mengirim Mayor Soleman Lumintang alias Kakek, bekas Komandan Bn.C/WK-IV Permesta, yang dikenal cukup dekat dan mampu untuk mendekati dan berunding dengan Ventje Sumual yang masih bersembunyi di hutan.

Ternyata pada saat bersamaan, Ventje Sumual sudah keluar hutan untuk menyerahkan diri.

Mereka berpapasan di sekitar hutan Tumani, Tompaso Baru

 

Korban Pergolakan PRRI

Menurut laporan korban di pihak (pemerintah) terbunuh sebanyak 983 orang, 1.695 luka-luka dan 154 orang hilang, sementara pihak PRRI sebanyak 6.373 terbunuh, 1.201 terluka dan yang tertangkap serta 6.057 yang menyerah (W.A.Hanna, 1959:14).

Menurut sumber resmi Kodam 17 Agustus di pihak PRRI sebanyak 6.115 tewas dan 627 yang hilang, sedang pihak Kodam III/APRI sebanyak 1.031 tewas, dengan rincian 329 tentara, 56 brimob, 67 OPR, 7 pegawai dan 572 rakyat (Caturwarsa, 1963: 81).
Jumlah ini belum termasuk kasus-kasus penyiksaaan dan pemerkosaan serta teror.

(Zet Mustika)

 

 

LAMPIRAN TERKAIT PRRI

 

 

26 juli 1966

 

Sehari setelah Soeharto menjadi pejabat Presiden, para tahanan militer dan sipil yang ditahan di Rumah Tahanan Militer Setiabudi, seperti Ventje Sumual, Dolf Runturambi, Maluddin Simbolon, Achmad Husein, Syafruddin Prawiranegara, Mr. Asaat, dan Anak Agung Gede Agung dibebaskan dengan surat pembebasan yang dibacakan seorang jaksa bernama Adnan Buyung Nasution.

 

Selengkapnya, para tahanan yang ditahan/dikarantinakan di Rumah Tahanan Militer adalah sbb:

  1. Mr. Sjafruddin Prawiranegara, mantan Presiden Pemerintah Darurat RI (saat Presiden Soekarno dan Wapres Moh. Hatta dibuang ke Pulau Bangka oleh Belanda), mantan Perdana Menteri RI, mantan Gubernur Bank Sentral Indonesia;
  2. Mr. Asaat, mantan pejabat Presiden Republik Indonesia;
  3. Mr. Burhanuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI;
  4. Mr. Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI;
  5. Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI (meninggal dalam masa tahanan);
  6. Mr. Mohammad Roem, mantan Menlu RI;
  7. Mr. Prawoto, mantan Menteri RI;
  8. Otto Rondonuwu, ;
  9. Anak Agung Gde Agung, mantan Menlu RI;
  10. Sultan Hamid, mantan Menteri Negara RIS;
  11. Subadio, mantan Ketua PSI;
  12. Mochtar Lubis, wartawan;
  13. Haji Johannes Cornelis Princen, praktisi HAM;
  14. Bapak Mohammad Saleh;
  15. Bapak Mutaqin;
  16. Bapak Hassan, wartawan;
  17. Kolonel Zulkifli Lubis, mantan KSAD TNI;
  18. Kolonel Maluddin Simbolon, mantan Panglima TT-I/Bukit Barisan;
  19. Letkol H.N. Ventje Sumual, mantan Panglima TT-VII/Wirabuana;
  20. Letkol Achmad Husein, mantan Panglima Sumatera Barat;
  21. Mayor Nawawi, mantan Kepala Staf Wilayah Sumatera Selatan
  22. Mayor J.M.J. (Nun) Pantouw, mantan Asisten I StafKo TT-VII/Wirabuana;
  23. Mayor Dolf Runturambi, mantan Kepala Staf Gubernur Militer Sulutteng;

dan beberapa orang bekas pejabat sipil lainnya

 

1970

 

“Hatta… Kau benar,”katanya dalam bahasa Belanda. Hatta tidak merespon kata-kata itu. Ia hanya tepekur. Sedih. Dan tentunya itu bukan sebuah kepura-puraan.Waktu kemudian menjadi saksi, pertemuan dua sahabat yang mengantarkan kelahiran bayi bernama Indonesia itu, adalah pertemuan terakhir kalinya. Beberapa hari kemudian, tepatnya 21 Juni 1970 Soekarno pun pergi untuk selamanya.

(gungun Misbah Gunawan)

 

 

 

 

29 Nopember 1998

Kliping Artikel Meninggalnya Tokoh PRRI Ahmad Husein di Surak Kabar Kompas(Dr Iwan)

.

 

 

TOKOH PRRI AHMAD HUSEIN MENINGGAL DUNIA

 

Kolonel(purn) Ahmad Husein Tokoh Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sabtu 28 /11-1998 sabtu pukul 1.00 WIB meninggal dunia di Pavilliun Kartika RSPAD Gatot Subroto Jakarta, setelah dirawat selama tiga minggu.

Menurut anaknya Doni Hussein almarhum yang menderita penyakit Jantung meninggal setelah mengalami perdarahan otak.

Jenazah dimakamkan secara militer di Taman makam Pahlawan Kuranji Padang, sabtu pukul 15.00 WIB ,diantara seribu pelayat tampak antara lain Menteri tenaga Kerja Fahmi Idris, Mantan Merteri Agama Tarmizi Taher, sesepuh minang dan mantan menteri tenaga Kerja harun Zein, Gubernur SUMBAR Muchlis Ibrahim, menantu almarhum Mayjen Ismet Yuzairi, Panglima KODAM Bukit Barisan, Budayawan A.A.Navis, Sejumlah anggota DPR dan MPR RI.

 

Menurut mantan anak buahnya, Let Kol sjuib(purn) , Ahmad Hussein dilahirkan di Padang 1 April 1925, adalah pemimpin yang berani mengultimatum Presiden Sukarno ,anti komunis,pemerataan pembangunan, otonomi daerah yang luas dan menyerukan rujukanya dwitunggal Sukarno Hatta pada akhir tahun 1950-an.

Pada awal kariernya almarhum sebagai komandan batalyon Harimau Kuranji, yang mempertahankan Kota Padang saat perjuangan Kemerdekaan dan revolusi fisik berlangsung.Anak seorang Ulama yang berasal dari Batusangkar ini pernah menjabat Koamdan KDMST(komando xdaerah Militer Sumatera Tengah) (mal)

Lampiran lengkap baca di bvuku ketiga Sejarah PRRI

 

2013

 

Mungkin karena saya sering bertanya-tanya tentang keabsahan penganugerahan Pahlawan Nasional tersebut, akhirnya saya kemudian diundang untuk mengikuti pertemuan para ahli sejarah pada awal Januari 2012. Pertemuan tersebut sebenarnya sedang membahas tentang rencana pemberian gelar pahlawan nasional, bagi seorang tokoh untuk peng-anugerahan direncanakan akan diberikan pada tahun 2012 ini (lihat foto dikanan). Hadir dalam pertemuan tersebut pimpinan organisasi Pembela Tanah Air (PETA), pimpinan organisasi Tentara Pelajar (TP), pimpinan organisasi Legiun Veteran, para Doktor ahli-ahli sejarah dari perguruan tinggi dan juga para ahli sejarah dari TNI.

Dari diskusi pada hari itu, saya menyaksikan bahwa para ahli sejarah Indonesia sudah semakin arif dan sangat berimbang dalam melihat perspektif sejarah. Di era reformasi ini nampaknya mereka sudah meninggalkan idiom Winston Curchill, yang mengatakan bahwa “Sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang”. Inilah jawaban mereka mengenai gelar Pahlawan Nasional, yang diberikan kepada Syafruddin Prawinegara.

Terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

 

Pada tanggal 19 Desember 1948, kota Jogjakarta diduduki oleh Belanda. Soekarno dan Hatta kemudian ditangkap untuk diasingkan ke Pulau Bangka (foto dikiri). Rupanya sebelum ditangkap, sang Dwi-tunggal sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara. Sehingga pada tanggal 22 Desember 1948, dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan Mr. Syafruddin Prawiranegara, sebagai Ketua PDRI. Kantor Pemerintahan Indonesia saat itu, antara lain berpindah dari Jogjakarta ke Bidar Alam, Sumatra Barat  (foto dikanan). Berikut Pidato Syafruddin yang sangat terkenal, saat ia dilantik (tentu bahasa aslinya dalam ejaan lama) :

 

Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti.

Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh.”

 

Sejak pidato yang disiarkan secara luas itu membahana ke seluruh pelosok negeri, PDRI menjadi musuh nomor satu Belanda. Tokoh-tokoh PDRI harus bergerak terus sambil menyamar untuk menghindari kejaran dan serangan Belanda. Perlawanan bersenjata dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta berbagai laskar di Jawa, Sumatera serta beberapa daerah lain. Perlawanan PDRI di Sumatra dilakukan dengan membentuk 5 (lima) wilayah pemerintahan militer.

Sehingga menjelang pertengahan 1949, posisi Belanda makin terjepit. Dunia internasional mengecam agresi militer Belanda. Sedang di Indonesia, pasukannya tidak pernah berhasil berkuasa penuh. Keadaan ini memaksa Belanda untuk menghadapi RI di meja perundingan, yang nantinya menghasilkan kesepakatan yang bernama Perjanjian Roem-Royen. Dengan perjanjian ini, kembalilah ibu kota Jogjakarta ke tangan Soekarno-Hatta (foto dikiri saat Jendral Soedirman kembali ke Jogja, diterima Soekarno).

Tidak mengakui kepahlawanan Syafruddin, berarti menganggap bahwa sejarah Indonesia terputus antara Desember 1948 (sejak Soekarno-Hatta tertangkap) sampai kembalinya pemerintahan Indonesia ke Jogjakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Itulah argumentasi para ahli sejarah.

 Lalu siapakah yang memojokan Belanda sehingga mau berunding di perundingan Roem-Royen ?.

Tentu PDRI bersama TNI-lah yang paling berjasa.

Lalu bagaimana peran Syafruddin dalam Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ?

 

Pada awal tahun 1958, Pemberontakan PRRI terjadi akibat ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah Soekarno-Hatta, karena ketimpangan sosial yang terjadi dan juga semakin menguatnya pengaruh komunis (terutama PKI). Syafruddin diangkat sebagai Presiden PRRI yang berbasis di Sumatera Tengah (foto dikanan). Namun pemberontakan ini hanya berlangsung kurang dari setahun. Pada bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya bergabung dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk PRRI.

Menurut para ahli sejarah, kalau amnesti dan abolisi sudah diberikan, maka pemberontakan PRRI yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara, secara de Facto dan de Jure dimaafkan oleh Pemerintah Indonesia yang sah. Itulah alasan kenapa para ahli sejarah mendukung pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syafruddin.

Lalu saya bertanya, “Apakah Soeharto bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional ?”. Nampaknya salah satu hal yang mempersulit Soeharto untuk menerima penghargaan ini adalah, kebijakan “genocide” (pembunuhan massal tanpa proses hukum) yang pernah ia dilakukan. Peristiwa Genocide ini terjadi setelah perisitiwa G-30-S PKI dan juga peristiwa Pembunuhan Misterius (petrus). Buku-buku sejarah menunjukkan dan juga bahkan tulisan Soeharto sendiri menjelaskan, bahwa kebijakan Genocide, memang perintah yang dikeluarkan Soeharto. “Lalu bagaimana dengan Gus Dur”, tanya saya. Menjawab pertanyaan ini, para ahli sejarah terkesan hati-hati. Namun menurut mereka, salah satu kriteria gelar pahlawan adalah pernah memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajah.

Demikian liputan kami.

Salam
Hengki

Sumber triharyo web blog

 

Pembahasan Catatan Kaki

 

Ahmad Yani

Sebuah Kenang-kenangan,

 dikarang oleh Ibu Ahmad Yani, diterbitkan tahun 1981

 

Buku ini berisi informasi peran Ahamd Yani sebagai Komadan Operasi 17 Agust menumpas PRRI,disusun berdasarkan pengalaman prribadi dan buku-buku dari Dinas sejarah TNI AD dan buku-buku lain terkait.

 

Koleksi Sejarah PRRI oleh Dr Iwan

 

Informasi  ini berupa buku elektronik dalam CD-ROM yang khusus dibuat untuk kolektor senior dan penelitian historian  serta info untuk produksi film dokumenter  berdasarkan pengalaman pribadi dan koleksi pribadi yang dikumpulkan sejak tahun 1973 sampai saat ini berupa dokumen asli,buku dan majallah serta surat kabar asli yang berisi info PRRRI tahun 1958-1951 termasuk koleksi uang kertas PRRI , telah mendapat tawaran untuk dijadikan film dokumenter oleh Ery dari Metro File  Metro TV tetapi belum ada konfirmasi sampai saat ini.

 

Kolektor Sejarah Web Blog

Mengumpulkan buku-buku dan info sejarah termasuk PRRI, artikel Dr iwan ada yang ditag, dan ada juag beberapa info yang menambah fakta sejarah PRRI

 

 

Kodam Sriwijaya web blog

 

Informasi mengenai peran TT-II Sumatera Selatan dalam pergolakan PRRI

 

 

Maludin Simbolon

Liku-Liku Perjuangannya Dalam Pembangunan bangsa

Dikarang oleh Prof dr Payung Bangun M.A.

Terbitan Pustaka sinar harapan, Jakarta,1996

 

 Cuplikan hanya yang erat hubungannya dengan PRRI di Sumatera tengah, Masih banyak informasi PRRI di Tapanuli yang dapat dibaca dalam buku ini.

 

Merdeka Web Blog

Mengumpulkan informasi yang terkait menurut  abjad, untuk PRRI ditemukan beberapa info .

Nagari Web Blog

Web blog yang mengumpulkan artikel dan karangan tentang  PRRI dalam bentuk Gurindam

Nugroho Notosutanto

Brigjen TNI AD Nugroho Notosutanto, Penyusun Buku Tiga Puluh Tahun Angkatan bersenjata RI, buku ini menampilkan banyak gambar ilustrasi masa revolusi dan PRRI, sehingga data dan ilustrasi tersebut dapat melengkapi infor lainnya .

Syamaun Gaharu,

Brigjen TNI AD Syamaun Gaharu, Kisah Perjauangan Syamaun Gaharu di Aceh, memberika beberapa inforrmasi tentang TNI AD saat revolusi, dan pengaruh PRRI ke Aceh dan DI/TII Daud Berueh.

Sukarnoyears web blog

berisi informasi tentang PRRI berdasarkan media asing dan yang penting adalah info dibukanya arsip CIA Amerika serikat tentang PRRI sehingga dijkeatui dengan jelas peran USA dan CIa dalam Pergolakan PRRI

 

Umar Wirahadikusuma

Autobiografi  Umar Wieahadikusuma bagian pelaksanaan tugas menumpas PRRI terutama perannya di Medan dan Tapanuli

KOLEKSI SEJARAH INDONESI 1962

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1962

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno

 

(lahir dengan nama Naoko Nemoto (????? Nemoto Naoko?) di Tokyo, 6 Februari 1940; umur 71 tahun) adalah istri ke-5 Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia pertama.

Dewi menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ketika berumur 19 tahun dan mempunyai anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno.

Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seorang relasi ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Menjelang redupnya kekuasaan Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah lebih sepuluh tahun bermukim di Paris, sejak 1983 Dewi kembali menetap di Jakarta.

Ketika berumur 19 tahun, Dewi Soekarno bertemu dengan Soekarno yang telah berumur 57 tahun sewaktu sedang dalam kunjungan kenegaraan di Jepang.

Sebelum menjadi istri Sukarno, ia adalah seorang pelajar dan entertainer. Ada gosip bahwa dirinya telah bekerja sebagai geisha, namun beliau telah berulang kali menyangkal hal ini. Dia mempunyai seorang putri bernama Kartika.

Setelah bercerai dengan Sukarno, Ratna Sari Dewi Soekarno kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2008 ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang, di mana dia tinggal di sebuah tempat yang luas dengan empat lantai dan penuh kenangan.

Ratna Sari Dewi Soekarno dikenal dengan kepribadiannya yang terus terang. Beliau sering disebut sebagai Dewi Fujin (??? ?? Devi Fujin, secara harfiah “Ibu Dewi” atau “Madame Dewi”). Nama lengkapnya adalah Ratna Sari Dewi Soekarno (??? ?? ??? ???? Ratona Sari Devi Sukaruno), tapi dia lebih sering disebut sebagai “Madame Dewi”. Dia membuat penampilan di media massa setelah Januari 2008 kematian suaminya penerus Soeharto, menyalahkan dia untuk melembagakan sebuah rezim represif dan menyerupai Despotisme Kamboja, Pol Pot.

Pada tahun 2008 Ratna Sari Dewi Soekarno menjalankan sendiri bisnis perhiasan dan kosmetik serta aktif dalam penggalangan dana. Terkadang dia tampil di acara TV Jepang dan menjadi juri untuk kontes kecantikan, seperti Miss International 2005 di Tokyo.

Pada bulan Januari 1992, Dewi menjadi terlibat di dalam banyak perkelahian dipublikasikan di sebuah pesta di Aspen, Colorado, Amerika Serikat dengan sesama tokoh masyarakat internasional dan ahli waris Minnie Osmeña, putri mantan presiden Filipina. Ketegangan sudah ada antara keduanya, dimulai dengan pertukaran di pihak lain beberapa bulan sebelumnya, di mana Dewi terdengar tertawa ketika Osmena menyatakan rencana politiknya, di antaranya adalah keinginan untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden Filipina.

Aspen meludah yang konon dilaporkan oleh dipicunya sebuah kiasan yang dibuat oleh Dewi untuk Osmena di masa lalu yang kemudian memuncak dengan Dewi memukul wajah Osmena dengan memakai gelas anggur. Pukulan tersebut meninggalkan luka yang membutuhkan 37 jahitan. Dewi kemudian dipenjara selama 34 hari di Aspen untuk perilaku kacau setelah kejadian.

Pada tahun 1998, ia berpose untuk sebuah buku foto berjudul Madame Syuga yang diterbitkan di negara asalnya, di mana sebagian gambar yang ditampilkan ia pose-pose setengah bugil dan menampakan seperti tato. Bukunya untuk sementara tidak didistribusikan di Indonesia dan segera dilarang karena dengan banyak orang Indonesia merasa tersinggung dengan apa yang dianggap mencemarkan nama baik Sukarno dan warisannya

 

 

 

 

 

 

16 Mei 1962

Percobaan Pembunuhan Bung Karno Oleh DI/TII

Ajun Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo mengisahkan peristiwa tanggal 14 mei 1962 itu dalam buku Gerakan 30 September, pelaku, pahlawan dan petualang yang ditulis Wartawan senior Julius Pour, terbitan Kompas.


Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) ini baru menerima kabar dari Kapten (CPM) Dahlan. Laporan itu menyebutkan Kelompok Darul Islam merencanakan untuk membunuh Presiden Soekarno.


Saat itu Mangil memeriksa jadwal presiden Soekarno satu minggu kedepan. Mangil yakin, para pemberontak itu pasti akan menyerang Bung Karno saat sholat Idul Adha. Saat itu istana menggelar sholat Id, penjagaan relatif longgar dan semua pintu istana terbuka.

Maka Mangil bersiaga saat Idul Adha, Dia sengaja tidak ikut sholat Id. “Saya duduk enam langkah di depan bapak. Disamping saya duduk Inspektur Polisi Soedio, kami berdua menghadap kearah umat, sedangkan tiga anak buah, Amon Soedrajat, Abdul Karim dan Susilo pakai pakaian sipil dan berpistol duduk disekeliling bapak,” cerita Mangil.
Tiba-tiba saat ruku’, seorang pria bertakbir keras, dia mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Bung Karno.


Refleks, semua pengawal berlarian menubruk Bung Karno. Amoen melindungi Bung Karno dengan tubuhnya.
Dor ! Sebutir peluru menembus dadanya Amoen terjatuh berlumuran darah.

Dor ! Pistol menyalak lagi. Kali ini menyerempet kepala Susilo. Tapi tanpa menghiraukan luka-lukanya, Susilo menerjang penembak gelap itu.

Dua anggota DKP membantu Susilo menyergap penembak yang belakangan diketahui bernama Bachrum. Pistol milik Bachrum akhirnya bisa direbut DKP. Bung Karno berhasil diselamatkan. Begitu juga dengan dua polisi pengawalnya, untungnya walau terluka parah, Amoen dan Susilo selamat.

Bung Karno juga menceritakan serangan ini dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams. Beliau menyebutkan, berkali-kali Darul Islam mencoba membunuhnya. Mulai dari serangan pesawat udara, granat Cikini, dan akhirnya menyerang saat sholat Idul Adha. Bung Karno menilai mereka adalah orang-orang terpelajar yang ultrafanatik pada ideologi tertentu. Orang-orang yang mencoba membunuh Bung Karno di adili dan dihukum mati.

Namun belakangan Soekarno memberikan amnesti dan membatalkan hukuman mati tersebut.

“Aku tidak sampai hati memerintahkan dia dieksekusi,” kata Bung Karno.

(buku Gerakan 30 September, pelaku, pahlawan dan petualang yang ditulis Wartawan senior Julius Pour, terbitan Kompas)

 

 

Banjirnya uang dari Jepang, memberanikan tekad Soekarno menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962,

dengan sebuah stadion raksasa yang dianggap mewah sampai sekarang. Juga menyelengarakan pesta olah raga antara negara berkembang,

 

Stadion Utama Gelora Bung Karno sangat bersejarah bagi dunia olahraga Indonesia. Stadion ini digagas oleh sang proklamator Bapak Soekarno menyambut Asian Games keempat tahun 1962 sekaligus menjadi ruang terbuka hijau bagi warga Jakarta. Konsep atap stadion yang unik atau Bung Karno menyebutnya “Temu Gelang” layaknya cincin raksasa menjadi ciri khas stadion ini.

21 Juli 1962

Hingga pada 21 Juli 1962 Stadion Utama Gelora Bung Karno selesai dibangun dengan kapasitas mencapai 100 ribu  penonton. Stadion ini terdiri dari lapangan sepakbola dengan luas 105 x 70 meter yang dikelilingi oleh jalan lingkar luar (athletic tracks) sepanjang 920 meter.

Pada masa orde baru nama stadion ini dirubah menjadi Stadion Utama Senayan hingga tahun 1998 namanya kembali menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001. Sejumlah pertandingan olahraga internasional bersejarah pernah digelar di komplek Stadion kebanggaan masyarakat Indonesia ini

 

 

 

 

Pembukaan Asean Games oleh ketua KONI Sulatn hemangku Buwono didampingi presiden sukarno

 

 

 

 

 

.

Booklet perangko Asian games ke IV

 

 

FDC Asain Games ke IV

 

 

DWIKORA : Kempen Ganyang Malaysia

24-01-2013 19:13

credit for garudamiliter

Bila agan melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya. Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964. Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama ‘Negara Boneka” Malaysia. Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan ‘Negara Boneka’ Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.

Terbesar di Asia Tenggara
Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia. sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.

Berbagai Nama Operasi Militer
Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti: Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force. Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet, Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan. Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi. Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI. Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.

Kisah Tragis Hercule T-1307
Pada saat melaksanakan operasi Antasari tanggal 2 September 1964, tiga pesawat angkut C-130 Hercules membawa satu kompi pasukan PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Suroso. Dalam pesawat Hercules dengan nomor ekor T-1307 yang diterbangkan Pilot Mayor Pnb Djalaluddin Tantu, ikut serta seorang perwira menengah pimpinan PGT Letkol Udara Sugiri Sukani, yang ikut sekalian untuk memberi semangat kepada pasukannya.

Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantui berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules. Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

 

 

Ben Mboi ( credit for agan erwin.parikesit ) Bag.1

26-01-2013 03:01

Artikel dibawah ini seluruhnya dikutip dari Buku Biografi Ben Mboi – Dokter, Memoar Prajurit, Pamong Praja. Suntingan Sdr. Candra Gautama & Sdr. Riant Nugroho – Terbitan KPG Desember 2011.
Cuma mengutip teknis kemiliteran, dan yang berkaitan dengan suatu kejadian/peristiwa. Jika agan-agan sudah pernah membaca bukunya, anggap saja thread ini penyegaran kembali.

Jika tidak tersusun rapi, ada kesalahan ejaan, harap dimaklumi.
Maklum Nubie baru belajar posting, buatan thread di Formil.

Uploaded with ImageShack.us

Deklarasi Tri Komando Rakyat
Setelah wisuda, kami berbondong-bondong ke Kementerian Kesehatan di Jl. Kwitang. Sebenarnya sebagai pegawai Kementerian PP&K dengan mudah saya dapat menerima tawaran Prof.Hanifa untuk menjadi asisten kebidanan. Tetapi saya mendaftarkan diri ke Kementerian Kesehatan agar ditempatkan di Flores karena alasan sekian tahun mendapat beasiswa dari Flores. Suatu peluang hilang! Namun saya tidak pernah menganggap pilihan tersebut sebagai satu kerugian. Bagaimanapun, saya mempunyai kewajiban moril untuk membalas jasa rakyat Flores. Dan, karena saya memilih profesi dokter dan telah memilih pegawai negeri, maka diperlukan lolos butuh dari Kementerian PP&K.

Tapi entah apa sebabnya, ada perubahan kebijakan : seluruh dokter angkatan 1961 yang datang mendaftarkan diri ke Kemkes dialihkan ke Program Wajib Militer (Wamil) Angkatan Darat, baik dari UI, UGM, maupun Airlangga. Kebetulan pada masa itu Menteri Kesehatan dirangkap oleh Direktur Kesehatan AD, Mayjen Prof.Dr.Satrio, dulu guru besar Anatomi saya.
Komandan Pusdikkes AD adalah Kolonel dr.Ronodirdjo dengan Kepala Staf Kolonel Latief. Koloel Latief ini empat tahun kemudiannya terkenal sebagai Komandan Brigade Infanteri I/Jaya Sakti Kodam V Jaya dan dedengkot Gerakan 30 September. Di Kramat Jati terpusat Pendidikan Perwira Cadangan (Pacad) Kesehatan, dan di Salemba Pendidikan Bintara Kesehatan AD. Tetapi kami sehari-hari dipimpin oleh Kapten Mansoer sebagai Komandan Kompi Siswa dibantu oleh Peltu Londa dan Serma Salimin sebagai Sersan Pelatih.

Atmosfer dalam pendidikan cukup santai karena tidak ada orang yang percaya akan meletusnya perang, dan bahwa pasti para dokter akan ditempatkan digaris belakang sekiranya perang benar-benar meletus. Saya terpilih sebagai Ketua Senat Siswa Pacad V. Pengalaman aneh saya sepanjang pendidikan, Komandan sangat takut kepada saya. Kalau saya bertanya, dia sangat gugup. Kalau giliran periksa senjata, kami suka tukar-tukaran senapan Garrand kami. Senapan yang bersih pada saya bisa jadi kotor pada siswa lain. Tiap kali gerakan regu atau peleton, saya selalu diberi tugas Danru atau Danton. Aneh!

Selama latihan ada peristiwa penting yang erat berhubungan dengan pendidikan Pacad kami : Pertama, Deklarasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogya tanggal 19 Desember 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, Bung Karno. Sikap para siswa Pacad masih tetap sama, tidak mungkin perang! Bagaimana mungkin perang?Bagaimana cara perangnya? Perangkan harus ke Irian Barat, bagaimana caranya? Jadi Pacad ini lebih bertujuan untuk mewamilkan para dokter muda, dan dikirm ke daerah secara setengah paksa. Kalau toh akan perang, pasti dokter-dokter ditempatkan digaris belakang. Kan dokter itu mahal, tidak mungkin secara gampang menjadi umpan peluru. Begitulah logika para siswa Pacad. Tenang-tengan saja!

Kedua, pada 15 Januari 1962 kami dikeejutkan dengan berita bahwa di Teluk Etna, Laut Arafuru MTB AL KRI Macan Tutul ditenggelamkan oleh AL Belanda. Ikut gugur Komodor Jos Sudarso, Deputy Operasi Mabes AL. Maka terjadi kegeran di Pusdik Kramat Jati. Wah serius nih!…perang beneran ini!
Macam-macam cerita beredar, entah mana yang benar,tapi semua pada menyalahkan AURI mengapa tidak bereaksi ketika kelompok MTB itu diserang oleh Frigat-Frigat, Neptune AL Belanda yang telah menunggu selama beberapa hari. Konon KSAL Laksamana RE.Martadinata, sangat marah dan dalam rapat dengan Bung Karno menuntut mundurnya Suryadharma sebagai KSAU. Tanda tanya makin bertambah karena beberapa hari kemudian di bulan Januari yang sama helikopter yang ditumpangi oleh KSAL Laksamana RE.Martadinata, jatuh di Gn.Riung Puncak, Jawa Barat. Semua kejadian itu simpang siur. Ada apa ditubuh tentara kita? Masalah agak terkuak ketika KSAU Suryadharma digantikan oleh Omar Dhani. Ada yang tidak beres dalam tentara kita, tapi itu bukan urusan siswa Pacad Kesehatan. Sampai sekarang pun misteri 15 Januari 1962 tidak pernah terungkap dengan benar.

Entah kalau di Seskoal atau Seskogab. Bagi kami para siswa, ada pengumuman singkat : Kursus Dipecepat! Itu yang bikin kaget. Apa maksud memperpendek kurukulum Pacad? Berarti kami akan menjadi perwira setengah matang, setengah ilmu, setengah keterampilan, plus setengah keberanian.

Bulan Maret Tiba. Kami selesai dengan segala tentamen yang diperlukan dan akan dilantik oleh Wakil KSAD Letjen Gatot Subroto. Saya terpilih menjadi satu dari empat perwakilan menurut agama : Katolik, Protestan, Islam, dan Hindu. Saya menjadi Letnan Satu Dokter dengan Nrp.6135406.

 

Akhir Maret atau awal April, Lettu dr. Goh Hoh Sang, Lettu dr.Djatmiko, Lettu dr. Asril Aini, Lettu dr. Rudy Pattiatta, dan saya Lettu dr. Ben Mboi dipanggil oleh Aspers Kessad, Letkol Dr. Soeparto. “ Saudara-saudara terpilih untuk menjadi dokter paratropper pertama. Seterusnya saudara-saudara diperintahkan ke Margahayu dan Batujajar untuk menjalani latihan terjun payung”. Bersama dengan kami berlima, juga ada satu Batalion Raiders ikut berlatih, entah dari Batalion Raiders mana. Pada hari penerjunan kedua, terjadi kecelakaan payung terjun yang kami saksikan untuk pertama kali. Parasut seorang prajurit Raiders gagal terbuka. Dia free fall beneran setinggi 700 meter. Kakinya sampai masuk kedalam tubuhnya. Komandan dari latihan di Batujajar mengumpulkan kami semua dan seluruh anggota Raiders. “Hari ini latihan dihentikan. Siapa yang ingin mundur pada saat ini silahkan mundur!” Kmai semua tidak ada yang mau mundur. Kami semua siap meneruskan latihan.

Pada rombongan terjun kami turut juga Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad dan juga Panglima Mandala. Kenyataan ini juga membuat kami menjadi semakin berani dan bersemangat melanjutkan latihan terjun sehingga selesai, dan terjun terakhir adalah terjun malam hari yang dianggap sebagai Wing Day. Setelah lulus, kami kembali ke Jakarta dengan bangga memakai Wing Para di dada kiri.

Sepulang dari Margahayu, kami berlima boleh mengambil cuti. Jadi secara teoritis saya boleh pulang bercuti ke Flores. Namun karena letaknya terlalu jauh, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Di mess para dokter RSPAD. Saya pakai waktu senggang untuk magang di bagian bedah.

Eh suatu hari diawal Mei saya dipanggil oleh Aspers Dikesad, Letkol Dr. Soeparto.
“ Ben Mboi, kamu dinyatakan combat ready!” katanya singkat.
“ Ada satu pasukan akan diterjunkan dalam waktu dekat”.
“ Mengapa saya Overste?” saya bertanya.
“ Kawan kamu si Anu dari PDAD ( Pendidikan Dokter AD ) menolak karena bulan ini akan menikah.”
“ Oh ya? Kalau begitu saya jangan diperintah Overste!. Saya melamar!”
Dia diam, dan tampaknya statement saya itu sebagai konfirmasi.

Dari tempat Letkol Soeparto saya ketempat Kapten Haryono, perwira personalia yang mngurus kepentingan para perwira kesehatan sehari-hari.
“ Kapten, saya minta dimilsukan sebelum terjun di Irian Barat. Saya tidak mau terjun sebagai Wamil.” Milsuk adalah militer sukarela.
“ Wah, tidak bisa. Untuk menjadi milsuk perlu latihan-latihan lagi. Tidak bisa pindah begitu saja,” dia menjawab.

Dalam hati saya sudah mau pergi mati masih menghadapi birokrasi berbelit-belit. Kapten ini tidak mengerti semangat yang ada dalam jiwa saya. Saya ragu apakah dia pernah mengalami perjuangan dan perang beneran. Saya tidak mau berdebat lagi. Ketika kemudian hari saya pulang dari Irian Barat, selesai Trikora, saya temukan satu telegram yang dikirim pada November 1962, menjelaskan bahwa saya dimilsukkan dan dapat pangkat Kapten. Terus terang, pada sata pendaftaran Pacad, sebenarnya saya berstatus pegawai negeri golongan F-II dengan ikatan dinas lima tahun.
Sesuai peraturan kepangkatan lama, seyogyanya ada penyesuaian kepangkatan saya sebagai Kapten. Tetapi tepat pada angkatan saya, Pacad V, peraturan ini dihapuskan. Entah alasannya apa!. Saya tidak perdebatkan lagi kepangkatan, karena saya lebih dulukan kepejuangan demi kprajuritan saya. Ada prajurit tidak berjuang, ada pejuang yang bukan prajurit. Pangkat is not my issue!.

Tugas saya segera adalah : Pertama, menggabungkan diri dengan pasukan saya di Cijantung. Kedua, menyiapkan perbekalan farmasi dan kedokteran. Ketiga, mencari tahu Bintara Kesehatan yang akan mendampingi saya. Ternyata telah siap Serma Kesehatan Teguh Sutarmin dan Serma Kesehatan Amwat.

Perlengkapan farmasi dan kedokteran semuanya tidak kurang dari satu pluzak ditambah satu tumpuk stensilan tentang flora dan fauna Irian Barat, berisi info tentang tumbuhan dan binatang bermanfaat maupun beracun dalam bahasa lokal, Indonesia, dan Latin. Yang paling mengerikan adalah tiga jenis Ular Papua berbisa yang sangat mematikan. Terkenal dengan nama The Back Papuan Snakes. Celakanya, serum anti bisa ular buatan Kimia Farma tidak mempan. Harus diimport dari Australia. Bagaimana mendapatkannya? Tapi toh serum anti bisa buatan Kimia Farma tetaplah dibawa. Namun, ironisnya lagi, tidak ada ice box untuk serum!. Maka saya katakan, “Ini lebih sebagai berjuang dan berperang.: Sayarat-syarat teknis untuk berperang jauh dari cukup.”

Setelah semua persiapan selesai, saya pergi melapor kepada komandan saya nanti: Kapten Inf. Benny Moerdani. Saya diperkenalkan Kapten Benny kepada pasukannya, 1 Peleton Plus berkekuatan 50 orang. Tambah kami bertiga menjadi 53 orang. Perkenalan dilakukan dilapangan tembak, dimana para prajurit sedang berlatih menggunakan senapan AK-47.

Begitu dikatakan seorang dokter, perwira kesehatan akan ikut serta, seluruh pasukan langsung sumringah, naik morilnya. Baru saya menyadari bahwa tugas utama seorang dokter, perwira kesehatan dalam perang gerilya adalah to boost to morale of the troop ketimbang melakuakn tugas-tugas teknis medis. Lebih meningkatkan keberanian berperang daripada melakukan pekerjaan dokter di medan perang itu sendiri.

Sepanjang bulan Mei dan awal Juni, tiap hari pukul lima pagi, saya dijemput, dibawa ke Cijantung untuk ikut latihan-latihan dengan para prajurit, antara lain turun dari pohon dengan menggunakan tali dan snipering.

 

Sepak Terjang Manusia KodoPembebasan Irian Barat, The One Way Ticket
Pertengahan Juni 1962, kami pemilik Wing-Para diundang makan malam dirumah Menteri Kesehatan/Direktur Kesehatan AD, Brigjen dr. Satrio di Jalan Mangunsarkoro. Banyak perwira dari Ditkes AD beserta istri ada disana. Saya datang bersama pacar saya.

Tidak ada pidato seingat saya, tapi tiba-tiba saya menjadi titik tengah karena potongan pertama tumpeng diserahkan kepada saya, baru kepada orang lain. Saya mendengar para ibu-ibu berbisik pelan sesamanya melihat saya menerima tumpeng itu: “Kasihan!”

Mungkin isu akan ada penerjunan disertai dokter sudah diketahui. Pikiran saya juga jauh sekali: The war is becoming real!

Bagi saya perang masih sesuatu yang aneh, tidak ada pengalaman, kecuali melalui vuurdoop (baptis dengan api) pada penutupan dan dopper di Pusdikkes tempo hari. Tapi itukan tembakan yang diatur ketingian dan arahnya, bagaimana dengan perang beneran?tembakan beneran? Pikiran saya berkecamuk.

Perang! Jelas 1000 kali lebih dahsyat! Jadi keberanian di depan Letkol Soeparto itu kadang-kadang diganti oleh ketakutan dan keraguan. Tapi tekad untuk menunjukkan naluri bela negara sentiasa membangkitlan lagi keberanian. Jadi ketakutan dan keberanian silih berganti. Pukul 10 malam jamuan bubar. Saya anggap acara tumpengan tadi seperti mohon doa restu dan berkat Tuhan Allah bagi perjuangan yang akan saya tempuh sebentar lagi. Saya pulang ke asrama RSPAD dengan keyakinan pomimpin kesehatan AD mendoakan operasi ini, apapun namanya.

Masih lekat dalam ingatan saya peristiwa tanggal 22 Juni 1962 pukul 14.00, ketika saya sedang tidur siang. Terdengar ketukan di pintu kamar, seorang sersan RPKAD melapor:

“ Letnan, sejak saat ini letnan dinyatakan ready for combat, siap tempur. Tidak boleh beritahu siapapun! Kepada saya supaya diberikan alamat orang yang bisa dihubungi di Jakarta bila ada yang perlu disampaikan. Siapkan perlengkapan, jemputan pukul 17.00 tepat.”

Saya pergi ke asrama St.Ursula RSPAD di jalan Pos 2, asrama pacara saya. Saya menjemput dia untuk mengurus barang-barang saya di RSPAD. Tidak banyak pembicaraan, memang sukar mencari kata-kata. Pada saat perpisahan dia memberikan saya sebuah buku untuk catatan harian selama perang. How thoughtful she was! Saya sendiri tidak pikirkan.

Pukul 17.00 sore tepat, saya dijemput dengan kenderaan Jeep Gaz dan dibawa ke rumah Kapten Benny Moerdani di Cijantung. Disana juga akan bergabung Letda Czi I Gede Awet Sara dari Zipur. Malam itu ada briefing singkat dari Kapten Benny.

“ Operasi ini Operasi Naga namanya. Kita akan diterjunkan di Irian Barat bagian selatan. Persisnya dimana, nanti akan dijelaskan”. Begitu briefing singkat komandan operasi.

Para perwira, artinya Letda Czi I Gede Awet Sara (Dandenzipassus), Letda Inf. Soedarto (Dantonpassus), dan saya Lettu dr. Ben Mboi (Dandenkespassus), semuanya menginap dirumah Kapten Benny, karena tepat pukul 4 dinihari besok akan ke Halim Perdanakusumah dalam satu kenderaan.

Kapten Benny masih bujangan, jadi kami diurus oleh ajudannya. Makan malam biasa-biasa saja, dan saya seperti tidak punya nafsu makan. Sesudah makan langsung tidur, tetapi saya sulit tidur. Muncul macam-macam pikiran yang membuat mata terus terbuka, menerawang. Kalau kita menonton filem-filem perang, seperti filem D Day Normandia, kadang-kadang akan kita rasakan ketegangan para prajurit paratrooper dalam landing boat ke pantai. Tapi perasaan itu tidaklah sama dengan perasaan kalau kita sendiri yang harus menghadapi pertempuran.

Pergi menuju perang rill seperti Operasi Naga, seolah kita tidak tahu hendak pergi kemana meski pertempurannya pasti. Kita tidak tahu apakah akan terluka atau tidak, akan hidup atau tidak, akan pulang atau tidak, dan katanya hutan belantara dirimba Papua luar biasa lebatnya. Siapa yang tidak takut? Belum lagi binatang buas, dan saya harus menolong/menyembuhkan para prajurit komando itu. Saya sendiripun baru lulus sekolah kedokteran dan Perwira Cadangan AD. Pikiran-pikiran berkecamuk dan saya pun tertidur.
Tidak lama kemudian dibangunkan, sudah pukul 03.00 pagi lewat. Kami mandi, berpakaian, sarapan, dan naik Jeep Gaz Kapten Benny. Kami bersama-sama berangkat pukul 04.00 tepat ke Halim Perdanakusumah. Disana sudah menanti tiga Hercules. Seluruh peleton plus RPKAD yang berjumlah 53 orang dalam satu Hercules. Konvoy Hercules dipimpin Oleh Letkol Pnb. Slamet, dengan Navigator Mayor Nav. Ir. Tan, yang diumumkan sebagai Navigator terbaik AURI. Ketiga Hercules Take off menembus keremangan dinihari.

Pukul 0700 23 Juni 1963 kami mendarat disuatu lapangan terbang. Ternyata Lanud Iswahjudi Madiun. Rupanya kedua Hercules yang kosong tadi untuk mengangkut Kompi Bambang Soepeno Yon 530/Raider Brawijaya berkekuatan 160 orang. Jadi seluruh personil Operasi Naga berkekuatan 1 Kompi Plus berjumlah 213 orang. Kurang lebih satu jam di Madiun, penerbangan diteruskan. Tidak tahu kemana.

Pukul 1200 kami mendarat. Ternyata Lanud Mandai di Makassar. Kami semua diperintahkan debarkasi dan menanti perintah selanjutnya. Makan siang di apron Lanud Mandai. Secara kebetulan saya bertemu seorang kawan Kapten Pilot Garuda, namanya Ariffin. Kami sama-sama punya pacar di Asrama Ursula.

“ Ben Mboi, tidak telefon calon mertua?” dia bertanya.
“ Tidak,” saya jawab. “ Tidak tahu nomor teleponnya.”
Saya tidak berani melepon, karena tidak dibenarkan untuk menelpon sesiapapun. It is becoming real, my war is real!

Jump Into The Unknown: The Sky Above, The Mud Below
Setelah makan siang di Mandai, penerbangan dilanjutkan. Destination unknown! Kira-kira pukul setengah lima sore kami mendarat di lapangan terbang tanpa gedung. Amahai, suatu tempat di Pulau Seram. Saya belum pernah mendengar nama Amahai. Kmai diperintah debarkasi dan terus pergi mandi di suatu sungai kecil dekat landasan. Belakangan saya tahu, maksudnya adalah karena diperkirakan ada yang akan gugur, maka sebaiknya mandi dulu!.

Setelah mandi makan malam – makan terakhir yang saya tau jam makannya pukul 18.30. Setelah makan sore/malam, para perwira dan bintara dikumpulkan dibawah suatu tenda daun kelapa. Yang memberi briefing tidak tanggung-tanggung! Langsung Panglima Mandala sendiri. Mayjen Soeharto. briefing nya singkat :

“ Kalian akan diterjunkan di daerah Merauke, Irian Barat bagian selatan. Mengapa di Merauke?

Pertama: tiap kali kita menyanyikan dari Sabang sampai Merauke, kita tahu/sadar bahwa Merauke masih diluar Indonesia Merdeka. Tugas kalian adalah secara konkret menarik garis Sabang-Merauke itu, sehingga Merauke de facto bagian NKRI.

Kedua: di Biak ada tumpukan 10.000 Marinir AL Belanda, sedangkan disana nantinya tujuan Operasi Jayawijaya. Kalian bertugas memancing sebagian pasukan itu keluar dari Biak.

Ketiga: sampai sekarang, semua pasukan terdahulu yang diterjunkan hilang 100 persen!. Malah dari kalian ini diperkirakan gugur 60 persen, kembali 40 persen. Saya berikan waktu 1 menit untuk mundur. Mundur sekarang, bukan penghianat! Kalau setelah itu, dia adalah penghianat!”

Saya melihat kekiri dan kekanan, tidak ada yang angkat tangan mundur. Saya juga tidak mau mundur!

Briefing kedua diberikan oleh Komandan Gugus Tugas Operasi Naga, Kapten Inf. Benny Moerdani. Briefing nya lebih detail, disertai dengan peta Irian Barat bagian selatan, US Army Map 1937. Saya melihat Kali Maro dan Kali Kumbe. Kami akan diterjunkan disebelah timur Kali Maro, lebih kurang 50km di utara kota Merauke. Paling lambat tanggal 1 Juli melakukan konsolidasi disuatu titik, ujung dari suatu jalan setapak yang menjurus kearah timur laut dropping zone. Masing-masing kami diberi buku kecil tentang Irian Barat dengan peta yang besarnya 10x15cm.
” Ada pertanyaan?”
“Tidak ada !”
” Sudah jelas semua?”
” Sudah!”

Semua dibekali dengan ransum NAR (Nasi kaleng), masing-masing prajurit mendapat jatah tujuh kaleng untuk tujuh hari akan datang. Harapannya akan bertemu tanggal 1 Juli!.
“Ayo naik pesawat!”
Kami satu persatu menuju pesawat dengan bagasi masing-masing. Kapten Benny memeriksa dari pesawat ke pesawat dan berteriak supaya cepat naik. Didepan pintu embarkasi pesawat tiba-tiba muncul dari kegelapan seorang kawan sesama Pacad angkatan V, Lettu dr.Liem Tjing Ham. Dia datang membesarkan semangat saya.
Hou je taai, ya Mboi!”
Katanya dalam bahasa Belanda, artinya ya tabah ya Mboi!

Saya tidak menjawab lagi karena berkecamuk perasaan takut dan rasa haru berpisah. Saya naik kepesawat dengan beban sama berat dengan badan saya, dengan payung terjun buatan Russia yang sama sekali belum pernah kami coba!.

Stick saya 10 orang. Penerjun pertama, Serma Kesehatan Teguh Sutarmin, kedua Serma Amwat, lalu saya. Menyusul dibelakang Serda Achyat, Serma Kasmin, Serma Rumasukun, Pelda Ismail, Serda Soepangat, Serda Suyatno, dan Serma Sutiyono.

Saya duduk dipesawat sudah dengan memakai seluruh perlengkapan dalam urutan sebagai berikut:

Jungle dress, smock, zwemvest, payung induk punggung, payung cadangan dibawah dagu, ransel dibawha payung cadangan, plujezak kedokteran tergantung dibawah ransel. Pada kopelrim teregantung pistol dan tali dengan snipering. Pemakaian zwemvest adalah sebagai precaution kalau-kalau jatuh ditengah-tengah sungai Maro, yang lebarnya tidak ada bandingannya sama sekali dengan sungai-sungai di Pulau Jawa.

Take off sekitar pukul 11 malam waktu Maluku, berarti pukul 12 malam waktu Papua. Prajurit-prajurit kawakan RPKAD ada yang ngobrol, malahan bernyanyi-nyanyi. Seperti mau piknik saja. Mungkin karena sebagian senior-senior RPKAD itu adalah bekas pasukan Korps Speciale Troepen zaman Belanda dibawah pimpinan Westerling. Jadi sudah makan asam garam komando pertempuran.

Tetapi sebagian ada juga prajurit komando yang sama dengan saya, baru mengalami vuurdrop dilatihan perang-perangan di Pusdik. Tidak heran kalau ada satu prajurit saking gugupnya, mungkin karena rasa takut, kelepasan membuka payungnya dalam pesawat, sehingga ruang Hercules penuh terisi payungnya. Dia batal terjun.

Saya sendiri langsung duduk dan mulai berdoa rosario. Saya lupa berapa rosario saya habiskan, sampai ada bunyi bel tanda ready to jump, dan pintu terjun menganga lebar.

Selamat Bejuang Pahlawanku!
Pilot Hercules, Letkol Slamet memberikan ucapan intinya tugas dia hanya sampai disitu, dan mengucapkan: “Selamat Berjuang, Pahlawan!”
Namun putaran satu kali belum tampak dropping zone, dua kali juga belum, dan pada putaran ketiga terdengar teriakan Overste Slamet,
” Disini saja!”
Kenapa disini saja? Jawabnya nanti didarat kami ketahui!

