Category Archives: Uncategorized

KISAH PERTUALANGAN Dr iWAN KE PULAU BANGKA 2016

 

Pertualangan Dr iwan Ke Pulau Bangka

November 22, 2016, 11:27 am

Did you know you can view enhanced stats on WordPress.com? Show Me

Image result for koin pulau bangka

Oleh

Image result for Driwan

Dr Iwan Suwandy,MHA

Peserta

 

Adiwidjaya ^ By Yun, DR Iwan Suwandy,MHA ^

Image result for Lily widjaja

Ny Lily,

Image result for Aswin widjaja

Aswin &Murni

Berangkat Tanggal 15 Oktober 2016 dari Jakarta jam 10.00 Pagi

Image result for bandara soekarno hatta terminal I

Tiba Pangkal pinang sekitar jam 11.00 WIB

Kemudian munju Hotel Hariitge

 Image result for Serrata Terrace Hotel Bangka

 

Serrata Terrace Hotel ***

Alamat : Jl. Pantai Pasir Padi Pangkal Pinang

Telepon : (0717)7010166, 42560

Fax : (0717) 4256196

 Image result for Hotel Bumi Asih Pangkal Pinang

Hotel Bumi Asih Pangkal Pinang

Alamat : Jl. Jend. Sudirman N0.25, Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Telepon : (0717) 437-776

 

 

 

 

RM Asui

 

Image result for Café Pitti Pitipo   Pangkal Pinang

RM Asui merupakan restoran hidangan laut yang menyajikan makanan lokal seperti Lempah Kuning.
Klik gambar di sebelah kiri untuk menampilkan beberapa foto yang lebih besar dari RM Asui.

Lokasi

:

Jl. Yang Zubaidah No. 242

Telepon

:

0717 423772

Jam operasional

:

setiap hari, pk. 10:30-22:00

Keterangan

:

hanya menerima pembayaran dengan uang tunai.

 Image result for Restoran Biru Laut    Pangkal Pinang

Restoran Biru Laut
Berada di pinggir
Pantai Pasir Padi, Biru Laut tidak hanya menawarkan hidangan olahan laut, namun juga masakan khas Bangka seperti Lempah Kuning.

Lokasi

:

Jl. Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang atau sekitar 7 kilometer dari Pangkalpinang

Telepon

:

0812 717325

 

 

 

Greeng Lesehan
Greeng Lesehan adalah tempat di mana Anda bisa makan makanan tradisional Bangka, seperti lempah darat, lempah kuning, dan lainnya.

Lokasi

:

Jl. A. Yani, No. 97, Pangkalpinang

Telepon

:

0852 68080773

Jam operasional

:

setiap hari, pk. 10:00-23:30

Keterangan

:

hanya menerima pembayaran dengan uang tunai.

 Image result for Mie Koba     Pangkal Pinang

Mie Koba
Tempat makan ini khusus menyediakan Mie Koba, mie kuah khas dari Bangka.

Lokasi

:

Jl. Balai No. 83, Pangkalpinang

Telepon

:

0813 67001929

Jam operasional

:

setiap hari, pk. 7:00-22:00

Keterangan

:

hanya menerima pembayaran dengan uang tunai.

 

OtakImage result for Otak-otak Kon Kim      Pangkal Pinang-otak Kon Kim
Otak-otak Kon Kim ini terkenal akan otak-otaknya, makanan tradisional yang terbuat dari ikan tenggiri dan tepung, yang disajikan dengan saos tauco maupun saus kacang, dll.

Lokasi

:

Jl. Jend. Sudirman No. 54, Gg. Aster, Pangkalpinang

Telepon

:

0717 424148

Jam operasional

:

setiap hari, pk. 10:00-22:00

Keterangan

:

hanya menerima pembayaran dengan uang tunai.

 Image result for Kedai Mie Bangka    Pangkal Pinang

Kedai Mie Bangka
Kedai Mie Bangkaini terkenal akan Mie Bangka-nya, salah satu makanan khas Bangka yang biasanya disajikan dengan bakso, babat, dan pangsit goreng.

Lokasi

:

dekat Pasar Ramayana, Pangkalpinang

Telepon

:

0717 424148

 

 

Restoran Aurora
Restoran Aurora menawarkan hidangan khas tanah air, China dan juga hidangan Barat, serta mempunyai pemandangan yang indah dari Pantai Tajung Pesona.

Lokasi

:

Tanjung Pesona Beach & Resort, Jl. Pantai Rebo, Sungailiat

Telepon

:

0717 436650, 0812 71235999

Fax

:

0717 435561

 Image result for RM Saung Kuring          Pangkal Pinang

RM Saung Kuring
RM Saung Kuring menyediakan berbagai macam hidangan Sunda, terutama olahan dari ikan guramenya.

Lokasi

:

Jl. Girimaya, Pangkalpinang

Telepon

:

0717 434647

Keterangan

:

restoran ini bisa menampung hingga 115 pengunjung dan tersedia dalam setting modern dan tradisional (lesehan

 

 

 

 

 

 

 Image result for Restoran Aurora   Pangkal Pinang

 Rumah makan Asia Pangkal pinang

 

 

 

  1. Peta Jarak Antar Kecamatan..

 Image result for Peta Jarak Antar Kecamatan Bangka

 

Peta Jarak Tempuh ke Kecamatan Lai

 

 Image result for Peta Pangkalpinang

Peta Pangkalpinang

 

 

 

 

 

 

Lima Wisata Sejarah Paling Hits di Pangkalpinang

Kota PangkalpinangMelihat Langsung Tradisi Cengbeng. Read more … » di pulau BangkaKesederhanaan ala Kedai Kopi Akhew, Pangkalpinang. Read more … » adalah ibukota provinsi Bangka Belitung yang memiliki banyak kawasan wisata yang menarik.

1.Rumah Eks Residen Bangka

Image result for Rumah Eks Residen Bangka

Rumah Eks Residen Bangka

Ini adalah bekas rumah Residen Bangka di Pangkalpinang yang memiliki catatan sejarah yang panjang. Rumah ini terletak di pusat kota, tepatnya di jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang. Bulan Februari lalu saya sempat berkunjung kemari dan melihat langsung keindahan arsitektur rumah ini.

Rumah berarsitektur Eropa ini dibangun awal abad ke-20, dan mulai ditempati pada tahun 1913 oleh Residen (penguasa Belanda) di Bangka yang berkedudukan di kota Pangkalpinang.  Menurut catatan sejarah, Pangkalpinang dijadikan ibukota karesidenan Bangka di masa penjajahan Belanda, setelah sebelumnya ibukota Karesidenan ini berada di kota MuntokMengunjungi Rumah Pengasingan Soekarno di Bangka. Read more … », Bangka BaratKejayaan Timah Bangka Bukan Isapan Jempol. Read more … ».

Bentuknya yang besar membuat warga Bangka menyebutnya sebagai rumah besar. Yang paling mencolok dari bentuk rumah ini adalah adanya 10 pilar yang berada di teras depan rumah. Selain itu yang khas dari rumah berarsitektur Eropa adalah bukaan jendela yang lebar, ventilasi dan pintu berukuran serba besar. Rumah Residen kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang M.Irwansyah Rebuin dan menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi.

  1. Tamansari (Wilhelmina Park)

Image result for Taman Sari alias Wilhelmina Park  pangkal pinang

Taman Sari alias Wilhelmina Park

Nama taman Wilhelmina Park ini mengingatkan pada sosok ratu Belanda, Wilhelmina. Dinamakan seperti nama ratu Belanda karena taman ini dibangun saat masa pendudukan Belanda di IndonesiaPulau Bali Raih Best Island 2015. Read more … ». Setelah kemerdekaan RI nama taman diubah menjadi Tamansari dan diresmikan oleh Wakil Presiden Ri Mohammad Hatta pada tahun 1949.

Tamansari dirancang oleh Van Ben Benzenhorn sebagai fasilitas pendukung rumah Residen Bangka, yang letaknya bersisian. Taman ini ditata bak taman-taman di Eropa. Dengan pepohonannya yang rindang, taman ini menjadi oase bagi warga Pangkalpinang yang hendak melepas penat. Selain difungsikan sebagai taman, Tamansari juga digunakan sebagai tempat konservasi tanaman, tempat berolahraga hingga sekedar bersantai bersama keluarga.

Oiya, nama Tamansari ini diambil dari nama kecamatan tempat taman ini berada. Sejak tahun 2010 Tamansari dijadikan cagar budaya Pangkalpinang yang dilindungi Undang-undang Cagar Budaya.

Image result for Museum Timah Indonesia    pangkal pinang

  1. Museum Timah Indonesia

Bangka identik dengan timah, dan bicara timah asal Bangka berarti membicarakan sejarah panjang eksplorasi timah di Nusantara. Dan untuk memahami sejarah pertimahan di pulau Bangka, maka berkunjunglah ke Museum Timah Indonesia yang terletak di jalan Ahmad Yani, Pangkalpinang.

Di museum ini kita bisa menyaksikan perjalanan sejarah penambangan timah di Bangka. Mulai dari penambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat, sejarah perkembangan teknologi pertambangan sejak jaman Belanda hingga terkini.

Mencermati satu persatu koleksi museum Timah pengunjung akan dibawa menyelami kejayaan timah Bangka di awal abad ke-20. Masa di mana timah sebagai komoditas andalan Indonesia yang dikenal bukan saja di kancah regional, namun hingga ke seluruh dunia. Keterkenalan itu menjadikan timah Bangka sebagai salah satu timah terbaik di dunia.

Image result for Panti Wangka (Societeit Concordia)      pangkal pinang

  1. Panti Wangka (Societeit Concordia)

 

Gedung Panti Wangka alias Societet Concordia

Panti Wangka atau gedung Societeit merupakan gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda di kota Pangkalpinang. Gedung ini terletak di pusat kota, dekat dengan sejumlah kantor pemerintahan. Letak gedung ini tak jauh dari Wilhelmina Park atau Tamansari.

Gedung ini didirikan pada masa residen Bangka A.J.N Engelenberg yang memerintah tahun 1913 – 1918. Societeit Concordia digunakan sebagai tempat berkumpulnya sosialita Belanda, yang terdiri dari ambtenar goebernemen (petinggi pemerintahan), petinggi militer, pejabat perusahaan BTW (Banka Tin Winning), hingga pengusaha. Di tempat ini biasanya mereka melepas lelah, makan-makan, mendengarkan musik dan hiburan seni.

Seiring dengan nasionalisasi aset milik pemerintah Belanda menjadi BUMN, tahun 1953 gedung ini pun beralih pengelolaannya menjadi dibawah Unit Penambangan Timah Bangka dan berubah namanya menjadi Panti Wangka. Setelah itu gedung ini pernah menjadi gedung pertemuan, kantor sementara DPRD Provinsi Bangka Belitung, serta PN Pangkalpinang saat gedung pengadilan tersebut direnovasi. Kini gedung bersejarah ini digunakan oleh KONI Bangka Belitung sebagai kantornya.

Image result for Rumah Kapitan Lain Nam Sen     pangkal pinang

  1. Rumah Kapitan Lain Nam Sen

 

Rumah Kapitan

Rumah cantik berarsitektur perpaduan China Hakka dengan Melayu ini bisa ditemukan di jalan Balai, Pangkalpinang. Rumah Kapitan Lain Nam Sen ini merupakan bukti betapa akulturasi budaya China berjalan dengan cara yang indah dan berdampingan dengan budaya lokal Melayu. Hidup damai berdampingan memang sudah ada sejak lama di Pangkalpinang. Ini terbukti dari keberadaan rumah ini yang sudah ada sejak tahun 1800-an.

Rumah ini awalnya adalah rumah panggung, sama seperti kebanyakan rumah di Sumatera pada masanya. Rumah semacam ini dibangun dengan alasan keamanan, sebab saat itu masih kerap ditemukan binatang buas yang berkeliaran di kampung-kampung. Dengan rumah panggung, sentral kegiatan di rumah berada di lantai atas. Sementara di bagian bawah biasanya digunakan untuk menyimpan ternak atau kendaraan.

Dari luar rumah ini tak beda dengan rumah di Pangkalpinang lainnya. Namun begitu kaki melangkah ke bagian dalam, maka akan tampak keunikan rumah ini. Yang paling unik menurut saya adalah tegelnya. Coraknya sangat vintage, cantik sekali. Kemudian pembagian ruangnya juga menarik. Rata-rata ruangannya cukup luas, dengan area publik di bagian bawah. Sementara area privat berada di lantai dua.

Keunikan berikutnya adalah furnitur kayunya yang masih terawat dengan sangat baik. Semuanya adalah peninggalan keluarga turun temurun.

Saat ini proses renovasi rumah Kapitan ini sudah hampir selesai. Nantinya rumah ini akan dijadikan semacam galeri atau museum rumah khas China-Melayu dan terintegrasi dengan hotel di bagian belakang rumah.

 

Interest area

Image result for Situs Kuto Panji Belinyu

Situs Kuto Panji Belinju

Image result for Situs Kuto Panji Belinyu

Fortress or Citadel Kutopanji Bongkap,
located in the village of Dull.

 Image result for Situs Kuto Panji Belinyu

 Monolit Sungai Liat

 

Benteng Kuto Panji

Sebagai salah satu asset sejarah yang menyimpan banyak cerita misteri, baik itu berupa mitos atau pun sejarah, Benteng Kuto Panji memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama pada cerita sejarahnya.

Ada banyak versi cerita sejarah benteng ini yang berhubungan erat dengan kerajaan di Tiongkok.

Dari semua versi itu, ada kemiripan cerita yaitu seorang raja kerajaan kecil bernama Bong Kiung Fu yang memerintah di Belinyu yang memiliki seorang anak gadis berparas cantik bernama Bong Lili atau putri Chok Tian.

 

Bong Khiung Fu adalah seorang penguasa yang baik hati di Tibet-China yang menolak membayar upeti kepada penguasa Tiongkok yang lalim pada masa itu.

Sang penguasa marah dan memerintahkan hukuman mati kepada Bong Khiung Fu.

Bersama pasukan dan putrinya, Bong Khiung Fu pun melarikan diri dari daratan Tiongkok dan mengarungi samudra.

Mereka membawa seluruh harta dan pasukannya dengan menggunakan beberapa buah kapal besar dan kecil.

Mereka juga membawa tanaman jeruk Kingkit sebagai obat anti mabuk, yang dimasa mendatang, merupakan tanaman yang mahal dan langka di Indonesia.

Ketika melewati perairan Selat Berhala dekat ujung utara pulau Bangka, rombongan ini dikejar oleh para bajak laut, sehingga mereka melarikan diri menuju Pulau Bangka, memasuki Teluk Kelabat hingga muara Sungai Karang Lintang dan bersembunyi di situ.

Setelah merasa aman bersembunyi di situ, mereka lalu membuka lahan untuk berkebun dan bercocoktanam sehingga kemudian berfikir untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan yang kokoh untuk bertahan dari serangan bajak laut dan serangan lainnya.

 

Bangunan yang didirikan itu sebagai benteng sekaligus istana kecil, lengkap dengan perangkat pemerintahannya. Sebagai kerajaan kecil yang saat itu tunduk pada kekuasaan Kesultanan Palembang, maka tentu saja diharuskan memberikan upeti berupa timah tiban.

 

Pembangunan Benteng Kuto Panji atau dalam bahasa China, Bongkap, memakan waktu 5 tahun (1664-1669 M).

Sebagai perekat/ semen, digunakan putih telor angsa sebagai campuran pasir dan batu sehingga benteng ini dapat bertahan beberapa abad sebelum benar – benar runtuh di tahun 1774 karena serangan musuh serta serangan Lanun.

Versi lainnya mengenai keberadaan benteng ini mengenai seorang raja kikir dan bengis bernama Bong Khiung Fu yang memerintah di Tibet, dimana selama pemerintahannya sang raja telah menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, misalnya dengan memberlakukan pajak yang sangat tinggi sehingga menyebabkan rakyat menderita.

Hal tersebut diketahui oleh maharaja Khian Lung yang bertahta di Provinsi Fukkian setelah mengadakan peninjauan terhadap negeri – negeri kekuasaannya.

 

Terciumnya kebusukan Bong Khiung Fu ini bermula dari sebuah peristiwa besar yang dikenal dengan Thai Nau Fa Leu atau Insiden Hotel Seribu Bunga, dimana sang kaisar berontak hebat dengan putera angkat Bong Khiung Fu yang bernama Cok Hin, sehingga kejahatan Bong Khiung Fu pun terungkap.

Sang Kaisar marah besar dan memerintahkan para pengawal untuk menangkap Bong Khiung Fu yang kemudian memutuskan untuk melarikan diri bersama pengikut dan putri kesayangannya serta penduduk yang dibohinginya dengandalih mencari bahan makanan pokok ke Nanyang.

 

 

Bong Kiung Fu membawa semua harta kekayaannya dalam pelarian tersebut menggunakan 3 kapal besar dan 3 kapal kecil hingga merapat di pelabuhan Karang Lintang Desa Kuto Panji Belinyu. Sejak itulah mereka menetap di bagian utara pulau Bangka dengan alas an, sebagai buronan sudah semestinya bersembunyi di daerah kecil agar susah dilacak oleh kerajaan China.

 

Pada saat Pulau Bangka termasuk wilayah kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, yang kemudian mengizinkan Bong Khiung Fu menetap di Kutopanji dan mendirikan sebuah benteng megah dan indah yang dikerjakan selama kurang lebih 149 minggu. Benteng ini memiliki 9 ruangan dan 18 sumur serta pintu gerbang – pintu gerbang yang menghadap ke Timur Laut.

 

Bong Khiung Fu bergelar Kapitan Bong atau lebih dikenal dengan Bongkap, memulai usaha dengan membuka tambang timah, perkebunan karet dan lada yang amat luas sehingga mempekerjakan banyak kuli dari Pulau Jawa.

 

Menurut beberapa versi mengenai kematian sang raja, Bong Khiung Fu mati terbunuh oleh bangsa Lanun, namun ada juga yang menyatakan dirinya lari ke  Semenanjung Malaka, sementara putrinya Cok Tian mati bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur di sekitar istana bersama dengan seluruh emas dan perhiasan, sehingga diyakini bahwa benteng ini menyimpan harta karun yang tak ternilai harganya, serta cerita mengenai peti emas yang terbuka dengan aneka perhiasan berkilauan, tetapi setelah didekati tiba – tiba raib entah.

Benteng ini pun terkenal angker dan keramat. Sampai saat ini, reruntuhan benteng Kuto Panji masih menyisakan beberapa bangunan terletak di belakang Kantor Camat Belinyu.

 

 

Kekuasaan Bong Khiung Fu mengalami keruntuhan sekitar abad ke 17, ketika para bangsa Lanun atau bajak laut yang berasal dari Filipina mendengar bahwa di pulau Bangka ada seorang hartawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah.

Para Lanun tersebut menyerang ke benteng ketika Bongkap dan anak buahnya sedang berada di Malaysia untuk menjual hasil timah dan lada, namun penyerangan itu gagal setelah salah seorang kapten para perompak tewas ditimpa buah bakau yang banyak tumbuh dipelabuhan Karang Lintang.

Kejadian tersebut membuat puteri Bong Khiung Fu nekad melakukan bunuh diri setelah membuang semua harta kekayaan mereka ke dalam sumur karena takut ditangkap, dianiaya dan diperkosa oleh para Lanun.

Sejak kejadian itu, Bongkap yang semula kikir menjadi orang yang dermawan, namun kondisi kesehatannya menurun drastis dan mulai sakit-sakitan.

 

Pada abad ke 17, daerah ini merupakan dataran rendah bagian dari teluk Kelabat Belinyu yang lama-lama terjadi pengendapan dan pendangkalan, sehingga akhirnya berubah menjadi daratan.

Timah alluvial (endapan) dengan mudah ditemukan di kawasan ini, karena pasir timah mengendap di bagian terendah.

Sejak zaman kerajaan Bongkap, wilayah ini telah menjadi obyek galian timah dan beberapa bagian diserahkan sebagai upeti kepada kesultanan Palembang yang berkuasa pada saat itu dan dikenal sebagai Timah Tiban.

Sementara, akulturasi dan asimilasi antara suku Melayu di Belinyu dengan etnis Tionghoa di daerah ini  telah berlangsung sejad dari 4 abad yang lampau.

Hingga hari ini, sisa reruntuhan benteng tersebut masih dapat dilihat di Desa Kuto Panji. Untuk menghargai jasa – jasa Bongkap, dibuatlah sebuah makam di dalam benteng. Tidak jauh dari reruntuhan benteng, terdapat sebuah kelenteng kecil yang didirikan oleh Bong Kiung Fu sendiri.Di dalam kelenteng ini terdapat sepasang patung dewa Thai Pak Kung yang dibawa dari dartan Tiongkok. Disamping kelenteng ini juga terdapat sebuah sumur tua peninggalan Bongkap yang menjadi sumber air bagi penduduk di sekitar kelanteng. Sumur ini tidak pernah kering airnya walaupun pada musim kemarau.

Enam Objek Diajukan Pemkab Bangka untuk Dijadikan Cagar Budaya

 

KONFRONTASI-Pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengusulkan enam objek di daerah itu untuk ditetapkan sebagai bangunan atau situs cagar budaya ke pemerintah pusat melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kami mengusulkan enam objek agar ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah pusat,” kata Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Bangka, Surtam pada sosialisasi pendaftaran cagar budaya tahun 2015 di Sungailiat, Senin.

Menurut dia, keenam objek itu diusulkan sebagai situs cagar budaya karena memiliki sejarah dengan bangunan fisik yang sudah cukup lama.

Keenam objek itu yakni Rumah Dinas Camat Belinyu, Tugu Kemerdekaan, Nisan Horatio Nelson Levyssohn, Benteng Kuto Panji, Situs Kota Kapur, dan Benteng Kotawaringin.

Ia menjelaskan, secara fisik Rumah Dinas Camat Belinyu memiliki luas bangunan 331 meter persegi dengan luas tanah 10.287 meter persegi, sementara Tugu Kemerdekaan yang belokasi di terminal Sungailiat mempunyai luas bangunan dan luas tanah 66.24 meter persegi.

Sementara Nisan Horatio Nelson Levyssohn di Sungailiat mempunyai luas bangunan dan luas tanah tiga meter persegi, Banteng Kuto Panji memiliki luas bangunan 2.784 meter persegi dan luas tanah 2.940 meter persegi, Situs Kota Kapur di Mendobarat memiliki luas bangunan 132 hektar dan luas tanah 154,045 hektar, sedangkan Benteng Kotawaringin mempunyai luas bangunan 144,94 meter persghi dan luas tanah 901,11 meter persegi.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa, Harri Widianto mengatakan pendaftaran cagar budaya dilakukan di kabupaten atau kota secara online.

“Setelah mendaftar kemudian ditunjuk sebanyak tiga orang dari dinas terkait di pemerintah daerah untuk mengikuti bimbingan teknis selama satu minggu,” katanya.[mr/tar]

Tags: 

Wisata Rumah Sejarah Pesona Pangkalpinang

Wisata Rumah Bersejarah Di Pangkal Pinang

Kota Pangkalpinang pernah menjadi wilayah kekuasaan Inggris, Belanda, Jepang, Kerajaan Sriwijaya, dan Majapahit. Pada masa Belanda, ibukota Karesidenan Bangka terletak di Muntok. 3 September 1939 dipisahkan pengelolaan timah, administrasi, dan Pemerintahan dan memindahkan Ibukota ke Pangkalpinang. Sampai sekarang Kota Pangkalpinang menjadi daerah otonom (pusat pemerintahan, perdagangan, dan sebagainya).

Menyelusuri sebagian obyek wisata Kota Pangkalpinang memang tidak terlepas dari ‘bau’ Kolonial, Kerajaan, Sumatera Selatan, Tionghoa, dan Timah. Kali ini saya bercerita tentang rumah sejarah yang saya kunjungi. Tiga rumah berunsur sejarah yang sangat menarik bila kamu datang ke Pangkalpinang dan Muntok.

Rumah Pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta

 Image result for Rumah Pengasingan Soekarno Pangkalpinang di Bukit Menumbing

Image result for Rumah Pengasingan Soekarno Pangkalpinang di Bukit Menumbing

Rumah Pengasingan Sukarno Pangkalpinang di Bukit Menumbing

Untuk mencapai ke tempat obyek wisata sejarah ini, melewati jalan berkelok-kelok, turunan dan tanjakan yang mirip Roller Coaster atau Kora-kora di Dunia Fantasi. Namun, terbayar dengan menginjakkan kaki di Rumah Pengasingan yang dikelilingi laut dan gunung/bukit Menumbing.

Rumah  yang terletak Di Bukit Menumbing, Mentok, Bangka Barat pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta – saat asgresi kedua di tahun 1948-1949. Rumah besar ini terlihat megah dan kokoh. Hal pertama yang menarik dan seksi ketika masuk ke rumah ini ialah mobil klasik Ford De Luxe 8 berwarna hitam. Yang ternyata sudah tidak ada lagi mesinnya, hilang entah ke mana. Terpenting kerangkanya masih dapat bertutur bahwa Bung Karno dan beserta ajudannya pernah ada di dalamnya.

Terdapat juga , foto-foto para tokoh tertempel di dinding juga bercerita tentang peristiwa yang mereka cetuskan. Tokoh-tokoh yang pernah mengunjungi dan mengadakan pertemuan dengan  Bung Karno dan Bung Hatta di Rumah Pengasingan. Selain rentetan foto, saya menemukan surat penghargaan Bung Karno tentang masyarakat Bangka. Singkat isinya:

“Rakjat Bangka njata bersemangat republikein, njata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik.”

Saya sekilas mendapatkan apa yang pernah terjadi di tahun tersebut. Saya pun jadi membayangkan raut wajah Pemimpin Negara Indonesia itu ketika menuliskannya. Pasti penuh kebanggaan dan senyuman.

Di Rumah Pengasingan, dibiarkan barang-barang, desain, dan furniture apa adanya dan tidak diganti. Selain Pemerintah, ada seorang dari generasi ketiga yang pernah menjadi ajudan Presiden Sukarno di rumah pengasingan. Generasi ketiga asal Jawa ini yang memelihara rumah tersebut. Hingga ruang tidur pun tidak diubah letak posisi dan furniture yang semuanya dari kayu jati.

Kemudian, di luar rumah, ada yang menarik perhatian saya dan teman-teman, seekor ular sejenis Venom (ular berbisa). Ular tersebut muncul sekitar tahun 1951-1952, tidak pernah makan, tapi bertelur sampai 4 ekor. Ketika kami di sana, 4 ekor lainnya tidak ada di tanaman tersebut dan menurut penjaga rumah sedang jalan-jalan. What? Itu berarti saya bisa bertemu 4 ular di tempat tak terduga di rumah ini. Aish. Dan menurut penjaga sekaligus perawat rumah ini, Mas Tedjo – meski tanaman telah berkali-kali diganti – ular-ular itu tetap mendiami posisinya di mana pot tanaman diletakan seperti semula.

 

Pemandangan Di Rumah Pengasingan Bangka #pesonapangkalpinang. Dokumentasi Foto: Rosid

Satu lagi yang seksi. Pemandangan alam luar Rumah Pengasingan. Dari atas rumah pengasingan, kami dapat melihat wilayah Muntok yang ternyata bagus sekali. Atas rumah yang berbentuk segi empat dan tiap sudutnya berdiri bendera Merah Putih. Langsung semua pada foto-foto dan wefie atau selfie. Di area ini, udaranya segar dan bukit-bukit atau gunung Menumbing terlihat hijau dan gagah. Bagus nih kayagnya buat terapi dan meditasi. Eh..

Image result for wisma ranggam muntok

Wisma Ranggam

Rumah atau disebut wisma ini masih berkaitan dengan sejarah Rumah Pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta. Di Wisma ini, Bung Karno dan Agus Salim, M. Roem, Ali Sastroamidjojo dan lainnya pernah menginap di tahun 1948 dan 1949. Wisma yang terdiri dari 8 ruang (kamar dan ruang pertemuan) berbentuk sederhana dan berdiri sejak tahun 1827. Dan tak perlu melalui jalanan berkelok yang bikin jantung naik-turun. Malah jalanannya mulus, rapi, dan bersih.

 

Wisma Ranggam, Muntok #PesonaPangkalpinang.

Dibangun oleh Banka Tin Winning, perusahaan timah milik Belanda. Terletak masih di wilayah Muntok. Di depannya, kami langsung bisa melihat sebuah tugu berwarna putih. Di samping halaman berdiri beberapa batu. Sayangnya tempat wisata yang sederhana dan menarik ini tidak terlihat keterangan mengenai wisma, batu, dan tugu. Mungkin ada hal lainnya yang terselip di Wisma Ranggam – yang tidak terlihat di mata pengunjung. Padahal Wisma Ranggam salah satu obyek wisata yang juga perlu dikupas.

Rumah Kapitan Lain Nam Sen

Rumah bertingkat dua yang dibangun dari peninggalan seorang kapitan  peranakan Tionghoa dan Melayu terletak di Jalan Balai, Pangkalpinang. Dibangun sekitar tahun 1700-an. Rumah yang juga disebut rumah panggung merupakan destinasi paling berkesan bagi saya (selain ketiga di atas). Di rumah ini tidak saja merupakan destinasi sejarah, tapi juga seni budaya. Dengan arstitektur Tionghoa dan Malayu, pemilik sekarang tidak menghilang ‘arwah’ seni yang begitu kental.

Dari interior, perlengkapan rumah, ornamen, ventilasi, sampai lantai membuat saya terkagum-kagum pada tempat ini.

 

Rumah Kapitan Tionghoa Malayu, Wisata Sejarah & Seni Budaya #PesonaPangkalpinang

Rumah yang dibangun oleh seorang kapitan, dan pernah menjadi salah satu orang berpengaruh di Bangka di masa perjuangan, meninggalkan Heritage luar biasa. Warisan yang tidak hanya bercerita tentang gaya hidup dan rumah-rumah di zaman dulu, tapi juga dapat memikat wisatawan melalui seni bernilai tinggi.

Kini, Rumah Kapitan dimiliki Ongky, entah dari generasi berapa. Ongky bercerita tentang kakek dari kakeknya yang membangun rumah cantik ini. Jadi silahkan menghitung sudah berapa generasi rumah ini berdiri. Ia pun sengaja memugar rumah tersebut tanpa melenyapkan perabotan rumah dan lainnya serta sebagian lebih bangunan. Alasannya agar wisatawan bisa menjelajah obyek wisata sejarah dan seni budaya .

Udara yang masuk pun begitu bebas dan berhawa ke tempoe doeloe. Suatu tempo yang terus hadir di masa modern ini. Dan masih tidak ketinggalan bila orang menerapkan konsep seni Tionghoa dan Malayu yang kuno dan authentic di rumah, cafe, bahkan di

isi-isi dari Rumah kuno tapi bernilai seni ini. Dari lemari, meja tamu, meja makan, tempat tidur, kaca, televisi, kaca rias, lantai, ornamen ventilasi, pintu, dan rupa-rupa lainnya, saya potret satu per satu. Asli sangat berkesan.

ini merupakan keindahan seni otentik yang berkumpul di satu tempat. Belum lagi kuliner daerah ini yang rasanya enak dan patut dicicipi.

Kenikmatan apalagi yang didustakan. Jiah ngikutin pribahasa kekinian.

 

Rumah Kapitan Tionghoa-Malayu Halaman Belakang. Wisata

sejarah & seni budaya #PesonaPangkalpinang

Paling kece lagi, di halaman belakang Rumah Kapitan, berdiri gapura dan tangga yang menghubungkan tamu salah satu hotel dengan rumah ini.

Menunjukan pemilik rumah sekarang, membuka akses wisata dan membiarkan para tamu menikmati kejayaan masa lalu beserta seni yang tidak memudar ini.

 

Population at Bangka-Belitung Islands Province (2008)

Regency/Municipality

Number of Population

 

Male

Female

Total

Bangka

149,912

127,792

270,704

Bangka Barat

83,641

74,792

158,433

Bangka Tengah

76,903

68,767

145,670

Bangka Selatan

85,042

76,045

161,087

Belitung

73,143

65,404

138,547

Belitung Timur

48,096

43,007

91,103

Pangkalpinang

82,875

74,107

156,982

Total

592,612

529,914

1,122,526

Kantor Pos Pangkal Pinang

Kode Area Telepon : 0715-0719
Kode Area Pos : 33111-33791

Heritage

Kabupaten Bangka

Robustness of the remains of the Citadel building berwaran grayish-black is made from baked clay, which was built around 1700 by
 Kapitan Bong Bong or Khiung Fu

 Blinyu Goa Maria

 

Ujung utara Pulau Bnagka

Dari Bangka kie Belitung dengan pesawat Udara

Resorant

 

 

10 Tempat Wisata di Belitung yang Wajib Dikunjungi

Pulau Lengkuas
 

Belitung bisa dikatakan sebagai salah satu destinasi wisata yang dulunya tersembunyi. Tidak banyak orang tahu keindahan sesungguhnya dari Belitung. Tetapi sejak munculnya film Laskar Pelangi, keindahan Belitung yang sesungguhnya mulai terekspos. Hal ini mengakibatkan Belitung menjadi salah satu destinasi liburan favorit bagi para traveler yang ingin mengeksplor keindahan negara kita tercinta ini.

 
 
 
 
 

Jika Anda memasukkan Belitung sebagai tempat liburan Anda selanjutnya, beberapa tempat wisata di Belitung yang wajib dikunjungi antara lain:

1. Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai terkenal di Belitung yang digunakan sebagai salah satu lokasi syuting untuk film Laskar Pelangi. Pantai ini terletak di sebelah utara Belitung, tepatnya 37 km dari kota Tanjung Pandan. Berpasir putih, air laut jernih, dan batu granit super besar adalah ciri khas dari pantai ini.

Ombak di Pantai Tanjung Tinggi relatif tenang sehingga Anda bisa berenang tanpa harus takut terbawa ombak. Di tepi pantai, terdapat warung-warung yang menjajakan seafood untuk memuaskan rasa lapar Anda setelah puas bermain air.

2. Pantai Tanjung Kelayang

Pantai Tanjung Kelayang

Pantai Tanjung Kelayang

Terletak di sebelah utara Pulau Belitung, Pantai Tanjung Kelayang adalah pantai kedua yang terkenal setelah Pantai Tanjung Tinggi. Yang khas dari pantai ini adalah Batu Kelayang yang merupakan maskot dari Sail Wakatobi – Belitung 2011. Pantai Tanjung Kelayang terdiri dari dua bagian, yaitu sebelah barat dengan gugusan batu granit dan sebelah timur berupa hamparan pasir putih nan cantik. Anda bisa menyelam, berenang, berjemur, memancing, dan malakukan beragam atraksi air lainnya di pantai ini.

3. Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Objek wisata ketiga yang terkenal di Belitung adalah Pulau Lengkuas. Pulau ini berada di sebelah utara Pulau Belitung, Anda hanya perlu menempuh jarak sekitar 30 menit untuk menyeberang ke pulau ini. Hal yang menarik dari Pulau Lengkuas adalah mercusuar yang menjulang tinggi di tengah-tengah pulau.

Mercusuar ini sudah berdiri sejak tahun 1882. Dari atas mercusuar ini, Anda bisa menikmati pemandangan keindahan pantai-pantai di Belitung dari

ketinggian.

 

 

4. Bukit Berahu

Bukit Berahu

Bukit Berahu

Bukit Berahu adalah sebuah tempat perpaduan antara resto dan bungalow atau villa di sebuah pantai indah di Belitung. Bukit Berahu terletak dekat dengan Tanjung Tinggi. Dari atas Bukit Berahu, Anda bisa menikmati keindahan pantai berpasir putih dan laut biru muda yang jernih.

Untuk mencapai pantai di bungalow ini, Anda harus menuruni 97 anak tangga, sehingga ada baiknya Anda menggunakan sepatu tanpa hak. Karena pantai di sini merupakan bagian dari bungalow, Anda bisa menikmati sensasi private beach yang tidak bisa Anda temukan di pantai Belitung lainnya.

5. Pantai Punai

Pantai Punai

Pantai Punai

Pantai Punai berlokasi di sebelah Tenggara Belitung, tepatnya di desa Tanjung Kelumpang. Berbeda dengan pantai khas Belitung lain yang memiliki batu granit super besar, di pantai ini Anda akan mendapati pasir putih dengan batu granit kecil dan suasana yang lebih tenang.

Di depan pantai ini ada pulau kecil bernama Pulau Punai. Dulunya, di pulau ini terdapat banyak sekali burung punai. Untuk menuju pulau ini Anda hanya perlu berjalan kaki jika air sedang surut.

 

6. Pulau Pasir

Pulau Pasir

Pulau Pasir

Pulau Pasir sesungguhnya adalah sebuah tumpukan daratan yang hanya terdiri dari pasir. Saat air laut surut, tumpukan pasir ini akan terbentuk seperti pulau. Sedangkan saat air laut pasang, daratan ini seluruhnya akan tenggelam di bawah air laut. Pulau ini tidak terlalu luas, hanya sebesar setengah lapangan sepak sepak bola.

Saat air surut, ada banyak sekali wisatawan yang singgah di pulau ini dengan menggunakan perahu nelayan. Anda akan merasa takjub dengan pemandangan di pulau ini, karena pulau ini berdekatan dengan pulau-pulau lain.

7. Danau Kaolin

Danau Kaolin

Danau Kaolin

Danau Kaolin ini sebenarnya bukan tempat wisata umum, tetapi banyak fotografer yang ingin mengetahui potensi fotografi di sini, sehingga ada beberapa agen wisata yang menyediakan jasa paket wisata ke tempat wisata di Belitung ini. Kaolin adalah salah satu kekayaan tambang di pulau Belitung. Keindahan tempat ini merupakan perpaduan antara air danau berwarna biru dan kaolin berwarna putih. Pemandangan di sini hampir sama dengan pemandangan Kawah Putih di Bandung.

8. Pantai Penyabong

Pantai Penyabong

Pantai Penyabong

Pantai Penyabong adalah sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Membalong, Belitung Selatan. Pantai ini juga dikenal dengan sebutan Pantai Batu Lubang. Keindahan alam pantai ini hampir sama dengan keindahan di Pantai Tanjung Tinggi, dengan gugusan batu granit yang bertebaran di tepi pantai. Bedanya, batu granit di pantai ini saling menyambung dan memanjang, menjorok ke arah laut sehingga membentuk seperti dermaga secara alami. Ombak di sini tidak terlalu besar sehingga aman untuk berenang, air pantai juga jernih dengan pasir putih yang lembut.

9. Museum Kata

Museum Kata

Museum Kata

Museum Kata Andrea Hirata adalah museum literatur pertama di Indonesia. Di sini, Anda bisa menyaksikan koleksi tentang film Laskar Pelangi. Anda bisa menemukan berbagai karya Andrea Hirata di museum ini.

Ada sebuah cerpen khusus yang dibuat oleh Andrea Hirata yang tidak diterbitkan umum, dan hanya bisa Anda baca di sini. Museum ini dibangun Andrea Hirata dengan tujuan untuk menginspirasi anak-anak dan remaja di desa Gantong, agar memgembangkan bakat seni mereka.

Selain jejak Laskar Pelangi, di sini juga terdapat banyak sekali karya seni Andrea. Ada juga Warung Kupi Kuli yang merupakan sebuah gambaran keseharian kehidupan para penambang.

10. Pantai Nyiur Melambai

Pantai Nyiur Melambai

Pantai Nyiur Melambai

Pantai Nyiur Melambai terletak di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Pantai ini adalah salah satu pantai yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, dan termasuk lokasi wisata terpopuler.

