INDONESIA INDEPENDENT REVOLUTION AND WAR HISTORY COLLECTION INTRO

THE INDONESIAN INDEPENDENCE REVOLUTION AND WAR HISTORY COLLECTION

PART

INTRODUCTION

BY

DR IWANSUWANDY,MHA

LIMITED E-BOOK IN CD ROM EDITION

SPECIAL FOR SENIOR COLLECTORS ONLY

COPYRIGHT @DR IWAN 2014

INTRODUCTION

Saya adalah putra kelahiran kota Padang Sumatra Barat tahun 1945 bulan pebruari,beberapa bulan sebelum proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Tidak terasa hapir 70 tahun yang lalu, dalam rangka memperinagati hari ulang tahun proklamasi Kemerdeaan Indonesia ke 70, saya tealah mempersiapkan sebuah  buku elektronik dalam CD Rom yang akan saya tampilkan pada agustus 2015 yang akan datang.

Saya mengumpulkan prangko sejak berumur 10 tahun tahun 1955, dan pada tahun 1957 saya banyak menemukan postal history Indonesia dari kantor-kantor pemerintah yang lokasi dekat rumah sata dari tempat sampah sedang dibakar.

Sungguh sangat beruntung koleksi tersebut tidak saya lepaskan dari sampul atau dokumennya,mulanya karena malas saja dan saat ini yang postally used on cover dan document sudah sangat langka.

Pada tahun 1980 saat saya mengunjungi kota Bandung, saya mampir di took prangko Go-Go shop di jalan Braga saat keluarga saya berbelanja di area tersebut.

Di Toko ini saya menemukan sebuah buku lelangan prangko dari Vic Esbensen Canada,dan saya diberi izin untuk memfoto kopinya,kemudia saya menghubungi Vic esbensen,dari dari dia saya diberikan buku katalogus  postal history proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sampai saat ini masih ada pada saya,dan berdasarkan katalogus yang langka tersebut mulailah saya berburu koleksi.

Tahun 1982 saya sempat membeli suatu koleksi postal history dan juga dokumen milik

 Suwil St Bandaro,almarhum Bendahara kantor Pos Padang masa Revolusi dari Isteri dan anak-anaknya dengan menukarnya dengan sebuah rumah real estate di Tabing Padang.

Tahun 1985. P.R.Bulterman pemilik dan penerbit  katalogus belanda Indonesia,dan buku DEI Postmark kerumah saya di kota Padang,ia sangat terkejut melihat koleksi saya, dan membeli beberapa koleksi postal stationer pendudukan Jepang untuk bahan katalogus yang di buatnya,tetapi saya larang nama saya dicantumkan,karena saya sebagai Perwira Polri mersa perlu hat-hati karena dsaat tersebut dokumen sejarah Indonesia dilarang untuk disimpan.say hanya jual pendudukan jepang ssja.

Tahun 1986 saya menjual beberapa koleksi revolusi saya kepa Karel dengan syarat tidak dimual kelur negeri, tetapi ternyata kemudian dijual juga  liwat Tangera Auction TAM dan Belanda, untuk ko9leksi dokumen asli bekas milik Suwawil Dr Bandaro masih ada sampai sekarang.

Koleksi saya jual karena membutuhkan biaya

untuk membeli rumah di Kelapa Gading Jakarta

dan biaya sekolah saya, isteri dan kedua anak saya serta membeli mobil pada tahun 1989.

Pada tahun 1995 saat pameran filateli hari kemerdekaan Indonesia 1950 sebenarnya saya sudah mempersiapkan untuk memamerkan koleksi dan membuat pertunjukan tetapi oleh karena berbagai hal terpaksa di Tunda.

Setah pak Harto turun tahun 1998,koleksi filateli mengaklami kemunduran yang luar biasa, baru tahun 2008 koleksi filatemi terutama postal history jadi hebat lagi, selamay koleksi filateli sepi saya sempat membeli koleksi postal historu revolusi ke,erdekaan Indonesia dari pulau jawa,dan kemudian membuat buku elektronil dam CD-Rom yang saya upload tahun 1945 saja di web blog saya.

Saya hanya jual satu CD-ROM saja yaitu ke Pad Tono R.Putranto semarang, dan saya tidak mau jual kepada pedagang karena banyak ditemukan koleksi Asli tetapi palsu(fake) terutama dari kota Medan,mereka marah kepada saya karena pernah saya memberikan komentar di facebook.

Tahun 2014,ternyata Pak Tono dan dua orang lagi memperoleh medali Mas dari Philakorea 2014,termasuk koleksi revolusi milik pak Agus,yang memiliki 5 prangko militer Surakarta.

 

Bagi yang ingin memiliki CD-ROM ini,harap memnghubungi saya liwat emaikl

iwansuwandy@gmail.com

dan khusu bagi yang membeli CD-ROM edisi terbatas ini hanya 100 buah, nanti akan mendapat undangan gratis untuk menyaksikan pertunjukan yang saya laksanakan bulan agustu 2016.

Terima kasih atas segala bantuan yang saya rtelah terima khususnya almarhum Vic Esbensen,Ramkema,P>R>Bulterman,Pak Untung, Suwito, Harri siregar,Herry dan Pak Tono dan masih banyak lagi yang namanya tidak dapat saya tulis disini.

Jakarta Agustus 2014

Dr Iwan suwandy,MHA

Senior Superintendant®

Kombespol Purnawirawan

 

 

English version

INTRODUCTION

I was born in the city of Padang in West Sumatra month of February 1945, several months before the proclamation of Indonesian independence.

Nothing feels hapir 70 years ago, in order memperinagati birthday proclamation Kemerdeaan Indonesia to 70, I tealah prepare an electronic book on CD Rom which I will show at the upcoming August 2015.

Collecting stamps since I was 10 years old in 1955, and in 1957 I found many Indonesian postal history of government offices that location near the sata from trash being burned.

It is very fortunate that collection I did not remove it from the cover or the document, initially just being lazy and this time the postally used on covers and a document has been extremely rare.

In 1980 when I visited the city of Bandung, I stopped at the shop stamp Go-Go shop at the Braga family when I was shopping in the area.

In this shop I found a book of stamps auction Vic Esbensen Canada, and I was given permission to photograph his coffee, later I contacted Vic esbensen, from of him I was given a book catalogs the proclamation of Indonesian independence postal history that is still available to me, and based on the catalog of the rare collections began my hunt.

In 1982 I had bought a collection of postal history and also documents belonging Suwil Dr. Bandaro, late Treasurer of the Revolution Padang Post office of his wife and children by exchanging with a home real estate in Tabing Padang.

1985 PRBulterman owner and publisher catalogs Dutch Indonesia, and book DEI PostMark my house in the city of Padang, he was surprised to see my collection, and bought some postal stationary collection for the Japanese occupation of the catalog material is in him, but I forbid my name listed , because I am a police officer need a hat Mersa careful because it documents the history of Indonesia dsaat forbidden to sell only disimpan.say ssja Japanese occupation.

In 1986, I sold some of my collection kepa Karel revolution on condition dimual kelur country, but it was later sold also through Tangera TAM Auction and Dutch, for ko9leksi original documents used to belong Suwawil Dr. Bandaro still there today.

Selling my collection because it cost money to buy a house in Kelapa Gading Jakarta and school fees both wife and my son and bought a car in 1989.

In 1995 when the Indonesian independence day philately exhibition in 1950 in fact I’ve been preparing to showcase a collection and make the show but because of various things forced on Pause.

Setah Pak Harto down in 1998, a collection of philatelic mengaklami tremendous setback, the new 2008 collection of postal history filatemi especially so powerful, quiet selamay philatelic collection I had bought a collection of postal historu revolution, erdekaan Indonesia on the island of Java, and then make a book elektronil dam CD-Rom which I uploaded in 1945 alone in my web blog.

I only sell one CD-ROM course is to Pad Tono R.Putranto Semarang, and I do not want to sell to traders because many found a collection of original but fake (fake) primarily from the city of Medan, they are angry with me because I never leave a comment on facebook .

In 2014, it turns out Mr. Tono and the other two medal Mas from Philakorea 2014, including the collection belongs pack revolution Agus, who has 5 military stamps Surakarta.

 

For those who want to have a CD-ROM, please memnghubungi me through emaikl

iwansuwandy@gmail.com

and khusu for those who buy the limited edition CD-ROM is only 100 pieces, later will receive a free invitation to watch the show that I carried out in agustu 2016.

 

Thank you for all the help I received, especially the late Vic  Esbensen, Ramkema, P. R. Bulterman, Mr. Untung, Suwito, Harri Siregar, Herrera and Mr. Tono and many more whose names I can not write here.

Jakarta in August 2014

Dr Iwan Suwandy, MHA

senior Superintendant®

Retired Kombespol

Note

For foreign collectors please aks helping from Indonesian collectors if you want to by the CD-Rom because difficult and high cost to send the CD abroad.

Taiwan History Collections

Republic Of China(Taiwan)

Prehistoric settlement

Main article: Prehistory of Taiwan
History of Taiwan is located in Taiwan

Zuozhen
Zuozhen
Changbin
Changbin
Eluanbi
Eluanbi
Dapenkeng
Dapenkeng
Magnify-clip.png

Taiwan, with early sites, and the 130 km-wide (81 mi) Taiwan Strait

In the Late Pleistocene, sea levels were about 140 m lower than in the present day, exposing the floor of the shallow Taiwan Strait as a land bridge that was crossed by mainland fauna.[4] The oldest evidence of human presence on Taiwan consists of three cranial fragments and a molar tooth found at Chouqu and Gangzilin, in Zuozhen District, Tainan. These are estimated to be between 20,000 and 30,000 years old.[1][5] The oldest artifacts are chipped-pebble tools of a Paleolithic culture found in four caves in Changbin, Taitung, dated 15,000 to 5,000 years ago, and similar to contemporary sites in Fujian. The same culture is found at sites at Eluanbi on the southern tip of Taiwan, persisting until 5,000 years ago.[2][6] At the beginning of the Holocene 10,000 years ago, sea levels rose, forming the Taiwan Strait and cutting off the island from the Asian mainland.[4]

Around 3,000 BC, the Neolithic Dapenkeng culture (named after a site in Taibei county) abruptly appeared and quickly spread around the coast of the island. Their sites are characterized by corded-ware pottery, polished stone adzes and slate points. The inhabitants cultivated rice and millet, but were also heavily reliant on marine shells and fish. Most scholars believe this culture is not derived from the Changbinian, but was brought across the Strait by the ancestors of today’s Taiwanese aborigines, speaking early Austronesian languages.[3][7] Some of these people later migrated from Taiwan to the islands of Southeast Asia and thence throughout the Pacific and Indian Oceans. Malayo-Polynesian languages are now spoken across a huge area from Madagascar to Hawaii, Easter Island and New Zealand, but form only one branch of the Austronesian family, the rest of whose branches are found only on Taiwan.[8][9][10][11]

The Dapenkeng culture was succeeded by a variety of cultures throughout the island, including the Tahu and Yingpu cultures. Iron appeared at the beginning of the current era in such cultures as the Niaosung Culture.[12] The earliest metal artifacts were trade goods, but by around 400 AD wrought iron was being produced locally using bloomeries, a technology possibly introduced from the Philippines.[13]

Early Chinese histories refer to visits to eastern islands that some historians identify with Taiwan. Troops of the Three Kingdoms state of Wu are recorded as visiting an island known as Yizhou (夷洲) in the 3rd century. The Book of Sui relates that Emperor Yang of the Sui dynasty sent three expeditions to a place called Liuqiu early in the 6th century. Later the name Liuqiu (Japanese: Ryukyu) referred to the island chain to the northeast of Taiwan, but some scholars believe it may have referred to Taiwan in the Sui period. Neither of these names has been definitively matched to the main island of Taiwan.[14]

Dutch and Spanish rule

Main articles: Dutch Formosa and Spanish Formosa

Taiwan in the 17th century, showing Dutch (magenta) and Spanish (green) possessions, and the Kingdom of Middag (orange)

Portuguese sailors, passing Taiwan in 1544, first jotted in a ship’s log the name of the island Ilha Formosa, meaning “Beautiful Island”. In 1582 the survivors of a Portuguese shipwreck spent ten weeks battling malaria and aborigines before returning to Macau on a raft.[15]

Dutch traders in search of an Asian base first arrived on the island in 1623 to use the island as a base for Dutch commerce with Japan and the coastal areas of China. The Dutch East India Company (VOC) built Fort Zeelandia on the coastal islet of Tayowan (off modern Tainan). The Spanish established a settlement at Santissima Trinidad, building Fort San Salvador on the northwest coast of Taiwan near Keelung in 1626 which they occupied until 1642 when they were driven out by a joint Dutch–Aborigine invasion force.[16][17] They also built a fort in Tamsui (1628) but had already abandoned it by 1638.

The Dutch built a second administrative castle on the main island of Taiwan in 1633 and set out to earnestly turn Taiwan into a Dutch colony.[8] The first order of business was to punish villages that had violently opposed the Dutch and unite the aborigines in allegiance with the VOC. The first punitive expedition was against the villages of Baccloan and Mattauw, north of Saccam near Tayowan. The Mattauw campaign had been easier than expected and the tribe submitted after having their village razed by fire. The campaign also served as a threat to other villages from Tirossen (modern Chiayi) to Lonkjiaow (Hengchun). The 1636 punitive attack on Lamay Island in response to the killing of the shipwrecked crews of the Beverwijck and the Golden Lion ended ten years later with the entire aboriginal population of 1100 removed from the island including 327 Lamayans killed in a cave, having been trapped there by the Dutch and suffocated in the fumes and smoke pumped into the cave by the Dutch and their allied aborigines from Saccam, Soulang and Pangsoya.[18] The men were forced into slavery in Batavia (Java) and the women and children became servants and wives for the Dutch officers. The events on Lamay changed the course of Dutch rule to work closer with allied aborigines, though there remained plans to depopulate the outlying islands.[19]

After ejecting the Spanish from Fort Santo Domingo in northern Taiwan in 1642, the Dutch erected Fort Anthonio on the site, which still stands (now part of the Fort Santo Domingo museum complex). They then sought to establish control of the western plains between the new possessions and their base at Tayouan. After a brief but destructive campaign in 1645, Pieter Boon was able to subdue the tribes in this area, including the Kingdom of Middag.[20][21]

The VOC administered the island and its predominantly aboriginal population until 1662, setting up a tax system, schools to teach romanized script of aboriginal languages and evangelizing.[22][18] Although its control was mainly limited to the western plain of the island, the Dutch systems were adopted by succeeding occupiers.[23] The first influx of migrants from coastal Fujian came during the Dutch period, in which merchants and traders from the mainland Chinese coast sought to purchase hunting licenses from the Dutch or hide out in aboriginal villages to escape the Qing authorities. Most of the immigrants were young single males who were discouraged from staying on the island often referred to by Han as “The Gate of Hell” for its reputation in taking the lives of sailors and explorers.[24]

Fort Zeelandia built in Tainan

The Dutch originally sought to use their castle Zeelandia at Tayowan as a trading base between Japan and China, but soon realized the potential of the huge deer populations that roamed in herds of thousands along the alluvial plains of Taiwan’s western regions.[25] Deer were in high demand by the Japanese who were willing to pay top dollar for use of the hides in samurai armor. Other parts of the deer were sold to Han traders for meat and medical use. The Dutch paid aborigines for the deer brought to them and tried to manage the deer stocks to keep up with demand. The Dutch also employed Han to farm sugarcane and rice for export, some of these rice and sugarcane products reached as far as the markets of Persia. Unfortunately the deer the aborigines had relied on for their livelihoods began to disappear forcing the aborigines to adopt new means of survival.