Dipintu berdiri Jump-master yang menendang pantat kami keluar pesawat karena saking beratnya beban yang menempel dibadan kami sambil berteriak “Selamat Berjuang, Pahlawanku!”
Pahlawan yang ditendang pantatnya untuk pergi berjuang! Alangkah ironisnya!
Dari stick saya Serma Teguh Sutarmin terjun duluan, disusul Serma Amwat.

Ketika sampai pada giliran saya, keringat dingin mendadak keluar. Tiba-tiba ada tepukan dibahu kiri saya dari belakang disertai suara yang sudah lama sekali saya tidak dengar,
” Ben, jangan takut, saya akan selalu turut!”
Ya Tuhan Allah Yang Mahakuasa! Itu suara arwah almarhum saya, yang saya tidak pernah dengar lagi selama 14 tahun. Segera keringat takut, keringat dingin saya hilang, seperti masuk kembali kembali kedalam tubuh. Saya berjalan kepintu pesawat, terjun dengan penuh ketenangan dan keberanian.

Kami terjun diketinggian 700m kurang lebih jam 0300 pagi, ketika bulan mati gelap gulita, tetapi langit dipenuhi bintang-bintang. Saya melihat sekeliling, suatu pemandangan yang begitu indah sekali, puluhan payung mengambang dalam keremangan jutaan bintang-bintang dilangit. Romantis sekalia kalau tidak mengingat bahwa dibawah sana ada musuh yang menunggu untuk menembak kami.

Begitu payung terbuka, saya lepaskan ransel dan pluzak bergantung bebas dari badan saya agar nanatinya jatuh tidak terlalu keras. Sepanjang latihan terjun di Margahayu, saya tidak pernah terjun dengan beban dibadan. Untunglah payung terjun yang kami pakai adalah buatan Russia yang tebal. Bayangkan kalau memakai payung sutra buatang Inggris, dengan beban dibadan saya lebih 60kg, pasti seperti free-fall saja.

Makin dekat kebawah, makin tampak pohon-pohon, makin lama makin tinggi (makin dekat?). Celaka pikir saya. Latihan turun memakai tali dan snipering di Margahayu hanya simulasi saja. Rencana Kolonel Moeng ( Komandan RPKAD) untuk sekali terjun di hutan karet batal dikerjakan karena terhalang hujan.

Saya terjatuh kedalam satu pohon, meluncur diantara cabang-cabang. Bergantung 20 meter dari tanah!. Saya lepaskan diri dari ikatan tali payung terjun, dan dengan tali dan snipering perlahan-lahan turun ketanah dan duduk disana, sampai kira-kira pukul setengah enam. Kmai dibekali dengan 1 pluit, dengan kode panggil 3x, jawab 2x.

Pukul 0600 pagi terkumpul 9 orang, stick saya utuh kecuali Serma Teguh Sutarmin, penerjun pertama. Memang dapat dibayangkan betapa kesulitannya kami untuk konsolidasi, karena kecepatan Dakota waktu latihan berbeda dengan kecepatan Hercules yang menerjunkan kami. Dapat dibayangkan berapa jarak jatuh antara penerjun dengan kecepatan Hercules yang kira-kira 150 meter per detik diatas rimba belantara Papua yang dikelilingi rawa itu.

Saya sudah dibumi Irian Barat.Misi kami baru mulai. Kami harus berperang dengan belanda. Pekerjaan saya sebagai perwira kesehatan belum ada.semoga tidak ada yang tercedera. Apa mungkin? Mustahil peperangan tanpa cedera, peperangan tanpa kematian!

Tunggu saja!

Pertempuran di Kampung Kelapa Lima
Setelah kami sudah terkonsolidasi, kami mulai orientasi medan dan mendapati satu kenyataan bahwa kami diterjunkan disebelah barat sungani yang kami yakini Sebagai Sungai Maro. Sungai ini mengalami pasang surut setiap 6 jam. 6 jam mengalir kehulu, dan kemudiannya megalir kehilir!. Benar-benar tidak ada perbandingannya di Pulau Jawa. Dengan kata lain, untuk bertemu dengan pasukan, kami harus menyeberang dengan rakit. Menyeberangi sungai yang begitu luasnya.

Setelah konsolidasi stick terjun kami, saya menginventarisasi kekuatan regu kecil kami. Semulanya stick terjun terdiri dari 10 orang. Achyat, Kasmin, Sutiyono, Suyatno, Suyatno pelontar granat, Rumasukun, Ismail pemegang bren, Serma Kesehatan Amwat dan saya. Lettu Kes dr.Ben Mboi. Serma Kesehatan Teguh Sutarmin belum juga bergabung, kami menunggu dia.

Kemudian kami membuat rakit dari bambu, dan ketika hari sudah gelap kami menyeberang, berenang sambil mendorong rakit bermuatan perlengkapan kami. Kami langsung masuk ke dalam rawa, dan sepanjang malam tidur disana.

Begitu hari mulai terang, kami mulai bergerak, mencari jalan setapak yang dijelaskan dalam briefing di Amahai. Ternyata jalan setapak tersebut tidak ada! Apa yang salah? Perjanjian di Amahai adalah bahwa apabila sampai dengan tanggal 1 Juli tidak bertemu dengan induk pasukan, maka setiap prajurit yang selamat diharuskan bergerak kearah Merauke. Kita pasti akan bertemu di sekitar Kota Merauke. Namun sampai tanggal 1 Juli kami belum juga bertemu dengan induk pasukan.

Kami menganggap bahwa sungai yang telah kami seberangi ini adalah Sungai Maro. Jadi, kalau kami menyusur sungai dengan sesekali menjauhi pinggiran sungai, pasti kami akan sampai ke Kota Merauke. Maka berjalanlah kami kearah baratdaya. Tetapi aneh sekali, pesawat-pesawat terbang yang lewat diatas kami semuanya menuju arah tenggara.

Ilmu bumi yang saya pelajari mengatakan bahwa disebelah timur Kota Merauke tidak ada kota lagi. Kota merauke adalah kota yang paling selatan dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Maka kami putuskan untuk mengikuti arah penerbangan pesawat yang lewat, tidak mustahil kami diterjunkan ditempat yang salah. Setelah beberapa hari berjalan, menyeberangi rawa-rawa, kami mendengar bunyi seruling kapal laut. Bunyi itu memastikan kepada kami bahwa Merauke ada di depan kami, di tenggara.

Anda harus membayangkan rapatnya hutan belantara Irian pada masa itu. Tiba-tiba saja kami bertemu dengan seorang tua, yang kemudian kami tahu bernama Bakri, seorang Jawa asal Gresik-Jawa Timur yang pada awal abad ke-20 mausk dalam rombongan migran yang dibawa oleh Belanda ke New Caledonia. Rombongan mereka singgah di Merauke dan tidak dilanjutkan ke New Caledonia. Dia menunjukkan kepada kami beberapa pohon singkong diantara pohon-pohon sagu, dan dia berjanji akan datang membawa makanan.

Terjadilah dialog lucu berikut:
” Kita sekarang ada dimana?” tanya seorang prajurit.
” Di West New Guinea,” jawab Bakri.
” Busyettt,” cetus prajurit saya, ” Bang*sat AURI! Kita mestinya terjun di Irian Barat, malah dijatuhkan di Di West New Guinea!”

Saya jelaskan kepadanya bahwa Irian Barat itu Di West New Guinea dalam bahasa Belanda. Bakri tidak tahu Irian Barat, prajurit yang muda-muda itu tidak kenal Di West New Guinea. Suatu lelucon ditengah perang gerilya.

Kami tidak begitu saja mempercayai Pak Bakri, siapa tau dia voor-spit dan mata-mata Belanda. Karena dia berjanji akan kembali, maka buat berjaga-jaga kami menyiapkan penyergapan andaikata dia datang membawa tentara Belanda. Ternyata Pak Bkari jujur. Dia datang kembali membawa ubi-ubian buat kami. Namun setelahnya, kami menghindari bertemu dia lagi sampai cease-fire beberapa minggu kemudian.

Kami meneruskan perjalanan menuju tepi barat Kali Maro. Kami kaget bukan main, karena sungai ini begitu lebar, mungkin 2-3 km lebarnya. Diseberang terlihat Kota Merauke. Kalau ingin ke Merauke jelas harus ke hulu sungai dulu, dimana lebar sungai lebih sempit dan ada sedikit belokan agar lebih mudah menyeberang. Dan ketika kami ke hulu, kami meliwati tepi luar areal persawahan yang luas. Kemudian setelah cease-fire kami tahu persawahan itu sebagai Kampung Kuprik, dengan penduduk sebagian besar suku Buton dan Jawa, seperti keluarga La Bulla

Akhirnya kami sampai ke hulu Kali Maro, dimana lebar sungai hanya lebih kurang 200-300m. Disitu kami berhenti sambil mengumpulkan rumput serta membungkus ransel dan kelengkapan lain dalam ponco. Kami menunggu saat peralihan air pasang dan surut. Pada ssat itu sungai agak tenang, momen terbaik untuk menyeberang. Kami berenang dengan hanya mengenakan celana dalam saja.

Ditengah sungai saya sempat kaget bertemu ular sebesar paha manusia dewasa. Tetapi karena mungkin dia juga sedang mencari penghidupan seperti kami dia melewati depan saya saja. Seorang teman yang terlambat menyeberangi sungai disambar arus naik, terbawa arus kuat ke hulu dan kembali terdampar ditepi barat sungai. Terpaksa kami menginap lagi semalam untuk menunggu prajurit tersebut. Sekarang, kami sudah sampai ke daerah operasi yang benar, sisi timur Sungai Kali Maro.
Hello Merauke, here we come!

Sudah mausk minggu ketiga setelah penerjunan kami tanggal 24 Juni 1962, namun belum kelihatan tanda-tanda daripada induk pasukan, komandan Operasi Naga. Jadi kembali kami lanjutkan perjalanan, kearah Merauke pada sisi timur Sungai Moro.

23 Juli, kurang lebih pukul 1500 kami dikejutkan dengan suara lonceng sapi. Trenyata ada kawanan sapi yang sedang merumput disekitar kami. Kami sudah berada dipinggir lapangan terbang Merauke. Sadar secara fisik sudah akan memasuki kota, kami berusaha menghindar mencari kemungkinan keberadaan induk pasukan. Tidak mungkin akan ada konsentrasi pasukan kami didalam kota, bayangkan saja kami bergerilya sendiri tanpa peta!

Kami menyusuri pinggiran lapangan terbang yang sunyi senyap, tidak ada pesawat, tidak ada kegiatan yang berlebihan. Kami berusaha tetap berjalan dalam hutan. Begitu sore, kira-kira pukul 1700 kami berhenti. Tiba-tiba muncul 3 orang pemuda Papua, pemuda setempat, ngobrol sebentar dengan kami lalu pergi. Segera kami curiga dan mempersiapkan diri seperlunya, mengatur tudut agak berpencar! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan satu pistol ditangan dalam perang gerilya, dimana orang tidak akan bertanya siapa dokter, siapa bukan, melainkan tembak saja.

Kira-kira pukul 8 malam mulailah tembakan pertama ke arah kami, disusul rentettan semakin lama semakin gencar. Pertempuran real pertama saya meletus. Berlangsung kira-kira satu jam, namun secara mendadak berhenti. Pagi-pagi 24 Juli terjadi tembakan pancingan lagi kearah kami, pertempuran dilanjutkan sebelum kami sempat konsolidasi. Pertempuran berlangsung sengit kira-kira setengah jam, berhenti setelah terdengar jeritan kesakitan seorang pasukan Belanda yang terkena tembakan. Pasukan Belanda dengan terburu-buru mundur, sambil menyeret anggota pasukannya yang terluka tadi. Dna kami berkumpul.

Konsolidasi kami kehilangan 3 personil : Serma Rumasukun, Serda Ismail, dan Prajurit Sutiyono. Pelda Soepangat putus urat achillesnya kena tembakan musuh. Saya periksa, kalau toh harus dioperasi harus di mobilisasikan, namun akan memperlambat gerakan kelompok yang tinggal 5 orang ini. Kami putuskan, Soepangat ditempatkan dipinggir jalanan setapak Kampung Kelapa Lima dengan harapan pasti nantinya akan ditolong warga, dengan asumsi menjadi tawanan tentara Belanda.

Kami menyingkir dan bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan besar karena mulai pukul 0900 pagi hingga 1700 sore kami dibombardir dengan tembakan mortir. Besoknya kami bergerak kearah timur lagi, mencari induk pasukan. 3 Kawan kami yang hilang tidak diketahui nasibnya, entah gugur, tercecer, atau tertangkap. Entahlah!. Baru setelah cease-fire kemudian diketahui bahwa Rumasukun, Ismail, dan Sutiyono tercecer sampai Papua New Guinea dan ditangkap oleh tentara Australia.

Dua hari kami bertempur secara terus menerus dengan Belanda, saya mengambil kesimpulan bahwa tentara Belanda bertempur cuma ala kadarnya saja, dan se[ertinya tidak kepingin mati untuk Irian Barat. Begitu teman-temannya terkena peluru, cedera atau tewas, langsung mereka mengundurkan diri. Sayang, psikologi ini tidak kita baca sebelumnya. Andaikata kita tahu suasana moril musuh ini, strategi dan taktik perang pihak kita mungkin akan lain.

25 Juli pagi-pagi sekali kami keluar dari persembunyian disekitar hutan kampung Kelapa Lima, langsung menuju arah timur mencari induk pasukan, baik itu RPKAD maupun Raiders 530.Mula-mula kami kearah perbatasan PNG melalui daerah rawa-rawa kering. Makanan kami hanya terdiri dari daun bluntas dan daun nipah. Sesekali kami menangkap Biawak yang cukup banyak diwilayah tersebut. Bila dekat anak Sungai Maro, dengan gampang kami menangkap ikan gabus yang tidur dalam lumpur.

15 Juli 1962, timbul kejadian aneh. Tentara Belanda secara bertubi-tubi seperti menyirami pinggiran Sungai Maro dengan mortir dan peluru senapan mesin. Ini sampai 2 hari penuh dilakukan mereka. Kami yakin, induk pasukan kami berada disekitar sungai tersebut. Maka kami memutuskan menyusuri Kali Maro lagi kehulu.

Terus terang, kami belum pernah bertemu pasukan Raiders Yon 530. Maka hampir saja terjadi salah paham dan baku tembak. Untung kemudian terdengar orang bicara memakai bahasa Jawa diseberang sana. Setelah kami tanya, baru ketahuan mereka anggota Raiders Yon 530. Kmai saling mendekat, berpelukan, bersalaman.

” Mana Komandan?” saya bertanya kepada salah seorang dari mereka.
” Komandan Kapten Bambang Soepeno berada sekitar 1-2km dari sini”

Kami bersama-sama ke tempat Kapten Bambang Soepeno, Komandan Kompi Raiders 530/Brawijaya, yang juga merangkap Wakil Komandan Pasukan Operasi Naga. Saya melapor dan seterusnya bergabung dengan sisa 5 orang pasukan saya.

Sambil beristirahat setelah bergabung dengan Raiders 530, kami masih menunggu Bintara Kesehatan Serma Teguh Sutarmin yang mulai hari pertama tidak kami ketahui nasibnya bagaimana selama 3 hari. Mencarinya sekitar dropping zone dengan menggunakan kode pencarian kami, tapi tetap saja gagal. Sementara itu ada higgins boat patrol Belanda lewat. Kmai biarkan saja kapal kecil itu lewat, dengan maksud membiarkannya bertemu dengan induk pasukan kami yang lebih besar. Dan benar saja, pada siang hari setelah 3 hari penerjunan, terjadi kontak senjata dengan pasukan RPKAD yang ternyata terjun lebih jauh ke hulu sungai.

The War is Over!
Ternyata berondongan mitraliur Belanda sepanjang Kali Maro dari higgins boat patrol pada tanggal 15 Agustus itu adalah hari cease-fire, yang ditandatangani di New York oleh diplomat kita Adam Malik dari Indonesia, Mr. Van Rooyen dari Belanda, dan Mr.Bunker diplomat kawakan AS yang menegahi dan menfasilitasi perundingan.

Ditengah hari yang sama, datang speed boat dengan penumpang seorang Sersan intel dari induk pasukan untuk menjemput saya dan Kapten Bambang Soepeno terlebih dahulu, ke markas gerilya Operasi Naga di Kuprik. Anda harus bayangkan wajah saya yang kurus dan berjenggot lebat, berat badan 62kg waktu berangkat, kini tinggal sekitar 50kg. Sepatu terjun saya robek-robek. Di jetti dipinggir Sungai Maro, berdiri Kapten Inf. Benny Moerdani, Komandan Operasi Naga memanti saya dan Kapten Bambang Soepeno. Kami berpelukan.

Perang telah usai! Apa operasi Naga menang? Benar secara taktis inisiatif perang ada ditangan Belanda, tetapi Operasi Naga berhasil mencegah pembentukan Negara Papua. Setelah berkumpul dengan induk pasukan di Kuprik, Merauke, kami ketahui bahwa pada malam sebelum penandatanganan Bunker Agreement, TNI masih menerjunkan pasukan lagi, kurang lebih 1.300 prajurit, di Merauke ditambah 1 Kompi PGT AURI dibawah pimpinan Letnan Satu Pas.Mattitaputy. Alasan penerjunan tambahan, karena dari pengalaman revolusi fisik dulu Belanda selalu ingkar janji. Dengan tambahan ini maka seluruh kekuatan TNI yang diterjunkan di Bumi Irian Barat berjumlah sekitar 2.100 personil.

Setelah seluruh pasukan terkumpul di Kuprik, Merauke, saya diperintahkan untuk memimpin pengambilan jenazah-jenazah anggota pasukan yang gugur yang tersebar bersama Letda Soekarso, yang terjun tanggal 15 Agustus malam, dengan dibantu oleh seorang Kopral Marinir Belanda, dan diperbantukan dengan sebuah Jepp. Para prajurit yang gugur ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Merauke. Setelah cease fire baru kami ketahui nasib Serma Kesehatan Teguh Sutarmin. Rupanya dalam penerjunan dia tersesat, berjalan memasuki perkampungan penduduk, dan dibunuh oleh orang-orang kampung disitu.

Korban Operasi Naga sendiri adalah 36 orang gugur, termasuk Serma Teguh Sutarmin, missing in action (MIA) 20 orang, sehingga total 56 orang. Kalau dipresentasekan lebih kurang 25 persen, lebih baik dari perkiraan Panglima tempo hari. Pengorbanan dan penderitaan tidak sia-sia! Semoga tidak disia-siakan. Saya harus mengatakan ini, karena ketika bergabung dengan induk pasukan, saya membawa serta dan menyerahkan dokumen-dokumen dan bendera Bintang Kejora yang kami temukan dalam petualangan kami di dalam hutan. Kesimpulan saya membaca dokumen-dokumen tersebut adalah, adanya suatu kelompok di Irian Barat yang tidak setuju bergabung dengan NKRI, baik atas kemauan sendiri dan/atau hasil politik Belanda dimasa lalu.

Datang berkunjung setelah pasukan kami lengkap terkonsolidasi Brigjen Achmad Wiranatakusumah menggunakan Hercules AS. Segera kami dibagikan kertas dan amplop untuk menulis surat kepada keluarga. Saya tulis surat kepada pacar saya, Saya lupa apa yang saya tulis disitu, tapi intinya adalah : I am alive, Dearest!.

 

 

 

24-01-2013 19:17

Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase.

”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

”Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura. Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya.

”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura – Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor.

Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia – Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia – Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”….(Iwan Santosa)

 

Peristiwa Kalabakan

24-01-2013 19:43

credit for garudamiliter

Masih dalam rangka politik konfrontasi guna memperoleh data intelejen di daerah lawan. Pada Desember 1963, Peleton X satuan khusus KKo/Korps Marinir yang bertugas di perbatasan Kaltim – Sabah yang operasional di bawah Basis VI Ops.A/Koti, bekerja sama dengan kesatuan tugas operasional. KKo/Korps Marinir didaerah Kaltim, telah ditugaskan melakukan raid ke Sabah (Sandakan, Lahat Datu dan Sempurna).

Sasaran pertama dipimpin oleh Kopral Mar Sukibat dan Prajurit Mar Subroto. Sasaran dua dipimpin Sersan Dua Mar Rebani dan sasaran tiga dipimpin Prajurit Mar Asmat. Masing-masing berkekuatan satu peleton.

Karena pada hakikatnya setiap anggota KKo/Marinir sudah dibekali latihan dasar komando, maka tugas-tugas raid yang memerlukan kemampuan komando mampu dipikul oleh mereka. Disamping nama Korps Komando memang merupakan ‘beban’ dan sekaligus kebanggaan, sehingga bila diperlukan untuk melakukan tugas selaku prajurit Komando, mereka berusaha melakukan tugas sebaik-baiknya.

Hal ini memang terbukti dalam banyak penugasan di berbagai operasi militer. Mereka mampu bergerak dalam satuan-satuan kecil, dalam medan yang cukup berat, rawa, pantai berbakau maupun dalam hutan lebat seperti Kalimantan.

Meskipun pihak pasukan Inggris di Sabah sudah berpengalaman dalam perang anti gerilya di Malaya (semenanjung), namun dalam menghadapi gerilya Indonesia ternyata tidak semudah yang disangka. Rebani dan kawan-kawannya dengan perlengkapan seringan mungkin, berhasil menerobos wilayah lawan dan berhasil menghancurkan kesatuan inggris yang ada di Kalabakan, menewaskan 8 orang termasuk seorang Mayor dan 38 serdadu lainnya luka-luka. Merampas 1 bren, 7 SMR, 10 sten gun dan 1 pistol. Kerugian Marinir, gugur 1 orang yakni Prajurit Gabriel.

Peristiwa kalabakan menunjukkan keberhasilan Peleton X melakukan raid melalui medan belantara di perbatasan. Padahal lawan memiliki kemampuan tinggi dengan perlengkapan yang lebih. Ini suatu prestasi yang sulit dilakukan.

Setelah keberhasilan penyusupan ini Rebani berusaha memimpin pasukannya kembali ke pangkalan. Sayang karena medan yang berat ditambah kekurangan makanan, sebagian tidak dapat sampai kembali ke basis, termasuk Sersan Rebani sendiri. Atas jasa dan keberaniannya Rebani dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Mayor Anumerta dan Pemerinta RI menganugerahkan Bintang Sakti kepadanya.

Dengan dilakukan patroli dan raid tersebut lawan kemudian mengurangi aktivitasnya. Sebaliknya raid yang dilakukan lawan di wilayah RI yang dijaga oleh Brigade Pendarat I KKo AL tidak pernah berhasil. Mereka bahkan lebih sering menderita kerugian lebih besar (periode 1965-1966 sampai tercapai persetujuan pengakhiran konfrontasi) terutama di Siglayan.

Korban Perwira Inggris
Pembunuhan terhadap komandan Inggris ini terjadi di kampung Kalabakan. Saat itu Kalabakan merupakan perkampungan yang menjadi salah satu pos keamanan daerah Tawau yang berdekatan dengan pelabuhan Cowie.

Ada 2 posisi pertahanan berstelling di Kalabakan, polisi setempat dan pasukan militer dari Royal Malay Regiment yang menempati 2 buah gubuk Pihak Malaysia sama sekali meremehkan kemampuan tempur pasukan Indonesia yang mengakibatkan lemahnya penjagaan dan kewaspadaan mereka di Kalabakan hal inilah yang dimanfaatkan sersan Rebani dan pasukannya untuk memulai serangan terhadap kedudukan musuh di Kalabakan.

Tapi berdasarkan beberapa catatan sejarah mengenai perwira-perwira Inggris yang tewas di Malaysia bisa diambil beberapa nama antara lain Mayor RM Haddow, Mayor R.H.D. Norman, dan Mayor H.A.I. Thompson, yang pasti pihak Inggris berusaha menutupi nama perwiranya yang tewas dalam kejadian ini, bahkan pihak inggris pun mengarang cerita kepada pemimpin Malaysia Tunku Abdul Rahman yang mengadakan inspeksi bahwa tentara persemakmuran yang tewas di Kalabakan walaupun kalah memberikan perlawanan yang gigih dan pantang menyerah dimana kenyataannya mereka benar-benar diserang mendadak dalam kondisi santai dan tidak siap atau istilah inggrisnya “caught with their trousers down”. Pemerintah Malaysia membangun monumen untuk menghormati korban mereka yang gugur disana.

Hal yang menarik dalam peristiwa ini ikut gugurnya seorang perwira inggris yang coba dicover oleh pemerintah inggris karena takut dipermalukan oleh dunia internasional, perwiranya tewas ditangan pasukan dunia ketiga disaat sedang santai pula.

Tambahan Info :
Pada masa Dwikora Pasukan persemakmuran khususnya Inggris sangat menjaga gengsi dan prestise mereka dimedan tempur, hal ini dilakukan oleh banyak covert operation yang mereka lakukan dimana covert operation ini sampai detik ini masih tergolong classified karena tidak semuanya berjalan mulus seperti yang mereka harapkan, bahkan SOP (Standart Operating Procedure) pasukan persemakmuran saat melakukan patroli dan raid mereka selalu sangat berhati-hati terutama dalam menutupi jejak-jejaknya, pasukan Indonesia banyak belajar mengenai teknik-teknik perang hutan yang sangat lihai diterapkan oleh musuh bahkan mereka tidak pernah meninggalkan korbankorban dari pihak mereka bila terjadi kontak senjata, biasanya acuan bagi pihak Indonesia bila ada korban dari suatu kontak senjata adalah barang-barang atau ransel yang ditinggalkan pemiliknya, hal inilah yang membuat perkiraan terhadap korban pasukan persemakmuran khususnya dari kalangan tentara non-Malaysia sangat sulit karena memang dalam setiap pergerakannya mereka menjaga benar eksistensinya dimedan tempur.

Satu peristiwa yang tidak mungkin dapat dilupakan, sekaligus menjadi satu titik hitam dalam lipatan sejarah 3 RAMD ialah Peristiwa Kalabakan. Dalam tragedi berdarah ini, seorang pegawai dan tujuh anggota Platun 1 Kompeni A3 RAMD terkoban, manakala 18 orang anggota lagi tercedera. Peristiwa berdarah ini berlaku pada tanggal 29 Disember 1963.

Tempat berlakunya tragedi berdarah yang menimpa 3 RAMD itu terletak tidak jauh dari tebing Sungai Kalabakan. Lokasinya kira-kira 30 batu ke utara Tawau dan 12 batu ke utara sempadan Kalimantan, Indonesia. Di situ terletak dua penempatan kecil Pasukan Keselamtan Malaysia yang terdiri daripada satu penempatan Pasukan Polis Hutan dan sebuah lagi penempatan tentera terletak di suatu lereng bukit.

Kedua-dua penempatan dipisahkan dalam jarak lebih 400 ela sahaja. Pos Polis yang dipagari dengan dawai berduri mempunyai kekuatan 15 orang anggota, manakala penempatan pasukan tentera tidak pula berpagar. Anggota Platun 1 Kompeni A dan kemudiannya disertai oleh seksyen dari Palatun 10 Kompeni C 3 RAMD ditempatkan di situ. Kawasan perkhemahan ini terletak suatu kawasan lereng tanpa sistem keselamatan serta pertahanan yang lengkap. Ini berlaku kerana ketiadaaan bekalan peralatan walaupun usaha mendapatkannya telah berulangkali dilakukan.

Seramai 41 anggota 3 RAMS terlibat dalam peristiwa di Kalabakan, mereka adalah;

1. 5415 Mejar Zainol Abidin Bin Hj. Yaacob
2. 11709 Leftenan Muda Raja Shaharudin bin Raja Rome
3. 2380 Pegawai Waran Dua Awaluddin bin Kamoi
4. 5237 Sarjan Ab.Aziz bin Meon
5. 6775 Koperal Hitam bin Mahmood
6. 9899 Koperal Hashim bin Hj. Ahmad
7. 9894 Lans Koperal Osman bin Darus
8. 33876 Lan Koperal Isa bin Bujang
9. 13960 Lans Koperal Abdullah bin Abdul Rahman
10. 6357 Prebet Hashim bin Abd. Ghani
11. 7966 Prebet Ibrahim bin Ahmad
12. 9542 Prebet Che Amat bin Che Leh
13. 9808 Prebet Mokhtar bin Hassan
14. 10385 Prebet Othman bin Hj. Budin
15. 10557 Prebet Ramli bin Awang
16. 10787 Prebet Othman bin Darus
17. 11020 Prebet Harun bin Abdullah
18. 11955 Ramli bin Salleh
19. 1386 Prebet Adnan bin Jabar
20. 14241 Prebet Zainuddin bin Yaacob
21. 14630 Prebet Ahmad bin Abu Yamin
22. 14185 Prebet Mat Sa’at bin Yaakob
23. 14626 Prebet Ahmad bin Hussin
24. 11245 Prebet Abdul Aziz bin Abdul Ghani
25. 11471 Prebet Ismail bin Mat
26. 11509 Prebet Mohamad Zain bin Yaacob
27. 13784 Prebet Ismail bin Mansor
28. 14447 Prebet Yusof bin Sulong
29. 14469 Prebet Shamsuddin bin Yasin
30. 10277 Prebet Abdul Ghani bin Mohamad
31. 10530 Prebet Shukri bin Suratman
32. 10586 Prebet Mohamed Nafiah bin Yahaya
33. 10587 Prebet Mohamad Nor bin Ahmad
34. 11051 Prebet Yaacob bin Ngah
35. 1164 Prebet Mohamad Arfah bin Almunir
36. 11244 Prebet Ariffin bin Yusof
37. 11957 Prebet Abdul Wahab bin Mat
38. 13885 Prebet Yahya bin Hj. Yaacob
39. 14346 Prebet Ab Karim bin Mat Johan
40. 14571 Prebet Bidin bin Abu
41. 14655 Prebet Mat Saad bin Othman
Menurut laporan, seramai 130 orang tentera Indonesia daripada pelbagai pasukan bergerak dari Kalimantan menyusup ke kawasan Malaysia pada pertengahan Disember 1963. Pasukan ini singgah di Serudong dalam perjalanan menuju ke Selimpopon dengan melewati Tarakan untuk ke kem balak Teck Guan dekat Kalabakan. Mereka bermalam di situ pada 28 Disember. Mejar Zainol Abidin bersama dua seksyen dari Kompeni C digerakkan ke penempatan Platun 1 Kompeni A di Kalabakan pada 29 Disember bagi memperkuatkan subunit berkenaan. Tiga buah kubu, setiap satu untuk tiga orang, dibina untuk tujuan pertahanan, Kubu berkenaan terletak di kiri dan kanan serta di Sebelah kanan belakang rumah atap dan digunakan untuk menempatkan senjata RISLB. Rumah berkenaan diberikan oleh Mr. Ress Pengurus Bombay Burma Timber Company Limited.

Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin menyatakan, beliau ada menerima maklumat yang menyatakan satu kumpulan tentera Indonesia sedang bergerak dari Kalimantan menyusup masuk ke kawasan Malaysia. Mereka dilaporkan telah merampas barang-barang dari sebuah kedai kepunyaan seorang peniaga Cina di kawasan Serudong Laut. Mereka dikatakan sedang bergerak ke arah kawasan Kalabakan.

Tidak lama selepas itu satu tembakan kedengaran memecah keheningan malam dan kemudiannya diikuti pula oleh tembakan yang bertubi-tubi. Ketika saya dan sebilangan anggota keluar dari rumah untuk ‘stand to’, anggota TNI telah pun mula melepaskan tembakan dan melemparkan bom tangan ke kedudukan kami, cerita Lettenan Kolonel (bersara) Raja Shaharudin. Semua anggota bertempiaran keluar dari rumah mencari perlindungan. Sarjan Abdul Aziz berjaya menerjunkan diri ke dalam kubu dan berada bersama ketua platun serta dua anggota lagi. Kami membalas tembakan dan turut melontarkan bom tangan ke arah anggota TNI, saya kemudiannya memerintahkan anggota agar mengambil perlindungan dan tidak melepaskan tembakan kecuali mereka melihat anggota TNI.

Tembak-menembak berhenti kira-kira pukul 11.00 malam, terang Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin. Mr. Ress, besama seorang lalaki datang menemui Leftenan Muda Raja Shaharudin sejurus selepas pertempuran berhenti. Pada lebih kurang pukul 3.30 pagi 30 Disember 1963 satu platun bantuan yang diketuai oleh Leftenan Muda Wan Nordin bnin Wan Mohammad (12176) sampai ke lokasi platun di Kalabakan. Anggotanya diarah mengumpulkan anggota yang terkorban dan tercedera sambil memberikan rawatan sekadar terdaya. Apabila matahari pagi 30 Disember 1963 mula menampakkan sinarnya, anggota mula melakukan penggeledahan kawasan secara terperinci bagi mengumpul mayat dan anggota yang tercedera untuk dimaklumkan kepada markas batalion. Lapan anggota termasuk ketua kompeni disahkan terkorban, manakala 18 anggota lagi tercedera.

Anggota 3 RAMD yang terkorban ialah;

1. Pegawai Waran Dua Awaluddin
2. Sarjan Ab. Aziz
3. Las Koperal Osman
4. Las Koperal Isa
5. Prebet Che Amat
6. Prebet Abdul Ghani
7. Prebet Shukri
8. Prebet Mohamed Nafiah
9. Prebet Mohamad Nor
10.Prebet Yaacob
11. Prebet Mohamad Arfah
12. Prebet Ariffin
13. Prebet Abdul Wahab
14. Prebet Yahya
15. Prebet Mat Sa’at
16. Prebet Ab. Karim
17. Prebet Bidin
18. Prebet Mat Saad

Mengikut Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin, beliau menahan Sulaiman yang datang pada lebih kurang pukul 8.00 pagi itu. Saya mendapati tiga kelongsong peluru terselit di pinggangnya, ketika memeriksa laras senjatanya, saya mendapati laras senjara tersebut masih berbau serta ada kesan yang menunjukkan senjata tersebut telah digunakan. Sulaiman diserahkan kepada pihak Polis Kalabakan.

Sebelum itu, saya telahpun menahan seorang lelaki yang saya jumpai berjalan di hadapan pejabat Burma Timber Company pada pukul 4.oo pagi itu. Sebuah helikopter tiba ke tempat kejadian pada pukul 11.00 pagi dan 30 Disember bagi mengeluarkan anggota yang tercedera dan terkorban. Anggota tercedera diterbangkan ke Hospital Tawau, manakala yang terkorban diterbangkan pula dari Tawau ke Labuan dengan Pesawat Dakota. Pesawat Dakota sampai ke Labuan pada waktu malam. Penduduk tempatan di Labuan telah membantu memandi dan menyempurnakan jenazah sebelum jenazah diterbangkan balik ke Semenangjung keesokan paginya. Ketibaan jenazah di Lapangan Terbang sungai Besi disambut oleh para Menteri Kabinet dan Pegawai tinggi Tentera juga para pembesar negara. Dari Kuala Lumpur jenazah dibawa pula ke kampung halaman masing-masing untuk dikebumikan.

Pasukan 1/10 Gurkha pimpinan Lieutenant Colonel Burnett dikejarkan ke Kalabakan bagi membantu 3 RAMD membuat penggeledahan Kalabakan. Berikutan itu, pada 12 Januari 1964, seramai 22 orang Tentera Indonesia berjaya dibunuh disamping banyak yang telah ditangkap. Batalion ini berjaya menangkap 3 orang anggota TNI. Walaupun bilangan yang ditawan itu agak kecil jumlahnya, tetapi ia telah membantu pasukan dalam operasi selepas itu. Beberapa kawasan di Tawau telah diisytiharkan sebagai kawasan terhad bagi memudahkan operasi pasukan keselamatan. Pada 27 Januari, satu kumpulan ronda dari Kompeni B di bawah pimpinan Leftenan Muda Ishar bin Sham (12221) menjumpai satu perkhemahan anggota TNI dan pertempuran berlaku. Seorang anggota TNI berjaya dibunuh, dua pucuk senapang, 12 butir bom tangan dan sejumlah peluru berjaya dijumpai.

Platun 6 di bawah pimpinan Leftenan Muda Abdul Aziz bin Shaari (12178) ketika membuat serang hendap di Merotai Estet pada 28 Januari berjaya membunuh tiga orang anggota TNI, selepas mengalami satu pertempuran sengit dengan mereka. Sehingga 10 Februari, seramai 29 anggota TNI berjaya dibunuh, 33 ditawan, manakala 22 menyerah diri. Selain itu, operasi di Pulau Sebatik terus dilakukan. Pada 25 Januari, Presiden Soekarno bersetuju mengisytiharkan gencatan senjata. Walau bagaimanapun, anggota pasukan Keselamatan diperingatkan agar bersiap sedia menghadapi sebarang kemungkinan. Pemberhentian pertempuran telah dipersetujui di majlis perdamaian yang diadakan di Bangkok antara Malaysia dan Indonesia. Ketika operasi Malaysia secara haram.

Oleh kerana kegagalan persidangan damai di Bangkok, keadaan menjadi tegang semula dan perhatian penuh mula ditumpukan semula di perbatasan. Penyusupan dan tembakan anggota TNI di Pulau Sebatik menyebabkan Kompeni A dihantar membantu Kompeni C di situ. Kampung Sungai limau merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat pergerakan anggota TNI. Pada 19 April seorang anggota TNI berjaya dibunuh oleh satu seksyen yang membuat serang hendap. Penyusup telah cuba menawan kedudukan satu platun yang ditugaskan di situ pada 20 April, tetapi gagal kerana platun terlibat telah membuat pertahanan yang teguh di kedudukan mereka.

Batalion kemudiannya kembali semula ke Alor Setar selepas lebih kurang lima bulan berkhidmat di Sabah. Sebagai penghargaan terhadap perkhidmatan cemerlang batalion ketika konfrontasi dua warga 3 RAMD, Pegawai Waran Dua Awaludin dan Prebet Mohamed Nafiah dikurniakan kepujian Perutusan Keberanian (KPK) sepanjang penglibatannya dalam era konftontasi, 3 RAMD, beroperasi dua kali di Tawau dan sekali di Sibu. Seramai lapan warganya terkorban, manakala 18 mengalami kecederaan. Dalam operasi bersama 1/10 Gurkha dan Trup 2 Peninjau sekitar Tawau, seramai 29 TNI berjaya dibunuh, 33 orang ditawan, manakala 22 lagi menyerah diri

 

30 personel kalahkan 3000 milisi

Tahun 1962, Kongo, negara di belahan Bumi Afrika sedang bergolak, TNI kembali diundang untuk Misi Perdamaian PBB dengan nama Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Letjen TNI (Purn) Kemal Idris (Alm). Garuda III diambil dari dari Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur lainnya.

Pasukan ini berangkat dengan pesawat pada bulan Desember 1962, dan berada di medan tugas selama delapan bulan di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo). Mereka di tempatkan di Albertville. Di tempat ini telah disiapkan satu kekuatan pasukan besar, yang terdiri dari 2 batalyon kavaleri. Sedangkan Batalyon Arhanud di tempatkan di Elizabethville, yang menjadi wilayah kekuasaan tiga kelompok milisi yang ingin memisahkan diri, di bawah pimpinan Moises Tsommbe dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu.

Daerah ini terkenal dengan kekayaan mineralnya. Sempat terjadi beberapa pertempuran sengit antara pasukan PBB dari India melawan kelompok-kelompok pemberontak tersebut. Disini interaksi antara pasukan Garuda III dengan pasukan PBB lainnya sangat erat. Mereka terdiri dari pasukan Filipina, India, bahkan Malaysia. Walaupun ditanah air konfrontasi Ganyang malaysia dikumandangkan, interaksi persahabatan antara Garuda III dengan Malaysia tetap terjalin erat. Tanpa sedikit pun permusuhan (profesionalitas personel Garuda III).

Pasukan PBB asal India merupakan yang terbesar dan terbanyak jumlahnya. Mereka terorganisir dengan sangat baik. Mereka ditempatkan di kawasan-kawasan vital yang penting dan strategis. Sebaliknya Garuda III yang hanya berkekuatan kecil, mampu melakukan operasi taktik gerilya yang terkenal dalam sejarah PBB sehingga mencapai sukses besar. Disamping itu, personel Garuda III sangat luwes, pandai bergaul dengan penduduk setempat sehingga mereka menaruh kepercayaan besar kepada pasukan Garuda III.

Pasukan Garuda III mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Padahal mereka mengetahui memasak singkong hanyalah untuk makanan inti dengan cara dibusukkan, dikeringkan, ditumbuk jadi tepung baru dapat dimasak. Dengan adanya interaksi dan hubungan dengan penduduk setempat, maka semua program yang direncanakan berjalan dengan baik. Penduduk setempat menaruh simpati pada program yang dicanangkan, misalkan melakukan tindakan pengamanan daerah setempat dari pengacau. Dengan spontan tanpa di perintah, masyarakat memberitahukan kepada personel Garuda III, bila akan ada serangan yang di lancarkan oleh gerombolan pengacau.

Suatu hari terjadi serangan mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi dari jam 12.00 malam hingga dinihari. Markas Garuda III terkepung dengan rapat. Semua personel merapatkan barisan, berusaha menangkis serangan tersebut. Menurut Informasi Intelijen, serangan dilakukan oleh sekitar 2000 pengacau, hasil gabungan 3 kelompok pemberontak. Sedangkan markas komando Garuda III dipertahankan sekitar 300an personel, 40 persen dari seluruh kekuatan Garuda III di Kongo. Tidak ada korban jiwa dari Garuda III, hanya beberapa yang cedera ringan dan langsung ditangani tim medis lapangan. Menjelang subuh, gerombolan pengacau mengendurkan serangan kemudian menarik diri ke basis mereka di wilayah gurun pasir yang membentang gersang.

Hasil konsolidasi pasukan, maka di bentuk tim berkekuatan 30 orang personel RPKAD sebagai tim bayangan sekaligus tim terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak sekalipun. Mereka bergerak cepat pada jam 06.00 waktu setempat, dengan perlengkapan garis 1 untuk pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar terlihat jelas di wajah-wajah mereka yang terpilih. Iringan doa rekan-rekan di markas, juga dari pasukan PBB lain, mengiring langkah kaki mereka. Menuju kawasan “no mand land” -wilayah tak bertuan-, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak, sekaligus juga merupakan daerah terlarang untuk pasukan PBB. Di kawasan itu, 2 kompi plus Pasukan India pernah di bantai tanpa tersisa.

Pasukan ini di pimpin seorang Kapten dengan dibantu 5 orang Letnan. Dengan penyamaran layaknya kumpulan suku pengembara, mereka bergerak dalam 3 kelompok yang saling berkomunikasi, tidak lupa kambing, sapi, bakul sayuran di bawa bersama untuk penyamaran. Badan dan wajah di gosok arang sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli tempatan, ada juga personel yang berpakaian wanita dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka bergerak melambung melalui pinggiran danau, melewati “no mand land” tujuan akhir.

Data intelijen yang didapat mengatakan kekuatan musuh diperkirakan 3000an bersenjatakan campuran termasuk RPG/Bazooka dan beberapa tank, panzer, bisa dimaklumi sebab ini markas mereka, tentara lain belum memasuki wilayah yang dijaga ketat tersebut. Memasuki senja, personel bermalam dipinggiran danau sambil mengatur strategi penyerangan. Dikejauhan terlihat kerlip lampu-lampu dari markas pemberontak. Menurut data intelijen lagi, suku-suku di kongo, termasuk pemberontak sangat takut akan Hantu Putih (sosok berpakaian putih yang berbau bawang putih). Nah, disinilah strategi penyamaran diubah. Dibalik pakaian loreng darah mengalir mereka, terbungkus jubah putih yang menggerbang ditiup angin danau. Sambil tidak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya harum semerbak.

Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam pun dipersiapkan. Menunggu jam 12.00 tengah malam. Isyarat serangan pun diberikan oleh sang komandan. Dengan gesit, ke 30 orang personel RPKAD mengambil posisi masing-masing. Penyerangan tepat di mulai jam12.00 tengah malam, dengan kapal yang di digelapkan warnanya di atas Danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah “no mand land.” Ke 30 personel yang menyamar menjadi “Hantu Putih” ini (atau lebih dikenal masyarakat dengan sprititesses), berhamburan keluar dari dalam kapal, mendobrak pos penjagaan terdepan pemberontak. Para pemberontak yang sangat percaya akan keberadaan Hantu putih ini, kaget, terpana dan ketakutan melihat kelebatan bayangan putih melayang-layang disekitar mereka (jubah putih yang diikat kayu dan tertiup angin) sambil melepaskan rentetan tembakan yang riuh rendah.

Ternyata semangat melawan pemberontak hilang sama sekali, mereka percaya bahwa mereka berhadapan dengan hantu, bukan manusia biasa. Ketika akan didekati, para pemberontak yang disergap itu terkejut, secara reflek melemparkan ayam yang sedang dibakarnya tepat mengenai anggota pasukan Garuda III. Hanya sekitar setengah jam, markas pemberontak dapat di kuasai, Ribuan pemberontak beserta keluarganya menyerah, puluhan yang lain tewas dan luka-luka, sedangkan dipihak RPKAD cedera 1 orang, terkena pecahan proyektil RPG. Dengan sigap, tawanan dikumpulkan. Tidak lama kemudian, bantuan dari pasukan di markas pun tiba, beserta pasukan PBB yang lain dari India, Malaysia, Filipina.

Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang !!. Bisa dibayangkan, dengan hanya berkekuatan 30 orang bisa menawan sekitar 3000an pemberontak bersenjata lengkap!!! Keesokan harinya, pimpinan operasi dan Komandan Garuda III dipanggil menghadap oleh Panglima Pasukan PBB di Kongo, Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia. Ia mengatakan bangga dan takjub atas keberhasilan RPKAD Garuda III menawan basis terbesar pemberontak dan 3000an lainnya tanpa jatuh korban. Namun ia kecewa. Tentara Indonesia katanya tidak bertanggungjawab, irresponsible terhadap pemberontak yang ditawan itu. Kenapa sampai dikatakan irresponsible?. Biasanya, standar operasi tentara, jika musuh berkekuatan 3000 orang, harus disergap dengan kekuatan 3 kali lipat, yaitu 9000 personel. Nah, jika 3000 orang musuh dihadapi hanya dengan kekuatan 30 sampai 50 orang, itu namanya irresponsible dan tidak masuk akal. Mustahil dan nekad!! Bagaimana seandainya para pemberontak tersebut melawan? dan ada yang membocorkan taktik Hantu Putih tersebut? tanya panglima PBB di Kongo.

Apapun, sanjungan dan pujian, serta decak kagum tetap di lontarkan, dan strategi penyerangan ini sampai sekarang masih menjadi legenda Misi Pasukan Perdamaian PBB. Mungkin kisah ini banyak yang tidak tahu, terutama masyarakat tanah air sendiri. Yang jelas, ini sudah bukti nyata keberhasilan anak-anak bangsa kita mengharumkan nama Indonesia, RPKAD khususnya di seantero dunia. Jelas cara taktik, muslihat, strategi serangan ini menjadi bahan penyelidikan Pasukan PBB lainnya, dan tentu saja menjadi legenda hingga sekarang

 

 

Tahun 1950

 

Pada tahun 1950 Indonesia termasuk Negara yang tidak disukai Amerika Serikat yang saat itu terjadi  dengan blok komunis di Korea Utara . sedang diIndonesia Partai Komunis adalah Partai yang legal.

 

Sejak Oktober 1952

Sejak 17 oktober 1952 pemerintah sukarno sudah mulai digoyang Kubu Nasution membentuk dewan banteng dan dewan Garuda di Sumatera , pembentukan dewan ini sebenarnya sebagai pengalangan massa ,tetapi kemudian mereka membentuk pemerintahan tandingan karena tidak suka melihat hubungan mesar sukarno dengan PKI

 

Kebencian Amerika serikat bertambah sehingga menghentikan bantuan akibat ucapan sukarno Go To Hell with your aid.Dasar sikap Sukarno karena Indomnesia Alamnya kaya raya.dan suatu waktu Indonesia akan makmur dan tidak memerlukan bantuan Barat dan hal ini pula yang mengilhamkan Sukarno  sikap Konfrontasi  “Ganyang Nekolim (neo kolonialsme & Imperialisme).

Bung Karno menyatakan Indonesia hanya memerlukan Pemuda yang bersemangat untuk menjadi bangsa Besar.

Akibatnya sikap Amerika serikat Gulingkan Presiden sukarno, sikap Amerika sekikat didudukung oleh Inggris dan Australia.

Sejak Amerika serikat menghentikan bnatuannya ke Indonesia, mereka menghubungi Militer Indonesia

Mereka melngkapi dan melatih Perwira meliter dan melalui operasi intelijen yang dilakukan CIA mereka mengelitik milter untuk mengrongrong Bung Karno, Usaha Kudeta dimualai bulan November 1956.

Deputi Kepala Staf AD Kol Zulkifli Lubis berusaha menguasai Jakarta dan mengulingkan Pemerintah, namun usaha ini dapat dipatahkan.