Jika biasanya pantai dihiasi pohon kelapa, berbeda dengan Pantai Nyiur Melambai. Pantai ini ditumbuhi oleh pohon pinus di sekitarnya dengan pasir putih khas pantai Belitung. Garis pantai di sini panjang dan suasana di sini teduh. Aktivitas yang dapat Anda lakukan di sini antara lain berenang, voli pantai, dan juga panjat tebing.

 
 
4.27 (85.45%) 11votes
 

 

 

 

 
Belitong Timur Kampung AHOK

 BUdha statue
Sekolah Laskar Pelanggi

 

1740-1812

 

 

Image result for Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi '中和公正''祉山' (1740-1812) Rare
Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘中和公正”祉山’ (1740-1812) Rare

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘兵郎公司’ ca 1775-1812 Rare(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘光道聚寳”源記’ ca 1740/50-1812 RR

 

 

 

Bangka  Historic Collections

Created By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private limited edition E-Book In CD-ROM

Copyright@2012

This the sample of CD-ROM,the complete info exist but only for premium member,subscribed via comment.

 

 

 

 

 

2012 

Goal of 640 Posts Completed. Congratulations!

100%

October 13, 2016. 9:03 Pmta 4 P.M.

View : 1.048.102

Best Over 5.272

Comment : 1.912

To Day October,13th.2016 : 151

 

 

Introduction

Nature of the Bangka Island

Bangka-Belitung Islands Province was formed as the 31st province by Indonesian Government based on the Act No. 27 year 2000 with Pangkal Pinang as its capital city. It consists of two main islands i.e. Bangka and Belitung Islands and several small islands (see Figure 4), located at 104° 50’ – 109° 30’ E and 0° 50’ – 4° 10’ S.

The total area of Bangka-Belitung Islands Province is about 81,725.14 km2, consisting of land area about 16,424.14 km2 or 20.1 percent of the total area and sea area about 65,301 km2 or 79.9 percent of the total area.

Figure 4. Administrative Map of Bangka-Belitung Islands Province

The hill or mountain lies at the center of Bangka and Belitung Island. The highest level of topography is 675 m at the mountain in the north part of Bangka Island. In general, the slope at the center of Bangka Island ranged from 5% to 40%, while near the coastline, the slope is very gentle.

In terms of the characteristics of the coast line and marine condition in general the seabed has a gentle to slightly steep slope from the coastal line to the sea. The regional bathymetry map is provided in Figure 5.

Bangka and Belitung Islands are located on the area with relatively low seismicity. There are no significant earthquakes in Bangka-Belitung Islands Province. The main earthquake events are along Sumatera Island at the western part as Semangko Fault manifestation (Figure 6). The value of peak ground acceleration on the basement rock for 500 years period is based on SNI 1726-2002 is very small, about 0.03 g.

 

 

Figure 5. Topography and Bathymetry Map of Bangka Belitung Region

Figure 6. Earthquake Distribution along 1900 – 2009 (source USGS)

The shortest distance of an active volcano (Bukit Lumut Balai) to Bangka is ± 303 km to the southwest direction. There is no volcano in Bangka-Belitung Islands Province (See Figure 7).

Figure 7. Distribution of Active Volcanoes around Bangka-Belitung Islands Province

Geologically, the main formation in Bangka Island is the Tanjung Genting Formation which is dominated by clastic rocks (sandstone) sedimentation of Triassic age which settled at shallow sea and Klabat Granite which is dominated by intrusive granite of Late Triassic age (see Figure 8).

Figure 8. Geological Map of Bangka Belitung Islands Province

Bangka island lies in Sunda peneplain, which is a part of elevated Sunda land. From geological point of view, distribution of tin ore in Indonesia is a continuation of granitic belt of Jurassic to Cretaceous that extends from Burma, Thailand, Malaysia, Riau islands (Singkep, Karimun and Kundur islands), Bangka, Belitung to Karimata islands. The belt is also known as the tin belt, a granite containing casiterite series.

There is no significant tsunami effect in Bangka-Belitung Islands Province. The main sources of tsunami are mostly located in Indian Ocean, at the west side of Sumatera Island. The effect of tsunami from this area is retained by Sumatera Island and therefore the Bangka-Belitung Islands was protected from tsunami hazard.

Demographically, the total population of Bangka-Belitung Islands Province in year 2008 was 1,122,526 people (National Socio-economy Survey, SUSENAS 2008) as shown in Table 16, while population in 2000 was 899,095 people (Year 2000 Population Census), therefore the population growth rate is about 1,19 percent.

 

 

Population at Bangka-Belitung Islands Province (2008)

Regency/Municipality

Number of Population

 

Male

Female

Total

Bangka

149,912

127,792

270,704

Bangka Barat

83,641

74,792

158,433

Bangka Tengah

76,903

68,767

145,670

Bangka Selatan

85,042

76,045

161,087

Belitung

73,143

65,404

138,547

Belitung Timur

48,096

43,007

91,103

Pangkalpinang

82,875

74,107

156,982

Total

592,612

529,914

1,122,526

 

Lima Wisata Sejarah Paling Hits di Pangkalpinang

28 Maret, 20164 April, 2016 syaifuddin sayuti 2 Komentar bangka, pesona pangkalpinang, rumah kapitan

Tweet

Kota PangkalpinangMelihat Langsung Tradisi Cengbeng. Read more … » di pulau BangkaKesederhanaan ala Kedai Kopi Akhew, Pangkalpinang. Read more … » adalah ibukota provinsi Bangka Belitung yang memiliki banyak kawasan wisata yang menarik. Bulan lalu bersama sejumlah bloggerKranggan, Sebelah Mana Indonesia?. Read more … » saya sempat berkunjung ke kota ini selama 3 hari. Terlalu singkat memang kunjungan ini. Harusnya minimal seminggu berada di kota ini dan bisa menyelami satu persatu keragaman destinasi wisatanya.

Sebagai penggemar wisata budaya dan sejarah saya begitu terpukau dengan kota cantik ini. Ternyata kota ini menyimpan berbagai kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa. Menurut catatan Ahmad Elvian, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pangkalpinang, di kota ini sedikitnya ada 30 destinasi wisata sejarah. Wah, ternyata yang kami datangi baru beberapa diantaranya.

Adanya perpaduan budaya Melayu dan China dalam keseharian masyarakat Pangkalpinang membuat kota ini unik. Terlebih adanya peninggalan bangunan masa penjajahan Belanda membuat kota ini makin menarik. Lalu, apa saja destinasi wisata sejarah yang ada di Pangkalpinang? Saya pilihkan 5 diantaranya.

1.Rumah Eks Residen Bangka

Rumah Eks Residen Bangka

Ini adalah bekas rumah Residen Bangka di Pangkalpinang yang memiliki catatan sejarah yang panjang. Rumah ini terletak di pusat kota, tepatnya di jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang. Bulan Februari lalu saya sempat berkunjung kemari dan melihat langsung keindahan arsitektur rumah ini.

Rumah berarsitektur Eropa ini dibangun awal abad ke-20, dan mulai ditempati pada tahun 1913 oleh Residen (penguasa Belanda) di Bangka yang berkedudukan di kota Pangkalpinang.  Menurut catatan sejarah, Pangkalpinang dijadikan ibukota karesidenan Bangka di masa penjajahan Belanda, setelah sebelumnya ibukota Karesidenan ini berada di kota MuntokMengunjungi Rumah Pengasingan Soekarno di Bangka. Read more … », Bangka BaratKejayaan Timah Bangka Bukan Isapan Jempol. Read more … ».

Bentuknya yang besar membuat warga Bangka menyebutnya sebagai rumah besar. Yang paling mencolok dari bentuk rumah ini adalah adanya 10 pilar yang berada di teras depan rumah. Selain itu yang khas dari rumah berarsitektur Eropa adalah bukaan jendela yang lebar, ventilasi dan pintu berukuran serba besar. Rumah Residen kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang M.Irwansyah Rebuin dan menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi.

  1. Tamansari (Wilhelmina Park)

Taman Sari alias Wilhelmina Park

Nama taman Wilhelmina Park ini mengingatkan pada sosok ratu Belanda, Wilhelmina. Dinamakan seperti nama ratu Belanda karena taman ini dibangun saat masa pendudukan Belanda di IndonesiaPulau Bali Raih Best Island 2015. Read more … ». Setelah kemerdekaan RI nama taman diubah menjadi Tamansari dan diresmikan oleh Wakil Presiden Ri Mohammad Hatta pada tahun 1949.

Tamansari dirancang oleh Van Ben Benzenhorn sebagai fasilitas pendukung rumah Residen Bangka, yang letaknya bersisian. Taman ini ditata bak taman-taman di Eropa. Dengan pepohonannya yang rindang, taman ini menjadi oase bagi warga Pangkalpinang yang hendak melepas penat. Selain difungsikan sebagai taman, Tamansari juga digunakan sebagai tempat konservasi tanaman, tempat berolahraga hingga sekedar bersantai bersama keluarga.

Oiya, nama Tamansari ini diambil dari nama kecamatan tempat taman ini berada. Sejak tahun 2010 Tamansari dijadikan cagar budaya Pangkalpinang yang dilindungi Undang-undang Cagar Budaya.

  1. Museum Timah Indonesia

Bangka identik dengan timah, dan bicara timah asal Bangka berarti membicarakan sejarah panjang eksplorasi timah di Nusantara. Dan untuk memahami sejarah pertimahan di pulau Bangka, maka berkunjunglah ke Museum Timah Indonesia yang terletak di jalan Ahmad Yani, Pangkalpinang.

Di museum ini kita bisa menyaksikan perjalanan sejarah penambangan timah di Bangka. Mulai dari penambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat, sejarah perkembangan teknologi pertambangan sejak jaman Belanda hingga terkini.

Mencermati satu persatu koleksi museum Timah pengunjung akan dibawa menyelami kejayaan timah Bangka di awal abad ke-20. Masa di mana timah sebagai komoditas andalan Indonesia yang dikenal bukan saja di kancah regional, namun hingga ke seluruh dunia. Keterkenalan itu menjadikan timah Bangka sebagai salah satu timah terbaik di dunia.

  1. Panti Wangka (Societeit Concordia)

 

Gedung Panti Wangka alias Societet Concordia

Panti Wangka atau gedung Societeit merupakan gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda di kota Pangkalpinang. Gedung ini terletak di pusat kota, dekat dengan sejumlah kantor pemerintahan. Letak gedung ini tak jauh dari Wilhelmina Park atau Tamansari.

Gedung ini didirikan pada masa residen Bangka A.J.N Engelenberg yang memerintah tahun 1913 – 1918. Societeit Concordia digunakan sebagai tempat berkumpulnya sosialita Belanda, yang terdiri dari ambtenar goebernemen (petinggi pemerintahan), petinggi militer, pejabat perusahaan BTW (Banka Tin Winning), hingga pengusaha. Di tempat ini biasanya mereka melepas lelah, makan-makan, mendengarkan musik dan hiburan seni.

Seiring dengan nasionalisasi aset milik pemerintah Belanda menjadi BUMN, tahun 1953 gedung ini pun beralih pengelolaannya menjadi dibawah Unit Penambangan Timah Bangka dan berubah namanya menjadi Panti Wangka. Setelah itu gedung ini pernah menjadi gedung pertemuan, kantor sementara DPRD Provinsi Bangka Belitung, serta PN Pangkalpinang saat gedung pengadilan tersebut direnovasi. Kini gedung bersejarah ini digunakan oleh KONI Bangka Belitung sebagai kantornya.

  1. Rumah Kapitan Lain Nam Sen

 

 

Rumah Kapitan

Rumah cantik berarsitektur perpaduan China Hakka dengan Melayu ini bisa ditemukan di jalan Balai, Pangkalpinang. Rumah Kapitan Lain Nam Sen ini merupakan bukti betapa akulturasi budaya China berjalan dengan cara yang indah dan berdampingan dengan budaya lokal Melayu. Hidup damai berdampingan memang sudah ada sejak lama di Pangkalpinang. Ini terbukti dari keberadaan rumah ini yang sudah ada sejak tahun 1800-an.

Rumah ini awalnya adalah rumah panggung, sama seperti kebanyakan rumah di Sumatera pada masanya. Rumah semacam ini dibangun dengan alasan keamanan, sebab saat itu masih kerap ditemukan binatang buas yang berkeliaran di kampung-kampung. Dengan rumah panggung, sentral kegiatan di rumah berada di lantai atas. Sementara di bagian bawah biasanya digunakan untuk menyimpan ternak atau kendaraan.

Dari luar rumah ini tak beda dengan rumah di Pangkalpinang lainnya. Namun begitu kaki melangkah ke bagian dalam, maka akan tampak keunikan rumah ini. Yang paling unik menurut saya adalah tegelnya. Coraknya sangat vintage, cantik sekali. Kemudian pembagian ruangnya juga menarik. Rata-rata ruangannya cukup luas, dengan area publik di bagian bawah. Sementara area privat berada di lantai dua.

Keunikan berikutnya adalah furnitur kayunya yang masih terawat dengan sangat baik. Semuanya adalah peninggalan keluarga turun temurun.

Saat ini proses renovasi rumah Kapitan ini sudah hampir selesai. Nantinya rumah ini akan dijadikan semacam galeri atau museum rumah khas China-Melayu dan terintegrasi dengan hotel di bagian belakang rumah.

 

Interest area

 

According to literature study and field confirmation, all of the visited areas in Bangka Island are free from exclusions factors and therefore they can be considered as areas which are potential to be developed further.

However, to enable good site survey management, 2 areas with best characteristics in terms of their acceptability (safety, suitability, and construction cost), proximity to Sumatera Island, and other considerations are selected as the preferred areas for the first NPP sites.

The two areas will then be called interest areas.

 

The two interest areas are:

 

The interest area 1 can be reached from Pangkal Pinang through Kelapa by paved road of approximately 140 km long, then continued for about 4 to 6 km by unpaved road, of which only 3 km can only be accessed by car and the rest by motorcycle or by 4 wheel-drive vehicle. The unpaved road needs to be repaired before starting the main activity.

 

The interest area 2 can be reached from Pangkal Pinang through Sungai Selan, Bangka Kota, Simpang Rimba, Permis,Village, Rajik Village and Sebakin Village by paved road of 83.5 km long. It seems that the unpaved road does not need further improvement before main activities start except for the broken small Sebagin bridge.

 

 

Road network including access road to both interest areas is provided in Figure 10

Figure 10. Access Road to Interest Area 1 and 2 from Pangkal Pinang

 

 

 

(1) Teluk Manggris-Tanah Merah in Bangka Barat Regency,

The interest area 1 can be reached from Pangkal Pinang through Kelapa by paved road of approximately 140 km long, then continued for about 4 to 6 km by unpaved road, of which only 3 km can only be accessed by car and the rest by motorcycle or by 4 wheel-drive vehicle. The unpaved road needs to be repaired before starting the main activity.

 

Figure 9. Interest Areas in Bangka Island

and;

(2) Tanjung Berani-Tanjung Krasak in Bangka Selatan Regency (see Figure 9).

 

The interest area 2 can be reached from Pangkal Pinang through Sungai Selan,

Bangka Kota, Simpang Rimba, Permis,Village, Rajik Village and Sebakin Village

by paved road of 83.5 km long.

It seems that the unpaved road does not need further improvement before main activities start except for the broken small Sebagin bridge.

 

Road network

including access road to both interest areas is provided in Figure 10

Figure 10. Access Road to Interest Area 1 and 2 from Pangkal Pinang

 

 

The chronicle history Of Bangka

How does the history of tin that originated on the island of Bangka who has been known as the Chinese sailors named

the island

Pu-lei since the 3rd century AD.

Chinese news the 7th century


 mentions that the commodity trade of Shih-li-fo-hell (Srivijaya), among others, is tin.

Srivijaya Sumatera Portuguese Cube Cross Tin Coin (River Found)

CAD 6.50 0 Bids <1m , CAD 7.96 Shipping, 14-Day Returns

 


 In later centuries it Bangka-Billiton including Srivijaya territory.

 

 

Only in the mid-18th century


 the involvement of Chinese people in the Pacific, which generally comes from Hakka region, comes into play, either as a rough power, buyer agents, and entrepreneurs mining itself.
The presence of Chinese mainland origin miners in Bangka Island area of
11,704 square kilometers continues to grow.
 Mary F. Somers Heidhues in Bangka Tin and Mentok Pepper explained, thousands of workers from China were imported by the Dutch in bulk and bumpy as contract laborers in the Pacific in 1710.
The Netherlands took over the power of tin mining on Bangka Island from Palembang Sultanate in the 19th century post-fall of Sultan Mahmud Badaruddin II.
Holland then established tin mining company,
This then became the early presence of PT Timah on the island of Bangka-Belitung until now

1700


Tin mines in Bangka in the open around mid-year 1700
The arrival of the first Hakka is to the Overseer and Montrado, gold mining dikonsesi by Sultan Mempawah and Sambas, Around the beginning of the year 1700, they brought in large numbers through Sarawak.
When the tin mines in Bangka in the open around mid-year 1700, which followed later in the Pacific Islands, hundreds of Hakka people shipped to the Pacific.

Fortress or Citadel Kutopanji Bongkap,
located in the village of Dull.

 

 

 

 

 

 

Benteng Kuto Panji

Bahasa Indonesia/ English

 

Sebagai salah satu asset sejarah yang menyimpan banyak cerita misteri, baik itu berupa mitos atau pun sejarah, Benteng Kuto Panji memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama pada cerita sejarahnya.

Ada banyak versi cerita sejarah benteng ini yang berhubungan erat dengan kerajaan di Tiongkok.

Dari semua versi itu, ada kemiripan cerita yaitu seorang raja kerajaan kecil bernama Bong Kiung Fu yang memerintah di Belinyu yang memiliki seorang anak gadis berparas cantik bernama Bong Lili atau putri Chok Tian.

 

Bong Khiung Fu adalah seorang penguasa yang baik hati di Tibet-China yang menolak membayar upeti kepada penguasa Tiongkok yang lalim pada masa itu.

Sang penguasa marah dan memerintahkan hukuman mati kepada Bong Khiung Fu.

Bersama pasukan dan putrinya, Bong Khiung Fu pun melarikan diri dari daratan Tiongkok dan mengarungi samudra.

Mereka membawa seluruh harta dan pasukannya dengan menggunakan beberapa buah kapal besar dan kecil.

Mereka juga membawa tanaman jeruk Kingkit sebagai obat anti mabuk, yang dimasa mendatang, merupakan tanaman yang mahal dan langka di Indonesia.

Ketika melewati perairan Selat Berhala dekat ujung utara pulau Bangka, rombongan ini dikejar oleh para bajak laut, sehingga mereka melarikan diri menuju Pulau Bangka, memasuki Teluk Kelabat hingga muara Sungai Karang Lintang dan bersembunyi di situ.

Setelah merasa aman bersembunyi di situ, mereka lalu membuka lahan untuk berkebun dan bercocoktanam sehingga kemudian berfikir untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan yang kokoh untuk bertahan dari serangan bajak laut dan serangan lainnya.

Bangunan yang didirikan itu sebagai benteng sekaligus istana kecil, lengkap dengan perangkat pemerintahannya. Sebagai kerajaan kecil yang saat itu tunduk pada kekuasaan Kesultanan Palembang, maka tentu saja diharuskan memberikan upeti berupa timah tiban.

 

Pembangunan Benteng Kuto Panji atau dalam bahasa China, Bongkap, memakan waktu 5 tahun (1664-1669 M).

Sebagai perekat/ semen, digunakan putih telor angsa sebagai campuran pasir dan batu sehingga benteng ini dapat bertahan beberapa abad sebelum benar – benar runtuh di tahun 1774 karena serangan musuh serta serangan Lanun.

Versi lainnya mengenai keberadaan benteng ini mengenai seorang raja kikir dan bengis bernama Bong Khiung Fu yang memerintah di Tibet, dimana selama pemerintahannya sang raja telah menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, misalnya dengan memberlakukan pajak yang sangat tinggi sehingga menyebabkan rakyat menderita.

Hal tersebut diketahui oleh maharaja Khian Lung yang bertahta di Provinsi Fukkian setelah mengadakan peninjauan terhadap negeri – negeri kekuasaannya.

 

Terciumnya kebusukan Bong Khiung Fu ini bermula dari sebuah peristiwa besar yang dikenal dengan Thai Nau Fa Leu atau Insiden Hotel Seribu Bunga, dimana sang kaisar berontak hebat dengan putera angkat Bong Khiung Fu yang bernama Cok Hin, sehingga kejahatan Bong Khiung Fu pun terungkap.

Sang Kaisar marah besar dan memerintahkan para pengawal untuk menangkap Bong Khiung Fu yang kemudian memutuskan untuk melarikan diri bersama pengikut dan putri kesayangannya serta penduduk yang dibohinginya dengandalih mencari bahan makanan pokok ke Nanyang.

 

 

Bong Kiung Fu membawa semua harta kekayaannya dalam pelarian tersebut menggunakan 3 kapal besar dan 3 kapal kecil hingga merapat di pelabuhan Karang Lintang Desa Kuto Panji Belinyu. Sejak itulah mereka menetap di bagian utara pulau Bangka dengan alas an, sebagai buronan sudah semestinya bersembunyi di daerah kecil agar susah dilacak oleh kerajaan China.

 

Pada saat Pulau Bangka termasuk wilayah kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, yang kemudian mengizinkan Bong Khiung Fu menetap di Kutopanji dan mendirikan sebuah benteng megah dan indah yang dikerjakan selama kurang lebih 149 minggu. Benteng ini memiliki 9 ruangan dan 18 sumur serta pintu gerbang – pintu gerbang yang menghadap ke Timur Laut.

 

Bong Khiung Fu bergelar Kapitan Bong atau lebih dikenal dengan Bongkap, memulai usaha dengan membuka tambang timah, perkebunan karet dan lada yang amat luas sehingga mempekerjakan banyak kuli dari Pulau Jawa.

 

Menurut beberapa versi mengenai kematian sang raja, Bong Khiung Fu mati terbunuh oleh bangsa Lanun, namun ada juga yang menyatakan dirinya lari ke  Semenanjung Malaka, sementara putrinya Cok Tian mati bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur di sekitar istana bersama dengan seluruh emas dan perhiasan, sehingga diyakini bahwa benteng ini menyimpan harta karun yang tak ternilai harganya, serta cerita mengenai peti emas yang terbuka dengan aneka perhiasan berkilauan, tetapi setelah didekati tiba – tiba raib entah.

Benteng ini pun terkenal angker dan keramat. Sampai saat ini, reruntuhan benteng Kuto Panji masih menyisakan beberapa bangunan terletak di belakang Kantor Camat Belinyu.

 

Kekuasaan Bong Khiung Fu mengalami keruntuhan sekitar abad ke 17, ketika para bangsa Lanun atau bajak laut yang berasal dari Filipina mendengar bahwa di pulau Bangka ada seorang hartawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah.

Para Lanun tersebut menyerang ke benteng ketika Bongkap dan anak buahnya sedang berada di Malaysia untuk menjual hasil timah dan lada, namun penyerangan itu gagal setelah salah seorang kapten para perompak tewas ditimpa buah bakau yang banyak tumbuh dipelabuhan Karang Lintang.

Kejadian tersebut membuat puteri Bong Khiung Fu nekad melakukan bunuh diri setelah membuang semua harta kekayaan mereka ke dalam sumur karena takut ditangkap, dianiaya dan diperkosa oleh para Lanun.

Sejak kejadian itu, Bongkap yang semula kikir menjadi orang yang dermawan, namun kondisi kesehatannya menurun drastis dan mulai sakit-sakitan.

 

Pada abad ke 17, daerah ini merupakan dataran rendah bagian dari teluk Kelabat Belinyu yang lama-lama terjadi pengendapan dan pendangkalan, sehingga akhirnya berubah menjadi daratan.

Timah alluvial (endapan) dengan mudah ditemukan di kawasan ini, karena pasir timah mengendap di bagian terendah.

Sejak zaman kerajaan Bongkap, wilayah ini telah menjadi obyek galian timah dan beberapa bagian diserahkan sebagai upeti kepada kesultanan Palembang yang berkuasa pada saat itu dan dikenal sebagai Timah Tiban.

Sementara, akulturasi dan asimilasi antara suku Melayu di Belinyu dengan etnis Tionghoa di daerah ini  telah berlangsung sejad dari 4 abad yang lampau.

Hingga hari ini, sisa reruntuhan benteng tersebut masih dapat dilihat di Desa Kuto Panji. Untuk menghargai jasa – jasa Bongkap, dibuatlah sebuah makam di dalam benteng. Tidak jauh dari reruntuhan benteng, terdapat sebuah kelenteng kecil yang didirikan oleh Bong Kiung Fu sendiri.Di dalam kelenteng ini terdapat sepasang patung dewa Thai Pak Kung yang dibawa dari dartan Tiongkok. Disamping kelenteng ini juga terdapat sebuah sumur tua peninggalan Bongkap yang menjadi sumber air bagi penduduk di sekitar kelanteng. Sumur ini tidak pernah kering airnya walaupun pada musim kemarau.

Kuto Panji Fortress

 

As one of the historical assets keeping many mystical stories, both myth and history, Kuto Panji Fortress holds specific appeal especially in its history to visitors. There are many versions of it strongly related to Chinese Empire. A story of a ruler named Bong Khiung Fu has a similarity to it. Bong ruled in a small administration in Belinyu and had a beautiful daughter named Bong Lili or Princess Chok Tian.

 

Bong Khiung Fu was a good ruler in Tibet-China. However, because he refused to pay some money as a tribute to tyrannical Chinese emperor, he was sentenced to death by the emperor. He, along with his daughter and army, went away from the mainland China across ocean. They loaded all their wealth onto several big and small Chinese ocean-going junks. They also took key-lime with them as an anti-sea sick plant which is an expensive and rare plant in Indonesia nowadays.

 

When they were on Berhala Strait waters at the northern part of Bangka Island, they were chased by pirates. It forced them to sail into Kelabat bay to hide in Karang Lintang river. After feeling safe, they cleared the ground and started farming. To protect themselves from pirates and others, they built a strong fortress thence. It was not only functioned as a fortress but also a small palace along with its government and officials. However, as a small administration, they obeyed Palembang sultanate, and for that, they had to pay timah tiban or tiban tin as a tribute to the sultanate.

 

The construction of Kuto Panji Fortress – known as Bongkap in Chinese – spent five years (1664 – 1669). The use of swan egg white as cement to mix with sand and stone was the reason why this fortress stood firmly for several years before it really collapsed in 1774 due to pirate attack.

 

Another version of its existence was about a tight-fisted and cruel local ruler named Bong Khiung Fu in Tibet. During his reign, he misused his power for his own purpose such as imposing a very high tax causing people suffering. It was heard by his superior – Khian Lung ruling in Fukian province – after he inspected his territory.

 

Khian Lung got wind of Bong’s crime in a big incident known as Thai Nau Fa Leu or A Thousand Flowers Hotel Incident when he was in fight with Bong’s stepson, Cok Hin. Bong’s crime was then revealed. Khian Lung was very angry and ordered his troops to arrest Bong who decided to abscond with his followers and lovely daughter. He also lied to his people on the pretext of looking for staple food to Nanyang so his people were willing to join him.

 

Bong loaded all his wealth onto three big and small Chinese ocean-going junks to finally anchor to Karang Lintang port in Kuto Panji village, Belinyu. Thenceforth they lived in the northern part of Belinyu. This remote area was difficult to track by Chinese empire.

 

Bangka was under the authority of Palembang Sultanate ruled by Sultan Mahmud Badaruddin at that time. He permitted Bong to stay in Kuto Panji. Bong built a luxurious fortress shortly thereafter. It was constructed in 149 weeks consisting of nine rooms, eighteen wells, and gates facing to the northeast.

Bearing a tittle as Kapitan Bong – commonly known as Bongkap – he started his business in tin mining, rubber plantation and pepper. His businesses employed so many Javanese coolies.

 

According to some versions, Bong was killed by pirates, but some also said he absconded to the Malay Peninsula, while his daughter committed suicide by throwing herself into a well around the fortress. All of the gold and jewelries were taken with her. That’s why it’s believed the fortress hides priceless hidden treasure. Some even told stories about a mysterious opened-treasure box with shining jewelries in it which vanished when it was approached. Thus, this fortress is well known of being horrifying remains.

 

Bongkap started to lost his power around 17th century when Philippine’s pirates heard how rich he was in Bangka. The pirates attacked his fortress when he was selling his tin and pepper in Malaysia. Fortunately, the attack was failed because one of the pirate captains died stroke by falling mangrove fruit which trees grew so many at Karang Lintang port. However, the pirate’s plan terrified Bong’s daughter and forced her to put end of her life by throwing herself into a well. She was afraid of being caught, abused, and raped by the pirates. After that, Bongkap who was a miser changed into a generous person. Thenceforth, his health worsened day by day.

 

In the 17th century, this lowland area was previously part of Kelabat bay in Belinyu which became shallow waters because of sedimentation and turn into land. Since it was as same level as the sea, tin sedimentation was easily found here. It has been explored since Bongkap era and some tin had been given to Palembang Sultanate as tributes known as timah tiban. The assimilation and acculturation of Malay and Chinese has also started in 17th century.

 

The remaining of the fortress is still firmly standing in Kuto Panji village, Belinyu. To glorify his contributions, Bong was buried inside the fortress. A small Chinese temple – in which Pak Kung or Earth god taken from the mainland China are kept – built by him stands nor far from it. Besides the temple, there is a well dug also by Bong as a source of water for surrounding people. The well never runs dry even in dry season.

Naskah: Risnawati (diambil dari berbagai sumber)

Translator: SAS

Photo: Edo Martyno

 

Heritage

Kabupaten Bangka

Robustness of the remains of the Citadel building berwaran grayish-black is made from baked clay, which was built around 1700 by
 Kapitan Bong Bong or Khiung Fu

1709


Tin was first excavated in Bangka Island in 1709.

1740-1812

·        
Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘中和公正”祉山’ (1740-1812) Rare

o    IDR701,168.83

Was: IDR1,168,701.30

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘兵郎公司’ ca 1775-1812 Rare

o    IDR1,168,701.30

Was: IDR1,947,922.08

o    Buy It Now

o    40% off

o    Apr-06 05:38

o    From Singapore

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘光道聚寳”源記’ ca 1740/50-1812 RR

o    IDR623,246.75

Was: IDR1,038,831.17

o    Buy It Now

o    40% off

o    Apr-06 04:14

o    From Singapore

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘Jawi Script’ 1740/50-1812

o    IDR1,792,077.92

Was: IDR2,986,883.12

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-20 23:04

o    From Singapore

Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi both ‘Ornamental Designs’ 1740/50-1812

o    IDR2,181,688.31

Was: IDR3,636,233.77

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-20 22:45

o    From Singapore

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘大吉茂記’ ‘眾用’ 1740/50-1812 RRR

o    IDR1,947,922.08

Was: IDR3,246,623.38

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-20 22:30

o    From Singapore

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘Jawi Script’ 1740/50-1812

o    IDR1,168,701.30

Was: IDR1,947,922.08

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-20 21:36

o    From Singapore

(Indonesia) Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi ‘列港’ ‘公司’ ca 1740/50-1812 RR

o    IDR529,870.13

Was: IDR883,116.88

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-19 23:09

o    From Singapore

Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi “UNKNOWN SCRIPTS” ca 1740/50-1812 RRR

o    IDR1,324,545.45

Was: IDR2,207,662.34

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-19 23:01

o    From Singapore

Bangka Chinese Tin Mining Token,Kongsi “UNKNOWN SCRIPTS” ca 1740/50-1812 RRR

o    IDR1,402,467.53

Was: IDR2,337,532.47

o    Buy It Now

o    40% off

o    Oct-19 22:56

o    From Singapore

  • More items related to bangka tin

Nice XF Bangka Indonesia Chinese Gongsi Token 1740-1812

o    IDR1,558,441.56

o    Buy It Now

o    Free international shipping

o     

o    Oct-01 05:29

o    From Malaysia

o   

 

October 14, 2016, 11:21 pm

Did you know you can view enhanced stats on WordPress.com? Show Me


1800
Tin mining continued until mid 1800.
Average Contract Coolie Meixien imported from china and they come without bringing his wife.

When the contract runs out there are only two choices, go back to China or settle in the vicinity of the mine.
For those who do not return to open settlement in the Pacific, as in Belinyu.

1933


Tan Liong Tjen (80th) was born in Sunghin, near the town of Clay River, West Bangka. Her mother (mama) Ngafa who is the daughter of Jet Tan On which since the 1800’s served as head of the Trench (Mining) Tin in Sunghin in collaboration with the Indian government Belanda.Ibu Ngafa married to his father Tan Mung Jung. The father joined his father’s head trench,
Tjen Liong Tan was born in 1933 in Sung Hin, as a child to-5 of 12 brothers (currently only five people are still alive, in the Pacific there are still two people).

(Tan liong Tjen is dr Iwan Neighbour from bangka)

 

1938
BTW, aka Winning Banka Tin
1938
 
.
1940
As a child participate in sunghin father, a school in sung Hin, elementary school Suek Siauw Sung Hin, and
Papa tan yung story might have a story about mine (trench) Tin.
Tin Mine a lot of Chinese workers by the hundreds, of workers in the screen grab yourself with your own boat from China (Kwantung village, Sichuan)

 

Special for szechuan etnis I upload some picture from their homeolnad country below

 

 

Chengdu

If you fall off the eastern edge of the Himalayan mountains, the first major city (population 4.1 million) that you come to is Chengdu, in China’s Sichuan province. You’ve heard of it from the spicy Chinese food, called “Szechuan” in the west.

Rosemary and I spent 5 or 6 days based around there. A few of those were visiting a Buddhist holy mountain, and the largest Buddha in the world – I’ll write about them in another post.

Chengdu itself was like every other large Chinese city – endless streets with few distinguishing features. My fault for hoping it might be a bit better than that. It has some super parks, but you have to deliberately go to them, you couldn’t stumble upon them by accident.

We saw real Giant Pandas at the breeding centre outside town – they’re super cute, mainly because they have a sixth thumb-like finger so they look like people as they eat bamboo. The Red Pandas are even better. I hope somebody domesticates some soon. They were running round playing, happy like dogs, but cute like cats.

The surprise attraction in Chengdu itself was Du Fu’s “cottage”. Really a whole complex of buildings and gardens (photo right), originally where an 8th century poet lived in a thatched house. There was lots of good bonsai trees, and also calligraphy of Du Fu’s poems. Those are the two arts which I’ve seen that are both still practiced properly in China, and are uniquely Chinese

From google exploration I found information from Szecuan during Dai Nippon Occupation below

Dari eksplorasi Google ditemukan info tentang kampong Szechuan masa perang dunia kedua

Needham Photographs – Wartime China, 1942-1946

Northwest Journey 西北之旅

Photographs taken by Joseph Needham on the long expedition to the northwest from Chongqing to Jiayuguan in Gansu province and back, via Chengdu, Lanzhou and many other places. Note that on this journey he travelled beyond Jiayuguan to the Buddhist caves at Qianfodong near Dunhuang in Gansu, the photographs for which are in CFT. The Northwest journey was undertaken from 7th August – 14th December 1943, but there are also a few photographs taken before and after the journey on rolls NW2 and NW6. On the outward leg of the journey to Lanzhou, Needham was accompanied by SBSCO staff members H.T. Huang 黃興宗 and Liao Hongying 廖鴻英, as well as Edward Beltz, an American oil geologist, and a young scientist Chen Zixin 陳自信. In another truck travelled the famous explorer Sir Eric Teichman (1884-1944). From Lanzhou to Qianfodong and back he was accompanied by H.T. Huang (who travelled back to Lanchow separately), Rewi Alley (1897-1987), Sun Guangjun 孫光俊 and Wang Wansheng 王萬盛, two boys from the Lanzhou Bailie School, the painter Wu Zuoren 吳作人, as well as a driver, Kuang Wei 鄺威, and a mechanic from Lanzhou, Yu Dexin 俞德新. The photographs have been rearranged from their original sequence into chronological order.

照片是李约瑟先生在从重庆到甘肃省嘉峪关往返的漫长途中拍摄的,期间他还经过了成都市,兰州市和其它许多地方。需要指出的是在这次旅行中,他还参观了甘肃敦煌的千佛洞,那部分的照片请参看CFT。西北之旅的照片是在194387号到1214号之间拍摄的,但NW2NW6胶卷上也有少量照片是在之前和之后拍摄的。在去兰州旅行的途中,陪同李约瑟先生的有中英科学合作馆的黄兴宗和廖鸿英,还有美国石油地质学者 Edward Beltz 和青年科学家陈自信。在另外一个卡车上旅行的有著名的探险家 Eric Teichman 爵士。从兰州到千佛洞往返的途中,陪同的有黄兴宗 (兰州回来时他独自返回),路易艾黎 Rewi Alley (1897-1987),孫光俊和王萬盛, 来自兰州培黎学校的两个男孩, 画家吳作人,司机鄺威,还有来自兰州的机械师余德新。照片已按照年代顺序重新进行排列


<BTitle: H.T. Huang (Huang Hsing-Tsung / Huang Xingzong
黃興宗) outside the guest-house in Lichuang (Lizhuang) 李莊, Szechuan (Sichuan) 四川
Location: Lizhuang
李莊, Sichuan 四川省.
Date: 4 Jun. 1943 – 12 Jun. 1943
Original caption by Joseph Needham:
Photographer: Needham, Joseph.
Classmark: NW2/27

<BTitle: Joseph Needham outside the guest-house in Lichuang (Lizhuang) 李莊, Szechuan (Sichuan) 四川
Location: Lizhuang
李莊, Sichuan 四川省.
Date: 4 Jun. 1943 – 12 Jun. 1943
Original caption by Joseph Needham:
Photographer: Needham, Joseph.
Classmark: NW2/26

Chinese immigrants who worked as coolies in the tin mines of Bangka build such temples in the 1800.

 

Kwan Ti Miau temp

Chinese immigrants who worked as coolies in

 

 

Kwan Tie Miau one of the oldest temples on the Bangka Island

Kwan Tie Miau

The history of an old temple in Bangka Island can not be separated from the history of tin mining and Kwan Tie Miau. Big wave arrival of the Chinese to exploit tin in Bangka began in the early 20th century.

Many trade partnership that stands to mine and sell / purchase of tin, each group or partnership has its own leaders and social structure, they also bring genuine belief from which they originate.

To perform worship according Their religious. Chinese immigrants who worked as coolies in the tin mines of Bangka build such temples in the 1800. would not be surprised if the from end to end of Bangka Island stood so many temple. indeed there is no exact data, but at least there are 200 temples big and small.

Kwan Tie Miau

in Pangkalpinang is one of the oldest temples on the island of Bangka – Formerly called the Temple of Kwan Tie Bio -.

 

1841

This Kwan Tie Miau  temple is located on the Major Syafrie Rachman Street Pangkal Pinang . This temple is built in 1841 AD (according from the Chinese characters on an iron bell in temple) and built by a group of tin mining in Pangkalpinang,

 

1846

Temple Kwan tie Miau inaugurated in 1846.

This proved of congratulations from several associations on a good day a good month year 26 Daoguang which coincided with the year 1846.