Kingdom of Tungning

Statue of Koxinga in Tainan

Main article: Kingdom of Tungning

Manchu forces broke through Shanhai Pass in 1644 and rapidly overwhelmed the Ming dynasty. In 1661, a naval fleet led by the Ming loyalist Koxinga, arrived in Taiwan to oust the Dutch from Zeelandia and establish a pro-Ming base in Taiwan.[26]

Koxinga was born to Zheng Zhilong, a Chinese merchant and pirate, and Tagawa Matsu, a Japanese woman, in 1624 in Hirado, Nagasaki Prefecture, Japan. He was raised there until seven and moved to Quanzhou, in the Fujian province of China. In a family made wealthy from shipping and piracy, Koxinga inherited his father’s trade networks, which stretched from Nagasaki to Macao. Following the Manchu advance on Fujian, Koxinga retreated from his stronghold in Amoy (Xiamen) and besieged Taiwan in the hope of establishing a strategic base to marshal his troops to retake his base at Amoy. In 1662, following a nine-month siege, Koxinga captured the Dutch fortress Zeelandia and Taiwan became his base (see Kingdom of Tungning).[27] Concurrently the last Ming pretender had been captured and killed by General Wu Sangui, extinguishing any hope Koxinga may have had of re-establishing the Ming Empire. He died four months thereafter in a fit of madness after learning of the cruel killings of his father and brother at the hands of the Manchus. Other accounts are more straightforward, attributing Koxinga’s death to a case of malaria.[28][29]

Qing dynasty rule

In 1683, following a naval engagement with Admiral Shi Lang, one of Koxinga’s father’s trusted friends, Koxinga’s grandson Zheng Keshuang surrendered to the Qing dynasty.

There has been much confusion about Taiwan’s association with the rumored “Island of Dogs,” “Island of Women,” etc., which were thought, by Han literati, to lie beyond the seas. Taiwan was officially regarded by the Kangxi Emperor as “a ball of mud beyond the pale of civilization” and did not appear on any map of the imperial domain until 1683.[30] The act of presenting a map to the emperor was equal to presenting the lands of the empire. It took several more years before the Qing court would recognize Taiwan as part of the Qing realm. Prior to the Qing dynasty, China was conceived as a land bound by mountains, rivers and seas. The idea of an island as a part of China was unfathomable to the Han prior to the Qing frontier expansion effort of the 17th Century.[31]

Despite the expense of the military and diplomatic campaign that brought Taiwan into the imperial realm, the general sentiment in Beijing was ambivalent. The point of the campaign had been to destroy the Zheng-family regime, not to conquer the island.[citation needed] The Kangxi Emperor expressed the sentiment that Taiwan was “the size of a pellet; taking it is no gain; not taking it is no loss” (彈丸之地。得之無所加,不得無所損). His ministers counseled that the island was “a ball of mud beyond the sea, adding nothing to the breadth of China” (海外泥丸,不足為中國加廣), and advocated removing all the Chinese to mainland China and abandoning the island. It was only the campaigning of admiral Shi Lang and other supporters that convinced the emperor not to abandon Taiwan.[unreliable source?][32] Koxinga’s followers were forced to depart from Taiwan to the more unpleasant parts of Qing controlled land.[citation needed] By 1682 there were only 7000 Chinese left on Taiwan as they had intermarried with aboriginal women and had property in Taiwan. The Koxinga reign had continued the tax systems of the Dutch, established schools and religious temples.

1896 map of Formosa, revised by Rev. William Campbell

From 1683, the Qing dynasty ruled Taiwan as a prefecture and in 1875 divided the island into two prefectures, north and south. In 1885, the island was made into a separate Chinese province.

The Qing authorities tried to limit immigration to Taiwan and barred families from traveling to Taiwan to ensure the immigrants would return to their families and ancestral graves. Illegal immigration continued, but many of the men had few prospects in war weary Fujian and thus married locally, resulting in the idiom “Tangshan (Chinese) grandfather no Tangshan grandmother” (有唐山公無唐山媽). The Qing tried to protect aboriginal land claims, but also sought to turn them into tax paying subjects. Chinese and tax paying aborigines were barred from entering the wilderness which covered most of the island for the fear of raising the ire of the non taxpaying, highland aborigines and inciting rebellion. A border was constructed along the western plain, built using pits and mounds of earth, called “earth cows”, to discourage illegal land reclamation.

From 1683 to around 1760, the Qing government limited immigration to Taiwan. Such restriction was relaxed following the 1760s and by 1811 there were more than two million Chinese immigrants on Taiwan. In 1875 the Taipei government (台北府) was established, under the jurisdiction of Fujian province. Also, there had been various conflicts between Chinese immigrants. Most conflicts were between Han from Fujian and Han from Guangdong, between people from different areas of Fujian, between Han and Hakka settlers, or simply between people of different surnames engaged in clan feuds. Because of the strong provincial loyalties held by these immigrants, the Qing government felt Taiwan was somewhat difficult to govern. Taiwan was also plagued by foreign invasions. In 1840 Keelung was invaded by the British in the Opium War, and in 1884 the French invaded as part of the Sino-French War. Because of these incursions, the Qing government began constructing a series of coastal defenses and on 12 October 1885 Taiwan was made a province, with Liu Mingchuan serving as the first governor. He divided Taiwan into eleven counties and tried to improve relations with the aborigines. He also developed a railway from Taipei to Hsinchu, established a mine in Keelung, and built an arsenal to improve Taiwan’s defensive capability against foreigners.

Following a shipwreck of a Ryūkyūan vessel on the southeastern tip of Taiwan in winter of 1871, in which the heads of 54 crew members were taken by the aboriginal Taiwanese Paiwan people in Mutan village (牡丹社), the Japanese sought to use this incident as a pretext to have the Qing formally acknowledge Japanese sovereignty over the Ryukyu islands as a Japanese prefecture[citation needed] and to test reactions to potential expansion into Taiwan. According to records from Japanese documents, Mao Changxi (毛昶熙) and Dong Xun (董恂), the Qing ministers at Zongli Yamen (總理衙門) who handled the complaints from Japanese envoy Yanagihara Sakimitsu (柳原前光) replied first that they had heard only of a massacre of Ryūkyūans, not of Japanese, and quickly noted that Ryūkyū was under Chinese suzerainty, therefore this issue was not Japan’s business. In addition, the governor-general of the Qing province Fujian had rescued the survivors of the massacre and returned them safely to Ryūkyū. The Qing authorities explained that there were two kinds of aborigines on Taiwan: those governed by the Qing, and those unnaturalized “raw barbarians … beyond the reach of Qing government and customs.” They indirectly hinted that foreigners traveling in those areas settled by indigenous people must exercise caution. After the Yanagihara-Yamen interview, the Japanese took their explanation to mean that the Qing government had not opposed Japan’s claims to sovereignty over the Ryūkyū Islands, disclaimed any jurisdiction over Aboriginal Taiwanese, and had indeed consented to Japan’s expedition to Taiwan.[33] The Qing dynasty made it clear to the Japanese that Taiwan was definitely within Qing jurisdiction, even though part of that island’s aboriginal population was not yet under the influence of Chinese culture. The Qing also pointed to similar cases all over the world where an aboriginal population within a national boundary was not completely subjugated by the dominant culture of that country.

The Japanese nevertheless launched an expedition to Mutan village with a force of 3600 soldiers in 1874. The number of casualties for the Paiwan was about 30, and that for the Japanese was 543; 12 Japanese soldiers were killed in battle and 531 by disease. Eventually, the Japanese withdrew just before the Qing dynasty sent 3 divisions of forces (9000 soldiers) to reinforce Taiwan. This incident caused the Qing to re-think the importance of Taiwan in their maritime defense strategy and greater importance was placed on gaining control over the wilderness regions.

On the eve of the Sino-Japanese War about 45 percent of the island was administered under direct Qing administration while the remaining was lightly populated by Aborigines.[34] In a population of around 2.5 million, about 2.3 million were Han Chinese and the remaining two hundred thousand were classified as members of various indigenous tribes.

As part of the settlement for losing the Sino-Japanese War, the Qing empire ceded the island of Taiwan and Penghu to Japan on 17 April 1895, according to the terms of the Treaty of Shimonoseki. The loss of Taiwan would become a rallying point for the Chinese nationalist movement in the years that followed.[35]

Republic of Formosa

Main article: Republic of Formosa

Flag of the Republic of Formosa

When the news of the treaty’s contents reached Taiwan, a number of notables from central Taiwan led by Chiu Feng-chia (丘逢甲) decided to resist the transfer of Taiwan to Japanese rule. On 23 May, in Taipei, these men declared independence, proclaiming the establishment of a free and democratic Republic of Formosa. T’ang Ching-sung (唐景崧), the Qing governor-general of Taiwan, was prevailed upon to become the republic’s first President, and his old friend Liu Yung-fu (劉永福), the retired Black Flag Army commander who had become a national hero in China for his victories against the French in northern Vietnam a decade earlier, was invited to serve as Grand General of the Army. [[Qiu Fengjia |Chiu Feng-chia]] was appointed Grand Commander of Militia, with the power to raise local militia units throughout the island to resist the Japanese. On the Chinese mainland Chang Chih-tung (張之洞), the powerful governor-general of Liangkiang, tacitly supported the Formosan resistance movement, and the Republicans also appointed Ch’en Chi-t’ung (陳季同), a disgraced Chinese diplomat who understood European ways of thinking, as the Republic’s foreign minister. His job would be to sell the Republic abroad.[36] Thus the five month old republic ceased to exist.

Japanese rule

A 1912 map of Japan with Taiwan, which was part of the Empire of Japan from 1895 to 1945.

Japan had sought to claim sovereignty over Taiwan (known to them as Takasago Koku) since 1592, when Toyotomi Hideyoshi undertook a policy of overseas expansion and extending Japanese influence southward,[37] to the west, was invaded and an attempt to invade Taiwan and subsequent invasion attempts were to be unsuccessful due mainly to disease and attacks by aborigines on the island. In 1609, the Tokugawa shogunate sent Harunobu Arima on an exploratory mission of the island.[38] An attempted invasion in 1616, led by Murayama Tōan, failed when the fleet was dispersed by a typhoon and the only ship to reach the island was repelled.[39] In the Mudan Incident of 1871, an Okinawan ship was wrecked on the southern tip of Taiwan and 54 crewmen were beheaded by Paiwan aborigines. After the Qing government refused compensation stating that the aboriginals were not under its control, Japan launched a punitive expedition to the area in 1874, withdrawing after the Qing promised to pay an indemnity.[40][41][42][43]

It took until the defeat of the Chinese navy during the First Sino-Japanese War in 1894–95 for Japan to finally realize possession of Taiwan and the shifting of Asian dominance from China to Japan. The Treaty of Shimonoseki was signed on 17 April 1895, ceding Taiwan and Penghu to Japan, which would rule the island for 50 years until its defeat in World War II.

Soldiers of the 1874 expedition in Taiwan

After receiving sovereignty of Taiwan, the Japanese feared military resistance from both Taiwanese and Aborigines who followed the establishment by the local elite of the short-lived Republic of Formosa. Taiwan’s elite hoped that by declaring themselves a republic the world would not stand by and allow a sovereign state to be invaded by the Japanese, thereby allying with the Qing. The plan quickly turned to chaos as standard Green troops and ethnic Yue soldiers took to looting and pillage. Given the choice between chaos at the hands of Chinese or submission to the Japanese, the Taipei elite sent Koo Hsien-jung to Keelung to invite the advancing Japanese forces to proceed to Taipei and restore order.[44]

Map of the island in 1901, with the red line marking the approximate limit of Japanese control

Armed resistance was sporadic, yet at times fierce, but was largely crushed by 1902, although relatively minor rebellions occurred in subsequent years, including the Ta-pa-ni incident of 1915 in Tainan county.[45] Nonviolent means of resistance began to take place of armed rebellions and the most prominent organization was the Taiwanese Cultural Association (台灣文化協會), founded in 1921. Taiwanese resistance was caused by several different factors (e.g., the Taishō Democracy). Some were goaded by Chinese nationalism, while others contained nascent Taiwanese self-determination.[35] Rebellions were often caused by a combination of the effects of unequal colonial policies on local elites and extant millenarian beliefs of the local Taiwanese and plains Aborigines. Aboriginal resistance to the heavy-handed Japanese policies of acculturation and pacification lasted up until the early 1930s.[45] The last major Aboriginal rebellion, the Musha Uprising (Wushe Uprising) in late 1930 by the Atayal people angry over their treatment while laboring in the burdensome job of camphor extraction, launched the last headhunting party in which over 150 Japanese officials were killed and beheaded during the opening ceremonies of a school. The uprising, led by Mona Rudao, was crushed by 2,000-3,000 Japanese troops and Aboriginal auxiliaries with the help of poison gas.[46]

Japanese colonization of the island fell under three stages. It began with an oppressive period of crackdown and paternalistic rule, then a dōka (同化) period of aims to treat all people (races) alike proclaimed by Taiwanese Nationalists who were inspired by the Self-Determination of Nations (民族自決) proposed by Woodrow Wilson after World War I, and finally, during World War II, a period of kōminka (皇民化), a policy which aimed to turn Taiwanese into loyal subjects of the Japanese emperor.

Reaction to Japanese rule among the Taiwanese populace differed. Some felt that the safety of personal life and property was of utmost importance and went along with the Japanese colonial authorities. The second group of Taiwanese were eager to become imperial subjects, believing that such action would lead to equal status with Japanese nationals. The third group was influenced by Taiwan independence and tried to get rid of the Japanese colonials to establish a native Taiwanese rule. The fourth group on the other hand were influenced by Chinese nationalism and fought for the return of Taiwan to Chinese rule. From 1897 onwards the latter group staged many rebellions, the most famous one being led by Luo Fuxing (羅福星), who was arrested and executed along with two hundred of his comrades in 1913. Luo himself was a member of the Tongmenghui, an organization founded by Sun Yat-sen and was the precursor to the Kuomintang.[47]

Bank of Taiwan established in 1897 headquartered in Taihoku (Taipei).

Initial infrastructural development took place quickly. The Bank of Taiwan was established in 1899 to encourage Japanese private sectors, including Mitsubishi and the Mitsui Group, to invest in Taiwan. In 1900, the third Taiwan Governor-General passed a budget which initiated the building of Taiwan’s railroad system from Kirun (Keelung) to Takao (Kaohsiung). By 1905 the island had electric power supplied by water power in Sun-Moon Lake, and in subsequent years Taiwan was considered the second-most developed region of East Asia (after Japan). By 1905, Taiwan was financially self-sufficient and had been weaned off of subsidies from Japan’s central government.