Lantas di sumatera Utara dan suamtera tengah  Militer berupaya mengambil alih kekuasaan tetapi juga gagal. Militer  dengan pasokan Bantuan Amerika Serikat seperti mendapat angin untuk menganggu Bung Karno.

Namun Bung Karno mampu  menguasai keadaan karena banyak perwira militer yang loyal kepadanya.kendati usaha As untuk menjatuhkan sukarno sudah dirancang.

Sayangnya konstelasi politik di Indonesia tidak stabil, Bung Karno berusaha menciptakan Stabilitas.namum keadaan sangat rumit .

Ada Tiga Kekuatan  yang mendominasi politik di Indonesia saat ini yaitu

 

Unsur Kekuatan Presiden sukarno

Presiden sukarno sebagai kepala Negara,Kepala Pemerintahan,  Perdana menteri, Pemimpin Besar revolusi ,Presiden Seumur Hidup  dan anggota Kabinet Dwikora.termasuk dalam unsure ini

 

 

Unsur Kekuatan TNI-AD

Ada Dua Kubu yaitu Kubu Yani dan kubu Nasution,Suharto mulanya masuk Kubu Nasution tetapi kemudian membuat kubu sendiri.

 

Unsur Kekuatan PKI

 

PKI  berkeuatan 3 juta anggota dan didudukung oleh 17 juta anggota oragnisasi onderbouw PKI  seperti SOBSI,BTI dan Gerwani.(juga LEKRA,Pemuda Rakyat) dengan jumlah tersebut PKI adalah komunis nomor tiga didunia setelah RRC.

Dalam PEMILU 1955 PKI dalam nomor urut ke-4 dan sebagai Partai besar PKI memiliki wakilnya di cabinet antara lain D.N.Aidit, Menko/Ketua MPRS.Lukman sebagai wakil ketua DPRGR ,dan Nyoto Menteri Landreform(sekarang BPN)

 

Gerakan Kubu Nasution tidak cukup hanya mengalang massa sipil, tetapi juga mempengaruhi Militer agar ikut mendukung gerakannya ,sebagai petinggi Milter bagi Nasution itu adalh hal mudah.

Caranya anatara lain Pembebasan Irian barat  digunakan untuk membentuk Gerakan Front Nasional yang aktif dikegiatan Politik.

Pada mulanya usaha melibatkan Militer dalam kegiatan Politik ysng kelsk dilestarikan oleh Orde baru.

Disisi lain Kubu Nasution mengalang simpati masyarakat dengan mebentuk BKS yang melibatkan Pemuda,partai politik dan para petani yang menyatau dengan militer dibawah payung TNI.AD

Saat itu dapat diambil kesimpulan inilah doktrin tingkat regional (krena memmanfaatkan Perjuangan membebaskan Irian barat) hingga melibatkan tingkat Desa(Petani),maka lengkaplah gerakan menentang Pemerintah yang terencana dengan rapi,dan cerdik dan memiliki kekuatan cukup potensial.Berdasarkan laporan Intelijen  CIA berada dibelakang Nasution .

 

Presiden Sukarno akhirnya mengetahui gerakan menentang Pemerintah itu ,ia tahu Pemerintah sedang terancam dan biang keroknya adalah nasution.

Maka sukarno langsung menghantam ulu hati persoalan, dengan membatasi peranan Nasution.

Kepala Staf angkatan Bersanjata tetap dipertahankan dengan perannya  yang diabatasi  dan Nasution diberikan tugas dalam urusan administrative pasukan, Nasution dilarang ikut campur urusan operasional Prajurit , itu sama artinya Nasution dimasukan dalam kotak.

 

Gerakan itu diimbanga-I Presiden Sukarno dengan mengangkat Letjen Ahmad Yani sebagai Menteri Pangad,tugas secara formal memimpin pasukan AD ,namun dibalik itu Yani mendapat misi khusus dari Presiden Sukarno  agar membatasi  desakan kubu nasution kepada Pemerintah.Ini semacam operasi Intelijen,akibatnya hubungan nasution dan Yani memburuk.

Mulanya konflik Yani-Nasution tidak Nampak dipermukaaan, hanya kalangan elite saja yang memahami situasi yang sebenarnya.

 

Tetapi beberapa waktu kemudain Ahmad yani menganti beberapa Penglima daerah, Pangdanm yang diganti adalah orang-orangnya Nasution karena itu tampaklah Peta situasi yang sesungguhnya. Ini adalah gerakan Militer.

 

 

1963

Gerakan sipilnya  Presiden sukarno dan Wakil Perdana menteri I Dr Subandrio, memindahkan kedudukan Nasution  dari kepala Staf Angkatan darat ke Penasehat Presiden.ini terjadi tahun 1963

 

Tentu saja nasution harus tunduk dan tidak alasan dia  untuk Mbelelo  sebab dikelangan tentara sudah kuatir terjadi perpecahan ketika hubungan nasution dan yani memanas.Seandainya nasution melakukan tindakan membangkang tidak akan didukung pasukan dari bawah.dan kemungkinan keadaan ini sudah diperhitung nasution dengan cermat itu sebabnya  ia tunduk.

 

 

 

 

 

1964

Langkah selanjutnya bagi sukarno tinggal mengunduli sisa-sisa kubu nasution  anatara lain PARAN( Panitia retoling Aparatur Negara) sebuah Komisi Anti Korupsi yang dibentuk Nasution.sebagai gantinya Presiden Sukarno membentuk Komisi Tertinggi retooling Aparatur Revolusi (KOTRAR) yang dipimpin oleh orang kepercayaan Bung Karno.Dr Subandrio.untuk memperkuat Ahmad Yani ditunjuk sebagai Kepala Staf  KOTRAR.

 

.

Dari perpektif Sukarno retaknya hubungan Ahmad Yani dan AH Nasution merupakan kemenangan , apalagi kemudian Nasution dicopot dari dari posisi Strategis dan dimasukkan dalam kotak

Dengan demikian politik Negara dalam Negara yang dicptakan nasution  berubah menjadi sangat lemah.

Melihat kondidi demikian Pimpinan Angkatan bersenjata menjadi cemas, mereka kuatir konflik Nasution-Yani akan merembes ke Prajurit dilapisan bawah ,kalau itu terjadi akan Fatal.

Kekuatitan ini disampaikan kepada Presiden ,karena itu presiden menugas beberapa Perwira senior termasuk May jendral Suharto dan Pangdam  Jawa Timur Basuki Rahmat untuk menemui Nasution tugasnya menyarankan Nasution untuk menyesuaikan diri denga jalur yang sudah digariskan oleh Presiden Sukarno  jangan sampai ada Pembangkangan.

Dua Kubu berkonflik itu pada dasarnya sam-sama Anti-PKI ,meskipun Yani berada di kubu Bung Karno , namum ia tidak menyukai PKI akrab dengan Bung Karno , sementara Suhartio ditugaskan menjadi perantara untuk mendamaikan Nasution dan yani, cendrung berpihak kepada nasution.

 

1965

Konflik antara Nasution dan yani tidak gampang didamaikan.

Suatu hari di awal tahun 1965 ada pertemuan penting yang dihadiri oleh 12 jenddral di MABES AD.

Sebenarnya Nasution dan Yani juga diundang dalam pertemuan ini,namun kuduanya sama-sama tidak datang.Mereka diwakili oleh penasehat mereka masing-masing.

Pertemuan ini diadakan untuk mendamaikan nasution dan Yani .alhasil pertemuan penting itu tidak mencapau tujuan utamanya karena yang berkonflik tidak datang sendiri hanya diwakli saja.

 

Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide membentuk Angkatan Kelima tujuannya tujuangnya untuk menampung bnatuan senjata dari RRC ,saat itu persenjataan untuk empat angkatan sudah cukup, karena itu agar bantuan senjata dapat dimanfaatkan secara maksimal Bung Karno mempunyai Ide memntuk Angkatan Kelima, jik persenjataan yang dikirim cukup untuk 40 Batalyon maka angkatan kelima berkuatan seperti itu, tetapi Bung Karno belum memperinci bentuk Angkatan kelima.

Beliau berkata Angkatan Kelima tidak sama dengan Angkatan yang sudah ada, Ini adalah Pasukan Istimewa yang berdiri sendiri, tidak terkait dengan Angkatan Lain.hal ini perlu ditegaskan karena kemudian beredar isu Angkatan Kelima adlah para buruh dan petani yang dpersenjatai .PKI pernah mengatakan hal itu tetapi Bung Karno belu mmerinci bagaiman bentuk Angkatan kelima itu.

Menpagad Ahmad yani sudah menyampaikan langsung kepada presiden Sukarno bahwa ia tidak setuju dibentukanya angkatan kelima,para jendral angkatan lain mendukung Ahmad Yani,empat angkatan sudah cukup menurut mereka

Maslah ini kemudian menjadi pembicaraan dikalangan elite politik, dan pembicraan menjadi berlarut-larut ,juga muncul banyak spekulasi tentang bentuk Angkatan Kelima ,Bung Karno tetap tidak menjelaskan secara rinci bentuk angkatan kelima dan orang yang terdekat dengannya Dr subandrio juga tidak diberitahukan.

(Subandrio)

 

Pertengahan April 1965

Pada pertengahan April 1965 ada Pertemuan yang lebih besarkali ini dihadiri 200 perwira di MABES AD , dalam pertemuan ini Nasution dan Yani juga tidak datang.Namun pertemuan ini melahirkan doktrin baru yang dinamakan tri Uoaya Sakti  pencetusnya Suharto.Isinya tiga janji jujur dari jajaran AD.yang substansinya TNI berhak memberikan saran   dan tugas  politik tak terbatas kepada Presiden.

 

 

Doktrin baru ini menimbulkan kecemasan baru dikalangan elite Politik dan Masyarakat inteltual , dengan demikian semakin jelas bahwa AD mempertahankan politik dalam Negara ada Negara yang sudah dirintis nasution.Ini berarti Kubu Nasution menang dari kubu Yani yang didukung oleh Presiden  Sukarno.

 

Suharto salah satu perwira yang ditugaskan menjadi perantara mendamaikan Yani dan nasution berada dalam posisi yang tidak enak, karena Suharto mempunyai meori yang buruk terhadap yani dan nasution.penyebabnya adalah perilaku Suharto sendiri yang buruk yang terjadi ketika Suharto masih di Divisi Diponegoro.

Pada saat Divisi Diponegoro mewngadakan hubungan baik dengan pengusaha Liem Soei Liong, Perkawan mereka antara lain menyeludupkan berbagi barang.Suharto pernah berdalih penyeludupan itu untuk kepentingan Divisi Diponegoro, Berita Penyeludupan ini cepat menyebar semua perwira staf mengetahuintya, bahkan terungkap hasil penyeludupan uangnya masuk kekantong Suharto dan Liem Soei Liong.

Saat mengetahui ulah Suharto, Yani marah pada suatu kesempatan malah sempat menempeleng Suharto, karena penyeludupan itu memalukan Korps.

AH Nasution mengusulakn agar Suharto diadili di makamah Militer  dan segera di pecat dari AD, namun Mayjen Gatot Subroto mencegah dengan alas an perwira itu masih bisa dibina.Gatot mengusulkan kepada Presiden sukarno agar Suharto diampuni dan disekolahkan  di SESKOAD Bandung.

 

Presiden sukarno setuju, karena itu Suharto masuk SESKOAD  dan diterima oleh DAN SESKOAD Brigjen  Suwarto. Saat itu SESKOAD tidak hanya mengajarkan Pendidikan kemiliteran tapi juga bidang Ekonomi dan Pemerintahan.

Perwira di Seskoad  bertugas sebagi guru teori Negara dalam Negara.

Namun akhirnya Suharto membangun kubu sendiri ,kubu ini terbentuk setelah kepercayaan Amerika serikat kepada Kubu Nasution sudah  mulai luntur, ini disebabkan  fungsi nasution terhadap Pemberontakan PRRI Permesta, Kampanya Pembebasan Irian barat dan Zslogan Gnyang Malaysia tidak efektif , Tiga hal ini membuat kepentingan Ameriak Serikat di Indonesia khusus  Asia tenggara terganggu.sehngga AS tidak akrab lagi dengan Nasution.dari perspektif AS pada mulanya perlu untuk mengimbangi kebijkan Sukarno yang centrung lunak kepada PKI.

Disaat kepercayaan AS kepada Nasution Luntur, Suharto sudah menjabay ZPangkostrad, dan Suharto telah membangun kubu sendiri.

 

Awal januari 1965

Awal januari 1965, dikantor kedutaan Besar RI Di Beograd Yugoslavia datang sepucuk surat yang ditujukan kepada Duta besar Yugoslavia, Yoga sugoma (kelak jadi BAKIN), pengirimnya Pangkostrad Suharto isinya Yoga sugomo ditawarkan untuk pulang ke Jakarta  dengan jabatan baru kepala Intelijen Kostrad. Tawan ini menarik karena itu pada tanggal 5 Februari 1965 Yoga sudah tiba di jkarta  langsung menghadap Pangkostrad dirumahnya jalan haji Agus salim ,mereka bermusyawarah dan itulah awalnya terbentuk kubu Suharto.

 

Pemanggilan Yoga oleh Suharto mangandung tiga indikasi, pertama Pemangilan Yoga tidak melalui jalan normal, seharusnya penarikanya dilakukan oleh Menpagad Ahmad Yani.karena Yoa adalah perwira AD, kenyataannya Yoga ditarik berdasarkan surat Pangkostrad Suharto. Kedua tujuan kepulangan Yoga kejakarta untuk bersama-sama Suharto menyabot  politik Sukarno. Ketiga Mereka bertujuan menghancurkan PKI.

Ketiga indikasi ini bukan kesimpulan Subandrio tetapi diungkapkan oleh ali Moertopo (salah satu trio Suharto yoga) dengan bangga tanpa tending aling-aling (secara blak-blakan) mengungkapkan hal itu dengan gaya seperti orang tak berdosa.

Bagi Suharto menarik orang dengan cara itu adalah hal biasa, padahal ia sudah melangar garis komado dan hirarki.dengan cara yang inilah ia membangun kubunya,pokok perhatian kubu ini tidak kepada panglima AD tetapi menyangkut Politik nasional dan Internasional ,perhatian kubu tertuju kepada Bung Karno dan PKI.

 

Kubu Suharto disebut juga Trio Suharto-Yoga-Ali yang selanjutnya kista sebut kelompok bayangan Suharto.Mereka bersatu dengan cara tersamar.Mereka bergerak dibawah permukaaan.Awalnya teman lama dan merupak suatu tim kompak  ketika berada di KODAM Diponegoro.Kekompakn trio ini sudah teruji saat Pimpinan AD memilih panglima Diponegoro dan kekompakan mereka dilanjutkan di Jakarta.

Saat itu Pimpina AD mencalonkan Kolonel bambang Supeno menjadi Pangdam Diponegoro, rencana tersebut diketahui oelh perwira  dissana,saat itu Suharto berpangkat Let.Kol.juga mendengar, walaupun pangkat Suharto lebih rendah dari bambang supeno namun ia berani merebut jabatan tersebut caranya mengunakan strategi kotor namun terselubung .

Saat rencana pengangkatan tersebut bocor,ada sebuah rapat gelap di Kopeng, Jateng, yang dihadiri perwira  KOdam Diponegoro, rapat dikoordinir suarto melalui triona Yoga, tetapi Suharto tidak hadir ,intinya rapat merumuskan Suharto harus tampil sebagai Panglima Diponegoro ,jika tidak suahrto dan Yoga akan mengalang kekuatan bersama-sama untuk menolak  pencalonan bambang Supeno.

Saat itu Pencalonan bamabang supeno menjadi Pandam Diponegor belum ditanda tangani Presiden Sukarnosehingga upaya Suharto merebut jabatan tersebut bdengan waktu.

 

Namum scenario Suharto melalui Yoga tidak didukung oleh perwira Diponegoro, yang hadir, hanya satu perwira yang menanda tangani dr Suhardi tanda setuju sedangkan yang lain yang hadir tidak.

 

Yoga semula mengaku pertemuan tersebut tidak dibereitahu kepada Suharto, ini bisa diartikan scenario tidfak dibuat Suharto, Ketika dua Utusan KODAM Diponegoro hendak ke Jakarta untuk meminta tanda tangan presiden tentang pengangkatan Bambang supeno ,barulah Rapat gelap itu disebarkann

 

Berdasarkan memori Yoga, rapat itu adalah gagasan Suharto, pengakuan awal Yoga  bahwa Suahrto tidak mengetahui rapat tersebut agar tidak menimbulkan kecurigaan Jakarta bahwa Suharto mengalang kekuatan menolak pencalonan bambang Supeno.tetapi hal ini tidak mendapat konfirmasi apakah rapat gelap itu dikoordinir Suharto melalui Yoga atau  inisiatif Yoga sendiri.

Sebagai pembanding ,salah seorang trio Suharto-yog-ali, al moertopo ,menyatakan bahwa saat itu ia sebagai kmandan  pasukan banteng Raiders dimnta membantu Yoga melancarkan operasi intelijen.Tidak dirinci operasi intelijen yang dimaksud, tetapi tujuannya untuk mengusahakan Suharto menjadi Panglima Diponegoro,tapi Ali tidak menjelaskan siapa yang memintanya  Suharto,yoga atau kedu-duanya .

Terlepas Yoga berbohong atau tidak,tetapi rangkaian pernyatan Yoga dan Ali Moertopo menunjukkan adanya suatu komplotan Suharto.Komplotan yang berfgerak dalam operasi militer. Suharto adalah dalang yang sedang memainkan wayang-wayangnya. Tentu,dalamnngnya tidak perlu terjun langsung.

 

(subandrio)

 

 

1946

Kesimpulan diambil karena saat Suharto dan komplotnya mengadakan KUDETa 3 juli 1946,namun gagal, Suharto berbalik arah mengkhiananti komplotnya sendiri.Suharto mennagkap komplot tersebut dengan dalih mengamankan Negara.Kudeta ini dipimpin oleh Tan Malaka  dari partai MURBA ,Tan Malaka mengajak Militer Jawa tengah termasuk Suharto  yang akan digulingkan Perdana menteri St Sjahrir, awalnya 20 Juni 1946  PM Syahril dan kawan-kawnnya diculik di Surakarta,penculiknya komplot militer dibawah komando divisi III yang dipimpin Sudarsono, Suharto selaku salah seorang Komandan militer terlibat dalam penculikan.

 

2 juli 1946 komplot penculik berkumpul dimarkas Suharto  sebanyak dua Batalyon, Pasukan dikerahkan untuk menguasai sector strategis seperti RRI dan Telkom, Mlam itu juga mereka menyiapkan surat keputusan membubarkan Kabinet Sjahrir dan menyusun cabinet Baru yang akan ditanda tangani oleh presiden Sukaron esok harinya di istana Negara yogja.

SK dibuat dalam empat  tingkat,

Keputusan Presiden dimuat dalam maklumat nomor 1,2,dan 3.

Semua maklumat mengarah Kudeta.

Maklumat kedua berbunyi

Atas desakan rakyat dan tentara  dalam tingkat dua terhadap Ketua Revolusi Indonesia yang berjuang untuk Rakyat ,maka atas nama Kepala Negara  hari ini memperhentikan seluruh kementerian negra  Suatn Sjahrir.3 juli 1946 tertanda presiden RI Sukarno

 

Tetapi percobaan KUDETA gagal, para pelauknya ditangkap dan ditahan persis saat itu Suharto berbalik arah.Ia semula berkomplot dalam penculikan, berbalik menangkap komplotan tersbut,I berdalih keberadaannya dalam komplotan penculik merupakan upaya Suharto mengamankan penculik.

 

Inilah karakter Suharto dan ia bangga dengan hal itu. Suharto tidak malu berbalik arah dari penjahat menjadi penyelamat.

Dalam autobiografinya Suharto menulis sekilas peristiwa ini, menurut versi dia yang tentu saja fakta dia balik  sendiri.

 

(subandrio)

 

19 pebruari 1962

 

Setelah mengadakan dengar pendapat dari 19 Februari sampai 17 April 1962,

Komisi Cobbald mengeluarkan laporan yang dimuat dalam Report of the Commision of

Inquiry, North Borneo and Sarawak. Hasilnya menggungkapkan dua pertiga

masyarakat yang diwawancarai menyetujui penggabungan.3 Pada tanggal 18-31 Juli

1962 di London diadakan pertemuan lagi antara perwakilan PTM dan Inggris yang

hasilnya menyetujui rekomendasi Komisi Cobbald dan merencanakan 31 Agustus

1963 sebagai hari lahirnya Malaysia.4

 

 

Pada tanggal 8 Desember 1962

 

di Brunei muncul gerakan yang menolakgagasan pembentukan Malaysia. Syekh A.M. Azahari, pemimpin Partai RakyatBrunei, partai terbesar di Brunei5, memproklamirkan berdirinya Negara NasionalKalimantan Utara (NNKU) dan membentuk Tentara Nasional Kalimantan Utara(TNKU). Azahari mengklaim wilayah NNKU meliputi daerah Sarawak, Brunei danSabah.6 Di daerah lain, seperti PTM, Singapura dan Sarawak juga terdapat partaipartaipolitik yang tidak setuju dengan pembentukan Malaysia, diantara dapat

disebutkan: Labour Party, Partai Rakyat dan Socialis Front dari PTM; Singapura

Congres, Partai Rakyat Singapura, Labour Party dari Singapura; Sarawak United People

M. S. Mitchel Vinco, adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah periode 2004-2009.

1 SEMDAM XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang, Pontianak, Kodam XII Tanjungpura,

1970, hlm. 182. Sebelumnya gagasan mengenai penggabungan PTM dan Singapura ditolak oleh

Tunku Abdul Rahman, dengan alasan komposisi etnis Melayu lebih kecil dibandingkan etnis Cina.

2 Hidayat Mukmin, TNI Dalam Politik Luar Negeri, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1991, hlm. 88.

Lihat juga SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 157.

3 Baskara T. Wardaya, Cold War Shadow, Yogyakarta, Galang Press, 2007, hlm. 362. Lihat juga

James P. Ongkili, Nation-Building in Malaysia 1946-1974, Singapura, Oxford University Press,

1985, hlm. 165.

4 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 158.

5 Partai Rakyat Brunei didirikan oleh Azahari pada tahun 1956. Pada pemilihan umum bulan

Agustus 1962 memenangkan lima puluh (50) dari lima puluh empat (54) kursi yang diperebutkan.

Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 89.

6 Soemadi, Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia Tenggara,

Pontianak, Yayasan Tanjungpura, 1974, hlm. 53.

Party (SUPP) dari Sarawak.7

 

Di kemudian hari, tarik menarik kepentingan dan perbedaan sikap antara

pihak yang pro dan kontra terhadap pembentukan Malaysia, akan menyebabkan

konflik yang berkepanjangan, yang melibatkan dunia internasional. PTM yang

kemudian membentuk Federasi Malaysia, yang didukung Inggris dan negara-negara

sekutunya berhadapan dengan gerakan Azahari dan kelompok SUPP dari Sarawak,

yang didukung Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Filipina. Pada bulan

Desember 1963 di Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, kelompok-kelompok yang

menentang Malaysia kemudian membentuk Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak dan

Pasukan Rakyat Kalimantan Utara, yang akrab disebut PGRS/PARAKU, sebagai

usaha konsolidasi untuk terus menentang usaha pembentukan Malaysia.8

B. Reaksi Indonesia Terhadap Rencana ”Malaysia”

Pada awalnya Indonesia tidak berkeberatan dengan rencana pembentukan

Federasi Malaysia. Dalam surat kepada New York Times, tanggal 17 November 1961,

Menteri Luar Negeri Indonesia, Soebandrio menyatakan dukungan terhadap

rencana ”Malaysia”:

”As an example of our honesty and lack of expansionist intent, one-fourth of

the island of Kalimantan (Borneo), consisting of three Crown Colonies of

Great Britain, is now becoming the target of the Malayan Government for a

merger… Still, we do not show any objection toward this Malayan policy of

merger. On the contrary, we wish the Malayan Government well if it can

succeed with this plan”9

Pernyataan tersebut diperkuat ketika Soebandrio berpidato di hadapan

Majelis Umum PBB, 20 November 1961:

“When Malaya told us of their intentions to merge with the three British

Crown Colonies… We told them that we have no objections and that we wish

them success… Indonesia had no objections to merger based on the will of the

people concerned”10

Sikap Pemerintah Indonesia berbalik arah ketika Azahari memproklamirkan

berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara pada tanggal 8 Desember 1962. Bagi

Indonesia pecahnya perlawanan yang dikobarkan Azahari menunjukkan tidak

semua masyarakat di koloni Inggris setuju dengan rencana “Malaysia”. Soekarno

mengakui bahwa dia menerima pembentukan Malaysia ketika gagasan tersebut

diperkenalkan pada 1961. Tetapi revolusi anti Malaysia di Brunei tahun 1962 tidak

memberinya pilihan lain selain membantu Brunei, sebab Soekarno percaya bahwa

setiap rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri.11

Pada tanggal 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Soebandrio

mengumumkan sikap Pemerintah yaitu konfrontasi terhadap “Malaysia”:

”Now the President has decided that henceforth we shall pursue a policy of

confrontation against Malaya. This does not mean that we are going to war.

This is not necessary… I, too, consider it as normal that we have to adopt a

7 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 159-160.

8 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182 dan lihat juga Soemadi, op. cit., hlm. 57.

9 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 363.

10 Idem.

11 Ibid., hlm. 364.

policy of confrontation. What is to be regretted is that the confrontation

policy has to be adopted against an Asian country, a neighboring country.

We have always been pursuing a confrontation policy against colonialism

and imperialism in all its manifestations. It is unfortunate that Malaya, too,

has lent itself to become tools of colonialism and imperialism. That is why we

are compelled to adopt a policy of confrontation.”12

Menurut buku sejarah Kodam XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang,

sikap Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia berhubungan dengan

politik luar negerinya yang anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala

bentuknya.13 Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya kedok dari

Inggris dan sekutunya untuk tetap berkuasa di Asia Tenggara dalam bentuk neokolonialisme,

dan kemudian mengepung Indonesia. Menurut M.C. Ricklefs, banyak

pemimpin Indonesia menganggap Malaya (PTM) tidak benar-benar merdeka karena

tidak terjadi suatu revolusi. Mereka merasa tidak senang dengan keberhasilan

Malaya di bidang ekonomi, merasa curiga dengan tetap hadirnya Inggris di sana

dengan pangkalan-pangkalan militernya, dan merasa tersinggung karena Malaya

dan Singapura membantu PRRI.14

Selain itu dapat pula ditambah alasan adanya keinginan agar Indonesia

memainkan peran yang lebih besar di dalam masalah-masalah Asia Tenggara. Hal

serupa dikemukakan Hilsman dalam bukunya To Move a Nation seperti yang dikutip

dari Cold War Shadow:

“Indonesia’s opposition to Malaysia was part of the country’s expression of

‘new nationalism’ in which Jakarta wanted to stand tall in international

affairs, particularly in dealing with former colonial power… Sukarno,

moreover, was offended that the British never adequately consulted Indonesia

on the federation plan”15

Reaksi Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia mendapat

dukungan yang besar dari rakyat Indonesia. PKI mengecam rencana “Malaysia”

sebagai ”neo-colonialist attempt to prevent the people of the former British colonies from

attaining ‘genuine national independence and freedom from imperialism’”16 Angkatan

Darat (ABRI-AD)mendukung sikap Presiden Soekarno, tapi dalam kasus akan

munculnya bahaya komunisme yang lebih kuat. ”The Army feared that in light of the

federation’s Chinese population, Malaysia could become a springboard for Communist

China’s penetration of Indonesia through the Indonesian-Malaysian common borders”17

Mengenai berdirinya NNKU, pimpinan Azahari, Kepala Staf Angkatan Bersenjata

Indonesia menyatakan “Indonesia had no intention to take over northern Borneo

territories, but at the same time would support any movement for self-determination and

againts colonialism”18

Selain dari dalam negeri, Indonesia juga mendapat dukungan dari Filipina.

Presiden Filipina Diosdado Macapagal mengklaim Sabah sebagai bagian dari

wilayah negaranya atas dasar hubungan antara Filipina dan Sultan Sabah pada masa

pra-kolonial. Filipina juga takut bahwa federasi baru itu akan menjadi basis bagi

12 Ibid., hlm. 368.

13 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 161.

14 M.C. Ricklef, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Serambi: Jakarta, 2005, hlm. 537.

15 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 366-367.

16 Idem.

17 Idem.

18 Ibid., hlm. 369.

tekanan komunis dari populasi Cina Malaysia dan elemen komunis Indonesia.”The

Philippines also feared that the new federation could become a basis for communist

penetration Malaysia’s Chinese population and Indonesia’s communist elements”19

Meskipun demikian, Filipina tetap ingin bertindak bersama Indonesia, yang oleh

banyak kalangan di negara itu dipandang sebagai calon negara kuat di Asia

Tenggara pada masa datang, selain itu Indonesia juga dianggap bebas dari pengaruh

kekuasaan kolonial Barat.20

 1962

C. Terbentuknya PGRS/PARAKU

Keberadaan PGRS/PARAKU berkaitan dengan situasi politik di sekitar

pembentukan Malaysia. Pada tanggal 8 Desember 1962, sebagai bentuk penolakan

terhadap Federasi Malaysia, berdiri Negara Nasional Kalimantan Utara dengan

Perdana Menteri Azahari dari Partai Rakyat Brunei. Setelah itu didirikan juga

Tentara Nasional Kalimantan Utara sebagai kekuatan pertahanan NNKU. Wilayah

yang diklaim sebagai wilayah negaranya adalah Sarawak, Brunei dan Sabah, yang

meliputi seluruh wilayah jajahan Inggris di Kalimantan/Borneo Inggris.

Negara Nasional Kalimantan Utara pimpinan Azahari mendapat tantangan

dari Pemerintahan PTM dan Inggris. Gerakan Azahari tersebut dianggap gerakan

separatis oleh pihak yang pro dengan Federasi Malaysia. Inggris yang pro dengan

”Malaysia” mengerahkan tentara untuk melawan NNKU. Hal tersebut

mengakibatkan Azahari tidak mampu mempertahankan pemerintahan pusat di

Kalimantan Utara. Kemudian pemerintahan pusat NKKU dipindahkan ke Manila.

Menurut pandangan Indonesia, terbentuknya NNKU merupakan suatu

bentuk gerakan nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme.

Pemerintah Indonesia mendukung gerakan Azahari tersebut dan memberi peluang

bagi NNKU untuk menyusun kekuatan dengan mengambil basis di wilayah

Indonesia, yaitu Kalimantan Barat.21 Kebijaksanaan Pemerintah Indonesia saat itu

memberikan asylum politik kepada Perdana Menteri Azahari dan Panglima Abang

Kifli di Jakarta.22

Berdirinya Negara Kalimantan Utara mengakibatkan Partai Komunis

Sarawak juga mendapat tekanan dari penguasa.23 Sejalan dengan kebijaksanaan

politik Indonesia waktu itu, pemimpin-pemimpin komunis dari Sarawak ”hijrah” ke

Kalimantan Barat. Sedangkan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dalam rangka

menyelamatkan Partai Komunis Sarawak mengirimkan Wen Min Tjuen dan Wong

Kee Chok ke Kalimantan Barat pada awal tahun 1963.24 Kedua pemimpin Partai

19 Idem.

20 Periksa Pidato Presiden Philipina di KTT Manila, 30 Juli 1963. Departemen Penerangan RI,

Gelora Konfrontasi Menggajang Malaysia, Jakarta, Departemen Penerangan, 1964, hlm. 33.

21 Soemadi, op. cit., hlm. 53-54.

22 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 233.

23 Partai Komunis Serawak adalah SCO (Serawak Communist Organization), partai yang ilegal,

semacam “PKI malam” di Indonesia pasca 1965. SCO kemudian menginfiltrasi SUPP (Sarawak

United People Party), partai politik legal yang dalam Anggaran Dasarnya adalah non komunis,

lihat Soemadi, op. cit., hlm. 54. SCO juga dikenal dengan Clandestine Communist Organization

(CCO) sebuah organisasi yang sudah berdiri sejak Perang Dunia II, embrionya adalah Sarawak

Anti-Fascist League, periksa James P. Ongkili, op. cit., hlm. 143.

24 Wen Min Tjuen dan Wong Kee Chok adalah tokoh-tokoh komunis di Malaysia yang telah diusir

dan lari ke Peking. Dari Peking kemudian dikirim untuk membantu perjuangan Partai Komunis

Sarawak yang lari ke Kalimantan Barat, lihat SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.182 dan

Soemadi, op. cit., hlm. 54.

Komunis Cina tersebut menemui Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa dan

Yacob dari Sarawak Advance Youth Association (SAYA)25 untuk membahas garis

perjuangan dari Partai Komunis Sarawak.26

Akibat dari tantangan pemerintah Malaysia yang didukung oleh Inggris dan

di satu sisi didukung oleh Soekarno atas nama pemerintah Indonesia, maka tokohtokoh

dari yang kontra dengan Federasi Malaysia “melarikan” diri ke Indonesia,

tepatnya di Kalimantan Barat. Azahari dan Abang Kifli dengan Tentara Nasional

Kalimantan Utara (TNKU)-nya kemudian berhubungan dan bekerja sama dengan

tokoh-tokoh dari Sarawak, seperti Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa dan

Yacob dari SUPP yang sudah disokong oleh tokoh komunis Wong Kee Chok dan

Wen Min Tjun dari RRT.27

 

Pada tanggal 2 Desember 1963,

 

Soebandrio, Wakil Menteri Pertama atau

Menteri Luar Negeri Indonesia dan atas nama KOPERDASAN (Komando

Pertahanan Daerah Perbatasan), datang ke Kalimantan Barat. Dalam rapat-rapat

umum di Pontianak dan daerah-daerah di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia,

dalam rangka kampanye konfrontasi anti Malaysia, secara demonstratif Soebandrio

telah memperkenalkan Azahari kepada khalayak ramai.28 Dengan demikian, mulai

muncul kerja sama yang saling menguntungkan antara pihak NNKU, SUPP, dengan

Pemerintah Indonesia.

Sebagai tindak lanjut kerja sama Azahari (Brunei), Kelompok Yap Chung Ho

(Sarawak) dan Soebandrio (Indonesia) diadakanlah pertemuan di Sintang untuk

menggariskan kerja sama untuk mengadakan gerakan menentang Federasi Malaysia

dengan basis kekuatan di Kalimantan Barat. Pada kesempatan itu muncul gagasan

untuk membentuk suatu pasukan bersenjata yang akan mendukung gerakan “baru”

anti Malaysia. Setelah pertemuan pertama di Sintang, kemudian diadakan

pertemuan lanjutan yang dilaksanakan di Bogor. Pertemuan tersebut dihadiri oleh

Wakil Menteri Pertama Soebandrio, Njoto, Soeroto, Perdana Menteri NNKU Azahari

dan kelompok Yap Chung Ho dari SUPP. Dalam pertemuan itu telah diputuskan

untuk membentuk pasukan bersenjata yang akan berkedudukan di perbatasan

Kalimantan Barat (Asuangsang di sebelah Utara Sambas).29

 

Tindak lanjut dari kesepakatan di Bogor, Soebandrio dengan BPI (Badan

Pusat Intelijen) Indonesia, membantu melatih 10 (sepuluh) orang anak buah Yap

Chung Ho selama sebulan di Bogor.

 

Sepuluh (10) orang yang telah dilatih oleh BPI

kemudian langsung dibawa ke Asuangsang untuk melatih 60 orang pasukan lagi.

Dengan basis pasukan ini, kemudian oleh SUPP “pelarian” di Kalimantan Barat

dibentuklah Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat

Kalimantan Utara (PARAKU) sebagai bagian dari Tentara Nasional Kalimantan

Utara (TNKU).30 Selain itu juga memasukkan anggota-anggota PGRS yang dipimpin

25 SAYA adalah organ dari SUPP, namun sudah dimasuki pengaruh komunis. SEMDAM

XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182 dan Soemadi, op. cit., hlm 57. SAYA berdiri tahun 1954,

pembaharuan dari Sarawak Liberation League, kemudian menjadi organ SCO atau CCO. Sejak

awal SAYA dan SCO/CCO sudah anti terhadap Inggris, seperti kerja sama mereka dengan Anti-

British League dari Singapura tahun 1952.

 

 Periksa James P. Ongkili, op. cit., hlm. 143.

26 Dalam Pembayun Sulistyorini, “Pemberontakan PGRS/ PARAKU di Kalimantan Barat, Jurnal

Sejarah dan Budaya Kalimantan, edisi 03/2004, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,

Pontianak, hlm. 39.

27 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 182.

28 Idem.

29 Idem.

30 Ibid., hlm 183. Selain itu juga, sebagai hasil persetujuan TNKU akan menyediakan senjata untuk

Saleh sebagai anggota BPI. Dislokasi umum mereka adalah dari Pantai Barat sampai

daerah Sungkung ditempati PGRS dan dari Sungkung sampai Benua Martinus di

sebelah Timur ditempati PARAKU.31

D. Politik Konfrontasi: Dukungan Terhadap PGRS/PARAKU

Pada 10 Juni 1963 diadakan pertemuan antara perwakilan Indonesia,

Malaysia dan Filipina mengenai masalah ”Malaysia”. Pertemuan tersebut berhasil

membentuk Maphilindo, sebagai alternatif solusi bagi masalah ”Malaysia”.32 Pada

pertemuan tingkat tinggi, 30 Juli dan 5 Agustus 1963, Presiden Indonesia Soekarno,

Presiden Filipina Diosdado Macapagal dan Perdana Menteri PTM Tunku Abdul

Rahman mendukung Maphilindo dan meminta PBB menyelenggarakan jajak

pendapat di Sabah dan Sarawak guna memastikan apakah rakyat kedua wilayah

tersebut mau bergabung dengan Federasi Malaysia atau tidak. Kepututusan KTT di

Manila tersebut menghasilkan Manila Accord 31 Juli 1963.33 Namun, jajak pendapat

tidak diadakan di Brunei, sebab pada Juli 1963 wilayah tersebut telah memutuskan

untuk tidak bergabung dengan federasi.34

Menanggapi Manila Accord, Sekretaris Jenderal PBB, U Thant membentuk

Misi Michelmore35. Misi tersebut tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963,

dan melaksanakan programnya tanggal 26 Agustus 1963.36 Dalam jajak pendapat

anggota misi berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis dan

buruh, pejabat pemerintahan, pemimpin politik, serta kepala suku di Sabah dan

Sarawak. Hasilnya misi PBB tersebut menemukan bahwa mayoritas rakyat yang

diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan

Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. “favored the merger of the two

territories with Malaya and Singapore in the Malaysia Federation”37

Pemerintah Indonesia dan Filipina menolak hasil tersebut, mengeluh bahwa

waktu yang digunakan untuk jajak pendapat terlalu singkat. Penolakan juga

diakibatkan pengamat dari kedua negara38 hanya mengamati sebagian proses jajak

PGRS/PARAKU.

31 Soemadi, op. cit., hlm. 57 dan SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 183. Basis PGRS di

Sungkung, Bengkayang dan Sajingan Hulu. Sedangkan PARAKU di wilayah Benua Martinus dan

Badau, Kapuas Hulu.

32 Ibid., 384-385. Dalam Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 94., disebutkan tanggal 7 Juni dan 11 Juni

1963 telah diadakan pertemuan antara Deputi PM/Menlu Tun Abdul Razak, Menlu Soebandrio dan

Menlu Pelaez dengan hasil mendukung Maphilindo dan harus diadakannya pertemuan pada tingkat

Kepala Negara.

33 Baskara T. Wardaya, op. cit., 386. Konferensi tingkat tinggi antara Pemimpin Negara Indonesia,

Malaysia dan Filipina berhasil mempopulerkan pernyataan ”Masalah Asia diselesaikan oleh

Bangsa Asia”. Lihat juga Departemen Penerangan RI, op. cit., hlm. 33, 43, 53, kumpulan pidato

Presiden Macapagal dan Presiden Soekarno di KTT Manila tersebut.

34 Baskara T. Wardaya, op. cit., 386.

35 Misi diketuai oleh Laurence Michelmore (Amerika Serikat) dengan anggota-anggota: George

Janicek (Cekoslovakia), George Howard (Argentina), Neville Kanakaratne (Ceylon), Kenneth

Danzie (Ghana), Ishad Bagai (Pakistan), Jasushi Akashi (Jepang), Abdul Dajani (Yordania) dan

Jose Machado (Brazil). Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 95. Periksa juga Departemen

Penerangan RI, op. cit., hlm. 59.

36 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm. 388.

37 Idem

38 Jajak pendapat yang dilakukan Misi Michelmore juga dihadiri para peninjau dari Indonesia,

Malaysia dan Filipina. Dari Indonesia adalah Nugroho, Otto Abdulrahman, Teuku Hasan dan Rudi

Gonta. Dari Malaysia adalah Zaiton Ibrahim, Athi Nahappan, Yakup Latief, dan Mohammad

Zahir. Dari Filipina adalah Benito M. Bautista, Melquiades Iabanez, Vicento Muyoo dan Ramon

pendapat karena kesulitan yang diciptakan penguasa Inggris. Terlebih ketika pada

29 Agustus 1963 Tunku Abdul Rahman sudah mengumumkan Malaysia akan

didirikan pada 16 September 1963 dan menyatakan bahwa federasi baru itu akan

tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak pendapat yang

diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Serawak dan Sabah ingin

bergabung ke dalamnya atau tidak. “Would be established on that day whether or not the

result of the U.N. survey indicated that the people of Serawak and Sabah wanted to join the

federation”39

Tanggal 3 Mei 1964 bertempat di depan Istana Merdeka, Presiden Soekarno

mengumumkan Dwikora atau Dwi Komando Rakyat.

“Kami Pemimpin Besar Revolusi Indonesia dalam rangka politik

konfrontasi terhadap proyek neo-kolonialis Malaysia… dengan ini

kami perintahkan kepada dua puluh satu juta Sukarelawan Indonesia

yang telah mencatatkan diri:

Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia dan bantu perjuangan

revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Sarawak dan

Brunei untuk mebubarkan negara boneka Malaysia.

Semoga Rahmat dan Taufik Tuhan beserta kepada kita.

Demikian Dwikora, saudara-saudara, maka, saudara-saudara, inilah

Komando Dwikora yang saya berikan kepadamu sekalian.

Kerjakan. Bismillah!”40

Menurut Lie Sau Fat atau X. F. Asali, budayawan Tionghoa Kal-Bar dan saksi

sejarah, ketika peristiwa Dwikora, banyak sukarelawan membantu perang dengan

Malaysia. Mereka terdiri dari para pelarian dari Sarawak, yang pada umumnya etnis

Tionghoa dan partisipan komunis. Kemudian ada juga sukarelawan yang berasal

dari Singkawang, Bengkayang dan berbagai wilayah di Indonesia, yang terdiri dari

berbagai etnis seperti Melayu, Dayak, dan Tionghoa.41 Selain melakukan perang

langsung dengan Malaysia, Indonesia juga merekrut kelompok yang menentang

pembentukan Federasi Malaysia. Kelompok tersebut adalah kelompok NNKU dan

TNKU pimpinan Azahari, serta kelompok SUPP yang melarikan diri ke Kal-Bar.42

Kodam Tanjungpura pada Mei dan Juni 1964, memberikan latihan militer

pada 28 orang sukarelawan dari SUPP (Sarawak United People Party) yang “lari” ke

Kal-Bar dan juga para sukarelawan yang dikirim dari Jakarta. Latihan militer

tersebut di lakukan di Dodiktif 18 – Tandjungpura di Bengkayang.43 Seperti yang

diungkapkan Letnan Kolonel Harsono Subardi, mantan Biro Intel POM Kodam XII

Barrios. Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 95.

39 Baskara T. Wardaya, op. cit., hlm 389.

40 ”Amanat Komando/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Pada Appel Besar

Sukarelawan Pengganjangan Malaysia di Depan Istana Merdeka, Djakarta, 3 Mei 1964.”, hlm.16,

dokumen Arsip Nasional RI.

41 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, Borneo Tribune, Minggu, 11 Februari 2008, tulisan

dikutip dari blog pribadi penulis di alamat http://muhlissuhaeri.blogspot.com dengan isi yang sama

seperti edisi cetak surat kabar Borneo Tribune. Lihat juga La Ode, M.D., Tiga Muka Etnis Cina–

Indonesia Fenomena di Kalimantan Barat, Biograf Publishing, Yogyakarta, 1997, hlm. 117.

42 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, op. cit.

43 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm 183 dan 185. Dalam Pembayun Sulistyorini, op. cit.,

hlm.53, disebutkan: selama masa konfrontasi 85 orang dari Sarawak telah meyeberang ke

Kalimantan Barat. Mereka pada umumnya termasuk dalam onderbouw SUPP.

Tanjungpura, “Saat itu, kita melatih PGRS/PARAKU untuk dipergunakan

membantu memerdekakan Malaysia. Mereka dilatih oleh RPKAD di Bengkayang.” 44

Selama periode 1963-1965 PGRS/PARAKU ”membina” rakyat perbatasan

yang berada di Indonesia. Tujuan penyerangan PGRS/PARAKU dan para

sukarelawan diarahkan kepada Sarawak di Malaysia Timur. Targetnya untuk

mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah Federasi Malaysia dan

merebut Kota Kuching sebagai Ibukota wilayah Sarawak. Agar tujuan itu tercapai,

mereka membentuk basis-basis strategis di Distrik Sempadi/Matan, Lundu, Nonok,

Bau, Sibu, Binatang dan Semanggang, serta melakukan penyerangan-penyerangan

terhadap pos-pos Tentara Diraja Malaysia.45

Kebijakan Pemerintah Indonesia melalui BPI (Badan Pusat Intelijen),

membuat “kisah” PGRS/PARAKU tidak menjadi konsumsi publik pada tahun 1963-

1965 (sebelum G 30 S). Hal ini seperti yang diuraikan L.H. Kadir, saksi sejarah,

mantan Wakil Gubernur Kal-Bar 2003-2008, pada masa konfrontasi bekerja sebagai

pegawai negeri di Putusibau (1963-1965) dan Mahasiswa APDN (1965-1968).

“Sekitar tahun 1963-1964 tidak ada pernyatan dukungan Indonesia

terhadap PGRS/PARAKU. Masyarakat hanya tahu bahwa ada

pergolakan rakyat di perbatasan. Setahu saya setelah peristiwa G 30 S

baru ada di koran berita tentang PGRS/PARAKU. Sebelum itu yang

dikenal sukwan… Sewaktu masih di Putusibau, saya pernah

mengantar sukwan dari Putusibau untuk berlatih di perbatasan. Saya

dengan speed ke Semitau diperintah Dandim Hartono supaya

mengantar. Orang-orang yang saya antar Cina semua waktu itu.

Mereka bawa senjata, ada pula amoi-amoi, banyak perempuan. Ada

juga dokter dua orang, mereka latihan di Badau.”46

Sejak bulan Januari 1965 sampai meletusnya G30S, kegiatan infiltrasi dan

pertempuran ke Malaysia meningkat sehingga rakyat perbatasan di kedua belah

pihak sangat terpengaruh oleh kegiatan tersebut. Pasca G30S situasi belum

mempengaruhi PGRS/PARAKU, karena pemerintah belum membubarkan PKI.

Situasi komando di Kalimantan Barat masih belum jelas. Satu-satunya komando

yang diberikan oleh Pangdam XII/Tanjungpura adalah tetap di pos masing-masing

dan mempertinggi kewaspadaan. Situasi demikian ternyata dimanfaatkan PGRS/

PARAKU untuk konsolidasi kekuatan, di mana banyak simpatisan PKI yang

bergabung karena situasi politik yang semakin menekan PKI.47

Pada perjalanan sejarah selanjutnya gerakan sukarelawan Indonesia akan

sulit dibedakan dengan para gerilyawan PGRS/PARAKU. Mereka sama-sama

memperoleh pelatihan militer dari Tentara RI dan sama-sama diterjunkan di

perbatasan.48 Hal ini semakin kompleks ketika PKI memanfaatkan pengerahan

sukarelawan untuk melatih para kadernya, yang kebanyakan dari etnis Tionghoa,

sehingga akan sulit dibedakan yang mana PGRS/PARAKU, kader PKI dan

kelompok yang tidak mengetahui tentang semua itu.

44 Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (1)”, op. cit.

45 Pembayun Sulistyorini, op. cit., hlm. 54.

46 Wawancara langsung dengan penulis pada hari Minggu, 20 Juni 2008 sekitar pukul 17.00 Wib

lokasi di kediaman L.H. Kadir, jalan M.T. Haryono No. 40 Pontianak, Kalimantan Barat.