 

 

Temple of Kwan Tie Miau

There’s Pumpkin fruit garnish (gourd) at the top of the roof of the temple. in front of the temple there is a symbol of Patkwa ( Pakua ) which in the middle there is a black and white circles (Ying and Yang). Patkwa (Pakua) symbolizes good luck, fortune or happiness . Two features of the above shows that the Taoisme still the most important

The main worship of the temple is to Thian (God’s universe) and to Huang Ti (Emperor of Chin dynasty, the famous Shih Huang Ti) is the dominant one in this temple, so they are often called the Cin.

there are statues of Chui chang on the left and Pien Kuan on right besides Huang Ti.

In addition to gods and goddesses derived from Confucian beliefs, the worship of Goddess Kwan Im also performed.

This goddess is Awalokiteswara, one God in the pantheon of Mahayana Buddhism is believed to awaken the world from destruction and save humanity from the doom of the Hereafter.

Every day to 13 months of five calendar days of the Lunar New Year celebration was held the god of the temple deity.

 

1850

.

The plague of beri-beri disease (Vitamin B1 deficiency)in the Bangka  around year 1850-

1860

this activity is performed to reject any reinforcements and the plague that struck the public like the plague of beri-beri in the Bangka  around year 1850-1860

 

 

 

 

1900

1928
The houses in the street Pangkal Pinang is an elite area occupied by employees of mining tin porch, built in 1928

1932
 
Dutch East indies (Indonesia) send postcards from Belawan (Medan Port) via Dutch Post 18.06.1932 Agent Louth singapore to Bangka Island.
The Dutch post abroad Agent Will showed in the next Indonesia Postal History (Shipmail), Singapore Post british agent never reports, the collections below post still not clear british agent in Indonesia or abroad Straits (Singapore) or Johor cancceled stamps at the port (Singapore or Indonesia) if the letter Pls post the ship arrived at the Port Abroad,. @ Copyright Dr. Iwan S.

1942

In the city Muntok
 there is also a monument to 21 (twenty one) Australian nurses who died in the bombing of ships Australia by the Japanese army on 16 February 1942.
The nurses were stranded in Muntok after the boat they were riding the SS Vyner Brooke sank in the waters of the Pacific on his way to Singapore.

1942-1945

TAN.’s experience during Dai Nippon Occupation


When the soldiers of Dai Nippon from Pangkal pinang  dating to the Sung Hin village wwhere Tan lived(Tan is Dr Iwan neighbour from Bangka), all the people had to march and salute memebri (beggar), if not the first man will be beaten or put to the sun heated up, their stature official clothing tentara.Semua people are afraid of soldiers met dai Nippon, many who fled into the forest.
During the Japanese occupation of difficult economic times, rice, cassava and apparel is up, people eat cassava and beras.sehingga sack dress of the people starving and many died.
After Japan’s defeat, the Dutch came in and ruled for five years, and the newly independent in 1949.

 

1945
History of the Pacific after the Proclamation of Independence of the Republic of Indonesia

the role of the Chinese Bangka (Thong Ngin) into the regional administration in the early days of independence and the exile of President Sukarno, Vice President Mohammad Hatta on the island of Bangka.

On December 10, 1946
 born of a decision by Lieutenant General Gouverneur Netherlands Indies as an autonomous region makes the Pacific through the Pacific While the Board formation (Voorlopige Bangka Raad).
Bangka Council
While this is the highest government agency in the Pacific, was unveiled February 10, 1947 with co-chaired by
Datuk Masyarif Bendaharo Lelo,
beraggotakan 25orang, 14 people were Indonesia (13 elected, one appointed by the resident), 9 Chinese (8 elected, one appointed by the resident, two Dutch people (one elected, one appointed by the resident). This is the first official government in the Pacific after Republic of Indonesia’s independence proclamation of August 17, 1945.
 Since the initial form of government in Bangka Bangka Chinese people (Thong Ngin Bangka) already involved in it.

Through July 12, 1947

decision letter No.7 (Stbl. 1947 # 123) “While the Pacific Council” to the Pacific Council appointed 11 November 1947.

Until 22 April 1950
 Bangka Council mandate handed to the Governor of South Sumatra Dr. M. Isa, then the Pacific are under a resident named Raden Sumarjo.
Pacific People’s Struggle for Independence against Dutch colonialism was not a bit ranging from civil disobedience to fight the army of the people. Good resistance is sporadic or organized resistance. The spirit of nationalism People Bangka, experienced a peak when
 the arrival of President Sukarno and Foreign Minister Agus Salim on February 6, 1949.

 

This is illustrated in the writings of Abdullah

“… Sunday morning on February 6, 1949 appear in droves flow of people back and forth and in groups waiting in the outskirts of major road, heard the news when and where Bung Karno was going to land. Those who have money or who have private vehicles and or who have a great zest to the coming of the Bung Karno, group after group was headed to the airfield Dul Village, where Bung Karno likely will land, figuring it would be impossible to ship.
After a while they wait, the news gives another, out of nowhere comes the source said Bung Karno and Haji Agus Salim will arrive by plane katalina through …

From start Jetty Balam Balam arrived at the

intersection of Jetty pier environments that are restricted primarily to barbed wire, already crowded people are standing and fro, looking for opportunities to enter the front entrance pelabuhan.Di colonial police guard with his weapon to the rigors. Intermittently they move to block the people who continue to come forward …
In the midst of the throng that crowded the sound of car horns. Three sedans after splitting the stream of people struggling, finally can also go up on the edge of the pier.

From sedans are out the mission of the BFO Anak Agung Gde Agung (NTT), Ateng Karmamiharja, accompanied the delegation, Dr RI. Darma Setiawan, Sujono and Dr. Leimena. Mr. entourage then out again. Moh. Rum … more about Around 10:00 am, the sound of aircraft sounds.

Shortly Katalina them a plane seems closer. All eyes fixed on the door of the plane. Heart thumping. Whether that comes true Bung Karno’s beloved President? Just a moment, but it was a long time. With gray suits, and the famous black cap never cracked the head. No doubt, that he, Bung Karno. Following Haji Agus Salim wearing white suits with gray coat, cane, glasses and cap the pointed beard hitam.Jelas visible and have started to turn white …
when Bung Karno menjejakan foot on the jetty Jetty Balam
 
, Suddenly came Mat Amin (Alimin) Bung Karno squatting ushered up to his shoulder. Stature as a driver krant Mat Amin was quite stocky coupled with overwhelming enthusiasm. He was like take it easy as getting satisfaction.

Arriving at the gates of the port state was already out of control again … There’s nothing more that could catapult independent cried. Throat feels clogged. Tears of emotion began to flow.

A white Plymouth sedan service vehicles Masyarif BN 2 specifically provided for both the leaders, but the Bung Karno prefer to sit on the front hood of course. Tjong Tjhia Ka (Ka Chia Cong) from Ipphos Fotocorrespondent with his assistants busy looking and waiting for a good snap. 12.30 .. until the vehicle is still at Jetty Balam.

Arriving at the village Lembawai.

Car engine is turned off. Car is running slowly, driven by a burly-burly young man … Finally at about 14:00 just got home Masyarif “. Thus the story of Abdullah’s paintings are bright for the events Bung Karno’s exile on the island of Bangka.


People kept coming Bangka Island Old Young, Male Female, Thong Fan Ngin Ngin all united to welcome the arrival of President Sukarno.

There is a sense of unity, togetherness, pride, enthusiasm and euphoria of independence in the Republic of Indonesia welcomed the supreme leader at the time. Then get together with Bung Karno, Bung Hatta who had arrived earlier to exile in deadlock, t

he House of Bangka Tin Mine (CCTs) on Mount Manumbing. Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim and some pertinggi Indonesia at that time under house arrest in landfills, at Mount Manumbing, Mentor, the island of Bangka.

In landfills is still undergoing funginya Bung Karno as Head of the State with all its limitations. He also met with various leaders of the movement, leaders of Chinese organizations Bangka, the young warrior, and so forth.

Be a deep impression Bung Karno, etched deep in the Pacific People’s hearts at the time. Masyarif, Mat Amin, Tjhia Tjong Ka (Ka Chia Cong), Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim all had gone, but the sense of unity, togetherness, pride, enthusiasm and euphoria of independence still exist in the middle of the Pacific people to kini.MEERDEKAAA

1946
in 1946
Tan in junior high school in Louth Hung Mung Suek Siauw until graduation.

There to learn Mandarin (every day), Malay (1xseminggu), arithmetic, geography, history (Lie Se).
Bangka history learned in junior high, Chinese history, History of the Pacific is studied.
In the Dutch colonial period, there is a dutch in Sung Hin as a supervisor (controleur) and assistant at the Jetty Pinang.Waktu r4esident school in Louth remain in Hin sung every morning at 4:00 am riding a bike to the base of the Areca (the distance is 8 km, taken two hours )

1949
Bung Karno Mentor Mount Manumbing discharged into the Pacific
 
 
The place is currently
 
Pensions Menumbing is a silent witness to the struggle of historic building figures proclaimer of the Republic of Indonesia tens of years ago. This building is one of the houses built by the Dutch exile to limit the space for independence leaders at the time. No data exactly when the guesthouse / guesthouse was built Menumbing. Clearly this building was built by the workers corvee (forced labor) in the Dutch colonial period around the year 1927, while other sources mention of this complex was built in 1890 and other sources mentioned in 1932. This historic building located at the top of Mount Menumbing and the building stood on a height of 450 meters above sea level and directly facing the Bangka Strait. This building is a historical asset that should continue to be preserved, because it became a place of exile of President Sukarno and republican leaders during Dutch colonial rule in 1949.


Over an area of two hectares, this building stands upright diketinggian 445 meters above sea level. Consisting of three buildings, namely the main building comprising 6 rooms and two pavilions comprising 6 rooms and 7 rooms. Here is an idea sparked by the founders of this republic to conduct negotiations with the Dutch. Based on information written and displayed in room 102 House Menumbing, Sukarno and a number of other national leaders brought to this place is divided into three groups or party. The first group, Mohammad Hatta, Mr. A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat and Air Commodore S Suryadarma the exiled December 22, 1948 from Yogyakarta. Then the second group, Mr. Roem and Mr Moh. Sastroamidjojo who was exiled from Yogyakarta to Manumbing on December 31, 1948. And the third group, Bung Karno and Agus Salim also exiled to the Pacific on February 6, 1949 from exile in the city originally Prapat, North Sumatra.


To get into your building free of charge for Rp.2.500/orang. Inside the building visitors can see the old VW car (Volks Wagon) driven by Sukarno’s old to get around Mentor who only lived body (frame) only while the engine already lost. In addition there are also bed as many as two pieces which fitted inside the bathroom, 2 lounge chairs, a wardrobe and so forth fruit. Outside the room there is a room where the writing and reading of Bung Karno.


To reach this location you should proceed first in Post 1 (Entrance) especially if you bring a car. This is because the road is narrow because it only passable by one vehicle only. By driving a car or motorcycle then the time required to reach the location of exile Ir.H Soekarno about 15 minutes. But if you are traveling by foot, it takes about 1 hour trip more meaningful time round trip takes about 2 hours more. Not a short time. I suggest you better ride the vehicle to get to the top unless you want to really feel the cool mountian air.


The President himself did not long been at the Mount Menumbing because of her condition could not stand the cold weather of the mountains. At his request, Bung Karno was placed in the middle of the city of Mentor in a building that is currently named Pesanggrahan Ranggam or Ranggam Pensions. Bung Karno just stay at Pesanggrahan Ranggam, but daily life may be more at Wisma Menumbing. Before coming to the House of Bung Karno Menumbing first inhabited by another character, say Vice President Mohammad Hatta, the Secretary of State Pringgodigdo, Foreign Minister Agus Salim, Minister of Teaching Sastroamidjojo, Mr. Chairman KNIP Assaat, Deputy Prime Minister Mr. Mohammad Roem and Chief of Staff of the Air Force Air Commodore S Suryadarma. Bung Karno himself brought to the Pacific uses the plane type B-25 bomber Sukarno moved from North Sumatra to Bangka. No one knows exactly what kind of atmosphere when the leaders gathered in Menumbing. It’s just a choice to pursue confrontation and negotiations with the Dutch-born Menumbing.

Keeping the spirit of that history is important, because in this region Bung Hatta to make poetry of the importance of the island of Bangka for Indonesia’s independence. Consider the poem that ever engraved on metal plates which today no longer know where missing.

Under the rays of light sparkling weather
Recalled memories bring victory
Bangka, Jogjakarta, London
Living Pancasila, Unity in Diversity.

Hatta wrote memories about Menumbing as part of his gratitude to the people of Bangka the unrelenting show of support to the nation’s leaders during the exile. Unfortunately his gratitude was wasted with no history of Pensions Menumbing terawatnya assets by local governments.


But the history of the Pensions Menumbing that should be the primary concern of government in power today no longer even a pride, Wisma Menumbing ever rented in 1996. Bangka regency government, when it was incorporated with the Province of South Sumatra, the historic building is leased to PT Carmeta for 15 years to be managed as a hotel and restaurant. Pensions Menumbing also changed its name to Hotel Jati Menumbing. I wonder what the reason was time Bangka regency, allow the Pensions Menumbing leased. Too bad assets of the history that was built towers and telecommunication facilities broadcasting television station. Unconsciously the existence of the tower is clearly damaging the overall landscape of the historic site.
But the history of assets is much more valuable. This is where tens of years ago the leaders of Indonesia’s independence penjuang for approximately nine months to finish his time

Indonesian version

Bagaimana sejarah timah itu berawal di Pulau Bangka yang telah dikenal pelaut-pelaut China sebagai pulau bernama

Pu-lei sejak abad ke-3 Masehi.

Berita China abad ke-7

menyebutkan bahwa komoditas perdagangan dari Shih-li-fo-sih (Sriwijaya) antara lain adalah timah.

Pada abad-abad itu Bangka-Belitung termasuk wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Baru pada pertengahan abad ke-18

keterlibatan orang-orang Tionghoa di Bangka, yang umumnya datang dari wilayah Hakka, mulai berperan, baik sebagai tenaga kasar, agen pembeli, maupun pengusaha pertambangan itu sendiri.

Keberadaan penambang asal daratan Tiongkok di Pulau Bangka seluas 11.704 kilometer persegi terus bertambah.

Mary F Somers Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper memaparkan, ribuan pekerja asal China didatangkan oleh Belanda secara massal dan bergelombang sebagai kuli kontrak di Bangka pada tahun 1710.

Belanda mengambil alih kuasa penambangan timah di Pulau Bangka dari Kesultanan Palembang pada abad ke-19 pasca-kejatuhan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Belanda kemudian mendirikan perusahaan pertambangan timah,

Inilah yang kemudian menjadi awal keberadaan PT Timah di Pulau Bangka-Belitung hingga kini

 

1700

Tambang timah di Bangka di buka sekitar pertengahan tahun 1700

Kedatangan Hakka pertama adalah ke Mandor dan Montrado, pertambangan emas yang dikonsesi oleh Sultan Mempawah dan Sambas, Sekitar awal tahun 1700, mereka didatangkan dalam jumlah besar melalui Serawak.

Ketika tambang timah di Bangka di buka sekitar pertengahan tahun 1700, yang disusul kemudian di Belitung, beratus-ratus orang Hakka dikapalkan ke Bangka.

 

Benteng Kutopanji atau Benteng Bongkap,

terletak di kampung Kusam. Kekokohan sisa-sisa bangunan Benteng berwaran hitam keabuan—terbuat dari tanah liat yang dibakar—yang dibangun sekitar 1700 oleh

Kapitan Bong atau Bong Khiung Fu

 

 

1709

Timah pertama kali digali di Pulau Bangka pada tahun 1709.

 

1800

Penambangan Timah terus  berlanjut hingga pertengahan tahun 1800.

Rata-rata Kuli Kontrak cina  didatangkan dari Meixien dan mereka datang tanpa membawa istri.

 

 

Ketika kontrak habis hanya ada dua pilihan, kembali ke Cina atau menetap di sekitar lokasi tambang.

Bagi mereka yang tidak pulang membuka permukiman di Bangka, seperti di Belinyu.

 

1933

Tan Liong Tjen(80th) lahir di Sunghin,dekat kota Sungai Liat,Bangka Barat. Ibunya(mama)Ngafa yang merupakan putri dari Tan On Jet yang sejak tahun 1800-an menjabat sebagai kepala Parit(Tambang) Timah di Sunghin yang bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.Ibu Ngafa menikah dengan ayahnya Tan Mung Jung. Sang ayah ikut ayahnya kepala parit,

Tan Liong Tjen lahir tahun 1933 di Sung Hin,sebagai anak ke-5 dari 12 orang bersaudara(saat ini tinggal lima orang masih hidup, di Bangka masih ada dua orang).

1938

Banka Tin Winning alias BTW

1938

 

.

1940

Waktu kecil ikut bapak di sunghin ,sekolah di sung Hin, sekolah SD Sung Hin Suek Siauw, dan

Cerita Papa tan mung yung pernah cerita tentang tambang(parit) Timah.

Tambang Timah banyak pekerjanya dari tiongkok yang jumlahnya ratusan,pekerja di ambil sendiri dengan Kapal Layarnya sendiri dari Tiongkok (kampungnya Kwantung –sichuan)

 

 

1928

Rumah-rumah di kawasan jalan Depati Amir itu adalah kawasan elit yang ditempati oleh pegawai teras atas pertambangan timah, dibangun pada tahun 1928

1932

 

Dutch East indie(Indonesia) postcard send from Belawan (Medan Port) 18.6.1932 via Dutch Post Agent singapore to Pangkal Pinang Bangka Island.

The Dutch post Agent abroad will showed in the next Indonesia Postal History (Shipmail), Singapore british Post Agent never report, the collections below still not clear british post agent abroad in Indonesia or Straits(singapore) or Johor stamps cancceled at the port (Singapore or Indonesia) if the letter post when the ship arrived at the abroad Port,.@Copyright Dr Iwan S.

1942

 

Di kota Muntok

terdapat pula monumen peringatan 21 (duapuluh satu) perawat Australia yang gugur dalam peristiwa pemboman kapal laut Australia oleh tentara Jepang pada tanggal 16 Pebruari 1942.

Para perawat itu terdampar di Muntok setelah kapal yang mereka tumpangi SS Vyner Brooke tenggelam di perairan Bangka dalam perjalanan menuju Singapura.

1942-1945

 

1945

Pengalaman masa pendudkan jepang

Apabila tentara Dai Nippon dari Pangkal pinag dating ke Sung Hin,semua rakyat harus berbaris dan memebri hormat(kere),bila tidak kere akan dipukul atau dihukum berdiri dipanas matahari, mereka badannya pendek pakaian dinas  tentara.Semua orang takut ketemu tentara dai Nippon,banyak yang kabur ke Hutan.

Pada masa pendudukan jepang ekonomi sulit,beras ,singkong dan pakaian sudah habis,orang makan singkong dan baju dari karung beras.sehingga rakyat kelaparan dan banyak yang meninggal dunia.

Setelah Jepang Kalah,Belanda masuk dan berkuasa selama lima tahun,dan baru merdeka tahun 1949.

 

 

Sejarah Bangka Paska Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

 

peranan orang Tionghoa Bangka (Thong Ngin) ke dalam pemerintahan daerah pada masa awal kemerdekaan dan masa pembuangan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta di Pulau Bangka.

Pada 10 Desember 1946

lahirlah sebuah keputusan oleh Letnan Gouverneur General Nederlandsch Indie menjadikan Bangka sebagai daerah otonom melalui terbentuknya Dewan Bangka Sementara (Voorlopige Bangka Raad).

Dewan Bangka

Sementara ini merupakan lembaga pemerintahan yang tertinggi di Bangka, diresmikan 10 Februari 1947 dengan diketuai oleh

Masyarif Datuk Bendaharo Lelo,

beraggotakan 25orang, 14 orang Indonesia (13 dipilih, 1 diangkat oleh residen), 9 orang Tionghoa (8 dipilih, 1 diangkat oleh residen, 2 orang Belanda (1 dipilih, 1 diangkat oleh residen). Ini adalah merupakan pemerintahan resmi pertama di Bangka setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Sejak awal pemerintahan di Bangka terbentuk orang-orang Tionghoa Bangka (Thong Ngin Bangka) sudah terlibat didalamnya. Melalui surat keputusan 12 Juli 1947 No.7 (Stbl. 1947 no.123) ”Dewan Bangka Sementara“ menjadi Dewan Bangka yang dilantik 11 November 1947.

 

Hingga akhirnya 22 April 1950

diserahkannya mandat Dewan Bangka ke Gubernur Sumatera Selatan Dr. M. Isa, selanjutnya Bangka berada dibawah seorang residen bernama Raden Sumarjo.

Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda tidaklah sedikit mulai dari perlawanan sipil hingga perlawanan tentara rakyat. Baik perlawanan yang sporadis maupun perlawanan yang terorganisir. Semangat nasionalisme Rakyat Bangka, mengalami puncaknya ketika

kedatangan Presiden Sukarno dan Menteri Luar Negeri Agus Salim pada 6 Februari 1949.

 

Ini terlukis dalam tulisan Abdullah “…Minggu pagi tanggal 6 Februari 1949 kelihatan berbondong-bondong arus manusia hilir mudik dan berkelompok-kelompok menanti di pinggir-pinggir jalan besar, mendengar berita kapan dan dimana Bung Karno akan mendarat. Mereka yang punya duit atau yang punya kendaraan pribadi dan atau yang punya animo besar terhadap kedatangan Bung Karno tersebut, berkelompok-kelompok sudah menuju ke lapangan udara Kampung Dul, tempat kemungkinan besar Bung Karno akan mendarat, dengan pertimbangan takkan mungkin dengan kapal laut.

Setelah agak lama mereka menunggu, terbetik berita, entah dari mana datang sumbernya mengatakan Bung Karno dan Haji Agus Salim akan tiba dengan pesawat katalina lewat Pangkal Balam…Dari mulai simpang Pangkal Balam sampai di lingkungan dermaga yang dibatasi denan kawat berduri, sudah penuh sesak manusia berdiri dan hilir mudik, mencari kesempatan untuk dapat masuk ke pelabuhan.Di muka pintu masuk polisi kolonial dengan senjatanya berjaga-jaga dengan ketatnya. Sebentar-sebentar mereka bergerak menghalau orang-orang yang terus mau maju…

Di tengah kerumunan manusia yang berjejal tersebut terdengar bunyi klakson mobil. Tiga buah sedan setelah bersusah payah membelah arus manusia, akhirnya dapat juga masuk sampai di pinggir dermaga.

Dari sedan-sedan tersebut keluar perutusan BFO Anak Agung Gde Agung (NTT), Ateng Karmamiharja, disertai delegasi RI yaitu Dr. Darma Setiawan, Sujono dan Dr. Leimena. Kemudian keluar lagi rombongan Mr. Moh. Roem…Sekitar lebih kurang pukul 10.00 pagi, kedengaran bunyi pesawat udara.

Tak lama antaranya sebuah pesawat Katalina tampak mendekat. Semua mata tertuju ke pintu pesawat. Jantung berdetak keras. Apakah betul Bung Karno yang datang itu Presiden RI tercinta? Hanya sesaat, tapi terasa lama sekali. Dengan stelan abu-abu, dan peci hitamnya yang terkenal tak pernah lekang dari kepala. Tak salah lagi, itu dia, Bung Karno. Menyusul kemudian Haji Agus Salim mengenakan stelan putih dengan mantel abu-abu, bertongkat, berkacamata dan peci hitam.Jelas nampak jenggotnya yang lancip dan sudah mulai memutih…

saat Bung Karno menjejakan kakinya di dermaga Pangkal Balam

 

, tiba-tiba datang Mat Amin (Alimin) berjongkok menyilakan Bung Karno naik ke pundaknya. Perawakan Mat Amin sebagai supir krant memang cukup kekar ditambah dengan semangatnya yang meluap-luap. Ia seperti santai saja seperti mendapat kepuasan tersendiri. Sampai di gerbang pelabuhan keadaan sudah sudah tidak dapat dikendalikan lagi…Tak ada lagi yang sanggup melontarkan pekik merdeka. Kerongkongan terasa tersumbat. Air mata haru mulai mengalir.

Sebuah sedan Plymouth putih BN 2 kendaraan dinas Masyarif disediakan khusus untuk kedua orang pemimpin, tapi Bung Karno lebih senang duduk diatas kap depannya saja. Tjhia Ka Tjong (Chia Ka Cong) dari Ipphos Fotocorrespondent dengan pembantu-pembantunya sibuk mencari dan menanti snap yang bagus. ..hingga pukul 12.30 kendaraan masih di Pangkal Balam. Sampai di kampung Lembawai. Mesin mobil dimatikan. Mobil berjalan pelan, didorong oleh para pemuda yang tegap-tegap…Akhirnya sekitar pukul 14.00 baru tiba di rumah Masyarif “. Demikian lukisan kisah Abdullah yang terang atas peristiwa pengasingan Bung Karno di Pulau Bangka.

Rakyat Pulau Bangka terus berdatangan Tua Muda, Laki Perempuan, Thong Ngin Fan Ngin semua bersatu menyambut kedatangan Presiden Sukarno. Ada rasa persatuan, kebersamaan, kebanggaan, antusiasme dan euforia kemerdekaan di dalam menyambut pemimpin tertinggi Republik Indonesia kala itu. Kemudian Bung Karno berkumpul dengan Bung Hatta yang sudah tiba lebih dulu untuk diasingkan di mentok, di Wisma Tambang Timah Bangka (TTB) di Gunung Manumbing. Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim dan beberapa pertinggi Indonesia kala itu menjalani tahanan rumah di tempat pembuangan, di Gunung Manumbing, Mentok, Pulau Bangka. Di tempat pembuangan inilah Bung Karno tetap menjalani funginya sebagai Kepala Negera dengan segala keterbatasannya. Ia bertemu pula dengan berbagai pemimpin pergerakan, pemimpin organisasi Tionghoa Bangka, pemuda-pemuda pejuang, dan lain sebagainya. Kesan yang mendalam akan seorang Bung Karno, tergores dalam di hati sanubari Rakyat Bangka kala itu. Masyarif, Mat Amin, Tjhia Ka Tjong (Chia Ka Cong), Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim semua sudah pergi, namun rasa persatuan, kebersamaan, kebanggaan, antusiasme dan euforia kemerdekaan masih ada di tengah-tengah orang-orang Bangka hingga kini.MEERDEKAAA

 

1946

tahun 1946

Tan sekolah di SMP di Pangkal Pinang Hung Mung Suek Siauw sampai tamat.

 

Di sana belajar bahasa mandarin(tiap hari),bahasa Melayu(1xseminggu),berhitung,ilmu bumi,sejarah(Lie Se).

Sejarah Bangka yang dipelajari di SMP,sejarah Tiongkok,Sejarah Bangka tidak dipelajari.

Pada Masa Kolonial Belanda, ada belanda di Sung Hin sebagai pengawas(controleur) dan assisten r4esident di Pangkal Pinang.Waktu sekolah Di Pangkal Pinang tinggal tetap di sung Hin tiap pagi jam 4.00 pagi naik sepeda ke pangkal Pinang (jaraknya 8 km,ditempuh dua jam)

 

 

 

 

 

1949

Bung Karno dibuang ke Mentok Gunung Manumbing Bangka

 

 

Tempat tersebut saat ini

 

Wisma Menumbing merupakan sebuah bangunan bersejarah saksi bisu perjuangan tokoh-tokoh proklamator Republik Indonesia puluhan tahun silam. Bangunan ini merupakan salah satu rumah pengasingan yang dibangun oleh Belanda untuk membatasi ruang gerak para tokoh kemerdekaan pada saat itu. Tidak ada data pasti kapan wisma/pesanggrahan Menumbing ini dibangun. Yang jelas bangunan ini dibangun oleh para pekerja rodi (pekerja paksa) pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1927, sementara dari sumber lain menyebutkan komplek ini dibangun pada tahun 1890 dan sumber lainnya menyebut pada tahun 1932. Bangunan bersejarah ini berada di puncak Gunung Menumbing dan bangunannya berdiri di atas ketinggian 450 meter dari permukaan laut dan langsung menghadap selat Bangka. Bangunan ini merupakan aset sejarah yang harus terus dilestarikan, karena menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno dan para tokoh republik pada masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1949.

 

 

 

Di atas lahan seluas dua hektar, bangunan ini berdiri tegak diketinggian 445 meter dari permukaan laut. Terdiri dari tiga bangunan, yakni bangunan utama yang terdiri 6 kamar dan dua paviliun terdiri 6 kamar dan 7 kamar. Disini lah tercetus ide oleh para tokoh pendiri republik ini untuk melakukan perundingan dengan belanda. Berdasarkan informasi tertulis dan terpajang di ruang 102 Wisma Menumbing, Soekarno dan sejumlah tokoh nasional lainnya dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan. Rombongan pertama, Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat dan Komodor Udara S Suryadarma yang diasingkan 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Kemudian rombongan kedua, Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo yang diasingkan dari Yogyakarta ke Manumbing pada 31 Desember 1948. Dan rombongan ketiga, Bung karno dan Agus Salim juga diasingkan ke Bangka pada 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya semula di Kota Prapat, Sumatera Utara.

 

 

 

Untuk masuk ke dalam bangunan anda dipungut biaya sebesar Rp.2.500/orang. Di dalam bangunan tua tersebut pengunjung bisa melihat mobil VW (Volks Wagon)tua yang dikendarai Soekarno untuk berkeliling Mentok yang hanya tinggal body (kerangka) saja sedangkan mesinnya udah hilang. Selain itu juga terdapat tempat tidur sebanyak 2 buah yang didalamnya dilengkapi kamar mandi,2 buah kursi santai, 1 buah lemari pakaian dan sebagainya. Di luar kamar terdapat ruangan tempat Bung Karno menulis dan membaca.

 

 

 

Untuk menuju lokasi ini anda harus melapor lebih dulu di Pos 1 (Pintu Masuk) apalagi jika anda membawa mobil. Hal ini dikarenakan jalan yang sempit karena hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan saja. Dengan mengendarai mobil atau sepeda motor maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi pengasingan Ir.H Soekarno sekitar 15 menit. Namun jika anda menempuh perjalanan dengan berjalan kaki,  maka dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 1 jam lebih berarti waktu perjalanan pulang pergi memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Bukan waktu yang singkat. Saya menyarankan lebih baik anda naik kendaraan untuk menuju puncak kecuali jika anda ingin benar-benar merasakan sejuknya hawa pengunungan.

 

 

 

Sang Presiden sendiri tidak lama berada di Bukit Menumbing karena kondisi tubuhnya yang tak tahan cuaca dingin pegunungan. Atas permintaannya, Bung Karno ditempatkan di tengah kota Mentok pada sebuah bangunan yang saat ini bernama Pesanggrahan Ranggam atau Wisma Ranggam. Bung Karno hanya menginap di Pesanggrahan Ranggam, namun kesehariannya boleh jadi lebih banyak di Wisma Menumbing. Sebelum kedatangan Bung Karno ke Wisma Menumbing terlebih dahulu di huni oleh tokoh lain, sebut saja Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr Assaat,Wakil Perdana Menteri Mr Moh Roem dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S Suryadarma. Bung Karno sendiri dibawa ke Bangka menggunakan pesawat pembom jenis B-25 memindahkan bung karno dari Sumatra Utara ke Bangka. Tak ada yang tahu persis seperti apa suasana para tokoh saat berkumpul di Menumbing. Hanya saja pilihan untuk menempuh konfrontasi dan perundingan dengan Belanda lahir di Menumbing.

Menjaga ruh sejarah itu memang penting, sebab di kawasan ini Bung Hatta membuat puisi akan arti penting Pulau Bangka bagi kemerdekaan Indonesia. Simak saja puisinya yang pernah terpahat pada lempeng besi yang sekarang ini tak tahu lagi ke mana rimbanya.

Di bawah sinar gemerlap terang cuaca
Kenang-kenang membawa kemenangan
Bangka, Djokjakarta, Djakarta
Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.

Hatta menuliskan kenangan tentang Menumbing sebagai bagian dari rasa terima kasihnya kepada masyarakat Bangka yang tak henti-hentinya menunjukkan dukungan kepada para pemimpin bangsa selama dalam pengasingan. Sayang rasa terima kasih itu terbuang sia-sia dengan tak terawatnya aset sejarah Wisma Menumbing oleh pemerintah setempat.

 

 

Tapi nilai sejarah Wisma Menumbing yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah yang berkuasa saat ini malah tak lagi menjadi kebanggaan, Wisma Menumbing pernah di sewakan tahun 1996. Pemerintah Kabupaten Bangka, saat itu masih tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan, menyewakan bangunan bersejarah tersebut kepada PT Carmeta selama 15 tahun untuk dikelola sebagai hotel dan restoran. Wisma Menumbing pun berubah nama menjadi Hotel Jati Menumbing. Entah apa alasan Pemkab Bangka waktu itu, mengizinkan Wisma Menumbing tersebut disewakan. Sayang sekali aset sejarah itu pun dibangun menara sarana telekomunikasi dan stasiun pemancar siaran televisi. Secara tak sadar keberadaan menara itu jelas merusak lanskap keseluruhan situs bersejarah tersebut.
Namun aset sejarah ini jauh lebih berharga. Disinilah puluhan tahun silam para tokoh penjuang kemerdekaan RI itu selama kurang lebih sembilan bulan menghabisi waktunya.

 

 

in 1986

Name of the temple has been amended twice. in the Orde Baru era is named Amal Bhakti temple

the front of the temples kwan tie miap being exposed to widening the road so that the front yard, front door and the wall back several feet. the altar remains intact and in the front is built into 2 floors.

In 1991

the back of the temple was changed into place of employee bed and kitchen.

Dated February 22, 1998

a fire destroyed all the buildings except the temple on the left side of the building,

after that the temple was rebuilt by an expert in the temple: Jamal. All restored and finished as the form now and

inaugurated on August 5, 1999

under the name

Temple of Kwan Tie Miau.

Kwan Tie Miau

near by with the location of Pasar Mambo and Gang Singapur has changed as one of the place attractions the city Pangkalpinang as place of cultural tourism and shopping tourism.

This site attempted to china town (to remind the old faces Pangkalpinang city heavily influenced by the houses and temples china). and also serves as a center for celebrating the Lunar New Year (Imlek), celebrating Cap Go Meh, Sembahyang Rebut activities and activities of Pot Ngin Bun. Pot Ngin Bun activities is the only one ritual in the Temple of Kwan Tie Miau.

 

 

 

 

 

Bangka Travelling Informations

Legend story

Tradisi Perang Ketupat di Tempilang, Bangka

Perang Ketupat di Tempilang

Gendang panjang, gendang Tempilang/Gendang disambit, kulet belulang/Tari kamei, tari Serimbang,/Tari kek nyambut, tamu yang datang

Lagu Timang Burong (Menimang Burung) pengiring tari serimbang itu dilantunkan secara lembut.

Lagu itu, diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan biola, untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu.

Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat, Bangka Belitung.

Tarian yang menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran seekor burung malam itu merupakan pembukaan dari rangkaian tradisi perang ketupat,

khas Kecamatan Tempilang, awal September lalu. Tradisi tersebut menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang sering mengganggu kehidupan masyarakat.

Tradisi itu sebenarnya sudah dimulai pada malam sebelum perang ketupat dimulai. Pada malam hari sebelumnya, tiga dukun Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior, memulai upacara Penimbongan.

Upacara dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Sesaji untuk makanan makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor.

Secara bergantian, ketiga dukun itu memanggil roh-roh di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing, Besi Akek Simpai, Akek Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, serta makhluk halus yang bermukim di Gunung Mares,

yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.

Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari serangan roh-roh jahat. Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.

Pada upacara Penimbongan itu digelar tari campak, tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo.

Tari campak dilakukan dalam beberapa tahap dengan iringan pantun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Tari ini juga biasa digelar dalam pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.

Tari kedidi lebih mirip dengan peragaan jurus-jurus silat yang diilhami gerakan lincah burung kedidi, sedangkan tari seramo merupakan tari penutup yang menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan.

Seusai upacara Penimbongan, para dukun itu kembali mengadakan upacara Ngancak, yakni pada tengah malamnya. Upacara Ngancak dimaksudkan memberi makan kepada makhluk halus penunggu laut.

Diterangi empat batang lilin, dukun laut

membuka acara itu dengan membaca mantra-mantra pemanggil makhluk halus penunggu laut, di antara bebatuan tepi Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Nama-nama makhluk halus itu diyakini tidak boleh diberitahukan kepada masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Seperti pada upacara Penimbongan, upacara Ngancak juga dilengkapi sesaji bagi makhluk halus penunggu laut. Sesaji itu dipercaya merupakan makanan kesukaan siluman buaya, yaitu buk pulot atau nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.

Perang ketupat

Pagi harinya,

seusai tari serimbang digelar, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40 ketupat.

Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.

Di tengah membaca mantra, dukun darat tiba-tiba tak sadarkan diri (trance) dan terjatuh. Dukun laut menolongnya dengan membaca beberapa mantra, dan akhirnya dukun darat pun sadar dalam hitungan detik.

Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika itu dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur. Kenyataannya, setelah siuman, dukun darat menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama tiga hari, antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu serta cincin di sungai atau laut.

Setelah semua ritual doa selesai, kedua dukun itu langsung menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya ke sisi laut.

Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat.

Dukun darat memberi contoh dengan melemparkan ketupat ke punggung dukun laut dan kemudian dibalas, tetapi ketupat tidak boleh dilemparkan ke arah kepala. Kemudian, dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai.

Ke-20 pemuda langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka. Semua bersemangat melemparkan ketupat sekeras-kerasnya dan berebut ketupat yang jatuh.

Keadaan kacau sampai dukun laut meniup peluitnya tanda usai perang dan mereka pun berjabat tangan.

Selanjutnya, perang babak kedua dimulai. Prosesnya sama dengan yang pertama, tetapi pesertanya diganti. Perang kali ini pun tidak kalah serunya karena semua peserta melempar ketupat dengan penuh emosi.

Rangkaian upacara itu ditutup dengan upacara Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu dimaksudkan mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.

 

Pergeseran budaya

Kentalnya pengaruh dukun dan dominannya aspek dinamisme dalam tradisi perang ketupat terjadi karena budaya ini merupakan warisan masyarakat asli Pulau Bangka yang belum beragama, atau sering disebut sebagai orang Lom.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dimulainya tradisi ini. Namun, berdasarkan cerita rakyat, ketika Gunung Krakatu meletus pada tahun 1883, tradisi ini sudah ada.

Seiring dengan masuknya pengaruh Islam ke Bangka, tradisi tersebut pun mengalami beberapa perubahan cara dan pergeseran substansi. Meskipun tetap turut menonton perang ketupat, sebagian besar warga yang beragama Islam telah mengubah beberapa ritual menjadi bernuansa islami.

Perayaan yang dulunya difokuskan bagi roh-roh halus, kini sebagian ditujukan untuk mengenang arwah leluhur. Demikian pula dengan sesaji, diubah menjadi kenduri untuk dimakan bersama.

Puteri Malam Cerita Rakyat Bangka

Penggemar cerita rakyat mungkin akan mendapat kesulitan untuk menemukan cerita rakyat Pulau Bangka.

Berbeda dengan cerita rakyat daerah lainnya seperti: Sunda, Jawa, Batak, Aceh, Sulawesi, yang sudah banyak diterbitkan. Baik dalam suatu kumpulan bersama antara cerita rakyat dari berbagai daerah maupun sendiri-sendiri.
Namun demikian penggemar cerita rakyat Pulau Bangka yang dikenal sebagai penghasil timah itu tidak perlu kecewa karena masih dapat ditolong oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 1983 Proyek ini pernah menerbitkan buku Puteri Ladang dan Puteri Malam yang ditulis oleh Amiruddin D (Dja’far) berisi cerita rakyat Bangka .