Under the governor Shimpei Goto‘s rule, many major public works projects were completed. The Taiwan rail system connecting the south and the north and the modernizations of Kirun (Keelung) and Takao (Kaohsiung) ports were completed to facilitate transport and shipping of raw material and agricultural products.[48] Exports increased by fourfold. 55% of agricultural land was covered by dam-supported irrigation systems. Food production had increased fourfold and sugar cane production had increased 15-fold between 1895 to 1925 and Taiwan became a major foodbasket serving Japan’s industrial economy. The health care system was widely established and infectious diseases were almost completely eradicated. The average lifespan for a Taiwanese resident would become 60 years by 1945.[49]

Kagi Shrine, one of many Shinto shrines built in Taiwan.

In October 1935, the Governor-General of Taiwan held an “Exposition to Commemorate the 40th Anniversary of the Beginning of Administration in Taiwan,” which served as a showcase for the achievements of Taiwan’s modernization process under Japanese rule. This attracted worldwide attention, including the Republic of China’s KMT regime which sent the Japanese-educated Chen Yi to attend the affair. He expressed his admiration about the efficiency of Japanese government in developing Taiwan, and commented on how lucky the Taiwanese were to live under such effective administration. Somewhat ironically, Chen Yi would later become the ROC’s first Chief Executive of Taiwan, who would be infamous for the corruption that occurred under his watch.

The later period of Japanese rule saw a local elite educated and organized. During the 1930s several home rule groups were created at a time when others around the world sought to end colonialism. In 1935, the Taiwanese elected their first group of local legislators. By March 1945, the Japanese legislative branch hastily modified election laws to allow Taiwanese representation in the Japanese Diet.

The Takasago Volunteers were a unit of the Japanese Army recruited from Taiwanese aboriginal tribes.

As Japan embarked on full-scale war in China in 1937, it expanded Taiwan’s industrial capacity to manufacture war material. By 1939, industrial production had exceeded agricultural production in Taiwan. At the same time, the “kominka” imperialization project was put under way to instill the “Japanese Spirit” in Taiwanese residents, and ensure the Taiwanese would remain loyal subjects of the Japanese Emperor ready to make sacrifices during wartime. Measures including Japanese-language education, the option of adopting Japanese names, and the worship of Japanese religion were instituted. In 1943, 94% of the children received 6-year compulsory education. From 1937 to 1945, 126,750 Taiwanese joined and served in the military of the Japanese Empire, while a further 80,433 were conscripted between 1942 to 1945. Of the sum total, 30,304, or 15%, died in Japan’s war in Asia.

The Imperial Japanese Navy operated heavily out of Taiwan. The “South Strike Group” was based out of the Taihoku Imperial University (now National Taiwan University) in Taiwan. Many of the Japanese forces participating in the Aerial Battle of Taiwan-Okinawa were based in Taiwan. Important Japanese military bases and industrial centers throughout Taiwan, like Takao (now Kaohsiung), were targets of heavy American bombing.

In 1942, after the United States entered the war against Japan and on the side of China, the Chinese government under the KMT renounced all treaties signed with Japan before that date and made Taiwan’s return to China (as with Manchuria) one of the wartime objectives. In the Cairo Declaration of 1943, the Allied Powers declared the return of Taiwan (including the Pescadores) to the Republic of China as one of several Allied demands. In 1945, Japan unconditionally surrendered with signing of the instrument of surrender and ended its rule in Taiwan as the territory was put under the administrative control of the Republic of China government in 1945 by the United Nations Relief and Rehabilitation Administration.[50] Per the provisions in Article 2 of San Francisco Peace Treaty, the Japanese formally renounced the territorial sovereignty of Taiwan and Penghu islands, and the treaty was signed in 1951 and came into force in 1952. As of the moment when the San Francisco Peace Treaty came into force, the political status of Taiwan and Penghu Islands were still uncertain.[50] The Republic of China and Japan signed the Treaty of Taipei on April 28, 1952 and the treaty came into force on August 5.[51] Writing in the American Journal of International Law, professors Jonathan I. Charney and J. R. V. Prescott argued that “none of the post–World War II peace treaties explicitly ceded sovereignty over the covered territories to any specific state or government.”[52]

source wiki

in 1945

 

 

1948

 

Republic of China rule

UNDER MARTIAL LAW[EDIT]

Non-Kuomintang politician Wu San-lian (2L) celebrated his landslide victory (65.5%) in the first Taipei city mayoral election in January 1951.

Beside President Chiang Kai-shek, the U.S. President Dwight D. Eisenhower waved to crowds during his visit to Taipei in June 1960.

The Cairo Conference from 22 to 26 November 1943 in Cairo, Egypt was held to address the Allied position against Japan during World War II, and to make decisions about postwar Asia. One of the three main clauses of the Cairo Declaration was that “all the territories Japan has stolen from the Chinese, such as Manchuria, Formosa, and The Pescadores, shall be restored to the Republic of China”. However, many challenged that the document was merely a statement of intent or non-binding declaration, for possible reference used for those who would draft the post-war peace treaty and that as a press release it was without force of law to transfer sovereignty from Taiwan to the Republic of China. Additional rationale to support this claim is that the Act of Surrender, and SCAP General Order no. 1, authorised the surrender of Japanese forces, not Japanese territories.[53]

The Republic of China established Taiwan Provincial Government in September 1945[54] and proclaimed on October 25, 1945 as “Taiwan Retrocession Day.” This is the day in which the Japanese troops surrendered. The validity of the proclamation is subject to some debate, with some supporters of Taiwan independence arguing that it is invalid, and that the date only marks the beginning of military occupation that persists to the present.[55][56] During the immediate postwar period, the Kuomintang (KMT) administration on Taiwan was repressive and extremely corrupt compared with the previous Japanese rule, leading to local discontent. Anti-mainlander violence flared on February 28, 1947, prompted by an incident in which a cigarette seller was injured and a passerby was indiscriminately shot dead by Nationalist authorities.[57] During the ensuing crackdown by the KMT administration in what became known as the 228 Incident, tens of thousands of people were killed, and the incident became a taboo topic of discussion for the entire martial law era.

From the 1930s onward a civil war was underway in mainland China between Chiang Kai-shek‘s ROC government and the Communist Party of China led by Mao Zedong. When the civil war ended in 1949, 2 million refugees, predominantly from the Nationalist government, military, and business community, fled to Taiwan. On October 1, 1949 the People’s Republic of China (P.R.C.) was founded in mainland China by the victorious communists; several months before, Chiang Kai-shek had established a provisional ROC capital in Taipei and moved his government there from Nanjing. Under Nationalist rule, the mainlanders dominated the government and civil services.[58]

source wiki

the complete info exist in e-book in CD-ROM

if you want that CD-ROM

please send your nama,adress and no tilpon also upload your ID copy

this for secuerit against internet hijeck

the DR price US 1000(hundred dollaras) including sending cost

sen to Dr Iwan email iswansuwandy@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

the end @copyright 2014

Taiwan History Collections Introduction

Introduction

I have just visit Taiwan, but they still sude nama Republic OF Chian forbidden by  by the PRC, and donnot use Formoza.

Taiwan now very best and dicipline country with the high building,,many museum, best veteran hospital and stamp museum.

The very best was

 

Yehliu

From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search

Panoramic view of the park

Yeliu is a geological curiosity.

Yeliu (Chinese: 野柳; pinyin: Yěliǔ) is a cape in the town of Wanli, New Taipei, Taiwan.

The cape, known by geologists as the Yeliu Promontory, forms part of the Daliao Miocene Formation. It stretches approximately 1,700 metres into the ocean and was formed as geological forces pushed Datun Mountain (大屯山) out of the sea.[1]

A distinctive feature of the cape is the hoodoo stones that dot its surface. These shapes can be viewed at the Yehliu Geopark operated by the North Coast and Guanyinshan National Scenic Area administration. A number of rock formations have been given imaginative names based on their shapes. The best known is the “Queen’s Head” (女王頭), an iconic image in Taiwan and an unofficial emblem for the town of Wanli. Other formations include the “Fairy Shoe,” the “Beehive,” the “Ginger Rocks” and the “Sea Candles.”

Features

The National imperial ceramic museum

and Chiang khai Sek Memorial Hall,

Tai Pei Stamps muesum

 

Postage stamps and postal history of Taiwan

A 1945 stamp of Taiwan.

This is a survey of the postage stamps and postal history of Taiwan, otherwise known as Formosa, and currently governed by the Republic of China.

The Republic of China comprises the islands of Taiwan, Penghu, Kinmen, Matsu, and other minor islands, which are located off the east coast of mainland China. Neighboring states include the People’s Republic of China to the west, Japan to the north-east, and the Philippines to the south.

First stamps[edit]

In 1886 Taiwan was upgraded from a prefecture to a full province of China. A postal service was organised by the Governor, Liu Mingchuan, and postage stamps were issued the same year.[1]

Republic of Formosa[edit]

A stamp of the Republic of Formosa

In 1895 China ceded Taiwan to Japan. The Taiwanese reacted by establishing the short-lived Republic of Formosa, which issued its own stamps.

Japanese rule[edit]

Under Japanese rule, Taiwanese mail was handled as part of the Japanese postal system. After the surrender of Japan in August 1945, the postal system continued to operate locally, and on 21 October 1945, it issued 3-sen and 5-sen stamps, the design consisting of a large numeral and the imperial chrysanthemum. Despite the official transfer of Taiwan to China on 25 October, on the 31st a 10-sen stamp of the same design was issued. (An additional five values were printed but never issued.)

Republic of China Taiwanese issues[edit]

The locally-printed stamps, both issued and unissued, were immediately overprinted with “Chinese Republic” and “Province Taiwan” and went on sale 4 November. Two Japanese stamps, the 5-yen and 10-yen values of the 1937 pictorial series, were also overprinted, serving as the high values.

Throughout 1946, stocks of Chinese stamps were overprinted with new values in sen and “for use in Taiwan only”. This was followed by an issue in March 1947 marking Chang Kai-shek‘s 60th birthday; four small characters in the background say “for Taiwan only”. Subsequent stamp issues followed the same pattern through 1948.

 

The nama of Tai Pei measn Tai great Pei Nort,

The taiwan geology archelogy park

 

Yehliu

From Wikipedia,

Panoramic view of the park

Yeliu is a geological curiosity.

Yeliu (Chinese: 野柳; pinyin: Yěliǔ) is a cape in the town of Wanli, New Taipei, Taiwan.

The cape, known by geologists as the Yeliu Promontory, forms part of the Daliao Miocene Formation. It stretches approximately 1,700 metres into the ocean and was formed as geological forces pushed Datun Mountain (大屯山) out of the sea.[1]

A distinctive feature of the cape is the hoodoo stones that dot its surface. These shapes can be viewed at the Yehliu Geopark operated by the North Coast and Guanyinshan National Scenic Area administration. A number of rock formations have been given imaginative names based on their shapes. The best known is the “Queen’s Head” (女王頭), an iconic image in Taiwan and an unofficial emblem for the town of Wanli. Other formations include the “Fairy Shoe,” the “Beehive,” the “Ginger Rocks” and the “Sea Candles.”

Features

Lantern Festival

From Wikipedia,
Lantern Festival (Chinese)
ChiangKaiShek-MemorialHall-LanternFestival.jpg

Lantern Festival at night in Taipei
Official name Shangyuan Festival (上元节, 上元節)
Also called Yuanxiao Festival (元宵节, 元宵節)
Observed by Chinese
Type Cultural
Significance Marks the end of lunar New Year
Observances flying of paper lanterns
Date 15th day of the 1st month (lunisolar year)
2013 date February 24
2014 date February 14
2015 date March 5
Related to Chinese

The Lantern Festival is a festival celebrated on the fifteenth day of the first month in the lunisolar year in the lunar calendar marking the last day of the lunar New Year celebration.[1] It’s usually in February or March in the Gregorian calendar. As early as the Western Han Dynasty (206 BC-AD 25), it had become a festival with great significance.[2] During the Lantern Festival, children go out at night to temples carrying paper lanterns and solve riddles on the lanterns (simplified Chinese: 猜灯谜; traditional Chinese: 猜燈謎; pinyin: cāidēngmí; Jyutping: caai1dang1mai4).[3][4]

In ancient times, the lanterns were fairly simple, and only the emperor and noblemen had large ornate ones .[5] In modern times, lanterns have been embellished with many complex designs.[4] For example, lanterns are now often made in the shape of animals. The lanterns can symbolize the people letting go of their past selves and getting new ones,[6] which they will let go of the next year. The lanterns are almost always red to symbolize good fortune [7]

In Hong Kong, it is commercialized as the Chinese equivalent of Valentine’s Day. It is not to be confused with the Mid-Autumn Festival; which is sometimes also known as the “Lantern Festival” in locations such as Singapore and

History

Chinese lanterns in the night sky of Lijiang, Yunnan

Lantern Festival
Traditional Chinese 元宵節
Simplified Chinese 元宵节
Alternative Chinese name
Traditional Chinese 上元節
Simplified Chinese 上元节
Second alternative Chinese name
Chinese 十五暝
Literal meaning fifteenth night

The first month of the lunisolar calendar is called the yuan month, and in olden times night was called xiao in Mandarin. Therefore, the day is called Yuan Xiao (元宵) Festival in China. The fifteenth day is the first full moon of that lunisolar year. According to Taoist tradition, the fifteenth day of the first lunar month, Shàngyuán, corresponds to the “Official of Heaven,” who enjoys bright and joyful objects, so there should be thousands of colorful lanterns hung out for people to appreciate. At this time, people will try to solve puzzles on lanterns, eat glutinous rice balls named after the festival, yuanxiao (also known as tangyuan (simplified Chinese: 汤圆; traditional Chinese: 湯圓; pinyin: tāngyuán) and enjoy a family reunion.[4]

Origin legends

There are many different beliefs about the origin of the Lantern Festival. However, one likely origin is the celebration of “the declining darkness of winter” and community’s ability to “move about at night with human-made light,” namely, lanterns. During the Han Dynasty, the festival was connected to Ti Yin, the deity of the North Star.[1]

Red lanterns, often seen during the festivities in China

One legend tells us that it was a time to worship Taiyi, the God of Heaven in ancient times. The belief was that the God of Heaven controlled the destiny of the human world. He had sixteen dragons at his beck and call and he decided when to inflict drought, storms, famine or pestilence upon human beings. Beginning with Qinshihuang, the first emperor of China, who named China, all the emperors ordered splendid ceremonies each year. The emperor would ask Taiyi to bring favorable weather and good health to him and his people .[10][11]

Wudi of the Han Dynasty directed special attention to this event. In 104 BCE, he proclaimed it to be one of the most important celebrations and the ceremony would last throughout the night.