47 Pembayun Sulistyorini, op. cit., hlm. 56.

48 Ibid., hlm. 39.

E. Penumpasan PGRS/PARAKU

Ada kelompok-kelompok dalam tubuh Angkatan Bersenjata maupun sipil di

Indonesia yang menginginkan konfrontasi berakhir. Mereka yang masuk ke dalam

kelompok ini adalah: Soeharto, Kemal Idris, Ali Moertopo, L.B. Moerdani, Yoga

Soegomo dan A. Rachman Ramli. Dari pihak sipil ada Adam Malik dan Sri Sultan

Hamengku Buwono IX. Dari pihak Malaysia adalah Menteri Luar Negeri Tun Abdul

Razak, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri (1969-1970) Tan Sri Muhamad

Ghazali bin Shafie dan staf Kementerian Luar Negeri Muhamad Sulong.49 Setelah

peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melemahkan kekuatan PKI, dan

keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 yang melemahkan kekuatan Soekarno,

kelompok-kelompok di ataslah yang mengambil inisiatif untuk menyelesaikan

masalah “Malaysia”.

Menurut Hidayat Mukmin ada tiga faktor yang mendorong penyelesaian

konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Pertama, faktor internal Malaysia, adanya

perpecahan di dalam Federasi yang mengakibatkan Brunei dan Singapura

melepaskan diri. Kedua, internal Indonesia, pergantian kekuasaan yang didasari

perisitiwa 30 September 1965. Ketiga, upaya kedua pihak untuk menyelesaikan

konfrontasi tanpa mediasi pihak ketiga.50 Dengan perkembangan historiografi yang

pesat pasca Orde Baru, sulit mengatakan berakhirnya konfrontasi tanpa campur

tangan pihak ketiga. Beberapa penulisan sejarah terbaru menunjukkan adanya

campur tangan pihak asing dalam pergantian kekuasaan di Indonesia.

Secara khusus bagi Indonesia, alasan-alasan di atas harus ditambah dengan

alasan ekonomi dan politik. Secara ekonomi, sulit bagi Indonesia yang pemerintah

dan rakyatnya sedang dalam ekonomi lemah, dapat menjalankan perang dengan

berhasil.51 Meskipun faktanya Indonesia memiliki armada militer yang kuat dari

kerja samanya dengan Uni Soviet.52 Sedangkan secara politis, terdapatnya kelompokkelompok

yang politiknya berseberangan dengan Soekarno. Kelompok-kelompok ini

mengidentikkan konfrontasi sebagai politik Soekarno dan PKI. Dengan melemahkan

kekuasaan Soekarno Pasca G30S, mereka pun menginginkan berakhirnya politik

konfrontasi.

Pada 29 Mei – 1 Juni 1966 diadakan perundingan antara Menteri Luar Negeri

RI Adam Malik dan Menteri Luar Negeri Malaysia Tun Abdul Razak di Bangkok

atas bantuan Menteri Luar Negeri Thailand Thanat Khoman. Perundingan yang

dikenal dengan Bangkok Talks menghasilkan pertukaran surat-surat yang memuat

prinsip-prinsip untuk suatu perjanjian bagi penyelesaian persoalan Malaysia. Puncak

dari semua perundingan itu adalah ditandatanganinya suatu persetujuan antara

Indonesia dan Malaysia untuk normalisasi hubungan antara kedua negara di Jakarta

pada tanggal 11 Agustus 1966. Persetujuan itu dikenal dengan Jakarta Accord.53

Konfrontasi baru selesai setelah ada pengakuan terhadap Malaysia seperti yang

tertuang dalam pasal 1 Jakarta Accord. Segala sesuatu yang tercantum dalam Jakarta

Accord hanya dapat dilaksanakan apabila tidak ada kegiatan-kegiatan permusuhan

lagi antara kedua negara.

Menanggapi Jakarta Accord, maka KOLAGA (Komando Mandala Siaga)

49 Lihat Hidayat Mukmin, op. cit., hlm. 106-107, 114, 129 dan 130.

50 Ibid., hlm. 108.

51 G. Moedjanto, Indonesia Abad ke-20, Yogyakarta, Kanisius, 1988, hlm.119. Hidayat Mukmin, op.

cit., hlm. 113.

52 G. Moedjanto, op. cit., hlm.124.

53 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 194.

mengeluarkan instruksi dengan radiogram tanggal 10 Agustus 1966 No. TSR-

26/1966 kepada semua Komando Bawahan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan

operasi. Langkah selanjutnya yang diambil oleh Komando Tempur (Kopur)

IV/Mandau, adalah menyerukan agar PGRS/PARAKU mengadakan konsolidasi di

tempat-tempat yang sudah ditentukan. Ternyata yang mengikuti seruan tersebut

hanya 99 orang, sedangkan sejumlah 739 orang membangkang.54

Akibat dari pembangkangan tersebut, maka Kopur IV/Mandau melancarkan

gerakan Operasi Tertib I dan Operasi Tertib II ke daerah-daerah seperti: Gunung

Sentawi/Sempatung complex, Sungkung complex, Melanjau complex, dan Benua

Martinus complex. Gerakan Operasi Tertib I dilaksanakan tanggal 1 Oktober 1966

sampai Desember 1966. Sedangkan Operasi Tertib II dilaksanakan sejak Januari 1967

sampai dengan Maret 1967. Pelaksana penuh Operasi Tertib I dan Tertib II adalah

Kopur IV/Mandau dan langsung berada di bawah KOLAGA. Sebagai hasil dari

Operasi Tertib tersebut, Kopur IV/Mandau dapat menghancurkan lima puluh

persen (50%) kekuatan PGRS/PARAKU.55

Pada tanggal 17 Februari 1967 berdasarkan Surat Rahasia Pangkolaga No. 12-

33/1967 wewenang pengendalian operasi dialihkan dari Kopur IV/Mandau kepada

Kodam XII/Tanjungpura. Kodam XII/Tanjungpura melancarakan rentetan gerakan

operasi yang dikenal dengan Operasi Sapu Bersih. Dalam perjalanannya Operasi

Sapu Bersih dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu: Operasi Sapu Bersih I (April

1967-Juli 1967), Operasi Sapu Bersih II (Agustus 1967-Februari 1969) dan Operasi

Sapu Bersih III (Maret 1969-Desember 1969).56

Pelaksanaan Operasi Sapu Bersih I belum mencapai hasil memuaskan,

pasukan yang gugur sebanyak 29 orang. Faktor-faktor kegagalan disebabkan

kurangnya tenaga tempur, selain itu pihak PGRS/PARAKU lebih mengenal keadaan

medan dan dapat menarik simpati kaum pribumi yaitu suku Dayak setempat.57

Ditambah lagi PGRS/PARAKU mudah memencar dan menyusup ke dalam

masyarakat untuk menghilangkan diri dari pengejaran. Hal itu disebabkan

masyarakat dan kampung-kampung Tionghoa tersebar luas sampai daerah

pedalaman seluruh Kalimantan Barat.58 Penyerbuan PGRS/PARAKU di Sanggau

Ledo 16 Juli 1967 terhadap Pangkalan Udara AURI, Singkawang, merupakan

pukulan telak bagi tentara Indonesia. PGRS/PARAKU berhasil merampas senjata

150 pucuk.59 Akibat penyerangan tersebut tiga prajurit dan satu pegawai sipil tewas.

Pada penyerangan tersebut, PGRS/PARAKU meninggalkan surat kepada pihak

Tentara AURI yang berbunyi: “Kami Pinjam Senjata Untuk Melawan Imperialis

Inggris Malaysia.60”

Dalam operasi gelombang

 

 

8 Desember 1962

 

Proklamasi

Negara Kesatuan Kalimantan utara

 

 

 

 

 

19 pebruari 1962

Hasil jajak pendapat dari tanggal 19 Februari sampai 17 April 1962 mengungkapkan bahwa dua pertiga masyarakat yang diwawancarai menyetujui penggabungan. Pertemuan di London pada tanggal 18-31 Juli 1962 merencanakan pembentukan Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1963.[2]

Kelompok sayap kiri dan komunis berkembang dengan pesat semenjak tahun 1950an diantara penduduk perkotaan Sarawak dari suku Iban dan China.

Mereka akhirnya menjadi inti pasukan Paraku dalam rangka gerakan Ganyang Malaysia (Dwikora) oleh presiden Indonesia saat itu, yaitu Soekarno. Partai NKCP mempropagandakan penyatuan seluruh wilayah Kalimantan yang berada di bawah kekuasaan Inggris untuk membentuk negara merdeka Kalimantan Utara. Ide tersebut awalnya diajukan oleh Azahari, ketua Partai Rakyat Brunei, yang memiliki hubungan dengan gerakan nasionalisme yang dicetuskan oleh Soekarno, bersama dengan Ahmad Zaidi di Jawa pada tahun 1940an.[3][1]

8 desember 1962

Syekh A.M. Azahari, pemimpin Partai Rakyat Brunei, partai terbesar di Brunei, memproklamirkan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) yang meliputi Serawak, Brunei, dan Sabah pada tanggal 8 Desember 1962.

Di daerah lain, seperti di PTM, Singapura, dan Serawak, ada beberapa partai politik yang juga tidak menyetujui pembentukan. Pemerintah Indonesia yang awalnya mendukung pembentukan Federasi Malaysia, menjadi berbalik arah setelah Azahari memproklamirkan pembentukan NNKU. Presiden Soekarno mengakui bahwa ia menerima pembentukan Malaysia ketika gagasan tersebut diperkenalkan pada 1961, tetapi revolusi anti-Malaysia di Brunei tahun 1962 tidak memberinya pilihan lain selain membantu Brunei, sebab Soekarno percaya bahwa setiap rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri.[2]

Ide tersebut muncul sebagai sebuah alternatif bagi penduduk setempat untuk melawan rencana Malaysia. Perlawanan penduduk lokal berdasarkan perbedaan ekonomi, politik, sejarah, dan budaya antara penduduk Kalimantan dengan Federasi Malaya, disamping juga mereka menolak didominasi secara politik oleh federasi tersebut. Sebagai hasil Pemberontakan Brunei, diperkirakan sebanyak ribuan masyarakat China penganut paham komunis lari meninggalkan Sarawak. Pasukan yang masih bertahan di sana dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS).

Dukungan Bung Karno[sunting]

Bung Karno, Presiden Indonesia saat itu, terkenal sangat anti imperialisme dan menganggap Federasi Malaysia tidak lebih dari sekedar produk imperialis Inggris untuk mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara serta mengganggu jalannya revolusi Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan Bung Karno untuk menyerukan penghancuran ‘negara boneka’ Malaysia tersebut, dikenal dengan istilah Ganyang Malaysia. Pemerintahan Bung Karno mengikutsertakan sebagian rakyat Kalimantan Utara yang juga menolak pembentukan Federasi itu.[1]

Menurut buku sejarah Kodam XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang, sikap Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia berhubungan dengan politik luar negerinya yang anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuknya. Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya kedok dari Inggris dan sekutunya untuk tetap berkuasa di Asia Tenggara dalam bentuk neo-kolonialisme, dan kemudian mengepung Indonesia. Menurut M.C. Ricklefs, banyak pemimpin Indonesia menganggap Malaya (PTM) tidak benar-benar merdeka karena tidak terjadi suatu revolusi. Mereka merasa tidak senang dengan keberhasilan Malaya di bidang ekonomi, merasa curiga dengan tetap hadirnya Inggris di sana dengan pangkalan-pangkalan militernya, dan merasa tersinggung karena Malaya dan Singapura membantu PRRI. Selain itu dapat pula ditambah alasan adanya keinginan agar Indonesia memainkan peran yang lebih besar di dalam masalah-masalah Asia Tenggara. Hal serupa dikemukakan Hilsman dalam bukunya To Move a Nation seperti yang dikutip dari Cold War Shadow:[2]

Oposisi Indonesia terhadap Malaysia merupakan bagian dari ekspresi ‘nasionalisme baru’ mereka yaitu Jakarta ingin berdiri tinggi dalam permasalahan internasional, terutama yang berkaitan dengan kekuatan kolonial sebelumnya… Sukarno, terlebih lagi, menekankan bahwa Inggris tidak pernah benar-benar berbicara dengan Indonesia mengenai rencana pembentukan federasi.”

Bung Karno menugaskan salah satu menterinya, Oei Tjoe Tat, untuk menggalang kekuatan warga Tionghoa Kalimantan Utara yang anti-Malaysia untuk mendukung konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris.

Hasilnya pemerintah Indonesia. Pasukan tersebut membentuk Paraku-PGRS dan berada dibawah komando seorang perwira Angkatan Darat yang dekat dengan kelompok kiri, yakni Brigadir Jenderal Supardjo, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau.[1]

 Soebandrio bertemu dengan sekelompok pemimpin , hampir 900 orang Tionghoa Kalimantan Utara berkenan pindah ke daerah Kalimantan Barat untuk diberi pelatihan kemiliteran dan dipersenjatai olehmereka di Bogor, dan Nasution mengirim tiga pelatih dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Batalion 2 ke Nangabadan yang dekat dengan perbatasan Serawak. Di sana terdapat sekitar 300 orang prajurit yang akan dilatih. Sekitar 3 bulan kemudian, dua letnan dikirim ke sana.[4]

Buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jilid IV (1966-1983) mengakui bahwa Paraku-PGRS adalah pasukan yang dilatih dan dipersenjatai oleh TNI. Buku itu juga menyebutkan, para anggota kedua pasukan itu adalah orang-orang Tionghoa pro-komunis yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi Malaysia-Inggris.

Namun, Paraku-PGRS juga mengorganisir orang-orang dari suku Dayak dan Melayu untuk melakukan serangkaian penyusupan ke wilayah Kalimantan Utara seperti Sarawak dan Brunei.[1]

Pengaruh komunis[sunting]

Reaksi Indonesia menentang pembentukan Malaysia mendapat dukungan besar dari rakyat Indonesia. PKI mengecam rencana “Malaysia” sebagai ”usaha neo-kolonialis untuk mencegah masyarakat dari koloni-koloni Inggris untuk memperoleh ‘kemerdekaan nasional yang sebenarnya dan kebebasan dari imperialisme’”. Angkatan Darat mendukung sikap Presiden Soekarno, tapi dalam kasus akan munculnya bahaya komunisme yang lebih kuat. ”Pasukan khawatir berdasarkan populasi China pada federasi tersebut, Malaysia akan menjadi batu loncatan bagi Komunis China untuk masuk ke Indonesia melalui perbatasan Indonesia-Malaysia”.[2]

Indonesia juga mendapat dukungan dari Filipina. Presiden Filipina, Diosdado Macapagal mengklaim Sabah sebagai bagian dari wilayah negaranya atas dasar hubungan antara Filipina dan Sultan Sabah pada masa pra-kolonial. Filipina juga takut bahwa federasi baru itu akan menjadi basis bagi tekanan komunis dari populasi Cina Malaysia dan elemen komunis Indonesia.”[2]

Pergerakan[sunting]

Pada tanggal 8 Desember 1962,

 bersama dengan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara, Tentara Nasional Kalimantan Utara dibentuk sebagai kekuatan pertahanan. Inggris mengerahkan tentara untuk melawan NNKU sehingga membuat Azahari tidak mampu mempertahankan pemerintahan pusat di Kalimantan Utara kemudian memindahkannya ke Manila. Kebijaksanaan Pemerintah Indonesia saat itu adalah memberikan asylum politik kepada Perdana Menteri Azahari dan Panglima Abang Kifli di Jakarta.[2]

Berdirinya Negara Kalimantan Utara mengakibatkan Partai Komunis Sarawak mendapat tekanan dari penguasa. Sejalan dengan kebijaksanaan politik Indonesia masa itu, pemimpin-pemimpin komunis dari Sarawak berpindah ke Kalimantan Barat. Sedangkan RRC (Republik Rakyat Cina), dalam rangka menyelamatkan Partai Komunis Sarawak, mengirim Wen Min Tjuen dan Wong Kee Chok ke Kalimantan Barat pada awal tahun 1963. Kedua pemimpin Partai Komunis Cina tersebut menemui Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa, dan Yacob dari Sarawak Advance Youth Association (SAYA) untuk membahas garis perjuangan dari Partai Komunis Sarawak. Azahari dan Abang Kifli dengan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU)-nya kemudian berhubungan dan bekerja sama dengan mereka.

 

Operasi Militer era Dwikora

 

B ila Anda melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya.

 Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964.

 

Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi denagn Malaysia.

Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama ‘Negara Boneka” Malaysia.

Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

 

Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan ‘Negara Boneka’ Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.

 

Terbesar Di Asia tenggara

Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.

 

Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

 

Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia.

 

Sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.

Berbagai Operasi militer

Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti:

Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force.

 

Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

 

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet,

Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan.

Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi.

 

Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI.

 

Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.

Ini foto mbah waktu masih jaguh

Stambuk 13…..

 

 pasukan yang disusupkan saat trikora

Kompi X yang ditempatkan di Sigalayan, dipersenjatai dengan senjata bener2 berat di antaranya Recoilees rifle 105mm dan mortir 120mm yg bisa menyaingi howi pack Inggris

-sempat akan trerjadi bentroikan antara Marinir vs TNI-AD gara2 seoarang anggota TNI AD menodong anggota marin ir yg menyamar dr nelayan dan pulang dr misi recon, dan temannya menembak mati anggota AD ini. sempat akan terjadi duel, namun gara2 fire power marinir gede bayangin aja Dushka, RPD, ama AK dan Bren vs Bren , sten ama Garrand, bentroikan gak jadi

-satu pos marinir yg dipertahankan 4 orang tentara yg masih hijau berhasil mengusr rombongan SAS stelah mereka menembakkan HMG dushka mereka dengan konsep 3-3 bukan rentetena panjang, hasilnya seorang terluka dan memakasa SAS mundur

oiya say amu nanya mengapa trikora dan dwikora itu cuman senjata Marinir,paskhas ama kopassus aja yg banyak ya? apa karena punya AD masih cukup gara2 “sumbangan Amerika di sumatra dan Sulawesi”?

Berbagai senjata yang digunakan dalam Operasi Trikora:

IRIAN, IRIAN, IRIAAAANNN…….
Itulah bait pertama lagu yang diajarkan kepada para pelajar pada awal tahun 60-an dalam rangka kampanye perebutan Irian Barat.

 Lagunya amat menarik sehingga sebagi pelajar kami terbawa pada retorika vokalnya. Gerakan Trikomando Rakyat (TRIKORA) untuk mengembalikan Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi saat itu nampaknya sudah menjadi bagian hidup sehari-hari bangsa Indonesia.

 

 Disekolah, dikantor, ditempat-tempat umum topik pembicaran orang lebih sering kepada soal TRIKORA ini.

 Emosi masa Setiap saat selalu bangkit, muncul berupa ketidak senangan kepada bangsa Belanda.

Apalagi semangat anti Belanda tidak pernah putus sejak pengambil alihan perusahaan milik Belanda pada tahun-tahun sebelumnya.

Kegandrungan masyarakat ini tentu saja terutama karena dipicu pidato-pidato Presiden soekarno. Sejak tahun limapuluhan, Bung Karno memang tidak pernah melupakan untuk menyelipkan soal Irian Barat dalam pidatonya.

Dengan perkataan lain telah terjadi etape politik memusuhi Belanda babak kedua setelah masa Revolusi Perang Kemerdekaan 1945-1949. Itulah suasana gejolak politik 60-an yang terjadi.

Dalam suasana ini, tanpa disadari masyarakat, dua kekuatan politik mulai berebut pengaruh dan bersaing habis-habisan, yaitu Angkatan Darat dan PKI. Persaingan ini baru berahir nanti saat meletusnya peristiwa G30S pada tahun 1965. Tapi dalam soal TRIKORA, keduanya melihat kalau kampanye perebutan Irian Barat akan menuai pembangunan kekuatan politik masing-masing secara nyata.

 

……Pada bulan Juli 1962

 anggota BTI (organisasi tani dibawah PKI) berjumlah 5,7 juta orang, anggota SOBSI 3,3 juta orang, Gerwani 1,5 juta orang. Jumlah anggota PKI yang tercatat pada ahir tahun 1962 telah mencapai lebih dari 2 juta orang.

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1963(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1963

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

20 januari 1963

 

Pidato Sukarno Ganyang Malaysia

 

Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.

Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963.

Berikut isinya:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Bisa terbakar semangat patriotisme bangsa Indonesia mendengar pidato Soekarno itu. Kedaulatan Indonesia dianggap harga mati bagi Proklamator Republik Indonesia.

 

 

 

 

Ganefo I tahun 1963 (Ganefo hanya sekali dan tak ada kelanjutannya). Hingga 32 tahun berkuasa, Soeharto tak mampu membangun stadion sekelas Senayan di tempat lain, dan juga tak mampu menjadi tuan rumah olahraga internasional yang berbobot, meski mempunyai uang jauh lebih banyak dibanding Soekarno

 

 

 

2 Desember 1963

Tanggal 2 Desember 1963, Soebandrio, Wakil Menteri Pertama atau Menteri Luar Negeri Indonesia, dan atas nama KOPERDASAN (Komando Pertahanan Daerah Perbatasan), datang ke Kalimantan Barat dalam rangka kampanye konfrontasi anti Malaysia dan memperkenalkan Azahari kepada khalayak ramai.[2]

Azahari (Brunei), Kelompok Yap Chung Ho (Sarawak), dan Soebandrio (Indonesia) mengadakan pertemuan di Sintang dan muncul gagasan untuk membentuk suatu pasukan bersenjata.

Pertemuan kedua di Bogor dihadiri Soebandrio, Njoto, Soeroto, Perdana Menteri NNKU Azahari, dan kelompok Yap Chung Ho dari SUPP.

Dalam pertemuan itu, diputuskan membentuk pasukan bersenjata yang akan berkedudukan di perbatasan Kalimantan Barat (Asuangsang di sebelah Utara Sambas). Soebandrio dengan BPI (Badan Pusat Intelijen) Indonesia membantu melatih sepuluh orang anak buah Yap Chung Ho selama sebulan di Bogor, kemudian dibawa ke Asuangsang untuk melatih 60 orang pasukan lagi.

Dengan basis pasukan ini, dibentuk Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) sebagai bagian dari Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU).

Pasukan Rakyat Kalimantan Utara atau Paraku merupakan sayap bersenjata di bawah naungan NKCP (North Kalimantan Communist Party), sebuah partai politik komunis yang berlokasi di Sarawak, Malaysia.

NKCP dibentuk tanggal 19 September 1971 dibawah pimpinan Wen Min Chyuan dari sebuah organisasi bernama Organisasi Komunis Sarawak. Ia pernah menjadi anggota partai Sarawak United People’s Party pada tahun 1960-1964. Keanggotaan NKCP didominasi oleh etnis China

Terbentuknya Paraku-PGRS terkait dengan peristiwa konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dari tahun 1963 hingga 1966. Pemerintah Indonesia menolak pembentukan Federasi Malaysia yang didukung penuh oleh Inggris. Wilayah Kalimantan Utara yang juga merupakan koloni Inggris, seperti halnya Semenanjung Malaya, dimasukkan ke dalam teritori Federasi Malaysia oleh para penggagasnya tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan seluruh rakyat Kalimantan Utara. Penolakan penduduk, khususnya warga Tionghoa, didasari oleh kecemasan akan adanya dominasi warga Melayu Semenanjung Malaya terhadap rakyat Kalimantan Utara.[1]

Peristiwa Mangkok Merah, Ketika Imperialisme ‘Mengawini’ Rasialisme

 

Rasialisme yang  mewarnai perjalanan bangsa ini  telah meninggalkan ‘jejak’ berdarah yang sulit ‘dikeringkan’. Apalagi ketika sentimen rasialis itu digunakan oleh pihak asing yang berupaya menjadikan bangsa ini sebagai koloni secara ‘tersamar’.

Banyak tragedi kemanusiaan dalam sejarah nusantara yang terjadi akibat adanya ‘kawin-mawin’ antara rasialisme dengan imperialisme. Salah satu tragedi itu adalah peristiwa pembunuhan dan pengusiran ribuan warga etnis Tionghoa pada akhir tahun 1967 di Kalimantan Barat. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Mangkok Merah.

Berawal Dari Konfrontasi

Terjadinya peristiwa Mangkok Merah tidak bisa dilepaskan dari upaya penumpasan pemerintah Orde Baru terhadap Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerakan Rakyat
Sarawak (PGRS) yang memang didominasi oleh warga etnis Tionghoa. Dan penumpasan Paraku-PGRS ini merupakan bagian dari upaya Orde Baru menumpas seluruh kekuatan politik kiri/komunis pasca tragedi 1965.

Terbentuknya Paraku-PGRS ini sendiri sangat terkait dengan persitiwa konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dari tahun 1963 hingga  1966.  Konfrontasi yang didasari oleh penolakan pemerintah Indonesia  terhadap pembentukan Federasi Malaysia ini melibatkan warga Tionghoa Kalimantan Utara, yang juga memiliki sikap sama dengan Indonesia, yakni menentang pendirian Federasi Malaysia yang didukung penuh oleh Inggris. Penolakan warga Tionghoa ini didasari oleh kecemasan akan adanya dominasi warga Melayu Semenanjung Malaya terhadap rakyat Kalimantan Utara, khususnya warga Tionghoa.

Wilayah Kalimantan Utara yang juga merupakan koloni Inggris, seperti halnya Semenanjung Malaya, memang dimasukkan kedalam teritori Federasi Malaysia oleh para penggagasnya, tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan seluruh rakyat Kalimantan Utara.

Bung Karno selaku Presiden Indonesia kala itu, yang memang sangat anti terhadap imperialisme, menganggap Federasi Malaysia tak lebih sebagai produk imperialis Inggris guna mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara serta mengganggu jalannya revolusi Indonesia. Karena itu, Bung Karno menyerukan penghancuran negara ‘boneka’ Malaysia tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Ganyang Malaysia’. Dan dalam upayanya ‘mengganyang’ Malaysia, pemerintahan Bung Karno pun mengikutsertakan sebagian rakyat Kalimantan Utara yang juga menolak pembentukan Federasi buatan Inggris itu.

Bung Karno lalu menugaskan salah satu menterinya, Oei Tjoe Tat, untuk menggalang kekuatan warga Tionghoa Kalimantan Utara yang anti-Malaysia guna mendukung konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris. Hasilnya, hampir 900 orang Tionghoa Kalimantan Utara  berkenan pindah ke daerah Kalimantan Barat untuk kemudian diberikan  pelatihan kemiliteran dan dipersenjatai oleh pemerintah Indonesia.

Ratusan orang Tionghoa inilah yang kemudian membentuk Paraku-PGRS dan berada  dibawah komando seorang perwira Angkatan Darat (AD) yang dekat dengan kelompok kiri, yakni  Brigadir Jenderal Supardjo, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau. Buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jilid IV (1966-1983) mengakui bahwasanya Paraku-PGRS adalah pasukan yang dilatih dan dipersenjatai oleh TNI. Buku itu juga menyebutkan  para anggota kedua pasukan itu adalah orang-orang Tionghoa pro-komunis yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi Malaysia-Inggris.

Namun, Paraku-PGRS bukanlah pasukan etnis yang eksklusif. Mereka  juga mengorganisir orang-orang dari suku Dayak dan Melayu untuk melakukan serangkaian  penyusupan ke wilayah Kalimantan Utara seperti  Sarawak dan Brunei.  Yang patut diketahui pula, penganjur perlawanan rakyat Brunei terhadap Malaysia pada tahun 1962 yang juga sekaligus  pemimpin Partai Rakyat Brunei, Doktor Azhari, merupakan sekutu  Paraku-PGRS.

Paraku-PGRS pun bahu-membahu bersama TNI dan sukarelawan Indonesia menghadapi pasukan Malaysia yang dibantu balatentara Gurkha, Inggris, dan Australia sepanjang masa konfrontasi. Wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Kalimantan Utara menjadi area perjuangan pasukan Paraku-PGRS.

Seorang peneliti Tionghoa, Benny Subianto, mengungkapkan  keperkasaan gerilyawan Paraku-PGRS ketika melawan pasukan Gurkha Inggris. Kedua pasukan itu hampir  berhasil menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles dalam sebuah serangan terhadap distrik Long Jawi tanggal 28 September 1963.

Buku A Face Like A Chicken Backside-An Unconventional Soldier in Malaya and Borneo 1948-1971 karya JP Cross juga mencatat kehebatan  serangan relawan Indonesia serta Paraku-PGRS  ditempat  sama yang   menewaskan beberapa prajurit Gurkha dan anggota Border Scout. Dari fakta-fakta sejarah tersebut, tampak betapa Paraku-PGRS menjadi pahlawan bagi Indonesia selama era konfrontasi

Kontra Konfrontasi

Namun, kepahlawanan pasukan Paraku-PGRS itu segera  hilang setelah  meletusnya tragedi politik tahun 1965, yang kemudian menegasikan peran politik Bung Karno serta kekuatan kiri/komunis selaku pendukung utama konfrontasi terhadap Malaysia. Pembantaian besar-besaran simpatisan kiri di seluruh wilayah Indonesia yang dilakukan oleh pihak TNI-AD, kelompok agamis serta nasionalis kanan telah berdampak besar bagi eksistensi Paraku-PGRS yang  didominasi oleh orang Tionghoa berideologi kiri.

Eksistensi Paraku-PGRS semakin terganggu ketika pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto yang menggantikan  Bung Karno tidak berniat untuk  melanjutkan konfrontasi terhadap Malaysia dan Inggris. Hal ini tidak mengherankan, karena  memang ada dukungan dari negara-negara imperialis, termasuk Inggris, terhadap Soeharto ketika merebut kekuasaan dari Bung Karno.  Padahal Paraku-PGRS merupakan gerilyawan yang sengaja dibentuk oleh pemerintahan Bung Karno  guna menggagalkan pembentukan negara boneka Malaya-Inggris.

Tendensi politik anti-komunis rezim Orde Baru, serta keinginan untuk berdamai dengan Malaysia-Inggris inilah yang kemudian menempatkan Paraku-PGRS sebagai musuh pemerintah Indonesia dan TNI. Maka, penumpasan terhadap mereka pun dilakukan, sebagaimana yang juga telah dilakukan kepada seluruh golongan kiri dan Soekarnois di berbagai daerah. Bahkan TNI bersekutu dengan militer Malaysia dan inggris dalam penumpasan Paraku-PGRS. Inilah ironi sejarah!

TNI juga memiliki ‘julukan’ baru bagi  Paraku-PGRS, yakni Gerombolan Tjina Komunis (GTK). Perang antara TNI dengan gerilyawan Paraku-PGRS meletus, salah satunya yang terjadi di Pangkalan Udara Sanggau Ledo, Kalimantan Barat. Memasuki tahun 1967, operasi penumpasan diintensifkan oleh pemerintah Orde Baru melalui Operasi Sapu Bersih (Saber)  I, II, dan III yang digelar sejak April 1967 hingga Desember 1969 dibawah komando  Brigadir Jenderal AJ Witono.

Dalam Operasi Saber inilah  peristiwa “Mangkok Merah” terjadi pada bulan Oktober-November 1967. Peristiwa Mangkok Merah sendiri dipicu oleh terjadinya penculikan dan kekerasan  yang dialami Temenggung Dayak di Sanggau Ledo. TNI kemudian mempropagandakan bahwa kekerasan itu dilakukan oleh  GTK alias Paraku-PGRS. Propaganda ini diperkuat lagi dengan penemuan sembilan mayat oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kemudian mereka  sebut sebagai mayat tokoh-tokoh Dayak.

Tak pelak, temuan RPKAD ini membuat marah banyak warga Dayak. Ditambah lagi, Harian milik TNI,  Angkatan Bersenjata (AB),  segera ‘mengipas-ngipas’ orang Dayak agar membalas kematian para pemuka adat mereka.

Kekerasan  horizontal pun dimulai. Warga Dayak terprovokasi untuk turut  bersama TNI melakukan perburuan terhadap anggota Paraku-PGRS.  Namun, gerakan penumpasan oleh orang Dayak ini ternyata tidak hanya menyasar anggota Paraku-PGRS saja, tetapi juga warga etnis Tionghoa secara umum! Wilayah Kalimantan Barat pun segera tenggelam dalam ‘lautan’ kekerasan  berdarah bernuansa rasialis.

Sebenarnya, kekerasan rasialis yang dilakukan warga Dayak ini tidaklah murni inisiatif mereka mengingat harmoni diantara etnis Dayak dan Tionghoa di Kalimantan Barat telah terbangun selama ratusan tahun. Rusaknya hubungan yang harmonis ini terjadi dikarenakan strategi penumpasan Paraku-PGRS yang digunakan militer  Indonesia adalah dengan cara ‘pengeringan kolam’.

Menurut Indonesianis asal Amerika Serikat (AS), Herbert Feith, pengertian dari istilah ini adalah : mengeringkan ‘kolam berarti  menghabisi masyarakat Tionghoa, agar ‘ikan’  atau yang dalam kasus ini diasosiasikan kepada pihak gerilyawan Paraku-PGRS  bisa  mudah terlihat  dan dengan begitu juga mudah  untuk ditumpas. Dan warga Dayak tak lebih Sebagai operator dari implementasi strategi militer tersebut.

Gerakan Warga Dayak yang disokong TNI sebagai upaya melakukan “pengeringan kolam” terhadap warga Tionghoa inilah yang kemudian dikenal sebagai  peristiwa Mangkok Merah.

Istilah Mangkok Merah diambil dari terminologi adat suku Dayak, dimana terjadi mobilisasi besar-besaran warga suatu klan untuk membalas rasa malu atau penderitaan dari anggota klannya yang disebabkan oleh ulah warga dari klan lain.

Mobilisasi ini menggunakan alat peraga sebuah mangkuk yang bagian dalamnya diolesi getah jaranang berwarna merah sebagai simbolisasi dari  “ pertumpahan darah “ yang akan dilakukan sebagai bentuk balas dendam tersebut.

Jadi, tampak militer dengan lihai memanfaatkan adat istiadat suku Dayak demi mengobarkan konflik rasialis.

 

Hasil dari  peristiwa ‘Mangkuk Merah’ ini adalah terbunuhnya ribuan orang Tionghoa Kalimantan Barat. Far Eastern Economic Review (FEER)  terbitan bulan Juni 1978 menyatakan peristiwa tersebut menelan korban jiwa 3.000 orang Tionghoa, terutama mereka yang tinggal di pedalaman Kalimantan Barat. Akibatnya, banyak warga Tionghoa pedalaman pindah  ke daerah  perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang. Bahkan, adapula  warga Tionghoa yang lari ke Kalimantan Utara. .

Peristiwa Mangkok Merah pun menjadi bagian dari catatan kelam riwayat pembantaian massal dan penindasan terhadap golongan kiri dan etnis Tionghoa diawal Orde Baru.

Sejarah telah menunjukkan, bahwasanya dibutuhkan banyak tumbal manusia bagi tegaknya sebuah rezim kaki-tangan imperialis. Peristiwa ini juga merefleksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang  lahir sebagai  buah dari ‘perkawinan’ antara  imperialisme dan rasialisme.

Hiski Darmayana, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan alumnus FISIP Universitas Padjajaran (Unpad

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20130120/peristiwa-mangkok-merah-ketika-imperialisme-mengawini-rasialisme.html#ixzz2gXBCqMPU
Follow us:
@berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

29 desember 1963

 

Bro ada yang janggal menurut saya.
Penyerangan ke Kalabakan terjadi pada 29 Desember 1963. sedangkan perjanjian damai itu terjadi pada tahun 1966.

Mungkin yang dimaksud adalah peristiwa perang yang terjadi di Kalabakan pada tanggal 30
Oktober 1966

Saat itu tentara kita menyerang posisi 3RMR. Hasil dari serangan itu dilaporkan dari pihak lawan 8 tewas dan 19 luka

Yang hasil nya 8 tewas, 19 luka itu yang terjadi tanggal 29 Des 1963, dipimpin Sersan Rebani dan korban pihak Malaysia dimonumenkan serta dikenal sebagai Kalabakan Raid.
Jadi penasaran dg “serangan Kalabakan lainnya”
Denger denger atau baca baca sih memang pada tahun 67 pun masih ada serangan ke pihak Malaysia krn pasukan yg menyerang sudah jadi gerilyawan yg susah menerima informasi karena sulitnya medan.

mau nanya apakah bener itu gerilyawan PGRS /Paraku merupakan hasil sampingan milisi yg dilatih selama Dwikora? Malaysia butuh 20 tahun loh untuk menyelesaikannya sampe2 mereka bilang, mereka adalah antigerily terbaik di ASEAN

 

Pertempuran di Kalabakan

 

 

 

Harus diakui, dari sekian banyak kegagalan penyusupan sukarelawan Dwikora ke perbatasan, kesuksesan penyerbuan dan penyerangan ke Kalabakan merupakan suatu catatan gemilang bagi pihak Indonesia. Namun, ada sejumlah fakta menarik yang tak banyak diketahui publik, seperti dikisahkan sendiri oleh Mayjen Walter Walker dalam otobiografinya, :Fighting General. The Public and Private Campaigns of Sir General Walter Walker.”

 

Alkisah, sebenarnya pendadakan di Kalabakan tidak perlu terjadi, karena sudah ada peringatan sebelumnya dari Brigadir Jenderal Glennie, Deputy Director of Operations. Glennie yang gemar menyusuri anak sungai di Kalimantan dapat membaca, kalau Tawau yang memiliki banyak industri perkebunan dan 3/5 populasinya adalah warga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), merupakan wilayah atau tempat strategis yang dengan mudah dapat didadaki.

 

 

Lima kompi digelar dan diterjunkan Indonesia di Pulau Sebatik. Reputasi serta keahlian tempur prajurit Indonesia yang cukup membuat ngeri, membuat Glennie memberikan peringatan waspada bagi prajurit 3rd Batt, Royal Malay Regiment (RMA) dan satu kompi King’s Own Yorkshire Light Infantry yang saat itu menjaga Tawau. Karena Royal Navy memiliki destroyer yang memiliki radar di lepas pantai Tawau, Brigjen Glennie bisa membaca bahwa arah serangan nantinya akan datang bukan melalui wilayah laut, melainkan dari wilayah rawa yang sulit dijaga.

 

Sayangnya, 3rd RMA yang baru tiba di Tawau tidak mengikuti perintah Glennie. Saat 35 KKO dan 128 sukarelawan menyeberangi perbatasan, tujuan awal mereka memang menyerang Kalabakan di sebelah barat dan kemudian menunggu dukungan dari TKI yang bekerja disana untuk bergabung bersama dan menduduki Tawau. Strategi popular uprising, yang merupakan gaya komunis ini didasarkan pada laporan intelijen yang terlalu berani dan cenderung mengarah ke ilusi.

 

Setelah delapan hari melintasi rawa, pada 29 Desember pasukan KKO tiba di tepi hutan di sekitar Kalabakan, dan siap untuk melancarkan serangan. Kalabakan sendiri hanya diperkuat di dua posisi, satu pos polisi di tepi sungai yang mengarah ke Cowie Harbour dan dua gubuk milik RMA. Pos polisi yang diperkuat oleh barikade kawat berduri dan kantung pasir dijaga oleh 15 personel. Sementara itu RMA memiliki kekuatan satu peleton dan dua seksi. Bodohnya, gubuk-gubuk ini tidak diperkuat oleh karung-karung pasir yang setidaknya bisa menghentikan laju peluru.

 

Saat malam tiba, prajurit 3rd RMA juga tidak disiplin. Sebagian besar bersantai, ada yang sedang makan, membaca buku, mencuci baju, dan tidak ada personel yang berpatroli. Tepat pukul 11 malam, para prajurit KKO yang bergerak dalam senyap mencabut pin granat dan melemparkannya melalui lubang jendela yang terbuka lebar, lalu dengan cepat menghujani kedua gubuk tersebut dengan tembakan senapan serbu AK-47.

 

Delapan prajurit Malaysia yang sama sekali tak sigap, terlambat bereaksi, dan akhirnya tewas seketika diberondong peluru, termasuk komandan kompi, 19 prajurit Malaysia lainnya terluka sehingga tak mampu melawan. Kelompok KKO lain yang menyerang pos polisi tidak seberuntung serangan pertama, karena para prajurit yang berjaga dapat mundur ke pos mereka yang memiliki pertahanan baik dan lalu menyerang dari dalam. Kelompok lain yang menyerang perusahaan kayu menemukan kantor dalam keadaan kosong, lalu menjarah apa saja yang ada didalamnya, termasuk wiski.

 

Sementara itu, sang manajer perusahaan kayu kabur dan lari ke markas 3rd RMA yang baru diserang, dan meminta para prajurit Malaysia untuk menyerang balik, tapi mereka terlalu takut dan memilih bersembunyi. Tak sampai satu jam, seluruh penyerang undur diri ke rawa-rawa di sekitar Kalabakan dan menunggu pergerakan rakyat Indonesia untuk merebut Tawau. Seandainya saja para penyerang langsung bergerak maju ke Tawau, akhir ceritanya pasti akan berbeda.

 

Mayjen Walter Walker dikabari pukul 2 malam waktu setempat, bahwa Tawau telah diduduki. Ia melakukan inspeksi sendiri ke lokasi pertempuran di Kalabakan pada pagi harinya. Walker juga dikabari bahwa Tunku Abdul Rahman sudah mengetahui kejadian penyerangan di Kalabakan, dan mengumumkan akan berangkat ke Sabah dan langsung ke Tawau untuk observasi lapangan lebih lanjut. Itu merupakan penyerangan terbuka pertama, perang pertama antara Indonesia-Malaysia.

 

Mendengar hal ini, Mayjen Walker langsung minta diterbangkan ke Kinabalu- saat itu bernama Jesselton- untuk mengunjungi Tunku. Disana ia bertemu Inspektur Jenderal Polisi Claude Fenner yang telah tiba lebih dulu. Walker lalu memberitahu Fenner segala sesuatunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, juga termasuk peringatan yang sudah diumumkan oleh Glennie jauh-jauh hari sebelumnya dan juga mengenai pasukan 3rd RMA yang payah. Walker memutuskan akan menceritakan segala fakta pada Tunku, tapi ditahan sejenak oleh Fenner. Fenner yang mengenal Tunku dengan sangat baik, tahu bahwa Tunku memiliki rasa ego yang tinggi. Tunku pasti tidak akan percaya bahwa prajurit pribumi melayu, yang dikenal hebat, ternyata takluk dan dapat dikalahkan oleh prajurit Indonesia dengan stanpa perlawanan yang berarti.

 

Atas nasehat Fenner, Walker akhirnya memoles ceritanya. “Pasukan Indonesia melakukan penyerbuan dengan gerakan merapat dengan sangat baik, memanfaatkan hutan-hutan disekitar wilayah Kalabakan, dan melakukan penyerangan mendadak dalam jumlah yang sangat besar, kira-kira satu batalion, perlawanan pasukan Malaysia yang kalah jumlah berlangsung sampai titik darah penghabisan!” , dari sinilah, maka disebutkan bahwa Kalabakan diserbu oleh satu batalion prajurit KKO, padahal faktanya para penyerang hanyalah berjumlah tidak lebih dari tiga regu. Tunku yang mendengar hal tersebut merasa terharu dan tergerak hatinya, dan saat menjenguk prajurit yang selamat di Tawau, Beliau memberikan para prajurit tersebut sejumlah uang, serta mendirikan monumen baru- untuk mengenang peristiwa penyerangan tersebut- yakni; Monumen Kalabakan.

 

 

ini masa dwikora

howitzer Type 54

 

Quote:Original Posted By suromenggolo
tambahin ahhhh
ini masa dwikora

foto yang DP

17-01-2013 01:43


dua anggota tni yang tertangkap penduduk setempat


lima anggota tni yang juga tertangkap saat menyusup lewat laut


anggota tni yang tidak beruntung menjadi trophy of war

beberapa barang yang disita :

Mau tanya dulu tapi agak OOT, suku2 di Irian jaman2 segitu masih banyka yg suka kanibalisme atau mengayau ya? Kalau nggak salah seorang Rockefeller juga pernah hilang tanpa jelas nasibnya di salah satu sungai di Irian, terus populasi di sana pada saat itu lebih banyak pro Belanda atau Indonesia sih? Plus apakah setiap prajurit yg diterjunkan diajari adat istiadat dan bahasa orang Irian ya mungkin kalau jaman sekarang konsep “Winning Hearts and Minds”nya US di Iraq dan Afghanistan, btw ada buku bagus ttg Operasi Trikora ?

setahu saya belum ada satu buku pun yg merujuk ke trikora yg ada hanyalah edisi koleksi angkasa mengenai trikora dan yg lebih banyak dibahas disana adalah peran PGT (korpaskhas, yg pasca Orba emang terpinggirkan)

suku2 di Irian bukan hanya mengayau tapi memakan musuh adalah tradisi mereka. jelas jumlah penduduk asli pasca di bawah Indonesia jauh lebih besar drpada di jaman belanda

Sayangnya tentara kita tak ada yg diajarin bahasa daerah Irian khan, ini karena jumlah bahasa di Irian adalah terbanyak di muka bumi sekitar 200-an

mau nanya foto2 penggelaran Marinir di Dwikora

Sudah sepantasnya pemerintah melaksanakan hari Trokora secra nasional kalo dwikora mkn dilaksanakan dalam lingkup TNI

Menambahkan data saja soal TRIKORA:

– Jumlah infiltran yang berhasil masuk ke Irian sebanyak 1.592 orang, dengan rincian melalui laut 438 orang dan melalui udara 1.154 orang.

– Jumlah yang gugur 153 orang
– MIA 64 orang
– POW 296 orang

Penghargaan:

1.165 orang mendapatkan Bintang Sakti
20 orang mendapatkan Satyalencana Bhakti
1.402 mendapatkan Satyalencana Dharma.

sumber: Sejarah TNI AD 1945 – 1973

howitzer Type 54

 

 

Kalabakan, the untold story……

Friday, April 20, 2007

In the excitement of going on active service the 3rd Battalion overlooked some basic, practical precautions. They had, in fact, been told what to expect by Brigadier Glennie (Deputy Director of Operations) himself. An enthusiastic yachtsman, Glennie took a particular interest in the maze of creeks and rivers that ran through the swamps along the Tawau coastline and had himself set about organizing a flotilla of small patrol craft that came to be known rather grandly as the Tawau Squadron. He studied the particular problems of this end of the Borneo flank and decided that an attack was to be expected.

Tawau was almost as tempting a target as Kuching. It was prosperous centre for many rural industries-timber, rubber, tea, cocoa, hemp and palm oil-and three-fifths of the population were Indonesian immigrant workers and their families. The port itself stood on the northern shore of Cowie Harbour, and across the bay lay Sebatik Island, some thirty miles long, of which half belonged to Malaysia, half to Indonesia. On Sebatik and along the frontier the Indonesians had deployed five companies of regular marines-the Korps Komando Operasi or KKO- and a training camp for volunteer terrorists, some of them from the logging camps of Sabah.

The 3rd Battalion, Royal Malay Regiment, together with a company of the King’s Own Yorkshire Light Infantry and some local gendarmerie were responsible for the defence of Tawau and its environs and Glennie told them to expect an attack. Despite the presence of the Indonesian marines he did not expect this to come by sea, if only because the Royal Navy always kept a frigate or destroyer off Tawau and an efficient radar watch was maintained. But he did think that the attack would come through the swamps and he advised the newly-arrived Malays to prepare for it with patrolling and a defence system in depth.

They had not acted on Glennie’s advice when a strong force of raiders-thirty five Indonesian regulars leading one hundred and twenty –eight volunteers –crossed the border. Their intention was first to capture the defended village of Kalabakan to the west of Tawau and at the head of Cowie Harbour , then, as the Indonesian expatriates rose to support them, advance on Tawau itself. After crossing into Sabah, the raiders lurked undetected in the swamps and forests for eight days, then on 29th December were ready to launch their attack.

There were two defensive positions at Kalabakan. On the bank of the river running into Cowie Harbour stood the police station, fortified with sandbags and barbed wire and manned by fifteen policemen. Four hundred yards away, a platoon and two sections of the Royal Malay Regiment, under their Company Commander occupied two huts. Although trenches had been dug nearby, the huts themselves were not fortified in any way. After dark that evening, the unsuspecting Malay soldiers were engaged in domestic activities, washing and cleaning clothes and equipment. Their sentries were not alert.

At two o’clock in the morning Walker’s telephone rang and the duty officer at his headquarters told him that Kalabakan had been attacked and had fallen. The attack had been launched just before eleven o’clock. An assault group had crept up to the Malays, flung grenades through the windows and opened automatic fire. Before the Malays could reach their weapons, eight had been killed, including the company commander, and nineteen wounded. Tem minutes later, another party had assaulted the police station but the small garrison had had time to rush inside their perimeter and successfully fought off the attack. In the timber company manager’s house they helped themselves to his whisky, while his wife and their cook hid under the bed. The manager himself, out at a logging camp, made for the Malays’ strongpoint. Reaching the survivors, he told them that this was the moment to counter-attack and he would join them himself. But, shocked into inaction, they stayed where they were.

The Indonesians moved out of the village but, content with their success, did not move directly upon Tawau, where they might have been able to repeat it. Instead, they traveled north to lie low in the wilds where they believed they would be safe.