Dalam kata pengantar pengarang kita pun akhirnya mengetahui bahwa buku ini merupakan lanjutan penerbitan sebelumnya yakni Cerita-Cerita Purba dari P. Bangka yang ditulis oleh pengarang yang sama. Mungkin karena penerbitan dengan oplah terbatas kedua buku ini pun sukar ditemukan di tengah masyarakat.
Selanjutnya dalam tulisan ini kita mencoba melihat nilai budaya daerah dalam cerita rakyat Puteri Malam.
Puteri Malam mengisahkan Pak Raje seorang kepala desa yang memiliki sawah dan bertindak sewenang-wenang. Sawah yang ditanami padi yang sedang berbuah itu dimasuki beberapa ekor babi. Pak Raje meminta kepada Sang Penyumpit menjaganya dengan dalih orang tua Sang Penyumpit yang sudah almarhum pernah berutang kepadanya. Demi membayar utang orang tua Sang Penyumpit rela bekerja pada Pak Raje.

Ketika menjalankan tugasnya Sang Penyumpit mendapat rezeki yang tak diduga sehingga kaya raya. Melihat ini Pak Raje juga ingin mengikuti jejak Sang Penyumpit namun nasibnya sial, Pak Raje mati. Untunglah kemudian Sang Penyumpit mau membantu sehingga Pak Raje pulih kembali. Di akhir cerita Pak Raje insaf akan perbuatannya.

Lalu menikahkan anaknya yang bungsu dengan Sang Penyumpit. Jabatan kepala desa pun diserahkannya kepada menantunya yang baik hati itu.
Tema cerita ini memperlihatkan bahwa orang yang jahat akan mendapat hukuman yang setimpal dan orang yang baik akan mendapat keberuntungan.

Sedang pesan atau amanat cerita adalah sebaiknya jangan berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada orang lain.
Perlakuan jahat yang dilakukan Pak Raje pada mulanya ketika sawahnya dimasuki babi.

Dia memaksa Sang Penyumpit untuk mau menjaga. Agar Sang Penyumpit tak dapat menolak Pak Raje mengatakan bahwa pekerjaan ini sebagai ganti membayar utang ayahnya yang sudah almarhum.

Sang Penyumpit tak dapat menolak demi untuk melunasi hutang ayahnya dan inilah tanda ia berbakti kepada orang tua. Sang Penyumpit bekerja keras siang malam demi membela nama baik orang tuanya.
Tutur Amiruddin Ja’far dalam cerita Puteri Malam:
Sampai diladang ia pun membakar kemenyan minta restu dewa-dewanya, tak lupa ia memuja mentemau (dewa babi) agar suka menolongnya supaya babi-babi jangan dilepaskan memakan ladang Pak Raje.

Jika malam telah menyungkupi alam ini, sunyi senyaplah perladangan itu, merondalah Sang Penyumpit kesegenap pojok ladang.

Tiga malam belum kejadian apa-apa, demikianlah hingga tujuh malam berlalu. Siang hari ia harus bekerja di ladang menuai padi dan malam hari harus pula jaga hingga tubuhnya merasa lemas dan pucat. Kadang-kadang ingin ia beristirahat tapi mengingat ancaman Pak Raje terpaksa ia terus berjaga-jaga.
Kerja keras Sang Penyumpit diberi imbalan yang baik. Dalam cerita dikisahkan ketika babi memasuki sawah ia sempat menombak dan mengenai seekor babi. Ingin tahu Sang Penyumpit menelusuri ke mana babi itu lari lewat darah yang bercucuran.

Tiba di sebuah desa dalam rimba itu ia akhirnya mengetahui yang terkena seorang puteri. Ibu puteri itu minta kepada Sang Penyumpit menyembuhkan sakit puteri.

Sang Penyumpit menolong puteri yang sakit. Nilai budaya menolong di sini digambarkan pengarang dalam cerita sebagai berikut:
Didekatinya gadis yang sedang sakit itu, dibukanya selimut yang menutupi kakinya.

Sang Penyumpit meneliti tampak olehnya suatu benda hitam mencuat, sedikit ditelitinya betul-betul nyatalah bahwa itu mata tombak. ”Bik, kuminta agar disediakan buluh seruas panjang sehasta, daun keremunting yang sudah ditumbuk banyaknya secupak”, kata Sang Penyumpit kepada ibu gadis itu……..
……………dicabutnya mata tombak yang terhunus , ….luka bekas cabutan ditutupinya dengan daun keremunting untuk penahan darah yang keluar.
Besok tentu ia sudah bisa berjalan-jalan kembali….
Di sini kita juga diberi informasi bagaimana mengobati orang luka dengan dedaunan obat yang tersedia di daerah itu.
Nilai budaya tolong-menolong dapat ditemukan juga dalam cerita rakyat ini, ketika Sang Penyumpit akan pergi meninggalkan desa puteri itu.

Sang Penyumpit yang telah menolong menyembuhkan puteri yang sakit diberi hadiah. Hal itu digambarkan pengarang sebagai berikut:
……tetapi sebelum anak pulang paman mau menyiapkan oleh-oleh guna kau bawa ke duniamu.
Inilah oleh-oleh dari dunia kami, ini bungkusan kunyit, ini bungkusan buah nyatoh, ini daun simpur, ini buah jering. Tapi kempat bungkusan ini jangan anakku buka sebelum sampai ke rumah. Supaya anak tidak mendapat kesulitan di jalan bakarlah dulu kemenyan ini.
Dalam cerita selanjutnya digambarkan ketika oleh-oleh itu dibuka dirumah Sang Penyumpit ternyata isinya bukan kunyit dan jering tetapi perhiasan emas, pemata intan berlian. Sejak itu tersiar kabar bahwa Sang Penyumpit telah menjadi kaya raya. Hutang ayahnya kepada Pak Raje pun segera dilunasi.
Mendengar pengalaman Sang Penyumpit yang akhirnya menjadi kaya raya, Pak Raje pun ingin meniru.

Tapi sial ketika Pak Raje mengikuti jejak Sang Penyumpit dalam cerita dikisahkan mati.

Setelah mengobati anak gadis yang kena tombak itu Pak Raje tertidur.

Ketika bangun ia diserang berpuluh-puluh ekor babi yang besar-besar. Tubuhnya disobek-sobek.

Berita ini tersiar di desa Pak Raje. Puteri tua Pak Raje menyampaikan nasib ayahnya kepada Sang Penyumpit. Mendengar kabar ini Sang Penyumpit ingin segera menolong lebih-lebih ia sudah mengenal desa itu.

Sifat menolong dan jujur yang dimiliki oleh Sang Penyumpit merupakan nilai budaya daerah yang khas dalam cerita rakyat Puteri Malam.

Hal ini tercermin dalam baris-baris yang disusun pengarang Amiruddin Ja’far sebagai berikut:
Dewa Matemau mengetahui bahwa anakku seorang yang jujur. Karena kejujuranmu itu, anakku dianiaya ataupun ditipu oleh sebangsamu di duniamu sendiri.

Sebat itulah Matemau pada mulanya melarang adik-adikmu ke tempat buah-buahan yang enak di ladang Pak Raje, kemudian Matemau memerintahkan supaya adik-adikmu datang lagi ke ladang.

Kami bertanya mengapa Matemau memerintahkan demikian? Katanya cucuku Sang Penyumpit harus ditolong karena dia sendiri ditipu oleh Pak Raje. Bagaimana caranya Sang Penyumpit menolong Pak Raje sehingga tubuhnya tak tersobek-sobek lagi dan hidup kembali?

Dikisahkan Sang Penyumpit menggunakan 7 helai daun. Lalu dia membakar kemenyan lalu menyebut, ada tangan, ada kaki. Semua anggota tubuh Pak Raje disebut. Terakhir diucapkan Pak Raje.
Digambarkan dalam asap mengepul Sang Penyumpit membacakan manteranya lalu tampak Pak Raje berusaha duduk.

Dia tampak menggosok-gosokkan matanya.
Pak Raje yang telah insaf dan mengaku bersalah digambarkan pengarang dengan kalimat sebagai berikut:
” Marilah kita pulang Sang Penyumpit segala kesalahankku kepadamu dan kepada rakyat segera kuminta maaf. Sesudah itu engkau kukawinkan dengan si Bungsu lalu aku akana mengundurkan diri, engkaulah akan menggantiku.

Marilah kita pulang agar kabar gembira ini segera kita laksanakan”.
Sesuai dengan janji Pak Raje pada saat yang telah ditentukan puteri Bungsunya dinikahkannya dengan Sang Penyumpit. Jabatan sebagai kepala desa pun diserahkan kepada menantunya yang baik hati itu.

Selanjutnya kedua insan yang baru menjadi suami isteri ini hidup berbahagia.***

Sekilas Sejarah Rebo Kasan

  1. LATAR BELAKANG
  2. Upacara Rabu Kasan setiap tahun diadakan di desa Air Anyer Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Upacara ini merupakan tolak balak yang dilaksanakan tiap-tiap hari Rabu di bulan Syafar Tahun Hijriah.

Perkataan Rabu Kasan berasal dari kata Rabu yang terakhir (Bulan Syafar).

Menurut keterangan dari beberapa orang ulama, setiap tahun Allah menurunkan bermacam-macam bala lebih kurang 3.200 macam bala ke muka bumi ini pada hari Rabu terakhir di bulan Syafar, mulai terbitnya fajar sampai siang Rabu tersebut.

Maka setiap penduduk pada hari itu hendaklah hati-hati, karena pada hari itulah yang paling mudah dan paling banyak mendapatkan bala (bahaya).

Oleh sebab itu dianjurkan pada setiap penduduk yang ada berencana untuk mengerjakan pekerjaan yang berat-berat atau akan bepergian jauh sebaiknya diundurkan atau dibatalkan dulu sampai kira-kira pukul 02.00 siang, serta dianjurkan setiap penduduk pada hari itu sebaiknya berkumpul dan bersama-sama membaca do’a agar tersisih dari sekalian bala yang diturunkan Allah S.W.T pada hari itu.

Ada bermacam-macam cara dan pendapat mereka mengadakan upacara tolak bala tersebut.

Pada hari biasanya diadakan di ujung / batas kampung, masyarakat pergi beramai-ramai dan berkumpul di tempat upacara serta membawa makanan-makanan dan yang penting agi adlaah ketupat lepas yaitu ketupat tolak bala dan air wafak.

Yang dimaksud dengan ketupat tolak balak yaitu ketupat yang dianyam sedemikian rupa yang mudah terlepas apabila bagian ujung dan pangkal daun yang dianyam itu ditarik. Dan ketupat ini tanpa isi.

Demikian juga Air Wafak yaitu air yang telah dicampur dengan air do’a wafak yang diambil dari ayat Al-Qur’an dan do’a ini ditulis di piring porselin yang putih bersih dengan tinta dawer dari Mekkah, kemudian piring yang bertulisan itu diisi dengan air bersih sampai tulisan itu terhapus dan bercampur dengan air tadi.

Jika kita memerlukan lebih banyak, maka air ini boleh kita tambah sebanyak mungkin.

  1. TEMPAT UPACARA

Pada waktu dahulu upacara ini diadakan di ujung atau perbatasan kampung, di sana mereka berkumpul tua, muda, laki-laki, permepuan setiap yang hadir telah membawa makanan-makanan, dan masing-masing membawa kerupat tolak balak yang telah disediakan masing-masing keluarga. Tetapi sekarang ini telah diadakan di masjid dan yang hadir cukup para lelaki saja, terutama bagi kepala keluarga.

 

III. JALANNYA UPACARA

  1. Sehari sebelum upacara Rabu Kasan diadakan, semua penduduk telah menyiapkan segala keperluan upacara tersebut seperti ketupat tolak balak, air wafak dan makanan untuk dimakan bersama pada hari itu.
  2. Tepat pada hari Rabu Kasan itu, kira-kira pukul 07.00 WIB semua penduduk yang akan mengikuti upacara telah hadir ke tempat upacara dengan membawa sedulang makanan, ketupat tolak bala sebanyak jumlah keluarga masing-masing. Setelah berkumpul semua sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan baru acara segera dimulai.
  3. TATA TERTIB PELAKSANAAN
  4. Pertama berdirilah seorang di depan pintu masjid dan menghadap keluar lalu mengumandangkan adzan.
  5. Lalu disusul dengan pembacaan do’a bersama-sama. Selesai berdo’a semua yang hadir menarik/melepaskan anyaman ketupat tolak balak yang terlah tersedia tadi, satu persatu menurut jumlah yang dibawa sambil menyebut nama keluarganya masing-masing.
  6. Setelah selesai acara melepaskan anyaman ketupat tolak balak tersebut baru mereka makan.
  7. Setelah makan bersama, lalu masing-masing pergi mengambil air wafak yang telah disediakan termasuk untuk semua keluarganya yang ada di rumah masing-masing.
  8. Setelah selesai acara ini mereka pulang dan bersilahturahmi ke rumah tetangga/keluarganya.
  9. Pada akhir-akhir ini banyak yang menggunakan kesempatan ini pada sore-sore harinya terutama bagi muda mudi mencari hiburan di Pantai Air Anyer. Bahkan sekarang ini makin banyak pengunjung yang datang dari luar kampung Air Anyer menyaksikan dan berlibur ke Pantai Air Anyer pada setiap tahun diadakan acara Upacara Rabu Kasan ini.
  10. PENUTUP

Demikianlah sinopsi Rabu Kasan ini dibuat, semoga berguna bagi kita untuk mengetahui sejarah kebudayaan yang ada di Pulau Bangka dan kita patut untuk menjaga dan kelestariannya.

Pesona Wista Pekak Liang Bangka

 

 

 

Palau Bangka

 

We went by dinghy (dinghied does not compute to the spell checker) to the village this morning to deliver a case of clothes kindly donated by Anglicare to the lady and group that Dianne met yesterday.

We included some Rid, Bushman and Insect repellent as one of their children had been suffering from considerable sandfly/bug bites.

Of course they were delighted and returned the favour with freshly cut green coconuts which are great to drink and the soft immature flesh delightful to eat – you really need to go troppo for a while to appreciate the value of the green coconut.

We went shopping at a couple of the ‘shoplets’ for eggs and a few extras and the village group wanted to see Charmar so they followed us back across the bay and came on board. It was great fun and we took and printed photos for them, which they absolutely enjoy, dined on chocolate bars and communicated well without language! Great fun.

On the way back to Charmar we had passed a fishing boat anchored only a short distance behind us and they called us over and presented us with a coconut just turning yellow, so we took them back a bottle of softdrink.

After the first visitors left they signalled they would like to come across so they have been on board for about three hours.

We have been playing with lures and fishing gear and they have taken away some spoons and lures and stainless wire and gear.

The youngest was 15 and there were three of them. They wouldn’t eat lunch but we are not sure whether they were Muslim and Ramaden they do not eat for this season as most people here are Budhist or Christian.

They really enjoyed getting off their rolly boat onto a stable platform for a while. They have a compass on their boat but the elder one and I guess the skipper was fascinated by the GPS Plotter and depthsounder! Winches and things on board generally they all wanted to check out.

There are many Chinese people in this village and one man who was visiting his brother here for holiday said to us it called China Town where we were.

Of course relations between the Chinese and Indonesian have not always been cordial but here everyone seems to be living in harmony, and why not it is a delightful area with sandy beaches, coral reefs, surf beaches, comfortable accommodation, although the fishing village people were in stilt houses with basic huts and a common well. They were the nicest and most welcoming people.

But it is time for us to press on as Kirsty only has less than a week on her visa! So in an hour or so we will untie the boys on the prau behind us, they are still attached but are back on their boat, pull up a headsail and drift off north in the following breeze to see how far we can get overnight.

Talk to you then!

Behind the beaches
18/09/2008, Palau Bangka

 

This anchorage at Palau Bangka is great. There are permanent fish traps built in the sea outside this area where they put lights on at night, lower nets, take their catch. It seems people get left out on them to do the work. They are constructed of Bamboo in about 20 metres of water.

Back to the anchorage, palm tree lined beaches, shallow at about 5 metres, and interesting bays, rocky outcrops and long beaches of white sand. AND the beaches are relatively clean about as clean as most Aussie beaches, some thongs, bottles and the odd bit of flotsam but relatively clean.

Yesterday we went about 20 mins by dinghy to the local village. Not much English spoken here but a very large house on the beach and the owner took us through the house block, past the monkeys, chooks etc into the main street of the village.

People came out and spoke with us and one elderly man took us and very proudly showed us around a hotel they are building with accommodation, billiard room, cafe etc. Very interesting. From amongst this group we found out there were no markets in the village, we would have to go to the city! (Parang???) , no bemos or buses and a car was hard to get. One chap volunteered a motorcycle ride so I set off with instructions to buy fresh fruit and veges for both boats.

Off we went along first dirt roads , then bitumen track through villages and settlements across the island and sure enough 30 mins later we were in a significant town with a shopping street, market shops and a supermarket. Papaya, grapes, oranges, melon, lychees, apples, pears, etc were bought at the market shops and we visited the supermarket but didn’t buy, loaded up the scooter and headed back for the beach village.

Stopped at a roadside vendor and bought two pineapples and two cucumbers (much cheaper than the town prices) and headed off again with a very fully loaded scooter bottoming out on all the many bumps and potoholes!

We were back at the village in the hour and half. The boy who took me to town was a mechanic from Djakarta and he didn’t want anything for taking me in. Of course we did provide him a gift – it was great to top up the fruit and vege supplies and the Papaya (although expensive by local standards) are so rich and good to taste and BIG.

The village here is predominantly Budhist, but the boy who took me to town was proudly Christian. Many people appear to be of Chinese extraction. The houses are neat and tidy and well kept and furnished and it appears to be a very pretty and pleasant place to livel.

The village is a fishing village and Dianne and the others had been “talking” with the locals and making friends – we will take a suitcase of clothing back over this morning. We might also be able to buy some fish when the boats come back in this morning – goodness knows we seem to have no possibility of actually catching one here – and no wonder the way we fish is just plain lazy compared to the work they put into it.

There are maybe a hundred or so fishing boats tied up outside the village all fitted with strong lamps etc that go out fishing from here at night.

A very friendly and welcoming place.

Large fires on the island showered us with ash and soot last night which was a great shame as we were so pleased that the heavy rain squalls of a few nights ago had finally washed the last of the Darwin ash and dust off the boat! Now we are back where we started!

Time wise we could have gone up to see the Orang-u-Tans in Kalimantan but we are enjoying the easy days here and have really enjoyed this anchorage and a bit of swimming, snorkelling and exploring.

Late this afternoon we will probably head off for an overnighter to the next destination.

 

 

 

 

Fishermen and a whole community of people converted into illegal tin ore divers on the coast of Bangka Island, South of Sumatra, Indonesia.

 

Jalan-Jalan ke Pulau Bangka

Pagi terasa begitu menyenangkan, walaupun lelah telah menderu semalaman. Daypack pun menunggu di samping pintu kamar, tak sabar rasanya ingin lepas dari penatnya rutinitas.

Yeaay, pagi ini saya akan menuju ke Pulau Bangka. Acara tahunan kantor yang lebih dikenal dengan istilah Outing atau Kick-off Meeting.

Tak ingin mengulang kejadian tahun lalu dimana saya harus terburu-buru ditambah dengan perut melilit sepanjang perjalanan, pagi ini saya terpaksa harus berangkat lebih awal.

Di kegelapan pagi, saya bergegas menuju halte kampus UI, deretan Burung Biru siap mengantarkan saya menuju bandara. Beruntung, pak supir cukup sigap menghadapi kemacetan jalan raya. Yaaa.. walaupun telat untuk sarapan pagi bersama, setidaknya roti dan susu yang saya makan di tengah perjalanan, cukup untuk mengganjal perut sesampainya di Bangka.

10.45 CGK – PGK.

 

Day1


Waktu menunjukkan pukul 11.45, cuaca cukup bersahabat ketika kami tiba di

Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang.

Rombongan kami yang berjumlah 25 orang disambut dengan hangat oleh pemandu wisata yang siap mengantarkan kami ke beberapa objek wisata di Pangkal Pinang.

Dengan menggunakan minibus, perjalanan wisata kami pun dimulai. Dian, seorang pemandu wisata yang akan memandu kami selama 2 hari kedepan mulai bercerita sepanjang perjalanan mengenai pulau Bangka. Dengan gaya bahasa yang lucu dan sedikit agak narsis,

Dian mulai menjadi sasaran empuk untuk menjadi bahan kecengan selama perjalanan. Lulusan Akuntansi Universitas Padjajaran ini lebih memilih bekerja di pemerintahan daerah dan menjadi pemandu wisata karena kecintaannya akan pulau Bangka. Hmm.. sepertinya kami memliki pemandu wisata yang mumpuni untuk mengenal lebih jauh mengenai pulau ini.

Menempuh waktu selama 30 menit dari bandara Depati Amir, akhirnya kami sampai di tujuan pertama,

 

 

Pantai Pasir Padi.

Pantai yang berjarak 7 Km dari Pangkal Pinang, ibu kota Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini merupakan tempat pertama yang kami kunjungi karena lokasinya yang masih berada di kota dan sangat mudah untuk dijangkau.

Hampir semua wisatawan yang tiba dari bandara Depati Umar, pasti mengunjungi Pasir Padi terlebih dahulu sebagai persinggahan pertama.

Keunikan Pantai Pasir Padi  adalah ombak yang tenang dan kontur pasir yang padat, putih dan halus. Kata Dian, saat air laut mengalami pasang surut, pantai ini bisa digunakan sebagai arena lomba balap motor.

 

 

 

Selain Pasir Padi, banyak pantai indah yang dimiliki oleh Pulau Bangka, seperti

Pantai Parai, Tanjung Pesona, Pantai Matras, Pantai Rebo, Tanjung Ular, Tanjung Kalian, Air Anyir dan Romodong.

Waah.. bakalan nggak cukup 3 hari nih untuk menikmati semua wisata pantai. Istirahat di Pasir Padi kami manfaatkan untuk makan siang di

Rumah Makan Biru Laut.

Setelah puas makan siang dan berfoto-foto, perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Kali ini kami akan mengunjungi

Museum Timah.

Dalam perjalanan menuju Museum, Dian bercerita mengenai kondisi alam di Pulau Bangka yang saat ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Tampak oleh kami, beberapa tempat di pinggir jalan raya, banyak dijumpai bekas penambangan timah yang sepertinya ditinggal begitu saja.

Letaknya yang strategis di jalan raya Pangkal Pinang, membuat Museum Timah sangat mudah untuk ditemui, ditambah dengan kereta timah yang terpajang di depan gedung Museum, semakin menguatkan identitas dari sebuah Museum.

Sesampainya di Museum Timah, pemandu museum yang ramah dan penuh semangat menjelaskan kepada kami mengenai

 

sejarah penambangan timah di Pulau Bangka.

Semua peninggalan dan cerita sejarah tersimpan rapih di museum ini.

 

 

 

 

 

 

Museum yang dibuka sejak tahun 1997

ini menempati bangunan bekas rumah karasidenan zaman belanda. Sebelum menjadi museum, rumah ini merupakan rumah tempat tinggal karyawan perusahaan BTW ( Banka Tin Winning).

Dari museum ini kita bisa mengetahui kalau timah pertama kali digali di Pulau Bangka pada tahun 1709.

Pulau Bangka Belitung memang sangat terkenal dengan timahnya. Jadi, kalau anda ke pulau Bangka, anda wajib mengunjungi Museum Timah.

 

Tak ingin menyia-nyiakan waktu hari ini, kami meyempatkan diri mengunjungi pengrajin kain Ishadi Cual yang menjual pakaian dan kain khas Bangka. Letaknya berada di Jl. Ahmad Yani No. 46. Ishadi merupakan nama dari Isnawati dan Abdul Hadi (telah meninggal Januari 2006). Cual sendiri merupakan kain adat yang sudah berkembang sejak abad XVI di pulau Bangka, hanya saja masyarakat disini lebih mengenal songket palembang karena sebelumnya kepulauan Bangka Belitung masuk ke dalam propinsi Sumatera Selatan. Kain cual pada dasarnya adalah kain tenun seperti songket, dengan warna-warna yang cerah dan menyala, khas kain tradisional Melayu. Tak banyak yang bisa kami lakukan disini selain melihat-lihat beberapa hasil kerajinan kain cual.

 

Tempat berikutnya adalah

Otak Otak Amui.

Kata Dian, disini adalah otak-otak terenak di pulau Bangka, walaupun yang saya rasakan sama aja dengan otak-otak yang saya beli di Jakarta, hanya saja variasi otak-otaknya lebih banyak. Sambil ngobrol santai dengan teman, hampir semua mengatakan “yang bikin enak sambelnya”. Yup, rasa otak-otaknya sih sama aja dengan kebanyakan otak-otak, hanya saja sambelnya yang membuat saya tidak bisa berhenti menguyah. Makan otak-otak disini belum lengkap rasanya kalu belum ditemani dengan

es kacang merah.

Anyway buswaaay, sepertinya ini tempat terlama yang kami kunjungi sebelum kami menuju ke hotel untuk beristirahat. Rombongan kami pun memesan otak-otak yang diantarkan di hari terakhir sebagai oleh-oleh.

 

 

Hanya 2 jam waktu yang bisa kami manfaatkan untuk beristirahat di kamar hotel.

Pada saat keluar hotel, minibus sudah siap mengantarkan kami. Kata Dian, kami akan makan malam di salah satu tempat makan yang wajib dikunjungi di pulau Bangka, namanya

Rumah Makan Mr. Asui.

Mr. Asui terletak di tengah kota Pangkal Pinang, tepatnya di Yang Zubaidah. Dari plang nama yang kami lihat, kami kira rumah makan ini berada di pinggir jalan, ternyata kami harus memasuki sebuah gang untuk menuju tempat makan tersebut.

Ada tiga rumah makan dalam satu deret rumah yang menyatu.  Mr. Asui berada di rumah kedua.

 

Lagi-lagi, kami disuguhi makanan laut seperti di Pasir Padi.

Hadir dihadapan saya,

buntut ikan tenggiri bakar, kepiting saus tiram dan cah kangkung. Kombinasi yang pas ditambah dengan cocolan sambal terasi khas bangka.

Makan malam di Rumah Makan Ashuy menjadi tempat wisata terakhir di hari ini. Satu kata untuk hari ini, kenyang

 

Malam mulai mengusik rasa ingin tahu saya mengenai kehidupan malam di kota Pangkal Pinang.

Setelah mencoba mengendap-ngendap dan mencari tahu dari beberapa pegawai hotel, akhirnya supir hotel mulai mengantarkan kami ke

tempat karaoke di salah satu hotel

yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap.

Dari luar, suasana begitu sepi. Tapi siapa sangka, begitu kami masuk, phiuuuhhh.. suara sayup-sayup musik mulai terdengar dan gadis-gadis berpakaian seksi berlalu lalang sambil menatap dengan senyuman nakal. Salah satu wanita mulai mengantarkan kami menyusuri lorong demi lorong. Wooow, belom pernah saya melihat tempat karaoke seperti ini.

Ruangannya lumayan besar dengan sofa kulit memanjang yang terlihat sobek disana sini. Beberapa lantai keramik terlihat pecah. Di pojok ruangan terdapat meja yang sepertinya mirip meja makan dengan beberapa bangku dan kamar mandinya yang jauh dari kesan terawat. Peralatan karaoke pun seadanya, televisi 50 inchi dengan monitor komputer CRT 14 inchi sebagai operator. Ya.. sudahlah.. nikmati saja.

Day2:
Tidak puas kami mengunjungi Pasir Padi di hari pertama, kali ini kami akan mengunjungi

Parai.

Salah satu pantai terindah di Pulau Bangka.

Tapi sebelum menuju kesana, kami harus lebih dulu mengunjungi dua tempat wisata, yaitu

Desa Gedong dan Phak Kak Liang.

Perjalanan menuju Desa Gedong kami tempuh selama 2 jam dari Pangkal Pinang. Kendaraan hanya diijinkan untuk masuk sampai dengan Gapura.

 

Selanjutnya kami harus berjalan kaki untuk menyusuri tempat ini. Desa Gedong merupakan kampung Cina tertua di Pulau Bangka yang saat ini ditetapkan sebagai Desa Wisata.

Letaknya berada di wilayah Lumut, kecamatan Belinyu.

Warga di Desa Gedong adalah generasi penambang terakhir di Pulau Bangka. Kehidupan mereka rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang dan getas.

 

Di kampung inilah kami mengunjungi salah satu pembuat

kerupuk getas,

makanan khas Bangka Belitung yang terbuat dari ikan tenggiri dan kerupuk kricu yang terbuat dari cumi-cumi. Sayang, kami tidak diijinkan untuk melihat langsung pembuatan kerupuk ini dengan alasan rahasia perusahaan.

Dari kampung inilah, kerupuk Getas dan Kricu didistribusikan ke seluruh Bangka. Sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik rumah, mulut ini sepertinya tidak mau berhenti menyicipi ‘kerupuk gratisan’. Alhasil, setiap orang  setidaknya membeli minimal 3 kerupuk untuk dijadikan oleh-oleh.

 

 

Tempat kedua yang kami kunjungi masih berhubungan dengan kebudayaan China, namanya Phak Kak Liang.

 

 

 

Phak Kak Liang, Belinyu

 

 

Phak Kak Liang merupakan tempat wisata yang dibangun di atas bekas penambangan timah. Lokasinya berada di kecamatan Belinyu.

 

Untuk menuju Phak Kak Liang, kami harus melewati penambangan timah. Di kanan kiri jalan, terlihat jelas sisa-sisa penambangan timah yang membentuk kubangan besar dan timbunan pasir yang tinggi.

 

Daya tarik lain bagi wisatawan disini yang tak kalah menariknya adalah ikan air tawar yang berada di danau ini. Pengunjung dapat memberi makan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Menurut cerita yang sampai saat ini masih diyakini, ikan-ikan yang ada di danau ini tidak boleh dipancing atau dimakan.

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju pantai Parai. Perjalanan terasa begitu membosankan. Yang kami lihat sepanjang perjalanan hanya hutan, sesekali terlihat beberapa pemukiman penduduk dan penambangan timah.

Pemandangan yang monoton membuat kami tertidur sepanjang perjalanan. Suasana yang tadinya riang dan penuh riuh canda, sekejap berubah menjadi sunyi senyap.

Setelah satu jam kami lalui, tiba-tiba dari kejauhan terlihat pesisir pantai. Ahh.. Parai! Pantainya cukup terlihat indah dengan beberapa batuan yang menjadi tempat favorit kami untuk berfoto-foto. Parai menjadi penutup perjalanan wisata kami di pulau Bangka.

 

 

 

 

Tidak puas dengan pengalaman malam kemarin, kali ini saya mencoba menyambangi salah satu klub malam dan tempat billiard yang cukup terkenal di Pangkal Pinang. Hahaha… teteuuu. Saya dan teman-teman menghabiskan malam terakhir di tempat ini dan keesokan hari kami harus berkemas kembali dan bersiap menuju Jakarta.

 

 

Menariknya dari kegiatan ini begitu kental dengan kegiatan nilai budaya lokal dan pesona wisata yang menakjubkan di pulau Bangka. Tak kurang sekitar 500 peserta dari 31 propinsi dari seluruh Indonesia disuguhiatraksi dan keindahan bumi Sepintu Sedulang (red-sebutan untuk kabupaten Bangka).

 

Sejak pembukaan acara, peserta sudah disuguhi tari-tari khas daerah Bangka seperti tari Sambut Sepintu Sedulang, tabuhan Rampak Gendang Melayu, dan tari-tarian lain. Setiap hari lidah para peserta dimanjakan dengan makanan khas yang serta seafood. Bahkan ketika melakukan riset lapangan, interaksi dengan masyarakat lokal penambang, masyarakat etnis Tionghoa, dan Melayu menjadi kajian yang menarik untuk ditulis oleh para peserta.

 

Pengembangan pariwisata sebagai alternatif sumber penghasil selain penambangan pun ikut dicermati oleh para peserta. Lokasi penelitian untuk siswa ditempat di kawasan multi etnis dengan nilai budayalokal yang masih kental. Bahkan ibu bapak guru yang ikut mendampingi para peserta tak luput dari kegiatan workshop guru.

 

Workshop Guru memberikan pengalaman menarik untukpara tenaga pengajar dari seluruh Indonesia itu untuk melakukan riset sosial atau ilmu pengetahuan alam dengan lokasi di Pantai Matras, Pantai Parai Tenggiri, dan lingkungan multi etnis di perkampungan Pohin (Air Duren) Bangka.

 

Pantai Matras dan Pantai Parai Tenggiri menjadi representatif pantai-pantai di Bangka yang amat indah dan landai. Terletak disebelah timur laut Pulau Bangka dan berjarak sekitar 40 km dari Pangkalpinang atau 7 km dari kota Sungailiat. Pantai indah ini terkenal dengan nama Pantai Matras karena terletak di desa Matras, Kelurahan Sinar Jaya, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Panjang pantai ini mencapai 3 km dan lebar 20-30 m yang dilatar belakangi pepohonan kelapa dan aliran sungai yang jernih dari daratan menuju laut. Sedangkan Pantai Parai Tenggiri karena keelokan pemandangan dan suasananya, sering menyebut pantai ini sebagai Pantai Surga.

 

Untuk wisata sejarah, field trip di Bangka Barat, tepatnya di Kota Muntok, tentu saja menjadi sangat menarik. Kota ini merupakan tanah tempat pengasingan para pemimpin bangsa di awal-awal kemerdekaan. Sejumlah nama seperti Ir. Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr Assaat,Wakil Perdana Menter iMr Moh Roem dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S Suryadarma pernah di tempatkan di Wisma Ranggam.

 

Pesanggrahan Muntok adalah nama asli Wisma Ranggam. Kata pesanggrahan diambil dari bahasa Sansekerta yang berartitempat peristirahatan atau penginapan. Wisma Ranggam dibangun pada tahun 1927 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Tempat ini dijadikan sebagai tempat peristirahatan pegawai perusahaan timah milik Belanda.

 

Didepan Wisma Ranggam berdiri kokoh sebuah tugu yang tak lekang dimakan zaman. Ditugu tersebut terdapat prasasti yang ditandatangani oleh Bung Hatta padatanggal 17 Agustus 1951. Isi tulisan tersebut adalah:


” Kenang-kenang Menoembingdi Bawah Sinar Gemerlap Terang Tjoeatja, Kenang-kenang membawa Kemenangan, Bangka, Djogdjakarta, Djakarta, Hidoep Pancasila, Bhineka Tunggal Ika”.

Lokasi berikutnya adalah sebuah pantai yang terletak di Kelurahan Tanjung,Kecamatan Mentok. Pantai ini terletak ±9 km dari Kota, di sini terdapat menaraatau Mercusuar yang dibangun pada tahun 1862. Dari puncaknya dapat disaksikan seluruh kawasan Pantai Mentok yang indah. Fungsi dari menara itu sendiri untuk melihat keluar masuknya kapal-kapal dari/ke Pelabuhan Mentok.

 

 

Bukan hanya itupara peserta pun berkesempatan untuk melihat proses peleburan timah di kawasan PELTIM muntok, bahkan beberapa kelompok berhasil mencapai puncak Menumbing. Menumbing bukan tempat asing dalam sejarah Bangsa ini. Sama seperti Wisma Ranggam, Kompleks Giri Sasana Menumbing menjadi tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa.

Berdasarkan informasi tertulis yang dipajang di ruang 102, Soekarno dan kawan-kawan dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompokatau rombongan. Rombongan pertama adalah Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat, dan Komodor Udara S Suryadarma. Mereka datang ke tempat ini tanggal 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Rombongan kedua adalah Mr. Moh Roem dan Mr.Ali Sastroamidjojo, yang dibawa langsung oleh Belanda dari Yogyakarta ke Manumbing pada tanggal 31 Desember 1948 dan rombongan ketiga adalah Bung karnodan Agus Salim didatangkan ke Bangka pada tanggal 6 februari 1949 dari tempat pengasingannya Kota Prapat, Sumatera Utara yang berdekatan dengan Danau Toba. Mereka datang dengan pesawat Catalina yang mendarat di Muara Sungai Pangkalbalam.

 

Kegiatan perkemahan ilmiah yang berakhir di komplek dengan ketinggian 445 meter dari permukaan laut ini membawa berbagai macam perasaan, mulai dari rasa keperihatinan lingkungan, kekaguman, kebersamaan, dan wawasan baru tentang bumi Indonesia.

 

Pelabuhan Belinyu

 

 

Kapal-kapal dari luar Bangka berlabuh di Pelabuhan Belinyu sejak 2010. Sedangkan seblumnya di

 

 

palabuhan sungai Liat

 

Kota Sungai Liat sudah ada sejak masa hindia Belanda,saat kunjungan terakhir 2012,sempat berkunjung kesana,banyak orang oramg Tiomghoa dengan ekonomi lumayan,pekrjaan tersedia dan disini juga ada timah.Masa Pak harto dilarang tambang timah oleh rakyat, dan masa Gus Dur diizin tambang rakyat.

Tambang timah Rakyat di kota sungai Liat

 

 

Tanah disemprot dan dibuat sumur kira-kira empat meter dan ketemu pasir timah, sesudah itu disedot keatas ,dicuci baru ketemu timah dan timah diambil dan air limbah dibuang ketempat lain.

Pasir timah bias dijual pada pedagang antara, satu kg Rp.80.000.- .satu hari bias ditemukan berkisar dua puluh sampai tiga puluh kg.

 

Alat berat punya pemerintah dapat disewa swasta,satu jam Rp.300.000.-

 

Dua lelaki tanpa baju menggotong pipa paralon yang disembunyikan dari gubuk di samping kolong (lubang galian tambang). Badan kekar dan kulit coklat kehitaman yang terbakar matahari menandakan aktivitas sehari-hari mereka.

Aktivitas tambang inkonvensional (TI) dan tambang rakyat (TR) mulai terdengar di Desa Sirna Jaya, Kecamatan Sungai Liat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Gemuruhnya makin terdengar ketika ekskavator dan pompa penyemprot air mulai bekerja di tempat pendulangan untuk memisahkan tanah dan menyisakan batu dan pasir timah.

Di tempat lain

di Gedung PT Timah Tbk, Pangkal Pinang,

enam perajin sibuk menggarap berbagai bentuk suvenir yang dibuat dari pewter. Ini adalah bahan olahan dari timah murni (97 persen), dicampur sedikit tembaga (2 persen) dan antimon (1 persen). Dengan alat sederhana, mulai dari gunting, kikir, solder, las, hingga mesin bubut, mereka memoles timah menjadi suvenir yang menarik.

 

Ke Belinyu , Melihat Kota Tua Timah

Sementara saya menampik tawaran mengunjungi Pantai Tanjung Bunga, Hutan Wisata TuaTunu, Kuburan Cina Sentosa, Katedral ST. Yosef, Kuburan Akek Bandang, Museum Timah Indonesia, Rumah Eks Residen, Perigi Pasem, Tugu Kemerdekaan, Kerhof, yang ditawarkan oleh dinas Pariwisata Bangka-Belitung lewat buklet bagi peserta Temu Sastrawan Indonesia II yang hendak melancong.

Bukan karena tempat itu tidak menarik, tapi saya ingin sesuatu yang beda.

Saya ingin mengunjungi objek wisata yang tidak terpromosikan. Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, tempat seperti itu kadang memiliki pesona yang tersembunyi.

Gayung bersambut!

Kebetulan ada yang  bertandang ke rumah di Belinyu.

Bersama rombongan , saya menumpangi bus Damri yang disediakan oleh dinas Pariwisata negeri Timah itu.