Another legend associates the Lantern Festival with Taoism. Tianguan is the Taoist god responsible for good fortune. His birthday falls on the fifteenth day of the first lunar month. It is said that Tianguan likes all types of entertainment, so followers prepare various kinds of activities during which they pray for good fortune .[12]

Another legend associates the Lantern Festival with an ancient warrior name Lan Moon, who led a rebellion against the tyrannical king in ancient China. He was killed in the storming of the city and the successful rebels commemorated the festival in his name .[12]

Yet another common legend dealing with the origins of the Lantern Festival speaks of a beautiful crane that flew down to earth from heaven. After it landed on earth it was hunted and killed by some villagers. This angered the Jade Emperor in heaven because the crane was his favorite. So, he planned a storm of fire to destroy the village on the fifteenth lunar day. The Jade Emperor’s daughter warned the inhabitants of her father’s plan to destroy their village. The village was in turmoil because nobody knew how they could escape their imminent destruction. However, a wise man from another village suggested that every family should hang red lanterns around their houses, set up bonfires on the streets, and explode firecrackers on the fourteenth, fifteenth, and sixteenth lunar days. This would give the village the appearance of being on fire to the Jade Emperor. On the fifteenth lunar day, troops sent down from heaven whose mission was to destroy the village saw that the village was already ablaze, and returned to heaven to report to the Jade Emperor. Satisfied, the Jade Emperor decided not to burn down the village. From that day on, people celebrate the anniversary on the fifteenth lunar day every year by carrying lanterns on the streets and exploding firecrackers and fireworks .[citation needed]

Another legend about the origins of Lantern Festival involves a maid named Yuan-Xiao. In the Han Dynasty, Dongfang Shuo was a favorite adviser of the emperor. One winter day, he went to the garden and heard a little girl crying and getting ready to jump into a well to commit suicide. Dongfang stopped her and asked why. She said she was Yuan-Xiao, a maid in the emperor’s palace and that she never had a chance to see her family since she started working there. If she could not have the chance to show her filial piety in this life, she would rather die. Dongfang promised to find a way to reunite her with her family. Dongfang left the palace and set up a fortune-telling stall on the street. Due to his reputation, many people asked for their fortunes to be told but everyone got the same prediction – a calamitous fire on the fifteenth lunar day. The rumor spread quickly .[12]

Everyone was worried about the future and asked Dongfang for help. Dongfang said that on the thirteenth lunar day, the God of Fire would send a fairy in red riding a black horse to burn down the city. When people saw the fairy they should ask for her mercy. On that day, Yuan-Xiao pretended to be the red fairy. When people asked for her help, she said that she had a copy of a decree from the God of Fire that should be taken to the emperor. After she left, people went to the palace to show the emperor the decree which stated that the capital city would burn down on the fifteenth. The emperor asked Dongfang for advice. Dongfang said that the God of Fire liked to eat tangyuan (sweet dumplings). Yuan-Xiao should cook tangyuan on the fifteenth lunar day and the emperor should order every house to prepare tangyuan to worship the God of Fire at the same time. Also, every house in the city should hang red lantern and explode fire crackers. Lastly, everyone in the palace and people outside the city should carry their lanterns on the street to watch the lantern decorations and fireworks. The Jade Emperor would be deceived and everyone would avoid the disastrous fire.[citation needed]

The emperor happily followed the plan. Lanterns were everywhere in the capital city on the night of the fifteenth lunar day. People were walking on the street. Fire crackers kept making lots of noise. It looked like the entire city was on fire. Yuan-Xiao’s parents went into the palace to watch the lantern decorations and were reunited with their daughter. The emperor decreed that people should do the same thing every year. Since Yuan-Xiao cooked the best tangyuan, people called the day Yuan-Xiao Festival.

Finding lovE

In the early days, young people were chaperoned in the streets in hopes of finding love. Matchmakers acted busily in hopes of pairing couples. The brightest lanterns were symbolic of good luck and hope. As time has passed, the festival no longer has such implications in most of China, but it is still commercialized as the Chinese equivalent of Valentine’s Day in Hong Kong.[9]

Yuanxiao[edit]

Main article: Tangyuan (food)

Eaten during the Lantern Festival, tangyuan ‘湯圓’ is a glutinous rice ball typically filled with sweet red bean paste, sesame paste, or peanut butter.[3] The Chinese people believe the round shape of the balls, and the bowls in which they are served symbolize family togetherness, and that eating tangyuan may bring the family happiness and good luck in the new year.[4][8]

6th century and afterwards

Lanterns in Qinhuai Lantern Fair

Until the Sui Dynasty in the sixth century, Emperor Yangdi invited envoys from other countries to China to see the colorful lighted lanterns and enjoy the gala performances.[13]

By the beginning of the Tang Dynasty in the seventh century, the lantern displays would last three days. The emperor also lifted the curfew, allowing the people to enjoy the festive lanterns day and night. It is not difficult to find Chinese poems which describe this happy scene.[13]

In the Song Dynasty, the festival was celebrated for five days and the activities began to spread to many of the big cities in China. Colorful glass and even jade were used to make lanterns, with figures from folk tales painted on the lanterns.[citation needed]

However, the largest Lantern Festival celebration took place in the early part of the 15th century. The festivities continued for ten days. Emperor Chengzu had the downtown area set aside as a center for displaying the lanterns. Even today, there is a place in Beijing called Dengshikou. In Chinese, deng means lantern and shi is market. The area became a market where lanterns were sold during the day. In the evening, the local people would go there to see the beautiful lighted lanterns on display.[citation needed]

Today, the displaying of lanterns is still a major event on the fifteenth day of the first lunar month throughout China. Chengdu in southwest China’s Sichuan Province, for example, holds a lantern fair each year in Culture Park. During the Lantern Festival, the park is a virtual ocean of lanterns. Many new designs attract large numbers of visitors. The most eye-catching lantern is the Dragon Pole. This is a lantern in the shape of a golden dragon, spiraling up a 38-meter-high pole, spewing fireworks from its mouth. Cities such as Hangzhou and Shanghai have adopted electric and neon lanterns, which can often be seen beside their traditional paper or wooden counterparts. Another popular activity at this festival is guessing lantern riddles (which became part of the festival during the Tang Dynasty).[citation needed] These often contain messages of good fortune, family reunion, abundant harvest, prosperity and love.[citation needed] Just like the pumpkin carved into jack-o’-lantern for Halloween in the western world, Asian parents sometime teach their children to carve empty the inner tubing of Oriental radish /mooli/ daikon into a Cai-Tou-Lantern (simplified Chinese: 营菜头灯; traditional Chinese: 營菜頭燈; pinyin: yíng cai tóu dēng) for the Festival.[citation needed]

Tai Chung city

other citywas Tai Chung,chung mean center.

 Tai Pei highest building

Tai Chung veteran hospital.Dr Iwan was chech his health there

Tai Chung

 

To know more about Taiwan, I will write the history

sincerely

DR Iwan Suwandy,MHA

THE GUIDANCE TO SEEK INFO

HALLO MY FRIEND FROM ALL OVER THE WORLD

WELCOME TO DRIWANCYBERMUSEUM WEB BLOG

TO SEEK THE INFO YOU NEED

PLEASE LOOK THE RIGHT HAND TOP  SEARCH

WRITE THE INFO YOU NEED

EAXAMPLE COMIC HISTORY COLLECTIONS

 

Title Author Categories Tags Stats Date
Select All Title Author Categories Tags Stats Date
Select The Comic History Collections part one Detective Comic

The Comic History Collections part one Detective Comic

driwancybermuseum comic history collections,Uncategorized More stats
2
2012/07/29
Published
Select The Japan Manga Comic History Collections

The Japan Manga Comic History Collections

driwancybermuseum antiquarian Book Collections More stats
6
2012/04/16
Published

 

The Comic History Collections part one Detective Comic

The Comic history

Collections

 

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Prive Limited E-BOOK in CD-ROM Edition

Special for Premium Member

Copyright@2012

 

 

March 1937

The first detetctive Comic no 1 in March 1937

the detective comic no 40 june 1937 Batman

1938

The detective comic no 21 in 19281939

The Detective Comic no 27 the Batman in  1939

Synopsis for “The Case of the Chemical Syndicate”

Commissioner Gordon learns that a chemical industrialist named Lambert has just been murdered. It appears as if Lambert’s son is guilty of the crime, but he confesses only to finding his father’s body. Bruce Wayne is present at the crime scene and decides to investigate as the Batman.

Exploring Lambert’s contacts, he discovers the names of his old business partners, Steven Crane, Paul Rogers and Alfred Stryker. Shortly thereafter, Steven Crane is found dead in his home. Paul Rogers learns of the murder and seeks out the last surviving business partner, Alfred Stryker. But Stryker reveals himself to be behind the crimes and kidnaps Rogers. He wants total control over their business interests.

Batman swoops down inside of Stryker’s chemical factory and rescues Rogers. Stryker tries to attack him but Batman beats him back, toppling the criminal into a vat of acid

 

April 194

The Detective Comic no 33 in nopember  1939

0

 

Detective comic no 38 The Robin in 1940

1941

The detective comic no 41 in 1941

AND WILL SEEN THE INFO LIKE THIS AND CLICK TO VIEW

OR YOU WANT TO FIND THE INDONESIAN STAMP OR REVEBNUE  POSTAL HISTORY

WRITE IN SERACH BOD

DAI NIPPON HISTORY

AND YOU WILL SEEN THIS

DAI NIPPON OCCUPATION iNDONESIA

THE CLICK VIEW

The Sample Of Driwan E=book IN CD-ROM:” Dai Nippon Occupation Eastren Indonesia Area 1942-1945″

This is is the sample Od Dr Iwan CD-rom without illustration and not edited, the complete Cd with illustration exist but only for premium member please subscribed via comment

The Dai Nippon War In Indonesia

Book Three

The dai Nippon Occupation Eastren Area of Indonesia

 

Created By

Dr Iwan suwandy.MHA

Private Limited E-book In CD-rom Edition

Special for Sebior Collectors

Copyright @ 2012

While in Tokyo

 Major-General Kawaguchi

was informed that the enemy strength in British Borneo was estimated at approximately 1,000 regular soldiers (mostly Indians) and 2,500 native volunteers, with a probable further

5,600 Dutch soldiers in Dutch Borneo.

 Intelligence sources reported that the entire island was covered with dense jungle with only a few poor roads near the river mouths. The only means of transportation was possible by water. Information in regard to weather and terrain was very scant and not very reliable and there was only one small scale map of the island available.

 

Immediately upon his return to

Canton

 from Tokyo, the Detachment commander proceeded to

 

Sanya,

Hainan Island,

to attend a conference with the Commander-in-Chief of the Southern Expeditionary Fleet and the Direct Escort Fleet commander in order to reach an agreement on co-operative measures in the event of war.

 

 

It was decided that the first Japanese landings would be made at aerawk in

Miri

and

Serian

in order to capture vital oilfields and airfields in these towns. Part of the force would remain in this area to reestablish Miri oilfield while the main body would advance and capture the Kuching airfield. All units of the Kawaguchi Detachment had to receive special training in landing under cover of darkness and in jungle fighting, and naturally they also had to change their equipment and would have to be given special survival and field sanitation training.

On 20 November 1941,

 The Kawaguchi’s Brigade was activated in Tokyo (Japan), and placed under

 the direct command of the Southern Army.

It was commanded by

Major-General Kiyotake Kawaguchi

 

 and it was composed mainly of

 the following Japanese units stationed at Canton, southern China, which had been previously

 under the command of the Japanese  18th Infantry Division:

Order of Battle for Japanese forces
Sarawak, December 1941
Major-General Kiyotake Kawaguchi(commander) 
35thInfantry Brigade Headquarters 
124th Infantry Regiment
one platoon of the 12th Engineer Regiment
a unit from the 18th Division Signal Unit
a unit from the 18th Division Medical Unit
4th Field Hospital, 18th Division
a unit from the 11th Water Supply and Purification Unit

In addition, the following units from Japan and Manchuria were to be used to reinforce the Detachment:

33rd Field AA Battalion
one company of the 26th Independent Engineer Regiment
(minus two platoons)
2nd Independent Engineer Company
80th Independent Radio Platoon
37th Fixed Radio Unit
a unit from the Oil Drilling Section of the 21st Field Ordnance Depot
1st Field Well Drilling Company
2nd Field Well Drilling Company
3rd Field Well Drilling Company
4th Field Well Drilling Company
48th Anchorage Headquarters
118th Land Duty Company

 

 
 

Top of Form

(Satoru Nibo) Satoshi Nibo. 05 5 (1916) Taisho,

 

born as the eldest son of eight siblings in a village Naoki Ijuin Gujo Hioki, Kagoshima Prefecture. July 13 (1938) Showa, commissioned second lieutenant. August

Indonesia Independence Revolution and War Book and CD-ROM

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

PENDIRI DAN PENEMU IDE

THE FOUNDER

Dr IWAN SUWANDY, MHA

WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM

SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

INDONESIA INDEPENDENCE REVOLUTION & WAR 1945-1950

Based On Dr Iwan Postal And Document Collection

                   

                          

                              CREATED BY Dr IWAN S

                                  

Limited edition 100 expls

        Private Publication Special for Collectors member

                                     Jakarta,2012                                                                                   

@copyright Dr Iwan S ,201hhtp://http://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 

INDONESIA INDEPENDENCE REVOLUTION AND WAR WAR 1945-1950

Edisi Terbatas 100 eksp

Publikasi Pribadi Khusus untuk Kolektor postal Histori

Penulis : Dr Iwan S

Editor  : Anton J.S.

Penyunting : Lily W.

Photographer : Albert SDO & INDRA SANUSI

NAMA PEMILIK: Dr Iwan S

NO. PERCOBAAN 001

@Copyright Dr Iwan S 2011

 

Private Limited E-book Special For Collectors.

Copyright @ Dr Iwan Suwandy 2011

Hhtp://http://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

PS.THE common economic 100 CDand lux complte special  CD_ROM  only ten CDexist now,please suncribed via comment.

INTRODUCTION

PREFACE-PENGANTAR

1.The Situation of Indonesia Indepennce Revolution and war  1945-195o, manywritten by local and overseas writers , butbased onfactual informationfrom a collectionof documentsandpersonalitemshave not beenmanypoststhatwere writtenbyauthors fromIndonesiaby using theIndonesian language andBritain, this is becausenot manypeopleIndonesia, which hasdocumentsandobjectsthat heading, generallyin Indonesia  were burnedoutor destroyedwhendisplaced,and atthe endbrokenfrom floods. Generally whentheresult ofthe politicalsituationduringthe Indonesian Independence Revolution and War  1945-195oin generalpeopleare veryafraid tokeeppersonalrecordsrelated towarthat couldbecomeevidence oftheirinvolvementaskolaburator Dutch Nica or republic  soldiersandtroopsfighter  willaccusetheyspy from each side in their area   with the consequentadverse to the document or collections owner.

  Situasi revolusi dan Perang Kemerdeaan Indonesia  1945-1950,sudah banyak ditulis oleh  penulis dalam dan luar luar negeri, tetapi yang berdasarkan informasi factual dari koleksi dokumen and benda pos pribadi belum banyak yang ditulis oleh pengarang dari Indonesia dengan mengunakan bahasa Indonesia dan bahasa Ingris, hal ini karena tidak banyak bangsa Indonesia yang memiliki dokumen-dokumen and benda pos tersebut ,umumnya  habis dibakar atau musnah saat mengungsi ,dan paling akhir rusak akibat banjir. Umumnya saat tersebut akibat situasi politis saat perang  kemerdekaan Indonesia  1945-1950 ,pada umumnya rakyat Indonesia sangat takut menyimpan arsip pribadi terkait perang tersebut  yang dapat menjadi bukti mereka terlibat sebagai kolaburator tentara  Belanda Nica atau  dan pasukan Repoeblik Indonesia , Tentara Belanda Nica atau Tentara repoeblik Indonesia   akan menuduh mereka mata-mata   dengan akibat yang  merugikan sipemilik.