Next morning Walker flew to Tawau. On arrival Walker sent a signal asking for urgent reinforcements and, at once, the 1/10th Gurkhas who had already served in Sarawak, began returning from Malacca. But Walker also heard that the news had been reported to the Tunku Abdul Rahman verbally and, to spare his feelings, the signal giving details of the action had been kept from him. On hearing of the disaster he had at once announced his intention of flying to Sabah to visit the survivors of the first battle fought directly between Malaysia and Indonesia.

Walker flew to Jesselton-the capital of Sabah, now to be renamed Kota Kinabalu-to meet him and was relieved when Fenner (Inspector General of Police Claude Fenner) arrived by an earlier aircraft. Walker told him that the inexperienced Malay soldiers had been ‘caught with their trousers down’. This often happened under such circumstances and was a lesson to be learned. He intended to tell the Tunku exactly what had happened. The Inspector General of Police Claude Fenner strongly advised him not to do so. Whether or not British troops had suffered similar disasters in war, the Tunku would never accept or believe that his soldiers had been caught by surprise and defeated. Walker realizing that Fenner knew the Tunku better than he did, agreed.

When the Tunku arrived, Walker told him the story of the action in diplomatic language. The Indonesians had approached with great skill, using the cover of Kalabakan, so enabling them to rush the Malay position in overwhelming numbers. This was both true and tactful. The Tunku was immensely moved and, on arrival at Tawau, tearfully greeted his wounded soldiers, gave each a handsome cash bounty and decreed that a monument should be erected at Kalabakan to the dead.

Reference:Extracts from, “Fighting General. The Public and Private Campaigns of General Sir Walter Walker”. Author : Tom Pocock

Library Mindef

 

Yakin Raid Kalabakan cuma terjadi sekali?
Ada 1 Raid yang mengakibatkan Inggris/Australia/Malaysia menjadi sangat berang, sehingga Operasi Claret dilancarkan, dan rencana carpet bombing ke Kalimantan/Sumatera, bahkan ke Pulau Jawa jika perlu.

Memang masih banyak fakta yang belum terungkap ke publik. Hanya bisa kita ketahui dari arsip-arsip pelaku sejarah. Sama halnya dengan Inggris/Australia/Malaysia, mereka menutup rapat akses info ke beberapa “operasi/peristiwa”.

Jika anda jeli, dalam buku pertama LB pernah disinggung raid yang hampir menghancurkan perjanjian damai, walau tidak diulas secara detail, dan itu bukan Kalabakan 1. Detail operasi sekilas juga pernah disinggung di buku Faisal Tandjung.

Mengenai sumber, cukup banyak. Panjang kalau dituliskan satu persatu, terutama dari testimoni para pelaku-pelaku sejarah.

Di quote ada yang ketawa-ketawa emot nya. Ngga tau maksudnya apa

1963

Jumlah kaum intelek anggota PKI, LEKRA telah mencapai 100.000 orang pada medio tahun 1963. Semua ini telah menempatkan PKI sebagai partai komunia terbesar diluar negara komunis. Bagi T.N.I, kampanye untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda adalah kesempatan terbaik untuk membangun kekuatan militernya.

Hal ini sejalan dengan usaha memancing simpati Rusia sebagi blok sovyet yang sedang perang dingin dengan blok Amerika. Bantuan hibah (grant) atau pinjaman ringan merupakan masa paling mewah bagi pembangunan kekuatan militer Indonesia.

Ketika tidak satupun negara Asia Tenggara yang memiliki pesawat pembom jarak menengah, kita suda punya squadron Elyusin dengan semua perangkat penunjangnya.

Kekuatan udara pesawat tempur AURI tiba-tiba melompat dari pesawat propeler tua kepada pancargas modern, seperti Mig 15, 17 dan terahir 21.

Tidak lupa untuk pertama kali kita juga diperkenalkan dengan sistim radar canggih dan peluru kendali dari darat keudara.

Demikian pula kekuatan laut kita saat itu tidak bisa dibilang kecil. Kita memiliki sejumlah kapal perang besar, kapal selam, kapal cepat torpedo, penyapu ranjau, amtrack, tank amfibi dan masih banyak lagi.

Tapi semua itu yang paling mewah adalah angkatan darat. Sejumlah perwira tinggi yang diketuai Jenderal AH. Nasution, telah mendapat undangan untuk berkunjung ke Rusia untuk diperkenalkan pada kekuatan militer pakta warsawa. Angkatan darat dengan kekuatan infantrinya akan ditunjang oleh kekuatan arteleri dan kavaleri tingkat dunia.

 

Senjata pasukan yang dimiliki mulai dari senjata ringan Kalasnikof (AK 47), Bren AK, pistol Tokaref, sampai peluncur granat yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Demikian juga telah diadakan pelatihan militer bagi personil ketiga angkatan di negara-negara blok sovyet dan kunjungan konsultan militer Rusia juga bagi ketiga angkatan.

Semua kenyataan ini rupanya sukar dipahami secara arief oleh para pejabat Pemerintahan. Seyogyanya persiapan perang ini juga diimbangi dengan penkondisian sosial, politik dan ekonomi secara baik pula. Namun hal itu tidak segampang membalik tangan. Kondisi ekonomi nasional sedang merosot. Indonesia justru sedang menghadapi hiper-inflasi yang permanen (sekitar 100 % pertahun) mulai tahun 1961 sampai tahun 1964.

 

Padahal dilihat dari sudut pandang dunia luar dalam negeri kita sedang hanyut pada keadaan radikalisme politik. Bagi kepentingan Amerika, hal ini rupanya bukan main-main. Melihat pihak militer yang amat tergantung pada blok Sovyet, dan pembangunan politik dalam negeri yang dikuasai PKI. Maka tidak ada pilihan lain. Amerika menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Sebagai negara kecil Belanda yang saat itu dipimpin Perdana menteri de Quai tidak punya pilihan lain. Pada bulan Februari 1962, Presiden Kennedy mengutus adiknya Jaksa Agung Robert Kennedy untuk bertindak sebagai penengah. Meskipun perundingan berjalan tidak terlalu mulus, pada tanggal 15 Agustus 1962,

 

Belanda sepakat menyerahkan wilayah Irian Barat pada tanggal 1 Oktober 1962 kepada suatu pemerintahan sementara PBB yang selanjutnya akan menyerahkan kepada pihak Indonesia tanggal 1 Mei 1963.

Dan seperti tertulis dalam sejarah, setelah melalui PEPERA, Irian Barat yang kini bernama PAPUA itu kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Tapi dibalik itu meskipun Soekarno telah mencapai cita-citanya, dalam negeri Indonesia bagai api dalam sekam. Pihak militer melihat PKI sebagai musuh, sebaliknya PKI melihat tentara sebagai seteru. Ketegangan berhasil diatasi Soekarno dengan membangun musuh imajiner baru yang namanya Neo Imperialisme, Neo Kolonialisme dan Neo Kapitalisme.

Yang bentuk nyatanya digambarkan sedang bercokol tidak jauh dari Indonesia, yaitu apa yang disebutnya negara boneka Malaysia. Malaysia dan Singapura telah dimerdekakan Inggris sejak tahun 1957, tapi ada ganjalan Soekarno mengenai hal tersebut. Bukan saja karena merasa satu rumpun, tapi sesungguhnya cita-cita Indonesia Raya itu tak pernah padam.

Pada suatu hari ketika kembali dari Dalat (tanggal 13 Agustus 1945), setelah menghadap Marsekal Terauchi, dikota Taiping (Malaya Utara), Soekarno dan Hatta bertemu dengan sejumlah pemuda perwakilan rakyat Malaya. Ketuanya bernama Ibrahim Yakub, dan atas nama rakyat Malaya, mereka menginginkan bergabung dengan Republik Indonesia saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Soekarno menjanjikannya. Belakngan demikian juga rakyat Kalimantan Utara pernah menyampaikan petisi yang sama ingin bergabung dengan Indonesia.

Bagi Indonesia juga tidak terlalu bersih karena keerap campur tangan dalam negari Indonesia. Misalnya berkaitan dengan gerakan PRRI-Permesta, Malasia merupakan tempat transit kaum pemberontak.

Mungkin saja ada dalam pikiran Soekarno saat itu, kalau peralatan militer yang menggunung yang tidak sempat dipakai saat Irian Barat, bisa dipergunakan untuk konfrontasi dengan Malasia.

Tapi mimpi itu rupanya sukar diwujudkan, karena didalam negeri keadaan politik sudah kadung bagaikan hamil tua

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1965(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1964

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

MENGENANG USMAN & HARUN Bag.1

24-01-2013 12:48

Masa Kecil JANATIN alias USMAN

Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba Kabupaten Purbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya pada hari Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin lahir dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian dikenal dengan nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional. Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar dan kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan
pertumbuhannya dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai Janatin. Orangnya pendiam
lagi tidak sombong, memang demikian pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa bergaul dengan teman semua lapisan yang sebaya dengannya. Tidak merasa
rendah diri walaupun anak desa, dan tidak sombong dengan orang yang lebih
lemah dari dia, sehingga ia mempunyai teman banyak.

Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama sebagai
landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai dasarnya
beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain agar kelak
putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa serta tahu
membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah mengherankan bila putra-putri
Haji Muhammad Ali sedikit banyak mengetahui soal keagamaan dan semua dapat
membaca Al Qur’an dengan baik.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota
Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari tempat
tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah ini
merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan masyarakat
Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah negeri.

Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari orang
tuanya untuk memasuki sekolah tersebut. Karena tujuan masuk sekolah bukan
untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan yang akan
dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama sudah
diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.

Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh orang
tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk meringankan
beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu bekerja di sawah dalam
mengolah sawahnya, kemudian turut membantu memetik hasil kebun serta
memikulnya ke rumah. Setiap hari ia membawa sabit dan menjunjung keranjang
untuk mencari makanan binatang piaraan. Pekerjaan demikian sudah menjadi
kewajiban yang dijalankan setiap hari, sehingga menjadikan dirinya seorang
yang tabah dan ulet.

Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di
desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan
anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah
miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini
banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi sampai ke
kota.

Memasuki Kehidupan Militer

Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta
oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap Belanda. Guna
menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat, maka
pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Pangti ABRI/Panglima Besar Komando
Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962
membentuk Komando Mandala yang bertanggung jawab atas segala kegiatan
Operasi ABRI serta Sukarelawan.

Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah memanggil
segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda untuk
menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasi Belanda.
Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki dinas militer,
seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air. Sehingga dalam waktu yang
singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi
Sukarelawan, dan salah seorang yang terpanggil adalah Janatin.

Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga ialam kwartal terakhir.
Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI, maka setelah
menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi ABRI. Sebelumnya ia
memang nengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini terlihat dari perhatian
fanatin kepada kakaknya yang berdinas di Militer. Bila kakaknya pulang,
selalu mendapat perhatian dari Janatin, baik dari pakaian seragam, sikap,
dan geraknya. Begitu pula setiap melihat anggota ABRI baik tetangga se desa
ataupun kenalan selalu menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang
mengilhami dirinya sehingga ingin menjadi seorang militer.

Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya
mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah yang
lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki dinas
militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah menjadi
ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain. Namun karena
kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha mendapatkan restu dari
ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari orangtuanya untuk memasuki
dinas militer.

Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang yang
dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan
guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena
itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama
(Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk siswa
angkatan ke – X . Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan latihan
pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan kekhususan
bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan Calon Tamtama
dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung
Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di
Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah
Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo. Di sinilah letaknya
pembentukan disiplin yang kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang
pantang menyerah serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca,
merupakan Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua
pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak
memakai baret ungu.

Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer,
Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek, yang
lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh, taat dan
tunduk kepada perintah atasannya.

Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan
tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi Prayitno
dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan dan wakilnya.
Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan materi yang
diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen, sabotase,Demolisi,
gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua
ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nanti

Masa Kecil TOHIR alias Harun

Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah dari
kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer persegi. Di
pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di pulau inilah
pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan terkenal di masa itu,
yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat ini terkenal dengan nama
Keramat Bawean.

Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4
April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said.
Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian
terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang
terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran di
sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut. Perahu-perahu
yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan, merupakan daya
tarik tersendiri bagi Tohir. Dengan jalan mencuri-curi ia sering menyelinap
ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah lautan. Bahkan ia
sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah, karena mengikuti
perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut beberapa hari lamanya.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia
berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di
Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah
Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal
dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran di
sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.

Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan hafal
daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari lamanya
tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal mondar-mandir
antara Singapura – Tanjung Pinang.

Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan. Pada
masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan seorang
gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.

Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya yang
sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk kemudian hari
membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda janjinya gadis
tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.

Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin akan
melangsungkan perkimpoian dengan seorang pemuda pilihan orang tua sang gadis,
Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis sedang
ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan penghulu,
tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara perkimpoian.
Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar Upacara perkimpoian
itu dibatalkan.

Karma penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah kakaknya
yang dekat tempat Upacara perkimpoian bekas pacar Tohir di Jalan Jember
Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan Tohir.
Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkimpoian ini. Ternyata
setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut secara diam-diam
dengan Tohir melakukan tunangan.

Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang lebih
tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk mengurungkan
niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan uang yang sudah
diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai saat ini gadis tersebut
masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok.

Memasuki Dunia Militer

Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai kariernya
sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan
ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu
dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga
pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan
bersama sama.

Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora dengan
pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama lima
bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964. Kemudian pada
tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur
bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu. Hingga beberapa
lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kesatuan A
KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau Sambu. Tohir sendiri telah ke
Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai
pelayan dapur, ia ke sana menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke
Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.

Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam
penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar
telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di
tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

PERTEMUAN USMAN HARUN DALAM OPERASI DWIKORA

Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam
mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru
yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya
Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta. Komando
tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat . termasuk ABRI. Hal ini
terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai
sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari
segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan
dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan.
Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan
itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan
sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang. Jika Sukarelawan itu
tertangkap oleh lawan, resikonya disiksa secara kejam.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk
mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi
sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia
di daerah musuh.
Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri
dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka
diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan
mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di
daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV).
Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I
beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan
tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:

1. Sub Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran
Singapura.
2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung
Balai.
3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri
Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Sedangkan Tugas Basis II:

1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah
masing-masing.
3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
5. Mengumpulkan informasi.
6. Melakukan kontra inteljen.

Dalam operasi ini Janatin/Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti,
ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal
jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan
Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol
KKO – AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau
Sambu Riau. Ketika Usman menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan
dengan Harun dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab
dalam pergaulan. Dalam tim ini Usman dan Harun mendapat tugas yang sama
untuk mengadakan sabotase di Singapura.

Meskipun Usman bertindak sebagai Komandan Tim dan usianya sedikit lebih tua
dari Harun, demikian pula ia lebih banyak berpengalaman dalam bidang
militer, tetapi ia mengakui masih kurang pengalaman dalam wilayah Singapura.
Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya di Singapura, ia lebih banyak
memberikan informasi kepada Usman. Harun telah hafal betul tentang keadaan
dan tempat-tempat di Singapura, karena Harun pernah tinggal di sana. Tetapi
sebagai seorang militer, mereka masing-masing telah mengetahui apa
tugas-tugas mereka sebagai Komandan dan bawahan.

Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya
jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan
barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut
kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota
sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh
petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya. Dari
penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para
Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para
Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah
musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para
sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan
nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti
namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji
Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji
Muhammad Ali.
Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin
Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan
ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian
tempat-tempat
yang dianggap penting.

Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap
saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini
terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para
Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan
bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di
daerah perbatasan.

Memasuki wilayah Singapura.

Tanggal 8 Maret 1965 pada waktu tengah malam buta, saat air laut tenang
ketiga Sukarelawan iini mendayung perahu,Sukarelawan itu dapat melakukan
tugasnya berkat latihan-latihan dan ketabahan mereka.
Dengan cara hati-hati dan orientasi yang terarah mereka mengamati
tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran, dan tugas mengamati
sasaran-sasaran ini dilakukan sampa larut malam. Setelah memberikan laporan
singkat, mereka meng adakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan
hasil pengamatan masing-masing. Atas kelihaiannya mereka dapa berhasil
kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu sebaga Basis II dimana Usman
dan Harus bertugas.

Pada malam harinya Usman memesan anak buahnya aga berkumpul kembali untuk
merencanakan tugas-tugas yang haru dilaksanakan, disesuaikan dengan hasil
penyelidikan mereka masing-masing. Setelah memberikan laporan singkat,
mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh karena
belum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan,
ketiga Sukarelawan di bawah Pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi ke
daerah sasaran untuk melakukan penelitian yang mendalam. Sehingga apa yang
dibebankan oleh atasannya akan membawa hasil yang gemilang.

Di tengah malam buta, di saat kota Singapura mulai sepi dengan kebulatan dan
kesepakatan, mereka memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald,
Diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat sekitarnya. Hotel
tersebut terletak di Orchad Road sebuah pusat keramaian d kota Singapura.
Pada malam harinya Usman dan kedua anggotanya kembali menyusuri Orchad Road.
Di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga putra
Indonesia bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena pada
saat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yang
paling tepat untuk menjalankan tugas. Setelah berangsur angsur sepi,
mulailah mereka dengan gesit mengadakan gerakan gerakan menyusup untuk
memasang bahan peledak seberat 12,5 kg.

Dalam keheningan malam kira-kira pukul 03.07 malam tersentaklah penduduk
kota Singapura oleh ledakan yang dahsyat seperti gunung meletus. Ternyata
ledakan tersebut berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald yang terbuat
dari beton cor tulang hancur berantakan dan pecahannya menyebar ke penjuru
sekitarnya. Penghuni hotel yang mewah itu kalang kabut, saling berdesakan
ingin keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Demikian pula penghuni
toko sekitarnya berusaha lari dari dalam tokonya.

Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehingga
mengalami luka berat dan ringan. Dalam peristiwa ini, 20 buah toko di
sekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur,
30 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Di antara
orangorang yang berdesakan dari dalam gedung ingin keluar dari hotel
tersebut tampak seorang pemuda ganteng yang tak lain adalah Usman.

Suasana yang penuh kepanikan bagi penghuni Hotel Mac Donald dan sekitarnya,
namun Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelan
kegelapan malam untuk menghindar dari kecurigaan. Mereka kembali memencar
menuju tempat perlindungan masing-masing.

Pada hari itu juga tanggal 10 Maret 1965 mereka berkumpul kembali.
Bersepakat bagaimana caranya untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadi
sulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelaku
yang meledakkan Hotel Mac Donald. Melihat situasi demikian sulitnya, lagi
pula penjagaan sangat ketat, tak ada celah selubang jarumpun untuk bisa
ditembus. Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura.
Untuk mencari jalan keluar, Usman dan anggotanya sepakat untuk menerobos
penjagaan dengan menempuh jalan masing masing, Usman bersama Harun,
sedangkan Gani bergerak sendiri.

Setelah berhasil melaksanakan tugas, pada tanggal 11 Maret 1965 Usman dan
anggotanya bertemu kembali dengan diawali salam kemenangan, karena apa yang
mereka lakukan berhasil. Dengan kata sepakat telah disetujui secara bulat
untuk kembali ke pangkalan dan sekaligus melaporkan hasil yang telah dicapai
kepada atasannya. Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepada
anggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya
melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. Mulai saat inilah
Usman dan Harus berpisah dengan Gani sampai akhir hidupnya.

Gagal kembali ke pangkalan.

Usaha ketiga Sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing.
Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harun
berjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengan
daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah inf. Karena itu Usman
meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke
pangkalan. Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, mereka
berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain
tidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepas
dari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarat
tertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan
Singapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan
berlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur.
Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.
Tetapi pada malam itu, waktu Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang
yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal.
Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada Polisi. Alasan
mengusir kedua pemuda itu karena takut diketahui oleh Pemerintah Singapura,
kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua Sukarelawan
Indonesia keluar dari persembunyiannya.

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyi
supaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-cari
kapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorang
Cina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan dua
kemungkinan tertangkap atau dapat lolos daribahaya. Akhirnya dengan tidak
pikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatan
mereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke Pulau
Sambu. Tetapi apadaya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.
Sebelum mereka sampai ke perbatasan peraian Singapura, motorboatnya macet di
tengah laut. Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh,
sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkap
di bawa ke Singapura sebagai tawanan.

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi,
karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tangan
Tuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harus tenang
saja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.
Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabar
menunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telah
ditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhan
yang Maha Mengetahui.

TABAH SAMPAI AKHIR

Proses Pengadilan.

Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara
Singapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Pada
tanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang
Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai
Hakim. Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court)
Singapura dengan tuduhan :

1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah
melanggar Control Area.
2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan
pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964.
Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Harun
telah menolak semua tuduhan itu. Hal ini mereka lakukan bukan kehendak
sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada
sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layak
dari sidang majelis. Hakim telah menola permintaan tertuduh, karena sewaktu
kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidangan
berjalan kurang lebih dua minggu, pada tanggi 20 Oktober 1965 Sidang
Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan
bahwa Usman da Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya
tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal
Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan
J.J. Amrose. Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak
perkara naik banding Usman dan Harun. Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967
perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London. Dalam kasus ini
Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu
Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar
Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI
di Singapura. Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal.
Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke Badan
Tertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalah
untuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan ini
diajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan
kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan. Kedutaan RI di
Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat
dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua
sukarelawan Indonesia tersebut. Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri
Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha
yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal
9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas
hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terus
berusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suharto
mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk
menyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia Tengku
Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan
permintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap pada
pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip
tertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua
orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober
1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua
mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum
dengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak oleh
Pemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung
terhadap Usman dan Harun.

Pesan terakhir.

Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimana
Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan
hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat
pukul 06.00 pagi Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriot
Indonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepada
pencipta – Nya.

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikian
juga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untuk
menyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut
perlindungan dan pem belaan warga negaranya. Satu malam sebelum pelaksanaan
hukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo
sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan
diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan
didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, dapat berhadapan
dengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul
16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalam
penjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjara
dan meninggalkan tanah air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dan
kegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khas
seorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisah
yang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudah
menunggu.

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta
memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan
Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian
membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa
berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai
pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu
lagi untuk selamanya. Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwa
Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati
oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka
berdua terhadap Negara. Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolo
mengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalah
bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula
menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk
dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas
usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana
Hukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuan
selesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat

Menjalani Hukuman Mati.

Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman dan
Harun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia.
Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama. Mereka
berdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh. Di alam yang sepi itu menambah
hati mereka semakin dekat dengan pencipta – Nya. Karena itu empat tahun
dapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengan
nyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemuda
ini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka.
Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepi
dan suram itu. Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding
tembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usman
dan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telah
ditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikan
ketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.
Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin Suasana mencekam,
tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejak
sore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi.

Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman dan
Harun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akan
menghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkan
khawatirpun tidak. Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa mereka
akan menghadapi tali gantungan.
Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis pada
tanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerima
hukuman dengan gagah berani. Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian,
hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepada
keluarganya:

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkan
berita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaan
hukuman mati ke atas anakanda telah diputus kan pada 17 Oktober 1968, hari
Kamis 24 Rajab 1388.

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:
Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaum
keluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapura
rayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.

MENGHADAPI TIANG GANTUNGAN

Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara,
kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing.
Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harun
setiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajar
masalah keagamaan dengan matang.

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol
dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius.
Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong
oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali.
Dalam keadaan, lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawa
petugas menuju ke tiang gantungan.
Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungan
kalungkan ke leher Usman dan harun.

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa kedua
prajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segi
kemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian mereka
menengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itu
mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Mereka telah terjerat di ujung
tali gantungan di negeri orang, Jauh dari sanak keluarga, negara dan
bangsanya.Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsa
dan Tanah Air tercinta.

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa dari
jasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepada
para wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwa
hukuman telah dilaksanakan. Dengan sekejap itu pula tersiar berita ke
seluruh penjuru dunia menghiasi lembaran mass media sebagai pengumuman
terhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman dan
Harun.

Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung.
Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong
datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan
bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi PemerintaH Indonesia mengirim
Dr. Ghafur dengan empat pegawai KedutaaN Besar RI ke penjara Changi untuk
menerima kedua jenazah iti dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RI
untuk dise mayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari
penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya
dari Pemerintah Singapura. Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulama
untuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah di
masukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera
Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan pada
peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara.
Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI

Mendapat penghormatan terakhir dan Anugerah dari Pemerintah

Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masya rakat Indonesia di
KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah
menunggu pesawat TNI-AU. yang akan membawa ke Tanah Air.
Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah
Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan
Paraku. Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telah
melaksanakan hukuman gan tung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden
Suharto menyata kan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.

Pada pukul 14.35 pesawat TNI-AU yang khusus dikirim dari Jakarta
meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah
diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta. Pada
hari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telah
tiba di Tanah Air. Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia
menjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjang
jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin
melihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara,
Bangsa dan Tanah Air.

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterima
oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan seterusnya
disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yang
mengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yang
menghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yang
tak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah mereka
anggap sebagai sahabat baik. Pada barisan paling depan terdiri dari barisan
Korps Musik KKO-AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga,
kemudian disusul dengan barisan karangan bunga. Kedua peti jenazah tertutup
dengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti ini
didasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudian
diserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam.
Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa Usaha
RI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usman
dan Harun dari Singapura.
Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik Brigjen
Tjokropranolo
maupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatan
terakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil,
Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyang
dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah
diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang
terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan
M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar
Minggu dan akhirnya sampai Kalibata. Sepanjang jalan yang dilalui antara
Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala
sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut
mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para
Menteri Kabinet Pembangunan.

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI,
Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda
dan pelajar serta masyarakat.
Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama
Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada
Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat
yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan,
peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana
bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadap
Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah me naikkan pangkat mereka satu
tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi
Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral
Anumerta KKO.
Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang
Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Peristiwa KD Sri Selangor

24-01-2013 19:18

Keberanian seseorang memang dapat timbul disaat-saat kritis, apalagi bila menyangkut penentuan hidup dan mati. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan perang.

Sekali peristiwa pada 24 Juli 1964

 

satu kelompok anggota KKO sedang melakukan tugas patroli rutin diperbatasan di perairan Riau menggunakan motorboat.

Kepala Kelompok adalah prajurit K. Suratno dengan tiga orang anggotanya yaitu prajurit-prajurit Wahadi, Riyono dan Muhani, berangkat dari Nongsa (Batam). Ditengah laut, mesin mengalami kerusakan dan sampai terbawa arus ke arah Singapura. Selama enam jam mereka mendayung melawan arus.

Hari makin gelap. Tiba-tiba pada pukul 19.15 dalm suasana remang-remang terlihat sebuah kapal. Prajurit-prajurit muda tersebut menyangka kapal kawan dari Bea Cukai. Kapal segera merapat hingga perahu dengan berpenumpang empat prajurit laut tersebut menempel dinding kapal perang tersebut.

Ternyata mereka keliru, karena kapal perang tersebut milik lawan (Kapal Sri Selangor jenis B.S). dari atas kapal terdengar teriakan :

” Awak Siapa?”
– KKo mau pulang
” Angkat tangan!!!”

Sementara lampu sorot kapal menyinari mereka serta menanti jawaban menyerah, karena tidak dapat berbuat lain. Keadaan sangat tidak menguntungkan dan sangat terjepit. Namun jawaban tanda menyerah tidak kunjung keluar. Bahkan secara serentak empat prajurit KKO itu menjawab dengan tembakan salvo kearah personel lawan yang sudah merasa bahwa kemenangan ditangannya, dalam jarak yang sangat dekat.

Tentu saja mereka sangat terkejut dan sambil membalas dengan tembakan, kapal melakukan manuver untuk menjauh agar dapat membalas tembakan. Untuk menebus kekalahan dan korban yang diderita, kapal Sri Selangor berusaha menerjang motorboat, hingga sampan kecil tersebut terbalik.

Namun keempat prajurit tersebut dengan tangkas melompat ke laut sebelum sampannya tertumbuk dan terbalik. Mereka dengan cerdik bersembunyi dibalik perahu yang tertelungkup. Mengira lawannya sudah tenggelam dan tewas, Sri Selangor meninggalkan perairan Indonesia.

Ternyata dalam pertempuran laut singkat tersebut, tiga prajurit berhasil selamat kecuali Kepala Kelompok K. Suratno gugur, hilang dan tidak muncul dipermukaan laut. Sungguh tindakan ini sangat berani dan mampu bertindak dalam waktu yang sangat kritis. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan Tugas. TSM

Sumber : Majalah TSM (Teknologi Strategi Militer) Nomor 29 Tahun III/Nopember 1989

 

20 Agustus 1964

 

Koleksi langka surat dari Kedutaan Negara Kesatuan Kalimantan utara  di Jkarta kepadaBrigjen Sambas Atmadinata Menteri veteran dan Pemobilisasi RI

Pada tahun 1961

timbul perselisihan antara Indonesia dengan Malaysia. Perselisihan itu karena pembentukan negara Federal Malaysia, yaitu menggabungaan beberapa daerah bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara seperti Malaysia, Sabah, Serawak dan sebagainya. Politik konfrontasi yang dianut Pemerintah Orde Lama menyebabkan Indonesia menganggap Malaysia adalah sebagai proyek Nakolim yang pembentukannya dipaksakan oleh Inggris guna mempertahankan kepentingannya di Asia Tenggara.

 

 

 

Oktober 1961

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah Inggris kemudian pada bulan Oktober 1961 di London diadakan perundingan mengenai rencana realisasi dari pada Negara federasi. Hasil perundingan tersebut antara lain akan dilaksanakan penelitian terlebih dahulu terhadap rakyat Sabah dan Serawak.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa rakyat Sabah dan Serawak masih berbeda ‑ beda pendapat. Ada yang setuju tanpa syarat, ada yang setuju dengan syarat dan ada yang berpendapat lain.

31 Agutus 1963

Setelah dipertimbangkan kemudian dan ada yang berpendapat lain. Setelah dipertimbangkan kemudian pemerintah Inggris dan persekutuan tanah Melayu memutuskan membentuk Federasi Malaysia tanggal 31 Agustus 1963.

Pemerintah Indonesia menentang pembentukan Federasi Malaysia itu. Selain Indonesia, pemerintah Filipina pun menunjukkan sikon yang sama. Penolakan pernerintah Indonesia dan Filipina telah disampaikan pada Inggris namun gagal menernukan perumusan, akibatnya timbul ketegangan.

Dengan adanya ketegangan tersebut kemudian diadakan pertemuan antara Indonesia, persekutuan Tanah Melayu dan Filipina.

Sementara sekretaris Jenderal PBB membentuk Missi Malaysia untuk mengadakan penyelidikan di Sabah dan Serawak untuk memastikan kehendak rakyat di kedua daerah tersebut. Hasil penelitian Missi tersebut adalah bahwa sebagian rakyat Sabah dan Serawak menyetujui pembentukan Federasi Malaysia.

Pada tanggal 16 Nopember 1963

terjadilah Proklamasi pembentukan federasi Malaysia. Keesokan pada tanggal 17 September 1963 pernerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Di Malaysia sendiri sebagian partai politik menentang rencana pembentukan federasi. Bahkan pada tanggal 8 Desember 1963 M. Azyhari memimpin rakyat Brunai dipengasingan memproklamasikan berdirinya negara kesatuan Kalimantan Utara (NKKU) yang meliputi Sabah, Brunai dan Serawak.

 

 

 

 

3 Mei 1964

Pemerintah Indonesia menyokong Proklamasi dari Azyhari dan Presiden Sukarno dalam apel suka relawan di Jakarta menyatakan akan membantu rakyat Kalimantan Utara.

Keadaan makin meruncing, kemudian pada tanggal 3 Mei 1964 diadakan apel besar sukarelawan lagi. Pada kesempatan itu Presiden Sukarno mencanangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yaitu :

a.     Perhebat Pertahanan Republik Indonesia.

b.     Bantu perjuangan revolusioner rakyat‑rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunai untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia.

Negara Kesatuan Kalimantan utara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Soon after President Soekarno announced the Two People’s Commands (Dwikora) on 3 May 1964, Indonesian forces increased its combat intelligence activities along the borderlines.

Together with North Kalimantan Troops (TNKU) they established small guerilla groups in West Kalimantan. Indonesian army gave a brief military training to volunteers who happened to run away from Sabah and Serawak and posted them along the borders.

 

Three war commands under the coordination of Commodore Omar Dhani were established.

The first command led by Brigadier General Kemal Idris was positioned in Sumatra consisted of 12 battalions from the army and mariner  targeting Malay Peninsula.

The second command led by Brigadier General Soepardjo consisted of 13 battalions from air force troops and para-commandoes were positioned in West Kalimantan. The third command consisted of Navy warships and mariners operated in Riau Islands and around Nunukan near East Kalimantan borders.

 

The British and its allies in Commonwealth, on the other hand, deployed a total of 18 battalions of infantry in Kalimantan and their number reached up to 14,000 soldiers by 1965. A number of warships including HMS Albion and Bulwark aircraft carriers were deployed. Together with RAF the carriers dispatched a number of squadron sorties along the conflict areas mainly to identify and locate enemy armed forces.

 

Mei –juni 1964

Menurut Lie Sau Fat atau X. F. Asali, budayawan Tionghoa Kalimantan Barat dan saksi sejarah, ketika peristiwa Dwikora, banyak sukarelawan membantu perang dengan Malaysia. Mereka terdiri dari para pelarian dari Sarawak, yang umumnya etnis Tionghoa dan partisipan komunis, juga sukarelawan dari Singkawang, Bengkayang, dan berbagai wilayah di Indonesia yang terdiri atas berbagai etnis seperti Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Kodam Tanjungpura pada Mei dan Juni 1964 memberikan latihan militer pada 28 orang sukarelawan dari SUPP (Sarawak United People Party) yang lari ke Kalimantan Barat dan juga para sukarelawan yang dikirim dari Jakarta. Latihan militer tersebut di lakukan di Dodiktif 18 – Tandjungpura, Bengkayang. Letnan Kolonel Harsono Subardi, mantan Biro Intel POM Kodam XII Tanjungpura, mengungkapkan, “Saat itu, kita melatih PGRS/PARAKU untuk dipergunakan membantu memerdekakan Malaysia. Mereka dilatih oleh RPKAD di Bengkayang.”[2]

Jumlah pasukan PGRS adalah sekitar 800 orang yang berbasis di Batu Hitam, Kalimantan Barat, bersama dengan 120 pasukan dari Indonesia dan sedikit kader yang dilatih di China. Partai Komunis Indonesia (PKI) terbukti memiliki keterlibatan dan dipimpin oleh Sofyan, seorang etnis Arab yang revolusioner. PGRS beberapa kali melakukan perampokan di Serawak, tetapi lebih banyak lagi berusaha meningkatkan pendukung mereka dari wilayah tersebut. Militer Indonesia tidak menyukai kecondongan PGRS ke sayap kiri sehingga secara umum menghindari mereka.[5]

Paraku-PGRS bahu-membahu bersama TNI dan sukarelawan Indonesia menghadapi pasukan Malaysia yang dibantu balatentara Gurkha, Inggris, dan Australia sepanjang masa konfrontasi. Wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Kalimantan Utara menjadi garis depan pertempuran. Seorang peneliti Tionghoa, Benny Subianto, mengungkapkan kehebatan gerilyawan Paraku-PGRS ketika melawan pasukan Gurkha Inggris. Kedua pasukan itu hampir berhasil menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles dalam sebuah serangan terhadap distrik Long Jawi pada tanggal 28 September 1963. Buku A Face Like A Chicken Backside-An Unconventional Soldier in Malaya and Borneo 1948-1971 karya JP Cross mencatat kehebatan serangan relawan Indonesia serta Paraku-PGRS yang menewaskan beberapa prajurit Gurkha dan anggota Border Scout. Dari fakta-fakta sejarah tersebut, Paraku-PGRS tampak menjadi pahlawan bagi Indonesia selama era konfrontasi.[1]

Kebijakan Pemerintah Indonesia, melalui BPI (Badan Pusat Intelijen), membuat “kisah” PGRS/PARAKU tidak menjadi konsumsi publik pada tahun 1963-1965 (sebelum G 30 S).

Seperti yang diuraikan L.H. Kadir, saksi sejarah, mantan Wakil Gubernur Kalbar 2003-2008, pada masa konfrontasi bekerja sebagai pegawai negeri di Putusibau (1963-1965) dan Mahasiswa APDN (1965-1968):[2]

Sekitar tahun 1963-1964 tidak ada pernyataan dukungan Indonesia terhadap PGRS/PARAKU. Masyarakat hanya tahu bahwa ada pergolakan rakyat di perbatasan.

Setahu saya setelah peristiwa G 30 S baru ada di koran berita tentang PGRS/PARAKU. Sebelum itu yang dikenal sukwan… Sewaktu masih di Putusibau, saya pernah mengantar sukwan dari Putusibau untuk berlatih di perbatasan.

Saya dengan speed ke Semitau diperintah Dandim Hartono supaya mengantar. Orang-orang yang saya antar Cina semua waktu itu. Mereka bawa senjata, ada pula amoi-amoi, banyak perempuan. Ada juga dokter dua orang, mereka latihan di Badau.”

Dampak bangkitnya Orde Baru[sunting]

Pasca G 30 S, situasi belum mempengaruhi PGRS/PARAKU karena pemerintah belum membubarkan PKI. Situasi komando di Kalimantan Barat masih belum jelas. Satu-satunya komando yang diberikan oleh Pangdam XII/Tanjungpura adalah tetap di pos masing-masing dan mempertinggi kewaspadaan.

Situasi itu dimanfaatkan PGRS/PARAKU untuk konsolidasi kekuatan, banyak simpatisan PKI yang bergabung karena situasi politik yang semakin menekan PKI. Mereka sama-sama memperoleh pelatihan militer dari Tentara RI dan sama-sama diterjunkan di perbatasan. PKI memanfaatkan pengerahan sukarelawan untuk melatih para kadernya, yang kebanyakan dari etnis Tionghoa, sehingga akan sulit dibedakan yang mana PGRS/PARAKU, kader PKI, dan kelompok yang tidak mengetahui tentang semua itu.[2]

Pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto tidak berniat untuk melanjutkan konfrontasi terhadap Malaysia dan Inggris.[1]

On 29 August 1964,

the day when the Malaysia Federation was established Indonesian troops began to launch large-scale incursions in Malaysia Peninsula. Part of them were dispatched in a one-way ticket mission to  Johore west coast and Johore-Malacca border to establish guerrilla groups. The operation took heavy tolls; many of them were killed and captured by the enemy combined forces operating in the area.

Mengapa Soekarno “Ganyang Malaysia” ?

 

Ini disebkan paling tidak karena Soekarno merasa terhina dan terkalahkan dalam percaturan politik Internasional. Awalnya semuanya berkisar pada cita-cita Tungku Abdulrachman (Perdana Menteri Malaya yang merdeka tanggal 31 Agustus 1957) sejak awal 60-an untuk menciptakan Federasi Malaysia (tdd Malaya, Singapura, Serawak Sabah dan Berunai). Indonesia tidak setuju karena ini cuma akal-akalan Inggris untuk mempertahankan Neo Kolonialismenya dengan maksud menggencet Indonesia disegala bidang, khususnya ekonomi. Tapi tanpa persetujuan Indonesia, Federasi Malaysia berdiri juga pada tanggal 16 September 1963. Alhasil naik turunya politik Asia Tenggara juga berpengaruh pada negara-negara dikawasan tersebut. Pada suatu waktu tiba-tiba Indonesia yang penggagas Asia-Afrika mulai dicuekin oleh sejumlah negara yang pernah berkumpul di Bandung tahun 55 itu. Bukan tidak mungkin banyak negara Asia-Afrika ex jajahan Inggris bersimpati pada Malaysia. Bayangkan dalam Peringatan Ulang Tahun ke 10 Konperensi AA di Jakarta pada bulan April 65 tamu anggota yang hadir cuma 36 negara dari 60 anggota. Dan tiba-tiba Yang paling menyakitkan Soekarno juga adalah terpilihnya Malaysia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB tidak tetap. Ini sudah benar-benar penghinaan yang kelewatan pikir Soekarno. Maka ditetapkannya Indonesia keluar dari PBB dan didirikannya CONEFO dengan pusatnya di Jakarta (gedungnya sekarang jadi DPR RI). Tentu saja sejumlah besar negara komunis mendukung. Dibentuknya garis Jakarta Peking Pyongyang. Optimisme Soekarno bukan tidak punya alasan. Bukankah kita baru berhasil menyelenggarakan TRIKORA sehingga Irian kembali. Indonesia memiliki kekuatan militer yang tidak ada taranya saat itu di Asia tenggara. Dan politik dalam negeri juga sedang kuat-kuatnya khususnya atas dukungan mayoritas golongan komunis dan nasionalis. Bukankah rakyat Brunai (katanya) menolak masuk federasi dan disana ada Azhari (bukan Dr Azhari teroris) pemimpin pemberontak yang sejalan pikirannya dengan kaum revolusioner ditanah air. Apa boleh buat kita “Ganyang saja Malasia ini”. Di Jakarta diselenggarakanlah demo besar-besaran. Kedutaan besar Inggris didemo dan diduduki. Simbol kerajaan di congkel dan diinjak-injak. Rumah-rumah warga negara Malaysia dan Inggris diserbu (terbanyak oleh Pemuda Rakyat) dan aset milik Ingrris dan Malaysia diambil alih. Dinyatakan menjadi milik Indonesia. Saat itulah Duta Besar Inggris Gilchrist jadi bulan-bulan dimana dirinya dituduh memilik dokumen berisi usaha menghancurkan RI yang jatuh ketangan Waperdam – Menlu Dr Soebandrio. Keadaan memanas dibidang politik ini bukan tidak diikuti konfrontasi fisik. Sejumlah pasukan Indonesia secara sporadis sudah mendarat di wilayah Malaysia. Mereka melakukan sabotase. Dan pasukan Indonesia darat, laut dan udara sudah disiagakan penuh diperbatasan. Andaikata saat itu Soekarno bilang “serang Malaysia”, pasti daratan Malaysia sudah diserbu. Tapi keadaan dalam negeri Indonesia saat itu tidak pas. Keadaan sosial ekonomi amat buruk. Ditambah lagi politik yang sangat tidak menguntungkan. Terjadi kucing-kucingan antara kelompok Komunis dan anti Komunis, khususnya antara PKI dan antek-anteknya dengan TNI khususnya Angkatan Darat. Hal ini oleh Soekarno tidak mampu diatasi. Bahkan menurut sejarawan John D. Legge, Politik Konfrontasi bukan dijalankan karena ulah Tungku Abdulrachman dan Inggris, tapi karena strategi politik Soekarno terhadap kebijakan luar negerinya sekaligus mengalihkan perhatian situasi nasional yang buruk dengan harapan justru akan memunculkan persatuan dalam negeri yang menguntungkan semua pihak di Indonesia termasuk meningkatkan semangat nasionalisme. Sejarah konfrontasi yang menurut pihak Sukarnois amat gilang gemilang akhirnya hancur lebur dengan peristiwa G30S PKI dan Soeharo muncul bersama orang dekatnya seperti Adam Malik dan Ali Murtopo diadakanlah Kunjungan Muhibah ke Malaysia. Proyek OPSUS ini mendatangkan semua yang menjadi begitu indah dan gemulai, Abdu Rachman, Razak dan sejumlah petinggi Indonesia, makan nasi minyak dan sejumlah gulai ala Malasia, sambil menyaksikan keprigelan penari Melayu (bukan Lenso) dengan dendang Pak Ketipak Ketipung. Damai-damai kita serumpun..bukaan ?. Bukan hal aneh kalau Malaysia sekarang dianggap kurang ajar macam sekarang oleh Indonesia. Indonesia memang orang yang cinta damai barangkali

Sultan Sulu adalah pemimpin pemberani. Seperti Soekarno. Untuk mempertahankan kedaulatan, kehormatan dan merebut tanah air berani mengambil resiko apapun. Termasuk pertumpahan darah. “Kami akan mempertahankan Sabah sampai titik darah penghabisan,” kata Sultan Sulu, tegas! “Tempat ini milik kami, kmi akan tetap berada disini”

Malaysia telah memperoleh pelajaran berharga. Pelajaran sangat berharga, dari “Negara” kecil yang pemimpinnya bernyali Besar:  Kesultanan Sulu. Tidak dari negara Besar, tapi pemimpinnya kecil  nyalinya. Malaysia pernah tersenyum sinis dengan negara Besar tersebut karena tak berdaya mengangkat muka. Mereka telah memenangkan sebuah pertikaian dengan diplomasi dan keragu-raguan orang lain.  Padahal, peristiwa di Ambalat, Karang Unarang, lepasnya Sipadan dan Ligitan. Juga klaim Reog, Batik, Rendang, Rasa Sayange oleh Malaysia menunjukkan bahwa Malaysia seharusnya diganjar seperti yang telah dilakukan oleh Sultan Sulu dan rakyat setianya.

Kita belum tahu, mungkin sudah puluhan kali selama puluhan tahun, Sulu sudah berupaya mengembalikan haknya atas tanah Sabah. Rekaman sejarah jelas berpihak pada kesultanan Sulu bahwa wilayah itu mulanya adalah milik sah Sultan Sulu yang dicaplok dan dipinjam Inggris. Dasar imperialis, boro-boro mengembalikan, malah menanam Bom Waktu yang akhirnya meletus juga.Kita juga tidak pernah tahu apakah referendum rakyat Sabah benar-benar juga menginginkan bergabung dengan Malaysia, karena keturunan suku-suku dari Kesultan Sulu juga beranak pinak disana.

Upaya negoisasi, diplomasi dan mediasi pastilah sudah dilakukan oleh Kesultanan  Sulu untuk mendapatkan Sabah kembali. Alasan karena Kesultanan Sulu tidak dilibatkan sebagi penengah konflik Moro dan Filipina, hanya satu dari sekian alasan bagi Sultan Sulu untuk sekarang meminta kembali tanah Sabah. Boleh jadi, itu hanya alasan, karena saat ini Moro pun berdiri di belakang Sultan.

Pelajaran berharga yang bisa diperoleh dari peristiwa ini adalah, meminta kembali hak merupakan kehormatan yang harus dijalankan apapun resikonya. Apalagi yang menyangkut kedaulatan wilayah. Tak disangka, lagi-lagi peristiwa di Pulau Kalimantan mengungkit kembali peristiwa besar masa silam: Ganyang Malaysia. Hanya Soekarno dan Sultan Sulu – Sultan Jamalul Kiram- yang berani!.

Malaysia mungkin perlu belajar dari Jenderal Pershing yang pernah merasakan dahsyatnya perlawanan orang Moro , Sulu dalam perang  di Gunung Bagsak tahun 1913. Semoga, kedua belah pihak segera menghentikan pertikaian. Malaysia segera menarik dari medan tempur, jika citranya tak ingin hancur. Hanya untuk membungkam 200 militan sulu saja mereka perlu menurunkan 3 Batalyon tempur.

September 1964

 

 

Tentara Gurkha/Inggris Dukung Malaysia Saat Ganyang Malaysia

Pasukan Malaysia yang didukung oleh unit-unit Gurkha/Inggris nampak sedang menggiring seorang tawanan anggota Sukarelawan Dwi Komando Rakyat ( Sukwan Dwikora ) asal Indonesia yang tertangkap saat sedang melakukan tugas penyusupan ke semenanjung Malaya bulan September 1964.

Sumber foto ini (Life Magazine) tidak menjelaskan secara detail, kapan dan dimana persisnya sukwan Dwikora ini tertangkap, serta berasal dari unit atau kesatuan manakah tawanan Indonesia ini berasal. Tetapi dari tanggal pengambilan foto ini (September 1964) , dapat diduga bahwa sukwan Indonesia ini berasal dari satuan Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL/skrg Marinir) yang pada pertengahan Agustus 1964 mencoba melakukan operasi penyusupan lewat laut, ke kawasan Pontianak, Johor Baru, Semenanjung Malaya, Malaysia.

Operasi tersebut gagal, sejumlah anggota KKO gugur dan sisanya tertawan oleh pasukan Malaysia yang didukung oleh unit-unit militer Inggris , termasuk pasukan khusus “Royal Gurkha Regiment” yang direkrut dari kawasan pegunungan Nepal, negeri kecil di sebelah utara India.

Rangkaian kegagalan yang mewarnai berbagai operasi tempur & intelijen Indonesia pada era Dwikora ini menimbulkan berbagai spekulasi, termasuk spekulasi adanya kekurangkompakan dari internal militer Indonesia sendiri, kepada politik konfrontasi yang dilancarkan oleh Bung Karno terhadap Nekolim Malaysia/Inggris” (Sumber foto : Life Magazine, September 1964)

SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.

Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.

Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.