Selama perjalanan dari Pangkalpinang ke Belinyu, saya pergunakan untuk melihat daerah yang dilintasi dari kaca bus yang melaju dalam angin petang.

Beberapa kali saya tertegun, setiap kali melihat bekas-bekas lubang tambang timah yang ditinggalkan dan terbengkalai. Dan pohon-pohon yang tidak seramai laiknya di tepi Lintas Sumatera, berjajar rapat menatap bus yang melintas.

Duh, kegersangan yang menciptakan kesedihan. Tapi saya musti melihatnya.

Melihatnya sebagai pelancong yang hanya bisa bertanya “kenapa?” tanpa menemukan jawaban yang memuaskan. Sebab tidak ada guide dalam rombongan kami selama perjalanan di bus itu.

Diam-diam, kami seperti bersepakat menjadi guide bagi diri kami sendiri. Seperti sengaja menciptakan pertanyaan-pertanyaan bagi diri kami sendiri dan dijawab oleh diri kami sendiri.

Tak terasa lebih kurang 3 jam, bus itu mengantarkan kami ke kota kecamatan Belinyu.

Sebuah kota tua yang didirikan karena pertambangan timah.

Kami disambut deretan bangunan-bangunan tua dan ruko-ruko yang sebagian besar tutup.

Padahal baru jam 5 sore. Lagi-lagi saya didera pertanyaan “kenapa?”
Karena tidak tahan, saya pun bertanya , “Kenapa ruko-ruko di sini tutup?”

“Ternyata di sini orang-orang berdagang cuma sampai jam 4 petang,”

Lalu ia mengajak saya masuk ke rumahnya, menyusul yang lain. Di depan pintu, saya disambut oleh Mama Sunlie yang berumur sekitar 60-an dan ramah.

Ia Menyapa saya dalam bahasa Cina Hakka.

Saya cuma bisa memberi senyum, lantaran tidak faham bahasa Hakka itu.

“Mama saya tidak bisa ngomong dengan bahasa Indonesia,” ucap Sunlie.

Di Belinyu sekitar 30 persen penduduknya adalah Cina Hakka.

Dalam sejarah Cina perantauan (Overseas Chinese) ke Asia Tenggara, setidaknya dikenal 5 kelompok besar yang datang dan menetap, yaitu Hokkian,Hakka, Tiochiu atau Hoklo, Kanton, dan Hailam.

 

Kelompok Hokkian dan Tiochiu dikenal sebagai kelompok pedagang,

Kanton sebagai kelompok pengrajin dan tukang kayu.

Hakka sebagai pekerja tambang dan perkebunan.

Dalam sejarah, Hakka adalah kelompok terakhir yang datang ke Indonesia . Mereka datang berombongan untuk dipekerjakan sebagai kuli tambang dan perkebunan.

Kedatangan Hakka pertama adalah ke Mandor dan Montrado, pertambangan emas yang dikonsesi oleh Sultan Mempawah dan Sambas, Sekitar awal tahun 1700, mereka didatangkan dalam jumlah besar melalui Serawak.

Ketika tambang timah di Bangka di buka sekitar pertengahan tahun 1700, yang disusul kemudian di Belitung, beratus-ratus orang Hakka dikapalkan ke Bangka. Dan terus berlanjut hingga pertengahan tahun 1800. Rata-rata didatangkan dari Meixien. Mereka datang tanpa membawa istri. Ketika kontrak habis hanya ada dua pilihan, kembali ke Cina atau menetap di sekitar lokasi tambang. Bagi mereka yang tidak pulang membuka permukiman di Bangka, seperti di Belinyu.

Putusan untuk menetap diikuti dengan mengambil wanita setempat sebagai istri. Arsitektur permukiman mereka telah berbaur dengan budaya setempat. Namun yang masih terlihat menonjol adalah banyaknya tapekong (tempat pemujaan besar kecil dalam permukiman itu).

Berbagai perayaan besar dalam tradisi Cina masih mereka lakukan. Sembahyang Imlek masih dirayakan dengan ketat, seperti pantangan menyapu pada hari Imlek, saling memberi Angpau, perayaan Cengbeng atau Cingming (perayaan bersih kubur leluhur). Begitu pula dengan Cioko atau sembahyang rebut, masih dilakukan.

Yang tak kalah menarik, di Belinyu memiliki tradisi mengadakan pembakaran Taiseja. Dalam perayaan itu juga disertakan berbagai replika alat transportasi seperi kapal laut, kapal terbang, dan sebagainya. Menurut Sunlie, itu disediakan bagi arwah-arwah orang Cina yang hendak pulang ke negeri leluhur. Sayangnya, saya tidak datang pada saat perayaan itu berlangsung.

Namun, jalan-jalan melewati rumah-rumah kuno beraksitektur campuran Melayu-Cina-Belanda, pedagang buah-buahan, martabak Bangka, Sate Madura, Warung Pecel Lele, Bakso Solo, Ampera Padang, Otak-otak Bakar, Mpek-mpek, di bawah cahaya bulan malam itu menciptakan nuansa eksotis. Apalagi kelengangan memberikan kedamaian tersendiri. Jauh dari suasana kota metropolis yang hiruk-pikuk.

Kapitan Bongkap, Benteng Kutopanji, Kelenteng Liang San Phak

Merasakan malam pertama di kota Belinyu dengan listrik yang mati hingga subuh.

Karena listrik bermasalah. Sebagian jaringan Listrik dilayani PT Timah karena PLN kekurangan jaringan. PLTU Mantung dekat pelabuhan Belinyu, yang pernah dibilang terbesar di Asia Tenggara, sudah lama tidak berfungsi.

Pun PLTD di Baturusa, setali tiga uang. Sama saja.

PT Timah akhirnya menjadi pemasok listrik tanpa meteran, dengan sistem borongan. Tapi layanannya masih mengecewakan, listriknya sering padam.

“Bangun! Lihat ke bawah,” ujar Raudal membangunkan saya dari tidur.

Dari beranda lantai atas rumah Sunlie, saya melihat ke bawah. Ada bus-bus umum ngetem di depan rumah Sunlie. Bus-bus itu sangat antik. Bodinya terbuat dari kayu yang dilapisi seng. Ada tangga menuju bagasi berpagar besi di atap bus itu. Saya jadi ingat waktu kecil dulu, bus keluaran tahun 1970-an macam itu pernah saya tumpangi bersama Papa dari Padang ke Bukittingi pertengahan tahun 1980-an.

“Sungguh kota tua yang masih menyimpan masa lalunya,”

bisik saya pada pagi yang mulai menggeliat bersama pedagang-pedagang yang membuka pintu tokonya.

Pukul 10 pagi, saya beserta rombongan melancong ke luar kota dengan mobil rental kijang Inova.

Berdesakan memang, karena mobil itu dinaiki ramai-ramai Tapi suasana riang bikin yang sempit jadi lapang.

Menempuh jarak 2 kilometer dari pusat kota Belinyu, sampailah kami di

Benteng Kutopanji atau Benteng Bongkap,

terletak di kampung Kusam. Kekokohan sisa-sisa bangunan Benteng berwaran hitam keabuan—terbuat dari tanah liat yang dibakar—yang dibangun sekitar 1700 oleh Kapitan Bong atau Bong Khiung Fu , membuat saya terpesona. Meski yang saya jumpai sekarang adalah sisa-sisa dan kisah tentang Kapitan Bongkap, saudagar Cina yang kaya raya dan seorang pelarian politik.

Kami masuk ke dalam benteng, menemukan dua makam dengan arsitektur Cina di bagian paling belakang Benteng itu. Yang terbesar adalah makam Kapitan Bong bertahun 1700 dan dipugar pada tahun 1973, di belakangnya di atas tebing adalah makam pengawalnya. Namun itu adalah replika makam Kapitan Bong, tapi tetap dihormati oleh masyarakat setempat. Karena sebenarnya, Kapitan itu meninggal di Malaysia dan Benteng Kutopanji jatuh ke tangan perompak Moro, Filipina. Kemudian kami singgah ke Kelenteng Liang San Phak yang berdampingan dengan Benteng Kutopanji di sisi barat.

Kelenteng Liang San Phak, sebenarnya merupakan bagian dari Benteng Kutopanji yang juga didirikan oleh Kapitan Bong. Aroma Hio menyambut kami. Nur Zen Hae, Risa Syukria, Kedung Darma Romansah, dan Dahlia, mencoba bergantian mengadu peruntungan dan ramalan nasib dengan membakar Hio di depan patung Thai Pak Kong (Paman Besar) bernama Liang San Phak dan patung istrinya, yang dibawa langsung oleh Kapitan Bong dari negeri leluhurnya. Patung ini pada tanggal 15 bulan ketujuh penanggalan Cina, diarak mengelilingi kota Belinyu sebagai prosesi sembahyang rebut.

“Ini Klenteng Dewa Bumi atau Tapekong.

Menurut agama Konghucu, Klenteng Tapekong ini untuk tempat bersembahyang dan meminta agar rezeki banyak dan keselamatan,” ujar Fujianto alias Afu (35), salah seorang pengurus Klenteng.

Saya ingin bertanya lebih banyak lagi pada Afu yang ramah itu. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, perjalanan musti dilanjutkan.

Pha Kak Liang

Setelah melewati jalan tanah berdebu, dan sesekali bertemu pula dengan bekas tambang timah yang ditinggalkan, sampailah kami di gerbang utama Pha Kak Liang yang bernuansa Cina. Makin ke dalam, arsitektur Cina itu makin terasa. Seperti demarga, rumah peristirahatan, gazebo, semuanya berornamen Cina.
Pha Kak Liang adalah sebuah objek wisata tirta yang dibangun di atas bekas tambang timah (kolong). Terletak 10 Kilometer dari kota Belinyu.

Keheningan dan kedamaian begitu terasa di tepi telaga seluas 3,5 hektar yang ditumbuhi pohon cemara dan akasia. Pemiliknya tiga orang etnis Cina bersaudara, dan menjadikannya sebagai villa peristirahatan, yang tetap terbuka untuk umum.

Sayangnya, kurang terawatnya Pha Kak Liang membuat objek wisata degan telaga berisi ribuan ikan emas yang hidup bebas itu tampak sedikit suram.

Tapi bagi pecinta suasana sunyi, Pha Kak Liang memberikan itu. Dan semakin lama akan makin terasa. Namun, lagi-lagi perjalanan musti dilanjutkan.

Pantai Penyusuk

“Lihat pohon-pohon yang memeluk batu itu!” Kalimat Raudal yang puitis itu seperti memberi tahu bahwa kami telah memasuki gerbang pantai Penyusuk.

Ya, di kiri-kanan jalan memasuki area pantai tampak beberapa batu besar yang di sekilingnya di tumbuhi pohon-pohon.

Hamparan pantai yang landai dan ditumbuhi batu-batu besar menyambut kami. Beberapa perahu nelayan tertambat. Ombaknya tenang karena di depannya ada pulau cukup besar yang menjadi tameng. Sedang pulau kecil di sampingnya, berdiri menara suar yang tampak sebesar pohon nyiur melambai dari tempat saya berdiri.

Amboi! Negeri rayuan pulau kelapa, alangkah eloknya.Saya tidak sabaran ingin menceburkan diri. Mandi-mandi di laut jadi kanak-kanak ria kembali. Hilang sejenak segan pada usia.Namun Risa Syukria meminta saya untuk menemani dia mengambil air wudhu. Inilah perkaranya, ternyata kamar mandi umum dikunci. Penjaganya entah kemana.

Memang pantai Penyusuk sepi, jauh dari pedagang yang mata duitan. Akhirnya, kami menemukan berbungkus-bungkus air minum tergeletak ditinggalkan pemiliknya di atas sebuah batu besar.Jadilah Risa sholat dan saya pun mandi menceburkan diri ke laut menyusul yang lain, yang telah dulu bermain dengan air garam yang jinak itu. Tak lama berselang, Risa pun menyusul.

Cuma Kedung Darma Romansah dan Pak sopir yang tidak mau membasahi tubuhnya dengan air laut di pantai yang tenang itu. Entah kenapa. Setelah puas mandi-mandi. Main pasir pantai yang putih. Duduk-duduk dari satu batu ke lain batu. Rombongan sastrawan itu memutuskan untuk pulang.


Matahari sudah mulai mendekati ubun-ubun laut, beberapa jam lagi bakal angslup. Cuaca cerah. Tentu saja sunset akan terlihat terlihat sempurna di pantai barat ini. Namun apa hendak dikata, pertemuan matahari dan laut yang menciptakan cahaya emas itu, tak bisa saya saksikan.

Kami pun pulang dengan tubuh yang belum dibilas dari air laut karena penjaga kamar mandi umum itu tidak juga datang.

Sesampai di jalan Depati Amir, saya dan Risa Syukria yang juga reporter TV Siak, memutuskan turun dari mobil. Kami ingin berjalan kaki berdua menuju rumah Sunlie di jalan Sriwijaya yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat kami turun. Sedang yang lain terus pulang dengan mobil.

Kami turun dari mobil itu bukan karena ngambek, tapi ingin melihat lebih dekat rumah-rumah arsitektur Belanda yang dihuni pegawai timah di bawah gelimang cahaya senja. Ya, sepanjang

jalan Depati Amir itu berjajar bangunan-bangunan lama.

Sayang sebagian sudah tidak terawat lagi. Padahal bangunan-bangunan itu merupakan jejak langkah dari perjalanan kota timah itu.

Menurut Ibrahim (52), salah seorang karyawan pertambangan timah yang kami temui di salah satu rumah kuno itu, dulunya rumah-rumah di kawasan jalan Depati Amir itu adalah kawasan elit yang ditempati oleh pegawai teras atas pertambangan timah, dibangun pada tahun 1928.

Sejak menipisnya cadangan timah di Belinyu, rumah-rumah itu dihuni campur aduk antara karyawan biasa dan pegawai menengah. Bahkan sebagian rumah tidak dihuni lagi dalam kondisi yang mengenaskan, pintu dan jendela yang copot, serta dindingnya kumuh penuh coretan.

“Kota yang aneh. Tidak seperti kota-kota lain yang pernah saya datangi. Selama di sini, belum pernah saya lihat ada ABG nongkrong bersama menghabiskan petang. Bagaimana ya orang-orang hidup dalam kelengangan ini?” ucap Risa, dara rancak asal Minang ini, di jalan menuju ke rumah Sunlie—selepas jalan Depati Amir.

“Kota ini membuat Ngai Oi Ngi!” ujar saya memakai sekerat bahasa Hakka yang saya pelajari dari Sunlie.

“Apa itu Ngai Oi Ngi?” tanya Risa.

“Aku Mencintaimu!”

 

Coastal Tourism in Bangka

Matras Beach
The beach is located in Matras Village, Sinar Jaya Urban Village of Sungailiat District, or at the northern east area of Bangka Island. The beach has sloppy beach with white sand beautiful panorama. The beach spand 3 km long and 20-30 m wide. The beach has palm plant background and natural river flow generally called as Heaven’s Beach and is the most visited beach in Bangka Regency.

Tanjung Pesona Beach

Located in Rambak Village, Sungailiat District about 9 km from the city of Sungailiat. The beach is located in between Teluk Uber Beach and Tikus Beach. This beach has open sea panorama over the bay and has also been completed with tourism facilities including 3 stars rated hotel.

Parai Beach Resort

The beach is located in Matras Village , Sinar Jaya Urban Village of Sungailiat District. This beach has been completed with various tourism facilities, including four stars rated hotels and other leisure facilities.

Batu Bedaun Beach

Located in Kampung Bukit Kuala, Sinar Jaya Urban Village of Sungailiat district. This beach is quite unique, situated side by side with Parai Tenggiri Beach marked with a tree grows out of rocks..

Rebo Beach

Some beautiful hills make some tourist from other side come to this beach.

Tikus Beach

Tikus beach is located in Rebo Village, Kenanga Urban Village, Sungailiat District. Tikus beach still preserve its naturality and much visited by tourism. The coast is decorated with smooth white sandand is indeed very attractive for tourist enjoy.

Teluk Uber Beach

Located in Rambak Village, Srimenanti Urban Village of Sungailiat District. The area of this beach reaches 25 ha with beautiful panorama and white sand equipped with hotel facilities.

Romodong Beach

The location is in Belinyu area , north Bangka 77 km from Sungailiat. In this beach the tourists can see a sunset fenomenal. Because this location is face to west. All beach have 4 km distance. If we go to this beach we can see white and soft sand here. this beach have a pure water like crystal.

Penyusuk Beach

The natural and sloppy beach is marked by the clarity of its water surrounded by exotic isles where sea-turtle lays its eggs. The beach is located in Bukit Ketok Village, Belinyu district, about 77 km from Sungailiat

Air Anyir Beach

This sloppy beach decorated with unique rock formation is the center Rebo Kasan Ritual, located in Air Anyir Village, Merawang District about 15 km from Sungailiat.

the end @ copyright Dr Iwan 2016

KOLEKSI SEJARH INDONESIA AWAL ABAD KE DUAPULUH

INI HANYA  CONTOH

THIS IS ONLY SAMPLE  OF CD-ROM

IDNONESIA EARLY 2Oth CENTURY  HISTORY COLLECTIONS

WITHOUR ILUSTRATIONS

THE COMPLETE CD-ROM Exist

Price Depand On Auctions, for the winner were the the highest bidding , this  only the cdonations for the Development of Our Anecstor Museum “WAN LI’

CD-Rom tersedia hanya sepuluh item saja, harga tergantung dari tawaran anda  dalm lelang ini ,yang paling tinggi akan diberikan hadiah sebuah CD-ROm, yang dipilih dari nomor satu sampai sembilan saja, karena di Museum akan ada satu CD-Rom untuk dapat dilihatdi Museum Leluhur Kita “WANLI” yang segera akan dibukauntuk Kleuarga besa dan teman-teman dekat termasuk yang memberikan donasi untuk pembangunan Museum tersbeut

uNTUK ITU TAWARAN DONSI SILAHKAN MENGHUBUNGGI EMAIL

iwansuwandy@gmail.com

TERIMA kAISH.

DALAM  CONTOH  ATAU sampel , ONLY  SOME PART ONLY  HANYA  BEBERAPA CUPLIKAN SAJA., belum diedit,sengaja supay agar tidak direpro. Yng asli sudah diedit.

TERIMA kISH ATAS DUKUNGN ANDA SEMUA,TERUTAMA KEPADA KLEUARGA BESAR Suwandy dan Widjaja .

SILAHKAN LIHAT BEBERAPA CONTOH INFORMASI YANG SANGAT AMIZING AND WOW, DISUSUN SECARA KRONLOGI (ARRAGED IN CHRONOLOGY)

I  HOPE DONNOT FORGET TO COMMENT AND CORRECTON OR SUGGESTION FOR  MORE EDITED

SINCCERELY

DR IWAN SUWANDY,mha

CONSULTAN iNFORMATION

1900-1914

Koleksi Sejarah Indonesia

Awal Abad ke Dua Puluh

Bagian Pertama

1900-1914

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-Rom

Khusus Untuk Kolektor Senior Indonesia

Hak Cipta @ Dr Iwan 2016

 

KATA PENGANTAR

Saya baru saja menemukan kembali sebuah buku yang sangat bagus dan informatif tentang perjuangan Rakyat Indonesia pada awal abad kedua puluh untuk membangun Republik Indonesia Yang Merdeka.

Buku ini karangan Robert van Niel berjudul Munculnya Elit Moderen Indonesia yang diterjemahkan Ny Zahara Deliar Noer disunting oleh Bur Rasuanto terbitan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial 1961, ini kopi aslinya dealam bentuk ketikan, mungkin atas berbagai alasan Politik dan situasi yang terjadi di Indonesia

Baru setelah lima puluh tahun yaitu pada tahun 2008 buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia . yaitu pada era Reformasi dimana kebebasan pers dan komunikasi serta penerbitan buku telah ada.

Saja juga pada bulan September 20`15, menemukan beberapa buku lama sehingga info yang ada lebih lengkap dan buku itu adalah  Buku Riwayat Hidup

Prof Dr Bahder Djohan yang berasal dari Minangkabau ,dan sempat bersahabat dengan DRs Moh Hatta (Bahder,) , ,

Mr. mas sewaka 1947-1948, 1950-1952.jpg

Riwayat Hidup Sawaka, mantan Gubernur Militer Jawa Barat (Sawaka,1955),

R.OtoIskandar Dinata oleh Dra Sri Sutjitiningsih,Depdkbud,1980/1981(Sutjianingsih,1981),

Taman Siswa Dalam Arsip-Arsip Hindia Belandaartikel majalah Batu Djaja ,Gramedia, Jakarta ,1970,oleh abdurrachan Surjowihardjo(taman siswa,1970), dan Gadis Kampoeng Jang Bersemangat! Oleh Abdoella Habis,Penerbit M.Djoni marhaenist,Medan (Abdoella,1936) dan lain-lainnya lagi. Saya harap hak cipta buu inisudah liwat lima puluh tahun, walaupun negitu kepada para pengarang tersebut mohon izin untuk mengambil beberapa info dari buku anda,jika dalam satu bulan sejak buku ini saya upload di web saya tidak ada reaksi akan saya anggap sudah setuju begitu juga dengan pengareang lainnya. Untuk itu diucapkan ribuan terima kasih.

Untuk itu kita pantas mengucapkan ribuan terima kasih kepada para pemimpin-pemimpin dan para pahlawan kita atas jasanya mereka telah mengantar kita kepada masyarakat Indonesia yang elit, modern dan lebih sejahtera.

Buku tersebut diatas terdiri dari Empat Bab:

Bab pertama membahas mengenai situasi orang Oropa ,

Orang Tionghoa

dan Arab serta Orang Indonesia pada kurun waktu 1900-1927.

Bab Kedua membahas perubahan yang terjadi pada tahun 1900-1914 yang membahas tentang Politik Etis Kolonial dalam teori dan praktek, Perubahan sosial di Indonesia dan perubahan serta akibat-akibatnya.

Bab Ketiga membahas akselerasi yang meraja lela dan pertumbuhan yang mantap pada tahun 1914-1920 meliputi situasi perang dunia pertama dan pertumbuhan Sarekat Islam , Organisasi-orgnissi Indonesia yang lain , dan kebijaksanaan politik dan pemerintah Hindia Belanda.

Bab keempat   membahas sinkretisme dan konservatisme tahun 1920-1927, me,liputi situasi sikap Pemerintah Hindia belanda yang berubah, perubahan dan perkiembangan di Indonesia , serta kebijakan politik baru Kolonial.

Untuk melengkapi informasi situasi Indonesia menjelang perang dunia kedua , saya telah menemukan dua buah buku yang sangat istimewa karangan proklamator kemerdekaan Indonesia Bung Karno yang berjudul Dibawah Lindungan Bendera Revolusi, yang membahas situasi para elit dan perkembangan politik di Indonesia mulai tahun 1928 sampai 1941.

Sebaiknya generasi Penerus juga membaca buku sejarah Indoensia secara kronologi mulai dari sebelum masehi sampai abad ke Sembilan belas , agar memahami apa yang terjadi dan siapa leluhur kita baik yang berjasa maupun yang tida agar diketahui mana yang benar dan mana yang salah agar dapat dijadikan pedoman dalam menyussun strategi untuk menghadapi masa yang akan datang.

Setelah membaca buku ini tentunya pembaca akan penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, untuk itu saya telah menulis buku elektronik dalam CD-Rom mengenai Koleksi Sejarah pendudukan jepang Di inondeisa 1942-1945, Koleksi Sejarah Revolusi dan Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1950, selanjutnya Koleksi sejarah Era Bung Karno 1951-1965 yang meliputi era sebelum PRRI 1951-1957, Masa PRRI 1958-1960, Setelah PRRI 1960-1967, kemudian dilanjuti dengan Koleksi sejarah era Pak Harto 1965-1998 , Koleksi sejarah Era Reformasi 1998-2010.

Koleksi sejarah ini sangat penting untuk dibaca oleh generasi penerus, tetapi illustrasinya sangat sedikit sehingga tidak akan dibaca oleh generasi penerus,oleh karena itu saya menambahkan ilustrasi dan koleksi yang terkait seperti koleksi sejarah pos,koin,uang kertas,foto,dokumen dan sebagainya sehingga menjadi suatu buku yang menarik.

dst…dst

Alam terkembang Jadi Guru , belajarlah dari sejarah, jangan diulang hal-hal yang jelek dan hal yang baik dijadikan pedoman dalam menyusun strategi masa depan.

Selanjutnya dan merupakan buku terakhir saya adalah Ramalan Situasi Indonesia Di masa mendatang dngan Judul Ramalan Dr Iwan Tentang

“Munculnya Banteng Indonesia Di Akhir Abad Kedua Puluh Satu.”

dst…dst

 

 

menolong saya dalm menjalani hidup didunia ini, untuk itu saya ucapak ribuan terima kasih, serta saya panjatkan doa kepada Yang Mahakuasa agar merka memperoleh imbalan setimpal dengan pahala yang telah mereka kepada kami sekeluarga dan kepada seluruh umat manusia khususnya masyarakat indoensia yang saya cintai sepenuh hati.

dst///dst…

Buku ini saya tulis untuk keluarga saya,isteri Lily Widjaja,putra Albert dan Anton serta isteri dan cucu saya tercinta Cessa,Celine dan Antoni .

Saya harap para pembaca berkenan menghormati hak cipta saya dengan tidak merepro buku ini dengan berbagai cara dan teknologi tanpa meminta izin dari saya sebagai pemengang hak cipta.

Jakarta , September 2015

Dr Iwan Suwandy, MHA

Pada Bulan September 2015

Saya merasa sangat gembira karena tanpa terasa, artikel yang saya upload di Web Blog hhtp//www.Driwancybermuseum.wordpress.com tahun ditampilkan oleh Facebook Google di share oleh , terima kasih temanku anda telah membuat hati kami sekeluarga senang, atas berkah doa kepada Maria dan Jesus sampai hari ini walaupun sudah berusia 71 tahun masih mampu menulis artikel dan buku elektronik di Dunia Maya.

Yang mengupload artikel ini rupanya protes karena tak dapat ditampilkan dikomputer tanpa memayar fee, memang saya mulai tahun ini memprotek artikel di web blog saya karena selain banyak yang merepro tanpa izin ,juga mengunaknnya untuk kepentingan menipu orang lain serta saya membutuhkan dana untuk mengembangkan museum kecil yang sduah ada saat ini, untuk itu kembali bagi pembaca yang meembaca buku ini silahkan mengubunggi saya liwat email iwansuwandy@gmail.com untuk memberikan donasi agar web blog saya tidak saya protek dan buat tol untuk bayar fee untuk dapat menampilkannya dilayar computer anda untuk selama-lamanya.

Untuk memreka ynag telah memberikan donasi baik liwat transfer melalui ATM Bank BCA , maupun menirikan dalam sampul tertutup secara tercatat kelamat saya dengan pernagko sheet souvenir ,jumlah donasi terserah nada ,uang lamapun boleh juga sebagai donasi untuk membantu mengembangkan koleksi Uang lama yang ada juga dalam museum ini,prangko lama juga boleh tetapi nominalnya mimal satu dolar atau satu poun mint atau used.

(Komentar Dr Iwan)

 

1897

Raden Oto Iskandar di Nata, juga dieja Iskandardinata, tepat dijuluki Otista (31 Maret 1897 – 20 Desember 1945) adalah seorang pejuang untuk pembebasan Indonesia dari kekuasaan Belanda. Dia dianggap sebagai pahlawan nasional. Untuk waktu yang singkat,

ia Menteri Negara, sebelum ia diculik dan dibunuh di Tangerang, Banten.

 baca info terkait Otto dibawah ini

Lahir dari keturunan bangsawan yang di turunkan dari ayahnya,Raden Otto Iskandardinata atau biasa di sebut Oto merupakan anak ke 3 dari 9 bersaudara, gemar bermain Bola serta menari Sunda juga pandai menabuh gamelan.
Menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung dan melanjutkan pendidikan di Kweek-school Onder-bouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) yang merupakan sekolah berasrama di Bandung. 

Image result for Kweek-school Onder-bouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) BANDOENGA

Dari sinilah terlihat sifat dan kepintaran yg menonjol dari oto.suka berontak, tetapi selalu menunjukkan prestasinya.setelah lulus,

Image result for Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo,

Oto melanjutkan di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah.semakin matang pula pribadi Oto, dengan memiliki rasa keingin tahuan tentang bacaan koran De Expres yang isinya kebanyakan tentang kecaman kecaman terhadap Belanda,munculah sikap berontak Oto untuk memperjuangkan hak Bangsanya sendiri. Setelah lulus dari sekolah guru, Oto mendedikasikan diri sebagai Guru,yang mana memang menjadi cita cita Oto sejak kecil,dengan begitu,Oto bisa mewujudkan Bangsanya menjadi Bangsa yang berilmu dan bisa melestarikan tanah  airnya dengan baik.

Pernah masuk dalam daftar hitam dan membuat khawatir pemerintah Hindia Belanda, salah satunya dikarenakan nyali Oto dalam membongkar kasus bendungan kemuning yang bisa menyelamatkan Rakyat Indonesia dari penipuan yang di lakukan pengusaha Belanda. Tak bisa di pungkiri,Oto lah orang yang pertama mempopulerkan kata Indonesia Merdeka dan kemudian disingkat menjadi Merdeka karena kegigihan Oto dalam memperjuangkan Hak rakyatnya.

Menikah dengan gadis bernama Soekirah putri Asisten Wedana di Banjarnegara yang 10 tahun lebih muda darinya dan dikaruniai 12 Orang anak.

Pada tanggal 20 Desember 1945 adalah hari di tetapkannya sebagai hari wafatnya Oto akibat dari korban “Laskar Hitam” di Pantai Mauk, Tangerang, dan tidak pernah ditemukan jenazahnya. setelah kematiannya,

info yang  dari sumber lain senagai berikut:

Otto Iskandar di Nata merupakan sosok pejuang yang pantang menyerah, berjiwa nasionalis, dan antipenjajah. Tetapi akhir hidupnya justru terbunuh oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai RI. Dalam menjalankan tugasnya diperkirakan menimbulkan ketidakpuasan pihak lain. Hingga akhirnya menjadi korban penculikan pada 10 Desember 1945 oleh para pemuda yang mengaku dari Laskar Hitam, dan dibunuh pada 20 Desember 1945 di daerah Mauk, Tangerang.

Sumber: majalah Cupumanik dan sumber-sumber lainnya

Komentar Dr Iwan

Info ini keliru, Otto tidak meninggal ia sempat melarikan diri ke Lua negeri dan berada di bremen Jerman sampai tahun 1967. sesuai dengan kartupos yang ia kirimkan kepada isteri Prof DR Husen Djajadinigrat yang tuinggal di Jlan Sumatera Jakrta.

Hapap para ahli sejarah meluruskan dokumen sejarah terkait Pahlawan Naisonal indonesia, yang ternyata bersahabat dnegan keluarga Prof DR Husein Djajdiningrat yang pro NICA Belanda,sesuai dengan informasi dalam konperensi Meja Bundar , O

Image result for prof DR Husein Djajadiningrat

Prof Husein Djajdiningrat duduk disamping pihat Belanda silahkn bacainfo dibawh ini

Tahun 1935 dan 1941 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia.

tahun 1924 ia diangkat diangkat menjadi gurubesar di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta) dan memberikan kuliah tentang Hukum Islam, bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda. Tahun 1935 dan 1941 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Bertahun-tahun pernah menjadi konservator naskah (manuskrip) di Bataviaasch Genootschap can Kunsten en Wetenschappen(Perkmpulan Masyarakat Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan). Pada mulanya sebagai anggota diréksi, kemuadian dari tahun 1936 menjadi ketuanya.

Tahun 1940 ia menjabat sebagai Direktur Pengajaran Agama. Pada zaman Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Agama. Tahun 1948 diangkat menjadi Mentri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan pada masa pemerintahan presiden Sukarno. Tahun 1952 menjadi gurubesar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1957 menjadi pemimpin umum Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB), merangkap sebagai anggota Komisi Istilah di lembaga tersebut

Penghargaan

  • Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada dedikasi Hoesein Djajadiningrat. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara. Jakarta, 13 Agustus 2015.[4]

sumber wiki

rofessor Dr. Pangeran Ario Hoesein Djajadiningrat, 8 December 1886-12 November 1960

 

Hanya segelintir orang bumiputra yang bisa menikmati pendidikan ala barat di awal politk etis. Hal inilah yang membuat Husein Djajadiningrat bisa menjadi Doktor Indologi Pribumi Pertama

Max Havelaar baru saja meneriakan kekejaman tanam paksa di Jawa. Orang-orang dinegeri Belanda-pun tersentak, termasuk kaum liberal Belanda, ramai-ramai mengutuki sistem buatan van den Bosch itu. Muncullah van Deventer, sebuah perubahan tingkat elit feodal tanah jajahan mulai bergulir, sekolah model barat mulai dibuka untuk bumiputra kelas atas. Sekolah yang akan membawa mereka ke barat.

Tersebutlah seorang bupati Banten, kemajuan barat ingin pula diraihnya lewat anak-anaknya. Bupati itu tidak lewatkan kesempatan dari pemerintah kolonial itu. Sepertihalnya bupati Jepara diakhir abad XIX, ayah Kartini dan Sosrokartono, menyekolahkannya anak-anaknya ke sekolah model Belanda. Kedudukan bupati adalah tiket bagi anak-anak untuk dapat sekolah dasar di Europe Lager School selama tujuh tahun, lalu melanjutkan selama tiga atau lima tahun di sekolah menengah, Hogare Burger School (HBS).

 

Hoesein Djajadiningrat salah satu anak bupati itu. Terlahir di Banten pada 8 Desember 1886.Nama lengkapnya adalah Pangeran Aria Husein Djajadiningrat. Lahir di Kramat Waru, sebuah distrik diantara Serang dengan Cilegon Banten. Beruntung ayahnya berpandangan maju hingga bisa merasalkan pendidikan modern. Husein salah satu anak bupati Banten yang mengecap pendidikan barat sampai tingkat Hogare Burger Schoool—sekolah menengah lima tahun dan bila lulus bisa meneruskan ke universitas. Model sekolah sekolah yang hanya bisa dinikamti segelintir anak pembesar pribumi sampai awal abad XX. Sekolah kalangan terbatas itu juga dinikmati saudara-saudara Husein, Ahmad dan Hasan.

Kakak Husein, Pangeran Ahmad Djajadiningrat kemudian menjadi seorang bupati di Serang dan Hasan menjadi tokoh Sarekat Islam berpengaruh di Jawa Barat diawal pergerakan nasional—sebelum kahirnya meninggal di tahun 1920. Ahmad dan Husein menjadi murid Snouck Hurgronje—sang etisi paling berpengaruh Hindia Belanda diawal abad XX. Setidaknya ada enam orang—termasuk Husein—anak bupati Serang yang lulus HBS. Diantara semua saudaranya itu, Husein-lah yang berhasil mencapai tingkat doktor di Leiden, Belanda.

Keluarga ini berusaha menyekolahkan anaknya di sekolah Belanda yang mayoritas siswanya adalah orang-orang Belanda. Kakak Husein, Ahmad bahkan pernah menggunakan nama Willem van Banten agar bisa memasuki HBS, ketika kesempatan orang pribumi untuk bersekolah disitu belum terbuka dengan baik.

Indolog Pribumi

Sekitar pergantian abad XIX ke XX, Indonesia, kala itu masih bernama Hindia Belanda masih berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Segala sesuatu di tanah ini nyaris hanya diketahui oleh orang-orang non pribumi. Akademisi Belanda berdatangan, dalam jumlah kecil, ke Hindia Belanda. Mereka menggali dan mempelajari banyak hal mengenai tanah Hindia. Mereka, akademisi barat itu, meramu apa yang mereka pelajari dari tanah Hindia menjadi apa yang disebut Indologi, sebuah disiplin ilmu wajib bagi calon pegawai kolonial kulit putih yang ingin jadi Meneer di tanah Hindia.

Tercatat nama besar Snouck Hurgronje diantara deretan akademisi Belanda itu. Orang yang berjasa besar bagi perkembangan kolonialisasi Belanda di Hindia. Jiwa akademisi Snouck ikut pula menghancurkan eksistensi sebagai sebuah negeri merdeka , Aceh yang terus bergolak. Snouck adalah penasehat pemerintah kolonial untuk urusan pribumi Hindia. Snouck cukup akrab dengan aristokrat lokal macam Bupati Djajadiningrat. Semua anak-anak bupati mengenalnya, apalagi Husein.

Atas anjuran Snouck, selulusnya dari HBS Husein berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pelajarannya. Awalnya belajar bahasa latin dan Yunani Kuno antara tahun 1904-1905 di sebuah Gymnasium kota Leiden, lalu ikut ujian masuk Universitas Leiden. Husein lulus diterima dan menjadi mahasiswa calon sarjana pada jurusan bahasa dan sastra kepulauan Indonesia. Husein tidak berhenti pada tingkatan sarjana namun terus sampai tingkat Doktor. Husein merasa tertarik dengan ilmu sejarah, dia berniat melihat tanah Hindia, yang juga tanah kelahirannya dengan kacamata historis.

Minat Husein pada Sejarah Aceh berkembanag ketika ikut serta dalam lomba menulis tentang kesultanan Aceh. Kesultanan yang pernah ikut dihajar oleh Snouck Hurgronje lewat nasehatnya pada pemerintah kolonial. Sebelum merampungkan disertasinya, Hoesein pernah mengikuti sayembara menulis pada tahun 1908 di Universitas Leiden. Tulisannya berjudul Critisch Overzicht van de Maleische Werken Vervatte Gegevens van het Sultanaat van Aceh, dimuat di BKI deel 65 dan terbit tahun 1911.

Sebelum ikut menulis itu, Husein terlebih dahulu meneliti naskah-naskah Melayu. Usaha yang tidak sia-sia, setidaknya bagi bumiputra macam Husein budaya Melayu tidak jauh dari dirinya sebagai orang Banten penganut Islam. Husein akhirnya menang.

Atas kemenangan itu Husein mendapatkan hadiah Medali. Ternyata orang Asia tidaklah terbelakang dan Husein bukanlah Sickman Asia. Setelah kemenangan itu Husein terjun semakin dalam menggali sejarah dan kebudayaan Hindia, khususnya Aceh selama beberapa tahun sebelum beralih pada daerah lainnya.

Sejak Mei 1914 sampai April 1915, Husein mulai mempelajari lebih dalam bahasa Aceh untuk membuat kamus bahasa Aceh-Belanda. Hasil kerjanya berupa Atjeh-Nederlandsche Wordenboek.Kamus itu lalu diterbitkan tahun 1934. Kamus ini dinilai sebagai kamus bahasa daerah terlengkap selama beberapa dekade. Tida heran jika Snouck Hurgronje kagum pada Husein. Bahkan dianggap memiliki reputasinya sama hebatnya sebagai Indolog dengan sang guru.

Kehidupan mahasiswa Husein ditutup dengan disertasinya mengenai sejarah Banten, tanah tempat dia lahir, tanah dimana keluarganya dijunjung. Husein sendiri, dalam sejarah pendidikan modern Indonesia, adalah orang pertama yang mempertahankan disertasi-nya di Universitas Leiden, tahun 1913, dengan judul: Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis Tentang Sejarah Banten). Karena disertasinya itu, Hoesein di anggap sebagai pengganti Brandes, orang Belanda yang ahli keperubukalaan Jawa.