2.One of a rare republic Indonesia Sumatra   postalcard   one year Indonesian Independence have found by the writers at  Bukittinggi in 1985, and this rare collections had gave the motivation to write the special book for Indonesian,Japan and Dutch  postal history collectors and another collectors from all over the world. Please look that cover illustration below.

Salah satu koleksi langka kartu pos pos Sumatra peringatan satu tahun merdeka  yang ditemui oleh penulis di Bukittinggi tahun 1985 , dan koleksi langka ini  memberikan motivasi untuk menulis suatu buku khusus untuk kolektor phillatelis di Indonesia,Jepang dan Belanda  serta kolektor  lainnya.dari seluruh dunia.

3.After Indonesian Independence revolution and war finish and Indonesia became  the unity Republic Indonesia in 1950 , many stamp and postal history collectors Collected     the collection as the factual fact of history, one of the Dutch biggest collector Mr Vrijdag  asking Mr V.Esbensen to made the catalogue of his very amazing collections.and some of my collection also be the based ,mr V.Esbensen told me what you are doing will be the great collections if your country became development country.    In 1985, Mr PR Bulterman     from dutch visit me in Padang,when he look at my collections he told me how amazing that collections, he want to bought because some of the collectionnhe never seen before , but I did not want to sell to him, but in 1988 I sold several collections To Mr Karel from Jakarta Indonesia because  I need fund to move and study to Jakarta,  but the illustration of collections I still have,and after that in 1994 I am starting to collect again until now, the biggest colletion will be the based on this book including postal history stamp and revenue, numismatic ,document and picture collections       

 

  Setelah Kemerdekaan Indonesia revolusi dan perang selesai dan Indonesia menjadi kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950, banyak cap pos dan kolektor sejarah Dikumpulkan koleksi sebagai kenyataan faktual sejarah, salah satu yang terbesar kolektor Mr Belanda Vrijdag meminta Mr V. Esbensen untuk dibuat katalog dari collections.and nya sangat menakjubkan beberapa koleksi saya juga berdasarkan, mr V. Esbensen mengatakan kepada saya apa yang Anda lakukan akan menjadi koleksi besar jika negara anda menjadi negara pembangunan.Pada tahun 1985, Bapak PR Bulterman dari belanda mengunjungi saya di Padang, ketika ia melihat koleksi saya dia mengatakan saya bagaimana menakjubkan yang koleksi, dia ingin membeli karena beberapa collectionnhe tidak pernah terlihat sebelumnya, tetapi saya tidak ingin menjual kepadanya, namun pada tahun 1988 saya menjual beberapa koleksi untuk Bapak Karel dari Jakarta Indonesia karena saya membutuhkan dana untuk bergerak dan studi ke Jakarta, namun ilustrasi koleksi saya masih punya, dan setelah itu pada tahun 1994 saya mulai mengumpulkan lagi sampai sekarang, colletion terbesar akan didasarkan pada buku ini termasuk sejarah perangko pos dan pendapatan, numismatik, dokumen dan koleksi gambar        .                               

    

4.In 2009 I am starting to write a simple story and add in my internet blog with the same name with historic  chronolic ,many comment and asked me to edit this simple story with more interesting style and illustrated with more professional photography..

Tahun 2009 penulis memulai suatu tulisan sederhana sebagai pecobaan, di tampilkan dalam suatu blog internet dengan nama yang sama dengan penampilan kronologis historis, banyak tanggapan dan saran agar penulis mengedit dan menyusun tulisan yang lebih sederhan dengan gaya ,cerita yang lebih menarik dilengkapi illustrasi koleksi yang tehnik fotografi yang canggih.

5.The professional writing starting in June 2010 until august  2012 ,with more professional proposal help by the professional team editor,layout and photography, as the firs issue in Private productions limited 100 expl in CR-Rom.

Penulisan dimulai bulan Juni 2011 sampai Augustus 2012  dengan rencana yang lebih matang dibantu oleh suatu tim editor,layout dan,photography ,sebagai penerbitan pertama secara pribadi akan di terbitkan edisi terbatas  100 eksemplar dalam CR-ROM

6.I know that this book have many lack of information and written technologically , that is why I need more comment and corrections to made this book more complete and more best performance in the future.

Penulis menyadari buku ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan sehingga diharapkan koreksi ,saran dan tambahan informasi agar dapat disempurnakan.

8.Thanks very much to all my friends for their comment that made this book created as the proposal on time, and will lauching in order to celebrate  the67th Indonesia Indepedence day August 17thth 2012 may be  at International Phillatelic Exhibition Indonesia 20122  at June 2012 , I am sorry I cannot listed the name of my friends here.without then this book cannot write in good and interesting, also takns very much to my collectors who visit my three internet Web Blog site

hhtp://www. unqiecollections.wordpress.com ,  hhtp://http://www.iwansuwandy.wordpress.com.  hhtp://http://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 

IF YOU WANT TO GET THE COMPLETE cd-rom,SPECIAL FOR  INDONESIAN COLLECTORS ONLY,

OLEASE SEND YOUR KOPI Ktp WITH COMPLETE ADRRESS AND NO TELPON TO DR IWAN EMAIL

iq=WANSUWANDY@GMAIL.COM

AFTER YOU SEND  rP.500.000)(LIMA RATUS RIBU RUPIAH) LIWAT atm bca KEPADA dR iWAN,cd AKAN DIKRIM KERUMAH ANDA LIWAT tITITPAN kILAT,BIAYA SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM.

 

THANKS FOR VISIT DR IWAN CYBERMUSUEUM WEB BLOG

studi banding soemitro dan soedirman dua tokoh masa lalu DENGAN Prabowo dan jokowi tokoh masa kini

STUDI BANDING DUA TOKOH MASA LALU YANG SUDAH MULAI DILUPAKAN DENGAN DUA TOKOH MASA KINI YANG LAGI TOP

DISUNTING OLE

Dr Iwan Uwandy<MHA

bUku Elektronik gratis  Bagi

SELURUH RAKYAT INDONESIA

BERDASARKAN ARTIKEL KARANGAN SELURUH RAKYAT INDONESIA

Dengan Bantuan Kemajuan Teknologi

GOOGLE EKSPLORASI

KATA PENGANTAR

Dipagi yang sejuk ini  sya terbangun karen lampu tiba-tiba padam gelap

tal dapat tidur tetapi segera hidup lagi terang dalam sekejap berubah situasi

BEGITU JUGALAH DENGAN DUA TOKOH MASA LALU YANG SUDAH MULAI DILUPAKAN DAN TERANG DUA TOKOH MASA KINI YANG LAGI POPULER TERANG BENDERANG

KEDUA TOKOH ITU ADA HUBUNGANNYA.

Supaya pembaca tidak bosan saya tidak mencantumkan nama pengarang artikel dan refrensi terkait,karena saya anggap ini karangan seluruh rakyat indonesia dan

di tujukkan kepada seluruh rakyat Indonesia

Saya buat dipagi buta agar mata jadi bisa tidur lagi dalam waktu secepat mungkin.

Ayo kita muali

INILAH HASIL STUDI BANDING PENDAPAT RAKYAT INDONESIA TENTANG DUA TOKOH MASA LALU DAN DUA TOKOH MASA KINI

Semoga ada gunanya demi untuk kemajuan Bangsa dan negara Yang Kita Cintai Ini

Jakarta 1 April 2014

KATA ORANG DULU BERBOHONG DI HARI  APRIL MOB INI TIDAK ADA DOSANYA,TETAPI INI BUKAN BOHONG,SAYA JADI INGAT DULU TEMAN SAYA MENGUNDANG PESTA DANSA DI APRIL MOB BANYAK MUDA MUDI TERKECOH KARENA PESTA TAK ADA

TETAPI APRIL MOB TAHUN INI ADALAH KEJADIAN SEBENARNYA

PESTA DEMMOKRASI DIMULAI

HASIL STUDI BANDING, UCAPAN TERIMA KASIH KEPADA PENCIP[TA GOOGLE,ANDA TELAH MEMBANTU SAYA DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA

SIAPA ITU DUA TOKOH MASA LALU DAN MASA KINI ?

SOEMITRO

Sumitro Djojohadikusumo Suara Merdeka 2 Apr 1952 p1.jpg

Prof. Dr. Raden Mas Soemitro Djojohadikoesoemo (often spelt Sumitro Djojohadikusumo) (born in Kebumen, Central Java on May 29, 1917 and died in Jakarta on March 9, 2001) was one of Indonesia‘s most prominent economists. During his lifetime Sumitro held several prominent roles including the Dean of the Faculty of Economics at the University of Indonesia.

Soemitro’s children include the current Presidential candidate Prabowo Subianto and the Indonesian entrepreneur Hashim Djojohadikusumo. Bianti Djiwandono, his daughter is married to the former Governor of Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono. His son Prabowo was briefly married to Titiek Hediati, the daughter of former Indonesian president Suharto

Prabowo wapres.jpeg

Prabowo Subianto (born 17 October 1951) is an Indonesian businessman, politician and former Lieutenant General in the Indonesian National Armed Forces. In the Indonesian presidential election, 2009 he ran for the vice-presidency as part of Megawati Sukarnoputri‘s campaign for president.[1] In November 2011, Prabowo announced his intention to run for president in the next Indonesian presidential election, 2014.[2] Prabowo is the son of Sumitro Djojohadikusumo, an Indonesian economist, and is also the former husband of Siti Hediati “Titiek” Suharto, the late President Suharto‘s daughter

 

 

 

 

 

Biografi Jendral Besar Soedirman. Seluruh masyarakat Indonesia pasti mengenal salah satu pahlawan besar ini, namanya sangat terkenal di Indonesia diaalah Jendral Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Jenderal besar Indonesia ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2

//
Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Berikut Ini Data Lengkap Tengtang Jendral Besar Soedirman
Nama:
Jenderal Sudirman
Lahir:
Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal:
Magelang, 29 Januari 1950

Agama:
Islam
Pendidikan Fomal:
– Sekolah Taman Siswa
– HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara:
Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan:
Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi:
Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
– Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
– Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
– Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan:
Pahlawan Pembela Kemerdekaan
Meniggal:
Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi adalah tokoh pemimpin terpuji Walikota Solo dan berperan memperomosikan Mobil ESEMKA. Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Agama Jokowi adalah Islam. Pada 2012 Jokowi memenangkan Pilkada DKI Jakarta dan ditetapkan sebagi Gubernur DKI Jakarta. Banyak pihak optimis dengan kinerja Jokowi dan wakilnya Ahok untuk memperbaiki kota Jakarta yang semerawut.
Jokowi

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.

Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.

Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.

Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya.

Biodata Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:

  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985

Karir:

  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)

Penghargaan:

  • Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award

Selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya

  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesiaa

FEUI berdiri pada tanggal 18 September 1950 dan saat ini terletak di Kampus UI Depok. Kelahiran fakultas ini bermula ketika Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) memisahkan diri dan memilih untuk berdiri secara independen dengan membentuk fakultas baru, yaitu Fakultas Ekonomi. Pada saat yang bersamaan mahasiswa Akademi Nasional yang juga mengkaji ilmu ekonomi bergabung dengan fakultas baru tersebut. Maka jadilah mereka sebagai mahasiswa angkatan pertama di FEUI.

Pada tahun-tahun awal kelahiran FEUI, Kegiatan perkuliahan berlangsung dengan kondisi darurat. Ketika itu, jumlah staf pengajar sangat terbatas, dan hanya ada satu pengajar yang berkebangsaan Indonesia di sana, yaitu Prof. MR. R. Soenario Kolopaking yang juga menjadi dekan pertama FEUI. Kegiatan perkuliahan diadakan di tiga tempat, yaitu Aula Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jalan Tambak, Gedung Kesenian Pasar Baru dah Gedung Adhoc Stat (yang sekarang bappenas di jalan Diponegoro). Urusan administrasi pun harus ditangani oleh mahasiswa sendiri.

Pada tahun 1951, Prof. Soenario selaku Dekan FEUI menyatakan mengundurkan diri. Beberapa perwakilan mahasiswa angkatan pertama kemudian menemui Dr. Soemitro dan memintanya menjadi Dekan FEUI, dan ia menyetujuinya. Kesediaan Soemitro—walaupun saat itu belum menjadi guru besar—merupakan penyelesaian bagi masalah kepemimpinan FEUI. Pada masa kepemimpinan Dr. Soemitro ini, FEUI mengirimkan beberapa asisten peneliti untuk tugas belajar di berbagai universitas di Amerika Serikat dengan dukungan dana dari Ford Foundation. Selain itu, FEUI juga mendatangkan staf pengajar dari AS, dan dengan sendirinya mengurangi dominasi pengajar berkebangsaan Belanda di kampus. Jurusan yang ada di FEUI juga ditambah, dari yang awalnya hanya mempunyai satu jurusan (Ekonomi Perusahaan), dikembangkan menjadi tiga jurusan, yaitu Ekonomi Umum, Sosiologi Ekonomi, dan Ekonomi Perusahaan. Kegiatan FEUI pada periode ini mulai meluas ke bidang penelitian, yang dilakukan melalui Seminar Ekonomi Perusahaan dan Balai Penyelidikan Masyarakat. Selanjutnya Balai Penyelidikan Masyarakat berubah menjadi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat tahun 1953.

Pada tahun 1964, Prof. Widjojo Nitisastro ditunjuk sebagai Dekan FEUI. Belaiu adalah dekan pertama yang merupakan lulusan FEUI. Pada masa terjadi perubahan yang cukup banyak terutama dalam pembentukan institusi pendukung. Lembaga yang pertama dibentuk oleh Widjojo ini adalah Lembaga Demografi, tahun 1964. Tahun berikutnya menyusul pembentukan Laboratorium Statistik. Dalam bidang akademik, perubahan terjadi menyangkut awal tahun ajaran, dari bulan September menjadi Februari, namun hal ini terjadi lebih dikarenakan oleh krisis politik Indonesia.

Pada tahun-tahun berikutnya, FEUI berkembang dengan pesat. Pada masa kepemimpinan Prof. Ali Wardhana (1968-1978), Iluni FEUI dibentuk. Pada tahun 1982, sistem perkuliahan berubah dari sistem tingkat ke sistem SKS. Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Mohammad Arsjad Anwar (1988-1994), kampus FEUI di Salemba dipindahkan ke kampus UI Depok.

Hingga saat ini, FEUI telah dipimpin oleh 15 Dekan. Jabatan Dekan saat ini dipegang oleh Ari Kuncoro yang terpilih untuk masa jabatan 2013-2017

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Ketika Letjen TNI Prabowo Subianto dipecat dari ABRI, banyak mata menatap ke arah Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo—ayah Prabowo yang juga mantan Menteri Perdagangan dan Menristek pada pemerintahan Soeharto. Menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Sumitro sempat melontarkan sejumlah kritik keras terhadap kepemimpinan presiden yang juga besannya itu. Lalu apa yang dirasakannya ketika Prabowo dipecat? Apa pula pandangannya tentang 32 tahun kekuasaan Soeharto? DeTAK beruntung berkesempatan mewawancarai guru besar ekonomi UI yang oleh sejumlah kalangan digelari sebagai “Ayatullah” ekonomi Indonesia itu. Berikut petikan wawancara yang dilakukan di rumah­nya hari Minggu (6/9/1998) sore lalu:

 

Menurut Anda, apa yang paling krusial dari keadaan sekarang ini?