Terus terang saja, Saudara-saudara, di kalangan utusan daripada Dasawarsa A-A ini masih ada lho, masih ada yang mengatakan: Wah, Malaysia adalah satu negara yang sovereign. Sovereign artinya berdaulat penuh. Saya berkata kepada mereka: Bukan Bung, bukan negara sovereign, tetapi adalah suatu neo colonialist project, satu koloni, tetapi koloni macam baru, macam neo. Oleh karena itu janganlah berkata bahwa Malaysia itu adalah satu sovereign state, tetapi adalah satu negara neo colonialist project.

Dan kita menentang ini, oleh karena kita mengetahui bahwa baik kolonialisme maupun imperialisme adalah anak daripada kapitalisme, kapitalisme yang kita tentang. Tidak bolehnya sesuatu manusia mengeksploitir kepada manusia yang lain, atau tidak bolehnya suatu bangsa mengeksploitir kepada bangsa yang lain.

Bung Karno pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 1965, di Istora Bung Karno, Senayan

OPERASI DWIKORA (Malaysia)

Kecemasan Soekarno bahwa Malaysia dan Kalimantan Utara akan menjadi kaki tangan kolonial membuat operasi Dwikora dikerahkan. Malaysia yang kala itu berada di bawah wewenang kekuasaan Inggris diberikan kesempatan untuk melakukan referendum dan menentukan nasibnya sendiri. Namun, masyarakat Malaysia saat itu justru mulai menghasilkan sikap anti-Indonesia dan “meludahi” Tanah Air kita.

Soekarno yang marah memutuskan untuk berperang. Sebuah pidato terkenal, Ganyang Malaysia, juga diproklamasikan saat itu. Perang agen rahasia, sabotase, dan militer terbuka dikerahkan. Indonesia harus melawan tiga negara sekaligus: Malaysia, Inggris, dan Australia.

Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

Di Brunei, (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris British Far Eastern Command mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai Persetujuan Manila yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.
Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[5]an juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[6] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan
hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa,
sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini
kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo…ayoo… kita… Ganjang… Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia Bulatkan tekad Semangat kita
badja Peluru kita banjak Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno

Konfrontasi Malaysia-Indonesia

Posted on Juni 16, 2010 by museumindo

 

“Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!”

 

Hari itu Ir. Soekarno berapi-api sambil mengacungkan tangannya di mimbar terhormat. Bukan karena kebudayaan kita dicuri atau TKW kita disiksa majikannya di Kuala Lumpur, tapi karena terjadi konfrontasi terbesar antara Malaysia-Indonesia di tahun 1961-1966. Seluruh dunia menyaksikan sebuah konfrontasi terbesar diantara dua Negara serumpun, bagaimana dua Negara yang baru saja bebas dari kolonialisme memperebutkan bekas tanah koloni dari Inggris diujung pulau Borneo (Kalimantan)?.

 

Kata-kata “Ganjang Malaysia!” menjadi terkenal sehingga seorang penulis buku terkenal Will Fowler mengabadikan dalam bukunya dengan masih memakai ejaan Soekarno. Kemarahan Soekarno disulut oleh tindakan profokatif dari Federasi Tanah Melayu yang menginginkan (atas ide dan persetujuaan Inggris) menggabungkan Federasi Tanah Melayu, Singapura, Brunei, Serawak dan Sabah (Borneo Utara).

 

Tidak hanya itu, setelah terjadi demonstrasi anti Indonesia di Kuala Lumpur, para demonstran menyerbu kedubes Indonesia dan menginjak-injak lambang garuda pancasila dan foto presiden Soekarno. Meledaklah kemarahan Soekarno apalagi setelah mengetahui kalau perdana menteri Tuanku Abdurahman Malaysia disuruh menginjak lambang Negara Indonesia tersebut oleh para demonstran.

 

Presiden Soekarno langsung membentuk dan menyatakan DWIKORA sebagai pengobar untuk “mengganjang Malaysia”. Dikarenakan ini bukanlah perang terbuka atau perang antara pasukan regular masing-masing Negara, maka perseturuan dua Negara tetangga ini tidak disebut sebagai perang Malaysia-Indonesia tapi lebih dikenal konfrontasi Malaysia-Indonesia. Awalnya Soekarno tidak menginginkan terjadi konfrontasi dan TUanku Abdurahman pun berpikiran seperti itu. Tapi karena atas saran dan perintah dari Inggris, maka Pemerintah Malaysia melanggar perjanjian Manila yang menyatakan akan diadakan Referendum oleh PBB (UN). Mengetahui hal itu maka pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan langsung menindaknya.

Pemerintah Filipina yang juga mengklaim Sabah (Borneo Utara) tidak mengirimkan tentaranya atas kejadian pelanggaran perjanjian tersebut. Tapi Presiden Soekarno yang terlanjur sudah marah atas perlakuan Malaysia dan Inggris dengan Persemakmurannya yang menginjak-injak perjanjian tersebut, menyatakan konfrontasi. Presiden Soekarno mengatakan kalau Malaysia adalah boneka Inggris dan mengganggu kemerdekaan dan stabilitas Indonesia kedepannya.

 

Indonesia banyak melakukan propaganda untuk menakuti dan menebarkan teror bagi Persemakmuran. Seperti menggelar penyebaran selebaran dari udara oleh Tu-16 kedaerah Serawak dan menebarkan ketakutan kedalam wilayah Australia dengan menjatuhkan perlengkapan tentara di tengah daratannya. Persemakmuran dan Inggris tidak tinggal diam, mereka juga melakukan Operasi Claret yang dilakukan oleh SAS & SAS-R.

 

Operasi Claret adalah operasi dimana pasukan khusus inggris dan Australia menyusup kedaerah Indonesia di Klaimantan Timur. Padahal mereka berkomitmen hanya untuk bertahan tanpa menyerang kedaerah Indonesia. Hal ini diakui oleh Australia pada tahun 1996 atas terjadinya operasi Claret.

Selain menggelar pasukan khusus SAS (Inggris) & SAS-R (Australia), Persemakmuran juga mengirim SAS Slandia Baru, Gurkah (Pasukan Khusus dari Nepal yang dilatih oleh Kerajaan Inggris) dan pasukan dari daerah kolonialisme kerajaan Inggris lainnya. Indonesia mengerahkan RPKAD (KOPASSUS sekarang), pasukan SIliwangi dan KKO (Marinir sekarang).

Indonesia menyerang dari dua arah, yaitu dari Kalimantan Barat yang menyerang Serawak dan dari Kalimantan Timur yang menyerang Sabah. Sementara KKO dipersiapkan untuk menyerang pulau Sebatik bagian utara yang dikuasai Persemakmuran. Banyak terjadi bentrokan antara RPKAD dan SAS, sehingga menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Akibat dari agresifnya serangan Indonesia kedaerah Serawak dan Sabah maka penduduk setempat jadi tidak bersimpati kepada Indonesia.

Melihat dari alutsista Indonesia saat itu yang memiliki perlengkapan AURI (TNI-AU sekarang) yang memiliki perlengkapan yang memadai, sudah dipastikan pasti Indonesia akan menang dalam konfrontasi tersebut. Juga ALRI (TNI-AL sekarang) memiliki beberapa kapal laut yang modern dan terbaru sehingga menebarkan ketakutan kepada Malaysia dan Persemakmuran. Tapi hal itu tidak terjadi juga dikarenakan Indonesia berkomitmen untuk tidak menggelar pasukan regulernya lebih besar. Dan juga tidak ada gerakan profokatif lagi dari Malaysia dan Persemakmuran.

Akhir dari konfrontasi ini adalah penarikan mundur Indonesia dari Serawak dan Sabah. Dikarenakan 1966 Indonesia mengalami G30S-PKI yang mengakibatkan Presiden Soekarno turun dari jabatannya dan diganti Jenderal Soeharto yang langsung menghentikan konfrontasi dan menyetujui perjanjian Bangkok. Indonesia & Malaysia mengalami kerugian yang besar dari harta dan jiwa. Jika terjadi perang yang lebih besar dan terbuka maka tidak akan terelakkan lagi kerugiaan yang lebih besar dikedua belah pihak.

Note :

1. Mapalindo (Malaysia-Pilifina-Indonesia) adalah jargon yang digembar-gemborkan Inggris sebagai penyudut Pemerintahan Soekarno. Inggris menuduh Soekarno ingin menciptakan sebuah Negara yang melingkupi Malaysia-Pilifina-Indonesia yang disingkat MAPALINDO. Sesuai dengan literature yang ada Soekarno tidak ada rencana untuk melakukan hal tersebut, hal itu hanya tuduhan tak berdasar dari Inggris. Malahan Soekarno memiliki komitmen tidak mengakui wilayah Timor Leste yang pada saat itu masih daerah jajahan Portugal. Soekarno hanya menginginkan persatuan Papua dan Borneo Utara dengan Indonesia.

2. TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara) Pasukan yang dikatakan berhaluan komunis dan melakukan pemberontakan didaerah kesultanan Brunei dan menginginkan kemerdekaan daerah Borneo Utara. TNKU dinyatakan dibantu oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan pemberontakan diwilayah Borneo Utara. Sehingga dalam buku-buku sejarah Malaysia sekarang ada sepenggalan cerita tentang pemberontakan komunis di Borneo Utara yang kebetulan bertepatan dengan konfrontasi Malaysia-Indonesia. Sehingga mereka menyatakan kalau Indonesia membantu pemberontakan komunis di Borneo Utara tersebut. Padahal ide perlawanan tersebut sudah berbeda dengan Indonesia yang hanya ingin mempersatukan Borneo Utara ke Indonesia. Sementara TNKU menginginkan kemerdekaan wilayah tersebut dengan haluan komunis.

Pendaratan Pasukan Inggris Di Brunei

Anggota KKO (Marinir) Ditangkap Gurkhas (Nepal)

Gurkhas Soldier (Pasukan Nepal yang Dilatih UK)

 

RPKAD (Kopassus) Yang Akan Diterjunkan Di Sabah

Dwikora hingga Ambalat

28 Agu

 

Sejarah selalu berulang. Begitu kata orang bijak. Hal itu pula yang kini muncul ke permukaan dalam hubungan negara serumpun, Indonesia dan Malaysia yang bertetangga. Suasana mesra dan friksi datang silih berganti.

Jika pada 1964 dikenal jargon politik konfrontasi menentang Nekolim (Neo Kolonialisme Imperialisme), kini Ambalat seolah menjadi ‘genderang politik’ 2005 untuk mempertahankan wilayah NKRI.

 

Konfrontasi berlanjut dengan digelarnya operasi Dwikora (Dwi Komando Rakyat) sebagai reaksi pengumuman pembentukan Malaysia di London dan Kuala Lumpur 29 Agustus 1964 dan adanya intervensi Inggris melalui sikap demontratif Dubes Mayor Roderick Walker saat menghadapi demontrasi massa di Jakarta.

Indonesia kian alergi dengan asing [Barat] ketika diketahui pasukan khusus Inggris, SAS, terlibat langsung dalam menghadapi RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) pimpinan L.B Moerdani dan KKO TNI AL pimpinan Mayor Sumari. Kedua komandan tempur Indonesia itu tengah mengkoordinasikan Tentara Nasional Kalimantan Utara dan sukarelawan asal Indonesia.

Dalam otobiografi L.B Moerdani, perang kucing-kucingan antara korps pasukan khusus terbaik di dunia di garis perbatasan Kalimantan Utara sepanjang 1.000 km itu terjadi secara tertutup.

Banyak pihak mengatakan kegagalan operasi Dwikora lebih karena keengganan Angkatan Darat mendukung penuh operasi yang dipimpin Laksda Omar Dhani dari Angkatan Udara.

Selain itu terjadi dualisme kepemimpinan antara Komando Siaga (KOGA) Laksda Omar Dhani dengan Operasi A (G-1 KOTI) E.Y Magenda dari Direktur Intelejen Staf Angkatan Bersenjata.

Padahal komponen Operasi A dari Komando Pasukan Katak (KOPASKA) dibawah koordinasi Roejito sudah siap menyusup melalui Tarakan, Nunukan, Tanah Merah, Sebuku dan Sebatik, maupun menyusupkan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara melalui Bangkok.

Harold Crouch, pakar politik militer Indonesia asal Australia, mencatat bahwa akibat dualisme itu akhirnya KOGA diubah menjadi Komando Mandala Siaga (KOLAGA) dengan mengangkat Soeharto dari unsur AD sebagai Wakil Panglima I KOLAGA yang sebetulnya lebih berkuasa dibandingkan Panglima Kolaga.

Faktor Soeharto dan Angkatan Darat yang mencium pengalihan kekuatan keluar pulau Jawa inilah yang akhirnya menjadikan Operasi Dwikora makin tidak jelas. Bahkan berhenti usai kegagalan G30S PKI 1965.

Tentu saja kondisi militer maupun geopolitik Indonesia saat ini sudah jauh berbeda. Namun jelas terlihat kondisi militer Indonesia memang masih jauh jika dikatakan sebuah kekuatan perang yang profesional.

Lain era Dwikora, lain pula kisruh Ambalat. Sejauh ini tidak terlihat campur Inggris seperti ketika pembentukan Malaysia. Tapi negara tetangga itu sepertinya ingin ‘bermain api’ dengan Indonesia tanpa-seperti di era 1960-an itu-dukungan Inggris.

Padahal Indonesia, sebagai negara serumpun, pernah memberi bantuan dalam memadamkan pemberontakan PGRS/PARAKU di perbatasan Kalimantan pada 1967 hingga mengirim guru bantu hingga periode 1970-an.

Entah kebetulan, entah tidak, yang jelas kondisi ekonomi Indonesia dalam menghadapi konflik dengan Malaysia itu (1964 dan 2005) sedang terengah-engah. Dalam kondisi demikian, emosi publik terasa mudah sekali meletup.

Bedanya, dulu, di era konfrontasi dengan Malaysia lewat jargon Ganyang Malaysia, kemarahan publik tercermin dalam rapat-rapat raksasa yang digalang pemerintah Soekarno.

 

 

27 Agustus 1964

Kabinet Dwikora I adalah nama kabinet pemerintahan di Indonesia dengan masa kerja dari 27 Agustus 196422 Februari 1966[1]. Presiden pada kabinet ini adalah Soekarno.

Perdana Menteri[sunting]

#

Jabatan

Nama

1

Presiden / Perdana Menteri / Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata / Mandataris MPRS / Pemimpin Besar Revolusi

Paduka Yang Mulia Soekarno

Presidium[sunting]

#

Jabatan

Nama

2

Wakil Perdana Menteri I

Dr. Subandrio

3

Wakil Perdana Menteri II

Dr. Johannes Leimena

4

Wakil Perdana Menteri III

Chaerul Saleh

Menteri Koordinator di bawah presiden melalui Presidium[sunting]

#

Jabatan

Nama

5

Menteri Koordinator Pelaksanaan Ekonomi Terpimpin

Adam Malik

6

Menteri/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Mayjen TNI Dr. Soemarno Sosroatmodjo

Menteri-Menteri diperbantukan pada Presidium[sunting]

#

Jabatan

Nama

7

Menteri Negara

Oei Tjoe Tat, SH

8

Menteri Negara

Njoto

9

Menteri Negara

Arifin Harahap, SH

10

Menteri Negara

Brigjen (Pol) Moedjoko Koesoemodirdjo

11

Menteri Negara

Brigjen (TNI) Drs. Achmad Sukendro

12

Menteri Negara

Kombes (Pol) Drs. Boegie Soepeno

13

Menteri Negara

Mayjen (TNI) Dr. Ibnu Sutowo

14

Menteri Negara

H. Aminuddin Azis

Menteri-Menteri berkedudukan sebagai Menko[sunting]

#

Jabatan

Nama

15

Menteri Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional

Dr. Suharto

16

Menteri/Ketua Pimpinan BPK

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Menteri Kompartimen[sunting]

Kompartimen Luar Negeri, Hubungan Ekonomi dan Perdagangan luar negeri[sunting]

#

Jabatan

Nama

17

Menteri Koordinator

Dr. Subandrio

 

Menteri Luar Negeri & Hubungan Ekonomi Luar Negeri

Dr. Subandrio

Kompartimen Hukum & Dalam Negeri[sunting]

#

Jabatan

Nama

18

Menteri Koordinator

Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H.

19

Menteri Dalam Negeri

Mayjen TNI Dr. Soemarno Sosroatmodjo

20

Menteri Kehakiman

Astrawinata S.H.

21

Menteri/Ketua Mahkamah Agung

Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H.

22

Menteri/Jaksa Agung

Brigjen TNI A. Sutardhio

Kompartimen Pertahanan Keamanan[sunting]

#

Jabatan

Nama

23

Menteri Koordinator/Kepala Staf ABRI

Jenderal TNI Abdul Haris Nasution

24

Menteri/Panglima Angkatan Darat

Letjen TNI Achmad Yani

25

Menteri/Panglima Angkatan Laut

Laksdya (Laut) R.E. Martadinata

26

Menteri/Panglima Angkatan Udara

Laksdya (Udara) Udara Omar Dani

27

Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian

Irjen (Pol) Sutjipto Judodihardjo

Kompartimen Keuangan[sunting]

#

Jabatan

Nama

28

Menteri Koordinator

Sumarno S.H.

29

Menteri Urusan Bank Sentral

Jusuf Muda Dalam

30

Menteri Urusan Anggaran Negara

Drs. Surjadi

31

Menteri Iuran Negara

Brigjen (Pol) Drs. Hoegeng Imam Santoso

32

Menteri Urusan Perasuransian

Sutjipto S. Amidharmo

Kompartimen Pembangunan[sunting]

#

Jabatan

Nama

33

Menteri Koordinator

Dr. Chaerul Saleh

34

Menteri Urusan Penertiban Bank & Modal Swasta

J.D. Massie

35

Menteri Perburuhan

Soetomo Martopradoto

36

Menteri Urusan Research Nasional

Prof. Dr. Sudjono Djuned Pusponegoro

37

Menteri Urusan Minyak & Gas Bumi

Dr. Chaerul Saleh

38

Menteri Pertambangan

Armunanto

39

Menteri Perindustrian Dasar

Hadi Thayeb

40

Menteri Urusan Veteran & Demobilisasi

Mayjen TNI Sarbini

Kompartimen Pertanian & Agraria[sunting]

#

Jabatan

Nama

41

Menteri Koordinator

Sadjarwo S.H.

42

Menteri Pertanian

Sadjarwo S.H.

43

Menteri Perkebunan

Drs. Frans Seda

44

Menteri Kehutanan

Soedjarwo

45

Menteri Agraria

R. Hermanses S.H.

46

Menteri Pembangunan Masyarakat Desa

Ipik Gandamana

47

Menteri Pengairan Rakjat

Ir. Surachman

Kompartimen Pekerjaan Umum & Tenaga[sunting]

#

Jabatan

Nama

48

Menteri Koordinator

Mayjen TNI Suprayogi

49

Menteri Listrik & Ketenagaan

Ir. Setiadi Reksoprodjo

50

Menteri Pengairan Dasar

Ir. P.C. Harjasudirdja

51

Menteri Binamarga

Brigjen TNI Hartawan Wirjodiprodjo

52

Menteri Ciptakarya & Konstruksi

David Gee Cheng

53

Menteri Jalan Raya Sumatera

Ir. Bratanata

54

Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum & Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi

Ir. Sutami

Kompartimen Perindustrian Rakjat[sunting]

#

Jabatan

Nama

55

Menteri Koordinator

Mayjen TNI Dr. Azis Saleh

56

Menteri Perindustrian Dasar

Hadi Thayeb

57

Menteri Perindustrian Ringan

Brigjen TNI Muhammad Jusuf

58

Menteri Perindustrian Tekstil

Brigjen TNI Ashari Danudirdjo

59

Menteri Perindustrian Kerajinan

Mayjen TNI Dr. Azis Saleh

60

Menteri diperbantukan pada Menteri Koordinator Kompartimen
Perindustrian Rakyat untuk “Berdikari”

T.D. Pardede

Kompartimen Distribusi[sunting]

#

Jabatan

Nama

61

Menteri Koordinator

Dr. J. Leimena

62

Menteri Perdagangan Dalam Negeri

Brigjen TNI Achmad Jusuf

63

Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata

Letjen TNI Hidayat

64

Menteri Perhubungan Udara

Partono

65

Menteri Transmigrasi & Koperasi

Drs. Achadi

Kompartimen Maritim[sunting]

#

Jabatan

Nama

66

Menteri Koordinator

Mayjen (KKO) Ali Sadikin

67

Menteri Perhubungan Laut

Mayjen (KKO) Ali Sadikin

68

Menteri Perikanan & Pengolahan Laut

Laksda (Laut) Hamzah Atmohandojo

69

Menteri Perindustrian Maritim

Mardanus

Kompartimen Kesejahteraan[sunting]

#

Jabatan

Nama

70

Menteri Koordinator

H. Muljadi Djojomartono

71

Menteri Sosial

Ny. Rusiah Sardjono S.H.

72

Menteri Kesehatan

Mayjen TNI Prof. Dr. Satrio

Kompartimen Urusan Agama[sunting]

#

Jabatan

Nama

73

Menteri Koordinator

Prof. K.H. Saifuddin Zuchri

74

Menteri Agama

Prof. K.H. Saiffudin Zuchri

75

Menteri Urusan Haji

Prof. K.H. Farid Ma’ruf

76

Menteri Urusan Hubungan Pemerintah dengan Alim Ulama

K.H. Moh Iljas

77

Menteri Negara diperbantukan pada Menteri
Koordinator Kompartimen Agama

K.H. Fattah Jasin

Kompartimen Pendidikan/Kebudayaan[sunting]

#

Jabatan

Nama

78

Menteri Koordinator

Prof. Dr. Prijono

79

Menteri Pendidkan Dasar & Kebudayaan

Ny Artati Marzuki-Sudirdjo

80

Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pengetahuan

Brigjen TNI Dr. Syarif Thayeb

81

Menteri Olah Raga

Maladi

Kompartimen Perhubungan Dengan Rakyat[sunting]

#

Jabatan

Nama

82

Menteri Koordinator

Dr. Roeslan Abdulgani

83

Menteri Penerangan

Mayjen TNI Achmadi

84

Menteri Penghubung MPR/DPR/DPA/Front Nasional

Ds. W.J. Rumambi

85

Menteri/Sekjen Front Nasional

Sudibyo

Menteri Negara[sunting]

Menteri Negara Penasehat Presiden[sunting]

#

Jabatan

Nama

86

Menteri Penasehat Presiden Urusan Funds & Forces

Notohamiprodjo

87

Menteri Negara diperbantukan pada Presiden

Prof. Iwa Kusuma Sumantri S.H.

88

Menteri Penasehat Militer Presiden

Laks. (Udara) Suryadi Suryadarma

89

Menteri Penasehat Presiden Urusan Keamanan Dalam Negeri

Jend.(Pol)Sukarno Djojonegoro

90

Menteri Penasehat Presiden untuk Urusan Kepolisian

Komjen (Pol) Sunarto

91

Menteri Negara diperbantukan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata

Laksda (Udara) H. Sri Mulyono Herlambang

Menteri Langsung Dibawah Presiden[sunting]

#

Jabatan

Nama

92

Menteri/Ketua Lembaga Pertahanan Nasional

Mayjen TNI Wilujo Puspojudo

Pejabat Negara[sunting]

Pejabat berkedudukan sebagai Menteri Koordinator[sunting]

#

Jabatan

Nama

93

Ketua MPRS

Chaerul Saleh

94

Ketua DPR Gotong Royong

Arudji Kartawinata

95

Wakil Ketua MPRS

Ali Sastroamidjojo

96

Wakil Ketua MPRS

Dr. K.H. Idham Chalid

97

Wakil Ketua MPRS

D.N. Aidit

98

Wakil Ketua MPRS

Mayjen TNI Wilujo Puspojudo

Pejabat berkedudukan sebagai Menteri[sunting]

#

Jabatan

Nama

99

Sekretaris Negara

Moh. Ichsan S.H.

100

Sekretaris Presidium Kabinet

Abdul Wahab Surjoadiningrat S.H.

101

Wakil Ketua II DPA

Prof. Sujono Hadinoto S.H.

102

Wakil Ketua DPR-GR

I.G.G. Subamia

103

Wakil Ketua DPR-GR

M.H. Lukman

104

Wakil Ketua DPR-GR

Laksda (Laut) Mursalin Daeng Mamangung

105

Wakil Ketua DPR-GR

H. A. Syaichu

106

Pemeriksa Keuangan Agung Muda/Anggota Pimpinan BPK

Sukardan S.H.

107

Pemeriksa Keuangan Agung Muda/Anggota Pimpinan BPK

Drs. Radius Prawiro

108

Pemeriksa Keuangan Agung Muda/Anggota Pimpinan BPK

Mochtar Usman S.H.

109

Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional

Prof. Dr. G.A. Siwabessy

Referensi[sunting]

  1. 1.       ^ http://www.tempointeraktif.com/harian/fokus/39/2,1,131,id.html

 

 

20 Mei 1964

Pada tanggal 20 Mei 1964 di syahkan pembentukan Brigade Sukarelawan tempur Dwikora yang dipimpin oleh Komando Sabirin Mukhtar. Pada tingkat pusat dibentuk Komando operasi tertinggi (KOTI), sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian barat dibentuk Komando siaga.

Dengan meningkatnya operasi militer Komando siaga disempurnakan menjadi Komando Mandala siaga (Kolaga)yang membawahi Komando Mandala I dan II. Pasukannya terdiri dari beberapa kesatuan yang terdapat di ABRI. Diantaranya adalah brigif‑ 5 Kodam VII / Diponegoro.

Brigif ‑ 5 dipimpin oleh Kolonel Sujono dengan kekuatan 3.050 orang bertugas di Kalimantan Barat dalam rangka operasi di perbatasan.

.

20 Juni 1964

Pada tanggal 20 Juni 1964 berlangsung Konferensi tingkat tinggi tiga negara di Tokyo. Presiden Philipina Macapagal dalam KTT mengusulkan supaya dibentuk komisi perdamaian Asia Afrika dengan anggota empat negara. Presiden Sukarno menyetujui usul tersebut, kemudian ketiga kepala pemerintah mengintruksikan kepada Menteri Luar Negeri  masing ‑ masing untuk mempelajari usul ‑ usul tersebut. Namun akhirnya Konferensi tingkat tinggi Tokyo itu tidak menghasilkan perdamaian.

 

 

 

 

Terganyang di Malaysia

24-01-2013 19:19

untuk sang marinir telah usai berjam – jam lalu. Dia tengah mengayuh sampan nelayan menembus garis belakang pertahanan Malaysia di Tawao. Sampan itu dipenuhi kepiting untuk dijual. Siapa kira timbunan kepiting itu hanya kedok untuk menutupi senjata. Setelah tiga hari mengayuh dan berhasil melewati patroli kapal perang Inggris, sampan itu mendarat di pantai yang sepi di sebelah utara Tawao, Sabah. Target pertama si marinir: menemui seorang haji yang akan menjadi penghubung.

 

2 Septembe4 1964

 

Trtagis Hercules T-1307

Pada saat melaksanakan operasi Antasari tanggal 2 September 1964, tiga pesawat angkut C-130 Hercules membawa satu kompi pasukan PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Suroso.

Dalam pesawat Hercules dengan nomor ekor T-1307 yang diterbangkan Pilot Mayor Pnb Djalaluddin Tantu, ikut serta seorang perwira menengah pimpinan PGT Letkol Udara Sugiri Sukani, yang ikut sekalian untuk memberi semangat kepada pasukannya.

Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantu berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan  di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules.

Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta

 

Desember 1964

Sial! Haji itu ditangkap tentara Malaysia beberapa hari sebelumnya. Di penanggalan, tercatat waktu: Desember 1964.

Kenangan 42 tahun silam itu kembali berputar di kepala Pembantu Letnan Satu (Purnawirawan) Manaor Nababan, 64 tahun, ketika menuturkan nostalgia itu kepada Tempo, pekan lalu. Ia beruntung pulang dengan utuh seusai konfrontasi Ganyang Malaysia. Tapi teman-temannya? Jangankan nyawa, kerangka pun tidak. “Saya berat bicara soal ini,” ujarnya sembari terisak.

Manaor adalah anggota intelijen tempur Korps Komando (KKO) Angkatan Laut. Ia salah satu dari 30 marinir yang mendapat latihan intelijen di Pulau Mandul, selatan Tarakan, Kalimantan Timur. Mereka disaring dari sekitar 3.000 marinir yang bersiaga di perbatasan-menunggu titah untuk mengganyang Malaysia.

Tugas pun datang kepadanya pada akhir 1964. Pria dari Dolok Sanggul, Tapanuli, ini diperintahkan untuk memetakan posisi dan menghitung kekuatan lawan di sekitar Tawao. Seorang anggota KKO lain dan satu sukarelawan menemani Manaor. Mereka juga bertugas mencari tempat pendaratan terbaik-di wilayah yang berstatus protektorat Inggris kala itu.

Misi ini sejatinya “one way ticket” alias tak ada jaminan pulang dengan selamat. Maka, “Malam sebelum berangkat, saya dipestakan. Kami makan – makan dan diberi semangat,” kata bapak enam anak ini. “Barangkali juga itu perpisahan”.

Manaor dan kedua rekannya berhasil menyusup ke Tawao. Namun karena penghubungnya tertangkap, mereka masuk hutan. Dua bulan di belantara, Hendrik sukarelawan TNI bekas bajak laut tertangkap saat berbelanja makanan. Mereka tak berkutik ketika dikepung tentara Inggris dan Malaysia.

Sebelum Manaor, sekitar empat kompi marinir berhasil menyusup hingga ke Kalabakan, sekitar 50 kilometer di belakang perbatasan Sabah. Pasukan kecil itu dipimpin dua anggota KKO paling disegani, Kopral Rebani dan Kopral Subronto. Keduanya adalah anggota Ipam (Intai Para Ampibi, sekarang disebut Detasemen Jalamangkara) dan sudah kenyang asam – bergaram dalam aneka operasi tempur.

Pada 29 Desember 1963, unit kecil itu berhasil melumpuhkan pos pertahanan tentara Malaysia di Kalabakan. Dalam sejarah militer Malaysia, kejadian ini dikenang sebagai Peristiwa Kalabakan. Dari 41 anggota Rejimen Askar Melayu Diraja yang bersiaga di pos , 8 tewas dan 18 lainnya luka-luka. Salah satu yang mati adalah Mayor Zainal Abidin, komandan kompi. Tapi ajal juga menghadang Rebani dan Subronto di saat pulang.

Januari 1964. Di perairan Tawao, kapal patroli Inggris memergoki rakit mereka. Haram untuk menyerah kepada Inggris. Di bawah bulan yang sedang purnama, perang pecah: rakit versus kapal, senapan melawan meriam. Rebani, Subronto, dan 22 anggota KKO gugur. Tiga tentara berhasil meloloskan diri, yakni Kelasi Satu Rusli, Suwadi, dan Bakar, dicokok pasukan Gurkha di pantai.

Saat ditangkap, mereka sedang mengumpulkan mayat rekan-rekannya yang dapat diseret ke darat. Para Gurkha tak memberi mereka kesempatan untuk menguburkannya. Jenazah dibiarkan tergeletak di pantai!

Adalah Rusli yang menyampaikan cerita itu kepada Manaor. Ia bertemu Rusli sekilas saat keduanya diterbangkan dari kamp tawanan Jesselton (Kinibalu) ke Johor Bahru, Semenanjung Malaysia, awal 1966.

Di Semenanjung, keduanya ditahan di tempat terpisah. Rusli dan 21 tentara yang dijatuhi hukuman 11 – 13 tahun dibui di Negeri Sembilan. Manaor dikerangkeng di Detention Camp Johor. Sekitar 502 prajurit Indonesia dari berbagai angkatan dikurung di sini untuk digantung karena menjadi penceroboh (pengacau-Red).

Konfrontasi Indonesia – Malaysia yang dikenal sebagai Dwi Komando Rakyat (Dwikora) resmi diumumkan oleh Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 3 Mei 1964. Muasalnya adalah upaya Inggris menggabungkan koloninya di Kalimantan (Sabah, Serawak, dan Brunei) dengan Semenanjung Malaya pada 1961. Soekarno, yang menganggap Malaysia sebagai boneka Inggris, memerintahkan tentara untuk menggagalkannya. Caranya, dengan membantu perjuangan rakyat setempat.

Waktu itu sekitar seribu tentara dan sukarelawan menyusup ke Malaysia. Jumlah ini tak sebanding dengan gembar – gembor pemerintah, yang mengatakan ada 22 juta sukarelawan Front Nasional Ganyang Malaysia dan sekitar 8.000 anggota TNI bersiap di perbatasan. Saat dilakukan normalisasi hubungan Indonesia – Malaysia pada Juni 1966, beberapa ratus pejuang tinggal nama. Mereka tak pernah kembali, seperti kisah Rebani – Subronto.

Manaor dan alumni Dwikora yang berhasil kembali hidup-hidup rupanya punya cita-cita memulangkan kerangka kawan mereka ke Tanah Air. Sayang, upaya yang telah dilakukan berpuluh – puluh tahun itu belum membuahkan hasil. Belakangan, hasrat untuk membawa pulang kerangka – kerangka itu makin menjadi. “Kami tak mungkin menunda lagi karena sudah tua,” kata Kolonel Marinir (Purn.) W. Siswanto, 68 tahun, Ketua Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora.

Kini usia rata – rata pelaku pertempuran itu di atas 60 tahun sudah di tubir makam. Jika mereka meninggal, ingatan akan pertempuran yang mereka alami akan ikut mati. “Ini menyulitkan identifikasi saat pemulangan kerangka dilakukan,” ujar mantan Komandan Tim Brahma I Marinir di sektor barat (Semenanjung Melayu) itu.

Maksudnya, kesaksian para alumni Dwikora dibutuhkan untuk mengidentifikasi kerangka rekan – rekan mereka. Sebab, prajurit Indonesia yang turut dalam operasi infiltrasi itu menggunakan nama – nama samaran Melayu, tidak ada identitas Indonesia yang dibawa. Pangkat, seragam, dan atribut yang dipakai umumnya milik Tentara Nasional Malaya.

Identifikasi kerangka jenazah bakal mudah jika pemulangan dilakukan lebih cepat. Tapi, itu muskil. Bukan karena mereka terlupakan oleh teman-teman seperjuangannya, “Namun karena situasi politik belum memungkinkan,” kata Siswanto.

Berbeda dengan rekan-rekannya dari Resimen Pelopor (sekarang Brigade Mobil) dan Angkatan Darat, nasib korban Dwikora dari KKO dan Pasukan Gerak Cepat (PGT, sekarang Pasukan Khas TNI Angkatan Udara) terlunta – lunta. Penyebabnya : kedua kesatuan dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Tahun 1990-an, ketika sebagian pelaku konfrontasi sudah berpangkat dan menjadi pejabat teras kemiliteran, usaha mulai digulirkan. Saat itu salah seorang tokoh eks Dwikora, Mayor Jenderal Marinir (Purn.) Mohamad Anwar (almarhum), mengirimkan surat permintaan kepada Menko Polkam Laksamana (Purn.) Sudomo. Permintaan tersebut ditanggapi positif dengan pembentukan Tim Penelitian dan Inventarisasi Pemindahan Makam Pejuang Dwikora oleh Menteri Sosial Haryati Subadio.

Pemimpin tim itu adalah Mayor Jenderal (Purn.) Rudjito (almarhum). Hasil kerjanya segera terlihat. Ditemukan 168 prajurit dan sukarelawan yang gugur di Malaysia. Pada masa Menteri Sosial Inten Soeweno dua tahun kemudian, tim tetap dipertahankan dengan beberapa pembaharuan.

Tiba-tiba, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Mayor Jenderal Sudibyo memerintahkan penghentian inventarisasi pada 6 Januari 1996. Alasannya: upaya itu dikhawatirkan bakal merusak hubungan Indonesia – Malaysia.

Reformasi membawa angin segar. Ratusan pensiunan prajurit rendah, ditambah beberapa perwira menengah yang purnatugas, menghimpun diri dalam Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora tahun 1999. Mereka menghidupkan kembali cita-cita memulangkan kerangka rekan – rekannya. Ketua Ikatan Eks Tawanan Pejuang Dwikora saat itu, Kolonel Mar (Purn.) Kadar Mulyono (almarhum) mengirim surat kepada Presiden Megawati pada Januari 2003. Surat itu hingga kini tak berbalas.

Lelah menunggu, dua tahun kemudian para pejuang “mengadu” ke DPR. Ketua DPR Agung Laksono menyatakan mendukung rencana pemulangan kerangka prajurit eks Dwikora di Malaysia. Pada saat bersamaan, muncul tanggapan positif dari Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. “Pak Menteri berjanji akan melakukan koordinasi dengan pejabat terkait dan presiden,” kata Siswanto. Lagi – lagi, janji tinggal janji.

Departemen Sosial belum melakukan langkah apa pun seperti dijanjikan menterinya. “Dulu memang pernah dibentuk tim, tapi sekarang belum ada koordinasi,” kata Toto Utomo, Direktur Kepahlawanan Departemen Sosial. Toto menunjuk Departemen Pertahanan atau Markas Besar TNI yang berwenang mengurusi soal tersebut. Apa kata Mabes TNI?

“Saya belum bisa berkomentar, karena baru dengar,” kata Laksamana Muda Sunarto Sjoekronoputra kepada Tempo, pekan lalu.

Kompleks makam di Kampung Kalabakan Lama, Sabah, tampak cukup terawat, kecuali di beberapa gundukan tanah mirip kuburan. Konon itulah makam Rabeni, Subronto, dan beberapa anak buahnya. Tanpa nisan, tanpa nama.

Adalah sesepuh Tawao, Dato Mamun, yang mengidentifikasi makam itu kepada Tempo. “Saya tahu dari mandor hutan yang ada di sana,” ujar mantan warga negara Indonesia yang kini telah dinobatkan sebagai Sultan Bulungan di Kalimantan Timur itu.

Tentara Indonesia yang gugur di Sebatik lebih beruntung. Jenazahnya dibawa ke Tawao dan dikuburkan di pemakaman Melayu, Masjid Wilis. “Kuburnya ada nisan, tapi tanpa nama,” ujar Dato Mamun. Polisi setempat sempat memotret jenazah mereka sebelum dikubur, lalu didokumentasikan.

Maka, harapan untuk menginventarisasi dan memulangkan kerangka pahlawan Dwikora sungguh bergantung pada Malaysia. Sayang, pemerintah negeri jiran itu belum bersedia memberikan tanggapan. Sebabnya, “Kami baru dengar kabar ini,” kata Hamidah binti Azhari, juru bicara Kedutaan Malaysia di Jakarta.

(Arif A. Kuswardono, Eduardus Karel Dewanto)

Statistik Dwikora

24-01-2013 19:40

credit for garudamiliter

Front Terpanjang
Medan perang itu berserak : di laut, di hutan, di sungai, membentang 2.000 kilometer dari Nunukan di Kalimantan Timur hingga Semenanjung Malaya.
Front Malaka Medan tempur dengan jumlah korban terbanyak bagi Indonesia.

Kekuatan : 1 brigade (sekitar 3.500 personel)
Gugur : 78 personel (2 dimakamkan di Kalibata, 18 tidak jelas makamnya)
Hilang (MIA) :70 personel
Ditawan : 217 personel (ditahan di penjara Johor Bahru, Malaysia)

Sektor Labis dan Pontian ( Johor )
Gugur : 6 personel PGT
Ditawan : 123 personel PGT
Makam : 6 personel PGT

Sektor Kuala Kelang ( Selangor )
Gugur : Tidak diketahui
Ditawan : 19 personel AD

Sektor Kota Tinggi ( Johor )
Gugur : 25 personel Pelopor/Brimob Polri
Ditawan : 55 personel Pelopor/Brimob Polri
Makam : 25 personel Pelopor/Brimob Polri

Sektor Johor Bahru ( Johor )
Gugur : 27 personel PGT
Makam : 27 personel PGT

Sektor Singapura
Gugur: 20 personel KKO
Ditawan: 19 personel KKO, 1 personel Pasukan Katak

 

 

 

Front Kalimantan Timur
Pertempuran paling sengit di front Kalimantan terjadi pada 28 Juni 1965, ketika Korps Komando (KKO) Angkatan Laut memasuki perbatasan Malaysia dari timur Pulau Sebatik.
Kekuatan : 3.500 personel (1 brigade)
Gugur : 15 personel (11 personel tak diketahui makamnya)
Hilang : 6 personel
Ditawan : 14personel (di kamp tahanan Tawao dan Kepayan)

Kekuatan Musuh (Inggris/Malaysia/Australia/Selandia Baru)
Brigade Barat dengan panjang wilayah sekitar 1.000km dengan kekuatan :
– 5 Batalyon 5000 personel ( 1 Inggris, 3 Gurkha, 1 Malaysia )
– Helikopter : 25 buah

Brigade Tengah panjang wilayah sekitar 500km dengan kekuatan :
– 2 Batalyon Gurkha
– Helikopter : 12 buah

Brigade Timur panjang wilayah sekitar 150km dengan kekuatan :
– 1 Batalyon Australia/Selandia Baru (1000 personel)
– 1 Skuadron Komando SAS
– 1 Satuan Tugas Kapal Perang ( Inggris/Australia/Selandia Baru)
– 10 Helikopter

Cat :
Dalam Operasi Dwikora, pasukan2 kita tidak berhadapan langsung dengan tentara Malaysia, melainkan berhadapan dengan tentara Inggris, komando SAS, Brigade Gurkha

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1966(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1966

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

7 Januari 1966

 

 

Pada 28 September 1950, Indonesia tercatat sebagai anggota PBB dengan nomor urut 60. Banyak sekali manfaat yang diperoleh ketika Indonesia menjadi anggota PBB, baik semasa perang kemerdekaan, penyeleseian sengketa Irian Barat maupun bantuan dari lembaga-lembaga khusus PBB seperti UNESCO, WHO, IMF, IBRD dan sebagainya.  

 

 

Namun hubungan yang harmonis itu terganggu ketika Indonesia pada 7 Januari 1965 keluar dari PBB. Akibatnya Indonesia terkucil dari pergaulan internasional, kenyamanan dan kebersamaan hidup dengan bangsa lain tidak dirasakan lagi, yang lebih parah pembangunan negara menjadi terhambat imbasnya muncul kesengsaraan rakyat.

 

.

 

10 januari 1966

Peristiwa G 30 S membawa bencana pada pemerintahan Orde Lama, sebab ketidak tegasan pemerintah terhadap para pemberontak membawa dampak negatif pada pemerintah. Ketidak puasan rakyat makin meningkat karena ekonomi makin terpuruk, keamanan rakyat juga tidak terjamin.

 

Akibatnya dengan dipelopori oleh mahasiswa terjadi berbagai demonstrasi. Untuk lebih mengkoordinasi demonstrasinya para mahasiswa membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), sedangkan para pelajar membentuk KAPPI (Kersatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ).

 

Pada 10 Januari 1966 KAMI dan KAPPI menggelar demonstrasi di depan gedung DPR-GR, dengan tuntutan (TRITURA) :

1.Bubarkan PKI dan ormas-ormasnya.

2. Bersihkan kabinet Dwi Kora dari unsur-unsur PKI.

3. Turunkan harga barang.

 

Ternyata pemerintah tidak menuruti tuntutan para demonstran, sebab pemerintah tidak membubarkan kabinet tetapi hanya mereshufle Kabinet Dwi Kora menjadi Kabinet Dwi Kora Yang Disempurnakan atau yang lebih dikenal sebagai kabinet seratus menteri.

 

 Pembentukan kabinet ini membuat rakyat semakin tidak puas sebab masih banyak tokoh yang diduga terlibat peristiwa G 30 S masih dilibatkan dalam kabinet seratus menteri.Untuk menggagalkan pelantikan kabinet,

 

pada 24 Februari 1966

 

para mahasiswa memblokir jalan yang akan dilalui para menteri. Karena tindakan mahasiswa itu terjadi bentrokan dengan fihak keamanan, akibatnya seorang mahasiswa yang bernama ARIEF RAHMAN HAKIM gugur terkena tembakan pasukan keamanan. Sehari setelah insiden itu,

 

 pada 25 Februari 1966

 

KAMI dibubarkan.

 

 

 

 

8 – 9 Maret 1966

 

 

Pembubaran KAMI tidak menyurutkan tekat para mahasiswa, bahkan mahasiswa membentuk LASKAR ARIEF RAHMAN HAKIM yang bersama dengan kesatuan aksi lainnya pada 8 – 9 Maret 1966 menggelar aksi besar-besaran di depan kantor Waperdam I / MENLU, Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan dan Kedutaan Besar CINA, sebab ketiga tempat itu dianggap sebagai sumber dukungan yang utama terhadap PKI.

 

10 maret 1966

 

Untuk mengatasi krisis politik yang tak kunjung reda, pada 10 Maret 1966 Presiden Soekarno mengadakan pertemuan dengan para utusan partai politik. Dalam pertemuan itu presiden meminta agar partai politik turut mengecam tindakan para demonstran, tetapi ditolak oleh para utusan partai yang tergabung dalam FRONT PANCASILA, sebab partai politik yang tergabung dalam front itu juga menuntut pembubaran PKI.

Dalam menyikapi keadaan negara yang semakin gawat,

 

11 Maret 1966

 

 

pada 11 Maret 1966 di Istana Negara diadakan sidang Pleno Kabinet Dwi Kora Yang Disempurnakan. Para menteri yang akan menghadiri sidang ini mengalami kesulitan karena mereka dihadang oleh para demonstran. Untuk menjaga keamanan sidang maka prajurit RPKAD ditugaskan menjaga istana negara secara     kamuflase, tetapi oleh Ajudan Presiden yaitu Brigjend Sabur pasukan itu dianggap akan menyerbu istana negara.

 

Akibatnya bersama dengan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I Soebandrio dan Waperdam III Chairul Saleh, presiden mengungsi ke Istana Bogor. Setelah pimpinan sidang diserahkan kepada Waperdam II  Dr. J. Leimena.

 

Karena situasi negara yang semakin gawat dan kewibawaan  pemerintah yang semakin merosot, dan didorong oleh rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memulihkan situasi negara maka tiga perwira tinggi Angkatan Darat, yaitu Mayjend Basuki Rahmat, Brigjen  M.Yusuf,  dan Brigjen Amir Mahmud berinisiatif menemui presiden di Istana Bogor setelah sebelumnya meminta ijin kepada Letjen Soeharto.

 

Pertemuan itu menghasilkan suatu konsep surat perintah kepada MEN / PANGAD  LETJEN SOEHARTO, untuk atas nama presiden mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam rangka memulihkan keamanan dan kewibawaan pemerintah. Surat itulah yang pada akhirnya dikenal sebagai SUPER SEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret).

 

 

 

Berdasar surat perintah itu, Letjen Soeharto  mengambil beberapa langkah, yaitu:

1.  Terhitung mulai tanggal 12 Maret 1966, PKI dan ormas-ormasnya dibubarkan dan di

nyatakan sebagi partai terlarang. Dan diperkuat dengan Ketetapan MPRS  No IX / MPRS / 1966 yang intinya melarang penyebaran ajaran komunis dan  sejenisnya di Indonesia.

2.   Mengamankan 15 orang menteri Kabinet Dwi Kora Yang Disempurnakan yang                                            diduga  terlibat dalam peristiwa G 30 S / PKI.

3. Membersihkan MPRS   dan lembaga negara   yang lain dari   unsur-unsur                         G 30 S / PKI   dan   menempatkan peranan lembaga-lembaga itu sesuai dengan UUD 1945

 

Dengan mengacu pada Ketetapan MPRS  No. XIII /MPRS/1966, Presiden Soekarno membubarkan Kabinet Dwikora yang Disempurnakan dan kemudian menyerahkan wewenang kepada Letjen Soeharto untuk membentuk kabinet AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat). Tugas pokok kabinet Ampera tertuang dalam Dwidarma Kabinet Ampera, yang intinya mewujudkan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Ternyata Kabinet Ampera belumdapat menjalankan fungsinya dengan baik karena terganjal persoalan “DUALISME KEPEMIMPINAN NASIONAL”, yaitu Presiden Soekarno selaku pemimpin negara / pemerintahan dan Letjen Soeharto selaku pelaksana pemerintahan.

Konflik itu berakhir setelah timbul tekanan dan desakan agar presiden Soekarno segera mengundurkan diri dari jabatannya. Oleh karena itu MPRS mengeluarkan Ketetapan No. XXXIII/MPRS/ 1967 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno dan mengangkat Jendral Soeharto sebagai Pejabat Presiden hingga dipilihnya Presiden oleh MPR hasil pemilu. Akhirnya pada sidang umum MPRS V tanggal 21 – 30 Maret 1967 Jendral Soeharto diangkat sebagai Presiden RI untuk masa jabatan 1968 – 1973.