Prof. H. Kern, salah seorang kolega Snouck Hurgronje, sangat memuji disertasi Husein itu. Terlihat dalam resensinya pada majalah De Gids di negeri Belanda. Kepada Husein, Kern sangat berharap agar ada lagi karya-karya Husein Djajadingrat yang lainnya setelah disertasinya itu.

Disertasi itu lalu diterbitkan oleh Jon Enschede tahun 1913 di Haarlem. Pada halaman 201-212, Hoesein mengatakan bahwa bagi orang Jawa ramalan atau mimpi menandakan sesuatu atau memberikan suatu kesan yang mendalam. Bertindak sebagai promoter Hoesein, adalah Snouck Horgronje.

Jadilah Husein seorang Indolog tingkat dokter pertama bagi orang pribumi. Tidak hanya doktor Indologi pertama, tapi juga Doktor pribumi pertama lulusan Universitas Leiden yang menyimpan banyak bahan mengenai Indonesia itu. Karya tulis Husein termasuk disertasinya adalah sumbangan orang pribumi mengenai kajian tentang Hindia yang lebih didominasi oleh orang-orang Belanda. Husein telah mensejajarkan dirinya dengan mereka, orang-orang Belanda orientalis itu.

Karya-karya Husein sebagai Indolog antara lain; De Magische Achtergrond van de Maleische Pantoen yang merupakan pidato ilmiah pada tanggal 28 Oktober 1933, saat acara ulang tahun Recht Hoge School ke 9. karangan Husein tentang Islam adalah De Mohammedaansche Wet en het Geetesleven der Indonesische Mohammedaansche Wet en het Geetesleven der Indonesische Mohammedaanen, juga pidato ilmiah Husein. Pada perguruan tinggi yang sama pada tahun 1925, ketika perguruan tinggi itu baru setahun. Semuanya dihasilkan oleh Husein ketika dia sudah berada di Indonesia.

Ada sisi baik dari suksesnya studi Husein mengenai Indologi di Leiden dengan predikat camme laude. Pemuda Indonesia ternyata bisa meraih prestasi akademik. Gagasan untuk mendidik kader pribumi, macam Husein Djajadiningrat, sekelompok kader yang akan membantu pemerintah kolonial menjalankan pemerintahan—dalam posisi terbatas—di Hindia Belanda. Gagasan itu kemudian diterima dan dijalankan oleh pemerintah kolonial, walau hanya sampai tahun 1931 saja.

Kantoor voor Inlandsche Zaken

 

Husein akhirnya kembali ke Indonesia, setelah lebih dari sepuluh tahun di negeri Belanda belajar tentang tanahnya, Hindia, tanah yang asing bagi anak-anaknya. Mungkin tidak bagi Husein Djajadiningrat. Selama di Indonesia , Husein tetap bergelut di dunia ilmu pengetahuan. Setamat dari Leiden, awalnya Husein bekerja sebagai peneliti bahasa-bahasa di Indonesia pada Kantoor voor Inlandsche Zaken (kantor Urusan Bumiputra) sampai tahun 1918. Sejak 19 Mei 1920 sampai dengan tahun 1925, Husein bekerja sebagai Adjunct Adviseur voor Inlandsche Zaken (Ajun/wakil penasehat urusan pribumi Hindia Belanda) pada kantor yang sama.

 

Kantor tempat Husein bekerja, Kantoor voor Inlandsche Zaken, berdiri sejak tahun 1899 oleh Snouck Hurgronje, pelindung Husein juga. Kantor ini diisi oleh banyak orang antara lain ahli agama Islam, bahasa sastra maupun bahasa. Beberapa orang Belanda terkemuka yang pernah duduk dikator ini adalah G.A.J. Hazeu, D.A. Rinkes, R.A. Kern, E. Gobee, G.F. Pijper juga Charles van Der Plas.

Setelah Snouck Hurgronje kembali ke Belanda tahun 1906, ditunjuklah Hazeu sebagai pengganti untuk mengurusi permasalahan yang dihadapi pemerintah kolonial terhadap orang-orang pribumi. Hazeu dan beberapa orang lainnya adalah orang yang peduli dan sedang mengawasi pendidikan beberapa anak bumiputra, termasuk pada Alimin—salah satu anak angkat Hazeu yang belakangan menjadi tokoh PKI terkemuka di Indonesia.

Kegiatan Husein selain bekerja di Kantoor voor Inlandsche Zaken setelah kepulangannya dari Belanda juga bergerak dibidang jurnalistik dan pendidikan mengenai kebudayaan Jawa. Tahun 1919 Husein mendirikan Java Institut dan menerbitkan majalah bulanan Djawa ditahun 1921. Husein menjadi redakturnya bersama J. Kats, Sam Koperberg, R. Ngabehi Poerbatjaraka dan J.W. Teiler. Tahun 1924, Husein diangkat sebagai guru besar di Recht Hoge School—Sekolah Tinggi Hukum—di Jakarta untuk mata kuliah bahasa Melayu dan hukum Islam. Setahun setelah menjadi pegawai di kantor itu (1925), Husein tidak lagi menjabat sebagai Adjunct Adviseur voor Inlandsche Zaken.

Karir Husein di Kantoor voor Inlandsche Zaken terbilang baik, ada saja orang-orang Belanda yang selalu menaunginya, walau Snouck sudah pulang ke Belanda, sebut saja beberapa orang disekitar Kern—yang menjelang jabatannya sebagai kepala kantor itu pada tahun 1926 mengajukan Husein sebagai Adviseur voor Inlandsche Zaken. Orang-orang itu merasa, Kantoor voor Inlandsche Zaken—yang mengurusi urusan orang pribumi yang mayoritas Muslim—tidak pernah dipimpin oleh orang-orang Muslim. Menurut mereka, kantor itu haruslah dipimpin oleh orang Muslim uyang tentunya mengerti banyak mengenai Islam.

Kantoor voor Inlandsche Zaken pada dua dasawarsa pertama memainkan peranan yang cukup baik di 

Hindia Belanda. Dua dasawarsa itulah masa keemasan kantor itu. Setelahnya, kantor itu tidak lebih daripada sebagai tempat pengaduan saja. Parahnya, pegawai yang ada tidak memiliki keahlian untuk menanggapi pengaduan tersebut. Disisi lain Bousquet—orang diluar Kantoor voor Inlandsche Zaken—mengkritik bahwa Kantoor voor Inlandsche Zaken terlalu menitikberatkan pada masalah Islam semata. Karenanya, dalam sidang Volksraad, para adviseur-nya bahkan jugaKantoor voor Inlandsche Zaken sempat menjadi pembicaraan dalam sidang dewan rakyat yang nyaris tidak merakyat itu.

 

Dimata orang-orang Pribumi, Kantoor voor Inlandsche Zaken sering dianggap sebagai kantor mata-mata. Tuduhan itu berlebihan, seolah memposisikan Kantoor voor Inlandsche Zaken tidak ubahnya dengan Politieke Intellingen Dienst (PID)—polisi politik Belanda yang rajin mengawasi ruang gerak kaum pergerakan. Alasan tuduhan itu dikarenakan orang-orang dari Kantoor voor Inlandsche Zaken kerap hadir dalam pertemuan yang dihadiri orang-orang pergerakan, seperti hanya PID. Ditengah kritik dari berbagai pihak kantor ini mampu bertahan sejak dipimpin oleh Snouck Hurgronje sampai menyerahnya Hindia Belanda pada Tentara Pendudukan Jepang.

Husein Djajadiningrat Dengan Kaum Pergerakan

Sayang, Husein tidak bertahan lama di kantor itu. Dirinya hanya bisa menjadi wakil saja tanpa bisa menjadi penasehat pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Entah apa yang akan dilakukan oleh Husein jika dirinya menjadi penasehat. Apapun alasannya, pemerintah kolonial tidak menginginkan orang pribumi masuk terlalu dalam pada jajaran birokrasinya, kendati orang pribumi yang bersangkutan adalah orang kompeten mengenai masalah yang terjadi di tanah Hindia Belanda. Dimanapun kaum kolonialis sejati takut perubahan

Setelah menjadi tenaga pengajar yang cukup prestisius di RHS, Husein pernah menjabat ‘Ketua Panitia Perbaikan Peradilan Agama” sejak 1934. Hasil kerja Husein dan tim-nya adalah didirikannya ‘Mahkamah Tinggi Islam’ pada tahun 1937. Figur Husein kahirnya makin bersinar pada tahun 1935, Husein diangkat menjadi anggota Raad van Nederlandsche Indie (Dewan Hindia). Lima tahun kemudian, 1940, diangkat sebagai direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah. Tahun 1941 sampai dengan 1946, Husein diangkat lagi menjadi Raad van Nederlandsche Indie..  Tentunya jabatan itu hanya dipangku sampai 8 Maret 1942 karena Hindia Belanda menyerah tanpa syarat Jepang.

Husein selalu berusaha memperhatikan perkembangan pendidikan di Hindia Belanda. Dia pernah melaporkan diantara putra raja hanya Pengeran Hadiwidjojo-lah yang menaruh minat pada pengetahuan mutakhir dunia yang sedang berkembang.Pemuda pelajar dari Jong java pernah datang pada Husein, yang sudah menjadi doktor dalam bidang sastra timur dan Indologi, untuk meminta saran sebuah vandel. Posisinya sebagai direktur 

Departemen Pengajaran dan Ibadah diakhir kolonialisasi Hindia Belanda, memberinya kesempatan lebih untuk itu, kendati dalam waktu singkat dan hasil yang tidak terlalu signifikan.

Husein digolongkan sebagai intelektual terkemuka diakhir kolonialisasi Belanda di Indonesia.bersama Thamrin dan Koesoemo Oetojo, Husein membuat rencana tentang penggunaan kredit dari Bank-bank Jepang untuk membangun perusahaan dagang di Jepang bagi Importir dari Indonesia.Peran Husein Djajadingrat dalam pergerakan nyaris tidak terlihat, termasuk dalam kaum koperatif sendiri. Posisinya sebagai birokrat sebenarnya pernah menyelamtkan kaum pergerakan, seperti perlindungannya pada Douwes Dekker yang selalu dicurigai berskongkol dengan Jepang oleh aparat hukum kolonial.

Douwes Dekker pernah diminta menyampaikan pada Husein sebagai direktur Pendidikan untuk mengadakan survey Ekonomi untuk kepentingan Jepang diakhir kekuasaan Belanda.Rupanya Dekker selamt karena Husein Djajadiningrat-lah yang memberikan izin survey itu. Husein hadir saat Thamrin dimakamkan—setelah kematian Thamrin sebagai tahanan rumah saat Thamrin masih menjadi anggota Volksraad. Ini bukti bahwa Husein memiliki keterkaitan dengan pergerakan nasional, terlepas dari besar kecilnya peran dia dalam pergerakan.

Diposkan oleh Princess Dewi Mutiara Intan Berlian Pakidulan di 21.46 

Image result for peserta konferensi Meja Bundar tahun 1949

Setelah bangsa Indonesia berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri dalam Konferensi Inter-Indonesia maka bangsa Indonesia secara keseluruhan menghadapiKonferensi Meja Bundar, Sementara itu pada hulan Agustus 1949, Presiden Soekamo sebagai Panglima Tertinggi di satu pihak dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda di lain pihak memgumumkan perintah penghentian tembak-menembak. Perintah itu beriaku mulai tanggal 11 Agustus 1949 untuk Jawa dan 15 Agustus 1949 untuk Sumatra. Pada tanggal 11 Agustus 1949, dibentuk delegasi Republik Endonesia untuk menghadapi Konferensi Meja Bundar.

Image result for peserta konferensi meja bundar den haag 1949

Delegasi itu terdiri dari Drs. Hatta (ketua), Nir. Moh. Roem, Prof Dr. Mr. Supomo, Dr. J. Leitnena„ Mr. Ali Sastroamicijojo, Ir. Djuanda, Dr. Sukiman, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Kolonel T.B. Simatupang dan Mr. Muwardi.

Image result for peserta konferensi meja bundar den haag 1949

Delegasi BF0 dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak.

Image result for peserta konferensi meja bundar den haag 1949anggal 23 Agustus 1949 Konferensi Meja Bundar dimulai di Den Haag, Belanda. Konferensi ini berlangsung hingga tanggal 2 November 1949 dengan hasil sebagai berikut.

  1. Belanda mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. 
  2. Status Karesidenan Irian Barat diselesaikan dalam waktu setahun, sesudah pengakuan kedaulatan. 
  3. Akan dibentuk Uni Indonesia-Belanda berdasarkan kerja sama sukarela dan sederajat. 
  4. Republik Indonesia Serikat mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak-hak konsesi dan izin baru untuk perusahaan-perusahaan Belanda. 
  5. Republik indonesia Serikat harus membayar semua utang Belanda yang ada sejak tahun 1942.

Sementara itu, pada tanggal 29 Oktober 1949 dilakukan penandatanganan bersama piagam persetujuan Konstitusi Republik Indonesia Serikat antara Republik Indonesia dengan BFO. Di samping itu, hasil keputusan Konferensi Meja Bundar diajukan kepada Komite Nasional indonesia Pusat (KNIP). Selanjutnya, KNIP bersidang dari tanggal 6-14 Desember 1949 untuk membahas hasil KMB. Pembahasan hasil keputusan KMB oleh KNIP dilakukan dengan cara pemungutan suara, hasil yang dicapainya adalah 226 suara setuju, 62 suara menolak, dan 31 suara meninggaikan sidang.

Dengan demikian, KNIP menerima KMB. Pada tanagal 15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS dengan caIon tunggal Ir. Soekarno dan terpilih sebagai presiden. Kemudian dilantik dan diambil sumpahnya pada tanggal 17 Desember 1949. Kabinet RIS di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta. Drs. Moh. Hatta dilantik sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Desember 1949. Selanjutnya pada tanggal 23 Desember 1949 delegasi RIS berangkat ke negeri Belanda untuk menandatangani akta penyerahan kedaulatan. Pada tanggal 27 Desember 1949, baik di Indonesia maupun di negeri Belanda dilaksanakan upacara penandatanganan akta penyerahan kedaulatan.

Dampak Konferensi Meja Bundar

Penyerahan kedaulatan yang dilakukan di negeri Belanda bertempat di ruang takhta Amsterdam, Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, Menteri Seberang Lautan A.M.J.A. Sasseu, dan Drs. Moh. Hatta melakukan penandatanganan akta penyerahan kedaulatan. Pada saat yang sama di Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda, A.H.S. Lovink dalam suatu upacara di Istana Merdeka menandatangani naskah penyerahan kedaulatan.

 

Dengan penyerahan kedaulatan itu, secara formal Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui kekuasaan negara Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Irian Barat yang akan diserahkan setahun kemudian. Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 29 Januari 1950, Jenderal Sudirman, Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia meninggal dunia pada usia yang cukup muda, yaitu 34 tahun. Beliau adalah tokoh panutan bagi para anggota TNI. 

sumber info : Jagosejarah.

Ketika pindah ke Bandung Otto melanjutkan aktifitasnya di Budi Utomo karena saat itu sudah ada cabangnya di Bandung, meski tidak terlalu aktif. Otto menghidupkan kembali Budi Utomo cabang Bandung, bahkan beliau terpilih menjadi wakil ketua. Ketika Budi Utomo cabang Bandung mengadakan rapat propaganda di gedung Concordia (sekarang gedung Merdeka ) pada 12-13 September 1921, dalam pidatonya Otto mengkritik serta membuka polemik dengan Paguyuban Pasundan (PP), organisasi orang Sunda yang didirikan di Batawi, 20 Juli 1913.

Tetapi setahun berikutnya, pada 1922 Otto mendekati PP dengan cara menulis surat yang dimuat di surat kabar Siliwangi (7 Nopémber 1922) yang isinya menyatakan bahwa beliau bermaksud untuk masuk Paguyuban Pasundan. Meski demikian niatnya tersebut baru terlaksana 7 tahun kemudian (1929), setelah ia tinggal di Jakarta. Barangkali karena kepindahannya ke Pekalongan yang menyebabkan niatnya itu sempat tertunda.

Di Pekalongan Otto meneruskan  kegiatannya di Budi Utomo. Beliau menjadi wakil ketua pengurus Cabang Pekalongan. Setelah itu bahkan terpilih menjadi anggota  Gemeenteraad (Dewan Kota)  Pekalongan mewakili Budi Utomo. Otto yang dikenal berani dalam membela rakyat membongkar kelicikan perkebunan gula Wonopringgo yang ingin mengusai tanah rakyat hingga rakyat selamat dari penipuan. Kasus tersebut yang disebut Bendungan Kemuning mengakibatkan konflik dengan residen di Pekalongan, hingga akhirnya ia dipindahkan ke Batavia (Jakarta).

Di Jakarta Otto mengajar di HIS Muhammadiyah dan dekat lagi dengan lingkungan sosial budaya Sunda serta Paguyuban Pasundan. Otto yang pernah berniat masuk Paguyuban Pasundan akhrnya bergabung dengan organisasi tersebut. Otto kemudian menjabat sebagai sekretaris di Pengurus Pusat (Hoofdbestuur) Paguyuban Pasundan. Kemudian dalam Kongres PP pada Desember 1929 di Bandung Otto terpilih menjadi ketua pengurus besar Paguyugan Pasundan.

Paguyuban Pasundan pada masa Otto tidak hanya dianggap sebagai organisasi lokal Sunda, tetapi gerakannya terasa di lingkungan nasional. PP aktif dalam Permupakatan Perhimpunan Politik Kemerdekaan Indonésia (PPPKI) serta  Gabungan Politik Indonésia (GAPI). Otto pun terpilih menjadi anggota Volksraad (parlemen) sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan.

Dalam sidang-sidang Volksraad dikenal dengan ucapan-ucapannya yang tajam dan berani dalam mengecam dan mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Tak jarang Otto berdebat dengan pihak Belanda hingga mereka sering naik pitam. Karena keberaniannya itu Otto mendapat julukan “Si Jalak Harupat” yang bermakna seperti ayam jago yang tidak pernah kalah bila diadu. Nama julukannya “Si Jalak Harupat” sekarang digunakan sebagai nama stadion sepakbola di Kabupaten Bandung.

Menjelang Kemerdekaan RI Otto Iskandar di Nata ikut dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdékaan Indonésia (BPUPKI) dan  Panitia Persiapan Kemerdékaan Indonésia (PPKI). Otto juga yang mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, yang usulannya langsung disetujui oleh anggota sidang PPKI. Setelah kemerdekaan Otto diangkat menjadi Menteri Negara dalam bidang keamanan dalam kabinet pertama RI.

 

oto Iskandardinata  ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Riset dan analisa oleh Eko Setiawan

PENDIDIKAN
  • Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung
  • Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) Bandung
  • Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah
KARIR
  • Ketua Organisasi Paguyuban Pasundan
  • Anggota Volksraad (DPR pada masa Hindia Belanda)
  • Ketua Umum Persib Bandung
  • Menteri Negara Kabinet Presidensial (19 Agustus 1945 – 14 November 1945)
PENGHARGAAN
  • Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973
  • sumber info: _0filmedrdeka.com

Komentar Dr Iwan

Informasi diatas tidak benar, Otto iskandar dinata masih hidup, sebagi bukti saya menemukan sebuah postcard dengan tanda tangan Otto yang dikirm tgl tahun dari kepada isteri almarhum Prof husein Djajadiningrat yang bernama BRA. Jl Minngakabau Jakarta Menteng.

Koleksi ini tidak ditampilkan dalm E-book ini, koleksi ini saya simpan dalam museum saya , yang bernama Museum Leluhur Kita WANLI-SONS Pondok Gading Jkarta Urtara Indonesia.

Bagi yang mau lihat harus menyumbang uang minimal sepuluh juta, dan bagi merkea akan saya berikan secaras gratis sebuah koleksi keramik dari dinasti Ming Cheng Hua yang bernilai sepuluh Juta.

 

 

OTO Iskandardinata adalah salah satu Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI dari anggotanya sesui data terlampir dibawah ini yang saya peroleh dari Wiki

 

Oto IskandarDinata dari info wiki termasuk salah seorang Pahlawan Indonesia dari aspek Politik lihat daftarnya dibawah ini

 

Political

                                              

 

 

Komentar Dr Iwan

Saya sungguh sangat heran saat menemukan buku R.OTO ISKANDAR DI NATA karangan Dra Sri Sutjianingsih, Depdikbud 1980/1981 dan kartus Pos kiriman Otto dari Bremen German dengan tu;lisan bahasa belanda Mevr BRAP Djajadiningrat Djl Sumatra 34 Djakarta II/21 Indonesia dengan tulisan tanggan pengirim Hart Groeten Otto kepada isteri almarhum Prof DR Husein Djayadiningrat ia masih hidup sampai tahun dan masih berkomunikasi dengan prof Husein yang simpatisan NICA.

Juga bersam kartu Pos itu juga ada satu kartu pos lagi kepada mevrouw B.R,A.P Djajadiningrat dengan alamt yang sama , dengan tulisan dan Kartu Pos bergmbar Rotrdam, 12 Oktober 1967

Hot groet het U? tc…etc.(isinya tidak di tulis saya tulis karena tulisannya sangat kecil dalm bahsa belanda yang harus diterjemahkan oleh ahli agar tidak terjadi kekeliruan dan dapat meluruhkan informasi sejarah Kemrdekaan Indonesia, dan apakah benar Oto namanya, sedangkan yang tertulis OTTO , karena itu 8uang Oto iskandar dinata harus ditarik dari peredaran karena namanya keliru dari Oto,yang seharusnya Otto seperti tertera dalam kartus Pos yang pertama.

 

Hal ini sangat kontrafersil, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada kartus pos yang saya miliki,

kalau ada ahli dari Leiden maupun bagian arkeologi Nasunional Indonesia mau mengadakan penelitian, mereka harus menghubunggi saya liwat email iwansuwandy@gmail.com, apakah saat it saya masih hidup atau tidak Tuhanlah yang tahu, semoga masih Hidup,m jika tidak bisa hidpu lebihlama lagi silahkan hu unggi putra saya leqwat email antonjimmisuwandy@gmail.com.

Marilah para pemirsan web blog saya, berdoa kepada yang Mahakuasa agar saya tetap sehat dan berumur Panjang serta banya rejeki untuk dapat merampungkan pengembangfan Museum Saya WANLISON dengan tambahan sebuah ruangan pameran Koleksi yang Paling Yunik atau dikenal demngan istilah Masterpiece collection dalm biaya Tiga ratus juta rupiah, saya harap para Dermawan mau menyumbang biaya ini secara gotong Roryobng, harapan saya paling utama dari Gubvernur DKI AHOK dan juga kepada putri Oto Iskandar dinata yang produser film juga mau menyumbang biaya dan ,mau kerja sama dengan saya untuk memproduksi film PRRI yang E-Booknya sudah saya siakan dan sebagian sudah saya tampilkan di Web Blig Driwancybermuseum dan sudah ada TVRI yang mau tayangakan, hanya saya saya ajukan tawaran biaya Hak Cipta saya sepuluh juta, san produser hilang komunikasi.

Jika ada yang mau memproduksi film PRRI silahkan huunggi saya liwat email iwansuwandy@gmail.com

1900

The Chinese revolutionary figure Sun Yat-sen visited southeast Asia in 1900,[30] and later that year the socio-religious organization Tiong Hoa Hwe Koan (中華 會館), also known as the Chinese Association, was founded.

 

Their goal was to urge ethnic Chinese in the Indies to support the revolutionary movement in China. In its effort to build Chinese-speaking schools the association argued that the teaching of the English and Chinese languages should be prioritized over Dutch, to provide themselves with the means of taking, in the words of Phoa Keng Hek, “a two or three-day voyage (Java–Singapore) into a wider world where they can move freely” and overcome restrictions of their activities.[31] 

Several years later the Dutch authorities abandoned its segregation policies, abolished travel permits for the ethnic Chinese, and allowed them to freely move throughout the colony.

Pada Tahun 1900 tak ada Partai Politik yang menunjang putusnya hubunggan Jajahan antara Jawa dan Negeri Belanda.

Dari Tahun 1870 sampai 1900,

Foto Kelompok Pemimpin dan Staf baru dan lama Pabrik Gula Purwokerti tahun 1900

Sumber

banjoemas.bACA LEBIH LANJUT PADA BAGIAN PERTAMA tHE EARLY 20TH cENTURY iNDONESIA 1900 THANKS COMPYRIGHT @ 2016

HONGKONG PAPERMONEY HISTORY COLLECTIONS

tHis E-Book sample nly , not complete illustration

the complete illustration exist only ten CD-Rom

Who want to get the E-Book in CD-Rom please contact iwansuwandy@gmail.com

HONGKONG PAPER MONEY HISTORY COLLECTIONS

Image result for Hongkong 10 dollars 1913 P-187 “super rare” first date

BY

Dr Iwan Suwandy,MHA

Limited E-Book In Cd-Rom

Special for Numismatic Collectors and Historian Scholars

Copyright @ Dr Iwan 2016

 

Preface

I found Hongkong papermoney in 2016,

 

and HONG KONG 500 Dollars 1966 P-179c VG HSBC - Bradbury Wilkinson & Co circulated

I still collect the 500 dollar Papermoney .

In 2016 I star to collect Hongkong Paper Money

And for add my museum collections in North Jakarta Pondok Gading “Our Ancestor Museum WANLI SONS”

This E-book I write for my Sons Anton Jimmi Suwandy ,and his wife Grace with their children Cessa as the remembrance of my effort to ptotect the world heritage from Hongkong

I put some information from Wikipedia dan E-Bay to give more knowledge to collectors and historian scholar.

Jakrta August 2015

Dr Iwan Suwandy,MHA

Ret.Senior Superintentands Indonesian National Police

Consultan Information

 Image result for Hong Kong … P-311 … 1 Dollar … ND(1935)

 

The issue of banknotes of the Hong Kong dollar is governed in the Special Administrative Region of Hong Kong by the Hong Kong Monetary Authority (HKMA), the governmental currency board of Hong Kong. Under licence from the HKMA, three commercial banks issue their own banknotes for general circulation in the region. Notes are also issued by the HKMA itself.

Image result for Hongkong Note one dollar ND 1936 P 312 VF

In most countries of the world the issue of banknotes is handled exclusively by a single central bank or government. The arrangements in Hong Kong are unusual but not unique, as a comparable system is used in the United Kingdom where eight banks issue banknotes (one in England and Wales, three in Scotland, and four in Northern Ireland) and Macau where two banks issue banknotes.

Hong Kong banknotes in everyday circulation are $10, $20, $50, $100, $500 and $1,000.

The total value of banknotes in circulation in Hong Kong can be found in the HKMA Monthly Statistical Bulletin and the HKMA Annual Report.

 

Origins till 1900[edit]

In the 1860s the Oriental Bank Corporation, the Chartered Bank of India, Australia and China and the Hong Kong and Shanghai Banking Corporation began issuing notes. Denominations issued in the 1860s and 1870s included 1, 5, 10, 25, 50, 100 and 500 dollars. These notes were not accepted by the Treasury for payment of government dues and taxes, although they were accepted for use by merchants. 25-dollar notes did not survive beyond the end of the 19th century, whilst the 1-dollar notes (issued only by the HSBC) were issued until 1935.

 

1874

 

 

 

Under the Currency Ordinance of 1935, banknotes in denominations of 5 dollars and above issued by the three authorised local banks (the Mercantile Bank of India, London and China, Chartered Bank of India, Australia and China and the Hongkong and Shanghai Banking Corporation) were all declared legal tender. The government took over production of 1-dollar notes. In 1941, the government introduced notes for 1, 5 and 10 cents due to the difficulty of transporting coins to Hong Kong caused by the Second World War (a shipment of 1941 1-cent coins was sunk, making this unissued coin very rare). Just before the Japanese occupation, an emergency issue of 1-dollar notes was made consisting of overprinted Bank of China 5-yuan notes.

 

1900

Image result for Hongkong 5 Dollars ND 1900-01, Printer essay Pick-150 pe Ch UNC PMG 63 NET

 

Hongkong 5 Dollars ND 1900-01, Printer essay Pick-150 pe Ch UNC PMG 63 NET

IDR 39.460.526,52

Source ebay

 

 

 

 

 

 

1903

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1905

 

 

1912

1913

 Image result for Hongkong 10 dollars 1913 P-187 “super rare” first date

Hongkong 10 dollars 1913 P-187 “super rare” first date

IDR 78.947.368,42

Source ebay

 

 

 

 

 

 

 

1913

Image result for hong kong 1913 one dollar note G condition

hongklong 1913 one dollars note G condition

IDR 2.105.203,16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1921

 

 

 

 

1923

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1921

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1923

Giant 1923 HSBC Shanghai $ 100 Hongkong Note F-VF

IDR 15.788.947, 37

Source ebay

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1925

 

 

1926

 

 

 

 

 

1926

 

 

 

1927

 

 

 

 

 

1929

 

 

 

 

1930

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1933

1934

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1935

1935

 Image result for 1935 - HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORP. 1 DOLLAR (EF/AU)

1935 – HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORP. 1 DOLLAR (EF/AU)

o    IDR3,223,684.21

Comment Dr Iwan

The est val not better than the reality above , we must made more research about this banknote

 

 

 

 

 

 

 

1935

Image result for Hong Kong … P-311 … 1 Dollar … ND(1935)

Hong Kong … P-311 … 1 Dollar … ND(1935)

o    IDR657,763.16

o    or Best Offer

o     

o    From Saudi Arabia

 

 

1936

Image result for Hongkong Note one dollar ND 1936 P 312 VF

Hongkong Note one dollar ND 1936 P 312 VF

IDR 263.026.32

 

 

1940

 

Source

LiveA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1940

Image result for Hongkong Chartered Bank of India,Australia China 5 dollars 1940 VG Rare P 54a

Hongkong Chartered Bank of India,Australia&China 5 dollars 1940 VG Rare P 54a

IDR 6.513.157,89

Source ebay

Compare with the same design in 1934 below

 

 

1940

 

1941

 

 

1941

 

1941

Image result for New listing Hong Kong, 1941-55 100 Dollars P176e PMG 45

New listing Hong Kong, 1941-55 100 Dollars P176e PMG 45

IDR25,000,000.00

sourceebay

 

 

 

 

 

 

 

In 1945, paper money production resumed essentially unaltered from before the war, with the government issuing notes of 1, 5 and 10 cents and 1 dollar, and the three banks issuing notes of 5, 10, 50, 100 and 500 dollars. 1-dollar notes were replaced by coins in 1960, with only the 1-cent note issued by the government after 1965.

 

1941

Image result for Hong Kong … P-173c … 5 Dollars … 1941 … *F-VF*

Hong Kong … P-173c … 5 Dollars … 1941 … *F-VF*

o    IDR852,631.58

Was: IDR947,368.42

o    Buy It Now

o    10% off

o    From United States

o   Image result for Hong Kong 1 Cent (1941) P313b Prefix A - AUNC

Hong Kong 1 Cent (1941) P313b Prefix A – AUNC

o    IDR130,921.05

o    Buy It Now

o    Only 1 left!

1 watching

o    From Malaysia1946

 

 

 

 

 

 

1948

Image result for HONG KONG HSBC NOTE 100 DOLLARS 01.04.1948 SERIE E P 176e UNC

HONG KONG HSBC NOTE 100 DOLLARS 01.04.1948 SERIE E P 176e UNC

o    IDR32,894,605.26

o    Buy It Now

o     

o    From Argentina

Hong Kong 1948, 10 Dollars, P178d, PMG 64 UNC

o    IDR5,118,421.05

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

 

 

1949

New listing Hong Kong, 1949-53 10 Dollars, P179Aa PMG 66 EPQ

o    IDR11,842,105.26

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o   

 

1953

Image result for Hong Kong: P 55c Chartered Bank of India, Australia & China 1953 10 Dollars

o   

Hong Kong: P 55c Chartered Bank of India, Australia & China 1953 10 Dollars

o    IDR4,605,263.16

o    or Best Offer

o     

o    From Denmark

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o   

 

 

 

 

 

 

1956

Image result for Hong Kong ... P-55c ... 10 Dollars ... 1956 ... *VF/XF* ... SCARCE

Hong Kong … P-55c … 10 Dollars … 1956 … *VF/XF* … SCARCE NOTE

o    IDR16,447,368.42

 

Comment Dr Iwan

This banknote must research more about the scarcity, because in other info above the price different much than the reality in ebay below.

1959

Image result for Hong Kong 1956-1959 , 1 Dollar, P324Ab, PMG 66 EPQ GEM UNC

Hong Kong 1956-1959 , 1 Dollar, P324Ab, PMG 66 EPQ GEM UNC

o    IDR1,697,368.42

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1959

 

 

 

 

 

 

 

1959

 

 

 

 

 

 

1959

 

 

1959

 

 

 

 

 

 

 

 

1959

HONG KONG – HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORPORATION 1959 100 DOLLARS P 183c

IDR1,118,421.05

Source ebay

 

 

 

 

1960

 

 

 

 

1961

 

 

 

1961

 

Hong Kong – The Chartered Bank 10 Dollars 1961 P#70a Banknote VF+

o    IDR657,763.16

1961

Hong Kong Banknote 5 Cents 1961 VF+

o    IDR13,026.32

o    0 bids

o     

o    1d 6h left (Sunday, 4AM)

o    From Korea, South

o   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1962

 

 

 

 

 

1962

 

 

 

 

1962

 

 

 

 

 

1962

Image result for 1962-70 HONG KONG CHARTERED BANK 10 DOLLARS PMG 66 EPQ GEM UNC

o     

o     

o    From Hong Kong

1962-70 HONG KONG CHARTERED BANK 10 DOLLARS PMG 66 EPQ GEM UNC

o    IDR2,223,684.21

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

Hongklokng Charterd Bank 5 dollars Pick 68c XF

IDR 1.644.736,84

1967

HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORPORATIONONG 10 Dollars 1967 P182е Gem UNC

o    IDR197,236.84

o    0 bids

o     

o    1d 2h left (Sunday, 1AM)

o    From Ukraine

1967

1967

Hongkong chartered Bank five dollars ND 1967 PMG 65 EPG gem UNC

IDR 3.289.473,68

 

 

 

 

 

 

 

 

1968

1970

1970s ND HONG KONG CHARTERED BANK 5 DOLLAR NOTE BANKNOTE NOTE SCARCE SIGNATURE B

o    IDR105,263.16

o    0 bids

o     

o    10h left (Saturday, 9AM)

o    From Hong Kong

o   

New listing Hong Kong 10 DOLLARS CHARTERED BANK ( 1970 ) PICK # 74b VG-F BANKNOTE.

o    IDR125,000.00

o    Buy It Now

o     

o    From Spain

o   

1 CENT FROM HONG KONG 1971!PICK-325!!AUNC-UNC!

o    IDR13,026.32

o    1 bid

o     

o    2h left (Saturday, 1AM)

o    From Hungary

o   

 

1971

 

 

New listing 1971 Hong Kong HSBC $5 Note HKG181d Choice UNC PMG 64

o    IDR328,947.37

o    Buy It Now

o     

o    From Hong Kong

o    or Best Offer

o    Free international shipping

o    4 watching

o    From Hong Kong

o   

1973 Hong Kong, HSBC HK & Shanghai BC, 5 Dollars, PMG 66 EPQ GEM UNC, P: 181f

o    IDR1,828,947.37

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o    Customs services and international tracking provided

 

1974

1974 Hongkong Marcantile bank 100 dollars

IDR 3.013.157,89

In 1975, the 5-dollar notes were replaced by a coin, whilst 1000-dollar notes were introduced in 1977. The Mercantile Bank was absorbed by HSBC in 1978 and ceased issuing notes.

 

1975

 

                                                                                                       

Hongkong Chartered Bank 500 Dollars ND-1976

IDR 6.432.631,58

Source Ebay

 

1975

o     

o   

9 Hong Kong $5 Five dollars banknotes, 1970 – 1975, The Chartered Bank Hongkong

o    IDR261,842.11

o    Buy It Now

o     

o    From Singapore

1975

1975 Hong Kong, The Chartered Bank, 5 Dollars, PMG 66 EPQ, GEM UNC, P: 73b

o    IDR1,302,631.58

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o    Customs services and international tracking provided

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1977

Hongkong P-311 1 Dollar ND 1936 “F-VF”

IDR 4.826.947,37

 

 

 

 

 

 

 

1977

New listing Hong Kong Chartered Banknote 100 Dollars 1977 VF+

IDR3,289,342.11

 

hongkong 100 dollars 1977 P 78b”PMG AU 58”Rare”

IDR 4.934.210,523

1971

 

In 1985, 20-dollar notes were introduced, whilst, in 1993, a 10-dollar coin was introduced and the banks stopped issuing 10-dollar notes. In 1994, the Hong Kong Monetary Authority (HKMA), gave authority to the Bank of China to issue notes.

The 1-cent note issued by the Government was demonetised and ceased to be legal tender on 1 October 1995.