Yang menamakan  diri  pemerintahan, agregate kenegaraan itu memer­lukan legitimasi. Sekarang yang ada baru legalitas. Saya mengadakan pembedaan antara legality (keabsahan hukum) dan legitimacy (pen­gakuan mandat rakyat—Red.). Legality bisa saja dibikin dan sekarang ini memang dibikin. Tapi legitimacy atau mandat dari rakyat itu belum.

 

Indikasinya?

Sekarang itu masyarakat kita, dunia lembaga formal, DPR/MPR, semua sedang resah terus. Begitu juga para politisi yang kurang puas, para profesional, para akademisinya ribut terus. Semua menghendaki reformasi, tapi apa reformasi yang dimaui, kurang jelas. Ini yang secepatnya harus diatasi.

 

Dengan situasi seperti ini, bagaimana cara memenangkan kepercayaan rakyat dan dunia luar?

Salah satunya lewat pemilu. Tapi pemilu yang pelaksanaannya den­gan undang-undang pemilihan yang sudah direformasi, yang sudah dijanjikan. Walau pasti tidak mungkin perfek, tapi itu kan legal for­mal sekaligus legitimasi yang diperlukan.

 

Tapi bagaimana bila ternyata ABRI masih bersikeras mendukung hanya Golkar?

Mungkin ABRI tidak melihat alternatif lain selain Golkar.

 

Apa tidak mungkin sikap ini merupakan kelanjutan budaya poli­tik selama tiga puluh tahun yang diwariskan Soeharto?

Memang budaya politik yang saya rasa tertanam selama 32 tahun, merupakan hambatan dari demokrasi tulen. Tentang hak rakyat dan kedaulatan rakyat, dalam benak, pikiran dan perasaan masyarakat sekarang ini masih pada pengertian siapa yang punya legalitas itu dominan. Pokoknya, seolah yang berkuasa selalu benar terus.

 

Kembali ke masalah Pak Harto. Dalam kaitan psiko-politik Pak Harto ditempatkan sebagai masih memainkan peran penting, menurut Anda?

Bahwasanya orang-orang masih melihat di belakang Habibie dan Wiranto ada bayangan Soeharto, itu juga psikologis sifatnya. Tapi saya nggak lihat itu. Saya rasa, saya kenal besan saya itu dengan baik, walaupun nggak tahu seluruhnya, tapi saya pernah bekerja dekat dengan dia.

 

Pandangan Anda terhadap Pak Harto yang sekarang banyak menerima hujatan?

Saya rasa masalahnya lain dulu lain sekarang. Pada awal bekerja de­ngan Pak Harto, waktu itu menurut saya dia baik dan hebat. Selama 10 tahun sebagai pembantu presiden, kita para teknokrat berhasil membangun, dan gawatnya ekonomi bisa diatasi. Karena kita bisa percaya dan bisa mengandalkan dia secara sepenuhnya. Masa itu dia benar-benar pegang janji dan kata-katanya. Begitu banyak kritik di luar negeri, dan untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh menteri­-menterinya, Pak Harto selalu bersikap, “Sudahlah saya tanggung jawab.” Hebatnya di situ.

 

Mitro - Bio Crop Outer copy

 

Sekarang ini bagaimana?

Sesudah itu memang ada perubahan. Seingat saya, 10 tahun terakhir ini yang paling kentara buat saya.

 

Permasalahan intinya apa?

Dua hal, terlalu lemah terhadap anak-anaknya dan pengaruh yang sangat merugikan masyarakat dan negara dari kelakuan anak-­anaknya. Dan selain itu Soeharto terlalu lama berkuasa, kombinasi dua itulah yang terbaca oleh saya.

 

Di satu sisi betul bahwa anak-anaknya juga turut menciptakan suasana yang tidak menguntungkan. Tapi apakah ada kemung­kinan bahwa sebetulnya the real Soeharto ya seperti itu. Seperti tuduhan rakus harta dan haus kekuasaan. Menurut Anda?

Haus kekuasaan mungkin. Tapi greedy material thing (rakus harta benda), arahnya menurut saya, pribadinya loh, itu tidak. Jadi dia ambil kekayaan supaya kekuasaan semakin kuat terkonsentrasi padanya. Seperti kasus yayasan-yayasan, semua itu untuk kekuasaan. Dia jadikan salah satu sumber dana menghimpun keku­atan untuk mempengaruhi orang lain. He needs money to buy power, lebih mengarah ke sana. Tapi memang… pengaruh anak-anaknya besar sekali.

 

Perhatian pada anak yang berlebihan ini, sebagai mantan menteri dan besan, adakah penjelasan rasional yang Anda bisa sampaikan?

Mungkin begini… Saya pernah membicarakan masalah ini dengan orang tua saya, ibu saya. Memang ada semacam beban kejiwaan masa lalu. Suatu waktu dalam satu acara keluarga, waktu saya berusa­ha memperkenalkan keluarga kami dan nanya perihal keluarga Pak Harto, tanpa saya duga dia berbicara dengan sangat intens mengenai masa lalu dirinya.

 

Tepatnya kapan kejadian itu?

Oh, itu saat saya melamar Titiek (untuk jadi isteri Prabowo—Red.). Yah, ini saya buka sekalian saja. Pak Harto bercerita bahwa sewaktu dia masih dalam kandungan, ibunya sudah mengasingkan  diri  dari dunia keduniaan. “Jadi sejak lahir saya sebenarnya enggak kenal ibu kandung saya. Jadi saya besar di desa. Saya jadi rebutan saat saya umur 10 tahun, antara keluarga yang mengasuh saya dengan bapak kandung saya. Kemudian saya dikompromikan ditaruh di Wonogiri, di keluarga mantri, bapaknya Sudwikatmono. Makanya Sudwikatmono lebih dari saudara kandung….” Begitu menurut ceritanya.

 

prabowo004

 

Makna dari peristiwa itu?

ltulah yang membuat dirinya berlebih terhadap anak-anaknya. Karena tidak mau anak-anaknya bernasib seperti masa kecilnya yang gelap keluarga dan kasih sayang orang tua aslinya. Makanya sekarang ia tebus dengan memberikan segalanya pada anak-­anaknya.

 

Artinya, dalam hal ini posisi anak di sini dengan posisi bangsa dan negara, menurut Anda, kira-kira kalau Pak Harto disuruh mengambil pilihan, dia akan memilih yang mana?

Nyatanya dia pilih anaknya. Kenapa? Saudara tadi bicara soal sindrom, saya rasa dia juga terbiasa merasakan ungkapan l‘Etat c’est moi, negara adalah saya. Itu ‘kan sindrom budaya keraton juga, tuh. Seperti Amangkurat VII, bukan Amangkurat I.

 

Anda sebagai besan pernah nggak menegur?

Mungkin saya satu-satunya. Dua kali tentang anaknya. Saya dengar bahwa Benny Moerdani juga pernah singgung itu, tapi dimarahi. Saya dengar dari Sudharmono.

Saya datang ke dia, nggak tahu persis kapan, mungkin kira-kira 6-7 tahun lalu, dua kali saya nanya di Cendana. Saya kan Ketua Umum IKPN (Ikatan Koperasi Pegawai Negeri), saya sampaikan bahwa putra-­putra Bapak sudah menjadi isu politik. Saya sengaja nggak mengritik, hanya menyampaikan fakta saja. Dia diam, tidak ada perubahan. Saya nggak tahu apa dia marah atau dia terima. Waktu saya pamit, di pintu dia bilang, “Iya Pak Mitro, saya menyadari anak-anak saya terkena isu politik.” Nah, saya kan lega.

 

Mengapa hasilnya tetap sama, tak ada perubahan berarti?

Wah, itu yang saya sulit mengerti…

 

Bagaimana Anda memposisikan Pak Harto sebagai seorang besan?

Ini hubungan yang sifatnya pribadi, jadi saya akan bicara secara umum saja. Saya kira tidak usahlah menilai hubungan pribadi dalam konteks pembicaraan ini.

Saya tidak pernah membantah bahwa saya mempunyai utang budi politik kepada Soeharto, sebab dialah yang memungkinkan saya kembali ke tanah air dari pengasingan. Dia sengaja mengirim Ali Moertopo untuk menemui saya dan meminta saya pulang. Akan tetapi utang budi saya yang paling utama dan lebih luas lagi ialah kepada rakyat dan masyarakat bangsa saya. Di kala kepentingan rak­yat dilanggar, dan ini terjadi beberapa kali dalam pengalaman saya, waktu itu juga saya harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

 

Kalau Anda sendiri terhadap anak-anak Anda bagaimana?

Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….”

 

Jawaban Pak Harto?

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua. Maklum etos itu telah saya tanamkan sejak saya jadi buron politik di zaman pemerintahan Bung Karno. Hidup di luar negeri itu harus mandiri. Kalau soal anak, Pak Harto memang sangat lemah dan di situlah kelemahannya yang mendasar.

 

Sebagai ayah, Anda sendiri bagaimana menghadapi kasus Prabowo ini?

Begini, saya mulai dengan dua hal dulu. Saya mengingatkan apa yang pernah saya bilang selalu sebagai prinsip dasar yang tak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap anggota keluarga: unequivocally, human dignity, dan social justice merupakan hal yang harus selalu dijunjung tinggi. Tanpa itu, mau jadi apa kita?!

Saya nggak bisa membayangkan menghadapi situasi sekarang. Itu pertama. Kedua, dengan situasi sekarang saya sekeluarga mendukung segenap langkah yang bertujuan menegakkan keadilan masyarakat, termasuk dalam kasus Prabowo.

Mengadili perwira dalam tata cara yang tidak fair dan tidak kesatria itu yang tidak saya setuju. Dalam kaitan human dignity dan human right, jangan atasan harus selalu benar…. Saya masih ingat tahun per­tama dia di Akabri, taruna di situ diajar untuk “kejam” sekali. Taruna kedua, ketiga, itu boleh apa saja terhadap juniornya. Di West Point nggak boleh begitu. Jadi darnpak dari budaya pendidikan seperti itu, saya rasa sekarang it is danger, apalagi seperti menghadapi Raja Jawa ini (Soeharto—Red.), jenderal-jenderal nggak berani.

 

prabowo 03

 

Kembali pada kasus Prabowo, bagaimana dia sebagai militer dalam pandangan Anda?

Dalam beberapa hal Bowo mungkin kompromi. Seperti saya kasih kasus di Timor Timur itu, nggak mungkin sama komando mem­bangkang atasannya. Tapi ada kasus dia ternyata membangkang. Karena tidak mau nurut perintah disuruh membunuh tawanan perang yang tak bersenjata. Saya mendukung langkah-langkah dia yang seperti itu, walau terkena sanksi tak apalah.

 

Termasuk yang sekarang?

Kasus Bowo khusus kali ini kok seakan-akan asas keadilan ini jadi kabur. Karena, pertama, Prabowo pada khususnya dan Kopassus pada umumnya, seolah yang paling bersalah dan satu-satunya yang diper­salahkan. Bahwa ada berbagai instansi dan kesatuan yang terlibat, mengapa harus ditutup-tutupi? Toh semua yang terjadi merupakan satu paket program, untuk menegakkan kekuasaan, status quo.

 

Jadi, dalam kasus Prabowo, Anda bukan tidak setuju untuk diusut tuntas?

Caranya itu, loh. Dan, ini kan juga diakui oleh bekas-bekas korban penculikan. Mereka tidak ingin hanya Kopassus. Dengan dibawa ke Kramat (wilayah komando Kodam V Jaya—Red.), jelas yang terlibat bukan hanya Kopassus. Tapi mengapa semua seolah-olah terpusat ke Bowo, semua kecaman ditujukan ke dia?! Apakah seorang Prabowo begitu berkuasa hingga bisa perintah sana-sini ke berbagai daerah dan institusi? Padahal, menurut seorang mantan Kasad, seperti ditulis DeTAK, kalau dalam ABRI ada oknum yang salah itu dua tingkat di atas kena, turut bertanggung jawab. Sebagai Danjen Kopassus kan dia punya dua atasan, KSAD dan Pangab waktu itu, mereka nggak mungkin nggak tahu, seharusnya mereka tahu!

 

Tapi ada juga kebiasaan yang mengatakan bahwa bisa saja mere­ka nggak tahu karena…

Maksud Saudara adanya Pangti? Yak, seperti yang dibenarkan oleh
Hasnan Habib, Pangti itu (Soeharto—Red.) punya kebiasaan untuk langsung kasih perintah ke bawahan tanpa menghiraukan tingkat-tingkat hierarki. Saya itu sebagai menteri kadang-kadang di-by pass (dipo­tong). Nah, itu kebiasaan Raja Jawa. Tapi bagi dia that’s right. Jadi tidak pernah ada keberanian mengungkap secara kesatria tentang KSAD, Pangab, dan Pangti. Kalau yang tiga ini dipertanyakan baru ada pengertian justice, keadilan, that’s about it.

 

Hal lain yang Anda anggap sebagai penyimpangan keadilan?

Intinya seperti tadi itu, tapi cara pemberitaan dari sementara kalang­an media dari dalam maupun luar negeri juga patut disesalkan, kare­na banyak berita cenderung mengandung hukuman. Seolah tidak ada asas praduga tak bersalah yang dipegang. Sudah cenderung meng­hakimi. Beberapa di antaranya tidak segan-segan membikin profil­-profil personality yang sudah menodai tabiat pribadinya.

 

prabowo007

 

Seperti apa misalnya?

Salah satu media menulis, Prabowo kemarin pergi umroh dan sekarang dia entah di mana… Padahal jelas dia ada di sini. Untung Gus Dur turut membantah isu tersebut. Kemarin, tanggal 1 September, kita merayakan ulang tahun istri saya. Bowo ada di sini dengan Titiek dan anaknya. Jadi apa maksud melancarkan pemberitaan yang menyudutkan itu? Ini kan sudah merusak citra pribadi dan nilai personality dia (Prabowo).

 

Mengapa tidak secara resmi dilakukan bantahan?

Saya enggak mau seakan-akan karena dia itu anak saya maka saya bela-­bela, kita hanya ingin melihat ada justice, keadilan. Harapan saya hanyalah adanya perlakuan dan tanggapan terhadap Prabowo secara adil dan lancar. Tapi mengapa asas keadilan seakan-akan jadi kabur?

Tentu saya enggak mau bilang bahwa dia itu seluruhnya benar, tapi semua salah pun saya tidak berani katakan.

 

Tapi kenapa dari keluarga Bapak seringkali tidak menggunakan hak jawab?

Karena, pertama, dalam proses ini kan Bowo terus-menerus diproses dalam DKP, kita tidak mau tambah mempersulit kedudukannya. Jangan sampai ada distorsi atas tragedi yang ada.

 

Dengan dipecatnya Bowo, bagaimana perasaan sebagai seorang ayah?

Sedih tentunya. Karena saya tahu Bowo… Dia itu kan hanya men­jalankan perintah. Sebagai militer, sulit saya untuk sepenuhnya menyalahkan dia. Kalau dia seorang sipil, jelas dia telah melanggar hak asasi manusia. Tapi kalau memang mau mengusut sesuatu, hen­daknya bersifat menyeluruh.