 

 Pada 3 Juni 1966,

panitia musyawarah DPR-GR membahas usulan Komisi C tersebut. Akhirnya disepakati Indonesia harus kembali menjadi anggota PBB dan badan organisasi yang bernaung dibawahnya dalam rangka menjawab kepentingan nasional yang semakin mendesak

Akhirnya pada 28 Desember 1966, Indonesia kembali menjadi anggota PBB. Tindakan itu mendapat sambutan baik dari anggota PBB yang lain, dengan bukti terpilihnya ADAM MALIK sebagai Ketua Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974.

 

B.     Menghentikan Konfrontasi Dengan Malaysia.

Konfrontasi dengan Malaysia, dianggap sebagi tindakan yang kuarang sesuai dengan politik luar negri yang Bebas dan Aktif, tindakan ini sangat merugikan kedua belah fihak sebab hubungan sebagai negara tetangga terputus.

Upaya m   erintis normalisasi hubungandimulai dengan diselenggarakannya perundingan

 

Bangkok pada 29 Mei – 1 Juni 1966

 

. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negri Adam Malik, delegasi Malaysia dipimpin oleh Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Pertemuan ini menghasilkan tiga hal pokok, yaitu :

1.      Rakyat Sabah dan Serawak, diberi kesempatan menegaskan kembali keputusan yang   telah mereka ambil mengenai kedudukannya dalam Federasi Malaysia.

2.      Indonesia – Malaysia menyetujui pemulihan hubungan diplomatik.

3.      Tindakan-tindakan permusuhan harus dihentikan.

Peresmian normalisasi hubungan diplomatik Indonesia – Malaysia di tandatangani di Jakarta, pada 11 Agustus 1966 dengan ditandatanganinya perundingan Bangkok oleh

Menlu Adam Malik dan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menlu RI Adam Malik dan Menlu Malaysia Tun abdul Razaq menandatangani normalisasi hubungan RI-Malaysia

Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka

 

11 Maret 1966

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

SEPTEMBER 30

1965

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Supersemar

March 11, 1966, was a turning point in Indonesia’s history. It was the day the late president Sukarno issued an order, later known as Supersemar (Surat Perintah 11 Maret, or the March 11 Order) to Soeharto, then a major general.
The primary significance of the Supersemar is that it was used by Soeharto as the basis of the establishment of what he called “The New Order” to replace the “Old Order”, which referred to the era of “Guided Democracy” under Sukarno.

The rationale for the change, as Soeharto stated in his first “State of the Union Address” as acting president in 1967, was that Sukarno’s Old Order had been a deviation and betrayal of the 1945 Constitution, particularly the ideology of Pancasila (five principles) embodied in its Preamble, and Soeharto’s New Order was meant to be a “total correction” of that deviation, for his New Order would be based on a “pure and consistent” implementation of Pancasila, whatever that meant.

 

 

Historicel Supersemar document dated 11 March 1966
A mandate to Suharto in which Sukarno instructs
Lt General Suharto to, on his behalf, take any action considered
necessary to restore security, order and stability to the country.

This mandate is generally considered the start of
the transfer of power from Sukarno to Suharto.

Authenticity of this widely publicized document is being disputed
and is surrounded by mystery. The original is not available.
Therefore there are doubts as regards the exact wording of the document.

The original document, said to be typed on different letterhead, reportedly
included the stipulation that after restoring the situation Suharto should report
back and return the mandate to President Sukarno. This never happened
and Suharto used the publicized document to take over full power by converting it into a Parliamentary decree eventually leading to his appointment as President.
If the document proves to be false there could be serious historical implications.
Suharto’s take-over as president could then be considered unconstitutional.

 


The 3 generals, Basuki Rachmat, Amir Machmud and M. Jusuf ,
who handled the Supersemar document are no longer alive.
(Picture from the book cover “Supersemar palsu” – see below)

 

Several questionable points in the widely circulating “Supersemar” document:

The document shows 2 logos: The Garuda logo on the left and the rice and cotton logo
in the centre.
A Presidential Decree usually only shows the rice/cotton logo.
The Garuda Pancasila logo is only used by government departments.

The spelling also raises questions:
The new spelling was introduced in 1972. This document purportedly generated in 1996 already uses the new spelling which was not intrduced until 1972.
The name “Sukarno” is spelled with a “u” as per the new spellings, instead of the “oe” commonly used in 1966.

In 1966 we did not have the use of photocopiers yet and documents were multiplied using stencils.

 
 

ORDER


I. Considering
1.1 The current state of the Revolution, together with the national and international political situation
1.2 The Order of the Day of the Supreme Commander of the Armed Forces/President/Supreme Commander of the Revolution dated 8 March 1966

II. Taking into account
2.1 The need for calm and stability of the Government and the progress of the Revolution
2.2 The need for a guarantee of integrity of the Great Leader of the Revolution, [the Armed Forces] and the People to preserve the leadership and obligations of the President/Supreme Commander/Supreme Commander of the Revolution and his teachings

III. Decides/Orders
LIEUTENANT GENERAL SOEHARTO, MINISTER/ARMY COMMANDER
To: In the name of the President/Supreme Commander/Great Leader of the Revolution
1. Take all measures deemed necessary to guarantee security and calm as well as the stability of the progress of the Revolution, as well as to guarantee the personal safety and authority of the leadership of the President/Supreme Commander/Great Leader of the Revolution/holder of the Mandate of the [Provisional People’s Consultative Assembly] for the sake of the integrity of the Nation and State of the Republic of Indonesia, and to resolutely implement all the teachings of the Great leader of the Revolution.
2. Coordinate the execution of orders with the commanders of the other forces to the best of his ability.
3. Report all actions related to duties and responsibilities as stated above.

IV. End

Djakarta, 11 March 1966

 

 

Student Demonstrations
US State Department documents
reveal that Ambassador Marshal Green authorized financial aid to the students.

Ambassador Green’s December 2, 1965 endorsement of a 50 million rupiah covert payment to the “army-inspired but civilian-staffed action group [Kap-Gestapu]… still carrying burden of current repressive efforts targeted against PKI….” The document immediately following, presumably CIA’s response to this proposal from December 3, 1965 (written by William Colby of CIA’s Far East division to the State Department’s William Bundy), was withheld in full from the volume. (pp.379-380)

 

The Events of March 11, 1966

On March 11 the cabinet met at the palace on the square. The topic was again the student demonstrations. Again the students were in the streets in the vicinity of the palace, letting air out of the tires of vehicles, and bringing traffic to a halt. Notably absent was Soeharto, pleading a sore throat. The atmosphere in the room was said to be tense. Sukarno began by calling on his ministers to resign if they were not prepared to follow his leadership. At this point an aide rushed to his side with a message: large numbers of unidentified troops were in the square and were advancing on the palace. Alarmed, Sukarno rushed from the room, followed by Subandrio and Chaerul Saleh, and fled the palace grounds by helicopter.

By early afternoon it was established that Sukarno was at the palace in Bogor. Three major generals of the army– Amir Machmud, Basuki Rachmat, and Andi Muhammad Jusuf–went to Bogor by helicopter to see him. They found Sukarno in the company of Subandrio, Leimena, Chaerul Saleh, and one of Sukarno’s wives, Hartini. Discussions among them went on for some hours. When the talks ended, the generals returned to Jakarta, carrying a short letter signed by Sukarno and addressed to General Soeharto, instructing him “to take all measures considered necessary to guarantee security, calm, and stability of the government and the revolution, and to guarantee the personal safety and authority of the President/Supreme Commander/Great Leader of the Revolution/Mandatory of the MPRS in the interests of the unity of the Republic of Indonesia and to carry out all teaching of the Great Leader of the Revolution.”


Soeharto acted promptly. On March 12, on the president’s behalf, he signed a decree banning the Communist Party of Indonesia. On March 18, having failed to persuade Sukarno to dismiss them, he ordered the arrest of Subandrio and other leftist cabinet members. Soeharto aides were soon referring to the March 11 letter as the Surat Perintah Sebelas Maret (Letter of Instruction of March Eleven) from which was coined the acronym Super-Semar . The acronym gave the letter, and Soeharto, a symbolic tie to one of the most mystical and powerful figures in the Javanese wayang .
For all their ambiguity, the events of the day were powerfully evocative of the forces operating in Jakarta at the time. They also were revealing of the personality of the new chief executive.

 

 

Kepulangan Dewi ke Indonesia bersamaan dengan Supersemar. Tetapi ia belum menyadari arti penting surat itu bagi kekuasaan Bung Karno. Karena itu, ia pun berusaha menjembatani suaminya dengan Soeharto.

Pada tanggal 17 Maret 1966, ia mengundang Soeharto makan bersama di Wisma Yaso. Lalu,

 pada tanggal 20 Maret 1966, ia bermain golf dengan Soeharto.

“Soeharto saat itu menganjurkan Dewi agar mendorong suaminya ke luar negeri untuk istirahat. Saat itulah Dewi baru menyadari kalah,” ungkap Aiko.

.

Ulfa Ilyas

Supersemar document

Supersemar, the Indonesian abbreviation for Surat Perintah Sebelas Maret (Order of March the Eleventh) was a document ostensibly signed by the Indonesian President Sukarno on March 11, 1966, giving the Army commander Lt. Gen. Suharto authority to take whatever measures he “deemed necessary” to restore order in the chaotic situation following the events of the previous September.

 

On September 30, 1965, a group calling itself the 30 September Movement killed six senior Army generals, seized control of the center of Jakarta and issued a number of decrees over Republic of Indonesian Radio. Suharto and his allies defeated the movement, but Sukarno was fatally weakened. The Army accused its long standing rival, the Indonesian Communist Party (PKI) of being behind the “coup attempt” (see Indonesian Civil War). Over the next few months, Suharto and the army seized the initiative, and during a cabinet meeting (which Suharto did not attend), troops without insignia surrounded the presidential palace where the meeting was being held. Sukarno was advised to leave the meeting, and did so, flying to the presidential palace in Bogor, 60km south of Jakarta, by helicopter. Later that afternoon, three Army generals, Maj. Gen. Basuki Rahmat (1921-1969), Minister for Veteran Affairs, Brig. Gen. M Jusuf (1928-2004), Minister for Basic Industry and Brig. Gen. Amirmachmud (1923-1995), Commander of the V/Jaya [Jakarta] Military Area Command, visited Sukarno and came away with the signed Supersemar, which they then presented to Suharto. The next day, Suharto used the powers thus conferred on him to ban the PKI, and on March 18, fifteen Sukarno loyalist ministers were arrested. Suharto changed the composition of the Provisional People’s Consultative Assembly (MPRS),

Akhirnya, pada November 1966, Dewi ke Jepang untuk pemeriksaan kehamilannya. “Tetapi ternyata Presiden (Soekarno) mengharapkan Dewi melahirkan di Jepang,” tambah Aiko.

Atas nasihat dokter, Dewi tinggal di Jepang dan melahirkan disana.

 Ia melahirkan putrinya, Karina Kartika Sari Dewi Soekarno, pada tanggal 17 Maret 1966. Karina sendiri tidak pernah bertemu dengan Soekarno

 

Pada 29 Mei – 1 Juni 1966,

diadakan perundingan antara Menteri Luar Negeri RI Adam Malik dan Menteri Luar Negeri Malaysia Tun Abdul Razak di Bangkok atas bantuan Menteri Luar Negeri Thailand Thanat Khoman. Puncak dari semua perundingan adalah ditandatanganinya persetujuan Indonesia dan Malaysia untuk normalisasi hubungan di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 1966. Persetujuan itu dikenal dengan Jakarta Accord yang mengakui kedaulatan Malaysia. KOLAGA (Komando Mandala Siaga) mengeluarkan instruksi dengan radiogram tanggal 10 Agustus 1966 No. TSR-26/1966 kepada semua Komando Bawahan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan operasi. Langkah selanjutnya yang diambil oleh Komando Tempur (Kopur) IV/Mandau adalah menyerukan agar PGRS/PARAKU mengadakan konsolidasi di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Ternyata yang mengikuti seruan tersebut hanya 99 orang, sedangkan sejumlah 739 orang membangkang.[2] AM Hendropriyono, prajurit Para Komando dengan kemampuan di bidang Sandi Yudha pada 1969-1972 di belantara Kalimantan Barat-Sarawak, mengungkapkan:

Ini kita (TNI) melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara dan PGRS di Surabaya, Bogor, dan Bandung. Akhirnya, setelah pergantian pemerintah, Presiden Soeharto memutuskan berdamai dengan Malaysia dan gerilyawan tersebut diminta meletakkan senjata. Karena PGRS tidak menyerah, terpaksa kita sebagai guru harus menghadapi murid dengan bertempur di hutan rimba Kalimantan.”[6]

Tendensi politik anti-komunis serta keinginan untuk berdamai dengan Malaysia-Inggris menempatkan Paraku-PGRS sebagai musuh pemerintah Indonesia dan TNI.[1] Gerakan PGRS / PARAKU yang memiliki dasar ideologi komunis merupakan sumber potensial terhadap munculnya kerawanan sosial politik yang mengancam terhadap eksistensi suatu negara.[7] TNI bersekutu dengan militer Malaysia dan Inggris dalam menumpas Paraku-PGRS, dan memberikan julukan baru bagi Paraku-PGRS, yaitu Gerombolan Tjina Komunis (GTK)[1], sementara pihak Malaysia yang sudah berdamai dengan Indonesia memberi cap ”CT” (Communist Terrorist).[6] Perang antara TNI dengan gerilyawan Paraku-PGRS meletus, salah satunya yang terjadi di Pangkalan Udara Sanggau Ledo, Bengkayang, Kalimantan Barat. Memasuki tahun 1967, operasi penumpasan diintensifkan oleh pemerintah Orde Baru melalui Operasi Sapu Bersih (Saber) I, II, dan III yang digelar sejak April 1967 hingga Desember 1969 dibawah komando Brigadir Jenderal AJ Witono.[1]

Peristiwa Mangkok Merah[sunting]

Pelaksanaan Operasi Saber I tidak memuaskan. Faktor-faktor kegagalan disebabkan kurangnya tenaga tempur, dan pihak PGRS/PARAKU lebih mengenal keadaan medan dan dapat menarik simpati kaum pribumi yaitu suku Dayak setempat. PGRS/PARAKU juga mudah memencar dan menyusup ke dalam masyarakat untuk menghilangkan diri dari pengejaran. Hal itu disebabkan masyarakat dan kampung-kampung Tionghoa tersebar luas sampai daerah pedalaman seluruh Kalimantan Barat.[2] Dalam Operasi Saber, terjadi peristiwa Mangkok Merah pada bulan Oktober-November 1967. Peristiwa Mangkok Merah dipicu oleh terjadinya penculikan dan kekerasan yang dialami Temenggung Dayak di Sanggau Ledo.[1] Bulan Maret 1967, seorang guru orang Dayak ditemukan dibunuh di Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Tanggal 3 September 1967 ada sembilan orang Dayak diculik di Kampung Taum dan baru ditemukan tidak bernyawa oleh masyarakat dan TNI pada tanggal 5 September 1967.[8] TNI mempropagandakan kekerasan itu dilakukan oleh GTK alias Paraku-PGRS. Propaganda diperkuat penemuan sembilan mayat oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang diklaim sebagai mayat tokoh-tokoh Dayak.[1]

Gerakan pembasmian PGRS/PARAKU pada tanggal 14 Oktober 1967 dikenal dengan sebutan “Demonstrasi Suku Dayak”. Gerakan ini kemudian menyebar luas menjadi luapan emosi etnis Dayak, hingga upacara mangkok merah diadakan. Gerakan ini menjadi sentimen rasial dengan mengidentikkan etnis Tionghoa sebagai anggota PGRS/PARAKU dan menjadi korban gerakan demonstrasi. Gerakan ini mengakibatkan pengungsian besar-besaran etnis Tionghoa menuju ke Kota Pontianak, menimbulkan masalah beban pengungsi di kota-kota penampungan, derita psikis yang dialami keluarga korban pembantaian, dan lumpuhnya sirkulasi perdagangan di daerah pedalaman Kalimantan Barat. Setelah gerakan Suku Dayak, kegiatan-kegiatan PGRS/PARAKU mulai menurun. Tekanan-tekanan Pasukan Indonesia menyebabkan PGRS/PARAKU semakin terjepit. Putusnya jalur logistik dengan mengungsinya ribuan orang Tionghoa menyebabkan banyak anggota PGRS/PARAKU yang menyerahkan diri.[2] Presiden Soeharto, dalam pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 1968 malam, secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Suku Dayak di Kalbar yang telah membantu pemerintah menumpas tuntas sisa-sisa gerombolan PGRS/PARAKU di Kalbar.[8]

Status selanjutnya[sunting]

Pada tahun 1974, pecahan fraksi yang dipimpin oleh Bong Kee Chok menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah. Fraksi Bong Kee Chok lebih besar daripada sisanya yang dipimpin oleh Wen Ming Chyuan.

NKCP menurun secara bertahap. Tahun 1989, CIA memperkirakan fraksi tersebut memiliki sekitar 100 pasukan. Akhirnya, tanggal 17 Oktober 1990, NKCP menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah. Beberapa prajurit gerilya selanjutnya hidup sebagai masyarakat biasa.

Paraku dan pelanggaran HAM[sunting]

Kasus Paraku/PGRS didokumentasikan sebagai salah satu pelanggaran HAM di Indonesia. Beberapa pihak menengarai dalam peristiwa ini juga terjadi pembersihan etnis terhadap warga Tionghoa di pedalaman Kalimantan.[9] Dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan setidaknya ada 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak.[8]

. Persaingan politik dua kubu PKI dan Angkatan darat tidak bisa menanti untuk didamaikan lagi. Tidak tahu bagaimana kejadiannya secara pasti karena sampai sekarangpun orang masih banyak menyebutnya sebagai misteri. 7 orang jenderal Angkatan darat kedapatan diculik dan dibunuh. Seperti apa yang disampaikan oleh yang empunya cerita…..PKI lah yang dianggap biang keladinya.

Maka sejak tanggal 12 Maret 1966, stelah menerima SP 11 Maret (SUOERSEMAR) dari Soekarno, Jenderal Soeharto Men.Pangad pengganti Jenderal Yani (salah satu korban G30S) mengadakan pembersihan nasional dari anasir PKI dan onderbo

 

and in March 1967

 it voted to strip Sukarno of his powers and appointed Suharto acting president. In 1968, the MPRS removed the word ‘acting’, and Suharto remained in power until toppled by the Indonesian Revolution of 1998.

 
 

 

October 1966
General Suharto – US Ambassador Marshal Green

Marshall Green served as US Ambassador in Indonesia July 26, 1965 – March 25, 1969
and is reported to have provided financing to student organizations involved in
demonstrations against President Sukarno and to be behind the anti- communist actions resulting in the dissolution of the PKI and mass purge of PKI members and sympathizers.
US links with Suharto reportedly date from 1958, the time of the unsuccessful
US government/CIA attempt to remove Sukarno.

With the Supersemar document Suharto took over
US and Western relations improved tremendously
and US investment grew as never before.
Almost overnight the Indonesian government went from being a fierce voice
for cold war neutrality and anti-imperialism to a quiet, compliant partner
of the U.S. world order.

 
 

Friendly Fascism (Excerpt)

As a master diplomat for Washington, among further similar achievements, Green’s track record also includes “direct experience of the CIA-sponsored replacement of President Syngman Rhee by the military regime of Chung Hee Park” when he was a US Foreign Service Officer in Seoul, South Korea, in 1960 (“Ten Years’ Military Terror in Indonesia”, p243).

Rhee resigned because of student-led disorder and Peter Dale Scott suggests that one of Green’s qualifications for the Ambassador’s post in Indonesia in 1965 was his proven ability
at fomenting violent student movements. “Because of the role of students in that eventual military takeover [Park’s coup], Green was widely suspected in Indonesia of encouraging
the student activists in the post-coup purge of the PKI” (ibid, p244).

 

Sukarno, the Coup of 1965

The British, Australian and rarely, the Americans treat war like a game of “cricket”, playing war by the rules. However as this collection of reports will show behind the scenes the story is far from “cricket”. The coup that deposed President Sukano from power in Indonesia, contributed to the end of “Confrontation” however the cost in human lives was enormous; as many as two million people may have died with the full knowledge, assistance and gloating of Australia, Britain and the US!

 

End of the Sukarno Era

 

11 Agustus 1966

 Pada tanggal 11 Agustus 1966 di Jakarta di tanda tangani naskah persetujuan pemulihan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia oleh Wakil PM / Menlu Malaysia Tun Abdul Rozak dan Menteri utama Bidang Politik / Menteri Luar Negri Indonesia Adam Malik. Dengan demikian konfrontasi terhadap Malaysia telah berakhir

 

 

SUKARNO SPEECH

 

 


SUPERSEMAR PALSU
(False Supersemar document)
by A.Pambudi.

Published by Media Pressindo

The document is still surrounded by mystery. Three versions are in circulation.
Why different versions?
In other words, why should there be a Fake Supersemar document?
Have certain parts been covered up?
   
 

MISTERI SUPERSEMAR (The Supersemar Mystery)
By Eros Djarot and others.

Published by Media Kita
Includes interview with Ali Ebram who typed the original document.

Quotes:

Ret. Major General Kemal Idris in reference to Suharto’s non-appearance when summoned
by Sukarno due to illness: “Who says so? I came to his house and he was fit.

General Nasution: Many doubts have been expressed as regards contents of the document.
Was Bung karno willing to surrender his power? No. He wanted to stay in power for life, remain a lifelong president of Indonesia.

   
 

Supersemar, a letter signed by Sukarno 11/3/66 handing over powers to the military, is the document used to justify the New Order. Rumour is strong that Soeharto has never publicized its second page, which lists many conditions on his power. M Jusuf is widely supposed to have the original text.

Jenderal M Jusuf
by Atmadji Sumarkidjo

General Jusuf died 7 September 2004
His biographer states on page 186 that in May 1991 General Jusuf showed him a photocopy of a 2-page document statng “This is is the original text of the 11 March 1966 instruction” .

   
 

H. Maulwi Saelan
Testimony of Tjakrabirawa Vice Commander:
From the 1945 Revolution to the 1965 Coup.

Bung Karno as quoted:

Saelan, percayalah!
Saya yakin nanti sejarah mengungkapkan kebenaran
dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Soekarno.

(Translation:)
Saelan: believe it!
I am convinced that history will reveal the truth
on who was right, Soekarno or Soeharto
.

(Tjakrabirawa: Presidential Palace Guard)

   
 
 

 

Dr. H. Subandrio
Kesaksianku tentang G30S

Dr. Subandrio’s statement reflecting
his knowledge and experience regarding the “Gestapu” affair.

He states that the objective of his writing is :
” to straighten history – to set straight what has commonly been distorted”.
Dr. Subandrio, was Foreign Minister under President Sukarno

NOTE:

Dr. Subandrio was sentenced to death by the Extraordinary Military Court on charges
of being involved in the “30th of September Movement,” although there was no real evidence that Subandrio knew of the coup attempt in advance or played any part in it
(he was in Sumatra at the time). This sentence was afterwards reduced to life imprisonment. He served until 1995, when he was released due to ill health.
He died in Jakarta in 2004.

 

Supersemar

The Supersemar, the Indonesian abbreviation for Surat Perintah Sebelas Maret (Order of March the Eleventh) was a document ostensibly signed by the Indonesian President Sukarno on March 11, 1966, giving the Army commander Lt. Gen. Suharto authority to take whatever measures he “deemed necessary” to restore order in the chaotic situation following the events of the previous September

Background
One version of the documentOn September 30, 1965, a group calling itself the 30 September Movement killed six senior Army generals, seized control of the center of Jakarta and issued a number of decrees over Republic of Indonesia Radio. Suharto and his allies defeated the movement, but Sukarno was fatally weakened. The Army accused its long standing rival, the Indonesian Communist Party (PKI), of being behind the “coup attempt” (see Indonesian Civil War). Over the next few months, Suharto and the army seized the initiative, and during a cabinet meeting (which Suharto did not attend), troops without insignia surrounded the presidential palace where the meeting was being held. Sukarno was advised to leave the meeting, and did so, flying to the presidential palace in Bogor, 60km south of Jakarta, by helicopter. Later that afternoon, three Army generals, Maj. Gen. Basuki Rahmat (1921-1969), Minister for Veteran Affairs, Brig. Gen. M Jusuf (1928-2004), Minister for Basic Industry and Brig. Gen. Amirmachmud (1923-1995), Commander of the V/Jaya [Jakarta] Military Area Command, visited Sukarno and came away with the signed Supersemar, which they then presented to Suharto. The next day, Suharto used the powers thus conferred on him to ban the PKI, and on March 18, fifteen Sukarno loyalist ministers were arrested. Suharto changed the composition of the Provisional People’s Consultative Assembly (MPRS), and in March 1967 it voted to strip Sukarno of his powers and appointed Suharto acting president. In 1968, the MPRS removed the word ‘acting’, and Suharto remained in power until toppled by the Indonesian Revolution of 1998 (Riklef 1982).

The Document
The Supersemar itself is a simple document of less than 200 words. It reads as follows:

PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

ORDER

I. Considering
1.1 The current state of the Revolution, together with the national and international political situation
1.2 The Order of the Day of the Supreme Commander of the Armed Forces/President/Supreme Commander of the Revolution dated 8 March 1966

II. Taking into account
2.1 The need for calm and stability of the Government and the progress of the Revolution
2.2 The need for a guarantee of integrity of the Great Leader of the Revolution, [the Armed Forces] and the People to preserve the leadership and obligations of the President/Supreme Commander/Supreme Commander of the Revolution and his teachings

III. Decides/Orders
LIEUTENANT GENERAL SOEHARTO, MINISTER/ARMY COMMANDER
To: In the name of the President/Supreme Commander/Great Leader of the Revolution
1. Take all measures deemed necessary to guarantee security and calm as well as the stability of the progress of the Revolution, as well as to guarantee the personal safety and authority of the leadership of the President/Supreme Commander/Great Leader of the Revolution/holder of the Mandate of the [Provisional People’s Consultative Assembly] for the sake of the integrity of the Nation and State of the Republic of Indonesia, and to resolutely implement all the teachings of the Great leader of the Revolution.
2. Coordinate the execution of orders with the commanders of the other forces to the best of his ability.
3. Report all actions related to duties and responsibilities as stated above.

IV. Ends

Djakarta, 11 March 1966

PRESIDENT/SUPREME COMMANDER/GREAT LEADER OF THE REVOLUTION/HOLDER OF THE MANDATE OF THE [PROVISIONAL PEOPLE’S CONSULTATIVE ASSEMBLY]

[signed]
SUKARNO

(Sekretariat Negara (1985), translated by the author)


Controversy

The Circumstances Surrounding the Signing of the Supersemar
Indonesians usually end documents with the place the document was signed and the date.
Given that the Supersemar was supposedly signed in Bogor, it is odd that the Supersemar is signed “Djakarta”. In his account of the
events of March 1966, Hanafi (1999), close friend of Sukarno and ambassador to Cuba says that he went to Bogor on March 12 and met with Sukarno. He says that Sukarno told him Suharto had sent three generals with a document they had already prepared for him to sign. He says that Sukarno felt he had to sign it because he was in a tight spot, but that the generals had promised to defend Sukarno and that the order would not be misused. However, Martoidjojo (1999), the commander of the presidential bodyguard, who went with Sukarno in the helicopter to Bogor, says that the Supersemar was typed in Bogor by Sukarno’s adjutant and military secretary, Brig. Gen. Mochammed Sabur (? -1972). Djamaluddin (1998) corroborates this.

The wording of the Supersemar itself could be read as a threat, namely the section reading “to guarantee the personal safety and authority of the leadership of Sukarno. However, in 1998, accusations appeared (reported in Center of Information Analysis (1999) of an even more direct threat, namely that two members of the presidential guard had seen Gen. M. Jusuf and Gen M. Panggabean (1922-2000), second assistant to the Army minister, pointed their pistols at Sukarno. M. Jusuf and others have denied this, and that Panggabean was even present. They called into doubt the credibility of key parts of the accusations, and said it was impossible for the two men to be so close to the president at the time.

The Disappearance of the Original
One of the most obvious oddities regarding the Supersemar is that the original document can no longer be traced. Although Indonesia was in a fairly chaotic state at the time, it is surprising that more care was not taken to preserve a document that school history books cite as the legitimization of Suharto’s ensuing actions. After all, the original document of the Indonesian Declaration of Independence is still preserved.

The Existence of Multiple Versions
Signatures of Sukarno on the four versionsOne of the publications to appear since the fall of Suharto alleges that there were several versions of the Supersemar (Center for Information Analysis 1999). Even before the fall of Suharto, an official publication commemorating 30 years of Indonesian independence reproduced one version of Supersemar, while an officially sanctioned high school history textbook featured a different version (Sekretariat Negara March 1985, Chaniago et al 1997).

In 2005, there was an exhibition at Jakarta’s Satriamandala Military Museum (home of the Indonesian Military History Center). Among the exhibits were fairly poor quality photocopies of no less than four versions of the Supersemar. The text is substantially the same, but there are differences in layout, letter heading and, most importantly, of Sukarno’s signature.

The differences in the texts are as follows:
In two versions, there is a missing plural marker after the word “force” (Angkatan) in section III, paragraph 2
In the same two versions, there is an extra definite article marker after the word “responsibilities” (tanggung-djawab”) in section III paragraph 3
One version runs to two pages, whereas the other versions are all on the one page.
The differences in the signatures are less clear, given the poor quality of some of the photocopies, but there are a number of features that are inconsistent. For example one signature, in the version used in the official account ( Sekretariat Negara March 1985) lacks the characteristic dot-and-horizontal-line after the word “Soekarno”. There are also minor differences in the proximity and shapes of the letters, although some of these may be artifacts of the camera angle and the poor quality of the photocopying. Interestingly, in all the versions, the president’s signature appears to read “Soekarno”, whereas the typed name underneath is spelled “Sukarno”.

The Order of March 13
According to
Hanafi (1999), in his discussions with Sukarno at the Bogor Palace on March 12, Sukarno was angry that the Supersemar had been used to ban the PKI, as it was the prerogative of the president to ban political parties. He said he had asked Third Deputy Prime Minister Leimena (1905-1977) to take a written order to Suharto, and that he would wait to see what Suharto’s reaction was – whether he would obey it or not. He asked Hanafi to help Third Deputy Prime Minister Chaerul Saleh (1916-1967) and First Deputy Prime Minister Subandrio (1914-2004). The two men showed Hanafi the “Order of March 13”, which stated that the Order of March 11 was technical and administrative in nature, not political, warned General Suharto that he was not to take any actions outside the scope of the order and asked Suharto to report to the president at the palace. Saleh planned to make copies of the order and distribute them to loyal members of the palace guard and to Sukarno’s young followers. Hanafi says 5,000 copies were made, and that he took a few back to Jakarta with him, but he does not know what happened to the others.

In their official biography of Suharto, Dwipayana and Sjamsuddin (1991) also say that Sukarno questioned Suharto’s use of the Supersemar and sent Leimena to ask Suharto to take responsibility for his actions. Saelan (2001) says Suharto ignored the order, and Hanafi says that Suharto sent a message back via Leimena, who returned to Bogor later that evening, saying he would take responsibility for his actions, and that he was unable to come to Bogor as he was due to attend a meeting of all the military commanders at 11am the following day, to which he invited Sukarno. Incidentally, Hanafi is ambiguous as to the dates in his account, as he says he was in Bogor on March 12, but the “correction” to the Supersemar was known as the Order of March 13.

Note on Spelling
In 1970, Indonesian and Malaysia agreed on a common spelling system for their languages., the EYD (Perfected Spelling) As a result, there are two or more versions of many of the names mentioned above. For example, “Jusuf” is spelled “Joesoef” in Bachtiar (1988). The modern spelling would be “Yusuf”. The convention is wherever possible to use the spelling the person him/herself used, but this is not always possible to determine. I have tried to use the original spellings in this article while striving for consistency. Incidentally, the old spelling of “Jakarta” as “Djakarta” was used in all the versions of the Supersemar.

 

Supersemar

Date: 7 April 1994
Byline: Nazir Amin
Original title: Reading the general’s face <Menunggu firasat sang
jenderal>
Abridged

Supersemar, a letter signed by Sukarno 11/3/66 handing over powers to the military, is the document used to justify the
New Order. Rumour is strong that Soeharto has never publicized its second page, which lists many conditions on his power. M Jusuf is widely supposed to have the original text.

Gen (ret) M Jusuf, at an Abri public gathering in Ujung Pandang 26/3, went close to exposing the secret of the
“sacred document” . Supersemar. He suggested he would publish the full text in his memoirs, and that it was important not a comma or full stop be changed to suit personal interests. “I don’t like that. But in reality… That’s why I’ve never talked about it”, he said suggestively. “Once the President came to me. Jusuf, that what’s its name, give it to the Secretary of State so we can make a book out of it. No! That’s my personal right. Let me be the one to make the book. Otherwise who will read it later on, read my memoirs. When is it coming out? Whether it comes out or not is
none of your business! That’s my business!”.

Secretary of State Moerdiono has publicly called for the document to be given to him.
On 28/3./1994 Jusuf denied categorically on national television that he had the document.

Editor’s Note:
General Jusuf died 7 September 2004
His biography mentions that the original signed document consisted of 2 pages (page 186)

 
 
   

 


“I recruited and ran Adam Malik,” McAvoy said in an interview in 2005. “He was the highest-ranking Indonesian we ever recruited.” A mutual friend had introduced them, vouching for McAvoy; the go between was a Japanese businessman in Jakarta and a former member of Japan ‘s communist party.

After Malik’s recruitment, the CIA won approval for a stepped-up program of covert action to drive a political wedge between the left and the right in Indonesia .

 

LEGACY OF ASHES: THE HISTORY OF THE CIA
by Tim Weiner,
Winner of the Pulitzer Prize

For the last sixty years, the CIA has managed to maintain a formidable reputation in spite of its terrible record, burying its blunders in top-secret archives. Its mission was to know the world. When it did not succeed, it set out to change the world. Its failures have handed us, in the words of President Eisenhower, “a legacy of ashes.”

Now Pulitzer Prize–winning author Tim Weiner offers the first definitive history of the CIA—and everything is on the record. LEGACY OF ASHES is based on more than 50,000 documents, primarily from the archives of the CIA itself, and hundreds of interviews with CIA veterans, including ten Directors of Central Intelligence. It takes the CIA from its creation after World War II, through its battles in the cold war and the war on terror, to its near-collapse after 9/ll.

Tim Weiner’s past work on the CIA and American intelligence was hailed as “impressively reported” and “immensely entertaining” in The New York Times. The Wall Street Journal called it “truly extraordinary . . . the best book ever written on a case of espionage.” Here is the hidden history of the CIA: why eleven presidents and three generations of CIA officers have been unable to understand the world; why nearly every CIA director has left the agency in worse shape than he found it; and how these failures have profoundly jeopardized our national security.

Pages related to Indonesia: 259 – 262

“WE ONLY RODE THE WAVES ASHORE”

The CIA had warned the White House that a loss of American influence in Indonesia would make victory in Vietnam meaningless.
The agency was working hard to find a new leader for the world’s most populous Muslim nation.
Then, on the night of October 1, 1965, a political earthquake struck Seven years after the CIA tried to overthrow him, President Sukarno of Indonesia secretly launched what appeared to be
a coup against his own government.

“WE ONLY RODE THE WAVES ASHORE”

The CIA had warned the White House that a loss of American influence in Indonesia would make victory in Vietnam meaningless. The agency was working hard to find a new leader for the world’s most populous Muslim nation.

Then, on the night of October 1, 1965, a political earthquake struck Seven years after the CIA tried to overthrow him, President Sukarno of Indonesia secretly launched what appeared to be a coup against his own government.

After two decades in power, Sukarno, his health and his judgment failing, had sought to shore up his rule by allying himself with the Indonesian Communist Party, the PKI. The party had grown in strength, winning recruits with ceaseless reminders of the CIA’s assaults on the nation’s sovereignty. It was now the world’s largest communist organization outside Russia and China , with 3.5 million nominal members.

Sukarno’s lurch to the left proved a fatal mistake. At least five generals were assassinated that night, including the army chief of staff. The state-run radio announced that a revolutionary council had taken over to protect the president and the nation from the CIA. The station in Jakarta had few friends within the army or the government.

It had precisely one well-situated agent: Adam Malik, a fortyeight-year- old disillusioned ex-Marxist who had served as Sukarno’s ambassador to Moscow and his minister of trade. After a permanent falling-out with his president in 1964, Malik had met up with the CIA’s Clyde McAvoy at a Jakarta safe house. McAvoy was the covert operator who a decade before had helped recruit the future prime minister of Japan , and he had come to Indonesia with orders to penetrate the PKI and the Sukarno government.

“I recruited and ran Adam Malik,” McAvoy said in an interview in 2005. “He was the highest-ranking Indonesian we ever recruited.” A mutual friend had introduced them, vouching for McAvoy; the go between was a Japanese businessman in Jakarta and a former member of Japan ‘s communist party.

After Malik’s recruitment, the CIA won approval for a stepped-up program of covert action to drive a political wedge between the left and the right in Indonesia .
Then, in a few terrifying weeks in October 1965, the Indonesian state split in two. The CIA worked to consolidate a shadow government, a troika composed of Adam Malik, the ruling sultan of central Java, and an army major general named Suharto. Malik used his relationship with the CIA to set up a series of secret meetings with the new American ambassador in Indonesia , Marshall Green. The ambassador said he met Adam Malik “in a clandestine setting” and obtained “a very clear idea of what Suharto thought and what Malik thought and what they were proposing to do” to rid Indonesia of communism through the new political movement they led, the Kap-Gestapu.

“I ordered that all 14 of the walkie-talkies we had in the Embassy for emergency communications be handed over to Suharto,” Ambassador Green said. “This provided additional internal security for him and his own top officers”—and a way for the CIA to monitor what they were doing. “I reported this to Washington and received a most gratifying telegram back from Bill Bundy,” the assistant secretary of state for the Far East, and Green’s good friend of thirty years from their days together at Groton. In mid-October 1965, Malik sent an aide to the home of the American embassy’s senior political officer, Bob Martens, who had served in Moscow while Malik was the Indonesian envoy. Martens gave the emissary an unclassified list of sixty-seven PKI leaders, a roster he had compiled out of communist press clippings. “It was certainly not a death list,” Martens said. “It was a means for the non-communists that were basically fighting for their lives—remember, the outcome of a life-and-death struggle between the communists and non-communists was still in doubt—to know the organization of the other side.”

Two weeks later, Ambassador Green and the CIA station chief in Jakarta , Hugh Tovar, began receiving secondhand reports of killings and atrocities in eastern and central Java, where thousands of people were being slaughtered by civilian shock troops with the blessings of General Suharto. McGeorge Bundy and his brother Bill resolved that Suharto and the Kap-Gestapu deserved American support. Ambassador Green warned them that the aid could not come through the Pentagon or the State Department. It could not be successfully concealed; the political risks were too great. The three old Grotonians—the ambassador, the national security adviser, and the assistant secretary of state for the Far East—agreed that the money had to be handled by the CIA.

They agreed to support the Indonesian army in the form of $500,000 of medical supplies to be shipped through the CIA, with the understanding that the army would sell the goods for cash, and provisionally approved a shipment of sophisticated communications equipment to Indonesian army leaders.

 


Ambassador Green, after conferring with the CIA’s Hugh Tovar, sent a cable to Bill Bundy recommending a substantial payment for Adam Malik:

This is to confirm my earlier concurrence that we provide Malik with fifty million rupiahs [roughly $10,000] for me activities of the Kap-Gestapu movement. This army-inspired but civilian staffed action group is still carrying burden of current repressive efforts. . . . Our willingness to assist him in this manner will, I think, represent in Malik’s mind our endorsement of his present role in the army’s anti-PKI efforts, and will promote good cooperating relations between him and the army. The chances of detection or subsequent revelation of our support in this instance are as minimal as any black bag operation can be.

A great wave of violence began rising in Indonesia . General Suharto and the Kap-Gestapu massacred a multitude. Ambassador Green later told Vice President Hubert H. Humphrey, in a conversation at the vice president’s office in the U.S. Capitol, that “300,000 to 400,000 people were slain” in “a blood bath.” The vice president mentioned that he had known Adam Malik for many years, and the ambassador praised him as “one of the cleverest men he had ever met.”

Malik was installed as foreign minister, and he was invited to spend twenty minutes with the president of the United States in the Oval Office. They spent most of their time talking about Vietnam .. At the end of their discussion, Lyndon Johnson said he was watching developments in Indonesia with the greatest interest, and he extended his best wishes to Malik and Suharto..

With the backing of the United States, Malik later served as the president of the General Assembly of the United Nations. Ambassador Green revised his guess of the death toll in Indonesia in a secret session of the Senate Foreign Relations Committee. “I think we would up that estimate to perhaps close to 500,000 people,” he said in testimony declassified in March 2007. “Of course, nobody knows. We merely judge it by whole villages that have been depopulated. “

The chairman, Senator J. William Fulbright of Arkansas , put the next question simply and directly.
“We were involved in the coup?” he asked. “No, sir,” said Ambassador Green.
“Were we involved in the previous attempt at a coup?” said the senator.
“No,” said the ambassador. “I don’t think so.”
“CIA played no part in it?” asked Fulbright.
“You mean 1958?” said Green. The agency had run that coup, of course, from the bungled beginning to the bitter end. “I am afraid I cannot answer,” the ambassador said. “I don’t know for sure what happened.”

A perilous moment, veering close to the edge of a disastrous operation and its deadly consequences— but the senator let it pass. “You don’t know whether CIA was involved or not,” Fulbright said. “And we were not involved in this coup.”
“No sir,” said the ambassador. “Definitely not.”

More than one million political prisoners were jailed by the new regime. Some stayed in prison for decades. Some died there. Indonesia remained a military dictatorship for the rest of the cold war. The consequences of the repression resound to this day.

1968
Foreign Minister Adam Malik says that Indonesia will make an independent foreign policy, but one friendly with the USA.

March 21 Suharto wins Presidential election in the Assembly (MPR). Muslim members of the Assembly try to bring up the issue of the Jakarta Charter and measures against “religious conversions”, but Armed Forces members of the Assembly cut off debate.

 

 

The United States has denied for forty years that it had anything to do
with the slaughter carried out in the name of anticommunism in Indonesia .

“We didn’t create the waves,” said Marshall Green.
“We only rode the waves ashore.”

 

Reflecting on Fallen Presidents: Indonesia

Excerpt

March 11, 1966, was a turning point in Indonesia’s history. It was the day the late president Sukarno issued an order, later known as Supersemar (Surat Perintah 11 Maret, or the March 11 Order) to Soeharto, then a major general.

The primary significance of the Supersemar is that it was used by Soeharto as the basis of the establishment of what he called “The New Order” to replace the “Old Order”, which referred to the era of “Guided Democracy” under Sukarno.

The rationale for the change, as Soeharto stated in his first “State of the Union Address” as acting president in 1967, was that Sukarno’s Old Order had been a deviation and betrayal of the 1945 Constitution, particularly the ideology of Pancasila (five principles) embodied in its Preamble, and Soeharto’s New Order was meant to be a “total correction” of that deviation, for his New Order would be based on a “pure and consistent” implementation of Pancasila, whatever that meant.

Yet, Supersemar has been full of mystery. Until now nobody knows, perhaps except Soeharto himself, where the original order is. Three generals — Basuki Rachmat, Amir Mahmud and M. Yusuf, all dead now, were Soeharto’s messengers to see Sukarno in Bogor to receive the order. The first died in 1967 of a heart attack. The other two died much later, both taking the secret to their graves.

 

Supersemar Decree Vanishes!
From: apakabar@igc.apc.org
Date: Tue Mar 12 1991 – 12:29:00 EST

——————————————————————————–
Source: Kyodo. Date: 11 March 91. Story Type: News. Original
Language: English. Dateline: Jakarta. Byline: None. Text:

Abridged. Brief Remark:
“Supersemar” is the “11 March Order” which Soeharto reportedly extracted from Soekarno and then interpreted to assume virtual full powers executive power in 1966.
How Soeharto managed to get several generals to induce Soekarno to sign the decree has long been cloaked in controversy and mystery. The full story has yet to be revealed. Perhaps current State Audit Board head and former
ABRI Commander/Defense and Security Minister Gen. (Ret.) M. Jusuf knows the secrets.

Editor’s Note: General M. Jusuf died without revealing any information on the subject.

CRUCIAL DECREE GIVING SUHARTO POWER MISSING

A controversial presidential decree issued in March 1966 which helped catapult Suharto to power is missing, raising doubts about the legitimacy of his authority, the independent Media Indonesia daily newspaper reported Monday.
The paper said State Secretary Murdiono admitted for the first time that the government was unable to locate the original decree issued by then President Sukarno on March 11, 1966, granting broad political power to Suharto, then army chief of staff. The decree, issued amid widespread anti-Sukarno student unrest, has been widely viewed by historians as having allowed Suharto to crush the political opposition and stage a “bloodless coup.”
Suharto, who turns 70 this year, was inaugurated as president in 1968. His current term expires in March 1993.
While Murdiono said misplacing such a key document was understandable given the chaotic circumstances of the time, one diplomat said the report could be used by the opposition to call Suharto’s political legitimacy into question.
Political observers believe the report could be politically embarrassing and indicate that Suharto’s authority is already on the decline. The aging leader has not yet announced whether he will seek a sixth five-year term as president.
Mainstream textbooks and popular history publications on modern Indonesia have typically presented the contents of the decree as being beyond dispute. “People opposed to Suharto may now be better able to claim that the use of the decree was expanded beyond its original intention,” said one diplomat

 

Reflections on fall of Sukarno, and the rise of Suharto
Jakarta Post – March 14, 2006

J. Soedjati Djiwandono, Jakarta – Scanning the print media around March 11, it was clear that few, if any, remembered, or perhaps most just ignored or could not care less, what happened on March 11 in 1966. During the 32 years of the New Order regime under Soeharto, March 11 was regarded as sacred.

Several important national occasions were later held on that date, such as the beginning session of the People’s Consultative Assembly (MPR), the supreme governing body of the republic, according to the 1945 Constitution, until the onset of the “era of reform” after the resignation of Soeharto in 1998.

March 11, 1966, was a turning point in Indonesia’s history. It was the day the late president Sukarno issued an order, later known as Supersemar (Surat Perintah 11 Maret, or the March 11 Order) to Soeharto, then a major general.
The primary significance of the Supersemar is that it was used by Soeharto as the basis of the establishment of what he called “The New Order” to replace the “Old Order”, which referred to the era of “Guided Democracy” under Sukarno.

The rationale for the change, as Soeharto stated in his first “State of the Union Address” as acting president in 1967, was that Sukarno’s Old Order had been a deviation and betrayal of the 1945 Constitution, particularly the ideology of Pancasila (five principles) embodied in its Preamble, and Soeharto’s New Order was meant to be a “total correction” of that deviation, for his New Order would be based on a “pure and consistent” implementation of Pancasila, whatever that meant.

Yet, Supersemar has been full of mystery. Until now nobody knows, perhaps except Soeharto himself, where the original order is. Three generals – Basuki Rachmat, Amir Mahmud and M. Yusuf, all dead now, were Soeharto’s messengers to see Sukarno in Bogor to receive the order. The first died in 1967 of a heart attack. The other two died much later, both taking the secret to their graves.

Some time after the resignation of Soeharto in 1998, however, a TV station rebroadcast Sukarno’s speech about the March 11 order. This proved the existence of Supersemar. The most important part of Sukarno’s usual fiery speech was his emphasis that the March 11 order was “not a transfer of authority”. In fact, he said “poverty” instead of “authority”, but he immediately corrected his slip of the tongue.
In other words, Soeharto clearly interpreted the order to his own advantage, in the interest of power. That interpretation was sustained by having Supersemar firmly entrenched in a decision by the powerful MPR (then the provisional MPRS), especially considering that the 1945 Constitution provided no mechanisms for judicial reviews or the separation of powers with an effective system of checks and balances. Indeed, in the face of a student demonstration (if I remember correctly, against the Taman Mini Indonesia Indah project in 1972), Soeharto threatened to use the power of supersemar.

A huge number of articles and books have been published over the years since the Gestapu, the Indonesian acronym for the “September 30 Movement”. Scholars and journalists across the world have analyzed and attempted to understand the Gestapu, its aims, the forces behind it, and other aspects. Yet so many questions remain to be answered, and perhaps will remain unanswered.
From the dozens of books and articles that I have perused over the years, perhaps all I can say is some may be closer to the truth than others. After all, the “truth” of an affair such as the Gestapu may be too complex to understand completely. Using an article by W.F. Wertheim,
Soeharto and the Untung Coup: The missing link in Journal of Contemporary Asia,
vol. 1 and 2, winter 1970, as a starting point for her analysis, a PhD thesis later published by Nawaz B Mody of Bombay University, Indonesia under Soeharto (1987) is probably, I believe, as close to the truth as anyone has gotten.

Yet what is the “truth” of anything, anyway? What sounds logical, coherent and sensible may not be true, while what is true may not sound logical, coherent and sensible, particularly in the circumstances prevailing in Indonesia at the time of the complex Gestapu affair.
One of the most recent books was by Antonie C.A. Dake, Berkas- berkas Soekarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan (2005), which while using a large number of ideas and facts from lots of largely secondary sources, does not come to any conclusion. Yet all the ideas and facts may help change previous conclusions, which may in the end result in a better understanding of what happened around the Gestapu in 1965.

First, the Gestapu was not really a coup d’etat, because Sukarno, a dictatorial ruler, remained in control. It was ridiculous that for some time he was suspected of being involved in the “coup d’etat”. It was, indeed, a struggle for power, involving not just two, but at least three “centers of powers”: Sukarno, the Army, or particularly a group of Army generals, and the Indonesian Communist Party (PKI).

There might have been a fourth “center” of power, a question that remains to be answered. Will it ever be answered? There is no need for elaboration here. However, for those interested, Prof. Nawaz B. Mody, among others, is trying to provide the answer, supported by, among other sources, the memoirs of Sukarno’s close aides Dr. Soebandrio and Omar Dhani, who have made allusions to that effect.

[The writer, a political analyst, received his PhD from The London School of Economics and Political Science.]


Supersemar dan Kisah Tak Tertutur

Tjipta Lesmana

Pelaku utama terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 berjumlah sembilan orang, yaitu Bung Karno, Soebandrio, Chairul Saleh, Leimena, Sabur, Soeharto, dan trio utusan Soeharto, yaitu M Jusuf, Amir Machmud, serta Basoeki Rahmat. Kesembilan pelaku tersebut bisa dibagi ke dalam dua kelompok, kubu Soekarno dan kubu Soeharto.

Pelaku kubu Soekarno tidak pernah memberi kesaksian sebab mulut mereka sejak awal disumpal rapat-rapat. Hingga awal tahun 1970-an, mereka sudah mati semua, kecuali Soebandrio yang masih dikurung dalam tahanan. Dari kubu Soeharto, saat itu Basoeki juga sudah berpulang, tinggal tiga orang tersisa (Soeharto, Amir, dan Jusuf). Dari mulut ketiga saksi kunci ini sering terlontar kesaksian yang bertentangan.

Ketika memperingati lima tahun Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) di Jakarta pada tahun 1971, Soeharto mengaku dialah yang sebenarnya menjadi penggagas Supersemar. Namun, menurut Amir Machmud (alm) dalam bukunya, Supersemar: Tonggak Sejarah Perjoangan Orde Baru (1985), inisiator Supersemar adalah Jusuf; sedangkan Basoeki mengklaim dirinya sebagai inisiator (Basoeki Rahmat dan Supersemar, 1998).

Menurut Jusuf, dari Bogor, rombongan ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim. Namun, menurut Amir, mereka langsung ke Markas Kostrad.

Kudeta konstitusional

Soal inisiator menjadi penting guna menjawab, Benarkah Supersemar suatu aksi kudeta konstitusional Soeharto terhadap kekuasaan Soekarno? Menurut sebuah dokumen Departemen Luar Negeri Inggris, PRO FO No 371/181457, pada 2-3 November 1965 Brigjen Sukendro (orang dekat Soeharto) mengadakan pembicaraan rahasia di Bangkok dengan Dato Ghazali Shafie, petinggi Kementerian Luar Negeri Malaysia, mengenai penghentian konfrontasi Indonesia. Saat itu Sukendro menjelaskan, Angkatan Darat perlu waktu enam bulan untuk mengonsolidasi kekuatan politiknya.

Menarik disimak kesaksian Amir Machmud. Menjelang penandatanganan surat perintah (SP), Sabur memberi tahu Bung Karno (BK), Secara teknis administratif, Pak, ini tidak bisa dipertanggungjawabkan karena permulaan kalimat pada halaman kedua tidak tercantum pada bagian bawah halaman pertama.

Soekarno kaget, lalu memandangi ketiga jenderal itu. Sebelum BK berkomentar, Amir angkat bicara, Buat apa persoalan teknis-teknisan itu? Ini kan dalam revolusi. Kita ini semua sudah menjadi saksi-saksinya! (Kompas, 15/3/1971).

Dari Bogor, ketiga jenderal kembali ke Jakarta dengan mobil. Baru sampai di Jembatan Satu Duit (Bogor), Amir meminjam SP itu dari tangan Basoeki. Dengan bantuan lampu senter, Amir membacanya kata per kata. Lho, Pak, ini kan penyerahan kekuasaan kepada Pak Harto? Amir sedikit berteriak. Jusuf dan Basoeki menjawab, Ya, ya, penyerahan kekuasaan….

Pertanyaan kita, begitu bodohkah BK plus ketiga Waperdamnya? Bukankah draf SP semula diperlihatkan kepada ketiga Waperdam untuk dikoreksi dan memang di sana-sini dicoret oleh Soebandrio? Sebagai seorang diplomat ulung, Soebandrio pasti tahu, SP yang baru saja diteken Presiden bukan berisi transfer of authority, tetapi hanya delegation of authority.

Tutup mulut

Semua orang dari kubu Soeharto kini sudah mati, kecuali Soeharto. Pada tahun 1995, tiba-tiba dokumen asli Supersemar dinyatakan hilang. Jusuf seperti hendak dikambinghitamkan sebagai orang yang memegang naskah asli. Lalu, pada tahun 2000 terembus isu, Jusuf telah menyerahkan naskah asli kepada Jenderal Feisal Tanjung. Berita itu ditepis Jusuf. Timbul desakan agar ia bicara jujur seputar Supersemar agar bangsa tidak terbebani oleh kebohongan dan kebingungan. Sayang, Jusuf tutup mulut. Isu pun beredar, menurut sanak keluarga Jusuf, rahasia Supersemar baru akan dibuka setelah Jusuf meninggal.

Benarkah naskah asli Supersemar hilang? Atau dihilangkan? Jika sengaja dihilangkan, apa motifnya? Roeslan Abdulgani (almarhum) pernah menyatakan keyakinannya, isi Supersemar yang beredar di Indonesia selama puluhan tahun itu berbeda dengan naskah asli. Bisa saja yang asli sesungguhnya berisi delegation of authority; sedangkan yang palsu yang beredar kini adalah transfer of authority. Teori ini bukan mengada-ada.

Kita tahu, tindakan pertama yang diambil Pak Harto beberapa jam setelah menerima Supersemar ialah mengeluarkan SK Presiden/PANGTI ABRI/Mandataris MPRS/PBR No 1/3/1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). BK terkejut dan marah. Ia menilai tindakan Soeharto ngawur dan bertentangan dengan isi dan jiwa Supersemar. Maka, BK memerintahkan Leimena ke Jakarta untuk meminta pertanggungjawaban Soeharto. Trio Jusuf-Basoeki- Amir dipanggil ke Istana Bogor. Di sana Presiden menumpahkan amarahnya, Kamu nyeleweng! Kamu bikin laporan salah kepada Soeharto!

Sehari setelah kejadian di Bogor itu, Soekarno mengeluarkan SP 13 Maret 1966 yang intinya mencabut kembali Supersemar. Hanafi, mantan Duta Besar RI di Kuba, mengaku memperbanyak dokumen itu sejumlah 5.000 eksemplar untuk dibagikan kepada para pendukung BK. BK mengutus Leimena dan Brigjen Hartono (Komandan KKO) untuk menyerahkan SP 13 Maret 1966 kepada Soeharto. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Soeharto tak menggubris perintah kedua ini. Sampaikan kepada Presiden, segala tindakan yang saya ambil adalah tanggung jawab saya sendiri!

Dokumen Departemen Luar Negeri Inggris memberi kesaksian berbeda antara Basoeki, Amir, dan Jusuf, kemarahan BK atas tindakan Soeharto membubarkan PKI, keluarnya SP 13 Maret 1966, dan kabar tentang raibnya naskah asli Supersemar.

Lalu, masih adakah kisah tak tertutur (the untold story) yang disingkap M Jusuf dalam biografi Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang diluncurkan semalam di Jakarta? Saya ragu. Orang kita, tampaknya, sudah terbiasa untuk tidak mau bersikap jujur terhadap sejarahnya sendiri!

 Reflecting on Fallen Presidents: Indonesia
By Wombat | March 15th, 2006
Presidents in Indonesia come and go like summer and winter.
In The Opinion, J. Soedjata Djiwandono reflects on two presidents – Sukarno and Soeharto.

Reflections on fall of Sukarno, and the rise of Soeharto
J. Soedjati Djiwandono, Jakarta

Scanning the print media around March 11, it was clear that few, if any, remembered, or perhaps most just ignored or could not care less, what happened on March 11 in 1966.
During the 32 years of the New Order regime under Soeharto, March 11 was regarded as sacred.

Several important national occasions were later held on that date, such as the beginning session of the People’s Consultative Assembly (MPR), the supreme governing body of the republic, according to the 1945 Constitution, until the onset of the “era of reform” after the resignation of Soeharto in 1998.

 


Bogor Palace

 

M. Jusuf, Basuki rRchmat, Amir Machmud


March 11, 1966, was a turning point in Indonesia’s history. It was the day the late president Sukarno issued an order, later known as Supersemar (Surat Perintah 11 Maret, or the March 11 Order) to Soeharto, then a major general.

The primary significance of the Supersemar is that it was used by Soeharto as the basis of the establishment of what he called “The New Order” to replace the “Old Order”, which referred to the era of “Guided Democracy” under Sukarno.

The rationale for the change, as Soeharto stated in his first “State of the Union Address” as acting president in 1967, was that Sukarno’s Old Order had been a deviation and betrayal of the 1945 Constitution, particularly the ideology of Pancasila (five principles) embodied in its Preamble, and Soeharto’s New Order was meant to be a “total correction” of that deviation, for his New Order would be based on a “pure and consistent” implementation of Pancasila, whatever that meant.

Yet, Supersemar has been full of mystery. Until now nobody knows, perhaps except Soeharto himself, where the original order is. Three generals — Basuki Rachmat, Amir Mahmud and M. Yusuf, all dead now, were Soeharto’s messengers to see Sukarno in Bogor to receive the order. The first died in 1967 of a heart attack. The other two died much later, both taking the secret to their graves.

Some time after the resignation of Soeharto in 1998, however, a TV station rebroadcast Sukarno’s speech about the
March 11 order. This proved the existence of Supersemar. The most important part of Sukarno’s usual fiery speech was his emphasis that the March 11 order was “not a transfer of authority”. In fact, he said “poverty” instead of “authority”, but he immediately corrected his slip of the tongue.

In other words, Soeharto clearly interpreted the order to his own advantage, in the interest of power. That interpretation was sustained by having Supersemar firmly entrenched in a decision by the powerful MPR (then the provisional MPRS), especially considering that the 1945 Constitution provided no mechanisms for judicial reviews or the separation of powers with an effective system of checks and balances. Indeed, in the face of a student demonstration (if I remember correctly, against the Taman Mini Indonesia Indah project in 1972), Soeharto threatened to use the power of supersemar.

A huge number of articles and books have been published over the years since the Gestapu, the Indonesian acronym for the “September 30 Movement”. Scholars and journalists across the world have analyzed and attempted to understand the Gestapu, its aims, the forces behind it, and other aspects. Yet so many questions remain to be answered, and perhaps will remain unanswered.

From the dozens of books and articles that I have perused over the years, perhaps all I can say is some may be closer to the truth than others. After all, the “truth” of an affair such as the Gestapu may be too complex to understand completely. Using an article by W.F. Wertheim, Soeharto and the Untung Coup: The missing link in Journal of Contemporary Asia, vol. 1 and 2, winter 1970, as a starting point for her analysis, a PhD thesis later published by Nawaz B Mody of Bombay University, Indonesia under Soeharto (1987) is probably, I believe, as close to the truth as anyone has gotten.

Yet what is the “truth” of anything, anyway? What sounds logical, coherent and sensible may not be true, while what is true may not sound logical, coherent and sensible, particularly in the circumstances prevailing in Indonesia at the time of the complex Gestapu affair.

One of the most recent books was by Antonie C.A. Dake, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan (2005), which while using a large number of ideas and facts from lots of largely secondary sources, does not come to any conclusion. Yet all the ideas and facts may help change previous conclusions, which may in the end result in a better understanding of what happened around the Gestapu in 1965.

First, the Gestapu was not really a coup d’etat, because Sukarno, a dictatorial ruler, remained in control. It was ridiculous that for some time he was suspected of being involved in the “coup d’etat”. It was, indeed, a struggle for power, involving not just two, but at least three “centers of powers”: Sukarno, the Army, or particularly a group of Army generals, and the Indonesian Communist Party (PKI).

There might have been a fourth “center” of power, a question that remains to be answered. Will it ever be answered? There is no need for elaboration here. However, for those interested, Prof. Nawaz B. Mody, among others, is trying to provide the answer, supported by, among other sources, the memoirs of Sukarno’s close aides Dr. Soebandrio and Omar Dhani, who have made allusions to that effect.

The writer, a political analyst, received his PhD from The London School of Economics and Political Science.

 

The real Gestapu plotters

Col. A. Latief, the commander of the Army’s Jakarta region, is Suharto’s friend dated back as far as the Revolution in which they had fought together. He was one of the Gestapu plotters and was brought to trial in summer 1978. Whereas the other plotters, Lt.Col. Untung and Brig.Gen. Supardjo, had been sentenced to death and were excuted soon after the events, Latief had not been tried for all these years, but kept in an isolation cell in Salemba prison in Jakarta.
What’s the problem with him will be revealed very soon !!

On May 5th, 1978 (during his trial), he submitted to the court a detailed ‘Eksepsi’ (demurrer) and is quoted as writing:

“Two days before the October 1, 1965, events I visited with my family Suharto’s home in Jalan Haji Agus Salim. At the time General Suharto was still commander of KOSTRAD. Besides speaking about family affairs, I also intended to ask him some questions regarding information I received concerning the Generals’ Council (“Dewan Djendral”) ….. He [Suharto] himself told me the following: the previous day he had learned from a former subordinate of his from Yogyakarta, whose name was Subagyo, that there was information about the existence of a generals’ council of the Army, which had plans for a coup d’e’tat against the power of President Sukarno and his government.”
Latief further reported who were present at that visit; among them was Suharto’s youngest son who the same day got hot soup over his body. Then Latief continues:

“In addition, I wish to confirm a report which a writer, Brackman, has published an interview with General Suharto ….. General Suharto told him the following: ‘Two days before September 30, our three-year-old son had an accident at home. He poured hot soup on himself, and we had to rush him to the hospital. Many friends visited my son there and on the night of September 30, I was there, too. … I remembered Col. Latief dropped into the hospital that evening to inquire about my son’s health. I was touched by his thoughtfullness. …. Today I realize that he didn’t go to the hospital to on
my son but, rather, to CHECK ON ME….’
There also exists (Latief goes on) an interview of Suharto published in Der Spiegel of June 1970, in which he was asked how it could happen that he didn’t appear on the list of generals who were to be killed. Suharto replied: ‘About eleven o’clock in the night, Col. Latief of the putsch conspiracy came to the hospital with the intention to KILL ME, but evidently he shrank back from effectuating this plan in a public place.’

I believe (Latief continues) that the President of the Court, …. will ask: ‘Why did Latief come at this extremely important moment ? Did Latief really want to kill General Suharto that night?’

Is it imaginable (Latief pursues his argument) that I should be planning to do harm to a man I highly esteemed, whom I had known for a long time and who had been, in the past, my commander ? It is, moreover, logical that if I would actually have planned to kill “Bapak” General Suharto, such an act would certainly have amounted to a BLUNDER that would cause the whole movement of October 1, 1965, to fall through.

I was firmly convinced that if anybody could be considered LOYAL to the leadership of President SUKARNO, IT WAS HE. I know him already from Yogyakarta and I truly did know who “Bapak” General Suharto was. I came to him, in full agreement with Brig.Gen.Supardjo and Lt.Col. Untung, after we had gathered that evening about 9 o’clock in my house. The aim was to be able to appeal at any time to him for support. This is why I found it important to visit him. Lt.Col.Untung had also been his subordinate in Central Java and later he had been transferred to the Raiders’ Corps. He was selected to be parachuted on West Irian, which earned him high honours. Still, Untung dared not appear before Suharto, as I did….”

In his “Eksepsi”, Col. Latief remarks that Sukarno was deposed as President because it was assumed that Sukarno had possessed foreknowledge that something that night and, thus, had a certain co-responsibility for the events.

“We have to observe,” writes Laties, “that Gen. Suharto, TOO, ‘possessed foreknowledge’, and had information both about the existence of a generals’ council and about the existence of a movement to thwart the plan of the generals’ council for a coup d’etat. When he was informed about that or, at least had learned about it, he did NOT as quickly as possible report it to his chief the Minister concurrently Commander of the Army [Gen. Ahmad Yani] or to the President [Sukarno].”

 

Keluarnya Supersemar

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri”. Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden’ Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak “pasukan liar” atau “pasukan tak dikenal” yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).

Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu menendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.

Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai surat Supersemar itu tiba.

Beberapa Kontroversi tentang Supersemar

Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar “Lho ini khan perpindahan kekuasaan”. Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan dimana karena pelaku sejarah peristiwa “lahirnya Supersemar” ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf mengatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disimpan dalam sebuah bank.

Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan pistol ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu, bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.

Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya “A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto”, seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak konstitusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana untuk menghindari kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakarta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta ijin untuk datang ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno, tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan, sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.

Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.

Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan. |

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jendral (purn) M. Jusuf saksi terakhir hingga akhir hayatnya ( 8 September 2004, agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun, penyakit stroke yang pernah dideritanya pada usia lanjut saat ini, membuat mantan presiden Soeharto kesulitan bila mengingat kembali peristiwa lampau.

Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

 


Supersemar dan Kisah Tak Tertutur
Kompas 11 Maret 2006


Tjipta Lesmana

Pelaku utama terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 berjumlah sembilan orang, yaitu Bung Karno, Soebandrio, Chairul Saleh, Leimena, Sabur, Soeharto, dan trio utusan Soeharto, yaitu M Jusuf, Amir Machmud, serta Basoeki Rahmat. Kesembilan pelaku tersebut bisa dibagi ke dalam dua kelompok, kubu Soekarno dan kubu Soeharto.

Pelaku kubu Soekarno tidak pernah memberi kesaksian sebab mulut mereka sejak awal disumpal rapat-rapat. Hingga awal tahun 1970-an, mereka sudah mati semua, kecuali Soebandrio yang masih dikurung dalam tahanan. Dari kubu Soeharto, saat itu Basoeki juga sudah berpulang, tinggal tiga orang tersisa (Soeharto, Amir, dan Jusuf). Dari mulut ketiga saksi kunci ini sering terlontar kesaksian yang bertentangan.

Ketika memperingati lima tahun Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) di Jakarta pada tahun 1971, Soeharto mengaku dialah yang sebenarnya menjadi penggagas Supersemar. Namun, menurut Amir Machmud (alm) dalam bukunya, Supersemar: Tonggak Sejarah Perjoangan Orde Baru (1985), inisiator Supersemar adalah Jusuf; sedangkan Basoeki mengklaim dirinya sebagai inisiator (Basoeki Rahmat dan Supersemar, 1998).

Menurut Jusuf, dari Bogor, rombongan ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim. Namun, menurut Amir, mereka langsung ke Markas Kostrad.

Kudeta konstitusional

Soal inisiator menjadi penting guna menjawab, Benarkah Supersemar suatu aksi kudeta konstitusional Soeharto terhadap kekuasaan Soekarno? Menurut sebuah dokumen Departemen Luar Negeri Inggris, PRO FO No 371/181457, pada 2-3 November 1965 Brigjen Sukendro (orang dekat Soeharto) mengadakan pembicaraan rahasia di Bangkok dengan Dato Ghazali Shafie, petinggi Kementerian Luar Negeri Malaysia, mengenai penghentian konfrontasi Indonesia. Saat itu Sukendro menjelaskan, Angkatan Darat perlu waktu enam bulan untuk mengonsolidasi kekuatan politiknya.

Menarik disimak kesaksian Amir Machmud. Menjelang penandatanganan surat perintah (SP), Sabur memberi tahu Bung Karno (BK), Secara teknis administratif, Pak, ini tidak bisa dipertanggungjawabkan karena permulaan kalimat pada halaman kedua tidak tercantum pada bagian bawah halaman pertama.

Soekarno kaget, lalu memandangi ketiga jenderal itu. Sebelum BK berkomentar, Amir angkat bicara, Buat apa persoalan teknis-teknisan itu? Ini kan dalam revolusi. Kita ini semua sudah menjadi saksi-saksinya! (Kompas, 15/3/1971).

Dari Bogor, ketiga jenderal kembali ke Jakarta dengan mobil. Baru sampai di Jembatan Satu Duit (Bogor), Amir meminjam SP itu dari tangan Basoeki. Dengan bantuan lampu senter, Amir membacanya kata per kata. Lho, Pak, ini kan penyerahan kekuasaan kepada Pak Harto? Amir sedikit berteriak. Jusuf dan Basoeki menjawab, Ya, ya, penyerahan kekuasaan….

Pertanyaan kita, begitu bodohkah BK plus ketiga Waperdamnya? Bukankah draf SP semula diperlihatkan kepada ketiga Waperdam untuk dikoreksi dan memang di sana-sini dicoret oleh Soebandrio? Sebagai seorang diplomat ulung, Soebandrio pasti tahu, SP yang baru saja diteken Presiden bukan berisi transfer of authority, tetapi hanya delegation of authority.

Tutup mulut

Semua orang dari kubu Soeharto kini sudah mati, kecuali Soeharto. Pada tahun 1995, tiba-tiba dokumen asli Supersemar dinyatakan hilang. Jusuf seperti hendak dikambinghitamkan sebagai orang yang memegang naskah asli. Lalu, pada tahun 2000 terembus isu, Jusuf telah menyerahkan naskah asli kepada Jenderal Feisal Tanjung. Berita itu ditepis Jusuf. Timbul desakan agar ia bicara jujur seputar Supersemar agar bangsa tidak terbebani oleh kebohongan dan kebingungan. Sayang, Jusuf tutup mulut. Isu pun beredar, menurut sanak keluarga Jusuf, rahasia Supersemar baru akan dibuka setelah Jusuf meninggal.

Benarkah naskah asli Supersemar hilang? Atau dihilangkan? Jika sengaja dihilangkan, apa motifnya? Roeslan Abdulgani (almarhum) pernah menyatakan keyakinannya, isi Supersemar yang beredar di Indonesia selama puluhan tahun itu berbeda dengan naskah asli. Bisa saja yang asli sesungguhnya berisi delegation of authority; sedangkan yang palsu yang beredar kini adalah transfer of authority. Teori ini bukan mengada-ada.

Kita tahu, tindakan pertama yang diambil Pak Harto beberapa jam setelah menerima Supersemar ialah mengeluarkan SK Presiden/PANGTI ABRI/Mandataris MPRS/PBR No 1/3/1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). BK terkejut dan marah. Ia menilai tindakan Soeharto ngawur dan bertentangan dengan isi dan jiwa Supersemar. Maka, BK memerintahkan Leimena ke Jakarta untuk meminta pertanggungjawaban Soeharto. Trio Jusuf-Basoeki- Amir dipanggil ke Istana Bogor. Di sana Presiden menumpahkan amarahnya, Kamu nyeleweng! Kamu bikin laporan salah kepada Soeharto!

Sehari setelah kejadian di Bogor itu, Soekarno mengeluarkan SP 13 Maret 1966 yang intinya mencabut kembali Supersemar. Hanafi, mantan Duta Besar RI di Kuba, mengaku memperbanyak dokumen itu sejumlah 5.000 eksemplar untuk dibagikan kepada para pendukung BK. BK mengutus Leimena dan Brigjen Hartono (Komandan KKO) untuk menyerahkan SP 13 Maret 1966 kepada Soeharto. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Soeharto tak menggubris perintah kedua ini. Sampaikan kepada Presiden, segala tindakan yang saya ambil adalah tanggung jawab saya sendiri!

Dokumen Departemen Luar Negeri Inggris memberi kesaksian berbeda antara Basoeki, Amir, dan Jusuf, kemarahan BK atas tindakan Soeharto membubarkan PKI, keluarnya SP 13 Maret 1966, dan kabar tentang raibnya naskah asli Supersemar.

Lalu, masih adakah kisah tak tertutur (the untold story) yang disingkap M Jusuf dalam biografi Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang diluncurkan semalam di Jakarta? Saya ragu. Orang kita, tampaknya, sudah terbiasa untuk tidak mau bersikap jujur terhadap sejarahnya sendiri!

Tjipta Lesmana Pengajar Universitas Pelita Harapan

 

U. S. Policy / Indonesia

Martens, Robert J., formerly a political officer in the U. S. Embassy, referring to 1965 coup events.
“I probably have a lot of blood on my hands, but that’s not all bad. There’s a time when you have to strike hard at a decisive moment.” Martens described how U. S. diplomats and CIA officers provided up to 5000 names to Indonesian Army death squads in 1965, and checked them off as they were killed or captured.

Kathy Kadane, reporter who interviewed Martens; article was in San Francisco Examiner (5/20/90) and
Washington Post (5/21/90). Michael Wines of the New York Times did a damage control effort (7/12/90)
which caused this story to die down.

The events of 1965-1966, dismissed at the time by the world’s media as an ‘abortive Communist coup,’ are still hotly disputed, and appear suspicious by any reasonable standard — the whole thing could have been set up by the CIA

The coup of 1965 was described in a CIA study: “In terms of the numbers killed the anti-PKI massacres in Indonesia
rank as one of the worst mass murders of the 20th century, along with the Soviet purges of the 1930s, the Nazi mass murders during the Second World War, and teh Maoist bloodbath of the early 1950s

 

 

 

7-12 Maret  1967

 

 

Sidang Istimewa MPRS 7-12 Maret 1967

menghasilkan keputusan untuk menarik mandat dari Pemimpin Besar Revolusi itu. Bung Karno harus keluar dari Istana Merdeka. Dalam nama ia masih presiden, tetapi dalam kenyataan ia tahanan rumah di Bogor.

 

Mungkin BK sebelumnya sudah merasa bahwa hal itu akan terjadi. Namun tetap saja, keputusan itu bagaikan sambaran petir. Majelis yang sebagian besar anggotanya dia pilih, berbalik menentangnya.

 

Pertengahan April 1967

drg. Oei Hong Kiankedatangan Pak Djamin, utusan Bung Karno. Selain menyampaikan salam BK, ia juga mengantarkan satu set ballpoint dan pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera warna putih berinisial ‘S’, serta sebotol besar parfum Shalimar buatan Guerlain. Ada juga sampul besar berisi foto Bung Karno ukuran 17,5 X 23 cm dengan tulisan: “Untuk Dr. Oei Hong Kian” dan dibubuhi tanda tangan BK serta tanggal 12-4-1967.

 

Malam harinya Oei Hong Kian memperhatikan foto BK dengan seksama. Dia merasa terharu. Oei Hong Kian mersakan bahwa BK pada saat itu pasti sedang dalam keadaan sulit. Tetapi rupanya ia tidak lupa menunjukkan penghargaan kepada dokter giginya yang baru beberapa bulan dikenal.

 

Keharuan juga terasa ketika mengingat pertanyaannya yang disampaikan lewat Pak Djamin apakah Oei Hong Kian masih dapat menghargai fotonya?

 

Maklum, foto itu diberikan pada saat ia bukan lagi presiden. Mungkin itu termasuk salah satu foto terakhir yang ia berikan secara pribadi kepada seseorang.

 

Dalam fikiran Oei Hong Kian mengira hubungannya dengan BK telah berakhir. Menurut berita burung yang dia dengar, kesehatan BK menurun drastis. Ingatannya lemah, jalannya pincang.

 

 September 1967

 

Tiba-tiba sekitar awal September 1967,

dokter pribadi BK memberitahu bahwa BK ingin berobat lagi. Ia akan datang ke rumah drg. Oei Hong Kian. Dokter pribadi itu berpesan agar Oei Hong Kian memperhatikan keamanan. Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang dokter gigi untuk melindungi keamanan pasiennya?

 

Dalam konsidsi yang serba sulit Oei Hong Kian memutuskan agar BK memasuki rumah lewat pintu samping. Kedua mobil Oei Hong Kian akan dikeluarkan dari garasi, lalu pintu garasi akan dibuka lebar-lebar. Begitu mobil BK masuk ke garasi, pintunya akan ditutup.

 

Pukul 08.45 keesokan harinya, seorang prajurit datang mengendarai jip militer. Ia menyetujui prosedur yang Oei Hong Kian tawarkan. Tepat pukul 09.00 BK tiba dengan sedan Mercedes 600, diiringi lima jip putih penuh prajurit. Cuma tidak ada raungan sirene, dan fungsi pengawalannya sudah berbeda.

 

Bung Karno duduk di bangku belakang yang sangat lapang, tetapi tanpa ajudan. Celananya abu-abu, bajunya putih berlengan pendek dan dibiarkan keluar. Peci hitam tidak ketinggalan. Ia kelihatan sehat wal afiat. Dengan gesit, tanpa bantuan, ia keluar dari mobil.

 

“Selamat pagi, Pak Dokter,” sapanya sambil mengulurkan tangan. “Tidak disangka-sangka, ya, kita akan bertemu lagi dalam waktu secepat ini. Ini, gigi saya ada yang terganggu. Bagaimana, baik-baik semua?”

 

Sikapnya biasa saja, seolah-olah tidak ada sedikit pun ganjalan di dalam hati.

Oei Hong Kian persilakan BK masuk ke kamar praktik. Seorang prajurit mengikuti, tetapi ditolak oleh drg. Oei Hong Kian. Dia bilang tidak bisa bekerja sambil ditunggui. Untunglah si prajurit mengerti walaupun semula menolak.

 

Oei Hong Kian dibantu keponakan istrinya, seorang wanita dokter gigi juga. Bung Karno rupanya selalu ingat pada nama orang yang dijumpainya. Sejak itu, kalau keponakan istri Oei Hong Kian tidak ada, BK tak pernah lupa menanyakannya.

 

Oei Hong Kian merasa lega melihat keadaan BK tidak menyedihkan. Pria itu masih tetap jernih, riang seperti dulu, dan juga penuh humor.

Sambil melepaskan pecinya, BK bertanya, “Saya ingin tahu, apakah Pak Dokter masih bisa menghargai foto saya?”

“Bapak tentu pernah memberikan foto kepada banyak orang. Tetapi karena Bapak memberikannya kepada saya pada saat itu, foto itu tinggi nilainya bagi saya.” Demikian Oei Hong Kian menjawab pertanyaan BK namun demikian perasaan haru sangat menyelimuti batin dan hati Oei Hong Kian.

Oei Hong Kian belum lama mengenal BK.

 

Saat ia terpukul karena kekuasaannya dilucuti, ternyata ia masih ingat memberikan cendera mata. Apakah itu penghargaan atas pelayanannya sebagai dokter gigi, ataukah tanda mata bagi salah satu dari segelintir orang yang membantu mengusir kesepiannya di saat sulit, walau cuma sebentar?

 

“Bapak saat ini tidak bisa memberi imbalan apa-apa,” lanjut BK. Mendengar ucapan BK Oei Hong Kian sampai tidak bisa berkata-kata.

 

Mungkin ia tahu tidak ada yang memikirkan honorarium saya. Terus terang Oei Hong Kian sendiri juga tidak pernah memikirkannya. Oei Hong Kian tahu bahwa dalam keadaan normal dokter pribadi akan memperoleh fasilitas khusus. Namun saat itu bukanlah keadaan normal. Yang ada sat ini adalah BK diambang senja kekuasaannya

 

Ketika akan pulang, BK minta bertemu dengan istri Oei Hong Kian. Di ruang duduk istri Oei Hong Kian mempersilakan BK untuk singgah, tetapi BK menolak. “Terima kasih. Nanti suami Anda bisa dikira yang bukan-bukan kalau saya berlama-lama di sini.”

 

Walau tidak pernah berlama-lama, BK beberapa kali datang lagi untuk periksa. Suatu kali, ketika ia datang, putri Oei Hong Kian sedang mengerjakan PR. Bung Karno mengusap-usap kepala anak itu sambil berkata, “Belajar baik-baik ya, Nak. Supaya nanti pandai.”

 

Kebetulan putri Oei Hong Kian yang nomor tiga memasuki ruangan. “Wah, kau pasti ingin jadi dokter kelak, seperti ayahmu,” kata BK seraya mengampiri anak itu dan (juga) mengusap-usap kepalanya. Kedua putera Oei Hong Kian itu belakangan memang menjadi dokter gigi.

 

Pada suatu pagi BK datang tanpa iringan jip.

“Kok sendirian, Pak?” tanya Oei Hong Kian.

“Mereka belum datang. Padahal saya tidak mau terlambat.” Bung Karno memang selalu datang sesuai waktu perjanjian. Hal itu tentu sangat memudahkan Oei Hong Kian yang anti jam karet.

 

Bung Karno memerlukan dua-tiga kali kunjungan setiap kali merasa giginya terganggu. Suatu saat ia berkata, “Saya ingin bicara blak-blakan. Saya ingin tinggal agak lama sedikit di Jakarta. Di Jakarta saya lebih dekat dengan anak-anak. Tapi mungkinkah itu?”

 

Pada saat itu BK tinggal di Bogor. Tetapi kalau sedang membutuhkan perawatan, ia tinggal di Wisma Yaso (Museum ABRI Satria Mandala) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Dari situ BK hanya boleh pergi-pulang ke rumah Oei Hong Kian.

 

Mendengar pertanyaan yang agak merenyuhkan maka Oei Hong Kian spontan menjawab, “Tentu mungkin, Pak. Waktu pengobatan bisa diulur. Seandainya diulur tiga minggu, cukup Pak?”

 

BK kelihatan gembira sekali. “Wah, terima kasih banyak!” Oei Hong Kian sampai terharu karena hal kecil saja bisa membuat bahagia bekas presiden yang pernah menggegerkan pata tokoh dunia namun saat ini sedang kesepian dan terasing.

 

Selama lebih dari setahun merawat gigi BK, Oei Hong Kian tak pernah membicarakan soal politik. Suatu kali BK bertanya di mana Profesor Ouw, dokter giginya sebelumnya, berada. Oei Hong Kian jawab, dia di Hong Kong. Bung Karno tidak mengerti mengapa ia pindah ke sana.

“Itu karena Bapak,” kata Oei Hong Kian.

“Saya disalahkan lagi,” ia menanggapi.

“Ya. Bapak mengangkatnya jadi anggota DPA. Ketika mahasiswa mulai bergolak, ia takut dan cepat-cepat pergi.”

“Namun ia toh bisa pamit. Atau paling sedikit bisa menulis surat,” BK ngotot.

Oei Hong Kian hanya bisa mengatakan bahwa orang itu takut.

Dua anak Oei Hong Kian sedang menuntut ilmu di Universitas Amsterdam. Tak lama lagi kedua adiknya akan menyusul.

 

Jadi Oei Hong Kian hanya akan berdua dengan istrinya di Jakarta. Daripada terpisah-pisah, lebih baik pindah saja ke Amsterdam.

Ketika BK datang pada bulan Februari 1968, Oei Hong Kian beritahukan rencananya untuk pindah pada akhir Maret.

 

Bung Karno menanggapi, “Tidak perlu menjelaskan kepada Bapak apa artinya kesepian. Bapak mengerti. Tapi kita masih akan berjumpa beberapa kali lagi, ‘kan?”

 

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1967(BERSAMBUNG)

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

1967

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

March,12th.1967
March 12 Assembly (MPR), chaired by Gen. Nasution, receives a committee report on Sukarno’s role in the September 30, 1965 events. The Assembly takes all power away from Sukarno, and names Suharto acting president.

March 12, 1967
Suharto became Acting President
one year after the socalled ” Supersemar” letter

Sumber sukarnoyears

Oktober 1967

Dalam Operasi Saber inilah  peristiwa “Mangkok Merah” terjadi pada bulan Oktober-November 1967. Peristiwa Mangkok Merah sendiri dipicu oleh terjadinya penculikan dan kekerasan  yang dialami Temenggung Dayak di Sanggau Ledo. TNI kemudian mempropagandakan bahwa kekerasan itu dilakukan oleh  GTK alias Paraku-PGRS. Propaganda ini diperkuat lagi dengan penemuan sembilan mayat oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kemudian mereka  sebut sebagai mayat tokoh-tokoh Dayak.

Tak pelak, temuan RPKAD ini membuat marah banyak warga Dayak. Ditambah lagi, Harian milik TNI,  Angkatan Bersenjata (AB),  segera ‘mengipas-ngipas’ orang Dayak agar membalas kematian para pemuka adat mereka.

Kekerasan  horizontal pun dimulai. Warga Dayak terprovokasi untuk turut  bersama TNI melakukan perburuan terhadap anggota Paraku-PGRS.  Namun, gerakan penumpasan oleh orang Dayak ini ternyata tidak hanya menyasar anggota Paraku-PGRS saja, tetapi juga warga etnis Tionghoa secara umum! Wilayah Kalimantan Barat pun segera tenggelam dalam ‘lautan’ kekerasan  berdarah bernuansa rasialis.

Sebenarnya, kekerasan rasialis yang dilakukan warga Dayak ini tidaklah murni inisiatif mereka mengingat harmoni diantara etnis Dayak dan Tionghoa di Kalimantan Barat telah terbangun selama ratusan tahun. Rusaknya hubungan yang harmonis ini terjadi dikarenakan strategi penumpasan Paraku-PGRS yang digunakan militer  Indonesia adalah dengan cara ‘pengeringan kolam’.

Menurut Indonesianis asal Amerika Serikat (AS), Herbert Feith, pengertian dari istilah ini adalah : mengeringkan ‘kolam berarti  menghabisi masyarakat Tionghoa, agar ‘ikan’  atau yang dalam kasus ini diasosiasikan kepada pihak gerilyawan Paraku-PGRS  bisa  mudah terlihat  dan dengan begitu juga mudah  untuk ditumpas. Dan warga Dayak tak lebih Sebagai operator dari implementasi strategi militer tersebut.

Gerakan Warga Dayak yang disokong TNI sebagai upaya melakukan “pengeringan kolam” terhadap warga Tionghoa inilah yang kemudian dikenal sebagai  peristiwa Mangkok Merah.

 Istilah Mangkok Merah diambil dari terminologi adat suku Dayak, dimana terjadi mobilisasi besar-besaran warga suatu klan untuk membalas rasa malu atau penderitaan dari anggota klannya yang disebabkan oleh ulah warga dari klan lain.

 Mobilisasi ini menggunakan alat peraga sebuah mangkuk yang bagian dalamnya diolesi getah jaranang berwarna merah sebagai simbolisasi dari  “ pertumpahan darah “ yang akan dilakukan sebagai bentuk balas dendam tersebut.

Jadi, tampak militer dengan lihai memanfaatkan adat istiadat suku Dayak demi mengobarkan konflik rasialis.

Hasil dari  peristiwa ‘Mangkuk Merah’ ini adalah terbunuhnya ribuan orang Tionghoa Kalimantan Barat. Far Eastern Economic Review (FEER)  terbitan bulan Juni 1978 menyatakan peristiwa tersebut menelan korban jiwa 3.000 orang Tionghoa, terutama mereka yang tinggal di pedalaman Kalimantan Barat. Akibatnya, banyak warga Tionghoa pedalaman pindah  ke daerah  perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang. Bahkan, adapula  warga Tionghoa yang lari ke Kalimantan Utara. .

Peristiwa Mangkok Merah pun menjadi bagian dari catatan kelam riwayat pembantaian massal dan penindasan terhadap golongan kiri dan etnis Tionghoa diawal Orde Baru.

Sejarah telah menunjukkan, bahwasanya dibutuhkan banyak tumbal manusia bagi tegaknya sebuah rezim kaki-tangan imperialis. Peristiwa ini juga merefleksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang  lahir sebagai  buah dari ‘perkawinan’ antara  imperialisme dan rasialisme.

Hiski Darmayana, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan alumnus FISIP Universitas Padjajaran (Unpad

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20130120/peristiwa-mangkok-merah-ketika-imperialisme-mengawini-rasialisme.html#ixzz2gXBCqMPU
Follow us:
@berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

 

Dalam operasi gelombang kedua (Operasi Sapu Bersih II) kesatuan-kesatuan

tempur Kodam XII/Tanjungpura telah diperkuat dengan RPKAD, Siliwangi,

Kopasgat AURI, dan KKO. Operasi Sapu Bersih II menghasilkan lebih memuaskan,

dibanding dengan operasi-operasi sebelumnya. Operasi Sapu bersih II ini ternyata

54 Ibid., hlm. 235. Hierarki dalam pelaksanaan Dwikora adalah (1) KOTI (Komando Tertinggi)

 

dipimpin Presiden Soekarno; (2) KOGA (Komando Siaga) yang berganti nama menjadi KOLAGA(Komando Mandala Siaga) sebagai komandan gabungan angkatan-angkatan; (3) Kopur (KomandoTempur) dan Kodam (Komando Daerah Militer) sebagai pelaksanan dan supporting unit..

55 Ibid., hlm. 243.

56 Ibid., hlm. 244.

57 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

58 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm. 256.

59 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

 

1967

 

60 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.258.

memakan waktu kurang lebih dua (2) tahun yaitu Agustus 1967 hingga Februari

1969.61 Operasi-operasi militer yang dilakukan ternyata belum mampu

melumpuhkan semua kekuatan PGRS/PARAKU. Dalam perjalanan selanjutnya

pihak militer menggandeng suku Dayak untuk melumpuhkan kekuatan PGRS/

PARAKU.

Pada tanggal 14 Oktober 1967 terjadi peristiwa yang membantu Tentara

Indonesia dalam menumpas PGRS/PARAKU. Gerakan pembasmian terhadap

PGRS/PARAKU dikenal dengan sebutan “Demonstrasi Suku Dayak”. Gerakan ini

kemudian menyebar luas menjadi luapan emosi etnis Dayak, hingga upacara

“mangkok merah”62 pun diadakan. Gerakan Suku Dayak ini kemudian menjadi

sentimen rasial dengan mengidentikkan etnis Tionghoa sebagai anggota

PGRS/PARAKU. Masyarakat dari etnis Tionghoa tanpa pandang “bulu” menjadi

korban dari gerakan demonstrasi.63

Gerakan ini mengakibatkan pengungsian besar-besaran yang dilakukan oleh

etnis Tionghoa menuju ke Kota Pontianak.64 Pengungsian ini tidak saja menimbulkan

masalah di kota-kota penampungan dan derita psikis yang dialami keluarga korban

pembantaian oleh etnis Dayak tersebut. Namun juga, sirkulasi perdagangan di

daerah pedalaman Kalimantan Barat menjadi lumpuh. Setelah gerakan Suku Dayak

terhadap PGRS/PARAKU, maka kegiatan-kegiatan PGRS/PARAKU mulai

menurun intensitasnya. Tekanan-tekanan Pasukan Indonesia menyebabkan

PGRS/PARAKU semakin terjepit. Putusnya jalur logistik dengan mengungsinya

ribuan orang Tionghoa menyebabkan banyak anggota PGRS/PARAKU yang

menyerahkan diri.

Dilihat dari sudut ekonomi dan sosial akibat yang dapat dirasakan adalah

sebagai berikut: (1) Putusnya aliran perdagangan yang semula dilakukan oleh

pedagang-pedagang Tionghoa, maka muncul problema bagaimana mengalirkan lalu

lintas perdagangan dari dan ke pedalaman; (2) Kebun dan ladang yang ditinggalkan

pemiliknya menjadi terlantar yang berakibat turunnya produksi beberapa jenis

komoditi Kalimantan Barat; (3) Arus pengungsi yang mengalir ke kota-kota

merupakan beban yang harus ditanggung pemerintah dan masyarakat.65

F. Penutup

Terbentuknya Pasukan Gerilya Rakyat Serawak/Pasukan Rakyat Kalimantan

Utara (PGRS/PARAKU) merupakan kristalisasi dari gerakan kelompok-kelompok

yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Pihak yang secara langsung

dirugikan atas pembentukan Federasi Malaysia melakukan perlawanan, yang

61 Soemadi, op. cit., hlm. 87.

62 Upacara adat yang merupakan ajakan (solidaritas) perang, berupa sesajen yang diletakkan di

mangkok dan diedarkan dari kampung ke kampung. Bagi kampung/orang yang menerimanya

wajib mengirimkan perwakilannya untuk berperang. Bagi masyarakat umum Mangkok Merah juga

dapat dijadikan ukuran bahwa konflik/perang yang terjadi merupakan perang besar, yang

membutuhkan solidaritas lintas sub-suku Dayak.

63 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.270.

64 Dalam Tandjungpura Berdjuang, idem, hlm. 277, disebutkan 50.000 orang Tionghoa mengungsi

dan 250 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Menurut Tyhie Dju Khian atau Petrus yang

diperolehnya dari badan dunia yang menangani pengungsi saat kejadian, ada 3.000 orang

meninggal dan 70.000 mengungsi, lihat Muhlis Suhaeri, “The Lost Generation (10)”, Borneo

Tribune, Selasa, 19 Februari 2008, tulisan dikutip dari blog pribadi penulis dengan alamat

http://muhlissuhaeri.blogspot.com

65 SEMDAM XII/Tanjungpura, op. cit., hlm.280..

ditandai dengan terbentuknya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) dan

kemudian PGRS/PARAKU. Sedangkan di luar negeri, Indonesia dan Filipina

sebagai penentang utama Federasi Malaysia kemudian mendukung gerakan anti

Malaysia, yang berarti mendukung NNKU dan PGRS/PARAKU.

Sikap Pemerintah Indonesia pada Orde Lama yang menentang pembentukan

Federasi Malaysia menyebabkan keluarnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang

mendukung PGRS/PARAKU. PGRS/PARAKU berhasil bertahan dan terus

melakukan perlawanan terhadap Federasi Malaysia karena dukungan yang

diberikan Pemerintah RI, bahkan PGRS/PARAKU berhasil mendapat suntikan

tenaga dengan bekerja sama dengan PKI dan terbantu dengan pengerahan para

sukarelawan oleh Pemerintah Indonesia.

Sikap Pemerintah Orde Baru sangat bertolak-belakang dengan Orde Lama.

Dengan ditandatanganinya Jakarta Accord, maka konflik antara Indonesia-Malaysia

berakhir. Namun, PGRS/PARAKU tidak mengakui persetujuan tersebut dan tetap

menolak pembentukan Federasi Malaysia. Akibatnya Pemerintah Orde Baru

menumpas PGRS/PARAKU. Operasi-operasi penumpasan yang dilakukan Tentara

Indonesia, seperti Operasi Sapu Bersih dan Operasi Tertib berhasil melumpuhkan

sebagian kekuatan PGRS/PARAKU. Puncaknya ketika terjadi gerakan Suku Dayak,

yang pada awalnya ditujukan untuk menumpas PGRS/PARAKU, namun meluas

menjadi kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa.

Daftar Pustaka

Baskara T. Waradaya. 2007. Cold War Shadow: United States Policy Toward Indonesia

1953-1963, Yogyakarta: Galang Press.

Departemen Penerangan RI. 1964. Gelora Konfrontasi Menggajang Malaysia. Jakarta:

Departemen Penerangan.

Hidayat Mukmin. 1991. TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian

Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

La Ode, M.D. 1997. Tiga Muka Etnis Cina–Indonesia Fenomena di Kalimantan Barat.

Yogyakarta: Biograf Publishing.

Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.

Muhlis Suhaeri, 2008. “The Lost Generation (1)”. Borneo Tribune. Minggu. 10 Februari

2008.

____________, 2008. “The Lost Generation (10)”. Borneo Tribune. Selasa. 19 Februari

2008.

Ongkili, James P. 1985. Nation-Building in Malaysia 1946-1974. Singapura: Oxford

University Press.

Pembayun Sulistyorini. 2004. “Pemberontakan PGRS/PARAKU di Kalimantan

Barat”. Jurnal Sejarah dan Budaya Kalimantan, edisi 03/2004. Pontianak: Balai

Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Halaman 39.

Ricklef, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.

SEMDAM XII/Tanjungpura. 1970. Tandjungpura Berdjuang, Pontinak: Kodam XII

Tanjungpura.

Soemadi. 1974. Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia

Tenggara. Pontianak: Yayasan Tanjungpura.

__________________. Amanat Komando Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin

Besar Revolusi Indonesia Pada Appel Besar Sukarelawan Pengganjangan

Malaysia di Depan Istana Merdeka, Djakarta, 3 Mei 1964.

Wawancara langsung dengan L.H. Kadir, pada hari Minggu, 20 Juni 2008 pukul

17.00 Wib lokasi di kediaman L.H. Kadir, jalan M.T. Haryono No. 40 Pontianak,

Kalimantan Barat.

Muhlis Suhaeri. “The Lost Generation”. http://muhlissuhaeri.blogspot.com

 

Seragam PARAKU (Eksponen Komunis Cina)

 

Seragam PARAKU