1981

China Hongkong 1981 Banknotes Standard Chartered Bank 10 HK Dollars UNC

o    IDR171,052.63

o    Buy It Now

o     

o    From China

 

 

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

 

 

o     

Rare The Hong Kong & Shanghai Banking Corporation HSBC 1981, Ten 10 Dollars Note

o    IDR118,289.47

o    Buy It Now

1982

HONG KONG 100 Dollars, 1982, P-187d, UNC

o    IDR789,342.11

o    Buy It Now

o     

o    From Singapore

1985

o   

1985 HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORPORATION HSBC 10 DOLLAR BANKNOTE NOTE

o    IDR52,500.00

o    0 bids

o     

o    10h left (Saturday, 9AM)

o    From Hong Kong

o   

o    Buy It Now

o     

o    From Malaysia

o   

 

1986

o   

Hong Kong – HSBC 100 Dollars 1986 P#194a Banknote EF+

o    IDR197,236.84

o    Buy It Now

o     

o    From United States

o   

 

 

 

 

 

 

 

1988

1988 HONG KONG STANDARD CHARTERED BANK 100 DOLLAR NOTE VERY NICE!!!

o    IDR421,052.63

o    0 bids

o     

o    10h left (Saturday, 9AM)

o    From Hong Kong

o   

 

 

 

 

 

 

1992

1992 HONG KONG & SHANGHAI BANKING CORPORATION HSBC 10 DOLLAR BANKNOTE NOTE

o    IDR78,947.37

o    or Best Offer

o     

o    From Hong Kong

o   

1993 HONG KONG STANDARD CHARTERED BANK 50 DOLLAR BANKNOTE NOTE HIGH GRADE

o    IDR131,447.37

o    1 bid

o     

o    10h left (Saturday, 9AM)

o    From Hong Kong

o   

o    or Best Offer

o    14 watching

o    From United States

o   

 

 

1994

1994 HONG KONG BANK OF CHINA 50 DOLLAR $50 BANKNOTE NOTE “AA” PREFIX 1st ISSUE C

o    IDR263,157.89

o    0 bids

o     

o    10h left (Saturday, 9AM)

o    From Hong Kong

 

1998

New listing 2 x 1998 Hong Kong HSBC $50 Notes HKG202d Both Choice UNC PMG 64 EPQ

o    IDR921,052.63

o    Buy It Now

o     

o    From Hong Kong

o   

HONG KONG 20 Dollars 1/1/1998 P-201d F HSBC circulated

o    IDR33,552.63

o    Buy It Now

o     

o    From Greece

2000

o     

o   

2000 HONG KONG BANK OF CHINA 50 DOLLARS PMG 67 EPQ SUPERB GEM UNC

o    IDR736,842.11

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

 

 

2003

2003 HONG KONG 10 DOLLARS REPLACEMENT STAR PMG 67 EPQ SUPERB GEM UNC

o    IDR776,315.79

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

HONG KONG 1000 1,000 DOLLARS 2003 P 295 AA PREFIX SCB UNC

o    IDR2,894,605.26

o    Buy It Now

o     

o    From Thailand

o   

 

 

 

2003

HONG KONG 500 Dollars 2003 P-294 UNC STANDARD CHARTERED BANK uncirculated note

o    IDR2,605,263.16

o    Buy It Now

o    Free international shipping

o     

o    From Greece

o   

 

 

 

 

 

 

 

2001

Hongkong Bank of China $ 1000.- ND 2001 choice one

IDR 1.690,789,47

2003

o     

New listing HONG KONG 50 DOLLARS 2003 P 336 BOC BANK OF CHINA UNC

o    IDR197,236.84

o    Buy It Now

o     

o    From Thailand

o   

o    Buy It Now

o     

o    From United States

 

 

 

 

 

2008

China Hongkong Macau 10 yuan 2008 Beijing Olympic Commemorative Money

IDR 17.105.131,58

Source ebay

 

 

 

 

 

 

 

2008

o   

HONG KONG 100 DOLLARS 2008 P 209 HSBC UNC

o    IDR319,078.95

o    Buy It Now

o     

o    From Thailand

o   

 

 

 

 

 

 

 

 

2010

Hongkong 2010 GEM UNC 20 dollars Banknote Paper Money Bill (HSBC) Very Rare

IDR 4.842.105,20

 

 

 

 

 

 

2010

2010 HONG KONG HSBC BANK 50 DOLLARS REPEATER “964964” PMG 67 EPQ SUPERB GEM UNC

o    IDR907,894.74

o    Buy It Now

o     

o    From Korea, South

o   

 

 

 

 

 

 

 

2012

HONG KONG 1000 1,000 DOLLARS 2012 P 345 BOC UNC

o    IDR2,631,447.37

o    Buy It Now

o     

o    From Thailand

Hong Kong 2013 500 Dollars P-344b superb GEM UNC PMG 67EPQ

o    IDR1,578,815.79

o    or Best Offer

o     

o    From Hong Kong

o   

 

 

 

 

2013

o     

o   

2013 HONG KONG HSBC BANK 20 DOLLARS REPEATER “954954” PMG 67 EPQ SUPERB GEM UNC

o    IDR776,315.79

o    Buy It Now

 

2014

HONG KONG 2014 HSBC $100 BANK NOTE UNC

o    IDR230,263.16

o    Buy It Now

o     

o    From Hong Kong

o   

HONG KONG 100 DOLLARS 2014 P 214 HSBC UNC

o    IDR315,657.89

o    Buy It Now

o     

o    From Thailand

 

o   

 

 

 

 

 

 

 

 

2015

2015 Hong Kong $150 Bank Note “HSBC 150th Anniversary” Note, PMG-65 Gem UNC.

o    IDR1,447,368.42

o    or Best Offer

o     

o    From United States

o    Customs services and international tracking provided

o    or Best Offer

o     

o    From Denmark

 

 

 

 

 

2016

 

2015 Hong Kong HSBC 150th Anniversary $150 Banknote – Single Note RARE

IDR1,447,236.84

 

 

 

 

 

 

 

 

Hongkong Perkins Bacon co 50 dollars essay Proof extreme rare\IDR 13.144.736,84

Hongkong Perkins Bacon co One dollar Essay Proof about new

IDR 6.565.789,47

The end

Copyright @ Dr Iwan 2016

 

DEI HISTORY COLLECTION PRE 1911 PART TWO

THIS E-BOOK ONLY SAMPLE NOT COMPLETE ILLUSTRATION, THE COMPLETE ILLUSTRATION EXIST ONLY TEN CD-Rom

Guard of the Sultan of Jogjakarta, Indonesia (ca 1880),

Copyright @ Dr Iwan 2016

If you want buy the complete E-Book, please contact iwansuwandy@gmail.com, please upload your iD-Card copy with complete adress and shorth working history, and to more communication you must be my web blog Premium member with tarnsfer US 25,- or send enenvelope via airmail with stamps or old money with the same value. The price of this CD-Rom Only US 100.-

1800

VOC JAVA Bonk Coin 1800

 

Gouden Dukaat 1800 (Sch. 16 / Delm. 1171A /R3) – ZF /klemspoortjes / hoogst zeldzaam est price Euro 200.-

1800 (ca.), WÜRZBURG INCOMING MAIL an „…L’ ARMEE GALLO-BATAVE…”, wohl eine der ungewöhnlichsten Postanschriften Bayerns mit folgendem Hintergrund: In der Spätphase des Zweiten Koalitionskrieges war Franken mit Würzburg seit Sommer 1800 unmittelbares Kriegsgebiet. Das mindermächtige fränkische Hochstift hatte sich mit dem militärisch äußerst geschwächten habsburgischen Kaiserreich zusammengetan, – auf der Gegenseite stand Napoleon. Dieser raffte seine verbliebenen Kräfte zusammen, u.a. Hilfstruppen der sog. “Batavischen Republik„, einem auf dem Gebiet der heutigen Niederlande gegründeten “Satellitenstaat”, welcher eine Division von 6000 Mann bereitstellte, die sich im Raum Aschaffenburg/Würzburg mit den dort bereits stationierten französischen Truppen zur ”Armée Gallo-Batave” formierte. Die Briefhülle trägt den Taxis-Einzeiler „Von Frankfurt”, rückseitig Teil eines Lacksiegels ”Legation de Suisse„

look more info , if someone want to get more info related to DEI please contanct iwansuwandy@gmail.com, look some info below free

Bali Legong dancer

Saved from
bendavpostcards.com

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
Guard of the Sultan of Jogjakarta, Indonesia (ca 1880),

Guard of the Sultan of Jogjakarta, Indonesia (ca 1880),

Saved from
en.wikipedia.org

India | A Konyak Naga girl dressed for the Oulingbu or…

Saved from
digital.info.soas.ac.uk

 Save
SendLike
 
PLAY
ODIC -  Indo Dutch Kitchen Secrets by Jeff Keasberry - YouTube

ODIC – Indo Dutch Kitchen Secrets by Jeff Keasberry…

Saved from
youtube.com

 Save
SendLike

Learn more at brilio.net

 
Indonesia | A young Gayo bride , North Sumatra. Photo taken before 1939

Indonesia | A young Gayo bride , North Sumatra. Photo taken…

Saved from
brilio.net

Wayang Wong Dancer – 1935 Java Indonesia

Saved from
old-indische.blogspot.com

 Save
SendLike

Learn more at delcampe.net

 
Warriors on Nias Island. ca. 1920 | Postcard; photographer Leo Haas // Nias Island, Sumatra

Warriors on Nias Island. ca. 1920 | Postcard; photographer…

Saved from
delcampe.net

Sumatra, Indonesia, Nias warrior

Saved from
old-indische.blogspot.com

Nias Warrior (Sumatra, Malay Archipelago)

Saved from
old-indische.blogspot.com

Ancient Nias Cultures

Saved from
collectie.tropenmuseum.nl

1910 Sumatra Indonesia

Saved from
grand-bazaar.tumblr.com

Soekarno or Sukarno with First Lady Fatmawati | He is the…

Saved from
jakartainthe50s.tumblr.com

 Save
SendLike

Learn more at kompasiana.com

 
Makasarese lady

Makasarese lady

Saved from
kompasiana.com

 Save
SendLike
 
Sukarno &amp; His Father

Sukarno & His Father

Saved by
Jack Profijt

Balinese, Bali 1920

Saved from
balimediainfo.com

 Save
SendLike

Learn more at old-indische.com

 
old-indische: West Java Girl

old-indische: West Java Girl

Saved from
old-indische.com

 Save
SendLike

Learn more at artblart.com

 
Kassian Céphas Indonesia 1845-1912 Young Javanese woman c. 1885 Albumen silver photograph 13.7 x 9.8 cm Collection National Gallery of Austr...

Kassian Céphas Indonesia 1845-1912 Young Javanese woman c…

Saved from
artblart.com

 Save
SendLike

Learn more at wowshack.com

 
Tropenmuseum

Tropenmuseum

WowShack
Saved from
wowshack.com

 Save
SendLike

Learn more at wowshack.com

 
Masked men of the theater acting in &quot;Topéing&quot;, Java (c. 1900-1920) - US Library Of Congress

Masked men of the theater acting in “Topéing”, Java (c…

WowShack
Saved from
wowshack.com

2 Javanese Girls, Java, Indonesia

Saved from
old-indische.blogspot.com

fort, voc,dutch east indies, oost indie, nederlands indie…

Saved from
indonesiatraveling.com

fort, voc,dutch east indies, oost indie, nederlands…

Saved from
indonesiatraveling.com

fort, voc,dutch east indies, oost indie, nederlands indie…

Saved from
indonesiatraveling.com

Batavia This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch East India…

Saved from

Balinese kingdoms, ca 1800

To the east of Bali lies the long chain of islands known as the Lesser Sundas or Nusatenggara (Southeastern Islands). For the most part, these islands were involved only peripherally in the trade and civilization of the western archipelago until the colonial area.

Although the Nagarakertagama (Desawarnyana) lists Timor and Sumba as tributaries of 14th -century Majapahit, Javanese culture has left at the most only scattered traces in the region.

No significant local inscriptions have been found to attest to the existence of early kingdoms and Chinese records are vague. The region’s economic relations with the outside world seem to have been based on the export of sandalwood, especially from Timor, a trade which may have begun in the 7th century.

.

Lombok and Sumbawa, ca 1800

Balinese rule on Lombok was turbulent. By the middle of the 18th century, they had subdued the Sasak aristocracy in the east of the island. A few decades later, however, disunity led them to split into four separate kingdoms, while the Sasak domains in the east regained much of their independence. Even in times of Balinese control, the east of the island was often restive.

Evidence from the earliest European visitors to the Nusatenggara region suggests that the normal state of affairs was one of division into a large number of small polities, which were linked into larger confederacies or empires whose significance was sometimes political and economic but more often symbolic. Timor produced sandalwood, which was valued for trade to China, and management of this trade necessarily meant a relationship between port towns such as Sorbian, Insana and Dili, and the polities of the interior. In the centre and east of the island, the ruler of Wehale (Belu), sometimes based in the port of Dili, sometimes based in the interior, claimed a hegemony over some forty-six liurai or ‘kings’ along the coast and the interior. In the west the confederacy of Sonba’i (Sonnebait), sometimes based in Sorbian, claimed a similar hegemony over sixteen liurai. The port of Kupang seems to have been independent of both of these power centres.

 

 

 

 

1801

BORNEO CA 1800
 1801: II became Sultan Sulaiman Saidullah Banjar XV until 1825.
 

Zilveren Dukaat 1801 Utrecht (Sch. 70 / Delm. 982) – UNC- / schitterend exemplaar met 2 gietgalletjes aan de rand

Bid Info: Price: € 200.00

 

Gouden Dukaat 1801 Enkhuizen mmt. Ster (Sch. 25A/RRR / Delm. 1171B/RRR / CNM 2.28.54) – ZF/PR / uiterst zeldzaam / de in Enkhuizen geslagen Gouden Dukaten met Ster zijn enorm zeldzaam – alleen het jaar 1802 komt met enige regelmaat voor

Bid Info: Price: € 750.00

1802

The 1802

Treaty of Amiens restored these territories to the Dutch.

NETHERLANDS EAST INDIES: AR 1/8 gulden, 1802, KM-80, Sch-494c, Batavian Republic issue, sailing ship series, some obverse flan roughness, Very Fine. Estimated Value: $ 150 – 200

 

Batavia(Jakarta) In 1802

Related story

 

1802: Jonathan D. Lewis to Dr. John Vaughan

The Island of Trinidad off the coast of Venezuela

This letter was written by Jonathan D. Lewis, to his brother-in-law, Dr. John Vaughan (1775-1807), who is credited with performing

the first vaccination in Delaware in 1802.

John Vaughan was educated in Chester, Pennsylvania, and in 1793 and 1794, while studying to be a doctor, attended lectures on medicine at the University of Pennsylvania in Philadelphia. Vaughan practiced medicine in Delaware, first in Christiana Bridge and later in Wilmington. He was a member of several professional organizations, including the Philadelphia Academy of Medicine, the Medical Society of Philadelphia, the American Medical Association, and the Delaware Medical and Philosophical societies. Vaughan was a prolific author, lending his pen to topics of medical and scientific importance. He kept his “Medical Diary No. 3″ before and during the serious yellow fever epidemic of 1802. Vaughan died in 1807 of typhoid fever.

Vaughan was an assiduous observer of Wilmington’s climate conditions, often listing the daily temperature, wind direction, and weather. He believed that these conditions influenced the occurrence of diseases at certain times of the year. Thus, on one group of pages Vaughan recorded weather information for a given month, and on another group he noted what his patients suffered from during the same period.

Occasionally, Vaughan broke this pattern to copy an article that he had read, something he had heard, or a letter that he had either written or received about a medical matter. One of his correspondents was Dr. Benjamin Rush. A man of science and medicine, Vaughan wrote perhaps in amusement to substantiate his theory on the influence of weather on disease: “Mr. Alrichs, an ingenious watch maker, informed me that sickly seasons were always characterized by the breaking of watch springs — that the fact was so well established as to be proverbial & that it was peculiarly so this season.” On August 26, 1800, Vaughan said: “Bad accounts from Baltimore & Norfolk — yellow fever spreading with great mortality.”

In 1802 a severe yellow fever epidemic broke out in Wilmington. Vaughan is reputed to have been the only doctor to have remained in town to administer to those who had contracted the dreaded disease. One year later, the American Philosophical Society requested that he write a pamphlet about the incident. A Concise History of the Autumnal Fever which Prevailed in the Borough of Wilmington in the Year 1802 resulted. Vaughan’s manuscript diary features the author’s immediate and private observances of the spread of the disease. In the pamphlet Vaughan detailed why he thought the yellow fever epidemic started, how he thought it spread, and what he thought had to be done to eradicate it. In his diary Vaughan recorded his early visit with Ann Davidson, whom he later identified as the initial carrier of the disease, and noted the conditions in the house neighboring the Davidson’s:

“Hadley’s cellar, adjoining Davi[d]sons has been for a long time full of water — & the common receptacle of every filth … oft condemned as a nuisance by the corporation, but neglected. Wm. Cloud complained of its being very offensive to them.”

Vaughan wrote of the activities of Wilmington residents on September 13: “3/4 of the people left the lower parts of the town — below second street — great alarm. Board of Health disorganized in effect — some resigned — President fled — are not mankind reverting to Barbarism.”

Vaughan probably used his diary, serving as it did as a chronological record and source of valuable details, to construct the narrative of his pamphlet. On September 23, for example, Vaughan wrote a letter on the status of the disease to the president of the Board of Health, Isaac Dixon; he copied this letter into his diary, and it appeared subsequently in the circular. At the end of his pamphlet, Vaughan listed the people who died from the epidemic; in his diary he recorded the names and addresses of those stricken and noted whether they recovered or died.

Vaughan never totally abandoned the original intent of his diary — to demonstrate a cause-and-effect relationship between weather conditions and the incidence of disease — to write about the outbreak of yellow fever in Wilmington. There are, in fact, numerous references to weather conditions during the epidemic, and the concept plays an important role in his Concise History.

Stampless Letter

Page 1

Page 2

Page 3

Page 4

Page 5

Page 6

Page 7

TRANSCRIPTION

Addressed to John Vaughan, M.D., Wilmington, State of Delaware

Port of Spain [Trinidad]
July 13, 1802

By the late arrivals from Europe &c., I learn that this island is much spoken of and is in most places considered a great acquisition to England. I know that such an opinion prevailed in Philadelphia previous to my departure. I shall therefore make Trinidad the subject of the present communication from a conviction that you will be pleased to receive advice that may be relied on. Before I enter on the subject, permit me to state that I have been in all the richest valleys from the Port de Mona beyond the River Anna and was 7 days in a boat visiting the Trinidad Margin on the Gulph (Paria or Ballena). The latter was performed at the evident risque of my life as in many instances, night came on before I could land, which was done above my knees in mud in an unfriendly climate. In a word, I have been on most of the estates in cultivation and have seen nearly all the best lands which are wild and susceptible of improvement.

The geographical function, and extent of the island may be always seen by having reference to a map. The population agreeably to the last Census taken in October 1801 was about 39,000 souls. _______ of every Colour. More than half the totality of whites are French and the English are more numerous than the Spaniards. There are here a number of M______, Corsicans, Italians, & people from nearly all the Nations in Europe with Creoles from all the Islands in the West Indies.

Batavia (now Jakarta), Java — a wretched reputation for crime and pestilence.

The climate is the most pestilential of any that I was ever in. If Batavia in Java has been heretofore called the Grave of European, the appellation will apply here with much greater force. I can speak respecting the two places in the comparative way from a trifling portion of experience. Certainly Batavia was never so sickly from what I have been able to learn, as Port of Spain has been during the last 2 months. Almost every European is dead that arrived with an intention of permanent residence since the 1st April last (the day I landed). If I should ever have the happiness of seeing you, I will give a detail on this subject that will almost stagger credibility.

The soil is fertile in the valleys and a greater portion of the island is in flat land than perhaps any other in the West Indies. No attention has been paid to manure, which is a strong evidence of fertility, notwithstanding which I have seen cane from the 9th Ratoons as fine as ever grew. Much of the Island may be termed virgin land — not being ever cleared.

The Gulph of Paria certainly offers a base of fine retreat during the hurricane month and is not subject to hurricanes. Violent gales or _____ of wind. I cannot, however, agree with the ____ ____ English journals in attaching such wonderful importance to it. It will be never resorted to as a place of safety except during the Hurricane month and then only by vessels in a windward station.

War ships to leeward, say on the Jamaica Station, where the great force is generally, will never think of coming here & the distance being so great, and be it remembered that the West Indies are not afflicted with a severe Hurricane oftener than once in 7 years on an average. Vessels of commerce may come here but to no great extent. Merchants will pursue commerce during the Hurricane months. They will not allow their vessels to lay up this ____.

We shall now consider the interior commerce of Trinidad and I think I can clearly prove that the great bulk of commercial men in Europe & America have allowed themselves to be deceived. The ministry of Great Britain have continually represented the value of the Island in a great degree to derive from its proximity to the main. From that simple circumstance, they have promised the Nation a most flourishing contraband commerce with the Spaniards. Let us examine the position that part of the Main which his from _____ to ____ of the River & to the Boca Passages is without ______ more convenient to Trinidad than to any other Island. This Port does and will enjoy almost exclusive trade with that port. But in what does the trade consist? In poultry and vegetables, & cocao from the O. I see the vessels as they arrive and depart and consequently given the fact from a primitive knowledge. All that coast described within the limits above is miserably poor — the Spaniards from ______ have introduced less money & have taken _____. We have their purchase been at all considerable. In a word, they have been much greater disservice than benefit to the island.

The main ports on the Main from which an influence of wealth could rationally be expected, are Cumana & Laguina — the former is nearest. From that port the Spaniards can go to various islands with greater facility than they can come here. They can go to Antigua and Curacao particularly with much greater ease. Other Islands could be named. I will now ask whether the system of advantages so frequently held out from ____ is nor totally destroyed. If the Spaniards can go to those places with only the same convenience that they can come here, can they there find the kind of goods wanted? They can. In M & C already mentioned, they are at all times certain of finding the very articles they wish. Dutch, French & German ____ have always pleased the Spaniards but make it the intent of a Spaniard or any other person to presume a particular knowledge of trade and he will pursue it.

What is the object of trade? In addition to what has been said, it may be further observed that French & Spanish habits are congenial to each other. Most of the Spaniards speak spanish and no contemptible number of the latter speak ____.

Lately it has been said that France is to have a direct trade from her ports in Europe to those on the Main. If this be true, no island can enjoy a smuggling trade to any extent. In which case Trinidad can promise herself very little.

I am happy in declaring to you that I have been treated very politely here by many very respectable characters.

I am not finally determined respecting the place of my residence. Would to God I could fix it in America. Wealth there is the only criterion of mint. If I could get forward here, I would agree to undergo any and every kind of hardship & sickness for the purpose of doing something for my brothers. I have not yet heard of old _____. It is the single circumstance that keeps me in the dark.

I am with esteem, your obedient servant, — Jonathan D. Luiz

Remember me Mrs. Vaughan. I am sorry to tell you that Jim is a confirmed thief & liar. All the ______ mint I have been able to inflict has provided no change of conduct respecting the f____ he was sold for. I know not what to do with him. If I sell him here, I am fearful that you or I — perhaps both — may be introduced to trouble. I mean if I sell in time. If an opportunity exists of writing to me, do say whether I can with property dispose of his time provided. Make a Bond opportunity for his delivery at 21 years.

Source

Spare and Shared

Old Letter spared from obscurity

if someone need info from DEI please contact iwansuwandy@gmail.com, please look free info like below

Jan van Riebeeck. This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch…

Saved from
art-in-space.blogspot.com

The deed was signed by the Governor-General Joan Maetsuijker…

Saved from
upload.wikimedia.org

This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch East India Company

Saved from
commons.wikimedia.org

Piece of paper, dated 2nd April 1799 in the Castle of…

Saved from
3.bp.blogspot.com

Message of the Plague. Meant as a warning, by Doctor Johan…

Saved from
fransmensonides.nl

 Save
SendLike
 
GIF
Evidence of debt to the VOC, signed 9 juni 1779 by Niels Ipsen Salton (Oldenburg).

Evidence of debt to the VOC, signed 9 juni 1779 by Niels…

Saved from
dbnl.org

 Save
SendLike

Learn more at flickr.com

 
Cape of Good Hope - South Africa (1665).

Cape of Good Hope – South Africa (1665).

Saved from
flickr.com

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
Flag and pennants of the Batavian Republic. The canton features the Netherlands Maiden. This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch East India Company founded <a href="http://dingeengoete.blogspot.com/" rel="nofollow" target="_blank">dingeengoete.blog...</a>

Flag and pennants of the Batavian Republic. The canton…

Saved from
en.wikipedia.org

 Save
SendLike

Learn more at nobility.org

 
Dutch Batavia in 1681, built in what is now North Jakarta. This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch East India Company founded <a href="http://dingeengoete.blogspot.com/" rel="nofollow" target="_blank">dingeengoete.blog...</a>

Dutch Batavia in 1681, built in what is now North Jakarta…

Saved from
nobility.org

HowStuffWorks “How did the East India Company change the…

HowStuffWorks
Saved from
history.howstuffworks.com

 Save
SendLike

Learn more at tikme.net

 
The East India Company and Religion, 1698-1858 (Worlds of the East India Company) by Penelope Carson.

The East India Company and Religion, 1698-1858 (Worlds of…

Saved from
tikme.net

 Save
SendLike
 
een collectie babymutsjes en mouwtjes (30 stuks!) uit de 18e eeuw en gemaakt van sits. Sits is een bloemrijke stof, handbeschilderd in India in de 17e eeuw en meegebracht door de Verenigde Oost-Indische Compagnie. Sits vond een toepassing in de Noord-Nederlandse streekdrachten.

een collectie babymutsjes en mouwtjes (30 stuks!) uit de 18e…

Saved by
Erika van As

 Save
SendLike

Learn more at entoen.nu

 
Verenigde Oost-Indische Compagnie in the 16th and 17th century the VOC was comparable to a global conglomerate company ( like Shell )

Verenigde Oost-Indische Compagnie in the 16th and 17th…

Saved from
entoen.nu

This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch 

1803

India Batavia republic cast coin 1803

1805

Zilveren Dukaat 1805 (Sch. 74 / Delm. 982) – ZF-

Bid Info: Price: € 60.00

Fine condition E 150

After 1795

no regular shipping was possible between the Netherlands and the Dutch East Indies due to an English naval blockade,

1799

 

Battle of Bergen (1799)

The Battle of Bergen, also called the Battle of Bergen-Binnen, was fought on 19 September 1799, and resulted in a French-Dutch victory under General Brune and General Daendels against the Russians and British under the Duke of York who had landed in North Holland

VOC papermoney 1799

 

Noncolour embosed VOC revenue sheet

VOC embossed

 

1806

Kingdom of Holland 1806
After the founding of the Kingdom of Holland, King Louis Napoleon him the country’s service. The appointments and promotions now followed each other in quick succession.

1806:

Muhammad Jamalul Alam I to the Sultan of Brunei until 1807.
 1806: August 11, 1806 changed its name from the royal palace Banjar Kencana into Earth Good Earth.

In 1806, with the Netherlands under French domination, Napoleon appointed his brother, Louis to the Dutch throne which led to the 1808 appointment of Marshall Herman Willem Daendels to Governor General of the Dutch East Indies.[9]

Monete e Medaglie Estere. Olanda-Indie Orientali. Repubblica Batava (1795-1806). Duit 1806. KM 76. CU. g. 2.82 BB+.

Bid Info: Price: € 30.00

 


A painting by
Thomas Whitcombe depicting Batavia harbour in 1806. 27 November 1806,British victory

 

 

The Raid on Batavia of 27 November 1806

was an attempt by a large British naval force to destroy the Dutch squadron based on Java in the Dutch East Indies that posed a threat to British shipping in the Straits of Malacca.

The British admiral in command of the eastern Indian Ocean, Rear-Admiral Sir Edward Pellew, led a force of four ships of the line, two frigates and brig to the capital of Java at Batavia (later renamed Djakarta),

in search of the squadron, which was reported to consist of a number of Dutch ships of the line and several smaller vessels. However the largest Dutch ships had already sailed eastwards towards Griessie over a month earlier, and Pellew only discovered the frigate Phoenix and a number of smaller warships in the bay, all of which were driven ashore by their crews rather than engage Pellew’s force.

The wrecks were subsequently burnt and Pellew, unaware of the whereabouts of the main Dutch squadron, returned to his base at Madras for the winter.

The raid was the third of series of actions intended to eliminate the threat posed to British trade routes by the Dutch squadron: at the Action of 26 July 1806 and the Action of 18 October 1806,

British frigates sent on reconnaissance missions to the region succeeded in attacking and capturing two Dutch frigates and a number of other vessels. The raid reduced the effectiveness of Batavia as a Dutch base, but the continued presence of the main Dutch squadron at Griessie concerned Pellew and he led a second operation the following year to complete his defeat of the Dutch.

In early 1806,

Pellew was relieved by the news that a large French squadron under Rear-Admiral Charles Linois had sailed out of the Indian Ocean and into the Atlantic.

The departure of Linois after three years of operations in eastern waters freed Pellew’s small squadron based at Madras for operations against the Dutch East Indies. Pellew’s particular target was the island of Java, where the principal Dutch squadron and their base at Batavia were located.[1]

The Dutch Kingdom of Holland was a French client state under Emperor Napoleon‘s brother Louis Bonaparte and Batavia had been used by Linois in his preparations for the Battle of Pulo Aura, in which a valuable British convoy came under attack, and its position close to the Straits of Malacca threatened British trade with China.[2]

Pellew’s departure for the East Indies was delayed by the Vellore Mutiny in the spring, and instead he sent frigates to reconnoitre the situation of the Dutch forces in the region.

In July,

HMS Greyhound under Captain Edward Elphinstone cruised in the Molucca Islands and captured a Dutch convoy at the Action of 26 July 1806 off Celebes.[3] T

September 1806

hree months later another frigate, HMS Caroline under Captain Peter Rainier, cruised successfully

October.1806

in the Java Sea and managed to capture a Dutch frigate at the Action of 18 October 1806 from the entrance to Batavia harbour.[4] Shortly before Rainier’s engagement, the principal ships of the Dutch squadron, the two ships of the line Pluto and Revolutie, had sailed westwards towards the port of Griessie, Rear-Admiral Hartsink seeking to divide his forces in preparation for the coming British attack to prevent their complete destruction.[5]

Pellew sailed from Madras in the early autumn of 1806,

expecting the full Dutch squadron to be present and preparing accordingly with the ship of the line HMS Culloden under Captain Christopher Cole as his flagship, accompanied by HMS Powerful under Captain Robert Plampin, HMS Russell under Captain Thomas Gordon Caulfield and HMS Belliqueux under Captain George Byng. The ships of the line were accompanied by the frigate HMS Terpsichore under Captain Fleetwood Pellew, Admiral Pellew’s son, as well as the brig HMS Seaflower under Lieutenant William Fitzwilliam Owen.[6]

 

Pellew’s attack

By 23 November,1806

Pellew’s squadron was approaching the Sunda Strait from the southwest when he encountered the British frigate HMS Sir Francis Drake, which he attached to his force.

November,26th.1806

Three days later, the squadron passed the port of Bantam and seized the Dutch East India Company brig Maria Wilhelmina, continuing on to Batavia during the night.[7]

At the approaches to the port, the squadron separated, with the frigates and brig passing between Onrust Island and the shore while the ships of the line took a longer route through deeper water.

Although Terpsichore was able to surprise and capture the corvette William near Onrust Island, the main body of the squadron was spotted by Dutch lookouts from a distance, who initially mistook the approaching vessels for a French squadron.[8]

The Dutch officers, led by Captain Vander Sande on the frigate Phoenix, decided that resistance against such a large British squadron was useless: the only warships remaining in the harbour were the Phoenix and six small armed ships, none of which could contend with the approaching British force.

In an effort to dissuade the British from pressing their attack, the Dutch captains all drove their vessels ashore, joined by the 22 merchant vessels that were anchored in the harbour.[6]

Determined to prevent the Dutch from refloating the grounded ships, Admiral Pellew ordered landing parties to assemble in the boats of his squadron alongside Terpsichore.

From there, under distant covering fire from the British frigates, Fleetwood Pellew led the boats against Phoenix, coming under fire from the grounded vessels and gun batteries ashore.[7] Passing through the bombardment from the shoreline,

Pellew’s men boarded Phoenix to find that the Dutch crew had just abandoned the vessel, scuttling the frigate as they departed.

Although now useless as a ship, Phoenix‘s guns were turned on the other beached vessels to cover the British boats as they spread out to board and burn them.

This operation was followed by the destruction of 20 grounded merchant ships in the harbour, although two others were successfully refloated and captured.[9] In a final act before withdrawing to the squadron offshore,

Captain Pellew set fire to the wreck of Phoenix, burning the ship to the waterline. The entire operation was conducted under heavy fire from the shore, but British casualties were only one Royal Marine killed and three men wounded.[10]

Without sufficient troops to attempt a landing at Batavia itself, Admiral Pellew withdrew from the harbour.

Preparing his prizes for the return to Madras, he ordered all prisoners taken from the captured and burnt ships returned to shore under condition of parole.[11]

The captured William was found to be in such a poor state of repair that it was not worth keeping the corvette and Admiral Pellew ordered the ship burnt, noting in his official report that Lieutenant Owen, who as senior lieutenant would otherwise have been placed in command, should be recompensed with another command as reward for his services in the engagement. With his preparations complete, Pellew then ordered his squadron to disperse, Culloden sailing to Malacca.[5]

Aftermath

please contact via email iwansuwanddy@gmail.com if you need info related to DEI like belo

 Save
SendLike

Learn more at nl.wikipedia.org

 
&quot;VOC&quot; coin (1735) of the Dutch East India Company (Vereenigde Oostindische Compagnie)

“VOC” coin (1735) of the Dutch East India Company…

Saved from
nl.wikipedia.org

 Save
SendLike

Learn more at gerarddummer.nl

 
Abel Janszoon Tasman (1603 – 10 october 1659). Dutch explorer for the VOC. Discovered Tasmania, New Zealand and  Tongatapu. Was assigned a task to discover Australia.

Abel Janszoon Tasman (1603 – 10 october 1659). Dutch…

Saved from
gerarddummer.nl

 Save
SendLike
 
Old building of the VOC: Oost-Indisch Zeemagazijn built in 1721 (today museum Werkspoor), Oostenburgergracht 77, Amsterdam

Old building of the VOC: Oost-Indisch Zeemagazijn built in…

Saved by
Ben (5) H.E.Wieseman

 Save
SendLike

Learn more at entoen.nu

 
Pepper - one of the important and profitable spices that were traded by the Dutch. It was so expensive that there is still a saying in Dutch from that time: 'as expensive as pepper'.

Pepper – one of the important and profitable spices that…

Saved from
entoen.nu

 Save
SendLike

Learn more at investopedia.com

 
A bond issued by the Dutch East India Company, dating from 7 November 1623, for the amount of 2,400 florins.

A bond issued by the Dutch East India Company, dating from 7…

Saved from
investopedia.com

 Save
SendLike

Learn more at refdag.nl

 
Ruins of the fortress at Mauritius.

Ruins of the fortress at Mauritius.

Saved from
refdag.nl

 Save
SendLike
 
GIF
Evidence of debt to the VOC, signed 9 juni 1779 by Niels Ipsen Salton (Oldenburg).

Evidence of debt to the VOC, signed 9 juni 1779 by Niels…

Saved from
dbnl.org

 Save
SendLike

Learn more at 3dblueprint.nl

 
Remains of the VOC in Ahmedabad, India.

Remains of the VOC in Ahmedabad, India.

Foursquare
Saved from
3dblueprint.nl

 Save
SendLike

Learn more at engelfriet.net

 
VOC in Sri Lanka

VOC in Sri Lanka

Saved from
engelfriet.net

De Boompjes, a quay still present in the city of Rotterdam…

Saved from
eeuwen.home.xs4all.nl

 Save
SendLike
 
Locations where the WIC and VOC were active during their existence (source: <a href="http://www.gerarddummer.nl/" rel="nofollow" target="_blank">www.gerarddummer.nl/</a>)

Locations where the WIC and VOC were active during their…

Saved by
Ben (5) H.E.Wieseman

 Save
SendLike

Learn more at maxvandam.info

 
Map of The Netherlands by Jansonius, 1658. The province of Flevoland did not exist at the time of  the VOC period.

Map of The Netherlands by Jansonius, 1658. The province of…

Saved from
maxvandam.info

 Save
SendLike

Learn more at nedindie.nl

 
Hongi-voyages - a warfleet that sailed out for the VOC in order to destroy the clove trees outside Ambon to maintain the companies monopoly. The first voyage took place in 1607. Around 1658 these voyages became less frequent.

Hongi-voyages – a warfleet that sailed out for the VOC in…

Saved from
nedindie.nl

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
Cornelis Matelief(f) (de Jonge) (c. 1569 - October 17, 1632), was a Dutch admiral who was active in establishing Dutch power in Southeast Asia during the beginning of the 17th century (1606). His fleet was officially on a trading mission, but its true intent was to destroy Portuguese power in the area. The fleet had 1400 men on board, including 600 soldiers. Matelieff did not succeed in this. The Dutch would ultimately gain control of Malacca more than thirty years later.

Cornelis Matelief(f) (de Jonge) (c. 1569 – October 17…

Saved from
en.wikipedia.org

Two Dutchmen on a giant turtle at the Island Mauritius…

Saved from
commons.wikimedia.org

 Save
SendLike

Learn more at nl.wikipedia.org

 
Steven van der Hagen (Amersfoort, 1563 - 1621), also spelled as Haghen or Verhagen, was the first admiral of the VOC.

Steven van der Hagen (Amersfoort, 1563 – 1621), also spelled…

Saved from
nl.wikipedia.org

 Save
SendLike
 
GIF
Title of Engraving The Embassy of the Dutch East India Company from 1665..

Title of Engraving The Embassy of the Dutch East India…

Saved from
dbnl.org

 Save
SendLike
 
GIF
A meeting in the East India House in Amsterdam. Drawing by Simon Fokke, 1771. Amsterdam Municipal Archives.   Present a number of Amsterdam directors, two lawyers of the Company, William V and his representative. In the hall hanging  cards from Asia and paintings of sites in the East. Above the fireplace is a painting of the Castle of Batavia. Its left is a view of the city Raiebagh in India and below a view of Ambon. These paintings now hang in the Rijksmuseum.

A meeting in the East India House in Amsterdam. Drawing by…

Saved from
dbnl.org

Merchant Ship of the Dutch East India Company, 1782

Saved from
japanfluence.blogspot.com

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
This is a drawing by a Dutch artist working for the Dutch East India Company, who at that time had a trade post in the harbor of Bandar Abbas in Iran, formerly known in the West as Gombroon.

This is a drawing by a Dutch artist working for the Dutch…

Saved from
en.wikipedia.org

Castle of Good Hope the oldest surviving building in South…

Foursquare
Saved from
taindopraonde.com.br

Jan van Riebeeck. This Day in History: Mar 20, 1602: Dutch…

Saved from
art-in-space.blogspot.com

Illustrations from HORTUS MALABARICUS (1678-1693) The Garden…

Saved from
pu

Bayezit I ”the Thunderbolt”: (1389-1402) He was the sultan…

tokoh
buaya ngepot
tokoh

 Save
SendLike

Learn more at bbc.co.uk

 
Jacob Wilkinson, a Governor of the East India Company

Jacob Wilkinson, a Governor of the East India Company

Foreigners in Mughal Era India
اویس احمد
Foreigners in Mughal Era India

 Save
SendLike

Learn more at robertnewman.com

 
Drum was a South African weekly magazine founded in 1951. In the 1950s and 60s it was an important chronicler of black political and social life, and Drum’s reporters covered many of the major anti-apartheid protests and events. They later branched out to publish East and West African editions. The longtime art director during this period was Jurgen Schadeberg, a German immigrant who was also the magazine’s main photographer.

Drum was a South African weekly magazine founded in 1951. In…

Afrikaner Geskiedenis
salome malherbe
Afrikaner Geskiedenis

poboh: Spiegelstraat in Amsterdam, Floris Arntzenius. Dutch…

D u t c h   p a i n t e r s
Elisabeth Wierda
D u t c h p a i n t e r s

 Save
SendLike
 
New Amsterdam, Island of Manhattan - my dutch family migrated here. Also found…

New Amsterdam, Island of Manhattan – my dutch family…

1621 - DUTCH WEST INDIA COMPANY
Scott Slaten
1621 – DUTCH WEST INDIA COMPANY

 Save
SendLike

Learn more at rijksmuseum.nl

 
Cornelis Speelman (2 March 1628 – 11 January 1684) was Governor-General of the Dutch East Indies from 1681 to 1684.

Cornelis Speelman (2 March 1628 – 11 January 1684) was…

Dutch East and West India Company (VOC, WIC)
Arnold Sijnstra
Dutch East and West India Company (VOC, WIC)

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
Peter Stuyvesant was director-general of New Netherlands from 1647-1664 before it was ceded to the British and renamed New York.

Peter Stuyvesant was director-general of New Netherlands…

Hudson River Valley Dutch
Lynne Jackson
Hudson River Valley Dutch

 Save
SendLike

Learn more at sutlers.co.uk

 
HMS Victory Cutter's Crew Tunic

HMS Victory Cutter’s Crew Tunic

Zeilschepen
L. Sale
Zeilschepen

The Dutch surrender peacefully.1664. The day “New Amsterdam”…

1621 - DUTCH WEST INDIA COMPANY
Scott Slaten
1621 – DUTCH WEST INDIA COMPANY

South West Africa 1931 Bogenfels Vertical Pair SG 76 Fine…

Commonwealth Stamp Store On Line
Zuid Africa   Suid Africa RSA
Godelieve Maes
Zuid Africa Suid Africa RSA

 Save
SendLike
 
'Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij' ('Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company', 1860) by Multatuli aka Eduard Douwes Dekker. It's a book known by all Dutch speakers, as a criticism of Dutch colonial policy in the Dutch East Indies (Indonesia). However, it is the candid use of language by Multatuli that impresses truly. And of course, the descriptions of the culture in societies of Java and Sumatra.

‘Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche…

Indonesia culture history and colonial times
Diyanah Homs
Indonesia culture history and colonial times

 Save
SendLike

Learn more at en.wikipedia.org

 
Zaalberg  Indo (Eurasian), newspaper journalist and head editor, activist, head of the Indo-Eurpean Union (IEV) and politician in the Dutch East Indies (Batavia (Java, Dutch East Indies) 26/11/1873 - Batavia (Java, Dutch East Indies) 13.2.1928). Son of Dutch father Pieter Jacobus Adrianus Zaalberg, Secretary at the Department of Education and Religious Affairs in the Dutch East Indies, and Indo (Eurasian) mother Susanna Elisabeth de Bie. Married to Maria 22/4/1899 Taunay (1878 to 1911).

Zaalberg Indo (Eurasian), newspaper journalist and head…

Indonesian Colonial Era -YUSIKOM-
Yusikom
Indonesian Colonial Era -YUSIKOM-

 Save
SendLike
 
De Nederlandsche oudheden in de Molukken Published in 1928 with 155 plates and 3 maps Description of the remains of 17th &amp; 18th century Dutch fortresses, tombstones, churches, a.o. monuments, in context of the Dutch East India Company, VOC history, still present on Ambon, Buru, Seram, Saparua, Haruku, Banda &amp; Nusa Laut.

De Nederlandsche oudheden in de Molukken Published in 1928…

Nederlanders Indië
Jacqueline Badenhop
Nederlanders Indië

 Save
SendLike

Learn more at kloosterman.be

 
Map The Netherlands (1559 - 1609)

Map The Netherlands (1559 – 1609)

History Holland
Sjon Sjon
History Holland

 Save
SendLike

Learn more at flickr.com

 
Tempo Doeloe - Indisch Leger.Old Indonesian ad, colonial Dutch Army in Indonesia looking for recrutes

Tempo Doeloe – Indisch Leger.Old Indonesian ad, colonial…

~Dutch History~
~Vintage Lady M~
~Dutch History~

23-11-11 Traditional costumes in Holland in the 18th century

~Dutch History~
~Vintage Lady M~
~Dutch History~

Dutch East India Company’s warehouse and living quarters in…

VOC, WIC & exotische planten
Renske Ek
VOC, WIC & exotische planten

 Save
SendLike
 
GIF
A Dutch West India Company's Trading Post

A Dutch West India Company’s Trading Post

Dutch Exploration of the New World
Steve Mosley
Dutch Exploration of the New World

Holland America Line founded as the…

Holland through History
Digi Martine
Holland through History

 Save
SendLike

Learn more at flickr.com

 
He Sleeps - Kronborg Castle, Helsingor, Denmark

He Sleeps – Kronborg Castle, Helsingor, Denmark

Heritage
Sally Gemmell
Heritage

British East India Company

East India Company
walter bosco
East India Company

Tropical colonial Indo Eurasian male and female dress…

Indonesian Colonial Era -YUSIKOM-
Yusikom
Indonesian Colonial Era -YUSIKOM-

Tilly Kettle – Portrait of and Officer of the East India…

Foreigners in Mughal Era India
اویس احمد
Foreigners in Mughal Era India

 Save
SendLike

Learn more at google.co.za

 
This Day in History: Oct 3, 1685: The Dutch East India Company decides to send French Huguenot refugees to the Cape <a href="http://dingeengoete.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">dingeengoete.blog...</a> <a href="http://cape-slavery-heritage.iblog.co.za/files/2009/05/st-helena-painting.jpg" rel="nofollow" target="_blank">cape-slavery-heri...</a>

This Day in History: Oct 3, 1685: The Dutch East India…

East India Co.
Charles A
East India Co.

 Save
SendLike

Learn more at metmuseum.org

 
Granary door, Indonesia, Sumatra

Granary door, Indonesia, Sumatra

Indonesia where I now live :) Now..Then..And way Back Then :)
Roz Ptdy
Indonesia where I now live 🙂 Now..Then..And way Back Then 🙂

 Save
SendLike

Learn more at cosimobooks.com

 
In this ambitious two volume set of her exhaustive 1909 account of New York City's early history, Van Rensselaer begins with the earliest Dutch settlements and the founding of New Amsterdam.

In this ambitious two volume set of her exhaustive 1909…

Family
Marsha Gibson
Family

 Save
SendLike

Learn more at flickr.com

 
Statue of Jan Christiaan Smuts, Cape Town by Kleinz1, via Flickr

Statue of Jan Christiaan Smuts, Cape Town by Kleinz1, via…

Die BOERVOLK....[][][]....The BOERS ("Uit die chaos van die eeue,....
Matruh Pinkham
Die BOERVOLK….[][][]….The BOERS (“Uit die chaos van die eeue,….

 Save
SendLike

Learn more at buzzfeed.com

 
This Day in History:  Oct 2, 1869: Mahatma Gandhi is Born <a href="http://sikhspectrum.com/wp-content/uploads/2012/08/Gandhi_London_1906.jpg" rel="nofollow" target="_blank">sikhspectrum.com/...</a>

This Day in History: Oct 2, 1869: Mahatma Gandhi is Born

History
Juan Nel
History

 Save
SendLike

Learn more at flickr.com

 
Tempo Doeloe <a class="pintag searchlink" data-query="%2379" data-type="hashtag" href="/search/?q=%2379&rs=hashtag" rel="nofollow" title="#79 search Pinterest">#79</a> - Indonesian Dancer in Holland, 1928 / ITA, Arnhem.old photo, dated August 2, 1928. It shows an Indonesian dancer at the ITA in Arnhem, an exhibition about the Dutch East Indies.
GORDEL VAN SMARAGD
Annouschka Przybylska
GORDEL VAN SMARAGD

Nico Wilhelm Jungmann (1872 – 1935, Dutch)

The British raid on Batavia had destroyed 28 vessels. In addition to Phoenix, William and the merchant ships, Pellew’s squadron had burnt the 18-gun brigs Aventurier and Patriot, the 14-gun Zee-Ploeg, the 10-gun Arnistein, the 8-gun Johanna Suzanna and the 6-gun Snelheid. Just three ships were captured: two merchant vessels and Maria Wilhelmina.[11]

 

The elimination of the smaller vessels of the Dutch squadron was an important victory for Pellew, leaving only the larger ships of the line at large.

These ships were old and in poor condition, limiting the threat they posed to British trade routes.

Imprinted French period / Droogstempel Franse overheersing

(From 1808 till 1811 or 1812?)

French occupation of Netherlands India

Marshal Daendels in the service of King Louis Napoleon

 

Back to home

 

St = Stuivers (nickels) = 5 cent (0.05 G)

LN = Louis Napoleon

A red asterisk *  means that this revenue is not in my collection.

 

6 stuivers 18??             In a part of a document  *

 

12 stuivers in document April 11th 1812, Surabaya *

 

Source Hans van Scheik

 

 

 

 

 

 

 

1807

Nevertheless, Pellew returned to the Java Sea in 1807

in search of the warships, destroying them at the Raid on Griessie in November, a year after the success at Batavia.[5] A lack of resources in the region and the threat posed by the French Indian Ocean island bases delayed larger scale British operations against the East Indies until 1810, when a series of invasions rapidly eliminated the remaining Dutch presence in the Pacific

 

1807

The energetic Herman Willem Daendels, Governor-General of the Dutch East Indies from 1808 to 1811, had ordered the construction of Die Groete Postweg, the “great post way,” a highway traversing Java and recalled by this roadside monument. van Holland

Governor-General of the Dutch East Indies

Java Great Post Road, commissioned by Daendels.

Louis Bonaparte made Daendels colonel-general in 1806 and Governor-General of the Dutch East Indies in 1807.

After a long voyage, he arrived in the city of Batavia (now Jakarta) on 5 January 1808 and relieved the former Governor General, Albertus Wiese. His primary task was to rid the island of Java of the British Army, which he promptly achieved.[citation needed] He built new hospitals and military barracks, a new arms factories in Surabaya and Semarang, and a new military college in Batavia.

He demolished the Castle in Batavia and replaced it with a new fort at Meester Cornelis (Jatinegara), and built Fort Lodewijk in Surabaya. However, his best-known achievement was the construction of the Great Post Road (Indonesian: Jalan Raya Pos) across northern Java. The road now serves as the main road in the island of Java, called Jalur Pantura. The thousand-kilometre road was completed in only one year, during which thousands of Javanese forced labourers died.[2]

He displayed a firm attitude towards the Javanese rulers, with the result that the rulers were willing to work with the British against the Dutch. He also subjected the population of Java to forced labour (Rodi). There were some rebellious actions against this, such as those in Cadas Pangeran, West Java.

There is considerable debate as to whether he increased the efficiency of the local bureaucracy and reduced corruption, although he certainly enriched himself during this period.[citation needed]

 

 

 

Daendels’ postroad on Java

The Great Post Road is the road stretched from west to east at northern part of Java from Anyer to Panarukan along 1,000km. Initaded by Governor-General Herman Willem Daendels, this road is passing through Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Brebes, Tegal Pemalang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo.

Daendels was a marshal appointed as governor general of East Indies by Lodewijk Napoleon who ruling Holland at that time. The ultimate aim was handling military preparation in anticipating British Navy attack that had blockaded Java Island. Daendels landed in Anyer in 1808 after routing a long trip from Cadiz in southern Spain, Canary Islands and then departing from New York using American vessel.

Daendels’s most important military project in defending Java from British attack was constructing a highway connecting west and east corner of this island. The road was built by means of obliging indigenous rulers to mobilize people along the route to work it by force.

This road had sacrificed thousands life in nearly a year of its building process. Later, the road was renowned as the Great Post Road (De Groote Postweg) since Daendels also set off post and telegraph services at the moment of the making..

 

1808

Under French domination during the Napoleonic years in Europe, the Dutch authorities appointed Marshal H. W. Daendels as Governor-General in 1808. He sought both to reform the corrupt administrative practices that had brought down the VOC and to prepare for the defence of Java against an expected British attack. Amongst his measures was to construct a post-road the full length of the island of Java, from Anyer to Panarukan, to improve communications and the movement of troops. Constructed mainly with forced labour working to a tight timetable, the road earned Daendels a reputation for dictatorial cruelty

 

Power in the archipelago then taken over by the Government of the Netherlands East Indies with the first Governor-General Herman Willem Daendels (1808-1811).

 

Herman Willem Daendels’s career was very eventful. Political developments in the Netherlands around 1800 were certainly the reason for this.

Within a short space of time there were a large number of changes of rulers. Daendels’s career appeared to survive these changes. He was first and foremost a soldier.

In 1808 he was appointed Governor General of the Asian colonies.

 

In line with change of power in the Dutch East Indies, Bandung regency circumstances change.

 

Changes in the first place is to transfer the capital district of the southern region Krapyak in Bandung to Bandung, which was; etak in the middle area of the district.

 

1808: Sharif Kasim became the Sultan of Pontianak Alkadrie II until 1819.

Governor-General of Dutch East Indies (1807 – 1811)
Louis Napoleon in 1807 to Daendels appointed governor-general of Dutch East Indies.

It was a hard task, which Daendels’s shoulders was laid. The remains of the old Company area, Java, Timor, part of the Moluccas and Bandjermasin was the Dutch authorities declined to an alarming manner. Shipment of troops, money and material from the mother country was impossible, since the British ruled the seaways. It was not easy even for Daendels are employed to reach Batavia.

Reorganizations and reforms
His main task was the Dutch colonies against the British. He therefore began a reorganization of the army and filled it with native volunteers.

In Weltevreden, a suburb of Batavia, he built a then modern hospital in Surabaya, the capital of Austria, Java, a construction shop, a cadet school in Semarang and Batavia a cannon foundry. The old unhealthy castle at this place he demolished and replaced by a fortified camp at Meester Cornelis. Surabaya became the Fort Louis.


The most popular work of Daendels, the great highway of Carnation to Panaroekan, was primarily a military objective, rapid troop movements. The construction of a military port in the Bay Gulls (Sunda Strait), he had, because of the disastrous climate, obstruction of Bantam, give up.

Administrative and legal Daendels organized in a modern way, and thereby cleared numerous abuses and abuses of time on the Company. However, all these innovations earned him the hatred and opposition of the old party-guests, who many complaints and accusations against him sent to Napoleon.

1808

Hispan 8 real silver coin carolus IIII found at bukittinggi(provenance Dr Iwan)

 

 

1809

an extremely rare 1809 handwritten Ambon bank note

1809

Since its operation in 1809, the road formerly intended for military purpose had become a main transportaion infrastructure in Java Island. This highway had witnessed traffice of commodities coveyed over it since colonial era till now. The road has play important role as one of crucial veins of Indonesian economy today

 

1807: Mohammad Alam became the Sultan of Brunei Kanzul until the year 1829.

 

 

Between January 1800 to end December 1807

in the archipelago in general and in Java in particular, occur foreign power vacuum (invaders), because although the Governor-General of the Company is still there, but he had no power.

 

For the regents, during the vacuum power means the loss of the burden of obligations to be fulfilled for the benefit of a foreign ruler (invaders). Thus, they can devote attention to the interests of local governments respectively. This would occur also in Bandung Regency.

 

 

According to the script of The Bandung History , Bandung in 1809 Regent Wiranatakusumah II along with a number of people moved from Karapyak to the area north of the land going to the capital.

 

At that time the land would Bandung still forested, but in the north existing settlements, namely Kampung Cikapundung conservative, Kampung Cikalintu, and Villages Bogor. According to the script, the Regent RA Wiranatakusumah II moved to the city of Bandung after he settled in temporary shelters for two and a half years.

 

Originally regents living in Cikalintu (Cipaganti area) and then he moved Balubur Downstream.

 

When Deandels Cikapundung inaugurate the construction of the bridge (bridge at Jl. Asia Africa Building near PLN now), Regent of Bandung was there.

 

Deandels with Regent over the bridge and then they walk eastward to one place (in front of the Office of Public Works Jl. Asia Africa now).

 

In that place deandels plugging rod and said: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Try, if I come back here, a city has built! “. Apparently Deandels wants city center was built in the place.

 

 

 

 

 

 

 

 

1809

 an extremely rare 1809 handwritten Ambon bank note

info source: Rob Huisman

an extremely rare handwritten VOC bank note of 100 rijksdaalders dating from 1809 and issued in Ambon. “This piece of paper is literally of great value. After 1795 no regular shipping was possible between the Netherlands and the Dutch East Indies due to an English naval blockade, resulting in a severe deficiency in coins and coin materials. The Dutch authorities therefore resorted to issuing paper money. In 1808 Governor General H.W. Daendels decided that an additional three hundred thousand guilders needed to be printed in Ambon. These notes varied in value from 1 to 1,000 silver rijksdaalders. They were widely used in the Moluccas, but could also be exchanged for real money in Batavia. It is conspicuous that this piece of paper mentions the Dutch East India Company, even though the VOC had been nationalized in 1799. The most notable detail however is that only the one hundred rijksdaaldersnote exists as a written currency; the remainder of the issue was printed. An extremely rare piece of paper, which is mentioned in the paper currency catalogue of Mevius, but of which no image has been printed as yet.”

 

 

 

 

a high resolution scan, which  a great privilege to be able to see this note in great detail and share it through this website. This note has never been published in the past

 

 

Daendels Palace (1809)

Weltevreden/Jakarta, Indonesia(now the Office Of republic Indonesia Finance Menistry)

Construction of this architectural gem was commissioned by Governor-General Herman Willem Daendels. As a governor general, Daendels stimulated the move southwards of Batavia;

the densely populated walled city was unhealthy and many inhabitants suffered from malaria and cholera.

The area of Weltevreden, several kilometres south of Batavia, originally a country estate, was developed and would turn into a highly fashionable area. Halfway Batavia and Weltevreden, the new accommodation for the club Harmonie was constructed.

 

 

 

 

In Weltevreden,

on the Paradeplaats, a new Government House was erected; since Daendels did not wish to inhabit the old country estate (known as the Van der Parra estate), officially assigned to the governors general. The Government House is a building constructed in the period 1809-1

827 in Batavia, ‘capital’ of the Dutch colony in the East-Indies. Construction was ordered by governor general H.W. Daendels (1808-1811) and completed by governor general L.P.J. du Bus de Ghisignies (1826-1830).

The building has been preserved and is located on present Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, which was known in the nineteenth century as Paradeplaats and since 1828 as Waterlooplein.

Modelled in the Empire style, the proportionate Witte Huis (White House) measures 160 meters lengthwise.

The pillars on the first story are Doric, whereas those on the second level are Ionic in style. In the past, the building hosted many state functions and even served as a post office, a printing office and a high court. Today, it houses the Indonesian Ministry of Finance.


[IMG]www.geheugenvannederland.nl[/IMG]The Supreme Court (left) and the Daendels Palace at the Waterloo Square. (Architect: J.C. Schultze, compl. by J. Tromp, 1809)


Daendels Palace.


Picture by De Rooij Fotografie

 

 

 

Read more info

1809

In 1809 begon Daendels dus aan zijn plan voor wat de geschiedenis zou ingaan als het Paleis van Daendels, en ook wel Het Groote Huis genoemd. Pas in 1827 zou het voltooid worden.

Alhoewel groots van opzet

(Daendels dacht altijd in het groot)

is het dus nooit als Paleis gebruikt. In het Groote Huis zijn altijd overheidsinstellingen ondergebracht, zoals de Raad van Indië, het Departement van Onderwijs en

Eeredienst

en het Departement van Financiën. Ook werd het gebruikt als centraal magazijn bijvoorbeeld voor schoolmaterialen. Ook het Departement van Oorlog was hier ooit gevestigd.

Bijzonder aan het Paleis is wel dat hier na verloop van tijd alle portretten naar toe verhuisd zijn van alle Gouverneurs-Generaal van Nederlands-Indië. In 1949 werden de portretten van de Gouverneurs-Generaal vanuit het Paleis van Daendels rechtstreeks overgebracht naar het Rijksmuseum in Amsterdam, waar je ze nog steeds kunt bewonderen.

Het Paleis van en gebouwd door Gouverneur-Generaal Daendels in Batavia

ook wel Het Groote Huis genoemd

Voor het Paleis van Daendels:

het standbeeld van Jan Pietersz Coen in Bataviatot 1942…..

 

!810

As a follow-up of his word, Deandels asked Regent Bandung and Parakanmuncang to move the capital of each district to the nearby Jalan Raya Pos.(Postal Highway Road)Deandels request was submitted by letter dated May 25, 1810.

 

Beauty of the city of Bandung Regency Bandung in conjunction with the appointment of Raden Suria became Patih Parakanmuncang. Both momentum is confirmed by besluit (decree) dated September 25, 1810.

 

This date is also the date of Decree (besluit), the formal judicial (dejure) designated as the City Anniversary Bandung

.

Perhaps the regents began domiciled in Bandung after there in the first district where the building marquee. Certainly the marquee district is the first building constructed for the central government activities Bandung regency.

 

1810: British occupy Banjarmasin. [39]
 1810: Sultan Alimuddin became the first sultan Sambaliung Sultanate, the Sultanate of Berau fractions are divided by two.

1810

General in Napoleon’s Grande Armée

When the Kingdom of Holland was incorporated into France in 1810, Daendels returned to Holland. He was appointed a Divisional General (Major General) and commanded the 26th Division of the Grande Armée in Napoleon’s invasion of Russia.

1809: Dutch Banjarmasin release of its colonies. [38]

 

 

 

 

British possessions in Indonesia, 1810-1817

Javanese territories ceded to the colonial governments of Daendels and Raffles, 1808-1812

Both Daendels and Raffles radically restructured the administration of the island, reducing the power of the bupati, changing the taxat

ion system and turning the village into the basic administrative unit. Raffles in particular emphasized that ‘native welfare’ should be an aim of the colonial government, and he introduced a form of land tax, called land rent, in an effort to develop a money economy on the island.

1810

Aftermath

The Dutch-held islands of Amboyna, Harouka, Saparua, Nasso-Laut, Buru, Manipa, Manado, Copang, Amenang, Kemar, Twangwoo and Ternate had surrendered to a force led by Captain Edward Tucker in 1810, while Captain Christopher Cole captured the Banda Islands, completing the conquest of Dutch possessions in the Maluku Islands.[22]

Java became the last major colonial possession in the East not under British control, and its fall marked the effective end of the war in these waters.[22][18] Stamford Raffles was appointed Lieutenant Governor of Java.[23][24]

He ended Dutch administrative methods, liberalized the system of land tenure, and extended trade.

British order of battle

Stopford’s fleet on his arrival on 9 August to assume command of the expedition, consisted of the following ships, dispersed around the Javanese coast:[10]

 

 

 

 

Rear-Admiral Stopford’s fleet

Ship

Rate

Guns

Navy

Commander

Notes

HMS Scipion

Third rate

74

 

Rear-Admiral Hon. Robert Stopford
Captain
James Johnson

 

HMS Illustrious

Third rate

74

 

Commodore William Robert Broughton
Captain
Robert Festing

 

HMS Minden

Third rate

74

 

Captain Edward Wallis Hoare

 

HMS Lion

Third rate

64

 

Captain Henry Heathcote

 

HMS Akbar

Fifth rate

44

 

Captain Henry Drury

 

HMS Nisus

Fifth rate

38

 

Captain Philip Beaver

 

HMS President

Fifth rate

38

 

Captain Samuel Warren

 

HMS Hussar

Fifth rate

38

 

Captain James Coutts Crawford

 

HMS Phaeton

Fifth rate

38

 

Captain Fleetwood Pellew

 

HMS Leda

Fifth rate

36

 

Captain George Sayer

 

HMS Caroline

Fifth rate

36

 

Captain Christopher Cole

 

HMS Modeste

Fifth rate

36

 

Captain Hon. George Elliot

 

HMS Phoebe

Fifth rate

36

 

Captain James Hillyar

 

HMS Bucephalus

Fifth rate

36

 

Captain Charles Pelly

 

HMS Doris

Fifth rate

36

 

Captain William Jones Lye

 

HMS Cornelia

Fifth rate

32

 

Captain Henry Folkes Edgell

 

HMS Psyche

Fifth rate

32

 

Captain John Edgcumbe

 

HMS Sir Francis Drake

Fifth rate

32

 

Captain George Harris

 

HMS Procris

Sloop

18

 

Captain Robert Maunsell

 

HMS Barracouta

Sloop

18

 

Captain William Fitzwilliam Owen

 

HMS Hesper

Sloop

18

 

Captain Barrington Reynolds

 

HMS Harpy

Sloop

18

 

Captain Henderson Bain

 

HMS Hecate

Sloop

18

 

Captain Henry John Peachey

 

HMS Dasher

Sloop

18

 

Captain Benedictus Marwood Kelly

 

HMS Samarang

Sloop

18

 

Captain Joseph Drury

 
 
 

The British Army troops attached to the force included 12,000 soldiers from the 22nd Light Dragoons; 14th Foot; 59th Foot; 69th Foot; 78th Foot; 89th Foot; 102nd Foot.

There were also contingents of the Royal Marines, and several regiments of Madras Native Infantry and Bengal Native Infantry, with half of the overall troop strength consisting of Indian troops of the East India Company. General Samuel Auchmuty was the overall commander, but he delegated the field command to Major General Rollo Gillespie.[9]

In addition to the official navy forces, the East India Company provided the services of several of their ships, led by the Malabar under Commodore John Hayes. These were the Ariel; Aurora; Mornington; Nautilus; Psyche; Thetis; Vestal. With the transport vessels, and several gunboats captured as the campaign progressed, Stopford commanded nearly a hundred ships.[10]

In the time of British rule in the Dutch possessions in the East Indies the Royal British achievement should have been used. No examples of this achievement from Dutch East Indian soil are known however

The coat of arms of the quite famous lieutenant governorof the Dutch East Indies from 1811-’16, Thomas Stamford Raffles

Or a double headed Eagle displayed Gules charged on the breast with an Eastern Crown on the first, on a Chief Vert pendent from a chain two oval Medallions in Pale the one bearing Arabic characters and the other a dagger in fess the blade wavy the point towards the dexter in relief Or, the said medallions and chain being a representation of a personal decoration called the Order of the Golden Sword conferred upon by him by the Chief or King of Atcheen in Sumatra as a mark of the high regard of the said King and in testimony of the good understanding which had been happily established between that Prince and the British Government; and for a crest out of an Eastern Crown Or a Gryphon’s Head Purpure gorged with a collar gemel Gold.”

1810

malay bencoolen sumatra

1811

Vinict Amor Patriae Half – Penny Token 1811 (1110B)

 

1811

1811 MEXICO SPANISH FERDINAND VII 2 REALES ~ SILVER

France Napoleon Bonaparte 20 Francs ☤ 1811 W Gold

 

 

 

 

 

 

1811

 

In 1811, British forces occupied several Dutch East Indies ports including Java and Thomas Stamford Raffles became Lieutenant Governor.

After heavy criticism of his leadership, Daendels was replaced in 1811. He then became an officer in the French army. King William I appointed Daendels Governor General of the Dutch Colonies on the west coast of Africa.

Three years later, with the French driven out of the western Indian Ocean, British forces in the region were strong enough to prepare an expeditionary force against the Dutch East Indies, which effectively ended the war in the east.

The coat of arms of the quite famous lieutenant governorof the Dutch East Indies from 1811-’16, Thomas Stamford Raffles, was:

Or a double headed Eagle displayed Gules charged on the breast with an Eastern Crown on the first, on a Chief Vert pendent from a chain two oval Medallions in Pale the one bearing Arabic characters and the other a dagger in fess the blade wavy the point towards the dexter in relief

Or, the said medallions and chain being a representation of a personal decoration called the Order of the Golden Sword conferred upon by him by the Chief or King of Atcheen in Sumatra as a mark of the high regard of the said King and in testimony of the good understanding which had been happily established between that Prince and the British Government; and for a crest out of an Eastern Crown Or a Gryphon’s Head Purpure gorged with a collar gemel Gold.”

1811: Sultan Ibrahim became Sultan of Sand Alamsyah until 1815.

in 1811

Herman William Deandels was dismissed. Three months later, British forces occupied Java.

British troops landed near Batavia in August 1811

and the Dutch forces surrendered to them at Salatiga six weeks later. Thomas Stamford Raffles took over as Lieutenant Governor and began a vigorous programme of reform in the hopes of convincing the British government to retain Java permanently as a colony (as it was to do with the Cape of Good Hope and Ceylon).

Raffles’ authority was quickly challenged by the sultan of Yogyakarta, but in 1812 British forces attacked, plundered the court of Yogyakarta and sent the sultan into exile, replacing him with his pliable son.

To keep the court weak, Raffles also created a new principality within it, the Pakualaman, with a lesser status similar to that of the Mangkunegaran within Surakarta.

The Navy was active off the Javanese coastline before and during the expedition.

On 23 May 1811

a party from HMS Sir Francis Drake attacked a flotilla of 14 Dutch gunvessels off Surabaya, capturing nine of them.[2] Marrack, in north-western Java, was attacked and the fort defending the town largely demolished by a party from HMS Minden and HMS Leda

on 30 July, 1811

while that same day a fleet of six Dutch gunboats flying French colours was attacked by HMS Procris, capturing five and destroying the sixth.[3][4]

Java Expedition

The British force was assembled at bases in India in early 1811,

initially overseen by Vice-Admiral William O’Bryen Drury, and then after his death in March, by Commodore William Robert Broughton.[5]

The first division of troops, under the command of Colonel Rollo Gillespie, left Madras on 18 April,

escorted by a squadron under Captain Christopher Cole aboard the 36-gun HMS Caroline.

They arrived at Penang on 18 May,

and

were joined on 21 May

by the second division, led by Major-General Frederick Augustus Wetherall,

which had left Calcutta on 21 April,

escorted by a squadron under Captain Fleetwood Pellew, aboard the 38-gun HMS Phaeton.[5]

The two squadrons sailed together, arriving at Malacca on 1 June,

where they made contact with a division of troops from Bengal under Lieutenant-General Sir Samuel Auchmuty, and Commodore Broughton aboard the 74-gun HMS Illustrious.

Auchmuty and Broughton became the military and naval commanders in chief respectively of the expedition.[5] With the force now assembled Auchmuty had roughly 11,960 men under his command, the previous strength having been reduced by approximately 1,200 by sickness.

Those too ill to travel on were landed at Malacca, and on 11 June the fleet sailed onwards. After calling at various points enroute, the force arrived off Indramayu on 30 June.[2]

There the fleet waited for a time for intelligence concerning the strength of the Dutch. Colonel Mackenzie, an officer who had been dispatched to reconnoitre the coast, suggested a landing site at Cilincing, an undefended fishing village 12 miles east of Batavia.[6]

The fleet anchored off the Marandi River on 4 August,

and began landing troops at 14:00.[4] The defenders were taken by surprise, and nearly six hours passed before Franco-Dutch troops arrived to oppose the landing, by which time 8,000 British troops had been landed.[4][7] A brief skirmish took place between the advance guards, and the Franco-Dutch forces were repulsed.[7]

August,8th.1811

Fall of Batavia

On learning of the successful British landing, Janssens withdrew from Batavia with his army, which amounted to between 8,000 and 10,090 men, and garrisoned themselves in Fort Cornelis.[7]

The British advanced on Batavia, reaching it on 8 August

and finding it undefended. The city surrendered to the forces under Colonel Gillespie, after Broughton and Auchmuty had offered promises to respect private property.[7][8]

The British were disappointed to find that part of the town had been set on fire, and many warehouses full of goods such as coffee and sugar had been looted or flooded, depriving them of prize money.[9]

On 9 August 1811

Rear-Admiral Robert Stopford arrived and superseded Commodore Broughton, who was judged to be too cautious.[9][10]

Stopford had orders to supersede Rear-Admiral Albemarle Bertie as commander in chief at the Cape, but on his arrival he learnt of Vice-Admiral Drury’s death, and the planned expedition to Java, and so travelled on.[8]

British advances

General Janssens had always intended to rely on the tropical climate and disease to weaken the British army rather than oppose a landing.[9]

The British now advanced on Janssens’s stronghold, reducing enemy positions as they went.

The Dutch military and naval station at Weltevreeden fell to the British after an attack on 10 August. British losses did not exceed 100 while the defenders lost over 300.[11]

In one skirmish, one of Janssens’s French subordinates, General Alberti, was killed when he mistook some British troops in green uniforms for Dutch troops. Weltevreeden was six miles from Fort Cornelis and on 20 August the British began preparing fortifications of their own, some 600 yards from the Franco-Dutch positions.[10]

Siege of Fort Cornelis(now Jatinegara)

Diagram of Fort Cornelis, Batavia.

Fort Cornelis measured 1 mile (1,600 m) in length by between 600 yards (550 m) and 800 yards (730 m) in breadth.

Two hundred and eighty cannon were mounted on its walls and bastions. Its defenders were a mixed bag of Dutch, French and East Indies troops. Most of the locally raised East Indian troops were of doubtful loyalty and effectiveness, although there were some determined artillerymen from Celebes.

The captured station at Weltevreeden proved an ideal base from which the British could lay siege to Fort Cornelis.

On 14 August1811

the British completed a trail through the forests and pepper plantations to allow them to bring up heavy guns and munitions, and opened siege works on the north side of the Fort.

For several days, there were exchanges of fire between the fort and the British batteries, manned mainly by Royal Marines and sailors from HMS Nisus.[12]

 

A sortie from the fort early on the morning of 22 August1881

briefly seized three of the British batteries, until they were driven back some of the Bengal Sepoys and the 69th Foot.[11]

The two sides then exchanged heavy fire, faltering on 23 August,1881

but

resuming on 24 August.[8][13]

The Franco-Dutch position worsened when a deserter helped General Rollo Gillespie to capture two of the redoubts by surprise.

Gillespie, who was suffering from fever, collapsed, but recovered to storm a third redoubt.

The French General Jauffret was taken prisoner. Two Dutch officers, Major Holsman and Major Muller, sacrificed themselves to blow up the redoubt’s magazine.[14]

The three redoubts were nevertheless the key to the defence, and their loss demoralised most of Janssens’s East Indian troops.

Many Dutch troops also defected, repudiating their allegiance to the French. The British stormed the fort at midnight on 25 August, capturing it after a bitter fight.[8][13]

The siege cost the British 630 casualties. The defenders’ casualties were heavier, but only those among officers were fully recorded. Forty of them were killed, sixty-three wounded and 230 captured, including two French generals.[14]

Nearly 5,000 men were captured, including three general officers, 34 field officers, 70 captains and 150 subaltern officers.[13] 1,000 men were found dead in the fort, with more being killed in the subsequent pursuit.[13]

Janssens escaped to Buitenzorg with a few survivors from his army, but was forced to abandon the town when the British approached.[13]

Total British losses in the campaign after the fall of Fort Cornelis amounted to 141 killed, 733 wounded and 13 missing from the Army, and 15 killed, 45 wounded and three missing from the Navy; a total of 156 killed, 788 wounded and 16 missing by 27 August 1881 .[13]

September 1811

Later actions

Royal Navy ships continued to patrol off the coast, occasionally making raids on targets of opportunity.On 4 September. two French 40-gun frigates, the Méduse and the Nymphe attempted to escape from Surabaya.

They were pursued by the 36-gun HMS Bucephalus and the 18-gun HMS Barracouta, until Barracouta lost contact.[15][16]

Bucephalus pursued them alone until 12 September, when the French frigates came about and attempted to overhaul her. Bucephalus‘s commander, Captain Charles Pelly, turned about and tried to lead the pursuing French over shoals, but seeing the danger, they hauled off and abandoned the chase, returning to Europe.[17][18]

On 31 August a force from the frigates HMS Hussar, HMS Phaeton and HMS Sir Francis Drake, and the sloop HMS Dasher captured the fort and town of Sumenep, on Madura Island in the face of a large Dutch defending force.[18]

The rest of Madura and several surrounding islands placed themselves under the British soon afterwards.[19]

Suspecting Janssen to be in Cirebon, a force was landed there from HMS Lion, HMS Nisus, HMS President, HMS Phoebe and HMS Hesper on 4 September, causing the defenders to promptly surrender. General Jamelle, a member of Janssens’s staff, was captured in the fall of the town.[18][19] The town and fort of Taggal surrendered on 12 September after HMS Nisus and HMS Phoebe arrived offshore.[20]

While the navy took control of coastal towns, the army pushed on into the interior of the island. Janssens had been reinforced on 3 September by 1,200 mounted irregulars under Prince Prang Wedono and other Javanese militia.

 

 

On 16 September 1811

Salatiga fell to the British.[20] Janssen attacked a British force under Colonel Samuel Gibbs that day, but was repulsed. Many of the native militia killed their Dutch officers in the ensuing rou

t.[21] With his effective force reduced to a handful of men, Janssens surrendered two days later, on 18 September.[18][20]

Gerrit Jan Casparus Cochius Captain in the French Army

Imprinted British rule / Droogstempel Engelse overheersing

(From September 11th 1811 till 18 th Augustus 1816)

Occupation of Netherlands India

(Lieutenant-Governor Raffles: September 11th 1811 – March 11th 1816)

(Raffles continue to stay in Benkulu – Sumatera and in some RIAU islands like Bintan and Lingga till 1824)

(Lieutenant-Governor Fendall: March 11th 1816 – Augustus 18th 1816)

From 1816 the British Occupation ended.

 

 

 

Back to home

 

English East India Company JAVA

 

Srs = Stuivers (nickels) = 5 cent (0.05 G)

 

A red asterisk *  means that this revenue is not in my collection.

 

     
     
     

6 Stuivers  in document 1813 JAVA

6 Stuivers  in document 1815 JAVA *

6 Stuivers in document 1816 JAVA *

1817 This document is signed on 6-3-1817 in Surabaya but not used by Stamford *

   
     
     
     

12 Stuivers in document 1814 JAVA *

   
     

1 Rix-daalders = 40 Stuivers =

2,50 G in document 1814

4 Rix-daalders = 160 Stuivers =

10 G in document,

date unknown.

 
     
     

Source

Hans van Scheik

 

1812
 1812: Alexander Hare became resident-commissioner for the British government in Yogyakarta. [40]

1813

1811/ 1813 Raden Demang Anggadipa (1807-1811/1813) dicopot dari kedudukannya oleh pemerintah kolonial Belanda karena menolak penanaman paksa nila sebagai pengganti beras.

Beliau keberatan dengan kebijakan Belanda itu karena akan mengakibatkan rakyat kelaparan

. Akibat pembangkangan itu, Kadipaten Sukapura sementara waktu dihapuskan dan diserahkan pemerintahannya pada Limbangan di bawah Raden Tumenggung Wangsareja (1805-1811).

1814

EIC Indies lead coin 1814

Raffles’ rule, however, was only brief. At the end of the Napoleonic Wars, Britain’s policy was to strengthen the Netherlands as a European counterweight to France

 

1814:

Queen Imanuddin move the administrative center of Kotawaringin Old Kingdom Kotawaringin to Pangkalan Bun.


 1814:

Muhammad Ali Syafeiuddin I to the Sultan of Sambas until the year 1828.

1814

Britain returned Java and other East Indian possessions to the newly independent United Kingdom of the Netherlands under the terms of the Treaty of Paris in 1814.

However, the Anglo-Dutch Convention of 1814 was not completely clear, especially on the issue of certain possessions such as Padang.

 

The Convention of 1814

only returned Dutch territory that was held before 1803, which did not include Padang.

Raffles asserted the British claim personally, leading a small expedition to the Sultanate of Minangkabau.

Yet, as Raffles confirmed with the sultan regarding the absolute British influence of the area, he realized that the local rulers had only limited power over the well-cultivated and civilized country, and the treaty was largely symbolic and had little actual force.

December 1814:

Gerrit Jan Casparus Cochius Captain in Netherlands Army

1815

Complaints
There were legitimate complaints. The most serious was the manner in which Daendels enriched themselves. Moreover witnessed his performance against the local rulers of little tact and knowledge of their manners and customs. Shortly after the incorporation of the mother Daendels Napoleon called back and instructed the government on May 16, 1811 the emperor appointed by the General Janssens.

Governor-General of Guinea
After the fall of Napoleon asked Daendels King William I, son of his old adversary William V, a new appointment. Understandably trusted the Orange Frost the former revolutionary not too much, but asked him to lock it in October 1815 as Governor General of Guinea (Ghana), on the Gold Coast in West Africa, a very unhealthy and very little meaning area.

1815: Sultan Mahmud became the Sultan Han Alamsyah Sand until 1843.

After the defeat of Napoleon the Sovereign Principalityof the Netherlands prepared the restoration of Dutch rule in the Indies. This meant also the restoration of the old symbols of sovereignty.

 

 

By royal resolution of 8 November 1815 nr. 39 the introduction of new currency was provided for. The design for a 1 guilder-piece shows the Dutch Virgin on the obverse and the crowned ancient arms of the States General and the Executive on the reverse. From this guilder only one minted coin is known.

Nederlandsch Oost-Indië, 1 gulden, 1815 Æ 31 mm.

At the date of the Royal Resolution the coat of arms of the Sovereign Principality of 14 January 1814 was already substituted by Royal Resolution of 24 August 1815. The new coat of arms, amended in 1816, was used in the Colonies throughout the nineteenth century and was changed again in 1907. [17])

A picture of this coat of arms was in the Audience Hall above the seat of the Governor General in Batavia.

The seal for the Dutch Indies showed this coat of arms with the legend DEPARTEMENT VAN KOLONIËN (until 1848) and MINISTERIE VAN KOLONIËN until 1945


 
1814

SACRED

to the Memory of

OLIVIA MARIAMNE

Wife of

the Honourable THOMAS STAMFORD RAFFLES

Lieutenant Governor

OF JAVA

And it