 

Maksud Anda?

Cari siapa dalang sesungguhnya di balik berbagai peristiwa. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Kasus Lampung, dan lainnya?

 

Kalau bicara keadilan, artinya posisi Pangti pun harus diper­tanyakan?

Iya, dong. Asal-usulnya dari sana kok. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Lampung, dan lainnya? Siapa yang paling bertanggung jawab? Saya katakan ini bukan dengan dasar dendam atau sentimen. Saya bukan pendendam. Dulu saya jadi buronnya Bung Karno, tapi hubungan saya dengan Bu Fatmawati sangat baik. Jadi semata-mata hal ini saya lakukan karena menegakkan keadilan sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat luas.

 

Bicara soal keadilan, dalam hal DKP yang harus menggunakan norma-norma militer dalam menegakkan kehormatan perwira, kesan Anda bagaimana?

Saya sendiri kurang tahu persis apa yang terjadi. Bowo juga enggak mau banyak omong selama proses ini. Tapi kadang-kadang kan ada kebocoran juga. Bukan dari Bowo saja, tapi ada lah yang lapor. Saya ‘kan dulu mengajar di mana-mana, di Seskoad, Seskogab, Lemhanas, dan masih banyak lagi.

 

Kenyataannya, proses belum selesai tapi hukuman sudah dijatuhkan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Dari sudut legalitas kan segalanya sudah diserahkan pada Pangab. Apa ada kemungkinan proses pengusutan berkembang sampai ke tingkat yang lebih tinggi, jawabannya ya dan tidak. Saya merasa kemungkinan ada juga keseganan untuk meneruskan. Kalau toh dianggap secara legalitas final, secara morality sebenarnya belum final.

 

Khusus dalam kasus putra Anda, Prabowo?

Yah, kalau saudara mau bersikap kritis, coba bertanya; mengapa 9 (sembilan) aktivis yang diculik selamat semuanya, tapi yang 14 (empat belas) lainnya masih hilang sampai hari ini, apa ya mereka masih hidup?

 

Maksud Anda?

Karena yang sembilan orang itu, memang sepengetahuan Bowo dan dibebaskan dengan selamat atas kehendak Bowo pribadi.

 

Maksud katapribadi dalam kaitan ini?

Karena perintahnya tidak begitu.

 

Bagaimana perintah itu sebenarnya?

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Dihabiskan maksudnya?

(Menjawab hanya dengan anggukkan kepala sambil menyimpan suatu perasaan yang terkesan sangat dalam).

 

Setahu Anda siapa yang memerintahkan Prabowo melakukan hal itu?

Siapa lagi kalau bukan seseorang yang sangat berkuasa?

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998.

 

Kelebihan Prabowo sebagai Capres 2014

 

Beberapa pembaca menanyakan tentang penyebab Prabowo Subianto menduduki posisi teratas sebagai calon presiden paling disukai rakyat. Berbagai sebab saling terkait yang menyebabkan dukungan tinggi terhadap mantan Komandan Jenderal Kopassus pada masa Soeharto itu.

Pertama, Prabowo Subianto memiliki karakter sebabagi pemimpin. Buktinya beliau memimpin banyak organisasi selepas pensiun sebagai militer.

Kedua, Prabowo memiliki partai, Partai Gerindra. Dengan memiliki partai publik menjadi jelas akan arah pencalonannya. Prabowo berbeda dengan para tokoh lain yang tidak memiliki partai seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, Dahlan Iskan.

Ketiga, Prabowo berasal dari suku Jawa. Mau tidak mau, suka tidak suka mayoritas penduduk tinggal di pulau Jawa. Faktor Jawa Prabowo menjadi nilai lebih.

Keempat, Prabowo beragama Islam. Meski primordialisme semakin terkikis, namun pada kenyataannya sebagian besar masyarakat masih sangat kental dengan semangat segergitas. Ini dibuktikan dengan beberapa pilgub yang dimenangkan justru oleh kelompok kader pengusung semangat segregitas-primordialis seperti PKS misalnya.

Kelima, Prabowo hanya membutuhkan kehormatan sebagai presiden. Prabowo sudah memiliki kekayaan yang didapatkan secara sah bukan karena korupsi seperti yang dilakukan oleh banyak partai.

Keenam, Prabowo adalah sosok nasionalis yang mampu menjaga tanah air, pulau dan perairan Indonesia dan akan membela sampai titik darah penghabisan. Prabowo pernah membuktikan dengan berbagai operasi di Papua, Timor Timur. Prabowo akan membebaskan Sipadan-Ligitan dari genggaman Malaysia.

Ketujuh, Prabowo laki-laki. Di Indonesia masyarakat Islam tradisional dan jumud dengan diwakili oleh Ustadz Wahabi selalu mendorong anti calon presiden perempuan. Contoh Megawati ditolak oleh MPR menjadi Presiden meskipun PDIP pemenang Pemilu 1999.

Melihat 7 kekuatan dan kelebihan Prabowo Subianto tersebut sudah selayaknya Prabowo memimpin dalam berbagai polling dan survey. Namun demikian musuh politik Prabowo seperti PKS – yang pada zaman Soeharto kelompok Islam dimarjinalisasikan – menjadikan Prabowo sebagai musuh. Prabowo selalu dituduh oleh kalangan kiri dan kelompok LSM kampung sebagai orang yang terlibat dalam kasus Operasi Mawar yang tidak pernah terbukti. Semakin besar dan tinggi elektabilitas Prabowo, semakin kencang tolakan dan upaya musuh yang tidak nasionalis menghadang Prabowo. Namun bukti elektabilitas tinggi Prabowo menunjukkan masyarakat sudah paham kampanye kotor terhadap Prabowo.

Selamat datang Presiden Prabowo.

Salam bahagia ala saya.

Ini Kelebihan dan Kelemahan Prabowo-Hatta

Kamis, 07 Februari 2013, 19:16 WIB

Komentar : 1
Republika/Yasin Habibi
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -– Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, menilai Prabowo Subianto merupakan figur yang cukup menjanjikan diusung sebagai calon presiden (capres).

“Pak Prabowo saya kira cukup menjanjikan,” kata Sutan ketika dihubungi, Kamis (7/2). Sutan mengatakan, sebagai capres Prabowo memiliki sejumlah keunggulan.

Pertama, Prabowo memiliki karir kepemimpinan yang baik di bidang militer. Kedua, Prabowo pernah menempuh pendidikan di luar negeri. Hal ini tentu membuat Prabowo mampu menguasai bahasa asing yang dibutuhkan dalam misi-misi diplomasi Indonesia.

Ketiga, Prabowo figur yang matang secara finansial. Kondisi ini bisa memberikan harapan kepada masyarakat Prabowo tidak korupsi saat menjadi presiden. “Ini sisi positifnya,” ujar Sutan.

Terlepas dari segala kelebihannya, Prabowo juga memiliki sejumlah kekurangan. Sutan mengatakan, kekurangan utama Prabowo dan kasus HAM yang menjerat dirinya. Dia mengatakan kasus HAM yang menjerat Prabowo sampai saat ini belum tuntas. “Ini akan menjadi batu sandungan Prabowo,” katanya.

Selain itu, Prabowo juga memiliki kelemahan dalam mengelola kepemimpinan diri. Menurut Sutan sebelum memimpin negara, seorang pemimpin mesti bisa memimpin diri sendiri.

Dia menyatakan Prabowo sampai saat ini belum memiliki pendamping. Dia berharap Prabowo bisa segera melengkapi kekurangannya ini. “Supaya seorang laki-laki itu sukses kalau didampingi wanita yang kuat. Pemimpin harus bisa memimpin keluarga,” ujarnya.

Terkait nama Hatta Rajasa yang digadang-gadang bakal menjadi pasangan Prabowo di bursa Capres-Cawapres Pemilu 2014, Sutan juga punya pendapat. Figur Hatta menurutnya memili pengalaman yang baik di bidang organisasi. “Kekuatan Hatta dia punya pengalaman. Piawai memimpin organisasi,” katanya.

Sayang Hatta punya kelemahan elementer sebagai calon pemimpin. Hatta, imbuh Sutan, tidak berasal dari kalangan Jawa. Betapapun, mayoritas pemilih Indonesia berasal dari suku Jawa. “Meskipun tidak tertulis presiden bukan orang Jawa, rata-rata penduduk republik masih berasal dari Jawa,” ujarnya.

Prabowo, Bangunkan ‘Macan Tidur’

 

 

Plus minus Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta menurut pengamat

Reporter : Mardani | Senin, 19 Mei 2014 11:09
309
Share Detail

<!–

–><!–

–><!–

Reporter : Mardani

–>

 

Plus minus Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta menurut pengamat

Jokowi-Prabowo. ©2014 Merdeka.com

<!–

POLLING PEMBACA : PARTAI PEMILU | CALON PRESIDEN

–>

Merdeka.com – Dua pasang capres cawapres bakal bertarung di Pilpres 2014. Pasangan JokowiJusuf Kalla (JK) hari ini bakal deklarasi dan mendaftar ke KPU.

Sementara, pasangan Prabowo SubiantoHatta Rajasa bakal deklarasi dan mendaftar ke KPU besok. Koordinator Peneliti Pusat Penelitian Politik Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Irine Gayatri menilai, dua pasang capres cawapres itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pasangan Jokowi-JK menurutnya memiliki kelebihan dari sisi elektabilitas. Selain itu, Jokowi tidak memiliki jejak Orde Baru.

“Kebijakan-kebijakannya (Jokowi saat jadi wali kota dan gubernur) populis atau berkaitan dengan yang diinginkan rakyat,” kata Irine kepada merdeka.com, Senin (19/5).

Menurutnya, saat menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi berhasil merelokasi pedagang kecil tanpa menimbulkan konflik sedikitpun. Saat menjadi Gubernur DKI, Jokowi menyediakan berbagai fasilitas untuk rakyat kecil seperti Rusun dan Kampung Deret.

“Memang semuanya belum tuntas (kinerja Jokowi di DKI) tapi setidaknya sudah kelihatan hasilnya,” katanya.

Namun yang menjadi kelemahan pasangan ini, menurutnya, cawapres Jokowi yakni Jusuf Kalla (JK) sudah sangat senior dari sisi usia.

“Pak JK harus manut kepada Presiden jika nanti terpilih. Dia kan Wapres, jangan seperti dulu ambil langkah sendiri,” katanya.

Sementara, pasangan Prabowo-Hatta menurutnya juga memiliki kelebihan dari sisi popularitas. Sosok Prabowo memiliki popularitas yang tidak boleh disepelekan.

Selain itu, pasangan ini memiliki dukungan dari partai-partai Islam seperti PPP, PKS dan PAN yang dapat menarik massa Islam. Namun di sisi lain pasangan ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya adalah nama Prabowo yang selama ini kerap dikait-kaitkan dengan kasus penculikan aktivis 1997-1998.

“Kalau Prabowo, saat dia masih jadi Kopassus ada kasus pelanggaran HAM yang belum tuntas dan itu warisan politik Orde Baru. Meski sudah belasan tahun masih membekas korban-korban masih menuntut keadilan,” katanya.

“Jadi ada problem pada Prabowo. Hatta dari sisi ekonomi kita bisa lihat dia yang pro modal,” katanya.

Semakin Terlihat Kelebihan Jokowi dan Tampak Kelemahan Prabowo

 

Agak mengherankan, kedua kubu pasti sangat serius menjaga citra dan pasti terus menerus berpikir untuk memperluas pengaruh dan menebarkan kesan positif, tetapi hasil yang diraih tidak selalu seperti yang diharapkan. Sampai sejauh ini, Jokowi lebih beruntung mendapat nilai plus, sedangkan Prabowo seperti semakin mendapat nilai minus.

Jokowi yang di waktu lalu dianggab tidak memiliki vivi misi, akhir-akhir ini mematahkan tuduhan itu karena selain telah memasukkan visi misinya ke KPU, juga dalam berbagai kesempatan sangat tangkas menjelaskan gagasan-gagasannya untuk membangun Indonesia dalam bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, dll. Jokowi yang diragukan ke-Islam-annya, dengan mantap pula membuyarkan tuduhan itu dengan bukti-bukti bahwa dia sudah berkali-kali haji dan umrah, ayah-ibunya juga, dan saudara-daudarinya juga. Bahkan Pimpinan Muhammadyad Dr. Din Syamsuddin pun sudah “menguji” ke-Islaman-an Jokowi dan tidak meragukan. Dan hampir semua tudingan atau “black campaign” yang ditujukan kepada Jokowi selama ini, satu satu rontok dan tak bersambut dimanapun.

Sebaliknya, kelebihan Jokowi semakin terlihat dari hari ke hari. Walauapun Jokowi tidak orator ulung, tidak ahli retorika, tetapi bahasanya kalau berpidato sangat mudah dicerna dan menyegarkan, hal itu disempurnakan pula oleh bahasa tubuhnya memancarkan kesungguhan dan ketulusan. Dalam berbagai kesempatan dia berkeliling Indonesia, selalu dan selalu kelihatan bahasa kesederhanaan, kesungguhan, ketulusan, dan sama sekali tidak ada kepura-puraan pada dirinya. Kata-katanya yang simple dan tidak banyak “bumbu” mampu menyemburkan sedemikian besar pengharapan bagi rakyat yang mendengar. Tak mengherankan, kalau banyak orang terutama ibu-ibu kalau mendengar dia berbicara di TV hanyut dalam keharuan dan ada yang menitikkan air mata.

Perjuangan Jokowi meraih kursi Preside RI seperti sudah mendapat restu Tuhan Yang Maha Kuasa. Langkah dan ucapan Jokowi semakin hari semakin mantap dan mengena di hati banyak orang. Tak mengeherankan jika kemudian banyak pujian dan dukungan yang mengalir ke arahnya. Orang-orang dan kelompok-kelompok yang mendukungnya pun relatif tidak bermasalah, orang-orang yang berkarakter kuat, dan kalaupun ada yang terkait dengan masalah di masa lalu kemungkinan besar “sudah bertobat” karena tidak ada lagi yang mengungkitnya.

Yang menyejukkan akhir-akhir ini adalah sikap dan gaya Jusuf Kalla. Tadinya banyak yang berpikir negatif kalau cawapres Jokowi adalah Jusuf Kalla. Kalla dikhawatirkan akan dominan, akan ada matahari kembar dalam kepemimpinan nasional. Tetapi Jusuf Kalla menegaskan, “kalau terpilih nanti, saya akan benar-benar sebagai pembantu presiden, saya akan bekerja sesuai kehendak Presiden.” Dan Jokowi pun menegaskan, dirinya dan Jusuf Kalla akan membuat pembagian tugas (Jokowi tidak menyebut dirinya yang membuat pembagian tugas, tetapi dirinya dan Yusuf Kalla — itu menunjukkan jiwa besar dan kerendahan hatinya). Mudah-mudahan, Jokowi – Jusuf Kalla adalah duet pemimpin nasional yang efektif untuk membawa kemajuan yang signifikan bagi bangsa dan negara.

* * *

Capres Prabowo, sebenarnya sudah membentangkan visi dan misi yang jelas yang akan diusung kalau terpilih menjadi presiden. Bagus, sulit untuk dibilang jelek, walaupun tidak terlalu istimewa. Prabowo pun lancar menjelaskan visi misinya, dan gaya pidatonya berapi-api. Masalahnya adalah intonasi suara Prabowo kalau berpidato tidak enak didengar, bahasa tubuhnyapun tidak enak dilihat. Padahal dalam ilmu komunikasi, intonasi suara dan bahasa tubuh lebih kuat pengaruhnya dari materi pembicaraan. Ada kesan intonasi suara dan gerak tubuh dibuat-buat, bahkan berlebihan, dan mungkin itu hasil training.

Sama seperti Jokowi, Prabowo pun banyak diterpa isu, mendapat tudingan dan black campaign. Tetapi, jika tudingan terhadap Jokowi sudah banyak yang patah dan lewat, tudingan terhadap Prabowo masih kokoh, seperti soal isu pelanggaran HAM, berkarakter kasar, tidak mampu menjaga keharmonisan keluarga (bagaimana Prabowo menjaga keutuhan negara kalau menjaga keutuhan keluarga pun tidak becus?). Ada kesan, Prabowo suka banyak bicara, bicaranya meledak-ledak — itu semakin lama semakin tidak disukai banyak orang.  Penyebabnya: dari intonasi dan bahasa tubuh Prabowo tampak dia tidak sungguh-sungguh, tidak tulus, tidak rendah hati.  Entah kenapa, ya begitulah adanya.

Sejak awal Prabowo membuka pintu untuk terjadinya “tenda besar” sebagai pendukungnya, tenda besar itu bagi parpol, kelompok, dan individu. Memang terwujud juga tenda besar itu, parpol pendukung Prabowo lebih besar dari parpol pendukung Jokowi, dan banyak kelomppok dan individu yang sudah menyatakan dukungan terhadap prabowo.  Lalu, Prabowo pun selalu dengan senyum yang sumringah menyambut setiap kelompok dan individu yang datang untuk memberi dukungan.

Tapi di situ pulalah masalahnya, banyak kemudian kelompok dan orang yang bergabung dengan Prabowo membawa sekaligus masalah. PPP sudah sejak awal masuk membawa masalah (walaupun terakhir seperti reda), lalu SDA yang ngotot mendukung Prabowo ternyata menjadi tersangka korupsi. Rhoma Irama, yang tukang ngambek dan bermimpin jadi Capres itu bergabung dengan Prabowo meninggalkan PKB. Mahfud, yang ternyata tidak lebih baik dari Rhoma Irama pun bergabung dengan Prabowo bahkan menjadi pimpinan tim sukses Prabowo, padahal jelas-jelas Mahfud selama ini sangat ingin menjadi cawapres Jokowi. ARB, Ketua Umum Golkar, yang bertahun-tahun mengiklankan diri sebagai capres, yang berulangkali ngotot tidak mau dievaluasi pencapresannya, bergubung dengan Prabowo setelah ditolak Megawati. ARB adalah contoh manusia tidak berpendirian kuat, selalu menggunakan hitungan bisnis dalam bekerja, dan dia adalah orang yang pernah menciptakan masalah besar di Indonesia: Lapindo. Bergabung pula dengannya serombongan orang Golkar, istimewa: Akbar Tanjung, yang selama ini sangat dikenal sebagai “belut politik”. Kemudian ada lagi HT, mantan partner Wiranto sebagai bakal cawapres. Dia ada contoh paling ideal dari manusia yang tidak tahu diri, tidak tau dimana bimi dipijak dan langit dijinjing. Dia bergabung dengan Prabowo setelah pecah dengan Surya Paloh dan bubar dengan Wiranto. Dia memang kaya, tetapi pelit, dia hanya mengandalkan tv-tvnya dan asuransi.

Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa menjadi “Prahara”, singkatan yang bagus tetapi bermakna tidak bagus. Sepertinya memang tidak bagus, karean Hatta yang dari Muhammadyah ini belum tentu mendapat dukungan dari Islam non-Muhammadya. Lagi pula, Hatta selama ini tak terlalu menarik jika diasumsikan sebagai capres maupun cawapres. Mungkin harapan Prabowo untuk menarik dukungan SBY atau Demokrat? SBY masih bingung dan mungkin akan bingung untuk memihak salah satu: Jokowi-Kalla atau Prahara? Mungkin benar kata pengamat, matanya melirik Jokowi tapi hatinya pada Prabowo?

Yang jelas, sampai pada hari ini, kelemahan Prabowo semakin tampak. Tidak tahu besok-besok ada perubahan.

TERIMA KASIH GOOGLE, DALAM SEKEJAP SAYA TELAH ,MENGUMPULKAN INFO HASIL STUDI BANDING DUA TOKOH MASA LALU SOEMITRO DAN SOEDIRMAN 

DAN

DUA TOKOH MASA KINI

PRABOOWO DAN JOKOWI

INI HASIL PIKIRAN SELURUHJ RAKYAT INDONESIA’

UNTUK SELURUH RAKYAT INDONESIA

TERAKHIR BAGAIMANA PENDAPAT OBAMA TENTANG MEREKA

// // <![CDATA[
(function(){ var wrap = document.getElementById("yom-ad-N"); if (null == wrap) { wrap = document.getElementById("yom-ad-N-iframe") || {}; } var content = wrap.innerHTML || ""; if (content && content.substr(0, content.lastIndexOf("”)).indexOf(“loc=N noad”) !== -1) { wrap.style.display = “none”; } }())
// ]]>

Newsroom Blog

// // <![CDATA[
(function(){ var wrap = document.getElementById("yom-ad-LOGO"); if (null == wrap) { wrap = document.getElementById("yom-ad-LOGO-iframe") || {}; } var content = wrap.innerHTML || ""; if (content && content.substr(0, content.lastIndexOf("”)).indexOf(“loc=LOGO noad”) !== -1) { wrap.style.display = “none”; } }())
// ]]>

//

Obama, Prabowo, dan Jokowi

HILLARY Rodham Clinton berang. Menjawab pertanyaan wartawan dari kantor berita ABC News, dia menyangkal  tim suksesnya berada di belakang pemuatan foto Barack Obama yang diunggah oleh drudgereport.com. “Saya tidak tahu apa pun tentang [foto] itu,” kata Nyonya Clinton kepada Teddy Davis dan Jacqueline Klingebiel, wartawan ABC News yang mewawancarainya, 25 Februari 2008.

Foto yang ditanyakan oleh dua wartawan itu adalah foto Obama mengenakan baju tradisional Somalia lengkap dengan serbannya. Sebetulnya foto itu biasa saja, namun tersebar saat musim kampanye calon presiden dari Partai Demokrat, ketika Obama dan Hillary bersaing sengit mendapatkan tiket sebagai kandidat presiden dari partainya. Lewat foto itu, Obama seolah hendak digambarkan sebagai pemeluk Islam, agama yang sukses dikampanyekan oleh George W Bush sebagai agamanya para teroris, dan karena itu Obama harus ditolak sebagai calon presiden.

Dan ini yang menjadi biang persoalan: redaksi drudgereport mengaku mendapatkan foto Obama dari email yang dikirim oleh “staf Hillary.” Sebuah pernyataan yang niscaya habis-habisan disangkal oleh kubu Hillary. Mereka menyatakan, tidak pernah melihat email itu. “Kalau ada penyelidikan independen tentang foto itu, kami akan menyambutnya,” kata Howard Wolfson, juru bicara tim sukses Hillary.

Wolfson mungkin benar, tapi foto itu telah menjadi “persoalan” tersendiri. Sebagian publik Amerika termakan dengan isu agama Obama. Sebelum pemilihan di Texas dan Ohio, sebagian orang bahkan sudah beranggapan Obama beragama Islam atau dekat dengan orang-orang Islam. Banyak media di Amerika Serikat dan Inggris yang kemudian latah mengecam Hillary. Dia dan tim suksesnya dituduh telah melancarkan kampanye buruk untuk menjatuhkan pesaingnya. Kantor berita BBC menuding, kampanye semacam itu sudah dilakukan setahun sebelumnya, ketika kubu Hillary menyebut Obama bergama Islam.

Apa tanggapan Obama?

Dia sama sekali tidak membantah. Orang yang mengenakan serban seperti terlihat di foto yang disebarkan oleh drudgereport diakuinya adalah dirinya.

Foto itu diambil ketika dia melawat ke Kenya, negara asal dari ayah kandung Obama, dua tahun sebelum dia diusung sebagai salah satu kandidat presiden Partai Demokrat. Berpidato dalam sebuah kampanye, Obama menyatakan, siapa pun tahu, ketika berkunjung ke sebuah negara, seseorang tak bisa menolak untuk didaulat mengenakan baju yang dihadiahkan oleh penduduk negara itu. “Adalah menyedihkan, jika dugaan tentang [foto] itu benar berasal dari kubu Clinton; karena pada saat yang sama dia menekankan perlu memperbaiki hubungan yang lebih baik di seluruh dunia,” kata Obama.

Di musim semi enam tahun lalu itu, kampanye dan persaingan dari dua calon presiden Partai Demokrat memang berlangsung panas. Dua kubu saling memburukkan dan membusukkan. Sentimen ras dan agama disebarluaskan, dan Obama adalah sasaran yang paling rentan diserang karena kulit dan latar belakang keluarganya yang berasal dari Afrika. Dia dianggap tidak pantas memimpin Amerika.

Lalu setelah memenangkan pertarungan di partainya, dan terpilih menjadi presiden Amerika mengalahkan John McCain dari Partai Republik; latar belakang Obama terus dipersoalkan. Dia baru menjabat presiden selama enam bulan, tapi “Birthers”, sebuah kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi, melancarkan tuduhan: kewarganegaraan Obama diragukan dan sebab itu dianggap tidak bisa menjadi presiden Amerika.

Mereka tidak percaya dengan dokumen resmi Obama, dan menyatakan Obama sebetulnya lahir di Kenya atau Indonesia. Mereka juga tidak peduli dengan fakta bahwa andai pun benar Obama lahir di luar negeri, tapi salah satu orang tuanya adalah warga Amerika dan itu berarti Obama adalah tetap warga Amerika.

Semua tuduhan itu bisa saja dianggap sebagai kurang kerjaan, tapi Birther bukan gerakan remeh kendati mungkin tidak begitu popular di Amerika. Lou Dobbs, wartawan CNN, malah memperbesar kontroversi yang ditiupkan Birther dengan terus melemparkan pertanyaan tentang kewarganegaraan Obama. Pembawa acara radio beraliran kanan Rush Limbaugh mengulang-ulang topik kewarganegaraan Obama. Lalu kelompok konservatif yang sudah tidak senang dengan terpilihnya Obama sebagai presiden dengan senang hati menerima semua rumor yang menjelekkan Obama. Mereka seperti mendapatkan amunisi baru, setelah di masa kampanye gagal menuduh Obama sebagai pemakai narkoba, homo dan negro.

Tuduhan-tuduhan yang memburukkan dan membusukkan seseorang karena sentimen ras, agama, dan latar belakang keluarga seperti yang pernah terjadi pada masa kampanye calon presiden Amerika itu; juga berlangsung di Indonesia. Diulang-ulang dan bisa jauh lebih buruk. Dulu, istri Susilo Bambang Yudhoyono pernah diisukan beragama Kristen, ketika SBY untuk kali pertama maju ke Pemilihan Presiden 2004. Di musim kampanye 2009, telah disebarkan desas-desus bahwa Herawati, beragama Katolik. Herawati adalah istri Boediono calon wakil presiden dari calon presiden SBY.

Namanya juga isu, tentu saja tak terlalu jelas darimana asalnya gosip tentang agama Bu Hera, kecuali dari selebaran yang dibagi-bagikan di Asrama Haji, Medan. Saat itu Jusuf Kalla yang bertarung sebagai calon presiden berkampanye di sana. Lalu, seolah memang sudah menunggu, selebaran berisi isu agama Bu Hera diterkam oleh kubu SBY-Boediono. Dianggap sebagai kampanye super negatif. Rizal Mallarangeng, juru bicara tim kampanye SBY-Boediono tak hanya mengancam melaporkan kasus selebaran di Asrama Haji Medan ke Bawaslu, melainkan menuntut Kalla untuk meminta maaf. Kalla terbahak dan balik menuduh Rizal telah salah alamat, karena selebaran itu sama sekali tidak berhubungan dengan JK-Wiranto.

Kini, dua calon presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo berikut keluarga dan masa lalu mereka tak luput dari sasaran kampanye busuk. Jokowi dianggap sebagai bukan muslim dan hajinya dinilai pencitraan; seolah menjadi nonmuslim adalah dosa. Agama ibunya Prabowo yang Kristen dibesar-besarkan. Anak lelakinya yang berkarir sebagai perancang mode diolok-olok dan direndahkan. Jokowi dituduh berbohong karena menutupi asal-usul keluarganya. Dianggap keturunan Cina, kendati seluruh keluarganya sudah membantah dan menjelaskan dengan terang. Kewarganegaraan Prabowo diungkit-ungkit padahal sudah sejak 1998 yang bersangkutan menyatakan menolak menjadi warga negara Jordania.

Benar, agama dan ras, seperti juga masa lalu, bisa menjadi sesuatu yang buruk sehingga menjadi bahan kampanye paling murah yang bisa dijual mahal. Ia bisa didaurulang untuk menuai simpati atau kebencian, menciptakan kebencian, atau rasa iba. Memalukan tentu saja, tapi kekuasaan seringkali diperoleh dengan cara-cara yang sungguh memuakkan dan tidak adil.

Di musim pemilu seperti sekarang, celakanya, sebagian media ikut menyulap meja redaksinya menjadi menjadi tungku api besar. Desas-desus dijadikan fakta dan fakta dijadikan prasangka. Sebagian lagi dengan terang-terangan memihak pada kepentingan para pemilik modal yang memilih berkubu dengan Jokowi atau Prabowo. Lalu, tim sukses dan para pendukung bertepuk tangan mengelu-elukan calon mereka masing-masing seolah manusia paling saleh.

Ya, ini memang musim pemilu; dan enam tahun lalu itu, meskipun dikampanyekan busuk dan direndahkan, Obama bukan saja terpilih sebagai calon presiden dari partainya tapi juga terpilih sebagai presiden Amerika.

demikianlah hasil studi banding berdasarkan karangan rakyat indonesia melalui eksplorasi google

silahkan anda pilih yang mana

jangan golput

rayakan hari demokrasi yang sangat membahagiakan selruh rakyat indonesia

sehingga dapat dibanggakan oleh seluruh dunia

semoga allah yang mahakuasa memberika redho dan rahmatnya kepada pemimpin bangsa indonesia mendatang

selamat pilpres 2014

prabowo atau jokowi

tr ?

TERSERAH ANDA

SAYA SENDIRI TIDAK MEMBACA PENDAPAT RAKYAT INDONESIA,PENDAPAT SAYA

RAHASIA LHO

NANTI AKAN SAYA TUSUK WAJAH PILIHAN SAYA

SALAM DARI DR IWAN SUWANDY,MHA’ PEBNEMU DR IWAN CYBERMUSEUM

KOLEKTOR PALING UNIK DI INDONESIA

 

 

Protected: pablo Picasso art collections

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Dr Iwan CD-ROM”The Chinese Empress Dowager Xici HIstory Collections”

This content is password protected. To view it please enter your password below: